The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Kamaruddin S.Pd.I, 2024-04-24 02:32:19

Ketentuan Pembentukan KMM

Ketentuan Pembentukan KMM

51 ukhuwwah atas landasan takwa dan i’tisham bi hablillah tersebut. (Ali Imran 100-103). 19 Ayat 104 ini justru membicarakan bagaimana menegakkan dan memelihara masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Allah yakni dengan jalan dakwah dan amar makruf nahi munkar. Maka pembahasan ayat ini biasa mencakup tentang cakupan kewajiban dakwah (berkaitan dengan pelaku dan obyek dakwah), materi dakwah, lpraangkah-langkah dakwah (berkaitan metode dan sarana) dan tujuan akhir dakwah Islam. Berkaitan dengan pembahasan yang pertama dalam beberapa tafsir disebutkan tentang apakah kewajiban dakwah tertuju kepada setiap individu atau sebagian individu yang memiliki kompetensi. Ini berkaitan dengan pembahasan tentang minkum (منكم ,(apakah min itu bermakna tab‘id (ba’dliyyah) atau tabyin (bayaniyyah). Pendapat pertama yang melihat min sebagai ba’dliyyah, maka kewajiban dakwah itu tidak tertuju kepada setiap individu, tetapi kepada sebahagian yang memiliki kompetensi, baik kompetensi ilmu, visi, dan ketrampilan menjalankan kegiatan dakwah dan amar makruf nahi munkar. Pendapat yang kedua yang memandang min sebagai bayaniyyah, berimplikasi pada pemahaman bahwa kewajiban dakwah jatuh kepada setiap individu, tanpa kecuali. Pemahaman ini diperkuat dengan isyarat dalam surah Al-‘Ashr, yang menyatakan bahwa orang yang tidak ingin jatuh kepada kehancuran, kerugian, tidak ada jalan lain kecuali dengan beriman, beramal dan bertausiyah bil-haq dan bil-shabr. Beberapa ulama mengkompromikan dua pendapat tersebut. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa jika dakwah yang dimaksud adalah dakwah yang sempurna, yakni dakwah yang sistematis, terencana program dan langkah-langkahnya, maka hal itu menjadi kewajiban bagi mereka yang memiliki kompetensi untuk itu (wajib kifayah). Sedangkan jika dakwah dimaknai sebagai ajakan atau tausiyah tentang kebenaran (al-haq) sesuai dengan kemampuan masingmasing, maka dakwah adalah kewajiban individual (wajib ain). 20 Kajian berikutnya berkaitan dengan terminologi al-ummah al-da’iyyah. Al-Imam Al-Raghib al-Asfahani, menyebutkan bahwa kata al-ummah berakar pada kata alumm yang berarti induk (asl al-mas’alah), ibu (orang tua perempuan, al-walidah). Ia mendefinisikan al-umm sebagai (أما يسمى يليه ما سائر اليه ضم شيئ كل .(Sementara kata alummah didefinisikan sebagai berikut: 19Ahmad Mustafa al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi al-Mujalad al-Thani, Juzu IV, (Beirut: Dar alFikr, t.th.), hlm. 15 20Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbāh Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur ’an. (Jakarta: Lentera Hati, 2006) Cet. VII, Volume 2, hlm. 173-174


52 اَلمة : كل مجاعة جيمعهم أمر واحد إما دين واحد أو زمان واحد أو مكان واحد سواء كان ذلك اَلمر اجلامع 21 تسخريا أو اختيارا. . Definisi yang terakhir ini agaknya sejalan dengan pemahaman Muhammadiyah yang memahami bahwa al-ummah sebagai organisasi yang tertib kepemimpinan, keanggotaan, dan hubungan antara keduanya. Berkaitan dengan materi dakwah pembahasan diarahkan kepada penggalian makna al-khair, al-ma’ruf dan al-munkar. Al-Khair dalam ayat ini menurut Ibn Katsir dengan mengutip Sabda Rasul SAW adalah ittiba’ Al-Qur’an wa Al-Sunnah, mengikuti Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Sementara Imam Al-Raghib Al-Asfahani mendefinisikan Al-Khair sebagai berikut: اخلري ما يرغب فيه الكل كالعقل مثَل والعدل والفضل والشىء النافع وضده الشر. Kemudian ia membagi membagi al-khair dalam dua bentuk: al-khair al-muthlaq dan al-khair al-muqayyad. Al-Khair al-Muthlaq diartikan segala yang dipandang baik dan tidak dapat ditolak kebaikannya oleh siapapun dan dalam keadaan apapun. Sementara al-khair al-muqayyad adalah sesuatu yang dipandang baik oleh sebagian orang tetapi dipandang kejelekan oleh yang lain. Ittiba’ Al-Qur’an wa Al-Sunnah, menurut hemat penulis merupakan al-khair almutlaq. Dan dalam konteks ayat 104 di atas, al-khair sebagai materi utama dakwah sekaligus landasan dakwah, yakni ittiba’ Al-Qur’an wa Al-Sunnah. Al-Ma’ruf: menurut al-Maraghi adalah apa yang dianggap baik oleh syari’at dan akal, sedangkan al-munkar adalah lawannya. Al-Asfahani menjelaskan makna alma’ruf dan al-munkar sebagai berikut: املعروف اسم لكل شىء يعرف ابلعقل أو الشرع حسنه واملنكر ما ينكر هبما. Quraish Shihab menjelaskan al-khair, al-ma’ruf dan al-munkar merupakan tematema pokok gerakan dakwah Islam. Al-Khair dalam konteks ayat ini merupakan nilai kebajikan yang bersifat tetap dalam Islam, di mana setiap orang mesti menerimanya dan menjadi tolok ukur atas yang lainnya, yakni nilai-nilai al-ma’ruf dan al-munkar. Kebajikan dalam al-ma’ruf merupakan nilai-nilai yang relatif terbuka untuk menerima perubahan, perkembangan dan perbedaan. Penerimaan dan adaptasi nilainilai al-ma’rufaat dan nilai-nilai al-munkaraat ini harus melibatkan al-khair sebagai filter dan tolok ukurnya. Esensi dakwah Islam adalah tegaknya nilai-nilai al-khair yang bersifat tetap dan universal, dan al-ma’ruf yang bersifat dinamis terhadap perubahan dan perkembangan masyarakat, dan tereliminasikannya nilai-nilai al-munkarat, yang 21Al-Raghib al-Asfahani. Mufradāt Alfāz al-Qur’ān. (Beirut: Dar al-Syamiyah dan Dimasyq: Dar al-Qalam, 1997), hlm. 86


53 cakupannya juga berkembang sejalan dengan perkembangan nilai yang ada di masyarakat. Sekumpulan (ummah) kaum mukminin yang dapat mengerakkan dan mensosialisasikan tegaknya al-khair dan menyuruh kepada al-ma’rufat dan mencegah al-munkarat itulah yang akan memperoleh kemenangan,dan kebahagiaan duniaakhirat. ْ ُم ُكنت َ ْ َري خ ٍ َّمة َ ْت أُ يرج أُخ لنَّا يس ْ ي وَن ل ُ ر ُ ْم َ يف َت و ُ ر ْ ع َ َن يابلْم ْ و َ ْه ن َ ت َ و ين َ ع ن َكير ُ ُوَن الْم ن ي م ْ ُؤ ت َ و ي يابَّلل ْ لَو َ و َ ن َ آم ُ ْل يب أَه ا َ ت َن الْكي لَ َكا ً ا ْ َري ُ خ م َّهل ُ م ُ ْه ن ي ُوَن م ن ي م ْ ؤ ُ الْم ُ م ُ ه ُ َر ْكث أَ َ ُ و وَن )ال عمران: ق اسي َ الْف 110 ) “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” Kandungan ayat ini terkait erat dengan ayat-ayat sebelumnya, mengenai peringatan tentang perselisihan Ahlul Kitab atas petunjuk-petunjuk agama Allah, dan perintah kepada orang-orang beriman untuk bertakwa, berpegang teguh pada tali Allah, menjalin ukhuwwah dan kesatuan ummah, serta membangun jamaah (ummah) yang menegakkan dakwah kepada al-khair, mengajak al-ma’ruf dan mencegah almunkar. Seakan memberi pemahaman bahwa tuntutan dan perintah tersebut terlahir karena umat Islam adalah umat terbaik yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Atau dapat juga memberi pemahaman bahwa umat Islam dalam memenuhi tuntutan dan perintah tersebut merupakan prasyarat untuk menjadi ummat terbaik. Kata kuntum (كنتم (dalam ayat di atas dipahami dalam dua pemahaman. Yang pertama memahami “kana” sebagai kata kerja yang sempurna )اتمة كان ,)sehingga dipahami bahwa umat Islam itu wujudnya merupakan sebaik-baik ummat yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Yakni bahwa di mana dan kapan saja umat Islam yang ideal adalah sebaik-baik umat manusia. Sedangkan yang kedua, berpandangan bahwa “kana” bukanlah kata kerja yang sempurna (انقصة كان , (yang implikasi pemahamannya adalah bahwa wujudnya khaira ummah telah ada di masa lalu, tanpa penjelasan waktu kapan terjadinya dan tidak juga mengandung isyarat bahwa ia pernah tidak ada atau suatu ketika akan ada. Jika demikian, simpul Quraish, ayat ini bermakna kamu dahulu dalam ilmu Allah adalah sebaik-baik umat.22 Dalam pemahaman ini khaira ummah, agaknya sejalan dengan dengan sabda Nabi SAW: 22Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah. Volume 2, hlm. 184-186


54 النَّ ُ ْ َري اَل خ َ ق َ لَّم َ س َ و ي ه ْ لَي َ ع ُ لَّى ا ََّّلل َ ي ص النَّيِب ْ َن ع ُ ْه ن َ ع ُ ا ََّّلل َ يضي َ ر ا ََّّللي دي ْ ب َ ع ْ َن َ ع ة َ يد ي ب َ ع ْ َن ع َ ين ُْثَّ الَّذي ْ لُوََنُم َ ي َ ين يِن ُْثَّ الَّذي ْ َر ا يس ق )رواه البخارى وغريه( ْ لُوََنُم َ ي Dengan demikian, khaira ummah adalah kondisi ideal umat Islam, yang akan ditegakkan dengan dakwah, yakni umat yang menegakkan al-amr bil ma’ruf dan alnahy ‘ani al-munkar, dan beriman kepada Allah. Al-Maraghi menjelaskan tentang syarat-syarat pelaku dakwah yang akan menegakkan amar makruf nahi munkar, yaitu: 1. Hendaknya memahami Al-Quran, Al-Sunnah, Sirah Nabawiyah dan Sahabat. 2. Hendaknya pandai membaca situasi orang-orang yang akan dan sedang menerima dakwahnya, meliputi minat, kemampuan, sosio-kultural, tabi’at dan akhlaknya. 3. Memahami bahasa umat yang yang dituju oleh dakwahnya, termasuk kebudayaannya. 4. Mengetahui agama-agama, aliran-aliran yang ada di masyarakat, agar juru dakwah dapat mengetahui dan menjelaskan kelemahan dan kekeliruan agamaagama dan aliran-aliran yang ada, dan menunjukkan keunggulan Dinul Islam.23 ْ ُل ق ي ه ذي َ ه ي ي يل ي ب َ ُ س و أَد ََل ْع ي إ ي اَّلل لَى َ ع ٍ ة َ يصري َ أَان ين َْ ب َ م َ و ين َ ع َ َن اتَّ ب ا َ ْح ب ُ س َ و ي اَّلل ا َ م َ َ و ْ أَان َ ن ي م ني )يوسف: ْشيركي ُ الْم 108 ) Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf: 108) Ayat ini kritik kepada kebanyakan manusia yang tidak mau memikirkan tandatanda kekuasaan Allah yang ada di langit dan di bumi, yang menunjukkan Allah adalah Esa dan hanya kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka Allah memerintahkan kepada Rasulullah agar beliau menyampaikan bahwa jalan dan manhaj yang ditempuhnya adalah dakwah kepada agama Allah, bertauhid dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. Dakwah itu juga digerakkan oleh para pengikut Rasulullah berdasarkan hujjah yang jelas dan nyata. Sabil dalam ayat di atas adalah sabilullah, yakni thariqul haqq. Majelis Tarjih mendefinisikan sabilullah adalah jalan yang mengantarkan kepada apa-apa yang diridlai oleh Allah, yaitu menjalankan perintah, menjauhi larangan dan segala perbuatan yang diijinkan oleh Allah dan Rasulullah. 24 Bashirah sebagaimana al-Maraghi bermakna al-hujjah wa al-burhan (argumen dan bukti). Ini menunjukkan bahwa Islam sebagai agama Allah yang hanif tidak sekedar menuntut agar manusia menerima begitu saja ajaran-ajaran dan doktrin23Ahmad Mustafa al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi al-Mujalad al-Thani, Juzu IV, (Beirut: Dar alFikr, t.th.) hlm. 22-23 24PP Muhammadiyah. Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah., (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2016), hlm. 277


55 doktrinnya, tetapi ia adalah agama yang disertai hujjah dan burhan.25 Sementara itu, Muhammad bin Salih a-Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud bashirah ada tiga hal, yaitu (a)ʿilmu Al-Qur`ān wa Al-Sunnah, (2) al-‘ilm bi al-aḥkām al-syar’iyyah, yakni pengetahuan para da’i tentang ilmu al-ahkam al-syar’iyyah, dan (c) al-ʿilm bi kaifiyah al-daʿwah wa aḥwāl al-madʿuwwīn, ilmu tentang metode dakwah dan kondisi mad’u. 26 Di sini ada paralelisasi dengan konsep al-khair yang terdapat dalam Ali Imran 104, yaitu bahwa gerakan dakwah Islam harus menjadi gerakan dan ‘amal jama’i, yang berlandaskan kepada bashirah dan al-khair untuk menuju khaira ummah. Prinsip dan Metode dalam Berdakwah dan Bertabligh ي ة َ ن َ َس ا ْحل ي ظَة عي ْ و َ الْم َ و ي ة َ ْكم َك ياب ْحلي ي ب َ ييل ر ي ب َ ييَل س إ ُ ْع اد ن َ َض َّل ع َن ي ِب ُ لَم ْ أَع َ و ُ َك ه َّ ب َ َّن ر ي إ ُ ن َ ْس أَح َ ي ي م يابلَّيِت ه ُ ْهل ي اد َ َج و َ و ُ ه َ و ي ه ي يل ي ب َ س َ ين َدي ت ْ ه ُ يابلْم ُ لَم ْ أَع “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125) Dalam ayat-ayat ini terdapat konsep-konsep yang berkaitan dengan metode dan strategi dakwah Islam, yaitu konsep al-hikmah, al-maw’izhah al-hasanah dan aljidal. Nasiruddin al-Baidhawi memaknai al-hikmah dengan perkataan yang kuat disertai dengan dalil yang menjelaskan kebenaran, dan menghilangkan syubuhat. Sedangkan al-maw’izhah al-hasanah adalah ungkapan-ungkapan jelas yang dapat memberi kepuasan kepada orang awam. Dan al-jidal al-ahsan sebagai percakapan dan perdebatan yang dapat mematahkan argumen dan memuaskan penentang.27 Pemaknaan al-Baidhawi di atas sejalan dengan penjelasan Syeikh Ṣālih alUthaimin dalam kitab Syarḥ Thalāthatul Usūl, yang mengatakan bahwa tingkatan dakwah Islam berkaitan dengan metode dan pemahaman tentang kondisi mad’u ada tiga atau empat, sebagaimana ditunjukkan oleh QS. Al-Nahl: 125 dan Al-Ankabut: 46,28 yaitu: (1) dakwah kepada orang-orang yang memiliki ilmu dan siap menerima kebenaran, maka kepada mereka dakwah dilakukan dengan al-hikmah, yakni dalildalil yang pasti yang dapat menjelaskan kebenaran dan menghindari kesalahpahaman. (2) Dakwah kepada kaum awam yang kurang ilmunya tetapi siap menerima kebenaran, kepadanya diberikan al-maw’izah al-hasanah. (3) Dakwah kepada kaum yang suka berdebat dan menentang atau menolak kebenaran dengan al-jidal al-ahsan. (4) Dakwah kepada orang-orang yang menolak dan memusuhi 25Ahmad Mustafa al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi al-Mujalad al-Khamis, Juzu XIII, hlm. 52 26Muhammad bin Salih a-Uthaimin, Syarh Thalathah al-Usul. (Tanpa data penerbitan), hlm. 22 27Nasiruddin Abu al-Khair Abdullah bin Umar bin Muhammad al-Baidhawi. Anwa al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil. CD Rom Maktabah Syamilah, Juz 3 hlm. 393 28Muhammad bin Salih a-Utsaimin, Syarh Thalathah al-Usul., hlm. 22


