Puisi-Puisi
Melawan Kabut Asap
Komunitas Negeri Kertas 1
HUJAN KAPAN PULANG
Karya : Fileski
lihatkah mataku memerah
jelaga menyulut amarah
setiap ku murung
dan merindui mendung pucat yang kelabu
yang pedih aku sedih
dengarkah nafasku terengah,
tercekik bara yang merambah
melemah dan hanya bisa mengutuk pada gambut kering
memerah dan memerah
hujan kapan pulang
hujan kapan datang
Fileski, 9 Oktober 2015
Penulis:
Fileski (lahir di Madiun, Jawa Timur, 21 Februari 1988) adalah penyair
musisi berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karya
puisi yang dipublikasikan di berbagai media massa dan melalui
pertunjukan Nyanyian Puisi yang merupakan perpaduan karya puisi
dengan komposisi musikal, bersama biolanya ia kerap perform di
berbagai perhelatan sastra negara-negara Asia Tenggara.
Sebagian penghargaan yang pernah diraih meliputi:
1. Anugerah HESCOM ketegori Pencipta Lagu Puisi Terbaik dari e-
Sastera Malaysia, 2015
2. Anugerah PESTAB kategori Composer Lagu Puisi Terbaik dari Brunai,
2015
2 Melawan Kabut Asap
3. Anugerah HESCOM kategori Musikalisasi Puisi dari e-Sastra
Malaysia, 2014
4. Penghargaan 30 Hari Tour Konser Puisi di Bulan Bahasa Melayu dari
Singapura, 2014
5. Rekor Musikalisasi Puisi 11 jam Non Stop di Festival Lanfang -
Indonesia, 2012
Sebagian Karya-Karyanya:
Air Mata Bidadari (Album Musik Puisi, 2015)
Kitab Puisi Negeri Kertas (Buku Kumpulan Puisi, 2015)
Jejak Inspirasi Fileski (Buku Inspirasi, 2015)
Save Our Culture (Album Musik, 2014)
Rahasia Langit (Album Musik, 2013)
Attribute to Chairil Anwar (Album Musik, 2012).
Komunitas Negeri Kertas 3
NYANYIAN HUJAN
Karya : Murtiningsih, S. Pd., M. Pd.
Dalam hening sepertiga malam
Khusuk kulantunkan doa-doa
Dengan tetes air mata
Untuk saudara yang sedang tidak bahagia
Doa panjang kupanjatkan
Untuk derita para saudara
Atas asap berjelaga yang tiada habisnya
Yang menyisakan kabut di mata
Dan rengekan anak-anak tak berdosa
Dalam doa khusukku
Kumohonkan butir-butir nyanyian hujan
Yang akan menghapus semua derita
Yang tak kunjung berkesudahan
Nyanyian hujan datanglah, hiburlah anak-anakku semua
Agar bisa tertawa dan bercanda
Karena mata cemerlang dan napas lega
(Firsajoninh, 8 Okt 2015 )
Penulis :
Murtiningsih, S.Pd, M.Pd
D.a SMK Negeri 2Magelang
Jl.A. Yani No 135 A Magelang 56115. No Hp 085868680440
4 Melawan Kabut Asap
AROMA ASAP 5
Karya: Gabriel Kim
Air mata menutupi pandanganku
seperti pertempuran perang
dadaku sakit dipenuhi asap
hidungku pedih menghirup udara
yang sentiasa terbang di sana sini
embun pagi menjadi kotor
bawa derita para manusia
hidup dan mati tak kenal usia
kapan hilangnya bencana asap
yang semakin lama menjadi kabut
segala kehidupan akan diracuni
oleh aroma asap setiap hari.
Hasil Nukilan;
Gabriel Kim
26 Oktober 2015
Taman Mutiara,
Labuan.
Komunitas Negeri Kertas
Penulis :
Gabriel Kimjuan
Dilahirkan pada 26 September 1988. Mendapat pendidikan rendah di
awal tahun 1995 sehinggah habis menengah pada 2005. Menulis Cuma
hobi sehingga menjadi ahli Persatuan Penulis Labuan (PERWILA) pada
tahun 2010. Giat aktif dalam buat persembahan baca puisi dan menulis
buku apalagi di alam maya (FB). Keterujaan untuk terus menulis adalah
paling utama. Kerana tulisan itu bisa dinikmati bersama.
