The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Islam sebagai agama yang dikenal masyarakat di Minangkabau sekitar abad-16 Masehi. Agama Islam yang berkembang di Minangkabau ini telah diwarnai oleh pemikiran tasawuf dan dipengaruhi oleh sufisme melalui tarekat yang tidak terlepas dari kehidupan sosial budaya, secara perlahan Islam mengganti kepercayaan serta pandangan hidup animisme dan dinamisme menjadi aqidah Islam yang benar.

Masyarakat Minangkabau telah diislamkan oleh pedagang-pedagang Arab yang berlayar dari Malaka menyusuri Sungai Kampar dan Indragiri pada abad ke- 15 dan 16 M. Ketika itu Malaka dikuasai oleh Portugis pada tahun 1511 M, hal ini mengakibatkan pindahnya jalan perdagangan melalui pantai barat pulau Sumatera. Pantai barat Sumatera yang kala itu dikuasai oleh kerajaan Pasai yang memperkenalkan agama baru yang mereka anut yaitu Islam, penyebaran agama Islam dipusatkan di daerah masyarakat sepanjangan rantau pesisir Minangkabau.

Dalam pemahaman umum sekarang ini (terutama orang luar Minangkabau), kata Minangkabau sering diidentikkan dengan kata Sumatera Barat. Padahal secara subtantif keduanya mempunyai makna yang berbeda. Daerah geografis Minangkabau tidak sepenuhnya merupakan bagian daerah propinsi Sumatera Barat.

Sumatera Barat adalah salah satu propinsi menurut administratif pemerintahan RI, sedangkan Minangkabau adalah teritorial menurut kultur Minangkabau yang daerahnya jauh lebih luas dari Sumatra Barat sebagai salah satu propinsi.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by danifernandaalazzam, 2023-02-25 21:11:58

Islam & Budaya Minangkabau

Islam sebagai agama yang dikenal masyarakat di Minangkabau sekitar abad-16 Masehi. Agama Islam yang berkembang di Minangkabau ini telah diwarnai oleh pemikiran tasawuf dan dipengaruhi oleh sufisme melalui tarekat yang tidak terlepas dari kehidupan sosial budaya, secara perlahan Islam mengganti kepercayaan serta pandangan hidup animisme dan dinamisme menjadi aqidah Islam yang benar.

Masyarakat Minangkabau telah diislamkan oleh pedagang-pedagang Arab yang berlayar dari Malaka menyusuri Sungai Kampar dan Indragiri pada abad ke- 15 dan 16 M. Ketika itu Malaka dikuasai oleh Portugis pada tahun 1511 M, hal ini mengakibatkan pindahnya jalan perdagangan melalui pantai barat pulau Sumatera. Pantai barat Sumatera yang kala itu dikuasai oleh kerajaan Pasai yang memperkenalkan agama baru yang mereka anut yaitu Islam, penyebaran agama Islam dipusatkan di daerah masyarakat sepanjangan rantau pesisir Minangkabau.

Dalam pemahaman umum sekarang ini (terutama orang luar Minangkabau), kata Minangkabau sering diidentikkan dengan kata Sumatera Barat. Padahal secara subtantif keduanya mempunyai makna yang berbeda. Daerah geografis Minangkabau tidak sepenuhnya merupakan bagian daerah propinsi Sumatera Barat.

Sumatera Barat adalah salah satu propinsi menurut administratif pemerintahan RI, sedangkan Minangkabau adalah teritorial menurut kultur Minangkabau yang daerahnya jauh lebih luas dari Sumatra Barat sebagai salah satu propinsi.

Keywords: budaya minangkabau

139 Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Falsafah budaya Minang dalam Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah merupakan salah satu filosofi hidup yang dipegang dalam masyarakat Minangkabau, yang menjadikan Islam sebagai landasan utama dalam tata pola prilaku dalam nilai nilai kehidupan. Dengan kata lain, Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah merupakan kerangka kehidupan sosial baik horizontal – vertikal maupun horizontal – horizontal. Bila budaya Batak dengan falsafah budayanya secara umum terdapat penekanannya pada siklus dan konsep ini dijalankan bersamaan dengan konsep kerohanian sesuai dengan injil. Maka Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah dalam masyarakat Minangkabau merupakan perpaduan yang hampir serupa dalam norma dan etika masyarakat dalam masuknya agama Islam.


140 Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullahdi masyarakat Minang merupakan sebuah identitas, lahir dari sebuah kesadaran sejarah dan pergumulan tentang perjuang dan hidup. Masuknya agama Islam dan berpadu dengan adat istiadat melahirkan kesepakatan luhur. Bahwa seluruh alam semesta merupakan ciptaab Allah SWT dan menjadi ayat – ayat dengan tanda tanda kebesaranNya, memaknai eksistensi manusia sebagai khalifatullah di dunia. Adat disebut juga ‘uruf, yang berarti sesuatu yang dikenal, diketahui berulang ulang menjadi suatu kebiasaan dalam masyarakat. Adat telah berusia tua menjadi bagian turun menurun umat manusia sehingga menjadi sebuah identitas.’Uruf bagi umat Islam ada yang baik dan ada juga yang buruk. Pengukuhan adat yang baik dan menghapus yang buruk merupakan tujuan kedatangan agama dan syariat Islam. Proses dialektika, pertentangan dan perimbangan oleh orang Minang telah membentuk masyarakat Minangkabau yang memiliki karakter, watak dan sikap yang jelas menghadapi kehidupan. Karakter tersebut diantaranya yaitu : 1. Penekanan terhadap nilai – nilai keadaban dan menjadi kekuatan budi dalam menjadi kehidupan. 2. Etos kerja yang didorong oleh penekanan terhadap kekuatan budi yang mendasari pada setiap orang untuk dapat melakukan hal – hal berguna bagi semua orang. 3. Kemandirian, etos kerja dalam melaksanakan khalifah menjadi kekuatan menjadi orang Minang untuk dapat hiudup mandiri tanpa tergantung oleh orang lain. 4. Toleransi dan Kesamaan Hati. Meskipun terdapat kompetisi, namun adanya rasa kesamaan menimbulkan toleransi khususnya dalaam memandang komunitas.


141 5. Kebersaman. Adanya toleransi dan kesamaan hati terhdap komunitas menyebabkan tumbuhnya kesadaran sosial untuk dapat hidup dan menjalani hidup secara bersama – sama. 6. Visioner.Adanya nya budi pekerti, etos kerja yng tinggi dan kemandirian diiringi semangat kebersamaan dan toleransi yang tinggi menimbulkan pandangan jauh kedepan. Perpaduan adat dan agama yang mendasari semangat hidup hendaknya dapat dijadikan dasar berkehidupan yang baik, baik dalam komunitas adat itu sendiri, maupun dengan masyarakat dari komunitas lainnya. Akidah tauhid sebagai ajaran islam dipupuk mulai baso basi atau budi dalam tata pergaulan dirumah tangga dan ditengah masyaratakat. Demikialah masyarakat Minangkabau menyikapi cara mereka melihat sistim nilai etika, norma hukum dan sumber harapan sosial yang mempengaruhi perilaku ideal dari individu dan masyarakat serta melihat alam perubahan yang lahir dari lubuk yang berbeda, antara adat dan islam. Kemampuan dan kearifan orang Minangkabau dalam membaca dan memaknai setiap gerak perubahan, antara adat dan islam, dua hal yang berbeda akhirnya dapat menyatu dan dapat saling tompang menompang membentuk sebuah bangunan kebudayaan Minangkabau melalaui Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah. Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah pada akhirnya terpatri menjadi landasan serta pandangan hidup orang Minangkabau. Manusia akan dapat mengambil iktibar atau pelajaran yang berharga untuk kehidupan bersama.


