The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku 4 ANTOLOGI CERPEN FPGL

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by UGI UTAMI, 2025-03-09 22:14:39

Buku 4

Buku 4 ANTOLOGI CERPEN FPGL

PENULIS Pristitiyoni Dian Maranatha Dewi Sriyadi Syukriyatun Naimah Martin Amnillah Tri Fiana Tri Wening Pintarsih Umi Haini R. Dewi N. Hj Jiyem Rosydin Ma’ruf Noor Annisa Ulul Azmi Ani Turmiyati Yuni Hastuti Umi Lestari Wahyu Utomo Toto Sugiarto Wahyuni Esa Memo WilarWigen Very Ambarwati Heri Nugroho Joni Mulyono Hidayati Nur Fitri Aminatul Joko Prasetyo Mujiyono Fitri Aminatul


Muhammad Syarifudin Efendi Sani Very Ambarwati Rosydin Ma’ruf Defi Nur Fatimah Asfia Nur Laeli Pristitiyoni Indaryati Tingkas Harjanti ATA


Kata Pengantar Salam Literasi, Alhamdulillahi Rabbil 'Aalamiin.dengan penuh rasa syukur, kami mempersembahkan buku antologi ini sebagai hasil karya para guru yang tergabung dalam tantangan lima hari menulis berturut turut Forum Pena Guru Literasi (FPGL-PGRI) Kabupaten Temanggung. Buku ini berisi beragam naskah, mulai dari artikel pendidikan, opini, memoar, cerpen, puisi, storytelling, hingga reportase. Setiap tulisan mencerminkan dedikasi dan semangat para guru dalam berkontribusi terhadap dunia literasi. Di tengah tantangan zaman yang terus berkembang, kita sebagai pendidik dituntut untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam literasi. Melalui kegiatan menulis, kita dapat menunjukkan eksistensi kita sebagai guru yang literat, kreatif, dan inovatif. Menulis bukan hanya sekadar menyalurkan pikiran dan perasaan, tetapi juga merupakan cara untuk berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang cerdas dan kritis. Saya mengajak semua guru untuk terus berkarya, menjelajahi berbagai bentuk tulisan, dan berbagi pengetahuan serta pengalaman. Mari kita jadikan setiap tulisan sebagai refleksi dari perjalanan kita sebagai pendidik. Semoga antologi ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus mengasah keterampilan menulis dan memperkuat semangat literasi di lingkungan pendidikan. Dengan menulis, kita tidak hanya mengasah kemampuan pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi insan Pendidikan dan masyarakat. Kepada Semua Guru dari Dindikpora dan Kemenag mari bersama-sama menyongsong perkembangan literasi dan menciptakan dunia pendidikan yang lebih baik melalui karya-karya kita. Kepada semua penulis, anda, luar biasa. tetap semangat membagi waktu menjadi insan yang bermanfaat dan literat. Selamat membaca dan berkarya! Temanggung, Oktober 2024 Ugi Utami Ketua FPGL-PGRI Kabupaten Temanggung


DAFTAR ISI


INTI NASKAH Inti Naskah Buku Antologi Cerpen: “Antologi Cerpen: Kehidupan dalam Setiap Sudut” adalah kumpulan 30 cerita pendek yang menggali berbagai sisi kehidupan manusia, mulai dari kisah sederhana hingga pengalaman yang mendalam, penuh harapan dan tantangan. Melalui gaya penulisan yang realistis, setiap cerpen dalam buku ini hadir dengan kisah yang dekat dengan keseharian pembaca, namun penuh makna yang mendalam. Tema besar yang diusung adalah kehidupan, dengan beragam latar dan karakter yang menggambarkan perjuangan, harapan, dan proses belajar dalam menghadapi tantangan hidup. Dari kisah keluarga, persahabatan, hingga perjuangan pribadi, setiap cerita mencoba untuk menggugah pemikiran pembaca mengenai nilai kehidupan, pentingnya hubungan antar manusia, serta makna dari sebuah perjalanan. Beberapa cerpen dalam buku ini, seperti "Tofan Ro Hafidz", "Rintih Seberang Pulau", dan "Menembus Batas", mengajak pembaca untuk merenung tentang ketekunan dan keberanian untuk mengejar impian, meskipun seringkali dihadapkan pada berbagai rintangan. Sementara itu, cerpen seperti "Ayahku Good Planner", "Pelangi Senja", dan "Kompor Gas" menawarkan pandangan yang lebih ringan dan penuh kehangatan tentang kehidupan sehari-hari, dengan pesan-pesan positif tentang keluarga dan cinta. Melalui “Antologi Cerpen: Kehidupan dalam Setiap Sudut”, penulis berharap untuk menginspirasi pembaca agar tidak hanya sekadar menikmati cerita, tetapi juga tergerak untuk kembali menulis dan berliterasi, untuk menjadi insan yang lebih peka terhadap kehidupan dan terus mengasah kemampuan diri dalam berbagai aspek. Buku ini juga menjadi ajakan untuk melihat dunia melalui sudut pandang yang lebih luas dan mendalam, serta menyadari bahwa setiap kisah - baik besar maupun kecil - adalah bagian dari kehidupan yang layak untuk dibagikan. Dengan 30 cerita yang berbeda, buku ini menjadi sarana bagi pembaca untuk merasakan perjalanan batin yang beragam, memberikan ruang untuk refleksi, dan akhirnya, menemukan semangat baru dalam menulis dan bermakna dalam setiap langkah hidup.


Di Ujung Telepon Oleh: Pristitiyoni “Teman-teman, untuk mengetahui perkembangan kerja tim kita, besok kita meeting pukul 10.00, ya!” Ada WA masuk pada grup tim kerjaku. Aku buka. Ternyata Alya yang mengirim pesan. “Oke, aku setuju,” jawab Doni. “Terima kasih, Don,” sambung Alya. “Aku juga setuju,” jawabku. “Thanks”, jawab Alya. Begitu pendek jawaban yang Alya berikan untuk menanggapiku. Tapi setidaknya aku sedikit lega. Sore ini mungkin kemarahannya sudah reda. “Al, nggak olahraga?” tanyaku melalui pesan WA yang kukirim padanya. “Nggak,” jawabnya ketus. “Oh, katanya mau olahraga,” kataku. “Besok,” jawabnya lagi. “Lagi santai?” tanyaku lagi. “Ya,” jawabnya singkat. “Di mana, Al,” tanyaku basa-basi. “Di rumah, di kamar,”jawabnya singkat. “Al, sudah tidur siang?” tanyaku lagi. “Sudah,” jawab Alya dengan hanya satu kata. Entahlah. Aku tidak tahu. Dengan gadis yang satu ini, aku selalu dibuatnya salah tingkah. Aku benar-benar tidak menyangka, aku membuatnya marah lagi. Sial, kenapa hari ini harus ada briefing sehingga aku salah ucap lagi. Baru 4 jam aku tidak tahu kabarnya. Baru 4 jam juga aku tidak mengirim pesan kepadanya, aku dibuatnya kelimpungan. Ya, hari ini, tepatnya pukul 10.00 tadi, tim kami mengadakan briefing untuk acara peresmian gedung baru di kantor kami. Aku dan Alya memiliki kedudukan yang setara di kantor. Maka dari itu, kami harus bekerja sama untuk mewujudkan dan mengembangkan kantor tempat kami bekerja. Sebenarnya, sudah 5 tahun kami bekerja dalam tim yang sama, dengan kedudukan yang sama. Tujuan kami sama, namun langkah kami berbeda. Baru sekitar 6 bulan ini kami bisa sepaham,


saling terbuka. Kami sering ngobrol tentang masalah kantor, namun untuk masalah pribadi, kami sedikit membatasinya. Hingga suatu hari, ada proyek yang harus segera kami selesaikan. Mau tidak mau, kami harus kompak, memberi beberapa masukkan, mengisi kekosongan, menutupi kekurangan masing-masing. Mulai saat itu, aku merasakan ada yang lain dengan dirinya. Ada yang menarik hatiku. Nada bicaranya yang tegas, ceplas-ceplos, sikapnya yang galak, dan terutama senyumnya yang manis membuatku terpesona. Pelan-pelan, seiring berjalannya waktu, hatiku bergetar, pelan dan nyata. Aku tidak tahu mengapa jadi begini. Aku merasa dia juga merasakan hal yang sama. Namun, kami tidak membicarakan perasaan kami. Ada hal yang tidak bisa kami lewati. Aku tahu batasanku dan dia juga tahu batasannya. Karena situasi dan kondisi membuat kami tidak bisa bersatu. Setiap kami bertemu, kami selalu melempar senyum. Saat mata kami berpapasan, kami menjadi salah tingkah, aku rasa ada hal yang bergejolak di hati kami masing-masing. Entahlah. Mengapa harus ada perasaan itu? Jujur, setiap detik, aku ingin selalu mengetahui keberadaannya, mengetahui kondisinya, dan mengetahui apapun aktivitasnya. Aku tidak berani menyimpulkan ada apa denganku? Kami menjadi lebih akrab, bercerita, bercanda,dan tertawa. Terkadang kami juga saling meledek satu sama lain. Asyik, indah, dan pastinya kami menikmati semua ini. Hari demi hari, perasaan itu semakin kuat. Aku berusaha untuk menepisnya, namun aku malah dibuatnya tidak berdaya. Ya, seperti hari ini, aku tahu dia marah. Aku menjadi kalang kabut. Sakit hati ini, beban, tidak nyaman, ruwet, sungguh rasa yang tak pernah kurasakan pada siapapun saat aku memiliki konflik dengan orang lain. Namun, dengan gadis ini aku benar-benar dibuatnya “gila”. “Al, aku minta maaf atas kesalahanku tadi saat briefing, ya,” tulisku memberanikan diri menuju poin permasalahan. “Nggak papa, kamu nggak salah, Mas,” jawabnya. “Nggak, Al, aku yang salah. Aku tahu. Maaf, itu diluar kendaliku, Al,” sambungku lagi. “Aku nggak tahu, Mas,”jawab Alya. “Al, aku nggak sengaja menyakitimu, ini hanya salah paham, Al,” jelasku. “Entahlah,” sambung Alya. Aku tahu, saat kata “entahlah” itu muncul, dia tidak akan berbicara lagi. Jelas, itu membuatku tambah khawatir. “Al, aku mohon, jangan hukum aku seperti ini, Al,” pintaku. “Aku nggak tahu, Mas,” kata Alya.


“Al, aku tidak sengaja,” jelasku. “Mas, aku tidak suka dengan kalimatmu yang begitu sombong dan…”, jawab Alya terputus. “Al, boleh aku telepon?” pintaku. “Ya,”jawabnya singkat. Dari chat, aku berpindah ke telepon. Melalui ujung telepon aku harus selesaikan masalahku malam ini juga. Aku tidak mau tersiksa dan terbebani. “Al,” suaraku bergetar. “Ya,” jawabnya singkat dan terdengar jelas. “Al, aku…,aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Kau salah paham Al. Maksudku tadi bukan begitu. Aku hanya ingin memberikan motivasi pada yang lain agar benar-benar dapat bekerja dengan baik,” jelasku dengan suara was-was, takut menyinggung gadis itu lagi. Selama beberapa menit, telepon kami hening. Alya tidak menjawabku. Hanya terdengar suara napasnya yang sepertinya begitu sesak. “Alya, please!” rengekku. Lagi, dia hanya membisu. “Halo, Alya, Alya, aku mohon, jangan diam saja, Al. Alya!” panggilku. “Ya,” jawabnya singkat. “Alya, maaf, ya!” pintaku. “Mas Chandra, hari ini aku benar-benar kecewa. Aku tidak mengira kamu akan mengucapkan kalimat seperti itu. Begitu sombong, apa dikira selama ini kami tidak bekerja?” tangis Alya meledak. Oh, my God. Alya menangis karena aku. Mendengar dia terisak dan ini untuk pertama kalinya, hati ini bagaikan disayat sembilu. Bersalah, sakit, tersiksa, bingung, resah, kacau, khawatir. Ah entah apalagi, aku tidak tahu. Semua menjadi satu, berkecamuk dalam hati dan pikiranku. Yang jelas, aku sangat menyesal. Andai saja, kau dekat denganku, Al, aku akan datang dan memelukmu saat ini. Oh, Tuhan. Nggak. Perasaan macam apa ini? Siapa Alya bagiku? Kenapa jadi begini? Kenapa aku begitu khawatir? ”Kau tahu, Mas? Sudah berapa banyak tenaga, waktu, pikiran yang aku berikan untuk proyek ini? Aku memulainya dari nol, Mas. Aku singkirkan egoku untuk kesuksesan proyek ini. Namun kamu, kamu menganggap aku dan teman-teman tidak bekerja. Kau ingin urus sendiri semua hanya dengan Doni? Baik kalau begitu. Akan aku runtuhkan keangkuhanmu. Kita lihat apa kau dan Doni mampu menghandlenya berdua,” kata Alya panjang-lebar dengan emosi meluap-luap.


