Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 1
SISTEM
PENGKADERAN
& DAKWAH
HIDAYATULLAH
Tim Penulis :
Hamim Thohari
Ahmad Hanifullah
Ali Masrum Al-Mudhofar
2 | Kuliah Syahadat
___PENGANTAR ENERBIT___
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, washsolatu wassalam’ala Rasulillah wa’ala aalihi washahbihi
wamaa waalah. Buku ini diterbitkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah
sebagai panduan pelaksaan Training pada semua jenjang. Training ini merupakan
prasyarat bagi anggota Hidayatullah untuk mendapatkan kesempatan dikukuhkan
sebagai calon kader.
Buku ini pertama kali disusun pada masa kerja Dewan Eksekutif Hidayatullah,
kemudian dilanjutkan oleh Dewan Syari’ah Hidayatullah. Penyempurnaan materi
akan terus dilakukan pada penerbitan selanjutnya. Insya Allah setelah rangkaian
training untuk aktivis lama Hidayatullah tuntas, segera diterbitkan edisi revisi
secara menyeluruh, dan materi ini dinyatakan berlaku untuk umum.
Kurang lebihnya mohon maaf, semoga bermanfaat.
Wassalam.
Januari 2001, Syawal 1421
DEWAN PIMPINAN PUSAT
HIDAYATULLAH
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 3
SEKAPUR SIRIH
_________Dari Tim Penulis________
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Shalawat dan salam kepada
Rasulullah Muhammad SAW.
Setelah bekerja keras menghimpun berbagai pemikiran yang berkembang
di lingkungan “dalam” dan menyaring berbagai gagasan yang berkembang
di’luar”, akhirnya buku ini tersaji di hadapan kita. Harapannya, semoga buku ini
memberikan manfaat bagi segenap kaum muslimin.
Buku ini pada dasarnya merupakan pengembangan dan gagasan besar
Allahuyarham Al-Ustadz H Abdullah Said, yang pada intinya berupa ajakan untuk
kembali menapaktilasi perjalanan Rasulullah SAW dalam memperkenalkan
Islam dan memperjuangkannya. Sebagai uswatun hasanah, bukan saja ajaran
Rasul yang patut diteladani, tapi juga metode dan tahapan perjalanannya. Apalagi
diyakini bahwa semua tindalkan, sikap, dan ucaparinya merupakan bimbingan
langsung dan Allah SWT, yang dijamin terhindar dan salah dan dosa.
Melalui penulisan buku ini pula diharapkan semakin meningkatkan usaha-
usaha dakwah dan tarbiyah, pembmaan dan ajakan bagi umat untuk menerapkan
ajaran Islam secara kaffah. Proses pembelajaran berislam yang disajikan buku
irii didasarkan pada pendekatan nilai historis, meneladani urutan dan tahapan
perjalanan dakwah Rasulullah SAW yang dkenal dengan Sistematika Wahyu atau
Sistematika Nuzulnya Wahyu.
Buku Panduan Berislam ini terdiri dari enam paket, merupakan sautu
rangkaian yang integral dan berurutan. Sistematikanya disesuaikan dengan
urutan nuzulnya wahyu-wahyu pertama Al-Qur’an.
Tim penulis menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada semua pihak
4 | Kuliah Syahadat
yang terlibat dalam penyusunan buku ini. Khususnya kepada para penggagas
dan pendiri Hidayatullah atas segala arahan dan bimbingannya. Kepada Peserta
Lokakarya Instruktur Nasional, terima kasih atas urun rembuknya menggodok
kerangka gagasan naskah buku ini. Dan kepada semua pihak yang tidak kami
sebutkan satu-persatu, semoga amal baiknya mendapat pahala dan Allah SWT.
Sebagai sebuah langkah awal, tentu penulisan buku ini masih banyak
kekurangannya. Karenanya, saran dan masukan sangat kami harapkan untuk
menyempurnakan isi buku ini pada penerbitan selanjutnya.
Akhirnya, kepada Allah kita berserah din dan memohon bimbingan-Nya,
semoga buku ini memberi manfaat yang sebesar-besarnya.
Januari 2001, Syawal 1421
Tim Penulis
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 5
BAB 1
PENDAHULUAN
Gerakan dakwah yang manhaj-nya benar selalu berkembang mencapai
tahap-tahap yang lebih maju. Sejalan dengan itu konsep kaderisasi mujahid
dakwah juga mengalami penyesuaian. Kalau sebelumnya Hidayatullah
mengandalkan kaderisasi alamiah, kini semakin terasa kebutuhan akan konsep
tang tertulis yang bisa disepakati bersama. Sebuah konsep dengan perencanaan
dan program yang terarah.
Mujahadah untuk mengembangkan konsep pengkaderan ini dilakukan di
semua bidang dan tingkatan. Usaha-usaha memperkaya referensi juga dilakukan
demi mendapatkan konsep yang lebih efektif mengenai sasaran dakwah. Berbagai
pertemuan internal dilakukan untuk membangun kesepakatan, konsolidasi
wawasan, penyamaan visi, memperkuat komitmen, serta gerak langkah.
“Pola Pengkaderan Hidayatullah” yang disusun oleh Tim Pekerja Dewan
Syaria’ah ini diharpkan dapat memenuhi tuntutan konsepsional di atas tadi.
Sifat utama konsepsi ini adalah umum dan mendasar. Inisiatif para pemimoin
lokal diharapkan untuk mengembangkan aplikasinya sesuai keadaan di medan
dakwahnya masing-masing. Berbagai penyesuaian itu hendaknya dilakukan
dengan hikmah, sesuai yang digariskan Allah SWT:
“Serulah manusia kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang
6 | Kuliah Syahadat
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah
yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (an-Nahl[16]:125).
Semangat utama konsep ini adalah cita-cita hidup bersama Al-Qur’an. Caranya
dengan meniadakan jarak antara umat Islam dan Al Qur’an. Sebagaimana telah
disadari bersama bahwa penyebab mendasar dari suramnya ‘izzul Islam wal-
muslimin adalah jauhnya umat islam dari kitab sucinya. Konsep ini mengurangi
sebanyak mungkin interprestasi, penafsiran, atau analogi-analogi akal. Maksudnya
agar proses meresapnya wahyu Allah ke dalam pribadi-pribadi umat Islam terjadi
secara lebih murni.
Kaderisasi merupakan bagian penting dari gerakan dakwah. Karenanya “Pola
Pengkaderan” ini juga berkait langsung dengan perkara-perkara pokok dalam
dakwah. Sehingga pada bagian pertama pedoman pengkaderan ini dikemukakan
latar belakang, pengertian kaderisasi, tujuan kaderisasi, urgensi perkaderan
dan sejarah kaderisasi lembaga ini. Bagian kedua penjelasan tentang “Sistem
Pengkaderan”. Bagian akhir yang tak kurang pentingnya adalah “Garis-garis Besar
Dakwah”.
A. LATAR BELAKANG
Kemuliaan manusia terletak pada perannya membawa risalah Allah. Hidup
membawa risalah itu maupun mati dalam mengemban amanah itu sama-sama
meraih kemuliaan sejati. Tidak ada Islam di tengah sebuah umat tanpa kerja keras
para rasul. Para rasul ini semuanya pemimpin yang merupakan bagian inti dari
umatnya. Istilah populernya disebut kader.
Kemuliaan membawa missi kerasulan itu disebutkan Allah SWT untuk
dimenangkan atas sekalian faham ideologi yang lain.
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuj (Al-
Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama,
walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (At-Taubah[9]:33).
Sebaliknya di setiap zaman, selalu ada arus yang berlawanan dengan risalah itu.
Missi utamanya membatalkan risalah Islam, memutarbalikkan fakta, menuduh a
historis, dan berusaha terus untum memadamkan cahayanya. Risalah kenabian
adalah missi untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Sedangkan lawannya selalu berusaha menyesatkan manusia dari cahaya menuju
kegelapan.
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka
dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang
kafir,pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari
cahaya kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal
di dalamnya.” (Al Baqarah [2]:257)
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 7
Perjalanan risalah kenabian akan terus berlangsung sejak Nabi Adam ‘Alahis
salam hingga Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa salam. Generasi kader selanjutnya
adalah hamba-hamba Allah yg mukhlasin dari zaman ke zaman. Perjalanan
risalah kenabian tidak akan berkelanjutan tanpa adanya pengkaderan. Rasulullah
SAW sendiri langsung dibina Allah SWT sebagaimana beliau menyatakan:
“Addabaniy Rabbiy fa Ahsana ta’diibiy (Rabbiku yang mendidikku, maka Dia
menjadikan padaku sebaik-baik sifat beradab).”
Sebaik-baik sifat beradab pada diri manusia itu adalah yang datang dari Allah.
Itulah Al-Qur’an, sebagaimana dikemukakan Ibnu Mas’ud:
“Tidak ada kaderisasi itu kecuali orangnya menjadi senang dapat mendatangkan
keberadabannya. Dan sesungguhnya keberadaban dari Allah adalah Al-Qur’an.”
(Riwayat Imam Ad-Darimy, Hadist no 3187)
Pengkaderan merupakan kegiatan ini dari gerakan dakwah. Pola pengkaderan
yang tidak sistematia dan tidak terencana dengan baik akan mengurangi efektivitas
dakwah Amanah suci risalah kenabian taka akan bisa diemban secara memadai.
Usaha mengikuti jejak Rasulullah SAW dan rasul-rasul sebelumnya juga menjadi
tidak sempurna.
Proses pengakaderan yang tidak sistematis juga berakibat penampilan
ajaran Islam yang sepotong-sepotong (tidak kaaffah). Misalnya, Islam adalah
ajaran perdamaian, tetapi Islam ditampilkan sebagai ajaran agama yang bersifat
pribadi, terpisah dari urusan politik, ekonomi, dan kenegaraan. Hasilnya,
‘Islam’ tak berdaya menghadapi berbagai citra buruk yang diklaimkan musuh-
musuhnya. Dikatakan bahwa ‘Islam’ itu a historis dan biadab. Apabila syaria’at
dan keterbelakangan serta penyebab pecahnya persatuan dan kesatuan.
Salah satu kelemahan umat Islam yang penting direnungkan adalah dalam
membangun jaringan yang kuat antar gerakan dakwah. Selain itu mutu kader-
kader mujahid dakwah juga masih belum memadai, baik dalam hal militansi,
keilmuan, kreativitas, dedikasi, dan keistiqamahan. Padahal di hadapan mereka
terbentang usaha berskala global yang terus-menerus mendekonstruksi
kehidupan yang dicita-citakan islam.
Allah sudah berjanji akan menjayakan dien Al-haqq atas sekalian faham lain
di muka bumi ini. Terserah kepada kita, apakah mau menjadi bagian dari proses
tampilnya keunggulan Islam, atau hanya sekedar jadi penonton. Mujahadah yang
sungguh-sungguh diperlukan untuk itu, termasuk dalam hal mendesain format
pengkaderan yang paling efektif.
Pengkaderan merupakan proses yang berlangsung dari generasi ke generasi.
Hanya Allah yang menentukan kapan akan berakhirnya. Bagi setiap gerakan
dakwah, proses pengkaderan semata-mata merupakan usaha menyambung mata
rantai perjuangan para rasul. Missi utama pengkaderan adalah missi dakwah
itu sendiri. Bila dewasa ini risalah kebenaran Islam masih tenggelam di tengah
8 | Kuliah Syahadat
kebesaran semu peradab-peradaban jahiliyah, maka missi utama pengkaderan
ialah menghasilkan figur-figur tangguh yang hidup dan tampil dengan pakaian
Islam di berbagai bidang kehidupan.
Sebagaimana Islam hadir mengakhiri dominasi kabilah-kabilah Yahudi di
Yatsrib (yang kemudian menjadi Madinah).
B. PENGERTIAN PENGKADERAN
Kader artinya bagian kecil permanen yang terlatih dari kalangan pekerja,
prajurit dan sebagaimana yang dapat diperluas pada saat diperlukan. Dalam
bahasa Prancis cadre berarti elite, kelompok personil yang terbaik, yang terpilih
secara pemranen karena terlatih. Mereka menjadi inti kekuatan dan tulang
punggung konsolidasi organisasi. Mereka menggerakkan kelompok yang lebih
besar dengan keahlian dan kualitasnya.
Pengkaderan berarti proses terus-menerus meningkatkan kualitas personil
membawa missi perjuangan pada setiap posisi dan momentum yang dilaksanakan
secara sistematis untuk penguasaan pengetahuan, keahlian, kualitas rohani, dan
transformasi nilai-nilai.
Akan halnya di Hidayatullah,setiap orang merupakan obyek sekaligus subyek
proses pengkaderan. Masa pengkaderan juga tidak dibatasi oleh usia. Baik mereka
yang ada dalam struktur kepemimpinan di semua tingkatan maupun warga biasa
sama-sama akan terus berproses dalam pengkaderan yang sistematis. Sistematis
di sini bermakna terencana, terprogram, dan terorganisir ke arah yang sesuai
dengan tata cara Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, yang merupakan sistem
yang utuh dan meyeluruh.
Hidayatullah telah menyepakati sebuah ijtihad bahwa Sistematika (Nuzulnya)
Wahyu merupakan landasan utama pengkaderan yang dilakukan Rasulullah atas
para sahabatnya (generasi pertama mujahid dakwah). Pegangan utamanya ialah
kalimat tauhid yang lahir melalui proses perenungan mendalam yang diantarkan
ayat-ayat pertama surat Al-’Alaq.
Idealismenya adalah kesadaran dari ayat-ayat di surat Al-Qalam, yaitu
menenangkan jalan hidup ber-Qur’an. Idealisme ini juga dilengkapi pemahaman
yang cukup pada sifat-sifat dan tingkah laku berbagai faham/ideologi lainnya.
Kepekaan instrumen rohaninya diaktifkan, dilatih dan dibina dengan surat Al-
Muzzammil.
Ketiga bekal utama itulah yang akan dipakai membangun sebuah kekuatan
jaringan. Dituntun oleh ayat-ayat pertama surat Al-Muddatstsir, jaringan kokoh
ini memiliki keunggulan dalam hal penguasaan pengetahuan, keahlian, kualitas
rohani, dan transformasi nilai. Sesudahnya, barulah sebuah missi jangka panjang
dimulai, yakni mewujudkan kehidupan yang utuh dan menyeluruh. Langkah itu
dimulai dengan rambu-rambu utamanya dalam surat Al-Fatihah, Fatihatul-Kitab.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 9
missi selanjutnya ialah meng-Qur’an-kan seluruh tata kehidupan semsesta.
