- 47 - (4) Lingkaran Dada. (a) Selisih ukuran lingkaran dada pada inspirasi dan ekspirasi maksimal 5 cm (U-1). (b) Selisih ukuran lingkaran dada pada inspirasi dan ekspirasi 4 - < 5 cm (U-2/U-2). (c) Selisih ukuran lingkaran dada pada inspirasi dan ekspirasi 3 - < 4 cm (U-3/U-3). (d) Selisih ukuran lingkaran dada pada inspirasi dan ekspirasi < 3 cm (U-4/U-4). b) Tekanan Darah dan Nadi. (1) Tekanan darah. (a) Tekanan darah sistolik (dalam mmHg): i. ≥110 – ≤120 (U-1). ii. > 120 – < 131 atau 100 – <110 (U-2). iii. 131 – < 140 (U-3). iv. < 100 atau ≥ 140 (U-4/U-3P). (b) Tekanan darah diastolic (dalam mmHg): i. 70 – 80 (U-1). ii. 65 – < 70 atau 81 – < 85 (U-2). iii. 60 – < 65 atau 85 – < 90 (U-3/U-2P). iv. <60 atau ≥ 90 (U-4/U-3P). (c) Respon hipertensi pada uji latih jantung (U-4/U-3P). (2) Nadi (heart rate): (a) HR 60 – 80 x permenit (U-1). (b) HR 50 – 59 atau 81-100 x permenit (U-2). (c) 101 – 110 x permenit (U-3). (d) HR < 50 atau HR > 110 x permenit (U-4/U-3P). (e) Sinus Aritmia yaitu perubahan frekuensi denyut nadi selama inspirasi dan selama ekspirasi yang tampak jelas bila penderita berbaring dan bernapas dalam (U-2). b. Aspek Pemeriksaan Bedah.
- 48 - 1) Gambaran Umum. Pemeriksaan bedah saat seleksi baik werving maupun pendidikan ataupun rikkes berkala, dilaksanakan guna menentukan tingkat kesehatan, dan pencegahan penyakit lebih berat, serta melaksanakan rujukan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pada werving dan seleksi pendidikan tidak diperkenankan dalam kondisi sedang dalam proses terapi atau penatalaksanaan. 2) Cara Pemeriksaan. a) Kepala, Muka, Leher. (1) Pemeriksaan Struma. (a) Struma. Struma Adalah benjolan pada leher bagian depan yang bergerak pada saat gerakan menelan. (b) Tentukan besar, konsistensi, bentuk (difus/noduler), thrill bruit. (c) Tanda-tanda mata. i. Eksoftalmus. ii. Lid lag (tanda Von Graeve) yaitu saat bola mata melihat ke bawah gerakan palpebra superior terlambat sehingga bagian putih mata kelihatan. iii. Refleks konvergensi mata negatif (tanda Mobius). iv. Saat mata melihat ke atas terdapat kontraksi/ spasme palpebra superior (tanda Stellwag). v. Apabila disuruh melihat ke atas secara mendadak dahi tidak berkerut (tanda Jeffry). (d) Dermografi karena instabilitas vasomotor. (e) Adanya tanda Kardiak Hipertiroid yaitu: struma, tremor, takikardi dan eksoftalmus. (2) Pemeriksaan Tiroiditis. Pemeriksaan tiroiditis adalah peradangan kelenjar gondok. Tiroiditis ada tiga macam yaitu: (a) Tiroiditis Akut. i. Tanda-tanda peradangan (kulit merah, bengkak, panas, dan nyeri tekan). ii. Rasa sakit di daerah tiroid yang menjalar ke leher, kepala dan telinga. iii. Disfagi. iv. Tanda-tanda peradangan saluran napas bagian atas. v. Laboratorium yaitu LED dan PBI meninggi.
- 49 - (b) Hashimoto Struma. i. Umumnya pada wanita. ii. Pembesaran tiroid tidak teratur, keras seperti karet. iii. Karena besarnya tumor kadang-kadang memberikan efek penekanan. b. Riedel’s Struma. i. Fibrosis seluruh jaringan tiroid. ii. Konsistensi keras. iii. Kelenjar tiroid tidak terlalu membesar. iv. Batas kadang-kadang tak tegas. v. Kadang-kadang terdapat sesak napas dan disfagi. a) Pemeriksaan Dada. Pemeriksaan Fisik. Perhatikan bentuk dan simetri dada, retraksi sela iga, frekuensi, dan dalam dangkalnya pernapasan, serta suara pernapasan yang abnormal. b) Abdomen dan Gastrointestinal. (1) Perhatikan bentuk abdomen: cekung, buncit, dan sebagainya. Perhatikan adanya bekas luka operasi/sikatrik, pascalaparotomy, hernia dan kelainan lain pada abdomen. (2) Perhatikan adanya pembesaran hati dan limfa, ginjal, benjolan / massa di dinding/rongga perut, defence muscular, dan nyeri tekan lokal dan nyeri ketok di daerah ginjal/tapping pain. (3) Perhatikan batas-batas organ yang membesar atau benjolan lain dalam rongga perut, adanya ascites, meteorismus, dan bising usus. (4) Penegakan Diagnosis. (a) Hernia Inguinalis Lateralis (Indirek). i. Kongenital dan didapat pada usia dewasa. ii. Benjolan timbul lambat. iii. Menghilang perlahan, tidak spontan. iv. Dapat sampai scrotum. v. Dapat terjepit/strangulasi. vi. Ujung kantong hernia menyentuh jari telunjuk. (b) Hernia Inguinalis Medialis (Direk).
- 50 - i. Didapat (acquired). ii. Benjolan timbul cepat. iii. Menghilang cepat, bisa spontan. iv. Tidak sampai scrotum. v. Jarang terjadi strangulasi. vi. Kantong hernia bagian ventral menyentuh ujung jari telunjuk. (c) Hernia femoralis. i. Lebih sering terjadi strangulasi. ii. Benjolan biasanya ke arah femoralis (lateral). c) Pemeriksaan Varices Tungkai Bawah. (Lihat pemeriksaan sektor komponen gerak bagian bawah). d) Pemeriksaan Batu Saluran Kemih. (1) Anamnesa. (a) Miksi kadang-kadang mengeluarkan darah atau batu. (b) Terdapat rasa nyeri/kolik. (c) Diuresis berkurang/oliguri. (2) Pemeriksaan. (a) Pembesaran ginjal (balotement positif). (b) Nyeri ketok pada sudut kostovertebral. e) Pemeriksaan Varicocele. (1) Anamnesa. Merasa lebih berat, rasa tertarik, nyeri atau rasa tidak nyaman di scrotum. (2) Inspeksi. (a) Tampak benjolan yang tidak rata pada pangkal scrotum pada posisi berdiri. (b) Mengempis pada posisi baring. (3) Palpasi. (a) Dengan meraba scrotum dari dua sisi didapatkan masa lunak yang berbenjol-benjol memanjang dan berkelok seperti cacing/cendol (bag of worms, elongatio, dilatasi, tortuosity) yang terdapat pada bagian atas belakang dan berjalan ke atas sepanjang funikulus.
- 51 - (b) Dapat dipisahkan dari testis dan epididimis. (c) Pada batuk tidak menghantarkan getaran/gelombang. (4) Grading: (a) Ringan. Teraba hanya bila dibantu dengan mengejang (valsava test). (b) Sedang. Teraba dan terlihat pada posisi berdiri tanpa mengejan, menghilang saat posisi berbaring. (c) Berat. Teraba dan terlihat pada posisi berdiri tanpa mengejan, menetap saat posisi berbaring. f) Urogenital. a) Kemungkinan adanya kelainan sistem saluran kemih dan genitalia. b) Apabila anamnesa mengarah ke kelainan organ saluran kemih maka dilakukan pemeriksaan laboratorium secara khusus dan bila perlu dilakukan pemeriksaan radiologi. g) Anus dan Rectum. (1) Rectal Toucher (Colok Dubur). (a) Memakai sarung tangan yang sesuai dengan ukuran tangan pemeriksa, untuk jari telunjuk diberikan pelumas (gelatin/vaselin). (b) Ujung jari telunjuk dengan hati-hati dimasukkan ke dalam anus (dubur) maka akan terasa tahanan oleh musculus sphincter ani, jari telunjuk ini jangan dipaksakan masuk ke anus tapi berikan tekanan sedikit saja, maka akan terjadi refleks pembukaan musculus sphincter ani kemudian baru jari telunjuk dimasukan ke daerah anorectal. (c) Untuk pemeriksaan tumor atau massa intra abdominal, maka pemeriksaan dilakukan dengan cara bimanual yaitu dengan tangan kiri (kontralateral) diletakkan di atas perut, sehingga dapat diketahui: kedudukan, besar, dan konsistensi tumor dengan lebih baik. (d) Penilaian yang harus dilakukan adalah: i. Tonus sphincter ani: normal, meninggi atau menurun. ii. Mucosa: licin, kasar atau berbenjol-benjol. iii. Tumor: ukuran, bentuk, batas, dan letak serta konsistensi tumor. Letak tumor dinilai menurut arah jarum jam. Jam 0 (24) adalah tepat pada titik paling anterior, sedang jam 6 pada titik paling posterior. Ditetapkan batas distal dan proksimal tumor, berapa
- 52 - jauh dari AC line (Ano Cutan Line). Adakah perlekatan antara tumor dengan jaringan sekitarnya. iv. Ampula recti: kolaps atau tidak, kosong atau berisi feces. v. Kelenjar prostat: ada pembesaran atau tidak, konsistensi kenyal atau keras (kemungkinan Carcinoma). Pembesaran prostat dapat dinilai dengan menentukan ukuran, batas atau taksiran berat. vi. Penyempitan pada anorectal dan bila ada, nyatakan tingginya. vii. Rasa nyeri tekan dan tentukan lokasinya. viii. Adakah feces, lendir atau darah pada sarung tangan. (2) Anuskopi. Alat yang digunakan dapat berupa silinder dan rumahnya atau berupa speculum. Pada pemeriksaan yang tidak mendadak, penderita disiapkan dengan pemberian pencahar semalam sebelumnya, sehingga diharapkan daerah anorectal akan bersih saat pemeriksaan. Cara anuskopi: (a) Didahului dengan dilatasi anal untuk mencegah terjadinya fisura ani dengan memasukkan kedua jari berputar. (b) Silinder anuskopi dimasukkan ke dalam rumahnya kemudian diolesi dengan vaselin atau lebih baik dengan salep atau jelly anestesi. (c) Alat dimasukkan ke dalam anus dengan sedikit tekanan, sampai terjadi refleks pembukaan spinchter ani, baru kemudian diteruskan masuk ke dalam rectum sedalamdalamnya. Selanjutnya silinder ditarik kembali dan dilakukan penilaian sambil menarik rumah anuskopi pelanpelan keluar. (d) Penilaian yang harus dilakukan adalah: i. Seberapa jauh alat dapat masuk, apakah ada tekanan/ penyempitan. ii. Mucosa rectum: normal (licin berkilat) atau lebih pucat. iii. Tumor: warna, batas, jarak (ditentukan jarak dari anorectal) bentuk tumor, rapuh/tidak, mudah berdarah/ tidak. iv. Haemoroid interna: besar dan lokasinya (biasanya pada jam 3, 7 dan 11). v. Adakah perdarahan atau erosi.
