The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

People Come and Go-Chitra Moyana Jaya-XII IPS-2022
#novelkaryasiswa
#perpustakaansmak
#digital library
#smakbpkpenaburbandarlampung
14 Maret 2022

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpustakaansmakpenabur, 2022-03-13 22:24:56

People Come and Go-Chitra Moyana Jaya-XII IPS-2022

People Come and Go-Chitra Moyana Jaya-XII IPS-2022
#novelkaryasiswa
#perpustakaansmak
#digital library
#smakbpkpenaburbandarlampung
14 Maret 2022

1

Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah
sebagai murid SMA. Perasaanku campur
aduk, senang karena ingin bertemu teman-
teman dan takut karena ini adalah hari
pertamaku menjadi murid SMA. Yang aku tau
akan lebih banyak tugas dan pastinya akan
lebih berat dari sebelumnya.
“Dek!!!” teriakan kakakku dari bawah yang
sudah siap untuk sarapan. Aku memiliki 1
kakak laki-laki yang bernama Yesaya Dafaro.
Aku biasa memanggilnya Kak Dafa. Dia
duduk di bangku kuliah.
Tok… tok… tok!

2

Ketukan pintu terdengar keras. Aku tahu
sekali Kak Dafa sangat tidak suka kalau aku
lama untuk turun kebawah, padahal dia tau
kalau adik perempuannya ini memang lama
kalau berisap-siap untuk kesekolah.
“Cepettt Ca sarapan. Nanti kamu terlambat ke
sekolah, ini kan hari pertama kamu masuk
sekolah.”
Aku membuka pintu kamarku dengan
cengiran khasku, yang membuat Kak dafa
semakin kesal.
“Lama banget si lo siap-siap, keburu dingin
sarapannya,” ucap Dafa sambil menarik
tanganku untuk kebawah.
“Sabar kali kak namanya juga cewe pasti lama
lah siap-siapnya. Lo buatin roti pake selai
stroberi kesukaan gue ya pasti!”
“Udah deh lu liat aja sendiri gue siapin apa.”

3

Aku langsung lari menuju meja makan dan
benar saja Dafa menyiapkan roti dengan selai
stroberi kesukaanku. Dafa memang kakak
yang keliatannya galak dan cuek tapi
sebenarnya dia adalah kakak yang baik dan
peduli banget sama adik perempuannya ini.
“Jangan lama-lama Ca makannya lo uda mau
telat ini.”
“Iyaa ini udah tinggal sesuap,” ucapku sambil
melahap roti gigitan terakhir.
“Gue tunggu dimobil ya Ca, jangan lama-
lama,” ucap Dafa sambil berjalan keluar
rumah.
Aku langsung bergegas untuk keluar karena
setelah aku melihat jam sudah menunjukkan
pukul 6.30.
Aku masuk ke dalam mobil dan langsung
memakai seat belt seperti biasa. Dafa

4

melajukan mobilnya dengan kecepatan
sedang.
Butuh waktu 20 menit untuk sampai
disekolahku. SMA Cipta Bangsa, lebih
tepatnya. Akhirnya aku sampai disekolah
baruku.
“Dah sampe nih, sekolah yang bener ya ca
jangan aneh-aneh,” ucap Dafa sambil
mengacak rambutku.
“ADUHH KAK JANGAN DIACAK DONG
RAMBUT GUE,” ucapku dengan raut muka
cemberut, sambil merapihkan rambut yang
sudah diacak Dafa.
“Udahh cepet sana masuk, gue tungguin
sampe lo masuk,” ucap Dafa sambil
melepaskan seat beltku.
“Yauda deh, gue pergi sekolah dulu ya. Nanti
gue bisa pulang sendiri jadi lu gausah jemput
lagi”.

5

“Gakkk gue gak akan biarin lu pulang sendiri.
Nanti gue jemput.”
“Yaudalah terserah lu, males gue ribut keburu
telat,” ucapku sambil membuka pintu. Dafa
menurunkan kaca mobilnya.
“Dahhh,” teriak Dafa.

6

Aku jalan memasuki sekolah sambil melihat
ke sekeliling sekolah ini. Lumayan luas dan
memang bagus karena sekolah ini memang
lumayan terkenal di kota tempat aku tinggal.
Aku melihat murid-murid yang mengenakan
seragam sekolah sepertiku berlalu-lalang.
Hanya untuk tiga hari ke depan, aku masih
menggunakan rok biru karena harus menjalani
MOS.
“Haiii…”
Tiba – tiba ada suara seorang perempuan
terdengar. Pundak ku ditepuk.

