The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pengembangan model pembelajaran design, explain, development and evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Pengajar Sadaruddin, 2023-03-03 10:38:54

Model Pembelajaran DEDEn berbasis Proyek

Pengembangan model pembelajaran design, explain, development and evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak

Keywords: kreativitas,pembelajaran proyek,model DEDEn

i HASIL PENELITIAN PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN DESIGN, EXPLAIN, DEVELOPMENT AND EVALUATION (DEDEn) BERBASIS PROYEK DALAM MENSTIMULASI KREATIVITAS ANAK DEVELOPMENT OF PROJECT-BASED DESIGN, EXPLAIN, DEVELOPMENT AND EVALUATION (DEDEn) LEARNING MODEL IN STIMULATING CHILDREN'S CREATIVITY SADARUDDIN 191061701030 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR TAHUN 2023


ii


iii


iv


v PRAKATA Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan karunia dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan disertasi dengan judul pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak. Penulis sadar sepenuhnya bahwa disertasi ini dapat terselesaikan berkat dorongan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, maka dari itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Orang tua dan mertua tercinta (Alm.) H. Haddaning Bin Makka dan Hj. Sine Binti Lanau, Yusran Bostam, S.Sos dan Rahmiah Rahim beserta seluruh keluarga besar yang menjadi sumber kekuatan penulis, atas do’a yang tidak terbatas ruang dan waktu, yang telah diberikan kepada penulis. 2. Prof. Dr. Ir. H. Husain Syam, M.TP., IPU., ASEAN Eng. selaku Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) beserta segenap jajaran rektorat. Prof. Dr. Hamsu Abdul Gani, M.Pd. selaku Direktur PPS UNM beserta segenap jajaran direktur. Prof. Dr. Patta Bundu, M.Ed. selaku Ketua Program Studi S3 Ilmu Pendidikan PPS UNM serta seluruh dosen PPS UNM khususnya dosen pada Program Studi Ilmu Pendidikan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menempuh studi program S3 pada PPS UNM serta telah memberikan bekal ilmu dan wawasan bagi penulis. 3. Prof. Dr. H. M. Arifin Ahmad, MA., selaku Promotor, dan Prof. Dr. Baso Jabu, M.Hum., selaku Kopromotor yang telah berbagi dan meluangkan waktu untuk memberikan arahan, motivasi dan bimbingannya dalam penyelesaian disertasi ini. 4. Prof. Dr. Patta Bundu, M.Ed, Dr. Abdullah Pandang, M.Pd., dan Prof. Dr. Ir. Muhammad Yahya, M.Kes., M.Eng., masing-masing sebagai penguji yang telah memberikan bimbingan dan inspirasi dalam penyelesaian disertasi ini.


vi 5. Dr. Rusmayadi, M.Pd., selaku validator I dan Dr. Syamsuardi, M.Pd., sebagai validator II yang telah memberikan bimbingan dan masukan yang luar biasa demi kesempurnaan disertasi ini. 6. Cahaya, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala Sekolah TK Taman PAUD Doa Ibu beserta segenap guru yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian pada sekolah tersebut. 7. Teman-teman mahasiswa S3 angkatan 2019 terkhusus kelas B program studi Ilmu Pendidikan PPS UNM, penulis mengucapkan terima kasih atas motivasinya serta saling memberi kabar dan dorongan terhadap kemajuan dan terselesaikannya disertasi ini. 8. Teristimewa dan lebih khusus kepada istri tersayang Ramlah Yusran, S.Pd., M.Pd., anak-anak penulis yang terkasih Najla Sadr, dan Muhammad Naufal Sadr dengan karakter dan keceriaan serta kelucuan khasnya, mendorong penulis untuk terus belajar dan mendapat pelajaran khususnya pemaknaan kekuatan kata syukur, sabar dan ikhlas. 9. Saudara-saudara penulis dan semua handai taulan yang tidak dapat penulis sebutkan nama mereka satu persatu yang ikut andil memberikan kontribusi baik langsung maupun tidak langsung yakni memberikan dorongan moril maupun materil, sehingga penyusunan penulisan disertasi ini dapat terwujud. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa disertasi dengan judul pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak ini sangat jauh dari kesempurnaan, sehingga saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat dibutuhkan. Demikian prakata dari penulis, semoga disertasi ini dapat membawa manfaat terutama bagi penulis dan juga bagi pembaca. Makassar, Februari 2023 Sadaruddin


vii ABSTRAK Sadaruddin, 2023. Pengembangan Model Pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak. Disertasi. Program Studi Ilmu Pendidikan. Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (dibimbing oleh Arifin Ahmad dan Baso Jabu). Penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kebutuhan, gambaran prototype, kevalidan, kepraktisan dan keefektifan terhadap pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak usia dini di Taman Kanak-kanak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket dan validasi ahli. Teknik analisis data dilakukan dengan cara analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif. Prosedur penelitian diawali fase investigasi, desain, realisasi, tesevaluasi-revisi, dan implementasi. Gambaran hasil analisis kebutuhan menunjukkan kategori “sedang” sehingga dipandang perlu untuk merancang model pembelajaran dalam menstimulasi kreativitas anak. Gambaran prototype berupa buku model dan buku panduan guru yang dirancang berdasarkan rujukan model Project based Learning (PjBL) menghasilkan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak. Hasil uji validitas desain produk berupa buku model, buku panduan guru dan instrumen rata-rata kategori “sangat valid” sehingga perangkat model pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak layak digunakan. Hasil uji kepraktisan melalui angket respon guru dan instrumen pengamatan keterlaksanaan model rata-rata menunjukkan kategori ‘sangat baik’, sehingga model pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak dinyatakan praktis. Hasil uji keefektifan diawali analisis data skor pretest dan posttest yang menunjukkan adanya peningkatan dari kategori “rendah” menjadi “sangat tinggi”. Data yang diperoleh kemudian diuji normalitas dan dinyatakan “berdistribusi normal”, setelah itu dilakukan uji hipotesis yang menunjukkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran dalam menstimulasi kreativitas anak dan selanjutnya hasil uji N Gain menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek “cukup efektif” dalam menstimulasi kreativitas anak. Kata kunci: Kreativitas Anak, Model Pembelajaran DEDEn, PjBL.


