seperti yang Ia harapkan selama ini. Malam itu dia terus
memikirkan berbagai cara untuk menyampaikan kepada
mereka bahwa Ia akan tinggal sementara di Amerika entah
sampai kapan, bisa lebih cepat atau mungkin lebih lama.
*
BAGIAN 6.
“DIA BERBEDA”
Sudah seminggu semenjak Sky pergi meninggalkan Korea
untuk pergi ke Amerika. Selama Sky berada di Amerika,
Kenzie dan teman-temannya memang sengaja untuk tidak
menghubunginya karena Kenzie berkata bahwa Sky terlihat
sangat lelah dan memang butuh waktu untuk menyendiri.
101
Setelah Kenzie mengatakan hal itu, teman-temannya pun
sepakat untuk tidak menghubungi Sky untuk beberapa waktu
kedepan. Hari-hari dilewati Kenzie seperti biasanya walaupun
ada yang terasa kurang. Luna dan Casey yang mengetahui
bahwa Kenzie masih sesekali memikirkan Sky pun mencoba
untuk menagajak Kenzie melakukan aktivitas lainnya agar Ia
bisa melupakan pacarnya itu dalam waktu sejenak. Cara yang
Luna dan Casey pakai memang berhasil walaupun saat malam
hari Luna tahu bahwa Kenzie masi memikirkan Sky.
Hari itu di sekolah sudah menunjukkan pukul 8 di pagi hari.
Hari itu terjadi pergantian jam masuk dikarenakan guru-guru
harus rapat terkait dengan libur yang akan diberikan kepada
seluruh siswa kelas 12. Suara Kepala Sekolah pun terdengar
melalui speaker yang ada di sekolah. Mendengar pengumuman
tentang diundurnya jam masuk sekolah, Luna mengajak Kenzie
dan Casey untuk ke kantin. Mereka berdua pun menyetujui
ajakan Luna dan sama-sama pergi ke kantin. Sesampainya di
kantin, mereka memutuskan untuk duduk di kursi sambil
mengeluarkan bekal makanan yang mereka bawa dari rumah.
Saat itu, Kenzie membuka percakapan mereka dengan bertanya
“Kira-kira kita libur tanggal berapa ya?”.
“Mungkin akhir bulan ini?” sambung Casey.
102
“Gue gasabar banget libur, gue butuh refreshing, gue pengen
banget nih pergi camping bareng kalian” Luna memberikan
ide.
“Tapi... emang lo sama Kenzie dibolehin sama Om Alex?”
tanya Casey.
“Gue sih gayakin kalo boleh”
“Kenzie.. kenziee....” Ditengah percakapan Kenzie, Luna dan
Casey terdengar suara teriakan dari ujung kantin yang
memanggil Kenzie dari jauh. Orang tersebut merupakan Aiden.
Aiden yang memanggil nama Kenzie sembari terburu-buru
menghampirinya dan berkata “S-Sky. .”. Mereka bertiga yang
melihat Aiden yang panik pun sempat kaget terutama Kenzie.
“Maksud lo apa? Sky kenapa?” Kenzie mencoba tenang.
“S-Sky. .. ada di lobby zie!!!”
Mendengar hal itu Kenzie, Luna dan Casey pun terkaget untuk
kedua kalinya tetapi di sisi lain Kenzie merasa bahagia karena
tepat seminggu Sky sudah pulang ke Korea. Luna dan Casey
pun berdiri dari tempat duduknya dan melihat kearah Kenzie.
Dua orang tersebut menarik tangan Kenzie dan dengan cepat
menuju ke lobby.
103
Saat di lobby, Kenzie kaget melihat perubahan yang dialami
oleh Sky. Sky terlihat lebih segar dan sehat, selain itu
perubahan warna rambutnya yang berwarna hitam menjadi
warna blonde yang membuat wajahnya semakin putih dan
bibirnya yang terlihat berwarna merah muda yang menandakan
Ia sehat-sehat saja. Melihat hal tersebut, Kenzie terkagum dan
langsung mendekati Sky dan memeluknya
“Sky!!!” Kenzie berlari dan langsung memeluk Sky.
Saat Kenzie memeluk Sky, Sky merasa bingung dan sedikit
canggung ketika Kenzie memeluknya. Perlahan Sky
memegang pundak Kenzie dan melepas pelukannya dengan
pelan. Kenzie yang merasa Sky bersikap tidak seperti biasanya
pun terheran. Kenzie sedikit memiringkan kepalanya sambil
berpikir jika pelukan yang Ia berikan membuat Sky tidak
nyaman. Sky mendekati Kenzie dan menatap kedua matanya
dan berkata
“Ini Kenzie? pacar Sky?” tanyanya.
“Maksudnya apa?” tanya Kenzie kebingungan.
Sky menatap mata Kenzie beberapa saat sampai akhirnya Ia
menyentuh kepala Kenzie dan memeluknya sembari berkata
“Aku cuma pastiin aja kok, mana mungkin aku lupa”.
104
“Jadi kamu cuma bercanda atau?”
“Baru seminggu aku di Amerika gamungkin lupa dong gmn
sih”
Sky memegang tangan Kenzie dan mengajak nya untuk duduk
di ruang perpustakaan sembari membicarakan suatu hal yang
penting kata Sky. Mereka berdua pun pergi ke perpustakaan
dan duduk di salah satu meja dekat lorong rak buku.
“Gimana keadaan kamu sekarang?” Kenzie membuka
percakapan itu dengan pertanyaan.
“Aku baik-baik aja, kmrn aku ke Amerika karna Papa khawatir
kalo aku kenapa-kenapa, Papa bilang dia mau cek sendiri
keadaan aku gimana” jelas Sky.
“Syukurlah kalo kamu ga kenapa-napa, aku sempet khawatir
apalagi pas tau kamu susah dihubungin”
“Kenapa? kamu khawatir? gapapa aku seneng” Sky tersenyum.
“Ga lucu tau, keenakan ya kamu diperhatiin” sahut Kenzie
dengan muda datar.
“Iya. apalagi kamu yang perhatiin” Sky menyentuh kepala
Kenzie.
105
Kenzie juga ingin menanyakan tentang penampilan Sky yang
sudah berubah, Warna rambut blonde itu cocok dengan wajah
Sky yang putih.
“Aku boleh tanya?” kata Kenzie
“Kamu kenapa tiba-tiba berubah? warna rambut kamu...”
Kenzie belum menyelesaikan pertanyaan nya tetapi Sky sudah
menyela perkataannya terlebih dahulu.
“Ah.. ini, umm.. aku cuma, udah dari lama aku mau ubah
warna rambut, baru kesampean sekarang” Sky menjawab
dengan keraguan sambil tersenyum tipis.
Kenzie sempat curiga dengan jawaban yang Sky berikan. Sky
terlihat sedikit ragu dan bingung ketika menjawab pertanyaan
dari Kenzie. Kenzie merasakan ada sesuatu yang Sky
sembunyikan darinya. Kalau memang ada, Kenzie juga tidak
mau kepo ataupun mencari tahu sendiri, karena Ia percaya
kepada Sky, Ia hanya menunggu sampai Sky memiliki
keinginan untuk bercerita. Tak lama setelah itu, Sky berkata
kepada Kenzie “Kenzie, aku ke toilet bentar ya, kamu tunggu
disini aja nanti aku balik lagi”. Kenzie menganggukan
kepalanya lalu Sky pergi dari perpustakaan itu.
106
Sesampainya di dalam toilet. Sky berdiri dan melihat ke arah
kaca, Ia menghela napas dan berkata “Kenapa gue harus
ngomong gitu sih tadi, itu bukan jawaban Sky” katanya. “Oke,
just do what you want to do, don’t cross the line”. Setelah
mengucapkan sepatah kalimat itu, Ia pun keluar dari kamar
mandi dan bergegas kembali ke perpustakaan.
***
Sepulang sekolah, Kenzie masih memikirkan jawaban Sky
saat di perpustakaan. Ia tidak bisa begitu saja melupakan
perkataan Sky. Kenzie bergegas pergi ke kelas Sky lalu Ia
berdiri di samping meja tempat Sky duduk.