7

Aku menoleh ke asal suara dan tersenyum
ketika melihatnya.
“Haiii…,” balasku dengan senyum.
“Kenalin nama gue Celia Pricillia, kalo boleh
tahu nama lo siapa?” ucapnya sambil
tersenyum.
“Ahh, ya! Gue Caitlyn Dafhina.”
“Oh oke, salam kenal ya.”
Aku tidak menyangka baru masuk aku sudah
bisa mendapat teman. Karena aku adalah anak
yang cukup sulit untuk bersosialisasi, aku
tidak berani untuk menyapa duluan. Semoga
saja aku bisa berteman baik dengan Celia.
Keliatannya sih dia anak yang baik.
Aku dan anak – anak yang lain berjalan
mengitari sekolah bersama dengan kakak osis
yang memimpin perjalanan untuk mengenal
lingkungan sekolah.

8

“Ini kelas X-IPA 1. Kalian bisa langsung
masuk dan pilih tempat duduk yang kalian
mau,” ucap kakak osis yang memimpin
perjalanan kita.
“Baik kak,” jawab kami serentak.
Setelah kakak osis pergi, aku dan celia masuk
ke kelas. Ternyata aku sekelas dengan Celia.
Aku cukup senang saat tahu bahwa ternyta aku
sekelas juga dengan Celia. Mungkin memang
aku ditakdrikan untuk berteman dengan Celia.
Aku memilih duduk dekat jendela agar aku
bisa bersandar dengan tembok ketika aku
ngantuk.
“Haii!” sapa perempuan yang duduk agak
depan dari tempat dudukku.
“Haii…,” balas ku ramah.
“Kenalin aku Valerie,” ucap perempuan yang
memiliki rambut panjang, kulit putih,
memiliki warna coklat muda yang sangat

9

indah. Saat pertama kali melihat nya jujur aku
sangat terpesona karena dia begitu cantik.
“Haii!” sapa laki-laki yang duduk di depanku
dan Celia. Lebih tepatnya di depan Celia.
“Haii..,” balas Celia dan aku tersenyum tipis
“Fatur,” ucap lelaki yang memakai kacamata,
tinggi, dan memiliki hidung mancung.
Lumayan sih dari tampangnya.
“Celia,” sahut Celia, kemudian menunjukku.
“Dan ini Caitlyn.”
Tak lama aku berkenalan dengan teman-teman
sekelasku, seorang guru datang. Menjelaskan
tentang sekolah ini lebih banyak. Karena ini
hari pertama sekolah aku sangat bosan dan
ngantuk. Untuk menghilangkan bosan dan
ngantuk, aku mengeluarkan kertas dan pensil
di tas untuk dicoret-cotet, sedangkan Celia
yang duduk disamping ku dia sibuk membaca
novel nya.

10

Setelah sejam berlalu. Akhirnya guru itu
selesai menjelaskan tentang sekolah. Dan
sudah waktu nya juga untuk pulang sekolah.
Karena masih MOS, kita pulang lebih awal.
Aku dan Celia jalan beriringan untuk keluar.
Belum sampai di gerbang keluar tiba-tiba ada
yang menabrak ku dari belakang, sampai aku
hampir terjatuh tapi untung ada Celia yang
langsung memegang tangan ku. Aku langsung
menoleh kebelakang dan ternyata itu Fatur.
“Maaf banget Cait gue ga sengaja, sumpah
deh.”
“Iya iya santai Tur.”
“Sekali lagi maaf ya Ca. Eh iya kalian
langsung pulang?”
“Iyaaa,” ucap ku dan Celia.
“Ohh gituu… tadinya gue mau ngajak kalian
ke cafe deket sekolah sihh biar lebih saling
kenal.”

11

“Gue gabisa sih tur kalo sekarang soalnya
kakak gue pasti udah dijalan jemput gue,”
ucapku.
“Sama Tur gue sudah pesen ojek online ini,”
ucap Celia.
“Ohh oke deh.., kalo besok gimana?”
“Gue tanya kakak gue dulu yaa Tur,” ucuapku.
“Kalo besok gue bisa – bisa saja Tur,” ucap
Celia.
“Oke siapp sampai ketemu besok yaa!!” ucap
Fatur dengan bersemangat.
“Gue cabut duluan ya kakak gue sudah sampe
nih,” ucapku tiba-tiba.
“Hati-hati Ca,” teriak Celia dan Fatur saat aku
berjalan menjauh.
Aku membalikan badan ku dan mengangkat
ibu jariku untuk memberikan balasan kepada
mereka. Tiba-tiba aku menabrak seseorang

12

yang ada didepan ku saat aku masih
menghadap kebelakang.

13

“Maaf. Maaff, gue tadi jalannya ga liat-liat,”
ucapku dengan terbata-bata karena aku sangat
malu dan takut dimarahi.
Aku mengarahkan pandangan ku ke arah
orang yang aku tabrak, aku menghadap kearah
nya sambil sedikit mendongak keatas. Saat
aku melihat muka laki-laki itu yang ada
dipikiranku adalah dia seorang laki-laki
famous disekolah yang diincar para murid
perempuan. Laki-laki itu memiliki mata
berwarna coklat tua, tinggi, dan lesung pipi
yang sudah terlihat walaupun dia belum
berbicara atau tersenyum.

