Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 161Aku tertawa—tawa yang tidak sering keluar di dalam kantor, tawa yang terasa seperti jendela yang tiba-tiba dibuka di ruangan yang sudah lama tertutup.Pada hari kedua, sesi siang diberi judul besar: Inovasi Pelayanan Publik Berbasis Kearifan Lokal dan Pendekatan Human-Centered. Pembicaranya bagus, idenya segar, tapi sesuatu yang lebih menarik sedang terjadi di notes kecil yang Andini geser pelan ke arahku di bawah meja.Malam terakhir seminar itu kami sudah membawa buku masing-masing. Aku membawa Calvino—Le città invisibili, edisi terjemahan yang kubeli dari toko buku bekas bertahun-tahun lalu. Andini membawa Pramoedya. Kami bertukar, membaca dalam diam yang terasa seperti percakapan.\"Kota-kota seperti mimpi: segala sesuatu yang mungkin bisa dibayangkan, tapi bahkan mimpi paling tak terduga pun adalah teka-teki yang menyembunyikan keinginan, atau ketakutannya.\"— ITALO CALVINO, LE CITTÀ INVISIBILI\"Ini bisa jadi kerangka master plan pelayanan daerah,\" kata Andini, serius tapi matanya berbinar. \"Kota yang baik bukan yang infrastrukturnya lengkap. Tapi yang warganya bisa bermimpi di dalamnya.\"Aku memandangnya. Ada sesuatu yang bergeser di dalam percakapan kami malam itu—batas antara kolega sesama PNS dan sesama penulis yang kebetulan memakai seragam yang sama menjadi kabur, dan aku tidak merasa perlu untuk memperjelas batas itu.\"Kita buat sesuatu,\" kataku. Bukan pertanyaan. Bukan pula janji yang terburu-buru. Lebih seperti pengamatan tentang sesuatu yang sudah mulai terjadi tanpa izin kami.\"Buat apa?\" tanyanya, tapi dari nada suaranya aku tahu ia sudah tahu jawabannya.\"Panduan inovasi pelayanan publik. Tapi ditulis seperti esai sastra. Bukan juknis. Bukan SOP. Sesuatu yang bisa dibaca oleh pegawai loket dan terasa seperti ia sedang membaca sesuatu yang ditulis untuk manusia.\"Kami pulang ke kabupaten masing-masing dengan nomor telepon yang sudah lama saling disimpan tapi jarang digunakan, dan sebuah kesepakatan yang tidak dituliskan dalam notulen mana pun: setiap minggu, kami akan bertukar tulisan.
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 162Bukan laporan. Bukan analisis kebijakan. Tapi esai pendek—satu atau dua halaman—tentang sebuah buku yang kami baca dan apa yang ia katakan tentang pekerjaan kami.Hujan turun lagi hari ini. Bukan di beranda kantor lama, bukan di lobi hotel bintang tiga. Aku sedang di mejaku sendiri, di kabupatenku sendiri, memandang layar laptop yang menampilkan draf esai minggu ini—tentang Chekhov dan kesabaran, tentang bagaimana dokter di ceritaceritanya mendengarkan pasien bukan untuk mencari diagnosis, melainkan karena mendengarkan adalah bagian dari pengobatan itu sendiri.Di sudut kanan bawah layar, indikator pesan berkedip. Andini. Sebuah kutipan pendek tanpa pengantar, seperti kebiasaan kami:\"Jangan katakan apa yang kamu pikirkan. Tunjukkan apa yang kamu pikirkan melalui tindakan tokoh-tokohmu.\" — Anton Chekhov.Di bawahnya, satu kalimat tambahan dalam tanda kurung, ditulis dengan huruf kecil semua, seperti catatan kaki untuk dirinya sendiri yang kebetulan juga untukku:(atau melalui cara kita melayani warga di loket, mungkin.)Aku tersenyum. Di luar jendela, hujan mengetuk kaca dengan ritme yang sudah lama kukenal—ritme yang mengingatkan, bukan menyucikan. Dan aku tidak lagi hanya duduk menungguinya berlalu. Ada esai yang harus selesai. Ada minggu depan yang sudah menunggu dengan buku yang belum dibuka dan ide yang belum ditemukan namanya.Ada Andini, di kabupaten yang berbeda, yang sedang membaca hal yang sama dengan cara yang berbeda—dan itulah, kurasa, cara terbaik untuk bersama tanpa harus berada di tempat yang sama.********************Buku itu lahir dari rencana yang rapi sekaligus kecelakaan yang indah — seperti tinta yang tumpah di atas peta dan membentuk benua baru yang tidak pernah ada di atlas mana pun.Bermula dari empat puluh tiga pesan di aplikasi percakapan. Empat puluh tiga esai pendek yang kami tukarkan sepanjang delapan belas bulan — satu esai per minggu, kadang dua jika sedang ada rapat koordinasi yang membosankan dan kami berdua kebetulan sama-sama hadir
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 163lewat Zoom dengan kamera dimatikan. Aku menulis tentang Chekhov dan kesabaran; Andini membalasnya dengan Woolf dan keheningan. Aku menulis tentang Borges dan labirin; ia membalas dengan Pramoedya dan kemarahan yang tenang. Begitu seterusnya, bolak-balik, hingga tanpa kami sadari sudah ada sebuah naskah yang tumbuh di antara kami seperti pohon yang tidak pernah sengaja ditanam.\"Andini,\" kataku.Ia memalingkan wajah. Garis di sudut matanya — peta yang tidak berubah meski perjalanan sudah berbeda — itu masih ada. Mungkin akan selalu ada.\"Aku tidak tahu bagaimana menulis esai tentang ini,\" lanjutku. \"Tentang kamu. Tentang kita.\"Ia tersenyum. Bukan senyum yang menjawab. Senyum yang mengakui.\"Mungkin,\" katanya pelan, \"ada hal-hal yang tidak perlu ditulis. Cukup dirasakan.\"Buku itu terbit delapan bulan kemudian. Judulnya Sisifus di Loket 3: Esai dan Sajak dari Balik Meja Pelayanan. Penerbitnya kecil — penerbit independen di Yogyakarta yang spesialisasinya adalah buku-buku yang tidak laku di toko buku besar tapi selalu habis di seminar-seminar yang dihadiri orang-orang yang masih percaya bahwa kata-kata bisa mengubah sesuatu.Cetakan pertama: lima ratus eksemplar.Habis dalam tiga minggu.Bukan karena viral. Bukan karena algoritma. Tapi karena seseorang di suatu kabupaten memfotonya dan mengunggahnya dengan keterangan: Buku ini membuat aku menangis di meja kerja dan tidak malu mengakuinya. Dan keterangan itu dibagikan oleh seorang pegawai loket di kabupaten lain. Dan dari loket ke loket, dari meja ke meja, buku itu menjadi inspirasi PNS.Pada peluncuran buku di Jakarta — sebuah acara kecil di toko buku independen di kawasan Kemang, kursi-kursi plastik yang penuh dengan orang-orang yang sebagian besar kami tidak kenal — seseorang dari barisan belakang mengangkat tangan.
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 164\"Apakah buku ini tentang birokrasi atau tentang cinta?\" tanyanya.Andini dan aku saling pandang. Sedetik. Dua detik.\"Keduanya,\" jawab Andini. \"Atau mungkin tidak ada bedanya.\"Ruangan itu tertawa. Aku tidak tertawa. Aku hanya memandang Andini dari sisi — profil wajahnya di bawah lampu sorot yang hangat, cara ia menjawab tanpa bersiap-siap, cara ia selalu tahu kapan sebuah kalimat sudah lengkap dan tidak perlu ditambahkan apa-apa lagi.Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadaku. Bukan perasaan baru. Perasaan lama yang selama delapan belas bulan sudah belajar sabar — seperti Sisifus yang mendorong batu ke atas bukit dan akhirnya menemukan makna dalam bebannya itu sendiri.Setelah acara selesai, kami berjalan keluar bersama. Jalan di luar sudah sepi. Lampu-lampu toko mulai padam satu per satu.\"Esai minggu depan tentang apa?\" tanyanya, seperti biasa, seperti tidak ada yang berubah.\"Tentang Neruda,\" jawabku. \"Tentang cara ia menulis cinta seperti sedang menulis geografi.\"Andini berhenti berjalan. Ia menatapku — bukan dengan cara yang biasa ia menatapku ketika sedang mendiskusikan buku. Dengan cara lain. Cara yang lebih tua dari kata-kata.Di atas kami, langit Jakarta tidak pernah benar-benar gelap — terlalu banyak cahaya yang naik ke atas, terlalu banyak kota yang menolak tidur. Tapi di antara kami, di celah kecil antara dua orang yang sudah terlalu lama berjalan di lorong yang sama — ada sesuatu yang akhirnya menjadi terang.Bukan karena kami mengatakannya dengan keras.Justru karena tidak perlu.Hujan turun lagi malam itu. Bukan untuk menyucikan. Bukan untuk mengingatkan.
