211CERPEN : Penjaga Mercusuar Menjadi Abdi NegaraKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaDi sebuah kota yang hanya dibangun dari ingatan, hiduplah seorang lelaki bernama Ferizal yang bekerja sebagai penjaga mercusuar tanpa laut. Mercusuar itu berdiri tegak di tengah padang ilalang perak, tempat di mana angin seringkali membawa aroma garam yang mustahil dan suara ombak yang tertinggal di masa lalu. Tugas Ferizal sederhana namun melelahkan: ia harus menyalakan lampu kristal di puncak menara setiap kali seseorang mulai melupakan sesuatu yang berharga.Suatu senja yang sewarna tembaga, seorang perempuan datang membawa koper yang beratnya melebihi ukuran fisiknya. Namanya adalah Rindu—sebuah nama yang terlalu klise untuk kota yang puitis, namun ia membawanya dengan martabat seorang ratu yang kehilangan takhta. Ia tidak mencari jalan pulang, karena baginya, pulang adalah sebuah kata kerja yang sudah mati.\"Aku ingin menitipkan sebuah percakapan,\" ucap Rindu, suaranya parau seperti gesekan biola tua.Ferizal menerima koper itu. Di dalamnya, tidak ada pakaian atau perhiasan. Hanya ada ribuan kelopak bunga kamboja yang mengering dan gema suara seorang lelaki yang membisikkan janji di bawah hujan. Ferizal tahu, jika koper ini dibuka di sembarang tempat, kenangan itu akan menguap menjadi kabut hitam yang membutakan penduduk kota.Malam itu, Ferizal memanjat tangga melingkar mercusuar. Langkah kakinya berdentang, menciptakan irama yang menyatu dengan detak jantung kota yang melambat. Di puncak, ia meletakkan koper Rindu di bawah cahaya lampu kristal. Seketika, cahaya mercusuar berubah warna menjadi biru laut yang paling dalam.
212Di bawah sana, orang-orang yang sedang makan malam tiba-tiba berhenti. Mereka merasakan lidah mereka mengecap rasa air mata yang manis. Seorang pelukis yang kehilangan inspirasi mendadak mampu menggambar wajah ibunya yang telah tiada dengan detail yang menyakitkan. Kota itu bergetar, bukan karena gempa, melainkan karena beban rindu yang dilepaskan secara serentak.\"Kenapa kau menjaga tempat ini?\" tanya Rindu ketika Ferizal turun kembali ke pelataran.Ferizal menatap cakrawala yang tidak memiliki garis pantai. \"Karena jika tidak ada yang menjaga ingatan, dunia ini hanyalah selembar kertas kosong yang ditiup badai. Kita akan berjalan tanpa bayangan, dan mencintai tanpa sempat mengenal nama.\"Rindu tersenyum, lalu ia mulai berjalan pergi ke arah ilalang perak. Tubuhnya perlahan memudar, menjadi partikel cahaya yang terbang menuju puncak mercusuar. Ferizal menyadari bahwa perempuan itu bukan pembawa koper, melainkan isi dari koper itu sendiri. Ia adalah percakapan terakhir yang tak pernah tersampaikan, sebuah fragmen waktu yang menolak untuk dilupakan.Beberapa waktu kemudian, sebuah surat dengan stempel resmi kenegaraan tiba di kaki mercusuar, dibawa oleh seekor burung camar yang tampak bingung karena tidak menemukan pantai. Surat itu menyatakan bahwa Ferizal lulus tes CPNS. Kabar ini terasa ganjil di kota yang dibangun dari ingatan, namun bagi Ferizal, ini adalah sebuah jembatan menuju kenyataan yang baru.Pemerintah pusat rupanya mulai menyadari pentingnya mengelola aset-aset yang tidak terlihat, dan Ferizal kini resmi diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara di bawah Departemen Pelestarian Makna. Ia tidak lagi sekadar penjaga liar di padang ilalang;
213kini ia memiliki mandat resmi untuk memastikan bahwa setiap ingatan yang rapuh di kota itu terdokumentasi dengan baik dalam arsip negara yang abadi.Meskipun statusnya telah berubah, Ferizal tetap setia di puncaknya. Setiap malam, ia mengenakan seragam barunya yang rapi, namun tangannya tetap kasar karena memutar tuas lampu kristal. Baginya, lulus tes CPNS bukanlah cara untuk pergi meninggalkan mercusuar, melainkan sebuah janji baru kepada negara dan kepada Rindu: bahwa di negeri ini, tidak akan ada satu pun kenangan yang dibiarkan hilang tanpa perlindungan hukum dan cahaya yang terang.Kini, kehidupan Ferizal sebagai abdi negara di kota ingatan itu memiliki ritme yang berbeda. Setiap pagi, ia tidak lagi hanya menatap ilalang, tetapi juga harus mengisi laporan harian pada sistem digital yang cahayanya berpendar di antara kabut masa lalu. Ia mencatat jumlah rindu yang tertampung dan volume air mata yang berhasil dikristalisasi menjadi cahaya.Suatu hari, seorang inspektur dari pusat datang mengunjungi mercusuar tersebut. Sang Inspektur terheran-heran melihat cara kerja Ferizal. \"Kenapa kamu masih menggunakan lampu kristal manual ini? Kita sudah punya teknologi digital untuk menyimpan data ingatan,\" cetusnya sambil membenarkan letak kacamatanya.Ferizal hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang ia pelajari dari Rindu. \"Data mungkin bisa menyimpan fakta, Pak, tapi ia tidak bisa menyimpan rasa. Jika kita hanya mendigitalkan kenangan, kita hanya memiliki angka-angka dingin, bukan kehangatan dari sebuah janji yang ditepati.\"Inspektur itu terdiam saat melihat ke puncak mercusuar. Cahaya di sana bukan lagi biru laut, melainkan warna emas pucat—warna yang muncul saat seseorang memaafkan dirinya sendiri. Di dalam cahaya itu, bayangan Rindu sesekali melintas, bukan sebagai hantu, melainkan sebagai bagian dari ekosistem kota yang kini dilindungi negara.