14

Laki-laki itu tidak berbicara apapun dia
langsung pergi meninggalkan ku seorang diri.
“Dasar aneh! Orang minta maaf bukannya
dibales malah ditinggal!” ucapku kesal sambil
berjalan terburu-buru karena Kak Dafa pasti
sudah menggu lama.
“Lama deh!” teriak Dafa saat aku masuk
kedalam mobil.
“Yaa maaf, kan gue udah bilang gue bisa balik
sendiri lu juga kan yang mau jemput gue.”
“Yaudah yaudah pakai seat beltnya kita
pulang sekarang.”
“Iyaaa,” jawabku sambil memakai seat belt.
“Gimana tadi sekolahnya, udah dapet temen
belom?” ucap Dafa sambil fokus mengendarai
mobil.
“Gue cerita pas sampe rumah aja ya, gue
ngantuk banget kak,” ucapku sambil
memeramkan mata karena aku ingin tidur.

15

“Yaelah ditanya malah tidurrr, yaudah deh
tidur saja kasian juga gue liat lu kecapean
begitu.”
“Hmmm,” balas ku pelan.
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya mobil
yang aku tumpangi sudah terparkir digarasi
rumah. Dafa segera membangunkanku dari
tidur.
“Dekk bangun udah sampe,” ucap Dafa sambil
menepuk pelan tanganku.
Aku membuka mataku dan langsung turun
dari mobil diikuti Dafa dibelakangku.
“Kak buka dong pintu nya gue ga bawa kunci
rumah, ketinggalan tadi.”
Dafa membuka pintu dan kita berdua langsung
masuk ke rumah.
Kita memang seperti hanya tinggal berdua
dirumah. Orang tua kita sibuk dengan
pekerjaan mereka. Mereka biasa nya akan

16

pulang malam hari bisa juga subuh, tidak pasti
tergantung sudah selesai apa belum
kerjaannya. Hubunganku dengan orang tuaku
bisa dibilang baik tapi memang aku kurang
mendapatkan kasih sayang dari mereka karena
sehari-hari aku lebih banyak menghabisakan
waktu berdua dengan Dafa. Kak Dafa sudah
seperti pengganti orang tua bagi ku, dia
memberikan perhatian yang mungkin jarang
aku dapatkan dari orang tua. Tapi walaupun
begitu aku dan dan Dafa sangat sayang sama
mereka.
Sesampainya dirumah aku langsung
mengambil satu gelas air dingin, karena cuaca
nya panas sekali hari ini. Aku melihat Dafa
sudah sibuk memasak didapur.
“Masak apa kak,” tanyaku sambil berjalan
kedekat Dafa.

17

“Nasi goreng sama goreng ayam. Besok kita
harus belanja nih, udah tinggal dikit makanan
dirumah.”
“Ahhh iya kak gue besok mau pergi sama
temen.”
“Gimana, gimana. Sini bantuin gue dulu
bawain ayam kita ngobrol di meja makan,”
ucap Dafa sambil berjalan meninggalkanku
didapur.
“Iyaaa besok gue mau pergi sama temen-
temen,” ucapku sambil meletakan piring berisi
ayam di meja makan.
“Lo belum cerita loh tadi disekolah gimana,
gue juga tadi nanya lo udah dapet temen belum
disekolah tapi ternyata udah diajak jalan aja.”
“Tadi gue pas nyampe sekolah diajak kenalan
sama cewe dia namanya Celia.”
“Dia yang ngajak lo pergi?” tanya Dafa.
“Sabar dong gue kan belum selesai.”

18

“Abis tuh ternyata gue juga sekelas sama Celia
nah dikelas gue kenalan lagi sama Fatur, ada
satu lagi sih cewe namanya Valerie. Yang
ngajak gue pergi itu Fatur. Dia bukan ngajak
gue doang kok dia juga ngajak Celia,” ucapku
sambil melahap nasi.
“Gue masih ragu sih Ca biarin lo pergi-pergi
gitu tapi sekarang lo udah lebih gede gak
mungkin gue larang-larang terus.”
“Jadiii boleh dong ya?”
“Yaudah tapi inget ya jangan kesorean pulang
nya. Sebelum jam 6 lo udah harus sampe
dirumah.”
“Oke siappp.”
“Dah abisin dulu nasi nya abis tuh lo bersih-
bersih mandi.”
“Nanti lo tinggalin aja piring nya biar gue
yang cuci,” jawabku karena aku melihat Dafa
hampir selesai makannya.

