bahasa Inggris yaitu Christian Religius Education, yang dalam prakteknya
adalah sebuah proses pembelajaran bersumber dari kebenaran Firman
Tuhan.30
1. Pendidikan Agama.
Dalam dunia Pendidikan di Indonesia, pendidikan menjadi salah
satu mata pelajaran yang penting pada setiap jenjang pendidikan dan
ditetapkan dalam undang-undang Pendidikan Nasional. Negara menjamin
hak setiap peserta didik untuk menerima pelajaran agama sesuai dengan
agama yang dianutnya. Undang –undang RI no.20 Tahun 2003, pasal 12
ayat (1) huruf a, berbunyi: ‘Setiap peserta didik pada setiap satuan
pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama
yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama’ (UU
Sikniknas 2003, 2009:8).
Pendidikan agama dapat diselenggarakan melalui jalur formal, non
formal dan informal (UU Sidiknas 2003, 2009:16) Undang-undang no.
20 Tahun 2003 mengatur tentang bagaimana menjalankan pendidikan di
Indonesia. Pendidikan agama menjadi satuan pendidikan yang wajib
diberikan pada semua jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar,
menengah sampai perguruan tinggi (UU Ssdiknas 2003, 2009:3).
Peraturan Pemerintah RI No. 55 Tahun 2007, tentang pendidikan
agama dan pendidikan keagamaan, pasal 5 ayat (1) sampai ayat (9)
menjadi landasan pelaksanaan pendidikan agama di Indonesia (UU
Sisdiknas 2003, 2009:148-149; lihat lampiran). Pendidikan agama adalah
pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap,
kepribadian dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran
agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata
pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.” (Pasal
1/1, PP. 55/2007, tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan).
30 http://dauddarmadi.blogspot.com/2013/11/hakekat-pendidikan-agama-kristen.html.
2. Pengertian Pendidikan Agama Kristen.
Robert W.Pazmino mendefinisikan pendidikan Kristen sebagai
‘usaha sengaja dan sistematis ditopang oleh usaha rohani dan manusiawi
untuk mentransmisikan pengetahuan, nilai, sikap, ketrampilan, dan
tingkah laku yang mengupayakan perubahan, pembaharuan dan
reformasi pribadi-pribadi, kelompok bahkan struktur oleh Roh Kudua,
sehingga peserta didik hidup sesuai kehendak Allah sebagai mana
dinyatakan Alkitab, terutama dalam Yesus Kristus’.31
Terkait dengan penjelasan tentang pengertian pendidikan Kristen,
Pazmino lebih lanjut menjelaskan bahwa pendidikan tidak dapat terlepas
dari konteknya. Ditinjau dari segi konteks pendidikan Kristen terjadi
dalam tiga ranah, yaitu 32 :
a) Keluarga (Imamat 6),
b) Gereja (Kisah Rasul 2:42-47, Matius 28:19-20, Efesus 4:11-16,
Kolose 3:16)
c) Sekolah (PAK) :
(1). Sekolah Kristen: integrasi iman dan penetahuan.
(2). Sekolah Negeri: menghadapi tantangan nilai dan iman.
Pendidikan pada umumnya diartikan sebagai proses pengubahan
sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan dan
pelatihan proses , cara, perbuatan mendidik. Pendidikan Agama Kristen
berkenaan dengan hal ini merupakan salah satu diantaranya yang khas
serta usahanya disesuaikan dengan ajaran agama Kristen. Sisdiknas adalah
satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan
yang mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional di Indonesia.
Pendidikan ini berakarkan kebudayaan bangsa Indonesia dengan dasar
filsafat negaranya Pancasila dan UUD 1945 serta bertujuan dengan cita-
31 Junihot Simanjuntak, Filsafat Pendidikan dan Pendidikan Kristen, (Yogyakarta: Andi Offset,
2017), hal.68
32 Ibid, hal.71
cita nasional. Karena pendidikan ini bercita-citakan nasional maka
kurikulumnya ditentukan oleh pemerintah.33
Grome menjelaskan pemahaman tentang pendidikan agama, sebagai
berikut: pendidikan agama memusatkan perhatiannya khususnya pada
pemberdayaan orang-orang dalam pencarian mereka pada hal-hal yang
trensenden dan dasar perbedaan yang paling pokok. Pendidkan agama
menuntun orang-orang untuk menyadari apa yang telah ditemukan, terkait
dengan apa yang ditemukan itu dan mengekspresikan hubungan itu34.
E.G. Homrighausen mengatakan: “Pendidikan Agama Kristen
berpangkal pada persekutuan umat Tuhan. Dalam perjanjian lama pada
hakekatnya dasar-dasar terdapat pada sejarah suci purbakala, bahwa
Pendidikan Agama Kristen itu mulai sejak terpanggilnya Abraham
menjadi nenek moyang umat pilihan Tuhan, bahkan bertumpu pada Allah
sendiri karena Allah menjadi peserta didik bagi umat-Nya”.35
Menurut Warner C. Graedorf PAK adalah “Proses pengajaran dan
pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan
bergantung kepada Roh Kudus, yang membimbing setiap pribadi pada
semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran masa kini ke arah
pengenalan dan pengalaman rencana dan kehendak Allah melalui Kristus
dalam setiap aspek kehidupan, dan melengkapi mereka bagi pelayanan
yang efektif, yang berpusat pada Kristus sang Guru Agung dan perintah
yang mendewasakan pada murid”.36
Pengertian PAK menurut para ahli yang dirangkum oleh Paulus Lilik
Kristianto dalam bukunya yang berjudul “Prinsip & Praktek Pendidikan
Agama Kristen:37
33 ____________, Strategi, Model dan Evaluasi Pembelajaran Kurikulum 2006, (Tanpa
Keterangan)
34 Groome, Thomas H. Christian Religious Education-Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2010). hal 37
35 E.G.Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985), hal.12
36 Paulus Lilik Kristanto, Prinsip dan Praktek PAK Penuntun bagi Mahasiswa Teologi dan PAK,
Pelayan Gereja, Guru Agama dan keluarga Kristen, (Yogyakarta : Andi Offset ), hal. 4
37 https://koreshinfo.blogspot.com/2015/10/pengertian-pendidikan-agama-kristen-pak.html
a) Hieronimus (345-420), PAK adalah pendidikan yang tujuannya
mendidik jiwa sehingga menjadi bait Tuhan. (Mat.5:48).
b) Agustinus (345-430), PAK adalah pendidikan yang bertujuan mengajar
orang supaya “melihat Allah” dan “hidup bahagia.”
c) Martin Luther (1483-1548), PAK adalah pendidikan yang melibatkan
warga jemaat untuk belajar teratur dan tertib agar semakin menyadari
dosa mereka serta bersukacita dalam Firman Yesus Kristus yang
memerdekakan. Di samping itu PAK memperlengkapi mereka dengan
sumber iman, khususnya yang berkaitan dengan pengalaman berdoa,
Firman tertulis (Alkitab) dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mereka
mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat dan Negara serta
mengambil bagian dengan bertanggung jawab dalam persekutuan
Kristen.
d) John Calvin (1509-1664), PAK adalah pendidikan yang bertujuan
mendidik semua putra-putri gereja agar mereka: Terlibat dalam
penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dengan bimbingan Roh
kudus. Mengambil bagian dalam kebaktian dan memahami keesaan
gereja. Diperlengkapi untuk memilih cara-cara mengejawantahkan
pengabdian diri kepada Allah Bapa dan Yesus Kristus dalam pekerjaan
sehari-hari serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah
dan kemuliaanNya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang
dipilih dalam Yesus Kristus.
Perbedaan istilah pendidikan agama dengan pendidikan agama
Kristen perlu dijelaskan supaya jangan timbul salah paham. Pendidikan
Agama Kristen harus bedakan dari nama-nama lain, seperti Pendidikan
Kristen, atau Pengajaran Kristen, dan Pendidikan Agama atau Pengajaran
Agama, yang memang tidak sama artinya. Pendidikan Kristen biasanya
diperguanakan untuk pengajaran disekolah-sekolah Kristen, baik di
sekolah-sekolah dasar, maupun sekolah lanjutan, yang masih dijalankan
oleh gereja atau organisasi Kristen. Jadi nama ini menunjukaan pada
pengajaran biasa, tetapi diberikan dalam suasana Kristen.38. Secara
38 https://davidkipedia.blogspot.com/2011/06/ringkasan-buku-pendidikan-agama-kristen.html
sepintas, pendidikan Kristen dapat saja diartikan sebagai “pendidikan yang
Kristen”. Dengan kata lain, pendidikan Kristen adalah pendidikan yang
bercorak, berdasar dan berorientasi Kristian. Pendidikan Kristen memiliki
pengertian yang sangat luas dan tergantung pada konteksnya.39
PAK di sekolah adalah salah satu bentuk pendidikan Agama
Kristen, di samping Katekisasi Sidi, Sekolah Minggu, PWG (Pembinaan
Warga Gereja), sehingga seharusnya juga merupakan tanggung jawab
gereja. PAK di sekolah Kristen ataupun sekolah negeri dan swasta lainnya,
belumlah cukup bila diperlakukan sekedar sebagai satu bidang studi atau
pengetahuan saja. Tujuan PAK bukan hanya sekedar pengenalan atau
pengetahuan tentang suatu agama melainkan agar peserta didik beriman
kepada Tuhan bahkan mencapai pribadi yang dewasa dan utuh. Oleh
karena itu, PAK yang dilakukan di kelas perlu diikuti dengan kegiatan lain
yang bersifat mengasuh, memelihara dan membina, baik dilingkungan
sekolah maupun luar sekolah. Dari pengertian diatas istilah Pendidikan
Kristen dengan Pendidikan Agama Kristen dapat dibedakan. Istilah
Pendidikan Kristen digunakan oleh gereja sedangkan istilah Pendidikan
Agama Kristen terkait dengan penyelenggaraan pembelajaran pada
lembaga sekolah formal.
3. Tujuan Pendidikan Agama Kristen.
Ricards mengajukan pendapat tentang tujuan Pendidikan Agama
Kristen. Menurutnya pendidikan Kristen seharusnya bukan hanya
bertujuan untuik sekedar memiliki penguasaan pengetahuan atau kebiasaan
tertentu. Tujuannya harus bermuara pada mencapai keserupaan dengan
Kristus. Pendidikan Agama Kristen hendaknya diarahkan bagi pencapaian
transformasi secara progresif sehingga keserupaan dengan Allah dalam
sifat sikap, nilai positif, motif, serta pemahaman.Pendidikan seharusnya
39 S. Sidjabat, Strategi Pendidikan Kristen. (Yogyakarta: ANDI, 2000), hal. 27
dirancang untuk membantu proses tersebut berjalan normal dan tidak
terkesan dipaksa.40
Tujuan pendidikan agama Kristen John M. Nainggolan membagi
kedalam tempat tujuan pembelajaran PAK” dalam bukunya “Menjadi
Guru Agama Kristen” yakni;41
a) Mengajarkan Firman Tuhan. Guru PAK senantiasa mengajarkan
firman Allah agar siswa memiliki patokan dalam realita kehidupannya
yang akhirnya mengalami perubahan dari hari ke hari, karena firman
Allah bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan,
memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (II
Timotius 3:16).
b) Membawa perjumpaan dengan Kristus. Perjumpaan pribadi dengan
Kristus menyebabkan suatu hubungan berubah antara manusia dengan
Allah, dan antar sesamanya serta menghasilkan cara hidup yang benar.
Guru berperan dalam membantu peserta didik untuk mengalami
perjumpaan pribadi dengan Kristus. Apabila siswa mengalami
perjumpaan dengan Yesus akan memiliki sikap mengasihi Allah dan
diwujudkan melalui tutur kata, perilaku, pola pikir, dan gaya hidup
yang benar dan hidup dalam iman serta ketaatan-Nya kepada Tuhan.
c) Memiliki Ketrampilan dan kemampuan:
Learning to know : belajar untuk tahu cara belajar,
Learningto do: belajar untuk dapat melakukan pekerjaan,
Learning to be: belajar agar menjadi orang yang berguna sesuai minat,
bakat dan potensi diri,
Learning ti life together: belajar untuk hidup bersama dengan orang
lain.
d) Pembentukan spiritualitas. Seorang siswa yang memiliki spiritualitas
yang bagus maka ia ampu memahami makna keberadaannya dan
40 Junihot Simanjuntak, Filsafat Pendidikan dan Pendidikan Kristen (Yogyakarta : Andi Offset,
2017), hal.127
41 John M Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen, (Bandung : Generasi Info Media, 2007 ),
hal. 12
bagaimana ia berperan menjadi berkat bagi bagi orang lain serta
memuliakan Allah.
Senada dengan pendapat Warner C. Graedorf tentang tujuan
PAK42: ‘proses pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan Alkitab,
berpusat pada Kristus, dan bergantung pada Roh Kudus, yang
membimbing setiap pribadi pada semua tingkat pertumbuhan melalui
pengajaran masa kini kea rah pengenalan dan pengalaman rencana dan
kehendak Allah mellui Kristus dalam setiap aspek kehidupan dan
memperlengkapi mereka dalam pelayanan yang efektif, yang berpusat
pada Kristus Sang Guru Agung.’
