Owen yang berjalan dibelakang mereka pun berjalan sedikit
cepat dan berjalan di tengah-tengah Kenzie dan Luna.
“Lo gak tau ya, perusahaan keluarga kita udah kasih sponsor
yang untuk sekolah ini. Selama ini juga kita dikasih panggilan
Chaya Family” jelas Owen.
“Sejak kapan keluarga kita ngasih sponsor besar? buat apa
juga?”
“You know it’s not a good thing, Opa selalu berbuat baik sama
orang itu bukan karena dia mau, tapi supaya orang-orang liat
betapa dermawan nya dia. Contohnya sekolah ini, menurut lo
buat apa Perusahaan keluarga kita kasih sponsor besar kalo gak
buat pamer” kelas Owen.
“Kok lo ngomongnya kayak gitu sih?” tanya Luna.
“Namanya juga Owen, udah biarin aja” sahut Kenzie dengan
tenang.
Mereka bertiga berjalan menuju lapangan sekolah.
Sesampainya di lapangan sekolah Owen, Kenzie dan Luna
berpapasan dengan Sky dan teman-temannya. Owen
menghampiri mereka berlima.
“Sky” Owen memanggil namanya.
51
Sebelum Owen menghampiri mereka, Sky dan teman-
temannya sudah melirik satu sama lain.
“Sky. Owen mau nyamperin kita” ujar Leo.
“Ya... we’ll see. Waktu itu dia jadi sinis sama kita karena gue
deketin Kenzie kan. Sekarang Kenzie udah jadi milik gue” Sky
berkata dengan ekspresi yang tenang dan santai.
Owen menghampiri mereka dengan gaya identiknya dengan
memasukkan kedua lengannya ke dalam saku celananya. Dulu
Owen dan Sky merupakan teman yang baik walaupun mereka
berbeda angkatan. Semenjak Sky mendekati Kenzie, Owen
sebagai satu-satunya sepupu laki-laki merasa memiliki
tanggung jawab melindungi Kenzie, apalagi semenjak kedua
orang tua Kenzie meninggal. Sejak Owen tahu bahwa Sky
berusaha mendekati Kenzie, Ia takut jika Sky menyakiti hati
Kenzie. Sejak saat itu pertemanan Sky dan juga Owen menjadi
renggang.
“Sky”
“Owen..” ucap Sky.
“Mau apa lo?” tanya Aiden dengan tegas.
52
Sembari menahan badan Aiden dengan tangannya, Sky berkata
“Santai aja den”
Owen menghela napas dan berkata “Sorry, gue gamau ganggu.
Gue cuma mau bilang hari terakhir Festival Tahun Baru
Sekolah, gue mau kalian isi acara nge-band”
Mendengar perkataan Owen, Sky dan teman-temannya
melirik satu sama lain dengan wajah penuh kebingungan.
Mereka seakan tidak percaya jika seorang Owen yang memiliki
sifat yang sombong tiba-tiba memberikan mereka kesempatan
untuk mengisi acara di Festival Tahun Baru yang Ia atur
sendiri.
“Deal kan? gue sering ngeliat kalian latihan band di ruang
musik sekolah” ujar Owen.
Sementara itu Kenzie dan Luna yang melihat mereka dari
jarak sempat khawatir ketika melihat ekspresi Sky dan teman-
temannya menjadi serius saat berhadapan dengan Owen.
Kenzie yang tahu bahwa penyebab pertemanan Sky dan owen
renggang adalah karena Ia menerima Sky menjadi pacarnya.
Owen sulit sekali untuk menyetujui hubungan mereka, tetapi
bagi Kenzie, Sky bukanlah orang yang buruk dimatanya. Ia
tahu pasti bahwa semua yang kata-kata yang ditujukan Owen
53
untuk dirinya semata-mata untuk kebaikannya, tapi Ia juga
sudah dewasa. Ia bisa menentukan mana yang baik dan yang
buruk untuk dirinya. Kenzie memutuskan untuk berjalan ke
arah mereka. Ia takut Owen masih terbawa suasana sehingga
apa yang Ia ingin sampaikan malah tidak sesuai.
Kenzie melangkah maju sambil berkata “Gue harus kesana
buat pastiin mereka baik-baik aja”. Luna mendengar apa yang
dikatakan Kenzie. Dengan cepat Luna menarik tangan Kenzie
dan menjawab “Zie! lo jangan aneh-aneh deh ya”. Kenzie
melirik Luna dengan tatapan yang serius, Ia berkata “Udah
gapapa, gue kan cuma mau kesana aja gabakal aneh-aneh kok”.
Luna yang mengetahui Kenzie yang memiliki sifat keras kepala
pun tidak bisa melarang nya. Luna melepaskan genggaman
tangannya dari lengan Kenzie. Dengan langkah berani Kenzie
mendekati Owen dan Sky.
“Ada apa nih?” tanya Kenzie.
“Gue kesini karna gue mau kasih tau mereka untuk nge-band
waktu penutupan Festival Tahun Baru Sekolah” jelas Owen
sambil melirik Sky dengan tatapan sombong.
Kenzie berusaha tenang dan santai ketika berada di tengah-
tengah mereka walaupun di dalam hatinya Ia sedikit takut jika
54
salah satu dari merek terpacing emosi dengan adanya sikap
Owen yang terlihat angkuh.
“Oh iya. Sky, kamu sama temen-temen kamu jangan lupa
latihan buat nutup acara, Owen juga udah kasih tau aku
kemarin” Kenzie tersenyum pada Sky.
“Yaudah, gue pergi duluan ya Zie” Owen pergi menuju
lapangan sekolah.
Sky merasa aneh dan sedikit heran. Tidak biasanya Owen
bersikap seperti itu. Entah kenapa Sky merasa bahwa Owen
sudah mulai membuka hatinya agar mereka berdua bisa
memperbaiki hubungan persahabatannya. Selain itu Sky
merasa sangat senang. Seakan seperti mimpi Ia dan teman-
temannya bisa mendapat kesempatan untuk nge-band. Kenzie
melihat wajah Sky yang begitu cerah dan terlihat bersemangat
hari ini.
“Sky? boleh ngomong bentar?” tanya Kenzie.
“Umm? boleh”
Sky memberitahu teman-temannya jika Ia ingin pergi
sebentar. Teman-teman Sky mengganggukan kepala mereka
dan berbalik badan ke arah lapangan. Sky dan Kenzie pergi ke
55
lobby sekolah. Sesampainya di lobby sekolah Sky memegang
tangan Kenzie dan bertanya “Kenapa zie?”. Kenzie melihat
wajah Sky sembari melukiskan senyuman tipis di bibirnya.
Kenzie bertanya “Kamu seneng ya mau manggun di hari
terakhir Festival?”. Sky tertawa tipis “Ya... seneng sih, cuma
tumben banget Owen bilang begitu”. Kenzie seketika berfikir
tentang apa yang dikatakan oleh Sky. Memang tidak biasanya
Owen bersikap tenang khususnya jika berhadapan dengan Sky.
Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin Owen sudah mulai
menyetujui hubungannya dengan Sky.
“Ya... mungkin Owen mau baikkan sama kamu? who knows”
“Aku doain yang terbaik aja, itukan keputusannya Owen kan?”
Kenzie tersenyum sambil memegang pundak Sky “Pokoknya
kamu fokus latihan buat hari terakhir Festival nanti ya, jangan
sampe kecapean”
Sky tahu Kenzie selalu mendukung setiap hal yang Sky
lakukan asal hal tersebut merupakan hal yang positif.
Mendengar hal itu Sky meyakinkan dirinya sendiri agar Ia dan
teman-temannya akan terus giat berlatih jika mereka ingin
menampilkan performance yang terbaik.
*
56
Hari itu saat pulang sekolah, Sky dan teman-temannya ingin
pergi ke ruang musik sekolah. Hari itu Sky merasa sedikit
pusing, tetapi hal tersebut dihiraukan nya karena Ia berpikir
pusing adalah hal yang biasa. Setelah pulang sekolah sampai
sore hari, mereka berlima terus berlatih sesuai dengan
bagiannya masing-masing. Ethan sebagai vokalis, Aiden
bermain gitar elektrik, Leo memilih untuk bermain keyboard,
Caleb bermain gitar bass, sedangkan Sky bermain drum.
Mereka menghabiskan setengah waktu mereka untuk berlatih.
