“Lo kenapa sih? Gue cuma mau liat Sky untuk terakhir kalinya.
Lo gaakan ngerti perasaan gue!”
“Lo yang gangerti apa yang Sky mikirin, Kenzie. Dengan lo
tangisin Sky yang udah pergi selamanya, yang udah gabisa liat
lo di depan dia lagi, itu akan membantu semuanya? lo mau
bikin Sky sedih? dia gamau ngeliat lo sedih makanya dia suruh
gue gantiin dia, Kenzie. Itu yang lo mau?”
Sean menghela napasnya dan melanjutkan pembicaraannya
“Kalo lo masih mau disini, gue temenin ya?”. Kenzie hanya
menganggukan kepalanya dan duduk di kursi rumah sakit.
Sean yang berdiri pun mencoba menelepon teman-teman dan
orang-orang terdekat Sky termasuk Ayah mereka dan
memberitahu kabar buruk ini.
***
Sore sudah menjelang malam, semua orang-orang terdekat
Sky pun sangat kaget dan sekaligus tidak percaya atas apa yang
Sean katakan. Kenzie pun menghubungi Luna dan
memberitahunya tentang hal ini. Luna yang sedang sakit pun
tidak mau diam saja di rumah. Ia juga harus pergi ke rumah
sakit untuk menemani Kenzie yang sedang terpuruk. Begitupun
dengan Aiden, Ethan, Leo dan Caleb. Sore itu mereka semua
151
datang ke rumah sakit untuk melihat wajah Sky terakhir
kalinya sebelum di makamkan. Ayah Sky dan Sean sangat
sedih, kecewa, dan menyesal mengapa di detik-detik terakhir
hidup Sky, Ia tidak memiliki waktu lebih untuknya. Ayah
mereka pun memberitahu Sean bahwa Ia akan pulang ke
Korea.
Hari itu merupakan hari yang tidak disangka bagi Kenzie.
Kemarin-kemarin Ia masih bisa tertawa puas tapi kala itu, Ia
merasa sangat kosong. Ia tidak bisa berpikir jernih. Yang ada
dalam pikirannya hanyalah wajah Sky yang terus terbayang. Ia
sangat berharap bahwa hari itu hanyalah mimpi. Ia ingin sekali
bangun dari mimpi buruknya itu. Tapi nyatanya, semua yang
dia sedang hadapi bukanlah fiksi melainkan fakta. Orang yang
berharga dan penting baginya sudah pergi. Ia kecewa dengan
dirinya sendiri mengapa Ia tidak pernah sadar ketika waktu itu
Ia melihat Sky sering merasa tidak enak badan dan sakit
beberapa kali. Luna dan Sean paham betul apa yang Kenzie
rasakan. Luna mengusap kepala Kenzie untuk membuat nya
merasa nyaman. Begitupun dengan Sean. Walau hampir dua
minggu lebih Ia bersama dengan Kenzie, entah mengapa Ia
merasa bahwa Kenzie adalah tanggung jawabnya sekarang.
152
Sean melirik Kenzie dan bertanya “Boleh gua pegang tangan
lo? supaya hangat” katanya. Kenzie hanya bisa melirik Sean
dan memegang tangan Sean terlebih dahulu. Aiden, Ethan, Leo
dan Caleb pun mendekati Kenzie.
“Sorry Zie, kita semua udah jadi temen yang gak gabik buat lo
sama Sky. Harusnya kita kasih tau semuanya. Maafin kita,
Kenzie.” ujar Ethan.
“Bukan salah kalian.. tenang aja” Kenzie berusaha tersenyum
kepada mereka. Ia juga menambahkan kata-katanya “Makasih
ya kalian udah baik banget sama gue”
“Zie. kita semua sayang sama lo, terutama Sky” jelas Luna.
***
Selama 3 hari, Kenzie masih terlihat sangat kehilangan Sky.
