- 97 - (a) Deviasi letak mediastinum dari garis tengah ke arah kiri maupun kanan (U-4/U-3P). (b) Kelainan kontur mediastinum berupa penonjolan pada lapangan paru atau pelebaran mediastinum superior (U-4/U-3P). (c) Perubahan densitas mediastinum seperti kenaikan densitas, perkapuran atau penurunan densitas/emfisema mediastinalis (U-4/U-3P). (2) Trakea/bronkus utama. (a) Deviasi trakea dari garis tengah ke arah kiri maupun kanan pada proyeksi PA atau pendorongan ke depan/belakang pada proyeksi lateral oleh karena tarikan (fibrotik/atelektasis) (U-4/U-3P). (b) Stenosis trakea (U-4/U-3P). (c) Perubahan dari letak carina (U-4/U-3P). (d) Bayangan masa paratrakea (U-4/U-3P). (3) Jantung dan pembuluh darah besar. Ukuran jantung memiliki kriteria normal yang diukur berdasarkan index kardiothorakal sekitar 50%. Pembesaran sampai 5% dari nilai ini masih dapat dianggap normal tergantung dari bentuk tubuh, kondisi foto dan kontur/konfigurasi jantung. (a) Elongatio arcus aorta. (U-4/U-3P) (b) Kelainan kontur jantung. i. Adanya penonjolan segmen pulmonalis auriculus kiri didaerah pinggang jantung (yang normal cekung) (U-4/U-3P). ii. Adanya pembesaran kontur ventrikal kiri pada batas jantung kiri dan belakang pada proyeksi PA/LAT (U-4/U-3P). iii. Pembesaran ventrikal kanan pada batas jantung depan pada proyeksi PA/LAT (U-4/U-3P). iv. Adanya double contour pada batas jantung kanan (U-4/U-3P). (4) Hilus paru. (a) Kelainan letak Hilus. (U-4/U-3P). (b) Bayangan konsolidatif pada hilus (U-4/U-3P). (c) Pembesaran pangkal trunkus pulmonalis (U-4/U-3P). (d) Pengapuran (U-4/U-3P).
- 98 - (e) Pembesaran kelenjar hilus (U-4/U-3P). (5) Paru dan Pleura. (a) Paru. i. Agenesis paru (U-4). ii. Gambaran infeksi non spesifik seperti bronchitis, broncho pneumonia, abses paru dan lain-lain (U-4/U3P). iii. Atelectasis/collaps, proses spesifik paru lama, fibrokalsifikasi lobulus/lobus, bendungan/ edema paru, bronchiectasis, emphysema paru, pulmonal hypertension, pneumokoniosis dan PPOK (U-4/U-3P). iv. Destroyed lung disease (U-4/U-3). v. Fibrotik paru tanpa ada tanda retraksi volume paru berdasarkan rontgen (penarikan): i) Minimal (U-3/U-2P). ii) Luas (U-4/U-3P). vi. Hidropneumotoraks, pneumothoraks, dan emfisema (U-4/U-3P). vii. Tumor paru (primer/sekunder, bronchial parenchymal) (U-4/U-3P). viii. Adanya corakan bronchovaskuler yang berlebihan (U-3/U-2). ix. Bayangan yang tidak tegas, difus, homogen maupun tidak homogen (U-4/U-3P). x. Bayangan bulat, tegas, difus, homogen maupun tidak (U-4/U-3P). xi. Bayangan bergaris-garis seperti pita/fibrosis (U-3/U-2P). xii. Kalsifikasi paru minimal tidak menggangu fungsi paru (U-3/U-2). Kalsifikasi multiple berat yang mengganggu fungsi paru (U-4/U-3P). xiii. Kelainan dengan densitas lebih rendah radiolusen dari jaringan paru, berupa pneumothoraks, pneumomediastinum, bleps (U-4/U-3P). (b) Pleura. i. Perubahan dari letak anatomis normal fisura mayor maupun minor (U-4/U-3P). ii. Penebalan fisura mayor maupun minor (U-4/ U-3P).
- 99 - iii. Adanya bayangan-bayangan berbatas tegas, homogen dan penebalan lokal pleura, termasuk adhesi pleura (U-4/U-3P). iv. Adanya pengapuran pada pleura (U-4/U-3P). v. Effusi pleura minimal (U-4/U-2P), Sedang/Berat (U-4/U-3P). vi. Tumor Pleura/Mesothelioma (U-4/U-3P) (6) Foto SPN. (a) Perselubungan rongga sinus (U-4/U-3P). (b) Air fluid level di rongga sinus (U-4/U-3P). (c) Destruksi dinding sinus (U-4/U-3P). (d) Septum deviasi ringan (U-2), Sedang/Berat (U-4/U-3P). (e) Concha hipertropi (U-3/U-2P). (f) Mucocele/retensi cyst (U-4/U-3P). (g) Tumor Sinus/tumor dinding sinus (U-4/U-3P). (7) USG Abdomen. (a) Hepar. i. Hepatitis akut/kronis/sirosis hepatis (U-4/U-3P). ii. Hepatomegali ringan (U-4/U-2P), sedang/berat (U-4/U-3P). iii. Perlemakan hati tanpa gangguan fungsi hati (U-2), dengan gangguan fungsi hati (U-4/U-3P). iv. Tumor jinak/ Hepatoma/ Metastasis (U-4/U-3P). v. Abses hepar. (U-4/U-3P). vi. Kelainan letak posisi hepar. (U-4/U-3P). vii. Pascalobektomi hepar. (U-4/U-3P). (b) Pancreas. i. Pancreatitis akut/kronik (U-4/U-3P). ii. Tumor/kista páncreas (U-4/U-3P). iii. Fibrocalculous páncreas (U-4/U-3P). (c) Lien.
- 100 - i. Splenomegali ringan dengan riwayat malaria (U-3/U-2P), oleh sebab lain (U-4/U-3P). ii. Tumor/kista lien (U-4/U-3P). iii. Pascasplenektomi (U-4/U-3P). (d) Kandung empedu dan sistem bilier. i. Cholelitiasis (U-4/U-3P). ii. Cholesistitis (U-4/U-3P). iii. Polip cholesterol single dan tidak di leher kandung empedu (U-3/U-2P), multiple atau di leher kandung empedu (U-4/U-3P). iv. Sludge (U-3/U-2P), dengan kalsifikasi halus di lumen GB/ kalsifikasi menempel di dinding GB (dengan atau tanpa comet sign) (U-4/U-3P). v. Tumor kandung empedu (U-4/U-3P). vi. Pascacholesistectomi laparoscopy tanpa keluhan (U3/U-2P). vii. Hydrops kandung empedu (U-4/U-3P). viii. Pelebaran sistem billier (U-4/U-3P). (e) Ginjal. i. Agenesis/ hipogenesis/ ectopic kidney/ kelainan bentuk ginjal, contoh horse shoe kidney (U-4/U-3P). ii. Single kidney pascanefrektomi (U-4/U-3P). iii. Pielonefritis akut/kronik (U-4/U-3P). iv. Hidronefrosis (U-4/U-3P). v. Nefrolithiasis (U-4/U-3P). vi. Kalsifikasi kecil ginjal (U-2). vii. Nefrocalsinosis (U-4/U-3P). viii. Infeksi spesifik/non spesifik akut (U-4/U-3P). ix. Penyakit ginjal kronis/CKD/nefropathy (U-4/U-3P). x. Kista simple tunggal ukuran < 2 cm (U-3/U-2P), kista multiple (U-4/U-3P). xi. Kista komplek (U-4/U-3P). xii. Tumor jinak/ganas di ginjal dan suprarenal/adrenal (U-4/U-3P).
- 101 - xiii. Kelainan posisi ginjal (U-4/U-3P) (f) Buli-Buli. i. Cystitis akut/kronik(U-4/U-3P). ii. Kelainan bentuk: Divertikel, cystocele (U-4/U-3P). iii. Batu buli (U-4/U-3P). iv. Tumor buli (U-4/U-3P). (g) Prostat dan organ genitalia pria. i. Hypertrofi prostat ringan tanpa gejala (U-3/U-2P), dengan gejala (U-4/U-3P). ii. Prostitis/Epididimidis/orchitis (U-4/U-3P). iii. Kalsifikasi prostat (U-2). iv. Tumor/ Kista prostat (U-4/U-3P). v. Hydrocele (U-4/U-3P). vi. Varicocele ringan (U-3/U-2P), Varicocele berat (U-4/U-3P). vii. Hernia Inguinalis/Scrotalis (U-4/U-3P). viii. Kelainan posisi/tidak ada testis (U-4/U-3P). (8) Pemeriksaan BMD (Bone Mineral Densitometri), dengan T Score: (a) ≥ -1,8 dinilai (U-1). (b) -1,8 s/d ≤-2 (U-2/U1P). (c) -2 s/d ≤-2,5 (U-3/U-2P). (d) <-2,5 (U-4/U-3P). k. Aspek Pemeriksaan Telinga, Hidung, dan Tenggorok. 1) Gambaran Umum. a) Rhinitis. Klasifikasi rhinitis adalah sebagai berikut: Alergi Infeksi Lain-lain Bagian dari kelainan metabolik 1.Seasonal 2.Perennial 1.Akut 2.Kronis 1. Idiopathic 2. NARES (Non 1. Primary defect in mucus (cystic Fibrosis, young
- 102 - 3.Occupational Allergic Rhinitis with Eosiphilia) 3. Drug Induced 4. Atropic 5. Neoplastic Syndrome) 2. Primary ciliary dyskinesia (kartagener syndrome) 3. Immunological (SLE , Rheumatoid Arthritis) 4. AIDS (1) Rhinitis Alergi. Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien yang atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan allergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut. Rhinitis alergi merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan. Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi menjadi: (a) Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernapasan, misalnya tungau debu rumah, kecoa, serpihan epitel kulit binatang, rumput, dan jamur. (b) Alergen Ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, sapi, telur, coklat, ikan laut, udang, kepiting, dan kacang-kacangan. (c) Alergen injektan masuk melalui suntikan dan tusukan, seperti penisilin dan sengatan lebah. (d) Alergen kontaktan masuk melalui kontak kulit dan jaringan mukosa, seperti bahan kosmetik dan perhiasan. Satu macam alergen dapat merangsang lebih dari satu organ sasaran, sehingga memberi gejala campuran, misalnya tungau debu rumah yang memberi gejala asma bronchial dan rhinitis alergi. Komplikasi rhinitis alergi yang paling sering adalah polip hidung, otitis media dan rhinosinusitis. (2) Rhinitis berdasarkan infeksi. (a) Rhinitis Akut. Rhinitis akut adalah radang akut mukosa nasi yang ditandai gejala hidung berair, tersumbat, bersin dan disertai gejala umum badan lemah, dan peningkatan suhu tubuh. Rhinitis akut dapat disebabkan infeksi virus maupun bakteri. (b) Rhinitis Kronis. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, alergi atau karena rhinitis vasomotor.
- 103 - b) Septum deviasi. Septum deviasi adalah sebuah kondisi dinding yang membatasi kedua lubang hidung tidak simetris. Sebagian orang sudah mengalami deviasi septum sejak lahir. Hal ini berkaitan dengan penyimpangan perkembangan janin saat di dalam rahim, meski demikian banyak pula yang mengalami deviasi septum setelah dewasa, seperti karena mengalami kecelakaan atau cedera pada bagian hidung. Salah satu dampak buruk deviasi septum adalah lubang hidung yang sempit sebelah, sehingga aliran keluar masuknya udara berubah. Udara menjadi terhalang melalui bagian lubang yang sempit. Hal ini dapat menyebabkan permukaan jaringan di septum didalam hidung menjadi kering. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penderita mengalami epistaksis (mimisan), yang dapat berakibat terjadinya Rhinosinusitis. c) Rhinosinusitis. Rhinosinusitis adalah suatu kondisi peradangan yang melibatkan hidung dan sinus paranasal dengan terjadinya pembentukan cairan atau adanya kerusakan pada tulang dibawahnya. Gejala dari Rhinosinusitis ditandai dengan adanya gejala: hidung tersumbat, pilek, wajah/rasa tertekan, penurunan/ hilangnya penghidu. Dari pemeriksaan nasoendoskopi ditemukan adanya polip, dan atau sekret mukopurulen dari meatus, dan atau edema/obstruksi mukosa di meatus medius, serta adanya gambaran perubahan mukosa di komplek osteomeatal dan atau sinus pada pemeriksaan CT scan. (1) Berdasarkan lamanya penyakit rhinosinusitis dibagi (a) Akut: < 12 minggu dan resolusi komplit gejala. (b) Kronis: > 12 minggu dan tanpa resolusi gejala komplit. (2) Komplikasi Rhinosinusitis: ( a ) Komplikasi Orbita. i. Edema palpebral. ii. Selulitis orbita. iii. Abses subperiostal. iv. Abses orbita. ( b ) Komplikasi Intrakranial. i. Meningitis. ii. Abses ekstra/subdural. iii. Trombosis sinus cavernosus. (c) Komplikasi Paru. i. Bronchitis.
