The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Perjalanan hidup seorang difabel. Berisikan motivasi hidup.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by afifiafai, 2023-12-02 18:37:50

KARYA TUGAS NGOYONG

Perjalanan hidup seorang difabel. Berisikan motivasi hidup.

Keywords: novel

141 strobery dan topeng stobery mulai menjalankan perannya sebagai buah kedamainan dan bergumam "kini prima telah mulai mengapai dunianya" lalu meneneskan air mata. Setelah pentas usai nino pun datang menyapa anak-anak dan membri nasehat kecil dengan semangat prima pun bertanya "gimana penampilan saya ce?" Nino pun menjawabnya seraya membri arahan agar jika ia pentas lagi lebih baik.


142 Saran Semangat Suatu hari, saat sedang asyik mengerjakan rutinitasnya, tiba-tiba datanglah staft kantor seraya memanggil beberapa orang untuk segera ke ruang meeting. "Prima, Astawa, Dodik Made Dana, harap segera ke kantor karena dipanggil oleh Bapak Nyoman," pinta Nining yang langsung dijawab oleh Prima, Astawa, Dodik Made Dana bersamaan. "Oke, baiklah.” Seraya mengambil alat bantu jalan masing-masing. "Kenapa aku ikut dipanggil ya, apa karena aku kemaren pulang telat. Tapi kan Bapak Nyoman tahu bahwa setiap hari Jumat adalah hari Komsel," pikir Prima seraya berjalan diapit oleh Dodik pengguna kursi roda, di sebelah kiri Made Dana pengguna


143 tongkat. Di sebelah kanan dan belakang ada Astawa pengguna sepatu avo. Bapak Nyoman sudah berada di ruang meeting. "Tujuan Bapak memanggil kalian adalah untuk memberi tahu kalian bahwa Bapak akan mencoba mengirim kalian untuk tranning di pabrik perak yang mayoritas nondisabilitas." Prima, Astawa, Dodik Made Dana pun menyimak perkataan Bapak Nyoman. Dan, Prima saat itu pun menjadi sedikit khawatir karena tempat kerjanya dan Kristin akan berbeda. Namun ia berusaha menguatkan hati dan berkata dalam hati, “Diriku dahulu pernah tranning di toko, pasti diriku bisa." Prima mendengarkan Bapak Nyoman seraya menundukkan kepala. "Kalian sudah lama belajar kerja di yayasan ini. Jadi ini waktunya Bapak melatih


144 kalian mencari nafkah di tempat yang tidak senasib dengan kalian, karena Bapak ingin kalian belajar bergaul dengan masyarakat umum. Jangan mengurung diri lagi, sama seperti saat kamu belum kenal yayasan,” lanjut Bapak Nyoman. Besoknya .... Prima, Dodik, Astawa, Made Dana pun diantar ke tempat tranning yang dimaksud. Awalnya Prima merasa gugup dan bahkan salah tingkah, yang mengakibatkan tongkatnya terpeleset. Prima pun terjatuh. Beruntung ada seorang pendamping yang dikirim yayasan untuk mendampingi peserta yang akan tranning. Setelah beberapa hari Prima bekerja di Cahaya Silver, ternyata Kristin diperbolehkan untuk ikut tranning di cahaya silver. Dengan


145 catatan harus mencari ruangan yang berbeda dengan Prima, agar Prima belajar mandiri. *** Ternyata, tidak seperti yang Prima duga sebelumnya. Semua karyawan menerima mereka apa adanya, bahkan Prima yang mendapat ruang casting no.4 sudah mulai akrab dengan beberapa orang yang ada di ruangan tersebut. Satu minggu pun berlalu, Prima bahkan telah berani menceritakan kisah hidupnya kepada teman-teman barunya tersebut. Bahkan Prima sering ceramah kepada mereka tanpa memandang situasi saat itu. Suatu hari, Ibu Putu Kariani memberi Prima jajanan. "Prima, ini untukmu. Karena


146 jam istirahat telah usai, simpanlah. Makan nanti saat jam kerja usai,” kata Putu Kariani seraya menyodorkan plastik hitam kepada Prima "Oke. Baiklah Bu, terima kasih," jawab Prima seraya melihat bungkus tersebut. Setelah melihat bungkus tersebut, Prima pun membawa jajanan tersebut ke ruangan sebelah tempat Kristin bekerja, seraya membuang air kecil ke toilet. Namun setelah datang dari toilet dan akan membuka pintu, Prima mendengar percakapan; "Aku merasa terharu mendengar kisah hidup Prima," kata Kadek Ari dari meja no.5. "Aku pun sama, jadi ingin meneteskan air mata, " kata Putu Kariani. Prima pun duduk di meja kerjanya dan mengerjakan pekerjaannya. Tak lama