Selaras dengan sasaran pendidikan, PAK bukan hanya mengarah
pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan, tetapi kepada perilaku
dan kepribadian yang matang, sasaran akhirnya adalah seorang pribadi
yang memiliki integritas diri, mampu menggunakan imannya dalam
menja&ab tantangan hidup dan mampu memanusiakan sesamanya dengan
berbagai kehidupan yang sejahtera yang dikaruniakan Allah kepada
manusia.43
4. Objek-Objek Pendidikan.
Dalam pelaksanaan PAK perlu merencanakan objek-objek tertentu.
E.G Homrighausen dan I.H Enklaar 44 menyatakan beberapa objek dasar
atau pokok pokok pendidikan agama Kristen yang bersifat doctrinal yang
dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. PAK mengajarkan tentang Allah
Allah sebagai pencipta, Allah yang Alfa dan Omega (yang awal dan
yang akhir), Allah yang Esa, Allah yang Kudus, Allah yang Mulia,
Allah yang memiliki Otoritas tertingga, Allah yang berkuasa.
b. PAK mengajarka tentang Yesus Kristus
42 Paulus Lilik Kristanto, Prinsip dan Praktek PAK, Penuntun Bagi Mahasiswa Teologi dan PAK,
Pelayanan Gereja, Guru Agama dan Keluarga Kristen , (Jogyakarta: Andi Offset), hal.4
43https://www.academia.edu/33986499/ARTIKEL_PENGERTIAN_PENDIDIKAN_AGAMA_K
RISTEN
44 E.G. Homrighousen, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985), hal. 112
Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat, Yesus adalah Mesias,
Yesus adalah Tuhan, Yesus adalah Guru, Yesus adalah Penyataan
Firman Allah, Kristus sebagai Kepala gereja.
c. PAK mengajarkan tentang Roh Kudus
Roh Kudus adalah Roh Allah, Roh Kudus sebagai Penolong, Roh
Kudus sebagai Penghibur
d. PAK mengajarkan tentang Alkitab - Firman Allah
Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis, Alkitab diilhami oleh Roh
Allah - ditulis oleh manusia, Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru.
e. PAK mengajarkan tentamng nilai-nilai dan etika Kristiani
Etika Kristen berbicara tentang baik atau tidak baik, boleh atau tidak
boleh berdasarkan Firman Tuhan. Etika berdasarkan nilai nilai
Kristiani.
f. PAK mengajarkan tentang Gereja
Pemahaman tentang gereja sebagai persekutuan orang percaya. Gereja
sebagai umat Allah yang dipanggil keluar untuk memberitakan Injil
Kristus, gereja sebagai tuhuh Kristus.
5. Metode Pembelajaran.
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan kegiatan
yang telah disusun dapat tercapai secara maksimal. Kata Metode berasal
dari bahasa Yunani, terdiri dari dua kata; ‘meth’ (bersama-sama) dan
‘hodes’ (berjalan), maka metode dapat diartikan berjalan bersama-sama
untuk mencapai tujuan.45.
45 Dewan Gereja Indonesia (DGI), Pembinaan Warga Gereja, (Jakarta: Institute Oikumene
Indonesia, 1975), hal.20
Metode adalah alat yang digunakan agar kebenaran dapat
disampaikan sedemikian rupa sehingga menjadi efektif dalam perjumpaan
seseorang dan usaha memahami masalah-masalah kehidupan.46
Metode adalah sarana untuk mencapai tujuan. Tujuan Pendidikan
Kristen adalah ‘karakter seperti Kristus’. Ada dua hal pendidikan Kristen
mencapai tujuan ini, yaitu : pendekatan metode ethical (etika) yang
menuntut moral dan pensedekatan intelektual yang menuntut pengetahuan
kebenaran Injil. Tujuan metodologi Kristen adalah bertujuan untuk
mengarahkan pembelajar pada realialisasi dan pengalaman karakter yang
menyerupai Kristus dan penyataan Allah. Maksud pendidikan Kristen
adalah, melihat Allah terungkap dalam kehidupan orang percaya.47
Pandangan Kristen mengenai metode didasarkan atas interpretasi
supernatural. Segala metode harus berpusat pada Allah, sang Pencipta dan
Sumber segala kebenaran. Penyataan Allah secara umum (alam) maupun
secara khusus (Alkitab). Pelajar harus mengungkapkan Allah dalam
hidup, pengalaman dan tingkah laku. Metodologi pendidikan adalah cara
memperlihatkan dari taraf non-rasional ke taraf rasional. Dalam hal ini ada
dua hal yang penting, yakni: (a). Penyataan Allah secara objectif dalam
lingkungan sekolah dan (b). Penyataan Allah secara subjektif dalam diri
pelajar. Proses ini seluruhnya adalah hasil kerjasama antara Roh Kudus
yang berperan memperbaharui hati manusia dan peran pendidik sebagai
teladan yang hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus.48
Inspirasi dan petunjuk dalam penggunaan metode dalam
pendidikan Kristen telah diberikan oleh Yesus Kristus. Tuhan Yesus
menggunakah metode: (a). metode objektif; (b). metode analytical-
syntetic; (c). metode indutif-deduktif; (d). metode saran; (e). metode
socratic dan disiplin. Metode-metode lain yang sekarang digunakan oleh
sekolah-sekolah Kristen adalah: menghafal, mengulangi, diskusi,
ceramah/kuliah, proyek, drama, menceritakan dan audiovisual. Tidak ada
satu metode yang paling baik, pada dasarnya semua metode yang
46 N.K Adiatmadja Hadinoto, Dialog dan Edukasi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), hal.292
47 E.G. Homrighousen, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985), hal.80
48 Ibid, hal.82
ditawarkan adalah baik. Kombinasi berberapa metode merupakan
‘approach’ terbaik.
Dalam buku “Profesionalisme Guru dan Bingkai Materi PAK”,
dijelaskan bahwa Yesus sering menggunakan metode tertentu dalam
mengajar, antara lain:
1) Ceramah dan contoh (Yoh 13:1-20, Lukas 14:1-6; 19:1-10)
2) Perumpamaan (Lukas 13:6-21; 14:15-24; 15:1-31)
3) Cerita (Lukas10: 25-36; 16:10-31)
4) Tanya Jawab / diskusi ( Yohanes 3:1-13)
5) Ceramah dan nasehat (Lukas 11:1-12; 16:10-18)
6) Inquiry (Lukas 4:1-1). .
6. Kurikulum Pendidikan Agama Kristen.
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum
semua pengalaman belajar yang disediakan bagi peserta didik di sekolah.
Dalam kurikulum ini terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan
perbuatan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ahli kurikulum,
ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-
unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan maksud
memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses
pembimbingan perkembangan peserta didik mencapai tujuan yang dicita-
citakan oleh peserta didik, keluarga, dan masyarakat. Kelas merupakan
tempat untuk melaksanakan dan menguji kurikulum. Di dalamnya semua
konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat, dan kemampuan guru
diuji dalam bentuk perbuatan, yang akan mewujudkan bentuk kurikulum
yang nyata dan hidup.
Oleh karena itu, gurulah pemegang kunci pelaksanaan dan
keberhasilan kurikulum. Guru adalah perencana, pelaksana, penilai, dan
pengembang kurikulum sesungguhnya.
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum
yaitu;
1) Prinsip relevansi. Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki
kurikulum, yaitu relevansi ke luar dan relevansi di dalam kurikulum itu
sendiri
2) Prinsip fleksibilitas. Kurikulum hendaknya memiliki sifat lentur atau
fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang
dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain, bagi anak yang
memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda.
3) Prinsip kesinambungan. Perkembangan dan proses belajar anak
berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus.
4) Prinsip praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana
dan biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi.
Kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-
keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia.
Kurikulum bukan hanya harus ideal tetapi juga praktis.
5) Prinsip efektivitas. Walaupun kurikulum tersebut harus sederhana dan
murah tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan
pelaksanaan kurikulum yang dimaksud baik secara kuantitas maupun
kualitas.49
6) Mathen Luther membagi kedalam tiga tahap kurikulum Pendidikan
Agama Kristen di sekolah, yaitu; tahap pertama, SD kelas 1-3. Taraf
permulaan, dimana pelajar belajar, membaca. Pelajaran mencakup:
pengenalan abjad, Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli dan
belbagai doa lainnya, tahan ke dua, SD kelas 4-6, tahap ketiga,
SLTP/A.
C. Kerangka Berpikir.
Pendidikan agama merupakan mata pelajaran yang penting dan
wajib diberikan pada setiap jenjang pendidikan sesuai ketetapan undang-
undang dan peraturan pemerintah. Undang-undang dan Peraturan
Pemerintah mengatur pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan agama di
49 http://pancurarenapendidikan.blogspot.com/2017/05/pengembangan-kurikulum-2013-
pendidikan.html
sekolah-sekolah. Setiap peserta didik berhak mendapatkan pembelajaran
agama sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Namun fakta di lapangan, dalam hal ini
khususnya sekolah umum di kota Bogor, ternyata menemui berbagai
macam kendalam dalam pelaksanaannya. Banyak faktor yang
menyebabkan tidak adanya penyelenggaraan pembelajaran.
PAK di sekolah-sekolah tertentu yang bersifat komplek. Beberapa
faktor yang dapat diamati secara kasat mata yang terjadi di lapangan
adalah: minimnya jumlah guru agama Kristen, jumlah siswa/siswi yang
tidak memenuhi kuota (minoritas dalam jumlah), sikap kurang menghargai
perbedaan agama, penolakan penyelenggaraan PAK karena berbagai
alasan dari pihak sekolah, tidak teremplementasinya peraturan dan
undang-undang yang ditetapkan pemerintah dalam hal penyelenggaraan
PAK di sekolah-sekolah.
Menyoroti secara khusus, dari sudut minimnya ketersediaan guru
mata pelajaran agama Kristen. Faktor penyebab yang dapat dilihat secara
nyata di lapangan adalah:
(a.) Ketersediaan guru agama Kristen tidak sebanding dengan jumlah
sekolah-sekolah yang ada di kota Bogor.
(b.)Jumlah guru agama Kristen yang berstatus PNS hanya sedikit
dibandingkan dengan kebutuhan yang ada (lihat lampiran dari kantor
Kemenag Bimas Kristen kota Bogor).
(c.) Ketidakberpihakan Pemerintah sebagai pembuat kebijakan terkait
pengangkatan guru agama Kristen
(d.)Pengangkatan PNS bagi guru agama Kristen jarang dilakukan oleh
pemerintah.
(e.) Kondisi yang tidak menguntungkan ini perlu disikapi oleh berbagai
pihak baik oleh pemerintah kota Bogor, sekolah, masyarakat dan juga
gereja.
Tidak terselenggaranya pembelajaran PAK di sekolah-sekolah
tertentu berdampak pada kebutuhan nilai agama untuk pengisian raport
bagi jemaat GPIB Zebaoth Bogor. Kepedulian gereja GPIB Zebaoth Bogor
bukan hanya pada pemenuhan nilai agama Kristen untuk kebutuhan
pengisian raport saja tetapi lebih pada tanggung jawab untuk
menyelenggarakan pendidikan agama Kristen yang merupakan Amanat
Agung Kristus sebagai Guru Agung. Gereja menjalankan tugas
panggilannya ditengah dunia untuk mendidik, mengajar generasi penerus
untuk mengenal Kristus sebagai Juruselamat pribadinya. Hal ini menjadi
sesuatu target yang lebih diutamakan.
Peranan gereja GPIB Zebaoth Bogor sebagai lembaga keagamaan
yang bertanggung jawab menjalankan fungsi pembelajaran dan pendidikan
dinyatakan dalam bentuk membuka wadah tempat penyelenggaraan
pendidikan PAK. Wadah Pembelajaran tersebut diberi nama Sekolah
Sabtu. Gereja bermitra dengan pihak sekolah dalam bentuk penyediaan
nilai agama Kristen yang bertanggung jawab, artinya bahwa nilai sebagai
hasil belajar yang diperoleh melalui proses pembelajaran yang memenuhi
strandart.
Kegiatan Sekolah Sabtu merupakan alternatif pembelajaran PAK.
Disebut alternatif karena sifatnya sementara dan terbatas waktunya, hanya
untuk mengatasi persoalan ketiadaan pembelajaran PAK disekolah
tertentu. Namun dengan berjalannya waktu kegiatan Sekolah Sabtu sudah
berjalan selama 35 tahun (dihitung sejak tahun berdirinya 1984). Apakah
kehadiran Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth, untuk sementara dapat menjadi
solusi dalam mengatasi ketiadaan PAK di sekolah ? Bagaimana proses
pembelajaran PAK di Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor, sehingga dapat
layak dijadikan alternatif penyelenggaraan PAK.
Penelitian ini juga ingin mengangkat masalah bagaimana solusi dari
berbagai pihak (pemerintah, gereja-gereja, masyarakat) dalam mengatasi
persoalan ketiadaan pembelajaran PAK di sekolah-sekolah tertentu yang
sampai hari ini masih berlanjut. Untuk memikirkan bersama tentang upaya
yang mungkin dapat dilakukan pada masa yang akan datang mengingat
kegiatan Sekolah Sabtu sudah sekian lamanya hadir (35 th) ditengah
masyarakt kota Bogor.
Berdasarkan diuraikan diatas maka kerangka berpikir penelitian ini
dapat digambarkan sebagai berikut;
Gambar 2.
Bagan Kerangka Berpikir
SEKOLAH Peranan
yang tidak Sekolah Sabtu
menyelenggarakan GPIB Zebaoth
PAK Sebagai
penyelenggara
PAK
Peserta Didik
(SD,SMP, SMA)
yang tidak mendapat PAK
di Sekolahnya
Keterangan Gambar 2.
