Shasa.” Wanita itu menggandeng kedua putranya dikanan kiri dan
melenggang pergi.
Erwin yang ditinggal sendiri dibelakang menatap Hanji dengan haru,
Hanji adalah teman kuliahnya dulu, gadis itu dulu sangat terobsesi
dengan pekerjaannya sebagai ketua penelitian di pemerintahan, terlalu
dekat dengan bahan kimia senjata dan obat-obatan yang entah apa,
tubuhnya terkontaminasi hingga rahimnya tak bisa dipergunakan
selayaknya, walau begitu Erwin menerima wanita itu apa adanya
beberapa tahun yang lalu, bagi Erwin kebahagiaan tak bisa diukur
dengan hal remeh-temeh seperti itu, jika dia percaya kebahagiaan akan
datang padanya, maka kebahagiaan itu akan menghampirinya, dihari
yang lalu ketika Erwin datang bersama putra-putri angkatnya, dan saat
itulah Erwin melihat wanita itu menatapnya dengan pandangan yang
ingin Erwin sebut, itulah kebahagiaannya.
Pagi datang, lalu malam menggantikannya, lalu pagi datang lagi,
dan direbut malam diwaktu selanjutnya, terus seperti itu hingga tak
terasa Eren sudah tiga tahun lebih beberapa minggu tinggal di rumah itu.
“Semuanya terkendali.” Ucap anak berusia tiga belas tahun itu pada
seseorang di hadapannya, lelaki dengan rambut belah tengah berwarna
hitam itu berbalik, alisnya terangkat kala matanya menangkap baju coklat
Eren yang semakin coklat, pipinya tertaburi pasir seperti gula halus yang
menempel pada kue bolu.
“Apalagi yang baru kau lakukan Eren?” Levi, nama pria itu, menatap
tajam Eren.
“Aku baru saja menolong kakek Shadis yang kehilangan kucingnya,
ternyata Pixis, kucing itu bersembunyi dibalik gorong-gorong papan
seluncuran, Levi.” Bocah itu berceloteh tanpa menyadari raut Levi yang
muram.
“Kau tahu apa yang kau lakukan? Lihat, sekarang kau kotor.” Levi
menunjuk badan Eren yang penuh lumpur.
“Aku hanya mencoba menolong.”
Komunitas Negeri Kertas 99
Mahasiswa tingkat akhir itu menghela napas, “Jika kau ingin
menolong, kau bisa membantu paman Gunter mengepak sembako di
dalam.”
“Aku sudah mengepak sembako kemarin, kemarinnya lagi, dan
kemarinnya lagi.”
“Lalu sekarang apa? Kau malah bermain tidak jelas, Eren berapa
usiamu sekarang, kau tahu?”
Manik hijau itu berkaca-kaca. “Selalu saja mengepak sembako, itu
pekerjaan lemah, aku tak ingin mengepak lagi, aku juga tak ingin bicara
denganmu lagi.” Setelah itu Eren berlari pergi, meninggalkan Levi yang
menghela napas panjang.
Itu adalah sebagian dari bagian-bagian lain yang hampir serupa, kali
ini Eren terlihat sedang terduduk di ranjangnya dengan Erwin yang
berdiri di depan pintu kamar. “Kenapa kau memukul Jean, Eren? Kau
sudah enam belas tahun sekarang.”
Eren mendengus, “Papa tak tahu, bisa saja yang sebenarnya itu
Jean yang memukulku duluan.”
“Banyak yang melihat kejadiannya,” mendengar itu Eren semakin
muram, “Katakan apa pembelaanmu?”
Ketua tangan Eren salang tergenggam erat, “Aku berkata pada Levi
akan ikut menjadi relawan dikebakaran hutan pulau Kalimantan, dan
Jean mengejek ku, bahwa aku hanya akan jadi angkutan tak berguna.”
Erwin terlonjak kaget saat saat mendengar penuturan putranya,
“Apa maksudmu Eren?”
“Jean yang salah ayah, dia mengataiku duluan.”
“Bukan yang itu, yang sebelumnya? Kau ingin ikut menjadi relawan?
Tidak akan ada putra atau putri ku yang akan jadi relawan untuk usia
kalian yang sekarang!”
Eren menatap ayahnya tak suka, “Aku sudah besar, Papa.”
100 Melawan Kabut Asap
“Tetap tidak, Eren!”
