2. Mengadakan dialog dan tanya jawab
3. Untaian kata yang menarik dan lemah lembut
4. Tidak berlebih-lebihan dalam berbicara dalam tafashsshuh (sok fasih)
5. Memperhatikan waktu dan frekuensi dakwah agar tidak bosan
6. Boleh meninggalkan yang sunnah bila dikhawatirkan jenuh
7. Meringankan shalat, waktu jadi imam
8. Menghadapi mad’u dengan lemah lembut, tidak kasar, dan tidak emosi
9. Memilih perkara yang paling ringan
Kalau dirangkai ayat-ayat Al-Quran akan dapat dijumpai bahwa Allah Swt
memberi penjelasan dengan cara yang mudah dicerna dengan perasaan dan
akal. Misalnya penjelasan itu tentang aqidah (al-Hajj[22]: 78, Au ‘Imran[3]: 190,
al-Ikhlas[112]:
1-4). Demikian pula di dalam memasyarakatkan amalan-amalan ibadah kepada
Allah Swt, seorang da’i memberikan kemudahan dan tidak mempersulit misalnya
perintah shalat, puasa, (al aqarah[2]: 183-184), haji, jihad (al-Baqarah[21: 243-
244) dan sebagainya.
Haruslah difahami bahwa prinsip pokok dalam pembebanan aqidah Islam
adalah mempermudah, sebagaimana firman Allah Swt: “Allah menghendaki
kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah f2J:
185)
Dari uraian di atas para da’i dapat menyimpulkan sebuah kaidah penting
yaitu wajibnya memperhatikan ketentuan hukum, apakah itu ‘azimah ataukah
rukhshah; serta memastikan bahwa mengambil hukum yang lebih ringan itu
Iebih utama dari pada yang Iebih berat.
5. Mendahulukan Yang Pokok Sebelum Cabang
Pertama-tama yang harus dilakukan oleh seorang da’i adalah mengetengahkan
luasnya cakrawala Islam kepada mad’u, sebelum mengenalkan kepada mereka
perkara-perkara atau kewajiban-kewajiban furu’iyah yang harus mereka
laksanakan.
Tugas ini akan menjadi lebih efektif apabila para da’i memulai
melaksanakan kewajiban itu dan dirinya sendiri. Kalau dirangkaikan memahami
ayat-ayat al-Qur’an, akan dijumpai bahwa setiap Rasul Allah Swt selalu memulai
dakwahnya dengan inti ajaran Islam (aqidah), yaitu hendaknya kamu beribadah
kepada Allah, tiada ilah melainkan Dia, baru menyusul kewajiban berikutnya
(hukum-hukum).
Pemahaman akan tujuan penciptaan manusia harus ditanamkan sejak
dini kepada mad’u, sebagai awal dan segala aktivitasnya dalam ber-Islam.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 101
“Katakanlah, sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepada kalian
suatu hal saja yaitu supaya kamu menghadap Allah Swt dengan ikhlas berdua-dua
atau sendiri-sendiri kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad), bahwa tidak
ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dan tidak lain ia hanyalah pemberi
peringatan kepada kamu sebelum menghadap azab yang keras.” (Saba’(34]: 46)
Pemahaman dan pengamalan aqidah, akan melahirkan tiga pondasi
pokok yang menyatukan umat Islam yaitu:
1. Masyaa’ir Wahidah (perasaan yang satu) (al-anfal[8]: 63)
2. Sya’aair Wahidah (kesatuan ibadah), misalnya: shalat berjama’ah, zakat maal,
puasa Ramadhan, berhaji ke Baitullah dan ukhuwah Islamiyah
3. Syaraa-i’ Wahidah (kesatuan sistem hidup), satu Rabb, satu Rasul dan satu
kitab
Dalam praktek dakwahnya para da’i harus memperhatikan kondisi mad’u
dan kondisi yang melingkupinya. Hal ini penting berkaitan dengan kesiapannya
menerima hukum Islam sebagaimana yang diterangkan hadist di bawah ini :
Thalhah bin ‘Ubaidillah Ra berkata, “Seorang Badui datang kepada
Rasulullah dengan rambut yang tidak teratur, orang itu berkata, ‘Wahai Rasulullah,
beritahukan kepadaku shalat apa yang diwajibkan oleh Allah!
