The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Maria Magdalena, 2020-10-27 20:12:12

STT REM

Skripsi S.1 PAK

Keywords: STT REM

PERANAN SEKOLAH SABTU GPIB ZEBAOTH BOGOR
SEBAGAI ALTERNATIF

PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan Agama Kristen (S.Pd)
Di Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel

Oleh
Maria Magdalena

01512212

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI RAHMAT EMMANUEL

JAKARTA
2019

i

PERANAN SEKOLAH SABTU GPIB ZEBAOTH BOGOR
SEBAGAI ALTERNATIF

PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan Agama Kristen (S.Pd)
Di Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel

Oleh
Maria Magdalena

01512212

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI RAHMAT EMMANUEL

JAKARTA
2019

ii

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa
skripsi ini saya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang
berlaku di Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel.
Jika di kemudian hari ternyata saya melakukan tindakan Plagiarisme, saya akan
bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh
Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel kepada saya.

Jakarta, .................................... 2019

MATERAI
6000

Maria Magdalena

iii

PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip
maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Maria Magdalena

NIM : 01512212

Program Studi : Pendidikan Agama Kristen (PAK)

Tanda Tangan : ...............................

Tanggal : .............................

iv

PENGESAHAN PEMBIMBING

Skripsi yang diajukan oleh :

Nama : Maria Magdalena

NIM : 01512212

Program Studi : Pendidikan Agama Kristen (PAK)

Judul : Peranan Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor Sebagai Alternatif

Penyelenggaraan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.

ini telah berhasil diselesaikan dan dibimbing dengan baik oleh pembimbing
skripsi, serta siap untuk diuji oleh Dewan Penguji sesuai dengan peraturan di
Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel.

DOSEN PEMBIMBING

Pembimbing 1 : Hendro Sumarsono, S.Th, M.Pd.K ( .................................)

Pembimbing 2 : Dr. Ariasa H.Supit, M.Si (.......................................)

Ditetapkan di : ..........................
Tanggal : ..........................

Oleh :

Ketua Program Studi Sarjana Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel

Hendro Sumarsono, S.Th, M.Pd.K
NIDN 2317045701

v

PENGESAHAN PENGUJI

Skripsi yang diajukan oleh :

Nama : Maria Magdalena

NIM : 01512212

Program Studi : Pendidikan Agama Kristen (PAK)

Judul : Peranan Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor Sebagai

Alternatif Penyelenggaraan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.

ini telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan Agama Kristen (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Agama
Kristen (PAK) di Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing 1 : Hendro Sumarsono, S.Th, M.Pd.K ( ................................)

Pembimbing 2 : Dr. Ariasa H. Supit, M.Si (…………........................)

Penguji 1 : Hendro Sumarsono, M.Pd.K (.…….…………..............)

Penguji 2 : Danny R. Titaley, M.Pd ( .......................................)
Penguji 3 : Pating Tarigan, M.Pd.K (……................................)

Ditetapkan di : ..........................
Tanggal : ..........................

Oleh :

Ketua Program Studi Sarjana Pendidikan Agama Kristen
Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel

Hendro Sumarsono, S.Th, M.Pd.K
NIDN 2317045701

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Guru Agung yang telah
menolong dan membimbing. Atas rahmat dan hikmat-Nya, penulis mendapat
pengetahuan untuk melakukan penelitian dan menyelesaikan skripsi dengan judul:
‘Peranan Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth sebagai alternatif Penyelenggaraan
Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen’.

Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan untuk
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Agama Kristen (S.Pd) pada Sekolah Tinggi
Teologi Rahmat Emmanuel (STT REM).

Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa penulis memiliki keterbatasan,
selama proses penulisan ini tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa bimbingan,
motivasi, baik moral maupun materiil dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
dengan segala hormat perkenankan penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Ariasa H, Supit, M.Si selaku Ketua Sekolah Tinggi Teologi
Rahmat Emmanuel sekaligus sebagai Dosen Pembimbing II, yang
telah membimbing penulisan skripsi yang benar sesuai ketentuan yang
berlaku.

2. Bapak Hendro Sumarsono, S.Th, M.Pd.K selaku Kaprodi PAK STT
REM sekaligus sebagai Dosen Pembimbing I yang telah membimbing,
mengarahkan, memberi koreksi dan masukan dengan penuh kesabaran
selama proses penulisan.

3. Bapak Hamden Harapan Nainggolan, M.Min, M.Th selaku
penyelenggaran Bimas Kristen Kantor Kementrian Agama Kota
Bogor, sekaligus koordinator mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi
Rahmat Emmanuael yang membantu memfasilitasi mahasiswa kelas
Bogor, menyediakan data dan memberi keterangan yang diperlukan
oleh penulis.

4. Bapak dan ibu dosen semua mata kuliah yang sudah mengajar
mahasiswa STT REM kelas Bogor, yang telah membimbing kami
selama perkuliahan hingga persiapan penulisan skripsi.

vii

5. Gereja GPIB Zebaoth Bogor yang telah mengijinkan penulis untuk
mengadakan penelitian di Sekolah Sabtu.

6. Komisi Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth yang membantu menyiapkan
data peserta didik, data pengajar dan data lain yang diperlukan dalam
penulisan skripsi ini.

7. Orang tua peserta didik & para peserta didik Sekolah Sabtu, pejabat
gereja, praktisi pendidikan dan pihak pihak lainnya yang tidak dapat
saya sebutkan satu persatau, yang telah bersedia menjadi responden,
bersedia diwawancarai dan memberikan keterangan yang dibutuhkan
oleh penulis secara jujur.

8. Suami tercinta Drs. Eko Wahyu Budiono, yang mendukung secara
moral dan materiil dalam menyelesaikan perkuliahan. Menyemangati
dan memotivasi dalam belajar, mendoakan dan menguatkan selama
penulisan skripsi. Terimakasih atas kasih sayang, pengertian dan
perhatian yang tulus.

9. Anak tersayang - semata wayang, Carel Arloke beserta anak menantu
Bonifasia Yulianti, yang terus mendoakan dan mendukung selama
menempuh perkuliahan.

10. Semua rekan mahasiswa STT REM - Kelas Bogor yang berjuang
bersama selama perkuliahan dan penyelesaian tugas akhir.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh daripada sempurna,

maka dengan rendah hati, penulis menerima kritik dan saran dengan sekacita.
Semoga penelitian dan penulisan skripsi ini bermanfaat dan berguna bagi
pembaca, gereja dan lembaga pendidikan, maupun pihak lain yang membutuhkan
dikemudian hari. Kiranya Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Jakarta, ................ 2019

Penulis,

viii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel, saya yang

bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Maria Magdalena

NIM : 01512212

NIKA : ........................................................................................

Program Studi : Pendidikan Agama Kristen (PAK)

Jenis karya : Skripsi

demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui untuk memberikan

kepada Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel Hak Bebas Royalti

Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang
berjudul : “Peranan Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor Sebagai Alternatif
Penyelenggaraan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen” beserta perangkat

yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non Eksklusif ini Sekolah

Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel berhak menyimpan,

mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),

merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama

saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : …………………….
Pada tanggal : …………………….
Yang menyatakan

(………………………………………..)
ix

ABSTRAK

Maria Magdalena, Peranan Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor
sebagai alternatif Penyelenggaraan Pembelajaran Pendidikan Agama
Kristen.
Skripsi Program Studi Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi
Rahmat Emmanuel (STT REM) Jakarta, Juni 2019.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana peranan Sekolah
Sabtu di GPIB Zebaoth Bogor sudah menjadi alternatif untuk mengatasi
permasalahan ketiadaan pembelajaran PAK di beberapa sekolah di kota
Bogor. Kehadiran Sekolah Sabtu merupakan alternatif PAK bagi siswa-siswi
yang di sekolah mereka tidak ada guru agamanya atau karena jumlah siswa
yang terlalu sedikit atau alasan lainnya, sehingga pembelajaran PAK tidak
dapat dilaksanakan oleh pihak sekolah. Hasil penelitian memberi gambaran
bahwa peran Sekolah Sabtu mampu menjadi solusi alternatif (sementara) bagi
persoalan yang timbul di lapangan khususnya di kota Bogor.

Penelitian menggunakan metode kualitatif yang dilakukan dengan
menggunakan tehnik penjaringan data dengan menggunakan kuesioner dan
wawancara terbuka. Data diperoleh melalui tiga puluh orang responden.
Tetapi penulis hanya memilih lima belas diantaranya yang dianggap dapat
mewakili. Responden terdiri dari: pejabat gereja, orang tua murid, peserta
didik Sekolah Sabtu, praktisi pendidikan dan pejabat di kantor Kemenag
Bimas Kristen Kota Bogor.

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi empiris dari
peranan Sekolah Sabtu sebagai pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
Hasil kajian semoga dapat bermanfaat bagi gereja, sekolah dan juga
pemerintah terkait bagi kebijakan terhadap solusi ketiadaan PAK di sekolah-
sekolah tertentu khususnya di kota Bogor.

