The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Antologi ini memuat puisi dan cerpen karya siswa SMP Pahoa. Kata-kata indah dalam puisi akrostik ditulis berdasarkan nama siswa yang menuliskan puisi tersebut.
Setiap baris dan bait dirangkai hingga membentuk suatu puisi yang menarik dan bermakna. Karya cerpen yang ditulis juga menampilkan berbagai kisah menarik dengan imajinasi dan kreativitas para siswa. Semoga para pembaca bisa mendapatkan inspirasi dan motivasi dari berbagai puisi dan cerpen dalam antologi ini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Pahoa, 2023-01-16 21:57:42

Sahabat baikku

Antologi ini memuat puisi dan cerpen karya siswa SMP Pahoa. Kata-kata indah dalam puisi akrostik ditulis berdasarkan nama siswa yang menuliskan puisi tersebut.
Setiap baris dan bait dirangkai hingga membentuk suatu puisi yang menarik dan bermakna. Karya cerpen yang ditulis juga menampilkan berbagai kisah menarik dengan imajinasi dan kreativitas para siswa. Semoga para pembaca bisa mendapatkan inspirasi dan motivasi dari berbagai puisi dan cerpen dalam antologi ini.

Keywords: Sahabat baikku

86 Azkia merasa aneh.  “Kriiing!!” Bel sekolah berbunyi dan sudah waktunya siswa pulang ke rumah. Anira memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya. Ia mengangkat tas ke bahunya dan meletakkan kursinya di atas meja dan lantas berjalan ke pintu kelas. “Anira! Jangan tinggalkan aku, dong!” Sari berteriak kepadanya. Anira menganggukkan kepalanya dan bersandar di dinding kelas sambil menunggu temannya. Sari dengan cepat berjalan ke Anira. Mereka berdua berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Sepanjang jalan Sari mengamati temannya. Temannya terlihat sedih. “Ra? Kamu kenapa?” tanya Sari dengan khawatir. Anira tampak cukup terkejut akan pertanyaan itu.  “Ah, tidak apa-apa,” Anira menjawab dengan senyuman, “aku cuma merasa lelah, mungkin karena semalam aku kurang tidur.” Anira menoleh keluar, mencari Ibunya. “Benarkah? Kalau ada apa-apa, beri tahu aku, ya,” balas Sari yang merasa khawatir akan temannya. “Iya, Sar. Tidak usah khawatir,” kata Anira sambil melebarkan matanya seolah menemukan sesuatu. “Oh, itu ibuku! Udah dulu, ya, Sar. Nanti besok kita bertemu lagi.” Anira melambaikan tangannya ke Sari yang juga dibalas oleh temannya.  Anira dan ibunya berdua berjalan ke mobil untuk pulang. Ia membuka pintu mobil lalu memasukinya.


87 “Bagaimana sekolah hari ini, Ra?” Ibunya bertanya sambil menyalakan mobil. “Ah, biasa saja, Bu,” jawab Anira seperti biasa. Ibunya meragukan jawaban Anira sebelum ia melihat secarik kertas yang sepertinya tidak sengaja tersangkut di luar tasnya. “Terus, apa itu?” Ibunya menunjuk kepada kertas itu. Anira menoleh untuk melihat apa yang ditunjuk oleh ibunya. “Oh, itu hanya hasil ulangan, Bu. Anira lulus KKM, kok,” Anira menjawab tanpa ragu. Ibunya tersenyum lebar dan memujinya. “Wah, bagus dong! Tetapi mengapa kamu terlihat sedih, Ra?”  “ ... Sedih?” Anira bertanya kepada dirinya sendiri dengan lantang. Ia menatap mata ibunya. “Ah, maaf, Bu. Anira bingung karena Sari juga menanyakan hal itu tadi,” katanya kepada ibunya yang terlihat limbung. Ibunya meletakkan tangan di punggungnya untuk mencoba membuat Anira merasa lebih tenang. “Padahal Anira udah belajar semalam sebelum ulangan. Mengapa masih mendapat nilai 70-an?” ucapnya.  Ibunya mulai mengemudikan mobil ke luar tempat parkir.  “Hanya semalam sebelum?”  tanya Ibunya sambil menatap ke depan. “Iya …,” jawab Anira dengan sedikit ragu. Ibunya hanya terdiam dan lanjut mengemudikan mobil sampai ke rumah mereka.  Sesampainya di rumah, Anira langsung mandi dan mengganti baju sekolahnya dengan baju rumah. Ia terbaring di tempat tidur dan matanya dengan malas menatap ke atas langit-langit. Ia tidak


88 tahu harus berbuat apa.  Tiba-tiba Ibunya masuk kamarnya. “Bu?” kata Anira yang terbangun dari tempat tidurnya. “Ada apa?” tanya Anira sambil duduk di atas kasur tidurnya. Ibunya menutup pintu di belakangnya, berjalan menuju Anira, dan lalu duduk di sampingnya. “Ibu ada sesuatu untukmu,” kata Ibunya sambil mengangkat dua tangannya dan membukanya. Di dalamnya ada sesuatu yang terlihat seperti dua biji tanaman. Sebelum Anira dapat bertanya, ibunya lanjut berbicara, “Ini ada dua biji yang harus kamu tanam. Ada satu yang kamu beri air setiap hari dan satu lagi kamu hanya beri air jika kamu ingat atau kamu mau, oke?”  Anira bingung. “Mengapa Ibu kasih Anira ini?” tanyanya. Tetapi ibunya tak menjawab dan ia hanya menaruh kedua biji itu di kedua telapak tangan Anira. “Jangan lupa, ya,” ibunya berkata sebelum meninggalkan kamarnya.  Anira hanya bisa memandang ke pintu kamar setelah ibunya tiba-tiba memberinya dua biji. Ia langsung menanam kedua biji itu di dua pot berbeda. Biji yang diberinya air setiap hari, di kanan, dan biji yang disiram hanya jika ia mau, di kiri. Ia menaruh dua pot itu di luar ambang jendelanya.  Ia menoleh ke jam. Ternyata sudah jam 4 sore. Anira memberi kedua biji tanaman air dari botol minumnya dan membiarkannya di luar. Seperti biasa, ia menyelesaikan harinya dengan mengerjakan tugas sekolah, berbicara bersama ibunya, dan akhirnya tidur. 


89 Anira terbangun dari tidurnya dengan alarm yang sepertinya tidak berhenti berdering. Ia duduk dan mematikan alarm handphonenya. Dua minggu sudah berlalu setelah ia diberikan dua biji itu oleh ibunya.  Ia berdiri dan berjalan menuju jendela kamarnya. Anira membuka tirai untuk disambut oleh sinar matahari yang terang. Ia menunduk ke bawah, melihat kedua pot yang dulu terisi dengan biji kecil. Sekarang pot yang di kanan sudah tumbuh sebuah batang yang sudah cukup besar, sedangkan pot yang di kiri hanya ada batang yang kecil sekali.  Anira masih merasa bingung mengapa ibunya memberikan dua biji ini, tetapi ia akan tetap mengikuti perintah ibunya setiap hari. Jujur, ia juga ingin mengetahui biji ini akan menjadi tanaman apa. Setelah memberi air di pot yang kanan, ia langsung pergi ke sekolah dan melanjutkan aktivitas seharinya.  Anira berbaring di tempat tidurnya. Ia terbangun sekitar 10 menit yang lalu. Di luar sepertinya masih subuh karena tidak ada cahaya untuk menerangi kamarnya. Ia merasa seperti seseorang yang tidak ada pekerjaan sama sekali. Akhirnya, ia memutuskan untuk berdiri dan mandi.  Pintu kamar mandi terbuka setelah Anira mandi dengan air dingin. Ia mengamati kamarnya, mencari sesuatu untuk dilakukan sebelum ia ingat akan adanya dua tanaman di luar jendelanya. Ia bergegas ke sana dan membuka tirainya. Anira terkejut setelah ia melihat ke bawah.  Biji yang dulu ditanam di pot kanan telah tumbuh menjadi tanaman cabai merah yang terlihat sudah siap dipanen setelah sekitar 5 minggu. Anira tersenyum dan mengangkat jarinya untuk menyentuh sayuran tersebut. Namun di pot yang di kiri, hanya terdapat batang yang kecil dan terlihat sangat kering. 


90 “Satu biji kecil bisa menjadi sayuran itu, tetapi waktu yang dibutuhkan cukup lama. Sedangkan yang satu lagi hanya diberi air sedikit dan bertumbuh sedikit sekali,” pikir Anira.  Kemudian sebuah pikiran muncul di kepalanya. Ia terasa seperti dilempar batu. Ibunya tidak memberinya dua biji hanya agar dia bisa menanamnya. Ia ingin memberi tahu Anira sebuah pesan. Ia berjalan mundur dan duduk di tempat tidurnya.  “Jika aku hanya belajar semalam sebelum ulangan, hasilnya tidak akan maksimal,” pikirnya. Anira menatap tanamannya sekali lagi. “Tetapi, jika aku belajar lebih jauh sebelum ulangan diadakan, pasti hasilnya akan bagus,” ujarnya.  Dengan mulut sedikit terbuka ia melirik jam tangannya.  Masih ada sekitar 40 menit lagi sebelum ia harus bersiap-siap ke sekolah.  Anira ingat ada ujian minggu depan.  Ia dengan cepat duduk di meja belajarnya dan membaca beberapa materi.  Minggu yang sama telah berjalan cukup baik.  Anira selalu merevisi apa yang telah dipelajarinya setiap hari sepulang sekolah dan sebelum tidur.  Ibunya tampak telah menyadari sesuatu yang berbeda pada Anira.  Ketika hari ujian akhirnya tiba, ia dengan hati-hati menjawabkan pertanyaan-pertanyaan dan berharap kerja kerasnya akan membuahkan hasil yang baik.  Pada pagi hari yang cerah itu, suasana kelas terasa seperti biasa. Banyak siswa yang sedang berbicara satu sama lain dan ada juga siswa yang hanya menunggu pelajaran mulai. Seluruh kelas kembali ke tempat duduk masing-masing ketika Bu Guru memasuki kelas. Setelah memberi salam, Bu Guru menuju meja guru dan duduk di kursinya. Anira berharap hari ini akan menjadi hari ‘itu’


91 akan segera terjadi. “Anak-anak, hari ini aku akan membagikan hasil ulangan kedua, ya,” Bu Guru berkata setelah mengeluarkan setumpuk kertas dari tasnya.  Firasat Anira ternyata benar. Hari ini hasil ulangan akan dibagikan. Anira menoleh ke arah Sari yang sudah menatapnya dengan antusias. “Jika aku panggil nama kamu, maju ke depan, ya,” kata Bu Guru. Seluruh siswa di kelas itu mengangguk. Ada beberapa siswa yang terlihat takut dan juga ada beberapa siswa yang terlihat bersemangat. “Anira,” kata Bu guru memanggilnya. Anira menunduk ke bawah dan berdiri dari tempat duduknya. Ia maju ke depan kelas dengan perlahan-lahan. Tangannya sedikit bergetar ketika ia mengambil kertas ulangannya. Anira merasa ia telah bertemu dengan ketakutan terbesar di hidupnya. Ketika ia kembali ke tempat duduknya, ia menghirup napas yang besar sambil memegang kertas ulangan yang telah dilipat olehnya. “Jadi, bagaimana nilainya?” Sari bertanya kepadanya. Sepertinya Sari telah menyadari sesuatu setelah Anira kelihatan sangat lelah minggu ini. “Sabar dong, Sar,” jawab Anira dengan bercanda. Sari terkikik dan mengarahkan pandangannya ke kertas ulangannya Anira.  Anira sekejap menutup matanya dan membuka kertas ulangan tersebut. Setelah Sari melihat angka yang tertulis di atas kertas itu, ia terkesiap dan langsung berbisik, “Wah!” Ia menepuk tangannya secara pelan-pelan dan tanpa suara agar Bu Guru tidak menegur mereka. 