- 104 - ii. Bronkhiektasis. d) Tonsilitis. Tonsilitis adalah peradangan pada tonsil, yang disebabkan oleh virus (adenovirus, rhinovirus, coronavirus, RSV) dan bakteri (group A hemolitik streptokokus β, staphylococus aureus, teptococcus pneumoniae, mycoplasma pneumonia, difteri, sifilis, dan gonore). (1) Secara klinis peradangan pada tonsil dibagi menjadi: (a) Akut: ditandai dengan nyeri menelan dan sering disertai demam. (b) Kronis: biasanya tidak nyeri menelan tetapi dapat menyebabkan kesulitan menelan. (2) Indikasi dilakukannya tonsilektomi: (a) Serangan tonsilitis lebih dari tiga kali pertahun walaupun telah mendapat terapi yang adekuat. (b) Tonsil Hipertrophi. (c) Sumbatan jalan nafas. (d) Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsiler abses yang tidak berhasil dengan pengobatan. (e) Nafas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan. (f) Tonsilitis berulang. (g) Hipertrophi tonsil yang dicurigai keganasan. (h) Otitis media supuratif. e) Pharingitis. Pharingitis adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok, yang disebabkan oleh Virus dan bakteri, disebabkan daya tahan tubuh yang lemah dan dapat menular pada orang lain. Penyebaran tersebut bisa terjadi melalui udara atau melalui benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh virus dan bakteri. Pharingitis karena virus lebih rentan menular jika seseorang bersama penderita Pharingitis dalam suatu ruangan dengan ventilasi yang buruk. Sedangkan pharingitis karena bakteri dpat menyebar dengan cepat di lingkungan tempat kerja atau tempat tinggal. f) Gangguan Pendengaran. Gangguan pendengaran adalah kehilangan pendengaran di salah satu atau kedua telinga (lihat lampiran J). ( 1 ) Gangguan Pendengaran konduktif. Gangguan pendengaran konduktif adalah setiap masalah ditelinga luar atau tengah yang mengganggu hantaran bunyi dengan tepat. Penyebab gangguan pendengaran konduktif adalah: (a) Sumbatan kotoran di telinga (Serumen). (b) Penumpukan cairan dari infeksi telinga.
- 105 - (c) Gendang telinga berlubang. (d) Gangguan Tulang Pendengaran. Gangguan pendengaran konduktif biasanya pada tingkat ringan atau menengah, pada rentang 25 hingga 65 desibel. Dalam beberapa kejadian, gangguan pendengaran konduktif bersifat sementara. Pengobatan atau bedah dapat membantu tergantung pada penyebab khusus masalah pendengaran tersebut. Gangguan pendengaran konduktif juga dapat diatasi dengan alat bantu dengar. ( 2 ) Gangguan pendengaran Sensorineural/Tuli Saraf. Gangguan pendengaran sensorineural disebabkan oleh rusaknya atau hilangnya sel saraf (sel rambut) dalam rumah siput dan biasanya bersifat permanen. Gangguan Pendengaran s ensorineural (tuli Saraf) dapat diatasi dengan alat bantu dengar. (3) Gangguan Pendengaran Campuran. Gangguan pendengaran campuran merupakan gabungan dari gangguan pendengaran sensorineural dan konduktif. Gangguan ini disebabkan oleh masalah baik pada telinga dalam maupun telinga luar atau telinga tengah. Opsi penanganan mencakup pengobatan, bedah, dan alat bantu dengar atau implan. 2) Cara Pemeriksaan. a) Telinga. (1) Daun telinga. Fistel pre/pascaaurikuler, agenesis, mikrotia, dan makrotia. (2) Daerah Mastoid. Bekas operasi mastoid, fistel, dan sikatriks. (3) Meatus Akustikus dan Kanalis Aurikularis Eksterna. Atresia, radang, supurasi, secret, eksem dan debris jamur, serumen harus dibersihkan dan tidak dibenarkan melakukan irigasi dengan air biasa bila ada perforasi membrana timpani karena akan menyebabkan kambuhnya otitis media. (4) Membrana Timpani. Dibagi menjadi empat kuadran dan perhatikan tiap kuadran, adakah sikatrik, kalsifikasi, sclerosis, kesuraman, dan atau perforasi. Bila ada maka perlu dilakukan pemeriksaan morfologi dan fungsi membran. b) Sistem Keseimbangan dan Koordinasi. Pemeriksaan dilakukan dengan cara romberg. Calon/anggota berdiri dengan kedua kaki dirapatkan (untuk mengurangi faktor proprioseptif) dan memejamkan matanya (untuk menghilangkan faktor penglihatan). Bila ada tanda mau jatuh atau benar-benar jatuh disebut Romberg positif, artinya ada gangguan sistem keseimbangan dan koordinasi. Tes romberg dapat dipertajam dengan cara:
- 106 - (1) Berdiri dengan kedua kaki di atas garis lurus (ujung kaki yang satu menempel di tumit kaki yang lain), tangan terlipat di depan dada dan mata terpejam, disebut posisi mann. (2) Kedua tangan saling mengait dan ditarik ke kanan dan ke kiri dengan kekuatan yang sama disebut yendrassik manuver. c) Hidung dan Sinus. Pemeriksaan ini dikerjakan dengan inspeksi, palpasi, dan rinoskopi anterior. Pemeriksaan transiluminasi dan atau pemeriksaan rontgen sinus paranasal posisi waters dikerjakan pada calon anggota TNI AU. Untuk calon awak pesawat dilakukan pemeriksaan CT scan sinus paranasal atas dasar indikasi. Pada pemeriksaan perlu diperhatikan adanya riwayat hidung tersumbat, sering pilek, bersin, trauma hidung, operasi hidung/sinus, penurunan ketajaman penciuman, dan dugaan adanya neoplasma. Pada inspeksi diperhatikan adanya kelainan bentuk punggung hidung/saddle nose. Pada rinoskopi anterior perhatikan: (1) Septum Nasi. Perhatikan adanya deviasi, kista, spina yang mengganggu pernapasan. Perforasi biasanya terdapat di bagian anterior sebagai akibat trauma atau operasi septum (reseksi submukosa). Perforasi diperbatasan antara tulang rawan biasanya akibat lues. (2) Dinding Lateral. Perhatikan adanya pus/secret/krusta yang keluar dari hiatus semilunaris diantara konka superior dan konka media yang berasal dari sinus maksilaris. Cairan purulen yang mengisi seluruh rongga ini berasal dari sinusmaksilaris dan etmoidalis. Untuk menetapkan diagnosa dilakukan pemeriksaan transiluminasi dan pemeriksaan rontgen dan atau CT scan pada awak pesawat. Perhatikan warna, besar dan selaput lendir konka. Bagian posterior rongga hidung diperiksa dengan cermin tenggorok (rinoskopi posterior) dan atau endoskopi. (3) Polip Hidung. Polip di rongga hidung biasanya karena faktor alergi yang tumbuh dari dalam sinus etmoidalis atau maksilaris. d) Faring dan Laring. Pemeriksaan faring dan laring dimaksudkan untuk mengetahui kelainan yang dapat mengganggu fungsi saluran pernafasan atau kemampuan bicara. Perhatikan adanya pascanasal drip dan granular di dinding posterior faring dan ulkus, radang, tumor atau tonsil yang membesar akibat tonsillitis kronik yang dapat mengganggu saluran pernapasan atau dapat menjadi sumber infeksi/focal infection. Klasifikasi hipertropi tonsil terdiri dari: (1) Derajat 1 apabila telah melewati pilar posterior. (2) Derajat 2 apabila telah melewati garis para median. (3) Derajat 3 apabila tonsil telah mencapai garis tengah (median) orofaring. e) Perhatikan selalu nasofaring dengan rinoskopi posterior atau dengan endoskopi apakah ada jaringan abnormal. Hipofaring dan laring diperiksa dengan cara laringoskopi indirect. Bagian laring yang perlu diperhatikan adalah pita suara dan bagian sekitarnya secara
- 107 - anatomis faali (fungsional). Pemeriksaan dilakukan pada waktu respirasi dan pada waktu fonasi. 3) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan. a) Kelainan organik telinga. (1) Bekas operasi mastoid yang nyata, walaupun pendengaran dalam batas normal (U-4/U-2P), operasi mastoid yang belum sembuh/basah (U-4/U-3P). (2) Perforasi membrana tympani yang kecil dan kering (U-4/ U-2P), basah kronis (U-4/U-3P), otitis media akut dan kronis (U-4/U-3P), mastoiditis akut dan kronis (U-4/U-3P), otitis eksterna (U-4/U-2P), kolesteatom (U-4/U-3P), Serumen obturan (U-4), serumen dimana membran masih dapat terlihat (U-2). (3) Daun telinga cacat/tidak utuh/lubang tindik untuk pria (U-4/U-3P), bila tidak dijahit kembali (U-4), tidak ada meatus atau kanalis aurikularis (U-4), lubang tindik untuk pria yang telah di operasi (U-3). (4) Fistel preaurikularis (U-3/U-2P), fistel preaurikularis basah (U-4/U-3P), setelah operasi hasilnya baik (U-2), fistel pascaoperasi preaurikularis dengan komplikasi (U-4). (5) Rinitis. (a) Rhinitis akut (U-3/U-2P). (b) Rinitis kronis (U-4/U-3P). (6) Septum nasi. (a) Deviasi ringan, crista, spina septi yang tidak mengganggu jalan pernapasan/fungsi bicara (U-2/U-1), untuk deviasi yang mengganggu jalan nafas/fungsi (U-4/U-3P). (b) Perforasi septi besar (U-4/U-3P), kecil (U-4/U-2P). (c) Hematom, abses septum (U-4/U-2P). (7) Rhinosinusitis Paranasal. (a) Rhinosinusitis akut dengan faktor predisposisi yang jelas (U-4/U-3P). (b) Rhinosinusitis Kronis (konfirmasi Radiologi) U-4/U-3P). (c) Rhinosinusitis dentogen (U-4/U-3P). (8) Tonsil. (a) Tonsil T1/T2 dengan tanda radang kronis (U-4/U-2P). (b) Tonsilitis akut (U-4/U-2P).
- 108 - (c) T0/T0 dan T1/T1 (U-1). (d) T1/T2, T2/T1 atau T2/T2 (U-3/U-2P). (e) T2/T3 atau T3/T3 (U-4/U-2P). (f) T3/T4 (U4/U-3P). (g) Pascaoperasi (U-2). (9) Faring. (a) Faringitis akut (U-3/U-2P). (b) Faringitis kronis (U-4/U-2P). (c) Paralise faring (U-4/U-3P). (d) Angina ludovici (U-4/U-3P). (e) Abses rongga leher dalam (U-4/U-3P). (10) Deformitas hidung, mulut dan tenggorokan yang mengganggu fungsi menelan, berbicara sengau, gagap atau bernapas (U-4/U-3P). (11) Kelainan destruktif karena lues di hidung, faring, laring atau esofagus (U-4/U-3P). (12) Trakeostoma (bekas trakeotomi) (U-4/U-3P). (13) Striktur dan kelainan organik esofagus (U-4/U-3P). (14) Tumor ganas telinga, hidung, tenggorokan dan sinus paranasal (U-4/U-3P). (15) Afoni (U-4/U-3P - U-4). (16) Laringitis acut dan kronis (U-4/U-3P). (17) Trauma leher dan laring dengan sumbatan jalan napas (U-4/U-3P). (18) Angiofibroma Nosofaring (U-4/U-3P). b) Sektor pendengaran (D). Hasil pemeriksaan audiometri. Ratarata intensitas ambang dengar pada frekwensi 500-4000 Hz: (1) Tuli Konduktif (D-4/D-3P) (2) Tuli Sensorineural D-4/D-3P). (3) Tuli Campuran (D-4/D-3P). (4) Presbiakusis (D-3/D-2P).