- 53 - vi. Adakah prolaps recti. (3) Pemeriksaan Haemoroid. (a) Haemoroid. Haemoroid adalah benjolan di anus yang disebabkan oleh karena varices venae haemorrhoidalis. (b) Anamnesa. Perasaan tidak enak dan atau perdarahan dari anus. (c) Pemeriksaan. i. Posisi penderita. i) Lateral kiri. ii) Knee elbow iii) Dorsal. iv) Litotomi. ii. Inspeksi. i) Hemoroid eksterna, interna atau sentinel pile. ii) Tanda-tanda peradangan. iii) Haemoroid interna : (i) Tingkat I: keluhan pendarahan saat bab (ii) Tingkat II: benjolan keluar/masuk spontan (iii) Tingkat III: benjolan dapat masuk kembali dibantu tangan. (iv) Tingkat IV: benjolan tidak dapat dimasukkan. Kembali/adanya thrombus kadang-kadang disertai prolaps recti. iii. Palpasi. Dilaksanakan dengan cara Rectal Toucher. (4) Fistula Ani. Adalah suatu fistula yang mempengaruhi outlet di sekitar anus dan inlet di dalam anus atau saluran GIT di atasnya, dengan anamnesa: (1) Tanda-tanda peradangan dengan keluarnya nanah (pus) yang berlangsung lama di sekitar anus. (2) Pemeriksaan adanya outlet yang aktif ke luar cairan. (3) Tanda-tanda abses pararectal dan infeksi berulang. (5) Pemeriksaan Hidrocele Testis.
- 54 - (a) Hidrocele testis. Adalah terbentuknya cairan diantara tunika vaginalis dan tunika dartos di scrotum. (b) Anabmnesa. Adanya pembesaran dari scrotum yang unilateral atau bilateral yang menetap. (c) Pemeriksaan. i. Adanya pembesaran scrotum yang unilateral atau bilateral berbentuk bulat. ii. Konsistensi dapat kenyal sampai tegang, batas atas jelas, tidak nyeri, fluktuasi positif, dan bising usus negatif. iii. Transiluminasi/diafonoskopi positif. h) Sektor Komponen Gerak Atas (A). Perhatikan fungsi anggota gerak atas, gerakan leher, bahu, lengan, tangan dan jari tangan, pergerakan sendi, tremor, ankilose, luksasio habitualis, left handed/kidal, adanya deformitas, kifosis, scoliosis, adanya peradangan. (1) Kelainan bawaan: webbed fingers, scapula menonjol, spina bifida, jumlah jari lebih atau kurang. (2) Trauma/bekas trauma/fraktur, amputasi, kehilangan jari. i) Sektor Komponen Gerak Bagian Bawah (B). (1) Perhatikan langkah pada waktu berjalan, gerakan panggul tungkai, kaki dan jari kaki, berdiri pada satu kaki sedangkan yang lain diangkat ke atas, gerakan seluruh tungkai pada sendi panggul, berjongkok di atas kedua kaki kemudian berdiri/melompat, terbatasnya gerakan, ankilose, deformitas, luksasio habitualis, varises, adanya peradangan, kuku ibu jari tumbuh ke dalam/paronikia. (2) Kelainan bawaan: webbed toe, hallux valgus, hammer toe, clubfoot, pes planus, kaki O atau X, jumlah jari lebih atau kurang. (3) Trauma/bekas trauma/fraktur, amputasi, kehilangan jari, pernah operasi lutut. (4) Pemeriksaan varises tungkai bawah. (a) Gejala. Gejalanya: pegal, rasa berat dan gatal yang berkurang bila tungkai ditinggikan (diangkat). (b) Pemeriksaan. Pemeriksaan langsung dengan inspeksi dan palpasi. Orang yang diperiksa berdiri. Pencahayaan cukup. Dilihat pada daerah poplitea. (c) Penilaian.
- 55 - i. Ringan. Terlihat dan teraba pelebaran vena, kecil, lurus. ii. Sedang. Terlihat dan teraba pelebaran vena, berkelok-kelok. iii. Berat. Terlihat dan teraba pelebaran vena, sangat berkelok-kelok. 3) Penggolongan dan Penilaian Tingkat Status Kesehatan Aspek Bedah. a) Kepala, Muka, Leher. (1) Deformitas tulang kepala tanpa kelainan otak, tidak menghalangi pemakaian helm, tidak mengganggu estetika (U-2). (2) Deformitas tulang kepala tanpa kelainan otak yang menghalangi pemakaian helm/tutup kepala (U-4/U-3P). (3) Bentuk kepala yang abnormal (U-4/U-3P). (4) Kelainan estetika yang mencolok seperti sikatrik/jaringan parut, fistula, nevus yang besar (U-4/U-3P). (5) Kelainan kelenjar limfe sebagai akibat tuberkulosis, lues, hodgkin, leukeumia dan sebagainya yang masih aktif (U-4/U-3P). (6) Kelainan kelenjar limfe sebagai akibat tuberkulosis yang sudah sembuh dan telah mengalami kalsifikasi/pengapuran (U-4/U-2P). (7) Struma nontoksik (pra dan pascabedah), struma toksik (U-4/U-3P). (8) Mixoedema (U-4/U-3P). (9) Kontraksi spastis otot leher/torticollis (U-4/U-3P). (10) Kelainan tulang vertebra leher, misalnya spondilitis tuberkulosis, Bekhterev Disease (ankylosing spondylitis) (U-4/U-3P). (11) Hernia medullaoblongata (U-4/U-3P). (12) Periodontitis, abses periodontal (U-3/U-2P). (13) Tumor, kista yang menyebabkan gangguan pada fungsi mulut dan menyebabkan cacat (U-4/U-3P). (14) Radang kelenjar ludah (sialoadenitis) dan batu (sialolitiasis) (U-3/U-2P). (15) Labioskisis, palatoskisis, gnatoskisis (U-4/U-3P). (16) Prognatia, retrognatia, makrognatia dan mikrognatia (U-4/ U-3P).
- 56 - b) Dada. (1) Kelainan bentuk dada kongenital misalnya tunnel chest, pigeon chest yang tidak berarti atau tidak disertai kelainan gambaran radiologi toraks (U-3/U-2). (2) Kelainan bentuk dada akibat tuberkulosis (U-4/U-3P). (3) Periostitis costae (U-4/U-3P). (4) Osteocondritis costae (sindroma Tietze) (U-4/U-3P). (5) Tumor dinding dada, payudara, gynecomastia (U-4/U-3P). (6) Kelainan vertebra toraks misalnya Bekhterev’s disease (U-4/U-3P). (7) Deformitas clavicula atau scapula (U-4/U-3P). c) Abdomen dan Gastrointestinal. (1) Semua bentuk hernia (U-4/U-3P). (a) Bila sudah dioperasi > 3 bulan dan tidak ada gangguan klinis (U-2). (b) Bila sudah dioperasi < 3 bulan dan tidak ada gangguan klinis (U-4/U-3P). (2) Sinus atau fistel di dinding abdomen (U-4/U-3P). (3) Megacolon congenital (Hirschsprung’s Diseases) (U-4/U-3P). (4) Divertikel esofagus (U-4/U-3P). (5) Stenosis pylorus congenital (U-4). (6) Gastro Oesophageal Reflux Disease/GERD (U-4/U-3P). (7) Dispepsia (U-4/U-3P). (8) Ulkus Peptikum (U-4/U-3P). (9) Ulcus Tropicum (U-4/U-3P). (10) Stenosis pilorus karena tumor (U-4/U-3P). (11) Semua tumor traktus gastrointestinal (U-4/U-3P). (12) Colitis acut dan disentri (U-4/U-2P). (13) Inflamatory Bowel Disease/IBD (U-4/U-3P). (14) Irritable Bowel Syndrome/IBS (U-4/U-3P). (15) Diverticulitis (U-4/U-3P).
- 57 - (16) Ileitis (U-4/U-3P). (17) Diare kronik oleh semua sebab (U-4/U-3P). (18) Perdarahan gastrointestinal (U-4/U-3P). (19) Hepatitis akut/kronis (U-4/U-3P). (20) Hepatomegali, splenomegali (U-4/U-3P). (21) Kantong empedu (Vesica felea): (a) Penyakit kantong empedu termasuk cholelitiasis (U-4/ U-3P). (b) Untuk calon personel TNI AU, pascaoperasi kantong/batu empedu > 3 bulan tanpa gangguan klinis dan laboratorium (U-3). (c) Untuk calon personel TNI AU, pascaoperasi kantong/batu empedu dengan gangguan klinis atau laboratorium (U-4). (d) Untuk peserta seleksi pendidikan/Rikkes berkala personel TNI AU, pascaoperasi kantong/batu empedu lebih dari 1(satu) tahun tanpa gangguan klinis atau kurang dari 1(satu) tahun dengan pesyaratan telah mendapatkan surat rekomendasi dokter bedah umum/digestif TNI AU/TNI (U2). (22) Perlemakan hati yang ditemukan pada USG tanpa gangguan fungsi hati (U-2), dengan gangguan fungsi hati (U-4/U-3P). (23) Pancreatitis akut dan kronik (U-4/U-3P). (24) Splenektomy (U-4/U-3). (25) Pascaapendiktomy tanpa kelainan (U-2). (26) Sirosis hepatitis (U-4/U-3P). (27) Pascalaparotomy tanpa komplikasi (U-3), dengan komplikasi (U-4/U-3P). d) Anus dan Rectum. (1) Hemoroid interna (U-4/U-2-p – U-3-p). (2) Hemoroid eksterna < 1 cm tanpa keluhan (U-2/U-2-p), ada keluhan (U-3/U-2-p), yang berukuran ≥ 1 cm (U-4/U-3-p). (3) Fissura ani (U-4/U-3-p). (4) Striktur atau prolap rectum (U-4/U-3-p). (5) Semua Fistel anus (U-4/U-3-p).
- 58 - (a) Bila sudah dioperasi dan tidak ada gangguan (operasi lebih dari 3 bulan) (U-2/U-2-p). (b) Bila sudah dioperasi meskipun tidak ada gangguan (operasi kurang dari 3 bulan (U-4/U-3-P) (6) Inkontinensia alvi (U-4/U-3-p). (7) Haemoroid Interna/Eksterna pasca terapi lebih dari 3 bulan dan tidak ada komplikasi (U-2). (8) Haemoroid Interna/Eksterna pasca terapi kurang dari 3 bulan (U-4/U-3-p). e) Urogenital. (1) Hidrocele (U-4/U-3P). (a) Hidrocele pascaoperasi lebih dari 3 bulan dan tidak ada komplikasi (U-2). (b) Hidrocele pascaoperasi kurang dari 3 bulan (U-4/U-3P). (2) Ren Mobilis (U-4/U-3P). (3) Epispadi dan hipospadi (U-4). (4) Hermafroditisme (U-4). (5) Undecensus Testikulorum/UDT (U-4), UDT yang sudah dilakukan operasi tanpa komplikasi lebih dari 3 bulan (U-2). (6) Tumor saluran kemih dan genitalia, massa di organ dan system saluran kemih dengan riwayat infeksi saluran kencing (U-4/U-3P). (7) Tuberculosis saluran kemih (U-4/U-3P). (8) Batu saluran kemih unilateral/bilateral (U-4/U-3P). (a) Batu saluran kemih unilateral sudah dioperasi lebih dari 3 bulan dan tidak ada gangguan fungsi serta anatomi ginjal dan ureter (Hidronephrosis atau dilatasi ureter) (U3/U-2P). (b) Batu saluran kemih unilateral sudah dioperasi kurang dari 3 bulan (U-4/U-3P). (c) Batu saluran kemih berulang setelah dilakukan terapi (U-4/U-3P). (9) Pionefrosis akut, kronik (U-4/U-3P). (10) Hidronefrosis (U-4/U-3P). (11) Sistitis akut, kronik (U-4/U-3P).
