5. Isi dan pesan nilai moral budaya bangsa dari negara Indonesia.
Adapun tujuan pemebelajaran IPS disekolah dasar meurut Munir (1997 :132), sebagai berikut:
1. Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupan kelak
dimasyarakat.
2. Membekali anak didik dengan kemampuan megidentifikasi, menganalisis, dan menyusun
alternative pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
3. Membekali anak diidk dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat
dan bidang keilmuan serta bidang keahlian.
4. Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif, dan keterampilan
keilmuan terhadap pemanfaatan lingkugan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan
tersebut.
5. Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS
sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Tujuan lain secara eksplisit, dengan mempelajari kondisi masyarakat Seperti yang dimuat
dalam pendidikan IPS ini, maka siswa akan dapat mengamati dan mempelajari norma norma
atau peraturan serta kebiasaan-kebiasaan baik yang berlaku dalam masyarakat tersebut, sehingga
siswa mendapat pengalaman langsung adanya hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi
antara kehidupan pribadi dan masyarakat dalam pendidikan IPS tersebut, siswa akan
memperoleh pengetahuan dari yang sederhana sampai yang lebih luas (expanding community),
yakni siswa akan mulai diperkenalkan dengan diri sendiri (self) kemudian keluarga, tetangga,
lingkungan RT dan RW, kelurahan atau desa, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi, negara,
negara tetangga, kemudian dunia.
Pengetahuan anak secara pasti akan berkembang Namun karena anak memiliki berbagai
potensi yang masih laten maka mereka memerlukan proses serta sentuhan-sentuhan tertentu
dalam perkembangannya. Mereka yang memulai dari potensi dirinya kemudian belajar, akan
menjadi berkembang dengan kesadaran akan ruang dan waktu yang semakin meluas, dan
mencoba serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk intervensi dalam dunianya. Maka
dari itu, pendidikan IPS merupakan salah satu upaya yang akan membawa kesadaran terhadap
ruang ,waktu, dan lingkungan sekitar bagi anak, khususnya dalam hal ini adalah siswa sekolah
dasar.
Pendidikan IPS di sekolah dasar harus memperhatikan kebutuhan anak yang berada pada usia
berkisar antara 6- 7 tahun sampai 11 atau 12 tahun. Masa usia ini, menurut Piaget (1963) berada
dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitif nya pada tingkatan konkret operasional.
Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun yang akan
datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan ialah masa sekarang (konkret)
dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami (abstrak) padahal bahan materi
pendidikan IPS adalah dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak .Konsep seperti waktu,
perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan,ritual agama, akulturasi,
kekuasaan, demokrasi, nilai,peranan, permintaan atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak
yang dalam program studi IPS harus diajarkan kepada siswa sekolah dasar tersebut.
Oleh karena itu, berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan konsep-
konsep abstrak itu dipahami anak. Brunner (1978 : 4 )misalnya memberikan pemecahan
berbentuk jembatan Bailey untuk mengkonkretkan abstrak yaitu dengan enactive, iconic, dan
symbolic, melalui bertentangan dengan gerak tubuh, gambar, bagan, peta, grafik, lambang,
keterangan lanjut atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat dipahami siswa. Itulah sebabnya
pendidikan IPS di sekolah dasar bergerak dari yang konkret menuju ke yang abstrak dengan
mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas (expanding environment approach)
dan pendekatan spiral dengan memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sempit
menjadi lebih luas, dari yang dekat menuju ke yang jauh, dan seterusnya.
2.3 METODE PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR
Metode secara harfiah diartikan cara. Dalam pemakaian yang umum diartikan sebagai cara
melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan faktar dan
konsep-konsep secara sistematis. Metode dapat dianggap sebagai suatu prosedur atau proses
yang teratur, suatu jalan atau cara yang teratur untuk melakukan segala sesuatu. Metode adalah
cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan suatu mata pelajaran
tertentu kepada siswa, agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan
pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Sedangkan mengajar diartikan sebagai penciptaan
suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Dengan demikian, dapat
dimengerti bahwa metode mengajar adalah cara atau alat yang dipakai oleh seorang pendidik
dalam menyampaikan bahan pelajaran sehingga bisa diterima oleh siswa dan juga tercapainya
tujuan yang diinginkan, atau bagaimana teknisnya pelaksaan proses belajar mengajar.
Metode Pembelajaran IPS berpijak pada aktivitas yang memungkinkan siswa baik secara
individual maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip IPS
secara holistis dan autentik. Melalui pembelajaran IPS, peserta didik dapat memperoleh
pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan
memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih
untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan metode yang akan diterapkan dalam proses
pembelajaran :
Dalam pemilihan atau penetapan metode yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran,
maka hendaknya memerhatikan faktor faktor yang dapat memengaruhinya, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Subiyanto (1990 : 71) berikut:
1. Metode hendaknya sesuai dengan tujuan. Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan dicapai
dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun metode dengan tujuan saling berhubungan.
Artinya, metode harus menunjanh pencapaian tujuan pengajaran. Bila tidak, maka akan sia-
sialah perumusan tujuan tersebut.
2. Metode hendaknya disesuaikan dengan bahan pengajaran. Metode pengajaran untuk mata
pelajaran yang satu berbeda dengan mata pelajaran yang lain. Bahan pelajaran dapat dianggap
sebagai pedoman atau petunjuk bagi guru untuk menentukan metode mengajar yang akan
digunakan.
3. Metode hendaknya diadaptasikan dengan kemampuan siswa. Menyesuaikan metode
mengajar dengan kemampuan siswa, didasaekan pada tingkat atau jenjang pengajaran.
Metode dalam mengajarkan perkembangan untuk siswa sekolah dasar akan berbeda dengan
siswa sekolah menengah. Selain itu juga, penyesuaian metode mengajar itu menyangkut
pemilihan media yang dimanfaatkan. Seyogianya guru memanfaatkan media yang berbeda
dalam mengajar di sekolah dasar, karena terdapat perbedaan kematangan siswa yang
bervariasi memengaruhi pemilihan dan penentuan metode pengajaran.
2. Metode Pengajaran dalam IPS di Sekolah Dasar
Metode pengajaran IPS dapat di bagi dua klasifikasikan yaitu metode yang interaksi
edukatifnya berlangsung di dalam kelas misalnya metode ceramah, tanya jawab, diskusi,
demonstrasi, aksperimen, sosiodrama, rool playing, dan tugas atau resitasi serta kerja
kelompok dan interaksi yang edukatif yang berlangsung di luar kelas misalnya metode karya
wisata dan observasi.
1. Metode Interaksi Edukatif Dalam Kelas
a. Metode ceramah
Menurut Tjipto Utomo &Ruitjen : 1982, metode ceramah merupakan bentuk pengajaran
dimana guru mengalihkan informasi kepada sekelompok besar siswa dengan cara yang
utama bersifat verbal atau kata-kata.
b. Metode tanya-jawab
Metode tanya jawab adalah suatu format interaksi antara guru dengan siswa melalui
kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan respon lisan dari siswa,
sehingga dapat menumbuhkan pengetahuan baru pada diri siswa.
c. Metode Diskusi atau Metode Musyawarah
Metode diskusi dalam pembelajaran IPS adalah suatu cara penyajian materi pelajaran
dimana siswa dihadapkan kepada suatu masalah, baik berupa pernyataan maupun berupa
pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas atau dipecahkan oleh siswa secara
bersama-sama.
d. Metode Penugasan (Pemberian tugas)
Metode penugasan adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dimana guru memberikan
tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan laporan sebagai
hasil dari tugas yang dihasilkannya.
e. Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok merupakan format belajar mengajar yang menitikberatkan kepada
interaksi antara anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok, guna
menyelesaikan tugas secara bersama-sama.
f. Metode Demonstrasi
Demonstrasi merupakan format belajar mengajar yang sengaja mempertunjukan atau
memperagakan tindakan, proses atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain
kepada seluruh atau sebagian siswa.
g. Metode Eksperimen (Percobaan)
Eksperimen adalah format interaksi belajar mengajar yang melibatkan logika induksi
untuk menyimpulkan pengamatan terhadap proses atau hasil percobaan.
h. Metode Simulasi
Simulasi merupakan format interaksi belajar mengajar dalam pengajaran IPS yang
didalamnya menampakan adanya prilaku pura-pura(simulasi) dari orang yang terlibat
dalam proses pembelajaran atau suatu peniruan situasi tertent, sehingga siswa dapat
memahami konsep, prinsip-prinsip keterampilan, nilai dan sikap dari sesuatu dari yang
sedang disimulasikan.
i. Metode Inquiri dan Discovery
Metode Inquiri dan Discovery dalam pembelajaran merupakan suatu prosedur yang
menekankan belajar secara individual dimana siswa berusaha melakukan aktivitas sendiri
untuk mencari dan meneliti sesuatu sebelum menarik suatu kesimpulan.
2. Metode Interaksi Edukatif di Luar Kelas
a.Metode Karyawisata
Metode karyawisata merupakan suatu kegiatan belajar mengajar dimana siswa dibawa ke
suatu objek di luar kelas untuk mengkaji atau mempelajari suatu masalah yang
berhubungan dengan materi pelajaran atau dengan kata lain karyawisata merupakan suatu
upaya mendekatkan atau membawa diri siswa kepada kehidupan nyata yang menjadi
sumber belajar bagi para siswa.
b. Metode Observasi
Merupakan kelanjutan atau alat yang diperlukan pada saat pelaksanaan karyawisata.
Metode observasi adalah format pembelajaran di mana siswa dibawa ke luar kelas untuk
mengamati suatu objek atau peristiwa kemudian merekamnya dengan menggunakan
lembar pengamatan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.
3. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan guru dalam memilih metode pembelajaran IPS
di sekolah dasar
Dalam memilih metode pembelajaran IPS di sekolah dasar, berdasarkan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru diharapkan memerhatikan prinsip-prinsip berikut:
1. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Peserta didik
menjadi subjek pembelajaran sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran
tinggi. Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan waktu
bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai kompetensi.
2. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan dalam kompetensi dasar dan
standar kompetensi tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari sikap,
pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu kesatuan.
3. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan individual setiap siswa.
Siswa memiliki karakteristik, potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena
itu, dalam kelas dengan jumlah siswa tertentu, guru perlu memberikan layanan individual
agar dapat mengenal dan mengembangkan siswanya.
4. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus-menerus menerapkan prinsip
pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga mencapai ketuntasan yang ditetapkan.
Siswa yang belum tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas
diberikan layana pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi berikutnya.
5. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga siswa menjadi
pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh
karena itu, guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan
kehidupan atau konteks kehidupan siswa dan lingkungan.