147 kemudian, Ningsih datang dan Prima menyapanya dengan mata tetap mengarah ke meja kerja. "Eh, Mbok Ningsih. Apa Mbok sudah baca kisah hidup saya yang saya kirim via chat kemaren?" Ningsih pun menjawab, "Sudah Prima." Savira Dewi pun menarik tangan Ningsih dan bertanya, "Apa yang kemaren Prima kirim via chat?" Ningsih pun membuka gawainya cepat-cepat sebelum ketahuan bos dan memberikan kepada Savira. "Ini kemaren Prima menceritakan kisah hidupnya kepadaku." Savira pun menyodorkan gawai Ningsih dan memberikan beberapa model cincin yang sudah bisa masuk ke tahap selanjutnya.


148 Setelah Ningsih keluar, Savira pun memulai percakapan dengan Prima dari meja kerjanya. "Daripada kisah hidupmu yang kamu kirim melalui chat kami terbuang siasia, cobalah buat sebuah buku yang menceritakan kisah hidupmu." Prima pun diam tak menjawab perkataan Savira. *** Satu bulan kemudian setelah Prima dan Kristin mengundurkan diri dari cahaya silver. Meeting kembali diadakan dan diumumkan bahwa beberapa orang akan dirumahkan oleh karena efek pandemi yang mengharuskan untuk mengurangi anggota yayasan. Prima pun mulai mencoba pekerjaan demi pekerjaan yang dirasa mampu, sampai akhirnya ia pun untuk pertama kalinya


149 mengikuti event literasi via online. Dua tahun telah berlalu, buku Warang Titiang di Cahaya Silver telah terbit. akhirnya ia pun memutuskan membuat buku solo yang menceritakan kisah hidupnya sesuai dengan saran Savira. "Prima, tolong ke sini dulu,” Panggil Nino. "Iya Ce," jawab Prima seraya mengambil tongkat dan menghampiri Nino yang sedang mempersiapkan skenario drama buah kebaikan dan kejahatan. "Prima, kamu mau menjadi pemeran buah kedamaian?" tanya nino. "Saya mau Ce," jawab Prima seraya menoleh kepada Kristin.


150 "Oke, baiklah. Kalau begitu hari kamis kita latihan ya," kata Nino. Prima pun menjawab, "Oke, baiklah Ce." Seraya menjabat tangan Nino lalu pergi membantu Kristin di dapur memasak untuk makan malam keluarga Teguh. Akhirnya, hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Prima berhias dengan sedemikian rupa. Terdengar suara piano dan alunan lagu Buah Rohani mengawali pentas. Setelah selesai, Prima dan teman-temannya pun menaiki panggung. Awalnya Prima gugup, tetapi semangatnya bangkit setelah melihat Kristin dan keluarga Teguh Muliana di bangku penonton.


151 Di bangku, Kristin pun melihat Prima dengan memakai baju bergambar buah stroberi dan topeng stroberi mulai menjalankan perannya sebagai buah kedamaian dan bergumam, "Kini Prima telah mulai menggapai dunianya," lalu meneteskan air mata. Setelah pentas usai, Nino pun datang menyapa anak-anak dan memberi nasehat kecil dengan semangat. Prima pun bertanya, "Gimana penampilan saya Ce?" Nino pun menjawabnya seraya memberi arahan agar jika ia pentas lagi bisa lebih baik.


152 Tentang Penulis Ni Putu Prima Terima Sanjiwangi adalah seorang remaja disabilitas kelahiran 1999. Putri tunggal dari pasangan almarhum I Wayan Sumiana dan Ni Putu Supaintan Kristin yang berasal dari desa Batungsel Kelot Pupuan Tabanan Bali. Namun tamatan dari SD NENGERI NO.1 WANASARI Benebel Tabanan karena diajak merantau oleh orang tuanya. Prima menulis surat dan cerita ini dengan jujur dan apa adanya. “Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku.”


153 Saya menulis Karya Tugas Ngoyong (KUMPULAN SURAT DAN KISAH HIDUP PRIMA) selain karena keinginan saya untuk bertemu Ibu, adik dan ayah sambung juga mempertemukan Mama, anak, menantu dan cucu-cucunya juga karena motivasi dari ayat di atas. Bahwa ada orang yang berkata ( warung makan) di daerah Ubung dekat terminal adalah tempat Papa dan Mama menemukan saya, tetapi ada juga yang mengatakan kalau di sana tempat papa berhenti (saat akan mengantar bosnya) lalu menemukan saya. Tetapi ada juga yang mengatakan di sana adalah tempat bidan Sumiati (saat Ibu melahirkan saya).


1


Click to View FlipBook Version