The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku 4 ANTOLOGI CERPEN FPGL

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by UGI UTAMI, 2025-03-09 22:14:39

Buku 4

Buku 4 ANTOLOGI CERPEN FPGL

yang tidak lengkap. Sebelum menjawab pertanyaanku, Mas Wakhid balik bertanya dengan pertanyaan yang sama. Aku sudah menjadi single parents saat putri sulungku masih duduk di bangku SMA dan putra bungsuku kelas empat SD. Aku mengakhiri biduk rumah tanggaku karena sudah tidak ada kecocokan dan aku lelah dalam kondisi batin yang tersiksa. Selama tujuh belas tahun berumah tangga, aku selalu ‘makan hati’ oleh sifat dan sikap bapaknya anak-anak yang tidak pernah dewasa. Semua urusan rumah tangga dari mencari nafkah sampai tetek bengek urusan rumah dia lepas tangan. Kurang lebih dua tahun proses gugatan percerainku dikabulkan oleh pengadilan agama. Hak asuh anak-anakkupun kuperoleh. Jadilah sejak saat itu aku hidup bertiga bersama kedua anakku. Cukup lama juga kami hanya bertiga. Berkali-kali kuterima pertanyaan dari teman-teman maupun saudara-saudaraku kapan akan menikah lagi. Kujawab pertanyaan mereka dengan santai bahwa aku masih bahagia dan nyaman dengan kesendirianku. Dalam hati aku berprinsip aku tidak akan mengesampingkan kebahagiaan anak-anakku dengan tidak menikah lagi; Ada kekhawatiran bila aku menikah lagi di saat mereka masih butuh sosok ibu seutuhnya, mereka akan kehilangan itu. Dan kini anak-anakku sudah berumah tangga semua. Aku sudah menjadi nenek dari tiga orang cucuku. Sementara Mas Wakhid harus kehilangan istri tercintanya sejak tiga puluh tahun yang lalu saat putra sulungnya masih duduk di bangku kelas empat SD dan putri bungsunya kelas dua SD. Mendiang istri Mas Wakhid meninggal karena kanker rahim. Selama istrinya sakit Mas Wakhid dengan sangat sabar merawatnya tanpa bantuan seorang pembantu. Hal inilah yang membuatku bersimpati kepada Mas Wakhid. Ini mengingatkanku pada sosok alm bapak yang juga dengan setia dan sabar merawat almarhumah ibu saat sakit sampai meninggal dunia. Oleh karena itulah kemudian aku mengiyakan permintaan Mas Wakhid untuk menjalani hari tua bersama…berdua. Kutatap wajah Mas Wakhid yang masih terlelap. Kuselimuti tubuh kekarnya sembari berkata dalam hati, aku akan buatnya bahagia. Pelangi di usia senja ini semoga kan selalu ada untuk menghiasi hari-hari kami berdua sebelum takdir memisahkan kami untuk selama-lamanya. Parakan, 30 Mei 2024


Tentang Penulis Yuni Hastuti yang bernama lengkap Sri Wahyuni Hastuti, lahir di Temanggung pada tanggal 30 Juni 1971. Dia adalah seorang guru bahasa Indonesia di SMP Al-Iman Parakan sejak Januari 2005 silam. Pernah menerbitkan dua buku kumpulan cerpen dan kumpulan puisi bersama beberapa guru yang lain dari berbagai sekolah. KISAH PRADINA SWARI Oleh: Umi Lestari “Assalamualaikum Din.” sapa Zizi pada Dina temannya. “Waalaikumsalam.” jawab Dina. “Kok kayaknya lagi sedih gitu Din, ada masalah?”. ”Gue perhatiin beberapa hari ini lo jadi pendiam, cerita dong,” kata Zizi pada Dina teman sebangkunya itu. Namun Dina hanya menoleh dan tersenyum pada Zizi tanpa menjawab pertanyaan Zizi. “Baiklah kalau lo belum mau cerita. Tapi Din, ingat ya kalau gue sahabat lo, kalau ada apa-apa lo bisa cerita ke gue. Gue selalu ada buat lo.” Zizi mencoba menghibur sahabatnya itu. Dina merasa terharu dengan ucapan Zizi namun dia hanya diam. “Din ke kantin yuk, masih cukup waktunya untuk kita sarapan dulu,” ajak Zizi. “Kamu aja sana Zi aku lagi males kemana mana,” jawab Dina. “Ayolah Din siapa tahu mood lo jadi bagus sampai di kantin,” Zizi mencoba membujuk sahabatnya itu. Dengan malas Dina pun


mengangguk kemudian berjalan mengikuti Zizi dengan langkah yang berat. Karena sebenarnya Dina malas untuk pergi ke kantin tapi karena Zizi memaksa ia pun mengikuti keinginan Zizi. Setelah pelajaran selesai Dina langsung pulang, ia berdiam diri di kamar sambil memeluk gulingnya, tak terasa air matanya menetes. Ia teringat kata dokter akan penyakitnya yang semakin parah, ia mengidap penyakit kanker stadium akhir dan umurnya diperkirakan hanya tinggal 6 bulan. Selama ini tak seorang pun tahu akan penyakitnya bahkan orang tuanya sendiri tidak tahu. Dina tak ingin membuat orang tuanya sedih. Walaupun sering sakit namun ia tak pernah mengeluh. Orang tuanya pikir hanya sakit biasa karena memang Dina memang selalu bilang pada orang tuanya kalau dia hanya lelah saja. “Besok aku cek up kondisiku lagi ke rumah sakit, aku harus tetap semangat agar orang orang disekitarku tidak khawatir.” monolog Dina. Kemudian Dina pun pergi ke dapur untuk membantu ibunya memasak untuk makan malam. “Bunda, ada yang bisa Dina bantu?” tanyanya pada ibunya. “Ya, tolong ambilkan sayur dalam kulkas kemudian cuci ya din!” pinta ibunya. Dina pun mengambil dan mencuci sayur sedang ibu merebus air. Selesai memasak dan menyiapkan semua di meja makan Dina kemudian membersihkan diri. “Dina habis mandi dan sholat magrib nanti, tolong panggil adik kamu sama ayah untuk makan ya!” Pinta ibunya. Dina hanya mengangguk saja. ”Eh eh ... Bunda mau kemana?“ tanya Dina balik pada bundanya. “Bunda beberes alat dapur dulu tadi kan belum dicuci setelah masak.” jawab bunda. Biar nanti Dina beresin setelah semua sudah makan aja bun” tawar Dina pada bundanya. Nggak usah Ibu Juga sudah Nggak ngapa-ngapain sedang nggak sholat juga, udah sana mandi lalu sholat, kemudian tadi minta ayah dan adikmu makan malam.” jawab bundanya sekalian mengingatkan anaknya. Setelah makan malam Dina dan keluarga menonton Tv bersama. “Tumben Kakak ikut nonton bareng biasanya langsung ke kamar?” tanya Aldi adiknya. “Sesekali kan nggak papa dik, kamu nggak suka kakak temenin nonton, kapan lagi kita kumpul bareng ya kan?”. Aldi merasa janggal dengan kata-kata kakaknya. “Kakak ini ngomongnya kayak orang udah mau mati aja, pakai kapan lagi segala.”. “Sssttt Aldi nggak boleh bilang begitu sama kakak kamu,” ucap bunda mengingatkan anaknya. “Ayah senang kita dapat berkumpul seperti ini, semoga keluarga ini selalu diberkahi sama Allah,” ucap ayah dina penuh harap. “AAMIIN.“ semua mengamini ucapan ayah. Hari berganti hari, 6 bulan sudah berlalu. Dina saat ini sedang berada di kantin menunggu Zizi yang sedang mengumpulkan tugas. Sesaat kemudian Zizi pun tiba dan memesan Bakso kesukaanya kemudian duduk di samping Dina. “Semakin hari gue lihat lo makin pucet aja Din, lo sakit?” tanya Zizi pada Dina. “Nggak, gue capek aja belakangan ini


banyak kerjaan di rumah.” Jawab Dina asal. Ia tak ingin sahabatnya khawatir. “Emang kerjaan apa di rumah lo?”. “Entar gue bantu ya biar lo nggak capek capek lagi, khawatir juga gue lihat elo pucet kek gini kaya orang sakit“. Ucap Zizi. Dina menanggapi dengan senyum lebar. “Nggak usah ,sekarang sih udah selesai kemarin udah di bantuin Aldi juga”. “Udah habisin baksonya keburu dingin, ngomong mulu nggak enak nanti,” ucap Dina mengalihkan pembicaran. Setelah menghabiskan baksonya Zizi mengajak Dina ke perpustakaan. “Din, ke perpus yuk cari buku referensi buat tugas nanti” .”Ok.” jawab Dina. Saat hendak beranjak dari duduknya, Dina tiba-tiba merasa pusing dan keluar darah dari hidungnya . Zizi pun panik, ia memegangi tubuh Dina yang sudah lemas. “Tolooong” teriak Zizi. Semua orang yang ada di kantin pun berbondong-bondong membantu. Kemudian Dina dibawa ke rumah sakit. Di perjalan ke rumah sakit Zizi menghubungi keluarga Dina. Sehingga saat ini mereka semua bersama-sama menunggu Dina yang sedang diperiksa. Namun hingga saat ini Dina belum juga sadar. “Tante Mona, sebenarnya Dina sakit apa ya? Kok dia Nggak pernah cerita kalau dia sakit?” Tanya Zizi pada ibunya Dina. Namun ibu yang saat ini sedang bersedih hanya menggeleng saja. Karena ia memang tidak tahu jika anaknya sakit. “Kami juga tidak tahu karena memang Dina tidak pernah mengeluh sakit.” Jawab ayah Dina. Seorang dokter yang menangani Dina keluar dari ruangan, dan berkata. “Kanker dalam tubuh Dina sudah menyebar ke organ vital, jadi kemungkinan hidupnya sangat tipis.” berdoa saja semoga keajaiban terjadi ucap dokter itu kemudian meninggalkan mereka. Zizi juga Ibu dan ayahnya Dina hanya terpaku mendengar penjelasan dokter. “Kanker?” ucap Ibu Mona, ia tak kuasa lagi berdiri seluruh tubuhnya terasa lemas hingga ia terduduk di lantai rumah sakit. Zizi pun tak kuasa menahan tangisnya “kenapa kamu tak pernah cerita ke aku kalau kamu sakit Din” ucap Zizi. Ia merasa menjadi sahabat yang tak berguna. Ayah Dina berusaha menenangkan istrinya walaupun hatinya saat ini sangat sedih, namun sebagai seorang laki-laki ia harus kuat. Tiba-tiba seorang perawat lari keluar dari ruangan tindakan, sambil memanggil Dokter tadi. Dokter itupun kembali ke ruangan. Dan beberapa saat kemudian ia kembali keluar. “Maaf kami sudah berusaha membantu putri bapak dan ibu namun Tuhan berkehendak lain. Mungkin ini yang terbaik untuk putri bapak dan ibu.” kata dokter itu kemudian pergi meninggalkan kami. Tangis kami pun pecah tak terbendung lagi. Di atas pusara Dina yang masih basah Zizi berkata “Selamat jalan Din, semoga engkau tenang di alam sana. Allah sayang padamu hingga DIA memanggilmu secepat ini. Berbahagialah engkau di sana”. “Walau kau telah tiada, aku akan sering mengunjungimu


karena kau SAHABAT TERBAIKKU.” Zizi pun kembali tak dapat membendung air matanya. Kemudian ia memanjatkan doa dan mencium batu nisan yang bertuliskan nama Pradina Swari. Dengan langkah berat Zizi meninggalkan makan sahabatnya dan kini hanya tinggal kesunyian. Tentang Penulis Saya Umi Lestari wanita kelahiran Temanggung Jawa Tengah, saya lahir 26 Juni 1985. Ini adalah hari kedua saya, mencoba untuk belajar menulis cerpen di Forum Pena Guru Literasi. Saya berharap forum ini dapat menjadi wadah dan jembatan bagi kami dalam belajar menulis sebuah karya.


Mimpi di Balik Bukit Oleh: Wahyu Utomo, S.Pd. Di sebuah desa kecil bernama Ngadimulyo, terletak di kaki bukit yang hijau dan subur, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Budi. Dia adalah seorang anak desa yang memiliki mimpi besar. Setiap hari, Budi bersekolah di SDN 2 Ngadimulyo, sekolah yang sederhana tetapi penuh dengan semangat dan harapan. Sejak kecil, Budi selalu terpesona oleh langit malam yang penuh dengan bintang. Ia sering berbaring di halaman rumahnya yang kecil, menatap bintang-bintang itu sambil membayangkan dirinya menjadi seorang astronom, seseorang yang mempelajari rahasia langit dan alam semesta. Cita-cita Budi ini mungkin terdengar terlalu tinggi bagi banyak orang di desanya, tetapi tidak bagi Budi. Ia yakin bahwa mimpi itu bisa terwujud jika ia berusaha dengan keras. Setiap pagi, sebelum ayam berkokok, Budi sudah bangun untuk membantu ibunya mempersiapkan sarapan dan menyapu halaman. Setelah itu, ia berjalan kaki sejauh tiga kilometer melewati jalan setapak yang berliku dan penuh lumpur untuk mencapai sekolahnya. Meski perjalanan itu melelahkan, Budi tidak pernah mengeluh. Baginya, setiap langkah adalah bagian dari perjalanannya menuju cita-cita. Di sekolah, Budi adalah seorang siswa yang rajin dan cerdas. Ia selalu duduk di barisan depan, menyimak setiap pelajaran dengan seksama. Guru-gurunya sangat menyukai Budi karena kecerdasan dan ketekunannya. Pak Wahyu, guru kelas VI di SDN 2 Ngadimulyo, adalah salah satu yang paling menginspirasi Budi. Pak Wahyu sering menceritakan kisah-kisah tentang para ilmuwan besar dan penemuan-penemuan mereka yang mengubah dunia. Setiap kali mendengar cerita itu, semangat Budi semakin berkobar. Namun, jalan menuju impian tidak selalu mulus. Keluarga Budi hidup dalam kesederhanaan. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang pas-pasan. Kadang-kadang, Budi harus membantu ayahnya di sawah sepulang sekolah atau saat libur panjang. Meski demikian, Budi tidak pernah menyerah. Ia tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengubah nasib keluarganya.