“Levi bilang aku harus dewasa, aku akan menolong orang banyak.”
“Bukan dewasa seperti itu yang dimaksud Levi.”
“Aku tidak ke sana sendiri Papa, aku bersama yang lainnya dan Levi
juga.”
“Tak ada bantahan, kau tahu di sana berbahaya?” Erwin
menggelengkan kepalanya tegas.
Hari-hari yang sulit terus berjalan setelah itu, Eren masih
bersikukuh, sedangkan Erwin benar-benar tak bisa menempatkan salah
satu putranya kedalam situasi yang berbahaya, hingga keputusan yang
memberatkan Erwin, semuanya sepakat mengizinkan Eren, dengan
pengawasan ketat Levi sebagai syarat.
Hari itu terik membakar kulit, rombongan Eren berangkat menuju
pulau terdekat, lalu menghampiri tempat kejadian dengan helikopter yang
disediakan. Eren naik dengan levi dan beberapa obat-obatan yang
dibungkus kotak coklat oleh sang ibu, pertolongan cepat yang dibutuhkan
korban bencana asap.
Beberapa detik sekali, Eren tahu bahwa Levi meliriknya, suara
benda yang mengangkutnya sangatlah berisik, tapi detakan dada Eren
jauh lebih terdengar berisik ditelinga Eren, kepulan putih kehitaman
sudah nampak dalam jarak pandang Eren, tiba-tiba perasaan menggebu
tadi berubah menjadi was-was, dirasanya Levi memegang tangannya
yang hanya setengah dari ukuran tangan Levi, “Eren, ingat kau hanya
dibagian pembagian bantuan bersama Gunter, oke.”
Eren hendak menyahut tapi tak jadi saat melihat tatapan mata Levi,
“Menurutlah padaku untuk saat ini Eren, jangan berdiri jauh dari Gunter,
mengerti?”
Eren menatap Levi cemas, “Tapi kau akan ke mana? Bukannya kau
akan mengawasiku? Ada apa Levi?”
Komunitas Negeri Kertas 101
Levi menghela napas, “Keadaannya lebih buruk dari bayanganku
Eren, aku akan masuk hutan bersama relawan lainnya.”
Mata Eren membola, “Aku ingin ikut denganmu.” Mata hijau remaja
itu berkaca-kaca.
“Kau yang menginginkan ini dari semula kan? Kau bilang ingin
menolong orang-orang kan Eren? Kau jangan seperti ini, bergantung
pada orang lain membuatmu lemah.”
Eren semakin ingin menangis, “Levi.”
“Jangan menjadi anak egois, kau bilang kau sudah dewasa,” Levi
menggenggam lebih Erat tangan Eren, bocah ini walau keras kepala, dia
sudah menjadi adik yang berharga bagi Levi. “Pakai maskermu, jangan
pernah melepasnya, dan bantulah paman Gunter, kau akan menuruti
perkataanku kan, Eren?”
Eren mengangguk sambil terisak kecil.
Bocah itu akhirnya mendarat di sebuah kota yang kabutnya tak
terlalu tebal, dia berdiri bersama Gunter di sampingnya, Levi telah pergi
bersama yang lain beberapa waktu lalu.
Dengan meneguhkan hati Eren mengikuti Gunter, Pria itu
melangkah dengan relawan yang tak dikenali Eren, mereka berbicara
bahasa yang tak Eren mengerti.
“Kau masih bisa melihat dengan jelas kan, Eren?” akhirnya Gunter
mengajaknya bicara.
“Ya, kita akan ke mana, Paman?”
“Ke sebuah posko yang dipergunakan untuk pembagian sembako.”
Setelah itu, Eren terdiam, kakinya masih melangkah mengikuti
Gunter, beberapa kali matanya menangkap beberapa orang walau harus
dengan menyipitkan mata, mereka berjalan seperti biasa, beberapa
menggunakan masker, sisanya lebih banyak yang tidak, padahal dia
ingat kata Levi seberapa pentingnya masker untuk keadaan seperti ini.
102 Melawan Kabut Asap
Sesaat setelahnya Eren sampai pada posko yang telah dipadati
penduduk, Eren membantu membuka kotak-kotak berisi keperluan dan
membungkusnya dengan plastik yang lebih kecil, lalu membagikannya.