- 109 - l. Aspek Pemeriksaan Mata. 1) Gambaran Umum. Aspek mata merupakan salah satu indra dari panca indra yang sangat penting untuk kehidupan manusia. Terlebihlebih dengan majunya teknologi, indra penglihatan yang baik merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Apalagi dalam dunia penerbangan, indra penglihatan merupakan unsur yang paling penting, sebagai sarana pengendalian pesawat terbang oleh personel yang mengawakinya. Mengingat banyak dan beratnya tanggung jawab yang dipikul oleh indra penglihatan dalam dunia penerbangan, maka dapatlah disetujui adanya persyaratan-persyaratan yang mengharuskan seorang penerbang dan awak pesawat memiliki mata yang normal bahkan sempurna, yaitu memiliki penglihatan binocular yang baik. Selain fungsi Visual Acuity, Depth Perception dan Colour Vision, indra penglihatan juga penting untuk berfungsi sebagai Distant Estimation dan Space Orientation. Dan juga berhubungan erat dengan alat vestibular dalam fungsi keseimbangan saat melaksanakan manuver dengan pesawat di angkasa. Hal itu semua sangat dibutuhkan oleh awak pesawat khususnya penerbang, juga diperlukan oleh awak darat/Ground Crew, khususnya teknisi mesin pesawat. 2) Cara Pemeriksaan Sektor Penglihatan. Mata merupakan bagian tubuh manusia yang sangat peka. Trauma, seperti debu sekecil apapun, yang masuk kedalam mata sudah cukup untuk menimbulkan gangguan yang hebat. Karena itulah mata mendapat lindungan yang baik dengan dikelilingi oleh tulang-tulang orbita, di sisi depan terdapat kelopak mata atas dan bawah, serta diatasnya ada alis mata. Adapun mata/bulbus oculi terdiri dari otot-otot bola mata, conjunctiva, sclera, cornea, iris, pupil, lens, vitreus body dan retina. Diperlukan berbagai pemeriksaan yang lengkap dan detail untuk persyaratan sebagai insan personel anggota TNI AU, penerbang, dan awak pesawat. Pemeriksaan fungsi indra penglihatan adalah sebagai berikut: a) Buta warna. Dua macam tes yang dipakai untuk memeriksa persepsi warna ialah pemeriksaan dengan ishihara isochromatic plates dan farnsworth test sebagai berikut: (1) Ishihara Isochromatic Plates. Pemeriksaan ini dipergunakan untuk membedakan warna merah hijau. Gambargambar berwarna dari tes plate harus dibaca dengan penglihatan yang cukup. Pembacaan tes harus cepat dan tepat, dan bila raguragu dianggap salah. (2) Farnsworth Test. Tes ini dikerjakan apabila dengan tes ishihara isochromatik diragukan hasilnya. Dengan cara keping warna disusun secara berurutan dari warna paling gelap menjadi warna paling terang. Pembacaan tes disesuaikan dan dinilai dengan nomor yang ada di balik keping warna, apakah berurutan atau tidak. Bila tidak berurutan dianggap salah. b) Ketajaman penglihatan. Masing-masing mata diperiksa dengan menggunakan optotip snelen, proyektor huruf dan orthorater (lihat lampiran K). Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: (1) Optotip harus masih cukup baik (huruf-huruf masih hitam, berbatas tegas dengan kontras yang cukup). Harus ada
- 110 - beberapa macam optotip untuk dipakai bergantian sebagai usaha menghindarkan calon yang menghafalkan huruf-huruf optotip. (2) Personel yang diperiksa berada pada jarak enam meter dari optotip dan bila ruangan tidak memungkinkan dapat memakai bantuan cermin datar sehingga hanya perlu jarak tiga meter. Kondisi cermin datar harus baik dan tidak menimbulkan distorsi huruf/angka dari optotip. Kedua mata (tanpa kaca mata atau lensa kontak) diperiksa bergantian dan bersamaan. (3) Baris huruf terkecil yang masih dapat dibaca seluruhnya tanpa kesalahan menunjukkan tajam penglihatan. Apabila hasil pemeriksaan tidak menunjukkan 6/6 maka bagi anggota harus ditentukan koreksinya. c) Foria. Foria adalah deviasi laten sebagai hasil dari kesembangan otot bola mata dalam proses binokuler single vision. Deviasi ini menghilang bila kedua mata difiksir pada satu titik dan menjadi manifest bila rangsangan berfusi dihapus. Digunakan maddox rod atau cover uncover untuk menghilangkan rangsangan berfusi dan lensa prisma untk mengukr deviasinya. Heteroforia menggambarkan relasi kedua mata, karena itu hanya ada satu nilai saja tidak tergantung mata mana yang diukur. (1) Penglihatan strereoskopi (depth perception) daya membedakan kedalaman (depth perception) diperiksa dengan menggunakan VTA-ND atau orthorater, namun bila tidak tersedia dapat dipakai fly test/TNO. Untuk anggota TNI AU depth perception dinilai setelah dikoreksi kelainan refraksinya, kecuali untuk calon penerbang depth perception yang dipakai tanpa koreksi. (2) Lapang pandang. Diperiksa dengan tes konfrontasi, pemeriksaan yang lapang pandangnya dianggap normal duduk berhadapan pada jarak 60 cm dengan yang diperksa. Mata kiri yang diperiksa dan mata kanan yang ditutup, sedangkan mata yang terbuka saling memandang. Pemeriksa menggerakkan benda putih berdiameter 3 mm yang bertangkai hitam, dengan arah dari luar masuk ke lapang pandang keduanya.jarak dari yang diperiksa dan dari pemeriksa harus sama. Jika lapang pandang yang diperiksa normal, maka mereka akan melihat benda putih itu secara pemeriksaan meragukan atau abnormal, hendaknya dilakukan pemeriksaan dengan perimeter. (3) Melihat dalam keadaan intensitas sedang/rendah. Sementara hanya diperiksa secara anamnestik. Di tingkat pusat diperiksa dengan alat adaptometer untuk penglihatan ruang gelap (Night Vision Trainer) (4) Tekanan Intraokuler. Tekanan intraokuler diukur dengan palpasi, diukur dengan tonometer schiotz, aplanasi atau noncontact tonometri. 3) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan. a) Kelainan Organik Mata (U). (1) Kelopak Mata.
- 111 - (a) Entropion, ektropion (U-4/U-3p). (b) Kerusakan kelopak mata sehingga perlindungan mata terhadap rangsangan luar terganggu (U-4/U-3p). (c) Jaringan parut yang buruk atau menyebabkan perlekatan antarkelopak mata atau antarkelopak mata dengan bola mata (U-4/U-3p). (d) Blefarospasme, ptosis yang tidak mengganggu visus (U-4/U-2p), ptosis yang mengganggu visus (U-4/U-3p). (e) Eversi punctum lacrimalis, lagoftalmus (U-4/U-3p). (f) Dakriosistitis akut/kronis, epifora (U-4/U-3p). (g) Tumor jinak kelopak mata kurang dari 2 mm (U-2/ U-2p), 2-4 mm (U-3/U3p), lebih dari 4 mm (U-4/U-3p). Tumor ganas kelopak mata (U-4/ U-3p). (2) Konjungtiva. (a) Konjungtivitis akut (U 3/U-2p)/kronis (U-3/U2-p), konjungtivitis vernalis (U-4/U-3p), konjungtivitis iritatif (U-2/U-2p), trakoma (U-4/U-3p), xeroftalmia (U-4/U-3p), nevus <2mm (U2/U-2p), nevus >2mm , nevus di limbus (U-4/U-3p). (b) Xeroftalmia (U-4/U-3p). (c) Pterigium grade I (U-2/U-2p), grade II (U-3/U-2p), grade III dan IV (U-4/U-3p). (3) Kornea. (a) Keratitis akut/kronis, ulkus kornea, abrasi kornea termasuk ulkus herpes, vaskularisasi, kekeruhan kornea yang progresif dan mengganggu penglihatan (U-4/U-3p). (b) Distrofi kornea termasuk keratokonus pada semua tingkat (U-4/U-3p). (c) Tindakan bedah refraksi (PRK/ReLEx Smile) (L-2), dengan riwayat besarnya kelainan refraksi sebelumnya sebagai berikut: i. Miopia tidak lebih dari – 3.00 dioptri, hiperopia tidak lebih dari +3.00 dioptri. ii. Astigmatisma tidak lebih dari 3.00 dioptri. iii. Campuran/astigmatisma kompleks/kelainan refraksi majemuk dengan spherical equivalen tidak lebih dari 3.00 dioptri.
- 112 - iv. Menyerahkan surat keterangan/resume tindakan bedah refraksi PRK/ReLEx Smile (lihat contoh 12), yang berisi: i) Status refraksi sebelum dan sesudah tindakan bedah refraksi (PRK/ReLEx Smile). ii) Tehnik tindakan bedah refraksi. iii) Ada verifikasi status retina dari ahli retina. iv) Tindakan bedah refraksi minimal dilakukan 3 bulan sebelum pendaftaran dibuka. v) Tidak ada kelainan segmen anterior. vi) Tidak ada kelainan segmen posterior. vii) Tidak ada komplikasi operasi, antara lain dry eye, glare, penurunan kontras sensitivitas, gangguan night vision, haze, double vision, dll. viii) Tidak pernah dilakukan tindakan bedah refraksi ulang. ix) Pascatindakan bedah refraksi (PRK/ReLEx Smile), visus mencapai 6/6. x) Bila salah satu persyaratan tidak terpenuhi (L-4/L-3p). (d) Pascatindakan bedah refraksi (PRK/ReLEx Smile), dengan koreksi maksimum 0.50 D visus harus mencapai 6/6 (L-3/L-3p). (e) Pascatindakan bedah refraksi (PRK/ReLEx Smile), dengan koreksi lebih dari 0.50 D atau visus tidak bisa mencapai 6/6 (L-4/L-3p). (4) Traktus Uvea/Iris. (a) Radang iris akut maupun kronis (U-4/U-3-p). (b) Radang korpus siliare akut maupun kronis (U-4/ U-3-p). (c) Radang koroid akut maupun kronis (U-4/U-3-p). (d) Iritis traumatika, walau telah sembuh sempurna (U-4/U-3-p). (e) Anisokor, Markus Gun+, trauma iris, iridodialisis, coloboma uvea (U-4/U-3-p). (5) Lensa Mata. Katarak, subluksasi, luksasi, dislokasi, afakia (U-4/U-3-p), pseudofakia (U-4/U-2).
- 113 - (6) Retina. Ablasio retina, degenerasi retina, robekan retina, retinitis, neuroretinitis, korioretinitis, renitis pigmentosa, angiomatosis, fakomatosis, kista retina. (U-4/U-3-p). (7) Nervus Optikus. Neuritis optika, neuritis retrobulbar, udem papil, atrofi papil, ekskavasi glaukoma (U-4/U-3-p). (8) Cacat/Kelainan Lain. (a) Astenopia berat (U-4/U-3p). (b) Glaucoma primer, glaucoma sekunder (U-4/U-3p). (c) Kelainan lapang pandang (U-4/U-3p). (d) Tumor bola mata atau orbita (U-4/U-3p). (e) Eksoftalmus, enophtalmos unilateral maupun bilateral (U-4/U-3p). (f) Nistagmus (U-4/U-3p). (g) Diplopia (U-4/U-3p). (h) Strabismus (U4/U-3p). (i) Hemianopsia (U-4/U-3p). (j) Menghilangnya refleks pupil yang normal (U-4/ U-3p). (k) Adanya benda asing dalam bola mata (U-4/U-3p). (l) Kehilangan satu bola mata (U4/U-3p). (m) Anoftalmus atau mikroftalmus (U-4/U-3p). (n) Tidak dapat memicingkan mata kiri (U-3/U-2p). (o) Setiap kelainan akibat trauma, penyakit organik, kongenital dari mata dan sekitarnya yang membahayakan serta mengganggu fungsi penglihatan (U-4/U-3p). b. Sektor Penglihatan (L). Pemeriksaan fungsi alat penglihatan adalah sebagai berikut: (1) Visus. (a) Visus minimal 6/6 atau 20/20 atau 1.0 tiap mata tanpa koreksi kaca mata (L-1).
- 114 - (b) Visus minimal 6/12 atau 20/40 atau 0.5 untuk tiap mata akan tetapi dapat dikoreksi sampai 6/6 dengan lensa maksimal 1.00 dioptri atau astigmatisma maksimal 0.75 dioptri. Campuran/Astigmatisma kompleks/Kelainan refraksi majemuk dengan Spherical Equivalen tidak lebih dari 1.00 dioptri (L-2). (c) Visus minimal 6/40 atau 20/125 atau 0.16 untuk tiap mata, akan tetapi dapat dikoreksi sampai 6/6 dengan lensa maksimal 3.00 dioptri atau astigmatisma maksimal 2.00 dioptri dengan aksis harus 90° atau 180°. Campuran/Astigmatisma kompleks/kelainan refraksi majemuk dengan Spherical Equivalen tidak lebih dari 3.00 dioptri. (L-4/L-3p). (d) Visus ≤ 6/60 atau koreksi ≥ 3.00 dioptri (L-4/L-3p). (2) Buta Warna. (a) Parsial (L-4/L-3p). (b) Total (L-4/L-3-p). (3) Depth Perception. (a) Penerbang ≤ 27 (L-1). (b) Navigasi ≤ 33 (L-1). (c) Pasukan ≤ 60 (L-1). (d) Di luar batas itu (L-4/L-3p). m. Aspek Pemeriksaan Gigi (G). 1) Gambaran Umum. Rongga mulut terdiri dari gigi-geligi dan jaringan lunak yang meliputi gingiva, mukosa pipi bagian dalam dan dasar mulut serta lidah. Gigi berfungsi untuk mengunyah, estetik dan bicara, sehingga apabila ada kelainan pada gigi dan jaringan rongga mulut akan berpegaruh terhadap kesehatan secara umum. Gigi anterior terdiri dari gigi incisivus dan gigi caninus. Gigi incisivus berfungsi untuk menggigit, estetik dan bicara, sedangkan gigi caninus berfungsi untuk memotong. 2) Karena fungsinya yang sangat komplek gigi anterior harus sempurna ditinjau dari bentuk anatomi maupun relasi antara gigi rahang atas dan bawah. Gigi posterior berfungsi sebagai mengunyah, sehingga hilangnya 1 atau lebih gigi posterior akan mengganggu proses pengunyahan, dimana pengunyahan ini merupakan langkah pertama dari pencernaan makanan, sehingga akan berpengaruh secara umum bagi kesehatan tubuh. 3) Salah satu penilain gigi adalah dengan menggunakan angka DMF (decay/gigi berlubang, Missing/gigi yang hilang dan filling/gigi yang ditambal) yang menggambarkan secara umum kelainan/kerusakan yang terjadi pada gigi. Rongga mulut akan berfungsi dengan baik apabila gigigeligi dan jaringan lunak yang ada didalamnya tidak mengalami kelainan/kerusakan, sehingga indikator penilaian kesehatan gigi dan
- 115 - mulut meliputi gigi-geligi dan jaringan lunak rongga mulut. Standar pemeriksaan gigi dan mulut ini dapat digunakan untuk pemeriksaan awal saat penerimaan anggota, maupun pemeriksaan berkala bagi anggota tetap TNI AU. 4) Cara Pemeriksaan. a) Pemeriksaan Gigi. Pada pemeriksaan gigi dengan cara inspeksi (kaca mulut), sondasi (excavator dan sonde), perkusi (tangkai instrumen), palpasi, test termal (Chlor Ethyl, gutaperca panas) atau dengan vitalometer (bila memungkinkan) perhatikan fungsi kunyah, estetic, dan fonetic. Periksa jumlah dan lokasi Decay, Missing, Filling (DMF), jumlah gigi vital, adanya rehabilitasi dengan gigi tiruan. Adakah rasa sakit dan peradangan pada gigi dan jaringan pendukungnya sehingga menimbulkan gangguan fungsi pengunyahan. Dilakukan penilaian adanya anomali gigi geligi (ukuran, bentuk, jumlah, displacia, discolorisasi). Bagaimana posisi gigi geligi, apakah menimbulkan gangguan fungsi estetic dan fonetic. Bagaimana posisi gigitan gigi geligi rahang atas terhadap rahang bawah. Perhatikan pula bagaimana kondisi hygiene mulut. Pemeriksaan gigi geligi dan kelainan patologis rahang kalau memungkinkan dilengkapi dengan pemeriksaan foto rontgen panoramic. b) Pemeriksaan Mulut dan Rahang. Pemeriksaan mulut dan rahang dilakukan dengan cara inspeksi (kaca mulut), sondasi (sonde tumpul), perkusi (tangkai instrumen) dan palpasi. Pemeriksaan meliputi: (1) Mulut. Perhatikan adanya kelainan pada rongga mulut (lidah, palatum, pipi, bibir, gusi dan dasar mulut), adakah tumor, kista, skisis atau kelainan pada kelenjar ludah. (2) Rahang. Perhatikan adanya kelainan pada rahang, sendi rahang maupun hubungan antara rahang atas dan rahang bawah yang dapat menimbulkan gangguan fungsi pada rahang dan muka. 5) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan. a) Stakes 1 (G1). (1) Jumlah elemen gigi vital atau pascaendodonsi (tanpa M3) lebih atau sama dengan 24 gigi, dengan catatan bila pernah dilakukan perawatan orthodonsi pencabutan maksimal 4 gigi serta pencabutan tidak pada gigi anterior. (2) Jumlah titik kontak antara gigi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan oklusi sentris sama atau lebih besar 18 titik kontak (gigi anterior dinilai 1 dan gigi posterior 2 titik kontak, gigi tiruan dimasukan dalam perhitungan titik kontak apabila gigi tiruan tersebut oklusi) (3) Jumlah DMF < 10 gigi (2/4/4). (4) Jumlah karies gigi secara keseluruhan maksimal 2 gigi, dengan ketentuan tidak ada karies superfisialis, media,
- 116 - profunda dan gangren pada gigi anterior. Ada karies superfisial gigi posterior maksimal 2 gigi dan tidak ada karies media, profunda maupun gangren. (5) Tidak terdapat kehilangan gigi anterior. Ada kehilangan gigi posterior maksimal 4 gigi dengan ketentuan 2 gigi perkuadran tidak berturutan. (6) Gigi depan tidak terdapat tumpatan, tumpatan gigi posterior maksimal 4 gigi. (7) Tidak ada diastema pada gigi anterior rahang atas, maupun bawah. (8) Tidak ada abrasi pada gigi anterior, ada abrasi superficial pada gigi posterior maksimal 2 gigi. (9) Tidak ada gigi yang hipoplasi, hiperplasi, diskolorisasi , mottled enamel dan atrisi. (10) Tidak ada gigi persistensi maupun kelebihan gigi. (11) Tidak ada jacket, full dan pin crown pada gigi anterior rahang atas/rahang bawah. (12) Tidak ada crowding pada gigi anterior rahang atas, ada crowding ringan gigi anterior rahang bawah tidak mengganggu estetik. (13) Oklusi klas I angle, tidak ada edge to edge, palatal bite dan cross bite gigi anterior. Over bite dan over jet 2-4 mm. (14) Tidak ada protesa pada gigi anterior. Pada kehilangan 4 gigi posterior yang masing-masing kuadran 1 gigi, ada atau tidak ada protesa tidak mempengaruhi nilai kesehatan giginya. (15) Oral higiene baik (tidak ada stain maupun karang gigi). (16) Tidak ada gangguan bicara. (17) Tidak ada kelainan/gangguan TMJ (Temporo Mandibular Joint). (18) Tidak ada kelainan jaringan lunak pada ekstra oral dan intra oral seperti periodontal abses atau periodontitis). (19) Tidak ada kelainan jaringan keras seperti torus dan kelainan lainnya. (20) Tidak ada kista, tumor pada rongga mulut. (21) Wajah simetris. (22) Tidak ada gigi impaksi. b) Stakes 2 (G2).
