The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fileskifileski, 2021-04-08 06:56:29

MELAWAN KABUT ASAP

KOMUNITAS NEGERI KERTAS

Memang seharusnya begitu, sayang
Tanah kita krisis cinta
Bumi kita darurat rindu
Seperti sekarang,
Kita kesakitan
Namun rindu yang menyakitkan
Adalah rindu yang kita rindukan

Penulis : : Hariri M. Thohir
: Jeddah, 22 November 1994
Nama : Banyu Urip Lor, Gg. III D no. 23 Surabaya - Jawa Timur
TTL : +966561920199
Alamat : Khareree Baduha
No. Hp
Akun FB

Komunitas Negeri Kertas 49

DERITA NEGERI BERKABUT

Karya: Helwatin Najwa

Asap mencekik leher
Memedihkan mata
Tak ada lagi tempat sembunyi
Udara gratis tak ternikmati
Asap masuk ke pori-pori
Meresap ke dalam nadi
Jadilah manusia-manusia gamang
Yang melayang di awang-awang
Menyatu dalam kubangan asap
Matikan rasa matikan nurani
Negeri asap negeri yang terhisap sebelum lenyap

Kotabaru, 8 Oktober 2015

50 Melawan Kabut Asap

TARIAN KABUT ASAP

Karya: Helwatin Najwa

Api sudah terlanjur berkobar
Terlalu sulit untuk dipadamkan
Biarlah aku menari
Dalam pekatnya kabut
Menghentak-hentakkan kaki
Pada rumpun-rumpun membara
Seraya mengusung bejana hujan
Di atas kepala

Banjarbaru, 21 Oktober 2015

Penulis :

Helwatin Najwa

Saya seorang Guru Bahasa Indonesia di SMKN 1 Kotabaru dan dosen
Bahasa Indonesia di STIT Darul Ulum Kotabaru Kalimantan Selatan.
Penanggungjawab SSSI (Sanggar Sastra Siswa Indonesia) Kotabaru.
SSSI Kotabaru sudah menerbitkan kumpulan puisi siswa "Haru Biru
Kotabaru" 2012. Menerbitkan antologi puisi pribadi "Melintas Mega
Jingga" 2015.

Nama fb: Helwatin Najwa

Nope: 08115014061

Komunitas Negeri Kertas 51

AIR MATA LUKA

Karya: Murniasih

Mentari telah membentangkan sayap-sayap cahaya
Terang tak lagi sama, terang tak berarti lapang
Gelap mengikat bencana yang mencekam
Sesak hempitkan rasa luka

Semakin ruam batas cahaya di balik butiran awan
Biarkan terang sampai di medan perang
Mengepulkan asap hingga napas tersesat
Butiran bening netra jatuh ke perut bumi

Sebait doa menguatkan pelipur rasa yang terluka
Wahai sang pemilik alam, tetesan cinta-Mu kami dambakan
Haruskan sesal untuk negeriku
Bila berjatuhan korban barulah diadakan sebuah tindakan

Hong Kong, 8 Oktober 2015

52 Melawan Kabut Asap

Penulis :

Murniasih

Terlahir di kota Cicacap 27 tahun silam kini berada di Negeri Bauhinia
atau orang lebih mengenalnya sebagai Hong Kong. Sebagai Buruh
Migran ia tidak pernah berhenti untuk belajar hingga mengenal sebuah
grup Komunitas Penulis Kreatif dan kini aktif sebagai anggota. Beberapa
karyanya pernah di terbitkan di Majalah Hong Kong yang berbahasa
Indonesia Untuk lebih mengenalnya silahkan kujungi di FB. Murni Asih.

Komunitas Negeri Kertas 53

PROTES DARI KAMPUNG HATI

Karya: Osratus

“Kau, bercanda?
Lepaskan tanganmu, sekarang juga.
Makin kau tutup erat mataku, makin perih terasa.

Bukankah seharusnya aku yang tanya padamu,
Ada apa di depanku?
Atau, kau juga sakit mata seperti aku?

Lupakan pertanyaan tadi.
Daripada ditelan ular besar, duduk saja di sini.
Tapi, mengapa paru-paruku nyeri?

Udara siang, terasa sekeras batu.
Dua sorot senter, mencoba untuk tidak mati kutu.
Seperti sepasang mata burung hantu.

Dia, mengejar kita tanpa henti.
Lari!
Sembunyi.

Aman.
Nyaman.
Sayang, berat napasku tidak terelakkan.

Aku, harus kuat.
Semangat, pantang lumat.
Baik-baik sajakah kau, kabut asap pekat?

Telapak kakiku, basah.
Berdarah!
Tadi, injak gelas pecah?

54 Melawan Kabut Asap

Kalau ada harimau mengejar,
Bagaimana bisa menghindar?
Lutut kiri lutut kanan, memar!
Tempat duduk kita, berjalan!
Bulu halus, terasa di tangan. Harimau jantan?
Dari lembut hatinya, kita terselamatkan.”

Sorong, 2 November 2015

Komunitas Negeri Kertas 55

PROTES DARI BALIK TEMPURUNG
KEPALAKU

Karya: Osratus

“Mengapa tidak kauberi tau aku, dari dulu?
Di balik tempurung kepalaku,
Terhampar luas lahan biru.

Sayang seribu sayang:
Kabut asap datang berselendang bara jalang.
Sejuta kembang lari tungganglanggang.

Aku, tengah menahan napas
Di tengah bau hangus nanas dan talas.
Batukku sontak terdahak balas-membalas.

Ayo lari, diriku!
Cari tempat yang aman untuk paru-paru.
Tapi, tidak dapat melihat apa-apa mataku.

Aduh, tanganku menyentuh api!
Kakiku menginjak bara panas sekali
Bagaimana ini?

Nah, lumayan.
Tanah basah kita temukan.
Sepertinya air sungai akan kita dapatkan.

Kita baring sejenak di atas lumpur ini.
Bantalnya, rumput di samping kiri.
Tenaga pulih, kita jalan lagi.

Ada air terjun!
Pas di kakiku, dia turun.

56 Melawan Kabut Asap

Airnya sehangat rebusan ketimun.

Yang kuraba ini, apa? Ini gigi dan hidungnya.
Ini telinga dan tanduknya.
Ini kandang kerbau rupanya!

Kabut asap, bolehkah sekarang kau minggat?
Agar panas di otakku mendingin cepat.
Agar, lahan biru dalam kepalaku kembali terlihat.”

Sorong, 2 November 2015

Penulis:
Osratus adalah nama pena, dari Sutarso
nama sebenarnya. Lahir di Purbalingga
(Jawa Tengah), 8 Maret 1965. Pindah ke
Sorong (Papua Barat), Tahun 1981.
Pendidikan S1, Jurusan Administrasi
Negara. Menulis puisi sejak tahun 1981.
Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di
STKIP Muhammadiyah Sorong (2006 –
2010). Buku Puisi : Lumbung Puisi
Sastrawan Indonesia Jilid III (antologi
bersama, 2015), Puisi Menolak Korupsi
Jilid IV (antologi bersama, 2015). Alamat :
Jl. Basuki Rahmat Km. 7, Kompleks Kantor Transmigrasi lama, Remu
Selatan, Sorong, Papua Barat. Nomor HP : 082199408431. Email :
[email protected]. Facebook : Sutarso

Komunitas Negeri Kertas 57

58 Melawan Kabut Asap

Cerpen-Cerpen
Melawan Kabut Asap

Komunitas Negeri Kertas 59

Pemimpin Biadap

Berubah menjadi Asap

Karya: Anwarul Sholihin

Cerita itu telah menembus gendang telinga warga. Membumbung ke
udara mengelilingi lebatnya beton gedung-gedung yang menjulang
tinggi. Mengalir dan mendesir seperti badai yang bergerak mengikuti
empat penjuru mata angin. Dengan cepat berita mengenaskan itu telah
merambat. Menyebar ke seluruh pelosok desa yang damai permai dan
pojok-pojok kota yang sibuk ramai. Bisa jadi orang-orang yang tidur di
alam kubur, ikut serta memikirkan dan mencermati fenomena
mencengangkan dan mendebarkan yang belum pernah terjadi pada
masa hidup mereka.

Desas-desus peristiwa mengenaskan itu tak ubahnya seperti bahan
perbincangan seru yang tak ada habisnya untuk ditelanjangi dan dilucuti.
Tiap tembok zaman ada saja yang menceritakan kisah tragis masa
lampau itu. Anak-anak tidak bisa tidur saat orangtuanya menceritakan
kisah miris itu sebagai dongeng sebelum tidur.

Sebagai orangtua yang baik, mereka terpaksa menceritakan kisah
itu pada buah hatinya. Agar kelak seluruh keturunannya, tidak meniru
kelakuan biadap kepala desa yang telah memporak-porandakan
kehidupan masyarakat desa Arjuno yang terletak di lereng gunung
Arjuna itu.

***

Hancurnya masyarakat desa Arjuno pada masa itu akibat kasus
terbakarnya lahan-lahan hutan. Penyebab utamanya ialah sifat malas
pemimpin desa itu. Ia hanya mengambil untungnya saja. Memeras dan
menyedot tanah-tanah warga. Berbekal duduk ongkang-ongkang di atas

60 Melawan Kabut Asap

kursi sambil menikmati kretek, uang bergambar presiden Soekarno dan
wakilnya, akan datang dengan sendirinya dan tertata rapi dalam
dompetnya.

Tanah-tanah pertanian yang dulu digarap oleh warga desa, sudah
berpindah tangan. Sejak masa pergantian pemimpin desa yang
diharapkan dapat mengubah perekonomian menjadi lebih baik dan
mensejahterkan, ternyata yang terjadi sebaliknya. Pemimpin yang baru
terpilih itu, berbuat seenaknya sendiri.

Warga kampung Arjuno dianggap malas, tidak suka bekerja dan
dituduh kurang terampil dalam mengolah dan membudidayakan
tanaman produktif. Akhirnya Seluruh tanah garapan yang subur itu,
diserahkan kepada orang asing yang memiliki banyak modal. Setiap
masa panen tiba, pihak yang mengarap lahan itu akan menyetor lima
puluh persen hasilnya kepada kepala desa.

Otomatis warga tidak punya sumber pendapatan. Sumber daya
yang mereka miliki dirampok. Tanah yang dulu mereka garap dan
mencukupi kebutuhan perut mereka, dirampas dengan cara yang halus.
Wajah-wajah masyarakat pucat pasi. Dompet-dompet mereka kempes.
Mereka menyesal telah memilih pak Kuncrit sebagai kepala desa.
Ternyata janji yang dulu melompat-lompat indah dari mulutnya hanya
omong kosong yang terasa sangat nyaring bunyinya di dalam kuping.

