SMP NEGERI 5 BOJONEGORO
2022
PAWAI BUDAYA
REPORT
KELAS 7,8 DAN 9
KARYA MURID
0353 883274
Smp5bjn@ gmail.com
Jalan imam Bonjol 3
kadipaten Bojonegoro
Hari/tanggal: selasa 30 Agustus 2022
Lokasi pengamatan:JL trunojoyo(start)
Hal yang diamati: pawai budaya SDN BANJARJO 1 BOJONEGORO
dengan tema wayang tenggul
Nama:YOHANA ELISA SAFITRI
Hasil pengamatan:
WAYANG TENGGUL
Wayang Thengul adalah sejenis kesenian wayang yang berasal dari Bojonegoro [1].Wayang
Thengul hampir mirip dengan wayang golek namun perbedaan yang jelas terlihat ialah dari
cerita yang diangkat dan juga karakter tokoh yang ditampilkan. Jika pada Wayang Golek lebih
banyak yang mengangkat cerita dari Wayang Purwa seperti Mahabarata dan juga Ramayana,
justru Wayang Thengul banyak mengangkat cerita rakyat seperti halnya cerita Wayang Gedhog
yaitu cerita kerajaan majapahit, cerita panji serta cerita para wali. Selain itu juga ada yang
menceritakan cerita dari Serat Damarwulan.[2] atau wayang yang menggunakan perangkat
boneka kayu bulat dan tebal. Bagian bawah dan kaki dibalut dengan pakaian dan kain (sarung)
dimana tangan sang dalang masuk ke dalamnya. Dalang menggerak-gerakkan boneka tersebut
dengan ibu jari dan jari telunjuk, sedangkan tiga jari lain memegang tangkai wayang. Boneka
sebelah atas biasanya telanjang, kecuali pada beberapa pelawak dan pahlawan, memakai baju
sikepan. Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya, layar (kelir) yang digunakan terdapat
lubang kotak di tengahnya, sehingga penonton juga dapat menyaksikan dari arah belakang layar.
Wayang ini berbentuk boneka 3 dimensi dan biasanya dimainkan dengan diiringi gamelan
pelog/slendro. Jalan cerita yang sering dimainkan dari kesenian ini lebih banyak mengambil
cerita menak, seputar kisah Umar Maya, Amir Hamzah, Damar Wulan, Cerita Panji, sejarah
Majapahit, dan kisah Betoro Kolo yang biasa dipentaskan untuk ruwatan.
Konon, asal mula Wayang Thengul terinspirasi dari Wayang Golek menak dari Kudus. Wayang
Menak digunakan sebagai media penyebaran agama Islam; sedangkan, Ki Samijan berniat
membuat wayang Thengul selain untuk mengembangkan kreativitas seninya, selain itu juga
digunakan untuk mencari nafkah (ngamen), di mana pada tahun 1930 perekonomian rakyat
sangat sulit. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Wayang Thengul juga dikenal dengan
sebutan Wayang Golek Menak. Sama seperti Wayang Golek, Wayang Thengul merupakan
monolog dalang diiringi gamelan dan waranggana. Didasari dengan niat yang untuk berkeliling
(mengembara) dari satu desa ke desa lain, yang dalam bahasa Jawa “methentheng niyat
ngulandara” dengan mendalang menggunakan wayang boneka kayunya, yang dijadikan nama
wayangnya dengan sebutan thengul (theng dari akronim methen-theng, dan ngul dari kata ngul-
andara).
Ada pula yang mengartikan karena Wayang Thengul ini di bagian kepala wayangnya dapat
digerakan ke kiri dan ke kanan, atau methungal-methungul, maka disebut dengan wayang
thengul. Namun versi lain menyebutkan kata “thengul” dalam penuturan masyarakat, berasal
dari kata “methentheng” dan “methungul” yang artinya karena terbuat dari kayu berbentuk tiga
dimensi, maka dhalang harus methentheng (tenaga ekstra) mengangkat dengan serius agar
methungul (muncul dan terlihat penonton). Perihal tenghul di Bojonegoro sudah menjadi hal
umum dan informasinya bersifat update. Selain itu bisa di lihat dari berbagai berita yang terkait
budaya asli Bojonegoro.
DOCUMENTATION
LAPORAN HASIL KEGIATAN
Hari, tanggal : Senin,29 agustus 2022
Lokasi pengamatan : JL. P .Mastumampel Kec,ojonegoro Kab,Bojonegoro
Kelas : VII-A
Hal yang diamati : Pawai budaya dari MI ISLAMIYAH MOJOKAMPUNG
Dengan Tema : "KANJENG SOEMANTRI"
Nama kelompok : Kevin sastra arianto
: Sello Aji Saputra
: Mochamad risky aditya p.
: Mochamad rifky arshavin
HAL YANG DIAMATI:
KANJENG SOEMANTRI
Pesarean keluarga Raden Adipati Aryo Rekso Kusumo atau yang dikenal sebagai
Kanjeng Soemantri. Dalam sejarah menyebutkan bahwa beliau pernah menjabat
sebagai Bupati Bojonegoro pada tahun 1890 - 1916 serta Raden Adipati Aryo Kusumo
Adinegoro yang menjabat Bupati Bojonegoro pada tahun 1916 - 1936.
Karnaval yang berjudul Kanjeng sumantri yang di sampaikan oleh MI ISLAMIYAH
MOJOKAMPUNG yang di isinya terdapat pasukan yg membawa tombak, beserta
miniatur kuda putih yang di tunggangi oleh Kanjeng sumantri dan terdapat miniatur
masjid agung darusallam dan miniatur meriam, siswa yang menampilkan karnaval yang
bertemakan Kanjeng Soemantri berjumlah sekitaran 75 siswa.
SUMBER : https://blokbojonegoro.com
DOKUMENTASI
Hari,Tanggal : Rabu, 31 Agustus 2022
Lokasi pengamatan : Jl. Imam Bonjol Kec. Bojonegoro Kab. Bojonegoro
Kelas : VII - A
Hal yang diamati : Pawai Budaya Dari SMPN 5 BOJONEGORO Dengan Tema
" Sirna sengkala "
Nama kelompok : 1. Kalinda Mei Dwi Arianti
2. Afni Aulia Rahma
Hasil pengamatan :
SIRNA SENGKALA
Sepeninggal Mahapatih Gajah Mada (1364 Masehi/M) dan Raja Hayam Wuruk (1389 M),
kerajaan pemersatu Nusantara, Kerajaan Majapahit, pecah menjadi Kedaton Wetan dan
Kedaton Kulon akibat sengketa keluarga yang saling berebut kekuasaan. Pertengkaran
keluarga terjadi. Kelompok-kelompok pendukung dibentuk untuk saling menggalang
kekuatan, bersengketa untuk merebut posisi2 kunci kekuasaan. Bau permusuhan dan
saling curiga-mencurigai menebar di mana-mana di seluruh wilayah Majapahit, negeri
tak terurus.