92 “Pasti kamu sudah banyak belajar, nih!” kata Sari kepadanya. Ia mengalihkan tatapannya kepada muka Anira. Gerakan tepuk tangan tiba-tiba berhenti ketika Sari melihat ekspresi Anira. Ia tampak seperti berada di saat paling bahagia dalam hidupnya. Sari tersenyum dan menjauhi Anira ke meja sendirinya tanpa berkata apa pun. Senyuman lebar yang menempel di muka Anira masih belum hilang setelah ia membuka kertas ulangannya dan melihat nilainya. 93. Ia menghela napas dan meletakkan kertas ulangannya di atas meja. Walaupun belum sempurna, ia sudah sangat bangga akan dirinya sendiri. Hari-hari yang dihabiskannya untuk belajar ulangan yang masih lama dating cukup layak untuk dihabiskan. Nanti Anira akan pasti memeluk Ibunya dengan erat saat dia pulang sekolah.  Mungkin semua orang memang membutuhkan proses untuk menjadi lebih baik.


93 Sahabat Baikku Raznia Maheswari Diarra Ruspandi /IX.3 Hyun adalah Hyun Subroto. Ia adalah anak yang sangat pintar. Pada setiap pelajaran, ia selalu mendapat nilai yang tinggi. Bisa dikatakan ia juga merupakan orang terpintar di jenjang kelasnya. Pada setiap acara, ia selalu mendapat penghargaan. Ya, ia memang sangat pintar. Siang menjelang sore adalah saat Hyun berjalan dengan antusias melewati lorong sekolah yang sepi. Bulan lalu ia baru saja mengerjakan ujian yang sangat penting baginya. Dengan cepat ia berjalan menuju ruang perpustakaan dan berdiri di depannya.  Di depannya terdapat sebuah papan biru dengan kertaskertas yang terpasang di atasnya. Dengan cepat ia mencoba mencari sebuah kertas berupa daftar nama murid-murid yang lulus ujian bulan lalu. Matanya mencoba mencari namanya di daftar tersebut. Perasaan tidak enak muncul. Namanya tidak ada di daftar tersebut.  Ia mencoba mencari namanya lagi. Namun, tidak ada. Mengapa? Mengapa namanya tidak tertulis di daftar tersebut? Ia sudah belajar dengan giat untuk ujian tersebut. Ia juga merupakan anak yang pintar. Tidak mungkin. Ia pun menyadari bahwa ia tidak lulus ujian. Ia tidak masuk ke kelas yang diminatinya selama ini. Perasaan sedih dan khawatir terukir di wajahnya. 


94 “Hyun!!”  Lelaki yang dipanggil dengan nama ‘Hyun’ menolehkan kepalanya kepada sumber suara tersebut. Seorang lelaki muda yang sedikit lebih pendek darinya berlari menuju dirinya.  “Ah, Hyun, apakah kamu sudah melihat daftar murid-murid yang lulus ujian bulan lalu?” tanya lelaki itu. Hyun hanya melihat lelaki tersebut dengan tatapan yang datar. Ia masih merasa sedih dan marah karena namanya tidak ada di daftar tersebut.  “Menurutmu, Jaeyun?” tanya Hyun dengan nada yang dingin. Lelaki yang dipanggil ‘Jaeyun’ membulatkan matanya. Ah, mengapa ia tidak sadar? Hyun sedang berdiri di depan papan yang memiliki daftar nama murid-murid yang lulus ujian bulan lalu. Ia sudah melihatnya.  “Ah, sudah, ya?” kata lelaki itu setengah bertanya. Jaeyun merasa kasihan kepadanya. Temannya sudah bekerja keras untuk ujian tersebut. Tetapi tetap saja, ia tidak lulus.  “Ayolah, Hyun, jangan sedih. Ini hanya percobaan saja. Ujian tersebut akan ada lagi pada tahun depan. Kamu masih bisa mengikuti ujian itu,” ucap Jaeyun dengan suara yang lembut. Ia percaya bahwa temannya akan lulus pada ujian berikutnya. Ia merupakan murid terpintar di jenjang kela ini, kan? “Ya, aku bisa mengikuti ujian itu. Tetapi bukan berarti aku akan lulus dan mengikuti kelas tersebut. Aku merupakan anak terpintar di jenjang kelas ini. Mengapa aku tidak lulus?” tanya Hyun dengan dingin.  Jaeyun hanya bisa melihat temannya dengan kasihan. Ia mengetahui bahwa temannya sangat ingin mengikuti kelas tersebut.  


95 “Hyun, kamu masih ada kesempatan. Jangan sia-siakan,” ucap Jaeyun dengan suara yang lembut. Jaeyun mendekatkan dirinya kepada Hyun dan mencoba menghiburnya.  “Walaupun kamu gagal di ujian yang ini, tidak berarti bahwa kamu akan gagal pada ujian selanjutnya. Ini hanya percobaan, jangan putus asa,” katanya sambil tangannya menepuk punggung Hyun dengan pelan.  “Walaupun kamu merupakan anak terpintar di jenjang kelas ini, tidak berarti kamu akan lulus ujian tersebut. Mungkin kamu harus belajar lebih giat lagi,” ucap Jaeyun sambil menatap muka Hyun yang terlihat sedang berpikir.  “Yah, mungkin kamu benar. Aku harus belajar lebih giat untuk ujian yang selanjutnya,” ucap Hyun dengan suara yang kecil.  Ia sangat berterima kasih kepada teman dekatnya karena sudah menasihatinya. Jika Jaeyun tidak menasihatinya, ia mungkin tidak akan mengikuti ujian tahun depan. “Itu temanku yang pintar!” teriak Jaeyun sambil memeluk Hyun.  “Jangan mudah menyerah, ya? Kamu kayak anak kecil aja. Saat gagal pada sesuatu, langsung menyerah dan melamun,” kata Jaeyun selanjutnya. “Hey, aku tidak melamun, ya,” ucap Hyun dengan tegas.  Ia malu akan perilakunya beberapa menit yang lalu. Ia sangat terlihat seperti anak kecil. Hyun mencoba melepaskan pelukan Jaeyun. Jaeyun menjauhkan dirinya dari Hyun.  “Baiklah, habiskan waktumu untuk siap-siap dan belajar, ya? Aku tahu kamu bisa melakukannya,” kata Jaeyun. Hyun tersenyum mendengarkan kata-katanya dan menjawab, “Ya, Jaeyun.”


96 *** Tidak terasa sudah satu tahun berjalan sejak ujian yang gagal bagi Hyun. Hyun dengan deg-degan berjalan menuju kelas ujiannya. Ia menghabiskan beberapa minggu untuk belajar demi ujian ini. Ia ingin lulus ujian tersebut dan mengikuti kelas yang diminatinya. Ini merupakan kesempatan terakhirnya.  Langkahnya berhenti ketika ia melihat seseorang yang familiar di depan pintu kelas ujian.  “Hey, Hyun,” ucap lelaki tersebut kepadanya.  “Jaeyun? Mengapa kamu ada di sini?” tanya Hyun dengan suara yang tegas. “Iya, untuk mengikuti ujiannya,” sahut Jaeyun. Hyun hanya mengangkat alisnya dengan skeptis. Aneh. Seingatnya, Jaeyun tidak pernah tertarik untuk mengikuti ujian tersebut.  “Kamu tidak pernah kasih tahu aku bahwa kamu akan mengikuti ujian ini,” ucap Hyun sambil menarik Jaeyun ke dalam kelas ujian tersebut. Ia bingung mengapa teman dekatnya tidak memberitahukannya bahwa ia akan mengikuti ujian tersebut.  “Hm, karena aku pikir itu tidak penting, hehe,” jawab Jaeyun. Hyun hanya menghela napas pada kata-katanya dan duduk di samping meja Jaeyun.  “Kalau kamu memberi tahu aku bahwa kamu akan mengikuti ujian ini. Mungkin kita bisa belajar bersama,” kata Hyun. “Ahahaha, sudah terlanjur. Sudahlah, sebentar lagi guru akan masuk dan ujian akan mulai. Good luck,” ucap Jaeyun dengan kilatan di matanya. Ia pun mengeluarkan alat-alatnya dari tas kecilnya. 


97 “Fokus, ya, good luck,” kata Hyun yang hanya menatap Jaeyun dengan senyuman kecil. *** Waktu ujian akhirnya selesai. Hyun mengerjakan ujiannya tanpa ada kesusahan. Ia sudah belajar dengan giat untuk ujian ini. Ia yakin bahwa ia akan lulus ujian ini. Mungkin. Jika tidak lulus, mungkin ia akan menangis saja.  “Bagaimana?” Hyun mengalihkan pandangannya dari tasnya kepada sumber suara.  “Bagaimana ujiannya? Susah atau tidak?” tanya Jaeyun tanpa mengalihkan tatapannya dari mejanya.  “Mudah. Sangat. Aku tidak kesusahan sama sekali,” jawab Hyun. Jaeyun tersenyum. Ah, percaya diri sekali.  “Artinya kamu yakin kamu akan lulus ujian ini?” tanya Jaeyun sambil menatap mata Hyun. “Yakinlah.”  Mereka pun keluar dari kelas ujian menuju gerbang sekolah. Sekarang, hanya tunggu hasilnya. *** “Hyun, Hyun!” teriak Jaeyun di taman sekolah yang sepi.  Hyun mengalih pandangannya dari bukunya dan menatap Jaeyun.  “Iya?” Jaeyun terengah-engah sambil menatap Hyun dengan senyuman yang besar.