viii


ix DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii PRAKATA...................................................................................................... v ABSTRAK ...................................................................................................... vii DAFTAR ISI .................................................................................................. ix DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xv DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ........................................................................ 1 B. Rumusan Masalah................................................................................... 7 C. Tujuan Penelitian ................................................................................... 8 D. Manfaat Penelitian ................................................................................. 9 E. Spesifikasi Produk ................................................................................. 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 11 A. Kajian Teori ........................................................................................... 11 B. Kerangka Pikir........................................................................................ 59 C. Model Hipotetik ..................................................................................... 61 BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 63 A. Jenis Penelitian ...................................................................................... 63 B. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................ 63 C. Prosedur Penelitian ................................................................................ 64 D. Definisi Konsep ..................................................................................... 66 E. Teknik Pengumpulan Data...................................................................... 69 F. Teknik Analisis Data .............................................................................. 71 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.............................. 79 A. Hasil Penelitian ...................................................................................... 79 B. Pembahasan ........................................................................................... 118 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 131 A. Kesimpulan............................................................................................. 131 B. Saran ...................................................................................................... 132 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 135


x


xi DAFTAR TABEL Tabel Judul Hal. 2.1. Tahapan PjBL dan Aktivitas Anak 26 2.2. Sintaks (tahapan) Model Pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 27 2.3. Tahapan Model, Aktivitas Anak dan Indikator Kreativitas 29 2.4. Tahapan Perkembangan Kognitif Piaget 34 3.1. Kriteria Kebutuhan Produk Pengembangan 71 3.2. Pedoman Penilaian Angket Respon untuk Pernyataan 74 3.3. Pedoman Konversi Skor Rata-Rata Setiap Aspek Menjadi Data Kualitatif Pada Penilaian Kepraktisan 74 3.4. Kriteria Penilaian Keterlaksanaan Pembelajaran 75 4.1. Hasil Analisis Data Pemahaman Guru dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 79 4.2. Hasil Analisis Data Tentang Perencanaan Model Pembelajaran dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 81 4.3. Hasil Analisis Data Tentang Pelaksanaan Model PjBL dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 83 4.4. Hasil Analisis Data Tentang Penilaian Model PjBL dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 85 4.5. Rangkuman Hasil Validasi Buku Model Pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 94 4.6. Rangkuman Hasil Validasi Buku Panduan Guru pada Penerapan Model Pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 96 4.7. Rangkuman Hasil Uji Validasi Instrumen Pengamatan Guru pada Penerapan Model Pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 97 4.8. Hasil Uji Validasi Angket Respon Guru terhadap Penerapan Model Pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 98 4.9. Validasi Pedoman Penilaian Kreativitas Anak pada Penerapan Model Pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 100 4.10. Hasil Respon Guru terhadap Perangkat Pembelajaran Model Pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 101


xii 4.11. Hasil Pengamatan Guru pada Penerapan Model Pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 107 4.12. Data Skor Hasil Pretest Kemampuan Kreativitas Anak 110 4.13. Data Skor Hasil Posttest Kemampuan Kreativitas Anak 111 4.14. Hasil Uji Normalitas Data Pretest dan Posttest 113 4.15. Hasil Uji Hipotesis Paired Sample t Test Sebelum dan Sesudah Penerapan Model Pembelajaran Design, Explain, Development, and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 114 4.16. Descriptive Statistics N Gain Score 115


xiii DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Hal. 2.1. Kerangka Pikir 60 2.2. Model Hipotetik 61 4.1. Tingkat Pemahaman Guru dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 79 4.2. Perencanaan Model Pembelajaran dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 81 4.3. Pelaksanaan Model PjBL dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 84 4.4. Penilaian Model PjBL dalam Menstimulasi Kreativitas Anak 86


xiv


xv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Judul Hal. 1. Angket Analisis Kebutuhan 141 2. Lembar Validasi Angket Analisis Kebutuhan 145 3. Lembar Validasi Buku Model 149 4. Lembar Validasi Buku Panduan Guru 157 5. Angket Respon Guru 161 6. Lembar Validasi Angket Respon Guru 164 7. Instrumen Pengamatan Guru 168 8. Lembar Validasi Instrumen Pengamatan Guru 170 9. Pedoman Penilaian Kreativitas Anak 174 10. Lembar Validasi Pedoman Penilaian Kreativitas Anak 176 11. Data Hasil Responden Angket Analisis Kebutuhan 180 12. Data Hasil Respon Guru 181 13. Data Hasil Pengamatan Guru 183 14. Data Hasil Pretest 185 15. Data Hasil Posttest 186 16. Data Hasil Uji Statistik Parametrik 187 17. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) 188 18. Dokumen Izin Penelitian 203


1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan era revolusi industri 4.0 adalah fenomena yang merespons kebutuhan revolusi industri dengan penyesuaian kurikulum baru sesuai situasi saat ini. Kurikulum tersebut mampu membuka jendela dunia melalui genggaman, contohnya dengan memanfaatkan Internet of Things (IoT), di sisi lain pengajar juga memperoleh lebih banyak referensi dan metode pengajaran (Simarmata et al., 2020). Menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks yang penuh tantangan dan kompetisi, dibutuhkan kemampuan untuk bersaing, tentu bukan hanya kemampuan yang biasa saja, akan tetapi dibutuhkan kemampuan kreativitas untuk beradaptasi. Kreativitas dibutuhkan karena dapat meningkatkan prestasi akademik, dapat mendayakan fungsi manusia dengan mensintesis interaksi antara kekuatan intelektual, emosional, dan motivasional. Hal ini menunjukkan peran para pendidik sangat penting untuk mengembangkan kemampuan kreativitas anak usia dini sehingga anak mempunyai bakat dan ide-ide cemerlang dan bisa menghasilkan karya-karya yang bernilai seni tinggi (Agustina, 2021). Kreativitas memungkinkan seseorang dalam meningkatkan kualitas hidupnya (S. C. U. Munandar, 1997). Pada zaman sekarang, tidak bisa dipungkiri bahwa kejayaan dan kesejahteraan hidup rakyat dalam sebuah negara bergantung pada sumbangsih kreatif yang berupa gagasan atau ide baru, teknologi baru, dan penemuan baru dari masyarakat (P. I. A. Dewi et al., 2015). Dalam bidang 1


2 pendidikan, kreativitas sangat diperlukan baik untuk guru dalam memberikan kegiatan pembelajaran serta peserta didik selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Pendidikan merupakan proses kegiatan yang sangat efektif dalam menumbuhkan, membentuk, dan mempersiapkan anak dalam mengembangkan kreativitas (Arslan, 2014). Kreativitas pada anak dapat dikembangkan dan distimulasi melalui pendidikan dan pelatihan. Dalam hal kreativitas tidak ada batasan serta tidak ada konsep benar atau salah di dalamnya, mengingat setiap anak memiliki cara dan kemampuan berpikir yang berbeda satu sama lain. Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini menyebutkan bahwa dengan kreativitas, anak akan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang ditemui anak dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang mudah dan bisa diterima. Anak juga mampu menerapkan pengetahuan dan pengalamannya dalam konsep yang baru serta mampu memperlihatkan sikap kreatifnya dalam menyelesaikan berbagai masalah baik berupa gagasan, ide, ataupun berupa produk hasil karya. Pada anak yang kreatif sering dijumpai biasanya mereka dapat menghasilkan sebuah karya yang baru dan asli, bahkan tidak menutup kemungkinan dapat juga memberikan sumbangsih terhadap perkembangan ilmu. Keberhasilan hasil karya anak yang dibuatnya sendiri tersebut, memberikan sebuah kebanggaan tersendiri juga sekaligus dapat menaikkan tingkat rasa percaya diri pada anak (Alayinda et al., 2019). Anak dilahirkan dengan memiliki berbagai macam potensi kreatif, ditunjukkan pada masa awal perkembangan ketika bayi, anak sudah mampu


