IWAK MUNGGUT
munggut atau pladu atau ngumboh yang merupakan fenomena alam dan
hanya bisa dirasakan oleh orang pinggiran Bengawan Solo. Dimana kita
ketahui bahwa Kabupaten Bojonegoro sebagian wilayahnya dilewati oleh
Sungai terpanjang di Jawa tersebut.
Munggut merupakan fenomena dimana ikan di Bengawan dalam keadaan
mabuk dan muncul kepermukaan akibat bergantinya kondisi air
dikarenakan naiknya debit air secara tiba-tiba sehingga kondisi air dari
jerning menjadi keruh.
Untuk itu, masyarakat akan beramai-ramai mengambil ikan yang mabuk
dan muncul kepermukaan dengan menggunakan alat seser maupun
jaring yang dalam hal ini juga ditampilkan oleh peserta dari SMPN 1
Bojonegoro. Tampak para peserta membawa jaring dan sesertidak hanya
itu sebgaian peserta juga menjadi ikan yang cantik-cantik dan beraneka
macam jenis. Selain itu, mereka juga membuat miniatur ikan dengan
ukuran besar dan beranega macam.
CERITA
Dipawai budaya tahun 2022 ini, SMPN 1 BOJONEGORO memilih pawai
budaya yang
berjudul iwak munggut. Ketika ada iwak munggut di situlah para nelayan
segera mengambil
ikan yang ada di pinggir laut. Ada beberapa anak yang menjadi ikan,
mereka terlihat sangat
lucu karena mereka menggunakan kostum seperti ikan. Mereka bergaya
seolah mereka
berada di lautan. Ada anak yang berlarian dan membawa kain seolah
mereka menjadi lautan.Ada seorang putra dan putri, mereka seolah ingin
memancing ikan. Dan mereka membawa
alat alat untuk memancing ikan, mereka menggunakan kostum
sederhana. Ada sebuah patung ikan yang sangat besar.Ada dua putri
yang sangat cantik, mereka sedang menaiki perahu
ikan.
Demikian hasil pawai budaya dari SMPN 1 BOJONEGORO yang berjudul
iwak munggut.
Nilai-nilai karakter yang dikembangkan : gotong Royong
Pesan yang dapat di ambil : melestarikan budaya Indonesia
sumber foto : https://wartaku.id/budaya/tradisi-munggut-iwak-khas-
orang-pinggiran-diangkat-dalam-pawai-budaya-bojonegoro/
(Laporan Kegiatan Pawai Budaya Tingkat SD/SMP
Tahun 2022)
Anggota Kelompok:
1. Abiyatma Bhamakerti
2. Moh. Nova Firlana
3. Mohammad Rafel Ferdian
4. Randy Apriliano Zen
Pawai Budaya nomor peserta: 04 Dari SD/SMP: SMPN 4 BOJONEGORO
Dengan Tema atau judul: Tradisi Ruwatan dengan Seni Wayang
Deskripsi/narasi tampilan: Tradisi Ruwatan adalah salah satu bentuk upacara atau ritual
penyucian yang hingga saat ini tetap dilestarikan oleh masyarakat Demak, Jawa Tengah.
Tradisi ini diberlakukan untuk melestarikan ajaran dari Kanjeng Sunan kalijaga dandigunakan
bagi orang yang Nandang Sukerta atau berada dalam dosa.
Meruwat bisa berarti mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan batin dengan cara
mengadakan pertunjukan atau ritual. Umumnya ritual tersebut menggunakan media
Wayang Kulit yang mengambil tema atau cerita Murwakala. Istilah Ruwat berasal dariistilah
Ngaruati yang memiliki makna menjaga kesialan Dewa Batara.
Di dalam kehidupan Masyarakat Jawa, dikenal tradisi ruwatan. Sedangkan ruwatan adalah
salah satu ritual penyucian yang masih banyak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa.
Tradisi ini dilakukan dengan menggunakan media Wayang Kulit. Tradisi ini dapat dilakukan
oleh orang Jawa ketika mengalami kesialan dalam hidup.
Dalam Bahasa Jawa, ruwat sama dengan kata luwar yang artinya lepas atau terlepas. Seorang
Dalang bertanggungjawab atas kesialan serta kemalangan karena orang yangdiruwat sudah
menjadi anak si Dalang.Dari cerita pewayangan ini, Masyarakat Jawa meyakini bahwa tradisi
ruwatan sangat penting untuk mereka yang menginginkan
keselamatan.
Tradisi ruwatan tidak terlepas dari pertunjukan wayang yang menceritakan tentang
Murwa Kala yang menjadi muasal sejarah tradisi tersebut. Karena untuk melaksanakan
pertunjukan wayang membutuhkan biaya yang tidak tradisi ngruwat biasa dilakukan
secara bersama- sama dalam lingkup pedukuhan atau desa.
Sumber: https://guruinovatif.id/@drasrisuprapti/tradisi- ruwatan- bebaskan- dari-
marabahaya- dan- kesialan- yang- penuh-
makna#:~:text=Tradisi% 20Ruwatan% 20adalah% 20salah% 20satu, Sukerta% 20atau% 20berada%
20dalam% 20dosa.
Nilai- nilai yang dikembangkan dalam tampilan tersebut adalah: Tanggung
Jawab dan gotong royong
Berikut adalah foto kegiatan Pawai Budaya SMPN 4 BOJONEGORO
7C_5_Pinjung iras putri
Nama Anggota Kelompok :
1. Raynaldi Ainur Ridho
2. Azriel Rico Radhitya Indarto
3. Jofan Gabriel Ramadhan
4. Alvino Abar
Pinjung Iras Putri (SDN Campurejo 1 Bojonegoro)
Tradisi upacara adat panggih pengantin ini berasal dari, Dukuh Kepoh Agung
(Pagung), Desa Campurejo, Kec/Kab. Bojonegoro, Jawa Timur. Prosesi pertama di awali
dengan “Sawur Gadang” berasal dari kata ‘SAWUR‘ yang berarti menabur/mbalang atau
melempar. Sementara ‘GADANG‘ memiliki arti mengharap, sehingga “Sawur Gadang”
dapat dimaknai dengan menabur harapan di dalam menemukan jodohnya.
