KEHORMATAN
Seorang
Budak Wanita
( Kisah asmara dibalik tirai jeruji )
Muh.Rizani.Sjamsu Alam
1
DAFTAR ISI
1. EPISODE 1 I TENRIPADA YATIM PIATU…………………………HAL 3
2. EPISODE II I TENRIPADA DIHUKUM……………………………...HAL 9
3. EPISODE III PUTERA MAHKOTA JATUH HATI…………………..HAL 15
4. EPISODE IV PERKELAHIAN DI KURUNGAN I TENRIPADA…..HAL 27
5. EPISODE V I TENRIPADA MULAI LULUH HATINYA…………….HAL 45
6. EPISODE VI LA PATURUSI MENJEMPUT I TENRIPADA………...HAL 53
7. EPISODE.VII PILIHAN CALON ISTERI PASAMPOI………………HAL 60
8. EPISODE VIII LA PATURUSI DATANG LAGI
INGIN MENGAMBIL I TENRIPADA………………………………….HAL 67
9. EPISODE IX PASAMPOI DIPAKSA MENIKAH……………………...HAL 81
10. EPISODE X PERMAISURI MELAMAR PUTRI PABBICARA………..HAL 85
11. EPISODE XI I TENRIPADA DAN WE TENRISUI……………………...HAL 107
MELARIKAN DIRI.
EPISODE I
2
I TENRIPADA YATIM PIATU
Tersebutlah sebuah kerajaan di Sulawesi selatan bernama kerajaan Wajo, kerajaan itu
dipimpin oleh seorang raja bergelar Batara Wajo, yang bernama La Tenribali yang
memerintah kerajaan Wajo di abad XIV. Raja ini terkenal arif dan bijaksana namun tegas
dalam adat tanpa pandang bulu.
Kerajaan Wajo adalah merupakan sebuah kerajaan dari hasil gabungan 3 kerajaan yaitu
kerajaan Majauleng, kerajaan Takkalalla, dan kerajaan Sabbangparu. Ketiga kerajaan
tersebut masing masing membawahi lagi lebih sepuluh kerajaan kecil. Dan setiap kerajaan
dibawah kerajaan Wajo memiliki hak otonomi, dimana seorang Arung Matowa (raja)
kerajaan Wajo tidak boleh mencampuri urusan kerajaan dibawahnya, kecuali itu menyangkut
kepentingan bersama. Seperti halnya menghadapi musuh dari luar.
Sebuah kerajaan dibawah kerajaan Wajo, bernama kerajaan Majauleng yang juga dipimpin
oleh seorang raja bernama La Tenritau dengan gelar Paddanreng,
Di kerajaan Majauleng ini hiduplah seorang wanita bernama I Tenripada bersama bibinya
yang bernama Indo Wellang. kini gadis I Tenripada sudah mulai tumbuh menjadi seorang
gadis yang sangat cantik.
Gadis I Tenripada telah hidup sebagai anak yatim piatu. Ayahnya adalah seorang
bangsawan yang meninggal dunia saat ia masih berumur dua tahun. Menjelang umur 6
tahun, ibu I Tenripada mulai sakit sakitan, sehingga segala sesuatunya diurus oleh Indo
Wellang. Menjelang kematian Indo Wettoeng ibu I Tenripada, berkata kepada Indo Wellang
: Kak, rupanya aku tidak bisa bertahan lagi, kini telah Nampak tanda tanda dimana ajal akan
menjemputku, karena itu saya titip kemenakanmu I Tenripada untuk dipelihara sebaik
baiknya.
Indo Wellang sambil menitikkan air mata berkata ; Jangan khawatir adikku, kalau memang
tanda tanda ajal itu telah datang, bersiap siaplah adikku menunaikan takdir yang telah
ditentukan Dewata Seuwae. Dan adapun I Tenripada yang kau titip padaku akan aku jaga
melebihi diriku. Dan tidak lama kemudian ibu I Tenripada menghembuskan napas
terakhirnya.
Indo Wellang, dimasa mudanya bersama suaminya tinggal di kerajaan Sabbangparu. Ia
adalah seorang pendekar wanita yang cukup terkenal bersama suaminya malang melintang
dalam memberantas kejahatan utamanya kaum prampok. Keduanya juga selalu tampil
membela orang orang lemah. Keduanya cukup disegani baik oleh lawan maupun oleh
kawannya, betapa tidak keduanya memiliki ilmu silat dan kebatinan yang cukup sakti.
Namun setelah Indo Wellang membina rumah tangganya selama 6 tahun, belum juga
dikaruniai seorang anak, sehingga secara diam diam suaminya kawin dengan wanita lain.
Ketika Indo Wellang mengetahui hal itu, iapun merasa kalau ia kehilangan harga diri
sebagai seorang wanita, sekaligus sebagai isteri. Perasaan Indo Wellang saat itu marah
sekali, dan serta merta meminta suaminya agar segera menceraikan dirinya. Tetapi
3
suaminya tidak pernah mau menceraikannya. Akhirnya Indo Wellang, meninggalkan
suaminya dan pergi ke kerajaan Majauleng menyusul adiknya yang lebih dahulu pergi
meninggalkan Kerajaan Sabbangparu. Adik Indo Wellang itu bernama Indo Wettoeng, ibu
dari I Tenripada. Ditempat adiknya itu Indo Wellang membantu mengasuh I Tenripada
yang masih kecil. Sejak saat itu Indo Wellang benar benar telah mengucilkan diri dari
kehidupan masyarakat, karena rasa malu yang dideritanya. Dan di kerajaan Majauleng tidak
ada satupun orang yang mengenal kalau Indo Wellang itu adalah bekas seorang pendekar
wanita yang cukup terkenal di Kerajaan Sabbangparu.
Sejak ibu Tenripada meninggal dunia, kehidupan Indo Wellang semakin hari semakin
memperihatinkan, apalagi ia harus menanggung hidup kemenakannya I Tenripada, sehingga
ia memutuskan untuk bekerja sebagai budak pelayan di istana.
Adapun I Tenripada hampir tidak pernah kelihatan baik diistana maupun diluar rumah,
karena ia dijaga ketat oleh bibinya, mengingat I Tenripada adalah seorang wanita yang
sedang tumbuh menjadi gadis. Apalagi Indo Wellang secara diam diam telah menempa
kemenakannya dengan seluruh ilmu beladiri serta ilmu kebatinan yang dimilikinya,
disamping yang tak kalah pentingnya bagaimana ia telah menanamkan keyakinan tentang
sebuah harga diri dan kehormatan yang disebut “Siri” . Selama I Tenripada ditempa oleh
bibinya, jarang sekali keluar rumah, bahkan dalam berlatih bela diri, itu dilakukannya pada
malam hari. Hal itu jugalah yang menyebabkan tubuh I Tenripada menjadi putih mulus,
karena jarang sekali kena Matahari.
Walaupun kerajaan Wajo dikenal sebagai satu satunya kerajaan Demokrasi di Sulawesi
selatan, yang tidak mengenal Bangsawan ataupun budak. Namun tidak demikian halnya
dengan kerajaan yang ada dibawahnya, dimana kerajaan dibawahnya seperti kerajaan
Majauleng, kerajaan Sabbangparu dan kerajaan Takkalalla. Yang memiliki adat istiadat dan
tradisi feodal. Yang masih membedakan tingkat antara bangsawan, orang Terhormat, orang
biasa dan budak.