Nabi Saw bersabda, ‘Shalat lima waktu kecuali (jika mau) kamu shalat
sunnat.’
Ia bertanya lagi, ‘Puasa apa yang Allah wajibkan atasku’. Nabi Saw
bersabda, ‘Puasa Ramadhan, kecuali (jika mau) kamu puasa sunnat’.
Orang itu bertanya lagi, Beritahukan kepadaku zakat apa yang di wajibkan
oleh Allah atasku’
Rasulullah Saw memberitahukan kepadanya tentang syari’at Islam. Orang
itu berkata, “Demi Allah yang telah memuliakanku dengan kebenaran, saya
tidak akan menambah ibadah den gan sunnah dan tidak akan mengurangi yang
diwajibkan oleh All ah kepadaku sedikitpun.’ Sehingga Rasulullah Saw bersabda,
‘Beruntunglah jika ia benar atau dia akan niasuk surga jika ia jujur.” (HR Bukhari)
Dan hadits di atas dapat difahami bahwa Rasulullah saw menyampaikan
hukum kepada mad’u secara bertahap dan ushul (wajib, pokok) kepada yang
102 | Kuliah Syahadat
sunnah (cabang) sesuai dengan kesiapan mad’u-nya.
Para da’i harus menghindarkan diri dan menghabiskan waktunya untuk
mempermasalahkan atau berdebat soal-soal furu’iyah. Sebab hal ini akan dapat
menimbulkan perpecahan umat. Harap difahami, bahwa sebagian besar umat
sudah memiliki landasan yang kokoh dan mantap dalam menyikapi perbedaan-
perbedaan yang ada dalam masalah-masalah furu’iyah. Ada kaidah-kaidah yang
sudah dikuasainya sejak mereka di bangku sekolah, yang tak mudah diubah-ubah.
Daripada mengundang perdebatan tiada akhir tentang hal-hal furu’iyah,
yang lebih perlu dibangun adalah interaksi yang sehat antara komponen-
komponen umat sebagaimana pendapat ahli yang mengatakan:
“Kita bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati dan saling memaafkan
dalam hal-hal yang diperselisihkan.”
6. Membesarkan Hati Sebelum Memberi Ancaman
Para da’i harus mendahulukan bisyarah atau targhib (kabar gembira)
sebelum nadzarah atau tarhib (ancaman) dalam menyampaikan seruan dakwahnya
kepada mad’u. mi adalah metode al-Qur’an dan as-Sunnah di dalam menjelaskan
tuntutan Ilahi kepada jiwa manusia yang sesuai dengan fitrahnya.
Sebelum memberi peringatan tentang suatu hal, al-Qur’an lebih dahulu
menyampaikan gambaran-gambaran yang menggembirakan, menumbuhkan
harapan dan memberi motivasi kepada jiwa manusia. Hal mi dapat kita
renungkan dan beberapa ayat al-Qur’an : asy-Syu’araa’[26]: 78-82, a!H adid [57]:
28, an-Nahl[16]: 97, Nuh[71]: 10-12, al-Baqarah[2]: 261, al-Ahqaaf[46]: 31-32,
az-Zumar[39]: 53-58, al-Furqaan[25]: 68, Shaad[381 : 29.
Dalam surah an-Nahl[16]: 97, Allah menggembirakan orang yang beramal
shalih: “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami benkan
kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami ben balasan
kepadanya dengan pahala yang lebih dan apa yang mereka kerjakan.”