FACEBOOK Gabriel Kim
6 Melawan Kabut Asap
JANGANLAH ASAP
karya : Muhammad Lefand
janganlah asap
asap menjadi lelap
nyata pada kota setiap
genapi kedukaan yang tetap
angkara murka bertambah lengkap...
namun kebohongan masih durhakai ratap
lelaki kurus memegang tangannya melihat asap
asap semakin manja merambah udara menjadi pengap
hingga airmata dan nyawa menjadi saksi ketidak pedulian asap
asap-asap
semarah itukah engkau, tiap
ada kebodohan dan keserakahan manusia, sebab
pasti dampaknya akan menimpa manusia itu sendiri. Sungguh biadab
Jember, 22-10-2015
Komunitas Negeri Kertas 7
JANGAN
Karya: Muhammad Lefand
jangan menyalahkan asap
karena asap hanya korban kebiadaban
jangan salahkan tambang
karena tambang adalah korban ketamakan...
jangan salahkan presiden
karena presiden adalah korban kebodohan
jangan salahkan mereka
karena mereka adalah korban dirinya sendiri
Jember, 22-10-2015
8 Melawan Kabut Asap
MUSIM TANPA KACA
Karya: Muhammad Lefand
kabut asap di Sumatra
Kalimantan berwajah sama
api dan hutan
korban hitam
...
di sebelah barat Raung
kemarau sedang kesepian
angin dan debu
tanda ada
dalam kamar aku menulis
musim tanpa kaca
kata dan mata
rahasia makna
Jember, 08-10-2015
Komunitas Negeri Kertas 9
Press Si DEN
Karya: Muhammad Lefand
bukan bangsawan
bolak-balik di wajah kamera
si Den
main asap
Jember, 2015
Penulis :
Muhammad Lefand
Penulis yang lahir di Sumenep Madura dengan nama Muhammad, sekarang
tinggal di Ledokombo Jember. Adalah seorang perantauan yang senang
menulis puisi dan kata-kata indah. Lulusan MA An-Nawari Seratengah Bluto
Sumenep dan Universitas Islam Jember. Naskah puisinya pernah menjadi juara
3 pada Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan PUSKURBUK
Kemendikbud. Biografinya dimuat di buku “Enseklopedi Penulis Indonesia”
(FAM Publishing: 2014). Karya-karyanya sudah banyak dimuat di berbagai
media baik cetak maupun elektronik, di antaranya di majalah Sastra Horison,
Mimbar, Sastra Mata Banua, Tabloid GAUL dan lainnya. Sering mengikuti
pertemuan-pertemuan sastrawan baik tingkat nasional maupun Internasional di
antaranya: Temu Penyair Asia Tenggara di Cilegon Banten, Road Show PMK
18 di Sumenep Madura, PMK 26 di Pasuruan dan PMK 28 di Surabaya, Temu
Penyair Memo untuk Presiden di Blitar, Malang dan Surabaya dan pertemuan
lainnya. Antologi puisi tunggalnya berjudul “Satu Kaca Dua Musim” (Pena
House Publishing: 2014). Selain itu karya-karyanya juga termuat dalam Antologi
puisi Memo untuk Presiden (2014), Lentera Sastra II (2014) Metamorfosis
(2014), Kitab Puisi Cinta Kota Batik Dunia (2015), Siraman Cinta (2015) dan
Puisi 2koma7 (2014). Bisa dihubungi lewat FB: Muhammad
10 Melawan Kabut Asap
RIANG BERSAMA JEREBU
Karya: Mahmud Hibatul Wafi
Sayap-sayap mengepul, mengepak, mengembang.
Membawa mata sampai ke awan.
Sampai ke seberang, sampai ke jiran, sampai pandang tak lagi sampai.
Sampai hilang.
Irama dan nadanya benar-benar syahdu hingga menyesakkan raga.
Dan jutaan nyawa hanya menganga dengan riangnya.
Riang di antara butiran asap.
Sampai nyawa pun turut berasap.
Sajakku ini tiada lah mampu mengurung jerebu.
Tiadalah kuasa menyudahi dilema nestapa ini.
Setidaknya tuan dan puan kembalilah bertuhan biar hati mampu
membedakan yg mana azab dan mana musibah.
Wahai tuan dan puan bertahta,
Berkacalah pada jerebu!!
Sept, 2015
Komunitas Negeri Kertas 11
Penulis :
Mahmud Hibatul Wafi
Kelahiran Bengkalis, Riau bertepatan pd 18 nov '92.
Mahasiswa UIN Suska Riau.