142 Ketentuan ketentuan alam dijadikan sebagai dasar untuk menatakehidupan masyrakat Minangkabau, baik secara pribadi, bermasyarakat maupun sebagai pemimpin. Fenomena alam mengaajarkan agar setiap perbuatan sesuai dengan hukum yang berlaku dan sesuai dengan nilai dasar kemanusian, seperti bulek aie dipambuluah dan bulek kato di mufakat, bulat kata sesuai dengan kesepaktan. Ajaran adat Minangkabau berlandasan asas filosofi Alam Takambang jadi Guru, suatu konsep alam semesta, merupakan sumber “kebenaran“ dan kearifan orang Minangkabau. Alam semesta dipahami orang Minangkabau dari segi fisik dan sebuah tantanan kosmologis. Alam bukan saja dimaknai sebagai tempat lahir, tumbuh dan mencari kehidupan, lebih dari itu alam juga dimaknai sebagai kosmos yang memiliki makna filosofis. Pemaknaan orang Minangkabau terhadap alam terlihat jelas dalam ajaran ; pandaangaan dunia (world view) dan pandangan hidup (way of life) yang seringkali mereka nisbahkan melalui pepatah, petitih, mamangan, npetuah, yang diserap dari bentuk sifat dan kehidupan alam


143 Islam dan Tradisi Lokal Minangkabau Dilihat dari sudut pandang estetika dan etika, seni tradisi turut menjadi alat pengucapan komunikasi emosi estetis antarmanusia terkait dengan pengalaman dan perasaan yang memiliki nilai seni untuk keselarasan hubungan sosial berlandaskan keyakinan bersama (Murniati, 2015:26; Sedyawati, 2006:124). Seni tradisi etnis Minangkabau, contohnya, memiliki keberagaman unsur estetika dan etika kultural yang mencerminkan komunikasi manusia dengan alam yang bersifat normatif (Rustiyanti, at. all, 2013; Hasanuddin, 2015). Permasalahannya saat ini, perkembangan teknologi global mulai mengikis nilai-nilai kearifan budaya lokal. Memang tidak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi berpengaruh positif pada terbentuknya trend budaya berbasis teknologi digital, tetapi fenomena tersebut memembawa dampak pada berkurangnya apresiasi masyarakat terhadap seni tradisional (Ngafifi, 2014; Rustiyanti, 2014). Seni tradisional sangat identik dengan kearifan budaya lokal. Melalui eksistensi pertunjukannya, seni tradisi merepresentasikan


144 kehidupan masyarakat lokal yang ditopang oleh keluhuran budi yang arif, bijaksana, keteladanan, dan cendekia. Contoh seni tradisional yang mencerminkan hal tersebut adalah randai Minangkabau. Randai Minangkabau berasal dari permainan rakyat generasi muda (dalam istilah di Minangkabau adalah anak nagari) zaman tradisional. Navis (2015: 276) menjelaskan, istilah randai kemungkinan berasal dari kata andai-andai dengan awalan barsehingga menjadi berandai-andai yang artinya berangkaian secara berturut-turut atau suara yang bersahut-sahutan. Sumber lain, Kayam (dalam Zulkifli, 2013: 32) menyatakan, istilah randai berasal dari bahasa Arab, yaitu rayan-li-da-I yang sangat dekat dengan kata da-I, ahli dakwah dari gerakan tarekat Naqsyahbandiyah. Randai adalah gambaran identitas masyarakat Minangkabau yang sangat kuat dengan falsafah, etika, dan pelajaran hidup orang Minang yang berpusat pada alam semesta (Primadesi, 2013: 179). Randai menggambarkan kearifan lokal masyarakat Minangkabau, melekat pada fisik sekaligus batin individu yang membentuk keutuhan masyarakat bernagari. Nilai-nilai kesenian tradisional dalam randai menjadi representasi norma dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat Minang; kesenian dianggap rancak (bagus, elok) apabila tidak menyimpang dari norma adat, dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau (Arzul, 2015: 108). Unsur dialog dalam randai, misalnya, menjadi satu unsur yang bermuatan nilai-nilai karakter kerja sama komunikatif dan patut dipahami dan ditanamkan kepada generasi muda (Arzul, 2015:113). Selain itu, kompleksitas unsur seni pertunjukan meliputi sastra, kaba, musik, tari, gerak silat, tari, dan dendang menguatkan alasan perlunya untuk dilestarikan (Primadesi, 2013; Wulandari, 2015).


145 Permasalahan lain yang penting dicermati, saat ini seni pertunjukan randai di Minangkabau masih didominasi oleh eksplorasi dari segi seni hiburan saja. Pertunjukan randai oleh kelompokkelompok kesenian randai memang masih terus berlangsung, namun masih berkisar sebagai seni pertunjukan saja. Demikian juga halnya dengan kajian ilmiah akademis terhadap randai Minangkabau, saat ini masih dominan pada aspek etika dan estetika seni tari dan teater saja. Kajian terhadap unsur-unsur nilai dan kearifan budaya lokal Minangkabau dalam randai masih kurang. Fakta tersebut menunjukkan perlunya langkah percepatan kajian ke arah tersebut sebelum randai terdiskriminasi oleh budaya asing. Dengan asumsi, untuk membuka jalan ke arah tersebut, maka penelitian ini bertujuan menggali dan menganalisis kearifan lokal budaya Minangkabau yang terdapat dalam seni pertunjukan tradisional randai. Diharapkan kajian ini akan menjadi bagian dari upaya akademik untuk menggali kearifan lokal dalam seni pertunjukan tradisional serta langkah lanjut untuk pelestariannya yang belum ada sebelumnya. Relevan dengan permasalahan tersebut, beberapa peneliti lain telah mengkaji randai dalam ragam konteks dan sudut pandang penelitian. Penelitian yang mengkaji kesenian randai dilihat dari estetika tari Minangkabau dilakukan oleh Rustiyanti (2014), yang menyatakan bahwa dilihat dari aspek estetika tari, randai bagi masyarakat Minangkabau diartikan sebagai olah gerak dan rasa yang dikenal dengan istilah pamenan (permainan). Syuriadi dan Hasanuddin WS (2014) meneliti Nilai-nilai Pendidikan dalam Teks Cerita Randai “Malangga Sumpah” Karya Lukman Bustami Grup Randai Bintang Tampalo Kenagarian Padang Laweh Kabupaten Sijunjung. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan dalam naskah randai tersebut mencakup nilai religius, nilai pendidikan ketangguhan, nilai pendidikan kepedulian, serta nilai-nilai kejujuran. Selanjutnya Primadesi (2013)


