The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Antologi ini memuat puisi dan cerpen karya siswa SMP Pahoa. Kata-kata indah dalam puisi akrostik ditulis berdasarkan nama siswa yang menuliskan puisi tersebut.
Setiap baris dan bait dirangkai hingga membentuk suatu puisi yang menarik dan bermakna. Karya cerpen yang ditulis juga menampilkan berbagai kisah menarik dengan imajinasi dan kreativitas para siswa. Semoga para pembaca bisa mendapatkan inspirasi dan motivasi dari berbagai puisi dan cerpen dalam antologi ini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Pahoa, 2023-01-16 21:57:42

Sahabat baikku

Antologi ini memuat puisi dan cerpen karya siswa SMP Pahoa. Kata-kata indah dalam puisi akrostik ditulis berdasarkan nama siswa yang menuliskan puisi tersebut.
Setiap baris dan bait dirangkai hingga membentuk suatu puisi yang menarik dan bermakna. Karya cerpen yang ditulis juga menampilkan berbagai kisah menarik dengan imajinasi dan kreativitas para siswa. Semoga para pembaca bisa mendapatkan inspirasi dan motivasi dari berbagai puisi dan cerpen dalam antologi ini.

Keywords: Sahabat baikku

136 mereka pun selesai sesi pembelajarannya dan memasuki waktu makan pagi, yaitu jam 10 pagi.  “Eh, Zania! Kamu sudah mengerjakan PR IPS yang diberikan oleh guru belum?” tanya Sarah. “Hah, kita ada PR IPS?” tanya Zania  “Iya! Kamu belum kerjakan?” kata Sarah. “Aduh belum!” kata Zania. “Lah, cepat kerjakan sekarang!” kata Sarah. “Kamu boleh tolong kerjakan PR aku tidak? Aku sedang makan ayam goreng. Tanganku kotor,” kata Zania. “Kamu ’kan tinggal bersihkan tanganmu dulu baru kerjakan PR. Maaf, ya, tapi aku tidak akan mengerjakan PR- mu, karena itu PR kamu sendiri. Tapi kalau kamu mau aku bantu, aku pasti akan bantu!” kata Sarah. “Cih, pelit amat, tidak mau kerjakan PR orang,” kata Zania dalam hati. “Ehmm maaf, ya, Sarah. Aku sudah tidak lapar lagi. Aku sudah-an dulu, ya! Mau kerjakan PR juga,” kata Zania. “Mengapa tidak kita kerjakan bersama saja? Kan bisa lebih cepat!” kata Sarah. “Tidak apa-apa! Aku bisa sendiri kok! Aku kerjakan sendiri saja. Kalau kerjakan sendiri, hasil nilai PR-nya jadi hasil dari usaha diri sendiri. Kalau dibantu sama kamu, nanti hasil nilainya jadi separuh dari usaha kamu juga!” kata Zania beralasan. “Wah, aku kagum kepada kamu. Kamu ingin berusaha sendiri walaupun waktunya mepet! Ya sudah, nanti bertemu lagi di kelas, ya! Jangan lupa jam 10.30 sudah harus masuk kelas!” kata Sarah. Zania pun pergi menjauh dari Sarah dan mencari teman lain yang bernama Siska. Siska sedang makan sendiri dan ketika Siska melihat Zania, Siska pun menyapanya.


137 “Hai Zania!” sapa Siska. “Hai Siska! Apa aku boleh makan bersamamu?” tanya Zania. “Oh tentu boleh! Aku juga tidak ada teman untuk makan bersama juga,” jawab Siska. “Oke! Aku akan jadi teman makan bersamamu!” kata Zania sambil tersenyum “Oke, kamu memang yang terbaik!” puji Siska sambil senyum balik. Mereka berbicara sambil makan. Lalu beberapa saat kemudian, Zania memulai topik percakapan baru. “Ehmm.. Siska, aku ada PR IPS yang lupa aku kerjakan. Apakah kamu boleh kerjakan PR IPS-ku? Kamu kan hebat dalam pelajaran IPS dan aku juga sudah pernah meminjamkan kamu pensil dan penghapus,” tanya Zania. “Hmmm, ya sudah. Mana PR-mu?” kata Siska. Zania pun menyerahkan PR IPS-ya ke Siska, lalu Siska pun mulai mengerjakan PR IPS Zania. Siska mengerjakan PR IPS Zania dengan cepat karena Siska sangat menyukai IPS dan selalu mendapatkan nilai 100 ketika ulangan IPS. Beberapa menit kemudian, Siska pun selesai mengerjakan PR IPS Zania. “Nih, Zan, aku sudah selesai mengerjakannya,” ujar Siska. “Oke, makasih, ya, Siska!” kata Zania sambil tersenyum. “Sama-sama!” kata Siska sambil senyum balik. Lalu Zania melihat jam yang tergantung di tembok sekolah. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10.40 pagi. Zania sadar bahwa dirinya sudah telat dalam mengikuti pelajaran IPS sehingga ia mengucapkan selamat tinggal ke Siska, lalu lari ke kelasnya. Ketika sampai di depan pintu kelasnya, ia melihat guru IPS sedang mengajar di kelas. Zania pun mengetuk pintu kelas. Guru IPS mendengar ketukan pintunya dan menyuruhnya masuk. Zania pun masuk ke ruangan kelas dengan wajah sedih.