- 59 - (12) Inkontinensia urine (U-4/U-3P). (13) Amputasi penis (U-4/U-3P). (14) Hipertrofi prostat tanpa keluhan (U-3), dengan keluhan (U-4/U-3P). (15) Prostatitis (U-4/U-3P). (16) Varicocele ringan dan sedang (U-3/U-2P), berat (U-4/U-3P). (a) Varicocele pascaoperasi lebih dari 3 bulan dan tidak ada komplikasi (U-2/U-2P), dengan komplikasi (U-4/U-3P). (b) Varicocele pascaoperasi kurang dari 3 bulan (U-4/U-3P). (17) Enuresis (U-4/U-3P). (18) Kelainan urologi yang tidak termasuk di atas dan merupakan kelainan bawaan (U-4/U-3P). (19) Fistel (U-4/U-3P). (20) Kehilangan salah satu ginjal (U-4/U-3P), jika nilai ureum dan creatinin serta klinis bagus dipertimbangkan U-3. (21) Gangguan fungsi ginjal (U-4/U-3P). (22) Ptosis ginjal (U-4/U-2P). (23) Penyakit ginjal polikistik (U-4/U-3). (24) Prostatektomi/reseksi transuretral (U-4/U-3). (25) Orkitis/epididimitiskronis (U-4/U-2P). (26) Uretritis akut/kronis (U-4/U-2P). (27) Urinary Diversion (U-4/U-3). (28) Anorkia (U-4/U-3P). (29) Phimosis (U-4/U-3P). (30) Kelainan yang nyata dari genitalia misalnya: perubahan alat kelamin termasuk komplikasi akibat tindakan operasi (U-4/U-3). f) Sektor Komponen Gerak Atas (A). (1) Pascafraktur. (a) Pascafraktur tanpa gangguan fungsi lebih dari 1 tahun (A-2). (b) Pascafraktur tanpa gangguan fungsi kurang dari 1 tahun (A-4/A-3P).
- 60 - (c) Pascafraktur terpasang nail/Plate/Screw/Pinning (A4/A3P). (2) Cedera tulang dengan atau tanpa fraktur/dislokasi yang bersifat sementara (A-4/A-3P). (3) Webbed Fingers (A-4/A-3P). (4) Scapula yang menonjol (A-4/A-3P). (5) Kehilangan tangan kanan atau kiri (A-4/A-3P). (6) Kehilangan jari atau ruas jari tangan (A-4/A-3P). (7) Ankilosis pada sendi (A-4/A-3P), kifoskoliosis (A-4/A-3P) luksasio habitualis (A-4/A-3P), HNP (A-4/A-3P). (8) Osteomielitis (A-4/A-3P), poliartritis rematik pada sendi kecil yang dalam dua tahun tidak menunjukkan eksaserbasi akut (A-4/A-2P), kelainan sendi karena tuberculosis, lues, gonore, arthritis rheumatoid, osteoartritis (A-4/A-3P). (9) Pascaoperasi pada fraktur tulang belakang (A-4/A-3P). (10) Spina bifida occulta tanpa gangguan (A-4/A-2), dengan gangguan (A-4/A-3P). (11) Tuberculosis columna vertebralis (A-4/A-3P). (12) Kidal (A-2). (13) Kelebihan jari tangan (A-4), telah dilakukan operasi (A-3), kekurangan jari tangan (A-4). (14) Paronikia (A-4/A-2P – A-3P). (15) Ganglion pergelangan tangan yang mengganggu fungsi (A-4/A-3P). (16) Terbatasnya gerakan: sendi bahu elevasi ke depan dan abduksi sampai 90, sendi siku fleksi sampai 100, ekstensi sampai 15, pergelangan tangan ekstensi dan fleksi 60, total gerakan radial dan ulnair 30, tangan pronasi/supinasi sampai dengan 1/4 pertama dari busur normal, jari tangan tidak dapat mengepal, memungut jarum dan menggenggam suatu barang, ibu jari tidak dapat merapat ke paling sedikit tiga ujung jari tangan (A-4/A-3P). (17) Kelainan sendi siku-siku: i. Cubitus valgus untuk laki-laki > 10º, wanita > 15º (A-4/A-3P). ii. Cubitus varus/gunstock deformity (A-4/A-3P). iii. Hiperekstensi untuk laki-laki >10º, wanita > 15º (A-4/ A-3P).
- 61 - (18) Deformitas jari-jari: i. Swan neck/hyperextensi pip joint, flexi dip joint (A-4/ A-3P). ii. Bountonniere/flexi pip joint, extensi dip joint (A-4/A-3P). iii. Mallet finger, tidak mampu extensi dip joint (A-4/A-3P). g) Sektor Komponen Gerak Bagian Bawah (B). (1) Hammer toe (B-4/B-2), yang tidak mengganggu pemakaian sepatu militer (B-3/B-2). (2) Hallux valgus (B-4/B-3P). (3) Kehilangan jari (B-4/B-3). (4) Pes planus/flat foot/ligamentum laxity sindrom (B-4/B-2). (5) Webbed toe (B-4/B-2), clubfoot (B-4), claw toe (B-4). (6) Kuku tumbuh ke dalam, paronikia (B-4/B-3P), telah dilakukan operasi dan tidak ada keluhan klinis (B-2/B-2P). (7) Pernah operasi lutut (B-4/B-3P). (8) Ankilosis, gangguan gerak sendi (B-4/B-3P). (9) Luksasi habitual (B-4/B-3P). (10) Ischialgia (B-4/B-3P). (1) Kehilangan satu atau dua kaki (B-4/B-3P). (2) Kehilangan satu atau dua jari (B-4/B-3P). (12) Osteomilitis (B-4/B-3P). (13) Veruka plantaris (B-4/B-3P), clavus telapak kaki yang mengganggu (B-4/B-3P), bila sudah dilakukan operasi lebih dari 3 bulan (B-2/B-2P). (14) Fraktur tulang coccigeus (B-4/B-3P). (15) Kelainan pada sendi sakroiliaka dan lumbosacral (B-4/B-3P). (16) Pascafraktur atau luksasi tanpa gangguan fungsi lebih dari 1 tahun (B-2), pascafraktur atau luksasi tanpa gangguan fungsi kurang dari 1 tahun (B-4). (17) Pascafraktur terpasang Nail/Plate/Screw/Pinning (B-4/ B-3P). (18) Varises: ringan (B-2/B-2P), berat (B-4/B-3P).
- 62 - (a) Pascaterapi/injeksi sklerosing varises dengan komplikasi (B-4). (b) Pascaterapi/injeksi sklerosing varises tanpa komplikasi (B-2). (19) Tungkai: O atau X > 5 cm (B-4/B-3). (20) Ganglion poplitea (Backer’s Cyst) (B-4/B-3P). (a) Bila sudah dioperasi > 3 bulan dan tidak ada gangguan (B-3/B-3P), jika ada gangguan (B-4/B-4P). (b) Bila sudah dioperasi kurang dari 3 bulan meskipun tidak ada gangguan (B-4/B-3P). (21) Setiap gangguan pergerakan sendi (B-4). (22) Elefantiasis (U-4/U-3P). (23) Tidak bisa jongkok (U-4/U-3). (24) Panjang kaki minimal 100 cm (B1), 98-99 cm (B2), < 98 cm (B4). Pengukuran dilakukan pada subjek dengan posisi duduk, punggung tegak dan bersandar ke dinding serta kedua tungkai lurus ke depan. Panjang kaki diukur dari dinding sampai dengan tepi bawah tumit. Pengukuran Panjang kaki khusus pemeriksaan calon Taruna/ Taruni. c. Aspek Pemeriksaan Sistem Kardiovaskular. 1) Gambaran Umum. Dalam melakukan anamnesis perlu dibuat daftar pertanyaan terlebih dahulu untuk mempermudah dalam menggali riwayat penyakit. Secara garis besar, komponan yang harus ditanyakan antara lain adalah keluhan utama, riwayat penyakit jantung koroner (lihat Lampiran I), riwayat penyakit sekarang dan pertanyaan-pertanyaan yang menyingkirkan diagnosis banding. Perlu dicatat apakah ada riwayat pembedahan sebelumnya, data mengenai kapan, dimana, mengapa, dan nama, serta komplikasi dari tindakan tersebut. Beberapa hal yang harus ditanyakan apabila ingin menegakkan diagnosis dalam kasus kardiologi, antara lain: a) Left Ventricular Failure atau High Left Atrial Pressure Possibilities. (1) Dyspnea, riwayat batuk, atau mengi selama aktivitas, saat sedang mendaki, atau naik tangga atau tidak. (2) Apakah ada orthopnoe atau tidak. (3) Apakah terdapat PND (Paroxysmal nocturnal dyspnea) atau tidak. (4) Untuk perempuan, bisa ditanyakan apakah terdapat riwayat gagal jantung saat kehamilan atau tidak. b) Peripheral Venous Congetion atau Pseudo Right Heart Failure Possibilities.
- 63 - (1) Apakah terdapat edema perifer atau tidak. (2) Apakah terdapat tanda-tanda ascites atau tidak. c) Low Output State Possibilities. (1) Apakah akhir-akhir ini sering merasa lelah atau tidak. (2) Riwayat tangan dan kaki dingin atau tidak. (3) Apakah merasa bahwa keringat yang dihasilkan lebih banyak daripada biasanya. (4) Insomnia. (5) Apakah suka terbangun malam hari karena rasa ingin buang air kecil. (6) Rasa mau pingsan yang dipengaruhi oleh perubahan posisi? d) Fixed Ouput State Possibilities (1) Ada riwayat pingsan atau tidak. (2) Nyeri dada atau tidak. e) Chamber Enlargement Possibilities (1) Mampukah pasien berbaring. (2) Riwayat palpitasi. (3) Pernahkah sebelumnya didiagnosis pembesaran jantung. 2) Cara Pemeriksaan. Evaluasi jantung untuk anggota yang sudah jadi meliputi: a) Anamnesis. b) Pemeriksaan fisik. c) Resting ECG. d) Treadmill test/Ergocycle. e) Holter monitor 24 jam. f) Echocardiografi. g) MSCT/coronary angiografi. h) Studi Elektrofisiologi. Tentukan batas-batas jantung, bunyi jantung, bising jantung, aritmia dan sclerosis pembuluh darah tepi. Pemeriksaan elektrokardiografi dikerjakan pada calon perwira dan pada setiap awak pesawat secara berkala. Perekaman dilakukan pada waktu istirahat, selama dan sesudah latihan fisik. Rekaman
- 64 - dibuat duabelas leads (I, II, III, aVR, aVL, aVF, V1 s.d V6). Tata cara perekaman adalah sebagai berikut: (1) EKG Istirahat. (a) Subjek bercelana pendek dibaringkan terlentang di atas tempat tidur yang beralaskan kasur atau busa yang tidak menghantar arus listrik. Bagian-bagian tubuhnya tidak boleh menyentuh tembok atau tepi tempat tidur besi. (b) Kulit dada, kedua pergelangan tangan dan tungkai subjek yang akan di pasang elektroda dibersihkan dengan alkohol agar tak berlemak. (c) Elektroda perekam diberi pasta kemudian ditempelkan pada kulit kedua lengan, kedua tungkai, dan prekordinal. (d) Rekaman dua belas hantaran EKG istirahat dilakukan pada hantaran : I, II, III, aVR, aVL, aVF, V1 s.d. V6. Apabila perlu V7 s.d. V9, Vx atau V3R s.d. V6R. Perekaman EKG pada setiap hantaran minimal terdiri atas tiga kompleks siklus EKG, bila perlu rekaman hantaran II lebih panjang. (2) EKG Uji Jasmani. Apabila akan dilakukan perekaman EKG selama dan pasca uji jasmani dengan pembebanan fisik, maka harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut: (a) Personel. Seorang dokter pengawas yang berpengalaman melakukan uji jasmani, dibantu oleh seorang perawat yang terlatih mengawaki alat-alat yang digunakan dan dapat melakukan resusitasi kardiopulmonal. (b) Alat Resusitasi dan Obat Gawat Darurat. Tersedia alat resusitasi dan obat gawat darurat lengkap (emergency kit) yang siap digunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan tindakan resusitasi kardiopulmonal. (c) Subjek. i. Selama satu minggu sebelumnya harus bebas dari penyakit infeksi. ii. Selama satu hari sebelumnya berhenti olahraga, makan ringan tidak berlemak, tidak minum alkohol. iii. Selama dua belas jam sebelumnya tidak menggunakan obat-obat vasodilator koroner, beta blocker dan antagonis kalsium kecuali atas petunjuk dokter. iv. Selama dua jam sebelumnya tidak boleh merokok, tidak boleh makan berat dan tidak boleh minum terlalu banyak. (3) Tes Sepeda Ergometri.
