“Siapa ca yang ganteng,” ucap Dafa yang
sudah ada disebelahku.
“Hah apa,” jawabku yang masih tidak sadar
ada Dafa.
“Siapa yang ganteng?”
“Dari kapan lo ada disini?”
“Dari tadi lah. Cieee lo lagi suka sama orang
yaaa,” ledek Dafa.
“Apaan si lo, enggak lah.”
Aku langsung mematikan handphone ku agar
Dafa tidak melihat apa yang aku buka.
“Cerita-cerita dong ca sama gue.”
“Ih apaan sih kak. Maaa kakak ganggu nih,”
teriak ku.
“Caca lagi suka sama orang maaa,” ucap dafa
yang langsung ku bungkam mulut nya.
“Dafa jangan gangguin adeknya dong,” ucap
Mama.
51
“Ah udah lah gue naik kekamar aja males ada
lo.”
“Lo gak cerita sekarang juga pasti nanti gue
tau Ca.”
“Ya…ya…ya terserah lo,” balasku yang sudah
berjalan menjauh dari Dafa.
52
Satu bulan kemudian…
Tiba hari dimana aku akan tinggal dirumah
Tante Sarah.
“Kak gue gak bisa pisah dari lo. Lo jangan
lama-lama ya,” ucapku cemberut.
“Ya ampun Ca. Kalo udah selesai pasti gue
langsung pulang lah,” balas Dafa.
“Udah semua ca ini barang nya?” tanya
Ridwan, Papa Caitlyn.
Caitlyn mengangguk. “Udah, Pa.”
“Ya udah, ayo kita berangkat,” ucap Gisel,
Mama Caitlyn.
53
Papa mengendarai mobil dengan kecepatan
sedang. Tidak lama kita pun sampai dirumah
tante Sarah. Aku turun dari mobil dan menatap
rumah yang bercat putih dan abu-abu itu. Aku
menghela napas dan menerima kenyataan
bahwa aku harus tinggal selama sebulan
disini. Tidak lama ada orang yang keluar dari
rumah itu. Ternyata dia adalah Tante Sarah.
“Wah Sel, udah lama ya gak ketemu.”
Sapaan itu membuatku menoleh, mendapati
seorang wanita dan pria yang aku yakin
mereka adalah sahabat Mamaku.
“Hai, Sar. Iya nih udah lama ya gak ngumpul-
ngumpul” Mama melangkah menghampiri
wanita itu. Sementara Papa menyalami kedua
orang itu dengan senyum.
“Wah Caitlyn sama Dafa makin cantik dan
ganteng ya.”
Aku tersenyum canggung.
54
“Nama tante, tante Sarah. Tante sahabat mama
pas masih sekolah dulu.”
Aku mengangguk. “Iya, tante.”
“Ya, sudah masuk dulu yuk,” ucap Robet,
suami Sarah.
Semua mengangguk, dan berjalan masuk
kedalam rumah.
“Jadi seperti yang udah kita omongin waktu
itu. Aku mau nitipin Caitlyn disini selama
seminggu karena ada urusan mendadak diluar
kota. Semoga Caitlyn disini gak ngerepotin
kalian ya,” ucap Gisel.
Sarah tertawa. “Enggak lah, justru kita seneng
ada anak gadis yang cantik dirumah kita.
Seminggu mah gak kerasa, kalau lebih lama
juga gak apa-apa,” balas Sarah.
“Maaf banget ya kita harus nitipin Caitlyn
disini. Soalnya Caitlyn gak sendirian
55
dirumah. Kakaknya juga ada kegiatan kampus
yang gak bisa ditinggal,” jelas Gisel.
“Tenang aja, Sel. Kalian sama sekali gak
ngerepotin kok. Aku seneng banget ada
Caitlyn jadi ada temennya. Tahu sendiri kan
anakku sering pulang malam,” balas Sarah.
Ridwan tersenyum. “Saya mau bilang makasih
banget sama kalian, sudah nerima Caitlyn
sebaik ini.”
“Sama-sama Wan, santai saja lah” balas
Robet.
“Kalau begitu kita berangkat dulu ya,” pamit
Ridwan seraya beranjak dari duduk, lalu
mengelus puncak kepala Caitlyn. “Jaga diri
kamu ya, jangan ngerepotin disini,” pesannya.
“Jangan nakal, harus nurut sama tante Sarah,”
timpal Gisel.
“Baik-baik ya adikku,” ucap Dafa sambil
mengacak rambutku.
56
Kini mataku sudah berkaca-kaca. Sekali kedip
mungkin air mataku akan jatuh.
“Caca mau ikut Kak Dafa aja,” ucapku dengan
suara serak.
Aku lebih sedih karena harus ditinggal Dafa
karena aku selama ini tidak pernah jauh dari
Dafa.
Dafa menggeleng. Sebenarnya Dafa tidak tega
meninggalkan Caca, tapi mau bagaimana lagi.
“Gue cuman seminggu kok Ca. Lo inget kan
yang gue bilang waktu itu. Nanti pas gue
sudah pulang, gue pasti langsung jemput lo”
Aku langsung memeluk erat Dafa.
