TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA PG: KDL-01.a PETUNJUK PENYELENGGARAAN PENYUSUNAN DAN PENERBITAN DOKTRIN DI LINGKUNGAN TNI ANGKATAN UDARA DISAHKAN DENGAN KEPUTUSAN KEPALA STAF ANGKATAN UDARA NOMOR KEP/285/XI/2019 TANGGAL 7 NOVEMBER 2019
DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI i Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Kep/285/XI/2019 tanggal 7 November 2019 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara …………………………………………………………………………………... BAB I PENDAHULUAN 1. Umum ................................................................................. 3 2. Maksud dan Tujuan ...................................................... 3 3. Ruang Lingkup dan Tata Urut........................................ 4 4. Dasar ............................................................................ 4 5. Pengertian ..................................................................... 4 6. Kedudukan dan Fungsi ................................................. 4 BAB II KETENTUAN UMUM 7. Umum ........................................................................... 5 8. Tujuan dan Sasaran ...................................................... 5 9. Asas ...……………………………………………………………… 5 10. Prinsip ........................................................................... 6 11. Satuan Terkait Doktrin………………………………………… 6 12. Penerbit ........................................................................ 13 13. Pengesahan ................................................................... 13 14. Autentikasi .................................................................... 15 15. Masa Berlaku ................................................................ 15 16. Status Sementara .......................................................... 15 17. Perubahan .................................................................... 15 18. Ketentuan Administrasi ................................................ 16 BAB III ORGANISASI, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB 19. Umum ........................................................................... 28 20. Struktur Organisasi ...................................................... 28 21. Susunan Organisasi ...................................................... 29 22. Tugas dan Tanggung Jawab .......................................... 33 BAB IV TAHAPAN PENYELENGGARAAN 23. Umum ........................................................................... 37 24. Tahap Perencanaan ....................................................... 37 25. Tahap Persiapan ........................................................... 38 26. Tahap Pelaksanaan ....................................................... 39 27. Tahap Pengakhiran ....................................................... 41 BAB V DUKUNGAN 28. Umum ........................................................................... 42 29. Anggaran ....................................................................... 42 30. Administrasi Umum ...................................................... 42 31. Personel ........................................................................ 42 32. Logistik ......................................................................... 43 33. Komunikasi ................................................................... 43 1
BAB VI PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN 34. Umum ........................................................................... 43 35. Pengawasan .................................................................. 43 36. Pengendalian ................................................................. 43 BAB VII PENUTUP 37. Petunjuk Turunan ......................................................... 44 38. Keberhasilan ................................................................. 44 39. Penyempurnaan ............................................................ 44 LAMPIRAN A : DAFTAR PENGERTIAN ..................................................... 45 LAMPIRAN B : SKEMA KEDUDUKAN ...................................................... 48 LAMPIRAN C : VISUALISASI MEKANISME PENYUSUNAN DAN PENERBITAN DOKTRIN ................................................... 49 LAMPIRAN D : DAFTAR CONTOH............................................................. 56 CONTOH 1 : FORMAT DOKTRIN SWA BHUWANA PAKSA ………………. 57 CONTOH 2 : FORMAT DOKTRIN OPSUD DALAM OMP/OMSP ............... 67 CONTOH 3 : FORMAT DOKTRIN FUNGSI UMUM/KHUSUS ................... 75 CONTOH 4 : FORMAT JUKGAR OPSUD ................................................ 83 CONTOH 5 : FORMAT JUKGAR FUNGSI UMUM/KHUSUS .................... 93 CONTOH 6 : FORMAT JUKNIS OPSUD ................................................. 103 CONTOH 7 : FORMAT JUKNIS FUNGSI ................................................ 112 CONTOH 8 : FORMAT JUKREF ............................................................ 121 CONTOH 9 : FORMAT PAPARAN ……………………………………………. 128 CONTOH 10 : FORMAT UJI NASKAH ..................................................... 129 CONTOH 11 : FORMAT MEKANISME UMPAN BALIK ............................... 131 CONTOH 12 : FORMAT JAWABAN POKJA/SPT TERHADAP SARAN/ MASUKAN TERTULIS........................................................ 132 CONTOH 13 : PETUNJUK PENGISIAN NASKAH KEP KASAU.................... 133 CONTOH 14 : DAFTAR PERSONEL POKJA.............................................. 134 LAMPIRAN E : FORMAT PERUBAHAN KEPUTUSAN ................................. 135 LAMPIRAN F : KETENTUAN TAMBAHAN DALAM PENYUSUNAN DOKTRIN ......................................................................... 137 LAMPIRAN G : DAFTAR PERSONEL POKJA.............................................. 138 DAFTAR DISTRIBUSI ii
KEPUTUSAN KEPALA STAF ANGKATAN UDARA Nomor Kep/285/XI/2019 tentang PETUNJUK PENYELENGGARAAN PENYUSUNAN DAN PENERBITAN DOKTRIN DI LINGKUNGAN TNI ANGKATAN UDARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA STAF ANGKATAN UDARA, Menimbang : a. bahwa dibutuhkan adanya peranti lunak berupa petunjuk untuk digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI Angkatan Udara; b. bahwa Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Kep/988/XII/2017 tanggal 6 Desember 2017 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penerbitan Petunjuk di Lingkungan TNI Angkatan Udara sudah tidak sesuai dengan stratifikasi dalam Doktrin TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa sehingga perlu diganti; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan keputusan Kepala Staf Angkatan Udara tentang Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara; Mengingat : 1. Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2019 tentang Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia; 2. Keputusan Presiden Nomor 2/TNI/Tahun 2018 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Staf Angkatan Udara; 3. Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1126/XI/2018 tentang Petunjuk Penyelenggaran Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia;
- 2 - 4. Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1055/IX/2019 tentang Pemberhentian Dari dan Pengangkatan Dalam Jabatan di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia; 5. Peraturan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pembentukan Produk Hukum di Lingkungan TNI Angkatan Udara sebagaimana diubah dengan Peraturan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor 16 Tahun 2016 Tentang Pembentukan Produk Hukum di Lingkungan TNI Angkatan Udara; 6. Peraturan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Perkasau/22/XI/2017 tentang Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Angkatan Udara; Memperhatikan: 1. Surat Perintah Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Sprin/626/V/2019 tanggal 10 Mei 2019 tentang pokja penyusunan Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara; 2. Hasil perumusan pokja Penyusunan Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara; MEMUTUSKAN: Menetapkan : 1. Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara tentang Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara sebagaimana tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari keputusan ini dengan menggunakan Kode PG: KDL-01.a., dan berklasifikasi Biasa. 2. Komandan Kodiklatau sebagai Pembina Materi Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara. 3. Pada saat keputusan ini mulai berlaku, Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Kep/988/XII/2017 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penerbitan Petunjuk di Lingkungan TNI Angkatan Udara dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 4. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. PEJABAT PARAF Wadankodiklatau Dirdok Kodiklatau Kadiskumau Kasetumau Ditetapkan di Jakarta pada tanggal a.n. KEPALA STAF ANGKATAN UDARA DANKODIKLAT, TATANG HARLYANSYAH, S.E., M.M. MARSEKAL MUDA TNI
- 3 - PETUNJUK PENYELENGGARAAN PENYUSUNAN DAN PENERBITAN DOKTRIN DI LINGKUNGAN TNI ANGKATAN UDARA BAB I PENDAHULUAN 1. Umum. a. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) yang identik dengan keteraturan tidak hanya mengatur tentang tata kehidupan dan penugasan, akan tetapi juga dalam penyusunan produk hukum berupa peraturan dan keputusan yang menjadi landasan dalam organisasinya. Penyusunan dan penerbitan doktrin pada strata strategis, operasional dan taktis yang diperlukan oleh TNI AU sebagai pedoman bagi setiap eselon dalam organisasi sesuai dengan stratanya telah diatur dalam petunjuk penyusunan dan petunjuk administrasinya. Penyusunan dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI AU selama ini mengacu pada Petunjuk Administrasi Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI sesuai dengan Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/903/XI/2016, sedangkan penyusunan dan penerbitan petunjuk telah diatur dalam Petunjuk Penyusunan dan Penerbitan Petunjuk di Lingkungan TNI AU sesuai dengan Keputusan Kasau Nomor Kep/988/XII/2017. b. Disahkannya Doktrin TNI AU Swa Bhuwana Paksa (SBP) tahun 2019 sesuai dengan Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/545/V/2019 tanggal 22 Mei 2019 memberikan pengaruh yang signifikan terhadap dasar yang dipergunakan dalam penyusunan dan penerbitan doktrin yang diperlukan oleh TNI AU selanjutnya. Ketidaksesuaian tersebut terletak pada stratifikasi doktrin yang tercantum dalam Doktrin TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa tahun 2019 yang tidak lagi memisah antara stratifikasi doktrin dan stratifikasi petunjuk, akan tetapi dijadikan satu antara kedua stratifikasi tersebut. c. Guna mencapai keberhasilan dalam penyusunan dan penerbitan doktrin sesuai dengan Doktrin TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa tahun 2019, maka perlu disusun Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara. 2. Maksud dan Tujuan. a. Maksud. Naskah Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI AU (Jukgar Sunbitdok) disusun dengan maksud untuk menyajikan format, ketentuan dan aturan serta tahapan dalam proses penyusunan, pengujian, dan penerbitan doktrin baik yang bersifat aplikatif maupun referensif di lingkungan TNI AU. b. Tujuan. Naskah ini disusun sebagai pedoman bagi satuansatuan yang berwenang dalam penyusunan dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI AU agar terdapat pemahaman yang sama tentang format, ketentuan dan aturan serta tahapan dalam proses penyusunan, pengujian, dan penerbitan doktrin. TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA Lampiran Keputusan Kasau Nomor Kep/285/XI/2019 Tanggal 7 November 2019
- 4 - 3. Ruang Lingkup dan Tata Urut. a. Ruang Lingkup. Ruang lingkup naskah Jukgar Sunbitdok di Lingkungan TNI Angkatan Udara meliputi format, ketentuan, dan aturan serta tahapan dalam proses penyusunan, pengujian, dan penerbitan doktrin. b. Tata Urut. Adapun tata urut naskah Jukgar Sunbitdok di Lingkungan TNI Angkatan Udara adalah sebagai berikut: 1) Pendahuluan. 2) Ketentuan-Ketentuan. 3) Organisasi, Tugas, dan Tanggung Jawab. 4) Tahapan Penyelenggaraan. 5) Dukungan. 6) Pengawasan dan Pengendalian. 7) Penutup. 4. Dasar. a. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2019 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia. b. Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/867/XI/2013 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Tulisan Dinas. c. Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/545/V/2019 tentang Doktrin TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa. d. Peraturan Kasau Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perubahan Perkasau Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pembentukan Produk Hukum di Lingkungan TNI Angkatan Udara. e. Keputusan Kasau Nomor Kep/245/X/2019 tentang Stratifikasi Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara. 5. Pengertian. Untuk memperoleh pemahaman yang sama terhadap isi naskah ini diperlukan adanya pengertian terhadap istilah-istilah yang digunakan di dalamnya. Daftar pengertian tercantum pada lampiran A. 6. Kedudukan dan Fungsi. Jukgar Sunbitdok di Lingkungan TNI Angkatan Udara merupakan petunjuk yang berkedudukan pada strata operasional level 2 sebagai turunan dari Doktrin Fungsi Khusus Pembinaan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara dan berfungsi sebagai acuan dalam penyusunan dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI Angkatan Udara serta menjadi pedoman bagi petunjuk di bawahnya. Skema kedudukan tercantum pada lampiran B.
- 5 - BAB II KETENTUAN-KETENTUAN 7. Umum. Jukgar Sunbitdok di Lingkungan TNI Angkatan Udara disusun berdasarkan perkembangan doktrin yang ditulis dengan memperhatikan tujuan, sasaran, asas, prinsip, dan ketentuan lainnya. Pada bab ini akan dibahas tentang tujuan dan sasaran, asas, prinsip, serta ketentuan lainnya. 8. Tujuan dan Sasaran. Segala upaya yang dijalankan hendaknya ditujukan fokus pada tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Berikut adalah tujuan dan sasaran dari Jukgar Sunbitdok di Lingkungan TNI Angkatan Udara: a. Tujuan. Naskah ini disusun sebagai pedoman bagi satuan yang berwenang dalam penyusunan dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI AU sehingga terwujud doktrin yang lebih praktis, akomodatif, kohesif, konsisten, dan aplikatif. b. Sasaran. Agar tujuan tersebut tercapai maka diperlukan indikatorindikator yang merupakan sasaran-sasaran yang harus dipenuhi, yaitu: 1) Tercapainya pemahaman yang sama oleh SPM/SPMK tentang format, ketentuan, dan aturan serta tahapan dalam proses penyusunan, pengujian, dan penerbitan doktrin. 2) Terwujudnya keseragaman tahapan dalam proses penyusunan, pengujian dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI AU. 3) Terwujudnya keseragaman doktrin yang lebih praktis, mudah dipahami, akomodatif, kohesif, konsisten, serta aplikatif. 9. Asas. Di samping memegang teguh tujuan dan sasaran di atas, penyusunan dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI AU hendaknya mengikuti/memedomani asas-asas sebagai berikut: a. Cepat dan Tepat. Kegiatan penyusunan dan penerbitan doktrin harus dapat diselesaikan secara cepat dan tepat. Demikian juga setiap langkah dalam setiap tahapan dirancang sedemikian rupa sehingga pelaksanaan di lapangan berjalan dengan cepat dan tepat. b. Efektif dan Efisien. Kegiatan penyusunan dan penerbitan doktrin dilakukan secara efektif dan efisien agar diperoleh hasil yang optimal. Yang dimaksud efektif di sini yaitu setiap kata atau kalimat harus dapat mengarahkan pada pencapaian sasaran yang telah ditetapkan. Sedangkan efisien maksudnya adalah bahwa setiap penulisan kalimat tersebut tidak berlebihan namun tepat makna. c. Mantik. Ide/gagasan yang digunakan dalam penyusunan naskah doktrin harus disusun berdasarkan pemikiran yang rasional dan benar. d. Saluran Administrasi. Penyelenggaraan penyusunan dan penerbitan doktrin sesuai dengan proses administrasi dengan dilakukan pengawasan dan pengendalian.