- 117 - (1) Jumlah elemen gigi vital atau pascaendodonsi (tanpa M3) antara 20-23 gigi, dengan catatan bila pernah dilakukan perawatan orthodonsi pencabutan maksimal 4 gigi serta pencabutan tidak pada gigi anterior. (2) Jumlah titik kontak antara gigi rahang atas dan bawah dalam keadaan oklusi sentris 14-17 titik kontak ( gigi anterior dinilai 1 dan gigi posterior 2 titik kontak, gigi tiruan dimasukan dalam perhitungan titik kontak apabila gigi tiruan tersebut oklusi) (G-2/G-1P). (3) Jumlah DMF 11 - 16 (4/6/6). (4) Jumlah karies gigi secara keseluruhan maksimal 4 gigi, dengan ketentuan 1 gigi anterior ada karies superfisialis tidak pada proksimal gigi 11 atau 21 dan tidak ada karies media, profunda maupun gangren. Ada karies superfisial gigi posterior maksimal 3 gigi dan tidak ada karies media, profunda maupun gangren (G-2/G-1P). (5) Jumlah kehilangan gigi secara keseluruhan maksimal 6 gigi, dengan ketentuan, terdapat kehilangan 1 gigi anterior rahang atas tetapi sudah di rehabilitasi dengan gigi tiruan implan, ada kehilangan 1 gigi anterior rahang bawah dengan tidak ada diastema atau ada kehilangan 2 gigi anterior rahang bawah tetapi sudah direhabilitasi dengan gigi tiruan cekat/full crown/bridge atau implant. Ada kehilangan gigi posterior maksimal 6 gigi dengan ketentuan 2 gigi perkuadran tidak berturutan, apabila dalam 1 kuadran ada 2 gigi yang hilang berturutan, harus dibuatkan gigi tiruan cekat atau lepasan (G2/G-1P). (6) Jumlah tumpatan gigi maksimal 6 gigi, dengan ketentuan ada tumpatan gigi anterior maksimal 2 tidak mengganggu estetik, ada tumpatan gigi posterior maksimal 6 gigi. (7) Ada 1 diastema pada gigi anterior rahang atas/rahang bawah maksimal 1 mm, tidak antara gigi central. (8) Ada abrasi 1 gigi anterior sampai dentin, ada abrasi pada gigi posterior maksimal 4 gigi sampai dentin (G-2/G-1P). (9) Ada hipoplasi, hiperplasi ringan pada gigi anterior dan/atau posterior maksimal 2 gigi, tidak mengganggu estetik dan fungsi pengunyahan, ada diskolorisasi , mottled enamel ringan tidak mengganggu estetik, ada atrisi ringan tidak mengganggu fungsi pengunyahan (G-2/G-1P). (10) Ada gigi persistensi tidak mengganggu estetik, mesiodent tidak boleh (G-2/G-1P). (11) Ada jacket, full dan pin Crown 1 gigi anterior rahang atas (single crown) tidak mengganggu estetik dan fonetik, pada anterior rahang bawah maksimal 3 gigi (single crown atau bridge).
- 118 - (12) Ada crowding ringan pada gigi anterior rahang atas dan rahang bawah tidak mengganggu estetik. (13) Oklusi Klas I, II atau III angle, dengan kriteria tidak ada edge to edge, palatal bite dan cross bite gigi posterior, over bite dan over jet 2-4 mm. (14) Ada kehilangan 1 gigi anterior atas direhabilitasi dengan implan, ada kehilangan 2 gigi anterior pada rahang bawah direhabilitasi dengan gigi tiruan cekat. Ada kehilangan 2 gigi posterior berurutan dalam 1 kuadran direhabilitasi dengan gigi tiruan cekat/lepasan. (15) Oral higiene cukup (ada sedikit stain maupun karang gigi) tidak menyebabkan gingivitis (G-2/G-1P). (16) Tidak ada gangguan bicara. (17) Ada kelainan/gangguan TMJ 1 sisi (sakit/kliking) (G-2/G-1P). (18) Ada 1 kelainan jaringan lunak seperti stomatitis, periodontal abses atau periodontitis (G-2/G-1P). (19) Ada kelainan jaringan keras seperti torus atau kelainan lainnya tidak mengganggu fungsi bicara dan pengunyahan (G-2/G-1P). (20) Tidak ada kista, tumor pada rongga mulut. (21) Wajah simetris. (22) Tidak ada Impaksi (G-2/G-1P). c) Stakes 3 (G3). (1) Jumlah elemen gigi vital atau post endodonsi (tanpa M3) antara 16 -19 gigi, dengan catatan bila pernah dilakukan perawatan orthodonsi pencabutan maksimal 4 gigi serta pencabutan tidak pada gigi anterior. (2) Jumlah titik kontak antara gigi rahang atas dan bawah dalam keadaan oklusi sentris 10 -16 titik kontak, gigi depan dinilai 1 dan gigi belakang 2 titik kontak, gigi tiruan dimasukan dalam perhitungan titik kontak apabila gigi tiruan tersebut oklusi (G-3/G-2P). (3) Jumlah DMF 17 – 22 (6/8/8). (4) Jumlah karies gigi secara keseluruhan maksimal 6 gigi, dengan ketentuan pada gigi anterior ada karies superfisialis maksimal 2 gigi tidak pada proksimal gigi 11 atau 21, karies media 1 gigi dan tidak ada karies profunda maupun gangren. Pada gigi posterior ada karies superfisial maksimal 4 gigi dan
- 119 - karies media maksimal 2 gigi, tidak ada karies profunda dan gangrene serta sisa akar (G-3/G-2P). (5) Jumlah kehilangan gigi secara keseluruhan maksimal 8 gigi, dengan ketentuan, ada kehilangan 1 gigi anterior rahang atas sudah direhabilitasi dengan implant/bridge tidak mengganggu estetik, ada kehilangan gigi anterior rahang bawah maksimal 2 gigi direhabilitasi dengan gigi tiruan cekat/lepasan. Kehilangan gigi posterior maksimal 8 gigi, apabila 1 kuadran kehilangan 3 gigi beturutan harus direhabilitasi dengan gigi tiruan lepasan/cekat tidak mengganggu estetik dan pengunyahan (G-3/G-2P). (6) Jumlah tumpatan gigi rahang atas dan atau rahang bawah maksimal 8 gigi, tidak mengganggu estetik. (7) Ada 1 diastema pada gigi anterior rahang atas maksimal 2 mm dan multiple diastema pada gigi anterior rahang bawah masing-masing maksimal 0,5 mm. (8) Ada abrasi 2-3 gigi anterior sampai dentin, ada abrasi gigi posterior maksimal 5-6 gigi sampai dentin (G-3/G-2P). (9) Ada hipoplasi, hiperplasi sedang pada gigi anterior dan atau posterior sebanyak 3-4 gigi tidak mengganggu estetik dan fungsi pengunyahan, ada discolorisasi, mottled enamel sedang tidak mengganggu estetik dan ada atrisi sedang tidak mengganggu fungsi pengunyahan (G-3/G-2P). (10) Ada gigi persistensi mengganggu estetik (G-3/G-2P). (11) Ada Jacket, full dan pin Crown 2 gigi anterior rahang atas (single crown) tidak mengganggu estetik dan fonetik, pada anterior rahang bawah maksimal 4 gigi (single crown atau bridge). (12) Ada crowding sedang pada gigi anterior rahang atas dan rahang bawah tidak mengganggu estetik. (13) Oklusi Klas I, II atau III Angle, dengan kriteria ada edge to edge gigi anterior, palatal bite dan cross bite gigi posterior maksimal 2 gigi. Over bite dan over jet 2-4 mm. (14) Ada kehilangan 2 gigi anterior rahang atas direhabilitasi dengan implant/bridge, ada kehilangan 2 gigi anterior rahang bawah direhabilitasi dengan gigi tiruan lepasan. Ada kehilangan 3 gigi posterior berurutan dalam 1 kuadran direhabilitasi dengan gigi tiruan cekat/lepasan. (15) Oral higiene cukup (ada sedikit stain maupun karang gigi) menyebabkan gingivitis (G-3/G-2P). (16) Tidak ada gangguan bicara. (17) Ada kelainan/gangguan TMJ 2 sisi (sakit/kliking) (G-3/G-2P).