Di ujung telepon, aku hanya bisa diam, aku tidak bisa menyela perkataan gadis ini. Karena aku tahu, saat kemarahannya meledak, aku tidak mungkin melawannya. Ya, karena jika aku melawannya, dia semakin menjadi. Itulah karakternya. “Mas, apa jika seseorang melaksanakan tugasnya, dia harus bilang padamu? Apa semua harus memberitahumu? Nggak, Mas,”lanjutnya masih dengan tangisannya. Begitulah, dalam kemarahannya, jika sudah mau berbicara, Alya akan berbicara panjang lebar, tegas, penuh emosi, hingga hampir tak ada seorangpun menyela pembicaraannya. Setelah dia diam, baru aku membuka suara. “Al, aku tahu aku salah. Aku minta maaf padamu. Tolong, Al, ini semua salah paham, jangan seperti ini. Aku tidak tahan, aku tersiksa,”kataku. Alya terdiam, hanya suara isakkan dan napasnya yang berada di ujung telepon. “Al, please!” rengekku lagi. Lagi. Dia membisu. Aku hampir gila dibuatnya. Aku kehabisan kata-kata dan cara untuk melunakkan hatinya. “Al, Al, Alya, aku mohon, Alya,”pintaku lagi. “I am fine,”jawabnya sedikit lega. “Alya, entah kamu percaya atau tidak, aku tidak bisa diam dalam kemarahanmu. Aku sudah mencoba untuk baik-baik saja, tapi aku tidak bisa. Sungguh, Al, aku tidak bisa kau diamkan terlalu lama. Ini menyiksaku, Al,” jelasku panjang lebar. “Aku nggak tahu, Mas,” kata Alya dengan nada hambar. “Aku mohon, Al, maafkan aku. Aku benar-benar putus asa, Al. Tolong sudahi kemarahanmu,” pintaku. “Maaf, Mas, jika sudah membuatmu merasa tersiksa,” kata Alya dengan nada bergetar. Lega hatiku mendengar perkataan Alya. Ada celah dia mau mengakhiri pertikaian ini. Meskipun dia keras kepala, namun salah atau tidak salah, ketika kami mengalami perbedaan pendapat, pada akhirnya dia akan meminta maaf juga. “Kamu nggak salah, Al. Ini murni kesalahanku. Aku butuh kamu untuk selalu mengingatkan aku jika aku terlalu egois dan terlalu percaya diri sehingga aku menjadi angkuh. Aku akan terima kritikanmu. Tapi tolong, sudahi kemarahanmu, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku sungguh tidak tahan, ini berat bagiku, Al,” jelasku. “Sudahlah, Mas, forget it,”pinta Alya. “Kamu sungguh-sungguh, Al?” tanyaku. “Iya,”jawabnya pendek. “Terima kasih, Al,” kataku dengan gembira.


“Mas, aku hanya tidak ingin orang-orang berpikir kamu itu sombong dan arogan,” jelasnya padaku. “Aku tahu, Al. Terima kasih. Aku akan berusaha untuk memperbaiki diri,”jawabku lega. “Aku tahu kamu bisa, Mas,”jawab Alya memberi semangat. “Terima kasih, Alya yang manis,”kataku dengan nada menggoda. Di ujung telepon, aku mendengar gadis ini tertawa kecil. Aku bisa membayangkan wajah dan senyumnya yang manis. Lega hati ini, suasana hatinya sudah mencair. “Alya,”panggilku. “Alya, are you OK?” tanyaku sok keinggris-inggrisan. “I am good,” jawabnya. “I am sorry, very-very sorry,” pintaku lagi. Entah berapa kali aku mengulangi permintaan maafku. Aku hanya ingin mendengarnya memaafkanku dengan tidak ada beban apapun. “Enough. Forget it,” jawab Alya. “Yes, I am sure,” tegasnya. “Thank you, Al,” kataku. “Yes, you are welcome. Besok kita harus bersikap seperti biasa. Tidak ada marah lagi, semua cukup sampai di sini, deal?” pinta Alya dengan tegas. “Emang siapa yang marah, kan kamu yang marah,” kataku sambal tertawa. “Mas Chandra….”rengek Alya seperti anak kecil. “Oke, oke, maaf-maaf, jangan marah, aku bercanda, sungguh. Alya…, tersenyum dong,” lagilagi aku menggodanya. “Oke,”kata Alya. “Alya….,”panggilku menggodanya lagi. “Apaan sih?” jawabnya manja sambal tertawa. Begitulah, di ujung telpon, aku dan Alya bercanda, bertengkar, berbagi suka duka. Maka dari itu, dalam sehari saja, aku tidak bisa untuk tidak mendengar kabarnya, aku tidak bisa untuk tidak mendengar suaranya. Di ujung telepon, aku dan dia mencurahkan segala perasaan yang ada di hati kami masing-masing. Alya, ada apa dengan dengan kita? Dan pertanyaan itu, kita tak akan pernah menjawabnya meskipun di ujung telepon. Tentang Penulis Pristitiyoni, perempuan kelahiran Temanggung, 7 Juni 1982 ini bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di MTs Al Hidayah Wonoboyo. Dia lebih akrab dipanggil dengan sebutan Bu Pristi. Dia memiliki hobi menyanyi dan mendengarkan musik.


Kisah Anak Ayam dan Anak Anjing Oleh: Dian Maranatha Dewi, S.Pd. SD. Di belakang rumah besar milik petani, terdapat dua bangunan kandang yang terbuat dari kayu tua.Meskipun sederhana tapi nampak bersih, dan terawat.hal ini menandakan pemiliknya adalah seorang yang rapi. Di satu kendang yang besar hidup beberapa ekor ayam betina dan satu ekor ayam Jantan. Dan satu kandang lagi tempat seekor anjing kecil berbulu lebat hitam, bermata bulat tajam.Tiap pagi anjing kecil selalu duduk termangu sembari menatap kandang ayam di depannya seolah iri dengan tujuh ekor ayam kecil yang baru saja menetas dari cangkangnya. Induk ayam selalu bangun pagi buta dengan mengajak anak-anaknya tersebut untuk mencari cacing untuk anak-anaknya dan dirinya sendiri. Suatu pagi saat mentari sudah muncul di ufuk timur. Seperti biasa anjing kecil itu masih tergeletak menikmati dinginnya pagi. Tiba-tiba dia terkejut dan terbangun, matanya yang sayu mencoba terbuka, digeliatkan tubuhnya yang mungil dan dengan sedikit gontai dia beranjak menghampiri anak ayam yang menciap ciap. “Hey kenapa kamu berisik,dimana saudara-saudaramu?’’. Tanya anak anjing tersebut. Ayam kecil terkejut dan sedikit mundur, matanya mulai berkaca-kaca seraya menjawab dengan gagap. ”Aku mencari ibuku dan saudara-saudaraku tapi mereka tidak di sampingku,aku takut!”. Anjing mengernyitkan matanya sambil sedikit memiringkan kepalanya seraya mendekat ke anak ayam tersebut’’. Hmm .. Kemana mereka?”. Tanya anak anjing tersebut. “Sudah berangkat mencari cacing di pinggir sungai belakang rumah”. Jawab si anak ayam. Anjing itu keheranan seraya melontarkan pertanyaan lagi,”Kenapa tidak ikut?’’.“Aku bangun terlalu siang”.Jawab anak ayam. “Semalam ibuku berpesan pada kami jangan bermain terlalu malam karena besok pagi sekali kami mau diajak mencari cacing di pinggir sungai belakang


rumah dibawah pohon pisang besar itu dan ibuku berpesan jika kesiangan ada ayam lain yang hendak mencari makan juga”. Sambung anak ayam tersebut. “Oh begitu”. Jawab singkat anjing. Sembari bertanya”lalu kenapa kamu bangun siang?”Jawab anak ayam. “aku bermain dengan mainanku hingga larut malam”. “hmmm,intinya kamu tidak mendengar nasehat ibumu ya?”. Tanya si anak anjing kecil. Anak ayam tidak menjawab malah menundukkan kepalanya. “sssssss…ssssss…ssss”. Tiba tiba mereka dikejutkan suara mendesis. Sontak anak ayam lari ke belakang anak anjing, dengan sigap anak anjing menatap tajam kearah ular tersebut sembai memasang kuda kuda. Terlihat tidak sebanding dengan sikap garang si ular. Anjing tak terlihat gentar. Secepat kilat ular menjulurkan lidah sambil mendekat ke arah anak anjing. Anak anjing mengeluarkan gonggongan keras dan berkali kali, berharap ular takut dan menjauh. Ular bukannya takut malah melesat pasang strategi hendak menyambar anak ayam yang bersembunyi di belakang anjing untuk meminta perlindungan. Tubuh anjing terlalu kecil untuk bertahan, kakinya tersambar dan terlilit ekor ular. Ular merasa diatas angin ekornya makin kencang melilit kaki belakang anjing, dan mulutnya berusaha menyerang kepala anak anjing. Anak ayam menciap ciap sambil mengepak kepakkan sayapnya, matanya ketakutan melihat anak anjing yang berusaha memberikan perlawanan. Anjing kecil mengeluarkan gonggongan panjang dan berkali kali. Suasana terdengar gaduh dan tiba-tiba datang sebuah patukan keras kearah ular tersebut. Ular dengan kesakitan melepaskan lilitan ekornya terhadap anak Anjing tersebut. Ular seketika melarikan diri ke arah semak-semak. Setelah terlepas dari lilitan tersebut . Anak anjing tersebut terkapar jatuh ke tanah dan dengan sisa tenaga dia berusaha bangun dan menjilat jilat kakinya dengan lidahnya. Ayam kecil menghambur ke arah induknya seraya berkata, ”Ibu maafkan aku!”. Induk ayam memeluk sambil berkata:”Besok lagi jangan diulang, bukankah semalam ibu sudah berpesan anakku!”. Anak ayam menjawab. “Iya ibu,maafkan aku’’. “Aku tidak akan mengulangi lagi dan aku akan mengingat selalu pesan ibu”. Anak anjing melihat dengan sayu dan lemas”. “Hey anak anjing, terimakasih ya!”. Seketika anak ayam memeluk anak anjing yang telah melindungi dirinya dari serangan ular”. “Mulai sekarang kamulah sahabat terbaikku’’. Dipeluknya anak anjing itu dengan erat. Terlihat Anak anjing terdiam lama dan matanya mulai berkaca-kaca. Induk ayam pun mendekati anak anjing seraya berkata, ”Hey, mulai sekarang kamu juga anakku”. Besok bangunlah pagi-pagi dan pergilah bersama-sama dengan kami mencari cacing


di pinggir sungai bersama anak anakku ya!”. Seketika berbinarlah mata anak anjing itu sambil menggerak-gerakkan ekornya. Tentang Penulis Dian Maranatha Dewi, lahir di Grobogan, 15 Agustus 1980, Pernah mengajar sebagai guru kelas di SD Negeri 1 Kertosari, Kecamatan Jumo, dari tahun 2003 sampai tahun 2019, lalu mutasi ke SD Negeri 2 Ketitang di Tahun 2019 sampai 2023.Saya adalah seorang guru penggerak Angkatan 4, dan menjadi Pengajar Praktik Calon Guru Penggerak Angkatan 9, di tahun 3023 diangkat menjadi kepala sekolah di SD Negeri Mento. Salah satu karya saya yang pernah terbit adalah Antologi puisi Bersama 5 orang rekan guru berjudul Purnama Pengusap Lara penerbit CV.Raditeens di Tahun 2022. SEMOGA MEREKA BISA KE BALI Oleh: Sriyadi Pak Hoho guru olahraga muda yang sekaligus wali kelas XII MIA itu masih sibuk dengan lembaran kertas bergambar Soekarno Hatta di tangan jarinya sibuk menghitung lembar


demi lembar rupiah yang terkumpul dari anak didiknya yang akan mengikuti study wisata dan ziarah Jawa Bali satu minggu mendatang. Hari ini Mas Agus dari biro Alingga Wijaya akan datang untuk menagih pelunasan biaya wisata yang sudah disepakati yang menjadi masalah dari 32 siswa masih ada beberapa siswa yang belum membayar padahal tanggal paling lambat pembayaran yang sudah disepakati dengan wali murid sudah lewat tiga hari yang lalu. “Sudah lengkap pak?“ tanya Bu Sri wali kelas XII IPS yang dari tadi melakukan aktifitas yang sama. “Belum bu masih ada empat siswa yang belum membayar.” jawab Pak Hoho. “Wah gimana to pak gak ditagih po kelas saya kurang satu saja, sudah lengkap lo.” lanjut Bu Sri guru bahasa Inggris yang terkenal cerewetnya. “Ditagihlah tapi tahu sendirikan kondisi wali murid kita, tembakau yang diharapkan malah sepi, terpuruk tak ada harapan.” “Iya sih kalau kelas XII Agama bagaimana Pak Ari?” tanya Bu Sri pada Pak Ari yang duduk di sebelah Pak Hoho dan tangannya juga sama sibuknya menghitung lembar lembar rupiah dari anak didiknya. “Apa!”, jawab Pak Ari terkejut, tampaknya dari tadi dia tidak memperhatikan pembicaraan dua rekan kerjanya “Sudah lunas semua?” “Hehe, Parah Bu punya saya belum ada separuh yang lunas.” jawab Pak Ari. “Whats??? jawab Pak Hoho dan Bu Sri hampir bersamaan. Selanjutnya mereka terlihat mengobrol tentang permasalahan yang kini sedang mereka hadapi, mereka sadar bahwa saat ini mereka mengajar di sebuah sekolah kecil di salah satu kecamatan di Kabupaten Temanggung. Namun sebagai guru mereka bertekad agar lulusan sekolahnya tidak minder dengan anak-anak dari sekolah kota. Maka ketika mayoritas murid meminta agar diadakan study wisata ke Bali agar mereka memiliki pengalaman yang sama dengan anak-anak dari sekolah lain. Mereka memutar otak bagaimana caranya agar kegiatan tersebut bisa terlaksana tapi tidak memberatkan orang tua, mengingat mayoritas kondisi perekonomian wali murid menengah ke bawah. Selama ini study wisata hanya dilakukan di tempat-tempat yang terdekat saja seperti Wonosobo, Magelang, dan Yogyakarta. Akhirnya setelah awal tahun ajaran mengumpulkan wali murid dan mayoritas wali murid pun setuju dengan diadakanya study wisata ke bali dengan biaya RP 960.000 per anak.