Menurut mereka, ini adalah satu-satunya kesempatan yang
sudah mereka nantikan sejak duduk di bangku SMP.
Hari itu sudah menunjukkan sore hari pukul 5. Sky dan
teman-temannya memutuskan untuk mengakhiri waktu latihan
mereka di hari itu. Mereka berlima turun dari tangga menuju
parkiran mobil yang ada di seberang sekolah itu. Sky menuju
mobilnya sambil berpamitan dengan teman-temannya. Ketika
Ia ingin menuju mobilnya, tiba-tiba Sky merasa sangat pusing
seakan dunia berputar begitu cepat, kedua kakinya terasa lemas
sehingga membuatnya hampir terjatuh. Ethan yang menyadari
ada sesuatu yang tidak beres dengan Sky pun dengan cepat
berlari dan sigap memegang badan Sky yang hampir terjatuh.
57
“Aiden, Leo, Caleb!! cepet bantu gue masukkin Sky ke mobil”
teriak Ethan.
Dengan cepat Aiden, Leo, dan Caleb ikut membantu Ethan
untuk memasukkan Sky ke dalam mobil. Sky yang melihat
teman-temannya dengan penglihatan yang samar pun berkata
“Kepala gue pusing banget”. Merasa panik dan tergesa-gesa
Leo pun menjawab Sky “Iya-iya lo tenang aja ya Sky, kita
pulang ke rumah lo sekarang”. Ethan mengambil ahli kursi
pengemudi di mobil itu, Ia menyuruh teman-teman yang
lainnya untuk masuk ke mobil dan ikut mengantar Sky pulang
kerumahnya. Dalam perjalanan Sky yang hanya duduk dengan
keadaan lemas hanya bisa terdiam dan memandangi jalan yang
terlihat samar.
“Lo kenapa sih sky? lo bikin kita panik” tanya Caleb.
“Gue gatau, tiba-tiba gue hilang keseimbangan”
“Apa kita bawa lo ke rumah sakit aja?” tanya Caleb.
“Gak, gausah. Gue mau pulang aja, mending gue tidur aja di
rumah” ujar Sky.
“Lo yakin?” tanya Ethan.
58
Sky menganggukan kepalanya menandakan Ia yakin. Dengan
cepat Ethan membawa mobil tersebut menuju rumah Sky.
Selama perjalanan Sky hanya tertidur lemas. Aiden, Ethan,
Leo, dan Caleb menatap wajah Sky yang sedang tertidur
dengan cemas. Mereka takut akan terjadi sesuatu yang lebih
parah dengan Sky.
***
Sesampainya di rumah Sky, dengan tergesa-gesa Ethan
membuka pintu bagian belakang dan menyuruh Leo dan Caleb
menopang badan Sky dan membawanya masuk ke dalam
rumah, Sedangkan Ethan yang memakirkan mobil Sky dan
Aiden yang menutup gerbang pintu rumah Sky. Leo dan Caleb
mengetuk pintu rumah Sky dan berharap Bibi Lidia cepat
membuka pintu. Caleb menekan tombol bell sebanyak tiga kali.
Pintu rumah Sky terbuka, Bi Lidia yang mendapati Sky sedang
ditopang oleh Leo dan Caleb pun menunjukkan reaksi yang
kaget dan panik.
“Den Sky!!! dia kenapa ini?”
“Saya gatau Bi, mungkin dia kecapean karna seharian ini kita
latihan musik terus” jelas Leo.
59
Tanpa memberikan kata-kata lagi, Bi Lidia menyuruh mereka
berdua untuk cepat membawa Sky naik ke kamarnya. Leo dan
Caleb dengan cepat membaringkan Sky di atas ranjangnya.
Beberapa menit setelah Sky berbaring di atas ranjangnya,
Ethan dan Aiden menyusul ke kamar. Sky, Aiden, Ethan, Leo,
dan Caleb serta Bi Lidia membicarakan mengenai Sky. Ethan
membuka pembicaraan di dalam kamar itu dengan berkata “Lo
yakin gamau ke dokter Sky?” tanyanya dengan nada yang
lembut.
“Iya, gausah. Gue cuma butuh tidur aja pasti besok udah
mendingan”
Sky berpikir dalam kepalanya bahwa sebenarnya Ia sendiri
pun tidak yakin dengan kondisi yang sedang dialami nya.
Sempat terlintas di pikiran Sky bahwa Ia memang merasa
terlalu lelah dengan apa yang Ia lakukan, tetapi di sisi lain Ia
pun sadar bahwa kondisi yang Ia alami sekarang tidak wajar.
Sejak kelas 12, badannya jadi sering terasa lelah dan sakit tidak
karuan. Mungkin ada hubungannya dengan hasil yang
ditunjukkan oleh Dokter Marcel, tetapi sampai sekarang Ia
masih terus berpikir positif. Belakangan ini memang Ia punya
60
banyak kegiatan dan juga hal-hal yang membuatnya kurang
tidur sehingga bisa saja itu adalah pemicu utama mengapa tadi
saat disekolah badan nya lemas dan hampir terjatuh.
Ethan duduk di atas ranjang Sky sambil memegang pundak
Sky dan bertanya “Lo ga coba telepon Kenzie?”. Mendengar
pertanyaan yang dilontarkan Ethan, dengan tegas Sky
menjawab “Engga”. Sky menoleh ke arah Bi Lidia dan
memberitahunya untuk keluar dari kamar Sky. Bi Lidia
menganggukan kepalanya tanda setuju sembari berjalan ke
arah pintu kamar Sky dan keluar. Setelah Bi Lidia sudah keluar
dari kamar Sky, Sky mencoba memposisikan dirinya untuk
duduk. Dengan cepat Aiden, Ethan, Leo dan Caleb
membantunya untuk duduk dengan memberi ganjalan di
belakang punggungnya menggunakan bantal. Sky menghela
napasnya dan melirik teman-temannya.
“Gue gamau Kenzie tau kalo gue sakit. Gue gamau Kenzie
mikirin gue”
“Kenapa lo bisa bilang gitu?” tanya Ethan.
“Ya... selagi ada kalian, gue gabutuh bantuan Kenzie”
61
“Udah.. udah.. kita kasih Sky waktu buat istirahat dulu biar dia
feel better, okay?” Aiden mengajak teman-teman lainnya untuk
keluar dari kamar Sky dan duduk di sofa lantai bawah.
Aiden, Ethan, Leo dan Caleb pergi ke lantai bawah dan duduk
di sofa panjang dan lebar yang terletak di ruang tengah rumah
Sky. Sambil duduk dan beristirahat, mereka berbicara satu
dengan yang lainnya sembari menikmati hidangan yang
diberikan oleh Bi Lidia.
“Eh Guys, menurut kalian, Sky kenapa ya?” tanya Leo.
“Ini nih, contoh orang-orang yang ga layak sekolah di
Yongsan” cetus Caleb.
“Heh kalian. Gausah debat di sini yang ada kita ganggu Sky
yang lagi tidur diatas” ujar Aiden.
“Le. lo coba inget-inget sendiri deh ya omongan Sky waktu itu
di lobby sekolah. Gue gamau bahas yang udah lewat. Yang
penting sekarang kita fokus bantu Sky supaya keadaan dia
membaik, jadi kita bisa lanjut latihan band untuk hari terakhir
Festival” lanjut Ethan.
Ethan memegang bahu Leo sambil menepuknya. Aiden,
Ethan dan Caleb berbaring di sofa tersebut sambil menutup
62
mata mereka, sedangkan Leo mendengar ucapan Ethan, Ia
merasa bingung dan juga mengingat-ingat apa yang pernah Sky
katakan waktu di lobby. Dengan memasang muka bingung, Ia
pun ikut membaringkan badannya di atas sofa lembut itu,
matanya tertuju kearah plafon rumah Sky. Ia mencoba berpikir
kembali. Tidak lama setelah itu, Ia pun tertidur.
Mereka berempat memutuskan untuk menginap di rumah
Sky hari itu. Mereka ingin menjaga Sky sampai keadaannya
membaik. Bi Lidia merasa senang dan bangga melihat
persahabatan dan rasa sayang mereka satu dengan yang
lainnya. Mengetahui niat baik dari teman-teman Sky, Bi Lidia
pun membersihkan dua kamar tamu yang ada di rumah itu. Bi
Lidia menyapu kamar-kamar tamu tersebut dan
mempersilahkan Aiden, Ethan, Leo dan Caleb untuk
beristirahat.