3 melakukan manipulasi gerakan serta suara melalui kemampuan pendengaran dan pengamatannya. Anak sejak bayi bahkan ketika masih dalam kandungan sudah mulai belajar mencoba, menirukan, berkreasi, serta mengekspresikan diri dengan cara dan gaya yang unik dan khas (Jumroh & Istiarini, 2018). Berdasarkan hal tersebut, maka pengembangan kreativitas sangat perlu distumulasi pada anak sejak usia dini. Kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam mengungkapkan gagasan baru yang berbeda melalui pengalaman berdasarkan bekal informasi atau pengetahuan yang ada untuk menghasilkan sebuah hasil karya atau produk baru yang dapat digunakan dalam memecahkan permasalahan sehari-hari (Widiasih & Astuti, 2021). Pelaksanaan pengembangan kreativitas anak diperlukan sebuah proses kegiatan pembelajaran yang mudah dan menyenangkan. Pengembangan kreativitas yang diberikan untuk anak usia dini mengacu pada arahan program pengembangan dan tahapan aspek perkembangannya. Arahan program pengembangan dan tahapan aspek perkembangan yakni sebuah kegiatan belajar yang bersifat bermain, menyenangkan, mengaktifkan peran anak, konkret, serta memadukan berbagai macam aspek pembelajaran dan perkembangan anak usia dini (P. Y. A. Dewi et al., 2021). Keberhasilan tercapainya tujuan pengembangan kreativitas pada anak banyak dipengaruhi oleh ruang gerak dan waktu yang diberikan seluas-luasnya kepada anak agar dapat berkesempatan dan bebas untuk mengaktualisasikan diri melalui berbagai macam gagasan, ekspresi, dan hasil karya. Selain itu, keberhasilan juga dapat dipengaruhi oleh adanya suasana kondisi ruang atau lingkungan belajar


4 yang menyenangkan sehingga dapat membuat anak termotivasi selama kegiatan belajar (P. I. A. Dewi et al., 2015). Pengembangan kreativitas anak usia dini sangat diperlukan dukungan dari semua pihak, antara lain guru, orangtua, dan lingkungan masyarakat. Dalam pengembangan kreativitas, orangtua dan guru berperan sebagai motivator dan fasilitator, bukan sebagai pengajar. Orangtua dan guru harus dapat menyediakan kondisi lingkungan yang dapat memberikan stimulus untuk anak dalam menuangkan seluruh potensi kreatifnya. Kondisi lingkungan tersebut yaitu lingkungan yang dapat memberikan kesempatan pada anak untuk menjadi kreatif, anak diberi kebebasan untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan dalam proses mengeksplorasi potensi kreatif mereka (Susanto, 2017). Kesempatan dan kebebasan diberikan kepada anak untuk menguraikan pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri, serta menuangkan imajinasi mereka dapat mengembangkan kreativitas anak dalam upaya pemecahan masalah yang ditemui anak dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam gagasan atau ide inovatif ataupun juga dengan sebuah produk hasil karya. Akan tetapi, dalam praktik kegiatan pembelajaran dalam rangka pengembangan kreativitas pada anak seperti pada hasil pengamatan beberapa Taman Kanak-kanak yang ada di Kota Makassar, masih dijumpai kurangnya kesempatan dan kebebasan yang diberikan kepada anak selama proses pengembangan kreativitas, contohnya bahwa anak seringkali didikte atau diberikan sebuah tugas yang secara tidak langsung dianggap oleh anak adalah sebuah perintah untuk melakukan atau membuat sesuatu yang sama dengan contoh yang diberikan oleh guru. Kesempatan dan kebebasan anak


5 dalam menuangkan ide inovatif dan imajinasi belum sepenuhnya diterangkan dalam kegiatan pembelajaran yang diberikan sehingga pengembangan kreativitas anak belum terlaksana secara maksimal (Sari, 2017). Berdasarkan permasalahan yang dijumpai dan berbagai uraian mengenai pengembangan kreativitas pada anak usia dini, maka diperlukan sebuah model pembelajaran yang dirasa dapat memaksimalkan pengembangan kreativitas pada anak usia dini. Penulis memilih model Project based Learning (PjBL) sebagai salah satu kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan dan kebebasan yang luas pada anak untuk mengekspresikan diri melalui gagasan, ide, ataupun dalam bentuk hasil karya sebagai proses pengembangan kreativitas pada anak. Model PjBL merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan dan kebebasan anak dalam mengembangkan kreativitasnya untuk menyelesaikan permasalahan berupa tugas atau proyek yang diberikan. Model PjBL dilaksanakan dengan pendekatan yang menggunakan pengetahuan dan pengalaman langsung anak. Model PjBL adalah kegiatan yang dapat mendorong anak untuk menghilangkan ketegangan dengan menggunakan cara-cara yang bebas dan kreatif. Model PjBL adalah kegiatan pembelajaran yang digunakan untuk melatih kemampuan anak dalam pemecahan masalah yang ditemui di kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan kegiatan yang memiliki nilai-nilai praktis yang sangat penting bagi pengembangan keterampilan, pengembangan pribadi serta pengembangan kreativitas anak (Tinenti, 2018).


6 Penerapan model PjBL dapat mendorong tumbuhnya kreativitas pada anak sehingga dapat pula menjadikan sebuah prestasi bagi anak itu sendiri (Alayinda et al., 2019). Model PjBL dapat diterapkan pada anak baik secara individual maupun berkelompok, kegiatan ini memberikan peluang untuk setiap anak dalam mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang telah dimiliki atau dikuasai yang pada akhirnya dapat terwujud sebuah daya kreativitas anak secara optimal. Lembaga PAUD sudah menerapkan model PjBL dalam proses belajar mengajar untuk mengembangkan potensi dasar anak termasuk dalam hal pengembangan kreativitas. Berdasarkan hasil observasi awal pada Taman Kanakkanak (TK) Taman PAUD Doa Ibu Makassar, pada saat guru menerapkan model PjBL dalam proses belajar mengajar, guru hanya fokus pada penilaian hasil proyek atau karya akhir saja (learning outcome) sebagai salah satu indikator pencapaian kompetensi peserta didik. Sementara untuk TK, lebih pada penerapan learning process dimana pada saat kegiatan belajar dilakukan guru sebaiknya lebih mengedepankan observasi pada anak saat melakukan proses kegiatan belajar ketimbang menilai hasil akhir. Banyak hal yang dapat diobservasi dalam proses kegiatan belajar, termasuk penerapan model PjBL dalam menstimulasi kemampuan kreativitas anak. Pada saat peserta didik akan membuat proyek, maka terlebih dahulu biasanya yang dilakukan adalah mendesain proyek (design). Desain proyek yang direncanakan akan disampaikan atau dijelaskan (explain) kepada guru dan dihadapan teman-teman. Setelah itu, pada tahap pengerjaan proyek, apabila masih ada hal yang belum diakomodir pada tahap sebelumnya maka dapat dilakukan pengembangan (development). Tentu di akhir kegiatan pembuatan proyek, peserta


7 didik lain diminta untuk mengapresiasi proyek temannya, kegiatan akhir ini bisa dikategorikan sebagai tahap evaluasi (evaluation) sekaligus untuk merefleksi pengalaman selama mengerjakan proyek. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti akan merumuskan masalah dalam hal pengembangan model PjBL dalam menstimulasi kreativitas anak dengan fokus observasi pada kegiatan proses model PjBL yang mencakup kegiatan mendesain proyek (design), menjelaskan rencana proyek (explain), mengembangkan proyek (development), dan mengevaluasi proyek (evaluation) dalam menstimulasi kreativitas anak. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana gambaran tingkat kebutuhan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak? 2. Bagaimana gambaran prototype pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak? 3. Bagaimana kevalidan pelaksanaan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak? 4. Bagaimana kepraktisan pelaksanaan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak?