Prosesi ini merupakan tahapan dalam proses upacara temu atau panggih
pengantin Gaya Bojonegoro atau biasa disebut “Pinjung Iras Putri” Dimana pada titik
panggih/ketemu yang telah ditentukan, kedua rombongan mempelai putra dan
mempelai putri berhenti tepat dibawah naungan Tarup kecil yang dihias tuwuhan yang
disebut “PACUL GOWANG“. Di bawah Pacul Gowang inilah proses temu pengantin
diawali, di mana kedua mempelai saling melempar genggaman tangan yang berisi beras
kuning dan gulungan daun sirih temu ros, yang disebut GANTAL.
Di saat kedua mempelai saling melempar Gantal, disinilah para pengiring dari
pihak mempelai putra (yang masih bestatus perjaka) dan para pengiring dari pihak
mempelai putri (juga yang masih berstatus legan/belum menikah) saling melempar
gantal, dan saling mendahului ke masing-masing lawan jenisnya sehingga proses temu
pengantin ini menjadi sangat meriah. Inilah yang disebut Prosesi Sawur Gadang.
Diawali pengantin pria yg melempar gantal mengenai dada mempelai putri yg
bermakna bahwa (mempelai putra telah menemukan pilihan hatinya). Kemudian dibalas
oleh mempelai putri dengan cara yg sama melempar genggaman yg berisi beras kuning
& gulungan sirih temu ros mengenai lutut mempelai putra yg bermakna Bahwa sebagai
calon istri berkewajiban untuk selalu taat dan menghormati calon suaminya.
Disaat kedua mempelai saling melempar Gantal inilah para pengiring dari pihak
mempelai putra para perjaka dan para pengiring dari pihak mempelai putri yang masih
legan saling melempar gantal saling mendahului ke masing-masing lawan jenisnya.
Sehingga proses temu pengantin ini menjadi sangat meriah, di sinilah yang disebut
Prosesi Sawur Gadang, selanjutnya diharapkan pada proses temu pengantin para
pengiring yang masih lajang berharap juga dapat segera menemukan jodohnya. Setelah
semua dalam tahapan proses temu pengantin selesai dilaksanakan di rumah mempelai
putri, kemudian dilanjutkan Tradisi SINJO.
SINJO, yakni kedua mempelai dengan memakai kaca mata hitam sebagai
simbol kesetiaan, lalu diarak keliling jalan-jalan desa menuju rumah sesepuh desa untuk
mendapatkan wejangan dalam membina rumah tangga menuju sakinah mawadah dan
wa rahmah.
Kedua mempelai dengan diiringi oleh para pengiring putra membawa Jodang
berisi makanan, lauk dan buah, sementara pengiring putri membawa Tenong berisi kue
kue, dengan dikawal pembawa tombak paling depan dan dua perjaka pembawa Rontek
Sapudar dibelakangnya, dinaungi di bawah payung agung dan diarak oleh penabuh jedor
tampak begitu sangat agung dan meriah beriringan melalui jalan-jalan desa.
Tradisi ini sebagai bukti legitimasi pengakuan syah dari masyarakat desa saat
melihat iringan pengantin disepanjang jalan yang dilalui kedua mempelai. Di mana telah
melaksanakan pernikahan yang sah secara adat, agama dan pemerintah. Dalam rangka
upaya melestarikan nilai-nilai budaya tradisional dalam rangka memeriahkan HUT
Kemerdekaan RI yang ke 77, SDN Campurejo 1 mengusung tema keberagaman seni
tradisional dengan judul "Pinjung Iras Putri".
Nilai karakter yang di kembangkan : Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Laporan Kegiatan Pawai Budaya
Tingkat SD/SMP Tahun 2022
Nama Anggota Kelompok 6 : (05)
(15)
1. Anugrah Duwi Antika (23)
2. Genduk Puspita Widjy Tri Astutik (32)
3. Mutiara Cahyaning Nugraheni
4. Zaskiya Riezviana Putri
Pawai Budaya Nomor peserta 07 Dari SD Negeri Banjarjo 1 Bojonegoro
Dengan Tema “Wayang Thengul”
Tari thengul adalah tarian tradisional yang terinspirasi dari Wayang thengul asal
Bojonegoro, Jawa Timur yang berkisah tentang cerita rakyat seperti cerita wayang gedhog
(cerita tentang kerajaan majapahit) dan juga wayang menak (cerita panji dan cerita para wali).
Tari Thengul ini merupakan tarian kreasi yang diciptakan selain untuk seni, juga sebagai wujud
apresiasi dan upaya untuk mengangkat kembali kesenian Wayang thengul yang hampir
tenggelam seiring dengan perkembangan zaman.
Latar Belakang :
Kehidupan masyarakat Bojonegoro sangat erat dengan identitas budaya Jawa.
Beberapa bentuk budaya Jawa yang masih ada pada masyarakat Bojonegoro salah satunya
budaya kesenian Wayang Thengul. Minat masyarakat terhadap tradisi yang semakin menurun
menggugah seniman di Bojonegoro melakukan upaya menggali bentuk tradisi yang berpijak
pada kesenian lokal. Harapannya dalam terciptannya tarian lokal yang berpijak pada kesenian
Wayang Thengul dapat menarik minat masyarakat Bojonegoro. Hampir punahnya kesenian
Wayang Thengul tersebut menggugah seniman untuk mencoba mengeksporasikan kedalam
gerak-gerak yang hampir menyerupai Wayang Thengul, sehingga terciptalah tari Thengul ini.
Gerakan tari Thengul menyerupai karakteristik wayang Thengul dan mempunyai
koreografi yang unik.