BAGIAN 4.
“SKY!!!”
“Lun!!! cepet kita udah mau telat nih” teriak Kenzie dari kamar
bawah.
63
“Iya sabar dong... ini gue baru kelar mandi, santai aja kita
gabakal telat” sahut Luna dari lantai atas.
Malam itu menunjukkan pukul setengah 7. Hari itu adalah
hari terakhir Festival Tahun Baru Sekolah Yongsan diadakan.
Owen membuat hari terakhir Festival tersebut menjadi sangat
spesial. Tahun-tahun sebelumnya hari terakhir festival
diadakan saat pulang sekolah, tetapi untuk tahun ini, Owen
membuatnya sedikit berbeda. Acara terakhir Festival diadakan
pada malam hari.
Setelah Luna selesai mandi, Ia pun turun ke kamarnya untuk
mempersiapkan diri. Pengumuman yang diberitahu Owen
bahwa semua murid baik yang menghadiri Festival maupun
sebagai pengisi acara harus menggunakan baju berwarna hitam
atau putih. Kala itu Kenzie menggunakan dress panjang
berwarna hitam polos dengan sedikit bagian terbuka di daerah
pundaknya sehingga membentuk seperti baju sabrina.
Sedangkan Luna memakai dress berwarna hitam yang
menyentuh bawah lutut nya. Mereka berdua bersiap-siap dan
menunggu di depan rumah karena Owen yang akan menjemput
mereka.
64
Tidak lama setelah itu, mobil berwarna hitam pekat pun
berhenti di depan rumah Kenzie dan Luna. Seseorang memakai
jas kemeja berwarna putih dan dilapisi jas berwarna hitam
turun dari mobil. Melihat orang itu Kenzie langsung
memanggil namanya “Owen!!!”. Owen langsung memutar
kedua bola mata nya sambil berbicara dalam hati dan menghela
napas “Duh, dua anak ayam itu lagi”. Kenzie menarik tangan
Luna dan berlari ke arah mobil Owen. Kenzie membuka pintu
untuk Luna dan dirinya dan bergegas masuk. Setelah mereka
bertiga sudah siap, mobil Owen pun mulai berjalan
meninggalkan rumah Kenzie dan Luna.
***
Malam itu, Kenzie sangat bersemangat untuk pergi ke
Festival. Rasa semangatnya itu dapat dilihat dari raut wajahnya
yang hanya menampilkan senyuman lebar. Owen dan Luna
yang sadar akan hal itu pun merasa sedikit bingung. Owen
membuka kecanggungan di dalam mobil itu dengan bertanya
kepada Kenzie.
“Zie, lo kenapa senyum-senyum gitu?” Owen melirik Kenzie
dari kaca spion.
“Tumben lo tanya-tanya” sahut Luna.
65
“Gue tanya Kenzie bukan lo”
“Gapapa, gue excited aja” Kenzie menjawab Owen sambil
tersenyum.
“Ohh... gue tau. Lo mau liatin Sky main drum kan, mereka
tampil hari ini”
“Tuh lo tau. By The Way, makasih ya wen lo udah kasih
mereka kesempatan”
Mendengar ucapan terimakasih dari Kenzie, Owen berpikir
ini adalah kali pertama Ia mendapat ucapan terimakasih.
Ucapan Kenzie merubah pemikirannya di malam itu. Owen
merasa bangga dan senang karena Ia sudah membuat Kenzie
tertawa sejak orang tuanya meninggal. Sejujurnya, Owen ingin
sekali dekat dengan Kenzie dan Luna. Selain mereka berdua
adalah keluarganya, mereka juga bersekolah di sekolah yang
sama. Tapi keadaan yang membuatnya tidak memiliki waktu
untuk Kenzie ataupun Luna. Tanggung jawab sebagai Ketua
OSIS. itu adalah alasan utama mengapa Ia menyalahkan
keadaan. Sebagai seorang Ketua OSIS, Owen memiliki banyak
tuntutan yang harus Ia jalani. Setiap harinya Ia harus datang
paling awal ke sekolah karena guru-guru di sekolah Yongsan
selalu melibatkan anggota OSIS di setiap acara sekolah. Selain
66
itu, ketika sudah di rumah, Ia juga selalu dibebankan dengan
adanya tugas-tugas yang diberikan.
Dengan tiba-tiba, Owen mendekat ke arah trotoar dan
memberhentikan mobilnya. Kenzie dan Luna pun kaget dan
saling menatap satu dengan yang lainnya. Luna bertanya
“Kenapa lo tiba-tiba berhenti?”. Owen membalikkan badannya
dan berkata “Kalo kalian ada apa-apa, jangan lupa bilang gue”.
Sekali lagi Kenzie dan Luna saling melihat satu dengan yang
lainnya. Kenzie dan Luna sempat kaget dan bingung mengapa
Owen tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang tidak pernah Ia
katakan sebelumnya. Terutama untuk Kenzie. Sejak orang tua
nya meninggal, Ia hampir tidak pernah berbicara kepada Owen.
Setiap kali Kenzie dan Owen berpapasan, mereka seakan tidak
mengenal satu dengan yang lainnya. Mereka berdua dianggap
seperti batu dan air bagi Luna. Seperti batu dan air yang tidak
akan pernah bisa menyatu. Tapi di malam itu, pikiran Owen
benar-benar berubah. Kenzie pun yakin bahwa ini adalah
awalan yang baik untuk hubungan keluarga mereka.
***
Beberapa menit Owen menyetir mobilnya, sampailah mereka
bertiga di Sekolah Yongsan.Owen memasukkan mobilnya ke
67
area parkir. Karena malam itu adalah hari terakhir Festival
Tahun Baru diadakan, Dekorasi yang digunakan sangatlah
bagus dan menarik, terutama di lapangan sekolah. Lapngan
sekolah itu dihiasi oleh banyaknya lampu-lampu yang terlihat
sangat meriah. Kenzie, Luna, dan Owen memasuki sekolah
tersebut dan langsung menuju lapangan. Sesampainya di
lapangan Owen berpamitan dengan Kenzie dan Luna
dikarenakan Ia harus mengurus hal lain agar Penutupan
Festival Tahun Baru bisa segera dilaksanakan.
Owen menyuruh Kenzie dan Luna menunggu di kursi dekat
bazaar makanan sampai acara dimulai. Kenzie dan Luna pergi
ke tempat duduk sembari menikmati suasana ramai yang
berasal dari para murid yang sedang berbicara satu dengan
yang lainnya. Tak lama setelah mereka duduk di kursi itu,
Casey menghampiri dengan pakaian seorang barista sambil
membawakan dua gelas kopi.
“Hai guys...” Casey menyapa mereka dengan ceria.
Kenzie dan Luna yang melihat Casey memakai baju layaknya
seorang barista pun bingung
“Casey? lo kenapa make baju kayak barista gini?” Kenzie
sembari tertawa.
68
“Baru pertama kali gue ngeliat lo make baju begini” lanjut
Luna.
Casey yang menaruh dua gelas kopi disamping Kenzie dan
Luna menjawab “Hari ini gua disuruh Owen buat gantiin
barista yang ada di bazaar kopi sebelah situ”. Kenzie menyuruh
Casey ikut duduk disamping mereka. Luna mencicipi kopi
tersebut dan seketika matanya membesar. Luna memberitahu
Casey bahwa kopi yang Ia buat sangatlah enak. Luna
melanjutkan pembicaraannya dan berkata “Hah? Owen? lo
ngobrol sama Owen?” tanya Luna dengan suara yang
membesar.
“Ssstt!! volume lo dikecilin dong. Ya gue sama Owen emang
ngobrol tapi ya cuma karna dia nyuruh gue buat gantiin barista
yang gabisa masuk. Gue juga udah ga tertarik sama dia. Gue
mau fokus sampe nanti kita lulus aja” jelas Casey.
Ketika Kenzie, Luna dan Casey sedang berbicara satu dengan
yang lainnya, beberapa orang yang memakai baju warna hitam
menghampiri mereka. Orang-orang tersebut adalah Sky dan
teman-temannya. Sky dan teman-temannya berhasil menarik
perhatian para murid ketika berjalan di tengah-tengah
lapangan. Malam itu Sky dan teman-temannya berhasil
69
membuat murid-murid yang lainnya kagum dengan baju dan
juga penampilan mereka. Postur tubuh dan juga wajah mereka
merupakan tampilan utama yang membuat orang lain
memperhatikan mereka dari atas kepala sampai ujung kaki.
