The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sejarah !! Genre Sastra PNS Indonesia luncurkan NOVELET MBG ( Makan Bergizi Gratis ) dan Novelet KDMP ( Koperasi Desa Merah Putih ). Karya Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search

Sejarah !! Genre Sastra PNS Indonesia luncurkan NOVELET MBG ( Makan Bergizi Gratis ) dan Novelet KDMP ( Koperasi Desa Merah Putih ). Karya Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia

Sejarah !! Genre Sastra PNS Indonesia luncurkan NOVELET MBG ( Makan Bergizi Gratis ) dan Novelet KDMP ( Koperasi Desa Merah Putih ). Karya Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia

150PNS mengikis sekat antara pemerintah dan rakyat, dan memastikan bahwa kehadiran negara dirasakan hingga ke pelosok paling sunyi. Ia bukan pahlawan yang namanya terpahat di monumen perunggu. Ia hanyalah seorang abdi negara yang setia.


151Cerpen : PNS Setia di Bawah Panji Pertiwi, Mengabdi Untuk NegeriKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaPagi di negeri ini selalu lahir dengan cara yang nyaris sama—perlahan, seakan ragu membuka tirai hari yang menyimpan begitu banyak kisah yang belum selesai. Di ufuk timur, kabut bertaut dengan sisa embun pagi, membentuk lapisan tipis yang menggantung di antara gedung-gedung tua dan kabel-kabel listrik yang bersilang seperti urat nadi kota.Di antara denyut itu, Pak Zulkifli melangkah keluar dari rumah petak mungilnya.Seragam khaki yang dikenakannya telah memudar di bagian siku, namun tetap rapi oleh setrikaan telaten sang istri. Di dadanya, lencana Korpri kecil tersemat tegak—sunyi, tetapi penuh makna. Bagi Zulkifli, seragam itu bukan sekadar kain; ia adalah kulit kedua, pembungkus janji yang tak pernah diucapkan keras-keras, namun dihidupi setiap hari.Tas kulit tua menggantung di bahunya. Di dalamnya, berkas-berkas berisik oleh nasib manusia—nama-nama yang ingin diakui, kehidupan yang meminta untuk dicatat, dan harapan yang sering kali hampir padam.Tiga puluh tahun sudah ia mengabdi sebagai staf kelurahan. Tiga dekade yang tidak hanya mengukur waktu, tetapi juga kesetiaan. Ia telah melihat pemimpin datang dan pergi, kebijakan berubah, sistem diperbarui, namun satu hal tetap tinggal: dirinya, duduk di balik meja kayu melayani rakyat, menjaga agar pelayanan tidak kehilangan jiwanya.Pagi itu, kantor kelurahan riuh oleh antrean.Tumpukan berkas menjulang seperti menara yang tak pernah selesai dibangun. Di tengah arus digitalisasi yang menggulung segala sesuatu menjadi cepat dan efisien, Zulkifli berdiri sebagai jeda—ruang bagi mereka yang tertinggal oleh kecepatan zaman.


152Ia mendengarkan.Ia menjelaskan.Ia menuntun.Seorang nenek duduk di depannya, tangannya gemetar memegang map lusuh.“Pak… saya mau urus pensiun… tapi saya tidak mengerti ini,” katanya pelan.Zulkifli mengambil map itu dengan hati-hati, seolah sedang memegang sesuatu yang rapuh.“Pelan-pelan saja, Bu. Kita selesaikan sama-sama.”Di sudut lain, seorang pemuda berdiri gelisah, menggenggam secarik kertas.“Saya butuh surat keterangan tidak mampu, Pak… buat daftar kuliah.”Zulkifli mengangguk. “Duduk dulu. Kita urus.”Di antara suara printer dan ketukan keyboard, ia memilih tetap menjadi manusia—bukan sekadar perpanjangan dari sistem.“Pak Zulkifli,” suara Rian menyela, ringan namun mengandung sedikit kegelisahan zaman muda, “kenapa masih repot menjelaskan satu per satu? Sekarang semua sudah ada di sistem. Tinggal baca saja di layar.”Zulkifli tersenyum tipis. Senyum yang tidak terburu-buru menjawab.“Sistem itu mesin, Rian,” katanya pelan. “Rakyat kita kadang tidak butuh mesin. Mereka butuh manusia yang memanusiakan mereka. Di bawah panji pertiwi ini, kita bukan cuma pengolah data… kita pelayan hati.”Kalimat itu tidak menggelegar, tetapi menetap.


153Namun pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk kesabaran; kadang ia datang sebagai ujian. Suatu siang, seorang pengusaha lokal datang dengan langkah mantap. Ia duduk tanpa diminta, meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja Zulkifli.“Bisa dibantu, Pak. Izin bangunan saja… kecil kok,” ujarnya santai.Zulkifli tidak langsung menyentuh amplop itu. Ia menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke dinding—ke foto Presiden dan Wakil Presiden, dan ke bendera Merah Putih yang terkulai lemah tanpa angin.Dalam diam itu, seolah ada percakapan yang tidak terdengar. Ia tahu itu bangunan ilegal.“Maaf, Pak,” akhirnya ia berkata. Suaranya tenang, tetapi tidak bisa ditawar. “Gaji saya mungkin kecil. Tapi harga diri bangsa yang saya pikul ini tidak punya label harga.”Ia mendorong perlahan amplop itu kembali.“Kalau saya izinkan, saya sedang mengkhianati tanah yang memberi saya makan.”Ruangan menjadi sunyi.Pengusaha itu pergi dengan langkah berat dan gerutu yang tertahan. Namun bagi Zulkifli, ada sesuatu yang justru terasa ringan—seperti beban yang tidak jadi ia pikul.Kesetiaan, baginya, bukan tentang seberapa tinggi ia berdiri, tetapi seberapa tegak ia bertahan.“Pak Darma, kenapa Bapak tak pernah mengeluh?” tanya seseorang. Darma tersenyum, menatap foto pahlawan di dinding. “Karena kita bekerja bukan untuk diri sendiri. Panji Pertiwi yang berkibar di luar sana adalah saksi. Selama bendera itu masih merah putih, kita wajib setia.”Waktu bergerak seperti air—tidak terasa, tetapi mengubah segalanya.


154Hari berganti, tahun berlalu. Pak Zulkifli tetap di tempatnya, meski rambutnya memutih dan langkahnya melambat. Ia menjadi teladan, bukan karena jabatan, melainkan karena ketulusan. Langkahnya tidak lagi secepat dulu, namun keteguhannya tetap sama. Ia masih datang pagi, masih membuka berkas, masih menulis nama demi nama dengan ketelitian yang nyaris seperti doa.Di rumah, istrinya, Lestari, pernah bertanya di suatu malam yang sunyi, “Apa tidak lelah, Pak, terus seperti ini?”Zulkifli tersenyum, menatap tangannya sendiri.“Tidak boleh ada kata lelah saat mengabdi untuk negeri, ini perjuangan suci.”“Kenapa?” tanya LestariIa terdiam sejenak, lalu menjawab, “Karena mungkin masih ada satu orang yang belum tercatat. Dan selama itu, tugas saya belum selesai.”Lestari tidak membantah. Ia hanya menggenggam tangan suaminya, memahami bahwa ada pengabdian yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dijalani.Hari itu akhirnya datang—hari ketika waktu memanggilnya untuk berhenti.Tidak ada panggung megah, tidak ada sorotan lampu. Hanya ruangan kantor yang sama, meja yang sama, dan wajah-wajah yang kini terasa lebih dekat dari keluarga.Tumpeng sederhana tersaji. Doa dipanjatkan.Rian berdiri di depan, kali ini tanpa nada tergesa.Ia menggenggam tangan Zulkifli yang kini keriput.“Pak… terima kasih,” suaranya bergetar. “Saya dulu pikir mengabdi itu soal cepat dan efisien. Tapi Bapak ngajarin saya… ini soal jujur, bahkan ketika tidak ada yang melihat.”


155Zulkifli tersenyum. Tidak panjang, tidak lebar—cukup.“Jaga itu, Rian,” katanya pelan. “Lebih susah dari yang kamu kira.”Sore itu, Zulkifli berjalan pulang.Tas kulit tuanya masih ia bawa, meski kini lebih ringan. Ia menyusuri trotoar yang ramai oleh langkah orang-orang yang tidak saling mengenal, namun hidup dalam negeri yang sama.Ia melihat anak-anak sekolah berlarian.Ia melihat pedagang kaki lima yang menata dagangan.Ia melihat bendera merah putih berkibar di depan instansi-instansi, diam namun bermakna.Langit perlahan memerah.Di bawah cahaya senja itu, ia berhenti sejenak.Dalam hatinya, terlintas semua yang pernah ia jalani—berkas-berkas, wajah-wajah, penolakan terhadap amplop, dan senyum-senyum kecil yang sering luput dari perhatian.Ia mungkin tidak pernah memimpin pasukan.Ia tidak pernah berdiri di medan perang.Namun ia tahu, ia telah bertempur—melawan rasa malas, melawan godaan, melawan keputusasaan—di meja kerja yang sepi.Ia menarik napas panjang.“Tugas selesai, Pertiwi,” bisiknya lirih. “Aku telah menjaga panjimu tetap bersih… di sudut kecil negeriku.”