- 120 - (18) Ada 2 atau lebih kalainan jaringan lunak seperti stomatitis, periodontal abses atau periodontitis (G-3/G-2P). (19) Ada kelainan jaringan keras seperti torus atau kelainan lainnya mengganggu fungsi bicara dan pengunyahan. (20) Tidak ada Kista, tumor pada rongga mulut. (21) Wajah simetris. (22) Ada Impaksi gigi, dengan ada 2 atau lebih kelainan (karies, pericoronitis) pada gigi tersebut (G-3/G-2P). d) Stakes 4 (G4). (1) Jumlah elemen gigi vital atau post endodonsi (tanpa M3) kurang dari 16 gigi, dengan catatan bila pernah dilakukan perawatan orthodonsi pencabutan maksimal 4 gigi serta pencabutan tidak pada gigi anterior. (2) Jumlah titik kontak antara gigi rahang atas dan bawah dalam keadaan oklusi sentris kurang dari 10 titik kontak ( gigi depan dinilai 1 dan gigi belakang 2 titik kontak, gigi tiruan dimasukan dalam perhitungan titik kontak apabila gigi tiruan tersebut oklusi) (G-4/G-3P). (3) Jumlah DMF lebih dari 23 (DMF masing-masing tidak ditentukan jumlahnya). (4) Jumlah karies gigi lebih dari 6 gigi, dengan ketentuan pada gigi anterior ada karies superfisialis/media lebih dari 5 gigi, ada karies profunda/gangren 1 gigi atau lebih. Pada gigi posterior ada karies superfisial/media lebih dari 7 gigi, ada karies profunda/gangren lebih dari 2 gigi serta ada akar gigi (G-4/G-3P). (5) Ada kehilangan gigi secara keseluruhan lebih dari 8 gigi, dengan ketentuan, ada kehilangan 2 atau lebih gigi anterior rahang atas/bawah tidak direhabilitasi, diastema lebih dari 2.5 mm, mengganggu estetik. Kehilangan gigi posterior lebih dari 8 gigi, ada kehilangan gigi beturutan lebih dari 4 gigi dalam 1 kuadran (G-4/G-3P). (6) Jumlah tumpatan gigi rahang atas dan atau rahang bawah lebih dari 8 gigi, mengganggu estetik. (7) Ada diastema pada gigi anterior rahang atas lebih dari 2 diastema dan multiple diastema pada gigi anterior rahang bawah masing-masing > 0,5 mm. (8) Ada abrasi berat lebih dari 3 gigi anterior dan ada abrasi berat lebih dari 6 gigi posterior (G-4/G-3P). (9) Ada hipoplasi, hiperplasi sedang pada gigi anterior/posterior lebih 4 dari gigi mengganggu estetik dan fungsi pengunyahan, ada diskolorisasi, mottled enamel berat
- 121 - mengganggu estetik dan ada atrisi berat mengganggu fungsi pengunyahan (G-4/G-3P). (10) Ada gigi persistensi sangat mengganggu estetik (G-4/G3P). (11) Ada jacket, full dan pin crown pada gigi anterior rahang atas dan rahang bawah, yang berpotensi mengganggu estetik dan fonetik. (12) Ada crowding berat pada gigi anterior rahang atas dan rahang bawah mengganggu estetik. (13) Oklusi klas II atau III angle, dengan kriteria ada edge to edge gigi anterior, palatal bite, open bite dan cross bite gigi anterior/posterior > 2 gigi baik lateral maupun bilateral. Over bite dan over jet lebih dari 4 mm. (14) Tidak ada protesa pada kehilangan gigi anterior rahang atas dan pada kehilangan 4 gigi posterior berurutan dalam 1 kuadran. (15) Oral Higiene jelek banyak terdapat stain/karang gigi menyebabkan gingivitis (G-4/G-3P). (16) Ada gangguan pengucapan beberapa huruf (R,S,T). (17) Ada dislokasi atau ankilosis TMJ (G-4/G-3P). (18) Ada kelainan jaringan lunak rongga mulut dan terdapat tanda-tanda keganasan (G-4/G-3P). (19) Ada kelainan jaringan keras seperti torus atau kelainan lainnya dan sangat mengganggu fungsi bicara dan pengunyahan serta sakit. (20) Ada kista, tumor pada rongga mulut. (21) Wajah asimetris (bekas operasi bibir sumbing, tumor, abses atau kelainan lainnya). (22) Ada impaksi gigi, dengan ada kista atau tumor jaringan keras (G-4/G-3P). n. Aspek Pemeriksaan Kesehatan Jiwa/Psikiatri (J). 1) Gambaran Umum. Guna mendapatkan prajurit yang tanggap, tanggon, dan trengginas, serta memelihara kondisi kesehatan prajurit yang prima maka diperlukan proses seleksi calon prajurit, seleksi pendidikan dan pembinaan. Semua proses ini dapat menjadi salah satu stresor yang signifikan bagi siswa. Seseorang yang tidak bias beradaptasi dengan stresor yang dihadapinya dapat berpotensi menyebabkan stress terhadap individu tersebut. 2) Salah satu pemeriksaan yang dilaksanakan adalah kesehatan jiwa. Test ini dilaksanakan untuk seleksi pendidikan serta pemeriksaan kesehatan berkala bagi personel TNI AU. Tes kesehatan jiwa dilaksanakan
- 122 - untuk menyaring adanya riwayat atau sedang mengalami gangguan jiwa, menyaring factor risiko yang bias berpotensi menyebabkan gangguan jiwa, serta mengeksplorasi faktor-faktor positif dan negatif yang dimiliki. 3) Internasional Classification of Diseases (ICD) 10 / Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III menyatakan bahwa diagnosis pada gangguan jiwa terdiri dari 5 aksis atau yang disebut diagnosis multiaksial. Diagnosis multiaksial ditujukan terutama untuk membantu diagnosis untuk kepentingan klinis psikiatri namun dapat juga digunakan untuk kepentingan evaluasi psikiatri forensik salah satunya yaitu penilaian status kesehatan jiwa seseorang untuk kepentingan seleksi. Diagnosis multiaksial terdiri dari: a) Aksis I : Diagnosis klinis. Diagnosis lain yang menjadi perhatian diagnosis klinis. b) Aksis II : Diagnosis kepribadian. Retardasi mental. c) Aksis III : Kondisi medis umum. d) Aksis IV : Diagnosis psikososial. e) Aksis V : Penilaian fungsi kerja dan relasi secara global. Kelima aksis tersebut bisa saling mempengaruhi satu sama lain. Hal ini yang menyebabkan saat pemeriksaan kesehatan jiwa untuk kepentingan seleksi penerimaan calon personel TNI AU maupun seleksi pendidikan di lingkungan TNI AU, pemeriksa mempertimbangkan ke lima aksis tersebut, dengan harapan pemeriksa bukan hanya menilai diagnosis klinis seseorang, melainkan juga dapat menilai faktor resiko yang dimiliki seseorang yang bias berpotensi terjadinya masalah dengan kesehatan jiwa yang berdampak pada masalah fungsi relasi dan kerjanya di lingkungan TNI AU. 4) Cara Pemeriksaan. Pemeriksaan kesehatan jiwa merupakan komponen pemeriksaan yang sangat penting mengingat peran personel TNI AU, khususnya awak pesawat menuntut status kesehatan jiwa yang optimal. Pemeriksaan kesehatan jiwa dimaksudkan untuk menemukan adanya gangguan dan atau potensi gangguan pada proses pikir, afek dan emosi, serta perilaku. Pemeriksaan kesehatan jiwa bertujuan memberikan gambaran mengenai status dan kapasitas ketahanan mental, sehingga dapat melakukan skrining terhadap calon atau personel TNI AU yang mengalami gangguan atau potensi kerentanan gangguan jiwa di masa yang akan datang. Untuk terlaksananya pemeriksaan kesehatan jiwa secara tepat dan obyektif, perlu adanya standarisasi tata cara dan teknik pemeriksaan kesehatan jiwa. Pemeriksaan dilakukan secara tertulis dan wawancara. a) Pemeriksaan Tertulis. (1) Alat dan bahan. Alat yang dibutuhkan untuk pemeriksaan tertulis meliputi buku-buku tes psikometri, alat tulis (spidol, ballpoint, dan pensil), penghapus pensil, kertas lembar jawaban, computer dengan fungsi analisis serta mesin scanner untuk pemeriksaan massal/jumlah banyak. Bahan pemeriksaan meliputi MMPI, Hamilton rating scale, pengisian daftar Isian riwayat kesehatan diri dan keluarga, psychiatric
- 123 - interview questionaire, dan atau test psikometri lainnya yang sesuai. (2) Tempat Tes. Tempat tes membutuhkan ruangan yang representatif sesuai dengan jumlah peserta. Kursi dan menjadi susun bentuk kelas. Antara satu peserta dengan peserta yang lain tidak terlalu sempit, sehingga memungkinkan bintara tester (penjaga tes) dan pemeriksa (dokter spesialis kedokteran jiwa) berkeliling mengawasi jalannya pemeriksaan testulis. Pemeriksaan tertulis untuk rikkes rutin dapat dilakukan tidak bersamaan. (3) Peserta. Peserta dalam keadaan sehat dan istirahat yang cukup. Peserta yang memerlukan kacamata, harus menggunakannya. Peserta berhak menerima penjelasan yang memadai tentang maksud, tujuan dan prosedur tes. Peserta akan didampingi petugas selama tes tertulis berlangsung. Peserta mengerjakan tes secara mandiri dan tidak diizinkan mengganti lembar jawaban. (4) Petugas Tester. Petugas tester yaitu personel yang sudah pernah mengikuti pelatihan tester rikkes jiwa. Pada pemeriksaan tertulis, bintara tester bertugas menyiapkan kelengkapan alat tes (batteray test, lembar jawaban dan alat tulis) yang akan digunakan. Tester wajib memberikan penjelasan kepada peserta secara memadai dan menjaga tertibnya jalan pemeriksaan hingga selesai. Petugas harus menjaga dan mencegah peserta melakukan hal-hal yang menganggu tes seperti makan, mengobrol, diskusi, atau saling membantu jawaban. Apabila saat pelaksanaan terdapat permasalahan yang bermakna, petugas tester harus mencatat dalam lembar tersendiri dan melaporkan kepada ketua tim psikiatri. Setelah tes tertulis selesai, tester melakukan penghitungan skor dengan menggunakan komputer. (5) Petugas evaluasi dan analisis. Petugas evaluasi dan analisis tes tertulis adalah dokter spesialis kedokteran jiwa. Penilaian menitik beratkan pada aspek dan modalitas mental yang membentuk suatu kepribadian. Tes psikometri tertulis bukanlah alat diagnostik, melainkan alat bantu pemeriksaan untuk member gambaran kapasitas ketahanan mental, profil kepribadian, serta predictor psikopatologi sehingga baru bermakna setelah dilakukanan alisis oleh psikiater. Sebelum dilakukan evaluasi dan analisis harus dipastikan hasil tes memenuhi syarat-syarat validitas. Apabila tidak valid, maka tes dapat diulang satu kali, namun jika tetap tidak valid dinilai sebagai stakes J4. b) Wawancara Psikiatris. Wawancara dimaksudkan untuk mendapatkan penilaian status mental secara klinis saat ini dan riwayat longitudinal masa lalu yang berfungsi untuk menilai prognosis. (1) Pemeriksa. Pemeriksa kesehatan jiwa adalah dokter spesialis kedokteran jiwa dengan kualifikasi dokter kesehatan penerbangan. Pada pemeriksaan masal harus ada keseimbangan antara jumlah psikiater pemeriksa dan calon yang diperiksa.
- 124 - Apabila waktu pemeriksaan terbatas, maka psikiater dapat ditambah sesuai perhitungan kebutuhan waktu wawancara dan keterbatasan jam kerja. Pemeriksaan kesehatan jiwa dilakukan oleh tim yang ditunjuk. (2) Teknik Pemeriksaan. Pemeriksaan menggunakan teknik bicara informal, yaitu wawancara psikiatrik mendalam/indepht interview. Pada pemeriksaan masal (yang melibatkan psikiater pemeriksa lebih dari satu), jika diperlukan maka dapat dilakukan pemeriksaan silang (cross check). Selanjutnya didiskusikan bersama dan diambil keputusan akhir terhadap hasil status kesehatan jiwa. (3) Dalam situasi yang tidak memungkinkan melakukan wawancara pada seluruh peserta seleksi, maka psikiater pemeriksa dapat menentukan peserta tertentu saja yang akan dilakukan pemeriksaan wawancara . (4) Waktu Pemeriksaan. Waktu pemeriksaan wawancara membutuhkan waktu 15-20 menit. Seorang pemeriksa maksimal melakukan wawancara 20-24 orang/hari atau bekerja maksimal 5 jam efektif. Proses pemeriksaan harus dalam kondisi nyaman, dan tidak terburu-buru. Pemeriksaan wawancara dilakukan setelah tes tertulis dievaluasi dan dianalisis dan sebaiknya juga setelah pemeriksaan fisik selesai. Hasil analisis tes tulis digunakan sebagai bahan dasar wawancara. Kesimpulan pemeriksaan fisik digunakan untuk melihat kemungkinan penyebab organik. Jika pemeriksaan dilakukan parallel dengan pemeriksaan fisik, maka saat wawancara harus menyingkirkan F.0 (gangguan mental organik) berdasar ICD-10. Saat wawancara harus memperhatikan data kesehatan yang dilaporkan terperiksa (lihat contoh 13). (5) Tempat Pemeriksaan. Dibutuhkan ruangan tenang dan nyaman, tertutup dengan pencahayaan baik serta memberi kesan privacy, sehingga calon/personel lebih terbuka saat pemeriksaan. Tempat pemeriksaan juga harus menjamin keamanan dokumen kedokteran dan keamanan psikiater pemeriksa. (6) Hal-hal yang harus diperiksa. Hal-hal yang harus diperiksa terutama untuk mencari personality calon yang aeromedical adaptable atau mempertahankan aeromedical adaptability pada personel TNI AU. Dalam wawancara psikiatris, pemeriksa harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (a) Gambaran Umum. Sikap, cara bicara, tingkah laku motorik, kontak psikis, keadaan afektif, emosi, fungsi intelek, pengendalian diri, dan gangguan persepsi. (b) Faktor Lingkungan. Lingkungan orangtua, cara orangtua membesarkan, masalah yang terjadi pada orangtua dan saudaranya, serta gambaran kepribadian orangtuanya perlu dielaborasi. Riwayat masa perkembangan, masa sekolah, kemampuan akademis, pengalaman organisasi, kegiatan intra dan ekstra sekolah, dapat memberikan gambaran cara dan kemampuan diri menghadapi
- 125 - lingkungan. Riwayat keluarga adanya psikosis pada lebih dari 2 orang, atau riwayat bunuh diri membuat seorang calon harus di exclude. (c) Ketahanan Kepribadian. Ketahanan dalam menghadapi stress di lingkungan militer. Calon/ personel yang mempunyai dorongan serta kepribadian yang normal akan mengikuti pembicaraan dengan penuh perhatian. (d) Motivasi. Motivasi sangat penting dieksplorasi, karena merupakan energi kekuatan psikis yang membuat seseorang ingin mencapai keinginan atau tujuan, cita-cita, fantasi, ambisi, persepsi tentang diri dan kehidupannya di masa depan. Motivasi yang baik bebas dari over kompensasi dalam memilih profesi TNI AU. Memiliki rasa tertarik pada TNI AUserta keinginan menaklukan tantangan merupakan dorongan yang sesuai dengan dunia militer. Rasa aman dalam profesi yang mendatangkan status sosial dan ekonomi yang cukup baik juga merupakan motivasi yang positif. Motivasi yang tidak sehat akan terlihat pada wawancara yang teliti. Sikap yang sangat pasif dalam wawancara atau bersikap bohong defensif yang tidak wajar merupakan gejala neurotik yang harus diwaspadai. (e) Tanda-Tanda Kecemasan. Gambaran kecemasan berlebihan/yang nyata, riwayat gejala psikofisiologik, adanya jaringan parut akibat melukai diri sendiri, neddle track, atau tato di badan perlu dieksplorasi. Juga diperiksa adanya kecemasan dalam kehidupan sehari-hari seperti ditandai adanya hiperhidrosis. Pemikiran reflektif diperhatikan, proyeksi kesalahan merupakan penanda yang buruk. Calon/personel yang impulsive atau eksplosif akan membahayakan tugas, karena akan menganggu tugas yang membutuhkan ketelilitian dan konsentrasi. Lingkungan TNI AU terutama dunia penerbangan merupakan lingkungan yang berpotensi munculnya ‘kondisi kritis’ (seperti saat take off, landing, emergency situation, bad weather). Hal ini membutuhkan awak pesawat yang mampu bereaksi tepat dan cepat, namun juga sabar, tekun, dapat berfikir jernih dan tahan uji, sehingga ada keseimbangan antara faktor kekakuan dan fleksibilitas. (f) Kemampuan Kerja Sama. Kebiasaan kerja sama dengan personel keluarga dan teman-teman perlu dieksplorasi. Kemampuan sosial untuk berteman dan reaksinya jika menghadapi masalah menentukan kematangan pribadi seseorang. Sosiabilitas diamati dengan pola komunikasi sosial dalam pergaulan. Seseorang yang mengalami kesulitan berteman patut diprediksi akan kesulitan pada kerjasama dalam tugas nantinya. Seseorang yang penyendiri dan tertutup juga akan menggunakan mekanisme defensif yang neurotic saat melakukan hubungan sosial dalam tugas. (7) Pedoman wawancara. Meskipun digunakan wawancara indepth interview, dan bukan merupakan wawancara terstruktur, namun untuk efektifitas waktu, wawancara dipandu
- 126 - menggunakan lembaran penuntun wawancara. (lihat contoh 13). (a) Anamnesis. i. Masa kecil/prasekolah. Riwayat kejang, ngompol, temper tantrum, sampai usia berapa. Hubungan dengan saudara/sibling rivalry. ii. Masa sekolah. Bagaimana penyesuaian dan kemampuan belajar. Adakah prestasi akademik atau olah raga. Riwayat pindah sekolah dan pola penyesuaiannya. iii. Lain-lain. Adakah keterlibatan dengan pelanggaran aturan, lalulintas, riwayat berkelahi, geng, penggunaan narkoba, promiskuitas atau problem sexual behaviour. (b) Kontak psikis. Dalam keadaan normal, seorang yang diperiksa harus mampu menjalin kontak mental emosional yang wajar dengan pemeriksa. Terperiksa sanggup mencurahkan perhatian yang cukup adekuat terhadap isi pembicaraan. Pada keadaan yang patologis, kemampuan kontak psikis dan perhatian ini terbatas atau kurang. (c) Penampilan. i. Kerapian. Perhatikan penampilan kerapian personel. ii. Cara bicara. Diperhatikan cara bicaranya: lancar dan tenang, atau lirih, tegang, dan gagap (terhenti-henti). (d) Sikap. i. Sikap kooperatif. Dapat bekerjasama dan ingin mempermudah pemeriksaan. ii. Sikap apatis. Sikap yang tidak peduli, atau kurang menghiraukan saat wawancara. iii. Sikap bermusuhan. Sikap seperti ingin marah (irritable) atau bermusuhan (hostile). iv. Sikap curiga. Sikap yang seolah menyangsikan atau tidak percaya, terhadap ucapan pemeriksa atau terhadap lingkungan. (e) Tingkah laku. i. Normoaktif. Aktivitas motorik cukup wajar dan apa adanya. ii. Hiperaktif. Dorongan gerak yang dapat diamati dan dirasakan pemeriksa sangat besar. iii. Hipoaktif. Dorongan gerak sangat kurang.