Suatu hari bibi I Tenripada sedang sakit, sehingga dipanggilnya I Tenripada. Berkata
bibinya Indo Wellang : “Nak” bibi ini sedang sakit, sehingga pagi ini bibi tidak bisa masuk
kerja, tolong “nak‟ kau bantu bibi, untuk datang ke istana membantu pelayan lainnya
mengerjakan berbagai pekerjaan ?.
I Tenripada menjawab : “Iya bi”
Bibi Indo Wellang, : Kamu kan sudah kenal semua pelayan disana, katakan bahwa bibimu ini
sedang sakit, maka aku yang menggantikan sampai bibi sembuh dan bisa masuk kerja.
I Tenripada : Iya Bi‟ kalau begitu sekarang saya sudah mau berangkat.
Indo Wellang ; Hati hati nak di jalan.
4
I Tenripada ; Iya bi‟
Tidak lama kemudian I Tenripada sudah nampak meninggalkan rumahnya, dengan pakaian
yang menutupi seluruh tubuhnya, namun masih terlihat tumit dan kakinya yang putih
mulus itu, dan ia juga tidak lupa menutup wajahnya dengan selendang.
Ketika I Tenripada sudah berjalan menuju istana ditengah jalan ia bertemu dengan beberapa
anak muda dan salah satunya adalah seorang anak bangsawan.
Anak muda : “Nona, hendak ke manakah?” Pemuda yang menegur itu berwajah tampan dan
dari pakaiannya mudah diketahui bahwa dia seorang pemuda anak bangsawan.
Dari pandang matanya dan senyumnya, dapat pula diduga bahwa dia seorang pria yang
sudah biasa menggoda wanita. Dua orang laki-laki lain, agaknya adalah pengikut-
pengikutnya, yang usianya sebaya, tersenyum lebar melihat betapa tuannya itu berlagak dan
menegur gadis itu.
I Tenripada tidak menjawab, melirikpun tidak dan tetap ia melanjutkan perjalanannya. Ia
melangkah dengan cepat tanpa menoleh,
“Adik cantik, siapakah namamu!”
I Tenripada itu tetap berjalan tanpa menoleh. Ia seorang dara berusia lima belas atau enam
belas tahun, bagaikan setangkai bunga sedang mulai merekah, walau belum mekar
sepenuhnya, namun dalam keadaan seperti itu sebenarnya ia memiliki daya tarik tersendiri
yang amat kuat. Tubuhnya sedang, ramping dan padat. Langkahnya nampak lemah gemulai
namun gesit dan lekuk tubuh mulai nampak walaupun belum menonjol sekali. Dari tumit
kaki, serta kaki dan tangannya dapat diketahui bahwa ia memiliki kulit yang putih
kekuningan, halus mulus dan sehat kemerahan. Rambut kepalanya hitam, lebat dan panjang,
dikuncir dua dan kuncir kuncir itu bergantungan di kanan kiri. Anak rambut yang berjuntai
halus di sekitar dahi dan tengkuknya melingkar hangat. Sepasang alisnya hitam sekali seperti
dipulas, kecil panjang melengkung, membuat kulit pelupuk mata lebih putih nampaknya
daripada kedua pipi yang segar kemerahan itu.
Sepasang matanya bersinar lembut, jeli dan jernih, agak lebar dan biasanya agak tajam akan
tetapi saat itu sinar matanya menunduk, diliputi rasa takut dan malu. namun jelas mudah
dilihat bahwa ia adalah seorang calon perempuan yang sebentar lagi akan mekar sepenuhnya
dengan segala kecantikannya
Ditengah jalan menuju istana I Tenripada mengalami gangguan oleh sekelompok anak muda,
diantaranya berkata : “Nona manis, di manakah rumahmu?” Pertanyaan bertubi-tubi dari laki-
laki bersama dua orang temannya yang terus mengikutinya itu tak pernah dijawabnya, bahkan
sama sekali tidak diperdulikan. Mulutnya yang indah itu kini agak cemberut, akan tetapi tidak
mengurangi kemanisan wajahnya. Sepasang mata yang jeli itu, yang tadinya menunduk malu,
kini mulai melirik tajam dan mengandung kemarahan.
5
“Adik manis, kau jalan sendirian, bolehkah kuantar ?”
Ketika dara itu tidak menjawab dan bahkan mempercepat langkahnya, seorang di antara dua
pengikut itu terkekeh. “Aih, kakak , jangan-jangan dia tidak bisa bicara!” Laki-laki yang
dipanggil kakak (tuan muda) itu juga terkekeh. “Heh-heh, masa? Sayang, ah, kalau seorang
gadis yang begini cantik jelita seperti bidadari ini ternyata gagu, sangat disayangkan. Tapi,
biar gagu juga, aku tetap suka, ha-ha!”
“Mau apakah engkau mengganggu orang di tengah jalan?” bentaknya dengan suara ketus.
Laki-laki itu tersenyum menyeringai dan memasang aksi yang dianggapnya paling
menguntungkan, yaitu lagak yang biasa dipasang di depan wanita-wanita yang dirayunya.
Dia menjura dengan sopan dibuat-buat, lalu berkata dengan
senyum ramah. “Maaf, nona, bukan maksudku untuk mengganggu, melainkan melihat nona,
hatiku terpikat dan ingin sekali aku berkenalan……” Pandang mata, senyum dan kata-kata
merayu itu bukannya menarik hati gadis remaja itu, bahkan mengejutkannya.
“Tidak, aku tidak ingin berkenalan!” katanya dan iapun menyelinap hendak melewati orang
yang menghadangnya itu. Akan tetapi, dua orang teman laki-laki itu sudah menghadang pula
di depannya dan seorang di antaranya berkata dengan suara lantang, agaknya sengaja agar
didengar oleh orang orang lain yang tertarik oleh peristiwa ini dan berhenti menonton.
“Nona agaknya belum tahu dengan siapa nona berhadapan. Pemuda yang mengajak
berkenalan ini adalah anak bangsawan bernama Sadapotto putera dari Pabbicara ( Hakim ).
Ia ingin berkenalan dengan nona, ini merupakan kehormatan besar bagi nona.”
“Aku tidak perduli dia siapa dan anak siapa, aku tidak mau berkenalan!” kata I Tenripada
dan iapun melangkah terus.
Akan tetapi tiba-tiba Sadapotto sudah berdiri di depannya sambil tersenyum menyeringai
seperti seekor kuda. “He-he, nona manis, jangan berlagak jual mahal!” katanya dan
tangannya dengan sikap kurang ajar sekali mencolek ke arah dagu Tenripada.
“Dukk….. plakkk!!” Lengan kiri gadis itu menangkis tangan yang hendak mencolek
dagunya, Dalam pada itu, gadis itu pun telah bersiap sepenuhnya. Setapak ia bergeser.
Wajahnya masih tetap cerah. Dipandanginya Sadapotto dengan tatapan matanya yang tajam.