98 “Apakah kamu sudah melihat daftar murid-murid yang lulus ujian bulan yang lalu?” tanya Jaeyun sambil mengambil botol minum Hoon dari sampingnya.  “Ah, belum,” jawab Hyun dengan datar.  “Kamu lulus,” kata Jaeyun. Hening. Jaeyun hanya menatap Hyun yang sedang membaca bukunya.  “Oh, oke,” jawab Hyun dengan pendek.  Dengan sebal Jaeyun memukul kepala Hyun. Dasar teman yang tidak mau bersyukur. “Kamu lulus masuk ke kelas yang sangat kamu minati dan ini reaksimu?” teriak Jaeyun. Hyun meraba kepalanya yang nyeri karena pukulan Jaeyun.  “Ah, hahaha, aku sudah tahu aku akan lulus,” kata Hyun berbohong. Sebenarnya ia pikir ia tidak akan lulus.  Jaeyun menatap Hyun dengan tatapan datar. Benarkah?  “Wah, egomu tinggi juga, ya,” kata Jaeyun. Hyun hanya tertawa kecil. Lucu juga sahabat kecilnya itu. “Haha, sebenarnya aku kira aku tidak akan lulus. Ah, bagaimana kamu? Apakah kamu lulus?” tanya Hyun dengan penasaran.  Jaeyun pun duduk di samping Hyun dan meletakkan tangannya di bahu Hyun.  “Ah, tentu. Hei, artinya kita akan sering bertemu di kelas, nih,” jawab Jaeyun dengan senang.  Ia melihat Hyun yang hanya menatapinya dengan tatapan yang mencurigakan. Hyun pun mendekatkan mukanya kepada telinga Jaeyun. 


99 “Ah, jadi akan bosen jika aku harus melihat mukamu setiap pelajaran,” bisik Hyun tanpa dosa.  “Hei! Mulutmu! Aku mengikuti tes itu untuk menemanimu!” Thanks, my dear friend.


100 Seorang Tamu Perdana Forbes TV Arayadithi Udaya/IX.4 “Selamat datang di Forbes TV! Kembali lagi bersama saya, Ujang yang akan menemani kalian malam ini. Hari ini saya hadir dengan bintang tamu yang sangat spesial. Apakah ada yang bisa menebak?” ucap MC di tengah panggung yang megah dengan sebuah mikrofon di genggaman tangannya. “Tidak! Ayo cepat beritahu kami. Ayo!” sorak para penonton. “Baiklah, kalau begitu. Langsung saja kita panggil bintang tamu hari ini … Raka Djuanda!” Segera setelah MC mengumumkan bintang tamu pada hari itu, ruangan langsung bergema diikuti tepuk tangan para penonton. Kemudian, seorang pria berumur 67 tahun yang dipanggil ‘Raka Djuanda’ berjalan dengan gagah ke tengah panggung. “Terima kasih, terima kasih! Aku tidak menyangka akan ada begitu banyak penonton yang menyambut saya. Terima kasih,” ucap Raka sambil melambai-lambaikan tangan ke arah penonton. “Selamat datang, Tuan Raka. Bagaimana kabarnya? Suatu kehormatan bagi kami untuk bisa bertemu dengan Tuan Raka,” ucap MC sambil menjabat tangan Raka. “Alhamdulillah baik. Suatu kehormatan juga bagiku untuk diundang ke Forbes TV,” balas Raka. “Aku yakin semua orang di sini sudah mengetahui siapa itu Raka Djuanda, ya. Seorang miliarder di Indonesia yang berhasil mendirikan bisnis pisang gorengnya bernama GoPisang dan sudah memiliki lebih dari 250.000 outlet di seluruh dunia! Mari kita beri tepuk tangan yang meriah untuk Raka Djuanda!” ujar MC.


101 “Namun Tuan Raka, aku yakin perjuangan Tuan hingga bisa menjadi sesukses ini adalah tidak mudah.” “Oh jelas, tentu saja tidak. Aku jamin bahwa tidak akan ada orang yang sukses tanpa melewati rintangan. Pasti ada kalanya kita putus asa dan terpuruk, namun hanya seseorang dengan kesabaran dan tekad yang kuat bisa bangkit kembali,” ujar Raka. “Setuju! Semoga semua penonton bisa termotivasi dengan kata-kata Tuan Raka Djuanda tadi, ya. Oh ya, berbicara mengenai perjalanan Tuan hingga menjadi sesukses ini, apakah Tuan Raka berkenan untuk menceritakan kisah perjalanan Tuan lebih detail kepada kami?” tanya MC kepada Raka. “Dengan senang hati, Ujang,” ucap Raka dengan senyuman penuh di wajahnya. Raka pun bercerita tentang pengalamannya. Pada suatu ketika Raka bertemu dengan seorang saudagar kaya. Ketika itu ia ingin menjadi nelayan dan memerlukan layar untuk perahu nelayannya. Inilah ceritanya. “Hei, apa yang kami lakukan?” tanya seorang saudagar kaya. “Anu … aku mau beli ini, apakah dijual?” Tanya Raka menunjuk sebuah layar di sebelahnya. Seorang saudagar kaya dengan perhiasan miliknya yang menyilaukan mata menatap Raka dengan wajah tidak percaya. “Kamu yakin? Mau bayar pakai apa? Pakai baju lusuhmu itu?” ”Ah, tidak. Aku baru saja dapat uang dari kerja kuli tadi, Pak,” jawab Raka sambil mengeluarkan sepeser demi sepeser dari kantung celananya. “Jangan bercanda! Layar ini seharga lima kali lipat dari uang yang kamu tunjukkan. Sudahlah, kembali saja ke ibumu,” gertak si saudagar.


102 “Tolonglah, Pak. Setidaknya sewakan saja dulu satu bulan. Aku janji akan saya lunasi akhir bulan nanti.” Sayangnya keputusan saudagar kaya tersebut sudah bulat dan ia pun berkata, “Besok aku akan menemui sepasang saudagar kaya dari ibu kota. Mereka menawar layar ini seharga lima juta. Kalau kamu tidak bisa memenuhi itu, tak usah banyak bermimpi!”  Pupus sudah impian yang sudah direncanakan Raka sejak tujuh tahun lalu. “Haa, bagaimana ini? Hanya tersisa layar ini sebelum aku mengikuti jejak ayahku menjadi nelayan.” Pikiran Raka mulai kalut. Entah keputusan apa yang harus diambilnya. Raka kembali mempertimbangkan hal paling tepat bagi seorang pemuda berusia 20 tahun seperti dirinya. Akan tetapi, hanya jalan buntu yang ada di depannya. “Bung!” “Bung, kamu mendengar aku?” “Bung Raka!” ujar seseorang yang duduk di depan Raka.  “Eh? Oh, aku kira siapa, Ji,” kata Raka melihat sekilas ke arah Aji. “Kamu lagi ngapain, sih? Melamun sendirian di siang bolong. Hati-hati nanti diculik,” canda Aji. “Bukan apa-apa. Hanya ada sedikit pikiran yang mengganggu saja,” balas Raka. “Wah, ibumu membuat pisang goreng lagi? Ambil satu ah,” dengan lahap Aji memakan pisang goreng khas Ibu Raka. Hanya dalam satu gigitan, pisang goreng Ibu Raka telah berhasil memenangkan hati Aji. “Omong-omong, mengapa pisang goreng buatan ibumu yang seenak ini tidak coba dijual saja? Dari dulu aku penasaran tentang akan ada berapa ratus pembeli setiap harinya,” kata Aji yang kembali mencomot pisang goreng di atas meja.


103 “Ji!” Tiba-tiba Raka berdiri menggebrak meja di depannya. “Mengapa aku tidak pernah sekalipun terpikirkan ide itu? Terima kasih Ji, sungguh!” ucap Raka dengan girang. Setelah berhari-hari Raka menyempurnakan ide bisnisnya, akhirnya Raka siap untuk terjun langsung hari ini. Raka mulai berjualan berkeliling desa dan tanpa disangka, kata yang diucapkan Aji adalah benar. Setiap harinya, masyarakat desa berbondongbondong membeli pisang goreng milik Raka seakan-akan itu adalah hari terakhir Raka berjualan. Dari hasil jualan selama 6 bulan itu, Raka telah meraih keuntungan sebesar dua puluh juta rupiah dan tanpa berpikir panjang, Raka pun memutuskan untuk berpamitan kepada ibunya dan mempertaruhkan nasibnya ke ibu kota.  Ibu kota. Kota dengan gedung pencakar langit di setiap sisinya dan pancaran lampu jalan di malam hari itu menggugah perasaan haru Raka. “Wah, inikah yang dinamakan ibu kota? Tak pernah sekali pun aku membayangkan akan melihat gedung semegah ini dalam hidupku,” pikir Raka berjalan sambil menatap gedung-gedung itu dengan kagum, “Mulai besok, aku akan membangun bisnisku di ibu kota yang indah ini dan menjadi orang sukses agar ibu bangga kepadaku!”  Sudah dua bulan sejak Raka membangun bisnisnya di sebuah kios berukuran 10m² yang terletak di pinggir jalan ibu kota. Namun, kiosnya tak kunjung didatangi pengunjung. Entah sudah berapa kali Raka menyebar brosur di lampu lalu lintas dan mengikuti berbagai webinar gratis untuk menjadi pengusaha sukses. Tetapi tetap saja hasilnya nihil.  Mengkhawatirkan mungkin menjadi kata yang cocok untuk menggambarkan situasinya sekarang. Bagaimana nasib ibunya di desa? Bagaimana reaksi ibunya saat mengetahui anak semata wayangnya pulang dengan hanya membawa badannya saja? Bukankah sangat memalukan? Kini satu-satunya jawaban


104 yang tersedia hanyalah kesabaran dan tekad. Tidak ada seorang pengusaha pun yang bisa langsung sukses menghadapi beratnya persaingan di tanah air. Raka hanya bisa bersabar dan terus mengembangkan bisnisnya sedikit demi sedikit hingga ia menjadi salah satu pengusaha yang berhasil menghadapi beratnya kehidupan.  Tak disangka, ternyata awalan yang buruk bisa menjadi akhiran yang sempurna. Kini bisnis Raka sudah dikenal di seluruh dunia. Raka Djuanda, seorang pemuda yang merintis karirnya dari nol tak pernah membayangkan akan menjadi sesukses ini berkat resep pisang goreng ibunya dan ide brilian milik temannya, Aji. “Ya, begitulah kisah perjalanan karir saya, Ujang,” ucap Raka mengakhiri kisah hidupnya. 