146 memfokuskan kajian penelitiannya pada cara preservasi pengetahuan dalam pertunjukan randai Minangkabau. Preservasi tersebut meliputi sosialisasi, kombinasi, eksternalisasi, dan internalisasi. Dari model preservasi tersebut disimpulkannya bahwa pewarisan pengetahuan randai Minangkabau dapat dilakukan dengan cara sosialisasi, yaitu interaksi antara anak randai dengan tetua-tetua dalam kelompok randai. Kechot (2009) meneliti sejarah perkembangan randai dan unsur-unsur randai Minangkabau di Negeri Sembilan Malaysia. Sementara itu, Suryadi (2014) meneliti studi kasus Randai sebagai genre seni pertunjukan di Minangkabau dalam konteks industri rekaman dan kebudayaan di Indonesia. Suryadi menyimpulkan bahwa dalam perkembangannya randai merupakan satu di antara genre seni tradisi yang dilestarikan melalui rekaman ke dalam bentuk cakram compact disk (CD). Terkait dengan penelitian yang telah ada tersebut, penelitian ini dilakukan dengan fokus kajian kearifan lokal budaya Minangkabau. Penggunaan nama randai Minangkabau didasari alasan bahwa randai juga terdapat di Negeri Sembilan, Malaysia dan di Riau. Kearifan lokal adat Minangkabau merupakan warisan budaya yang ada di masyarakat, yang mana pelaksanannya dilakukan secara turun-menurun oleh masyarakat yang bersangkutan. Sumbernya adalah kebudayaan matrilineal yang dianut masyarakat Minangkabau dan tertuang dalam beragam aturan adat. Kearifan lokal tersebut umumnya berisi ajaran untuk memelihara dan memanfaatkan sumber daya alam sehingga wajar masyarakat Minangkabau memiliki falsafah alam takambang jadi guru. Kearifan lokal tersebut mengejawantah dalam karya seni, nilai moral, adat istiadat, dan serangkaian pola hidup sehari-hari. Sebagai karya seni tradisional, kearifan lokal budaya Minangkabau yang termuat dalam randai tercakup dalam unsur gerak galombang, tari, silek (silat), dialog (naskah yang didasari oleh bentuk kaba (kabar) yang


147 berbentuk pantun berbahasa daerah Minangkabau), serta asal-usul kelompok randai. Kearifan lokal tersebut seperti dibahas pada bagian berikut. Sambah Silek sebagai Cermin Filosofi Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) Seperti halnya kebudayaan dalam suku bangsa lain di berbagai daerah, kebudayaan di Minangkabau juga terbentuk dari sistem religi, pengetahuan, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, mata pencaharian, serta sistem teknologi peralatan. Hal mendasar dalam ketujuh unsur tersebut dalam budaya Minangkabau adalah sistem religi. Sistem religi menjadi penopang sistem pengetahuan dan unsur lain. Kekerabatan Matrilineal yang diterapkan di Minangkabau juga didasari oleh sistem religi Islam. Oleh karena itu, adat Minangkabau berjalan dengan pedoman hidup adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah (ABS-SBK). Pengejawantahan nilai-nilai dalam ABS-SBK tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Syarak yang berarti hukum, khususnya hukum adat, menjadi landasan yang berjalan beririmgan dengan hukum Islam (kitabullah). Itu sebabnya setiap aktivitas dalam sosial kemasyarakatan dan berkesenian di Minangkabau senantiasa berhubungan dengan penerapan ajaran Islam dan ajaran adat. Selaras dengan hal itu, gerak randai, pada bagian tertentu adalah cerminan dari sistem religi Islam (kitabullah) yang dianut oleh masyarakat Minangkabau. Pertunjukan randai di Minangkabau selalu dibuka dengan sambah silek. Sambah silek adalah gerak awal untuk sebuah penghormatan yang dilakukan oleh anak-anak randai (sebutan untuk


148 pemain randai) untuk Tuhan dan kepada penonton. Sambah silek dilakukan sebelum anak randai membentuk gerak galombang dalam legaran. Sambah silek yang dipertunjukkan oleh anak randai tergantung pada aliran silat yang dianut oleh kelompok randai tersebut. Sebagai contoh, gerak silek kumango (silat Kumango). Gerak silek Kumango dalam sambah silek berasal dari aliran silek Kumango. Silek kumango adalah salah satu aliran ilmu silat yang berasal dari Kampung Kumango, Kabupaten Tanah Datar. Aliran ini adalah aliran silat tua yang tumbuh dan berkembang di lingkungan surau (mushalla), dikembangkan oleh Syekh Abdurahman Al Khalidi yang dikenal sebagai Syekh Kumango (Saputra, 2011: 75). Gerak sambah silek pada masing-masing kelompok randai tidaklah sama, selalu memiliki ragam gaya dan aliran sendiri, seperti terungkap dalam pepatah petitih adaik salingka nagari, pusako salingka kaum, lain guru lain ajaran. Maksudnya, setiap daerah memiliki aturan adat sendiri, dan setiap guru silat memiliki pelajaran sendiri. Filosofi dari sambah silek dalam randai mengandung nilainilai kearifan lokal budaya Minangkabau alam takambang jadi guru yang menandakan bahwa adat dan laku masyarakat Minangkabau tidak bisa dilepaskan dari tuntuan ajaran agama Islam. Kitab suci Alquran sebagai kitab suci umat Islam menjadi landasan dalam menetapkan dan menjalankan adat di Minangkabau. Sembah (hormat) yang ditujukan kepada Tuhan adalah cermin nilainilai agama, sedangkan gerak silat Kumango adalah cermin bahwa manusia di Minangkabau belajar dari fenomena dan berbagai unsur yang terdapat di alam semesta. Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat Minangkabau adalah suku bangsa yang hidup dalam tuntunan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah (ABS-SBK).


149 Carito Buah Kato sebagai Cermin Filosofi Kato Nan Ampek Bagi masyarakat Minangkabau, adat adalah pegangan dalam bergaul dalam kehidupan sehari-hari. Adat dijadikan sebagai peraturan hidup yang mengikat orang per orang dan masyarakat untuk tunduk dan mematuhinya (Amir, 2007: 73). Selain adat istiadat yang mengatur perihal kebiasaan dan tradisi di tiap daerah, komponen adat lainnya adalah limbago nan sapuluah. Limbago nan sapuluah adalah sebuah aturan adat yang khusus dan merupakan ketentuan yang berlaku umum, baik di ranah Minangkabau maupun di rantau. Bagian aturan dalam limbago nan sapuluah tersebut adalah kato nan ampek. Kato nan ampek adalah aturan tata krama dalam berkomunikasi antara sesama masyarakat Minangkabau dari berbagai usia. Kato nan ampek meliputi kato-kato mandaki, kato mandata, kato melereang, kato manurun (Amir, 2007: 76). Dalam permainan randai kurenah kato nan ampek selalu menjadi bagian tata krama berbicara yang diperankan oleh anakanak randai. Biasanya kato nan ampek mengejawantah dalam bentuk dialog dan pantun-pantun. Ciri khas dialog antartokoh menggunakan bahasa yang santun, mencerminkan kesopanan dan sikap saling menghormati antarsesama, baik antara orang yang lebih tua dengan orang yang berusia lebih muda, atau sebaliknya. Hal ini adalah salah satu ciri identitas manusia Minangkabau dalam bertutur kata. Berikut ini adalah contoh dialog berbentuk pantun dalam randai yang mencerminkan kearifan lokal kato nan ampek Taleh karanji urang gagak Bao barang ka tapian Nak kanduang kamari tagak Adoh nan barang dikatokan Talas Karanji sarang gagak dibawa ke tepian Anak kandung mari berdiri Ada sesuatu yang hendak disampaikan


