The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Kamaruddin S.Pd.I, 2024-04-24 02:32:19

Ketentuan Pembentukan KMM

Ketentuan Pembentukan KMM

151 Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se-Indonesia. Rancangan program yang sudah dipaparkan di atas masih terbuka untuk mendapatkan masukan, pengayaan, dll. Dalam pelaksanaannya, sebagian program-program tersebut dapat diselenggarakan secara mandiri, oleh Tim Bidang 6 Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, maupun secara kolaboratif bersama bidang-bidang lain internal Majelis Tabligh ataupun dengan majelis, badan, atau lembaga lain di lingkungan PP Muhammadiyah. Begitu juga, program-program ini dapat pula dilaksanakan bersama Majelis Tabligh di level wilayah (PWM) dan bahkan daerah (PDM). Bahkan, apabila memungkinkan dan dinilai cukup strategis pelaksanaan program-program dapat dilaksanakan bersama pihak-pihak di luar persyarikatan. Nashrumminallaah wa fathun qariib. Wabasysyiril mu’miniin.


152 BAB VII TEMA RISET UNTUK DAKWAH MUHAMMADIYAH A. Paham Keagamaan Muhammadiyah Muhammadiyah adalah organisasi Islam terkemuka di Indonesia yang didirikan pada tahun 1912 oleh Ahmad Dahlan. Organisasi ini dikenal dengan pendekatan reformis dan modernis terhadap Islam. Pemahaman Muhammadiyah terhadap Islam dapat dirangkum dalam beberapa prinsip dan keyakinan kunci: 1. Tawhid (Kesatuan Tuhan): Muhammadiyah, seperti Islam umumnya, percaya pada kesatuan absolut Allah dan menolak segala bentuk politeisme atau asosiasi dengan Allah. 2. Kenabian: Muhammadiyah mengikuti keyakinan tentang kenabian Muhammad sebagai utusan terakhir Allah, melanjutkan tradisi Islam Sunni. 3. Al-Quran dan Hadis: Muhammadiyah menganggap Al-Quran sebagai sumber pedoman utama bagi umat Islam dan sumber utama hukum Islam. Mereka juga memandang Hadis (catatan 152asyarak dan ucapan Nabi Muhammad) sebagai sumber sekunder. 4. Ijtihad (Penalaran Independen): Muhammadiyah mendorong penggunaan ijtihad, atau penalaran 152asyarakat152, untuk menginterpretasikan ajaran Islam dan menyesuaikannya dengan konteks modern. Ini mencerminkan komitmen mereka untuk mengatasi isu-isu kontemporer. 5. Sunnah dan Bid’ah: Muhammadiyah menekankan untuk mengikuti Sunnah (tradisi) Nabi Muhammad 152asyar berhati-hati terhadap pengenalan inovasi (bid’ah) dalam praktik Islam. 6. Pendidikan: Muhammadiyah sangat menekankan pentingnya 152asyarakat sebagai sarana untuk mempromosikan pengetahuan Islam dan kemajuan sosial. Mereka telah mendirikan banyak sekolah dan universitas di seluruh Indonesia untuk memberikan 152asyarakat agama dan sekuler. 7. Reformasi Sosial: Muhammadiyah secara historis terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk 152asya untuk memerangi kemiskinan, meningkatkan pelayanan 152asyaraka, dan mempromosikan keadilan sosial. 8. Persaudaraan Islam: Seperti banyak organisasi Islam, Muhammadiyah memupuk rasa persaudaraan dan persatuan Islam di antara anggotanya, dengan tujuan memperkuat ikatan komunitas Muslim. 9. Pendekatan Reformis: Muhammadiyah telah terkait dengan pendekatan reformis dan modernis terhadap Islam, advokasi untuk interpretasi yang lebih rasional dan fleksibel terhadap ajaran Islam sesuai dengan realitas kontemporer. Penting untuk dicatat bahwa meskipun Muhammadiyah berbagi banyak keyakinan mendasar dengan Islam Sunni umumnya, organisasi ini juga memiliki perspektif dan prioritas uniknya sendiri, terutama dalam konteks 152asyarakat Indonesia dan penekanannya pada reformasi dan modernisasi. Selain itu, seperti organisasi keagamaan lainnya, mungkin ada variasi dalam keyakinan dan praktik di antara anggota individu dan cabang-cabang 152asya dalam Muhammadiyah. B. Pandangan Muhammadiyah tentang Hubungan Agama dan Negara Pandangan Muhammadiyah tentang hubungan antara negara dan agama mencerminkan komitmen organisasi Islam terkemuka di Indonesia ini terhadap reformasi Islam dan aktivisme sosial. Meskipun Muhammadiyah adalah organisasi non-politis, ia telah memainkan peran yang signifikan dalam membentuk wacana tentang Islam dan negara di Indonesia. Berikut adalah beberapa aspek kunci dari pandangan Muhammadiyah tentang hubungan antara negara dan agama:


153 1. Pemisahan Agama dan Negara: Secara umum, Muhammadiyah menganjurkan pemisahan otoritas keagamaan dan politik. Ia meyakini bahwa 153asyara-lembaga agama dan politik harus beroperasi secara 153asyarakat153 satu sama lain. Pandangan ini dipengaruhi oleh konteks 153asyara Indonesia, di mana organisasi ini muncul selama masa 153asyarak Belanda 153asyar 153asyara-lembaga agama dan politik saling terkait. 2. Kebebasan Beragama: Muhammadiyah mendukung gagasan kebebasan beragama, bukan hanya bagi umat Islam tetapi untuk semua warga negara. Ia meyakini bahwa individu harus memiliki hak untuk berpraktik agamanya dengan bebas tanpa paksaan. Pandangan ini sejalan dengan prinsip “Pancasila,” ideologi negara resmi Indonesia, yang menjamin kebebasan beragama. 3. Etika Islam dalam Pemerintahan: Sementara menganjurkan pemisahan otoritas keagamaan dan politik, Muhammadiyah percaya bahwa prinsip-prinsip etika dan nilainilai Islam harus menjadi landasan bagi tata 153asyar dan kebijakan 153asyar. Ia berpendapat bahwa perilaku etis dan keadilan harus menjadi inti fungsi negara. 4. Anti-Korupsi dan Keadilan Sosial: Muhammadiyah dikenal karena sikapnya yang tegas terhadap korupsi dan ketidakadilan sosial. Ia meyakini bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk melawan korupsi dan memastikan keadilan dan kesetaraan dalam 153asyarakat. Prinsip-prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam tentang keadilan dan pertanggungjawaban. 5. Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial: Muhammadiyah aktif terlibat dalam program 153asyarakat dan kesejahteraan sosial di Indonesia. Ia meyakini bahwa negara harus menyediakan 153asyarakat berkualitas dan layanan sosial kepada warganya, dengan 153asya pada mempromosikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam di bidang-bidang ini. 6. Netralitas Politik: Meskipun Muhammadiyah tidak terlibat secara langsung dalam politik, ia mendorong anggotanya untuk aktif secara politik sebagai individu. Namun, organisasi ini menekankan bahwa aktivitas politik harus dilakukan dengan komitmen terhadap keadilan, etika, dan kesejahteraan yang lebih besar, bukan kepentingan 153asyaraka. Penting untuk dicatat bahwa pandangan Muhammadiyah tentang hubungan antara negara dan agama dapat berkembang seiring waktu, dan bisa ada variasi dalam interpretasi dan posisi yang dipegang oleh berbagai anggota dan pemimpin dalam organisasi ini. Selain itu, Indonesia adalah negara yang beragam dengan berbagai organisasi dan interpretasi Islam, dan pandangan Muhammadiyah hanya merupakan satu perspektif di antara banyak dalam lanskap Islam negara ini. C. Muhammadiyah dan Pembinaan Umat: Revitalisasi Masjid sebagai Pusat Peradaban Menghidupkan 153asyara masjid sebagai landasan peradaban Islam adalah usaha penting yang melibatkan pelestarian peran tradisional mereka 153asyar menyesuaikannya dengan kebutuhan kontemporer. Masjid selama sejarahnya menjadi pusat dalam 153asyarakat Islam, berfungsi sebagai tempat ibadah, 153asyarakat, pertemuan komunitas,


154 dan dukungan sosial. Berikut adalah beberapa aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam menghidupkan 154asyara masjid untuk tujuan ini: 1. Pusat Spiritual dan Keagamaan: Masjid harus tetap menjadi tempat ibadah dan refleksi spiritual utama. Membina hubungan spiritual yang kuat di antara umat Islam adalah fundamental bagi iman mereka, dan masjid dapat terus berfungsi sebagai tempat untuk salat harian, khutbah Jumat, dan acara keagamaan khusus. 2. Pendidikan dan Pembelajaran: Masjid memiliki tradisi 154asyara sebagai pusat 154asyarakat dan pembelajaran dalam peradaban Islam. Peran ini dapat dihidupkan 154asyara dengan menawarkan kelas dan lokakarya tentang berbagai mata 154asyaraka Islam, termasuk studi Quran, Hadis, jurisprudensi Islam (fiqh), dan 154asyara Islam. Selain itu, menawarkan kelas 154asyar untuk mempelajari 154asyar Arab, yang merupakan 154asyar Quran. 3. Keterlibatan Komunitas: Masjid harus aktif terlibat dengan komunitas 154asya. Mereka dapat berfungsi sebagai pusat kegiatan komunitas, dukungan sosial, dan program-program pengabdian 154asyarakat. Ini termasuk memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, mengorganisir acara amal, dan mempromosikan dialog antaragama dan pemahaman. 4. Program Pemuda dan Keluarga: Masjid harus menciptakan program yang khusus dirancang untuk pemuda dan keluarga. Ini dapat mencakup kelompok pemuda, program mentoring, dan layanan konseling keluarga. Melibatkan pemuda dan memastikan bahwa masjid ramah dan relevan bagi generasi muda sangat penting bagi kelangsungan mereka. 5. Keterlibatan Perempuan: Mendorong partisipasi aktif 154asyaraka dalam kegiatan masjid. Banyak masjid secara tradisional didominasi oleh pria, tetapi penting untuk menciptakan ruang yang inklusif di mana 154asyaraka juga dapat memimpin, berpartisipasi, dan mendapatkan manfaat dari program dan layanan masjid. 6. Ekspresi Budaya dan Seni: Melihat warisan budaya dan seni Islam yang kaya, Masjid dapat menjadi pusat seni, 154asya, dan sastra Islam, menampilkan warisan budaya yang beragam dari dunia Muslim. 7. Interaksi agama dan Pengabdian Masyarakat: Menjalin dialog dengan komunitas agama lain untuk mempromosikan pemahaman dan 154asyaraka. Masjid dapat mengorganisir acara antaragama, konferensi, dan lokakarya untuk mempromosikan perdamaian, toleransi, dan persatuan. 8. Teknologi dan Inovasi: Memanfaatkan teknologi untuk mencapai audiens yang lebih luas. Gunakan platform online untuk siaran langsung khutbah dan kelas, 154asyar akun media sosial aktif, dan buat situs web yang menyediakan sumber daya untuk belajar dan tetap terhubung. 9. Keberlanjutan Lingkungan: Mendorong kesadaran lingkungan dan keberlanjutan dalam operasi masjid. Ini bisa mencakup desain bangunan yang efisien energi, program daur ulang, dan taman komunitas. 10. Transparansi dan Akuntabilitas: Pastikan manajemen masjid transparan dan bertanggung jawab kepada komunitas yang dilayani. Hal ini dapat membantu membangun kepercayaan dan keyakinan di antara jamaah masjid. 11. Pemeliharaan dan Renovasi: Investasikan dalam pemeliharaan dan renovasi fasilitas masjid untuk memberikan lingkungan yang aman, bersih, dan estetis untuk jamaah dan pengunjung. 12. Pengembangan Kepemimpinan: Investasikan dalam program pengembangan kepemimpinan untuk melatih dan memberdayakan individu dalam komunitas untuk mengambil peran kepemimpinan dalam masjid.