Dibalik tatapan mata I Tenripada itu, ia sudah dapat menerka, ada sesuatu kalau pemuda
dihadapannya itu bermaksud kurang ajar. Dan sepertinya kepandaian ilmu bela diri, yang
dimiliki anak muda itu yang selama ini hanya dipakai untuk mengganggu wanita. Sehingga
I Tenripada harus berhati hati menghadapinya. Adapun Sadapotto dan kawan kawannya
yang melihat tangan I Tenripada yang lentik itu, merasa yakin kalau ia bisa menaklukannya.
6
Meskipun demikian I Tenripada tidak mau menganggap pemuda pemuda itu lebih lemah
daripadanya. Ia tetap berhati-hati dan selalu berusaha menguasai diri dan perasaannya. I
Tenripada juga menyadari walau ia seorang wanita budak, yang tidak mau mengorbankan
kehormatannya.
Sikap I Tenripada itu kemudian membuatnya harus berhati hati pada langkah-langkah
berikutnya. Dengan kurang berhati-hati ia akan mengalami hal yang fatal.
Sadapotto mengerutkan keningnya, kemudian ia langsung melakukan serangan, yang
kemudian berbenturan dengan tangan I Tenripada, sehingga Sadapotto, terjengkang sedikit
kebelakang. Pengikutnya yang melihat itu langsung juga bergerak mengeroyok I Tenripada.
Saat I Tenripada melihat dirinya dikeroyok,dengan perhitungan dan pertimbangan yang
matang maka I Tenripada mengambil posisi bertahan. Ia tidak mau membiarkan tangan
pemuda pemuda itu menyentuh tubuhnya seperti yang mereka dikehendaki. Karena itu
tangan pemuda pemuda itu pun belum mampu menyentuh tubuh I Tenripada. Sehingga
pemuda pemuda itu semakin gencar melakukan serangan.
I Tenripada yang melihat dirinya agak kewalahan menghadapi keroyokan para pemuda itu,
membuat dirinya harus lebih berhati hati. Namun pemuda pemuda itu juga merasa kalau
wanita itu cukup tangguh, maka kemudian para pemuda pemuda itu pun telah merubah
serangannya. Mereka tidak lagi menganggap I Tenripada sebagai wanita biasa yang hanya
memiliki ilmu bela diri sekedarnya. Tetapi para pemuda itu menganggap bahwa wanita
muda itu benar-benar lawan yang cukup berat.
Sejenak kemudian para pemuda itu saling berpandangan, seolah-olah masing-masing ingin
mengetahui kemampuan lawannya. Namun sejenak kemudian, gadis itu pun segera meloncat
menyerang dengan kakinya yang terjulur lurus.
Pemuda pemuda itu menyadari, bahwa serangan yang berikut ini bukannya sekedar gerakan
yang tidak berarti. Karena itulah maka ia tidak membiarkan dirinya disentuh lagi oleh
serangan itu.
Dengan cepat mereka bergeser sambil memiringkan tubuhnya Namun ternyata bahwa ia
tidak hanya sekadar ingin menghindar. Ketika kaki gadis masih terjulur lurus tanpa
menyentuhnya, maka dengan cepat pula mereka memukul pergelangan kaki gadis itu.
Gadis itu sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda pemuda itu akan menyerang
pergelangan kakinya. Karena itu, tiba-tiba saja terasa pergelangan kakinya sakit, secara
terpaksa I Tenripada melangkah dan meloncat mundur. Tetapi ia pun segera bersiap
menghadapi serangan susulan para pemuda itu.
Dalam keadaan terdesak kemudian I Tenripada dengan tangan kanannya menyambar Badik
yang terselip di pinggangnya. dan langsung ia tusukkan kearah lambung dari salah seorang
pemuda itu, kemudian melocat kebelakang. Dan ternyata ujung Badik itu mengenai
7
Sadapotto putera Pabbica, dan terdengar Sadapotto berkata “Aduhhh…..!” Sadapottopun
terhuyung ke belakang, tangan kirinya memegang lambungnya untuk menahan darah keluar
Gerakan gadis remaja itu cepat bukan main dan tenaga tusukan Badik dari tangannya juga
kuat, sama sekali di luar dugaan karena tidak sesuai dengan tangannya yang berkulit halus
itu.
Dua temannya yang melihat itu langsung berteriak, sehingga sejenak saja, sudah beberapa
orang mendatangi tempat itu. “
Kemudian mereka ramai ramai menolong Sadapotto dan membawanya kembali kerumahnya.
Sementara yang lain mengamankan Tenripada disebuah rumah dekat dengan peristiwa itu
terjadi, sambil menunggu laskar kerajaan untuk membawanya kehadapan Pabbicara untuk
diadili.
Pabbicara melihat itu marah sekali melihat betapa puteranya telah ditikam.
Namun karena rupanya badik yang dipakai Tenripada menusuk Sadapotto hanya mengenai
lambung kirinya sehingga nampak lukanya tidak berbahaya.
Peristiwa kejadian ini dengan cepat menjalar ke seluruh kerajaan Majauleng.
Sementara I Tenripada hari itu ditahan diruangan khusus dalam lingkungan istana kerajaan
Majauleng, guna menunggu pengadilan atas dirinya, akibat kesalahan karena menikam putra
Pabbicara Majauleng.
EPISODE II
I TENRIPADA DIHUKUM
8
Hari itu petta Paddanreng mendengar kalau ada wanita budak yang menikam putera
Pabbicara. Hal ini menarik perhatiannya karena selama ini belum pernah terjadi seorang
budak melawan tuannya, apalagi seorang wanita budak, ini rasanya aneh sekali. Maka
sore harinya I Tenripada dipanggil menghadap oleh Paddanreng Majauleng La Tenritau.
Setelah I Tenripada datang kemudian ia duduk dibawah, dihadapan Paddanreng Majauleng.
Kemudian Paddanreng bertanya : Siapa namamu .?
I Tenripada “puang”
Paddanreng bertanya : Dimana kau tinggal ?.
I Tenripada: Hamba ikut tinggal ditempat bibi Indo Wellang “puang” yang bekerja diistana
puang sebagai pelayan.
Paddanreng meng angguk anggukkan kepalanya, kemudian lanjut bertanya, Mengapa sampai
kamu bisa membawa badik, sehingga engkau bisa menikam orang ?.
I Tenripada, Mohon maaf “puang”, membawa badik bila keluar rumah sudah menjadi
keharusan bagi hamba untuk berjaga jaga untuk bela diri.
Paddanreng lanjut bertanya : Kenapa dengan membawa Badik bila keluar rumah sebagai
sebuah keharusan bagimu, untuk membela diri.
Tenripada menjawab : Mohon maaf puang, hamba ini seorang budak “puang”, yang
pastinya mudah mendapat perlakuan yang kurang baik, dari laki laki atau orang orang yang
diatas derajat hamba. Maaf puang” Walaupun hamba ini seorang budak, tapi hamba merasa
memiliki harga diri dan kehormatan. Harga diri dan kehormatan itulah hanya satu satunya
milik hamba melebihi harga nyawaku. Karena itu puang kalau harga diri dan kehormatanku
ini akan diambil , tentunya nyawaku yang harus lebih dahulu diambil.