Kemudian disepakati dengan menabung selama satu tahun sepuluh bulan dari awal kelas XI tahun lalu tapi mayoritas mau bayar lunas pas musim tembakau saja. Kini ketika waktunya tiba ternyata dua tahun belakangan kondisi pertanian di Temanggung lesu dan sangat memprihatinkan, tembakau yang menjadi komoditi andalan petani Temanggung tak dapat diharapkan. Kini ketiga guru muda itu duduk termenung akankah study wisata dibatalkan? Akankah harapan anak didik mereka untuk melihat indahnya Pulau Dewata pupus? Mereka tahu anak didiknya ingin sekali bisa berangkat ke Bali mengingat tak mungkin bisa pergi wisata sendiri dengan keluarganya, tapi begitu banyak siswa yang belum lunas membayar sementara dana gotong royong guru yang disiapkan untuk membantu siswa yang kurang mampu hanya mampu menolong dua orang siswa saja. “Ya Allah…Semoga mereka bisa Ke Bali,” gumam mereka hampir bersamaan. Tentang Penulis Sriyadi, lahir di Temanggung Jawa Tengah pada tanggal 3 Januari tahun 1987 dan beralamat di Dusun Gintung, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Saat ini menjadi pengajar di SD Negeri 1 Jampiroso, bapak dari dua anak Ahmada Abyaz Ulung dan Kalila Hanin Noureen ini selain sibuk mengajar juga aktif di beberapa organisasi Sosial Kemasyarakatan.


\ SEMANGKUK HIDANGAN KECIL Oleh: Syukriyatun Naimah Aku menatapnya dengan mata berkaca. Terimakasih, ucapku lirih dengan seluruh tubuh bergetar lemah. Sebutir air melompat tanpa permisi dari mataku ketika menatap bungkusan nasi terbuka di depanku. Mengepul hangat dengan sepotong ikan tongkol pindang disiram kuah yang baunya sangat menggiurkan. Aromanya membuat perutku berteriak tidak sopan. Kembali aku menengadah menatap sosok itu, berpakaian putih menyilaukan, berjongkok di depanku tanpa risih. “Ayo, makanlah, jangan malu-malu, ini untukmu,” ucapnya lembut dengan senyum yang tak kalah lembut. Seketika aku merindukan ibuku. Dengan berurai air mata aku menghirup aroma hidangan istimewaku sedalam yang aku bisa, lalu melahapnya dengan rakus. Aku berhenti ketika telingaku menangkap tawa lirih. Oh, malaikat ini masih ada disini, menungguku makan. “Pelan saja, tidak ada yang akan merebutnya, aku akan mengusir mereka jika mengganggumu lagi.” Sungguh aku malu mendengarnya. Aku berlaku tidak santun kepada seseorang yang menolongku. Aku melanjutkan makan dengan cepat. Seketika bungkusan kertas itu bersih kembali, sisanya kujilati karena tidak ingin meninggalkan aroma lezat yang memanjakan


hidung, mulut dan perutku. Sekali lagi kuucapkan terima kasih kepada pemilik sepasang kaki yang beranjak perlahan menjauhiku. Menatapnya yang bergegas mendekati tukang parkir untuk minta diseberangkan. Aku terus mengamatinya. Dalam hati masih ada seribu terima kasih untuknya. Seminggu berlalu. Pagi ini seluruh tubuhku terasa remuk. Semalam, seseorang menendangku dengan sepatu bot keras, dan membuatku terlempar menabrak dinding. Aku merasa tak sepenuhnya bersalah karena mengais tempat sampah, berharap mendapatkan sesuatu untuk mengobati laparku, dan tempat itu bukan miliknya kurasa. Tetapi amarahnya bisa kurasakan hingga saat ini. Sambil berbaring lemas, menatap keramaian pasar yang berangsur mereda kala mentari mulai meninggi. Mataku mulai mengantuk karena rasa lapar sudah akrab dengan hari-hariku dan menjadi karibku. “Oh, kamu sakit rupanya, pasti belum makan. Tunggu sebentar.” Aku menegakkan telingaku tinggi-tinggi. Suara ini, seperti pernah aku dengar. Tak lama kemudian, aku mencium aroma sedap, kuendus, dan kutemukan di depan mataku. Nasi bungkus terbuka. Hangat, harum, menggiurkan, dan sepasang mata teduh makhluk yang berjongkok di depanku. Ibu, bisikku. “Ayo, makanlah, tapi hari ini aku tidak bisa menemanimu ya,” ujarnya sambil bangun dari posisi semula. Aku berniat mencium tangannya sebagai ucapan terimakasih, akan tetapi wanita anggun itu menggeleng dan tersenyum. Dia melambaikan tangan keriputnya dan berlalu. Ingin rasanya aku mengejar dan mengiringi langkahnya, menolongnya menyeberang jalan dan mengantarnya ke tempat tujuan. Namun tubuhku masih terasa ngilu, jadi aku hanya mengantar dengan tatapan mata saja. Berjanji dalam hati jika nanti kami bertemu lagi, akan kulakukan apapun sebagai ganti ucapan terimakasih yang tak terhingga. Jauh dalam hati aku berdoa kepada Tuhanku agar memberiku waktu untuk bertemu dengan malaikatku itu. Setiap hari Minggu, aku tahu itu dari ramainya suasana pasar, dan dari percakapan yang kudengar. Aku selalu menunggu di sini, di gang sempit samping pasar. Ibu itu, malaikatku, biasa terlihat melewati jalan kecil ini. Nah, benar bukan, lihatlah beliau datang. Aku berlari kecil menyongsongnya, beliaupun menyadari betapa aku menyambutnya. Rupanya bingkisan kecil sudah beliau siapkan untukku. Kali ini dengan wadah seperti mangkuk plastik, yang langsung diletakkan di depanku. Aku melonjak-lonjak riang mengelilingi ibu kesayanganku. Beliau terkekeh.


“Bagus, kamu semakin sehat dan lincah, tunggu disini, nanti aku akan memandikanmu supaya terlihat bersih,” ucap beliau. Aku segera memakannya dengan cepat, menyembunyikan wadah makanku, lalu mengikuti di belakang ibu yang belum berhasil menyeberang jalan. Aku memanggilnya. Ibu itu menoleh dan tersenyum. Kami beriringan menyeberang jalan, kupastikan beliau aman saat menyeberang bersamaku, lalu aku juga mengikutinya hingga sampai ke depan sebuah gedung. Rupanya beliau berkumpul dengan orang yang berpakaian sama dengannya, serba putih. Bedanya, pakaian ibu tidak seputih pakaian mereka, tidak selicin yang mereka pakai, pun tak sewangi aroma mereka. Namun aku menghentikan langkah, menjauh dari beliau karena banyak orang menatap ibu ini, lalu padaku dengan tatapan jijik. Oh, ternyata tidak semua orang berpakaian putih itu berhati mulia seperti ibu penolongku, mereka masih menghinakan mahluk dekil sepertiku, dan aku cukup tahu diri dengan keadaanku. Baiklah, aku menunggu di sini saja, sambil membayangkan kebersamaanku dengan ibu berhati mulia. Di tengah kantukku, telingaku mendengar keramaian Aku membuka sebelah mataku. Setelah sedikit meregangkan tubuh aku berdiri dan mulai mondar-mandir tak sabar menanti kedatangan ibu. Orang-orang dengan kendaraannya yang menderu-deru keluar dari gedung. Akupun minggir hingga menempel ke dinding pagar agar mereka yang jijik tidak bersinggungan dengan tubuh kotorku. Setelah suasana agak sepi, dan aku tetap sabar menanti, belum ada tanda-tanda ibu itu keluar gedung. Oh, lihatlah itu ibuku. Aku memanggilnya, beliau tersenyum dan mendekatiku. Kami berjalan bersama, menyeberang bersama. Ibu itu berbelanja sebentar lalu kami beriringan menyusuri jalan kecil sebelah pasar, aku membawa serta wadah makan dari ibu tadi. Sampailah kami di sebuah rumah kecil sederhana yang agak terpencil dari rumah yang lain. Rumah yang menghadap ke tanah yang lapang. Hawanya sejuk dan banyak angin. Beliau menyuruhku menunggu di depan rumah. Tapi aku penasaran dan berlari-lari kecil di sekitar rumah itu. Wah! Rupanya di rumah itu ada seekor kucing gemuk yang cukup galak. Menggeram dengan wajah yang sama sekali tidak tampak menyeramkan. Bahkan bagiku kucing itu menyebalkan sekali. Tapi aku tidak mau membuat masalah dengan kucing tidak penting itu. Aku mendekati pintu belakang. Mengintip sedikit. Ibu itu tengah menuangkan air ke dalam ember hitam. Dan membawanya melewatiku. Baju putihnya sudah berganti dengan baju longgar selutut yang sedikit koyak. Beliau melambaikan tangan memanggilku dan akupun mendekatinya. Rupanya benar aku hendak dimandikan dengan air hangat. Segayung air


menyiram tubuhku, lalu ibu itu tanpa jijik menggosok tubuhku berkali-kali dengan cairan wangi yang berbuih. Menyiram lagi dengan air hangat, kemudian mengambil kain untuk mengeringkan tubuhku. Seketika tubuhku terasa ringan dan segar. Beginilah rasanya mandi. Sangat mewah dan menyenangkan. Lain kali aku akan melakukannya, walau tanpa bantuan ibu. Setelah mandi aku disuruh makan. Dengan sayur dan tempe. Terasa lebih lezat karena tubuhku tidak bau sampah lagi. Aku memohon pada ibu itu agar memperbolehkanku tinggal di sini. Beliau tidak keberatan, hanya saja kucing berbulu abu-abu itu tidak menyukaiku. Kupilih untuk tidak terlalu peduli padanya. Aku pikir dia juga sama denganku, menumpang pada ibu sepuh berhati mulia ini. Lagipula aku akan bekerja untuk ibu, mengawalnya saat berjalan keluar rumah, ataupun saat di rumah. “Assalamualaikum, Mak Mi,” ucap seseorang di depan pintu. Seorang ibu muda menggendong anak kecil yang diselimuti rapat. “Waalaikumsalam. Kenapa? Masuk sini!” “Doni jatuh Mak, main sepeda.” “Oh, baringkan disini, ini kakinya terkilir, diurut sedikit pakai minyak dan kencur ya, tidak sakit,” “Mak, mbak Ayuk putrinya pak dokter Sani itu sudah melahirkan, tadi aku dipesan, Mak Mi disuruh datang mulai besok, urut mbak Ayuk dan bayinya,” “Oh ya, terimakasih ya, sampaikan, besok aku datang jam setengah tujuh,” Mulai hari itu, aku mengikuti Mak Mi kemanapun beliau pergi. Memijat atau mengurut orang. Atau pergi ke pasar. Atau pergi ke gedung itu karena Mak Mi semakin sering pergi ke sana. Kadang aku menunggu hingga beliau pulang, atau jika masih ada perlu ke tempat lain aku disuruh pulang sendiri. Jika Mak Mi punya waktu luang, beliau duduk di teras rumah, kadang mengobrol denganku. Dan si Pus kucing menyebalkan itu. Menasehati kami agar rukun, jangan berkelahi. Tapi hatiku sulit berjanji, mengingat kelakuan si Pus yang berlagak jadi bos di rumah ini. Sangat menyebalkan. Tentu saja, dua kali sehari aku akan mendapatkan makanku di mangkuk plastik berwarna biru. Bahkan sesekali mendapat camilan tambahan ketika Mak Mi sedang ada rejeki. Anehnya, meski Mak Mi tahu aku dan Pus tidak akur, tetapi kami bertiga selalu makan bersama, di belakang rumah Mak Mi, dibawah pohon jengkol yang teduh.