“Sky, boleh aku ke rumah kamu nanti?” tanya Kenzie dengan
bersemangat.
Sky mendengar hal tersebut langsung melirik Kenzie dan
bertanya “Ke rumahku? buat apa? emang di rumah ada apa?”.
Kenzie langsung mengernyitkan dahinya karena menurut Sky
apa yang Sky katakan sangatlah janggal dan tidak biasanya.
Rasanya Sky tidak mengenal rumahnya sendiri, dan di
rumahnya pun hanya ada Bibi yang biasa membantunya di
rumah, tidak ada hal lain yang ada di dalam rumah itu.
“Di rumah kamu cuma ada Bi Siti kan?” Kenzie memastikan.
107
Sky tersadar akan apa yang Ia katakan kepada Kenzie, Ia
berkata dalam hatinya “Gue lupa. gue harus bersikap normal
aja, gaboleh keliatan kalo gue bingung”.
“Sky?” Kenzie memanggil namanya.
“I-iya. Yaudah nanti kita pulang bareng ya”
“Okee, kalo gitu aku mau ketemu Luna sama Casey ya di
kantin”
Sky menganggukan kepalanya, setelah itu Kenzie keluar dari
kelas Sky dan menuju ke kantin untuk bertemu Luna dan
Casey. Sesampainya di kantin, Ia melihat Luna dan Casey yang
tengah duduk di meja, Kenzie menghampiri mereka berdua
sambil berkata “Gue mau cerita sama kalian berdua” katanya.
Luna dan Casey yang sedang menikmati makanan mereka pun
bertanya kepada Kenzie “Santai, santai. mending lo tarik napas
dulu, mikir, baru cerita. kita juga gabakal fokus kalo sambil
makan” jelas Luna dan Casey. Karena takut mengganggu Luna
dan Casey yang sedang makan, Kenzie memutuskan untuk
menunggu mereka menyelesaikan makanannya.
Beberapa menit ketika Luna dan Casey sudah menyelesaikan
makanannya, Casey pun menanyakan kepada Kenzie tentang
108
hal yang ingin Ia bicarakan. Kenzie menghela napasnya dan
mulai menceritakan apa yang terjadi.
“Lo liat kan Sky ubah warna rambut dia. itu ga jadi masalah sih
buat gue, tapi hari ini dia aneh” kata Kenzie.
“Aneh gimana?” tanya Luna.
“Gue ngerasa dia bukan Sky. gue yakin kalian pasti kira kalo
gue aneh”
“Bukan Sky? maksud lo? jelas-jelas wujudnya Sky, gamungkin
zie” ujar Luna.
“Gue juga tadinya ga sadar, tapi makin lama gue ngerasa Sky
aneh hari ini, tadi gue bilang kalo gue mau ke rumahnya, terus
dia malah tanya emang ada apa di rumah dia” jelas Kenzie.
“Zie, lo harus positif thinking dulu, dia baru aja pulang dari
Amerika, selama seminggu itu mungkin ga ada yang kasi dia
kabar tentang keadaan rumahnya” Casey memegang bahu
Kenzie sembari menenangkan Kenzie agar Ia tidak berpikir
secara berlebihan.
“Udah zie, lo tenang aja, yang penting kan sekarang Sky udah
sehat, okay?”
109
Kenzie juga berpikir mungkin pikirannya sedang kacau,
mungkin Ia terlalu berlebihan tentang Sky. Perkataan Luna dan
Casey ada benarnya. Yang terpenting sekarang adalah Ia bisa
melihat Sky dalam keadaan yang sehat dan baik. Sejak saat itu,
Kenzie memutuskan agar Ia lebih bisa berpikir logis terhadap
sesuatu. Ia tidak boleh gegabah ketika memutuskan sesuatu.
Setelah mencerna perkataan yang dilontarkan Luna dan Casey,
Kenzie pun menyetujuinya. Tiba-tiba terdengar suara Kepala
Sekolah melalui speaker sekolah dan memberitahu para guru
dan juga seluruh siswa-siswi untuk berkumpul di lapangan
dalam 3 menit. Mendengar pengumuman itu, Kenzie, Luna,
dan Casey bergegas pergi ke lapangan karna jarak dari kantin
ke lapangan cukup jauh dikarenakan area sekolah yang luas.
Kurang dari 3 menit, semua murid dan juga para guru sudah
berada di lapangan dan langsung berbaris. Kenzie, Luna dan
Casey yang berbaris berdekatan pun saling menanyakan satu
sama lain tentang apa yang ingin dibicarakan oleh Kepala
Sekolah. Sembari Kepala Sekolah bersiap-siap, Sky
menghampiri Kenzie dari belakang lapangan. Kenzie kaget dan
menyuruh Sky untuk cepat berbaris “Kamu ngapain disini,
bukannya kamu baris disana” ujar Kenzie. “Aku tunggu kamu
di depan sekolah setelah selesai pengumuman”. Kenzie
110
bingung mengapa Sky tidak mau mendengarkan pengumuman
itu, Ia dengan santai seperti mengabaikannya. Mau tidak mau
Kenzie menganggukan kepalanya dan Sky keluar dari barisan
itu dan pergi depan gerbang sekolah.
Setelah itu Bapak Kepala Sekolah mulai membuka
pembicaraan dengan mengucapkan selamat sore kepada para
guru dan juga seluruh murid Sekolah Yongsan.
“Saya selaku Kepala Sekolah mengumpulkan kalian semua
disini karena saya dan juga dewan guru akan memberitahu satu
pengumuman”
iPara murid yang mendengar hal itu pun saling menengok
satu dengan yang lainnya karena mereka ingin tahu
pengumuman apa yang akan diberikan.
“Seperti yang kita semua ketahui, Festival Tahun Baru sudah
selesai, dan kami selaku dewan guru ingin memberitahu
pengumuman tentang libur yang akan sekolah ini berikan untuk
kalian karena para guru akan mengikuti pembinaan selama 2
minggu” ujar Kepala Sekolah Yongsan hari itu.
Pengumuman yang diberitakan oleh Kepala Sekolah membuat
seluruh murid Sekolah Yongsan pun senang dan berbicara satu
dengan yang lainnya sehingga membuat lapangan tersebut
111
dipenuhi oleh suara para murid yang tidak jelas pengucapannya
karena masing-masing dari mereka membicarakan hal yang
berbeda. Begitu pun dengan Kenzie, Luna dan Casey. Masing-
masing dari mereka sudah membuat rencana sepanjang liburan
ini. Luna dan Casey ingin pergi dengan Aiden, Ethan, Leo dan
Caleb ke pantai dan menginap di villa selama beberapa hari.
Sedikit susah untuk Luna yang meminta ijin kepada Om Alex
karena Om Alex khawatir terhadap anaknya. Di sisi lain
Kenzie juga mengerti bahwa ini adalah keinginan Luna. Kenzie
pun memberitahu Luna dan Casey bahwa Ia akan memberitahu
dan mencoba menjelaskan kepada Om Alex. Luna dan Casey
langsung memeluk Kenzie dan mengucapkan terima kasih.
Seketika Kenzie teringat bahwa Sky sudah menunggu nya di
depan gerbang sekolah, Ia memberitahu Luna dan Casey jika Ia
harus menemui Sky dan pergi ke rumahnya untuk melihat
kondisi rumah Sky karena Kenzie sendiri pun tidak yakin
bahwa Sky baik-baik saja. Luna yang sempat bertanya kepada
Kenzie jika Ia bisa ikut dengannya pergi ke rumah Sky, tetapi
Kenzie meminta Luna untuk pulang dan memberitahu Om
Alex jika Ia pergi ke rumah Sky sebentar agar Om Alex tidak
terlalu khawatir padanya dan juga Luna. Dengan terpaksa Luna
menuruti kemauan Kenzie.
