The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Antologi ini memuat puisi dan cerpen karya siswa SMP Pahoa. Kata-kata indah dalam puisi akrostik ditulis berdasarkan nama siswa yang menuliskan puisi tersebut.
Setiap baris dan bait dirangkai hingga membentuk suatu puisi yang menarik dan bermakna. Karya cerpen yang ditulis juga menampilkan berbagai kisah menarik dengan imajinasi dan kreativitas para siswa. Semoga para pembaca bisa mendapatkan inspirasi dan motivasi dari berbagai puisi dan cerpen dalam antologi ini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Pahoa, 2023-01-16 21:57:42

Sahabat baikku

Antologi ini memuat puisi dan cerpen karya siswa SMP Pahoa. Kata-kata indah dalam puisi akrostik ditulis berdasarkan nama siswa yang menuliskan puisi tersebut.
Setiap baris dan bait dirangkai hingga membentuk suatu puisi yang menarik dan bermakna. Karya cerpen yang ditulis juga menampilkan berbagai kisah menarik dengan imajinasi dan kreativitas para siswa. Semoga para pembaca bisa mendapatkan inspirasi dan motivasi dari berbagai puisi dan cerpen dalam antologi ini.

Keywords: Sahabat baikku

36 Tak Terlupakan Livica/VIII.3 Waktu berjalan seperti angin, Tak terlihat tetapi berlalu cepat, Berbagai badai pun sudah berlalu, Dan engkau masih tetap bersamaku. Maaf kawan, Maaf jika diriku sering membuatmu naik pitam, Maaf jika diriku sering bicara tanpa henti, Maaf jika aku sering buat susah, Diriku berminta maaf atas, Kesabaranmu yang tiada di dunia. Terima kasih kawan, Terima kasih dirimu sudah ada saatku membutuhkan, Terima kasih telah menjadi tisu di saat aku bersedih, Diriku berterima kasih atas, Kesabaranmu yang setinggi langit. Aku teringat akan,


37 Tawa canda kita yang meriah, Persahabatan ini bagaikan kenangan indah, Tak akan terlepas dari ingatan.


38 Sahabatku Lucia Vanessa Ang/VIII.3 Saat aku sedih, engkau menghiburku, Saat aku kesusahan, engkau membantuku, Engkau selalu ada di sisiku, Saat aku mengalami suka maupun duka, Oh, Sahabatku …, Kesabaranmu seluas samudra, Senyumanmu bagaikan bunga yang mekar, Hal-hal itulah yang membuat kurindu padamu.


39 Sahabat Viriyane Wijaya/VIII.3 Malaikat kecil yang setia, Engkau menemani dan membantu, Senang susah selalu ada, Berada di sana menghiburku. Sosok yang selalu ada ’tuk mendengar, Pengertian sangat dirinya, Tangisan banjir disertai amarah, Semua didengar dengan sabar. Halaman indah dalam hidupku, Dipenuhi canda tawa bersamamu, Terlintas gambar penuh makna, Bercahaya terang dan berwarna. Sahabat, Sebutan berharga yang sempurna, Istimewa arti panggilan itu, Layak dan pantas untukmu.


40 Sahabat Sejati Gwen Audrey Wijaya/ VIII.4 Sahabat sejati bukanlah yang rupawan, Namun yang menemani sampai akhir perjalanan, Sahabat sejati bukanlah yang tak pernah marah, Namun yang mendukungmu di setiap masalah. Meskipun ribuan masalah datang menghadang, Ia akan di sampingmu bersama berjuang, Seperti payung pada waktu hujan, Demikian juga ia memberi rasa aman.


41 Janji Irene Andyna Tendean/VIII.4 Pada hari itu …, Matamu bagaikan laut yang tak berakhir, Tanganmu menari-nari, Menggapai tanganku ’tuk mengikat janji, Tak ada yang akan memaksa kita ’tuk berhenti, Dan menghalangi janji ini. Dua tangan saling terjalin, Berpegang tangan menghadapi rintangan, Dua kaki mengarungi samudra, Mengisi hidupku dengan tawa. Takkan terpikir hari ini akan datang, Kamu berada di depanku, Tetapi aku diam seperti mati, Melihat namamu di batu nisan, Membuat hatiku hancur, Tanpa terasa aku menangis, Air mata ini untukmu, Kawan.


42 Oh, Sahabatku Jeremy Jacob Wijaya/VIII.4 Sahabatku …, Kamu selalu bersamaku sejak kita kenal, Kamu selalu membantuku jika dalam kesulitan, Kamu selalu menerima segala kekuranganku. Persahabatan kami bagai sepatu, Walau bentuknya senada, namun kita tak pernah sama, Kita saling melengkapi, namun tak bisa saling menggantikan, Bila sebelah hilang, yang lain menjadi tak berarti. Hatimu bersinar bagai sang raja siang, Menerangi sebagian hidupku yang gelap gulita, Terima kasih atas segalanya, Sahabat, Aku akan selalu bersamamu, seperti kamu yang selalu bersamaku.


43 Sahabat Kecilku Jesica Nurhalim/VIII.5 Kala senja berganti malam, Kerinduan mencuat pada bayangan sahabat kecilku, Bayang-bayang kenangan masa dulu menari dalam ingatanku, Wajah nan lugu sahabat membuatku ingin melintas batas waktu. Dua jari kelingking imut saling mengikat janji, Tatapan mata beradu saling menyelami jiwa yang kosong, Seketika kehangatan menampar relung batinku, Angin semilir, bisikkanlah pada sahabatku bahwa aku ingin bermain dengannya.


44 Sahabat Kecil, Sahabat Sejati Hilarius Quentin Prayoga/VIII.5 Hari demi hari kita lalui bersama, Ingin sekali kita berteman selamanya, Kutulis kenangan ini semua, Mengenang masa-masa indah dan bahagia, Waktu akan terus berjalan dan tidak akan sama, Kuharap ini bukan menjadi penghalang di antara kita. Penyemangat dan penghibur di kala hancur hati dan pikiranku, Rasa persahabatan ini bak pelangi melukis langit yang kelabu, Yang kudoakan untukmu sahabat panjang umur dan sehat selalu, Aku bersyukur memiliki teman setia seperti dirimu.


45 Sahabat Nicholas Vito Kurniawan/VIII.5 Sahabat adalah tempatku berbagi, Berbagi di kala suka dan duka, Engkau selalu menyemangati, Engkau memberi dengan penuh ikhlas. Denganmu, sahabat …, Aku ingin mengerti arti persahabatan, Hari-hari kita seolah takkan bosan, Menempuh jalan kebersamaan. Wahai, sahabat …, Rasa gembira dan bahagia bila bersamamu, Candamu selalu membawa keramaian kurasa, Yang kutahu hanya bermain dan tertawa bersama. Bertengkar bak kucing dan tikus sering terjadi, Bahkan sudah menjadi hal biasa, Tanpa bertengkar akan tiada warna, Namun akhirnya tetap akan bersama.


46 Untuk Sahabatku Aileen Nadya Salim/VIII.6 Sahabatku yang sejati, Pertemuan kita begitu mengesankan, Di manapun aku berada engkau selalu menemaniku, Di saat gelap maupun terang, Engkau bagaikan cahaya yang menerangi sepanjang hidupku. Sahabatku, Di saat sedih engkau selalu menghiburku, Seperti peri yang selalu membantuku, Aku, sahabatmu ini tidak akan melupakanmu.


47 Sahabat Yongky Hartanto/VIII.6 Satu kata yang selalu mengingatkanku, Satu kata yang selalu membuatku tenang, Satu kata yang selalu ada untukku, Kata itu adalah sahabat. Sahabat sejati tidak dapat dilupakan, Sahabat setia dalam suka dan duka, Sahabat selalu ada buat kita, Itulah manfaat sahabat.


48 Bersyukur Maximiliano Marrhuimawan/VIII.7 Malam itu sangatlah berbeda, Indahnya bagaikan lukisan mahakarya, Langit yang terisi hamparan bintang yang sangat indah, Oleh yang Mahakuasalah kita diberi berkah ini. Manusia bagaikan sebutir pasir di dunia ini, Apa yang kita lihat terbatas oleh pikiran kita, Rasa bersyukur kita nyaris tidak ada, Rasa ambisius kita selalu bertambah. Hanya saja jika kita menyadari, Usaha yang dilakukan oleh yang Mahakuasa, Isi bumi yang telah diberikan ini oleh Dia, Memang kita belum mampu memahami hal tersebut. Andai saja kita bersyukur akan keadaan ini, Walau tampak susah, namun hidup ini berkah, Andai kita paham inti dan makna dari hidup ini, Napas berkah yang diberikan diri-Nya atas diri kita.