Proses pengkaderan di atas akan menjamin tercapainya dua kondisi:
1. Pengkaderan merupakan sebuah proses yang terus-menerus berlangsung,
hingga Allah sendiri yang akan menentukan batas akhirnya.
2. Para kader tidak akan kehilangan orientasi di tengah perjalanan, karena pada
tataran operasional setiap kader akan terbawa dalam jenjang-jenjang tugas dan
tanggungjawab serta wewenang dalam struktur organisasi, juga akan mengikuti
pola gerak maju yang sistematis untuk mewujudkan cita-cita.
C. TUJUAN PENGKADERAN
Tujuan pengakderan dalam pengertian ini adalah:
Melahirkan mujahid dakwah yang lahir dari ta’dib yang diwahyukan Allah
SWT, yang menjadi bagian dari kekuatan menegakkan tata kehidupan dunia
yang diridhai Allah SWT (seperti yang diamanahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah)
sampai Islam menjadi nilai yang dominan terhadap seluruh aspek kehidupan
umat manusia di seluruh dunia secara kaffah.
Tujuan pengkaderan meliputi :
1. Menyelamatkan umat dari krisis kader, pembawa pelita yang memberi
cahaya kebenaran. Krisis kader yang dimaksudkan adalah sebagaimana yang
diprihatinkan oleh Nabi Zakaria As dalam munajatnya kepada Allah :
“(Ingatlah ketika Zakaria menyeru kepada Rabbinya dengan seruan yang
lembut. Zakaria berkata : ‘Ya Rabbiku, sesungguhnya telah lemah tulangku dan
telah penuh uban di kepalaku, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada
Engkau ya Rabbiku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawali (pewaris)
di belakangku padahal isteriku mandul, maka berilah aku keturunan seorang
pewaris (anak laki-laki) dari-Mu. Yang akan mewarisiku dan mewarisi keluarga
Ya’qub dan jadikanlah dia ya Rabbiku seorang yang diridhai.” (Maryam[19]:3-6)
2. Agar ta’dib sebagaimana yang diwahyukan Allah SWT terus berlangsung,
tanpa perlu banyak dibiaskan oleh kreasi manusia. Pengkaderan harus merupakan
proses ilahiyah. Daya kreasi manusia adalah mujahadah melaksanakannya.
Sebagaimana mujahadah Nabi Ibrahim As yang menyelesaikan ujian demi
ujian dari Allah SWT dengan sempurna sebagai ta’dib ilahiah. Pengkaderan yang
dilakukannya menghasilkan kader-kader tangguh Isma’il As dan Ishaq As :
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Rabbinya dengan beberapa kalimat
(perintah dan larangan), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan sempurna. Allah
berfirman : ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia.’
Ibrahim berkata (berdo’a), “Dan dari ketutunanku (juga)!” Allah berfirman:
“Janjiku (ini) tidak diperoleh orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah[2]:124).
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku Ismail dan
10 | Kuliah Syahadat
Ishaq di hari tuaku. Sesungguhnya Rabbiku Maha Mendengar (Memperkenankan)
do’a.” (Ibraahiim[14]: 39).
3. Lahirnya pemimpin yang bersifat kerasulan dan khalifah, yang memiliki
prestasi sejarah sebagai amal terbaik hamba-hamba Allah yang mukhlasin. Tujuan
ini akan menghindarkan umat dari kebekuan (jumud), fanatik pada golongan,
lembaga, atau bangsa (ashabiyah). Sebab kader mujahid dakwah yang akan lahir
menjadikan islam sebagai amanah yang harus disampaikan ke semua manusia
dan ke seluruh alam.
4. Melaksanakan dan menyebarluaskan ajaran Islam secara kaffah, yang
meliputi keunggulan-keunggulan yang tak dimiliki ajaran agama dan faham
ideologi lain. Sebagaimana yang diperingatkan Allah SWT:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya menunggalkan
keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (nasib)
mereka, maka hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengatakan perkataan yang benar.” (An-Nisaa’[4]: 9).
D.URGENSI PENGKADERAN
1. Sebagai organisasi massa, untuk menjaga kelangsungan khiththah dan
keistiqamahan missi maka penting sekali melahirkan bagian kecil yang paling
terlatih dari seluruh elemen organisasi.
2. Sebagai gerakan missi, untuk memenuhi kebutuhan kader-kader berkualitas
yang unggul di semua bidang yang hendak dirambahi oleh missi gerakan.
3.Sebagai Harakah al-Jihadiyah al-Islamiyah, untuk melahirkan kader-kader
yang memiliki karakter dasar-dasar ideologi dan amaliyah Islam yang tangguh,
dan siap menempuh risiko apapun sebagai konsekuensi amanah yang diemban.
4. Sebagai gerakan yang menyakini Sistematika Nuzulnya Wahyu, untuk
melahirkan kader-kader yang hidup, bergerak, terdidik, berakhlaq, tumbuh dan
berjuang dengan al-Qur’an, serta mampu menghilangkan jarak antara umat Islam
dengan kitab sucinya itu sampai menjadi bagian yang dominan dalam kehidupan
mereka.
5. Sebagai gerakan dakwah, untuk memenuhi kebutuhan akan penggerak-
penggerak dakwah yang kreatif dan profesional, sebagaimana kader-kadet
pertama Rasulullah Saw yang profrsional di bidangnya masing-masing dengan
tingkat kepeloporan dan kreativitas yang tak tertandingi oleh kader-kader ideologi
lain, sehingga kurun waktu para sahabat itu di sebut sebagai sebaik-baik kurun.
6. Sebagai bagian dari umat islam, untuk melahirkan kader-kader pemimpin
di dalam struktur umat yang jangka waktunya antar generasi sehingga persoalan
krisis kepemimpinan bisa dihindari sedini mungkin.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 11
E. SEJARAH KADERISASI HIDAYATULLAH
Pengkaderan yang membawa missi risalah telah berlangsung terus menerus
dengan cara allah mengutus rasul yang satu ke rasul yang berikutnya. Bahkan
setelah rasul terakhirpun Allah Swt membangkitkan kader-kader yang lahir dalam
sejarah dari kalangan hamba-hamba-NYA yang shahih sehingga kenyataannya
cahaya Allah tak pernah padam.
Sejak semula Hidayatullah lahir dan terus berproses dengan semangat untuk
melahirkan kader-kader mujahid dakwah, dalam rangka meneruskan risalah
kenabian. Karenanya sejarah pengkaderan di lembaga ini hanya merupakan bagian
dari rangkaian perjalanan mujahadah melanjutkan cahaya Allah. Allahyarhan
Ustadz Abdullah Said sebagai perintis dan pendiri lembaga ini memang memulai
lembaga ini dengan langkah pertama mencetak kader-kader dakwah.
F. AKTIVITAS PENGKADERAN USTADZ ABDULLAH SAID
Sejak masih remaja keinginan untuk melakukan pengkaderan selalu
memenuhi benaknya. Terutama setelah terjun menggeluti dakwah, Ustadz
Abdullah Said sangat menyadari kurangnya kader-kader dakwah; mubaligh-
mubaligh yang dapat menangani dakwah ini secara berkelanjutan dan
bertanggung jawab.
Itulah sebabnya keterlibatan dalam organisasi-organisasi kader pelajar,
mahasiswa dan dakwah dalam gerakan islam dimanfaatkannya untuk melakukan
pelatihan-pelatihan dakwah, kursus-kursus dan pelatihan-pelatihan calon-calon
mubaligh. Ini dilakukan tidak lain adalah untuk mencari bibit-bibit kader guna
seterusnya dapat diorbitkan menjadi kader dakwah.
Di Muhammadiyah, tempat ia aktif berkecimpung semasa remaja,
Almarhum selalu memfokuskan kegiatannya pada dakwah dan pengkaderan.
Yang melatarbelakangi pemikirannya untuk terus berupaya membibitkan
kader-kader muballigh adalah karena melihat kenyataan bahwa muballigh yang
siap terjun sangatlah tidak memadai dibanding tuntutan masyarakat untuk
mendapatkan bimbingan dan tuntunan untuk dapat memahami agamanya lebih
sempurna. Padahal sudah dapat dipastikan bahwa tidak mungkin umat islam
dapat berkembang maju tanpa didukung oleh barisan muballigh dengan jumlah
besar.
Seharusnya tenaga-tenaga lulusan pendidikan agama, merekalah yang terjun
ke bidang ini. Tetapi tidak demikian kenyataannya. Dimasa Ustadz Abdullah Said
remaja, mereka pada umumnya sangat tidak tertarik dengan tugas yang memang
memerlukan dedikasi yang tidak tanggung-tanggung ini. Pada umumnya mereka
semata-mata mengejar status kepegawaian.
Pemikiran seperti itu muncul sejak remaja. Masa-masa penting itu dilalui
almarhum dengan cara yang berbeda dengan kebanyakan remaja lainnya. Dalam
usia 12 tahun ia sudah membawakan khutbah di masjid yang cukup ternama
12 | Kuliah Syahadat
waktu itu di Makassar, setelah mesjid raya, yakni Ta’mirul Masjid. Waktu itu dia
juga sudah aktif berkeliling ke masjid-masjid membawakan khutbah, ceramah
dan pengajian-pengajian.
G. PENGKADERAN PEMUDA MUHAMMADIYAH
Setelah berkecimpung dalam organisasi pemuda di bidang dakwah di tingkat
wilayah sulawesi selatan dan tenggara ( Sulselra ), ia berfikir lebih intensif lagi
mengenai pengkaderan. Apalagi bidang yang di amanah kan kepadanya sangat
relevan yakni Biro Dakwah sehingga bersama kawan-kawan yang seide dengannya
di jajaran Biro Dakwah tidak henti-hentinya membuat program pengkaderan
khususnya di kalangan pemuda, bahkan tidak terkecuali menjadi incarannya
adalah karyawan-karyawan perusahaan.
Seperti yang dilakukannya terhadap karyawan dan manajer-manajer Pt. Aneka
Tambang Unit Pertambangan Nikel Pomalaa Sulawesi Tenggara pada tahun 1976.
Setelah berulang kali memberikan ceramah di perusahan itu, diajaknya pengurus
masjid dan pengelola dakwah perusahaan yang bekerja sama dengan jepang itu,
untuk mengadakan kursus muballigh. Pengurus sangat tertarik dengan ajakan itu
sehingga langsung disetujui dan dipersiapkan segala sesuatunya untuk dimulai.
Satu bulan lamanya Ustadz Abdullah Said, yang waktu itu masih dikenal
dengan nama Muhsin Kahar, membimbing dengan tekun kursus tersebut.
Hasilnya, sesudah itu perusahaan yang biasanya mendatangkan muballigh dari
makassar dan jakarta dan dari kota terdekat seperti Kolaka sudah sedikit teratasi
dengan muballigh-muballigh lulusan kursus yang dibinanya, dari kalangan
karyawan sendiri.
Di tahun yang sama, Ustadz Abdullah Said yang waktu itu masih bujangan dan
sangat kutu buku, menaruh perhatian sangat besar pada buku yang ditulis ulama
besar KH Mas Mansur berjudul Rangkain Mutu Manikam. Di dalam buku itu
terdapat cerita pengalamannya ketika berkunjung ke sebuah tempat pengkaderan
di tengah-tengah benua afrika di sebalah selatan kota Tripoli, ibu kota Lybia.
Tempat yang dari kairo, ibukota Mesir di mana KH Mas Mansur belajar itu harus
ditempuh dengan perjalanan onta enam hari enam malam lebih 3,5 jam. Nama
desanya Syanggit. Terdapat sebuah sungai yang melintas desa itu dengan dipenuhi
tanaman-tanaman kurma dan tin, ada juga ladang gandum, juga terdapat 100
ekor sapi dan 250 ekor kambing. Penghuninya terdiri dari 5000 orang santri. Di
tempat itu di mengkaji kitab-kitab, belajar bahasa juga ada latihan perang-perang.
Dari “Pesantren” yang dipimpin oleh seorang Syaikh bernama Sidi Abdullah
sudah cukup banyak ulama dan zu’ama yang ditelorkan yang tersebar ke seluruh
penjuru dunia.
Lantas, Ustadz Abdullah Said mengajak kawan-kawan seide dan seperasaannya
untuk mendirikan sebuah komplek pengkaderan seperti itu. Ide tersebut akhirnya
disetujui setelah beberapa kali di musyawarahkan.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 13
Sejak keputusan itu keluar, yakni pada bulan april 1967, sejak itu pula dimulai
perjalanan berkeliling wilayah Sulselra mencari lokasi yang memungkinkan
digunakan untuk maksud tersebut. Akhirnya tempat itu ditemukan di daerah
Kabupaten Bone, yakni di kecamatan Cina. Ini atas jasa baik seseorang yang
bernama Khalik Hayat menunjukan tempat tersebut.
Menurut rencana di tempat tersebut akan dikumpulkan pemuda-pemuda yang
didatangkan dari daerah-daerah Sulsera bahkan dari daerah-daerah lain yang
berminat. Untuk tenaga pengajar dan pembimbing akan dimintakan kesediaan
tokoh-tokoh dakwah seperti Ustadz Hajib Abdul Djabbar Asyiri, Ustadz Haji
Ahmad Marzuki Hasan, Ustadz Haji Fathul Muin Daeng Maggading, DR S
Madjidy dan lain-lain. Tenaga-tenaga tersebut secara penuh waktu akan mengajar
di tempat tersebut.
Tempat ini akan dihuni bukan hanya pemuda-pemuda lajang tapi juga anggota-
anggota yang berumah tangga, sehingga di samping kegiatan belajar-belajar juga
ada kesempatan melakukan kegiatan sampingan yakni berkebun, berternak
unggas, kambing dan sapi atau kegiatan-kegiatan rekreatif yang produktif lainnya
di atas tanah yang telah tersedia. Diharapkan kelak tempat ini akan menjadi
perkampungan yang hidup dan menggairahkan. Juga sudah barang tentu syari’at
Islam secara aman dapat dilaksanakan seperti busana, pergaulan, pernikahan,
perekonomian secara Islami dan berbagai aspek lainnya.
Yang tak kalah menggairahkan adalah semangat dan kesediaan memberikan
dukungan dari orang-orang tua berilmu yang bersedia menghabiskan usia tuanya
di tempat yanh dimaksudkan ini. Dalam pandangan beliau-beliau saat ini, kalau
tidak diadakan pengkaderan yang intensif seperti yang direncanakan itu, kader-
kader islam itu bakal mandeg. Terobosan ini juga diharapkan menjadi langkah
awal yang paling serius dalam rangka membangun satu kehidupan baru yang
bersih dari polusi budaya jahiliyah.