“Ca, jangan kayak anak kecil begitu ah,”
potong Ridwan. lama, cuman
“Kak Dafa kan enggak
seminggu” tambah Gisel.
57
Aku menghapus air mata ku yang sudah jatuh
membasahi pipi ku, kemudian menatap mama
sebal. “Seminggu itu terasa setahun tahu.”
Lalu tante Sarah merangkul pundak ku,
mengusap lembut dan memberikan aku sedikit
ketenangan. “Enggak apa-apa, kan ada Tante
sama Om. Kamu anggep aja kita orang tua
kedua kamu.”
Aku mengangguk pelan. “Mama, papa m,
sama kakak hati-hati. Kalau urusannya udah
selesai cepet pulang ya.”
“Iyaaa ca,” ucap Gisel dan Ridwan.
“Udah jangan nangis ca,” tambah Dafa.
“Ya udah kalo begitu kita berangkat dulu ya,”
ucap Ridwan.
“Rob, Sar. Kami berangkat dulu ya, titip
Caitlyn,” tambah Gisel
Robet dan Sarah mengangguk. “Kami pasti
akan jaga Caitlyn seperti anak kami sendiri.”
58
Aku melambaikan tangan ketika mobil kedua
orang tuaku sudah berjalan pergi
meninggalkan pekarangan rumah.
“Ayo, Caitlyn kita masuk. Anggep saja kayak
rumah sendiri,” ajak tante Sarah sambil
merangkul pundakku.
“Iya anggep saja rumah sendiri, gak usah
malu-malu,” tambah Robet.
Aku mengangguk sambil menyeret koperku
yang dibantu oleh Om Robet.
“Om, Tante, makasih ya udah mau nampung
aku disini.”
Sarah tersenyum. “Sama-sama sayang.”
Aku menatap sekeliling isi rumah. “Oh iya,
anak om sama tante kemana?”
“Biasa lah anak muda. Nongkrong sama
temennya. Mungkin nanti pulangnya sore atau
malam,” jawab Robet.
“Ooo,” balasku sambil mengangguk.
59
“Caitlyn sudah makan apa belum? Atau mau
istirahat?” tanya Sarah.
“Aku tadi sebelum kesini sudah makan Tan.
Aku istirahat aja.”
“Kamar kamu dilantai dua ya, disebelah pintu
bercat putih,” ucap Robet.
Aku mengangguk. “Iya, Om.”
“Ya udah. Sini tante anter ke kamar.”
Aku dan Tante Sarah berjalan menuju lantai
dua.
“Nah ini kamar kamu Ca. Kalau ada apa-apa
tinggal bilang aja ya, jangan sungkan,” ucap
Sarah.
“Iya, makasih Tan.”
Kini aku sudah ada ditempat tidur. Aku
berguling kesana kemari. Aku masih sangat
sedih karena harus berpisah selama seminggu
sama Dafa.
Tok…tok…tok.
60
Terdengar suara ketukan pintu yang
membuatku terbangun. Dan ternyata sudah
sore.
“Ca makan malam yuk, tante tunggu dibawah
ya,” ucap Sarah dari luar.
“Iya tan,” balasku sambil berjalan keluar dari
kamar.
Saat aku melangkah keluar kamar dan
menuruni anak tangga pertama, langkahku
terhenti saat aku melihat ada orang didepan
ku. Saat aku menghadap kearah orang itu aku
terkejut.
“Lo?”
Aku menatap orang itu tak percaya sekaligus
bingung.
Dia kan kakak kelas itu. Davin? Ngapain dia
disini? Jangan-jangan dia anak om sama
tante. Dunia sesempit ini sampe gue ketemu
sama dia kayak gini? ucapku dalam hati.
61
“Lo siapa? Ngapain disini?” tanya Davin.
“Hah? Aku mengejapkan mata. Jantungku
tiba-tiba berdegub kencang ketika menatap
Davin yang sedang memakai kaos polos
berwarna hitam. Dia bener-bener berbeda
ketika dirumah dan disekolah. Dirumah jauh
lebih tampan.
“Woy! Ditanya malah diem,” suara Davin
menyadarkanku.
“Eee…gue…”
“Gue apa?”
Tiba-tiba saja Sarah datang.
“Eh ini Ca anak tante. Kalian udah saling
kenal?”
Astaga ternyta dia beneran anak om sama
tante.
“Dia ngapain dirumah kita Ma? Tanya Davin.
“Kenalin Vin ini anak sahabat mama. Dia
bakal tinggal dirumah kita selama seminggu
62
gara-gara orang tua dan kakaknya lagi ada
urusan.”
“Oh,” balas davin singkat, padahal mamanya
sudah ngomong panjang lebar.
Lalu Davin melewati ku pergi begitu saja.
“Ya udah yuk cel sini kebawah makan.”
Aku mengangguk dan mengikuti Tante Sarah
turun kebawah.
“Ayo duduk Ca dimakan,” ucap Robet
“Iya om,” balasku.