Suatu hari, dua keluarga datang ke rumah kecil itu. Mereka anak-anak Mak Mi. Kesibukan dimulai. Perabotan dikeluarkan ke teras, lantai dalam rumah dipasangi tikar plastik lebar. Tamu-tamu datang dan pergi. Pagi, siang, sore, setiap hari semakin banyak tamu datang dan pergi. Membuatku jarang menghabiskan waktu dengan Mak Mi. Tetapi anehnya jatah makan kami berlimpah ruah. Bahkan kami sampai tak bisa menghabiskannya. Puncaknya adalah malam ini. Banyak sekali orang berkumpul di rumah Mak Mi. Salah satu dari mereka berbicara dengan pengeras suara. Dan ada doa-doa. Lalu mereka semua pergi dengan mobil. Rumah dikunci. Tadi sebelum pergi Mak Mi berpesan agar aku menjaga rumah ini. Subuh hari anak-anak Mak Mi kembali, dan pergi lagi pada siang hari. Lalu rumahpun menjadi sunyi. Aku mencari Mak Mi kesana kemari. Ke pasar, ke gedung pertemuan, keliling perumahan. Tak pernah kutemukan lagi. Pernah ada tamu yang datang, dan bertanya pada tetangga Mak Mi. “Mak Mi sedang pergi haji,” begitu kata tetangga. Aku tidak pernah mengerti apa artinya. Namun setiap hari aku mencari Mak Mi. Lapar? Itu pasti, tapi aku masih bisa pergi ke pasar mencari makan di sana. Si Pus kuajak serta, karena dia bukan kucing yang pintar mencari makanan. Malah jadi beban saja si Pus manja ini. Namun aku selalu mengingat pesan Mak Mi agar kami rukun. Lama sekali Mak Mi pergi. Apakah Mak Mi akan kembali? Lalu kapan? Eh, itukah Mak Mi? Pulang malam-malam? Kenapa lewat jendela? Bukan! Bukan Mak Mi! Aku mencium aroma tidak beres di sini, aku harus bertindak sekarang! Guk! Guk! Aku meneriakinya. Lalu berlari mendekati sosok itu. “Sial! Ada anjingnya!” seru orang itu lalu terbirit pergi. Aku malas mengejarnya. Yang penting rumah Mak Mi kujaga. Sampai Mak Mi kembali lagi. Aku menggeram kesal. Si Pus menggeliat. Ah, dasar kucing bodoh tak berguna, ada orang jahat masih tidur dengan nyaman. Tentang Penulis


SYUKRIYATUN NAIMAH, guru SD Negeri 1 Gedongsari Jumo yang belajar menjadi penulis pemula yang baru memulai kiprah di dunia kepenulisan dengan bergabung dalam beberapa buku Antologi. Baginya, menulis merupakan alat sel healing dari kesibukannya sebagai guru dan ibu Karyanya berupa kumpulan Puisi, cerita pendek berbagai genre, atau cerita anak pernah diterbitkan, sebagai persembahan untuk kedua anaknya. Ayahku Good Planer Oleh: Martin Amnillah Adzan berkumandang di Mushola Al-Furqon tepat jam 11.45. Menunjukkan semua warga madrasah bergegas untuk melakukan sholat berjama’ah. Anak-anak didampingi wali kelas menuju mushola. Wali kelas bersama guru Pendidikan Agama Islam bahu membahu memastikan anak berwudhu dengan baik dan benar sesuai dengan kaifiyahnya. Pada kesempatan ini, wali kelas mempunyai peran sangat penting dalam praktik wudhu ini. Wudhu sebagai syarat sahnya shalat seorang muslim dalam melaksanakan ibadah sholat. Mushola Al-furqon mempunyai kapasitas 120 orang jama’ah. Murid Madrasah Ibtidaiyah Al-hidayah berjumlah 290 anak. Jama’ah sholat dhuhur di madrasah ini terbagi menjadi dua kloter. Kelas II sampai dengan kelas IV ada di kloter pertama sedang kelas V dan IV ada di kloter kedua. Kelas I tidak sholat di mushola dikarenakan masa studi kelas I hanya


sampai jam 10.30. Pada kloter pertama membutuhkan waktu berkisar 25 menit sedang kloter kedua lebih cepat lima menit dari kloter pertama. Pukul 12.30 bel berbunyi menunjukkan anak anak masuk kelas kembali. Dari sentral diumumkan bahwa anak anak diperkenankan untuk mengambil alquran untuk selanjutnya mengaji sesuai dengan jilid dan guru masing masing. Madrasah Ibtidaiyah Al-hidayah ini adalah Madrasah unggulan dengan kegiatan unggulannnya adalah tahfidz lima juz setelah lulus madrasah. Bu Syam dan semua yang tergabung dalam kepanitiaan sudah sudah berkumpul di ruangan kepala madrasah untuk berembuk masalah bangunan Ruang Kegiatan Belajar. Rapat ini dibuka oleh bu Syam selaku Sekretaris dengan bacaan Basmalah, kemudian dilanjutkan sambutan oleh kepala madrasah dan dilanjutkan lain-lain. “Assalamu’alaikum , bapak kepala mengawali rapat”, “ Wa’alaikum salam” jawab peserta rapat “Jadi gini bapak ibu, berdasar hasil obrolan dengan bapak tukang, berkaitan dengan pembangunan Ruang Kegiatan Belajar kita masih kekurangan sekitar 7.000.000 untuk membayar tukang. Nah kita sediakan dana 10.000.000 untuk mengantisipasi kekurangan tersebut”. kata bapak kepala dalam sambutannnya. “Baik bapak “ kata Bu Syam. “Selanjutnya silahkan kepada bendahara komite untuk melaporkan keadaan uang madrasah.” Lanjut Bu Syam. “Baik Bu Syam, terimakasih atas waktunya.” kata Pak Zain. “Monggo silahkan kepada bendahara untuk bisa melaporkan keadaan keuangan madrasah.” Kata pak kepala. “Monggo kepada Pak Zain untuk segera melaporkan keadaan keuangan madrasah sekaligus melaporkan dana non budgeter yang bisa dipakai untuk menyelesaikan RKB kita ini.” Bu Syam. “Nggih bapak sambil mengangguk.” jawab Pak Zain “Assalamu’alaikum, ijin melaporkan bahwa berdasar data catatan saya bahwa dana yang ada masih tersisa 21.000.000 dan dana non budgeter masih sekitar 45.000.000.” lapor Pak Zain. “Baik Pak Zein berarti masalah kekurangan tukang tidak ada masalah ya, diperkirakan masih kurang 7.000.000 sampai dengan 10.000.000.” kata pak kepala. “Tidak masalah pak,“ jawab Pak Zein “Oh ya pak bagaimana ceritanya itu dana non budgeter jadi bisa jadi 45.000.000? Bukankah dalam rapat kemarin 10.000.000.” tanya pak kepala.


“Oh ya pak sekaligus ini laporan, memang uang 35.000.000 belum sampai ke saya, barusan ada telepon ada pengembalian 10% dari pengembalian pembelian barang kemarin.” “Hus barang belum sampai ke tangan kok sudah dilaporkan.” kata pak kepala. “Ya Pak Zein ini ada -ada saja.” sahut Bu Syam “Nggih bu ..pak nyuwun pangapunten” “Baik bapak ibu jadi untuk pembayaran Tukang tidak ada masalah nggih, dan saldo kita masih ada 11.000.000 jika untuk membayar 10.000.000,” kata Bu Syam. “Monggo kita akhiri rapat kali ini dengan bacaan hamdalah.” “Alhamdulillaahirabbil'aalamiin.“ Tentang Penulis Martin Amnillah, Lahir di Temanggung, 11 Juni 1974, Alumni UIN Sunan Kalijaga. Berbagi cerita dituangkan dalam berbagai tulisan. Selain menulis Ia sangat suka dengan membaca dan memasak. Saat ini berdomisili di Temanggung. Pembaca bisa lebih dekat penulis lewat akun sosial media Facebook Martina Kholiq, Instagram martinakholiq.


Sekolah Hanya Formalitas Oleh: Tri Fiana Pagi yang cerah, suasana ramai di halaman sekolah. Terlihat anak – anak berlarian bermain dengan kawan – kawannya. Bapak dan ibu guru berjajar menyambut kedatangan mereka. Memberikan salam dan menyapa setiap anak yang datang. Waktu menunjukkan pukul 07.00, seorang guru piket membunyikan bel pertanda jam pelajaran akan segera dimulai. Anak – anak berlarian menuju kelas masing – masing. Mereka berbaris di depan kelas, menyorakkan yel – yel yang biasa dikumandangkan, dengan tertib satu per satu masuk kelas. Disela kebiasaan tersebut para guru berdatangan menghampiri mereka di muka pintu, menemani kegiatan pagi mereka. Setelah masuk kelas suara lantunan doa bersahut – sahutan antar kelas satu dengan kelas yang lain, dilanjutkan hafalan surat pendek. Mulailah pembelajaran sesuai dengan jadwal yang ada di setiap kelas, aktivitas kegiatan di kelas sudah berlangsung dengan tertib. Tiga puluh menit berikutnya terlihat seorang ibu mengantar anaknya. Mendampingi sampai masuk di kelas. Kebiasaan tersebut tidak hanya sehari dua hari akan tetapi hampir setiap hari terjadi. Komunikasi pihak sekolah sudah dilakukan, teguran sudah disampaikan baik itu untuk anak atau orang tua yang bersangkutan akan tetapi sepertinya apa yang kami lakukan tidak berpengaruh baginya. Tidak ada respon sedikitpun, perubahan juga belum terlihat padahal sudah hampir satu tahun kejadian tersebut terjadi. Di tengah kegiatan belajar mengajar anak tersebut keluar dari kelas dengan alasan izin ke belakang, ditunggu beberapa saat akan tetapi apa yang terjadi dia tidak kembali ke kelas, guru harus mencari. Dimana anak tersebut? Ternyata dia kembali ke rumahnya, orang tuanya mengetahui apa yang terjadi akan tetapi dia diam saja. Guru mengajak anak tersebut untuk kembali ke kelas. Si anak mau akan tetapi tidak mau mengikuti kegiatan pembelajaran, hanya ada di kelas tanpa ikut kegiatan belajar mengajar, menulis tidak mau, ditanya diam saja, yang dia lakukan hanya mengganggu teman – temannya, merusak fasilitas sekolah. Bertanya, ‘’Jam


berapa Bu?’’, ‘’Kapan istirahatnya Bu?’’, ‘’Pulangnya jam berapa Bu?’’, kebiasaan yang dia lakukan di kelas. Pihak sekolah sudah mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan anak di sekolah akan tetapi orang tua tidak mau menerima apa yang disampaikan sekolah. Beliau hanya beranggapan bahwa anaknya adalah anak yang baik, paling pandai, paling penurut, sehingga apa yang terjadi di sekolah dan kekurangan yang disampaikan sekolah orang tua tidak mau menerima. Bagi sang orang tua anak ke sekolah hanya sebagai formalitas dari pada terlihat menganggur di rumah sedangkan anak tersebut masih kecil. Didikan orang tua yang tidak maksimal juga mengecewakan pihak sekolah. Hargailah kami sebagai orang tua di sekolah jangan sampai ada pendapat bahwa sekolah hanyalah tempat menghabiskan waktu dari pada orang tua kerepotan di rumah. Kami akan berusaha semaksimal mungkin, memberikan yang terbaik untuk mereka. Komunikasikan apa yang terjadi dengan anak di rumah. Supaya kami lebih bersemangat dalam bekerja. Tentang Penulis Tri Fiana seorang pendidik di SD Negeri 2 Lempuyang Kecamatan Candiroto. Sejak memasuki dunia pendidikan ia belajar banyak hal dari lingkungan sekitar. Hal tersebut yang membuatnya selalu berusaha untuk berubah dan bergerak. Berbagi dan bermanfaat adalah salah satu cita – citanya.


Sang Pamomong Oleh: Tri Wening Pintarsih Dalam kekekalan hijau dedaunan suara suling menyusup mengusik telinga. Semar terdiam wajah senyumnya tak lagi tersenyum.Tubuh wanita yang perempuan makin tegak berdiri... ya.. kemampuannya untuk momong jalma manungsa tersentak. “Pertiwi sakit, Pertiwi menanggung derita oh nandhang lara” Dalam kewenangannya sebagai lelaki kabar itu bagai mendobrak pintu tanggung jawabnya.