19

“Tumbenn amat lo mau cuci piring biasanya
juga abis makan langsung kabur.”
“Ya sekali-kali gue mau bantu lo. Gak tiap hari
tapi ya gue cuci piring.”
“Bagus lah yang penting ada kemajuan lo mau
bantu gue,” ucap Dafa sambil berdiri dari meja
makan. Dafa duduk diruang tamu dengan
laptop ditangannya. Sepertinya dia ada tugas
kuliah yang harus diselesaikan. Dafa adalah
anak yang pintar dan rajin, dia selalu
mengerjakan tugas tepat waktu tidak pernah
ditunda-tunda tidak seperti adiknya yang
selalu menunda – nunda pekerjaan. Tapi aku
bukan murid yang bodoh banget kok bisa
dibilang tidak pintar tapi tidak bodoh juga.
Setelah aku selesai makan aku membereskan
meja makan dan mencuci piring.
“Gue keatas dulu ya kak mau mandi,” ucapku
sambil menaiki tangga.

20

Sesampainya dikamar aku langsung mandi.
Aku menghempaskan tubuhku diatas kasur
empukku. Aku menainkan handphoneku.
Membuka semua media sosial yang ada. Tiba–
tiba terlintas bayangan laki-laki yang aku
tabrak tapi pergi begitu saja.
Cowo itu aneh banget, tapi kenapa gue
penasaran ya dia anak kelas berapa.
Eh? Kenapa gue pikirin juga? Udah ah gak
penting!
Aku berbaring diatas kasur ku sambil
menyetel lagu. Tak lama aku memejamkan
mata dan tertidur.

21

“BANGUN CAA!!! LO SUDAH HAMPIR
TELAT NIHH!!!” Mendengar teriakan dari
depan aku langsung terbangun. Saat aku
melihat jam ternyata sudah jam 6.40.
Aku panik dan langsung bangkit dan
mengambil handukku. Aku memakai baju
segaram yang sudahku siapkan tadi malam.
Untung saja aku selalu menyiapkan seragam
dimalam hari jadi aku tidak repot untuk
mencari seragam dipagi hari. Tidak lupa untuk
memakai lipbalm dan parfum.
“Dekkk!!!” teriak Dafa dari bawah.

22

Aku mengunci pintu kamar dan berlari
kebawah.
“Ayooo langsung berangkat,” ucapku sambil
berjalan ke luar rumah.
Tanpa berbicara Dafa keluar, mengunci pintu,
sambil memegang kotak makan.
“Nihh sarapan lo.”
“Yaampun kakak gue memang terbaik sihhh,”
ucapku sambil naik kedalam mobil dan
menghabiskan roti selai stroberi kesukaanku.
“Ca lain kali jam 6.30 udah siap biar kita ga
buru-buru kayak gini.”
“Iya… maaf ya,” ucapku dengan rasa bersalah
karena aku selalu saja merepotkan Dafa.
Tak lama kemudian, aku dan Dafa tiba
disekolah. Dafa memberhentikan mobil nya
dipinggir dekat sekolah. Setelah mobil sudah
berhenti, aku bergegas turun. Tiba-tiba Dafa
menahan tanganku. Aku menoleh.

23

“Ini bawa kunci nanti kan lo mau pergi jadi
bawa aja kunci rumah buat jaga-jaga.”
“Oh iyaa, makasih ya kak. Lo hati-hati bawa
mobilnya.”
“Iyaa lo juga belajar yang bener ya. Udah sana
cepet nanti telat,” Dafa mengacak-acak
rambutku seperti biasanya.
“Kebiasaan deh,” ucapku sambil merapihkan
rambut dan turun dari mobil.
Aku berjalan ke kelas terburu-buru karena
melihat sekeliling sekolah sudah sepi.
Ternyata belum ada guru yang masuk. Aku
menaruh tasku di atas meja sesampainya
dikelas.
“Hai Ca,” sapa Celia saat aku datang.
“Haii Cel,” ucapku sambil tersenyum.
Dan tidak lama dari aku datang, Fatur pun
datang dan dia langsung menghampiri aku dan
Celia.

24

“Hai Cel, hai Ca. Nanti pulang sekolah jadi
kan?” ucap Fatur sambil melihat Celia dan aku
bergantian.
“Jadi kok Tur,” ucap Celia kemudian melirik
ku.
“Iyaa jadi kok gue udah ijin kakak gue.”
“Oke deh,” ucap Fatur yang kembali ketempat
duduknya karena tiba-tiba ada kakak osis yang
datang.
“Halo semua. Jadi ini hari terakhir kalian
MOS dan kegiatan kalian hari ini ngerangkum
kegiatan dari awal MOS sampe hari ini,” ucap
salah satu dari ketiga kakak osis yang datang.
Saat aku mengarahkan pandanganku kearah
kakak osis yang sedang berbicara aku teringat
sesuatu.
Kayak pernah liat, tapi dimana ya? Aku
berpikir.

