The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku 4 ANTOLOGI CERPEN FPGL

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by UGI UTAMI, 2025-03-09 22:14:39

Buku 4

Buku 4 ANTOLOGI CERPEN FPGL

Sebuah Impian Pergi Ke Luar Kota Oleh : Fitri Aminatul Menjadi seorang guru adalah cita-cita Fitri dari kecil. Perjalanan hidupnya yang penuh dengan rintangan, tidak menyurutkan dia untuk terus berjuang mencapai cita-citanya. Apalagi dengan prinsip orang tuanya yang hanya akan menyekolahkan anaknya sampai tingkat SMA saja. Jika akan melanjutkan sekolahnya dia harus membiayainya sendiri. Otomatis dia harus bekerja pada tempat yang gajinya besar. Tahun 2009 Fitri lulus dari SMA, dengan mendapatkan nilai yang memuaskan. Jika dia langsung mendaftar di Universitas Negeri pasti dia diterima. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Dia harus memupus impiannya untuk menjadi seorang guru. Dia ditawari menjadi guru ngaji oleh gurunya , akan tetapi di luar kota. “Fit, kamu mau tidak menjadi guru ngaji?” tanya Pak Guru “ Dimana pak ?” jawab Fitri “ Di Cikarang” ucap Pak guru Tanpa pikir panjang, setelah selesai ngaji dia langsung pulang untuk minta ijin kepada kedua orang tuanya. “Bapak, Ibu saya minta ijin kerja di luar kota boleh?” Kata Fitri minta ijin kepada orang tuanya. “Memang kerja jadi apa?” Tanya Bapaknya. “ Kata Pak Guru menjadi guru ngaji” jawab Fitri.


“ kalau Bapak boleh saja, niatkanlah untuk ibadah, mohon ridho dari Allah SWT , bagaimana bu? Ibu mengijinkan tidak?” kata Bapak pertanda mengijinkan Fitri pergi ke luar kota dan meminta persetujuan dari Ibunya. “Bagaimana menurut ibu?” tanya Fitri pada ibunya. “ Kalau Bapak mengijinkan, Ibu juga mengijinkan, jaga diri baik-baik ya!” kata Ibu Fitri. “ kalau Bapak dan Ibu mengijinkan, besok aku berangkat ya Pak, Bu?” pamit Fitri pada kedua orang tuanya. Bersyukur orang tuanya mengijinkan dia untuk ke luar kota menjadi guru ngaji. Lalu Fitri memberi kabar kepada pak guru bahwa dia telah diberi ijin oleh kedua orang tuanya dan bersedia untuk berangkat esok harinya. Pak guru pun segera memesankan tiket untuk Fitri pada agen travel terdekat. Pagi harinya berangkatlah Fitri didampingi Pak Guru ke kota yang dituju. Bionarasi Seorang anak perempuan yang ingin sekali meraih impiannya menjadi seorang guru. Dengan keterbatasan pengalaman , dia bertekad untuk mencapai impiannya dengan menjadi guru ngaji di luar kota karena penawaran dari gurunya. Tanpa ragu-ragu dia bersemangat untuk menjalani penawaran dari gurunya itu, agar mencapai impiannya.


Secercah History Seorang Guru Oleh : Muhammad Syarifudin Efendi, S.Pd. Assalamualaikum wr.wb Salam literasi sahabat pena Perkenalkan saya Muhammad Syarifudin Efendi, Saya biasa dipanggil fendi. Pada kesempatan ini saya ingi berbagi pengalaman menjadi seorang guru. Guru adalah sosok inspiratif yang saya kagumi sejak kecil. Walaupun demikian, tetapi tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak sejak kecil jika nantinya akan menjadi seorang guru. Menjadi guru harus multitalenta, bisa menjadi teladan dari sikap dan tutur katanya. Dapat menjadi sosok yang menginspirasi terhadap peserta didiknya, harus pandai mencairkan suasana dan masih banyak lainnya. Saya pun merasa kurang mampu dan belum siap menjadi guru. Kisah perjalanan saya menjadi guru pun cukup menarik. Mengapa demikian? Ya, karena harus menghadapi masalah yang memberikan banyak motivasi bagi saya. Sejak bangku sekolah tidak bercita-cita menjadi guru. Tetapi dorongan dari orang tua, menyarankan saya untuk kuliah mengambil jurusan di bidang keguruan. Mungkin karena orang tua seorang guru dan dominasi keluarga pun juga berprofesi guru. Hal inilah yang menjadikan alasan orang tua kekeh menyarankan saya menjadi guru. Awalnya enggan, namun akhirnya saya kuliah di salah satu universitas swasta di Semarang mengambil jurusan PBSI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Tidak perlu waktu lama, ternyata saya menemukan kenyamanan dalam kuliah, Alhamdulilah dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan yang baik dan saling support


satu sama lain. Kuliah berjalan satu semester, masih ingat betul waktu itu sedang mengikuti ujian semester, tiba-tiba mendapatkan kabar bahwa ayah meninggal dunia, sekilas cerita nih, ayah mengidap penyakit kanker hati kurang lebih 1,5 tahun, pertemuan terakhir dengan beliau hari selasa ketika berpamitan untuk berangkat kuliah ke semarang. Namun hari kamis pagi beliau meninggal. Saat itu bak disambar petir di siang bolong, ayah yang menjadi tulang punggung kami, sosok yang istimewa di hati berpulang meninggalkan saya, ibu dan kedua adik untuk selamanya. Singkat cerita setelah lulus kuliah, di awal bulan pasca lulus, saya pun mencari pekerjaan, tapi pekerjaan yang dilamar bukan guru. Hehe, karena pada waktun itu pola pikir masih idealis, guru honorer tidak akan sejahtera, lagian umur masih muda masih banyak pekerjaan selain guru, pikir saya. Namun sayang seribu sayang semesta tak merestui tidak membuahkan hasil. Tiga bulan berlalu, saya mencoba mengunjungi sekolah dekat rumah dari desa sampai kota untuk melamar menjadi guru honorer. Ternyata sekolah yang dikunjungi tidak ada lowongan, sedih memang nyatanya sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan ini. Saya pun tidak putus asa, mencoba menghubungi saudara untuk minta bantuan informasi terkait lowongan pekerjaan, alhamdulilah setelah menunggu hampir 5 bulan ada lowongan pekerjaan di MTs Negeri 2 Temanggung Di Madrasah negeri inilah tempat pertama saya menjadi guru honorer. Banyak kisah yang menemani menjalani profesi ini. Di tahun kedua saya mengabdi, saya juga menjadi tutor di salah satu bimbel. Walaupun menjadi guru honorer tidak mendapatkan penghasilan yang besar, akan tetapi saya merasakan kebahagiaan saat mengajar, bertemu dengan peserta didik, menyampaikan ilmu, belajar bersama, berbagi cerita. Ada kepuasan serta kebahagiaan tersendiri bagi saya, Jika dijalani dengan ikhlas dan semangat maka rasa lelah akan tergantikan . Dari semula yang saya rasa kurang mampu dan yakin menjadi guru, alhamdulilah saya jalani dengan enjoy. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk peserta didik saya. Walaupun yang saya lakukan belum maksimal, tapi saya berharap apa yang sudah saya berikan kepada peserta didik bermanfaat di masa kini dan mendatang. Setelah mengajar kurang lebih 6 tahun, saya mendapatkan kabar bahwa ada pendaftaran ASN PPPK dan Pretes PPG dalam jabatan Kementerian Agama Republik Indonesia. Saya pun bersemangat untuk mendaftar dan mengikuti seleksi. Dimulai dari seleksi berkas pendaftaran lolos, Dilanjutkan seleksi akademik bertempat di Semarang, kebetulan bertepatan dengan bulan


Ramadhan. Saya berangkat bersama teman untuk mengikuti tes tersebut. Kami bermalam di sana. Singkat cerita setelah beberapi hari, hari pengumuman pun tiba, yang diumumkan tengah malam, alhamdulilah saya lolos. Belum berhenti di sini, tahapan tes berikutnya yaitu tes moderasi beragama. Semua berjalan dengan lancar, alhamdulilah hasil finalnya saya dinyatakan lolos PPPK di lingkungan kemenag. Surat Keputusan (SK) mengajar saya ternyata tidak di MTsN 2 Temanggung melainkan di MTsN 1 Wonosobo. Di sana sepeeti memulai dari awal, di tempat kerja baru tentunya adaptasi dengan lingkungan kerja. Qodarullah rekan kerja dan lingkungan sangat baik. Hal ini tentunya menambah semangat untuk produktif dan ikut kontribusi di madrasah ini. Saya dipercaya untuk membimbing di perlombaan. Selama mengajar ada beberapa lomba yang saya dan peserta didik ikuti, diantaranya lomba menulis artikel tingkat kabupaten yang diadakan di SMA N 2 Temanggung, lalu lomba Stand up comedy dalam rangka peringatan bulan bahasa MTs se-kabupaten Wonosobo, alhamdulilah mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Tentunya adanya hal tersebut tidak lepas dari dukungan semua pihak baik kepala madraah, guru serta orang tua peserta didikyang membuat saya semangat. Nasib baik masih berpihak, baru lima bulan mengabdi di MTsN 1 Wonosobo, saya dapat kembali ke satker awal MTsN 2 Temanggung sampai saat ini. Menjadi seorang guru memang harus dijalani dengan ikhlas. Ternyata ada rahasia Tuhan di setiap perjalanan hidup manusia. Tidak ada hal yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak. Saya sangat bersyukur, Tuhan telah menakdirkan saya menjadi seorang guru. Dengan menjadi seorang guru, saya banyak belajar pengalaman hidup, belajar lebih sabar, belajar lebih ikhlas dan belajar untuk bisa memahami kekurangan oranglain. Saya bangga menjadi bagian untuk mendidik generasi penerus bangsa. Semoga dunia pendidikan di Indonesia semakin maju seiring perkembangan zaman dan generasi muda mampu bersaing di kancah internasional, menjadikan negara tercinta ini semakin harum di mata dunia. Sekian terima kasih sahabat pena telah membaca secercah histori saya, Wassalamualaikum wr.wb