49 Dia yang Bijaksana Noriko Aurelia Kie/VIII.7 Namanya yang sering kudengar, Rambutnya yang hitam seperti langit pada malam hari, Kepribadiannya bagaikan air yang hening, Itulah sahabatku. Setiap pertemuan, Dipenuhi dengan tawa dan canda, Oh betapa aku berharap, Itu akan bertahan selamanya.


50 Lengkap Chloe Candra/VIII.8 Jika aku mataharinya, engkau bulannya, Jika engkau adalah kata-katanya, aku adalah nadanya, Jika aku adalah jantungnya, engkau adalah detaknya, Jika engkau adalah madunya, aku adalah lebahnya, Entah bagaimana bersama kita lengkap, ya? Adakalanya duniaku runtuh dan hujan turun, Tetapi di mana pun engkau berada matahari terbit, Bahkan saat engkau pergi, Aku merasa engkau dekat, Engkau akan selalu menjadi orang yang aku paling suka, Engkau di hatiku, di pikiranku, di mana pun, dan kapan pun engkau memerlukanku, aku akan ada untukmu.


51 CERPEN


52 Diana Ballerina Deaneyra Andreina Thomas /IX.1 Hujan sangat deras membawa badai ke Kota Rouen. Diana melamun memandang pemandangan kota dari jendela kamarnya. Plak! Ada sesuatu yang mengenai jendela kamar Diana. Badai begitu kencang. Sehelai kertas menempel di jendela Diana. Diana kaget sejenak, tetapi secara perlahan ia membaca tulisan yang tertera pada kertas tersebut. “Ge.. dung.. opera.. Paris telah dibuka? Saksikanlah pertunjukan balet oleh Balerina Profesional Charlotte Fayette!” Diana membaca tulisan pada kertas itu. Matanya seketika melebar dan langsung membuka jendela dan mengambil kertas yang menempel di bagian luar jendela. Diana memegang erat kertas yang sudah basah itu. “Aku harus menyaksikan pertunjukkan ini!” ucap Diana dalam hati. Diana adalah seorang anak perempuan berumur 16 tahun yang berambut pirang dengan mata sehijau zamrud. Ia adalah anak yatim piatu yang tinggal di sebuah panti asuhan. Sejak dulu Diana tidak menyukai panti asuhan yang membosankan itu. Diana memiliki rencana kecil untuk kabur dari panti asuhan demi mencapai cita-citanya yaitu menjadi seorang balerina. Ia yakin suatu hari ia akan keluar dari panti asuhan yang dianggapnya


53 seperti penjara.  Sinar rembulan dari jendela menyinari kertas yang ada di meja Diana. Ia berpikir dengan keras tentang kapan dan bagaimana ia akan kabur dari sini. Ia sangat ingin ke Kota Paris dan melihat Gedung Opera yang gambarnya terdapat pada kertas tersebut. Ia memutuskan untuk kabur sekarang juga. Diana mengemas bajubajunya ke dalam tasnya. Tidak lupa ia membawa kertas yang penting tadi. Diana membuka pintu dengan sangat perlahan untuk memastikan bahwa ia tidak membangunkan suster atau anak-anak yang lainnya. Ia bergegas menuju ke dapur lantai bawah lalu ke pintu gerbang. Ia membuka gerbang dengan sangat berhati-hati. Nyiiingg. Suara gerbang pintu yang sangat nyaring itu membuat Diana panik. “Aduh, gerbang pintu bodoh. Kemarin-kemarin kamu tidak berbunyi saat dibuka. Ah, sudahlah,” ucap Diana dengan kesal. Diana akhirnya lari meninggalkan panti asuhan itu dan membiarkan pintu gerbang terbuka lebar. Diana berlari tergesagesa dengan senyuman liciknya.  “Ah iya, Suster pernah bilang ada stasiun kereta di dekat sini,” ucap Diana. Diana  akhirnya menemukan suatu kereta yang ingin berangkat. “Aha! Pas sekali! Ini kesempatanku!” pikir Diana sambil menyusup ke gerbong kereta terbuka yang berisi peti-peti. Karena ia merasa sangat lelah, akhirnya ia tertidur. “Hei! Gadis pirang! Apa yang kamu lakukan di sini? Enakenaknya kamu tidur di gerbong ini. Cepat bangun dan pergi dari sini,” ucap petugas yang mengangkat peti pada gerbong kereta. Ternyata kereta itu sudah berhenti sampai tujuan. Diana bangun terkejut. “Ah, maaf, Pak,” katanya dengan sangat malu dan bergegas


54 keluar dari gerbong kereta itu. Tanpa disadari pada pagi hari yang cerah itu, Diana sudah tiba di kota yang sangat indah yaitu Paris. “Wuaaah! Aku sudah sampai di Paris! Aku bahkan bisa melihat menara Eiffel dari sini,” ucap Diana dengan sangat kagum. Sekarang yang perlu dilakukannya adalah mencari gedung opera itu. Diana mencoba untuk mengambil kertas penting itu dari tasnya. Namun Diana sedang berdiri di lokasi yang sangat ramai dan penuh dengan orang yang berjalan kaki. Banyak sekali kereta kuda berjalan di sana-sini. Diana tersenggol dan terjatuh dengan kertas di genggamannya. Kertas itu terinjak-injak oleh orang yang melewatinya hingga sobek. “Ti-tidak! Jangan! Kumohon!” teriak Diana dengan sedih melihat kertasnya diinjak-injak. Serpihan kertas itu dibawa angin jauh-jauh. Yang tersisa hanya setengah dari gambar foto gedung opera. Diana berdiri lagi dan mengambil sisa serpihan kertas yang tersisa itu di tanah. Ia menghela napas, “Ini saja yang kupunya,” kata Diana kepada dirinya. Diana mulai berjalan dan bertanya ke orang sekitar tentang gedung opersa dari pagi hingga malam. Diana merasa putus asa. Ia menginjak-injak genangan air dengan kesal sambil berjalan di suatu gang kecil. Ia menyadari pantulan bayangan yang terdapat pada genangan air. Diana mengeluarkan kertas tadi dan perlahan melihat ke atas. Ia mengangkat kertas tersebut dan menyejajarkannya dengan atap suatu gedung. “Itu.. Itu gedung operanya!” kata Diana di dalam hati. Diana sangat bergairah untuk langsung menuju ke gedung opera itu. Gedung opera itu tepat di depan matanya. Gedung itu begitu megah dan mewah. Lampu-lampunya yang menyala begitu terang. Diana bisa mendengar musik klasik yang sedang dimainkan


55 di dalam gedung itu. Diana berdiam diri mengamati gedung itu dengan mata yang bernyala. Ia perlahan melangkah memasuki gedung itu. Setelah masuk ke gedung itu, Diana tidak melihat siapasiapa. Terlihat sangat sepi dan hanya musik klasik yang bisa didengar. Diana lagi-lagi menyusup ke gedung itu secara diamdiam. Ia mengikuti suara musik itu menuju suatu panggung. Diana mengintip dari belakang panggung. Ia melihat seorang wanita menari di atas panggung. Tariannya begitu lemah gemulai dan begitu indah bagaikan seekor kupu-kupu. Diana dengan penuh semangat ingin berkenalan dengan balerina itu. Tanpa ragu ia menaiki panggung itu.  Sebelum balerina itu menyadari kedatangan Diana, Diana telah dihentikan oleh seorang wanita yang menggenggam dan menarik lengan kanannya dengan erat. “Apa yang kamu lakukan di sini, Gadis Kecil?” ucap wanita itu. Wanita itu langsung melepaskan genggamannya dari lengan Diana. “Ugh, jijik sekali. Kamu pasti seorang yatim piatu. Kamu akan kulaporkan kepada polisi karena engkau masuk ke sini tanpa izin,” tegur wanita itu. “T-tidak, kamu salah paham. Aku tidak bermaksud untuk …,” ucapan Diana dipotong oleh seorang pria. “Sudahlah Bu Victoria, tidak usah membuat onar di sini,” ucap pria itu. “Tapi Pak William, gadis ini telah …,” keluh Bu Victoria. “Sudahlah. Kamu kembali saja ke ruang latihan Chanel. Biarkan aku mengantar gadis ini keluar,” jawab pria itu atau yang disebut oleh Bu Victoria sebagai Pak William.  “Maaf, Pak. Aku tidak bermaksud untuk masuk ke sini tanpa