Paddanreng kembali meng-angguk anggukan kepalanya, sambil dalam hatinya berkata, ini
wanita, walaupun ia budak tapi dalam mempertahankan harga diri dan kehormatannya, tidak
kurang dari dirinya.
Paddanreng bertanya lanjut, : Melihat umurmu masih sangat muda, darimana kamu tahu
tentang nilai sebuah harga diri dan kehormatan ?.
I Tenripada menjawab ; Mohon maaf “Puang”, hamba banyak diajarkan oleh bibi hamba
“Puang”,
Paddanreng bertanya lagi : Apa saja yang diajarkan bibimu tentang hal harga diri dan
kehormatan ?.
9
I Tenripada menjawab : Mohon maaf puang”. Menurut bibi hamba “Puang” bahwa, kami ini
orang Bugis apalagi seorang wanita, adalah sebagai simbol kehormatan apapun statusnya.
Untuk itu setiap wanita wajib bagi dirinya untuk memegang teguh prinsip hidup yang
dinamakan “Siri”.
Paddanreng terharu sejenak mendengar itu, dan kembali bertanya : Apa yang kamu ketahui
tentang “Siri”.
I Tenripada menjawab : Mohon maaf “Puang”. Apa yang disampaikan bibi pada hamba
bahwa sesungguhnya “Siri” itu sebenarnya tidak mengenal hamba dan “Puang”, Hanya
karena “Puang menjaga “Siri” ku, maka aku menghamba pada “Puang”,. Bilamana “Puang”
mencabutnya, maka gugurlah diriku sebagai hamba, dan aku tidak memperdulikan lagi
“Puang”. Karena itu hanya dengan menjaga „Siri” kita disebut manusia dan hanya “Siri”
yang menentukan seseorang manusia atau bukan manusia, sebab itu bagi orang Bugis wajib
memegang teguh prinsip ini, sebab “Siri” itu Jiwa taruhannya, Nyawa imbalannya.
Paddanreng kembali termangu dan tidak bisa berkata lagi, namun dalam hatinya berkata, :
Anak ini pasti, epertinya bukan turunan budak.
Sementara itu disebuah sudut ruangan itu, nampak sepasang mata seorang pemuda sedang
mengintip dan menguping, yang tidak lain adalah putra Paddanreng. Matanya seperti tidak
mau berkedip melihat seorang gadis yang begitu cantik, sambil dalam hatinya berkata, saya
tidak pernah menyangka kalau ada bunga yang begitu sangat menawan berada dalam
lingkungan istanaku. Lanjut dalam hatinya berkata, tapi walaupun ia seorang budak dan saya
adalah anak raja, tapi nampaknya tidak mudah untuk mendekatinya. Karena itu untuk
mendekatinya butuh kehati hatian.
Selanjutnya Paddanreng berkata, apakah kamu sudah tahu sangsi hukum yang akan kamu
dapat nantinya ?.
I Tenripada : Hamba belum tahu puang.
Paddanreng, : Bagaimana perasaanmu bila hukumanmu nantinya berat.
I Tenripada : Mohon maaf “Puang” Kalau memang demikian “puang” Walaupun hamba
ini seorang budak, “puang”. Tapi hamba tidak menyesal, karena saya telah berhasil
mempertahankan harga diri dan kehormatanku puang.
Paddanreng yang mendengar itu, langsung tertunduk kembali dan termangu mangu.
Sementara itu La Pasampoi putera Paddanreng yang berada dibalik dinding berkata dalam
hatinya :
10
Engkau yang dilahirkan dengan nasib sebagai budak
Wahai tawanan wanita yang terlempar ke dalam kegelapan.
Karena kesalahan kecil yang kau buat karena terpaksa.
Karena kau ingin mempertahankan hak kehormatanmu.
Wahai wanita muda yang malang.
Walaupun Tuhan telah menganugerahkan kecantikan.
Namun engkau tidak bisa merubah takdirmu..
Di tanganmulah nasibmu engkau tentukan.
Mudah mudahan engkau bukan korban.
Dari para martir hukum buatan manusia.
Sebab walaupun aku seorang raja, tapi aku tak kuasa.
Ketika harus berhadapan dengan hukum adat.
Mudah mudahan Kebenaran akan mengoyak tabir airmatamu
Yang menyembunyikan senyumanmu.
Setelah itu I Tenripada disuruh meninggalkan tempat, dan kembali ke biliknya.
Keesokan harinya, diselenggarakanlah pengadilan bagi I Tenripada. Dan Pabbicara La
Maddualeng, ayah Sadapotto yang mengadili, perkara penikaman putranya oleh I Tenripada,
sebelumnya ia diliputi, kegelisahan mengingat perkara tersebut menyangkut putranya, ia
menjadi bingung memutuskan perkara. Namun sebelum memasuki ruang sidang, ia kembali
mengambil keputusan bahwa, ia harus mengadili perkara ini dengan se- adil adilnya, demi
harga diri dan kehormatannya sebagai hakim. Walaupun perkara ini menyangkut putraku.
Apalagi ketentuan dalam hukum adat bahwa “ Hukum tidak mengenal anak atau cucu”
Setelah persidangan berlangsung dengan terdakwa I Tenripada, dimana Hakim mulai
bertanya : Siapa namamu ?
I Tenripada : Tenripada puang.
11
Pabbicara : Kenapa kau tikam orang ?.
I Tenripada kemudian menceriterakan segala kejadian, sampai ia harus menikam untuk
membela dirinya.
Adapun Pabbicara setelah mempertimbangkan berbagai hal akhirnya memutuskan I
Tenripada mendapat hukuman kurungan 1 tahun atau denda 500 ikat padi.
I Tenripada mendengar keputusan itu, hanya ia bisa diam saja.
Putra Paddanreng La Pasampoi mendengar putusan itu, kemudian ia menyuruh anak
buahnya berdiri untuk menyampaikan bahwa ia yang akan membantu 500 ikat padi itu.
Karena itu tiba tiba seorang pemuda berdiri berkata : Mohon maaf puang Pabbicara,
mengingat I Tenripada ini seorang wanita, tentunya kurungan 1 tahun penjara akanlah
sangat berat baginya. Juga karena wanita ini adalah seorang budak, yang tentunya tidak
memiliki apa apa, maka hamba yang akan membayar denda tersebut, kata anak buah La
Pasampoi.
Tiba tiba Tenripada berdiri dan berkata : Mohon maaf puang, hamba tidak mau dibayarkan
denda itu, hamba tetap lebih memilih kurungan 1 tahun.
Hakim berkata : Kamu dengar itu wahai anak muda, bukankah wanita ini menolak
bantuanmu. Dan kau hai wanita budak, kenapa kamu terlalu sombong untuk menerima
bantuan seseorang.
Semua yang hadir di dalam ruangan persidangan itu, terperanjat mendengar penolakan gadis
itu, dan kemarahan Pabbicara. Sementara itu La Pasampoi yang mendengar penolakan itu,
matanya hanya nanar melihat wajah gadis itu, tapi tiba tiba angan-angannya berkata :
Selama ini belum pernah aku melihat seorang gadis yang memiliki keteguhan harga diri dan
kecantikan seperti dia.