INSPIRATIFNYA TEMBANG DOLANAN BERTAJUK KEMBANG JAGUNG Oleh SANI Disadari atau tidak disadari kita mendapati kenyataan dimana siswa yang dalam keseharian kita sebagai pendidik tidaklah dapat jauh dari jangkauan fikiran dan angan kita. Tidak jarang kita temui dimana dalam pertemuan dikelas kita mendapati sejumlah siswa mengajukan ijin. Eloknya sebagai orang tua tidak jarang menyampaikan argument yang bagi pendidik sebagai hal yang cukup mencengangkan karena ijin untuk kepentingan acara keluarga apakah itu kegiatan sekedar menengok eyangnya, ada keluarga yang menikah, bahkan karena ada kegiatan musyawarah keluarga diluar kota lebih memilih ijin tidak bersekolah. Apakah sedemikian lebih pentingnya acara sehingga dipilih ijin dari hari efektif sekolah? Seakan daya juang atau ketangguhan struggle of life menjadi hal yang sulit ditemukan di masa sekarang. Ketika siswa ijin sakit, dihari saat kembali masuk sakit apa yang diderita dan jawabannya adalah pening, tidak jarang sebagai pendidik bertanya? Seberapa pening? Apakah tidak yakin reda ketika minum obat kemudian berangkat sekolah menjadi sehat saat pulang? Disaat waktu menjelang pelajaran pagi, kantin menjadi tempat tujuan mencari pengganjal perut. Berulang kali diingatkan kepada orang tua atau wali saat penerimaan waktu penerimaan raport sebagai ajang komunikasi tiga arah karena pada kesempatan tersebut beruasaha mempertemukan wli kelas, siswa dan orang tua, rasanya masih jauh dari harapan terjadi peningkatan daya dukung atau kepedulian orang tua pada putra putrinya. Bagaimana tidak, pesan supaya mengarahkan putra putrinya berangkat sekolah sarapan lebih dahulu pun cenderung masih diabaikan. Pada kesempatan ini tema tembang dolanan karya Ki Hadi Sukatno bertajuk Kembang Jagung menjadi sebuah lagu yang sangat terasa sarat makna. Berikut ini liriknya:


Lirik Tembang Dolanan Jawa Kembang Jagung Kembang jagung Kembang jagung omah kampung pinggir lurung Jejer telu, sing tengah bakal omahku Cempa munggah guwa, mudhun nyang bon raja Methik kembang soka, dicaoske kanjeng rama Maju kowe tatu, mundhur kowe ajur Jok na sabalamu, ora wedi sudukanmu Iki lho dhaha satrya, iki lho dhadha Janaka Adapun dalam bahasa Indonesia kurang lebih adalah sebagai berikut: Bunga Jagung Bunga Jagung rumah gaya kampung di tepi jalan Berderet tiga, yang tengah kelak kan jadi rumahku Cempa naik menuju goa dan turun kembali ke taman raja Memetik bunga asoka dihunjukkan kepada ayah Maju kamu terluka, mundur kamu hancur Majulah beserta sekutumu, tidak takut tusukanmu Inilah dada satria, inilah dada Janaka Saat masih masa sekolah, ibu memperkenalkan lagu dolanan disaat senggang dirumah. Dan kiranya hal yang positif mengenal lagu itu dari yang semula hanya dimaksudkan sebagai hiburan namun dikemudian dapatlah dipetik makna simbolik yang cukup dalam dan dapat menjadi cara pembentukan karakter. Bunga jagung yang dalam bahasa jawa disebut “sinuwun” dimana sebagaimana kita ketahui sebutan tersebut ditujukan pada raja jawa yang bermakna hal yang mulia. Dan kemulian kelak kan jadi kediaman atau tujuan. Berlelah-lelah menuju goa ibarat mengapai asa adalah dengan daya upaya. Dan saat kembali dari berdaya upaya mendapati taman yang menyajikan bunga asoka. Sebagaimana kita ketahui bunga asoka merupakan bunga lengkap atau sempurna karena memiliki mahkota, kelopak, benang sari dan putik. Bunga asoka merupakan bunga yang memelikin makna simbolis di berbagai budaya diantaranya dikenal sebagai bunga symbol keindahan dan penghilang kesedihan. Bunga asoka memiliki nama ilmiah Ixora paludosa juga dikenal sebagai Flame of the Wood atau Api Hutan. Hal terseut karena warna bunganya yang mencolok. Adapun nama asoka berasal dari bahas Sansekerta yang berate tanpa kesedihan. Demikianlah, ayah sebagai sosok pahlawan untuk keluarga adalah sepantasnya sebagai putra putrinya mampu menghaturkan asoka dari hasil jerih payahnya. Lebih lanjut semangat yang haruslah dimiliki dalam berdaya upaya seyogyanya siap


untuk selalu melangkah maju dan menghindari lari dari laga. Hingga ketangguhannya ibarat tokoh wayang Janaka yang merupakan seorang raja yang juga resi yang merepresentasikan tokoh yang memiliki aspek positif yakni gagah berani atau tangguh, ahli sastra atau berkeilmuan, dan tetap memiliki kelembutan hati. Demikianlah, betapa lingkungan keluarga memiliki peran juga pengaruh terhadap tumbuh kembang putra putrinya. Dan dunia pendidikan menjadi lahan yang seakan tidak kan lelah menjadi sumber inspirasi kita sebagai pendidik untuk terus menumbuh kembangkan kreativitas dan kepedulian KEBIJAKSANAAN KURA-KURA Karya : Very Ambarwati Di sebuah hutan tinggalah para binatang.Mereka hidup rukun dan damai.Hingga pada suatu saat ada keributan.Keributan ini berasal dari dua ekor ayam hutan.Mereka memperebutkan sebuah telur.Kedua ekor induk ayam hutan ini sama-sama mengakui bahwa telur tersebut adalah milik mereka.Tidak ada yang mau mengalah.Induk ayam hutan yang pertama bernama Lana.sedangkan induk ayam hutan yang kedua bernama Suma.Sudah beberapa hari ini Lana dan Suma selalu bertengkar memperebutkan telur itu. “Ini adalah telurku!Aku yang menetaskannya.Aku meninggalkannya sebentar untuk mencari makan.Tapi kau malah dengan mudahnya bertengger di sarangku dan mengeraminya serta mengakuinya sebagai telurmu.Kamu jahat Suma!”kata Lana. “Enak saja kau bilang begitu.Jelas-jelas aku yang sedang mengeraminya disini. Jadi akulah induknya,bukan kau Lana!” “Bukan,dia telurku!”Lana tetap bersikeras. “Terserah kau akan berkata seperti itu.Yang jelas dia adalah telurku dan aku akan tetap mengeraminya!”jawab Suma tidak mau mengalah. “Kalau seperti ini terus,tidak akan ada jalan keluar.Agar adil kita harus bertanya kepada binatang-binatang yang lewat sini.” “Baiklah.”


Tak berapa lama ada seekor burung puyuh lewat.Mereka menceritakan awal mula kejadian tersebut. “Kalau menurutku induk telur itu adalah siapa yang sedang mengeraminya.Kalau saat ini yang sedang mengeraminya adalah Suma berarti dialah induknya,”kata burung puyuh tersebut. “Kamu dengan kan Lana?Burung puyuh itu bilang bahwa aku adalah induknya,”kata Suma dengan pongahnya. “Ini tidak adil!Kita harus bertanya lagi dua binatang yang lewat setelah burung puyuh tadi.” “Baiklah aku setuju.mereka pasti akan berfikiran sama seperti burung puyuh tadi.Dan aku pasti akan menang dan mendapatkan telur ini!” Lana si induk ayam hutan yang pertama berharap akan ada binatang yang lewat memberikannya keadilan.Tak berapa lama lewatlah kambing.Mereka menghentikan langkah kambing untuk bertanya.Sama seperti sebelumnya mereka menceritakan kejadiannya.Terlihat kambing Sayangnya, jawaban kambing pun mirip dengan jawaban burung puyuh. “Aku setuju dengan Suma.Siapa yang mengerami dan berada dekat dengan telur itu adalah induknya,”kata kambing. “Sudah aku bilang Lana!Mereka pasti berpendapat sama bahwa aku adalah induk telur ini.” “Jangan kau berbangga dulu Suma.Masih ada satu binatang lagi yang akan kita tanyai.Jika binatang yang ketiga masih berpendapat sama,aku akan pergi dari sini dan merelakan telurku untuk kau rawat.” “Ini telurku,bukan telurmu!Baguslah jika kau mengerti,kau memang harus pergi dari sini!” Setelah beberapa lama akhirnya binatang ketiga lewat.Binatang tersebut adalah Kura kura tua.Kedua ayam hutan itu menceritakan kejadian dalam vesi mereka masingmasing.Kura-kura yang terkenal bijaksana dalam membuat keputusan pun mencoba berpikir agar masalah ini dapat diselesaikan dengan baik.Kura-kura mendekati telur tersebut.Ia meletakkan telur itu dibawah kakinya.Sementara itu kedua induk ayam hutan itu masih berpendapat bahwa telur itu adalah telur mereka.


“Baiklah kalau masing-masing kalian tidak ada yang mau mengalah.Aku akan pecahkan saja telur ini agar kalian berdua tidak lagi memperebutkannya!” “ApaJangan kau lakukan itu Pak Kura-kura!Aku rela telur ini menjadi milik Suma!Akan ku lakukan apapun agar telur ini tetap selamat,”kata Lana mengiba. Air mata Lana menetes.Ia ingin telur itu selamat meskipun itu berarti dia harus mengalah. “Tolonglah Pak Kura-Kura jangan kau pecahkan telurku.Aku akan pergi dari sini dan mengalah asal jangan kau pecahkan telurku.”lanjut Lana dengan terisak. “Ini lebih adil Pak Kura-Kura.Aku setuju jika kau pecahkan telur ini agar kami tidak lagi memperebutkannya!”ujar Suma. “Baiklah jika seperti itu.Aku sekarang tahu siapa induk dari telur ini,”kata Kura-kura tua dengan mantap. “Lana,kaulah induk dari telur ini!Si induk telur pastinya tidak akan pernah tega jika telurnya dibiarkan pecah.Ia akan menyelamatkan dengan segala cara meskipun itu dengan merelakan telurnya diambil oleh induk lain.” “Kenapa seperti itu?Bukankah tadi kau bilang akan memecahkan telur ini agar kami tidak memperebutkannya lagi?”ujar Suma sembari ketakutan. “Bisa-bisanya kau masih berbicara seperti itu!Kau pembohong!Tidak ada seekor induk pun yang akan membuat telur atau anaknya celaka!Sebagai hukuman atas kebohonganmu sekarang pergilah kau dari sini dan jangan kembali lagi.Kau telah menciptakan banyak keributan di hutan ini.Lekaslah kau pergi sebelum para binatang binatang melukaimu.Jangan ganggu Lana dan telurnya lagi,”jawab Kura-Kura dengan tegas. Suma lari terbirit-birit.Ia malu kebohongannya terbongkar oleh Kura-Kura yang cerdik dan bijaksana. “Terimakasih Pak Kura-Kura.Berkat kau aku mendapatkan keadilan.Aku mendapatkan telurku kembali serta tidak ada yang menggangguku lagi,”kata Lana. “Aku hanya melaksanakan kewajibanku menjawab pertanyaan dari kalian berdua,”jawab Kura-Kura dengan merendah.