Semar menghela nafas ditatapnya wajah Petruk, “Kabar itu benar Truk?” “Aduh...jelasbenar.. Apakah Romo tidak merasakan, Romo kan waskito to?” Kucir Petruk makin tegak, bergoyang-goyang seperti tidak mengerti. “Aku tahu, aku merasa, tapi mengapa yang membawa kabar kamu. Kemana bendarabendaramu?” “ iapapun yang membawa kabar... toh tidak merubah keadaan to Mo, sakit ya sakit.” *** Semar menatap lembah hijau di depannya ada batas antara langit dan tepi pucuk pohon. Kabut menebal, bayu berputar menyibak semua yang tersamar. Jauh di seberang di antara padang tandus pohon-pohon menari dalam ketelanjangan, ranting-rantingnya menuding langit. Pertiwi terduduk lunglai. Semar menatap perempuan berambut kusut, duduk di sebuah batu yang setia memangku tubuh letihnya. Wajah kedewiannya ternoda debu dan daki, telapak kakinya pecah-pecah, ada noda merah kehitam-hitaman mengental menutupi kuku kaki, kulitnya terkelupas menyisakan luka-luka, kain batiknya menyingkap seakan enggan menutupi, kedua lututnya yang memerah dengan cairan kuning kental yang merembes perlahan. “Nduk...” terasa ada sekat di kerongkongan Semar. Bertahun lalu perempuan ini begitu santun, cantik, dan anggun. Siapa yang tak tergetar melihat rambut hitam tebal berikal memahkotai tubuh langsat. Mata teduh memancarkan ketabahan dan kedamaian. Bibir merah merekah tersenyum dalam ketulusan memberi kedamaian. Jari tangannya lembut tapi kuat menggenggam kehangatan. Kakinya lincah menyusuri taman-taman bunga. Pertiwi seorang dewi yang setia mengemban tugasnya... melayani suami belahan jiwa. Membuatnya selalu bahagia. Menyediakan rahim untuk tumbuh penerus garis keturunannya. Ya, Pertiwi selalu mengalirkan denyut kehidupan untuk bakal manusia yang dikandungnya. Berapa banyak sari kehidupan yang telah dihisap sang bayi. Usapan lembutnya selalu menenangkan saat sang janin menyodok, menendang perutnya. Hanya rasa bahagia yang ia gunakan untuk membalas setiap gerakan yang menyakitkan itu. Ketika saatnya tiba, tubuhnya telah menyiapkan semua yang dibutuhkan. Payudaranya siap menampung dan memberi air kehidupan. Pertiwi tak pernah mencemaskan hilangnya keindahan guci yang padat berisi. Kalau dulu, dalam keindahan bentuk miliknya telah memuaskan kegairahan suaminya. Laki-laki selalu puas dengan bentuk yang indah meskipun kosong tanpa isi yang berarti. Tapi kini guci miliknya telah penuh...ya jabang bayi lebih mengerti arti sesungguhnya guci miliknya. Bukan karena indahnya bentuk tapi karena isinya memberi kehidupan, mengalirkan kehangatan dan cinta kasih.


“Pertiwi ..bicaralah!” pinta Semar pelan. Pertiwi menatap Semar, ditemukannya sebuah telaga teduh disana, sulur-sulur kedamaian seakan merambat dalam hatinya. “Apa yang harus hamba katakan?” “Hus, jangan berhamba-hamba.. Aku ini pamomongmu bukan bendara.” “Memang benar... tapi dalam kepemomonganmulah ada makna bendara yang sesungguhnya. Benar Kakang Semar adalah pamomong, yang dalam ujud ada di bawah keningratanku, tapi jauh di dalam diri Kakanglah yang membuatku layak menghambakan diri.” “Apa yang sebenarnya terjadi Nduk? Kau membiarkan dirimu tak terawat, penuh luka... Kau itu seorang putri... seorang dewi...O lah... Putri kok dadi koyo kere to Wi, Wi..” keluh Semar sambil mengusap-usap jidatnya. “Mo, mbok jangan ngawur nanti kualat lho.” celetuk Bagong. “Wus, kualat itu kalau kamu yang omong Gong. Ini Romo wakil Sanghyang Wenang. Wong yo pancen kayo gelandangan kok.” sahut Gareng sambil meringis, mata keronya semakin terlihat kero. “Diam.. kalian sekarang duduk. Ra sah kakean omong.” perintah Semar sambil memandang tajam,”Ayo.. para batur duduk diam, prihatin dan berdoa supaya Pertiwi cepat sembuh.!” dengan patuh ketiga anak semar duduk melingkar di hadapan Dewi Pertiwi. “Kakang Semar, kau tahu kan kalau aku amat menyayangi anak-anakku?” “I ya...ya... terus?” “Dulu anakku yang pertama lahir dengan aliran darah pandita dan satriyo. Saat aku nandhang wirang mereka membelaku. Mereka begitu memujaku, menjagaku. Kakang, engkau tahukan kejujuran, welas asih dan tanggung jawab tertanam dalam jiwa mereka. Mereka selalu melakukan bakti bagi diriku.” Mata Pertiwi menerawang jauh “Ah...aku begitu tersanjung Kakang. Meski kadang ada luka dalam hidupku, mereka selalu datang untuk menyembuhkanku.” Perlahan mata Pertiwi meredup, wajahnya lurus memandang padang yang berdebu. ”Waktu berlalu... beribu anak telah kukandung dalam rahim ini,... beribu kali nyawa ini ku pertaruhkan, beribukali guci ini mengalirkan kehidupan...” Pertiwi tersedan darah mengalir deras dari luka-lukanya. Semar terpana getaran kesedihan Pertiwi menyadarkan beban yang ditanggung Sang Dewi amat berat, beban yang mengoyakkan jiwanya. “Kakang... luka di kaki ini karena telah kutelusuri seluruh kerajaan untuk tahu nasib anak-anakku. Oh Kakang, wirang..wirang harus kusandang. Jiwa suamiku yang seharusnya


mengalir membasahi kehidupan anak-anakku kini tak ada lagi. Betapa nelangsanya hidupku.Jiwa Wisnu yang seharusnya tumbuh subur dari rahimku kini tiada.... rahimku telah menjadi ladang tandus.... hanya lalang yang hidup.” Pertiwi menutup wajahnya, isak tangis kepedihan terasa menyayat hati. Keputusasaan, kesedihan telah meremukkan semua kebahagiaannya. Ketiga anak Semar semakin tertunduk menekuri tanah yang retak-retak menahan dahaga. Matahari seakan makin mendekat, menghisap seluruh keringat yang membasahi tubuh. Semar merasa berpijak di antara batas nyata dan maya. Dalam keheningan ciptanya ia mampu melihat suatu sosok nyata, tapi dalam rasa sosok itu menjadi suatu bayangan berbentuk namun tak teraba, suatu lekuk yang tak dapat terpeluk. “Pertiwi aku tahu betapa berat tanggung jawabmu.” suara Semar mengalir membasahi tubuh yang terpuruk bersandar sebatang pohon yang mengering. “Tapi ingatlah, ketika lakon Samba juwing, kau sanggup berpikir jernih. Demi baktimu pada suami, demi keutuhan sebuah trah yang harus berperang dalam garis hitam putih. Kau korbankan perasaan keibuannmu. Waktu itu kau tentu sangat mencintai putramu, bahkan kau ajarkan ilmu abadi. Tapi angkara terlalu kuat menyatu dalam laku putramu. Kau izinkan suamimu mencabut nyawa putramu. Oh Pertiwi kau ingat itu. Kebijaksanan dan kerelaan darimana kau dapatkan semua itu?” Pertiwi terhenyak, seluruh tubuhnya tergetar kenangan pahit itu terungkit kembali ketika ia sanggup melakukan tugas sebagai seorang dewi dengan segala kewenangan dan keagungannya. Tapi saat ini melihat tubuhnya sendiri rasanya tidak layak untuk menjadi seorang putri apalagi dewi? “Kakang” lirih Pertiwi menjawab,” Itu dulu..kau lihat ini, tubuhku tak lebih seorang gelandangan. Dalam kerapuhan ini, aku tidak sanggup menerima kenyataan itu. Rahimku telah melahirkan Narakasura kembali, tidak hanya satu tapi beribu-ribu. Betapa banyak penderitaan yang akan kutanggung.Setiap kepedihan yang terjadi membuat kulitku terkelupas, setiap kesengsaraan membuat darahku mengalir dan setiap keputusasaan membuat lukaku bernanah...aku tak rela..aku tak sanggup...” tangis Pertiwi kini pecah. Dalam terik halilintar menyambar pucuk pohon yang meranggas.Jauh di batas langit kabut hitam mengambang. “Baiklah Nduk ..tenangkan jiwamu, pasrahkan dirimu dalam ketulusan. Sekarang relakan dirimu. Aku sebagai pamomongmu tidak rela melihat kau menderita, menelusuri padang tandus tanpa arti. Sekarang kau diamlah dalam dunia kuncungku. Tapi kau harus mampu hidup dalam kepapaanku sebagai pelayan..sebagai pesuruh karena hanya dengan cara itu luka-lukamu akan segera sembuh.Jiwamu pun akan segera menemukan arti pertiwi arti bumi yang sesungguhnya”


Pertiwi tersenyum ditatapnya Semar dengan rasa hormat. “Aku harus bersuci Kakang.” “Air matamu, darah, dan nanahmu telah cukup membuat dirimu suci.Sekarang heningkan jiwamu, masuklah dalam ketenanganku.” Pertiwi bersimpuh, kedua tangannya menangkup. Satu persatu kelelahan, kepedihan dan luka-lukanya tertanggalkan. Semar menatap dalam-dalam tubuh sang dewi yang makin memudar terserap cahaya pelangi yang memancar dari kuncungnya. Mendung meliputi padang tandus. “Wah mau hujan Mo.” kata Bagong sambil menatap langit. “Tidak...tidak ..belum waktunya..langit belum mampu menangisi bumi ini.” jawab Semar pelan. “Wah kok jadi gawat Mo.Lha bendara putri kok malah disimpan to?” tanya Gareng keheranan “Hus ...diam kalian tidak lihat to..lihat kaki Romo...berdarah!” seru Petruk yang sejak tadi memperhatikan Semar dengan ketidak mengertian mulai menyadari beban seorang pamomong Semar tersenyum arif,ditatapnya ketiga anak kesayangannya. “Kalian tahu, Pertiwi telah terlalu lama menanggung semua beban yang seharusnya tidak ia tanggung.Sekarang biarkan dia tenang dalam batinku.” Dengan tangan menggenggam di belakang punggungnya Semar melangkah pulang. Darah merembes dari kakinya menelusupi sela-sela batu menembus bumi. Bagong, Petruk, dan Gareng termangu. Kemudian berjalan mengikuti Semar menyelusuri jejak merah yang semakin samar tertutup debu. Mengikuti jejak sang pengabdi. Tentang Penulis Tri Wening Pintarsih biasa dipanggil Ning atau Wening lahir 23 Oktober 1972. Puisi dan cerpen merupakan dicintai sejak kecil. Namun karena keterbatasan waktu ada jeda-jeda lama untuk berkarya. Keterlibatannya dalam menulis berawal dari dimuatnya geguritan pada Majalah Penyebar Semangat. Pada tahun dia ikut berpartisipasi pada buku Antologi Puisi Progo 2 tahun 2008, Terakhir dia membukukan puisi dan geguritan dalam satu buku yang berjudul Rengkuhan pada tahun 2022.


Rintih Seberang Pulau Oleh: Umi Haini Sepoi angin malam teriring suara derasnya ombak serta cerahnya sinar bulan purnama menambah kesyahduanku saat menyendiri melepas lelah setelah seharian bekerja. Hari, bulan,


dan tahun silih berganti hingga tak terasa sudah 3 tahun lamanya aku melalui hidupku sendiri di tanah rantauan. Pengalaman baru memberiku banyak ilmu. Mengerti arti dari kata jauh dengan orang tua dan sanak keluarga di kampung kelahiran. Dewasa dalam berpikir, bertingkah dan melangkah dalam mengambil keputusan. Canda, tawa, susah senang itulah warna kehidupan. Berkumpul dengan orang asing di tempat asing pula terkadang membuatku susah untuk menerima kenyataan ini. Bergelut dengan penuh kesederhanaan, kewaspadaan dan segala kekurangan harus aku lalui. Kenyataan hari ini menjawab segala pertanyaanku selama ini bahwa untuk merubah hidup ini tak semudah mengedipkan mata. Dalam kesendirian aku berfikir dan bertanya pada diriku sendiri “Apa yang aku kejar hari ini?” Tak pernah terbesit dalam pikiranku untuk memikirkan keluarga di rumah.Aku terlarut dalam kesenangan pribadiku. Tak pernah ku angkat telpon dari ibuku walau hanya 5 detik. Sering aku balas melalui chat whatsapp aku sibuk. Betapa jahatnya aku diwaktu itu. Pada suatu malam yang sunyi tubuhku menggigil, merasakan panas dingin di tubuh. Tatkala dulu ibuku yang selalu melayani aku menyiapkan makan, minum, obat, memijat tubuhku dengan penuh rasa kasih sayang bahkan tak jarang menemaniku tidur. sekarang aku tertuntut mandiri untuk mengobati diriku ini. Kesakitan, kesedihan, kegelisahan menyelimuti diriku. Dengan penuh penyesalan dan tetesan air mata hatiku memanggil orang tersayang yang jauh dariku. Aku rindu ibu, aku rindu keluarga di rumah. “Mampukah aku melalui ini semua sendiri?” Demi kebahagiaan orang tersayang aku harus terbangun untuk sembuh dan mulai memikirkan keluarga di kampung kelahiranku. Ditemani terangnya cahaya bulan purnama, aku tersadar untuk mengejar semua masa depanku, kebahagian keluargaku dan ketertinggalanku. Dengan penuh rasa syukur kesendirian dalam hidup mampu kulalui tanpa rasa sulit. Komunikasi serta doa ibulah yang mampu memberikan kekuatan dalam kejauhan. Dan mulai malam inilah aku mencintai diriku dan keluargaku terutama ibuku. Tentang Penulis Umi Nur Haini yang sering disapa Umi Haini adalah sosok penulis muda yang terlahir di Temanggung, 23 Mei 2003. Suatu hal baru membuat hidupnya merasa tertantang dan