156Ia melangkah masuk ke rumahnya.Perlahan, ia menanggalkan seragam khaki itu untuk terakhir kalinya.Namun yang ia tinggalkan bukan sekadar pakaian.Ia meninggalkan sesuatu yang tak kasatmata, tetapi hidup dalam diam: jejak integritas, kesetiaan tanpa riuh, dan pengabdian yang tidak pernah meminta dikenang.Baginya, mengibarkan Sang Saka bukan sekadar rutinitas, melainkan doa yang terbang bersama angin: doa agar negeri tetap tegak, agar rakyat tetap sejahtera.Ketika akhirnya ia pensiun, masyarakat datang berbondong-bondong, bukan sekadar melepas seorang pegawai, melainkan menghormati seorang abdi negara yang setia.Di senja itu, Zulkifli berdiri menatap bendera sekali lagi. Angin sore mengibarkan kain merah putih, seakan berbisik: “Terima kasih, telah setia di bawah panji pertiwi.”Dan Zulkifli pun tersenyum, yakin bahwa pengabdian kecilnya telah menjadi bagian dari cerita besar negeri ini.Keesokan harinya, matahari kembali terbit seperti biasa.Zulkifli kembali mengayuh motornya di jalan yang sama. Tidak ada karpet merah, tidak ada tepuk tangan.Hanya angin pagi, tanah yang lembap, dan bendera merah putih yang berkibar di depan kantor kecamatan. Ia berhenti sejenak, menatap bendera itu. Di sana, dalam merah dan putih yang sederhana, ia melihat seluruh makna hidupnya.Ia bukan pahlawan. Ia bukan tokoh besar.Ia seorang PNS—setia di bawah panji Pertiwi.Namun dalam kesederhanaannya, ia telah berhasil mengabdi.


157Di bawah panji Pertiwi, namanya tidak tertulis dalam sejarah besar.Namun dalam nadi negeri ini, ia tetap hidup—sebagai seorang PNS yang setia, yang mengabdi, bukan untuk dilihat, tetapi agar tak ada lagi yang dilupakanPNS — Pelayan Negeri yang Setia. Bukan sempurna, tapi selalu berusaha.


158


159CERPEN : Penjahit Bayangan Menjadi Abdi NegaraKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaDi sebuah kota yang hanya dibangun dari ingatan, hiduplah seorang lelaki bernama Ferizal yang bekerja sebagai Penjahit Bayangan. Tokonya terletak di persimpangan antara apa yang sudah terjadi dan apa yang nyaris terjadi. Di sana, ia tidak menjahit kain, melainkan menyatukan robekan antara kenyataan dan kerinduan.Setiap pagi, orang-orang datang membawa pakaian lama yang sudah kehilangan pemiliknya. Ada seorang ibu yang membawa syal rajutan anaknya yang hilang di laut. \"Tolong jahitkan suara tawanya di lipatan wol ini,\" pintanya dengan mata sedalam palung. Ferizal mengambil jarum yang terbuat dari duri mawar putih dan benang yang dipintal dari cahaya bulan perbani. Dengan jemari yang gemetar oleh rasa hormat, ia menyusupkan gema tawa sang anak ke dalam serat-serat kain. Saat syal itu dikenakan, sang ibu tidak lagi mendengar sunyi, melainkan debur ombak yang membisikkan nama buah hatinya.Namun, pekerjaan Ferizal memiliki harga yang mahal. Setiap kali ia menjahitkan sebuah kenangan, sepotong ingatannya sendiri harus terlepas. Ia telah melupakan warna langit saat ia jatuh cinta pertama kali. Ia telah kehilangan aroma tanah sehabis hujan yang dulu sangat ia gemari. Ferizal menjadi wadah bagi sejarah orang lain, sementara sejarahnya sendiri perlahan menjadi kanvas kosong yang putih menyilaukan.Suatu malam, seorang perempuan tanpa nama datang ke tokonya. Ia tidak membawa baju, tidak juga selendang. Ia hanya membawa sebuah kotak kaca kosong.\"Apa yang ingin kau jahit?\" tanya Ferizal, suaranya serak seperti gesekan daun kering.


160\"Aku ingin kau menjahitkan masa depanku yang tidak pernah terjadi,\" jawab perempuan itu. \"Aku ingin kau menyatukan impianku yang gugur sebelum sempat mekar dengan sisa waktu yang aku miliki.\"Ferizal tertegun. Menjahit masa lalu adalah tentang merawat luka, tetapi menjahit masa depan yang tak pernah ada adalah tentang menciptakan cahaya dari ketiadaan. Ia mencari benang di sudut-sudut hatinya yang paling gelap, namun ia tidak menemukan apa pun. Ia telah memberikan segalanya kepada para pelanggannya.Lulus Tes CPNSTepat saat Ferizal merasa jiwanya benar-benar hampa, sebuah surat dengan segel resmi negara muncul di atas meja kerjanya yang berdebu. Surat itu bukan berasal dari dunia bayangan, melainkan dari dunia nyata yang selama ini ia abaikan. Di sana tertulis: Ferizal, Anda dinyatakan lulus seleksi CPNS dan dipanggil untuk mengabdi.Anehnya, saat ia membaca kalimat itu, kanvas kosong di ingatannya mendadak terisi oleh warna-warna baru yang belum pernah ia lihat. Seolah-olah takdir memberinya benang baru—bukan dari masa lalu, tapi dari janji sebuah bakti.Ferizal memutuskan untuk menutup toko bayangannya. Ia meletakkan jarum mawar putihnya dan menggantinya dengan pena. Ia tidak lagi menjahit kenangan individu di sudut jalan yang sunyi; kini ia melangkah ke tengah hiruk-pikuk birokrasi, membawa kemampuannya untuk \"mendengar yang tak terdengar\" ke dalam pelayanan publik.Dalam pengabdiannya untuk negeri, Ferizal menjadi sosok yang berbeda. Jika dulu ia menyatukan robekan jiwa, kini ia menyatukan robekan-robekan keadilan yang seringkali tercecer. Ia bekerja di daerah-daerah terpencil, mendengarkan keluh kesah warga yang selama ini suaranya hanya menjadi gema di ruang hampa.


161Bagi Ferizal, setiap kebijakan yang ia susun adalah jarum indah yang bertujuan merajut kembali kesejahteraan rakyat.Ia tidak lagi kehilangan ingatan. Sebaliknya, setiap senyum dari warga yang ia bantu justru memperkuat jati dirinya. Pengabdian ternyata menjadi obat bagi jiwanya yang sempat pudar. Ferizal menyadari bahwa menjadi abdi negara adalah bentuk tertinggi dari profesi penjahit: ia kini sedang menjahit masa depan bangsa, memastikan tidak ada lagi impian rakyat yang gugur sebelum sempat mekar.Tahun-tahun berlalu, dan Ferizal kini tidak lagi dikenal sebagai pemuda yang hampa. Di pundaknya kini tersemat tanda pangkat, namun di hatinya tetap tersimpan ketelitian seorang penjahit. Ia ditempatkan di sebuah wilayah pesisir yang sering dilupakan peta, sebuah tempat di mana harapan warganya seringkali robek oleh kemiskinan dan birokrasi yang buntu.Suatu sore, saat sedang meninjau pembangunan sekolah di desa tersebut, Ferizal bertemu dengan seorang wanita tua yang sedang menatap laut—persis seperti ibu yang dulu membawa syal di toko bayangannya. Namun, kali ini Ferizal tidak mengeluarkan jarum mawar putih. Ia mengeluarkan catatan dan memberikan kepastian.\"Pak,\" ucap wanita itu lirih, \"apakah anak-anak kami benar-benar akan punya masa depan di sini?\"Ferizal tersenyum, sebuah senyuman yang kini utuh karena ia tak lagi harus menukarnya dengan ingatan. \"Tugas saya adalah memastikan benang-benang kesempatan itu sampai ke tangan mereka, Bu. Kita tidak sedang meratapi yang hilang, kita sedang membangun yang akan datang.\"Pengabdian Ferizal menjadi legenda kecil di kementeriannya. Ia dikenal sebagai abdi negara yang mampu \"merajut\" kolaborasi di antara pihak-pihak yang berseteru.