112
Setelah itu Kenzie pergi ke depan gerbang sekolah dan
menemui Sky. “Kenapa tadi kamu ga ikut baris di lapangan?”
tanya Kenzie kepada Sky setelah Ia sudah berada di dalam
mobil. “Emang itu penting?” Sky bertanya balik kepada
Kenzie. Kenzie langsung berpikir bahwa sifat Sky belakangan
ini sangatlah tidak biasa. Dari apa yang Ia ketahui, Sky
memang tidak pernah berbicara apapun atau protes apapun
ketika Kepala Sekolah sedang mengumumkan sesuatu di
tengah lapangan, tetapi Ia tetap ikut berbaris sampai Kepala
Sekolah mengakhiri pembicaraannya. “Yaudah kita pulang
sekarang ya” pikiran Kenzie disela oleh perkataan Sky yang
mengajak nya untuk ke rumahnya.
Selama di perjalanan, Kenzie hanya menatap keluar jendela
mobil dan tidak berbicara satu kata pun. Sembari menyetir
mobilnya, Sky melirik Kenzie dan kembali membalikkan arah
matanya ke depan.
“Tumben kamu diem” sahut Sky.
Kenzie melirik Sky dan menghela napasnya.
“Gapapa, kamu belakangan ini aneh” ujar Kenzie dengan
pelan.
Sky menjawab dengan santai dan tidak ragu-ragu.
113
“Aneh gimana?” tanya Sky lagi.
“Kamu kayak bukan kamu, Sky”
Sky melirik Kenzie sambil tersenyum dan berkata “Perasaan
kamu aja”. Setelah itu Sky melanjutkan untuk menyetir
mobilnya sampai mereka berdua sampai di rumah Sky. Sky
memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya dan menyuruh
Kenzie untuk turun dari mobil itu. Kenzie pun pergi terlebih
dahulu ke depan pintu rumah Sky sembari memencet bel
rumah agar Bi Siti segera membuka pintu tersebut. Ketika Sky
keluar dari mobil dan melihat sekeliling rumahnya Ia hanya
bisa mengatakan “Ternyata ga berubah” dengan suara kecil dan
perlahan. Sky ikut menyusul Kenzie ke depan pintu rumah.
Bel rumah sudah berbunyi sampai ketiga kalinya dan akhirnya
pintu rumah itu dibuka oleh Bi Lidia. Bi Lidia yang melihat
Kenzie pun menyapanya dengan hangat dan lemabut. Setelah
itu Ia melihat kearah Sky dan seketika raut mukanya berubah
tegang dan Ia berkata
“Ste..”
“Ah.. Bi Lidia, gimana kabarnya?” Sky langsung menyela
perkataan yang ingin dikatakan oleh Bi Lidia.
114
Sembari menatap Sky dan Bi Lidia yang memiliki suasana
canggung diantara mereka berdua, Kenzie pun terheran dan
merasa jika ada sesuatu janggal yang sedang disembunyikan
oleh Bi Lidia. Saat Bi Lidia pertama kali melihat Sky setelah
seminggu Sky pergi ke Amerika, seharusnya Bi Lidia langsung
memeluk Sky dan menunjukkan wajah girang nya. Tapi tidak
untuk kali itu. Wajah Bi Lidia seketika menjadi tegang dan
bingung ketika melihat wajah Sky. Tidak berpikir panjang lagi,
Kenzie mengalihkan pemikirannya itu dengan tersenyun
kepada Bi Lidia dan Bi Lidia menyuruhnya masuk dan duduk
di sofa ruang tengah rumah Sky.
Saat tengah duduk di sofa, Bi Lidia bertanya kepada mereka
berdua bagaimana sekolah dan mereka menjawab semua baik-
baik saja. Kenzie juga memberitahu Bi Lidia bahwa mereka
mendapatkan libur yang cukup lama dikarenakan guru-guru
yang ikut dalam pembinaan. Setelah mendengar perkataan
Kenzie, Bi Lidia pun melontarkan pertanyaan
“Jadi rencana kalian selama liburan apa?” tanyanya.
Mendengar pertanyaan itu, Sky melirik Kenzie sambil berkata
“Mau bareng sama Kenzie, Bi” ucap Sky dengan nada lembut
sembari tersenyum.
115
“Emang kamu udah ada rencana?” tanya Kenzie.
“Ya.. kamu ikutin aja nanti, aku jamin kamu bakal suka”
Kenzie pun tersenyum kepada Sky dan berpikir bahwa liburan
minggu besok akan menjadi liburan yang paling asik. Ia tidak
peduli apa yang akan Sky berikan kepadanya saat liburan.
Yang ada di pikiran Kenzie saat itu ada Ia hanya ingin
menghabiskan waktunya dengan Sky.
Setelah perbincangan singkat diantara Bi Lidia, Kenzie, dan
Sky, Bi Lidia pun memberikan hidangan di atas meja ruang
tengah dan menyuruh Kenzie untuk menghabisi hidangan yang
telah Ia buat. Kenzie berada di rumah Sky itu sampai jam 6
sore, dan sepanjang Ia berada di rumah Sky ternyata tidak ada
hal janggal yang dilakukan Sky dan mungkin perilaku-perilaku
tidak biasa yang dilakukan Sky disekolah hanyalah perasaan
Kenzie saja. Ia berpikir bahwa Ia sudah berlebihan dan berpikir
negatif tentang Sky. Hari itu Ia lega karena ia tahu bahwa Sky
tidak seperti yang Ia pikirkan, Ia juga mengingatkan dirinya
sendiri untuk tidak berpikir terlalu berlebih. Yang paling
penting Sky sudah ada di depan matanya dan terlihat baik-baik
saja.
*
116
BAGIAN 6.
“APA GUE BISA?”
Minggu itu adalah minggu pertama libur sekolah, Saat itu
seperti biasa Kenzie, Luna dan Om Alex sedang sarapan di
meja makan dan berbicara sesuatu dengan candaan yang
mereka buat sendiri.
“Jadi kalian libur sampai berapa lama?” tanya Om Alex.
“Umm.. katanya sih dua minggu, cuma beberapa hari yang lalu
ada info baru katanya libur bisa diperpendek atau diperpanjang
tergantung pembinaan yang guru-guru dapet Om” jelas Kenzie.
“Widih... semoga diperpanjang ya, terus rencana kalian apa
nih?”
“Gatau nih pa, tapi kalo Kenzie... biasalah dia ada rencana gitu
sama Sky” Luna melirik Kenzie sembari tersenyum.
117
“Luna..” Kenzie memutar kedua bola matanya ke arah Luna.
“Hahaha... ohh udah ada yang jemput nih, padahal Om mau
ajak kamu sama Luna buat camping lho tapi udah ada janji, ya..
berarti Om cuma berdua nih sama Luna” sindir Om Alex.
Kenzie tersenyum tipis dan berkata “Hehe.. maaf Om tapi Sky
udah ajak Kenzie duluan dari kemarin-kemarin”
“Yaudah gapapa santai aja Om gak gigit kok”
Setelah perbincangan singkat antara mereka bertiga dan
sarapan mereka sudah selesai, Kenzie kembali ke kamarnya
udah membereskan beberapa barang diatas meja belajarnya itu.
Tak lama setelah itu suara dering telepon Kenzie terdengar.
Dengan cepat Kenzie melihat nama kontak yang menelponnya
dan benar saja itu adalah Sky. Kenzie mengangkat telepon
tersebut.
“Halo?”
“Hai zie” sahut Sky.
“Kenapa Sky?” tanyanya.
“Malam ini aku jemput ya, kita ke Han River” jelasnya.
118
Kenzie yang menyukai Han River pun kegirangan dan tanpa
ragu menyetujui ajakan Sky. Sky juga mengingatkan dirinya
untuk memakai baju yang sedikit tebal karena takut jika angin
di daerah tersebut cukup kencang. Setelah panggilan telepon
itu berakhir, Kenzie pun menaruh handphone nya kembali di
atas meja dan melanjutkan berberes kamarnya.
Sore harinya, Om Alex dan Luna mengetuk pintu kamar
Kenzie. Dan setelah Kenzie menyuruh mereka untuk masuk,
Kenzie melihat Om Alex dan Luna memakai jaket dan
membawa dua tas besar yang masing-masing dibawa oleh
mereka. Kenzie bertanya kepada Om Alex dan Luna “Kalian
pergi camping sore ini?” ujarnya.
“Iya nih zie, Papa maunya hari ini karen katanya jalanan lagi
sepi jadi lebih cepet sampe ke tempat campingnya” jelas Luna.