Dalam perkembangannya, Tari Thengul ini masih tetap dipelajari dan dilestarikan
keberadaanya. Selain masuk dalam ranah pariwisata, tarian ini juga dimasukan ke dalam ranah
pendidikan sebagai upaya memperkenalkan kepada generasi muda agar proses regenerasi tetap
berjalan. Selain itu Tari Thengul ini juga sering ditampilkan di berbagai acara festival budaya
yang diadakan baik di daerah maupun luar daerah. Tak hanya itu, tarian ini juga dijadikan tarian
selamat datang bagi tamu besar yang datang ke Bojonegoro, Jawa Timur. Tentunya sebagai
upaya untuk melestarikan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang Tari Thengul
ini.
Sejarah Tari Thengul
Tarian ini bermula pada tahun 1991 ketika diselenggarakan festival tari daerah dalam
Pekan Budaya dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Joko Santoso yang dibantu penata iringan
Ibnu Sutawa (alm) oleh pihak P dan K kabupaten Bojonegoro ditugasi untuk menyusun sebuah
karya tari. Terciptalah Tari Thengul yang pada saat itu masuk menjadi salah satu kategori
penampilan terbaik Festival Tari Daerah. Dimulai dengan terciptanya Tari Thengul, tercipta
pula beberapa tarian lain yang bersumber dari tarian tersebut, seperti Tari Sindir Thethengulan,
Tari Golek Thengul serta Tari Geyeran. Pada tahun 2003 tarian Thengul tampil pada Pawai
Budaya festival seni Bojonegoro di dukung 5 penari putra dengan media gambar thengul
setinggi 2 meter. Dari sini, dinamika dan perubahan dalam tari ini semakin berkembang
mengikuti jaman dan peradabannya.
Pentas Tari Thengul
Tari Thengul ini biasanya ditampilkan oleh tujuh orang penari putri dengan kostum dan
tata rias muka putih seperti boneka. Penari tersebut menari layaknya Wayang Thengul dengan
gerakan yang kaku dan ekspresi yang terlihat lucu sehingga memunculkan kesan humor dan
menghibur dalam setiap pertunjukannya. Gerakan dan ekspresi itulah yang menajadi salah satu
ciri khas dari Tari Thengul ini. Dalam pertunjukkannya tari ini diawali dengan instrumen
seperangkat gamelan. Dibuka oleh gender, lalu disusul dengan slentem bersamaan dengan
oklik. Pertama, penari keluar dengan jalan layaknya pinokio, dilanjutkan buka cluluk, lalu
jogetan dengan gending tenggor. Setelah itu dilanjutkan dengan playon yang bersamaan dengan
keteran alat musik, lalu guyonan dan lanjut jogetan kemudian tutup kayon. Dalam pertunjukan
Tari Thengul ini juga diiringi berbagai alat musik tradisional seperti oklik, ithik – ithik, biola
dan gamelan laras slendro. Selain musik pengiring juga diiringi dengan tembang dan
senggakan.
Keunikan Tari Thengul
1. Make Up Penari : Berbeda dengan tarian lainnya, make up penari Thengul berupa bedak
putih tebal dengan garis hitam di rambut dan lipstik merah. Tak ketinggalan konde
berbentuk boneka wayang yang menjadi ciri Thengul. Sekilas, penari thengul akan terlihat
seperti mengenakan topeng.
2. Ekspresi Wajah Yang Unik : Poin menarik dari tari Thengul yaitu ditampilkannya berbagai
macam ekspresi wajah terutama bibir yang lucu seperti tertawa, cemberut, melotot dan
ekspresi lainnya yang akan membuat penonton terhibur.
3. Gerakan Tarian : Fokus tari Thengul adalah gerakan yang kaku dan patah-patah seperti
menirukan gerakan wayang. Tari Thengul dimulai dengan masuknya penari yang berjalan
ala pinokio. Selanjutnya penonton akan dibuat tertawa oleh perpaduan gerakan tari yang
unik dan ekspresi wajah yang lucu.
4. Jogete durung bubar, ayo diteruske, jogete durung bubar,(Narinya belum selesai, ayo
dilanjutkan, narinya belum selesai) Itu adalah potongan lirik yang ikonik dari lagu
pengiring tari Thengul. Dengan musik yang menghentak-hentak, para penari semakin
bersemangat menghentakkan kaki dan menari mengikuti iringan musik. Ditambah dengan
gerakan siku yang kaku dan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri yang lentur
5. Karakter wayang Thengul: Wayang Thengul hampir mirip dengan wayang golek namun
perbedaan yang jelas terlihat ialah dari cerita yang diangkat dan juga karakter tokoh yang
ditampilkan. Jika pada Wayang Golek lebih banyak yang mengangkat cerita dari Wayang
Purwa seperti Mahabarata dan juga Ramayana, justru Wayang Thengul banyak
mengangkat cerita rakyat seperti halnya cerita Wayang Gedhog yaitu cerita kerajaan
majapahit, cerita panji serta cerita para wali. Selain itu juga ada yang menceritakan cerita
dari Serat Damarwulan.[2] atau wayang yang menggunakan perangkat boneka kayu bulat
dan tebal. Bagian bawah dan kaki dibalut dengan pakaian dan kain (sarung) dimana tangan
sang dalang masuk ke dalamnya. Dalang menggerak-gerakkan boneka tersebut dengan ibu
jari dan jari telunjuk, sedangkan tiga jari lain memegang tangkai wayang. Boneka sebelah
atas biasanya telanjang, kecuali pada beberapa pelawak dan pahlawan, memakai baju
sikepan. Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya, layar (kelir) yang digunakan
terdapat lubang kotak di tengahnya, sehingga penonton juga dapat menyaksikan dari arah
belakang layar. Wayang ini berbentuk boneka 3 dimensi dan biasanya dimainkan dengan
diiringi gamelan pelog/slendro.
Makna Tari Thengul
Tari tradisional yang dibawakan secara berkelompok tersebut memiliki karakter
komedi. Tari Thengul merupakan gambaran dari Wayang Thengul yang diperagakan oleh
manusia dengan gerakan kaku siku pada gerakan tangan, gerakan tegas pada gerakan kepala,
dan dilengkapi tata rias muka putih dengan cunduknya seperti boneka. Para penari tidak henti
menunjukkan ekspresi senyum sebagai simbol keakraban dalam sebuah hubungan sosial.