138 “Zania, tidak biasa kamu datangnya telat. Mengapa kamu datangnya telat?” tanya guru IPS. “Maaf, Pak. Tadi aku sedang membantu seorang siswa. Siswa tersebut jatuh dan aku antarkan ke UKS,” jawab Zania. “Oh, seperti biasa, kamu memang siswa yang baik hati. Baiklah. Bapak persilakan kamu masuk tanpa ada hukuman,” kata guru IPS sambil tersenyum. Zania pun masuk ke kelas, lalu duduk di kursi sambil mendengarkan guru IPS kembali mengajar pelajaran. Di akhir sesi guru IPS menyuruh siswa untuk menyerahkan PR IPS yang telah diberikan kemarin. Zania menyerahkan PR IPS-nya dengan tenang. Saat pulang sekolah, Sarah menemui Zania dan mendekatinya untuk mengajaknya berbicara. “Zan, apakah kamu sudah selesai menjawab semua soal di PR IPS?” tanya Sarah. “Sudah dong, tanpa bantuan siapa-siapa lagi,” jawab Zania sambil menyombong-nyombongkan diri. “Wah, kamu hebat sekali, Zan! Eh, Zan, kamu memangnya membantu siswa yang jatuh? Siapa nama siswanya? Pasti kamu sudah berteman baik dengannya. Aku juga ingin mempunyai lebih banyak teman,” tanya Sarah. “Ehmm, itu, aku ada membantu siswa, tapi… aku lupa menanyakan namanya,” kata Zania sambil mencari-cari alasan. “Oh, kalau begitu, tidak apa-apa. Sudah ya, aku mau pulang dulu. Sampai bertemu besok!” kata Sarah sambil melambailambaikan tangan. Sarah pun pergi menjauh dari Zania dan beberapa lama kemudian, Zania berbisik ke dirinya sendiri. “Aduh, mengapa Sarah menanyakan masalah murid yang kubantu. Ia mau berteman dengan murid yang kubantu? Haha, ia kan tidak terlalu bisa bergaul. Temannya hanya ada aku,” kata


139 Sarah dalam hati. Keesokan harinya, seperti biasa, Zania mempersiapkan dirinya, lalu berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Saat sampai di sekolah, Zania menghampiri Sarah dan mengobrol dengannya. Lalu mereka ke kelas dan belajar seperti jadwal biasa. Tetapi sejak hari itu, hari ketika Sarah tidak ingin mengerjakan PR Zania, Sarah merasa bahwa Zania semakin bertingkah aneh kepadanya, seperti terpaksa mengobrol dan bergaul dengannya. Sarah semakin khawatir akan Zania, sehingga pada suatu hari, saat waktu sarapan pagi, Sarah berhasil mendapatkan keberanian untuk bertanya kepada Zania. “Hei Zania, apa kamu tidak apa-apa?” tanya Sarah dengan pelan. “Aku tidak apa-apa. Mengapa kamu bertanya seperti itu ke aku?” jawab Zania dengan nada sedikit marah. “Ehmm, apa kamu bosan dengan aku? Atau apakah kamu tidak ingin lagi berteman denganku? Kamu bilang saja, aku akan menerimanya, kok,” kata Sarah dengan suara gemetar. “Tentu saja tidak! Kamu teman yang baik, bagaimana bisa aku bosan kepada kamu? Mengapa kamu menanyakan itu?” kata Zania sambil tersenyum terpaksa. “ I-itu, aku merasa bahwa kamu seperti terpaksa mengobrol denganku, seperti ingin aku cepat-cepat menjauh dari pandanganmu,” kata Sarah dengan sedih. “Tidak kok! Sejak kapan aku seperti itu. Kamu adalah sahabatku satu-satunya yang terbaik di dunia!” kata Zania dengan tersenyum ceria, tetapi sebenarnya terpaksa. “Aww, terima kasih ya! Kamu sudah menjawab kekhawatiranku. Kamu memang sahabat yang sejati!” kata Sarah sambil tersenyum balik dengan ceria. Sejak itu, Sarah pun tidak lagi gelisah bersama dengan Zania.


140 Bahkan Sarah lebih ceria dan terus terang daripada biasanya saat bersama dengan Zania. Tetapi semua itu berakhir saat Zania lupa lagi mengerjakan PR, yaitu PR matematika. Zania pun cepat-cepat mencari Sarah dan mendekatinya. “Sarah, Sarah!” teriak Zania dengan panik. “Ya, ada apa? Mengapa kamu begitu panik?” tanya Sarah. “Aku lupa mengerjakan PR matematika!” jawab Zania. “Oh, cepat kerjakan, Zan!” kata Sarah. “Tidak akan sempat. Lima belas menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Kamu tahu kan aku tidak terlalu ahli dalam matematika. Aku butuh waktu 30 menit-an lebih untuk mengerjakan 10 soal ini!” kata Zania dengan panik. “Waduh, kamu cepat kerjakan sekarang. Mungkin nanti walaupun kamu tidak selesai mengerjakan semuanya, guru tidak akan memberi kamu minus poin karena kamu anak yang baik!” kata Sarah. “Tidak, tidak, tidak. Aku harus menyelesaikan PR matematika ini. Bukan bukan aku yang kerjakan, tapi kamu!” kata Zania dengan panik. “Hah, mengapa aku?” kata Sarah dengan bingung. “Kamu kan ahli dalam matematika. Saat pelajaran, kamu yang selalu menjawab pertanyaan guru dengan benar, lalu kamu juga mengerjakan PR dengan cepat. Ayolah, Sarah. Tolong kerjakan PR-ku. Aku mohon demi sahabatmu ini!” jawa Zania dengan wajah memulas. “Hm …,” pikir Sarah. “Ayolah. Lama sekali pikirnya, pelit sekali dia,” kata Zania dalam hati. “Oke! Akan kukerjakan PR- mu! Tetapi ini yang terakhir, ya!” kata Sarah. “Yes!” kata Zania dalam hati.