162Ia menyatukan kepentingan rakyat dengan kebijakan pemerintah seolah sedang menyambung sutra dengan beludru—halus, kuat, dan tanpa cacat.Di meja kerjanya yang kini penuh dengan tumpukan berkas negara, ia menyimpan satu benda kecil: kotak kaca kosong yang dulu dibawa oleh perempuan tanpa nama. Kotak itu kini tidak lagi kosong. Di dalamnya, Ferizal meletakkan lencana korps pegawainya.Bagi Ferizal, lencana itu adalah jarum barunya. Dan negeri ini adalah kain raksasa yang sedang ia jahit dengan penuh rasa hormat. Ia menyadari bahwa meski ia telah melupakan warna langit saat jatuh cinta pertama kali, ia kini memiliki ribuan warna baru dari langit fajar yang ia saksikan setiap kali ia berangkat bertugas—langit yang sama yang menaungi jutaan impian yang kini ia jaga agar tetap utuh.Ferizal tidak lagi menjahit bayangan. Ia telah menjadi penjahit kenyataan.Perjalanan Ferizal mencapai puncaknya ketika ia ditugaskan memimpin sebuah proyek strategis nasional untuk memulihkan wilayah-wilayah yang terdampak konflik lama. Baginya, ini bukan sekadar urusan semen dan batu bata, melainkan tugas untuk menjahit kembali kohesi sosial yang telah lama terkoyak.Di ruang rapat yang dingin, di hadapan para petinggi dan pemangku kepentingan, Ferizal seringkali berbicara dengan bahasa yang berbeda. Di saat orang lain bicara angka dan statistik, ia bicara tentang \"tekstur kehidupan\".\"Negara ini adalah tenunan,\" ujarnya dalam sebuah pidato yang kelak akan selalu diingat. \"Setiap helai benang, sekecil apa pun itu—baik itu petani di pelosok maupun buruh di kota—adalah bagian yang membuat kain bangsa ini kuat. Jika satu serat tercabut, maka seluruh kain akan melemah.\"Ia membawa integritas yang tak tergoyahkan. Pernah suatu kali, seorang kontraktor mencoba menyuapnya dengan sekoper uang agar ia menutup mata atas kualitas bahan


163bangunan yang rendah. Ferizal hanya menatap koper itu, lalu menatap sang kontraktor dengan pandangan sedalam palung.\"Saya sudah pernah kehilangan ingatan saya demi menolong orang lain,\" kata Ferizal tenang. \"Jangan paksa saya kehilangan kehormatan saya hanya demi memperkaya Anda. Karena jika kehormatan seorang abdi negara robek, tidak ada benang di dunia ini yang bisa menjahitnya kembali.\"Kini, di masa tuanya, Ferizal duduk di teras rumah dinasnya yang sederhana. Ia melihat anak-anak sekolah berlarian dengan seragam rapi, melintasi jembatanjembatan yang ia bangun, menuju perpustakaan-perpustakaan yang ia rintis.Tiba-tiba, seorang wanita dewasa menghampirinya. Wajahnya tampak akrab, meski Ferizal tak mampu mengingat di mana mereka pernah bertemu. Wanita itu membawa sebuah syal rajutan wol yang tampak sangat tua, namun masih utuh dan harum.\"Terima kasih, Pak Ferizal,\" ucap wanita itu sambil tersenyum. \"Dulu, Ibu saya bilang seorang penjahit telah mengembalikan suara tawa saya ke dalam syal ini. Sekarang, saya datang untuk memberi tahu Anda bahwa karena kebijakan yang Bapak buat, suara tawa itu tidak lagi hanya ada di dalam kain, tapi nyata di meja makan kami setiap malam.\"Wanita itu berlalu, meninggalkan Ferizal dalam keheningan yang damai. Di detik itu, memori-memori yang dulu hilang perlahan kembali. Ia teringat aroma tanah sehabis hujan. Ia teringat warna langit saat ia jatuh cinta pertama kali.Ternyata, dengan mengabdikan diri untuk menjahit masa depan orang banyak, semesta mengembalikan kepingan-kepingan dirinya yang sempat hilang. Ferizal bukan lagi kanvas kosong; ia adalah sebuah mahakarya yang ditenun oleh dedikasi, air mata, dan cinta yang tulus pada negerinya.


164CERPEN : Penjaga Mercusuar Menjadi Abdi NegaraKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaDi sebuah kota yang hanya dibangun dari ingatan, hiduplah seorang lelaki bernama Ferizal yang bekerja sebagai penjaga mercusuar tanpa laut. Mercusuar itu berdiri tegak di tengah padang ilalang perak, tempat di mana angin seringkali membawa aroma garam yang mustahil dan suara ombak yang tertinggal di masa lalu. Tugas Ferizal sederhana namun melelahkan: ia harus menyalakan lampu kristal di puncak menara setiap kali seseorang mulai melupakan sesuatu yang berharga.Suatu senja yang sewarna tembaga, seorang perempuan datang membawa koper yang beratnya melebihi ukuran fisiknya. Namanya adalah Rindu—sebuah nama yang terlalu klise untuk kota yang puitis, namun ia membawanya dengan martabat seorang ratu yang kehilangan takhta. Ia tidak mencari jalan pulang, karena baginya, pulang adalah sebuah kata kerja yang sudah mati.\"Aku ingin menitipkan sebuah percakapan,\" ucap Rindu, suaranya parau seperti gesekan biola tua.Ferizal menerima koper itu. Di dalamnya, tidak ada pakaian atau perhiasan. Hanya ada ribuan kelopak bunga kamboja yang mengering dan gema suara seorang lelaki yang membisikkan janji di bawah hujan. Ferizal tahu, jika koper ini dibuka di sembarang tempat, kenangan itu akan menguap menjadi kabut hitam yang membutakan penduduk kota.Malam itu, Ferizal memanjat tangga melingkar mercusuar. Langkah kakinya berdentang, menciptakan irama yang menyatu dengan detak jantung kota yang melambat. Di puncak, ia meletakkan koper Rindu di bawah cahaya lampu kristal. Seketika, cahaya mercusuar berubah warna menjadi biru laut yang paling dalam.


165Di bawah sana, orang-orang yang sedang makan malam tiba-tiba berhenti. Mereka merasakan lidah mereka mengecap rasa air mata yang manis. Seorang pelukis yang kehilangan inspirasi mendadak mampu menggambar wajah ibunya yang telah tiada dengan detail yang menyakitkan. Kota itu bergetar, bukan karena gempa, melainkan karena beban rindu yang dilepaskan secara serentak.\"Kenapa kau menjaga tempat ini?\" tanya Rindu ketika Ferizal turun kembali ke pelataran.Ferizal menatap cakrawala yang tidak memiliki garis pantai. \"Karena jika tidak ada yang menjaga ingatan, dunia ini hanyalah selembar kertas kosong yang ditiup badai. Kita akan berjalan tanpa bayangan, dan mencintai tanpa sempat mengenal nama.\"Rindu tersenyum, lalu ia mulai berjalan pergi ke arah ilalang perak. Tubuhnya perlahan memudar, menjadi partikel cahaya yang terbang menuju puncak mercusuar. Ferizal menyadari bahwa perempuan itu bukan pembawa koper, melainkan isi dari koper itu sendiri. Ia adalah percakapan terakhir yang tak pernah tersampaikan, sebuah fragmen waktu yang menolak untuk dilupakan.Beberapa waktu kemudian, sebuah surat dengan stempel resmi kenegaraan tiba di kaki mercusuar, dibawa oleh seekor burung camar yang tampak bingung karena tidak menemukan pantai. Surat itu menyatakan bahwa Ferizal lulus tes CPNS. Kabar ini terasa ganjil di kota yang dibangun dari ingatan, namun bagi Ferizal, ini adalah sebuah jembatan menuju kenyataan yang baru.Pemerintah pusat rupanya mulai menyadari pentingnya mengelola aset-aset yang tidak terlihat, dan Ferizal kini resmi diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara di bawah Departemen Pelestarian Makna. Ia tidak lagi sekadar penjaga liar di padang ilalang;


166kini ia memiliki mandat resmi untuk memastikan bahwa setiap ingatan yang rapuh di kota itu terdokumentasi dengan baik dalam arsip negara yang abadi.Meskipun statusnya telah berubah, Ferizal tetap setia di puncaknya. Setiap malam, ia mengenakan seragam barunya yang rapi, namun tangannya tetap kasar karena memutar tuas lampu kristal. Baginya, lulus tes CPNS bukanlah cara untuk pergi meninggalkan mercusuar, melainkan sebuah janji baru kepada negara dan kepada Rindu: bahwa di negeri ini, tidak akan ada satu pun kenangan yang dibiarkan hilang tanpa perlindungan hukum dan cahaya yang terang.Kini, kehidupan Ferizal sebagai abdi negara di kota ingatan itu memiliki ritme yang berbeda. Setiap pagi, ia tidak lagi hanya menatap ilalang, tetapi juga harus mengisi laporan harian pada sistem digital yang cahayanya berpendar di antara kabut masa lalu. Ia mencatat jumlah rindu yang tertampung dan volume air mata yang berhasil dikristalisasi menjadi cahaya.Suatu hari, seorang inspektur dari pusat datang mengunjungi mercusuar tersebut. Sang Inspektur terheran-heran melihat cara kerja Ferizal. \"Kenapa kamu masih menggunakan lampu kristal manual ini? Kita sudah punya teknologi digital untuk menyimpan data ingatan,\" cetusnya sambil membenarkan letak kacamatanya.Ferizal hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang ia pelajari dari Rindu. \"Data mungkin bisa menyimpan fakta, Pak, tapi ia tidak bisa menyimpan rasa. Jika kita hanya mendigitalkan kenangan, kita hanya memiliki angka-angka dingin, bukan kehangatan dari sebuah janji yang ditepati.\"Inspektur itu terdiam saat melihat ke puncak mercusuar. Cahaya di sana bukan lagi biru laut, melainkan warna emas pucat—warna yang muncul saat seseorang memaafkan dirinya sendiri. Di dalam cahaya itu, bayangan Rindu sesekali melintas, bukan sebagai hantu, melainkan sebagai bagian dari ekosistem kota yang kini dilindungi negara.