“Bagaimana harus ku bals semua kebaikanmu Pak Kura-Kura.Aku hanya mampu mengucapkan banyak terimaksih kepadamu.” “Jika kau ingin membalas semuanya aku hanya minta rawatlah baik-baik telurmu.Jika kelak dia sudah menjadi ayam didiklah menjadi ayam yang jujur dan bertanggungjawab.” Lana,induk ayam hutan itu pun mengangguk.Ia sangat terharu dengan segala kebaikan kura-kura.Dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengecewakan kura-kura yang telah memberikan keadilan terhadapnya. BIODATA PENULIS Very Ambarwati,S.Pd SD, penulis lahir di Temanggung tanggal 4 Februari 1988.Sekarang berprofesi sebagai kepala sekolah di SDN 1 Gesing Kec.Kandangan,Temanggung.Menyelesaikan pendidikan SD Negeri 1 Ketitang(1993- 1999),SMP N 1 Jumo (1999-2002),SMA N 1 Candiroto (2002-2005).Kemudian D2 PGSD Universitas Muhammadiyah Magelang (2005-2007),meneruskan s1 PGSD Universitas Terbuka (2009-2011). Mengajar di SD Negeri 2 Kertosari,Kecamatan Jumo sejak tahun 2010 sampai 2023.Kemudian mutasi ke SD Negeri 1 Gesing sejak Juni 2023 sebagai kepala sekolah.Bersama guru pejuang literasi pernah menulis antologi puisi “Cintamu Semangat Pagiku” serta pernah menulis kumpulan antologi cerpen berjudul “Menjemput Jingga di Kaki Langit” .Email : [email protected]


Pesona Warung Mbak Tina Oleh: Mujiyono “Gula pasir 5 kilo, deterjen 4 bungkus, duku dan kelengkeng masing-masing 2 kilo, sekalian tempe gembus 3 buah!”, Bu Yati berteriak lantang memesan barang belanjaan kepada Mbak Tina. “Makanan kucing setengah bungkus, kaos dalam setengah lusin, semen setengah sak. Jangan lupa sama peniti setengah dus!”, Bu Sri ikut berteriak tidak mau kalah dengan Bu Yati. “Sabar Bu Sri, orang sabar perutnya lebar, he he he. Antri setelah Bu Yati ya!”, timpal Mbak Tina. “Yang ada orang sabar bawaannya kesal. Sulit sabar kalau sama Bu Yati. Belanjanya segunung, milihnya setahun tidak selesai”, omel Bu Sri sambil mengambil mie instan rasa rendang yang tersusun rapi di sebelah tumpukan sabun mandi beraneka warna. Hengki Suparyanto, pria paruh baya berusia 45 tahun yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Ndut mendengus kesal karena menunggu antrian yang tidak kunjung datang. Dia yang sedang antri di belakang Bu Sri untuk membeli racun tikus akhirnya mengurungkan niatnya, memilih pergi berpindah ke toko sebelah yang tidak ramai. Begitulah riuh suasana pembeli di warung Mbak Tina. Setiap hari selalu ramai dengan pelanggan yang datang silih berganti. Bukan cuma karena barangnya komplit dan murah, namun pelayanan yang ramah menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli untuk berbondongbondong datang kembali ke sana.


Pukul setengah enam pagi di saat warung lain masih tutup, Mbak Tina justru sudah membuka pintunya lebar-lebar demi melayani kebutuhan para pelanggan. "Brem...brem...brem...", sekitar 5 orang penjual sayur keliling yang mengendarai motor berhenti di depan warung untuk melengkapi barang dagangannya. Tumadi, salah satu penjual sayur keliling langsung memesan beberapa barang, "Buah pepaya, buah kedondong". "Cakep...", mbak Tina menyahut karena mengira bahwa Tumadi yang biasanya humoris itu mau berpantun. "Saya mau beli pepaya dan kedondong, bukan mau berpantun. Ada titipan buah dari ibuibu komplek sebelah yang nanti siang mau bikin rujak bersama", kata Tumadi. "Oke lah kalau begitu, total semuanya tiga puluh sembilan ribu", timpal Mbak Tina. Sore hari Mbak Tina kewalahan saat harus menutup warung karena pembeli datang tanpa henti. "Ayo yang sudah membayar segera keluar, warung sudah mau ditutup", teriak Mbak Tina. Akhirnya warungpun berhasil ditutup secara bertahap dengan dibantu oleh suami dan tiga orang anaknya. Pak Ndut yang setiap hari melihat keramaian warung Mbak Tina terkadang merasa iri. “Betapa senangnya menjadi Mbak Tina. Setiap hari warung selalu ramai. Tidak perlu pergi ke mana-mana, uang datang sendiri menghampiri. Apalah dayaku yang hanya menjadi seorang guru. Setiap hari harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk menjemput gaji yang tidak seberapa”, pikir Pak Ndut sambil menghela nafas panjang. Dia terpesona dengan keberhasilan warung Mbak Tina, sekaligus merasa menjadi manusia yang tidak seberuntung pemilik warung itu. Sabtu pagi pukul 05.30, Pak Ndut sudah memakai baju pramuka lengkap . Hari ini ada agenda mendampingi murid dalam kegiatan PERSAMI. Air minum dan permen yang menjadi barang wajib ketika bepergian lupa belum dibeli. Satu-satunya warung yang sudah buka di waktu sepagi itu hanyalah tempat Mbak Tina. Dengan semangat empat lima Pak Ndut langsung meluncur ke sana. “Mau ke mana Pak Ndut, pagi-pagi kok sudah rapi?”, sapa Mbak Tina dangan senyum ramahnya, “Mau mengantar anak-anak kemah Mbak”, jawab Pak Ndut singkat. “Senang sekali ya jadi Pak Ndut. Setiap hari bisa jalan-jalan keluar rumah. Bisa bebas pergi ke mana saja”, keluh Mbak Tina. “Kalau saya ini hidupnya membosankan sekali. Setiap hari hanya berkutat di rumah. Dari pagi sampai sore tidak bisa melihat dunia luar. Kalau bisa memilih, saya ingin


seperti Pak Ndut yang bisa menikmari hidup dengan bebas tanpa terkungkung terus di warung”, kata Mbak Tina Panjang lebar melanjutkan keluh kesahnya. Seketika Pak Ndut tersadar. Betapa selama ini dia merasa iri dengan kehidupan Mbak Tina, namun pagi ini dia mendengar dengan telinganya sendiri bahwa orang yang kehidupannya dikagumi justru menginginkan kehidupan seperti yang dialaminya. Berikutnya Pak Ndut teringat ucapan mendiang neneknya. “Benar kata Nenek, ternyata kehidupan itu sawang-sinawang, atau orang jaman sekarang mengibaratkan seperti peribahasa bahwa rumput tetangga lebih hijau.”, gumam Pak Ndut. “Astaghfirullaahal adziim, alhamdulillaahi robbil ‘aalaamiin. Terima kasih ya Allah, saya ikhlas atas semua takdir yang kau berikan kepadaku”, ucap Pak Ndut dengan mantap. BIONARASI Mujiyono adalah seorang guru yang saat ini mendapatkan tugas sebagai kepala sekolah di SDIT Cahaya Insani Temanggung. Lulusan S1 Jurusan Pendidikan Matematika, namun lebih suka memasak daripada berhitung. Kurang suka membaca dan tidak suka menulis, namun sangat ingin mempunyai tulisan. Cita-cita yang belum tercapai ingin membuat novel berbahasa jawa dengan logat Temanggung.


Merdu Dalam Hening Oleh: Rosydin Ma’ruf "Tolong selamatkan suami saya, Dok! Saya Mohon," pintaku diiringi isak tangis yang tak bisa ku tahan. "Tolong tunggu di luar ya, Bu. Kami akan berusaha," jawab seorang perawat sambil berlalu memasuki pintu ruang operasi mendorong tempat tidur dimana suamiku terbaring. Di luar ruang operasi, aku hanya bisa berdo'a dan terus berdo'a, memanjatkan permohonan kepada Sang Pemberi Kehidupan, berharap suamiku selamat, operasinya berjalan lancar. Oh Tuhan, aku tidak sanggup kehilangan dia. Tiga jam berlalu, aku masih belum melihat siapapun keluar dari pintu itu. Lampu di atas pintu masih menyala, menandakan operasi masih berjalan. Apa nyawa suamiku akan selamat? Andai aku tidak ceroboh terburu-buru berlari. Andai aku tidak tergoda jajanan pinggir jalan itu. Mungkin sekarang kita sedang di rumah, menikmati makan malam berdua. Suamiku mendorongku saat aku hampir tertabrak oleh mobil yang melaju kencang. Salahku sendiri yang tidak menoleh ke kanan-kiri. Demi menyelamatkanku, suamiku yang harus tertabrak mobil itu. Meski mobil itu kabur, orang-orang yang melihatnya tidak menghentikannya karena aku lah yang salah. Sayang! Aku minta maaf. Krek..!! (Suara pintu terbuka)


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanyaku penuh harap. "Syukurlah, Bu. Suami Ibu berhasil selamat," jawab dokter. Seketika itu, aku langsung sujud mengucap syukur yang tiada henti. Tidak bisa ku bayangkan andai dia pergi meninggalkanku. Pada siapa aku harus bersandar? "Bisa bangun sebentar Ibu? Ada yang perlu saya sampaikan," ucap dokter sambil membantuku yang masih bersimpuh di lantai untuk berdiri. “Kenapa, Dok? Suami saya tidak kenapa-kenapa, kan?” tanyaku berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada suamiku. “Suami Ibu memang berhasil selamat. Namun, benturan tepat di lehernya, membuat pita suaranya rusak. Ada kemungkinan kalau suami ibu tidak bisa lagi berbicara. Juga kaki kirinya, kemungkinan akan lama untuk pulih karena ada keretakan di tulang keringnya. Tangan kanannya yang sedikit parah, namun itu hanya memar-memar biasa. Akan segera pulih,” ucap dokter, menyesakkan hatiku. Aku mencoba untuk tetap bersyukur atas keselamatan suamiku. Apapun yang terjadi, setiaku padanya tidak akan pudar. Aku sudah bejanji berbakti mengabdi padanya sebagai seorang istri. Tiga minggu setelah kecelakaan, suamiku sudah diperbolehkan pulang. Kini aku merawatnya sendiri di rumah. Suamiku belum bisa bergerak sendiri. Untuk ke kamar mandi buang air pun harus dengan bantuanku. “Sayang, sarapan dulu ya. Setelah itu minum obatnya,” ucapku sambil menyuapi sesendok bubur untuk suamiku. Hanya mengangguk pelan dan mengedipkan mata. Belum bisa melakukan hal yang lain. Tangannya juga belum bisa bergeak leluasa. Semoga kelak kamu bisa seperti dulu, sayang. Teringat dulu, saat aku berhasil dibuat jatuh cinta oleh lelaki ini. Bukan karena wajahnya. Dia terbilang biasa-biasa saja. Juga bukan karena hartanya. Sampai sekarang kita masih pengiritan dan menabung. Dia membuatku jatuh cinta dengan puisi indah yang dia tulis sendiri, lagu-lagu ciptaannya yang dinyanyikan dengan merdu, juga petikan gitarnya yang memanjakan telinga. Iya, dia adalah seorang seniman. Namun, semua itu hilang sekarang karena kecelakaan itu. Semoga alasanku jatuh cinta padanya tidak ikut menghilang. Jujur, aku takut.