150 Dialog tersebut adalah pantun yang disampaikan oleh tokoh Ayah kepada anaknya. Konteks dialog tersebut adalah orang yang lebih tua dengan yang lebih muda usianya, serta kedudukan orang tua dengan anaknya. Kurenah kato yang digunakan adalah kato manurun. Dalam kato manurun biasanya pihak yang berusia lebih tua tetap harus menyampaikan bahasa yang sifatnya membimbing dan memberi petunjuk tanpa bahasa kasar. Prinsip kurenah kato manurun saat seseorang yang berusia tua kepada yang lebih muda tergambar dari bahasa yang halus dan sangat menjunjung sikap menghargai. Apabila sebuah pertunjukan randai telah menyajikan dialog tokoh demikian dengan sendirinya telah mengajarkan pada penonton sikap saling menghormati dan sopan santun dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Budi Bahasa Minang sebagai Cermin Identitas Diri Urang Minang Bahasa Minangkabau adalah ciri identitas lokalitas Minangkabau. Bahasa daerah Minangkabau adalah bahasa ibu masyarakat Minangkabau, digunakan sebagai pengantar dalam komunikasi sehari-hari, di luar dari penggunaan bahasa nasional. Sebagai bahasa ibu, suku Minangkabau memperoleh bahasa Minangkabau secara alamiah tanpa proses belajar di sekolah seperti halnya bahasa kedua. Tentu sebagai bahasa ibu, bahasa Minangkabau menjadi penciri identitas kolektif suku dan perekat hubungan kekerabatan. Dalam konteks kultural, bahasa daerah Minangkabau adalah satu bagian kearifan lokal suku Minangkabau. Dalam penerapannya di tengah masyarakat Minangkabau, bahasa tersebut mengandung banyak ajaran falsafah kehidupan, khususnya tentang tata cara berkomunikasi antarindividu dan antarkelompok yang dilandasi kebijakan dan kearifan adat.


151 Randai Minangkabau adalah seni tradisi yang menggunakan bahasa Minangkabau sebagai pengantar dalam naskah cerita. Dalam sejarah performansi randai, pertama kali ditampilkan pada tahun 1930-an telah menggunakan bahasa daerah Minangkabau. Sampai saat ini randai yang berkembang di Sumatera Barat tetap menggunakan bahasa Minangkabau. Berdasarkan fakta tersebut dapat dianalisis bahwa terdapat nilai kearifan lokal yang diajarkan dalam setiap pertunjukan randai. Nilai kearifan tersebut adalah agar masyarakat Minangkabau senantiasa menjaga kelestarian bahasa daerah sendiri, menggunakan untuk komunikasi antarsesama orang suku Minangkabau, serta menyebarluaskannya untuk berbagai kepentingan bersama. Falsafah Hidup Alam Takambang Jadi Guru sebagai Pedoman Hidup Falsafah alam Minangkabau menempatkan manusia sebagai salah satu unsur yang statusnya sama dengan unsur lainnya, seperti tanah, rumah, suku, dan nagari. Persamaan status tersebut dilihat dari keperluan budi daya manusia itu sendiri. Setiap manusia secara bersama-sama atau sendiri-sendiri memerlukan tamah, rumah, suku, dan nagari sebagaimana mereka memerlukan manusia atau orang lain untuk kepentingan lahir dan batinnya (Navis, 2015: 59). Filosofi inilah yang disebut dengan alam takambang jadi guru. Makna dari falsafah ini adalah kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam dan segala unsurnya. Kehidupan manusia selalu berpasang-pasangan, seperti halnya unsur-unsur di alam semesta yang selalu berpasangan; siang-malam, laut-udara, langitbumi, air-api, kehidupan-kematian, dan sebagainya. Sebagai bagian dari ekosistem alam, manusia dituntut mampu bertahan dalam kehidupan dan menjaga alam. Manusia juga dituntut cakap dalam


152 membaca dan mempelajari semua tanda-tanda alam. Demikian masyarakat Minangkabau memaknai alam dan kehidupan. Dalam pertunjukan randai Minangkabau juga termuat falsafah alam takambang jadi guru tersebut. Berbagai gerak silat dan galombang yang diperagakan oleh anak randai merupakan bagian dari hasil olahan guru tuo silek dalam kelompok randai setelah mempelajari berbagai fenomena kejadian alam beserta aktivitas makhluk hidup lainnya. Hal ini menguatkan alasan munculnya berbagai aliran ilmu silat yang menjadi dasar dalam gerak galombang randai. Seperti halnya gerak silat aliran Kumango, salah satu gerak silat yang digunakan dalam randai, sedikit banyaknya terinspirasi dari alam. Gerak Silek dalam Randai sebagai Cermin Identitas Anak Nagari 75 Gerakan-gerakan galombang dan legaran dalam randai merupakan bagian dari gerakan pencak silat. Gerakan pembuka yang disebut sambah silek, gerakan langkah silek (balabek) dan gerakan akhir langkah silek pada dasarnya adalah representasi dari gerakan dalam silat yang terus berkembang dengan memadukan pertunjukan jurus silat yang dilengkapi dengan dendang dan musik. Melalui bentuk ini secara langsung randai telah mencerminkan kearifan lokal masyarakat Minangkabau sebagai masyarakat yang identik dengan silat. 75 Nagari merupakan kesatuan kelompok komunal masyarakat Minangkabau, yang ruang lingkupnya lebih besar dari korong atau kampung


153 Bakaba dalam Randai sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau Sebelum tradisi tulis masuk ke dalam masyarakat Minangkabau, masyarakat tradisional identik dengan tradisi lisan. Kaba (kabar) adalah tradisi lisan di Minangkabau, dijadikan sebagai alat komunikasi, penyampai berbagai informasi berita di nagari. Kaba pada masa tradisional berbentuk pantun dan berbahasa daerah Minangkabau. Dalam ranah kesusasteraan lisan milik Minangkabau, kaba juga memiliki fungsi sebagai pelipur lara. Fungsi tersebut sudah ada sejak kemunculan kaba di rantau pesisir dan selanjutnya sampai ke daerah darek (darat). Hal yang cukup unik di masa awal kemunculan kaba adalah hadirnya figur mamak dalam hampir semua teks kaba. Figur mamak dalam setiap kaba menjadi sosok yang membawa pesan-pesan kemuliaan sistem adat. Hal tersebut menjadi sebuah cerminan bahwa kaba memang didukung oleh sistem sosial Minangkabau. Fakta-fakta tentang substansi dan fungsi kaba di masa tradisional ternyata juga menjadi bagian penting dalam randai. Unsur teks lisan, figur mamak, pesan-pesan budaya dan agama yang semula terdapat dalam kaba saat ini juga menjadi unsur pembentuk keutuhan dalam pertunjukkan randai. Bakaba dalam pertunjukan randai dapat ditemukan dalam bagian dendang dan carito kato. Susunan bait-bait dendang dalam randai yang sarat dengan pantun serta dialog antartokoh, juga berbentuk pantun merupakan bagian dari kaba. Dikaitkan dengan fungsi kaba dalam masyarakat tradisional Minangkabau, maka kearifan lokal yang termaktub dalam kaba berkonteks randai adalah pesan moral agar masyarakat Minangkabau selalu saling berkomunikasi dengan sesama etnis Minangkabau. Hal itu selaras


154 dengan mamangan orang Minangkabau yang berbunyi, kaba baik bahimbauan, kaba buruak bahambauan. Apabila di masa awal pertumbuhannya teks kaba dalam randai tidak dituliskan, pada masa selanjutnya naskah pertunjukan randai yang berbentuk kaba telah dituliskan. Meskipun demikian, patut dipahami bahwa secara tidak langsung unsur kaba dalam randai menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Minangkabau yang mencerminkan identitas setempat.