Pemuda dan para suami terpaksa lari mencari nafkah menuju negeri
Jiran. Ironisnya ada juga perempuan yang ikut ke Malaysia demi
membahagiakan keluarga serta orangtuanya. Di negeri orang itu, meraka
berjuang mendapatkan uang dan mengirimnya ke desa untuk kebutuhan
keluarga. Mereka rela tidak pulang kampung selama bertahun-tahun.
Rela tidak bertatap muka dengan isteri dan anaknya. Rela meninggalkan
kampung halaman yang dikelilingi tumbuhan-tumbuhan yang
menghasilkan buah segar.

Lama memeras keringat di negeri seberang tanpa memberi kabar,
kadang ada yang pulang membawa cacat. Mereka banyak yang
mendapatkan siksaan dari majikannya. Kerja di negeri orang malah

Komunitas Negeri Kertas 61

seperti pindah ke neraka. Bayangkan ada yang diseterika punggungnya,
ada yang luka-luka di muka akibat dipukuli, dan ironisnya ada yang
dilecehkan alat vitalnya.

Warga kampung hanya bersikap pasrah. Semua ketentuan dari
kepala desa sialan itu, meraka terima dengan berat hati. Mereka hanya
warga kampung yang tidak mengerti apa-apa dan tidak pernah belajar
pemberontakan yang diorganisir. Mereka hanya lulusan sekolah dasar,
bahkan banyak dari mereka yang masih buta aksara.

Andaikan salah satu dari mereka belajar tentang prinsip-prinsip
Masrxisme, yang membahas tentang perjuangan pemberontakan buruh
dan pergerakan kaum yang tertindas. Dengan slogan, “wahai kaum
buruh sedunia, bersatulah!” Pasti mereka tergerak hatinya untuk
memberontak kepala desa sialan itu. Bagaimanapun caranya, apakah
dengan mengirim santet, tenung atau apapun yang penting kepala desa
biadap itu ambruk.

Kepala desa itu telah menganut paham Kapitalis, dengan modal
sedikit dengan kata lain malas, dapat memperoleh hasil sebesar-
besarnya, itu namanya penjajahan. Padahal warga bekerja begitu giat,
demi sesuap nasi. Sifat rakus itu telah melekat pada pikiran Kuncrit.
Licik, seenaknya, semaunya dan pokok tujuannya ialah menjadi orang
paling kaya dan berkuasa. Tak peduli orang lain mati tidak bisa makan.

***

Kebakaran hutan yang terletak di lereng gunung Arjuna, akibat
pembakaran lahan selepas panen yang dilakukan pak Kuncrit dan anak
buahnya telah menimbulkan luapan Asap tebal. Warna hitam pekat
menyelimuti wajah perkampungan selama satu bulan lebih dan
menyebabkan sebagian besar penduduk mati tergeletak tak berdaya.
Bayi-bayi mungil menjerit, menambah suasana semakin redup. Malaikat
dengan cekatan menjemput setiap nyawa yang tinggal di badan-badan
warga. Hanya ada beberapa warga yang masih tetap bertahan hidup.

Warga sudah kecewa berat. Tanpa belajar ajaran Marxisme,
akhirnya mereka memilih waktu tengah malam untuk memberontak. Di

62 Melawan Kabut Asap

pimpin Zainal pemuda yang cakap dan berbadan besar. Berbekal
senapan angin mereka berencana membunuh pemimpin biadab itu. Lima
orang mengendap-ngendap melihat situasi rumah pak Kuncrit. Dan
Zainal berada di posisi siap menembak bila muncul instruksi dari lima
temannya itu.

Di tengah malam saat pak kuncrit tertidur pulas, mereka menghajar
penjaga rumah. Dengan mudah Zainal sudah pada posisi membidik
yang pas untuk melumpuhkan kepala desa biadab itu. Tapi muncul
keanehan yang tidak masuk akal. Saat Zainal melepaskan tembakan,
tubuh pak Kuncrit langsung berubah mejadi asap hitam pekat yang
terbang membumbung tinggi. zainal terbelalak. “Sialan, ke mana
bajingan itu,” teriaknya.

Besoknya seluruh warga membincangkan peristiwa aneh itu.
“Kuncrit dibunuh asap yang ia sulut sendiri.” Begitulah suara-suara yang
keluar dari mulut-mulut warga.

Itulah cerita kutukan kebiadapan pak Kuncrit akibat menindas
warga. Berita itu sudah tersebar dan tersiar ke seluruh pelosok tanah
air. Kisah itu sudah menjadi dongeng sebelum tidur yang diceritakan
ribuan ibu pada anaknya. Di akhir cerita malang itu, pasti ibu-ibu
mengungkapkan bahwa tubuh pak Kuncrit belum ditemukan. Itulah
siksaan Tuhan bagi orang yang membakar lahan dan menimbulkan
asap yang menyiksa.

Yogyakarta, 22 Oktober 2015 (Anwarul Sholihin)

Penulis : 63
ANWARUL SHOLIHIN merupakan

Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syari’ah,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, sekaligus penerima beasiswa
Bidik Misi Kemenag. Lahir di kota Lamongan Jawa
Tumur pada 05 Juni 1995. Putra kota Soto
Lamongan ini merupakan Lulusan MI Al Amal

Komunitas Negeri Kertas

kediren kalitengah lamongan 2007, MTS Putra-Putri Simo Sungelebak
Karangeneng Lamongan 2010, MA Matholi’ul Anwar Simo Sungelebak
Karangeneng Lamongan 2013. Selain belajar di pendidikan formal, juga
pernah belajar Ilmu Agama di pondok pesantren, diantaranya pondok
Pesantren Matholi’ul Anwar (alumnus lulusan 2013). Sekarang sedang
mengabdikan diri di masjid Darul Ikrom (Takmir Masjid) Sambilegi
Maguwoharjo Yogyakarta.

Penulis merupakan penggiat Ekonomi Islam yang aktif dan
tergabung dalam organisasi FORSEI (Forum Studi Ekonomi Islam) UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu, penulis juga aktifis PMII
(Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Rayon Ekuilibrium Uin Sunan
Kalijaga Yogyakarta.

Mempunyai hobi menulis Fiksi dan Non Fiksi. Karya tulis ilmiah
berjudul “Optimalisasi Peran Lembaga Keuangan Syariah dalam
Mewujudkan Swasembada Daging Nasional Melalui Pembiayaan Syariah
Berbasis Kluster Industri Peternakan dalam Rangka Menghadapi MEA”
pernah menjadi finalis dalam call for peper di Universitas Udayana Bali.
Karya tulis fiksi berupa cerpen yang berjudul “Berita Lelayu” pernah
dimuat Harian Expresi Riau, “Menanti Malaikat Maut” pernah dimuat di
koran Madura, Deux Ex Machine di malang post Serta sebuah opini di
Koran Memo. Bisa dihubungi via E-mail di [email protected] dan
via telp 085-706-469-829.

64 Melawan Kabut Asap

Setitik Bahagia

dalam Sebuah Bencana

karya: Charela Marintan

Sudut pandang Elgi :

“Tolooonggg... toloongg... tolooooong....”

Seakan dekat dengan maut, suara itu masih terngiang di telinga.
Kala itu, akhir tahun 2004, tepatnya 24 Desember 2004, adalah
penutupan tahun yang paling buruk di sepanjang riwayat hidup gue.
Bukan hanya bencana bagi Aceh, melainkan pula bagi gue yang saat itu
masih berumur 10 tahun. Tsunami; membuat kehidupan mereka yang
awalnya bahagia, mendadak 180 derajat berubah drastis menjadi pilu
bersamaan dengan tetesan air mata. Membuat mereka yang awalnya
miliki segala, seakan tak punya apa-apa karena tersapu sudah dengan
ombak badainya. Bahkan ada pula membuat mereka yang awalnya miliki
keluarga bahagia, nyatanya kini hanya dapat melihat wajah keluarganya
sebatas dari selipan foto dalam dompet. Hidup begitu memilukan.

London, 31 Juli 2015.

‘This photograph is a witness of the phenomenal starvation in
Ethiopia, Africa. Where thousand even million human were died. It’s long
gone. No one can’t saved their soul from this disaster,’ jelas cewek
berambut panjang dengan poni yang seakan “mencakar mukanya
sendiri” itu dengan gaya meyakinkan di depan Mr. John, salah satu
pecinta fotografi asal Australia. Kenalin, namanya Ara. Temen kampus,
sahabat, seseorang yang udah gue anggap sebagai adik sendiri,
sekaligus partner in crime gue di dunia fotografi. Sore itu, dia bertugas
menjadi pemandu bagi para wisatawan yang sedang berkunjung ke
galeri fotografi kami.

Komunitas Negeri Kertas 65

“Nice shot,” sahut Mr. John manggut-manggut. “Whose photograph
is this?” tanya Mr. John.

“I’m sorry I can’t tell you right now, because he want me to keep his
identity,” jawab Ara sambil sesekali nyengir, kali ini masih dengan penuh
keyakinan.

Gue cuma bisa senyum ngeliat kelakuan Ara dari balik tembok.
Raut muka Mr. John mendadak berubah jadi kecut. Gue bisa tebak, dia
kecewa karena Ara pelit info. Mereka berbincang saat serius. Alis Mr.
John seringkali terlihat menyatu, dia bener-bener penasaran. Seakan
putus asa, akhirnya Mr. John memutuskan buat pergi dari galeri.

“Apa lo liat-liat? Pakai cengar-cengir lagi,” teriak Ara sembari
mendekat ke arah gue yang lagi senderen di tembok. Dia memicingkan
matanya masih dengan menatap tajam ke arah gue.

“Lo mau tahu satu hal gak, Ar?” tanya gue seakan gak peduli
dengan tatapan Ara.

“Apaan?” jawab Ara dengan muka masam.

“Lo konyol abis kalau bohongin bule. Gak punya bakat jadi artis lo.
Gue gak bisa berhenti ketawa dari tadi,” ejek gue.

“Elgi, stop deh! Ketawa lo gak lucu. Udah banyak dosa yang gue
bikin gara-gara elo. Berapa kali dan berapa banyak orang yang gue
bohongin, El? Huuu gak adil banget tau!” Ara ngomel sambil merengut.
“Lagian kenapa sih elo tuh sok misterius gitu? Udah tahu banyak orang
yang keranjingan sama jepretan elo, eh elo-nya yang malah
menyembunyikan diri,” omel Ara dengan kecepatan 60km/jam nonstop.