155 Menghidupkan 155asyara masjid sebagai landasan peradaban Islam memerlukan pendekatan 155asyarak yang menghormati tradisi 155asyar menyesuaikan dengan kebutuhan yang berkembang dalam 155asyarakat Muslim. Dengan menggabungkan spiritualitas, 155asyarakat, keterlibatan komunitas, dan pengayaan budaya, masjid dapat terus memainkan peran sentral dalam kehidupan umat Islam dan memberikan kontribusi positif bagi 155asyarakat yang lebih luas di mana mereka berada. D. Penguatan Ideologi Muhammadiyah Muhammadiyah adalah organisasi reformis Islam terkemuka di Indonesia, dan ideologinya berakar pada ajaran Islam dan reformasi sosial. Berikut adalah beberapa langkah untuk memperkuat ideologi Muhammadiyah: a) Program Pendidikan: Muhammadiyah sangat menekankan pendidikan. Memperkuat ideologinya dapat dimulai dengan meningkatkan program-program pendidikan. Ini termasuk memperluas jaringan sekolah, perguruan tinggi, dan universitas Muhammadiyah. Memastikan bahwa lembaga-lembaga ini memberikan pendidikan berkualitas tinggi yang konsisten dengan prinsip-prinsip Muhammadiyah sangat penting. b) Ajaran dan Nilai-Nilai Islam: Ideologi Muhammadiyah berakar pada ajaran dan nilai-nilai Islam. Selenggarakan kelompok-kelompok studi, kuliah, dan seminar secara teratur untuk mendidik anggota dan masyarakat umum tentang ajaran dan nilai-nilai ini. Tekankan pentingnya ketakwaan pribadi, integritas moral, dan keadilan sosial. c) Program Kesejahteraan Sosial: Muhammadiyah memiliki tradisi kuat dalam pelayanan sosial dan pekerjaan amal. Memperkuat aspek ini dari ideologi dengan memperluas program-program kesejahteraan sosial untuk mengatasi kebutuhan masyarakat. Ini bisa mencakup pelayanan kesehatan, dukungan bagi panti asuhan, dan bantuan saat bencana. d) Keterlibatan Komunitas: Terlibat aktif dengan masyarakat lokal untuk memahami kebutuhan dan kekhawatiran mereka. Muhammadiyah harus dilihat sebagai kekuatan untuk perubahan positif dan dukungan dalam komunitas. Membangun kepercayaan dan hubungan dengan masyarakat sangat penting untuk memperkuat ideologinya. e) Pengembangan Pemuda dan Kepemimpinan: Investasikan pada pemuda dan pemimpin masa depan dalam organisasi. Kembangkan program pelatihan kepemimpinan yang menanamkan nilai-nilai inti Muhammadiyah. Dorong anggota muda untuk mengambil peran kepemimpinan dalam organisasi. f) Advokasi untuk Keadilan Sosial: Muhammadiyah harus mengadvokasi kebijakan dan inisiatif yang sejalan dengan ideologi keadilan sosial, kesetaraan, dan hak asasi manusia. Ini mungkin melibatkan upaya untuk reformasi hukum, berpartisipasi dalam perdebatan publik, dan berkolaborasi dengan organisasi sejenis yang memiliki tujuan yang sama.


156 g) Media dan Komunikasi: Manfaatkan alat komunikasi modern dan media untuk menyebarkan ideologi dan aktivitas Muhammadiyah. Pertahankan kehadiran online yang kuat dan gunakan platform media sosial untuk mencapai audiens yang lebih luas. h) Penelitian dan Publikasi: Dorong penelitian dan publikasi materi yang mengeksplorasi pemikiran Islam, masalah sosial, dan peran Muhammadiyah dalam mengatasi mereka. Sebarkan publikasi ini secara luas untuk mendidik anggota dan masyarakat umum. i) Transparansi dan Akuntabilitas: Pertahankan standar tinggi transparansi dan akuntabilitas dalam organisasi. Anggota dan masyarakat harus memiliki keyakinan pada operasi dan manajemen keuangan Muhammadiyah. j) Kerjasama: Berkolaborasi dengan organisasi Islam lainnya, kelompok masyarakat sipil, dan lembaga pemerintah untuk mencapai tujuan bersama terkait keadilan sosial, pendidikan, dan pengembangan masyarakat. Penguatan ideologi Muhammadiyah adalah proses berkelanjutan yang memerlukan dedikasi, komitmen, dan adaptabilitas. Penting untuk tetap setia pada prinsip-prinsip inti organisasi sambil juga responsif terhadap perubahan kebutuhan masyarakat. E. Refleksi dan Proyeksi Dakwah Digital Muhammadiyah Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam terkemuka di Indonesia dengan sejarah panjang yang bermula sejak berdirinya pada tahun 1912. Ini adalah salah satu organisasi Islam terbesar di negara tersebut dan telah memainkan peran penting dalam berbagai aspek masyarakat Indonesia, termasuk pendidikan, kesejahteraan sosial, dan urusan keagamaan. Ketika berbicara tentang "Islam Digital," istilah ini dapat mencakup beberapa aspek yang terkait dengan keterlibatan Muhammadiyah dengan teknologi dan dunia digital: 1) Kehadiran Online: Muhammadiyah, seperti banyak organisasi keagamaan lainnya, telah membentuk kehadiran online yang kuat. Ini menggunakan situs web, platform media sosial, dan aplikasi seluler untuk menyebarkan informasi, berbagi ajaran agama, dan terhubung dengan anggotanya dan pengikutnya. Platform digital ini memberikan cara yang nyaman bagi Muhammadiyah untuk mencapai audiens luas dan terlibat dalam wacana keagamaan online. 2) Dakwah Digital: Dakwah mengacu pada tindakan mengundang orang untuk masuk Islam dan berbagi pesan Islam. Muhammadiyah menggunakan platform digital untuk melakukan kampanye da'wah digital. Kampanye ini dapat mencakup kuliah video, podcast, dan posting media sosial yang bertujuan untuk menyebarkan ajaran Islam dan berinteraksi dengan individu yang tertarik untuk belajar lebih banyak tentang Islam. 3) Keterlibatan di Media Sosial: Muhammadiyah memiliki kehadiran kuat di platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Ini menggunakan platform ini untuk berbagi konten agama, memberikan panduan tentang berbagai aspek kehidupan, dan menjawab pertanyaan dan kekhawatiran dari komunitas online.


157 4) Fatwa Online: Para ulama dan otoritas agama Muhammadiyah sering mengeluarkan fatwa (pendapat hukum Islam) tentang berbagai isu kontemporer. Beberapa fatwa ini tersedia secara online, memudahkan umat Islam untuk mengakses panduan tentang masalah yang berkaitan dengan iman dan kehidupan sehari-hari mereka. 5) Inisiatif Kemanusiaan: Muhammadiyah juga terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan dan amal. Di ranah digital, ini dapat menggunakan platform donasi online dan penggalangan dana untuk mengumpulkan dana untuk inisiatif kemanusiaan dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkannya. Penting untuk dicatat bahwa keterlibatan Muhammadiyah dengan teknologi digital dan internet tidak unik, karena banyak organisasi keagamaan di seluruh dunia telah mengadopsi strategi serupa untuk beradaptasi dengan era digital dan terhubung dengan audiens global. Islam Digital, dalam konteks ini, merujuk pada integrasi alat dan platform digital ke dalam berbagai aspek praktik Islam, pendidikan, penyuluhan, dan pembangunan komunitas.