Rasulullah Saw mendorong umatnya untuk selalu melakukan kebaikan dan
senantiasa bertaubat kepada Allah Swt dan melarang mereka untuk berputus asa
dan rahmat Allah. Abu Hurairah berkata, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah
saw bersabda, “Bagaimana pendapatmu jika di depan rumah salah seorang di
antara kamu ada sungai sehingga dia mandi di sana sehari lima kali, coba kamu
katakan apakah masih tersisa kotoran pada mereka” Para sahabat menjawab,
“Tidak tersisa kotoran padanya.” Nabi berkata, “itulah perumpamaan shalat lima
waktu Allah menghapus (dengan shalat itu) kesalahan- kesalahan mereka.” (HR
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 103
bukhari)
Sesungguhnya jiwa manusia bisa ditundukkan dengan cara memberi
dorongan. Cara lain untuk menundukkannya adalah dengan diberi peringatan
dan ancaman. Peringatan mampu menjauhkan mereka dan perbuatan yang hina
dan tercela. Syaratnya, setelah tumbuh dalam jiwa mereka rasa takut akan akibat
yang akan menimpanya. Rasa takut terlambat atau kehilangan kesempatan juga
bisa jadi motivasi penggerak jiwa.
Para da’i hendaknya tidak mengesampingkan tarhib (ancaman) dan uslub
dakwah bahkan wajib bagi da’i untuk menerapkan keduanya, targhib dan tarhib
sesuai dengan yang dihadapi dan sesuai dengan kondisi mad’u. Kata-kata yang
lunak dan iming-iming itu terkadang lebih bermanfaat dalam waktu dan situasi
tertentu. Di lain sisi, peringatan itu terkadang juga lebih efektif pada kondisi dan
waktu-waktu yang lain.
7. Memahamkan Bukan Mendikte
Seorang da’i dituntut memahami Islam secara komprehensif bukan hanya
secara tekstual saja. Mereka harus memiliki pemahaman dan wawasan yang
lengkap tentang syari’at Islam. Demikian pula dalam menyampaikan dakwah
kepada mad’u, para da’i harus berusaha memberi pemahaman yang seluas-luasnya
dan sebesar-besarnya tentang nash-nash yang ia sampaikan. Harus dihindari cara-
cara yang hanya mendikte mad’u dengan membacakan nash-nash secara tekstual
saja tanpa dijelaskan kandungan yang lengkap tentang nash tersebut.
Dari sinilah para da’i dituntut senantiasa menambah ilmunya tentang dien
(tafaquh fid-dien). Dengan begitu semakin paripurna lah ilmunya serta mampu
menggunakan hikmah dalam membimbing mad’unya. Dalam menggunakan
kata-katanya yang ada hubungan dengan dien,
al-Qur’an senantiasa menggunakan kata-kata liyatafaqqahu fiddiin (at-
Taubah[9]: 122) bukannya Iiyahfazhu fid-diin (artinya). Demikian pula dalam
kisah Nabi Sulaiman (al-Anbiyaat[21J: 78-79) al-Qur’an menggunakan katak ata
‘Fa fahhamnaahaa Sulaimana…………………’()
Para sahabat Nabi Saw adalah orang-orang istimewa yang diberi taufiq
oleh Allah Swt dengan beberapa kelebihan yaitu memiliki hafalan yang kuat,
pemahaman yang mendalam terhadap dien dan ketelitian dalam menyimpulkan
hukum. Sebagai contoh dapat difahami kisah dibawah ini:
Dari Abu Sinan Ra ia berkata, “Umar pernah bertanya tantang Abu Ubaidah
maka dikatakan, bahwa Abu Ubaidah itu memakai baju yang kasar dan makan
makanan yang sangat sederhana. Maka ‘Umar mengirimkan kepadanya seribu
dinar dan ‘Umar berkata kepada utusannya, “Lihatlah apa yang akan di lakukan
dengan itu jila ia mengambilnya.