“Iya zie, Om sama Luna mutusin buat pergi sore ini aja dan
pulang 3 hari kedepan, jadi Om minta tolong untuk kamu
jagain rumah selagi kita pergi ya, dan inget kalo ga sama
temen-temen yang lain jangan bawa Sky masuk sendirian ke
rumah ini” Om Alex mengedipkan satu matanya.
“Oke Om, Lun. Sini Kenzie anter sampe depan rumah ya”
119
Mereka bertiga turun kebawah dan Kenzie mengantar mereka
sampai pintu depan rumah. Sebelum Om Alex dan Luna pergi,
Kenzie memberi pelukan kepada mereka dan mengucapkan
sampai jumpa. Om Alex dan Luna pun masuk ke dalam mobil
dan pergi dari rumah itu. Setelah mobil mereka sudah tidak
terlihat, Kenzie masuk ke dalam rumah dan tidak lupa Ia juga
mengunci pintu rumah dan kembali ke kamarnya.
***
Malam itu menunjukkan pukul 7. Kenzie yang tengah
bersiap-siap pun menelpon Sky dan bertanya apakah Sky sudah
jalan menuju rumahnya. Sky mengatakan bahwa sebentar lagi
Ia sampai dan menyuruh Kenzie untuk turun ke bawah
sehingga mereka lebih cepat pergi ke Han River. Setelah
Kenzie selesai bersiap-siap, Ia pun langsung turun ke bawah
dan mengunci pintu rumah lalu menuju gerbang rumah sembari
menunggu Sky menjemputnya. Tak lama setelah itu, Sky pun
datang dengan menggunakan sepeda yang dimana Ia tidak
pernah menggunakan sepeda. Dan Kenzie juga baru menyadari
sesuatu bahwa seingetnya Sky tidak terlalu mahir mengendarai
sepeda.
120
Sepeda Sky berhenti tepat di depan Kenzie. Hari itu Sky
menggunakan kemeja tipis berwarna putih dan Ia mengikat
sebuah jaket berwarna biru muda di sepanjang pinggangnya. Ia
juga memakai celana panjang berwarna hitam dan sepatu
berwarna putih kesayangnya.
“Hai..” Sky menyapa Kenzie.
“Sky!!”
“Udah siap pergi?” tanya Sky padanya.
“Tumben kamu pake sepeda kesini dan aku juga baru tau
ternyata kamu bisa kok naik sepeda, kenapa waktu itu kamu
bilang ga bisa?” Kenzie bertanya lantaran Ia penasaran.
“Ah iya.. aku jadi.. terbiasa aja” jelasnya.
Kenzie menganggukan kepalanya lalu Ia naik ke kursi
belakang sepeda itu. Setelah Kenzie duduk Sky melirik ke
belakang dan hanya menatap Kenzie. Kenzie yang tidak
mengerti pun bingung.
“Kenapa? ada yang salah ya?” tanya Kenzie.
“Cuma satu yang salah” ujar Sky.
“Apa? aku salah pake baju ya? ini jelek?”
121
“Salahnya kenapa kamu ga meluk aku? kalo kamu jatoh nanti
aku yang repot, badan kamu berat soalnya” Sky memelankan
nada bicaranya.
Kenzie menepuk baju Sky dengan cukup keras sampai Sky
sedikit merasa kesakitan.
“Apasih Sky, aku kira ada apa” Kenzie membuat wajahnya
sedikit terlihat kesal.
“Maaf maaf, ya makanya kamu peluk, aku cuma takut kamu
jatoh”
Setelah sepeda itu ingin dijalankan, Kenzie memeluk Sky
dengan erat, Sepeda itu mulai berjalan dan ketika Kenzie
memeluk Sky, Sky merasa sangat senang dan sepanjang
perjalan Ia pun tersenyum lebar.
Sesampainya di Han River, Sky menaruh sepedanya di
pinggir Han River. Mereka berdua memutuskan untuk duduk di
sebelah sepeda mereka sembari memandangi pemandangan
malam yang terlihat di sepanjang Han River tersebut. Suasana
malam yang indah dan tenang membuat mereka merasa
nyaman duduk di situ. Sky dan Kenzie pun mengobrol pada
malam itu dan Sky dapat melihat senyuman yang terlukis di
wajah Kenzie. Alasan Sky mengajak Kenzie pergi ke tempat
122
itu pada malam hari karena Ia ingin Kenzie melihat bulan yang
terpajan cerah di langit malam.
“Zie, liat itu bulan nya” ujar Sky.
Kenzie melihat bulan pada malam itu, bulan yang
memancarkan sinar terang pada malam itu dan memiliki bentuk
bulat sempurna.
“Iya bulan nya cantik, makasih ya Sky kamu udah ngajak aku
buat nenangin diri” Kenzie tersenyum kepada Sky.
“Iya gapapa zie, aku seneng kok kalo kamu seneng”
Malam itu merupakan awal yang baik bagi Sky dan juga
Kenzie, Mereka tengah menunggu-nunggu libur minggu itu
agar mereka bisa memiliki waktu bersama yang lebih banyak.
Selain itu Sky juga tahu betul apa yang Kenzie suka dan
bagaimana Ia membuat Kenzie bahagia. Menurut Sky, Kenzie
tidak perlu sesuatu yang mahal, yang mewah, ataupun yang
sempurna. Setiap hal-hal kecil positif yang Sky berikan
merupakan bentuk kebahagiaan untuk Kenzie yang tidak bisa
Ia lupa. Malam itu mereka berada di Han River sampai jam 9
malam. Walaupun mereka hanya memandangi bulan, gedung,
dan orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan Han
123
River, tetapi mereka tetap merasa senang dan menikmati
malam itu.
***
Hari kedua liburan di minggu pertama. Pagi itu Kenzie
bangun tanpa melihat Om Alex dan Luna seperti biasa yang
selalu menunggu nya di meja makan. Pagi itu Kenzie
memutuskan untuk membuat sarapannya sendiri. Hari itu Ia
membuat nasi goreng dengan telur setengah matang
kesukaannya. Ia juga telah membuat rencana apa yang ingin
dilakukan bersama Sky hari ini. Setelah sarapan yang Ia buat
sudah siap, Ia pun duduk di kursi dan memakan sarapannya.
Tidak lupa Ia mengambil handphone nya dan mencoba untuk
menelepon Sky. Kebiasaan Sky setiap pagi adalah berolahraga.
Kenzie berharap Ia tidak mengganggu waktu olahraga Sky.
Tak lama, Sky pun menjawab panggilan Kenzie.
“Halo Sky. malem ini kita kemana?” tanya Kenzie penasaran.
“Umm.. ke cafe gimana? malem ini kayaknya dingin, kalo kita
minum kopi di cafe pasti tenang” ujar Sky.
“Okay. nanti malem jam berapa?”
“Jam 7 lagi?” Sky tertawa tipis.
124
“Umm.. boleh..”
“Okay, see you at night..”
Malam itu Sky menjemput Kenzie lebih awal karena jarak
dari rumah Kenzie untuk pergi ke cafe tersebut dirasa cukup
jauh. Malam itu Sky membawa mobil warna hitam miliknya.
Sesampainya di rumah Kenzie, Sky menyuruh Kenzie untuk
masuk ke mobil dan mengunci pintu rumahnya. Selama 15
menit mobil itu berjalan, mereka berdua tak sadar telah sampai
di cafe yang Sky maksud. Sky pun memarkirkan mobilnya
tepat di depan cafe tersebut. Letak cafe yang mereka kunjungi
berada di pinggir jalan raya.
Sky dan Kenzie pun turun dari mobil dan masuk ke dalam
cafe tersebut. Saat Sky dan Kenzie masuk ke dalam cafe itu,
Salah satu penjaga kasir di cafe itu pun menyapa mereka
dengan ramah dan tersenyum lebar. Selain itu juga penjaga
kasir tersebut bertanya dimana mereka berdua ingin duduk.
“Selamat malam, untuk dua orang?”
“Iya” Sky menjawab.
“Mau pilih tempat duduk yang dimana?” tanya penjaga kasir
itu.
