4. Peserta dapat menyebutkan bahwa pelaksanaan sabar demi Rabb al-’aalamiin
adalah termasuk strategi pertahanan terhadap musuh dengan menyebutkan
musuh-musuh yang dapat dihadapi dengannya.
5. Peserta dapat menyebutkan persyaratan sabar demi Rabb al-’aalamiin.
Pengorganisasian:
1. Semua kegiatan mulai dari rekrutmen peserta sampai pelaksanaanya
dikoordinasikan oleh DPD.
2. Instruktur merupakan kombinasi dari unsur DPD, DPW dan Instruktur
Nasional.
VIII. PEMBINAAN RUTIN JENJANG DAKWAH
Setelah Paket Dakwah, pembinaan kelompok diarahkan untuk meningkatkan
pemahaman, pendalaman, dan penghayatan terhadap nilai-nilai yang telah
diberikan pada training, sehingga menjadi bagian dari sikap dan akhlak jama’ah.
Proses pembinaan melalui ta’lim, diskusi dan tugas dakwah.
Nilai-nilai yang ditanamkan:
1. Bangunlah dan beri peringatan kepada umat.
2. Memotivasi untuk tandang kegelanggang dakwah.
3. Menanamkan perlunya bekal operasional lahir dan bathin dalam berdakwah.
Karakterisitik Kader:
1. Tiada hari rnpa dakwah menjadikan dakwah sebagai tak terpisahkan dari
ber-Islam
2 Dapat menjalankan da’wak secara benar, lahir, dan bathin
3. Target Pengakderan Paket Dakwah
4. Lahirnya mujahid dakwah yang tangguh lahir maupun bathin
Bentuk Pembinaan:
1. Setelah mengikuti Paket Dakwah, peserta training dikelompokkan dalam
majelis ta’lim yang anggotanya terdiri 10 orang.
2. Majelis ta’lim dipimpin oleh seorang muallim.
3. Pembinaan dilakukan rutin minimal sekali dalam sepekan.
Materi:
- Akslerasi pemahaman Al-Qur’an Buku II (lanjutan)
- Diskusi pendalaman materi kajian Paket Dakwah
- Diskusi kitab/buku; Fiqhud Dakwah
- Muhasabah dan taushiyah
Tugas Dakwah:
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 51
Pada jenjang Dakwah ini, tugas dakwah yang harus dilakukan jama’ah adalah:
1. Dakwah infiradhi. Bentuknya sesuai musyawarah kelompok. Misalnya;
silaturrahim kepada saudara seiman, menyebarkan majalah, brosur, atau mencari
peserta suatu kegiatan dan lain-lain.
2. Mulai dilibatkan dalam kepanitiaan Training Paket Tazkiyah atau kepanitiaan
lainnya.
3. Memakmurkan masjid di lingkungannya dengan mengajak orang lain shalat
berjama’ah.
4. Membina TPA dan Majlis Ta’lim di lingkungannya.
5. Minimal setiap pekan tugas dakwah dievaluasi dalam forum muhasabah
kelompok.
Evaluasi:
1. Setelah dua bulan mengikuti pembinaan rutin, anggota Majeli Ta’lim yang
dinyatakan lulus dapat mengikuti Paket V, sementara yang belum lulus disarankan
mengikuti program remidi.
2. Mulai dievaluasi loyalitas kejama’ahannya.
IX. PENGKADERAN PAKET FATIHAH
Fokus Materi Pengkaderan:
Penanaman nilai-nilai wahyu al-Fatihah 1-7 dan seluruh penjabarannya
Target:
1. Memahami konsep Islam secara umum
2. Siap menjalankan Islam secara kaffah
Peserta :
Jama’ah yang telah mengikuti Paket Dakwah dan aktif dalam pembinaan rutin
maupun penugasan dakwah sebagai pembina TPA maupun majelis taklik di
lingkungannya.
Bentuk Kegiatan:
Training
Materi Pengkaderan:
Sesi I : Pengantar Al-Fatihah
Tujuan Umum:
Peserta memahami dan menghayati kandungan umum al-Fatihah.
Tujuan Kognitif:
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami ihwal turunnya al-Fatihah
52 | Kuliah Syahadat
2. Peserta memahami tafsir al-Fatihah
3. Peserta memahami nama-nama al-Fatihah
4. Peserta memahami kandungan umum al-Fatihah
5. Peserta memahami fadhilah-fadhilah al-Fatihah
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menyebutkan latar belakang turunnya al-Fatihah
2. Peserta dapat menyebutkan tafsir penting al-Fatihah
3. Peserta dapat menyebutkan nama-nama al-Fatiha
4. Peserta dapat menyebutkan kandungan umum al-Fatihah
5. Peserta dapat menyebutkan fadhilah-fadhilah Al-Fatihah
Sesi II : Konsep Masyarakat Al-Fatihah
Tujuan Umum
Peserta memahami dan menyakini konsep dasar masyarakat al-Fatihah sebagai
dasar membangun peradaban Islam.
Tujuan Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami konsep dasar masyarakat al-Fatihah
2. Peserta memahami proses pembentukan masyarakat al-Fatihah
3. Peserta memahami gambaran umum masyarakat Makkah
4. Peserta memahami gambaran umum masyarakat Madinah
5. Peserta memahami masyarakat islam pasca Rasullullah Saw
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat merincikan konsep dasar masyarakat al-Fatihah
2. Peserta dapat mengkronologikan pembentukan masyarakat al-Fatihah
3. Peserta dapat menggambarkan masyarakat Makkah secara umum
4. Peserta dapat menggambarkab masyarakat Madinah secara umum
5. Peserta dapat merincikan masyarakat Islam pasca Rasullullah Saw
Sesi III : Al-Hamdulillahi Rabbil’Alamin
Tujuan Umum :
Peserta memahami dan menghayati nilai hamdalah sebagai nilai tauhid yang
melahirkan pribadi muslim kaaffah sebagai pilar peradaban masyrakat al-Fatihah.
Tujuan Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta dapat memahami tafsir Alhamdulillah
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 53
2. Peserta dapat memahamai alhamdulillah dalam Kosepsi Sistematika Wahyu
3. Peserta dapat memahami ayat-ayat Rabb al’alamin
4. Peserta dapat memahami perwujudan Alhamdulillah dalam kehidupan
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menjelaskan tafsir Alhamdulillah
2. Peserta dapat menjelaskan alhamdulillah dalam Kosepsi Sistematika Wahyu
3. Peserta dapat menjelaskan ayat-ayat Rabb al’alamin
4. Peserta dapat menjelaskan perwujudan Alhamdulillah dalam pribadi muslim
5. Peserta dapat menjelaskan perwujudan Alhamdulillah dalam masyarakat
6. Peserta dapat menjelaskan perwujudan alhamdulillah dalam pengelolaan
alam
7. Peserta dapat menjelaskan keuniversalan Islam
Sesi IV : Arrahman Arrahin
Tujuan Umum :
Peserta memahami dan menghayati nilai ar-Rahmaanir-Rahiim sebagai nilai
tauhid yang melahirkan sosok pribadi muslim kaffah sebagai pilar peradaban
masyarakat al-Fatihah.
Tujuan Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta dapat memahami Tafsir arRahmaanirRahim.
2. Peserta dapat menjelaskan arrahmaanirrahiim dalam konsepsi SW.
3. Peserta dapat memahami rahmat Allah di alam
4. Peserta dapat memahami peradaban yang kehilangan rahmat
5. Peserta dapat memahami misi rahmatan lil’alamin
6. Peserta dapat memahami terapan nilai arrahmaanirrahiim dalam kehidupan
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menjelaskan Tafsir arrahmaanirrahiim
2. Peserta dapat menjelaskan arrahmaanirrahiim dalam kensepsi SW
3. Peserta dapat menjelaskan rahmat Allah di alam
4. Peserta dapat menjelaskan peradaban yang kehilangan rahmat
5. Peserta dapat menjelaskan misi rahmatan lil’alamin
6. Peserta dapat menjelaskan terapan nilai arrahmaanirrahiim dalam kehidupan
Sesi V : Maliki Yaumiddin
Tujuan Umum :
54 | Kuliah Syahadat
Peserta memahami dan menghayati nilai Mailiki Yaumiddin sebagai nilai
tauhid yang melahirkan pribadi muslim kaffah sebagai pilar peradaban masyarakat
al-Fatihah.
Tujun Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta dapat memahami tafsir maliki yaumiddin
2. Peserta dapat memahami maliki yaumiddin dalam Sistematika Wahyu
3. Peserta dapat memahami hari perhisaban
4. Peserta dapat menjelaskan implikasi malili yaumiddin kepada pribadi dan
masyarakat
5. Peserta dapat menjelaskan maliki yaumiddin menumbuhkan sikap adil
6. Peserta dapat menjelaskan supremasi hukum allah
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menjelaskan tafsir maliki yaumiddin
2. Peserta dapat menjelaskan maliki yaumiddin dalam Sistematika Wahyu
3. Peserta dapat menjelaskan hari perhisaban
4. Peserta dapat menjelaskan implikasi mailiki yaumiddin kepada pribadi dan
masyarakat
5. Peserta dapat menjelaskan maliki yaumiddin menumbuhkan sikap adil
6. Peserta dapat menjelaskan supremasi hukum allah
Sesi VI : Iyyakana’budu Waiyyakanasta’in
Tujuan Umum
Peserta memahami dan mengkhayati perkataab Iyyakana’budu Waiyyaka
Nasta’in sebagai pernyataan kemurnian nilai tauhid yang melahirkan pribadi
muslim kaffah sebagai pilar peradaban masyarakat al-Fatihah.
Tujuan Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum :
1. Peserta dapat memahami tafsir maliki yaumiddin
2. Peserta dapat memahami maliki yaumiddin dalam Sistematika Wahyu
3. Peserta dapat memahami hari perhisaban
4. Peserta dapat menjelaskan implikasi maliki yaumiddin kepada pribadi dan
masyarakat
5. Peserta dapat menjelaskan maliki yaumiddin menumbuhkan sikap adil
6. Peserta dapat menjelaskan supremasi hukum allah.
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menjelaskan tafsir maliki yaumiddin.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 55
2. Peserta dapat menjelaskan maliki yaumiddin dalam Sistematika Wahyu.
3. Peserta dapat menjelaskan hari perhisaban.
4. Peserta dapat menjelaskan implikasi maliki yaumiddin kepada pribadi dan
masyarakat.
5. Peserta dapat menjelaskan maliki yaumiddin menumbuhkan sikap adil.
6. Peserta dapat menjelaskan supremasi hukum Allah.
Sesi VI: Iyyakana’budu Waiyyakanasta’in
Tujuan Umum:
Peserta memahami dan menghayati pernyataan Iyyaka na’budu waiyyaka
nasta’in sebagai pernyataan kemurnian nilai tauhid yang melahirkan pribadi
muslim kaffah sebagai pilar peradaban masyarakat al-Fatihah.
Tujuan Kognitif :
Tujuan Instruksional Umum :
1. Peserta dapat memahamai tafsir iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
2. Peserta dapat memahami iyyaka na’budu iyyaka nasta’in dalam Sistematika
Wahyu
3. Peserta dapat memahami klasifikasi manusia
4. Peserta dapat memahami hasil celupan beberapa ibadah dalam rukun islam
5. Peserta dapat memahami faedah iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
6. Peserta dapat memahami madjid sebagai pusat peradaban
7. Peserta dapat memahami peradaban Rabbani
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menjelaskan tafsir iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
2. Peserta dapat menjelaskan iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in dalam
Sistematika Wahyu
3. Peserta dapat menjelaskan klasifikasi manusia
4. Peserta dapat menjelaskan hasil celupan beberapa ibadah dalam rukun islam
5. Peserta dapat menjelaskan faedah iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
6. Peserta dapat menjelaskan masjid sebagai pusat peradaban
7. Peserta dapat menjelaskan peradaban Rabbani
Sesi VII : Ihdinashiraathal Mustaqiim
Tujuan Umum :
Peserta memahami dan menghayati pernyataan Ihdinash shiraatal-mustaqim
sebagai pernyataan kemurnian nilai tauhid dan melahirkan pribadi muslim
kaffah sebagai pilar perdaban masyarakat al-Fatihah.
Tujuan Kognitif :
56 | Kuliah Syahadat
Tujuan Instruksional Umum
1. Peserta memahami tafair ayat ihdinaash-shiraathal mustaqiim hingga akhir
sunah;
2. Peserta memahami gambaran masyarakat Yahudi dan Nasrani ;
3. Peserta memahami prinsip-prinsip tawazun
4. Peserta memahami penerapan tawazun
Tujuan Instruksional Khusus
1. Peserta dapat menjelaskan tafsir ayat ‘ihdinaash shiraath-al-mustaqiim
hingga akhir sunah ;
2. Peserta dapat menggambarkan masyarakat yahudi dan Nasrani ;
3. Peserta dapat merinci prinsip-prinsip tawazun ;
4. Peserta dapat menjelaskan penerapan tawazun ;
Pengorganisasian :
1. Semua kegiatan mulai dari rekrutmen peserta sampai pelaksanaannya
dikoordinasikan oleh DPD.
2. Instrukstur merupakan kombinasi dari unsur DPD, DPW dan Instruktur
Nasional.
X. TINDAK LANJUT PAKET FATIHAH
Setelah paket Fatihah, pembinaan kelompok diarahkan untuk meningkatkan
pemahaman, pendalaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai yang telah
diberikan pada training, sehingga menjadi bagian dari sikap dan akhlak jama’ah.
Proses pembinaan melalui ta’lim, diskusi dan tugas dakwah.
1. Setelah mengikuti Paket Fatihah, peserta training dikelompokan dalam
majelis ta’lim yang anggota sendiri terdiri 10 orang.
2. Majelis ta’lim dipimpin oleh seorang Muallim.
3. Pembinaan dilakukan rutin minimal sekali dalam sepekan.
4. Materi :
- Akselerasi pemahaman al-Qur’an Buku III
- Diskusi pendalaman materi kajian Paket Fatihah.
- Diskusi kitab/ Buku; Lautan al-Fatihah.
- Muhasabah dan taushiyah.
Tugas Dakwah :
Pada jenjang Fatihah ini, tugas dakwah yang harus dilakukan jama;ah adalah :
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 57
1. Dakwah infiradhi. Bentuknya sesuai musyawarah kelompok. Misalnya :
Silahturahmi kepada saudara seiman, menyebarkan majalah, brosur, atau mencari
peserta suatu kegiatan dan lain-lain.
2. Mulai dilibatkan dalam kepanitiaan Training Paket Dakwah atau
kepanitiaan lainnya.
3. Memakmurkan masjid di lingkungannya dengan mengajak orain lain
shalat berjama’ah.