Kini, tiga bulan sudah aku merawat suamiku. Dia sudah mulai aktif di depan komputer karena tangannya sudah bisa digerakkan, meski aku tidak tahu apa yang dia kerjakan. Setiap aku mendekatinya dia selalu mengalihkan layarnya ke Youtube. “Jangan terlalu lama di depan komputer, sayang. Kamu masih harus banyak istirahat,” ucapku menegurnya. Namun, dia seakan mengabaikanku. Tabungan yang aku andalkan selama ini mulai menipis. Aku tidak bisa bekerja, begitu juga suamiku. Bisa dibilang kita hanya punya pengeluaran tanpa penghasilan. Aku malu jika harus pinjam kesana-kesini. Tapi jika terpaksa, akan aku lakukan. Entah apa yang terjadi denganku, hatiku mulai terasa hampa. Perlakuan suamiku dengan lagu-lagu merdu yang dulu selalu ku dengar kini menjadi keheningan. Apakah aku mulai bosan? “Halo, Ren. Apa kabar? Aku dengar suami kamu kecelakaan ya? Semoga cepat diberi kesembuhan, ya,” pesan WA dari teman lamaku Andi. Lelaki yang dulu aku tolak cintanya saat kuliah. “Iya, terimakasih do’anya, Di,” jawabku. “Kamu yang kuat, Ren. Pasti kamu bisa melewati ujian ini,” ucapnya menyemangatiku. Semenjak itu, aku sering mengobrol dengan Andi lewat chat WA. Sebagai teman mengobrol dan mengeluh. Dia seakan menjadi tempat berbagi beratnya perjuanganku seharihari. Tanpa sepengetahuan suamiku. Dia juga sering menawariku bantuan karena dia tahu aku butuh biaya hidup juga keperluan berobat suamiku. Namun, aku belum berani mengambilnya. Hari ini, lelah dan ngantuk memelukku lebih erat dari biasanya. Ingin ku rebahkan tubuh sejenak, tidur siang. Ku lihat suamiku masih menatap layar komputernya. Ting.. ting.. ting.. Saat hendak terpejam, ponselku berbunyi. Aku mengira itu dari Andi. Ternyata bukan. Ada pesan dari Viona, sahabatku yang juga teman Andi. “Ren, aku tahu kamu sering chat dengan Andi. Lebih baik kamu blokir nomornya. Dia memiliki niat tidak baik ke kamu. Aku tidak berbohong. Jika dia ingin meminjamkan uanng, tolaklah! Demi kebaikan kamu dan Rio.” Seketika itu, aku langsung menangis. Betapa bodohnya aku. Hampir saja aku termakan jebakan buaya. Aku segera bangun dan berlari menuju suamiku. Aku peluk dia. Seerat


mungkin. Ku rasakan tangannya menepuk-nepuk punggungku dengan halus. Aku sangat merindukan kehangatan kasih sayangnya. Dengan pelan dia melepaskan pelukanku. Tangannya mengisyaratkan agar aku melihat ke layar komputer. Di sana ku lihat e-mail yang berisi kontrak kerja sama. Itu adalah kontrak dari salah satu production house ternama. Ternyata selama ini suamiku menyelesaikan naskah film yang dulu dia buat. Tidak hanya naskah film, soundtrack untuk film itu juga ditulis oleh suamiku. “Maafkan aku sayang,” ucapku dengan tangis di pelukan suamiku. Aku meminta maaf karena sempat meragukannya. Kita berdua pergi ke bioskop untuk menonton film yang telah selesai digarap dan tayang perdana malam ini. Sungguh cerita yang indah nan menyentuh. Lagu-lagunya begitu merdu samapi menembus angan para pendengarnya. Sesaat sebelum film selesai, ku tatap wajah suamiku. Aku kagum sekaligus bangga dengannya. Tiba-tiba, tangannya menunjuk ke arah layar, memintaku untuk melihatnya. Terimakasih istriku tercinta, aku dedikasikan cerita ini untukmu. I love you, Rena Bionarasi Rosydin Ma’ruf adalah seorang guru bahasa Inggris di MTs Al Islam Pare, Kranggan, Temanggung. Selain memiliki antusias untk mengajar, dia juga berantusias dengan hobinya menulis. Menulis cerita menjadi penghibur lelah baginya. Menurutnya, kegiatan menulis memberikan dampak besar dalam peningkatan kemampuan literasi seseorang.


PERSAHABATAN LABA-LABA DAN CICAK Oleh : Defi Nur Fatimah Di sebuah rumah kecil, hiduplah seekor cicak dan laba-laba kecil. Suatu hari, cicak yang sedang bersantai melihat seekor laba-laba kecil sedang membuat sarang dengan bersusah payah. Melihat hal tersebut, cicak merasa khawatir kalau nanti mangsanya akan terperangkap pada jaring laba-laba tersebut. Dengan cepat cicak berjalan menuju laba-laba kecil yang berada tak jauh dari tempatnya berada. “Hai laba-laba kecil! Ini wilayahku. Jangan buat sarangmu di sekitar sini!” Ucap Cicak dengan nada berteriak. Melihat kemurkaan cicak, laba-laba kecil mendekat dan dengan penuh ketenangan dan mengajak cicak untuk bekerjasama. Adapun isi dari perjanjian kerjasama antara mereka berdua adalah akan saling berbagi makanan. Siapa di antara mereka yang mendapatkan lebih banyak akan memberikan kepada yang lainnya. “Jadi, mulai sekarang kita bersahabat ya, setuju?” Tanya laba-laba kecil pada cicak. “Baik, aku setuju!” Jawab cicak tanpa ragu.


Kemudian cicak kembali ke tempat istirahatnya dengan penuh keceriaan. Ia merasa sangat senang karena sebentar lagi ia tidak perlu susah payah mencari makan. Ia hanya perlu tidur dan diam saja dan akan meminta makanan pada laba-laba kecil. Hari ini, terlihat beberapa serangga seperti nyamuk dan laron terperangkap dalam sarang milik laba-laba. Melihat hal itu, cicak langsung mendatanginya dan meminta makanan yang ada di sarangnya. “Wah, banyak sekali laron-laron gemuk di sarangmu. Beri aku 3 ekor saja hai laba-laba kecil!” Pinta cicak dengan nada sedikit memaksa. “Kenapa kamu tidak mencoba untuk menangkapnya sendiri? Bukannya sangat banyak laron malam ini untuk kau tangkap?” Nasehat laba-laba pada sahabatnya. “Kamu bilang kita sahabat, dan siapa yang mendapatkan makanan banyak akan berbagi. Kamu mau mengingkari perjanjian kita ya?” Ucap cicak menyudutkan sang laba-laba. Mendengar perkataan cicak, laba-laba akhhirnya mengalah dan memberikan 3 ekor laron di sarangnya pada cicak. Hari-hari berjalan seperti itu. Dikala laba-laba bekerja siang dan malam untuk melebarkan sarangnya, agar semakin banyak mangsa yang terperangkap, cicak malah asyik bersantai dan mengandalkan makanan dari laba-laba kecil. Malam ini, seperti biasa. Cicak dengan nada mengancam meminta beberapa serangga yang sudah terperangkap dalam sarang laba-laba. “Kamu bilang kita sahabat. Kenapa harus aku yang setiap hari bekerja untukmu?” Protes laba-laba atas permintaan cicak. “Kamu kan enak, tinggal santai atau tidur sudah banyak serangga yang nempel di sarangmu. Nggak perlu kerja kan? Sedangkan aku mau dapat 1 nyamuk saja harus berlari-lari!” “Kamu kira siang dan malam aku membuat sarang bukanlah sebuah pekerjaan?” “Sudahlah! Jangan mengajakku berdebat. Berikan beberapa santapanmu padaku!” Semakin hari, cicak semakin berani untuk mengancam laba-laba kecil jika ia tidak mau memberikan jatah makan padanya. Cicak juga semakin menjadi pemalas karena sama sekali tidak berusaha untuk mencari makanan.


Suatu hari, tidak satupun serangga menempel di sarang milik laba-laba kecil. Laba-laba gusar karena perutnya terasa lapar akibat seharian berkeja membuat sarang dan belum makan sama sekali. Seperti hari-hari sebelumnya, cicak datang untuk meminta jatah makan padanya. Namun, laba-laba tidak memberinya karena memang tidak ada serangga sama sekali yang terperangkap. Cicak merasa dibohongi. Ia berpendapat sendiri bahwa laba-laba telah menghabiskan makanannya dan mengaku kepada cicak bahwa tidak ada serangga menempel di sarangnya. Cicak yang malas tersebut murka karena perutnya merasa sangat lapar. “Baiklah, kalau kamu tidak mau memberiku makan, aku akan memakanmu!” Tegas cicak pada laba-laba. Mendengar perkataan cicak, laba-laba ketakutan dan memohon kepada cicak agar tidak memangsanya. Namun, cicak telah di butakan dengan sifat rakusnya. Ia nekat melompat ke arah laba-laba dan bersiap menerkamnya. Namun, karena terlalu bersemangat, lompatan cicak tidak tepat mengenai laba-laba. Tubuhnya malah terlewat jauh dari keberadaan laba-laba dan terjatuh ke dalam aquarium yang berisi ikan channa. Dengan sigap, ikan channa tersebut langsung melahap cicak yang tanpa sengaja masuk dalam aquarium. Laba-laba yang tadinya ketakutan kini sudah berangsur tenang karena sudah lolos dari terkaman sang cicak yang dulu berjanji menjadi sahabatnya. Namun, ia juga merasa kasihan melihat sahabatnya tersebut sudah di terkam ikan channa yang berada di bawahnya. ‘Sungguh malang, sifat malas dan rakusmu menjadi bencana untuk dirimu sendiri!’ Gumam laba-laba dalam hati. TENTANG PENULIS... Defi Nur Fatimah, perempuan yang lahir pada 14 Desember 1996 di sebuah desa kecil di Temanggung. Ia telah menikah dan memiliki seorang anak berusia 3 tahun. Saat ini ia tengah di sibukkan dengan perjuangannya mengajar di TK Nisrina Purwosari, menjadi ibu rumah tangga dan memiliki pekerjaan sampingan menjadi author di salah satu aplikasi online. Ia dapat di hubungi di : Instagram (definur_faa), E-mail ([email protected]), Fizzo (dnurf), Whatsapp (081215411899).


BUAYA,GAGAK DAN POHON APEL WARNA Karya : Very Ambarwati Pada suatu hari seekor buaya sedang melamun.Ia memikirkan keadaannya .Sudah 2 hari ini dia merasa sakit disekujur tubuhnya.Tidak tahu kenapa sedikit demi sedikit warna cokelat kehijauan yang ada ditubuhnya menghilang.Ia merasa malu dengan teman-temannya.Sehingga ia jadi jarang keluar bermain dengan mereka. “Bagaimana ini?Aku malu dengan teman-temanku.Warna kulitku perlahan-lahan menghilang.Mereka pasti akan mengejekku jika aku tidak punya warna.” Buaya pun berusaha mengobati penyakitnya dengan berbagai cara..Sudah berpuluhpuluh tabib ia datangi ,tapi sampai saat ini belum berhasil mengobatinya.Ia hampir putus asa. Sampai pada suatu waktu ada kura-kura tua yang mengatakan padanya untuk mencari pohon apel warna di tengah hutan dibawah air terjun.Konon pohon apel warna itu bisa menyembuhkan banyak penyakit.Pohon itu mempunyai buah apel yang berwarna-warni.