” Maka setelah itu Abu ‘Ubaidah memakai pakaian yang baik dan makanan yang
104 | Kuliah Syahadat
baik pula. Utusan tersebut datang kembali kepada ‘Umar dan memberitahukan
hal tersebut. Maka ‘Umar berkata sambil nzenafsirkan ayat-ayat berikut ini.
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.
Dan orang yang disempitkan rizkinya, hendaklah memberi nafkah dan harta yang
diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkan sekedar apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan
memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (at-Thalaaq 165): 7)
Inilah pemahaman yang baik, bukan sekedar talqin untuk kemudian
diikuti saja. Bukan pula meletakkan nash pada tempat yang bukan semestinya.
Tanpa memahami, tanpa mengamalkan dan tanpa mengetahui tujuannya serta
pemahaman tenhadap tujuan diturunkannya syari’at yang agung, sehingga nash
tensebut dapat diamalkan sesuai dengan kemashalatan yang dipertimbangkan.
Dengan pemahaman seperti itu, dan dengan penhatian terhadap kemanusiaan
serta dengan mahabbah kepada mad’u, akan terbukalah hati mereka dan Allah
melapangkan dada mereka untuk kembali kepada Allah Swt. Ketika itulah da’i
merasa bahagia dengannya, dan bangunan dakwah menjadi sempurna, yaitu
bangunan Islam, baik secara dakwah maupun daulah dengan manhaj yang benar
yang bersumber dan Rasulullah Saw.
G. TINDAK LANJUT DAKWAH
1. Membangun Umat Utama
Islamituungguldantidakadayanglebihunggul daripadanya. Keunggulan Islam
hanyadapatdikibarkanolehumatterbaik.Bilatidak,makakeunggulanIslamterhijab.
Menjadi umat terbaik dapat dicapai bila individu-individu yang
berjama’ah terus meningkatkan kualitasnya. Sebab umat terbaik hanya dapat
terwujud dengan bersatunya
individu-individu yang berkualitas. Karenanya, untuk merakit umat terbaik
harus dimulai dan meningkatkan kualitas individui ndividunya. Secara berturut-
turut Allah Swt memberikan petunjuk-Nya dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
1. “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu dengan sebenar-benar
bertaqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.”
(Au ‘Imraanf3j: 102) Masing-masing individu dakwah dituntut untuk terus-
menerus meningkatkan kualitas iman dan taqwa dengan sebenar-benar taqwa.
Harus terus memperbarui kesucian nilai-nilai aqidahnya. Kemudian akhlaq dan
cita-cita ber-Qur’an diteguhkan. Kualitas ruhaninya terus diasah. Bersamaan
dengan itu Allah Swt memerintahkan untuk berjama’ah. Iman dan taqwa tidak
cukup hanya sendirian. Bila sendirian akan tergilas zaman.
2. “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah
kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu,
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 105
lalu manjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (Au
‘Imraanl3J: 103) Kualitas iman dan taqwa akan melahirkan persaudaraan dan cita-
cita. Atas dasar iman dan taqwa, Allah Swt memanggil manusia agar berpegang
teguh pada tali dien-Nya. Tidak ada lagi sekat-sekat ekonomi dan sosial yang
memisahkan hati orang yang beriman. Kesamaan iman dan cita-cita ber-Qur’an
meleburkan perbedaan-perbedaan. Perbedaan pada tiap manusia adalah suatu
yang manusiawi dan itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan iman.
Sebab imanlah yang akan kekal, sementara dunia ini akan hancur. Dunia dan
seisinya di hadapan Allah Swt hdak lebih berat dan satu sayap lalat. Hanya iman
dan taqwalah yang memiliki bobot di hadapan-Nya. Maka nikmat iman yang
telah ada pada diri manusia jangan sampai ditukar dengan nikmat duniawi yang
hina. Persatuan umat Islam terlalu mahal untuk ditukar dengan kepentingan
duniawi yang fana ini.
3. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh yang ma’rufdan mencegah dan yang mungkar, mereka
itulah orang-orang yang beruntung.” (Au ‘Imraanf3]: 104) Setelah persaudaraan
dan kebersamaan umat Islam tercapai, maka perjuangan cita-cita Qur’ani dapat
lebih mulus digulirkan. Allah selanjutnya memanggil agar hamba-hamba-Nya
tampil menjadi pelopor kebenaran di tengah-tengah umat manusia. Umat yang
secara aktif mengajak kepada kebaikan dan amar ma’ruf nahi mungkar disebut
oleh Allah Swt sebagai umat terbaik. limat seperti inilah yang dibangun oleh
Rasulullah Saw. Mereka bersama-sania Rasulullah Saw memperagakan Al-Qur’an
yang agung ini dan menyebarkannya ke seluruh dunia.
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada
yang ma’ ruf dan mencegah dan yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Ali
‘Imraan[3J: 110)
Pembinaan dakwah harus berupaya melahirkan umat terbaik. Dengan
umat terbaik itulah jama’ah Hidayatullah bersama-sama da’i yang lain membawa
missi Islam, menebar rahmat ke seluruh alam.
2. Membangun Solidaritas Jama’ah
Ukhuwwah (persaudaraan) dan jama’ah (kebersamaan) sesungguhnya
merupakan tuntutan fitrah yang dibutuhkan oleh setiap orang. Manusia sebagai
makhluk sosial senantiasa membutuhkan manusia lainnya. Untuk mencapai
tujuan hidupnya ia membutuhkan kebersamaan dengan manusia-manusia lainnya
yang satu tujuan. Berdirinya berbagai kelompok, paguyuban dan partai misalnya
menunjukkan bahwa berjama’ah merupakan hal yang manusiawi. Kebersamaan
baru bisa lestari apabila direkatkan dengan ukhuwwah. Kebersamaan tanpa
ukhuwwah ibarat kerikil dan pasir tanpa semen, yang akan mudah bercerai-berai.
3. Menuju Islam Kaaffah
106 | Kuliah Syahadat
Untuk mengembangkan dan mempertahankan idealisme tauhid di dalam
hati jama’ah dan umat manusia, maka menjadi tangung jawab setiap individu
untuk ber-taushiyah (saling menasihati). Sebab cita-cita dan perjuangan tauhid
bukanlah pekerjaan yang ringan. Untuk mencapai tujuan itu pasti akan ditemui
hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan. Penurunan semangat sangat
mungkin terjadi. Tarikan-tarikan egoisme pribadi yang menyebabkan seseorang
tidak mau berbagi rasa dan bekerja sama-sama akan menghilangkan rasa kasih
sayang dalam hatinya. Bila rasa kasih sayang sudah hilang, ikatan jamaah akan
pudar. Ini adalah awal kehancuran dan sebuah perjuangan.
Taushiyah berguna untuk saling menyadarkan tentang kebenaran,
kesabaran dan kasih sayang agar nilai-nilai itu tetap hidup dalam pikiran dan hati
manusia. Kebenaran dengan demikian tidak berangsur padam karena kelalaian
yang ditimbulkan oleh berbagai peristiwa dalam kehidupan. Kesabaran yang
merupakan amal perbuatan bathin yang sangat penting, akan dapat melahirkan
kekuatan sikap dalam kehidupan manusia dan jama’ah saat menghadapi kesulitan-
kesulitan dan tantangan-tantangan yang besar.
Dengan kesabaran kita mampu memelihara keseimbangan yang membuat kita
mampu memikul beban melanjutkan perjalanan perjuangan, sekalipun dengan
menanggung penderitaan dan siksaan. Saling menasihati dalam kasih sayang
merupakan kewajiban, karena kasih sayanglah yang sanggup mempertahankan
semangat seseorang dalam menghadapi penderitaan, sehingga bebannya menjadi
ringan atau bahkan hilang sama sekali. Dengan ber-taushiyah kita dapat terhindar
dan kerugian.