Kata kunci : Peranan Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor, alternatif
penyelenggaraan pembelajaran PAK.

x

DAFTAR ISI

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME.....................................................................iii
PERNYATAAN ORISINALITAS ..................................................................................iv
PENGESAHAN PEMBIMBING......................................................................................v
PENGESAHAN PENGUJI..............................................................................................vi
KATA PENGANTAR ....................................................................................................vii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................................................ix
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ............................................ix
ABSTRAK ........................................................................................................................x
DAFTAR ISI....................................................................................................................xi
DAFTAR TABEL..........................................................................................................xiii
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................................xiv
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................................xv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1

A. Latar Belakang .......................................................................................................1
B. Identifikasi Masalah ............................................................................................. 11
C. Pembatasan Masalah ............................................................................................11
D. Perumusan Masalah ............................................................................................. 12
E. Manfaat Penelitian ............................................................................................... 12
F. Sistematika Penulisan ..........................................................................................13
BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................14
A. Hakekat Pembelajaran dan Pendidikan................................................................ 14

1. Pengertian Pembelajaran ........................................................................ 14
2. Tujuan Pembelajaran .............................................................................. 15
3. Komponen Komponen yang Mempengaruhi Pembelajaran................... 16
4. Ciri-Ciri Pembelajaran ........................................................................... 20

xi

5. Prinsip-Prinsip Pembelajaran ................................................................. 22
6. Proses Pembelajaran............................................................................... 26
7. Hasil Evaluasi Pembelajaran .................................................................. 31
B. Pendidikan Agama Kristen. .................................................................................35
1. Pendidikan Agama. ................................................................................ 36
2. Pengertian Pendidikan Agama Kristen................................................... 37
3. Tujuan Pendidikan Agama Kristen. ....................................................... 40
4. Objek-Objek Pendidikan. ....................................................................... 42
5. Metode Pembelajaran. ............................................................................ 43
6. Kurikulum Pendidikan Agama Kristen. ................................................. 45
C. Kerangka Berpikir................................................................................................ 46
D. Hipotesis Penelitian.............................................................................................. 50
BAB III METODE PENELITIAN.................................................................................51
A. Tujuan Penelitian. ................................................................................................ 51
B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan. .........................................................................52
C. Metode Penelitian.................................................................................................52
D. Fokus Penelitian/Instrumen Penelitian.................................................................52
E. Sasaran dan Informan...........................................................................................53
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...............................................54
A. Hasil Penelitian. ...................................................................................................54
B. Pembahasan Hasil Penelitian ...............................................................................79
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.........................................................................85
A. Kesimpulan ..........................................................................................................85
B. Saran.....................................................................................................................89
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................I
LAMPIRAN .......................................................................................................................I
DAFTAR RIWAYAR HIDUP ..........................................................................................I

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Data Asal Gereja Peserta Didik Sekolah Sabtu ........................ 60
Tabel 2. Data Jumlah Peserta Didik Sekolah Sabtu................................ 61
Tabel 3. Data Asal Sekolah Peserta Didik Sekolah Sabtu (SD) ............. 61
Tabel 4. Data Asal Sekolah Peserta Didik Sekolah Sabtu (SMP) .......... 62
Tabel 5. Data Asal Sekolah Peserta Didik Sekolah Sabtu (SMA).......... 62
Tabel 6. Data Tenaga Pendidik Sekolah Sabtu ....................................... 63
Tabel 7. Data - Data Responden ............................................................. 77

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir ................................................... 49
Gambar 2. Struktur Organisasi Sekolah Sabtu ...................................... 65

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1
Data Guru PAK, Kantor Kemenag – Bimas Kristen, kota Bogor

Lampiran 2
Data Peserta Didik Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor dan Asal Gereja

Lampiran 3
Data Peserta Didik Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor (SD)

Lampiran 4
Data Peserta Didik Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor (SMP)

Lampiran 5
Data Peserta Didik Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor (SMA)

Lampiran 6
Foto-foto kegiatan Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor

Lampiran 7
Lembar Hasil Wawancara dari Responden

Lampiran 8
Daftar Materi Pelajaran Kurikulum 2013 (SD,SMP, SMA)

Lampiran 9
Formulir Pendaftaran Peserta Didik Sekolah Sabtu

Lampiran 10
Surat Pengantar Penelitian di GPIB Zebaoth Bogor

Lampiran 11
Surat Ijin Penelitian dari GPIB Zebaoth Bogor

Lampiran 12
Surat Pengantar Penelitian di Kantor Kementrian Agama Bimas Kristen Bogor

xv

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis mengemukakan pendahuluan yang berisi latar
belakang pokok permasalahan dan dampak yang timbul akibat persoalan
tersebut. Faktor penyebab permasalahan penyelenggaraan PAK muncul di
beberapa sekolah dan apa saja dampaknya bagi peserta didik, bagaimana solusi
untuk mengatasi permasalah tersebut dijelaskan sebagai berikut:

A. Latar Belakang
Pada dasarnya penyelenggaraan Pendidikan di Indonesia telah diatur

dalam Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Prinsip penyelenggaraan pendidikan dalam pasal 4 ayat
(1), mengamanatkan pendidikan diselenggarakan secara demokratis serta
tidak deskriminatis dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai
keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Undang undang
Pendidikan Nasional juga telah menetapkan kurikulum tingkat dasar,
menengah sampai ke perguruan tinggi. Mata pelajaran agama adalah mata
pelajaran pokok yang wajib diberikan pada tiap-tiap jenjang pendidikan.
Setiap peserta didik pada satuan jenjang pendidikan berhak menerima
pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh
pendidik atau pengajar yang seagama (Undang-undang RI nomer 20 Tahun
2003, Bab V tentang Peserta Didik, pasal 12, ayat 1). Pendidikan agama
adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap,
kepribadian dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran
agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata
pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.” (Pasal 1/1,
PP. 55/2007, tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan).1

1 https://ainamulyana.blogspot.com/2018/06/undang-undang-uu-nomor-20-tahun-2003.html

1

Fungsi dan tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia
Indonesia yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berahlak mulia, mampu membawa kedamaian, kerukunan, di tengah
masyarakat, bangsa dan Negara tanpa memandang agama yang dianutnya.
Pendidikan agama berperan penting dalam membangun peserta didik dalam
memahami dan menghayati serta mengamalkan nilai-nilai agama secara
bertanggung jawab dalam semua lapangan kehidupan. Baik dalam kehidupan
sosial, pengembangan ilmu pengetahuan, tehnologi, budaya dan sebagainya.

Pendidikan merupakan proses pendewasaan manusia menjadi manusia
seutuhnya. Manusia seutuhnya meliputi keseluruhan dimensi kehidupan
manusia: fisik, psikis, mental atau moral, spiritual dan religius. Pendidikan
dapat berlangsung secara formal di sekolah, informal di lembaga-lembaga
pendidikan dan pelatihan dan nonformal dalam keluarga. Pendidikan agama
di sekolah sebagai salah satu upaya pendewasaan manusia pada dimensi
spiritual-religius.2 Adanya pelajaran agama di sekolah di satu pihak sebagai
upaya pemenuhan hakekat manusia sebagai makhluk religius (homo
religiousus). Sekaligus di lain pihak pemenuhan apa yang objektif dari para
siswa akan kebutuhan pelayanan hidup keagamaan. Agama dan hidup
beriman merupakan suatu yang objektif menjadi kebutuhan setiap manusia.

Agama memiliki kedudukan yang penting dalam pendidikan nasional.
Pertama, tujuan pendidikan nasional: Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab. (UU No.20 Tahun 2003, pasal 3).

Pendidikan agama merupakan bagian tak terpisahkan dari
pembaharuan dan pembangunan pendidikan nasional: Pembaharuan sistem
pendidikan nasional memerlukan strategi tertentu. Strategi pembangunan
pendidikan nasional dalam undang-undang ini meliputi: (1) pelaksanaan

2 http://danar-supra.blogspot.com/2011/11/pendidikan-sebagai-pemanusiawian.html

pendidikan agama serta akhlak mulia, (2).”(Penjelasan umum UU No.20
Tahun 2003). Mengacu pada uraian diatas, Pendidikan agama menjadi salah
satu ujung tombak yang menentukan arah kemajuan bangsa.

Pendidikan Agama Kristen (selanjutnya disebut PAK) turut
mengemban tanggung jawab untuk membentuk manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berahlak mulia, mampu membawa
damai di tengah gereja, masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia.
Pendidikan Agama Kristen memegang peranan penting mengembangkan
peserta didik dalam memahami, menghayati serta mengamalkan nilai-nilai
agama secara bertanggung jawab dalam semua aspek kehidupan.

Pelaksanaan pelajaran agama di sekolah selama ini sudah berjalan.
Sekolah-sekolah di Indonesia memberlakukan atau memasukkan pelajaran
agama dalam kurikulum. Pelajaran Pendidikan Agama merupakan salah satu
pelajaran wajib, harus ada dan diterima oleh para siswa. Di Indonesia
persekolahan-persekolahan swasta umum dengan ciri keagamaan tertentu
menerapkan pelajaran agama sesuai dengan diri khas keagamaannya.
Kenyataan di lapangan penerapan pelajaran agama di sekolah baik negeri dan
swasta menimbulkan banyak permasalahan yang komplek.

Munculnya berbagai problematika dalam penyelenggaraan pendidikan
khususnya penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah disebabkan oleh
berbagai faktor dari berbagai pihak. Jika ditinjau dari Peraturan Pemerintah
tentang Sistem Pendidikan Nasional yang telah ditetapkan pemerintah,
demikian juga dengan Undang-undang Pendidikan sudah sangat baik dalam
mengatur dan menetapkan jalannya pendidikan agama di Indonesia. Jika
terjadi pelanggaran dalam penyelenggarannya, tentu ada sangsinya, tetapi
biasanya sangsi hanya bersifat administrasi saja. Kondisi inilah yang
menyebabkan pihak masyarakat dan lembaga pendidikan cenderung kurang
bersungguh-sungguh memperjuangkan dan mengupayakannya.