4. Membina TPA dan Majlis Ta’lim di lingkungannya.
5. Sebagai Panitia Pengarah Training Marhalah Ula. Minimal setiap pecan
tugas dakwah dievaluasi dalam forum muhasabah kelompok.
Evaluasi :
1. Setelah dua bulan mengikuti pembinaan rutin, anggota Majelis Ta’lim
yang dinyatakan lulus dapat mengikuti paket Imamah Jama’ah, sementara yang
belum lulus disarankan mengikuti program pengulangan.
2. Evaluasi loyalitas kejama’ahan.
XI. PENGKADERAN PAKET IMAMAH JAMA’AH
Fokus Meteri Pengkaderan :
Penanaman Imamah Jama’ah dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Target :
1. Peserta memahami arti strategisnya hidup dan berjuang secara damai.
2. Peserta secara sadar siap jama’ahnya yang dinyatakan pada akhir
pertemuan dengan pernyataan komitmen.
Peserta Didik :
Jama’ah yang telah mengikuti Paket Fatihah dan aktif dalam pembinaan rutin
maupun penugasan dakwah sebagai pembinaan TPA maupun mejelis talkim di
lingkungannya.
Bentuk Kegiatan :
Training
Materi Pengkaderan :
58 | Kuliah Syahadat
Kajian kitab Wahdatul Ummah
Tujuan Kognitif :
1. Peserta memahami dan menyadari kewajiban berimamah dan berjama’ah.
2. Peserta memahami hal dan kewajiban dalam berimamah dan berjama’ah.
Pengorganisasian :
1. Peserta kegiatan mulai rekrutmen peserta sampai pelaksanaannya
dikoordinir oleh DPD.
2. Instruktur merupakan kombinasi dari DPD, DPW dan Instruktur
Nasional.
XII . PEMBINAAN RUTIN JENJANG IMAMAH JAMA’AH
Setelah Paket Imamamh Jama’ah, pembinaan kelompok diarahkan untuk
meningkatkan pemahaman, pendalaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai
yang telah diberikan pada training, sehingga menjadi bagian dari sikap dan akhlak
jama’ah. Proses pembinaan melalui ta’lim, diskusi dan tugas dakwah.
Nilai-nilai yang ditanam :
1. Nilai-nilai Imamah jama’ah dalam islam
2. Hak dan kewajiban dalam berjama’ah
Karakteristik Kader :
1. Memililki pemahaman imamah jama’ah sebagai konseksuensi berIslam
2. Bergabung sebagai anggota jama;ah Hidayatullah memiliki kesiapan
dipimpin dan memimpin
Target Pengkaderan :
1. Memahami makna strategis hidup dan berjuang secara damai.
2. Memahami dan terpanggil untuk siap bergabung dalam kepemimpinan
Hidayatullah dengan pernyataan komitmen.
3. Memahami dan hak kewajiban sebagai anggota jama’ah
Bentuk Pembinaan :
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 59
1. Setalah mengikuti paket Imamah Jama’ah, peserta training dikelompokan
dalam majelis ta’lim yang anggotanya terdiri dari 10 orang.
2. Majelis Ta’lim dipimpin oleh seorang muallim.
3. Pembinaan dilakukan rutin minimal sekali dalam sepekan.
4. Materi :
- Akslerasi pemahamanal-Qur’an Buku III ( lanjutan )
- Diskusi pendalaman materi kajian Paket Imamah Jama’ah
- Diskusi kitab / bukul; al-Qiyadhah wal Jundiyah
- Muhasabah dan taushiyah
5. Mulia dilibatka sebagai asisten instruktur Marhalah Ula.
6. Pembinaan TPA atau Majelis Ta’lim di lingkungannnya.
7. Menjadi anggota jama’ah penuh yang telah memiliki hak dan kewajiban
yang sama dengan anggota jama’ah lainnnya.
Evaluasi :
Setelah dua bulan mengikuti pembinaan rutin, anggota Majelis Ta’lim
yang dinyatakan lulus dapat mengikuti Marhalah Wustha, sementara yang belum
lulus disarankan mengikuti program remidi. ***
B. MARHALAH WUSTHA
Pengkaderan Marhalah Wustha dimaksudkan untuk memberikan wawasan
organisasi dan kepimmpinan. Para peserta di targetkan mampu menjalankan
tugas sebagai pengurus Hidayatullah.
Fokus Materi Pengkaderan :
1. Khittah, pedoman dasar, peraturan organisasi dan seluruh penjabarannya
2. Kepemimpina yang efektif
3. Wawasan kepemimpinan
Target :
1. Peserta dapat memahami prinsip-prinsip organisasi dan kepemimpinan
60 | Kuliah Syahadat
2. Peserta dapat menerapkan kepemimpinan Islam dalam berorganisasi
3. Memiliki wawasan kepemimpinan
Peserta :
Jama;ah Hidayatullah yang telah mengikuti Marhalah Ula dan aktif dalam
pembinaan rutin maupun penugasan dakwah sebagai Pembina TPA maupun
majelis talkim di lingkungannya.
Bentuk kegiatan :
Training
Kurikulum Pengkaderan :
1. Gerakan Islam dari masa ke masa.
2. Gerakan Islam di Indonesia.
3. Hidayatullah sebagai gerakan islam.
4. Khittah Hidayatullah
5. Visi dan Misi Hidayatullah
6. Keorganisasian Hidayatullah ( Pedoman Dasar Organisasi ).
7. Strategis Dakwah Hidayatulla.
8. Amal Usaha Hidayatullah.
Problematika Umat
Perbandingan Harokah Islamiyah
Fiqhud Dakwah
Tsawafah Islamiyah ( Ghazwul Fikri ).
Paradigma Pendidikan Islam.
Tazkiyatun Nufus.
Kepemimpinan dalam Islam.
Kepemimpinan yang efektif.
9. Dasar-dasar Penyelesaian masalah.
10. Dasar-dasar Perencanaan.
11. Dasar-dasar Pengorganisasian.
12. Dasar-dasar Evaluasi.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 61
Simulasi :
Pengorganisasian :
1. Semua kegiatan mulai rekrutmen peserta sampai pelaksanaannya
dikoordinir oleh DPW.
2. Instruktur merupakan kombinasi dari DPD, DPW dan Instruktur
Nasional.
PEMBINAAN RUTIN MARHALAH WUSTHA
Setelah Paket Marhalah Wustha, pembinaan kelompok diarahkan untuk
meningkatkan pemahaman, pendalaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai
yang telah diberikan pada training, sehingga menjadi bagian dari sikap dan akhlak
jama’ah. Proses pembinaan melalui ta’lim, diskusi dan muhasabah.
Nilai-nilai yang ditanamkan :
Nilai-nilai kepemimpinan Islam
Karakteristik Kader :
1. Memiliki pemahaman nilai islam secara kaaffah
2. Memiliki wawasan kepemimpinan
3. Memiliki kemampuan memimpin yang efektif
Targe Pengkaderan :
1. Memahami dan terpanggil untuk menjalankan misi sebagai addullah dan
khalifah melalui kepemimpinan Hidayatullah.
2. Memahami konsep keorganisasian dan kepemimpinan Hidayatullah.
3. Dapat menerapkan kepemimpinan Islam dalam berorganisasi.
Bentuk Pembinaan :
1. Setelah mengikuti paket Imamah Jama’ah,peserta training dikelompokan
dalam majlis ta’lim yang anggotanya terdiri 10 orang.
2. Majelis ta’lim dipimpin oleh seorang mu’allim.
62 | Kuliah Syahadat
3. Pembinaan dilakukan rutin minimal sekali dalam sepekan
4. Meteri :
- Tafsir
- Diskusi pendalaman materi kajian Paket Wustha
- Diskusi kitab / buku
- Muhasabah dan taushiyah
Tugas dakwah :
Pada jenjang wustha ini, tugas dakwah yang harus dilakukan jama’ah adalah :
1. Dakwah infirodi. Bentuknya sesuai musyawarah kelompok. Misalnya :
silahturahmi kepada saudara seiman, menyebarkan majalah, brosur atau mencari
peserta suatu kegiatan dan lain-lain.
2. Mulai dilibatkan sebagi instruktur Training Marhalah Ula.
3. Memakmurkan masjid di lingkungannya dengan mengajak orang lain
shalat berjama’ah.
4. Membina TPA dan majlis ‘ta’lim di lingkungannya.
5. Dilibatkan dalam gerakan atau amal usaha Hidayatullah.
6. Rekutmen kader dan pengurus di smeua jenjang organisasi. Minimal
setiap pecan tugas dakwah dievaluasi dalam forum muhasabah kelompok.
Evaluasi :
Setelah terlibat sebagai pengurus dan meiliki keaktifan serta prestasi yang baik,
maka kemapuan keorganisasiannya ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan
sesui bidangnya. ****
C. MARHALAH ‘ALI
Pengkaderan Marhalah ‘Ali dimaksudkan menghantarkan peserta memiliki
kualitas kader mujahid. Kader pada level ini diharapkan bias bergerak sebagai
pejuang pergerakan Hidayatullah untuk merespon berbagai tantangan dan
hambatan perjuangan dalam ideologi, politik, ekonomi budaya dan hankam.
Fokus Materi Pengkaderan :
1. Hidayatullah sebagai Harakah al Jihadiyah
2. Wawasan Ipoleksosbudhankam
3. Wawasan pengerakan islam
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 63
Target :
1. Siap menjalankan misi mujahid harakah al Jihadiyah
2. Memahami system Ipoleksosbudhankam
3. Mampu merespon berbagai permasalahan nasional
Peserta ;
Jama’ah Hidayatullah yang telah mengikuti Marhalah Ula dan aktif dalam
pembinaan rutin maupun penugasan dakwah sebagai pengurus organisasi.
Bentuk Kegiatan :
Training
Meteri Pengkaderan :
1. Islam dan Sistem Politik
- Syura versus demokrasi ( dalam sorotan Syariah islam )
- Mengkaji pelaksanaan pemerintahan di Indonesia
- Gerakan Zionis Internasional
- Menyorot peran dan netralisasi PBB.
- Daulah Islamiyah ; antara idealitas dan realitas
Islam dan system ekonomi
- System perbankan syariah dan konvensional
- Mengkritisi kiprah lembaga keuangan internasional ( IMF, IDB ) di
Negara-negara berkembang.
- Mengkaji ambruknya sistem ekonomi Indonesia
2. Islam dan Sistem Sosial
3. Islam dan Sistem Budaya
4. Islam dan Sistem Hankam
5. Ipoleksosbudhankam Kontemporer
6. Pergerakan Islam
7. Strategi dan taktik memenangkan perjuangan islam
Pengorganisasian :
1. Semua kegiatan mulai rekrutmen peserta sampai pelaksanaannya
dikoordinir oleh DPP.
2. Instruktur merupakan kombinasi dari DPD, DPW dan Instruktur
Nasional.
3.
64 | Kuliah Syahadat
TINDAK LANJUT MARHALAH ‘ALI
Setelah paket Marhalah ‘Ali pembinaan kelompok diarahkan untuk
meningkatkan pemahaman, pendalaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai
yang telah diberikan pada training, sehingga menjadi bagian dari sikap dan
akhlak jama’ah. Proses pembinaan mulai ta’lim dan muhasabah.
Nilai-nilai yang ditambahkan :
Nilai kekaderan Hidayatullah sebagai pergerakan Islam
Karakteristik Kader :
1. Memiliki wawasan perjuangan Islam yang utuh dan komprehensif
2. Memiliki akhlaq sebagai pejuang
3. Memiliki wawasan Ipoleksosbudhankam
Targer pengkaderan :
1. Siap sebagai mujahid al harakah al jihadiyah
2. Memahami konsep-konsep Ipoleksosbudhankam dan penerapannya
3. Berwawasan nasional dan internasional
Bentuk Pembinaan :
1. Pembinaan dilakukan rutin minimal sekali dalam sepekan
2. Materi :
- Tafsir
- Diskusi Kitab / Buku
- Kajian kritis masalah kontemporer
- Muhasabah dan taushiyah
Tugas Dakwah :
1. Dilibatkan dalam sebagai kader inti harakah al islamiyah al jihadiyah
2. Dilibatkan sebagai instruktur dalam pembinaan jama’ah tingkat lanjutan
3. Terlibat dalam berbagai misi dakwah ke berbagai lembaga atau organisasi
4. Dakwah bil qalam lewat berbagai media massa
5. Aktif merespon berbagai masalah nasional dan internasional
Evaluasi :
Setelah dapat menajalankan amanah sebagai kader harakah al islamiyah al
jihadiyah, maka seorang kader-kader diberikan peningkatan kualitas dalam
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 65
forum-forum nasional dan
pendidikan-pendidikan khusus. ***
D. PEMBINAAN BERSAMA
Pembinaan bersama merupakan forum peningkatan kualitas sekaligus sebagai
silahturahmi seluruh jama’ah. Pembinaan yang diikuti jama’ah ini terdiri dari
pengkajian kitab, ceramah umum dan tarbiyah ruhiyah. Kegiatan ini dilaksanakan
di markas dakwah ( masjid ).
Pengkajian Kitab
1. Pengajian kitab dibimbing oleh seorang ustadz yang mengkaji kitab-kitab
tertentu. Disamping berfungsi penambahan ilmu, pengajian juga merupakan
silahturahmi antar jama’ah.
2. Kitab yang dikaji adalah tafsir fii Dzilaalil Qur’an surat-surat Sistematika
Nuzul Wahyu ( Sayyid Quthb )
Ceramah umum :
Ceramah umum ini disampaikan oleh pemimpin jama’ah setempat sebagai
taushiyah sekaligus instruksi harian kepada jama’ah terkait dengan pembinaan
dan gerakan dakwah. Ceramah juga bias disampaikan oleh ulama yang diserahi
pemimpin.
Tarbiyah Ruhiyah
Tarbiyah ruhiyah secara jamai dilakukan setiap pecan sekal pada malam
lailatul ijtima’. Pada kegiatan ini diisi dengan berbagai kegiatan ibadah, antara lain:
- Shalat lain ( berjama’ah )
- Dzikir
- Membaca beberapa surat dan ayat pilihan dari al-qur’an
66 | Kuliah Syahadat
BAB 3
PANDUAN BERDAKWAH
A. LATAR BELAKANG
Islam adalah agama dakwah. Ia berkembang, besar dan mejadi jaya berkat
dakwah yang dilakukan oleh generasi pertama hingga saat ini tiada putus-
putusnya. Perjalanan panjang dakwah islam dapat dilihat melalui rekaman
peristiwa sejarah. Di sana kita akan mendapati betapa para tokoh islam telah
menunjukkan kegigihannya dalam menapaki perjalanan dakwah yang penuh
dengan onak dan duri. Sebuah perjalanan panjang yang enak dikenang tapi berat
dijalani.