Seorang ibu dengan anak dalam gendongannya mengantre di
barisan Eren, remaja itu memberikan bungkusan dalam tangannya
dengan tatapan iba, seseorang terus berganti, mengantri setelah dapat
lalu pergi, beberapa orang menggumamkan kata yang tak dimengerti
Eren, mungkin itu sebuah kalimat berterima kasih, entahlah, Eren hanya
mengangguk dan tersenyum kecil walau orang-orang tak akan melihat
senyumnya yang terhalang masker.
Di pertengahan seorang anak yang lebih kecil dari Eren ikut
mengantri, dia menggunakan topi kupluk kusam dan jaket yang terlihat
sama dengan topinya, tanpa masker pelindung juga, Eren menatapnya
lama lalu menyerahkan plastik ditangannya pada anak itu, setelah itu
Eren menghampiri Gunter, meminta agar seseorang menggantikannya
terlebih dahulu karna dia ingin izin pergi ke kamar mandi sebentar.
Setelah berada di bilik sempit nan pengap dalam kamar mandi, Eren
terduduk diam di atas kloset, lalu menangis, tiba-tiba saja dia merindukan
orang tuanya, Levi, bahkan Jean. Dia merindukan mengepak sembako
walau itu membosankan, Dirinya sadar selama ini dia memang jadi sosok
egois yang sok pemberani.
Ternyata kehidupan itu tak semudah menolong kucing paman
Shadis atau menolong paman Aouro menjemur pakaian, dia walau
berada dalam panti sejak kecil, jiwa beraninya tak pernah dihantam kuat
oleh kenyataan sebesar ini. Suara tangisnya mulai mengeras,
pengesalan dalam akan apa yang telah dia pilih ternyata memang
banyak melukai orang-orang yang menyayanginya dan mencoba
melindunginya.
Benar kata Jean, dia tak ubahnya seperti angkutan pemberat dalam
balon udara, tergantung tak berguna, membuat balon indah itu tak dapat
melambung tinggi.
Komunitas Negeri Kertas 103
Remaja itu terisak dengan pilu, dia memikirkan sedang apa Levi
sekarang, apa dia baik-baik saja?
Mata secerah pepohonan subur itu terbuka tiba-tiba, Levi pernah
bilang padanya, menolong adalah sifat alamiah manusia, tapi hanya
sedikit orang yang dapat memunculkan rasa itu karna tertutupi ego yang
tinggi, Erwin, ayah angkatnya adalah panutan terbaik Eren, dia sudah
berjanji pada papa untuk pulang dengan baik, bersama Levi juga yang
lainnya, maka itu artinya dia harus pulang dari sini dengan baik, dengan
sifat yang lebih baik pula.
Ini adalah pilihannya kan, dia kemari untuk menolong, itu bukan
sebuah kesalahan, kesalahannya hanya karna dirinya terlalu tergesa-
gesa, dan menolong bukanlah sebuah kesalahan.
Jean salah, dirinya bukan beban, walau ayahnya bersedih saat dia
dengan keras kepala ingin ikut Levi, secercah kebanggaan akan
keberanian putranya terlihat di mata ayahnya kala itu, jika Eren memang
pemberat dalam balon udara, tak sepenuhnya kantung coklat yang
terikat disisi keranjang itu tak berguna, pemberat adalah kontrol
penggerak ketinggian, semengagumkan apapun sebuah balon udara,
pemberat sangat amat dibutuhkan, dan yang harus dilakukan Eren agar
tak hanya menjadi beban adalah dengan cara mengontrol dirinya sendiri.
Eren telah sampai disini untuk menolong, tujuannya hanya itu, dia
bukan beban, dia akan menjadikan dirinya seberguna mungkin agar tak
hanya menyusahkan yang lain, tapi juga berguna untuk orang-orang
yang mempercayainya.
Selesai.
15 Nopember 2015, 0:44:31
104 Melawan Kabut Asap
Penulis:
Arnita Purbosari
Bertempat tinggal di kota Semarang, terlahir pada hari kedua belas bulan
tujuh ditahun 1995, bertempat tinggal tepatnya di Jalan Wologito tengah
III, Semarang, Jawa Tengah. Menulis adalah sebagian kecil dalam
merubah dunia. Dengan nomor ponsel aktif 089690018994 dan akun
muka buku bernama Arnita Hariyanto.
Komunitas Negeri Kertas 105