menambah semangat untuk berbagi ilmu. Untuk mengetahui aktifitas kesehariannya bisa follow akun Ig: uminurhaini. MENEMBUS BATAS Oleh: R. Dewi N. Pagi yang cerah. Mentari baru saja merekah, menyembulkan semburat merah. Membakar semangat pejuang kehidupan yang sedang bertarung dengan kerasnya dunia. Di sebuah rumah mungil berdinding kayu nampak kesibukan sepasang ibu dan anak. Di lantai rumah yang masih berupa tanah, berjejer beberapa panci berisi adonan gorengan. Aroma pisang goreng, tempe, tahu, bakwan, ketela parut dan gethuk menguar, menggugah selera. “Mak, Murni sudah selesai menggoreng,” “Alhamdulillah. Segera ditata di nampan ya, Nduk,” sahut perempuan paruh baya di dekatnya. “Gorengan buat Mak Yah jangan lupa ditata sekalian,” sambungnya. Gadis muda yang masih duduk di kelas XII itu dengan sigap menata beberapa nampan penuh gorengan. Sejak kepergian bapak beberapa tahun lalu mereka hanya hidup bertiga. Emak, Murni dan Surya, si kecil yang masih duduk di bangku TK. “Mak, Murni berangkat dulu,” pamit gadis muda itu sambil mencium tangan ibunya. “Hati-hati, Nduk. Jangan lupa setorkan sekalian gorengan untuk warung Bu Tentrem.” Murni mengangguk sembari meraih satu nampan berisi gorengan yang sudah ditata rapi. Sudah dua tahun ini emak berjualan gorengan untuk menyambung hidup mereka sekeluarga. Emak yang sejak dulu bergantung pada bapak sebagai pencari nafkah harus mengambil alih posisi sebagai pencari nafkah setelah bapak meninggal. Murni sempat mengutarakan niat untuk berhenti sekolah. Ia ingin bekerja membantu emak. Rasanya tidak tega melihat emak bekerja membanting tulang setiap hari untuk mereka bertiga. Emak dengan tegas menolak keinginan Murni. Bagi emak pendidikan sangat penting untuk masa depan anak-anaknya. Emak ingin anak-anaknya bisa menjadi orang-orang yang mandiri. Murni menyandarkan tubuhnya di tembok kelas. Masih terngiang obrolan teman-teman sekelasnya tadi. Tika, Abel, Dina dan beberapa teman kelas lain begitu heboh membicarakan


studi lanjut mereka setelah SMA. Murni termenung memikirkan cita-cita yang ia dekap erat sejak masuk di SMA impiannya ini. “Murni, ayo sini,” panggil Abel. Tatapannya heran melihat Murni yang termenung sendiri di bangkunya. Murni tersenyum kecil. “Nanti saja, Bel.” “Kamu kenapa? Tidak biasanya ngelamun di kelas. Awas digigit lalat lho,” canda Tika. “Ah, mereka tidak tahu apa yang sedang bergelut di hatiku,” batin Murni. “Ngalamun saja, kesambar angin terbang kamu nanti,” goda Dina sambil menepuk pundak Murni. Murni masih tidak bisa melayani candaan mereka. Mulutnya terasa kaku untuk bicara. Mungkin karena semangat yang tiba-tiba hilang entah kemana. Pikirannya terlalu lamban untuk merespon canda mereka. Abel, Tika dan Dina saling pandang. Dengan tatapan keheranan mereka merasa ada yang aneh dengan sahabat mereka hari ini. Hampir tiga tahun mereka mengenal, tidak biasanya Murni terlihat lesu dan hilang semangat. Murni yang mereka kenal adalah gadis yang ceria. Bahkan sering menjadi penyemangat mereka saat mereka hilang motivasi. Kalimat Murni yang selalu mampu membangkitkan semangat mereka masih mereka ingat dengan baik. “Bersyukurlah dengan keadaan kalian. Aku yang harus berjuang membantu emak agar bisa mencukupi kebutuhan hidup saja, menatap dunia dengan bahagia dan optimis, kenapa kalian begitu mudah putus asa!” Abel yang paling lembut di antara mereka menggeser duduknya tepat di sebelah Murni. “Cerita dong, Mur. Apa yang lagi kamu pikirkan?” “Aku bingung dengan masa depanku.” Suara Murni tercekat, matanya berkaca-kaca. Ketiga sahabat Murni segera merapatkan duduk mereka. Mereka tahu betapa berat beban yang harus dipanggul oleh teman mereka. Sejak kepergian bapaknya saat duduk di kelas X, Murni membantu ibunya untuk mencari nafkah. Dulu keluarga Murni hidup berkecukupan. Meski tidak kaya namun keluarga mereka tidak pernah kekurangan. Kepergian bapaknya menjadi pukulan berat bagi keluarga mereka. Emak yang selama ini hanya fokus mengurus rumah tangga harus dihadapkan pada kondisi yang sulit. Sambil menata hatinya yang sedih karena kepergian bapak, emak berusaha berdagang. Keahlian emak memasak membuat gorengan yang mereka titipkan di warung-warung laku keras. Cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga. Tapi untuk melanjutkan


kuliah? Apa emak mampu?. Murni terus bergelut dengan pikirannya, kecemasan tentang masa depannya. “Bu Murni, rapat dengan direktur di ruang meeting akan dimulai 15 menit lagi.” Suara Anggi asistennya mengagetkan Murni. Gadis penjaja makanan yang lewat di depan kantornya tadi pagi membuat lamunannya melayang mengingat kisah hidupnya bertahun lalu. “Ok, terimakasih,” sahut Murni sambil merapikan blazer. Posisinya sebagai wakil direktur perusahaan besar cukup membuat jadwal kerjanya padat. “Abel, Dina, Tika, terimakasih atas persahabatan indah kalian.” Murni menatap foto mereka berempat yang terpajang di mejanya. Mereka bertigalah yang mendukung dan membantu Murni mendaftar beasiswa hingga mendapatkan beasiswa untuk kuliah di universitas bergengsi di luar negeri. “Seberat apapun perjuangan di masa lalu, akan menjadi cerita indah saat kesuksesan sudah teraih di masa depan,’ gumam Murni. Senyumnya merekah, ia bersyukur sudah menembus batas tembok tantangan di masa lalunya. Tentang Penulis R Dewi N. lahir pada tahun 1980. Buku - buku karyanya antara lain: buku kumpulan puisi: Kau Abadi, Hujan Pertama, Mendekap Mentari, Menunggu Bulan; buku kumpulan cerpen: Sayap Bidadari, Duka Kayla; beberapa artikel ilmiah populer; beberapa buku antologi puisi, syair, dan esai bersama penulis-penulis di Satupena Jawa Tengah dan Perruas. TOFAN RO HAFIDZ Oleh: Hj Jiyem,S.Pd Tofan karo Hafidz kuwi kakang adi kringkel, bocah loro kui urip nang daerah Temanggung. Anannging tanah lairane bedo, Si Tofan lahir nang Kabupaten Klaten, dene adine si Hafidz laire nang Temanggung. Tofan umur 7 Tahun adne sik jenenge Hafidz Umur 5 tahun. Bocah loro kui mbendinane podo dolanan akur nanging yo kadang kolo pada tukaran, …yo piye jenenge bocah. Ing sawijine dino Tofan karo Hafidz podo sholat menyang mesjid sik ono ing desane. Pas nang mesjid Hafidz ngomong marang Tofan “Mas enyong mengko ojo tinggal yaa… Tofan kakange jawab.” yoo mengko tak enteni enyong tak wudhu disit.


Sawse podo sholat Ashar, Tofan ro Hafidz podo playon nang teras mesjid, nang jero mesjid ono mbah Tur sing isih wiridan. Tofan omong marang Hafidz, “Fidz ojo omong mbah Tur yaa…slepene tak cemplungke nang kolam ngon mushola.” Hafidz jawab “Ojo Mas Tofan mengko ndak seneni Mbah Tur, turnehe dosa.” Wis dielengke Hafidz , ora digubris karo Tofan, alon-alon mlebu mesjid slepeni mbah Tur dijupuk njur diuncalke nang kolam ngon mesjid…. Wiridane Mbah Tur rampung njur bingung goleki slepen, metu takon Tofan, “Fan ndak ngerti slepeni mbah?” Tofan jawab “Enyong ora ngerti mbah, … Hafidz arak jawab, nanging Tofan cepet – cepet ngeret Hafid jaki bali. Let dino sesuk e Tofan ro Hafidz podo sholat neng mesjid maneh, nang kono wis ono Mbah Tur yo an, Tofan arak usil maneh, tapi urung sido Tofan wis di jewer Mbah Tur karo ngendiko “ Samang pancen mbetu Fan, slepen kok cemplungke nang kolam..sesuk maneh ora oleh koyo ngono, ora apik lan dosa yaa… Tofan karo cengar cengir njaluk ngapuro marang Mbah Tur. Hafidz sik nang sandinge Tofan , Hafidz celatu“ sokur mas Tofan jewer mbah Tur wis tak andani wingi ra ngandel, sesuk maneh ojo mbetu yaa…Mas Tofan.” Di jawab Tofan “Yo…sesuk ora maneh.” Ganti dino Tofan ro Hafidz podo dolanan obong – obongan godong – godong garing nang cepak omahe tonnggone sik seko gedek. Karang Tofan kie bocahe usil…sik obong – obongan larahan garing malah dicepake nang omah sik seko gedek….geni ne murup cilik banjur ono angin dadi gede nyamber omahe tonggone sik gedek, Tofan mlayu ngibrit keweden njur umpetan karo Hafidz. Tonngone do mbengok –mbengok mergo ono kobongan…untunge ora keno kabel listrik. Akhire bapakne Tofan kudu ganti rugi omahe tonngone sik wis kobong setitik. Bapakne mulih njur mbengok njeluk Toofannnn….. karang bocah Tofan meu karo nyengir tanpo doso…… Nang pasrawungan bocah pancen kudu diawat – awati ben ora tumindak sik biso ngrugek ke lan mbebayani wong liyo, Tofan bocah ora biso nalar opo sik dilakoni arak mbebayni wong liyo, bocah sik dipikir seneng during mikir salah lan bener. Nang pasrawungan pancen bocah kadang kudu diawasi… Bar kejadian dino kuwi Tofan ora usil maneh, angger nang mesjid wis ora gawe ulah. Akhire Tofan dadi bocah sik sopan tekan gede. Bareng wis gede, Tofan banjur menehi nasehat marang bocah cilik –cilik nang ndesane sik dipesenke Tofan, “Samang ojo dadi bocah mbetu, ndak ngrugekke wong liyo yaa” podo sregep ngaji wae. Bareng lulus seko MI Tofan njaluk dipondok ke…akhire Tofan sik maune usil saiki njur dadi santri……. Ayooo podo mondok……ajak-ajake Tofan marang bocah ing desane.


Tentang Penulis Nama : Hj Jiyem,S.Pd , Nama Pena : mbakjie, Tempat/tanggal lahir : Klaten, 12 Februari 1973 Alamat ; Tanduran Rt 02 RW 01, Caturanom, Parakan Pendidikan ; S1 ,Bekerja : sebagai guru IPS di MTs Negeri 2 Temanggung Hobby : Membaca Cita-Cita : ingin jadi pribadi yang sabar dan tawakal , Akun medsos : mbakjie ( instagram).


Terjalin Sampai Akhir Oleh: Rosydin Ma’ruf "Dina!!?? Kata Robi, dia mau lamar kamu kalau sudah lulus," teriak Reyhan, pada seorang gadis yang mencuri perhatianku. Kita belum kenal, belum pernah bicara, apa lagi dekat. Saat itu masih masa orientasi sekolah di SMA N 1 Tunas Harapan. Ada seorang siswi cantik yang manis sekali senyumnya. Lalu aku bilang pada teman baruku saat itu, Reyhan, kalau aku ingin melamarnya suatu hari nanti. Itu hanya bercanda, tidak lebih dari sekedar anak ingusan yang asal bicara. Tiga tahun berlalu, sampai aku lulus SMA. Tidak ada komunikasi, tidak ada kedekatan yang terjalin antara aku dan Dina. Beda jurusan, juga beda kelas, tidak ada kesempatan untukku berbicara dengannya. Bahkan, kita tidak pernah saling sapa. Tapi dalam lubuk hatiku yang terdalam, masih sering teringat senyum manisnya. Sesekali, aku lihat dia dari kejauhan sedang bercanda tawa dengan teman-temannya. Kadang dadaku sesak saat dia tertawa dengan cowokcowok sekelasnya. Reyhan sering mengejekku, katanya aku tidak punya nyali. Memang benar, aku tidak seberani itu. Mungkin dia memang bukan jodohku. Saat ini, aku baru saja diterima bekerja di Jakarta setelah lulus kuliah, di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor hasil pertanian. Iya, bahkan setelah lulus kuliah, tidak ada tanda-tanda aku dekat dengan Dina. kring.. kring.. kring... Jam tiga pagi, aku terbangun karena ponselku berdering. Rasanya malas sekali untuk mengangkat panggilan telepon di pagi buta. Apa lagi hari ini adalah hari minggu. Tubuhku masih ingin berbaring selimutan di atas kasur. Namun, ku urungkan niatku untuk menolak panggilan itu saat samar-samar mataku melihat nama Reyhan yang muncul di layar ponselku. “Halo. Assalamualaikum, Han,” ucapku sambil mengusap-usap mataku, menahan rasa ngantuk.