Kembali Pabbicara bertanya kepada I Tenripada : Bagaimana hai wanita, mengapa kamu
tidak mau menerima bantuan ?.
I Tenripada menjawab : Mohon maaf “Puang” selama hidup hamba ini tidak pernah
menerima budi baik dari seseorang. Karena menurut bibiku, walaupun kami ini miskin
apalagi hamba ini seorang budak, bagaimana mungkin hamba bisa membayar bantuan itu.
Karena satu satunya harta yang hamba miliki hanyalah tubuhku ini saja, namun demikian
adalah sesuatu yang mustahil kalau tubuhku ini akan kujadikan pembayaran kepada “Puang”
itu, yang hamba tidak tahu apa maksud dibalik bantuan itu.
Pabbicara nampaknya geram dan berkata : Iya, karena kamu adalah seorang budak, maka
tentunya hanya dengan menjadikan dirimu sebagai selir, maka engkau bisa membayar
bantuan itu.
12
I Tenripada berkata : Mohon maaf “Puang” walaupun hamba ini seorang budak, tapi harga
diri dan kehormatanku masih jauh lebih berharga dari tubuhku beserta jiwa yang ada
didalamnya. Karena itu hamba mohon kiranya “Puang” mengerti keadaanku
Pabbicara dengan geram berkata : Tahu apa kamu tentang harga diri dan kehormatan apabila
dirimu tidak lebih dari seorang budak wanita.
I Tenripada menjawab : Mohon maaf puangku, Harga diri seseorang bila memang orang itu
sadar, kalau ia seorang manusia yang benar benar memiliki harga diri, maka itu berarti jiwa
imbalannya, nyawa taruhannya.
Mendengar jawaban wanita itu Pabbicara tambah geram berkata : Laskar !!! bawa ia
sekarang ke tempat kurungan.
Sementara putra Paddanreng La Pasampoi, hanya bisa tertunduk malu mendengar penolakan
gadis itu untuk menerima bantuannya.
Lanjut La Pasampoi berkata dalam hatinya, gadis itu telah menunjukkan sikap kerasnya ,
sepertinya tidak begitu senang pada sikap anak buahku itu. Seharusnya wanita tidak
menganggap anak buahku seperti putra Pabbicara.
Tiba-tiba wajah Pasampoi menjadi kemerah-merahan. Ia tidak berani meneruskan angan-
angannya. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri.
Perlahan-lahan Pasampoi menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Oh,” terdengar sebuah desis perlahan dari “Pasampoi”.
Wahai wanita yang malang….
Aku masih sempat melihat air mata menitik di pipimu
Saat kau meninggalkan sidang menuju tempat kurungan.
Seolah olah engkau tak lagi mempedulikan dirimu
Meski engkau masih setia merawat harga dirimu
Sehingga mengundang hasrat dan rasa untuk mencintaimu
Wahai wanita yang malang ….
Aku turut berduka dengan apa yang menimpamu.
Menyongsong hari sepimu bersama malam kelam
Kesendirian membuatmu mendekap kebisuan
Tanpa kau tahu bahwa ada yang mencintaimu
13
Ketika La Pasampoi sadar dari lamunannya, cepat-cepat ia menundukkan kepalanya tanpa
sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Kemudian Pasampoi pun kembali berjalan
menuju istananya.
EPISODE III
PUTERA MAHKOTA JATUH HATI
14
Malamnya Pasampoi tidak dapat tidur, bayangan Tenripada terus menghantui pikirannya.
Sehingga kali ini Pasampoi terlambat bangun. Ketika ia membuka mata, dilihatnya cahaya
matahari telah memanasi dinding-dinding ruang tidurnya. Karena itu segera ia bangkit dan
segera pula dengan tergesa-gesa pergi ke belakang membersihkan diri.
Ketika ia melangkah kembali masuk ke ruang dalam, Pasampoi terkejut mendengar sapa
perlahan-lahan, “Kau nak Pasampoi ?
Pasampoi menoleh. Dilihatnya di sudut bale-bale besar yang terbentang di ruangan itu,
ayahnya sedang duduk bersila. Senyumnya yang segar membayang di antara kedua bibirnya.
Pasampoi pun tersenyum pula. Jawabnya, “Iya ayah aku terlalu lelah.”
“Kau tidak tidur semalam, ya ?” bertanya ayahnya.
Iya ayah, jawabnya.
Karena ayah lihat kalau semalaman kamu gelisah. Kenapa ?
Tidak ayah, jawab La Pasampoi.
Saya dengar, kemarin kamu ikut persidangan wanita itu, dan sempat ada yang menawarkan
bantuan, tapi wanita itu menolak, apa bukan kamu itu ?.
La Pasampoi, cukup terkejut mendengar itu, ia hanya diam dan tertunduk malu.
Lanjut Paddanreng berkata, : Bila demikian halnya, lebih baik kamu buang jauh jauh
keinginanmu itu, karena hal itu tidak ada gunanya, bagaimanapun juga, ayah ibumu serta
keluarga pasti tidak setuju. Kecuali kalau gadis itu mau jadi selir, tetapi saya lihat itu tidak
mungkin sebab saya lihat pada diri gadis itu ada harga diri yang dia junjung tinggi, dan
itulah nilai seseorang untuk menjadi manusia seutuhnya. Tapi ingat sebelum kau jadikan ia
selir, bila ia mau dan ibumu pun setuju, kamu harus beristeri terlebih dahulu untuk dijadikan
permaisuri.
La Pasampoi berkata : Mohon maaf ayah, anakda ini belum ada niat untuk berumah tangga.
Apalagi anakmu ini baru belajar begaimana mencintai dan dicintai. Karena itu sejak saya
melihat ia duduk di hadapan ayah, sepertinya sejak itupula ada benih rasa cinta yang mulai
tumbuh. Kalau memang gadis itu bersedia menjadi isteri saya, mohon ayah dan ibu
tidak melarangku. Kecuali kalau ia memang benar benar tidak bersedia, maka certeranya
akan lain. Tapi walaupun demikian, anakmu ini akan berusaha dengan segala cara untuk
mendapatkannya.
Paddanreng yang mendengar pengakuan La Pasampoi, mau marah namun ditahannya, dan
segera ia tinggalkan tempat itu.
15
Ditempat lain, Indo Wellang yang telah mendengar semua peristiwa yang dialami
kemenakannya, walaupun ia sedang sakit namun ia tetap tegar di pembaringannya, dan iapun
merasa bersyukur setelah mendengar kalau kemenakannya hanya dijatuhi hukuman
kurungan 1 tahun, .
Setelah Indo Wellang merasa dirinya sudah agak sembuh, maka dikuatkanlah dirinya untuk
menjenguk kemenakannya di tempat ia dikurung. Setelah Indo Wellang sampai ditempat
kemenakannya dikurung, kemudian ia minta permisi pada penjaga agar diisinkan menemui
kemenakannya yang sedang dikurun. Setelah Indo Wellang mendapat isin kemudian iapun
masuk dan ia melihat kemenakannya sedang tidur sehingga ia terpaksa membangunkannya.
