“Yah padahal kita belom kenal lama,” ucap ku
yang tidak sadar apa yang ku tanyakan.
“Maksud lo?”
“Hah apa gimana.”
“Lo tadi ngomong kita belom kenal lama
maksudnya apa?”
“Hah enggak, lo salah denger kali.”
“Iya kali ya.”
Duh gue ngomong apaan sih tadi. Untung saja
dia percaya-percaya saja sama gue.
“Dah ayo pulang keburu sore nanti mama
nyariin lagi.”
“Ayo.”
Kini kita sedang dijalan menuju rumah dan
untungnya kita sampai sebelum langit gelap.
“Kalian kemana saja kok sore banget
pulangnya?” tanya Tante Sarah.
“Tadi kan mampi ke supermarket dulu Ma.”
“Oh iyaa ya mama lupa.”
101
“Yaudah gih kalian bersih-bersih dulu,
sekalian mama siapin makanan.”
“Oke Ma.”
“Oke Tan.”
Setelah selesai bersih-bersih aku, Davin, dan
Tante Sarah makan bersama. Seperti biasanya
juga setelah makan aku membantu Tante Sara
membersihkan meja makan.
102
Deringan handphone membuat aku terbangun.
Aku mencari dimana letak handphone ku
denhan kedua mata yang masih terpejam.
Namun handphone nya tidak ku temukan. Aku
terpaksa membuka kedua mataku yang masih
terasa berat. Aku bangun dari tempat tidur dan
ternyata handphone ku ada di balik selimut.
Kedua mata ku menatap layar handphone
masih dengan menyipit.
Kak Dafa is calling…
Saat melihat ternyata Kak Dafa yang
menelepon aku langung menerima panggilan
tersebut.
103
“Halooo kak!”
“Aduh kebiasaan deh lo angkatnya gak bisa
biasa saja apa ya.”
“Gue kangen banget sama lo.”
“Gue juga tapi gak banget.”
“Dasar lo.”
“Gimana kabar lo?”
“Baik kok, lo gimana? Baik juga kan?”
“Iya gue baik kok.”
“Gue gak sabar besok ketemu lo.”
“Ternyata lo inget banget ya kapan gue
pulang.”
“Iya lah, gak mungkin gue lupa!”
“Ya siapa tau lo udah akur sama yang disana
abis itu lo lupain gue.”
“Ih apaan si lo.”
“Ya udah Ca gue gak bisa lama-lama nanti gue
telepon lagi ya.”
“Oke kak, see you ya!”
104
“See you Ca!”
Aku menutup layar ponsel ku dan menutup
mataku lagi. Aku berencana untuk tidur lagi
tapi aku ingat kalau aku masih tinggal dirumah
orang jadi tidak mungkin aku bangun sangat
siang. Aku mendongak dan menatap jam
dinding yang sudah menunjukkan pukul
10.00. Aku langsung turun dari tempat tidur
dan membereskannya. Setelah itu aku
memutuskan untuk langsung mandi. Aku
melangkah keluar kamar dan mendengar suara
televisi dari bawah. Ternyata Davin sudah
bangun. Dia sudah duduk dengan semangkuk
sereal di tangannya.
“Om sama tante ke mana, Vin?” Pertanyaan
tersebut membuat Davin menoleh ke arahku.
“Pergi,” jawabnya sambil melahap sesendok
sereal.
“Ke mana?”
105
“Papa kerja, Mama ke rumah kakaknya.”
“Lo enggak ikut?”
Davin menggeleng. “Males.”
Aku duduk disamping Davin dengan bibir
membentuk O seraya mengangguk-angguk
kepala tanda mengerti.
Matanya fokus pada film kartun di TV.
“Lo kalo mau sarapan bikin sendiri ya. Mama
gak sempet masak tadi buru-buru.”
“Iya.”
Aku beranjak dari tempat dudukku dan
melangkah kearah dapur untuk membuat
sarapan.