“Oh iya Ca, kamu sama anak tante ternyata
satu sekolah ya?” tanya Sarah.
“Iya Tante, dia kakak kelas Caca.”
“Iya Tante juga baru tau soalnya kemarin baru
semepet ngobrol sama mama kamu.”
Aku mengangguk tersenyum.
Lalu setelah selesai makan aku langsung
membantu Tante Sarah membersihkan meja
63
makan. Disini aku tidak bisa langsung naik
kekamar seperti dirumah.
Setelah itu aku naik kekamarku untuk tidur.
Aku masih belum menyangka ternyata anak
dari sahabat mama itu Davin. Aku tidak bisa
membayangkan hari-hari ku akan seperti apa
besok. Ah sudahlah lebih baik aku tidur dulu
karena besok harus sekolah.
64
Sekarang sudah menunjukan pukul enam pagi.
Tidak biasanya aku bangun sepagi ini. Tadi
malam aku terbangun dua kali, mungkin
karena aku belum terbiasa tidur dikamar yang
bukan kamar ku. Aku mencoba untuk
menghubungi Dafa tapi tidak diangkat, aku
akan menghubunginya lagi nanti. Aku
langsung bersiap-siap untuk pergi kesekolah.
Saat aku membuka pintu kamar ku, aku
melihat Davin yang keluar dari kamar nya.
Kaos hitam polos dan celana abu-abu serta
seragam sekolah ditangannya membuat dia
terlihat sangat tampan. Belum lagi lesung pipi
65
nya yang selalu terlihat membuat dia terlihat
makin menarik. Davin melangkah menuruni
tangga tanpa melihat kearah ku sedikit pun.
Dia gak ada niatan buat nyapa gue apa ya?
Ya ampun kok gue kayak ngarep gitu sihh.
Setelah Davin turun, aku pun turun.
“Ma,” panggil Davin ketika mama nya sedang
memotong sayuran didapur.
Sarah menoleh, melihat kearah Davin dan juga
melihatku yang sedang duduk dimeja makan.
“Vin hari ini kamu berangkat bareng Caitlyn
ya,” ucap Sarah.
“Hah?”
Aku melebarkan mataku kan menoleh kearah
tante Sarah dan Davin yang kin sedang
menghadap ke arahku. masa
“Iya kalian kan satu sekolah
berangkatnya sendiri-sendiri sih.”
66
“Gak apa-apa tante aku berangkat sendiri aja,”
ucapku.
“Tuh Ma dia aja mau berangkat sendiri.”
“Jangan Ca kamu bareng Davin aja,” ucap
Sarah seraya berjalan ke arahku.
“Papa berangkat kerja dulu ya,” ucap Robet
yang tiba-tiba datang sudah berpakaian rapih.
“Iya pa, hati-hati ya,” balas Sarah.
“Vin kamu berangkat bareng sama Caitlyn.
Jagain Caitlyn juga, sekarang kamu harus
anggep dia kayak adik kamu sendiri,” tambah
Robet.
“Iya,” balas Davin.
“Nah kalo papa yang ngomong pasti Davin
gak bisa nolak,” ucap Sarah.
“Yuk Ca sarapan dulu,” ucap Sarah yang kini
duduk di sebelahku.
“Iya tante,” balasku.
67
“Ca, Om berangkat dulu ya. Kamu nanti sama
Davin berangkatnya. Kalau dia macem-
macem bilang aja ke Om,” ucap Robet.
“Iya Om. Hati-hati,” balasku.
Setelah kita selesai sarapan, Tante Sarah
mengatarkan aku dan Davin kedepan.
“Ma, Davin berangkat dulu ya,” ucap Davin.
“Tante Caitlyn berangkat dulu ya,” ucapku.
“Iya hati-hati ya kalian,” balas Sarah.
Lalu Davin memberikan helm kepadaku.
“Nih pake helm nya,” ucap Davin seraya
memberi helm.
Aku mengambil helm itu dan memakainya,
tapi saat aku mau mengaitkan tali helmnya
terasa susah sekali.
Duh gimana sih nih helm gak bisa diajak kerja
sama banget.
Davin yang sudah siap dimotor kini sedang
menghadap kearah ku.
68
“Lama banget sih lo, keburu telat nih,” ucap
Davin.
“Eee… gue gak bisa pake helm nya…” ucap
ku.
Tiba-tiba Davin turun dari motornya dan
berjalan kearah ku lalu dia memasang kan tali
helm ku. “Gini doang gak bisa.”
Aku benar-benar kaget saat davin
memasangkan tali helm. Baru kali ini aku
berhadapan sangat dekat dengan Davin.
“Woy! Ayo buruan naik,” ucap Davin yang
menyadarkanku.
“Eh, iya,” Aku langsung naik ke motor sport
yang berwana hitam milik Davin.
“Pegangan, nanti lo jatoh gue kena masalah
lagi,” ucap Davin.
“Eee… o..okee,” balasku.