141 Sarah pun mengerjakan PR matematikanya Zania. Sesuai kata Zania, Sarah mengerjakan PR matematika dengan sangat cepat. Bahkan tidak sampai waktu 10 menit-an pun, Sarah sudah selesai mengerjakan PR Zania dan tepat pada satu menit sebelum bel berbunyi. Zania hanya memperhatikan Sarah mengerjakan PR matematikanya dengan wajah senang. Saat bel berbunyi, Zania dan Sarah pun cepat-cepat masuk ke dalam kelas. Guru matematika pun datang ke dalam kelas dan menyuruh murid untuk mengumpulkan PR mereka. Guru matematika menerangkan materi-materi matematika, lalu memberikan siswa beberapa tugas untuk dikerjakan saat pelajaran. Saat siswa sedang mengerjakan tugas tersebut, guru matematika mengoreksi PR matematika murid-murid. Saat selesai mengoreksi PR matematika Sarah dan melanjutkan koreksinya ke PR matematika Zania. Guru matematika sadar bahwa PR matematika Zania sama dengan PR matematika Sarah. Guru matematika pun memanggil Zania dan Sarah untuk maju menghadap guru matematika.  “Ada apa, Bu?” tanya Zania dan Sarah. “Mengapa PR matematika kalian sama? Caranya dan jawabannya pun sama. Apakah kalian saling menyontek? Bu Guru kan sudah bilang bahwa kalian harus mengerjakannya sendirisendiri. Dibantu sama temanmu boleh, tetapi jangan sampai menjiplak jawaban teman,” kata guru matematika. “Ehmm, itu Bu …,” sebelum Sarah selesai menyelesaikan percakapannya dengan guru, Zania pun memotong percakapannya. “Bu, Sarah yang menjiplak jawabanku! Aku sudah menyelesaikan PR-ku lebih dulu dan Sarah lupa mengerjakan PRnya. Lalu ia mengancamku untuk memberikan jawaban dan cara pada PR matematika maka aku terpaksa memberikannya,” kata Zania yang berbohong. “Tapi Bu, saya tidak …,” lagi-lagi sebelum Sarah selesai


142 menyelesaikan percakapannya, guru matematika pun memotong percakapannya. “Sarah! Bu Guru tidak menyangka bahwa kamu akan melakukan itu ke Zania! Kamu adalah siswa yang teladan, tetapi ibu tidak menyangka bahwa kamu akan melakukan itu untuk menyelesaikan PR- mu! Berprestasi boleh, tetapi dengan jalan yang benar! Ibu hukum kamu tidak boleh mengikuti pelajaran selama satu minggu ini. Kamu akan berdiri di luar pintu kelas selama pelajaran matematika ini berlangsung! Jangan banyak alasan, kamu cepat keluar dari kelas!” kata guru matematika dengan marah. “Tapi, itu malah kebalikannya. Sarah yang memaksaku untuk mengerjakan PR-nya,” kata Sarah dalam hati dengan sedih. Dari kejadian itulah, Sarah menyadari bahwa selama ini Zania berbohong kepadanya. Zania bermuka dua. Sarah pun keluar dari kelas dengan patah hati, tetapi sebelum ia keluar, ia sempat menengokkan kepalanya untuk melihat guru matematika dan Zania. Zania juga sedang memperhatikan Sarah. Di saat itulah, mata mereka berpandangan. Mata Zania terlihat penuh dengan kelicikan, sedangkan mata Sarah terlihat penuh dengan kesedihan dan sakit hati. Zania menjulurkan lidahnya ke Sarah, lalu Sarah pun keluar dari kelas dan berdiri di depan pintu sambil tak percaya bahwa Zania berkhianat darinya.  Sudah berlalu beberapa hari sejak Zania memperlihatkan muka yang sebenarnya, Zania dan Sarah tidak pernah lagi bertemu. Saat bertemu pun, Sarah melihat Zania sedang asyik mengobrol dengan teman yang lain. Sarah tidak bisa membiarkan teman Zania tertipu oleh muka bohong Zania. Namun karena merasa kasihan kepada Zania, Sarah hanya memberikan satu ungkapan kepada temannya Zania di hadapan Zania, lalu pergi menjauh dari mereka.  “Yang paling berbahaya adalah mereka yang mendatangi kita dalam wujud malaikat. Dan kita terlambat menyadari bahwa


143 mereka sebenarnya setan yang sedang menyamar,” kata Sarah kepada Siska yang bersama dengan Zania. “Biasanya orang yang sangat kamu percayai merupakan orang yang paling berpeluang mengecewakanmu,” kata Sarah kepada Sorah yang bersama dengan Zania. “Fin, perasaan paling buruk di dunia adalah menyadari kalau kamu dimanfaatkan dan dibohongi oleh orang yang telah kamu percayai,” kata Sarah kepada Finta yang bersama dengan Zania. “Sulit mengatakan siapa saja teman terpecayamu karena terkadang tujuan mereka yang lama menjadi temanmu hanya agar bisa menusukmu dari belakang,” kata Sarah kepada Velix yang bersama dengan Zania. “Teman palsu bagaikan bayangan. Selalu ada di dekatmu di masa-masa paling terang, tapi tak pernah terlihat di masa paling gelap,” kata Sarah kepada Lorita yang bersama dengan Zania. “Awas! Pemegang pistol datang untuk menembak kamu! Kamu melindunginya dan setelah lengah, ia datang untuk menembak kamu,” kata Sarah kepada Milar yang bersama dengan Zania. “Berwaspadalah karena senyum tercerah sebuah teman bisa saja senyum palsu,” kata Sarah kepada Samila saat Zania tersenyum kepada Samila. Setelah Sarah menjauh, teman-teman Zania menanyakan ungkapan Sarah itu kepada Zania, tetapi Zania menjawab bahwa Sarah hanya berlagak saja dan meminta mereka untuk tidak menghiraukan Sarah saja. Dan itulah yang mereka lakukan. Lalu pada suatu ketika, Zania tidak sengaja bertemu dengan Sarah. Zaniat berniat untuk mendekatinya dan mengejeknya, tetapi Sarah yang lebih duluan mendekatinya dan berbicara. “Zania, kalau orang lain mungkin hanya mata, telinga, tangan, dan kaki yang dua. Tapi mengapa mukamu harus ada dua?