Sekolah suatu organisasi yang berperan sebagai Lembaga Pendidikan
juga memiliki bergam masalah dalam meningkatkan kualitas sumber daya
pendidik yang professional. Penerimaan guru agama Kristen juga sangat
terbatas sehingga hal ini menjadi penghambat terjadinya penambahan jumlah

guru agama yang professional. Sertifikasi guru agama Kristen dirasakan
banyak mengalami hambatan. Banyak tenaga pengajar yang belum memenuhi
persyaratan untuk sertifikasi mengajar. Disisi lain ada banyak guru yang
mengeluhkan tentang Proses Sertifikasi guru dirasakan sulit. Hal ini ikut
menyumbang problematika tentang tersedianya guru agama yang professional
dan siap mengajar. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikasi
pendidik kepada guru, sertifikat pendidikan diberikan kepada guru yang telah
memenuhi standar profesional guru. Guru profesional merupakan syarat
mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas.
Sertifikasi ialah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen
atau bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen
sebagai tenaga professional.

Perlu kajian lebih lanjut terkait minat masyarakat untuk menjadi guru
professional khususnya mata pelajaran agama Kristen. Minimnya peminat
untuk berkecimpung dalam dunia pendidikan Kristen juga dapat menambah
kesulitan bagi tersedianya guru agama Kristen. Lembaga Pendidikan perlu
membuka lowongan yang seluas-luasnya bagi tenaga guru agama. Kebutuhan
yang besar ini akan mendorong para lulusan sekolah menengah untuk
mengambil jurusan pendidikan agama Kristen dengan harapan lulusan sarjana
pendidikan agama dapat mencukupi kebutuhan di lapangan. Sekolah Tinggi
Kristen makin banyak menghasilkan para sarjana pendidikan agama Kristen
untuk menjadi guru yang berkualitas yang siap ditempatkan di berbagai
jenjang pendidikan. Dengan harapan, cukup tersedia lulusan sarjana
pendidikan agama yang siap terjun mengajar di sekolah-sekolah.

Faktor penyebab lainnya yang sering dipakai menjadi alasan tidak
dapat menyelenggarakan pendidikan agama Kristen di sekolah-sekolah. Hal
ini terutama berlaku bagi peserta didik yang beragama Kristen karena jumlah
mereka sangat minoritas. Mengingat memang jumlah pemeluk agama Kristen
di wilayah Jawa sangat minoritas, kenyataan ini sering menjadi alasan tidak
terselenggarakannya pendidikan agama Kristen di tiap-tiap sekolah. Jika
mencermati data statistik hasil sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan
Pusat Statistik (BPS) tahun 2010. Jumlah populasi penganut agama Kristen

Protestan & Kristen Katholik di Indonesia sebesar 23.436.386 jiwa. Hanyalah
sepuluh persen dari total penduduk Indonesia yang sebesar 237.642.326
jiwa.3 Dari data tersebut dapat dilihat ternyata hanya provensi bagian timur
dan barat Indonesia yang beragama Kristen Protestan jumlahnya cukup
banyak. Untuk wilayah Jawa Barat pada khususnya, pemeluk agama Kristen
minim jumlahnya. Sebenarnya, meskipun anggka jumlah pemeluk agama
Kristen yang minim di Jawa barat, tidak menjadi alasan tidak tersedianya
kesempatan di sekolah-sekolah negeri membuka pembelajaran pendidikan
agama Kristen.4

Problematika lainnya adalah minimnya penyediaan guru professional
khususnya untuk mata pelajran agama Kristen. Jumlah guru agama Kristen
yang tidak memadai dan tidak seimbang dengan jumlah sekolah-sekolah
negeri maupun swasta yang ada di Indonesia. Semestinya jumlah sekolah
yang ada berbanding lurus dengan tersedianya guru agama
Kristen.Penyelenggaraan PAK melalui jalur pendidikan formal mengalami
berbagai persoalan. Salah satu persoalan PAK yang terjadi khususnya di kota
Bogor adalah minimnya guru mata pelajaran Agama Kristen. Fakta ini yang
menyebabkan banyak sekolah tidak dapat menyelenggarakan PAK.
Berdasarkan data statistik Bimas Kristen Departemen Agama Kota Bogor,
menunjukkan realita, bahwa hanya sedikit sekali jumlah sekolah umum
(negeri dan swasta), dari tingkat SD, SMP dan SMA yang menyelenggarakan
PAK. Dari jumlah total sekolah, hanya lima persen bahkan mungkin kurang,
yang menyelenggarakan PAK. Faktor terbesar disebabkan oleh minimnya
jumlah guru agama Kristen yang sudah memiliki Sertifikasi mengajar. Jumlah
guru agama Kristen baik yang berstatus pegawai negeri (PNS) maupun non
PNS sangat terbatas. data ini dapat dilihat pada Rekapitulasi Data Keagamaan
dan Pendidikan Kristen di kantor Kementrian Agama, kota Bogor. (Lihat
Lampiran data Bimas Kristen, Kemenag, Bogor). Didukung pula oleh data
siswa/siswi dari berbagai sekolah negeri maupun swasta yang meminta nilai
agama ke gereja, menguatkan beberapa sekolah di kota Bogor, tidak

3 https://www.bps.go.id/news/2011/11/01/5/bps-telah-merilis-hasil-sensus-penduduk-2010.html
4 https://rubrikkristen.com/20-provinsi-di-indonesia-dengan-populasi-kristen-terbesar/

menyelenggarakan pendidikan agama Kristen. (lihat Lampiran peserta didik
Sekolah Sabtu).

Persoalan diatas berdampak besar terhadap peserta didik yang
beragama Kristen di sekolah umum, karena mereka akan diperhadapkan pada
dua pilihan. Mengupayakan nilai agama melalui gereja atau terpaksa
mengikuti pendidikan agama lain di sekolahnya sebagai syarat memperoleh
nilai raport. Bagi mereka yang hanya ingin mendapatkan nilai fisik berupa
angka untuk keperluan raport, akan tergiur denagn pilihan yang ada.
Mengikuti pendidikan agama lain, (misalnya, agama Islam) hanya cukup
duduk dalam kelas selama guru mengajarkan agama Islam, dibebaskan dari
tugas, maka peserta didik tersebut sudah berhak mendapat nilai minimal
syarat untuk pengisian raport. Tentu hal ini menjadi sebuah keprihatinan
tersendiri. Bagi mereka yang menolak pada pilihan pertama, disarankan oleh
sekolah untuk mencari nilai ke gereja masing-masing. Cukup banyak orang
tua murid dari berbagai sekolah yang akhirnya meminta nilai agama Kristen
ke gereja untuk kebutuhan pengisian raport. (Lihat lampiran; data asal
sekolah peserta didik di Sekolah Sabtu). Meskipun demikian, masalah
pemberian nilai PAK yang diusahakan oleh pihak gereja, tidak semua
berjalan mulus dan dapat diterima oleh pihak sekolah sebagai nilai yang sah.
Terjadi kasus penolakan nilai oleh pihak sekolah tertentu karena menggangap
bahwa nilai PAK yang diberikan oleh gereja bukan merupakan nilai murni.
Biasanya pihak sekolah tidak secara ekstrim menolak nilai PAK yang
diberikan oleh pihak gereja. Dari beberapa pengaduan orang tua murid, nilai
yang tercantum didalam raport tidak sama dengan nilai yang diberikan oleh
gereja. Biasanya diturunkan satu angka lebih rendah. Menghadapi kenyataan
seperti ini, baik pihak gereja maupun orang tua murid tidak dapat mengajukan
keberatan kepada pihak sekolah. Hal ini sangat disadari betul oleh pihak
gereja, karena pemberian nilai – belum melalui proses pembelajaran yang
benar dan memenuhi standart pendidikan.

Peserta didik berhak mendapat nilai agama sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang diyakininya. Idealnya, setiap peserta didik mendapatkan
nilai agama Kristen di sekolahnya dengan asumsi bahwa tiap-tiap sekolah

wajib menyelenggarakan pendidikan agama Kristen jika ada peserta didiknya
yang menganut agama Kristen sesuai dengan Undang-undang Sisdiknas,
Peraturan Pemerintah yang menjadi landasan terselenggaranya pendidikan di
Indonesia. Namun dilapangan, kenyataan yang ideal tidak berjalan mulus.
Dampak dari beberapa sekolah yang tidak ada penyelenggaraan pendidikan
agama dirasakan langsung oleh gereja dalam hal ini gereja GPIB Zebaoth
Bogor. Seiring berjalannya waktu, kebijakan pemberian nilai untuk raport
yang dikeluarkan oleh gereja hanya berdasarkan keaktifan siswa/siswi dalam
kegiatan Ibadah Minggu Anak (IMPA) ataupun Ibadah Pelayanan Kategorial
lainnya (Taruna & Pemuda), perlu ditinjau ulang. Pasalnya, pemberian ini
tidak melalui proses seperti layaknya penyelenggaraan pendidikan agama
Kristen di sekolah formal. Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan
agama Kristen menggunakan buku penuntun yang ditetapkan dan mengikuti
kurikulum yang berlaku.