Panah keatas: Solusi kebutuhan PAK dan Nilai Agama Kristen untuk Raport
dari Peserta didik/Orang tua murid (Jemaat gereja GPIB dan Non GPIB) yang
tidak mendapat PAK di sekolahnya.
Panah ke bawah: Pemenuhan kebutuhan PAK dan juga Nilai Agama Kristen
untuk Raport melalui pembelajaran PAK di Sekolah Sabtu yang
diselenggarakan oleh GPIB Zebaoth Bogor, merupakan PAK alternatif (bersifat
sementara).
Panah lingkar: Nilai Agama Kristen (hasil evaluasi belajar di Sekolah Sabtu)
untuk keperluan Raport, diserahkan oleh Orang tua murid/Peserta didik kepada
pihak Sekolah terkait. Gereja tidak berhubungan langsung dengan pihak sekolah
Garis putus-putus: Menunjukkan hubungan Mitra Kerja secara tidak
langsung antara Sekolah dengan pihak gereja GPIB Zebaoth dalam memenuhi
kebutuhan PAK dan nilai Agama Kristen untuk keperluan raport.
D. Hipotesis Penelitian.
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang dibangun adalah:
1) Berangkat dari permasalahan ketiadaan penyelenggaraan PAK di
beberapa sekolah umum di kota Bogor. Dari data peserta didik Sekolah
Sabtu dapat menunjukan sekolah-sekolah mana saja yang tidak ada
PAK (lihat lampiran: Data Peserta Didik Sekolah Sabtu).
2) Peranan Sekolah Sabtu sebagai wadah pembelajaran PAK untuk
menjawab kebutuhan siswa/siswi yang di sekolahnya yang tidak
menyelenggarakan pembelajaran pendidikan agama Kristen.
3) Program Sekolah Sabtu yang diselenggarakan oleh gereja GPIB
Zebaoth Bogor, merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab
gereja sebagai lembaga keagamaan dalam mengemban tugas panggilan
uantuk mendidik dan mengajar sebagaimana yang diamanatkan oleh
Yesus Kristus.
4) Patut diduga bahwa peranan Sekolah Sabtu di Gereja Protestan di
Indonesia bagian Barat (GPIB) Zebaoth Bogor dapat dijadikan sebagai
suatu solusi alternatif dari penyelenggaraan pembelajaran Pendidikan
Agama Kristen untuk mengatasi masalah ketiadaan PAK di sekolah
umum di kota Bogor.
BAB III
METODE PENELITIAN
Ada dua jenis metode penelitian yang dapat dipakai, yakni secara
kuantitatif dan kualitatif. Dalam pendetakan masalah peranan Sekolah Sabtu,
penulis memilih menggunakan pendekatan kualitatif. Penjelasan mengenai hal
terkait metode penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut;
A. Tujuan Penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pendekatan
kualitatif yaitu suatu pendekatan yang melalui penelitian tentang riset yang
bersifat deskriptif dan menggunakan analisis data. Proses dan makna
(perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif ini. Landasan
teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta
di lapangan. Selain itu landasan teori ini juga bermanfaat untuk memberikan
gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil
penelitian.
Kriyantono menyatakan bahwa, “Riset kualitatif bertujuan untuk
menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data
sedalam-dalamnya.” Penelitian kualitatif menekankan pada kedalaman data
yang didapatkan oleh peneliti. Semakin dalam dan detail data yang didapatkan,
maka semakin baik kualitas dari penelitian kualitatif ini. Penelitian kualitatif
memiliki dua tujuan yakni, mengambarkan dan menjelaskan.
Metode kualitatif cocok digunakan dalam penelitian untuk
menggambarkan bagaimana jalannya proses pembelajaran PAK yang
diselenggarakan di ‘Sekolah Sabtu’ oleh gereja GPIB Zebaoth Bogor. Melalui
penelitian kualitatif diharapkan penyelenggaraan pembelajaran PAK di
Sekolah Sabtu di GPIB Zebaoth Bogor menjadi alternatif bagi solusi
penanganan ketiadaan PAK disekolah-sekolah umum di kota Bogor.
B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan.
Penulis mengambil waktu penelitian tentang penyelenggaraan
‘Sekolah Sabtu’ dalam kurun waktu selama tiga bulan, mulai dari bulan Maret
sampai dengan bulan Mei 2019. Penelitian dilakukan setiap hari Sabtu pada
saat kegiatan Sekolah Sabtu berlangsung.
Tempat atau lokasi penelitian adalah di Sekolah Sabtu yang
diselenggarakan oleh gereja GPIB Zebaoth Bogor yang beralamat di Jl. Ir.
Juanda no.3 Bogor.
C. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif.
Permasalahan yang diangkat peniliti bersifat kompleks dan dinamis karena
menyentuh berbagai persoalan yang menjadi sumber ketiadaan
penyelenggaraan PAK di sekolah-sekolah umum di kota Bogor.
Pendekatan kualitatif bersifat induktif yang berproses dari data yang
terpisah namun saling berkaitan. Penelitian kualitatif tidak dimulai dengan
deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta-fakta empiris yang
terjadi.
Penulis terjun ke lapangan untuk mempelajari proses atau penemuan
yang terjadi secara alami, menganalisis, menafsir dan melaporkan serta
menarik kesimpulan dari proses tersebut. Temuan penelitian dalam bentuk
konsep, prinsip, hukum, kemudian teori dibangun dan dikembangkan dari
lapangan.
D. Fokus Penelitian/Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif yang berperan sebagai pengumpulan data
atau instrument penelitian adalah manusia. Dalam hal ini penulis sebagai
instrument utama dan tim peneliti. Dalam hal ini peneliti berperan sebagai
partisipan penuh dimana terlibat dalam kegiatan pembelajaran PAK. Walaupun
demikian, dalam penelitian ini objek penelitian dan masalah (bentuk
masalahnya) belum sepenuhnya jelas. Fokus penelitian, prosedur penelitian,
hipotesis yang dipakai dan hasil yang diharapkan semuanya masih bersifat
sementara. Kehadiran peneliti sebagai instrument kunci menjadi penting dalam
penelitian yang sebenarnya.
Fokus penelitian adalah Sekolah Sabtu sebagai suatu sistem
penyelenggaraan PAK. Prioritas penelitian terletak pada proses
pembelajarannya yang mencakup kegiatan belajar mengajar, mulai dari
perencanaan sampai dengan evaluasi sebagai hasil pembelajaran. Fokus
penelitian ini untuk mengetahui jalannya proses kegiatan belajar – mengajar di
Sekolah Sabtu, peneliti mengadakan pengamatan secara langsung pada saat
kegiatan pembelajaran berlangsungnya kegiatan Sekolah Sabtu.
Salah satu pendekatan yang digunakan untuk menentukan kualitas
proses pendidikan adalah pendekatan sistem. Melalui pendekatan sistem,
diharapkan dapat melihat berbagai aspek yang dapat mempengaruhi
keberhasilan suatu proses pembelajaran. Pendekatan sistem digunakan untuk
mengetahui kesatuan, interaksi dan keterkaitan komponen dalam mencapai
hasil yang diharapkan secara optimal sesuai tujuan yang diharapkan yaitu
menjadi solusi alternatif pembelajaran PAK.50
E. Sasaran dan Informan
Populasi penelitian ini terdiri dari beberapa orang yang dibatasi pada
pejabat gereja, yakni Yapendik (Yayasan Pendidikan) GPIB, Pendeta Jemaat,
KMJ (Ketua Majelis Jemaat) Pelaksana Harian Majelis Jemaat, para Presbiter
(Pendeta, Penatua dan Diaken), Komisi PAUD dan Sekolah Sabtu, orang tua
murid, peserta didik, pengajar Sekolah Sabtu, dan praktisi pendidikan (Tenaga
kependidikan) dalam lingkup GPIB dan juga pejabat Kemenag - Pembimas
Kristen kota Bogor sebagai penyelenggara tertinggi PAK dan Pengawas
pelaksanaan PAK di sekolah-sekolah kota Bogor. Sasran dan informan
penelitian adalah pihak yang terkait secara langsung dengan pelayanan Sekolah
Sabtu atau pemegang kebijakan terkait Sekolah Sabtu.
50 Wina Sanjaya, Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta : Kencana
Prenadamedia, 2013), hal.49
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis memaparkan hasi penelitian dan pembahasan
mengenai pembelajaran pendidikan agama Kristen (PAK) yang diselenggarakan
oleh GPIB Zebaoth Bogor. Laporan penulis mengenai kehadiran Sekolah Sabtu
sebagai solusi alternatif (sementara) bagi jemaat (siswa-siswi) yang disekolah
mereka tidak ada penyelenggaraan PAK.
A. Hasil Penelitian.
I. Hasil Survey Kegiatan PAK di Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor.
Sekolah Sabtu adalah wadah pembelajaran non formal untuk
menyelenggarakan pembelajaran PAK yang bertanggungjawab. Bagaimana
cikal bakal keberadaan dan kehadirannya hingga saat ini dijelaskan sebagai
berikut;
1) Latar belakang berdirinya Sekolah Sabtu
Sekolah Sabtu yang diselenggarakan oleh GPIB Zebaoth Bogor,
adalah program pembelajaran pendidikan PAK yang berdiri pada tahun
1984. Kehadirannya ditengah pelayanan gereja merupakan bentuk
kepedulian para pengajar Sekolah Minggu (sekarang disebut IMPA)
terhadap kebutuhan orang tua murid (Jemaat dari GPIB Zebaoth) yang
anak-anaknya bersekolah di sekolah umum, namun disekolah mereka tidak
ada pembelajaran PAK. Pengadaan Sekolah Sabtu tidak sekedar untuk
memenuhi kebutuhan nilai raport bagi anak-anak yang tidak ada PAK
disekolahnya. Sekolah Sabtu merupakan wadah pembelajaran PAK yang
bertanggung jawab termasuk dalam pengelolaan nilai hasil belajar.
Penyelenggaraan pembelajaran PAK yang pada awalnya dikelola oleh
para pengajar IMPA ini menggunaan istilah Sekolah Sabtu. Penggunaan
istilah Sekolah Sabtu untuk membedakan dengan kegiatan Sekolah
Minggu atau Ibadah Minggu Pelayanan Anak (IMPA). Kegiatan
IMPA/Sekolah Minggu berbeda dengan kegiatan belajar-mengajar yang
diterapkan di Sekolah Sabtu. Kegiatan Sekolah Minggu/IMPA adalah
ibadah Minggu Anak yang materi pengajarannya menurut panduan yang
ditetapkan oleh gereja GPIB, dalam hai ini adalah Sabda Bina Anak
(SDA). Para pengajarnya adalah kakak layan yang melakukan persiapan
pelayanan secara tersendiri dibawah binaan para pendeta atau presbiter
bertugas. Persyaratan menjadi pengajar Sekolah Minggu/IMPA ditetapkan
intern oleh gereja. Para pelayan mendapat pembinaan khusus sesuai kaidah
gereja. Sekolah Mingg/IMPA melayani jemaat dengan kategorial usia anak
(batita sampai dengan usia TK) untuk beribadah pada hari Minggu. Rutin
dilakukan setiap hari Minggu sebagaimana jadwal ibadah gereja. Didalam
kegiatannya tidak ada sistem penilaian yang mengikat jemaat dalam
mendapat hak pelayanan kategorial tahap selanjutnya.
Sangat berbeda dengan kegiatan yang dilakukan pada Sekolah Sabtu.
Sistem belajar-mengajar dan sistem pengelolaan nilai di Sekolah Sabtu
menggunakan kurikulum 2013. Buku mata pelajaran yang digunakan
dalam pembelajaran PAK adalah buku agama Kristen yang di tetapkan di
sekolah formal. Baik buku pegangan siswa maupun buku panduan untuk
pengajar. Para pengajar Sekolah Sabtu adalah mereka yang telah
memenuhi persyaratan sebagai guru/pengajar PAK.
Menurut pencatatan tahun ajaran 2012-2013, jumlah siswa yang
terdaftar 165 orang, terdiri dari 104 tingkat Sekolah Dasar (SD), 38 tingkat
Menengah Pertama (SMP) dan 21 tingkat Menengah Atas (SMA/SMK).
Berdasarkan data diatas, yang tidak ada pendidikan agama Kristen terdiri
dari: 65 SD, 30 SMP, dan 15 SMA/SMK.
Menurut pencatatan pada tahun ajaran 2018-2019, jumlah siswa yang
terdaftar 165 orang, terdiri dari 104 tingkat Sekolah Dasar (SD), 38 tingkat
Menengah Pertama (SMP) dan 21 tingkat Menengah Atas (SMA/SMK).
Berdasarkan data diatas, yang tidak ada pendidikan agama Kristen terdiri
dari: 65 SD, 30 SMP, dan 15 SMA/SMK . Jika dibandingkan dengan data
peserta didik tahun ajaran 2018-2019 saat ini memberi gambaran kepada
gereja dan pihak terkait, bahwa persoalan PAK disekolah-sekolah belum
ada solusi yang tepat.