8 5. Bagaimana keefektifan pelaksanaan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak? C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Gambaran tingkat kebutuhan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak. 2. Gambaran prototype model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak. 3. Kevalidan pelaksanaan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak. 4. Kepraktisan pelaksanaan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak. 5. Keefektifan pelaksanaan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak.


9 D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis Kajian dan pengembangan ilmu pendidikan di antaranya sebagai sumbangan pemikiran tentang pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak, serta dapat dijadikan sumber acuan dalam penelitian yang lebih relevan. 2. Manfaat Praktis Bagi para praktisi dan orang tua menjadi referensi, bahan informasi bagi para peneliti yang ingin melakukan penelitian ilmiah, bagi penulis untuk menambah pengetahuan dan pengalaman penulisan dalam melakukan suatu penelitian ilmiah dan keilmuan. E. Spesifikasi Produk Penelitian ini akan melahirkan produk penelitian dalam bentuk model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak dengan spesifikasi produk: 1. Model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek yang valid, praktis dan efektif dalam menstimulasi kreativitas anak. 2. Model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek memiliki komponen yang terdiri dari sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak instruksional dan dampak pengiring.


10 3. Model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek yang dikembangkan, akan melahirkan produk berupa buku panduan guru, dan lembar penilaian kreativitas anak. 4. Model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek adalah model pembelajaran dalam menstimulasi kreativitas anak.


11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Konsep Kreativitas a. Pengertian Kreativitas Kreativitas merupakan kata ajaib yang bisa merubah banyak hal. Perkembangan dunia modern yang berubah begitu cepat, menuntut manusia harus memiliki kreativitas agar dapat menemukan solusi orisinal dan baru terhadap masalah yang dihadapi. Dalam konteks ini, kreativitas dapat dievaluasi sebagai kunci pemecahan masalah, berpikir analitis, dan proses pembelajaran. Menurut (Tuğrul et al., 2014) kreativitas adalah sebagai proses kognitif yang muncul sebagai produk yang unik dan baru bergantung pada bakat seseorang dalam proses pemecahan masalah yang menggunakan bagian dari elemen kecerdasannya untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam menemukan hal-hal yang baru. Sebagaimana yang yang dijelaskan oleh (Agustina, 2021) kreativitas merupakan sebuah kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak yang tidak terbatas dan tidak terdapat konsep benar atau salah, dikarenakan setiap anak memiliki cara dan pemikirannya masing-masing. Kreativitas pada anak merupakan sesuatu yang tidak terbatas dan tidak ada konsep benar atau salah, karena setiap anak memiliki 11


12 cara dan pemikirannya masing-masing dalam mengungkapkan ide, mengungkapkan sesuatu dan menciptakan suatu karya. Kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru, asosiasi baru berdasarkan bahan, informasi, data atau elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya menjadi hal-hal yang bermakna dan bermanfaat. Jadi kreativitas merupakan aktivitas imajinatif yang hasilnya merupakan pembentukan kombinasi dari informasi yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadi hal yang baru, berarti dan bermanfaat (U. Munandar, 1999). Kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna-makna sosial. Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang baru melalui beberapa tahapan-tahapan proses. Menurut Hasibuan & Ningrum (2016) kreativitas dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1) kreativitas sebagai proses kreatif yang artinya apa saja sumber-sumber kemampuan seseorang dan aktivitas yang berpotensi besar untuk melahirkan gagasan-gagasan baru; (2) kreativitas sebagai hasil karya kreatif yang artinya potensi kreatif yang dimiliki seseorang belum tentu teraktualisasikan dalam bentuk perilaku yang dapat menghasilkan karya-karya baru yang berguna bagi lingkungan. Oleh karena itu, jika seseorang melihat fenomena kreativitas, maka dapat dilihat melalui bagaimana proses menghasilkan karya-karya tersebut dan melalui karya-karya nyata yang telah dihasilkan seseorang.


13 b. Strategi Pengembangan Kreativitas Pengertian kreativitas adalah kemampuan yang terdiri dari empat indikator yaitu kelancaran, fleksibilitas, orisinalitas, dan elaborasi. Kemampuan kreativitas tersebut dapat dilaksanakan dengan empat tahap, yaitu tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi (McInerney, 2015). Sementara itu (Asmawati, 2017) memberikan penjelasan tentang karakteristik empat dimensi kreativitas tersebut yaitu : 1) Karakteristik kelancaran adalah kemampuan untuk memproduksi sejumlah ide dengan kata-kata dan ekspresi yang relevan dalam waktu yang singkat dan situasi yang sama dengan lancar. 2) Karakteristik fleksibilitas adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dengan berbagai cara agar masalah segera selesai dengan cepat dan tepat. 3) Karakteristik orisinalitas adalah kemampuan untuk menghasilkan karya yang asli hasil pemikirannya sendiri. 4) Karakteristik elaborasi adalah kemampuan untuk memperluas atau menyempurnakan ide menjadi sebuah objek yang kompleks dan bermakna. Potensi yang dimiliki setiap orang diperoleh sejak lahir yang merupakan bawaan dasar bagi setiap individu. Potensi merupakan kemampuan untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif. Potensi ini merupakan keunikan pada setiap individu dengan bidang yang berbeda-beda pula, yang lebih utama adalah bakat tersebut perlu dikembangkan dan ditingkatkan melalui pendidikan. Pengembangan kreativitas anak usia dini perlu menekankan pada aspek pembentukan kreativitas menurut beberapa ahli terdiri dari empat dimensi konsep,


14 Utami Munandar berpendapat bahwa kreativitas dilihat dari empat aspek pembentukan kreativitas (Four P’s of Creativity) (U. Munandar, 1999) empat aspek pembentukan kreativitas tersebut terdiri dari: (1) kondisi pribadi (person), (2) dorongan (press), (3) proses (process), dan (4) produk (product). Untuk lebih jelasnya diberikan penjelasan keempat aspek tersebut: 1) Pribadi kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan orisinalitas dari individu tersebut. Dari ungkapan pribadi yang unik inilah dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif. Oleh karena itu pendidik hendaknya dapat menghargai keunikan pribadi dan bakatbakat peserta didik (jangan mengharapkan semua melakukan atau menghasilkan hal-hal yang sama, atau mempunyai minat yang sama). Guru hendaknya membantu peserta didik menemukan bakat-bakatnya dan menghargainya. 2) Pendorong, bakat kreatif siswa akan terwujud jika ada dorongan dan dukungan dari lingkungannya, ataupun jika ada dorongan kuat dalam dirinya sendiri (motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu. Bakat kreatif dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung tetapi dapat pula terhambat dalam lingkungan yang tidak menunjang. Lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan maupun lingkungan masyarakat harus ada penghargaan dan dukungan terhadap sikap dan perilaku kreatif individu atau kelompok individu.