56 kebenaran Islam dan menzalimi umatnya, maka dakwah kepada mereka dengan memerangi mereka 3. Landasan Ideal. Operasional, Tujuan Dan Fungsi Korps Mubaligh Muhammadiyah Landasan Ideal Korps Muballigh Muhammadiyah Landasan ideal adalah landasan normatif ideologis yang selama ini menjadi pandangan hidup Muhammadiyah. Landasan ideal Muhammadiyah berangkat dari landasan syar’i atau landasan teologis yang bersumber dari Al-Quran dan AlSunnah yang kemudian dirumuskan dalam konsep-konsep ideologis normatif persyarikatan dengan melihat perkembangan lingkungan strategis, baik sosial, politik, budaya, ekonomi, dan ideologi itu sendiri. Majelis Tabligh sebagai unit pembantu persyarikatan yang menjalankan fungsi sebagai penanggungjawab kegiatan ketablighan dalam Muhammadiyah, yang sekaligus menjadi inti dari gerak dan langkah dakwah Muhammadiyah memerlukan suatu badan yang mengumpulkan dan mengelola sumberdaya muballigh, baik dalam langkah-langkah ketablighan maupun peningkatan kualitas sumber daya Muballigh itu sendiri. Badan itulah yang selanjutnya dinamakan sebagai Korps Muballigh Muhammadiyah. Pembentukan dan pengelolaan Korps Muballigh Muhammadiyah yang merupakan mitra dan kepanjangan tangan dari Majelis Tabligh Muhammadiyah disamping berlandaskan syar’i yang bersumber pada Al-Quran dan Al-Sunnah AlMaqbulah, juga didasarkan pada landasan ideal gerakan Muhammadiyah sebagai berikut: 1. Landasan Ideologi Muhammadiyah terdiri dari: a. Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, b. Kepribadian Muhammadiyah, c. Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, d. Pedoman Hidup Muhammadiyah, dan e. Khittah Perjuangan Muhammadiyah 2. Anggaran Dasar Muhammadiyah, Bab II pasal 4 ayat d, e, j, dan k. Landasan Operasional Korps Muballigh Muhammadiyah Adapun landasan operasional pengelolaan Korps Muballigh Muhammadiyah di dasarkan pada: 1. Anggaran Rumah Tangga pasal 6 ayat 2 butir c., pasal 7 ayat 2 butir c, pasal 8 ayat 2 butir d. 2. Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 47 tahun 2015, tentang Visi Muhammadiyah 2020 (jangka menengah 2020) poin 1 a. 3. Keputusan Muktamar Muhammadiyah 47 tentang Program Nasional Tabligh 2015- 2020, dan Program Kerja Majelis Tabligh Muhammadiyah 2015-2020, 4. Amanat Muktamar Muhammadiyah ke 47 (2015) dan Muktamar Muhammadiyah 48 (2022) tentang peningkatan peran masjid dan musala Muhammadiyah dalam


57 sistem dakwah dan tabligh Muhammadiyah, serta pengembangan dakwah pencerahan berbasis komunitas. 5. Pedoman Pimpinan Pusat Muhammadiyah No 01/PED/I.0/B/2022 tentang Masjid/Musala Muhammadiyah 6. Keputusan Rakernas Majelis Tabligh Muhammadiyah tanggal 5-7 Mei 2017 Bidang Korps Muballigh dan Pemberdayaan Masjid. 7. Tuntunan Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah. 8. Keputusan PP Muhammadiyah No. 02/PRN/1.0/B/2015 tentang Peraturan Majelis Tabligh Muhammadiyah. 9. Keputusan Rapat Kerja Nasional Majelis Tabligh Muhammadiyah 5-7 Mei 2016 tentang Draft Panduan Korps Muballigh Muhammadiyah di LPMP Kalasan, Sleman, DIY. 10.Keputusan Rapat Kerja Nasional Majelis Tabligh Muhammadiyah 3-5 Mei 2018 tentang Panduan Korps Muballigh Muhammadiyah di Hotel Grand Dafam Rohan Banguntapan, Bantul, DIY. Dengan landasan ideal dan operasional seperti itu, dibentuklah Korps Muballigh Muhammadiyah (yang selanjutnya disingkat secara resmi dengan KMM) yang merupakan kumpulan atau asosiasi Muballigh dan muballighat Muhammadiyah yang terkoordinir dengan rapi dan mendapatkan tugas untuk memberikan layanan dakwah dan tabligh di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah khususnya dan masyarakat pada umumnya. KMM ini dibentuk oleh dan bekerja dalam koordinasi Majelis Tabligh di masingmasing tingkat kepemimpinan mulai dari Pimpinan Pusat hingga Pimpinan Cabang Istimewa. Tujuan Korps Muballigh Muhammadiyah Pembentukan dan pengelolaan Korps Mubligh Muhammadiyah yang selanjutnya menjadi mitra kerja intensif Majelis Tabligh Muhammadiyah memiliki tujuan “Terwujudnya kelembagaan Korps Muballigh yang efektif dalam rangka mencapai masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” dengan indikator sebagai berikut: 1. Menjamin ketersediaan Muballigh dan Muballighat Muhammadiyah yang profesional secara formal dan terorganisir di setiap jenjangnya. 2. Untuk mewujudkan sumber daya insani Muballigh dan Muballighat Muhammadiyah yang terorganisir dan terkoordinasi dengan manajemen yang rapi, sehingga distribusi Muballigh dan Muballighat sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di lingkungan Muhammadiyah. 3. Untuk memudahkan pengkaderan, pembinaan, dan peningkatan kualitas Muballigh dan Muballighat Muhammadiyah. Fungsi Korps Muballigh Muhammadiyah Sebagai bagian dari Majelis Tabligh Muhammadiyah, KMM memiliki fungsi dan tugas antara lain: 1. Memberikan layanan masyarakat akan kebutuhan tenaga Muballigh dan Muballighat. 2. Menggerakkan dan mengelola kegiatan dakwah dan tabligh Muhammadiyah. 3. Meningkatkan dan mengembangkan kompetensi Muballigh Muhammadiyah. 4. Mengelola pola kesejahteraan Muballigh Muhammadiyah.


58 5. Berperan aktif dalam memakmurkan masjid Muhammadiyah dan masjid lain yang bersedia bergabung dalam koordinasi Muhammadiyah. 6. Bersama Majelis Tabligh menyelenggarakan pembinaan, pendidikan, dan pelatihan Muballigh dan Muballighat Muhammadiyah. 7. Melakukan koordinasi tugas dan kegiatan Muballigh Muhammadiyah sesuai tingkat dan proporsinya masing-masing. 8. Menyiarkan pokok-pokok pikiran, ideologi, dan paham agama Muhammadiyah. Untuk melaksanakan tugas dan fungsi tersebut di atas Korps Muballigh Muhammadiyah: 1. Menyusun rencana operasional kerja peningkatan kompetensi dan sistem kesejahteraan Muballigh Muhammadiyah. 2. Melakukan pendataan Muballigh Muhammadiyah di tingkat Persyarikatan masing-masing untuk menjadi anggota Korps Muballigh Muhammadiyah. 3. Menyusun pengurus dan staf harian pelaksana tugas-tugas Korps Muballigh Muhammadiyah dan disahkan oleh Majelis Tabligh sesuai jenjangnya. Sebagai mitra Majelis Tabligh dan ujung tombak kegiatan dakwah dan tabligh Korps Muballigh Muhammadiyah merencanakan, mengelola, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan layanan dakwah dan tabligh, berupa: 1. Pengembangan dan pengayaan layanan dakwah dan tabligh bil kalam (lisan), bil qalam (tulisan), dan dakwah bil hal (aksi) juga layanan dakwah dan tabligh online. 2. Seminar, diskusi, sarasehan masalah-masalah keagamaan (masail diniyyah), dan konsultasi masalah agama dan kehidupan umat Islam. 3. Pengembangan materi dakwah dan tabligh yang dapat memberikan pencerahan dan tuntunan kepada masyarakat Islam, khususnya warga Muhammadiyah yang diterbitkan secara cetak dan online. 4. Penguatan kemakmuran masjid sebagai tempat ibadah, pusat dakwah, dan peradaban umat Islam. Korps Muballigh Muhammadiyah juga melaksanakan layanan dakwah dan tabligh yang dilaksanakan oleh Pimpinan Persyarikatan dan Pimpinan Majelis Tabligh, baik sebagai event organizer (EO) maupun sebagai narasumber, seperti: kegiatan pengajian umum (tabligh akbar), rihlah dakwah, pengajian pimpinan, dan sebagainya, 4. Sistem Organisasi dan Pengelolaan Struktur Kelembagaan Struktur Korps Muballigh Muhammadiyah secara vertikal dibentuk secara berurutan: Korps Muballigh Muhammadiyah tingkat pusat, tingkat wilayah, tingkat daerah, dan tingkat cabang, termasuk Cabang Istimewa di luar negeri. Kepengurusan Korps Muballigh Muhammadiyah terdiri atas: pembina, ketua, sekretaris, bendahara dan anggota. Kepengurusan dapat dilengkapi dengan bidang atau divisi jika diperlukan.


59 a. Korps Muballigh Muhammadiyah Tingkat Cabang dan Cabang Istimewa Berdasarkan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah Pasal 6 ayat 2 butir a, Cabang harus menyelenggarakan pengajian/kursus berkala anggota Pimpinan Cabang dan unsur pembantu pimpinannya, Pimpinan Ranting, serta Pimpinan Ortom tingkat Cabang sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. Pada butir b disebutkan Cabang harus menyelennggarakan Pengajian/Kursus berkala Muballigh/Muballighat di lingkungan Cabangnya sekurang-kurangnya sekali sebulan. Pada butir c, disebutkan bahwa Cabang harus memiliki anggota sekurang-kurangnya 10 orang Muballigh/Muballighat. Korps Muballigh Muhammadiyah tingkat Cabang dibentuk dan bekerja dalam koordinasi Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah. Untuk Korps Muballigh Muhammadiyah di Cabang Istimewa di luar negeri diatur sesuai aturan umum Korps Muballigh Muhammadiyah Tingkat Cabang dengan memperhatikan situasi, kondisi dan aturan yang berlaku di negara tempat Pimpinan Cabang Istimewa berada. b. Korps Muballigh Muhammadiyah Tingkat Daerah Berdasarkan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah Pasal 8 ayat 2 butir a, Daerah harus menyelenggarakan pengajian/kursus anggota Pimpinan Daerah dan unsur pembantu pimpinannya, serta Pimpinan Ortom tingkat Daerah sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. Pada butir b disebutkan Daerah harus menyelenggarakan Pengajian/Kursus Muballigh/Muballighat di tingkat Daerah sekurang-kurangnya sekali sebulan. Pada butir c, disebutkan bahwa Daerah harus memiliki anggota sekurang-kurang 20 orang Muballigh/Muballighat. Korps Muballigh Muhammadiyah tingkat Daerah dibentuk dan bekerja dalam koordinasi Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah. c. Korps Muballigh Muhammadiyah Tingkat Wilayah Berdasarkan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah Pasal 9 ayat 2 butir a, Wilayah harus menyelenggarakan pengajian/kursus anggota Pimpinan Wilayah dan unsur pembantu pimpinannya, serta Pimpinan Ortom tingkat Wilayah sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. Pada butir b disebutkan Wilayah harus menyelennggarakan Pengajian/Kursus Muballigh/Muballighat di tingkat Wilayah sekurang-kurangnya sekali sebulan. Pada butir c, disebutkan bahwa Daerah harus memiliki anggota sekurang-kurang 30 orang Muballigh/Muballighat. Korps Muballigh Muhammadiyah tingkat Wilayah dibentuk dan bekerja dalam koordinasi Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah.29 d. Korps Muballigh Muhammadiyah Tingkat Pusat Korps Muballigh Muhammadiyah tingkat Pusat mengkoordinasi kegiatan Muballigh Muhammadiyah secara nasional, serta menghimpun sumberdaya Muballigh Muhammadiyah yang memiliki kapasitas tingkat nasional dalam rangka memenuhi kebutuhan Muballigh tingkat nasional. Korps Muballigh tingkat pusat 29Anhar Anshori, Pedoman Pembentukan Korps Muballigh Muhammadiyah dan Pembinaannya. (Yogyakarta: t.p., 2008), hlm. 3-8


60 juga melakukan pemetaan potensi Muballigh Muhammadiyah dalam skala nasional. Anggota Korps Muballigh tingkat Pusat adalah seluruh anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah, serta unsur Muballigh perwakilan Wilayah se-Indonesia. Korps Muballigh Muhammadiyah tingkat Pusat mengupayakan terwujudnya database kader dan sumber daya insani Muballigh secara berjenjang mulai dari Cabang hingga Pusat dengan mengembangkan teknologi informasi. Korps Muballigh Muhammadiyah tingkat Pusat dibentuk dan bekerja dalam koordinasi Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Keanggotaan Anggota Korps Muballigh Muhammadiyah terdiri atas Muballigh dan Muballighat Muhammadiyah/Aisyiyah, pimpinan dan kader Muhammadiyah/Aisyiyah yang siap dan mampu menjalankan tugas-tugas ketablighan. Keanggotaan dan persyaratan ditetapkan pada rapat pleno Majelis Tabligh sesuai jejang kepemimpinannya. Seluruh anggota Korps Muballigh Muhammadiyah terdata lengkap daftar riwayat hidup dan foto diri terbaru. Setiap anggota Korps Muballigh Muhammadiyah disahkan dengan surat keputusan yang diterbitkan oleh Majelis Tabligh di setiap jenjangnya. Syarat-syarat Keanggotaan Adapun syarat-syarat menjadi anggota Korps Muballigh Muhamamdiyah adalah sebagai berikut: a. Mengisi dan menyerahkan surat kesanggupan yang telah disediakan disertai foto ukuran 2x4 sebanyak 2 lembar dan ukuran 4x6 sebanyak 1 lembar. b. Mengisi daftar riwayat hidup yang telah disediakan. c. Anggota Muhammadiyah yang aktif dibuktikan dengan kartu anggota Muhammadiyah. d. Sanggup untuk istiqomah dalam ber-Muhammadiyah, baik secara ideologis maupun organisatoris dan sanggup menjaga nama baik Muhamamdiyah. e. Pendidikan minimal SMA atau sederajat untuk KMM tingkat Cabang, dan Minimal S1 atau sederajat untuk tingkat Daerah ke atas. f. Mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil, dianjurkan memahami maknanya dan hafal Al-Qur’an. g. Mampu menulis dan memahami bahasa Arab. h. Dapat menjadi teladan dalam ibadah dan akhlak, dan rajin shalat berjamaah di Masjid di lingkungan tempat tinggalnya. i. Mampu menjadi imam dan khatib untuk Muballigh (laki-laki). j. Tidak menjadi anggota ormas keagamaan lain di luar Muhammadiyah. k. Mampu memahami aspek sosial budaya masyarakat setempat. Tanda Keanggotaan


61 Tanda keanggotaan Korps Muballigh Muhammadiyah berupa Kartu Angota Korps Muballigh Muhammadiyah di keluarkan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah untuk anggota Korps Muballigh Muhammadiyah tingkat Wilayah, Daerah dan Cabang. Sedangkan keanggotaan Korps Muballigh Muhammadiyah tingkat Pusat dikeluarkan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat. Setiap anggota Korps Muballigh Muhammadiyah memperoleh Nomor Induk Nasional Muballigh Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kewajiban dan Hak a. Kewajiban Korps Muballigh Muhammadiyah 1) Korps Muballigh Muhammadiyah wajib menjadikan Masjid sebagai sentral gerakan Tabligh. 2) Melaksanakan kegiatan dakwah dan tabligh dengan tidak menyimpang dari garis-garis kebijakan dakwah yang ditetapkan oleh Muhammadiyah. 3) Mengadakan desa binaan dengan konsep, manajemen dan program serta target pembinaan secara bertahap dengan bekerjasama secara sinergis dengan Majelis, Lembaga, Ortom dan AUM secara proporsional. 4) Menetapkan dan membagi wilayah sasaran dakwah dan tabligh untuk masing-masing anggota Korps Muballigh Muhammadiyah dan membuat laporan kerja/kegiatan individu maupun kelompok kepada pimpinan Korps Muballigh Muhammadiyah. 5) Menyusun materi dakwah dan tabligh secara sistematis sesuai dengan kebutuhan objektif sasaran dakwah. 6) Pimpinan Korps Muballigh Muhammadiyah membuat laporan kebijakan dan kegiatan ketablighan secara berkala kepada Pimpinan Majelis Tabligh sesuai jenjangnya. 7) Mengikuti pembinaan dan pelatihan Muballigh yang dilaksanakan oleh Majelis Tabligh. b. Hak Anggota 1) Mendapatkan perlindungan hukum dari Muhammadiyah. 2) Mempoleh kartu kesehatan atau dana pengobatan dari Muhammadiyah melalui baitul mal atau lazismu, sesuai kemampuan Muhammadiyah. 3) Mendapatkan insentif berupa uang saku atau transportasi sejauh kemampuan Muhammadiyah. 4) Mendapatkan paket tentang materi dakwah atau buku-buku rujukan.30 Jaringan Organisasi Jaringan organisasi dan networking Korps Muballigh Muhammadiyah secara secara internal Muhammadiyah berjalan sesuai dengan struktur organisasinya, yaitu jaringan vertikal dan horisontal. Jaringan vertikal bersifat timbal balik dari Pusat hingga tingkat Cabang, sesuai tugas, fungsi, dan kepentingan Korps Muballigh 30Anhar Anshori, Pedoman Pembentukan Korps Muballigh Muhammadiyah dan Pembinaannya. (Yogyakarta: t.p., 2008), hlm. 9-10