105 Hanya Diriku dan Mimpiku Vivian Cristabella Halim/IX.4 Claretta adalah seorang gadis yang duduk di bangku SMA. Terlahir dari keluarga yang kurang mampu, tetapi gadis ini memiliki cita-cita setinggi bintang di langit. Sering kali ia diejek, dihina, direndahkan karena kondisi keluarganya yang tidak mendukungnya. Ia selalu berpikir, “Apakah mungkin seorang gadis dari keluarga kurang mampu bisa menjadi seorang pengusaha sukses dan kaya raya?” Terkadang ia ingin menyerahkan mimpinya.  Ayah dari Claretta adalah seorang pemabuk yang hobi berjudi dan menghabiskan uangnya secara sia-sia. Ayahnya bahkan sering kali mencuri uang tabungan ibu Claretta yang disimpannya untuk membayar uang sekolah anak semata wayangnya itu. Claretta sering kali diancam akan dibunuh jika ibunya tidak ingin memberikan uang simpanannya tersebut. Semakin hari sang ibu semakin tidak kuat menghadapi sikap kasar sang ayah yang terusmenerus menyiksanya. Hingga suatu saat, ibu Claretta meninggal.  Sejak kejadian itu, Claretta semakin takut dan benci kepada ayahnya. Gadis itu hidup dalam ketakutan. Trauma yang dimilikinya menghantui dirinya selama bertahun-tahun. Ia hanya bertahan hidup demi meraih mimpinya. Di sekolah pun, Claretta sering kali dirundung oleh anak-anak sekelasnya. Mereka memukul, menjambak, menertawakannya, dan bahkan menyobek buku dan tugas-tugas miliknya. Tidak ada seorang pun yang peduli


106 terhadapnya. Ia tidak memiliki siapa-siapa untuk menjaganya.  Hari itu saat jam pulang sekolah, Claretta sangat heran karena semua orang memandang dirinya sambil berbisik satu sama lain dan diselingi oleh suara tawa dari mereka. Ternyata saat ia membuka ponselnya, sudah tersebar berita bahwa ayah dari Claretta tertangkap polisi karena ketahuan mencuri uang. Tak heran jika semua siswa sedang menertawakan dirinya. Gadis itu hanya bisa menahan tangisannya. Ia bergegas merapikan barangnya dan langsung berlari keluar dari lingkungan sekolah. Gadis ini benar-benar tidak habis pikir tentang ayahnya.  Claretta sampai di ujung jembatan yang tak jauh dari rumahnya. Ia sudah tidak sanggup akan keadaannya sekarang, tetapi ia hanya bisa menangis. Ia sempat berpikiran untuk menyusul ibunya. Saat hendak menjatuhkan diri dari atas jembatan itu, ia merasa sedang ditarik oleh seseorang. Ternyata ada seorang pemulung yang umurnya tidak jauh berbeda dengan umurnya. Pemulung itu menarik Claretta lalu memberinya sebuah pelukan. Tangisan gadis ini semakin pecah. Pemulung itu menemaninya dan memberinya minum.  Awalnya ia sempat ragu untuk minum, tetapi karena sesegukan dan sulit untuk berbicara, akhirnya ia pun memutuskan untuk menerima air pemberian pengemis tersebut. Matanya sembab akibat menangis. Setelah ia menjadi lebih tenang, pemulung itu pun mulai bertanya kepada dirinya alasan ia ingin mengakhiri hidupnya. “Aku sudah tidak kuat, aku sangat lelah. Ayahku tidak pernah bekerja untuk keluarga kami. Ayahku adalah seorang pemabuk yang kerjanya menghabiskan semua uang keluargaku. Ayah selalu memukul aku dan ibuku, sampai ibuku akhirnya mengakhiri hidupnya karena tidak kuat berada di bawah semua tekanan ini. Dulunya ibuku adalah seorang pedagang kue dan sekarang aku yang harus melanjutkan usaha ibu. Aku harus melakukannya demi


107 membayar uang sekolahku. Aku lelah harus menerima hinaan dari semua teman-temanku. Aku lelah dibentak dan dipukuli oleh ayahku sendiri. Aku tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Tidak ada yang peduli kepadaku. Aku ingin menyusul ibu,” ujar gadis itu sambil meneteskan air matanya.  Pemulung itu hanya bisa terdiam melihat gadis yang sedang menangis sampai sesegukan. Pemulung itu pun mengelus punggung sang gadis untuk menenangkannya. Gadis itu menghapus air matanya dan menatap pemulung tersebut lalu bertanya, “Mengapa kamu bekerja sampai larut sekali? Kamu juga membutuhkan istirahat.” Pemulung itu pun berkata, “Aku di rumah hanya hidup bersama ibu dan kedua adikku. Ayah dan ibuku sudah lama bercerai. Ayah memutuskan untuk meninggalkan kami semua. Jadi, aku harus menjadi seorang pemulung untuk menghidupi keluargaku, tetapi akhir-akhir ini ibuku sedang mengalami sakit yang cukup parah. Aku memulung dari pagi sampai malam dengan harapan bisa mendapatkan uang lebih untuk membantu melunaskan biaya pengobatan ibuku.” Mendengar cerita pemulung tersebut, Claretta sangatlah kagum olehnya dan lalu ia bertanya, “Apakah kamu tidak pernah ada pikiran untuk menyerah?” Pemulung itu menganggukan kepalanya lalu menjawab, “Tentunya ada, tetapi jika aku tidak bertahan untuk ibu dan adikadikku, siapa yang akan bertahan?” “Jika begitu, bolehkah aku menyerah? Aku tidak perlu bertahan untuk siapa-siapa. Ayahku pemabuk dan ibuku telah tiada. Aku telah berusaha sangat keras untuk cita-citaku. Aku dihina, dicaci maki, dan satu dunia membenciku. Aku tidak tahu mesti bagaimana lagi. Aku lelah,” ucap gadis itu sambil menundukan kepalanya.


108 Ia sungguh lelah menghadapi dunia yang memperlakukan dirinya dengan sangat tidak adil ini. Pemulung itu hanya tersenyum lalu dengan lembut berkata, “Hei,  kamu harus ingat ini. Kita tidak diwajibkan untuk berhasil, tetapi diwajibkan untuk berusaha. Terkadang usaha kita memang tidak sesuai dengan hasilnya. Meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin, kita tidak bisa menentukan hasil tersebut. Jadi walaupun kita sudah bekerja keras dan tidak membuahkan hasil, mungkin itu belum saatnya. Kamu boleh kecewa, boleh sedih, tapi bukan berarti boleh menyerah. Kita lewati ini bersama, ya? Ambillah kalung ini. Ini adalah pemberian ibuku. Berjanjilah kepadaku untuk terus berjuang. Kita pasti akan bertemu lagi saat kita sudah sukses suatu hari nanti. Aku percaya kita bisa. Ingatlah pesanku dan jaga baik-baik kalung ini, ya, Gadis Cantik. Kamu pasti bisa. Kita pasti bisa.” Tidak terasa berjam-jam sudah lewat, warna langit pun sudah tak lagi terang. Pemulung itu pun berdiri dari tempat duduknya lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum melihat gadis itu. “Pulanglah, ini sudah malam. Aku juga harus pulang. Ibuku akan khawatir dan aku harus mengantarkan obat ini kepadanya,” kata pemulung itu. Setelah ucapan tersebut pemulung itu pun pergi meninggalkan gadis yang masih terdiam menggenggam kalung pemberiannya. Ia bahkan tidak sempat berterima kasih kepada pemulung itu. Namun, karena sudah terlalu larut, ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.  Sejak hari itu, Claretta terus mengingat segala pesan dari pemulung tersebut. Ia pun menjadi lebih bersemangat dalam menjalani masa SMA-nya. “Semua kerja keras ini kulakukan dengan sungguh-sungguh demi mencapai impianku yaitu melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi,” janjinya kepada dirinya.


109 Dalam keadaan seperti ini gadis itu sangat ingin merasakan suasana berkuliah, tetapi ia berpikir apakah bisa? Sedangkan keadaan keluarganya seperti ini. Namun, kata putus asa tidak ada pada dirinya. Ia harus tetap berusaha dan terus bersabar.  Cerita dan berita mengenai perguruan tinggi sedang ramai diperbincangkan di sekolahnya. Sampai akhirnya ada berita mengenai sebuah beasiswa. Karena tidak bisa membiayai kuliah, gadis ini berjuang untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Berkat usaha dan kerja kerasnya, beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya pun didapatkan oleh dirinya. Dengan penuh rasa bangga Claretta mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Bandung dengan membawa mimpi dan cita-citanya. Ia tidak lupa untuk menggunakan kalung pemberian pemulung itu. Ia pun memulai perjalanannya ke Bandung. Hanya dengan sisa uang tabungan hasil jualannya yang pas-pasan, ia pun berhasil sampai ke tujuan.  Saat di Bandung, ia teringat akan pemulung itu. Ia pun berpikir untuk bekerja sampingan sebagai pemulung agar bisa membayar biaya kuliahnya. Setelah berbulan-bulan menjadi pemulung, ia pun mulai meninggalkan pekerjaan tersebut dan memulai pekerjaan baru yaitu berjualan. Tentunya gadis ini mendapatkan banyak sekali hinaan terhadap dirinya, tetapi semua dilakukannya demi meraih cita-citanya. Tidak terasa bertahun-tahun sudah lewat dan hasil yang dikumpulkan gadis itu melalui berjualan sudah sangat banyak. Gadis ini memiliki hidup yang lebih layak dan hinaan yang didapatkannya tentunya berkurang. Orang-orang di sekitarnya pun mulai menyadari betapa hebatnya seorang Claretta. Mereka semua kagum akan dirinya dan kagum akan usaha serta kerja kerasnya.  Setelah lulus kuliah, gadis ini pun memutuskan untuk memulai perusahaannya sendiri. Setahun, dua tahun, tiga tahun pun lewat. Kini gadis itu sudah menjadi pengusaha yang sangat


110 sukses, hingga suatu hari ada seseorang  yang ingin mendaftar bekerja di perusahaannya. Awalnya gadis ini tidak mempedulikan hal ini dan meminta karyawannya untuk mengurusnya sampai ketika ia melihat sendiri orang yang ingin mendaftar kerja itu. Ternyata orang yang ingin mendaftar pekerjaan di perusahaannya ini adalah pemulung yang dulu sempat menolongnya dan memberinya kalung kesayangannya itu.  Tanpa ragu gadis itu langsung meminta laki-laki bernama Aska itu untuk bertemu dengannya. Saat laki-laki itu sudah berada di hadapan gadis itu, gadis itu tersenyum lalu bertanya, “Apakah kamu tidak mengenaliku?” Aska hanya melihat gadis itu dengan tatapan bingung dan lalu gadis itu berkata, “Bukankah kamu pernah mengatakan bahwa kita pasti akan bertemu lagi saat masing-masing sudah sukses suatu hari nanti?” Mendengar perkataan gadis tersebut, laki-laki itu hanya bisa menganggukkan kepalanya dan tersenyum bangga melihat gadis yang sempat ditolongnya itu. Gadis itu melepaskan kalung yang digunakannya lalu mengembalikannya kepada laki-laki itu. “Apakah kamu ingat ini? Ini adalah kalung pemberianmu yang masih kusimpan sampai sekarang. Jika bukan karenamu, aku bahkan tidak yakin masih bisa bertahan hidup sampai detik ini,” kata Carletta. Sejak hari itu, mereka pun bekerja sama untuk membangun perusahaan yang lebih besar dan membuat bisnis baru. Mereka menjadi salah satu pebisnis sukses di Bandung. Belajar dari pengalaman hidupnya bahwa gadis ini bisa putus dari rantai kemiskinan berkat pendidikan dan wirausaha, akhirnya mereka pun mendirikan sekolah bersama. Sekolah yang mereka dirikan bersifat gratis untuk anak yang miskin. Hal ini bertujuan untuk membantu anak-anak yang ingin mencapai mimpinya, tetapi tidak memiliki biaya yang cukup untuk melanjutkan sekolah karena mereka tahu