Sky dan Ethan menggunakan kaos berwarna putih polos
dengan luaran memakai jaket kulit berwarna hitam serta celana
panjang berwarna hitam dengan sedikit sobekan di bagian
lutut, sedangkan Aiden, Leo dan Caleb menggunakan kaos
berwarna hitam polos dengan tambahan jas berbahan tipis
berwarna putih dan juga celana jeans berwarna hitam. Tidak
lupa wajah tampan yang mereka tunjukkan membuat murid-
murid kelas 10 dan 11 terutama para siswi mengagumi wajah
mereka. Kulit putih, postur badan yang tinggi, serta gaya yang
mereka tunjukkan merupakan satu paket lengkap yang tidak
bisa dilewatkan.
Sky dan teman-temannya berjalan menghampiri Kenzie, Luna
dan Casey. Dengan cepat Sky mendekati Kenzie dan melirik
Luna dan Casey.
“Gue boleh pinjem Kenzie nya?” tanya Sky dengan senyuman.
Luna, Casey dan teman-teman Sky yang lainnya pun saling
melirik dan menyenggol satu sama lain.
70
“Ya boleh dong, masa kita ngelarang, ya kan guys?”
“Ssstt gausah bawel lun” sahut Kenzie.
Kenzie terbangun dari tempat duduknya dan pergi bersama
Sky ke lobby sekolah. Sesampainya di lobby sekolah, Sky
berdiri di depan Kenzie sambil memberikannya senyumn tipis.
Untuk kesekian kalinya, Kenzie mendapat tatapan yang sangat
Ia sukai. Cara Sky menatap Kenzie begitu lembut seakan
siapapun yang menatapnya terasa akan hanyut. Tatapan Sky
membuatnya merasa begitu tenang, semua beban pikiran dan
juga masalah-masalah lainnya pun ikut larut. Sky mendekati
Kenzie satu langkah sembari berkata “You’re pretty today”.
Mendengarkan sepatah kata yang dilontarkan oleh Sky,
seketika muka Kenzie memerah.
“Berarti selama ini aku ga cantik?” tanya Kenzie dengan nada
yang sedikit kesal.
Sky tertawa tipis sambil berkata “Aku bercanda kok. jangan
marah ya cantiknya Sky”
Kenzie teringat bahwa malam ini Sky akan tampil bersama
dengan teman-temannya. Sejujurnya Kenzie merasa bahagia
ketika pacarnya akan menjadi salah satu pengisi acara di
Penutupan Festival itu. Kenzie memegang rambut Sky dengan
71
sentuhan halus dan sedikit mengelus kepala Sky sambil sedikit
menjinjitkan kedua kakinya dan berkata “Semangat yang
perform nya, I know you can”. Satu kalimat yang dilontarkan
Kenzie untuk Sky membuat Sky merasa percaya diri dan
tenang. Seseorang yang sangat penting dan merubah hampir
seluruh hidupnya memang benar-benar membuatnya merasa
sempurna. Rasanya hampir tidak mungkin jika seorang Sky
yang dingin dengan tiba-tiba menaruh hatinya untuk seorang
cewe dua tahun yang lalu sampai sekarang.
“Jangan pergi-pergi ya Sky” ujar Kenzie dengan nada yang
lembut.
Mata Sky seketika membesar dan genggaman tangan Sky
dengan Kenzie seketika terlepas ketika Kenzie mengatakan
kata tersebut. Kenzie yang tersadar bahwa Sky seketika
melepas genggaman tangannya pun bingung dan merasa ada
sesuatu yang tidak baik.
“Kamu kenapa?” tanya Kenzie.
Sky sedikit tertunduk dan berpikir tentang apa yang dikatakan
Kenzie. “Jangan pergi-pergi ya Sky”. Sky tidak yakin dengan
dirinya sendiri, Ia merasa tidak selamanya Sky akan bersama
dengan Kenzie. Bukan salah Kenzie ataupun Sky. Sky hanya
72
menyalahkan keadaan yang Ia alami sekarang. Sky berpikir apa
mungkin Ia akan menepati janji itu. Jawaban apa yang harus Ia
balas pikirnya.
“Sky? mikirin apa?” tanya Kenzie lagi.
“Hah? ga, gapapa. Ia aku janji gaakan pergi-pergi kecuali kamu
minta aku pergi” senyum Sky.
Pembicaraan mereka tiba-tiba diakhiri dengan tidak sengaja
oleh Caleb. Kala itu Caleb menghampiri Sky dan memberitahu
jika mereka harus berlatih beberapa kali lagi sebelum mereka
benar-benar naik keatas panggung.
“Sky!” Caleb memanggil nama Sky dari jarak jauh.
“Kita harus latihan sekarang sebelum nanti kita disuruh naik ke
panggung”
“Eh iya tunggu bentar” sahut Sky.
Sky membalikkan pandangan nya kearah Kenzie dan berkata
“Yaudah aku latihan dulu”. Kenzie tersenyum kepada Sky dan
berusaha untuk menyemangati dirinya “Yaudah sana, kasian
Caleb nunggu lama”. Sky langsung pergi dari hadapan Kenzie
dan menyusul Caleb menuju ruang musik sekolah. Setelah Sky
73
pergi, Kenzie pun kembali ke lapangan sekolah menyusul Luna
dan Casey.
***
Malam itu seluruh murid menikmati acara tersebu. Bazaar-
bazaar yang meriah ikut menambah keramaian sekolah itu.
Tidak lupa juga musik-musik yang ikut menemani indahnya
suasana malam itu. Baju warna senada yang dipakai oleh setiap
murid pun membuat nya cocok dengan dekorasi lampu yang
banyak tergantung di lapangan. Malam itu menunjukkan pukul
setengah sembilan dimana sebentar lagi mereka akan
memasuki penghujung acara Festival Tahun Baru itu. Owen
dan para Guru sedang mempersiapkan acara penutupan yang
akan dilaksanakan. Owen naik ke atas panggung sambil
memegang mic. Owen mengumpulkan semua murid Sekolah
Yongsan untuk berbaris di lapangan depan panggung.
“Selamat malam kepada Para Guru dan juga teman-teman
semua. Seperti yang kita semua sudah ketahui bahwa malam
ini adalah malam penutupan acara Festival Tahun Baru. Saya
berterima kasih kepada Para Guru dan juga para anggota OSIS
lainnya karena sudah membantu saya untuk melancarkan
Festival ini. Sebentar lagi kita akan menyaksikan sebuah
74
performance dari Sky dan juga teman-temannya, Saya harap
penampilan mereka bisa membuat kesan yang baik untuk
menutup acara ini”
Semua murid dan juga para guru bertepuk tangan, Owen turun
panggung dan berpapasan dengan Sky yang mendekat ke arah
panggung. Disitu, situasi canggung pun mulai terasa ketika Sky
dan teman-temannya menatap Owen dengan tatapan yang
dingin. Owen mencoba untuk menghampiri mereka dan berkata
“Goodluck buat malam ini”. Setelah Owen berkata seperti itu,
Ia pun langsung pergi dari hadapan Sky dan teman-temannya.
Mereka berlima merasa sedikit bingung dengan sikap Owen
belakangan ini.
“Gue ga salah denger nih?” tanya Aiden.
“Salah denger apa?” Leo bertanya kembali.
“Payah.. lo tau dari dulu kita gapernah akur sama Owen
semenjak Sky sama dia jadi musuh kan” jelas Caleb.
“Emang ga biasanya dia begini” sahut Owen.
Ethan yang mendengar pembicaraan mereka pun berkata
“Udahlah gausah dipikirin, bukan urusan kita kan kalo dia mau
baik atau engga”
75
“Kita naik ke panggung sekarang, udah mau mulai” Sky
mengajak teman-temannya untuk naik ke atas panggung.
Suara tepuk tangan yang meriah pun terdengar sampai ke
belakang panggung. Sky dan teman-temannya memegang
tangan satu sama lain dan berdoa agar penampilan mereka bisa
berjalan dengan lancar. Perasaan mereka tidak bisa terbendung.
Mereka merasa senang, gugup, mereka merasa sangat siap,
tetapi di sisi lain mereka sedikit ragu jika penampilan mereka
tidak mencapai ekspetasi.