Dakwah merupakan kata kunci kebesaran Islam. Adalah keliru bila ada yang
menuduh Islam jaya dan berkembang ke seantero dunia melalui kilatan pedang.
Ajaran islam mengajarkan kepada umatnya untuk menyebarkan islam melalui
pendekatan dakwah, bukan pemaksaan Dakwah adalah sebuah ajakan, yang
menyeru manusia kembali kepada jalan Tuhan. Jadi sasaran utama dakwah adalah
keyakinan. Sedangkan keyakinan mustahil diubah dengan pemaksaan.
Itulah sebabnya, dari awal Islam mengajarkan kepada umatnya melalui firman
Allah SWT :
“ Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah
jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang
(teguh) kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha
mendengar lagi Maha mengetahui”. ( al-baqarah [2]: 256 )
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 67
Paksaaan, apapun bentuknya, baik yang halus maupun yang kasar tidak
dibenarkan dalam islam. Itulah sebabnya, yang disentuh dalam dakwah adalah
kesadaran. Dakwah adalah upaya pencerahan ide, gagasan, dan pemikiran. Tidak
salah jika pada wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasullah sallaahu a’alaihi
wa salam adalah perintah membaca, iqra’.
“ Bacalah dengan nama Rabbi-mu, yang menciptakan. Yang menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbi-mu agungkan. Yang mengajari
dengan qalam. “ ( al-‘Alaq [68] : 1-5
Ayat inilah yang menjadi landasan utama para pelaku dakwah Ketika ayat
ini turun, Rasulullah langsung menjadi seorang da’i. Demikian juga ketika ayat
ini sampai kepada para sahabat, mereka langsung menjadi da’i. Meraka aktif
berdakwah, mengajak teman dekat, karib dekat dan keluarganya untuk menyakini
kebenaran Islam. Hingga suatu ketika sampailah masanya, missi ajaran Islam
disiarkan secara terbuka.
Bumi Madinah yang menjadi pusat dakwah, yang seluruh warganya terlobat
aktif dalam gerakan dakwah, bukan sasaran final. Sasaran final dakwah adalah
rahmatan Lil’alamin, hingga seluruh alam semesta merasakan nikmnatnya Islam.
Itulah sebabnya meraka menyebar, tidak saja di kota-kota di sekitar madinah,
tapi juga meluas sampai menyebrang ke wilayah-wilayah di afrika, eropa dan
selanjutnya ke buna lainnya.
“ Kamu adalah umat terbaik, yang dilahirkan untuk mannusia, menyuruh
kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. “ (
Ali Imran [3] : 110 )
Hidayatullah bertekad melaksanakan dakwah dengan semangat iman yang
sama dengan semangat negeri madinah. Bumi gunung tembak ( kampus pertama,
kampus pusat di Balikpapan ) bukan sasaran final. Maka menyebarlah mereka ke
seantero bumi nusantara. Di sana mereka telah membuat kampus sebagai pusat-
pusat penggemblengan kader dakwah.
Saat ini era baru telah dating, kampus-kampus mini tidak lagi mampu
menampung perkembangan amanah yang begitu cepat. Kampus-kampus yang
tersebar di seantero nusantara itu bukan sasaran final. Sebuah langkah baru akan
dimulai, yakni membuka diri seluas-luasnya. Sasaran-sasaran dakwah diperluas,
aspek-aspek kehidupan ( yang harus diwarnai dengan kenikmatan iman)
diperbanyak menjadi lebih komprehensif. Inisiatif pendekatan dan dialog pun
akan ditingkatkan frekuensi dan efektivitasnya. Hidayatullah memasuki sebuah
tahapan di mana dakwah merupakan Gerakan nasional dan berikutnya gerakan
semesta, yang melibatkan semua orang, dari semua lapisan umur, dan dari semua
tempat. Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !
B. ARTI DAKWAH
68 | Kuliah Syahadat
Dakwah merupakan isim mashdar, yang berasal dari kata da’aa-yad’uu, artinya
meyeru dan memanggil.
Diantara makna dakwah secara bahasa adalah :
1. Panggilan ( an-Nida’). Seperti pada kata ; da’aa fulaanun fulaanah, ( si
Fulan memanggil kepada si Fulanah )
2. Seruan ( ad-Du’aa’), seperti pada kata; Ad-du’aa’ ilaa syai’ ( menyeru
kepada sesuatu )
3. Penegasan ( ad-Du’ah), seperti pada kata ; ad-du’ah ilaa qaadhiyah (
menegaskan sesuatu keputusan hukum )
Dalam kamus “ Lisanul Arab” dikatakan bhawa du’at adalah bentuk jamak dari
da’I, pengertiannya orang-orang yang mengajak manusia untuk berbai’at pada
petunjuk atau kesesatan.
Atas dasar itulah maka pengertian dakwah menurut bahasa adalah seruan
atau ajakan kepada petunjuk atau kepada kesesatan. Hal ini dikuatkan oleh sabda
Rasululllah Saw :
“Barang siapa mengajak pada petunjuk,ia berhak mendapatkan pahala orang
yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan barang
siapa mengajak kepada kesesatan , Ia berhak mendapatkan dosanya seperti dosa
orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa meraka sedikitpun. “ ( HR
Muslim)
Hadits di atas memberikan petunjuk bahwa dakwah memiliki pengertian
yang umum. Ada dakwah yang ditunjukan kepada kebenaran dan ada pula yang
ditunjukan kepada kesesatan.
Didalam al-qur’an disebutkan adanya dakwah atau seruan yang bersifat
positif, adapula dakwah dalam pengertian negative. Al-Qur’an menjelaskan
tentang perbedaan dakwah nabi Musa ‘Alaihis salam dan dakwah yang dilakukan
kaumnya.
“ Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru mu kepada keselamatan,
tetapi kamu menyeru kepada neraka.” ( al-Mu’minun[40] : 41)
“ ( Mengapa ) kamu menyeru supaya kafir kepada allah dan mempersekutukan-
Nya dengan apa yang tidak aku ketahui, padahal aku menyeru kamu (beriman)
kepada yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun.” (al-mu’minun[40] : 42)
Musa menyeru kaumnya menuju keselamatan (surge), sedang kaumnya
menyeru kepada kesesatan. Musa menyeru kepada tauhid dan keimanan,
sedangkan kaumnya menyeru kepada kekafiran dan kemusyrikan.
Para Nabi dan rasul memiliki missi dakwah yang sama yaitu menyeru kepada
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 69
umat untuk menyembah Allah ( da’aa ila-Allah).
“ Dan siapakah yang lebih baik perkataanya dari pada orang yang menyeru
kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata : “ Sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang beriman.” ( Fushshilat [41] : 33-36)
Dakwah ila-Allah artinya seruan ajakan dengan perkataan dan perbuatan
yang bertujuan untuk membimbing manusia kepada jalan Allah Swt. Aktivitas
dakwah ini meliputi : mengenalkan keberadaan allah, tanda-tanda kekuasaan-
Nya dan sifat-sifat-Nya, mengajarkan tentang syari’at-Nya serta menanamkan
ketaatan terhadapat perintah maupun larangan-Nya.
Dakwah dalam kaitan ini mencakup :
- Tilawatu aayaatillah ; membacakan ayat-ayat Allah.
- Tazkiyah; penyucian jiwa;
- Ta’liimatul kitaab wal-hikmah; pengajaran al-Kitab dan al Hikmah.
Allah berfirman :
“Dialah Allah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara
mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka
dan mengajarkan mereka Kitab dan. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya
benar-benar dalam kesesatan yang nyata. “ ( al-Jumu’ah[62] : 2)
C. URGENSI DAKWAH
1. Melanjutkan Tugas Kerasulan
Tugas utama para nabi dan rasul adalah mengemban amanah menyeru kepada
manusia untuk menegakkan kalimat tauhid ( laa ilaaha illallaah ) dan membebaskan
manusia dari segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.
“ Hai nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan
membawa kabar gembira dan memberi peringatan dan untuk menjadi penyeru
kepada ajaran Allah dan izin-Nya dan untuk menjadi pelita yang menerangi.” (
al-Ahzaab[33] : 45-46)
“ Sesungguhnya kami mengutusmu dengan membawa kebenaran, sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu
umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” ( Faathir[35]
: 24)
Telah menjadi ketetapan Allah, para nabi dan para rasul herus kembali
menghadap Allah setelah melaksanakan masa baktinya. Demikian pula
Muhammad penutup para nabi telah wafat sebagaimana nabi-nabi yang lain,
tetapi dakwah Islam tidak boleh berakhir sampai hari akhir. Maka misi kenabian
70 | Kuliah Syahadat
dan kerasulan tersebut telah diwariskan ke puncak orang-orang yan beriman
pengikut risalahnya.
“ Kami sekalian adalah sebaik-baik umat yang ditampilkan begi umat manusia,
engkau menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan engkau
beriman kepada Allah. Dan sekiranya beriman orang-orang ahlulkitab niscaya ini
lebih baik bagi mereka. Di antara mereka terdapat orang-orang yang beriman,
dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasiq” ( Ali ‘Imran[3] : 110)
2. Memelihara Kemurnian Ajaran Islam
Pada agama yahudi dan nasrani telah terjadi penyelewengan dan penyimpangan
yang sangat jauh. Bukan hanya penyelewengan syari’ah, tetapi juga menyangkut
penyelewengan aqidah. Hal ini telah terjadi pada agama yahudi dan nasrani
karena rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka telah diperbudak oleh hawa
nafsunya. Mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya.
Meraka mencampuradukan yang haq dan yang batil, serta menukar yang haq
dengan kebatilan.
“… Dan Jangalah kamu menukar –ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah
dan hanya kepada-Ku hendaknya kamu bertaqwa. Dan jangalah kamu campur
adukkan yang haq dengan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan
kebenaran itu padahal kamu mengetahuinya.”
(al-Baqarah[2] :41-42)
Islam tidak pernah lenyap dari permukaan bumi ini, sekalipun orang-orang
kafir senantiasa berusaha memadamkan pelita Islam di berbagai negeri. Rasulullah
Saw telah meninggalkan warisan yang berharga, yaitu al-Qur’anul Karim dan as-
Sunnah Rasulullah Saw. Terhadap al-Qur’an, Allah telah memberikan jaminan
akan keutuhannya.
“ Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz-Dzikr ( al-Qur’an) dan Kami
akan menjaganya.” ( Al-Hijr[15] :9)
Jaminan terhadap kemuliaan umat Islam juga telah dinyatakan oleh Rasulullah
Saw sepanjang umat ini tetap konsisten dan berpegang teguh pada al-Qur’an dan
sunnahnya. Sayangnya kenyataan justeru memberi gambaran yang sebaliknya.
Kebanyakan umat yang menamakan diri sebagai Muslimin selama ini masih
terlibat dalam berbagai bentuk penyimpangan ajaran Islam.
Musuh-musuh Islam telah berhasil menjauhkan umat islam dari al-Qur’an
dan as-Sunnah Nabi Saw. Kaum orientalis dan sekuler menjauhkan nilai-nilai
islam dengan dalih modernisasi, sedangkan kaum Nasionalis mengaburkan islam
dengan dalih melestarikan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Padahal Rasulullah
Saw berpesan kepada kaum muslimin dalam haditsnya :
“ Aku tinggalkan untuk kamu sekalian di perkara, apabila kamu sekalian
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 71
berpegang teguh pada keduanya, kamu sekalian tidak akan tersesat selamanya,
yaitu kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. “ ( al-Hadits)
Dakwah untuk menyadarkan umat ini dari kelalaian yang terjadi selama ini
menjadi tanggung jawab para ulama, pemimpin, para da’I, serta para aktivis.
Apabila orang-orang yang berilmu dan para pemimpin tidak punya kepedulian
terhadap pengikisan aqidah, penyimpangan syari’ah dan merosotnya akhlaq dari
umat ini, maka umat akan tesesat dalam kesesatan yang jauh.
3. Mambangun kader Inti
Dakwah tealah dilakukan oleh Rasulullah sejak hari pertama kenabiannya.
Meskipun belum ada perintah Allah secara eksplisit, beliau sudah dapat
memahammi hakikat tugas ini. Demi menjaga stabilitas, beliau melakukannya
dengan pendekatan individual secara sembunyi-sembunyi. Sasaran pertamanya
adalah orang-orang terdekat, seperti anggota keluarga dan sahabat-sahabat dekat
beliau. Keluarga menjadi prioritas pertama sebelum yang lain. Maka dalam waktu
yang relatif singkat telah menjadi Islam ; Khadijah ( isteri), Ali Bin Abi Thalib (
sepupu yang menjadi anak angkat ) dan Zaid bin Haritsah ( bekas budak yang
menjadi anak angkat ). Di lingkungan sehabat terdekat, orang-orang menyambut
dakwah beliau pertama kali adalah Abu Bakar bin Quhafah, Utsman bi Affan,
Zubair bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqas.
Melalui komunikasi lisan generasi pertama dakwah ini terus memperluas
pengaruhnya. Missi dakwah semakin gencar dilakukan setelah lebih nyata lagi
Allah menurunkan wahyu-wahyu-Nya yang ketiga, yaitu surat al-Muzzammil,
antara lain :
“ Wahai orang yang berselimut. Bangunlah dan berilah peringatan, dan Rabb-
Mu agungkanlah!”
Ketika jumlah mereka semakin banyak, dengan tempat yang tersebar dan latar
belakang yang berbeda-beda, Rasulullah merasa perlu merapikan penanganan
dakwah ini. Agar proses pembinaan dapat dilakukan lebih intensif serta tetap
menjaga kerahasiaannya, maka dipilihlah rumah Arqam sebagai pusat dakwah
dan pembinaan. Di rumah Arqam inilah yang menjadi tempat proses kaderisasi
generasi sahabat pertama kali.
Di masa-masa awal perjuangan ideologi Islam sangat diperlukan adanya
kader-kader yang bermental baja, tahan menghadapi ujian dan siap berkorban
apa saja. Oleh karena itu pemantapan iman dan penanaman aqidah secara intensif
dilakukan terus-menerus.
4. Membangun Opini Publik
Pemeluk islam terus bertambah, dan kabar tentang keIslaman
mereka mulai tersebar ke seluruh pelosok Makkah, Allah
72 | Kuliah Syahadat
mengizinkan Rasulullah untuk berdakwah secara terbuka. Ini terlihat
dengan tegas isi perintah yang terkandung dalam firman-Nya :
“ Maka siarkanlah apa yang diperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu
mempedulikan orang-orang musyrik.” (al-Hijr[15] :94)
“ Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat, dan lemah
lembutlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang
yang beriman.” (asy-Syu’ara[26] :214-215)
Sejak perintah melaksanakan dakwah secara terang-terangan, Rasulullah
Saw mulai berdakwah di tempat-tempat terbuka. Beliau memanfaatkan berbagai
kesempatan yang ada. Rasulullah pergi ke bukit Shafa dan memanggil orang-orang
di sekitarnya. “ Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘Adi, bagaimanakah pendapatmu
jika aku kabarkan kepadamu bahwa di belakang gunung ini ada sepasukan kuda
musuh yang datang akan menyerangmu, apakah kamu mempercayaiku “ Jawab
Mereka,” Ya, kami belum pernah melihat kamu berdusta.” Rasulullah melanjutkan
: “ Ketahuilah sesungguhnya aku adalah orang pemberi peringatan kepada kalian
dari siksa yang pedih.”