62 Muhammadiyah. Adapun jaringan horizontal adalah jejaring dengan majelis tabligh dan majelis/lembaga dalam persyarikatan dan organisasi otonom setingkat. Sedangkan jaringan eksternal yaitu hubungan kerja dengan pihak luar organisasi Muhammadiyah dapat dilakukan dalam aktivitas dakwah dan ketablighan dengan persetujuan dan berkoordinasi dengan pimpinan Majelis Tabligh sesuai jenjang kepemimpinan. 5. Pemberdayaan dan Peningkatan Kualitas Muballigh Peta dan klasifikasi potensi Muballigh Pendataan secara sistematis dan sistemik wajib dan harus dilakukan oleh pengurus Korps Muballigh Muhammadiyah, sehingga dapat diketahui ragam kompetensi keilmuan, kompetensi sosial serta potensi-potensi lainnya yang dimiliki oleh para Muballigh dan Muballighat Muhammadiyah. Database anggota Korps Muballigh Muhammadiyah yang lengkap dapat mengoptimalkan layanan ketablighan sesuai kebutuhan umat, karena kecukupan jumlah Muballigh dengan berbagai kompetensi sebagaimana dibutuhkan masyarakat, khususnya Muhammadiyah. Sinergitas Antar Muballigh Korps Muballigh Muhammadiyah dibentuk untuk terjaganya jalinan silaturrahim antar muballigh, satu sama lain saling memahami, menopang, menolong dan membantu, dan meminimalisasi konflik interes antar individu Muballigh. Justru dengan terjalinnya sinergitas antara Muballigh distribusi sumber daya insani Muballigh dapat merata dan adil. Selanjutnya, kegiatan dakwah dan ketablighan dapat berjalan dengan optimal dan sesuai dengan proporsi kewilayahan. Pembinaan dan pelatihan Muballigh Untuk meningkatkan kualitas layanan dakwah dan tabligh diperlukan kuantitas dan kualitas Muballigh yang handal, baik dari segi penguasaan ilmu-ilmu keislaman, maupun segi metode, pendekatan dan strategi dakwah dan tabligh. Peningkatan kuantitas dan kualitas Muballigh merupakan keniscayaan. Dalam hal ini Korps Muballigh Muhammadiyah bersama Majelis Tabligh melakukan proses pembinaan, pelatihan dan pendidikan Muballigh baik dalam bentuk kursus, dauroh, dan pendidikan formal dalam ilmu-ilmu keislaman terutama ilmu dakwah dan ilmu al-Quran dan tafsir. Pembinaan dan peningkatan kualitas Muballigh dilakukan dengan refreshing Muballigh, muzakarah Muballigh, rihlah dakwah, klinik dakwah, tafhim Al-Qur’an wa Al-Sunnah dan kajian khusus para muballigh secara rutin, studi lanjut pendidikan Muballigh pada jenjang S2 dan S3, dengan menjalin kerjasama dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Kesejahteraan Muballigh Kesejahteraan Muballigh sangat penting untuk diperhatikan. Karena Muballigh akan dapat menjalan tugas dakwah dan ketablighan dengan baik apabila Muballigh tersebut secara relatif telah terjamin kesejahteraan hidupnya. Oleh karena itu Korps


63 Muballigh Muhammadiyah perlu mengupayakan terpenuhinya hak masyarakat untuk mendapatkan ilmu dan pencerahan dari para Muballigh. Namun Korps Muballigh Muhammadiyah juga perlu mengupayakan kesejahteraan Muballigh dengan cara melibatkan peran serta masyarakat dalam bentuk gerakan zakat, infaq, dan shadaqah (ZIS), dan berkolaborasi LAZISMU, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan lembaga zakat lainnya yang sejalan dengan misi Muhammadiyah. Kesejateraan Muballigh anggota Korps Muballigh Muhammadiyah dimaksudkan agar para Muballigh Muhammadiyah dapat menjadi tugasnya secara profesional, terprogram dan terukur, sekaligus mendapatkan kecukupan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejateraan hidupnya bersama keluarganya. Korps Muballigh Muhammadiyah mengupayakan agar setiap Muballigh memiliki jaminan (asuransi) kesehatan, seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, serta keadilan hukum. Korps Muballigh Muhammadiyah juga mengupayakan beaya transportasi bagi muballigh, serta advokasi hukum apabila muballigh terkena tuntutan hukum sebagai akibat dari dakwah dan tabligh yang dilakukan. C. KODE ETIK TABLIG DAN MUBALLIGH Kode etik adalah norma, asas atau prinsip-prinsip yang diberlakukan oleh kelompok masyarakat tertentu sebagai landasan dan pedoman perilaku orang-orang yang terikat di dalam kelompok tersebut. Kode etik tabligh dan muballigh merupakan seperangkat norma, asas-asas, atau prinsip-prinsip yang diberlakukan oleh Majelis Tabligh dan menjadi landasan serta pedoman bagi Muballigh Muhammadiyah dalam seluruh kegiatan tabligh Muhammadiyah. Seluruh nilai atau norma yang terkandung dalam kode etik merupakan entitas dari norma-norma keislaman dan keorganisasian yang bersumber pada: 1. Al-Qur’an 2. As-Sunnah 3. Ideologi Persyarikatan Muhammadiyah Kode etik disusun dengan maksud dan tujuan agar tabligh Muhammadiyah serta seluruh pelaku tabligh yang berada di dalamnya tetap beristiqamah dalam koridor prinsip-prinsip gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar serta konsisten pada nilai-nilai kemajuan guna mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Dengan demikian kode etik menjadi pemandu bagi seluruh kegiatan tabligh, organisasi dan manajemen tabligh, serta segenap insan muballigh memperoleh kepastian mengenai hal-hal yang boleh dan wajib dilakukan, serta hal-hal yang terlarang dan pantang dilakukan. Kode Etik Tabligh Muhammadiyah 1. Tabligh merupakan ajakan persuasif yang tujuannya dapat tercapai tanpa paksaan


64 2. Tabligh adalah seruan untuk berpikir, berdebat dan berargumentasi dengan kebenaran (rasional-intelektual). Tabligh bukan kegiatan indoktrinasi-dogmatis sehigga menyebabkan manusia tidak mengerti dan tidak tertarik pada maksud, tujuan, isi dan ajakan tabligh, serta malah menimbulkan kesalahpahaman terhadap tabligh dan ajaran Islam itu sendiri 3. Tabligh merupakan jihad dan tugas mulia yang mesti dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan kontinyu 4. Tabligh merupakan kegiatan dakwah yang bersifat transformatif, yaitu mengadakan perubahan menuju kepada kebaikan di dunia dan akhirat. 5. Tabligh bersifat universal, diserukan kepada semua umat manusia 6. Tabligh kepada al-haq akan selalu berhadapan dengan al-bathil, dan oleh karenanya tidak selalu mulus, tetapi sarat dengan rintangan. Namun demikian tabligh tetap harus dilancarkan dengan penuh hikmah dakwah 7. Tabligh Muhammadiyah tidak bersifat konfrontatif melainkan proaktif, konstruktif dan solutif, 8. Tabligh itu mencerahkan, menggerakkan, dan menggembirakan Kode Etik Muballigh Muhammadiyah 1. Menyatukan antara ucapan dan perbuatan. 2. Mengedepankan karakter lemah lembut (layyinan), sukarela tanpa paksaan (tathawwu'iyyan), toleran. terhadap perbedaan (tasamuhiyyan), dan menyayangi subyek tabligh (audiens/jemaah/umat/masyarakat) dan sesama pelaku tabligh. (tawaddudiyan wa tarahumiyan) 3. Tidak melakukan pencampuradukan akidah dengan ajaran agama-agama atau kepercayaan lain 4. Tidak menghujat atau menghina sesembahan orang lain. 5. Bersikap adil dan tidak mendiskriminasi subyek tabligh 6. Tidak meminta dan menetapkan nilai imbalan. 7. Menghindari pergaulan yang mengundang syubhat dari masyarakat. 8. Tidak menyampaikan hal-hal yang tidak diketahui dan tidak dikuasainya. 9. Menganggap sesama pelaku tabligh sebagai mitra yang saling menguatkan, bukan pesaing yang saling menjatuhkan. 10. Berpegang teguh, dan melaksanakan tugas dengan integritas akhlak mulia 11. Menyelenggarakan kegiatan tabligh dengan sumber pendanaan yang halal dan tidak mengikat. 12. Merujuk kepada putusan-putusan yang telah digariskan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah dan segala peraturan serta ketentuan organisasi Persyarikatan Muhammadiyah


65 BAB III DIKLAT MUBALIGH MUHAMMADIYAH A. Sistem Diklat Mubaligh Muhammadiyah 1. Pendahuluan Masa depan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan Dakwah dan Tajdid, tidak mungkin dilepas dari upaya-upaya pewarisan keyakinan dan cita-cita hidupnya, pewarisan kepribadiannya, kepada generasi penerus, pelangsung, dan penyempurna amal usaha dan perjuangan Muhammadiyah. Semenjak awal kelahirannya usaha-usaha tersebut telah mendapatkan bentuknya sebagai sistem pengkaderan dengan kekayaan tradisi dan sibghoh Persyarikatan Muhammadiyah. Sistem tersebut telah berjalan puluhan tahun, dengan berbagai dinamikanya, sebagai antisipasi atas perkembangan sejarah. Namun, akhir-akhir ini banyak disorot bahwa perkembangan Muhammadiyah yang begitu pesat, baik di bidang organisasi maupun badan-badan usaha yang menjadi stakeholdernya, belum dapat diimbangi oleh jumlah dan mutu kader yang dihasilkannya. Apalagi jika dikaitkan dengan keberadaan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, begitu terasa minimnya kader-kader Mubaligh yang mumpuni dalam menjalankan dakwah amar makruf dan nahi munkar.31 Akhirnya, hal tersebut seringkali memunculkan berbagai masalah dalam pengelolaan dakwah dan tabligh di lingkungan Persyarikatan. Keluhan dan kegelisahan banyak muncul di berbagai tempat, seperti kurangnya kader dan sumberdaya insani untuk mengelola kegiatan pengajian-pengajian dan majelis-majelis tafaqquh fiddin di lingkungan Muhammadiyah, sehingga banyak pengajian-pengajian dan majelis-majelis kajian intensif untuk kajian ilmuilmu agama menjadi berkurang. Belum lagi tantangan dakwah yang semakin kompleks, yang membutuhkan kader-kader Mubaligh dan Da’i yang di satu sisi memiliki kemampuan dalam tafaqquh fiddin, tetapi juga kreatif dan inovatif dalam mengembangan metode dan pendekatan dakwah dalam menghadapi masyarakat yang terus berubah dan berkembang. Menghadapi permasalahan-permasalah di atas diperlukan usaha-usaha yang serius untuk melakukan rekonstruksi dan rekonseptualisasi Perngkaderan Muballigh dan Da’i Muhammadiyah sesuai dengan visi perjungan Muhammadiyah dengan memperhatikan dinamika masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang. Ini sesuai dengan pesan Al-Quran yang memerintahkan agar ada sekelompok di antara orang-orang mukmin yang mendalami agama, yang selanjutnya siap untuk menyampaikan pesan pengarahan kepada kaumnya, sehinnga mereka hidup dalam kendali agama. Allah berfirman: ۟ وا ُ َّقه َ ف َ ت َ ي ي ل َة ف ي طَآئ ْ م ُ ْه ن ي م ٍ َة ق ْ ر ي ي ف ن ُكل ي م َ َر َف ََل ن ْ لَو َ ۚ ف ً َكآفَّة ۟ وا ُ ر ي نف َ ي ي ُوَن ل ن ي م ْ ؤ ُ َن ٱلْم َكا ا َ م َ و ۟ ا ٓ و ُ ع َ َج ذَا ر ي إ ْ م ُ ه َ م ْ َو ق ۟ وا ُ ر نذي ُ ي ي ل َ ي ين و دي يِف ٱل وَن ُ َذر ْ ََي ْ م ُ لَّه َ لَع ْ يهم ْ لَي ي إ Artinya: Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya? (QS. Al-Taubah/9: 122) 31 1M. Djazman Al-Kindi, Muhammadiyah Peran Kader dan Pembinaannya, Solo: UMS-Press, 1989, p. viii


66 Majelis Tabligh adalah merupakan badan pembantu pimpinan Persyarikatan yang memiliki tugas melakukan rekonstruksi dan rekonseptualisasi pengkaderan Mubaligh dan Da’i Muhammadiyah, sekaligus pelaksana usaha-usaha pembinaan, pengembangan kader Mubaligh dan Da’i dalam Muhammadiyah sebagai bagian dari tugas besarnya yakni melaksanakan dakwah, tabligh dan penyiaran ajaran Islam sesuai dengan prinsip-prinsip pemahaman Muhammadiyah yang bersumber pada Al-Quran dan al-Sunnah. 2. Pengertian dan Kedudukan Kader Mubaligh Muhammadiyah Kader (Perancis: Cadre) berarti elite, ialah bagian yang terpilih, yang terbaik karena terlatih, berarti jantung suatu organisasi. Kalau kader suatu organisasi lemah, maka seluruh kekuatan organisasi juga lemah. Kader berarti pula inti tetap dari suatu resimen. Daya juang resimen ini sangat bergantung dari nilai kadernya, yang merupakan tulang punggung, pusat semangat dan wawasan masa depannya. Maka jelaslah bahwa hanya orang-orang yang bermutu itulah, yang terpilih dan berpengalaman dalam medan pertempuran, yang taat dan berinisiatif, yang dapat disebut kader. Dalam bahasa lain, kader (quadrum) berarti empat persegi panjang atau kerangka. Dengan demikian kader dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang terbaik karena terpilih, yaitu merupakan inti dan tulang punggung (kerangka) dari kelompok yang lebih besar dan terorganisir secara permanen. Fungsi dan kedudukan kader dalam suatu organisasi dengan demikian menjadi sangat penting karena kader dapat dikatakan sebagai inti penggerak organisasi. Jika suatu organisasi tidak merancang dan menyiapkan para kadernya secara sistematis dan organisatoris, maka dapat dipastikan bahwa organisasi itu akan melempem, tidak ada aktivitas dan tak memiliki prospek masa depan. Karena itu setiap organisasi haruslah memiliki konsep yang jelas, terencana dan sistematis dalam menyiapkan dan mengembangkan suatu sistem yang menjamin keberlangsungan transformasi kader dan kepemimpinan.32 Kata muballigh merupakan bentuk isim fa’il (bentuk pelaku) dari kata ballagha – yuballighu – tablighan, yang artinya menyampaikan. Tabligh artinya penyampaian, dan muballigh adalah orang yang menyapaikan pesan. Dari pengertian kebahasaan di atas mubaligh dapat didefinisikan sebagai orang yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk menyampaikan pesan-pesan Islam dan menjadi teladan dalam pelaksanaan ajaran Islam, dengan niat ibadah kepada Allah. Dari paparan di atas, yang dimaksud dengan kader Mubaligh Muhammadiyah adalah anggota Muhammadiyah yang terpilih karena kualitas visi dan missi kejuangan dan perjuangannya sebagai penggerak, penganjur dan pelaksana kegiatan dakwah dan tabligh di dalam Muhammadiyah dan masyarakat luas. Dalam menjalankan tugas yang diembannya di manapun dan dalam suasana apapun, setiap kader Muhammadiyah, termasuk Muballigh Muhammadiyah hendaknya 32 "Sistem Pengkaderan Muhammadiyah" dalam Tanfidz Keputusan Rakernas MPKSDI Muhammadiyah 2001, Yogyakarta: MPKSDI PP Muhammadiyah, 2002.