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali
orang-orang yang ben man dan beramal shaleh dan saling menasihati (supaya
men taati) kebenaran dan selalu bersabar.” (al-Ashr[103J: 1-3)
“Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling menasihati untuk
bersabar dan saling menasihati untuk berkasih sayang. Mereka itulah termasuk
golongan kanan.” (al-Balad(90]: 17-18)
Era informasi dan globalisasi akan menjadi malapetaka bagi umat manusia
jika justeru materialisme, hedonisme dan kemaksiyatan semakin merajalela.
Akan terjadi erosi nilai besarb esaran di kalangan umat manusia. Jika taushiyah
tidak dilakukan, berkah wahyu akan dicabut oleh Allah Swt. Azab Allah tidak
hanya menimpa orang-orang yang tertentu saja tetapi semua orang, termasuk
yang beriman akan terkena akibatnya. Hanya dengan tetap ber-taushiyah Allah
Swt akan memberkahi umat Islam.
Oleh karena itu orang-orang beriman harus merebut era informasi sebagai era
dakwah dengan tujuan menyebarkan rahmat ke seluruh alam. ***
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 107
BAB5
AL-FATIHAH, GARIS BESAR
TUJUAN AL-QUR’AN
Al-Qur’an merupan taburan nilai-nilai kebenaran yang agung. Setiap ayat
bahkan setiap huruf dan al-Qur’an mendatangkan pahala bagi yang membacanya.
Menyelami kedalaman al-Quran ibarat menyelam di kedalaman lautan dengan
berbagai macam ragam makhluk hidup dan keindahan panoramanya. Apa saja
yang terkandung di dalam aI-Qur’an, tak habis-habisnya untuk dikaji dan ditulis.
Au bin Abi Thalib Ra pun pernah mengungkapkan, untuk mengurai keluasan
huruf ba di lafadz basmallah tak cukup oleh satu kitab tebal.
Untuk memahami al-Quran secara utuh dibutuhkan peta dan garis-garis
besarnya. Tanpa mengetahui garis besamya, gerakan menuju cita-cita Qur’ani
akan mudah terjebak dan terpesona pada satu hal tetapi melupakan yang Iainnya.
Padahal manusia dituntut untuk memasuki Islam secara kaaffah.
Maka Allah Swt telah memberikan satu surat yang memberikan informasi
garis-garis besar
Al-Qur’an itu, yaitu surat Al-Fatihah (Pembukaan). Surat ini juga dinamakan
ummul Qur’an (induk al-Qur’an), asaasul-Qur’an (dasar-dasar AI-Qur’an).
Sehingga Rasulullah Saw pernah bersabda tidak ada satu suratpun yang sebanding
dengan al-Fatihah.
Garis-garis besar dan tujuan Al-Quran itu antara lain:
1. Menetapkan aqidah tauhid
108 | Kuliah Syahadat
Ruh dan tauhid ini bisa dirasakan dalam firman Allah:
“Segala puji milik Allah yang Maha memelihara seluruh alam.”
Tidak ada yang Iebih berhak dipuji selain Allah Swt. Dialah yang menciptakan
alam raya dan manusia. Sudah selayaknya manusia sebagai makhluk yang
diciptakan oleh Allah Swt memposisikan-Nya sebagai Ilah yang Esa, tidak ada
yang menyamai-Nya satupun. Apapun nikmat yang diterima manusia tidak
lepas dan kekuasaan-Nya. Alam raya ini tetap seimbang dan harmonis juga
atas pemeliharaan-Nya. Seorang hamba yang telah mengenali secara sadar
akan posisinya tentu akan berucap ‘Alhamdulillaahirabbil’aalamiin’. Inilah yang
senantiasa diucapkan hamba Allah dalam berbagai kesempatan khususnya saat
berkomunikasi dengan Allah Swt melalui shalat.