15 3) Proses, untuk mengembangkan kreatif, anak perlu diberi kesempatan untuk bersibuk diri secara aktif. Pendidik hendaknya dapat merangsang untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting ialah memberi kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan dirinya secara aktif, tentu saja dengan persyaratan tidak merugikan orang lain atau lingkungan. Pertama-tama yang perlu ialah proses bersibuk diri secara kreatif tanpa perlu selalu atau terlalu cepat menuntut dihasilkannya produk-produk kreatif yang bermakna. Hal itu akan datang dengan sendirinya dalam iklim yang menunjang, menerima, dan menghargai. Perlu pula diingat bahwa kurikulum sekolah yang terlalu padat sehingga tidak ada peluang untuk kegiatan kreatif, dan jenis pekerjaan yang monoton, tidak menunjang siswa untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif. 4) Produk, kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif yang bermakna ialah kondisi pribadi dan kondisi lingkungan, yaitu sejauh mana keduanya mendorong (press) seseorang untuk melibatkan dirinya dalam proses (kesibukan, kegiatan) kreatif. Menurut Utami (Fitri & Mayar, 2019) kreativitas dalam dimensi person adalah upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada individu atau person dari individu yang dapat disebut dengan kreatif. Kreativitas dalam dimensi process merupakan kreativitas yang berfokus pada proses berpikir sehingga memunculkan ide-ide unik atau kreatif. Kreativitas dalam dimensi press merupakan kreativitas yang menekankan pada dorongan, baik dorongan internal diri sendiri berupa


16 keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif, maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis. Mengenai press dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas dalam dimensi product adalah merupakan upaya kreativitas yang berfokus pada produk atau apa yang dihasilkan oleh individu baik sesuatu yang baru/original atau sebuah elaborasi/penggabungan yang inovatif dan kreativitas yang berfokus pada produk kreatif menekankan pada orisinalitas. 2. Model Pembelajaran Model pembelajaran adalah suatu acuan kepada suatu pendekatan pembelajaran termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungannya, dan sistem pengelolaanya (Slavin, 2010). Selain itu, definisi lain model pembelajaran merupakan pendekatan yang luas dan menyeluruh serta dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks atau pola urutannya, dan sifat lingkungan belajarnya (Trianto, 2009). Models of teaching are really models of learning. Models of teaching is a description of a learning environment, including our behavior as teachers when that model is used. These models have many uses, ranging from planning lessons and curriculums to designing instructional materials, including multimedia programs (Joyce & Calhoun, 2009). Pendapat di atas menjelaskan bahwa model pembelajaran merupakan suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelasnya dalam bentuk langkah-langkah pembelajaran, pembentukan


17 strategi, metode, teknik dan evaluasi pembelajaran serta pengkondisian lingkungan pembelajaran sehingga mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Model pembelajaran memiliki empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode dan prosedur (Trianto, 2009). Ciri-ciri tersebut adalah: a. Rasional teoritis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya; b. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai); c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Menurut Joyce & Calhoun (2009) bahwa setiap model belajar mengajar atau model pembelajaran harus memiliki empat unsur berikut: a. Sintak (syntax) yang merupakan fase-fase (phasing) dari model yang menjelaskan model tersebut dalam pelaksanaannya secara nyata. Contohnya, bagaimana kegiatan pendahuluan pada proses pembelajaran dilakukan? Apa yang akan terjadi berikutnya? b. Sistem sosial (the social system) yang menunjukkan peran dan hubungan guru dan siswa selama proses pembelajaran. Kepemimpinan guru sangatlah bervariasi pada satu model dengan model lainnya. Pada satu model, guru berperan sebagai fasilitator namun pada model yang lain guru berperan sebagai sumber ilmu pengetahuan. c. Prinsip reaksi (principles of reaction) yang menunjukkan bagaimana guru memperlakukan siswa dan bagaimana pula ia merespon terhadap apa yang


18 dilakukan siswanya. Pada satu model, guru memberi ganjaran atas sesuatu yang sudah dilakukan siswa dengan baik, namun pada model yang lain guru bersikap tidak memberikan penilaian terhadap siswanya, terutama untuk hal-hal yang berkait dengan kreativitas. d. Sistem pendukung (support system) yang menunjukkan segala sarana, bahan, dan alat yang dapat digunakan untuk mendukung model tersebut. Ciri-ciri model pembelajaran dikemukakan Rusman (2010) adalah sebagai berikut: a. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu, model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis. b. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu, misalnya model berpikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif. c. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas, misalnya model kooperatif dirancang untuk memperbaiki keterampilan berbicara. d. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (1) urutan langkah-langkah pembelajaran, (2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) sistem sosial, dan (4) sistem pendukung. Keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran. e. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut meliputi: (1) dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur, (2) dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang. f. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model


19 pembelajaran yang dipilihnya. Kriteria kevalidan, kepraktisan dan keefektifan model pembelajaran menurut Nurdin (Sambolinggi, 2014) adalah sebagai berikut: a. Kriteria Kevalidan Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa pengembangan model pembelajaran memiliki derajat validitas yang memadai adalah: (1) nilai validitas untuk keseluruhan aspek pada perangkat dan instrumen yang relevan dengan pengembangan perangkat pembelajaran minimal dalam kategori “valid”, dan (2) nilai validitas untuk setiap aspek minimal berada dalam kategori “valid”. Apabila tidak demikian, maka perlu dilakukan revisi berdasarkan saran para validator atau dengan melihat kembali aspek-aspek yang nilainya kurang. Selanjutnya dilakukan validasi ulang lalu dianalisis kembali. Demikian seterusnya sampai memenuhi nilai validitas minimal berada di dalam kategori valid. b. Kriteria Kepraktisan Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa aktivitas guru mengelola pembelajaran memadai adalah nilai rata-rata keterlaksanaan setiap aspek atau keseluruhan aspek minimal berada dalam kategori “terlaksana dengan baik”, berarti penampilan guru dapat dipertahankan. Apabila nilai rata-rata keterlaksanaan setiap aspek atau keseluruhan aspek berada di bawahnya, maka guru harus mampu meningkatkan kemampuannya dengan melihat kembali aspekaspek yang nilainya kurang. Selanjutnya dilakukan kembali pengamatan terhadap kemampuan guru mengelola pembelajaran, lalu dianalisis kembali. Demikian


20 seterusnya sampai memenuhi nilai nilai rata-rata keterlaksanaan setiap aspek atau keseluruhan aspek minimal berada di dalam kategori terlaksana dengan baik. c. Kriteria Keefektifan Kriteria keefektifan mencakup tingkat perkembangan pembelajaran peserta didik. Data hasil pengamatan aktivitas peserta didik dalam melakukan aktivitas proyek, dianalisis dan dideskripsikan. Rata-rata frekuensi peserta didik dalam melakukan aktivitas kegiatan proyek yang telah ditentukan, dicapai melalui langkah-langkah berikut: a) Hasil pengamatan aktivitas peserta didik untuk setiap indikator dalam satu kali pertemuan ditentukan frekuensinya. Selanjutnya, ditentukan frekuensi rata-rata dari rata-rata frekuensi untuk beberapa kali pertemuan. b) Mencari persentase frekuensi setiap indikator dengan cara membagi besarnya frekuensi dengan jumlah frekuensi untuk setiap indikator. Kemudian hasil pembagian dikali 100%. Selanjutnya dicari rata-rata persentase waktu untuk beberapa kali pertemuan. 3) Perkembangan belajar anak didik dikatakan memenuhi kriteria apabila ketercapaian tingkat perkembangan hasil belajar anak didik yaitu minimal 70% anak didik mencapai tingkat perkembangan hasil belajar berkembang sesuai dengan harapan (BSH). Model pembelajaran yang baik adalah model pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi anak secara maksimal yang dapat dicapai melalui proses pembelajaran yang dapat mengintegrasikan lingkungan belajar dengan kebutuhan anak didik, karakteristik pengembangan dan strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran berbasis proyek adalah sebuah model yang akan dirancang dalam menstimulasi kreativitas anak usia dini.