56 izin,” ucap Diana sambil berjalan menuju pintu keluar dan diikuti oleh Pak William. “Tidak apa-apa, Gadis Kecil. Aku memaafkanmu,” balas Pak William. Suasana seketika hening. Pak William membuka pintu untuk Diana. Saat Diana melangkah keluar pintu, Pak William tiba-tiba bertanya, “Gadis Kecil, jika aku boleh tahu, apa yang engkau rasakan ketika melihat balerina itu menari di panggung tadi?” Diana membeku. Ia perlahan memutar badan dan menatap wajah Pak William. “Aku merasa tenang. Seolah-olah aku ikut menari dengannya. Dengan panggung sebesar itu, aku bisa rasakan kebebasannya. Ah, pokoknya wanita itu keren sekali. Aku ingin berkenalan dengannya!” ucap Diana dengan nada tinggi. “Ah, maaf aku terlalu banyak bicara,” kata Diana selanjutnya. Pak William terdiam sejenak. Tiba-tiba ia tertawa terbahakbahak. “Gadis Kecil, yang kamu lihat tadi adalah balerina profesional dan terkenal di Kota Paris, Charlotte Fayette. Tak heran kamu suka tariannya. Tariannya selalu memukau semua orang,” ucap Pak William. Mata Diana bersinar mendengarkan penjelasan Pak William. “Sudahlah, ini adalah akhir dari perbincangan kita. Pergilah dari sini, Gadis Kecil,” ucap Pak William sambil menutup pintu tepat di depan wajah Diana. Akhirnya, Diana berjalan kembali dengan perasaan yang sangat senang. Ia kembali menatap serpihan kertas tadi dengan saksama. “Aku pasti akan menjadi balerina yang terkenal. Pasti!” kata Diam di dalam hati.


57 Tiba-tiba angin berulah lagi. Angin meniup kertas yang dipegang Diana hingga kertas itu terbang dan jatuh ke tanah. Terlihat ada seorang wanita berumur dua puluh lima-an yang sedang menyapu. Ia tak sengaja menyapu kertas itu. Diana panik dan menghampiri wanita itu. “Bu. Sebentar, Bu! Itu kertas saya,” ucap Diana sambil berlari menghampiri wanita itu. Wanita itu berpenampilan seperti Diana dengan baju kotor dan kusut. “Ini?” ucap wanita itu mengambil kertas dari tanah. Diana mengangguk. Wanita itu langsung memberikan kertas tersebut ke Diana. “Terima ka…”, ucap Diana yang ingin berterima kasih, tetapi wanita itu sudah berjalan duluan. “Hmmm. Aneh,” pikir Diana. Angin yang menghembus membuat Diana kedinginan. Wanita itu terlihat membuka pintu suatu rumah. Sepertinya itu rumahnya. Diana berpikir untuk berkenalan dengan wanita itu supaya ia memiliki tempat tinggal sementara. Diana berlari lagi menghampiri wanita itu sebelum wanita itu menutup pintu rumah. “Ada apa, sih, Gadis Pirang?” ucap wanita itu dengan kesal. “Ah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin mencari tempat tinggal sementara. Aku seorang yatim piatu. Aku tidak punya makanan ataupun tempat tinggal,” Diana beralasan. “Jika aku membiarkanmu tinggal di sini sementara, apa untungnya bagiku?” tanya wanita itu. Diana yang panik dan bingung ingin menjawab apa. “Cih, sudah kuduga, anak yatim piatu tidak bisa apa-apa,” ucap wanita itu sambil menutup pintu perlahan. Pintu itu disela dengan kaki Diana.


58 “Tunggu sebentar! Aku bisa membantumu bersih-bersih. Aku janji akan membantumu bersih-bersih tanpa kamu harus membayarku dengan uang,” ucap Diana dengan panik. “Hmm. Kamu sungguh berjanji?” tanya wanita itu. “Iya, aku berjanji dengan segenap hatiku,” balas Diana. “Baiklah, silakan masuk,” ucap wanita itu sambil membuka kembali pintunya. “Namaku Jane. Tidak usah memanggilku Bu Jane. Jane saja cukup,” tambah wanita itu. “Baik, Bu. Eh, baik, Jane!” balas Diana dengan penuh semangat. Semangat Diana inilah yang membuat Jane tersenyum kecil. Jane mempersilakan Diana masuk ke rumahnya yang terlihat sangat berdebu. Hal pertama yang dilihat oleh Diana adalah sepatu balerina kotor berwarna merah muda berdebu yang berada di atas perapian. Diana bergegas menghampiri perapian itu. Ia berlutut sambil menggosok tangan dan memposisikan telapak tangannya dekat perapian itu untuk menghangatkan diri. Jane, di sebelahnya, meletakkan dengan agresif ember berisi air dan sponge di samping Diana. “Tugasmu sekarang membersihkan tanggaku dari bawah hingga lantai atas. Selesaikan hingga fajar,” ucap Jane dengan jutek. Diana berdiri dan menghadapi Jane dengan senyum hangat. “Baiklah!” balas Diana sambil mengangkat ember dan sponge di sebelahnya dengan penuh semangat. Diana membalikkan badan dan langsung jalan ke arah anak tangga. Ia berlutut dan mulai bekerja. Suasana rumah seketika hening dan canggung. Hanya suara gosokan sponge pada anak tangga yang terdengar. Jane hanya menatap Diana dari belakang dan berpikir betapa rajinnya anak ini.


59 “Kamu tahu, aku melihat sepasang sepatu balerina di atas perapianmu itu. Apakah … mungkin … Apakah kamu dulu seorang balerina?” tanya Diana secara tiba-tiba yang memecahkan kecanggungan di ruang itu. Jane membeku. “Apa maksudmu?” Jane bertanya balik kepada Diana sambil mengangkat alis dengan lengan terlipat. “Sepatu balerina itu pasti milikmu, bukan?” jawab Diana memutar balik badan dan menunjuk sepatu yang ada di atas perapian. “Biar aku tebak. Jika aku jawab ‘ya’, kamu pasti akan memintaku untuk mengajarimu menjadi seorang balerina, betul, kan?” tanya Jane. “Hehe… Betul, Jane,” jawab Diana tersenyum sambil  menggaruk belakang kepalanya. “Akan kujawab besok pagi saja. Aku akan meninggalkanmu untuk bekerja,” ucap Jane sambil berjalan ke arah kamar. Jane berhenti di depan pintu kamarnya. “Jika selesai lebih awal, kamu dipersilakan untuk tidur di sofa dekat perapian itu. Besok akan kubuatkan sarapan jika engkau sudah menyelesaikan tugasmu,” tambah Jane. Jane akhirnya memasuki kamarnya. Keesokan harinya, mentari pun terbit. Sinarnya menyinari mata Diana yang terlihat sedang tertidur nyenyak di sofa. Sinar matahari yang sangat silau membangunkan Diana dari tidur nyenyaknya. Terdengar suara keributan di luar rumah. Diana penasaran. Akhirnya ia bangun dan mengintip dari depan jendela. Terlihat banyak sekali gadis kecil yang berkumpul di depan gedung opera yang dikunjungi semalam. “Ada apa?” gumam Diana. Jane menyenggolnya dari belakang. “Sepertinya kamu akan menyukai hal ini. Gedung opera itu


60 membuka audisi gratis untuk gadis berumuran 9-18 tahun untuk menjadi balerina cilik. Tunggu apalagi Diana? Ayo, segera daftar!” ucap Jane dengan senyum kecilnya. “Hanya jika kamu janji untuk melatihku, hehe,” ucap Diana dengan senyuman liciknya. Jane menghela napas. “Baiklah, gadis pirang yang penuh semangat ini.” Jane tertawa kecil. “Kamu makan sarapannya dulu. Baru kita mulai latihan pukul 10 pagi,” tambah Jane. Jane dan Diana akhirnya menghampiri gedung opera itu dan engisi pendaftaran audisi. Saat itu juga, Diana sudah bisa mulai melihat cita-citanya yang akan segera terwujud.  Beberapa minggu pun sudah dilewati. Sudah H-1 dari hari audisi. Diana berlatih secara rutin untuk menjadi seorang balerina di halaman belakang rumah Jane. Diana sudah mulai menganggap Jane sebagai ibu asuhnya meski ia hanya pelatihnya. Diana heran akan watak juteknya saat pertama kali mereka bertemu yang seketika berubah menjadi watak penyayang dan peduli kepada Diana. “Mengapa kamu sangat peduli kepadaku, Jane?” ucap Diana sambil mengangkat satu kaki dengan kedua tangannya yang menggenggam pot bunga di tengah pelatihannya. “Dulu, aku seperti kamu, Diana. Sangat berambisi untuk menjadi seorang balerina,” jawab Jane sambil melipat lengan dan muka khawatir, “hanya saja kakiku tidak sesempurna kakimu. Kakiku cedera setelah kecelakaan waktu itu. Sudahlah, itu sudah di masa lalu. Yang penting sekarang hanyalah kamu sebagai calon balerina terkenal.” Hari audisi pun tiba. Diana akhirnya memasuki gedung opera itu sekali lagi dengan kostum balerina yang dijahitkan Jane