25

Ahh! Cowo itu kan yang gue tabrak kemaren
pas pulang sekolah. Astagaaa ternyta dia
kakak osis ???
Aku langsung membuang pandanganku
kearah lain. Aku benar-benar sangat malu
kalau dia masih ingat aku yang menabraknya
kemarin. Setelah kakak osis itu datang dan
memberi informasi untuk kegiatan hari ini
mereka pergi meninggalkan kelas. Keadaan
kelas setelah kakak osis pergi mulai ramai.
“Ganteng banget Kak Davin, beruntung
banget yang jadi pacarnya nanti.”

26

“Iyaaa bener banget, mungkin gak ya gue jadi
pacarnya,” suara perempuan yang ada di
kelasku.
Aku berdiri dari tempat dudukku dan
menghampiri Celia.
“Ca lo liat kan kakak osis yang tadi? Ganteng
banget kannn??” ucap Celia saat aku
menghampirinya.
“Yaaa… lumayan sih,” balasku dengan muka
sedikit bingung karena ternyata cowo itu
benar-benar seperti yang ada dibayangan ku
saat aku menabraknya.
“Eh Ca temenin gue ke toilet yuk,” ucap Celia
sambil berdiri dan memegang tanganku. Aku
berjalan mengikuti Celia. Kita melewati kelas
anak 11 dan 12.
Tiba-tiba, aku mendengar suara gerombolan
laki-laki yang ada dikoridor. Aku menatap

27

mereka. Ah, sial… kenapa gue harus
ngelewatin cowo itu sih.
Akhirnya aku berjalan sambil sedikit
menunduk. Aku berhasil melewti
segerombolan laki-laki itu, dan sepertinya
cowo itu tidak melihat ku. Tapi aku rasa dia
juga tidak ingat kalau aku sudah menabrak nya
kemarin. Celia masuk ke dalam toilet dan aku
menunggu diluar. Sehabis itu aku dan Celia
kembali kekelas.
Tak lama bel pulang sekolah pun berbunyi.
Kita memang masih pulang lebih awal karena
kita masih dalam masa MOS. Fatur
menghampiri aku dan Celia.
“Jadi kita pergi ke cafe apa tur?” tanya Celia.
“Itu cafe deket sekolah. Gue sering lewat,
rame sih cafe nya kayaknya enak.”
Aku dan Celia mengangguk dan berjalan
mengikuti Fatur yang sudah jalan didepan kita

28

untuk keparkiran. Kita berangkat naik mobil
Fatur karena dia membawa mobil kesekolah.
“Salah satu duduk didepan ya kalo semua
duduk dibelakang nanti gue kayak supir kalian
dong jadinya,” ucap Fatur.
“Kamu aja Cel yang duduk didepan,” ucapku.
“Okeee,” balas Celia.
Saat didalam mobil kita banyak berbicara.
Lebih tepat nya Fatur dan Celia yang banyak
ngobrol aku hanya sesekali saja. Mereka
benar-benar cocok sekali karena mereka
sama-sama suka bercanda.
Fatur mengemudi dengan kecepatan sedang.
Tidak lama kita sampai di cafe yang dimaksud
Fatur. Ternyata cafe nya memang ramai
seperti yang dibilang Fatur.
“Yuk turun,” ucap Fatur.
Kita turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe
itu.

29

“Selamat datang,” ucap waitress.
Kita memilih tempat duduk yang dekat
jendela. Tidak lama waitress menghampiri
kita dan memberi buku menu.
“Silahkan kak buku menunya, kalau udah mau
pesen tinggal panggil aja ya.”
“Oke, makasih,” ucap kita bertiga.
“Nih kalian dulu aja yang liat-liat,” tanya
Fatur sambil menyodorkan buku menu.
Lalu aku dan Celia melihat buku menu
bersama.
“Hmmm.. gue ice chocolate,” ucap Celia.
“Gue vanilla latte deh,” ucap ku sambil
menyodorkan buku menu kearah Fatur.
“Kalian pesen minuman doang?” tanya Fatur.
“Iyaa,” ucapku dan Celia.
“Oh yauda gue pesenin cemilan ya,” ucap
Fatur.
“Gak usah repot-repot tur,” balas Celia.

30

“Iyaaa tur gue emang cuman mau minum
kok,” ucapku.
“Gak apa-apa lah santai aja.”
“Kak mau pesen ya,” ucap Fatur sambil
mengangkat tangannya.
“Pesenan nya apa aja kak,” ucap waitress.
“Ice chocolate nya satu, vanilla late satu,
caramel macchiato satu, sama roti bakar coklat
keju satu kak,” ucap Fatur.
“Oke say ulangi ya kak pesanannya. Chocolate
nya satu, vanilla late satu, caramel macchiato
satu, sama roti bakar coklat keju satu. Benar
ya kak pesanan nya?”
“Iya bener kak.”
“Oke baik, ditunggu ya.”
“Eh iyaa gue belum punya kontak kalian loh,”
ucap Fatur.
“Oh iyaaa kita belum punya kontak masing-
masing yaa,” ucap Celia.