- 65 - (a) Subjek dicatat: umur, jenis kelamin, berat dan tinggi badan, tekanan darah serta elektrokardiografi. (b) Kecepatan kayuhan pedal sepeda ditetapkan lima puluh putaran permenit dengan beban hambatan sepeda tertentu untuk memberikan beban kerja sesuai dengan cara pembebanan menurut metode dan table astrand. (c) Perekaman dua belas hantaran EKG istirahat secara konvensional: I, II, III, aVR, aVL, aVF, V1 s.d. V6. Perekaman EKG selama pembebanan kerja ditetapkan hantaran prekordial V4-V5, atau direkam sesuai dengan hantaran yang ada perubahan segmen ST maupun gelombang T, Sedangkan EKG pascauji jasmani direkam berturut-turut V6, V5, V4, V3, aVL, aVR, III, II, I dalam posisi tetap duduk di sepeda. (d) Tekanan darah diukur setiap tiga menit selama uji jasmani pada posisi tetap duduk di sepeda. Hal yang sama dilakukan segera setelah uji jasmani bersamaan dengan perekaman EKG. (e) Tanpa VO2 Max, tidak ada pemeriksaan aspek kebugaran. (4) Tes Treadmill. (a) Subjek dicatat: umur, jenis kelamin, berat dan tinggi badan, tekanan darah dalam posisi berbaring dan berdiri serta perekaman EKG dalam posisi berbaring. (b) Sebelum tes treadmill subjek melakukan hiperventilasi pada posisi berdiri di atas ban treadmill, kemudian dilakukan perekaman EKG kecepatan 60 putaran/menit. (c) Subjek berjalan di atas ban treadmill selama tiga menit pada setiap tahap dengan kecepatan dan derajat elevasi sesuai dengan metode yang digunakan (Bruce, Kaattus dan lain-lain), dan pada setiap tahap dilakukan pemantauan serta perekaman EKG dan tekanan darah, bila perlu setiap saat dilakukan perekaman EKG. Semuanya ini dilakukan sampai: i. Tampak kelainan EKG atau denyut jantung mencapai maksimal sesuai dengan usia atau sekurang-kurangnya mencapai 85% denyut jantung maksimal. ii. Timbul nyeri dada/keluhan lain yang berhubungan dengan jantung. iii. Subjek merasa kelelahan. iv. Tekanan sistole 220 mmHg. (d) Pascauji jasmani harus ditentukan: beban maksimal yang dicapai, lama uji jasmani, konsumsi oksigen maksimal, perubahan tekanan darah dan perubahan EKG yang terjadi.
- 66 - (5) Pemeriksaan Holter EKG Ambulatoir 24 jam (dikirim dokter Spesialis Jantung), Ambulatory blood pressure monitoring 24 jam dan echocardiography color dopler. 3) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan. a) Kardiomegali berdasarkan gambaran radiologis (U-4/U-3P). b) Infark dan iskemik otot jantung (U-4/U-3P) kecuali dengan pemeriksaan lanjutan dengan hasil normal (U-1). c) Dekstrokardi dengan situs inversus atau solitus atau levokardi dengan situs inversus (U-4/U-3). d) Payah jantung (U-4/U-3P). e) Patent ductus arteriosus dan coarctatio aortae (U-4/U-3P). f) Kelainan katup jantung (U-4/U-3P). g) Hipertrofi jantung sedang-berat dengan pemeriksaan Echocardiography dan atau kateterisasi (U-4/U-3P). h) Kardiomiopati (U-4/U-3P). i) Semua bising diastolik (U-4/U-3P). j) Bising sistolik patologis (U-4/U-3P). k) Supraventrikel takikardi paroksimal (U-4/U-3P), 100 - 110 (U-3), > 110 (U-4). l) Gangguan irama jantung misalnya sinus takikardi > 110 yang menetap (U-4), sinus bradikardi < 50 (U-4) dengan catatan bradikardi pada anak muda/terlatih adalah varian normal (U-2). m) Sinus arrest, fibrilasi atrial, Irama Junctional, premature atrial contraction (PAC), kontraksi ventrikel premature (PVC), ventrikel Takikardi, fibrilasi ventrikuler, sindroma wolff parkinson white, blok atrial, blok AV > derajat 2, LBBB, blok bifasikuler, blok trifasikuler dan aritmia lainnya yang persistent, Brugada Pattern, Long QT (U-4/U-3P), karena berpotensi menimbulkan kematian mendadak (Sudden Cardiac Death). n) RBBB komplit (U-4), apabila berpotensi terjadinya AV Blok, kecuali untuk pemeriksaan seleksi Dikbangum dengan pemeriksaan lanjutan normal. o) Blok posterior fasikuler dan blok anterior fasikuler (U-2). p) RBBB inkomplit, AV blok I (U-2/U-1). q) Aneurisma aorta, aneurisma disekan aorta, aortitis, aterosklerosis aorta, dilatasi aorta, trombosis/emboli aorta (U-4/ U-3P). r) Penyakit Burger, Raynaud (U-4/U-3P).
- 67 - s) Pankarditis, miokarditis, endokarditis, perikarditis (U-4/U-3P). t) Angina pektoris (U-4/U-3P). u) Penyakit pembuluh darah koroner (U-4/U-3P). v) Trombophlebitis (U-4/U-3P). w) Varises yang hebat atau yang disertai udem atau ulkus varicosum (U-4/U-3P). x) Demam rematik akut (U-4/U-3P). y) Neurocircuilatory asthenia/effort syndrome (U-4/U-3P). z) Persyaratan anggota yang akan mengikuti pendidikan pengembangan umum: (1) Memenuhi kriteria calon prajurit, apabila ada kelainan dilakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih spesifik dan presisi tingkat akurasinya (seperti yang disebutkan di atas). (2) Kriteria Treadmill: (a) Mampu melakukan latihan minimal stage III (bruce protocol). (b) Tidak ditemukan gangguan irama jantung selama latihan (VPC frekuen, APC frekuen, nonsustained VT, VT, SVT, AF, AV blok). (c) Tidak ada respon hipertensi (TD Sistole ≥ 220 mmHg, TD Diastole ≥100 mmHg atau naik > 10 mmHg dari tekanan darah awal latihan). (d) Tidak ada keluhan angina. (e) Tidak ditemukan respon iskemik. (3) Kriteria Echocardiografi: (a) Kontraktilitas global LV baik, LVEF ≥ 50%. (b) Kontraktilitas RV baik. TAPSE ≥ 2.0 cm. (c) Tidak ada gangguan diastolic (restriktif). (d) Tidak ada ketebalan dinding (IVSd) ≥ 14 mm. (e) Tidak ada kebocoran katup (sedang atau berat). (f) Tidak ada penyempitan katup. (g) Tidak ditemukan efusi pericardial.
- 68 - (h) Tidak ada kecurigaan adanya ARVC (kardiomiopati ventrikel kanan), apabila ada kecurigaan dilanjutkan pemeriksaan MRI. (i) Tidak ditemukan ASD/VSD. (4) Kriteria MSCT/coronary angiografi: (a) Tidak ditemukan penyempitan/stenosis di LM. (b) Tidak ditemukan penyempitan/stenosis ≥ 50% di RCA, LAD, LCX. (c) Tidak ditemukan coronary bridging. (d) Tidak ditemukan AV fistul. (5) Kriteria studi elektrofisiologi: (a) Fungsi SA node, AV node baik. (b) Tidak tercetus takiaritmia. d. Aspek Pemeriksaan Paru. 1) Gambaran umum. a) Paru merupakan organ yang sangat penting. Penurunan fungsi paru dapat menyebabkan turunnya kualitas hidup. Uji faal paru merupakan pemeriksaan yang penting untuk mengetahui diagnosis dan kelainan yang terdapat pada sistem pernapasan. Selain itu juga dapat menilai manfaat pengobatan, memantau perjalanan penyakit, menentukan prognosis dan toleransi tindakan bedah. Hasil uji faal paru ini berguna bila digabungkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang lainnya seperti foto toraks. Kriteria uji faal paru adalah acceptable dan reproducible. Acceptable yaitu permulaan uji harus baik, grafik flow volume memiliki puncak dan pemeriksaan harus selesai. Reproducible ditentukan setelah didapatkan 3 pemeriksaan acceptable. Reproducible jika nilai terbesar perbedaannya <5% atau <150ml untuk nilai KVP dan VEP1. b) Diperlukan teknik yang baik untuk mendapatkan hasil yang baik seperti persiapan pasien, persiapan alat dan operator. Persiapan pasien yaitu mengerti tujuan pemeriksaan, tidak merokok minimal 2 jam, tidak makan berlebihan, tidak memakai pakaian ketat, tidak menggunakan bronkodilator kerja singkat 6 jam, kerja panjang 12 jam, teofilin 24 jam. Persiapan alat yaitu kalibrasi minimal 1 minggu, mouthpiece dan nose klip. Persiapan operator yaitu terlatih, mengerti tujuan dan dapat mengintepretasi hasil. Selanjutnya adalah kerja sama yang baik antara pasien dan pemeriksa sehingga teknik pemeriksaan uji faal paru dapat dilakukan secara optimal. 2) Cara Pemeriksaan. a) Pemeriksaan Fisik. Perhatikan bentuk dan simetri dada, retraksi sela iga, frekuensi, dan dalam dangkalnya pernapasan, serta suara pernapasan yang abnormal.
- 69 - b) Spirometri (Uji Faal Paru). Spirometri dilaksanakan pada uji kesehatan awal dan uji kesehatan berkala pada awak pesawat terbang golongan I, IIA, dan IIB, sedangkan golongan III dilaksanakan atas indikasi. Hasil pemeriksaan spirometri adalah sebagai berikut: (1) Normal: VEP1/KVP ≥ 75% atau VEP1> 75% dan KVP ≥ 80% - 120%. (2) Obstruksi. (a) Ringan: VEP1/KVP ≥ 60% - < 75% atau VEP1 ≥ 60% - < 75%. (b) Sedang: VEP1/KVP ≥ 30% - < 60% atau VEP1 ≥ 30% - < 60%. (c) Berat: VEP1/KVP < 30% atau VEP1< 30%. (3) Restriksi. (a) Ringan: KVP ≥ 60% - < 80%. (b) Sedang: KVP ≥ 30% - < 60%. (c) Berat: KVP < 30%. (d) Hiperinflasi: KVP > 120%. c) Pemeriksaan tambahan atas indikasi seperti bronchodilator test. 3) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan. a) Pneumotoraks spontan (U-4/U-3P). b) Hidrotoraks, hematotoraks, efusi pleura (U-4/U-3P). c) Pleuritis, empiema (U-4/U-3P). d) Schwarte tanpa retraksi sela iga (U-3/U-2). e) Schwarte dengan retraksi sela iga (U-4/U-3). f) Bronkitis akut (U-3/U-2P), bronkitis kronik (U-4/U-3P). g) Bronkiektasis (U-4/U-3P). h) Asma bronkial (U-4/U-3P). i) Emfisema paru (U-4/U-3P). j) Kor pulmonale (U-4/U-3P). k) Pneumokoniosis (U-4/U-3P). l) Abses paru (U-4/U-3P), bila sembuh dan faal paru normal (U-2).