61 untuknya. Ia melangkah ke panggung yang besar dan megah itu untuk pertama kalinya. Kaki kaku, muka kaku, dan dengan jari-jari yang dimainkan, ia melangkah ke tengah panggung. Di tempat duduk penonton, hanya terlihat empat orang. Seorang pria, dua orang wanita, dan seorang gadis kecil. Diana merasa pernah melihat wajah mereka. Ternyata mereka semua pernah bertemu Diana. Mereka adalah Pak William, Bu Victoria, dan Charlotte Fayette. Namun Diana merasa ia belum pernah bertemu dengan gadis kecil yang terlihat seumuran dengannya. Gadis itu berambut pirang bagaikan jagung dan mukanya yang jutek. Diana ragu. Ia menelan ludah dan perlahan mulai menari sebebasnya di panggung layak seorang balerina. Diana menari secara lemah gemulai bagaikan seekor kupu-kupu.  Tarian Diana tadi sangat memukau Pak William dan Charlotte sehingga mereka memberikan tepuk tangan yang begitu meriah. Bu Victoria dan gadis kecil itu tidak bereaksi dan satu tepuk tangan pun tidak terdengar dari mereka. Selesai Diana menari, ia masih deg-degan. “Apakah mereka akan menerimaku?” ucap Diana dalam hati.  “Bravo! Bagus sekali. Aku ingin kamu bergabung dalam kelas baletku. Terima kasih atas pertunjukannya yang sangat indah. Kamu diperbolehkan untuk meninggalkan panggung ini,” ucap Pak William. Kalimat itu membuat Diana tersenyum lebar. Ia membungkuk rendah untuk menunjukkan betapa ia menghargai audisi ini. Diana pun meninggalkan panggung itu. Seturunnya dari panggung, ia berlari menuju Jane dan memeluknya. Jane hanya bisa membeku dan membalas Diana dengan pelukan yang lebih erat. “Selamat, ya, balerina kecilku,” kata Jane. “Diana, hanya ada satu hal yang harus kuucapkan,” ucap Jane secara tiba-tiba. “Hmmm …,” Diana bingung.


62 “Kamu harus waspada pada Bu Victoria dan putrinya, Chanel. Aku dulu adalah pembantunya. Chanel adalah anak yang sudah menjadi balerina cilik sejak ia berumur lima tahun. Kamu harus benar-benar giat untuk mengalahkannya,” Jane menjelaskan. “Mengalahkannya? Mengapa aku harus mengalahkannya?” tanya Diana. “Aku tahu sifat Pak William. Ia pasti membuka audisi ini agar memilih satu anak untuk tampil bersama Charlotte Fayette,” jawab Jane. “Satu anak?” balas Diana terkejut. Keesokan harinya, Diana bergegas untuk hadir ke kelas balet pertamanya. Ia mengenakan kostum balerina  yang sudah disiapkan. Di kelas ia melihat 12 perempuan. Ternyata yang lolos audisi hanya dua belas. Namun ada satu perempuan yang menonjol di mata Diana yaitu gadis kecil yang sama saat ia mengikuti audisi. Rambutnya pirang bagaikan jagung dengan muka yang jutek.  “Chanel! Kamu pimpin pemanasan hari ini,” kata Pak William memasuki ruangan kelas itu sambil menunjuk Gadis Pirang. “Jadi, ia adalah Chanel yang disebutkan Jane, ya,” ucap Diana dalam hati. Akhirnya, kelas dimulai. Diana sedikit panik sebab ini adalah kelas pertamanya. Setelah 2 jam berlatih di kelas itu, akhirnya selesai. Pak William mengumumkan, “Setelah beberapa kelas, satu per satu kalian akan dieliminasi lagi. Siswa yang bertahan hingga akhir akan melakukan pertunjukan bersama Charlotte Fayette. Kelas berakhir” Pak William kemudian meninggalkan ruangan.  Gadis dengan bermuka jutek yaitu Chanel menghampiri Diana. “Hmph! Anak baru nih sepertinya. Aku mencium bau-bau


63 em ... yatim piatu. Hahaha,” ucap Chanel sambil tertawa. Kata ‘yatim piatu’ itu menusuk hati Diana. Diana merasa tertantang oleh gadis ini.  Beberapa hari pun sudah berlalu. Kelas balet sudah merasa sangat sepi karena tersisa tiga murid yakni Chanel, Diana, dan satu gadis lagi. “Baik. Kelas hari ini berjalan sangat lancar. Namun harus ada yang aku eliminasi. Kamu. Silakan meninggalkan kelas ini. Selamat tinggal,” ucap Pak William. Diana panik ketika berpikir siapa yang ditunjuk Pak William. Ternyata telunjuk jari itu menunjuk gadis di sebelah Chanel. Gadis itu meninggalkan ruangan ini, sehingga sisa Diana dan Chanel sebagai murid dalam kelas itu. “Selamat untuk Chanel dan Diana. Untuk tahap selanjutnya, kalian akan berlatih dan Charlotte Fayette akan menyaksikan kalian. Untuk murid yang akan lolos ke pertunjukan nanti, akan diputuskan oleh Charlotte sendiri. Jadi, bersiap-siaplah,” Pak William menjelaskan. “Kelas berakhir,” tambah Pak William. Diana hanya berdiri membeku. “Aku sudah di tahap terakhir! Aku harus beritahu Jane,” ucap Diana sambil berlari menuju pintu keluar dengan penuh semangat. Namun, di jalan keluar ia sudah dihalangi oleh Bu Victoria. “Bukankah ini anak pirang yatim piatu pada malam itu?” ucap Bu Victoria menghalangi jalan Diana, “memang kamu pikir kamu bakal mengalahkan putriku? Kamu benar-benar gila, ya. Sia-sia kalau aku menyerahkan pertunjukan ini padamu. Putriku sudah berjuang dengan keras dan kamu pikir kamu bakal menghancurkannya dengan begitu mudah? Payah sekali.” Mata Bu Victoria melotot dan membuat Diana gemetar dengan penuh ketakutan.


64 “Dengar, kamu tidak boleh datang untuk latihan besok. Jika aku melihat wajahmu sekali lagi di gedung ini, aku akan menelepon panti asuhan terdekat untuk menjemputmu. Mengerti, anak yatim piatu?” ucap Bu Victoria. “Hahahaha payah sekali, anak yatim piatu menjadi balerina terkenal? Cih,” tambah Chanel di belakang Diana. Diana hanya bisa mengangguk dan berlari meninggalkan gedung. “Jane, aku perlu latihan ini lagi. Kumohon. Aku ingin mengalahkan Gadis Chanel itu. “Tolong aku, Jane,” Diana memohon pada Jane sesampainya ia di rumah. “Baiklah. Namun, kamu harus ingat untuk beristirahat karena besok adalah hari yang penting. Sekarang engkau coba ambil sepatu balerina di atas perapian itu. Sudah kuperbaiki,” ucap Jane. “Kamu memperbolehkanku memakainya? Sepatu ini terlihat berharga bagimu. Aku tidak tega memakainya,” tolak Diana. “Sudahlah, pakai saja. Mulai dari sekarang sepatu ini milikmu, Diana,” ucap Jane dengan senyum sehangat matahari. Sedikit yang mereka ketahui bahwa tempat mereka berlatih yaitu di halaman belakang rumah Jane bisa terlihat dari jendela kelas latihan balet di gedung opera. Saat ini, Pak William sedang mengintip Diana dan Jane yang sedang berlatih menari. Pak William sekali lagi sangat kagum akan tariannya. Hal itu membuatnya lebih yakin bahwa Dianalah yang pantas melakukan pertunjukan bersama Charlotte. Hari yang begitu menyeramkan bagi Diana pun tiba. Saat ia melangkah ke dalam gedung opera, lagi-lagi ia berurusan dengan wanita itu, Bu Victoria. “Aha! Sudah kuduga kamu akan datang lagi. Kamu tidak