1. Dasar Pertimbangan Berdirinya Sekolah Sabtu.
Sebagaimana yang dirangkum dalam Juklak (Petunjuk dan
Pelaksanaan) Sekolah Sabtu. Beberapa pertimbangan yang menjadi alasan
berdirinya Sekolah Sabtu adalah sebagai berikut:
a) Minimnya tenaga pengajar PAK khususnya di kota Bogor, hal ini
dikuatkan melalui peryataan Pembimas Kristen kota Bogor dan juga
data-data yang ada di kantor Kemenag.
b) Salah satu perwujudan tugas panggilan gereja di bidang pendidikan
sebagai amanat Tuhan Yesus Kristus yakni mengajar (didaskalia)
berdasarkan Alkitab sebagai Firman Allah. Melaluinya peserta
didik/siswa memahami dan menghayati karya Tuhan Allah dalam
kehidupannya sehari-hari sebagai umat beriman, yang pada gilirannya
diharapkan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan, Allah dan
Juruselamat.
c) Kebutuhan orangtua (warga jemaat khususnya ) yang anaknya tidak
mendapatkan pelajaran pendidikan agama Kristen di sekolah. Dengan
dasar ini orangtua mendaftarkan anaknya untuk mengikuti kegiatan
belajar khusus PAK di Sekolah Sabtu - Zebaoth dengan mengisi
formulir pendaftaran dan membawa surat keterangan dari sekolah
masing-masing.
d) Mengikuti perkembangan sesuai dengan Kurikulum yang berlaku di
tingkat dasar dan menengah dan melaksanakannya sesuai ketentuan
yang berlaku.
e) Menyediakan tenaga pengajar yang kompeten di bidangnya sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
2. Tujuan Berdirinya Sekolah Sabtu
Kehadiran Sekolah Sabtu dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Hadirnya Sekolah Sabtu di gereja GPIB Zebaoth Bogor adalah bentuk
kepedulian terhadap ketiadaan penyelenggaraan PAK di beberapa
sekolah di Bogor.
b) Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap tugas dan panggilan gereja
dalam hal pendidikan sebagaimana yang diamanatkan oleh Amanat
Agung (Matius 28).
c) Menyelenggarakan pembelajaran PAK yang bertanggung jawab yang
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sedangkan pemenuhan
kebutuhan nilai PAK untuk pengisian nilai pada Raport merupakan
hasil evaluasi pembelajaran yang bertanggung jawab.
d) Memenuhi kebutuhan nilai agama untuk pengisian raport bagi jemaat
yang di sekolah anak-anak mereka tidak ada pembelajaran PAK.
Sekolah Sabtu menolak peserta didik yang disekolah mereka tersedia
pembelajaran PAK.
e) Penyelenggaraan PAK di Sekolah Sabtu bukan hanya bertujuan untuk
pemenuhan kebutuhan nilai raport, tetapi benar-benar
menyelenggarakan pembelajaran PAK berdasarkan proses dan tahapan
yang benar dan dapat dipertanggung-jawabkan.
3. Kedudukan Sekolah Sabtu dalam Tata Gereja GPIB
Dalam lingkup GPIB segala bentuk pelayanan diatur dalam Ketetapan
Persidangan Sinode yang rutin dilakukan tiap lima tahun sekali. Hasil
persedangan dituangkan dalam Pokok-pokok Kebijakan Umum Panggilan
dan Pengutusan Gereja (PKUPPG).
Sekolah Sabtu – Zebaoth adalah salah satu program Jemaat yang
dilaksanakan oleh PPSDI (Pembinaan Pengembangan Sumber Daya Insani)
GPIB Zebaoth, Bogor, yang merupakan bentuk kepedulian gereja terhadap
kebutuhan orangtua dan siswa Kristen (khususnya warga jemaat GPIB
Zebaoth) yang tidak mendapatkan pelajaran PAK di sekolah di wilayah
Bogor dan sekitarnya.
Program tersebut pada awalnya berada di bawah koordinasi PPSDI
GPIB Zebaoth yang bertanggungjawab kepada PHMJ GPIB Zebaoth, dengan
menyediakan tenaga pengajar khusus PAK yang memenuhi ketentuan
sebagai pengajar PAK. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan
Sekolah Sabtu dalam program kerja yang baru (tahun 2017 sampai saat ini),
memiliki komisi yang berdiri sendiri yakni Komisi PAUD dan Sekolah
Sabtu.
PHMJ GPIB Zebaoth sebagai penanggungjawab segala kegiatan yang
berlangsung di jemaat GPIB Zebaoth mempertanggungjawabkan bentuk
kepedulian ini kepada pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan
penyelengaraan PAK sesuai dengan ketentuan yang berlaku antara lain:
a) Penyelenggara Bimas Kristen - Kantor Kementerian Agama Kota
Bogor, sebagai penyelenggara tertinggi PAK di Kota Bogor.
b) Sekolah-sekolah di wilayah Bogor dan sekitarnya yang siswanya
terdaftar dan belajar di Sekolah Sabtu – Zebaoth.
4. Waktu Kegiatan
Kegiatan pembelajaran PAK di Sekolah Sabtu dilaksanakan pada setiap
hari Sabtu. Pembagian waktu kegiatan ada dua kelompok yakni:
a) Untuk jenjang pendidikan SD samapi dengan SMP, dilaksanakan pada
pukul 15.30 – 17.00.
b) Untuk jenjang pendidikan SMA, dilakukan pada pukul 17.00-18.30.
5. Lokasi Kegiatan
Lokasi tempat pembelajaran menggunakan ruangan yang ada di
gereja GPIB Zebaoth Bogor. Ruangan yang dimaksudkan bukanlah
berbentuk ruangan kelas khusus, tetapi memanfaatkan ruangan besar di
Gedung Serba Guna (GSG 1 & 2). Ruangan dikondisikan menjadi ruang
kelas belajar, dengan memakai meja panjang dan kursi-kursi. Ruangan
yang besar dibagi menjadi dua atau tiga wilayah untuk kelas belajar yang
berbeda.
6. Materi Pembelajaran
Buku Materi Pelajaran yang digunakan dalam pembelajaran PAK
sama dengan yang dipakai oleh peserta didik di sekolah formal. Buku
pelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum 2013, baik buku pegangan
siswa maupun guru pengajar.
a) SD menggunakan buku pelajaran (Kurikulum 2013). Judul buku:
Pendidikan Agama Kristen & Budi Pekerti, terbitan BPK Gunung
Mulia, penulis: Yetie Bessie, S.Th dan Nofedin Waruwu, M.Pd.K.
b) SMP mengunakan buku (Kurikulum 2013). Judul buku: Pendidikan
Agama Kristen & Budi Pekerti, terbitan BPK Gunung Mulia,
penulis: Yetie Bessie, S.Th dan Nofedin Waruwu, M.Pd.K
c) SMA menggunakan buku (Kurikulum 2013). Judul buku:
Pendidikan Agama Kristen & Budi Pekerti, terbitan BPK Gunung
Mulia, penulis: Yetie Bessie, S.Th dan Nofedin Waruwu, M.Pd.K.
7. Proses Penilaian di Sekolah Sabtu.
Evaluasi pembelajaran dilakukan dalam bentuk ujian yang waktu
pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal yang berlaku di sekolah
umum. Soal ujian dibuat oleh team guru Sekolah Sabtu dengan
menggunakan acuan yang ditetapkan oleh pemerintah (Sisdiknas).
Hasil penilaian sebagai evaluasi pembelajaran PAK dan lembar
ujian hasil belajar akan disertakan ketika jemaat menyerahkan nilai PAK
ke sekolah. Hal ini untuk membuktikan bahwa penilaian telah melalui
tahapan proses pembelajaran yang benar. Gereja GPIB Zebaoth Bogor
mengesahkan nilai PAK yang dilaporkan guru pengajar / Komisi Sekolah
Sabtu. Nilai agama Kristen diketahui dan dibawa langsung oleh orangtua
murid yang bersangkutan dan diserahkan kepada sekolah mereka masing-
masing.
8. Peserta Didik
Peserta didik adalah jemaat di gereja GPIB Zebaoth, dan terbuka
juga bagi gereja-gereja lain yang merekomendasikan jemaatnya mengikuti
pelajaran Sekolah Sabtu. Jemaat dari gereja non GPIB (orang tua murid)
harus melampirkan surat permohonan dan atau mengijinkan untuk
mengikuti pembelajaran PAK di GPIB Zebaoth Bogor. Calon peserta
Sekolah Sabtu mengisi data lengkap dalam Formulir Pendaftaran yang
disediakan (lihat Lampiran Formulir Pendaftaran Sekolah Sabtu).
Setidaknya ada tujuh belas gereja lain yang dilayani oleh Sekolah
Sabtu GPIB Zebaoth. Dibawah ini penulis mengangkat contoh data peserta
didik dari berbagai gereja asal (lihat juga pada Lampiran Data Siswa
Sekolah Dasar);
Tabel: 1
Data Asal Gereja Peserta Didik Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth.
(Peserta Didik SD Tahun 2018 - 2019)
No ASAL GEREJA JUMLAH PESERTA DIDIK
1. GPIB Zebaoth 50 orang
2. GPIB Petra 3 orang
3. GPIB Bojong Gede 7 0rang
4. GPSDI Bogor 3 orang
5. GPDI (Jl.Gereja) 2 orang
6. GPDI Betel Yasmin 1 orang
7. GKP Pasundan 1 orang
8. HKBP Paledang 4 Orang
9. GKI Pengadilan 11 orang
10. GBI 4 orang
11. GTI Tiberias 1 orang
12. Katholik 1 orang
13. GKP Bogor 3 orang
14. GKP Pomadi 9 orang
15 BMKP Galilea Bogor 1 orang
16. GKPI 1 orang
17. GBKP Bogor 1 orang
18 Tidak terdaftar/Jemaat Tamu 3 orang
Peserta didik terdiri dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar,
Sekolah Menengah Pertama/sederajat dan Sekolah Menengah
Atas/sederajat yang disekolahnya tidak ada penyelenggaraan PAK. Maka,
Sekolah Sabtu menolak peserta didik yang di sekolah mereka sudah ada
pelayanan penyelenggaraan PAK.
Berikut ini data peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan
yang mengikuti pembelajaran PAK di Sekolah Sabtu;
Tabel 2
Data Jumlah Peserta Didik Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth
Tahun 2018 – 2019
No Jenjang Pendidikan Jumlah Peserta Didik
1. Sekolah Dasar (SD) 104 orang
2. Sekolah Mengah Pertama (SMP) 27 orang
3. Sekolah Mengah Atas (SMA) 23 orang
Berikut ini penulis menyajikan data peserta didik dari berbagai
sekolah (SD,SMP,SMA) yang mengikuti pembelajaran PAK di Sekolah
Sabtu.
Tabel 3
Data Asal Sekolah Peserta Didik Sekolah Sabtu
Tingkat Sekolah Dasar (Tahun 2018-2019)
No Nama Sekolah No Nama Sekolah
1 SDN Semeru 6 28 SDN Cigudeg I
2 SDN Lawang Gintung 2 29 SDN Sirnagalih 2
3 SDN Lawang Gintung 4 30 SDN Sukaluyu 1
4 SDN Cijujung 1 31 SD Rimba Putra
5 SD Cipta Cendikia 32 SDN Bantarjati 5
6 SDN Teladan Papandayan 33 SDN Panaragan Kidul
7 SDN Dukuh 34 SDN Kedung Waringin 2
8 SDN Gunung Batu 1 35 SDN Cibadak
9 SDN Bantarjati 6 36 SDN An-najwa
10 SDN Babakan Dramaga 3 37 SDN Bojonggede
11 SDN Bambu Kuning 38 SDN Bambu Kuning
12 SDN Pengadilan 3 39 SDN 3 Bojonggede
13 SDN Pengadilan 1 40 SDN Panaragan 1
14 SDN Pengadilan 5 41 SDN Merdeka Bogor
15 SDN Polisi 1 42 SD Satria Bangsa
16 SDN Polisi 2 43 SDN Padjajaran
17 SDN Cibeureum 2 44 SDN Cibinong 05
18 SDN Sindang Sari 45 SDN Gunung Gede Bogor
19 SDN Sindangsari 2 46 SDN Semeru
20 SD Empang 2 47 SDN Papandayan Bogor
21 SDN Kedung Badak 1 48 SDN Ciomas 1
22 SDN Kedung Badak 2 49 SDN Sukadamai 3
23 SDN Kota Batu 2 50 SDN Marga Jaya 1
24 SDN Kaumpandak 2 51 SDN 01 Pajelaran Cibinong
25 SD Bondongan 52 SDN Kandang Panjang
26 SDN Kota Batu 6 53 SDN Sindang Barang 2
27 SD Duta Pakuan
Tabel 4
Data Asal Sekolah Peserta Didik Sekolah Sabtu
Tingkat Sekolah Menengah Pertama (Tahun 2018-2019)
No Nama Sekolah No Nama Sekolah
1 SMP Tonjong 9 SMPN 1 Tamansari
2 SMPN Ciawi 02 10 SM Borces
3 SMPN 04 Cibinong 11 SMP PGRI Karadenan
4 SMPN 20 Bogor 12 SMPN Ciawi 02
5 SMPN 14 Bogor 13 SMP PGRI Bojong
6 SMP PGRI 2 Bogor 14 SMPN Taman Sari
7 SMPN 4 Bogor 15 SMPN 8
8 SMPN 13 Bogor 16 SMPN 16 Bogor
Tabel 5
Data Asal Sekolah Peserta Didik Sekolah Sabtu
Tingkat Sekolah Menengah Atas (Tahun 2018-2019)
No Nama Sekolah No Nama Sekolah
1 SMA PGRI 1 Bogor 11 SMKN 04 Bogor
2 SMK Migas Cibinong 12 SMAN 1 Ciampea
3 SMA PGRI 4 Bogor 13 STM Pandu
4 SMA Borces 14 SMK Tri Dharma 2
5 SMK Infokom 15 SMK Bakti Nusa
6 SMA 1 Cibungbulang 16 SMUN Leuwiliang
7 SMK Global Indonesia 17 SMK Bina Mandih
8 SMK Mekanika Bogor 18 SMAN 9 Bogor
9 SMA Kamandaka Bogor
10 SMK Kesehatan
Telekomedika
Dari data asal sekolah (Tabel 3,4,5) dapat disimpulkan bahwa
sekolah-sekolah tersebut tidak melaksanakan pembelajaran PAK. Jumlah
sekolah yang tidak melaksanapan pembelajaran PAK yang tercatat adalah
sebagai berikut:
SD sebanyak : 53 Sekolah
SMP sebanyak : 16 sekolah
SMA sebanyak : 18 sekolah
9. Tenaga Pendidik.
Tenaga pendidik di Sekolah Sabtu belum semuanya memiliki latar
belakang Sarjana Pendidikan Agama Kristen. Dari Sembilan orang
pengajar, dua oarng memiliki gelar Sarjana Teologi, hanya empat orang
diantara yang memiliki gelar Sarjana Pendidikan (dua orang adalah alumni
di STT REM) tiga orang diantaranya sedang menempuh perkuliahan PAK,
satu orang adalah pengajar sekolah minggu yang sudah mengajar sejak
berdirinya Sekolah Sabtu. Berikut ini informasi tentang tenaga pendidik
yang mengajar di Sekolah Sabtu;
Tabel 6
Data Tenaga Pendidik Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth
Tahun 2018 – 2019
No NAMA PENGAJAR PENDIDIKAN KELAS
MENGAJAR
1. Viktor Hutabarat, S.Th, M.DIV Sarjana-S2 Kelas 11 dan 12
Teologi Kelas 5 dan 9
2. Daniel Ferdinan Johanes Sumeke, Sarjana-S2 Kelas 12
S.Th, M.A Teologi
3. Vera Lisapaly Mohede, S.Pd.K Sarjana-S1 PAK
4. Anastasja Afrianti Maeruhu, Sarjana-S1 PAK Kelas 7 dan 10
Kelas 4 dan 11
S.Pd.K
5. Yuni Lusyanti Saragi, S.Pdk Sarjana-S1 PAK
6. Nelly Gultom, S.Pdk Sarjana-S1 PAK Kelas 8
7. Jackeline Louise Manuputty Sedang Kuliah-S1 Kelas 3
8. Tierza Stevany Nunumete PAK Kelas 1
9 Elsye Tineke Tatilu Sedang Kuliah-S1 Kelas 2 dan 6
PAK
SMA
10. Pembiayaan operasional Sekolah Sabtu.
Sejak berdirinya pembiayaan kegiatan Sekolah Sabtu dilakukan
secara mandiri. Penjelasan secara terperinci mengenai operasional
pembiayaannya adalah sebagai berikut:
a) Kegiatan Sekolah Sabtu dalam hal pembiayaan untuk operasionalnya
didukung penuh oleh kas gereja GPIB Zebaoth dan kontribusi jemaat
(Peserta didik) berupa iuran wajib dan iuran sukarela.
b) Gaji guru dibayarkan oleh kas gereja GPIB Zebaoth Bogor satu bulan
sekali sesuai proposal yang diajukan oleh komisi Sekolah Sabtu.
c) Pembiayaan kegiatan Seakolah Sabtu adalah mandiri dan swadana oleh
GPIB Zebaoth Bogor tidak di bergantung pada pihak sekolah umum
maupun gereja asal peserta didik (non GPIB Zebaoth).
d) Adapun sumbangan sukarela dari gereja-gereja (non GPIB) dimana
yang jemaatnya mengikuti pembelajaran di Sekolah Sabtu sifatnya
tidak rutin (tidak tetap).
11. Struktur Organisasi Sekolah Sabtu.
Seiring dengan berjalannya waktu, saat ini pengurus dan pengajar
Sekolah Sabtu berada langsung dibawah koordinasi Komisi PAUD dan
Sekolah Sabtu. Pada saat awal berdirinya, Sekolah Sabtu berada dibawah
BINDIK (Bidang Informasi dan Pendidikan), namun bidang ini ditiadakan
dan saat ini kegiatan Sekolah Sabtu berdiri sendiri menjadi satu Komisi
yang menangani PAUD dan Sekolah Sabtu. Penjelasan skema struktur
dalam Julkak Sekolah Sabtu mengalami revisi dan perubahan sesuai
perkembangan saaat ini (lihat lampiran). Penyesuaian juklak yang terbaru
masih dalam proses penyesuaian dan sampai penelitian ini, juklak yang
terbaru belum terbit.
Komisi PAUD dan Sekolah Sabtu dibawah koordinasi PHMJ ketua
3 (Pelaksana Harian Majelis Jemaat ), Bidang IV (PPSDI – PPK)
Komisi PAUD dan Sekolah Sabtu dalam lingkup GPIB Zebaoth,
berkoordinasi dengan Penyelenggara Bimas Kristen - Kantor Kementrian
Agama Kota Bogor.
Dalam hal ini, gereja tidak berhubungan langsung dengan pihak
sekolah-sekolah dari jemaat yang menjadi peserta didik di Sekolah Sabtu
dan juga gereja asal (non GPIB Zebaoth) mereka. Penyerahan nilai hasil
evaluasi belajar peserta didik oleh para guru atau pengurus, langsung
diserah-terimakan kepada jemaat yang bersangkutan. Selanjutnya, jemaat
akan membawa hasil evaluasi belajar berupa nilai PAK tersebut langsung
ke sekolah yang bersangkutan.
Struktur organisasi Sekolah Sabtu dapat digambarkan sebagai
berikut;51
Gambar 1.
SKEMATISASI STURKTUR
SEKOLAH SABTU – ZEBAOTH BOGOR
Penyelenggara
Bimas Kristen - -------------------------------------------------------SEKOLAH
Kantor
Kementrian PHMJ GPIB
Agama Kota
Bogor. ZEBAOTH
KOMISI BINDIK (PPSDI)
GPIB ZEBAOTH BOGOR
KOORDINATOR PELAKSANA
SEKOLAH SABTU - ZEBAOTH
SEKRETARIS BIDANG STAF
KURIKULUM PENGAJAR
51 Sumber Data: Juklak Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor
II. Deskripsi Hasil Wawancara.
Penulis merangkum hasil penelitian dalam bentuk deskripsi untuk
memberi gambaran pendapat dari para responden. Dari tiga puluh jumlah
responden, hanya lima belas diantaranya yang dipakai untuk mewakili
penelitian. Berdasarkan instrument yang berisi sepuluh pertanyaan yang
diajukan melalui intervie/wawancara kepada berbagai jenis responden.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data primer atau
narasumber yang penulis temui langsung yaitu beberapa pejabat gereja
(KMJ, PHMJ, YAPENDIK, Presbiter/Majelis Jemaat, komisi), orang tua
peserta didik, praktisi pendidikan (tenaga pengajar), pejabat pemerintah;
Pembimas dan Pengawas PAK di Kemenag kota Bogor. Hasil pengamatan
atau analisa melalui wawancara (Interview) yang dilakukan peneliti
kepada beberapa informan atau partisipan/responden adalah sebagai
berikut:
Menurut Chris Wangkay52 yang menyatakan pendapat bahwa tidak
mengikuti perkembangan pendidikan agama Kristen di sekolah-sekolah
(Khususnya PAK) dan kurang mngetahui bahwa ada undang-undang yang
mengatur tentang pendidikan khususnya agama Kristen. Mengetahui
bahwa di lapangan, bahwa jumlah guru agama sedikit dan mengetahui
bahwa di beberapa sekolah tidak ada guru agama Kristennya. Disadari
betul bahwa pemerintahlah yang harus mengatasi ketiadaan PAK di
sekolah-sekolah. Kurangnya guru agama, sejauh ini gereja mengambil
peran untuk mengambil bagian dalam penyelenggaraan pendidikan agama
kususnya bagi jemaat yang disekolah anak-anak mereka tidak ada PAK.
Khususnya dalam pemenuhan permintaan nilai agama Kristen untuk
pengisian raport. Gereja sangat peduli dengan persoalan jemaat dan
melihat bahwa GPIB Zebaoth memfasilitasi pembelajaran PAK di gereja.
Mengenal program Sekolah Sabtu yang sangat positif karena melakukan
proses pembelajaran yang baik dan benar sesuai aturan dan tidak
menyetujui jika pemberian nilai agama Kristen untuk raport hanya
berdasarkan keaktifan jemaat dalam ibadah gereawi. Pendapat ini
52 Pejabat gereja, Ketua III-PHMJ, GPIB Zebaoth Bogor
dijelaskan lebih lanjut, sebab pendidikan agama Kristen adalah sebuah
proses pembentukan mental dan spiritual, dimana pendidikan Kristen
harus dilakukan secara bertanggung jawab bukan hanya mencetak angka
pada raport untuk kepentingan sekolah. Menurut pandangannya, bahwa
kegiatan pembelajaran Sekolah Sabtu di GPIB Zebaoth sudah dapat
menjadi solusi bagi persoalan ketiadaan PAK di sekolah dan menjadi
alternatif bagi penyelenggaraan PAK. Harapan kedepan, gereja (melalui
YAPENDIK) dapat bekerjasama dengan pemerintah untuk mengusahakan
Sekolah Sabtu menjadi pusat pembelajaran agama Kristen.
Menurut Anneke Pingkan 53yang berpendapat bahwa minimnya
tenaga pendidik dan pihak sekolah yang kurang memfasilitasi
penyelenggaraan PAK. Belum secara teliti mempelajari bahwa adan
undang-undang yang mengatur tentang pendidikan khususnya agama
Kristen. Tetapi memahami bahwa dala UUD 45 setiap warganegara
berhak mendapatkan menjalankan menurut agama dan kepercayaannya.
Menurutnya, hak warga Negara ini juga seharusnya dilaksanakan dalam
bidang pendidikan. Dimana peserta didik memiliki agama dan
kepercayaan yang berbeda-beda. Berpendapat: setuju, jika penilaian agama
Kristen ditinjau dari kehadirannya dalam ibadah minggu tetapi kurang
setuju jika penilaian itu saja yang dijadikan acuan untuk penilaian raport,
karena pendidikan agama merupakan proses panjang sampai menghasilkan
hasil belajar yang dibuktikan dengan hasil evaluasi/ujian. Pendidikan
agama bukan hanya terkait pengetahuan saja, tetapi termasuk sikap
(afektif). Gereja peduli dengan membuka kelas khusus untuk belajar
agama Kristen dan menberikan layanan pendidikan agama bagi mereka
yang tidak ada PAK disekolahnya melalui wadah yang di buka oleh gereja
Zebaoth. Program Sekolah Sabtu untuk sementara sudah menjadi alternatif
bagi persoalan ketiadan guru agama di sekoalah. Namun hal ini harus
menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya oleh Kemenag kota Bogor
agar dapat bekerjasama denagn PGI (Persekutuan gereja-gereja) supaya
53 Sekretaris PHMJ, GPIB Zebaoth Bogor dan guru di Sekolah BPK Penabur Bogor
kedepan dapat mengupayakan tenaga pengajar agama Kristen yang
memadai untuk ditempatkan sekolah-sekolah.
Menurut Vera Mohede 54 yang mengikuti perkembangan PAK di
sekolah-sekolah sejak tahun 2002 sampai sekarang. Undang-undang
Sisdiknas sudah mengatur secara umum penyelenggaraan PAK di sekolah-
sekolah. Tetapi ada beberapa hal yang perlu diperbaiki/dibahas kembali
terutama dalam P.P (Peraturan Pemerintah). Kendala utama ketiadan PAK
disekolah-sekolah tertentu disebabkan oleh kelangkaan tenaga pengajar
dan penerapan undang-undang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah
tentang pendidikan agama di sekolah yang belum da kesesuaian.
Penyelenggaraan PAK menjadi tanggung jawab utama pemerintah karena
Pemerintah menjamin hal itu dalam undang-undang. Upaya menambah
guru honorer agama Kristen yang ditempatkan di sekolah-sekolah.
Pembinaan kualitas tenaga guru professional oleh lembaga terkait. Gereja
membantu memenuhi kebutuhan nilai agama dengan bertanggung jawab
melalui proses pembelajaran menggunakan kurikulum yang ditetapkan
pemerintah. Berpendapat bahwa sangat tidak setuju jika penilaian raport
agama Kristen berdasarkan keaktifan mengikuti ibadah minggu.
Pemberian nilai harus melalui proses pembelajaran dan sesuai kurikulum
sebagaimana ditetapkan oleh pemerintah. Mengenal program Sekolah
Sabtu, merupakan wadah pembelajaran PAK dimana proses pembelajaran
dilakukan sesuai kurikulum PAK nasional yang ditetapkan pemerintah,
menggunakan bahan ajar seperti di sekolah formal, diajar oleh guru
professional dengan lapar belakang sarjana pendidikan dan nilai dihasilkan
dari untuk pemenuhan niali agama pada raport dihasilkan melalui proses
evaluasi/ujian. Untuk sementara, Sekolah Sabtu sudah menjadi alternatif
pembelajaran PAK bagi sekolah-sekolah yang tidak menyelenggarakan
PAK. Harapan kedepan, pemerintah melaksanakan PAK di sekolah sesuai
amanat UUD 45 dan pelaksanaan UU Sisdiknas.