67 mempunyai cara berpikir, sikap mental, kesadaran beragama dan berorganisasi, keahlian serta keikhlasan yang berpusat pada: 1) Alam pikiran: selalu berpandangan dakwah (dakwah oriented) 2) Sikap mental: selalu berjiwa dakwah (dakwah minded). 3) Kesadaran beragama: menginsyafi sepenuh bahwa ajaran Agama Islam adalah ruh yang menggerakkan setiap amal perbuatan yang diamalkan dan diusahakan teriaksananya dalam masyarakat. 4) Kesadaran berorganisasi: mengakui bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi merupakan wadah dan alat perjuangan semata untuk mengamalkan dan memperjuangkan tegaknya nilai-nilai ajaran Islam, dan bukan merupakan tujuan dari perjuangan itu sendiri. 5) Keahlian: berkemampuan sebagai subjek dakwah, yang memiliki wawasan luas, menguasai teknologi, media dan informasi sebagai bagian dari strategi dakwah. 3. Visi dan Misi Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah Secara umum, visi dan misi serta arah pengkaderan Muhammadiyah adalah dalam rangka mewujudkan kader-kader atau tenaga penggerak yang berkemampuan dan memiliki integritas yang kuat dalam mengemban misi Gerakan Muhammadiyah, khususnya di bidang dakwah, tabligh dan penyiaran ajaran Islam baik ke dalam maupun ke luar, sehingga tercapai tujuan Persyarikatan melalui proses yang berkesinambungan. Secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Visi. Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah (SPMM) memiliki visi sebagai ”Pembinaan dan Pengembangan Kualitas dan Kuantitas Sumberdaya Insani Muballigh Muhammadiyah.” Visi ini dijabarkan dengan memberikan penekanan pada produk konsep kader Mubaligh, yang berdaya saing, berdaya guna, berhasil guna, aktual, spesifik dan menjadi sumber rujukan dalam pengembangan persyarikatan di semua level dan satuan-satuan amal-usahanya. Kader Muballigh Muhammadiyah adalah pribadi yang memiliki sifat-sifat keislaman (muslim), keimanan (mukmin), ketaqwaan (muttaqi), dan ihsan (muhsin), di samping sifat-sifat dalam profesionalitas seperti hannan (peka dan peduli terhadap lingkungan), jihad (dedikasi dan kejuangan yang tinggi) dan istiqamah (teguh pendirian dan tahan uji), serta memahami visi dan missi perjuangan Muhammadiyah. Kader Muballigh Muhammadiyah sebagai bagian dari Kader Persyarikatam harus senantiasa dapat menjadi dinamisator, katalisator, mobilisator atas perkembangan Muhammadiyah secara proaktif, progresif, komunikatif dan dinamis. 2. Misi. Yang dimaksud misi adalah tugas dan program yang harus diemban dan dikerjakan oleh Majelis Tabligh Muhammadiyah dengan Pelatihan Muballigh


68 Muhammadiyah (PMM) untuk mewujudkan visi di atas. Untuk kurun waktu tertentu, dalam arti suatu saat dapat dipertajam dan dikembangkan lebih lanjut, rumusan misi SPM adalah sebagai berikut: a. Merumuskan kembali konsep kader dan Sumberdaya Insani Muballigh Muhammadiyah yang sesuai dengan visi dan misi perjuangan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan gerakan dakwah dan tajdid fil Islam, yang mampu memberikan arah pada setiap perkembangan dan perubahan zaman. b. Merumuskan kembali sistem dan strategi pembinaan dan pengembangan Kader Muballigh Muhammadiyah yang sesuai dengan kebutuhan Persyarikatan menghadapi perubahan masyarakat dengan tetap berpegang pada visi dan misi perjuangannya. c. Melaksanakan program dan kegiatan pengadaan, pembinaan dan pengembangan Kader Muballigh Muhammadiyah secara kontinyu dan simultan, sesuai visi-misi dan perkembangan zaman. d. Mengembangan dan menyempurnakan sistem manajemen pembinaan, pendayagunaan dan pengembangan Kader dan SDI Muballigh Muhammadiyah, dengan berlandaskan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, akurasi, dan kesinambungan perjuangan Muhammadiyah. 4. Tujuan dan Sasaran Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah 1. Tujuan SPM adalah terwujudnya kualitas dan kuantitas kader Muballigh Muhammadiyah sebagai penggerak, penganjur dan pelaksana dakwah, baik ke dalam maupun ke luar, sesuai dengan misi serta tujuan Muhammadiyah 2. Sasaran SPM adalah sebagai pembinaan personal Mubaligh dan pimpinan Majelis Tabligh secara terprogram. SPM juga merupakan upaya penanaman nilai-nilai, sikap dan cara berpikir, serta peningkatan kemampuan Sumberdaya Insani Mubaligh Muhammadiyah. Sasaran SPM dalam mencapai tujuannya dirancang sebagai berikut: a. Pembinaan Ulumuddin b. Pembinaan Ideologi dan Jiwa Persyarikatan, c. Pembinaan Jiwa Dakwah d. Pembinaan Kepemimpinan, e. Pembinaan Penguasaan Keterampilan, Informasi dan Keilmuan f. Melalui kurikulum, metode, dan proses yang ditentukan, maka dengan penekanan pada pembinaan keempat aspek tersebut diharapkan bahwa peningkatan kualitas Mubaligh Muhammadiyah dapat mencapai tujuannya.


69 5. Strategi Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah Pengertian Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah Strategi pengkaderan adalah proses, prosedur, bentuk-bentuk, media, metode dan pendekatan yang harus ditempuh oleh Muhammadiyah dan satuan kurikulum yang diberikan dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan kader dan SDI Muballigh dalam Muhammadiyah. Di samping itu ada beberapa hal lain yang perlu diperkuat dalam strategi pengkaderan Muhammadiyah, antara lain: sistem rekruitmen, sistem data kader dan SDI, sistem pendayagunaan kader, serta sistem manajemen Kader dan SDI Muballigh Muhammadiyah dengan menjalin komunikasi dan koordinasi dengan Ortom/AMM. Oleh karena dakwah dan tabligh adalah merupakan inti gerakan Muhammadiyah, yang menjiwai seluruh aktivitas Muhammadiyah, maka strategi pengembangan kader harus mencakup multidimensi. Setidaktidaknya meliputi tiga fokus pembinaan, yaitu konsolidasi ideologi dan komitmen, konsolidasi organisasi dan ekonomi, dan konsolidasi wawasan dan ketrampilan. Konsolidasi ideologi dan komitmen adalah upaya pemahaman, penanaman, penghayatan dan implementasi prinsip perjuangan Muhammadiyah, meliputi prinsip-prinsip pemahaman agama dan keyakinan hidup Islami dalam Muhammadiyah, visi dakwah dan khittah perjuangan Muhammadiyah dalam rangka mencapai tujuan utama Muhammadiyah. Konsolidasi organisasi dan manajemen yaitu upaya penguatan sistem organisasi dan jamaah yang dibina, sehingga setiap kader memiliki kesadaran dan kepercayaan diri, bahwa setiap kader harus memiliki peran aktif dalam gerakan, siap memimpin dan dipimpin dinamika kelompok yang hidup. Dengan kesadaran dan kepercayaan kader yang demikian, maka organisasi akan berjalan lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuannya. Adapun konsolidasi wawasan dan ketrampilan adalah bentuk usaha untuk memberikan arah dan kekayaan pengetahuan dan pengalaman, sehingga setiap kader memiliki khazanah yang luas tetapi tetap memiliki pendirian yang istiqamah dalam mengaktualisasikan missi suci Persyarikatan. Dengan konsolidasi multidimensi di atas, maka para kader dakwah dan tabligh (Mubaligh) Muhammadiyah akan dalam mewujudkan sistem gerakan dakwah yang dinamis dan dinamika gerakan yang sistematis menuju tercapainya maksud dan tujuan Muhammadiyah. Bentuk-Bentuk Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah Muktamar Muhammadiyah ke-37 sebagai Muktamar strategis di mana Muhammadiyah mentajdidkan kembali gerakannya, telah menyusun program pendidikan kader secara pragmatis dan terarah. Setelah disempurnakan oleh Muktamar-muktamar sesudahnya, maka bentuk pendidikan kader yang dikembangkan adalah: a. Pelatihan Kader Mubaligh (PKM), yang menitikberatkan pada pembinaan segi penguasaan materi, metode dan wawasan dakwah serta penguatan komitmen Mubaligh, sehingga mampu menggerakkan umat mewujudkan tujuan Muhammadiyah. Pelatihan Kader Muballigh dilaksanakan dengan Jenjang: PKM Tingkat Cabang, dilaksanakan oleh Majelis Tabligh PCM untuk Ranting-ranting, (bisa dilaksanakan oleh gabungan beberapa PCM) PKM Tingkat Daerah, dilaksanakan oleh Majelis Tabligh


70 PDM untuk Cabang-cabang, PKM Tingkat Wilayah, dilaksanakan oleh Majelis Tabligh PWM untuk Daerah-daerah, PKM Tingkat Nasional, dilaksanakan oleh Majelis Tabligh PP Muhamamdiyah untuk Wilayah-wilayah, yang pelaksanaan dapat dibagi dalam beberapa regional (zona). b. Latihan Instruktur Mubaligh (LIM), yang menitikberatkan pada pembinaan segi kepemimpinan, dan ketrampilan melaksanakan pelatihan kader Mubaligh sesuai dengan tingkatan kepempinan. Latihan Instruktur Muballigh dilaksanakan dengan jenjang: LIM Tingkat Daerah, dilaksanakan oleh Majelis Tabligh PDM untuk Cabangcabang, (bisa dilaksanakan oleh gabungan beberapa PDM) LIM Tingkat Wilayah, dilaksanakan oleh Majelis Tabligh PWM untuk Daerah-daerah, (bisa dilaksanakan oleh gabungan beberapa PWM) LIM Tingkat Nasional, dilaksanakan oleh Majelis Tabligh PPM untuk Wilayah-wilayah dan Ortom Tingkat Pusat. c. Refreshing Mubaligh, Kegiatan ini dititikberatkan pada pemberian bahan-bahan mutakhir dan bahan khusus yang diperlukan oleh pada Muballigh dan Da’i Muhammadiyah, sesuai dengan tingkatan-tingkatan masing-masing, seperti kajian kristologi dan kristenisasi, kajian tentang ghazwul fikri dan sebagainya, sesuai dengan tingkat kepemimpinan masing-masing. d. Pelatihan Khusus, Menitikberatkan pada penambahan dan pendalaman materi, strategi dan metode dakwah yang bersifat khusus, seperti pelatihan bagi Da’i Khusus yang ditugaskan di daerah-daerah terpencil dan tertinggal, Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah (PM3), Pelatihan Mubaligh Lingkungan Hidup, Pelatihan Mubaligh Tanggap Bencana dan sebagainya. e. Pengajian Pimpinan. Kegiatan ini sebagai pembinaan rutin pimpinan dan mubaligh Muhammadiyah sekaligus pengayaan wawasan dan forum berbagi pengalaman, problem solving dan kajian isu-isu penting yang bersifat cepat dan perlu menjadi perhatian para Mubaligh dan Pimpinan Persyarikatan di masing-masing tingkat. f. Sekolah Kader Muballigh, berbentuk (1) mengadakan pendidikan formal atau terpadu, seperti Madrasah Muballighin, Pesantren Kader Tabligh, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah; (2) menyusun kurikukulum pendidikan Muballigh untuk dimasukkan ke dalam Madrasah, Pesantren, Sekolah, Perguruan Tinggi (khususnya Fakultas Agama Islam) dan Ma’had Bahasa Arab dan Studi Islam yang ada di lingkungan Muhammadiyah, dan (3) mengadakan Pesantren Peguruan Tinggi, seperti Pondok Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran dan UM Surkarta, dan Pendidikan Tinggi Mubaligh Muhammadiyah di UM Yogyakarta. g. Beberapa media yang menjadi lahan subur bagi persemaian kader Muballigh Muhammadiyah, yaitu melalui organisasi otonom, badan amal usaha persyarikatan,


71 terutama amal usaha pendidikan. Dalam hal ini diperlukan penyusunan strategi yang handal dalam mengoptimalkan media pengkaderan yang ada. Bentuk Kegiatan Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah 1. Ceramah dan Dialog Pakar. Ceramah dan dialog diperlukan sebagai cara untuk meningkatkan, memperkaya dan memperluas wawasan peserta, terutama berkaitan dengan berbagai persoalan perkembangan masyarakat. Ceramah disampaikan oleh pakar atau ahli yang dipandang memenuhi kualifikasi kepakaran di bidang masingmasing, yang kemudian diikuti dengan dialog. 2. Tadabbur Al-Qur’an. Tadabbur Al-Qur’an merupakan kegiatan menelaah, mengkaji, merenungkan dan memahami kandungan Al-Qur’an, terutama yang berkaitan dengan tema-tema dakwah. Tadabbur Al-Qur’an diselenggarakan dalam 2 (dua) sessi, yakni pagi (bakda subuh) dan sore/malam (bakda maghrib). Pada sessi pagi, kegiatan ini diberikan langsung oleh instruktur, sedang sessi sore/malam disampaikan oleh peserta yang akan dijadwal kemudian. 3. Diskusi. Kegiatan diskusi dilaksanakan dengan maksud sebagai wahana sharing gagasan dan pengalaman antarpeserta. Pada kegiatan ini setiap peserta diwajibkan menyampaikan makalah mengenai topik-topik tertentu seperti: (1) pengembangan kepribadian mubaligh, (2) pengembangan materi tabligh, (3) problematika dan metode dakwah, dan (4) dakwah kultural. 4. Outbound dan Tadabur Alam. Kegiatan outbound dan tadabur alam dimaksudkan untuk memahami dan meningkatkan kemampuan personal para peserta dalam konteks hidup dan bekerja bersama secara kolektif dalam lingkungan masyarakat dan alam yang berbeda-beda sebagai sesama makhluk Allah Swt. Dalam konteks pengembangan kepribadian mubaligh, kegiatan semacam itu diyakini dapat membentuk kemampuan softskills para kader mubaligh yang akkhirnya memang sangat dibutuhkan saat mereka secara riil terjun di tengah-tengah medan dakwah. Metode dan Pendekatan Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah Secara umum metode yang digunakan dalam program PM3 adalah ceramah dan tanya-jawab. Ceramah, meskipun dianggap konvensional, namun tetap dipergunakan dengan catatan bahwa ceramah yang digunakan di sini adalah “ceramah terarah”, yakni mengacu dan tidak terlepas dari bahan makalah. Di sela-sela ceramahnya, narasumber menyelipkan penekanan atau penjelasan pada bagian tertentu dari topik inti yang dirasa penting dan harus diingat serta dipahami peserta. Tanya-jawab diperlukan agar peserta dapat langsung menanyakan hal-hal belum dipahami dari uraian/ceramah narasumber.


72 Namun, narasumber harus memahami beberapa pendekatan yang sangat diperlukan dalam pendidikan semacam PM3 yang diikuti oleh orang-orang dewasa. Pendekatan tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Resensi, yakni penyegaran atau pengulangan hal-hal penting atau pokok. Misalnya pada bagian tertentu dari isi ceramah terdapat hal penting yang harus dicamkan oleh peserta, maka hal penting itu diulang beberapa kali oleh narasumber. Penyegaran atau pengulangan ini dapat dilakukan di tengah-tengah ceramah, bisa pula dilakukan di akhir atau sebelum menutup ceramah. Bahkan pada pertemuan berikutnya, hal penting itu diulang lagi sebelum narasumber berikutnya menjelaskan materi selanjutnya; 2. Apropriasi, yakni kesesuaian antara satu materi dengan materi lain, dan kesesuaian antara sesuatu materi dengan kebutuhan pokok peserta pendidikan. Tentu saja hal yang paling dibutuhkan oleh peserta PM3 adalah pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan langsung dengan dakwah dan tabligh, maka narasumber harus bisa mengendalikan diri agar hal-hal yang disampaikan selalu memiliki relevansi erat dengan persoa;an dakwah/tabligh; 3. Motivasi, yakni bahwa program pendidikan yang dilakukan oleh fasilitator/narasumber terhadap peserta PM3 selalu mengandung dukungan semangat, kepedulian terhadap kesulitan yang dialami peserta, empati, memberikan kesan mudah dan menggembirakan (tidak menyulitkan dan menakutkan) sehingga memiliki motivasi kuat dan tinggi untuk mengikuti seluruh program PM3, serta memiliki kemantapan menjalani kegiatan pendidikan; 4. Primasi, yaitu menimbulkan kesan menarik dan tidak menyulitkan di awal sessi. Oleh karena itu fasilitator/narasumber harus menguasai trik-trik agar memiliki daya tarik, daya penting, dan daya mudah di setiap awal pertemuan (sessi); 5. Jalan dua arah, yakni selalu diupayakan terjalinnya komunikasi dua arah antara fasilitator/narasumber dengan peserta. Jangan sekali-kali fasilitator/narasumber menimbulkan kesan menggurui dan menempatkan peserta sebagai “anak kecil” yang tidak tahu apa-apa sehingga perlu sebanyak-banyak diceramahi; 6. Pembimbingan aktif, yakni selalu menekankan agar peserta aktif dalam keseluruhan kegiatan pembelajaran PM3. Misalnya, peserta diajak aktif untuk membaca dan menghafal (atau menirukan) bacaan ayat-ayat dan doa-doa; menunjuk peserta secara bergilir atau bergantian memimpin pertemuan dan membaca Surat-surat pendek dan bacaan-bacaan lain, dsb; 7. Pembimbingan multi-sense, yakni mengajak peserta untuk memanfaatkan potensipotensi drianya secara bersama (tidak hanya mendengar saja, tidak hanya membaca


73 saja, tidak hanya melihat saja; tetapi juga membaca sekaligus mengamati gambar, mendengarkan suara sambil menirukan dst.). Di sinilah pentingnya model peragaan atau pemutaran video, gambar, praktik (simulasi) dsb; 8. Praktik atau latihan, yakni pendidikan dan pelatihan yang menekankan pada praktik atau latihan langsung, seperti cara memulai khutbah, cara membaca ayat-ayat AlQur’an secara benar, dsb. Kurikulum Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah Kurikulum dalam suatu pengkaderan tidak lain adalah merupakan program yang direncanakan secara sistematis untuk mencapai tujuan dari pengkaderan dimaksud. Melalui pembinaan ideologis keislaman, jiwa persyarikatan, pembinaan kepemimpinan dan pembinaan penguasaan ketrampilan, informasi dan keilmuan. Tujuan SPM adalah terwujudnya kader Muballigh Muhammadiyah sebagai penggerak, penganjur dan pelaksana dakwah, baik ke dalam maupun ke luar. Sesuai dengan misi dan tujuan Muhammadiyah, maka kurikulum dalam pengkaderan Muhammadiyah diarahkan pada terbentuknya kader dengan kriteria dimaksud. Kurikulum yang dikembangkan dalam Sistem Pelatihan dan Peningkatan Kualitas Mubaligh Muhammadiyah meliputi 4 (empat) jenis materi inti yaitu: 1. Al-‘Ulum al-Diniyah, meliputi: a. Aqidah, Akhlak, Ibadah dan Muamalah b. Metode Pengambilan Rujukan Dakwah c. Manhaj tarjih dan Ushul Fiqh d. Tafsir Quran dan Hadits e. Sejarah Pembaharuan Pemikiran Islam 2. Wawasan Kemuhammadiyahan, meliputi: a. Sejarah Muhammadiyah b. Ideologi Muhammadiyah c. Muhammadiyah dan Aspek-aspek Kehidupan d. Riwayat Perjuangan Tokoh-tokoh Muhammadiyah e. Strategi Perjuangan Muhammadiyah 3. Kepemimpinan dan Manajemen, meliputi: a. Pengembangan Jaringan b. Teknik Pengelolaan Jamaah dan Dakwah Jamaah c. Pengorganisasian Kegiatan Dakwah d. Pengembangan Masyarakat e. Perencanaan dan Evaluasi Kegiatan Dakwah f. Ilmu dan Strategi Dakwah (Fiqhud Dakwah) g. Teknik Pidato, Ceramah dan Khotbah