158 BAB VIII DRAFT RUMUSAN PEMBENTUKAN MUHAMMADIYAH QURANIC YOUTH MAJELIS TABLIGH PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH A. Latar Belakang Kitab suci al-Quran adalah salah satu dari dua sumber pokok ajaran yang dipedomani oleh umat Islam dalam kehidupan mereka, baik secara individu maupun secara kolektif. Bahkan al-Qur’an juga mengandung nilai-nilal dan ajaran universal yang dapat dipedomani oleh seluruh umat dan bangsa di dunia. Al-Qur’an juga merupakan sumber inspirasi bagi setiap orang yang mampu menyelami makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sebelum al-Qur’an diturunkan, di bumi ini sudah terdapat beberapa kitab suci yang menjadi pedoman hidup manusia, seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Berbeda dengan ketiga kitab suci tersebut yang hanya diperuntukan bagi umat tertentu, alQur’an diperuntukan untuk seluruh umat manusia. Jadi tidaklah mengherankan, selama lebih dari 14 Abad al-Qur’an tetap terjaga otentisitasnya, karena perhatian kaum muslim terhadap al-Qur’an ini sungguh luar biasa. Berbagai upaya telah dan akan terus dilakukan umat Islam untuk memelihara otentisitas al-Qur’an, baik dengan hafalan maupun dengan tulisan. Upaya tersebut telah berlangsung sejak Nabi Muhammad saw masih hidup sampai sekarang, sehingga kemurnian al-Qur’an tetap sama seperti awalnya. Keberadaan para pembaca al-Quran (qurra) juga banyaknya para penghafal kitab suci ini (huffadz) menjadi bukti konkrit bahwa hanya al-Quran satu-satunya kitab suci yang akan senantiasa terjaga keaslian dan keotentikannya dari segala macam bentuk penyelewengan dan distorsi, selain Allah sendiri pun yang menjaga keaslian kitab suci yang mulia ini sebagaimana dalam firmanNya “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya”. (Q.S. Al-Hijr : 9) Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar makruf nahi munkar dan tajdid yang bersumber kepada al-Quran dan as-Sunnah, dengan sendirinya perlu dan dituntut untuk berperan aktif dalam upaya mencetak para pembaca al-Quran (Qurra) juga pengahafal al-Quran (Huffadz) sebagai implementasi dari Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH). Upaya Persyarikatan Muhammadiyah dalam mencetak para pembaca alQuran (Qurra) juga pengahafal al-Quran (Huffadz) ini sesungguhnya telah termanifestasikan dari keberadaan banyaknya Pondok Pesantren Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal itulah yang kemudian mendorong Muhammadiyah di dalam Muktamarnya yang ke 47 pada tahun 2015 di Makassar memberikan amanat kepada PP Muhammadiyah untuk membentuk semacam lembaga atau majelis khusus yang menangani Pondok Pesantren Muhammadiyah. Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah (LP3M) yang dibentuk oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini diharapkan menjadi garda depan pembentuk kader ulama Muhammadiyah yang memiliki berbagai kompetensi ke-ulamaan, salah satunya adalah pengusaan terhadap sumber ajaran utama agama Islam yaitu al-Quran. Sampai saat ini tercatat ada 440 Pondok Pesantren Muhammadiyah yang tersebar di 27 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah di seluruh Indonesia, termasuk di dalamnya adalah Pesantren atau Mahad Tahfidz al-Quran, yang berfokus kepada upaya mencetak para pembaca al-Quran (Qurra’) juga pengahafal al-Quran (Huffadz). Keberadaan kader-kader qurra dan huffadz Muhammadiyah ini sayangnya tidak memiliki wadah maupun perkumpulan di dalam Persyarikatan Muhammadiyah yang mampu menjadi fasilitator dalam pengembangan potensi, minat serta bakat alQuran yang mereka miliki.


159 Maka, berangkat dari latar belakang tersebut, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengambil inisiatif dan peran dengan mengusulkan dibentuknya Perhimpunan Para Qari dan Hafidz Muhammadiyah yang kemudian diberi nama “Muhammadiyah Quranic Youth” B. Visi dan Misi “Terwujudnya Kader-kader Qurra’ dan Huffadz Muhammadiyah yang kompeten dalam rangka mencapai masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. C. Misi 1. Mencetak ahli-ahli Qur’an lafzhan (hafal lafazhnya), wa ma’nan (faham isi kandungannya), wa ‘amalan (mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari). 2. Memfasilitasi Kader-kader Qurra’ dan Huffadz Muhammadiyah dalam peningkatan kompetensi mereka dalam bidang al-Quran. 3. Menjadikan al-Quran sebagai ruh dan spirit gerakan dan perjuangan kader-kader muda Muhammadiyah. D. Bentuk Kegiatan Muhammadiyah Quranic Youth memiliki beberapa kegiatan, diantaranya; 1. Mengadakan daurah tahfidz al-Quran secara rutin, terstruktur dan sistematis. 2. Mengadakan pelatihan seni baca al-Quran (tilawah murattalah dan mujawwadah) 3. Mengadakan kajian serta seminar tentang al-Quran 4. Mengadakan Musabaqah Tilawatil dan Hifdzil Quran antar Pondok Pesantren Muhammadiyah bekerja sama dengan Majelis, Lembaga serta Amal Usaha Muhammadiyah. E. Sasaran Program Sasaran Program Muhammadiyah Quranic Youth ini adalah kader-kader Qurra’ dan Huffadz Muhammadiyah di seluruh Indonesia yang mempunyai potensi dan prestasi pada bidang-bidang ilmu Al-Quran. F. Penyelenggara Program “Muhammadiyah Quranic Youth” diselenggarakan oleh Majelis Tabligh Muhammadiyah bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah (LP3M) pada tingkat Pusat, Wilayah dan Daerah.