125
Kenzie menarik tangan Sky dan memberitahu bahwa Ia ingin
duduk di lantai dua dengan ruangan terbuka. Sky memberitahu
penjaga kasir itu jika Ia dan Kenzie memilih untuk duduk di
lantai dua. Ketika mereka duduk di kursi, Kenzie bisa melihat
pemandangan banyaknya gedung-gedung tinggi, lampu-lampu
yang menyala terang, serta angin malam yang sejuk. Selain itu
Sky juga memberitahu Kenzie untuk melihat ke arah bulan.
Untuk kedua kalinya mereka berdua melihat Bulan Purnama
yang berbentuk bulat sempurna dengan cahaya yang
dipancarkan membuat malam itu menjadi sangat indah. Kenzie
juga menyadari ternyata bulan merupakan peran yang penting
pada setiap malam.
Tidak lupa Sky juga sudah memesan beberapa makanan yang
paling diminati di cafe tersebut. Ketika semua makanan yang
dipesan sudah sampai, Kenzie dan Sky memakan hidangan
mereka masing-masing sembari mengobrol dan juga melihat
pemandangan kota yang membuat mereka tenang.
“Kenzie.. besok malam aku ga bisa jemput kamu untuk jalan-
jalan, besok aku ada urusan penting” jelas Sky.
“Emang kamu mau kemana?” tanya Kenzie.
126
Mendengar pertanyaan dari Kenzie, Sky pun langsunf merasa
tegang dan gelisah, terlihat dari raut wajahnya, Kenzie pun
menyadari sesuatu yang janggal.
“Kenapa Sky? kok muka kamu kayak panik gitu” Kenzie
memastikan.
“Huh? e-engga, aku lagi kepikiran sama urusan besok aja,
soalnya lumayan penting”
“Kalo kamu ada apa-apa bilang aja, siapa tau aku bisa bantu”
“Ah engga usah zie, aku bisa urus sendiri kok, makasih ya.
ternyata gini ya rasanya di perhatiin” Sky sembari tersenyum.
“Maksud kamu? selama ini aku ga perhatian?” tanya Kenzie
dengan bingung.
“Engga gitu. Mungkin aku salah ngomong, lupain aja ya zie,
kita lanjut makan aja, sayang makanannya udah nungguin”
Kenzie tertawa tipis walaupun dalam pikirannya saat itu, Ia
pun tidak yakin dengan jawaban Sky. Dari cara Sky menjawab,
Ia tahu betul ketika Sky merasa gelisah. Tetapi disisi lain
Kenzie juga tidak mau merusak suasana malam itu. Kenzie
juga harus mengontrol pikirannya, Ia juga mengingat apa yang
127
Luna katakan. Ia harus mendukung pikirannya sendiri agar
tetap berpikir positif.
Malam itu berjalan dengan baik walaupun hati Kenzie tidak
tenang memikirkan apa yang akan dilakukan Sky besok.
Setelah mereka menyelesaikan makanannya, jam sudah
menunjukkan pukul setengah 9 malam. Sky ingat betul Om
Alex tidak mengijinkan Kenzie dan Luna pulang ke rumah
lebih dari jam 9 malam. Untuk itu, Sky segera mengantarkan
Kenzie pulang sampai ke rumahnya. Sesampainya di rumah,
Sky mengucapkan sampai jumpa kepada Kenzie dan Ia tidak
lupa mengingatkan Kenzie untuk beristirahat agar Ia tidak
kelelahan. Ketika Sky ingin kembali masuk ke dalam
mobilnya, Ia pun membalikkan badannya lalu mendekati
Kenzie. Ia berdiri tepat di depan Kenzie sambil mendekati
wajahnya ke arah Kenzie. Sky menatap kedua mata Kenzie dan
berkata “Zie, kamu tau apa yang aku liat sekarang?” tanyanya.
“Liat mata aku?”
“Bukan. Aku liat aku” jelasnya.
“Maksud kamu?”
Sky menghela napasnya dan berkata “Waktu aku ngeliat mata
kamu, aku ngeliat diri aku sendiri zie. aku harap kalo nanti aku
128
liat mata kamu lagi, yang aku liat tetap aku bukan orang lain”.
Setelah itu Sky mencium pipi Kenzie lalu tersenyum dan
berpamitan dengan Kenzie. Setelah Kenzie melihat mobil Sky
sudah keluar dari gerbang rumahnya, pipi Kenzie pun memerah
dan tersenyum lebar. Malam itu merupakan malam yang paling
tidak bisa Ia ingat. Ia juga berharap bahwa apa yang dilihat di
depan matanya tidak akan berubah. Untuk hari kedepannya, Ia
hanya ingin melihat Sky yang selalu berada di depannya. Tidak
ada hal lain yang Ia inginkan. Kenzie masuk ke dalam
kamarnya dan mengganti pakaiannya. Setelah itu Ia berbaring
diatas ranjangnya dan matanya menghadap atap kamarnya. Ia
tersenyum karena Ia masih memikirkan ketika Sky mencium
pipinya. Itu adalah kali pertama Sky melakukannya. Kenzie
juga berpikir mungkin gengsi Sky perlahan mulai menghilang.
Ia yakin jika gengsi Sky perlahan menghilang, Sky bisa dengan
mudah melakukan apa yang Ia suka tanpa merasakan adanya
beban yang menggantung di hatinya.
***
Pagi itu Sky bangun jam 7 pagi, dengan terburu-buru Ia
langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi dan setelah
mandi Ia pun memakai baju yang terlihat sederhana dan
langsung turun kebawah tanpa memakan sarapan yang sudah
129
dibuat oleh Bi Lidia. Ketika Bi Lidia melihat Sky turun dari
tangga Bi Lidia pun memberhentikan Sky.
“Tunggu. Bibi boleh ngomong sebentar sama kamu?” ujarnya.
Sky hanya terdiam dan menghampiri Bi Lidia.
“Kamu gaperlu seperti ini” ujar Bi Lidia.
“Seperti apa bi?” tanya Sky.
“Bibi tahu kok, kasian Kenzie. Jangan kasih dia harapan yang
bahkan kamu sendiri gabisa tanggung jawab, itu bukan tugas
kamu”
“Ini bukan yang aku mau. tapi ini keharusan bi, tolong ngerti,
he’s not fine”
Sky dengan tegas mengucapkan kalimatnya. Bi Lidia menatap
Sky dengan penuh kecemasan, Sky menghela napas dan
berpamitan dengan Bi Lidia.
Hari itu Sky ingin pergi ke rumah sakit untuk bertemu
seseorang. Sky tidak memberitahu siapapun termasuk Kenzie
siapa yang ingin dia temui atau apa yang akan Ia lakukan.
Dengan segera Ia menyetir mobilnya menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Sky merasa gelisah dan tidak tenang.
130
Kata-kata Bi Lidia membuatnya merasa kecewa, marah, dan
menyalahkan dirinya sendiri. Tidak ada orang yang tahu apa
yang sedang Ia rasakan. Ia mencoba untuk menyadari
pikirannya sendiri untuk tetap fokus dan menyelesaikan
masalah yang tengah Ia alami.
Sesampainya di rumah sakit, salah satu suster yang berjaga di
kasir rumah sakit pun sudah mengenali Sky. Sky memberikan
senyuman lalu suster itu pun mempersilahkan Sky untuk
menuju ruang rawat inap nomor 80. Sky berdiri di depan pintu
kamar inap tersebut dan mengetuk pintunya. Suara seorang
laki-laki pun terdengar dari dalam dan berkata “Masuk”. Laki-
laki itu masih muda, kira-kira seumur dengan Sky. Sky
membawa beberapa kantung makanan dan buah-buahan lalu
diberikan kepada laki-laki tersebut.
“Hei” sahut Sky.
“Sky..” Orang tersebut memanggil nama Sky dengan nada
lemas dan terlihat menderita penyakit berat.
“Jangan panggil gue pake nama itu”
“Kenapa? lo emang Sky kan?” orang tersebut tertawa tipis.
“Gimana keadaan lo?” tanya Sky kepada orang itu.