- 70 - m) Kelainan paru yang disebabkan jamur (U-4/U-3P). n) Hasil pemeriksaan spirometri: (1) Normal : VEP1 / KVP ≥ 75% dan (U-1). (2) Obstruksi : VEP1 / KVP < 75% (U-4/U-3P). (3) Restriksi : KVP ≥ 80 % (U-1), (a) Ringan: KVP ≥ 60 % - < 80 % (U-2). (b) Sedang: KVP ≥ 30 % - < 60% (U-3/U-2P). (c) Berat: KVP < 30% (U-4/U-3P). o) Tuberkulosis: (1) Aktif, BTA positip atau negatif (U-4/U-3P). (2) Tidak aktif, pascatuberkulosis/fibrokalsifikasi minimal disertai surat keterangan dari dokter yang merawat (U-3/U-2P), luas (U-4/U-3P). (3) Sindroma obstruktif pascatuberkulosis, jika didapatkan obstruksi dari pemeriksaan spirometri (U-4/U-3P), dan jika hasil spirometri normal (U-3/U-2P). e. Aspek Pemeriksaan Abdomen dan System Gastrointestinal. 1) Gambaran Umum. Dalam melakukan anamnesis perlu dibuat daftar pertanyaan terlebih dahulu untuk mempermudah dalam menggali riwayat penyakit. Secara garis besar, komponan yang harus ditanyakan antara lain adalah keluhan utama, riwayat penyakit sekarang dan pertanyaan-pertanyaan yang menyingkirkan diagnosis banding. Perlu dicatat apakah ada riwayat penyakit sebelumnya, data mengenai kapan, dimana, mengapa, dan nama, serta komplikasi dari tindakan tersebut. Beberapa hal yang harus ditanyakan apabila ingin menegakkan diagnosis dalam kasus abdomen dan gastrointestinal. 2) Cara Pemeriksaan. a) Perhatikan bentuk abdomen cekung, buncit, dan sebagainya. Perhatikan adanya sikatrik, hernia, kelainan lain pada abdomen. b) Perhatikan adanya pembesaran hati dan limfa, ginjal, benjolan/ massa di dinding/rongga perut, defence musculair, dan nyeri tekan lokal dan nyeri ketok di daerah ginjal/tapping pain. c) Perhatikan batas-batas organ yang membesar atau benjolan lain dalam rongga perut, adanya ascites, meteorismus, dan bising usus. 3) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan. a) Umum.
- 71 - (1) Malaria akut (U-4/U-3P), dibagi berdasarkan pemeriksaan plasmodium. (2) Malaria kronik (U-4/U-3P). (3) Keracunan logam akut dan kronik (U-4/U-3P). (4) Penyakit kolagen: periarteritis nodosa (U-4/U-3P), lupus eritematosus disseminata, lupus eritematosus sistemik (U-4/U-3P). (5) Demam rematik yang sering kambuh dalam dua tahun terakhir (U-4/U-3P). b) Abdomen dan gastrointestinal. (1) Gastro oesophageal reflux disease (GERD) (U-4/U-3P). (2) Dispepsia (U-4/U-3P). (3) Ulkus peptikum (U-4/U-3P). (4) Stenosis pilorus karena tumor (U-4/U-3P). (5) Semua tumor traktus gastrointestinal (U-4/U-3P). (6) Colitis acut dan disentri (U-4/U-2P). (7) Inflamatory bowel disease (IBD)(U-4/U-3P). (8) Irritable bowel syndrome (IBS)(U-4/U-3P). (9) Diverticulitis (U-4/U-3P). (10) Ileitis (U-4/U-3P). (11) Diare kronik oleh semua sebab (U-4/U-3P). (12) Perdarahan gastrointestinal (U-4/U-3P). (13) Hepatitis akut (U-4/U-3P). (14) Hepatitis kronis (U-4/U-3P). (15) Hepatomegali (U-4/U-3P). (16) Splenomegali (U-4/U-3P). (17) Penyakit kantong empedu termasuk kolesistitis (U-4/U-3P). (18) Perlemakan hati yang ditemukan pada USG tanpa gangguan fungsi hati (U-2), dengan gangguan fungsi hati (U-4/U-3P). (19) Pankreatitis akut dan kronik (U-4/U-3P). (20) Sirosis hepatitis (U-4/U-3P).
- 72 - (21) Acute kidney Injury (U-4/U-3P). (22) Gagal ginjal kronik stadium 1-5 (U-4). c) Endokrin, Metabolik, dan Darah. (1) Akromegali (U-4). (2) Distrofi adiposogenitalis/frohlich (U-4). (3) Diabetes insipidus, simmond disease, dan cushing syndrome (U-4/U-3P). (4) Hipertiroidi (U-4/U-3P). (5) Hipotiroid (U-4/U-3P) (6) Miksedema (U-4/U-3P). (7) Diabetes Mellitus: (a) DM tipe 1 (U-4). (b) DM tipe 2 terkontrol (U-4/U-2P). (c) DM tipe 2 dengan komplikasi (U-4/U-3P). (d) DM tipe lain (U-4/U-3P). (8) Penyakit addison (U-4/U-3P). (9) Defisiensi vitamin dan defisiensi gizi lainnya yang manifes (U-4/U-3P). (10) Penyakit gout/hiperurikemia (U-4/U-3P). (11) Leukemia. agranulositosis, anemia, trombositopati, (U-4/ U-3P). (12) Limfoma hodgkin dan nonhodgkin (U-4/U-3P) (13) Penyakit diatesa hemoragik termasuk hemofili (U-4/U-3P). (14) Tetanus (U-4/U-3P). f. Aspek Pemeriksaan Kulit dan Kelamin. 1) Gambaran Umum. Penyakit kulit adalah penyakit infeksi yang paling umum terjadi. Sebagian besar pengobatan infeksi kulit memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil yang optimal. Penyakit kelamin adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh kuman yang ditularkan melalui hubungan seks oral maupun melalui hubungan kelamin. Jenisnya bermacam-macam, dari gonorhea, sifilis, herpes, HIV/AIDS, dan lain-lain. 2) Cara Pemeriksaan.
- 73 - a) Calon tidak mengenakan pakaian dan dilakukan pemeriksaan secara inspeksi, palpasi dan secara sistematik mulai dari kepala, muka, badan, anggota atas, alat kelamin, dan anggota bawah. b) Berbagai kriteria yang dapat dipakai sebagai pegangan dalam menentukan penggolongan tingkat kelainan: (1) Lesi atau kelainan yang bersifat lokal atau multiple yang tidak akan mengganggu atau diperkirakan tidak akan mengganggu pada latihan kemiliteran. (2) Kelainan yang akan mengganggu atau diperkirakan akan mengganggu pada latihan kemiliteran. (3) Lesi vesikobulosa luas yang bersifat menahun. (4) Lesi eritroskuamosa dengan tempat predileksi kulit kepala, siku, lutut, daerah sacrum. Skuama tebal berlapis-lapis seperti mika. (5) Bercak-bercak hipopigmentatik atau eritematosa yang anestetik disertai pembesaran salah satu atau lebih saraf perifer seperti N. auricularis magnus, N. ulnaris, dan N. peroneus. (6) Infiltrat kemerahan pada kulit dan cuping telinga yang anestetik dengan bermacam-macam konfigurasi. (7) Infiltrat daerah leher, supraklavikular atau inguinal dengan perlunakan/fistel/sinus dan pembengkakan kelenjar getah bening setempat. (8) Bercak-bercak eritroskuamosa yang terutama terdapat pada daerah muka disertai atrofi dan jaringan parut. (9) Eritema dan deskuamasi yang luas. (10) Bercak-bercak kecoklatan yang multiple disertai fibrom lunak yang multiple. (11) Tumor multiple pada muka. (12) Kulit kering dan bersisik yang luas. c) Perhatikan adanya penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti: gonore, uretritis nongonore, herpes genitalis, kondiloma akuminata, limfogranuloma venereum, ulkus mole, lues, pengidap HIV/AIDS. 3) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan. a) Infeksi bakteri dan jamur akut, lokal (U-2/U-1P), bila luas (U-4/U-3P), bila menahun (U-4/U-3P), herpes zoster, varicella (U-4/U-2P), ptiriasis rosea, moluskum kontagiosum (U-3/ U-2P). b) Penyakit kulit kronik dan tidak menular yang biasanya sukar disembuhkan dan sering kambuh (U-4/U-3P).
- 74 - c) Acne vulgaris: ringan (U-1), sedang (U-2/U-2P), berat (U-4/ U-3P). d) Nevus atau hiperpigmentasi luas dan atau mengganggu estetika atau letaknya mudah teriritasi sehingga dikhawatirkan dapat menjadi ganas (U-4/U-2P). e) Vitiligo atau hipopigmentasi luas yang mengganggu estetika (U-4/U-3P). f) Verruca vulgaris yang luas (U-4/U-3P). g) Eksim kronik dan luas, psoriasis (U-4/U-3P). h) Keloid besar yang terletak pada area yang mudah teriritasi atau mengganggu estetika (U-4/U-3P). i) Alopecia areata (U-3/U-2), Alopesia areata yang mengganggu estetika (U-4/U-3P). j) Alopecia totalis (U-4/U-2). k) Penyakit kulit kronik dan ulkus kronik yang pengobatannya sukar dan memakan waktu lama (U-4/U-3P). l) Epidermolisis bulosa (U-4/U-3P). m) Dermatitis allergik yang luas (U-4/U-3P). n) Lupus Vulgaris dan tuberkulosis kulit lainnya (U-4/U-3P). o) Scabies yang hebat dan sukar diobati/norwegian scabies (U-4/ U-3P). p) Tumor kulit jinak tetapi bentuk dan ukurannya besar, serta mengganggu pemakaian alat prajurit (U-4/U-3P), yang kecil dan tidak mengganggu (U-3/U-2P), neurufibromatosis von reckling hausen disease (U-4). q) Tumor ganas, mikosis fungoides, bowen, karsinoma planoselulare, basalioma/ulkus rodent, melanoma (U-4/U-3P). r) Penyakit degenerasi, amiloidosis, lupus eritematosus, skleroderma (U-4/U-3P). s) Kusta (U-4/U-3P). t) Penyakit menular seksual (U-4/U-2P). u) Tato (U-4/U-3P). v) Hiperhidrosis: (1) Ringan (U-2). (2) Sedang (U-3)
- 75 - (3) Berat (U-4) w) Bau badan (U-4/U-3P). x) Dermatosis eritroskuamosa (U-4/U-3P). g. Aspek Pemeriksaan Sistem Syaraf. 1) Gambaran Umum. Dalam melakukan anamnesis perlu dibuat daftar pertanyaan terlebih dahulu untuk mempermudah dalam menggali riwayat penyakit. Secara garis besar, komponan yang harus ditanyakan antara lain adalah keluhan utama, riwayat penyakit sekarang dan pertanyaan-pertanyaan yang menyingkirkan diagnosis banding. Perlu dicatat apakah ada riwayat penyakit sebelumnya, data mengenai kapan, dimana, mengapa, dan nama, serta komplikasi dari tindakan tersebut. 2) Cara Pemeriksaan Sistem Saraf. Pemeriksaan neurology dikerjakan dengan prosedur sebagai berikut: a) Kesadaran. Pemeriksaan derajat kesadaran dengan menggunakan skala koma glasgow (SKG ) yaitu dengan menilai buka mata (eye), respon bicara (verbal) dan respon gerakan (motorik) sebagai berikut: No Respon Nilai 1. Buka Mata a. Dapat membuka mata spontan 4 b. Dapat membuka mata dengan perintah 3 c. Dapat membuka mata dengan rangsangan sakit 2 d. Tidak ada respon 1 2. Respon Berbicara a. Berbicara dengan isi kalimat dapat dimengerti 5 b. Isi kalimat tidak dapat dimengerti 4 c. Hanya kata-kata yang jelas 3 d. Hanya suara-suara tidak berarti 2 e. Tidak ada suara 1 3. Respon Gerakan a. Gerakan sesuai perintah 5 b. Dapat mengidentifikasi lokasi rangsangan 4 c. Ada respons tetapi tidak dapat mengidentifikasi lokasi 3 d. Respons rangsangan hanya ektensi pada ektremitas 2 e. Tidak ada respons sama sekali 1 b) Rangsangan Selaput Otak. Dengan memeriksa ada tidaknya kaku kuduk. c) Saraf Otak. (1) Nervus Olfaktorius (N-I). Memeriksa daya penciuman hidung kiri dan kanan bergantian dengan memakai bahan-bahan yang sudah dikenal dan tidak merangsang.