Suatu hari, di perpustakaan kecil sekolah, Budi menemukan sebuah buku tentang astronomi. Buku itu sangat menarik perhatiannya. Meski sudah tua dan kumal, isi buku itu membuka wawasan baru bagi Budi. Ia mulai belajar lebih banyak tentang tata surya, bintang, dan galaksi. Setiap malam, ia membawa buku itu ke rumah dan membaca di bawah lampu minyak, karena desanya belum memiliki aliran listrik. Mengetahui ketertarikan Budi, Pak Wahyu memutuskan untuk membantu lebih banyak. Ia memberikan Budi beberapa buku tambahan yang dipinjam dari perpustakaan kota. Pak Wahyu juga mengajak Budi mengamati bintang menggunakan teleskop kecil miliknya. Pengalaman pertama Budi melihat bulan dan bintang-bintang melalui teleskop membuatnya semakin yakin bahwa ia harus meraih mimpinya. Ketika Budi duduk di kelas enam, ia mendapat kabar bahwa ada beasiswa untuk melanjutkan sekolah di kota. Beasiswa ini sangat kompetitif dan hanya diberikan kepada siswasiswa berprestasi. Budi tahu bahwa ini adalah peluang emas yang tidak boleh ia lewatkan. Ia belajar lebih giat, menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengerjakan soal-soal dan membaca buku. Akhirnya, hari ujian seleksi pun tiba. Budi berangkat dengan penuh semangat meski sedikit gugup. Ia mengikuti ujian dengan penuh percaya diri, mengingat semua yang telah ia pelajari. Setelah beberapa minggu yang penuh harap dan cemas, hasil ujian pun diumumkan. Budi dinyatakan lulus dan mendapatkan beasiswa itu. Kabar baik ini disambut dengan suka cita oleh keluarganya dan seluruh warga desa. Mereka sangat bangga dan memberikan dukungan penuh kepada Budi. Namun, perjuangan Budi belum berakhir. Bersekolah di kota berarti ia harus meninggalkan desanya, keluarganya, dan teman-temannya. Ini adalah keputusan yang berat, tetapi Budi yakin bahwa ini adalah langkah yang harus diambil untuk mewujudkan cita-citanya. Di kota, Budi bersekolah di SMP favorit dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap dibandingkan SDN 2 Ngadimulyo. Awalnya, Budi merasa canggung dan kesulitan menyesuaikan diri. Namun, dengan ketekunan dan semangat belajar yang tinggi, ia berhasil menunjukkan prestasi yang gemilang. Guru-gurunya di kota juga memberikan dukungan yang besar, menyadari potensi luar biasa yang dimiliki Budi. Tahun demi tahun berlalu, Budi terus belajar dengan tekun. Ia berhasil menyelesaikan SMP dan SMA dengan nilai yang sangat baik. Beasiswa yang ia dapatkan membawanya hingga ke bangku universitas, di mana ia akhirnya bisa mendalami ilmu astronomi seperti yang selalu ia impikan.


Pada akhirnya, Budi berhasil menjadi seorang astronom yang diakui. Ia bekerja di sebuah observatorium besar dan terlibat dalam penelitian-penelitian penting tentang alam semesta. Mimpinya yang dulu tampak jauh kini telah menjadi kenyataan. Setiap kali melihat ke langit malam melalui teleskop canggih di observatorium, Budi selalu teringat pada perjalanan panjang dan perjuangan keras yang telah ia lalui. Ia juga selalu ingat pada desanya yang tercinta, Ngadimulyo, tempat di mana semua mimpi itu bermula. Budi tidak pernah melupakan asal-usulnya. Setiap kali ia pulang ke desa, ia selalu menyempatkan diri untuk berbagi cerita dan pengetahuan dengan anak-anak di SDN 2 Ngadimulyo. Ia ingin menginspirasi mereka, seperti dulu ia terinspirasi oleh Pak Wahyu dan langit berbintang di desanya. Budi yakin, di balik bukit yang hijau dan subur itu, masih banyak anak-anak lain yang memiliki mimpi besar seperti dirinya. Dan ia ingin mereka tahu, bahwa dengan usaha dan ketekunan, mimpi itu pasti bisa terwujud. Menjadi Pendidik di Perantauan Oleh: Toto Sugiarto Liburan akhir semester sudah diujung mata, Siswa sudah selesai melaksanakan ujian akhir semester dan tinggal nunggu pengumuman kenaikan kelas. Pak Ayman punya rencana mau pulang ke Jawa untuk liburan tahun ini. Berhubung Bapak Madyo, orang tua Pak Ayman sedang sakit, sehingga bertambah kuat alasan Pak Ayman untuk pulang kampung. Persiapan yang akan dibawa untuk liburan selama dua pekan sudah dimasukkan dalam koper, tinggal menunggu keberangkatan saja sesuai dengan jadwal yang tertera di tiket bus yang sudah di pesan. Pagi sekali Ayman sudah pamitan sama Pakdhenya yang tidak bisa ikut pulang karena pekerjaan. Pakdhenya berpesan untuk Bapak Madyo mohon dimaafkan jika Pakdhe punya salah dan salam buat keluarga di Jawa. Di perjalanan Ayman senantiasa teringat dengan Bapak


Madyo orang tuanya yang sedang sakit. Di perjalanan Pak Ayman membayangkan bagaimana rasanya jika bisa pindah tugas ke pulau Jawa, mungkin bisa merawat Bapak yang sedang sakit. Bus yang dinaiki Ayman sudah sampai ke pulau Dewata, kemudian bus siap masuk ke Pelabuhan Gili Manuk, penumpang bus berhamburan turun untuk naik ke dalam Kapal. Tidak lama berselang Kapal sudah menepi menuju pelabuhan Ketapang Banyu Wangi, dan Ayman pun sudah siap untuk segera turun. bus-bus tujuan jawa sudah siap membawa penumpang yang baru turun dari kapal. Ayman pun sudah berada di bus jurusan Solo, dengan perasaan yang tidak menentu Ayman pengen segera sampai ke rumah untuk ketemu dengan Bapak tercinta yang sedang sakit. “Assalamualaikum!” Ayman mengetuk pintu rumah dengan suara lirih. “Waalaikumussalam!” Jawab seseorang dari dalam rumah. Setelah pintu dibuka, Adik Ayman yang ragil keluar dari dalam rumah. “Mas Ayman, pulang sama siapa?.... Ko tidak ngasih kabar dulu ke rumah?” “Maaf, Aku sudah kangen sama Bapak, Bapak dimana?” Tanya Ayman tidak sabaran mencari Bapaknya ke dalam rumah. “Itu di kamar sedang tidur” jawab Marni adik ragilnya Ayman. Setelah melihat Bapak yang sedang tidur pulas, akhirnya Ayman mengurungkan niatnya untuk membangunkan Bapak. “Kasihan Bapak, sudah sepuh!” “Ya Allah sembuhkan Bapak dari sakit yang dideritanya, kasihani dia dan berikan kekuatan padanya Yaa Robb…!” “Aamiin!” Doa Ayman dalam hati. Dua pekan sudah Ayman liburan di rumah, tidak terasa masa liburan sudah habis dan tugas Negara sudah menunggu di rantau untuk mencerdaskan anak Bangsa. Ayman sudah berkemas untuk segera kembali ke Lombok dan sudah pesan tiket bus jurusan Lombok. Hatinya tidak tega meninggalkan Bapak yang sedang sakit, namun apa hendak dikata tugas Negara memanggilnya untuk segera ditunaikan. Ketika mau pamit sama orang tua Ayman, tiba-tiba Bapak Madyo tidak berkenan putranya pergi. “Mbok yao ngomong sama Kepala Sekolah, untuk ijin dulu, Bapakmu iki lagi sakit butuh koe untuk nungguin Bapak!” Pak Madyo melirih minta perhatian dari putranya. Diajak salaman menolak, dipamiti pun diam seribu bahasa tidak bergeming sedikitpun. Ayman bingung mana yang harus didahulukan, tugas Negara atau keluarga. Dengan berlinang air mata Ayman mencoba menenangkan Bapaknya.


“Bapak, nanti kalau Ayman sudah sampai di sana, akan memberikan tugas dulu ke guru lain untuk digantikan sementara jam mengajarnya, terus Ayman pulang lagi kesini!” Kata Ayman sambil meyakinkan Bapaknya. Setelah bersusah payah meyakinkan Bapak, akhirnya Ayman berangkat juga ke Lombok dengan naik bus Safari Darma Raya jurusan Solo – Lombok. Di perjalanan dibutuhkan waktu sehari-semalam untuk sampai ke terminal Lombok. Sampai di penyeberangan Ketapang Banyu Wangi, semua penumpang bus pada turun, kemudian langsung menuju Kapal penyeberangan yang sudah siap di dermaga. Kapal berangsur menjauh dari pulau Jawa menuju Gilimanuk Bali. Setelah sampai Bali kemudian bus melanjutkan perjalanan menuju penyebrangan berikutnya menuju Lombok. Setelah sampai di Lombok kemudian Ayman menuju ke rumah Pakdhenya, di rumah Pakdhe sudah menunggu dengan mengharap kedatangannya Ayman. “Betah ya di Kampung?” “Bagaimana kabar Bapak sehat?” Tanya Pakdhenya. “Alhamdulillah betah Pakdhe, Bapak masih sakit dan tidak mau di tinggal. Waktu aku mau pamit Bapak tidak mau dipamiti malah suruh aku untuk minta ijin sama Kepala Sekolah.” Kata Ayman curhat sama Pakdhenya. Seminggu sudah Pak Ayman aktif lagi ngajar, ditengah kesibukannya ngajar tiba-tiba Pak Ayman dapat telegram dari kampung, yang isinya bahwa Bapak sedang kritis dan harus segera pulang saat ini juga. Setelah membaca telegram itu, Pak Ayman langsung ijin sama Kepala Sekolah untuk pulang ke Jawa dan menitipkan tugas ke rekan guru yang lain. Pakdhe pengen ikut serta tapi Ayman memberikan saran biarlah Ayman saja yang pulang, Pakdhe kewajibannya banyak disini, nanti semuanya terbengkalai gara-gara pulang kampung. Telegram susulan memberikan kabar bahwa Bapak Madyo sudah meninggal. Akhirnya Ayman langsung pulang tanpa menunggu naik bus yang berangkatnya sore hari. Ayman sudah meninggalkan kota Lombok dan menyeberang pulau Bali dengan naik mobil omprengan. Setelah sampai Bali baru dapat bus jurusan Solo, Ayman langsung naik bus dengan membeli tiket resmi dulu di Pool bus Safari Darma Raya. Setelah dapat tiket langsung Ayman naik bus dengan perasaan agak lega, tidak lama kemudian bus berangkat meninggalkan Pulau Bali menuju Pulau Jawa. Sampai penyeberangan Gilimanuk semua penumpang turun dari bus untuk menuju ke kapal penyeberangan. Setelah tiba di pelabuhan Ketapang banyu wangi semua penumpang bergegas untuk naik ke bus nya semula, termasuk Ayman sudah berada di dalam bus.


Bus melaju dengan kencang keluar dari pelabuhan Ketapang, setelah satu jam perjalanan, kondektur mengumumkan bahwa mobil akan berhenti di Rest Area Rumah makan Jawa. Dengan senang hati Ayman menyiapkan diri untuk ke MCK, kemudian sholat dan makan. bus memasuki Rest Area dan di parkir berderet kumpulan bus Safari Darma Raya dari berbagai tujuan. Setelah selesai dari keperluan ke kamar mandi kemudian makan dan sholat. Ketika Ayman mau ke bus yang ditumpanginya ternyata bus sudah tidak ada di tempat. Ayman kebingungan kenapa bus nya sudah tidak ada, kemudian tanya ke bagian informasi dan ternyata bus sudah berangkat lima menit yang lalu. Seperti kena setrum dibuatnya Ayman berlinang air matanya seraya berdoa…. “Yaa Allah Yaa Robbku!” “Hamba bermohon kehadirat Mu!” “Lindungi hamba dan mudahkan jalan hamba untuk kembali ke Kampung dengan selamat, hamba menyerahkan semua urusan hamba pada Mu yaa Robb!” “Aamiin…!” Tiba-tiba Ayman terbersit untuk melapor ke Kantor Kepolisian terdekat lewat operator rumah makan, agar bisa menyetop bus yang ditumpanginya untuk berhenti dan menunggu. Sementara Ayman ikut bus lain untuk mengejar bus yang ditumpanginya. Bukan masalah sebenarnya ketika ditinggal bus, tinggal naik bus yang lain yang sama jurusannya ke arah Solo, tetapi yang jadi masalah adalah Ayman menyimpan uang di amplop yang diletakkan di dalam buku yang ditinggal di kursi tempat duduknya. Sehingga Ayman berusaha untuk mengejar bus itu. Setelah menaiki bus yang akan mengejar bus tumpangannya, Ayman memberikan abaaba kepada Pak Sopir, tolong Pak saya ditinggal oleh bus dengan nomor polisi ini, dan sekarang sedang berusaha dicegat oleh penjagaan kepolisian untuk menunggu sampai saya datang. Paling sekitar dua kilometer bus itu berada nanti saya kasih tahu kalau ketemu busnya. Di pertigaan jalan Ayman melihat bus yang sedang berhenti dan disampingnya ada dua Bapak polisi yang sedang berbicara dengan sopirnya. “Stop Pak, stop,…. itu bus nya !” kata Ayman ke Sopir bus yang dinaikinya. Bus segera menepi dan berhenti dibelakang bus yang sedang dijaga oleh Pak Polisi. Kemudian Ayman turun dan menghampiri pak sopirnya. Pak Sopir marah-marah sama Ayman dengan mengeluarkan kata-kata hujatan. Ayman juga naik pitam dengan perlakuan Pak Sopir yang menyalahkannya. “Apa kamu tidak naik bus lain saja, penumpang lain jadi terhambat gara-gara kamu!” hardik Pak Sopir ke Ayman.