Sekali lagi gue nahan ketawa. “Bukan menyembunyikan diri kok,
Ar. Seniman profesional kan gitu, gak cari kepentingan demi popularitas.
Cukup berkonstribusi lewat karya. Kalau orang kasih apresiasi anggap
aja itu sebagai bonus,” jawab gue, enteng.

66 Melawan Kabut Asap

“Duh repot kalau ngomong sama elo. Iya iya percaya yang
seniman, yang profesional,” jawab Ara sambil senyum dan nepuk lengan
gue.

Sore itu, Ara gak jadi marah.

Hidup gue yang sekarang adalah hidup yang gue dapat dengan
cara yang gak se-simple yang dipikir sama otak manusia. Mungkin ini
bisa disebut sebagai keberuntungan. Iya, gue beruntung bisa ketemu
dan kenal baik dengan Pak Hadiwijaya yang notabene adalah ayahnya
Ara. Beliau juga merangkap menjadi salah satu founder galeri fotografi
terkenal di London. Gue masih inget betul kata-kata Pak Hadi waktu
beliau nemuin gue di tempat pengungsian korban tsunami kala itu.

“Nak, namamu siapa?” tanya Pak Hadi sambil jongkok
menyamakan posisi dengan gue yang saat itu sedang ada di pojok
tenda, duduk termenung, sendirian.

Gue diem, gue menatap nanar langit kelabu dari balik tenda. Saat
itu gue menilai tatapan Pak Hadi adalah tatapan kasihan. Matanya
memandang gue, si Elgi kecil, dengan pakaian lusuh dari ubun-ubun
hingga ujung kaki. Kemudian, entah pikiran apa yang terlintas
dibenaknya, tiba-tiba dia gandeng tangan ringkih gue dan berkata satu
dua patah kata...

“Ayo pulang, tempat kamu bukan di sini.”

Dan seakan tanpa beban, gue menyambut hangat gandengan
tangannya, bahkan malah menggenggamnya kuat-kuat, seakan tak mau
merasakan kehilangan lagi.

Kehilangan. Satu kata penuh makna. Bokap udah lama meninggal
sebelum gue umur 10 tahun. Sedangkan nyokap, terakhir kali gue
melihat beliau sedang tidur ketika bencana itu datang. Ada yang ganjal
sampai saat ini. Untuk ukuran anak sekecil itu, nyimpen foto kedua
orangtuanya di dalam dompet dan menyelipkannya di salah satu kantong
dompet merupakan hal yang cukup istimewa. Gue selalu bawa foto

Komunitas Negeri Kertas 67

keduanya ke mana-mana. Bahkan abang gue, waktu itu sempet
ngeledekin gue.

“Ngapain kamu nyimpen foto papa mama di dompet? Gak takut
ilang apa? Kamu kan teledor,” ujarnya yang saat itu sembari nyiram
tanaman di kebun.

Gue cuma bisa ngedumel dan ngatain dia sirik dalam hati gue.
Dompet itu gak pernah lepas dari genggaman gue, apalagi sampai hilang
dari kantong.

“Lo lagi sibuk, El?” tanya Ara tiba-tiba dari balik pintu kamar.

Gue kaget setengah hidup. Buru-buru gue merapikan foto bokap
nyokap ke dalam dompet lagi dan menghapus air mata yang sempat
jatuh karena saking gak kuatnya nahan kangen ke keduanya.

“Elo tuh, ketuk pintu dulu lah lain kali. Jantung gue mau copot nih.”

“Yee... orang pintu elo kebuka dikit kok, jadi gue kira elo….”

“Udah udah, elo mau ngomong apaan emang?” potong gue
sebelum Ara melanjutkan kalimatnya.

“Hm, sinis amat sih Den Bagus satu ini. Tuh ayah mau ngomong
sama elo,” balas Ara.

“Iya, bentar lagi gue ke sana,” jawab gue tanpa memandang Ara.

Gue merasakan langkah kaki Ara yang mendekat ke arah gue. Dia
mengambil posisi duduk di samping tempat tidur.

“Gue tahu elo males banget bahas hal ini, apalagi kalau bahasnya
sama gue. Tapi please El, gue gak tahan buat nanyain ini ke elo. Gue
sering liat elo murung, ngunci diri di kamar, dan buka tutup dompet. Elo
baik-baik aja kan?” tanya Ara penasaran.

Suasana hening sejenak. Mulut gue bungkam, lidah pun kelu.

68 Melawan Kabut Asap

“Elgi? Gue nanya ke elo. Elo gak kenapa-kenapa kan? Cerita
dong.”

Setelah bungkam cukup lama, akhirnya gue berusaha
mengeluarkan suara dengan susah payah. Satu per satu kata-kata
meluncur gitu aja dari mulut gue. Kalimat per kalimat tak jarang gue
lontarkan dengan isak tangis di sela-selanya.

“G-g-gue akhir-akhir ini kangen sama nyokap bokap, Ar. Kangen
abang g-gue juga. Udah gitu aja,” jelas gue tergagap-gagap.

Ara menatap wajah gue lekat-lekat. Sedangkan gue memandang
jauh ke arah langit di luar jendela dengan tatapan kosong.

“Sabar ya El, gue juga kehilangan nyokap. Tapi gue gak bisa
mastiin apakah perasaan yang lo rasain sekarang adalah perasaan yang
sama dengan apa yang gue rasain. Kehilangan itu pahit. Iya kan?” ujar
Ara sambil menepuk pundak gue. “Ada satu ruang kosong di dompet elo,
kenapa gak elo isi, El?” lanjut Ara.

“Sebenernya gue mau isi sama foto abang, tapi gue gak pernah
punya satu foto pun tentang dia. Dia cuma hidup di ingatan gue, Ar.
Bahkan gue gak yakin, apakah dia masih ada sampai sekarang.
Jasadnya gak pernah ketemu.”

Ara diem. Gue pun begitu. Kita bicara dalam keheningan. Mungkin
dia bingung mencari kata yang pas selain kata ‘sabar’ buat gue. Akhirnya
dia nyeletuk....

“Elo kuat, El. Hati gue yang bilang gitu.”

Ara bangkit dari tempat duduk dan bergegas keluar.

“Elgi, hapus air mata lo. Kayaknya elo harus cepet-cepet ketemu
ayah,” ucap Ara sepintas dan buru-buru keluar.

Selepas kepergian Ara, rasanya udara kota London yang
berembus menerobos masuk ke kamar lewat jendela, seakan menambah
sesak di rongga dada gue.

Komunitas Negeri Kertas 69

Ruangannya gak begitu lebar. Di sudut ruang selalu ada rak buku.
Banyak foto-foto yang ditempel-tempel di temboknya. Nampak seorang
lanjut usia sedang duduk di sofa tebal berwarna coklat bercorak batik.
Senyumnya merekah ketika gue masuk.

“Bapak ingin ketemu dengan saya?” tanya gue ke sosok itu yang
ternyata adalah Pak Hadi.

“Ayo masuk El, Bapak punya berita buat kamu. Seperti yang kamu
bilang, kamu mau Bapak carikan projek fotografi yang berhubungan
dengan bencana alam. Sudah dengar berita dari Indonesia? Riau? Kabut
asap?”

Gue terheran-heran denger omongan Pak Hadi. “Iya sudah, Pak.
Tapi saya tidak kepikiran untuk ke sana dan saya juga tidak yakin kalau
Bapak akan izinkan saya untuk ke sana kalaupun saya ingin berangkat,”
jawab gue.

“Atas dasar apa Bapak mau melarang seniman sejenius kamu
untuk pergi, El. Kamu sudah berkelana bahkan berpetualang ke mana-
mana demi sebuah jepretan yang kamu inginkan. Bahkan kamu rela
jauh-jauh sekolah fotografi di sini. Bapak kenal betul dengan kamu, Elgi.
Kalau begitu, kenapa Bapak harus larang? Bapak tak punya alasan
untuk itu. Lagipula sudah lama kamu tak ke Indonesia. Wouldn’t you to
come back to your hometown?”

Pertanyaan Pak Hadi ngebuat gue mikir keras. Pulang ke
Indonesia, sama saja seperti membuka kenangan lama.

“Elgi? Do you hear me?” tanya Pak Hadi sekali lagi.

Seakan gak punya pilihan, jam 7 malam waktu London, gue
berkemas dan terbang ke Indonesia.

Hiruk pikuk bandara Juanda membuat gue yang tegar, mendadak
gemetar. Ini pertama kalinya gue pulang sejak tahun 2004. Bukannya tak
cinta Indonesia, melainkan gue butuh waktu lama agar mampu
menghilangkan kenangan buruk itu yang seringkali berontak memaksa

70 Melawan Kabut Asap

muncul ke permukaan ubun-ubun. Pesawat yang gue tumpangi gak bisa
mendarat langsung di Riau karena kondisi cuaca di sana yang buruk.
Butuh transit beberapa kali di beberapa tempat pula sampai akhirnya
kaki gue bisa menginjakkan tanah Sumatra.

“Hei, ada perlu apa? Kok bawa kamera?” teriak seseorang dari
kejauhan, dari suaranya gue yakin umurnya hanya berkisar setahun tiga
tahunan di atas gue. Kabut yang pekat, membuat jarak pandang
penglihatan gue agak berkurang.

“Maaf, Anda kok bawa kamera? Kamu wartawan?” tanyanya sekali
lagi. Kini jaraknya mungkin hanya selangkah dari tempat gue berdiri. Gue
balik badan dan menatap wajahnya lekat-lekat. Ada sesosok pemuda
berbadan tegap berseragam warna orange berdiri di depan gue
sekarang.

“Bukan. Saya fotografer, dari Inggris,” jawab gue singkat sambil
nenteng-nenteng kamera. Entah apa yang mau gue capture karena
situasinya saat itu bener-bener isinya kabut semua.

“Inggris? Maaf, bukannya tidak percaya. Tapi nampaknya muka
kamu tidak ada ke-Inggris-Inggrisannya sama sekali,” jawab pemuda ini
yang namanya pun sama sekali gue gak tahu sambil terkekeh. “Iya
sudah, yang terpenting ini Bang, pakai maskernya. Sudah banyak yang
terkena ISPA, jangan sampai kamu sebagai pendatang yang jauh-jauh
dari Inggris ini juga terkena dampaknya,” lanjut pemuda tanpa nama
sambil menyodorkan sebuah masker ke arah gue.