Diam-diam burung gagak ternyata juga mendengarkan pembicaraan antara buaya dan kura-kura tua.Dalam hatinya ia juga ingin mempunyai bulu dengan warna yang berwarnawarni seperti pelangi.Padahal bulu burung gagak sudah begitu bagus.Saat ini ia mempunyai bulu merah kebiru-biruan mirip burung kakaktua.Tapi ia belum puas dengan apa yang sudah dimilikinya sekarang. “Tapi ingat Buaya perjalanan menuju pohon apel warna itu tidaklah mudah.Banyak rintangan dan hambatan yang akan kamu temui.Kelak jika kamu sudah menemukan pohon apel tersebut,kamu tidak boleh mengambil semua buah apel.Kamu hanya butuh warna cokelat kehijauan untuk mengembalikan warna kulitmu.Jadi ambillah apel hanya warna itu!”pesan kura-kura tua. “Baiklah Kura-kura.Terimakasih atas informasi yang kau berikan kepadaku.Tapi apa yang akan terjadi jika aku memakan buah apel warna tersebut lebih dari satu?” “Siapapun yang serakah pasti akan mendapat balasan.” Hanya itu yang disampaikan kura-kura tua.Ia kemudian segera pergi dari hadapan buaya.Buaya mengucapkan banyak terimakasih kepada kura-kura tua tersebut sampai kurakura tua itu menghilang dari pandangan matanya.Ia berjanji akan mengingat dan mematuhi pesan kura-kura tua itu. Buaya tahu perjalanan yang akan ia lakukan tidaklah mudah.Ia harus melewati jalan – jalan yang dipenuhi semak belukar,curam serta licin. Ia menyiapkan semuanya dengan seksama.Ia mulai berjalan meninggalkan rumahnya. Sudah setengah perjalanan ia lewati.Ia memandang jalan ternyata masih jauh.Tanpa sepengetahuannya teryata burung gagak mengikutinya.Buaya tetap melanjutkan perjalanannya meskipun jalan yang ia lalui semakin sulit.Ia sampai di sungai yang dangkal dan aliran airnya deras.Kalau tidak hati-hati bisa bisa ia terseret aliran sungai.Dengan hati-hati ia menyeberang sungai tersebut.Setelah itu tibalah ia dijalan tanjakan.Bukan sekali ini ia menjumpai jalan tanjakan.Sudah beberapa kali sejak ia melangkahkan kaki dari rumahnya.Setelah jalan tanjakan yang cukup membuat tenaganya berkurang ,ia akan menjumpai jalan turunan yang berbatu dan licin.Kakinya sampai berdarah karena tersandung batu yang berada ditengah-tengah jalan turunan tersebut.Tapi ia belum menyerah karena ia yakin akan mendapatkan apa yang ia harapkan selama ini yaitu warna kulitnya kembali.


“Aku telah kehilangan warna kulitku.Saat ini walaupun sulit aku tidak boleh menyerah.berbagai rintangan dan hambatan telah ku lalui sesampai disini.Aku harus kuat,”kata buaya menyemangati dirinya sendiri. Sebenarnya buaya merasa ada yang membuntutinya sejak ia keluar rumah.Tapi ia tepiskan rasa itu.Mungkin hanya perasaannya saja.Tapi lama-kelamaan ia penasaran karena perasaan diikuti itu semakin bertambah.Ia kemudian bersembunyi dibalik semak-semak.Tibatiba ada burung gagak terbang rendah. “Kwak kwak…Ke mana Buaya itu?Kenapa aku sampai kehilangan jejaknya?Kalau seperti ini aku tidak akan menemukan pohon apel warna itu!Sial sekali! “Oh jadi kau yang dari tadi mengikutiku?” Tiba-tiba buaya keluar dari tempat persembunyiannya.Burung gagak kaget bukan kepalang. “Eh..eh..maafkan aku Buaya.Aku memeng mengikutimu karena aku ingin pergi mencari pohon apel warna itu juga.” “Darimana kau tahu aku mencari pohon warna?” “Tidak sengaja aku mendengar kau bercakap-cakap dengan kura-kura tua,”jawabnya berbohong. Padahal ia mendengarkan percakapan buaya dan kura-kura tua dengan sengaja. “Tapi kau kan tidak kehilangan warnamu Gagak?” “Aku ingin menambah warna bulu yang sudah ku punya agar lebih bagus.” “Baiklah kalau seperti itu.Tapi kata kura-kura tua kalau sudah menemukan pohon apel warna itu kita hanya boleh mengambil satu warna saja.” “Tidak masalah.” Dalam hati gagak berkata “Enak saja,sudah jauh-jauh mencari pohon apel warna kenapa hanya boleh mengambil satu?Aku kan ingin buluku berwarna-warni.Sesampai disana aku akan mengambil buah apel warna itu sesukaku.Aku akan memakan semuanya agar hewanhewan di hutan kagum dengan keindahan buluku.Sementara ini aku akan menurut saja dengan buaya karena aku tidak tahu dimana letak pohon itu.”


Akhirnya buaya dan gagak tersebut melanjutkan perjalanan. Sampailah mereka ditepi sungai.Mereka harus melewati jalan berbatu disamping sungai untuk sampai ke air terjun di mana pohon apel warna itu berada.Air terjunitu sudah mulai terdengar gemericiknya.Air terjun ini terdiri dari dua tingkat. Posisi pohon apel warna itu ada ditengah-tengah antara air terjun tersebut. “Itu dia pohon apel warnanya Buaya!Kita menemukannya..kita menemukannya!”kata gagak dengan riangnya. Buaya mendongakkan kepalanya ke atas.Ternyata benar diatas sana ada pohon apel dengan buah berwarna-warni. “Buaya aku akan terbang ke atas mengambil buah apel tersebut.Kau tunggu disini.Aku akan mengambilkannya untukmu.” “Baiklah tapi ingatlah masing-masing kita cukup satu buah apel saja.Aku hanya memerlukan buah apel berwarna cokelat kehijauan.” “Tenang saja ,akan ku ambilkan untukmu.” Gagak terbang kearah pohon apel warna itu.Dia terpesona dengan keberadaan pohon apel warna dihadapannya.Dia mencari-cari apel berwarna cokelat kehijauan kemudian memetiknya dan dilemparkan pada buaya.Ia sengaja mengambilkan buah apel pertama untuk buaya agar ia bisa mengambil buah apel yang diinginkannya.Buaya berterimakasih dan memakan buah apel itu.Dan jreng…warna kulitnya perlahan-lahan kembali seperti semula.Ia sangat bersyukur karena ia sembuh.Tapi kenapa gagak lama sekali berada di atas pohon itu. “Gagak aku sudah sembuh.Kau kemana?Kenapa lama sekali diatas pohon?” Dengan rasa malu yang luar biasa gagak terbang kearahnya.Ia menangis tersedu-sedu mendekati buaya. “Apa yang terjadi denganmu Gagak?Kenapa kau jadi berwarna hitam?Kemanakah bulumu yang cantik?”tanya buaya. “Huuhuuuhuuu…aku telah memakan apel berbagai warna .aku ingin buluku seperti pelangi yang berwarna-warni.Tapi lihatlah sekarang karena keserakahanku sendiri buluku menjadi hitam,”jawab gagak sambil tersedu.


“Aku tadi sudah bilang Gagak,cukuplah satu apel warna saja untuk kita masingmasing!” “Iya Buaya,aku minta maaf karena tidak mendengarkanmu.” “Sudahlah.Karena sudah terlanjur ibarat nasi sudah menjadi bubur ,saat ini kau harus menerima segala konsekuensi akibat keserakahanmu.” “Iya Buaya,aku tidak akan mengulangi kesalahanku kembali.Aku benar-benar menyesal.Setelah aku memakan semua buah apel warna itu tiba-tiba pohon apel juga ikut menghilang.Lihatlah sekarang pohon apel warna itu menghilang.Aku sudah tidak bisa kembali seperti dulu.Mulai saat ini aku akan terbiasa dengan keadaan buluku yang hitam.Kelak kau akan lihat Buaya bahwa aku adalah pembelajar yang baik.Aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya,”janji Gagak. BIODATA PENULIS Very Ambarwati,S.Pd SD, penulis lahir di Temanggung tanggal 4 Februari 1988.Sekarang berprofesi sebagai kepala sekolah di SDN 1 Gesing Kec.Kandangan,Temanggung.Menyelesaikan pendidikan SD Negeri 1 Ketitang(1993- 1999),SMP N 1 Jumo (1999-2002),SMA N 1 Candiroto (2002-2005).Kemudian D2 PGSD Universitas Muhammadiyah Magelang (2005-2007),meneruskan s1 PGSD Universitas Terbuka (2009-2011). Mengajar di SD Negeri 2 Kertosari,Kecamatan Jumo sejak tahun 2010 sampai 2023.Kemudian mutasi ke SD Negeri 1 Gesing sejak Juni 2023 sebagai kepala sekolah.Bersama guru pejuang literasi pernah menulis antologi puisi “Cintamu Semangat Pagiku” serta pernah menulis kumpulan antologi cerpen berjudul “Menjemput Jingga di Kaki Langit” .Email : [email protected]


Kisah Seorang Guru Muda: Cita-cita Mulia Penuh Plot-Twist Oleh: Asfia Nur Laeli “Akan tiba saatnya nanti, air matamu akan jatuh bukan karena masalah, tetapi karena doamu telah Allah kabulkan.” Begitulah kalimat bijak dari KH Maimoen Zubair yang menjadi favorit penulis. Setiap orang tentu memiliki mimpi atau cita-cita yang luar biasa dalam hidupnya. Citacita adalah keinginan seseorang untuk mencapai kesuksesan atau kejayaan pada masa yang akan datang. Biasanya cita-cita mulai terpikirkan ketika seseorang berada di bangku sekolah dasar dimana setiap orang akan antusias untuk menceritakan cita-citanya di masa depan nanti. Namun, ketika seseorang duduk di bangku SMP atau SMA biasanya cita-citanya akan berganti seiring dengan kondisi zaman waktu itu. Begitupun dengan penulis yang juga memiliki citacita berubah-ubah sejak sekolah dasar. Awalnya penulis menginginkan menjadi polwan karena kekaguman kepada seorang polwan yang terlihat keren, namun menginjak sekolah menengah atas, penulis mempunyai mimpi untuk menjadi seorang guru. Ketika mendengar kata guru, pasti yang ada dibenak kita adalah seseorang yang mengajar baik di sekolah maupun di lembaga pendidikan yang lain. Guru tak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, namun juga karakter yang dapat mengubah hidup seseorang. Seperti kutipan kalimat bijak dari KH Maimoen Zubair “Yang paling hebat dari seorang guru adalah mendidik dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar, ketika melihat murid-murid


yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”. Guru merupakan profesi yang mulia, itulah kenapa dalam kalimat bijak tersebut disebutkan bahwa seorang guru akan mendapat jaminan surga atas jerih payah mendidik anak. Penulis merupakan lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang. Perjalanan menjadi guru dimulai setelah lulus kuliah S1 dimana penulis mulai mendaftar banyak lowongan guru yang tentu saja tidak mudah. Suatu ketika penulis mendaftar di salah satu madrasah di desanya dan diterima menjadi guru Bahasa Inggris. Mulai dari situlah cita-cita penulis terwujud yaitu menjadi guru meskipun masih honorer. “Ternyata menjadi seorang guru tidak semudah yang saya bayangkan.” Begitulah kata penulis waktu itu. Apalagi di usia penulis yang masih terbilang masih muda dimana pengalaman mengajar di dunia pendidikan masih sedikit. Penyesuaian dengan lingkungan kerja, administrasi sekolah, dan penanaman karakter diri bahwa menjadi guru harus siap digugu dan ditiru oleh masyarakat menjadi pekerjaan rumah bagi penulis waktu itu. Disisi lain penghasilan seorang guru honorer juga belum bisa mencukupi kehidupan sehari-hari. Namun dengan kondisi diatas tidak menyurutkan semangat penulis dalam mengajar. Penulis tetap mengobarkan semangat guru muda yang penuh semangat, inovatif, dan aktif dalam segala kegiatan. Di beberapa kesempatan penulis telah membawa beberapa murid menyabet prestasi untuk sekolah. Dengan melihat penghasilan guru honorer, tentu saja dalam benak penulis ada harapan-harapan untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik dengan menjadi pegawai negeri sipil atau pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja. Beberapa proses perekrutan pegawai negeri sipil telah penulis lalui, namun penulis belum mendapatkan kesempatan lolos. Hingga pada suatu ketika penulis mendapatkan informasi terkait pendaftaran program profesi guru prajabatan dengan beasiswa. Awalnya ragu, karena harus menghilangkan moment 3 tahun mengajar di sekolah sebelumnya. Namun, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya penulis mendaftar dan lolos. Proses belajar selama 1 tahun dilalui penulis dengan penuh semangat, karena program ini merupakan program yang bagus untuk menambah keterampilan serta pengetahuan guru di era digital ini. Penulis menjadi terbuka dengan inovasi-inovasi pendidikan pada implementasi kurikulum merdeka. Melalui program inilah, penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja setelah berkali-kali gagal dalam mendaftar. Penulis merasa bahwa rencana Allah swt akan berakhir lebih indah meskipun dengan kehidupan yang plottwist karena saat ini penulis yang merupakan lulusan pendidikan bahasa Inggris, mendapatkan


amanah menjadi guru SD. Meskipun demikian penulis merasa bersyukur dan ternyata mengajar SD itu seru dan menyenangkan. Untuk generasi muda, beranilah untuk bermimpi dan mewujudkannya. Nikmati jalan yang sedang dilalui dan jangan pernah melewatkan bagian terbaik dari perjalananmu karena your current situation is not your final destination. Tetap semangat berjuang! BERBAGI PENGALAMAN MENGAJAR Oleh Pristitiyoni Selamat pagi, semoga Allah SWT memberikan kesehatan kepada kita. Di sesi ini, sesi Berbagi Pengalaman Mengajar, ketika saya harus menceritakan pengalaman mengajar saya, saya merasa ada kesulitan. Entah dari mana saya harus memulai. Saya hanya bisa bercerita real tentang hal yang saya alami selama mengajar. Nama saya Pristitiyoni, saya merupakan guru Bahasa Indonesia di MTs Al Hidayah Wonoboyo. Selain itu, saya juga mengajar mata pelajaran yang sama di SMK PGRI 01 Sukorejo. Saya merupakan lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari IKIP PGRI Semarang. Awal saya mengajar pada tahun 2001 sampai 2009, waktu itu saya baru lulus SMA, dan mata pelajaran yang harus saya ampu adalah fisika, di MTs Ma’arif Bejen. Selain itu, pada tahun 2004 sampai 2006 saya juga mengajar di MI Muhammadiyah Bejen. Pada saat itu saya kuliah jurusan PGSD/MI. Pada tahun 2009 saya pindah ke MTs Al Hidayah Wonoboyo dan mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada tahun 2011 saya lulus PLPG dan pada tahun tersebut saya mulai mengajar di SMK PGRI 01 Sukorejo.


Mengajar dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Sekolah Menengah Kejuruan memiliki kesan sendiri-sendiri. Peserta didik usia SMK sudah bisa diajak berkomunikasi, mereka sudah bisa diajak berpikir dewasa. Bisa diajak sharing sebagai mana seorang teman. Pola pikir mereka lebih matang dan mereka cenderung mengetahui apa sebenarnya yang kita mau. Untuk peserta didik tingkat SMK, lebih kreatif dan inovatif. Hal tersebut mungkin disebabkan karena pola pikir mereka yang sudah dewasa. Namun, yang namanya peserta didik ya tetap saja seperti pada umumnya. Saat guru memberikan penjelasan tidak semua mendengarkan, tertarik, dan merespon. Mungkin karena metode pembelajaran yang saya pakai kurang menarik juga. Di tingkat madrasah, peserta didik seperti sedang mengalami proses atau peralihan. Dari anak-anak ke jenjang di atasnya, namun belum dewasa. Ya, anak-anak bukan, dewasa belum. Di sinilah saya merasakan kesulitan saat mengajar di kelas. Peserta didik kadang tidak memahami apa maksud dan keinginan guru. Mereka belum bisa berpikir dewasa. Tapi juga sudah bukan anak-anak. Jadi, menurut saya mengajar peserta didik tingkat madrasah itu lebih sulit dari pada tingkat SMK. Mengajar di tingkat madrasah ibtidaiyah lebih mudah dalam mengatur dan mengondisikan peserta didik, karena guru menjadi pusat yang selalu jadi panutan peserta didik. Di usia-usia seperti ini, peserta didik lebih patuh pada gurunya. Semua perkataan guru diikutinya, semua nasihat didengarkan. Intinya, guru menjadi pusat semua sikap mereka. Apapun yang dikatakan guru, mereka akan sangat taat untuk melaksanakannya. Namun, bukan berarti menjadi guru di tingkat dasar itu lebih mudah. Justru perjuangan berat dimulai pada tahap ini. Seorang guru tingkat sekolah dasar atau ibtidaiyah harus benarbenar membentuk pribadi anak yang mampu mengembangkan karakter, ketrampilan, dan kognitif mereka dengan sempurna. Sikap mereka yang masih sangat kekanak-kanakan membuat saya harus lebih bersabar menghadapi segala perilaku mereka, bercanda, menangis, bertengkar, dan belajar. Suatu beban tersendiri bagi saya apabila peserta didik yang saya ajar belum mampu membaca, menulis, dan berhitung. Karena jika tiga hal ini belum dikuasi, maka peserta didik akan mengalami kesulitan di tingkat yang lebih tinggi. Menurut saya, sebagai guru, kita memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk kepribadian peserta didik. Apalagi di era teknologi ini, segala bentuk informasi mudah diakses. Sebagai guru, dalam setiap kali masuk ke kelas, saya selalu menekankan agar lebih berhati-


hati menggunakan gawai. Mana yang boleh diakses dan mana yang tidak. Pendidikan karakter lebih ditekankan. Itulah sedikit pengalaman mengajar yang dapat saya sampaikan. Hal-hal yang telah saya sampaikan real merupakan pengalaman saya dalam mengajar. Siapapun boleh memberikan masukan. Dan mohon maaf jika tulisan saya memiliki banyak kekurangan. Terima kasih. Pristitiyoni, perempuan kelahiran Temanggung, 7 Juni 1982 ini bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di MTs Al Hidayah Wonoboyo. Dia lebih akrab dipanggil dengan sebutan Bu Pristi. Dia memiliki hobi menyanyi dan mendengarkan musik. Hem Endul di P5 RA Oleh: Indaryati Matahari pagi bersinar kuning cerah, secerah wajah anak-anak kelas sepuluh E. Kali ini wajah mereka berbingar menyambut pelajaran praktik PKWU memasak salah satu praktik yang menyenangkan. Setelah doa pagi anak anak berlari menuju workshop keterampilan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP). Sambil berlari kecil mengikuti anak-anak yang sudah nggak sabar lagi pingin cepet praktik. Anak anak selamat pagi? tadi kita sudah berdoa dikelas, kali ini untuk mengawali praktik kita, ibu minta kalian mengamatinsuasana di kelas ini. Bagaimana kebersihannya? Bersihkah anak anak?…… bersih buuuu….. jawab para siswa apakah alat alatnya dalam keadaan tertutup dan keadaan bersih anak-anak….? bersih dan kering buuuu...Baik anakku nanti kalian semua punya tanggung jawab mengembalikan seperti semuala. Anak-anakku kenaka cemek dan mari sebelum kita berdoa terlebih dahulu. Anak-anak apakah kalian sudah cuci tangan? Sudah buu…baik mari kita awali dengan bisnillah hirohmannirrohim.. anak anak kenakan clemek dan sarung tangan untuk membuat makanan kalian bisa kenakan sarung tangan ataupun tidak menggunakan kaus tangan yang penting kalian sudah cuci tangan dulu. Mulai menyiapkan peralatan yang dibutuhkan, bahan-bahan sesuai masakan yang akan di buat. Kali ini kelompok kelas sepuluh, membuat nasi bakar endul huhah. Membuat nasi yang


setengah matang sekarang cukup mudah kita bisa membuatnya dengan mejicom dengan air yang tidak begitu banyak cukuo setengah dari biasanya. Nasi yang sudah setengah masak kemudian di angkat di ambil untuk di bikin seperti lonting di atas daun kemudian di isi dengan daging togkol yang sudah di masak terlebih dahulu sehingga mateng dan sudah pedas gurih. Nasi yang sudah terisi kemudian di bentuk seperti lontong bulat panjanag dengan bi semat biting boleh juga dengan tusuk gigi agar lebih mudak menyematkan dan melepaskannya. Memasak isi nasi bakar dengan daging tongkol yang di suwir-suwir dan bumbu-bumbu sebagai berikut, bawang merah, bawang putih, cabe jablai, miri, di haluskan dengan cara di ulek atau di tumbuk pada cobek sampai halus kemudian di tambah garam sedikit gula pasir. Panaskan minyak sedikit tumis bumbu-bumbu yang sudah halus setelah setengah mateng masukkan tongkol suwir-suwir aduk sampai rata dan di aduk terus sampai mateng bumbui juga denga penyedap rasa menggunakan kaldu jamur yang gurih icip-icip rasakan apakah sudah enak? Kalau sudah enak dan cukup lama memasak biar meresap baru di angkat dan boleh di pakai sebagai pengisi masi bakar. Nasi bakar yang sudah terbentuk bisa di mulai di bakar menggunakan arang atau pembakar dari tembikar semacam tanah liat yang di press kusus untuk membakar ikan, sosis, sate dan nasi bakar. Bau nasi bakar dengan daun pisang yang khas membuat perut protes berbunyi krukkruk seperti prates ingin segera di isi. Hemm… baunya endul sekali, sudah nggak sabar ingin mencicipi nasi bakar isi tongkol suwir. Di bakar jangan lua di bali-balik supaya tidak gosong. Setelah beberapa saat nasi jagung sudah saatnya di angkat dan lakukan pembakaran sampai selesai. Memakan nasi bakar diatas piring kemudian di buka perlahan dengan kittik makanan tsrsebut. Enaknya nggak pakai sendok langsung saja di tarik sematan lidi kemudian bisa dimakan sedikit demi sedikit tampa sedok yaa….mamasak kali ini untuk dimakan sendiri, sedangkan untuk ptaktik berikutnya baru di jual Kelompok yang lain dengan hasil rsep masakan yang lain sehingga sebenarnya kita bisa saling barter. Tapi prakti kali ini persiapan untuk kita jual di acara P5 RA (Proyek Penguatan Profil Pancasila dan Rahmatan Lil’alamin) yang di selenggarakan oleh MAN Temanggung di halaman utama. Kegiatan ini didistingtifkan untuk kusus kelas sepuluh kurikulum merdeka. Tempat para siswa berkarya dan ection mereka berenterpreneur. Salah satu upaya pemerintak dengan kurikulum merdeka, mengajarkan mereka untuk aktik kreatif dan inovatif dan siap berlatih mandiri mempunyai jiwa enterpreneur yang tinggi. Semangat juang mereka latihan