“Aku ini naik bus pakai tiket resmi, legal tidak seperti yang kamu naikkan di jalan tanpa tiket, kalau mau diperbesar masalah ini ayo ke kantor bus kamu, aku laporkan kamu menaikkan penumpang di jalan yang tidak punya tiket….!!!” ”Perlu kamu tahu, aku ini ninggalin buku di tempat duduk yang ada amplop uangnya, itu harta satu-satunya yang aku bawa untuk pemakaman Bapak ku yang meninggal tadi siang….!!” Sambil meneteskan air mata Ayman mencoba untuk membela diri dari cercaan Sopir yang tidak bertanggungjawab itu Mendengar akan dilaporkan kelakuan buruknya dan mendengar penumpangnya sedang mengalami musibah akhirnya Pak Sopir minta berdamai dan minta maaf atas kelalaian yang dilakukannya. “Saya mohon maaf Bapak, saya yang salah, tidak mengecek dulu jumlah penumpang sebelum bus diberangkatkan, dan saya ikut bela sungkawa atas meninggalnya orang tua Bapak!” Kata maaf yang dilontarkan Pak Sopir dengan tulus membuat hati Ayman menjadi luluh dan memberi maaf kekhilafan yang dilakukannya. Setelah sampai di terminal Solo, Pak Sopir kembali menyapa Ayman dengan ramahnya dan mendoakan…. “Semoga husnul khotimah orangtuanya dan sampai ke rumah dengan selamat ya Bapak!” Kata Pak Sopir sambil mengendarai bus nya untuk menepi. “Ya, sama-sama Pak, aku juga memaafkan Bapak dan makasih atas doanya!” Jawab Ayman sambil mencari angkot untuk melanjutkan perjalanannya menuju Dukuh Sekar Wangi. Setelah sampai di rumah, orang-orang sudah banyak berkumpul sambil duduk ngobrol-ngobrol. Ayman menghampiri jenazah Bapak tercintanya dan sempat terucap mohon maaf atas tugas yang membelenggunya sehingga tidak bisa memenuhi keinginan orangtua Ayman. Setelah disucikan dengan dimandikan, dikapani kemudian di sholatkan secara berjamaah dan dilakukan dalam beberapa shaff. Setelah selesai prosesi acara sesuai dengan yang biasa dilakukan di kampung sekar Wangi, jenazah kemudian dibawa ke kuburan untuk dimakamkan. Setelah proses pemakaman selesai orang-orangpun pulang ke rumahnya masingmasing. Pagi sekali Ayman sudah siap dengan bawaannya untuk kembali ke rantau. Setelah berpamitan dan melepas kangen Ayman langsung berangkat menuju terminal Solo dan menaiki bus yang menuju ke Lombok. Di terminal Solo secara kebetulan ketemu dengan Pak Sopir yang meninggalkan dirinya di Rumah Makan, dan dengan ramahnya Pak Sopir menyapa


Ayman dan mengajak makan bersama di warung sekitar terminal, tetapi Ayman menolak dengan alasan bus yang akan dinaikinya sudah siap untuk berangkat. Sampailah sudah Ayman di tempat tugasnya. Tempat singgah pertama adalah rumah Pakdhenya yang sangat menyayangi Ayman. Dengan bersahaja Ayman mengabdikan dirinya untuk tugas mulia mencerdaskan generasi Bangsa dengan mendidik putra-putri daerah supaya lebih maju pendidikannya. Selamatkan Makhluk Laut! Oleh: Wahyuni Siang itu disebuah minimarket, seorang ibu dan dua anaknya yang kembar sedang berbelanja. “Ma, kenapa orang itu membawa kantong kain? Mengapa dia tak memakai kantong plastik saja?” tanya Ara penasaran. Ara dan Accha sedang menemani mamanya berbelanja di supermarket. “Itu adalah gerakan kampanye menyelamatkan lingkungan,” jawab mama. “Kalau kalian mau tahu lebih banyak mama akan jelaskan di rumah,” lanjut mama menyadari antrian di belakang kasir sangat panjang. “Enggak usah ma, tadi Ara... cuma tanya aja,” jawab Ara cepat. Ara memang tak terlalu suka dengan pembicaraan seperti itu. Tentang lingkungan, plastik dan semacamnya. Sementara Accha sudah berlari ke luar supermarket. Sampai di rumah, Ara mengganti bajunya. Begitu juga dengan Accha. Setelah berganti baju Accha pergi menemui mamanya di ruang keluarga. “Sayang, kemasi barangmu. Besok kita akan pergi ke rumah nenek di pinggir pantai. Beri tahu Ara juga ya,” kata mama tiba tiba.


Accha yang senang kemudian berlari ke kamar untuk menemui Ara. “Araaaaaa, ayo kemasi barang kita, besok kita akan pergi ke pantai!” teriak Accha menghampiri Ara. Ara dan Accha kemudian membereskan bajunya. Mereka akan pergi ke rumah nenek selama tiga hari. Keesokan paginya, mama, Ara, dan Accha sudah di dalam mobil. Mama sibuk menyetir. Ara tertidur pulas dengan earphone di telinganya. Sementara Accha terlihat sedang menggambar di ipadnya. Beberapa jam kemudian Ara terbangun. Ara sudah bisa melihat laut dari mobil. Tak lama mama membelokkan mobilnya ke sebuah gang. Lalu mobil berhenti di depan rumah kayu di dekat tebing pinggir pantai. Di depan rumah itu terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang mondar mandir. “Mba Ningsih?” tanya mama. “Ya Allah, lama banget kita enggak ketemu,” kata wanita yang bernama mbak Ningsih itu. Mama dan mbak Ningsih berpelukan. Ara dan Accha hanya memandang heran dari dalam mobil. “Ibu di dalam?” tanya mama kepada mbak Ningsih. “Iya mbah di dalam,” jawab mba Ningsih. “Ara, Accha, ayo masuk!” perintah mama. Ara dan Accha kemudian turun dari mobil dan memasuki rumah itu. Rumah itu di depannya terdapat tangga yang menghubungkan tanah dengan teras. Di rumah itu banyak sekali barang antik. “Anak anak, ini nenek kalian. Panggil saja eyang uti,” kata mama sambil mendorong kursi roda yang di duduki nenek tua. Nenek itu terlihat kelelahan. “Oh, jadi ini, Ara sama Accha. Sekarang sudah besar ya,” kata eyang uti. Ara dan Accha mencium tangan eyang uti. Mereka baru pertama kali bertemu nenek mereka. Setelah banyak mengobrol, mama mengajak si kembar pergi ke pantai. Beberapa meter dari rumah sudah ada lautan yang membentang luas. “Jangan buang sampah di laut ya!” pesan eyang uti. Ara mengabaikan pesan itu. Ia masuk ke mobil dan mengambil botol air mineral. Accha yang sudah tidak sabar langsung menceburkan diri ke laut. Hufft airnya asin. Ara melempar botol air mineralnya, dan ikut mencebur ke air. Sementara mama mengawasi mereka dari kejauhan. Malamnya mereka membakar ikan. Eyang uti dan mbak Ningsih juga ikut.


Keesokan paginya, Ara dan Accha diajak mbak Ningsih berbelanja ke pasar. Mereka membeli banyak sayuran dan ikan. Sorenya mama dan mbak Ningsih pergi sebentar. Ara dan Accha tak tahu mama pergi kemana. Karena bosan Ara mengusulkan agar mereka bermain di pantai. Tetapi, saat mereka sudah di depan pantai. Mereka mendengar sesuatu. “Tolong... Akhh tolong lepaskan aku,” teriak seseorang. Suara itu berasal dari balik semak semak. “Itu suara apa?” tanya Accha penasaran. Ara kemudian mendekati semak itu. “Tunggu, Ara, aku takut,” cegah Accha. “Gimana kalau itu ternyata nyi roro kidul,” parnonya Accha kumat. Ara yang penasaran membuka semak itu. Mulut Ara ternganga lebar. Accha yang berdiri di belakang Ara juga terkejut. Di sana ada seekor putri duyung yang cantik. Tetapi putri duyung itu terlihat sedang kesusahan melepaskan lilitan sampah dari ekornya. “A-apakah benar kamu putri duyung?” Ara yang terkejut memberanikan diri untuk bertanya. “Benar aku putri duyung. Kagetnya sudah dong. Bantuin aku melepaskan sampah sialan ini,” umpat putri duyung. Tanpa basa basi Ara melepaskan lilitan sampah itu dari ekor putri duyung. Accha juga membantu walau ia sedikit kurang nyaman. “Terimakasih telah membantuku,” ucap putri duyung. “Aku peringatkan pada kalian, untuk jangan terlalu banyak menggunakan sampah plastik. Kami, makhluk laut tidak punya banyak tempat untuk tinggal karena kalian para manusia banyak membuang sampah plastik ke lautan kami. Tolong beritahu ini kepada manusia manusia lain. Jika kalian masih terus membuang sampah ke lautan maka raja palung meminta agar makhluk laut dan makhluk darat berperang,” kata putri duyung itu panjang lebar. Muka Accha langsung pucat ketika mendengar kata perang. “Baik, aku akan berusaha untuk menjaga bumi ini tetap bersih dan hijau, terima kasih atas nasehatmu putri duyung,” jawab Ara yakin. “Kami makhluk laut sangat berterimakasih kepadamu, semangat menjaga bumi agar tetap hijau, lawan sampah di sekitarmu!” putri duyung lalu bersemangat. “Selamat tinggal, terimakasih telah membebaskanku,” salam putri duyung. Ia kemudian berenang ke laut dan menghilang. “Ayo bantuin aku,” perintah Ara yang berlari ke pasir. “Bantuin apa?” tanya Accha.


“Mungutin sampah lah,” jawab Ara sambil memungut beberapa sampah yang berserakan di pantai. Accha kemudian membantunya. Mereka berdua menghabiskan senja di pantai. Tentang Penulis Sepasang anak kembar bernama Ara dan Accha bersama ibunya mengajak pergi ke minimarket dan hari berikutnya kerumah nenek di tepi pantai yang dari beberapa kejadian itu menyadarkan Ara akan pentingnya mengurangi penggunaan plastik.


Penantian Buah Hati Oleh: Esa Memo Langit sore itu berwarna jingga kemerahan, seakan menggambarkan harapan yang tak pernah pudar dari hati sepasang suami istri, Mail dan Ryka. Mereka telah menikah selama delapan belas tahun, namun kehadiran buah hati yang dinantikan belum juga tiba. Setiap senja, mereka duduk di teras rumah, memandang matahari yang perlahan tenggelam, berbicara tentang mimpi dan harapan. “Ryka, kau tahu? Aku selalu bermimpi tentang anak kita. Dia berlari di halaman, tertawa riang. Suaranya menggema di seluruh rumah,” kata Mail dengan senyum lembut di wajahnya. Ryka mengangguk, menggenggam tangan suaminya erat. “Aku juga, Mail. Aku selalu membayangkan kita membacakan dongeng sebelum tidur, melihatnya tumbuh dengan penuh cinta.” Setiap bulan, harapan mereka tumbuh bersama doa-doa yang dipanjatkan. Mereka telah mencoba berbagai cara, dari pengobatan modern hingga terapi alternatif. Setiap kali hasilnya negatif, hati mereka seolah diiris sembilu, namun mereka tak pernah menyerah. Suatu hari, Ryka mendapatkan kabar dari sahabatnya tentang seorang dokter spesialis di kota lain yang memiliki banyak pasien dengan kasus serupa yang berhasil. Dengan penuh harapan, mereka pun memutuskan untuk mencoba. Setelah serangkaian pemeriksaan dan perawatan yang intensif, dokter itu memberikan kabar yang mengejutkan. “Mail, Ryka, berdasarkan hasil pemeriksaan, peluang kalian untuk memiliki anak memang kecil, tapi bukan tidak mungkin. Saya sarankan untuk mencoba program bayi tabung. Ini mungkin menjadi jalan terakhir kita,” ujar dokter itu dengan nada penuh empati. Dengan harapan yang semakin kuat, mereka pun menjalani program tersebut. Setiap suntikan, setiap kunjungan ke klinik, dijalani dengan penuh doa dan harapan. Hari demi hari berlalu, hingga tiba saatnya untuk mengetahui hasilnya. Malam itu, Ryka merasa cemas tak karuan. Ia duduk di samping Mail, tangan mereka saling menggenggam. Telepon berdering, dan suara dokter di ujung sana membawa kabar yang membuat jantung mereka berdegup kencang.