- 76 - (2) Nervus Optikus (N-II). Memeriksa visus, lapang pandang, refleks cahaya, funduskopi, dan warna. (3) Nervus Oculomotorius-trochlearis-abducens (N-III,N-IV,NVI). Memeriksa gerakan bola mata ke segala arah. (4) Nervus Trigeminus (N-V). Memeriksa sensibilitas wajah bagian atas, tengah, bawah dan otot-otot mengunyah. (5) Nervus Facialis (N-VII). Memeriksa gerakan-gerakan di wajah seperti memperlihatkan gigi/menyeringai, meniup/bersiul, lipatan nasolabial, pengecapan 2/3 lidah depan, sekresi air mata, menutup kelopak mata, mengangkat alis, dan mengerutkan dahi. (6) Nervus Acusticus (N-VIII). Ketajaman pendengaran dan Keseimbangan. (7) Nervus Glossopharyngeus (N-IX) dan N. Vagus (N-X). Fungsi palatum, faring, bersuara, menelan, refleks arkus faring, refleks muntah, pengecapan 1/3 lidah belakang. (8) Nervus Accesorius (N-XI). Gerakan mengangkat bahu kiri dan kanan, gerakan menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. (9) Nervus Hypoglossus (N-XII). Memeriksa posisi lidah saat menjulur diam (simetri atau tidak). d) Motorik. Pemeriksaan meliputi tonus, kekuatan dan klonus sebagai berikut: (1) Tonus. Tonus diperiksa dengan cara: (a) Inspeksi: eutrofi (normal), atrofi. (b) Palpasi: normotonus, hipotonus. (c) Gerakan: spastik, flasid, rigid. (2) Kekuatan. (a) Kekuatan normal:5 (b) Dapat melawan tahanan normal:4 (c) Dapat melawan gravitasi:3 (d) Dapat menggeser tetapi tidak dapat melawan gravitasi:2 (e) Hanya kontraksi otot saja:1 (f) Tidak ada kontraksi otot:0 (3) Klonus. Dengan meregangkan secara tiba-tiba tendon achilles dan patella, apabila terjadi gerakan ritmis pada kaki dan patella klonus positif.
- 77 - e) Sensibilitas. Pemeriksaan meliputi sensibilitas permukaan dan sensibilitas dalam: (1) Sensibilitas permukaan. Rasa sakit, rasa raba/tekan, suhu. (2) Sensibilitas Dalam. Subjek disuruh menginterpretasikan arah gerakan sendi yang dilakukan oleh pemeriksa secara halus tanpa terlihat oleh subjek. f) Refleks. (1) Refleks fisiologis. Refleks biseps, triseps, patella, achilles dan dinding perut. (2) Refleks patologis. Hoffman Trommer, Babinsky, Openheim dan lain-lain. (3) Refleks primitive. Dijumpai pada geriatric refleks palmomental, refleks menghisap, dan refleks memegang. g) Sistem Saraf Otonom. Ada tidaknya gangguan berkeringat, gangguan buang air kecil, gangguan buang air besar, gangguan potensi seksual dan lain-lain. h) Langkah. Calon/anggota dengan bercelana pendek diminta berjalan di muka pemeriksa dan diperhatikan langkahnya gerakan bebas atau tidak, koordinasi otot, gerakan tambahan, dan disfungsi otot. i) Sikap. Gerakan patologik seperti tic fasialis, menggigit kuku, gangguan bicara, tremor, gerakan involunter, tes romberg, dan gangguan fungsi susunan saraf pusat lainnya. j) Electroencephalography (EEG). Dilakukan pada semua calon penerbang dan calon navigator atau atas indikasi. 3) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan. a) Kepala. (1) Patah tulang tengkorak bila tidak menyebabkan gejala sisa/gangguan neurologis (U-2). (2) Patah tulang tengkorak bila menyebabkan gejala sisa/gangguan neurologis (U-4/U-3P). Bila selama dalam perawatan tidak ada perbaikan (U-4). (3) Riwayat cedera otak bila tidak terdapat gejala sisa/keluhan neurologis (U-2). (4) Riwayat cedera otak bila ada gejala sisa/gangguan neurologis (U-4/U3p-U-4). (5) Pernah menderita perdarahan intracerebral dan selaput otak (epidural/subdural/sub arachnoid) (U-4/U-3P). b) Riwayat menderita meningitis (U-4/U-3P).
- 78 - c) Riwayat menderita encephalitis/encephalopati (U-4/U-3P) d) Tumor otak (U-4/U-3P). e) Gangguan saraf otak (nervicraniales): (1) Nervus Olfaktorius (Nervus I). Anosmia/hipoosmia (U-4/U-3P). (2) Nervus Opticus. Neuritis optika dan neuritis retrobulbaris (U-4/U-3P). (3) Saraf okuler (nervus III, IV dan VI). Neuritis okuler, Strabismus (U-4/U-3P). (4) Neuralgia trigeminus (tic douloureux) (U-4/U-3P). (5) Nervus VII. Bell’s palsy (U-4/U-3P). (6) Gangguan nervus vestibulocochlearis yang menimbulkan gangguan vestibuler/penyakit meniere (U-4/U-3P). (7) Gangguan nervus glosofaringeus (n. IX) dengan gangguan fonasi, suara menjadi serak dan neuralgia glosofaringeus (U-4/U-3P). (8) Gangguan nervus vagus (n. X) dimana yang terganggu adalah n. recurrens yang menimbulkan gangguan fonasi, suara menjadi serak (U-4/U-3P). f) Penyakit ganglia basal. (1) Sindrom parkinson: rigiditas otot, tremor, akinesi atau hipokinesi (U-4/U-3P). (2) Chorea: gangguan gerakan motorik dan ataksi berupa gerakan kontraksi otot yang cepat dan ekspulsif (U-4/U-3P). (3) Athetosis: gerakan otot lambat dan tonik (U-4/U-3P). (4) Distonia: gerakan timbul tanpa dikehendaki menyerupai athetosis, torsi spasme anggota gerak karena hipertoni beberapa kelompok otot (U-4/U-3P). g) Gangguan peredaran darah otak. (1) Transient ischemic attack/TIA (U-4/U-3P). (2) Perdarahan otak (U-4/U-3P). (3) Infark otak (U-4/U-3P). h) Epilepsi (U-4/U-3P). i) Sifilis susunan saraf (U-4/U-3P). j) Medulla spinalis.
- 79 - (1) Cedera medulla spinalis: (a) Cedera/gangguan medulla spinalis tanpa gejala sisa/gangguan neurologis (U-2). (b) Cedera/gangguan medulla spinalis dengan gejala sisa/gangguan neurologis (U-4/U-3P). (2) Radikulopati/Nyeri tulang belakang: (a) Nyeri dengan sindroma radikuler tanpa gejala sisa/gangguan neurologis (U-4/U-2P). (b) Nyeri dengan sindroma radikuler disertai gejala sisa/gangguan neurologis (U-4/U-3P). (3) Mielitis transversalis paraplegi (U-4/U-3P). (4) Penyakit degeneratif medulla spinalis: sclerosis multipleks, siringomieli, sclerosis miotrofik lateralis, ataksia friedrich dan degenerasi funikuler medulla spinalis dimana pada umumnya menimbulkan gejala kelumpuhan otot dan gangguan sensibilitas (U-4/U-3P). k) Spondilitis tuberkulosis (U-4/U-3P). l) Poliomielitis anterior akut (U-4/U-3P). m) Neuritis. (1) Neuritis akut. Neuritis akut yang disebabkan karena adanya infeksi tonsillitis, sinusitis, difteri, otitis media, caries dentis, neuritis HIV, polineuritis akut/sindroma guillain barre (U-4/U-3P). (2) Neuritis Kronis. Neuritis Kronis yang disebabkan karena adanya toksis metabolic (neuritis alcohol), intoksikasi menahun (neuritis karena logam arsen, timah dan merkuri), defisiensi vitamin B, kusta, dan diabetes mellitus (U-4/U-3P). n) Kelumpuhan saraf perifer traumatis. Kelumpuhan saraf perifer karena trauma tajam biasanya menyebabkan lesi irreversible (U-4/U-3P), bila trauma menyebabkan lesi reversible (U-2). o) Nyeri kepala. (1) Migren (U-4/U-3P). (2) Nyeri kepala oksipital bila serangannya berulang-ulang (U-4/U-3P). (3) Arteritis temporalis bila berulang-ulang (U-4/U-3P). p) Miopati. (1) Polimiositis termasuk dermatomiotisis yang tergolong penyakit kolagen (U-4/U-3P).
- 80 - (2) Distrofi muskulorum progresif (U-4/U-3P). (3) Miastenia gravis (U-4/U-3P). (4) Miotoni congenital (Thomson’s disease), miotoni distrofika dan miotoni akuisita (U-4/U-3P). (5) Paralise periodic familier (U-4/U-3P). q) Narkolepsi, kataflexi, tidak sadar yang tidak jelas penyebabnya (U-4/U-3P). r) Tremor ringan (U-2), sedang (U-3/U-2P), berat (U-4/U-3P). h. Aspek Pemeriksaan Ginekologi. 1) Gambaran Umum. a) Pemeriksaan ginekologi merupakan pemeriksaan sistem reproduksi wanita yang dilakukan oleh dokter ginekologi. Pada pelaksanaan di lapangan untuk menunjang pemeriksaan ginekologi dibantu oleh pemeriksaan dari bidang radiologi, dan laboratorium. b) Dokter ginekologi memeriksa alat reproduksi wanita dari bagian luar ke bagian dalam seperti labia mayora, labia minora, klitoris, himen, serviks, tuba fallopii dan ovarium. Dalam keadaan tertentu selaput dara/himen bersifat elastis dan mudah diregang sehingga walaupun sudah melakukan hubungan seksual akan tetap utuh. Kelainan dapat berupa imperforata maupun ruptur. Ruptur himen dinyatakan menurut posisi jarum jam dan kedalaman ruptur. 2) Cara Pemeriksaan. a) Alat-alat yang diperlukan. (1) Sarung tangan, speculum, dan tampon tang. (2) Kapas steril dan larutan anti septik. (3) Vaselin/gliserin/phisohex/jelly. (4) Meja Gynaecology dan lampu penerangan. b) Organ yang diperiksa. (1) Abdomen. (2) Genital luar. (3) Genital dalam. c) Cara-cara pemeriksaan. (1) Anamnesa. (a) Umur pertama haid.
- 81 - (b) Tanggal haid terakhir. (c) Lama siklus haid. (d) Keteraturan haid. (e) Lamanya haid. (f) Banyaknya darah haid. (g) Perasaan sakit waktu haid (ringan, sedang, dan berat). (h) Keputihan (kualitas dan kuantitasnya). (i) Perdarahan/spoting di luar waktu haid. (j) Berhenti haid, sejak kapan. (k) Riwayat perkawinan. (l) Riwayat kehamilan dan persalinan. (m) Keluarga berencana. (2) Inspeksi. (a) Abdomen. Bentuk, kontur, masa tumor (benjolan), dan hernia. (b) Alat Genitalia Luar. Perhatikan bentuk bibir besar, vivir kecil, klitoris, kelainan bawaan, peradangan, pembesaran, atrofi, ulserasi, cairan yang keluar dari introitus vagina, kulit di sekitar perineum, pangkal paha dan anus. (c) Palpasi. Tebal dinding perut, ketegangan, nyeri tekan, kekakuan, masa tumor, hernia, dan asites. (d) Pemeriksaan Dalam. Untuk calon anggota dan anggota yang belum menikah dilakukan pemeriksaan rectal. Pada pemeriksaan ini diperhatikan: i. Keadaan himen/selaput dara utuh atau tidak, robekan dinyatakan menurut posisi jarum jam dan kedalaman robekan (sampai dasar atau tidak). Bentuk himen bentuk bibir, katup, saringan, jembatan, bulan sabit, cincin, dan lain-lain. ii. Uterus: besar, bentuk, konsistensi, mobilitas, dan nyeri tekan. iii. Adneksa: masa tumor, perlekatan, dan nyeri tekan. iv. Parametrium: lemas, kaku, nyeri tekan. v. Cavum douglasi: menonjol atau tidak. 3) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan.