65 ingat apa yang aku katakan kemarin? Sesuai perkataanku, aku akan menghubungi panti asuhan terdekat supaya kamu tidak bisa menghalangi putriku lagi,” ucap Bu Victoria dengan senyum jahat sambil memegang lengan kanannya dengan erat dan menghampiri telepon di dalam gedung opera. Kebetulan mereka berpapasan dengan Pak William. Pak William terkejut melihat keadaan ini. “Ada apa ini? Bu Victoria, kamu apakan Diana? Sudah kucari Diana di mana-mana, ternyata ia dihalangi oleh Ibu. Lepaskan ia sekarang juga. Kamu menghabiskan waktu Diana,” tegur Pak Wiliam dengan keras. “Sebelah sini, Diana.” Pak William mempersilakan Diana untuk memasuki ruangan.  “Selamat datang, Diana. Kami sudah menunggumu,” ucap Charlotte dengan lemah lembut. Cara bicaranya sama seperti cara ia menari yang sangat anggun. “Baiklah, Chanel dan Diana. Silakan untuk naik panggung,” kata Charlotte. Di tempat duduk penonton hanya ada Charlotte dan Pak William. Musik klasik pun dimainkan. Chanel dan Diana mulai menari. Diana mulai menari dengan sangat anggun, sedangkan Chanel terlihat sangat tegang dan terlalu fokus kepada Diana. Chanel selalu melirik Diana untuk melihat apakah ia membuat kesalahan. Bahkan Chanel berpikir untuk membuat Diana tersandung untuk menjelek-jelekkan tarian Diana. Saat Chanel berada di belakang Diana, tangannya meraih  rambut Diana dan mencoba untuk menjatuhkannya dengan cara menjambak rambutnya. Namun, yang terjadi adalah Chanel tidak sengaja terpleset karena ia terlalu fokus untuk menjatuhkan Diana. Chanel hanya menari dengan penuh amarah dan dendam yang akhirnya mempengaruhi tarian Chanel. Musik berhenti dan suasana menjadi hening. Diana berhenti


66 dan terkejut melihat Chanel yang terjatuh. Ia bergegas dan memberikannya tangannya untuk membantu Chanel berdiri. Pak William menyadari betapa buruk tarian Chanel. “Chanel. Ada apa denganmu? Biasanya kamu penuh keanggunan saat menari. Mengapa kamu hari ini menjadi sangat kaku? Apakah kamu gugup karena ada Charlotte menyaksikanmu?” tanya Pak William dengan khawatir. “E-em tidak. Bukan itu, Pak. Aku hanya lelah saja,” jawab Chanel dengan suara kecil. “Kalau begitu, keputusanku sudah terlihat dengan jelas,” kata Charlotte. Mata Diana seketika melebar karena gugup akan pengumuman yang akan diumumkan.  “Selamat ya, Diana. Kamu akan menemaniku untuk pertunjukkan lusa nanti. Terima kasih atas kerja keras Diana dan Chanel. Kalian berdua adalah balerina cilik yang penuh dengan talenta. Aku sangat menghargainya,” ucap Charlotte dan diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah dari Charlotte dan Pak William. Saat Diana membungkuk di panggung untuk menunjukkan rasa hormatnya, ia dihampiri oleh Jane yang terlihat sangat terharu dan bangga. “Terima kasih, Jane,” ucap Diana dengan suara bergetar dan air matanya yang menetes ke lantai panggung. Jane memberikannya pelukan yang begitu hangat. Diana serasa dipeluk oleh ibu kandungnya. Air mata Jane dan Diana bercucuran pada panggung itu. Pada hari pertunjukan itu, gedung opera itu dibanjiri oleh banyak penonton. Tiket pertunjukan disikat habis oleh rakyat Paris dan bahkan oleh rakyat di luar kota Paris. Lampu pada ruangan opera seketika dimatikan sehingga menjadi gelap. Lampu sorot menyala ke arah panggung. Tirai panggung perlahan dibuka, memperlihatkan seorang wanita dan seorang gadis kecil yang mengenakan kostum putih balerina yang begitu indah bagaikan


67 seekor angsa putih. Perhiasan pada kostum menyinari panggung seperti mutiara. Musik klasik pun akhirnya dimainkan. “Ini dia, pertunjukan dari Charlotte Fayette dan Diana Ballerina!”


68 Mata yang Memandang ke Laut Maura Godiva Suyoso/IX.1 Aku tinggal di sebuah pulau kecil di Sumatra Utara. Penduduknya tidak banyak, namun mereka ramah. Aku tinggal bersama Omakku. Bapakku adalah nelayan. Mereka pergi melaut serta menjual di kota beragam ikan, cumi, dan udang hasil tangkapan mereka. Mereka jarang pulang. Mereka hanya pulang sebulan sekali dan membawa beras serta kebutuhan pokok lainnya yang belum tersedia di pulau kami. Pulauku lumayan terpencil. Jika dicari di aplikasi peta pun, pulau itu tidak akan muncul. Namun, pemandangan dan suasananya begitu indah. Aku sampai heran mengapa pulauku tidak dikunjungi banyak turis dan popularitasnya rendah. Bagian timur, selatan, dan barat pulau dikelilingi oleh pasir putih nan halus seperti awan. Di bagian utara pulau, ada hutan bakau. Tempat itu adalah rumah bagi banyak kepiting dan ikan kecil. Aku kurang suka bermain di sana karena tempatnya dalam dan berlumpur. Rumahku terletak di bagian timur pulau. Kalau berjalan selama sekitar lima menit dari rumahku, akan terlihat sebuah pelabuhan kayu kecil yang sudah mulai lapuk. Di bawah pelabuhan, ada banyak bulu babi berduri tajam. Di bagian selatan pulau, ada sebuah jurang. Bagian bawah jurang sudah berlubang dan menjadi sebuah gua. Ombak selama ratusan tahun mengikis jurang itu. Aku sering duduk di dalam gua itu, melamun sambil melihat ombak


69 memahat batu-batu besar yang terletak tidak jauh dari depan gua. Lantai gua dilapisi oleh batu-batu karang tajam seperti pecahan kaca maka aku harus berhati-hati saat ke tempat itu. Air laut mengalir di antara celah-celah batu karang. Terkadang ada udangudang dan gurita kecil yang berenang di dalamnya.  “Nak, hari ini kamu ikut Bapak ke kota. Antar oleh-oleh ke Nanguda. Anaknya ingin sekali mencoba bulu babi kering,” perintah ibuku, yang lebih akrab kupanggil Omak. Suaranya yang keras membuatku tersentak kala melamun di teras rumah. Hari ini cuacanya panas terik seperti biasa. Angin laut yang asin tapi sejuk bertiup dari pantai dan membelai rambutku dan membuatku yang sedang berteduh di bawah rimbunnya daun pohon ketapang mengantuk. “Bulu babinya ditaruh di mana, Omak?” tanyaku. “Sudah Omak taruh di atas meja, cepat ambil dan susul bapakmu. Jangan lupa pakai sendal.” Aku pun langsung beranjak dari tempat dudukku dan mengambil buah tangan yang telah disiapkan Omak. Saat aku sudah keluar rumah, tiba-tiba Omak berteriak dari balik daun pintu, “Sendalnya, Nak!” “Iya, Omak. Maaf lupa,” jawabku sambil bergegas kembali ke teras rumah. Meskipun beliau tidak galak, suara keras Omak selalu membuat jantungku serasa ingin copot. Setelah memakai sendalku dengan terburu-buru, aku pun pamit dan berlari secepat kilat ke pelabuhan tempat Bapakku sudah menunggu.  “Bapak, hari ini Omak suruh aku ikut Bapak ke kota, antar buah tangan ke Nanguda,” jelasku sambil tersengal-sengal. Hal yang setiap detik kulakukan yaitu bernapas menjadi sulit setelah berlari sejauh itu. “Ya sudah, cepatlah naik ke atas kapal. Di dalam tas Bapak