131
“Ya.. lo bisa liat sendiri kan? gue cuma bisa pasrah Sky.
bangun pun gue udah ngerasa susah”
Sky menarik kursi yang terletak di samping kasur rawat inap
tersebut dan Ia duduk tepat di depan laki-laki itu. Sky
menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya. Ia
menyentuh lengan laki-laki yang terbaring itu dan berkata
“Gue harap lo bisa sembuh, gue udah gatau lagi mesti gimana”
jelasnya. Laki-laki itu melihat Sky dan mencoba tersenyum
walaupun akhirnya Ia ikut meneteskan air matanya.
“Lo harus bantu gue, gue gabisa bergantung sama siapapun
kecuali lo. Please buat Kenzie bahagia”
Tangis Sky terdengar. Sambil menganggukan kepalanya, Ia
berusaha kuat dan melihat wajah laki-laki itu. Sky tersenyum
dan memegang tangan laki-laki tersebut dengan erat. Sky juga
mengatakan bahwa Ia akan menemani laki-laki itu sampai
besok pagi. Ia juga berkata kepada laki-laki itu “Gue bisa, ya
kan?”. Laki-laki yang terbaring untuk menumpukan tangannya
diatas tangan Sky dan tersenyum untuk kedua kalinya tanpa
mengeluarkan kata-kata.
*
132
BAGIAN 7.
“THE MOON IS BEAUTIFUL, ISN’T
IT?”
Hari-hari berjalan seperti biasanya. Libur tetap berjalan. Om
Alex dan Luna masih belum pulang dan melanjutkan camping
mereka untuk beberapa hari kedepan. Begitupun dengan
Kenzie dan Sky. Satu hari setelah Sky pergi ke rumah sakit,
Sky tetap mengajak Kenzie untuk menghabiskan waktu liburan
mereka bersama-sama. Setiap hari Sky selalu mengajak Kenzie
ke tempat-tempat favoritnya setiap malam. Dan setiap
malamnya, mereka selalu melihat bulan yang sama dengan
cahaya yang sama dan bentuk yang tidak berubah.
133
Sore itu sudah menunjukkan pukul 5. Kenzie yang tengah
duduk di sofa ruang tengah sembari menonton acara
kesukaannya di TV pun dikagetkan dengan suara dering
handphone yang terdengar dari meja dapur. Ia pun baru sadar
bahwa Ia lupa membawa handphone nya dan malah
menaruhnya diatas meja dapur. Kenzie menuju meja dapur
untuk mengambil handphone nya yang sedang berdering. Ia
melihat nama kontak yang meneleponnya dan tertulis nama
Om Alex dilayarnya. Kenzie mengangkat telepon tersebut dan
Ia mendapati suara Om Alex yang terlihat panik.
“H-halo?? Ken? bisa dengar suara Om?”
“Om Alex?? kenapa suara Om panik gitu? ada apa Om?”
“Luna tiba-tiba demam tinggi, muka nya juga pucet, Om masih
di tempat camping lagi nunggu jemputan karena Om harus
gendong Luna jadi Om gabisa bawa mobil sendiri”
“Hah??! Luna sakit? Jemputannya udah mau sampai om?”
“10 menit lagi Ken. Ken, Om minta tolong nanti kamu susul
Om sama Luna di Rumah Sakit Hallym ya”
“Okee Om. Om jangan putus kontak sama Kenzie ya, biar
Kenzie tau kapan mesti ke rumah sakit”
134
“Iya. Kamu hati-hati juga ya, jangan terburu-buru dan gelisah.
Om yakin Luna baik-baik aja kok”
Om Alex mengakhiri telepon tersebut dengan keadaan panik,
begitupun juga dengan Kenzie. Baru kali ini Om Alex
berbicara dengan nada yang begitu paniknya. Kenzie juga
khawatir dengan keadaan Luna. Kemungkinan terbesar Luna
bisa deman dan mukanya pucat adalah karena Ia kelelahan dan
juga cuaca diatas gunung yang sangat dingin. Sesuai dengan
perintah Om Alex, Kenzie harus menyusul mereka berdua ke
Rumah Sakit Hallym. Tetapi kala itu, Ia tidak memiliki orang
lain selain dirinya sendiri di rumah, Ia berpikir untuk
menghubungi Sky dan meminta tolong untuk menjemput dan
mengantarnya ke Rumah Sakit itu. Kenzie mencoba untuk
menelepon Sky tetapi tidak ada jawaban darinya. Ia terus
menelepon Sky sebanyak 3 kali tetapi handphone yang Sky
bawa tidak aktif. Kenzie benar-benar merasa gelisah dan panik
hari itu. Di sisi lain Ia harus menyusul Om Alex dan Luna ke
rumah sakit karena keadaan Luna yang lumayan parah, tetapi
di sisi lain, Sky juga tidak menjawab panggilan nya seakan
sedang terjadi sesuatu kepadanya.
Kenzie harus membuat prioritas pada hari itu. Ia merasa
khawatir dengan Sky tetapi keadaan Luna yang mendesak juga
135
tidak bisa Ia tunda. Daripada Ia hanya berpikir yang tidak-
tidak, ada baiknya Ia pergi ke kamar Luna dan mempersiapkan
barang-barang yang sekiranya dibutuhkan oleh Luna.
Begitupun dengan keperluan Om Alex. Kenzie memasukkan
beberapa pasang baju Luna dan Om Alex karena Ia takut jika
Luna harus di rawat inap dan mereka berdua tidak memiliki
baju ganti lainnya.
Kenzie telah selesai memasukkan segala keperluan yang
sekiranya diperlukan nanti ke dalam tas yang cukup besar.
Setelah itu Kenzie membawa tas itu ke bawah dan menaruhnya
di atas sofa. Sembari menunggu Om Alex menghubunginya,
Kenzie mencoba untuk menghubungi Sky kembali. Tetapi
beberapa kali sudah dihubungi, Sky pun tidak menjawab
telepon Kenzie.
***
Sudah 30 menit berlalu, tiba-tiba handphone Kenzie
berdering. Ketika Kenzie melihat nama kontak tersebut adalah
Om Alex, Ia langsung mengangkat telepon tersebut.
“Halo? Ken?”
136
“Iya om. ada apa?”
“Kamu ke rumah sakit sekarang ya. Tolong kamu daftarin
nama Luna di rumah sakit itu, ga lama setelah itu pasti om
sampe, okay?”
“Oke-oke, Kenzie kesana sekarang ya. Om sama Luna hati-hati
di jalan. kabarin Kenzie kalau udah sampai didepan rumah
sakit”
“Iya. Kamu juga hati-hati ya ken. jaga diri”
Kenzie mematikan panggilan tersebut dan segera membawa
tas besar itu keluar rumah. Ia memutuskan untuk berjalan kaki
sampai ke jalan raya utama. Setelah Ia sudah berada di jalan
utama. Ia memutuskan untuk mencari sebuah taxi yang akan
berhenti di pinggir jalan tersebut. Suasana jalan tersebut
sangatlah ramai sehingga sedikit sulit untuk Kenzie mencari
taxi yang bisa Ia tumpangi. Ia melirik ke kiri dan ke kanan dan
menemukan satu taxi berwarna biru yang berhenti di pinggir
jalan itu. Segera Ia berlari ke arah taxi tersebut. Ia melihat dari
depan kaca mobil dan mendapati sopir taxi tersebut sedang
melihat ke arahnya juga. Sopir taxi tersebut melambaikan
tangannya sambil mengarahkan tangannya ke kursi bagian
137
belakang taxi pertanda bahwa Kenzie di ijinkan untuk
menumpang di taxi tersebut.
“Sore pak, saya lagi buru-buru mau ke Hallym Medical Center
ya. tolong bawa mobilnya sedikit ngebut ya pak”
“Baik”
***
Perjalan yang tidak terlalu jauh pun akhirnya berhasil
ditempuh oleh Kenzie. Kenzie sudah sampai di Hallym
Medical Center dan segera pergi ke bagian administrasi untuk
mendaftarkan Luna sebagai salah satu pasien di rumah sakit
itu. Setelah Kenzie selesai mengisi form pendaftaran, tak lama
Om Alex dan Luna pun sampai. Kenzie yang melihat Luna
dalam keadaan yang lemas pun menyuruh Luna untuk duduk
dan menaruh kepalanya diatas pundak Kenzie.