Akhirnya, bisul ketegangan itu pecah, perang antar keturunan Hayam Wuruk tak
terhindarkan. Perseteruan antara Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk) dan
Wirabbhumi (putra Hayam wuruk dari seorang selir) menyulut sebuah perang besar
yang sangat merusak sendi-sendi Majapahit : Perang Paregreg (1401-1406 M).
Apa hasil perang ? Majapahit kian melemah. Para pejabat kerajaan tak peduli lagi nasib
negerinya. Alih-alih, mereka berlomba-lomba ber-aji mumpung. Korupsi merajalela,
krisis multidimensi terjadi. Bertahun-tahun kondisi semacam itu terjadi dan dibiarkan
terjadi. Lalu, beberapa dekade menjelang tahun 1500 M, Majapahit, kerajaan pemersatu
Nusantara, runtuh setelah berada di bumi Jawa Timur hampir 200 tahun. Babad Tanah
Jawi mencatat tahun keruntuhan Majapahit itu dalam suryasengkala “Sirna Ilang
Kertaning Bumi” yaitu 1400 caka atau 1478 M.
Penelitian2 kesejarahan dan geologi yang pernah dilakukan di wilayah Majapahit, delta
Brantas, menyimpulkan bahwa kemunduran Majapahit selain disebabkan perseteruan
keluarga juga dapat dihubungkan dengan mundurnya fungsi delta Brantas yang
didahului oleh rentetan bencana geomorfologis yang salah satunya pernah tercatat
dalam Babad Pararaton : bencana 1296 Caka (1374 M) “pagunung anyar” yang pernah
saya tafsirkan sebagai erupsi gunung lumpur (argumennya pernah saya tulis disini
beberapa bulan yang lalu, silakan diklik). Bencana ini terjadi pada tahun-tahun terakhir
pemerintahan Hayam Wuruk. Diduga bahwa bencana serupa terjadi beberapa kali pada
periode setelah Hayam Wuruk tiada. Penelitian Nash, ahli geohidrologi Belanda,
dipublikasi pada tahun 1932 (James Nash -1932 , “Enige voorlopige opmerkingen
omtrent de hydrogeologie der Brantas vlakte – Handelingen van 6de Ned. Indische
Natuur Wetenschappelijke Congres”) bisa menjadi acuan tentang bagaimana
dinamiknya bumi di bawah Majapahit itu. Rentetan bencana terjadi, sementara negeri
tak terurus karena pejabatnya sibuk berkorupsi, apalagi kalau tak runtuh.
Yang ingin diulas Pak Awang kali ini adalah soal suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning
Bumi” yang dalam penafsiran saya bisa menunjukkan dan menguatkan cerita bencana
seperti yang tercatat pada Babad Pararaton di atas.
The image “http://www.geocities.com/xtrudedesign/mojolangu3.jpg” cannot be
displayed, because it contains errors.Menurut ahlinya (Suwito, 2006), sengkala berasal
dari kata “saka kala” (tahun saka) yang diberi imbuhan – an kemudian menjadi
sengkalan. Sengkalan didefinisikan sebagai angka tahun yang dilambangkan dengan
kalimat, gambar, atau ornamen tertentu. Bangsa barat menyebutnya sebagai kronogram.
Mengapa untuk menyebut angka tahun digunakan kalimat ? Sebab, para leluhur kita
memaksudkannya agar para generasi penerus mudah mengingat peristiwa yang telah
terjadi pada tahun yang dimaksud. Jadi, sengkalan punya dua maksud : angka tahun,
dan peristiwa apa yang terjadi tahun itu. Saya pikir ini suatu cara yang sangat cerdas
warisan leluhur.
Karena tahun Caka/Syaka/Saka menggunakan garis edar Matahari sebagai refererensi,
maka suka disebut surya sengkala. Kalau tahun Jawa atau tahun Hijriyah, maka suka
disebut candrasengkala karena menggunakan garis edar Bulan sebagai referensi
(candra = Bulan).
Para leluhur sudah menyusun aturan2 sedemikian rupa untuk menjadi pedoman
bagaimana membuat suryasengkala. Karena sengkalan menggunakan kalimat sebagai
angka, maka kata-kata tertentu punya “watak bilangan” atau “watak kata-kata” masing2.
Berikut adalah aturannya (diterjemahkan dari bahasa Kawi
Sumber : https://geologi.co.id
Dokumentasi
Laporan Kegiatan Sekolah
Pawai Budaya Tingkat SD/SMP Sederajat Tahun 2022
Tema : Tradisi /Adat Jawa
Judul : Ruwatan ( Sirna Sengkala )
( Penampilan Pawai Budaya dari SMPN 5 Bojonegoro )
Narasi:
Tradisi Ruwatan sudah dikenal masyarakat Jawa untuk membersihkan atau
mensucikan diri dari berbagai kesialan hidup atau untuk keselamatan. Pada umumnya ritual
Ruwatan dilakukan dengan menggunakan media pagelaran Wayang Kulit yang mengambil
tema atau cerita bernama ‘Murwakala’. Menurut tradisi, ada beberapa kategori yang harus
diruwat ( nandang sukerta ), yakni anak yang dianggap bernasib buruk yang disebabkan
karena faktor kelahirannya seperti anak yang lahir tepat pukul 12 siang (bedug), anak
tunggal, anak kembar, anak yang sering sakit-sakitan,anak dua bersaudara laki-laki atau
perempuan, dan masih banyak lagi sukerto lainnya.
Dalam cerita wayang disebutkan anak-anak yang nandang sukerto, diyakini menjadi
incaran dan akan dimangsa oleh sosok buto gedhe ( Bathara Kala/raksasa ). Bhatara Kala
sendiri, dalam kisah pewayangan merupakan anak Batara Guru yang lahir karena nafsu atas
Dewi Uma. Yang kemudian, benih olo ( niat jelek ) jatuh ke tengah laut dan menjelma
menjadi seorang anak raksasa yang memiliki wajah buruk rupa. Kemudian, anak raksasa
tersebut dibawa ke khayangan oleh Bhatara Narada untuk menghadap ayahnya ( Bhatara
Guru ). Karena dianggap tidak memilik tata krama, yakni si anak raksasa selalu memakan
anak manusia yang ditemuinya.