- 6 - 10. Prinsip. Di samping memegang teguh tujuan, sasaran dan asas di atas, penyusunan dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI AU hendaknya mengikuti/ memedomani prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Baku. Dalam penyusunan setiap naskah doktrin harus menggunakan istilah, kata, atau nomenklatur, dan bentuk tulisan dinas yang baku sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. Konsisten. Setiap penggunaan istilah atau nomenklatur di satu bagian dengan bagian lain harus konsisten. c. Aman. Selama proses penyusunan dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI AU harus memperhatikan keamanan secara fisik dan nonfisik mulai dari proses penyusunan, pengujian, klasifikasi, dan penggandaan, serta distribusi, sampai proses inventarisasi. Demikian juga setiap tahapan dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan berjalan aman baik bagi personel yang terlibat maupun lingkungan di mana kegiatan tersebut dilaksanakan. d. Dapat Dipertanggungjawabkan. Semua kegiatan dalam proses penyusunan dan penerbitan doktrin harus dapat dipertanggungjawabkan dari segi isi, format, prosedur, kewenangan, dan keabsahan, termasuk halhal terkait penggunaan anggarannya. e. Terkoordinasi. Dalam proses penyusunan dan penerbitan doktrin di bidangnya masing-masing setiap SPM/SPMK selalu berkoordinasi baik dengan Satuan Pembina Sistem maupun SPM terkait lainnya. f. Sinambung/Koheren. Proses penyusunan dan penerbitan doktrin harus selalu memperhatikan kesinambungan antara satu doktrin dengan doktrin terkait di atas/bawahnya. g. Kohesif. Dalam penulisan atau perumusan kalimat, paragraf, dan bab, antara satu kata dengan kata dalam satu kalimat, antara satu kalimat dengan kalimat lain dalam satu paragraf, antara satu paragraf dengan paragraf lain dalam satu bab, dan antara satu bab dengan bab lain dalam satu naskah harus ada korelasi dan keterikatan makna yang erat. h. Teliti. Dalam teknis penyusunan suatu naskah mulai dari bentuk, isi, dan tata bahasa yang digunakan, serta pengetikan harus teliti agar mudah dibaca dan dipahami. i. Terang dan Jelas. Dalam proses produksi atau penggandaan, naskah harus terang dan jelas agar mudah dibaca. Demikian juga dengan penyajian data, fakta, dan argumentasi ditulis dengan jelas, dan menggunakan istilah atau kata yang lazim digunakan agar diperoleh pemahaman yang tepat. j. Singkat dan Padat. Gagasan yang dituangkan dalam naskah disajikan secara singkat namun padat isinya dengan menggunakan kalimat efektif tanpa mengubah arti. Keterangan yang berlebihan atau tidak penting harus dihilangkan. 11. Satuan Terkait Doktrin. Sejak proses penyusunan, pengujian, penerbitan, dan penggunaan doktrin, satuan-satuan terkait doktrin adalah sebagai berikut:
- 7 - a. Satuan Pembina. Satuan pembina doktrin dalam rangka pengelolaan doktrin di lingkungan TNI AU dengan tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut: 1) Satuan Pembina Sistem (SPS). SPS doktrin di lingkungan TNI AU adalah Kodiklatau dengan tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a) Melaksanakan pengkajian dan pengembangan sistem doktrin di lingkungan TNI AU. b) Melaksanakan asistensi terhadap sistem doktrin di tiap SPM. c) Berkoordinasi dengan Srenaau dalam konteks dukungan anggaran untuk penyusunan, revisi, dan penerbitan naskah-naskah doktrin di lingkungan TNI AU. d) Berkoordinasi dengan Diskumau dalam konteks harmonisasi sistem doktrin dengan perkembangan peraturan perundang-undangan/produk hukum terkait dengan doktrin serta peranti lunak lainnya. e) Asistensi dan memonitor pelaksanaan proses penyusunan, revisi, dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI AU sampai dengan Uji Naskah (UN)-I yang menjadi tanggung jawab SPM/SPMK lain, melaksanakan semua UN-II di lingkungan TNI AU, serta menyelenggarakan UN-I untuk naskah doktrin yang menjadi tanggung jawabnya. f) Melaksanakan kompilasi dan inventarisasi seluruh naskah doktrin, baik di lingkungan TNI AU maupun TNI. g) Bertanggung jawab kepada Kasau dalam penyusunan, revisi, dan penerbitan doktrin yang menjadi tanggung jawabnya. 2) Satuan Pembina Materi (SPM). SPM adalah satuan yang menyusun dan menerbitkan doktrin baik yang bersifat aplikatif maupun referensif di bidangnya masing-masing. Berdasarkan Doktrin Swa Bhuwana Paksa 2019 terdapat tujuh staf fungsi umum yang berperan sebagai Satuan Pembina Materi Umum (SPMU) dan lima staf fungsi khusus yang berperan sebagai Satuan Pembina Materi Khusus (SPMK). Masing-masing fungsi sebagai supervisor terhadap beberapa supervisee yaitu Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) TNI AU dan satuan kerja lain. SPMU dan SPMK dimaksud dengan tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut: a) SPMU. (1) Staf Perencanaan dan Anggaran TNI AU (Srenaau). Srenaau sebagai SPMU doktrin bidang perencanaan dan anggaran di lingkungan TNI AU. Dalam pelaksanaan tugasnya di bidang doktrin, Srenaau menjadi supervisor beberapa supervisee yang tugas-tugasnya terkait erat dengan fungsi perencanaan dan anggaran, yaitu:
- 8 - (a) Diskuau. (b) Dislitbangau. (c) Setumau. (2) Staf Intelijen TNI AU (Sintelau). Sintelau sebagai SPMU doktrin bidang intelijen di lingkungan TNI AU. Dalam pelaksanaan tugasnya, Sintelau menjadi supervisor beberapa supervisee yang tugas-tugasnya terkait erat dengan fungsi intelijen, yaitu: (a) Dispamsanau. (b) Dissurpotrudau. (c) Satuan dan jabatan bidang intelijen di setiap balakpus dan kotama TNI AU. (3) Staf Operasi TNI AU (Sopsau). Sopsau sebagai SPMU doktrin bidang operasi udara dan fungsi operasi di lingkungan TNI AU. Dalam pelaksanaan tugasnya, Sopsau menjadi supervisor beberapa supervisee yang tugas-tugasnya terkait dengan operasi udara dan fungsi operasi, yaitu: (a) Puslaiklambangjaau. (b) Disbangopsau. (c) Disopslatau. (d) Puskodalau. (4) Staf Personalia TNI AU (Spersau). Spersau sebagai SPMU doktrin bidang personel di lingkungan TNI AU. Dalam pelaksanaan tugasnya, Spersau menjadi supervisor beberapa supervisee yang tugas-tugasnya terkait dengan fungsi personel, yaitu: (a) Puspomau. (b) Disdikau. (c) Diskesau. (d) Disminpersau. (e) Diswatpersau. (f) Dispsiau. (g) Disbintalidau. (h) Lakespra Saryanto. (i) RSPAU dr. S. Hardjolukito. (j) Lakesgilut drg. R. Purwanto.
- 9 - (5) Staf Logistik TNI AU (Slogau). Slogau sebagai SPMU doktrin bidang logistik di lingkungan TNI AU. Dalam pelaksanaan tugasnya, Slogau menjadi supervisor beberapa supervisee yang tugas-tugasnya terkait dengan fungsi logistik, yaitu: (a) Pusbekmatpus. (b) Disaeroau. (c) Diskonsau. (d) Disbtbau. (e) Dismatau. (f) Disadaau. (g) Denmabesau. (6) Staf Potensi Dirgantara (Spotdirga). Spotdirga sebagai SPMU doktrin bidang potensi dirgantara. Dalam pelaksanaan tugasnya, Spotdirga menjadi supervisor beberapa supervisee yang tugas-tugasnya terkait dengan fungsi potdirga, yaitu: (a) Puspotdirga. (b) Dispenau. (c) Diskumau. (d) Satuan Potdirga di setiap balakpus dan kotama TNI AU. (7) Staf Komunikasi dan Elektronika TNI AU (Skomlekau). Skomlekau sebagai SPMU doktrin bidang komunikasi dan elektronika di lingkungan TNI AU. Dalam pelaksanaan tugasnya, Skomlekau menjadi supervisor beberapa supervisee yang tugas-tugasnya terkait dengan fungsi komlek, yaitu: (a) Diskomlekau. (b) Disinfolahtaau. (c) Satuan Komlek di setiap balakpus dan kotama TNI AU. b) SPMK. (1) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AU (Kodiklatau). Selain sebagai SPS, Kodiklatau juga sebagai SPMK doktrin bidang pembinaan doktrin, pendidikan, dan latihan operasi. Dalam pelaksanaan tugasnya Kodiklatau memberikan asistensi dan supervisi kepada seluruh SPMU/SPMK dan lembaga pendidikan TNI AU, khususnya menyangkut bidang sistem doktrin dan latihan operasi.
- 10 - (2) Inspektorat Jenderal TNI AU (Itjenau). Itjenau sebagai SPMK doktrin bidang pengawasan internal TNI AU. Dalam pelaksanaan tugasnya Itjenau sebagai supervisor dari beberapa supervisee, yaitu semua Inspektorat di balakpus dan kotama TNI AU. (3) Staf Ahli Kasau (Sahli Kasau). Sahli Kasau sebagai SPMK doktrin bidang pengkajian berbagai hal yang berhubungan dengan TNI AU. Dalam pelaksanaan tugasnya, Sahli Kasau sebagai supervisor dari sahli-sahli yang berada di balakpus dan kotama TNI AU. (4) Pusat Kelaikan Keselamatan Penerbangan dan Kerja TNI Angkatan Udara (Puslaiklambangjaau). Puslaiklambangjaau sebagai SPMK doktrin bidang kelaikan keselamatan penerbangan dan kerja di lingkungan TNI AU. Di samping sebagai supervisee Sopsau, dalam pelaksanaan tugasnya Puslaiklambangjaau juga sebagai supervisor dari jabatanjabatan bidang Laiklambangja yang berada di setiap kotama TNI AU maupun lanud. (5) Pusat Polisi Militer TNI AU (Puspomau). Puspomau sebagai SPMK doktrin bidang kepolisian militer di lingkungan TNI AU. Di samping sebagai supervisee Spersau, dalam pelaksanaan tugasnya, Puspomau juga sebagai supervisor dari satuan-satuan Pomau yang berada di setiap balakpus dan kotama TNI AU. (6) Dinas Hukum TNI AU (Diskumau). Diskumau sebagai SPMK doktrin bidang hukum udara dan hukum yang berlaku bagi militer. Di samping sebagai supervisee Spotdirga, dalam pelaksanaan tugasnya, Diskumau juga sebagai supervisor dari jabatan-jabatan bidang hukum yang berada di setiap balakpus dan kotama TNI AU. c) Tugas SPMU. Tugas SPMU sebagai berikut: (1) Menilai dan menentukan materi doktrin yang dibutuhkan SPMU, termasuk balakpus yang menjadi supervisee-nya. (2) Mengajukan usulan doktrin yang akan disusun/direvisi kepada SPS dengan skala prioritas usulan tersebut termasuk doktrin-doktrin yang diperlukan balakpus supervisee-nya dengan tembusan kepada SSP, SPS, dan SPP. (3) Menyusun/merevisi doktrin tertentu sesuai dengan dukungan anggaran dari komando atas, baik yang terkait dengan SPM sendiri maupun balakpus supervisee-nya.