Sumber Referensi : Sumber.regional.kompas.com
Tari Thengul Ditetapak Sebagai Warisan Budaya
Pada perkembangannya, Tari Thengul menjadi identitas atau ikon Kabupaten
Bojonegoro. Tari Thengul ditetapkan sebagai tarian penyambut tamu di lingkungan Kabupaten
Bojonegoro, Jawa Timur. Masyarakat bersama-sama dengan pemangku kebijakan di wilayah
Kabupaten Bojonegoro kompak melestarikan kesenian tradisional Tari Thengul. Kesenian
tradisional tersebut telah menjadi kebanggaan segenap masyarakat Bojonegoro bahkan
Indonesia pada umumnya. Berkat kerja sama seluruh elemen masyarakat di lingkungan
Kabupaten Bojonegoro, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan Thengul dan Kesenian Sandur sebagai
Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Nilai Karakter yang dikembangkan : Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa,Tanggung jawab, Bernalar kritis.
Daftar pustaka
Rahmadi, Dedi. (2019). Tengul Tarian Asli Bojonegoro Yang Nyaris Punah Kini Mendunia.
Diakses pada 4 Mei 2021 pukul 10.00 WIB dari https://www.merdeka.com/peristiwa/thengul-
tarian-asli-bojonegoro-yang-nyaris-punah-kini-mendunia.htmlaily,
Rizka Nur. (2020). Mengenal Tari Tengul, Kesenian Bojonegoro Yang Mendunia. Diakses Pada
4 Mei 2021 pukul 10.13 WIB dari https://www.merdeka.com/jatim/mengenal-tari-thengul-
kesenian-tradisional-bojonegoro-yang-mendunia.html?page=3
Hasil Pemgambilan Gambar Pada Saat Pawai Budaya SDN Banjarejo 1 Bojonegoro
LaporanKegiatanPawaiBudaya
“TradisiMunggutdariSMPNegeri 1Bojonegoro”
NamaAnggotaKelompok1 : (01)
(04)
1. AchmadFatkurnrizal (12)
2. AnandaRafaAthalla Zain (20)
3. EgiePatriaAllansyah
4. MohamadFebriyanRizkiAriPutra
TradisiIwak Munggut, pladu atau biasa mencari “ikan mabuk”. Kegiatan tahunan
yangterusdilestarikanwargadisekitaraliranSungaiBengawanSoloitudilakukandenganmengguna
kaan jaringyangberukuranjumbodantangkaiyangpanjang
Tradisi Iwak Munggut, yakni penangkapan ikan di Sungai Bengawan Solo,tidak
semuaorang tahu ada tradisi ini biasanya hanya masyarakat di sekitar Sungai Bengawan Solo
yangmengetahui tradisi penangkapan ikan ini adalah warga sekitar Bengawan Solo di
wilayahkabupatenBojonegoro.
NaiknyadebitsungaiBengawanSolodiwilayahKabupatenBojonegoromembawaberkahterse
ndiribagiwargayangtinggaldibantaran.Saatintensitashujanmulaitinggi,otomatisdebitbengawan
solo naik, hal ini membuat air keruh sehingga ikan mabok atau warga menyebutnyamunggut
atau pladu.Saat munggut ikan yang mabok ini akan menepi dan menampakkan diri.Adapun
terdapatjenisikan yang didapatseperti wader,keting,jambal dan ikan lainnyatermasukudangkali
jugamenjadi perburuanmenarikbagi merekayangturun ke tepianbengawan.
HasilPemgambilanGambarPadaSaat PawaiBudayaSMPNegeri1 Bojonegoro
LAPORAN :
KEGIATAN PAWAI BUDAYA
SDN SUKOREJO I BOJONEGORO
TEMA : TRADISI TINGKEPAN
DI DUSUN SUKOREJO KEC. BOJONEGORO
NAMA KELOMPOK :
1. ANINDITA RAYSHA ANJANA
2. JELITA RANI RAMANDARI
3. NAURA RAYANI
4. RAMANDHAN ADITIYA
KELAS : VII - D
DESKRIPSI / NARASI :
Upacara adat tingkepan / mitoni yaitu upacara yang diselenggarakan saat seorang ibu
hamil menginjak usia kehamilan 7 bulan dan pada kehamilan yang pertama. Dalam budaya
jawa angka 7 / atau pitu bahasa jawa diyakini mempunyai arti pitulungan mohon
keselamatankepada Tuhan YME , supaya ibu dan sang bayi yang akan dilahirkan diberikan
kelancaran dan tentunya tiada kurang suatu apapun.
Masyarakat jawa dalam melaksanakan mitoni dipilih hari secara khusus dan
diperlukan berbagai sarana atau umbo rambe yang dibutuhkan untuk melaksanakan acara
mitoni . Tingkepan sendiri mempunyai beberapa urutan prosesi seperti : Brojolan, dimana
menebak jenis kelamin calon bayi dengan menggunakan cengkir yang di gambari Betoro
Kamajoyo dan Dewi Ratih.
ACARA :
Biasanya sungkeman dulu ke orang tua dan juga mertua. Air yang diambil berasal dari 7 mata
air, yang berarti pitu meniko , nggih pitulungan saking Gusti ingkang akaryo jagad. Mugi-
mugi sang jabang bayi lan ibu calon bayi sak mangke saget pinaringan lancar mboten enten
setunggal menopo dados jalmo ingkang migunani tumprape bongso, Nusa, lan agomo.
NILAI-NILAI :
Dalam tradisi tingkepan adalah bersyukur atas nikmat Allah karena telah diberikan
suatu kepercayaan menjadi orang tua bagi anaknya.
Bersedekah kepada sesama
Terbentuknya kerukunan pada masyarakat, dan mengandung nilai kepercayaan.