Setelah I Tenripada bangun, diusapnya matanya, dan iapun tersenyum melihat bibinya
datang.
Indo Wellang berkata : Bagaimana keadaanmu nak ?.
I Tenripada menjawab : Biasa bi.!
Indo Wellang berkata : maksud saya perasaanmu ketika kamu merasakan dikurung ?.
I Tenripada menjawab : Biasa bi...! Bukankah hari hariku selama ini lebih banyak dikurung
didalam dinding, sehingga perubahan hidupku ini sepertinya sudah terbiasa hidup dibalik
dinding, tidaklah membuatku begitu mengalami goncangan. Yah …walaupun tubuhku
terkurung, tapi jiwaku tidak..! karena jiwaku lebih besar dari kurungan ini, sehingga
perasaan dan jiwakulah yang mengurung kurungan ini. Bukankah demikian yang bibi
ajarkan.
Indo Wellang mendengar itu, sangat terharu, dan dalam hatinya berkata “ Tidak sia sia aku
mendidiknya selama ini. Dan kemudian Indo Wellang berbincang bincang tentang ilmu yang
sudah diberikan kepada I Tenripada, serta sekaligus menambahnya. Tidak lama kemudian
Indo Wellang meninggalkan kemenakannya di dalam kurungan.
Adapun La Pasampoi yang sudah tahu kalau I Tenripada sudah ada ditempat ia dikurung,
sudah berpikir untuk memberanikan dirinya, untuk datang menemuinya, tapi ia masih ragu
dengan berbagai pertimbangan, terutama untuk membunuh keraguannya itu, dan menekan
perasaannya.
Namun keesokan harinya, nampak La Pasampoi menuju tempat I Tenripada dikurung, setelah
ia sampai ditempat I Tenripada dikurung, iapun langsung berkata kepada penjaga kalau ia
mau masuk menemui gadis yang baru dikurung itu. Setelah dibukakan pintu , kemudian La
Pasampoi berdiri didepan jeruji tempat I Tenripada dikurung. dan saat itu ia melihat I
Tenripada sepertiya sedang bersemadi.
16
Tetapi I Tenripada yang merasa seperti ada orang yang datang, kemudian ia menengadah
maka terlihat olehnya seorang pemuda berdiri dibalik jerujinya, sehingga ia agak terkejut, dan
bertanya dalam hatinya siapa pemuda itu dan apa maksud kedatangannya kemari.
Tiba tiba I Tenripada mendengar suara dari pemuda itu yang berkata : Jangan takut,
kedatanganku kemari tidak akan menganggumu seperti pemuda pemuda yang menggagumu
tempo hari.
I Tenripada : Darimana puang tahu kalau aku pernah diganggu oleh beberpa pemuda tempo
hari. Dan apa maksud kedatangan puang kemari ?.
La Pasampoi : Semenjak aku melihat kamu dipersidangan, hatiku tertarik untuk berkenalan,
siapa tahu dikemudian hari ada artinya.
I Tenripada : Maaf puang, apalah artinya berkenalan dengan seorang wanita budak, kalau
tidak ada maksud lain.
La Pasampoi : Tapi aku tidak memandangmu sebagai budak, karena selama persidangan
saat itu, aku sudah mendengar pernyataanmu tentang sebuah harga diri dan kehormatan
sebagai manusia.
I Tenripada : Mohon maaf puang, apa yang menarik sampai puang meluangkan waktunya
mengikuti persidangan saya.
La Pasampoi : Terus terang sejak aku melihatmu di Istana Paddanreng, sejak itu pula aku
sudah jatuh hati padamu.
I Tenripada : Apakah puang ini putera Paddanreng, yang mungkin juga pernah menawarkan
bantuan untuk membayarkan 500 ikat padi, agar aku tidak dikurung.
La Pasampoi mendengar itu, kemudian ia termenung dan dalam hatinya berkata, kalau aku
mengaku anaknya Paddanreng, maka sudah dapat dipastikan akan susah mendekati gadis itu,
karena perbedaan jarak derajat yang jauh, dan kalau ia juga ia mengaku kalau yang
menawarkan bantuan, juga bisa memberi kesan kalau aku mau membelinya. Sehingga La
Pasampoi berkesimpulan untuk berbohong untuk sementara waktu.
Setelah La Pasampoi sadar dari termenungnya kemudian ia berkata : Aku bukan siapa siapa,
dan juga bukan saya yang mau membantumu. Bukankah kamu telah lihat sendiri siapa yang
berkata saat itu.
I Tenripada pun mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian ia berkata : Maaf puang, apa
yang dimaksud hati tertarik untuk berkenalan ? saya tidak tahu maksud puang.
17
La Pasampoi berkata dalam hatinya kalau gadis ini betul betul lugu yang tidak tahu apa
artinya itu berkenalan, kemudian ia menjawab : Artinya kalau kita sudah berkenalan, kita
sudah bisa berbicara seperti halnya sekarang.
Sementara La Pasampoi terhenyak sejenak, I Tenripada pun juga berkata dalam hatinya :
Tidaklah perasaan seorang budak wanita di balik gemetarnya, bahwa ia harus menerima
perkenalan ? Namun demikian bukankah ini adalah sebuah penghargaan ? yang membuat
aku ini semakin gemetar ? Mudah mudahan nafas yang berdegup ini akan
membebaskanku dari pasang dan surutnya ombak , untuk teguh menghadapinya.
Kemudian I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, tapi aku kurang tahu bicara tentang hal
lain seperti yang dimaksud puang.
La Pasampoi bingung mendengar kata I Tenripada dan harus menjawab apa, tapi diberanikan
pula dirinya berkata : Saya ini tidak punya saudara perempuan, maka apa salahnya kita
ngobrol apa saja, sebagai orang yang sudah berkenalan.
I Tenripada berkata : Maaf puang, bukankah diluar sana banyak perempuan bangsawan atau
wanita terhormat yang bisa puang ajak berkenalan dan bicara. Daripada susah payah datang
kemari hanya untuk ngobrol dengan seorang budak yang hina, yang tidak tahu harus bicara
apa?.
Mendengar itu La Pasampoi semakin bingung, mau jawab apa, sehingga terpaksa, ia berkata ;
Seperti tadi aku katakan bahwa sejak aku melihatmu, aku sudah tertarik untuk berkenalan
denganmu, layaknya seorang pemuda dan gadis.
I Tenripada : Mohon maaf puang, saya semakin tidak mengerti, apa itu berkenalan antara
pemuda dan gadis.
La Pasampoi : Nanti kau akan mengerti sendiri.
Tidak lama kemudian karena masih merasa bingung mau berkata apa lagi pada I Tenripada,
akhirnya La Pasampoi permisi pulang.
Dalam perjalanan pulang La Pasampoi, telah merasa dirinya hari itu sangat beruntung, bisa
bicara dengan I Tenripada yang selama ini ia impikan, bagaimana ia bisa bicara dengan I
Tenripada, karena itu hatinya berbunga bunga. Dan tiba tiba hatinya berdesis :
Oh… Tenripada puaslah hatiku hari ini,
Oh… langit dengarlah simfoni hatiku ini.