Gue cuma bisa bengong. Setelah gue pakai masker, gue
menyamakan langkah kaki gue dan berjalan bareng dia. Ada perasaan
ganjal waktu gue ngobrol dengan pemuda tanpa nama itu. Semacam
perasaan yang sudah kenal lama namun tak ingat pernah kenal di mana.

“Kamu ini betulan orang Inggris?” tanyanya memecah keheningan.
“Kalau iya, mengapa repot-repot datang ke sini?”

Komunitas Negeri Kertas 71

“Saya orang Indonesia, Bang, tapi sudah sebelas tahun terakhir ini
stay di Inggris. Saya fotografer dan saya lebih suka alam sebagai
objeknya, terutama bencana alam.”

“Kedengarannya agak aneh. Kenapa mesti bencana alam? Banyak
objek lain yang lebih menarik kan?”

Kita berdua menyusuri jalanan sepi yang berkabut. Gue gak tahu
langkah kita menuju ke mana. “Sejujurnya saya punya kenangan buruk
dengan bencana alam, Bang. Saya kehilangan keluarga sekitar tahun
2004 karena Tsunami. Itu juga alasan mengapa saya hijrah ke London
dan jadi fotografer. Akan banyak momen yang kita dapatkan dari sebuah
foto. Karena apa? Karena foto dapat berbicara segalanya. Objek lain
nampaknya sudah terlalu mainstream. Fotografer bencana alam yang
sekiranya masih jarang. Meski bukan perkara mudah untuk
menghilangkan ingatan yang jelas-jelas pernah terjadi di depan mata,
apalagi perihal sebuah bencana yang menimpa kita, tapi saya ambil sisi
positifnya saja. Terkadang, Tuhan mengingatkan kita dengan cara yang
unik,” jelas gue panjang lebar.

“Jadi begitu. Kamu bicara soal tsunami, saya jadi ingat keluarga
saya juga. Hilang diterpa ombak tsunami yang membabi buta. Ya... jadi
beginilah saya sekarang. Menjadi bagian dari TIM SAR memang butuh
perjuangan. Saya tidak ingin orang lain nasibnya seperti saya yang
seringkali merasa kehilangan. Meski yang namanya kehilangan itu pasti,
tapi usaha untuk menolong kan tak ada salahnya untuk dicoba,” timpal
pemuda tanpa nama dengan bijaksana. “Saya juga teringat adik saya.
Dia lucu pula. Saya pikir dia sudah meninggal, mati terhunus ombak
yang menyapu daratan, semoga saja dia dapat tempat terbaik di sisi-
Nya,”

Gue diem. Dia diem. Gue menyamakan langkah gue dengannya.
Dia ingin menunjukkan keadaan korban-korban akibat kabut asap
dengan mengajak gue ke sebuah rumah sakit. Belum sempat gue
membuka mulut untuk menanyakan namanya, tiba-tiba.…

72 Melawan Kabut Asap

“Bang Fikar!” terdengar teriakan seseorang. “Bang, ada yang butuh
bantuan di sana.”

“Sebentar, aku ambil senterku dulu,” sahut pemuda tanpa nama itu
yang ternyata namanya adalah Fikar.

Bang Fikar dengan tergopoh-gopoh mengeluarkan senter dari
dalam tasnya. Dia berlari dan meninggalkan gue dalam gumpalan kabut.

“Mampus, gue sendirian,” batin gue.

Di antara kabut yang makin membuat sesak, gue menemukan
sebuah dompet tepat di tempat di mana bang Fikar berdiri tadi. Gue
mencoba mencari sosok bang Fikar, namun nihil. Dia menghilang dalam
kabut.

“Gue penasaran,” gue monolog di sepanjang koridor rumah sakit.
Berusaha berkali-kali menampik keinginan untuk buka tuh dompet.

“Ah.. masa bodoh. Kalau gak gue buka, mana gue tahu wajahnya.”

Gue membuka dompetnya perlahan. Ada sebuah kartu identitas
yang membuat gue terhenyak.

“Agatha Zulfikar Barie. Nanggroe Aceh Darussalam, 17 Januari
1992....”

Gue bungkam sejenak. Satu hal yang lebih membuat gue kaget
adalah adanya sebuah bingkai potret lelaki dan wanita parubaya dalam
dompetnya. Wajah keduanya persis dengan wajah di foto dalam dompet
yang gue punya. Dunia gue berputar namun dompet masih dalam
genggaman. Gue tahu apalagi yang sebentar lagi harus gue cari selain
foto bencana alam.

Gue sibuk memotret kejadian demi kejadian. Seorang yang tua
sedang memegang selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Satu
lagi disana ada anak kecil yang sedang tidur selagi ditemani ayahnya
yang terlihat letih terkulai di pinggir tempat tidur. Ada angle lainnya
dimana terdapat ibu-ibu yang sedang menangis meratap karena baru

Komunitas Negeri Kertas 73

saja ditinggal selamanya oleh sang anak. Dengar-dengar, kematiannya
terjadi karena banyak asap yang masuk ke paru-parunya. Gue capture
satu per satu dengan hati teriris. Gue ingin marah, kenapa semuanya jadi
serunyam ini, tapi gue bingung harus meluahkan kemarahan kepada
siapa. Di sela-sela itu semua, masih ada secuil harapan dalam hati gue
yang mengatakan ‘Gue pingin ketemu lagi sama bang Fikar..’

Gue masih terbengong sampai akhirnya sebuah tepukan di pundak
membuyarkan lamunan gue. “Buukkk..,” tepukannya keras sekali. “Kamu
fotografer dari Inggris tadi itu kan? Saya mau tanya….”

Belum sempat dia melanjutkan bicara, dengan segera gue
menjabat tangannya dan memeluknya. Dia sempat kaget dan menolak
hingga gue bilang....

“Bang Fikar betul tak kenal aku? Aku Elgi, Bang! Elgi Alamsjah
Barie...,” teriak gue dalam pelukan. Badannya mendadak kaku. Dia
melepaskan pelukannya dan bertanya....

“Elgi? Elgi a-a-adik-kku? Kok bisa?”

Hanya satu anggukan yang menjadi sebuah jawaban. Kemudian
gue menunjukkan sebuah foto dalam dompet yang gue miliki. Sama
persis dengan reaksi gue pertama kali ngeliat foto dalam dompetnya,
bang Fikar malah terlihat lebih terkejut. Gue sempat merasa cupu,
karena gue nangis. Gue sempat merasa cupu, karena gue mengira hidup
gue terlalu mendrama. Tapi inilah gue, yang sedang menangis di pelukan
abang yang benar-benar gue rindukan keberadaannya. Awalnya ia
sempat menolak pelukan dari gue, namun kali ini, malah dia yang
memeluk gue lebih erat.

***

Sudut pandang Ara :

London, 23 September 2015.

Tiga bulan lebih telah berlalu, Elgi sempat mengirimkan foto dari
hasil jepretannya dari Riau. Sama saja dengan hasil jepretannya yang

74 Melawan Kabut Asap

lain. Masih, selalu, dan tetap menawan. Dia pernah mengatakan sinyal di
sana benar-benar tidak ada. Harus menaiki bukit terlebih dahulu jika
ingin berkomunikasi. Gue pun yakin, dia pasti mengirimkan foto-fotonya
dengan susah payah.

Seringkali gue scroll down scroll up hasil jepretan menawannya di
laptop. Ada foto yang menceritakan tentang perjuangan untuk hidup di
tengah-tengah suasana yang makin genting, ada foto lain yang
menggambarkan penderitaan dengan terlihat sebuah rumah yang
terbakar di depan mata kepalanya sendiri, sudut lain mengisahkan ada
seorang anak yang duduk termenung setelah mengalami kehilangan,
namun ada satu foto yang Elgi selipkan sebagai pertanda satu-saunya
kebahagiaan yang ia sempat captured di sana. Adalah sebuah foto kakak
beradik yang sama-sama saling menahan rindu sekian puluh tahun, kini
kembali bersua dalam sebuah bencana. Ironis. Berpisah karena
bencana, bertemu pun karena bencana.

Tepat tiga bulan sejak Elgi di sana, dia mengalami sesak napas
yang parah. Bantuan oksigen tak jua dapat membantu menormalkan
udara dalam paru-parunya. Jasad Elgi dipulangkan ke tanah Aceh,
dimakamkan di sanding makam ayah ibunya.

Kata-kata terakhir yang Elgi minta ke gue adalah, “Ara, gue perlu
ending di cerita gue.” Maka dari itu gue di sini. Gue ada untuk
menyelesaikan cerita ini. Dari himpunan foto yang Elgi kirimkan ke gue
sebelum kepergiannya, ada satu foto yang menurut gue sangat menarik,
yaitu foto sebuah makam. Sengaja pula, ia bubuhi dengan sebuah
caption yang lumayan panjang di bawahnya.

“Ini tulisan kemarahan. Jangan baca kalau tak siap. Akan kuawali
dengan sebuah kalimat ‘tak ada yang salah dalam sebuah bencana’.
Tuhan hanya ingin kita merenung sejenak. Berhenti sebentar dan melihat
sekitar. Mungkin kita yang buat salah, atau mungkin memang kita yang
sengaja membuat keadaan makin rumit. Aku pikir, aku marah. Ya... aku
memang marah. Bukan pada Tuhan, melainkan aku marah kepada
mereka. Kepada mereka yang aku kira memiliki otak maupun hati.
Namun nyatanya mereka tak punya keduanya sama sekali.

Komunitas Negeri Kertas 75

Kalau begitu, apa yang salah dari sebuah bencana? Jika dengan
bencana, aku dapat merasakan kehilangan, aku yakin jawabannya masih
‘tak ada yang salah dalam sebuah bencana’. Dengan kehilangan, aku
mampu menghargai artinya keberadaan. Maka dengan sebuah
perpisahan, pun aku mengerti arti sebenarnya dari sebuah pertemuan.

Apa yang salah dari sebuah bencana? Beritahu aku! Adakah
gerangan di sana yang ingin menjawab ‘Bencana adalah sebuah takdir.
Sejatinya hidup itu simple. Manusianya saja yang rumit’. Ataukah ada
jawaban lain yang lebih memuaskan? Cepat beritahu aku karena aku
masih marah! Jika tak sanggup menjawab, maka dengarkan sebentar
petuahku ini..

‘Setidaknya masih ada setitik bahagia dalam sebuah bencana.
Belajarlah setelah patah, karena dia yang pernah patah, darinya akan
belajar tabah. Belajarlah dari sebuah musibah, karenanya kamu akan
mengerti alasan apa dan mengapa kamu diciptakan..’