74 h. Manhaj/Metode-metode Dakwah i. Pengembangan Media Dakwah j. Strategi Penyampaian Materi k. Komunikasi Efektif 4. Kapita Selekta/Materi Penunjang, meliputi: a. Psikologi Sosial b. Ghazwul Fikri c. Pemikiran Kontemporer d. Kristologi dan Kristenisasi e. Sosiologi Dakwah f. Problematika Dakwah Paradigma Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah Penutup Demikian beberapa aspek penting Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah (SPMM) yang disusun dalam rangka memperkuat pembinaan, pengembangan kader dan SDI Mubaligh Muhammadiyah, untuk masa kini dan di masa-masa mendatang. Majelis Tabligh Muhammadiyah, sebagai ujung tombak perjuangan Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam dan Amar Makruf Nahi Munkar dituntut untuk terus giat melaksanakan pendidikan dan pelatihan kader Mubaligh Muhammadiyah di seluruh lini persyarikatan. Konsep SPMM ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam program pembinaan dan pengembangan kualitas kader Mubaligh Muhammadiyah, baik secara kualitas maupun kuantitas. Masukan dan sumbang saran dari Majelis Tabligh Wilayah, Daerah dan Cabang sangat ditunggu untuk kesempurnaan konsep ini di masa mendatang. Nasrun Minallah wa Fathun Qarib wa Basysyiril Mukminin. • Kecerdasan Intelektual • Kecerdasan Emosional • Kecerdasan Spiritual Aspek Muatan • Pembelajaran orang Dewasa • Inovatif, Kreatif, Berisi (Bernas) • Serius, Segar, Praktis Aspek Metode dan Pendekatan ● Disiplin Proporsional ● Efisien dan Efektif ● Out-put/Follow Up Aspek Manajemen


75 1. Program Pelatihan Mubaligh Muda Muhammadiyah (PM3) akan dilanjutkan menjadi program pendidikan Tingkat (Level/Marhalah) 2 (dua), dengan materi dan desain pendidikan yang berbeda. 2. Pelaksanaan PM3 selanjutnya bisa dikembangkan dan dilaksanakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, dan Ortom. 3. Materi PM3 akan dikembangkan menjadi modul-modul pelatihan yang berlaku secara nasional. B. Desain Diklat Mubaligh Muhammadiyah 1. Diklat Mubaligh Muda Muhammadiyah Pendahuluan Seiring dengan usianya yang telah melampaui satu abad, Muhammadiyah sering dihadapkan pada berbagai pertanyaan penting. Pertama, mampukah Muhammadiyah untuk tetap teguh beristiqamah pada idealitas yang telah dibangun sejak awal oleh para founding fathers-nya? Kedua, mampukah Persyarikatan ini untuk tidak jemu-jemu merumuskan dan mereaktualisasikan konsep gerakannya dalam konteks masyarakat yang berubah dan berkembang seperti saat ini? Ketiga, sejalan dengan dua pertanyaan di atas, peran dan kontribusi apa yang harus dan dapat dimainkan oleh para mubaligh/mubalighat Muhammadiyah—sebagai ujung tombak gerakan—bagi kelangsungan Muhammadiyah dan umat Islam di masa mendatang? Kemunculan pertanyaan-pertanyaan tersebut dinilai tidak berlebihan. Pada dimensi evaluasi-reflektif, pertanyaan-pertanyaan di atas patut menjadi pertimbangan dalam rangka merumuskan berbagai langkah kebijakan ke depan. Hal ini penting dilakukan mengingat beberapa pertimbangan. Pertama, Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah Islam yang bertumpu pada khittah al-amr bi al-ma’ruf wa an-nahy ‘an al-munkar. Berdiri di atas garis ini, Muhammadiyah menaruh komitmen yang tinggi pada berbagai usaha pencerahan dan pemberdayaan umat Islam dan bangsa guna mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarbenarnya, yakni masyarakat yang berkeutamaan di bawah naungan rida Allah Swt. Dalam keyakinan Muhammadiyah, hal tersebut tidak mungkin dicapai kecuali hanya dengan meyakini dan mengamalkan agama Islam secara benar dan tepat, yakni meyakini dan mengamalkan Islam sebagaimana yang dituntunkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah AshShahiihah Al-Maqbuulah. Kedua, masyarakat, tempat Muhammadiyah hidup dan bergerak, terus mengalami proses-proses perkembangan sebagai konsekuensi dari modernitas dan pengaruh global. Sulit dihindari bila Muhammadiyah pun harus berhadapan langsung dengan berbagai arus besar perubahan di sekitarnya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perubahan dan perkembangan masyarakat merupakan bagian dari proses-proses sosial yang tak terelakkan, dan membawa berbagai muatan yang mengancam sendi-sendi kehidupan masyarakat, baik pada aspek ekonomi, politik, budaya, bahkan pada keagamaan. Hal ini menempatkan Muhammadiyah pada posisi yang secara langsung berhadapan dengan berbagai perubahan dan perkembangan baru tersebut yang menantang --bahkan mengancam-- visi, misi dan eksistensi dirinya dan umat Islam secara keseluruhan.


76 Melihat berbagai realitas di atas serta perlunya Muhammadiyah segera merespon berbagai pertanyaan atas dirinya, maka perencanaan dan penyelenggaraan berbagai kegiatan yang difokuskan sebagai upaya pembinaan dan pengembangan segenap potensi internal umat Islam dipandang perlu terus-menerus diupayakan. Generasi muda muslim/muslimah sebagai lapisan generasi milenial sesungguhnya menyimpan berbagai potensi bagi pengembangan kualitatif Muhammadiyah khususnya, dan umat Islam pada umumnya, di masa depan. Pendidikan dan pelatihan intensif disumsikan dapat memupuk, mengembangkan dan membentuk potensi-potensi mereka, yang pada akhirnya dapat muncul sebagai kekuatan besar yang pada gilirannya nanti berperan sebagai lokomotif pembaruan, yang terus-menerus mendorong dan menarik umat Islam memasuki masa depan secara lebih kompetitif. Hal di atas kiranya berkesesuaian dengan ciri pengembangan penyusunan program kerja Muhammadiyah periode 2015-2020 sebagaimana telah diputuskan oleh Muktamar ke47 lalu. Pada aspek sumberdaya dinyatakan bahwa hal yang berkaitan dengan aspek pendukung dan pelaku gerakan Muhammadiyah dicirikan dengan: (a) berkembangnya pembinaan, pegembangan dan pemberdayaan anggota Muhammadiyah sebagai subyek gerakan secara konsisten, dinamis, dan berkelanjutan; (b) berkembangnya sistem kaderisasi dan regenerasi dalam Muhammadiyah secara konsisten, dinamis, dan berkelanjutan; dan (c) berkembangnya jumlah simpatisan sebagai basis rekrutmen anggota Muhammadiyah. Atas dasar pemikiran inilah Majelis Tabligh PP Muhammadiyah terdorong untuk menyelenggarakan pendidikan intensif mubaligh secara nasional yang secara khusus difokuskan pada pemberdayaan potensi kawula muda muslim/muslimah guna menciptakan semangat, ghirah dan kultur tabligh di kalangan generasi muda milenial. Maksud dan Tujuan Pelatihan Mubaligh Muda Muhammadiyah (PM3) merupakan forum pendidikan dan pelatihan dasar bagi calon mubaligh muda guna membentuk kemampuan dasar mereka sebagai calon kader mubaligh Muhammadiyah yang memiliki kompetensi profesional bidang tabligh sehingga dapat melaksanakan amanat tabligh di kalangan generasi muda. Pelatihan Mubaligh Muda Muhammadiyah bertujuan, selain membentuk dan menyiapkan kader-kader mubaligh muda—sehingga dapat mewujudkan komunitas mubaligh muda Muhammadiyah—juga diharapkan menjadi forum silaturahmi nasional bagi kaderkader mubaligh muda guna mempersamakan visi dan langkah dalam rangka menghadapi berbagai perubahan baru dalam kehidupan milenial generasi muda. Pada saat yang bersamaan kegiatan ini bertujuan membangun daya imune generasi muda muslim/muslimah dari rongrongan bahkan gempuran berbagai pengaruh buruk gaya hidup milenial dengan pemupukan intensif kepribadian tangguh berdasarkan nilai-nilai luhur dan fondamental ajaran Islam Profil Lulusan Secara lebih spesifik keberhasilan pencapaian target kegiatan PM3 diindikasikan atau dapat diukur dari adanya kompetensi profesional lulusan/keluaran yang meliputi kompetensi substansial dan kompetensi metodologis. Yang dimaksud dengan kompetensi substansial adalah sejumlah kemampuan dasar pada lulusan/keluaran PM3 yang berbasis pada penguasaan dan pemahaman yang baik pada ilmu pengetahuan inti di bidang dakwah serta didukung oleh komitmen pada nilai-nilai fondamental ajaran Islam serta memiliki


77 integritas akhlakul karimah. Sedangkan yang dimaksud dengan kompetensi metodologis adalah kemampuan dasar yang dimiliki oleh lulusan/keluaran PM3 yang berbasis pada skill (keterampilan) pada aspek-aspek teknis-metodologis dakwah. Sasaran Pelatihan Mubaligh Muda Muhammadiyah (PM3) adalah generasi muda dan mahasiswa, baik dari lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah /’Aisyiyah, maupun dari kalangan muda pada umumnya. Target PM3 adalah dihasilkannya 50 mubaligh muda yang memiliki kompetensi susbtantif dan metodologis di bidang dakwah Islam serta berkesanggupan diikutsertakan dalam berbagai aktivitas dakwah Persyarikatan Muhammadiyah baik pada tingkat wilayah maupun daerah Materi/Silaby Materi Pelatihan Mubaligh Muda Muhammadiyah (PM3) dikelompokkan ke dalam beberapa kluster. Setiap kluster terdiri dari materi pelatihan yang mewakili kompetensi tertentu yang diinginkan. Selengkapnya daftar materi dapat dilihat pada lampiran. Materi yang tertuang pada konsep ini dimaksudkan sebagai topik-topik inti untuk Level 1 (Marhalah atau Tingkat 1). Setelah ini akan dibuka level berikutnya dengan rancangan materi dan topik-topik inti yang berbeda namun merupakan kelanjutan dari topik-topik pada Level 1. KLUSTER DESKRIPSI KISI-KISI 1. Wawasan Umum Dakwah di Indonesia era milenial a. Perkembangan dunia dan Indonesia hari ini b. Bonus demografi dan proxy war c. Isu-isu strategis kemanusiaan, keumatan, dan kebangsaan d. Makna dan format dakwah masa depan 2. Ideologi: pandangan hidup muslim Tauhid: makna dan implementasinya dalam kehidupan a. Tauhid sebagai sentral pandangan hidup muslim b. Tanggung jawab muslim dalam peneguhan dan pemeliharaan tauhid c. Tauhid sosial sebagai asas perubahan sosial Konsep dan prinsip ibadah dalam Islam a. Makna dan hakekat ibadah b. Kaidah-kaidah pokok dalam ibadah c. Tanggung jawab muslim dalam pemeliharaan dan pendidikan ibadah dalam kehidupan Akhlaq/ Adab muslim a. Konsep kesucian jiwa (tazkyatun nufus) b. Adab dan implementasinya dalam kehidupan Muamalah a. Menuju masyarakat Islam yang hakiki dan berkemajuan b. Hidup damai dan harmoni dalam bingkai kebhinekaan 3. Sejarah dakwah Sirah nabawiyah a. Sirah Nabawiyah : Transformasi masyarakat periode Makkah dan Madinah b. Strategi dan karakteristik dakwah periode Makkah dan Madinah Sejarah perjuangan umat Islam Indonesia a. Perjuangan Islam pra kemerdekaan b. Perjuangan Islam dalam menegakkan kemerdekaan c. Perjuangan Islam pada masa Orde Lama


78 d. Perjuangan Islam pada masa Orde Baru e. Perjuangan Islam pada Era Reformasi 2. Fikih Dakwah 1 Pengantar ilmu dakwah a. Fenomena kemanusiaan modern dan kebutuhan dakwah b. Definisi dakwah: dari sudut semantik dan pendapat ahli c. Penjelasan istilah lain: tabligh, nasihat, tabsyir/tandzir, khutbah, washiyah/taushiyah, tarbiyah/ta’lim d. Hukum dakwah e. Keutamaan dakwah f. Karakterisitik dakwah Islam Kajian ilmu dakwah a. Dakwah sebagai ilmu b. Objek ilmu dakwah (objek formal dan objek material) c. Metode ilmu dakwah d. Signifikansi ilmu dakwah e. Perkembangan dakwah sebagai ilmu f. Relasi ilmu dakwah dan ilmu-ilmu lainnya: g. Ilmu dakwah dan ‘ulum diniyah/syar’iyah h. Ilmu dakwah dan sain i. Ilmu dakwah dan sosial humaniora 3. Fikih Dakwah 2 Kompetensi substantif dan metodologis mubaligh a. Konsep diri mubaligh berkemajuan b. Urgensi penguatan ruhiyah dan kepribadian mubaligh c. Realitas subyek dakwah era revolusi teknologi informasi sebagai acuan penguatan kompetensi mubaligh Mitra dakwah (mad’ûw) a. Mitra dakwah perspektif teologis b. Mitra dakwah perspektif sosiologis c. Konsep dakwah komunitas d. Prioritas mitra dakwah Pesan dakwah a. Jenis pesan dakwah b. Ayat-Ayat Al-Qur’an c. Hadits d. Kisah dan pendapat para Sahabat dan Tabi’in e. Kisah dan pendapat para ulama f. Berita dan peristiwa g. Karya sastra h. Karya seni i. Klasifikasi tema dakwah j. Karakteristik pesan dakwah k. Teknik penulisan teks/pesan dakwah (Praktik penulisan) 4. Fikih Dakwah 3 Metode, strategi, dan taktik dakwah a. Pendekatan dakwah b. Pendekatan sosial c. Pendekatan psikologis d. Strategi dakwah e. Metode hikmah, mau’izhah hasanah, dan jadal f. Metode dan teknik dakwah g. Metode ceramah h. Metode diskusi i. Metode konseling j. Metode karya tulis k. Metode pemberdayaan masyarakat l. Metode kelembagaan m. Taktik dakwah


79 n. Dakwah kebencanaan Media dakwah a. Pengertian media dakwah b. Jenis-jenis media dakwah dan spesifikasinya c. Media auditif d. Media visual e. Media audio-visual f. Pemilihan media dakwah Psikologi dakwah: efek dakwah dan tahap-tahap perubahan perilaku a. Persuasi dakwah b. Pengertian efek dakwah c. Tahap-tahap perubahan perilaku d. Efek kognitif e. Efek afektif f. Efek behavioral g. Evaluasi efek dakwah 7. Fikih Dakwah 4 Amar ma’ruf nahi munkar dan hubungannya dengan dakwah a. Pengertian amar ma’ruf dan nahi munkar. b. Urgensi amar ma’ruf dan nahi munkar. c. Relasi amar ma’ruf dan nahi munkar dan dakwah d. Tsawabit wa mutaghyyirat dalam amar ma’ruf-nahi munkar. e. Kemungkaran dan kaidah-kaidahnya: f. Konsep “munkar” dalam Islam g. Kaidah-kaidah kemunkaran h. Taghyir bil yad; makna, hakekat dan implementasinya i. Taghyir bil lisan; makna, hakekat dan implementasinya j. Taghyir bil qalbi; makna, hakekat dan implementasinya 8. Fikih Dakwah 5: Konstruksi Fikih Dakwah Wasathiyah Qawi’id fiqhiyah & qawa’id da’wiyah a. Pengertian fikih dakwah “wasathiy” b. Qawa’id da’wiyah dan qawa’id fiqhiyah dan implementasinya dalam dakwah Maqashid alsyari’ah dan implementasinya dalam dakwah a. Pengertian maqashid syari’ah b. Urgensi maqashid syari’ah dalam dakwah c. Maqashid syari’ah dan penerapannya 9. Fikih Dakwah 6 Strategi komunikasi a. Komunikasi efektif b. Komunkasi intra dan interpersonal c. Retorika dakwah (khithabah) 10. Wawasan dan Tantangan Dakwah Kontemporer Paradoks kemanusiaan a. Hakekat dan penciptaan manusia b. Dimensi psikhis manusia: Al-Nafs, Al’Aql, Ar-Ruh, Al-Fitrah, As-Shodr, Al-Qolbu, Al-Fuad. c. Kesehatan jiwa komprehensif Penguatan pribadi muslim Mewaspada’i Sensing Culture Penguatan Keluarga 1 Pentingnya peran ayah dalam co-parenting untuk menumbuhkan generasi berakhlak mulia. Penguatan Keluarga 2 Corporate family responsibility (CFR), untuk organisasi ramah keluarga 11 Sosiologi Dakwah Dakwah di era pluralitas budaya dan agama a. Memahami pluralitas kebudayaan dan agama-agama b. Karakteristik masyarakat multikultur dan agama