berorganisasi, latigan bertanggung jawab dan latihan jiwa kepemimpinan mengelola sebuah usaha dapat di wujudkannya di sini. Program P5 RA menjadi wadah nyata untuk penerapan kurikulum merdeka yang akan mengantarkan anak-anak kita sesuai harapan nyata. Para siswa berlomba untuk berkreasi dengan bimbingan guru wali kelas dan guru mapel terkait dengan kegiatan tersebut. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) juga berperas aktif sebagai EO (Event Organizer) dan mengandeng pihak lain terkait. Bonarasi Seorang ibu dan guru yang lahir lima puluh dua tahaun silam, asli Yogyakarya, telah menetap di Temanggung selama dua puluh enam tahun. Karena sikon (pendemik) jadi suka menulis di word, di blok dan di grup PGRI Pusat. Membaca itu sehat menulis itu hebat. Bisa kenal lebih lajut di surel [email protected], instagram ind_aryatisugeng, indaryati mediaguru.id telf. 085729761212


AIR MATA ZHIA Karya : Very Ambarwati Tok…tok….Tiba –tiba pintu kelas ada yang mengetuk.Anak-anak kelas 3 Sekolah Dasar itu saling celingukan sambil berbisik-bisik. “Silahkan masuk,” bu guru mempersilahkan masuk kepada pak Marno penjaga sekolah yang tadi mengetuk pintu. “Ada yang ingin bertemu Zhia bu,” kata pak Marno “Oh ya,Zhia silahkan ikut Pak Marno.Ada yang ingin bertemu denganmu.” “Baiklah.” Zhia segera beranjak dari tempat duduknya mengikuti pak Marno.Pak Marno mengajak Zhia ke ruang tamu.Ruangannya terletak disamping kantor guru.Diruang tamu itu telah menunggu sosok perempuan yang sangat Zhia rindukan selama ini. “Monggo Mbak Zhia.Bapak antarkan sampai sini ya?”ucap pak Marno. “Ya Pak,terimakasih.” Sesampai di depan pintu Zhia hanya terpaku berdiri melihat sosok perempuan yang berlari dan tiba-tiba memeluknya.Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena telah lama tidak bertemu,Zhia merasa kikuk bertemu dengan sosok wanita cantik ini. Ada rasa bahagia,haru,sedih,kecewa. Semuanya campur aduk jadi satu.Tak terasa air matanya menetes ketika mendengar lembutnya suara wanita itu. “Assalamualaikum,putriku yang cantik…”


Kemudian didudukkannya Zhia dikursi.Ia menghapus air mata Zhia dengan lembut.Walaupun ia sendiri menahan air mata yang bersembunyi dipelupuk matanya.Ia tidak ingin putrinya tahu dia menangis. “Bagaimana kabarmu ,Nak?” tanya ibu Zhia memulai percakapan. “Aku sehat Bu.Ibu kemana saja?Kenapa baru menemuiku?Aku kangen,”kata Zhia lirih masih degan terisak. “Maafkan Ibu,Nak.Bukannya Ibu tidak ingin menemuimu .Hanya saja …”ibunya tidak mampu meneruskan kata-katanya. “Yang penting Ibu sekarang ada disini bersama Zhia.Kita sekarang bersenang-senang saja ya?Tidak usah memikirkan hal-hal yang membuat kita sedih.” Ibu Zhia sudah seringkali berusaha menengok Zhia.Sejak perpisahannya dengan ayah Zhia,Zhia hidup bersama ayahnya.Ibunya tidak sekalipun diijinkan untuk menemui Zhia. Ayah dan ibu Zhia berpisah saat Zhia masih duduk dibangku TK. Entah karena masih sakit hati atau menyesali perpisahannya ,sampai sekarang ayah Zhia bersikeras melarang anaknya menemui ibunya.Orangtua ayahnya yaitu kakek nenek Zhia juga setali tiga uang.Mereka melarang Zhia menemui ibu dan keluarga ibunya.Pernah sekali waktu ibunya menemui Zhia di sekolahnya ketika masih TK.Teman-temannya bilang pada nenek dan ayah Zhia,alhasil Zhia dimarahi.Zhia takut. Zhia yang semula ceria berubah menjadi pemalu dan pendiam.Zhia bukan anak yang pandai dikelasnya tapi dia selalu mendapat rangking.Semenjak kejadian itu ia menjadi semakin malas belajar.Hari-harinya banyak digunakan untuk bermain game.Semua fasilitas disediakan di rumahnya baik computer,smartphone atau alat –alat lainnya.Hal ini dilakukan ayah,kakek,dan neneknya agar ia tidak banyak menanyakan tentang ibunya.Saat kenaikan kelas nilainya pun jeblok,ia mendapat rangking 19 dari 25 anak di kelasnya. Zhia jadi senang menyendiri.Ketika teman-temannya bermain,ia lebih suka melihatnya dari jauh.Jika teman-teman mengajaknya bermain,sering dengan halus ia menolak permintaan teman-temannya. “Zhia sudah sarapan?” “Belum,Bu.”


“Kebetulan Ibu bawa makanan kesukaan Zhia.Tada…”dengan senyum merekah sambil membuka wadah bekal makanan dari tasnya. “Ibu suapin ya?Sudah lama Ibu tidak menyuapi Zhia.Ibu kangen.Selalu kangen dengan momen ini,”kata ibunya sambil menahan air mata yang dari tadi meronta untuk keluar. “Masakan ibu memang selalu enak!Sudah lama Zhia tidak makan masakan Ibu.” Senyumnya mengembang sambil mengunyah makananya.Rasanya perasaan seperti ini sudah lama sekali ia tak rasakan sejak perpisahan orangtuanya.Ibunya berkaca-kaca melihat anaknya yang terlihat begitu bahagia.Seperti ada seribu sembilu menusuk-nusuk hatinya.Dalam hatinya ia berucap. “Maafkan Ibu Nak.Maafkan ibu yang tidak selalu berada disampingmu.Semoga Allah selau melindungimu.” Zhia menghabiskan makanan yang dibawakan ibunya dengan lahap.Ibunya bertanya semua tentang kebiasaan Zhia selama ibunya tidak bersamanya. “Apakah Zhia masih ingat ketika dulu Ibu mengendong Zhia sambil bawa motor?Waktu itu mau hujan tapi Zhia sudah sangat mengantuk sampai-sampai Ibu pakaikan jas hujan eh Zhianya tetep merem,”cerita ibunya sambil tangannya mengelus-elus kepala putri cantiknya itu. “Oh ya bu?Sayang ya Zhia sudah lupa!”jawab Zhia dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ayo Bu.Ceritakan lagi Bu!” Ibunya menceritakan tengtang Zhia waktu bayi.Zhia mendengarkan cerita ibunya dengan seksama.Sembari mereka bercengkerama meluapkan rasa rindu,ibu Zhia menuturkan beberapa pesan untuk Zhia. “Zhia ,kamu anak yang baik Nak.Meski Zhia tidak bersama Ibu,Zhia harus tetap baik.Jangan nakal apalagi dengan ayah,kakek dan nenekmu.Jadilah anak yang sholihah Sayang.Ibu tahu kamu kecewa dengan ayah dan ibumu.Maafkan Ibu Nak. Ibu tidak perlu memberikan alasannya sekarang,kelak ketika kamu sudah besar kamu akan tahu semuanya.” “Insyaallah,Zhia mengerti Bu.”


“Tetap doakan Ibu setiap selesai sholat ya? Mulai saat ini Zhia mesti lebih rajin belajar juga rajin berdoa.Bermain boleh tapi harus ingat waktu.Ibu tahu kamu anak yang kuat dan mampu melaksanakan pesan Ibu,”tambah ibunya. Zhia mengangguk-angguk tanda ia mengerti.Mulai saat itu Zhia berjanji pada dirinya sendiri.Dia akan lebih rajin belajar dan rajin berdoa.Ia ingin membuat bangga kedua orangtuanya.Ia tidak tahu alasan kenapa ayah dan ibunya memutuskan berpisah tapi ia tahu sebenarnya kedua orangtuanya sangat menyayanginya.Keadaan saja yang belum memungkinkan mereka bersama. Disisi yang lain ibunya pun berjanji untuk selalu mendampingi Zhia meskipun tidak bersamanya.Ia tahu doanya akan tetap bersama Zhia.Doa seorang ibu kepada anaknya bagaikan doa seorang wali. Tok…tok…tiba –tiba ada yang mengetuk pintu membuyarkan lamunan kedua ibu anak itu.Ibu Sari wali kelas Zhia menemui mereka.Ibunya Zhia dan bu Sari berbincang-bincang banyak hal tentang Zhia. “Bu Sari,saya titip anak saya Zhia.Mohon bimbingan dan arahan untuk Zhia ya Bu,”pinta ibu Zhia. “Iya Bu sama-sama.Sedikit banyak saya tahu persoalan Zhia.Saya akan berusaha semaksimal yang saya bisa untuk Zhia.Semoga persoalan panjenengan segera selesai agar Zhia kembali menjadi anak yang periang seperti sediakala.” “Amin terimakasih Bu.” Setelah itu ibu Zhia berpamitan tidak lupa ia memeluk dan mencium Zhia.Entah kapan ia bisa bertemu dengan anak tercintanya itu lagi.Hanya doa yang bisa ia panjatkan.Semoga ia segera dapat bersama Zhia bukan hanya membersamainya lewat doa.Lekas ada keajaiban yang akan meluluhkan hati mantan suami dan mertuanya sehingga ibu dan anak itu bisa selalu bertemu tanpa takut melukai salah satu pihak. BIODATA PENULIS