Menyesalkah kamu baca tulisan ini? Kan sudah kubilang, ini-
tulisan-marah. Kenapa masih baca?

- Dari Aku, yang ingin pulang -

Penulis:

Nama saya Charela Marintan. Salah satu mahasiswi Ilmu Keguruan dan
Pendidikan universitas swasta di Malang. Dalam tulisan sebelumnya,
saya telah menceritakan bahwasanya dunia tulis menulis merupakan
dunia kedua dimana saya pulang setelah lelah melewati hari demi hari.
Dunia pertama saya adalah keluarga. Selama 20 tahun hidup di muka
bumi, ada dan banyak macam kejadian yang telah saya alami. Keluar
masuk rumah sakit, ditinggalkan orang yang disayang untuk selama-
lamanya, berdiri di bawah kaki langit yang sedang goyah (baca: gempa
bumi), hingga membersihkan rumah yang sedang banjir disaat ulang
tahun saya yang ke 10 tahun.

76 Melawan Kabut Asap

Saya sangat cinta dengan dunia tulis menulis. Jika dibandingkan dengan
kecintaan terhadap sesama manusia, saya lebih memilih jatuh cinta
dengan dunia tersebut. Jika tidak ada seorang pun yang dapat saya
jadikan luapan emosi saya ketika sedang jenuh-jenuhnya menjalani
hidup, apa lagi kalau bukan selembar kertas putih yang bisa saya jadikan
sandaran selain Allah SWT. Keduanya tak pernah berdusta kepada saya.
Nama FB : Charela Marintan

Semoga tulisan saya kali ini dapat bermanfaat bagi orang lain yang
membacanya.

Komunitas Negeri Kertas 77

Mata Elang Sang Jurnalis

Karya: Diana Rahmatus Sholichah

“Krrrrrrrrrrriiing… krrrriiiiiing… krrriiiiing,” alarm berbunyi.
Hari ini aku ditugaskan untuk melakukan liputan di Riau bersama
Fadhil. Ya... titik api yang terdeteksi oleh NASA, kini akan menjadi berita
terburuk untuk masyarakat Riau. Hatiku bergetar mendengarnya, aku
harus sedih apa harus bahagia? Karena di sana nanti aku juga akan
menghibur para malaikat-malaikat kecil yang harus kami ungsikan ke
tempat yang aman, agar kidak terkena kabut asap yang kian pekat.
“Cesa, kamu sudah siap?” tanya Fadhil.
“Iya, Dhil... aku sudah siap kok!”
Meskipun mataku masih terisi 5 watt, namun aku cukup semangat
untuk melakukan liputan ini dan berangkat sepagi ini. Beberapa agenda
sudah aku siapkan, termasuk membagikan 2000 masker pada orang-
orang yang terdampak kabut asap.
“Ceeeesss…? Gak habis pikir ya gue, kenapa orang-orang tega
membakar hutan? Padahal sudah jelas kita ketahui, hutan-hutan yang
terdapat di Indonesia difungsikan sebagai paru-paru dunia. Apa itu
orang-orang gak mikir apa ya, atas apa yang mereka lakuin?” tanya
Fadhil di dalam pesawat dengan emosi yang meluap-luap.
“Kalau sudah bahas materi, Dhil, semua kepentingan masyarakat
dan kesejahteraan masyarakat sudah dilupakan. Mereka tidak peduli apa
yang mereka lakukan. Yang jelas, apa yang mereka lakukan saat itu
akan menyejahterahkan mereka,” ucapku dengan emosi yang sedikit
tertahan.

78 Melawan Kabut Asap

Pertanyaan yang dikatakan Fadhil barusan, adalah pertanyaan yang
ada di kepalaku beberapa hari yang lalu. Mengapa mereka begitu tega?
Mengapa mereka melakukan hal ini? Mengapa mereka begitu kejam?
Bukannya kita adalah bagian dari Pancasila? Lalu jika iya, kenapa harus
ada derita yang dibuat oleh penguasa-penguasa yang gila akan materi
dan kekuasaan? Siapa dalang di balik semua ini? Ehm... entahlah
semakin aku memikirkan itu semakin aku ingin mengutuk mereka semua
yang melakukan kekejaman ini pada orang-orang yang harus
menanggung dampak dari perlakuan mereka.

***

Beberapa jam kemudian…

Sesampainya di Riau aku hanya termangu melihat keadaan kota
yang tiba-tiba menjadi gelap. Bukan karena hari sudah malam.
Melainkan karena pagi yang sangat cerah ini harus tertutupi kabut asap
yang begitu pekat. Sungguh sangat disayangkan, jika mereka tidak bisa
melihat kecantikan matahari dan tidak bisa menghirup udara segar di
pagi hari. Keadaan ini benar-benar sangat mengkhawatirkan bagi semua
orang yang terkena dampak kabut asap. Ini adalah hari pertamaku di
sini, dan gak kebayang jika mereka harus hidup seperti ini untuk
beberapa minggu ke depan, dengan intensitas udara bersih yang hanya
tersisa 5% saja.

Aku dan Fadhil, seperti tersambar petir disiang bolong mendengar
kapasitas udara bersih yang hanya tersisa 5%. Begitu mahalnya udara
bersih hingga mereka bernapas harus memakai puluhan masker agar
tidak merasakan dampak yang serius karena menghirup 95% udara kotor
di Riau.

“Cesa... kita akan tinggal di posko terdekat untuk melakukan liputan
take-1.”

“Oke, Dhil... berapa jam lagi kita melakukan liputan ini?”

“Sekitar 2 jam ke depan, kita akan live report, Ces....”

Komunitas Negeri Kertas 79

“Oke, kalau gitu aku mau wawancara salah satu ketua dari BNPB
kota Riau, relawan, dan masyarakat sekitar. Lo mau ikut liputan apa mau
ngeliput sendiri?”

“Gue ikut sama lo aja, untuk take gambarnya nanti gue mau liputan
sendiri aja, Ces.”

Aku mencari beberapa info seputar bencana kabut ini ke beberapa
orang. Bencana kabut asap ini bukan pertama kalinya terjadi, namun
sepanjang sejarah ini adalah yang paling parah dari peristiwa
sebelumnya.

“Sudah berapa lama Anda di sini untuk menjadi relawan bencana
asap ini?” tanyaku kepada salah satu relawan Indonesia Sehat.

“Saya di sini sudah hampir seminggu yang lalu, Mbak,” jawab Fahrul
salah satu relawan Indonesia Sehat.

“Lalu, kegiatan apa saja yang sudah diagendakan dalam
penanganan bencana asap ini?” Perbincangan kami tidak hanya berhenti
di situ saja. Banyak yang aku pertanyakan kepada beberapa orang yang
aku jadikan narasumber. Termasuk bertanya mengenai orang-orang
yang terlibat dalam peristiwa pembakaran tersebut. Namun, tidak satu
pun orang yang tahu siapa dalang di balik pembakaran hutan tersebut.
Entah... mereka tahu namun menutup mulut mereka karena ancaman
dari luar atau mungkin mereka memang benar-benar tidak tahu.

***

Satu jam kemudian…

Setelah live report selesai aku dan Fadhil meninjau beberapa
daerah yang terkena dampak bencana asap yang paling parah.
Sepanjang perjalanan kami, aku hanya melamun melihat kota yang
sebelumnya padat dengan aktivitas orang-orangnya kini harus tertutupi
dengan kabut asap yang pekat. Sekolah diliburkan, roda perekonomian
melemah, bahkan aktivitas menghirup udara bebas sangatlah minim.

“Cess… lo gak papa?” tanya Fadhil menyadarkan lamunanku.

80 Melawan Kabut Asap

“Enggak kok, Dhil, gue gak apa-apa.”

“Oh, gitu,”ucapnya dengan nada dingin.

***

Jam menunjukkan pukul 21.00…

“Hai, Ces,” sapa Fadhil dengan membawa secangkir minuman.

“Iya... hay juga,” ucapku dengan melempar senyuman manis.

“Gimana liputan kamu hari ini? Sukses?”

“Alhamdulillah, sukses. Tapi, masih ada yang ngeganjel aja, soalnya
belum nemuin jawaban siapa dalang di balik pembakaran ini,” ucapku
dengan meminum seccangkir susu yang dibawa Fadhil.

“Ddeeeettttt… ddeeerrttt… calling me... calling me….”

“Sebentar ya, Dhil,” mengangkat teleponku.

“Haloo… iya ada apa, Pa?”

“Kamu kapan pulang?”

“Cesa, kayaknya masih lama deh, Pa, soalnya Cesa juga mau
menginvestigasi orang-orang yang terlibat pembakaran, termasuk para
pejabatnya juga sih, Pa!”

“Kamu gak perlu ngelakuin itu! Kamu bukan dari instansi
pemerintahan kan?! Jadi buat apa ngelakuin hal kayak gitu! Itu biar jadi
urusan para instansi pemerintahan aja!” Wajahku tertunduk lesu,
mendengar ayahku berkata seperti itu. Tidak biasanya dia memakai nada
begitu keras kepadaku.

“Kamu kenapa, Ces? Papa kamu marah ya?”

“Aku gak apa-apa kok! Entahlah aku juga gak tahu, apa dia marah
atau tidak. Tapi, tidak biasanya dia berkata begitu kasar padaku.”

Komunitas Negeri Kertas 81

Di tengah-tengah perbincanganku dengan Fadhil tiba-tiba aku
merasa begitu sangat lelah, tidak seperti hari-hari biasanya. Seperti ada
putaran gelombang di kepalaku, dadaku mulai terasa sangat sesak,
tubuhku terasa sangat lemas dan mataku tiba-tiba menutup tanpa
keinginanku. Aku mulai menyandarkan kepalaku di bahu Fadhil.
Minuman yang semula sangat erat di genggamanku, tiba-tiba
kutumpahkan tanpa sengaja di baju Fadhil.

“Ces... Cesa…. Kamu gak apa-apa?” Tanya Fadhil dengan sangat
panik. “Cesa…. Kamu kenapa, Cesa? Haduuuhh... ini cewek kenapa
sih?” ucap Fadhil menggendong Cesa.

***

Beberapa hari kemudian…

“Haduuuh kepalaku kok masih terasa pusing gini? Lah... kenapa aku
di rumah sakit ini sih? Kenapa banyak alat-alat di badanku?” ucapku
terheran-heran. “Bukannya semalam aku sama Fadhil ya? Terus ke
mana dia?” gumamku.