Rupanya, cita-cita yang indah itun tak sesuai taqdir Allah Swt. Namun
demikian, muhsin Kahar bersama kawan-kawan yang merencanakan pengkaderan
ini tidak putus asa, walaupun besar juga pukulan mental bagi anak-anak muda
ini. Program pengkaderan tetap diteruskan walaupun dalam bentuk tidak seperti
yang direncanakan semula. Wujudnya berbentuk kursus, yakni kursus Muballigh,
diadakan bukan lagi di Kabupaten Bone tapi di Kotamadya Makassar, yakni di
Malimongan Baru yang disingkat Mimbar. Kursus tersebut untuk tahap awal
diselenggarakan selama enam bulan dan akan dilanjutkan dengan tahapan-
tahapan selanjutnya.
Untuk penyelengaraan kursus ini, tidak dapat dilupakan jasa-jasa para aktivis
dakwah, seperti Lukmanul Hakim ( kakak kandung Ustadz Muhsin Kahar, kini
pensiunan kejaksaan tinggi ), Ibu Shafiyah bersama suami, Pak Nasrun, Ibu
Ni’mah Said, Nurdin Rahman,SH ( Rektor Universitas Muhammadiyah, palu),
Drs Harun, Andi Ahmad Rahman sekeluarga, petta Timang sekeluarga,Hafidz
14 | Kuliah Syahadat
Noor, dan lain-lain.
Kurang lebih 40 orang calon-calon muballigh dari seluruh Sulselra ditampung
selama enam bulan. Pemberi materi utama pada kursus itu di samping Ustadz
Muhsin Kahar adalah KH Ahmad Marzuki Hasan, ulama hafidz al-Qur’an dan
ahli tafsir. Hasilnya sesuai pembinaan itu mereka tersebar di seluruh Sulselra
menjadi muballigh-muballigh yang dikenal oleh masyarakatnya. Mereka juga
tidak melupakan kewajiban yang dibebankan kepadanya yaknk disamping
kegiatan berdakwah juga membina kader-kader di daerahnya di samping juga
aktif memimpin organisasi.
H. MELANJUTKAN PENGKADERAN
Setelah berhijrah ke balikpapan, Kalimantan Timur (1969) Muhsin Kahar
yang nama barunya Abdullah Said segera memulai lagi kegiatan dakwah dan
pengkaderan. Dalam waktu relatif singkat ia dikenal luas terutama di kalangan
generasi muda yang aktif dalam organisasi dakwah di kota Minyak yang sedang
berkembang pesat itu. Walhasil, dalam waktu sebulan, sebuah kursus Muballigh
baru siap dirancang.
Perserta kursus kelak sebagian besar menjadi santri-santri awal di Pesantren
Hidayatullah, antara lain : Amin Bahrun, Manandring AG, Muhammad Hasan
Suraji, Muahammad Yusuf Suraji, Zainuddin Mukhtar, Dahniyal Mukhtar, Abdul
Hamid, Syahrul Edy, Suparno, Jamadi, Nabiyan Syah, Nasrullah, Nurdin, Hamsiah
Mukhtar, Ni’mah Mukhtar dan Rusmini.
Kursus ini hanya ditangani selama dua bulan tapi dilanjutkan oleh salah
seorang muballigh dari makssar yang dikenal dengan nama Tommy Thompson,
nama sebenarnya adalah Sanusi Abdullah karena waktu itu ada kasus sementara
harus diselesaikan nama pada akhir kursus sempat pula Ustadz Abdullah Said
mengisi kembali.
Pada tahun 1971, diadakan Training Center (TC) Pemuda yang mengambil
tempat di Gunung Kawi, diadakan selama seminggu memanfaatkan waktu
liburan sekolah. TC ini melibatkan antara lain : M Hasan Suraji, Suparno, Abduln
Halim, Sudiono AR, Amin Mahmud P, Sarbini Nasir, Noor Karima Enta, Makmur
SK dan Abdul Karim,SH.
Pada tahun berikutnya, 1972 diadakan lagi Training Center yang dikenal
dengan nama TC II. TC ini melibatkan antara lain : Soewardhany Soekarno,
Abduln Madjid Aziz, Imam, Wiji, Kustam Aji, Hasanah Luqman, Nurbeity.
Peserta TC I bertindak sebagai panitia pelaksana.
Untuk memelihara hasil TC dan untuk mengupayakan penggalangan lebih
lanjut orang-orang yang telah mengikuti kursus dan Training Center, Ustadz
Abdullah Said mengadakan pengajian setiap hari ahad yang disebutnya up-
grading mental. Pesertanya diutamakan mantan-mantan peserta kursus dan
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 15
peserta TC tapi tidak juga tertutup untuk siapa saja yang ingin mengikuti.
Pengajian mingguan ini mulai ramai pengikutnya, maklum di Balikpapan
pengajian seperti itu waktu itu masih langka kalau tidak dapat dikatakan belum
ada. Dalam pada itu, Ustadz Abdullah Said merencanakan keberangkatan ke
kuwait untuk melakukan pendidikan. Jalur ke Kuwait diperoleh dari kawan lama
yang sama-sama sependeritaan di Kali Baru, Tanjung Priok yakni Ustadz As’ad
El-Hafidy, mantan mahasiswa Kuwait seorang keturunan arab dari bulukumba,
sulawesi selatan. Sebenarnya cukup berat masyarakat Balikpapan melepasnya,
tetapi karena dengan alasan peningkatan kualitas, sehingga dapat dimaklumi.
Beberapa murid binaanya telah berancang-ancang mencari tempat
pemondokan yang di anggap sesuai dengan pelajaran-pelajaran yang telah
diperolehnya. Seperti M Hasan Suraji, misalnya merencanakan melanjutkan
pelajarannya ke pesantren Darul Istiqamah, di sulawesi selatan. Demikian pula
halnya yang lain semua telah punya rencana untuk melanjutkan pelajaran dengan
catatan setelah Ustadz Abdullah Said kembali dari kuwait barulah berkumpul
kembali.
Namun hanya satu bulan berselang, Ustadz Abdullah Said kembali muncul
lagi di balikpapan. Pasalnya, ada “ orang tua “ yang menyarankan tidak perlu
ke kuwait, lebih tepat kembali saja ke kalimantan. Setelah menjelaskan bahwa
maksudnya ke kuwait untuk belajar bahasa arab dan mendalami Al-Qur’an, orang
tua itu mengatakan, “ Bukankah al-Qur’an yabg dipelajari di kuwait itu juga yang
dipelajari disini amalkanlah ilmumu yang telah ada, nanti akan berkembang
sendiri.” Masih menurut “orang tua” tadi, orang-orang Kalimantan sangat
mendesak sekarang ini untuk dibina.”Siapa yang berdosa kalau nanti menunggu
pintarnya baru beramal” katanya lagi, “Insya Allah, Allah akan menolong
menambah ilmumu kalau ilmu itu diamalkan.”
Hingga akhir hayatnya nama “orang tua” itu tak pernah disebutkan. Namun
bagi ustadz Abdullah Said nasihat itu mengena sekali. Akhirnya ia memutuskan
untuk kembali berbakti di Balikpapan, kendatipun cukup disadari bahwa ilmunya
sangatlah minim, terutama di bidang bahasa dan kemampuan membaca kitab-
kitab.
Alangkah gembiranya murid-murid yang ditinggalkannya setelah menyaksikan
gurunya hadir kembali di Balikpapan, apalagi datang dengan program yang lebih
matang yakni persiapan mendirikan Pondok Pesantren. Lima orang tenaga guru
diikutsertakan: Ustadz Usman Palese, berlatar belakang pendidikan Pesantren
Persis Bangil, Ustadz A Hasan Ibrahim, kelurahan Pondok Pesantren Krapyak
Yogyakarta,Ustadz Hasyim HS, keluaran Pondok Modern Gontor, Ustadz Nazir
Hasan dan Ustadz Kisman dari Akademi Tarjih Muhammadiyah. Kelima ustadz
muda itu langsung berhenti dari tempat belajarnya masing-masing sesudah
mendengarkan pemaparan cita-cita dari Ustadz Abdullah Said. Mereka siap
mengajarkan pelajaran-pelajaran penting mulai daru bahasa Inggris, Bahasa Arab
16 | Kuliah Syahadat
samlai pelajaran Tajwid. Kelima ustadz ini masih berstatus bujang, sehingga tidak
terlalu sulit mengurus keperluannya sehari-hari.
Memang sejak “orang tua” tersebut menasihati untuk kembali ke Balikpapan,
langsung terbayang wajah murid-muridnya yang setia, anggota-anggota pengajian
yang selalu menanti kehadirannya di Masjid, karyawan - karyawan dan Manajer
Pertamina yang selalu setia mengikuti pengajian rutin dari rumah ke rumah
secara bergilir, juga wajah ibu-ibu yang sangat haus dengan pembinaan. Karena
memang hati kecilnya selalu berkata bahwa pembinaan memang penting dan
sangat penting.
Sejak kembali ke Balikpapan dan merencanakan pendirian pesantren, tiada
hari tanpa perbincangan dan konsultasi dengan orang-orang yang dianggap
berkompeten, terutama dengan Ustadz Amin Bahrun yang dianggap sudah cukup
dewasa untuk diajak bicara dalam hal-hal yang prinsip dan urgen.
Mulailah melakukan kegiatan sebagai cikal bakal Pesantren yang diberi nama
Pesantren Pangeran Hidayatullah. Untuk langkah awal dipromosikan adanya
Kursus Bahasa Inggris dan Bahasa Arab serta Kursus Mubaligh. Santri-santri
awalnya adalah: 1. Amin Bahrun 2. Hasan Suraji 3. Yusuf Suraji 4. Sudiono AR 5.
Sarbini Nasir 6. Abdul Halim 7. Amin Mahmud P 8. Abdul Qadir Jailani 9. Usman
Asy’ari 10. Muis Zubair 11. Marzuki Latief 12. Rasjidin Noor 13. Talmi Tsani 14.
Syahjuddin 15. Zam-zam 16. Untung Suropati 17. Amin Palese 18. Aida Chered
19. Hasanah Luqman 20. Marfu’ah 21. Nursiah 22. Amansyah 23. Mustamir 24.
Makmur SK 25. Idas dan 26. Mukri.
Ada santri yang menetap di asrama Gunung Sari yakni Abdul Qadir Jailani,
Soewardhany Soekarno, Muis Zubair, Marzuki Latief, Abd Kadir HM. Santri-
santri yang lain berkumpul hanya waktu belajar.
Santri-santri inilah yang dibina terus-menerus dengan penuh ketekunan.
Semakin hari tampaknya semakin banyak peminat. Ustadz Abdul Qadir Jaelani,
salah seorang santri waktu itu pernah menyatakan, “Pada awal kami memang
tertarik dengan kursus bahasa inggris yang diadakan,karena kami memang ingin
mengembangkan kemampuan bahasa inggris yang kami miliki yang masih sangat
minim itu, namun lama-lama tidak lagi menjurus perhatian kami kepada bahasa
inggris, tapi justru tertarik dengan gemblengan aqidah yang dilancarkan Ustadz
Abdullah Said.
Kiranya bukan hanya Ustadz Abdul Qadir yang berperasaan demikian,santri-
santri lainpun banyak yang seperasaan dengan Ustadz Abdul Qadir. Peningkatan
itu semakin terasa setelah mendapat kunjungan tokoh masyarakat yang datang
ke Balikpapan atas undangan Pertama seperti Prof Dr Haji Abdul Malik Karim
Amrullah, Prof Dr Abdul Kahar Muzakkir dan KH AR Fachruddin.
Dengan makin bertambahnya santri, makin berat pula ujian yang dihadapi.
Ujian itu menunjukkan betapa beratnya mengangkat tanggung jawab untuk cita-
cita yang besar, sehingga pada tingkat ujian dimana Ustadz Abdullah Said lalu
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 17
bertekad meninggalkan tempat itu dengan memboyong santri-santrinya. Pembina
- pembinanya untuk sementara ditempatkan di sebuah rumah dikarangrejo.
Santri-santri yang ikut dikarang rejo dan tinggal menetap adalah : Hasan
Suraji, Abdul Qadir Jailani, Usman Asy’ari, Soewardhany Soekarno, Muis Zubair,
Marzuki Latief, Amin Palese (adik kandund Ustadz Usman Palese).
Hari perpisahan itu dilakukan tepat pafa 1 Muharram pada tahun 1394 H/1974
M, tepat pada tahun baru hijriyah. Sasaran hijrahnya adalah pindah ke sebuah
tempat di puncak bukit Karang Rejo, sebuah kebun milik seorang janda tua
yang berisi tanaman singkong atas jasa Rasjidin Noor yang menemukan tempat
itu. Di tempat itu hanya terdapat tiga buah rumah gubuk. Sehingga suasananya
agak sepi. Sangat jauh berbeda situasinya dengan tempat baru ditinggalkan. Di
tempat itulah santri-santri yang tersebut namanya di atas bergubuk. Santri-santri
lain secara bergantian datang menjenguk untuk belajar dan membawakan bekal
untuk teman-temannya di gubuk itu.
Tapi sebagai seorang pemimpin yang selalu serius melakukan pengkaderan,
tempat yang sederhana itu tidak menghalangi Ustadz Abdullah Said memberi
pelajaran dan bimbingan serta motivasi-motivasi perjuangan agar santri-santri
jangan sampai kehilangan semangat juang sebagai modal paling berharga. Ustadz-
ustadz yang ditempatkan di rumah pak jaksa Muchtar PaE di Gunung Sari, selalu
juga hadir ditempat itu, bersama-sama dengan kawan-kawan yang menempati
tempat yang sangat bersahaja itu.
Dari satu sisi kawan-kawan sangat tertolong dengan menempati tempat
seperti itu, karena terasa sekali adanya peningkatan kualitas rohani lewat shalat
lail yang gencar. Kehidupan yang serba kekurangan juga memaksakan harus
melakukan puasa Daud secara teratur.Hampir setahun lamanya santri-santri
berada di tempat itu merasakan kehidupan yang sulit terlupakan sepanjang masa,
karena cukup banyak memberi goresan rohani, menumbuhkan semangat juang
dan mempertajamkan cita-cita. Akhirnya ditemukan tempat di karang bugis,
di lingkungan yang ditempati orang-orang yang masih ada hubungan keluarga
dengan Ustadz Abdullah Said. Karang rejo yang penuh kenangan itu harus
ditinggalkan menuju Karang bugis, usai ramadhan 1394 H/1974 M.