144 Ayah ibumu tidak akan menginginkan anak mereka berlaku seperti ini ke temannya sendiri,” kata Sarah dengan pelan. Lalu Sarah cepat-cepat menjauhi Zania yang sedang melongo. Sarah semakin lama, semakin kesal dan marah kepada Zania yang dengan mudah mengobrol dengan teman lainnya, sepertnyai kejadian dengan Sarah tidak pernah terjadi. Sarah memikirkan sebuah cara agar muka Zania yang asli terlihat.  Beberapa lama kemudian, Sarah pun menemukan caranya. Sarah pergi menuju ke ruang guru matematika dan seperti yang diduga, saat guru matematika melihat Sarah, guru pun langsung marah dan mengusirnya keluar. Tetapi Sarah tidak akan menyerah begitu saja, Sarah tetap berdiam di dalam ruangan guru matematika dan berbicara. “Bu Guru, ibu tidak boleh begitu saja menuduh orang, apalagi ketika tanpa disertai bukti. Zania berbohong, Bu. Aku yang memberikan jawaban untuk PR matematikanya Zania. Zania memang adalah murid yang baik. Tetapi belum tentu murid yang suka menolong orang lain, memiliki hati yang baik dan benar. Bisa saja ia memiliki muka di balik mukanya lagi, Bu,” kata Sarah dengan lantang. “Hm, kamu benar juga, tetapi apakah kamu sendiri juga memiliki bukti bahwa Zania berbohong?” tanya guru matematika. “Mudah, Bu. Ibu tinggal pergi ke ruang CCTV karena sekolah kita dipenuhi dengan CCTV. Ibu bisa melihat CCTV di bagian yang memperlihatkan bahwa murid-murid sedang berkumpul di meja ruang auditorium. Walaupun tidak terdengar obrolan aku dengan Zania, tetapi aku yakin dari perbuatanku dan Zania, ibu bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah,” kata Sarah dengan yakin. Guru matematika pun pergi ke ruang CCTV dan mengecek CCTV seperti yang dikatakan oleh Sarah. Lalu beberapa menit


145 kemudian, guru matematika kembali ke ruangannya dan meminta maaf kepada Sarah. “Maaf Sarah. Sarah benar. Maafkan ibu karena sudah menuduhmu, Sarah. Kamu memang murid yang baik. Ibu tidak akan menuduh orang lagi tanpa disertai bukti. Untuk Zania, ia telah berbohong kepada ibu. Ibu akan menghukumnya di pelajaran matematika besok,” kata guru matematika sambil meminta maaf. Seperti perkataan guru matematika, saat pelajaran matematika, Zania pun dipanggil untuk maju menghadap guru matematika. Awalnya Zania bingung mengapa ia dipanggil. Tetapi ketika sudah menghadap guru matematika, Zania pun langsung dimarahi habis-habisan oleh guru matematika. Zania dihukum oleh guru matematika untuk tidak boleh ikut pelajaran matematika selama dua bulan dan diberikan nilai 0 dalam penilaian tengah semesternya, beserta dengan ulangannya. Zania menyadari bahwa ia telah salah dan meinta maaf kepada guru matematika, tetapi sudah terlambat. Guru matematika sudah sangat marah kepada Zania dan tidak ingin memaafkannya setelah ia berubah. Teman-temannya juga sangat terkejut akan amarah guru matematika dan perbuatan yang dilakukan oleh Zania. Saat selesai pelajaran matematika, satu per satu teman Zania pergi meninggalkan Zania atas perbuatan yang dilakukan olehnya dan atas kebenaran yang diungkapkan oleh Sarah.  Zania pulang dengan wajah yang sedih dan ia ditanya oleh orang tuanya. Zania pun menceritakan segala kejadian yang dialaminya di sekolah. Lalu orang tua Zania pun menasihati Zania agar Zania meminta maaf kepada teman-temannya dan berubah dan sambil menghiburnya juga.  Sudah satu bulan Zania sendirian dan dalam satu bulan itu. Zania hanya melihat Sarah dan teman-temannya mengobrol bersama. Zania mengumpulkan keberanian untuk meminta maaf kepada teman-temannya dan tentu saja teman-temannya


146 memaafkannya. Tetapi yang tersulit adalah saat ia ingin meminta maaf kepada Sarah. Zania memberanikan diri dan mendekati Sarah. “S-S-Sarah…. aku minta maaf kepadamu, karena sudah berbohong kepadamu, berkhianat, dan bermuka dua kepadamu. Aku sungguh minta maaf, Sarah. Tetapi jika kamu tidak mau memaafkan aku, tidak apa-apa. Aku memang layak mendapatkannya, tetapi kumohon, jangan membenciku. Aku akan berubah. Aku sudah berubah. Aku tidak akan seperti itu lagi. Aku janji,” kata Zania dengan pelan dan nada memohon. “Zania, aku tidak membencimu. Aku hanya kecewa kamu berubah menjadi hal yang kamu sendiri benci. Tentu saja aku memaafkanmu dan aku yakin bahwa kamu sudah berubah,” kata Sarah dengan tersenyum. “Benarkah? Kamu memaafkan aku yang tidak pantas ini?” kata Zania tak percaya. “Benar, aku sungguh memaafkanmu,” kata Sarah dengan tersenyum. Zania langsung memeluk sahabatnya itu dan setelah bertahun-tahun bersahabat dengan Sarah, itu adalah senyum asli pertama yang ditampilkan Zania ke Sarah. Akhirnya, topeng jahat yang dipakai oleh Zania hancur dan Zania tidak lagi bermuka dua.


147 Anak Yatim Piatu Sonia Renata Yacintaman /IX.8 Pagi hari di sebuah bangunan yang dinamai Panti Asuhan Berkat, seorang gadis muda sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Gadis muda tersebut bernama Nadya. Ia sekarang berumur 13 tahun. Satu tahun lalu, orang tua Nadya meninggal karena kecelakaan mobil dan, sejak itu, Nadya menjadi anak yatim. Ia tinggal di panti asuhan karena tidak ada keluarga dari orang tuanya yang bersedia untuk menerimanya. Saat pertama tinggal di panti asuhan, ia menjadi sangat pendiam dan pemurung. Ia sering mengunci diri di kamarnya dan tidak mau bermain dengan anak-anak lainnya. Untungnya, lamakelamaan Nadya mulai mau membuka diri. Ia mulai bermain dengan anak lain dan mulai menjadi ceria kembali. Setelah beberapa saat, pengurus panti asuhan berhasil meyakinkan Nadya untuk pergi ke sekolah yang dekat dengan panti asuhan ini. “Bu Maya, Nadya pergi dulu, ya!” teriak Nadya sambil melambaikan tangannya ke Bu Maya. Bu Maya adalah pemilik Panti Asuhan Berkat. Ia sudah mengelola panti asuhan ini sejak berumur 30 tahun. “Iya, hati-hati di jalan!” terdengar suara Bu Maya dari dapur.