167Sebagai seorang PNS, Ferizal mendapatkan tunjangan yang cukup untuk memperbaiki tangga-tangga mercusuar yang mulai keropos. Namun, ia menolak untuk mengganti lampu kristalnya dengan lampu LED hemat energi. Ia tahu, ingatan butuh sedikit retakan dan panas untuk tetap terasa hidup.Malam demi malam, Ferizal tetap berdiri di posisinya. Jabatan resminya mungkin \"Pengelola Data Arsip Vital,\" namun di hatinya, ia tetaplah sang penjaga cahaya. Ia menyadari bahwa kelulusannya bukan sekadar pencapaian karier, melainkan legitimasi bahwa tugas menjaga hal-hal yang tak terlihat adalah pekerjaan paling mulia di dunia yang semakin bising.Di kota itu, waktu tetap melingkar. Dan di puncak tertinggi, Ferizal memastikan bahwa meski raga seseorang telah lama pergi, jejak mereka akan tetap abadi dalam cahaya sunyi yang ia jaga dengan penuh tanggung jawab, atas nama cinta dan atas nama negara.Tahun-tahun berlalu, dan Ferizal kini telah mencapai pangkat yang cukup tinggi di birokrasi kota itu. Meskipun ia bisa saja pindah ke kantor pusat yang lebih megah dengan pendingin ruangan dan lantai marmer, ia tetap memilih mercusuar di padang ilalang perak sebagai kantor definitifnya. Baginya, setiap kenaikan pangkat hanyalah cara untuk mendapatkan wewenang lebih besar dalam melindungi fragmen-fragmen kenangan yang mulai dianggap usang oleh modernitas.Suatu sore, seorang pemuda magang dikirim dari ibu kota untuk membantunya. Pemuda itu datang dengan membawa tablet canggih dan ambisi yang meluap-luap. \"Pak Ferizal,\" katanya dengan nada skeptis, \"mengapa kita menghabiskan anggaran negara untuk menjaga kenangan tentang aroma kamboja atau suara hujan? Bukankah lebih baik kita fokus pada ingatan kolektif yang produktif, seperti sejarah pembangunan atau inovasi teknologi?\"


168Ferizal mengajaknya naik ke puncak mercusuar tepat saat matahari terbenam. Ia membiarkan pemuda itu melihat bagaimana koper-koper imajiner dari penduduk kota mulai berdatangan, terbang seperti kunang-kunang menuju lampu kristal.\"Kau lihat itu?\" tanya Ferizal sambil menunjuk cahaya yang berdenyut. \"Itu adalah ingatan seorang kakek tentang lagu pengantar tidur ibunya. Dan yang di sana, yang berwarna jingga, adalah rasa gugup seseorang saat pertama kali menyatakan cinta. Jika negara hanya menjaga hal-hal yang 'produktif', maka kita akan menjadi bangsa yang pintar, tetapi tidak punya jiwa. Kita akan menjadi sekumpulan angka yang berjalan tanpa tahu mengapa kita merasa sedih saat melihat senja.\"Pemuda magang itu terdiam. Untuk pertama kalinya, ia mematikan tabletnya dan merasakan angin yang membawa aroma garam yang mustahil itu.Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai PNS, Ferizal menerima surat keputusan pensiun yang akan datang beberapa tahun lagi. Namun, ia tidak merasa cemas. Ia telah menyiapkan generasi baru untuk mengerti bahwa menjadi penjaga ingatan bukan sekadar tentang administrasi, melainkan tentang pengabdian pada kemanusiaan.Ketika ia turun ke pelataran, ia melihat bayangan Rindu samar-samar di antara ilalang. Kali ini, Rindu tidak membawa koper. Ia hanya berdiri di sana, tersenyum, seolah merestui setiap stempel dan tanda tangan yang telah Ferizal bubuhkan demi keabadian rasa. Ferizal memperbaiki posisi lencana korps di seragamnya, menarik napas dalam-dalam, dan kembali menatap cakrawala. Di kota yang dibangun dari ingatan ini, ia telah berhasil membuktikan bahwa bahkan seorang pegawai negeri pun bisa menjadi penyair bagi jiwa-jiwa yang terlupakan.Masa pensiun akhirnya tiba, namun Ferizal tidak benar-benar pergi. Negara memberinya gelar \"Penjaga Utama Emeritus\", sebuah penghormatan bagi satusatunya abdi negara yang berhasil menyatukan birokrasi dengan puisi.


169Ia tidak lagi diwajibkan mengisi laporan harian, namun ia tetap tinggal di pondok kecil di bawah kaki mercusuar, tempat di mana ilalang perak tumbuh paling tinggi.Suatu malam, kota itu mengalami \"Badai Lupa\" yang hebat—sebuah fenomena langka di mana arus informasi dari dunia luar masuk terlalu deras, mengancam akan menyapu bersih ingatan-ingatan kecil yang selama ini dijaga Ferizal. Lampu kristal di puncak mercusuar bergetar hebat, sinarnya meredup, nyaris kalah oleh kebisingan logika yang dingin.Pemuda magang yang kini telah menggantikannya panik. \"Pak Ferizal! Sistem tidak bisa merespons! Data-data ini akan hilang!\" teriaknya dari atas menara.Ferizal berjalan tenang menuju puncak, meski langkahnya tak lagi sekuat dulu. Ia tidak menyentuh komputer atau tablet. Ia justru mengeluarkan sebuah buku catatan kusam dari saku seragam lamanya—buku yang berisi tulisan tangan tentang setiap koper yang pernah ia terima, setiap aroma yang pernah ia hirup, dan setiap nama yang pernah dibisikkan angin.\"Baca ini dengan lantang,\" perintah Ferizal. \"Ingatan tidak butuh daya listrik, ia hanya butuh suara yang mengakuinya.\"Suara pemuda itu menggema, membacakan rincian-rincian kecil: tentang rasa kopi di pagi hari yang tenang, tentang warna baju seseorang di pertemuan pertama, tentang janji-janji yang meski tak ditepati, tetap pernah ada. Perlahan, lampu kristal itu kembali berpendar. Kali ini cahayanya meluap, membentuk kubah pelindung di atas kota. Badai itu mereda.Keesokan paginya, kota itu terasa lebih jernih. Penduduknya terbangun dengan perasaan syukur yang aneh, seolah mereka baru saja diselamatkan dari mimpi buruk kelenyapan.


170Ferizal duduk di pelataran, menatap burung camar yang kini telah membuat sarangdi langkan mercusuar. Ia menyadari bahwa tugasnya telah selesai sepenuhnya. Ia bukan lagi sekadar penjaga; ia telah menjadi bagian dari ingatan kota itu sendiri.Rindu muncul untuk terakhir kalinya, kini sepenuhnya nyata dalam cahaya pagi. Ia mengulurkan tangan, bukan untuk menitipkan koper, melainkan untuk mengajak Ferizal berjalan melintasi cakrawala yang kini mulai menampakkan garis pantai—sebuah tanda bahwa ingatan yang dijaga dengan tulus akan akhirnya membawa seseorang menuju kedamaian yang sesungguhnya.Di arsip pusat, nama Ferizal tercatat sebagai pegawai teladan. Namun di padang ilalang perak, namanya abadi sebagai angin yang selalu berhasil memulangkan setiap rindu ke pelukannya yang paling sunyi.**************************CERPEN : Pemuda Desa Menjadi Abdi NegaraKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaDi sebuah desa kecil yang terletak di antara pegunungan, hiduplah seorang pemuda bernama Ferizal. Setiap hari, Ferizal menghabiskan waktunya di ladang, menanam padi dan sayuran. Namun, di balik senyumnya yang ramah, tersimpan rasa sepi yang mendalam. Ia merasa terasing, meskipun dikelilingi oleh keluarga dan teman-teman.Suatu sore, saat matahari mulai merunduk di balik bukit, Ferizal berjalan menuju tepi sungai. Airnya jernih, memantulkan cahaya keemasan senja. Di sana, ia melihat seorang nenek tua yang duduk di atas batu besar, menatap jauh ke arah aliran sungai. Nenek itu tampak tenang, seolah dunia di sekelilingnya tidak ada artinya.“Kenapa kau duduk sendirian, Nek?” tanya Ferizal, mendekati nenek itu.


171Nenek itu menoleh, matanya berkilau seperti bintang di malam hari. “Aku menunggu sesuatu yang hilang,” jawabnya pelan.“Apakah itu sesuatu yang berharga?” Ferizal penasaran.“Ya, sesuatu yang lebih berharga dari emas. Itu adalah waktu,” jawab nenek itu sambil tersenyum. “Setiap detik yang kita lewatkan adalah bagian dari hidup kita yang tidak akan kembali.”Ferizal terdiam, merenungkan kata-kata nenek itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia terjebak dalam rutinitas, tidak pernah benar-benar menghargai setiap momen yang ada. Ia hanya hidup untuk bekerja, tanpa menikmati keindahan di sekelilingnya.“Bagaimana cara menemukan waktu yang hilang itu?” tanya Ferizal.“Dengan menghargai setiap detik yang kau miliki. Luangkan waktu untuk melihat, mendengar, dan merasakan. Hidup bukan hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang perjalanan,” jawab nenek itu.Sejak hari itu, Ferizal mulai mengubah cara pandangnya. Ia mulai berjalan di ladang dengan lebih perlahan, menikmati aroma tanah basah setelah hujan, mendengarkan suara burung yang berkicau, dan merasakan angin yang berhembus lembut di wajahnya. Ia belajar untuk berbicara lebih banyak dengan keluarganya, mendengarkan cerita-cerita mereka, dan tertawa bersama.Hari-hari berlalu, dan Ferizal merasa hidupnya semakin penuh. Ia tidak lagi merasa sepi, karena ia telah menemukan keindahan dalam hal-hal kecil. Setiap senja, ia kembali ke tepi sungai, berharap untuk bertemu dengan nenek tua itu. Namun, nenek itu tidak pernah muncul lagi.Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang, Ferizal duduk di tepi sungai, merenungkan semua yang telah ia pelajari.