31

“Nih kalian masukin aja kontak kalian ke hp
gue nanti gue chat,” ucap Fatur sambil
memberi hp nya.
“Kalo kalian mau follow instagram juga boleh
langsung aja follow dari hp gue tapi nanti
kalian follback yaaa hahaha.”
“Oke dehh,” ucap ku dan Celia.
“Gila tur following ig lu banyak cewek-cewek
cantik ya,” ucap Celia.
Aku mendengar itu hanya tertawa.
“Astaga kenapa lo buka following, jadi malu
gue,”
“Ca kenapa instagram lo gak ada muka lo?”
tanya Celia.
“Caa??”
“Hah kenapa-kenapa,” balas ku yang dari tadi
melamun.
“Lo mikirin apa ca sampe gue panggil ga
denger?” tanya Celia sambil tertawa.

32

“Mikirin pacar lo yaaa Ca,” sahut Fatur iseng.
“Hah enggalah. Engga gue ga mikirin apa-apa
kok. Tadi lo ngomong apa Cel?”
“Tadiii gue nanya kenapa di instagram lo gak
ada muka lo.”
“Hmm… gue emang jarang foto muka gue
gitu sih.”
“Lo beda banget Ca sama cewe-cewe yang gue
temuin. Biasanya gue ketemu cewe pasti
kerjaannya foto-foto,” sahut Fatur.
“Hahaha. Enggalah biasa aja,” balasku.
“Nih kayak gini ini,” ucap Fatur sambil
menunjukkan layar hp nya yang sedang
membuka instagram Celia. Postingan
instagram Celia penuh dengan mukanya.
“DASARRR FATUR,” teriak Celia.
Aku tertawa melihat mereka.
“Eh kalian cocok deh kalo di liat-liat,” ucapku.
“COCOK APA NYA,” teriak Celia.

33

“Hmmm itu loh cocok jadi teman,” ucapku.
“Ah Ca lo bisa aja deh,” ucap Fatur.
Tak lama makanan dan minuman yang kita
pesan pun datang. Kita minum dan makan
sambil ngobrol sesekali.
Tidak terasa sudah jam 5. Aku harus segera
pulang karena sebelum jam 6 aku harus sudah
dirumah.
“Gue udah harus pulang nih, takut nya kakak
gue nyariin,” ucapku tiba – tiba.
“Eh iya ga kerasa ya. Gue juga harus pulang
sekarang sih” balas Celia.
“Oh yaudah ayo gue ante raja kalian” ucap
Fatur.
“Ah gak usah tur ngerepotin,” ucap Celia.
“Iyaa gak usah tur gue bisa naik ojek online
kok,” ucapku.

34

“Kalian kan udah gue ajak keluar. Gue harus
tanggung jawab kalian nyampe rumah dengan
selamat dong,” ucap Fatur.
“Ah lebay lo tur” balas Celia.
“Rumah kalian pada dimana?” tanya Fatur.
“Gue di jalan merpati,” jawab Celia.
“Gue di jalan angkasa Tur,” jawabku.
“Pas banget. Rumah kalian searah kok sama
rumah gue. Dah ayo gue anterin aja.”
“Yaudah lah Tur kalo lo maksa,” jawab Celia.
Fatur mengantarku terlebih dahulu karena
rumah ku lebih dekat. Lalu dia mengantar
Celia yang ternyata rumah nya lebih dekat dari
rumahnya.
“Makasih banget ya Tur udah repot-repot
nganterin,” ucapku saat sudah sampai
dirumah.
“Santai saja Ca.”

35

“Kalian gak mau turun mampir dulu?”
tanyaku basa-basi.
“Hmm gak usah Ca lain kali aja udah
kemaleman soalnya,” balas Fatur.
“Iya Ca lain kali ya kita main kerumah lo,”
ucap Celia.
“Oh yaudah. Kalian hati-hati ya,” ucapku
sambil turun dari mobil.
“Byeee Ca,” ucap Celia dan Fatur.
Aku melambaikan tangan ku. Tak lama mobil
Fatur pun sudah menjauh dari rumah. Aku
membuka gerbang dan melihat mobil Dafa
sudah ada digarasi. Aku langsung lari kedalam
rumah.
“Halooo kak,” teriakku.
“Duh Ca pelan-pelan kali.”
“Hehehehe maaf. Oh iya Kak katanya hari ini
mau belanja ya?”