148 Setelah mendengar itu, Nadya langsung berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertama Nadya masuk ke sekolah barunya. Ia merasa sangat gugup dan takut karena akan pergi ke tempat yang tidak dikenalinya. Tetapi ia juga merasa sangat tidak sabar untuk bisa mendapatkan teman baru. Nadya sangat berharap bahwa teman sekelasnya tidak akan menertawakannya hanya karena ia adalah anak yatim. *** Setelah berjalan selama sepuluh menit, Nadya sampai ke gerbang depan sekolah yang bernama Sekolah Harapan Bangsa. Nadya menarik napas panjang, menghembuskannya, dan lalu berjalan masuk ke sekolah. Di dalam sekolah, Nadya langsung menaiki tangga dan mencoba untuk mencari kelasnya. Karena Nadya sudah merupakan anak SMP, kelasnya ada di lantai kedua. Akhirnya, Nadya pun berhasil menemukan kelasnya yakni kelas 8F. Dari luar, Nadya sudah bisa mendengar suara orang berbincang dan suara tawa dari dalam kelas. Kemudian Nadya dengan gugupnya membuka pintu kelas. Di dalam kelas sudah ada banyak murid lainnya. Kebanyakan dari mereka masih sedang berbincang dan bermain sedangkan beberapa di antara mereka sudah duduk di kursi masing-masing. Nadya lalu duduk di kursi paling belakang di kelasnya dan mempersiapkan buku beserta alat tulisnya. Nadya sedang melamun ketika tiba-tiba kursi di sebelah kirinya ditempati oleh seseorang. Nadya menengok untuk melihat siapa teman satu mejanya. Ternyata yang duduk adalah seorang murid lelaki yang juga sedang melihat Nadya. “Hai, kamu baru, ya? Aku tidak pernah melihatmu,” tanya murid lelaki itu.


149 Nadya yang terkejut karena diajak bicara pun langsung menjawab, “Uhhh, I-iya. Aku baru di sini.” “Oh, pantas. Perkenalkan, namaku Evan,” kata Evan memperkenalkan dirinya dan menjulurkan tangannya ke Nadya. “Salam kenal Evan. Namaku Nadya,” ucap Nadya sambil menjabat tangan Evan. Setelah perkenalan itu, bel tiba-tiba berbunyi dan seorang guru pun masuk ke kelas. Seketika murid-murid di kelas itu dengan secepat kilat langsung duduk di tempat mereka masing-masing. Pak Guru itu langsung berjalan menuju mejanya dan menaruh benda-benda bawaannya di situ. “Halo semuanya, perkenalkan nama bapak Axel. Bapak yang akan menjadi wali kelas kalian selama di kelas VIII ini,” kata Pak Guru Axel di depan kelas. Pak Guru lalu membaca nama anak di kelas dan memberi informasi-informasi tentang kelas VIII ini. Setelah itu,bel berbunyi lagi dan pelajaran pertama dimulai. Pelajaran pertama juga diajar oleh Pak Axel. Ia ternyata adalah guru IPS. *** Hari-hari di sekolah itu sangatlah menyenangkan bagi Nadya. Nadya juga merupakan anak yang termasuk sangat pintar di kelasnya. Ia selalu berada di urutan tiga besar di kelasnya. Jika bukan juara satu, ya, juara dua atau tiga. Nadya juga kadang mengikuti lomba dan memenangkannya. Biasanya Nadya hanya mengikuti lomba demi mendapat hadiah uangnya. Banyak guru yang juga senang kepadanya karena sikapnya yang baik dan kepintarannya. Selain itu ia juga berhasil mendapatkan teman-teman yang baik. Pada hari pertama saat istirahat, Nadya didekati oleh dua murid perempuan. Mereka memperkenalkan diri mereka sebagai


150 Siti dan Lani. Mereka ternyata ingin makan bersama Nadya dan akhirnya mereka bertiga menjadi teman baik. Nadya juga berteman dengan Evan karena mereka memang duduk bersebelahan di kelas. Nadya juga bisa dikatakan cukup dekat dengan murid-murid lain di kelasnya. Nadya merasa sangat bahagia karena berhasil berteman dengan mereka semua. Sejauh ini hanya Siti dan Lani yang tahu bahwa Nadya merupakan anak yatim. Mereka berdua berjanji bahwa hal itu tidak akan membuat mereka menjadi tidak berteman dengannya. Mereka juga berjanji bahwa mereka akan menjaga hal itu tetap sebagai rahasia jika Nadya belum ingin memberitahukannya kepada murid lain. Nadya merasa sangat terharu dan ia sangat bersyukur karena memiliki teman yang baik. Sayangnya rahasia tidak pernah bisa bertahan lama. *** Suatu hari saat jam pulang sekolah, seorang murid dari kelas sebelah yang dikenali Nadya sebagai Vania datang ke kelas mereka. Ia memang biasa datang ke kelas ini karena mereka berteman baik. Mereka berdua juga ternyata memiliki rumah yang berdekatan sehingga sering jalan pulang bersama. Saat Vania datang ke kelas, ia melihat Evan sedang berbincang dengan riangnya dengan Nadya. “Evan, sini ayo!” ujar Vania sedikit kesal. Vania ternyata sudah menyukai Evan sejak lama sehingga fakta bahwa Nadya duduk satu meja dengannya membuat Vania cemburu. “Maaf, Van. Hari ini aku harus piket sama Nadya. Kamu pulang dulu saja,” kata Evan. Mendengar hal itu, Vania pun naik pitam. “Ih, ngapain sih kamu bahkan berteman dengan dia?!” teriak Vania dengan kesal.