80 c. Pandangan Islam terhadap realitas multikultur dan pluralitas agama d. Pendekatan dan strategi dakwah di era multikultural dan pluralitas agama 12. Patologi Sosial Pengantar patologi sosial a. Pengertian, Latar belakang, dan Sejarah Patologi Sosial b. Metodologi dan Teori-teori Patologi Sosial c. Individu Sosiopatik d. Berbagai penyakit sosial e. Konsep dan Teknik Penanggulangan Sosial 13. Analisis Kasus Dakwah Dakwah konvensional Standar Penyimpangan Keagamaan dan Aliran-aliran menyimpang dan problematikanya Dakwah dan media sosial a. Bahaya kecanduan internet dan sosmed b. Victimologi dan manipulasi opini public c. Mencegah dan mengatasi dampak disfungsi otak depan/PFC akibat pornografi pada anak SD sampai SMU LGBT Bahaya homoseksual bagi kesehatan 14. Manajemen dan Organisasi Dakwah Dakwah kampus a. Organisasi dan perencanaan dakwah kampus b. Membentuk jamaah dan jaringan dakwah c. Manajemen masjid kampus d. Manajemen isu dakwah di kampus e. Wawasan intelijen dakwah Gerakan dakwah berkemajuan a. Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah b. Dakwah kultural c. Dakwah komunitas 15. Dakwah, Keindonesiaan dan Dunia Kontemporer Indonesia dalam bingkai Keislaman a. Paradigma dakwah Muhammadiyah b. Visi Indonesia Berkemajuan c. Negara Pancasila sebagai “darul ahdi wa-sysyahadah” Isu-Isu strategis a. Isu-isu keummatan b. Paradoks manusia modern c. Keberagamaan yang moderat d. Dialog Sunni-Syi’ah e. Substansialisasi agama f. Meningkatkan daya saing umat Islam g. Membangun budaya hidup bersih h. Kalender Islam internasional dan persatuan umat i. Isu-isu Kebangsaan j. Keberagamaan yang toleran k. Pemberdayaan kelompok difabel l. Membangun budaya egaliterian dan sistem meritokrasi m. Mengatasi krisis air dan energi n. Memaksimalkan bonus demografi o. Membangun budaya dan masyarakat ilmu p. Isu-isu kemanusiaan universal q. Adaptasi dan mitigasi perubahan iklim r. Pemanfaatan teknologi informasi s. Mengatasi masalah pengungsi t. Perdagangan dan buruh migran 16. Praktikum dan Outbond


81 Fun Game, SoftGame, Middle Game, Hard Game Tim Building a. Membangun silaturahmi, ta’aruf b. Menciptakan sinergitas, kemitraan dan jejaring c. Memperkokoh integritas d. Memperkokoh kerja Tim e. Menguji dan melatih jiwa kepemimpinan Peserta 1. Persyaratan Umum a. Mahasiswa PTMA, PTN, PTS (lainnya) atau Pemuda/Pemudi muslim b. Berusia 17-30 tahun c. Diutamakan sebagai anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Pemuda Muhammadiyah (PM), Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA), Hizbul Wathan (HW), Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM), Kakaka 2. Persyaratan Khusus: a. Dapat membaca Al-Qur’an secara lancar; b. Sanggup mengikuti seluruh kegiatan pelatihan; c. Menyerahkan biodata, pasfoto; d. Membayar Sumbangan Wajib Peserta (SWP); e. Bersedia mengabdi dan berjuang bersama Muhammadiyah. 3. Perlengkapan Peserta a. Peserta harus menyiapkan diri dengan perbekalan sebagai berikut: b. Pakaian sopan, Islami, dan bersepatu; c. Baju hangat/jaket; d. Obat-obatan pribadi (sesuai dengan penyakit yang diderita); e. Pakaian olah raga (untuk outbound); f. Mushaf al-Qur’an; g. Perlengkapan mandi; h. Perlengkapan sholat. Penyelenggara Pelatihan Mubaligh Muda Muhammadiyah (PM3) diselenggarakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan dapat dikembangkan secara regional di bawah Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Ortom di tingkat Wilayah/Daerah masing-masing. Agar kegiatan PM3 dapat dilaksanakan secara baik, maka perlu ditunjuk Tim Training (sebaiknya dikuatkan dengan Surat Tugas) yang terdiri dari: a. Penasehat/Penanggung Jawab Program; b. Direktur Pendidikan;


82 c. Wadir Bidang Kurikulum dan Pembelajaran; d. Wadir Bidang Keuangan dan Sarpras; e. Wadir Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan; f. Sekretaris; g. Wakil Sekretaris; h. Bendahara; i. Panitia Pelaksana. Kegiatan dilaksanakan selama empat-lima hari dan menginap; dengan agenda kegiatan sebagai berikut: WAKTU MATERI, NARASUMBER KET HARI PERTAMA 15.00-17.00 Registrasi peserta, penempatan kamar Fasilitator 17.00-19.00 ISHOMA Fasilitator 19.00-20.30 Pembukaan: a. Membaca Basmallah b. Pembacaan Kalam Illahi c. Menyanyikan lagu Indonesia Raya & Sang Surya d. Sambutan-sambutan e. Pengumuman-pengumuman f. Penutup Panitia 20.30-22.00 Ta’aruf dan Kontrak Belajar MOT 22.00-22.15 Coffee Break Panitia 22.15-03.00 Istirahat tidur HARI KEDUA 03.00-05.30 Shalat Lail & Subuh: Taddabur al-Qur’an-as Sunnah Imam Training (IT) 05.30-07.00 Mandi, Makan Fasilitator 07.00-08.00 Ice Breaking, Fun Game Fasilitator 08.00-09.30 Keynote Speaker: Tantangan Dakwah Muhammadiyah Moderator 09.30-10.00 Coffe Break Panitia 10.00-11.30 Materi I: Tauhid: Makna dan Implementasinya dalam Kehidupan Moderator 11.30-13.00 ISHOMA IT 13.00-15.00 Materi II: Dakwah di Indonesia Era Milenial Moderator 15.00-15.30 Coffee Break Panitia 15.30-17.00 Materi III : Sirah dan Manhaj Dakwah Rasulullah Moderator 17.00-19.00 ISHOMA Fasilitator 19.00-20.30 Materi IV: Fikih Dakwah Moderator 20.30-22.00 Materi V: Psikologi Dakwah Fasilitator 22.00-22.15 Coffe Break Panitia 22.15-03.00 Istirahat HARI KETIGA 03.00-05.30 Shalat Lail & Subuh: Taddabur al-Qur’an-as Sunnah IT 05.30-07.00 Outbound 1 Trainer 07.00-08.00 Mandi, makan Fasilitator 08.00-09.00 Materi VI : Prinsip Ibadah dalam Islam Moderator 09.00-09.15 Coffee Break Fasilitator


83 09.15-11.30 Tuntunan dan Praktik Ibadah (lanjutan) Moderator 11.30-13.00 Shalat Jum’at, makan Fasilitator 13.00-13.30 Praktik menulis naskah khutbah, kultum Fasilitator 13.30-15.00 Materi VII : Komunikasi Efektif (Teori dan Praktik) Moderator 15.00-15.30 Coffee Break Fasilitator 15.30-17.00 Praktik Komunikasi (Khutbah, Kultum) Moderator 17.00-19.30 ISHOMA: Tadabur Al Qur’an, As Sunnah IT 19.30-21.00 Materi VIII: Faham Agama dalam Muhammadiyah Moderator 21.00-22.00 Diskusi Kelompok Fasilitator 22.00-22.15 Coffee Break 22.15-03.00 Istirahat HARI KEEMPAT 03.00-05.30 Shalat Lail & Subuh: Taddabur al-Qur’an-as Sunnah IT 05.30-07.00 Outbound 2 Trainer 07.00-08.00 Mandi, makan Fasilitator 08.00-09.30 Materi IX : Manhaj Tarjih Muhammadiyah Moderator 09.30-09.45 Coffee Break Fasilitator 09.45-10.00 Ice Breaking Fasilitator 10.00-11.30 Materi X : Kepribadian Mubaligh Muhammadiyah Moderator 11.30-12.30 ISHOMA Fasilitator 12.30-13.30 Diskusi kelompok Fasilitator 13.30-15.00 Materi XI: Metode Pengambilan Sumber Rujukan Dakwah 15.00-15.30 Coffee Break 15.30-17.00 Materi XII : Maqashid al-syari’ah dan Implementasinya dalam Dakwah Moderator 17.00-17.30 Praktik khutbah/kultum 17.30-19.00 ISHOMA Fasilitator 19.00-20.30 Materi XIII: Tantangan Dakwah: Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme, dan Radikalisme Moderator 20.30-22.00 Materi XIV: Paham Wasathiyah dalam Muhammadiyah Fasilitator 22.00-22.15 Coffee, Snack 22.00-03.00 Istirahat HARI KELIMA 03.00-05.30 Shalat Lail & Subuh: Taddabur al-Qur’an-as Sunnah IT 05.30-07.00 Mandi, makan Fasilitator 07.00-08.30 Materi XVI: Etika Pergaulan dalam Islam Moderator 08.30-10.00 Materi XVII: Kebijakan Majelis Dikti terhadap aktivitas dakwah kampus di PTM Fasilitator 10.00-10.30 Rencana Tindak Lanjut MOT 10.30-10.45 Penutupan Fasilitator Kegiatan PM3 dapat bula berupa lanjutan Pelatihan (dapat dikatakan senacam Level 2) yang lebih menekankan pada penguatan, pengayaan dan mentoring.. Desain agendanya misalnya sebagai berikut: WAKTU MATERI KET HARI PERTAMA 07.30- 09.00 Registrasi peserta, penempatan kamar dan persiapan pembukaan Fasilitator


84 09.00- 10.30 Pembukaan Panitia 10.30-11.30 Orientasi, Ta’aruf & Kontrak Belajar Fasilitator 11.30-13.00 Shalat (Jama’, Qashar) dan makan Fasilitator 13.00- 15.00 Materi I: Dakwah di Indonesia era milenial Moderator 15.00- 15.30 Coffee Break Panitia 15.30- 17.30 Materi II: Tauhid: makna dan implementasinya dalam kehidupan Moderator 17.30- 19.30 Mandi, shalat (Jama’, Qashar), kultum, makan Fasilitator 19.30- 21.30 Materi III: Konsep dan prinsip Ibadah dalam Islam 21.30- 22.15 Fathul Qulub Fasilitator 22.15- 03.00 Istirahat HARI KEDUA 03.00- 05.45 Shalat Lail, Shalat Subuh berjamaah, & Kultum Peserta Fasilitator 05.45- 06.00 Persiapan Outbound 06.00- 07.30 Outbound 1 Trainer 07.30- 08.00 Mandi, makan Fasilitator 08.00- 10.00 Materi IV : Akhlaq/Adab Muslim Moderator 10.00- 10.15 Coffee Break Fasilitator 10.15-11.45 Materi V : Muamalah Moderator 11.45-13.00 Shalat (Jama’, Qashar), makan Fasilitator 13.00- 15.00 Materi VI : Sirah Nabawiyah Moderator 15.00- 15.30 Coffee Break 15.30- 17.30 Materi VII : Sejarah perjuangan umat Islam Indonesia Moderator 17.30- 19.30 Mandi, shalat (Jama’, Qashar), kultum, makan Fasilitator 19.30- 21.30 Materi VIII: Pengantar ilmu dakwah Moderator : 21.30- 22.15 Fathul Qulub Fasilitator 22.15- 03.00 Istirahat HARI KETIGA 03.00- 05.45 Shalat Lail, Shalat Subuh berjamaah, & Kultum Peserta Fasilitator 05.45- 06.00 Persiapan Outbound


85 06.00- 07.30 Outbound 2 Trainer 07.30- 08.00 Mandi, makan Fasilitator 08.00- 10.00 Materi IX : Kajian ilmu dakwah Moderator 10.00- 10.15 Coffee Break Fasilitator 10.15-11.45 Materi X : Kompetensi substantif dan metodologis mubaligh Moderator 11.45-13.00 Shalat (Jama’, Qashar), makan Fasilitator 13.00- 15.00 Materi XI : Mitra dakwah (mad’u) 15.00- 15.30 Coffee Break 15.30- 17.30 Materi XII : Pesan dakwah 17.30- 19.30 Mandi, shalat (Jama’, Qashar), kultum, makan Fasilitator 19.30- 21.30 Materi XIII: Metode, strategi, dan taktik dakwah 21.30- 22.15 Fathul Qulub Fasilitator 22.15- 03.00 Istirahat HARI KEEMPAT 03.00- 05.45 Shalat Lail, Shalat Subuh berjamaah, & Kultum Peserta Fasilitator 05.45- 06.00 Persiapan Outbound 06.00- 07.30 Outbound 3 Trainer 07.30- 08.00 Mandi, makan Fasilitator 08.00- 10.00 Materi XIV: Media Dakwah Moderator 10.00- 10.15 Coffee Break Fasilitator 10.15-11.45 Materi XV : Psikologi Dakwah: Efek Dakwah dan Tahap-tahap Perubahan Perilaku Moderator 11.45-13.00 Shalat (Jama’, Qashar), makan Fasilitator 13.00- 15.00 Materi XVI : Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Hubungannya Dengan Dakwah 15.00- 15.30 Coffee Break 15.30- 17.30 Materi XVI : Qawi’id fiqhiyah & Qawa’id da’wiyah Narasumber 17.30- 19.30 Mandi, shalat (Jama’, Qashar), kultum, makan Fasilitator 19.30- 21.30 Materi XVII: Maqashid al-syari’ah dan implementasinya dalam dakwah Narasumber


86 21.30- 22.15 Fathul Qulub Fasilitator 22.15- 03.00 Istirahat HARI KELIMA 03.00- 05.45 Shalat Lail, Shalat Subuh berjamaah, & Kultum Peserta Fasilitator 05.45- 06.00 Persiapan Outbound 06.00- 07.30 Outbound 4 Trainer 07.30- 08.00 Mandi, makan Fasilitator 08.00- 10.00 Materi XVIII : Strategi komunikasi Moderator 10.00- 10.15 Coffee Break Fasilitator 10.15-11.45 Penutup Moderator 11.45-13.00 Shalat (Jama’, Qashar), makan Fasilitator Kegiatan PM3 juga dapat dilaksanakan secara intensif setiap hari Sabtu dan Ahad dengan menginap. Pelaksanaan model ini harapannya agar tidak mengganggu jadwal kuliah atau pun pekerjaan Peserta. Materi PM3 Intensif (PM3I) dapat dirancang khusus dan dinamis sesuai dengan tantangan dan kebutuhan zaman. Rancangan agenda kegiatannya misalnya berikut ini: WAKTU KEGIATAN KET SABTU 14.30-15.00 Registrasi Kehadiran Panitia 15.00-15.30 Sholat Asar berjamaah Panitia 15.30-17.30 Materi 1 Narasumber 18.00-19.30* ISHOMA: Maghrib-Isya berjama’ah Panitia 19.30-21.00 Materi 2 Narasumber 21.00-21.15 Istirahat, Coffe Break Panitia 21.15-23.15 Materi 3 Narasumber 23.30-03.00 Istirahat Panitia AHAD 03.00-05.00* Sholat Tahajud, Sholat Subuh, Kultum Panitia 05.00-06.00 Belajar Membuat Teks Kultum/ Khutbah Jum’at dan Praktik Instruktur 06.00-07.00 Outbound Trainer 07.00-08.00 Mandi, Sarapan Panitia 08.00-08.30 Orientasi dan Penutupan Panitia *) waktu sholat menyesuaikan jadwal masing-masing wilayah 2. Diklat peningkatan Kualitas Mubaligh Muhammadiyah Pendahuluan Salah satu pemikiran penting yang mengemuka pada Muktamar Muhammadiyah ke47 adalah mengenai pengembangan “model praksis gerakan Muhammadiyah” di masa mendatang. Model Praksis Gerakan Muhammadiyah (selanjutnya disingkat MPGM)