“Lo mau masak apa?” Pertanyaan itu
membuat ku langsung berbalik badan. Aku
terdiam sebentar dengan tatapan bingung.
“Mi?” jawab ku tapi terdengar seperti
perntanyaan.
106
“Mi?” balas Davin dengan kedua alis menaut.
“Pagi-pagi jangan makan mi lah.”
“Gue bingung mau masak apa.”
“Lo gak bisa masak?”
“Eee… Bisalah, ini gue lagi mau masak mi.”
“Aelah masa masak mi. Udah mending lo
duduk aja biar gue yang masak.”
“Eh gak usah, gue bisa masak sendiri.”
“Ah udah sana.”
Aku mengangguk dan menuruti perintah
Davin untuk menunggu. Aku terdiam
memperhatikan Davin. Selain ganteng, dia
ternyata jago masak juga.
“Nih,” ucap Davin sambil memberikan piring
yang terdapat sandwich berisi daging, keju,
sayur, dan telur.
“Wah dari wanginya aja udah enak banget!
Pasti enak!, makasih ya Vin.”
107
Davin mengangguk. Lalu dia duduk
disampingku sambil membuka handphonenya.
“Enak?”
“Enak! Lo memang jago masak ya?”
“Enggak sih biasa aja.”
“Gue pasti bakal kangen sama sandwich lo.”
“Besok sebelum lo pulang gue buatin lagi.”
“Serius lo?”
Davin mengangguk.
108
Hari ini adalah hari dimana aku akan kembali
ke rumahku. Aku tidak tinggal lagi dirumah
Dafa mungkin ini pertama dan terakhir
kalinya. Aku senang karena bisa bertemu lagi
sama Kak Dafa tapi aku juga sedih karena
mungkin habis ini aku tidak bisa dekat dengan
Davin lagi. Aku membereskan barang-barang
ku yang ada dikamar dan segera turun
kebawah. Saat aku keluar kamar ternyata ada
Davin juga yang baru keluar dari kamar.
“Sini gue bantu bawain,” ucap Davin yang
melihat aku kesusahan membawa koper.”
“Makasih Vin.”
109
Sesampainya dibawah ternyata ada Om dan
Tante yang sudah ada di ruang tengah.
“Eh Davin, Caitlyn,” ucap Om Robet yang
melihat kita turun dari tangga.
“Halo Om,” balas ku.
“Caitlyn gak kerasa ya kamu udah mau pulang
aja, kayaknya baru kemarin deh disini,” ucap
Tante Sarah.
“Hahaha tante bisa aja.”
“Caitlyn nanti main-main lagi ya kesini,” ucap
Om Robet.
“Iya Om.”
“Oh iya nanti Davin aja yang anter kamu
pulang Ca, jadi kakak kamu gak usah jemput
lagi,” ucap Tante Sarah.
“Iya gue aja yang anter, kasian kakak lu baru
pulang harus jemput lo dulu.”
Aku mengangguk “Eee… Oke Tan, Vin.”
“Ya sudah kalian berangkat sekarang aja.”
110
“Iya. Om, tante, makasih banget udah mau
nerima Caitlyn selama seminggu disini. Maaf
banget kalo Caitlyn suka ngerepotin.”
“Sama-sama Ca. Enggak lah kamu gak
ngerepotin kok selama disini,” ucap Om
Robet.
“Iya Ca, kamu sama sekali ga ngerepotin. Kalo
bisa kamu sering-sering ya main kesini biar
tante ada temennya,” ucap Tante Sarah.
“Iya Om, Tan. Nanti kalo lagi ada waktu aku
main kesini ya.”
“Duh lama banget ya ini perpisahannya udah
kayak mau perpisahan sama anak sendiri,”
ucap Davin.
“Loh Caitlyn emang anak Mama sama Papa
sekarang,” balas Tante Sarah.
“Loh kalo dia anak Papa sama Mama berarti
dia adek Davin? Gak gak Davin gak mau dia
jadi adek Davin.”