- 11 - (4) Berkoordinasi dengan SPS mengenai rencana UN-II dan kodifikasi penomoran untuk naskah doktrin yang telah disahkan. (5) Penomoran Kodifikasi, mencetak, dan distribusi doktrin ke satuan-satuan terkait. Dalam pelaksanaannya berkoordinasi dengan SPS dan Satuan Pembina Produksi (SPP). (6) Melaksanakan sosialisasi materi doktrin yang telah disahkan kepada satuan pengguna. (7) Mengkaji dan menilai materi doktrin yang dimiliki serta memetakan dan melaporkan hasilnya kepada SPS. (8) Mengawasi semua kegiatan terkait penyusunan dan penerbitan doktrin mulai tahap penyusunan sampai dengan distribusi. d) Tugas SPMK. Secara umum tugas SPMK tidak jauh berbeda dengan tugas SPMU, yaitu sebagai berikut: (1) Menilai dan menentukan materi doktrin yang dibutuhkan masing-masing SPMK dan mengajukannya dengan skala prioritas ke masing-masing SPMU supervisor-nya, dengan tembusan kepada SSP, SPS, dan SPP. (2) Melaksanakan penyusunan/revisi doktrin terkait sesuai dengan alokasi anggaran dari SSP. (3) Berkoordinasi dengan SPS terkait dua hal, yaitu rencana rapat UN, dan kodifikasi penomoran untuk doktrin yang akan disahkan. Secara administrasi kegiatan koordinasi ini dilaporkan ke masing-masing SPMU supervisor terkait. (4) Penomoran Kodifikasi, mencetak dan mendistribusikan naskah doktrin ke satuan-satuan terkait. Dalam pelaksanaannya berkoordinasi dengan SPMU supervisor, SPS, dan SPP. (5) Melaksanakan sosialisasi materi doktrin yang telah disahkan kepada satuan pengguna dalam jajarannya. (6) Memetakan semua doktrin yang harus dimiliki masing-masing dan melaporkan hasilnya kepada SPMU Supervisor dengan tembusan ke SPS. (7) Melaksanakan pengawasan kegiatan penyusunan doktrin masing-masing mulai tahap penyusunan sampai dengan distribusi dan penerapannya. b. Satuan Pembina Produksi (SPP). 1) Nama SPP. a) SPP untuk naskah doktrin strategis adalah Setumau.
- 12 - b) SPP untuk doktrin operasi, fungsi umum dan khusus, Jukgar, dan Juknis, serta Jukref terkait adalah SPMU atau SPMK terkait dengan disupervisi teknis oleh Setumau. 2) Tugas SPP sebagai berikut: a) Menyelenggarakan produksi/reproduksi naskah doktrin. b) Mendistribusikan naskah doktrin sesuai dengan ketentuan yang berlaku di bidang pengiriman/penyampaian tulisan dinas atas arahan Ka-SPMU/SPMK masing-masing. c) Mengarsipkan naskah doktrin dan membina recording. d) Mengatur, penomoran keputusan, serta teknis dan prosedur pencetakan. c. Satuan Pengguna (SP). SP doktrin terkait operasi udara adalah Kotama TNI AU dan Kogasudgab dengan satuan-satuan di bawahnya yang terlibat. Sedangkan SP doktrin terkait fungsi adalah masing-masing SPMU dan SPMK beserta jajarannya. Adapun tugas SP adalah: 1) Mempelajari dan menggunakan doktrin yang berlaku baginya secara tepat dalam kegiatan yang menjadi tugasnya. 2) Mengevaluasi dan mengajukan bahan masukan kepada SPMU yang bersangkutan baik untuk perbaikan maupun untuk penyusunan doktrin baru. 3) Melaporkan doktrin yang isinya bertentangan dengan doktrin lain, terutama pada strata yang lebih tinggi. 4) Menyusun protap yang diperlukan di satuannya masingmasing. d. Satuan Supervisi dan Pengendali (SSP). SSP dalam penyusunan doktrin adalah Srenaau dengan tugas sebagai berikut: 1) Melaksanakan supervisi dan koordinasi dengan SPS mengenai rencana kebutuhan anggaran penyusunan dan penerbitan naskahnaskah doktrin masing-masing SPMU/SPMK. 2) Mengendalikan anggaran untuk penyusunan dan penerbitan doktrin yang berada di lingkungan TNI AU. 3) Melaksanakan kegiatan penyelia dalam penyusunan doktrin TNI AU. 4) Mengawasi proses kegiatan penyusunan doktrin di lingkungan TNI AU sesuai dengan dukungan anggaran yang diberikan. 5) Mengumpulkan dan mengevaluasi produk yang dihasilkan per tahun anggaran. e. Satuan Penguasa Teknis (SPT). SPT adalah satuan yang menguasai keilmuan, keahlian, atau keterampilan teknis materi tertentu dengan tugas-tugas sebagasi berikut:
- 13 - 1) Memberikan masukan materi dalam setiap proses revisi/penyusunan dan penerbitan doktrin-doktrin sesuai dengan kekuasaan/domainnya. 2) Melaksanakan kegiatan atau menerima tugas dari satuan lain untuk melaksanakan, menyupervisi, atau menilai suatu kegiatan yang memerlukan keahlian dari SPT terkait. 3) Melaksanakan pengawasan kepada semua satuan terkait materi yang menjadi kekuasaan/domainnya. 12. Penerbit. a. Kodiklatau. Sebagai SPS dan juga SPMK, Kodiklatau bertanggung jawab untuk menyusun dan menerbitkan: 1) Doktrin fungsi khusus bidang pembinaan: a) Pembinaan Doktrin. b) Pendidikan. c) Latihan. 2) Petunjuk penyelenggaraan dan petunjuk teknis kegiatankegiatan yang menjadi tugas utama/domainnya. 3) Petunjuk-petunjuk referensi terkait yang diperlukan pada setiap strata. 4) Protap yang diperlukan dengan berpedoman pada Jukgar/ Juknis yang diterbitkan Satuan Penguasa Teknis (SPT/SPM) terkait. b. Staf Fungsi Umum Mabesau. Sebagai SPMU, satuan-satuan pembina materi ini menyusun dan menerbitkan Doktrin Fungsi Umum masing-masing, jukgar, dan juknis kegiatan utama masing-masing fungsinya, jukref terkait, dan protap-protap yang diperlukan, serta sebagai supervisor penyusunan dan penerbitan doktrin yang dilaksanakan oleh Balakpus supervisee. Khusus untuk Sopsau menyusun dan menerbitkan doktrin opsud dalam rangka melaksanakan tugas TNI matra udara baik dalam rangkaian OMP maupun OMSP, jukgar dan juknis semua kegiatan opsud, jukref terkait opsud, serta protap yang diperlukan. c. Itjenau, Sahli Kasau, Puslaiklambangjaau, Puspomau, dan Diskumau. Sebagai SPMK, satuan pembina materi ini menyusun dan menerbitkan doktrin fungsi khusus, jukgar, dan juknis kegiatan utama fungsional bidang masing-masing, serta jukref dan protap yang diperlukan. d. Kotama/Koopsau. Kotama/Koopsau membantu Sopsau dalam menyusun dan menerbitkan doktrin terkait opsud. 13. Pengesahan. Suatu naskah doktrin pada dasarnya terdiri dari dua bagian yaitu naskah keputusan Panglima TNI/Kasau, dan naskah materi sebagai lampirannya. Dengan demikian, untuk pengesahannya ada dua bagian. Kewenangan pengesahan naskah doktrin diatur dengan ketentuan sebagai berikut:
- 14 - a. Doktrin TNI Angkatan Udara SBP. 1) Naskah Keputusan Panglima untuk Doktrin TNI Angkatan Udara SBP ditandatangani oleh Panglima TNI. 2) Naskah materi Doktrin TNI Angkatan Udara SBP ditandatangani oleh Kasau. b. Doktrin Operasi Udara. 1) Naskah keputusan ditandatangani oleh Dankodiklatau a.n. Kasau. 2) Naskah materi ditandatangani oleh Asisten Operasi Kasau a.n. Kasau. c. Doktrin Fungsi Umum. 1) Naskah keputusan ditandatangani oleh Dankodiklatau a.n. Kasau. 2) Naskah materi ditandatangani oleh Asisten Kasau (sesuai fungsi) a.n. Kasau. d. Doktrin Fungsi Khusus. 1) Naskah keputusan ditandatangani oleh Dankodiklatau a.n. Kasau. 2) Naskah materi ditandatangani oleh Ka-SPMK a.n. Kasau. e. Jukgar SPM/SPMK. 1) Naskah keputusan ditandatangani oleh Dankodiklatau a.n. Kasau. 2) Naskah materi ditandatangani oleh Ka-SPM/SPMK masingmasing a.n. Kasau. f. Juknis. 1) Naskah keputusan ditandatangani oleh Dankodiklatau a.n. Kasau. 2) Naskah materi ditandatangani oleh Ka-SPM/SPMK terkait a.n. Kasau. g. Jukref. 1) Naskah keputusan ditandatangani oleh Dankodiklatau a.n. Kasau. 2) Naskah materi ditandatangani oleh Ka-SPM/SPMK terkait a.n. Kasau. h. Protap. Mengingat isi protap secara umum merupakan pengulangan dari juknis dan menitikberatkan pada penyesuaian dengan situasi dan kondisi di setiap satuan maka pengesahan diatur sebagai berikut:
- 15 - 1) Naskah diperkuat dengan keputusan Ka-SPM penyelia sesuai dengan materi dan ditandatangani sendiri oleh Ka-SPM. 2) Naskah materi ditandatangani oleh Ka-SPM/SPMK/SP terkait. 14. Autentikasi. a. Autentikasi merupakan suatu pernyataan bahwa sebelum digandakan dan didistribusikan dengan sah, suatu keputusan telah dicatat dan diteliti sehingga dapat diumumkan oleh pejabat yang bertanggung jawab bidang administrasi umum di lingkungan TNI AU. b. Keputusan yang sudah ditandatangani di autentikasi oleh pejabat yang bertanggung jawab bidang administrasi umum di lingkungan TNI AU (Kasetumau). 15. Masa Berlaku. Semua doktrin mulai berlaku setelah disahkan dan selanjutnya dapat dioperasionalkan sampai dengan ada perubahan atau secara resmi dinyatakan tidak berlaku melalui Keppang/Kasau. 16. Status Sementara. Suatu naskah doktrin dapat berstatus sementara dengan ketentuan sebagai berikut: a. Diterbitkan karena benar-benar dibutuhkan sebagai acuan dalam pelaksanaan suatu kegiatan, namun secara resmi belum disusun berdasarkan prosedur yang telah ditentukan dalam Jukgar Sunbitdok ini. b. Walaupun berstatus sementara, namun sudah cukup sebagai acuan resmi dengan catatan tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku. c. Semua naskah yang bersifat sementara ini dilaporkan ke SPM/SPMK terkait dengan tembusan ke SSP, SPS, Itjenau, dan Setumau serta dikirimkan ke SP dan satuan terkait lainnya untuk digunakan sebagaimana mestinya. d. Berlaku selama belum disahkan oleh pejabat berwenang seperti telah diatur dalam petunjuk penyelenggaraan ini. e. Perubahan terhadap naskah yang berstatus sementara dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan perubahan dalam petunjuk penyelenggaraan ini. f. Ka-SPM/SPMK harus segera mengajukan rencana penyusunan/revisi dan pengesahan naskah-naskah yang berstatus sementara melalui prosedur yang berlaku. g. Ka-SSP bertanggung jawab memprioritaskan anggaran untuk peningkatan status sementara menjadi naskah tetap. 17. Perubahan. Perubahan terhadap suatu doktrin dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pertimbangan. Perubahan dilakukan dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut: 1) Adanya perkembangan situasi atau lingkungan strategis yang menuntut perubahan.