6. Pembelajaran dilakukan dengan multistrategi dan multimedia sehingga memberikan
pengalaman belajar yang beragam bagi peserta didik.
7. Peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan narasumber.
Jadi, metode pembelajaran IPS yang dikembangkan hendaknya memerhatikan karakteristik
siswa yang memberikan ruang kepada siswa untuk dapat secara terbuka menganalisis dan
menjelaskan nilai-nilai yang berhubungan dengan masyarakat, memutuskan tindakan, dan
mengambil tindakan dengan keputusan yang reflektif.
2.4 TEMA-TEMA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR
IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah mulai dari sekolah dasar
sampai sekolah menengah dengan menyajikan materi yang mengkaji seperangkat
peristiwa,fakta,konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu-isu sosial.
Secara garis besar, tema- tema pendidikan IPS di sekolah dasar dapat diklasifikasikan menjadi
3 bagian besar, yang masing-masing memiliki tujuan yang berbeda, yaitu :
1. Pendidikan IPS sebagai pendidikan nilai ( value education ) , yakni :
- Mendidikkan nilai- nilai yang baik, yakni merupakan norma-norma keluarga dan
masyarakat
- Memberikan klasifikasi nilai-nilai yang sudah dimiliki siswa
- Nilai-nilai inti atau nilai utama ( core values ) seperti menghormati hak-hak perorangan,
kesetaraan, etos kerja, dan martabat manusia ( the dignity of man and work , sebagai upaya
membangun kelas yang demokratis.
2. Pendidikan IPS sebagai pendidikan multikultural ( multicultural education ), yakni :
- Mendidik siswa bahwa perbedaan itu wajar
- Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang menjadikan kekayaan budaya bangsa
- Persamaan dan keadilan dalam perlakuan terhadap kelompok etnik atau minoritas
3. Pendidikan IPS sebagai pendidikan Global ( global education ), yakni :
- Mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan perbedaan di dunia
- Menanamkan kesadaran ketergantungan antarbangsa
- Menanamkan kesadaran semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antar bangsa di
dunia
- Mengurangi kemiskinan, kebodohan, perusakan lingkungan
Ruang lingkup materi pelajaran IPS di sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah yang tercantum
dalam kurikulum, Menurut Depdiknas ( 2006 ), sebagai berikut :
1. Madrasah,tempat, dan lingkungan.
2. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan.
3. Sistem sosial dan budaya.
4. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
2.5 PEMBELAJARAN IPS DALAM STRUKTUR KURIKULUM
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada jenjang pendikan dasar bertujuan untuk
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan
untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. SKL pada pendidikan sekolah
dasar untuk IPS, sesuai petunjuk dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23
Tahun 2006, sebagai berikut:
1. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
2. Menghargai keragaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di
lingkungan sekitarnya.
3.Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif.
4. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru
5. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
6. Menunjukkan gejala alam dan sosial di lingkungan sekitarnya.
7. Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
8. Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan Tanah Air
Indonesia.
9. Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
Dari berbagai strandar kelulusan tersebut di atas dapat dipahami bahwa program pendidikan
IPS bertujuan untuk menciptakan lulusan atau siswa yang memiliki sikap, etika, kepribadian,
serta pengetahuan dan keterampilan yang paripurna, yang tidak hanya terampil tangannya
saja, tetapi juga lembut hatinya, dan cerdas otaknya.
PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
SEKOLAH DASAR
A. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan alam,yang sering disebut juga dengan istilah pendidikan
sains,disingkat menjadi IPA. IPA merupakan salah satu mata pembelajaran pokok dalam
kurikulum pendidikan di Indonesia,termasuk pada jenjang sekolah dasar.Mata pelajaran IPA
merupakan mata pelajaran yang selama ini dianggap sulit oleh sebagian besar peserta
didik,mulai dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah.Anggapan sebagian besar
peserta didik yang menyatakan sulit adalah benar terbukti dari hasil perolehan Ujian Akhir
Sekolah(UAS) yang dilaporkan oleh Depdiknas masih sangat jauh dari standar yang
diharapkan.Ironisnya,justru semakin tinggi jenjang pendidikan,maka perolehan rata-rata nilai
UAS pendidikan IPA ini menjadi semakin rendah.
Salah satu nasalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah masalah lemahnya
pelaksanaan proses pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah.Proses Pembelajaran yang
terjadi selama ini kurang mampu mengembangkan kemampuan berpikir pesera didik.
Pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya diarahkan pada
kemampuan siswa untuk menghapal informasi,otak siswa dipaksa hanya untuk mengingat dan
menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh untuk
menghubungkan dengan situasi dalam kebhidupan sehari-hari.
Kondisi ini juga menimpa pada pembelajaran IPA,yang hanya memperlihatkan bahwa
selama ini proses pembelajaran sains di sekolah dasar masih banyak yang dilaksanakan secara
konvensional.Para guru belum sepenuhnya melaksanakan pembelajaran secara aktif dan kreatif
dalam melibatkansiswa serta belum menggunakan berbagai pendekatan/strategi pembelajaran
yang bervariasi berdasarkan karakter materi pelajaran.
Dalam proses belajar mengajar,kebanyakan guru hanya terpaku pada buku teks sebagai
satu-satunya sumber belajar mengajar.Hal lain yang menjadi kelemahan dalam pembelajaran
IPA adalah masalah teknik penilaian pembelajaran yang tidak akurat dan menyeluruh.Proses
penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan pada penguasaan konsep
yanf dijaring dengan tes tulis objektif dan subjektif sebagai alat ukurnya.Dengan cara penilaian
seperti ini,berarti pengujian yang dilakukan oleh guru baru mengukur penguasaan materi saj
dan itu pun hanya meliputi ranah kognitif tingkat rendah-rendah.Keadaan semacam ini
merupakan salah satu indikasi adanya kelemahan pembelajaran di sekolah.
Penyebab utama kelemahan pembelajaran tersebut adalah karena kebanyakan guru tidak
melakukan kegiatan pembelajaran dengan memfokuskan pada pengembangan keterampilan
proses sains anak.Pada akhirnya,keadaan semacam ini yang menyebabkan kegiatan
pembelajaran dilakukan hanya terpusat pada penyampaian materi dalam buku teks
saja.Keadaan seperti ini juga mendorong siswa untuk berusaha menghafal pada setiap kali
diadakan tes atau ulangan harianatau tes hasil belajar,baik ulangan tengah
semester(UTS),maupun ulangan akhir semester(UAS).
Padahal,untuk anak jenjang sekolah dasar,menurut Marjono(1996),hal yang harus
diutamakan adalah bagaimana mengembangkan ras ingin tahu dan daya berpikir kritis mereka
terhadap suatu masalah.
Sains atau IPA adalah usaha manusia memahami alam semesta melalui pemgamatan
yang tepat pada sasaran,serta menggunakan prosedur,dan dijelaskan dengan penalaran
sehingga mendapatkan suatu kesimpulan.Dalam hal ini diharapkan mengetahui dan mengerti
hakikat pembelajaran IPA,sehingga dalam pembelajaram IPA guru tidak kesulitan dalam
mendesain dan melaksanakan pembelajaran dalam mendesain dan melaksanakan
pembelajaran.Siswa yang melakukan pembelajaran juga tidak mendapat kesulitan dalam
memahami konsep sains.
Hakikat pembelajaran sains yang didefinikan sebagai ilmu tentang alam yang dalam
bahasa Indonesia disebut dengan ilmu pengetahuan,dapat diklasifikasikan menjadi tiga
bagian,yaitu : ilmu pengetahuan alam sebagai produk,proses,dan sikap.Dari ketiga komponen
IPA ini,Sutrisno(2007) menambahkan bahwa IPA juga sebagai prosedur dan IPA sebagai
teknologi.Akan tetapi,penambahan ini bersifat pengembangan prosedur dari proses,sedangkan
teknologi dari aplikasi konsep dan prinsip-prinsip IPA sebagai produk.
Sikap dalam pembelajaran IPA yang dimaksud ialah sikap ilmiah.Jadi,dengan
pembelajaran IPA di sekolah dasar diharapkan dapat menumbuhkan sikap ilmiah seperti
seseorang ilmuwan.Adapun jenis-jenis sikap yang dimaksud,yaitu : sikap ingin tshu,percaya
diri,jujur,tidak tergesa-gesa,dan objektif terhadap fakta.
Pertama,ilmu pengetahuan alam sebagai produk,yaitu kumpulan hasil penelitian yang
telah ilmuwan lakukan dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai kegiatan
empiris dan kegiatan analitis.Bentuk IPA sebagai produk antara lain : fakta-
fakta,prinsip,hukum,dan teori-teori IPA.Jadi ada beberapa istilah yang dapat diambil dari
pengertian IPA sebagai produk,yaitu :
1. Fakta dalam IPA,pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang benar-benar
ada,atau peristiwa-peristiwa yang benar terjadi dan mudah dikonfirmasi secara objektif.
2. Konsep IPA merupakan suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta IPA.Komsep
merupakan penghubung antara fakta-fakta yang ada hubungannya.
3. Prinsip IPA yaitu generalisasi tentang hubungan di antara konsep-konsep IPA.
4. Hukum-hukum alam (IPA),prinsip-prinsip yang sudah diterima meskipu juga bersifat
tentatif(sementra,akan tetapi karena mengalami pengujian yang berulang-ulang maka
hokum alam bersifat kekal selama belum ada pembuktian yang lebih akurat dan logis.
5. Teori Ilmiah merupakan kerangka yang lebih luas dari fakta-fakta,konsep,prinsip yang
saling berhubungan.
Kedua, ilmu pengetahuan alam sebagai proses,yaitu untuk menggali dan memahami
pengetahuan tentang alam.Karena IPA merupakan kumpulan fakta dan konsep,maka IPA
membutuhkan proses dalam menemukan fakta dan teori yang digeneralisasi oleh
ilmuwan.Adapun proses dalam memahami IPA disebut dengan keterampilan proses
sains(science process skills) adalah keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuwan,seperti
mengamati,mengukur,mengklasifikasi,dan menyimpulkan.
Mengamati (observasi) adalah mengumpulkan semua informasi dengan
pancarindra. Adapun penarikan kesimpulan (inferensi) adalah kesimpulan setelah melakukan
observasi dan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.Disamping kedua
komponen ini sebagai keterampilan proses sains masih ada komponen lainnya seperti
investigasi dan eksperimen.Akan tetapi,yang menjadi dasar keterampilan proses ialah
merumuskan hipotesis dan mengeinterpretasikan data melalui prosedur-prosedur tertrntu sepeti
melakukan pengukuran dan percobaan.