214Sebagai seorang PNS, Ferizal mendapatkan tunjangan yang cukup untuk memperbaiki tangga-tangga mercusuar yang mulai keropos. Namun, ia menolak untuk mengganti lampu kristalnya dengan lampu LED hemat energi. Ia tahu, ingatan butuh sedikit retakan dan panas untuk tetap terasa hidup.Malam demi malam, Ferizal tetap berdiri di posisinya. Jabatan resminya mungkin \"Pengelola Data Arsip Vital,\" namun di hatinya, ia tetaplah sang penjaga cahaya. Ia menyadari bahwa kelulusannya bukan sekadar pencapaian karier, melainkan legitimasi bahwa tugas menjaga hal-hal yang tak terlihat adalah pekerjaan paling mulia di dunia yang semakin bising.Di kota itu, waktu tetap melingkar. Dan di puncak tertinggi, Ferizal memastikan bahwa meski raga seseorang telah lama pergi, jejak mereka akan tetap abadi dalam cahaya sunyi yang ia jaga dengan penuh tanggung jawab, atas nama cinta dan atas nama negara.Tahun-tahun berlalu, dan Ferizal kini telah mencapai pangkat yang cukup tinggi di birokrasi kota itu. Meskipun ia bisa saja pindah ke kantor pusat yang lebih megah dengan pendingin ruangan dan lantai marmer, ia tetap memilih mercusuar di padang ilalang perak sebagai kantor definitifnya. Baginya, setiap kenaikan pangkat hanyalah cara untuk mendapatkan wewenang lebih besar dalam melindungi fragmen-fragmen kenangan yang mulai dianggap usang oleh modernitas.Suatu sore, seorang pemuda magang dikirim dari ibu kota untuk membantunya. Pemuda itu datang dengan membawa tablet canggih dan ambisi yang meluap-luap. \"Pak Ferizal,\" katanya dengan nada skeptis, \"mengapa kita menghabiskan anggaran negara untuk menjaga kenangan tentang aroma kamboja atau suara hujan? Bukankah lebih baik kita fokus pada ingatan kolektif yang produktif, seperti sejarah pembangunan atau inovasi teknologi?\"
215Ferizal mengajaknya naik ke puncak mercusuar tepat saat matahari terbenam. Ia membiarkan pemuda itu melihat bagaimana koper-koper imajiner dari penduduk kota mulai berdatangan, terbang seperti kunang-kunang menuju lampu kristal.\"Kau lihat itu?\" tanya Ferizal sambil menunjuk cahaya yang berdenyut. \"Itu adalah ingatan seorang kakek tentang lagu pengantar tidur ibunya. Dan yang di sana, yang berwarna jingga, adalah rasa gugup seseorang saat pertama kali menyatakan cinta. Jika negara hanya menjaga hal-hal yang 'produktif', maka kita akan menjadi bangsa yang pintar, tetapi tidak punya jiwa. Kita akan menjadi sekumpulan angka yang berjalan tanpa tahu mengapa kita merasa sedih saat melihat senja.\"Pemuda magang itu terdiam. Untuk pertama kalinya, ia mematikan tabletnya dan merasakan angin yang membawa aroma garam yang mustahil itu.Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai PNS, Ferizal menerima surat keputusan pensiun yang akan datang beberapa tahun lagi. Namun, ia tidak merasa cemas. Ia telah menyiapkan generasi baru untuk mengerti bahwa menjadi penjaga ingatan bukan sekadar tentang administrasi, melainkan tentang pengabdian pada kemanusiaan.Ketika ia turun ke pelataran, ia melihat bayangan Rindu samar-samar di antara ilalang. Kali ini, Rindu tidak membawa koper. Ia hanya berdiri di sana, tersenyum, seolah merestui setiap stempel dan tanda tangan yang telah Ferizal bubuhkan demikeabadian rasa. Ferizal memperbaiki posisi lencana korps di seragamnya, menarik napas dalam-dalam, dan kembali menatap cakrawala. Di kota yang dibangun dari ingatan ini, ia telah berhasil membuktikan bahwa bahkan seorang pegawai negeri pun bisa menjadi penyair bagi jiwa-jiwa yang terlupakan.Masa pensiun akhirnya tiba, namun Ferizal tidak benar-benar pergi. Negara memberinya gelar \"Penjaga Utama Emeritus\", sebuah penghormatan bagi satusatunya abdi negara yang berhasil menyatukan birokrasi dengan puisi.