Selama 3 hari itu, Luna sangat khawatir dengan Kenzie, Ia
hampir tidak pernah keluar rumah kecuali makan dan minum. Ia
terlihat sangat tidak bersemangat. Luna pun terus mengabari
Sean dan memberitahu nya tentang keadaan Kenzie. Dan selama
3 hari itu Sean pun selalu ke rumah Kenzie dan Luna untuk
menemaninya di rumah.
153
Hari itu, Sean pergi ke rumah Kenzie lagi. Luna dan Om Alex
yang sudah tahu bahwa Kenzie masih merasa sangat terpukul
pun memberikan Sean ijin untuk mengunjungi kamar Kenzie.
Kenzie yang tengah duduk di kamarnya pun mendengar suara
ketukan pintu yang dibunyikan oleh Sean. Tanpa berkata apa-
apa Sean pun masuk ke kamar Kenzie. Sean duduk disamping
Kenzie dan memegang tangannya.
“Zie. lo gapapa kan?”
“Ga..gapapa, gue cuma..”
“Iya gue ngerti, gausah dilanjut”
Sean pun melanjutkan pembicaraannya.
“Zie. Gue tau lo pasti sedih banget. Tapi percaya deh sama gue.
Lo harus balik kayak dulu. Zie, jujur emang sejak gue gantiin
Sky dan gue ketemu sama lo, susah buat gue untuk jalanin
hidup layaknya seorang Sky. Gue gabisa jadi orang yang
segengsi itu, gue juga gabisa pura-pura cuek di depan lo. Gue
janji sama Sky dan diri gue sendiri kalo mulai sekarang lo
tanggung jawab gue walaupun lo punya Om Alex dan Luna.
Gue juga ga maksa lo buat liat gue sebagai Sky. dan kalo lo
masih ngira gue Sky, juga gapapa. Senyaman lo aja, Gue cuma
154
mau buktiin ke Sky kalo omongan dia ga sia-sia. Sky percaya
sama gue, dan gue mau lo juga percaya ya sama gue?”
Tiba-tiba Kenzie memeluk Sean dengan erat dan berkata
“Gue kenal lo sebagai Sean bukan Sky. Gue mau lo jadi diri
sendiri” sambil tersenyum. Sean yang mendengar kata-kata itu
pun ikut tersenyum dan memeluk Kenzie kembali. Kenzie
merasa sedikit lebih tenang dan pikirannya lebih jernih ketika
Sean berusaha untuk membuatnya tersenyum. Walaupun
Kenzie masih merasa sedih, setidaknya Ia masih bisa melihat
Sean yang mirip sekali dengan Sky. Walaupun sifat mereka
berbeda, tapi setidaknya Kenzie merasa nyaman ketika berada
di dekat keduanya.
“Zie. Gue.. mau kasih lo ini”
Sean mengeluarkan sebuah kertas berbentuk surat lalu
memberikannya kepada Kenzie. Ketika Kenzie bertanya
kepada Sean tentang apa isi surat itu, Sean hanya menjawab
“Lo baca ini kalo udah malam”. Setelah Sky memberikan
kertas berbentuk surat tersebut, Ia pun memberitahu Kenzie
jika Ia ingin pulang. Kenzie pun tersenyum dan Sean keluar
dari kamarnya. Saat Luna dan Om Alex melihat Sean keluar
dari kamar Kenzie, mereka bertanya kepadanya tentang
155
keadaan Kenzie. Lalu Sean tersenyum dan berkata bahwa
Kenzie baik-baik saja. Ia sudah mulai merasa nyaman. Om
Alex mendengar hal itu dan sangat berterima kasih kepada
Sean. Om Alex menyuruh Luna untuk mengantarkan Sean
sampai kedepan rumah. Setelah Sean pergi dari rumah itu, Om
Alex dan Luna pun sama-sama bersyukur dan sedikit lega
ternyata Sean memiliki tanggung jawab yang besar dan tidak
mengingkari janjinya.
***
Hari sudah menjelang malam dan menunjukkan pukul 9.
Setelah Kenzie telah selesai makan, mandi, dan berganti
pakaiannya, Ia pun berbaring dan teringat surat yang diberikan
oleh Sean. Ia membuka surat itu. Ketika surat itu dibuka oleh
Kenzie, Ia bisa melihat tulisan tangan Sky. Ia membaca surat
itu dalam hatinya.