Ketiga, ilmu pengetahuan alam sebagai sikap.Sikap ilmiah harus dikembangkan
dalam pembelajaran sains.Hal ini sesuai dengan sikap yang harus dimiliki oleh seorang
ilmuwan dalam melakukan penelitian dan mengomunikasikan hasil penelitiannya.Menurut
Sulistyorini(2006),ada Sembilan aspek yang dikembangkan dari sikap ilmiah dala pembelajran
sains,yaitu : sikap ingin tahu,imgin mendapat sesuatu yang baru,sikap kerja sama,tidak putus
asa,tidak berprasangka,mawas diri,bertanggung jawab,dan kedisipilinan diri.
Sikap ilmiah itu dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan siswa dalam
pembelajaran IPA pada sat melakukan diskusi,percobaan,simulasi,dan kegiatan proyek
lapangan.Pengembangan sikap ilmiah di sekolah dasar memiliki kesesuaian dengan tingkat
perekembangan kognitifnya.Menurut Piaget,anak usia sekolah dasar yang berkisar 6 atau7
tahun sampai 11 atau 12 tahun masuk dalam kategori fase operasional konkret.Fase yang
menunjukkan adanya sikap keingintahunya cukup tinggi untuk mengenali
lingkungannya.Dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan sains,maka pada anak sekolah
dasar siswa harus diberikan pengalaman serta kesempatan untuk mengembangkan kemampuan
berpikir dan bersikap terhadap alam,sehingga dapat mengetahui rahasia dan gejala-gejala alam.
Lebih lanjut,IPA juga memiliki karakteristik sebagai dasar untuk
memahaminya.Karakteristik tersebut menurut Jacobson & Bergman(1980),meliputi :
1. IPA merupakan kumpulan konsep,prinsip,hokum,dan teori.
2. Proses ilmiah dapat berupa fisik dan mental,serta mencermati fenomena
alam,termasuk juga penerapannya.
3. Sikap keteguhan hati,kengintahuan,dan ketekunan dalam dalam menyingkap rahasia
alam.
4. IPA tidak dapat membuktikan semua akan tetapi hanya sebagian atau beberapa saja.
Keberanian IPA bersifat subjektif dan bukan kebenaran yang bersifat objektif.
Dari uraian hakikat IPA di atas,dapat dipahami bahwa pembelajaran sains merupakan
pembelajaran berdasarkan pada prinsip-prinsip,proses yang mana dapat menumbuhkan sikap
ilmiah siswa terhadap konsep-konsep IPA.Oleh karena itu,pembelajaran IPA disekolah dasar
dilakukan penyelidikan sederhana dan bukan hapalan terhadap kumpulan konsep IPA.Dengan
kegiatan-kegiatan tersebut pembelajaran IPA akan mendapat pengalaman langsung melalui
pengamatan,diskusi,dan penyelidikan sederhana.Pembelajaran yang demikian dapat
menumbuhkan sikap ilmiah siswa yang diindikasikan dengan merumuskan masalah,menarik
kesimpulan,sehingga mampu berpikir kritis melalui pembelajaran IPA.
B. Tujuan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Pembelajaran sains di sekolah dasar dikenal dengan pembelajaran ilmu pengetahuan
alam (IPA). Konsep dasar Ipa di sekolah dasar merupakan konsep yang masih terpadu seperti
mata pelajaran kimia, biologi, dan fisika.
Adapun tujuan pembelajaran sains disekolah dasar dalam Badan Nasional standar
Pendidikan (BSNP,2006) dimaksud untuk:
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan yang Maha Esa berdasarkan, keberdaan,
keindahan, keteraturan alam ciptaanya.
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan
dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan
yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
4. Mengembangkan keterampilan proses, untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan
masalah, dan membuat keputusan.
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan
melestarikan lingkungan alam.
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturanya sebagai salah
satu ciptaan Tuhan.
7. Memperoleh bekal pengetahuan,konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk
melanjutkan pendidikan ke SMP.
C. Pembelajaran IPA Berbasis INKUIRI
Dalam kurikulum 2004 dan Standar isi BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)
mencantumkan inkuiri sebagai proses maupun sebagai produk yang diterapkan secara
terintegrasi di kelas.
Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dalam meliputi kegiatan-
kegiatan mengobservasi, merumuskan pertayaan relevan, mengevaluasi buku dan sumber-
sumber informasi lain secara kritis,merecanakan penyelidikan atau investigasi, me-review apa
yang telah diketahui ,melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat
untuk memperoleh data,menganalisis dan menginterprestasi data, serta membuat prediksi dan
mengomunikasikan hasilnya.
Tujuan Utama pembelajaran berbasis inkuiri menurut National Research Council
(NRC,2000), sebagai berikut:
1. Mengembangkan keinginan dan motivasi siswa untuk mempelajari prinsip dan konsep
sains.
2. Mengembangkan keterampilan Ilmiah siswa sehingga mampu berkerja seperti layaknya
seorang ilmuwan
3. Membiasakan siswa berkerja keras untuk memperoleh pengetahuan
Tujuan di atas dapat dicapai dengan mengikuti sintaks yang ada dalam pembelajaran inkuiri.
Joyce & Well (1996) mengemukan bahwa sintaks inkuiri sains terdiri atas 4 fase yaitu:
A). Fase investigasi dan pengenalan pada siswa
B). Pengelompokan masalah oleh siswa
C). Indentifikasi masalah dalam penyelidikan
D). Memberikan kemungkinan mengatasi kesulitan/ masalah
Pembelajaran inkuiri dapat dimulai dengan memberikan pertayaan dan cara bagaimana
menjawab pertayaan tersebut. Melalui pertayaan tersebut siswa dapat dilatih melakukan
observasi terbuka, berhipotesis, bereksperimen yang akhirnya dapat menarik suatu kesimpulan.
Pembelajaran dengan metode inkuiri memiliki lima komponen yanh umum yaitu:
bertaya, kertelibatan siswa, kerja sama, untuk kerja( perfome task), dan sumber-sumber yang
bervariasi.
Pembelajaran inkuiri yang masyarakat keterlibatan siswa aktif terbukti dapat
meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap sains. Metode ini dapat membantu
perkembangan, anatara lain: literasi sains dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan
perbedeharaan kata (vocal bulary), dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap
positif. Inkuiri merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan
secara rasioanal fenomena-fenomena yang memancaing rasa ingin tahu.
Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri yang meliputi topic masalah,
sumner masalah atau pertayaan bahan, prosdur atau rancangan kegiatan, pengumpulan analisis
serta pengambilan kesimpulan. Dari komponen-komponen ini, Bonnsteter (2000)
mengklasifikasi tipe inkuiri ini kedalam 4 tingkat yaitu: 1) Praktikum (traditional hands-on);
2) pengalaman sains terstruktur (structured science experiences); 3) inkuiri siswa mandiri
(student directed inquiry); dan 4) penelitian siswa (Student research).
Keterampilan inkuiri berkembang atas dasar kemampuan siswa dalam menemukan dan
merumuskan pertayaan-pertayaan yang bersifat ilmiah dan dapat mengarah pada kegiatan
penyelidikan untuk memperoleh jawaban atas pertayaan. Dalam proses pembelajaran melalui
kegiatan inkuiri siswa perlu dimotivasi untuk mengembangkan kerterampilan-keterampilan
inkuiri atau keterampilan proses sains sehingga pada akhirnya dapat mengahasilkan sikap
Ilmiah, seperti menghargai gagasan baru,berpikir kritis, jujur dan kreatif.
Menurut Nasional Science Educational Stamdard (NRC,1996) perancangan pengajaran inkuiri
dapat dilakukan dengan cara, sebagi berikut :
1. Mengembangkan kerangka kerja jangka pamjang (setahun) dan tujuan-tujuan jangka
pendek bagi siswanya.
2. Memilih kontens sains, mengadptasi dan merancang kurikulum yang memenuhi minat,
prmgrtahuan,pemahaman, kemampuan, dan pengalam siswa.
3. Memilih startegi mengajar dan penilaian yang mendukung pengembangan pemahaman
siswa dan memberikan damapak rigan terhadap masyarakat pemelajaran sains
4. Berkerja sama sebagai kolega di dalam disiplin, juga lintas disiplin dan jenjang kelas.
Tahap pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran sains atau IPA disekolah dasar dapat
dikelompokan dalam lima tahap, yaitu:
1. Adanya kegiatan merumuskan pertayaan yang dapat diteliti melalui percobaan
sederhana.
2. Adanya perumusan hipotesis atau membuat prediksi.
3. Merecanakan dan melaksanakan suatu percobaan sederhana.
4. Mengomunikasikan hasil pengamatan dan menggunkan data seta peralatan yang
digunakan dalam percobaan sederhana.
5. Menyimpulkan hasil pengamatan dan eksperimen yang telah dilakukan.
Tahap kegiatan diatas merupakan kegiatan pembelajaran inkuiri yang disedrhanakan
brdasarkan sintaks yang ada dalam pembelajaran inkuiri.
Sintaks dapat dijadikan sebagai aspek evaluasi dari pembelajaran tersebut. Aspek-aspek
dapat dilihat dari soal-soal yang diberikan guru sebagai bentuk evaluasi. Tujuannya adalah
mengukur nilai kemampuan seeorang siswa serta menjadi rujukan untuk pengembangan
pembelajaran selanjutnya.
Adapun bentuk soal yang yang berbasis inkuiri dapat berupa, seerti dikemukakan oleh
Hodgson& Scanlon (1985),sebagai berikut:
1. Tes untuk kerja (performance task), dengan ketentuan:
a. Tes dilaksanakan dengan melakukan investigasi;
b. Tes dilaksanakan dengan melakukan observasi;
2. Tes tulis, dengan ketentuan-ketentuan yang meliputi
a. Merecanakan suatu investigasi;
b. Menjelaskan suatu informasi dengan mengaplikasikan konsep sains melalui data
pengamatan atau data hasil investigasi;
c. Melalui hiptesis
d. Menggunakan tabel, grafik atau chart dalam menjelaskan konsep sains;dan
e. Membuat kesimpulan sebagai hasil pengamatan yang dapat membangun pemahaman
siswa terhadap konsep-konsep sains.
Ditinjau dari aspek inkuiri, kriteria pembuatan soal-soal diatas merupakan langkah-
langkah yang terdapat dalam langkah-langkah yang terdapat dalam tahap pembelajaran inkuiri.
Evaluasi yang diberikan akan sesuai dengan konsep pembelajaran yang telah dilaksanakan
serta sesuai dengan hakikat sains. Sebaiknya evaluasi dilakukan atau direcanakan dalam
pembelajaran.
D. Tugas Utama Guru Dalam Pembelajaran IPA Di Sekolah Dasar
Pada umumnya, tugas-tugas guru sekolah dasar, baik yang mengajar IPA ataupun sains
maupun pelajaran lainnya adalah sama. Ditinjau dari pengertian guru menurut Undang-Undang
Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 adalah pendidik professional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didik, baik pada jenjang pendidikan usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah serta di perguruan tinggi.