160 BAB IX DRAFT RUMUSAN PROGRAM INKUBASI KADER ULAMA MUHAMMADIYAH MAJELIS TABLIGH PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH A. Latar Belakang Dakwah dalam Islam mempunyai kedudukan yang sangat mulia, hal itu dikarenakan Agama yang mulia ini mampu tersebar ke seluruh penjuru dunia karena dakwah yang telah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Islam adalah agama dakwah, artinya bahwa Islam senantiasa mendorong umatnya agar menjadi pelaku dakwah dan mewujudkannya dalam bentuk amar makruf nahi munkar. Pada era disrupsi, salah satu tantangan dakwah di Indonesia adalah heterogenitas dan komposisi masyarakat yang sangat beraneka ragam, serta komposisi sosial yang dibentuk oleh banyak kelompok etnis dengan struktur budaya yang dimiliki oleh setiap daerah dengan karakteristik dan potensi budaya yang berbeda, yang mungkin tidak dimiliki oleh sebagian negara tertentu. Lebih dari itu, kemajuan teknologi informasi yang ditandai dengan revolusi industri 4.0 bahkan 5.0, yang memberikan berbagai kemudahan bagi manusia untuk mengakses berbagai hal melalui internet, manjadikan masyarakat merasa tidak perlu lagi belajar agama dengan guru ataupun ustad, cukup dengan alat atau bahkan robot yang direkayasa dan dibentuk layaknya seorang pendakwah atau ulama yang mampu menjawab berbagai persoalan agama yang mereka hadapi. Kondisi dan tantangan dakwah di atas, menuntut para pelaku dakwah seperti para Da’i dan juga Muballigh untuk memiliki serta menguasai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugasnya, tidak hanya kemampuan dalam berorasi serta berceramah saja, tanpa dibarengi dengan kompetensi keilmuan yang memadai. Hadirnya era society 5.0 memaksa para Dai dan Muballigh untuk lebih transformatif, responsif, adaptif dan mampu menjawab persoalan dakwah yang semakin kompleks. Para dai dan ulama perlu memiliki kompetensi keilmuan, metodologi, kepribadian serta beberapa ketrampilan pendukung. Semakin mudah masyarakat mengakses dai/ulama maka akan semakin mudah mendapatkan akses terhadap konten dakwahnya. Maka dai/ulama sangat perlu mengenal dirinya, passionnya dan terus belajar meningkatkan kapasistas dan kompetensinya termasuk meningkatkan metode yang sesuai dan efektif untuk menyampaikan risalah dakwah yang diemban. Muhammadiyah sebagai salah satu persyarikatan dan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, dengan ribuan amal usaha yang dimilikinya berupaya untuk senantisasa responsif terhadap berbagai problematika keummatan khususnya dalam menjawab tantangan dakwah di era disrupsi ini. Keberadaan lembaga dakwah Muhammadiyah seperti Majelis Tabligh dan lembaga fatwa kegamaan Muhammadiyah seperti Majelis Tarjih dengan berbagai program dan kegiatan yang dilakukan, menjadi bukti konkrit bahwa Muhammadiyah sangat concern terhadap isu-isu keummatan dan keagamaan. Untuk mewujudkan harapan akan tersebarnya kader ulama dan muballigh Muhammadiyah yang di berbagai universitas dan institusi keilmuan KeIslaman terbaik dunia melalui beasiswa, dibutuhkan kesiapan yang matang. Tidak hanya kemampuan akademis yang mumpuni, tetapi juga penguasaan terhadap dasardasar ilmu KeIslaman, tahfidz Al-Quran dan Bahasa Arab. Oleh karena itu, Muhammadiyah melalui Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengupayakan program persiapan dan pelatihan Bahasa Arab, Tahfidz Al-Quran dan ilmu-ilmu dasar keIslaman, sebagai syarat utama studi dan beasiswa di


161 perguruan tinggi Islam terkemuka di Timur Tengah. Berdasarkan hal tersebut, Majelis Tabligh PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu), mengemabil inisiatif dan peran untuk menyelenggarakan program “Inkubasi Kader Ulama Muhammadiyah”. Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas kader ulama dan Muballigh Persyarikatan, tetapi juga guna mempersiapkan diaspora kader secara global serta calon pemimpin dan cendekiawan terbaik di Perguruan Tinggi Muhammadiyah/'Aisyiyah (PTMA). B. Tujuan Program Program Inkubasi Kader Ulama Muhammadiyah dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapan dan kemampuan kader ulama dan muballigh unggulan Muhammadiyah agar dapat mengakses beasiswa pendidikan studi lanjut tingkat S1/S- 2/S-3 di universitas-universitas Islam terkemuka di Timur Tengah, baik yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia maupun pemberi beasiswa lain. C. Sasaran Program Sasaran Program Inkubasi Kader Ulama Muhammadiyah adalah kader terpilih Muhammadiyah di seluruh Indonesia yang mempunyai potensi dan prestasi pada bidang-bidang ilmu keislaman yang sedang dan/atau akan dikembangkanPTMA. D. Bentuk Program Program Inkubasi Kader Ulama Muhammadiyah mencakup beberapa bentuk kegiatan berikut. 1. Penguatan karakter dan wawasan Keislaman dan Kemuhammadiyahan; 2. Pelatihan dan penguatan motivasi untuk menempuh pendidikan S-1/S-2/S-3 di perguruan tinggi Islam Timur Tengah/luar negeri terkemuka; 3. Pengenalan dan strategi meraih beasiswa pendidikan S-1/S-2/S-3 di Timur Tengah/luar negeri, baik yang ditawarkan oleh Pemerintah Indonesia maupun pemberi beasiswa lain; 4. Pelatihan Bahasa Arab dan Daurah Tahfidz Al-Quran hingga memenuhi syarat yang diperlukan untuk mendaftar beasiswa pendidikan S-1/S-2/S-3 di perguruan tinggi Islam Timur Tengah/luar negeri terkemuka, baik yang ditawarkan oleh Pemerintah Indonesia maupun pemberi beasiswa lain; 5. Pendampingan persiapan pendaftaran dan ujian seleksi beasiswa pendidikan S-1/S-2/S-3 di di perguruan tinggi Islam Timur Tengah/luar negeri terkemuka, baik yang ditawarkan oleh Pemerintah Indonesia maupun pemberi beasiswa lain. E. Materi Pembekalan Program Inkubasi Kader Ulama Muhammadiyah mencakup beberapa materi pembekalan sebagai barikut; 6. Penguatan kompetensi Bahasa Arab 7. Daurah Tatsbit Tahfidz Al-Quran 8. Dasar-dasar ilmu keIslaman meliputi; ilmu Al-Quran dan tafsir, ilmu hadis, fikih, ushul fikih, tarbiyah, dakwah, maqashid syariah, dll. 9. Srategi mendapatkan beasiswa Timur Tengah