Seiring dengan berjalannya waktu gereja GPIB Zebaoth menganggap
perlu meninjau kembali kebijakan pemberian nilai agama untuk pemenuhan
kebutuhan raport disekolah. Melihat kondisi di lapangan, dimana dari waktu
ke waktu, jumlah kebutuhan nilai agama Kristen untuk raport makin
meningkat. Disisi lain, ini menunjukkan bahwa masih banyak sekolah-
sekolah yang tidak menyelenggarakan PAK. Keadaan ini menggugah gereja
untuk bertindak lebih bertanggung jawab terhadap dilemma yang ada.
Kondisi yang tidak menguntungkan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Pihak gereja pada akhirnya mulai memikirkan bagaimana cara untuk dapat
menyelenggarakan PAK yang bertanggung jawab, dengan tidak hanya
memberikan angka fisik semata-mata, tetapi mengambil tindakan sebagai
penyelenggaran PAK. Dalam situasi dan kondisi yang pelik tersebut, gereja
tidak tinggal diam. Sebab salah satu peran gereja, harus bertanggug jawab
dalam hal pendidikan, dan oleh karena itu GPIB Zebaoth mengusahakan
suatu wadah pendidikan agama Kristen yang bertanggung jawab. Kemudian
gereja dengan lebih serius memikirkan bentuk apa yang tepat sebagai solusi
untuk mengatasi masalah tersebut diatas.

Gereja GPIB Zebaoth, sebagai lembaga keagamaan perlu mengambil
tindakan dan langkah penting sebagai wujud kehadirannya ditengah
masyarakat. Dalam mewujudkan tugas dan panggilannya di tengah kehidupan
bangsa dan Negara, gereja wajib mengemban tugas dan tanggung jawab
untuk mewujudkan pembentukan intelektulitas dan karakter manusia
Indonesia yang berkualitas demi tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Gereja terpanggil untuk menjadi mitra kerja bagi sekolah-sekolah yang tidak
sanggup menyelenggarakan PAK. Berdasarkan keprihatinan diatas maka pada
tahun 1984, mulailah dirintis tentang berdirinya wadah pembelajaran PAK
yang diinisiasi oleh para pengajar IMPA (Guru Sekolah Minggu) untuk
mengatasi masalah terhadap kebutuhan orangtua yang anak-anaknya
bersekolah di sekolah pemerintah atau negeri yang tidak mendapatkan
pelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK). Pengurus Pelayan Anak saat itu
menyediakan wadah khusus untuk mengolah pemberian nilai PAK yang
diberi nama Sekolah Sabtu – Zebaoth (kegiatan yang dilakukan tidak sama
dengan Sekolah Minggu atau Ibadah Minggu anak-anak). Kegiatan belajar
mengajar dan sistem penilaian menggunakan kurikulum yang berlaku sesuai
ketentuan Dinas Pendidikan. Peningkatan kualitas untuk penyelenggaraan
proses pembelajaran PAK terus diupayakan. Baik sarana, prasarananya,
sumber daya manusianya, begitu pula dengan perangkat pembelajarannya.
Wadah pembelajaran Sekolah Sabtu sejak berdirinya sudah mengupayakan
standart pendidikan yang disesuaikan dengan apa yang ditetapkan di sekolah
formal.

Dari mulai berdirinya samapai saat ini Sekolah Sabtu sudah berjalan
selama tiga puluh lima tahun (35 tahun). Setiap tahun ajaran baru, peserta
didik dari berbagai sekolah (SD, SMP & SMA), dan dari berbagai asal gereja
makin bertambah jumahnya. Ditijau dari satu sisi, gereja GPIB Zebaoth
berhasil menyelenggarakan wadah pembelajaran PAK sebagai solusi masalah
ketiadaan PAK disekolah-sekolah tertentu. Tidak kurang dari 165 peserta
didik dari berbagai sekolah negeri maupun swasta, dari jenjang sekolah dasar
sampai menengah telah menjadi peserta didik Sekolah Sabtu. (Lampiran,
Data Jumlah siswa dari tahun 2012-2013). Proses kegiatan belajar mengajar

di Sekolah Sabtu sudah berlangsung sekian lama. Kecenderungan setiap
tahun ajaran baru, para peserta didik bertambah, yang sebelumnya hanya
melayani jemaat GPIB Zebaoth saja, kini makin meluas. Perkembangan ini
terus menunjukkan bahwa Sekolah Sabtu di GPIB Zebaoth, menjadi rujukan
bagi jemaat gereja-gereja lain di lingkungan kota Bogor sebagai wadah
pembelajaran PAK. Kecenderungan peningkatan jumlah peserta didik ini
membuat pihak pengurus Sekolah Sabtu menetapkan beberapa kebijakan.
Sekolah Sabtu memutuskan tidak melayani bagi siswa/siswi apabila di
sekolahnya ada penyelenggaraan PAK. Sekolah Sabtu tidak menolak
menerima siswa/siswi dari gereja lain. Sekolah Sabtu terbuka bagi jemaat
gereja lain yang mengalami persoalan yang sama dengan persyaratan surat
keterangan/permohonan dari gereja masing-masing untuk mengikuti
pembelajaran PAK di Sekolah Sabtu yang diselenggarakan oleh GPIB
Zebaoth, Bogor.

PAK bukanlah sekedar kegiatan biasa, akan tetapi sebuah bentuk
usaha sadar dari lembaga gereja, sekolah, dan berbagai lembaga lainnya
untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Pelaksanaan PAK memerlukan
persiapan dan perencanaan yang matang. Pada saat menyelenggarakan PAK
diperlukan tujuan yang jelas, ada kurikulum, terdapat rencana pokok
pembelajaran, memiliki penjadwalan yang teratur, dan berbagai hal lain yang
berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran. Sebagai sebuah usaha
kegiatan pendidikan maka di dalamnya perlu terdapat unsur-unsur utama
dalam pembelajaran, yaitu guru, peserta didik, kurikulum, strategi dan metode
pembelajaran, materi, sarana dan prasarana, pembiayaan, serta evaluasi.
Selain itu yang perlu dipikirkan adalah bahwa PAK harus berkelanjutan mulai
dari masa anak-anak, remaja, pemuda, dewasa lanjut usia, dengan pemberian
materi yang diatur dan direncanakan secara baik dan matang.

Sampai tahun 2019, Sekolah Sabtu masih terus menyelenggarakan
pembelajaran PAK. Dalam pelaksanaannya tentu mengalami banyak
tantangan dan hambatan. Sedemikian lama keberadaan Sekolah Sabtu
menjadi wadah pelaksanaan pembelajaran PAK. Terhitung sejak berdirinya,
Sekolah Sabtu sudah menghasilakan alumni yang saat ini melanjutkan ke

jenjang perguruan tinggi ataupun bekerja. Peneliti tertarik mengangkat
tentang keberadan Sekolah Sabtu. Bagaimana kegiatan pembelajaran yang
diterapkan di Sekolah Sabtu berlangsung. Dalam hal ini terkait dengan
kurikulum, model dan strategi pembelajaaran yang secara umum diterapkan
di Sekolah Sabtu. Peran gereja sebagai penyelenggara Sekolah Sabtu yang
merupakan wadah pembelajaran PAK menjadi solusi untuk mengatasi
persoalan ketiadaan PAK disekolah-sekolah di kota Bogor. Mengamati apa
saja tantangan dan hambatan yang akan dialami oleh gereja GPIB Zebaoth
jika Sekolah Sabtu tetap eksis. Fungsi dan kedudukan Sekolah Sabtu
sebagaimana diatur dan dijelaskan dalam Juklah Pelaksanaan Sekolah Sabtu
menjadi pedoman penyelenggaraan pembelajaran PAK.

Seorang anak yang sedang bertumbuh menjadi dewasa jika tidak
dibimbing dalam memahami dan melakukan iman kristennya akan menjadi
generasi yang terhilang dan tersesat. Atau kekristenannya dangkal karena
tidak mempunyai dasar-dasar yang kuat, dengan demikian akan mudah
tergoda oleh tipu daya dunia dan pada akhirnya meninggalkan iman Kristen.
Kegiatan PAK yang berjalan dengan sebuah perencanaan akan membawa
kehidupan jemaat bukan saja memiliki pengetahuan tentang kebenaran
Firman Tuhan, akan tetapi Firman Tuhan yang diterima dalam PAK dapat
menjawab berbagai persoalan hidup yang sedang dihadapi. PAK harus
dilaksanakan sampai peserta didik memiliki pengetahuan dan pemahaman
kebenaran tentang Anak Allah yang benar dan sehat. Melalui perencanaan
dan proses pembelajaran yang sistematis hal ini akan terwujud. Selain itu
mengalami kedewasaan penuh yang dibuktikan dalam perubahan tingkah laku
setiap hari, bersikap dewasa, kuat, dalam menghadapi berbagai persoalan
dalam kehidupannya, sesuai dengan kasih karunia yang dianugrahkan oleh
Tuhan Yesus Kristus.

Proses pengenalan akan Allah ini akan membawa peserta didik
menuju kepada pertumbuhan kerohanian yang dinamis. Hasilnya adalah
peserta didik menjadi pribadi yang kuat dan memiliki keteguhan iman
sehingga tidak mudah di ombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin
pengajaran. Setiap peserta didik diharapkan memiliki kekuatan sikap dan

tidak mudah terpengaruh oleh situasi dunia dengan berbagai pencobaan dan
tantangannya. Maka berdasarkan masalah diatas, peneliti akan mengangkat
judul : “Peranan Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor sebagai Alternatif
Penyelenggaraan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, penulis
mengidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:
1. Minimnya jumlah guru mata pelajaran Agama Kristen menyebabkan tidak

terselenggaranya PAK di beberapa sekolah-sekolah umum di kota Bogor.
2. Peran gereja dalam mengatasi masalah ketiadaan PAK di sekolah umum di

kota Bogor dengan mendirikan Sekolah Sabtu sebagai solusinya
3. Hambatan dan persoalan yang akan timbul apabila gereja mengambil

peran sebagai penyelenggara PAK.