Tarian nagaruda
Tarian nagaruda merupakan tarian asli Bojonegoro yang masih dilestarikan di kecamatan
ngambon,tari tradisional ini berkisah tentang perteburan antara prabu angkling darmo dan batik
madrin,prabu angkling darmo dan batik madrin saling beradu kesaktian dengan mengubah wujudnya
menjadi seekor burung Garuda dan naga raksasa demi untuk menikahi Dewi Setyawati yang terkenal
dengan kecantikannya ia merupakan anak dari biksu Kuru sangkoro.Tari Nagaruda merupakan
kesenian yang digali dari kisah legenda kerajaan Malawapati dengan rajanya Prabu Angling Dharma
dan patihnya, Batik Madrim. Perpaduan antara Naga dan Garuda sebagai wujud pengejawantahan
dua tokoh pada legenda Angling Darmo ketika sedang terjadi perlawanan sengit antara Angling
Darmo dan Batik Madrim di padepokan Nguntosegara, dimana mereka mengubah dirinya menjadi
sosok Naga dan Garuda.Garuda menggambarkan burung yang memperlihatkan keindahan,
kegagahan dan kelincahan dan naga memperlihatkan keganasan nya yang menakutkan dankegagahan
nilai nilai yang terkandung dalam tampilan tersebut adalah,pantang menyerah dan berani
anggota kelompok: 4.FATHIMAH AZZAHRA
1. MEYFA CAHYA MAHARANI/ 19. ALKAUSAR/13
2. DARA CHATERINA RAMADHANI/ 10.
3. SITI ANNESA AGFUATI/29
LAPORAN :
KEGIATAN PAWAI BUDAYA
SDN SUKOREJO I BOJONEGORO
TEMA : TRADISI TINGKEPAN
DI DUSUN SUKOREJO KEC. BOJONEGORO
NAMA KELOMPOK :
1. ANINDITA RAYSHA ANJANA
2. JELITA RANI RAMANDARI
3. NAURA RAYANI
4. RAMANDHAN ADITIYA
KELAS : VII - D
DESKRIPSI / NARASI :
Upacara adat tingkepan / mitoni yaitu upacara yang diselenggarakan saat seorang ibu
hamil menginjak usia kehamilan 7 bulan dan pada kehamilan yang pertama. Dalam budaya
jawa angka 7 / atau pitu bahasa jawa diyakini mempunyai arti pitulungan mohon
keselamatankepada Tuhan YME , supaya ibu dan sang bayi yang akan dilahirkan diberikan
kelancaran dan tentunya tiada kurang suatu apapun.
Masyarakat jawa dalam melaksanakan mitoni dipilih hari secara khusus dan
diperlukan berbagai sarana atau umbo rambe yang dibutuhkan untuk melaksanakan acara
mitoni . Tingkepan sendiri mempunyai beberapa urutan prosesi seperti : Brojolan, dimana
menebak jenis kelamin calon bayi dengan menggunakan cengkir yang di gambari Betoro
Kamajoyo dan Dewi Ratih.
ACARA :
Biasanya sungkeman dulu ke orang tua dan juga mertua. Air yang diambil berasal dari 7 mata
air, yang berarti pitu meniko , nggih pitulungan saking Gusti ingkang akaryo jagad. Mugi-
mugi sang jabang bayi lan ibu calon bayi sak mangke saget pinaringan lancar mboten enten
setunggal menopo dados jalmo ingkang migunani tumprape bongso, Nusa, lan agomo.
NILAI-NILAI :
Dalam tradisi tingkepan adalah bersyukur atas nikmat Allah karena telah diberikan
suatu kepercayaan menjadi orang tua bagi anaknya.
Bersedekah kepada sesama
Terbentuknya kerukunan pada masyarakat, dan mengandung nilai kepercayaan.
Melestarikan Budaya Tayub Dalam Rangkaian Prosesi Pengantin Jawa
No. 003 MIN I Bojonegoro
Tari Tayub merupakan tarian khas Bojonegoro yang di bawakan penari wanita beserta
Iringan laki – laki. Tayub sendiri berasal dari kata Tata dan Guyub yang artinya kurang lebih
adalah bersenang – senangnya pengibing bersama penari wanita (Ledhek) dimana di bojonegoro
biasa di sebut dengan Waranggono.
Pada pawai yang di bawakan MIN I Bojonegoro di awalin dengan beberapa ritual seperti
persiapan sesaji di iringin upacara doa memohon keselamatan dengan membawa jagoan atau
jagoan jalan yang di iringin jodolapan sebagai prosesi menolak balak atau bencana untuk
mengusir roh jahat yang mengganggu proses resepsi.
Di lanjutkan dengan ritual nguyu – uyu (meng hayu – hayu) yang di bawakan oleh penari
wanita yang artinya sebuah bentuk penghormatan kepada semua tamu yang hadir terlebih dahulu
sebelum acara di mulai.
Alat musik yang digunakan untuk mengiringin tari Tayub adalah seperangkat gamelan
jawa, mulai dari Saron, Demung, Bonang, Kendang, hingga Gong.
Dari segi kostum yang digunakan MIN I Bojonegoro menggunakan baju yang lebih
sopan tanpa mengurangin ciri khas adat jawa yaitu kebaya jawa dengan batik motif Bojonegoro.
Tari Tayub memiliki symbol yang bermakna tentang pemahaman kehidupan yang punya bobot
filosofis tentang jati diri manusia sehingga tari Tayub mengandung nilai-nilai kebudayaan yang
positif dan harus tetap di lestarikan.
Disusun Oleh Kelompok:
1. Arya
2. Aldo
3. Ghifari
Nama kelompok : 1. Naufal Aziz El Farizy
2. Satria
3. Daffa Gusrian Ramadhan
4. Febrian Valen Arsya
MI ISLAMIYAH MOJO KAMPUNG
Tema : KANJENG SUMANTRI
Creator : MUHAMMAD NUR ARIF AFENDI
Kanjeng Sumantri merupakan sosok Bupati Bojonegoro ke - 21 pada masa
kolonial pemerintahan India, Belanda. Putra dari Raden Adipati Reksokusumo juga
merupakan Bupati Bojonegoro sebelumnya ini sangat berperan memprakarsai pembuatan
Masjid Darussalam di Jantung kota Bojonegoro.