172Ia menyadari bahwa nenek itu adalah simbol dari kebijaksanaan yang sering kali terabaikan. Dalam kesunyian malam, ia berjanji untuk terus menghargai setiap momen dalam hidupnya, karena waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.Kelanjutan: Harapan di Ujung SenjaNasihat nenek itu menjadi kompas baru bagi Ferizal. Ia tidak lagi memandang bukubuku usang di meja kamarnya sebagai beban, melainkan sebagai jembatan menuju pengabdian yang lebih besar. Di sela-sela waktu mencangkul, ia mulai tekun mempelajari materi tes CPNS yang selama ini hanya ia pandang dengan penuh keraguan.Bulan demi bulan berganti. Ujian demi ujian ia lalui dengan ketenangan yang luar biasa. Baginya, belajar bukan lagi sekadar mengejar status, melainkan bentuk penghargaan terhadap waktu yang ia miliki. Saat pengumuman hasil akhir tiba, desa kecil itu mendadak riuh. Nama Ferizal tertera di baris teratas daftar mereka yang lulusTES CPNS.Sore itu, Ferizal kembali ke tepi sungai. Langit berwarna jingga pekat, persis seperti saat ia pertama kali bertemu sang nenek. Ia mengenakan kemeja rapi, bersiap untuk memulai babak baru sebagai abdi negara. Ia menatap aliran air yang tenang, membawa rasa syukur yang tak terhingga.\"Nek, aku sudah memahami maksudmu,\" bisiknya pada angin. \"Waktu tidak hilang jika kita menggunakannya untuk menebar manfaat.\"Meskipun tugas baru akan membawanya keluar dari desa, Ferizal tahu bahwa kaki yang melangkah di aspal kota akan tetap memiliki jiwa yang mencintai aroma tanah basah dan ketenangan senja.


173Di ujung senja kali ini, ia bukan lagi pemuda yang kesepian, melainkan pria yang siap mengabdikan waktunya untuk masa depan yang lebih cerah.Beberapa minggu kemudian, Ferizal mulai mengemasi barang-barangnya. Sebuah tas tua berisi pakaian dan beberapa buku catatan menjadi saksi bisu perpindahannya ke kota kabupaten tempat ia akan bertugas. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri mengunjungi ladang yang selama ini ia garap.“Jaga diri baik-baik di sana, Rizal,” ucap ayahnya sambil menepuk bahu putranya dengan bangga. Ibunya memberikan bekal nasi bungkus daun pisang, simbol kasih sayang yang akan selalu ia rindukan.Sesampainya di kantor pemerintahan yang megah, Ferizal tidak membiarkan dirinya silau oleh jabatan. Ia teringat pesan nenek di tepi sungai: hidup adalah tentang perjalanan. Di meja kerjanya yang baru, ia melayani setiap warga yang datang dengan senyum ramah yang sama seperti saat ia menyapa tetangganya di desa. Ia tidak ingin menjadi birokrat yang kaku; ia ingin menjadi manusia yang hadir sepenuhnya di setiap detik pekerjaannya.Suatu hari, Ferizal ditugaskan untuk meninjau sebuah proyek pembangunan di daerah terpencil. Perjalanan itu membawanya melewati pegunungan yang sangat mirip dengan kampung halamannya. Saat matahari mulai merunduk, ia meminta sopir kantor untuk berhenti sejenak di sebuah jembatan yang melintasi sungai berbatu.Ia berdiri di tepi jembatan, menatap cahaya keemasan yang memantul di air. Di kejauhan, ia melihat seorang pemuda sedang duduk termenung di tepi sungai, persis seperti dirinya dulu. Ferizal tersenyum tipis. Ia turun dari mobil, menghampiri pemuda itu, dan duduk di sampingnya.“Indah ya senjanya?” sapa Ferizal lembut.


174Pemuda itu menoleh, tampak terkejut melihat seseorang berpakaian dinas mau duduk di tanah bersamanya. “Iya, Pak. Tapi senja selalu berlalu terlalu cepat.”Ferizal menatap aliran sungai, lalu mengutip kata-kata yang telah mengubah hidupnya. “Memang cepat, tapi setiap detik yang kita lewatkan adalah bagian dari hidup yang takkan kembali. Jangan hanya menunggu senja berakhir, tapi hargailah setiap perubahan warnanya.”Di bawah langit yang perlahan menggelap, Ferizal menyadari bahwa tugasnya kini bukan hanya mengabdi pada negara melalui berkas-berkas di atas meja, tetapi juga meneruskan estafet kebijaksanaan yang pernah ia terima. Ia telah lulus dari tes CPNS, namun ia sadar bahwa tes kehidupan yang sesungguhnya adalah bagaimana ia tetap membumi meski telah terbang tinggi.Dengan hati yang damai, ia kembali ke mobilnya. Di ujung senja itu, Ferizal bukan lagi pencari makna, melainkan pembawa cahaya bagi orang lain yang masih terjebak dalam sepi.Seiring berjalannya waktu, Ferizal dikenal sebagai sosok abdi negara yang tidak hanya cekatan, tetapi juga memiliki empati tinggi. Keberhasilannya di kantor membawanya pada sebuah tanggung jawab besar: memimpin program pemberdayaan ekonomi untuk desa-desa terpencil, termasuk desa kelahirannya sendiri.Suatu hari, ia kembali ke desa kecilnya dengan membawa rencana pembangunan yang selama ini ia impikan. Ia ingin memastikan bahwa para petani di sana tidak hanya bekerja keras, tetapi juga memiliki waktu yang lebih berkualitas dengan teknologi pertanian yang lebih efisien. Ia ingin mereka memiliki waktu untuk benar-benar \"hidup\", sebagaimana yang diajarkan sang nenek kepadanya.


175Saat sedang berjalan meninjau lokasi pembangunan irigasi, langkah kaki Ferizalterhenti di depan batu besar di tepi sungai tempat ia dulu bertemu sang nenek. Tempat itu masih sama, tenang dan penuh aura magis di bawah siraman cahaya jingga.Tiba-tiba, ia melihat seorang anak kecil sedang menangis di atas batu itu karena layang-layangnya tersangkut di dahan pohon yang tinggi. Ferizal mendekat dengan senyum hangat yang tak pernah hilang dari wajahnya.\"Kenapa menangis, Dik?\" tanya Ferizal sambil membantu melepaskan layang-layang itu dengan hati-hati.\"Aku takut kehilangan layang-layang ini, Pak. Ini hadiah dari ayahku,\" jawab anak itu terisak.Setelah berhasil menyelamatkannya, Ferizal menyerahkan layang-layang itu dan duduk sejenak di samping sang anak. \"Layang-layang bisa dicari lagi, tapi waktu yang kamu habiskan untuk bersedih tidak akan bisa kembali. Jadi, tersenyumlah. Lihatlah betapa cantiknya langit sore ini.\"Anak itu menatap langit, lalu menatap Ferizal dengan mata yang berbinar. \"Bapak bicara seperti nenek tua yang dulu sering duduk di sini.\"Jantung Ferizal berdegup kencang. \"Nenek tua? Kamu pernah melihatnya?\"\"Dulu sekali, sebelum Bapak pergi ke kota. Dia bilang dia sedang menunggu seseorang yang siap membawa pesannya pergi jauh dari sungai ini,\" jawab anak itu polos sebelum berlari pulang sambil melambaikan tangan.Ferizal tertegun. Ia menyadari bahwa kehadirannya di sana, keberhasilannya menjadi lulus menjadi CPNS, dan perubahan hidupnya bukanlah sekadar kebetulan atau keberuntungan semata. Itu adalah amanah. Sang nenek mungkin tidak pernah benarbenar pergi; ia hanya berpindah tempat ke dalam hati dan tindakan Ferizal.


176Kini, setiap kali ia menandatangani kebijakan atau membantu warga, Ferizal selalu ingat bahwa di balik setiap berkas ada waktu hidup seseorang yang sangat berharga. Di ujung senja yang damai itu, Ferizal berdiri tegak dengan seragamnya, menatap masa depan dengan keyakinan bahwa hidup yang paling berarti adalah hidup yang dihabiskan untuk menghargai waktu dan melayani sesama.Gema di Atas Batu BesarTahun-tahun kemudian, jabatan dan seragam bukan lagi menjadi identitas utama bagi Ferizal. Ia telah menjadi personifikasi dari waktu itu sendiri—tenang, mengalir, namun pasti. Rambutnya mulai dihiasi helai-helai perak, sebuah kronik alami tentang detik-detik yang ia muliakan.Suatu sore, saat cakrawala membara oleh sisa-sisa api matahari, Ferizal kembali ke batu besar itu. Ia tidak datang sebagai pejabat, tidak pula sebagai penggerak desa. Ia datang sebagai seorang pengelana yang rindu pada titik keberangkatannya. Sungai di hadapannya masih membawa nyanyian yang sama, sebuah simfoni tentang keabadian dan kefanaan yang berkelindan.Di atas batu itu, ia merasakan dinginnya permukaan pori-pori batu yang purba. Ia menutup mata, dan dalam keheningan itu, ia menyadari sebuah kebenaran sastrawi yang paling murni: nenek tua itu tidak pernah benar-benar ada di luar dirinya.Ia adalah proyeksi dari nurani yang meronta di tengah rutinitas yang membunuh jiwa. Sang nenek adalah personifikasi dari \"Waktu\" yang memanggil \"Kesadaran\".Kini, setiap embusan napas Ferizal adalah bait puisi tentang pengabdian. Lulusnya ia dalam tes CPNS hanyalah sebuah metonimia dari keberhasilannya menaklukkan ego diri. Ia telah bertransformasi dari sebuah titik yang statis menjadi sebuah garis yang terus memanjang, menghubungkan harapan-harapan kecil di desa dengan kenyataan besar di dunia luar.