C. Pembatasan Masalah
Karena keterbatasan peneliti dalam hal waktu, tenaga dan biaya, serta

untuk menjaga agar penelitian terarah dan focus. Maka peneliti membatasi
masalah pada proses belajar – mengajar yang dilaksanakan di Sekolah Sabtu.
Gereja GPIB Zebaoth Bogor sebagai penyelenggara pembelajaran PAK
dalam mengatasi ketiadaan guru PAK di sekolah umum di kota Bogor.

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, peneliti akan menentukan
batasan waktu. Batasan waktu penelitian pada tahun 2018 sampai dengan
tahun 2019. Pada kurun waktu inilah, peneliti akan mengangkat tentang
proses belajar – mengajar yang di Sekolah Sabtu yang berlokasi di gereja
GPIB Zebaoth Bogor.

D. Perumusan Masalah

Dari batasan masalah diatas, peneliti merumuskan sebagai berikut :
1. Apakah faktor penyebab tidak terselenggarakanya pembelajaran

Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sekolah-sekolah tertentu di kota
Bogor ?
2. Apakah peran gereja dalam mengatasi permasalahan kebutuhan
pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang tidak
diselenggarakan oleh sekolah-sekolah tersebut ?
3. Apakah dampak penyelenggaraan Pendidikan Agama Kristen Sekolah
Sabtu GPIB Zebaoth Bogor ?

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberi manfaat secara teoritis
maupun praktis bagi berbagai pihak:
a) Manfaat Teoritis:

Membuka wawasan bagi penelitian selanjutnya untuk mengkaji
peningkatan standart mutu Sekolah Sabtu. Penyelenggaraan Sekolah Sabtu
menjadi tempat pelatihan bagi pengajar PAK yang dikemudian hari
harapkan bisa menjadi tenaga pengajar di sekolah umum. Menambah
pengetahuan peneliti tentang proses penyelenggaraan Pembelajaran PAK
alternatif.
b) Manfaat Praktis :

Bagi Gereja dan Pemimpin Gereja dapat mewujudkan tugas dan
panggilannya dalam hal penyelenggaraan pembelajaran PAK. Tugas
panggilan gereja teraplikasi dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana
serta SDM (tenaga pengajar).

Bagi orang tua murid sebagai masukan bagi para orang tua, yang di
sekolah putra-putri mereka tidak ada PAK, sehingga mendorong anak-
anak mereka dapat meningkatkan minat belajar agama Kristen.

Bagi pihak Sekolah dapat bermitra dengan gereja dalam pemberian
nilai agama Kristen, jika syarat minimal peserta didik tidak mencukupi
untuk penyelenggaraan PAK di sekolah tersebut.

Bagi Siswa-siswi untuk informasi mengenai pemenuhan kebutuhan
nilai agama Kristen bagi peserta didik yang tidak mendapatkan
pembelajara PAK di sekolahnya dan memperoleh informasi tentang
alternative pembelajaran pendidikan agama Kristen.

Bagi Gereja non GPIB di kota Bogor. Sekolah Sabtu dapat menjadi
contoh (pilot project) bagi gereja-gereja di dilingkungan kota Bogor yang
memiliki permasalahan yang sama, dimana terdapat jemaat yang
membutuhkan pembelajaran PAK.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini diuraikan dalam lima bab, antara lain
sebagai berikut:

BAB I. Berisi data pendahuluan yang mencakup; latar belakang
masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah,
manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II. Berisi data landasan teori tentang; hakekat pembelajaran dan
pendidikan yang mencakup: pengertian pembelajaran, tujuan pembelajaran,
komponen-komponen yang mempengaruhi pembelajaran, ciri-ciri
pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, proses pembelajaran, hasil
evaluasi pembelajaran, Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang mencakup:
pendidikan agama, pendidikan agama Kristen, tujuan pendidikan agama
Kristen, objek-objek pendidikan, metode pembelajaran, kurikulum pendidikan
agama Kristen, kerangka berpikir, hipotesa penelitian.

BAB III. Berisi data metode Penelitian yang mencakup: tujuan, waktu
dan tempat penelitian, metode penelitian, fokus penelitian/instrument
penelitian, sasaran dan informan.

BAB IV. Berisi data hasil penelitian dan pembahasan yang mencakup;
resume hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.

BAB V. Berisi data kesimpulan tentang hasil penelitian, impikasi dan
saran-saran yang perlu untuk perbaikan di masa yang akan datang.

BAB II
LANDASAN TEORI

Dalam bab ini penulis menggunakan teori-teori yang dikemukakan
oleh para pakar yang membahas mengenai pendidikan dan pembelajaran. Teori
yang digunakan adalah sebagai berikut:
A. Hakekat Pembelajaran dan Pendidikan

Pendidikan berasal dari kata dasar didik yang artinya memelihara dan
memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Jadi pendidikan
adalah proses pengubahan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. 5

Pendidikan jika ditinjau dari akar kataya berarti “menuntun atau
memimpin ke luar“, pengertian ini didasarkan dari bahasa Latin ducare.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan berarti memelihara dan
memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
1. Pengertian Pembelajaran

Thursam Hakim6 mengatakan bahwa: belajar adalah suatu proses
perubahan di dalam diri kepribadian manusia dan perubahan tersebut
tampak dalam bentuk peningkatan kualitas sertakuantitas tingkah laku,
seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan,
pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan lain.

Menurut Gagne dan Briggs7, mengartikan pembelajaran sebagai
suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar. Didalamnya
berisi serangkaian peristiwa yang dirancang untuk memperaruhi dan
mendukung terjadinya proses belajar siswa. Definisi lain, pembelajaran
diartikan sebagai suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan
pengetahuan professional yang dimiliki guru (kegiatan mengajar) untuk

5 Kamus Besar Bahasa Indonesia,1988, hal 202.
6 Thursam Hakim, Belajar Secara Efektif (Jakarta : Puspa Swara, tanpa tahun), hal.1.
7 E. Kosasih, Stategi Belajar dan Pembelajaran Impementasi Kurikulum 2013 (Bandung : Yrama
Wudya, 2018), hal.11.

14

menjadikan seseorang bisa mencapai tujuan kurikulum (kegiatan belajar).
Maka jelaslah, bahwa pembelajaran merupakan istilah lain untuk proses
belajar-mengajar.

Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar
dan sengaja. Proses pembelajaran merupakan proses melibatkan guru
dengan semua komponen tujuan , bahan, metode dan alat serta penilaian.
Jadi proses pembelajaran merupakan suatu system yang saling terkait
antar komponennya didalam mencapai suatu tujuan yang telah
ditetapkan.

Pembelajaran ialah kemampuan dalam mengelola secara
operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan
dengan pembelajaran, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap
komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku.

Undang-Undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003, tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kecerdasan, ahlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Menurut undang-undang tersebut ada
beberapa prinsip yang penting yaitu: pendidikan adalah usaha sadar yang
terencana. Proses pendidikan yang terencana diarahkan untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, hal ini berearti
pendidikan tidak boleh mengesampingkan proses belajar. Pendidikan
tidak semata-mata berusaha untuk mencapai hasil belajar, tetapi
bagaimana memperoleh hasil melalui proses belajar.8

2. Tujuan Pembelajaran
Permendikbud No.81A Tahun 2013, menghendaki indikator

pencapaian tujuan pembelajaran yang mencakup tiga ranah, yakni:

8 Wina Sanjaya, Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta : Kencana
Prenadamedia, 2013), hal.2.

afektif, kognitif dan psikomotorik. Diperlukan indikator untuk
ketercapaian suatu tujuan. Indikator itu sendiri merupakan ‘ciri’ atau
‘pertanda’.

Dalam Undang-undang no.20 Tahun 2003 Pasal 3, menjelaskan
bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negarayang
demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan belajar menggambarkan secara jelas apa yang harus
dipelajari oleh peserta didik. Tujuan belajar harus menentukan dan
mengacu pada: apa yang dimaksudkan dalam sebuah pengajaran,
bagaimana pengajaran akan dilakukan, bagaimana peserta didik dinilai.

Moh. Yamin9 menyatakan bahwa: tujuan belajar sesungguhnya
mengarahkan setiap manusia untuk dapat berprilaku dan bertindak secara
lebih baik, menggunakan logika berpikir, yang konstruktif bagi
kehidupan yang bermartabat”.

Tujuan Pembelajaran adalah pencapaian perubahan prilaku pada
peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar. Tujuan pembelajaran
merupakan sasaran akhir yang diharapkan setelah melakukan program
pembelajarannya. Tujuan pembelajaran didefinisikan sebagai pernyataan
deskriptif yang terperinci, lengkap mengenai kompetensi peserta yang
diharapkan setelah mengikuti program pebelajaran tertentu. 10

3. Komponen Komponen yang Mempengaruhi Pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai
komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Macam-

9 Wina Sanjaya, Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta : Kencana
Prenadamedia, 2013), hal.2.
10 E. Kosasih, Stategi Belajar dan Pembelajaran Impementasi Kurikulum 2013 (Bandung : Yrama
Wudya, 2018), hal.13.

macam komponen pembelajaran tersebut meliputi: kurikulum, tujuan,
guru, siswa, materi, metode, media dan evaluasi. Semua komponen
tersebut saling terkait dan saling mempengaruhi dalam sebuah proses
pembelajaran. Penjelasan mengenai komponen pembelajaran adalah
sebagai berikut :11

a. Kurikulum.
Secara etimologis, kurikulum ( curriculum ) berasal dari bahasa
Yunani, curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti
“tempat berpacu”. yaitu suatu jarak yang harus ditempuh oleh
pelari dari garis start sampai garis finish. Secara terminologis,
istilah kurikulum mengandung arti sejumlah pengetahuan atau
mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa
guna mencapai suatu tingkatan atau ijazah. Pengertian
kurikulum secara luas tidak hanya berupa mata pelajaran atau
bidang studi dan kegiatan-kegiatan belajar siswa saja, tetapi
juga segala sesuatu yang berpengaruh terhadap pembentukan
pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang
diharapkan.

b. Guru.
Kata Guru berasal dari bahasa Sansekerta “guru” yang juga
berarti guru, tetapi arti harfiahnya adalah “berat” yaitu seorang
pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya
merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik..

c. Siswa.
Siswa atau murid atau peserta didik biasanya digunakan untuk
seseorang yang mengikuti suatu program pendidikan di sekolah
atau lembaga pendidikan lainnya, di bawah bimbingan seorang
atau beberapa guru. Yang artinya murid juga menjadi
komponen pembelajaran.