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 165Kali ini, hanya untuk menemani.Cetakan kedua Sisifus di Loket 3 terbit enam bulan kemudian, dengan kata pengantar tambahan yang ditulis bersama-sama dalam satu malam di sebuah kota yang tidak perlu disebutkan namanya — kota yang cukup tahu diri untuk menjaga rahasia orang-orang yang baru saja menemukan bahwa beberapa hal paling penting tidak perlu diarsipkan.********************Lorong di Antara Rak-RakSK itu datang di hari Senin, di antara tumpukan surat masuk yang seperti biasa tidak ada yang membacanya sebelum dicap dan didistribusikan ke meja masing-masing. Amplop cokelat dengan kop resmi, logo garuda yang sudah sedikit pudar karena tinta stempel yang mulai mengering.Aku membukanya dengan cara yang sama seperti aku membuka semua surat dinas — tanpa antisipasi, dengan jari yang sudah terlatih melipat kertas dalam gerakan mekanis yang tidak memerlukan pikiran. Tapi kemudian aku membaca kalimat pertama. Lalu kalimat kedua. Lalu aku duduk.Memindahtugaskan saudara ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah.Aku baca tiga kali. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi yang kebetulan tercetak di atas kertas HVS 80 gram.Di kabupaten yang berbeda, Andini — aku tahu ini pasti — sedang membaca amplop yang sama. Aku menunggu. Tiga belas menit kemudian, pesannya masuk:\"SK-mu datang juga?\"\"Baru saja buka.\"\"Kita dimutasi ke tempat yang sama.\"Tiga titik. Lama sekali. Kemudian:
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 166\"Perpustakaan dan Arsip Daerah. Mereka menaruh kita di antara buku-buku.\"Aku memandang langit-langit ruanganku yang catnya sudah menguning. Ada sesuatu yang terasa seperti takdir — bukan takdir yang dramatis, bukan yang datang dengan petir dan orkestra, melainkan takdir yang datang dengan amplop cokelat dan nomor SK yang panjang, seperti memang sudah lama direncanakan oleh seseorang yang lebih sabar dari kita semua.Yang tidak kami ketahui — yang kami pelajari kemudian dari bisik-bisik koridor dan dari sekretaris kepala dinas yang akhirnya melepas senyum misterius setelah dua cangkir kopi —adalah bahwa SK itu adalah promosi.Kepala Badan — seorang pejabat senior yang diam-diam menyimpan koleksi puisi Chairil Anwar di laci meja kerjanya dan tidak pernah mengakuinya di hadapan staf — rupanya sudah membaca Sisifus di Loket 3 sejak cetakan pertama. Tidak hanya membacanya: ia menjadikannya bahan bacaan wajib dalam rapat koordinasi terakhir. Ia yang mengusulkan nama kami. Ia yang meyakinkan Pimpinan Provinsi bahwa perpustakaan daerah membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa sebuah buku bisa mengubah citra pelayanan publik\"Kalian bukan dipindah karena saling cinta,\" kata beliau ketika kami dipanggil menghadap, dua minggu sebelum tanggal efektif. \"Kalian dipindah karena menginspirasi. Dan perpustakaan butuh inspirasi lebih dari tempat mana pun.\"Hari pertama kami di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah adalah hari Senin yang hujan.Gedungnya tua — bangunan kolonial yang sudah direnovasi setengah hati beberapa kali sehingga bagian depannya modern tapi bagian dalamnya masih menyimpan langit-langit tinggi dan jendela-jendela besar yang kalau dibuka akan masuk angin beserta bau tanah dan kenangan. Rak-rak kayu yang tinggi memenuhi sebagian besar ruang dalamAndini tiba sepuluh menit setelah aku.
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 167Kami berdiri di depan pintu masuk, di bawah hujan yang tidak cukup deras untuk membuat kami basah tapi cukup konsisten untuk membuat kami tidak bergerak.\"Jadi ini tempat kita sekarang,\" katanya.\"Kelihatannya begitu.\"Ia menatap gedung itu — menatap jendela-jendela besar, plang kayu yang tulisannya sudah agak pudar, pot tanaman yang entah hidup entah mati di depan pintu.\"Kafka pernah menulis tentang kastil yang tidak bisa dijangkau,\" katanya akhirnya. \"Kita beruntung. Kastil kita bisa dimasuki.\"Aku tertawa. Aku selalu tertawa kalau Andini mengutip Kafka untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Kafka — dan ternyata selalu ada hubungannya.Bulan pertama kami habiskan dalam keadaan yang bisa digambarkan sebagai: kagum, kewalahan, dan jatuh cinta secara bergantian — dengan perpustakaan itu sendiri, maksudku, meski mungkin juga dengan hal lain.Koleksinya luar biasa dalam arti yang tidak selalu menyenangkan: ada ribuan judul, tapi separuhnya tidak pernah dipinjam. Ada katalog yang sudah diperbarui. Ada ruang arsip— bau kertas tua dan tinta yang mengering dan keputusan-keputusan lama yang disimpan dalam map plastik berwarna merah.Tapi ada juga hal-hal yang membuat kami berdiri terlalu lama di antara rak-rak, membiarkan jari-jari menelusuri punggung buku seperti membaca braille: edisi pertama Layar Terkembang yang kertasnya sudah seperti kulit tua tapi kata-katanya masih segar; satu seri ensiklopedia anak-anak dari tahun 1980-an yang ilustrasinya luar biasa; dan di sudut paling belakang, di balik rak yang harus digeser dengan kedua tangan, satu kotak kardus berisi manuskripmanuskrip yang tidak jelas milik siapa — tulisan tangan, beberapa di antaranya dalam aksara Lontara.\"Ini harta karun,\" bisik Andini ketika kami membuka kotak itu.
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 168Yang berubah di antara kami — dan aku menyadarinya perlahan, seperti menyadari bahwa musim sudah berganti bukan karena ada satu hari yang dramatis melainkan karena suatu pagi kamu tiba-tiba perlu sweater — adalah jarak.Bukan jarak yang bertambah. Sebaliknya.Selama delapan belas bulan kami menulis bersama dari dua kabupaten yang berbeda, jarak itu adalah sesuatu yang kami kelola dengan hati-hati — seperti api unggun yang dijaga agar tidak padam tapi juga tidak membakar semuanya. Sekarang kami berada di ruangan yang sama. Meja kami berjarak empat meter. Aku bisa mendengar suara ia membalik halaman. Ia bisa mendengar aku mengetik. Ketika ada pengunjung yang bertanya tentang sebuah buku, kadang kami menjawab dari dua sisi yang berbeda — suaraku dari kiri, suaranya dari kanan — dan pengunjung itu memandang kami dengan ekspresi yang sedikit bingung dan sedikit terhibur.\"Kalian kakak beradik?\" tanya seorang ibu suatu pagi, ibu yang datang mencari buku resep masakan tapi kemudian duduk satu jam membaca puisi karena Andini menyarankannya.\"Bukan,\" jawab Andini.\"Oh. Suami istri?\"Hening sebentar. Empat detik mungkin — cukup lama untuk terasa bermakna.\"Rekan kerja,\" jawabku.Ibu itu tersenyum dengan cara yang mengatakan bahwa ia tidak percaya, tapi cukup sopan untuk tidak mempermasalahkannya.Program pertama kami namanya Loket Baca — sebuah pojok di sudut perpustakaan yang kami tata seperti ruang tunggu, lengkap dengan kursi-kursi yang lebih nyaman dari kursi tunggu
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 169kantor pada umumnya, dan satu rak khusus berisi buku-buku yang kami pilih dengan tema: Apa yang tidak diajarkan orientasi ASN tapi perlu kamu tahu tentang melayani manusia.Tidak ada anggaran khusus. Kursinya bekas dari gudang. Raknya kami cat ulang sendiri pada hari Sabtu, dengan cat berwarna hijau tua yang Andini pilih karena katanya warna itu seperti warna daun yang baru selesai hujan.Buku-bukunya: Kafka tentu saja, lalu Pramoedya, lalu Chekhov Ward No. 6 yang kami pikir harus dibaca oleh setiap orang yang pernah duduk di balik meja dan melayani orang sakit —baik sakit fisik maupun sakit yang tidak ada kodenya di sistem. Lalu Bumi Manusia. Lalu beberapa buku lokal yang kami temukan di antara koleksi yang sudah berdebu.Minggu pertama, tidak ada yang datang. Minggu kedua, seorang pegawai muda dari kantor kecamatan datang membawa bekal makan siang dan membaca Ward No. 6 selama empat puluh menit sambil sesekali menghela napas panjang. Ia tidak meminjam bukunya. Tapi ia datang lagi minggu berikutnya.Minggu keempat, Loket Baca penuh. Bukan hanya pegawai pemerintah — ada ibu-ibu, ada siswa SMA yang katanya bosan di perpustakaan sekolah karena koleksinya tidak pernah diperbarui, ada seorang tukang ojek yang menunggu anaknya les dan memutuskan masuk daripada duduk di luar.\"Ini bukan yang kita rencanakan,\" kata Andini suatu sore, ketika kami membereskan kursikursi setelah pengunjung terakhir pulang.\"Tapi ini yang terjadi.\"\"Kamu tidak keberatan?\"Aku memandangnya — cahaya sore dari jendela besar jatuh miring di sisinya, di tumpukan buku yang ia pegang dengan kedua tangan, di ekspresi wajahnya yang tidak sering ia tunjukkan di tempat publik: lega, dan ringan, dan seperti seseorang yang baru menemukan bahwa rumah bisa berbentuk sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.\"Sama sekali tidak,\" kataku.Dan untuk pertama kalinya, aku tidak segera mengalihkan pandangan.