Jelas bahwa tugas utama guru sebagaimana yang dikemukakan dalam undang-undang
guru tersebut adalah bahwa guru mempunyai tugas sebagai pendidik, pengajar, pembimbing,
pengarah, pelatih, penilai, dan pemberi evaluasi kepada peserta didik, baik yang mengajar di
tingkat taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar, maupun sekolah menengah. Tugas ini sejalan
dengan definisi guru yang dikemukakan oleh Hasbullah (2006), bahwa guru adalah orang yang
berfungsi sebagai pembimbing untuk menumbuhkan aktivitas peserta didik dan sekaligus
sebagai pemegang tanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan. Guru tidak hanya
mengajar dan memberikan informasi saja pada siswa, akan tetapi guru juga mempunyai tugas
melatih, membimbing, serta mengarahkan siswa kepada materi pelajaran sehingga siswa
mampu belajar dan bersikap sebagai manusia yang terdidik secara akademis.
Guru sebagai profesi pendidik diharapkan memiliki kemampuan dalam
mengembangkan dirinya guna memenuhi tugas-tugas di lembaga pendidikan. Guru diminta
untuk memenuhi beberapa kompetensi dalam melaksanakan tugasnya. Ada dua unsur pokok
dalam kecakapan atau kompetensi mengajar yang harus dimiliki oleh guru, yaitu: 1) menguasai
bidang pengetahuan; dan 2) menguasai keterampilan pedagosis atau kepiawaian dalam
mengajar.
Pengembangan pengertian kompetensi disini, yaitu kompetensi pedagogis,
professional, pribadi, dan sosial. Lebih luas lagi bagaimana yang dijelaskan dalam Undang-
Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No.20 Tahun 2003, ada sepuluh kompetensi
yang harus dimiliki oleh guru dalam mengajar dan bersikap, yaitu:
1. Memiliki kepribadian ideal sebagai guru
2. Penguasaan landasan kependidikan
3. Menguasai bahan pembelajaran
4. Kemampuan menyusun program pembelajaran
5. Kemampuan melaksanakan program pembelajaran
6. Kemapuan menilai hasil dan proses belajar mengajar
7. Kemampuan menyelenggarakan program bimbingan
8. Kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah
9. Kemampuan bekerja sama dengan sejawat dan masyarakat
10. Kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pembelajaran.
Selain itu, guru memiliki tugas, peran, dan fungsi dalam pembelajaran di sekolah, maka
guru juga mempunyai tanggung jawab yang besar dalam menyelenggarakan proses
pembelajaran ini. Tanggung jawab guru tersebut menurut Wasliman (2007), meliputi:
1. Menguasai cara belajar mengajar yang efektif
2. Mampu membuat satuan pembelajaran (satpel)
3. Mampu dan memahami kurikulum dengan baik
4. Mampu mengajar di kelas
5. Menjadi model bagi peserta didik
6. Mampu membuat dan melaksanakan evaluasi, dll.
Selain itu, guru juga memiliki tanggung jawab sebagai ilmuan. Guru sebagai ilmuan
bertanggung jawab dan turut serta dalam memajukan ilmu pengetahuan, terutama yang telah
terjadi spesialisasinya, dengan melaksanakan penelitian dan pengembangan.
Uraian diatas menunjukkan kompetensi guru secara umum, sedangkan secara khusus
dalam pembelajaran IPA, guru dapat melakukannya melalui pratikum sederhana dengan
pembelajaran berbasi inkuiri, maka guru memiliki tugas-tugas yang lebih spesifik, seperti
memfasilitasi siswa untuk dapat melakukan pengamatan dan diskusi dimana pembelajaran ini
membutuhkan peralatan dan bahan-bahan dalam pembelajarannya. Dengan demikian, guru
juga harus mengetahui prosedur, konsep, dan keterampilan dalam pembelajaran siswa. Karena
tidak ada perbedaan tahapan pembelajaran IPA dengan pembelajaran mata pelajaran lainnya,
maka tugas-tugas guru di dalam pembelajaran dapat meliputi: menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), melaksankaan kegiatan belajar mengajar (KBM) dan melaksanakan
evaluasi.
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR BELAJAR DAN
PEMBELAJARAN
A. PENGERTIAN MATEMATIKA
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang ada pada semua jenjang
pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan matematika
diajarkan di taman kanak-kanak secara informal.
Belajar matematika merupakan suatu syarat cukup untuk melanjutkan pendidikan
kejenjang berikutnya. Karena dengan belajar matematika, kita akan bernalar secara kritis,
kratif dan aktif. Matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-simbol, maka
konsep- konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-
simbol itu.
Pada usia siswa sekolah dasar (7-8 tahun hingga 12-12 tahun), menurut teori kognitif
Piaget termasuk pada tahap operasional konkret. Berdasarkan perkembangan kognitif ini,
maka anak usia sekolah dasar mengalalmi kesulitan dalam memahami matematika yang
bersifat abstrak. Karena keabstrakannya matematika relative tidak mudah untuk dipahami
oleh siswa sekolah dasar pada umumnya.
Bidang studi matematika merupakan salah satu komponen pendidikan dasar dalam
bidang- bidang pengajaran. Bidang studi matematika ini diperlukan untuk proses perhitungan
dan proses berpikir yang sangat dibutuhkan orang dalam menyelesaikan berbagai masalah.
Dalam kurikulum Depdiknas 2004 disebutkan bahwa standar kompetensi matematika di
sekolah Dasar yang harus dimiliki siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran bukanlah
penguasaan materi, namun yang diperlukan ialah dapat memahami dunia sekitar, mampu
bersaing, dan berhasil dalam kehidupan. Standar kompetensi yang dirumuskan dalam
kurikulum ini mencakup pemahaman konsep matematika komunikasi matematis, koneksi
matematis, penalaran dan pemecahan masalah, serta sikap dan minat yang positif terhadap
matematika.
Kata matematika berasal dari bahas Latin, manthanein atau mathema yang berarti
"belajar atau hal yang dipelajari," sedang dalam bahasa Belanda, matematika disebut
wiskunde atau ilmu Pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas, 2001:7).
Matematika memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisikan dengan baik, penalaran yang
jelas dan sistematis, dan struktur atau ketertarikan antar konsep yang kuat.
Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan
berpikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam dunia kerja serta memberikan
dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebutuhan akan aplikasi
matematika saat ini dan masa depan tidak hanya untuk keperluan sehari-hari, tetapi terutama
dalam dunia kerja, dan mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu,
matematika sebagai ilmu dasar perlu dikuasai dengan baik oleh siswa, terutama sejak usia
sekolah dasar.
Namun dalam kenyataan yang ada sekarang, penguasaan matematika selalu menjadi
permasalahan besar. Hal ini terbukti dari hasil ujian nasional (UN) yang diselenggarakan
memperlihatkan rendahnya persentase kelulusan siswa dalam ujian tersebut. Pada
umumnya, yang menjadu faktor penyebab ketidaklukusan siswa dalam ujian nasional ini
adalah rendahnya kemampuan siswa dalam materi pembelajaran matematika.
B. PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru
sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. Pembelajaran didalamnya
mengandung makna belajar dan mengajar, atau merupakan kegiatan belajar mengajar.
Belajar tertuju pada apa yang harus dilakukan oleh seseorang sebagai subjek yang menerima
pelajaran, sedangkan mengajar berorientasi pada apa yang harus dilakukan guru sebagai
pemeberi pelajaran. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu
kegiatan pada saat terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan
siswa di dalam pembelajaran matematika sedang berlangsung.
Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang dibangun oleh
guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan kemampuan
berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontribusi pengetahuan baru
sebagai upaya meningkatkan penguasa yang baik terhadap materi matematika.
Pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar mengajar yang mengandung
dua jenis kegiatan yang tidak terpisahkan. Kegiatan tersebut adalah belajar dan mengajar.
Kedu aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi
interaksi antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan lingkungan di saat
pembelajaran matematika sedang berlangsung.
Dalam proses pembelajaran matematika, baik guru maupun siswa bersama-sama
menjadi pelaku terlaksananya tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini akan mencapai
hasil yang maksimal apabila pembelajaran berjalan secara efektif. Pembelajaran yang efektif
adalah pembelajaran yang mampu melibatkan seluruh siswa secara aktif. Kualitas
pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Pertama, dari segi proses
pembelajaran sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun
sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan semangat belajar yang tinggi,
dan percaya pada diri sendiri. Kedua, dari segi hasil, pembelajaran dikatakan efektif apabila
terjadi perubahan tingkah laku ke arah postif, dan tercapainya tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan.
Menurut Wragg (1997), pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang
memudahkan siswa untuk mempelajari sesuatu yang bermanfaat, seperti fakta,
keterampilan, nilai, konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan sesama, atau suatu hasil
belajar yang diinginkan. Proses pembelajaran matematika bukan hanya transfer ilmu dari
guru ke siswa, melainkan suatu proses kegiatan, yaitu terjadi interaksi antara guru dengan
siswa serta antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan lingkungannya. Pembelajaran
matematika bukan hanya sebagai transfer of knowledge, yang mengandung makna bahwa
merupakan objek dari belajar, namun hendaknya siswa menjadi subjek dalam belajar.
Sehingga dapat dikatakan bahwa seseorang dikatakan belajar matematika apabila pada diri
seseorang tersebut terjadi suatu kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan tingkah laku
yang berkaitan dengan matematika.
Menurut Hans Freundental dalam Marsigit (2008), matematika merupakan aktivitas
insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Dengan demikian, matematika
merupakan cara berpikir logis yang dipresentasikan dalam bilangan, ruang, dan bentuk
dengan aturan-aturan yang telah ada yang tak lepas dari aktivitas insani tersebut. Pada
hakikatnya, matematika tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari, dalam arti matematika
memiliki
kegunaan yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Semua masalah kehidupan yang
membutuhkan pemecahan secara cermat dan teliti mau tidak mau harus berpaling kepada
matematika.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR
Menurut Soedjadi (1998: 40) tujuan pendidikan matematika yang dimaksudkan adalah
tujuan secara umum mengapa matematika diajarkan di berbagai jenjang sekolah.
Matematika sekolah dimaksudkan sebagai bagian matematika yang diberikan untuk
dipelajari siswa SD, SLTP, dan SLTA. Berdasarkan GBPP matematika Mengemukakan ada
tujuan umum dan tujuan khusus yaitu;
1) Tujuan umumnya yaitu;
a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehi-
dupan dan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemi-
kiran secara logis, rasional kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.
b. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matemati-
ka dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
2) Tujuan khususnya yaitu;
a. Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan
bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari.
b. Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan
matematika
c. Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut
di Sekolah Lanjutan Tingkat pertama
d. Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.