I. SUASANA BARU DI KARANG BUGIS
Di karang bugis, mereka menempati sebuah emperan rumah untuk tempat
belajar dan kegiatan pembinaan, sebuah kamar untuk tempat pakaian. Di tempat
inilah, terutama santri-santri yang menetap di karang bugis seperti Abdul Qadir
Jailani, Soewardhani Soekarno, Muis Zubair, lalu datang Umar dari Manggar
(Sulsel) dan Darul Ikhsan dari Berau (Kaltim). Walaupun bersempit-sempitan ,
apalagi kalau santri-santri yang tidak menetap lagi kumpul di tempat itu. Santri
menyebutnya sebagai “tempatnya sangat sederhana, namun tiada hari tanpa
belajar, tak ada saat tanpa pengemblengan”. Dikatakan demikian karena di tempat
18 | Kuliah Syahadat
inilah santri - santri belajar, shalat, makan dan tidur serta menerima tamu.
Pembina-pembina ditempatkan di sebuah rumah pinjaman di karang bugis.
Empat orang kader putri yakni Aifa Chered, Hasanah Luqman, Marfu’ah dan
Nursiah juga dipinjamkan sebuah rumah untuk ditempati.
Satu kesyukuran karena sudah menemukan tempat yang lebih layak dan lebih
manusiawi dibandingkan dengan gubuk yang ditempati di karang rejo. Kini sudah
dapat belajar agak teratur.
Lebih menyenangkan lagi karena tidak begitu lama berada di tempat yang
sempit di karang bugis, salah seorang tokoh masyarakat bugis di tempat itu,
Haji Abdul Kadir Mappasossong, yang dikenal dengan sebutan Petta Ossong
mewakafkan tanahnya seluas 0,5 hektar. Diatas lokasi itulah mulai dibangun
gubuk-gubuk terutama mushalla sebagai pusat kegiatan. Tentu saja satu
kegembiraan danckesyukuran yang luar biasa, karena sejak itulah Pesantren
Hidayatullah mulai memiliki lokasi sendiri walaupun hanya seluas setengah
hektar.
Sejak itu pula pelayanan dakwah keluar semakin gencar diadakan. Disamping
itu, simpatisan-simpatisan dari luar mulai dapat dikumpulkan sekali dalam
seminggu dalam sebuah wadah yang disebut “Pengajian Malam Jum’at” di
mushalla yang telah dibangun itu. Mushalla itu berukuran 4*6 meter. Disini pula
awal pengajian ibu-ibu diadakan.
Namun pada saat-saat pengajian ini berlangsung cukup menggembirakan,
dakwah mulai marak, saat penduduk Balikpapan mulai ramai menyorotkan
pandangan simpatinya, santri-santri mulai bertambah banyak, ada lagi ujian
yang menimpa. Kasus pengganyangan judi di makassar yang terjadi pada 28
Agustus 1969 (terjadi pembakaran rumah-rumah judi cina dilakukan besar-
besaran di pimpin oleh Muhsin Kahar), yang merupakan latar belakang hijrahnya
Muhsin Kahar ke Balikpapan, diungkap kembali oleh orang-orang yang tidak
senang dengan kemajuan yang telah diperoleh Pesantren Hidayatullah. Orang
itu menghubungi polisi Balikpapan untuk mengontak polisi Makassar, akibatnya
Ustadz Abdullah Said harus mendekam di tahanan polisi di Wisma Purwa
Balikpapan.
Alhamdulillah, ada salah seorang pengurus Pesantren Hidayatullah yang
anggota DPR Kodya Balikapapan yakni Abdul Syukur Ismail yang rela menjadi
jaminan untuk membebaskan Ustadz Abdullah Said dari tahanan. Selapas dari sel
yang sempat mengurungnya selama seminggu, Ustadz Abdullah Said berangkat ke
makassar pada bulan oktober 1974. Satu bulan lamanya berada di makassar untuk
menyelesaikan perkaranya. Kendatipun para santri dan masyarakatnya diliputi
suasana yang dicekam kekhawatiran, kegiatan dakwahnya tetap berjalan. Bahkan
Ustadz Abdullah Said masih tetap bersuara vokal di depan mahasiswa-mahasiswa
Makassar dan santri-santri Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros tentang
kecurangan-kecurangan yang dilakukan pemerintah saat itu.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 19
Setelah mendapat pemberitahuan dari kejaksaan bahwa perkaranya telah
dinyatakan kadaluwarsa, Ustadz Abdullah Said kembali lagi ke balikpapan.
Syukur sekali karena santri-santri yang memang sudah dikategorikan kader tetap
bertahan di bawah pengawasan pembimbing-pembimbingnya.
Tahun ini sarat dengan ujian yang datang bertubi-tubi, sehingga dikenal
dengan tahun duka cita, tahun banjir dengan air mata. Namun sebagai cobaan
itu besar hikmahnya bagi proses membajak mental untuk menghadapi ujian-
ujian yang kemungkinan lebih besar di masa-masa yang akan datang. Sehingga
kejadian-kejadian itu tidak perlu disesali bahkan perlu disyukuri.
Pada tahun ini pulalah Walikotamadya Balikpapan, letkol (Pol) H Asnawie
Arbain datang mengecek kebenaran laporan yang gencar ke kantor walikota
bahwa di Balikpapan sedang berdiri sebuah pesantren yang eksklusif, didirikan
oleh anak-anak muda yang tidak seperti pesantren-pesantren yang dikenal
selama ini. Kedatangan Walikota bukannya melahirkan kebencian tapi sebaliknya
Walikota yang terkenal kuat agamannya itu bahkan salut dan sangat tertarik.
Karena kenyataan yang dilihat tidap seperti laporan yang diterima.
Sejak itulah Pak Walikota mulai jatuh cinta dan rajin membantu, sehingga
cukup meringankan langkah pesantren hidayatullah. Terutama palaksanaan
dakwah Islamiyah yang selama ini dirasakan kesulitannya, karena sebagian besar
masjid di kota itu masih khawatir menerima para da’i Hidayatullah. Kini pintu-
pintu masjid itu terbuka lebar. Apalagi setelah walikota membuka pengajian di
rumah dinasnya yang diikuti oleh seluruh pejabat-pejabat di rumah dinasnya
yang diikuti oleh seluruh pejabat-pejabat teras kotamadya balikpapan, ini semakin
mempermulus jalan dakwah ditambah lagi walikota sering mempromosikan
keberadaan Pondok Pesantren Hidayatullah sebagai salah satu pesantren yang
memiliki potensi dapat membendung gerakan komunis yang tidak mustahil
dapat bangkit kembali.
Memasuki tahun 1975, dengan modal kekayaan yang sudah ada, lokasi
setengah hektar dan kader-kader yang sudah siap, kendatipun masih sangat
kurang jumlahnya, Ustadz Abdullah Said semakin memantapkan strategi
pengembangan. Semua potensi dikerahkan, sambil berdakwah menggalang
umat. Mereka pelan-pelan diajak berpatisipasi membuka pengajian-pengajian
di kampung-kampung yang ada di balikpapan, bahkan meyebrang sampai di
Petung, balikpapan seberang. Mereka juga diajak mengumpulkan potensi dana
untuk melengkapi sarana yang ada di Karang Bugis sebagai markas. Termasuk
empat orang kader wanita turut aktif membina ibu-ibu rumah tangga dengan
pengajian rutin yang dibentuk dimana-mana.
Kegiatan dakwah yang gencar inilah melahirkan usrah pertama di Karang
Bugis yang cukup ramai dikunjungi jama’ah dan simpatisan. Hadir dalam acara
ini KH. Hasan Basri (sebelum jadi Ketua Majelis Ulama) dan walikotamadya
balikpapan. Ini sebagai pengecekan potensi umat yang telah berhasil digalang.
20 | Kuliah Syahadat
Pada waktu diadakan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kotamadya
(tahun), Ustadz Abdullah Said mengincar bangunan-bangunan yang ada di
arena pertandingan itu. Dengan mendekati Walikota sebagai pemerintah dan
pihak Pertamina sebagai sponsor, bekas bangunan MTQ itu berhasil diboyong ke
Karang Bugis. Itulah yang dipakai untuk mendirikan bangunan utama menjadi
dua lantai berukuran 45*12 meter yang dibangun sangat cermat oleh Ustadz
Abdul Majid Aziz. Bagian atas ditempati untuk kegiatan pengajian, pengkaderan,
acara pertemuan dan lain-lain dan bagian bawah untuk rumah-rumah tangga
yang sudah ada.
Pada saat itu pulalah Ustadz Abdullah Said melangsungkan pernikahannya
dengan salah seorang kader putrinya, Aida Chered. Namun begitu usai akad
nikah Ustdaz Abdullah Said yang pikirannya memang tidak pernah lepas dari
pengkaderan, itu langsung mengadakan up-grading muballigh dan pemantapan
kader yang berlangsung selama satu bulan. Jadi seluruh masa bulan madunya
dihabiskan untuk memimpin pengkaderan sebagai instruktur tunggal. Pesertanya
tidak kurang dari 30 orang, termasuk H Agus Soetomo, kini sebagai sesepuh
Hidayatullah yang kala itu berdinas sebagai kepala divis kepanduan pelabuhan
balikpapan. Keempat Ustadz pembimbing tidak terkecuali ikut di dalamnya.
J. MENYEBARKAN DA’I KE SELURUH KALIMANTAN TIMUR
Usai up-grading, kader-kader disebar ke seluruh Kabupaten yang ada di
Kalimantan Timur. Tujuannya disamping untuk mengamalkan ilmu yang
telah diperoleh walaupun sangat tidak memadai dan menguji kemampuan
dalam berdakwah, membangkitkan animo masyarakat dalam beragama, juga
untuk mencari calon-calon santri untuk digembleng di kampus Karang Bugis.
Selanjutnya mereka diharapkan akan hijrah ke Kampus yang sementara diproses
keberadaanya.
Maka disebarlah kader-kader dakwah ke beberapa tempat seperti Usman
Asy’ary dan Hasanah Luqman (suami-isteri) ditugaskan ke Tanah Grogot,
Kabupaten Pasir M. Hasan Suradji dan Soewardhany Soekarno ditugaskan
ke Kabupaten Kutai, mengusuri sungai hingga ke Ulu Mahakam. Abdul Qadir
Jailani, Yusuf Suradji dan Sarbini Nasir ke Kabupaten Bulungan. Amin Mahmud,
Umar dan Rasyidin Noor ditugaskan ke Kabupaten Berau.
Dalam penugasan pertama ini cukup terasa manfaatnya, terutama dalam
menumbuhkan rasa percaya diri dan dalam meyelami kehidupan masyarakat di
daerah-daerah pedalaman. Kendatipun waktunya tidak lama.
Target sampingan untuk mendatangkan santri-santri ke Balikpapan juga
tercapai. Beberapa orang santri dari Berau, Bulungan dan Tanah Grogot berhasil
dihadirkan di Karang Bugis oleh kader-kader yang bertugas itu. Pada tahun ini
juga secara hukum sudah dibentuk Yayasan dengan Akte Notaris No.20 tertanggal
21 Januari 1976.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 21
K. MENGUPAYAKAN ARENA PENGKADERAN YANG LEBIH
REPRESENTATIF
Melihat kondisi lokasi Karang Bugis yang begitu sempit dibanding dengan cita-
cita yang begitu besar, Ustadz Abdullah Said pada tahun ini berkonsentrasi penuh
untuk mendapatkan lokasi yang lebih luas di luar kota. Tidak henti-hentinya ia
mengadakan lobi dengan orang-orang yang dianggap potensial dalam pengadaan
lokasi. Hampur satu tahun lamanya mengerahkan kekuatan untuk mendapat
lokasi yang dimaksudkan barulah ditemukan.
Awalnya telah dijajagi wilayah-wilayah yang ada di bagian barat Balikpapan ke
jurusan Samarinda tetapi tidak ditemukan tempat seperti yang diharapkan.
Rupanya terdengar juga oleh Pak Walikota bahwa Ustadz Abdullah Said dan
seluruh pengurus Pesantren Hidayatullah sedang serius mencari lokasi untuk
dijadikan kampus yang lebih luas, Pak Walipun turut giat mencarikan lokasi.
Ditemukanlah sebuah tempat yang jaraknya 33 Km ke sebelah timur Balikpapan,
yakni sebuah tempat yang bernama Gunung Tembak. Seorang Ketua RT yang
bernama Pak Darman, dengan senang hati menyerahkan tanahnya seluas 3,5
hektar setelah dijelaskan maksud dan tujuan pencarian tanah ini. Apalagi karena
Pak Walikota telah memberi pengertian sebelumnya.
Menurut pengakuan orang tua itu, memang sudah lama ia menantikan hadirnya
seorang ulama di tempat ini, karena pernah bermimpi kedatangan orang banyak
bepakaian jubah meramaikan tempat ini. “Aku sendiri bingung sesudah itu, apa
mungkin itu bisa terwujud di tengah hutan seperti ini Mimpi itu datang dua
tahun yang lalu. Sejak itu pula saya tidak pernah lagi makan nasi, cuman makan
buah-buahan dan minum air putih. Saya juga heran kenapa saya harus berbuat
begitu. “Demikian pengakuan Pak Darman yang akhirnya diberangkatkan haji
ke tanah suci bersama isterinya oleh Pak Walikota atas jasa-jasanya menyerahkan
tanah kepada Pesantren Hidayatullah. Orang tua yang bijak ini meninggal pada
tahun 1991.
Pada tahun ini, yakni 1976 betul-betul merupakan tahun yang sangat
menggembirakan menambah kegembiraan yang telah ada. Terbayang oleh Ustadz
Abdullah Said bahwa mungkin di tempat inilah dapat mewujudkan cita-citanya
yang pernah dirintisnya di Sulawesi Selatan yakni menyemai bibit masyarakat
Islam yang diharapkan dapat tumbuh subur, berkembang dan berbuah sampai
dapat dinikmati orang banyak. Demikian sekelebat pikiran dan khayalan melintas
dalam benaknya ketika itu.
Segera saja beberapa kadernya sudah diajak pindah ke tempat itu untuk
memulai penggarapan. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu, 3 Maret 1976 jam
15.00. Yang ikut bersama Ustadz Abdullah Said waktu itu: A Hasan Ibrahin,
Abdul Madjid Aziz, Abdul Qadir Jailani,Soewardhany Soekarno, Darul Ihsan,
Yusuf Suraji, H Ridwan, Asmaran.