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 170Suatu malam — malam Jumat, setelah semua pengunjung pergi dan penjaga gedung belum datang mengunci — kami masih ada di perpustakaan. Andini sedang menyusun katalog manuskrip Lontara yang kami temukan. Aku sedang mengetik draf esai mingguan kami —tentang Borges dan perpustakaan sebagai simbol semesta yang tidak terbatas, tentang bagaimana perpustakaan Babel-nya terasa seperti deskripsi arsip daerah kami yang kacau dan indah sekaligus.Lampu besar sudah dimatikan. Hanya lampu meja yang menyala, dua titik cahaya hangat di antara rak-rak yang gelap dan tinggi.Andini membacakan sesuatu pelan — bukan untukku, tapi aku mendengarnya:\"Aku membayangkan bahwa perpustakaan adalah sebuah bola yang permukaan dalamnya adalah ruang sempurna, dan pusatnya bisa berada di mana saja — dan kelilingnya, tidak di mana-mana.\"\"Borges,\" kataku, tanpa menoleh dari layar.\"Borges,\" ia mengonfirmasi. \"Tapi juga ini.\" Ia mengetukkan meja pelan. \"Ini tempat ini.\"Aku menoleh. Ia sedang memandang langit-langit — langit-langit tinggi kolonial dengan ornamen plesteran yang sudah retak di beberapa sudut — dengan ekspresi yang sudah kukenal dengan baik: ekspresi seseorang yang sedang menemukan kalimat yang tepat untuk sesuatu yang belum berbentuk kata.\"Kamu bahagia di sini?\" tanyaku.Ia menurunkan pandangannya. Menatapku. Bukan menatap layar atau buku atau titik di antara kita yang biasanya ia tatap ketika sedang berpikir.Menatapku.\"Ya,\" katanya. Dan kemudian, lebih pelan: \"Bukan hanya karena perpustakaannya.\"
Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 171Lampu meja berdengung pelan. Di luar, angin bergerak di antara pohon-pohon. Sesekali ada suara kendaraan yang lewat, lalu sunyi lagi.Aku menutup laptop. Ia meletakkan manuskrip itu.Dan di antara rak-rak yang tinggi, di antara ribuan buku yang menyimpan ribuan suara manusia yang sudah pergi, ada dua orang yang akhirnya tidak lagi membutuhkan kata-kata untuk mengatakan apa yang sudah lama ingin mereka katakan — karena ada hal-hal yang lebih jujur dari tulisan, dan lebih tahan lama dari arsip mana pun: kehadiran seseorang yang berdiri tepat di sampingmu, dalam cahaya yang sama, membaca dunia dengan cara yang berbeda tapi menuju tempat yang sama.Esai minggu itu tidak selesai malam itu.Tapi tidak ada yang kehilangan apa-apa.Program Loket Baca kemudian memenangkan Penghargaan Inovasi Pelayanan Publik tingkat provinsi, kategori literasi. Dalam lembar formulir nominasi, di kolom \"nama inovator\", tertulis dua nama — seperti biasa, seperti memang selalu begitu dari awal. Dan di kolom \"keterangan tambahan\", dengan tulisan tangan yang sudah dikenal ratusan pembaca dari dua buku yang kami tulis bersama, Andini menambahkan satu kalimat kecil yang tidak diminta oleh formulir mana pun: ( Dikerjakan bersama, di perpustakaan. Sastra PNS Indonesia untuk memperkaya khazanah Sastra Dunia pada zaman disrupsi AI )
172
173Tetralogi Puisi : “Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta”Karya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaGenre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta ( 1 )Di sela tumpukan map cokelat dan aroma mesin fotokopi yang lelahLahir sebuah genre dari jemari yang terikat sumpah setiaBukan diketik oleh mesin pintar yang memanen data semestaTapi dirajut di atas kertas buram dengan tinta hitam yang nyataKala itu awan mendung regulasi belum berarak mendekatTak ada algoritma yang mencuri rima dan diksi yang memikatPenulisnya adalah abdi negara di balik meja-meja kayu tuaMenyusun laporan sebagai prosa dan puisi sebagai jeda duniaLariknya lahir sebelum Perpres AI mengetuk pintu birokrasiSaat keaslian adalah keringat yang menetes di atas meja abdiTak perlu takut pada revisi undang-undang yang membayangSebab hak cipta mereka adalah napas yang tak pernah lekangSastra ini adalah arsip hidup dari masa yang masih manusiawiDi mana setiap titik dan koma adalah pilihan hati yang murniBukan hasil olahan pola dari ribuan server di ujung negeriTapi warisan murni dari mereka yang mengabdi pada pertiwiKini genre itu berdiri sebagai monumen sunyi yang megahSaksi bisu saat kreativitas belum dipaksa menyerah pada prompt AILahir dari rahim birokrasi yang jujur tanpa campur tangan robotikSastra PNS yang abadi, sederhana, namun tetap terasa puitis dan epik..
174Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta ( 2 )Genre ini adalah monumen sebelum semua menjadi otomatis, Sebuah ode untuk mereka yang meniti karier dengan sabar. Di mana setiap kalimat tidak dibentuk secara statis, Melainkan tumbuh dari realita yang kadang hambar, namun tegar.Biarlah AI mengaku menguasai struktur dan tata bahasa, Biarlah undang-undang mengatur siapa pemilik karya. Namun, ruh sastra ini tetaplah milik kita—Para abdi negara yang menulis hidup di atas kertas doa, Jauh sebelum dunia dipenuhi bising suara mesin yang berpura-pura.Di meja kayu kantor pelayan bangsa, pena birokrat menari pelan, mencatat data dalam arsip, sebelum algoritma menyalin jejak pikiran.Sastra lahir dari ruang tunggu, dari kopi dingin yang tak sempat diteguk, dari surat edaran yang jadi puisi, dari cap basah yang berubah jadi mantra.PNS menulis bukan untuk panggung, melainkan untuk sunyi yang panjang, tentang negeri yang menunggu aturan, tentang hak cipta yang harus direvisi.
175Sebelum Perpres AI mengetuk pintu, sastra birokrat sudah bernafas, menyulam harapan di balik tanda tangan.Kini, genre itu berdiri sendiri, tak tunduk pada mesin, tak lekang oleh pasal baru, ia adalah suara manusia, lahir dari tinta, dan tetap hidup dalam sejarah.Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta ( 3 )Di antara map cokelat dan stempel yang letih,lahir kata-kata dari meja kayu yang patuh waktu,disusun bukan untuk riuh,melainkan untuk abadi dalam sunyi arsip negara.Kami menulis sebelum mesin belajar bermimpi,sebelum algoritma mengenal rindu,ketika tinta masih percayabahwa setiap kalimat punya ibu: pengalaman.Di ruang ber-AC yang bersuara pelan,puisi tumbuh di sela notulensi rapat,di antara tanda tangan yang berulang,dan kopi yang dingin sebelum sempat selesai.Kami bukan penyair yang dikejar tepuk tangan,melainkan penjaga diksi yang tertib,yang tahu batas antara imajinasi dan regulasi,antara metafora dan pasal.Lalu dunia berubah—lahir peraturan bagi kecerdasan yang tak punya tubuh,
176hak cipta direvisi,tapi kata tidak bisa dipagari lebih rapat dari hati manusia.Dan kami,yang lahir sebelum itu semua,memandang naskah-naskah lama dengan bangga:masih memantulkan wajah,meski zaman tak lagi sama.Apakah puisi kami akan dibaca mesin?Ataukah ia akan tetap berdiamdi lemari besi bernomor inventaris?Yang kami tahu hanya ini:bahwa pernah ada masaketika menulis adalah cara paling manusiauntuk tetap merasa hidupdi dalam sistem yang tak pernah tidur.Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta ( 4 )Lembar demi lembar kertas cinta menjadi saksi,tentang narasi yang lahir dari sela-sela birokrasi,sebelum algoritma datang mencuri napas,sebelum kecerdasan buatan menyusun diksi yang kaku.Aduhai tinta basah dan peluh yang membekas,Kami mengambil celah sebelum senja tiba,sebelum kecerdasan buatan punya identitas,sebelum regulasi hukum datang memberi batas,dan revisi undang-undang mengubah status yang tegas.
177Di tengah hiruk-pikuk zaman yang berlari,Sastra PNS lahir, menanti untuk bersinar,Sebelum Perpres AI mengubah wajah digitalisasi,Sebelum UU Hak Cipta direvisi, mengatur langkah.Karya karya Ferizal, Bapak Sastra PNS Indonesia,Menggugah jiwa, menembus batas waktu,Dengan pena yang tak pernah lelah,Mengukir cerita, menyalakan harapan baru.Dalam setiap bait, terukir kisah,Tentang pengabdian, cinta, dan rasa,Sastra bukan sekadar kata,Tapi jembatan antara hati dan jiwa.Di ruang pelayanan, suara bergetar,Menghadirkan empati, menghapus duka,Sastra PNS, suara rakyat,Menyuarakan harapan, menuntut keadilan.Sebelum teknologi merajai dunia,Sebelum hak cipta menjadi teka-teki,Karya ini lahir dari pengalaman,Menjadi saksi bisu perjalanan bangsa.Mari kita jaga, warisan ini,Sastra PNS, cahaya cemerlang mengusir gelap,Menjadi inspirasi, bagi generasi,Menghadapi tantangan, dengan penuh semangat.Dengan pena dan hati, kita terus berkarya,Membangun masa depan, penuh makna,Genre sastra ini, takkan pernah pudar,Karena di dalamnya, ada jiwa yang bergetar.
178 .