“Selamat, Ryka. Kamu hamil.” Tangis haru meledak dari keduanya. Penantian panjang itu akhirnya terjawab. Setiap rasa sakit, setiap tetes air mata, kini terbayar dengan kabar bahagia ini. Mereka tahu, perjalanan masih panjang, namun harapan yang telah lama terpendam kini mulai mekar.Bulan demi bulan berlalu, Ryka merasakan kehidupan baru tumbuh di dalam dirinya. Setiap gerakan kecil bayi dalam kandungannya adalah bukti nyata cinta mereka. Mereka mempersiapkan segalanya dengan penuh suka cita, dari kamar bayi hingga pakaian mungil. Hingga tiba saatnya, tangisan pertama bayi mereka memenuhi ruangan bersalin. Air mata kebahagiaan mengalir deras di wajah Mail dan Ryka. Bayi laki -laki yang sehat dan tampan, hasil dari penantian dan cinta tanpa batas. “Selamat datang di dunia, Sayang,” bisik Ryka sambil mengecup lembut dahi bayi mereka. “Kau adalah anugerah terindah yang pernah kami terima.” Mail memeluk keduanya dengan penuh kasih. “Terima kasih, Ryka. Terima kasih telah bersama-sama melewati semua ini. ”Senja itu, di teras rumah mereka, suara tawa kecil bayi mereka bergema, mengisi ruang yang dulu kosong. Penantian panjang itu telah berakhir, digantikan oleh kebahagiaan yang tak terlukiskan. Dan dalam setiap senja yang mereka saksikan bersama, mereka tahu bahwa cinta dan harapanlah yang telah membawa mereka hingga ke titik ini. Tentang Penulis Esa Memo lahir di Sragen 20 Januari 1983. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana FKIP Biologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sampai saat ini masih aktif sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah negeri di Temanggung. Jejaknya bisa dilihat di Instagram maupun di facebook, La Tahzan innalloha ma’ana.


Kekasih Kesesirejo Oleh: WilarWigen Ki Bahurekso adalah sahabat Pangeran Benowo. Pangeran Benowo merupakan putra Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang. Suatu saat nanti setelah Sultan Hadiwijaya sepuh kedudukan raja Pajang akan digantikan oleh Pangeran Benowo ini. Namun ternyata terjadi perebutan kekuasaan yang mengakibatkan Kesultanan Mataram berhasil menguasai Pajang. Melihat kekalahan tersebut Pangeran Benowo bertekad menggembleng diri untuk meningkatkan kesaktian guna merebut kembali Kesultanan Pajang dari cengkeraman Mataram. Akhirnya Pangeran Benowo memutuskan untuk melakukan perjalanan ke arah barat. Tujuan utamanya adalah ke daerah Banten. Perjalanan ini ditemani oleh sahabat-sahabatnya. Salah satunya adalah Ki Bahurekso. Ki Bahurekso ini biasa disapa dengan sebutan Ki Bahu. Beliau memiliki sifat ksatria, setia kepada pimpinan, lembut tutur katanya dan juga pekerja keras. Karena sifat inilah maka Ki Bahu banyak mendapat simpati dari berbagai kalangan. Perjalanan rombongan sampailah di sebuah hutan di daerah Kendal. Kemudian di sekitar hutan inilah mereka beristirahat.


“Wahai sahabat-sahabatku,” titah Pangeran Benowo. “Karena perjalanan yang kita tempuh sudah cukup jauh maka kini saatnya kita beristirahat untuk beberapa saat.” Ki Bahu dan yang lain mengikuti titah tersebut dengan legawa. Tanpa disuruh Ki Bahu mengerjakan segala hal yang diperlukan selama mereka beristirahat. Seperti membersihkan tempat di bawah pohon rindang untuk beristirahat sang Pangeran. Setelah itu Ki Bahu dan sahabat yang lain mencari segala keperluan yang dibutuhkan. Ada yang mencari buah-buahan, umbi-umbian ada pula yang mencari ranting-ranting kering guna menyalakan api unggun untuk mengusir hawa dingin. Ketika malam menjelang Ki Bahu bekerja keras membuat tenda peneduh dari kulit kayu dan daun-daun kering. Tenda darurat yang dipakai sekedar untuk beristirahat agar terhindar dari terpaan hawa dingin dan hujan. Tentunya pekerjaan itu juga dibantu oleh sahabat-sahabat lainnya. Meskipun siang harinya Ki Bahu sudah bekerja keras namun malam hari tak pernah melupakan kewajibannya bermunajat kepada Sang Pencipta. Sebagai hamba ia senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Tuhan Yang Esa. Apa yang ia pikirkan tidak hanya kesenangan hidup di dunia saja melainkan juga kebahagiaan di akhirat kelak. Di setiap sepertiga malam Ki Bahu menyempatkan diri untuk melakukan sembahyang atau shalat tahajud. Dengan tahajud Ki Bahu merasakan ketenangan jiwa dan memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk menatap hari esok. Keyakinan dan keimanannya semakin tebal. Hingga penduduk di sekitar tempat singgahnya banyak yang bersimpati dengannya. Setiap hari selalu ada penduduk yang bertandang menemui Ki Bahu untuk menimba ilmu. Bahkan ada pula yang datang untuk mengasah kemampuan kanuragan kepadanya. Setelah beristirahat beberapa lama waktunya Pangeran Benowo bermaksud melanjutkan perjalanan. “Wahai sahabat-sahabatku semua,” Pangeran Benowo memulai percakapan. “Sendika dawuh Pangeran,” jawab para sahabat serempak. “Kini tiba saatnya aku harus melanjutkan perjalanan ke arah barat.” Semua terdiam dan menyimak perkataan sang pangeran. “Namun dengan melihat antusiasnya penduduk sekitar daerah ini dalam belajar keilmuan kepada Ki Bahu maka dengan berat hati aku harus merelakan diri untuk Ki Bahu tetap tinggal di sini. Pemikiran dan keilmuan Ki Bahu banyak dibutuhkan oleh mereka.” “Segala titah Pangeran siap saya laksanakan,” jawab Ki Bahu. “Maka dari itu mulai sekarang wilayah hutan Kendal ini aku pasrahkan pengelolaanya kepadamu, Ki,” lanjut Pangeran.


“Siap Pangeran. Dengan senang hati.” Keesokan harinya rombongan berangkat ke arah barat dan meninggalkan Ki Bahu sendirian di hutan Kendal. Sepeninggal rombongan Ki Bahu segera menyusun rencana untuk memajukan masyarakat di sekitar hutan tersebut. Pertama yang dilakukan adalah membuka hutan (babad alas) bersama penduduk sekitar. Kemudian bergotong royong mendirikan bangunan berbentuk balai untuk pertemuan. Berhari-hari bahkan berminggu-minggu aktivitas membuka lahan itu dilakukan bersama-sama. Kayu hasil tebangan hutan dikumpulkan untuk dibuat gubug dan pesanggrahan. Beberapa rumah juga didirikan di sekitar pesanggrahan tersebut. Siapapun yang datang ke lahan baru disambut dengan ramah dan tangan terbuka. Akhirnya banyak penduduk yang berdatangan ke wilayah tersebut. Lama-kelamaan wilayah Kendal semakin ramai dan mengalami perkembangan yang bagus. Melihat perkembangan itu Panembahan Senopati Mataram merasa bangga. Kemudian sebagai ucapan terima kasih Ki Bahu diberi hadiah tanah perdikan di wilayah Pekalongan. Setelah usia udzur Ki Bahu berniat untuk uzlah atau menyepi ke tanah perdikannya itu. Tujuannya adalah untuk lebih berkonsentrasi dan mendekatkan diri kepadaAllah SWT. Beliau ingin menjadi hamba Allah yang selalu bisa berkasih-kasihan dengan sang Pencipta setiap saat. Masyarakat sekitar tempat ber-uzlahnya Ki Bahu pun menyebut Ki Bahu sebagai hamba yang kinasih (dikasihi oleh Allah). Lama-kelamaan kata kinasih atau kekasih inilah yang kemudian dikenal dengan istilah kesesih. Berharap tempat kesesih tersebut akan selalu makmur maka ditambahlah dengan kata rejo. Akhirnya jadilah nama Desa Kesesirejo. Demikian asal-usul nama Desa Kesesirejo di Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang yang memiliki kandungan makna atau harapan agar masyarakatnya menjadi masyarakat yang selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan makmur kehidupan sehari-harinya. Selanjutnya tempat ber-uzlahnya Ki Bahu sampai sekarang tetap banyak dikunjungi atau diziarahi oleh penduduk sekitar dan juga luar daerah. Tempat itu dikenal dengan Pajimatan Bahurekso yang letaknya di pinggir sungai layangan Desa Kesesirejo Kecamatan Bodeh Pemalang. Selesai


Tentang Penulis WilarWigen adalah nama pena dari seorang pendidik di sebuah sekolah dasar di wilayah Bodeh kabupaten Pemalang. Hobbi menulisnya telah ditekuni sejak duduk di bangku sekolah dasar. Beberapa tulisannya dimuat di majalah anak. Saat menjadi koresponden majalah wanita Islam untuk karesidenan Surakarta hasil liputannya diterbitkan di Majalah Wanita Islam UMMI dan majalah ANNIDA. Saat ini ia dipercaya menjadi ketua Forum Pena Guru Literasi PGRI kabupaten Pemalang yang dikukuhkan oleh Dr.H.Muhdi, S.H.,M.Hum. di balairung SMA Taruna Magelang tahun 2022. Lebih jauh tentang penulis bisa ditelusuri di fb dan ig @wilarwigen


JANJI ULI SI ULAT BULU Oleh: Very Ambarwati Disebuah pohon kecil terdapat dua ekor ulat bulu.Ula dan Uli namanya.Kedua ulat bulu ini rakus daun-daun.Mereka tumbuh menjadi ulat bulu yang gemuk.Ula hanya memakan daundaun yang ada pada ujung-ujung ranting pohon tersebut.Sedangkan Uli selain makan daundaun,ia juga mulai bergerak pada akar dan batang pohon tersebut untuk memakan sari patinya.Ula sudah sering mengingatkan Uli untuk tidak melakukannya. “Jangan Uli!Jangan memakan akar dan batang pohon ini!Nanti pohon ini roboh dan mati.Kita harus berpindah lagi pada pohon yang lain.Ini sudah ketiga kalinya kita berpindah pohon karena kerakusanmu.” “Ah…kau memang cerewet Ula.Sari pati pada akar dan batang pohon ini sangat lezat.Aku tidak tahan untuk tidak memakannya,”jawab Uli tidak mempedulikannya. Begitulah setiap hari, Uli memakan akar dan batang pohon sampai-sampai pohon tersebut roboh dan mati karena telah kehabisan sari patinya.Akhirnya yang dikhawatirkan Ula terjadi.Mereka harus pindah pohon baru lagi. Sekian lama menjadi ulat mereka mulai babak baru menjadi kepompong.Mereka akan berpuasa menjadi kepompong kurang lebih 12 hari.Sebelum menjadi kepompong mereka berjanji untuk saling bertemu kembali setelah menjadi kupu-kupu. Siang,malam,hujan panas mereka lewati tanpa ada keluhan. Pada tahap ini,ulat akan mencerna dirinya sendiri menggunakan enzim dalam dirinya yang nantinya akan membentuk dirinya menjadi kupu-kupu. Ulat akan menyiksa dirinya supaya mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Mereka menyisakan bagian saraf neuron yang nantinya masuk dan tetap tersimpan dalam otak kupu-kupu. Selain saraf neuron mereka juga menyisakan sel embrio yang masih utuh. Sel inilah yang digunakan ulat untuk proses pembentukan tubuh kupu-kupu. Setelah 12 hari berlalu, kepompong siap menjadi kupu-kupu. Mereka membutuhkan energi yang sangat besar untuk bisa keluar dari kepompong tersebut. Demikian pula Ula dan Uli. Mereka menggunakan semacam cairan dalam dirinya untuk melunakkan cangkang kepompong tersebut. Kemudian mereka menggunakan cakarnya untuk merobek kepompong tersebut. Tetapi belum sempat merobek kepompong tersebut, datanglah anak kecil yang merasa kasihan dengan kepompong Uli.Ia merobekkan begitu saja kepompong Uli agar ia dapat keluar dari kepompong dengan mudah.


Benar saja Uli begitu mudah keluar dari kepompongnya. Sedangkan Ula harus bekerja keras mengeluarkan dirinya dari kepompong. Setelah berhasil keluar dari kepompong Ula mencoba mengeringkan dan mengembangkan dirinya. Ia merasa tubuhnya sangat ringan. Mulailah ia mengepakkan sayapnya. Sayapnya sangat indah. “Akhirnya….aku mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik.Aku punya sayap.Aku bisa terbang!” teriak Ula dengan gembira. Ia mulai kehidupan barunya setelah bersusah payah.Ia terbang dari satu kembang ke kembang lainnya mengisap nectar bunga yang lezat. “Srut..srut…Hemm…lezat sekali sari bunga ini.” Setelah memulihkan tenaganya dengan menghisap sari bunga,ia mulai ingat akan perjanjiannya dengan Uli, sahabat ulatnya dulu. “Apa kabarnya Uli? Pasti dia sudah jadi kupu-kupu yang cantik.Aku akan menemuinya,pasti tidak jauh dari tempatku ini.” kata Ula dalam hati. Ula kemudian berkeliling mencari Uli. Banyak kupu-kupu di tempat tersebut.Ia mulai bertanya satu-satu tentang keberadaan Uli. Mereka tidak tahu keberadaannya. “Kemana gerangan Uli sahabatku? Diantara sekian banyak kupu-kupu yang aku tanyai kenapa tidak ada yang tahu?”gumam Ula. Setelah berhari-hari pencariannya, Ula hampir menyerah. Hingga kemudian dia terbang rendah.Ia menemukan seekor kupu-kupu yang sedang merangkak diatas tanah. Ia sedang menuju bunga krokot atau bunga Pukul Sembilan yang bertebaran disekitarnya. Ia heran kenapa kupu-kupu tersebut tidak terbang. Padahal kupu-kupu itu mempunyai sayap yang cantik seperti dirinya. Kemudian ia mendekati kupu-kupu tersebut. “Hai kawan,sedang apakah kau disini? Kenapa engkau tidak terbang seperti kupu-kupu yang lain?” tanya Ula kepada kupu-kupu tersebut. “Aku tidak bisa terbang seperti kupu-kupu yang lain.” jawabnya. “Tapi kenapa? Apakah kau sakit?” “Tidak..aku sehat! Waktu itu ketika akan keluar dari kepompong ada anak kecil yang merasa kasihan denganku dan merobekkan kepompongku. Aku dengan mudah dapat keluar kepompong. Aku mencoba mengepakkan sayap pertamaku. Rasanya sangat berat. Berkali-kali ku coba, masih saja seperti itu. Ternyata cairan yang seharusnya membasahi sayapku telah tumpah dari kepompongku bersama dengan disobeknya kulit luar kepompongku. Cairan itu yang seharusnya menguatkan sayapku dan membuatku mampu terbang. Aku menangis menerima kenyataan bahwa aku tetap tidak bisa terbang setelah menjadi kupu-kupu.” jelasnya sambil terisak.