Kini jantung ku berdetak lebih kencang. Entah
mengapa aku sangat bahagia. Apa mungkin
69
aku ada perasaan sama Davin? Ah gak
mungkin lah.
Setelah 20 menit perjalanan kita pun sampai
disekolah. Davin memarkirkan motor nya di
parkiran motor. Setelah terparkir rapih, aku
bergegas turun dan melepaskan helm, untung
saja kali ini helmnya bisa diajak kerja sama.
Aku memberikan helmnya kepada Davin.
“Makasih ya Kak,” ucapku.
“Panggil nama aja,” ucap Davin.
“Oo…okee. Gue duluan ya,” balasku.
Saat aku melangkah masuk ke dalam sekolah
murid perempuan disekolah ku heboh.
“Hah? Kok dia bisa berangkat bareng Kak
Davin?”
“Mereka ada hubungan apa?” bisik
perempuan disekitarku.
Aku sudah menyangka bahwa hal ini akan
terjadi. Aku akan jadi bahan omongan satu
70
sekolah hanya karena aku berangkat bareng
Davin. Wajar saja sih, murid yang tidak
terkenal seperti ku tiba-tiba berangkat
bersama Davin.
Tiba-tiba Celia menepuk pundak ku dari
belakang.
“CA! LO BERANGKAT BARENG KAK
DAVIN? GUE GAK SALAH LIAT KAN
TADI?”
“Aduh cel, nanti ya gue ceritainnya,” balasku.
sambil berjalan cepat karena aku sangat malu.
“Caaa tungguin gue,” ucap Celia yang berada
dibelakang ku.
71
Kelas ku pagi ini tampak gaduh, beberapa
murid di kelas ku ternyata juga melihat tadi
aku berangkat bersama Davin.
“Ca gue beneran gak salah liat kan?” ucap
Celia yang baru memasuki kelas dan langsung
menghampiri ke mejaku.
“Cel jangan gede-gede suaranya gue malu.”
“Malu apaan Ca lo bener-bener beruntung bisa
berangkat bareng Kak Davin.”
“Sttt, jangan sebut-sebut namanya.”
“Gue kaget banget sih ca.”
“Iya, orang tua gue dan kakak gue ada urusan
dan gak bisa pulang untuk beberapa hari. Jadi
72
gue untuk seminggu kedepan tinggal dirumah
Davin. Ternyata Davin itu anak sahabat mama
gue,” jelasku.
“GILAAA LO BERUNTUNG BANGETTT
CA!” teriak Celia.
“Duh Cel sudah gue bilang jangan gede-gede
suaranya,” ucapku sambil membungkam
mulut Celia.
Tiba-tiba guru datang. Semua murid kini
kembali ketempat duduk masing-masing.
“Selamat pagi semua,” sapa guru yang baru
datang.
“Pagi Bu,” balas semua murid.
Guru itu datang dan menjelaskan materi.
“Sekarang buka buku cetak kalian halaman 57
dan kerjakan latihan yang ada disana. Jika
sudah selesai kumpulkan di meja ibu.”
Tidak lama bel istirahat pun berbunyi.
73
“Oke anak-anak sampai disini dulu pertemuan
kita, sampai bertemu lagi dipertemuan
selanjutnya.”
“Baik Bu, terima kasih.”
Setelah guru itu keluar dari kelas, para murid
langsung keluar untuk pergi kekantin.
“Ca, kekantin yuk!” ucap Celia yang sudah
bersama Fatur.
Aku menggeleng. “Kalian duluan aja, gue
masih mau selesaiin tugas nya dulu.”
“Ya sudah nanti nyusul ya lo, gue sama Fatur
duluan ya,” balas Celia.
“Duluan ya Ca,” ucap Fatur.
“Siappp,” balasku.
Setelah aku sudah menyelesaikan tugas aku
langsung menyusul Celia dan Fatur ke kantin.
“Ca, sini!” panggil Celia.
Aku langsung menghampiri mereka.
“Gue pesen dulu ya,” ucapku.
74
Celia dan Fatur mengangguk.
Saat aku sedang mengantri untuk membeli
somay tiba-tiba dateng segerombol cowo-
cowo, ternyata cowo itu adalah Davin dan
teman-temannya.
“Vin lu mau pesen apa?” tanya temannya.
“Kayak biasa aja,” balas Davin.
Ketika aku sudah mengambil pesananku dan
mau bayar tiba-tiba saja uang yang ku taruh
dikantong rok ku tidak ada. Aku benar-benar
bingung kenapa disaat seperti ini ada saja yang
terjadi.
“Eee… sabar ya om aku mau ngambil duit
dulu,” ucapku kepada tukang somay.
Aku berniat untuk meminjam uang Celia atau
Fatur. Tapi tiba-tiba ada Davin dibelakang ku.
“Nih,” ucap Davin sambil memberikan uang
kepada ku.
“Hah?”
75
“Ini pake aja uang gue dulu,” Davin kembali
menyodorkan uangnya kepadaku.
“Ma..makasih, nanti gue ganti,” ucap ku
sambil mengambil uang yang diberi Davin.