Kanjeng Sumantri merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam, di
kabupaten Bojonegoro, beliau termasuk orang yang menyiarkan dan menyebarkan agama
Islam, pada saat itu wilayah Padangan banyak terdapat orang Tiong Hoa yang agamanya
Konghuchu kemudian masuk Islam karena ada organisasi gerakan serikat Islam saat itu.
Saat ini Raden Adipati Aryo Reksukusumo dan Kanjeng Sumantri telah resmi
menjadi tempat wisata religi dan di resmikan langsung oleh Bupati Bojonegoro, Bu Anna
Muawanah pada tanggal 9 Februari 2022.
AGUSTUS 2022
LAPORAN
PAWAI BUDAYA
KELAS 7 E
Laporan Pengamatan
Pawai Budaya SMPN 5 Bojonegoro
Disusun Oleh :
1. Aldo Dananta (04)
2. Cahyo Budisusanto (11)
3. Derrick Arkananta Roziqin (14)
4. Diandra Khoirotun Nisa' (16)
5. Moch. Vicko Sudjono (24)
SMP NEGERI 5 BOJONEGORO
TAHUN AJARAN 2022/2023
JL. MASTUMAMPEL NO. 00 BOJONEGORO
Laporan Pengamatan
Pawai Budaya SMPN 5 Bojonegoro
Mochammad Vicko Sudjono, dkk.
SMPN 5 Bojonegoro
1. Tema/Judul Pawai Budaya
“ Sirna Sengkala Ruawatan Murwakala ing Kayangan Api”
2. Deskripsi/Narasi Tampilan
Ruwat adalah salah satu upacra dalam kebudayaan JAwa yang ditujukan untuk membuang
keburukan atau menyelamatkan sesuatu dari sebuah gangguan. Saseorang atau sesuatu yang telah
diruwat diharapkan mendapat keselamatan, kesehatan, dan ketentraman kembali. Gangguan dalam hal ini
dapat berupa banyak hal, seperti nasib buruk, terkena ilmu hitam, atau makhluk gaib.
Dalam masyarakat Jawa, ritual ruwat dibedakan dalam tiga golongan besar, yaitu:
a. Ritual ruwat untuk diri sendiri.
b. Ritual ruwat untuk lingkungan.
c. Ritual ruwat untuk wilayah.
Pada umumnya, pangruwatan Murwa Kala, dilakukan dengan pagelaran pewayangan yang
membawa cerita Murwa Kala dan diakukan oleh dalang khusus yang memiliki kemampuan dalam bidang
ruwatan. Pada ritual pangruwatan, bocah sukerta dipotong rambutnya, dan menurut kepercayaan
masyarakat Jawa, kesialan dan kemalangan sudah menjadi tanggungan dari dalang karena anak sukerta
sudah menjadi anak dalang. Karena pagelaran wayang merupakan acra yang dianggap sakral dan
memerlukan biaya yang cukup banyak, maka pelaksanaan ruwatan pada zaman sekarang ini dengan
pagelaran wayang dilakukan dalam lingkup pedesaan atau pedusunan.
Proses ruwatan seperti yang diterangkan ini bisa ditunjukkan untuk seseorang yang aka diruwat,
namun pelaksanaannya pada siang hari. Sedangkan untuk meruwat lingkup/lingkungan, biasanya dilakukan
pada malam hari. Perbedaan pemilihan waktu pelaksanaan pagelaran ditentukan melalui perhitungan hari dan
pasaran.
3. Nilai-Nilai yang Terkandung
Tradisi “ upacara/ritual ruwatan” hingga kini masih dipergunakan orang jawa sebagai saran
pembebasan dan penyucian manuia tas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan di dalam
hidupnya. Dalam cerita “ wayang” dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa (Jawa
Tengah) awalnya diperkirakan berkembang di dalam cerita jawa kuno, yang isi pokokny memuat masalah
pensucian, yaitu pembebahan dewa yang sudah ternoda agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti:
mengatasi atau menghindari suatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan
media wayang kulit yang mengambil trema/cerita Murwakala
Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya dianggap mengalami nandang sukerta/berada
dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceritanya, orang
yang menandang sukerta ini diyakini akan menjadi mangsa Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru
dalam cerita wewayanggan. Batara Kala lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikan atas diri Dewi
Uma yang kemudian spermanya jatuh ditengah laut,yang akhirnya menjelma menjadi raksasa yang dalam
tradisi pewayangan disebut “ Karma salah kendang gemulung” . Ketika raksasa ini menganggap ayahnya
untuk memintamakan, oleh Batara Guru diberitahukan untuk memakan manusia yang berdosa atau sukerta.
Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solusi agar tak termakan oleh Sang Batara Kala ini diperlukan
ritual ruwatan.
Kata Murwakala/Purwakala berasal dari kata purwa (asal muasal manusia) dan pada lakon ini
yang menjadi titik pandangnya dalah kesadaran atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu
terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbunya bencana (salah kedaden)
Untuk pagelaran wayang kulit degan lakon Murwakala basanya diperlukan perlengkapan sebagai
berikut:
a. Alat musik jawa (gamelan)
b. Wayang kulit satu paket lengkap
c. Kelir atau layar kain.
d. Blencong/lampu dari minyak
List tema
Kelompok 02
Pawai Budaya
(SMPN 4 BOJONEGORO)
Tema = Tradisi Ruwatam Dengan Seni Wayang
(menampilkan wayang kulit dengan Seni tari)
Kreator = Bapak Muhammad Miftahul Huda
Anggota = 1.Sapta Armira Agustin Ramadhini
2.Novan Tegar Pratama
3. Ahmad Maulana Eka Fajri
4.Dwi Cintya Putri Rosbandoro
Tradisi Ruwatan Dengan Seni Wayang menceritakan ada janda bernama Mbok Rondo
Dadapan di desa Medang Kawit, ia memiliki anak laki laki bernama Joko Jatusmati , ia
diauruh ibu nya pergi mandi di telaga Madirto setelah sampai di telaga itu ia berjumpa dengan
Dewi Kolo yang mau memangsanya. Anak Sukerto segera lari dan bersembunyi diantara
orang orang yang sedang mendirikan rumah, akhirnya dalang kondo Buono dapat
menyelesaikan tugasnya dengan menjadikan bumi aman,damai, dan sentosa .