216Ia tidak lagi diwajibkan mengisi laporan harian, namun ia tetap tinggal di pondok kecil di bawah kaki mercusuar, tempat di mana ilalang perak tumbuh paling tinggi.Suatu malam, kota itu mengalami \"Badai Lupa\" yang hebat—sebuah fenomena langka di mana arus informasi dari dunia luar masuk terlalu deras, mengancam akan menyapu bersih ingatan-ingatan kecil yang selama ini dijaga Ferizal. Lampu kristal di puncak mercusuar bergetar hebat, sinarnya meredup, nyaris kalah oleh kebisingan logika yang dingin.Pemuda magang yang kini telah menggantikannya panik. \"Pak Ferizal! Sistem tidak bisa merespons! Data-data ini akan hilang!\" teriaknya dari atas menara.Ferizal berjalan tenang menuju puncak, meski langkahnya tak lagi sekuat dulu. Ia tidak menyentuh komputer atau tablet. Ia justru mengeluarkan sebuah buku catatan kusam dari saku seragam lamanya—buku yang berisi tulisan tangan tentang setiap koper yang pernah ia terima, setiap aroma yang pernah ia hirup, dan setiap nama yang pernah dibisikkan angin.\"Baca ini dengan lantang,\" perintah Ferizal. \"Ingatan tidak butuh daya listrik, ia hanya butuh suara yang mengakuinya.\"Suara pemuda itu menggema, membacakan rincian-rincian kecil: tentang rasa kopi di pagi hari yang tenang, tentang warna baju seseorang di pertemuan pertama, tentang janji-janji yang meski tak ditepati, tetap pernah ada. Perlahan, lampu kristal itu kembali berpendar. Kali ini cahayanya meluap, membentuk kubah pelindung di atas kota. Badai itu mereda.Keesokan paginya, kota itu terasa lebih jernih. Penduduknya terbangun dengan perasaan syukur yang aneh, seolah mereka baru saja diselamatkan dari mimpi buruk kelenyapan.
217Ferizal duduk di pelataran, menatap burung camar yang kini telah membuat sarang di langkan mercusuar. Ia menyadari bahwa tugasnya telah selesai sepenuhnya. Ia bukan lagi sekadar penjaga; ia telah menjadi bagian dari ingatan kota itu sendiri.Rindu muncul untuk terakhir kalinya, kini sepenuhnya nyata dalam cahaya pagi. Ia mengulurkan tangan, bukan untuk menitipkan koper, melainkan untuk mengajak Ferizal berjalan melintasi cakrawala yang kini mulai menampakkan garis pantai—sebuah tanda bahwa ingatan yang dijaga dengan tulus akan akhirnya membawa seseorang menuju kedamaian yang sesungguhnya.Di arsip pusat, nama Ferizal tercatat sebagai pegawai teladan. Namun di padang ilalang perak, namanya abadi sebagai angin yang selalu berhasil memulangkan setiap rindu ke pelukannya yang paling sunyi.**************************CERPEN : Pemuda Desa Menjadi Abdi NegaraKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaDi sebuah desa kecil yang terletak di antara pegunungan, hiduplah seorang pemuda bernama Ferizal. Setiap hari, Ferizal menghabiskan waktunya di ladang, menanam padi dan sayuran. Namun, di balik senyumnya yang ramah, tersimpan rasa sepi yang mendalam. Ia merasa terasing, meskipun dikelilingi oleh keluarga dan teman-teman.Suatu sore, saat matahari mulai merunduk di balik bukit, Ferizal berjalan menuju tepi sungai. Airnya jernih, memantulkan cahaya keemasan senja. Di sana, ia melihat seorang nenek tua yang duduk di atas batu besar, menatap jauh ke arah aliran sungai. Nenek itu tampak tenang, seolah dunia di sekelilingnya tidak ada artinya.“Kenapa kau duduk sendirian, Nek?” tanya Ferizal, mendekati nenek itu.
218Nenek itu menoleh, matanya berkilau seperti bintang di malam hari. “Aku menunggu sesuatu yang hilang,” jawabnya pelan.“Apakah itu sesuatu yang berharga?” Ferizal penasaran.“Ya, sesuatu yang lebih berharga dari emas. Itu adalah waktu,” jawab nenek itu sambil tersenyum. “Setiap detik yang kita lewatkan adalah bagian dari hidup kita yang tidak akan kembali.”Ferizal terdiam, merenungkan kata-kata nenek itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia terjebak dalam rutinitas, tidak pernah benar-benar menghargai setiap momen yang ada. Ia hanya hidup untuk bekerja, tanpa menikmati keindahan di sekelilingnya.“Bagaimana cara menemukan waktu yang hilang itu?” tanya Ferizal.“Dengan menghargai setiap detik yang kau miliki. Luangkan waktu untuk melihat, mendengar, dan merasakan. Hidup bukan hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang perjalanan,” jawab nenek itu.Sejak hari itu, Ferizal mulai mengubah cara pandangnya. Ia mulai berjalan di ladang dengan lebih perlahan, menikmati aroma tanah basah setelah hujan, mendengarkan suara burung yang berkicau, dan merasakan angin yang berhembus lembut di wajahnya. Ia belajar untuk berbicara lebih banyak dengan keluarganya, mendengarkan cerita-cerita mereka, dan tertawa bersama.Hari-hari berlalu, dan Ferizal merasa hidupnya semakin penuh. Ia tidak lagi merasa sepi, karena ia telah menemukan keindahan dalam hal-hal kecil. Setiap senja, ia kembali ke tepi sungai, berharap untuk bertemu dengan nenek tua itu. Namun, nenek itu tidak pernah muncul lagi.Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang, Ferizal duduk di tepi sungai, merenungkan semua yang telah ia pelajari.