Ketika raksasa ini menghadap ayahnya untuk meminta makan, oleh Batara guru
diberitahukan hanya boleh memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah
yang kemudian dicarikan solusi, yakni dengan melakukan ritual ruwatan murwakala tersebut
agar terhindar dari bakal calon mangsa Bhatara Kala. Di Bojonegoro sendiri, tradisi Ruwatan
juga masih dilestarikan sampai saat ini baik secara massal atau pun secara pribadi.
Sumber :
https://guruinovatif.id/@drasrisuprapti/tradisi-ruwatan-bebaskan-dari-marabahaya dan-
kesialan-yang-penuh-makna
Foto : Doc.Penampilan Pawai Budaya SMPN 5 Bojonegoro 2022
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam tradisi Ruwatan:
1. Teruslah berbuat baik agar hidup kita selamat atau terhindar dari marabahaya.
2. Tetaplah memohon keselamatan kepada Tuhan untuk dihindarkan dari malapetaka dan
kesulitan hidup.
Nama Kelompok 4 ( Kelas 7A ):
1. Rasya Cifa Fitra P.
2. Billy
3. Angga
4. Aldi S
LAPORAN HASIL KEGIATAN
Hari,Tanggal : Senin 29 agustus 2022
Kelas : 7-A
NAMA KELOMPOK : MARSHALL
RIZKY
RASYID
BIMO
Hasil pengamatan :
Sendratari"NAGARUDA"
Ratusan penonton seketika senyap tak bersuara ketika barisan anak-anak SMP N 1 dan SMK N
Margomulyo membawakan penampilan Hastungkara. Mereka berjalan pelan dari depan
Mushola menuju pelataran Senthong Sekarjati sembari melantunkan kalimat-kalimat dalam
bahasa Jawa yang berisi harapan agar Gelar Seni yang akan dilaksanakan berjalan lancar, aman
tanpa halangan apapun. Ini adalah menu pembuka sebelum lima karya musik tradisi yang akan
mereka tampilkan.
Malam kemarin (24/10) adalah hari yang bersejarah bagi Senthong Sekarjati. ‘Rumah Produksi’
berbagai karya seni yang sudah berkali-kali memenangkan kompetisi di Bojonegoro bahkan
Jawa Timur ini untuk pertama kalinya menggelar acara bertajuk Gelar Seni Senthong Sekarjati.
Sebuah acara pertunjukan seni gratis bagi masyarakat Margomulyo dan sekitarnya.
Karya-karya yang ditampilkan adalah karya yang telah mengukir prestasi di berbagai ajang
festival dan kompetisi kesenian. Diantaranya pertunjukan Nagaruda yang merupakan
penggambaran perang antara Angling Dharma dan Patih Batik Madrim ketika memperebutkan
Dewi Setyowati, penggalan cerita dari kisah yang merupakan legenda Kabupaten Bojonegoro ini
dikemas apik dalam balutan nuansa etnis yang kental. Karya ini sendiri merupakan musik tradisi
yang ditampilkan secara khusus oleh Pemkab Bojonegoro saat pembukaan Lomba Kompetensi
Siswa (LKS) Provinsi Jawa Timur tahun 2015 dimana Bojonegoro menjadi tuan
rumah.Ditampilkan pula karya Jula Juli GAS (Gerakan Ayo Sekolah) yang dua minggu lalu baru
saja menjadi juara 2 dalam Festival Kidungan Jula Juli dalam rangka HUT Provinsi Jawa Timur
tahun 2015. Musik tradisi yang membawa pesan pentingnya pendidikan dikemas dalam gaya
pertunjukan manis, menghadirkan parikan (pantun Jawa) diiringi gamelan yang menggelitik
sekaligus menyembulkan tawa.
DOKUMENTASI
LAPORAN HASIL KEGIATAN
Hari , Tanggal : Senin, 29 Agustus 2022
Lokasi Pengamatan : Jl. Mastumapel Kec. Bojonegoro Kab. Bojonegoro
Hal yang diamati : Pawai Budaya SDN Kadipaten 1 Bojonegoro
Kelas : VII A
Dengan Tema : KI ANDONGSARI
Nama Kelompok : 1. Naira Serly Fahima
2. Nadira Amriena Zahra
3. Asyfa Nur Alny
4. Septya Ela Ramadhani
HAL YANG DIAMATI
KI ANDONGSARI
Pawai Budaya yang diselenggarakan oleh Pemkab Bojonegoro melalui Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro diikuti sebanyak 26 peserta. Peserta yang ikut terdiri
dari tingkat SD sederajat hingga SMP menampilkan berbagai tampilan yang berhubungan
dengan tradisi Bojonegoro.
SDN Kadipaten 1 Bojonegoro tampil luar biasa saat Pawai Budaya kemarin . SDN di
tengah kota itu menampilkan sejarah tenang Ki Andongsari. Para siswa tampil semangat
membawakan tentang Ki Andongsari
Menurut juru kunci makam Ki Andongsari, beliau merupakan seorang Bupati yang luar
biasa saat itu. Beliau berasal dari Jawa Tengah lalu kemudian mengembara sampai ke Kelurahan
Ledak Kulon. Ki Andongsari berdakwah menyebarkan agama Islam.
Ki Andongsari juga yang babat alas Desa Ledok Kulon dan Ledok Wetan. Babat alas
berarti yang pertama kali membuka lahan, merintis dan mendirikan sebuah Desa. Meskipun
asalnya sendiri bukan dari Ledok. Ia merupakan Tumenggung Aryo Mentaun yang menjadi
Bupati Ngrawan Badander ( Sekarang menjadi dukuh di Desa Ngraseh Dander). Pada waktu itu
ia mbalela tidak mau menghadap ke Mataram.
Sulta Mataram kemudian menyampaikan surat pada Panembahan Madura, agar
Tumenggung Mentaun dating ke Madura. Sesampainya di Madura, Tumenggung Mentaun
akhirnya menghadap Panembahan yang kala itu adalah Cakraningrat . Usut punya usut ternyata
Panembahan Madura memilki niat untuk menguasai kerajaan Ngrawan. Karena tidak terima bila
kerajaannya hendak dikuasai, Aryo Mentaun melawan dan membuat Cakraningrat menjadi
murka hingga muncul peperangan.
DOKUMENTASI
Sumber :blog bojonegoro
PAWAI BUDAYA SMPN 1
Sebagai mana pada peserta SMPN 1 Bojonegoro yang mempunyai judul iwak
munggutDibarisan pertama terdapat sepasang laki laki dan perempuan mengenakan
pakaian adat Berbusana hitam dan putih terlihat anggun dengan senyum yang manis
sambil membawa No urut 001 dan logo dari SMPN 1 Bojonegoro.