2. Berita gembira dan ancaman
Berita gembira itu tersurat dalam firman Allah Swt:
“Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.”
Sekalipun Allah itu Mahakuasa, Dia tidak semena-mena, justru Maha pengasih
lagi Maha penyayang kepada makhluhN ya. Kasih sayang Allah, sebagaimana
dikatakan Rasulullah Saw jauh melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Atas kasih sayang Allahlah al-Qur’an turun agar manusia mencapai kebahagiaan
di dunia dan di akhirat. Manusia wajib mensyukuri semua nikmat Allah ini.
Sebagai khalifah-Nya, manusia juga dituntut untuk berakhlaq dengan akhlaq-
akhlaq mulia-Nya. Bila Allah Maha Memelihara alam raya, kita juga dituntut
untuk memelihara kelestariaan alam-Nya. Jika Allah Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, maka hamba-Nya harus menunjukkan nafas pengasih dan penyayang.
Sedangkan berita ancaman antara lain tersirat dalam firman Allah, “Yang
Maha Menguasai hari pembalasan.”
Allah memberikan informasi di dalam ayat ini akan adanya hari
pembalasan di akhirat kelak. Di berbagai ayat dalam alQ ur’an Allah berulang-
ulang memberikan peringatan kepada mereka yang berbuat ingkar kepada Allah
akan datangnya han pembalasan. Hukum di dunia yang ditegakkan oleh manusia
masih sering belum tuntas bahkan diselewengkan. Yang benar dihukum sedang
yang salah bersorak kegirangan.
Di hari akhir Allahlah yang berkuasa untuk menuntaskan keadilan yang
belum terselesaikan. Hari akhir termasuk pilar iman yang sangat mendasar. Orang
yang meyakini adanya hari akhir akan senantiasa berhati-hati meski kepada
mereka yang lemah dan tak berdaya. Inilah terminal terakhir manusia yang akan
menentukan apakah ia dalam kebahagiaan ataulah kesengsaraan yang abadi.
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 109
3. Ubudiyah
Seseorang yang telah menyadari nilai-nilai wahyu al-Alaq (kesadaran
beraqidah), al-Qalam (akhalaq dan cita-cita berQ ur’an), al-Muzammil (menempa
ruhani), dan al-Mudatstsir (tandang ke gelanggang) akan terhantar untuk secara
sadar dan tulus berikrar dan bertekad hanya kepada Allah menyembah dan hanya
kepada Allah memohon pertolongan.
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepadamu kami memohon
pertolongan.”
Ruh tauhid yang sedang kukuh akan lebih diperkuat dengan aksi ubudiyah.
Bila syahadat mewujudkan tekad, janji dan cita-cita maka aksi riilnya adalah
ibadah. Shalat yng merupakan rukun
Islam kedua setelah syahadat merupakan wujud nyata bagi ora ng yang
beriman. Setiap shalat kita berikrar memperbaui tekad janji setia hanya kepada
Allah. Inilah sikap seorang hamba kepada Tuhan.
SeoranghambayangmenyadarikerendahanandkehinaandihadapanAllahtentu
secara sadar akan menghamba kepada Allah, dzat yang Maha Pencipta. Kita yang
merasa lemah tak berdaya tentu hanya berharap pada pertolongan-Nya, dzat Yang
Kuasa. Semua yang di alam ini adalah makhluq ciptaan-Nya. Kita tidak beribadah
kepada berhala-berhala, kita hanya mengabdi dan bergantung kepada Allah saja.
4. Penjelasan jalan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
Seluruh umat manusia ingin hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Untuk
meraihnya dilakukan dengan berbagai cara dan pengorbanan. Namun tidak
jarang ditemui bukan kebahagiaan tetapi justeru penderitaan. Hidup yang sekali
ini terlalu riskan untuk bereksperimen. Sekali hidup gagal tak dapat diulang.
Maka kepada Allah lah kita memohon jalan yang lurus.
‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Kita baca permohonan ini kepada Allah. Kita memohon petunjuk-Nya
agar kita dapat menapaki ujian hidup ini istiqamah dalam agamanya. Banyak
orang yang kaya tapi tak mampu memberi. Banyak orang yang berilmu tapi tidak
bermanfaat. Kita ingin berada dalam ridha-Nya, berdaya mengendalikan hawa
nafsu tak kalah dengan syaithan.
5. Kisah-kisah manusia
Al-Quran membentangkan kisah-kisah manusia. Semua ini merupakan
pelajaran yang harus diambil hikmahnya. Ada kisah tentang orang yang telah
diberi nikmat oleh Allah. Jalannya orang-orang yang telah diridhai Allah itulah
yang kita mohon.
110 | Kuliah Syahadat
“Jalan orang-orang, yang telah kau beri nikmat atas mereka.”
Mereka adalah para nabi dan rasul, shiddiqiin syuhada, dan shalihin. Allah
mengabdikan para hamba pilihan-Nya ini di dalam al-Qur’an seperti Ibrahim As,
Musa As, Isa As, Muhammad Saw, juga Luqman al-Hakim dan lain-lain. Mereka
adalah panutan bagi yang mengharap ridha Allah. Allah tidak melihat kemuliaan
seseorang dan jasad, harta, wajah, atau jabatan, tetapi taqwanya.
Selain itu juga dibentangkan kisah orang-orang yang dimurkai dan orang-
orang yang sesat. Allah menyebut nama Fir’aun, Qarun, Hamman, Abu Lahab
juga Bani Israil dengan segala perilaku yang mengundang murka Allah. Ketentuan
sunnatullah tidak berubah. Apa yang menyebabkan umat manusia itu dihinakan
juga akan mertimpa kita bila kita ingkar seperti mereka. Oleh karena itu kita
mohon agar tidak dimasukkan dalam golongannya.
“Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
***
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 111
PENUTUP
Sebagai penutup risalah ini tiada kata yang paling tepat diucapkan selain
munajat kepada Allah Swt, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya. Tidak ada
satupun kekuatan yang dapat menolong seseorang, jika Allah telah mengehendaki
kecelakaan baginya. Sebaliknya tidak ada satu kekuatanpun yang mampu
menggagalkan pertolongan Allah kepada seseorang yang dikehendaki-Nya,
sekalipun seluruh kekuatan jin dan manusia bersekutu untuk menggagalkannya.
Tiada daya dan kemampuan bagi kita untuk memberi petunjuk (hidayah)
kepada orang yang kita dakwahi, termasuk orang yang paling kita cintai. Sebab
hidayah itu merupakan hak prerogatif-Nya. Tugas dakwah kita tidak lain sekedar
memberi peringatan adapun hidayah itu urusan Allah.
Akhirnya tinggal satu kata saja yaitu berserah din secara penuh kepada-Nya.
Segala daya upaya secara penuh kita kerahkan tapi hasilnya kita serahkan kepada
Allah Yang Maha Kasih dan Sayang. Semoga amal usaha kita mendapat ridha dan
pengampunan-Nya, diterima sebagai amal ibadah dan dibala dengan surga-Nya.
Amin.
112 | Kuliah Syahadat
Cetakan 1, [anuari 2001
Judul Buku:
Sistem Pengkaderan dan Dakwah Hidayatullah
Penulis :
Tim , et. Al
Penyuting :
Wisnu Pramudya
Khat :
Mukhlis
Desain Cover:
MadinaEnt
Setting & lay out:
Madina Ent (021)7754462.
Penerbit :
DEWAN PIMPINAN PUSAT HIDAYATULLAH
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 113
114 | Kuliah Syahadat
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 115
116 | Kuliah Syahadat
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 117
118 | Kuliah Syahadat
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 119
120 | Kuliah Syahadat
Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi | 121
122 | Kuliah Syahadat