Ula minta maaf karena pertanyaanya membuat kupu-kupu itu jadi sedih. “Maafkan aku kawan, karena aku kamu jadi bersedih dan ingat masa itu.” “Tidak apa-apa. Aku malah jadi lega karena telah menceritakannya kepadamu. Selama ini aku sangat tertutup dengan siapapun karena kekuranganku. Tapi aku merasa aman bercerita padamu. Kamu seperti teman ulatku dulu. Namanya si Ula. Aku dan dia berteman dan berjanji untuk bertemu kelak ketika kami sudah menjadi kupu-kupu.” “Ja…jadi….kamu Uli?” “Kamu kok tahu?” “Aku Ula.” Ia meneteskan air mata dan memeluk sahabatnya itu. Akhirnya kedua sahabat itu bertemu. Walaupun dalam kondisi yang tidak ada dalam bayangan mereka masingmasing. Ula sangat prihatin dengan kondisi Uli. “Ula kondisiku seperti ini juga karena keserakahanku waktu menjadi ulat dulu. Aku tidak hanya memakan daun tapi juga memakan batang dan sari pati pohon. Sehingga pohon yang kita tempati sampai mati. Mungkin ini adalah karma yang diberikan Tuhan atas kerakusanku. Sekarang walaupun telah menjadi kupu-kupu aku tidak mampu terbang.” “Sabarlah Uli,kawanku.Tidak usah disesali apa yang telah terjadi. Sekarang kita harus menjadi lebih baik. Karena waktu hidup kita tidak terlalu lama, kita hanya mampu melakukan kebaikan bagi sesama makhluk hidup. Kita tidak boleh semena-mena kepada siappun agar hidup kita yang singkat dapat memberikan manfaat.” “Benar Ula.. Aku akan mencoba menjadi lebih baik dan melakukan hal yang bermanfaat meskipun aku tidak bisa terbang,” janji Uli. Tentang Penulis Very Ambarwati,S.Pd SD, penulis lahir di Temanggung tanggal 4 Februari 1988. Sekarang berprofesi sebagai kepala sekolah di SDN 1 Gesing Kec.Kandangan, Temanggung. Menyelesaikan pendidikan SD Negeri 1 Ketitang (1993-1999), SMP N 1 Jumo (1999-2002),


SMA N 1 Candiroto (2002-2005). Kemudian D2 PGSD Universitas Muhammadiyah Magelang (2005-2007), meneruskan s1 PGSD Universitas Terbuka (2009-2011). Mengajar di SD Negeri 2 Kertosari, Kecamatan Jumo sejak tahun 2010 sampai 2023. Kemudian mutasi ke SD Negeri 1 Gesing sejak Juni 2023 sebagai kepala sekolah. Bersama guru pejuang literasi pernah menulis antologi puisi “Cintamu Semangat Pagiku” serta pernah menulis kumpulan antologi cerpen berjudul “Menjemput Jingga di Kaki Langit” .Email : [email protected] AIR MATA ZHIA Oleh: Very Ambarwati Tok…tok….Tiba –tiba pintu kelas ada yang mengetuk.Anak-anak kelas 3 Sekolah Dasar itu saling celingukan sambil berbisik-bisik. “Silahkan masuk,” bu guru mempersilahkan masuk kepada pak Marno penjaga sekolah yang tadi mengetuk pintu. “Ada yang ingin bertemu Zhia bu,” kata pak Marno “Oh ya, Zhia silahkan ikut Pak Marno. Ada yang ingin bertemu denganmu.” “Baiklah.” Zhia segera beranjak dari tempat duduknya mengikuti pak Marno. Pak Marno mengajak Zhia ke ruang tamu. Ruangannya terletak di samping kantor guru. Diruang tamu itu telah menunggu sosok perempuan yang sangat Zhia rindukan selama ini. “Monggo Mbak Zhia. Bapak antarkan sampai sini ya?” ucap pak Marno. “Ya Pak,terimakasih.”


Sesampai di depan pintu Zhia hanya terpaku berdiri melihat sosok perempuan yang berlari dan tiba-tiba memeluknya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena telah lama tidak bertemu, Zhia merasa kikuk bertemu dengan sosok wanita cantik ini. Ada rasa bahagia, haru, sedih, kecewa. Semuanya campur aduk jadi satu. Tak terasa air matanya menetes ketika mendengar lembutnya suara wanita itu. “Assalamualaikum,putriku yang cantik…” Kemudian didudukannya Zhia di kursi. Ia menghapus air mata Zhia dengan lembut. Walaupun ia sendiri menahan air mata yang bersembunyi dipelupuk matanya. Ia tidak ingin putrinya tahu dia menangis. “Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya ibu Zhia memulai percakapan. “Aku sehat Bu. Ibu kemana saja? Kenapa baru menemuiku? Aku kangen,” kata Zhia lirih masih degan terisak. “Maafkan Ibu, Nak. Bukannya Ibu tidak ingin menemuimu. Hanya saja …” ibunya tidak mampu meneruskan kata-katanya. “Yang penting Ibu sekarang ada disini bersama Zhia. Kita sekarang bersenang-senang saja ya? Tidak usah memikirkan hal-hal yang membuat kita sedih.” Ibu Zhia sudah seringkali berusaha menengok Zhia. Sejak perpisahannya dengan ayah Zhia, Zhia hidup bersama ayahnya. Ibunya tidak sekalipun diijinkan untuk menemui Zhia. Ayah dan ibu Zhia berpisah saat Zhia masih duduk dibangku TK. Entah karena masih sakit hati atau menyesali perpisahannya, sampai sekarang ayah Zhia bersikeras melarang anaknya menemui ibunya. Orangtua ayahnya yaitu kakek nenek Zhia juga setali tiga uang. Mereka melarang Zhia menemui ibu dan keluarga ibunya. Pernah sekali waktu ibunya menemui Zhia di sekolahnya ketika masih TK. Teman-temannya bilang pada nenek dan ayah Zhia, alhasil Zhia dimarahi. Zhia takut. Zhia yang semula ceria berubah menjadi pemalu dan pendiam. Zhia bukan anak yang pandai di kelasnya tapi dia selalu mendapat rangking. Semenjak kejadian itu ia menjadi semakin malas belajar.H ari-harinya banyak digunakan untuk bermain game. Semua fasilitas disediakan di rumahnya baik computer, smartphone atau alat –alat lainnya. Hal ini dilakukan ayah, kakek, dan neneknya agar ia tidak banyak menanyakan tentang ibunya. Saat kenaikan kelas nilainya pun jeblok, ia mendapat rangking 19 dari 25 anak di kelasnya. Zhia jadi senang menyendiri. Ketika teman-temannya bermain, ia lebih suka melihatnya dari jauh. Jika teman-teman mengajaknya bermain, sering dengan halus ia menolak permintaan teman-temannya. “Zhia sudah sarapan?”


“Belum,Bu.” “Kebetulan Ibu bawa makanan kesukaan Zhia. Tada…”dengan senyum merekah sambil membuka wadah bekal makanan dari tasnya. “Ibu suapin ya? Sudah lama Ibu tidak menyuapi Zhia. Ibu kangen. Selalu kangen dengan momen ini,” kata ibunya sambil menahan air mata yang dari tadi meronta untuk keluar. “Masakan ibu memang selalu enak! Sudah lama Zhia tidak makan masakan Ibu.” Senyumnya mengembang sambil mengunyah makananya. Rasanya perasaan seperti ini sudah lama sekali ia tak rasakan sejak perpisahan orang tuanya. Ibunya berkaca-kaca melihat anaknya yang terlihat begitu bahagia. Seperti ada seribu sembilu menusuk-nusuk hatinya. Dalam hatinya ia berucap. “Maafkan Ibu Nak. Maafkan ibu yang tidak selalu berada disampingmu. Semoga Allah selalu melindungimu.” Zhia menghabiskan makanan yang dibawakan ibunya dengan lahap. Ibunya bertanya semua tentang kebiasaan Zhia selama ibunya tidak bersamanya. “Apakah Zhia masih ingat ketika dulu Ibu menggendong Zhia sambil bawa motor? Waktu itu mau hujan tapi Zhia sudah sangat mengantuk sampai-sampai Ibu pakaikan jas hujan eh Zhianya tetep merem,” cerita ibunya sambil tangannya mengelus-elus kepala putri cantiknya itu. “Oh ya bu? Sayang ya Zhia sudah lupa!” jawab Zhia dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ayo Bu.Ceritakan lagi Bu!” Ibunya menceritakan tentang Zhia waktu bayi. Zhia mendengarkan cerita ibunya dengan seksama. Sembari mereka bercengkerama meluapkan rasa rindu, ibu Zhia menuturkan beberapa pesan untuk Zhia. “Zhia, kamu anak yang baik Nak. Meski Zhia tidak bersama Ibu, Zhia harus tetap baik. Jangan nakal apalagi dengan ayah, kakek dan nenekmu. Jadilah anak yang sholihah Sayang. Ibu tahu kamu kecewa dengan ayah dan ibumu. Maafkan Ibu Nak. Ibu tidak perlu memberikan alasannya sekarang, kelak ketika kamu sudah besar kamu akan tahu semuanya.” “Insyaallah, Zhia mengerti Bu.” “Tetap doakan Ibu setiap selesai sholat ya? Mulai saat ini Zhia mesti lebih rajin belajar juga rajin berdoa. Bermain boleh tapi harus ingat waktu. Ibu tahu kamu anak yang kuat dan mampu melaksanakan pesan Ibu,” tambah ibunya. Zhia mengangguk-angguk tanda ia mengerti. Mulai saat itu Zhia berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan lebih rajin belajar dan rajin berdoa. Ia ingin membuat bangga kedua orang


tuanya. Ia tidak tahu alasan kenapa ayah dan ibunya memutuskan berpisah tapi ia tahu sebenarnya kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Keadaan saja yang belum memungkinkan mereka bersama. Disisi yang lain ibunya pun berjanji untuk selalu mendampingi Zhia meskipun tidak bersamanya. Ia tahu doanya akan tetap bersama Zhia. Doa seorang ibu kepada anaknya bagaikan doa seorang wali. Tok…tok…tiba –tiba ada yang mengetuk pintu membuyarkan lamunan kedua ibu anak itu. Ibu Sari wali kelas Zhia menemui mereka. Ibunya Zhia dan bu Sari berbincang-bincang banyak hal tentang Zhia. “Bu Sari,saya titip anak saya Zhia.Mohon bimbingan dan arahan untuk Zhia ya Bu,” pinta ibu Zhia. “Iya Bu sama-sama. Sedikit banyak saya tahu persoalan Zhia. Saya akan berusaha semaksimal yang saya bisa untuk Zhia. Semoga persoalan panjenengan segera selesai agar Zhia kembali menjadi anak yang periang seperti sediakala.” “Amin terimakasih Bu.” Setelah itu ibu Zhia berpamitan tidak lupa ia memeluk dan mencium Zhia. Entah kapan ia bisa bertemu dengan anak tercintanya itu lagi. Hanya doa yang bisa ia panjatkan. Semoga ia segera dapat bersama Zhia bukan hanya membersamainya lewat doa. Lekas ada keajaiban yang akan meluluhkan hati mantan suami dan mertuanya sehingga ibu dan anak itu bisa selalu bertemu tanpa takut melukai salah satu pihak. Tentang Penulis Very Ambarwati,S.Pd SD, penulis lahir di Temanggung tanggal 4 Februari 1988. Sekarang berprofesi sebagai kepala sekolah di SDN 1 Gesing Kec.Kandangan, Temanggung. Menyelesaikan pendidikan SD Negeri 1 Ketitang (1993-1999), SMP N 1 Jumo (1999-2002),


SMA N 1 Candiroto (2002-2005). Kemudian D2 PGSD Universitas Muhammadiyah Magelang (2005-2007), meneruskan s1 PGSD Universitas Terbuka (2009-2011). Mengajar di SD Negeri 2 Kertosari, Kecamatan Jumo sejak tahun 2010 sampai 2023. Kemudian mutasi ke SD Negeri 1 Gesing sejak Juni 2023 sebagai kepala sekolah. Bersama guru pejuang literasi pernah menulis antologi puisi “Cintamu Semangat Pagiku” serta pernah menulis kumpulan antologi cerpen berjudul “Menjemput Jingga di Kaki Langit” .Email : [email protected]


Kenangan di Balik Jendela Kelas Oleh: Heri Nugroho Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kelas, memancarkan sinarnya yang hangat dan menghidupkan suasana ruangan yang dipenuhi dengan meja-meja dan kursi-kursi kayu. Hari itu adalah hari pertama bagi seorang gadis bernama Aisyah di sekolah baru. Rasa gugup menggelayuti hatinya, membuat langkahnya terasa berat saat melangkah masuk ke dalam kelas. Aisyah menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa cemas yang menggelayut. Ia duduk di bangku paling belakang, berharap bisa menyembunyikan diri dari pandangan teman-teman barunya. Namun, tidak ada yang bisa menghalangi rasa ingin tahu seorang anak. Seorang gadis dengan rambut dikepang dua mendekatinya dengan senyuman ramah. “Hai, aku Lova. Kamu murid baru, kan?” sapanya. Aisyah mengangguk pelan, “Iya, aku Aisyah.” Hari-hari berlalu, dan Aisyah mulai menemukan kenyamanan dalam rutinitas sekolahnya. Dia berteman baik dengan Lova dan beberapa teman lainnya. Mereka sering menghabiskan waktu istirahat di taman sekolah, berbagi cerita dan tawa. Namun, ada satu hal yang selalu menarik perhatian Aisyah jendela kelas mereka. Dari tempat duduknya, Aisyah bisa melihat pemandangan indah di luar jendela. Pepohonan yang rindang, burung-burung yang berkicau riang, dan langit biru yang luas. Setiap kali pelajaran berlangsung, pikirannya sering melayang ke luar jendela, memikirkan dunia di luar sana. Bagi Aisyah, jendela itu adalah simbol dari harapan dan mimpi-mimpinya.