70 ada botol air, minumlah itu,” jawab Bapakku yang sudah berdiri di atas ekor kapal, tepat di depan mesin. Untunglah aku masih sempat menyusulnya sebelum beliau berangkat. Perahu kecil itu adalah andalan Bapak yang selalu dipakainya ketika melaut untuk mencari nafkah sederhana, tetapi terawat dengan baik. Lambung kapal dicat biru seperti laut untuk membuat kapal lebih awet dari kelapukan. Dua batang bambu panjang yang disambung dengan kayu di samping kanan dan kiri perahu berperan sebagai penyeimbang. Perahu kecil ini juga memiliki atap di atas agar kami terlindungi dari teriknya matahari dan hujan. Suara motor kapal yang lumayan keras langsung terdengar tak lama setelah aku melompat ke dalam perahu. “Eh, tadi buah tangannya mau diantar ke mana?” tanya Bapak. “Ke rumah Nanguda, Pak,” jawabku sehabis meminum setengah dari air yang tersedia di dalam botol, “Baiklah, mari berangkat.” Setelah memasukkan botol kembali, aku setengah berlari ke ujung ekor belakang perahu dan memutuskan untuk bertengger di situ. Meskipun tidak memakai pelampung, aku tidak merasa takut sama sekali karena sudah biasa naik perahu di laut yang berombak tinggi. Pemandangan dari tempatku duduk sungguh indah. Hamparan biru muda kehijauan laut tersebar sejauh mata memandang. Ikan warna-warni dan batu karang serta berbagai binatang laut lainnya terlihat jelas di bawah laut yang lebih bening dan berkilau daripada kristal mana pun. Surya duduk di langit biru muda yang berhamparan awan putih bersih. Pulau tempat tinggalku yang rimbun dengan pohon-pohon semakin mengecil. Udara segar memenuhi paru-paruku dan, sekali lagi, angin laut yang sejuk mengenai wajahku. Aku semakin yakin bahwa kampung halamanku adalah surga dunia.


71 Seiring waktu berjalan, warna laut menjadi semakin gelap, menjadi biru tua pekat bak langit malam, lalu berubah lagi menjadi biru muda kehijauan. Ini menandakan bahwa kami telah sampai ke pelabuhan kota kecil yang berada di Pulau Sumatra. Aku dan Bapakku pun turun dari perahu dan berpisah. Bapak dijemput oleh temannya menggunakan sepeda motor untuk pergi ke tambak, sementara aku berjalan kaki ke arah rumah Nanguda. Setelah mengantar titipan Omak dan mengobrol sebentar, aku diberi buah-buahan lalu pamit dan berjalan kembali ke pelabuhan tempat berlabuhnya perahu Bapak. Karena Bapak belum datang, aku duduk di pinggir pelabuhan seraya memakan buah dan menggantungkan kaki ke bawah. Lagi-lagi aku melamun sambil melihat ke laut dan terkejut ketika Bapakku akhirnya datang. “Melamun terus, lagi memikirkan apa?” tanya Bapak. “Bukan apa-apa,” jawabku sambil setengah tertawa. “Nanguda memberi buah, kita harus cepat pulang agar tidak layu,” kataku selagi melompat masuk ke dalam perahu. Perjalanan pulang terasa cepat karena aku tertidur di dalam perahu. Angin sejuk nan lembut dan suara laut serta motor perahu menarikku masuk ke dunia mimpi. Naik turun ombak seakan-akan menimang-nimang tubuhku. Bagaimana aku tidak tertidur pulas? Sesampainya di pulau, aku turun dari perahu dan pamit kepada Bapak karena Bapak akan segera pergi lagi. Aku yang sudah terbiasa dengan teriknya matahari melenggang ke rumah sambil memegang erat buah-buahan pemberian Nanguda sambil menikmati keindahan pulau. Aku meletakkan kantong yang berisi buah-buahan di atas meja sesampainya di rumah. Rumahku hening. Suara pintu yang barusan kututup menggema di rongga rumah yang kosong dan ditemani oleh desiran ombak dan daun-daun kelapa yang bergesekkan ditiup angin. Ya, ini bukan merupakan pemandangan yang tidak biasa.


72 Omak sering mengunjungi tetangga lain maka aku memutuskan untuk pergi ke rumah Anggi Hobas saja. Aku berjalan ke rumah Anggi Hobas, tetapi rumahnya pun kosong! Aku berjalan lagi ke rumah Angkang nelayan dan Amang petani kelapa, tetapi semuanya tidak ada di rumah. Aku pun terus berjalan, mencari dan terus mencari Omak serta tetangga-tetanggaku. Mungkinkah mereka hilang dibawa angin atau ditelan ombak? Aku yang sudah lelah berjalan, mengelilingi bagian utara, timur, dan selatan pulau tidak berhasil menemukan siapa pun. Kakiku sudah pegal dan napasku sudah terengah-engah. Namun, ada satu lagi bagian pulau yang belum kukunjungi. Ah, aku lupa untuk mengenalkan bagian barat pulau. Bagian barat pulau begitu indah dengan pantai luas berpasir putih dan laut bening berwarna biru kehijauan seperti permata yang penuh oleh karang dan koral warna-warni dengan ikan-ikan besar eksotis dan makhluk laut lainnya seperti ubur-ubur dan penyu sebagai penghuninya. Kata Omak, umur batu-batu karang di sana sudah ratusan tahun. Butuh beberapa dekade bagi mereka untuk tumbuh sampai sebesar itu. Bagian barat pulau juga merupakan salah satu sumber makanan warga di desaku. Aku dan Anggi Hobas sering memancing ikan untuk makan malam di situ. Mendapatkan ikan atau cumi besar segar nan manis sangatlah mudah. Kami tidak perlu menunggu lama sampai umpan digigit. Seperti laut-laut lainnya di Nusantara, bagian barat pulauku adalah harta yang sungguh berharga. Harta milik Sang Pencipta yang tidak bisa dibeli oleh siapa pun. Hatiku begitu senang ketika memikirkan laut barat pulau, tetapi rasa senang di hatiku langsung tergantikan oleh kebingungan ketika sampai di pantai barat. Ternyata, sebagian besar warga berkumpul di sini. Ada Amang petani kelapa, Angkang nelayan, Anggi Hobas, Omak, dan bahkan Amang kepala desa ada di sini. Mereka terlihat seperti sedang berdiskusi serius tentang sesuatu. Tetapi yang  membuatku lebih kebingungan lagi adalah kapal uap putih besar yang berlabuh di situ.


73 “Ini kan bukan pelabuhan, mengapa nahkodanya melabuhkan kapal itu di sini?” pikirku Secara naluri, aku mencari Omak. “Omak, kenapa semuanya berkumpul di sini, ada apa dan mengapa ada kapal besar berlabuh?” tanyaku yang benar-benar bingung dengan situasi saat ini. “Kapal besar itu adalah kapal kargo dari India. Mereka ingin ke Bangka, tetapi sepertinya mereka tersesat,” jelas Omak. “Lalu, apa masalahnya. Mengapa semuanya ribut-ribut di sini? Bahkan Amang kades datang.” “Lambung kapal itu besar, terlalu besar untuk laut barat pantai yang lumayan dangkal. Lantas, bagian bawah kapal melindas karang-karang dan menghancurkannya,” kata Omak dengan tenang. Aku diam saja. Perasaan marah, bingung, sedih, dan kecewa bercampur aduk di hatiku. Tidak habis pikir! Beraninya orangorang itu menghancurkan keindahan laut barat dan merenggut sumber makanan kami. Apakah mereka tidak sadar, buta akan keindahan yang telah mereka lenyapkan? Aku berlari pulang ke rumah selagi menahan tangis. Pandanganku buram oleh air mata yang akan menetes. Omak pulang lima belas menit setelah aku pulang dan duduk di samping meja makan. “Marah, ya, Nak?” tanya Omak. “Bagaimana aku tidak marah, Omak? Mereka menghancurkan sebagian besar karang-karang. Omak sendiri mengatakan kalau butuh empat puluh tahun lebih bagi karang-karang untuk tumbuh dewasa dan bisa ditinggali ikan. Sekarang kita akan kesulitan menangkap ikan. Mereka semua sudah pindah karena habitatnya dihancurkan,” kataku. Sekarang, air mata yang sedari tadi kutahan-tahan sudah