219Ia menyadari bahwa nenek itu adalah simbol dari kebijaksanaan yang sering kali terabaikan. Dalam kesunyian malam, ia berjanji untuk terus menghargai setiap momen dalam hidupnya, karena waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.Kelanjutan: Harapan di Ujung SenjaNasihat nenek itu menjadi kompas baru bagi Ferizal. Ia tidak lagi memandang bukubuku usang di meja kamarnya sebagai beban, melainkan sebagai jembatan menuju pengabdian yang lebih besar. Di sela-sela waktu mencangkul, ia mulai tekun mempelajari materi tes CPNS yang selama ini hanya ia pandang dengan penuh keraguan.Bulan demi bulan berganti. Ujian demi ujian ia lalui dengan ketenangan yang luar biasa. Baginya, belajar bukan lagi sekadar mengejar status, melainkan bentuk penghargaan terhadap waktu yang ia miliki. Saat pengumuman hasil akhir tiba, desa kecil itu mendadak riuh. Nama Ferizal tertera di baris teratas daftar mereka yang lulusTES CPNS.Sore itu, Ferizal kembali ke tepi sungai. Langit berwarna jingga pekat, persis seperti saat ia pertama kali bertemu sang nenek. Ia mengenakan kemeja rapi, bersiap untuk memulai babak baru sebagai abdi negara. Ia menatap aliran air yang tenang, membawa rasa syukur yang tak terhingga.\"Nek, aku sudah memahami maksudmu,\" bisiknya pada angin. \"Waktu tidak hilang jika kita menggunakannya untuk menebar manfaat.\"Meskipun tugas baru akan membawanya keluar dari desa, Ferizal tahu bahwa kaki yang melangkah di aspal kota akan tetap memiliki jiwa yang mencintai aroma tanah basah dan ketenangan senja.
220Di ujung senja kali ini, ia bukan lagi pemuda yang kesepian, melainkan pria yang siap mengabdikan waktunya untuk masa depan yang lebih cerah.Beberapa minggu kemudian, Ferizal mulai mengemasi barang-barangnya. Sebuah tas tua berisi pakaian dan beberapa buku catatan menjadi saksi bisu perpindahannya ke kota kabupaten tempat ia akan bertugas. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri mengunjungi ladang yang selama ini ia garap.“Jaga diri baik-baik di sana, Rizal,” ucap ayahnya sambil menepuk bahu putranya dengan bangga. Ibunya memberikan bekal nasi bungkus daun pisang, simbol kasih sayang yang akan selalu ia rindukan.Sesampainya di kantor pemerintahan yang megah, Ferizal tidak membiarkan dirinya silau oleh jabatan. Ia teringat pesan nenek di tepi sungai: hidup adalah tentang perjalanan. Di meja kerjanya yang baru, ia melayani setiap warga yang datang dengansenyum ramah yang sama seperti saat ia menyapa tetangganya di desa. Ia tidak ingin menjadi birokrat yang kaku; ia ingin menjadi manusia yang hadir sepenuhnya di setiap detik pekerjaannya.Suatu hari, Ferizal ditugaskan untuk meninjau sebuah proyek pembangunan di daerah terpencil. Perjalanan itu membawanya melewati pegunungan yang sangat mirip dengan kampung halamannya. Saat matahari mulai merunduk, ia meminta sopir kantor untuk berhenti sejenak di sebuah jembatan yang melintasi sungai berbatu.Ia berdiri di tepi jembatan, menatap cahaya keemasan yang memantul di air. Di kejauhan, ia melihat seorang pemuda sedang duduk termenung di tepi sungai, persis seperti dirinya dulu. Ferizal tersenyum tipis. Ia turun dari mobil, menghampiri pemuda itu, dan duduk di sampingnya.“Indah ya senjanya?” sapa Ferizal lembut.