- 82 - a) Kelainan mamae: radang, tumor (U-4/U-2P), mamae aberans (U-4). b) Riwayat operasi mamae/mastektomi: ekstirpasi tumor jinak (U-2/U-1), mastektomi simple (U-4/U-2), dan mastektomi total (U-4/U-3). c) Hermafroditisme (U-4). d) Atresia himenalis (U-4). e) Hymen: (1) Kelainan kongenital hymen imperforata (U-4). (2) Ruptur himen (bagi yang belum menikah). Diperiksa dan dicatat, penilaian bukan dari aspek kesehatan. f) Laserasi jalan lahir (U-4/U-3P), parut di genetalia eksterna misalnya bekas robekan perineum yang tidak mengganggu (U-2), yang mengganggu (U-4/U-3). g) Radang aspesifik: mastitis, uretritis, vulvitis, bartholinitis, ooforitis, skenitis, endometritis, salpingitis, endoservicitis, colpitis, pelvioperitonitis (U-4/U-2P), polip, ulkus, dan erosi servik (U-4/U-3P). h) Radang spesifik seperti tuberkulose genital (U-4/U-3P). i) Prolapsus uteri tingkat I-II (U-4/U-3P), tingkat III (U-4/U-3P). j) Tumor jinak: kista glandula bartholini bila tidak mengganggu (U-3/U-2P – U-3), bila mengganggu (U-4/U-3P). k) Tumor jinak vagina (U-4/U-2P). l) Mioma uteri (U-4/U-3P). m) Kista ovarium (U-4/U-3P). n) Tumor ganas genital (U-4/U-3P). o) Gangguan menstruasi: amenore, polimenore, menometrorhagi, hipermenore, dismenore sedang/berat (U-4/U-3P). p) Fluor albus patologik (U-4/U-3P). q) Endometriosis (U-4/U-3P). r) Pap Smear. (1) Normal (U1). (2) Reactive changed (U2). (3) Mild Dysplasia (U3). (4) Severe Dysplasia (U4).
- 83 - s) Condyloma Acuminata/jengger ayam (U4). t) Tanda Seks sekunder tidak tumbuh (payudara dan rambut pubis) (U4). u) Agenesis Vagina (U4). v) Kista ovarium neoplastik (U-4/U-3P), kista fungsional (U-2). i. Aspek Pemeriksaan Laboratorium. 1) Gambaran Umum. Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosa suatu kelainan kesehatan. Pada pemeriksaan laboratorium untuk uji dan pemeriksaan kesehatan di lingkungan TNI AU mengikuti aturan yang telah ditetapkan, meliputi pemeriksaan werving maupun seleksi pendidikan lanjutan. 2) Jenis Pemeriksaan. a) Pemeriksaan Hematologi (1) Hemoglobin. (2) Leukosit. (3) Trombosit (4) Laju endap darah. b) Pemeriksaan urine. (1) Protein. (2) Reduksi. (3) Bilirubin. (4) Sedimen (eritrosit, leukosit, cast dan kristal patologis). c) Pemeriksaan kimia (1) Glukosa (2) Fungsi hati (SGOT, SGPT, protein total, albumin, alkali phosphatase, dan bilirubin total/direk) (3) Fungsi ginjal (ureum, kreatinin dan asam urat) (4) Profil lipid (kolesterol, trigliserid, HDL dan LDL) d) Pemeriksaan Imunoserologi (1) Skrining Hepatitis B, Hepatitis C, malaria, sifilis dan HIV (pemeriksaan HBsAg, anti HCV, ICT malaria, VDRL/ICT TPHA dan anti HIV).
- 84 - (2) Tes kehamilan pada calon anggota Wara dan pemeriksaan lainnya dikerjakan atas indikasi. e) Pemeriksaan lain-lain (1) Tes narkoba urine 3) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan a) Urine. (1) Protein. (a) Negatif (-) (U-1). (b) Positif satu (+) (U-3/U-2P), jika GDP ≥126 dan atau riwayat hipertensi (U-4). (c) Positif dua (++) atau lebih (U-4/U-3P). (2) Reduksi. (a) Negatif (U-1). (b) Positif satu (+) (U-3/U-2P bila GD Puasa < 126 mg/dL) atau (U-4/U-3P bila GD puasa ≥ 126 mg/dL). (c) Positif dua (++) atau lebih (U-4/U-3P). (3) Bilirubin. (a) Bila hasilnya negatif (U-1). (b) Bila hasilnya positif (U-4/U-2P). (4) Sedimen. (a) Leukosit. i. Leukosit < 5/lpb (U-1). ii. Leukosit 5-10/lpb (U-2). iii. Leukosit 11-20/lpb (U-3/U-2P). iv. Leukosit > 20/lpb (U-4/U-3P) (b) Eritrosit. i. Eritrosit < 4/lpb (U-1). ii. Eritrosit 5 - 6/lpb (U-2). iii. Eritrosit 7 - 9/lpb (U-3/U-2P). iv. Eritrosit > 10/lpb (U-4/U-3P).
- 85 - (c) Cast dan kristal patologis i. Negatif (U-1) ii. Positif (U-4/U-2P) Catatan: Untuk urine digunakan midstream sample. b) Darah. (1) Hemoglobin. (a) Pria. i. 13 – 17,5 gr/ dl (U-1). ii. 12 – 12,9 gr/dl (U-2). iii. 11 – 11,9 gr /dl (U-3/U-2P). iv. <11gr/dl atau >17,5 gr/dl (U-4/ U-3P). (b) Wanita. i. 12 – 16 gr/dl (U-1). ii. 11 – 11,9 gr/dl (U-2). iii. 10 – 10,9 gr/dl (U-3/U-2P). iv. <10 gr/dl atau >16 gr/dl (U-4–U-3P). (2) Trombosit. (a) 150.000 – 400.000 /mcl (U-1). (b) 400.001 – 500.000 /mcl (U-3). (c) < 150.000 atau > 500.000/mm3 (U-4). (3) Leukosit. (a) 4000 – 10.000 /mm3 (U-1). (b) 10.001 – 13.000/mm3 (U-2). (c) 13.001 – 15.000/mm3 (U-3/U-2P). (d) < 4.000/mm3 atau >15.000/mm3 (U-4/U-3P). (4) L E D. (a) Pria.
- 86 - i. ≤ 15 mm/jam (U-1). ii. 16 - 20 mm/jam (U-2). iii. 21 – 30 mm/jam (U-3/U-2P). iv. > 30 mm/jam (U-4/U-3P). (b) Wanita. i. ≤ 20 mm/jam (U-1). ii. 21 – 29 mm/jam (U-2). iii. 30 – 35 mm/jam (U-3/U-2P). iv. > 35 mm/jam (U-4/U-3P). (5) Glukosa. (a) Puasa. i. 60 - 100 mg/dl (U-1). ii. 101 – 110 mg/dl (U-2). iii. 111 – 125 mg/dl (U-3/U-2P). iv. <60 mg/dl atau > 125 mg/dl (U-4/U-3P). (b) Dua jam postprandial. i. < 140 mg/dl (U-1). ii. 140 – 200 mg/dl (U-3/U-2P). iii. > 200 mg/dl (U-4/U-3P). (6) Kolesterol total (Pria = Wanita). (a) < 200 mg/dl (U-1). (b) 200 – 219 mg/dl (U-2). (c) 220 – 239 mg/dl (U-3). (d) > 240 mg/dl (U-4/U-3P). (7) HDL (Pria = Wanita). (a) > 50 mg/dL (U-1). (b) 50 – 35 mg/dL (U-2).
- 87 - (c) < 35 mg/dL (U-4). (8) LDL (Pria = Wanita). (a) ≤ 100 mg/dL (U-1). (b) 101 – 129 mg/dL (U-2). (c) 130 – 159 mg/dL (U-3/U-2P). (d) ≥ 160 mg/dL (U-4/U-3P). (9) Trigliserida. (a) < 200 mg/dL (U-1). (b) 200 – 249 mg/dL (U-2). (c) 250 – 299 mg/dL (U-3/U-2P). (d) > 300 mg/dL (U-4/U-3P). (10) Kreatinin. (a) < 1,3 mg/dL (U-1). (b) 1,31 - 1,6 mg/dL (U-2). (c) 1,61 - 1,8 mg/dL (U-3/U-2P). (d) > 1,8 mg/dL (U-4/U-3P). (11) Ureum. (a) < 50 mg/dL (U-1). (b) 50 – 54 mg/dL (U-2). (c) 55 - 59 mg/dL (U-3/U-2P). (d) > 60 mg/dL (U-4/U-3P). (12) Asam Urat. (a) Pria: i. 3,6 – 7,7 mg/dL (U-1). ii. 7,8 – 8,2 mg/dL (U-2). iii. 8,3 – 9,9 mg/dL (U-3/U-2P). iv. > 10 mg/dL (U-4/U-3P).
- 88 - (b) Wanita: i. 2,5 – 6,8 mg/dL (U-1). ii. 6,9 – 8,0 mg/dL (U-2/U-1P). iii. 8,1 – 9 mg/dL (U-3/U-2P). iv. > 9 mg/dL (U-4/U-3P). (13) Bilirubin. (a) Direk < 0,3 mg/dL (U-1). (b) > 0,3 mg/dL (U-4/U-3P). (c) Total. i. < 1,5 mg/dL (U-1). ii. 1,5 – 2,5 mg/dL (U-3/U-2P). iii. > 2,5 mg/dL (U-4/U-3P). (14) Protein Total. (a) 6,0 - 8,5 gr/dL (U-1). (b) 5,5 - 5,9 gr/dL (U-2). (c) 5,0 - 5,4 gr/dL (U-3/U-2P). (d) < 5,0 gr/dL (U-4/U-3P). (15) Albumin. (a) > 3,5 gr/dL (U-1). (b) < 3,5 gr/dL (U-4/U-3P). (16) Alkali Fosfatase. (a) Pria. i. ≤ 270 u/L (U-1). ii. > 270 u/L (U-4). (b) Wanita. i. ≤ 240 u/L (U-1). ii. > 240 mg/dL (U-4/U-3P).
- 89 - (17) S G O T. (a) < 36 u/L (U-1). (b) 36 - 52 u/L (U-2/U-1P). (c) 53 - 70 u/L (U-3/U-2P). (d) > 70 u/L (U-4/U-3P). (18) S G P T. (a) < 40 u/L (U-1). (b) 40 - 60 u/L (U-2/U-1P). (c) 61 - 80 u/L (U-3/U-2P). (d) > 80 u/L (U-4/U-3P). c) Imunoserologi. (1) HBsAg. Pemeriksaan rapid imuno chromatografi/ICT. (a) Non reaktif (U-1). (b) Reaktif (U-4/U-3P). Untuk anggota (militer/PNS aktif) yang melaksanakan seleksi pendidikan dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan ELISA: i. Non Reaktif (U-1). ii. Reaktif (U-4/3P), konfirmasi dengan HbeAg : (i) Non reaktif (U-2P). (ii) Reaktif (U-3P). iii. Pada penerimaan (Dikma) bila positif tidak perlu konfirmasi cukup diulang 2 kali (U-4). (2) HCV. Pemeriksaan dengan Anti HCV. (a) Non reaktif (U-1). (b) Reaktif (U- 4), ntuk anggota dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan ELISA, bila hasil i. Non reaktif (U-1) ii. Reaktif (U-4/U-3P).