- 16 - 2) Adanya masukan/saran atau umpan balik sebagai hasil kajian atau hasil evaluasi resmi dalam suatu kegiatan tersebut. 3) Adanya kebijakan Pimpinan TNI AU. b. Macam Perubahan. Mengacu dari isi, esensi, dan banyaknya bahan perubahan yang termuat dalam saran masukan, umpan balik, atau kebijakan, maka macam perubahan diatur sebagai berikut: 1) Ralat. Perubahan berupa ralat dilakukan bila terjadi kesalahan ringan terkait tata tulis seperti kesalahan ketik, perubahan makna kata dalam tata bahasa umum, dalam rangka konsistensi penulisan, atau ada perubahan dokumen yang menjadi dasar. Secara umum, ralat tidak mengubah esensi materi dari doktrin dimaksud. Ralat dapat dilakukan setiap saat dengan pengesahan oleh Ka-SPS/SPM/SPMK penandatangan doktrin yang diralat. 2) Amendemen. Perubahan berupa amendemen dilakukan bila ada perubahan yang bersifat esensi terhadap sebagian isi suatu doktrin namun tidak lebih dari 50% isi keseluruhan. amendemen dapat dilaksanakan setiap saat dengan pengesahan oleh Ka-SPS/SPM/SPMK penanda tangan doktrin yang diamendemen. 3) Revisi. Perubahan berupa revisi dilakukan dengan ketentuan: a) Bila sudah berlaku lebih dari dua tahun dan terdapat beberapa ralat dan amendemen. b) Bila ada perubahan yang bersifat esensi terhadap sebagian besar atau lebih dari 50% isi keseluruhan suatu doktrin. c) Revisi diselenggarakan oleh SPS/SPM/SPMK terkait sesuai dengan Jukgar Sunbitdok dan diawali dengan perencanaan yang diajukan sesuai prosedur dengan menggunakan anggaran yang telah dialokasikan. 18. Ketentuan Administrasi. a. Doktrin. 1) Strata Doktrin. a) Strata Strategi. Pada strata ini terdapat Doktrin TNI AU Swa Bhuwana Paksa. b) Strata Operasional. Pada Strata Operasional terdapat dua level terdiri dari Level Operasional-1, dan Operasional-2. Pada Level Operasional Satu, sebagai turunan langsung dari Doktrin TNI AU Swa Bhuwana Paksa terdapat Doktrin Opsud, Doktrin Fungsi, dan Jukref. Sedangkan pada Level Operasional 2, sebagai turunan dari Doktrin Opsud dan Doktrin Fungsi, terdapat Jukgar dan Jukref.
- 17 - c) Strata Taktis. Pada strata taktis, sebagai turunan dari jukgar terdapat juknis dan jukref. Dalam pelaksanaannya, juknis suatu kegiatan baik fungsi maupun operasi akan dikonversikan menjadi protap di setiap satuan yang menjalankan kegiatan yang sama, atau bila kondisi dan situasinya berbeda. 2) Pembidangan Doktrin. a) Doktrin Operasi Udara. (1) DOU dalam rangka melaksanakan tugas TNI matra udara dalam OMP. Doktrin dalam pola Operasi Udara Perang (DOUP) adalah doktrin yang akan dijadikan pedoman untuk melaksanakan berbagai operasi udara untuk perang yang terdiri dari kampanye militer, operasi udara menghadapi agresi, dan operasi udara menghadapi konflik bersenjata. (2) DOU dalam rangka melaksanakan tugas TNI matra udara dalam OMSP. Doktrin dalam pola Operasi Udara untuk Selain Perang (DOUSP) berisi pedoman untuk melaksanakan operasi tempur dan nontempur baik operasi gabungan bersama, gabungan terpadu maupun operasi gabungan bersama terpadu dengan kementerian/nonkementerian/lembaga. b) Doktrin Fungsi. Doktrin Fungsi adalah doktrin yang akan dijadikan pedoman untuk melaksanakan pembinaan fungsi dalam rangka pembinaan kekuatan TNI AU. Doktrin fungsi dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Doktrin Fungsi Umum (DFU). DFU tersebut meliputi doktrin-doktrin: (a) Perencanaan dan Anggaran. (b) Intelijen. (c) Operasi. (d) Personel. (e) Logistik. (f) Potdirga. (g) Komunikasi dan Elektronika. (2) Doktrin Fungsi Khusus (DFK). DFK ini diperlukan oleh Satuan Pembina Materi: Itjenau, Koorsahli Kasau, Kodiklatau, Balakpus TNI AU, dan unsur pelayanan. (a) DFK yang diperlukan oleh Itjenau, Koorsahli Kasau, Kodiklatau, dan Balakpus TNI AU:
- 18 - i. Pengawasan. ii. Keahlian. iii. Pembinaan Doktrin. iv. Pembinaan Pendidikan. v. Pembinaan Latihan. vi. Hukum. vii. Kepolisian Militer. viii. Pusat Kelaikan Keselamatan Penerbangan dan Kerja. ix. Doktrin Fungsi Khusus lainnya sesuai dengan kebutuhan. (b) DFK yang diperlukan oleh unsur pelayanan: i. Kemarkasan. ii. Kesekretariatan. iii. Komunikasi dan Elektronika. iv. Pusat Pengendalian Operasi Udara. 3) Pengodean Doktrin. Pengodean Doktrin TNI AU pada semua strata menggunakan Kode “D” yang artinya “Doktrin”. Pemberian kode buku ditulis sudut kanan atas sampul naskah doktrin. 4) Penomoran Doktrin. Penomoran doktrin di lingkungan TNI AU diatur oleh SPS/Kodiklatau sebagai berikut: a) Penomoran doktrin diletakkan di sudut kanan atas sampul luar diurutkan sesuai dengan stratanya. Contoh: DFU: 0.011. Digit 2 s.d.4 Doktrin Strata Operasional. Digit 1 Doktrin Strategis. Doktrin TNI AU. b) Penomoran doktrin pada strata strategis untuk Doktrin TNI AU SBP menggunakan satu digit angka yaitu “01”. c) Penomoran doktrin pada strata operasional dengan ketentuan:
- 19 - (1) Doktrin Fungsi Umum. Penomoran untuk doktrin fungsi umum menggunakan dua digit yaitu: (a) “01” = Doktrin Fungsi Umum Intelijen. (b) “02” = Doktrin Fungsi Umum Perencanaan dan Anggaran. (c) “03” = Doktrin Fungsi Umum Operasi. (d) “04” = Doktrin Fungsi Umum Personalia. (e) “05” = Doktrin Fungsi Umum Logistik. (f) “06” = Doktrin Fungsi Umum Potdirga. (g) “07” = Doktrin Fungsi Umum Komunikasi dan Elektronika. (2) Doktrin Fungsi Khusus. Penomoran untuk doktrin fungsi khusus menggunakan dua digit yaitu: (a) “08” = Doktrin Fungsi Khusus Pengawasan. (b) “09” = Doktrin Fungsi Khusus Keahlian. (c) “10” = Doktrin Fungsi Khusus Pembinaan Doktrin. (d) “11” = Doktrin Fungsi Khusus Pembinaan Pendidikan. (e) “12” = Doktrin Fungsi Khusus Pembinaan Latihan. (f) “13” = Doktrin Fungsi Khusus Kelaikan, Keselamatan Terbang dan Kerja. (g) “14” = Doktrin Fungsi Khusus Pembinaan Hukum. (h) “15” = Doktrin Fungsi Khusus Kepolisian Militer. (i) “16” = Doktrin Fungsi Khusus Pelayanan Kemarkasan. (j) “17” = Doktrin Fungsi Khusus Pelayanan Kesekretariatan. (k) “18” = Doktrin Fungsi Khusus Pelayanan Komunikasi dan Elektronika. (l) “19” = Doktrin Fungsi Khusus Pelayanan Pusat Komando Pengendalian Operasi Udara. (m) “20” dan seterusnya = (Doktrin-doktrin lain sesuai kebutuhan).
- 20 - (3) Doktrin Operasi Udara (DOU). Penomoran untuk DOU menggunakan tiga digit angka yaitu: (a) “021” = DOU dalam rangka OMP (DOUP). (b) “022” = DOU dalam rangka OMSP (DOUSP). 5) Isi Doktrin. Setiap doktrin terdiri dari dua naskah, yaitu keputusan sebagai naskah utamanya, dan naskah materi sebagai lampirannya. Format dan isi naskah keputusan dapat dilihat di masing-masing format doktrinnya. Naskah materi memiliki lampiran-lampiran sebasgai kelengkapan dari doktrin secara keseluruhan. Isi masing-masing doktrin diatur sebagai berikut: a) Doktrin TNI AU Swa Bhuwana Paksa. Doktrin ini merupakan doktrin tertinggi yang berlaku di lingkungan TNI AU, dengan format umum sebagai berikut: (1) PENDAHULUAN. Pada bab ini berisikan Umum, Maksud dan Tujuan, Ruang Lingkup dan Tata Urut, Dasar, Landasan, Referensi dan Kedudukan Doktrin TNI AU Swa Bhuwana Paksa, serta Pengertian. (2) HAKIKAT TNI AU. Pada bab ini berisikan Umum, Sejarah TNI AU, Jati diri TNI AU, Karakter Prajurit TNI AU dan Peran, Fungsi dan Tugas Angkatan Udara serta Organisasi TNI AU. (3) ANCAMAN DAN GANGGUAN. Pada bab ini berisikan Umum, Ancaman, Gangguan, dan Faktor berpengaruh serta Eskalasi ancaman dan gangguan. (4) KEBIJAKAN DAN STRATEGI. Pada bab ini berisikan Umum, Penggunaan, dan Pembinaan. (5) KETENTUAN-KETENTUAN. Pada bab ini berisikan Umum, Penggunaan, Pembinaan, dan Ketentuan lainnya. (6) DOKTRIN TURUNAN. Pada bab ini berisikan Umum, Stratifikasi Doktrin dan Doktrin Turunan. (7) PENUTUP. Pada bab ini berisikan Pengamalan dan Penyempurnaan. b) Doktrin Operasi Udara (OMP dan OMSP). Doktrin ini berada pada strata operasional dan merupakan doktrin turunan dari Doktrin TNI AU Swa Bhuwana Paksa, dengan format umum sebagai berikut: (1) PENDAHULUAN. Pada bab ini berisikan Umum, Maksud dan Tujuan, Ruang Lingkup dan Tata Urut, Dasar dan Pengertian serta Kedudukan.
- 21 - (2) KETENTUAN-KETENTUAN. Pada bab ini berisikan Umum, Definisi, Tujuan, Sifat, Peran, Fungsi, Asas, Bentuk dan Jenis, Organisasi Komando Operasi Udara untuk Perang (OMP) dan Proses pengambilan Keputusan serta Wilayah Operasi Udara untuk Perang. (Disesuaikan dengan kebutuhan SPM/SPMK) (3) OPERASI UDARA UNTUK PERANG. Pada bab ini berisikan Umum, Kampanye Udara, Operasi Menghadapi Agresi, dan Operasi Menghadapi Konflik Bersenjata. (4) TUGAS, TANGGUNG JAWAB, DAN TATARAN KEWENANGAN. Pada bab ini berisikan Umum, Peran, Fungsi dan Tugas serta Tanggung Jawab, dan Tataran Kewenangan. (5) KOMANDO DAN KENDALI. Pada bab ini berisikan Umum, Komando, dan Kendali. (6) PENUTUP. Pada bab ini berisikan Petunjuk Turunan, Keberhasilan, dan Penyempurnaan. c) Doktrin Fungsi (Fungsi Umum dan Fungsi Khusus). Doktrin ini berada pada strata operasional dan merupakan doktrin turunan dari Doktrin TNI AU Swa Bhuwana Paksa, dengan format umum sebagai berikut: (1) PENDAHULUAN. Pada bab ini berisikan Umum, Maksud dan Tujuan, Ruang Lingkup dan Tata Urut, Dasar, dan Pengertian serta Kedudukan. (2) KETENTUAN-KETENTUAN. Pada bab ini berisikan Umum, Prinsip, Metode, Peran, Pokok-Pokok Organisasi dan Fungsi, serta Ketentuan lain. (Disesuaikan dengan kebutuhan SPM/SPMK). (3) KEBIJAKAN, STRATEGI DAN OPERASIONAL. Pada bab ini menjelaskan tentang Kebijakan, Strategi, dan Operasional. (4) TUGAS, TANGGUNG JAWAB, DAN TATARAN KEWENANGAN. Pada bab ini berisikan Umum, Tugas dan Tanggung Jawab, serta Tataran Kewenangan. (5) PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN. Pada bab ini menjelaskan Umum, Pengawasan, dan Pengendalian. (6) PENUTUP. Pada bab ini berisikan Petunjuk Turunan, Keberhasilan, dan Penyempurnaan. d) Ketentuan Lain. Ketentuan pembidangan, pengodean, dan penomoran doktrin di lingkungan Angkatan Udara mengacu ketentuan yang ada di lingkungan Mabes TNI.
- 22 - b. Petunjuk. 1) Macam Petunjuk. Di dalam Stratifikasi Doktrin TNI AU, macam-macam petunjuk dibedakan berdasarkan sifat dan bentuknya, sebagai berikut: a) Berdasarkan Sifat. Berdasarkan sifatnya, petunjuk dibedakan menjadi dua yaitu: (1) Petunjuk Bersifat Aplikatif. Petunjuk yang termasuk dalam petunjuk bersifat aplikatif adalah jukgar dan juknis. Petunjuk ini mempunyai karakteristik antara lain: (a) Memuat penahapan penyelenggaraan suatu kegiatan baik Opsud maupun fungsi mulai perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan pengakhiran. (b) Disajikan mengikuti rumus “Si-A-Di-Bi-Ba”. (c) Bersifat hierarkis dan saling terkait dengan petunjuk yang berkedudukan di atas maupun di bawahnya. (d) Judulnya menggunakan kata-kata jukgar dan juknis. Contoh judul petunjuk yang bersifat aplikatif antara lain, yaitu: i. Petunjuk Penyelenggaraan Operasi Udara Serangan Strategis. ii. Petunjuk Penyelenggaraan Perawatan Personel di Lingkungan TNI AU. ii. Petunjuk Teknis Pengisian Bahan Bakar di Lingkungan TNI AU. iv. Petunjuk Teknis Tata Cara Uji Naskah Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara. (2) Petunjuk bersifat Referensi. Petunjuk ini mempunyai karakteristik antara lain: (a) Memuat informasi dan atau ketentuan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan/ pelaksanaan suatu kegiatan baik Opsud maupun Fungsi. (b) Disajikan dengan format fleksibel tidak selalu mengikuti rumus “Si-A-Di-Bi-Ba.” (c) Menjadi referensi atau tuntunan bagi salah satu atau beberapa petunjuk yang bersifat aplikatif pada setiap strata.