Very Ambarwati,S.Pd SD, penulis lahir di Temanggung tanggal 4 Februari 1988.Sekarang berprofesi sebagai kepala sekolah di SDN 1 Gesing Kec.Kandangan,Temanggung.Menyelesaikan pendidikan SD Negeri 1 Ketitang(1993- 1999),SMP N 1 Jumo (1999-2002),SMA N 1 Candiroto (2002-2005).Kemudian D2 PGSD Universitas Muhammadiyah Magelang (2005-2007),meneruskan s1 PGSD Universitas Terbuka (2009-2011). Mengajar di SD Negeri 2 Kertosari,Kecamatan Jumo sejak tahun 2010 sampai 2023.Kemudian mutasi ke SD Negeri 1 Gesing sejak Juni 2023 sebagai kepala sekolah.Bersama guru pejuang literasi pernah menulis antologi puisi “Cintamu Semangat Pagiku” serta pernah menulis kumpulan antologi cerpen berjudul “Menjemput Jingga di Kaki Langit” .Email : [email protected] KKG PAI BENTUK PANITIA MAPSI Sriyadi Temanggung-Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan agama Islam ( PAI) Sekolah dasar Kecamatan Temanggung Afif Fathurahman Membentuk panitia pelaksana lomba Mata pelajaran dan Seni Islama (MAPSI) Kecamatan Temanggung 2024,lomba yang menjadi kebanggan guru Pendidikan agama Islam ini rencana akan dilaksanakan awal September mendatang. Kecamatan temanggung sudah tujuh kali berturut turut menjadi juara umum di MAPSI tingkat Kabupaten Temanggung, ini adalah prestasi yang membanggakan dan harus dipertahankan, maka dari itu kegiatan MAPSI tahun ini harus kita persiapkan lebih matang lagi ”Ujar Afif saat rapat KKG di SD Negeri 1 Temanggung II ( 29/5/2024). Sementara itu ketua Kelompok kerja Kepala Sekolah ( K3S ) Kecamatan Temanggung Kusnadi memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada Guru Pendidikan Agama Islam Kecamatan Temanggung atas jerih payahnya membina peserta didiknya. “Saya sebagai yang dituakan di K3S mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada bapak ibu guru GPAI yang sudah mampu mengantar peserta didiknya berprestasi di tingkat Kabupaten dan membawa nama harum Kecamatan temanggung” Ujar Kusnadi saat memberikan Sambutan pembukaan rapat Kelompok Kerja Guru PAI Kecamatan Temanggung,


“Prestasi ini harus terus dilanjutkan Untuk itu K3S siap untuk terus mendukung dan mensuport kegiatan MAPSI ini dengan sepenuhnya baik dari sisi kebijakan maupun anggaran kegiatan, Lanjutnya. Sementara itu pengawas Pendidikan agama Islam kecamatan temanggung Haryaningsih berpesan kepada panitia terpilih agar segera merancang kegiatan dengan sebaik baiknya, “saya berpesan agar siapapun nanti ketua dan panitia terpilih segera merapat untuk mempersiapkan kegiatan dengan sebaik baiknya, perhatikan apa yang menjadi kebutuhan peserta, Juri, fasilitas dan perlengkapan lainya, kata haryaningsih dalam sambutanya Selanjutnya pengwasa Guru PAI Kecamatan temanggung ini berpesan kepada masing masing guru jangan lupa membina dan mempersiapkan peserta didiknya dengan sabaik baiknya agar dapat menorehkan prestasi tertinggi sesuai dengan yang diharapkan. Terpilih sebagai ketua panitia MAPSI kecamatan Temanggung 2024 Tri Bambang Wahyudi Guru PAI SD Negerin 1 Jampiroso, Yudi,saapaan akrapnya dipilih secara aklamasi oleh seluruh anggota rapat KKG. Setelah terpilih yudi langsung membentuk struktur kepanitian lengkap dan meminta kepada semua anggota agar bekerja dengan ikhlas sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Bionarasi Sriyadi, lahir ditemanggung jawa tengan pada tanggal 3 januari tahun 1987 dan beralamat di dusun Gintung desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung, saat ini menjadi pengajar di SD Negeri 1 Jampiroso, Nyawa Kedua Tingkas Harjanti Kepala Fifi terasa mau pecah, kaki pegel-pegel, perut mual, badan terasa lemas lunglai. Siang ini matahari bak diatas kepala. Ingin rasanya Fifi membeli segelas es teh jumbo untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa panas.


“Buk… ini es teh jumbonya”. Tiba-tiba anak perempuan satu-satunya sudah membawakan minuman pesanannya. “Terimakasih ya nduk… bapakmu belum pulang dari sawah?”, tanya Fifi kepada anaknya. Menanti suami pulang dari sawah bukan hal yang biasa Fifi lakukan. Siang hari begini Fifi lebih sering masih ada di luar rumah mencari sampingan yang menghasilkan. Tapi beberapa hari ini badan Fifi terasa lemas dan ingin tidur, meski sampai malam pun tak mampu terlelap. “Mas, tolong panggilkan mantri, badanku terasa sakit semua”, pinta Fifi saat suaminya sudah pulang. Tanpa ba bi bu sekejap sudah datang mantri untuk memeriksa Fifi. Memang keluarganya begitu perhatian satu sama lain, terutama dalam urusan kesehatan. Beberapa pertanyaan terlontar dari mantri sebuah rumah sakit swasta yang ternama ini. Mantri ini sudah mempunyai jam terbang yang tinggi, sehingga banyak warga yang merasa cocok berobat kepadanya. Namun kali ini, mantri mengingatkan jika obat yang diberikannya selama 3 hari tidak membuat sakitnya berkurang maka Fifi harus segera periksa ke rumah sakit. Satu hari berlalu, sakit Fifi belum mereda, namun Fifi masih berusaha menahan sakit yang dirasakan. Dua hari berlalu keadaan belum juga membaik. Hari ketiga keadaan semakin buruk, suhu tubuhnya semakin tinggi. Badannya semakin lemas dan tak secuil makanan maupun minuman bisa masuk ke tubuhnya. Fifi sudah tidak menolak bujukan keluarga untuk berobat ke rumah sakit. Di dalam mobil yang membawanya ke rumah sakit, Fifi merasa semakin tak berdaya. Fifi merasa susah sekali meski hanya untuk berbicara. Di pangkuan suaminya dia hanya berkedip seraya merasakan genggaman tangan suaminya yang begitu hangat. Anak dan seorang sopir di bagian depan masih terlihat dari pandangannya. Sesampainya di rumah sakit, samar-samar keluarganya berbicara dengan pihak rumah sakit. Setelah menunggu sekian lama, ada seorang mendekatinya, “Ruang perawatannya penuh, perawat menyarankan berobat jalan saja”. Jawaban Fifi atas pernyataan itu tak ada yang menyangkanya. “Aku seperti sudah mau mati” Seketika anaknya berteriak kencang diiringi suara tangis yang tak terbendung. Dalam keadaan setengah sadar Fifi merasakan tubuhnya melayang, suara tangis anaknya samar masih terdengar. Di depannya datang sesosok putih menghampiri, entah apa yang akan dilakukannya terhadap Fifi. Mungkinkah dia malaikat maut yang datang menjemput. Badan Fifi terasa semakin sakit,,, apakah ini sakaratul maut itu, pekiknya dalam hati, sungguh sangat meyakitkan. Fifi merasakan terbang diiringi suara sirine meraung-raung. Fifi ingin berteriak


dimanakah keluargaku? Inikah saatnya aku kembali, namun itu semua tak dapat dilakukannya. Fifi merasakan terbang semakin tinggi hingga suara sirine tak terdengar lagi. Fifi tak mendengar maupun merasakan apa-apa. Semua putih sepi hening. “Fi… “, bisikan lembut ditelinga, sebuah suara yang tak asing dan sangat dirindukannya. Ya... suara ibunya, suara yang tak pernah bernada tinggi, hingga yang mendengarnya merasa tenang. “Kamu bisa lihat ibu? Kamu sudah sadar… kamu barusan tidak sadarkan diri”. Bionarasi Penulis Iing merupakan penulis dengan nama lahir Tingkas Harjanti. Lahir di sebuah kota kecil berada di daerah berhawa dingin dibawah pegunungan Sumbing Kabupaten Temanggung. Iing terlahir kedunia pada tanggal 12 Agustus 1981. Terlahir pada musim kemarau menjadi inspirasi bagi orang tuanya untuk memberi nama Tingkas yang dalam Bahasa Jawa mempunyai arti terang. Dengan harapan kelak dia mampu menerangi dirinya sendiri serta orang-orang di sekitarnya.


GERBANG SEKOLAH Oleh: ata Pada sebuah gerbang transaksi tanpa kata terjadi saling percaya atau pasrah terasa samar Pada sebuah gerbang berdiri dua kaki satu kaki d luar satu kaki di dalam Sekolah sebagai lembaga pendidikan kadang menjadi sebuah tempat terakhir orang tua yang lelah atau tak berdaya menghadapi anak. Orang tua berharap anaknya akan menjadi baik setelah masuk sekolah. Sementara pihak sekolah berharap hal yang sama, Anak-anak yang masuk ke sekolah diharapkan dapat mudah dididik, diarahkan sehingga nantinya banyak mengukir prestasi. Gerbang sekolah menjadi tempat transisi antara pihak orang tua dan sekolah. Semestinya transaksi yang terjadi adalah komunikasi dan koneksi pengasuhan bukan sekadar saling percaya, pasrah. Jika demikian, maka siapakah yang harusnya bertanggungjawab terhadap anak sebenarnya? Pada dasarnya anak dilahirkan dalam fitrah yang baik. Namun kemudian pola asuh, lingkungan tempat tinggal, masyarakat, pertemanan, sekolah, akan memengaruhinya termasuk media sosial saat ini. Tak sedikit kita jumpai anak-anak yang menjadi korban baik secara pemikiran, fisik, maupun psikis. Anak-anak jenjang sekolah apapun. Ada yang korban perundungan, perdagangan manusia, pelecehan, hingga pembunuhan. Dalam hal ini perlu adanya sinergisitas antara orang tua (keluarga) dan sekolah. Sinergistas ini akan berhasil dengan baik bila memahami peran masing-masing serta pihak lain. Tentunya orang tua dan keluarga menjadi lingkaran pertama dalam tanggung jawab ini. Hal-hal yang mendasar seperti keimanan, adab, dasar-dasar ilmu dan keterampilan akan dipelajari dari keluarga. Kemudian sekolah akan melanjutkan dan mengembangkan secara keilmuan. Lingkungan menjadi tempat anak belajar menerapkan ilmu, menambah pengalaman. Bila nantinya dalam perjalanan anak mendapatkan masalah, penanganan yang terbaik adalah


dengan melibatkan semua pihak bukan menyalahkan salah satu pihak sebab semuanya saling berkaitan dan terhubung. Hal yang baik jika semua pihak menyadari bahwa anak-anak, calon penerus bangsa ini merupakan tanggung jawab bersama termasuk pemerintah untuk memfasilitasi serta mengkolaborasikan. Tentu saja dengan peran masing-masing. Suksesi Indonesia Emas 2045 tidak boleh terhenti di gerbang sekolah. Semoga. BIONARASI Ata merupakan nama pena Agustin T. A. di dunia literasi. Ia telah menulis artikel, karya tulis ilmiah, esai, cerita pendek, cerita anak, puisi, serta belasan buku baik individu maupun antologi, fiksi maupun nonfiksi. Bagi yang ingin silaturahim silakan berkunjung ke IG @agustinta.ata.


Click to View FlipBook Version