Suatu hari, ketika sedang mengerjakan tugas di perpustakaan, Aisyah menemukan sebuah buku lama berdebu di pojok rak. Buku itu berisi kumpulan puisi tentang kehidupan di sekolah. Salah satu puisi menarik perhatiannya: "Di balik jendela kelas, Kulihat dunia yang luas, Harapan dan mimpi, Menanti tuk dijelajahi." Puisi itu sangat menggugah hati Aisyah. Ia merasakan setiap kata seperti menyuarakan perasaannya sendiri. Dari hari itu, Aisyah mulai menulis puisi-puisinya sendiri. Dia menulis tentang teman-temannya, guru-gurunya, dan tentang jendela kelas yang selalu menjadi saksi bisu mimpinya. Waktu berlalu, dan tanpa terasa tahun ajaran hampir berakhir. Aisyah kini menjadi gadis yang lebih percaya diri dan ceria. Hari terakhir sekolah tiba, dan semua siswa berkumpul untuk acara perpisahan. Aisyah mendapat kejutan ketika Lova dan teman-teman sekelasnya memberikan sebuah buku kecil kepadanya. Buku itu berisi kumpulan puisi yang pernah ditulis oleh Aisyah, disertai dengan pesan-pesan manis dari teman-temannya. “Kami akan merindukanmu, Aisyah. Teruslah menulis dan mengejar mimpimu,” ujar Lova dengan mata berkaca-kaca. Aisyah tersenyum haru. Dia memeluk teman-temannya erat-erat. Di dalam hatinya, dia tahu bahwa kenangan dan pelajaran dari sekolah ini akan selalu menjadi bagian dari dirinya. Dan setiap kali dia melihat jendela kelas, dia akan selalu teringat pada tempat di mana semua mimpinya dimulai


Tentang Penulis Heri Nugroho, adalah seorang pendidik yang telah bekerja selama 19 tahun di sekolah dasar. Saya termotivasi menjadi penulis karena ingin bermanfaat bagi murid. Saya ingin menjadi inspirasi bagi mereka. BALADA IKAN UCENG Oleh: Joni Mulyono Sebuah istilah Jawa, “mburu uceng kelangan deleg"...Uceng adalah ikan air tawar yang hidup di sungai yang airnya mengalir agak deras dengan dasar bebatuan sebagai tempat perlindungannya. Ukuran tubuhnya kecil, tidak bersisik, cenderung licin bila ditangkap, panjang maksimal hanya mencapai 10 cm saja. Sedangkan 'deleg' adalah ikan gabus, ikan gabus ukurannya bisa berlipat lipat dari ikan uceng. Jadi arti istilah di atas adalah banyak orang


yang mengejar sesuatu yang kecil tetapi kehilangan miliknya yang lebih besar. Memang untuk ikan uceng sendiri memiliki cita rasa yang enak, gurih, tak kalah dari rasa jenis ikan tawar lainnya. Di daerahku Temanggung, masih banyak habitat ikan uceng. Sungai Progo menjadi rumah yang nyaman bagi ikan uceng. Derasnya arus sungai dan masih banyaknya batu yang masih terjaga menjadi tempat ikan uceng berlindung. Meski saat ini keberadaan ikan uceng terancam dengan adanya ikan predator, yaitu hampala atau yang biasa disebut ikan palung. Tidak hanya di sungai Progo saja, hulu – hulu Sungai Progo pun demikian, salah satunya Sungai Tingal yang berada di Kaloran. Entah kenapa ikan uceng selalu terbawa dalam setiap memoriku, bukan karena rasanya yang memang lezat, tetapi ada peristiwa yang tak pernah aku lupa. “Di... ada acara nggak? Mancing yuk!” Siang itu Tarjo ke rumahku mengajak mancing. Sebenarnya hari itu agak males untuk memancing, karena beberapa ini aku selalu boncos. Boncos adalah istilah bagi para pemancing yang tak dapat hasil pancingan. Ikan lagi susah dipancing, sudah pada pintar kali ya ikannya?? Apalagi mau mancing nilem susah sekali. Kata beberapa teman, ini disebabkan karena adanya ikan predator, ikan palung yang mengusik ketenangan ikan nilem hingga tidak mau makan umpan. Alternatif memancing, kalau nggak ikan wader ya ikan uceng. Tetapi itu juga sulit jika di sungai itu sudah ada ikan predatornya. “Mancing apa Jo? Yang lagi makan di mana nih?” sahutku. “Mancing uceng saja, karena saat ini ikan nilemnya lagi susah...” Tarjo menimpali. Ikan nilem atau juga banyak orang menyebutnya nilem adalah ikan bersisik, sejenis wader dengan mulut menghadap ke bawah, biasanya untuk umpan, bisa pakai roti atau lumut, ukurannya bisa mencapai lima jari lebih. “Oke...” jawabku. Aku pikir, benar juga kata si Tarjo. Mancing uceng, tapi siapa tahu nanti dapat ikan nilem. Soalnya umpan untuk mancing uceng, sama dengan untuk mancing nilem. Kemudian aku pun mempersiapkan semua alat pancing, umpan dari roti yang dilumatkan, dan tak lupa juga bawa bekal air minum untuk yang mancing he.. he..he. Kali ini aku memancing dengan teknik “nutul”, karena melihat kondisi air saat itu tidak begitu jernih, cenderung agak keruh kecoklatan. Biasanya kalau kondisi air jernih, aku mancing dengan teknik kumbul atau apung. Teknik nutul yaitu mancing dengan teknik dasaran, panjang senar disesuaikan dengan kedalaman air dengan diberi pemberat yang biasa disebut timbel. Panjang joran juga tidak terlalu panjang disesuaikan dengan kedalaman air saja. Dan juga aku pasang bom. Bom di sini bukan bom yang bisa meledak ya! Bom dalam memancing adalah suatu wadah yang dilubangi, biasanya pakai toples bekas permen yang diisi makanan


ternak kemudian ditenggelamkan ke dasar sungai. Tujuannya adalah untuk mengundang ikan datang di area memancing. “Mau pasang di mana Jo bomnya?” kataku sesampai di sungai. Sambil melihat-lihat tempat mana yang potensial untuk dapat ikan. Aku bersama Tarjo mancing di Dung Gondhang, sebuah tempat di aliran Sungai Tingal. Sungai Tingal mengalir dari desa Gandon sampai Geneng Temanggung. Berdasarkan dari cerita, banyak spot mancing yang potensial tapi ada penunggunya. Entah penunggunya itu siapa aku nggak tahu. Pikirku penunggunya itu ya ikan-ikan itu. “Sini aku pasangkan, aku sudah tahu tempatnya ikan uceng bersembunyi...!” jawabnya seraya mengambil bom yang sudah aku siapkan. Entah kenapa suasananya begitu berbeda kurasakan setibanya di sungai. Seperti mendengar orang berbincang-bincang, padahal di sungai hanya aku berdua dengan Tarjo. Berbeda dengan ketika aku mancing di tempat itu sebelumnya, tapi aku diam saja, mungkin ini perasaanku saja. “Sudah Jo?” sepertinya Tarjo telah selesai memasang bom. “Saatnya beraksi.....!” sahut Tarjo. Kami pun mulai cari posisi yang nyaman untuk memancing. “Jo kamu bilang apa tadi?” tanyaku kepada Tarjo karena aku mendengar sesuatu tapi tidak jelas. “Eh.. aku nggak bilang apa-apa, wah..belum-belum sudah ngelindur...” ledek Tarjo. Dari saat itu perasaanku tambah tak nyaman, mungkin... “Strike.” Tiba-tiba pikiranku dikejutkan teriakan Tarjo yang sudah mulai dapat ikan. Aku masih santai, baru satu kok... “Strike.... dapat lagi Di... ayo mana kamu? Jangan-jangan umpanmu sudah expired...ha...ha..ha.....!” Ejekan Tarjo tak ku hiraukan, perasaanku masih tidak enak. Sudah 10 tarikan lebih Tarjo dapat ikan, aku satu pun belum dapat juga, boro-boro dapat, umpanku disentuh saja tidak. Mungkin ini harinya Tarjo, dia dapat ikan seperti tinggal ambil saja. Hari yang tidak menguntungkan bagiku, atau karena aku kurang konsentrasi yang disebabkan halhal aneh tadi sebelum memancing. “Di... tempatku sudah tak muat lagi...” sambil mengangkat bronjong tempat ikan yang memang sudah penuh dengan ikan uceng. “Wah hebat kamu Jo..” sahutku. “Sudah kita pulang saja toh kamu sudah dapat banyak!” pintaku pada Tarjo. “Aku mau pulang dulu, ambil bronjong lagi, kamu mancing lagi saja, kan masih siang..” saran Tarjo padaku. Aku mulai pasang umpan lagi seperti mengamini perkataan Tarjo. Mungkin aku akan dapat ikan ikan uceng ketika ditinggal Tarjo pulang. Tapi apa yang aku pikirkan tidak sesuai angan-angan, tak seekor pun umpanku dimakan ikan. Aku buka HP-ku, kulihat waktu baru jam 4 sore.


“Dapat berapa Di ?” Lamunanku dikejutkan suara Tarjo yang ternyata sudah sampai lagi. ”Boncos Jo....” sahutku. “Ha..ha..ha padahal sudah kuberi kesempatan lho....” jawab Tarjo. Memang harusnya aku juga dapat, mancing di tempat sama, umpan sama bahkan kedalamannya pun sudah disamakan, tapi aku tak dapat seekor pun. Sedangkan Tarjo sudah bawa pulang ikan satu bronjong. “Aneh...” pikirku. Aku melihat Tarjo sama seperti tadi, hampir setiap memasang umpan selalu dapat, hingga hampir memenuhi tempatnya kembali “Sudah sore Jo, sudah mau magrib pulang yo! Lagian kamu sudah dapat banyak. “Bentar Di....ni ikannya lagi makan-makannya..!” masih memegang joran menunggu ikan makan. “Sudahlah ayo kita pulang saja, dari tadi perasaanku kok tidak enak.” Aku mulai mengemas alat-alat pancingku. “Itu kan perasaanmu saja.” Sahut Tarjo juga sambil mengemas jorannya. “Lho kamu pakai umpan apa? Kok tak ada satu pun ikan yang menyangkut. “Sama to...pakai roti tapi memang aneh kok bisa ya aku tak dapat sama sekali, sedang kamu sampai ambil lagi tempat ikanmu ha..ha..ha...” jawabku sambil tertawa. Memang kadang sudah hal biasa ketika mancing berdua atau bertiga, dalam lokasi yang sama, umpan sama tapi yang dapat banyak hanya satu orang. Yang lain paling dapat dua atau empat itu saja. Tapi kali ini aku merasa aneh, ini kok aku sama sekali tak dapat. Dari situ perasaanku tambah tidak enak dan kurasakan janggal. Waktu sudah mau menjelang magrib tapi aku tak satu pun ikan yang menghampiri umpanku. “Sudah mau magrib ini Jo... pulang saja yo!” ajakku pada Tarjo. Lagian perasaanku kok tidak seperti biasanya, seperti ada yang aneh gitu....” tambahku. “Sebentar.... lagi seru nih!” jawab Tarjo sambil memperhatikan entul di ujung jorannya. “Lagi makan makannya nih...” timpalnya lagi. “Iya, tapi perasaanku ada yang aneh tak seperti biasanya. Aneh seperti apa yang terjadi saat ini, kau begitu mudahnya dapat ikan sebanyak itu sedangkan aku tak satupun.” jelasku “Jangan- jangan...” “Jangan- jangan ada penunngunya ya....? kata Tarjo sambil tertawa memotong ucapanku yang belum selesai. “Ya sudah kalau kamu belum mau pulang... tapi ingat ini sudah sore, mending kita pulang saja..” jawabku. “Kalau kamu mau pulang dulu ngga apa-apa, aku tak lanjut lagi mumpung ikannya mau makan ni....” kata Tarjo sambil melepas ikan dari mata kailnya.