- 23 - (d) Judulnya menggunakan kata-kata umum sesuai kaidah bahasa Indonesia dan dapat juga menggunakan kata "Petunjuk Referensif" di depannya. Contoh judul petunjuk yang bersifat referensif antara lain, yaitu: i. Petunjuk Referensif Tingkat I Stratifikasi Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara. ii. Petunjuk Administrasi Umum. iii. Tulisan Dinas di lingkungan TNI AU. b) Berdasarkan Bentuk. Berdasarkan bentuknya, petunjuk-petunjuk di lingkungan TNI AU terdiri dari: (1) Petunjuk Penyelenggaraan (Jukgar). (2) Petunjuk Teknis (Juknis). (3) Petunjuk Referensi (Jukref). 2) Pembidangan petunjuk pembagian bidang/fungsi di bawah ini adalah sebagai dasar penentuan satuan mana saja yang perlu menyusun petunjuk fungsi baik fungsi umum maupun khusus. a) Bidang Opsud. Petunjuk dalam konteks penggunaan kekuatan dibagi berdasarkan dua jenis operasi udara, yaitu: (1) Opsud dalam rangka OMP. (2) Opsud dalam rangka OMSP. b) Bidang Fungsi. Sesuai dengan organisasi TNI AU, petunjuk yang bersifat pembinaan dibagi berdasarkan fungsifungsi: (1) Pengawasan. (2) Keahlian. (3) Perencanaan dan Anggaran. (4) Intelijen. (5) Operasi. (6) Personel. (7) Logistik. (8) Potdirga. (9) Komlek. (10) Laiklambangja.
- 24 - (11) Doktrin. (12) Pendidikan. (13) Latihan. (14) Hukum. (15) Kepolisian Militer. (16) Detasemen Markas. (17) Kesekretariatan. (18) Satuan Komunikasi dan Elektronika. (19) Pusat Komando Pengendalian Udara. 3) Pengodean dan Penomoran. Penomoran dan kodifikasi petunjuk diatur oleh SPN/SPMK dalam hal ini Kodiklatau, dengan ketentuan sistem penomoran sebagai berikut: a) Nomor Registrasi. Nomor registrasi dibuat untuk memudahkan kegiatan registrasi/penerbitan doktrin dan petunjuk, terdiri dari gabungan angka dan huruf sebagai berikut: (1) Gabungan beberapa huruf pertama menunjukkan macam doktrin dan petunjuk: (a) DU = Doktrin TNI AU Swa Bhuwana Paksa. (b) DOU-1 (DOUP) = Doktrin Operasi Udara dalam rangka Perang. (c) DOU-2 (DOUSP)= Doktrin Operasi Udara dalam rangka Selain Perang. (d) DFU = Doktrin Fungsi Umum. (e) DFK = Doktrin Fungsi Khusus. (f) PG = Petunjuk Penyelenggaraan. (g) PN = Petunjuk Teknis. (h) PR = Petunjuk Referensi. (2) Huruf berikutnya menunjukkan kode satuan pembina petunjuk. (3) Gabungan 2 angka terakhir menunjukkan nomor urut penerbitan petunjuk yang bersangkutan. Contoh: “Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia.”
- 25 - Nomor registrasi: PG : KDL – 01 Penjelasan: PG = Macam Petunjuk. (:) = Tanda Pemisah. KDL = Satuan Pembina (Kodiklatau). (-) = Tanda Penghubung. 01 = Nomor urut (Jukgar terbit pertama kali dari suatu proses penyusunan baru). DAFTAR KODE DOKTRIN DI LINGKUNGAN TNI AU FUNGSI/BID/SUBBIDANG PENANGGUNG JAWAB KODE SATUAN STATUS 1 2 3 4 5 1. Pengawasan Irjenau SPM WAS 2. Keahlian Sahli Kasau SPM SAK 3. Perencanaan & Anggaran Srenaau SPM REN 4. Intelijen Sintelau SPM INT 5. Operasi Sopsau SPM OPS 6. Personel Spersau SPM PRS 7. Logistik Slogau SPM LOG 8. Potdirga Spotdirga SPM TER 9. Komunikasi dan Elektronika Skomlekau SPM KOM 10. Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Kodiklatau SPM/SPMK KDL 11. Pemeliharaan dan Produksi Materiel Koharmatau SPMK HAR 12. Laiklambangjaau Puslaiklambangjaau SPMK LAM 13. Pembinaan Polisi Militer Puspomau SPMK POM 14. Teknologi dan Informasi Disinfolahtaau SPMK TIK 15. Keuangan Diskuau SPMK KEU 16. Litbang Dislitbangau SPMK LIT 17. Pengamanan dan Sandi Dispamsanau SPMK PAM 18. Surpotrudau Dissurpotrudau SPMK SUR 19. Pengembangan Operasi Disbangopsau SPMK BOP 20. Operasi Latihan Disopslatau SPMK LAT 21. Pendidikan Disdikau SPMK DIK 22. Pembinaan Kesehatan Diskesau SPMK KES 23. Administrasi Personel Disminpersau SPMK ADM 24. Perawatan Personel Diswatpersau SPMK JAH 25. Psikologi Dispsiau SPMK PSI 26. Pembinaan Mental Ideologi Disbintalidau SPMK TAL 27. Kesehatan Penerbangan Lakespra Saryanto SPMK PRA 28. Pelayanan Kesehatan RSPAU Harjdolukito SPMK RSH 29. Kesehatan Gigi dan Mulut Lakesgilutau SPMK LUT 30. Pembinaan Pengadaan Disadaau SPMK ADA 31. Aeronautika Disaeroau SPMK AER 32. Faskon Diskonsau SPMK FAS 33. Barang Tidak Bergerak Disbtbau SPMK BTB 34. Pembinaan Komlek Diskomlekau SPMK LEK
- 26 - (4) Huruf kecil sesuai dengan urutan abjad di belakang nomor urut penerbitan menunjukkan bahwa buku tersebut telah direvisi. Contoh: “Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI AU,” yang telah direvisi. Nomor registrasi: PG : KDL – 01.a Penjelasan: a = Revisi pertama petunjuk serupa. 4) Isi Petunjuk. Secara umum tiap petunjuk berisi kebijakan pimpinan sesuai dengan stratanya di mana petunjuk-petunjuk yang perlu dibuat harus disebutkan pada doktrin pada strata di atasnya. Setiap petunjuk terdiri dari dua naskah, yaitu keputusan sebagai naskah utamanya dan naskah materi sebagai lampirannya. Format dan isi naskah keputusan dapat dilihat di masing-masing format petunjuknya. Naskah materi memiliki lampiran-lampiran sebagai kelengkapan dari petunjuk secara keseluruhan. Isi masing-masing petunjuk diatur sebagai berikut: a) Petunjuk Penyelenggaraan (Jukgar). Petunjuk ini merupakan petunjuk turunan dari doktrin di atasnya yang berisi tahapan penyelenggaraan suatu kegiatan opsud/fungsi, dengan format umum sebagai berikut: (1) PENDAHULUAN. Pada bab ini berisikan Umum, Maksud dan Tujuan, Ruang Lingkup dan Tata Urut, Dasar dan Pengertian serta Kedudukan. (2) KETENTUAN-KETENTUAN. Bab ini memuat nilainilai relevan diambil dari Doktrin atau Jukref terkait serta berisi ketentuan-ketentuan umum sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan opsmil/fungsi. (3) ORGANISASI, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB. Bab ini memuat organisasi penyelenggaraan beserta uraian tataran kewenansgan, tugas dan tanggung jawab masing-masing pejabat/satuan yang terlibat pada seluruh tahapan kegiatan. Pada penyelenggaraan kegiatan dengan organisasi yang berbeda di tiap tahapan kegiatan, organisasi dimuat pada bab tahapan penyelenggaraan. 1 2 3 4 5 35. Pembinaan Materiel Dismatau SPMK MAT 36. Pembekalan Materiel Pusbekmatpusau SPMK BEK 37. Potensi Kedirgantaraan Puspotdirga SPMK POT 38. Penerangan Dispenau SPMK PEN 39. Hukum Diskumau SPMK KUM 40. Komando dan Pengendalian Puskodalau SPMK DAL 41. Administrasi Umum Setumau SPMK SET 42. Kemarkasan Denmabesau SPMK DEN
- 27 - (4) TAHAPAN PENYELENGGARAAN. Pada bab tahapan penyelenggaraan dipertelakan rangkaian kegiatan dengan berpedoman pada rumusan Siapa, Apa, Dimana, Bilamana, Bagaimana (Si-A-Di-Bi-Ba). Pada penyelenggaraan kegiatan dengan organisasi yang berbeda di tiap tahapan maka organisasi dimasukkan pada bagian ini dengan menyebutkan tataran kewenangan, tugas, dan tanggung jawab masing-masing pejabat/satuan yang terlibat. Tahapan penyelenggaraan meliputi tahap Perencanaan, Persiapan, Pelaksanaan, dan Pengakhiran. (5) DUKUNGAN. Bab ini memuat dukungan apa saja yang diperlukan untuk kelancaran jalannya suatu penyelenggaraan kegiatan opsmil/fungsi yang dijelaskan dalam petunjuk ini. Dukungan dimaksud antara lain anggaran, administrasi umum, personel, logistik, komunikasi, dan dukungan lain yang diperlukan. (6) KOMANDO DAN KENDALI (Jukgar Opsud) atau pengawasan dan pengendalian (Jukgar Fungsi). Di dalam bab ini dijelaskan rentang komando dan kendali kegiatan Opsud yang akan dilaksanakan. Pada konteks Jukgar Fungsi dijelaskan tentang pengawasan dan pengendalian kegiatan fungsi untuk kelancaran penyelenggaraannya. (7) PENUTUP. Selain kata-kata penutup, perlu ditulis juga hal-hal terkait kelancaran pelaksanaannya di lapangan, petunjuk turunan, serta umpan balik untuk kesempurnaan naskahnya. b) Petunjuk Teknis (Juknis). Naskah materi petunjuk ini berisi pertelaan rinci urut-urutan kegiatan (Si-A-Di-Bi-Ba) yang dimuat dalam Jukgarnya, baik opsmil maupun fungsi, dengan format umum sebagai berikut: (1) PENDAHULUAN. Pada bab ini berisikan Umum, Maksud dan Tujuan, Ruang Lingkup dan Tata Urut, Dasar, Pengertian, Kedudukan, Tujuan dan Sasaran serta Ketentuan lainnya sesuai dengan kebutuhan SPM/SPMK. (2) URUTAN KEGIATAN. Pada bagian ini dimuat uraian Si-A-Di-Bi-Ba setiap rangkaian kegiatan dari setiap tahapan mulai dari tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran yang tertuang dalam Jukgarnya beserta dukungan pada setiap tahapan sesuai keperluan. (3) KOMANDO DAN KENDALI. (Juknis Opsmil) atau pengawasan dan pengendalian (Juknis Fungsi). Di dalam Bab ini dijelaskan teknis komando dan kendali kegiatan Opsud yang akan dilaksanakan. Pada konteks kegiatan Fungsi dijelaskan tentang teknis pengawasan dan pengendalian kegiatan fungsi untuk kelancaran penyelenggaraannya.