Fb: Mahmud Hibatul Wafi
12 Melawan Kabut Asap
JUTAAN TANGISAN ASAP
Karya : Rahcmmad Setyawibawa
Lihatlah pesonaku
Bencana dari negeri air mata
Jutaan orang menangis membisu
Jutaan orang pasrah
Jutaan orang terdiam
Jutaan orang marah
Hanya bisa menoreh luka mereka
Mengutuk ladang yang membara
Tercekik selimut kelabu
Memaksa menyesap dalam-dalam
Bersandar dalam kubangan waktu
Tetes air mata tak bisa mengubah
Tetes embun berselimut tebal
Lubuk derita seperti lalu lalang
Berharap menunggu kasih alam
Tangis air matamu
Terasa pedih berbaur sedih
Gores wajahmu
Menunggu waktu silih berganti
Untuk melawan
Bencana dari tangan terlarang
Mojokerto, November 2015
RaS
Komunitas Negeri Kertas 13
TERIMALAH KASIHKU, ASAP
Karya : Rachmmad Setyawibawa
Bias cahaya yang semakin meredup
Habis terang terbitlah asap tebal
Menyingsingkan senja yang kurindukan
Gelapmu selimuti alamku
Berharap pelita dalam kegelapan
Terimalah kasihku asap
Dengarkan
Lihatlah
Derita yang berjalan
Bencana bukan hiburan
Penuh sesak menghirup asap tebal
Hanya bisa berharap
Menanti kapan kau datangkan hujan
Selimut kasihku dalam bencana
Menerima ruang bertubi-tubi
Siapalah yang akan perduli
Nasib kita ada diseberang
Biang dari tangan terlarang
Terimalah kasihku asap
Mojokerto, November 2015
RaS
14 Melawan Kabut Asap
BIANG ONAR
Karya: Rachmmad Setyawibawa
Terpujilah kau biang onar
Bertekuk lutut membawa pemantik
Menyulut bara yang makin merambah
Hangus sudah ladang memerah
Binasakan alam tempat naungan
Habis ratakan lari tinggalkan
Tak ada lagi yang tersisa
Lihatlah
Biang onar
Alam mulai enggan
Alam tak lagi bersahabat
Kejamnya ulahmu
Demi tujuanmu sendiri
Menyambut polusi menggelora
Berharap solusi temui jawabnya
Entah dengan apa
Entah sampai kapan
Alamku kini tinggal kenangan
Selepas pandang memandang
Berselimut mendung kelabu
Mau lari kemana sekarang
Mojokerto, November 2015
RaS
Komunitas Negeri Kertas 15
Penulis :
Rachmmad Setyawibawa dengan nama pena “RaS”, kelahiran Mojokerto
20 September, tinggal di Jl Lespadangan no 59 Rt.9 kec Gedeg, kab.
Mojokerto. Bisa dihubungi melalui email, [email protected], facebook
Ras Rachmmad Trouwe Dienst, No. HP. 08977471402 dan BBM
76268085.
16 Melawan Kabut Asap
CINCIN API Palembang, 28 Oktober 2015
17
Karya: Ayumi Maulida
Di bangku tua
Anak-anak bersendawa
Tanpa kesesakan
Di bangku tua
Ranting-ranting tak lagi bercabang
Kesesakan di mana-mana
Lihatlah
Di balik seragam
Anak-anak tak lagi riang
Kesesakan menjalar ke tubuhnya
Canda tawa menghilang
Di bangku tua
Sungai membeku
Bau Lumpur menjelma hitam
Di bangku tua
Jeruji langit telah menikam
Api amarah membakar lading
Tawa bahagia raib seketika
Dalam barisan tanah hitam
Senandung duka lara
Menjelma cahaya membara
Bersama isak tangis
Sajak api tercipta
Komunitas Negeri Kertas
Penulis :
Ayumi Maulida, nama pena dari Siti
Fatimah, A.Ma.Pd. Lahir di Palembang, 5 Juli
1986. Saat ini aktif di FLP Cabang
Palembang. Karya-karyanya telah dibukukan
dalam bentuk antologi dan novel perdananya
Sebening Cinta Ayah. Tulisannya juga telah
dimuat di Sumatera Ekpress, Republika
Online, Batak Pos, Asahan Post, Majalah C-
Magz edisi 16/17, Radar Seni Online,
www.mayokoaiko.com, dan Berita pagi.
Saat ini penulis tinggal di Jalan Karya
Baru No.375 RT.06 RW.02 KM.7 Lr. Langgar Palembang 30152.
E-mail : [email protected]
No. Hp : 081377579995
18 Melawan Kabut Asap
TANGISAN PERTIWI 19
Karya: Abdi Rahmansyah
Panas kemarau ini tak seperti tahun-tahun sebelumnya
semakin lengkap,
:masker laris-manis di hidung-hidung cantik
punggung dipenuhi tangki-tangki udara
serupa astronot
Andai kowe-kowe dengar
pertiwi nangis,
:ngadu pada ombak, lautan luas
karna meganya jadi buram
matanya terhalang seperti tua bangka yang katarak
Ini ulah kowe-kowe "Asu Serakah"
karpet hijau negri ini
kau jadikan urap,
Pohon dan ranting kau lalap
negriku panen asap
tunggu saja tangan adil Tuhan, menempeleng
otak picikmu
Komunitas Negeri Kertas
ecamkan!
jemari-jemari pertiwi merapal
:semoga, dan semoga
Laknat untukmu!!!!