162 F. Fasilitas Penerima Beasiswa Peserta Program Inkubasi Kader Ulama Muhammadiyah akan mendapatkan fasilitas sebagai berikut. 10. Biaya pelatihan Bahasa Arab dan Daurah Tahfidz Quran; 11. Biaya pendukung meliputi biaya transportasi keberangkatan dan kepulangandari lokasi pelatihan, akomodasi dan biaya hidup bulanan selama pelatihan; 12. Biaya tes TOAFL; 13. Pendampingan persiapan studi lanjut. G. Persyaratan Pendaftar Peserta Program Inkubasi Kader Ulama Muhammadiyah harus memenuhi persyaratan umum dan persyaratan khusus sebagai berikut: • Persyaratan Umum 14. Kader muda Muhammadiyah yang aktif di berbagai level kepemimpinan Muhammadiyah/organisasi Otonom Muhammadiyah, baik pusat, wilayah, daerah, cabang, maupun ranting; 15. Memiliki komitmen dan loyalitas terhadap Persyarikatan, berwawasan luas, berlandaskan Aqidah Islam, Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta memiliki kepercayaan diri dan kematangan dalam mengelola emosi dan beradaptasi; 16. Memiliki latar belakang pendidikan Pesantren Muhammadiyah, D-4/S-1/S-2 dari: a. Pesantren/Madrasah/Muhammadiyah Boarding School b. Perguruan Tinggi Negeri/Perguruan Tinggi Muhammadiyah/'Aisyiyah di seluruh wilayah Indonesia; atau c. Perguruan Tinggi lain di dalam negeri yang telah diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT); 17. Bersungguh-sungguh akan mendaftar beasiswa pendidikan S-1/S-2/S-3 luar negeri, baik yang ditawarkan oleh Pemerintah Indonesia maupun pemberi beasiswa lain; 18. Mendapatkan rekomendasi dari Pimpinan Muhammadiyah, sekurangkurangnya pada level Daerah atau Pimpinan Wilayah Organisasi Otonom (ORTOM) setempat; 19. Mendapatkan rekomendasi dari pimpinan (Rektor/Ketua/Direktur) bagi yang telah bekerja di PTMA; 20. Sehat secara jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter yang berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) atau Rumah Sakit (RS) setempat. • Persyaratan Khusus 1. Memiliki hafalan Al-Quran minimal 10 Juz secara mutqin. 2. Menguasai Bahasa Arab baik lisan maupun tulisan. H. Penyelenggara Peserta Program Inkubasi Kader Ulama Muhammadiyah diselenggarakan oleh Majelis Tabligh PP Muhammadiyah bekerja sama dengan LazisMu Di samping itu, program ini juga melibatkan Lembaga Bahasa Arab Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah.


163 BAB X BLUE PRINT DAKWAH GLOBAL MUHAMMADIYAH Dalam era globalisasi yang penuh gejolak, peran organisasi keagamaan dalam penyebaran pesan dan nilai-nilai agama semakin penting. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki tanggung jawab dakwah global yang signifikan. Dakwah global menjadi instrumen utama untuk memperluas pemahaman Islam yang sejati, mendorong perdamaian, dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan di seluruh dunia. Ini tercermin di dalam salah satu dari tujuh agenda yang dihasilkan dari Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta, yakni “Digitalisasi dan Intensitas Internasionalisasi Muhammadiyah”. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, diperlukan sebuah blueprint atau rencana strategis yang komprehensif. Blueprint dakwah global Muhammadiyah harus merinci langkahlangkah konkret yang akan diambil untuk menghadapi tantangan dan peluang dalam menyebarkan pesan Islam, memperbaiki pemahaman tentang Islam, serta berkontribusi pada perbaikan sosial dan kemanusiaan di skala global. Blueprint ini akan menjawab panggilan dakwah global Muhammadiyah. Beberapa aspek kunci yang akan dibahas dalam blueprint ini, termasuk pendidikan dan pelatihan, penggunaan teknologi, kerjasama internasional, inklusivitas, dan upaya pemantauan serta evaluasi. Blueprint ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi Muhammadiyah dalam mengimplementasikan dakwah global dengan kualitas terbaik, sehingga pesan Islam dapat tersebar luas dan memberikan dampak positif di seluruh dunia. Beberapa aspek kunci tersebut adalah: 1. Pendidikan: Muhammadiyah sangat menekankan pendidikan. Salah satu cara untuk terlibat dalam dakwah global adalah melalui pendirian lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan secara komprehensif; baik aspek agama dan atai ilmu umum. Pendekatan ini dapat membantu membentuk pemikiran generasi muda dengan mengajarkan nilai-nilai Islam. 2. Dialog antar Agama: Untuk mempromosikan pemahaman dan kerukunan, Muhammadiyah dapat terlibat dalam dialog antar agama dengan pemeluk agama lain. Dialog ini dapat membantu menghilangkan kesalahpahaman tentang Islam dan memupuk harmoni antara komunitas agama yang berbeda. 3. Bantuan Kemanusiaan: Muhammadiyah dapat terlibat dalam upaya kemanusiaan untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan, tanpa memandang latar belakang agama mereka. Ini dapat mencakup bantuan dalam penanggulangan bencana, perawatan kesehatan, dan program pengentasan kemiskinan.