221Pemuda itu menoleh, tampak terkejut melihat seseorang berpakaian dinas mau duduk di tanah bersamanya. “Iya, Pak. Tapi senja selalu berlalu terlalu cepat.”Ferizal menatap aliran sungai, lalu mengutip kata-kata yang telah mengubah hidupnya. “Memang cepat, tapi setiap detik yang kita lewatkan adalah bagian dari hidup yang takkan kembali. Jangan hanya menunggu senja berakhir, tapi hargailah setiap perubahan warnanya.”Di bawah langit yang perlahan menggelap, Ferizal menyadari bahwa tugasnya kini bukan hanya mengabdi pada negara melalui berkas-berkas di atas meja, tetapi juga meneruskan estafet kebijaksanaan yang pernah ia terima. Ia telah lulus dari tes CPNS, namun ia sadar bahwa tes kehidupan yang sesungguhnya adalah bagaimana ia tetap membumi meski telah terbang tinggi.Dengan hati yang damai, ia kembali ke mobilnya. Di ujung senja itu, Ferizal bukan lagi pencari makna, melainkan pembawa cahaya bagi orang lain yang masih terjebak dalam sepi.Seiring berjalannya waktu, Ferizal dikenal sebagai sosok abdi negara yang tidak hanya cekatan, tetapi juga memiliki empati tinggi. Keberhasilannya di kantor membawanya pada sebuah tanggung jawab besar: memimpin program pemberdayaan ekonomi untuk desa-desa terpencil, termasuk desa kelahirannya sendiri.Suatu hari, ia kembali ke desa kecilnya dengan membawa rencana pembangunan yang selama ini ia impikan. Ia ingin memastikan bahwa para petani di sana tidak hanya bekerja keras, tetapi juga memiliki waktu yang lebih berkualitas dengan teknologi pertanian yang lebih efisien. Ia ingin mereka memiliki waktu untuk benar-benar \"hidup\", sebagaimana yang diajarkan sang nenek kepadanya.
222Saat sedang berjalan meninjau lokasi pembangunan irigasi, langkah kaki Ferizalterhenti di depan batu besar di tepi sungai tempat ia dulu bertemu sang nenek. Tempat itu masih sama, tenang dan penuh aura magis di bawah siraman cahaya jingga.Tiba-tiba, ia melihat seorang anak kecil sedang menangis di atas batu itu karena layang-layangnya tersangkut di dahan pohon yang tinggi. Ferizal mendekat dengan senyum hangat yang tak pernah hilang dari wajahnya.\"Kenapa menangis, Dik?\" tanya Ferizal sambil membantu melepaskan layang-layang itu dengan hati-hati.\"Aku takut kehilangan layang-layang ini, Pak. Ini hadiah dari ayahku,\" jawab anak itu terisak.Setelah berhasil menyelamatkannya, Ferizal menyerahkan layang-layang itu dan duduk sejenak di samping sang anak. \"Layang-layang bisa dicari lagi, tapi waktu yang kamu habiskan untuk bersedih tidak akan bisa kembali. Jadi, tersenyumlah. Lihatlah betapa cantiknya langit sore ini.\"Anak itu menatap langit, lalu menatap Ferizal dengan mata yang berbinar. \"Bapak bicara seperti nenek tua yang dulu sering duduk di sini.\"Jantung Ferizal berdegup kencang. \"Nenek tua? Kamu pernah melihatnya?\"\"Dulu sekali, sebelum Bapak pergi ke kota. Dia bilang dia sedang menunggu seseorang yang siap membawa pesannya pergi jauh dari sungai ini,\" jawab anak itu polos sebelum berlari pulang sambil melambaikan tangan.Ferizal tertegun. Ia menyadari bahwa kehadirannya di sana, keberhasilannya menjadi lulus menjadi CPNS, dan perubahan hidupnya bukanlah sekadar kebetulan atau keberuntungan semata. Itu adalah amanah. Sang nenek mungkin tidak pernah benarbenar pergi; ia hanya berpindah tempat ke dalam hati dan tindakan Ferizal.
223Kini, setiap kali ia menandatangani kebijakan atau membantu warga, Ferizal selalu ingat bahwa di balik setiap berkas ada waktu hidup seseorang yang sangat berharga. Di ujung senja yang damai itu, Ferizal berdiri tegak dengan seragamnya, menatap masa depan dengan keyakinan bahwa hidup yang paling berarti adalah hidup yang dihabiskan untuk menghargai waktu dan melayani sesama.Gema di Atas Batu BesarTahun-tahun kemudian, jabatan dan seragam bukan lagi menjadi identitas utama bagi Ferizal. Ia telah menjadi personifikasi dari waktu itu sendiri—tenang, mengalir, namun pasti. Rambutnya mulai dihiasi helai-helai perak, sebuah kronik alami tentang detik-detik yang ia muliakan.Suatu sore, saat cakrawala membara oleh sisa-sisa api matahari, Ferizal kembali ke batu besar itu. Ia tidak datang sebagai pejabat, tidak pula sebagai penggerak desa. Ia datang sebagai seorang pengelana yang rindu pada titik keberangkatannya. Sungai di hadapannya masih membawa nyanyian yang sama, sebuah simfoni tentang keabadian dan kefanaan yang berkelindan.Di atas batu itu, ia merasakan dinginnya permukaan pori-pori batu yang purba. Ia menutup mata, dan dalam keheningan itu, ia menyadari sebuah kebenaran sastrawi yang paling murni: nenek tua itu tidak pernah benar-benar ada di luar dirinya.Ia adalah proyeksi dari nurani yang meronta di tengah rutinitas yang membunuh jiwa. Sang nenek adalah personifikasi dari \"Waktu\" yang memanggil \"Kesadaran\".Kini, setiap embusan napas Ferizal adalah bait puisi tentang pengabdian. Lulusnya ia dalam tes CPNS hanyalah sebuah metonimia dari keberhasilannya menaklukkan ego diri. Ia telah bertransformasi dari sebuah titik yang statis menjadi sebuah garis yang terus memanjang, menghubungkan harapan-harapan kecil di desa dengan kenyataan besar di dunia luar.