Babat, 30 Oktober 2015
Penulis :
Abdi Rahmansyah, lahir di Lamongan 16 Maret 1993.Sekarang
bermukim di Pereng, Babat, Lamongan. Jenjang sekolah formal SD,
MTsN Babat, MAN Babat. Sekarang menempuh pendidikan tinggi S-1 di
Unisda Lamongan, prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Sastra adalah cermin dunia kecil yang sesekali menampakkan detik
sekarang, masa depan dan yang akan datang. Gandrung pada puisi
karena menurutnya puisi adalah ruang tanpa batas untuknya mengadu
segala keluh, dan keringat kebahagiaan.
No.hp : 085746014957
E-mail : [email protected]
Fb : Abdi Kucor
20 Melawan Kabut Asap
LARA IBU PERTIWI
Karya: Agnes Elysabet Pakpahan
Tak henti seantero negeri sajakkan duka
Separuh tubuh nusantara lantah sengsara
Indonesiaku kini tertimpa bencana dan petaka
Pekat mencekat cabik paru-paru di dada
Tawa riang anak negeri tak lagi merekah
Senyumnya bungkam di balik masker bersama mata yang perih
memerah
Parau, batuk gematuk jadi irama lara kota
Terbaring di rumah sakit dan nyawa melayang kini hal lazim
Sang mentaripun tak lagi hadir menyapa
Siang dan malam seolah sama gelap
Tuanku sang penguasa negeri...
Mohon bebaskan mereka dari hantaman dan kobaran si jago merah
Lepaskan mereka dari racun lilitan kabut
Ungkap dan hakimilah dia si jumawa pemilik nafsu tamak dunia
Komunitas Negeri Kertas 21
Cobalah turun dari kencana emasmu
Tanggalkan sejenak jubah kebesaranmu
Pandanglah ke bawah serta rasakan derita kepungan kabut asap ini
Jakarta, 02 November 2015
Penulis :
Dibaptis dengan nama Agnes Elysabet Pakpahan, saya lahir pada
tanggal 09 Februari 1994. Alamat Jalan Kampung Sawah Mede, Gang
M. Soleh Rt. 07/06, Kode Pos 11810, Kelurahan Kamal, Kecamatan
Kalideres, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. telp
081288776104/089652288545.
22 Melawan Kabut Asap
RINTIH PEDIH
Karya: Astri Ayu Larasati
Bayang tipis itu tak pernah bosan
Hadir, isi detik demi detik
Seakan terus mencekik
Nafas memburu, rindu kebebasan
Terperangkap dalam dunia semu
Tiada terang ‘tuk bertemu
Perih, pedih mata ini
Tak mampu lagi bertahan di sini
Badan ini semakin rapuh
Daya ini semakin lumpuh
Satu persatu insan pun tumbang
Lenyap asa ‘tuk berkembang
Kurindukan hijau Indonesia
Kurindukan hujan Indonesia
Dapatkah kau dengar rintihanku?
Mampukah kau rasa siksa pedihku?
Selamatkan aku, selamatkan kami!
Dari tragedi tak berdarah
Di tanah lahir kami
Dari jajah si jago merah
Malang, 27 Oktober 2015
Komunitas Negeri Kertas 23
Penulis :
Astri Ayu Larasati
Seorang mahasiswi jurusan psikologi. Memiliki kecintaan di bidang
menulis dan masih terus belajar. Beberapa karyanya sudah diterbitkan
dalam antologi cerpen dan puisi, namun masih membutuhkan banyak
pembelajaran, kritik, dan saran. Dapat dihubungi via e-mail ke
[email protected].
Nama facebook : Astri Ayu Larasati
No. HP : 08980005632
Alamat : Perum. Karanglo Indah B-14, Malang. 65126
24 Melawan Kabut Asap
MENANGISLAH LANGIT
Karya: Dorra Dirah
Bulan-bulan telah berlalu
Asap pekat menebar pilu
Dari gambut yang menjadi abu
Kian hilang bersama debu
Negeri ini berduka sangat
Begitu menjerat
Di hati kami para rakyat
Yang seolah tak terlihat
Inikah sebuah teguran
Atau hanyalah rangkaian keserakahan
Yang tiada pertanggungjawaban
Menenggelamkan sejuta senyuman
Dan pagi ini terlihat murung
Langit kini mulai mendung
Menangislah langit
Tangismu telah lama kami rindukan
Karena air mata kami tak cukup
Mendiamkan sang api tak sanggup
Jakarta, 08 November 2015
Komunitas Negeri Kertas 25
Penulis :
Dorra Dirah
Dorra Dirah ialah nama penaku. Aku ingin memanfaatkan sisa waktuku di
sini untuk belajar lebih baik lagi dalam menulis.