“Semalem kata lo, lo itu sudah tiga hari di sini koma, Cesa!” sahut
Fadhil.

“Ha? Tiga hari lo bilang? Emang gue sakit apa?”

“Infeksi paru-paru karena riwayat penyakit lo asma, terus lo terjun di
daerah kabut asap tebal. Itu yang jadi penyebab lo koma beberapa hari
ini!”

“Ha? Infeksi paru-paru? Terus yang bawa gue ke sini siapa?”

“Gue! Kalo lo di sana gue khawatir kalau keadaan lo tambah parah.
Gua udah telepon ayah lo.”

Sejak kapan fadhil begitu perhatian dengan orang lain. Sifatnya
yang dingin, cuek dan jutek kepada orang lain, gue gak nemuin itu hari
ini. Sifatnya begitu manis sama aku, apalagi waktu malam itu. Tidak
biasanya dia bersikap semanis itu dengan membawakan aku secangkir

82 Melawan Kabut Asap

susu coklat dan bertanya tentang kegiatanku. Pribadinya yang pendiam
dan cuek membuatku seakan mimpi dalam perhatiannya.

“Heeey…. Anak papa sudah bangun nih?”

“Pagi, Om,” ucap Fadhil.

“Gimana keadaan kamu hari ini? Sudah agak mendingan kan,
Nak?”

“Alhamdulillah sudah, Pa.”

“Syukurlah. Oh ya... untuk sementara kamu jauhin aktivitas kamu
sebagai jurnalis dan relawan! Kamu fokus saja sama bisnis kamu. Ini
juga demi kebaikan kamu!”

“Kebaikan apa, Pa? Kebaikan yang mana? Kenapa aku harus
ngejauhin hal yang aku suka,” ucapku dengan nada sedikit tertahan.

“Papa besarin kamu seperti ini, bukan untuk membuat kamu
membangkang ya sama perintah Papa.” Ucap papaku dengan nada yang
agak keras.

Hari ini dan tiga hari yang lalu, adalah hari di mana waktu tidak
berpihak lagi padaku. Untuk kedua kalinya papa begitu marah padaku.
Untuk alasan apa? Aku pun juga tidak tahu itu. Aku merasa bahwa laki-
laki berjas yang berbicara denganku dan tiga hari yang lalu bukanlah
ayahku. Mataku pun berkaca-kaca merasakan kekecewaan yang begitu
jelas terlihat.

“Fadhi...” ucapku.

“Iya, Cesa... hey kok nangis sih?” ucap Fadhil memelukku.

***

Beberapa minggu kemudian…

“NASA menemukan beberapa titik api di Kalimantan Tengah. Hal ini
tentu akan membuat kota Kalimantan Tengah mengalami siaga 1

Komunitas Negeri Kertas 83

dampak kabut asap. Beberapa orang di Kalimantan Tengah sudah
merasakan kabut asap. Terlihat jelas bahwa di beberapa daerah di
Kalimantan Tengah tertutupi kabut yang amat pekat,” siaran live salah
satu berita TV.

“Ddeerttt... Ddeeerttt... Calling me calling me….”

“Iya... halo, Pak?” ucapku dengan nada lemas.

“Kamu sudah lihat berita hari ini?” ucap Pak redaksi berbisik.

“Sudah, Pak.”

“Saya sudah memesankan tiket untuk kamu, sekarang kamu cepat
berangkat ke Kalimantan Tengah. Fadhil sudah berangkat duluan dari
semalam.”

“Siap, Pak!”

Sudah hampir dua minggu aku tidak melakukan tugasku sebagai
seorang jurnalis. Mumpung hari ini papa tidak ada, jadi aku bebas
melakukan apapun. Di rumah ini aku hanya tinggal berdua dengan
ayahku. Ibuku sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Sedangkan adikku
melanjutkan beasiswa S2 arsitekturnya di Belanda untuk beberapa tahun
ke depan. Sudah 3 tahun ini aku tinggal berdua dengan ayahku. Aku
bahkan sudah terbiasa dengan keadaan yang sangat sepi. Hari ini aku
tidak mau merasakan kesepian itu lagi. Segera aku berkemas dan
melangkahkan kakiku perlahan-lahan mengikuti arah jalan keluar
rumahku. Dengan napas yang mendesa-desa dan kaki yang sangat
berhati-hati aku berharap bahwa ayahku tidak berada di rumah hari ini.

“Cesa!” panggil ayahku dengan nada yang tegas.

“Iya, Pa?” aku tertunduk lesu.

“Mau ke mana kamu? Papa kan sudah bilang kalau, sementara ini
kamu harus menjauhi pekerjaan kamu sebagai jurnalis dan relawan?!!”

“Ddeerttttt... deertt…. Calling me calling me….”

84 Melawan Kabut Asap

“Haduh… pasti ini Pak Redaksi yang telepon. Please, Pak, jangan
telepon sekarang,” gumamku dalam hati.

“Siapa itu yang telepon? Sini Papa yang angkat?” ucap ayahku
dengan nada marah.

“Haloo…?” ucap Fadhil.

“Halo, ini siapa?” ucap papaku.

“Ini Fadhil, Om. Cesanya sudah berangkat belum, Om?”

“Fadhil... Cesa gak akan berangkat ke Kalimantan! Bilang sama
Ketua Redaksi kamu, hari ini dia mengundurkan diri sebagi seorang
jurnalis untuk suratnya akan menyusul nanti sore!” ucap papa langsung
mematikan teleponnya.

“Haaa…? Kenapa Papa ngomong gitu? Menjadi seorang jurnalis
kan impianku sejak dulu, Pa? Kenapa Papa tiba-tiba kayak gini ke Cesa?
Papa jahat sama Cesa!”

“Mulai hari ini kamu tidak boleh keluar rumah kecuali hanya untuk
mengurus bisnis-bisnis kamu. Papa akan ngirim kamu mata-mata jadi
jangan sekali-kali kamu macem-macem sama Papa!!! Sekarang pergi ke
kamar kamu!!!”

Kekecewaanku kepada ayahku sudah tidak bisa terbendung lagi. Air
mata terus mengalir seakan aku tidak percaya dengan apa yang ayah
katakan padaku. Semua mimpiku seakan musnah dalam beberapa menit
saja. Mata yang terbuka lebar untuk melihat dunia, seakan ingin aku
tutup dengan sangat rapat dan berharap bahwa ini hanya mimpi buruk
yang tidak harus aku lewati.

***

Beberapa hari kemudian….

Hari demi hari aku berada di rumah ini tanpa tujuan dalam hidupku.
Tatap mata yang kosong membuatku sudah lelah dengan kehidupan
seperti ini. Hidupku seakan berada dalam sebuah penjara di dalam

Komunitas Negeri Kertas 85

istana rumahku sendiri. Puluhan pasang mata siap menjagaku ke mana
pun aku pergi. Keadaan yang membuatku sangat tidak nyaman dengan
ini semua. Meskipun hari ini aku ada jadwal untuk meeting dengan
partner-ku untuk kerjasama butik dan property, tapi semangat itu seakan
hilang dan musnah seiring dengan langkah kakiku yang berat untuk
menentukan arahku.

“Cesa berangkat dulu, Pa,” ucapku tertunduk lesu.

Langkah demi langkah aku berjalan dengan tatapan kosong.
Puluhan pasang mata sudah siap mengintaiku, seakan aku adalah objek
utama sasaran mereka untuk memulai sebuah peperangan.

“Miss… partner kita sudah berada dalam ruang meeting.”

“Oke... 5 menit lagi aku akan menyusul.”

Haaa…? Kenapa aku harus melewati kejadian ini? Kejadian yang
membuatku seakan menyerah pada waktu. Kejadian yang membuatku
seakan menjadi tersangka utama dalam hal ini. Apa aku salah dengan
apa yang aku lakukan? Kenapa ayah begitu marah padaku? Gumamku
dalam hati dengan berkaca.

***

5 menit kemudian...

“Loh, Fadhil?” gumamku dalam hati.

“Kamu…? Kamu partner-ku?”

“Iya, Ces... agak konyol sih, tapi dengan cara ini aku bisa ketemu
kamu,” ucap Fadhil.

“Ehmm... syukurlah! Gimana keadaan di Kalimantan Tengah?
Separah kayak di Riau gak?”

“Untungnya gak separah di Riau, Ces, tapi cukup mengkhawatirkan
juga sih.”

86 Melawan Kabut Asap

“Kamu bawa dokumentasi kita yang di Riau kah, Dhil? Oh iya...
sekalian yang di Kalimantan Tengah juga,” ucapku dengan begitu
semangat. Seperti yang dibilang fadhil “meskipun konyol” tapi hal inilah
yang bisa membuat kami bisa bertemu dan membahas kejadian ini
dengan penuh hati-hati. Sesuai dengan keinginanku, aku akan
menyelidiki dan menyeret para dalang utama di balik pembakaran ini.
Aku mulai menganalisa dua kejadian yang berbeda wilayah itu. Beberapa
kesamaan pembakaran membuatku menyimpulkan bahwa ini adalah
dalang yang sama. Peristiwa pembakaran hutan ini seolah-olah sudah
direncanakan dari awal oleh beberapa oknum, entah dengan motif apa
mereka melakukan hal itu. Yang jelas, dengan adanya hal ini aku bisa
mengembangkan investigasiku. Yah... meskipun aku bukanlah seorang
polisi.

“Bisa hubungin pak Redaksi gak, Dhil, lewat skype?”

Semakin percaya diri aku menginvestigasi dan menganalisa dua
kejadian dengan tempat yang berberda dalam motif yang sama. Tiga jam
lebih aku berada di dalam ruang meeting dan membahas masalah
pembakaran hutan dengan Hamish, Fadhil dan Pak Redaksi.

***

Saat malam tiba…..

Sudah 5 jam lebih aku berada di dalam kamar ini untuk melihat dua
video pembakaran hutan. Apa yang aku presentasikan tadi siang di
ruang meeting bisa diterima oleh Pak Redaksi. Meskipun ayahku tidak
mengizinkan aku untuk berkecimpung lagi di dunia jurnalis, tapi aku tidak
mau menyerah begitu saja dengan ayahku.

Tok.. tok... tok...

“Ini Mbak Ijah, Non? Mbak bawa makanan ini buat Non Cesa?”

“Taruh di meja makan aja, Mbak!”

Komunitas Negeri Kertas 87

Aku hampir lupa jika tubuhku ini bukan robot yang tidak
membutuhkan asupan makan. Ehm... untuk beberapa menit aku
menghentikan proses analisa video ini dan beranjak ke meja makan.