224Sambil menatap bayangannya yang mulai memudar di permukaan air, Ferizaltersenyum. Ia mengambil sebuah daun kering yang jatuh, membiarkannya hanyut terbawa arus. Ia paham, hidup tidak perlu digenggam terlalu erat hingga remuk; hidup hanya perlu dialami sesederhana aliran sungai yang tidak pernah bertanya ke mana ia akan bermuara.Di ujung senja itu, langit akhirnya menyerah pada malam. Namun bagi Ferizal, kegelapan bukan lagi ancaman. Sebab di dalam dadanya, ia telah menyalakan pelita dari setiap detik yang ia hargai. Ceritanya tidak berakhir, ia hanya larut ke dalam angin, menjadi bisikan bagi setiap pemuda yang duduk termenung di tepi sungai mana pun, yang sedang menunggu \"waktu\" mereka untuk tiba.Dalam bekerja, Ferizal selalu bertindak jujur, dia introvert sejati. Daripada tidak jujur, lebih baik kehilangan jabatan dan menjadi staf biasa saja di kantor tempat bekerja.Di tepi sebuah sungai tua yang airnya mengalir lambat, Ferizal duduk menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Sungai itu bukan sekadar aliran air; ia adalah kitab yang menulis ulang waktu, membawa serpihan daun, bisikan angin, dan rahasia yang tak pernah selesai.Ferizal menatap permukaan yang berkilau, seolah mencari wajahnya sendiri yang hilang. Namun yang muncul hanyalah bayangan seorang anak kecil, berlari di tepian, tertawa dengan riang. Bayangan itu bukan kenangan, melainkan gema masa depan yang tak pernah ia capai.“Apakah sungai ini menipu?” gumamnya. “Atau aku yang terlalu lama menunggu di kursi rapuh ini?”Seekor burung hitam hinggap di dahan, menatapnya dengan mata tajam. Burung itu tidak berkicau, hanya diam, seakan menjadi saksi bisu dari segala penantian.
225Ferizal tersenyum getir, lalu melemparkan sebuah batu kecil ke air. Riak menyebar, bayangan anak itu pun pecah, lenyap bersama lingkaran yang melebar.Namun, justru dalam kehampaan itu ia menemukan sesuatu: keheningan yang lebih jujur daripada suara. Sungai tidak pernah berjanji, ia hanya mengalir. Dan Ferizal akhirnya mengerti, penantian bukanlah tentang kedatangan, melainkan tentang keberanian untuk melepaskan.Ia bangkit perlahan, meninggalkan kursi tua, meninggalkan sungai, meninggalkan bayangan. Burung hitam mengepakkan sayapnya, mengikuti langkahnya dari kejauhan.Sungai tetap mengalir, seolah tak pernah peduli. Tetapi di dalam hati lelaki itu, sebuah pintu terbuka: pintu menuju pulang.Bayangan di Tepi SungaiLangkah Ferizal menyusuri jalan tanah yang dipenuhi akar-akar pohon tua. Burung hitam masih setia mengikuti, kadang hinggap di bahunya, kadang terbang rendah di depan, seolah menjadi penunjuk arah.Di kejauhan, ia melihat sebuah rumah kayu yang sudah lama ditinggalkan. Jendelajendelanya terbuka, tirai lusuh berkibar pelan. Ferizal berhenti, merasakan getaran aneh di dadanya. Rumah itu bukan sekadar bangunan; ia adalah cermin dari dirinya sendiri—rapuh, ditinggalkan, namun masih berdiri.Ia masuk perlahan. Di dalam, debu menari bersama cahaya matahari yang menembus celah dinding. Di meja tua, ia menemukan sebuah buku catatan. Halamannya kosong, kecuali satu kalimat yang tertulis dengan tinta pudar:\"Jangan menunggu sungai, jadilah sungai, lakukan inovasi dalam bekerja.\"
226Lelaki itu terdiam. Kata-kata itu seperti bisikan masa lalu yang akhirnya menemukan jalannya kembali. Ia merasakan beban penantian yang selama ini mengikatnya mulai runtuh.Burung hitam berputar di atas kepalanya, lalu keluar lewat jendela, menuju langit yang biru. Lelaki itu menutup buku catatan, membawanya keluar. Ia tahu, perjalanan belum selesai. Namun kali ini, ia tidak lagi menunggu. Ia berjalan, menjadi aliran itu sendiri.Ferizal berjalan mengikuti desir angin yang seolah menuntunnya. Di setiap langkah, ia merasa dirinya semakin ringan, seakan beban bertahun-tahun yang menempel di punggungnya mulai luruh.Di sebuah persimpangan jalan, ia bertemu seorang gadis muda yang sedang menimba air dari sumur. Gadis itu menatapnya dengan mata jernih, lalu berkata pelan, “Air selalu mencari jalan pulang. Begitu juga manusia. Ini era Digital AI, berkarya untuk Negara.”Lelaki itu tertegun. Kata-kata sederhana itu menyalakan api kecil di hatinya. Ia menyadari bahwa sungai, rumah tua, burung hitam, dan kini gadis muda itu hanyalah cermin dari perjalanan batinnya sendiri. Semua adalah tanda, semua adalah bahasa yang harus ia baca.Ia tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan. Burung hitam kembali hinggap di bahunya, kali ini tidak lagi sebagai saksi, melainkan sebagai teman. Ferizal tahu, ia sedang menuju akhir dari penantian panjang—bukan akhir yang menutup, melainkan awal yang membuka sebagai Abdi Negara.Di kejauhan, ia melihat cahaya yang memancar dari hutan. Cahaya itu bukan matahari, melainkan sesuatu yang lebih dalam: sebuah panggilan. Ia melangkah mantap, membawa buku catatan tentang Inovasi Digital AI, siap menulis kisah baru dengantangannya sendiri.