111 betapa sulitnya untuk mendapatkan pendidikan yang layak dengan ekonomi keluarga yang tidak mendukung.  Walaupun sekarang sudah sukses, Claretta masih tetap rendah hati. Selain menjadi pebisnis yang kaya raya, gadis ini juga menjadi seorang pembicara dan penasihat. Kisah hidupnya memberikan motivasi untuk para anak muda untuk terus berjuang meraih mimpinya. Walaupun dulunya ia banyak dirundung dan dihina, tetapi sekarang gadis ini bisa membuktikan bahwa dirinya lebih hebat dari apa yang dipikirkan orang-orang tersebut. Tanpa kedua orang tuanya, Claretta tetap berhasil untuk meraih citacitanya.  Orang yang hebat itu lahir melalui proses yang panjang dan penuh rintangan serta cobaan. Maka dari itu, jika kamu dirundung, dihina, disiksa, itu adalah petanda bahwa kamu akan menjadi seseorang yang hebat dengan catatan kamu harus sabar dan tidak menyerah. Selain itu, impian dan harapan yang besar akan menjadi motivasimu untuk tetap tegar. Tataplah masa depan cerah yang telah lama menantimu. Masa depan yang cerah tidak akan terjadi jika kamu tidak memiliki tekad yang kuat untuk mencapainya. Jadi, janganlah pernah menyerahkan mimpimu begitu saja. Percayalah bahwa jika kamu menggantungkan cita-citamu setinggi langit dan jika suatu saat kamu jatuh maka kamu akan jatuh di antara bintang-bintang.


112 Iri Hati Vanessa Gunawan/IX.5 J am dinding menunjukkan pukul 14.00. Terlihat sekelompok siswi yang sedang berbincang di kelas yang sudah kosong itu. Siswa-siswi yang lain sudah keluar dari kelas. Hanya tersisa empat orang siswi yang sedang asyik berbincang dengan sesamanya.  “Eh, kalian tahu tentang kosmetik yang lagi nge-trend itu gak sih?” tanya perempuan berambut pendek yang bernama Betris itu.  “Lip tint kan namanya?” sahut Janice.  “Oh.. Lip tint, aku punya loh! Mau lihat, gak?” sahut perempuan yang paling glamor di sekelompok itu. Ia bernama Alisa.  “Wah! Aku mau lihat dong Alisa,” sahut Betris.  Alisa menunjukkan kosmetik terbarunya yang terpoles sangat mengkilat dan juga warna luarnya yang merah pekat. Warnanya sangat indah.  Dari sisi lain, terlihat Lili sedang menatap teman-temannya yang asyik berbicara tentang kosmetik keluaran terbarunya Alisa itu. Saat melihat Alisa yang mampu membeli kosmetik mahal itu, dalam hati Lili mulai muncul perasaan iri. Ia merasa rendah karena tahu jelas bahwa keluarganya tidak mampu untuk membelikan barang-barang yang sangat glamor seperti kosmetik Alisa itu. Saat


113 teman-temannya masih asyik berbincang, mulai muncul pikiranpikiran yang tidak baik di benaknya. Lili berencana untuk mencuri kosmetik glamor Alisa karena keinginannya untuk terlihat keren di antara teman-temannya. Lili adalah seorang anak perempuan yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ia tinggal di pedesaan dengan rumah yang sangat sederhana dan kecil. Ayahnya bekerja sebagai seorang kuli bangunan dan ibunya adalah seorang penjahit. Sedangkan Alisa? Alisa adalah  seorang remaja perempuan yang sangat popular di sekolahnya. Nilai akademisnya juga tidak bisa ditandingi. Ia berasal dari keluarga yang sangat mampu. Rumahnya pun sangat mewah dilengkapi dengan marmer-marmer yang mahal.  *** “Bagaimana tadi sekolah?” tanya Nur, ibu Lili yang sedang membantu Lili menyediakan makanan malamnya.  “Ibu ingin tahu banget sih,” sahut Lili dengan ketus. Ibu dan ayah Lili terkejut mendengar anaknya yang berlakuan tidak sopan menjelang makan malam. “Ibu hanya bertanya kepadamu. Mengapa kamu sangat marah?” ucap Didi, ayah Lili.  “Ayah! Ibu! Mengapa kalian tidak bisa cari kerjaan yang lebih menguntungkan? Apakah aku harus jadi anak yang terlantarkan ini?” tanya Lili. “Loh? Lili, Ayah dan Ibu salah apa?” tanya ibunya. “Mengapa teman-temanku bisa mempunyai barang-barang bagus sedangkan aku tidak?” tanya Lili dengan nada tinggi. “Kamu tuh jadi anak harus bersyukur, Nak! Ayah dan Ibu kan juga lelah,” jawab ayahnya. “Ah, sudahlah! Ayah dan Ibu tidak mau mencoba untuk


114 mengerti aku,” kata Lili sambil bangun dan pergi ke kamarnya. Saat mendengar bahwa ayah dan ibu Lili tidak ingin memenuhkan kemauannya maka keinginan Lili untuk mencuri barang-barang bagus Alisa semakin menjadi-jadi.  *** Tibalah hari esok dan raja siang telah mengintip dari jendela Lili. Hari ini Lili sudah mempunyai strategi untuk mencuri kosmetik Alisa. Saat Lili sedang merapikan rambutnya di depan kaca, Lili berbicara kepada dirinya sendiri dan mengungkapkan perasaannya.  “Kalau ayah ibu tidak mau memenuhi keinginanku, akulah yang akan memenuhi kemauanku sendiri!” pikirnya. Lili berangkat ke sekolah dengan sepeda. Ayah ibunya tidak mampu untuk memiliki mobil. Kegiatan-kegiatan di sekolah mulai berjalan. Kegiatan itu dari pelajaran IPA, bahasa Indonesia, IPS, sampai istirahat pertama. Pada istirahat pertama, teman-teman sekelasnya pergi keluar kelas menuju kantin. Kerabat-kerabat Lili mulai menghampirinya. “Lili, ayo kita ke kantin! Kok kamu diam saja di meja,” kata Janice sambil tertawa.  “Oh, perutku tidak enak. Kalian pergi saja. Aku di sini saja tidak apa-apa kok,” jawab Lili. “Ya sudah kita pergi duluan, ya, Li,” sahut Alisa. Lili mengangguk dan membiarkan teman-temannya pergi ke kantin tanpanya.  Saat satu kelas sudah kosong, Lili mulai menghampiri meja Alisa. Lili mulai membuka tas Alisa dan jantungnya berdebar begitu kencang. Ia sangat takut ketahuan. Saat sedang sibuk mencari kosmetik tersebut, Lili juga menemukan bahwa Alisa mempunyai buku novel yang kelihatannya sangat seru. Modelnya


115 juga sangat bagus. Ia tak bisa tak mengambilnya. Lili menemukan banyak barang bagus. Lili tak terkontrol dan mengambil semua barang Alisa sampai memakan banyak waktu.  Lili terlalu sibuk untuk memenuhi kepuasannya sampai tibatiba terdengarlah tawa canda Janice, Betris, dan Alisa. Mereka sudah kembali dari kantin. “Eh, astaga! Lili kamu sedang melakukan apa?” tanya Betris yang terkejut. Alisa juga menyadari hal tersebut. Ia langsung terkejut dan tak bisa berkata-kata. Alisa mendatangi Lili dengan amarah yang tinggi.  “Lili! Apakah kamu tidak tahu sopan santun? Apa yang sedang kamu lakukan? Mencuri barang-barangku?” tanya Alisa dengan nada tinggi.  “Eh, Alisa e-enggak ini tadi barang-barangmu jatuh makanya aku perbaiki,” jawab Lili dengan gugup.  “Ya ampun Lili, kamu jika ingin berbohong yang cerdas dikit kali! Kamu pikir kami akan mempercayaimu?” sahut Betris. Seketika Lili merasa seperti jantungnya jatuh berkepingkeping. Ia tak percaya bahwa rencananya gagal. Dari ingin memamerkan pada temannya, ia menjadi mempermalukan dirinya sendiri. Lili tidak tahu harus melakukan apa, melainkan hanya menangis.  “Aku sangat iri kepada kalian semua. Aku berasal dari keluarga yang tidak mampu dan aku tidak punya barang-barang bagus seperti kalian! Jika kalian ingin membenciku ya sudah, tetapi aku juga tidak tahu harus apa sekarang. Aku sangat malu. Lebih baik kita tidak usah berteman lagi!” jawab Lili dengan tangisan.  Teman-temannya melihat Lili dengan tatapan kasihan. Mereka tidak tahu bahwa selama ini, itulah yang dialami Lili. “Lili, kami tidak memaklumi apa yang kamu perbuat karena


116 kami tahu itu salah. Tetapi mengapa kamu tidak bercerita dari awal bahwa kamu merasa rendah berteman dengan kami? Selama ini, kami tidak terlalu mempedulikanmu, kami meminta maaf,” jawab Alisa dengan lembut.  Lili terkejut akan tanggapan Alisa terhadap perbuatan yang diperbuatnya. Setelah berbuat sangat buruk, ia bingung mengapa Alisa menjawabnya dengan sangat lembut dan sabar.  “Aku malu Alisa. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa saja karena orang tuaku juga tidak bisa memenuhi apa yang kumau. Walaupun sekarang, aku sadar bahwa aku sangatlah egois,” jawab Lili.  “Maafkan aku teman-temanku. Aku telah berbuat sangat buruk,” kata Lili lebih lanjut. “Li, kami memaafkanmu. Kami meminta maaf selama ini kami tidak pernah mempedulikanmu,” ucap Janice.  “Kalian baik sekali. Aku sangat bersyukur mempunyai teman seperti kalian,” jawab Lili dengan tangisannya.  Akhirnya, mereka berpelukan bersama. Mereka memaafkan sesama mereka karena mereka tahu bahwa mereka semua adalah manusia biasa yang sedang belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Setelah berpelukan, mereka semua tertawa bersama. Mereka sadar bahwa kejadian ini merupakan peristiwa yang membuat mereka dapat belajar dari kesalahan-kesalahan mereka. 