Dengan mengkaji secara mendalam tujuan tersebut, terlihat bahwa tujuan pembelajaran
matematika memuat nilai-nilai matematika yang bersifat formal dan material. Seba-gaimana
dikatakan Soedjadi (1998: 45) bahwa tujuan pembelajaran matematika di setiap jenjang
pendidikan digolongkan menjadi (1) tujuan yang bersifat formal, yaitu tujuan yang
menekankan pada penataan nalar siswa serta pembentukan pribadinya; (2) tujuan yang
bersifat material, yaitu tujuan yang menekankan pada penerapan matematika baik dalam
matematika itu sendiri maupun di luar matematika.
D. PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA
Istilah pendekatan dapat dipahami sebagai suatu jalan, cara atau kebijaksanaan yang
ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pengajaran dilihat dari sudut
bagaimana proses pengajaran atau materi pengajaran itu, umum atau khusus dikelola. Jadi,
pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu
proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan rekayasa perilaku untuk merangsang,
memelihara, meningkatkan, terjadinya proses berpikir pembelajar. Dengan demikian,
pendekatan pembela- jaran merupakan suatu cara atau titik tolak terhadap proses
pengelolaan dalam pembelajaran.
Bidang studi matematika merupakan bidang studi yang berguna dan membantu dalam
menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan
hitung menghitung atau yang berkaitan dengan urusan angka-angka berbagai macam
masalah, yang memerlukan suatu keterampilan dan kemampuan untuk memecahkannya.
Oleh sebab itu, siswa sebagai salah satu komponen dalam pendidikan harus selalu dilatih dan
dibiasakan berpikir mandiri untuk memecahkan masalah. Karena pemecahan masalah, selain
menuntut siswa untuk berpikir juga merupakan alat utama untuk melakukan atau bekerja
dalam matematika. Melalui pelajaran matematika juga diharapkan dapat ditumbuhkan
kemampuan- kemampuan yang lebih bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah yang
diperkirakan akan dihadapi peserta didik di masa depan.
Pemecahan masalah (problem solving) merupakan komponen yang sangat penting dalam
matematika. Secara umum, dapat dijelaskan bahwa pemecahan masalah merupakan proses
menerapkan pengetahuan (knowledge) yang telah diperoleh siswa sebelumnya ke dalam
situasi yang baru. Pemecahan masalah juga merupakan aktivitas yang sangat penting dalam
pembelajaran matematika, karena tujuan belajar yang ingin dicapai dalam pemecahan
masalah berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan maşalah adalah pendekatan
yang bersifat umum yang lebih mengutamakan kepada proses daripada hasil. Proses meru-
pakan faktor utama dalam pembelajaran pemecahan masalah, bukannya produk
sebagaimana dijumpai pada pembelajaran konvensional. Pengertian proses dalam hal ini ialah
ketika siswa belajar matematika ada proses reinvention (menemu- kan kembali), artinya
prosedur, aturan yang harus dipelajari tidaklah disediakan dan diajarkan oleh guru dan siswa
siap menampungnya, tetapi siswa harus berusaha menemukannya.
Pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika ini merupakan model
pembelajaran yang harus terus dikembangkan dan ditingkatkan penerapannya di sekolah-
sekolah, termasuk di sekolah dasar. Dengan pemecahan masalah matematika ini siswa
melakukan kegiatan yang dapat mendorong berkem- bangnya pemahaman dan penghayatan
siswa terhadap prinsip, nilai, dan proses matematika. Hal ini akan membuka jalan bagi
tumbuhnya daya nalar, berpikir logis, sistematis, kritis, dan kreatif. Dengan menggunakan
model pemecahan masalah ini dapat mengembangkan proses berpikir tingkat tinggi, seperti:
proses visualisasi, asosiasi, abstraksi manipulasi, penalaran, analisis, sintesis, dan generalisasi
yang masing-masing perlu dikelola secara terkoordinasi. Kemampuan berpikir dan kete-
rampilan yang telah dimiliki anak dapat digunakan dalam proses pemecahan masalah
matematis, dapat ditransfer ke dalam berbagai bidang kehidupan. Pemecahan masalah
matematis dapat membantu memahami informasi secara lebih baik, de- ngan demikian
bahwa pemecahan masalah merupakan suatu proses untuk mengatasi kesulitan yang ditemui
untuk mencapai suatu tujuan yang ingin dicapai.
Menurut Killen (1998), pemecahan masalah sebagai strategi pembelajaran adalah suatu
teknik di mana masalah digunakan secara langsung sebagai alat untuk membantu siswa
memahami materi pelajaran yang sedang mereka pelajari. Dengan pendekatan pemecahan
masalah ini siswa dihadapkan pada berbagai masalah yang dijadikan bahan pembelajaran
secara langsung agar siswa menjadi peka dan tanggap terhadap semua persoalan yang
dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-harinya.
Adapun menurut Djamarah (2002), pemecahan masalah merupakan suatu metode yang
merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam pemecahan masalah dapat digunakan
metode-
metode lainnya yang dimulai dengan pencarian data sampai kepada penarikan kesimpulan.
Karena itu, pembelajaran yang bernuansa pemecahan masalah harus dirancang sedemikian
rupa sehingga mampu merangsang siswa untuk berpikir dan mendorong menggunakan
pikirannya secara sadar untuk memecahkan masalah.
Dilihat dari aspek kegunaan atau fungsinya, model pembelajaran atau pendekatan
pemecahan masalah ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu: pemecahan ma-
salah sebagai tujuan, proses, dan keterampilan dasar. Pertama, pemecahan masalah sebagai
tujuan, digunakan ketika peme- cahan masalah dianggap sebagai tujuan secara umum dalam
pemecahan masalah, yang tidak tergantung dari masalah khusus, prosedur atau metode, dan
isi matematika, namun yang paling utama adalah pembelajaran ditekankan pada bagaimana
memecahkan masalah. Jadi, dalam interpretasi ini pemecahan masalah bebas dari soal,
prosedur, metode, atau isu khusus yang menjadi pertimbangan utama adalah belajar
bagaimana cara menyelesaikan masalah yang merupakan alasan utama untuk belajar
matematika. Kedua, pemecahan masalah sebagai proses digunakan ser bagai proses yang
muncul dari interpretasinya sebagai proses dinamika dan terus-menerus. Yang ditekankan
dalam pemecahan masalah sebagai proses ini, yaitu: metode, prosedur, strategi, dan heuristis
yang digunakan siswa dalam pemecahan masalah. Dengan kata lain, pemecahan masalah
sebagai proses ini dimaksudkan sebagai pemecahan yang menerapkan pengetahuan yang
telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru dan tak dikenal. Yang menjadi
pertimbangan utama dalam hal ini, yaitu: metode, prosedur, strategi, dan heuristis yang siswa
gunakan dalam memecahkan masalah. Bagian-bagian proses pemecahan masalah ini
sangatlah penting dan menjadi fokus dari kurikulum matematika. Ketiga, pemecahan masalah
sebagai keterampilan dasar, yakni menyangkut keterampilan minimal yang harus dimiliki
siswa dalam matematika, dan keterampilan minimal yang di- perlukan seseorang agar dapat
menjalankan fungsinya dalam masyarakat.
Adapun jika dilihat dari jenisnya, pendekatan pemecahan masalah juga dapat
dikelompokkan ke dalam tiga jenis, yang menurut Bay (2000) terdiri atas: mengajar untuk
pemecahan masalah, mengajar tentang pemecahan masalah, dan mengajar melalui
pemecahan masalah.
Pertama, mengajar untuk pemecahan masalah (teaching for problem solving) adalah
model pembelajaran yang ditujukan untuk mengajarkan konsep terlebih dahulu, kemudian
siswa menerapkan pengetahuannya pada situasi pemecahan masalah. Pendekatan ini pada
umumnya terdapat dalam buku teks, di mana soal latihan diikuti oleh soal cerita dengan
penerapan konsep yang sama.
Kedua, mengajar tentang pemecahan masalah (teaching about problem solving) adalah
model pembelajaran yang dimaksudkan untuk mempelajari bagaimana menerapkan strategi
pemecahan masalah, tidak perlu mengajarkan konten matematikanya. Pendekatan ini adalah
mengajarkan strategi atau heuristis untuk menyelesaikan masalah. Salah satu cara yang
populer yaitu pemecahan masalah dengan mengajukan empat langkah pemecahan masalah,
yaitu:
1) Memahami masalah
2) Merencanakan masalah
3) Melaksanakan perhitungan
4) Memeriksa kembali proses dan hasil perhitungan
Ketiga, mengajar melalui pemecahan masalah (teaching via problem solving), yaitu
pembelajaran ditempuh melalui masalah yang konkret dan perlahan-lahan menuju abstrak.
Pengajaran ini bertujuan mengajarkan konten matematika dalam suatu lingkungan
pemecahan masalah yang berorientasi inkuiri.
Dalam kajian ini, penulis memfokuskan pada jenis pemecahan masalah yang ketiga, yaitu
mengajar melalui pemecahan masalah, yang dalam hal ini dimaksudkan sebagai
pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah. Di mana dalam pembelajaran
melalui pemecahan masalah ini, guru harus dapat membangkitkan minat siswa untuk terlibat
dalam pemecahan masalah yang diajukan. Guru membimbing siswa secara bertahap agar
siswa dapat menemukan solusi masalah yang diajukan. Menurut Reys (1980), sedikitnya ada
tiga hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran melalui pemecahan masalah agar siswa
berminat terhadap masalah yang sedang dihadapinya, yaitu:
1) Memberikan pangalaman langsung aktif, dan berkesinambungan dalam menyelesaikan
soal beragam
2) Menciptakan hubungan yang positif antara minat dan keberhasilan siswa
3) Menciptakan hubungan akrab antara siswa, permasalahan, perilaku pemecahan masalah,
dan suasana kelas.
Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran melalui pemecahan masalah
ini ialah siswa mampu memahami proses dan prosedurnya, sehingga siswa terampil
menentukan dan mengidentifikasi kondisi dan data yang relevan. Dengan adanya
kemampuan siswa dalam memahami proses ini juga siswa mampu menggeneralisasikan
masalah, merumuskan, dan menghasilkan keterampilan yang telah dimiliki. Akhirnya, siswa
akan dapat belajar secara mandiri mengenai pemecahan masalah.