Kritik dan saran bisa sahabat sampaikan melalui facebook Dorra Dirah.
Alamat:
Nurkhasanah - Titi Anam Salon
Jl. Kuningan Raya No.34, Antapani, Bandung, Jawa Barat 40291
081322919651
26 Melawan Kabut Asap
KUTUNGGU EMBUN PAGI MENYAPA DIRI
Karya: Fitria Ni’matul K
Gelap... pekat... mencekam
Wajah duniaku di hari ini
Kutunggu embun pagi menyapa diri
Kunanti ukiran senja rajai bumi
Namun semua, hanya ilusi
Detik demi detik kulalui
Tak lagi kujumpai raut diri yang bersuka
Yang kutemu hanya jejak duka dan air mata
Tak bisakah aku bersua
Dengan embun pagi yang menyapa
Tak mampukah aku berjumpa
Burung cemara di cakrawala
Penulis :
Nama Fitria Ni’matul K, lahir di kota Nganjuk pada tanggal 28 Maret
1998. Sekarang sedang duduk dibangku SMA lebih tepatnya MAN
Nglawak Kertosono. Punya hobby membaca dan Dia bisa dihubungi di
akun Facebook Fithria Ni’matul Kholidiyah, No.HP 08523100900
Komunitas Negeri Kertas 27
DALTONISME KELABU
Karya : Moeza
Kerontanya kehidupan bumiku
Tanpa keteduhan dan kebahagiaan
Kini ia tidak bisa jadi ibu
Kau satu-satunya tempatku bernaung
Kini ku merasakan kesesakan yang menyekik
Bahkan ada partikel yang terasa hilang
Lihatlah! ini bukan kompromi ibu
Bukan jua negosiasi
Tapi, kita akan mati!
Siapa yang harus bertanggung jawab?
Tanpa sadar ia mengusirku berlahan
Itu akibat tangan-tangan tak bertanggung jawab
Atmosfer kian menjerit karena dia tersiksa
Bahkan, dia kompor penyebar mencuatnya berita seantera
Apa dia yang menceritakan berita duka
Benarkah dia yang membawa berita kelabu
Bahkan ucapanya kian berdebudan berasap
Bahkan gemuruhnya kian menyekik senyap
28 Melawan Kabut Asap
Kau dan pelaku gagu
Tanpa memahami tapi sok tahu!
Hanya ada oskar merangkak lesu
Mungkin aku hanya memahami dengan bahasa kelabu
Dengan semburan pekat berwarna merah jambu
Semua mendadak dan hitam kelabu
Komunitas Negeri Kertas 29
KRIDA DAN LEBUH
Karya : Moeza
Aku dan penghuni senyap negeri kelabu
Ruang hampa yang menyesakkan dada
Aku dan hikayat duka cita
Sebentar, aku gedabrus jangan buruk sangka
Aku ungkapkan sesuai realita
Semburat kelabu dan tersangka
Kau pikir aku bisu atas tindakanmu?
Aku melihatnya bukan kompromi atau negosiasi
Sadarkan kalian daba-daba kian menyekat indramu
Dalihmu ini adalah ulah kami!
Kami hanyalah wakil rakyat jelata, seperti umumnya kan?
Lalu di manakah rabas yang membawa ketenangan
Kedatanganmu menyesakkan dada
Semburat merah jingga dan kita
Yang betebaran dan kian membara
Konsesimu di Riau kian terkobar
Kabarnya dua induk besar penyebabnya
Jangan kau salahkan aku hanyalah butiran debu yang tersebar
30 Melawan Kabut Asap
Kami dan deburan daba-daba yang tersebar 31
Kau hanya menjadi begonia belaka
Aku jemur bejana untuk menampung udara segar
Demi menghilangkan senyapnya cuaca
Kusambut air kehidupan menimpa
Kunantikan romantika bersama kopi cinta
Tercium daba-daba di seluruh tanah
Perpaduan bumi dan langit
Kuintip bentuknya agak sedikit berubah
Alhamdulillah mereka telah menyatu
Tiada perseteruan dan cemburu
Seriosa mengiringi langkanya berlalu
Terdengar serunai menyambut datangmu
Kami pun menyambutnya dengan suka cita
Dan kini ku kubur dalam-dalam rasa itu
Kulihat daun menyipak debu
Mentari pun datang menyapa tampak ayu
Menyeka sedikit asap yang berlalu
Riau dan Pekanbaru
Semoga cepat berlalu
Debu dan asap pergi berlalu
Komunitas Negeri Kertas
KAMUFLASE
Karya: Moeza
Dunia ini penuh dengan kekonyolan
Penuh dengan kebohongan
Penuh dengan ketidakpastian
Hanya ada rayuan penguasa
Yang ada semakin mendominasi
Akulah boneka mainannya
Kumulai buka mulut
Untuk memulai hikayat yang merajuk
Tapi, dia mengawali kentut
Sebelum batin ini perang dan mengakar
Aku ingin membuka mulut!