“Ya wes aku tak pulang dulu, jangan malema-malam pulangnya nanti dicari ibumu lho... Aku pulang dulu Jo..” kataku pamitan sama Tarjo. Aku pun segera meninggalkan dung Gondhang, pulang meski harus berjalan kaki karena tadi aku berangkat boncengan sama Tarjo. Tidak begitu jauh sih, lokasi mancing dengan rumahku, kira-kira 10 menit dengan berjalan kaki. “Hitung-hitung olahraga..” pikirku. Baru saja aku selesai mandi, aku dikejutkan dengan panggilan orang tua Tarjo. “Di...Hadi...itu tolong Tarjo...dia ngelamun terus, tatapannya kosong....tadi kenapa?” tanya ibu Tarjo. “Tarjo kenapa Bu? Tadi saya pulang duluan, Tarjo saya ajak pulang bareng tidak mau..” jawabku. Aku bergegas ke rumah Tarjo diiringi ibunya Tarjo. Dan benar saja apa yang dikatakan orang tuanya. Dengan aku saja yang baru beberapa menit bersama, juga tak mengenali. Suasana di rumah Tarjo begitu mencekam karena Tarjo mulai meracau nggak jelas dan tingkahnya seperti orang kebingungan. Ditanya juga diam saja, malahan ia menatap dengan tajam seperti orang menantang mau berkelahi. Kadang tingkahnya aneh. Segala upaya telah dilakukan, diberi minyak angin, dikerok, mungkin Tarjo masuk angin atau kelelahan. Tapi semua tidak ada perkembangan. Kemudian ada pemuka agama yang datang untuk mendoakan Tarjo, tapi juga tak ada reaksi malah semakin menjadi. Mondar-mandir sendiri di dalam rumah, pokoknya seperti orang linglung. “Ada apa ini kok rame-rame..” Tiba-tiba seisi rumah dikejutkan dengan kedatangan mbah Pawiro. Mbah Pawiro adalah sesepuh di desa kami. Selain memang sudah sepuh mbah Pawiro dikenal sebagai orang pintar. Tapi tidak ditonjolkan hanya kalau ada orang yang benar-benar membutuhkan, tanpa diminta pasti dibantunya. “Itu tadi Tarjo sama Hadi habis pulang dari mancing kok Tarjo terus jadi begini..” jelas orang tua Tarjo. Mbah Pawiro mendekatiku kemudian berbisik, “Ceritanya bagaimana? Tadi mancing di mana?” Di Dung Giondhang Mbah..mancing ikan uceng..” jawabku Mbah Pawiro keluar rumah. Semua orang memperhatikannya, tapi tak tahu apa yang beliau lakukan. “Di.... sini!” panggil mbah Pawiro. “Ya Mbah...” sahutku, sambil menghampiri mbah Pawiro. “Itu ikan yang Tarjo peroleh dikembalikan, mungkin ada yang terbawa...” perintah mbah Pawiro.


“Dikembalikan ke mana Mbah?” tanyaku sambil garuk kepala yang tidak gatal. “Ya dikembalikan ke asalnya..!” lirih suara mbah Pawiro menjawab. “Tapi sudah magrib Mbah saya takut..” jawabku beralasan. “Ya kamu ajak teman sana mumpung masih ada kesempatan..” jelas mbah Pawiro “Kesempatan apa Mbah..? tanyaku sekali lagi “Wis, sana cepat tidak usah banyak tanya, kamu dijelaskan ya nggak mudeng..” jawab Mbah Pawiro sambil duduk di kursi teras rumah. “Iya Mbah..” jawabku langsung menuju belakang. Betapa terkejutnya aku melihat ikan uceng di wadah seperti cendol banyak banget. Aku mancing belum pernah dapat ikan sebanyak ini. Sambil memindahkan ikan ke kantong plastik untuk aku bawa kembali ke sungai, hatiku masih bertanya-tanya mengenai perkataan mbah Pawiro tadi. Kok katanya ada yang terbawa, yang terbawa itu apanya isinya juga ikan semua. Dan masih ada kesempatan, kesempatan apa ya?? Ah entahlah, aku turuti saja perintah mbah Pawiro. Mungkin nanti aku akan menemukan jawabannya sendiri, nanti. Setelah selesai memindahkan aku segera bergegas ke sungai. Aku berangkat sendiri, tidak mengajak teman seperti saran mbah Pawiro tadi. Tiba-tiba aku punya keberanian untuk berangkat sendiri Setibanya di sungai aku lepaskan semua ikan uceng hasil pancingan Tarjo tadi. Aneh memang aneh, waktu sudah lewat magrib tapi suasana di sungai masih terang, tidak seperti biasanya, menjelang magrib saja sudah agak gelap, tapi ini beda dari biasanya. Ketika ikanikan kulepas, seperti ada sesuatu, ikan-ikan itu tidak langsung berenang ke dasar sungai tapi seolah-olah bercengkerama di permukaan sambil bermain air, bersama ikan-ikan lainnya. Kembali aku berpikiran mungkin karena masih lemah karena habis dipindahkan dari media yang kecil dan penuh sesak ikan-ikan uceng itu. Dan aku pun segera kembali pulang, untuk melihat bagaimana kondisi Tarjo. Anehnya lagi, tadi sewaktu di sungai suasana masih terang, tapi ketika aku sampai di jalan raya, sudah gelap seperti malam. Padahal jarak sungai ke jalan hanya 2 atau 3 menit saja. Sesampainya di rumah Tarjo, eh... aku malah melihat Tarjo sedang makan dengan lahapnya sambil cerita dengan tetangga yang datang ke rumahnya disertai gelak tawa, seperti tidak ada kejadian aneh yang menimpanya. “Aneh!” pikirku. “Sini masuk Di.. “ mbah Pawiro menyuruhku. Aku duduk di sebelah Tarjo yang masih saja senyum-senyum dan merasa aneh dengan kejadian tadi.


Tarjo pulih dan sadar seperti sedia kala bersamaan ikan-ikan uceng yang aku lepas lagi di sungai, cerita mbah Pawiro. Entah itu kebetulan atau memang ada dimensi lain yang mengendalikan kejadian ini. Tapi itu benar-benar terjadi. “Sebenarnya bukan ikan uceng yang membuat Tarjo seperti itu, tapi sikap hati. Kadang sifat manusia itu tidak pernah puas, diberi banyak masih kurang. Intinya ketika kita diberi lebih, kita juga harus waspada, waspada di sini lebih diartikan peduli dengan sekitar. Dan ketika kita diberi sedikit bahkan belum dapat apa-apa kita tetap harus berusaha dan bersyukur dengan apa yang telah kita peroleh.” Nasihat mbah Pawiro kepada kami. Terima kasih mbah nasihatnya. Dan mungkin ada benarnya juga pepatah Jawa tadi “mburu uceng kelangan deleg”. Tapi yang ini bukan karena mencari hal kecil terus kehilangan yang besar, tapi ini justru benar-benar kehilangan uceng yang telah ditangkap karena harus dikembalikan ke habitatnya karena keserakahan tadi. Sudah dapat satu bronjong masih pakai acara pulang, ambil bronjong lagi.... Akhirnya dilepas lagi he.he.he... “Itu Jo dengarkan! Kalau yang satu bronjong lagi diberikan aku, mungkin beda kejadiannya...” candaku pada Tarjo. Tarjo hanya senyum-senyum. “Besok masih mau mancing lagi apa tidak, Jo?” tanyaku sambil bercanda Sejak peristiwa itu, Tarjo nggak lagi memancing, mungkin takut ,trauma, atau perasaan apa yang ia rasakan, entahlah. Tapi itu hanya beberapa minggu saja Tarjo tidak memancing, aku lihat dia sudah mau lagi main di sungai. Hanya saja tidak terlalu sore pulangnya, mungkin sudah diperingatkan agar sebelum magrib sudah pulang ke rumah. Memang banyak orang cerita mengenai kemistisan Dung Gondhang, karena belum lama dari peristiwa Tarjo, ada penjala ikan yang menjala di sungai itu malam-malam. Ketika jala dilempar dan ternyata ada sesuatu yang menyangkut, perasaan senang penjala berubah ketakutan ketika yang ia dapat ternyata hanya seekor lele yang kepalanya besar namun badannya hanya berupa duri. Orang menyebutnya lele truno. Dan penjala itu pun pulang, tidak jadi menjala daripada nanti kenapakenapa. Dan hingga saat ini, aku masih merasa aneh dan bertanya-tanya dengan kejadiankejadian itu, aku tak tahu apakah itu akan terulang? Atau hanya sebuah kebetulan yang menjadikan sebuah pelajaran.


PIKNIK SEKOLAH SALSA Oleh : Hidayati Nur “Hore.. kita sampai di kebun binatang..!” demikian sorak sorai anak-anak ketika mereka keluar dari bis.


Bu Sari sebagai guru pendamping kemudian membimbing anak-anak untuk dapat memasuki kebun binatang dengan tertib. “Anak-anak, tetap bergabung dengan rombongan ya, jangan berpencar sendiri sendiri. Area kebun binatang ini luas, jangan sampai ada yang tersesat,” pesan bu Sari kepada anakanak. Mereka menaiki kereta api yang disediakan untuk berkeliling area kebun binatang. Turun dari kereta, anak-anak mulai melihat-lihat binatang yang ada di kebun binatang tersebut. Anak-anak terlihat sangat tertarik dalam mengamati binatang-binatang tersebut. “Lihat Sa.. burung itu paruhnya besar sekali, seperti kantong belanjaan yang sering dibawa emak ke pasar, ha..ha..” kata Vani dengan tertawa. “Itu ada namanya Van, coba baca namanya burung apa,” jawab Salsa. “Burung Pelikan, ternyata namanya burung Pelikan, “ Vania berkata setengah berteriak. Demikianlah, anak-anak begitu gembira dan sangat antusias dalam melihat-lihat binatang di kebun binatang Gembira Loka tersebut. Ada Faisal yang berani berfoto dengan membopong ular walaupun dengan wajah yang terlihat pucat. Ada Hanum yang berfoto dengan mencium burung Kakaktua. Mereka juga menaiki kapal di danau buatan yang ada di kebun binatang tersebut. Pukul 12. 15 Bu Sari memanggil anak-anak untuk berkumpul dan melajutkan perjalanan ke taman bermain Kid Fun. Sampai di taman bermain Kid Fun mereka makan siang kemudian salat duhur. “Anak-anak, setelah makan siang dan salat duhur, kalian boleh bermain di wahana yang ada di area Kid Fun ini. Jangan lupa, tetap berhati-hati ya. Jangan sampai cedera atau ada barang kalian yang hilang, “ pesan Bu Sari. “Baik Bu ..!” jawab anak-anak bersemangat. Di taman bermain Kid Fun, anak anak menaiki wahana-wahana yang sudah disediakan, kemudian mereka pindah ke kolam renang yang ada di sebelah area taman. Pukul empat sore, bu Sari mengumumkan anak-anak untuk segera menyelesaikan renang mereka, segera mandi, salat asar kemudian melanjutkan perjalanan ke Malioboro untuk berbelanja oleh-oleh. Di Malioboro anak-anak dapat membeli oleh-oleh yang akan mereka bawa pulang untuk keluarga di rumah. Dari Malioboro, rombongan melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang anak-anak terlihat capek dan banyak yang tertidur. Namun ada juga yang masih bernyanyi, ngobrol dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Salsa merasa capek, tetapi dia tidak bisa tidur. Dia masih ingat dengan perjalanannya seharian tadi, betapa


gembiranya dia dapat mengikuti piknik bersama teman-teman dan guru-gurunya. Benar- benar sebuah perjalanan yang tidak akan dapat dia lupakan. Selesai Tentang Penulis Penulis yang mempunyai nama lengkap Sri Hidayati Nursa’adah adalah kepala sekolah di SDN 2 Wonocoyo, kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung. Tinggal bersama keluarga tercinta di dusun Mentoroto, Desa Mento, Kecamatan Candiroto.


SEBUAH IMPIAN Oleh: Fitri Aminatul Perjalanan pulang ke desa Setelah 1 bulan diluar kota, Fitri kembali ke desanya untuk mendaftar menjadi Guru TK di sebuah sekolah yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sebelum pulang dia pamit kepada pemilik rumah. “Bapak, ibu, saya pamit pulang dulu” pamit Fitri kepada pemilik rumah. “Baiklah kalau kamu mau kembali, tetapi apa kamu tidak ingin bekerja di pabrik?” Tanya ibu pemilik rumah. “Tidak bu, nanti persyaratan fisik saya kurang pasti kurang tinggi” jawab Fitri. “Ya nanti saya lobikan kalau kamu mau” tawar bu Susi lagi. “Tidak bu, terima kasih atas tawarannya” sanggah Fitri. “Ya sudah kalau itu tekad kamu, hati-hati di jalan ya, tunggu saja travel dating, saya sudah pesankan travelnya” kata bu Susi. “Ya bu, terima kasih atas kebaikan Ibu selama saya di sini” pamit Fitri kepada bu Susi. “Ya , sama-sama” jawab bu Susi. Akhirnya pukul 18.00 WIB travel datang, dan Fitri segera naik ke mobil travel untuk kembali menuju desa asalnya. Perjalanan dari kota ke desanya memakan waktu sekitar 12 jam, karena tidak melewati tol. Pada saat melewati sebuah kabupaten Fitri baru ingat kalau hari itu adalah hari Pramuka yang diperingati setiap tanggal 14 Agustus. Dia merasa haru, karena dulu sewaktu SMA dia tidak pernah absen untuk mengikuti kegiatan Kepanduan. Bahkan selalu ditunjuk untuk ikut membina adik-adik pramuka ditingkat siaga dan penggalang. Dia juga mengikuti Satuan Karya yang ada di bawah naungan Kepolisian yaitu Saka Bhayangkara.