227CERPEN : Penjual Buku Keliling Menjadi Abdi NegaraKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaFerizal menghabiskan masa mudanya dengan sepeda tua, membawa tumpukan buku ke pelosok desa yang tak terjangkau internet. Baginya, setiap halaman yang dibaca anak-anak adalah benih kecerdasan bangsa. Meski hanya seorang penjual buku kecil, impiannya adalah melihat seluruh anak di daerahnya melek literasi.Suatu ketika, Bapak Walikota melihat kegigihan Ferizal yang mengajar membaca di bawah pohon rindang tanpa memungut biaya. Terkesan dengan dedikasinya, Ferizal disarankan untuk mengikuti seleksi CPNS demi untuk pengabdian masyarakat di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah.Perjuangan Menuju Kursi Pegawai NegeriTantangan baru pun dimulai. Di sela-sela waktu berjualan buku, Ferizal mulai belajar dengan giat. Ia memanfaatkan sisa-sisa buku latihan soal yang tidak laku terjual untuk dipelajari di bawah lampu minyak saat malam hari. Baginya, tes CPNS ini bukan sekadar mengejar status, melainkan kesempatan untuk menyebarkan literasi dengan jangkauan yang lebih luas.Saat hari ujian tiba, Ferizal datang dengan semangat yang sama seperti saat ia mengayuh sepedanya. Dengan ketenangan dan pengetahuan yang ia himpun dari ribuan buku yang pernah dibacanya, ia berhasil melewati ambang batas nilai dengan hasil yang memuaskan. Pengabdian tulusnya selama bertahun-tahun di jalanan desa kini diakui secara resmi oleh negara.Masa Depan Literasi
228Kini, Ferizal tidak lagi mengayuh sepeda tua di jalanan berdebu. Setelah dinyatakan lulus dan dilantik, ia dipercaya mengelola perpustakaan keliling modern milik Pemerintah serta menyusun program literasi tingkat daerah.Ferizal membuktikan bahwa mencintai ilmu pengetahuan dan bekerja dengan ikhlas bisa membawa seseorang dari jalanan desa menuju kursi pengabdian resmi bagi negara. Semangatnya tetap sama: memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam mengenal jendela dunia.Perjalanan Ferizal tidak berhenti pada seragam cokelat yang dikenakannya. Di balik meja birokrasi, imajinasi dan rasa cintanya terhadap literasi justru semakin membara, hingga ia memutuskan untuk menuangkan seluruh pengalamannya ke dalam untaian kata.Lahirnya Sang Pujangga PengabdiDi sela-sela kesibukannya menyusun program literasi, Ferizal mulai menulis di penghujung malam. Ia menulis tentang dua hal yang paling ia pahami: Sastra Cinta dan Pengabdian. Baginya, cinta bukan sekadar romantisme dua insan, melainkan gairah tulus saat melihat seorang anak desa bisa mengeja huruf pertama mereka.Buku pertamanya, yang diberi judul \"Lentera di Jalan Berdebu\", meledak di pasaran. Isinya adalah kumpulan prosa dan puisi yang mengisahkan getirnya hidup sebagai penjual buku keliling, namun dibalut dengan bahasa yang sangat puitis dan menyentuh hati. Para pembaca seolah diajak ikut merasakan panasnya terik matahari saat ia mengayuh sepeda, serta sejuknya harapan yang tumbuh di bawah pohon rindang tempat ia mengajar.Menyuarakan Suara yang Terlupakan
229Karya-karya Ferizal dikenal karena keberaniannya memadukan keindahan sastra dengan kritik sosial yang membangun. Ia menulis tentang dedikasi tanpa pamrih para abdi negara di garda terdepan. Melalui tulisan-tulisannya, ia menyuarakan bahwa pengabdian kepada negeri adalah bentuk cinta tertinggi—sebuah pengorbanan yang tidak selalu terlihat, namun memberikan dampak nyata bagi masa depan bangsa.Namanya kini tidak hanya dikenal di lingkungan dinas, tetapi juga di kancah sastra nasional. Ferizal sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai festival literasi, di mana ia selalu menyampaikan pesan yang sama:\"Menulis adalah cara kita mencintai negeri ini selamanya. Jika fisik kita terbatas oleh usia, biarlah gagasan kita hidup abadi dalam lembaran buku.\"Warisan untuk NegeriKini, Ferizal adalah sosok lengkap: seorang birokrat yang visioner dan seorang sastrawan yang penuh empati. Hasil penjualan bukunya tidak ia simpan sendiri; sebagian besar ia donasikan untuk membangun taman baca di pelosok-pelosok desa yang dulu pernah ia lalui dengan sepeda tuanya.Ferizal telah membuktikan bahwa seorang Abdi Negara tidak harus kaku dalam aturan. Dengan pena di tangan, ia terus melukis masa depan Indonesia yang lebih cerdas, lebih puitis, dan penuh dengan cinta yang tulus bagi Ibu Pertiwi.Pulang ke AkarSetelah puluhan tahun mengabdi sebagai Aparatur Negara dan penulis ternama, masa pensiun Ferizal tiba. Namun, bagi seorang pecinta literasi, tidak ada kata pensiun untuk berbagi ilmu. Ia kembali ke desa tempat ia dulu memulai segalanya dengan sepeda tua.