“Vin lu kenal cewe itu?” tanya teman Davin
yang terdengar saat aku melewati gerombolan
mereka.
“Itu woy, somay kita udah jadi,” balas Davin
yang sepertinya tidak menghiraukan
pertanyaan temannya.
Aku berjalan cepat ke tempat Celia dan Fatur
lalu makan dan langsung balik kekelas.
Tidak lama bel masuk pun berbunyi,
menandakan jam pelajaran kedua akan
dimulai.
Pelajaran kedua berlangsung seperti biasanya.
Didalam kelas aku sangat tidak fokus karena
aku terus terbayang-bayang Davin.
Kok dia tadi mau minjemin duit ke gue ya?
76
Aku menatap ke papan tulis. Senyum ku
mengembang. “Ah, gue kenapa sih,”
gumamku.
Kini aku, Celia, dan Fatur sedang berjalan ke
gerbang sekolah.
“Gue balik duluan ya, buru-buru mau jemput
nyokap nih,” ucap Fatur.
“Iyaa Tur, hati-hati,” balas ku dan Celia.
“Ca gue duluan ya ojek online gue udah
nyampe.”
“Oh iya Cel. Hati-hati,” balasku.
Kini aku sedang menunggu ojek online ku
yang tak kunjung datang. Tiba-tiba terdengar
suara gemuruh dari langit. Aku mendongak
menatap langit yang kini terlihat mendung.
Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Tidak lama ada suara dari belakang ku. “Lo
balik sama gue.”
77
Aku membalikan badan ku dan ternyata
Davin. Muka ku terlihat bingung.
“Cepet ayo, keburu ujan” tambah Davin.
Aku yang masih bingung langsung berjalan
mengikuti Davin yang sudah didepan. Saat di
tengah perjalanan turun hujan. Tiba-tiba
Davin langsung berhenti untuk berteduh di
halte yang tidak jauh dari sekolah.
“Kenapa pake ujan segala sih,” ucap Davin.
“Mana gue tau,” balasku.
“Gue gak ngomong sama lo.”
“Eh iya.”
Selama menunggu hujan reda kita hanya
berdiam saja, tidak ada obrolan yang
dibicarakan. Aku menggosok tanganku yang
terasa dingin.
“Mas cewe nya kedinginan tuh,” ucap salah
satu orang yang sedang berteduh juga.
78
Davin tidak menghiraukan ucapan orang itu
sekalipun, nengok saja tidak. Tiba-tiba dia
memberikan jaket yang dipakai nya kepadaku.
Aku yang sedang kedinginan sekarang kaget
dan tidak percaya.
“Ngapain?” tanyaku.
“Pake,” balas nya.
Aku mengambil jaket yang diberikan Davin
dan langsung memakainya. Aku masih tidak
menyangka ini bakalan terjadi dihidup ku.
Ternyata benar ya kata orang kalau saat SMA
adalah masa-masa paling membahagiakan
saat sekolah. Ah apaan sih kok jadi mikir
kayak gitu.
Tidak lama hujan pun berhenti. Davin
langsung menyalakan motornya dan langsung
mengendarai motornya dengan kecepatan
sedang.
79
Setelah sampai dirumah Davin langsung
memakirkan motornya digarasi. Aku segera
turun dan memberikan helm nya kepada
Davin.
“Jaket lo gue cuci dulu ya,” ucapku.
“Gak usah, gue gak mau jaket gue lama-lama
di lo,” balas nya.
Dasar cowo aneh, cuek, gak berterima kasih.
Udah bagus gue tawarin buat dicuciin.
“Ooo… Ya sudah ini jaket lo. Makasih ya,”
ucapku sambil memberikan jaketnya.
Aku langsung masuk ke dalam rumah dengan
keadaan masih kedinginan. Aku melangkah
menuju tangga untuk segera mandi. Saat aku
sedang menaiki tangga pertama tiba-tiba
Tante Sarah keluar dari dapur.
“Eh Caitlyn udah pulang, kamu keujanan ya?”
ucap nya.
80
“Enggak kok tan tadi Davin sempet berteduh
dulu sampai hujan nya berhenti,” balasku.
“Oh bagus deh. Soalnya dia kalo hujan gak
pernah neduh Ca pasti langsung labas saja
hujan-hujanan.”
Mendengar ucapan Tante Sarah membuat ku
bertanya-tanya. Berarti tadi Davin neduh
karena dia bawa gue dong? Dia seperhatian itu
sama gue?
Tiba-tiba aku teringat kalau aku tadi
meminjam uang Davin dan aku harus segera
menggantinya.
“Kalo gitu aku naik dulu ya tan, mau mandi,”
ucapku.
“Iyaa. Kalo udah selesai langsung ke bawah ya
ca, tante udah masak sup.”
Aku mengangguk “Iya tan.”
Tak lama Davin masuk ke dalam rumah.
81
“Vin kamu mau langsung makan atau mau
mandi dulu?” tanya Sarah.
“Mandi dulu deh ma,” jawabnya.
“Oke kalau udah langsung kebawah ya, takut
sup nya keburu dingin lagi.”