179C E R P E N S A S T R A I N D O N E S I A · 2 0 2 6Genre Sastra PNS IndonesiaLahir Sebelum Perpres AIdan Revisi UU Hak Cipta— ✦ —sebuah fiksi tentang revisi yang belum diundangkanI. P NS P ECINT A SAST RAPada sebuah pagi yang berbau toner dan kopi instan sachet tiga-dalam-satu, Bapak Sutrisno Hadiprayitno, S.Sos., M.AP., duduk di kursi jati yang sudah cekung di tengahnya, menghadapi layar komputer yang masih menampilkan desktop Windows 7. Di sudut kiri layar, jam digital berkedip: 07.58. Dua menit lagi absen finger print. Ia tidak terburu-buru. Ia tidak pernah terburuburu.Di atas mejanya, di antara stempel yang mulai mengering dan penggaris besi yang dingin, terdapat sebuah naskah. Dua ratus empat puluh tiga halaman. Diketik dengan Times New Roman 12, spasi ganda, margin 4-3-3-3 sesuai pedoman penulisan dinas. Judulnya: Lelaki yang Memphotocopy Hidupnya.Sutrisno adalah penulis. Atau pernah. Atau sedang. Ia sendiri tidak yakin dengan tensisnya.Naskah itu ia tulis selama sebelas tahun, disela-sela jam makan siang, di toilet kantor lantai tiga, dan pada malam-malam ketika istrinya sudah tidur dan anak bungsunya sudah selesai les bahasa Inggris daring. Ia menulis dengan tangan terlebih dahulu—di buku tulis Sinar Dunia bergaris—kemudian memindahkannya ke komputer rumah yang masih memakai harddisk eksternal bermerk Toshiba 500GB.Novel itu bukan tentang korupsi. Bukan tentang reformasi birokrasi. Bukan tentang cinta terlarang antara pegawai eselon II dan staf honorer. Novel itu tentang seorang lelaki yang setiap hari mem-photocopy dokumen dan perlahan-lahan menyadari bahwa hidupnya pun adalah salinan dari salinan dari salinan.Sebuah alegori. Sutrisno suka kata itu. Alegori. Ia pelajari dari Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, edisi kelima, yang bisa ia akses meski situs-situs lain diblokir jaringan kantor.II. KARYA ASL I MANUSIAMasalah datang pada hari ketika Sutrisno memutuskan untuk mengirimkan naskahnya ke sebuah platform penerbitan digital. Rekan kerjanya, Mbak Dewi—yang mengurus bagian kepegawaian dan selalu tahu segalanya sebelum segalanya terjadi—berbisik di dekat mesin air minum:
180\"Pak Sutrisno, Bapak dengar tidak? Katanya sekarang ada AI yang bisa nulis novel dalam tiga menit.\"Sutrisno menatap gelembung dalam galon air. Ia hitung: tiga puluh delapan gelembung naik dalam satu menit. Ia butuh sebelas tahun untuk menulis novelnya. AI butuh tiga menit. Ia tidak tahu apakah ini kabar baik atau kabar buruk, sebab di instansinya, segala sesuatu yang tidak bisa langsung dikelompokkan ke dalam Kabar Baik atau Kabar Buruk akan masuk ke dalam kategori ketiga: Menunggu Petunjuk Lebih Lanjut.Tapi yang membuat Sutrisno mual bukan soal kecepatan. Yang membuat ia gelisah adalah pertanyaan yang lebih dalam: jika sebuah mesin bisa menulis, siapakah yang memegang hak cipta atas tulisan itu? Siapakah penciptanya? Dan yang lebih penting bagi Sutrisno—sebab ia adalah PNS yang telah hafal Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta sampai ke penjelasannya—siapakah yang berhak atas royalti?Di Indonesia tahun itu, belum ada Peraturan Presiden tentang Kecerdasan Buatan. Belum ada revisi Undang-Undang Hak Cipta yang mengakomodasi karya yang diciptakan oleh, dengan bantuan, atau atas nama sistem non-manusia. Yang ada hanya—seperti biasa—ruang abu-abu yang luas, dan semangat untuk berdiskusi di media sosial tanpa kesimpulan.Sutrisno membuka laptopnya. Ia ketik di mesin pencari: apakah AI bisa memiliki hak cipta Indonesia. Hasilnya: sembilan ratus tujuh puluh ribu tautan. Ia klik yang pertama. Sebuah artikel blog dari seseorang dengan nama samaran PakHukumKita yang menulis dengan semangat tinggi namun tanpa catatan kaki.Ia tutup laptopnya.III. T ERSAINGI AI ?Yang benar-benar mengusik Sutrisno bukan takut tersaingi AI. Ia sudah tersaingi banyak hal sepanjang hidupnya—tersaingi rekan yang lebih pandai menjilat, tersaingi adiknya yangmerantau ke luar negeri, tersaingi kenangan masa muda yang ia sendiri tidak sepenuhnya yakin pernah ada.Yang mengusik adalah ini: ia curiga novelnya sendiri sudah dimasukkan oleh seseorang ke dalam dataset pelatihan AI tanpa izin, tanpa pemberitahuan, tanpa sepeser royalti. Naskah itu pernah ia unggah ke sebuah platform cerpen daring delapan tahun silam—platform yang kini sudah mati dan berganti nama dua kali—dan ia tidak pernah menghapusnya.
181\"Jadi mungkin saja AI itu belajar dari tulisan saya,\" katanya kepada Mbak Dewi, suatu siang. \"Dan kemudian menghasilkan tulisan baru yang serupa. Dan orang membeli tulisan itu. Dan saya tidak dapat apa-apa.\"\"Lha, terus gimana, Pak?\"\"Belum tahu. Belum ada aturannya.\"\"Kapan ada aturannya?\"Sutrisno mengangkat bahu. Ini bahasa universal PNS: bahasa yang berarti Menunggu Petunjuk Lebih Lanjut, atau Sudah Ada Draftnya tapi Masih di Meja Pak Direktur, atau Tergantung Siapa yang Jadi Menteri Selanjutnya.Malam itu, Sutrisno duduk lagi di depan naskahnya. Dua ratus empat puluh tiga halaman. Ia baca ulang dari halaman pertama. Kalimat pembukaannya:\"Mesin photocopy itu tidak pernah bertanya untuk apa dokumen ini digandakan. Ia hanya menggandakan.\"Sutrisno tersenyum pahit. Ia tulis kalimat itu sebelas tahun lalu, tentang mesin photocopy. Tapi sekarang kalimat itu terasa seperti nubuatan tentang sesuatu yang lain. Tentang mesin yang lebih canggih. Tentang kata-kata yang digandakan tanpa bertanya.Apakah ia marah? Ia tidak yakin. Sebagai PNS, emosinya sudah terlatih untuk melalui jalur prosedural: rasa tidak enak hati → laporan ke atasan → disposisi → surat ke bagian terkait →rapat koordinasi → notulensi → tindak lanjut yang tidak jelas kapan. Marah pun membutuhkan birokrasi.IV. KEDAL AMAN KARYASutrisno akhirnya mengirimkan naskahnya. Bukan ke penerbit digital. Ia kirimkan ke sebuah penerbit konvensional, yang masih menggunakan amplop coklat dan materai tempel, yang masih meminta sinopsis tiga halaman dan biografi penulis dengan foto terbaru berlatar belakang polos.Proses seleksinya memakan waktu delapan bulan. Dalam delapan bulan itu, ia mendengar bahwa beberapa penulis ramai memprotes platform AI yang menggunakan karya mereka sebagai data latih. Ia mendengar bahwa di negara-negara lain, hakim-hakim mulai memutuskan perkara pertama tentang hak cipta dan kecerdasan buatan. Ia mendengar bahwa ada draft Perpres AI yang beredar, tapi belum ditandatangani.Di Indonesia, beredar tapi belum ditandatangani adalah kondisi menunggu dari segala sesuatu.
182Surat penerimaan datang pada pagi yang berbau toner dan kopi instan yang sama. Penerbit menerima naskahnya. Mereka menulis: \"Karya Bapak memiliki kedalaman yang langka dalam prosa Indonesia kontemporer. Kami yakin pembaca akan menemukan diri mereka di dalamnya.\"Sutrisno membaca surat itu tiga kali. Kemudian ia lipat dan masukkan ke laci meja. Kemudian ia buka lagi dan baca sekali lagi.Kemudian ia pergi ke mesin photocopy di ujung lorong, menggandakan surat itu dua lembar—satu untuk arsip pribadi, satu untuk dilaminating—dan kembali ke kursinya yang cekung.Mesin photocopy itu tidak bertanya untuk apa surat ini digandakan. Ia hanya menggandakan.Tapi Sutrisno tahu untuk apa. Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, itu sudah cukup.V. P AK DARMAWANDi sebuah kantor pemerintahan yang sunyi, Pak Darmawan duduk di balik meja kayu tua. Ia seorang PNS yang lahir jauh sebelum kata Artificial Intelligence menjadi jargon populer, sebelum Perpres tentang AI disahkan, bahkan sebelum revisi UU Hak Cipta menyalakan perdebatan panjang di ruang-ruang akademik.Pak Darmawan bukan sekadar pegawai negeri. Ia menulis cerpen, puisi, dan catatan harian tentang kehidupan birokrasi. Baginya, setiap berkas yang menumpuk adalah metafora tentang nasib manusia: menunggu tanda tangan, menunggu stempel, menunggu pengakuan.Pak Darmawan bukan PNS biasa; dia adalah seorang penulis sastra kelas berat—sebuah hal yang jarang ditemui di kalangan pegawai negeri. Pak Darmawan menghabiskan malam-malam panjangnya di bawah lampu temaram rumah dinasnya. Kertas-kertas berserakan, tinta pena memenuhi jemarinya. Dia menulis cerita-cerita yang terinspirasi dari tumpukan dokumen usang di kantornya—dokumen-dokumen yang sering dianggap tak berguna oleh rekan-rekannya. Dalam arsip-arsip itu, ia menemukan kisah-kisah kuno tentang perjuangan, cinta, dan pengkhianatan, yang kemudian ia sulap menjadi cerpen dan puisi penuh makna.Suatu sore, ia menulis: \"Sastra PNS adalah genre yang lahir dari antrean panjang, dari tinta yang kering di mesin ketik, dari kopi pahit yang diseduh di ruang arsip.\"Melawan AI dengan Sastra Asli ManusiaPak Darmawan mulai menulis cerpen-cerpen yang menggambarkan dunia di mana manusia kalah oleh ciptaan mereka sendiri.