54 Pengajar Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor dan SMAN 3 Bogor, tenaga penyuluh Kominfo,
ketua MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran ) PAK, berjemaat di GPIB Zebaoth Bogor
Menurut pendapat Yuni Lustanti 55 sudah ada undang-uandang
yang mengatur tentang pelaksanan Penyelenggaraan pendidikan agama
Kristen di sekolah-sekolah. Dengan demikian pemerintah melalui pihak
sekolah harus dan wajib memperhatikan setiap peserta didik dalam
memperoleh haknya. Melihat persoalan dilapangan, kurangnya tenaga
pengajar menjadi masalah pemicu, dimana sekolah tidak dapat
menyelenggarakan PAK secara ideal.Gereja, terutama GPIB Zebaoth,
sudah membantu mengupayakan untuk memberikan pembelajaran PAK
terhadap peserta didik. Tetapi tidak setuju jika gereja memberikan nilai
PAK. Menurutnya, yang berhak memberikan nilai agama Kristen untuk
raport adalah guru mata pelajaran PAK. Jika gereja memberikan nilai PAK
untuk raport harus melalui prosedur atau proses pembelajaran sebagaimana
pelatihan dan pembinaan yang ditentukan dari Dinas Kemenag. Kegiatan
di Sekolah Sabtu sudah menjadi solusi alternatif PAK, karena kegiatan
pembelajarannya menggunakan buku pegangan yang juga dipakai
disekolah formal. Pelajaran menggunakan kurikulum yang ditentukan
pemerintah (Diknas). Meskipun belum semua tenaga pengajar memiliki
latar belakang PAK secara professional, namun guru-guru sudah mendapat
pelatihan khusus untuk mengajar PAK. Harapan kedepan, pemerintah
dapat bekerjasama dengan sekolah-sekolah untuk mencetak guru PAK,
sehingga peserta didik benar benar menerima pelajaran PAK disekolah
formal.
Menurut Geertuida Maya 56 berpendapat tidak terlalu mengikuti
perkembnagan PAK disekolah-sekolah. Mengetahui bahwa dalam undang-
undang sudah ada yang mengatur tentang pelaksanaan PAK tetapi dalam
pelaksanaannya masih belum sesuai. Untuk sekolah swasta Kristen rata-
rata sudah menyelenggarakan PAK, tetapi sebagian sekolah negri tidak
ada guru tetap PAK disekolah.Penyelenggaraan PAK menjadi tanggung
jawab Dinas Pendidikan dan Departemen Agama dan pihak sekolah wajib
menyediakan PAK bagi peserta didiknya yang beragama Kristen. Gereja
55 Pengajar Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor dan SDS Granada Bogor, jemaat GPIB Zebaoth
Bogor
56 Pengajar PAUD di Binus School Jakarta
GPIB Zebaoth sudah menunjukkan perannya dalam wujud mengadakan
wadah pembelajaran, yakni melalui program Sekolah Sabtu. Memberikan
pembelajaran PAK berikut assessmentnya dan juga termasuk pemberian
nilai agama untuk keperluan rapot. Gereja masih mendukung, tetapi masih
terkendala dengan terbatasnya ruangan dan juga tenaga guru pengajar
professional PAK yang masih kurang. Tidak setuju penilaian berdasar
keaktifan mengikuti ibadah minggu karena perolehan nilai harus dapat
dipertanggungjawabkan melalui proses pembelajaran. Program Sekolah
Sabtu sangat membantu dan sudah menjadi alternatif permasalahan
ketiadaan PAK. Tetapi fungsi Sekolah Sabtu dikembalikan atau diambil
alih oleh pihak sekolah atau PPAK (Penyelenggaran Pendidikan Agama
Kristen) yang legal. Berharap ada lembaga legal yang dapat memberikan
PAK. Sekolah-sekolah bekerjasama untuk menyelenggarakan PAK secara
terpusat.
Menurut Uli Simarmata 57 yang mengikuti perkembangan
pendidikan agama disekolah, sudah ada PAK disekolah dan beberapa
lainnya tidak ada PAK. Mengaku tidak paham tentang peratutan dan
perundang-undangan terkait penyelenggaraan PAK terutama disekolah-
sekolah. Tetapi memiliki keyakinan bahwa pasti pemerintah telah
mengatur pelaksanaan dan ketentuan penyelenggaraan pendidikan agama
disekolah, termasuk kurikulum yang digunakan khususnya pendidikan
agama Kristen. Pernah menanyakan tentang mengapa pihak sekolah SDN
Cijunjung, Bogor (tempat anaknya bersekolah), tidak menyelanggarakan
PAK. Alasan yang dikemukakan oleh pihak sekolah adalah memang
sekolah tidak memperbolehkan. Merasakan ketidakadilan, mengapa
pendidikan agama lain (Islam) diperbolehkan, sedangkan agama Kristen
tidak boleh. Permasalahan ketiadaan PAK disekolah seharusnya menjadi
tanggung jawab sekolah dan pemerintah. Gereja asal (GKP Pomadi Bogor)
tidak merespon kebutuhan nilai agama Kristen dan tidak mau
mengusahakan dengan alasan; gereja tidak boleh mengeluarkan nilai
agama, dan jika dilanggar akan ditegur, tetapi tidak memberitahu pihak
57 Orang tua murid Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor, asal gereja GKP Pomadi Bogor
mana yang akan memberi sanki teguran tersebut. Sehingga ini
menimbulkan kerancuan. Gereja tidak merespon tentang ketiadaan PAK di
sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan PAK maka ibu tersebut mendorong
anaknya untuk mengikuti pembelajaran PAK di Sekolah Sabtu yang
diselenggarakan oleh GPIB Zebaoth. Memahami bahwa kegiatan ibadah
berbeda dengan PAK disekolah, maka tidak setuju jika nilai PAK
dihasilkan dari keaktifan mengikuti ibadah Minggu. Memberi kesaksian
bahwa GPIB Zebaoth Bogor, sebagai pelaksana PAK yang baik dan sudah
bagus karena tidak memaksa dalah hal biaya. Meraskan bahwa Sekolah
Sabtu; menjadi alternatif Pembelajaran PAK pengganti ketiadaan PAK.
Kendala yang dirasakan jarak tempat tinggalnya dengan GPIB Zebaoth
cukup jauh. Harapan kedepan, pemerintah meninjau dan menindak
sekolah-sekolah mana saja yang menyatakan tidak memperbolehkan
adanya PAK. Segera mengupayakan guru agama untuk ditempatkan
disekolah, agar guru/kepala sekolah tidak lagi memiliki alasan mengapa
tidak menyelenggarakan PAK.
Menurut pendapat Marlene58 secara umum mengikuti
perkembnagan PAK disekolah-sekolah. Mengetahui adanya undang-
undang yang mendukung penyelenggaraan PAK di sekolah. Kendala
utama permasalahan sekolah-sekolah tertentu yang tidak ada PAK,
disebabkan oleh kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia). Permasalahan
diatas harus ditangani oleh pemerintah karena masalah penyediaan tenaga
pendidik adalah kewajiban pihak pemerintah dan sekolah. Sejauh ini
memantau, kurangnya sosialisasi dari pemerintah dan pihak sekolah dalam
mengatasi persoalan penyediaan guru yang siap ditempatkan di sekolah-
sekolah. Berpendapat pihak gereja Eklessia belum merespon secara nyata.
Gereja hanya mendorong pendeta untuk mengajar PAK. Mengenal
kegiatan Sekolah Sabtu. Persoalan kebutuhan nilai agama untuk raport
bekerjasama dengan GPIB Zebaoth yang menyelenggarakan PAK. Melalui
kegiatan tersebut siswa mendapat pembelajaran PAK yang berkualitas.
Sekolah Sabtu untuk sementara dapat menjawab persoalan kebutuhan
58 Orang tua murid Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor, asal gereja Eklesia Bogor.
PAK. Harapan ke depan, pemerintah, gereja dan juga pihak sekolah saling
bekerjasama untuk mengadakan guru agama bagi semua sekolah sehingga
siswa Kristen mendapat haknya dalam menerima pengajaran sesuai agama
Kristen.
Menurut pendapat Setiyowati;59 mengikuti perkembangan
pembelajaran PAK khususnya di sekolah. Belum membaca secara teliti
tentang peraturan pemerintah yang mengatur PAK. Belum ada guru
pengajar PAK di beberapa sekolah dikarenakan gurunya sedikit sekali.
Sebagai orang tua murid ikut merasa bertanggung jawab terhadap nilai
agama untuk pengisian raport. Untuk mengatasi hal tersebut mendorong
anak untuk mejadi peserta didik di Sekolah Sabtu sebagai solusi alternatif
yang bersifat sementara, dengan harapan pihak sekolah dapat
menyelenggarakan PAK. Merasakan bahwa gereja ikut bertanggung jawab
dalam persoalan diatas. Aktif mengikuti IMPA dan ibadah Minggu sangat
penting, tetapi untuk penilaian harus melalui proses pembelajaran yang
sesuai kurikulum di sekolah. Ada perbedaan anatar kurikulum untuk IMPA
dan PAK. Orang tua murid harus mendorong anak untuk mengikuti
Sekolah Sabtu untuk mendapat PAK, karena kegiatan tersebut menjadi
jalan keluar untuk mengatasi masalah tidak adanya guru PAK di sekolah.
Jumlah anak yang beragama Kristen disekolah-sekolah sangat minoritas,
jumlahnya kurang dari sepuluh orang tiap kelasnya. Alasan ini yang
munyebabkan sekolah tidak menyelenggarakan PAK. Harapannya,
meskipun jumlah anak Kristen sedikit jumlahnya, harus dilayani untuk
mendapat PAK, maka mengharapkan pemerintah dapat mengupayakan
sesuatu untuk segera mengatasi persoalan minimnya guru agama Kristen
yang jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah sekolah-sekolah.
Menurut pendapat Lily;60 mengikuti perkembangan PAK di
sekolah dan memahami bahwa pelaksanaan pembelajaran PAK di sekolah
telah diatur dalam perundang-undangan. Kendala utama pelaksanaan PAK
tidak berjalan ideal di sekolah sekolah tertentu disebabkan oleh guru
59 Orang tua murid di Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor, pengajar PAUD Tunas Zebaoth, asal
gereja GPIB Zebaoth Bogor.
60 Orang tua murid di Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor, asal gereja GKI Pengadilan Bogor.
agamanya tidak ada. Permasalahan ini menjadi tanggung jawab
Kementrian Pendidikan karena adanya kesenjangan masalah perbedaan
agama, siswa yang beragama Kristen jumlahnya sedikit (kurang dari 7
orang) tiap kelasnya. Cara mengatasi pihak sekolah harus membahas
persoalan ini bersama pemerintah. Gereja asalnya (GKI) mendorong
jemaatnya ikut dalam pembelajaran PAK di GPIB Zebaoth, karena di
gereja GKI belum ada penanganan PAK seperti yang diselenggarakan oleh
GPIB Zebaoth. Nilai agama untuk pengisian raport harus diperoleh mealui
proses dan merupakan hasil belajar seperti yang dilaksanakan oleh
sekolah-sekolah formal pada umumnya. Sekolah Sabtu menjadi pilihan
alternatif yang disarankan oleh gereja asalnya. Berterimakasih kepada
gereja GPIB Zebaoth yang sudah mau menerima jemaat gereja lain untuk
mengikuti PAK di Sekolah Sabtu. Harapan kedepan Pemerintah khususnya
di kota Bogor harus lebih memperhatikan hak peserta didik yang beragama
Kristen untuk mendapat PAK disekolahnya masing-masing.
Menurut pendapat Kristina;61 tidak merkembangan
penyelenggaraan PAK di tiap sekolah, karena di sekitar lingkungan tidak
ada PAK khusus SD. Pemerintah mendukung PAK melalui undang-
undang, seharusnya dilaksanakan sesuai aturan, yakni setiap sekolah
menyediakan guru PAK dan mengadakan pelajaran PAK. Kendala dari
pihak beralasan tidak ada guru agama Kristen, tetapi pada saat orang tua
murid menawarkan guru PAK, sekolahpun menolak. Gereja asal GPK
Pomani merekomendasikan belajar PAK di GPIB Zebaoth. Tidak setuju
jika nilai raport berdasar keaktifan di ibadah minggu karena ibadah adalah
ibadah, didalam ibadah tidak ada kurikulum PAK. Kehadiran Sekolah
Sabtu sangat membantu dan menjadi alternatif, tetapi semoga kehadiran
Sekolah Sabtu tidak membuat pemerintah santai dan abai dari tanggung
jawabnya. Harapannya, pemerintah peka melihat persoalan tersebut
sehingga orang tua murid/murid yang beragama Kristen tidak merasa
dianak-tirikan.
61 Orang tua murid Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor, asal gereja GKP Pomadi Bogor
Menurut pendapat Jeremy Surya Toar Sobalely 62; tidak mengikuti
perkembangan PAK disekolah, tahu (dari penyuluhan/pembinaan yang
diadakan oleh gereja) bahwa ada undang-undang yang dikeluarkan
pemerintah yang mengatur PAK di sekolah. Persoalan tidakadanya PAK
disekolah karena kurangnya guru agama. Di sekolahnya hanya ada satu
orang guru mata pelajaran Fisika yang kebetulan beragama Katholik
mengajar PAK. Hal itupun sering tidak lancar karena bentrok dengan
waktu mengajar guru tersebut bersamaan dengan pembelajaran PAK.