Sky dan teman-temannya naik ke atas panggung dan mengisi
posisi masing-masing layaknya anggota band. Sky yang berada
di belakang karena Ia memilih untuk bermain drum pun
melihat Kenzie yang berbaris di barisan paling belakang.
Kenzie yang juga melihat Sky berada diatas panggung
membuka mulut dan berbisik dari jauh “Semangat” sambil
tersenyum. Sky yang melihat gerakan mulut Kenzie pun
tersenyum dan membalas “Makasih”. Sky memulai penampilan
tersebut dengan memukul drum dengan salah satu stick drum
yang Ia genggam. Sky memukul drum tersebut sebanyak 3 kali
dan penampilan pun dimulai dengan Ethan yang mulai
menyanyikan baris pertama dari lagu “Polaroid Love”. Lagu
yang mereka bawakan sebenarnya bukan lagu yang cocok
76
untuk dimainkan dengan alat musik, tetapi mereka memang
sengaja membuat instrumen lagu tersebut menjadi bass agar
terdengar lebih unik.
Sepanjang penampilan mereka, semua orang yang ada di
sekolah itu ikut menikmati lagu yang mereka bawakan. Tiba-
tiba Sky merasa kepalanya sedikit pusing tetapi hal itu
dihiraukannya. Pikirnya pusing seperti ini disebabkan oleh
keras nya suara musik yang dimainkan, setelah dua menit
berjalan, mereka sudah hampir selesai bermain musik tetapi
kepala Sky tidak kunjung membaik. Kali ini kepalanya terasa
begitu berat, teman-teman yang ada di posisi depan dan juga
para penonton terlihat buram seperti melayang. Ketika Ethan
sedang asyik menikmati lagu yang Ia nyanyikan, tiba-tiba
terdengar suara seseorang yang jatuh dari arah belakang. Ethan,
Aiden, Leo, dan Caleb pun serentak membalikkan badan
mereka dan melihat Sky yang sudah jatuh tergeletak di atas
panggung. Mereka berempat sempat kaget dan langsung
mendekati Sky. Para penonton termasuk Owen dan para guru
pun ikut panik dan menyuruh beberapa orang untuk membantu
Sky.
Sedangkan Kenzie yang tengah menikmati penampilan
pacarnya tersebut ikut terkejut dan sangat kaget melihat Sky
77
tiba-tiba terjatuh. Dengan cepat Kenzie berlari keatas
panggung. Kenzie mencoba melewati banyaknya orang yang
ikut melihat kondisi Sky diatas panggung.
“Misi, misi dong” ucap Kenzie dengan nada yang panik.
Kenzie sudah melihat Sky di depan matanya dan langsung
duduk di samping Sky sambil menaruh kepala Sky di
pundaknya. Kenzie yang melihat tubuh Sky yang lemas dan
berusaha untuk membuka matanya sembari tersenyum melihat
Kenzie yang ada di sampingnya. Kenzie meneteskan air
matanya menandakan bahwa Ia khawatir melihat keadaan Sky.
“Kalo kamu sakit harusnya gausah dipaksa buat tampil, Sky”
Kenzie berbicara dengan suara terisak.
“Engga.. aku kecapean aja, abis ini kita pulang..”
Kenzie menyuruh Aiden, Ethan, Leo dan Caleb untuk
membantunya membawa Sky ke dalam mobilnya dan
mengantarkannya pulang. Ketika Aiden, Ethan, Leo dan Caleb
pergi menuju mobil sambil menopang kedua tangan Sky diatas
pundak mereka, Kenzie menghampiri Owen sambil tertunduk
sedih. Owen melihat Kenzie dan merasa kasihan dan khawatir
terhadap keadaan nya. Owen pun memeluk Kenzie dengan
perlahan sambil berkata “Gapapa, lo pulang aja zie, temenin
78
Sky”. Ketika Owen memeluk Kenzie, Kenzie merasa sedikit
terkejut. Pertama kali dalam hidup nya Owen memeluk dirinya.
Pelukan Owen terasa nyaman, sama rasanya seperti pelukan
Ayah Kenzie yang sudah pergi meninggalkannya. Kenzie
melihat Owen dan memastikan jika Sky dan teman-temannya
diijinkan untuk pulang. Owen menganggukan kepalanya tanda
bahwa Ia setuju. Dengan terburu-buru Kenzie masuk ke dalam
mobil Sky bersam dengan Luna. Ethan yang menggantikan Sky
untuk membawa mobil dengan cepat langsung mengunci
semua pintu mobil dan bergegas pulang ke rumah Sky.
***
Sesampainya di rumah Sky, Kenzie membantu Sky untuk
naik ke lantai dua dan menuju kamar tidurnya. Disana, Kenzie
membantu Sky untuk berbaring di atas ranjang nya dan
memberikan Sky selimut agar Ia merasa hangat. Kenzie duduk
di samping Sky dan mencoba tersenyum untuk Sky agar Sky
tidak merasa terlalu stress. Mereka berbicara sejenak sampai
bunyi dering dari telepon Sky. Sky mengangkat telepon
tersebut dan terdengar suara Ayah Sky di telepon itu.
“Halo nak? you okay?” tanya Ayah Sky.
“Tadi aku jatuh pas lagi manggung pa, I feel better now”
79
“Syukurlah” Ayah Sky menghela napas dan lanjut berbicara
“Umm.. begini Sky, papa sudah putuskan untuk bawa kamu
akan papa bawa ke Amerika, papa mau kondisi kamu benar-
benar dipastikan sehat oleh Dokter disini” tegas Ayah Sky.
“Tapi pa..”
“Sudah Sky, itu sudah jadi keputusan papa, tolong kamu nurut
sedikit, papa lakuin semua ini demi kebaikan kamu” Ayah Sky
langsung mematikan panggilan tersebut.
“H-halo?!! pa??”
Sky menghela napas nya dalam-dalam sambil berkata kepada
Kenzie “Papa suruh aku ke Amerika”
“Kenapa tiba-tiba? kamu pergi nya lama? sampe kapan Sky?”
“Udah gapapa, kamu gausah terlalu khawatir, aku akan tetep ke
Amerika, tapi aku janji setelah seminggu aku bakal pulang
kesini”
Sky yang melihat raut wajah Kenzie yang cemas. Sky pun
meyakinkan Kenzie untuk mempercayainya. Kenzie pun sangat
sulit untuk menerima bahwa Sky akan pergi ke Amerika.
Amerika bukanlah tempat yang dekat melainkan jauh, berjam -
80
jam harus ditempuh Sky untuk sampai kesana. Tetapi Kenzie
bersikap pasrah dan percaya bahwa setiap orang tua akan
melakukan apa yang terbaik untuk anaknya terutama Ayah
Sky. Setelah perbincangan serius antara Sky dan Kenzie, Sky
akhirnya tertidur lelap. Kenzie melihat wajah Sky yang terlihat
sangat tenang. Kenzie meneteskan air mata untuk kedua
kalinya. Sebenarnya, Ia merasa sangat khawatir tentang apa
yang menjadi keputusan Sky. Ia takut Sky tidak bisa menjaga
kesehatannya ketika berada di Amerika, Kenzie khawatir jika
Sky pergi terlalu lama.
Tiba-tiba muncul notif yang berasal dari handphone Kenzie.
Pesan dari Owen. Kenzie membuka pesan tersebut. Owen
mengirimkan pesan yang bertuliskan
“Kalo lo sama Luna mau pulang, telepon gue aja Zie”
Membaca pesan itu Kenzie berpikir bahwa pilihan yang
paling tepat untuk saat ini adalah Ia membiarkan Sky
mengambil beberapa waktu untuk istirahat dari segala kegiatan
yang Ia jalani. Dengan perlahan Kenzie melangkah menuju
pintu kamar Sky dan membuka pintu tersebut dengan perlahan.
Kenzie turun kebawah dan memanggil Luna. Kenzie juga
memberitahu Aiden, Ethan, Leo dan Caleb bahwa Sky sudah
81
tertidur dan mereka tidak perlu khawatir. Kenzie juga
memberitahu tentang keputusan Ayah Sky yang menyuruhnya
untuk pergi ke Amerika untuk mengambil waktu sesaat.