Sejak tempat ini diduduki, santri-santri bekerja keras yang dipimpin langsung
22 | Kuliah Syahadat
oleh Ustadz Abdullah Said tak mengenal siang dan malam. Sekali seminggu
peserta pengajian malam Jum’at juga diundang datang untuk turut membantu
membenahi kampus. Pembangunan rumah-rumah dan sarana-sarana kampus
seperti mushalla, tempat belajar, rumah-rumah dan gubuk-gubuk gencar
dilakukan. Sebagai komandannya adalah Pak Abdul Madjid Aziz, dibantu oleh
Hasan Suradji, Darul Ihsan dan semua santri yang ada. Ustadz Abdullah Said
sepertinya tidak mengenal lelah disebabkan perasaan gembira dan dorongan cita-
cita ingin melihat kamous Gunung Tembak ini segera dapat terwujud.
Memang hanya dalam jangka waktu lima bulan yakni Maret s/d Agustus
1976, cukup banyak gedung yang dapat dirampungkan, seperti: masjid darurat,
perpustakaan, gedung ketrampilan (work shop), asrama dan ruang belajar.
Rumah pimpinan pesantren dan rumah-rumah guru juga sudah siap walaupaun
masih dalam kondisi darurat.
Pada hari Kamis, 5 Agustus 1976, kampus ini diresmikan oleh Menteri
Agama, Prof. Dr HA Mukti Ali, MA, memanfaatkan kehafirannya di Samarinda,
menghadiri pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat Nasional. Ikut
dalam rombongan KH Abdullah Syafi’i (Ketua MUI DKI) dan puterinya, Dra
Hj Tuty Alawiyah. Panitia peresmian kampus itu diketuai oleh Pak Walikota H
Asnawie Arbain dibantu oleh H Wang Faisal.
Kehadiran Kamous Gunung Tembak ini memang merupakan sarana
pengkaderan yang tidak ternilai. Kondisinya sangat menolong bagi pemyelamatan
santri dan kader-kader dari polusi budaya yang teramat sulit dibendung. Tempat
ini juga sangat memadai untuk menggali potensi tanah untuk mendapatkan
hasil yang dapat memenuhi kebutuhan santri dan warga pada umumnya. Karang
Bugis sebagai sekretariat di kota tetap dipertaha, termasuk pendidikan dan
pengajian ibu-ibu juga Pengajian Malam Jum’at yang semakin ramai dihadiri
warga Balikpapan dari berbagai penjuru. Up-grading muballigh juga terus
diselenggarakan di tempat ini sampai sekarang.
Tahun ini dijuluki oleh Ustadz Abdullah Said sebagai tahun paling
sibuk sepanjang Pesantren Hidayatullah. Tahun ini juga mulai banyak tamu
berdatangan, termasuk dari instansi-instansi dan perkumpulan ibu-ibu, padahal
sarana transportasi masih sangat terbatas. Maklum pesantren ini merupakan
pesantren pertama di balikapapan.
I. PERNIKAHAN SEBAGAI PEMANTAPAN KADER
Pernikahan bagi santri-santri dianggap sudah tiba masanya, tidak luput dari
perhatiannya. Karena ini termasuk rangkaian pengkaderan. Untuk mengikat
kader agar selalu setia dan komit terhadap penggarisan-penggarisan yang dibuat
harus selalu dipenuhi tuntutan kamanusiaannya, termasuk menikahkannya
di kala sudah sampai pada masanya. Sejak masih di karang bugis pelaksanaan
pernikahan kader-kader sudah ingin dilaksanakan tapi tidak sedikit rintangan
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 23
dan benturan yang dihadapi sehingga keinginan ini belum dapat diwujudkan
sehingga beberapa kader terpaksa mencari jalannya sendiri menuju jenjang
rumah tangga.
M Hasan Suraji menikahi Asmah, juga salah seorang santri putri dilaksanakan
di rumahnya (Balikpapan), atas restu Ustadz Abdullah Said. Ustadz Usman Palese
melaksanakan pernikahannya di kampung (Pinrang), Usman Asy’ari dengan
Hasanah Luqman (Kader Putri) juga di rumahnya (Balikpapan).
Pernikahan pertama yang diselenggarakan oleh Ustadz Abdullah Said di
kampus Gunung Tembak adalah pernikahan Amin Mahmud dengan Marfu’ah
(salah seorang kader putri Hidayatullah) dalam kondisi kampus masih sangat
sederhana. Pernikahan berikut adalah Ustadz Hasyim dengan Rosmala Dewi,
juga kader putri, suatu pernikahan yang pelaksanaannya teramat sederhana,
hidangan yang disuguhkan hanya sarung terong yang diberi bumbu. Kemudian
Ustadz A Hasan Ibrahim dengan Elliya Noor, M Yahya dengan Rohana (adik
kandung Ustadz Hasyim). Adapun Ustadz Nazir Hasan menikah di kampungnya
di Sumatera Barat kemudian kembali memboyong isterinya.
Pernikahan yang lebih dari satu pasang dimulai oleh pasangan Abdul Qadir
Jailani dengan Nurhayati Rowa dan Sarbini Nasir dengan Salmiyah, semuanya
dari santri penghuni kampus. Dilakukan pada hari rabu, 16 Maret 1977. Tepat
satu tahun kampus Gunung Tembak.
Pengkaderan lewat pernikahan ini berlangsung hingga kini. Di kala Ustadz
Abdullah Said masih hidup sempat diselenggarakan pernikahan 100 pasang,
Sebelumnya pernah 61 padang, 47 pasang, 31 pasang, 12 pasang, 6 pasang, 5
pasang, 4 pasang, 3 pasang, 2 pasang. Jumlahnya disesuaikan dengan banyaknya
tenaga yang diperlukan untuk mengisi kekosongan-kekosongan yang ada. Seperti
kekosongan yang terjadi di cabang-cabang untuk berbagai sektor amanah. Di
kampus pusat sendiri kebutuhan akan tenaga administrasi, guru dan sektor usaha
suah semakin terasa mendesak. Sehingga sebelum pernikahan tenaga-tenaga
tersebut sudah habis berbagi. Kader-kader bujangan juga tetap mendapat tugas
tetapi kader-kader yang telah menikah diharapkan lebih tinggi rasa tanggung
jawabnya.
M. KERJA LAPANGAN
Sejak awal keberadaan di kampus Gunung Tembak, tradisi kerja lapangan
merupakan warnahm khusu Pondok Pesantren Hidayatullah. Kendatipun
pekerjaan kantor untuk mengurus pengadministrasian pesantren bukan berarti
disepelekan. Pada awal keberadaan kampus bahkan belajar dengan sistem klasikal
ditiadakan. Santri-santri mendapat pelajaran lewat ceramah-ceramah dan diskusi-
diskusi yang diadakan dua minggu sekali. Kalau melihat sekilas pintas kegiatan
24 | Kuliah Syahadat
pesantren hanya bekerja dan bekerja. Seluruh santri memang sudah dibagi atas
beberapa kelompok kerja. Kelompok-kelompok kerja itu dibagi untuk berbagi
sektor, pembangunan gedung dan rumah-rumah, serta sektor-sektor perkebunan
dan pertanian, peternakan, perikanan. Seluruhnya memberi laporan pada setiap
hari jum’at pagi.
Untuk santri-santri yang baru masuk, langsung diperhadapkan dengan TC
(Training Center). Lamanya 40 hari. Namun terkadang belum sampai 40 hari
sudah dianggap selesai karena menunjukkan dedikasi yang menyakinkan. Tetapi
ada juga yang berulang-ulang di TC tidak selesai karena TC-nya tidak pernah
tuntas. Mereka ditugaskan untuk menangani pekerjaan-pekerjaan yang mungkin
tidak pernah dikerjakan pada waktu berada di rumahnya seperti mencangkul,
menggali empang, memikul air, membelah kayu dan lain-lain. Latihan ini tidak
lain adalah untuk pengkaderan awal dalam upaya melakukan adaptasi terhadap
lingkungan kampus Gunung Tembak, sebelum menangani pekerjaan-pekerjaan
yang memerlukan tanggung jawab yang lebih besar. Tidak sedikit di antara
mereka yang mengundurkan diri karena tidak tahan dengan pekerjaan-pekerjaan
itu. Namun kalau mampu bertahan dia akan menjadi kader yang betul-betul
tahan banting.
Ternyata di kemudian hari sangat terasa manfaatnya setelah ditugaskan
merintis cabang, terutama pada tempat-tempat yang cukup berat, seperti di Irian
Jaya dan di pedalaman-pedalaman Kalimantan.
M. PENGGALANGAN ANAK-ANAK MUDA
Pesantren Kilat yang diadakan sejak tahun 1981 merupakan media
penggalangan yang cukup efektif, terutama untuk pengenalan awal terhadap
Islam. Hampir seluruh sekolah lanjutan tingkat menengah atas di Balikpapan
telah dilibatkan mengikuti pesantren kilat. Anak-anak diantar untuk mengerjakan
shalat berjama’ah secara rutin dan shalat lail, juga pengrnalan terhadap akhlak
dan tata cara pergaulan menurut Islam. Anak-anak muda yang digembleng
lewat Pesantren Kilat ini kendatipun sentuhannya belum terlalu mendalam,
namun pada saat melanjutkan pendidikannya di manapun mereka berada, sudah
memiliki bekal-bekal dasar dienul Islam yang cukup memadai. Sehingga merass
berkewajiban melaksanakan tugas dakwah yang telah diamanahkan kepada
mereka.
O. KADER MEDIA MASSA
Merekrut kader-kader di bidang penulisan, tidak luput dari perhatian Ustadz
Abdullah Said. Ini mengingat karena bidang media massa pada saat itu sudah
merajai pembentikan opini di tengah-tangah masyarakat. Yang lebih tragis lagi
adalah karena media massa cetak telah dikuasai oleh golongan yang non-Muslim.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 25
Sehingga pada tahun 1981 mulailah lahir keinginan untuk menyemai bibit-
bibit penulis dan kewartawanan. Ternyata setelah menggeluti perekrutan calon-
calon penulis ini, sangat dirasakan kesulitannya. Jauh lebih sulit dari merekrut
penceramah. Langkah awal yang ditempuh adalah dengan mengadakan Pelatihan
Jurnalisitik yang diamanahkan kepada Ir. Albar Azier dan Manshur Salbu. Untuk
menyelenggarakannya diadakan kerja sama dengan Departemen Penerangan
dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur. Pelatihan itu
berlangsung selama satu minggu. Waktunya sangat singkat dan belum dapat
memberi arti menuju cita-cita yang ingin dicapai. Namun itulah yang memberi
motovasi di dalam memulai kerja jurnalistik ini. Dari sinilah lahir juga ide
menerbitkan majalah Suara Hidayatullah yang dimulai dengan penerbitan
buletin, yang disebut Buletin Dakwah Hidayatullah.
Setelah terbit beberapa nomor dan mendapat perhatian besar dari jama’ah
dan simpatisan Pondok Pesantren Hidayatullah,bertepatan dengan kehadiran
Menteri Penerangan H. Harmoko, waktu itu di Pondok Pesantren Hidayatullah,
Ustadz Abdullah Said mendorong Menteri Harmoko untuk mengeluarkan izin
penerbitkan walaupun dalam bentuk STT (Surat Tanda Terdaftar), semacam
penerbitan non-bisnis. Walaupun disadari bahwa perizinan semacam ini semata-
mata merupakan bagian dari cara-cara kekuasaan memeprtahankan dirinya.
Pada bulan Mei 1986 keluarlah STT itu.
Lewat media inilah, yang diterbitkan pada awalnya di Balikpapan kemudian
dipindahkan ke Surabaya karena kesulitan teknis, telah melahirkan penulis-penulis
yang representatif membawakan misi Hidayatullah. Mereka bisa disebutkan da’i
di bidang media massa.
Demikianlah sekilas pintas gambaran kegiatan dakwah dan pengkaderan yang
telah dijalani Hidayatullah. Tidak dapat disangkal bahwa kerja yang tak kenal
lelah itu telah membuahkan hasil yang cukup mengagumkan. Kader-kadernya
telah memperlihatkan dedikasinya dimana-mana. Bermula di daerah Kalimantan
Timur, berkembang ke daerah-daerah Kalimantan lainnya. Berawal di makassar
kemudian berkembang ke daerah-daerah lainnya di Sulawesi, sumatera, yang
semua adalah medan-medan yang cukup berat.
Kader-kader itu telah pula merintis gerakan-gerakan dakwah di Irian Jaya,
menduduki daerah pantai seperti Jayapura, Nabire, Manokwari, Sorong dan di
dua buah pulau yakni pulau Yapen dengan kota Seruai-nya dan Pulau Biak dengan
Biak-Numfoor-nya juga di dataran tinggi Fak-Fak dan di Wamena, Pegunungan
Jayawijaya dan Daerah Pertambangan Timika. Mereka mampu bertahan di tempat
itu kendatipun dalam kacau dan medannya cukup menantang.
Demikianlah halnya kawan-kawan yang bergerak di Pulau Jawa. Semua orang
kenal Pulau Jawa dengan jumlah pesantren yang tidak terhitung banyaknya.
Namun alhamdulillah, dalam waktu yang relatif singkat dapat berada di kota-kota
kabupaten dan propinsi termasuk Madura, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara
26 | Kuliah Syahadat
Barat, Bali dan Timor. Pengembangan ini berawal dari Surabaya.
Semoga Allah mempermudah jalan bagi mujahadah-mujahadah baru untuk
mempertajam gerakan ini mencapai kejayaan Islam bersama elemen-elemen
umat lainnya, Amin.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 27
BAB 2
SISTEM PENGKADERAN
HIDAYATULLAH
Kualitas sebuah jama’ah juga sangat menentukan proses tercapainnya tujuan
sebuah perjuangan, selain juga kuantitasnya. Jama’ah dengan jumlah anggota
yang besar tanpa di imbangi peningkatan kuantitas yang memadai, tidak
menjadi potensi tetapi menjelma sebagai beban. Besarnya jama’ah bisa jadi justru
menampakan besar masalah internal yang secara langsung akan mengurangi
kekuatan jama’ah. Karena itulah jama’ah yang telah direkrut harus dihantarkan
untuk meningkatkan kualitasnya agar lebih berdaya sehingga dapat potensial
menjalankan misi dakwah dan perjuangan Islam.
Upaya peningkatan kualitas jama’ah di Hidayatullah dilakukan melalui
pengkaderan berjenjang dan berkesinambungan. Pengakdrran tidak hanya
dilakukan secara formal dalam forum training, tetapi juga dalam bentuk
penugasab dakwah dan interaksi nilai dalam keseharian. Jenjang pengkaderan itu
terdiri dari Marhalah Ula, Marhalah Wustha dan Marhalah ‘Ali.
Pada Marhalah Ula, jama’ah dihantarkan untuk memproses diri secara
berkelanjutan meningkatkan kesadaran ber-Islamnya. Sudah maklum
bilabkebanyakan umat ini ber-Islamnya. Sudah maklum bila kebanyakan umat
ini ber-Islamnya masih didasarkan kepada tradisi, bukan keadaran. Hal ini
berakibatpada bekunya pertumbuhan nilai-nilai Islam dalam diri mereka.