Di belakangnya di susul dengan siswa yang memakai busana berwarna
Merah dan emas dengan mahkota nampak seperti ikan mas kembar,
Mereka memegangi bener bertulisan tema mereka " Iwak munggut "
Barisan selanjutnya di susul dari hasil keterampilan 4D. Yang berupa ikan yang sedang
Mabuk di dalam air, disusul di belakangnya tarian ikan yang di ikuti oleh siswi-siswi
Dengan mengenakan kostum ikan berwarna kuning. Mereka menari bersama sama
Dengan kompak dengan iringan musik oklek tarian ini mengambarkan ikan yang sedang
Sedang mabuk sehingga gerak seperti
ikan
Barisan selanjutnya di ikuti oleh siswa yang membentangkan kain panjang seolah-olah itu
adalah bengawan yang berwarna keruh. Dan sebelahnya kain berwarna biru, mereka mengayun
ayun kain itu seolah-olah ombak bengawan yang kuat
Sumber by IBU
Laporan Hasil Pengamatan:
Hari,tanggal :Senin 29 Agustus 2022
Kelas : VII-B
Hal yang diamati :"Pawai Budaya Dari SMP NEGERI 7 Bojonegoro" Dengan Tema
"EKSOTIKA KAYANGAN API"
Nama Kelompok :1.Vivi Eka Febrianti 7B/31
2.Gladys Ayu Wulandari 7B/14
3.Afrida Aslihanna 7B/2 4.Nabila
Faza Arina 7B/23 5.Keisha Salsabila
7B/17
Hasil Pengamatan :
Eksotika Kayangan Api
Kayangan Api merupakan nama sebuah destinasi wisata yang menyajikan peristiwa geologi
berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah sehingga memicu keluarnya api yang tidak pernah
padam. Berada di desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro Provinsi Jawa
Timur. Berlokasi di tengah hutan lindung yang masih asri Kayangan Api ini menjadi salah satu
destinasi wisata favorit bagi masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya. Selain memiliki keunikan
api abadi Kayangan Api juga menyimpan kisah legenda yang menceritakan awal mula
terbentuknya sumber api di Bojonegoro yang sudah ada sejak dulu dan saat ini diabadikan pada
sebuah tugu yang ada di lokasi Kayangan Api. Akan tetapi tidak sedikit masyarakat yang belum
mengetahuin cerita tersebut terutama remaja yang sudah seharusnya menjaga dan melestarikan
peninggalan masa lalu sebagai warisan budaya lokal. Sangat disayangkan apabila peninggalan-
peninggalan tersebut terlupakan oleh zaman yang terus berkembang ini karena sejatinya hal
tersebut pasti memiliki makna yang dapat dijadikan pelajaran bagi generasi selanjutnya. Sehingga,
penelitian inidilakukan demi melestarikan budaya lokal tersebut dengan merancang sebuah media
informasi tentang cerita Kayangan Api di Bojonegoro.
Kayangan api merupakan adat-istiadat nyadran serta nyala apinya yang estotik. Ke estotikan
abadi yang di fisualisasikan melalui garak penari berparas cantik dengan busana merah sebagai
simbol nyala api, dirangkaidengan cerita legenda keris "jangkung Lok telu bolng pok gonjo" karya
empu supa dan simbolisasi nyadran berupa penari encek dan pelanda. Di dekat titik semburan
gas, terdapat mata air yang menghasilkan bau
menyengat karena mengandung belerang. Dengan kondisi tersebut, api yang menyala di Kayangan
Api hingga kini masih belum bisa padam.
Cerita: Konon, Kayangan Api adalah tempat pertapaan seorang Empu dari zaman Majapahit
bernama Empu Supa. Sang Empu dikisahkan melakukan pertapaan dan membuat pusaka di lokasi
Kayangan Api.
Pusaka yang dibuat oleh Empu Supa yakni Keris JangkungLukTeluBlongPokGonoj yang ditempa dan
dibakar dengan api yang keluar dari dalam tanah tersebut. Oleh pihak kerajaan, Empu Supa
diangkat menjadi Empu Majapahit dan diberi gelar Empu Kriya Kusuma.
Sejarah: Menurut cerita warga dulu terdapat seorang pembuat benda pusaka Kerajaan Majapahit
bernama Mbah Kriyo Kusumo. Setelahbertahun-tahun membuat benda pusaka di perkampungan,
Mbah Kriyo Kusumo kemudian bertapa dan tirakat di tengah hutan. Dia membawa api dan
menyalakannya di bebatuan, tepat di sebelah tempatnya bersemedi. Api itulah yang menyala
hingga saat ini dan menjadi cikal bakal Kayangan Api di Kota Bojonegoro.
Selain ada Kayangan Api di sebelah barat sumber api terdapat kubangan lumpur yang berbau
belerang yang biasa di sebut warga Sumur Blekutuk. Menurut kepercayaan saat itu Mbah Kriyo
Kusumo masih beraktivitassebagai pembuat alat-alat pertanian dan pusaka seperti keris, tombak,
cundrik dan lain-lain.
Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau yang lebih dikenal dengansebutan Mbah Pande yang
berasal dari Kerajaan Majapahit. Ada bukti historis penting yang menguatkan kahyangan api
dengan ditemukannnya 17 lempeng tembaga yang berangka 1223 / 1301 Masehi.
Penemuan prasati di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu pada 12 Maret 1992 tersebut,
berbahasa Jawa Kuno yang menurut penelitian berasal pada
zaman Raja Majapahit I yakni, Kertarajasa Jaya Wardhana. Isi dari prasasti tersebut, adalah
pembebasan desa Adan-adan dari kewajiban membayar pajak dan juga ditetapkannya daerah
tersebut sebagai sebuah sima perdikan atau swantantra.
Penghargaan ini diberikan oleh Raden Wijaya terhadap salah satu rajarsi (pungawa, red) atas jasa
dan pengabdiannya yang besar terhadap Kerajaan Majapahit saat itu. Dan rajarsi tersebut tidak
lain adalah Empu Supa yang lebih masyur dengan sebuatan Mbah Pande.
Menurut cerita, api tersebut hanya boleh diambil jika ada upacara penting seperti yang telah
dilakukan pada masa lalu, seperti upacara JumenenganNgarsodalem Hamengku Buwono X dan
untuk mengambil api melalui suatu prasyarat yakni selamatan atau wilujengan dan tayuban
dengangending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang merupakan gending kesukaan Mbah
Kriyo Kusumo. Oleh sebab itu ketika gending tersebut dialunkan dan ditarikan oleh waranggono
atau penembang macapatan, tidak boleh ditemani oleh siapapun.