21 Pengembangan model pembelajaran ini adalah model pembelajaran yang berorientasi pada pengamatan kemajuan anak dalam belajar proses merancang proyek yang diawali dengan kegiatan desain (design), dilanjutkan dengan menjelaskan (explain) hasil desain yang dirancang, sampai pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung yaitu pengembangan (development) proyek hingga tahapan evaluasi (evaluation) untuk mengukur pencapaian kemampuan anak secara maksimal. 3. Model Project based Learning (PjBL) a. Pengertian Model Project based Learning (PjBL) Model Project based Learning (PjBL) merupakan salah satu cara pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan anak dengan persoalan sehari-hari yang harus dipecahkan secara berkelompok maupun individu. Model PjBL berasal dari gagasan John Dewey tentang konsep learning by doing yakni proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan tindakan-tindakan tertentu sesuai dengan tujuannya, terutama proses penguasaan anak tentang bagaimana melakukan suatu pekerjaan yang terdiri atas serangkaian tingkah laku untuk mencapai tujuan, misalnya naik tangga, melipat kertas, memasang tali sepatu, menganyam, membentuk model binatang atau bangunan, dan sebagainya (Moeslichatoen R, 1999). Jacobs (2000) juga menjelaskan mengenai definisi pembelajaran berbasis proyek sebagai berikut: Projects are another way for students to experience how an inviting, dynamic environment can encourage learning. Projects not only help children gain academic skills, they can help children form good self concepts about themselves as successful learners. They can also help


22 children gain a positive disposition toward learning that are critical to their future success. Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa model PjBL merupakan cara lain bagi peserta didik untuk merasakan bagaimana menciptakan lingkungan yang dinamis untuk mendorong pembelajaran. Model PjBL tidak hanya membantu anak-anak memperoleh keterampilan akademis, model PjBL juga dapat membantu anak-anak membentuk kreativitas mereka sebagai pelajar yang sukses. Pendekatan pembelajaran tersebut juga dapat membantu anak-anak mendapatkan disposisi positif terhadap pembelajaran yang sangat penting untuk kesuksesan masa depan siswa. Model PjBL merupakan kegiatan investigasi yang mendalam mengenai topik-topik yang ada di lingkungan anak. Anak-anak akan memilih topiknya sendiri. Hal itulah yang menjadikan anak termotivasi untuk menyelesaikan proyeknya dengan kemauan sendiri, pengalaman sendiri, ide sendiri, dan dapat memecahkan masalah pribadi maupun kelompok dengan cara mereka sendiri. Sesuai dengan pendapat (Li-Fen et al., 2014), yang menyatakan bahwa: The Project Approach is an in-depth investigation of a topic related to the environment around children. Children ac-complish project work based on their interests, experiences, ideas, and questions in small groups or occasionally by themselves. b. Langkah-langkah Model Project based Learning (PjBL) Model PjBL menekankan pengajar berperan sebagai fasilitator bagi peserta didik untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan penuntun. Sedangkan pada kelas ”konvensional” pengajar dianggap sebagai seseorang yang paling menguasai materi dan karenanya semua informasi diberikan secara langsung kepada


23 peserta didik. Pada kelas model PjBL, peserta didik dibiasakan bekerja secara kolaboratif, penilaian dilakukan secara autentik, dan sumber belajar bisa sangat berkembang. Hal ini berbeda dengan kelas ”konvensional” yang terbiasa dengan situasi kelas individual, penilaian lebih dominan pada aspek hasil daripada proses, dan sumber belajar cenderung stagnan (Wahyu, 2017). Langkah-langkah model PjBL menurut Rais (Natty et al., 2019) adalah sebagai berikut: 1) Membuka pelajaran dengan suatu pertanyaan menantang. Pembelajaran dimulai dengan sebuah pertanyaan driving question yang dapat memberi penugasan pada anak untuk melakukan suatu aktivitas. Topik yang diambil hendaknya sesuai dengan realita dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. 2) Merencanakan proyek. Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dengan anak. Dengan demikian anak diharapkan akan merasa memiliki atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial dengan mengintegrasikan berbagai subjek yang mendukung, serta menginformasikan alat dan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan proyek. 3) Menyusun jadwal aktivitas. Guru dan anak secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Waktu penyelesaian proyek harus jelas, dan anak diberi arahan untuk mengelola waktu yang ada. Biarkan anak mencoba menggali sesuatu yang baru, akan tetapi guru juga harus tetap mengingatkan apabila aktivitas anak melenceng dari tujuan proyek. Proyek


24 yang dilakukan oleh anak adalah proyek yang membutuhkan waktu yang lama dalam pengerjaannya, sehingga guru meminta anak untuk menyelesaikan proyeknya secara berkelompok. 4) Mengawasi jalannya proyek. Guru bertanggungjawab untuk mengawasi aktivitas anak dalam menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara memfasilitasi anak pada setiap proses. Dengan kata lain, guru berperan sebagai mentor bagi aktivitas anak. Guru mengajarkan kepada anak bagaimana bekerja dalam sebuah kelompok. Setiap anak berhak memilih perannya masing-masing dengan tidak mengesampingkan kepentingan kelompok. 5) Penilaian terhadap produk yang dihasilkan. Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing anak, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai oleh anak, serta membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. Penilaian produk dilakukan saat masing-masing kelompok mempresentasikan produknya di depan kelompok lain secara bergantian. 6) Evaluasi. Pada akhir proses pembelajaran, guru dan anak melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini, anak diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek.