From: Sky
To: Kenzie
Kenzie, aku gatau kapan kamu akan baca surat ini. Aku juga
gatau kapan kamu akan tahu tentang keadaan aku yang
156
sekarang. Aku mau bilang maaf karena aku ga berani untuk
kasih tau kamu kalo aku sakit. I don’t want to make you sad.
Aku pengen ngeliat kamu bahagia terus tanpa mikirin hal-hal
buruk di aku. Aku tahu umur aku gak akan lama lagi. So I
asked Sean to replace me. Mungkin ketika kamu baca surat ini,
aku udah pergi. Dan mungkin ketika kamu baca surat ini, kamu
udah tau ternyata yang nemenin kamu setelah pulang dari
Amerika itu bukan Aku tapi Sean. Kenzie, aku mau kamu tahu
alasan Sean ngajak kamu pergi setiap malam, dan kenapa
Sean selalu minta kamu untuk ngeliat bulan setiap malamnya.
Mungkin kamu ga sadar, tapi coba kamu lihat bulan malam
ini. The moon is beautiful, isn’t it?. Kalo seandainya aku
dikasih kesempatan untuk kedua kalinya, Aku akan tetap jatuh
cinta sama kamu, Kenzie. Kamu jaga diri baik-baik ya disana,
I Love you every single night.”
(cari arti ‘The moon is beautiful, isn’t it?’)
Itulah isi surat Sky untuk Kenzie. Membaca isi surat itu, Air
mata Kenzie terjatuh untuk kesekian kalinya. Sembari
menangis Kenzie membuka handphonenya dan mencoba
mencari arti dari kata itu. Iya membuka internetnya dan
mengetik “arti kata The moon is beautiful, isn’t it”. Setelah
157
mencari, terpampang jelas di paling atas tulisan yang berisi arti
dari kata-kata tersebut.
‘ Ungkapan di atas tidak secara harfiah berarti "bulan itu indah,
bukan?" dalam bahasa Jepang, melainkan itu berarti “Aku
Mencintaimu” ‘
Seketika tangisan Kenzie membasahi seluruh pipinya. Ia sadar
bahwa Sky begitu mencintainya. Memang selama Sky masih
bersama Kenzie, Kenzie tidak melihat hal-hal spesial dari
perlakuan nya. Tapi ternyata, Ia menyimpan perasaan yang
dalam untuk Kenzie. Malam itu, Kenzie menangis sampai Ia
tertidur lelap sembari memegang surat yang ditulis Sky yang
tergenggam di tangannya.
***
Setelah seminggu sejak Sky dimakamkan, Kenzie, Sean dan
teman-teman lainnya memutuskan untuk mengunjungi Sky di
pemakaman di kota Seoul. Pagi itu mereka mengunjungi Sky
dan mengelilingi makam Sky. Sean memegang tangan Kenzie
dan mengajak nya berlutut di samping makan itu.
“Hey Sky. ini gue sama Kenzie dateng kesini buat liat lo.
Kenzie sekarang udah bisa senyum kok, jadi lo tenang aja ya
158
Sky, gue bakal jaga Kenzie” Sean melirik Kenzie sembari
tersenyum.
“Aku disini baik-baik aja, aku harap kamu bisa denger aku ya
disini. Aku yakin kamu juga pasti seneng diatas sana”
Teman-teman Sky yang lainnya termasuk Luna pun bergiliran
memberi ucapan untuk Sky pada hari itu. Mereka semua
memang merasa kehilangan. Tapi hidup juga harus tetap
berjalan. Mereka juga tahu Sky tidak suka untuk ditangisi.
Kenzie, Sean dan teman-teman yang lainnya pun yakin Sky
pasti senang ketika mereka mengunjungi dan melihat nya
walaupun mereka tidak bisa melihat fisik Sky untuk selama-
lamanya.