Mereka semua tertunduk dan bersikap pasrah. Mereka hanya
ingin melakukan apa yang terbaik untuk Sky meskipun Aiden,
Ethan, Leo dan Caleb tidak bisa berpisah dengan Sky walaupun
hanya seminggu. Malam itu Kenzie dan Luna menghubungi
Owen dan menunggunya sampai di rumah Sky. Setelah
menunggu 15 menit, Owen pun sampai di depan rumah Sky
dan mengajak Kenzie dan Luna untuk pulang.
BAGIAN. 5
“RENCANA YANG BERUBAH”
Festival tahun baru sekolah ditutup pada hari jumat. Sky pergi
berpamitan dengan teman-temannya terutama dengan Kenzie
dan Ia pergi ke Amerika pada hari minggu malam. Hari ini
adalah hari Senin. Hari pertama Kenzie tanpa melihat Sky.
Kenzie datang ke sekolah tetapi terlihat tidak bersemangat.
Luna sudah mencoba untuk mengalihkan perhatian Kenzie
terhadap Sky, alhasil semua yang Luna lakukan tidaklah
berhasil. Kenzie juga berusaha untuk tetap bersikap normal dan
82
berpura-pura untuk baik-baik saja, tapi hati dan pikirannya
tidak bisa terlepas dari Sky yang pergi ke Amerika.
Sesampainya di sekolah, Kenzie memberitahu Luna jika Ia
ingin menuju ke kelas terlebih dahulu. Luna yang mengerti
keadaan Kenzie pun hanya bisa bersikap pasrah dan menuruti
apa yang Kenzie mau. Setelah Luna sudah melihat Kenzie
masuk ke dalam kelas, Luna berpikir bahwa ada baiknya Ia
menemui Casey di kelas sebelah dan membantunya untuk
mencari Owen. Dengan terburu-buru Luna mengajak Casey
untuk mencari Owen. Casey pun setuju dengan ide Luna, karna
belakangan ini Luna dan Casey melihat bahwa orang yang bisa
membuat Kenzie tenang selain Sky adalah Owen. Memang
secara tiba-tiba sikap Owen berubah terhadap Kenzie dan juga
dirinya. Tapi hal itu merupakan hal baik yang tidak boleh disia-
sia kan.
Luna dan Casey menemui Owen di kantin sekolah bersama
teman-teman nya. Hari itu Owen tengah duduk sambil
memakan nasi dengan ayam katsu yang menjadi salah satu
meni favorit murid Sekolah Yongsan. Luna dan Casey
menghampiri Owen sembari berkata “Owen, gue mau
ngomong sama lo”. Luna menarik tangan Owen dan dengan
cepat membawanya keluar dari kantin tersebut.
83
“Lo kenapa sih! lo galiat gue lagi makan” ujar Owen dengan
nada kesal.
“Lo bisa gak jangan mikirin makanan dulu, tuh si Kenzie lagi
sedih, katanya lo mau jagain Kenzie tapi ga bisa komitmen
gimana sih?”
Mendengar penjelasan Luna, Owen pun terdiam dan berpikir
sejenak. Ia tahu bahwa kesedihan Kenzie disebabkan karena
Sky yang pergi ke Amerika.
“Dimana dia?” tanya Owen.
“Di kelas lagi duduk, gua rasa lo harus temenin dia” kata
Casey.
Owen menganggukan kepalanya. Owen, Luna dan Casey
menuju ke kelas Kenzie. Owen mencoba memanggil Kenzie
dari pintu kelas dan Kenzie pun langsung mengenali suara itu
dan menghampiri Owen.
“Kenzie”
“Iya kenapa?”
“Lo gapapa?” tanya Owen lagi.
“Gapapa, gue cuma kepikiran aja dikit”
84
“Lo gausah terlalu banyak mikir zie, Sky gaakan kemana-
mana” Owen meyakinkan Kenzie.
Kenzie tidak membalas apa yang disarankan oleh Owen selain
hanya dengan senyuman tipis di wajahnya. Luna pun
menyuruh Casey untuk pergi menemani Kenzie berjalan di
lingkungan sekitar sekolah. Casey pun setuju dan mengajak
Kenzie untuk pergi dari hadapan Owen dan juga Luna. Ketika
Kenzie dan Casey sudah pergi, Owen pun langsung
menyeletuk “Gue bawa Kenzie pulang ke rumah”. Luna
sempat kaget dengan apa yang Owen bicarakan. Sejujurnya
Luna tidak setuju dengan keputusan yang dibuat oleh Owen.
Sejak orang tua Kenzie meninggal, Luna dan Kenzie sudah
bersama sejak kecil sampai sekarang. Luna sudah tau semua
sifat baik dan buruk seorang Kenzie. Ia pun sempat meragukan
Owen karena mereka berdua tidak memiliki hubungan keluarga
yang dekat.
“Gue juga bagian keluarga ini lun, gue ga mungkin macem-
macem. lo cukup pegang omongan gue” Owen meyakinkan
Luna.
Luna berpikir mungkin ini adalah solusi yang baik. Kenzie
butuh suasana baru dan orang baru yang bisa membuatnya
85
merasa nyaman. Dengan rasa pasrah Luna pun menyetujui ide
Owen.
“Yaudah nanti gue coba bilang ke Kenzie”
***
Setelah perbincangan itu, mereka pun mengikuti jam sekolah
seperti biasanya sampai waktunya untuk pulang sekolah. Luna
dan Kenzie berpamitan dengan Casey dan menuju ke lobby
sekolah. Sesampainya di lobby sekolah Luna berkata “Zie.
Owen mau ajak lo pulang ke rumahnya. Sampai Sky pulang lo
harus di rumah Owen”. Tanpa keraguan Kenzie pun
menyetujui apa yang Luna katakan.
“Gue butuh suasana baru aja lun”
“Iya, gue ngerti kok zie”
Tak lama, Owen menghampiri mereka berdua lalu mengajak
Kenzie untuk pulang. Disana Luna hanya bisa melihat Kenzie
yang masuk ke dalam mobil Owen dan tersenyum kepadanya.
Luna hanya berharap Owen bisa diandalkan. Ia juga berharap
bahwa Sky cepat pulang. Dengan perasaan yang sedikit
terpaksa, Luna pun menunggu sopir yang ditugaskan ayahnya
untuk menjemputnya di sekolah. Beberapa menit Ia menunggu
86
dan akhirnya sopir itu datang dan memanggilnya “Non, ayok
pulang, saya masih harus antar Bapak untuk balik ke kantor”.
Luna masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah nya,
sedangkan Kenzie yang ada di dalam mobil Owen pun hanya
bisa terdiam dan menatap ke arah jendela sembari melihat
jalan-jalan yang dipenuhi dengan mobil dan orang-orang yang
berjalan kaki. Owen yang melihat Kenzie hanya terdiam
memutuskan untuk membuka pembicaraan.
“Lo mau makan apa zie? pasti lo laper kan?”
“Gue mau tanya. Kenapa lo jadi tiba-tiba baik gini sama gue
dan luna?”
Owen menghela napas dan menjelaskan “Gada salahnya kan?
gue sadar selama ini gue gapernah akrab sama kalian”
“Ya kalo itu emang tujuan lo, baguslah”
Owen dan Kenzie melanjutkan perjalanan mereka sampai ke
rumah Owen. Owen memakirkan mobilnya di garasi rumah
dan mengajak Kenzie untuk turun dari mobil dan masuk ke
rumah. Sebelum Owen dan Kenzie berdiri di depan pintu,
mereka sudah di sambut oleh seorang wanita paruh baya yang
ikut membantu membersihkan rumah Owen. Wanita paruh
baya itu tersenyum kepada Kenzie dan menyuruhnya untuk
87
langsung masuk karena Ia tahu Kenzie adalah saudara Owen.
Owen menyuruh wanita paruh baya yang Ia panggil Bibi itu
untuk mengantarkan Kenzie ke dalam kamar tamu.
“Cantik.. bibi taruh barang-barangnya disini ya, kalo cantik
butuh apa-apa bilang ke bibi sebelum jam 10 malam ya” ujar
Bibi.
“Kenapa cuma sampe jam 10 bi?” tanya Kenzie.