87 merupakan ikhtiar mempertajam dan mengembangkan berbagai usaha Muhammadiyah (amal-usaha, program, dan kegiatan) ke arah yang lebih baik, berkualitas, dan berkeunggulan sehingga menjadi model yang dapat direplikasi di seluruh lingkungan Persyarikatan. Berbagai bentuk program unggulan atau program-program yang direvitalisasi dapat menjadi MPGM yang berdampak strategis bagi kemajuan Persyarikatan pada setiap bidang dan tingkatan pimpinan Persyarikatan sesuai dengan kapasitas dan kreasi masing-masing. Mengacu pada Keputusan Muktamar ke-47, sebagaimana tampak pada bagian pendahuluan Bab 1 yang menguraikan Gambaran Program Umum, dapat dikatakan bahwa MGMP menjadi kerangka pikir baku yang dijadikan sebagai landasan umum pengembangan program-program dan kegiatan Persyarikatan pasca Muktamar ke-47. Dinyatakan, misalnya, “menjadi sangat penting dan strategis adanya pengembangan ‘Model Praksis Gerakan Muhammadiyah’ di berbagai bidang yang harus disebarluaskan dan diwujudkan untuk dijadikan pilihan utama pasca Muktamar Satu Abad itu. Semua pihak dan potensi harus dikerahkan agar gerakan kreatif, inovatif, dan alternatif itu mencapai keberhasilan khususnya dalam tiga tahun ke depan”. Selanjutnya dinyatakan bahwa keberhasilan pelaksanaan MPGM tersebut memerlukan mobilisasi faktor-faktor seperti: (1) pendayagunaan seluruh potensi yang dimiliki Persyarikatan, termasuk dukungan dari amal-usaha Muhammadiyah; (2) dukungan kepemimpinan yang benar-benar kolektif, proaktif, terorganisasi, dinamis, dan dapat memimpin serta mengontrol seluruh proses pelaksanaan; (3) mobilisasi dana dari dalam dan luar secara lebih terprogram dan optimal; dan (4) komitmen dan kesungguhan dari seluruh anggota Muhammadiyah, termasuk dari para anggota pimpinannya. Pemikiran mengenai MPGM di atas sulit diabaikan oleh khususnya Majelis Tabligh, tidak hanya dikarenakan pemikiran tersebut telah menjadi bagian penting dari kerangka pemikiran dan pelaksanaan program umum Muhammadiyah keputusan Muktamar ke-47, melainkan juga disebabkan oleh adanya relevansi kuat antara konsep MPGM tersebut dengan hakikat program-program dan aktivitas dakwah/tabligh yang “membumi”, kontekstual, dan keharusan memiliki signifikansi dengan praksis dinamika dakwah/tabligh dewasa ini. Oleh sebab itu, sebagian keputusan Rapat Kerja Nasional Majelis Tabligh yang telah disusun menjadi konsep dakwah Persyarikatan perlu segera disosialisasikan dan dikembangkan lebih lanjut. Dengan demikian, konsep dakwah dapat menjadi model gerakan yang dapat direplikasi di seluruh jenjang kepengurusan Majelis Tabligh secara nasional, sehingga memberikan daya dukung dan andil positif bagi pewujudan Muhammadiyah yang berkemajuan. Maksud dan Tujuan Kegiatan ini dimaksudkan sebagai forum silaturahmi dan penyegaran komitmen, ghirah serta soliditas Pimpinan Majelis Tabligh dan Mubaligh Muhammadiyah Tingkat Wilayah dalam mengemban dan mengembangkan kegiatan-kegiatan dakwah dan tabligh Muhammadiyah dalam konteks situasi dan kondisi masyarakat dan bangsa Indonesia yang bergerak secara dinamis. Tujuan kegiatan adalah: (a) sosialisasi konsep-konsep rancangan dan implementasi program kegiatan dakwah Muhammadiyah hasil Rakernas Majelis Tabligh; dan (b) penguatan kompetensi Pimpinan Majelis Tabligh dan Mubaligh Muhammadiyah dalam konteks perkembangan dinamik umat dan bangsa.


88 Peserta 1. Seluruh Anggota Pimpinan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah 2. Utusan Majelis Tabligh PW Muhammadiyah @ 2 orang 3. Utusan Ortom Tingkat Pusat @ 2 orang x 7 Ortom Materi dan Narawacana No. Materi Uraian 1. Tantangan Dakwah: Perkembangan Dinamis Situasi dan Kondisi Tanah Air Mutaakhir 1. Menguraikan perkembangan politik tanah air dan dampaknya bagi gerakan dakwah Muhammadiyah masa depan 2. Langkah-langkah antisipatif dan strategis yang harus dipersiapkan oleh Majelis Tabligh dan Mubaligh Muhammadiyah 2. Ideologi Muhammadiyah 1. Menguraikan kajian tentang Faham Agama dalam Muhammadiyah 2. Aktualisasi (dalam bentuk kongkret kegiatan) dakwah ideologi di tengah masyarakat 3. Manhaj Tabligh Muhammadiyah Menguraikan kajian tentang Manhaj Tabligh dalam Muhammadiyah dan Aplikasi kongkret di tengah Masyarakat 4. Manhaj Tarjih Muhammadiyah Menguraikan kajian tentang Manhaj Tarjih dalam Muhammadiyah dan strategi implementasinya dalam dakwah di masyarakat 5. Pedoman Hisab Muhammadiyah dan Penjelasan Keputusan Tarjih tentang Hisab Menguraikan kajian tentang Pedoman Hisab dalam Muhammadiyah dan strategi implementasinya dalam publikasi di masyarakat 6. Pengembangan Implementatif Operasional Dakwah Keluarga Menguraikan konsep dakwah keluarga dan strategi implementasinya dalam dakwah di masyarakat 7. Pengembangan Jaringan Sinergis Masjid dan Mubaligh Muhammadiyah Menguraikan konsep jaringan masjid dan mubaligh muhammadiyah dan strategi implementasi pewujudannya di daerah. 8. Pengembangan dan Penguatan Masjid sebagai Pusat Dakwah Muhammadiyah Menguraikan konsep pengembangan dan penguatan masjid Muhammadiyah dan strategi implementasi pewujudannya di daerah. 9. Pengembangan dan Penguatan Korps Mubaligh Muhammadiyah Menguraikan konsep pengembangan dan penguatan korps Mubaligh Muhammadiyah/’Aisyiyah dan strategi implementasi pewujudannya di daerah. 10. Pengembangan Metodologi Sumber dan Acuan Dakwah (Perspektif Al-Qur’an dan As-Sunnah) 1. Menguraikan konsep pengembangan metodologi sumber dan acuan dakwah: 2. Ayat dan hadits-hadits pilihan (aqidah dan komitmen berislam) 3. Metodologi penentuan rujukan acuan & tafsirnya 4. Metodologi penyampaian dakwahnya


89 Manual Acara WAKTU MATERI KET HARI PERTAMA 10.00-11.30 11.30-12.30 12.30-13.30 13.30-15.00 Registrasi Peserta Sholat Jumat Makan Siang Pembukaan: a. Sambutan & Orientasi b. Pengarahan dan Dialog “Tantangan Dakwah: Perkembangan Dinamis Situasi dan Kondisi Tanah Air Mutaakhir” c. Ta’aruf Peserta Panitia 15.30-15.45 Sholat Ashar Panitia 15.45.17.30 Materi I: “Ideologi Muhammadiyah” 17.30-19.30 ISHOMA Panitia 19.30-20.45 Materi II: “Manhaj Tabligh Muhammadiyah” Moderator: 20.45-22.15 Materi III:“Manhaj Tarjih Muhammadiyah” Moderator: 22.15-22.30 Refleksi: Apa yang kita dapat hari ini? Fasilitator 23.00-03.30 Istirahat HARI KEDUA 03.30-05.00 Shalat Lail & Shalat Shubuh Imam Training (IT) 05.00-06.00 Kuliah Subuh: Spirit Dakwah Muhammadiyah (Kajian Tafsir Tematik) Moderator: 06.00-07.30 Mandi, Makan Panitia 07.30-09.30 Materi IV: “Manhaj Tarjih” Moderator: 09.30-10.00 Coffee Break 10.00-11.45 Materi V: “Pengembangan Implementatif Operasional Dakwah Keluarga” Moderator: 11.45-13.00 ISHOMA Panitia 13.00-14.30 Materi VI: “Pengembangan Jaringan Sinergis Masjid dan Mubaligh Muhammadiyah” Moderator: 14.30-15.00 Istirahat Panitia 15.00-17.00 Materi VII: “Pengembangan dan Penguatan Masjid sebagai Pusat Dakwah Muhammadiyah” Moderator: 17.00-19.00 ISHOMA Panitia 19.00-20.30 Workshop: Sharing Dakwah Strategis & Unggulan 20.30-21.00 Coffee break Panitia 21.00-22.30 Materi VIII: “Pengembangan dan Penguatan Korps Mubaligh Muhammadiyah” Moderator: 22.00-22.30 Refleksi: Apa yang kita dapat hari ini? Fasilitator 22.30-04.00 Istirahat Panitia HARI KETIGA 03.30-05.00 Shalat Lail & Shalat Shubuh IT 05.00-06.00 Kuliah Subuh: Keteladanan Tokoh Muhammadiyah Moderator: 06.00-07.30 Mandi, Makan Panitia 07.30-09.30 Materi IX: “Pengembangan Metodologi Sumber dan Acuan Dakwah (Perspektif Al-Qur’an dan AsSunnah)” Moderator: 09.30-10.00 Coffee Break Panitia


90 10.00-11.40 Workshop & Rencana Tindak Lanjut: Rencana Aksi Dakwah Berkemajuan, dan Evaluasi Fasilitator: 11.40-13.00 ISHOMA Panitia 13.00-14.30 Lanjutan Workshop & Rencana Tindak Lanjut Fasilitator: 14.30-15.00 Penutupan Panitia 3. Diklat Kristologi Dan Advokasi Dakwah Pendahuluan Persyarikatan Muhammadiyah adalah gerakan Islam dakwah amar ma’ruf nahi mukar beraqidah Islam bersumber kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah yang bertujuan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Bagi Muhammadiyah, Islam merupakan nilai utama sebagai fondasi dan pusat inspirasi yang menyatu dalam seluruh denyut nadi gerakan. Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam sebagai risalah yang dibawa oleh para Nabi hingga Nabi akhir zaman Muhammad SAW adalah agama Allah yang lengkap dan sempurna. Memasuki era global Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah menghadapi tantangan yang semakin serius terutama dalam menghadapi arus informasi melalui kemajuan teknologi komunikasi yang selain berfungsi sebagai media transformasi ilmu pengetahuan dan berbagai informasi yang bernilai positif, tetapi pada waktu bersamaan juga terjadi transformasi nilai-nilai yang negatif dan destruktif berupa nilai-nilai budaya dan pemikiran yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip al-Qur`an dan As-Sunnah yang menjadi nilai utama bagi masyarakat Muhammadiyah. Sebagai akibatnya disadari atau tidak telah terjadi pergeseran nilai di kalangan warga Persyarikatan khususnya dan umat Islam umumnya, di mana nilai-nilai yang bersifat transedental yang meyakini Allah sebagai sumber kebenaran mulai bergeser kepada nilai-nilai filsafat yang menuhankan akal yang pada gilirannya melahirkan faham sekulerisme, pluralisme dan liberalisme (sepilisme) serta berbagai pemikiran menyimpang lainnya. Pemikiran-pemikiran menyimpang tersebut sangat berpotensi merusak aqidah shahihah yang meyakini bahwa Allah adalah Sumber Kebenaran dan Keselamatan bagi manusia dan Nabi Muhammad SAW sebagai figur yang diyakini sebagai Rasul Allah yang menjadi teladan dan idola utama, berubah kepada pandangan hidup yang dikotomis, empiris dan fragmatis yang melahirkan pola hidup hedonisme. Semangat hidup hedonisme dengan visi utama mengejar kesejahteraan dunia (hasanah fid-dunya) telah mendorong manusia melakukan berbagai kemunkaran dan kezaliman. Manusia telah kehilangan karakteristiknya sebagai makhluk mulia menjadi makhluk yang berada pada derajat yang paling rendah (asfala safilin). Mereka merasa tidak berdosa melakukan perbuatan tidak terpuji seperti merebut kedudukan dan kekuasaan dengan cara menebar fitnah dan permusuhan, tindakan korupsi, jual beli hukum, mempergunakan jabatan untuk memperkaya diri dan berbagai tindakan lainnya yang dapat merugikan kepentingan orang lain, masyarakat, bangsa dan Negara. Di tengah-tengah masyarakat yang hedonistik juga sangat mudah dijadikan sasaran pemurtadan, baik pemurtadan pemikiran maupun pemurtadan aqidah. Kader yang tadinya diharapkan menjadi generasi penerus, pelansung dan penyempurna cita-cita dan perjuangan Muhammadiyah malah berubah menjadi penggerus dan perusak cita-cita, perjuangan dan amal usaha Muhammadiyah. Tanpa merasa bersalah mereka telah mengacak-acak ideologi dan cita-cita


91 Muhammadiyah dengan pemikiran-pemikiran sesat dan menyimpang dengan dalih kemerdekaan berpikir. Untuk menghadapi berbagai tantangan dan perubahan itu semua, Muktamar Muhammadiyah ke 46 telah menetapkan program kerja di bidang tabligh dengan rencana strategis meningkatkan kuantitatif dan kualitatif peran Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah kemasyarakatan yang berpengaruh langsung dalam menciptakan masyarakat Islami sebagai perwujudan dari partisipasi aktif Muhammadiyah dalam pembangunan umat dan bangsa untuk mencapai tujuan Muhammadiyah, antara lain melalui : 1. Peningkatan kuantitas dan kualitas dakwah dalam segala dimensi kehidupan sesuai prinsip gerakan Muhammadiyah. 2. Peningkatan mutu dan kompetensi Muballigh Muhammadiyah. 3. Perluasan jangkauan dakwah agar mampu menyentuh berbagai level dan jenis kelompok masyarakat. Tujuan dan Sasaran Tujuan pelatihan tersebut adalah: 1. Meningkatkan profesionalitas muballigh dalam merespon berbagai tantangan dakwah khususnya dalam menghadapi gerakan pemurtadan agama dan pemikiran. 2. Meningkatkan rasa tanggung jawab dan menyamakan persepsi muballigh dalam merumuskan permasalahan dakwah di lapangan serta menyatukan langkah dan gerak dakwah secara nasional. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai antara lain: 1. Terselenggaranya program pelatihan kristologi, penanggulangan pemurtadan dan pemikiran menyimpang secara berjenjang dan bertahap. 2. Terciptanya konsolidasi gerakan tabligh dalam menghadapi gerakan pemurtadan agama dan pemikiran, baik vertikal di seluruh level pimpinan, maupun horizontal pada seluruh amal usaha Muhammadiyah. 3. Terpenuhinya rasio kebutuhan muballigh secara nasional sesuai kebutuhan dan tuntutan dakwah yang berkembang, minimal setiap cabang 10 muballigh. Bentuk Kegiatan Pelatihan diselenggarakan berjenjang dan bertahap direncanakan sebagai berikut: Tahap I : Pelatihan Instruktur Tingkat Pusat (TOT) Dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Diselenggarakan di 3 regional: a) Regional I meliputi wilayah-wilayah di Sumatera dan Kepri; b) Regional II meliputi wilayah-wilayah di Jawa, Bali, NTB dan sebagian Kalimantan, Maluku dan Papua;


92 c) Regional III meliputi wilayah-wilayah di Indonesia Timur (NTT, Sulawesi, Maluku Utara); 2. Penyelenggaraan TOT Tahap I bekerjasama dengan salah satu PWM dan PTM/AUM di masing-masing regional. 3. Peserta adalah utusan dari MT-PWM, masing-masing 3 (tiga) orang dengan persyaratan/kualifikasi sebagai calon instruktur tingkat wilayah, yaitu: a) Muballigh/penyuluh atau guru; b) Aktivis dan berbakat; c) Siap berkorban waktu, tenaga dan pikiran. 4. Pelatih dan narasumber dari MT PPM dan para pakar 5. Pembiayaan ditanggung secara bersama dengan rincian: a) Pelatih dan narasumber di tanggung oleh MT PPM; b) Akomodasi dan konsumsi ditanggung bersama oleh PWM dan PTM/AUM di tempat penyelenggaraan; c) Transportasi peserta plus SWP ditanggung oleh PWM masing-masing. 6. Output (hasil yang diharapkan): a) Tenaga Instruktur untuk TOT II; b) Muballigh Lintas Iman (MLI); c) Aktivis Anti Pemurtadan (A2P). Tahap II : Pelatihan Instruktur Tingkat Wilayah (TOT) Dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Diselenggarakan oleh MT PWM bekerjasama dengan PTM/AUM 2. Peserta adalah utusan dari MT PDM masing-masing 3 (tiga) orang dengan persyaratan dan kualifikasi tertentu sebagai calon instruktur tingkat Daerah. 3. Pelatih dan narasumber dari MT PPM/PWM dan para pakar 4. Pembiayaan ditanggung secara bersama dengan rincian: a) Pelatih dan narasumber di tanggung oleh MT PWM; b) Akomodasi dan konsumsi ditanggung bersama oleh PWM dan PTM/AUM di tempat penyelenggaraan; c) Transportasi peserta plus SWP ditanggung oleh PDM. 5. Output (hasil yang diharapkan): a) Tenaga Instruktur untuk PKP3M Tingkat Daerah; b) Muballigh Lintas Iman (MLI); c) Aktivis Anti Pemurtadan (A2P).