Tolong jangan terkapar....
Sebentar, aku hanya menuturkan
Ini semua karena bahasa
Mungkin ada permainan di baliknya
Layang itu kian meyebar
Statusnya siaga darurat
Aku merasakan daba yang terkobar
32 Melawan Kabut Asap
Rasanya memusingkan dan kian penat 33
Itulah akibat tangan-tangan laknat
Di baliknya ia simpan tangan keparat
Ketika aku pergi berburu
Aku tak menemukan harimau
Yang menyapaku hanyalah foto semu
Semakin kukejar dan kutemui
Hanya ada dia pelaku gagu
Dia hanya terdiam dan tertunduk lesu
Apa dia bisu?
Tanpa ada sepatah kata
Itu semua juga karena kebungkamannya
Tutup mulut mu hingga terbungkam
Atau tutup saja mulut mereka
Pasti mereka diam dan bungkam
Siapa yang bersalah?
Dia muncul sendirikah?
Atau karena ada yang berulah
Tak ada api jika tak muncul asap
Lalu siapa yang siap menjawab
Tentu mereka yang ada dan siap menghadap
Asap kian meraja lela
Komunitas Negeri Kertas
Kalau kau tak segera bertanya
Siapa yang harus tanggung jawab?
Buruan sebelum mereka lupa
Siap tuntut kaki dan tangannya
Sebelum kita semakin tersiksa
Asap yang memenuhi atmosfer
Semakin mengantui dan merajai otak kita
Cepat berlalu dan musnahlah dari pandangannya
Kalian siap?
Kalau kau siap?
Aku juga siap
Semua karena mulut
Mari ungkapkan
Sebelum menutup mari kita buka mulut.
Penulis :
Moeza
adalah nama pena dari Muzaitu Rohmah, Tempat Tanggal Lahir:
Bojonegoro, 11 juli 1997-Alamat : Ds. Sendangrejo kec. Dander Kab.
Bojonegoro-HP 081-946-722-658- email [email protected]
-Facebook sifaulkholbunarrahma-twitter muzaitu rahma-sekolah di SMK
PGRI 2 Bojonegoro.
34 Melawan Kabut Asap
TERIMA KASIH KABUT ASAPNYA 35
Karya: Mustika Ria Tahnia
gelap?
pedih?
asap?
kabut?
salah siapa?
bencana apa?
mereka berteriak?
ingin melihatpun susah!
sakit?
sakit apakah?
raga, jiwa, nyawa atau apa?
segalanya!
mana?
Di mana?
Di negara siapa?
mengapa banyak keluhan?
Malaysia?
Singapura?
Komunitas Negeri Kertas
Brunei?
Thailand?
Vietnam?
oh, asalnya Indonesia?
angin yang berjalan
angin yang membawa
kabut itu
ke negara tetangga
tangan
tangan tangan orang
entah siapa yang harus disalahkan?
mereka merana!
mereka sakit!
lalu apa yang harus kami lakukan?
bagaimana kata tolong sampai di telinga kami?
kami orang jawa tidak pun terkena!
Sedikit pun tidak!
asap!
kabut asap!
bencana, bencana!
mereka!