36

“Udah kok. Tadi gue mampir ke supermarket
sebelum pulang.”
“Yahh lo jadi belanja sendiri deh gara-gara
gue pergi.”
“Yaelah Ca gak apa-apa kali. Yaudah yuk
makan gue sudah masak sop.”
“Pantesan dari tadi gue cium ada wangi-wangi
begitu ternyata lo masak sop. Pasti enak nih.”
Aku dan Dafa duduk dimeja makan dan makan
bersama.
“Nanti gue saja ca yang beresin. Lo langsung
mandi aja,” ucap Dafa.
“Okeee.” balasku
Setelah aku makan, aku langsung naik ke
kamarku. Aku mandi dan langsung berbaring
dikasur.
“Akhirnyaaa bisa tiduran.”
Tiba-tiba saja bayangan cowo itu muncul lagi.

37

Ternyata cowo yang gue tabrak waktu itu
kakak kelas dan dia kakak osis. Gue gak kaget
sih sebenarnya tapi…
“Ah kenapa gue kebayang cowok itu terus sih.
Udah ah mending gue tidur.”

38

Tok…tok…tok!
Terdengar ketukan pintu. Aku yang masih
mengantuk bangun dan melihat jam sudah
pukul 10.
“Kenapa lo bangunin gue sih kak. Ini kan hari
sabtu.”
“Keluar dulu Ca.”
Aku berjalan kearah pintu dan membuka pintu
kamarku.
“Kenapaa kak ini masih pagi loh.”
“Gila lo ya jam 10 dibilang masih pagi.”
“Maksud gue kan ini libur jadi bisa bangun
lebih siang lagi.”

39

“Gini Ca. Papa sama mama pulang hari ini jadi
gue mau masakin makanan kesukaan mereka.
Tapi ada bahan yang kurang jadi gue mau
belanja ke supermarket. Lo mau ikut gak?”
“MAUUU! Oh iya ya mereka udah 2 hari gak
pulang. Gue sampe gak sadar deh.”
“Yaa mungkin kerjaan mereka baru selesai.
Yaudahh cepet siap-siap, nanti gak keburu
lagi.”
“Yaudah gue siap-siap dulu,” ucapku sambil
menutup pintu kamar.
“15 menit ya Ca siap-siapnya kalo lebih gue
tinggal,” ucap Dafa.
Aku siap-siap secepat mungkin lalu turun
kebawah.
“Ayo,” ucapku.
Tanpa berbicara Dafa langsung berjalan
keluar dan diikuti aku dibelakangnya.

40

Kita pergi ke supermarket yang ada didekat
rumah. Jarak dari rumah cuman 10 menit. Tak
lama kita pun sampai.
Aku dan Dafa langsung masuk dan membeli
bahan yang kurang.
“Ca kita pisah aja ya biar cepet lo ambil jagung
sama tepung gue cari yang lain,” ucap Dafa.
“Oke siapp” balasku.
Aku berjalan ke bagian sayur-sayuran untuk
membeli jagung.
Tiba-tiba saja aku melihat cowo itu. Lebih
tepat nya kakak kelas yang kutabrak waktu itu.
Aku langsung menjauh dari tempat itu.
Untung saja jagungnya sudah ku ambil. Lalu
aku kebagian tepung. Semuanya sudah ku
ambil dan aku langsung mencari Dafa. Tidak
lupa sebelum itu aku juga sudah membeli ice
cream stroberi kesukaanku.
“Nih kak jagung sama tepung nya.”

41

“Yaudah kita bayar sekarang gue juga sudah
nemu nih.”
Kita langsung berjalan ke kasir untuk bayar.
Saat aku sedang melihat ke arah kanan
ternyata orang yang ada dikasir sebelah kanan
itu adalah kakak kelasku.
Aduhhh kenapa harus pas-pasan sihhh.
Secara tidak sengaja dia pun sedang
menghadap kearah ku. Kita pun saling
melihat. Tapi dia seperti tidak mengenaliku.
Yaaa wajar sih, dia tidak mungkin kenal murid
yang bukan siapa-siapa seperti aku ini.
Akhirnya aku dan Dafa keluar dari
supermarket dan pulang kerumah.
Sesampai nya dirumah aku membantu Dafa
untuk masak dan menyiapkan makanan.
“Ca kalo udah motong sayur nya lo siapin
meja makan ya,” ucap Fatur.
“Oke siappp,” balasku.

42

Tak lama ada terdengar suara mobil dari luar.
“Itu suara mobil Papa deh kayaknya Kak.”
“Coba lo liat sana gue tinggal bawa kedepan
nih makanannya,” ucap Fatur.
Aku berjalan kedepan dan membuka pintu.
Ternyata benar itu Papa dan Mama.
“Kakk sini bantuin bawa barang,” teriakku
sambil lari kearah Papa dan Mama.
“Kenapa baru pulang sih Ma,” ucapku sambil
memeluk.
“Iyaa Ca kerjaan nya baru selesai.”
“Yaudah ayo masuk Pa, Ma kita makan
bareng.”
Kita semua masuk kerumah dan duduk
bersama di meja makan.
“Gimana sekolah kalian?” tanya Papa.
“Aman kok Pa,” jawab Dafa.
“Pa bulan depan nanti libur sekolah kita
liburan bareng gimana?” tanyaku.