Waktu terus berjalan hingga tiba di terminal Purworejo, dimana dia dioper untuk ganti bis. Dengan penuh keberanian dia turun untuk mencari bis jurusan ke kabupatennya. Ini adalah pengalaman pertama Fitri naik bis antar kabupaten. Sebelumnya dia tidak pernah punya pengalaman naik bus luar kota, karena dia tidak pernah mudik, sekolah juga tidak sampai keluar dari kecamatannya. Akhirnya jam 6 pagi dia sudah masuk di terminal kecamatan Salaman. Fitri masih harus ganti bis lagi untuk sampai di desanya di Borobudur. Dia segera naik bis menuju Borobudur, yang ditempuh sekitar 20 menit. Setelah 20 menit, sampai juga Fitri di terminal Borobudur, dia kemudian naik ojek untuk sampai di rumahnya. Setelah sampai rumah dia sudah disambut oleh orang tuanya. Orang tuanya sangat bahagia sekali ketika melihat Fitri sudah sampai ke rumah dengan sehat dan selamat. Tentang Penulis Keberanian seorang anak perempuan dengan memutuskan untuk kembali ke desanya untuk menjadi seorang guru yang dia impikan, kegigihannya dalam mengejar impian yang sangat menggebu. Dia berharap cita-citanya akan segera terwujudkan di desa tempat tinggalnya itu. Dia juga sudah memimpikan kalau dia akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.


Kompor Gas Oleh: Joko Prasetyo “Ini semua gara-gara kompor gas. Gara-gara kompor gas.” Kang Trimo mengoceh tentang kompor gas lagi. Orang-orang yang mendengarnya sudah jenuh dibuatnya. Di setiap pertemuan dengan tetangga, baik acara resmi kampung, seperti kumpulan RT dan kegiatan yasinan tiap malam Jumat, maupun pertemuan tidak resmi seperti saat mengobrol di pinggir ladang atau kebun kopi. Selalu yang dibicarakan Kang Trimo adalah tentang penggunaan kompor gas yang menggantikan dapur berbahan bakar kayu. “Kamu itu mbok nrimo saja, to, Kang. Kita terima saja apa yang sudah menjadi program pemerintah. Memang sekarang sudah jamannya. Tungku kayu diganti kompor minyak, sekarang diganti lagi kompor gas. Sudah tidak zamannya lagi memasak pakai kayu bakar.”


“Tidak bisa! Saya belum bisa menerima ini. Ini semua gara-gara kompor gas. Lihat orang-orang seperti saya, Lik Gundul, Kang Diman Sogol, Yu Parinah, Wo Kunti, yang dulu setiap hari bisa dapat penghasilan dari menjual kayu bakar, sekarang mereka bisa apa?” “Kan kebanyakan masih punya kebun kopi atau sawah, termasuk sampean, Kang.” “Tidak bisa. Ini semua gara-gara kompor gas. Gara-gara kompor gas.” Begitulah, setiap orang mencoba menanggapi Kang Trimo saat mengeluhkan kompor gas, selalu saja dibantahnya. Sepertinya hanya Kang Trimo yang belum bisa terima kalau kompor gas menggeser peran dapur yang masih memakai kayu bakar. Kang Trimo dulu memang punya pekerjaan sambilan menjual kayu bakar. Setelah bekerja di kebun kopinya yang tidak begitu luas itu, dia mencari kayu bakar lalu dikumpulkan, diikat sampai dua bongkok yang masing-masing diselundupkan di kanan kiri sebuah bambu untuk memikul. Pagi buta, selepas subuh, Kang Trimo beserta orang-orang lain yang mau menjual kayu bakar berangkat dari rumah. Meski hari masih gelap, sepanjang jalan dari kampungnya Kang Trimo sudah ramai orang-orang, terutama yang mau menjual kayu bakar. Yang laki-laki memikul dua bongkok kayu bakar, yang perempuan menggendong sebongkok yang ukurannya lebih besar. Kayu-kayu bakar itu ditawarkan di desa-desa yang jauh dari ladang atau kebun sehingga tidak tersedia kayu bakar. Dulu, sebelum ada konversi gas elpiji, kayu bakar masih laris. Masih banyak penduduk desa yang memakai tungku kayu bakar untuk memasak. Sekarang hanya tinggal beberapa rumah saja yang masih membutuhkan kayu bakar untuk memasak. Kang Trimo dan penjual kayu bakar lain pun terpaksa meninggalkan profesi berjualan kayu bakar sebab sudah tidak laku lagi. Sejak saat itulah, Kang Trimo selalu meracau tentang kompor gas. Demikian pula di kampungnya Kang Trimo. Hampir semua rumah sudah tidak lagi memakai kayu bakar untuk memasak. Mereka sudah menggunakan kompor gas. Hanya keluarga Kang Trimo saja yang masih memakai tungku berbahan kayu bakar. Suatu ketika, saat acara ngendhog bayi, kembali Kang Trimo berceloteh tentang kompor gas. “Kalian tahu tidak, permintaan paling bodoh dari istri?” Kang Trimo memulai dengan sebuah pertanyaan sembari menyalakan udut yang baru saja dilinting. Orang-orang yang ditanya terdiam, sepertinya tidak ada yang bisa atau mau menjawab. “Permintaan paling bodoh dari istri adalah saat dia minta suaminya memasang selang tabung gas ke kompor.” Kang Trimo menghisap lintingannya, lalu mengepulkan asap lewat mulutnya seraya menjawab pertanyaannya sendiri. “Kok bisa begitu, Kang?” salah satu peserta ngendhong ada yang penasaran.


Si istri tidak mau memasang selang gas itu karena takut gasnya meledak. Nah, kalau suaminya yang memasang, lalu gasnya meledak, apa dia tidak takut kehilangan suaminya? Hahaha...” Semua yang hadir di situ pun ikut tertawa. Suatu pagi, Agus, anak Kang Trimo yang baru saja lulus SMA, sambil menemani ibunya merebus air di dapur, berkata, “Mak, setelah lulus SMA ini, aku mau kerja saja. Ikut Lik Iwan ke Jakarta. Kalau sudah punya uang, nanti aku belikan kompor gas beserta tabungnya. Kalau uangnya banyak, kita bangun saja sekalian dapurnya.” “Hei, bocah kemarin sore, dengar ya, kalau cuma mau beli kompor gas dan tabungnya, bapakmu ini nggak perlu tunggu kamu lulus SMA dan kerja di Jakarta. Bapakmu ini mampu beli kompor gas sepuluh sekalian.” Tiba-tiba Kang Trimo sudah muncul dari butulan membawa seikat kayu bakar. “Tapi, Pak, zaman sekarang sudah tidak ada dapur yang pakai kayu bakar. Semua dapur sudah memakai kompor gas. Dapurnya jadi bersih. Atapnya tidak hitam karena asap. Udara juga tidak pengap. Itu namanya dapur higienis, Pak. Lihat dapur kita. Tidak pernah rapi, kotor, dan pengap.” “Kamu nggak perlu ceramah tentang dapur higienis. Memasak pakai kompor gas itu justru jadi tidak higienis. Rasa masakannya tidak enak, bahkan air yang direbus di kompor gas juga aromanya tidak sedap.” Kang Trimo tidak mau kalah dengan opini anaknya. Istri Kang Trimo hanya mendengarkan pembicaraan anak-bapak itu. Tidak ikut menimpali, hanya menunggui kayu bakar yang beberapa saat merambatkan api dari dalam tungku. Kayu-kayu yang dibakar itu harus segera didorong masuk di bawah tungku agar api tidak merembet keluar. Sesekali dia meniup semprong untuk menjaga agar api tetap menyala. Dia tidak berani membantah suaminya, apalagi kalau sudah menyangkut kompor gas. Kalau diladenin terus, bisa-bisa terjadi ledakan yang lebih dahsyat dari ledakan tabung gas. Tak terasa lima tahun berlalu. Agus sudah bekerja merantau ke Jakarta. Tahun ini, dia tidak lagi kembali ke Ibukota. Setelah menabung dari hasil kerjanya selama empat tahun, dia punya modal untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Agus juga sudah bisa membangun dapur rumahnya. Kini dapur rumah Kang Trimo sudah tidak hitam lagi atapnya. Tidak terlihat kayu bakar berserakan. Lantainya keramik, ada wastafelnya, dan tentu saja ada kompor gas lengkap beserta tabungnya. Kang Trimo sudah tidak protes lagi tentang kompor gas. Dia mulai sadar, tidak ada gunanya lagi terus berdebat dengan anaknya. Juga dengan tetangga-tetangganya. Semua kebutuhan rumah toh sekarang sebagian besar sudah ditanggung Agus, anak semata wayangnya. Namun, Kang Trimo yang biasanya meledak-ledak, terutama jika ada sangkut


pautnya dengan kompor gas, kini terlihat lebih pendiam. Kang Trimo lebih banyak merenung dan terlihat murung. Pagi itu, saat Kang Trimo mengisi bekal air putih di dapur untuk dibawa ke kebun kopinya, dia disapa istrinya. “Pakne, akhir-akhir ini kok terlihat murung? Apa Pakne tidak bahagia? Sekarang Agus sudah besar, sudah bisa kerja sendiri, punya penghasilan sendiri, bahkan sudah banyak merenovasi rumah kita.” Yang ditanya hanya diam. Setelah menghabiskan segelas kopi buatan istrinya, dia tibatiba bersuara, “Gus, untuk apa kamu jauh-jauh kerja di Jakarta. Sudah menabung banyak, sudah membangun dapur dan membeli kompor gas sama tabungnya, tapi justru menjadikan kita termasuk orang miskin?” Agus yang saat itu sedang mengganti tabung gas yang habis dengan yang baru di dapur itu, terperanjat mendengar kata-kata ayahnya. “Maksud Bapak apa?” “Lihat tulisan di tabung hijau yang kamu pegang itu!” Seketika mata Agus dan ibunya tertuju ke tabung gas warna hijau itu sambil mencaricari tulisan. Setelah sedikit diputar, mereka berdua menemukan tulisan “HANYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN”. *** Tentang Penulis Joko Prasetyo, S.Pd. Lahir di Temanggung, 28 Agustus 1982. Saat ini bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di MTs Negeri 2 Temanggung. Tinggal di Jolopo, Banjarsari, Ngadirejo, Temanggung.


MUJI MUJI MUJI Oleh: Mujiyono Nama saya Mujiyono, biasa dipanggil Muji. Tahun 2011 adalah pertama kali saya mengajar di Kabupaten Temanggung, setelah beberapa tahun sebelumnya sempat menjadi guru SD di Yogyakarta dan guru SMK di Magelang. Pertengahan tahun menjadi guru di Temanggung, saya berkesempatan mengikuti pelatihan di Jakarta yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi profesi guru. Menjelang sore, saya berangkat dari Temanggung menggunakan bus OBL yang juga dikenal dengan nama bus Safari Darma Raya. Dengan tiket kelas ekonomi, perjalanan ke Jakarta cukup menyenangkan. Walaupun berbiaya murah, namun tetap mendapatkan fasilitas makan malam gratis di sebuah warung sekitaran Pantura. Pagi hari bus sampai di pool Jakarta. Para penumpang diantarkan ke tempat tujuan masing-masing menggunakan shuttle bus. Saya diantarkan menuju ke hotel tempat diadakannya acara. Singkat cerita, acara berjalan dengan lancar tanpa ada kendala yang berarti. Tibalah waktunya untuk pulang, hati sangat riang meskipun tangan terasa berat karena membawa banyak barang. Kebahagiaan yang dirasakan tiba-tiba hilang saat teringat bahwa saya lupa belum memesan tiket bus untuk perjalanan pulang. Sayapun menanyakan info pemesanan tiket bus ke pihak resepsionis hotel. Berbekal telepon genggam untuk memesan tiket, akhirnya saya mendapatkan tiket bus OBL yang akan berangkat 1 jam lagi dari terminal Rawamangun.


Demi menghemat waktu, sayapun melanjutkan perjalanan dengan mengendarai taksi yang telah berbaris rapi di depan lobi. Terbersit perasaan was-was yang menghantui karena baru pertama kali akan menginjakkan kaki di terminal ini. Selang waktu sekitar tiga puluh menit, taksipun sampai di Terminal Rawamangun. Tak henti-hentinya mata ini menyapu ke seluruh penjuru terminal. Takjub dengan pemandangan tempat yang sangat luas dan kerumunan manusia yang begitu banyak. Sopir taksi membukakan pintu penumpang. Baru beberapa detik keluar dari pintu mobil, terdengar suara lantang seseorang memanggil nama saya “Muji Muji Muji…, Muji Muji Muji…”. Dalam hati saya bergumam ternyata terminal di Jakarta sudah sangat canggih. Saya memesan tiket menggunakan telepon genggam yang waktu itu belum ada fasilitas video call, namun petugas terminal langsung mengenali bahwa saya bernama Muji. Belum selesai keterkejutan saya, datang lagi kejutan yang lain. Setelah terdengar suara seseorang yang meneriakkan nama saya dengan lantang, sebagian calon penumpang yang sedang duduk di bangku terminal seketika berdiri dan berbondong-bondong berlari menghampiri saya. Anggapan saya terhadap orang Jakarta yang katanya kurang ramah akhirnya luntur juga. Ternyata mereka sangat hangat menyambut saya yang tidak mereka kenal. Lagi-lagi hal aneh terjadi. Setelah berpapasan dengan saya, mereka tidak menyapa sama sekali. Mereka justru berlalu begitu saja melanjutkan perjalanan sambil berlari-lari kecil menuju ke arah depan. Untuk mengobati rasa penasaran, saya ikuti arah perjalanan mereka sampai akhirnya masuk ke sebuah bus. Setelah saya amati dengan seksama, pada sisi samping bus tersebut terdapat tulisan “Muji Jaya” BIONARASI Mujiyono adalah seorang guru yang saat ini mendapatkan tugas sebagai kepala sekolah di SDIT Cahaya Insani Temanggung. Lulusan S1 Jurusan Pendidikan Matematika, namun lebih suka memasak daripada berhitung. Kurang suka membaca dan tidak suka menulis, namun sangat ingin mempunyai tulisan. Cita-cita yang belum tercapai ingin membuat novel berbahasa jawa dengan logat Temanggung.


Click to View FlipBook Version