Di saat Rasululllah Saw mengundang kerabat dekatnya dalam sebuah acara
jamuan makan. Di saat itu mereka disembelihkan seekor unta dan dibuatkan
makanan yang lezat. Selesai makan-makan, Rasulullah berseru kepada mereka,”
Wahai bani Ka’ab bin Lu’ai, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Fatimah,
selamatkan dirimu dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak akan membela kalian
di hadapan Allah, selain bahwa kalian mempunyai tali kekeluargaan yang akan
aku sambung dengan hubungannya.’
Dakwah terbuka seperti ini terus beliau lakukan, meskipun halangan dan
hambatan serta tantangan dirasakan semakin besar.
Nabi Saw mendatangi tempat-tempat berkumpulnya orang-orang. Beliau
datang ke pasar Ukaz, beliau singgah di pasar Dzil Majaz sambil menyampaikan
kabar, “ Wahai manusia ucapkanlah : Tidak ada tuhan selain Allah, kamu akan
bahagia.”
Nabi Muhammad Saw juga mendatangi kota-kota penting untuk menawarkan
agama yang akan menyelamatkan mereka dari kesesatan. Beliau berdiskusi
dengan tokoh-tokoh Bani Tsaqif di Thaif, meskipun akhirnya tawaran beliau
ditolak mentah-mentah dan berlanjut dengan penghinaan serta penyiksaan yang
meraka lakukan kepada diri Nabi Saw.
5. Membangun Jaringan Dakwah
Kekuatan syiar Islam tidak dapat dilepaskan dari kekuatan jaringan. Rasulullah
Saw sangat menyadari, eskisnya ajaran Islam tidak dapat dilepaskan dari dukungan
masyarakat luas dan juga dari dukungan dunia luar. Berbagai cara beliau lalukan
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 73
untuk maksud tersebut.
Suatu metode yang sangat sederhana tetapi memiliki dimensi yang sangat
strategis telah diambil oleh Rasulullah Saw, yaitu melalui pengiriman surat kepada
raja-raja dan pengiriman delegasi ke negeri-negeri lain. Diutuslah Dahyah ibnu
Khalifah ke Kaisar Heraklius, Abdullah bin Khadzafah kepada Kisra, Ummar bin
Ummayah Adh-Dhamiri kepada raja Najasyi, Khatib bin Abi Baltha’ah kepada
Raja Muqauqis, dan masih banyak lagi.
Cara-cara lain terus beliau usahakan untuk membuka jaringan ini. Seperti
biasanya, setiap bulan Dzulhijjah, ke kota Makkah banyak berdatangan kabilah-
kabilah yang datang dari negeri-negeri lain untuk melaksanakan ibadah haji.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Rasulullah Saw untuk menyampaikan
dakwahnya. Beliau mendatangi kemah-kemah dan tempat-tempat mereka
berkumpul, sambil menawarkan seruan Islam.
Di tahun ke-11 kenabian Rasulullah Saw, beliau bertemu dengan sekelompok
pemuda kabilah Khazraj dari kota madinah. Dalam perkenalan dengan pemuda-
pemuda Khazraj itu beliau berkesempatan melakukan dialog. Beliau mengajak
mereka agar beriman kepada Allah, menawarkan islam dan membacakan beberapa
ayat suci al-Qur’an. Setelah mereka mendengarkan uraian Rasululllah Saw, maka
mereka tertegun saling berpandangan. Salah seorang di antara mereka berkata, “
Demi Allah, ketahuilah bahwa dia nabi yang dijanjikan oleh orang-orang yahudi
kepadamu. Jangan sampai mereka mendahului kamu.”
Akhirnya mereka menyambut seruan islam dan berjanji pada bulan haji
tahun berikutnya akan kembali bertemu dengan Rasulullah Saw di ‘Aqabah dan
membawa kabilah yang lebih banyak lagi.
Di tahun itu juga berita tentang Islam telah menyebar di Madinah, dan pada
tahun kedua belas kenabian sebanyak dua belas orang telah berbai’at kepada
Rasulullah Saw pada Bai’atul ‘Aqabah pertama. Setelah pembai’atan, utusan
kaum Anshar kembali ke Madinah disertai Mush’ab bin Umair yang bertugas
mengajarkan al-Qur’an dan syari’ah Islam kepada mereka.
Tahun berikutnya Mush’ab bin Umair kembali lagi ke Makkah dengan
membawa sejumlah besar rombongan. Terjadilah peristiwa Bai’atul ‘Aqabah
kedua, yang dikuti oleh tujuh puluh orang laki-laki dan dua orang perempuan.
Selanjutnya Rasululllah Saw meminta untuk dihadirkan sebanyak dua belas orang
di antara mereka untuk menjadi wakil dari masing-masing kabilah.
Setahun sebuah peristiwa itu, gerakan dakwah islam menemukan momentum
kruisal yang kelak mempercepat penyebarannya ke seluruh wilayah Jazirah Arab,
bahkan ke seluruh dunia. Yaitu peristiwa Hijrahnya Rasulullah Saw dan para
sahabatnya ke Madinah.
74 | Kuliah Syahadat
D. Tujuan Dakwah
Tujuan utama dakwah Islamiyah adalah menyeru manusia menuju kepada
jalan Allah, sebagaimana dimaksudkan ayat :” Dan siapakah yang lebih baik
ucapannya selain orang yang menyeru kepada Allah.” (Surah Ayat)
Menyeru kepada Allah artinya membimbing manusia agar hidup dengan
undang-undang serta petunjuk Allah, yaitu Dienul Islam. Hanya dengan hidup
sesuai dengan undang-undang Allah yang bisa menyebabkan Allah ridha terhadap
hamba-Nya.
Keberhasilan dakwah il-Allah sangat ditentukan oleh kesucian niat dan
kebersihan prosesnya. Sejak awal harus ditetapkan bahwa tidak ada motivasi lain
kecuali dalam rangka mengharapkan keridhaan Allah. Hal ini berlaku baik untuk
sang Da’I maupun mad’u ( yang didakwahi ). Kemurnian tujuan merupakan hal
yang paling penting dari seluruh aspek dakwah.
Berdasarkan pengalaman, banyak da’i yang pada awal-awal karier dakwahnya
aspek keikhlasan begitu menonjol, tetapi kemudian keikhlasan itu menjadi
terabaikan setelah popularitas, pujian, sambutan dan berbagai tawaran
berdatangan. Bukan hanya kesenangan, ujian dan kesempitanpun dapat menjadi
penghalang. Harus selalu diwaspadai oleh setiap Da’I, berbagai kesempatan dapat
digunakan oleh syaitan untuk melalaikan diri dari tujuan sebelumnya.
Bergesernya motivasi dakwah dari tujuan utamanya akan menghapus
keutamaan dakwah, melenyapkan pahalanya dan merusak buahnya. Kalau sudah
demikian , maka tidak ada sesuatu yang diperoleh di hadapan Allah kecuali
keuntunga dunia semata.
“ Dan tidaklah kamu sekalian diperintah melainkann untuk beribadah
kepada Allah dengan mengikhlaskan diri dalam menjalankan dien ( Islam ).” (al-
Baqarah[98] :5 )
Dakwah ila-Allah tidak boleh dicampuri dengan maksud-maksud yang lain.
Dakwah ila-Allah bukan dimaksudkan membuat orang yang didakwahi menjadi
taat dan patuh terhadap pribadi sang Da’i. Juga bukan untuk menjadikan orang
yang didakwahi lebih taat kepada pimpinan organisasi daripada ketaatan terhadap
hukum-hukum Allah.
Allah Maha Sempurna karena kebenarannya adalah mutlak, sedangkan
pribadi atau organisasi tidak terlepas dari kekurangan. Oleh karena itu ketaatan
kepada pribadi da’I dan organisasi hanya dapat dilakukan sepanjang dalam rangka
melaksanakan ketaatan terhadap hokum-hukum Allah.
Hakikat ini perlu untuk diperhatikan baik-baik oleh setiap da’i. Sebab seringkali
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 75
seorang da’i terperangkap kepada kepentingan-kepentingan popularitas pribadi
dan kepentingan kelompok, sehingga mengaburkan esensi dakwah ila-Allah.
E. SASARAN DAKWAH
1. Sasaran Bagi Mad’u ( orang yang didakwahi )
Sedikitnya ada tiga hal yang ingin dicapai dari dakwah ila-Allah bagi orang
yang di dakwahi, sebagaimana firman Allah :
“ Dialah Allah yang telah mengutus pada kaum yang ummi seorang rasul dari
kalangan mereka, yang membacakan pada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan
mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-hikmah ( sunnah ).
Dan sesungguhnya mereka sebelumnya berada dalam kesesatan yang nyata.” ( Al-
Jumu’ah[62] : 2)
a) Mengenalkan Kepada Allah
Tahap paling penting dalam proses dakwah adalah mengantarkan seorang manusia
mengenal Allah. Prioritas ini penting sebelum tahapan-tahapan berikutnya.
Karena tanpa pengenalan yang benar terhadap eksistensi Allah, kedudukan dan
sifat-sifat-Nya tidak mungkin didapatkan keimanan yang kokoh. Iman yang benar
akan lahir dari kesadaran yang tulus yang dihasilkan dari proses ma’rifat kepada
Allah.
b) Mensucikan dari perbuatan maksiyat dan dosa
Ketidakfahaman tentang syari’at dan ajaran Islam menyebabkan banyak orang
melakukan perbuatan-perbuatan dosa dan pelanggaran terhadap norma-norma
agama ( Islam ). Melalui proses dakwah ini seseorang diantarkan untuk menyadari
kesalahannya. Mad’u dibimbing untuk istighfar memohon ampun kepada Allah
serta berjanji di dalam diri untuk tidak mengulanginya. Selanjtunya mengganti
dengan amal-amal lain yang diridhai Allah.
c) Mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah
Proses dakwah belum cukup hanya dengan mengenalkan seseorang kepada Allah
dan menyadarkan diri dan kekeliruannya sebelum mad’u mencapai kebenaran
iman. hanya bisa dicapai apabila mereka memiliki pemahaman yang cukup tentang
ajaran Islam. Mereka perlu memahami prinsip-prinsip aqidah Islam, ibadah dan
akhlaq Islam, tentang muamalah serta tentang pokok-pokok ajaran Islam lainnya.
Maka tahap berikutnya adalah mengajarkan tentang hukum-hukum, perintah-
perintah serta larangan-larangan yang bersumber dan kitabullah dan sunnah
Rasulullah Saw.
2. Sasaran Bagi Da’i (yang berdakwah)
76 | Kuliah Syahadat
a) Aktualisasi Iman
Dakwah merupakan kebutuhan bagi setiap orang yang telah mengikrarkan
kalimat syahadat “laa ilaaha illa-AlIah, Muhammadun Rasuulullah”. Buah iman
seseorang dapat kita temukan pada keyakinan, akhlaq, ibadah dan etos jihadnya.
Salah satu indikasinya adalah rasa tanggung jawab dan kepeduliannya terhadap
nasib umat Islam. Seorang mu’min akan tergerak hatinya untuk mengadakan
perbaikan dan keadaan yang bathil ke keadaan yang haq, di mana pun ia berada.
Kemaksiatan yang terjadi di sekitarnya membuatnya gelisah terus-menerus
sebelum ia menghentikannya. Sikap tersebut bukan mengada-ada, tetapi refleksi
kuat lemahnya iman di dalam sanubari.
Rasulullah saw bersabda, “Apabila kebaikan itu membahagiakanmu, dan
kejelekan membuatmu susah, maka tandanya engkau memiliki iman.” (al-Hadits)
“Barang siapa di antara kamu sekalian melihat kemungkaran, maka
hendaklah mengubah dengan tangannya ; barangsiapa tidak mampu, maka
dengan lisannya ; barang siapa tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang
demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (al-Hadits)
b) Sarana Beramal Shalih
Setiap ucapan dan tindakan yang mengandung nilai-nilai seruan kepada Allah
memiliki derajat yang utama di sisi Allah Swt. Tidak ada perkataan yang lebih baik
dibandingkandenganseruan,ucapan,maupunnasihatagarmanusiamentaatiAllah.
Sungguh beruntung bagi mereka yang menjadi penyeru- penyeru agama Allah.
Mereka adalah manusia. Mereka mendapatkan pahala seperti pahala orang yang
mengikuti petunjuknya tanpa mengurangi pahala orang yang bersangkutan.
Rasulullah Saw bersabda: “ Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, ia
berhak memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya.” (HR
Muslim)
c) Menanamkan Keteladanan
Seorang da’i adalah seorang penyampai kebenaran. Ia menjadi panutan
dan ikutan umatnya. Baik dalam ucapan maupun tindakannya. Dengan memikul
tugas dakwah seorang da’i akan diperhatikan seluruh ucapan dan perbuatannya
oleh umat. Dengan demikian menjadi semacam alat kontrol bagi dirinya untuk
selalu berhati-hati dan hal-hal buruk yang dapat menyebabkan Allah murka dan
umatnya meninggalkannya.
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu sekalian mengatakan
sesuatu yang tidak kamu kerjakan Amat besar murka All ah apabila kamu sekalian
mengatakan sesuatu yang kamu sendiri tidak mengerjakan.” (ash-Shaff[61]: 2-3)
Hikmah lain dengan berdakwah bagi seorang da’i adalah bahwa ia akan
mendapatkan pelajaran dan pengalaman. Kemampuan manajemen dakwah
dan keterampilan berkomunikasi terus bertambah. Ilmu yang dimiliki akan
senantiasa bertambah, karena da’i harus mempersiapkan diri dengan bekal yang
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 77
memadai sebelum menyampaikan dakwahnya.
3. Sasaran Bagi Lembaga (Jama’ah)
a) Mendapatkan Kader Mujahid Dakwah
Proses dakwah bisa dianggap berhasil apabila telah terjadi proses perubahan
pola pikir, sikap dan perilaku yang lebth Islami pada din individu yang didakwahi.