Karena bumi tidak lagi kubebani dengan risau.
Karena aku tengah memainkan melodi
Yang kugubah dengan mengagumi pesonamu,
18
Walau tidak senyum engkau tetap memikat.
Saat engkau berada di dekat ku.
Kutatap wajahmu yang cantik itu.
Ada bayangan sesuatu sedang menunggu.
Setiap pagi kumengingatmu.
Malam ku mengenangmu.
Dan aku berjanji untuk setia Menunggumu.
Hingga engkau dapat mengerti perasaanku.
Kemudian La Pasampoi sadar kalau betul betul I Tenripada orang lugu dan polos serta
belum mengerti betul bagaimana hubungan antara seorang pemuda dan wanita.
Setelah La Pasampoi tiba diistananya, ia bermaksud menemui bibi I Tenripada, untuk
menyampaikan kalau ia senang dengan kemenakannya.
Selesai makan siang, dilihatnya bibi I Tenripada, sudah selesai mengerjakan tugasnya,
kemudian La Pasampoi mendekati bibi I Tenripada, dan berkata : Indo ada yang saya ingin
bicarakan.
Indo Wellang : Apa itu puang.
Kemudian La Pasampoi duduk dekat Indo Wellang dan berkata : Begini Indo, terus terang,
saya ini sudah terlanjur senang pada I Tenripada, karena itu izinkanlah saya untuk selalu
menemui I Tenripada ditempatnya.
Indo Wellang mendengar itu seperti disambar petir begitu terkejutnya mendengar pernyataan
La Pasampoi, sehingga ia tertunduk dan termenung sejenak kemudian ia berkata : Apakah
puang tidak malu mendekati seorang wanita budak ?
La Pasampoi berkata : Aku tidak akan pernah malu, kalau memang aku sudah terlanjur
menyenangi seorang wanita, walaupun ia seorang budak.
Indo Wellang : Tapi mohon maaf puang, bukankah puang terikat oleh hukum adat yang tidak
boleh mengawini seorang wanita budak, kecuali hanya untuk dijadikan selir, dan hal itu tidak
mungkin aku membiarkan anakku dijadikan selir.
La Pasampoi berkata : Dalam hati saya tidak pernah terbetik mau jadikan anak Indo sebagai
selir. Kalau memang Dewata Seuwae menjodohkan saya dengan I Tenripada maka aku akan
jadikan ia isteri satu satunya bukan selir. Dan kalaupun nantinya orang tuaku tidak setuju,
biarlah kami hidup seperti orang biasa saja. Karena aku rela melepaskan mahkota kerajaanku
serta kebangsawananku demi untuk memperisteri I Tenripada.
19
Indo Wellang mendengar itu semakin terkejut, dan berkata, nanti kita lihat puang, sebab
semuanya akan tergantung sampai dimana kesungguhan puang, utamanya dalam menghadapi
tantangan dari Puang Paddanreng beserta ibu permaisuri.
La Pasampoi berkata : Saya berjanji Indo, yang penting Indo tidak menghalangi aku untuk
bertemu I Tenripada.
IndoWellang : Saya tidak menghalangi puang, selama pertemuan dengannya dalam batas adat
kesusilaan.
Setelah itu La Pasampoi pun minta diri, dan kembali kebiliknya, dengan hati yang puas hari
itu.
Keesokan harinya La Pasampoi tidak mendatangi I Tenripada, karena teringat pesan Indo
Wellang, agar ia menghindari pandangan orang yang bisa mengundang fitnah bagi dirinya
dan I Tenripada. Karena itu ia mencoba malam harinya. Namun kedatangannya malam ini, ia
melihat I Tenripada, sedang menangis sehingga ia bertanya : Kenapa menangis?.
I Tenripada yang mendengar suara La Pasampoi yang sudah tidak asing lagi baginya,
kemudian hanya menengokkan kepalanya lalu tertunduk.
La Pasampoi kemudian mengulangi lagi pertanyaannya : Kenapa Menangis.?
Namun I Tenripada tetap diam.
La Pasampoi : Apakah kau tidak mendengar pertanyaanku ?.
Dengan terpaksa I Tenripada berkata : Tadi siang datang puang , pemuda yang pernah saya
tikam bersama pengikutnya, memaki maki dan meng-olok olok aku puang.
La Pasampoi mendengar itu, naik pitam, namun ia tidak mau memperlihatkan kemarahannya
itu kepada I Tenripada, sehingga ia hanya berkata : Sabar, nanti saya tegur pemuda pemuda
itu.
I Tenripada berkata : Jangan puang, nanti timbul lagi masalah baru, saya lagi jadi
penyebabnya. Sekali lagi jangan puang, biarlah penghinaan itu saya tanggung sendiri, karena
memang saya ini wanita budak yang hina.
La Pasampoi berkata : Itulah gunanya perkenalan, karena kita sudah berkenalan, maka aku
harus melindungimu dari hinaan dan cemohan.
I Tenripada berkata : Tapi mohon maaf puang, tidak berarti kalau puang mau mendatangi
mereka, dan memberikan pelajaran pada mereka, sebab seperti hamba katakan puang, hal
ini bisa menimbulkan masalah baru lagi. Dan itu hamba tidak inginkan puang.
20
La Pasampoi : Saya tidak akan mendatangi mereka, tapi kalau mereka datang lagi kemari,
saya akan usir dia dan melaporkannya kepada orang tuanya.
I Tenripada hanya dapat mendengar apa yang dikatakan La Pasampoi. Kemudian ia lanjut
berkata : Ada apa puang sampai harus datang malam malam begini.?
La Pasampoi : Iya, karena kamu belum memberikan tanda persahabatan melalui perkenalan.
I Tenripada : Mohon maaf puang, hamba ini tidak tahu caranya bagaimana yang namanya
bersahabat melalui perkenalan.
La Pasampoi ; “Sahabat itu selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat
kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, ikut sedih ketika ditimpa masalah. Yang begini
ini, juga namanya bersahabat. Kita dapat berbagi rasa dan berbincang bincang apa yang
dapat kita bincangkan. Sebab tentunya kamu pun merasa sepi dan bosan, bila tidak ada yang
bisa kau ajak bicara. Dan sebaliknya bagi saya, hanya bisa menepis kesepianku bila saya
bisa bicara denganmu.
I Tenripada : Mohon maaf puang, tapi hamba ini tidak pernah merasa sepi karena hidupku
memang penuh dengan kesepian. Karena itu kenapa puang memilih wanita seperti hamba ini
sebagai sahabat, bukankah masih banyak wanita lainnya diluar sana yang bisa jadi sahabat,
sehingga tidak perlu puang buang waktu datang kemari.
La Pasampoi berkata ; Ada masalah yang kamu belum mengerti, karena itu apakah kamu
tidak bersedia berkenalan denganku, sebagai wujud dari sebuah persahabatan?
I Tenripada, : Tidak juga puang, tapi apa salahnya kalau hamba bertanya puang.
La Pasampoi : Tidak salah sih, cuma memang kamu belum mengerti bagaimana bersahabat
dengan lawan jenis. Karena bersahabat dengan lawan jenis, ada perasaan yang tidak bisa
diungkap dengan kata kata, apabila sudah ada kecocokan hati.