93 Tahap III : PKP3M TINGKAT DAERAH Dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Diselenggarakan oleh MT PDM bekerjasama dengan PTM/AUM 2. Peserta adalah utusan dari MT PCM masing-masing 10 orang. 3. Pelatih dan narasumber dari MT PWM/PDM dan para pakar 4. Pembiayaan ditanggung secara bersama dengan rincian: a) Pelatih dan narasumber di tanggung oleh MT PDM; b) Akomodasi dan konsumsi ditanggung bersama oleh PDM dan PTM/AUM di tempat penyelenggaraan; c) Transportasi peserta SWP ditanggung PCM. 5. Output (hasil yang diharapkan) : a) Muballigh Lintas Iman (MLI); b) Aktivis Anti Pemurtadan (A2P); c) Investigator dan Koresponden. Metodologi Pelatihan Metodologi pelatihan lebih bersifat andragogi (pendidikan untuk orang dewasa) dengan asumsi bahwa peserta telah memiliki dasar-dasar pengetahuan dan informasi tentang materi-materi yang akan diberikan dalam pelatihan, yang diimplementasikan dalam bentuk: 1. Pelatihan diselenggarakan secara intensif selama 3 (tiga) hari 2. Pemaparan materi oleh narasumber 3. Diskusi pendalaman dan pengayaan materi 4. Praktik kemahiran pemaparan materi sesuai modul 5. Praktik kemahiran berdebat Silabus / Materi 1. Kristologi, meliputi: a) Konsep Trinitas b) Penyaliban c) Dosa warisan d) Bibel dan Hermentika e) Injil dan Alquran 2. Penanggulangan Pemurtadan, meliputi: a) Strategi dan program kristenisasi internasional b) Data-data kristenisasi di Indonesia c) Strategi antisipasi pemurtadan


94 d) Teknik investigasi dan penyusunan laporan e) Teknik berdebat 3. Pemikiran Menyimpang, meliputi: a) Mengenal bermacam-macam pemikiran sesat dan menyimpang di Indonesia b) Kesesatan dan bahaya sepilis (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme) c) Kesesatan dan bahaya paham dan pemikiran syiah 4. Metodologi Pelatihan (Materi Khusus TOT): a) Penyusunan Peta Dakwah b) Teknik pengelolaan kelas c) Praktik permainan dan outbond Penyusunan Modul Penyusunan modul dibentuk oleh Tim Khusus yang terdiri dari beberapa orang tenaga ahli/pakar sesuai dengan bidangnya masing-masing. Modul-modul yang telah disiapkan berdasarkan materi/silabus yang telah ditetapkan dipergunakan sebagai standar materi pelatihan secara nasional. Materi/modul dapat dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan tantangan dakwah di berbagai daerah, khususnya yang berkaitan dengan strategi antisipasi pemurtadan. 4. Diklat Mubaligh Dan Takmir Masjid Muhammadiyah Maksud dan Tujuan Kegiatan Pelatihan Nasional Mubaligh dan Takmir Masjid Muhammadiyah merupakan program pendidikan dan pelatihan untuk mengupgrade kemampuan tabligh mubaligh Muhammadiyah dan kemampuan manajemen dakwah kemasjidan bagi takmir Muhammadiyah sehingga mereka memiliki kompetensi profesional di bidang tabligh dan dapat melaksanakan amanat tabligh di era modern ini. Pelatihan Nasional Mubaligh dan Takmir Masjid Muhammadiyah bertujuan, selain mengupgrade kemampuan tabligh, juga diharapkan menjadi forum silaturahmi nasional mubaligh-mubaligh Muhammadiyah dan takmir masjid guna mempersamakan visi dan langkah dalam rangka menghadapi berbagai perubahan baru dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pada saat yang bersamaan kegiatan ini bertujuan membangun daya imune mubaligh dan takmir masjdi Muhammadiyah dari rongrongan bahkan gempuran berbagai pengaruh buruk gaya hidup di era modern dengan pemupukan intensif kepribadian tangguh berdasarkan nilai-nilai luhur dan fundamental ajaran Islam. Sasaran dan Target Peserta 1. Sasaran Pelatihan Nasional Mubaligh dan Takmir Masjid Muhammadiyah adalah para mubaligh Muhammadiyah di tingkat wilayah dan daerah beserta para takmir masjid Muhammadiyah. 2. Target Pelatihan Nasional Mubaligh dan Takmir Masjid Muhammadiyah adalah enam kali pelaksanaan (angkatan) dengan setiap angkatan terdiri dari 100 peserta sehingga nantinya akan


95 menghasilkan 600 mubaligh dan takmir masjid Muhammadiyah yang memiliki kompetensi susbtantif dan metodologis di bidang dakwah Islam dan kemasjidan serta berkesanggupan diikutsertakan dalam berbagai aktivitas dakwah Persyarikatan Muhammadiyah baik pada tingkat wilayah maupun daerah. Profil Lulusan Secara lebih spesifik keberhasilan pencapaian target program Pelatihan Nasional Mubaligh dan Takmir Masjid Muhammadiyah di atas dapat diindikasikan atau diukur dari adanya kompetensi profesional lulusan/keluaran yang meliputi kompetensi substansial dan kompetensi metodologis. Yang dimaksud dengan kompetensi substansial adalah sejumlah kemampuan dasar pada lulusan yang berbasis pada penguasaan dan pemahaman yang baik pada ilmu pengetahuan inti di bidang dakwah serta didukung oleh komitmen pada nilai-nilai fundamental ajaran Islam dan memiliki integritas akhlakul karimah. Sedang yang dimaksudkan dengan kompetensi metodologis adalah kemampuan yang dimiliki oleh lulusan Pelatihan Nasional Mubaligh dan Takmir Masjid Muhammadiyah yang berbasis pada skill (keterampilan) pada aspek-aspek teknis metodologis dakwah. Peserta 1. PesertaPelatihan Nasional Mubaligh dan Takmir Masjid Muhammadiyah adalah: a. Mubaligh Muhammadiyah di tingkat wilayah atau daerah; b. Pegurus Takmir Masjid Muhammadiyah. 2. Setiap calon peserta, harus memenuhi sejumlah persyaratan: a. Laki-laki usia minimal 25 tahun; b. Mengisi form pendaftaran; c. Mendapatkan surat rekomendasi Majelis Tabligh Wilayah atau Daerah; d. Membayar Sumbangan Wajib Peserta (SWP); e. Sanggup mengikuti seluruh kegiatan pelatihan. Materi 1. Pancasila Sebagai Darul Ahdi Wasy-Syahadah 2. Strategi Dakwah Menghadapi Tantangan Global Menuju Indonesia Berkemajuan 3. Tauhid: Makna Dan Implementasinya Dalam Kehidupan 4. Revitalisasi Paham Tarjih Muhammadiyah 5. Faham Agama dalam Muhammadiyah 6. Tantangan Dakwah: Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme, dan Radikalisme 7. Fikih Dakwah dan Manhaj Dakwah Rasulullah 8. Psikologi Dakwah 9. Maqashid al-Syari’ah dan Implementasinya dalam Dakwah


96 10. Kepribadian Mubaligh Muhammadiyah 11. Dakwah dan Pengembangan Ekonomi 12. Inovasi Pengelolaan Masjid Muhammadiyah 13. Urgensi Sentralisasi Managemen Masjid Muhammadiyah Manual Acara WAKTU ACARA HARI PERTAMA TAHAP KE-1 07.30 – 08.00 Persiapan Peserta mendaftarkan diri dalam Zoom 08.00 – 09.30 Pembukaan dan Penyampaian Manhaj/Tuntunan Tabligh 09.30 – 09.45 Persiapan materi selanjutnya 09.45 – 11.00 Mater I: Respon Mubaligh dan Takmir Masjid Menghadapi Isu… 11.00 – 13.00 ISHOMA 13.00 – 14.30 Materi II: Strategi Dakwah Muhammadiyah di Era Disrupsi 14.30 – 15.00 Ice Breaking/Pengumuman 15.00 – 15.30 Sholat Ashar 15.30 – 17.00 Materi III: Revitalisasi Paham Tarjih Muhammadiyah 17.00 – 17.15 Penutupan Hari Pertama HARI KEDUA TAHAP KE-1 07.30 – 08.00 Persiapan Peserta mendafarkan diri 08.00 – 09.30 Materi IV: Faham Agama Dalam Muhammadiyah 09.30 – 09.40 Persiapan ke Pemateri berikutnya 09.40 – 11.10 Materi V: Wasatiyah Dalam Paham Agama 11.10 – 13.00 ISHOMA 13.00 – 14.30 Materi VI: Urgensi Sentralisasi Managemen Masjid dan Mubaligh Muhammadiyah 14.30 – 15.00 Rencana Tindak Lanjut 15.00 – 15.30 Penutupan HARI PERTAMA TAHAP KE-2 07.30 – 08.00 Persiapan Peserta mendaftarkan diri 08.00 – 09.30 Materi I: Paham Agama Dalam Muhammadiyah : Quo Vadis Khilafah dan Darul Ahdi Wasy Syahadah 09.30 – 09.45 Persiapan materi selanjutnya 09.45 – 11.00 Materi II: Praktik Ijtihad Dalam Muhammadiyah 11.00 – 13.00 ISHOMA 13.00 – 14.30 Materi III: Kepribadian Muhammadiyah 14.30 – 15.00 Penutupan Hari Pertama HARI KEDUA TAHAP KE-2 07.30 – 08.00 Persiapan Peserta mendafarkan diri ke dalam zoom 08.00 – 09.30 Materi IV: Manajemen Dana dan Kesejahteraan Umat pada Masjid Muhammadiyah 09.30 – 09.40 Persiapan ke Pemateri berikutnya 09.40 – 11.10 Materi V: Komunikasi dan Psikologi Dakwah 11.10 – 13.00 ISHOMA 13.00 – 14.30 Materi VI: Dakwah Media 14.30 – 15.00 Rencana Tindak Lanjut 15.00 – 15.30 Penutupan HARI PERTAMA TAHAP KE-3 07.30 – 08.00 Persiapan Peserta mendaftarkan diri


97 08.00 – 09.30 Materi I: Faham Takfiri Dalam Pandangan Muhammadiyah 09.30 – 09.45 Persiapan materi selanjutnya 09.45 – 11.00 Materi II: Bid’ah dan Khilafiah Dalam Pandangan Muhammadiyah 11.00 – 13.00 ISHOMA 13.00 – 14.30 Materi III: Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah 14.30 – 15.00 Penutupan Hari Pertama HARI KEDUA TAHAP KE-3 07.30 – 08.00 Persiapan Peserta mendafarkan diri ke dalam zoom 08.00 – 09.30 Materi IV: Masjid, Gerakan Jama’ah & Dakwah Jama’ah dan Dakwah Komunitas: Agenda dan Strategi 09.30 – 09.40 Persiapan ke Pemateri berikutnya 09.40 – 11.10 Materi V: Metode Pengambilan Sumber Rujukan Dakwah


98 BAB IV TATA KELOLA DAN PEMBINAAN MASJID MUHAMMADIYAH A. Tanfidz Keputusan Muktamar ke-48 Muhammadiyah Tahun 2022 Tentang Tata Kelola dan Pembinaan Masjid Muhammadiyah Tanfidz Keputusan Muktamar ke-48 Muhammadiyah Tahun 2022 yang terkait Tata Kelola dan Pembinaan Masjid Muhammadiyah tercamtum pada sub bab Program Per Bidang 2022-2027 halaman 27. Adapun teks lengkapnya sebagai berikut: PROGRAM PER BIDANG 2022–2027 2. Bidang Tabligh 2.1 Visi Pengembangan Berkembangnya fungsi tabligh dan kualitas mubaligh dalam penyebaran paham Muhammadiyah dan pembinaan keagamaan Islam yang holistic dan berkemajuan kepada semua sasaran dakwah yang berbasis pada spirit tajdid (purifikasi dan dinamisasi) yang bersifat inklusif, wasathiyah, inovatif, kolaboratif, dan adaptif disertai kemampuan dan wawasan digital. 2.2 Program Pengembangan a. Sistem Gerakan 1) Tersusunnya dan berkembangnya model penyebaran dan pembinaan keagamaan yang holistik berdasarkan paham keagamaan dan manhaj gerakan Muhammadiyah yang bermisi dakwah dan tajdid serta berpandangan Islam berkemajuan. 2) Tersusunnya pedoman/panduan keislaman hasil Tarjih untuk disebarluaskan dan dijadikan model pembinaan keagamaan bagi umat dan masyarakat luas. b. Organisasi dan Kepemimpinan 1) Standarisasi manajemen tabligh, tata kelola dan pembinaan masjid dan musala, dan integrasi lembaga korps muballigh Muhammadiyah dalam penyebaran paham keagamaan Muhammadiyah dan pembinaan jemaah. 2) Meningkatkan kualitas organisasi Majelis Tabligh di seluruh tingkatan yang mampu bersaing dengan lembaga-lembaga tabligh di luar yang berwawasan Islam berkemajuan. c. Jaringan Meningkatnya kerja sama dan kolaborasi dakwah, baik internal maupun eksternal Persyarikatan untuk intensifikasi dan ekstensifikasi kinerja tabligh.


99 d. Sumber Daya 1) Meningkatkan kualitas anggota pimpinan dan kader mubaligh yang berwawasan Islam berkemajuan dan memiliki kapasitas keilmuan yang luas, wasathiyah, inklusif, dan kompetitif menghadapi berbagai perkembangan paham dan dinamika keagamaan, kemasyarakatan, dan dunia kontemporer. 2) Meningkatkan kuantitas dan kualitas kader muballigh berwawasan digital untuk menghadapi tantangan disrupsi keagamaan dan memperkuat dakwah digital Muhammadiyah. e. Aksi Pelayanan 1) Mengintensifkan dan meluaskan program tabligh yang makin maju, unggul, dan kompetitif berwawasan Islam berkemajuan melalui berbagai media/sarana tabligh tatap muka (luring) dan digital/media sosial (daring) sehingga paham Islam dan gerakan Muhammadiyah makin mengakar dan meluas di lingkungan umat, masyarakat, bangsa, dan dunia internasional. 2) Mengintensifkan produk-produk materi-materi dan layanan tabligh yang bersifat panduan, bimbingan, dan pencerahan baik langsung maupun melalui berbagai media dalam format tulisan dan audiovisual, termasuk hasil riset dan inovasi dakwah. 3) Mengintensifkan pembinaan dan penyediaan mubaligh-mubaligh Muhammadiyah multiperan dan multiaspek untuk memenuhi tuntutan Persyarikatan, umat, dan masyarakat luas akan berbagai kebutuhan ruhani dan moral serta bimbingan beragama yang meneguhkan dan mencerahkan kehidupan. B. Pedoman Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/PED/I.0/B/2022 Tentang Masjid/Musala Muhammadiyah PEDOMAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH NOMOR 01/PED/I.0/B/2022 TENTANG MASJID/MUSALA MUHAMMADIYAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH, Menimbang : a. bahwa masjid/musala sebagai pusat ibadah, dakwah, dan perkaderan serta dalam rangka menjaga kemurnian paham keagamaan dan manhaj gerakan Muhammadiyah, perlu didukung kelembagaan masjid yang efektif; b. bahwa untuk menggerakkan masjid/musala sebagai pusat pelayanan dan pemberdayaan umat dalam hal pendidikan, keterampilan, dan kesejahteraan sosial


100 ekonomi, perlu didukung pengelolaan masjid/musala yang efisien dan efektif; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b tersebut perlu membentuk pedoman Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang masjid/musala Muhammadiyah; Mengingat : 1. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah; 2. Keputusan Muktamar ke-44 tahun 2000 Tentang Pembinaan Sholat Jamaah dan Pemakmuran Masjid; 3. Qa’idah Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/QDH/I.0/B/2013 TentangUnsur Pembantu Pimpinan; 4. Peraturan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 02/PRN/I.0/B/2015 TentangMajelis Tabligh; 5. Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 68/KEP/I.0/B/2019Tentang Tanfidz Keputusan Tanwir Muhammadiyah Tahun 2019; 6. Keputusan Rapat PimpinanPusat Muhammadiyah pada tanggal 4 Agustus 2022melalui telekonferensi video; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PEDOMAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH TENTANG MASJID/MUSALA MUHAMMADIYAH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Ketentuan Umum 1. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid,bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan Persyarikatan berbadan hukum. 2. Idiologi Muhammadiyah adalah keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah, meliputi pandangan hidup, tujuan hidup, ajaran, dan cara untuk mencapai tujuan Muhammadiyah. 3. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, selanjutnya disebut Pimpinan Pusat, adalah pimpinan tertinggi yang memimpin Muhammadiyah secara keseluruhan. 4. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, selanjutnya disebut Pimpinan Wilayah, adalah pimpinan Muhammadiyah dalam wilayahnya yang melaksanakan kebijakan Pimpinan Pusat. 5. Pimpinan Daerah Muhammadiyah, selanjutnya disebut Pimpinan Daerah, adalah pimpinan Muhammadiyah dalam daerahnya yang melaksanakan kebijakan pimpinan di atasnya. 6. Pimpinan Cabang Muhammadiyah, selanjutnya disebut Pimpinan Cabang, adalah pimpinanMuhammadiyah dalam cabangnya yang melaksanakan kebijakan pimpinan di atasnya. 7. Pimpinan Ranting Muhammadiyah, selanjutnya disebut Pimpinan Ranting, adalah pimpinanMuhammadiyah dalam rantingnya yang melaksanakan kebijakan pimpinan di atasnya. 8. Majelis Tabligh, selanjutnya disebut Majelis, adalah Unsur Pembantu Pimpinan Muhammadiyah yang diserahi tugas sebagai penyelenggara usaha-usaha dalam bidang tabligh dan sesuai dengan kebijakan pimpinan Muhammadiyah masing-masing tingkat.


Click to View FlipBook Version