“Kan saya sudah bilang, jangan sampai ada yang membuka mulut
tentang ini semua!!!” ucap ayahku dengan amarah yang begitu
menggebu-gebu.

“Papa kenapa ya, kok marah-marah gitu?” Perlahan langkah kakiku
mendekati ruang kerjanya dengan diam-diam. Entah kenapa aku
membawa HP di genggamanku, padahal tidak biasanya aku
membawanya ketika aku akan makan.

“Berikan uang pada semua orang yang terlibat dalam pembakaran
hutan di Riau dan Kalimantan Tengah agar mereka tidak membongkar
siapa dalang di balik pembakaran hutan di dua tempat itu!!!”

Aku tersontak kaget mendengar ayah mengatakan hal itu. Kakiku
seakan terasa sangat lemas dan tidak sanggup lagi untuk menopang
badanku. apa karena ini ayah menyuruhku untuk berhenti di dunia
jurnalis dan menghentikan kegiatan relawan di Riau dan Kalimantan?

“Papa, apa karena ini Papa menyuruhku untuk berhenti dari dunia
jurnalis?” ucapku dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa Papa tega
melakukan hal itu padaku, Pa?”

“Cesa... Papa bisa jelasin ke kamu,” ucap ayahku dengan bibir
bergetar seakan dia merasa sangat menyesal.

Aku mulai menyembunyikan handphone yang ada di genggamanku.
Dia mulai berbicara, menjelaskan apa yang terjadi dengan hutan-hutan di
Indonesia.

“Papa tau, kamu mungkin kecewa dengan semua ini. Tapi Papa di
sini, Papa gak tau bersalah dengan semua ini.”

“Apa maksud Papa dengan tidak bersalah? Papa tau berapa juta
jiwa yang menanggung akibat ulah Papa? Berapa juta jiwa orang yang

88 Melawan Kabut Asap

tidak bersalah harus menghirup udara kotor? Papa arusnya tau tentang
hal itu, bukan hanya memikirkan keuntungan untuk diri Papa sendiri!”

“Sebenarnya Papa juga gak mau terlibat dalam masalah ini. Kamu
lebih tau Papa orang yang seperti apa. Papa ngelakuin hal ini, itu karena
Papa dijebak oleh kolega Papa. Awalnya mereka ingin membangun
sebuah property di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya di Riau
dan Kalimantan. Papa tidak mau karena Papa tau, jika proyek ini Papa
terima Papa akan menebang dan membakar beberapa hutan di sana.
Tapi Papa gak bisa nolak hal itu, karena mereka sudah mentransfer
beberapa juta US$. Jika Papa tidak menerimanya mereka akan
melaporkan Papa untuk kasus suap. Di samping itu juga adanya
pembakaran hutan ini juga untuk menutupi isu politik yang begitu kuat.
Mereka semua memanfaatkan Papa dalam pusaran masalah mereka,
Cesa.”

“Siapa saja, Pa, yang terlibat dalam masalah ini?”

“Ada lima orang yang menjadi dalang utama dalam pembakaran ini.
dua orang dari pejabat daerah dan tiga orang lainnya dari oknum
pemerintahan.”

Aku merekam setiap pembicaraankku dengan ayahku. Tidak peduli
apa yang terjadi nanti, karena yang aku butuhkan saat ini hanyalah
kejujuran dari papa, agar aku bisa membuka masalah ini dan membuat
jera mereka. Dengan bukti video dan rekaman ini, mungkin aku bisa
melaporkannya ke polisi. Ya meskipun ayahku juga akan terseret dalam
masalah ini.

***

Setahun kemudian….

Aku masih merasa menyesal atas apa yang sudah aku lakukan
kepada ayahku. Mungkin, selama hidupku aku akan menjadi anak yang
paling durhaka di dunia ini. Tidak ada anak yang seberani aku, yang
memenjarakan ayahnya sendiri karena keegoisanku. Meskipun banyak
hujatan di luaran sana, aku akan tetap menerimanya karena aku berpikir

Komunitas Negeri Kertas 89

bahwa ini adalah harga yang harus aku dan ayahku bayar atas apa yang
mereka lakukan.

Hari ini, aku akan berkunjung ke rumah binaan ayahku. Aku akan
merayakan ulang tahunnya yang ke-50 tahun.

“Papaaa.… Selamat ulang tahun ya. Maafkan aku, Pa, aku bukan
anak yang baik untuk Papa,” ucapku dengan air mata yang bercucuran.

“Makasih ya, Nak, kamu sudah ingat sama hari ulang tahun Papa.
Bagi Papa kamu adalah anak Papa yang paling hebat. Kamu tau mana
yang buat kamu baik dan gak baik. Kamu adalah kebanggaan Papa,
Cesa. Jaga adik kamu, jangan sampek telat makan. Sampein ke adik
kamu, Papa merindukan dia. Oh iya, kamu kapan balik lagi ke
Netherland?” ucap ayahku dengan bijaksana.

Sejak kejadian satu tahun yang lalu, ayah menyuruhku untuk pindah
dan tinggal bersama adikku di Belanda. Karena ayah tidak mau aku
tersiksa dengan berbagai hujatan dari masyarakat karena ulahnya. Di
Belanda, aku melanjutkan karirku sebagai seorang bisnis woman dan
penulis. Yaa... satu tahun lalu adalah kesempatan terakhirku untuk
menjadi seorang jurnalis, dan saat itu juga aku memutuskan untuk
berhenti menjadi seorang jurnalis.

“Tiga hari lagi aku akan balik ke Netherland, Pa. papa jaga
kesehatan ya di sini? Cesa pasti akan ngeluarin Papa dari sini, karena
Cesa tau Papa gak bersalah. Merekalah yang harusnya mendapatkan
hukuman yang seperti ini, bukan Papa. Cesa akan berjuang untuk Papa.”

Hanya 30 menit saja, aku mendapatkan kesempatan untuk
membesuk ayahku. Meskipun masih berat meninggalkan papa di sana,
tapi aku harus bisa berjuang untuk keadilan ini. Aku bersyukur, meskipun
aku memilih jalan ini dan membuat ayahku menanggungnya tapi dengan
ini aku bisa menyelamatkan ribuan jiwa di yang terdampak kabut asap.
Semoga saja dengan tertangkapnya para dalang utama pembakaran
hutan, hutan-hutan di Indonesia bisa menjadi paru-paru dunia tanpa ada
gangguan dari mereka yang haus akan kekuasaan.

90 Melawan Kabut Asap

***

Tiga hari kemudian…

Hari ini, aku meninggalkan ayahku dan meninggalkan negeriku
untuk terbang ke Belanda. Ini kedua kalinya aku meninggalkan negara
kelahiranku untuk kehidupanku dan adikku. Berat memang harus
meninggalkan semua kenangan yang sudah aku lewati tapi, inilah yang
harus aku lakukan untuk kebahagiaan dan kebaikan kita semua.

“Cesaaaa….” teriak seseorang memanggilku di bandara.

“Kayak ada yang memanggilku deh?” gumamku penasaran.

“Hey….,” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapanku.

Aku begitu kaget melihat seseorang yang menyapaku dengan
membawa sebucket bungan mawar. Seseorang yang aku temui satu
tahun yang lalu dan seseorang yang menjadi partner-ku selama aku
menjadi jurnalis datang di hadapanku dengan begitu manisnya.

“Kamu ngapain di sini?” ucapku.

“Sengaja, aku di sini untuk menemani kamu pergi ke Belanda.”

“Ha…? Maksud kamu apa?”

“Aku mau tinggal di Belanda. Karena keluargaku juga ada yang
tinggal di sana, jadi aku tidak mau membiarkan kamu sendirian di sana.”

Sejak saat itu aku dan Fadhil, memilih Belanda sebagai tempat
tinggal kami sementara. Aku tidak tau mengapa sikapnya begitu manis
padaku sejak kita liputan di Riau. Yang jelas waktu di Bandara, dia
mengungkapkan bahwa dia ingin memiliki aku dan bersama denganku ke
mana pun aku pergi. Ehm…. Apakah dia menyukaiku? Apakah kita akan
bersama? Entahlah, aku tidak pernah tau apa yang terjadi nanti. Dan
jawaban itu biarkan menjadi jawaban sang waktu.

Komunitas Negeri Kertas 91

Penulis :
Diana Rahmatus Sholichah
Tempat, tanggal Lahir : Sidoarjo, 2 Mei 1995 - Alamat: Jl. Teratai -
Kepadangan Rt. 14/05, Tulangan-Sidoarjo - HP 087852360800 - Nama
Facebook : Dianazie Patra - email [email protected]

92 Melawan Kabut Asap

Tanah Gambut yang Berkabut

Karya: Egi Mahbubi

Lelaki itu menatap air sungai yang memantulkan wajahnya.
Beberapa jenak ia tertegun memandangi bayang wajah yang nampak
diselimuti kabut duka. Saat itu satu persatu embun telah melepas
kecupan terakhir pada punggung daun rasau di tepi sungai yang akan
dikeringkan matahari. Tetapi, ah, mengapa kemarau tak jua
mengeringkan luka itu. Memar di badan dan nganga luka itu kini memang
telah tiada. Tetapi, caci-maki orang-orang yang masih saja terngiang
melukai ingatan, menyisakan sebuah trauma atas kejadian tragis yang
menimpanya.

Kobaran api tak kenal kasihan telah melumat tiang-tiang, dinding-
dinding, dan menghanguskan bagian-bagian bangunan kayu rumah
betang. Hanya tersisa puing-puing bangunan dan remah-remah kayu. Ia
mencoba memulai kehidupan yang baru, menata hati dan memintal hari
demi hari. Di pesisir sungai yang membelah kota Palangkaraya itu ia
tinggal di sebuah lanting yang terapung di bibir sungai Kahayan bersama
iparnya, Alpon dan adiknya, Winey. Saban hari ia bersma Alpon
menyusuri sungai untuk mencari ikan dengan perahu jukung di pagi atau
siang hari dan akan kembali sesaat sebelum senja hilang di kaki langit.
Sementara Winey selalu menunggu di ambang lanting, menantinya dan
Alpon saat membawa ikan-ikan segar yang akan dijual ke pedagang ikan
di Pasar Kahayan.