183Salah satu karyanya yang paling terkenal berjudul \"Arsip Terakhir\", sebuah cerita tentang seorang pria tua yang menjaga dokumen-dokumen bersejarah di sebuah perpustakaan yang hendak dimusnahkan karena dianggap sudah tak relevan. Dalam cerita itu, pria tua tersebut menemukan bahwa dokumen-dokumen itu menyimpan rahasia besar tentang sejarah bangsa, yang jika dilupakan, akan membawa kehancuran. Cerita ini adalah metafora dari perlawanan Pak Darmawan terhadap dominasi teknologi. Cerpen-cerpen Pak Darmawan dengan cepat menjadi viral di kalangan pembaca sastra di media sosial.Orang-orang mulai menyadari pesan yang ia sampaikan: manusia harus tetap menjadi pusat dari segala hal, termasuk dalam dunia kreatif. Beberapa rekan kerjanya, mulai mendukung perjuangannya. Mereka bahkan membentuk klub sastra kecil di kantor, di mana mereka membaca dan membahas karya-karya Pak Darmawan setiap minggu.Namun, perjuangan Pak Darmawan tidak berhenti di sana. Ia memutuskan untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya: menulis novel panjang yang akan menjadi \"perlawanan terakhirnya\" terhadap AI. Novel itu berjudul \"Manusia di Tengah Mesin\", sebuah kisah epik tentang seorang pegawai negeri yang mencoba menyelamatkan warisan budaya bangsanya dari kehancuran di tangan teknologi.Namun, dunia berubah. Anak-anak muda mulai berbicara tentang hak cipta digital, tentang algoritma yang bisa menulis puisi lebih cepat daripada manusia. Pak Darmawan merasa seakan-akan karyanya terancam tenggelam. Ia bertanya dalam hati: apakah cerpen tentang pegawai negeri masih punya tempat di era AI?Di ruang kerjanya, ia menatap jendela. Di luar, pepohonan bergoyang, seolah mengingatkan bahwa sastra tidak pernah mati. Sastra lahir dari manusia, dari rasa lelah, dari harapan kecil yang diselipkan di antara tumpukan berkas.Pak Darmawan menutup bukunya dengan senyum tipis. Ia tahu, meski Perpres AI akan mengatur mesin, dan revisi UU Hak Cipta akan mengatur kepemilikan ide, sastra PNS tetap hidup. Ia adalah saksi zaman: genre yang lahir dari birokrasi, tumbuh dari kantor, dan bertahan sebagai suara manusia di tengah riuh teknologiSatu hal yang tidak bisa mereka gantikan adalah perasaan, pengalaman, dan jiwa yang kita tuangkan dalam setiap kata. Sastra bukan hanya soal tulisan, tapi juga soal hati.\"Dan dengan itu, Pak Darmawanmenutup bukunya, menyalakan segelas kopi, dan menyambut malam dengan senyuman.VI.KISAH FERIZ AL
184Di sebuah kota kecil di Indonesia, terdapat seorang pegawai negeri sipil (PNS) bernama Ferizal. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak hanya berdedikasi dalam pekerjaannya, tetapi juga memiliki kecintaan yang mendalam terhadap sastra. Ferizal percaya bahwa sastra adalah jembatan untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada masyarakat, terutama dalam bidang kesehatan.Awal Mula Kecintaan Terhadap SastraSejak kecil, Ferizal sudah terpapar dengan berbagai karya sastra. Ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan, membaca novel-novel klasik dan puisi-puisi indah. Kecintaannya ini semakin berkembang ketika ia mulai bekerja di Puskesmas Muara Satu. Di sana, ia melihat banyak tantangan yang dihadapi masyarakat, terutama dalam hal kesehatan. Ferizal pun bertekad untuk menggunakan sastra sebagai alat untuk mendidik dan menginspirasi masyarakat.Menciptakan Genre Sastra PNSFerizal mulai menulis cerita pendek dan novel yang mengangkat tema kesehatan. Ia menciptakan genre sastra baru yang dikenal sebagai \"Sastra PNS\". Dalam karyanya, ia menggabungkan elemen-elemen fiksi dengan informasi kesehatan yang akurat. Misalnya, dalam salah satu novelnya, ia menceritakan kisah seorang dokter yang berjuang melawan penyakit menular di desanya. Melalui cerita tersebut, Ferizal tidak hanya menghibur pembaca, tetapi juga memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan.Tantangan dan PerubahanNamun, perjalanan Ferizal tidaklah mudah. Ia menghadapi berbagai tantangan, terutama ketika isu Peraturan Presiden (Perpres) tentang kecerdasan buatan (AI). Banyak orang mulai meragukan relevansi sastra di era digital ini. Ferizal merasa bahwa sastra tetap memiliki tempat yang penting, bahkan di tengah kemajuan teknologi. Ia berusaha meyakinkan rekan-rekannya bahwa sastra dapat beradaptasi dan bahkan berkolaborasi dengan teknologi.Revisi UU Hak Cipta dan Perlindungan KaryaDi tengah perdebatan tentang AI dan hak cipta, Ferizal juga aktif dalam memperjuangkan perlindungan karya sastra. Ia menyadari bahwa banyak penulis yang khawatir akan plagiarisme dan penggunaan karya mereka tanpa izin. Ferizal berpartisipasi dalam diskusi mengenai revisi Undang-Undang Hak Cipta, berupaya untuk memastikan bahwa hak-hak penulis dilindungi dengan baik. Ia percaya bahwa perlindungan ini akan mendorong lebih banyak orang untuk menulis dan berbagi karya mereka.Menuju Indonesia Emas 2045
185Dengan semangat yang tak pernah padam, Ferizal terus berkarya. Ia berharap bahwa melalui sastra, ia dapat berkontribusi pada visi Indonesia Emas 2045. Ia ingin generasi mendatang tidak hanya mengenal sastra sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat untuk membangun kesadaran dan pengetahuan. Ferizal percaya bahwa sastra PNS yang ia ciptakan akan menjadi bagian dari warisan budaya yang berharga bagi bangsa.PenutupCerita Ferizal adalah contoh nyata bagaimana seorang PNS dapat berperan aktif dalam dunia sastra. Ia menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan dari perkembangan teknologi dan perubahan regulasi, semangat untuk berkarya dan berbagi pengetahuan tidak akan pernah pudar. Dengan dedikasi dan kreativitas, Ferizal telah menciptakan genre sastra yang tidak hanya relevan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.— T a m a t —
186Puisi : PNS Pelayan Publik ( 1 )Karya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaSumpah diucap di bawah kitab suci, Menjadi benteng dari godaan yang memikat diri, Sebab pengabdian tak diukur dari angka di slip gaji, Tapi dari seberapa tulus janji ditepati.Di bawah naungan sumpah yang sakral dan abadi,Kau berdiri tegak, memeluk amanah di relung hati.Bukan kilau singgasana atau pundi yang kau cari,Hanya panggilan suci untuk berbakti pada negeri.Di bawah panji korps yang tersemat rapi,Langkahmu berderu mengawali hari.Bukan sekadar seragam yang melekat di sanubari,Tapi janji setia untuk nusa, bangsa dan negeri.Kau adalah jembatan di tengah birokrasi,Menyambut keluh dengan senyum yang tulus hati.Lembar demi lembar berkas kau teliti,Memastikan hak rakyat terpenuhi dengan pasti.Tanpa harus menunggu sanjungan dan puji,Dari hiruk-pikuk kota hingga desa sunyi,,PNS, pelayan yang tak kenal lelah mengabdi,Integritasmu adalah kompas yang hakiki. PNS, pelayan bagi negeri,mengabdi tanpa banyak janji.Dalam diam kami bekerja pasti,demi masyarakat, demi Indonesia yang berarti.
187Karena menjadi pelayan publik sejati,bukan sekadar tugas yang harus dijalani,melainkan panggilan hati—untuk melayani dengan sepenuh diri.Dengan akuntabilitas, kompetensi, Menjawab pertanyaan, memberi solusi, Engkau adalah jembatan aspirasi, Penyambung lidah antara rakyat dan negeri.Engkau pelita di rimbunnya belantara birokrasi,Menjemput keluh kesah dengan lapang hati.Lembar demi lembar kau telusuri dengan teliti,Demi memastikan hak rakyat tegak berdiri.Di tengah badai, kau tetap berdiri,Menjaga integritas, melayani sepenuh hati,PNS, pelayan publik yang sejati,Mewujudkan cita, demi bangsa dan negeri.Di antara keluh rakyat yang datang silih berganti,Kau hadirkan senyum, memanusiakan hati yang menanti. Kompetensi adalah senjatamu, akuntabilitas adalah perisai,Menyulap air mata publik menjadi wujud hak yang pasti.Di ambang sumpah, di bawah saksi langit yang tinggi,Kau tanggalkan ego, kau balut diri dengan janji, Dalam sunyi kau bekerja, dalam hening kau mengabdi,Hingga Indonesia berjaya, abadi di sanubari
188PNS, pelayan publik sejati, Bukan mencari pujian diri, Tapi menyalakan harapan abadi, Mengabdi demi negeri ini, Puisi : PNS Pelayan Publik ( 2 )Karya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaSumpah terucap di hadapan Sang Pencipta, Menjadi tameng dari godaan fana yang nyata, Sebab bakti bukan soal harta dalam berita, Tapi tentang tulusnya janji yang tetap terjaga.Di balik seragam yang rapi penuh wibawa, Langkahmu tegap membawa harapan bangsa, Bukan sekadar lencana yang menghias dada, Tapi sumpah setia untuk seluruh tumpah darah Indonesia.Engkaulah jembatan bagi rintihan warga, Menyambut keluh kesah dengan jiwa terbuka, Lembar demi lembar berkas diperiksa saksama, Memastikan hak rakyat tersampaikan tanpa cela.Tanpa perlu haus akan sanjung dan karsa, Dari kota yang ramai hingga pelosok desa, PNS bekerja, tak kenal lelah maupun masa, Integritas adalah kompas dalam meniti cakrawala.
189PNS adalah pelayan bagi seluruh sesama, Mengabdi tanpa perlu banyak bicara, Dalam senyap kami bekerja dengan rida, Demi masyarakat, demi kejayaan nusantara.Karena menjadi pelayan publik yang utama, Bukan sekadar rutinitas tugas yang biasa, Melainkan panggilan hati yang penuh cinta, Untuk melayani dengan jiwa dan raga.Dengan akuntabilitas dan kompetensi yang nyata, Memberi jawaban atas segala tanya, Engkaulah penyambung lidah para jelata, Menyatukan cita antara rakyat dan negara.Di tengah badai kau teguh menjaga etika, Memegang kejujuran, melayani penuh setia, PNS, pelayan publik yang penuh makna, Mewujudkan mimpi demi bangsa yang merdeka.Menjembatani harapan rakyat dengan cita-cita,Detak pengabdian yang mengalir dalam sukma, Bukan demi mengejar kemasyhuran fatamorgana, Mengabdi tulus untuk kemajuan negara.
190Puisi : PNS Pelayan Publik ( 3 )Karya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaSumpah terucap di bawah cahaya,Kitab suci jadi saksi setia,Menjadi benteng dari goda dunia,Sebab pengabdian lahir dari jiwa.Bukan diukur dari angka semata,Yang tertera rapi di slip kerja,Namun dari janji yang dijaga,Dan langkah lurus penuh makna.Di bawah panji yang kau bawa,Langkah pasti mengawali masa,Bukan sekadar seragam di raga,Namun tekad untuk bangsa dan negara.Kau jembatan harapan mereka,Yang datang dengan keluh dan rasa,Senyum tulus jadi bahasa,Menguatkan hati yang terluka.Lembar berkas kau baca seksama,Tak lelah walau waktu terbatas saja,Demi hak rakyat yang seharusnya,Terpenuhi dengan adil merata.Tanpa menanti pujian fana,Dari kota hingga desa sunyi adanya,Engkau hadir membawa cahaya,Mengabdi tanpa pamrih jiwa.