- 28 - (4) PENUTUP. Selain kata-kata penutup, perlu ditulis juga hal-hal terkait umpan balik untuk kesempurnaan naskah dan kelancaran dan optimalnya pelaksanaannya di lapangan. Bila kegiatan ini dilaksanakan oleh lebih dari satu satuan pengguna, maka masing-masing satuan tersebut membuat prosedur tetap (protap) tentang kegiatan yang sama dengan menyesuaikan kondisi dan situasi serta fasilitas masing-masing satuan. Jukgar/juknis ini menjadi acuan utama dalam penyusunan protap kegiatan yang sama di setiap satuan pengguna. c) Petunjuk Referensi (Jukref). Petunjuk referensi adalah sebutan umum untuk petunjuk yang secara format dan isinya berbeda dengan Jukgar dan Juknis di atas. Secara umum, naskah materi Jukref berisi ketentuan-ketentuan yang diperlukan sebagai pedoman dalam penyusunan suatu naskah (baik doktrin, petunjuk aplikatif, maupun petunjuk referensif lainnya) atau pelaksanaan kegiatan lain yang tidak diatur oleh suatu petunjuk aplikatif. Secara umum isi Jukref sebagai berikut: (1) PENDAHULUAN. Pada bab ini berisikan Umum, Maksud dan Tujuan, Ruang Lingkup dan Tata Urut, Dasar dan Pengertian, serta Kedudukan. (2) KETENTUAN-KETENTUAN. Bab ini berisikan nilainilai doktrin terkait dan ketentuan-ketentuan umum dalam penyusunan baik suatu naskah jukref itu sendiri maupun terkait dengan esensi materinya. (3) POKOK-POKOK MATERI. Bab ini berisi ketentuanketentuan terkait esensi materi atau perihal yang menjadi bahasan utama dari suatu jukref. (4) PENUTUP. Selain kata-kata penutup, perlu ditulis juga hal-hal terkait umpan balik untuk kesempurnaan naskah dan kelancaran pelaksanaannya di lapangan. BAB III ORGANISASI, TUGAS, DAN TANGGUNG JAWAB 19. Umum. Untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam kegiatan penyusunan dan penerbitan doktrin diperlukan antara lain adanya penyelenggaraan dengan organisasi, tugas, dan tanggung jawab masing-masing jabatan di dalamnya. Penentuan pengawakan organisasi, tugas, dan tanggung jawab tersebut disesuaikan dengan jenis dan isi materi doktrin serta stratanya. 20. Struktur Organisasi. Struktur Organisasi penyelenggara penyusunan, pengujian, dan penerbitan doktrin dikelompokkan sesuai dengan tahapan penyusunan, pengujian, dan penerbitan dengan ketentuan sebagai beriskut:
- 29 - PENASIHAT P E N A S E H A T l j ’ h g b z KETUA/ WAKIL KETUA ANGGOTA PENDUKUNG SEKRETARIS NARASUMBER PENANGGUNG JAWAB PENANGGUNG JAWAB P E N A S E H A T l j ’ h g b z PENANGGAP PENYAJI/POKJA PIMPINAN a. Struktur Organisasi Penyusun Doktrin. b. Struktur Organisasi Penguji Doktrin. c. Struktur Organisasi Penerbit Doktrin. Struktur Organisasi Penerbit Doktrin berdasarkan kepada SPM/SPMK terkait. 21. Susunan Organisasi. a. Susunan Organisasi Penyusun Doktrin. Susunan organisasi penyusun naskah doktrin berdasarkan pada surat perintah komando atas sesuai fungsi dan stratifikasinya melalui pembentukan kelompok kerja (pokja) sebagai berikut: 1) Strata Strategis. Kelompok kerja penyusun naskah Doktrin TNI AU terdiri atas: a) Penasihat : Kasau. b) Penanggung Jawab : Dankodiklatau. c) Narasumber : Sesuai dengan kebutuhan.
- 30 - d) Ketua : Dirdok Kodiklatau/Pati yang ditunjuk. e) Wakil Ketua : Pati yang ditunjuk sesuai dengan fungsi. f) Sekretaris : Pamen TNI AU yang ditunjuk. g) Anggota : Pati/Pamen TNI yang ditunjuk. h) Pendukung : Personel yang ditunjuk. 2) Strata Operasional. Kelompok kerja penyusun doktrin strata operasional terdiri atas: a) Doktrin (1) Penasihat : Wakasau. (2) Penanggung Jawab : Asisten Kasau/Dan/Ka/Dir (sesuai fungsi). (3) Narasumber : Sesuai dengan kebutuhan. (4) Ketua : Pati TNI Angkatan Udara sesuai fungsi. (5) Wakil Ketua : Pamen TNI Angkatan Udara yang ditunjuk. (6) Sekretaris : Pamen yang ditunjuk. (7) Anggota : Pamen TNI AU. (8) Pendukung : Personel yang ditunjuk. b) Petunjuk Penyelenggaraan. Kelompok kerja penyusun naskah Jukgar terdiri dari: (1) Penasihat : Ka-SPM/SPMK terkait. (2) Penanggung Jawab : Ka-SPM/SPMK terkait. (3) Narasumber : Sesuai dengan kebutuhan. (4) Ketua : Kolonel dari Staf/Kotama. (5) Wakil Ketua : Kolonel dari Staf/Kotama. (6) Sekretaris : Pamen. (7) Anggota : Pamen/Pama. (8) Pendukung : Personel SPM, SPMK, sesuai dengan kebutuhan.
- 31 - 3) Strata Taktis. Kelompok kerja penyusun doktrin strata taktis terdiri atas: a) Penasihat : Ka-SPM/SPMK terkait. b) Penanggung Jawab : Ka-SPM/SPMK terkait. c) Narasumber : Sesuai dengan kebutuhan. d) Ketua : Kolonel dari Staf/ Kotama. e) Wakil Ketua : Kolonel dari Staf/ Kotama. f) Sekretaris : Pamen. g) Anggota : Pamen. h) Pendukung : Personel SPM/SPMK Sesuai dengan kebutuhan. 4) Petunjuk Referensi. Kelompok kerja penyusun naskah Jukref terdiri dari: a) Penasihat : Ka-SPM/SPMK terkait. b) Penanggung Jawab : Ka-SPM/SPMK terkait. c) Narasumber : Sesuai kebutuhan. d) Ketua : Kolonel dari Staf/Kotama. e) Wakil Ketua : Kolonel dari Staf/Kotama. f) Sekretaris : Pamen. g) Anggota : Pamen. h) Pendukung : Personel SPM/SPMK sesuai dengan kebutuhan. b. Susunan Organisasi Penguji Doktrin. Sebelum naskah doktrin disahkan oleh Panglima TNI/Dankodiklatau atas nama Kasau, semua doktrin harus diproses melalui Uji Naskah (UN). 1) Strata Strategis. Tim penguji naskah doktrin strata strategis mulai dari UN-I sampai dengan UN-III baik melalui atau tanpa seminar terdiri atas: a) UN-I. (1) Pimpinan : Dankodiklatau. (2) Penanggung Jawab : Dankodiklatau. (3) Penanggap : Irut Itjen, Paban Mabesau, Paban Kotama, serta Kasubdis Balakpus (sesuai fungsi)
- 32 - (4) Penyaji : Pokja. b) UN-II. (1) Pimpinan : Wakasau. (2) Penanggung Jawab : Dankodiklatau. (3) Penanggap : Irbidang Itjenau Waas/Wadan/Kas/ Waka/Sesdis Balakpus (sesuai fungsi). (4) Penyaji : Pokja. c) UN-III. (1) Pimpinan : Kasau. (2) Penanggung Jawab : Dankodiklatau. (3) Penanggap : Wakasau, Irjenau, Asisten Kasau serta Pang/Dan/ Kabalakpus/Ka (sesuai fungsi). (4) penyaji : Pokja. d) Seminar atau Focussed Group Discussion (FGD). Seminar atau FGD dilaksanakan apabila substansi yang terkandung di dalam konsep Doktrin TNI AU Swa Bhuwana Paksa memerlukan masukan dari berbagai pakar disiplin ilmu, para purnawirawan berpengalaman dan komponen bangsa lainnya. (1) Pimpinan : Kasau. (2) Penanggung Jawab : Wakasau. (3) Penanggap : Para pakar, Purnawirawan dan komponen bangsa lainnya yang berkompeten. (4) Penyaji : Pokja. (5) Moderator : Personel yang ditunjuk. 2) Strata Operasional. Tim penguji naskah strata operasional sebagai berikut: a) UN-I (1) Pimpinan : Ka-SPM/SPMK terkait. (2) Penanggung Jawab : Ka-SPM/SPMK terkait.
- 33 - (3) Penanggap : Paban, Kasubdis Mabesau dan Paban/Dan/As Kotama sesuai fungsi. (4) Penyaji : Pokja. b) UN-II (1) Pimpinan : Dankodiklatau. (2) Penanggung Jawab : Ka-SPM/SPMK terkait. (3) Penanggap : Irbid Itjenau, Waas Kasau, Kabalakpus, Direktur, Paban Kodiklatau (sesuai fungsi). (4) Penyaji : Pokja. 3) Strata Taktis. Pengujian terhadap naskah Juknis hanya pada rapat UN-I saja, dengan ketentuan organisasi penguji sebagai berikut: a) Pimpinan : Ka-SPM/SPMK terkait. b) Penanggung Jawab : Ka-SPM/SPMK terkait. c) Penanggap : Setingkat Paban/Kasubdis/Ka/ Asisten Kotama (sesuai fungsi). d) Penyaji : Pokja. 4) Petunjuk Referensi. Organisasi penguji naskah jukref hanya pada rapat UN-I saja, dengan mengikuti ketentuan sebagai berikut: a) Pimpinan : Ka-SPM/SPMK terkait. b) Penanggung Jawab : Ka-SPM/SPMK terkait. c) Penanggap : Setingkat Paban/Kasubdis/Asisten Kotama, dan pejabat terkait. d) Penyaji : Pokja. 5) Protap. Pengujian terhadap naskah Protap hanya pada rapat intern di satuan masing-masing. 22. Tugas dan Tanggung Jawab. Agar proses penyusunan dan penerbitan doktrin dapat berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan, maka setiap pejabat dalam setiap susunan organisasi tersebut diberi tugas dan tanggung jawab, dengan ketentuan sebagai berikut: a. Organisasi Penyusun Doktrin. 1) Penasihat. Penasihat bertugas memberikan direktif berisi kebijakan-kebijakan terkait penyusunan doktrin serta arahan dan nasihat kepada kelompok kerja, sehingga semua usaha kegiatan dan pekerjaan kelompok kerja tidak menyimpang dari maksud dan tujuan penyusunan/revisi doktrin yang akan disusun.
- 34 - 2) Penanggung Jawab. SPM/SPMK sebagai penanggung jawab mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a) Menunjuk dan mengeluarkan surat perintah kepada personel TNI AU sebagai personel pokja penyusunan suatu naskah doktrin. b) Menetapkan kebijakan, petunjuk, dan rencana garis besar proses penyusunan doktrin sesuai dengan program kerja dan anggaran. c) Menyelenggarakan proses penyusunan dan penerbitan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai dengan UN, produksi, serta distribusi sesuai dengan kewenangannya. d) Bertanggung jawab atas keberhasilan penyusunan dan penerbitan suatu doktrin kepada pimpinan terkait. 3) Narasumber. Narasumber bertugas memberikan arahan dan masukan terkait materi yang diperlukan oleh kelompok kerja dalam menyusun suatu doktrin. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, narasumber bertanggung jawab kepada SPM/SPMK penanggung jawab. 4) Ketua Pokja. Tugas dan tanggung jawab Ketua Pokja, yaitu: a) Memimpin, mengendalikan, dan mengawasi pokja sehingga semua usaha kegiatan dan pekerjaan pokja tidak menyimpang dari maksud dan tujuan penyusunan doktrin yang sedang disusun. b) Menyiapkan referensi untuk dijadikan landasan berpikir dalam proses penyusunan/revisi doktrin yang disusun. c) Menjamin semua upaya agar menghasilkan suatu doktrin yang berkualitas tinggi, baik format, isi materi, maupun validitasnya. d) Mengawasi pelaksanaan tugas pokja baik secara perorangan maupun secara kelompok terkait pelaksanaan tugas masing-masing. e) Memperhatikan, mengawasi, dan menjamin kelancaran dukungan administrasi pokja. f) Bertanggung jawab kepada pimpinan yang menerbitkan surat perintah. 5) Wakil Ketua. Wakil ketua mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a) Mengatur mekanisme, mengoordinasikan, dan mengawasi kegiatan pokja. b) Mengajukan saran dan pertimbangan kepada ketua pokja, khususnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tugas pokok pokja.
- 35 - c) Membantu ketua pokja dalam merencanakan, menyiapkan, dan melaksanakan serta mengevaluasi kinerja pokja. d) Mewakili ketua pokja bila berhalangan. e) Bertanggung jawab kepada ketua pokja atas pelaksanaan tugasnya. 6) Sekretaris. Sekretaris pokja bertugas: a) Membantu ketua pokja dalam penyelenggaraan rapat berkaitan dengan bidang administrasi dan tata usaha kelompok kerja. b) Menyiapkan serta memelihara sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan penyusunan/revisi doktrin yang dibuat. c) Mencatat serta menampung semua saran masukan, baik yang diterima maupun yang tidak, serta membuat laporan hasil dan risalah rapat UN. d) Memberikan laporan kepada ketua pokja mengenai halhal yang berkaitan dengan tugasnya. e) Bertanggung jawab kepada ketua pokja atas pelaksanaan tugasnya. 7) Anggota Kelompok Kerja. Tugas anggota pokja, yaitu: a) Mencari, mengumpulkan, dan mempelajari semua referensi yang dibutuhkan untuk melengkapi materi doktrin yang sedang disusun. b) Menuangkan hasil analisis kelompok kerja ke dalam materi doktrin dan petunjuk yang disusun. c) Melakukan penilaian dan menginventarisasi hal-hal yang perlu dimasukkan dalam materi doktrin yang disusun. d) Membuat konsep yang berkaitan dengan penyusunan/ revisi doktrin sesuai dengan rencana dan program kelompok kerja. e) Melakukan penelitian dan penilaian terhadap setiap perkembangan diskusi/rapat dengan mengacu pada hasil koordinasi antar anggota pokja. f) Bertanggung jawab kepada ketua pokja atas pelaksanaan tugasnya. 8) Pendukung. Tugas pendukung yaitu: a) Menyiapkan kelengkapan-kelengkapan sarana dan prasarana yang diperlukan selama proses penyusunan, pengujian, dan produksi, serta kesiapan lain untuk kelancaran semua proses penyusunan.