Yang lebih ideal adalah apabila seorang da’i mampu mengantarkan binaannya
menjadi aktivis gerakan dakwah (mujahid dakwah). Mengingat luas dan
beratnya medan dakwah saat in maka diperlukan mujahid-mujahid dakwah yang
berkualitas dalam jumlah yang memadahi.
b) Memperbanyak Jumlah Pendukung
Keberhasilan kita membina seseorang menjadi muslim yang baik saja
belum bisa dianggap cukup sebelum ia terikat dalam sebuah amal jama’i. Agar
tumbuhnya iman dan dapat tetap terawat, maka ia harus bergabung bersama
komunitas muslim yang lain. Hal ini juga dimaksudkan agar potensi-potensi
individu dapat diarahkan secara maksimal.
“Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya
dengan bershaf seperti sebuah bangunan yang rapi.” (AshS haffl6l]: 4)
“Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka ..“ (al-Fath[4S]: 10)
“Tangan Allah bersama orang-orang yang berjama ‘ah” (al-Hadits)
F. FUNGSI DAKWAH
Fungsi dakwah adalah sebagaimana dijelaskan oleh Allah di dalam al-Qur’an:
“Wahai Nabi sesungguhnya kami mengutus engkau sebagai saksi, dan pemberi
kabar gembira, pemberi peringatan, dan men yeru kepada Allah, menjadi pelita
yang menerangi)” (al-A hzaab[33]: 45-46)
Berdasarkan ayat tersebut maka fungsi dakwah adalah:
1. Syahidan (menjadi saksi atau bukti)
Sebagaimana Rasulullah Saw, maka dakwah harus mampu menjadi bukti
terhadap kebenaran ajaran Islam dan mencerminkan keunggulan dan ketinggian
Islam. Para da’i harus mampu menunjukkan bukti keagungan pribadi dan akhlaq
Islam sebagaimana dibuktikan oleh Rasulullah Saw.
78 | Kuliah Syahadat
2. Mubasysyiran (pemberi kabar gembira)
Dakwah berfungsi untuk memberi kabar gembira. Artinya memberikan
harapan kepada setiap orang akan kebahagiaan yang akan mereka dapatkan
dengan melaksanakan Islam, dan bukan sebaliknya. Hal ini diyakinkan dengan
firman Allah:
“Sekali-kali tidaklah kami menurunkan Al-Qur’an ini agar engkau menjadi
susah.” (Thaaha[20]: 2)
Para du’aat harus mampu menumbuhkan optimisme dan harapan masa depan
yang menggembirakan. Di dunia mereka akan mendapatkan kesuksesan dan di
akhirat akan dimasukkan ke dalam surga Allah.
3. Nazhiran (pemberi peringatan)
Dakwah berfungsi untuk memberikan peringatan. Artinya dakwah harus
mampu menyampaikan peringatan Allah dan risiko yang akan diterima oleh
orang yang menolak hokum-hukum Allah serta mengingkari ayat-ayat-Nya.
Kesusahan di dunia akan mereka alami dan azab yang amat pedih akan mereka
terima di akhirat kelak. Para penentang dan pelanggar mi akan dimasukkan ke
dalam jahannam dengan seburuk-buruk siksaan.
Para du’aat juga diharuskan memiliki kekuatan untuk memberi peringatan
kepada semua pihak agar kemaksiyatan tidak memasyarakat dan kezhaliman
tidak merajalela.
“Barang siapa di antara kamu sekalian melihat kemungkaran, maka hendaklah
merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, jika tidak
mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.”
(al-Hadits)
4. Daa iyan ila-Allaah (seruan kepada Allah)
Segala aktivitas dakwah, baik dengan lisan, tulisan maupun dengan amal
perbuatan haruslah diarahkan untuk meningkatkan iman kepada Allah dan
semakin mentaati ketentuan-ketentuan Allah Swt. Semua bentuk kegiatan yang
menyebabkan seseorang semakin jauh dan Allah harus ditiadakan. Lebih-lebih
kegiatan yang jelas-jelas merupakan pelanggaran syari’ah Allah.
Segala kegiatan yang diprogramkan oleh gerakan dakwah harus
mencerminkan seruan kepada Allah dan mengkondisikan masyarakat selalu
dalam keridhaan Allah.
5. Siraajan Muniiraan (pelita yang menerangi)
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 79
Dakwah berfungsi sebagai pelita atau penerangan bagi masyarakat
dan kegelapan, kesesatan, dan kejahiliyahan mereka. Dakwah harus dapat
menunjukkan secara tegas mana yang hak dan mana yang bathil, mana jalan
petunjuk, mana jalan kesesatan.
Dakwah berfungsi menunjukkan kepada masyarakat akan kekeliruan mereka
dan menunjukkan pula jalan keluarnya.
G. KEUTAMAAN DAKWAH
Dakwah adalah sifat dan risalah dan nubuwwah. Semua nabi dan rasul di
dalam kehidupannya menjalankan missi tersebut. Itulah missi agung yang dipikul
manusia-manusia pilihan Allah. Tidak ada manusia yang lebih mulia di hadapan
Allah Swt selain mereka. Seruan dan panggilan kepada manusia agar beriman
kepada Allah Swt dan tetap mereka lakukan meskipun hinaan, cercaan dan siksaan
tidak jarang mereka temukan. Mereka tidak peduli selama Allah Swt merestui.
“Dan tidaklah engkau diperintah kecuali untuk memberikan peringatan.” (al-
Ayat)
Para sahabat Rasulullah Saw adalah da’i-da’i generasi pertama dan umat
Muhammad yang telah membuktikan perjuangan dan pengorbanan mereka
untuk tersebarnya agama Islam. Allah mengabadikan mereka di dalam kitab-Nya,
karena keikhlasan mereka di dalam berjuang.
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama (masuk Islam) di antara
orang-orang muhajirin dan anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan
Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-
Taubah[9]: 100)
Alangkah mulianya mereka. Setiap ucapan mereka adalah kebajikan, tinta
mereka adalah laksana darah para syuhad & dan setiap langkah mereka adalah
jihad fi sabilillah. Di tangan mereka terletak harapan akan kejayaan Islam dan
tegaknya kepemimpinan umat.
“Dan siapakah yang lebih baik ucapannya dan pada orang yang nienyeru
kepada Allah, men gerjakan ama! shalih dan berkata “sesungguhnya kami adalah
orang yang berserah diri.” (Fushshilatt[4]: 33)
“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan
mengajarkannya (kepada orang lain).” (Al Hadits)
Para du’aat adalah orang-orang yang beruntung karena mereka termasuk
orang-orang yang dipilih oleh Allah dan bagi mereka karunia-Nya yang berlipat
80 | Kuliah Syahadat
ganda.
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan Rahmat-Nya, hendaklah dengan itu
mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dan
pada apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus[10]: 58)
Cukup banyak berita gembira yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw
terhadap orang-orang yang berdakwah di jalan Allah, antara lain:
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia berhak memperoleh
pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya.” (HR Muslim)
“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, ía berhak mendapat pahala orang
yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa
mengajak kepada kesesatan, ia berhak memikul dosa seperti dosa orang-orang
yang mengikutinya, tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (HR
Muslim)
Rasulullah Saw pernah bersabda kepada Au bin Abi Thalib Radhi-Allaahu
‘anhu:
“Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang karenamu,
itu lebih baik bagimu daripada unta merah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
“Sesunggguhnya Allah, malaikat-Nya, serta penduduk langit dan bumi,
hingga semut yang ada di dalani lubangnya, dan ikan-ikan yang ada di laut,
(semuanya) bershalawat atas orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada
manusia.”(HR at-Tirmidzi).
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 81
BAB 4
STRATEGI DAKWAH
HIDAYATULLAH
A. DAKWAH DAN PERUBAHAN SOSIAL
Secara sederhana, dakwah adalah upaya yang dilakukan secara sengaja
untuk mengubah masyarakat dan suatu keadaan kepada kondisi yang diinginkan.
Proses pencapaian kondisi ideal yang menjadi target, itulah yang menjadi studi
dan garapan dakwah.
Sebelum jauh berbicara tentang perubahan sosial, terlebih dahulu perlu
dibangun sebuah asumsi bahwa masyarakat, betapapun primitifnya pasti bisa
diubah. Perubahan itu dimungkinkan terjadi seiring dengan usaha dan cara-
cara pendekatannya. Usaha keras saja belum cukup jika tidak diikuti dengan
pendekatan yang benar. Di sini letak pentingnya sebuah strategi perubahan sosial.
Ada beberapa jenis perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Sebagai
institusi dakwah, tentu bisa memilih perubahan mana yang diinginkan sesuai
dengan strategi yang diterapkan.
1. Evolusioner
Perubahan ini datang dan masyarakat itu sendiri. Merekalah yang
menentukan arah perubahannya. Karenanya proses perubahannya berjalan
secara bertahap dan terkesan lambat. Perubahan evolusioner ini dapat dilihat
melalui ciri-cirinya:
1. Penyebarannya bertahap dan terjadinya berkait erat dengan kebutuhan
masyarakat.
82 | Kuliah Syahadat
2. Proses peruhahannya bersifat otonom, artinya sumber perubahan itu datang
dan masyarakat sendiri dan tidak didukung oleh kewenangan resmi atau
kekuatan formal.
3. Inovasi pembaharuannya menyehar melalui proses komunikasi yang
pluralistik.
4. Masyarakatnya permisif, di mana individu-individu di dalamnya dapat
menyampaikan atau menyuarakan kepentingan mereka secara bebas.
2. Revolusioner
Peruhahan jenis ini biasanya digerakkan oleh sekelompok kecil orang
yang pada urnumnya tidak mengikutsertakan persetujuan masyarakat, tetapi
bersifat setengah memaksa atau bahkan dengan penuh intimidasi. Jika dalam
evolusioner, arah perubahannya tidak ditentukan sejak dini, maka dalam sebuah
revolusi, arah perubahannya sangat jelas dan ditetapkan sejak awal. Masyarakat
tidak diberi kesempatan memilih untuk menerima atau menolak. Ciri-ciri
perubahan yang bersifat revolusioner.
1. Biasanya dihasilkan oleh suatu kekuatan untuk menolak lembaga-lembaga
yang sudah mapan maupun simbol-simbolnya.
2. Bisa digerakan oleh suatu organisasi yang sangat rapi atau oleh suatu kekuatan
yang tidak terkontrol.
3. Taktik dalam perubahan yang dilakukannya melalui penekanan fisik dan
psikologis dengan cara-cara paksaan.
4. Masyarakat tidak diberi kesempatan memilih untuk menerima
atau menolak. Mereka tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk
mengungkapkan aspirasinya.
3. Perubahan Dialektis
Perubahan ini terjadi karena adanya dua kekuatan yang mempunyai
arah dan tujuan yang berbeda. Kedua kekuatan itu saling berkompetisi untuk
memenangkan ide dan gagasannya. Dalam ajaran Karl Max disebutkan bahwa
dalam sepanjang sejarah akan terjadi proses dialektika dari thesa melahirkan
antithesa dan pada akhirnya timbul sinthesa. Sinthesa ini pada akhirnya pula
menjadi thesa, antithesa, seterusnya lahir sinthesa baru.
Karena perubahannya mengikuti dialektika yang berkembang di
masyarakat, maka perubahan ini tidak diarahkan sejak awal. Perubahan baru
terjadi di tengah perjalanan atau pada akhir perjalanan. Dalam perubahan ini
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 83
masyarakat turut secara aktif berpartisipasi.
4. Perubahan Koarsif
Hampir sama dengan perubahan revolusioner, perubahan ini dilakukan
dengan cara-cara pemaksaan. Lingkungan sama sekali tidak diikutsertakan dalam
proses perubahan.
Ciri-ciri perubahan ini adalah:
1. Penggunaan kekerasan atau kekuatan merupakan cara yang paling utama.
2. Sumber perubahan bisa dan luar, tapi tidak sedikit datangnya dan dalam
sendiri.
3. Masyarakat tidak diikut sertakan dalam menentukan arah perubahan. Mereka
bahkan tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya.
4. Kegiatan-kegiatannya biasanya diikuti dengan gelar kekuatan, show offorce.
5. Perubahan Yang Terbimbing (Guided Changes)
Inilah model perubahan yang paling ideal. Sebuah perubahan yang sengaja
diarahkan sejak dan awal, sedang masyarakatnya diikutsertakan dalam proses
perubahan tersebut. Bahkan lebih jaüh dan itu, masyarakat itu sendiri yang
diharapkan menjadi pelaku-pelaku perubahan. Pada akhirnya perubahan itu
menjadi milik mereka. Jika sudah demikian, mereka pula yang akan menjaga dan
mengawal perubahannya.
Perubahan mi ditandai dengan:
1. Prosesnya merupakan usaha yang dilakukan secara sengaja
2. Lingkungan masyarakatnya berada dalam bimbingan tetapi juga diberi hak
untuk tetap menyampaikan aspirasi dan gagasan-gagasannya.
3. Agen-agen perubahan berusaha untuk memperkenalkan perubahan
melalui pemberian pelayanan yang bermanfaat, melalui nilai-nilai yang sudah
disesuaikan, juga bisa dengan menggunakan perimbangann kekuatan.
Dan kelima model perubahan di atas, maka model terakhir, yaitu
perubahan yang terbimbing merupakan pilihan yang paling sesuai dengan konsep
dakwah di sini masyarakat tetap diberi ruang yang cukup untuk berpartisipasi
melalui berbagai kegiatan yang telah dirancang bersama. Masyarakat mengikuti
perubahan dengan suka cita, tanpa merasa terpaksa. Lebih penting lagi, masyarakat
84 | Kuliah Syahadat
itu sendiri yang pada akhirnya menjadi pelaku dan pengawal perubahan itu
sendiri. Dengan demikian sasaran akhir dakwah dapat dicapai dengan cara yang
lebih efektif dan efisien.
B. PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN DAKWAH
Telah disepakati bahwa Hidayatullah dijadikan sebagai lembaga
perjuangan. Artinya sudah diniatkan sejak awal lembaga ini dijadikan sebagai
instrumen perjuangan. Perjuangan yang dimaksudkan di sini adalah upaya yang
sungguh-sunggguh untuk melakukan perubahan sosial menuju masyarakat yang
diridhai oleh Allah Swt. Perubahan sosial mi meliputi perubahan pola pikir, pola
rasa, pola tingkah laku, yang kemudian dikembangkan menjadi norma-norma
baru yang murni berasaskan dienul Islam.
Identitas dan tujuan ini mengharuskan lembaga mi dirancang sebagai
kekuatan pembaru, inovator atau mujaddid dalam arti luas. Pencerahan
yang banyak dibicarakan pada momen besar seperti “Silaturahim Nasional
Hidayatullah”, baru akan bermakna jika diartikan sebagai upaya rekayasa sosial
menuju
masyarakat baru, yaitu masyarakat yang berbudaya dan bertatakehidupan
Islami.