177Sambil menatap bayangannya yang mulai memudar di permukaan air, Ferizaltersenyum. Ia mengambil sebuah daun kering yang jatuh, membiarkannya hanyut terbawa arus. Ia paham, hidup tidak perlu digenggam terlalu erat hingga remuk; hidup hanya perlu dialami sesederhana aliran sungai yang tidak pernah bertanya ke mana ia akan bermuara.Di ujung senja itu, langit akhirnya menyerah pada malam. Namun bagi Ferizal, kegelapan bukan lagi ancaman. Sebab di dalam dadanya, ia telah menyalakan pelita dari setiap detik yang ia hargai. Ceritanya tidak berakhir, ia hanya larut ke dalam angin, menjadi bisikan bagi setiap pemuda yang duduk termenung di tepi sungai mana pun, yang sedang menunggu \"waktu\" mereka untuk tiba.Dalam bekerja, Ferizal selalu bertindak jujur, dia introvert sejati. Daripada tidak jujur, lebih baik kehilangan jabatan dan menjadi staf biasa saja di kantor tempat bekerja.Di tepi sebuah sungai tua yang airnya mengalir lambat, Ferizal duduk menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Sungai itu bukan sekadar aliran air; ia adalah kitab yang menulis ulang waktu, membawa serpihan daun, bisikan angin, dan rahasia yang tak pernah selesai.Ferizal menatap permukaan yang berkilau, seolah mencari wajahnya sendiri yang hilang. Namun yang muncul hanyalah bayangan seorang anak kecil, berlari di tepian, tertawa dengan riang. Bayangan itu bukan kenangan, melainkan gema masa depan yang tak pernah ia capai.“Apakah sungai ini menipu?” gumamnya. “Atau aku yang terlalu lama menunggu di kursi rapuh ini?”Seekor burung hitam hinggap di dahan, menatapnya dengan mata tajam. Burung itu tidak berkicau, hanya diam, seakan menjadi saksi bisu dari segala penantian.


178Ferizal tersenyum getir, lalu melemparkan sebuah batu kecil ke air. Riak menyebar, bayangan anak itu pun pecah, lenyap bersama lingkaran yang melebar.Namun, justru dalam kehampaan itu ia menemukan sesuatu: keheningan yang lebih jujur daripada suara. Sungai tidak pernah berjanji, ia hanya mengalir. Dan Ferizal akhirnya mengerti, penantian bukanlah tentang kedatangan, melainkan tentang keberanian untuk melepaskan.Ia bangkit perlahan, meninggalkan kursi tua, meninggalkan sungai, meninggalkan bayangan. Burung hitam mengepakkan sayapnya, mengikuti langkahnya dari kejauhan.Sungai tetap mengalir, seolah tak pernah peduli. Tetapi di dalam hati lelaki itu, sebuah pintu terbuka: pintu menuju pulang.Bayangan di Tepi SungaiLangkah Ferizal menyusuri jalan tanah yang dipenuhi akar-akar pohon tua. Burung hitam masih setia mengikuti, kadang hinggap di bahunya, kadang terbang rendah di depan, seolah menjadi penunjuk arah.Di kejauhan, ia melihat sebuah rumah kayu yang sudah lama ditinggalkan. Jendelajendelanya terbuka, tirai lusuh berkibar pelan. Ferizal berhenti, merasakan getaran aneh di dadanya. Rumah itu bukan sekadar bangunan; ia adalah cermin dari dirinya sendiri—rapuh, ditinggalkan, namun masih berdiri.Ia masuk perlahan. Di dalam, debu menari bersama cahaya matahari yang menembus celah dinding. Di meja tua, ia menemukan sebuah buku catatan. Halamannya kosong, kecuali satu kalimat yang tertulis dengan tinta pudar:\"Jangan menunggu sungai, jadilah sungai, lakukan inovasi dalam bekerja.\"


179Lelaki itu terdiam. Kata-kata itu seperti bisikan masa lalu yang akhirnya menemukan jalannya kembali. Ia merasakan beban penantian yang selama ini mengikatnya mulai runtuh.Burung hitam berputar di atas kepalanya, lalu keluar lewat jendela, menuju langit yang biru. Lelaki itu menutup buku catatan, membawanya keluar. Ia tahu, perjalanan belum selesai. Namun kali ini, ia tidak lagi menunggu. Ia berjalan, menjadi aliran itu sendiri.Ferizal berjalan mengikuti desir angin yang seolah menuntunnya. Di setiap langkah, ia merasa dirinya semakin ringan, seakan beban bertahun-tahun yang menempel di punggungnya mulai luruh.Di sebuah persimpangan jalan, ia bertemu seorang gadis muda yang sedang menimba air dari sumur. Gadis itu menatapnya dengan mata jernih, lalu berkata pelan, “Air selalu mencari jalan pulang. Begitu juga manusia. Ini era Digital AI, berkarya untuk Negara.”Lelaki itu tertegun. Kata-kata sederhana itu menyalakan api kecil di hatinya. Ia menyadari bahwa sungai, rumah tua, burung hitam, dan kini gadis muda itu hanyalah cermin dari perjalanan batinnya sendiri. Semua adalah tanda, semua adalah bahasa yang harus ia baca.Ia tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan. Burung hitam kembali hinggap di bahunya, kali ini tidak lagi sebagai saksi, melainkan sebagai teman. Ferizal tahu, ia sedang menuju akhir dari penantian panjang—bukan akhir yang menutup, melainkan awal yang membuka sebagai Abdi Negara.Di kejauhan, ia melihat cahaya yang memancar dari hutan. Cahaya itu bukan matahari, melainkan sesuatu yang lebih dalam: sebuah panggilan. Ia melangkah mantap, membawa buku catatan tentang Inovasi Digital AI, siap menulis kisah baru dengan tangannya sendiri.


180CERPEN : Penjual Buku Keliling Menjadi Abdi NegaraKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaFerizal menghabiskan masa mudanya dengan sepeda tua, membawa tumpukan buku ke pelosok desa yang tak terjangkau internet. Baginya, setiap halaman yang dibaca anak-anak adalah benih kecerdasan bangsa. Meski hanya seorang penjual buku kecil, impiannya adalah melihat seluruh anak di daerahnya melek literasi.Suatu ketika, Bapak Walikota melihat kegigihan Ferizal yang mengajar membaca di bawah pohon rindang tanpa memungut biaya. Terkesan dengan dedikasinya, Ferizal disarankan untuk mengikuti seleksi CPNS demi untuk pengabdian masyarakat di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah.Perjuangan Menuju Kursi Pegawai NegeriTantangan baru pun dimulai. Di sela-sela waktu berjualan buku, Ferizal mulai belajar dengan giat. Ia memanfaatkan sisa-sisa buku latihan soal yang tidak laku terjual untuk dipelajari di bawah lampu minyak saat malam hari. Baginya, tes CPNS ini bukan sekadar mengejar status, melainkan kesempatan untuk menyebarkan literasi dengan jangkauan yang lebih luas.Saat hari ujian tiba, Ferizal datang dengan semangat yang sama seperti saat ia mengayuh sepedanya. Dengan ketenangan dan pengetahuan yang ia himpun dari ribuan buku yang pernah dibacanya, ia berhasil melewati ambang batas nilai dengan hasil yang memuaskan. Pengabdian tulusnya selama bertahun-tahun di jalanan desa kini diakui secara resmi oleh negara.Masa Depan Literasi


181Kini, Ferizal tidak lagi mengayuh sepeda tua di jalanan berdebu. Setelah dinyatakan lulus dan dilantik, ia dipercaya mengelola perpustakaan keliling modern milik Pemerintah serta menyusun program literasi tingkat daerah.Ferizal membuktikan bahwa mencintai ilmu pengetahuan dan bekerja dengan ikhlas bisa membawa seseorang dari jalanan desa menuju kursi pengabdian resmi bagi negara. Semangatnya tetap sama: memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam mengenal jendela dunia.Perjalanan Ferizal tidak berhenti pada seragam cokelat yang dikenakannya. Di balik meja birokrasi, imajinasi dan rasa cintanya terhadap literasi justru semakin membara, hingga ia memutuskan untuk menuangkan seluruh pengalamannya ke dalam untaian kata.Lahirnya Sang Pujangga PengabdiDi sela-sela kesibukannya menyusun program literasi, Ferizal mulai menulis di penghujung malam. Ia menulis tentang dua hal yang paling ia pahami: Sastra Cinta dan Pengabdian. Baginya, cinta bukan sekadar romantisme dua insan, melainkan gairah tulus saat melihat seorang anak desa bisa mengeja huruf pertama mereka.Buku pertamanya, yang diberi judul \"Lentera di Jalan Berdebu\", meledak di pasaran. Isinya adalah kumpulan prosa dan puisi yang mengisahkan getirnya hidup sebagai penjual buku keliling, namun dibalut dengan bahasa yang sangat puitis dan menyentuh hati. Para pembaca seolah diajak ikut merasakan panasnya terik matahari saat ia mengayuh sepeda, serta sejuknya harapan yang tumbuh di bawah pohon rindang tempat ia mengajar.Menyuarakan Suara yang Terlupakan