36 Melawan Kabut Asap
negara tetangga mengeluh
mereka menulis
di sosmed mereka
'' TERIMA KASIH INDONESIA
ATAS KIRIMAN KABUT ASAPNYA''
Penulis:
Mustika Ria Tahnia
Alamat : Jl. KH Hasyim Ashari no.35 , Mlilir - Dolopo - Kab Madiun
Nama fb : Mustika Ria Tahnia
Komunitas Negeri Kertas 37
BENCANA KABUT ASAP Melawan Kabut Asap
Karya: Mutiara Ayu Nilam Cahyani
Pagi yang harusnya cerah
Mentari yang harusnya menyinari
Ditemani kicau burung
Pemandangan nan elok
Sungguh menakjubkan
Mengingatkanku
Akan kebesaran Sang Mahakuasa
Kini semuanya telah usang
Pagi seolah masih petang
Entah mengapa tiada angin berembus
Aku merindukan angin yang sepoi
Menentramkan hati
Yang bisa kuhirup untuk hidup
Kini tiada canda tawa
Kini semuanya berubah
Hanya ada tangis
Aku ingin bernapas bebas
Tanpa ada sakit
38
Aku ingin melangkahkan kaki
Pergi menyusuri jalanan
Merasakan kebebasan
Tanpa ada takut kabut asap
Aku merindukan
Kedamaian alam ini
Penulis :
Mutiara Ayu Nilam Cahyani
Lahir di Sidoarjo, 15 September 1995
Pekerjaan : Mahasiswa
Pendidikan : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Fb : Mutiara Ayu
Motto : Run, Fight, and Get
Agama : Islam
Nmr Telp : Mutiara Ayu Nilam Cahyani 087703483485
Alamat : Mojoruntut RT 012 RW 006 Krembung Sidoarjo
Komunitas Negeri Kertas 39
GARANG
Karya: Nopi Sutanti
Merah membara membakar luka
Merenggut kuncup asa yang mulai bermekaran
Membumihanguskan berjuta kenangan
Satu per satu tlah kabur menghilang
Terdengar sayup-sayup suara rintihan
Menggema menggemparkan negeri seberang
Tercengang tingkah konyol penghianat ingusan
Terpelanting menjauhi nurani yang mulai kusam
Demi harta kau lelang ribuan nyawa
Membabat tuntas pucuk-pucuk kehidupan
Demi dunia kau tukar air menjadi bara
Mengusik ilalang tengah tenang terdiam
Asap bergelantungan memenuhi sekat-sekat langit
Kabut menghitam beradu menjadi pekat
Berdesakan mencari celah yang kian mengambang
40 Melawan Kabut Asap
Mencekik tenggorokan membutakan pandang
Mengurung berjuta jiwa tak berdosa
Dalam dekapan panas bara yang kian garang
Dengar,
Kau yang terhormat, para penjilat rakyat
Ruang ego merambah mengalahkan nurani
Hingga tak lagi kau sisakan kami di sudut relung-relung hati
Kau seret tuk menapaki suramnya bumi
Yang kian jauh berlari menginggalkan api.......
Margasari, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah
Penulis :
Nopi Sutanti
Biasa dipanggil Nopi. Dara kelahiran 8 November 21 tahun silam.
Kegiatan sehari-hari masih menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi
di Jawa Tengah. Masih baru dalam menyelami dunia menulis dan
berharap akan terus menulis untuk menumpahkan segala isi hati.
Mencoba membaca pesan singkat yang dikirim Tuhan lewat alam dan
warisan terbesarnya yaitu Alquran.
Saya tinggal di desa Pakulaut, RT 04 RW 01 Kecamatan Margasari,
Kabupaten Tegal, Provinsi jawa Tengah, jalan Cenderawasih nomor 21
Pakulaut. Nomor handphone yang bisa dihubungi 082329218439. Nama
akun facebook Nopi Nahl Sutanti.
Komunitas Negeri Kertas 41
IRONI NEGERI INI
Karya: Nunung Dwi Yanti
Cobaankah ini...
Karmakah ini...
Negeri ini tak seperti surga lagi...
Api mulai menggerogoti negeri ini...
Negeri ini bagaikan neraka dunia...
Api di mana mana...
Napas napas kecil pun mulai menghilang...
Tuhan, cobaan apa ini...
Negeri ini sudah tak bersih lagi...
Akan hancurkah negeri ini...
Tuhan, aku mohon hilangkan semua derita kami...
Tuhan kembalikan senyum ceria kami...
Hilangkan tangis kami...
Penulis :
Nunung Dwi Yanti. Saya penulis pemula yang masih harus banyak
belajar. Saya tinggal di RT16/03 klorogan Geger Madiun-No HP :
081946343832-Nama FB:NIUNIU TJAH WELEH WELEH -TTL : madiun,
21 Mei 1999 - Sekolah : SMAN 1 DOLOPO - HP : 081946343832 - BBM :
582Df476
42 Melawan Kabut Asap
ASAP 43
Karya: Rahayu Raseifa
Siapa perlu tanya
Siapa perlu bela
Siapa perlu lindung
Siapa perlu bicara
Harusnya di bakar
Atau harus membakar
Harusnya dikasihani
Atau harus mengasihi
kelam pada asap kepulannya
Putih namun membuat perih
Tak bisa memandang jauh dekat
Hingga terlihat bersatu pada udara
Dulu mungkin sudah berpolusi
Sekarang bertambah cemar oleh tangan jahil
Udara yang tak segar lagi
Keadaan alam pun tak lagi stabil
Kepada kota yang sedang berasap
Tak pernah lelah siapapun untuk berharap
Komunitas Negeri Kertas
Mereka yang bersalah teradili
Mereka yang jadi korban harus terobati
Penulis :
Rahayu Raseifa
Lahir dan tumbuh di Gresik. Sekarang masih berstatus mahasiswa di
salah satu PT swasta di Gresik. Alamat lengkapnya jln manunggal II rt 07
Ngampel Manyar Gresik. No Hp 085733274308. Nama fb Rahayu
Raseifa.