Masyarakat baru yang dimaksud tetap bercitra maju, terbuka dan elegan.
Norma-norma yang dipraktekkan dalam masyarakat itu bukan norma khusus dan
ekslusif, tapi yang bisa diserap dan disebarluaskan menjadi rahmatan lii ‘aalamin.
Oleh karenanya, perjuangan Hidayatullah bukan sebatas membangun sebuah
camp (kampus dakwah), bukan sekadar membuat rekayasa masyarakat kampus.
Kampus-kampus yang ada adalah proyek percontohan (pilot project) atau embrio
masyarakat yang dicita-citakan.
Dalam hal mi perlu disadari oleh semua pihak, masyarakat kampus
hendaknya diarahkan menjadi ukhrijat linnaas (masyarakat terbuka, Au
‘Irnran[3]: 110), bukan masyarakat yang udkhuluu haadzihil-qaryah (masyarakat
tertutup, al-B aqarah[2]: 58).
Lembaga ini harus dibangun dengan suatu desain yang memungkinkan semua
warganya menjadi agen pembaruan dan perubahan masyarakat. Untuk itu ada dua
variabel yang perlu mendapat perhatian, yaitu variabel lembaga dan masyarakat
yang terkait.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 85
1. Variabel Lembaga
Setidaknya ada lima unsur pokok yang harus menjadi perhatian dalam
mendesain para aktivis lembaga ini menjadi agen pembaruan.
1. Kepemimpinan yang unggul di semua lapisan dan terus-menerus ditingkatkan
keunggulannya
2. Doktrin yang secara jelas merumuskan nilai-nilai, citra, harapan, tujuan dan
metode operasional, yang mudah difahami seluruh jajaran anggota
3. Program yang secara efektif mengantarkan lembaga dan orang-orangnya
mencapai sasaran-sasaran yang sudah dirumuskan
4. Sumber-sumber daya manusia, keuangan, teknologi, fisik, metodologi dan
informasi yang dikelola secara optimal menjadi sebuah jaringan kekuatan
komprehensif dalam bentuknya sebagai lembaga
5. Struktur yang menjelaskan pembagian peran dan tugas, pola-pola wewenang
(hirarki), sistem-sistem komunikasi dan koordinasi, beserta mekanisme
pengambilan keputusan
2. Variabel Masyarakat Terkait
Lembaga Hidayatullah tidak diproyeksikan berada dalam isolasi, yang mau
hidup dan dan untuk dirinya sendiri atau untuk ingin menang sendiri. Lembaga
ini ada untuk melakukan perubahan-perubahan di masyarakat justru agar tetap
eksis, hidup dan berfungsi.
Lembaga ini tidak bisa tidak harus memelihara suatu jaringan hubungan-
hubungan pertukaran dengan sejumlah organisasi lain dan melibatkan diri dalam
transaksi-transaksi dengan maksud untuk memperoleh dukungan, mengatasi
perlawanan, pertukaran-pertukaran sumber-sumber daya, transfer norma dan
nilai.
Ada empat jenis masyarakat terkait yaitu
1. Kaitan-kaitan yang memungkinkan
Yakni tokoh-tokoh masyarakat, organisasi atau kelompok-kelompok sosial
yang mempunyai wewenang dan sumber daya yang diperlukan lembaga agar
bisa menjalankan fungsinya, dalam hal ini terutama pemerintah serta lembaga-
lembaga kekuasaan lainnya.
2. Kaitan-kaitan fungsional
Yaitu individu maupun organisasi lain yang mempunyai fungsi yang relevan
86 | Kuliah Syahadat
dengan fungsi lembaga yang perlu dirangkai dalam sebuah jaringan yang bisa
mendukung kinerja jamaah.
3. Kaitan-kaitan Normatif
Yaitu lembaga-lembaga yang mempunyai fungsi mengembangkan norma-
norma dan ajaran ynag berbeda bahkan berlawanan dengan missi yang
diamanahkan oleh Islam.
4. Kaitan-kaitan yang tersebar
Yaitu bagian-bagian masyarakat yang tidak termasuk kelompok-kelompok di
atas, tetapi mempunyai pengaruh besar, seperti media massa.
Prinsipnya, kepada musuh sekalipun dialog dan komunikasi harus dilakukan,
kalau mungkin bisa memanfaatkan potensinya. Tauhid sebagai kekuatan utama
yang mengakar akan selalu mengingatkan kita agar selalu yakin, in tanshurullaah
yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum. Nashrun niinallaah wafathun qariib.
C. SISTEM EVALUASI
Salah satu kelemahan di dalam dakwah adalah kurang atau bahkan tidak
adanya pemantauan yang berkelanjutan atas proses dan hasil dan sebuah program.
Belum adanya sistem evaluasi dakwah, mengakibatkan tidak ada cukup umpan
balik atas keberhasilan atau kegagalan suatu dakwah
Suatu kegiatan yang dirancang melalui nizham yang jelas, kegiatan pengamatan
dan penilaian menjadi amat penting. Ada dua arah pengamatan, yaitu pelaku
dakwahnya send in dan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah tersebut.
Pemantauan Terhadap Pelaku Dakwah
Dalam menjalankan tugas dakwah, tidak sedikit rintangan yang menghadang
juru dakwah Tidak sedikit di antara mereka yang kemudian surut ke belakang
atau ragu mengayunkan langkah ke depan. Bahkan tidak jarang yang kemudian
frustrasi.
Rintangan itu tidak mesti datang dan luar, yang lebih banyak justru datang
dari diri para da’i itu sendiri. Justru rintangan yang terakhir ini jauh lebih berat
penanganannya dan lebih besar dampaknya.
Untuk itu pemantauan terhadap para rijalud-dakwah menjadi sesuatu yang
penting. Melalui pemantauan secara dini, berbagai kendala yang menghalangi
sukses dakwah dapat diatasi. Berbagai kendala bisa ditemukan kemudian
dirembuk bersama guna mendapatkan solusi yang memadai.
Adapun indikator atau tolok ukur yang dipantau terhadap juru dakwah
adalah:
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 87
1. Komitmen pada keyakinan (normative commitment)
Godaan dakwah itu tidak kecil. Hanya mereka yang memiliki keyakinan yang
kuat, pemahaman yang utuh, dan motivasi yang tidak pernah mati saja yang terus
bisa bertahan menapaki perjalanan dakwah mi. Karena dakwah itu merupakan
perjalanan yang mengandung amat banyak risiko dan tingkat kesulitan.
Oleh karenanya tidak terlalu banyak orang yang siap menjalani dakwah seperti
ini. Allah Swt sendiri telah mengingatkan:
“Kalau yang karnu serukan kepada mereka itu keuntungan yang rnudah
diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu,
tetapi tempat yang dituju itu teramat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan
bersumpah dengan (nama) Allah: ‘Jika kami sanggup tentulah kami berangkat
bersama-sama kamu’. Mereka membinasakan diri mereka sendiri, dan Allah
mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (atT
aubaht[9]: 42)
Karenanya, evaluasi utama terhadap pelaku dakwah adalah seberapa besar
komitmennya. Yang dievaluasi di sini adalah tekad dan keyakinannya, serta niat
dan keuletannya. Yang dituntut di sini adalah al-imanul ‘amiq (keimanan yang
dalam), al-hubbul watsiq (kecintaan yang kokoh), dan al-wayul kamil (kesadaran
yang sempurna).
Pada tahap tertentu mereka harus sampai pada tingkatan menjual din dan
hartanya secara penuh kepada Allah Swt. Sebagai balasan atas pengorbanarmya,
Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah telah membeli dan orang-orang yang beriman, diri dan
harta mereka dengan memberikan surga.” (at-Taubah[9]: 111)
Bagi mereka yang sudah kuat komitmennya, iming-iming dunia tidak
menggoyahkan tekadnya. Mereka terus maju ke depan menyuarakan Islam
kepada siapa saja yang ia temui. Bagi mereka, keyakinan itu memberi dua pilihan
sempurna : Hidup Mulia atau Mati Syahid.
Langkah dakwah semestinya memperkokoh imannya, mempertebal
keyakinannya, menajamkan cita-citanya, dan mendinamiskan gerak langkahnya.
Jika sebaliknya yang teijadi berarti telah terjadi pergeseran nilai.
2. Kemampuan teknis (technical capacity)
Meskipun dakwah tidak bersifat teknis, bahkan Iebih dekat pada seni, tetapi
seperti kegiatan sosial lainnya, dakwah juga mengandung beberapa pekerjaan
teknis, apalagi seorang da’i yang tugasnya jauh lebih rumit lagi.
Di sini yang menjadi ukuran adalah seberapa jauh kemampuan seorang
da’i dalam proses penyampaian dakwahnya. Mulai dan cara-cara penyampaian,
pendekatan-pendekatan yang dilakukan, penggunaan metode, dan penguasaan
88 | Kuliah Syahadat
materi. Seorang da’i hendaknya memiliki al-fahmud-daqiiq (pemahaman yang
rinci). Dengan pemahaman itulah mereka membimbing jama’ahnya.
3. Kehandalan (innovative trust)
Seorang da’i dapat dikatakan sukses jika ia dapat menyelesaikan
semua tugasnya sécara tuntas. Ia tidak berhenti sebelum selesai. Di sini yang
dituntut dan seorang dai adalah istiqarnah, tak mau menyerah sebelum selesai
semuanya.
Sering dijumpai di lapangan, seorang da’i mengangkat suatu pekerjaan
baru padahal pekerjaan sebelumnya tidak selesai secara tuntas. Akhirnya, yang
lama belum tuntas, yang baru berantakan. Hal mi tentu saja dapat mengurangi
kepercayaan urnat. Tugas dakwah menjadi terhambat.
Dalam kaitan mi Allah Swt memberi pelajaran kepada kita agar menyelesaikan
semua urusan dengan segenap keseriusan.
‘Maka apabila kainu telah selesai (dari suatu urusan,), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain “ (‘an-nashr [120]: 7)
D. TARGET DAKWAH
Individu atau kelompok yang menjadi sasaran dakwah perlit mendapatkan
penilaian yang cermat. Sehuah dakwah disebut berhasil manakala pesan-pesan
dakwah itu sampai kepada sasaran dakwah, untuk selanjutnya diusahakan agar
pesan-pesan itu diterirna menjadi hagian dan yang menguhah din mereka.
Untuk lebih jelasnya, indikator yang dipakai untuk mengevaluasi adalah : 1.
Perubahan sikap dan perilaku kelompok sasaran. Jika sebelumnya tidak setuju
menjadi setuju, yang sebelumnya menolak menjadi menerima bahkan mendukung.
2. Efek menyebar, artinya dampak dakwah itu menyebar secara merata di
masyarakat, tidak hanya pada kelompok tertentu atau lapisan tertentu. Dakwah
telah menjadi gerakan semesta.
E. PROFIL DA’I HIDAYATULLAH
Dakwah merupakan cerminan kuatnya iman di hati, bukan sekedar tampilan
bibir saja. Dakwah bukan gerakan fisik yang didorong nafsu, tetapi gerakan
ruhani yang tersiram wahyu. Dakwah yang sekedar di bibir tanpa bobot amal
akan dikecam oleh Allah sebagaimana dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang
tidak kamu perbuat Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan
apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(ash-Shaff 161]: 2-3)
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 89
Karena itu dakwah sangat berbeda dengan usaha promosi sebagai bagian dan
perniagaan. Titik sentuh dakwah bukan sekedar rasio apalagi nafsu, tetapi ruh.
Ruh hanya dapat disentuh dengan kekuatan ruh. Dakwah itu sarat dengan aspek
transendental, sebab hanya hidayah Allah yang dapat membuka hati seseorang.
Uluran pertolongan Allah inilah yang harus didapatkan oleh da’i. Oleh karena
itu setiap da’i harus memiliki bekal dasar dan bekal operasional yang terjaga
kesuciannya dalam mengemban missi dakwah
Dakwah merupakan mata rantai yang tak terpisahkan dan pertumbuhan
nilai-nilai wahyu. Karena itu seorang da’i sebelum aksi berdakwah sudah
seharusnya membekali diri dengan nilai-nilai wahyu itu. Dalam konsepsi dasar
sistematika nuzulnya wahyu-wahyu pertama, dakwah tertuang dalam nilai-nilai
al-Muddatstsir. Sebelum melakukan gerak al-Muddatstsir, nilai-nilai wahyu
sebelumnya harus difahami, dihayati, dan diamalkan. Inilah bekal dasar agar
seorang da’i, dengan izin Allah, mendapat pertolongan Allah bukan malah
dimurkai.
1. Bekal Dasar Da’i Hidayatullah
a) Suci Aqidah dan Fikrahnya
Nilai-nilai surat al-’Alaq merupakan kunci membuka nilai-nilai Al-Qur’an.
Dengan Iqra bismirabbika seseorang siap membuka hati untuk menerima nilai-
nilai wahyu. Nilai-nilai wahyu itulah yang membimbing dirinya bukan malah nilai-
nilai wahyu yang dipolitisir untuk memenuhi kepentingannya. Dengan demikian
seorang da’i dituntut untuk menjaga kesucian aqidah dan pola pandangnya. Gerak
seseorang adalah respon dan apa yang ia pilih dan dipikirnya. Bila aqidah dan
fikrahnya benar dan bersih, maka akan menghasilkan gerak yang benar dan bersih
pula. Sebaliknya bila nilai-nilai surat al-Alaq mi ditinggalkan atau belum dimiliki,
sangat mungkin gerak dakwahnya ditumpangi oleh kepentingan-kepantingan
lain. Sungguh sangat berbahaya seorang dai justru menggunakan missinya untuk
membangun kepentingannya sendiri. Tujuannya mau memperbaiki tapi hasilnya
justru merusak.
Kesucian fikrah yang berlandasan aqidah tauhid, jauh dan sifat materialisme,
hedonisme atau isme-isme yang lain. Berangkat dan inilah seorang da’i
memandang seluruh manusia sama di hadapan Allah. Kepada yang berpangkat,
da’i tidak merasa rendah. Kepada yang kaya raya da’i tidak merasa hina.
Kepada yang miskin tidak merasa tinggi. Duduk sejajar tidak ada perbedaan.
Aqidah dan fikrah inilah yang mengawali revolusi sosial di Makkah. Ukuran
kemuliaan bukan pada materi atau jabatan jamaah, melainkan pada derajat
ketaqwaan kepada Sang Maha Pencipta, yang Mahabesar. Hanya Allah yang
berhak disembah.
b) Tinggi Cita-cita dan Akhlaqnya.
90 | Kuliah Syahadat
Dakwah pasti menghadapi hambatan, ancaman, tantangan, dan gangguan.