- 36 - b) Membantu mencari dan mengumpulkan bahan referensi yang berkaitan dengan penyusunan/revisi doktrin yang disusun. c) Membantu mencatat setiap perkembangan hasil diskusi dan rapat yang diselenggarakan oleh pokja. d) Bertanggung jawab tentang keberhasilan pelaksanaan dukungan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya kepada ketua pokja. b. Organisasi Penguji Doktrin. Agar proses pengujian berjalan lancar dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka setiap pejabat terkait mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: 1) Pimpinan. Tugas dan tanggung jawab pimpinan dalam rapat UN yaitu: a) Memimpin jalannya proses UN mulai pembukaan sampai penutup. b) Mengatur mekanisme tanggapan dan diskusi. c) Menyimpulkan kandungan materi doktrin yang sedang diuji sesuai dengan hasil diskusi. d) Menentukan atau memutuskan hasil pengujian doktrin yang sudah layak untuk disahkan atau masih diperlukan pengujian lanjutan/ulang. 2) Penanggung Jawab. Tugas dan tanggung jawab penanggung jawab yaitu: a) Menyelenggarakan proses pengujian UN yang menjadi tanggung jawabnya. b) Berkoordinasi dengan SPS untuk kelancaran penyelenggaraan UN yang akan dilaksanakan di mako SPS (Kodiklatau). c) Bertanggung jawab kepada pimpinan komando atas tentang kelancaran pelaksanaan pengujian. 3) Penanggap. Tugas dan tanggung jawab penanggap yaitu: a) Mempelajari isi naskah doktrin yang akan diuji. b) Menyampaikan tanggapan saran dan masukan terhadap naskah sesuai dengan bidangnya baik secara lisan maupun tertulis berdasarkan wawasan dan referensi yang berlaku. c) Melaporkan hasil rapat UN termasuk saran tanggapan selama pelaksanaan rapat kepada pimpinan masing-masing, dengan tembusan kepada pejabat yang akan menjadi penanggap pada UN berikutnya.
- 37 - d) Bertanggung jawab kepada pimpinannya masing-masing atas persetujuan terhadap materi yang terkandung di dalam naskah doktrin yang diuji. 4) Penyaji. Penyaji adalah pokja dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai berikut: a) Memaparkan naskah doktrin yang telah disusun dengan urutan sesuai dengan prosedur yang berlaku. b) Memberikan jawaban atau penjelasan terhadap semua tanggapan dan pertanyaan dari para penanggap serta mempelajari dan menerima saran masukan yang bersifat penyempurnaan naskah. c) Membuat notulen dan menyusun risalah rapat UN. d) Memperbaiki konsep naskah doktrin sesuai dengan kesepakatan atau saran masukan yang diterima baik terkait materi maupun format untuk dilanjutkan proses autentikasi atau disiapkan kembali untuk bahan UN berikutnya. e) Melaporkan hasil rapat UN dan bertanggung jawab kepada penanggung jawab penyusunan naskah doktrin terkait. c. Organisasi Penerbit Doktrin. Tugas dan tanggung jawab dalam organisasi penerbit doktrin mengacu pada organisasi tugas dan tugas SPM/SPMK terkait. BAB IV TAHAPAN PENYELENGGARAAN 23. Umum. Proses penyusunan, pengujian dan penerbitan doktrin dan petunjuk merupakan rangkaian kegiatan bertahap dimulai tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan pengakhiran. 24. Tahap Perencanaan. a. Kegiatan Penyusunan. Tahap perencanaan pada kegiatan penyusunan dilaksanakan di markas SPM/SPMK masing-masing pada Tahun Pertama (T-1). Usulan penyusunan, pengujian, dan penerbitan suatu doktrin dilakukan oleh Pejabat terkait dari masing-masing SPM/SPMK penanggung jawab dalam program kerja satuan sampai turunnya anggaran atau DIPA. Setelah DIPA turun, selanjutnya pejabat terkait membuat Term Of Reference (TOR) sebagai acuan dalam membuat rencana kegiatan penyusunan, pengujian, dan penerbitan doktrin. b. Kegiatan Pengujian. Tahap perencanaan pada kegiatan pengujian naskah, kelompok kerja menjalankan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut: 1) Menyusun jadwal pelaksanaan UN dan diajukan ke Ka SPM/SPMK untuk mendapat persetujuan.
- 38 - 2) Membuat dan menyebarkan undangan kepada narasumber dan penanggap yang perlu hadir sesuai dengan tingkat UN yang akan dilaksanakan. 3) Memproduksi naskah awal sejumlah tertentu yang sebagian besar akan dikirimkan kepada narasumber, penanggap, dan pimpinan rapat UN. 4) Menentukan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam rapat serta kebutuhan dukungan logistik. c. Kegiatan Penerbitan. Kegiatan penerbitan pada tahap perencanaan, kelompok kerja menjalankan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut: 1) Menentukan jumlah naskah yang akan dicetak. 2) Membuat daftar satuan yang akan menerima distribusi. 3) Membuat rincian kebutuhan anggaran cetak dan distribusi. 25. Tahap Persiapan. a. Kegiatan Penyusunan. Kegiatan penyusunan pada tahap persiapan dilaksanakan di markas SPM/SPMK masing-masing atau di tempat yang telah ditentukan oleh ketua pokja. Setelah menerima surat perintah dari Ka SPM/SPMK, pokja mengadakan rapat untuk menjalankan rangkaian pekerjaan sebagai berikut: a) Mempelajari dan menganalisis tugas dari komando atas guna menentukan prioritas kegiatan yang akan dilaksanakan. b) Menerima dan mempelajari TOR sebagai acuan dalam membuat rencana kegiatan penyusunan dan penerbitan doktrin. c) Menerima nasihat atau pengarahan dari penasihat tentang kebijakan-kebijakan pimpinan terkait naskah doktrin yang akan disusun. d) Menyusun rencana kegiatan dalam bentuk jadwal. e) Melaporkan/memaparkan rencana kegiatan pokja kepada Ka SPM Penanggung Jawab. f) Menyempurnakan rencana kegiatan setelah mendapat arahan atau koreksi. g) Membagikan rencana kegiatan kepada anggota pokja dan pihak terkait lainnya. h) Menerima arahan dari narasumber secara khusus maupun sambil berjalan. i) Menyiapkan kebutuhan sarana dan prasarana kerja kelompok serta pencarian referensi yang dibutuhkan.
- 39 - b. Kegiatan Pengujian. Kegiatan pengujian naskah pada tahap persiapan, pekerjaan yang dijalankan oleh penguji dan penyaji adalah sebagai berikut: 1) Penguji. Pada tahap persiapan ini, penguji menjalankan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut: a) Menyiapkan referensi yang dibutuhkan untuk bahan tanggapan dan saran masukan. b) Mempelajari naskah awal baik format maupun materinya. c) Mengirimkan tanggapan tertulis kepada pokja untuk perbaikan seperlunya. Bila tidak sempat, bahan tanggapan dan saran masukan disampaikan saat rapat UN. 2) Penyaji. Kegiatan persiapan yang dilaksanakan pokja sebagai penyaji meliputi: a) Menggandakan konsep naskah awal yang akan dibagikan kepada penguji/penanggap dan Pimpinan Rapat UN. b) Mengirimkan naskah awal pada H-7 dan paling lambat H-5 sudah diterima oleh Tim penguji. c) Menyiapkan bahan paparan dalam bentuk file power point, menyiapkan lembar blangko tanggapan dan saran masukan, serta menunjuk pemapar dan notulen. d) Menyiapkan kelengkapan sarana dan prasarana yang dibutuhkan selama rapat UN. e) Menyusun tertib acara pelaksanaan rapat UN. f) Menyiapkan referensi dan peranti lunak yang dibutuhkan. g) Melaporkan kesiapan rapat kepada Ka SPM/SPMK Penanggung Jawab. c. Kegiatan Penerbitan. Kegiatan penerbitan pada tahap persiapan yaitu: 1) Menyiapkan master naskah. 2) Menyiapkan pengawas selama pencetakan dan pendistribusian. 3) Mengecek master naskah cetak yang dibuat oleh percetakan. 26. Tahap Pelaksanaan. a. Kegiatan Penyusunan. Tahap Pelaksanaan pada kegiatan penyusunan dilakukan di markas SPM/SPMK masing-masing atau di tempat yang telah ditentukan oleh ketua pokja. Pada tahap pelaksanaan, pokja melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut:
- 40 - 1) Menentukan kerangka naskah yang akan disusun atau direvisi sesuai dengan format yang telah ditentukan. 2) Membahas dan mendiskusikan materi yang akan dimasukkan ke dalam naskah awal sesuai dengan bab, pasal, subpasal, dan seterusnya sesuai format. 3) Membahas dan melaksanakan diskusi ulang dengan mengundang narasumber untuk mendapatkan arahan dan masukan terhadap naskah awal untuk mendapatkan perbaikan seperlunya. 4) Penyempurnaan naskah awal dengan memasukkan saran dan tanggapan. 5) Mengirimkan naskah awal kepada satuan-satuan terkait untuk mendapatkan tanggapan dan saran masukan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. 6) Inventarisasi tanggapan dan saran masukan. 7) Melaksanakan pembahasan dan diskusi untuk menentukan apakah tanggapan dan saran masukan tersebut diterima atau tidak. 8) Pembuatan risalah penyusunan/revisi doktrin. 9) Pengiriman risalah penyusunan/revisi doktrin kepada SPS (Dankodiklatau). 10) Melaksanakan pra UN baik untuk doktrin maupun petunjuk di depan Waka-SPM/SPMK. 11) Menyempurnakan naskah awal untuk diujikan dalam UN. b. Kegiatan Pengujian. Tahap pelaksanaan pada kegiatan pengujian naskah dilaksanakan di ruangan tertentu yang akan ditentukan kemudian. Pada tahap pelaksanaan kegiatan pengujian ini, setiap pejabat organisasi penguji melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1) Pimpinan: a) Memberikan arahan singkat sebagai pengantar. b) Memimpin jalannya diskusi/tanggapan. c) Mengambil keputusan bila terjadi kebuntuan saat pengujian/tanggapan. d) Menutup rapat dan memberikan arahan terakhir terkait tindak lanjut setelah rapat UN dimaksud. 2) Penyaji/Pemapar: a) Memaparkan naskah awal doktrin yang telah disusun atau direvisi. b) Merespon tanggapan, pertanyaan, dan saran masukan dari penguji/penanggap.
- 41 - 3) Penanggap: a) Menyampaikan tanggapan dan saran masukan terhadap naskah yang telah dipaparkan. b) Menguji teori atau konsep yang menjadi isi naskah doktrin yang sedang diuji. 4) Pokja: a) Mencatat semua tanggapan, pertanyaan, dan saran masukan. b) Membantu pemapar menjawab atau menjelaskan tanggapan atau pertanyaan. c) Mempelajari, menimbang, dan memutuskan apakah saran masukan akan diterima atau tidak. 5) Notulen: a) Mencatat semua tanggapan, pertanyaan, dan saran masukan dari penanggap/penguji. b) Mencatat tanggapan, pertanyaan, dan saran masukan yang diterima sebagai bahan perbaikan terhadap naskah yang telah dipaparkan. c) Membuat risalah hasil rapat UN. c. Kegiatan Penerbitan. Tahap pelaksanaan pada kegiatan penerbitan sebagai berikut: 1) Melaksanakan pencetakan naskah sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. 2) Mengambil dan mengarsipkan master naskah cetak. 3) Mendistribusikan naskah hasil cetak. 4) Mengawasi kegiatan pencetakan, pengarsipan master naskah, dan distribusi naskah. 27. Tahap Pengakhiran. a. Kegiatan Penyusunan. Kegiatan penyusunan pada tahap pengakhiran dilakukan di markas SPM/SPMK masing-masing atau di tempat yang telah ditentukan oleh ketua pokja. Pada tahap ini, kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: 1) Menyempurnakan naskah dengan memasukkan saran-saran yang diterima serta memperbaiki kesalahan baik tata tulis maupun redaksional. 2) Melaporkan kesiapan naskah awal yang akan diuji serta kesiapan penyelenggaraan UN kepada Ka-SPM/SPMK Penanggung Jawab.