11 http://metodepembelajaran10.blogspot.com/2017/01/pengertian-komponen-komponen.html

d. Metode Pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah cara yang dapat dilakukan untuk
membantu proses belajar-mengajar agar berjalan dengan baik.
Banyak sekali metode-metode pembelajaran, metode tersebut
menjadi komponen pembelajaran yang penting dalam
menentukan keberhasilan dalam sebuah pendidikan.

e. Materi Pembelajaran.
Materi pembelajaran juga merupakan salah satu faktor penentu
keterlibatan siswa. Adapun karakteristik dari materi yang bagus
adalah; adanya teks yang menarik, adanya kegiatan atau
aktivitas yang menyenangkan serta meliputi kemampuan
berpikir siswa, memberi kesempatan siswa untuk menggunakan
pengetahuan dan ketrampilan yang sudah mereka miliki, materi
yang dikuasai baik oleh siswa maupun guru.

f. Media Pembelajaran.
Media adalah alat perantara untuk menyampaiakan pesan atau
informasi. Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan
bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti
perantara atau pengantar. Jadi media adalah perantara atau
pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media
pembelajaran adalah perangkat lunak (soft ware) atau perangkat
keras (hard ware) yang berfungsi sebagai alat belajar atau alat
bantu belajar. Sebagai komponen, media hendaknya merupakan
bagian integral dan harus sesuai dengan proses pembelajaran
secara menyeluruh.

g. Evaluasi.
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “Evaluation”.
Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk
menentukan nilai dari suatu hal. Ada pendapat lain yang
mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan
data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang bersangkutan
dengan kapabilitas siswa, guna mengetahui sebab akibat dan

hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan
kemampuan belajar.

Komponen yang selama ini dianggap sangat mempengaruhi proses
pendidikan adalah komponen guru, karena peran guru sebagai ujung
tombak yang berhubungan langsung dengan siswa swebagai objek belajar.
Bagaimanapun idealnya kurikulum pendidikan, tanpa diimbangi dengan
kemampuan guru dalam mengimplementasikannya, maka semua menjadi
kurang bermakana.12 Oleh sebab itu perlu mengoptimalkan peran guru
dalam proes pembelajaran.

Peran guru dalam proses pembelajaran dapat dijelaskan secara
lebih terperinci sebagai berikut; 13

a. Guru sebagai sumber belajar, berkaitan dengan penguasaan
materi pelajaran. Guru merupakan tempat bertanya karena
memiliki pengusaan materi yang melebihi pengetahuan
siswanya.

b. Guru sebagai fasilitator, dimana guru berperan dalam memberi
pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses
pembelajaran. Untuk dapat berperan sebagai fasilitaor guru
harus mengusai dan terampil dalam hal-hal yang berhubungan
dengan pemanfaatan berbagai media sumber pembelajaran.

c. Guru sebagai pengelola, dimana guru ikut berperan dalam
menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat
belajar dengan baik. Guru menjaga kelas agar tetap kondusif.
Guru berperan sebagai menejer yang mengelola sumber belajar
yang mencakup merencanakan, mengorganisasi, mengawasi
dan memimpin.

d. Guru sebagai demonstrator, peran guru untuk
mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang membuat
siswa mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan.

12 Moh.Yamin, Teori dan Metode Pembelajaran (Malang : Madani, 2014), hal. 13
13 Wina Sanjaya, Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta : Kencana
Prenadamedia, 2013), hal.21-31.

e. Guru sebagai pembimbing, guru berperan sebagai pembimbing
dalam menemukan dan mengasah bakat atau potensi, minat dan
kemampuan setiap siswa. Untuk dapat berperan sebagai
pembimbing, guru harus memiliki pemahanan tentang gaya
belajar, kebiasaan, potensi, minat dan bakat yang dimiliki anak
untuk menentukan teknik dan jenis bimbinagn yang tepat.

f. Guru sebagai motivator, terkait motivasi merupakan aspek
dinamis yang penting dalam partisipasi dan prestasi siswa.
Suatu motif yang mendasari siswa melakukan prilaku dan
tindakan untuk meraih tujuan. Dalam usaha mencapai tujuan
tertentu sangat bergantung dari motif yang dimiliki siswa.
Motivasi mempengaruhi sangat mempengaruhi minat belajar
siswa. Guru berperan membangkitkan motivasi belajar siswa.

g. Guru sebagai evaluator, dimana guru berperan untuk
mengumpulkan informasi tentang keberhasilan pembelajaran
yang telah dilakukan. Evaluasi penting untuk menentukan
keberhasilan siswa dan juga guru. Evaluasi sebagai indikator
keberhasilan pencapaian kompetensi tertentu.

4. Ciri-Ciri Pembelajaran
Suatu ciri yang akan menyertai sebuah proses terjadinya belajar.

Suatu kegiatan disebut belajar ditandai oleh dua ciri sebagai berikut: (1)
adanya perubahan tingkah laku (2) melalui suatu pengalaman atau adanya
interaksi dengan sumber belajar. Menurut Mohamat Surya (1997),
menyebutkan ada delapan ciri-ciri yang menandai perubahan prilaku
sebagai hasil belajar:14
a. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional)

Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja
dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya,

14 E. Kosasih, Stategi Belajar dan Pembelajaran Impementasi Kurikulum 2013 (Bandung : Yrama
Wudya, 2018), hal.2.

individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah
terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau
keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia
mengikuti suatu proses belajar.
b. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu)
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada
dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan
yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi
pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.
c. Perubahan yang fungsional
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk
kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang.
d. Perubahan yang berifat Positif
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke
arah kemajuan.
e. Perubahan yang bersifat Aktif
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif
berupaya melakukan perubahan.
f. Perubahan yang Relatif Permanen
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung
menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya.
g. Perubahan yang Bertujuan (terarah)
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin
dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka
panjang.
h. Perubahan Prilaku secara Keseluruhan
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh
pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan
dalam sikap dan keterampilannya.

5. Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Menurut Moh.Yamin dalam bukunya ‘Teori dan Metode

Pembelajaran’, menyatakan bahwa agar pembelajaran bisa menghasilkan
capaian yang tepat sasaran, maka prinsip-prinsip dalam belajar perlu
memperhatikan beberapa hal berikut:15
(a.) Belajar harus berorientasi pada tujuan yang jelas. Apapun yang

dipelajari harus memiliki arah yang pasti dan dasar pijakan yang kuat.
Belajar harus memiliki tujuan yang terukur.
(b.) Proses belajar akan terjadi secara dinamis ketika terjadi problematis.
Sekolah adalah miniatur kehidupan yang lebih luas. Sekolah
mengajarkan peserta didik berinteraksi dengan lingkugannya dalam
sekolah lebih mengarahkan para peserta didik pada menyiapkan ruang
kecil sebelum memasuki ruang besar yang bernama masyarakat.
Belajar dibangku sekolah tentang bagaimana bermasyarakat.
(c.) Belajar merupakan proses yang kontinu.
Pembelajaran harus dilakukan terus menerus dan dinamis. Belajar
tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Manusia bergerak secara aktif dan
dinamis agar kerja otak tidak tumpulnya dan mengalami kematian
kerja berfikir.
(d.) Proses Belajar memerlukan kemauan yang kuat. Seorang pembelajar
harus memiliki kemauan yang keras yang selalu memandang prestasi
selanjutnya harus lebih baik dari yang telah dicapai. Kesadaran diri
tentang apa yang dilakukan dan diniatkan untuk pencapaian yang lebih
maksimal
(e.) Belajar secara keseluruhan lebih berhasil dibandingkan secara terbagi-
bagi. Belajar dan mempelajari sesuatu harus bersifat menyeluruh.
Belajar secara totalitas bukan sepengal-sepenggal bertujuan agar
memahami pembelajaran secara utuh dan menyeluruh.
(f.) Proses belajar memiliki metode yang tepat. Setiap metode yang
digunakan memiliki kekuatan tersendiri. Penggunakan metode yang

15 Moh.Yamin, Teori dan Metode Pembelajaran (Malang : Madani, 2014), hal.88.

tepat dalam proses pembelajaran turut menentukan hasil dan capaian
tertentu.
(g.) Memerlukan kemampuan dalam menangkap intisari pelajaran. Belajar
adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Kekuatan atau kapasitas
diri untuk menagkap intisari pembelajaran harus diasah. Belajar
memerlukan ketajaman bernalar dan berfikir kritis.
(h.) Belajar harus dijadikan sebuah tantangan. Kemalasan sering menjadi
hambatan dalam belajar. Pembelajar harus membangun keinginan
belajar sebagai daya dorong untuk berprestasi.