- 90 - iii. Pada penerimaan (Dikma) bila positif tidak perlu konfirmasi cukup diulang 2 kali (U-4). (3) Malaria (ICT). (a) Negatif (U-1). (b) Positif (U-4/U-3P). (4) Sifilis, dengan pemeriksaan VDRL/RPR atau TPHA ICT/MIEA (a) Non reaktif (U-1) (b) Reaktif (U-4). Untuk anggota dengan hasil reaktif, yang telah melakukan pengobatan sifilis ke dokter spesialis kulit kelamin dengan membawa surat keterangan yang menjelaskan terdapat penurunan 4 kali dari hasil awal (hasil sebelum dan setelah terapi harus tercantum) (5) HIV (ICT atau ELISA). (a) Non reaktif (U-1). (b) Reaktif (U-4), jika personil organik atau anggota calon peserta didik dilanjutkan konseling keswa atau konselor HIV tersertifikasi dan konfirmasi pemeriksaan viraload dan CD4. Dengan hasil sebagai berikut: i. Viraload tidak terdeteksi dan CD4 > 200 sel/mm3 (U2P) ii. Viraload tidak terdeteksi dan CD4 < 200 sel/mm3 (U3P) iii. Viraload terdeteksi dan CD4 > 200 sel/mm3 (U3P) iv. Viraload terdeteksi dan CD4 < 200 sel/mm3 (U4) (6) Tes kehamilan pada calon wanita TNI AU. (a). Negatif (U-1). (b). Positif (U-4/ 3P). Konfirmasi USG dokter spesialis obgyn. d). Pemeriksaan lain (1) . Narkoba (ICT minimal 3 parameter). (a) Bahan: urine.
- 91 - (b) Jenis pemeriksaan untuk skrining: i. Met Amfetamin. ii. ATS (Amfetamin Type Stimulan). iii. Benzo (Benzodiazepin, dan lain-lain). iv. Canabis (Ganja, dan lain-lain). v. Opioid (morfin dan heroin). (c) Hasil: i. Negatif (U-1). ii. Positif (U-4/U-3P), jika anggota dilanjutkan konseling keswa untuk menentukan stakes. Catatan: Pemeriksaan konfirmasi biaya dibebankan kepada yang bersangkutan. d) Pemeriksaan lain. (2) Narkoba (ICT minimal 3 parameter). (a) Bahan: urine. (b) Jenis pemeriksaan untuk skrining: i. Met Amfetamin. ii. ATS (Amfetamin Type Stimulan). iii. Benzo (Benzodiazepin, dan lain-lain). iv. Canabis (Ganja, dan lain-lain). v. Opioid (morfin dan heroin). (c) Hasil: i. Negatif (U-1). ii. Positif (U-4/U-3P), jika anggota dilanjutkan konseling keswa untuk menentukan stakes. Catatan: Pemeriksaan konfirmasi biaya dibebankan kepada yang bersangkutan. j. Aspek Pemeriksaan Radiologi. 1) Gambaran Umum.
- 92 - a) Pemeriksaan Foto Thorax. Pemeriksaan foto thorax adalah pemeriksaan daerah thorax dengan menggunakan sinar rontgen yang dapat menembus bagian tubuh manusia. Pemeriksaan ini diperlukan untuk melihat kelainan di daerah thorax yang meliputi paru, jantung, mediastinum, tulang-tulang dinding thorax serta jaringan lunaknya. b) Pemeriksaan USG (Ultra Sonografi) Abdomen. Pemeriksaan USG (Ultra Sonografi) abdomen adalah pemeriksaan daerah abdomen atau rongga perut dengan menggunakan utra sound (gelombang berfrekuensi tinggi) berkisar 3,5-5 MHz. Pemeriksaan ini diperlukan untuk melihat kelainan-kelainan organ di dalam rongga perut yang meliputi hati, lien, pankreas, kandung empedu, ginjal dan kandung kemih. Keuntungan pemeriksaan USG abdomen, antara lain: (a) Noninvasif. (b) Cepat dan aman. (c) Nilai diagnostik sangat tinggi. 2) Cara Pemeriksaan. a) Foto Toraks (PA). Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: (1) Teknik. Teknik pemeriksaan foto rontgen thorax. Teknik pemeriksaan foto rontgen thorax yang digunakan adalah proyeksi PA (postero-anterior) dengan cara sebagai berikut: (a) Sinar dipancarkan ke arah film melalui punggung. (b) Berdiri tegak dengan bagian perut ditempelkan pada film. (c) Tangan bertolak pinggang untuk mengangkat tulang belikat agar daerah paru tidak tertutupi. (d) Menarik nafas dalam saat sinar rontgen ditembakkan agar rongga thorak mengembang secara maksimal, diafragma atau akan terdorong ke rongga abdomen sehingga dapat di hasilkan gambar paru dan jantung. (e) Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan di ruangan radiologi atau ruangan yang di persiapkan secara khusus. (f) Tidak ada persiapan yang perlu dilakukan untuk pemeriksaan foto rontgen thoraks sehingga pasien dapat langsung difoto saat datang. (2) Foto thoraks menggunakan film ukuran besar (30 x 40 cm atau 35 x 35 cm) atau ukuran lainnya bila menggunakan CR atau DR. (3) Selain foto thoraks PA, dalam keadaan tertentu dapat dilakukan foto lateral/lateral dekubitus dan top lordotik.
- 93 - (4) Kelainan-kelainan radiologi pada foto dada yang harus diperhatikan antara lain: (a) Tulang Belakang. i. Skoliosis. Ada penyimpangan/kurvatur ke arah lateral kiri atau kanan pada proyeksi PA. ii. Kifosis. Bertambahnya lengkung thorakal yang berlebihan. iii. Straight Thorakal Vertebra. Melurusnya lengkung thorakal. (b) Iga-iga. i. Asimetri. Kelainan bentuk dinding dada/iga seperti dan pelebaran/penyempitan sela iga. ii. Marginal notching. Defek-defek tulang pada iga atau pinggir atas/bawah iga. iii. Kelainan bentuk iga atau jumlah iga yang lebih/kurang. (c) Sternum. i. Pektus ekskavatus. Lekuk ke dalam. ii. Pektus karinatus. Penonjolan ke depan. (d) Diafragma. i. Ada perubahan pada ketajaman sinus kostofrenikus seperti menumpul, tertutup, atau terselubung. ii. Ada penyimpangan unilateral maupun bilateral dari posisi diafragma yang normal elevasi, letak rendah atau perubahan perbedaan tinggi diafragma kiri dan kanan (pada kondisi normal diafragma kanan lebih tinggi satu korpus vertebra). iii. Ada defek pada diafragma/hernia diafragmatika, tenting maupun scaloping. (e) Mediastinum. i. Deviasi letak mediastinum dari garis tengah ke arah kiri maupun kanan. ii. Kelainan kontur mediastinum dengan perhatian khusus pada penonjolan yang mengadakan proyeksi ke dalam lapangan paru atau pelebaran mediastinum superior.
- 94 - iii. Perubahan densitas mediastinum seperti kenaikan densitas, perkapuran atau penurunan densitas/ emfisemamediastinalis. (f) Trakea/Bronkus. i. Deviasi trakea dari garis tengah ke arah kiri maupun kanan pada proyeksi PA atau pendorongan ke depan/belakang pada proyeksi lateral. ii. Stenosis trakea. iii. Perubahan dari letak karina yang normal di depan torakal VI atau sudut bronkus (dalam keadaan normal letak bronkus kiri lebih mendatar dari yang kanan). (g) Jantung dan pembuluh darah besar. i. Dalam kondisi normal nilai indeks kardiothorakal sekitar < 50%. ii. Elongatio arcus aorta. Tepi atas arcus aorta melebihi korpus vertebrae thorakal IV, dan bila manubrium sterni terlihat dengan tepi atas arkus aorta kurang dari 1 cm. iii. Kelainan kontur jantung, berupa pelebaran atrium kiri dan kanan, ventrikel kiri dan kanan. iv. Perkapuran di daerah katup jantung, miokardium dan arcus aorta. v. Dekstrokardi/situs inversus. Kelainan posisi jantung. (h) Hilus. i. Dalam keadaan normal letak anatomis hilus kanan lebih rendah dari pada hilus kiri dengan perbedaan ketinggian kurang lebih satu korpus vertebrathoraks yang berdekatan. ii. Ada bayang-bayang konsolidasi pada hilus. iii. Ada pembesaran pangkal arteri pulmonalis, pembesaran kelenjar getah bening. iv. Ada perkapuran. (i) Paru. i. Ada bayangan berdensitas lebih tinggi di lapangan paru di luar gambaran vaskuler. ii. Bayangan-bayangan yang berbatas tegas, difus, homogen, maupun tidak homogen.
- 95 - iii. Bayangan bulat, tegas dan homogen (nodular) dapat soliter maupun multiple. iv. Bayangan yang bergaris-garis/seperti pita. v. Ada kelainan dengan densitas lebih rendah/lebih radiolusen dari pada jaringan paru, dapat umum atau lokal. (j) Pleura. i. Perubahan letak anatomis normal fisura mayor maupun minor. ii. Penebalan fisura mayor maupun minor. iii. Bayangan berbatas tegas, homogen/tidak homogen, penebalan lokal dan adhesi pleura. b) Pemeriksaan USG (Ultra Sonografi) Abdomen. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada persiapan pemeriksaan USG adalah: (1) Tidak diperlukan persiapan khusus. (2) Untuk pemeriksaan rongga perut bagian atas misal kandung empedu diperlukan puasa 6 jam. (1) Untuk pemeriksaan daerah pelvis maka kandung kemih harus penuh. c) Pemeriksaan BMD (Bone Mineral Densitometri). Pemeriksaan yang menggunakan alat khusus untuk pemeriksaan mendeteksi osteoporosis atau penurunan densitas tulang. 3) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan Foto thorax. Kelainan radiologi pada dada yang harus diperhatikan dalam menunjang penegakan diagnosis penyakit paru dan jantung serta kelainan tulang antara lain: a) Jaringan lunak. (1) Adanya tumor (U-4/U-3P). (2) Emfisema subkutis (U-4/U-3P). (3) Benda asing metal/nonmetal (U-4/U-3P). b) Skeletal. (1) Fraktur klavikula (U-4/U-3P). (2) Fraktur klavikula lama dengan reunifikasi dan remodeling baik atau union (U-2). (3) Fraktur klavikula lama dengan reunifikasi dan remodeling tidak baik, masih terpasang fiksasi internal atau adanya nonunion/malunion (U-4/U-3P).
- 96 - (4) Tulang belakang. (a) Adanya penyimpangan/kurvatur kearah lateral kiri atau kanan pada proyeksi PA (Skoliosis torakalis): i. Skoliosis ringan < 5º (U-2) ii. Skoliosis sedang 5º - 10º (U-3/U-2P) iii. Skoliosis berat > 10º (U-4/U-3P). (b) Adanya kelainan korpus vertebra, penyempitan discus intervertebralis (U-4/U-3P). c) Iga-iga. (1) Kelainan bentuk dinding dada seperti asimetris, pelebaran, penyempitan sela iga (U-4/U-3P). (2) Defek-defek tulang pada iga atau pinggir atas/bawah iga (marginal notching) (U-4/U-3P). (a) Kelainan bentuk iga sendiri atau jumlah iga yang berlebihan/kurang (U-2), untuk iga servikal (U-4/U-3P). (b) Adanya fraktur iga (U-4/U-3P). (c) Fraktur iga lama dengan remodelling dan reunifikasi baik (U-2). (3) Deformitas klavikula (U-4/U-3P). (4) Sternum. Pektus ekskavatus atau pektus karinatus. (U-4/U-3P). d) Diafragma. (1) Adanya perubahan pada ketajaman sinus costophrenicus seperti menjadi tumpul, tertutup atau berselubung (U-4/U-3P). (2) Adanya penyimpangan unilateral maupun bilateral dari posisi diafragma yang normal, dapat berupa elevasi, letak rendah atau perubahan perbedaan tinggi diafragma kiri dan kanan (normal diafragma kanan lebih tinggi satu korpus vertebra) (U-4/U-3P). (3) Adanya kelainan kontur diafragma (U-4/U-3P). (4) Adanya defek dalam diafragma (hernia diafragmatika) (U-4/ U-3P). e) Mediastinum, trakea, jantung dan pembuluh darah besar. (1) Mediastinum.