Tradisi Jawa yang satu ini sering kali membawa mereka yang percaya pada keadaan
dilematis psikologis. Kegelisahan batin akan menngusik jiwa mereka jika upacara ruwatan
untuk keselamatan anaknya tidak dilaksanakan. Sementara pelaksanaannya butuh biaya tidak
sedikit.Orang yang tak mengenal tradisi Jawa pasti bingung lalu geleng-geleng kepala
menyaksikan sekitar 53 anak sukerto berbaris rapi, duduk khusyuk di belakang kelir (layar)
mendengarkan wejangan ki dalang yang sedang menyuguhkan pergelaran wayang kulit.
Pakaian mereka seragam, berupa kain putih polos yang dililitkan di tubuh, disebut kopohan.
Tiba pada puncak upacara ruwatan, ki dalang akan memotong sedikit rambut para sukerto
sebelum dilanjutkan dengan upacara siraman, mandi dengan air dari tujuh sumber. Siraman
yang juga dilakukan oleh ki dalang, itu simbol terbebasnya Kala dari tubuh suterto.
Sumber = https://intisari.grid.id/amp/0375741/tradisi-jawa-ruwatan-dengan-pergelaran-
wayang-kulit
Laporan Hasil Kegiatan Pawai Budaya
Kelompok : 3
Nama anggota : Achmad Fadli
: Chntya Callysta
: Apriliana Samputri Dewi
: Iqbal Mauladani
Pawai budaya : SMPN 7 Bojonegoro
No urut : 05
Eksotika Kayangan Api
Kayangan Api merupakan objek yang sarat dengan derita legenda Eyang Empu Kriyo Kusumo
dengan adat istiadat nyandran serta nyala apinya yang eksotis. Dalam pawai budaya, SMPN 7
Bojonegoro menggambarkan ke-eksotikan api abadi yang divisualisasikan melalui gerak penari
berparas cantok dengan busana merah sebagai simbol nyala api.
Menurut cerita warga dulu terdapat seorang pembuat benda pusaka Kerajaan Majapahit bernama
Mbah Kriyo Kusumo. Setelah bertahun-tahun membuat benda pusaka di perkampungan, Mbah
Kriyo Kusumo kemudian bertapa dan tirakat di tengah hutan. Dia membawa api dan
menyalakannya di bebatuan, tepat di sebelah tempatnya bersemedi. Api itulah yang menyala
hingga saat ini dan menjadi cikal bakal Kayangan Api di Kota Bojonegoro.
Selain ada Kayangan Api di sebelah barat sumber api terdapat kubangan lumpur yang berbau
belerang yang biasa di sebut warga Sumur Blekutuk. Menurut kepercayaan saat itu Mbah Kriyo
Kusumo masih beraktivitas sebagai pembuat alat-alat pertanian. dan pusaka seperti keris,
tombak, cundrik dan lain-lain.
Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pande yang
berasal dari Kerajaan Majapahit. Ada bukti historis penting yang menguatkan kahyangan. api
dengan ditemukannnya 17 lempeng tembaga yang berangka 1223 / 1301 Masehi.
Sumber: https://blog.tempo.co/read/1106119/asal-mula-kayangan-api-di-kota-bojonegoro
Nilai-nilai yang terkandung berupa nilai kedisiplinan dan nilai kemandiriannya. Serta nilai
gotong royong dan kreatifitas dari SMPN 7 Bojonegoro untuk menyemarakan pawai budaya
Bojonegoro.
Pawai budaya smpn 2 Bojonegoro
Dengan judul:Sendratari nagaruda
Dengan kreator Bapak Darso
Tarian nagaruda adalah tarian asli Bojonegoro yang masih dilestarikan di
kec.Ngambon.Tari tradisional ini terkisah tentang pertarungan antara prabu angling
dharma dan batik madrim.prabu angling dharma dan batik madrim saling beradu kesaktian
dengan merubah wujudnya.Prabu angling dharma berubah menjadi burung garuda dan
batik madrim berubah menjadi naga raksasa.Mereka bertarung sengit demi untuk
menikahi dewi setyawati yang terkenal dengan kecantikan nya. Dewi setyawati
merupakan anak dari biksu Kurusengkoro.
Nilai nilai yang terkandung dalam cerita diatas yaitu:"KITA HARUS SELALU BIJAKSANA
DALAM BERTINDAK,AGAR PERBUATAN KITA TIDAK MERUGIKAN ORANG LAIN".
7E 5 pawai budaya
Nama kelompok:
1.Alvino Dwi Anindra Putra.
2.Muhmad rafli alvinza putra.
3.Bintang fidanza al firdus.
4.Inayah ramadhania.
Kelas 7E
Kelompok 6
1. ARYA BIMA ADI MANGGALA
2. AIDIL FIRMAN SYAIFPUTRA
3. RHEHAN FRISKY DANUARTA RAHAYU
4. KEISHA HAUA HUMAIRA
KIRAB PUSAKA ANDONG SARI
Pada tanggal 29 Agustus 2022, saat dimana sedang ada pawai budaya
yang diselenggarakan di Bojonegoro. SDN Kadipaten 1 Bojonegoro
mengangkat tema 'Kirab Pusaka Andongsari'.
Kirab pusaka yang dilakukan dengan format sederhana ini justru
malah lebih mengena. Sebab hakikat dari pelaksanaan kirab pusaka Ki
Andongsari adalah mensyiarkan nilai nilai perjuangan yang telah
dilakukan oleh Ki Andongsari yang juga seorang bupati dari Ngurawan
yaitu Adipati Aryo Metahun. Nilai nilai yang diajarkan salah satunya
adalah menanamkan kejujuran dan kesederhanaan. Ki Andongsari rela
meninggalkan segala kemewahan sebagai bupati dengan melakukan
pengembaraan dan menyamar sebagai tukang mbarang (pengamen)
kentrung demi menjaga martabat bangsa yang tidak sudi tunduk pada
kolonial Belanda sekaligus menyebarkan ajaran Islam di tlatah Ledok.