151 “Ia itu cuma anak yatim yang tidak punya orang tua!” lanjut Vania. Mendengar hal itu, Nadya langsung berhenti menyapu. Ia melihat ke arah Vania dengan mata terbelalak. Untungnya bagi Nadya, di kelas hanya tersisa dirinya, Evan, Siti, dan Lani. Hari ini merupakan jadwal piket Nadya dan Evan, sedangkan Siti dan Lani sedang menunggu Nadya selesai sambil membantunya sedikit.  “VANIA!” teriak Siti dan Lani bersamaan. “Apa? Memangnya aku salah? Kemarin aku lihat kok. Ia pulang sekolah langsung ke panti asuhan,” kata Vania tidak merasa salah sedikit pun. “Van!” kata Evan dengan tegas. Vania pun langsung diam. “Udahlah, kamu keluar dulu!” lanjut Evan sambil mendorong Vania keluar kelasnya. “Pulang aja! Aku tidak mau dengar apa pun dari kamu!” lanjut Evan yang tidak membiarkan Vania berkata satu kata pun. Setelah mengucapkan itu, Evan langsung menutup pintu kelas. *** “Nad, apa yang diucapkan Vania benar?” tanya Evan sambil memutarkan badannya untuk menghadap Nadya. Nadya hanya bisa berdiam di tempat dan tidak mengatakan apa pun. Nadya takut Evan akan membencinya karena ia adalah anak yatim dan karena ia tidak pernah memberitahukan hal tersebut kepadanya. Siti dan Lani dengan cepat langsung berdiri di depan Nadya sambil menghadap Evan. “Memangnya mengapa kalau itu benar?” tanya Siti dengan sorotan mata yang tajam. “Eh, aku tidak bermaksud buruk kok!” kata Evan sambil


152 mengangkat kedua tangannya seperti dalam posisi menyerah. “Aku hanya ingin tahu saja,” kata Evan lebih lanjut. “Iya benar,” kata Nadya dengan nada gugup sambil menyuruh Siti dan Lani untuk minggir. Nadya lalu menceritakan kepada ke Evan bahwa ia memang tinggal di panti asuhan. Ia juga menceritakan kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Setelah menceritakan hal itu, Nadya mulai menangis. Siti dan Lani langsung memeluk Nadya. “Maaf, aku tidak pernah cerita ke kamu, Evan,” kata Nadya saat ia sudah mulai tenang. “Tidak apa-apa, Nad. Aku bisa mengerti kok mengapa kamu tidak mau cerita,” kata Evan sambil tersenyum ke arah Nadya. “Setidaknya sekarang aku tahu. Tapi, maaf banget ya tentang Vania. Aku akan coba bicara dengan dia,” lanjut Evan. Evan lalu mengambil sapu yang tadi terjatuh di lantai. “Iya, tidak apa-apa. Bukan salah kamu juga. Sekarang kita lebih baik melanjutkan piketnya, ya,” kata Nadya. Evan lalu memberi sapunya ke Nadya. *** Setelah kejadian pada hari itu, murid-murid di kelasnya mulai mengetahui bahwa Nadya adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Seiring dengan berjalannya waktu, seisi sekolah juga mulai mengetahui tentang hal tersebut. Untungnya hal itu tidak terlalu mengubah cara pandang mereka terhadap Nadya. Iya, memang ada beberapa murid yang mulai bersikap tidak baik kepadanya. Tetapi banyak juga murid yang malah mendukung dan membantu Nadya. Apa salahnya kalau Nadya adalah anak yatim? Ia tetap adalah anak yang pintar, ramah, dan baik. Ia tetap sering mengikuti lomba


153 dan memenangkannya. Ia tetap menjadi tiga besar di kelasnya. Ia juga tetap membantu teman-temannya. Nadya adalah dirinya sendiri tidak peduli jika ia adalah anak yatim atau bukan. Malahan sejak hari itu, Nadya mulai menjadi lebih percaya diri. Ia tidak takut karena sekarang ia tahu bahwa teman yang benar tidak akan mulai membencinya hanya karena ia adalah anak yatim. Nadya menjadi lebih sering mengikuti lomba-lomba dan memenangkannya. Ia menjadi anak yang sangat pintar dan disenangi banyak orang. Kadang di hidup ini, ada masa-masa kita akan dipertemukan dengan banyak percobaan. Tetapi itu bukan berarti kita hanya menyerah begitu saja. Jika kita berhasil melewati berbagai percobaan yang ada maka masa depan kita akan terlihat lebih cerah.


154 Menempuh Pendidikan Adeline Loavenia /IX.9 J ena adalah seorang murid di sebuah sekolah negeri yang terletak di salah satu daerah terpencil di Pulau Kalimantan. Rumah sekolah beralaskan tanah yang kayu-kayunya hampir roboh. Seragam sekolah adalah baju bekas sedangkan sepatu yang rusak adalah sepatu terbaik yang dimiliki Jena. Kedua orang tua Jena bukanlah orang tua yang memiliki kondisi keuangan yang baik. Pandemi virus Covid-19 mengakibatkan kedua orang tua Jena semakin sulit untuk mencari uang demi kebutuhan mereka dan Jena beserta kedua adiknya. Pandemi yang belum usai sejak bulan Maret 2020 mengakibatkan Jena beserta guru dan temantemannya harus menjalani pembelajaran secara daring. Jena adalah murid yang memiliki prestasi belajar yang baik di sekolah tetapi masalah keuangan keluarga membuatnya tidak bisa memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya tersebut. Kedua orang tua Jena setiap harinya bekerja membanting tulang demi menghidupi keluarga mereka.  Dahulu sebelum Pandemi virus Covid-19, ia dan temantemannya setiap hari harus berjuang untuk pergi ke sekolah. Setiap hari ia harus melewati berbagai jalan yang curam dan cukup berbahaya. Jalan mereka ditambah sulit dengan sungai yang harus dilewati oleh Jena dan teman-temannya ketika menuju ke sekolah mereka. Setiap hari mereka harus melepas sepatu mereka