Menurut Killen (1998), pentingnya penerapan pendekatan pemecahan masalah dalam
pembelajaran ini, sebagai berikut:
1) Dapat mengembangkan jawahan siswa yang bermakna menuju pemahanan yang lebih
baik mengenai suatu materi
2) Memberikan tantangan untuk siswa, dan mereka dapat memperoleh kepuasan besar
ketika menemukan penge tahuan baru untuk diri mereka sendiri
3) Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran
4) Membantu siswa mentransfer pengetahuan mereka kepada masalah-masalah dunia nyata
5) Membantu siswa bertanggung jawab untuk membentuk dan mengarahkan
pembelajaran mereka sendiri
6) Mengembangkan skill-skill berpikir kritis siswa dan kemampuan beradaptasi dengan
situasi-situasi pembelajaran baru
7) Meningkatkan interaksi siswa dan kerja tim, oleh karena itu meningkatkan skill-skill
interpersonal siswa
Selain itu, pentingnya penerapan pendekatan pemecahan masalah dalam pelajaran
matematika ini, karena pemecahan masalah berguna untuk kepentingan matematika itu
sendiri dan berguna untuk memecahkan persoalan-persoalan lain dalam masyarakat. Dengan
memanfaatkan model pembelajaran yang menekankan pemecahan masalah, maka siswa
menjadi lebih kritis, analitis dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan. Dengan kata
lain, pemecahan masalah matematika yang diajarkan pada siswa hasilnya adalah siswa
memiliki pemahaman yang baik tentang suatu masalah, mampu mengomunikasikan ide-ide
dengan baik, mampu mengambil keputusan, memiliki keterampilan tentang bagaimana
mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis dan menyadari betapa perlunya
meneliti kembali hasil yang telah diperoleh.
Dalam pembelajaran pemecahan masalah, guru harus dapat membangkitkan minat siswa
untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang diajukan. Guru membimbing siswa secara
bertahap agar siswa dapat menemukan solusi masalah yang diajukan. Dalam pelaksanaan
pembelajaran pemecahan masalah siswa diharapkan dapat memahami proses dan
prosedurnya, sehingga siswa terampil menentukan dan mengindentifikasikan kondisi dan
data yang relevan, generalisasi, merumuskan, dan mengorganisasikan keterampilan yang
telah dimiliki. Akhirnya, siswa akan dapat belajar secara mandiri mengenai pemecahan ma-
salah. Di dalam pembelajaran pemecahan masalah dibutuhkan suatu teknik-teknik, prosedur,
dan langkah- langkah (strategi) tertentu, sehingga siswa dapat memecahkan masalah dalam
tingkat kesulitan yang bervariasi.
Selanjutnya, Polya (1985: 5) menyebutkan ada empat langkah dalam pembelajaran
pemecahan masalah, yaitu:
1) Memahami masalah, langkah ini meliputi:
a. Apa yang diketahui, keterangan apa yang diberikan, atau bagaimana keterangan soal
b. Apakah keterangan yang diberikan cukup untuk mencari apa yang
ditanyakan c.. Apakah keterangan tersebut tidak cukup, atau keterangan itu
berlebihan
d. Dan buatlah gambar atau notasi yang sesuai.
2) Merencanakan penyelesaian, langkah ini terdiri
atas:
a. Pernahkah ada soal yang serupa dalam bentuk lain
b. Rumus mana yang dapat digunakan dalam masalah ini
c. Perhatikan apa yang ditanyakan
d. Dapatkah hasil dan metode yang lalu digunakan di sini
3) Melalui perhitungan, langkah ini menekankan pada pelaksanaan rencana penyelesaian
yang meliputi:
a. Memeriksa setiap langkah apakah sudah benar atau belum
b. Bagaimana membuktikan bahwa langkah yang dipilih sudah benar
c. Melaksanakan perhitungan sesuai dengan rencana yang dibuat
4) Memeriksa kembali proses dan hasil. Langkah ini menekan-kan pada bagaimana cara
memeriksa kebenaran jawaban yang diperoleh, yang terdiri dari:
a. Dapatkah diperiksa kebenaran jawaban
b. Apatkah jawaban itu dicari dengan cara lain
c. Dapatkah jawaban atau cara tersebut digunakan untuk soal-soal lain
Dengan mengikuti langkah-langkah atau strategi dari Polya itu, berarti siswa akan dituntut
mulai dari pemecahan masalah, memikirkan cara pemecahannya, sampai siswa dapat
melaku- kan pemecahannya. Dengan demikian, strategi pemecahan masalah juga dapat
diartikan sebagai suatu cara atau prosedur pemecahan masalah yang langkah-langkahnya
dirancang untuk memudahkan siswa berpikir untuk menemukan pola pemecah- an yang
tepat. Karena itu, strategi pemecahan masalah dapat memengaruhi proses berpikir seseorang
dalam memperoleh
ide-ide baru yang berguna untuk pemecahan masalah. Agar pembelajaran pemecahan
masalah ini mampu mem- bantu siswa dalam memahami konsep-konsep matematika,
menurut Djamarah dan Zain (2002: 105) ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam
menerapkan pembelajaran ini, yaitu:
1) Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir
siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa
2) Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering membutuhkan waktu
yang cukup banyak, oleh sebab itu, guru harus membuat suatu desain pembelajaran
sebaik mungkin, sehingga tujuan dari kurikulum tetap tercapai dengan waktu yang
disediakan
3) Harus mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mende- ngarkan dan menerima
informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan masalah sendiri
atau kelompok
Dalam menerapkan pendekatan pemecahan masalah di dalam kelas, diharapkan kepada
guru membantu siswa dalam menumbuhkan semangat atau motivasi dalam memecahkan
masalah. Dalam hal ini, guru harus membimbing dan merasa yakin bahwa siswa sudah
memahami permasalahannya, jika belum atau tidak memahami permasalahannya maka
minat siswa akan hilang, membantu siswa untuk mengumpulkan materi guna menolong dan
menyusun rencana penyelesaian. Siswa juga diarahkan untuk dapat mengidentifikasi seluruh
syarat yang diketahui untuk membangun informasi yang didapat dan berusaha untuk
menciptakan iklim atau suasana yang kondusif dalam pemecahan masalah.
Kesimpulannya bahwa pendekatan pemecahan masalah dapat membantu siswa
merealisasikan pengetahuan yang telah mereka peroleh dan dapat diterapkan kepada situasi
baru, dan proses ini menuntun siswa untuk memperoleh pengetahuan baru. Dengan
menggunakan pendekatan atau model pembelajaran pemecahan masalah ini memungkinkan
siswa itu menjadi lebih kritis dan analitis dalam mengambil keputusan dalam kehidupan.
Selain itu, dengan menggunakan pendekatan pembelajaran ini mengajarkan siswa untuk
belajar berpikir (learning to think) atau belajar bernalar (learning to reason), yaitu berpikir
atau bernalar mengaplikasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya
untuk memecahkan masalah-masalah baru yang belum pernah dijumpai. Dengan
pembelajaran pemecahan masalah menghendaki siswa belajar secara aktif, bukannya guru
yang lebih aktif dalam menyajikan materi pelajaran. Belajar aktif dapat menumbuhkan sikaf
kreatif. Sikap kreatif yang dimaksud ialah sifat kreatif mencari sendiri, menemukan,
merumuskan, atau menyimpulkan sendiri.
E. PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK
Pendekatan realistik merupakan suatu pendekatan atau cara pembelajaran dimana
mendekatkan siswa kepada hal yang bersifat nyata yaitu dengan memanfaatkan lingkungan
disekitar sebagai materi pembelajaran. Siswa dalam pendekatan realistik dituntun agar
terlibat secara aktif dalam pembelajaran yakni dalam memecahkan masalah matematika baik
secara individu maupun diskusi kelompok. Dalam pendekatan tersebut guru bersifat sebagai
fasilitator
kegiatan pembelajaran karena pembelajaran realistik bertajuk situated learning yaitu proses
pembelajaran yang diarahkan kepada dunia nyata atau student center.
Dengan demikian Pendekatan Matematika Realistik merupakan suatu pendekatan
metodologi pembelajaran yang mengutamakan kenyataan dan lingkungan sebagai alat bantu
pembelajaran dimana mempunyai maksud kebermaknaan kepada siswa sehingga
pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
KARAKTERISTIK PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK
Terdapat lima karakteristik dalam pendekatan pembelajaran realistik yang
dikemukakan oleh Gravemejer (Maulana, dkk. 2009) diantaranya sebagai berikut ini.
A. Phenomenological exploration or use contex.
Konteks merupakan suatu lingkungan keseharian peserta didik yang nyata. Dalam
matematika konteks ini tidak selalu diartikan konkret, melainkan dapat juga sesuatu yang
telah dipahami peserta didik atau dapat dibayangkan oleh peserta didik. Konteks juga tidak
selalu dihubungkan dengan pengalaman peserta didik.
Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran matematika
realistik, guru harus memanfaatkan pengetahuan awal peserta didik untuk memahami
konsep- konsep matematika dengan memberikan suatu permasalahan yang kontekstual.
B. The use models or bringing by vertical instrument.
Model atau gambar diarahkan untuk memberikan pemahaman terhadap peserta didik dari
model konkret atau nyata menuju ke model abstrak. Dalam proses menggunakan model ini,
peserta didik diharapkan dapat menemukan hubungan antara bagian-bagian masalah
kontekstual dan menyampaikannya ke dalam model matematika melalui bentuk skema,
rumusan, serta bentuk visual. Bentuk model ini bertujuan untuk menjembatani antara
masalah matematika yang kontekstual dengan matematika formal yang bersifat vertikal. Dari
karakteristik ini diharapkan peserta didik mampu mengembangkan kemampuan berpikir
logis, kritis, dapat merepresentasikan dan berkomunikasi dalam matematika.
C. The use of students own production and constructions of students contributions
Konstribusi yang besar pada proses belajar mengajar diharapkan dari konstribusi peserta
didik itu sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal kearah yang lebih formal
atau baku melalui bimbingan seorang guru. Strategi-strategi informal peserta didik berupa
skema, grafik, diagram, atau simbol-simbol dalam matematika serta prosedur pemecahan
masalah
kontekstual sebagai sumber inspirasi dalam membangun pengetahuan matematika formal
diharapakan dapat berkembang ke arah yang positif.
D. The interactive character or teaching process or interactivity.
Interaksi antara peserta didik dengan peserta didik dan guru dengan peserta didik maupun
sebaliknya merupakan bagian penting dalam pendekatan matematika realistik. Bentuk
interaksi yang terjadi dalam pembelajaran diantaranya dapat berupa negoisasi secara
eksplisit, intervensi kooperatif, penjelasan, melalaui suatu kebenaran, setuju atau tidak
setuju, pertanyaan atau refleksi dan evaluasi sesama peserta didik dan guru.