Dalam Lampiran Permendikbud no.18A Tahun 2013, tentang
Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran dijelaskan
bahwa kegiatan pembelajaran merupakan proses yang memberi
kesempatan pada siswa untuk mengembangkan potensinya dalam hal
sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Untuk mencapai hasil yang efektif,
kegiatan pembelajaran perlu menggunakan prinsp-prinsip sebagai
berikut: 16
a. Berpusat pada Siswa

Suasana pembelajaran yang menggambarkan adanya pembelajaran
berpusat pada peserta didik tercermin dari:

(1) peserta didik dan pengajar telah mengakses sumber belajar
tentang materi yang akan dipelajari. Hal ini berarti peserta didik
dan pengajar telah membaca atau membuat ringkasan tentang
pokok-pokok materi yang akan dipelajari,

(2) kegiatan di kelas didominasi pada diskusi atau pemecahan
masalah terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang belum
dipahami dengan baik. Pada keadaan tersebut akan terjadi curah
pendapat atau argumentasi satu dengan lain terhadap
pemahaman suatu konsep,

16 E. Kosasih, Stategi Belajar dan Pembelajaran Impementasi Kurikulum 2013 (Bandung : Yrama
Wudya, 2018), hal.10-11.

(3) terjadi penguatan pemahaman pada akhir pembelajaran. Keadaan
tersebut menggambarkan proses pembelajaran berpusat pada
peserta didik.

b. Mengembangkan kreatifitas siswa
Setiap orang memiliki potensi untuk melakukan aktifitas yang

kreatif. Setiap siswa baru yang memasuki proses belajar, dalam benak
mereka selalu diiringi dengan rasa ingin tahu. Pada tahap ini guru
diharapkan untuk merangsang siswa untuk melakukan apa yang
dinamakan dengan learning skills acquired, misalnya dengan jalan
memberi kesempatan siswa untuk bertanya (questioning), menyelidik
(inquiry), mencari (searching), menerapkan (manipulating) dan
menguji coba (experimenting).Kebanyakan yang terjadi di lapangan
adalah aktifitas ini jarang ditemui karena siswa hanya mendapatkan
informasi yang bagi mereka adalah hal yang abstrak. Rasa ingin tahu
siswa harus dijaga dengan cara memberikan kesempatan bagi mereka
untuk melihat dari dekat, memegangnya serta mengalaminya.

c. Menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang.
Praktek pembelajaran menggunakan bermacam media yang

mambangun imajinasi dan inspirasi peserta didik. Menggunakan
metode discovery learning yang memanfaatkan iklan TV, lagu daerah,
atau audio-visual lainnya. Kegaiatan dilakuakn secara kelompok
diskusi yang membangkitkan suasana rinagan (santai) dan
menyenagkan. Jika guru kreatif dapat diciptakan pula kompetisi sehat
yang menantang peserta didik.

d. Bermuatan nilai, etika, estetika, logika dan kinestetika.
Merupakan pendidkan karakter. Salah satu cara untuk

mewujudkan manusia yang berkarakter adalah dengan
mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran.
Nilai-nilai karakter utama yang harus terwujud dalam sikap dan

perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter
adalah jujur (olah hati), cerdas (olah pikir), tangguh (olah raga), dan
peduli (olah rasa dan karsa). Pengintegrasian pendidikan karakter
dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan pemuatan nilai-nilai
karakter dalam semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dan
dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Untuk itu guru harus
mempersiapkan pendidikan karakter mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, hingga evaluasinya. Pelaksanaan pendidikan karakter di
sekolah perlu didukung oleh keteladanan guru dan orang tua murid
serta budaya yang berkarakter.

Menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui :
penerapan berbagai strategi, metode pembelajaran yang
menyenangkan, kontektual, efektif, efisien dan bermakna. Hal ini
dapat dijelaskan sebagai berikut; menyenangkan karena sesuai minat
siswa, kontekstual karena sesuai kondisi lingkungan masyarakat,
budaya dan alam, efektif dan efisien karena langsung tertuju pada KD
yang ditetapkan, bermakna karena sesuai dengan kepentingan siswa,
baik itu sebagai individu ataupun anggota masyarakat

Pada permendikbud tentang pembelajaran menyebutkan bahwa
kegiatan pembelajaran perlu menggunakan prinsip sebagai berikut :
1) dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;

dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar
berbasis aneka sumber belajar;
2) dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan
penggunaan pendekatan ilmiah;
3) dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis
kompetensi;
4) dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
5) dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju
pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
6) dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;

7) peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal
(hardskills) dan keterampilan mental (softskills)

8) pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;

9) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi
keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing
madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta
didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);

10) pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di
masyarakat;

11) pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah
guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas

12) pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di
masyarakat;

13) Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan

14) Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya
peserta didik.

6. Proses Pembelajaran
Sebagai suatu proses, didalam keberlangsungannya, belajar terdiri

dari beberapa fase. Untuk sampai pada perolehan suatu kompetensi,
seseorang harus melewati beberapa kegiatan. Menurut Jerome S.Bruner17,
tahap-tahap proses belajar siswa terjadi dalam tiga bagian, yaitu tahap
perolehan informasi, tahap transformasi, tahap penilaian.

Tahapan ini dapat dijelaskan lebih lanjut;
(a.) Tahap Perolehan Informasi, tahap ini menerima informasi melalui

pengalaman belajar dari berbagai sumber belajar.

17 E. Kosasih, Stategi Belajar dan Pembelajaran Impementasi Kurikulum 2013 (Bandung : Yrama
Wudya, 2018), hal.9

(b.)Tahap transformasi, pada tahap ini informasi diubah menjadi
pemahaman. Transformasi berupa perubahan perbaikan kecakapan dan
perubahan sikap.

(c.) Tahap Penilaian, pada tahap ini adalah pemaknaan terhadap informasi
atau input-input belajar yang telah diperoleh. Bermakna atau tidak
dalam kehidupannya.

Dalam Peraturan Mentri Pendidikan Nasional no. 41 Tahun 2007
tantang Standar Proses untuk Satuan Pendidkan Dasar dan Menengah,
bahwa kegiatan inti pembelajaran idealnya mencakup tahap, yakni: tahap
ekspolasi, elaborasi dan konfirmasi. 18
Penjelasan ketiga tahap tersebut adalah:
a) Tahap Eksplorasi, pencarian yang luas dan dalam tentang materi

tertentu dari berbagai beraneka sumber dan beraneka kegiatan belajar.
b) Tahap Elaborasi, melakukan pembiasaan dalam hal membaca dan

menulis yang beragam melalui tudas-tugas yang bermakna. Tujuannya
untuk memperoleh makna belajar.
c) Tahap Konfirmasi, memperoleh umpan balik yang positif dan
penguatan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat maupun hadiah terhadap
keberhasilan belajar. Seseorang dapat melakukan refleksi terhadap
keberhasilan maupun kesulitan yang masih dihadapi.

Menurut Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 lampiran IV,
proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok
(Implementasi Kurikulum 2013). Di dalamnya disebutkan bahwa proses
pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar, yaitu:
a) Mengamati.

Mengamati merupakan metode yang mengutamakan kebermaknaan
proses pembelajaran (meaningfull learning). Kegiatan belajar yang
dilakukan dalam proses mengamati adalah membaca, mendengar,

18 Ibid, hal.10.

menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat). Kompetensi yang
dikembangkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, mencari
informasi. Mengamati merupakan metode yang mengutamakan
kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Kegiatan
belajar yang dilakukan dalam proses mengamati adalah membaca,
mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat). Kompetensi
yang dikembangkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, mencari
informasi19
b) Menanya.
Menanya merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan
cara mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami
dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi
tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual
sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Kompetensi yang
dikembangkan adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu,
kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis
yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
c) Mengumpulkan informasi (menalar).
Mengumpulkan informasi/eksperimen merupakan kegiatan
pembelajaran yang berupa eksperimen, membaca sumber lain selain
buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas, dan wawancara dengan
narasumber. Kompetensi yang dikembangkan dalam proses
mengumpulkan informasi/ eksperimen adalah mengembangkan sikap
teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan
berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi
melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan
belajar dan belajar sepanjang hayat.
d) Mengasosiasi (mencipta)/ Mengolah Informasi.
Mengasosiasikan atau mengolah informasi merupakan kegiatan
pembelajaran yang berupa pengolahan informasi yang sudah
dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan

19 https://id.wikipedia.org/wiki/Pendekatan_saintifik#Mengamati

mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan
kegiatan mengumpulkan informasi. Kompetensi yang dikembangkan
dalam proses mengasosiasi/mengolah informasi adalah;
mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras,
kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif
serta deduktif dalam menyimpulkan.
e) Mengkomunikasikan.
Mengkomunikasikan merupakan kegiatan pembelajaran yang berupa
menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil
analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Kompetesi yang
dikembangkan dalam tahapan mengkomunikasikan adalah
mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir
sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan
mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Kelima langkah ini kemudian dikenal dengan istilah pendekatan
saintifik atau pendekatan ilmiah yang pada akhirnya diharapkan muncul
langkah mengkreasikan sebagai puncak dari sebuah proses pembelajaran.
Pedoman umum Pembelajaran menjelaskan bahwa pembelajaran
merupakan proses yang memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan potensi dalam hal sikap, pengetahuan dan ketrampilan.20

Berbeda dengan pendapat pakar lain, menurut Gagne21, perubahan
perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :
(a.) Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal,

baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama
terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
(b.)Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan
interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol,

20 E. Kosasih, Stategi Belajar dan Pembelajaran Impementasi Kurikulum 2013 (Bandung : Yrama
Wudya, 2018), hal.11.
21 https://cafestudi061.wordpress.com/2008/09/11/pengertian-belajar-dan-perubahan-perilaku-
dalam-belajar/

misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam
keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan
(discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan
dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi
pemecahan masalah.
(c.) Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian
dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses
pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan
ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif.
Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran,
sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses
pemikiran
(d.)Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk
memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain.
Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan
kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau
peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang
menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
(e.) Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan
pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Pendapat lainnya dikemukakan oleh pakar pendidikan Moh. Surya,
menyatakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :22
(a.) Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali

menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang
keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara
baik dan benar.
(b.)Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun
sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan
koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.