Meskipun sudah lama memeluk Islam, bahkan sudah sejak lahir, tetapi identitas
Islam tidak dimiliki. Shalat merupaka bukti nyata yang membedakan antara
Muslim dan kafir pun masih banyak yang belum melakukan. Ada juga yang sudah
shalat tetapi mencuri, berbohong dianggap biasa. Padahal sudah banyak sekali
majelis ta’lim, pengajian, dakwah, dan lainnya digelar di tengah-tengah umat
Islam. Setiap Hari Besar Islam selalu dirayakan. Tetapi rasa-rasanya hal itu belum
mampu membendung arus negatif budaya jahiliyah yang merjalela. Karena itulah
dibutuhkan suatu pembinaan intensif yang dapat menyentuh fitrah rububiyahnya
menjadi kesadaran uluhiyah dalam bentuk penghayatan syahadat dan seluruh
28 | Kuliah Syahadat
konsekuensinya.
Marhalah Wustha, merupakan kelanjutan dari Marhalah Ula. Pada Marhalah
Wustha jama’aj dihantar dari kesadaran berIslam menuju kesadaran berjama’ah.
Kesadaran ber-Islam yang masih dilakukan secara individu, tidak akan dapat
membuat perubahan yang berarti. Islam yang memiliki misi kaffatan lin-nas
(untuk seluruh manusia) dan rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi alam semesta),
hanya dapat dicapai bila ada jama’ah. Wajarlah jika Umar bin Khattab menyatakan
tidak ada Islam bila tidak ada kepemimoinan dan ketaatan. Karenanya bila
berbagai organisasi Islam tidak mampu bergerak mencapai tujuannya secara
benar, maka itu karena belum lahir kesadaran berjama’ah secara benar. Oleh
sebab itu, Hidayatullah memandang penting pembinaan untuk menumbuhkan
kesadaran berjama’ah ini dalam Marhalah Wustha. Hanya dengan demikian maka
akan dapat diwujudkan suatu jama’ah yang kokoh dan dinamis.
Marhalah ‘Ali merupakan pengkaderan untuk menghantar jama’ah menjadi
kader mujahid. Para kader inilah yang nantinya bertugas membimbing dan
memimpin jama’ah menuju pantai tujuan. Sudah barang tentu kader yang
demikian ini harus memiliki kuakitas tinggi. Di samping memiliki kualitas
ruhani dan berorganisasi, ia harus memiliki wawasan yang luas untuk merespon
berbagai masalah umat.
A. MARHALAH ULA
Dalam upaya menghantarkan jama’ah memiliki kesadaran berIslam, maka
pada Marhalah Ula ini ada beberapa kegiatan pengakderan, antara lain: kegiatan
training, pembinaan rutin dan tugas dakwah.
Kegiatan training dilakukan untuk memberikan bekal wawasan secara intensif.
Materi diberikan dengan sistem paket berjenjang. Pada Marhalah Ula materi itu
difokuskan pada kajian konsepsi dasar Sistematika (Nuzulnya) Wahyu, mulai
paket Ma’rifat, Khittah, Tazkiyah, Dakwah, Fatihah dan Imamah Jama’ah. Semua
paket ini dharapakan dapat memberikan wawasan agar jama’ah dapat tumbuh
kesadaran ber-Islamnya.
Setelah mengikuti training sistem paket, jama’ah dihantarkan dalam pembinaan
rutin yang berupa tarbiyah ruhiyah, pengajian kitab, akselerasi pemahaman Al
Qur’an, diskusi kelompok dan muhasabah. Paling tidak sepekan sekali jama’ah
berkumpul di markas dakwah untuk bersilahturrahim dan menerima pembinaan
secara rutin. Pada pembinaan kelompok setiap 10 jama’ah dibimbing oleh seorang
mu’allim.
I. PENGKADERAN JENJANG MA’RIFAT
Fokus Materi:
Penanaman nilai-nilai wahyu pertama Al-’Alaq: 1-5 dan seluruh penjelasannya.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 29
Target:
1. Peserta mengenal Keagungan Penciptanya, kehinaan diri sendiri, dan
ketundukkan segenap makhluk-Nya.
2. Lahirnya syahadat dengan kesadaran.
Peserta Didik:
1. Masyarakat yang sudah tersentuh program tabligh
2. Masyarakat yang sudah simpati pada gerakan dakwah.
Bentuk Kegiatan:
Training
Materi Pengkaderan :
Sesi I: Pengantar Manhaj Sistematika Wahyu
Tujuan Umum:
Peserta memahami dan menyadari untuk ber-Islam secara sistematis.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta memahami pasang surut peradaban dan dakwah Islam.
2. Peserta memahami penyebab kemunduran dan kebangkitan umat Islam.
3. Peserta memahami konsep global manhaj sistematika wahyu.
4. Peserta memahami landasan ilmiah dan syari’ah manhaj sistematika wahyu.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menyebutkan sejarah peradaban Islam sejal Rasulullah
wafat hingga saat ini.
2. Peserta dapat menyebutkan sebab-sebab kemunduran umat Islam.
3. Peserta dapat menjelaskan solusi kebangkitan umat Islam.
4. Peserta dapat menyebutkan rahasia keberhasilan Rasulullah.
5. Peserta dapat menyebutkan alasan perlunya kembali kepada Manhaj Qur’ani
6. Peserta dapat menyebutkan landasan syar’i manhaj Qur’ani.
Sesi II: Iqra’
Tujuan Umum:
Peserta memahami dan mampu melakukan Iqra’ sebagai perintah
wahyu pertama.
30 | Kuliah Syahadat
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta memahami pentingnya Iqra’ sebagai wahyu yang pertama.
2. Peserta memahami ma’na Iqra’ dan instrumen ber-Iqra’.
3. Peserta memahami persiapan mental spiritual untuk brr-Qur’an.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan pentingnya Iqra’ sebagai wahyu yang pertama.
2. Peserta dapat menjelaskan ma’na_Iqra’
3. Peserta dapat menyebutkan instrumen ber-Iqra’
4. Peserta dapat menyebutkan hikmah dari peristiwa-peristiwa penting
Muhammad sebelum menjafi Nabi.
Sesi III: Iqra’ bismi Rabbika
Tujuan Umum:
Peserta mampu melakukan Iqra’ bismi Rabbika sebagai metode pencerahan
keimanan.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta memahami makna Iqra’ bismiRabbik.
2. Peserta memahami makna Iqra’ bismiRabbik.
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta dapat menjelaskan makana Iqra’ bismiRabbik.
2. Peserta dapat menyebutkan dan menjelaskan kendala Iqra’ bismiRabbik.
Sesi IV: Ma’rifatu Ar-Rabb
Tujuan Umum:
Peserta dapat memahami dan dapat menggali pengenalan kepada ar-
Rabb melalui ayat kauniyah dan qauliyah.
Tujuan Aspek Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta memahami methode mengenal Rabb.
2. Peserta memahami eksistensi Rabb melalui fenomena alam.
3. Peserta memahami makna Rabb.
4. Peserta memahami sifat-sifat Rabb.
Tujuan Instruksional Khusus:
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 31
1. Peserta dapat menjelaskan methode mengenal Rabb.
2. Peserta dapat menjelaskan eksistensi Rabb melalui fenomena alam.
3. Peserta dapat menyebutkan makna Rabb.
4. Peserta dapar menyebutkan sifat-sifat Rabb.
Sesi V: Ma’rifatul Insan
Tujuan Umum:
Peserta menyadari dan mengenali kelemahan dan posisi dirinya sebagai
hamba ciptaan Allah.
Tujuan Aspek Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta memahami proses terjadinya manusia.
2. Peserta dapat memahami unsur-unsur kejadian manusia.
3. Peserta dapat memahami kepribadian manusia.
4. Peserta dapat memahami kedudukan manusia.
5. Peserta dapat memahami fungsi manusia.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan proses terjadinya manusia.
2. Peserta dapat menyebutkan unsur-unsur kejadian manusia.
3. Peserta dapat menjelaskan kepribadian manusia.
4. Pesera dapat menyebutkan kedudukan manusia.
5. Peserta dapat menyebutkan fungsi manusia.
Sesi VI: Ma’rifatul Alam
Tujuan Umum:
Peserta mampu membaca dan menggali alam sebagai ayat-ayat Allah.
Tujuan Aspek Kognitif:
Tujuan Instruksioanl Umum:
1. Peserta dapat memahami proses terjadinya alam.
2. Peserta dapat memahami sifat-sifat alam.
3. Peserta dapat memahami pemanfaatan alam.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menyebutkan proses terjadinya alam menurut ilmu
pengetahuan dan Al-Qur’an.
2. Peserta dapat menjelaskan sifat-sifat Alam.
3. Peserta dapat menjelaskan pemanfaatan alam bagi manusia.
32 | Kuliah Syahadat
Sesi VII: Proses Lahirnya Syahadat
Tujuan Umum:
Peserta terhantar untuk bersyahadat dari kesadaran dan pencerahan
melalui fikir dan dzikir.
Tujuan Aspek Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta dapat memahami proses lahirnya syahadat.
2. Peserta dapat memahami proses terkikisnya sifat thagha’.
3. Peserta dapat memahami penghalang syahadat.
4. Peserta memahami syarat-syarat sahnya syahadat.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan proses lahirnya syahadat.
2. Peserta dapat menceritakan contoh kasus terkikisnya sifat thagha’.
3. Peserta dapat menyebutkan dan menjelaskan penghalang syahadat.
4. Peserta dapat menyebutkan dan menjelaskan syarat sahnya syahadat.
Sesi VIII: Makna dan Hakikat Syahadat
Tujuan Umum:
Peserta memahami makna dan hakekat syahadat.
Tujuan Aspek Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta dapat memahami makna kalimat syahadat.
2. Peserta memahami fungsi dan kedudukan kalimat syahadat.
3. Pesera memahami yang membatalkan syahadat.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menyebutkan makna kalimat syahadat.
2. Peserta dapat menyebutkan fungsi-fungsu kalimat syahadat.
3. Peserta dapat menyebutkan yang membatalkan syahadat.
Sesi IX : Tindak Lanjut Syahadat
Tujuan Umum:
Peserta memahami dan terpanggil untuk menindak lanjuti syahadatnya.
Tujuan Aspek Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
Peserta memahami konsekuensi syahadat.
Tujuan Instruksional Khusus:
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 33
1. Peserta dapat menyebutkan konsekuensi syahadat.
Sesi X: Simulasi
Tujuan Umum:
Peserta terpanggil menerapkan Sistematika Wahyu dalam kehidupan sehari-
hari.
Tujuan Aspek Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta dapat memandang permasalahan-permasalahan aktual dalam
berbagai bidang dengan wawasan Sistematika Wahyu.
2. Peserta dapat memahami dan menghayati penerapan Sistematika Wahyu
dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan-permasalahan
aktual yang diajukan, dengan wawasan sistematika wahyu.
2. Peserta dapat memberikan penjelasan penerapan sistematika wahyu dalam
kehidupan sehari-hari.
Pengorganisasian:
1. Semua kegiatan mulai dati rekrutmen peserta sampai pelaksanaanya
dikoordinasikan oleh DPD.
2. Instruktur merupakan kombinasi dari unsur DPD, DPW, dan Instruktur
Nasional.
II. PEMBINAAN RUTIN JENJANG MA’RIFAT
Setelah Paket Ma’rifat, pembinaan kelompok diarahkan untuk meningkatkan
pemahaman, pendalaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai yang telah
diberikan pada training, sehingga menjadi bagian dari sikap dan akhlaq jama’ah.
Proses pembinaan melaui ta’lim, diskusi dan muhasabah.
Nilai-nilai yang ditanamkan:
1. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang maha menciptakan.
2. Tinggalkan membaca atas nama nafsu, motivasi dunia, golongan atau
lainnya selain asma Allah.
3. Cara membaca ini merupakan pemcerahan paradigma berpikir dan
berdzikir, pencerahan intelektual dan spiritual, yang membawa pemahaman
eksistensi Tuhan yang maha pencipta dan keberadaan diri sebagai hamba yang
diciptakan.
4. Lahirnya pernyataan syahadat dengan sepenuh kesadaran.
5. Orang yang bersyahadat dengan penuh kesadaran akan melahirkan perilaku
34 | Kuliah Syahadat
dan cita-cita Qurani.
Karakteristik kader:
1. Memiliki kesadaran bersyahadat
2. Memiliki fikrah yang Islami
3. Memiliki pemahaman secara global konsepsi Sistematika (Nuzulnya) Wahyu
Target Pengkaderan:
1. Memahami secara global konsepsi sistematika nuzulnya wahyu
2. Mampu melakukan Iqra bimiRabbika sebagai kunci metode berIslam
3. Mampu menguak kebesaran Allah dan kelemahan diri
4. Melahirkan syahadat dengan kesadaran pikir dan dzikir
Bentuk Pembinaan:
1. Peserta yang telah menyelesaikan paket Ma’rifat dikelompokkan dalam
mejlis ta’lim yang anggotanya terdiri 10 orang.
2. Majelis ta’lik dipimpin oleh seorang mu’allim.
3. Pembinaan dilakukan rutin minimal sekali dalam sepekan.
Materi:
- Akslerasi pemahaman Al-Qur’an Buku I
- Diskusi pendalaman materi kajian Paket Ma’rifat
- Diskusi kitab/buku; Allah, Arrasul, Al Islam (Said Hawwa)
- Muhasabah dan taushiyah
Tugas Dakwah:
Jama’ah selain mendapat pembinaan dari segi keilmuan dan keruhanian,
juga langsung dilibatkan dalam tugas dakwah sesuai kemampuan mereka. Pada
jenjang Ma’rifat ini, tugas dakwah yang harus dilakukan adalah dakwah infiradhi
(dakwah sendiri-sendiri). Bentuknya sesuai musyawarah kelompok. Misalnya:
silaturrahim kepada saudara seiman, menyebarkan majalah, brosur, atau menjadi
peserta suatu kegiatan dan lain-lain. Minimal setiap pekan tugas dakwah
dievaluasi dalam forum muhasabah kelompok.
Evaluasi:
Setelah dua bulan mengikuti pembinaan rutin, anggota Majeli Ta’lim yang
dinyatakan lulus dapat mengikuti Paket II, sementara yang belum lulus disarankan
mengikuti program pengulangan.