155 Dialetika Prinsip Perimbangan Dalam Pertentangan di Minangkabau Kemajemukan bangsa Indonesia dalam konteks interaksi sosial, memungkinkan lahirnya stereotip, diskriminasi, jarak sosial, dan konflik. Jauh sebelum adanya otonomi daerah pada tahun 1995, tesis Steenbrink (1995) menyebutkan bahwa selama 45 tahun terakhir Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang hampir bebas dari konflik dari perbedaan- perbedan dan kemajemukan tersebut. Dalam konteks ini dapat dimaklumi sebagaimana pendapat Rolan bahwa kesadaran akan kesatuan kebudayaan akan melahirkan antara lain dalam membentuk nasionalisme (Rolan Robertson, 1995: 220). Namun tesis tersebut agaknya mulai teruji ketika era otonomi daerah di Indonesia berlangsung, bahwa dewasa ini hanya sedikit masyarakat multikultural yang tidak memiliki sejarah permusuhan antaretnis dalam interaksi dan komunikasi antaretnis. Salah satu bentuk


156 permusuhan antaretnis tersebut adalah konflik. Konflik dapat terjadi karena masalah komunikasi yang dilatarbelakangi oleh perbedaan beberapa hal, seperti: bahasa, pola non verbal, sikap, persepsi, orientasi nilai, agama dan pola pemikiran budaya. Konflik juga dilatarbelakangi oleh perbedaan paham, ideologi, tidak memahami dan menghargai budaya lain, serta memiliki stereotip terhadap etnis lain (Roben Bren, 1992: 23). Sumetera Barat sebagai salah satu propinsi di Indonesia dengan sosialisasi otonomi daerah,merupakanwilayah kultural Minangkabau, dimana dalam kehidupan masyarakatnya kekuatan adat dan Islam tumbuh dan berkembang dalam sistem matrilineal. Kenyataan adat yang matrilineal dan Islam yang patrilineal ini diistilahkan oleh JeffreyHadler (2010) dengan “dinamisme yang tak terduga, dengan artian bahwaIslam dan Minangkabau mampu membangun kekuatan yang bersinergi dan jalinan yang cukup harmonis. Disamping demikian, hal yang tidak terpisahkan pada wilayah kultural Minangkabau adalah masyarakat multikultural sebagai dampak dari persebaran etnik masyarakat majemuk, yang kurang memiliki daya empati dan kurang mampu mengembangkan konsensus di antara anggotanya, dapat dipastikan lebih mengutamakan ikatan primordial, sehingga kekayaan budaya atau multikultural berkonsekuensi negatif dan positif (Haris, 2005). Berbagai kasus pertikaian antaretnis dan agama, merupakan ekses dari masyarakat multikultural. Dalam skala besar gesekan antaretnis dapat mengakibatkan disintegrasi nasional. Hal ini dapat dipahami karena kebudayaan yang berbeda akan beroperasi secara berbeda pula (Leech, 1993: 15).


157 Studi Suwarna (2013) menyatakan bahwa, jika pemangku budaya dan agama tidak saling memahami perbedaan, perbedaan tersebut dapat menimbulkan konflik yang berakibat pada disintegrasi antaretnis seperti misalnya konflik antaretnis di daerah transmigran di Kalimatan sehingga para transmigran harus kembali ke Sidoarjo, dan konflik etnis Poso dan Madura di Sulawesi. Namun, untuk kehidupan masyarakat Minagkabau yang majemuk tersebut, studi Fitri Eriyanti (2013) menunujukan bahwa etnis pendatang dapat tinggal berdampingan dengan aman dan damai bersama masyarakat Minangkabau, bahkan masuk kedalam struktur sosial Minangkabau. Meskipun terjadi konflik tetapi tidak sampai menjadi konflik berkepanjangan. Hal yang positif bahwa selama ini konflik internal yang terjadi tidak sampai menjadi konflik yang mendalam, dibandingkan konflik Ambon dan Poso yang menghubungkan isu agama dan budaya yang berbeda. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Sumatera Barat merupakan kawasan yang cukup aman dan damai di Indonesia. Dalam konteks agama dalam hal ini Islam, maupun budaya (adat) bersifat sama-sama mempengaruhi, karena keduanya sarat akan nilai dan simbol. Oleh karenanya, ketika Islam dan budaya asing masuk ke dalam komunitas budaya, tarik-menarik pun menjadi tidak terelakkan dan bahkan memunculkan perlawanan dan konflik. Dinamika perjumpaan agama di Minangkabau dengan budaya ini adakalanya berwujud resistensi dari budaya lokal terhadap Islam dan budaya asing (sebagai sebuah budaya baru), tetapi banyak juga yang keduanya dapat berbaur tanpa harus menunjukkan sikap resistensi dari salah satu unsur, baik karena faktor budaya asal tersebut yang bersifat dinamis dan adaptif terhadap budaya baru maupun karena penyesuaian diri yang dilakukan oleh Islam dan budaya asing yang pada saat itu berposisi sebagai budaya baru. Bagaimanapun, agama dan budaya


158 merupakan unsur-unsur yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Agama tanpa budaya memang dapat berjalan, tetapi ia hanya sebagai agama individu, bukan sebagai agama kolektif. Hampir semua agama tidak dapat terlepas dari budaya di mana agama itu muncul dan berkembang. Penerimaan Islam dan budaya asing di tengah komunitas masyarakat Minangkabau tentunya melewati berbagai tahapan proses, seperti proses akulturasi, asimilasi, difusi, dan sebagainya (Nelmawarni, 2014: 2). Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa perjumpaan Islam dan berbagai budaya dengan adat di Minangkabau pada daerah transmigrasi terekspresikan dalam beberapa bentuk: pertama, Islam dan berbagai macam adat mampu terintegrasi menjadi ekspresi sosial, kultural, religius, sehingga melahirkan tradisi Islam yang asmilatif. Kedua, Islam dan adat tidak terintegrasi, tetapi juga tidak memicu pertentangan dan konflik, sehingga menghasilkan tradisi Islam yang akulturatif. Ketiga, Islam dan adat yang variatif saling bertentangan, baik yang kemudian memunculkan konflik maupun tidak. Ketiga asumsi ini dapat ditangkap dari berbagai ekspresi budaya yang ditunjukkan oleh masyarakat lokal Minangkabau pada daerah transmigrasi. Salah satu ekspresi budaya itu adalah tradisi, baik dalam bentuk upacara, ritual, maupun kesenian tradisional. Berdasarkan kerangka inilah, studi tentang Islam dan integrasi kebudayaan masyarakatmultikultural di Sumatera Barat penting dilakukan. Studi ini dimaksudkan untuk melihat hubungan agama dan tradisi lokal pada daerah multkultural, dalam hal ini daerah transmigrasi di Minangkabau dalam tiga asumsi yang dibangun di atas.


159 Mengikut pada Koentjoroningrat, bahwa adat adalah bagian dari sebuah kebudayaan. Adat juga berperan sebagai penggerak kesadaran akan pentingnya arti hidup berkelompok dan bekerjasama. Sedangkan tradisi berperan sebagai perwujudan adat tersebut, baik ditunjukkan melalui ritual, upacara, maupun kesenian tradisional. Oleh karenanya, tradisi menjadi objek penting dalam melihat dinamika yang terjadi dalam sebuah kebudayaan secara lebih jauh. Tradisi Lokal Masyarakat Transmigran Nagari Lunang: Wilayah Nagari Lunang termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Pesisir Selatan. Kabupaten Pesisir Selatan merupakan salah satu daerah dalam wilayah Propinsi Daerah tingkat I Sumatera Barat.Pada tahun 2002, Kabupaten Pesisir Selatan yang menjadi 36 Nagari, sebagai bentuk Sitem pemerintahan terkecil. Sedangkan 185 Desa dan 3 Desa UPT yang selama ini ada beralih menjadi Kampung, baik dari segi sebutan maupun struktur pemerintahan. Dari 11 Kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan, cakupan wilayah yang paling luas adalah Kecamatan Lunang Silaut, yaitu 929,50 KM² atau 16,17% dari luas wilayah Kabupaten Pesisir Selatan. Wilayah Nagari Lunang memiliki luas wilayah 343 KM² atau 340.000 Ha dengan jumlah penduduk 17.725 Jiwa yang berasal dari berbagai etnis, seperti Minang, Jawa dan etnis lainnya. Batas wilayah nagari ini sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Basa Ampek Balai Tapan, sebelah selatan berbatasan dengan Nagari Silaut, sebelah barat berbatasan dengan Samudera Indonesia dan sebelah timur berbatasan dengan Taman Nasional