191PNS, pelayan bangsa tercinta,Integritasmu arah utama,Dalam diam bekerja nyata,Demi Indonesia yang bermakna.Menjadi pelayan bukan sekadar peran saja,Namun panggilan hati yang menyala,Untuk memberi sepenuh rasa,Dan mengabdi tanpa batas daya.Dengan kompetensi dan tanggung jawab nyata,Menjawab tanya dan beri asa,Kau sambung suara rakyat jelata,Menjadi lidah bagi negara.Tersenyum tulus meski penat merajam raga,Itulah sejatinya jiwa, pelayan bagi nusa.Kau rajut fondasi bangsa dengan jemari penuh cinta,Menggenggam janji yang lebih berharga dari permata.Di tengah badai yang menerpa,Kau tetap tegak tanpa goyah,Menjaga nilai dan etika,Melayani dengan jiwa mulia.Di tengah badai, kau tetap kokoh berwibawa,Menyalakan lilin harapan di setiap tatap mata.Sebab bagimu, pelayanan adalah muara segalanya,Demi Indonesia jaya, kini dan selamanya.Bukan untuk memburu bayang-bayang benda yang fana,Namun menjadi detak bagi nadi nusa yang sedang membina,
192Di balik meja yang dingin dan tumpukan aksara,Ada tanganmu yang hangat, melunaskan dahaga saudara.PNS, pelayan publik sejati adanya,Mengabdi tulus sepanjang masa,Bukan untuk pujian manusia,Namun menyalakan harapan bangsa.KATA KATA MUTIARA BIJAK FERIZAL BAPAK SASTRA PNS INDONESIA :\"Kesuksesan sejati seorang abdi negara bukan saat ia naik jabatan, melainkan saat masyarakat tersenyum karena urusannya selesai tanpa beban.\"\"Seragam ini bukan pemberian, melainkan pinjaman dari rakyat. Jangan kembalikan dalam keadaan ternoda oleh kepentingan pribadi.\"
193Cerpen : PNS Garda Terdepan Pelayanan, Demi Pengabdian dan PatriotismeKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaMatahari belum sepenuhnya bangun di ufuk timur desa, namun Bidan Hesti sudah berdiri di dermaga kayu yang mulai lapuk dimakan usia dan garam. Seragam putihnya tersetrika rapi, kontras dengan latar belakang langit subuh yang masih menyisakan sisa-sisa jelaga malam. Di dadanya, sebuah pin kecil bertuliskan Korps Pegawai Republik Indonesia berkilat tertimpa cahaya lampu minyak dari bagang nelayan di kejauhan.Bidan Hesti adalah seorang Abdi Negara. \"Bidan desa kami sudah setahun lebih kosong,. Ibu Yuni pindah ke kota waktu suaminya dapat kerja di pabrik. Sejak itu, kalau ada ibu yang mau melahirkan, harus dibawa pakai motor ke kota. Sudah ada dua kali hampir celaka di jalan.\" kata Kepala Puskesmas setelah koordinasi dengan Dinas KesehatanBagi Bidan Hesti, di pulau terluar ini, menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah tentang menjadi napas terakhir dari kehadiran negara bagi rakyatnya.Bidan Hesti menatap Kepala Puskesmas sebentar.\"Pak, saya punya satu prinsip yang saya pegang sejak pertama kali masuk PNS. Orang yang paling butuh pelayanan negara itu justru yang paling susah dijangkau. Kalau kita pilih yang mudah-mudah saja, berarti kita mengabdi pada kenyamanan kita sendiri, bukan pada negara. Ini soal pemberdayaan masyarakat yang berkaitan langsung dengan kesehatan dasar.\"Kepala Puskesmas tidak menjawab. Tapi ada sesuatu yang berkilat di sudut matanya—campuran antara harapan dan rasa syukur yang tidak sempat terucap.\"Pagi, Bidan Hesti. Mau menyeberang sekarang?\" sapa Pak Tua, seorang nelayan yang perahunya sering disewa untuk keperluan puskesmas pembantu.
194\"Iya, Pak. Jadwal imunisasi di pemukiman warga kampung sana tidak bisa menunggu. Kabarnya ada balita yang mulai demam,\" jawab Bidan Hesti sambil menata kotak pendingin berisi vaksin ke dalam perahu.Perjalanan itu bukan sekadar membelah ombak. Itu adalah perjalanan menembus batas kesabaran. Selama tiga jam, Bidan Hesti dihantam ombak yang sesekali masuk ke dalam perahu, membasahi sepatunya yang disemir mengkilap setiap pagi. Di tas punggungnya, tersimpan bukan hanya peralatan medis dan dokumen kependudukan warga yang harus dibantu validasi, tetapi juga harapan-harapan masyarakat.Sesampainya di pemukiman terapung, Bidan Hesti disambut oleh wajah-wajah yang penuh harap sekaligus rindu. Sebagai seorang tenaga kesehatan sekaligus penyambung lidah negara, Bidan Hesti harus berperan ganda. Ia bukan hanya membantu persalinan, tapi juga meyakinkan para orang tua bahwa setetes vaksin adalah bentuk patriotisme modern—menjaga generasi penerus agar tidak cacat oleh zaman.************\"Kenapa Ibu jauh-jauh ke sini? Di kota bukannya lebih enak?\" tanya seorang ibu di desa saat Bidan Hesti sedang duduk di teras rumah panggung, mengisi catatan kesehatan warga di bawah temaram lampu petromaks.Bidan Hesti tersenyum, menyeka keringat di dahi dengan sapu tangan. \"Kalau semua orang memilih yang enak, siapa yang akan berdiri di depan pintu rumah kalian saat negara ingin menyapa? Seragam ini bukan baju kerja, ini adalah janji. Setiap kancingnya adalah tanggung jawab. Saya memilih penempatan di pelosok bukan karena tidak ada pilihan lain, melainkan karena di sini saya benar-benar dibutuhkan.\"\"Saya tidak tahu apakah saya sudah mengabdi dengan baik,\" katanya akhirnya, suaranya sedikit bergetarIa berhenti sebentar.
195\"Panji pertiwi ini—\" ia menoleh sebentar ke bendera merah putih yang berkibar di tiang, \"—bukan milik kita. Kita hanya diberi kepercayaan untuk menjaganya. Saya harap temanteman semua terus menjaganya dengan baik. Lebih baik dari yang sudah saya lakukan.\"Malam itu, Bidan Hesti terlambat pulang. Di atas tikar pandan bersama warga, mendengarkan keluh kesah tentang akses air bersih yang sulit dan gizi anak-anak yang paspasan. Baginya, inilah garda terdepan. Bukan di medan perang dengan senapan, melainkan di garis kesehatan dengan jarum suntik, pena, dan empati.Patriotisme bagi Bidan Hesti tidak lagi tentang teriakan merdeka di podium-podium megah. Patriotisme adalah saat ia berhasil membujuk seorang ibu untuk menyekolahkan anaknya, atau saat ia memastikan bantuan kesehatan sampai ke tangan yang benar tanpa kurang satu butir pun. Ia sadar, sebagai PNS, ia adalah wajah pertama yang dilihat rakyat ketika mereka bertanya, \"Di mana negara saat kami susah?\"Ketika ia kembali ke dermaga utama keesokan harinya, tubuhnya lelah, kulitnya makin legam terbakar matahari laut. Namun, saat ia melihat bendera Merah Putih berkibar di halaman kantor kecamatan yang mungil, dadanya berdesir. Ia merapikan kerah seragamnya, berdiri tegak sejenak, dan memberikan hormat dalam diam.Ia bukan sekadar pegawai. Ia adalah penjaga nyala api kebangsaan di beranda paling depan republik ini. Demi pengabdian yang tak menuntut puji, dan patriotisme yang mengalir sunyi dalam setiap tindakan medis dan langkah kakinya di atas tanah berbatu. Di sana, di antara deburan ombak dan keterbatasan, Bidan Hesti bangga menjadi bagian dari tulang punggung bangsa yang tak terlihat, namun selalu ada.Pengabdian itu seperti pohon kelapa, Akarnya dalam di tanah air, buahnya untuk rakyat.Pengabdian bukan drama yang perlu penonton. Ia adalah pekerjaan yang dilakukan dalam sunyi, dalam lorong-lorong yang beraroma kertas tua dan tinta pena, dalam perjalananperjalanan yang tidak ada di buku harian siapa pun kecuali buku harian si pengabdi sendiri.Negerinya masih di sini. Masih sama cantiknya.Itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup.
196********Matahari baru saja memanjat pucuk-pucuk pohon angsana ketika Bidan Hesti sudah berdiri tegak di depan cermin tua yang permukaannya mulai buram. Hari ini ada kunjungan dari pusat ke desa terpencil di seberang sungai.Bidan Hesti adalah seorang Pengawai Negeri Sipil di Puskesmas yang letaknya berada di garis \"pinggiran\". Jauh dari gemerlap ibu kota, jauh dari kemudahan fasilitas digital yang sering didengung-angungkan di televisi. Di sini, pelayanan publik adalah kerja otot sekaligus kerja hati.Perjalanan Menuju Garis DepanBidan Hesti mendapati sungai yang harus diseberanginya meluap. Jembatan gantung kecil bergoyang hebat tertiup angin. Seorang warga menyarankan untuk menginap saja di desa. Tetapi Bidan Hesti harus menolong persalinan. Menjadi PNS adalah tentang menjadi garda terdepan yang menjaga denyut nadi kehidupan masyarakat. Ini adalah tentang patriotisme modernPerjalanan menuju Desa Sejahtera—nama yang ironis mengingat aksesnya yang sulit—membutuhkan waktu tiga jam. Patriotisme bukan lagi soal angkat senjata di medan lagaAlmarhum ayahnya, yang juga seorang guru PNS di pelosok. Bidan Hesti selalu terngiang suara ayahnya setiap kali ia merasa lelah. Bagi Bidan Hesti, setiap upaya persalinan yang ia bawa adalah harapan. Dan ia adalah kurir harapan itu. Ia adalah wajah negara yang sebenarnya: melayani, bukan dilayani.Makna Sebuah PengabdianDi bawah remang lampu jalan, tercium aroma keringat dan debu jalanan—aroma dari sebuah perjuangan yang tulus. Pukul sembilan malam, Bidan Hesti baru sampai di rumah. Tubuhnya menggigil karena kehujanan, tapi matanya berbinar setelah menolong persalinan.
197PNS mengikis sekat antara pemerintah dan rakyat, dan memastikan bahwa kehadiran negara dirasakan hingga ke pelosok paling sunyi. Ia bukan pahlawan yang namanya terpahat di monumen perunggu. Ia hanyalah seorang abdi negara yang setia.