“Waalaikumsalam, Rob. Maaf mengganggu tidur nyenyakmu. Bagaimana kabarmu, kawan?” ujar Reyhan dengan suara lemas seperti tak bertenaga. Pikirku mungkin dia juga masih ngantuk. “Santai saja, Sob. Dari dulu kau memang selalu mengganggu tidurku ha ha ha. Alhamdulillah aku baik-baik saja di sini.” Jawabku. “Bagaimana denganmu?” tanyaku basabasi, sengaja tidak bertanya kenapa dia meneleponku sepagi ini. Aku dan Reyhan sudah jarang berkomunikasi dan jarang sekali bertemu sejak kita lulus SMA. Kita memilih kampus pilihan masing-masing yang berbeda kota. Mungkin karena kesibukan membuat hubungan pertemananku dengan Reyhan sedikit merenggang. “Aku sedang di Jakarta sekarang. Apa kau bisa menemuiku sekarang?” Reyhan berbalik tanya, tidak menjawab pertanyaanku. “Sekarang?” tanyaku sedikit kaget karena Reyhan mengajak ketemuan sepagi ini. “Iya, aku harap kau bisa, kawan. Uhuk.. Uhuk..” jawab Reyhan dengan suara semakin lemas. Perasaanku mulai tidak enak. “Dimana kau sekarang, Sob?” “Aku kirimkan alamatnya di chat, kawan.” Rumah Sakit Jendral Sudirman, ruangan nomor empat puluh enam. Tanpa pikir panjang, aku langsung bersiap-siap. Memakai celana panjang, kaos dan jaket. Tanpa cuci muka, apa lagi mandi. Ku tarik gas motorku, berkendara menerjang angin dingin. Tidak ada yang bisa kupikirkan. Aku hanya ingin segera melihat Reyhan, sahabatku. “Han!!” teriakku saat membuka pintu ruangan yang Reyhan kirimkan di pesan. Di sana kulihat sahabatku itu terbaring di tempat tidur dengan selang kecil terpasang di hidungnya. Dia tersenyum melihat kedatanganku. Tidak bisa ku tahan, langsung ku hampiri dia. Aku peluk erat tubuhnya yang lemas. Air mataku tak bisa aku bendung. “Hei, kawan. Tidak usah menangis. Ayolah! Aku ingin melihatmu tertawa seperti dulu,” ucap Reyhan, lemas suaranya. Aku tatap wajahnya yang pucat. Tubuhnya kurus. Matanya sayu menatapku. Tidak pernah terbayang olehku akan mengalami pertemuan seperti ini dengan Reyhan. “Apa yang terjadi, Sob? Kenapa bisa sampai seperti ini?” tanyaku dengan air mata yang mengalir deras di pipiku. “Panjang ceritanya kawan. Mungkin tidak bisa kuceritakan. Biar nanti kau tahu sendiri,” jawabnya sambil melirik ke arah kiri. Baru aku sadari, ternyata di ruangan ini juga ada seorang dokter, dua orang perawat, dan seorang yang tidak asing bagiku. Dia adalah Dina. Iya, Dina, cewek yang dulu aku sukai.


“Sete...lah masa id..ah Dina sele..sai, tolong ja..ga dia ya, kawan. Aku pamit,” ucap Reyhan pelan terbata-bata, samar-samar aku dengar, diiringi hembusan nafas terakhirnya. Pagi yang begitu kelabu di hari minggu. Kepergian sahabatku begitu menusuk hati. Lama tak berkabar, perpisahan selama-lamanya yang kita dapati. Tenanglah di sana kawanku, tahlil dan doa untukmu tak akan pernah ku lupa sebagai hadiah persahabatan kita. Empat puluh hari berlalu, tuntutan pekerjaan membuatku tidak bisa ikut acara do’a bersama di rumah orang tuanya Reyhan di Bandung. Aku hanya bisa mendo’akannya dari sini. Meski setiap hari tidak pernah lupa ku panjatkan ampunan dari-Nya untuk sahabatku itu. Hari demi hari aku lalui dengan kekosongan hati. Tiba-tiba aku teringat, Dina. Dia menemani Reyhan saat itu. Juga mengantarkan Reyhan sampai ke liang lahatnya. Saat itu aku tidak sempat berbincang dengannya karena keterpurukanku. Aku juga teringat perkataan terakhir Reyhan tentang Dina. Jujur, saat itu aku hanya mendengar kata ‘Dina’ yang lain tidak jelas terdengar olehku. Apa sebenarnya maksudnya? Sudah hampir empat bulan lebih, tiba-tiba ada sebuah pesan singkat di ponselku. Untuk pertama kalinya Dina mengirim pesan padaku. Juga pertama kali, aku mengetahui nomor ponselnya. “Ini nomorku, Dina. Apa kita bisa bertemu? Ada sesuatu yang harus aku bicarakan.” Seminggu setelah dia mengirim pesan, aku berangkat ke Bandung menemuinya. Jujur, perasaanku tidak karuan. Dulu sama sekali tidak ada kesempatan untuk menyapanya. Sekarang aku dan dia akan bertemu berdua. “Maaf ya, aku terlambat,” ucap Dina sambil menarik kursi dan duduk satu meja denganku di restoran yang sudah kita janjikan. “Tidak kok, Din. Aku juga baru saja sampai,” jawabku. “Kamu sehat kan, Rob?” tanya Dina basa-basi membuka obrolan. “Iya, Din. Alhamdulillah masih diberi kesehatan. Bagaimana denganmu?” “Ya beginilah, Rob. Sejak kepergian suamiku, aku masih mencoba bangkit,” jawabnya yang membuatku kaget. “Suami? Maksud kamu?” tanyaku kebingungan. “Iya, Rob. Reyhan,” jawab Dina singkat, membuatku semakin kebingungan. “Jadi ... kalian ... “ “Iya, aku dan Reyhan pernah menikah.” Aku terdiam sejenak mendengar perkataan Dina. Tidak habis pikir. Reyhan sahabatku tidak memberiku undangan. Apa dia takut aku marah? Tidak. Aku tidak akan marah meski dia menikah dengan orang yang aku suka. Aku akan sangat bahagia jika mengetahuinya.


“Rob, biar aku jelaskan dulu. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak,” ucap Dina yang seakan tahu isi pikiranku. “Baiklah, Din. Akan aku dengarkan.” “Saat itu aku akan dilamar oleh seorang pejabat tua. Aku hampir tidak bisa menolak. Aku menceritakan hal ini pada temanku. Kebetulan dia kenal Reyhan. Lalu dia ceritakan kepada Reyhan. Singkat cerita, Reyhan langsung mengajakku menikah. Aku akhirnya memilih Reyhan daripada pejabat tua itu.” “Kenapa kalian tidak mengabariku?” tanyaku. “Sebenarnya Reyhan menikahiku bukan karena dia mencintaiku tapi karena dia ingin menjagaku. Dia bilang, kalau dia memberitahumu aku dilamar orang, mungkin kamu hanya akan pasrah,” jawab Dina yang tidak aku mengerti sepenuhnya. “Maksudnya?” “Reyhan tidak pernah menyentuhku. Saat Reyhan menikahiku dia sudah dalam keadaan sakit. Kanker paru-parunya sudah stadium akhir. Dia tahu umurnya tidak akan lama. Lalu, dia memberitahuku bahwa niatnya menikahiku adalah untuk menjagaku agar kelak dia bisa menyerahkanku padamu. Kamu masih ingat pesan terakhirnya, kan? Begitulah ceritanya Rob.” Aku tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Dina. Sobat! Jika kau mendengarku di sana, aku ingin berterima kasih untuk segalanya. Pengorbananmu tidak akan pernah aku lupakan. Kelak, akan aku ceritakan tentang dirimu pada anak-anakku Tentang Penulis Rosydin Ma’ruf adalah seorang guru bahasa Inggris di MTs Al Islam Pare, Kranggan, Temanggung. Selain memiliki antusias untuk mengajar, dia juga berantusias dengan hobinya menulis. Menulis cerita menjadi penghibur lelah baginya. Menurutnya, kegiatan menulis memberikan dampak besar dalam peningkatan kemampuan literasi seseorang.


LELAKI BERBAJU PUTIH DI POJOKKAN RAK POPOK BAYI Oleh: Noor Annisa Kulangkahkan kakiku menuju sebuah minimarket berlogo warna biru di seberang jalan. Lelah! Aktivitasku baru selesai menjelang adzan magrib berkumandang. Rasa lapar akut juga sedari tadi telah menyerang. Karena tak sempat ku sentuh nasi beserta lauk sambal teri yang sebenarnya telah kumasukkan ke dalam talam sebagai bekal istirahat di kampus. Hari ini aku moodku sedang tidak bersenyawa dengan pikiranku. Entah apa nama perasaan yang sedang kualami ini. Ketika sedang memilih pasta gigi yang akan aku beli, ada sesosok pria menatapku dari pojokan rak tempat menaruh berbagai merk popok bayi. Bola mata hitam itu menatapku lekat dari kejauhan. Walaupun tertutup masker, terlihat kerut kantung matanya menggembung, aku yakin ia sedang tersenyum. Dia mengenakan celana gunung warna navy, dengan kaos putih yang dipadu jaket parasut berwarna army. Aku seperti sangat mengenalnya. Tiba-tiba dia berjalan menuju ke arahku. Pikiranku masih mengira-ira. Siapakah dia? Apakah kakak tingkat yang tadi pagi memarahiku karena aku lupa tak membawa kelengkapan pameran kampus pagi ini? Atau teman BEM yang belum aku hafal namanya satu persatu? “Mbak Nia ya?” Tanyanya dengan mantap. Ah dia mengenalku! “I..iii..iya. Jenengan siapa ya?” tanyaku gugup. “Ini sudah bulan Juni mbak” katanya sambil melihat-lihat merk parfum yang berada di rak sebelahku. “Iya mas betul, ini bulan Juni. Kee..kenapa ya mas dengan bulan Juni?” aku melihat sekeliling. Memastikan tak ada kamera yang mengarah padaku. Aku takut menjadi korban konten seperti yang viral di media sosial. “Uang kos harusnya sudah dibayar sejak Februari!!! Janji-janji terus sampai udah ketemu Juni!” Katanya tegas dengan gigi bergemeletak seolah menahan marah. “Uang listrik dan sampah juga!” “Emmhh…Iii..iiyaa mas segera saya bayar. Tapi nunggu kiriman dari Ibu di desa. Bulan Juni ini akan panen kopi” Jawabku sambil menyeringai. Berharap ia tak jadi marah.


“Tepati Janjimu! Jangan lupa bawain kopinya juga! Dua tahun ngekos nggak pernah ngasih oleh-oleh sama sekali dari desa!” Iiiiihhh ketus sekali kata-katanya. Kemudian berlalu pergi. Ternyata dia adalah anak ibu kosku, yang diamanahi untuk menagih uang kos yang sebenarnya sudah jatuh tempo di bulan Februari, namun hingga kini tak mampu ku lunasi. Nasib UKT membumbung tinggi, uang kos pun menunggak hingga Juni. Tentang Penulis Noor Annisa, guru di SMP wilayah Temanggung pojok perbatasan, yang senang menulis dan jalan-jalan. MEMILIH SYUKUR Oleh: Ulul Azmi Amaar yang sedang berada di kamarnya sibuk mengutat handphone, entah berapa jam ia tak bergeser dari persinggahannya itu. Seperti berada di dunia lain, ia terlalu asyik merajai ruang yang ia ciptakan, sampai tak tersadar akan dunianya yang realita. Kebiasaan itu sudah melekat padanya, membuat orang sekitar merasa geram, terutama ibunya. Memang ia terlahir dari keluarga yang cukup berada, meski keturunan dari seorang petani, namun tanahnya yang terbilang tidak sedikit cukup memadai untuk menuntaskan biaya kuliahnya. Namun setelah sang bapak meninggal kehidupannya tergeser berubah bahkan terlilit hutang. Kini ia dipaksa menjadi lebih dewasa, menjadi tulang punggung keluarga, karena ibunya pun sudah tak sekuat saat muda. Beruntung kuliahnya sudah kelar meski hampir saja ia dicap mahasiswa abadi, setidaknya tanggungan biaya hidup tidak menggunung. “Dasar badung!” suara sang ibu yang menggelegar sontak membuatnya terperanjat. “Ibu bikin kaget aja” “Kerjaannya main hp, cari kerja sana! udah lulus kuliah masih nganggur” “Ibu aku udah cari kerja kemana-mana tapi belum rejekinya. Senin lalu aku daftar kerja juga nggak kerekrut, karena pelamar kerja membludak, belum lagi ada yang lewat orang dalam. Orang biasa seperti aku tidak mudah cari kerja yang bagus, apalagi di perusahaan.” “Kamu bisa kerja apapun yang penting halal, nggak harus kerja ditempat yang bagus” cecar sang ibu sembari kembali masuk ke dapur. Amaar termenung sendiri. Meski terlihat mager sebenarnya ia juga memikirkan masa depan, seringnya main handphone scrol lowongan pekerjaan, sudah lima kali ia mendaftar di