Kepercayaan tersebut, dipegang teguh oleh masyarakat Bojonegoro. Ini terbukti, pada acara
ritual pengambilan api tersebut juga dilakukan digelar. Terlebih, pengambilan api PON yang
pertama dilakukan dipimpin oleh tetuamasyarakat yang dipercaya pada saat itu. Sementara untuk
prosesi tersebut meliputi, asung sesaji (menyajikan sesaji) dan dilanjutkan dengan tumpengan
(selamatan).
Pada hari-hari tertentu terutama pada hari Jumat Pahing banyak orang berdatangan di lokasi
tersebut untuk maksud tertentu seperti agar usahanya lancar, dapat jodoh, mendapat kedudukan
dan bahkan ada yang ingin mendapat pusaka. Acara tradisional masyarakat yang dilaksanakan
adalah Nyadranan (bersih desa) sebagai perwujudan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa.
https://blog.tempo.co/read/1106119/asal-mula-kayangan-api-di-kota-bojonegoro
MURWOKOLO KAYANGAN API
Abimanyu Prasetya Wibowo (01)
Bernatto Fadillah Adi (06)
Alif Al Farizi (03)
Moh Agus Prabowo (20)
Tegar Aditya Pratama (30)
SIRflA SEflGKALA RUWATAfl MURWOKOLO IflG
KAYAflGAfl API
Ruwatan fluasan adat jawa sangat kental terasa saat prosesi. Pejabat yang hadir tampak kompak mengenakan
baju adat. Untuk laki-laki mengenakan pakaian serba hitam serta memakai udeng (ikat kepala) khas masyarakat
Samin. Sedangkan perempuan mengenakan setelan baju berwana serba putih dan kebaya.
Ruwatan Murwokolo diikuti 92 peserta (50 orang sukerto) yang diiringi 100 orang tua. Jadi total sebanyak 192
peserta. Pembukaan acara ditandai dengan penyerahan wayang tokoh Wisnu oleh Sekretaris Daerah Lamongan
flurul Azizah kepada Dalang Ki Priyo Darsono yang memimpin ruwatan.
Sebagaimana diketahuic Ruwatan Murwokolo adalah prosesi adat Jawa yang mengandung makna membebaskan diri
dan mensucikan diri agar terhindar marabahaya dan musibah. Baik untuk diri sendiri maupun keluarga.
Orang-orang yang diruwat biasanya disebut Sukerto.
Menurut tradisi Jawac Sukerto adalah seorang anak yang terlahir dalam kondisi cacatc lemah dan tak berdaya. Jadi
harus diruwat agar dapat sejahtera. Masyarakat Jawa percaya Sukerto jika tidak diruwat akan menjadi mangsa
Batarakala atau akan mengalami berbagai musibah dan kesukaran dalam hidup.
Menceritakan seseorang anak yang sedang bermain di lapangan lalu diserbu oleh Buto yang banyak untuk
menculikcmemakancmembunuh anak anak lalu anak anak ingin mengusir Buto menggunakan dupa dan wayang lalu
seketika para Buto mati di lapangan sebagai untuk merayakannya dengan menari gembira
Sumber
https://jatimnow.com/baca-48105-disbudpar-bojonegoro-gelar-ruwatan-murwokolo-di-kayangan-api
Laporan Keg atan Pawai
Budaya Tingkat SD/SMP
Tahun 2022
Nama anggota kelompok 5 :
1. jihan Dzakiya Amaliya (15)
2. Najwa azharol khoiru launi (24)
3. Shafara Adel a (29)
4. Zahra Artamevina erfan (32)
5 Febby Chandra Dwi et ka (12)
Pawai budaya nomor peserta 07 Dari SMP Negeri 6 Bojonegoro Dengan tema "TIRTA
SUMUR PITU"
Tirta sumur Pitu adalah Ritual reresik sumur pitu sendiri berlangsung secara serempak di tujuh
sumur dengan petugas yang berbeda. Air sumur diambil oleh seorang anak perempuan dengan
menggunakan gayung daritempurung kelapa, kemudian air dimasukkan ke dalam kendi dari tanah
liatyang dibawa oleh seorang anak laki-laki hingga penuh.
Latar belakang :
Ribuan warga pun tumpah ruah di sepanjang jalan yang dilalui kirab untuk menonton iring-iringan
kirab menuju tempat ritual utama di area Sumur Kemloko. Setiba di pintu masuk area sumber
mata air, rombongan kirab disambut suara rebana bertalu-talu.Teguh menambahkan, ritual sengaja
dilakukan di area Sumur Kemloko karena merupakan sumber mata air alami yang sudah ada sejak
zaman nenek moyang dan hingga kini masih dikeramatkan.Di area itu, terdapat tujuh sendang atau
sumur dengan namayang berbeda antara lain sumur pancur, sumur buthek, sumur lanang, sumur
wedok, sumur planangan, sumur pandansari 1 dan sumur pandansari 2.
"Mata airnya memang alami dan sampai sekarang tidak pernah habis.Keberadaannya juga sudah
lama sejak dari nenek moyang dulu,"lanjutnya.
Sejarah Tirta sumur Pitu :
Dahulu kala, Desa Bakalan sampai sekarang tidak terlepas sejarah seorang
bernama Klinthing Wesi dan teman-temannya.Menurut sejarah, Klinthing Wesi penggagas sumber
mata air. Ringkas cerita Klinthing Wesi mengajakteman dan warga sekitar memulai menggali sumur
(Sumur Ngaglik, Sumur Tawang Sari, Sumur Sambidono, Sumur Gedhe Bakalan, Sumur Muryo,
Sumur Tompo, Sumur Slumbung) untuk pertama kalinya sebagai sumber mata air daerah ini.
Ritual reresik sumur pituReresik
Sumur Pitu
Ritual reresik sumur pitu sendiri berlangsung secara serempak di tujuh sumur dengan petugas
yang berbeda. Air sumur diambil oleh seorang anakperempuan dengan menggunakan gayung dari
tempurung kelapa, kemudian air dimasukkan ke dalam kendi dari tanah liat yang dibawa oleh
seorang anak laki-laki hingga penuh.