“Hahaha iya, bibi bersih-bersih di rumah ini setiap hari cuma
sampe jam 10 dan gak lebih. Yaudah cantik, kalo gitu bibi
kedepan dulu ya”
Bibi berpamitan dengan Kenzie karena masih ada beberapa
hal yang harus Ia kerjakan. Sementara Kenzie yang merasa
kelelahan memutuskan untuk berbaring diatas tempat tidur. Ia
merasa sangat nyaman ketika berbaring diatas tempat tidur itu,
Ia merasa kamar itu sangatlah nyaman, luas, sejuk, dan juga
tempat dimana Ia berbaring pun terasa sangat empuk dan
lembut layaknya seperti tertidur diatas kapas. Ketika berbaring
Ia pun merasa ngantuk dan hampir tertidur. Tak lama setelah
itu, ketukan pintu terdengar oleh telinganya. Owen yang masuk
ke dalam kamar itu berniat untuk mengajaknya makan karena
Bibi sudah menyiapkan beberapa makanan yang lezat. Owen
88
melihat Kenzie sudah tertidur pun langsung memelankan
langkah kakinya agar tidak terdengar terlalu keras. Kenzie
yang memiliki telinga cukup sensitif pun terbangun dari
tidurnya.
“Sorry..sorry zie, gue ganggu lo ya?” tanya Owen.
“Owen.. engga kok santai aja. gue baru tidur bentar, kenapa?”
“Gapapa zie, gue cuma mau ngajak lo makan, bibi udah masak
banyak makanan buat lo sama gue”
“Oh.. itu, yaudah nanti gue nyusul ya, gue mau ganti baju dulu
baru turun ke meja makan”
Setelah Owen keluar dari kamar, Kenzie mengambil sepasang
bajunya dan segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti
pakainnya. Owen yang pergi ke meja makan duluan,
mengambil dua piring, dua sendok, dan dua garpu untuk
Kenzie dan dirinya. Ia duduk di kursi dan meletakkan piring,
sendok, dan garpu yang sudah diambilnya. Owen pun
memanggil bibi yang sedang berada di belakang rumah
membersihkan rumput-rumput liar. Mendengar Owen
memanggilnya, dengan segera Ia pun pergi menuju ruang
makan dan bertanya “Owen manggil bibi?”.
89
“Iya” jawabnya.
“Ada apa Owen?”
“Bi, saya mau minta tolong buatin jus jeruk buat Kenzie ya”
“Oh..iya siap sebentar ya bibi bikinin dulu”
Sebelum Bibi pergi ke dapur, langkahnya terhenti sejenak dan
kembali kepada Owen. Owen terhenti dari makannya dan Bibi
langsung bertanya “Kalo bibi boleh tanya, Kenzie itu siapa nya
Owen? bibi belum pernah liat” ujarnya. Dengan menghela
napas Owen menjelaskan
“Kenzie itu sepupu Owen bi. Waktu kecil saya sama Kenzie
sering ketemu dan main bareng, tapi.. semenjak orang tuanya
meninggal, saya sama Kenzie udah gapernah ketemu lagi”
Setelah penjelasan singkat yang diberikan Owen kepadanya,
Ia pun mengerti dan memberikan senyuman kepada Owen. Tak
lama, Kenzie pun turun dan menarik kursi di meja makan. Ia
duduk di depan Owen sambil memberikan raut wajah yang
lemas.
“Gue udah ambilin lo piring, sendok, sama garpu. Gue juga
udah suruh bibi buat bikinin lo jus jeruk”
90
“Makasih Owen” Kenzie mencoba tersenyum.
Sore itu mereka melanjutkan makan sembari Owen tetap
mencoba untuk terus membuka topik agar Kenzie melupakan
Sky yang pergi ke Amerika untuk sejenak.
***
Malam harinya, Kenzie yang tengah berbaring di kamar
mengambil handphonenya dari dalam tas sekolahnya. Ia
mencari kontak di hp nya dan matanya tertuju pada nama Sky.
Ia mencoba menelepon Sky malam itu. Untuk sesaat mungkin
Sky sedang sibuk pikirnya, tetapi tidak ada salahnya jika
Kenzie mencoba menelepon siapa tahu Sky mengangkat
telepon tersebut. Kenzie terus mencoba untuk menghubungi
Sky sampai akhirnya telepon tersebut terangkat.
“H-halo? Sky?”
“Kenzie...”
“Sky!!! kenapa kamu susah banget buat ditelepon?”
“Maaf zie, tapi aku sibuk spending time sama papa. ya maklum
ini pertama kalinya lagi setelah papa pindah ke luar negeri”
91
“Aku ga ganggu kan?” tanya Kenzie dengan nada yang hati-
hati.
“Ga sama sekali, justru aku seneng walaupun sekarang kita
jarak jauh, tapi kamu masih perhatian sama aku zie. Makasih
ya”
Sky adalah sosok yang dingin dan penuh dengan gengsi, tapi
malam itu entah mengapa Kenzie merasakan sesuatu yang
berbeda dari biasanya. Ia tahu bahwa ucapan Terim Kasih
berlaku unutk semua oran, tapi tidak untuk Sky. Ucapan itu
tidak biasanya disebut oleh Sky. Walaupun Kenzie memiliki
perasaan yang janggal, setidaknya Ia senang bahwa Sky baik-
baik saja selama di Amerika.
Mereka berdua melanjutkan perbincangan mereka sampai
larut malam. Malam itu merupakan malam penyembuhan
menurut Kenzie. Ia sempat merasa sedih dengan tidak adanya
Sky di depan matanya. Tapi malam itu, dengan mendengar
suara Sky, Ia merasa lebih bahagia bahwa Ia tahu Sky masih
ada bersamanya. Begitu pun dengan Sky. Sky tidak mau
menyia-nyiakan waktunya dengan Kenzie. Menurutnya hari-
hari yang Ia lewati bersama Kenzie merupakan hari bahagia
yang tidak bisa Ia lupa untuk seumur hidupnya. Malam itu,
92
Kenzie meminta Sky untuk menemaninya sampai Ia tertidur
karena Ia tidak mau membebankan pikirannya jika Ia terus
memikirkan Sky yang tidak bisa Ia lihat secara langsung.
*
(Pagi itu di Amerika)
Sky terbangun dari tidurnya dan melihat layar ponsel dimana
panggilan yang Ia lakukan bersama Kenzie sudah terputus. Sky
berpikir bahwa Kenzie tidak sengaja mematikan telepon
tersebut karna baterai handphone nya sudah habis. Sky pun
menaruh kembali handphone nya di atas meja dan bergegas
pergi ke luar kamar untuk sarapan. Pagi itu Sky melihat ayah
nya yang duduk sembari memakan sarapannya yaitu dua buah
roti tawar berisi sayur dan daging ayam yang terlihat enak.
Ayah Sky yang melihat anaknya turun keluar dari kamar di
apartemen itu pun langsung memanggil Sky dan menyuruh nya
untuk sarapan.
“Morning Sky, duduk sarapan dulu” ujar Ayah Sky.
Tanpa sempat Sky menjawab kalimat Ayahnya, Ayah Sky
melanjutkan kata-kata dan berkata “Papa barusan sudah
telepon Dokter Chris, nanti siang coba kamu pergi kesana
93
untuk cek kesehatan kamu yang menurun belakangan ini” jelas
Ayah Sky.
“Siang ini pa?” tanya Sky.
“Iya Sky, kenapa memang?”
“Umm.. gapapa pa, Sky cuman cape aja, rasanya gamau
kemana-mana” jelas Sky.
Ayah Sky menghela napasnya sembari berdiri dan menatap
mata Sky dan memberitahu Sky “Sky, it’s all about your
future. Papa tau apa yang Dokter Marcel bilang waktu itu sama
kamu. It’s not a simple thing Sky. Ini serius. Kamu jangan
bantah papa, I’m doing the right thing for you” Ayah Sky
mengambil Jas berwarna putihnya, pergi meninggalkan meja
makan dan menuju ke arah pintu apartemen untuk berangkat ke
perusahaannya di Amerika. Setelah Sky melihat Ayahnya
sudah pergi, Sky membalikkan badannya ke depan sarapan
yang sudah disiapkan dan memakannya sampai habis. Setelah
itu Sky pergi ke kamar untuk beristiraht sejenak sebelum nanti
siang Ia harus pergi lagi untuk menemui Dokter Chris.
Siang itu sudah menunjukkan pukul 1 dan itu adalah waktu
Sky untuk bertemu dengan Dokter Chris yang sudah menunggu
di rumah sakit dekat lingkungan apartemen yang Sky dan
94
Ayahnya tinggali. Sky bersiap-siap untuk menemui Dokter
Chris sembari mengganti pakaiannya. Setelah Ia sudah
mengganti pakaiannya, seseorang masuk ke kamarnya dan
menanyakan jika Sky ingin diantar ke rumah sakit atau tidak.