111
“Kamu mau nya dia jadi pacar kamu kan Vin,”
ucap Om Robet .
“Apaan sih kok jadi pacar. Udah ah ayo
cepetan. Davin nanti ada urusan lain nih.”
“Ya udah ayo ayo kita kedepan.”
Semua barang ku sudah dimasukkan kedalam
mobil. Davin juga udah berada did alam
mobil.
“Om, Tante. Caitlyn berangkat dulu ya.”
“Iya Ca hati-hati,” ucap Om dan Tante.
Lalu aku masuk kedalam mobil dan memakai
seatbelt.
“Nih,” Davin memberikan kotak makan berisi
sandwich.
“Astaga lo ternyata inget sama sandwich
nya?”
“Inget lah. Gue gak pernah lupa sama apa yang
gue omongin.”
“Makasih Vin.”
112
Aku melahap sandwich itu dengan sangat
lahap karena setelah ayam goreng dan roti
dengan selai stroberi buatan Kak Dafa,
sandwich buatan Davin adalah makanan
kesukaan ku yang ketiga.
“Ini bakalan jadi makanan kesukaan gue yang
ketiga,” ucapku tiba-tiba.
“Ketiga?”
“Iya soalnya yang pertama ayam goreng, yang
kedua roti selai stroberi buatan kakak gue, abis
itu baru sandwich buatan lo.”
“Yah. Coba aja kita ketemu lebih awal pasti
sandwich buatan gue bakal jadi yang
pertama.”
“Hahaha bisa aja lo.”
Tiba-tiba suasana nya menjadi hening lagi.
Aku berpikir bahwa aku tidak akan merasakan
momen seperti ini lagi bersama Davin. Aku
sangat bersyukur bisa mengenal Davin
113
walaupun hanya sebentar. Dia hadir di
hidupku membawa kebahagiaan yang belum
pernah aku rasakan sebelumnya.
“Ini ke kiri apa ke kanan ya?” pertanyaan itu
menyadarkan ku dari lamunan.
“Oh iya ini ke kiri.”
“Lo ngelamunin apa Ca?”
“Eee… enggak gue gak ngelamun.”
“Lo kira gue gak ngeliat apa.”
“Gue mikirin kakak gue lagi apa sekarang
dirumah,” ucap ku beralasan.
“Ooo.”
Aku mengangguk.
“Abis ini ketemu perempatan lurus aja nanti
rumah gue sebelah kanan warna putih.”
“Oke.”
“Nah ini rumah gue,” ucapku sambil
menunjuk.
114
Davin langsung memberhentikan mobilnya
dan parkir didepan.
Davin membantu ku menurunkan koper
sampai masuk kedalam gerbang.
“Kak. Caitlyn pulang,” teriakku yang
langsung membuat Kak Dafa keluar.
“Davin makasih banget ya sudah nganterin
Caitlyn maaf jadi ngerepotin gini,” ucap Kak
Dafa.
“Santai aja Kak.”
“Eh, ayo masuk dulu Vin.”
“Enggak usah kak, lain kali saja. Soalnya aku
ada urusan abis ini.”
“Ooo begitu, yaudah makasih ya Vin sekali
lagi.”
“Iya Kak, sama-sama. Gue duluan ya Kak”
“Makasih Vin,” ucap ku.
“Santai Ca. Gue balik ya,” balasnya.
115
Aku dan Kak Dafa menunggu mobil Davin
sampai tidak terlihat lagi dan kita pun masuk
kedalam rumah.
“Ya ampun Ca baru seminggu gak ketemu lo
sudah makin besar ya.”
“Lebay lo!”
“Hahahaha,” ucap Kak Dafa sambil mengacak
rambutku.
“Gue ke atas dulu ya kak, mau tidur.”
“Iya lo istirahat saja, gue juga mau istirahat.”
“Oke.”
116
Tidak menyangka ini adalah hari dimana
Davin akan berangkat kuliah ke luar negeri.