Keunikan Tirta sumur Pitu :
Tradisi Reresik sumur pitu yang baru dua kali digelar dalam dua tahun, sudah banyak menarik
perhatian. Bahkan tidak hanya disaksikan warga masyarakat Kelurahan Cangkrep Kidul saja,
namun masyarakat sekitarnyajuga turut berbondong-bondong meramaikan tradisi itu. Tradisi yang
diawali kirab tersebut, diapresiasi Wakil Bupati Hj Yuli Hastuti SH yang langsung menghadiri
dilokasi dekat sumur pitu. Dalam sambutannya Hj Yuli Hastuti mengatakan, menyongsong
keberadaan bandara pesawat udara dan kawasan Borobudur, Kabupaten Purworejo terus menggali
potensi yang dimiliki. Menyusul diluncurkannya branding Romansa Purworejo 2020, yang
mendapat atensi sangat positif dari masyarakat. Ini
dibuktikan bermunculannya destinasi-destinasi wisata baru di berbagai desa di seluruh pelosok
Purworejo. “Seperti tradisi Reresik Sumur Pitu yang memiliki cerita yang menarik keberadaan
sumur pitu. Saya berharap budaya dan tradisi reresik sumur pitu ini, supaya dilestarikan. Tentu
denganterus melakukan inovasi kemasan yang dapat mendatangkan wisatawan baik lokal maupun
wisatawan dari daerah lain,” ujar Hj Yuli Hastuti, yang didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Agung Wibowo SSTp, Kabag Humas dan protokol Anas Naryadi SE MM, dan
Forkopimda.Tradisi diawali dengan prosesi kirab mulai dari balai kelurahan menuju sumur pitu
sekitar 200 meter. Pasukan kirab terdiri urutan di barisan depan prajurit, sanggar kidung rinonce,
Hapsara dan Hapsari, tokoh masyarakat serta gunungan buah. Selain itu juga dimeriahkan dengan
barisan tetabuhan yang dibawakan drumband sekolah, rombongan Padepokan Pencak Silat Tri
Susila dan Kuda Kepang Pandan Sari. Kemeriahan semakin terlihat, dengan dilakukannya kirab
balik dan perebutan tumpeng buah.Setelah sampai di lokasi Sumur Kemloko yang terdapat 7
sumber mata air, lalu tokoh-tokoh masyarakat melakukan Jamasan Kuda Kepang dan
pengambilan air dari 7 sumber sumur itu. Kemudian air dibawa ke Laboratorium Alam yang
berada tidak jauh dari kompleks sumur Pitu. Di lokasi itu dilakukan pula jamasan yang
dimandegani perangkat desa dan diteruskan masyarakat.Sementara itu Ketua penyelenggara kirab
budaya Teguh Suyono menjelaskan, peristiwa budaya ini tidak berangkat dari sebuah legenda atau
cerita tentang terjadinya sesuatu. Tapi tercipta karenakeprihatinan melihat keberadaan sumur yang
sesungguhnya mempunyai keunikan tetapi kurang diperhatikan kelestariannya. “Maka, reresik atau
bersih-bersih ini bermakna mengajak segenap warga untuk bersama menjaga kelestarian sumur.
Dengan bersatunya tujuh mata air itu semoga dapat mempersatukan tujuh wilayah Cangkrep,”
jelasnya.Menurutnya, sumur-sumur di kelurahan Cangkrep Kidul sangat unik dan mistis. Ada 7
sumur di antaranya Sumur Kemloko, Sumur Pancur, Sumur Buthek, Sumur Planangan, Sumur
Tengah, Sumur Pandansari, Sumur Lanang dan Sumur Wedok. Air dari sumur Kemloko konon
dipercaya untuk obat dan Sumur Pandan sebagai sarana awet muda. Banyak wisata luar daerah yang
datangdi area sumur itu, seperti Jogja, Jakarta datang untuk mengambil manfaat sumur itu.Kirab
budaya dan reresik sumur Pitu tersebut, juga menjadi salah satu bagian Kemah Budaya Nusantara
mulai 2 hingga 5 Agustus. “Beberapa acara lain yang juga melibatkan masyarakat luas yakni
sarasehan budaya, lomba mewarnai, workshop seni peran, pentas monolog, dan kesenian
tradisional,” katanya.
Makna Tirta sumur Pitu :
Beberapa peninggalan Sunan Gunung Jati adalah adanya sumur yang dianggap keramat oleh para
peziarahSelain dikenal alim dan juga penyebar agama Islam di Tatar Pasundan, Sunan Gunung Jati
dikenal juga dengan keramat dan juga kesaktian nya.Makam Sunan Gunung Jati hingga kini tidak
pernah sepi dari peziarah, mulai dari warga sekitar hingga dari seluruhpenjuru Nusantara datanguntuk
berziarah kesana.Terasa kurang lengkap apabila berkunjung ke situs makam Sunan Gunung Jati,
jika tidak menyambangi tujuh sumur keramat ini.
Ketujuh sumur Kramat Sunan Gunung Jati ini memiliki filosofi sendiri- sendiri, dan memiliki
khasiat yang dipercaya oleh masyarakat...
https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4725927/reresik-sumur-pitu- tradisi-merawat-mata-air-
di-purworejo/2
https://purworejokab.go.id/web/read/1177/reresik-sumur-pitu-bisa- dilestarikan.html
https://portalmajalengka.pikiran-rakyat.com/khazanah/pr-834223413/arti- nama-dan-filosofi-sumur-
keramat-sunan-gunung-jati-istilah-adus-sumur-
pitu?_gl=1%2A6kvw7x%2A_ga%2AZG1VdmxBcGRWMXpYcGRjVGc0UVZCS
3l4Wm8yTlJ0X05lWDIxalduaTlHOTNlMTJmRmxyZTVESnFHMHNnbkYtWg.
Nama Anggota kelompok:
1. Salwa Maulidya Prastiwi (27)
2. Lova Tria Deninta (18)
3. Dhaviena Fidelya Q.P (10)
4. Desty Dwi Purani (08)
5. Asyta Refa P.A (05)
LAPORAN HASIL PENGAMATAN PAWAI
BUDAYA
NOMOR 04
Assalamualaikum, wr, wb. Puja dan puji syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT. Atas
nikmat iman, Islam, serta nikmat sehat, sehingga kita bisa berkumpul bersama untuk membacakan
hasil laporan hari ini. Shalawat dan salam tidak lupa kita haturkan kepada junjungan nabi besar
Muhammad Saw.
HASIL PENGAMATAN:
TRADISI RUWATAN DENGAN SENI WAYANG
Asal-usul adanya ruwatan adalah dari cerita pewayangan. Diceritakan ada seorang tokoh bernama
Batara Guru yang beristrikan dua orang wanita, yaitu Pademi dan Selir. Dari Pademi iamenurunkan
anak laki-laki bernama Wisnu dan dari Selir juga menurunkan anak laki-laki bernama
Batarakal.Tradisi Jawa Ruwatan dengan pergelaran wayang Kulit .Tradisi Jawa yangsatu ini sering
kali mereka yang percaya pada keadaan psikologis. Kegelisahan batin akan mengusik jiwa mereka
jika upacara ruwatan untuk keselamatan anaknya tidak dilaksanakan.