22 https://cafestudi061.wordpress.com/2008/09/11/pengertian-belajar-dan-perubahan-perilaku-
dalam-belajar/

(c.) Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti
rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga
peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.

(d.)Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu
dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.

(e.) Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan
dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti
“bagaimana” (how) dan “mengapa” (why).

(f.) Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi
dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai
dengan pengetahuan dan keyakinan.

(g.)Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).
(h.)Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu.
(i.) Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan

takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan
sebagainya.

7. Hasil Evaluasi Pembelajaran

Hasil Belajar dapat diartikan sebagai hasil maksimum yang telah
dicapai oleh siswa setelah mengalami proses belajar. Hasil belajar tidak
mutlak berupa nilai saja, akan tetapi dapat berupa perubahan tingkah laku,
sikap, sifat, pengetahuan, ketrampilan, keuletan, ketabahan, penalaran,
kedisiplinan dan sebagainya yang menuju kearah hasil yang positif.

Hasil belajar menunjukkan kemampuan siswa yang sebenarnya
yang telah mengalami proses pengalihan ilmu pengetahuan dari seseorang
yang memiliki pengetahuan kurang kearah kedewasaan. Jadi, dengan
adanya hasil belajar, orang dapat mengetahui seberapa jauh siswa dapat
menangkap, mengerti dan memahami pelajaran. Atas dasar itu, pendidik
dapat menentukan strategi belajar mengajar yang baik.23

a. Pengertian Evaluasi Pembelajaran

23 Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta, Pustaka Belajar, 2010), hal. 42

Davies mengemukakan bahwa pengertian evaluasi belajar adalah
proses sederhana untuk memberi dan menetapkan sejumlah nilai pada
sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses. Sedangkan
Wand dan Brown mempertegas pengertian evaluasi adalah memberi
dan menetapkan sejumlah nilai kepada objek tertentu berdasarkan
batasan-batasan tertentu atau kriteria tertentu. Maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa; evaluasi pembelajaran secara umum dapat
diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu
pada tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses.24

b. Kedudukan Evaluasi Pembelajaran
Proses pendidikan merupakan proses pemanusiaan manusia, dimana
didalamnya terjadi proses pembudayaan dan pemberadapan manusia,
Agar terbentuk manusia yang berbudaya dan beradab maka, diperlukan
transformasi kebudayaan dan peradaban. Transformasi dalam proses
pendidikan adalah proses untuk membudayakan dan memberadabkan
peserta didik. Lembaga pendidikan adalah tempat terjadinya
transformasi. Keberhasilan transformasi untuk menghasilkan keluaran
seperti yang diharapkan dipengaruhi oleh komponen atau unsur dalam
lembaga pendidikan. Unsur yang mempengaruhi trsanformasi meliputi:
Tenaga pendidik dan personal lainnya, isi pendidikan, tehnik, sistem
evaluasi, sarana pendidikan, system administrasi.25

c. Syarat-syarat Evaluasi Pembelajaran.
Kesahihan atau validitas, yaitu ketepatan evaluasi, kelayakan
interpretasi terhadap hasil dari suatu instrument evaluasi atau test.
Kesahihan instrument evaluasi diperoleh melalui hasil pemikiran dan
pengalaman.

24 https://www.academia.edu/11739146/EVALUASI_BELAJAR_DAN_PEMBELAJARAN
25 Ibid

Keterandalan atau reliabilitas, hal ini berhubungan dengan
kepercayaan, yakni tingkat kepercayaan bahwa instrument evaluasi
dapat memberikan hasil yang tepat.
Kepraktisan dalam hal evaluasi ditinjau segi kemudahan dan
kepraktisan pada saat mempersiapkan dan menerapkan. Kepraktisan
terkait dengan kemudahan mengadministrasikan, membuat skor,
kemudahan interpretasi dan implementasi, serta penyesuaian waktu
yang digunakan.

d. Fungsi dan Tujuan Evaluasi.
Secara umum fungsi dan tujuan evaluasi adalah untuk melihat

sejauhmana suatu program atau kegiatan tertentu dapat dikatakan
berhasil mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pelaksanaan evaluasi
dalam pendidikan mempunyai manfaat yang luas tidak sekedar
mengukur keberhasilan siswa tetapi juga keberhasilan guru pengajar.

Menurut Nurkancana, ada beberapa fungsi dan manfaat evaluasi
pendidikan atau pembelajaran adalah sebagai berikut: 26
1) Untuk mengetahui taraf kesiapan anak dalam mengikuti

pembelajaran
2) Untuk mengetahui seberapa jauh hasil capaian pembelajaran
3) Untuk mengetahui apakah suatu mata pelajaran harus diulang atau

dilanjutkan
4) Untuk mendapat bahan informasi untuk bimbingan pembelajaran
5) Untuk mendapat informasi apakah siswa dapat dinaikkan ke kelas

atau jenjang yang lebih tinggi atau harus mengulang
6) Untuk mengadakan seleksi
7) Untuk mengetahui taraf efisiensi metode yang digunakan dalam

pembelajaran.

e. Jenis-jenis Evaluasi

26 https://www.academia.edu/11739146/EVALUASI_BELAJAR_DAN_PEMBELAJARAN

1) Evaluasi Formatif dilakukan pada akhir pokok pembahasan/materi
pembelajaran. Untuk mengetahui sejauh mana proses
pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Hal
ini bertujuan agar siswa dan guru mendapat informasi kemajuan
yang telah dicapai. Dari hasil evaluasi diperolah gambaran, siapa
yang berhasil dan yang belum untuk selanjutnya dapat diambil
tindakan yang tepat.

2) Evaluasi Sumatif, evaluasi yang dilakukan pada satu satuan waktu
yang didalamnya mencakup beberapa pokok bahasan atau setelah
selesai dalam suatu bidang studi.

3) Evaluasi Diagnostik, evaluasi untuk mengetahui kelebihan-
kelebihan dan kelemahan-kelemahan para siswa sehingga dapat
diberikan perlakuan yang tepat sesuai kelebihan ataupun
kelemahan siswa.

f. Prosedur Evaluasi Hasil Belajar.
Berdasarkan pengertian dan tujuan dari evaluasi pembelajaran

maka dapat memahami bahwa tujuan dari evaluasi pembelajaran untuk
mmengetahui tingkat keberhasilan peserta didik setelah mengikuti
proses pembelajaran, dimana keberhasilan tersebut ditandai dengan
simbol berupa kata, angka, huruf atau simbol.

Proses pembelajaran adalah merupakan proses sistematis. Agar
proses penilaian dapat diadministrasikan oleh seorang penilai maka
perlu beberapa tahapan atau langkah kegiatan evaluasi yang meliputi;
persiapan, penyusunan alat ukur, pelaksanaan pengukuran,
pengelolaan hasil pengukuran, penafsiran hasil pengukuran, pelaporan
dan penggunaan hasil evaluasi.27

Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi
segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman
dan proses belajar siswa. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan

27 https://www.academia.edu/11739146/EVALUASI_BELAJAR_DAN_PEMBELAJARAN

data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis besar indikator yang
dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.
Indikator hasil belajar menurut Benyamin S. Bloom dengan
Taxonomy of Education Objectives membagi tujuan pendidikan
menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.28

Dalam Sistem pendidikan Nasional rumusan tujuan pendidikan
nasional, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional,
menggunakan hasil belajar dari Benyamin S.Bloom yang secara garis
besar membaginya dalam tiga ranah29, yaitu:
1) Ranah Kognitif, yaitu perubahan yang terjadi dalam kawasan

kognitif yang meliputi kegiatan kerja otak sejak dari penerimaan
stimulus, penyimpanan dan pengelolaan dalam otak menjadi
informasi hingga panggilan kembali informasi yang diperlukan
untuk menyelesaikan masalah.
2) Ranah Afektif, yaitu perubahan nilai nilai yang pada akhirnya
dihubungkan dengan sikap dan prilaku. Kemampuan
menghubungkan dan menjadikan nilai yang dipelajari sebagai
pedoman hidup (cara pandang).
3) Ranah Psikomotorik, yaitu perubahan prilaku fisik terkait
ketrampilan olah tubuh melalui gerakan untuk mencapai keahlian
tertentu.

B. Pendidikan Agama Kristen.

Dalam Kekristenan pendidikan agama ini dikenal dengan nama
Pendidikan Agama Kristen (PAK). Istilah ini lebih baik digunakan dalam
konteks pendidikan agama di Indonesia mengingat di Indonesia memiliki
keberagaman agama, sehingga jika hanya dipakai istilah Pendidikan
Agama saja hal ini masih kabur dan belum secara khusus mengarah ke
Agama Kristen. Istilah Pendidikan Agama Kristen diambil dari terjemahan

28 Burhan Nurgiantoro, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah,(Yogyakarta: BPFE,
1988), hal. 42
29 Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2010), hal.50


Click to View FlipBook Version