Akhir-akhir ini aku masih berhubungan baik
dengan Davin. Bisa dibilang kita sudah cukup
dekat tapi tidak sedekat itu juga sih. Dua
minggu sekali aku menyempatkan main
kerumah Davin dan begitu pun Davin yang
main kerumah ku. Hari ini aku ikut
mengantarkan Davin ke bandara. Aku
berangkat bersama Kak Dafa. Kita menyusul
Davin, Om Robet dan Tante Sarah yang sudah
sampai duluan di bandara.
117
“Eh itu Caitlyn sama Dafa,” ucap Tante Sarah
sambil melambaikan tangan kearah ku dan
Kak Dafa yang sudah terlihat menuju
kearahnya.
Aku melambaikan tangan ku kearah mereka
juga.
“Halo Om, Tante, Vin,” ucap ku dan Kak
Dafa.
“Halo Ca, halo Daf,” ucap tante Sarah.
“Makasih ya kalian sudah repot-repot
nganterin Davin juga,” ucap Om Robet.
“Enggak kok Om, ini Caitlyn sudah ribut dari
kemarin ngomong mau nganterin Davin
katanya.”
“Ih apaan sih kak gue gak ribut,” ucapku.
sambil memukul pelan Kak Dafa.
Semua nya tertawa mendengar omongan Kak
Dafa yang membuatku jadi malu.
118
“Jangan sedih ya lo Ca gue tinggal,” ucap
Davin.
“Ah lo lah yang pastinya sedih jauh dari gue.”
“Aduh kayaknya kita disini jadi nyamuk ya,”
ucap Tante Sarah sambil menyenggol tangan
Om Robet dan Kak Dafa yang memberi arti
harus pergi menjauh.
“Iya ini aku mau ketoilet dulu Tan,” ucap Kak
Dafa tiba-tiba.
“Eh Ma, kita beliin Davin makanan dulu yuk
buat nanti di pesawat,” ucap Om Robet.
“Yuk pa. Vin, Ca kita tinggal dulu ya kalian
ngobrol dulu saja,” ucap Tante Sarah.
“Oke Tan,” ucapku.
Kini tinggal aku dan Davin disini.
“Lo hati-hati ya Vin disana, jaga diri. Jangan
aneh-aneh, harus teratur makannya,” ucapku.
“Lo kayak mama gue deh ngingetin begituan.”
“Ya gue mau lo baik-baik saja Vin disana.”
119
“Lo Ca yang harus nya jaga diri. Lo baik-baik
ya disini. Belajar yang bener, buat orang tua
dan kakak lo bangga ya sama lo.”
“Iya Vin.”
“Makasih Ca udah hadir dihidup gue
walaupun kita cuman sebentar tapi gue
bersyukur banget lo pernah hadir dihidup
gue.”
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut
Davin aku pun meneteskan air mata. Aku tidak
kuat menahan air mata yang sudah
menggenang dimata ku dari tadi. Tiba-tiba
Davin memeluk ku. “Jangan nangis dong Ca
gue jadi sedih ninggalin lo.”
“Hahaha maaf ya, jangan sedih dong lo.”
“Lagian lo pake nangis.”
Aku mengusap air mata ku dan melepaskan
pelukan Davin. Kini aku berhadap-hadapan
dengan Davin. Aku tersenyum haru. Aku tidak
120
pernah menyangka akan bertemu dengan
Davin selama ini. Tidak menyangka akan
kenal dan dekat dengan Davin yang tadinya
hanya orang yang aku tidak kenal. Walapun
waktu ku dengan Davin hanya sebentar. Tapi
aku sangat bahagia selama dekat dengan
Davin. Kita tidak pernah tau apa yang akan
terjadi di hidup kita. Kedepannya akan seperti
apa. Setiap orang yang datang di hidup kita
juga tidak akan menetap selamanya. Semua
akan datang dan pergi tanpa kita ketahui waktu
nya.
“Makasih ya Vin,” ucapku.
121
122