Sementara pelaksanaannya butuh biaya tidak sedikit. Orang yang tak mengenal tradisi Jawa pasti
bingung lalu geleng-geleng kepala menyaksikan sekitar 53 anak sukerto berbaris rapi,
duduk khusyuk di belakang kelir (layar) mendengarkan wejangan ki dalang yang sedang
menyuguhkan pergelaran wayang kulit. Pakaian mereka seragam, berupa kain putih polos yang
dililitkan di tubuh, disebut kopohan.
Nampak seorang bocah berumur 6 tahun duduk terkantuk-kantuk, lalu diperingatkan oleh orang
tuanya. Maklum, dalam proses ritual ruwatan ini memang banyak pantangannya, salah satunya
mereka tak boleh tertidur bila tak ingin disambar Betara Kala. Apalagi ketika sang dalang sedang
merapal mantra wringin sungsang dan rajah kala cakra, semua yang hadir dalam upacara itu
termasuk para sukerto dilarang berbicara, apalagi mengantuk. Pada kesempatan itu pula penonton
wanita yang sedang hamil dimohon untuk sementara meninggalkan tempat upacara. Sementara
penonton anak-anak dilarang memanjat pohon atau pagar. Semua diminta hening, sebab Betara
Kala sedang berkeliaran dan nyaris berhasil ditangkap dan dikalahkan sang dalang.Tiba pada
puncak upacara ruwatan, ki dalang akan memotong sedikit rambut para sukerto sebelum
dilanjutkan dengan upacara siraman, mandi dengan air dari tujuh sumber.
Siraman yang juga dilakukan oleh ki dalang, itu simbol terbebasnya Kala dari tubuh
suterto.Pakar susastra Jawa Drs. Subalidinata menilai, ruwatan zaman dulu merupakan proses suci
berkaitan dengan kepercayaan. Kini ruwatan lebih berkesan pada kebudayaan yang bercampur
dengan seni. Khususnya wayang sebagai fiksi yang divisualkan sedemikian rupa agar
masyarakat bertambah tertarik dan percaya, bahwa Betara Kala betul-betul ada. Padahal tokoh
raksasa itu hanya simbol. Maka kalau upacara ruwatan ini ingin terus dilestarikan, nilai simbolis
dari kelahiran Betara Kala itu yang perlu dipahami. la simbol ketamakan akibat sperma yang
tercecer. Tapi upacara ruwat, menurut Dr. Budi Susanto, diterjemahkan lain. la adalah simbol
penghargaan terhadap suatu gejala atau perubahan yang tidak terduga. Di saat rasio tak mampu
menjawab, ketika pikiran sudah mentok tak sanggup memecahkan, maka ruwatan memang cara
termudah untuk memasrahkan diri dengan harapan gejala perubahan itu pulih kembali.
"Bagaimanapun aktivitas seremonial sakral ini akan mampu memberikan dampak psikologis
bagi yang percaya dan melakukannya," ujar antropolog lulusan Cornell University,Susanto dari
Surakarta misalnya, mengaku begitu usai anaknya yang unting-unting diruwat merasa plong
dadanya. "Hilang beban saya sekarang. Bertahun-tahun upacara ruwatan ini kami tunggu, baru
sekarang sempat terlaksana. Ya, semoga keluarga kami dijauhkan dari berbagai cobaan,"
ungkapnya berharap.Susanto bisa jadi wakil contoh kecil dari sekian banyak contoh besar, bahwa
ruwatan merupakan upaya transendental yang sanggup menenenangkan batin manusia yang lagi
bimbang dan guncang. Kalau betul, itu berarti tradisi sanggup mengalahkan modernisasi. Mitos
nyaris menggeser realitas.Namun, H. Karkono K. Partokusumo menyatakan, tidak berani
menjamin bahwa setelah bocah sukerto diruwat akan benar-benar menghapus segala mara
bahaya dirinya maupun lingkungan keluarganya. "Anak jenis apa pun, itu titipan Tuhan. Kita
hanya sebartas berdoa.
Ruwatan adalah sebuah tradisi upacara adat yang sejak dulu hingga sekarang masih dilestarikan
dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Meruwat berasal dari kata ruwat dalam bahasa
jawa, yang memiliki arti membuang sial atau menyelamatkan orang dari gangguan
tertentu.Upacara Ruwatan merupakan sistem ritus yang dikembangkan oleh
masyarakat Jawa. Upacara ruwatan yang biasa digelar oleh masyarakat Jawa.hingga saat ini adalah
bentuk realisasi laku budaya, diyakini sebagai usaha untuk.menghindarkan seseorang dari ancaman
marabahaya yang diramalkan.(Koentjaraningrat, 1974: 376). Dalam Baoesastra (Poerwadarminto,
1940: 534).Dijelaskan bahwa secara etimologis kata ruwatan memiliki kesepadanan makna dengan
kata luwar dalam pengertian bahasa Jawa bermakna lepas. Kata ruwatan diderivasi dari akar kata
wat yang berarti lolos atau lepas. Ruwatan serupa dengan ritus penyucian dalam rangka
penyelamatan (ritual salvation). Zoetmulder (2004: 1479-1480) menambahkan, istilah kata ruwat
dalam bahasa Jawa Kuna sangat dekat dengan kata wwat yang berarti jembatan dan
mempersembahkan, yaitu menjembatani seseorang agar terlepas dari sukerta dan kekuatan gaib
yang dianggap membahayakan. Pada hakikatnya, ngruwat menurut definisi tradisi setempat
bermakna dipulihkan atau dikembalikan pada keadaan semula. Dari pandangan ontologis di atas,
kita mengetahui bahwa orang Jawa secara komunal sudah dihadapkan pada suatu kepercayaan
perihal keselamatan,atau bencana. Keduanya beroposisi secara biner untuk memberikan suatu
pilihan hidup kepada masyarakat Jawa. Konkritnya, apabila hidup ini mengalami kesusahan
ataupun kesialan secara terus menerus, maka kemungkinan seseorang tersebut mempunyai kotoran-
kotoran batin/kehidupan yang menyebabkannya menjadi sial secara terus menerus.Tentu hal ini
menjadi sangat kompleks dan dilematis ketika yang diharapkan dalam hidup ini hanyalah
keselamatan lahir dan batin.
Berdasarkan problematika itulah sistem ruwatan menjadi suatu jembatan tradisi yang
menghantarkan orangorang yang mempunyai kotoran tersebut agar menyeberang ke jalan
keselamatan lahir dan batin.