“Lun.. lo kenap jadi gini sih?”
“Ya namanya sakit mana gue bisa siap zie” Luna menjelaskan
dengan nada suara yang pelan.
“Yaudah lo jangan banyak ngomong dulu, lo diem dulu aja
sampe dokter panggil nama lo”
138
Kenzie memegang tangan Luna dengan erat sedangkan Om
Alex berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan gelisah ketika
menunggu dokter yang akan memanggil Luna. Om Alex juga
terus bertanya kepada suster apakah keadaan Luna perlu
dirawat inap atau tidak. Tak lama setelah itu, Dokter
memanggil nama Luna dan menyuruh mereka bertiga untuk
masuk ke ruang dokter. Dalam ruang Dokter, Kenzie
membantu Luna untuk berbaring di kasur rumah sakit sembari
Dokter memeriksa keadaan Luna.
Ketika Dokter selesai memeriksa keadaan Luna, Ia menyuruh
Om Alex untuk duduk sehingga Dokter bisa menjelaskan apa
yang sedang Luna alami.
“Bagaimana dok keadaan anak saya, Luna?” tanya Om Alex
dengan nada yang cemas.
Dokter melihat ke arah Luna, Kenzie dan Om Alex lalu
tersenyum dan berkata “Begini pak, anak bapak baik-baik saja.
Setelah saya periksa, saya rasa Ia hanya perlu memperbanyak
waktu istirahat nya di rumah. Keadaan seperti ini muncul
dikarenakan tubuhnya yang terlalu lelah dan tidak bisa
beradaptasi dengan cuaca di suatu tempat” jelasnya.
139
Mendengar penjelasan dari Dokter, Om Alex dan Kenzie pun
merasa lega ketika tahu keadaan yang Luna alami tidak parah
ataupun berbahaya. Selain itu, Dokter pun menuliskan
beberapa resep yang harus ditebus untuk bisa dikonsumsi oleh
Luna di rumah. Dokter juga menyarankan Luna untuk tidak
beraktivitas secara berlebihan. Om Alex pun mengucapkan rasa
terima kasihnya kepada Dokter karena sudah membantunya
untuk mengecek keadaan Luna. Kenzie, Luna dan Om Alex
pun keluar dari ruang dokter tersebut. Om Alex menyuruh
Kenzie dan Luna untuk duduk di kursi rumah sakit dan
menunggunya menebus obat yang sudah Dokter berikan.
Kenzie dan Luna pun duduk di salah satu kursi rumah sakit
yang tidak jauh dari bilik penebusan obat.
“Untung aja lo ga kenapa-kenapa Lun. Gue udah panik tau ga
sih?”
“Makanya, lo jangan kebanyakan mikirin hal-hal negatif”
“Ya gimana gue ga berpikiran negatif kalo keadaan lo begini.
ada-ada aja lo Lun”
Ketika mereka sedang berbicara satu dengan yang lainnya,
tiba-tiba Om Alex menghampiri mereka dan berkata jika Ia
sudah mendapatkan obat yang diresepkan oleh Dokter itu.
140
Merek bertiga menuju ke parkiran mobil dan menyuruh Luna
untuk masuk ke mobil terlebih dahulu. Sesudah Luna masuk ke
dalam mobil, Kenzie ingin membuka pintu mobil bagian depan
tetapi tiba-tiba ketika matanya tidak sengaja melihat lobby
rumah sakit, Ia sedikit terkejut ketika melihat Sky pacarnya
berlari menuju rumah sakit tersebut. Dalam hatinya Ia berkata
“Hah? itu Sky kan? dia ngapain di sini, dia juga keliatan
panik”. Kenzie langsung memberitahu Om Alex bahwa
sepertinya dia tidak bisa ikut pulang bersama mereka.
“Om..om” sahut Kenzie
“Kenapa ken? kok kamu gajadi masuk mobil”
“Umm.. Kenzie rasa, Kenzie gabisa ikut Om sama Luna pulang
ke rumah dulu deh. Maaf banget Om tapi barusan Kenzie
ngeliat Sky masuk dan lari-lari di rumah sakit. Dan harusnya
Kenzie tadi dianter Sky ke rumah sakit ini, tapi dari pagi Sky
ga jawab telepon Kenzie” jelasnya
Om Alex yang mengerti bagaimana perasaan keponakannya
jika satu-satunya pacar yang Ia sayangi tidak memberikan
kabar ataupun menjawab teleponnya. Om Alex pun
mengangguk setuju dan memberitahu Kenzie untuk berhati-
hati.
141
“Oke. gapapa Ken. Tapi kamu hati-hati ya, kalo udah selesai,
jangan lupa kabarin Om kalo mau pulang, okay?” Om Alex
menepuk kepala Kenzie dengan lembut dan tersenyum.
“Oke Om. Om sama Luna juga hati-hati ya. Kalo nanti Kenzie
belum pulang terus Om butuh Kenzie di rumah, Om telepon
Kenzie aja nanti Kenzie pasti bakal langsung pulang”
Om Alex masuk ke mobil dan pergi dari rumah sakit itu.
Ketika Om Alex dan Luna sudah pergi, Kenzie penasaran
dengan apa yang Sky sedang lakukan. Ia terlihat sangat buru-
buru, panik, dan gelisah. Mungkin ini adalah salah satu alasan
mengapa pagi itu Sky tidak menjawab telepon dari Kenzie.
Kenzie diam-diam mengikuti kemana Sky akan pergi di rumah
sakit itu. Kenzie membuat jarak yang tidak terlalu dekat agar
Sky tidak menyadari ada Kenzie di rumah sakit itu. Kenzie
mengikuti Sky sampai Ia melihat Sky berdiri di depan kamar
rawat inap nomor 80.
“Dia ngapain ya disini? apa ada keluarganya yang sakit? atau
temennya?” Kenzie bertanya dalam hatiny.
Kenzie melihat Sky masuk ke dalam kamar rawat inap
tersebut. Ketika Sky sudah masuk, Kenzie memberanikan
dirinya untuk lebih mendekat ke kamar itu. Kenzie memastikan
142
bahwa Sky tidak tahu jika Kenzie ada di situ. Dengan perlahan
Kenzie mencoba untuk mengintip dari kaca berbentuk
lingkaran yang ada di pintu itu. Ia melihat Sky sedang
mengunjungi seseorang dan sepertinya itu laki-laki. Kenzie
tidak bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki yang terbaring
itu. Ketika Kenzie mencoba untuk memperhatikan lebih lagi,
tiba-tiba Kenzie dikagetkan dengan teriakan Sky dari dalam
ruang itu
“Sky!!!” teriaknya.
Saat itu Kenzie sangat terkejut sekaligus heran dengan apa
yang keluar dari mulut Sky. Ia berpikir mengapa Sky meneriaki
namanya sendiri. Sky juga berteriak memanggil Dokter dan
juga suster untuk segera datang ke ruangan itu. Ketika pintu
dibuka, Kenzie dengan cepat menjauh dari ruangan tersebut
dan memantau dari jauh. Sky terlihat sangat panik. Kenzie bisa
melihat Sky yang tengah menangis sambil berteriak nama
Dokter dan suster yang ada di rumah sakit itu. Suasana yang
dilihat Kenzie semakin tegang dengan adanya Dokter dan
Suster yang membawa berbagai perlengkapan masuk ke dalam
ruangan itu.
143
Karena sudah tidak bisa menahan dirinya, Kenzie berlari dan
masuk ke ruangan itu dan betapa terkejut nya dia ketika Ia
melihat laki-laki yang terbaring tak berdaya itu memiliki
bentuk wajah yang sama dengan Sky. Kedua kaki Kenzie
terasa lemas dan dengan nada yang terbata-bata Kenzie
memanggil nama Sky.
“S-sky...”
Sky yang tidak menyadari suara Kenzie disitu pun
membalikkan badannya dengan perlahan dan menunjukkan
muka yang terlihat sama terkejut nya dengan Kenzie.
“Zie...”