Bila tidak mempunyai gelora citi-cita yang tinggi seorang da’i akan terkulai di
tengah jalan. Benturan antara haq dan bathil pasti terjadi. Maka nilai-nilai surat
al-Qalam yang merupakan jaminan dan Allah bagi orang-orang yang ber-Qur’an
harus dipahami, dihayati, dan diamalkan.
Allah menjamin kepada orang-orang yang ber-Quran dengan pahala yang
tiada terputus. Orang yang melawan missi Qur’ani itulah yang sesungguhnya gila.
Karena itu seorang da’i harus memiliki cita-cita yang bergelora untuk menegakkan
al-Qur’an.
Dengan cita-cita inilah missi dakwah akan terus bergerak meskipun dihadang
seribu halangan.
Kemudian yang tidak kalah pentingnya bagi seorang da’i adalah memiliki
akhlaq yang agung. Seorang da’i yang tidak mempunyai akhlaq akan menodai
keagungan dakwah bisa jadi orang yang menolaknya bukan karena pesan
kebenaran yang disampaikan, tetapi karena akhlaq orang yang menyampaikan.
Setiap harus mengedepankan akhlaq yang agung ini betapapun tegas dalam
keyakinan, tetapi tetap mengesankan dalam penampilan.
c) Bersih Ruhani dan Mentalnya
Yang paling berbahaya adalah apabila syaithan menjebak hamba Allah dalam
kebaikan. Rasululah Saw pernah menyampaikan berita bahwa di akhirat kelak ada
orang yang berjuang sampai mati yang menyangka dirinya telah syahid, tetapi
justru Allah memurkainya. Sebab ternyata yang dilakukan bukan karena ridha
Allah, tetapi hanya mencari kepopuleran duniawi. Bukankah gelar pahlawan yang
dicarinya telah didapatkan di dunia.
Sungguh suatu kebangkrutan bila dakwah dan pengorbanan itu hanya tipuan
syaithan. Disangka telah melakukan dakwah dan pengorbanan tapi nyatanya
justru keburukan. Inilah gerak kebaikan yang didorong oleh nafsu, ammaarah
bissuu’ hal yang harus diwaspadai. Seorang da’i harus memiiki kebersihan ruhani
agar terhindar dan jebakan jahat syaithan.
Sebelum Allah memanggil kita untuk membawa missi dakwah, terlebih dahulu
menempa ruhani dengan shalat lail, tartil al-Qur’an dan dzikir. Gelora cita-cita
surat al-Qalam harus difilter dengan nilai-nilai al-Muzzammil ini:
“Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) di malam hari,
kecuali hanya sedikit (dari padanya), yaitu seperdua atau kurangilah dan seperdua
itu sedikit. Atau lebih dari seperdua.”
Shalat lail melawan hawa nafsu kantuk. Bangun malam tidak untuk mencari
perhatian manusia, melainkan dalam rangka membutuhkan bantuan Allah.
Seorang da’i yang menyampaikan firman Allah kepada umatnya, sudah seharusnya
memiliki kelebihan energi ruhiyah. Bila tidak demikian energi ruhiyahnya tidak
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 91
bisa mengalir ke sasaran dakwah Seorang da’i juga harus dekat dengan al-Qur’an,
juga harus senantiasa sibuk berdzikir kepada Allah agar tak memberi kesempatan
bisikan syaithan menyelinap di hati.
Di samping kekuatan ruhani di atas, seorang da’i juga harus memiliki beberapa
kekuatan mental yakni sabar, tawakkal, serta keberanian melakukan hijrah.
Dakwah bukan pekerjaan ringan. Ini adalah profesi warisan para rasul. Dan
beberapa segi terutama materi memang kelihatannya sengsara, namun di balik
itu ada kemuliaan sejati. Bekal dasar di atas adalah bekal minimal yang harus
dimiliki. Bekal ini harus merupakan bagian dan jiwa, akhlaq dan sifats ifat para
da’i.
2. Bekal Operasional
Allah menyeru kepada para da’i yang telah menempa diri dengan keyakinan,
akhlaq dan cita-cita Qur’ani serta meningkatkan kualitas ruhiyahnya agar bangkit
turun ke gelanggang. Singkirkan selimut, singsingkan lengan baju, kemudian
berikan peringatan pada umat manusia, Allah berkenan memberi rekomendasi
kepada mereka ini untuk berdakwah.
Dakwah merupakan aktualisasi pertumbuhan iman yang telah mekar
karena disirami nilai-nilai dalam surat al-’Alaq, alQ alam,dan al-Muzzammil.
Namun demikian Allah masih mewanti-wanti agar para da’inya memiliki bekal
operasional agar tetap terpelihara kebersihan diri dan terjaga kesucian missi
dakwah. Berturut-turut dalam surat al-Muddatstsir Allah berpesan:
1. “Dan Rabb-mu Besarkanlah”
Menurut riwayat, ketika ayat-ayat al-Muddatstsir turun Rasulullah Saw
bertakbir : “Allahhuakbar,” maka bertakbir pulalah Siti Khadijah Ra. Dalam
hatinya timbul rasa kegembiraan dan keyakinan bahwa suara wahyu itu benar-
benar dan Allah (Tafsir Al-Kasysyaaf jilid II, hal 501).
Dengan perintah ini seorang da’i semakin bersemi ruhaninya. Komando untuk
maju ke gelanggang dakwah bukan datang dan sekedar jenderal, tetapi dan Allah
Yang Maha Berkuasa. Selain Allah semuanya kecil. Seorang da’i harus senantiasa
membesarkan nama Allah di dalam dirinya, serta membuang kebesaran semua
makhluq Allah dan dalam dirinya. Dengan demikian tidak ada lagi rasa was-was,
sepenuh hati maju ke gelanggang dakwah tidak boleh tujuannya bergeser pada
selain Allah itu. Lembaga, golongan, partai bahkan nyawanya sekalipun adalah
kecil dihadapan Allah. Tidak ada perlunya membesarkan nama yang macam-
macam selain Allah itu. Semua itu adalah alat, bukan tujuan. Tujuannya hanya
untuk mencapai ridha Allah.
92 | Kuliah Syahadat
2. “Dan Pakaianmu (kepribadian serta amalan) Hedaklah Engkau Sucikan”
Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertaubat dan mensucikan din
(al-Baqarah[2]: 22). Orang yang sudah mensucikan diri akan mendapat petunjuk
Allah. Hati yang bersih akan bercahaya dan memberi sinyal-sinyal kebaikan bagi
pemiliknya. Sebaliknya hati yang kotor akan gelap dan tidak dapat menerima
petunjuk Allah. Bagaimana pun seorang da’i yang menyeru di jalan Allah
harus memulai pensucian diri ini. Dengan mensucikan din akan ada kekuatan
moral untuk menyerukan kebenaran. Sebaliknya hati yang kotor tidak mampu
menyerukan kebenaran.
Bersihkan hati dari iri hati, dendam, dengki, curang, dan bohong. Hiasi hati
dengan kasih sayang, adil, jujur, dan amanah. Hati yang bersih akan melahirkan
tingkah laku yang bersih, hati yang kotor akan menimbulkan perkataan yang
kotor.
3. “Perbuatan Dosa Hendaklah Engkau Hindari”
Hati yang telah bersih hendaknya dijaga. Hal-hal yang membuatnya kotor
hendaknya dihindari. Hati akan kembali kotor apabila seorang melakukan dosa.
Hati yang tadinya bersih bagaikan kaca dapat ternoda oleh dosa. Semakin banyak
dosa, hati semakin berkarat. Tindakan penghindaran adalah upaya pencegahan
bagi da’i agar tetap dalam kesucian diri. Missi dakwah adalah missi yang suci yang
harus dibawa oleh orang yang suci.
4. “Jangan mengharap balasan yang lebih banyak”
Setiap da’i dalam menjalankan missi dakwahnya harus tetap menjaga
keikhlasan di hadapan Allah. Tidak perlu mengharap penghargaan dan manusia
atas apa yang dilakukan. Tujuannya berdakwah adalah ridha Allah. Dengan
dakwah iman semakin kuat. Kenikmatan iman ini sudah lebih dan segala-galanya.
Jangan sampai kenikmatan dan Allah ditukar dengan kenikmatan dan makhluq.
Bersihkan motivasi duniawi dalam dakwah Jalanilah missi dakwah semata-mata
karena Allah saja, jangan coba-coba da’i merampok hak Allah.
5. “Dan Karena Rabbi-mu Hendaknya Engkau Bersabar”
Allah tahu sesungguh-sungguhnya bahwa perjuangan dakwah mengundang
konsekuensi berat berupa fitnah, ancaman, cercaan, ejekan, bahkan pembunuhan.
Menghadapi tantangan seperti ini, bersabarlah. Allah pasti akan menolong pada
waktu yang tepat. Sesuatu yang diinginkan, belum tentu membawa kebaikan.
Sesuatu yang tidak disukai belum tentu keburukan. Hanya Allah Swt yang
Mahatahu. Dengan kesabaran segalanya akan bernilai di hadapan Allah.
Lebih dari itu, seorang da’i juga dituntut untuk bersabar memperluas ilmu
dan wawasan dakwahnya, seperti ilmu dan wawasan mengenai aI-Qur’an, Hadits,
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 93
Tafsir, Aqidah, Fiqth dan ilmu-ilmu penunjang dakwah, seperti : Fiqhud-dakwah,
komunikasi, antropologi, sejarah, psikologi dan Iainnya.
Missi dakwah adalah missi yang agung. Sistem Islam meliputi yang lahir dan
yang batin, dunia dan akhirat, bumi dan langit, individu dan sosial, yang nampak
dan yang tidak nampak. Untuk menegakkan sistem ini wajar bila seorang da’i
dituntut suci aqidah dan fikrahnya, agung akhlaq dan cita-citanya, bersih ruhani
dan mentalnya, luas ilmu dan wawasannya. Dengan bekal inilah setiap da’i akan
siap mentransformasi nilai-nilai aI-Qur’an menuju Islam kaffah (nilai-nilai al-
Faatihah). Perjalanan masih panjang tapi dengan pertolongan Allah semua dapat
terselesaikan.
F. PRINSIP PRINSIP DAKWAH
1. Memberi Keteladanan Sebelum Berdakwah
Sesungguhnya kebaikan akhlaq seorang mukmin adalah ‘khutbah’
yang paling efektif untuk mengajak manusia kepada keimanan. Seorang da’i
yang sukses adalah da’i yang mengajak kepada kebenaran dengan perilakunya,
meskipun dia sedikit berbicara. Karena pribadinya telah menjadi contoh yang
hidup dan bergerak, memperagakan prinsip-prinsip yang diyakininya.
Perilaku dan amal para da’i adalah cermm dan dakwahnya. Mereka adalah
teladan dalam pembicaraan dan amalan. Karena itu mereka memperbaiki apa-
apa yang rusak dan meluruskan mana-mana yang bengkok. Mereka tidak pemah
bersenbunyi dan manusia, dan tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah
Swt. Tidak keluar dan mulut mereka kecuali kebaikan. Slogan mereka adalah
“Ashlih nafsaka wad’u ghairaka (perbaiki dirimu, kemudian ajaklah orang lain)”
dan “Aqim daulatal Islami fi qalbika, taqum fi ardhika, (tegakkan daulah Islam
di hatimu, niscaya ia akan tertegak di bumimu),” karenanya, pribadi seseorang
da’i mempunyai pengaruh besar bagi keberhasilan dakwah dan penyebaran
risalahnya.
Allah Swt membenci orang-orang yang hanya pandai berbicara saja tanpa
diimbangi dengan perbuatan, sebagaimana firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang
tidak kamu perbuat Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan
sesuatu yang tidak kamu kerjakan.” (ash-Shaff [161]: 2-3).
Sesungguhnya para da’i itu mengemban tugas para nabi. Oleh karena itu
mereka harus jujur kepada Allah, baik dalam kata-kata maupun dalam perbuatan.
Mereka tidak boleh menginginkan sesuatu kecuali ridha Allah. Para da’i yang
sikap hidupnya seperti ini adalah orang yang paling berhak diikuti pola hidup
dan petunjuknya, serta dijadikan sebagai teladan, baik ketika mereka masih
hidup atau sesudah matinya.
Oleh karena itu wajib bagi seorang da’i untuk mempelajari perjalanan hidup
94 | Kuliah Syahadat
Rasulullah Saw. Karena perjalanan hidup Rasulullah Saw (Sirah Nabawiyah)
menceritakan kepada kita tentang kepribadian manusia yang dimuliakan oleh
Allah Swt. Dengan risalah, beliau menjadi teladan yang sempurna bagi manusia.
Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an, hadits Nabi maupun aqwaalush shahabah
(perkataan para sahabat Nabi)yang mengetengahkan pentingnya keteladanan
berdakwah, berikut ini beberapa di antaranya:
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu
melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca kitab maka
tidakkah kamu berfikir” (al-B aqarah[2]: 44)
“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.
Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dia-lah yang keenamnya.
Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dan itu atau lebih ban
yak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian
Dia akan memberitahukan pada han akhir apa yang telah mereka kerjakan.
Sesungguhnya Allah Maha Men getahui atas segala sesuatu.”
(al-Mujaadilah[58]: 7)
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian
mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab.” (al-
Jumu’ah[62]: 5)
Muadz ra. berkata: “Rasulullah saw. pernah berwasiat kepadaku, beliau
bersabda: “Hai Muadz, aku wasiatkan kepadamu agar bertaqwa kepada Allah,
berkata jujur, menepati janji, melaksanakan amanah, meninggalkan pen
gkhianatan, memelihara hubungan tetangga, mengasihi anak yatim, berkata
lembut, menyebarkan salam, beramal shalih, memperpendek angan, senantiasa
tetap beriman, memperdalam Al-Qur’an, mencintai akherat, merasa takut pada
hisab, dan bersikap tawadhu’. Dan aku melarang kamu memaki orang yang
bijaksana, mendustakan orang yang jujur, mentaati orang yang berbuat dos,a,
menentang pemimin yang adil, atau membuat kerusakan di bumi. Dan aku
wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah ketika berada di samping
batu, pepohonan dan rumah. Dan hendaknya kamu perbarui untuk setiap dosa
taubatnya, yang rahasia dengan rahasia yang terang- terangan dengan terang-
terangan.” (HR. Abu Nu’aim dalam AlH illyah dan Baihaqi dalam kitab Zuhud)
“Akan didatangkan pada (han kiamat) seorang ‘aiim, lalu dilempar ke neraka.