Tidak setuju jika penilaian PAK berdasar keaktifan ibadah minggu karena
pemahaman PAK kurang/tidak mendalam. Mengikuti program belajar
PAK di Sekolah Sabtu dari SD sampai lulus SMP. Kegiatan Sekolah Sabtu
GPIB Zebaoth menjadi pilihan alternatif PAK. Pemerintah harus
menambah guru agama supaya agar di sekolah ada PAK.
Menurut pendapat Eugene Helgiane Gwnet 63; tidak mengikuti
perkembangan PAK di sekolah. Yakin pasti ada peraturan yang
mendukung PAK di sekolah, meskipun tidak tahu pasti bunyi undang-
undang dan peraturannya. Ketiadaan PAK karena murid hanya sedikit,
kepala sekolah/pihak sekolah menolak PAK kurang peduli hak peserta
didik terutama yang beragama Kristen. Gereja bersedia memenuhi nilai
raport untuk mata pelajaran agama Kristen tetapi harus melalui
pembelajaran di Sekolah Sabtu. Tidak setuju jika nilai agama Kristen
didapat dari ibadah gereja saja karena pembelajaran PAK perlu ada
pengetahuan yang lebih dipahami melalui system belajar – mengajar.
Menjadi peserta didik mulai kelas 10-kelas 12. Sekolah Sabtu sudah
menjadi alternatif pembelajaran PAK sebagai wadah pembelajaran dan
pemenuhan nilai agama Kristen. Berharap pihak sekolah memunyai
kesadaran terhadap pentingnya PAK dan memperhatikan hak bagi peserta
didik yang beragama Kristen sama dengan yang beragama lain.
62 Alumni peserta didik Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor, asal gereja GPIB Zebaoth Bogor
63 Alumni peserta didik Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor, asal gereja GPIB Zebaoth Bogor
Menurut pendapat Trinadia Kurniasari 64 mengikuti perkembangan
PAK disekolah. Mengetahui peraturan dan undang-uandang yang
mengatur PAK di sekolah. Telah mengikuti Sekolah Sabtu selama enam
tahun (SD), karena saat itu di sekolahnya tidak ada guru PAK, pihak
sekolah menyiasati dengan guru mata pelajaran lain (guru bahasa) yang
beragama Kristen menjadi guru PAK. Saat ini responden sudah ada di
jenjang SMP dan perihal tentang kurangnya guru PAK menjadi kendala
utama. Pengalaman saat ini di SMP (SMPN 5 Bogor), hanya tersedia satu
orang guru PAK mengajar tiga kelas sekaligus dalam waktu bersamaan
(pada tiap hari Jumat) membuat pembelajaran PAK tidak maksimal. Tidak
setuju nilai berdasarkan ibadah minggu karena ikut ibadah minggu belum
tentu mendalami pembelajaran agama Kristen seperti di sekolah formal.
Merasakan pengalaman belajar di Sekolah Sabtu sebagai alternatif PAK.
Berharap pemerintah menambah jumlah guru PAK.
Menurut pendapat Sunaryo 65, mengikuti dan memahami persoalan
PAK yang ada di sekolah-sekolah. Pelaksanaan peraturan pemerintah dan
undang-undang dirasakan hanya lima puluh persen mendukung PAK.
Kendala yang sering terjadi di lapangan adalah; kuota siswa kurang dari 15
orang. Sementara persyaratan pengadaan PAK disekolah jumlah minimum
siswa 15-20 orang. Penambahan guru honorer paling banyak. Guru PAK
yang bernaung di Yayasan bertambah sesuai kebijakan Yayasan.
Sedangkan penambahan guru yang berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil)
sangat jarang. Penambahan guru mata pelajaran lain lebih banyak,
sementara guru agama Kristen terkesan ada campur tangan terkait
kebijakan politik. Kendala lainnya adalah, pihak sekolah tidak menambah
guru PAK karena minimnya faktor keuangan, kurangnya kelas/tempat
pembelajaran. Sejauh ini pemerintah sudah mengadakan pendekatan ke
sekolah-sekolah yang tidak/belum ada PAK untuk bergabung.
Penggabungan PAK yang terpusat sesuai kesepakatan bersama.
Selanjutnya Kemenag akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan untuk
64 Alumni peserta didik Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth Bogor, asal gereja GPIB Zebaoth Bogor
65 Pengawas PAK kota Bogor, pejabat di kantor Kemenag-Bimas Kristen kota Bogor
memberi rekomendasi terhadap penunjukan Pusat PAK terpadu. Tidak
setuju jika nilai agama ditentukan kehadirannya dalam ibadah, karena
ibadah minggu memiliki kurikulum yang berbeda dengan pembelajaran
PAK di sekolah formal. Kegiatan Sekolah Sabtu yang diselenggarakan
oleh GPIB Zeboath Bogor bisa dikatakan sementara waktu menjadi solusi
terbaik dalam mengatasi ketiadaan PAK di sekolah-sekolah karena
menggunakan kurikulum PAK yang sesuai standart dan tenaga pengajar
yang punya latar belakang pendidikan Sarjana Pendidikan Agama Kristen.
Menjadikan Sekolah sabtu sebagai pilot projec atau percontohan yang di
usulkan ada di beberapa titik, di wilayah Bogor lainnya (Bogor timur,
Bogor selatan dan bogor barat). Berharap pemerintah memperhatikan
penambahan guru agama Kristen (PNS) agar peserta didik dapat terlayani
dengan baik. Penanggan persoalan menjadi tanggung jawab bersama baik
pihak pemerintah, sekolah dan juga gereja-gereja.
Menurut pendapat Harapan Nainggolan66, mengikuti setiap
perkembangan penyelenggaraan PAK di tiap sekolah, mulai jenjang SD
sampai SMA, baik sekolah negeri maupun swasta. Memahami tentang
undang-undang dan peraturan yang mengatur pelaksanaan PAK.
Mempelajari kajian hasil laporan dari pengawas unit pelaksanaan teknis
PAK disekolah-sekolah, bahwa tidak adanya penyelenggaraan PAK ditiap
sekolah disebabkan oleh faktor yang komplek. Penyebab persoalan ada
beberapa hal yang saling terkait, mulai dari minimnya ketersediaan tenaga
pendidik / guru mata pelajaran agam Kristen, jumlah sekolah yang
membutuhkan tidak sebanding dengan jumlah guru agama, jarangnya
regulasi pengangkatan guru PAK, ketidak berpihakan Pemerintah secara
politis terhadap kaum Kristiani yang minoritas, pihak sekolah yang
kurang mendukung PAK dengan berbagai alasan, jumlah siswa terlalu
minim sehingga tidak memenuhi persyaratan dilaksanakan PAK di sekolah
tertentu. Mengetahu bahkan mendukung program gereja GPIB Zebaoth
Bogor yang bersedia menjadi penyelenggara dan para guru
agama/pendidik sebagai penanggung jawab PAK alternatif PAK. Program
66 Pejabat di kantor Kemenag-Bimas Kristen kota Bogor, Pendeta di gereja GKPA
ini untuk mengatasi persoalan yang ada. Dikatakan alternatif karena
bersifat sementara dan terbatas (tidak dimaksudkan berlangsung secara
permanen/terus menerus). Pemerintah, gereja dan sekolah hendaknya
bersinergi untuk mencari pemecahan masalah ini sehingga diharapkan tiap
ajaran baru, peserta didik di Sekolah Sabtu makin berkurang karena di
sekolah-sekolah sudah dibuka PAK. Peran Sekolah Sabtu seharusnya di
kembalikan ke sekolah-sekolah sebagai penyelenggaran PAK sebagaimana
telah diatur oleh undang-undang. Harapan kedepan, pemerintah memberi
kesempatan untuk pengangkatan guru PAK berstatus pegawai negeri.
Jumlah responden yang berhasil dan bersedia di interview sebanyak
tiga puluh orang. Penulis melampirkan data para responden lain yang hasil
diwawancarai namun hasil wawancara secara fisik tidak ditampilkan.
Penulis menyeleksi responden secara bervariasi, artinya tiap jenis
responden terwakili. Sebagai contoh, pejabat gereja yang dalam masa
tugasnya memahami tentang Sekolah Sabtu, orang tua murid tidak hanya
dari gereja GPIB Zebaoth tetapi juga orang tua murid asal gereja non
GPIB (GKI, Eklesia, GKP Pomadi), alumni Sekolah Sabtu sebagai peseta
didik yang sudah benar-benar merasakan manfaat pembelajaran PAK di
Sekolah Sabtu, Praktisi pendidikan (guru SD s/d SMA), demikian juga
hanya pejabat yang terkait permasalahan dan pemegang kebijakan tentang
PAK.
Berikut ini penulis menyajikan data-data para responden yang
berhasil diwawancarai oleh penulis sebagai berikut;
Tabel 7
Data Responden Hasil Wawancara mengenai Sekolah Sabtu GPIB Zebaoth.
No Nama Responden Keterangan
1. Chris Wangkay Pejabat Gereja (PHMJ Ketua III GPIB
2. Aneke Pingkan Zebaoth)
Pejabat Gereja (Sekretaris PHMJ) dan
3. Yuni Lusyanti Praktisi Pendidikan (Guru BPK Penabur,
4. Vera Mohede Bogor)
Praktisi Pendidikan (Guru SDS Granada,
Bogor)
Praktisi Pendidikan (Guru SMAN 3 Bogor)
5. Geertruida Maya Praktisi Pendidikan (Binus School,
6. Uli Simarmata Simprug-Jakarta)
7. Marlene Orang Tua murid asal gereja GKP Pomadi
8. Setyowati Bogor
9. Lily Orang Tua murid asal gereja GBI Eklesia
10. Kristina Bogor
11. Jeremy Toar Sobalely Orang Tua murid asal gereja GPIB
12. Eugene Hitijahubessy Zebaoth, Pengajar PAUD Tunas Zebaoth
13. Trinadia Kurniasari Orang Tua murid asal gereja GKI
14. Sunaryo Pengadilan Bogor
Orang Tua murid asal gereja GKP Pomadi
Bogor
Alumni Sekolah Sabtu, asal gereja GPIB
Zebaoth
Alumni Sekolah Sabtu, asal gereja GPIB
Zebaoth
Alumni Sekolah Sabtu, asal gereja GPIB
Zebaoth
Pengawas PAK kota Bogor
15. Harapan Nainggolan Kepala Kantor Kemenag Bimas Kristen
16. Yani Pulu Komisi PAUD Tunas Zebaoth
17. Anessya Ari/Nancy Orang tua murid asal gereja GPIB Zebaoth
18. Yanti Sumarni Orang tua murid asal gereja GPIB Zebaoth
19. Dewi Yanti Wulandari Orang tua murid asal gereja GPIB Zebaoth
20. Della Puspita Gea Orang tua murid asal gereja GBP Kasih
21. Isti Mahayuni Allah Ministry
Praktisi Pendidikan (Guru SMAN 2 Bogor)
22. H.J Marunuaya Pejabat Gereja (PHMJ Ketua V GPIB
23. Daniel Sumeke Zebaoth)
Praktisi Pendidikan
24. Fransiska Tahya Orang tua murid asal gereja GPIB Zebaoth
25. Rendal Orang tua murid asal gereja GPIB Zebaoth
26. Victor Nikijuluw Pejabat Gereja (PHMJ Ketua II GPIB
27. Widharto Zebaoth)
Praktisi Pendidikan (Dosen IPB Bogor)
28. Fankie Sutiya Praktisi Pendidikan (Guru BPK Penabur,
29. Elsye M.Dantjie Jakarta)
Orang tua murid asal gereja GPIB Zebaoth
30. Yuvine Orang tua murid asal gereja GPIB Zebaoth
Chrisdyaningrum
Catatan: Nama Responden dengan nomer urut 1-15, yang diangkat dalam pembahasan
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan Kegiatan Pembelajaran Sekolah Sabtu.
Dari hasil survey temuan dari kegiatan pembelajaran PAK yang di
selenggarakan oleh gereja GPIB Zebaoth Bogor, dapat dipaparkan oleh
peneliti sebagi berikut;
1) Hubungan Kemitraan Gereja dan Sekolah
PAK adalah kegiatan pembelajaran yang terjadi dalam kehidupan orang
percaya, sehingga dalam pelaksanaannya semua warga jemaat perlu
terlibat secara aktif dalam kegiatan PAK ini. Gereja GPIB Zebaoth merasa
perlu mengadakan PAK mulai dari kategori anak-anak sampai dengan
dewasa dan lanjut usia. Selain itu pada pendidikan formal di sekolah PAK
juga menjadi salah satu bidang studi wajib yang diajarkan. Seluruh warga
jemaat adalah sasaran kegiatan PAK di gereja, atau sekolah di sepanjang
rentang kehidupannya.
2) Kepedulian gereja terhadap fungsi dan tanggung jawabnya.
Gereja dan jemaat peduli terhadap segala jenis pendidikan agama. Semua
pendidik hendaknya menjadi teolog dan semua teolog hendaknya menjadi
ahli dalam ilmu kependidikan. Homrighausen dan Enklar67, juga
menjelaskan hubungan antara Gereja dengan sekolah adalah: selama
pemerintah masih membuka kesempatan untuk memberi PAK di sekolah-
sekolah negeri, kesempatan ini seharusnya digunakan juga oleh gereja.