117 Untuknya Keysia Hany Lim/IX.6 Chalondra Anindya atau yang lebih akrab dipanggil Chacha adalah seorang remaja yang ceria, pintar, mudah bergaul, dan penyayang. Chacha memiliki segalanya. Hidupnya begitu sempurna hingga bayangan kelam masa lalunya menghantuinya lagi. Suram, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisinya sekarang. Chacha yang awalnya ceria, kini telah berubah 180 derajat. Ia menjadi pemurung dan temperamental. Ia bahkan tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Segalanya telah berubah. Tidak ada lagi Chacha yang dulu. Di sisi lain, ada seorang remaja laki-laki bernama Elios MacQuoid. Elios adalah tetangga baru Chacha. Keluarga Elios baru saja pindah sekitar dua bulan yang lalu. Elios tumbuh dari keluarga yang berkecukupan. Wajah blasterannya bisa dikatakan cukup tampan. Ia pintar. Banyak orang menyukainya. Segala tentangnya dapat didefinisikan dengan kata sempurna, kecuali kondisi fisiknya. Kondisi fisik Elios yang lemah tidak memungkinkan Elios untuk berpergian tanpa kursi rodanya. Selain itu, ia juga telah kehilangan indra penglihatannya sejak lahir.  Sudah dua bulan semenjak Chacha mulai mengurung dirinya di dalam kamar. Kini, Chacha sedang duduk di dekat jendela kamarnya sambil menatap keluar jendela. Di dalam kondisi


118 kamarnya yang minim pencahayaan, Chacha menatap keluar jendela kamarnya. Ia menemukan seorang laki-laki yang terlihat begitu bahagia. Ya, itulah Elios! “Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Apakah ia tetangga baru yang kemarin malam mama ceritakan?” kata Chacha bermonolog. Chacha terus memperhatikan gerak-gerik Elios melalui jendela kamarnya. Chacha merasa ada suatu hal pada dirinya yang berbeda dengan Elios. Meskipun hari ini adalah hari pertamanya melihat Elios, Chacha bisa merasakan suatu hal yang spesial yang terpancar dari jati diri Elios. Ia bisa merasakan ada sekumpulan cahaya yang mengitari tubuh Elios. Elios yang selalu terlihat ceria, aura positifnya selalu terpancarkan kepada orang-orang yang berada di sekitarnya meski dengan kondisi fisik yang tidak bisa melihat dan juga lemah. Entah mengapa hal itu membuat Chacha tersenyum melihatnya. *** Hari-hari telah berganti. Setiap sore Chacha selalu melihat Elios yang melewati harinya dengan senyuman. Melihat tingkah laku Elios setiap harinya, Chacha menjadi begitu penasaran. Pertanyaan-pertanyaan selalu saja terpikirkan dalam benaknya, seperti bagaimana bisa seseorang dengan kondisi yang lemah seperti itu bisa melewati hidupnya tanpa beban. Chacha dengan rasa penasarannya, mulai menuruni tangga rumahnya. Ia keluar rumah untuk pertama kalinya setelah dua bulan. Begitu Chacha keluar gerbang rumahnya, ia langsung melihat Elios. Elios sedang duduk di kursi rodanya yang berada tepat di sebelah bangku kayu di bawah pohon mangga. Awalnya Chacha ragu untuk mendekat, tetapi rasa penasaran membuatnya berjalan lebih dekat menuju Elios.


119 “Hi! Kamu sedang apa?” sapa Chacha kepada Elios. Elios pun hanya tersenyum. Ia tidak menjawab Chacha sedikit pun. Hal ini membuat Chacha kebingungan.  “Hi! Nama aku Chacha, kamu Elios, kan?” Chacha mencoba kembali untuk menyapa Elios. Elios tetap tidak menjawab, tetapi kali ini ia mengisyaratkan Chacha untuk duduk di sebelahnya. Chacha yang kebingungan hanya mematuhi Elios dengan duduk di sampingnya. Mereka hanya diam. Tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba untuk membuka suara. Hanya suara angin sepoi yang memecah kebisingan antara mereka berdua.  “Ada yang ingin kamu sampaikan?” ucap Elios tiba-tiba. Chacha hanya diam saja. Ia bingung ingin menjawab apa terhadap pertanyaan Elios. “Jika kamu ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja,” ucap Elios meyakinkan. Chacha hanya terdiam. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin sekali disampaikannya kepada Elios. Tetapi ia berpikir, apakah Elios akan menjawab pertanyaan-pertanyaan bodohnya? Apakah Elios akan menganggapnya lancang karena menanyakan hal tersebut ketika mereka baru saja berkenalan? “Alasan mengapa aku terlihat begitu bahagia di kondisiku yang seperti saat ini? Apakah itu pertanyaanmu?” ucap Elios seolah-olah ia tahu apa yang ada di pikiran Chacha saat ini. Chacha mengangguk. Namun, ia sadar bahwa Elios pasti tidak bisa melihat jawabannya tadi. “Iya, semenjak pertama kali aku melihatmu melalui jendela rumahku, aku selalu bertanya-tanya mengapa kamu terlihat begitu ceria?” jawab Chacha kepada Elios dengan jujur. “Aku pernah bertanya kepada diriku. Mengapa banyak orang di luar sana yang begitu bahagia, padahal mereka tidak memiliki


120 apa-apa?” ucap Elios. “Apakah mereka bahagia karena bisa mendapatkan segala hal yang mereka inginkan? Tapi aku rasa jawabannya adalah tidak. Mereka bahagia karena mereka bisa bersyukur dengan apa yang mereka miliki sekarang. Memang terdengar sederhana, tetapi apakah banyak orang menyadarinya? Apakah banyak orang yang bersyukur dengan apa yang mereka miliki sekarang? Aku yakin masih banyak orang yang belum bisa bersyukur atas hal itu. Mereka begitu tamak. Ketika sudah memiliki sesuatu yang baik, mereka masih saja menginginkan hal yang lebih dari itu,” ucap Elios melanjutkan. “Ya, kamu bisa saja mengatakan hal seperti itu karena kamu memiliki segalanya, Elios. Sedangkan aku, aku hanyalah anak yang tidak berguna. Aku bahkan menghilangkan nyawa sahabatku sendiri. Sungguh teman yang tidak berguna. Memangnya kamu tidak pernah merasa seperti itu? Ingin memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang telah kamu miliki sekarang,” ucap Chacha sambil mengutuki dirinya sendiri. “Ya tentu saja. Aku juga pernah seperti itu. Aku selalu iri kepada orang-orang yang lebih baik daripada diriku. Sekarang berhentilah merendahkan dirimu seperti itu! Mungkin tanpa kamu sadari, banyak hal yang bisa kamu syukuri, seperti kamu memiliki keluarga yang memperhatikan kamu; kamu bisa berjalan dengan baik; kamu bisa melihat dengan baik. Bahkan kamu masih dapat diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bernapas dan menghirup udara segar. Bukankah itu sebuah anugerah?” tanya Elios kepada Chacha. “Aku pernah berpikir tentang bagaimana hidupku bisa menjadi lebih baik jika aku sendiri saja tidak pernah memberikannya kesempatan? Bagaimana bisa hidupku menjadi lebih baik jika aku tidak pernah berusaha untuk mengubahnya? Menurutku, kebahagiaan itu tidak susah untuk dicari, tetapi banyak orang yang


121 membuatnya menjadi lebih susah. Kebahagiaan datang ketika kamu bisa melakukan hal-hal yang kamu sukai dan ketika kamu bisa melewati hari-harimu dengan orang-orang yang kamu sayangi. Kebahagiaan bukanlah suatu hal yang sudah jadi, tapi itu berasal dari dirimu sendiri. Kamu tidak perlu sempurna untuk bahagia, dan yang menentukan kebahagiaanmu bukanlah orang lain, tetapi dirimu sendiri!” lanjut Elios. “Aku memang tidak tahu apa yang telah kamu lewati selama ini. Namun, setidaknya jika kamu merasa tidak berharga di mata orang lain, kamu bisa membuat dirimu menjadi lebih bermakna. Aku ingin kamu tahu satu hal. Aku ingin kamu tahu bahwa ada orang yang akan menganggapmu berharga. Contohnya aku. Di dunia ini hanya ada satu kamu dan kamu tidak akan tergantikan. Jangan biarkan orang lain mengatakan sebaliknya kepadamu. Dibandingkan dengan kamu yang terus berada di dekat mereka dan membuat dirimu sendiri tersiksa, lebih baik kamu pergi dari hadapan mereka dan lihat apa yang terjadi. Mereka boleh tidak menghargai keberadaanmu, tapi mereka menghargai juga ketidakberadaanmu,” sambung Elios.  Kata-kata Elios sanggup mengubah wajah Chacha hingga merah merona. Apa yang dikatakan Elios ada benarnya. Ia terus menjalani hidupnya dengan sia-sia hanya karena trauma masa lalunya. Toh, hal itu sudah lewat. “Kamu pantas untuk bahagia, Cha. Jangan biarkan orang lain merenggut kebahagiaanmu! Hidup hanya datang satu kali dan tidak akan ada satu orang pun yang tahu kapan mereka akan pergi meninggalkan dunia ini. Aku ingin kamu tahu kalau kita semua harus selalu menghargai orang yang berbagi waktu dengan kita karena orang itu tidak akan selalu ada di sisi kita. Kamu boleh bersedih, tapi bukan berarti kamu bisa bersedih terlalu lama dan menyiakan-nyiakan waktu dengan orang di sekitarmu. Karena itu, mulai dari sekarang dan sebelum terlambat, jangan lupa sampaikan kepadanya betapa berarti kehadirannya dalam hidup kita! Sampai


122 hari itu datang, jalanilah hidupmu dengan bahagia! Lakukan halhal yang membuatmu bahagia! Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari!” ucap Elios mengingatkan. “Orang tuamu tidak salah memilih nama. Elios berasal dari kata Helios. Helios merupakan dewa matahari. Ia membawa matahari dari timur ke barat setiap harinya. Nama itu sangat pantas disematkan untukmu. Kamu adalah matahari bagi orang-orang di sekitarmu. Kamu selalu membawakan cahaya terang bagi mereka semua, termasuk aku,” ucap Chacha sambil tersenyum. “Elios, kamu tahu? Dari dulu aku ingin sekali bisa menciptakan lagu untuk sahabatku,” ucap Chacha. “Lagu? Mengapa harus lagu?” tanya Elios penasaran. “Elios, kira-kira kalau kamu ingin menyampaikan sesuatu kepada seseorang yang sangat jauh, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Chacha. “Orang yang jauh? Maksud kamu seperti LDR? Sekarang zaman sudah maju. Aku rasa aku akan menghubunginya lewat media sosial,” jawab Elios. “Maksudnya bukan jauh yang seperti itu. Maksudku, tempat yang sangat jauh adalah tempat yang tidak akan bisa kamu gapai ataupun kunjungi selama hidupmu. Kalau aku, aku akan mentitipkannya kepada angin. Semua yang ingin kusampaikan, semua yang ingin aku ceritakan, kutuliskan dalam sebuah surat. Lalu, akan kulipat dan kujadikan pesawat kertas. Kemudian, kutitipkannya lewat angin,” ungkap Chacha. “Memang terdengar kuno, tapi itu satu-satunya cara yang bisa kupikirkan. Aku cuma bisa berharap semoga suatu hari suratsurat itu bisa tersampaikan. Tapi, ya, karena dibawa angin selalu ada kemungkinan untuk suratnya basah terkena hujan atau bahkan jatuh ke laut. Karena itu, aku ingin coba satu cara lagi!” ucap Chacha selanjutnya dengan yakin. “Aku ingin mencoba lewat musik. Banyak orang yang