155 dan berjalan tanpa alas kaki dari hutan dan sungai yang mereka lewati agar dapat sampai ke sekolah. Namun dalam satu tahun ini, tantangan yang dialami Jena dalam menempuh pendidikan, tampaknya berbeda. Dengan diberlakukannya sekolah daring akibat pandemi Covid-19, Jena semakin sulit untuk belajar. Pandemi yang tak kunjung usai ini mengakibatkan Jena harus belajar daring setiap hari. Pembelajaran daring ini tampak cukup menjadi beban berat bagi Jena dan keluarganya. Berbagai halangan dialami Jena dalam belajar secara daring. Pada awal pembelajaran daring, Jena bahkan tidak memiliki ponsel untuk membantunya dalam pembelajaran daring. Bukan hanya Jena saja, tetapi beberapa temannya di SMP juga mengalami hal yang sama. Beruntung pemerintah memberikan bantuan kepadanya dan teman-temannya yang belum memiliki sarana untuk sekolah daring. Tetapi masalah tidak selesai semudah itu. Kondisi keluarga Jena mengakibatkan keluarganya kesulitan untuk menunjang kebutuhan Jena dalam mengikuti sekolah daring terutama tentang kuota internet. Apalagi bukan hanya Jena yang harus dibiayai kedua orang tuanya, tetapi juga kedua adiknya yang usianya masih sangat kecil. Kondisi ini membuat Jena merasa bersalah kepada kedua orang tuanya. Jena yang kebingungan dan memutuskan untuk menghubungi teman lamanya untuk menanyakan pendapat. “Hmm, Lev, bagaimana ya, agar aku bisa melanjutkan pendidikanku. Kondisiku sekarang sulit sekali. Aku merasa bersalah sekali kepada kedua orang tuaku, apalagi kedua adikku masih kecil,” ujar Jena kepada temannya yang bernama Leva yang dihubunginya lewat ponsel. “Wah, kalau kondisimu seperti itu sepertinya sulit ya untuk melanjutkan pendidikanmu,” ujar Leva. “Iya, apakah tidak ada cara lain, ya? Supaya aku bisa melanjutkan pendidikan dengan kondisi seperti ini ya, Leva?”


156 “Hmm, seperti ini saja. Bagaimana jika kamu mencoba untuk bekerja saja, Jen, untuk membantu kedua orang tuamu meringankan biaya pendidikanmu?” jawab Leva. “Wah, sepertinya itu ide yang bagus, Lev. Tetapi dengan usia yang masih muda sepertiku aku bisa bekerja apa, ya, Lev?” kata Leva. “Aku punya ide, bagaimana kalau kamu berjualan saja, Jen?” kata Leva. “Ide yang bagus, Lev. Mulai besok aku akan mulai berjualan. Aku rasa menjual kayu adalah ide yang bagus juga, terutama, desa kita terletak di dekat hutan. Terima kasih, ya, Lev atas idemu. Aku tutup dulu, ya, teleponnya,” kata Jena mengakhiri percakapannya. “Oke, Jen, sama-sama.” *** Keesokan harinya sesudah sekolah daring, Jena mulai pergi ke hutan dan menebang beberapa pohon dengan bermodalkan alat-alat sederhana yang dimilikinya di rumah. Saat itu, seorang Bapak melihatnya. “Wah, sedang apa, Dek? Mengapa tidak sekolah?” ujar seorang Bapak. “Sudah selesai sekolah, Pak. Ini aku sedang mengumpulkan beberapa kayu untuk aku jual agar bisa membantu orang tuaku meringankan biaya pendidikanku,” ujar Jena. “Ooo, seperti itu. Kalau Bapak lihat, sepertinya untuk menjual kayu-kayu ini, kamu harus pergi ke kota terlebih dahulu karena jika dijual di sini akan sulit laku. Penduduk di daerah ini, jika ingin kayu, hanya tinggal pergi ke hutan saja.” “Baiklah Pak. Terima kasih atas sarannya. Setelah ini, aku akan pergi ke kota untuk menjualnya,” kata Jena.


157 “Tetapi sepertinya jalan dari desa kita menuju ke kota sangat jauh. Biasanya perjalanan bisa satu sampai dua jam. Apakah tidak apa-apa, Dek?” kata Bapak itu. “Tidak apa-apa, Pak. aku yakin, aku pasti bisa,” jawab Jena dengan yakin. “Baiklah, Dek. Hati-hati dalam perjalananmu, ya.” “Iya, Pak. Terima kasih,” kata Jena. “Sama-sama, Dek.” *** Setelah mengumpulkan kayu selama dua jam, kayu yang dikumpulkan Jena sudah banyak. Selanjutnya ia pergi menuju kota selama satu jam lebih dengan berjalan kaki. Dari siang hingga sore, akhirnya kayu yang dijual Jena sudah habis. Beruntung banyak orang baik yang merasa kasihan kepada kondisi Jena sehingga warga-warga kota membeli kayu tersebut untuk membantu Jena. “Wah, hasil yang kudapatkan dari hari ini lumayan juga. Jika terus seperti ini, aku bisa membantu meringankan biaya pendidikanku,” ucap Jena. *** Beberapa bulan kemudian, Jena yang terus-menerus bekerja setiap harinya sehingga kini ia dapat melanjutkan pendidikannya di SMP tanpa membebani kedua orang tuanya. Kedua orang tua Jena sangat bangga kepada Jena. Jena tinggal di tempat terpencil sehingga hampir tiap hari ia harus keluar rumah mencari sinyal untuk dapat bersekolah daring. Hal tersebut tidak meruntuhkan semangat Jena untuk mencapai cita-citanya. Kisah Jen diketahui oleh sekolah tempat Jena menempuh pendidikan. Mereka merasa sangat kagum atas segala usaha dan


158 kerja keras Jena demi mencapai cita-citanya. Oleh karena itu dengan segala prestasi yang didapatkan Jena di sekolah, sekolah memberikan beasiswa kepada Jena agar ia bisa bersekolah dengan nyaman, tanpa memikirkan biaya pendidikan.