Beberapa hari menjadi minggu, menjadi bulan. Semua orang
menjalani hidup mereka masing-masing dan selalu membawa
Sky dalam pikiran mereka masing-masing. Hari itu adalah
tanggal 14 Februari yang berarti semua orang merayakan Hari
Kasih Sayang atau biasa disebut dengan Valentine. Malam itu
Om Alex mengundang Sean, Aiden, Ethan, Leo dan Caleb
untuk bergabung bersama mereka merayakan Hari Valentine.
Om Alex, Kenzie dan Luna sudah menyiapkan begitu banyak
hidangan di meja makan. Malam itu merupakan awal yang baru
159
bagi mereka walaupun tidak ad Sky di samping mereka.
Mereka sangat menikmati hidangan yang sudah dibuat oleh
Om Alex, Kenzie dan Luna.
“Wah om, ini mah makanannya semua enak-enak” ujar Leo.
“Waduh.. Om jadi tersipu nih karena kamu bilang masakan Om
enak. Makan yang banyak lho ya, jangan dibuang-buang nanti
makanannya nangis lagi” sahut Om Alex.
Semua orang yang ada di meja makan itu pun tertawa
mendengar lelucon yang dibuat oleh Om Alex. Setelah mereka
menyelesaikan hidangan yang ada di meja, Kenzie, Luna dan
yang lainnya pun pergi ke taman belakang yang sudah dipenuhi
dengan lampu-lampu berwarna merah muda yang menambah
suasana romantis di malam itu. Luna, Aiden, Ethan, Leo dan
Caleb memutuskan untuk duduk-duduk di pinggir kolam
sambil mengobrol sedangkan Sean dan Kenzie memilih untuk
duduk di kursi sambil memandangi langit malam.
“Lo suka langit malam ini?” tanya Kenzie.
“Iya, langitnya cantik kaya orang yang duduk di samping gue”
Sean tertawa tipis sambil melihat Kenzie.
“Please.. not again” Kenzie pun juga tertawa.
160
Sean berdiri dan memegang tangan Kenzie. Kenzie pun ikut
berdiri dan mereka berdua saling bertatapan satu dengan yang
lainnya. Masing-masing dari mereka terlihat bahagia dan
sangat menikmati malam hari itu. Sky memegang tangan
Kenzie sembari berkata.
“Zie. Gue udah janji sama diri gue sendiri dan juga Sky buat
ngejaga lo selagi gue masih ada..”
“Lo kenapa Sky?” tanya Kenzie yang mulai bingung.
“Apa.. lo ijinin gue buat jagain lo sampai seterusnya?” tanya
Sky lagi.
“G-gue seneng kok bisa sama lo, Sean”
Sembari tersenyum tipis Sean bertanya “Kalo gitu... Will You
Be My Valentine?”. Mendengar pertanyaan Sean, Kenzie pun
sempat kaget dan tidak percaya jika Sean berkata seperti itu.
Kenzie pun mulai bersikap gugup.
“Kenzie?” Sean memanggil namanya.
Tiba-tiba Kenzie memeluk Sean dengan erat dan membuat
Sean ikut terkejut. Dengan pelukan erat Kenzie menjawab
“The moon is beautiful, isn’t it?”. Satu kalimat yang keluar
dari mulut Kenzie membuat Sean tersenyum lebar dan
161
memeluk Kenzie lebih erat sambil berkata “Yes, It’s beautiful
as you, Kenzie”.
Terdengar suara yang berisik dari arah kolam renang yang
bersaut-sautan. Kenzie dan Sean yang menyadari hal tersebut
pun sama-sama tertawa melihat ke arah kolam. Luna, Aiden,
Ethan, Leo dan Caleb berlari kearah mereka berdua dan ikut
memeluk mereka dengan erat. Lalu terdengar suara Caleb yang
berkata “Yesss!!!! Gue sayang banget sama kalian semua!!!
sekarang kita udah utuh lagi kayak dulu!!!”. Mendengar Caleb
berkata seperti itu, mereka semua tertawa dan saling memeluk.
Malam itu adalah malam yang Indah bagi mereka semua,
terutama untuk Kenzie dan Sean.
TAMAT
162
163