198Cerpen : PNS Setia di Bawah Panji Pertiwi, Mengabdi Untuk NegeriKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaPagi di negeri ini selalu lahir dengan cara yang nyaris sama—perlahan, seakan ragu membuka tirai hari yang menyimpan begitu banyak kisah yang belum selesai. Di ufuk timur, kabut bertaut dengan sisa embun pagi, membentuk lapisan tipis yang menggantung di antara gedung-gedung tua dan kabel-kabel listrik yang bersilang seperti urat nadi kota.Di antara denyut itu, Pak Zulkifli melangkah keluar dari rumah petak mungilnya.Seragam khaki yang dikenakannya telah memudar di bagian siku, namun tetap rapi oleh setrikaan telaten sang istri. Di dadanya, lencana Korpri kecil tersemat tegak—sunyi, tetapi penuh makna. Bagi Zulkifli, seragam itu bukan sekadar kain; ia adalah kulit kedua, pembungkus janji yang tak pernah diucapkan keras-keras, namun dihidupi setiap hari.Tas kulit tua menggantung di bahunya. Di dalamnya, berkas-berkas berisik oleh nasib manusia—nama-nama yang ingin diakui, kehidupan yang meminta untuk dicatat, dan harapan yang sering kali hampir padam.Tiga puluh tahun sudah ia mengabdi sebagai staf kelurahan. Tiga dekade yang tidak hanya mengukur waktu, tetapi juga kesetiaan. Ia telah melihat pemimpin datang dan pergi, kebijakan berubah, sistem diperbarui, namun satu hal tetap tinggal: dirinya, duduk di balik meja kayu melayani rakyat, menjaga agar pelayanan tidak kehilangan jiwanya.Pagi itu, kantor kelurahan riuh oleh antrean.Tumpukan berkas menjulang seperti menara yang tak pernah selesai dibangun. Di tengah arus digitalisasi yang menggulung segala sesuatu menjadi cepat dan efisien, Zulkifli berdiri sebagai jeda—ruang bagi mereka yang tertinggal oleh kecepatan zaman.
199Ia mendengarkan.Ia menjelaskan.Ia menuntun.Seorang nenek duduk di depannya, tangannya gemetar memegang map lusuh.“Pak… saya mau urus pensiun… tapi saya tidak mengerti ini,” katanya pelan.Zulkifli mengambil map itu dengan hati-hati, seolah sedang memegang sesuatu yang rapuh.“Pelan-pelan saja, Bu. Kita selesaikan sama-sama.”Di sudut lain, seorang pemuda berdiri gelisah, menggenggam secarik kertas.“Saya butuh surat keterangan tidak mampu, Pak… buat daftar kuliah.”Zulkifli mengangguk. “Duduk dulu. Kita urus.”Di antara suara printer dan ketukan keyboard, ia memilih tetap menjadi manusia—bukan sekadar perpanjangan dari sistem.“Pak Zulkifli,” suara Rian menyela, ringan namun mengandung sedikit kegelisahan zaman muda, “kenapa masih repot menjelaskan satu per satu? Sekarang semua sudah ada di sistem. Tinggal baca saja di layar.”Zulkifli tersenyum tipis. Senyum yang tidak terburu-buru menjawab.“Sistem itu mesin, Rian,” katanya pelan. “Rakyat kita kadang tidak butuh mesin. Mereka butuh manusia yang memanusiakan mereka. Di bawah panji pertiwi ini, kita bukan cuma pengolah data… kita pelayan hati.”Kalimat itu tidak menggelegar, tetapi menetap.
200Namun pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk kesabaran; kadang ia datang sebagai ujian. Suatu siang, seorang pengusaha lokal datang dengan langkah mantap. Ia duduk tanpa diminta, meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja Zulkifli.“Bisa dibantu, Pak. Izin bangunan saja… kecil kok,” ujarnya santai.Zulkifli tidak langsung menyentuh amplop itu. Ia menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke dinding—ke foto Presiden dan Wakil Presiden, dan ke bendera Merah Putih yang terkulai lemah tanpa angin.Dalam diam itu, seolah ada percakapan yang tidak terdengar. Ia tahu itu bangunan ilegal.“Maaf, Pak,” akhirnya ia berkata. Suaranya tenang, tetapi tidak bisa ditawar. “Gaji saya mungkin kecil. Tapi harga diri bangsa yang saya pikul ini tidak punya label harga.”Ia mendorong perlahan amplop itu kembali.“Kalau saya izinkan, saya sedang mengkhianati tanah yang memberi saya makan.”Ruangan menjadi sunyi.Pengusaha itu pergi dengan langkah berat dan gerutu yang tertahan. Namun bagi Zulkifli, ada sesuatu yang justru terasa ringan—seperti beban yang tidak jadi ia pikul.Kesetiaan, baginya, bukan tentang seberapa tinggi ia berdiri, tetapi seberapa tegak ia bertahan.“Pak Darma, kenapa Bapak tak pernah mengeluh?” tanya seseorang. Darma tersenyum, menatap foto pahlawan di dinding. “Karena kita bekerja bukan untuk diri sendiri. Panji Pertiwi yang berkibar di luar sana adalah saksi. Selama bendera itu masih merah putih, kita wajib setia.”Waktu bergerak seperti air—tidak terasa, tetapi mengubah segalanya.
201Hari berganti, tahun berlalu. Pak Zulkifli tetap di tempatnya, meski rambutnya memutih dan langkahnya melambat. Ia menjadi teladan, bukan karena jabatan, melainkan karena ketulusan. Langkahnya tidak lagi secepat dulu, namun keteguhannya tetap sama. Ia masih datang pagi, masih membuka berkas, masih menulis nama demi nama dengan ketelitian yang nyaris seperti doa.Di rumah, istrinya, Lestari, pernah bertanya di suatu malam yang sunyi, “Apa tidak lelah, Pak, terus seperti ini?”Zulkifli tersenyum, menatap tangannya sendiri.“Tidak boleh ada kata lelah saat mengabdi untuk negeri, ini perjuangan suci.”“Kenapa?” tanya LestariIa terdiam sejenak, lalu menjawab, “Karena mungkin masih ada satu orang yang belum tercatat. Dan selama itu, tugas saya belum selesai.”Lestari tidak membantah. Ia hanya menggenggam tangan suaminya, memahami bahwa ada pengabdian yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dijalani.Hari itu akhirnya datang—hari ketika waktu memanggilnya untuk berhenti.Tidak ada panggung megah, tidak ada sorotan lampu. Hanya ruangan kantor yang sama, meja yang sama, dan wajah-wajah yang kini terasa lebih dekat dari keluarga.Tumpeng sederhana tersaji. Doa dipanjatkan.Rian berdiri di depan, kali ini tanpa nada tergesa.Ia menggenggam tangan Zulkifli yang kini keriput.“Pak… terima kasih,” suaranya bergetar. “Saya dulu pikir mengabdi itu soal cepat dan efisien. Tapi Bapak ngajarin saya… ini soal jujur, bahkan ketika tidak ada yang melihat.”
202Zulkifli tersenyum. Tidak panjang, tidak lebar—cukup.“Jaga itu, Rian,” katanya pelan. “Lebih susah dari yang kamu kira.”Sore itu, Zulkifli berjalan pulang.Tas kulit tuanya masih ia bawa, meski kini lebih ringan. Ia menyusuri trotoar yang ramai oleh langkah orang-orang yang tidak saling mengenal, namun hidup dalam negeri yang sama.Ia melihat anak-anak sekolah berlarian.Ia melihat pedagang kaki lima yang menata dagangan.Ia melihat bendera merah putih berkibar di depan instansi-instansi, diam namun bermakna.Langit perlahan memerah.Di bawah cahaya senja itu, ia berhenti sejenak.Dalam hatinya, terlintas semua yang pernah ia jalani—berkas-berkas, wajah-wajah, penolakan terhadap amplop, dan senyum-senyum kecil yang sering luput dari perhatian.Ia mungkin tidak pernah memimpin pasukan.Ia tidak pernah berdiri di medan perang.Namun ia tahu, ia telah bertempur—melawan rasa malas, melawan godaan, melawan keputusasaan—di meja kerja yang sepi.Ia menarik napas panjang.“Tugas selesai, Pertiwi,” bisiknya lirih. “Aku telah menjaga panjimu tetap bersih… di sudut kecil negeriku.”
203Ia melangkah masuk ke rumahnya.Perlahan, ia menanggalkan seragam khaki itu untuk terakhir kalinya.Namun yang ia tinggalkan bukan sekadar pakaian.Ia meninggalkan sesuatu yang tak kasatmata, tetapi hidup dalam diam: jejak integritas, kesetiaan tanpa riuh, dan pengabdian yang tidak pernah meminta dikenang.Baginya, mengibarkan Sang Saka bukan sekadar rutinitas, melainkan doa yang terbang bersama angin: doa agar negeri tetap tegak, agar rakyat tetap sejahtera.Ketika akhirnya ia pensiun, masyarakat datang berbondong-bondong, bukan sekadar melepas seorang pegawai, melainkan menghormati seorang abdi negara yang setia.Di senja itu, Zulkifli berdiri menatap bendera sekali lagi. Angin sore mengibarkan kain merah putih, seakan berbisik: “Terima kasih, telah setia di bawah panji pertiwi.”Dan Zulkifli pun tersenyum, yakin bahwa pengabdian kecilnya telah menjadi bagian dari cerita besar negeri ini.Keesokan harinya, matahari kembali terbit seperti biasa.Zulkifli kembali mengayuh motornya di jalan yang sama. Tidak ada karpet merah, tidak ada tepuk tangan.Hanya angin pagi, tanah yang lembap, dan bendera merah putih yang berkibar di depan kantor kecamatan. Ia berhenti sejenak, menatap bendera itu. Di sana, dalam merah dan putih yang sederhana, ia melihat seluruh makna hidupnya.Ia bukan pahlawan. Ia bukan tokoh besar.Ia seorang PNS—setia di bawah panji Pertiwi.Namun dalam kesederhanaannya, ia telah berhasil mengabdi.
204Di bawah panji Pertiwi, namanya tidak tertulis dalam sejarah besar.Namun dalam nadi negeri ini, ia tetap hidup—sebagai seorang PNS yang setia, yang mengabdi, bukan untuk dilihat, tetapi agar tak ada lagi yang dilupakanPNS — Pelayan Negeri yang Setia. Bukan sempurna, tapi selalu berusaha.