160 Kerinci Sebalat. Nagari Lunang terdiri dari 25 kampung yang dulunya adalah dusun dan desa. Daerah ini mempunyai sarana jalan 37 KM jalan aspal, 22 KM jalan diperkeras dan 11 KM jalan tanah. Wilayah ini mempunyai sumber daya alam yang cukup luas dengan hutan negara berjumlah 24.000 Ha dan hutan nagari berjumlah 56.545 Ha. Orbitasi dan jarak tempuh Nagari Lunang, dari nagari ke Ibu Kota kecamatan berjarak kurang lebih 4 Km dengan waktu tempuh 30 menit. Jarak tempuh dari nagari Lunang ke ibu kota Kabupaten 155,0 Km dengan waktu tempuh, 3 jam dan dari nagari ke ibu kota propinsi 232,0 km dengan waktu tempuh 6 jam. Dari aspek tipografis, nagari Lunang, terdiri dari dataran dengan kondisi tanah biasa dan gambut, sementara sebagian lain wilayahnya terdapat perbukitan kecil, tanah liat, rawa dan pantai. Dari aspek georafis, nagari Lunang berada pada ketinggian 0 hingga 100 m dari permukaan laut. Curah hujan rata-rata per tahun 515 mm, dengan suhu rata-rata 34° C (Kantor Nagari Lunang, 2006: 3). Berikut ini dapat dilihat peta peta Kecamatan Lunang Silaut dan wilayah Nagari Lunang: Dengan kondisi alam sebagaimana di uraikan di atas, sangat berkaitan dengan pola keakbaran dan animasi suara dalam interaksi sosial. Tindakan keakraban merupakan tindakan yang secara simultan mengungkapkan kedekatan, dan kesiapan untuk berkomunikasi. Tindakan-tindakan itu lebih menandai pendekatan daripada penghindaran dan kedekatan daripada jarak sosial. Contoh tindakan keakraban misalnya senyuman, kontak mata, jarak yang dekat, dan animasi suara. Budaya yang menunjukkan kedekatan atau spontanitas antarpersonal yang besar dinamakan “budaya kontak tinggi” karena


161 orang- orang dalam negara-negara ini biasa berdiri berdekatan. Orang-orang dalam budaya kontak yang rendah cenderung berdiri berjauhan. Sangat menarik bahwa budaya kontak tinggi biasanya terdapat di negara-negara beriklim panas (hangat) dan budaya kontak rendah terdapat di negara-negara beriklim sejuk. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa yang termasuk mempunyai budaya kontak adalah negara-negara Arab, Perancis, Yunani, Itali, Eropa Timur, Rusia, dan Indonesia. Negara-negara dengan budaya kontak rendah misalnya Jerman, Inggris, Jepang, dan Korea(Larry A, 2006: 43). Pola Integrasi Agama dan Budaya Variatif Dalam Tradisi Lokal Masyarakat Transmigran Sumatera Barat Hubungan Islam dan budaya yang hidup di Minangkabau, meminjam istilah Hamka, bukanlah seperti air dengan minyak, tetapi berpadu bagaikan air dengan susu (Hamka: 9). Ungkapan Hamka mengandaikan bahwa Islam bukan sekedar bungkus atau pajangan dalam struktur adat di Minangkabau, tetapi benar-benar menjadi unsur dan bagian dari keminangkabuan itu sendiri. Sistem adat Minangkabau turut menopang ajaran-ajaran Islam, dan hampir setiap bagian kebudayaan Minangkabau mendapat sentuhan atau bersentuhan dengan Islam, baik langsung ataupun tidak. Hubungan Islam dan adat Minangkabau ini, selain dapat dipahami dari berbagi literatur sejarah, juga dapat diamati melalui produk-produk kebudayaan yang dapat diamati secara kasat mata. Produk yang paling dapat diamati yang dimaksud adalah tradisi, baik berupa kesenian maupun ritual. Studi ini menunjukkan bahwa terjadinya perjumpaan Islam dan tradisi dari kebudayaan variatif dapat dibuktikan melalui beberapa poin, yaitu pola hubungan/ perjumpaan yang membekas dalam tradisi, proses perjumpaan yang


162 terkandung dalam tradisi, faktor perjumpaan sehingga memunculkan tradisi tersebut, dan implikasinya secara sosio-kultural Proses Pertemuan Agama dan Budaya Variatif pada Masyarakat Transmigran Perjumpaan Islam dan adat di Minangkabau tentu memiliki polanya tersendiri. Pola tersebut terbangun melalui interaksi budaya yang berbeda sehingga terbentuklah kebudayaan baru, atau kebudayaan lama dengan rasa dan nuansa baru dalam bentuk integrasi kebudayaan, sebagaimana dapat dilihat sampai saat ini. Setiap pertemuan kebudayaan di satu daerah akan memiliki pola yang tidak mesti sama dengan daerah lain, walaupun banyak terdapat kesamaan. Tipikal masyarakat Minangkabau yang lebih terbuka dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya membuat masyarakat Minangkabau berada pada posisi yang dapat dengan mudah menerima pengaruh kebudayaan luar secara cepat sejauh tidak bertentangan dengan nilai- nilai adat, budaya dan filosofi hidupnya, yang telah ada sejak dulu. Meski demikian, mereka juga sangat kritis terhadap setiap budaya yang masuk dari luar. Karena itu pula, setiap budaya yang datang dari luar yang tidak sesuai dengan budayanya tidak akan bertahan lama, seperti budaya dan ajaran yang dibawa oleh agama Hindu, Buddha. Minangkabau dengan kebudayaannya yang khas telah ada jauh sebelum Islam datang, bahkan juga jauh sebelum agama Buddha dan Hindu memasuki wilayahNusantara (Indonesia). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa budayanya itu telah mencapai bentuk yang terintegrasi sebelum agama Hindu dan Buddha serta agama Islam datang. Adatnya yang didasarkan pada perasaan, hati nurani dan hukum alam yang termuat dalam Tungku


163 tigo sajarangan: yaitu alua jo patuik, anggo jo tanggo dan raso jo pareso. Islam masuk ke Minangkabau diperkirakan sekitar abad VII M. Meskipun begitu ada juga pendapat lain, yaitu abad XIII, namun para sejarawan sepakat menyatakan bahwa penyebaran Islam melalui tiga jalur: Pertama, jalur dagang. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Minangkabau selain terletak pada jalur yang strategis dalam hal perdagangan juga merupakan penghasil komoditi pertanian dan rempah-rempah terbesar di pulau Sumatera seperti lada dan pala. Potensi demikian mengundang minat para pedagang asing untuk memasuki dan mengembangkan pengaruhnya di Minangkabau. Dan diantara para pedagang asing tersebut, ada pedagang Islam yang mereka juga menyebarkan Islam.Adanya interaksi dalam hal perdagangan dan pergaulan maka secara tidak langsung mereka juga telah menyiarkan Islam. Ini menunjukkan bahwa penyiaran Islam ketika itu telah berlangsung meskipun belum terencana dan terprogram. Karena itulah,banyak diantara tokohtokoh Minang tertarik dengan Islam, apalagi praktik hidup mereka. Salah satu yang mendorong dan mudahnya mereka menerima Islam adalah ajarannya yang sederhana dan mudah dipahami, lagipula budaya dan falsafah adat yang dianut dan sifat yang lebih terbuka memberikan nuansa positif bagi perkembangan Islam di wilayah ini.Namun demikian, penyiaran Islam sempat terhenti pada periode ini karena terhalang oleh tindakan Dinasti Cina T’ang yang merasa kepentingan ekonominya di Minangkabau Timur terancam oleh Khalifah Umayyah. Keadaan ini berlangsung lebih kurang 400 tahun. Akibatnya perkembangan Islam pun terhenti sampai tahun 1000 M.