230Di tanah kelahirannya, ia mendirikan \"Griya Sastra Ferizal\", sebuah pusat literasi modern yang arsitekturnya tetap mempertahankan nuansa rumah desa yang hangat. Di sana, bukan hanya buku yang tersedia, tetapi juga ruang bagi para pemuda untuk belajar menulis dan berdiskusi tentang kebangsaan.Suatu sore, Ferizal duduk di teras griya tersebut, memandangi sebuah monumen kecil di halaman depan: sepeda tua miliknya yang kini telah dicat ulang dan diletakkan di atas tumpuan beton. Sepeda itu menjadi simbol bahwa setiap langkah besar selalu dimulai dari kayuhan yang sederhana.Ia mengambil pena, membuka lembar terakhir dari buku catatan pribadinya, dan menuliskan kalimat penutup bagi seluruh perjalanan hidupnya:\"Pengabdian bukan tentang seberapa tinggi kursi yang kita duduki, tapi seberapa luas manfaat yang kita tebar saat kita berjalan di atas bumi. Aku memulai dari jalanan berdebu, dan aku pulang dengan hati yang penuh.\"Ferizal tersenyum. Tugasnya sebagai penjual buku telah usai, tugasnya sebagai abdi negara telah tuntas, namun tugasnya sebagai manusia untuk terus mencintai negerinya akan terus hidup melalui ribuan halaman yang telah ia wariskan.
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 1.
a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026057816, 2 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Mendahului Perpres AI danmendahului revisi UU Hak Cipta. Ferizal juga adalah Bapak SastraKesehatan Indonesia. Sebagai bentuk proteksi hukum untuk belanegara : Upaya urgensi menegakkan kedaulatan bangsamendahului kecanggihan mesin AI masa depan. Sebagai fondasisejarah dan inovasi jangka panjang intelektual demi perjuanganmenuju sukses Indonesia Emas 2045Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001217305adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.
a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026058559, 4 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya : A. TetralogiPuisi : Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI danRevisi UU Hak Cipta, B. Cerpen : Genre Sastra PNS IndonesiaLahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta, C. Cerpen :PNS Garda Terdepan Pelayanan, Demi Pengabdian danPatriotisme, D. Cerpen : PNS Setia di Bawah Panji Pertiwi,Mengabdi Untuk Negeri, E. Puisi : PNS Pelayan PublikTanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001218756adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.
a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026061421, 8 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya demiIndonesia Emas 2045, sebelum Perpres AI dan sebelum Revisi UUHak Cipta yaitu Tetralogi Cerpen Romantisme Pujangga SastraPNS : A. Cerpen Penjahit Bayangan Menjadi Abdi Negara, B.Cerpen Penjaga Mercusuar Menjadi Abdi Negara, C. CerpenPemuda Desa Menjadi Abdi Negara, D. Cerpen Penjual BukuKeliling Menjadi Abdi NegaraTanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001225166adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.
a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026062181, 10 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya untukIndonesia Emas 2045 : A. Manifesto Sastra PNS Indonesia,memperkaya khazanah Sastra Dunia dengan perspektif baru padazaman disrupsi AI, B. Cerpen Jejak Para Pendiri Genre SastraDunia, Ferizal bergabung didalamnya, C. Cerpen Sastra PNSIndonesia, memperkaya khazanah Sastra Dunia dengan perspektifbaru pada zaman disrupsi AITanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001226860adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.
a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026065078, 15 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya : A. NoveletSastra Level Dunia : MBG ( Makan Bergizi Gratis ). B. ModelPelayanan Publik PUJANGGA SADA ( Pelayanan Umum BerjiwaTanggap dengan Aneka Sastra Dunia ). Dalam bahasa Sansekerta,kata Sada memiliki arti selalu, tetap, abadi, atau selamanya.Sehingga memiliki landasan nilai sejarah sastra yang luhur dariera Kerajaan NusantaraTanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001232689adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.