Nagaruda
nama kelompok:
1.MOCHAMMAD PUTRA
ARDINATA
2.SATRIA PUTRA
KUSUMA 3.FEBRIAN
FIRMANSYAH
4.DEVA JOICE TRIANA
SITANGGANG
5.RAYHAN RAHARDIAN
tarian nagaruda merupakan tarian asli Bojonegoro yang masih dilestarikan di kecamatan ngambon
tari tradisional ini berkisah tentang pertempuran prabu angling darmo dengan bandeng madre,prabu
Angling darma dan bandeng madre saling beradu kesaktian dan mengubah wujud nya menjadi
burung garuda dan naga raksasa demi menikahi dewi setyowatimerupakan anak dari biksu kuru
sagkoro Prabu Angling Dharma adalah nama seorang tokoh legenda dalam tradisi Jawa, yang
dianggap sebagai titisan Batara Wisnu. Dalam legenda, Prabu Angling Dharma dilahirkan oleh
Pramesti, putri Jayabaya. Sementara Jayabaya merupakan putra Gendrayana, cucu Yudayana dan
cicit Parikesit. Silsilahnya jika ditarik sampai ke tokoh Mahabharata: Abimanyu, ayah Parikesit dan
Arjuna, kakek Parikesit. Dia bertakhta di Kerajaan Malawapati Bagi sebagian orang, legenda ini
bukanlah cerita biasa. Beberapa daerah, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, percaya tokoh itu
pernah hidup di masa lalu. Diduga makam dan peninggalan Prabu Angling Dharma berada di Desa
Baleadi, Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Letaknya di Desa Mlawat, Kecamatan Sukolilo.
Nama Mlawat mirip Malawapati, kerajaan Angling Dharma. Dua kilometer
dari sana, di Desa Kedung Winong, Kecamatan Sukolilo, diyakini terdapat makam Patih
Batik Madrim,tokoh dalam kisah angling darma
.
sumber:https://pin.it/3aB
eh5T https://youtu.be/-
DO8yZ3xByI
LAPORAN KEGIATAN PAWAI BUDAYA
TINGKAT SMP NEGERI TAHUN 2021/2022
KELOMPOK 1
1.SHERIN REGINA PUTRI
2.JEVA NULITA APRILIA
3.NASHAFA ARAYA PUTRI SAHERA
4.KEYSHA ANINDYA PUTRI
Pawai Budaya nomor peserta(007)Dari SD/SMP 6 BOJONEGORO
Dengan judul Tirta Sumur Pitu
Narasi : Dahulu kala, Desa Bakalan sampai sekarang tidak terlepas sejarah seorang bernama
Klinthing Wesi dan teman-temannya. Menurut sejarah, Klinthing Wesi penggagas sumber mata
air. Ringkas cerita Klinthing Wesi mengajak teman dan warga sekitar memulai menggali sumur
(Sumur Ngaglik, Sumur Tawang Sari, Sumur Sambidono, Sumur Gedhe Bakalan, Sumur
Muryo, Sumur Tompo, Sumur Slumbung) untuk pertama kalinya sebagai sumber mata air
daerah ini.
Berikut foto pawai budaya smpn 6 Bojonegoro:
Sumber : https://radarbojonegoro.jawapos.com/daerah/bojonegoro/30/08/2022/tirta-sumur-
pitu/
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam tampilan tersebut adalah : Bertanggung jawab dan
gotong royong
7C_1_pawai budaya
(LAPORAN KEGIATAN PAWAI BUDAYA TINGKAT SD/SMP 2022)
Kelompok 2
Pawai budaya tingkat SD/SMP
NOMOR 3 SMPN 2 NEGERI
BOJONEGORO
JUDUL:TRADISI TARI TOR
TORNAMA
KELOMPOK:
1. MUHAMMAD NUR HADI BIL MAK'RUF
2. M.BRILYAN DWIKI REHANI
3. FABIAN DUSTIN CHANDRA
4. CHOHAR FADIL
NARASI:Tari Tor Tor berasal dari suku Batak, Sumatera Utara. Tarian ini
digunakanuntuk upacara adat pernikahan, kematian, menyambut tamu, dan
pesta. Berikut penjelasan lengkap tentang tari Tor Tor.
TUJUAN:Tari tortor pada dasarnya digunakan sebagai sarana penyampaian batin
baikkepada roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-
tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat.
ASAL TARI:Tari Tor Tor berasal dari Sumatera Utara yang kini terus dilestarikan
sukuBatak Toba. Mengutip dari jakartatourism.go.id, tari Tor Tor juga menjadi
tarian tradisional etnis Batak Mandailing di Sumatera Utara. Alat musik
tradisional yang digunakan sebagai pengiring lagu adalah gondang.
SEJARAH TARI TOR TOR:
Tari Tortor adalah jenis tarian tradisional dari suku Batak yang berasal dari
provinsi Sumatra Utara, meliputi daerah kabupaten Tapanuli Utara, Humbang
Hasundutan, Toba, Samosir, dan Tapanuli Tengah. Dan saat ini, tari tortor
menjadi bagian pentingdalam adat suku Batak, baik dalam acara adat
pernikahan ataupun pentas seni di seluruh Indonesia. Melalui tarian ini lah
masyarakat adat Batak menyampaikan harapan dan seluruh doa-doanya.
Peragaan sikap dan perasaan melalui tortor selalumenggambarkan kondisi dan
situasi yang dialami.
Tidak semua orang dapat mengadakan tari Tortor, melainkan hanya orang tua
yangseluruh anaknya yang sudah menikah atau sudah lepas tanggung jawab
dalam hal
mengurus anak-anak mereka. Melakukan tarian Tortor semestinya telah disetujui
olehkeluarga dan kepala adat.
Adapun makna simbol dalam tiap gerakan Tortor masing-masing mempunyai arti
yangmenjelaskan bagaimana proses menghargai dan memberi penghormatan
antar margasebagai bentuk hubungan yang baik. Dalam unsur kekerabatan
masyarakat Batak antara hula-hula, dongan sabutuha dan boru gerakan itu
semua menjelaskan proses tersebut melalui simbol gerakan yang akan
dibawakan oleh panortor.
MITOLOGI:Nama Tortor berasal dari bunyi hentakan kaki pada lantai rumah adat
sukubatak yang terbuat dari kayu sehingga menghasilkan suara berbunyi “tor”
“tor”
SUMBER LINK:https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tari_Tortor
Nilai-nilai karakter yang dikembangkan : gotong royong, Beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa
KESIMPULAN: KITA BISA MENGHARGAI PERBEDAADN DAN ADAT MASING2
KARENATARI TOR TOR INI MENGAJARAKAN MENGHARGAI SESUAI AGAMA
SELESAI
TUGAS PAWAI BUDAYA
Kelompok :
1. Fatma Dwi Nurlela
2. Aulia Dwi Alipah
3. Viona ziffi reyzikay
4. Ahya Najzwa Zulianty