182Karya-karya Ferizal dikenal karena keberaniannya memadukan keindahan sastra dengan kritik sosial yang membangun. Ia menulis tentang dedikasi tanpa pamrih para abdi negara di garda terdepan. Melalui tulisan-tulisannya, ia menyuarakan bahwa pengabdian kepada negeri adalah bentuk cinta tertinggi—sebuah pengorbanan yang tidak selalu terlihat, namun memberikan dampak nyata bagi masa depan bangsa.Namanya kini tidak hanya dikenal di lingkungan dinas, tetapi juga di kancah sastra nasional. Ferizal sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai festival literasi, di mana ia selalu menyampaikan pesan yang sama:\"Menulis adalah cara kita mencintai negeri ini selamanya. Jika fisik kita terbatas oleh usia, biarlah gagasan kita hidup abadi dalam lembaran buku.\"Warisan untuk NegeriKini, Ferizal adalah sosok lengkap: seorang birokrat yang visioner dan seorang sastrawan yang penuh empati. Hasil penjualan bukunya tidak ia simpan sendiri; sebagian besar ia donasikan untuk membangun taman baca di pelosok-pelosok desa yang dulu pernah ia lalui dengan sepeda tuanya.Ferizal telah membuktikan bahwa seorang Abdi Negara tidak harus kaku dalam aturan. Dengan pena di tangan, ia terus melukis masa depan Indonesia yang lebih cerdas, lebih puitis, dan penuh dengan cinta yang tulus bagi Ibu Pertiwi.Pulang ke AkarSetelah puluhan tahun mengabdi sebagai Aparatur Negara dan penulis ternama, masa pensiun Ferizal tiba. Namun, bagi seorang pecinta literasi, tidak ada kata pensiun untuk berbagi ilmu. Ia kembali ke desa tempat ia dulu memulai segalanya dengan sepeda tua.


183Di tanah kelahirannya, ia mendirikan \"Griya Sastra Ferizal\", sebuah pusat literasi modern yang arsitekturnya tetap mempertahankan nuansa rumah desa yang hangat. Di sana, bukan hanya buku yang tersedia, tetapi juga ruang bagi para pemuda untuk belajar menulis dan berdiskusi tentang kebangsaan.Suatu sore, Ferizal duduk di teras griya tersebut, memandangi sebuah monumen kecil di halaman depan: sepeda tua miliknya yang kini telah dicat ulang dan diletakkan di atas tumpuan beton. Sepeda itu menjadi simbol bahwa setiap langkah besar selalu dimulai dari kayuhan yang sederhana.Ia mengambil pena, membuka lembar terakhir dari buku catatan pribadinya, dan menuliskan kalimat penutup bagi seluruh perjalanan hidupnya:\"Pengabdian bukan tentang seberapa tinggi kursi yang kita duduki, tapi seberapa luas manfaat yang kita tebar saat kita berjalan di atas bumi. Aku memulai dari jalanan berdebu, dan aku pulang dengan hati yang penuh.\"Ferizal tersenyum. Tugasnya sebagai penjual buku telah usai, tugasnya sebagai abdi negara telah tuntas, namun tugasnya sebagai manusia untuk terus mencintai negerinya akan terus hidup melalui ribuan halaman yang telah ia wariskan.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026057816, 2 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Mendahului Perpres AI danmendahului revisi UU Hak Cipta. Ferizal juga adalah Bapak SastraKesehatan Indonesia. Sebagai bentuk proteksi hukum untuk belanegara : Upaya urgensi menegakkan kedaulatan bangsamendahului kecanggihan mesin AI masa depan. Sebagai fondasisejarah dan inovasi jangka panjang intelektual demi perjuanganmenuju sukses Indonesia Emas 2045Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001217305adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026058559, 4 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya : A. TetralogiPuisi : Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI danRevisi UU Hak Cipta, B. Cerpen : Genre Sastra PNS IndonesiaLahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta, C. Cerpen :PNS Garda Terdepan Pelayanan, Demi Pengabdian danPatriotisme, D. Cerpen : PNS Setia di Bawah Panji Pertiwi,Mengabdi Untuk Negeri, E. Puisi : PNS Pelayan PublikTanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001218756adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026061421, 8 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya demiIndonesia Emas 2045, sebelum Perpres AI dan sebelum Revisi UUHak Cipta yaitu Tetralogi Cerpen Romantisme Pujangga SastraPNS : A. Cerpen Penjahit Bayangan Menjadi Abdi Negara, B.Cerpen Penjaga Mercusuar Menjadi Abdi Negara, C. CerpenPemuda Desa Menjadi Abdi Negara, D. Cerpen Penjual BukuKeliling Menjadi Abdi NegaraTanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001225166adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026062181, 10 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya untukIndonesia Emas 2045 : A. Manifesto Sastra PNS Indonesia,memperkaya khazanah Sastra Dunia dengan perspektif baru padazaman disrupsi AI, B. Cerpen Jejak Para Pendiri Genre SastraDunia, Ferizal bergabung didalamnya, C. Cerpen Sastra PNSIndonesia, memperkaya khazanah Sastra Dunia dengan perspektifbaru pada zaman disrupsi AITanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001226860adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026065078, 15 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya : A. NoveletSastra Level Dunia : MBG ( Makan Bergizi Gratis ). B. ModelPelayanan Publik PUJANGGA SADA ( Pelayanan Umum BerjiwaTanggap dengan Aneka Sastra Dunia ). Dalam bahasa Sansekerta,kata Sada memiliki arti selalu, tetap, abadi, atau selamanya.Sehingga memiliki landasan nilai sejarah sastra yang luhur dariera Kerajaan NusantaraTanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001232689adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


1


2KEPENGARANGAN :Judul Buku : NOVELET KOPERASI DESA MERAH PUTIH ( KDMP )merupakan contoh dari Model Pelayanan Publik PUJANGGA SADA. Karya Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaPenulis / Editor : FerizalQRCBN : 62-6418-7198-944https://www.qrcbn.com/check/62-6418-7198-944Pembuat Sampul : FerizalJumlah Halaman : 230Jenis Penerbitan : PT. TV FANA SPM KESEHATAN PUSKESMASEdisi : 16-5-2026Puskesmas Muara Satu, Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh 24353


3NOVELET KOPERASI DESA MERAH PUTIH ( KDMP )merupakan contoh dari Model Pelayanan Publik PUJANGGA SADAModel PUJANGGA SADA adalah singkatan dari Pelayanan Umum Berjiwa Tanggap dengan Aneka Sastra Dunia. Kata Sada berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti selalu, tetap, abadi, atau selamanya. Pelayanan Publik yang “Berjiwa Tanggap” : Ferizal dan Mauliyani bukan birokrat pasif. Mereka mendokumentasikan kasus, mendidik warga, membangun koperasi dari bawah, memanfaatkan program nasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan menangani kasus darurat secara manual ketika sistem digital belum sempurna. Ini mencerminkan esensi pelayanan publik yang tanggap (responsif) — selalu siap, abadi dalam dedikasi (Sada)Novelet ini bukan sekadar fiksi sosial. Ia manifesto naratif dari Model Pelayanan Publik PUJANGGA SADA. Melalui tokoh Ferizal dan Mauliyani, cerita ini menunjukkan bagaimana PNS dapat menjadi pujangga kontemporer: menggunakan aneka sastra dunia sebagai lentera, kearifan Nusantara sebagai akar, dan pelayanan yang tanggap sebagai pengabdian abadi (Sada).Ia membuktikan bahwa pelayanan publik terbaik bukan hanya prosedural, melainkan berjiwa sastra — mampu membaca penderitaan rakyat seperti membaca halaman novel, dan menuliskan solusinya dengan tinta keringat, gotong royong, serta teknologi yang dijiwai kemanusiaan.Agen perubahan sosial melalui sastra. Ini adalah wujud nyata Sada — nilai abadi bahwa sastra harus selalu melayani kehidupan rakyat.