Orang yang masuk ke kamarnya tersebut adalah seorang
bodyguard yang dipakai Ayahnya sejak dari lama untuk
menjaga apartemen tersebut selagi Ayah Sky tidak ada di
dalamnya.
“Permisi Sky. apakah saya harus menemani anda untuk pergi
ke rumah sakit?” tanya bodyguard itu.
Sky merasa Ayahnya terlalu protektif. Sky pun yakin bahwa
Ayahnya mengetahui bahwa Ia tidak suka diatur-atur apalagi
sampai ada orang lain yang mengganggu privasinya.
“Gausah. saya bisa pergi sendiri”
“Tapi tuan.. Ayah tuan sudah menyuruh saya”
“Saya gaperlu kamu untuk nemenin saya sampe ke rumah
sakit, saya bisa sendiri”
Sky langsung mengambil handphone nya dan pergi tanpa
mengeluarkan kata-kata lagi. Sky turun ke basement untuk
mengambil mobil yang dipinjamkan oleh Ayahnya. Karena
95
Sky berpikir Ia tidak ingin berlama-lama di rumah sakit, ada
baiknya Ia pergi ke rumah sakit tanpa menunda lalu setelah itu
Ia bisa pergi ke mana saja yang Ia mau. Perjalanan yang harus
Ia tempuh untuk sampai ke rumah sakit adalah sekitar 15 menit
dari apartemen nya. Sepanjang perjalanan Ia memikirkan
Kenzie dan juga orang-orang yang Ia tinggalkan untuk pergi ke
Amerika. Ia berharap kondisinya kembali sehat agar Ia bisa
segera pulang ke korea.
Tak lama setelah itu, Sky sudah sampai di depan rumah sakit
tempat Dokter Chris bekerja. Sebelum Ia pergi dari apartemen
nya, salah satu bodyguard Ayahnya pun mengatakan bahwa
Ayah Sky sudah menempatkan Sky di antrean paling atas
karena Dokter Chris juga merupakan kerabat dekat Ayah Sky
waktu mereka masih berkuliah. Sky menuju ke lantai 5 dan
ruangan Dokter Chris berada tepat di sebelah lift di lantai 5 itu.
Sky mengetuk pintu ruangan Dokter dan saat salah satu suster
yang membuka pintu tersebut melihat Sky, Ia menyuruh Sky
masuk.
“Hey Sky. How are you? your dad told me about you” Dokter
Chris menyapa Sky dengan ramah.
“Hi Dok”
96
“Baru kali ini saya ketemu kamu, dan emang bener kata papa
kamu, kamu emang mirip banget sama dia”
Selain menjadi salah satu kerabat dekat Ayah Sky, Dokter
Chris juga merupakan orang rantau yang pindah ke Amerika
untuk mengambil gelar kedokterannya. Ayah Sky dan Dokter
Chris sama-sama mempunyai mimpi untuk mempunyai
pekerjaan, bisnis, dan juga penghasilan di Amerika. Saat
kuliah, mereka berdua berjuang keras agar mendapatkan
beasiswa di Amerika. Sampai hari ini mereka berdua sukses di
bidangnya masing-masing.
***
Dokter Chris menyuruh Sky untuk berbaring agar Dokter
Chris bisa memeriksa keadaan Sky. Dokter Chris juga
menanyakan seputar keluhan yang dialami Sky belakangan ini.
Sky menjelaskan bahwa beberapa minggu terakhir ini dia
sering merasa pusing dan kelelahan yang berlebihan, Sky juga
menjelaskan hasil dari Dokter Marcel kepada Dokter Chris.
Setelah mendengar penjelasan Sky mengenai hasil diagnosa
Dokter Marcel, Dokter Chris menghela napasnya dan
menyuruh Sky untuk kembali duduk. Sky memang sudah
memiliki perasaan yang tidak enak hal ini dikarenakan Ia tidak
97
mau terus-menerus pergi ke dokter. Baginya, jika Ia terus-
menerus memperlajari tentang keadaannya ini, Ia malah akan
menambah beban pikiran.
Kala itu, Sky hanya tertunduk pasrah karena itu merupakan
keinginan Ayahnya. Ia juga tidak mungkin membantah
Ayahnya karena Ia tahu bahwa Ayahnya memiliki sifat yang
sangat keras dan memiliki pendirian yang tidak bisa diubah.
Tak lama kemudian, Dokter Marcel kembali ke tempat
duduknya dan menatap Sky sambil berkata “Sky, saya cuma
mau bilang, mulai sekarang kamu harus jaga kondisi badan
kamu baik-baik”. Sky pun bertanya kepada Dokter Chris
tentang apa saja cara yang bisa Ia lakukan.
“Kalo gitu, langkah pertama yang saya ambil?”
“Untuk melihat perkembangan kondisi kamu kedepannya,
kamu harus tinggal disini untuk sementara, Sky” jelas Dokter
Chris.
Kata-kata yang diucapkan itu terdengar sangat jelas oleh
kedua telinga Sky. “Tinggal di Amerika sementara”. Mungkin
pilihan itu tidak susah jika untuk Dokter Chris, tapi untuk Sky,
rasanya sangat berat untuk meninggalkan Kenzie dan teman-
teman dekatnya di Korea sedangkan Ia harus berada di
98
Amerika agar kondisi kesehatannya bisa terus terpantau oleh
Dokter Chris. Ia berjanji kepada Kenzie dan teman-temannya
bahwa Ia akan berada di Amerika selama seminggu. Apa yang
akan teman-temannya jika Sky merubah perjanjiannya. Dokter
Chris melihat raut wajah Sky yang berubah menjadi gelisah
sehingga Ia bertanya
“What’s wrong Sky?”
“Huh? engga dok saya cuma kepikiran sama temen-temen saya
di Korea. Saya janji sama mereka untuk pergi ke Amerika
selama seminggu” jelas Sky dengan suara pelan.
Dokter Chris mengerti apa yang menjadi kegelisahan Sky,
tetapi apa boleh buat, kondisi kesehatan Sky lebih penting.
Selain itu juga Ayah Sky merupakan kerabat dekatnya, Ia pun
sudah mempercayai Dokter Chris untuk membantu agar
keadaan Sky pulih kembali. Dalam pikirannya, Ia juga
mempunyai tanggung jawab membantu Sky agar kembali
sehat.
“Ya saya ngerti, tapi kamu juga harus pikirin diri kamu sendiri,
perjalanan kamu masih panjang” tegas Dokter Chris.
Sky merupakan orang yang keras kepala dan sering mengikuti
kemauannya sendiri tanpa memikirkan keadaannya. Tapi untuk
99
saran Dokter Chris ada benarnya pikir Sky. Jika Sky merasa
bahwa kondisinya membaik, tentu Ia akan segera pulang ke
Korea dan bertemu dengan Kenzie dan juga teman-temannya.
Saat itu, Ia memikirkan bagaimana cara untuk memberitahu
teman-temannya untuk sementara Ia akan tinggal di Amerika.
Ketika Sky sedang berpikir, Dokter Chris meminta Sky untuk
mengambil obat-obatan yang sudah diraciknya agar dapat
membantu penyembuhan Sky. Sky berjalan keluar dari ruang
Dokter Chris dan mengucapkan Terima Kasih karena Dokter
Chris sudah melayaninya dengan baik. Dokter Chris juga
memberitahu Sky bahwa seminggu sekali Ia harus kembali ke
rumah sakit tersebut agar Ia bisa melihat perkembangan
kondisi Sky.
Malam harinya setelah Sky sudah pulang dari rumah sakit
beberapa jam yang lalu, Ia berada di kamarnya sembari melihat
layar handphonenya. Tiba-tiba terlintas dipikirannya tentang
apa yang Dokter Chris katakan. Mungkin mulutnya bisa
berkata setuju tapi dihatinya, kata-kata setuju sangat susah
untuk dilakukan. Dengan melihat Kenzie dan juga orang-orang
terdekat Sky hadir dalam hidupnya, terkadang Ia merasa sangat
bersyukur karena mungkin jika Sky tidak bertemu teman-
temannya terutama Kenzie, sifat Sky tidak akan menjadi
100