123 mengatakan bahwa musik itu universal. Siapa saja bisa mendengarkannya. Hal ini membuatku percaya bahwa musik dapat menyampaikan perasaanku, baik kepada orang yang berada di hadapanku ataupun orang yang ribuan mil jauhnya. Dan juga kepada temanku yang telah tiada,” ucap Chacha dengan senyuman. *** Malam setelah Chacha bercakap-cakap dengan Elios, Chacha bisa tidur dengan nyenyak hingga terbawa mimpi. Ia bermimpi bertemu dengan teman lamanya, Marsha. Marsha dan Chacha bermain bersama di taman bermain. Mereka bermain bersama seakan dunia milik mereka berdua dan seolah-olah tiada hari lain untuk bersenang-senang. Ketika Marsha ingin pergi meninggalkan Chacha, Chacha mulai menangis. Chacha mengungkapkan segala isi hatinya kepada Marsha.  “Chacha, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri! Hal yang sudah berlalu, biarkan berlalu. Jika aku diberikan satu kali lagi kesempatan untuk mengulang segalanya, aku pasti akan memilih untuk tidak mengubahnya sedikit pun. Aku merasa sangat bahagia ketika aku masih bisa diberikan kesempatan untuk dapat mewujudkan mimpiku. Semua itu terwujud karena kamu, Cha. Semua itu karena kamu. Kamu yang mengajarkanku arti pertemanan dan mengatakan bahwa dunia ini begitu indah dan menyenangkan,” ucap Marsha sambil tersenyum kepada sahabatnya itu. “Berjanjilah kepadaku untuk selalu menjalani hidupnya dengan bahagia. Jalani hidupmu tanpa penyesalan. Jika kamu bertemu dengan mamaku, sepertinya kamu sudah tahu apa yang harus kamu sampaikan kepadanya, bukan? Tolong sampaikan itu dan katakan bahwa aku sangat menyayanginya!” ucap Marsha sebagai salam perpisahan mereka.


124 Setelah Marsha mengatakan itu, Chacha terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum. Ia berjanji kepada dirinya sendirinya untuk melakukan pesan terakhir sahabatnya itu. Ia berjanji untuk menjalani hidupnya dengan bahagia. *** Tiga bulan telah berlalu semenjak hari terakhir Chacha masuk sekolah. Setelah berbincang-bincang dengan Elios kemarin sore, beban di hati Chacha menjadi berkurang. Hari ini ia memutuskan untuk kembali masuk sekolah. Teman-teman Chacha beserta para guru menyambut kehadiran Chacha dengan hangat. Mereka sangat senang dengan kehadiran Chacha, kecuali satu orang. Orang itu adalah Naya. Naya merupakan Ibu dari Marsha.  “Anak tidak tahu diri! Karena kamu, aku harus kehilangan anakku satu-satunya. Sekarang setelah kamu menghilangkan nyawa seseorang, kamu masih bisa tersenyum bahagia seperti ini? Keterlaluan!” ucap Naya dengan penuh emosi kepada Chacha. “Ya, seperti yang pernah dikatakan Elios. Aku boleh bersedih, tapi tidak berlarut-larut. Aku harus bangkit. Marsha saja bisa memaafkan aku, mengapa aku tidak memaafkan diriku sendiri? Ya, Chacha kamu harus berubah! Di mana Cha-cha yang dulu?” ucap Chacha dalam hati. “Maaf, Tante jika saya lancang. Tetapi, bukan hanya Tante yang menderita selama ini. Aku juga, Tante. Setiap hari aku selalu dirundung rasa bersalah dan penyesalan. Tapi aku tidak bisa mengubah takdir. Kesalahan yang sudah terjadi di masa lalu tidak akan bisa diubah. Permintaan maaf tidak akan bisa mengubah masa lalu. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri dan juga tak pernah pantas untuk dimaafkan. Akan tetapi, aku merasa bukankah lebih baik untuk berdamai saja sekarang? Tante tidak harus memaafkan aku, tetapi saku memiliki satu permintaan untuk


125 Tante. Cobalah berdamai dengan diri sendiri. Dengan begitu, Tante akan merasa lebih bahagia. Oh, iya, sebelum aku lupa. Marsha pernah mengatakan kepadaku bahwa Marsha sangat menyayangi Tante,” ucap Chacha kepada Naya. Secara tiba-tiba, Chacha memeluk Naya dengan erat. Ia memeluknya sambil mengatakan hal-hal yang sudah begitu lama ia inginkan untuk menysampaikannya kepada Naya.  *** Sejak saat itu, Naya mulai berdamai dengan dirinya dan juga dengan masa lalu. Memang Naya belum bisa memaafkan Chacha sepenuhnya, tetapi paling tidak mereka hidup dengan rukun sekarang. Tak hanya itu, satu per satu mimpi Chacha mulai terwujud. Senyuman bangga dapat terlihat jelas pada wajah Marsha dan Elios dengan pencapaian Chacha. Satu tahun telah berlalu dan hidup Chacha kini sudah menjadi jauh lebih baik. Setelah berusaha sangat keras, akhirnya lagu ciptaannya itu telah selesai dibuat. Chacha menamakan lagunya dengan judul “Untuknya.” Chacha sangat menyukai lagu ciptaannya ini. Tetapi, mengapa harus “Untuknya”? Ya, itu karena lagu ini spesial diciptakan Chacha untuk sahabatnya yang sangat disayanginya, Marsha. Tetapi seiring berjalannya waktu, tujuan utamanya berubah. Yang awalnya hanya untuk Marsha, kini, lagu itu akan dipersembahkannya kepada orang-orang yang membuatnya dapat berdiri tegar sampai saat ini yakni orang-orang yang sangat berarti di dalam hidupnya. Ia mempersembahkan lagu ini untuk orang-orang yang mengajarkan arti kehidupan kepadanya, arti dari persahabatan, dan juga arti dari kebahagiaan. Chacha ingin menyampaikan seberapa besar rasa terima kasihnya kepada


126 orang-orang itu melalui lagu ini. Itulah mengapa, ia menamakan lagu ini “Untuknya.” Melalui lagu ini, Chacha berharap bahwa makna dari lagunya ini dapat tersampaikan kepada banyak orang. Selain sebagai pelepas rasa rindunya kepada Marsha dan juga permintaan maafnya, Chacha juga ingin orang lain sadar bahwa eksistensi mereka di dalam dunia ini sangatlah berharga. Tidak ada orang yang bisa menganggap dirinya lebih tinggi ataupun lebih rendah karena derajat kita semua sama di mata Tuhan. 


127 Utamakan Kejujuran Monica Kayana Sasmita/IX.6 Kaia adalah gadis yang duduk di kelas VIII Sekolah Fajar Sadik. Sejak kecil, ia ingin sekali menjadi penulis yang hebat. Karyanya pun ditulis seperti penulis profesional. Ia sudah memenangkan banyak lomba menulis di sekolahnya. Selain menjadi penulis yang karyanya sering kali menang, ia juga teman yang baik hati, sopan, dan ramah kepada semua orang. Ia juga memiliki nilai yang bagus dalam semua pelajaran dan selalu mengumpulkan tugas tepat waktu. Kaia mempunyai sahabat baik yang bernama Alexandria yang biasanya dipanggil Ria. Keduanya memiliki hobi yang sama yaitu membaca dan menulis. Mereka selalu melakukan segala hal bersama. Keduanya sering berkumpul di rumah Kaia. Pada suatu hari, sekolah mengumumkan bahwa akan diadakan berbagai lomba dalam beberapa hari ke depan. Salah satunya adalah lomba menulis cerita fiksi. Pemenangnya akan dibacakan ke seluruh sekolah dan mendapatkan uang sebagai hadiah. Dengan penuh semangat Kaia dan Alexandria segera mendaftarkan diri.  “Kaia, kamu sudah tahu mau nulis tentang apa?” tanya Alexandria yang sedang menulis namanya agar bisa mengikuti lomba.


128 “Tentu sudah dong! Kamu sudah, Ria?” Kaia bertanya. “Belum. Aku belum tahu nih!” kata Alexandria dengan ekspresi sedih. “Oh, tidak apa-apa! Nanti kamu pasti dapat ide! Aku juga bisa bantu, Ria,” kata Kaia sambil tersenyum. Alexandria juga tersenyum. Ia sangat bersyukur mempunyai sahabat sebaik Kaia. Lalu, keduanya pergi ke ruang kelasnya karena jam istirahat sudah berakhir. *** Keesokan harinya seperti hari biasa, matahari terbangun dari tidur, siap menyambut semua orang. Kaia dan Alexandria berjalan bersama menuju sekolah. Saat mereka sampai di sekolah, mereka menunggu di ruang kelas. Mereka menunggu 30 menit sampai Bu Guru dating dan siap mengajari kelasnya. “Perhatian, anak-anak. Aku ada pengumuman. Kalian pasti tahu bahwa sekolah mengadakan lomba. Salah satunya adalah lomba menulis cerita fiksi. Aku berharap banyak yang mengikuti lomba, ya,” kata Bu Guru sambil menulis pengumumannya di papan tulis. Beberapa murid mengangguk; beberapa berkeluh; beberapa hanya bisa diam. “Kaia, Alexandria, apakah kalian sudah mendaftarkan diri? Aku tahu kalian sangat gemar menulis,” kata Bu Guru sambil menatap Kaia dan Alexandria dan menunggu jawaban. “Sudah, Bu,” jawab Kaia dan Alexandria bersamaan. Namun, Alexandria kelihatan sedih. Ia memaksakan senyum. Ia kecewa karena sampai saat ini, ia belum mendapat ide untuk cerita fiksinya. “Wah, bagus sekali, Nak! Semoga kalian menang,” kata Bu


129 Guru sambil mengacung jempol. *** Lonceng sekolah berdering dengan nyaring. Sekolah sudah selesai. Banyak murid bergegas keluar sekolah. Mereka berlari secepat kilat. Kedua sahabat itu bersama-sama berjalan pulang menuju rumah Kaia.  Sambil berjalan pulang, Kaia memperhatikan ekspresi temannya yang kelihatan murung sejak pelajaran pertama. Ia terpaksa bertanya. “Ria, ada apa? Kamu dari tadi sedih terus. Ada apa?” tanya Kaia khawatir. “Sampai saat ini, aku masih belum tahu mau nulis apa. Kok bisa, ya? Padahal aku biasanya mendapat ide dalam waktu pendek,” kata Alexandria bingung dan menggaruk kepalanya. “Jadi itu yang kamu khawatirkan selama ini?” kata Kaia yang ikut bingung dan alisnya naik. Alexandria mengangguk. “Ayolah, jangan sedih! Aku janji akan bantu nanti di rumah,” kata Kaia berjanji kepada Alexandria. *** Akhirnya, mereka sampai di rumah Kaia. Rumah tersebut cukup besar dan terlihat indah. Walaupun tampilan depan rumahnya cukup sederhana, tetapi tetap unik. Temboknya berwarna biru dan putih. Ada empat jendela dan di sebelahnya ada pot bunga yang disusun dengan rapi. Ketika keduanya masuk, ibunya Kaia langsung menyambut mereka dengan muka gembira. Ia membawa dua cangkir berisi teh hangat untuk Kaia dan Alexandria. Ia sangat peduli dan sabar terhadap mereka. Setelah beberapa percakapan dengan ibunya