Kirab Pusaka merupakan rangkaian peringatan Grebeg Suro di
Kabupaten Bojonegoro. Grebeg Suro digelar setiap tahun dengan
berbagai macam agenda tradisi dari leluhur dan memang bertujuan untuk
melestarikan budaya khas Kabupaten Bojonegoro.
Pada pelaksanannya di masa sekarang, kirab pusaka dilaksanakan
dengan iring-iringan pawai yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat.
Hal ini merupakan acara tahunan yang ditunggu oleh seluruh masyarakat
Ponorogo. Seluruh masyarakat berdatangan ke kota, ke jalan yang dilalui
oleh iring-iringan pawai. Bahkan warga dari wilayah pedesaan juga
berdatangan hanya untuk bisa menyaksikan pawai kirab pusaka ini.
TERIMA KASIH
Laporan Tugas Pawai Budaya
Anggota Kelompok:
1. Aisyah Sofi Hernita (3)
2. Cindy W. Septa Viona (8)
3. Vega Chandra Winata (30)
4. Zyahwa Putri Nur Setya (32)
Pembimbing:
Bpk. Moch Wahyu Utomo
Deskripsi
Pawai budaya pada gambar di atas merupakan peserta pawai dari sekolahku, yaitu
SMP Negeri 5 Bojonegoro. Pawai budaya ini mengusung tema budaya bojonegoro yaitu
“Ruwatan Murwakala Ing Kayangan Api”. Murwakala artinya mengenal atau tahu asal mula
terjadinya sumber bencana. Ruwatan Murwakala adalah salah satu upacara adat yang
dilakukan untuk membebaskan diri dari gangguan batara kala. Ruwatan ini masih dipercayai
dan dilakukan masyarakat di wilayah tersebut. Ritual ini merupakan tradisi Jawa kuno untuk
mengeluarkan sisi buruk dari jiwa manusia. Jalannya ritual ruwatan biasanya dilakukan
dengan memotong rambut hingga melarung atau menghanyutkan sesaji. Nilai yang
terkandung dalam ritual ini mengandung nilai estetika serta nilai religius.
Laporan Tugas Pawai Budaya
Anggota Kelompok:
1. Anindita Kayla Ramadhani (5)
2. Farradeta Taufani Regina (12)
3. Gladys Dinda Saqeena (14)
4. Mei Nur Insani (19)
Pembimbing:
Bpk. Moch Wahyu Utomo
Iwak Munggut
Dipawai budaya tahun 2022 ini, SMPN 1 BOJONEGORO memilih pawai budaya yang
berjudul iwak munggut. Ketika ada iwak munggut di situlah para nelayan segera mengambil
ikan yang ada di pinggir laut. Ada beberapa anak yang menjadi ikan, mereka terlihat sangat
lucu karena mereka menggunakan kostum seperti ikan. Mereka bergaya seolah mereka berada
di lautan. Ada anak yang berlarian dan membawa kain seolah mereka menjadi lautan.
Ada seorang putra dan putri, mereka seolah ingin memancing ikan. Dan mereka
membawa alat alat untuk memancing ikan, mereka menggunakan kostum sederhana. Ada
sebuah patung ikan yang sangat besar. Ada dua putri yang sangat cantik, mereka sedang
menaiki perahu ikan.
Demikian hasil pawai budaya dari SMPN 1 BOJONEGORO yang berjudul iwak
munggut.
Laporan Tugas Pawai Budaya
Kelas VII F
Anggota Kelompok:
1. Ahmad Fariz setyo Pambudi
2. Arvin Maulana albani Prasetiya
3. Diyas putra ramadhan
4. Mohammad fachri Andrian
Pembimbing:
Bpk. Moch Wahyu Utomo
LAPORAN HASIL KEGIATAN
Judul
Sendratari "NAGARUDA"
Kesenian lokal Kabupaten Bojonegoro
Oleh: SMP NEGERI 2 BOJONEGORO
Hari,tanggal : Senin,29 Agustus 2022
Lokasi pengamatan : Jl.mastumapel Bojonegoro
Nama pengamatan : Ahmad Fariz setyo Pambudi, Arvin Maulana albani Prasetiya,
Diyas putra Ramadhan, Mohammad fachri Andrian
Hal yang diamati : Kesenian lokal,budaya dan adat istiadat
HASIL PENGAMATAN
Kabupaten Bojonegoro mengadakan pawai budaya/karnaval Indonesia untuk memperingeti
HUT RI ke 77 tahun 2022 kabupaten Bojonegoro kegiatan tersebut diikuti oleh
SD,MI,SMP,MTS diadakan pada tanggal 29 Agustus 2022.
Pawai budaya tersebut bertemakan adat istiadat budaya Indonesia.Para peserta
menampilkan budaya dari wilayah Indonesia , antara lain baju adat, kesenian antara
lain,jaranan masih banyak lain.Rute pawai budaya tingkat SD,MI,SMP,MTS adalah jalan
Mastumapel - imam Bonjol - Kartini - Teuku Umar - panglima Sudirman - MH. Thamrin -
Mastrip - jl. Pahlawan - finish dalam pawai budaya/karnaval setiap peserta menampilkan
bermacam macam pertunjukan mulai dari pasukan membawa bendera,membawa naga
yang meliputi pakaian adat dari seluruh kabupaten Bojonegoro serta berbagai pertunjukan
kesenian.
Laporan Tugas Pawai Budaya
Kelas VII F
Anggota Kelompok:
1. Aure liya fania (7)
2. Naysila fila arini(24)
3. Siti ayu ferlita (29)
Pembimbing:
Bpk. Moch Wahyu Utomo
LITERASI DARI PENGAMATAN PAWAI BUDAYA
IWAK MUNGGUT SMPN 1 BOJONEGORO
Senin,29 Agustus 2022
YANG TERHORMAT BAPAK/IBU GURU
Kami akan menceíitakan bebeíapa hal.
Demikian literasi yang saya buat dan saya amati semoga dapat dipahami pembaca.
Sekian dan ľerima kasih