Tetapi, belakangan ini ia dan Alpon tak menyusuri sungai untuk
mencari ikan seperti biasa karena kabut asap di udara yang masih
terlampau pekat menyekat pandang. Ia lebih banyak menghabiskan
waktu di ambang lanting, memandangi air sungai Kahayan yang
berwarna coklat keruh mengalir. Sementara Alpon di paruh waktunya
lebih banyak dihabiskan untuk memberi pakan untuk ikan-ikan di tambak

Komunitas Negeri Kertas 93

kecil di balik lantai kayu lanting. Rupa-rupa ikan yang ditanam seperti
lais, gabus, emas dan nila.

Beberapa minggu terakhir kebakaran hutan semakin sering terjadi.
Kejadian seperti ini nyaris tak pernah tidak terjadi setiap tahun saat
kemarau panjang, ketika rerumput dan semak-semak kering mudah
terbakar. Biasanya ada seseorang yang sengaja membakar hutan untuk
membuka lahan pertanian atau perkebunan milik perusahaan kelapa
sawit. Tapi, aku tak jua mahfum mengapa mereka begitu mudah
menyalahkannya saat terjadi kebakaran itu.

Sejak peristiwa kebakaran hutan yang menyakitkan itu, ia kerap
memandangi air sungai, menatap wajahnya yang mulai tampak garis-
garis kerut. Sementara Winey, perempuan yang selalu melipurnya kala
sedih itu acap mematung di ambang lanting, melihatnya memandangi air
sungai dengan tatapan mata kosong. Winey memandang wajah lelaki itu
yang tampak sembab akibat menanggung beban kesedihan yang tak
kunjung dapat dilarung.

“Aku mengerti perasaanmu, Kak.” Winey mengelus pundak
kakaknya lalu duduk beberapa depa di sampingnya. Ia seolah turut
menyelami kesedihan saat melihat air mata menganaksungai di pipi dan
mengisi ceruk-ceruk wajah Kakaknya. “Semoga kau tabah.”

Ia membetulkan duduknya lebih dekat dengan Winey kemudian
membuka kata. “Aku tak habis pikir mengapa mereka menuduhku seperti
itu.”

“Ini hanya salah paham. Tak seharusnya Kakak disalahkan seperti
ini.”

“Ya, mengapa mereka tak pernah mendengarkanku bicara,” katanya
dengan nada meninggi. Winey hanya terdiam beberapa jenak. Ia
menatap mata kakaknya yang nanar.

Memang, ini sungguh tak adil. Ia hanya seorang yang tersudut
karena kebakaran hutan itu. Padahal kutahu, ia tak pernah membiarkan
api membakar semak-semak hingga menjalar ke rerumput dan akar-akar

94 Melawan Kabut Asap

yang tertanam di tanah gambut. Di belahan hutan lain aku melihat
seseorang yang membuat api dari balik semak belukar. Api yang
kemudian dengan mudah menjalar dan membakar puluhan hektar hutan.
Juga puluhan rumah warga di sebuah pendukahan yang tak jauh dari
ambang hutan yang turut dilumat api.

***

Asap-asap berlarian mulai dari daerah sekitar sampai ke kota
bahkan ke negara-negara tetangga. Orang-orang harus bernapas
dengan dada sesak. Kabut asap yang bertebaran di udara memedihkan
mata. Terlebih bagi warga pendukuhan yang letaknya paling dekat
dengan hutan itu. Mereka kian kadung tersulut api emosi dan tak mampu
lagi menahan diri. Lantas, mereka berbondong-bondong mendatangi
hutan dengan dada terbakar. Saat itu mereka mendapati seorang lelaki
baru saja keluar dari ambang hutan. Serta merta mereka
menghampirinya.

“Mengapa kau begitu ceroboh membiarkan api membesar?”
seorang lelaki bertanya dengan wajah merah padam. “Kau kah membuat
api?”

“Saya tak membakar semak-semak atau apapun, apalagi
membiarkan api membesar!”

“Ah! Pasti kau sengaja membakar hutan untuk membuka lahan.”

“Sungguh, saya tak bohong,” ia terus meyakinkan.

“Masih saja kau mengelak,” yang lainnya menyahut.

“Sudah, tak usah banyak cakap!”

Mereka langsung mengerumuni lelaki itu. Amarah meledak-ledak.
Mereka memberikan kepalan dan tendangan yang mendarat di kepala
dan tubuh lelaki itu. Aku hanya dapat menyaksikan ia menahan sakitnya
memar di badan. Aku semakin bergidik kala mandau yang sedari tadi
mengilat menatapnya itu akhirnya merobek kulit punggungnya. Tanah

Komunitas Negeri Kertas 95

gambut panas tersiram darah segar yang mengalir dari daging di sebalik
kulit yang menganga.

***

Sejak peristiwa nahas itu ia memutuskan memilih untuk berpaling
dari keadaan dan mengasingkan diri ke pesisir sungai Kahayan sampai
bara kebencian di dada mereka benar-benar padam dan kebakaran
hutan berakhir. Namun, sampai kini kemarau tak kunjung beranjak dan
hutan-hutan terus dibakar oleh orang-orang untuk membuka lahan
perkebunan. Asap-asap pekat menyembul ke udara. Kabut asap kian
menyelimuti udara bumi Tambun Bungai.

Bencana yang kerap terjadi telah menimbulkan kecemasan di
mana-mana. Kabakaran demi kebakaran telah menyulut emosi yang
berujung pada konflik penduduk di sekitar hutan yang geram dengan
perusahaan kelapa sawit. Di kota aktivitas orang-orang pun terganggu
karena pandangan yang tersekat kabut asap. Paru-paru mereka kian
tersiksa karena bernafas dalam udara yang terasa sesak di dada.

Kini di akar gambut yang tertanam di tanah masih tersimpan bara
yang lamat-lamat akan menjalar melalui akar-akar dan menjadi api,
kemudian menjilati rerumput dan semak belukar, lalu dedaun dan
reranting. Pohon-pohon satu persatu terbakar dan tumbang. Tahu-tahu
batangpun telah berubah menjdi arang. Daun-daun berubah menjadi
menjadi abu. (*)

Tambun Bungai, Oktober 2014

Penulis:

Egi Mahbubi

Lahir di Serang, 1 Oktober 1992. Alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia, FKIP, Untirta. Bergiat di Bengkel Menuis dan
Sastra (Belistra) dan Kubah Budaya. No. Hp: 08980138938

96 Melawan Kabut Asap

Flare

Karya: Arnita Purbosari

Hari itu awan masih menggumpal di langit, sama seperti hari
sebelumnya, hari itu terik masih mengikis hijaunya daun di pelataran
yang mulai habis digerogoti musim panas, sama seperti hari sebelumnya
pula, hari di mana Eren berusia sepuluh tahun lebih dua hari, sembilan
jam, dan menit yang lupa dihitung, hari ini adalah hari yang membedakan
dari hari yang lain, hari di saat akhirnya Eren akan pergi ke rumah orang
tua yang telah mengadopsinya.

Eren seorang yatim piatu, sejak dot masih menggantung di bibir
kecilnya, dia sudah akrab tengan suasana panti asuhan tempatnya
tinggal dan belajar bersama teman-teman, beberapa kali bumi berputar
tiba-tiba satu per satu temannya mulai diadopsi, mulanya Armin, teman
dekatnya, dia memang sangat menggemaskan, jadi memang pantas
untuk diperebutkan, kemudian Mikasa, gadis itu walau garang tak
terpungkiri kecantikannya walau masih balita, Eren bertahan hingga usia
sepuluh tahun, usia dimana seorang anak harus segera diadopsi, bukan
karna Eren nakal, hanya bocah itu terlalu bersemangat.

Dia mulai tinggal di rumah yang cukup besar, sebenarnya bukan
hanya dirinya yang diadopsi, totalnya empat, dirinya di hitungan pertama,
si teman yang tak ingin disebut teman, namanya Jean, sebut saja dia
sekumpulan dengan sifat semangatnya sama dengan Eren, lainnya
Connie dan Shasa. Di rumah besar itu bukan seperti cerita Armin yang
waktu itu main di panti, rumah yang terdapat ayah, ibu dan beberapa
saudara, bukan, rumah itu tampak seperti tempat penampungan juga,
bedanya semuanya berusia lebih besar dari Eren.

Erwin, seseorang yang mengadopsinya adalah pengusaha baik hati,
dia memakai banyak uangnya untuk membuka sebuah tempat donasi
bencana dan beberapa orang yang ingin menjadi relawan.

Komunitas Negeri Kertas 97

Ketika pertama kali masuk dalam rumah, mata hijau itu berbinar-
binar, dunia yang mulanya hanya sekitaran panti yang terletak di
pedesaan, jalanan perempatan ibu penjual jajanan hingga kembali ke
panti lagi, mata yang tadinya hanya memandang hamparan halaman
dengan pohon yang menjadi gandulan ayunan reyot, menjadi lebih besar
setelah ini, sesuatu yang menyenangkan akan dia rasakan, Eren
mengeratkan genggamannya, semangat berkobar anak di bawah umur
memang tak bisa diremehkan.

“Jangan memaksakan diri Eren.” Suara itu datang dari Erwin dihari
lain pada siangnya, pria baik itu pulang dari bekerja beberapa saat yang
lalu sebelum matanya menangkap tubuh mungil Eren membungkuk
sampai seakan-akan masuk dalam kotak pembungkus sembako donasi.

Eren mendongak, menatap Erwin, “Ini bukan apa-apa kok, aku kan
hebat.”

Di sampingnya Jean yang juga sedang menyusun sembako di
kardusnya sendiri berdecih, oh, ternyata Erwin melupakan Jean yang
sekarang berubah dalam mode buruknya karena tak disapa juga.

“Jean juga hebat ya, sama seperti Eren.” Tawa sumbang
dikeluarkan dari bibir Erwin, menyadari kesalahannya pada anak
adopsinya yang lain.

Sekarang Eren yang masuk ke mode buruk, jengkel karna ayah
angkatnya ini menyamakannya dengan Jean, Jean kan Jean, bukan
Eren. Wajahnya saja berbeda, Eren membatin kesal, dirinya tampan,
sedangkan Jean lebih mirip kuda.

“Jangan ganggu putra-putramu, Erwin!” seorang perempuan
berkacamata dengan rambut dikuncir kuda menghampiri Eren, “Nah
Eren, ingin makan puding dengan Mama?” mata dalam kurung lensa itu
melirik Jean, “Jean juga mau tidak?”

Hanji, nama wanita itu, tersenyum lebar saat kedua orang putra
angkatnya mengangguk, “Baiklah, kalau begitu kita susul Connie dan

98 Melawan Kabut Asap


Click to View FlipBook Version