25 4. Kajian Model Pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak a. Rasional Teoritis Model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak dikembangan dengan berlandaskan pada model Project based Learning (PjBL). Pengembangan model dirancang dengan bertolak dari masalah yang ditemui dalam menerapkan model PjBL di Taman Kanak-kanak. Salah satu masalah yang ditemui adalah penilaian kemampuan perkembangan anak hanya diamati dari hasil karya proyek. Guru memberikan penilaian perkembangan anak berdasar pada hasil akhir proyek atau disebut learning by outcome dan bukan pada prinsip learning by process yaitu mengabaikan pengamatan pada saat proses pengerjaan proyek yang dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi proyek. Proses pengerjaan proyek memiliki serangkaian kegiatan yang banyak, yang dapat dijadikan sumber pengamatan guru dalam menilai perkembangan anak terkhusus menstimulasi kreativitas anak. Pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak berdasar pada tahapan model PjBL. Aktivitas anak dalam setiap tahapan PjBL, dijadikan dasar pijakan dalam melahirkan tahapan yang lebih sederhana tanpa mengurangi substansi dari tahapan model PjBL. Hasil analisis aktivitas anak terhadap tahapan PjBL adalah sebagai berikut:


26 Tabel 2.1. Tahapan PjBL dan Aktivitas Anak No Tahapan PjBL Aktivitas Anak 1 Membuka pelajaran dengan suatu pertanyaan menantang. Anak mendesain (design) rencana proyek berdasarkan ide-ide yang diproduksi sendiri dengan kata-kata dan ekspresi yang relevan dalam waktu yang singkat dan situasi yang sama dengan 2 Merencanakan lancar setelah pertanyaan menantang dari guru proyek 3 Menyusun jadwal aktivitas Anak menjelaskan (explain) rencana aktivitas yang sudah didesain termasuk jadwal pelaksanaan. 4 Mengawasi jalannya proyek Anak dapat mengembangkan (development) atau menghasilkan karya yang asli hasil pemikirannya 5 Penilaian terhadap sendiri produk yang dihasilkan 6 Evaluasi Anak merefleksi pengalaman yang didapatkan dalam bentuk evaluasi (evaluation) dengan menceritakannya. Berdasarkan tabel 2.1 di atas, implementasi ke-6 (enam) tahapan PjBL diperoleh 4 (empat) aktivitas anak yang terdiri dari yang pertama, design (mendesain) yang merupakan bentuk aktivitas anak yang diperoleh berdasarkan instruksi tahapan PjBL yang pertama yaitu membuka pelajaran dengan suatu pertanyaan menantang, dan tahapan 2 yaitu merencanakan proyek. Kedua, explain (menjelaskan) sebagai bentuk aktivitas dari instruksi tahapan PjBL yang ke-3 yaitu menyusun jadwal aktivitas. Ketiga, development (mengembangkan) sebagai bentuk aktivitas anak dari instruksi tahapan PjBL yang ke-4 yaitu mengawasi jalannya proyek dan tahapan 5 yaitu penilaian terhadap produk yang dihasilkan. Keempat, evaluation (mengevaluasi), sama dengan tahapan 6 PjBL, hanya saja evaluasi yang dilakukan bersifat reflektif melalui kegiatan menceritakan pengalaman anak selama bermain proyek.


27 Berdasarkan hasil analisis di atas maka dapat dikembangkan sintaks (tahapan) model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak adalah sebagai berikut: Tabel 2.2. Sintaks (tahapan) Model Pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis Proyek dalam Menstimulasi Kreativitas Anak Tahapan Aktivitas Pendidik Aktivitas Anak Tahap 1: Design Pendidik membuka pelajaran dengan suatu pertanyaan menantang dan meminta kepada anak untuk mendesain rencana proyek Anak mendesain (design) rencana proyek berdasarkan ide-ide yang diproduksi sendiri dengan katakata dan ekspresi yang relevan dalam waktu yang singkat dan situasi yang sama dengan lancar setelah pertanyaan menantang dari guru Tahap 2: Explain Pendidik meminta kepada anak untuk menjelaskan rencana proyek yang akan dibuat termasuk rencana jadwal aktivitas Anak menjelaskan (explain) rencana aktivitas yang sudah didesain termasuk jadwal pelaksanaan. Tahap 3: Development Pendidik mengawasi jalannya proyek, mendorong pengembangan proyek yang unik dan memberikan penilaian terhadap produk yang dihasilkan Anak dapat mengembangkan (development) atau menghasilkan karya yang asli hasil pemikirannya sendiri Tahap 4: Evaluation Pendidik meminta anak menceritakan pengalaman selama pengerjaan proyek sebagai bentuk refleksi Anak merefleksi pengalaman yang didapatkan dalam bentuk evaluasi (evaluation) dengan menceritakannya. Berdasarkan tabel 2.2 di atas, penjelasan terkait tahapan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn)


28 berbasis proyek dalam menstimulasi kreativitas anak adalah sebagai berikut: 1. Design (Mendesain) Tahap design (mendesain) adalah tahap dimana pendidik membuka pelajaran dengan suatu pertanyaan menantang dan meminta kepada anak untuk mendesain rencana proyek. Tahap design ini membutuhkan respon anak terkait aktivitas mendesain rencana proyek berdasarkan ide-ide yang diproduksi sendiri dengan kata-kata dan ekspresi yang relevan dalam waktu yang singkat dan situasi yang sama dengan lancar setelah pertanyaan menantang dari guru. 2. Explain (Menjelaskan) Tahap explain (menjelaskan) adalah tahap dimana pendidik meminta kepada anak untuk menjelaskan rencana proyek yang akan dibuat termasuk rencana jadwal aktivitas. Tahap explain ini membutuhkan respon anak untuk menjelaskan rencana aktivitas yang sudah didesain termasuk jadwal pelaksanaan. 3. Development (Mengembangkan) Tahap development (mengembangkan) adalah tahap dimana pendidik mengawasi jalannya proyek, mendorong pengembangan proyek yang unik dan memberikan penilaian terhadap produk yang dihasilkan. Tahap development ini membutuhkan respon anak dalam hal pengembangkan karya yang asli hasil pemikirannya sendiri 4. Evaluation (Mengevaluasi) Tahap evaluation (mengevaluasi) adalah tahap dimana pendidik meminta anak menceritakan pengalaman selama pengerjaan proyek sebagai bentuk refleksi. Tahap evaluation ini membutuhkan respon anak untuk merefleksi pengalaman yang


29 didapatkan dalam bentuk evaluasi dengan menceritakannya. Tahapan pengembangan model pembelajaran Design, Explain, Development and Evaluation (DEDEn) berbasis proyek di atas, jika dikaitkan dengan keempat indikator kreativitas yaitu kelancaran, fleksibilitas, orisinalitas, dan elaborasi, maka setiap tahapan pengembangan model pembelajaran dapat menjadi sumber observasi dalam melihat pencapaian indikator perkembangan anak terkait stimulasi kreativitas, seperti yang diuraikan pada tabel berikut: Tabel 2.3. Tahapan Model, Aktivitas Anak dan Indikator Kreativitas No Tahapan Model Aktivitas Anak Indikator Kreativitas 1 Tahap 1: Design kemampuan anak memproduksi sejumlah ide dengan kata-kata dan ekspresi yang relevan dalam waktu yang singkat dan situasi yang sama dengan lancar dalam bentuk desain proyek (design) Kelancaran Fleksibilitas Orisinalitas Elaborasi 2 Tahap 2: Explain kemampuan anak menjelaskan (explain) desain proyek yang memungkinkan untuk dikembangkan 3 Tahap 3: Development kemampuan anak mengembangkan (development) proyek yang asli hasil pemikirannya sendiri 4 Tahap 4: Evaluation kemampuan anak mengevaluasi (evaluation) melalui refleksi dengan cara menceritakan pengalaman yang diperoleh Pertama, kelancaran. Kegiatan yang mengembangkan kelancaran berpikir kreatif dengan meminta anak untuk memikirkan “banyak” kemungkinan rencana kegiatan yang akan dilakukan, dalam hal ini mendesain (design) suatu proyek. Kedua, fleksibilitas atau disebut kelenturan atau keluwesan. Untuk menjelaskan apakah fleksibilitas itu dan apa bedanya dengan kelancaran, maka dapat digunakan