159 Desain Baju Evelyn Carissa Sugianto/IX.9 J ane Adaire adalah seorang perempuan dengan paras cantik. Wajah simetris dan rambut hitam pekat menunjukan sisi keanggunannya. Jane memiliki senyuman yang indah melebihi ribuan bunga yang terhampar luas dan saking indahnya senyum itu sehingga tidak akan ada satu pria pun yang tidak terpesona oleh kecantikannya. Di umurnya yang genap dua puluh dua tahun, Jane sudah memiliki banyak prestasi di dunia. Sebagai contoh perusahaannya adalah perusahaan nomor satu paling berpengaruh se-Eropa. Semua itu terjadi tidak secara instan. Ada kerja keras yang teramat dalam untuk mencapai kesuksesan itu. Jane sudah menjadi tulang punggung keluarganya sejak umurnya masih 15 tahun. Ia bekerja seharian di berbagai tempat demi mendapat upah untuk ibunya berobat. Jane pernah merasakan bekerja di restoran, minimarket, hingga salon. Ia pernah merasakan betapa sulitnya kehidupan tanpa adanya uang. Jane dulu hanyalah gadis kurang berkecukupan yang tengah berjuang menaikkan derajat keluarganya. Jangankan membeli mobil atau pakaian, makanan sehari-harinya saja hanyalah nasi sisa dan garam. Berbagai umpatan dan cacian didapat Jane dari orang sekitar tapi ia tidak pernah menyerah, mengeluh, dan berputus asa.


160 “Aku hanya akan memakai 10 persen dari gajiku,” pikir Jane. Jane menggunakan sejumlah uang. Sisanya akan ditabung untuk membangun sebuah bisnis baju. Ya, memang sejak dulu Jane suka sekali menggambar. Bila ada waktu luang, ia akan menggambar sebuah desain baju dan akan menjualnya kepada orang lain dengan harga murah. Terkadang para pembeli juga memberinya uang lebih karena melihat semangat yang dimiliki Jane. Hari demi hari berlalu dan tidak sadar bila uang yang dipunyai Jane sudah terkumpul banyak sehingga cukup untuk membangun bisnis yang selama ini didambakannya. Jane mulai membeli sebuah mesin jahit, kain, pernak pernik, dan keperluan lainnya. Tidak lupa ia membeli obat dan baju baru untuk ibunya yang tengah terbaring lemah di kasur.  Baiklah, sekarang mari kita mulai menjahit. Jane berbicara sendiri. Tatapannya menatap tajam ke desain yang telah dibuatnya. Jane bisa menjahit dengan panduan internet dan buku yang ada di toko buku. Perlahan suara mesin jahit mulai terdengar yang ditemani suara hujan yang saling bersahutan. Tanpa sadar, karya tangan Jane sudah jadi. Sebuah gaun dengan konsep kuno namun terlihat sangat modern. Jane menatap gaun itu dengan mata berkaca kaca. Ia terharu melihat karyanya yang melebihi ekspektasi yang telah dibayangkan selama ini. Sebuah senyuman penuh makna dan harapan terbit di wajahnya. Dengan cepat Jane mengambil sebuah kotak besar kuno sebagai tempat menaruh gaun itu. *** “Aku harap kamu bisa mengubah hidupku,” kata Jane pelan. Ia membawa kotak itu keluar rumah setelah berpamitan dengan ibunya. Jane berlari penuh semangat. Genangan-genangan


161 air dilaluinya tanpa rasa takut kotor. Angin membiarkan rambut panjangnya menari-nari dan sinar matahari membiarkan wajahnya yang terlihat dengan jelas penuh kebahagiaan.. “Tuan, aku membuat sebuah gaun,” ucapnya dengan nada penuh harap dan bangga. Kedua mata Jane menatap si perancang busana yang selama ini membeli gambarnya. Tuan Smith, seorang perancang busana terkenal dengan tidak sabar membuka kotak yang dibawa Jane. Kedua tangannya membentang. Matanya membulat dan kini ia tidak bisa berkata-kata. Gaun yang dibuat Jane sangat indah. Keindahannya telah melebihi ratusan pakaian yang dibuatnya. Tuan Smith tahu bahwa Jane sangat berbakat dalam bidang ini. Lihatlah, gadis berusia 15 tahun itu berhasil membuat sebuah gaun indah yang tidak pernah dilihatnya seumur hidupnya. “Kerja bagus. Ini sangat indah. Jane, bekerjalah di sini. Kamu akan mendapatkan upah yang lebih banyak dan suatu saat nanti kamu pasti dikenal orang. Gaun ini pasti bisa menarik hati banyak orang,” kata Tuan Smith. Tuan Smith merasa senang. Ia menatap Jane penuh harap akan tawarannya tadi. Ia tidak bermain-main. Jane bisa menjadi seorang perancang busana andal di dunia. “Benarkah, Tuan?! Terima kasih banyak, Tuan!” kata Jane memekik bahagia. Ia langsung dengan girang memeluk Tuan Smith. Kebahagiaan yang didapatnya hari ini tidak akan pernah dilupakan Jane seumur hidupnya. Sebab kebahagiaan ini membuat kehidupan Jane berubah seiring berjalannya waktu. Siapa sangka bila harapannya terkabul menjadi sebuah kenyataan. Semua desain pakaian yang dibuat Jane disukai semua orang. Popularitasnya mulai melambung tinggi. Namanya mulai dikenal di dalam negeri hingga di luar negeri. 


162 Lihatlah Jane sekarang. Ia merupakan desainer dan juga pebisnis andal. Jane meyakini bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Perubahan selalu terjadi dan kamulah yang menentukan perubahan itu kapan terjadinya. Jangan pantang menyerah karena tidak ada pelangi bila tidak ada hujan. Yakinlah bahwa kamu bisa. Berjuanglah.


163


164


Click to View FlipBook Version