III.PENGAKDERAN PAKET KHITTAH
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 35
Fokus materi pengkaderan:
Penanaman nilai-nilai Wahyu I al-Qalam: 1-7 dan seluruh penjabarannya
Target
- Peserta memahami cita-cita hidupnya dan garis yang telah ditetapkan Allah
SWT.
- Peserta menerima Islam sebagai ideologi dan jalan hidupnya.
Peserta
Jama’ah yang telah mengikuti Paket Ma’rifat dan aktif dalam pembinaan rutin
maupun penugasan dakwah fardiyah.
Bentuk Kegiatan:
Training
Materi Pengkaderan:
Sesi I : Pengantar Paket Khittah
Tujuan Umum:
Peserta memahami dan meyakini konsepsi Islam
Tujuan Aspek Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta memahami latar belakang Rasulullah menerima wahyu Al-Qalam
2. Peserta memahami proses yang terjadi dari berwahyu al-’Alaq ke al-Qalam
3. Peserta memahami hakikat al-Qalam kalamullah dan kalam al-insan
4. Peserta memahami kebenaran konsepsi Islam
5. Peserta memahami sifat konsepsi buatan manusia
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menyebutkan latar belakang Rasulullah menerima wahyu al-
Qalam
2. Peserta dapat menyebutkan proses yang terjadi dari berwahyu Al-’Alaq ke
al-Qalam
3. Peserta dapat membedakan konsepsi wahyu dan konsepsi buatan manusia
4. Peserta dapat menyebutkan kebenaran konsepsi Islam
5. Peserta dapat menyebutkan sifat konsepsi buatan manusia
Sesi II: Dienul Islam
Tujuan Umum:
Peserta memahami dan meyakinu kebenaran dienul Islam dan kebatilan dien
ghairul Islam.
Tujuan Aspek Kognitif:
36 | Kuliah Syahadat
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta memahami makna Dienul Islam
2. Peserta memahami perbedaan dienul Islam dan dien ghairul Islam
3. Peserta memahami ciri-ciri dienul Islam dan dien ghairul Islam
4. Peserta memahami penyimpangan Yahudi dan Nasrani dari dienul Islam
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menyebutkan pengertian ad-dien, al-is-lam dan Dienul Islam.
2. Peserta dapat menyebutkan perbedaan antara dienul Is-lam dan dien ghairul
islam.
3. Peserta dapat menyebutkan ciri-ciri dienul Islam dan dien ghairul Islam.
4. Peserta dapat menyebutkan penyimpangan-penyimpangan agama yahudi
dan agama nasrani dari dienul Islam.
Sesi III : Ideologi, Sejarah dan Perkembangannya
Tujuan Umum :
Peserta memahami sejarah dan perkembangan ideologi.
Tujuan aspek kognitif :
Tujuab Instruksional Umum :
1. Peserta memahami arti dan makna ideologi
2. Peserta memahami kapan faham menjadi isme, pandangan hidup.
3. Peserta memahami sifat-sifat yahudi fan lahirnya faham Gereja.
4. Peserta memahami ideologi-ideologi besar dunia feodalisme, kapitalisme,
sosialisme dan nasionalisme.
Tujuan Instruksional Khusus :
1. Peserta dapat menyebutkan arti dan makna ideologi.
2. Peserta dapat menyebutkan kapan faham menjadi isme, pandangan hidup.
3. Peserta dapat menyebutkan sifat-sifat yahudi dan lahirnya faham gereja.
4. Peserta dapat menyebutkan ideologi-ideologi besar dunia : feodalisme,
kapitalisme, sosialisme dan nasionalisme.
Sesi IV : Islam dan ideologi
Tujuan Umum :
Peserta memahami dan menghayati islam sebagai kekuatan menuju kehidupan
yang utuh dan sempurna.
Tujuan Aspek Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum :
1. Peserta dapat memahami kaitan islam dan ideologi dalam perspektif historis
(Generasi Qur’an I)
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 37
2. Peserta dapat memahami kaitan islam dan ideologi dalam perspektif teoritis.
Tujuan Instruksional Khusus :
1. Peserta dapat menyebutkan kaitan islam dan ideologi dalam perspektif
historis
2. Peserta dapat menyebutkan kaitan islam dan ideologi dalam perspektif
teoritis
Sesi V : Kegilaan Ideologi Bumi
Tujuan Umum :
Peserta memahami kelemahan dan kebobrokan ideologi bumi.
Tujuan Aspek Kognitif :
1. Peserta memahami Renaissance bukti tertolaknua feodalisme
2. Peserta memahami derita manusia akibat Kapitalisme
3. Peserta memahami derita manusia akibat Sosialisme
4. Peserta memahami kerugian akibat Nasionalisme
5. Peserra memahami faham sekuler, alternatif penolakan wahyu
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menyebutkan renaissance bukti tertolaknya feodalisme
2. Peserta dapat menyebutkan derita manusia akibat Kapitalisme
3. Peserta dapat menyebutkan derita manusia akibat Sosialisme
4. Peserta dapat menyebutkan kerugian akibat Nasionalisme
5. Peserta dapat menyebutkan faham sekular, alternatif penolakan wahyu
Sesi VI: Moralitas Ideologi Bumi
Tujuan Umum:
Peserta memahami kehinaan morak ideologi bumi dan meyakini keagungan
Islam.
Tujuan Aspek Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami pengertian moral
2. Peserta memahami pandangan-pandangan moral yang tidak diwahyukan
3. Peserta memahami nilai penting akhlaq Qur’ani
4. Peserta memahami aspek penting akhlaq Qur’ani
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menyebutkan pengertian moral
2. Peserta dapat menyebutkan ciri-ciri berbagai pandangan moral ideologi
bumi
38 | Kuliah Syahadat
3. Peserta dapat menyebutkan nilai penting akhlaq Qur’ani
4. Peserta dapat membedakan terpenuhinya aspek penting akhlaq Qur’ani
atau tidak.
Sesi VII: Strategi Pemenangan Ideologi Islam
Tujuan Umum:
Peserta memahami strategi dan termotivasi untuk memenangkan Islam.
Tujuan Aspek Kognitif:
Tujuan Intruksional Umum:
1. Peserta memahami pemenangan perjuangan ideologi Islam zaman Rasul
2. Peserta dapat memahami syarat pemenangan ideologi Islam.
3. Peserta dapat memahami peran masing-masing aktor pemenangan ideologi.
4. Peserta dapat memahami struktur penunjang pemenangan ideologi.
5. Peserta dapat memahami prinsip-prinsip politik dan sistem adminiatrasi
dalam Islam.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menerangkan pemenangan perjuangan ideologi Islam zaman
Rasul.
2. Peserta dapat menjelaskan syarat pemenangan ideologi Islam.
3. Peserta dapat menyebutkan peran masing-masing aktor pemenangan
ideologi.
4. Peserta dapat menerangkan struktur penunjang pemenangan ideologi.
5. Peseeta dapat menerangkan prinsip-prinsip politik dan sistem administrasi
dalam Islam.
Pengorganisasian:
1. Semua kegiatan mulai dari rekrutmen peserta sampai pelaksanaanya
dikoordinasikan oleh DPD.
2. Instruktur merupakan kombinasi dari unsur DPD, DPW, dan Instruktur
Nasional.
IV. PEMBINAAN RUTIN JENJANG KHITTAH
Setelah Paket Khittah, pembinaan kelompok diarahkan untuk meningkatkan
pemahaman, pendalaman, dan penghayatan terhadap nilai-nilai yang telah
diberikan pada training, sehingga menjadi bagian dari sikap dan akhlak jama’ah.
Proses pembinaan melalui ta’lim, diskusi, dan muhasabah.
Nilai-nilai yang ditanamkan:
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 39
Memotivasi dan memproteksi agar peserta melanjutkan proses berIslamnya,
meskipun di tuduh gila atau aneh.
Menunjukkan keagungan konsepsi Qur’an dalam kehidupan dan
karakterisitiknya.
Menunjukkan kegilaan konsepsi selain Qur’an.
Karakteristik Kader:
Memiliki semangat dan cita-cita ber Qur’an yang berkobar-kobar dan pantang
menyerah.
Memiliki kesadaran ideologis berIslam.
Memahami kegilaan dan kelemahan ideologi selain Islam.
Target Pengkaderan:
Jama’ah memahami secara ideologis misi Qur’an dan selain Al-Qur’an serta
siap memperjuangkan Islam.
Bentuk Pembinaan
1. Setelah mengikuti paket Khittah, peserta training dikelompokkan dalam
majelis ta’lim yang anggotanya terdiri 10 orang.
2. Majelis ta’lim dipimpin oleh seorang muallim.
3. Pembinaan dilakukan rutin minimal sekali dalam sepekan.
Materi:
- Akslerasi pemahaman Al Qur’an Buku I (lanjutan)
- Diskusi pendalaman materi kajian Paket Khittah.
- Diskusi kitab/buku; Mua’llim fith-Thariq (Said Hawwa)
- Muhasabah dan taushiyah
Tugas Dakwah:
Pada jenjang Khittah ini, tugas dakwah yang harus dilakukan jama’ah adalah:
1. Dakwah Infiradhi. Bentuknya sesuai musyawarah kelompok. Misalnya:
silaturrahim kepada saudara seiman, menyebarkan majalah, brosur, atau mencari
peserta suatu kegiatan dan lain-lain.
2. Mulai dilibatkan dalam kepanitiaan Training Paket Ma’rifat atau kepanitiaan
lainnya.
3. Minimal setiap pekan tugas dakwah dievaluasi dalam forum muhasabah
kelompok.
40 | Kuliah Syahadat
Evaluasi:
Setelah dua bulan mengikuti pembinaan rutin, anggota Majelis Ta’lim
yang dinyatakan lulus dapat mengikuti Paket III, sementara yang belum lulus
dusarankan mengikuti program remidi.
V. PENGKADERAN PAKET TAZKIYAH
Fokus materi pengkaderan :
Penanaman Nilai-nilai Wahyu I Qs al-Muzammil : 1-10 dan seluruh
penjabarannya.
Target :
Peserta menyiapkan perangkat ruhaninya agar lebih imperaktif menerima dan
menumbuhkan nilai-nilai qur’an.
Peserta membiasakan amalan ruhaniyah.
Peserta :
Jama’ah yang telah mengikuti Paket Khittah dan aktif dalam pembinaan rutin
maupun penugasan dakwah fardhiyah.
Bentuk kegiatan :
Training
Materi pengkaderan :
Sesi I : Urgensi Tarbiyah Ruhiyah
Tujuan Umum :
Peserta memahami peranan terbiyah ruhiyah dan menjadikannya sebagai
kebutuhab dalam ber-Islam.
Tujuan Aspek Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum :
1. Peserta memahamai peranan kekuatan ruhiyah dalam kehidupan pribadi.
2. Peserta memahami peranan kekuatan ruhiyah dalam kehidupan jama’i.
3. Peserta memahami peranan kekuatan ruhiyah dalam kehidupan seorang
da’i.
Tujuan Instruksional Khusus :
1. Peserta dapat menjelaskan kekuatan ruhiah dalam kehidupan pribadi.
2. Peserta dapat menjelaskan kekuatan ruhiah dalam kehidupan jama’i.
3. Peserta dapat menjelaskan kekuatan ruhiah dalam kehidupan seorang da’i.
Sesi II : Qiyamul lail
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 41
Peserta memahami strategisnya kedudukan qiyamul lail dalam meningkatkan
kulitas diri dan menjadikannya sebagai kebutuhan dalam berIslam.
Tujuan Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami makna qiyamul lail.
2. Peserta memahami keutamaab qiyamul lail menurut al Qur’an dan Sunnah.
3. Peserta memahami kedudukan qiyamul lail bagi seorang ‘abid dan seorang
khalifah.
4. Peserta memahami hal-hal yang dianjurkan dalam qiyamul lail.
5. Peserta memahami kerugian orang yang meninggalkan qiyamul lail.
Sesi III : Tatitul Qur’an
Tujuan Umum :
Peserta memahami strategisnya kedudukan tartitul Qur’an dalam meningkatkan
kualitas diri dan menjadikannya sebagai kebutuhan dalam berIslam.
Tujuan Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami makna kata “wa rattilil qur’ana tartila”
2. Peserta memahami keutamaan membaca al-Qur’an.
3. Peserta memahami sepuluh amalan membaca al-Qur’an.
4. Peserta memahami akhlaq lahir dan akhlaq batin ketika membaca al-Qur’an.
Sesi IV : Dzikrullah
Tujuan Umum :
Peserta memahami strategisnya kedudukan dzikir dalam meningkatkan kulitas
diri dan menjadikannya sebagai kebutuhan dalam berIslam.
Tujuan Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum :
1. Peserta dalam memahami makna dzikir.
2. Peserta dapat memahami posisi dan hubungan dzikir dalam konsepsi SW;
secara global dan rinci.
3. Peserta dapat memahami manfaat dzikir.
4. Peserta dapat memahami bahayanya melupakan dzikir.
Tujuan Instruksional Khusus :
1. Peserta dapat menjelaskan beberapa tafsir ayat : Wadzukur isma Rabbika.
2. Peserta dapat menjelaskan pengertian dzikir.
3. Peserta dapat menjelaskan posisi dan hubungan dzikir dalam konsepsi
42 | Kuliah Syahadat
Sistematika Wahyu SW secara global.
4. Peserta dapat menjelaskan kaitan dzikir dengan nilai al ‘Alaq.
5. Peserta dapat menjelaskan kaitan dzikir dengan nilai al Qalam.
6. Peserta dapat menjelaskan kaitan dzikir dengan nilai al Muzammil.
7. Peserta dapat menjelaskan kaitan dzikir dengan nilai al Mudatsir.
8. Peserta dapat menjelaskan kaitan dzikir dengan nilai al Fatihah.
9. Peserta dapat menjelaskan dzikir dalam tasawuf.
10. Peserta dapat menjelaskan manfaat dzikir.
11. Peserta dapat menjelaskan bahayanya melupakan dzikir.
Sesi V : Tabattul
Tujuan Umum :
Peserta memahami strategisnya kedudukan tabattul dalam meningkatkan
kualitas diri dan menjadikannya sebagai kebutuhan dalam berIslam.