44 Melawan Kabut Asap
KABUT
Karya: R Amalia
Adakah kau ingat
saat di mana kabut begitu nyata?
Kau ingin menghapusnya namun tak bisa
Kemudian turun hujan
dan kau tetap mengingkarinya
Sungguh,
terlalu bila kau tetap berpaling muka
Sedang wajahmu terus melihat langit
tanpa mencoba berpijak di tanah
Apa yang bisa kukatakan bila jiwa tak lagi tinggal dalam raga?
Oktober 2015
Penulis:
R. Amalia
Lahir di Surabaya pada 2 Februari 1988. Pemilik nama lengkap Rizka
Amalia ini menggunakan nama R. Amalia sebagai nama penanya.
Baginya menulis merupakan bentuk rasa syukur dan kepeduliannya
terhadap lingkungan sekitar, termasuk orang lain.
Saat ini, aktif mengajar di sebuah sekolah swasta di Sidoarjo dan gemar
menulis di media cetak maupun sosial. Beberapa tulisannya pernah
dimuat di media cetak, seperti Surabaya Post, majalah kampus, dan
sebagainya. Motto hidupnya adalah 'Selama Hidup Harus Bermanfaat
dan Bermakna'.
Komunitas Negeri Kertas 45
AKU DAN SERDADU ASAP
Karya: SW Mahendra
Dengan sendu dalam haru
Berapa lama akan berlalu
Memandang raga jiwa yang berkarat
Berhias bunga yang semakin memucat
Sedih tak kenal siapa gundah
Tangis tak tahu berapa waktu menengadah
Pekat mendekap
Hinggap di atap-atap sayap
Hingga kepakanku tak lagi derap
Dan sergapku semakin lenyap
Pagiku temaram
Siangku memalam
Soreku mencekam
Malamku mencengkeram
Kuatku menjauh
46 Melawan Kabut Asap
Segala arah sedekat keluh
Yang desahnya riuh menabuh
Sungguh baris musuh tanpa guruh
Yang menjinaknya bukan dari saling tuduh
Tapi segeralah bangkit sadarkan tubuh
Sebelum serdadu asap menyebar teluh
Sebelum lantah para nyawa luluh
Surabaya, 2015
Penulis :
SW. Mahendra
Nama asli Sunu Wahyu Mahendra. Lahir di Tulungagung, 3 Mei 1993.
Mahasiswa Jurusan PGSD UNESA Surabaya. Alamat di Surabaya: RT.
1/RW. 2. Desa Lidah Wetan, Kec. Lakarsanti gang III/ No. 46. (depan
pesarean R. Sawunggaling). Hp. 082331603037. Fb: Sunu Wahyu M.
Menggemari hobi menulis dan membaca puisi berawal dari sekolah
dasar. Dari hobi tersebut hidup saya merasa berarti dengan bisa
membuat beberapa karya tulisan yang mengandung makna untuk
disampaikan orang lain serta bisa mengajak sesama untuk bisa
mensyukuri hidup. Alamat email : [email protected]
Alamat Pos: SW. Mahendra. 082331603037. Desa Lidah Wetan, RT.
1/RW 2. Kec. Lakarsantri gang III/ No. 46. Depan Pesarean R.
Sawunggaling. Surabaya.
Komunitas Negeri Kertas 47
JANGAN MENANGIS, SAYANG
Karya: Hariri M. Thohir
Adinda …
Maafkan aku, malam ini tak bisa kukecup keningmu di bawah sinar
rembulan
Pagi nanti tak bisa kubawa kau menyaksikan embun pagi menyambut
hari
Siang nanti tak bisa kuajak kau mendengar suara riang anak-anak
pulang sekolah
Bahkan sampai besok,
Masih tak bisa kutunjukkan, mana oranye api dan mana oranye matahari
temaram, sayang
Tapi aku masih di sini, merengkuh semua air matamu
Jangan menangis, sayang
Langit pun masih berharap harapanmu
Tentang awan kembali memutih; seputih cinta kita
Tentang udara yang bening; sebening kedua bola matamu
Tentang sungai yang jernih
Tentang senda gurau di dalam rumah
Juga tentang alam yang bersih ; seperti hati para perangkul anak-anak
jalanan
Berhenti menangis, sayang
Belajarlah pada napas ; meski sesak, ia menaruh harapan
Akan kesucian cinta dan kasih sayang
48 Melawan Kabut Asap