74 mengalir di pipiku dan menetes ke meja. Wajahku merah padam. Aku tidak pernah merasa semarah dan sekecewa ini dalam hidupku. “Aku tidak terima, Omak. Aku tidak terima bahwa laut barat pulau yang begitu indah dan tiada harganya dihancurkan begitu saja oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Rasanya aku ingin membakar kapal terkutuk itu,” lanjutku. “Balas dendam tidak akan membuahkan apa pun, Nak. Kalau kamu membakar kapal itu yang ada hanya akan muncul lebih banyak masalah dan kebencian. Kita bisa menuntut mereka, tetapi maukah mereka bayar sebanyak berapa pun. Amarahmu tidak akan reda. Karang-karang itu tidak akan pulih. Ikan-ikan tidak akan kembali,” kata Omak. “Kalau begitu kita harus bagaimana, Omak?” tanyaku setelah meminum segelas air yang tadi dibawakan Omak untuk menenangkanku. “Apa yang kamu inginkan?” tanya Omak. Raut wajahnya tenang seperti biasa, “Aku ingin laut barat kembali seperti semula,” jawabku. “Kalau begitu, kita harus memulihkan laut barat. Besok kamu ikut Bapak lagi, cari bibit karang yang bagus, lalu kita belajar cara merawat karang. Omak akan ajak warga lain ikut merestorasi laut barat. Penduduk-penduduk lain juga sangat menyayangi laut barat dan tidak terima kalau karang-karangnya dirusak,” kata Omak. Aku pun mengangguk. Ah, dipikir-pikir, betul juga kata Omak. Tidak ada gunanya aku membalas dendam. Lebih baik aku fokus untuk menyelesaikan masalah ini daripada marah-marah terus. Masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan, “Bagaimana kalau ada orang yang merusak laut barat lagi? Kata Omak, lebih baik mencegah daripada menyembuhkan.” “Untuk itu, harus dibuat hukumnya. Kamu belajarlah yang


75 rajin agar bisa masuk ke sekolah yang bagus lalu belajar hukum. Kamu masa depan bangsa. Memang sudah seharusnya kamu mencegah hal-hal seperti ini terjadi,” jawab Omak. Aku mengangguk lagi. Sekarang aku sudah tahu apa yang harus kulakukan.


76 Nilai Ulangan Levina Nopriani Putri/IX.2 Amara duduk di salah satu bangku yang kosong di bus dengan rasa gelisah. Ia memegang erat kertas ulangan fisika yang baru dibagikan tadi pagi. Amara sudah memikirkan segala kejadian terburuk yang akan datang beberapa waktu ke depan. Bahkan ia sudah bisa membayangkan wajah marah dan kecewa kedua orang tuanya. Gadis itu melihat ke luar jendela, memperhatikan aktivitas kota yang mulai memadat, dan matahari yang mulai menurun sambil berusaha menenangkan dirinya.  Sedang aku asyik melamun, tidak terasa bus sudah berhenti di tempat pemberhentian sehingga Amara harus turun dan jalan ke rumahnya. Tepat di depan pintu rumahnya, Amara mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Amara dikejutkan oleh pintu rumahnya yang terbuka tiba-tiba dan memperlihatkan seorang laki-laki bertubuh gagah dan wajah yang tegas, ayahnya. “Ayah,” kata Amara. Belum sempat menjelaskan, ayah Amara langsung merebut kertas yang berada di tangan Amara tadi. Sekarang Amara hanya bisa merapalkan doa dengan kakinya yang sudah melemas dan gemetar. Ayah melihat kertas itu dengan teliti lalu melirik Amara sekilas.


77 “Tujuh puluh lima, ya?” seru ayahnya. Amara menunduk lalu mengangguk samar. Ayah mendengus kasar. “Sejak kapan anggota keluarga kita mendapat nilai serendah ini?” seru ayahnya. Suara dingin dan tegas ayahnya membuat Amara semakin gugup. “Kamu selalu asyik bermain, ya, sampai menganggap sekolah tidak penting?” kata ayahnya. Amara membalas dengan gelengan kecil. “Lalu mengapa bisa serendah ini?” bentak ayahnya. Ini sudah biasa terjadi, ettapi tetap saja Amara tidak bisa terbiasa dibentak oleh ayahnya sendiri. Mendengar keributan, kakak Amara berlari kecil ke arah pintu. “Ayah, sudahlah.” Kata Kakak Amara mencoba menenangkan ayahnya. “Tidak bisakah kamu mencontoh kakakmu, Amara?” Tetapi ternyata emosi ayahnya belum mereda. Di situasi seperti ini, Amara tidak bisa membalas apa pun karena seberapa keras ia mencoba untuk menjelaskan, ayahnya tidak akan mempercayainya. Gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu hanya bisa menahan air matanya. “Ayah, lebih baik ayah masuk dan tenangkan diri dulu, ya?” kata Kakak. Kakak masih berusaha menenangkan ayah. “Aku yang akan bicara dengan Amara,” lanjut Kakak. Sebelum ayah kembali masuk ke rumah, ayah melemparkan tatapan tajam kepada anak perempuannya. Sang kakak lantas menggenggam adiknya dan menuntunnya untuk duduk di teras depan rumah. Amara duduk di kursi tanpa bersuara sama sekali.


78 Matanya masih terlihat ketakutan dan cemas. Sang kakak ikut duduk di kursi di sebelah Amara. Kakak mengusap pundak adik semata wayangnya itu. Adiknya sudah melalui banyak hal. Ia selalu merasa ayah sudah sangat keterlaluan terhadap adiknya ini. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, sampai Amara membuka suara. “Aku ... sudah berusaha yang terbaik, Kak,” lirihnya. “Aku sudah belajar, Kak. Aku sudah berusaha, tapi mengapa?” ulang Amara. Kali ini pertahanannya lolos begitu saja. Matanya sudah tidak sanggup menahan air mata yang memaksa keluar. Ia sudah lelah dengan apa yang terjadi. Ia selalu dibandingkan dengan orang lain. Walaupun nilainya masih terbilang bagus, ayahnya hanya menerima angka 100 di kertas ulangannya. Semakin dipaksa, Amara semakin merasa frustrasi. Kakak mengangguk pelan. “Iya, Kakak sangat tahu. Maaf, Kakak nggak bisa melakukan apa pun tadi. Ayah sangat marah. Kamu tahu sendiri watak ayah bagaimana,” kata Kakak. Amara mengangguk samar dengan berlinang air mata.  Di keluarga ini, hanya kakaknyalah yang sangat mengerti Amara. Ayah, ibu, dan bahkan keluarga besarnya hanya mementingkan gengsi, prestasi, dan uang. Ia sangat beruntung masih memiliki kakak laki-laki yang menyayanginya. “Ra, kalau ada kesulitan, Kakak selalu bersedia untuk bantu kamu, kok. Datang ke Kakak kapan saja yang kamu mau. Kakak akan selalu ada untuk adik kesayangan Kakak,” kata Kakak. Amara tersenyum simpul. “Aku tahu. Sebenarnya aku tidak punya kesulitan sama sekali di pelajaran, Kak. Namun, saat sebelum ujian, tiba-tiba semua yang ada di otakku hilang. Aku mulai berkeringat mengingat jika hasilnya bukan 100, aku akan dimarahi habis-habisan oleh ayah,”


79 kata Amara. “Itu berarti kamu kehilangan kepercayaan diri, Ra. Cobalah untuk percaya akan kemampuanmu. Jangan pikirkan apa yang akan terjadi. Kakak percaya kepadamu, masa kamu tidak percaya,” sambil berkata Kakak menghapus air mata Amara dengan tatapan teduh.  Amara tersenyum lega. Ia tahu kakaknya selalu bisa dipercaya. “Aku akan berusaha semampuku, Kak!”


80 Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Mimpi Valerie Christabel Indrawan /IX.2 Rebecca adalah seorang anak yang hidup di pedalaman desa. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Mereka memiliki uang yang terbatas. Ayahnya merupakan seorang pengemudi ojek daring, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Rebecca memiliki hobi bermain gitar. Sejak kecil, ia sering menjadi juara dalam lomba pencarian bakat. Karena itu, ia bertekad untuk berkarier menjadi gitaris terkenal. Namun, sayangnya mimpi itu sepertinya lenyap karena kecelakaan yang menimpa Rebecca. Ia harus kehilangan tangan kirinya. Rebecca sempat mengalami gangguan mental karena ia sering diejek oleh teman-temannya di sekolah. Ia putus asa untuk menggapai mimpinya karena ia tidak dapat bermain gitar lagi. Melihat hal itu, orang tua Rebecca terus memberi semangat dan motivasi kepada Rebecca agar ia tidak putus asa. Mereka memotivasi Rebecca agar dapat terus melatih kemampuan yang dimilikinya dengan menggunakan anggota tubuh lainnya untuk menggantikan tangan kirinya yang sudah tiada. Seiring berjalannya waktu, Rebecca sudah semakin pandai dalam bermain gitar walaupun menggunakan kakinya. Ia sering dipuji oleh guru dan teman-temannya walaupun Rebecca