164 4. Media dan Komunikasi: Dengan menggunakan alat media dan komunikasi modern, Muhammadiyah dapat menyebarkan ajaran Islam, nilai-nilai, dan pandangan kepada audiens global. Ini mungkin melibatkan produksi konten seperti buku, artikel, video, dan situs web. 5. Pertukaran Budaya: Muhammadiyah dapat mempromosikan pertukaran budaya untuk memupuk pemahaman dan saling menghormati antara budaya dan peradaban yang berbeda. Ini bisa meliputi penyelenggaraan acara budaya, pameran, dan pertunjukan seni. 6. Publikasi Ilmiah: Para ilmuwan Muhammadiyah mungkin menerbitkan buku, artikel, dan makalah penelitian yang berkontribusi pada ilmu pengetahuan Islam dan mengatasi masalah-masalah kontemporer dari perspektif Islam. 7. Keterlibatan Pemuda dan Mahasiswa: Muhammadiyah sering bekerja dengan generasi muda untuk menanamkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Ini bisa mencakup perkemahan pemuda, lokakarya, dan program pendidikan. 8. Advokasi Politik dan Sosial: Muhammadiyah dapat terlibat dalam advokasi politik dan sosial untuk mempromosikan keadilan, etika, dan nilai-nilai Islam dalam masyarakat. Ini dapat melibatkan lobi untuk kebijakan yang sejalan dengan prinsipprinsip Islam. 9. Kemitraan Global: Membangun kemitraan dengan organisasi Islam lainnya dan LSM global dapat meningkatkan jangkauan dan dampak upaya dakwah Muhammadiyah. Aspek-aspek kunci di atas memerlukan sinergitas dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk di dalamnya dengan Majelis, Lembaga dan Badan yang terdapat di dalam Kepengurusan Persyarikatan Muhammadiyah. Implementasi dakwah global oleh Muhammadiyah memerlukan langkah-langkah konkret dan strategis. Berikut adalah beberapa langkah implementasi yang dapat diambil oleh Muhammadiyah: 1. Penyelenggaraan Program Pendidikan: Muhammadiyah dapat mendirikan sekolah, perguruan tinggi, dan pusat pendidikan agama di berbagai negara. Program pendidikan ini harus mencakup kurikulum yang seimbang antara pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum. 2. Dialog Antar Agama: Muhammadiyah dapat berkolaborasi dengan organisasi lain yang mengadvokasi dialog antar agama. Mereka dapat menyelenggarakan forum, seminar, atau lokakarya bersama dengan penganut agama lain untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam. 3. Pengembangan Proyek Kemanusiaan: Muhammadiyah dapat mengembangkan proyek kemanusiaan di seluruh dunia, seperti penyediaan bantuan makanan,


165 perawatan medis, dan bantuan bencana alam. Mereka dapat bekerja sama dengan organisasi bantuan kemanusiaan internasional. 4. Media Sosial dan Konten Digital: Muhammadiyah harus memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menyebarkan pesan-pesan Islam yang sejuk dan informatif. Mereka dapat menciptakan konten multimedia seperti video, podcast, dan artikel yang relevan dengan audiens global. 5. Pertukaran Budaya: Muhammadiyah dapat menyelenggarakan acara pertukaran budaya, seperti festival seni, kuliner, dan pameran budaya. Ini akan membantu mempromosikan pemahaman dan saling menghormati antara budaya yang berbeda. 6. Kemitraan dengan LSM Lokal: Bermitra dengan organisasi lokal di negara-negara yang dituju akan memudahkan Muhammadiyah untuk mengeksekusi proyek-proyek kemanusiaan dan pendidikan yang lebih efektif. 7. Publikasi dan Penelitian: Muhammadiyah dapat mendirikan pusat penelitian Islam dan menerbitkan buku, jurnal, dan artikel ilmiah untuk memperkaya pemahaman tentang Islam dan masalah-masalah global yang relevan. 8. Partisipasi dalam Isu-isu Global: Muhammadiyah dapat berpartisipasi dalam isu-isu global yang berkaitan dengan perdamaian, keadilan, dan hak asasi manusia. Mereka dapat menjadi suara yang berpengaruh dalam mendukung solusi yang adil. 9. Jaringan dan Kemitraan Internasional: Muhammadiyah dapat menjalin hubungan dengan organisasi Islam internasional dan berpartisipasi dalam konferensi dan pertemuan internasional untuk mempromosikan pesan dan nilai-nilai Islam. Pemetaan dan implementasi dakwah global oleh Muhammadiyah dapat dilakukan dengan merinci langkah-langkah dalam rencana strategis yang disusun oleh organisasi. Berikut adalah contoh pemetaan implementasi yang dapat digunakan sebagai panduan: 1. Penyelenggaraan Program Pendidikan a. Identifikasi negara-negara atau wilayah yang membutuhkan pendidikan Islam dan sekuler. b. Pilih lokasi yang strategis untuk mendirikan sekolah dan pusat pendidikan. c. Rancang kurikulum pendidikan yang mencakup mata pelajaran agama, ilmu pengetahuan, dan budaya lokal. d. Rekrut tenaga pengajar yang berkualifikasi dan berpengalaman. e. Tentukan sumber daya finansial yang dibutuhkan untuk operasional program pendidikan. 2. Dialog Antar Agama a. Identifikasi mitra potensial dari berbagai agama untuk dialog. b. Rencanakan jadwal pertemuan dialog antar agama.


166 c. Siapkan materi dan narasumber yang kompeten untuk dialog. d. Promosikan acara dialog melalui media sosial dan saluran komunikasi lainnya. 3. Pengembangan Proyek Kemanusiaan a. Identifikasi wilayah-wilayah yang rentan terhadap bencana alam atau masalah kemanusiaan. b. Buat tim relawan dan koordinasi dengan organisasi bantuan kemanusiaan. c. Persiapkan logistik dan sumber daya yang diperlukan untuk penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan. d. Pertahankan rencana respons cepat dalam kasus bencana mendesak. 4. Media Sosial dan Konten Digital a. Identifikasi audiens target dan bahasa yang paling efektif. b. Kembangkan jadwal reguler untuk posting konten di media sosial. c. Buat konten multimedia yang informatif, edukatif, dan menarik. d. Pantau respons dan interaksi dengan audiens, dan berikan tanggapan yang sesuai. 5. Pertukaran Budaya a. Rencanakan acara pertukaran budaya dengan agenda yang bervariasi. b. Identifikasi partner lokal dan internasional untuk acara pertukaran. c. Persiapkan infrastruktur dan fasilitas yang diperlukan. d. Evaluasi dampak positif dari pertukaran budaya terhadap pemahaman lintas budaya. 6. Kemitraan dengan LSM Lokal a. Identifikasi organisasi lokal yang memiliki visi dan misi sejalan dengan Muhammadiyah. b. Jalin hubungan dengan organisasi-organisasi ini dan pertimbangkan proyekproyek kolaboratif. c. Buat perjanjian kerja sama yang mengatur tanggung jawab bersama. 7. Publikasi dan Penelitian a. Tentukan area penelitian yang relevan dengan masalah Islam dan isu-isu global. b. Kembangkan proyek penelitian yang sesuai dengan sumber daya yang ada. c. Publikasikan hasil penelitian dalam jurnal, buku, dan platform online. 8. Partisipasi dalam Isu-isu Global a. Pantau isu-isu global yang berkaitan dengan perdamaian, keadilan, dan hak asasi manusia. b. Ikut serta dalam kampanye dan aksi yang mendukung solusi yang adil. c. Jalin hubungan dengan organisasi internasional yang fokus pada isu-isu tersebut.