30 daftar ide hasil rencana (design) yang akan dibangun untuk kemudian dipresentasikan atau dijelaskan (explain). Ketiga, orisinalitas atau disebut keaslian. Bagaimana anak dapat mengembangkan orisinalitas? Gunakan kembali daftar rencana proyek (design) dan yang sudah dijelaskan (explain) dengan meminta anak untuk melihat dan menemukan ide-ide yang tidak biasa, ide yang tidak lazim yang pernah dilakukan sebelumnya. Apabila ide yang sudah dijelaskan merupakan ide yang biasa saja atau lazim telah dilakukan, maka anak didorong untuk mengembangkan (development) proyek dengan sesuatu yang baru. Keempat, elaborasi. Elaborasi adalah megembangkan suatu ide, merinci, melengkapi dan menambahkan secara detail terhadap ide yang sudah dikembangkan (development) atau proyek kelompok lain yang sudah dilihat melalui tahapan evaluasi (evaluation). Penerapan model ini akan dilengkapi dengan beberapa perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah buku pedoman bagi guru, rencana pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi capaian pembelajaran anak. Adapun media yang digunakan dalam penerapan model ini adalah alat dan bahan perlengkapan proyek yang dibutuhkan. Rasional teoritik merupakan unsur utama dalam pemenuhan ciri-ciri model secara umum. Joyce & Calhoun (2009) mengemukakan rasional teoritik merupakan unsur pendukung dari model pembelajaran yang akan dikembangkan dalam bentuk teori-teori yang dapat diterima kebenarannya. Komponen model pembelajaran terdiri dari lima unsur yaitu sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dan dampak instruksional serta dampak pengiring.


31 b. Kreativitas sebagai aspek perkembangan kognitif Kognitif menurut Webb (Gustiana, 2011) merupakan proses untuk mengetahui sesuatu, menyangkut pemrosesan informasi melalui beberapa tahapan penginderaan dengan sistem saraf sensori yang ada dalam tubuh manusia sehingga membentuk memori jangka panjang. Dengan kata lain, kognitif menjadi bagian dari pembentukan pengetahuan melalui pengalaman anak saat belajar selanjutnya tersimpan dalam ingatan jangka panjang. Semakin banyak melibatkan indera saat belajar akan memberikan peluang memahami lebih tinggi. Adapun aplikasi teori kognitif dalam pembelajaran menurut Wellang (2021) adalah 1) keterlibatan siswa secara aktif sangat dipentingkan; 2) mengaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki anak untuk meningkatkan minat dan meningkatkan retensi belajar anak; 3) materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola dan logika tertentu dari sederhana ke kompleks; dan 4) perbedaan individu pada anak perlu diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan dalam belajar. Istilah kognitif dalam arti yang luas cognitive (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu domain atau wilayah atau ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian


32 dengan ranah rasa (Wilson et al., 1989). Jadi perkembangan kognisi adalah perubahan bertahap dan teratur yang menyebabkan proses mental menjadi semakin rumit dan canggih. Menurut Akromah & Rohmah (2019) mendeskripsikan ciri-ciri perilaku kognitif adalah 1) berpikir lancar yaitu menghasilkan banyak gagasan atau jawaban yang relevan dan arus pemikiran lancar; 2) berpikir luwes yaitu menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam, mampu mengubah cara atau pendekatan dan arah pemikiran yang berbeda-beda; 3) berpikir orisinal yaitu memberikan jawaban yang tidak lazim atau lain dari yang lain yang jarang diberikan kebanyakan orang lain, dan 4) berpikir terperinci (elaborasi) yaitu mengembangkan menambah, memperkaya suatu gagasan memperinci detail-detail dan memperluas suatu gagasan-gagasan. c. Teori Kognitif Jean Piaget Piaget adalah seorang ahli psikologi perkembangan, ia mempelajari bagaimana pengetahuan dan kompetensi diperoleh sebagai konsekuensi pertumbuhan dan interaksi dengan lingkungan fisik dan sosial (Hanafy, 2014). Piaget terkenal dengan teori perkembangan mental manusia atau teori perkembangan kognitif. Teori Piaget sesuai dengan konstruktivisme yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana peserta didik secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman nyata menggunakan pengalaman dan interaksi yang dimiliki (Trianto, 2009). Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi.


33 Walaupun proses berpikir dalam konsep anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalaman dengan dunia sekitarnya, namun anak juga berperan aktif dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh melalui pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia punya. Teori perkembangan kognitif Piaget menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek seperti mainan, perabot, dan makanan serta objek-objek sosial seperti diri, orangtua dan teman. Bagaimana cara anak mengelompokan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek dan peristiwa-peristiwa dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut. Perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Piaget juga menekankan pentingnya bahasa, karena bahasa dapat memberikan gagasan untuk berpikir dan menjadikan anak dalam mengembangkan kemampuan menganalisis dan menalar sebuah kejadian atau peristiwa serta mengemukakan pikiran (AlTabany, 2017). Tahap- tahap perkembangan kognitif yang dikemukakan Piaget pada tabel di bawah ini:


34 Tabel 2.4. Tahapan Perkembangan Kognitif Piaget No Tahapan Usia Kemampuan-Kemampuan Utama 1 Tahapan Sensorimotor 0 – 2 tahun Terbentuknya konsep “kepermanenan objek” dan kemajuan gradual dalam perilaku refleksif ke perilaku yang mengarah pada tujuan. 2 Tahap Praoperasional 2 – 7 tahun Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan obyek-obyek dunia. Pemikiran masih egosentris dan sentrasi (dalam berpikir tidak disarankan pada keputusan yang logis melainkan didasarkan pada keputusan yang dapat dilihat seketika). 3 Tahap Operasi Konkrit 7 – 11 tahun Perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis. Pengerjaan logis dapat dilakukan dengan berorientasi pada objek-objek atau peristiwa yang langsung dialami oleh anak. Kemampuan-kemampuan baru termasuk penggunaan operasi-operasi yang dapat balik. Pemikiran tidak lagi sentrasi tetapi desentrasi, dan pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan. 4 Tahap Operasi Formal 11 tahun - dewasa Pemikiran abstrak dan murni simbolis bisa dilakukan tanpa kehadiran benda konkrit. Masalah-masalah dapat dipecahkan melalui penggunaan eksperimentasi sistematis. Sumber: Trianto, 2009. Asumsi yang sangat penting yang mendasari pandangan kecerdasan Piaget adalah jika anak-anak mengetahui sesuatu, mereka harus membangun pengetahuan itu sendiri. Latar belakang Piaget dalam zoologi cukup jelas dari definisinya tentang kecerdasan sebagai fungsi hidup dasar yang membantu organisme beradaptasi dengan lingkungannya. Piaget mengemukakan bahwa kecerdasan adalah suatu


Click to View FlipBook Version