4


5NOVELET KOPERASI DESA MERAH PUTIH ( KDMP )merupakan contoh dari Model Pelayanan Publik PUJANGGA SADAFerizal memandangi barisan buku di rak kayunya yang mulai lapuk. Di sana berjajar karya fiksi Leo Tolstoy, hingga naskah teater Bertolt Brecht. Bagi Ferizal, buku-buku kuno itu bukan sekadar tumpukan kertas. Mereka adalah cetak biru perjuangan yang belum usai.\"Dulu, Tolstoy rela turun langsung ke ladang dan mendirikan sekolah demi mengangkat derajat para petani tanah,\" gumam Ferizal. Jemarinya mengusap lembut sampul tebal novel War and Peace, meresapi setiap jejak pemikiran yang tertuang di dalamnya.Ia menghela napas, ia memandangi naskah drama Bertolt Brecht, sang dramawan Jerman yang meruntuhkan sekat penonton lewat teater epik agar masyarakat sadar akan ketimpangan kelas dan berani melawan penindasan kapitalisme\"Mereka melihat ketimpangan dan menuliskan solusinya. Tolstoy turun langsung menggarap ladang bersama petani. Tapi di desa kita, fajar ekonomi yang adil itu seperti enggan terbit.\"Di luar jendela, kabut pagi bergulung di atas ladang jagung. Selama bertahuntahun, tanah subur itu seperti dikutuk. Petani menanam dengan peluh, tetapi tengkulak yang memanen untung. Sistem ijon dan pinjol ilegal mengikat leher warga, membuat kata 'kesejahteraan' hanya menjadi bait puisi yang fiktif dan utopis.


6Bab 1 Aroma Tanah Yang MembumiFerizal tahu musim tanam sudah tiba bukan dari kalender di dinding kantor camat — melainkan dari bau tanah yang berubah. Aroma itu masuk lewat jendela loket yang selalu ia tinggalkan terbuka, melintas di antara tumpukan berkas administrasi, dan hinggap di ujung hidungnya seperti peringatan lama yang tak pernah benar-benar pergi.Sebagai staf Sekretariat Kecamatan Tanjungsari yang ditugaskan sebagai Penjabat Kepala Urusan di Desa Sukamaju, Ferizal sudah terlalu sering melihat wajah-wajah itu datang. Wajah petani yang matanya menyimpan kalkulasi rumit: berapa liter pupuk untuk satu petak, berapa kilogram jagung yang akan dipanen, dan — yang paling pahit — berapa persen dari panen itu yang sudah tergadai bahkan sebelum benih ditaburkan.Ijon. Kata itu terasa seperti duri di lidah setiap kali Ferizal mendengarnya di warung kopi atau di lorong-lorong kantor. Sistem tua yang terus hidup dalam wajah baru: kadang berseragam koperasi palsu, kadang beroperasi lewat aplikasi pinjaman online yang ikonnya berwarna-warni dan janjinya menggiurkan seperti permen beracun.Sore itu, ketika jarum jam kantor menunjukkan pukul empat lebih sepuluh menit, Ferizal duduk di beranda belakang kantor kecamatan setelah melapor ke Camat, dengan sebuah buku catatan lusuh di pangkuannya. Ia tidak mencatat angka — ia mencatat nama-nama. Nama warga yang pernah datang meminta bantuan karena sawahnya disita tengkulak. Nama keluarga yang anaknya putus sekolah karena cicilan pinjol menggerogoti penghasilan bulanan. Nama-nama itu sudah terlalu banyak untuk satu halaman.


7Bab 2 Sekretaris yang Menyimpan PetaMauliyani datang menjelang magrib, seperti biasa, tanpa mengetuk pintu karena sudah tahu pintu itu memang tidak pernah dikunci untuk dirinya.Ia adalah Sekretaris Desa Sukamaju — perempuan berusia tiga puluh dua tahun dengan rambut yang selalu diikat rapi dan mata yang selalu menyimpan pertanyaan. Di mejanya di kantor desa, ada dua laci: satu berisi dokumen resmi berstempel, satu lagi berisi catatan-catatan yang tidak pernah ia masukkan ke arsip mana pun. Catatan tentang Pak Darmo yang menjaminkan sawah warisan untuk membayar bunga pinjol yang sudah berlipat tiga. Tentang Bu Rasmi yang menangis di loket desa karena tengkulak menolak membeli padinya dengan harga yang layak, memaksanya menjual di bawah harga pasar dengan alasan ‘sudah ada perjanjian’ sejak musim lalu.\"Kamu sudah makan?\" tanya Ferizal ketika melihat bayangan Mauliyani di pintu.\"Belum. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan.\"Mauliyani meletakkan map tipis di atas meja Ferizal. Di dalamnya ada daftar nama — dua puluh tujuh kepala keluarga di Sukamaju yang tercatat memiliki utang aktif kepada tiga orang yang nama-namanya sudah sangat dikenal: Pak Hemon si rentenir yang berkantor di rumahnya sendiri, CV Maju Bersama yang sebetulnya hanya nama lain untuk praktik ijon terorganisir, dan sebuah nomor WhatsApp tanpa identitas jelas yang menawarkan pinjaman cairdalam lima menit tanpa jaminan — tapi dengan bunga dua persen per hari.


8\"Dua persen per hari,\" ulang Ferizal pelan. \"Itu sistem bunga majemuk, Maul. Bunga berbunga yang dalam hitungan bulan akan melipatgandakan utang jadi mustahil dibayar.\"\"Aku tahu,\" kata Mauliyani. \"Dan mereka tahu juga. Tapi ketika musim tanam tiba dan uang tidak ada, matematika itu tidak terasa nyata. Yang terasa nyata hanya satu: benih harus dibeli sekarang.\"Ferizal memandang daftar itu lama. Dua puluh tujuh keluarga. Bukan angka statistik — ini wajah-wajah yang ia kenal. Anak-anak yang pernah berlari di halaman balai desa. Lelaki-lelaki tua yang masih percaya bahwa tanah adalah satu-satunya warisan yang tidak akan pergi.Tapi tanah pun bisa pergi, jika tengkulak yang memegang penanya.Bab 3 Anatomi JeratSabtu pagi, Ferizal mengendarai motornya ke ujung desa. Ia ingin melihat langsung, bukan dari balik meja.Di warung Pak Sardi, tiga petani sedang duduk dengan kepala sedikit menunduk — postur yang Ferizal kenali sebagai postur orang yang sedang berhitung kekalahan. Pak Hemon, si rentenir itu, duduk di kursi plastik yang tampak lebih kokoh dari kursi siapa pun di ruangan itu, memakai kemeja batik yang disetrika licin, dengan sebuah buku kecil di tangannya.Ferizal memesan kopi dan duduk di sudut. Ia tidak ingin mengganggu —ia ingin mendengar.\"Bunganya sudah jalan tiga bulan, Pak Darmo,\" kata Pak Hemon dengan nada orang yang sedang melakukan kebaikan.


9\"Kalau tidak ada cicilan bulan ini, ya terpaksa saya ambil sertifikat itu. Bukan saya mau begitu — tapi perjanjiannya kan sudah jelas.\"Pak Darmo, lelaki enam puluh tahun dengan kulit gelap oleh matahari, hanya mengangguk. Tangannya menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin.\"Panen bulan depan, Pak,\" ujarnya. Kalimat itu bukan permohonan — itu adalah janji yang sudah terlalu sering ia ucapkan sampai tidak lagi terdengar meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri.\"Bulan depan, bulan depan,\" Pak Hemon tertawa kecil. \"Panennya nanti saya beli juga. Harga saya yang tentukan, ya sudah kesepakatan kita dari dulu.\"Di sinilah lingkaran itu sempurna: meminjam dari rentenir, membayar bunga dengan hasil panen, menjual panen ke tengkulak yang sama dengan harga yang ia tetapkan sendiri, lalu kekurangan uang untuk musim berikutnya, lalu meminjam lagi. Roda yang berputar ke bawah, bukan ke atas.Ferizal meneguk kopinya. Pahit, tapi tidak sepahit yang ia saksikan.Bab 4 Yang Dikerjakan di Malam HariMalam itu di rumah Mauliyani, dua buah laptop menyala di atas meja makan yang dialihfungsikan. Aroma kopi bercampur dengan aroma kertas lama —\"Kita tidak bisa membiarkan ini terus berjalan hanya karena sudah berlangsung lama,\" kata Ferizal. Bukan dengan nada pidato — tapi dengan nada orang yang sudah memutuskan sesuatu.


10\"Aku tahu,\" kata Mauliyani. \"Tapi kita juga tidak bisa frontal. Pak Hemon punya koneksi di mana-mana. CV Maju Bersama itu ada beberapa orang kaya kecamatan di belakangnya, meski tidak ada nama di akta.\"Ferizal terdiam. Ia PNS yang bekerja di kantor kecamatan. Kalimat itu menyentuh hal yang berat, yaitu pemodal kaya.\"Makanya kita tidak perlu melawan dari depan,\" kata Mauliyani lagi, kali ini dengan sesuatu yang menyerupai senyum.\"Kita bangun tanggul dari dalam.\"Rencananya sederhana tapi memerlukan kesabaran: pertama, mendokumentasikan setiap kasus — bukan untuk dendam, tapi untuk arsip yang bisa digunakan jika sewaktu-waktu diperlukan. Kedua, mengedukasi warga tentang hak-hak mereka, terutama soal pinjol ilegal yang seharusnya bisa dilaporkan ke Satgas Waspada Investasi. Ketiga, dan ini yang paling penting: mendorong terbentuknya satu wadah kolektif yang sah, di mana warga bisa mengakses modal dengan bunga yang manusiawi tanpa harus menggadaikan hidup mereka.\"Koperasi,\" kata Ferizal.\"Koperasi,\" ulang Mauliyani, seperti mengucapkan sebuah kata yang selama ini hanya ada di buku pelajaran.Mereka bekerja sampai jam dua dini hari. Di luar, hujan turun pelan —bukan hujan yang merusak, tapi hujan yang menyiram akar.Bab 5 Konfrontasi yang Tidak Direncanakan


Click to View FlipBook Version