Pengajaran agama Kristen harus selalu dihubungkan dengan pelajaran
umum yang diberikan oleh sekolah sekolah, agar peserta didik memahami
bahwa pendidikan agama tidak berdiri sendiri atau lepas, melainkan
meliputi kehidupan lainnya secara utuh sebagai manusia. Peserta didik
harus memahami bahwa PAK berawal dari gereja dan menuju kembali ke
gereja. Pengajaran bukan bermaksud hanya untuk menambah pengetahuan
tentang soal-soal agama dan pembinaan rohani pribadi saja tetapi juga
membangun gereja sebagai persekutuan orang percaya.
67https://www.academia.edu/32271200/Disusun_oleh_MELINDA_PAYUNG_PROGRAM_STU
DI_PENDIDIKAN_AGAMA_KRISTEN_STRATA_SATU_SEKOLAH_TINGGI_TEOLOGI_A
BDI_GUSTI_JAYAPURA_-PAPUA. Diakses pada tgl.18 April , pukul 22.00 WIB
3) Kemitraan biasanya didefinisikan sebagai hubungan sukarela dan bersifat
kerjasama antara beberapa pihak, baik pemerintah maupun swasta, yang
didalamnya terdiri dari pihak yang setuju untuk kerjasama. Kerjasama
dalam hal meraih tujuan bersama, menunaikan kewajiban tertentu serta
menanggung resiko bersama, bertanggung jawab. Kunci utama dalam
kemitraan adalah bentuk koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi denagn
pihak terkait yang terlibat dalam hubungan kemitraan. Kemitraan dilandasi
prinsip saling membutuhkan, saling menghidupi, saling memperkuat dan
saling menguntungkan 68.
4) PAK Sebagai Tugas dan Panggilan Gereja.
Menurut Maria Haris dalam karyanya Fashion Me A Pelple (1989).
Sebagaimana dikutip oleh B.S Sijabat dalam Gereja dan Kurikulum.
Menjelaskan lima tugas dan panggilan Gereja, yaitu: koinoni
(persekutuan), liturgi (ibadah), didache (pengajaran), kerugma
(Pemberitaan Injil) dan diakonia (Pelayanan). Terkait salah satu tugas
gereja sebagai agen dan konteks pembelajaran orang percaya supaya
bertumbuh dalam imannya kepada Tuhan Yesus Kristus).
5) Menurut Colson dan Rigdon, sebagaimana dikutip B.S Sijabat,
mengatakan bahwa pentingnya gereja melaksanakan tugas pengajaran
karena;
a) Pertama, diamanatkan oleh Tuhan Yesus Kristus, yakni
memperlengkapi orang Percaya menjadi murid Tuhan (Matius
28:19-20, tentang Amanat Agung).
b) Kedua, Injil menghendaki adanya pembelajaran supaya mereka
yang telah mendengar dan percaya kepada Yesus Kristus
bertumbuh dalam iman.
c) Ketiga, sejarah gereja menunjukkan dengan adanya pendidikan
warga jemaat, jemaat bertumbuh dan berkembang.
d) Keempat, warga jemaat membutuhkan pendidikan dan pengajaran
supaya bertumbuh dalam relasi yang dinamis bersama Yesus
68 http://mitraajaya.blogspot.com/2013/07/definisi.html. Diakses pada tgl.12 Mei,
Kristus dan dimampukan untuk memaknai kehidupan dengan
berbagai pergumulannya.
e) Kelima, situasi zaman dimana gereja hidup menuntut pembinaan
dan pendidikan. Nilai zaman yang berubah mengharuskan gereja
melakukan tugas pendidikan dan pengajaran.
I. Pembahasan Hasil Wawancara
Jumlah total responden (30 orang) yang terdiri dari pejabat gereja
(Presbiter, PHMJ dan Yapendik), praktisi pendidikan (tenaga
kependidikan/guru pengajar), orang tua siswa dan peserta didik Sekolah Sabtu,
pejabat kantor Kemenag kota Bogor (Pembimas dan Pengawas PAK) yang
bersedia diwawancarai, diantaranya hanya lima belas yang diambil untuk
pembahasan hasil penelitian.
Dari ke lima belas responden yang ditemui di lapangan, sebagian besar
secara umum mengikuti perkembangan pelaksanaan PAK di sekolah-sekolah.
Menyadari sepenuhnya bahwa undang-undang yang telah diatur pemerintah
mendukung pelaksanaan PAK di sekolah. Undang-undang Repuplik Indonesia
No.20 Tahun 2003 pasal 4 ayat (1), tentang Sistem Pendidikan Nasional
mengamanatkan penyelenggaraan pendidikan secara demokratis tidak ada
unsur deskriminatif, menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan,
nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Tetapi praktek dilapangan tidaklah
terjadi secara harmonis dan ideal, terutama dalam penyelenggaraan PAK di
sekolah. Banyak kendala dan faktor yang menghambat pelaksanaannya.
Hasil wawancara dengan responden yang telah diseleksi oleh penulis
(sejumlah lima belas orang dari tiga puluh responden), menunjukkan
permasalahan yang menjadi kendala utama tidak terlaksananya pembelajaran
PAK di sekolah-sekolah dan bagaimana solusi/penanganannya antara lain
adalah sebagai berikut:
1) Ketersediaan Tenaga Pendidik mata pelajaran agama Kristen
belum memadai, baik secara jumlah maupun kompetensinya.
Tenaga pengajar yang berkompeten masih sangat dibutuhkan. Guru
pengajar mata pelajaran agama Kristen yang professional jumlahnya
tidak sebanding dengan jumlah sekolah-sekolah yang ada.
Penambahan guru hononer lebih banyak jika dibanding dengan
penerimaan guru PNS. Gaji guru honorer yang kecil dan tunjangan
yang tidak sepadan membuat masyarakat tidak minat untuk menjadi
guru agama Kristen. Pelatihan-pelatihan yang membekali guru dalam
meningkatkan mutu atau kualitas nya secara professional jarang harus
terus menerus digalakkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran
PAK.
2) Sekolah kurang menghargai peserta didik mendapatkan haknya,
untuk mendapatkan pelajaran agama sesuai agama dan
kepercayaannya.
Peserta didik yang beragama Kristen jumlahnya minoritas, sehingga
kurang diperhatikan. Adanya, diskriminasi terhadap peserta didik yang
minoritas terjadi di beberapa sekolah. Kesadaran bahwa setiap peserta
didik berhak mendapat pembelajaran agama sesuai dengan agama dan
kepercayaannya. Pihak sekolah kurang maksimal dalam mengusahakan
pelaksanakan PAK yang bertanggung jawab, diman guru PAK
seharusnya adalah guru professional di bidangnya dan memiliki
kompetensi dengan latar belakang pendidikan agama Kristen.
Tindakan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang kurang
menghargai keberbedaan agama dan terkesan adanya pembiaran.
Mengaktifkan guru mata pelajaran lain menjadi guru agama Kristen
tidak menyelesaikan persoalan. Hal ini hanya bersifat mengisi
kekosongan tetapi proses pembelajaran tidak maksimal. Pendeta
dengan latar belakang Sarjana Teologi yang berfungsi sebagai guru
PAK kurang tepat, karena pendeta memiliki kompetensi yang berbeda
dengan sarjana pendidikan.
3) Pemerintah kurang serius mengatasi permasalahan ketiadaan
pembelajaran PAK di sekolah-sekolah
Usia berdirinya Sekolah Sabtu yang telah mencapai usia 35 tahun,
menunjukkan pemerintah dan sekolah-sekolah kurang serius untuk
mengupayakan PAK di sekolah yang tidak mengadakan PAK. Jumlah
sekolah-sekolah yang tidak memiliki PAK dari tahun ketahun tidak
mengalami penerunan. Penanganan kelangkaan tenaga pengajar lambat
dan berlangsung lama. Tindakan sekolah sebagai lembaga pendidikan
yang kurang menghargai keberbedaan agama dan terkesan adanya
pembiaran. Tidak ada sanksi yang tegas bagi sekolah-sekolah yang
tidak melaksanakan undan-undang. Peraturan Pemerintah RI
No,55Tahun 2007, yang menyatakan tentang pendidikan agama dan
keagamaan, khususnya pada pasal 7 ayat (1). Pelanggaran pada
ketentuan ini hanya dikenai sanksi administratif saja.
4) Kepedulian gereja sebagai lembaga/institusi dalam mengatasi
persoalan ketiadaan PAK di beberapa sekolah
Beberapa gereja menunjukkan respon positif terhadap ketiadaan PAK
di sekolah-sekolah, tetapi tidak mengambil langkah konkrit. Pihak
gereja memenuhi niali agama berdasarkan keaktifan dalam ibadah
minggu atau aktifitas gereja lainnya. Pemberian nilai tanpa adanya
proses pembelajaran sebagaimana yang ditetapkan pemerintah.
Tindakan ini kurang bijaksana karena kegiatan ibadah terkait
peribadatan. Kurikulum yang berlaku sangat berbeda dengan
kurikulum yang berlaku di sekolah formal. Sebagai lembaga
keagamaan, gereja harus ikut bertanggung jawab untuk mengatasi
persoalan ketiadaan PAK. Gereja non GPIB Zebaoth
merekomendasikan kegiatan Sekolah Sabtu bagi jemaat yang
mengalami persoalan ketiadaan PAK disekolah. Dukungan gereja
diwujudkan dalam bentuk daya dan dana. Kehadiran Sekolah Sabtu di
Gereja GPIB Zebaoth menjadi solusi alternatif untuk mengatasi
persoalan bagi pemenuhan nilai agama dan pembelajaran PAK yang
bertanggung jawab.
5) Damapak bagi gereja jika mengambil peran sebagai
penyelenggara PAK.
GPIB Zebaoth Bogor sebagai pihak penyelenggaraan PAK melalui
program Sekolah Sabtu, telah berusia tiga puluh lima tahun.
Sebagaimana tujuan pendirian Sekolah Sabtu bukan bermaksud untuk
mengambil alih tugas sekolah dalam hal menyelengarakan PAK.
Kegiatan Sekolah Sabtu sampai sekarang masih diminati sebagai solusi
PAK alternatif yang merupakan solusi sementara karena tidak adanya
PAK di sekolah tertentu.
Eksisnya pembelajaran PAK di Sekolah Sabtu, di satu sisi gereja
GPIB Zebaoth berhasil menangani persoalan yang ada, tapi di sisi lain
pemerintah gagal mengatasi persoalan. Kehadiran Sekolah Sabtu
sebenarnya tidak boleh ada, karena kegiatan pembelajaran PAK
semestinya dilakukan oleh pihak sekolah sebagai penyelenggara
pendidikan formal. Setidaknya dari tahun-ke tahun peserta didik
berkurang dengan asumsi mereka kembali ke sekolah, karena
disekolah mereka sudah ada guru mata pelajaran agama Kristen
sehingga penyelenggaraan PAK dapat dilakukan.
Penambahan tenaga pendidik PAK yang tidak memadai. Sumber
daya manusia (SDM) tidak seimbang antara laju perkembangan jumlah
gedung sekolah dengan jumlah ketersediaan guru PAK. Selama masih
ada sekolah yang tidak menyelenggarkan PAK, disitulah gereja akan
tetap hadir untuk melayani kebutuhan pembelajaran PAK bagi peserta
didik yang beragama Kristen.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini penulis megemukakan kesimpulan dari hasil penelitian
dan saran yang dapat dipikirkan dan dikerjakan di kemudian hari untuk perbaikan-
perbaikan.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis
menyimpulkan bahwa pembelajaran PAK sangat dibutuhkan oleh peserta didik
bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan akan nilai agama untuk kepentiangan
raport saja. Pembelajaran PAK lebih diutamakan untuk pembentukan karakter
dan budi pekerti sesuai teladan Kristus Yesus. Pendewasaan spiritual dan
pertumbuhan iman Kristiani. Pembelajaran PAK seharusnya bermuara pada
perjumpaan dengan Kristus dan peserta didik menjadikan Yesus Kristus
sebagai Juruselamatnya pribadi. Meninjau pentingnya tujuan pembelayaran
PAK maka semua pihak terkait wajib mengusahakannya.
Kegiatan ibadah Minggu dimaksudkan untuk peribadatan orang
percaya, maka penilaian untuk raport tidak seharusnya berdasarkan keaktifan
mengikuti ibadah minggu. Sebaliknya, pembelajaran PAK harus terencana,
diberikan secra intensif (terus menerus), berkelanjutan dan secara mendalam
dengan menggunakan kurikulum dan bahan ajar dan sistem penilaian yang
tidak sama dengan kegiatan Ibadah Minggu.
Kendala yang yang timbul di lapangan, dimana beberapa sekolah tidak
melaksanakan pembelajaran PAK yang dapat diinfentarisir oleh penulis adalah:
a. Ketersediaan tenaga pengajar, khususnya guru mata pelajaran agama
Kristen sangat minim. Jumlah pengajar tidak berbanding lurus dengan
jumlah sekolah yang harus dilayani. Kelangkaan pengangkatan guru
yang berstatus PNS oleh pemerintah. Perekrutan guru hononer lebih
banyak untuk ditempatkan di sekolah, sementara guru Yayasan hanya
milik Yayasan yang bersangkutan. Jumlah guru terbatas, sehingga
mengajar beberapa kelas bersamaan menjadikan pembelajaran kurang