E. Intertwining or various learning strand.
Konsep yang dipelajari peserta didik dengan prinsip belajar-mengajar matematika realistik
harus merupakan jalinan dengan konsep atau materi lain baik dalam matematika itu sendiri
maupun dengan yang lain, sehingga matematika bukanlah suatu pengetahuan yang terpisah-
pisah melainkan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang utuh dan terpadu. Hal ini
dimaksudkan agar proses pemahaman peserta didik terhadap suatu konsep dapat dilakukan
secara bermakna dan holistik.
PRINSIP-PRINSIP PENDEKATAN PEMBELAJARAN REALISTIK MATEMATIKA
Menurut Suwangsih & Tiurlina (2006, hlm. 135) terdapat lima prinsip pembelajaran
realistik yang menjiwai setiap aktivitas pembelajaran matematika.
1) Didominasi oleh masalah-masalah dalam konteks, melayani dua hal yaitu sebagai
sumber dan sebagai terapan konsep matematika.
2) Perhatian diberikan pada pengembangan model-model, situasi, skema, dan simbol-
simbol.
3) Sumbangan dari siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajaran menjadi
konstruktif dan produktif, artinya siswa memproduksi dan mengkonstruksi sendiri
(yang mungkin berupa algoritma, rule, atau aturan), sehingga dapat membimbing para
siswa dari level matematika informal menuju matematika formal.
4) Interaktif sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika.
5) Intertwining (membuat jalinan) antar topik atau antar pokok bahasan.
TAHAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK
Menurut Gravemejer (Tarigan, 2006, hlm. 4), proses reinvensi berlangsung dalam empat tahap.
1) Tahap situasional, pengetahuan dan strategi yang bersifat situasional dan terbatas
digunakan dalam konteks situasi yang sedang dihadapi.
2) Tahap refrensial, model situasi dan strategi khusus yang digunakan untuk
menjelaskan situasi masalah yang sedang dihadapi.
3) Tahap umum, model dan strategi digunakan untuk menghadapi berbagai macam
situasi masalah yang mirip.
4) Tahap formal, prosedur dan notasi baku digunakan untuk memecahkan masalah
matematika.
F. KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS
Istilah pemahaman berasal dari akar kata “paham”, yang menurutk Kamus Besar
Bahasa Indonesia diartikan sebagai pengetahuan yang banyak, pendapat, aliran, dan mengerti
dengan benar. Adapun istilah pemahaman sendiri diartikan dengan proses, cara, perbuatan
memahami atau memahamkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman
adalah suatu proses mental terjadinya adaptasi dan transformasi ilmu pengetahuan dimana
siswa mampu mengerti apa yang telah disampaikan oleh gurunya.
Pembelajaran yang mengarah pada upaya pemberian pemahaman pada siswa adalah
pembelajaran yang mengarahkan agar siswa memahami apa yang mereka pelajari, tahu
kapan, dimana, dan bagaimana menggunakannya, karena keefektifan pembelajaran sangat
ditentukan oleh ada tidaknya proses pemahaman atau memahami pengetahuan dan proses
mental yang dominan dalam proses memahami adalah dengan memikirkan (thinking). Selain
itu, pemerolehan pengetahuan dan proses memahami akan sangat terbantu, apabila siswa
dapat sekaligus melakukan sesuatu yang terkait dengan keduanya dengan mengerjakannya,
maka siswa akan menjadi lebih tahu dan lebih paham.
Untuk memahami sesuatu, menurut Bloom (Tea,2009) siswa harus melakukan lima
tahapan berikut, yaitu :
1. Receiving (menerima). Adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan
stimulus dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala
dan lain-lain.
2. Responding (membanding-bandingkan). Kemampuan yang dimiliki oleh seseorang
untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat
reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang receiving
3. Valuing (menilai). Valuing adalah tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada
receiving dan responding. Dalam kaitan proses belajar mengajar, peserta didik disini
tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan
untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran yang
telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka ini
berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian.
4. Organizing (diatur). Organization mengatur atau mengorganisasikan, artinya memper-
temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang
membawa
pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan
pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya
hubungan satu nilai denagan nilai lain., pemantapan dan perioritas nilai yang telah
dimilikinya
5. Characterization (penataan nilai). Characterization by evalue or calue complex
karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai, yakni keterpaduan semua sistem
nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan
tingkah lakunya. Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi
dalal suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan
telah mempengaruhi emosinya. Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi, karena
sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana
Untuk memahami suatu objek secara mendalam, menurut Sumarno (1987) sedikitnya
seseorang harus mengetahui lima aspek penting, yaitu :
1. Objek itu sendiri
2. Relasinya dengan objek lain yang sejenis
3. Relasinya dengan objek lain yang tidak sejenis
4. Relasi-dual dengan objek lainnya yang sejenis
5. Relasi dengan objek dalam teori lainnya
Adapun hal yang mempengaruhi terjadinya pemahaman adalah:
1. Sistematisasi sajian materi, karena materi akan masuk ke otak jika masuknya teratur
2. Kejelasan dari materi yang disajikan.
Pemahaman matematis adalah kemampuan menjelaskan suatu situasi dengan kata-
kata yang berbeda dan dapat menginterpretasikan atau menarik kesimpulan dari tabel, data,
grafik, dan sebagainya. Konsep-konsep dalam matematika terorganisasi secara sistematis,
logis, dan hierarkis dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks. Dengan kata lain,
pemahaman dan penguasaan suatu materi merupakan persyaratan untuk menguasai materi
atau konsep selanjutnya. Dapat disimpulkan bahwa
kemampuan pemahaman matematis
adalah kemampuan dalam mengenal, memahami, dan menerapkan konsep, prosedur, prinsip
dan ide matematika sebagai bentuk pernyataan hasil belajar.
Sebagai indikator bahwa siswa dikatakan paham terhadap konsep matematika,
menurut Salimi (2010) dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam beberapa hal sebagai
berikut:
1. Mendeinisikan konsep secara verbal dan tulisan
2. Membuat contohdan noncontoh penangkal
3. Mempresentasikan suatu konsep dengan model, diagram, dan simbol
4. Mengubah suatu bentuk representasi ke bentuk lain
5. Mengenal berbagai makna dari interpretasi konsep
6. Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat-syarat yang
menentukan suatu konsep
7. Membandingkan dan membedakan konsep-konsep.
Dilihat dari jenisnya, menurut Russefendi (1988), ada tiga macam pemahaman
matematis, yaitu:
1. Pengubahan (translation)
Pemahaman translasi digunakan untuk menyampaikan informasi dengan bahasa dan
bentuk yang lain dan menyangkut pemberian makna dari suatu informasi yang
bervariasi.
2. Pemberan Arti (interpretation)
Interpolasi digunakan untuk menafsirkan maksud dari bacaan, tidak hanya dengan
kata- kata dan frasa, tetapi juga mencakup pemahaman suatu informasi dari sebuah
ide.
3. Pembuatan Ekstrapolasi 9 (extrapolation)
Ekstrapolasi mencakup estimasi dan prediksi yang didasarkan pada sebuah pemikiran,
gambaran dari suatu informasi, juga mencakup pembuatan kesimpulan dengan
konsekuensi yang sesuai dengan informasi jenjang kognitif yang ketiga, yaitu
penerapan yang menggunakan suatu bahan yang sudah dipelajari kedalam situasi
baru yaitu berupa ide, teori, atau petunjuk teknis.
Adapun menurut Skemp dalam Sumarno (1987). Pemahaman matematis dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Pemahaman Instrumental
Pemahaman instrumental dapat diartikan sebagai pemahaman konsep atau prinsip
tanpa kaitan dengan yang lainnya dan dapat menerapkan rumus dalam erhitungan
sederhana. Dalam hal ini. Hanya hafal rumus dan memahami urutan pengerjaan atau
alogaritme.
2. Pemahaman Relasional
Pemahaman relasional termuat skema atau struktur yang dapat digunakan pada
penyelesaian masalah yang lebih luas, dapat mengaitkan suatu konsep atau prinsip
dengan konsep lainnya dan sifat pemakaiannyaleboh bermakna.
Pemahaman matematika yang perlu diterapkan kepada anak didik di sekolah dasar
sebagai pemahaman sejak dini sedikitnya meliputi:
1. Kemampuan merumuskan strategi penyelesaian
2. Menerapkan perhitungan sederhana
3. Menggunakan simbol untuk mempresentasikan konsep
4. Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain yang berkaitan dengan pecahan.
Penerapan pemahaman matematis ini sangat penting untuk siswa dalam rangka
belajar mmatematika secara bermakna, tentunya para guru mengharapkan pemahaman yang
dicapai siswa tidak terbatas pada pemahaman instrumental, tetapi sampai kepada
pemahaman rasional. Menurut Ausabel (1986), belajar bermakna adalah bila informasi yang
akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki. Artinya, siswa
dapat mengaitkan antara pengetahuan yang dipunyai dengan keadaan lain sehingga belajar
lebih mengerti.
G. KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS
Komunikasi merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia,
yang terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang
tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain di lingkungannya.
Satu-
satunya alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain di lingkungannya ialah komunikasi,
baik secara lisan maupun tulisan.
Komunikasi, secara umum dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu
pesan ke penerima pesan untuk memberitahu, pendapat, atau perilaku baik langsung secara
lisan maupun tak langsung melalui media. Di dalam berkomunikasi tersebut harus dipikirkan
bagaimana caranya agar pesan yang disampaikan seseorang itu dapat dipahami oleh orang
lain. Untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, orang dapat menyampaikan
dengan berbagai bahasa termasuk bahasa matematis.
Adapun komunikasi matematis dapat diartikan sebagai suatu peristiwa dialog atau saling
hubungan yang terjadi di lingkungan kelas, di mana terjadi pengalihan pesan, dan pesan yang
dialihkan berisikan tentang materi matematika yang dipelajari siswa, misalnya berupa konsep,
rumus, atau strategi penyelesaian suatu masalah. Pihak yang terlibat dalam peristiwa
komunikasi di lingkungan kelas yaitu guru dan siswa. Cara pengalihan pesannya dapat secara
lisan maupun tertulis.
Dalam proses pembelajaran akan selalu terjadi suatu peristiwa saling berhubungan atau
komunikasi antara pemberi pesan (guru) yang memiliki sejumlah unsur dan pesan yang ingin
disampaikan, serta cara menyampaikan pesan kepada siswa sebagai penerima pesan. Dalam
konteks pembelajaran matematika yang berpusat pada siswa, pemberi pesan tidak terbatas
oleh guru saja melainkan dapat dilakukan oleh siswa maupun media lain, sedangkan unsur
dan pesan yang dimaksud adalah konsep-konsep matematika, dan cara menyampaikan pesan
dapat dilakukan baik melalui lisan maupun tulisan.