- 127 - iv. Gelisah. Gerakan yang mengekspresikan kecemasan, tidak dapat tenang, selalu menggerakgerakkan tangan, kaki atau bagian tubuh lainnya. (f) Keadaan afek. i. Normotim/eutim. Menunjukkan suasana perasaan dalam batas wajar. ii. Hipertim. Menunjukkan suasana perasaan gembira berlebihan, atau di luar batas tanpa sebab yang jelas. iii. Hipotim. Menunjukkan suasana perasaan murung atau adanya hambatan. iv. Datar. Menunjukkan suasana perasaan tidak responsive terhadap stimulus yang diberikan. (g) Hidup emosi. i. Stabilitas. Disebut stabil/baik jika emosi terperiksa relative bertahan dan tidak terlalu hanyut oleh suasana perasaan/emosinya. Disebut labil/kurang jika suasana emosinya lekas berubah, cepat terharu, menangis atau gembira. ii. Pengendalian. Adalah kemampuan terperiksa untuk menguasai suasana emosi dirinya, yaitu baik, kurang, sangat dikekang atau tak terkendali. (h) Fungsi Intelek. i. Daya ingat baik, apabila terperiksa memiliki kemampuan melakukan recall memory tanpa hambatan. ii. Orientasi baik, apabila terperiksa mampu mengetahui hubungan ruang, waktu, orang, dan tempat dengan benar. iii. Kemampuan mengeluarkan pendapat baik, jika mampu berpendapat secara wajar dan masuk akal. iv. Dugaan taraf intelegensia baik, jika terperiksa memiliki kemampuan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan. v. Konsentrasi baik, apabila terperiksa mampu memusatkan perhatian, mengalihkan perhatian dan mempertahankan perhatian dengan adekuat. (i) Gangguan Persepsi. i. Ilusi. Stimulus lingkungan atau rangsang pancaindera yang ditafsirkan secara salah. ii. Halusinasi. Persepsi panca indera tanpa adanya stimulus.
- 128 - (j) Proses Pikir. i. Mutu. i) Jelas, jika tidak berbelit-belit, tidak ada tangensial atau sirkumstansial. ii) Meloncat-loncat, pikiran cepat beralih dari satu topik ke topik yang lain. iii) Inkoheren, bila tidak ada hubungan antara pikiran yang satu dengan yang lainnya sehingga sulit dimengerti. iv) Terhambat, pikiran seolah sulit mengalir, meskipun mungkin masih bisa dilanjutkan kembali. v) Terhalang, satu saat ada pikiran berhenti sama sekali. ii. Isi Pikir. i) Preokupasi. Isi piker terpaku pada masalah tertentu. Sekalipun dapat dialihkan, namun akan kembali pada masalah tersebut. ii) Fobia. Ketakutan yang menguasai pikirannya secara berlebihan dan tidak masuk akal terhadap keadaan atau benda tertentu. iii) Obsesi. Pikiran yang intrusif, menetap, berulang-ulang, dan tidak dapat dihalau terhadap sesuatu hal yang kadang membuat terperiksa merasa harus melakukanobsesinya untuk mengurangi kecemasannya. iv) Kompulsi. Yaitu perbuatan yang menetap dan berulang-ulang meskipun kadang disadari tidak masuk akal, namun tidak mampu ditahan. Biasanya kompulsi merupakan tidaklanjut dari obsesi. v) Waham/delusi. Isi pikir yang salah, yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikan, tidak sesuai dengan latar belakang budaya atau agamanya, dan tidak dapat dikoreksi walaupun sudah ditunjukkan bukti bahwa keyakinannya tidak betul. vi) Nihilitas. Perasaan rendah diri, perasaan tak berguna yang berlebihan. vii) Guilty feeling patologis. Perasaan bersalah/berdosa yang berlebihan. (k) Daya Nilai.
- 129 - i. Daya nilai sosial. Kemampuan menilai perilakunya terhadap lingkungan, termasuk apakah membahayakan dirinya atau bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. ii. Uji daya nilai. Kemampuan terperiksa menghadapi peristiwa tertentu yang ditanyakan pemeriksa. iii. Penilaian terhadap realita (RTA). iv. Insight. Derajat kesadaran dan pengertian dari terperiksa mengenai keadaan dirinya. Termasuk makna baginya tentang pemeriksaan kesehatan jiwa, serta tujuannya. (l) Kelainan Mental yang Didapat. i. Risiko Tinggi Terjadi Gangguan Jiwa (RTTGJ). Walaupun saat ini belum ditemukan gejala klinis yang memenuhi suatu kriteria tertentu, namun pemeriksa menemukan adanya faktor risiko terjadinya gangguan jiwa di kemudian hari. ii. Psikosis/Gangguan Psikotik. Adanya gejala, sikap, tingkah laku, emosi, atau isi pikir yang menyebabkan terperiksa memiliki kesulitan mengadakan interaksi dengan lingkungannya. iii. Neurosis/Gangguan Neurotik. Sikap, tingkah laku, emosi, pikiran yang menunjukkan gelisah, tegang, atau takut namun masih mampu mengadakan interaksi dengan lingkungan. Seperti anxietas, fobia, obsesif, obsesif-kompulsif, histrionik, dan disosiasi. iv. Psikosomatik. Faktor psikologis terperiksa mempengaruhi kondisi fisik atau timbulnya keluhan organik yang dasarnya permasalahan psikis, seperti gangguan somatisasi, hipokondriasis, dan neurasthenia. v. Gangguan kepribadian. Meskipun tidak terpenuhi diagnosis suatu gangguan kepribadian, namun ciri kepribadian yang berdampak terhadap fungsi kerja sebagai seorang personel TNI harus deskripsikan dan dicatat karena mungkin membuat terperiksa harus di excluded, sepertihistrionik, skizoid, paranoid, antisosial, dependen, pasifagresif, dan narsisistik. vi. Gangguan lainnya. Gangguan lain yang harus diexplorasi, seperti penyalahgunaan narkoba, retardasi mental, ataudeviasi sexual harus dicantumkan dalam lembar wawancara. vii. Pedoman Penilaian Status Kesehatan Jiwa. Status kesehatan jiwa selanjutnya disebut stakes jiwa adalah suatu tingkatan kondisi kesehatan jiwa seseorang saat dilakukan pemeriksaan kesehatan jiwa.
- 130 - i) Stakes J1-B. (i) Tes tertulis/MMPI-2: valid, profil kepribadian baik, dan tidak ada psikopatologi. (ii) Wawancara: sikap dan penampilan baik, normoaktif, eutim, emosi stabil, fungsi intelek baik, tidak ada factor predisposisi, dan tidak ada psikopatologi (iii) Stakes J-1/B berlaku untuk seleksi calon personel, seleksi pendidikan dan penugasan militer, serta pemeriksaan personel TNI AU. ii) Stakes J2-C. (i) Tes tertulis/MMPI-2: valid, profil kepribadian masih dalam batas normal, psikopatologi atau predictor psikopatologi ringan. (ii) Wawancara: kemampuan menghadapi stressor psikososial, kapasitas ketahanan mental, psikopatologi atau predictor psikopatologi masih dapat dinilai dalam batas wajar kehidupan. (iii) Stakes J2-C berlaku untuk seleksi calon personel, seleksi pendidikan dan penugasan militer, serta pemeriksaan personel TNI AU. iii) Stakes J3-P. (i) Test tertulis/MMPI-2; invalid (faking good, faking bad, inkonsistensi) atau profil abnormal dengan adanya psikopatologi. (ii) Wawancara: profil kepribadian dalam batas normal atau abnormal dalam test tertulis dielaborasi dengan wawancara. Hasil pemeriksaan ditemukan adanya psikopatologi dan atau predictor psikopatologi yang bisa mengganggu fungsi pekerjaan dan fungsi sosial sehingga personel TNI AU memerlukan perawatan. (iii) Stakes J3-P hanya dipakai untuk hasil pemeriksaan kesehatan personel TNI AU, yang dalam pemeriksaan psikiatri memenuhi kriteria diagnosis gangguan jiwa dan memerlukan tindak lanjut berupa intervensi terapeutik. Setelah dilakukan terapi dalam kurun waktu yang ditentukan terjadi perbaikan, Stakeswa bisa naik menjadi J2-C. Jika kondisi klinis membaik tapi kinerja personel tidak optimal, maka diperlukan evaluasi untuk menilai tingkat hendaya
- 131 - disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang mampu dilakukan. Jika setelah dilakukan terapi dengan waktu yang ditentukan tidak terjadi perbaikan, Stakeswa menjadi J4-K2. vi) Stakes J-4/K2. (i) Test tertulis/MMPI-2; invalid (faking good, faking bad, inkonsistensi) atau profil abnormal dengan adanya psikopatologi. (ii) Wawancara: profil kepribadian dalam batas normal atau abnormal dalam test tertulis dielaborasi dengan wawancara. Hasil pemeriksaan ditemukan adanya psikopatologi dan atau predictor psikopatologi yang bisa mengganggu fungsi pekerjaan dan fungsi sosial. (iii) Stakes J4-K2 berlaku untuk: (i)) Calon personel: ((i)) Tes tertulis dilaksanakan 2 kali dengan hasil keduanya tidak valid. ((ii)) Tes tertulis dengan hasil faking bad atau gambaran profil kepribadian abnormal. ((iii)) Pemeriksaan wawancara, tes tertulis, dan bila ada data kolateral. Hasil pemeriksaan menunjukkan calon personel ada riwayat gangguan jiwa, pemeriksaan ditemukan adanya gangguan jiwa, adanya faktor risiko yang bisa mempengaruhi kesehatan jiwa seseorang, dan kondisi mental seseorang yang tidak sesuai dengan lingkungan pekerjaan di TNI AU. (ii)) Personel TNI AU: merupakan hasil pemeriksaan dari wawancara, tes tertulis, dan bila ada data kolateral. ((i)) Pada seleksi pendidikan atau penugasan militer : hasil pemeriksaan menunjukkan personel memiliki riwayat gangguan jiwa, saat pemeriksaan menunjukkan gangguan jiwa, adanya faktor risiko yang bisa mempengaruhi kesehatan jiwa atau berlangsungnya pendidikan atau penugasan bila ia menjalankan pendidikan atau penugasan.