“Oke.”
Saat aku selesai mandi tiba-tiba handphone ku
berbunyi. Ternyata ada pesan dari Kak Dafa.
82
83
Dari pesan saja Kak Dafa bisa berasumsi
bahwa aku lagi seneng. Apa iya aku beneran
lagi jatuh cinta? Masa iya aku suka sama
Davin? Sudah lah aku tidak mau terlalu
memikirkan hal yang tidak penting.
Aku turun kebawah untuk makan, ternyata
dimeja makan sudah ada Tante Sarah dan
Davin. Aku duduk disebelah kanan Tante
Sarah, lebih tepat nya di depan Davin.
“Tante ambilin ya Ca nasi nya,” ucap Sarah
sambil mengambilkan nasi.
“Makasih tante,” balasku
“Oh iya ini tante gorengin ayam juga soalnya
kata mama kamu suka ayam goreng.”
“Ah iyaa, makasih banget tante.”
Entah kenapa aku sangat bahagia bisa ada
dikeluarga ini. Aku sangat bahagia
mendapatkan perhatian dari seorang ibu, yang
jarang aku dapatkan dari mama ku.
84
“Ma ini yang anak mama tuh Davin atau dia
sih.”
“Loh Davin kok ngomong nya gitu sih.”
“Ini kok mama masaknya makanan kesukaan
dia bukan Davin.”
“Ih Davin jangan kayak anak kecil gitu lah.”
“Emang Davin masih kecil kalo dirumah.”
Aku membulatkan mata ku mendengar ucapan
itu keluar dari mulut Davin. Ternyata dia
manja juga kepada mama nya.
“Gak malu apa kamu ada Caitlyn disini kamu
manja kayak gitu.”
Davin lalu menatapku dan terdiam. Sepertinya
dari tadi dia tidak sadar apa yang dia
bicarakan. Sekarang muka nya terlihat malu.
“Lo gak dengerin kan apa yang gue
omongin?” ucap Davin menatapku.
“Hah? Apa?” Aku kaget tiba-tiba Davin
berbicara kepadaku.
85
“Tuh gak denger dia buktinya bingung gitu.”
Sarah hanya tertawa mendengar ucapan
Davin.
“Papa kok belum pulang ma?” tanya Davin
tiba-tiba.
“Papa lembur katanya malam ini,” balas
Sarah.
“Oh,” tiba-tiba saja Davin berubah, tadinya
dia terlihat sangat senang tapi ketika tau papa
nya lembur dia kembali seperti orang cuek
yang tidak memperdulikan sekitarnya.
“Ca kalo udah selesai makan kamu langsung
naik aja gak apa-apa pasti capek abis sekolah
biar tante aja yang beresin sendiri.”
“Gak apa-apa tan aku bantuin aja, aku gak
enak jadinya kalo gak bantu,” balasku.
“Oh yaudah kamu bantu tante taruh piring-
piringnya kebelakang aja ya.”
“Oke tante.”
86
Setelah aku menaruh semua piring ke
belakang aku langsung berjalan ke kamar.
Sesampainya dikamar aku teringat kalau aku
tadi meminjam uang Davin dan aku harus
segera menggantinya. Aku berjalan keluar
kamar dan berniat ke kamar Davin tapi
ternyata kita bertemu di luar saat Davin baru
mau memasuki kamarnya.
“Dav,” panggilku.
Dia berbalik badan.
“Ini gue mau ganti uang lo yang tadi gue
pake,” ucapku.
“Makasih,” ucap nya sambil mengambil uang
yang aku berikan.
Aku mengangguk. Aku bingung kenapa dia
bisa berubah-ubah. Kadang dia perhatian tapi
bisa juga menjadi orang yang cuek. Sangat
cuek.
87
Kini aku sudah berada di meja makan bersama
Om, tante, dan Davin. Tidak terasa ini adalah
hari ke tiga aku dirumah Davin. Tinggal
tersisa empat hari lagi aku dirumahnya.
“Davin berangkat dulu ya,” ucap Davin.
“Kamu bareng Caitlyn kan?” tanya Robet.
Lalu Davin menatap kearah ku yang masih
makan roti.
“Ng… enggak usah Om. Aku bisa berangkat
sendiri,” ucapku.
Davin terdiam dan terlihat sedang berpikir.
“Caitlyn bareng Davin kok,” ucap nya.
88
Aku membulatkan mataku. Baru kali ini aku
mendengar Davin menyebut nama ku.
“Nah iya emang harus berangkat bareng
kalian,” ucap Robet.
“Ya udah, gih sana kalian berangkat entar
terlambat loh,” tambah Sarah.
Aku mengangguk, kemudian beranjak dari
tempat dan berpamitan. Davin naik ke motor
dan diikuti aku dibelakangnya.
Sudah beberapa hari ini aku berangkat dan
pulang bersama Davin. Murid-murid
disekolah sudah tidak heboh lagi seperti
pertama kali aku berangkat dengan Davin.