43

“Gini. Sebenernya Papa sama Mama mau
ngomong. Kalau bulan depan papa sama
mama gak bisa pulang. Karena ada kerjaan di
luar kota.”
“Yahhh kan bulan depan libur harusnya gak
ada kerjaan dong,” ucapku.
“Iya cel mama sama papa juga gak tau kalau
bakal ada kerjaan,” ucap Mama.
“Bulan depan aku juga ada kegiatan kampus
dan mungkin bakal nginep seminggu. Caca
gak mungkin sendirian dirumah dong?” ucap
Dafa.
“Kok jadi pergi semua sihhh,” ucapku
cemberut.
“Jadi selama sebulan itu Caca tinggal di rumah
Tante Sarah.”
“HAH?. Siapa Tante Sarah?”
“Iyaaa Ca. Tante Sarah itu sahabatnya Mama.”
“Engga… Enggak Caca gak mau ah.”

44

“Udah Ca gak apa-apa dari pada lo dirumah
sendiri gue juga gak tenang,” ucap Dafa.
“Ah udah lah caca naik dulu kekamar,”
ucapku sambil pergi kekamar.
“Mama samperin caca dulu kali ya.”
“Gak usah ma biarin. Dia mungkin emang
butuh waktu sendiri. Besok Dafa aja yang
ngomong sama dia.”
“Oh yaudah kalo gitu.”

45

DAK!
Aku terjatuh dari kasur.
“ADUHHH.”
“Ca lo kenapa,” teriak Dafa dari luar.
“JATOHHH.”
“Buka Ca pintunya,” ucap dafa sambil
mengetuk pintu kamarku.
“Aduh gimana sih buka pintu nya orang lagi
kesakitan juga,” jawabku sambil berusaha
berdiri.
“Lo kok bisa jatoh sih.”
“Ya gue juga gak tau lah orang lagi tidur.”
“Yaudah sini gue liat apa yang luka.”

46

“Tangan gue sakit banget deh,” ucapku.
“Ini siku lo luka dikit,” ucap dafa sambil
memegang sikuku.
“SAKIT KAKKK.”
“Sabar gue ambil obat dulu.”
“Ca gue makin gak bisa deh ninggalin lo
sendirian. Tapi gue juga gak mungkin kalo gak
ikut kegiatan kampus. Mending lo ikutin kata
mama buat tinggal dirumah temen mama biar
gue juga tenang ninggalin lo nya.”
“Gue mending dirumah sendiri kak dari pada
tinggal dirumah temen mama.”
“Ya tapi gue gak tenang ca. Gue lebih pilih
gak ikut kegiatan kampus dari pada harus
ninggalin lo sendiri.”
“Apa sih kak lo lebay banget. Lo harus ikut
kegiatan kampus lah jangan gara-gara gue jadi
gak ikut.”

47

“Yaudah ya lo dirumah temen mama dulu
nanti. Seminggu doang kok Ca.”
“Iyaaa… iyaaa.”
“Nah gitu dong,” ucap Dafa sambil mengacak
rambutku.
“Ah udah lah keluar lo dari kamar gue. Udah
selesai juga kan ini luka gue.”
“Iya udah kok. Paling bentar lagi juga udah
sembuh.”
Setelah Dafa keluar dari kamarku, aku mandi
dan siap-siap untuk makan siang.
Memang kalau hari minggu aku langsung
makan siang karena aku selalu bangun siang.
Saat aku turun kebawah ternyata mama sedang
masak didapur.
“Udah bangun Ca, tumben,” ucap Mama.
“Iya tadi Caca jatoh dari kasur Ma, makanya
bangunya jadi lebih cepet.”
“Asatagaa Ca kok bisa sih sampe jatoh?”

48

“Udah gak apa-apa kok Ma, udah diobatin
sama Kak Dafa.”
“Oh yaudah kamu makan dulu itu udah ada
nasi goreng sama ayam goreng kesukaan
kamu.”
“Iyaaa. Makasih Ma.”
Aku makan sambil membuka handphoneku.
Tak lama ada pesan dari Celia.

49

Ternyata dia chat gue cuman buat ngasih tau
instagram cowo itu.
Eh tapi kok gue penasaran ya isi instagram
nya apa, ucapku dalam batin sambil mencari
instragram nya.
“Emang ganteng sih ya,” ucapku tiba-tiba.

50


Click to View FlipBook Version