167 9. Jaringan dan Kemitraan Internasional a. Identifikasi organisasi Islam internasional yang memiliki tujuan yang sejalan. b. Jalin kontak dengan organisasi-organisasi ini dan ikuti pertemuan internasional. c. Pertimbangkan keterlibatan dalam proyek-proyek bersama dan berbagi sumber daya Dakwah global Muhammadiyah memiliki hubungan yang erat dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri. PCIM merupakan wadah dan lembaga resmi Muhammadiyah yang bertugas mengkoordinasikan dan mengelola aktivitas Muhammadiyah di luar Indonesia. Hubungan antara blue print dakwah global Muhammadiyah dan PCIM dapat mencakup: 1. Koordinasi Global: PCIM dapat bertindak sebagai badan koordinasi global untuk semua aktivitas Muhammadiyah di luar Indonesia. Mereka dapat berperan dalam merencanakan, mengorganisir, dan memfasilitasi program-program dakwah, pendidikan, dan kemanusiaan di berbagai negara. 2. Dukungan Teknis: PCIM dapat memberikan dukungan teknis dan bimbingan kepada cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai negara. Hal ini meliputi panduan tentang tata kelola, manajemen proyek, pendidikan Islam, dan lain sebagainya. 3. Pertukaran Pengalaman: PCIM dapat menjadi forum di mana perwakilan dari berbagai cabang Muhammadiyah dapat bertemu, berbagi pengalaman, dan belajar satu sama lain. Ini dapat meningkatkan pemahaman dan efektivitas kerja mereka. 4. Kemitraan dengan Organisasi Lain: PCIM dapat menjalin kemitraan dan kerja sama dengan organisasi Islam dan non-Islam lainnya di seluruh dunia untuk memajukan tujuan-tujuan Muhammadiyah, seperti pendidikan, kemanusiaan, dan perdamaian. 5. Penggalangan Dana: PCIM dapat berperan dalam menggalang dana dan sumber daya untuk proyek-proyek Muhammadiyah di luar Indonesia, terutama yang berkaitan dengan bantuan kemanusiaan dan pendidikan. Hingga 2023, terdapat 30 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan 7 Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) di berbagai belahan dunia. Daftar PCIM yang sudah terbentuk adalah: 1. PCIM Mesir (2002) 2. PCIM Republik Islam Iran (2005) 3. PCIM Sudan (2006) 4. PCIM Belanda (2006) 5. PCIM Jerman Raya (2007) 6. PCIM Inggris (2007) 7. PCIM Libya (2007)


168 8. PCIM Malaysia (2007) 9. PCIM Perancis (2008) 10. PCIM Amerika Serikat (2008) 11. PCIM Jepang (2008) 12. PCIM Pakistan (2009) 13. PCIM Australia (2009) 14. PCIM Rusia (2012) 15. PCIM Taiwan (2014) 16. PCIM Tunisia (2015) 17. PCIM Turki (2016) 18. PCIM Korea Selatan (2016) 19. PCIM Tiongkok (2016) 20. PCIM Arab Saudi (2016) 21. PCIM India (2018) 22. PCIM Maroko (2019) 23. PCIM Yordania (2019) 24. PCIM Yaman (2020) 25. PCIM Spanyol (2020) 26. PCIM Hongaria (2021) 27. PCIM Thailand (2021) 28. PCIM Kuwait (2022) 29. PCIM New Zealand (2023) 30. PCIM Timor Leste (2023) Adapun PCIA yang sudah terbentuk, yakni: 1. PCIA Mesir (2005) 2. PCIA Malaysia (2009) 3. PCIA Pakistan (2018) 4. PCIA Sudan (2018/2020) 5. PCIA Hong Kong (2020) 6. PCIA Turki (2022) 7. PCIA Jepang (2023) PCIM dan PCIA Luar Negeri (LN) berkoordinasi untuk memetakan potensi dan kebutuhan yang dimiliki masing-masing. Di antara potensi dan kebutuhan yang dimiliki PCIM dan PCIA LN yang berkaitan dengan Tabligh Global adalah: 1. PCIM dan PCIA Mesir


169 PCIM dan PCIA Mesir mempunyai program pelatihan fatwa dan kader Mubaligh bekerjasama dengan Darul Ifta Mesir, program kuliah pendek (short course) Bahasa Arab di bawah lembaga resmi Al-Azhar, serta pendampingan belajar Bahasa Arab bersama Fustat Center. Adapun kendala yang dihadapi oleh PCIM dan PCIA Mesir berkaitan dengan finansial untuk mengelola dan mengembangkan TK ABA, serta bantuan beasiswa bagi kader yang mengalami kendala keuangan untuk berkuliah di Mesir. 2. PCIM Inggris PCIM Inggris mempunyai anggota dan kader yang bisa berbagi seputar ilmu umum, seperti Keamanan Siber, Energi Terbarukan, Kesehatan dan Hak Kekayaan Intelektual. Adapun kebutuhan PCIM Inggris, yakni kebutuhan akan Imam Masjid Indonesia di London, kebutuhan pengajar Tahsin Al-Quran dan Bahasa Arab bagi anggota dan kader PCIM Inggris. 3. PCIA Malaysia Cabang Istimewa ‘Aisyiyah di Malaysia memiliki potensi berupa pengajar Quran, Tahsin, Tafsir, Bahasa Arab dan PAUD. Adapun kebutuhan yang dimiliki oleh PCIA Malaysia adalah diadakannya pelatihan Mubalighat serta bantuan operasional untuk mengelola Sanggar Bimbingan ‘Aisyiyah dan PAUD ‘Aisyiyah. 4. PCIM Yordania Cabang Istimewa Muhammadiyah di Yordania mempunyai kader dan jaringan pembicara yang ahli untuk membahas seputar konflik dan sikap Muhammadiyah terhadap konflik Israel-Palestina. Di samping itu, PCIM Yordania membutuhkan pengajar dan fasilitator pengisi kajian khususnya di bidang tabligh yang dapat berkolaborasi untuk membangkitkan semangat dakwah para anggota dan kader. 5. PCIM New Zealand Cabang Istimewa Muhammadiyah di Selandia Baru mempunyai anggota dan kader yang mempunyai keahlian Internet Protocol/IT, halal audit, quality assurance dan business intelligence IT. Di antara kebutuhan terbesar PCIM New Zealand adalah da’I selama bulan Ramadhan dan pengajar Al-Quran.


Click to View FlipBook Version