Aku berjalan ke kelas ku dan juga Davin yang
berjalan ke kelas nya.
Kelas ku pagi ini tampak gaduh setelah
mendapat pengumuman bahwa guru yang
akan mengajar ternyata tidak masuk karena
89
ada urusan mendadak. Aku yang mendengar
kabar itu juga sangat senang.
“Ca gue mau lanjut tidur dulu ya mumpung
gurunya gak masuk,” ucap Celia kepada ku.
“Oke cel gue juga mau ke perpus,” balasku.
Lembar demi lembar buku sudahku lalui. Aku
melirik jam yang menggantung di dinding
ruang perpustakaan. Jam sudah menunjukkan
pukul delapan pagi. Ternyata sudah dua jam
aku berada di perpustakaan. Aku teridam dan
tiba-tiba saja terlintas Davin dipikiranku. Apa
mungkin aku bisa dekat dengan Davin? Apa
justru aku akan sakit hati untuk pertama
kalinya? Karena baru kali ini aku merasakan
bahagia berada di dekat cowo yang tadinya
tidak aku kenal. Berbagai pertanyan muncul
diotak ku yang membuat aku sendiri menjadi
pusing.
“Kok lo di sini?”
90
Suara itu menyadarkanku dari lamunan.
Jantungku berdegub kencang saat menghadap
ke asal suara itu berada ternyata itu Davin.
Kini Davin sudah duduk di depanku.
“Davin? Kok lo ada di sini?”
“Gue nanya kok lo nanya balik sih.”
“Eee… Kelas gue gak ada guru.”
“Oh.”
“Kalo lo ngapain di sini?”
“Bebas kali, semua murid boleh ada di sini.”
“I…iya sih.”
“Nanti pulang sekolah temenin gue.”
“Hah?”
“Iya temenin gue, dah gue ke kelas dulu.”
Tib-tiba dia pergi begitu saja.
“Ah, gila! Gila! Gue bisa gila!”
“Jangan berisik di perpustakaan ya.” Tiba-tiba
saja terdengar suara penjaga perpustakaan.
“Iya Bu maaf,” ucapku.
91
Aku berjalan menuju kelas dengan muka
bahagia.
“Lo dari mana ca?” tanya Fatur.
“Gue dari perpus Tur,” balasku.
“Lo udah bangun Cel?”
“Udah Ca gue tadi abis ketoilet juga.”
“Ooo.”
“Lo kok keliatannya seneng banget Ca?” tanya
Celia.
“Tadi gue ketemu Davin Cel.”
“HAH KAK DAVIN?” suara Celia membuat
anak-anak menengok kearah aku dan Celia.
“Duh Cel kebiasaan suara lo gede banget deh.”
“Eh iyaa maaf Ca, lo suka buat gue jantungan
kalo ngomongin Kak Davin.”
“Iya tadi gue di perpus ketemu Davin abis itu
tadi dia bilang nanti pulang sekolah temenin
dia.”
92
“Wah gila lo sudah makin deket ya sama Kak
Davin.”
“Ah enggak lah dia masih suka berubah-ubah
Cel gue juga bingung sama dia.”
“Tapi lo beruntung banget sih Ca bisa kayak
gini sama Kak Davin.”
“Kebetulan aja Cel karena dia juga anak
sahabat mama gue.”
Tiba-tiba Fatur menghampiri aku dan Celia.
“Pulang sekolah nongkrong yuk!” ucap Fatur.
“Yukkk!!!” balas Celia.
“Yah gue gak bisa kalo pulang sekolah.”
“Oh iya Caitlyn gak bisa, gue gak jadi juga ah
masa bedua doang sama lu Tur.”
“Gak apa-apa lah Cel bedua doang sama
Fatur.”
“Iya ini Celia sombong banget masa gara-gara
Caitlyn gak bisa dia juga gak jadi.”
93
“Ya iya lah ngapain gue nongkrong bedua
doang sama lo.”
“Gue traktir deh Cel!”
“Hmmm kalo itu boleh si Tur.”
“Yeh giliran di traktir cepet lo Cel.”
“Lain kali lo harus ikut ya Ca,” ucap Fatur.
“Pastiii turr!”
Pelajaran ke dua, ke tiga pun berlalu sekarang
sudah menunjukkan pukul satu siang. Jujur
saja aku sangat deg-degan karena aku tidak
tahu Davin akan membawa ku kemana nanti.
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Seperti
biasa aku keluar dari kelas pasti bersama Celia
dan Fatur. Kita berjalan menuju parkiran.
Celia dan Fatur berpamitan kepada ku karena
mereka berdua akan nongkrong. Sekarang
tinggal aku sendiri. Aku menunggu Davin
keluar. Tidak lama Davin pun datang.
94
“Nih helmnya,” ucapnya sambil memberi
helm.
“Kita mau kemana sih Vin?”
“Liat aja nanti.”
Selama diperjalanan aku banyak berpikir.
Davin mau ngajak gue ngongkrong? Jangan-
jangan Davin mau nyulik gue lagi? Muncul
berbagai pertanyaan diotakku.