Kemampuan komunikasi matematis menjadi penting ketika diskusi antarsiswa dilakukan,
di mana siswa diharapkan mampu menyatakan, menjelaskan, menggambarkan, mendengar,
menanyakan, dan bekerja sama sehingga dapat membawa siswa pada pemahaman yang
mendalam tentang matematika. Dalam hal ini, kemampuan komunikasi dipandang sebagai
kemampuan siswa mengomunikasikan matematika yang dipelajari sebagai isi pesan yang
harus disampaikan. Dengan siswa mengomunikasikan pengetahuan yang dimilikinya, maka
dapat terjadi renegosiasi respons antarsiswa, dan peran guru diharapkan hanya sebagai filter
dalam proses pembelajaran.
Selain itu, kemampuan komunikasi matematis itu juga penting dimiliki oleh setiap siswa
dengan beberapa alasan mendasar, yaitu: (1) kemampuan komunikasi matematis menjadi
kekuatan sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi; (2) kemampuan
komunikasi matematis sebagai modal keberhasilan bagi siswa terhadap pendekatan dan
penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematika; dan (3) kemampuan komunikasi
matematis sebagai wadah bagi siswa dalam berkomunikasi dengan temannya untuk
memperoleh informasi, berbagai pikiran.
Beberapa kriteria yang dipakai dalam melihat seberapa besar kemampuan siswa dalam
memiliki kemampuan matematis pada pembelajaran matematika adalah sebagaimana yang
dikemukakan oleh NCTM (1989), sebagai berikut:
1. Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematika melalui lisan, tulisan, dan
mendemonstrasikannya serta menggambarkannya secara visual.
2. Kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide
matematika baik secara lisan maupun dalam bentuk visual lainnya.
3. Kemampuan menggunakan istilah, notasi matematika dan struktur-strukturnya
untuk menyajikan ide, menggambarkan hubungan dan model situasi.
Adapun menurut Sumarno (1987), kemampuan komunikasi matematis siswa dapat dilihat
dari kemampuan mereka dalam hal-hal, sebagai berikut:
1. Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika.
2. Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematika secara lisan dan tulisan dengan
benda nyata, gambar, grafik, dan aljabar.
3. Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika.
4. Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika.
5. Membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis.
6. Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi, dan generalisasi.
7. Menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah dipelajari.
Dari kriteria-kriteria kemampuan komunikasi matematis seperti yang dikemukakan di
atas, dapat dielaborasi menjadi aspek-aspek komunikasi, sebagai berikut:
1. Representasi (representation), diartikan sebagai bentuk baru dari hasil translasi suatu
masalah atau ide, atau translasi suatu diagram dari model fisik ke dalam simbol atau
kata-kata. Misalnya, bentuk perkalian ke dalam model konkret, suatu diagram ke
dalam bentuk simbol. Representasi dapat membantu anak menjelaskan konsep atau
ide dan memudahkan anak mendapatkan strategi pemecahan. Selain itu, dapat
meningkatkan fleksibilitas dalam menjawab soal matematika.
2. Mendengar (listening), dalam proses diskusi aspek mendengar salah satu aspek yang
sangat penting. Kemampuan siswa dalam memberikan pendapat atau komentar
sangat terkait dengan kemampuan mendengarkan, terutama menyimak, topik-topik
utama atau konsep esensial yang didiskusikan. Siswa sebaiknya mendengar dengan
hati-hati manakala ada pertanyaan dan komentar dari temannya. Mendengar secara
hati-hati terhadap pertanyaan teman dalam suatu grup juga dapat membantu siswa
mengkonstruksi lebih lengkap pengetahuan matematika dan mengatur strategi
jawaban yang lebih efektif.
3. Membaca (reading), kemampuan membaca merupakan kemampuan yang kompleks,
karena di dalamnya terkait aspek mengingat, memahami, membandingkan,
menemukan, menganalisis, mengorganisasikan, dan akhirnya menerapkan apa yang
terkandung dalam bacaan.
4. Diskusi (discussing), merupakan sarana bagi seseorang untuk dapat mengungkapkan
dan merefleksikan pikiran-pikirannya berkaitan dengan materi yang diajarkan.
Aktivitas siswa dalam diskusi tidak hanya meningkatkan daya tarik antara partisipan
tetapi juga dapat meningkatkan cara berpikir kritis. Dengan diskusi ini memungkinkan
proses pembelajaran akan lebih mudah dipahami. Kelebihan lain dari diskusi ini antara
lain: (a) dapat mempercepat pemahaman materi pelajaran dan kemahiran
menggunakan strategi; (b) membantu siswa mengkonstruksi pemahaman matematis;
(c) menginformasikan bahwa para ahli matematika biasanya tidak memecahkan
masalah
sendiri-sendiri tetapi membangun ide bersama pakar lainnya dalam satu tim; dan (d)
membantu siswa menganalisis dan memecahkan masalah secara bijaksana.
5. Menulis (writing), kegiatan yang dilakukan dengan sadar untuk mengungkapkan dan
merefleksikan pikiran, dipandang sebagai proses berpikir keras yang dituangkan di
atas kertas. Menulis adalah alat yang bermanfaat dari berpikir karena siswa
memperoleh pengalaman matematika sebagai suatu aktivitas yang kreatif. Menulis
dapat meningkatkan taraf berpikir siswa ke arah yang lebih tinggi (higher order
thinking).
Dalam proses pembelajaran matematika, berkomunikasi dengan menggunakan
komunikasi matematis ini perlu di tumbuhkan, sebab salah satu fungsi pelajaran matematika
yaitu sebagai cara mengomunikasikan gagasan secara praktis, sistematis, dan efisien.
Komunikasi merupakan bagian penting dari pendidikan matematika. Sebagaimana
dikemukakan oleh Asikin (2002), bahwa peran komunikasi dalam pembelajaran matematika,
yaitu:
1. Dengan komunikasi, ide matematika dapat dieksploitasi dalam berbagai perspektif,
membantu mempertajam cara berpikir siswa, dan mempertajam kemampuan-
kemampuan siswa dalam melihat berbagai kaitan materi matematika.
2. Komunikasi alat untuk mengukur kemampuan pemahaman dan merefleksi
pemahaman matematika siswa.
3. Melalui komunikasi, siswa dapat mengorganisasikan dan mengonsolidasikan
pemikiran matematika mereka.
4. Komunikasi antarsiswa dalam pembelajaran matematika sangat penting untuk
pengkonstruksian pengetahuan matematika, pengembangan kemampuan
pemecahan masalah, peningkatan penalaran, menumbuhkan rasa percaya diri, serta
peningkatan keterampilan sosial.
5. Menulis dan berkomunikasi (writing and talking) dapat menjadi alat yang sangat
bermakna untuk membentuk komunitas matematika yang inklusif.
Agar komunikasi matematika itu dapat berjalan dan berperan dengan baik, maka
diciptakan suasana yang kondusif dalam pembelajaran agar dapat mengoptimalkan
kemampuan siswa dalam komunikasi matematis. Siswa sebaiknya diorganisasikan ke dalam
kelompok-kelompok kecil yang dapat dimungkinkan terjadinya komunikasi multi-arah yaitu
komunikasi siswa dengan siswa dalam satu kelompok.
Kelompok-kelompok kecil tersebut terdiri dari 4-6 orang siswa yang memiliki kemampuan
heterogen. Di dalam kelompok tersebut siswa menyelesaikan tugas dan memecahkan
masalah. Dalam kelompok-kelompok kecil itu memungkinkan timbulnya komunikasi dan
interaksi yang lebih baik antarsiswa. Mempertinggi kemampuan komunikasi matematis
secara alami yaitu dengan memberikan kesempatan belajar kepada siswa dalam kelompok
kecil di mana mereka dapat berinteraksi.
Pada saat pembagian kelompok itu perlu diperhatikan komposisi siswa yang pandai,
sedang, dan kurang. Kehadiran siswa pandai dapat menjadi tutor sebaya bagi rekan-rekannya.
Bantuan belajar dari teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan, bahasa teman
sebaya lebih mudah dipahami. Tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya
untuk bertanya maupun minta bantuan pada teman sebaya.
Melalui komunikasi yang terjadi di kelompok-kelompok kecil, pemikiran metematik siswa
dapat diorganisasikan dan dikonsolidasikan. Pengkomunikasian matematika yang dilakukan
siswa pada setiap kali pelajaran matematika, secara bertahap tentu akan dapat meningkatkan
kualitas komunikasi, dalam arti bahwa pengkomunikasian pemikiran matematika siswa
tersebut makin cepat, tepat, sistematis, dan efisien.
H. SIKAP SISWA TERHADAP MATEMATIKA
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sikap diartikan sebagai perbuatan dan sebagainya
yang berdasarkan pada pendirian, keyakinan. Menurut Unnes (2008), sikap merupakan
kecenderungan individu untuk merespons dengan cara yang khusus terhadap stimulus yang
ada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mendekat atau
menghindar, positif atau negatif terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi,
pribadi, situasi, ide, konsep, dan sebagainya.
Yara (2009: 364) mengartikan sikap sebagai konsep yang memperhatikan cara seorang
individu berpikir, bertindak, dan bertingkah laku. Sikap mempunyai pengaruh yang serius
untuk siswa, guru, kelompok sosial yang berhubungan dengan individu siswa dan seluruh
sistem di sekolah. Sikap dibentuk sebagai hasil dari beberapa pengalaman belajar. Sikap juga
dapat dibentuk secara sederhana dengan mengikuti contoh atau pendapat orang tua, guru,
dan teman. Perubahan atau peniruan sikap juga dapat dibentuk dari situasi pembelajaran.
Dalam hal ini, siswa mencontoh dari sifat guru untuk membentuk sikap mereka.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran dipengaruhioleh dua faktor, yaitu faktor dalam
diri siswa dan luar diri siswa. Faktor dari dalam diri siswa salah satunya adalah sikap siswa.
Dalam proses pembelajaran matematika perlu diperhatikan sikap positif siswa terhadap
matematika. Sikap positif terhadap matematika perlu diperhatikan karena berkorelasi positif
dengan prestasi belajar matematika. Siswa yang menyukai matematika prestasinya
cenderung tinggi dan sebaliknya siswa yang tidal, menyukai matematika prestasinya
cenderung rendah.
Sikap merupakan salah satu komponen dari aspek afektif, yang merupakan
kecenderungan seseorang untuk merespons secara positif atau negatif suatu objek, situasi,
konsep, atau kelompok individu. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Thorndike dan Hagen
yang menyatakan sikap sebagai suatu kecenderungan untuk menerima atau menolak
kelompok- kelompok individu, atau institusi sosial tertentu.
Sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk merespons secara positif atau negatif
suatu objek, situasi, konsep, atau orang lain. Matematika dapat diartikan sebagai suatu
konsep