205
206CERPEN : Penjahit Bayangan Menjadi Abdi NegaraKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaDi sebuah kota yang hanya dibangun dari ingatan, hiduplah seorang lelaki bernama Ferizal yang bekerja sebagai Penjahit Bayangan. Tokonya terletak di persimpangan antara apa yang sudah terjadi dan apa yang nyaris terjadi. Di sana, ia tidak menjahit kain, melainkan menyatukan robekan antara kenyataan dan kerinduan.Setiap pagi, orang-orang datang membawa pakaian lama yang sudah kehilangan pemiliknya. Ada seorang ibu yang membawa syal rajutan anaknya yang hilang di laut. \"Tolong jahitkan suara tawanya di lipatan wol ini,\" pintanya dengan mata sedalam palung. Ferizal mengambil jarum yang terbuat dari duri mawar putih dan benang yang dipintal dari cahaya bulan perbani. Dengan jemari yang gemetar oleh rasa hormat, ia menyusupkan gema tawa sang anak ke dalam serat-serat kain. Saat syal itu dikenakan, sang ibu tidak lagi mendengar sunyi, melainkan debur ombak yang membisikkan nama buah hatinya.Namun, pekerjaan Ferizal memiliki harga yang mahal. Setiap kali ia menjahitkan sebuah kenangan, sepotong ingatannya sendiri harus terlepas. Ia telah melupakan warna langit saat ia jatuh cinta pertama kali. Ia telah kehilangan aroma tanah sehabis hujan yang dulu sangat ia gemari. Ferizal menjadi wadah bagi sejarah orang lain, sementara sejarahnya sendiri perlahan menjadi kanvas kosong yang putih menyilaukan.Suatu malam, seorang perempuan tanpa nama datang ke tokonya. Ia tidak membawa baju, tidak juga selendang. Ia hanya membawa sebuah kotak kaca kosong.\"Apa yang ingin kau jahit?\" tanya Ferizal, suaranya serak seperti gesekan daun kering.
207\"Aku ingin kau menjahitkan masa depanku yang tidak pernah terjadi,\" jawab perempuan itu. \"Aku ingin kau menyatukan impianku yang gugur sebelum sempat mekar dengan sisa waktu yang aku miliki.\"Ferizal tertegun. Menjahit masa lalu adalah tentang merawat luka, tetapi menjahit masa depan yang tak pernah ada adalah tentang menciptakan cahaya dari ketiadaan. Ia mencari benang di sudut-sudut hatinya yang paling gelap, namun ia tidak menemukan apa pun. Ia telah memberikan segalanya kepada para pelanggannya.Lulus Tes CPNSTepat saat Ferizal merasa jiwanya benar-benar hampa, sebuah surat dengan segel resmi negara muncul di atas meja kerjanya yang berdebu. Surat itu bukan berasal dari dunia bayangan, melainkan dari dunia nyata yang selama ini ia abaikan. Di sana tertulis: Ferizal, Anda dinyatakan lulus seleksi CPNS dan dipanggil untuk mengabdi.Anehnya, saat ia membaca kalimat itu, kanvas kosong di ingatannya mendadak terisi oleh warna-warna baru yang belum pernah ia lihat. Seolah-olah takdir memberinya benang baru—bukan dari masa lalu, tapi dari janji sebuah bakti.Ferizal memutuskan untuk menutup toko bayangannya. Ia meletakkan jarum mawar putihnya dan menggantinya dengan pena. Ia tidak lagi menjahit kenangan individu di sudut jalan yang sunyi; kini ia melangkah ke tengah hiruk-pikuk birokrasi, membawa kemampuannya untuk \"mendengar yang tak terdengar\" ke dalam pelayanan publik.Dalam pengabdiannya untuk negeri, Ferizal menjadi sosok yang berbeda. Jika dulu ia menyatukan robekan jiwa, kini ia menyatukan robekan-robekan keadilan yang seringkali tercecer. Ia bekerja di daerah-daerah terpencil, mendengarkan keluh kesah warga yang selama ini suaranya hanya menjadi gema di ruang hampa.
208Bagi Ferizal, setiap kebijakan yang ia susun adalah jarum indah yang bertujuan merajut kembali kesejahteraan rakyat.Ia tidak lagi kehilangan ingatan. Sebaliknya, setiap senyum dari warga yang ia bantu justru memperkuat jati dirinya. Pengabdian ternyata menjadi obat bagi jiwanya yang sempat pudar. Ferizal menyadari bahwa menjadi abdi negara adalah bentuk tertinggi dari profesi penjahit: ia kini sedang menjahit masa depan bangsa, memastikan tidak ada lagi impian rakyat yang gugur sebelum sempat mekar.Tahun-tahun berlalu, dan Ferizal kini tidak lagi dikenal sebagai pemuda yang hampa. Di pundaknya kini tersemat tanda pangkat, namun di hatinya tetap tersimpan ketelitian seorang penjahit. Ia ditempatkan di sebuah wilayah pesisir yang sering dilupakan peta, sebuah tempat di mana harapan warganya seringkali robek oleh kemiskinan dan birokrasi yang buntu.Suatu sore, saat sedang meninjau pembangunan sekolah di desa tersebut, Ferizal bertemu dengan seorang wanita tua yang sedang menatap laut—persis seperti ibu yang dulu membawa syal di toko bayangannya. Namun, kali ini Ferizal tidak mengeluarkan jarum mawar putih. Ia mengeluarkan catatan dan memberikan kepastian.\"Pak,\" ucap wanita itu lirih, \"apakah anak-anak kami benar-benar akan punya masa depan di sini?\"Ferizal tersenyum, sebuah senyuman yang kini utuh karena ia tak lagi harus menukarnya dengan ingatan. \"Tugas saya adalah memastikan benang-benang kesempatan itu sampai ke tangan mereka, Bu. Kita tidak sedang meratapi yang hilang, kita sedang membangun yang akan datang.\"Pengabdian Ferizal menjadi legenda kecil di kementeriannya. Ia dikenal sebagai abdi negara yang mampu \"merajut\" kolaborasi di antara pihak-pihak yang berseteru.
209Ia menyatukan kepentingan rakyat dengan kebijakan pemerintah seolah sedang menyambung sutra dengan beludru—halus, kuat, dan tanpa cacat.Di meja kerjanya yang kini penuh dengan tumpukan berkas negara, ia menyimpan satu benda kecil: kotak kaca kosong yang dulu dibawa oleh perempuan tanpa nama. Kotak itu kini tidak lagi kosong. Di dalamnya, Ferizal meletakkan lencana korps pegawainya.Bagi Ferizal, lencana itu adalah jarum barunya. Dan negeri ini adalah kain raksasa yang sedang ia jahit dengan penuh rasa hormat. Ia menyadari bahwa meski ia telah melupakan warna langit saat jatuh cinta pertama kali, ia kini memiliki ribuan warna baru dari langit fajar yang ia saksikan setiap kali ia berangkat bertugas—langit yang sama yang menaungi jutaan impian yang kini ia jaga agar tetap utuh.Ferizal tidak lagi menjahit bayangan. Ia telah menjadi penjahit kenyataan.Perjalanan Ferizal mencapai puncaknya ketika ia ditugaskan memimpin sebuah proyek strategis nasional untuk memulihkan wilayah-wilayah yang terdampak konflik lama. Baginya, ini bukan sekadar urusan semen dan batu bata, melainkan tugas untuk menjahit kembali kohesi sosial yang telah lama terkoyak.Di ruang rapat yang dingin, di hadapan para petinggi dan pemangku kepentingan, Ferizal seringkali berbicara dengan bahasa yang berbeda. Di saat orang lain bicara angka dan statistik, ia bicara tentang \"tekstur kehidupan\".\"Negara ini adalah tenunan,\" ujarnya dalam sebuah pidato yang kelak akan selalu diingat. \"Setiap helai benang, sekecil apa pun itu—baik itu petani di pelosok maupun buruh di kota—adalah bagian yang membuat kain bangsa ini kuat. Jika satu serat tercabut, maka seluruh kain akan melemah.\"Ia membawa integritas yang tak tergoyahkan. Pernah suatu kali, seorang kontraktor mencoba menyuapnya dengan sekoper uang agar ia menutup mata atas kualitas bahan
210bangunan yang rendah. Ferizal hanya menatap koper itu, lalu menatap sang kontraktor dengan pandangan sedalam palung.\"Saya sudah pernah kehilangan ingatan saya demi menolong orang lain,\" kata Ferizal tenang. \"Jangan paksa saya kehilangan kehormatan saya hanya demi memperkaya Anda. Karena jika kehormatan seorang abdi negara robek, tidak ada benang di dunia ini yang bisa menjahitnya kembali.\"Kini, di masa tuanya, Ferizal duduk di teras rumah dinasnya yang sederhana. Ia melihat anak-anak sekolah berlarian dengan seragam rapi, melintasi jembatanjembatan yang ia bangun, menuju perpustakaan-perpustakaan yang ia rintis.Tiba-tiba, seorang wanita dewasa menghampirinya. Wajahnya tampak akrab, meski Ferizal tak mampu mengingat di mana mereka pernah bertemu. Wanita itu membawa sebuah syal rajutan wol yang tampak sangat tua, namun masih utuh dan harum.\"Terima kasih, Pak Ferizal,\" ucap wanita itu sambil tersenyum. \"Dulu, Ibu saya bilang seorang penjahit telah mengembalikan suara tawa saya ke dalam syal ini. Sekarang, saya datang untuk memberi tahu Anda bahwa karena kebijakan yang Bapak buat, suara tawa itu tidak lagi hanya ada di dalam kain, tapi nyata di meja makan kami setiap malam.\"Wanita itu berlalu, meninggalkan Ferizal dalam keheningan yang damai. Di detik itu, memori-memori yang dulu hilang perlahan kembali. Ia teringat aroma tanah sehabis hujan. Ia teringat warna langit saat ia jatuh cinta pertama kali.Ternyata, dengan mengabdikan diri untuk menjahit masa depan orang banyak, semesta mengembalikan kepingan-kepingan dirinya yang sempat hilang. Ferizal bukan lagi kanvas kosong; ia adalah sebuah mahakarya yang ditenun oleh dedikasi, air mata, dan cinta yang tulus pada negerinya.