Tujuan Kognitif :
Sesi VI: Tawakkal
Tujuan Umum:
Peserta memahami strategisnya kedudukan tawakkal dalam meningkatkan
kualitas ber Islam dan menjadikannya sebagai sikap dan akhlak.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami arti dan makna tawakkal
2. Peserta memahami nilai tawakkal yang tersebut dalam Al-Qur’an
3. Peserta memahami perkara yang merusak tawakkal
4. Peserta memahami perkara yang haris dipenuhi menuju maqan tawakkal
Tujuan Inatruksional Khusus
1. Peserta dapat menyebutkan arti dan makna tawakkal
2. Peserta dapat menyebutkan nilai tawakkal yang tersebut dalam Al-Qur’an
3. Peserta dapat menyebutkan perkara yang merusak tawakkal
4. Peserra dapat menyebutkan perkara yang harus dipenuhi menuju maqam
tawakkal
Sesi VII: Sabar Terhadap Perkataan
Tujuan Umum
Peseta memahami strategisnya kedudukan sabar dalam meningkatkan kuakitas
berIslam dan menjadikannya sebagai sikap dan akhlaq.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 43
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami arti dan makna sabar
2. Peserta memahami makna sabar terhadap perkataan mereka
3. Peserta memahami faktor-faktor yang harus dipenuhi dalam melaksanakan
perintah sabar
4. Peserta memahami jalan yang harus ditempuh tempat berlakunya perintah
sabar
5. Peserta memahami objek sabar
6. Peserta memahami hal-hal yang mendukung sabar
7. Peserta memahami hal-hal yang bertentangan dengan sabar
8. Peserta memahami ‘sabar’ yang salah
9. Peserta memahami hubungan sabar dengan ulul ‘azmi
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menyebutkan arti dan makna sabar
2. Peseeta dapat menyebutkan makna sabar terhadap perkataan mereka
3. Peserta dapat menyebutkan faktor-faktor yang harus dipenuhi dalam
melaksanakan perintah sabar
4. Peserta dapat menyebutkan jalan yang harus ditempuh tempat berlakunya
perintah sabar
5. Peserta dapat menyebutkan objek sabar
6. Peserta dapat menyebutkan hal-hal yang mendukung sabar
7. Peserta dapat menyebutkan hal-hal yang bertentangan dengan sabar
8. Peserta dapat menyebutkan ‘sabar’ yang salah
9. Peserta dapat menyebutkan hubungan sabar dengan ulul ‘azmi
Pengorganisasian:
1. Semua kegiatan mulai dari rekrutmen peserta sampai pelaksanaanya
dikoordinasikan oleh DPD
2. Instruktur merupakan kombinasi dari unsur DPD, DPW dan Instruktur
Nasional
VI. PEMBINAAN RUTIN JENJANG TAKZIYAH
Setelah Paket Takziyah, pembinaan kelompok diarahkan untuk meningkatkan
pemahaman, pendalaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai yang telah
diberikan pada training, sehingga menjadi bagian dari sikap dan akhlak jama’ah.
Proses pembinaan melalui ta’lim, diskusi dan tugas dakwah.
44 | Kuliah Syahadat
Nilai-nilai yang ditanamkan:
Peserta telah tumbuh cita-cita ber-Qur’annya
Kebutuhan lebih mempertajam pencerahan inteleksi melalui azimat Al
Muzammil.
Meningkatkan kuakitas berIslam dengan sabar, tawakkal dan hijrah.
Karakteristik kader:
Menjadikan azimat al muzzammil sebagai kebutuhan berIslam.
Memiliki keteguhan Mental dengan sabar, tawakkal dan hijrah.
Target Pengkaderan:
Memahami dan terpanggil untuk mengasah diri dengan azimat al Muzammil.
Memahami dan dapat melakukan Tarbiyah Ruhiyah untuk memperkokoh
inteleksi menuju Islam Kaffah.
Memahami dan melakukan pelatihan mental; sabar; tawakkal dan hijrah.
Bentuk Pembinaan:
1. Setelah mengikuti paket tazkiyah, peserta training dikelompokkan dalam
majelis ta’lim yang anggotanya terdiri 10 orang.
2. Majelis ta’lim dipimpin oleh seorang muallim.
3. Pembinaan dilakukan rutin minimal sekali dalam sepekan.
Materi:
- Akslerasi pemahaman Al Qur’an Buku II
- Diskusi pendalaman materi kajian Paket Takziyah.
- Diskusi kitab/buku; Tazkiyatun nufus
- Muhasabah dan taushiyah
Tugas Dakwah:
Pada jenjang Tazkiyah ini, tugas dakwah yang harus dilakukan jama’ah adalah:
1. Dakwah infirodi. Bentujnya sesuai musyawarah kelompok. Misalnya:
silaturrahim kepada saudara seiman, menyebarkan majalah, brosur, atau mencari
peserta suatu kegiatan dan lain-lain.
2. Mulai dilibatkan dalam kepanitiaan Training Paket Khittah atau kepanitiaan
lainnya.
3. Memakmurkan masjid di lingkungannya dengan mengajak orang lain shalat
berjama’ah.
4. Minimal setiap pekan tugas dakwah dievaluasi dalam forum muhasabah
kelompok.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 45
Evaluasi:
Setelah dua bulan mengikuti pembinaan rutin, anggota Majelis Ta’limbyang
dinyatakan lulus dapat mengikuti Paket III, sementara yang belum lulus disarankan
mengikuti program remidi.
VII PENGKADERAN PAKET DAKWAH
Fokus Materi Pengkaderan:
Penanaman Nilai-nilai Wahyu I QS A; Muddatstir dan seluruh penjabarannya.
Target:
Peserta menyiapkan perangkat lunak dan keras untuk berdakwah dan berjuang
di jalan Allah.
Peserta:
Jama’ah yang telah mengikuti Paket Takziyah dan aktif dalam pembinaan rutin
maupun penugasan dakwah sebagai pembina TPA maupun majelia taklim di
lingkungannya.
Bentuk Kegiatan:
Training
Materi Pengkaderan:
Sesi I : Al-Muddatsir
Tujuan Umum:
Peserta memahami strategisnya kedudukan dakwah dalam meningkatkan
kualitas diri dan menyiapkan diri untuk memenuhi panggilannya.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami arti dan makna Al-Muddatstsir.
2. Peserta memahami bahwa Al-Muddatstsir bukan orang yang lemah muru-
ahnya.
3. Peserta memahami bahwa Al-Muddatstsir, siaga hanya untuk komando dari
Allah
4. Peserta memahami bahwa Al-Muddatstsir ditampilkan di medan kehidupan
masyarakat yang jahiliyah.
5. Peserta memahami bahwa Al-Muddatstsir tidak menempuh kecuali jalan
kebenaran ayat-ayat Allah.
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menyebutkan arti dan makna Al-Muddatstsir
2. Peserta dapat menyebutkan bahwa Al-Muddatstsir bukan orang yang lemah
muru-ahnya
46 | Kuliah Syahadat
3. Peserta dapat menyebutkan bahwa Al-Muddatstsir siaga hanya untuk
komando dari Allah
4. Peserta dapat menyebutkan bahwa Al-Muddatstsir ditampilkan di medan
kehidupan masyarakat yang jahiliah
5. Peserta dapat menyebutkan bahwa Al-Muddatstsir tidak menempuh kecuali
jalan kebenaran ayat-ayat Allah
Sesi II: Qum Fa -Andir
Tujuan Umum:
Peserta memahami strategisnya kedudukan dakwah dan menjadikannya
sebagai kebutuhan dalam berIslam.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta dapat memahami makna Qum Faandzir.
2. Peserta dapat memahami posisi dan hubungan ayat tersebut dalam konsepsi
SW.
3. Peserta dapat memahami sasaran dakwah
4. Peserta dapat memahami bekal dasar dan operasional da’i.
5. Peserta dapat memahami keutamaan dakwah.
6. Peserta dapat memahami bahayanya tidak ada dakwah
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan makna Qum Faandzir dari beberapa tafsir.
2. Peserta dapat menjelaskan posis dan hubungan ayat tersebut dalam
konsepsin SW
3. Peserta dapat menjelaskan dakwah sebagai wujud pertumbuhan iman.
4. Peserta dapat menerangkan dakwah yang memiliki kekuatan merubah.
5. Peserta dapat menerangkan sasaran dakwah.
6. Peserta dapat menyebutkan bekal dasar dan operasional da’i.
7. Peserta dapat menjelaskan keutamaan dakwah.
8. Peserta dapat menjelaskan bahanya tidak ada dakwah.
Sesi II: Warabbaka Fakabbir
Tujuan Umum:
Peserta memahami strategisnya dzikir membesarkan Asma Allah dalam
menjaga kesucian dakwah dan termotivasi untuk mewujudkannya dalam misi
dakwahnya.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umun
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 47
1. Peserta memahami arti dan makna wa-Rabbaka fakabbir
2.Peserta memahami bahwa cukuplah Allah yang menentukan persyaratan
memaha-akbarkan-Nya.
3. Peserta memahami bahwa memaha-akbarkan Allah adalah missi sepanjang
hayat.
4. Peserta memahami bahwa memaha-akbarkan Allah menghidupkan ruh
hamba-Nya.
5.Peserta memahami bahwa memaha-akbarkan Allah itu tidak bisa dengan
mengagungkan selain Dia.
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menyebutkan arti dan makna wa-Rabbaka fakabbir.
2. Peserta dapat menyebutkan yang termasuk persyaratan memaha-akbarkan
Allah dan bahwa cukuplah Allah yang menentukan persyaratan itu.
3. Peserta dapat menyebutkan dalil-dalil bahwa memaha-akbarkan Allah
adalah missi sepanjang hayat.
4. Peserta dapat menyebutkan bagaimana memaha-akbarkan aallah
menghidupkan ruh hamba-Nya.
5. Peserta dapat menyebutkan kerusakan akibat mengagungkan selain Allah.
Dan bahwa memaha-akbarkan Allah tidak bisa dengan mengagungkan selain Dia.
Sesi IV: Wastsiyaabaka Fathahhir
Tujuan Umum:
Peserta memahami strategisnya nilai kesucian dalam segala hal untuk
menjaga kemurnian dakwah dan termotivasi untuk mewujudkannya dalam misi
dakwahnya.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta dapat memahami makna Watsiyabaka Fathahhir.
2. Peserta dapat memahami posisi dan hubungan ayat tersebut dalam konsepsi
SW.
3. Peserta dapat memahami penerapannya dalam operasional dakwah.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menerangkan beberapa tafsir Wastiyabaka fathaahhir.
2. Peserta dapat menjelaskan posisi dan hubungan ayat tersebut dalam konsepsi
SW.
3. Peserta dapat menjelaskan dakwah sebagai misi pensucian.
4. Peserta dapat menjelaskan pensucian niat dakwah.
5. Peserta dapat menjelaskan pensucian pelaksaan dakwah.
48 | Kuliah Syahadat
6. Peserta dapat menjelaskan pensucian kemenangan dakwah.
7. Peserta dapat menjelaskan pensucian melalui; tawhid, shalat, shiyam, zakat.
8. Peserta dapat menjelaskan syareat sebagai proses pensucian.
Sesi V: Hijrah dari Ar-Rujz
Tujuan Umum
Peserta memahami strategisnya nilai hijrah dalam menjaga kesucian dakwah
dan termotivasi untuk mewujudkannya dalam misi dakwahnya.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami arti dan makna ar-rujz
2. Peserta memahami bahwa hijrah dari ar-rujz adalah persyaratan menuju
kesucian diri (iffah)
3. Peserta memahami bahwa hijrah dari ar-rujz itu dalam keadaan bersama-
sama maupun sendiri-sendiri.
4. Peserta memahami bahwa hijrah dari ar-rujz itu menjaga daya tahan senjata
iman.
5. Peserta memahami bahwa muhajir dari ar-rujz itu berpihak pada
pengagungan Allah semata.
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menyebutkan arti dan makna ar-rujz
2. Peserta dapat menyebutkan bahwa hijrah dari ar-rujz adalah persyaratan
menuju kesucian diri (iffah)
3. Peserta dapat menyebutkan bahwa hijrah dari ar-rujz itu dalam keadaan
bersama-sama maupun sendiri-sendiri
4. Peserta dapat menyebutkan segi-segi daya tahan iman yang dapat
dilumpuhkan ar-rujz
5. Peserta dapat menyebutkan hikmah bahwa muhajir dari ar-rujz itu berpihak
pengagungan Allah semata
Sesi VI: Walatamnun Tastaktsir
Tujuan Umum:
Peserta memahami strategisnya nilai keikhlasan dalam menjaga kesucian
dakwah dan termotivasi untuk mewujudkannya dalam misi dakwahnya.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum:
1. Peserta memahami makna walaa tamnun tastakstir.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 49
2. Peserta memahami hubungan dan posisi ayat tersebut dalam konsepsi SW.
3. Peserta memahami penerapan ayat tersebut dalam operasional dakwah.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan beberapa tafsir ayat Walaa tamnun tastakstsir.
2. Peserta dapat menerangkan hubungan dan posisi ayat tersebut dalam
konsepsi SW.
3. Peserta dapat menjelaskan penyakit pamrih materi dalam dakwah;
pengertian, tanda-tanda, akibat, sebab-sebab dan upaya pengobatannya.
4. Peserta dapat menjelaskan penyakit riya’ dalam dakwah, pengertian, tanda-
tanda, akibat, sebab-sebab dan upaya pengobatannya.
5. Peserta dapat menjelaskan penyakit isti’jal dalam dakwah; pengertian,
tanda-tanda, akibat, sebab-sebab dan upaya pengobatannya.
6. Peserta dapat menjelaskan penyakit futur dalam dakwah; pengertian, tanda-
tanda, akibat, sebab-sebab dan upaya pengobatannya.
7. Peserta dapat menjelaskan penyakit ujub dalam dakwah; pengertian, tanda-
tanda, akibat, sebab-sebab dan upaya pengobatannya.
Sesi VII: Sabar Demi Rabb Al ‘Alamiin
Tujuan Umum:
Peserta memahami strategisnya nilai kesabaran dalam menjaga kesucian
dakwah dan termotivasi untuk mewujudkannya dalam misi dakwahnya.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami arti dan makna sabar demi Rabb al-’aalamiin.
2. Peserta memahami bahwa pelaksana sabar demi Rabb al-’aalamiin adalah
pembawa missi laa ilaaha illallaah
3. Peserta memahami bahwa pelaksana sabar demi Rabb al-’aalamiin aktoe
sabar di segala lini
4. Peserta memahami pelaksanaan sabar demu Rabb al-’aalamiin termasuk
strategi pertahanan terhadap musuh
5. Peserta memahamj persyaratan sabar demu Rabb al-’aalamiin.
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menyebutkan arti dan makna sabar demu Rabb al-’aalamiin.
2. Peserta dapat menyebutkan bahwa pelaksana sabar demi Rabb-’aalamiin
adalah pembawa missi laa ilaaha illallaah
3. Peserta dapat menyebutkan bahwa pelaksan sabar demi Rabb al-’aalamiin
adalah aktor sabar di segala lini.
50 | Kuliah Syahadat