Setelah lumayan lama diperjalan ternyata
Davin mengajak ku ke supermarket.
“Gue ngajak lo ke supermarket gara-gara tadi
pagi mama nitip bahan makanan yang sudah
abis.”
Astaga aku sudah berpikir macem-macem
kepada Davin ternyata dia hanya mengajak ku
ke supermarket.
“Ooo,” balasku.
Davin berjalan didepan dan diikuti aku
dibelakangnya.
95
Selama di supermarket aku hanya mengikuti
kemana Davin pergi. Sama seperti biasanya
aku belanja dengan Kak Dafa. Gara-gara
Davin mengajak ku ke supermarket aku jadi
teringat Kak Dafa, tiba-tiba aku kangen sekali
dengan dia. Biasanya aku selalu membeli ice
cream ketika belanja bersama Kak Dafa.
Tetapi tidak mungkin aku membeli ice cream
bersama Davin.
Buk! Aku menabrak badan Davin yang tinggi
itu.
“Duh maaf… maaf,” ucap ku yang tidak sadar
dari tadi aku melamun sampai-sampai tidak
sadar kalau Davin sedang berhenti.
“Lo gue liat-liat dari tadi kok kayak sedih gitu
sih, lo gak suka ya gue ajak ke supermarket?”
“Enggak gue tiba-tiba kangen aja sama Kakak
gue. Biasa nya gue juga belanja sama dia ke
supermarket jadi gue keinget dia.”
96
“Ooo.”
Sekarang aku dan Davin berada di bagian ice
cream. Aku bingung kenapa tiba-tiba kita ada
dibagian ice cream? Apa Davin mau membeli
ice cream?
“Lo mau rasa apa?” tanya nya tiba-tibaz
“Gue?”
“Iya lo mau ice cream rasa apa?”
“G…gu… gue stroberi aja.”
“Oke.”
Davin berjalan dan diikuti aku dibelakangnya.
Setelah Davin bayar kita langsung keparkiran
untuk pulang. Tapi ternyata Davin tidak
langsung pulang. Dia mengajak ku ke taman
yang lumayan besar dan lumayan ramai
disana. Aku tidak pernah tahu ada taman ini
disini mungkin karena aku juga jarang keluar
rumah sampai-sampai tidak tahu ada taman
ini.
97
“Kita makan ice cream dulu ya takutnya
nyampe rumah keburu cair,” ucap Davin yang
sudah memarkirkan motor. Aku mengangguk.
Davin duduk di kursi taman dan diikut aku.
“Nih punya lo,” ucap nya sambil memberikan
ice cream.
“Makasih vin,” balasku.
“Lo suka ice cream ya?” tanya Davin tiba-tiba.
“Iyaaa! Setiap gue ke supermarket bareng
kakak gue, gue selalu beli ice cream.”
“Pantesan pas ditanyain ice cream keliatan
langsung seneng.”
“Hahaha gue jadi malu. Sebenernya tadi gue
emang mau beli ice cream tapi gue gak berani
ngomong sama lo.”
“Untung gue peka, jadi gue tau apa yang lo
mau tanpa harus lo bilang.”
Sekarang jantung ku berdegub kencang.
Kenapa tiba-tiba Davin menjadi seperti ini.
98
“Eee… Dari tadi lo ngomongin tentang kakak
lo, kayaknya lo deket banget ya sama dia.”
“Iyaaa soalnya mama papa gue sibuk jarang
ada dirumah jadi gue hampir setiap hari sama
kakak gue.”
“Sama papa gue juga sibuk.”
“Lo kalo bosen biasanya gimana?”
“Keluar sama temen-temen gue.”
“Oh pantes lo biasanya pulang sore gitu.”
“Iya gue juga ada urusan osis yang biasa nya
harus di urus pas pulang sekolah.”
“Ooo.”
“Lo jarang keluar ketempat begini ya?”
“Gue gak pernah malah, ini pertama kali nya
gue kesini. Sama lo lagi kesini nya.”
“Mungkin ini bakal jadi terakhir kalinya gue
kesini dan lo orang yang pertama kali gue ajak
kesini.”
99
Aku kaget mendengar kalimat itu keluar dari
mulut Davin? Apa yang dia maksud dari
“Mungkin ini bakal jadi terakhir kalinya gue
kesini”. Emang dia mau pergi kemana? Kalau
dia pergi itu tanda nya aku gak ketemu dia
lagi?
“Woy. Kok lo bengong sih,” suara itu
menyadarkan aku dari lamunan.
“Eh iya. Kenapa ini bakal jadi terakhir kalinya
lo kesini?”
“Bulan depan gue bakal kuliah di luar negeri
dan pasti bakal jarang pulang.”
“Hah?”
Entah mengapa mendengar itu membuatku
sangat sedih. Belum lama aku mengenal
Davin tapi kenapa aku merasa akan ditinggal
orang yang sudah ku kenal lama. Padahal aku
ingin sekali mengenal Davin lebih lama.
“Iyaaa bulan depan gue bakal pergi kuliah.”
100