Kala itu Kenzie dan Sky saling bertatapan dan Kenzie melihat
kedua mata Sky yang berkaca-kaca dan memerah. Kala itu
mereka berdua layaknya patung yang tidak bisa bergerak
ataupun berkata-kata. Mereka berdua saling bertatapan sampai
akhirnya seorang Dokter berkata kepada seorang suster “Dia
sudah meninggal”. Mendengar satu kalimat yang Dokter
katakan, Sky langsung melirik Dokter dan menggelengkan
kepalanya dan seketika air mata nya pecah dan berkata dengan
anda yang tegas “Gamungkin dokter. gamungkin!!!”
144
“Maaf. tapi kami sudah melakukan apa yang terbaik” Dokter
sembari menghela napas.
Saat itu Kenzie hanya menyaksikan keadaan pilu tersebut
tanpa tahu kejelasannya. Ia hanya melihat seseorang yang
memiliki wajah yang sama dengan Sky telah meninggal begitu
saja. Kenzie pun tidak tahu apa yang harus Ia katakan.
“Mari sus. kita bawa dia ke kamar jenazah”
Beberapa Suster lainnya pun masuk ke ruangan itu dan ikut
membantu mencabut infus yang tertempel di tangan laki-laki
itu dan langsung menutup wajah dan tubuh laki-laki itu dengan
kain berwarna putih. Ketika kasur laki-laki itu mulai digeser
dan dibawa keluar, Kenzie melihat Sky berdiri tidak berdaya
sembari menunduk dan menangis. Dokter pun mendekati Sky
dan menepuk pundak Sky dengan perlahan “Maaf Sean, saya
sudah berusaha semampu saya, saya juga ganyangka bakal jadi
seperti ini”. Dokter itu pun berjalan keluar dari ruangan
tersebut.
“Sean? siapa Sean? Sky? kamu denger aku kan?”
“AKU BUKAN SKY!” Ia berbicara dengan nada tegas dan
suara yang membesar serta bergetar.
145
Seketika Kenzie terkejut dengan pernyataan yang Sky buat.
Kenzie tidak percaya apa yang Sky bicarakan.
“Engga.. kamu bercanda Sky. Kamu Sky, aku gatau siapa
Sean”
“Believe me.. I’m not Sky, Kenzie”
Kala itu, Kenzie tidak bisa berpikir jernih. Ia bingung dengan
situasi yang sedang Ia hadapi. Dia tidak mengetahui apapun. Ia
tidak mengerti apa yang sedang Ia lihat dan rasakan. Laki-laki
yang mengaku dirinya bukan Sky tetapi Sean mendakati
Kenzie dan menatap matanya. Air mata masih menetes sampai
ke pipinya.
“Okay. Look. Gue bakal jelasin..”
“Yes. You better explain all about this. Gue perlu tau”
“Denger Zie. Gue bukan Sky. nama gue Sean. gue tau ini bakal
jadi hal yang menurut lo gamasuk akal tapi lo harus percaya
sama gue. gue gak ada pilihan lain. gue cuma mau ngebantu
Sky. Lo tau Sky pernah ke Amerika kan?”
“Iya..”
146
“Dia emang janji untuk pergi ke Amerika selama seminggu dan
dia pulang ke korea. Sebenernya Sky gapernah lagi masuk ke
sekolah. Sky emang bener pergi ke Amerika selama semingu
karena...” Seketika penjelasan Sean terhenti dan Ia menunduk.
Entah mengapa, kala itu Kenzie merasa sangat gugup dan
takut ketika Sean mencoba untuk menjelaskan semuanya. Ia
tahu bahwa di depannya bukan Sky tetapi Sean.
“Karena apa?!”
Sembari mengeluarkan air mata dan berusaha menjelaskan,
Sean berkata “Mesothelioma. karna kanker Mesothelioma”
Satu kata yang terbesit di pikiran Kenzie waktu itu adalah
kata “kanker”. Seketika mata Kenzie pun berkaca-kaca dan
kaki nya terasa sangat lemas. Ia pun hanya bisa menunduk.
“Kenapa gue gatau apa-apa soal ini? Kenapa??!!! Gada satupun
yang ngasih tau gue soal ini. apa temen-temen Sky di sekolah
tahu soal ini?”
“Zie. Dengerin gue dulu. Satu-satunya alasan Sky gamau kasih
tau lo soal ini karena dia gamau ngerepotin lo, dia gamau bikin
lo sedih. Dia suruh gue untuk gantiin posisi dia. Lo gaakan
ngerti zie rasanya jadi gue dan juga Sky. Sky harus hadepin
147
penyakit seberat ini dari waktu yang cukup lama, dia juga
harus nutupin apa yang dia rasain ke orang yang paling dia
sayang. Lo zie. Cuma lo yang dia sayang. Dan lo juga gabisa
ngerasain gimana rasanya gue harus gantiin posisi kembaran
gue, gue harus dateng jauh-jauh dari Amerika kesini, dan gue
harus pura-pura jadi Sky untuk bahagiain lo. Untuk gue masuk
ke sekolah Yongsan aja udah susah, Zie”
“Dan begitu polos dan bodohnya gue ketika gue gasadar
ternyata Sky gapernah merubah warna rambut, dan betapa
kurang perhatian nya gue ketika gue sadar lo gapernah ngerasa
gengsi. Semua gelagat yang lo lakuin, semua hal yang lo suka,
dan cara lo ngomong, seketika gue sadar selama ini lo bukan
Sky.”
Air mata Kenzie pecah dan membasahi kedua pipinya yang
memerah. Kenzie tidak bisa menahan rasa kecewa, marah, dan
sedihnya. Ia hanya bisa menagis kencang tanpa sanggup
berbicara. Sean yang melihat tangisan Kenzie tiba-tiba
memeluk Kenzie dengan erat untuk menenangkannya. Tetapi
dengan keadaan Kenzie yang masih kaget, Kenzie langsung
melepas pelukan Sean dan mendorongnya.
148
“Lo bukan Sky. Gue gakenal lo siapa!!” dengan tegas Kenzie
membentak Sean.
Sean yang tidak bisa melawan Kenzie pun hanya bisa terdiam
dan menunduk. Ia juga tidak bisa memaksa Kenzie untuk mau
mengenalnya sebagai Sean. Sean mengerti bahwa Sky adalah
satu-satunya orang yang Kenzie kenal.
“Zie..”
“Jangan manggil nama gue. Lo bukan Sky! dan sekarang
jangan bilang kalo orang yang tadi...” Kenzie tidak dapat
melanjutkan kata-katanya karena setiap kali Ia mengingat nama
Sky, Ia akan menangis.
“Itu Sky”
Kenzie langsung berlari menyusul Dokter dan juga beberapa
Suster yang membawa tubuh Sky ke dalam kamar jenazah.
Ketika Kenzie berlari, Sean dengan cepat mengejar Kenzie.
Dalam benaknya saat itu, menangisi Sky bukanlah pilihan yang
tepat. Ia berjanji kepada Sky untuk menjaga Kenzie selagi dia
masih ada. Sean tidak mau mengulang keadaan yang sama. Ia
tidak mau kehilangan orang yang paling dekat dengannya.
149
Kenzie mendekati tubuh Sky dan menghalangi jalan masuk
para suster ke dalam kamar jenazah. Kenzie hanya ingin
melihat wajah Sky untuk terakhir kalinya. Ia membuka kain
putih yang menutupi wajah Sky tersebut dan menyentuh pipi
Sky. Ia juga mendekati wajahnya ke arah Sky dan berbisik.
“Kenapa? katanya kamu janji kan mau ketemu aku setelah
kamu pulang dari amerika... tapi kenapa kamu pergi sendiri
sekarang?”
“Maaf, tapi kami harus membawa jenazah ini segera masuk ke
dalam”
3 orang Suster itu pun menarik kasur rumah sakit yang
ditiduri oleh Sky. Ketika Suster-suster itu membawa Sky,
Kenzie kembali menagis dan berusaha menghalangi jalanya
kasur rumah sakit. Sean memeluk Kenzie dari belakang dan
berusaha melepaskan kedua tangan Kenzie yang masih
memegang tangan Sky.
“Sus, silahkan dibawa ke dalam aja” ujar Sean.
Suster-suster itu pun membawa tubuh Sky masuk dan
menutup pintu kamar jenazah itu.
150