164 Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengembangan Islam pada dekade ini dilakukan melalui pendekatan kultural, yaitu disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat Minangkabau. Kedua, penyiaran Islam tahap ini berlangsung pada saat Pesisir Barat Minangkabau berada di bawah pengaruh Aceh (1285-1522 M). Sebagai umat yang telah terlebih dulu masuk Islam, pedagang Aceh juga berperan sebagai mubaligh. Mereka giat melakukan penyiaran dan mengembangkan Islam di daerah pesisir dimana mereka berdagang terutama wilayah dibawah pengaruh Aceh (Samudera Pasai). Salah satu faktor pendorong mereka adalah hadist Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa “Sampaikanlah ajaranku meskipun hanya satu ayat”. Sejak itu Islamisasi di Minangkabau dilakukan secara besar-besaran dan terencana, keadaan ini berlangsung pada abad XV M. Pada masa ini pula seorang putra Minangkabau Burhanuddin, putra Koto Panjang Pariaman, masuk Islam. Ia kemudian pergi ke Aceh menuntut ilmu keislaman pada Syaikh Abdur Rauf. Setelah pulang dari Aceh, ia secara intensif mulai mengajarkan Islam didaerahnya terutama sekitar Ulakan. Ternyata apa yang ia usahakan disambut baik oleh masyarakat untuk mempelajari dari berbagai pelosok Minangkabau. Dalam waktu relatif pendek, Ulakan menjadi ramai dikunjungi masyarakat untk mempelajari Islam lebih jauh. Padahal sebelumnya, Ulakan hanya suatu daerah terpencil. Sejak itu sampai sekaang tempat ini masih ramai dikunjungi oleh umat Islam dari berbagai penjuru tanah air, terutama pada bulan Shafar.Melalui murid-murid Burhanuddin lah Islam berkembang sampai ke daerah darek (dataran tinggi). Sehubungan dengan itu muncul pepatah adat mengatakan bahwa syarak mandaki adat manurun. Artinya,


165 Islam mulai dikembangkan dari daerah pesisir ke daerah pedalaman, sementara adat berasal dari darek baru kemudian dikembangkan ke daerah rantau termasuk pesisir. Ketiga, Islam dari pesisir barat terus mendaki ke daerah darek. Pada periode ini kerajaan Pagaruyung sebagai pusat pemerintahan Minangkabau masih menganut agama Buddha, namun demikian, sebagian besar masyarakat telah menganut Islam, pengaruhnya begitu nampak di dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan ini bagi Pagaruyung hanya menunggu waktu memeluk Islam. Sehubungan dengan itu, Islam baru masuk menembus Pagaruyung setelah Anggawarman Mahadewa, sang raja, memeluk Islam, kemudian ia berganti nama menjadi Sultan Alif. Sejak itu, pagaruyung resmi menjadi menjadi kerajaan Islam dan sekaligus raja melakukan perombakan dan penyempurnaansistem pemerintahandisesuaikan dengan lembaga yang telah berkembang di dunia Islam. Penyempurnaan yang dilakukan adanya lembaga pemerintahan baru ditingkat atas, yaitu raja ibadat berkedudukan di Sumpur Kudus. Lembaga ini merupakan imbangan terhadap raja adat berkedudukan di Buo. Masuknya Anggawarman mahadewa masuk Islam, secara tidak langsung penyebaran Islam makin luas hampir ke seluruh wilayah Minangkabau.Hal ini tentu saja tidak terlepas dari pengaruh dan dukungan yang diberikan Sultan Alif terhadap penyiaran Islam. Meskipun ketika itu penguasa memberikan dukungan penuh kepada para da’i, namun penyiaran Islam tidak dilakukan melalui pendekatan kekuasaan, tetapi tetap melalui pendekatan kultural masyarakat, sehingga tidak terjadi akses negatif, apalagi meresahkan masyarakat setempat.


166 Berdasarkan fakta sejarah tersebut, kehadiran Islam bagi masyarakat Minangkabau merupakan suatu rahmat, karena dengan ajaran Islam adat yang hidup di Minangkabau semakin kokoh dan sempurna. Sehubungan dengan itu, Syaifullah berpendapat bahwa sejak Islam menjadi agama masyarakat Minangkabau, adatnya mengandung ajaran-ajaran yang bersamaan dalam bidang sosial. Dengan begitu, adat Minangkabau juga mengandung ajaran tentang aturan yang mengatur tentang hubungan antara sesama manusia, hubungan manusia dengan khaliqnya, aturan tentang membina persatuan, aturan tentang memegang teguh prinsip musyawarah atau mufakat, dan tujuan yang hendak dicapai dengan mempergunakan ajaran yang empat macam sebagai pegangan dan pedoman.


167 Daftar Pustaka Abdullah, H. (tth). Perkembangan Ilmu tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara. Surabaya: Al-Ikhlas. Ahmad, I. (2011). Immanent Critique and Islam: Anthropologi Reflection. Anthropologhical Theory, 107. amir, M. S. (1997). Adat Minangkabau dan Pola Hidup Orang Minangkabau. Jakarta: PT. Sumber Widya. amir, M. S. (2006). Adat Minangkabau : Pola Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta: PT. Mutiara Sumber Media. Anan, G. (2003). Kamus Sejarah Minangkabau. Padang: PPIM. Ase, M. F. (1995). Mengkaji Ulang Perda Bermuatan Syari’ah: Sebuah Pendekatan Yuridis Normatif. Penulis adalah hakim pada Pengadilan Agama Kisaran. Kisaran: Bumi Media. Broinessen, M. V. (1992). Tarekat naqsabandiyah di Indonesia; Survey Histories, Geografis dan Sosiologis. Bandung: Mizan. Coser, L. A. (1956). The Function of Social Conflict. New York: The Free Press. Crosby, J. M. (2011). An Analysis of the Contemporary Spritual Warfare Movement in Ligh of Reader-Response Methodology and the Sighnificance for Missionary Startegi targeting Javanese Muslims, Disertasi. Soutwesten: The Roy Fish School of Evagelism and Mission. Darwis, R. (2004). Tranformasi Nilai-nilai Tradisi Kekeluargaan Masyarakat Mianangkabau dalam Pendidikan Kewiraswastaan, cet ke II. Bandung: Pustaka Aulia Press. Fatimah, S. (3). Mencermati Perubahan Sosial Masyarakat Mianagkabau melalui Novel Tamu Karya Wisran Hadi. Humaniora, 278-285.