- 132 - ((ii)) Pada pemeriksaan kelaikan bekerja: hasil pemeriksaan menunjukkan personel memiliki gangguan jiwa yang bisa mempengaruhi fungsi pekerjaan dan fungsi sosial dengan tingkat hendaya yang tidak memungkinkan personel bekerja di TNI AU. Informasi terkait hambatan personel TNI AU pada fungsi pekerjaan dan sosial didapatkan dari laporan atau data Komandan atau Atasan tempat personel bekerja. viii. Sistem Penilaian Stakes Jiwa. Sistem penilaian stakes Jiwa calon dan personel TNI AU dapat dijabarkan sebagai berikut: i) Memenuhi Syarat (Stakes Jiwa J-1). Yaitu jika calon atau personel TNI AU tersebut memiliki kapasitas ketahanan mental yang baik, tidak ada psikopatologi serta tidak memiliki predictor psikopatologi. ii) Memenuhi Syarat (Stakes Jiwa J-2/Cukup). Jika calon atau personel TNI AU tersebut memiliki permasalahan dalam ranah yang dinilai, namun masih dalam batas wajar kehidupan atau within normal living. iii) Stakes J3. Jika personel TNI AU memiliki keterbatasan dalam menghadapi stressor psikososial, kapasitas ketahanan mental kurang, mengalami psikopatologi berat atau memiliki predictor psikopatologi berat dan pertimbangan psikiater personel tersebut masih bisa diberikan perawatan atau terapi. Stakes J3 untuk personel TNI AU harus merupakan Stakes J3-P, dengan batas waktu tertentu dan selanjutnya harus dapat ditentukan menjadi J2-C atau J4-K2. iv) Tidak Memenuhi Syarat (Stakes jiwa J-4). Yaitu apabila calon atau personel TNI AU tersebut memiliki keterbatasan dalam menghadapi stressor psikososial, kapasitas ketahanan mental kurang, mengalami psikopatologi berat atau memiliki predictor psikopatologi berat. 5) Penilaian dan Penggolongan Tingkat Status Kesehatan. a) Sektor Kesehatan Jiwa/Psikiatri (J). (1) Mekanisme pertahanan diri imatur (J-4/J-3P). (2) Instabilitas emosi (J-4/J-3P). (3) Inadequasi Kepribadian, ciri kepribadian yang mengganggu, gangguan kepribadian (J-4/J-3P).
- 133 - (4) Gangguan mental organik (J-4/J-3P). (5) Gangguan Mental dan perilaku akibat zat (J-4/J-3P). (6) Riwayat adanya psikosis pada >dua orang dalam satu keluarga atau salah satu orangtua (J-4/J-3P). Psikosis atau riwayat psikosis/skizofrenia (J-4), gejala psikosis reaktif singkat akibat kondisi medis umum (J-4/J-3P). (7) Gangguan skizotipal dan gangguan waham (J-4/J-3P). (8) Gangguan afektif atau mood (J-4/J-3P). (9) Gangguan Neurotik, Somatoform, gangguan berhubungan dengan stress (J-4/J-3P). (10) Sindrom perilaku (J-4/J-3P). (11) Perilaku dan orientasi seksual berisiko. Kondisi ini tidak direkomendasikan karena dapat memberikan dampak penyebaran penyakit menular seksual, potensi melakukan tindakan pelecehan seksual, dan berisiko menjadi gangguan jiwa. Perilaku dan orientasi seksual berisiko tersebut seperti: (a) Lesbian, gay, biseksual, transgender/LGBT (J-4). (b) Gangguan identitas jenis kelamin (transeksual, transvertitisme). (J-4). (c) Gangguan preferensi seksual (pedofilia, ekshibionisme, sadomasokisme) (J-4). (12) Perubahan kepribadian (J-4/J-3P). Gangguan perkembangan psikologis antara lain bicara gagap (stuttering/ stammering) dan Tic (J-4/J-3P). (13) Gangguan perilaku dan emosi onset masa kanak dan remaja (J-4/J-3P). (14) Jika ditemukan adanya prediktor psikopatologi (J4/J3P). (15) Tes psikometri (apapun jenis batteray test-nya) menunjukkan profil abnormal, termasuk risiko tinggi terkena gangguan jiwa/high risk group(J4/J3P). Jika tidak disertai pemeriksaan wawancara, maka hasil in-depth interview diperlukan untuk elaborasi dan menambah data (nilai maksimal J-2 /J-3P). 6) Pemeriksaan Kesehatan Jiwa untuk Keperluan Surat Keterangan Cuti Sakit. a) Apabila hasil pemeriksaan kesehatan jiwa prajurit TNI AU menyatakan bahwa yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa berat, maka personel tersebut dapat diberikan surat keterangan cuti sakit dari psikiater, dalam waktu tertentu. Perpanjangan surat keterangan cuti sakit dapat dilakukan setelah evaluasi oleh psikiater. Durasi total waktu cuti sakit, paling lama satu tahun.
- 134 - b) Bila dalam waktu satu tahun belum membaik dengan terapi, tetapi prediksi kemampuan bekerja masih baik, terapi diperpanjang untuk mempertahankan kemampuan kerjanya. Proses terapi dapat diperpanjang maksimal 3 tahun, apabila sampai kurun waktu 3 tahun ternyata tidak mampu mencapai kemampuan yang diharapkan, dapat dilakukan evaluasi BPKP. c) Jika selama satu tahun evaluasi terapi, personel TNI AU tidak patuh terhadap terapi dan prediksi kemampuan kerja buruk, atau tidak berdampak optimal maka bisa dilanjutkan dengan evaluasi BPKP. a.n. KEPALA STAF ANGKATAN UDARA KADISKES, tertanda DR. dr. ISDWIRANTO ISKANTO., M.SC., SP.B.S (K)., SP.K.P. MARSEKAL PERTAMA TNI Autentikasi KEPALA SEKRETARIAT UMUM TNI AU WAHJU TJAHJADI, S.S., C.Fr.A. KOLONEL ADM NRP 520800
TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA DAFTAR BADAN PENILAI KESEHATAN PERSONEL ANGKATAN UDARA (BPKPAU) PUSAT DAN KOTAMA NO. RUMKIT LAKNIS/LANUD DAERAH WILAYAH TANGGUNG JAWAB KET 1 2 3 4 1. Lakespra dr. Saryanto Personel TNI AU yang berpangkat pati, kolonel, penerbang dan personel yang ikut dalam kecelakaan pesawat di seluruh satuan TNI AU. 2. RSPAU dr. S. Hardjolukito Lanud Adi beserta seluruh satuan yang dibina yaitu Lanud JBS. 3. RSAU dr. Esnawan A. Mabesau, Makoopsau I, Makodiklatau, Lanud Halim P. beserta seluruh satuan yang dibina. 4. RSAU dr. Moh. Salamun Lanud Hsn, Lanud Slm, Sdm, Wir, dan Ski, beserta seluruh satuan yang dibina. 5. RSAU dr. Muhamad Hassan Toto Lanud Ats beserta seluruh satuan yang dibina. 6. RSAU dr. Sukirman Lanud Rsn, Smh, Rhf, Mus, Ash, Sut, Atk, dan Hnm, beserta seluruh satuan yang dibina. 7. Rumkit Lanud Swo Lanud Swo, Sim, Mus beserta seluruh satuan yang dibina. 8. RSAU dr. Muhammad Sutomo Lanud Spo, Ikr dan Had, beserta seluruh satuan yang dibina. 9. RSAU dr. Siswanto Lanud Smo beserta seluruh satuan yang dibina. 10. RSAU dr. Efram Harsana Lanud Iwj beserta seluruh satuan yang dibina. 11. RSAU Mohammad Moenir Lanud Abd beserta seluruh satuan yang dibina. Lampiran D Keputusan Kasau Nomor Kep/364/XII/2020 Tanggal 23 Desember 2020
-135- 1 2 3 4 12. Rumkit Lanud Mul Lanud Mul, Rai dan Zam beserta seluruh satuan yang dibina. 13. Rumkit Lanud Sam Lanud Sam beserta seluruh satuan yang dibina. 14. Rumkit Lanud Dmb Lanud Dmb, Anb beserta seluruh satuan yang dibina. 15. RSAU dr. Dody Sardjoto Makoopsau II, Lanud Hnd, Sri, Hlo, Ptm, beserta seluruh satuan yang dibina. 16. Rumkit Lanud Eli Lanud Eltari beserta seluruh satuan yang dibina. 17. Rumkit Lanud Mna Makoopsau III, Lanud Mna, Dmn, Spr, Jad, Yku, Lwm, beserta seluruh satuan yang dibina. a.n. KEPALA STAF ANGKATAN UDARA KADISKES, tertanda Dr. dr. ISDWIRANTO ISKANTO, M.Sc., Sp.B.S.(K)., Sp.K.P. MARSEKAL PERTAMA TNI Autentikasi KEPALA SEKRETARIAT UMUM TNI AU, WAHJU TJAHJADI, S.S., C.Fr.A. KOLONEL ADM NRP 520800
TENTARA NASIONAL INDONESIA Lampiran E Keputusan Kasau MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA Nomor Kep/ / / Tanggal JALUR PENGIRIMAN LAPORAN HASIL UJI DAN PEMERIKSAAN KESEHATAN BPKP KETERANGAN : 1. : Pengiriman Laporan Hasil Uji dan Pemeriksaan Kesehatan. 2. : Pengiriman Rekapitulasi Hasil Uji dan Rikkes Berkala. 3. : Pengiriman Surat Keterangan Hasil Uji dan Rikkes Berkala. PEJABAT PARAF Dirdok Kodiklatau Kadiskumau Kasetumau Sesdiskesau Kasubdisdukkes Diskesau BPKPAU KOTAMA DISKES KOTAMA RUMKIT LAKNIS/LANUD YANG BERSANGKUTAN DOKTER SKADRON BPKPAU PUSAT DISKESAU a.n. KEPALA STAF ANGKATAN UDARA KADISKES, tertanda Dr. dr. ISDWIRANTO ISKANTO, M.Sc., Sp.B.S.(K)., Sp.K.P. MARSEKAL PERTAMA TNI Lampiran E Keputusan Kasau Nomor Kep/364/XII/2020 Tanggal 23 Desember 2020 Autentikasi KEPALA SEKRETARIAT UMUM TNI AU, WAHJU TJAHJADI, S.S., C.Fr.A. KOLONEL ADM NRP 520800
TENTARA NASIONAL INDONESIA Lampiran F Keputusan Kasau MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA Nomor Kep/ / / Tanggal JALUR PENGIRIMAN LAPORAN HASIL UJI KESEHATAN ATAS INDIKASI ASOPS KASAU DISKESAU ASPERS KASAU DISMINPERSAU BPKP AU PUSAT/ LAKESPRA S. KESATUAN PEJABAT PARAF Dirdok Kodiklatau Kadiskumau Kasetumau Sesdiskesau Kasubdisdukkes Diskesau KAKES/BPKP AU KOTAMA a.n. KEPALA STAF ANGKATAN UDARA KADISKES, tertanda Dr. dr. ISDWIRANTO ISKANTO, M.Sc., Sp.B.S.(K)., Sp.K.P. MARSEKAL PERTAMA TNI Lampiran F Keputusan Kasau Nomor Kep/364/XII/2020 Tanggal 23 Desember 2020 Autentikasi KEPALA SEKRETARIAT UMUM TNI AU, WAHJU TJAHJADI, S.S., C.Fr.A. KOLONEL ADM NRP 520800