81 mempunyai keterbatasan fisik. Pak Jo, selaku guru gitar Rebecca berkata kepada Ibu Rebecca, “Bu, anak ibu ini sangat hebat dalam bermain gitar.” Ibu Rebecca menjawab, “Wah, benarkah? Syukurlah kalau begitu.” Pak Jo membalas, “Iya benar, Bu. Bagaimana jika Rebecca aku daftarkan ke ajang pencarian bakat? Mungkin saja Rebecca bisa memenangkan acara itu sampai tingkat nasional.” Ibu Rebecca berkata, “Sepertinya jangan, Pak. Aku tidak mau anakku menjadi pesimis ketika melihat lawannya yang tidak memiliki keterbatasan fisik.” Pak Jo berkata, “Bu, tolong tanyakan terlebih dahulu. Aku yakin Rebecca pasti mau. Rebecca adalah anak yang memiliki semangat juang yang tinggi dan ini bisa membantu Rebecca untuk menggapai mimpinya.” “Baik, Pak. Aku akan tanyakan ke Rebecca tentang lomba ini,” ujar Ibu. Saat jam makan malam, ibu bertanya kepada Rebecca, apakah ia mau untuk memasuki ajang pencarian bakat dengan tangan yang telah diamputasi. Jawaban Rebecca sangat tidak terduga oleh kedua orang tuanya. Rebecca berkata dengan penuh semangat, “Boleh, Bu, aku mau ikut. Aku ingin membuktikan kepada dunia bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari kehidupan. Siapa tahu dengan mengikuti acara ini, Becca jadi terkenal.” Jawab ayah kepada Rebecca, “Wah, anak bapak emang paling hebat. Semangat, ya, Nak!” Ibu berkata, “Baik, Becca. Ibu akan memberitahu Pak Jo, ya. Semangat, ya, latihannya. Kamu pasti bisa!” “Iya, Bu. Terima kasih, ya, Ayah dan Ibu. Becca akan


82 melakukan apa yang terbaik!” ujar Rebecca dengan penuh semangat. Rebecca pun segera didaftarkan untuk ajang pencarian bakat oleh guru sekolahnya. Acara ajang pencarian bakat pun dimulai. Acara tersebut disiarkan langsung di salah satu stasiun televisi. Di dalam acara tersebut terdapat banyak peserta yang sangat hebat dan mereka datang dari berbagai negara. Akhirnya, jerih payah Rebecca dan Pak Jo tidak sia-sia. Siapa sangka bahwa Rebecca lolos ke babak audisi dan masuk ke babak selanjutnya yaitu babak  Live In. “Yey, alhamdulillah lolos!” Rebecca berkata dengan sangat gembira. “Selamat, ya, Nak. Ayah bangga sekali punya anak sepertimu. Ayah yakin kamu pasti bisa memenangkan acara ini. Semangat terus, Nak!” ujar ayah. Beberapa babak telah dilewati dan Rebecca yang bisa lolos sampai ke babak semifinal. Hanya beberapa babak lagi, Rebecca akan masuk ke babak final. Tentu persaingan juga semakin erat karena peserta yang ada di dalam babak final memiliki bakat yang luar biasa. Dengan dukungan yang penuh dan doa dari kedua orang tua Rebecca dan juga Pak Guru, Rebecca bisa lolos ke babak Grand Final yang artinya kemenangan sudah hampir di depan mata. Jantung Rebecca pun berdetak dengan sangat cepat, namun ia mencoba untuk menenangkan dirinya agar bisa tampil dengan luar biasa. “Ayah dan Ibu akan terus mendoakan Rebecca agar Rebecca dapat memenangkan audisi ini. Ayah dan Ibu yakin bahwa Becca bisa membuktikan kepada dunia luar bahwa Becca tidak dapat direndahkan hanya karena keterbatasan fisik Becca. Ayo semangat, Nak. Kemenangan sebentar lagi akan dapat diraih! ujar Ibu Becca dengan gigih. Rebecca membalas, “Siap, Bu, Yah. Becca akan membuktikan


83 bahwa Becca bisa!”  Penampilan terakhir Rebecca sangat amat memukau para juri sehingga Rebecca menjuarai ajang pencarian bakat ini. Rebecca mendapatkan sejumlah uang tunai dan piala penghargaan. Salah satu juri berkata ke juri lainnya, “Memang pantas anak ini memenangkan acara. Lihatlah penampilan yang luar biasa dari Rebecca sang gitaris muda.” Juri yang lain menyahut, “Anak ini luar biasa walaupun ia memiliki keterbatasan fisik. Namun lihatlah Rebecca. Ia mempergunakan keterbatasan fisik sebagai kekuatan, bukan sebagai beban.” Rebecca berkata, “Ayah, Ibu, hadiah ini Becca persembahkan kepada kalian. Karena kalian, Becca bisa memenangkan lomba ini. Terima kasih, ya, Ayah, Ibu. Becca tahu bahwa hadiah ini belum cukup untuk membalas pengorbanan kalian untuk Becca. Becca janji, Becca akan terus menjaga dan menyayangi ayah dan ibu hingga masa tua nanti.” “Terima kasih, Nak. Selamat dan sukses selalu,” sambung Ibu sambil memeluk Rebecca. “Selamat, Nak, Ayah bangga sama kamu,” sambung Ayah sambil menepuk pundak Rebecca.  Keterbatasan fisik pada Rebecca membuat banyak orang termotivasi. Beberapa tahun kemudian, Rebecca menjadi seorang gitaris yang sukses dan terkenal. Ia pun diundang ke salah satu stasiun televisi terkenal untuk menceritakan perjalanan karirnya dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.


84 Bertumbuh Ravalea Maison Cokro/IX.3 Pada hari itu, suasana kelas penuh dengan orang-orang yang mengobrol satu sama lain. Ini adalah hal yang biasa dilakukan setiap hari sekolah. Ada juga beberapa siswa yang hanya duduk-duduk menunggu kelas dimulai.  Suara ledakan keras terdengar dari pintu. Semua orang dengan cepat menghentikan apa yang mereka lakukan dan bergegas kembali ke tempat duduk mereka sendiri. Bu Guru berjalan masuk ke kelas. Sepatunya membuat suara ‘klak’ dengan setiap langkah yang diambil olehnya. Ketua kelas memerintahkan teman sekelas untuk berdiri dan menyapa Bu Guru. Selepas itu, Bu Guru duduk di kursinya. Ia meletakkan tasnya dan mengeluarkan beberapa perlengkapan mengajarnya. Seluruh kelas menyaksikan dengan antisipasi, seolah-olah kami sedang menunggu sesuatu yang akan terjadi. Bu Guru mulai berbicara dengan setumpuk kertas di kedua tangannya. “Anak-anak, hari ini aku akan membagikan hasil ulangan,” kata Bu Guru sambil sekilas melihat kertas-kertas itu, “jika nama kamu dipanggil, maju ke depan, ya.” Ia tegas. Ada beberapa bisikan terdengar. Sepertinya banyak orang tidak menyangka ini akan terjadi. 


85 “Anira.” Namanya dipanggil duluan, seperti biasa. Ia merasa seluruh kelas memperhatikannya. Detak jantungnya terasa lebih cepat. Dengan hati-hati ia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju meja guru. Sebuah kertas dengan namanya bisa dilihat di atas meja bersama dengan beberapa angka yang ditulis dengan tinta merah. Anira menghirup napas kecil sebelum mengambil kertas itu. Ia melipatnya lalu kembali ke meja sendiri. Ia akan membukanya sebelum seseorang bertanya kepadanya, “Eh, kamu dapat berapa?” Ia tersenyum, memiringkan kepalanya sambil bertanya pada Anira. Anira menghela napas. “Sari, aku aja belum buka kertasnya lho,” jawabnya dengan santai. Anira menoleh ke temannya. Ia terlihat sepertinya tidak mempercayainya. “Berapa? Aku pengen tahu!” tanya Sari bersemangat. Anira tertawa kecil ketika mendengarkan temannya. Ia membuka kertas ujian. 77. “Eh? Itu bagus nilainya!” Sari memberitahu temannya. Anira mengangkat salah satu alisnya dan menggelengkan kepalanya, ”77? Masa itu bagus ….” “Kalau kalian masih berbicara, aku akan ambil kertas ulangannya, ya!” ujar Bu Guru dengan keras. Anira dan Sari langsung menjauh dan menunduk kepalanya. “… Sari,” Bu Guru melanjutkan ucapannya. Sari berdiri dan melaju untuk mengambil kertas ulangannya. Ia kembali sambil senyum kepada Anira. Setelah ia duduk, Anira bisa melihat dua angka yang tertulis di atas kertas ulangannya. Dengan tinta merah, angka ‘91’ bisa terlihat. Ia mengalihkan pandangannya ke kertasnya sendiri.


Click to View FlipBook Version