168 Fauzan. (2011). Pengaruh Religiusitas terhadap Etika Berbisnis. Manajemen Kewirausahaan, 53-64. Franzia, E. P. (2017). Rumah Gadang as a Symbolich Representation of Minangkabau Ethnic Identy. International Joutnal of Science and Humanity, 44-49. Gazalba, S. (1969). Konflik Antara Adat, Agama dan Pengaruh Adat. Padang: Seminar Islam Minangkabau. Hadler, J. (2010). Sengekta Tiada Putus. Jakarta: Fredom Institute. Hamka. (1982). Ayahku. Jakarta: Umminda. Hamka. (1982). Ayahku, Riwayat Hidup Dr. Abdul Karim Amrullah dan Perjuanagan Kaum Agama di Sumatera Barat, ed. Ke-4. Jakarta: Umminda. Hanifuddin. (2018). Posisi Perempuan Minangkabau dalam Sistem Ulayat Menurut Adat Matrilineal dan Syarak. Faculty of Shariah of state Institute for Islamic Studies Batusangkar, 94-111. Hardjosoekarto, S. (2006, 7 selasa). Kompasiana. Retrieved Agustus Kamis, 2021, from Kompasiana.com: http://downloadjurnal.blogspot.com/2008/03/hubungan-pusat-dandaerah- dalam.html, Kato, T. (tth). Matriliny and Migration ( Evolving Minangkabau Traditional in Indonesia). Cornel: Cornel University Press. Koentjaningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cita. Kusandi, N. (2000). Startegi Adaptasi dan Jaringan Sosial. Bandung: Utama Press. Lathief, M. S. (1988). Gerakan Kaum Tua di Minangkabau. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah. Lathief, S. (1988). Gerakan Kaum Tua di Minangkabau. Jakarta: Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah. Lathief, S. (1988). Gerakan Kaum Tua di Minangkabau. Jakarta: Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah. Linton, R. (1984). Anthropology: Suatu Penyidikan tentang Manusia. Bandung: Jemmars. Madjoindo, B. &. (1956). Tambo Minangkabau. Jakarta: Balai Pustaka. Mansoer, M. (1970). Sedjarah Minangkabau. Jakarta: Bhrahtara. Marzali, A. (2004). Minangkabau yang Gelisah. Bandung: Lubuk Agung. Meiyenti, S. &. (2012). Sistem Kekerabatan Minagkabau Kontemporer. Bali: Confererenc Indonesian Studies. Mintarti, N. (2003, April 5). Masyarakat Mandiri. Retrieved 8 2, 2021, from www.masyarakatmandiri.org/: www.masyarakatmandiri.org/ Mulder, N. (1999). Hidup Sehari hari dan perubahan budaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


169 Nasrun. (1971). Dasar Filsafat Adat Minangkabau. Jakarta: Bulan Bintang. Nasrun, M. (1971). Dasar Falsafah dat Minangkabau. Jakarta: Bulan Bintang. Noer, D. (1985). Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES. Pauda, P. (2004). Sistem Matrilinial dalam Adat dan Budaya Minang- kabau”, dalam Ch. N. Latif, Minangkabau Yang Gelisah: Men- cari Jtrategi Josialisasi Pewarisan Adat dan Budaya Minangkabau untuk Generasi Muda. Bandung: CV. Lubuk Agung. R, S. S. (2006). The Impact of Acculturation and Religion on Intergenaerational Family Conflict for second Genertaion Asian Indian Americant, Tesisi. Carbondate: Sothem lionis Iniversity. R.r, J. R. (1963). Sosiology; an Introduction. London: Routledge dan Kegan Paul Ltd. Radjab, M. (1999). Sistem Kekerabatan di Minangkabau. Padang: Center for Minangkabau Studies. Raho, B. (2007). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. Rais, Z. (1994). The Minangkabau Traditionalsts Response to the Modernist Movement, Disertasi. Montreal: Mv Gill University. Rante. (2010). Pengaruh Budaya Etnis dan Perilaku Keirausahaan Terhadap Kinerja Usaha Micro Kecil Agribisnis di Provinsi Papua. Manajemen dan Kewirausahaan, 133-141. Saifuddin, A. F. (1986). Konflik dan Integrasi; Perbedaan Faham dalam Agama Islam. Jakarta: CV. Rajawali. Samad, D. (2003). Surau dan Pembangunan Islam : Gelombang Pertama di MInangkabau. Tajdid : Jurnal Nasional Ilmu-Ilmu Ushuludin , 143. Samad, D. (2003). Tradisionalisme Islam di Minangkabau, Perubahan dan Kontruksinya. Padang: Tajdid : Jurnal Nasional Ilmu-ilmu Ushuludin, vol 6 no. 2. Samad, D. (2003). Tradisionalisme Islam di Minangkabau: Dinamika, Perubahan dan Kontinuitasnya. Tajdid : Jurnal Nasional Ilmu-Ilmu Ushuludin, 121. Samad, D. (2003). Tradisionalisme Islam di Tengah Modemis, Kajian Kontinuitas, Perubahan dan Dinamika Tarekat di Minangkabau. Tanggerang: UIN Syahid. Samsudin, F. (2006). Pembaharuan Islam di Minangkabau Awal Abad XX. Jakarta: The Minangkabau Foundation. Soearti, M. (Director). (1). Getakan Kaum Tuo [Motion Picture]. Soeharso, P. (2006). Pro-Kontra Implementasi Perda Syariah ( Tinjauan Elemen Masyarakat). Jakarta: al-Mawarid. Soekanto, S. (1970). Sosiology;Suatu Pengantar. Jakarta: Yayasan Penerbit UI. Steele, S. T. (2006). Modeling a Culturally Sensistive Approrach to Fuel Poverty. Structural Survey, 300-310.


170 Steenbrink, K. A. (1987). Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19. Jakarta: Bulan Bintang. Suharlo. (2001). Kebijakan Sosial sebagai Kebijakan Publik. Alfabeta, 151. Suharto, E. (2006). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial Cet. Ke2. Bandung: Refika Aditama. Syarifuddin, A. (1982). Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung. Syarifudin, A. (1982). Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: UIN Jakarta. Syarifudin, A. (1984). Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta : Gunung Agung. Trimingham. (1973). The Sufi Order in Islam. London: Oxford Universiti Press.


171 Tentang Penulis Nama Rudi Hartono.I Lahir pada tanggal 14 Oktober 1986 di Koto Pulai. Tercatat telah memulai beberapa tahapan pendidikan Disekolah Dasar hingga ke Universitas. Dimulai dari Sekolah Dasar 51 Koto Pulai tamat tahun 1998, Tsanawiyah Negeri Balai Selasa ( MTsN ) tamat tahun 2001, Madrasah Aliah Negeri 2 Padang ( MAN 2 Padang), Starata Satu Fakultas Syari’ah IAIN IB Padang Jurusan Al Ahwal Al Syakhshiyyah tamat tahun 2009 dan Strata Dua Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Program Pascasarjana Kosentrasi Hukum Islam Tamat Tahun 2012. Pernah jadi Penyuluh Agama Islam Non PNS Kantor Wilayah Kementrian Agama Propinsi Sumatera Barat dari tahun 2010 sampai 2014. Kemudian pernah jadi dosen kader pada Fakutas Syari’ah IAIN IB Padang dari tahun 2010 sampai 2014, Jadi Dosen tidak tetap ( Dosen Luar Biasa ) di IAIN IB Padang sekarang UIN IB Padang dari tahun 2015 sampai 2021 mengampu matakuliah Ilmu Falak dan Praktek Ilmu Falak, Pengantar Studi Hukum Islam dan Fikih Ibadah. Menjadi dosen tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Madrasah Arabyah Bayang ( STAI MA Bayang ) dari tahun 2015 sampai sekarang mengampu mata kuliah Ilmu Falak dan Praktek Ilmu Falak, Sejarah Peradilan di Indonesia, Islam dan Budaya Minang Kabau.


Click to View FlipBook Version