- 42 - b. Kegiatan Pengujian. Kegiatan pengujian naskah pada tahap pengakhiran dilaksanakan oleh pokja yaitu: 1) Menyempurnakan naskah dengan memasukkan saran-saran yang diterima serta memperbaiki kesalahan baik tata tulis maupun redaksional. 2) Mengirimkan risalah UN-1 terakhir dan master naskah doktrin yang telah disempurnakan sebanyak 3 rangkap untuk diserahkan kepada: a) Dankodiklatau berupa naskah jukgar dan jukref dengan tembusan Ka-SPM/SPMK terkait. b) Ka-SPM/SPMK berupa naskah juknis dengan tembusan kepada Dankodiklatau. c. Kegiatan Penerbitan. Tahap pengakhiran pada kegiatan penerbitan yaitu: 1) Melaksanakan pengecekan naskah yang telah didistribusikan. 2) Membuat laporan pelaksanaan. 3) Menyimpan dan memelihara arsip dan master naskah. BAB V DUKUNGAN 28. Umum. Untuk kelancaran proses Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI AU diperlukan dukungan, baik dari komando atas maupun dari internal satuan. Bentuk dukungan dimaksud yaitu anggaran, administrasi umum, personel, logistik, dan komunikasi serta kebutuhan penunjang lainnya. 29. Anggaran. Dukungan anggaran untuk kegiatan penyusunan dan penerbitan doktrin ini diperoleh dari komando atas melalui anggaran rutin yang dialokasikan melalui DIPA. Anggaran tersebut diusulkan melalui Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Lembaga (RKAKL) sesuai dengan prosedur yang berlaku. Turunnya anggaran ditentukan oleh Srenaau setelah dilaksanakan koordinasi dengan SPS yang mempertimbangkan prioritas atau urgensi materi. Alokasi anggaran tersebut disesuaikan dengan jenis naskah yang akan diterbitkan. 30. Administrasi Umum. Dalam proses Jukgar Sunbitdok ini diperlukan dukungan administrasi umum berupa alat tulis kantor (ATK) dan bahan-bahan keperluan lainnya. Dukungan dimaksud diperoleh dari anggaran yang sudah dialokasikan. 31. Personel. Personel pokja selain dari SPM/SPMK juga berasal dari berbagai satuan terkait melalui surat permohonan. Setelah nama-nama diterima, maka Ka-SPM/SPMK penanggung jawab mengirimkan konsep surat perintah pokja kepada SSP. Personel pendukung lainnya yang tidak masuk di dalam surat perintah pokja, memanfaatkan personel organik SPM/SPMK penanggung jawab sesuai dengan kebutuhan.
- 43 - 32. Logistik. Kebutuhan logistik berupa sarana dan prasarana menggunakan sarpras SPM/SPMK penanggung jawab. Untuk barang atau benda yang habis pakai didukung dari anggaran yang sudah dialokasikan. 33. Komunikasi. Alat komunikasi selama proses Sunbitdok ini menggunakan alkom yang tersedia di SPM/SPMK penanggung jawab. Selain itu juga menggunakan alat komunikasi genggam milik perorangan dari personel pokja sendiri. BAB VI PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN 34. Umum. Pengawasan dan pengendalian terhadap penyusunan dan penerbitan doktrin pada dasarnya merupakan tanggung jawab Kasau yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh Irjenau/As/Dan/Kabalakpus. 35. Pengawasan. Pengawasan dilaksanakan sesuai dengan tataran kewenangan masing-masing pejabat, sebagai berikut: a. Wakasau/Irjenau/Asisten/Komandan/Kabalakpus. Wakasau/ Irjenau/Asisten/Komandan/Kabalakpus mengawasi pelaksanaan kegiatan kelompok kerja penyusunan dan penerbitan doktrin yang berkaitan dengan bidangnya. b. Dankodiklatau. Dankodiklatau mengawasi kegiatan dari penyusunan konsep, pengujian, pengesahan, penerbitan, dan pendistribusian naskah doktrin. c. Para Asisten Kasau mengawasi pelaksanaan kegiatan penyusunan dan penerbitan doktrin sesuai dengan bidangnya. d. Asisten Operasi Kasau dan Dankodiklatau mengawasi dan menilai operasional doktrin di lapangan. 36. Pengendalian. a. Dankodiklatau mengendalikan pelaksanaan program dan anggaran bidang penyusunan dan penerbitan doktrin di lingkungan TNI AU. b. Dankodiklatau mengendalikan kegiatan Itjenau/Staf Mabesau/ Balakpus TNI AU dalam penyusunan dan penerbitan doktrin agar tetap memperhatikan waktu, kualitas, substansi materi, kebenaran administrasi, anggaran dan kegiatan dalam penyusunan konsep, pelaksanaan uji naskah, pengesahan, penerbitan dan pendistribusian. c. Irjenau/As/Dan/Kabalakpus TNI AU mengendalikan penyusunan doktrin yang menjadi tanggung jawabnya dengan memperhatikan ketepatan waktu, kualitas materi, anggaran dan kegiatan sesuai bidang kewenangan masing-masing.
- 44 - BAB VII PENUTUP 37. Petunjuk Turunan. Petunjuk turunan dari Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara yaitu Petunjuk Teknis Pembentukan Pokja Penyusunan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara, Petunjuk Teknis Tata cara Uji Naskah Doktrin di Lingkungan TNI AU, Petunjuk Teknis Penerbitan dan Distribusi Doktrin di Lingkungan TNI AU, dan petunjuk teknis lain sesuai dengan perkembangan kebutuhan. 38. Keberhasilan. Disiplin untuk menaati ketentuan yang ada dalam petunjuk ini oleh pembina dan pengguna doktrin akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan di dalam pelaksanaan penyusunan dan penerbitan doktrin serta pelaksanaannya di lapangan. 39. Penyempurnaan. Hal-hal yang dipandang perlu dalam penyempurnaan Petunjuk Penyelenggaraan Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI Angkatan Udara ini agar disarankan kepada Kasau melalui Dankodiklatau sesuai dengan mekanisme umpan balik. PEJABAT PARAF Wadankodiklatau Dirdok Kodiklatau Kadiskumau Kasetumau Paban I/Dok Ditdok a.n. KEPALA STAF ANGKATAN UDARA DANKODIKLAT, TATANG HARLYANSYAH, S.E., M.M. MARSEKAL MUDA TNI
- 45 - DAFTAR PENGERTIAN 1. Akomodatif. Sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata akomodatif adalah bersifat dapat menyesuaikan diri. Dalam Jukgar Sunbitdok ini kata akomodatif bermakna bahwa petunjuk-petunjuk yang disusun menyesuaikan berbagai keperluan dan kepentingan yang ada. 2. Aplikatif. Sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata aplikatif adalah mengenai (berkenaan dengan) penerapan. Dalam Jukgar Sunbitdok ini kata aplikatif bermakna bahwa petunjuk penyelenggaraan dan petunjuk teknis merupakan petunjuk aplikatif karena di dalamnya berisikan tentang penerapan/implementasi dari tahap-tahap kegiatan. 3. Doktrin. Secara umum, doktrin adalah ajaran, asas, prinsip, konsepsi yang bersifat mendasar berdasarkan hasil pemikiran terbaik yang mengalir dari teori dan pengalaman untuk diajarkan serta digunakan sebagai pedoman dalam tata kehidupan bangsa dan negara yang bersifat konsepsional falsafi sampai dengan yang bersifat operasional implementatif pada kurun waktu tertentu. 4. Doktrin TNI. Doktrin TNI adalah segala sesuatu yang menjadi pedoman bagi TNI dalam melaksanakan tugas-tugasnya. 5. Doktrin Angkatan Udara. Doktrin Angkatan Udara adalah segala sesuatu yang menjadi pedoman bagi TNI Angkatan Udara dalam melaksanakan tugasnya. 6. Doktrin Fungsi. Doktrin fungsi adalah doktrin yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan semua fungsi manajemen TNI AU. 7. Doktrin Induk. Doktrin induk adalah doktrin yang menjadi dasar bagi semua doktrin yang berhubungan dengan pertahanan militer. 8. Doktrin Operasi Udara. Doktrin operasi udara adalah doktrin yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan operasi udara. 9. Klasifikasi. Klasifikasi adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. 10. Klasifikasi Biasa. Klasifikasi biasa adalah klasifikasi tulisan dinas yang isinya tidak perlu pengamanan khusus, tetapi tidak berarti bahwa isi tulisan dinas dapat disampaikan kepada yang tidak berhak mengetahuinya. 11. Klasifikasi Rahasia. Klasifikasi rahasia adalah klasifikasi tulisan dinas yang isinya keterangan dan dokumen yang berkaitan dengan pertahanan negara, jika disiarkan secara tidak sah dan/atau jatuh pada tangan yang tidak berhak, dapat membahayakan pertahanan negara, menyebabkan kerugian besar bagi kepentingan dan kredibilitas negara, atau yang akan sangat menguntungkan bagi suatu negara asing. TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA Lampiran A Keputusan Kasau Nomor Kep/285/XI/2019 Tanggal 7 November 2019
- 46 - 12. Klasifikasi Sangat Rahasia. Klasifikasi sangat rahasia adalah klasifikasi tulisan dinas yang isinya ketentuan dan dokumen yang sangat erat hubungannya dengan pertahanan negara, yang bila disiarkan secara tidak sah dan/atau jatuh pada tangan yang tidak berhak, dapat membahayakan pertahanan negara, harus dianggap sebagai keterangan yang diamankan. 13. Kohesif. Kohesif adalah saling keterkaitan antara doktrin yang kedudukannya lebih tinggi dengan doktrin yang berada di bawahnya. 14. Konsisten. Konsisten adalah tetap/taat asas (tidak berubah-ubah). 15. Penyelia. Penyelia adalah seseorang yang diberikan tugas sebagaimana yang mempunyai kuasa dan wewenang untuk mengeluarkan perintah kepada bawahannya. 16. Petunjuk Penyelenggaraan (Jukgar). Jukgar adalah jabaran lebih lanjut dari doktrin baik opsmil maupun fungsi yang menjelaskan Si-A-Di-BiBa sebagai pedoman bagi penyelenggara, pelaksana, dan pelaku serta pendukung dalam menjalankan suatu kegiatan baik operasional maupun fungsional di bidang masing-masing. 17. Petunjuk Teknis (Juknis). Juknis adalah jabaran lebih lanjut dari Petunjuk Penyelenggaraan TNI AU yang memuat penjelasan tentang tata cara teknis dan/atau pelaksanaan suatu kegiatan atau pekerjaan secara terinci termasuk juga penggunaan, pemeliharaan dan/atau perbaikan peranti keras atau materiel dalam rangka pembinaan di lingkungan TNI AU. 18. Petunjuk Referensi (Jukref). Jukref adalah rujukan atau sumber acuan dari suatu petunjuk/peranti lunak yang digunakan oleh satuan pelaksana atau penyelenggara dalam penyusunan suatu naskah petunjuk. 19. Referensif. Referensif adalah bersifat referensi, merupakan sumber acuan, rujukan atau petunjuk yang dapat digunakan. 20. Stratifikasi. Stratifikasi adalah pembedaan mengenai sesuatu yang disusun secara hierarkis yang terstruktur dan saling terkait mulai dari strata yang paling tinggi sampai strata yang paling rendah. 21. Stratifikasi Doktrin TNI AU. Stratifikasi Doktrin TNI AU merupakan susunan hierarkis doktrin yang dipedomani dalam rangka pembinaan dan penggunaan kekuatan TNI AU yang berfungsi mengatur penggolongan doktrin TNI AU mulai dari strata strategis, operasional sampai dengan strata taktis. 22. Supervisi. Supervisi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh para Asisten Kasau dan pejabat lain yang relevan terhadap balakpus atau satuan kerja lain dengan cara melakukan pengamatan baik secara langsung dan berkala, berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan pembuatan doktrin di satuan kerja supervise, yang kemudian apabila ditemukan suatu pemasalahan maka akan diberikan petunjuk/bantuan/bimbingan guna mengatasi permasalahan tersebut. 23. Tugas dan Tanggung Jawab. Tugas adalah suatu pekerjaan yang wajib dikerjakan atau yang ditentukan untuk dilakukan karena pekerjaan tersebut telah menjadi tanggung jawabnya.
- 47 - 24. Uji Naskah (UN). UN adalah proses pengujian atau percobaan secara teori terhadap konsep/gagasan yang dituangkan dalam suatu naskah agar subtansinya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. UN meliputi pengujian terhadap naskah keputusan pengesahan dan naskah materi doktrin. 25. Valid. Valid adalah masih berlaku untuk dapat dipergunakan dan dipedomani. PEJABAT PARAF Wadankodiklatau Dirdok Kodiklatau Kadiskumau Kasetumau Paban I/Dok Ditdok a.n. KEPALA STAF ANGKATAN UDARA DANKODIKLAT, TATANG HARLYANSYAH, S.E., M.M. MARSEKAL MUDA TNI