Ia pun berputar-putar seperti berputarnya keledai. Dikatakan kepadanya, apa
yang terjadi padamu, padahal dahulu kamu suka memerintahkan kita untuk
berbuat ma’rufdan mencegah kita berbuat kemungkaran. Ia menjawab (memang)
dahulu saya suka memerintahkan kamu berbuat kebaikan, tetapi saya sendiri
tidak melakukannya, dan sayajuga suka melarang kamu berbuat kemungkaran,
tetapi saya sendiri justru melakukannya.” (HR Bukhari dun Muslim)
“Di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 95
menarik hatimu dan dipersaksikannya Allah atas kebenaran isi hatinya,
padahal ia penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling dan kamu ia
berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak
tanaman-tanaman, binatang ternak, dan Allah tidak men yukai kebinasaan.” (al-
Baqarah[21]: 204-205)
Dicenitakan bahwa ada sekelompok orang dan kabilah ‘Taim’ yang datang
kepada Uman bin Khattab, diketuai oleh al-Ahnaf bin Qais. Orang ini apabila
marah seakan men ghunus seratus ribu pedang, tan pa bisa ditanya mengapa dia
marah. Lalu mereka melihat Umar sedang melumuri tubuh unta zakat dengan
minyak. Umar berkata kepada Ahnaf “Hai Ahnaf lepaskanlah bajumu dan
kemarilah bersamaku untuk memberi minyak pada tubuh unta ini, karena unta
ini mau dibagikan kepada kabilah Taim, orang miskin, janda, dan ibnu sabil”
Maka ada seorang lelaki berkata, “Ya Amirul Mu minin, perintahkan saja kepada
hamba sahaya, maka hamba sahaya itu cukup untuk menggantikan kamu berdua
(Limar dan Asnaf) dalam melakukan ini.” Maka Limar melihat orang tersebut
dengan sedikit marah, dan berkata kepadanya, “Tsakilatka Ummuka (ibumu
telah menjadi janda), apakah kamu mendapatkan orang yang lebih berhak untuk
diperbudak dan pada aku dan Ahnaf Barang siapa memimpin urusan kaum
Muslimin, maka dia adalah budak mereka.
2. Mengikat Hati Sebelum Menjelaskan
Islam adalah agama kasih sayang, Islam diturunkan oleh Allah, sebagai rahmat
seluruh alam, barang siapa yang beriman kepadanya dan mengamalkan ajaran-
ajaran-Nya, maka akan memancarlah dan dirinya rasa kasih sayang terhadap
seluruh manusia dan makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya.
“Dan tidakkami mengutusmu, melainkan untuk(menjadi) rahmatan lii
‘aalamian (rahmat bagi seluruh alam).” (al-Anbiyaa’[21]: 107)
Namun demikian, harus difahami bahwa Allah menciptakan manusia secara
fitrah memiliki dua kecenderungan, kecenderungan untuk menerima kebenaran
dan kecenderungan menolak kebenaran akibat pengaruh hawa nafsunya. “Demi
jiwa (manusia) serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” (asy-Syams[91]: 7-8).
Seorang da’i harus memahami kecenderungan tabiat jiwa manusia ini, dan
berusaha memasukkan nilai-nilai wahyu ke dalam jiwa-jiwa manusia melalui
pintu-pitu yang dapat diterima oleh jiwa yang baik.
Allah membimbing para da’i untuk menggunakan cara-cara yang sesuai
dengan sunnatullah, sehingga dapat diterima oleh jiwa-jiwa yang suci dan siap
menerima al-haq.
Cara-cara (thariqah) tersebut adalah:
96 | Kuliah Syahadat
a) Dakwah tegas atas dasar hikmah.
“Serulah manusia kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan mau ‘ izhah
hasanah dan bantulah mereka dengan cara yang baik (an-Nahl[16]: 125).
Salah satu makna hikmah adalah Muqtadhal Haal (menyesuaikan
keadaan) sebagaimana kata Au bin Abi Thalib:
“Sesungguhnya hati manusia itu kadang-kadang menerima dan kadang-
adang menolak, maka apabila hati itu menerima, bawalah ia untuk melakukan
nawafil (amalan-amalan sunnah), dan apabila hati itu sedang menolak, maka
pusatkanlah (cukupkanlah) untuk melakukan faraidh (yang wajib-wajib).”
b) Dengan cara yang lemah lembut dan tutur kata yang baik
Da’i yang bijaksana adalah mereka yang mampu menyampaikan dakwah
dengan cara lemah lembut dan katak ata yang baik tanpa mengurangi bobot dan
isi yang didakwahkannya. Untuk memperdalam thariqah dapat kita kaji dan
firman-firman Allah Swt di dalam al-Qur’an: al-Ankabut[29]: 46, al-Israa’[17J:
53-54, al-Hajj[20]: 68-69, an-Naazi’aat[79]: 18-19, at-Taubah[9]: 128, Au
‘Imran[3]: 159, Fathir[35J: 10, Ibrahim[14]: 24, an- Nisa’[4]: 148, asy-Syuraa[42]:
43.
Sedangkan dari sunnah Rasulullah Saw dapat direnungkan dan hadits
yang diriwayatkan oleh imam Muslim di bawah ini :“Sesungguhnya Allah itu
lemah lembut dan mencintai kelemahlembutan, dan Dia memberi kepada
seoranag yang lemah lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada selainnya.”
c) Mengupayakan Ta’hfiil Qulub (penyatuan hati)
Seorang da’i senantiasa harus berusaha menyatukan hati-hati manusia,
sehingga Allah memberikan kebaikan kepada mereka. Dalam rangka ta’liful
qulub manusia dengan taufiq Allah, seorang da’i harus memperhatikan beberapa
hal berikut ini:
Pertama : Menanamkan pada din mad’u, bahwa da’i menyeru mereka
kepada sebuah prrnsip nilai, bukan demi kemaslahatan pribadi (asy-Syuraa[42]:
109, an-Naml[27]: 44, al-Hujuraat[49]: 17, al-Ahzaab[33]: 23).
Kedua: Memberi kesan kepada mad’u bahwa para da’i selalu menaruh
perhatian kepadanya dan menginginkan kebaikan baginya (as-Syuraa[42]: 135,
Yaasiin[36]: 20-27,A1-Mu’minun[40]: 25-33, Fathir[35]: 8, aI-Kahfi[18]: 6).
Ketiga : Tidak bersikap keras, meskipun hanya dengan katak-kata (al-
Baqarah[2]: 251 dan 256, a-Qashash[29]: 15-19, al-Mumtahanah[60]: 8-18, al-
Anfal[8]: 62-63). A1-Qur’an tidak menyebutkan kekerasan kecuali hanya pada
dua tempat, dalam peperangan (at-Taubah[9]: 123) dan dalam melaksanakan
‘uqbah syar’iyah (hukum syari’ah) (an-Nur[24]: 2)
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 97
Keempat : Hendaknya para da’i membuat mad’u dekat dengannya, berseri
muka di hadapannya, dan jangan mencari-cari kekurangannya (an-Nisa’[4]: 94,
adh-Dhuha[92]: 7, al-Mumtahanah [60]: 7, aI-Hasyr[59]: 19, ar-Ra’du[13]: 6).
Kelima : Hendaknya para da’i menghadapkan wajahnya ketika berbicara
dengan mad’u, dan jangan memutus pembicaraannya dan jangan melecehkan
kata-katanya. Perhatikan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan
Ummu Darda’ Ra, bahwa ia berkata, “Abu Darda’ apabila berbicara, ia tersenyum,
maka aku berkata, ‘apakah manusia tidak mengatakan bahwa kamu itu bodoh,
disebabkan kamu tersenyum ketika berbicara Maka Abu Darda’ berkata, ‘Saya
tidak pernah mendengar atau melihat Rasulullah berbicara kecuali dengan
tersenyum.’ Maka Abu Darda’ melakukannya seperti itu karena mengikuti
Rasulullah Saw.”
Keenam : Ketika berbicara dengan mad’u janganlah merasa lebih tinggi dari
padanya dan tempatkanlah ia sesuai posisinya (al-Mujadalah [58] : 11 ). Abu
Darda’ meriwayatkan dan Maimun bin Abi Syaibah Ra bahwa Aisyah Ra berkata
bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tempatkanlah manusia itu pada posisinya.”
Dari Annas Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah
sorang pemuda itu memuliakan orang tua karena usianya, kecuali Allah akan
rnenanggung untuknya orang yang akan mernuliakannya di saat dia tua.”(HR
Tirmidzi)
Ketujuh : Hendaknya para da’i menasehati mad’u dengan
rahasia, janganlah membuka aibnya di hadapan orang banyak.
Ali bin Abi Thalib Ra berkata, “Nasihat yang engkau berikan kepada pembesar
itu mengejutkan jika karnu dapat memilih kata-kata yang sesuai pada momen
yang tepat, maka itu merupakan taufiq dan Allah. Karena betapa banyak kata-
kata yang dilontarkan para dai tanpa rnemperhatikan cara yang bijak, ternyata
justeru memunculkan permusuhan dan kebencian, serta menyebabkan pudarnya
ikatan persaudaraan untuk selama-lamanya. Maka hendaknya para da’i rnenjaga
diri dan tergelincirnya lisan. Hendaklah mereka ingat sabda Rasulullah: Tidaklah
lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak lurus hatinya
sehingga lurus lisannya.”
Kedelapan : Memberi hadiah kepada mad’u untuk melunakkan hatinya (at-
Taubah[9]: 60). Imam ath-Thabari meriwayatkan dan Shafwan bin Umayyah,
dia berkata, “Sungguh Rasulullah telah memberiku, padahal saat itu dia adalah
manusia yang paling aku benci, tetapi dia terus menerus memberiku, sehingga
akhirnya dia menjadi manusia yang paling aku cintai.”
Kesembilan : Hendaknya menjauhi perselisihan dalam masalah fiqih dan
meninggalkan debat atau saling berbangga diri dengan pendapatnya (al-
Mujaadilah[58]:
98 | Kuliah Syahadat
1). Rasulullah Saw bersabda:
“Manusia yang paling dibenci oleh Allah adalah orang-orang yang
banyak bicaranya (suka berdebat).” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Ahmad, Rasulullah Saw bersabda, “Tidak sempurna iman
seseorang sehingga ia rneninggalkan dusta dalam gurauannya, dan perdebatan
meskipun itu benar.”
3. Mengenalkan Sebelum Memberi Beban
Salah satu prinsip yang harus dilaksanakan para da’i dalam melaksanakan
dakwahnya adalah prinsip at-ta’rif qabla at-taklif (mengenalkan sebelum memberi
beban). Yaitu mengenalkan ajaran agama Islam yang sempurna dan sebenar-
benarnya secara kaffah kepada mad’u, sebelum menjelaskan tentang beban-beban
dan tangggung jawab (mas’uliyah) yang harus dipikul sebagai Muslim.
Al-Qur’an diturunkan untuk mengenalkan kepada manusia tentang empat
persoalan, sebelum memberikan beban kepada mereka dengan perintah apapun.
Empat persoalan itu adalah:
1. Mengenalkan kepada mereka Rabb mereka, agar mereka beribadah kepadanya
2. Mengenalkan akan diri mereka agar mereka memahami hakikat keberadaan
(eksistensi) mereka
3. Mengenalkan mereka tentang al-Kaun (alam semesta), agar mereka
menggunakan dan memakmurkannya
4. Mengenalkan kepada mereka tentang akhir perjalanan hidup yang menanti-
nanti mereka di akhirat.
Dengan pengenalan diri manusia atas persoalan di atas, diharapkan
mad’u akan memperoleh gambaran yang benar dan keyakinan yang lurus
(shihhatul i’tiqad) tentang dienul Islam. Sehingga mereka dapat mengikuti dan
mengamalkan dienul Islam dengan benar (shihhatul ittibaa’).
“Dan tidak pantas bagi seorang mu’ min dan tidak (pula) bagi mu’minah
apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara, kemudian mereka
masih memilih-milih (yang lain) dan urusan mereka.” (al-A hzaab(331: 36)
Setiap dakwah harus melampaui tiga tahapan yaitu:
1. Tahap pengenalan terhadap fikrah (pola pikir)
2. Tahap pembentukan, seleksi pendukung dan kaderisasi serta pembinaan
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 99
anggota dakwah
3. Tahap aksi dan aplikasi
Para da’i harus memahami tiga tahapan tersebut, dan harus mengetahui
tahapan apa yang sedang dilaluinya ketika ia berhadapan dengan mad’u. Masing-
masing tahapan memiliki karakter, tuntutan dan uslub dakwahnya yang berbeda
satu dengan yang lain. Meskipun ketiganya dapat dikerjakan bersama-sama dan
saling mendukung.
Marhalah Ta’rif (pengenalan fikrah) merupakan tahapan terpenting,
karena merupakan titik awal dalam meniti perjalanan dakwah Kesalahan atau
penyimpangan apapun yang dilakukan dalam kaitannya dengan al-Fahm dan
al-Marifah dapat menimbulkan akibat buruk, yaitu semakin jauhnya jarak
manusia dan jalan dakwah yang sebenarnya. Dan sinilah wajib bagi seorang da’i
untuk tidak tergesa-gesa dalam memberikan tugas kepada mad’unya sebelum Ia
memberikan pemahaman kepada mad’unya terhadap apa yang didakwahkannya.
Berkenaan dengan prinsip ta’rif qabla taklif in dapat diambilkan pelajaran dan
tafsir dan asbabun-nuzul ayat-ayat dibawah ini:
- Al-Hujuraat[49]: 2-3
- An-Nur[24]: 13-20
- Asy-Syuraa[42]: 78-82
- Yusuf[121]: 39-40
4. Mepermudah Bukan Mempersulit
Seorang da’i senantiasa harus memperhatikan keadaan mad’unya ia harus
berbicara dan menyampaikan pesan-pesan dakwah sesuai dengan kapasitas yang
dimiliki oleh mad’unya baik dalam akal, kesehatan, umur maupun ilmunya sebab
Allah Swt tidak membebani manusia, kecuali sesuai dengan kemampuannya.
“Allahtidakmembebaniseseorangmelainkan sesuai dengan kesanggupannya..”
(al-B aqarah 12]: 286)
Dalam bertabligh di hadapan mad’u, para da’i tidak diperkenankan berlaku
sombong, merasa paling pintar dan menganggap mad’u orang yang lebih bodoh.
Rasulullah Saw mentarbiyah umatnya dengan sabdanya, “Sesungguhnya orang
yang paling aku benci di antara kamu dan yang paling jauh dariku di hari
kiamat adalah orang yang paling banyak bicara, orang yang mulutnya penuh
dengan omong kosong, dan orang yang suka menonjolkan kelebihan dirinya di
hadapan orang lain.” (HR.Tarmidzi)
Para da’i harus berusaha supaya mad’u dapat memahami pesan-pesan
dakwah yang disampaikannya, hal ini dapat dilakukan dengan mencari cara-
cara, metode, atau thariqah yang tepat, misalnya:
1. Membuat contoh-contoh untuk mempermudah pemahaman
100 | Kuliah Syahadat