perusahaan, pernah juga mendaftar CPNS tapi masih disuruh coba lagi. Mungkin benar kata sang ibu ia harus coba mencari pekerjaan apapun yang penting halal, tanpa mengedepankan target pekerjaan yang diharapkan. Perasaannya yang terdesak oleh sang ibu dan realita hidup membuatnya berani memutuskan hal baru, ia akan mendaftar pekerjaan di Madrasah daerahnya, menuruti kata sang ibu yang menginginkan anaknya menjadi seorang guru, kata beliau itu pekerjaan mulia. Benarlah keesokan harinya lamarannya diterima. Meski mukanya tak terlihat cerah karena bukan pekerjaan yang ia dambakan. Setidaknya sementara waktu ia tidak menganggur. Hingga ia tercuri perhatiannya oleh pak Herman seorang guru Matematika yang profesional. Sosok sederhana yang sangat disiplin dan tekun dalam pengajaran, kerap siswasiswi juara lomba olimpiade matematika. Ia menautkan label guru sejati pada pak Herman. Hari demi hari ia terlampau sibuk dengan tugasnya, tak terlontar lagi keluh kesah dari mulutnya. Ia menikmati kebersamaan dengan para siswa. Lalu awal bulan tiba, ia dipanggil untuk menerima amplop coklat. Sekejab senyumnya mengembang, muncul dalam angannya sang ibu yang tersenyum bangga kepadanya, ia berniat akan memberikan gaji pertama itu untuk ibu, harapnya bisa membantu ekonomi keluarga terutama untuk mencicil hutang. Kemudian dibukanya amplop tersebut dengan tangan gemetar karena sangat bahagia, hingga ia memungut tiga lembar uang; seratus, lima puluh, dan dua puluh ribu. Senyumnya berbalik arah dalam sekejap. “Bagaimana aku mencukupi kebutuhan bahkan untuk bayar hutang?” gumamnya gamang. Tapi melihat anak-anak didiknya, perasaannya beradu antara resah dan harapan. Ia tepekur beberapa menit, hingga seseorang mengagetkannya. “Ngelamunin apa?” tanya bu Halwa salah satu rekan kerjanya. Amaar masih diam seakan belum mampu tersadar dari ruang lamunan. Namun ketika bu Halwa melirik tangan Amaar dengan amplop coklat, beliau tersenyum tipis. “Syukuri seberapapun jumlah rizkinya” ucap bu Halwa sambil menatap Amaar penuh arti. “Kamu mungkin tertegun, tapi jangan terlihat melas seperti itu” perempuan itu menampakkan seringai dari senyumannya. “Tidak hanya kamu, semua guru wiyata disini sama, termasuk pak Herman” Amaar tertegun tak percaya. “Bukannya pak Herman sudah mengajar selama sepuluh tahun?” Benar”


“Sudah sertifikasi?” lanjut Amaar penasaran. “Tahun lalu pak Herman sudah bisa mengikuti pretes, tapi sayang waktu itu beliau sedang Opname di rumah sakit.” “Jadi...” “Iya, selama sepuluh tahun uang yang didapat masih seperti kamu. Tapi beliau sangat spesial.” Tutur bu Halwa dengan senyum yang telah berubah menjadi suatu kebanggaan, meski dengan mata yang berkaca seakan mengkiaskan sebuah perjuangan. “Semua yang bertahan disini bukan karena uang, tetapi nilai dan pengharapan ridha dari Allah, dan kabar baiknya kami masih bisa makan dan hidup. Karena rezeki bisa berupa apapun dan dari arah manapun.” Amaar termenung, dilihatnya pak Herman yang tengah bercanda dengan guru-guru yang lain. ia mengamati setiap garis tawa yang menghiasi raut wajahnya, terlihat ringan berbalut keikhlasan. Sekejap ia malu terhadap dirinya yang berbalut keluh kesah. *** Tentang Penulis Ulul Azmi, perempuan asal Temanggung. Penulis novel, ‘Hijrah Cinta’ dan beberapa antologi cerpen dan puisi. Seorang penulis pemula yang berjuang menggapai cita-citanya.


Mama Papa, Aku Tak Pernah Minta Dilahirkan Oleh: Ani Turmiyati Terlihat telaga bening mengalir dari sudut matanya...“ahh seandainya”… Jam di tanganku menunjukkan pukul 06.00 WIB. Hari ini giliranku piket menyambut siswa. Aku harus segera sampai ke sekolah. Sebagai orang yang terbilang baru aku sedang masa adaptasi dengan tempat kerjaku yang sekarang. Ya, baru seminggu ini aku dimutasi di sekolah yang sekarang, setelah sebelumnya aku mengabdikan diri selama kurang lebih sepuluh tahun di sebuah Sekolah Menengah Pertama di pinggiran kota. Kupacu motor maticku menembus dinginnya udara pagi. Kelok jalan berselimut kabut tips menawarkan sejuta pesona pagi kota kecil di kaki gunung Sindoro. Beruntung aku tinggal di kota sejuk ini, sementara di luar sana banyak orang mengeluhkan panasnya udara namun di kotaku ini aku tidak perlu pasang AC untuk menikmati sejuknya udara. Tidak sampai setengah jam aku sudah sampai di depan gerbang sekolah. Suasana mulai ramai ketika siswa mulai berdatangan. Aku sapa mereka satu persatu sambil sesekali menanyakan kabar. Sebongkah senyum muncul dari bibirnya sambil membalas sapaku. Hingga waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB, bel berbunyi tanda dimulainya kegiatan pembelajaran. Petugas satpam bergegas menutup pintu gerbang. Tapi tunggu dulu! Dari balik pintu gerbang aku lihat anak laki-laki datang tergopohgopoh, dengan baju lusuh dan rambut acak-acakan seperti baru saja bangun tidur. “Kamuuu lagi, kapan kamu tidak terlambat?” tanya satpam seakan sudah hafal kebiasaannya datang terlambat. Aku tidak mendengarkan secara jelas pembicaraan mereka, hanya saja aku mendengar bapak satpam memanggil siswa tersebut dengan nama Saka. Dalam hati aku berkata, 0 ini to nama yang selalu jadi pembicaraan hangat di ruang guru. “Aduuuh pusing aku ngoreksi ulangan Saka, mana tulisannya kayak cekeran ayam lagi.” Keluh salah satu guru yang sedang mengoreksi ulangan siswa. “Aku apalagi Bu!, tiap kali mau masuk ke kelasnya harus siap mental, dan dibuat emosi karena ulahnya. Kalau nggak tidur ya mengganggu temannya. Bicaranya kasar dan kotor.” Timpal guru lainnya. Hari ini kebetulan aku ada jam mengajar di kelasnya. Memang benar apa yang diceritakan rekan-rekan guru tentang Saka. Jika siswa lain antusias menyambut guru baru, tapi


beda dengan Saka yang acuh dengan kehadiranku di kelas. Ini membuatku semakin penasaran ada apa dengan anak ini. “Istirahat nanti temui Ibu di ruang BK ya.” Pintaku usai mengajar. Di ruang BK.. “Apa kabar Saka? Perkenalkan Saya Bu Rini guru baru yang menggantikan tugas Bu Septi. Bisa kita ngobrol hari ini?” pintaku hanya dijawab anggukan. “Saya perhatikan tadi di kelas, Kamu sepertinya lagi ada masalah”, kataku seakan mencoba menebak. “Biasa saja, nggak ada masalah.” Jawabnya datar tanpa ekspresi. “Jika kamu lagi ada masalah dan ingin cerita sama Ibu, ibu siap kok mendengar ceritamu” Kataku berusaha meykinkan. Bungkam beberapa saat akhirnya keluar suara lirih dari mulutnya. “Benar ibu mau mendengarkan cerita saya?” tanyanya ragu. “Saya kangen sama Mama Papa, aku ingin Mama Papa seperti dulu lagi”. Terlihat telaga bening mengalir dari sudut matanya… “ahh seandainya”… “Aku dulu hidup bahagia bersama Mama,Papa, dan Kakak. Tiap liburan kami selalu habiskan bersama dengan jalan-jalan. Bahagia rasanya. Hingga suatu hari bencana itu datang…Papa pergi lama dan tidak pulang. Mama tidak punya uang untuk membiayai hidup kami karena papa tidak pernah kasih uang bahkan yang aku dengar Papa sudah menikah lagi. Mama sangat sedih namun tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk bertahan hidup mama menjual barang-barang yang ada di rumah. Lama kelamaan barang-barang di rumah habis terjual. Kami jatuh miskin, hingga Mama berkenalan dengan Om Arya yang baik hati dan perhatian pada kami. Suatu saat Mama minta izin untuk menikah dengan Om Arya. Kamipun menyetujui toh Om Arya orangnya baik dan berjanji akan menjadi ayah yang baik bagi aku dan kakak. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Setelah itu Om Arya mulai kelihatan sifat aslinya. Pemarah, pelit, dan tidak pernah menyapa kami. Bahkan Om Arya memberi pilihan pada Mama pilih Aku dan Kakak atau pilih Dia dan pergi dari rumah. Dan yang membuat kami terpukul Mama pilih meninggalkan kami dan mengikuti perintah Om Arya untuk tidak menemui kami anak-anaknya. Jika Mama tidak mau menuruti perintahnya dia mengancam akan menceraikannya”. “Sekarang aku hanya tinggal sama Kakak yang masih sekolah di SMA. Untuk makan dan bisa sekolah kami hanya mengharapkan belas kasihan dari para tetangga…”


“Aku tidak pernah minta dilahirkan, untuk apa mereka dulu mengharapkan kehadiran kami, kalau hanya untuk disia-siakan” teriaknya dengan bibir bergetar. Sekarang aku tahu tentang Saka. Di balik kebandelannya ada perih yang harus ditahan dan di rasakan bersama Kakaknya. Tak terasa air mataku ikut menetes… Tentang Penulis Ani Turmiyati lahir di Sleman, 18 April 1972. Ia memulai pendidikan dasar di SD N Somoitan dan lulus tahun 1985. Melanjutkan pendidikan menengah di SMP N Turi lalu SMA Donoharjo Ngaglik, Sleman. Ayahnya seorang pensiunan kepala sekolah SD yang selalu mendorong anak-anaknya menggeluti profesi sebagai pendidik. Jurusan Bimbingan Konseling, IKIP Negeri Yogyakarta, menjadi pilihannya saat masuk ke bangku kuliah. Putri keempat dari pasangan Suyadi dan Dalini ini menggemari cerita fiksi dan film drama sedari kecil. Tak heran bahwa Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran favoritnya, hingga ia pernah didaulat untuk mengajar pelajaran Bahasa Indonesia disamping tugas sebagai guru BK di sekolah. Menjalani profesi sebagai PNS sejak 1999, ia mendapat tugas pertama di SMP N 1 Gemawang, dan sejak 2005 hingga sekarang bertugas di SMP N 6 Temanggung.


PELANGI SENJA Oleh: Yuni Hastuti “Saya terima nikahnya Anggita Safitri binti almarhum Budi Harjito dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai,” ucap Mas Wakhid dengan sedikit bergetar. Alhamdulillah, kini aku telah sah menjadi istri Mas Wakhid, kakak kelasku waktu SMA. Setetes air mata haru basahi pipiku saat aku mencium punggung tangan Mas Wakhid. Kudongakkan kepala. Kutemui sorot mata bahagia terpancar dari dua mata elangnya. Aku pun tersenyum. Ini adalah pernikahan kedua bagi aku dan Mas Wakhid. Karena ini adalah pernikahan kedua, maka kami hanya mengundang sanak saudara terdekat dan tetangga kiri-kanan yang tak lebih dari lima puluh orang, dua orang putra Mas Wakhid, dan putra-putriku, Siska dan Ardi. Yang penting sah menurut agama dan negara. Menurut rencana Mas Wakhid, aku akan diboyong ke kota domisilinya sekarang di Kalimantan pekan depan, sekalian menunggu selesainya aku mengurus surat pindah tugasku sebagai guru. Bahagia? Yaaah…. Aku bahagia sekali tapi canggung juga. Sekian lama aku hidup tanpa pendamping dan kini ada seorang laki-laki yang berada di sisiku. Apalagi laki-laki itu adalah seseorang yang ada di masa laluku. Seusai acara , karena mungkin kecapean, Mas Wakhid merebahkan diri di kamarku hingga tertidur pulas. Kupandangi wajahnya yang tidak berubah seperti puluhan tahun yang lalu. Aku dan Mas Wakhid dipertemukan kembali lewat dunia maya… facebook dua tahun yang lalu. Waktu itu aku menerima permintaan pertemanan dari seorang laki-laki. Pada awalnya aku ragu. Karena memang aku tak sembarangan menerima permintaan pertemanan apalagi dari seorang laki-laki. Sebelum aku mengkonfirmasi, aku lihat biodatanya. Aku terkejut saat kubaca kalau Mas Wakhid yang saat itu berdomisili di Banjarmasin berasal dari kota yang sama denganku. Segera kubuka album fotonya. Kucermati satu persatu wajah Mas Wakhid. Sepertinya aku pernah tahu dan familiar dengan wajah itu. Dalam berbagai foto ada sebuah foto sebuah keluarga lengkap saat putra-putra Mas Wakhid masih kecil. Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, kuterima permintaan pertemanan itu. Awalnya kami ngobrol lewat inbox. Beberapa waktu kemudian obrolan berpindah ke whatsapp. Karena penasaran aku pun menanyakan foto-foto unggahan terbaru Mas Wakhid


Click to View FlipBook Version