TENTARA NASIONAL INDONESIA Lampiran G Keputusan Kasau MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA Nomor Kep/364/XII/2020 Tanggal 23 Desember 2020 DAFTAR PERSYARATAN/STANDAR KESEHATAN CALON PRAJURIT/PRAJURIT TNI AU NO PENUGASAN U A B D L G J STAKES 1. Calon Prajurit Karbol 1/2 1/2 1/2 1/2 1/2 1/2 1/2 I / II 2. Calon Awak Pesawat Gol I 1/2 1/2 1/2 1/2 1/2 1/2 1/2 I / II 3. Awak Pesawat Gol II, III 2 2 2 2 2 2 2 II 4. Calon Siswa Seskoau/Sesko TNI/Susstaf 2 2 2 2 2 2 2 II 5. Calon Siswa Sekkau/Suspajemen 2 2 2 2 2 2 2 II 6. Calon Perwira Prajurit Karier 2 2 2 2 2 2 2 II 7. Calon Siswa Setukpa 2 2 2 2 2 2 2 II 8. Calon Siswa Setukba 2 2 2 2 2 2 2 II 9. Calon Bintara Prajurit Karier Pria 2 2 2 2 2 2 2 II 10. Calon Bintara Prajurit Karier Wanita 2 2 2 2 2 2 2 II 11. Calon Siswa Sekolah Para 2 2 2 2 2 2 2 II 12. Calon Siswa Sejurba/Sejurta 2 2 2 2 2 2 2 II 13. Calon Tamtama Prajurit Karier 2 2 2 2 2 2 2 II 14. Calon PNS 2 2 2 2 2 2 2 II PEJABAT PARAF Dirdok Kodiklatau Kadiskumau Kasetumau Sesdiskesau Kasubdisdukkes Diskesau a.n. KEPALA STAF ANGKATAN UDARA KADISKES, tertanda Dr. dr. ISDWIRANTO ISKANTO, M.Sc., Sp.B.S.(K)., Sp.K.P. MARSEKAL PERTAMA TNI Autentikasi KEPALA SEKRETARIAT UMUM TNI AU, WAHJU TJAHJADI, S.S., C.Fr.A. KOLONEL ADM NRP 520800
TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA TABEL TINGGI DABERDASARKAN IMT STAKES KURUS SEDANG RINGAN PRE U4/U3P U3/U2P U2 IMT TB(cm) <14,9 15-18,4 18,5-19,9 1 2 3 4 155 155,5 156 156,5 157 157,5 158 158,5 159 159,5 160 160,5 161 161,5 162 162,5 163 163,5 164 164,5 165 165,5 166 166,5 167 167,5 168 <36,03 <36,26 <36,49 <36,73 <36,93 <37,20 <37,44 <37,67 <37,91 <38,15 <38,39 <38,63 <38,87 <39,11 <39,36 <39,60 <39,84 <40,09 <40,33 <40,58 <40,83 <41,08 <41,32 <41,57 <41,82 <42,07 <42,33 36,04 - 44,44 36,27 - 44,72 36,50 - 45,01 36,74 - 45,31 36,94 - 45,59 37,21 - 45,88 37,45 - 46,17 37,68 - 46,47 37,92 - 46,76 38,16 - 47,05 38,40 - 47,35 38,64 - 47,65 38,88 - 47,94 39,12 - 48,24 39,37 - 48,54 39,61 - 48,84 39,85 - 49,14 40,10 - 49,44 40,34 - 49,75 40,59 - 50,05 40,84 - 50,36 41,09 - 50,66 41,33 - 50,97 41,58 - 51,28 41,83 - 51,58 42,08 - 51,89 42,34 - 52,20 44,45 - 48,44 44,73 - 48,35 45,02 - 48,66 45,32 - 48,97 45,60 - 49,29 45,89 - 49,60 46,18 - 49,92 46,48 - 50,23 46,77 - 50,55 47,06 - 50,87 47,36 - 51,19 47,66 - 51,51 47,95 - 51,83 48,25 - 52,15 48,55 - 52.48 48,85 - 52.80 49,15 - 53,13 49,45 - 53,45 49,76 - 53,45 50,06 - 53,78 50,37 - 54,11 50,67 - 54,44 50,98 - 54,77 51,29 - 55,10 51,59 - 55,43 51,90 - 55,77 52,21 - 56,10
Lampiran H Keputusan Kasau Nomor Kep/ / / Tanggal AN BERAT BADAN PRIA (INDEKS MASSA TUBUH) NORMAL GEMUK PRE RINGAN SEDANG U2 U3/U2P U4/U3P 20-24,9 25-26,9 27-29,9 >30 5 6 7 8 48,45 - 59,82 48,36 - 60,21 48,67 - 60,60 48,98 - 60,99 49,30 - 61,38 49,61 - 61,77 49,93 - 62,12 50,24 - 62,55 50,56 - 62,95 50,88 - 63,35 51,20 - 63,74 51,52 - 64,14 51,84 - 64,54 52,16 - 64,94 52,49 - 65,35 52,81 - 65.75 53,14 - 66,16 53,46 - 66,56 53,46 - 66,56 53,79 - 66,97 54,12 - 67,38 54,45 - 67,46 54,78 - 68,20 55,11 - 68,61 55,44 - 69,03 55,78 - 69,44 56,11 - 69,86 59,83 - 64,63 60,22 - 65,04 60,61 - 65,46 61,00 - 65,88 61,39 - 66,31 61,78 - 66,73, 62,13 - 67,15 62,56 - 67,58 62,96 - 68,01 63,36 - 68,43 63,75 - 68,86 64,14 - 69,30 64,55 - 69,73 64,95 - 70,16 65,36 - 70,60 65,76 - 71,03 66,17 - 71,47 66,57 - 71,91 66,57 - 72,32 66,98 - 72,79 67,39 - 73,24 67,47 - 73,68 68,21 - 74,13 68,62 - 74,57 69,04 - 75,02 69,45 - 75,47 69,87 - 75,92 64,64 - 71,83 65,05 - 72,30 65,47 - 72,76 65,89 - 73,23 66,32 - 73,70 66,74 - 74,17 67,16 - 74,64 67,59 - 75,12 68,02 - 75,59 68,44 - 76,07 68,87 - 76,54 69,31 - 77,02 69,74 - 77,50 70,17 - 77,99 70,61 - 78,47 71,04 - 78,96 71,48 - 79,44 71,92 - 79,93 72,33 - 80,42 72,80 - 80,91 73,25 - 81,40 73,68 - 81,95 74,14 - 82,39 74,58 - 82,89 75,03 - 83,39 75,48 - 83,89 75,93 - 84,39 >71,84 >72,31 >72,77 >73,24 >73,71 >74,18 >74,65 >75,13 >75,60 >76,08 >76,55 >77,03 >77,51 >78,00 >78,48 >78,97 >79,45 >79,94 >80,43 >80,92 >81,41 >81,96 >82,40 >82,90 >83,40 >83,90 >84,40 Lampiran H Keputusan Kasau Nomor Kep/364/XII/2020 Tanggal 23 Desember 2020
-1 2 3 4 168,5 169 169,5 170 170,5 171 171,5 172 172,5 173 173,5 174 174,5 175 175,5 176 176,5 177 177,5 178 178,5 179 179,5 180 180,5 181 181,5 182 182,5 183 183,5 184 184,5 185 185,5 186 186,5 <42,58 <42,81 <43,09 <43,34 <43,60 <43,85 <44,11 <44,37 <44,62 <44,88 <45,14 <45,67 <45,93 <46,19 <46,45 <46,72 <46,98 <47,25 <47,52 <47,78 <48,05 <48,32 <48,59 <48,86 <49,13 <49,40 <49,68 <49,95 <50,22 <50,50 <50,77 <51,05 <51,33 <51,61 <51,88 <52,16 <52,44 42,59 - 52,52 42,84 - 52,83 43,10 - 53,14 43,35 - 53,45 43,61 - 53,77 43,86 - 54,09 44,12 - 54,40 44,38 - 54,72 44,63 - 55,04 44,89 - 55,36 45,15 - 55,68 45,68 - 56,32 45,94 - 56,97 46,20 - 57,30 46,46 - 57,62 46,73 - 57,95 46,99 - 58,28 47,26 - 58,61 47,53 - 58,94 47,79 - 59,27 48,06 - 59,60 48,33 - 59,93 48,60 - 60,26 48,87 - 60,60 49,14 - 60,93 49,41 - 61,27 49,69 - 61,61 49,96 - 61,94 50,23 - 62,28 50,51 - 62,62 50,78 - 62,96 51,06 - 63,31 51,34 - 63,65 51,62 - 63,99 51,89 - 64,34 52,17 - 64,68 52,45 - 65,03 52,53 - 56,44 52,84 - 56,79 53,15 - 57,11 53,46 - 57,79 53,78 - 58,13 54,10 - 58,81 54,41 - 59,16 54,73 - 59,50 55,05 - 59,85 55,37 - 60,19 55,69 - 60,89 56,33 - 61,24 56,98 - 61,59 57,31 - 61,94 57,63 - 62,29 57,96 - 62,65 58,29 - 63,00 58,62 - 63,36 58,95 - 63,71 59,28 - 64,07 59,61 - 64,43 59,94 - 64,79 60,27 - 65,15 60,61 - 65,51 60,94 - 65,87 61,28 - 66,24 61,62 - 61,60 61,95 - 66,97 62,29 - 67,33 62,63 - 67,70 62,97 - 68,07 63,32 - 68,44 63,66 - 68,81 64,00 - 69,18 64,35 - 69,55 64,69 - 69,93 65,04 - 70,30
- 140 - 5 6 7 8 56,45 - 70,28 56,80 - 70,96 57,12 - 71,12 57,80 - 71,96 58,14 - 72,38 58,82 - 72,81 59,17 - 73,66 59,51 - 74,09 59,86 - 74,52 60,20 - 74,95 60,90 - 75,82 61,25 - 76,26 61,60 - 76,69 61,95 - 77,13 62,30 - 77,57 62,66 - 78,01 63,01 - 78,45 63,37 - 78,89 63,72 - 79,34 64,08 - 79,78 64,44 - 80,23 64,80 - 80,68 65,16 - 81,12 65,52 - 81,57 65,88 - 82,03 66,25 - 82,48 66,61 - 82,93 66,98 - 83,39 67,34 - 83,84 67,71 - 84,30 68,08 - 84,76 68,45 - 85,22 68,82 - 85,68 69,19 - 86,14 69,56 - 86,61 69,94 - 87,07 70,31 - 87,54 70,29 - 76,14 70,97 - 76,83 71,13 - 77,12 71,97 - 77,64 72,39 - 77,92 72,82 - 78,20 73,67 - 78,56 74,10 - 78,83 74,53 - 79,12 74,96 - 79,58 75,83 - 79,86 76,27 - 80,04 76,70 - 80,34 77,14 - 80,58 77,58 - 80,98 78,02 - 81,46 78,46 - 81,92 78,90 - 82,38 79,35 - 82,85 79,79 - 83,33 80,24 - 83,73 80,69 - 84,02 81,13 - 84,42 81,58 - 84,87 82,04 - 85,23 82,49 - 85,71 82,94 - 86,19 83,40 - 86,67 83,85 - 87,16 84,31 - 87,64 84,77 - 88,13 85,23 - 88,61 85,69 - 89,10 86,15 - 89,45 86,62 - 89,82 87,08 - 90,09 87,55 - 90,38 76,15 - 84,73 76,84 - 85,40 77,13 - 85,78 77,65 - 85,99 77,93 - 86,24 78,21 - 86,58 78,57 - 86,84 78,84 - 87,39 79,13 - 87,87 79,59 - 88,34 79,87 - 88,95 80,05 - 89,35 80,35 - 89,92 80,59 - 90,57 80,99 - 91,47 81,47 - 92,15 81,93 - 93,39 82,39 - 94,20 82,86 - 94,74 83,34 - 95,27 83,74 - 95,80 84,03 - 96,34 84,43 - 96,88 84,88 - 97,41 85,24 - 97,96 85,72 - 98,50 86,20 - 98,98 86,68 - 99,35 87,17 - 99,92 87,65 - 100,13 88,14 - 100,68 88,62 - 101,23 89,11 - 101,78 89,46 - 102,33 89,83 - 102,89 90,10 - 103,44 90,39 - 103,92 >84,74 >85,41 >85,79 >86,00 >86,25 >86,59 >86,85 >87,40 >87,88 >88,35 >88,86 >89,36 >89,93 >90,58 >91,48 >92,16 >93,40 >94,21 >94,75 >95,28 >95,81 >96,35 >96,87 >97,42 >97,97 >98,51 >98,99 >99,36 >99,93 >100,14 >100,69 >101,24 >101,79 >102,34 >102,90 >103,45 >103,93
-1 2 3 4 187 187,5 188 188,5 189 189,5 190 <52,72 <53,01 <53,29 <53,57 <53,86 <54,14 <54,18 52,73 - 65,38 53,02 - 65,72 53,30 - 66,07 53,58 - 66,42 53,87 - 66,77 54,15 - 67,08 54,49 - 67,41 65,39 - 70,68 65,73 - 71,05 66,08 - 71,43 66,43 - 71,81 66,78 - 72,19 67,09 - 72,53 67,42 - 72,96
- 141 - 5 6 7 8 70,69 - 88,01 71,06 - 88,48 71,44 - 88,95 71,82 - 89,42 72,20 - 89,89 72,54 - 90,24 72,97 - 90,53 88,02 - 90,79 88,49 - 91,07 88,96 - 91,57 89,43 - 92,08 89,90 - 92,56 90,25 - 93,06 90,54 - 93,56 90,80 - 104,25 91,08 - 104,79 91,58 - 105,12 92,09 - 105,68 92,57 - 106,24 93,07 - 106,81 93,57 - 107,37 >104,26 >104,80 >105,13 >105,69 >106,25 >106,82 >107,38
-TABEL TINGGI DANBERDASARKAN IMT STAKES KURUS SEDANG RINGAN PRE U4/U3P U3/U2P U2 IMT TB(cm) <14,9 15-18,4 18,5-19,9 1 2 3 4 150 150,5 151 151,5 152 152,5 153 153,5 154 154,5 155 155,5 156 156,5 157 157,5 158 158,5 159 159,5 160 <33,74 <33,97 <34,19 <34,42 <34,65 <34,87 <35,10 <35,33 <35,56 <35,80 <36,03 <36,26 <36,49 <36,73 <36,93 <37,20 <37,44 <37,67 <37,91 <38,15 <38,39 33,75 – 41,62 33,98 – 41,89 34,20 – 42,17 34,43 – 42,45 34,66 – 42,73 34,88 – 43,01 35,11 – 43,30 35,34 – 43,58 35,57 – 43,86 35,81 – 44,15 36,04 - 44,44 36,27 - 44,72 36,50 - 45,01 36,74 - 45,31 36,94 - 45,59 37,21 - 45,88 37,45 - 46,17 37,68 - 46,47 37,92 - 46,76 38,16 - 47,05 38,40 - 47,35 41,63 – 42,74 41,90 – 43,03 42,18 – 43,31 42,46 – 43,60 42,74 – 43,89 43,02 – 44,18 43,31 – 44,47 43,59 – 44,76 43,87 – 45,05 44,16 – 45,34 44,45 - 48,44 44,73 - 48,35 45,02 - 48,66 45,32 - 48,97 45,60 - 49,29 45,89 - 49,60 46,18 - 49,92 46,48 - 50,23 46,77 - 50,55 47,06 - 50,87 47,36 - 51,19