130 Kaia, mereka pergi ke kamar Kaia untuk mengerjakan tugas dan menyiapkan lomba besok. Kaia dan Alexandria sibuk berdiskusi tentang cerita fiksinya. “Temanya bebas, jadi kamu boleh tulis apa saja. Aku menulisnya seperti ini. Kamu boleh lihat sebentar. Kalau sudah, tolong diletakkan di mejaku. Aku mau ke kamar mandi dulu, ya,” kata Kaia sambil menunjuk ke bukunya yang berisi cerita fiksi untuk lomba. Saat Kaia sedang pergi ke kamar mandi, Alexandria mengamati cerita yang telah ditulis temannya. Menurut Alexandria, ceritanya ditulis dengan baik dan rapi. Ia sangat yakin cerita tersebut pasti bisa mendapatkan posisi juara pertama. Kemudian, dengan pelanpelan, ia mengambil buku Kaia dan meletakkan di tasnya. *** Pada hari lomba, semua murid dan guru sangat antusias. Mereka duduk di dekat area lomba dan bersorak-sorak. Tempatnya ramai serta penuh dengan orang yang menyemangati para peserta. Ada banyak lomba yang menarik sehingga banyak orang yang ikut. Dari kejauhan Kaia melihat sahabatnya. Ia melambaikan tangannya kepada Ria.  “Ria! Apakah kamu sudah mengumpulkan ceritamu?” tanya Kaia yang sedang mengamati keramaian di tempat lomba.  “Aku baru saja mengumpulkannya! Kalau kamu, Kaia?” jawab Alexandria. “Oh, aku juga! Aku belum baca ceritamu, tetapi aku tahu pasti bagus sekali!” ujar Kaia. Alexandria hanya bisa memberikan setengah senyum. 


131 *** Semua lomba sudah selesai dan para juri sedang menilai hasil-hasil yang dibuat peserta. Semua siswa sedang beristirahat di kantin. Mereka tidak sabar menunggu hasil dari para juri. Setelah satu jam, juri-juri siap mengumumkan pemenangnya. Semua murid duduk di depan juri dan siap mendengarkannya.  “Untuk lomba cerita fiksi, juara pertama adalah Alexandria Manulu! Selamat! Nama-nama pemenang yang sudah saya sebut, silakan temui aku di kantor lantai dua untuk hadiahnya setelah ini. Terima kasih kepada para peserta yang telah mengikuti lomba dengan baik. Terima kasih juga kepada penonton yang terus menyemangati para peserta! Sekarang aku akan membacakan karya pemenang lomba menulis cerita fiksi yaitu karya Alexandria,” ucap kepala sekolah. Kaia merasa bahagia bahwa sahabatnya menang. Ia langsung memeluk Alexandria dengan senyum yang lebar dan mengucapkan selamat kepadanya. Kemudian, kepala sekolah mulai membaca karya Alexandria. Saat mendengarnya, mata Kaia mulai membesar. Ia merasa ceritanya sangat mirip dengan ceritanya. Semua kata sama dengan apa yang ditulis Kaia. Kaia bingung. Ia beralih ke Alexandria yang mukanya berubah menjadi merah. “Ria … kamu … menjiplak ceritaku? Semuanya sama dengan ceritaku!” teriak Kaia dan senyumnya memudar. “Maaf, Kaia. Ya, benar, tapi, tunggu! Kamu harus dengarkan aku! Aku tidak ada ide dan aku harus menang!” kata Alexandria membantah dengan mukanya memerah. “Apa? Hah, mengapa kamu harus menjiplak ceritaku? Mengapa tidak kamu tulis sendiri? Tidak mungkin kalau kamu tidak ada ide. Kamu hanya tidak mau berpikir! Aku memberi bukuku dengan harapan kamu mendapat inspirasi, agar ceritaku bisa membantumu mendapat ide! Bukan untuk disalin semuanya!” kata Kaia.


132 Ia sangat marah kepada sahabatnya. Ia tidak mengerti mengapa Alexandria harus menjiplak ceritanya. Walaupun tempatnya berisik, semua orang bisa mendengar percakapan Kaia dan Alexandria karena percakapannya sangat keras.  “Permisi, Kaia dan Alexandria. Aku sedang membaca ceritamu, Alexandria. Ada apa? Mengapa kalian saling membantah?” tanya kepala sekolah. Ia merasa terganggu karena percakapan kedua muridnya yang sangat keras.  Keduanya menghampiri kepala sekolah. Kaia memberitahu kepala sekolah apa yang terjadi. Mendengar ini, kepala sekolah memutuskan konsekuensinya adalah Alexandria tidak menjadi pemenang juara pertama. Hadiahnya diberikan kepada Kaia dan nilai Alexandria akan dikurangi. Ia juga meminta maaf karena tidak memeriksa ulang dan tidak bertanya mengapa ada dua cerita yang sama.  *** Satu minggu sudah berlalu dan sejak mengetahui sahabatnya menjiplak cerita Kaia, ia menjauhi Alexandria dan sering menghabiskan waktu dengan teman yang lain. Alexandria merasa bersalah dan sudah meminta maaf kepadanya berkali-kali, tetapi tidak pernah diterima olehnya. Kaia tidak mau mendengarkan alasan mengapa ia menjiplak karyanya. Ia sudah tidak menganggap Alexandria sebagai temannya. Ketika berjalan pulang, tiba-tiba Kaia diam-diam menangis. Ia teringat akan Alexandria yang biasa berjalan pulang dengannya. Tetapi, ia teringat apa yang dilakukan Ria sehingga membuatnya tidak ingin berteman lagi dengan Ria. Kaia cepat-cepat menghapus air matanya dan pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah, ia


133 bergegas ke kamarnya, membanting pintu di belakangnya dengan keras. Ibu Kaia melihat betapa kesal anaknya sejak minggu lalu. Dengan perlahan-lahan ia membuka pintu kamar dan mendekati Kaia. “Nak, sampai kapan kamu marah sama Ria? Kamu harus belajar memaafkannya. Kamu tahu ia sungguh-sungguh meminta maaf. Ibu tahu kamu merindukannya. Alexandria pun juga merindukanmu,” ujar Ibunya Kaia. Ia berusaha menghibur Kaia. “Aku tidak akan mengampuninya! Aku benci dia! Ia sudah tahu plagiarisme. Itu tidak diperbolehkan! Kalau ia sungguhsungguh ingin menang, ia bisa menanyakannya kepadaku! Ia tidak perlu menjiplak karyaku. Aku tahu aku sudah menang pada beberapa lomba menulis, tetapi bukan berarti ia bisa menjiplak semaunya. Ia juga tidak mungkin tidak punya ide! Ia hanya melakukan ini untuk menyakiti perasaanku,” protes Kaia. Menurutnya, apa yang dilakukan Alexandria adalah tidak adil. “Ibu tahu, Kaia. Tapi, kamu tidak bisa terus membencinya. Kamu juga belum tahu alasan mengapa ia menjiplak ceritamu. Alexandria pasti ada alasannya, Kaia. Tidak mungkin ia melakukannya untuk menyakiti kamu. Kamu harus berusaha mendengarkannya,” kata Ibu Kaia sambil memeluknya. *** Sesudah beberapa kata bijak dari ibunya, akhirnya Kaia memutuskan untuk mendengarkan alasan Alexandria keesokan harinya. Ia memberikan Ria kesempatan kedua. Keesokan harinya, ia bertemu dengan Alexandria yang sedang membaca buku di perpustakaan. Tanpa menunggu, ia bertanya kepadanya, mengapa ia menjiplak ceritanya.


134 “Maaf, Kaia. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak berani memberitahukan kamu. Aku menjiplak ceritamu sebab aku sangat membutuhkan hadiahnya yaitu uang. Aku tidak pernah memberitahu siapa pun tentang ini, tetapi keluargaku tidak mampu membayar uang sekolah. Dengan uang itu, aku bisa membayar uang sekolahku sendiri. Jika keluargaku tidak bisa membayar uang sekolahku, aku tidak akan bisa bertemu kamu lagi,” jawab Alexandria. Ia melihat ke bawah, terlalu malu untuk menghadap Kaia. Kaia tidak bisa berkata-kata. Ia sama sekali tidak menyangka Ria mempunyai masalah untuk membayar uang sekolah. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia berusaha menahan air mata, namun air matanya sudah mengalir di pipinya. Ia merasa sangat sedih karena temannya mengalami kesulitan tanpa sepengetahuannya. “Maaf, Alexandria. Aku seharusnya tidak memperlakukan kamu seperti itu sebelum mendengar alasanmu. Tentunya aku memaafkan kamu, tapi lain kali, kamu harus jujur. Jika kamu memberitahuku lebih awal, aku pasti akan membantumu. Keluargaku bisa membantu kamu. Kamu seharusnya tidak perlu malu. Masalah kamu menjadi masalah aku juga. Kita akan menyelesaikannya bersama. Aku selalu akan menjadi temanmu, apa pun yang terjadi,” kata Kaia dengan yakin. Keduanya menangis, terharu pada apa yang diucapkan keduanya. Mereka kemudian saling berpelukan. Sejak itu, mereka sekarang berjanji untuk saling jujur kepada satu sama lain dan saling bantu jika ada yang kesusahan.


135 Si Bermuka Dua Angel Nathania Christian/IX.7 Pada suatu hari, ada seorang murid bernama Zania. Ia mempunyai keluarga yang sangat menyayanginya dan penuh perhatian kepadanya. Tidak hanya itu. Zania terkenal di antara kalangan murid sebagai murid yang sangat baik hati. Karena itu, Zania memiliki banyak teman di sekolahnya. Tetapi mereka tidak tahu bahwa Zania memiliki muka lain di balik muka pajangan yang dilihat oleh para murid.  “Zan! Waktunya sekolah. Ayo bangun!” teriak ibu Zania. “Ya, Bu! aku siap-siap dulu, ya!” jawab Zania. Zania pun mandi dan mempersiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah.  “Zan, mau sarapan dulu tidak?” tanya ibu Zania. “Tidak, aku tidak lapar, Bu,” jawab Zania. Zania pun pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Zania langsung menemui temannya yang bernama Sarah.  “Hai Sarah! Apa kabar?” tanya Zania dengan tersenyum. “Baik! Eh, ayo masuk kelas dulu. Sudah mau bel, nanti keburu telat!” kata Sarah. Mereka pun buru-buru masuk ke kelas dan memulai pelajaran mereka dengan tepat waktu. Beberapa jam kemudian,


Click to View FlipBook Version