I Tenripada : Mohon maaf puang, bila demikian biarlah untuk sementara hamba belajar
bersahabat dengan puang, siapa tahu nanti ada gunanya, minimal ada pengetahuan tentang
itu.
La Pasampoi : Iya, sebaiknya begitu, cobalah bersahabat denganku, jika nanti ada yang kau
tidak kamu senangi, sampaikan saja pada saya, agar persahabatan itu bisa berjalan dengan
baik. Sebab itu dengarlah wahai Tenripada, bahwa :
Ketika kita merenda tali persahabatan
Kita akan simpul menjadi satu hati
Sebagai gambaran jiwa yang terpadu
Bagai langit bersanding bintang bintang
21
Namun kala bias persahabatan berlalu
Sakit itupun datang tanpa permisi
Kala itu rembulan tak menyisakan senyum.
Selanjutnya La Pasampoi sebelum meninggalkan tempat itu,berkata dalam hatinya, benar
benar I Tenripada ini masih polos, sehingga ia tidak mengerti apa yang kurasakan saat ini. Ia
tidak mengerti kalau kedatangan selalu kemari, hanya mengharapkan semoga engkau dapat
merasakan perasaanku sehingga kita bisa menjalin asmara menuju mahligai rumah tangga.
Sebenarnya bila perlu aku bisa saja setiap malam aku berada disini, duduk menatapmu dan
menanti datangnya bintang jatuh dari langit. Sehingga aku bisa buat permohonan, kepada
Dewata seuwae agar aku bisa menjaga kamu seterusnya dan membuat kamu selalu
bahagia, karena itu aku selalu minta sama Dewata seuwae, jangan biarkan senyum manis
diwajah I Tenripada itu hilang, kare+na buat aku kebahagian dia adalah segalanya
Setelah La Pasampoi merasa sudah agak lama ditempat I Tenripada, Tidak lama kemudian
iapun minta permisi pulang.
Sementara itu I Tenripada, yang ditinggal La Pasampoi, masih terus diliputi perasaan untuk
mengetahui apa itu persahabatan dengan seorang pemuda, hingga akhirnya ia pergi tidur.
Namun dalam mimpinya ia sempat mengigau :
Oh Pasampoi …
Di dasar relung jiwaku bergema nyanyian tanda tanya;
Sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku,
Yang telah meneguk kerisauan dalam kebimbangan ,
Namun tetap mengalirkan rasa isyarat , dalam sukmaku
Betapa aku berusaha agar aku dapat mendesahkannya?
Namun aku tetap bimbang kepada siapa aku bertanya
Karena aku risau, tentang makna persahabatanmu.
Dua hari kemudian Pasampoi kembali mendatangi lagi tempat I Tenripada dikurung ia
hanya berdiri sejenak sambil melihat I Tenripada dikurungan. Kemudian ia pergi menemui
petugas disitu, dan berkata : Kamu kan tahu siapa saya?
Petugas itu menjawab : Tahu puang, karena saya sering bertugas diistana.
Pasampoi kembali berkata : “ Kalau begitu, jaga kalau sampai ada orang yang akan masuk,
maka tanya dulu darimana dan mau ketemu siapa. Kalau dia katakan mau ketemu dengan
gadis di kurungan itu, sampaikan cepat kepadaku sebelum kamu isinkan orang itu masuk.
Dan kamu tidak boleh sama sekali menampakkan kepada gadis itu kalau saya ini putra
Paddanreng Majauleng
22
Adapun La Pasampoi melakukan hal ini, karena ia akan mematuhi pesan Indo Wellang, agar
dalam menjalin hubungan dengan I Tenripada agar selalu mengedepankan factor adat
kesusilaan, sehingga ia harus melindungi dirinya dan I Tenripada dari pandangan orang lain.
Setelah itu, Pasampoi kembali ditempat dimana I Tenripada dikurung. Dan dengan lembut ia
berkata kepada I Tenripada : “ Bisakah kita bicara lagi”?
I Tenripada menjawab : “ Gerangan apa yang akan dibicarakan puang ?.
La Pasampoi : Agar kita lebih saling mengenal , karena itu aku ingin tahu siapa dirimu
sesungguhnya. Artinya sebelum kemari beserta Bibi‟mu, kamu berasal darimana ?
I Tenripada mendengar itu : hanya diam saja. Karena pertanyaan itu mengingatkannya
kembali pada peristiwa yang dialami masa lalu.
La Pasampoi lanjut bertanya :” Bisakah kamu jawab pertanyaanku ?.
I Tenripada terpaksa dengan linangan air mata berkata: Sebenarnya hamba ini lahir disini,
Cuma memang kedua orang tuaku tadinya berasal dari Sabbangparu, namun setelah hamba
masih berumur 2 tahun, bapak hamba meninggal dunia. Dan menurut bibi hamba, karena ibu
hamba tidak mau larut dengan ingatannya dengan bapak hamba, akhirnya ibu hamba menjual
semua hartanya dan pindah kemari puang. Sambil menitikkan air mata I Tenripada lanjut
berkata : Setelah hamba berumur 5 tahun, kemudian ibu hamba jatuh sakit, dan selama ibu
hamba sakit, ia tidak lagi bisa bekerja di sawah dan dikebun, akhirnya sedikit demi sedikit
harta kami mulai habis,. Dan 2 tahun sebelum ibuku sakit datanglah bibi‟ku membantu
memelihara hamba. Namun selama ibuku sakit Bibiku lah yang merawat hamba sampai
akhirnya ibu hamba meninggal dunia.
La Pasampoi mendengar penuturan I Tenripada, yang begitu polos dan menyedihkan,
tanpa ia rasa air matanyapun menitik.
I Tenripada yang diliputi rasa sedih kemudian dia mundur dan kembali ke pembaringannya
untuk duduk sambil menunduk terus.
Pasampoi yang melihat I Tenripada duduk dan tunduk terus, akhirnya ia hanya berdiri terus
ditempatnya sambil sesekali melihat gerak gerik I Tenripada . Tapi I Tenripada juga tidak
pernah mau menengadah, ia hanya tunduk terus.
Karena capek berdiri, terpaksa Pasampoi duduk disebuah bangku Bambu. Namun tidak
berapa lama Pasampoi pun pulang ke istananya. Dalam perjalanan pulang. La Pasampoi
kembali ingatannya tertuju pada I Tenripada dan dalam hatinya pun berkata :
Maaf Tenri, aku tidak pernah menyangka kalau pertanyaanku akan membawamu pada
kenangan yang pahit bagimu. Aku tidak bisa membayangkan lagi bagaimana engkau bisa
begitu tegar menghadapi penderitaan dibalik kelembutanmu itu. Dan terjaga di kala fajar
23
dengan hati seringan awan,dan mensyukurinya penuh cahaya kasih; Di kala siang datang,
engkau kembali merenungkan makna dan arti hidup ini. Dan kala malam tiba lalu engkau
tidur dengan doa dan melupakan masa lalumu dengan sebuah gita puji pada yang maha
kuasa.
Dua malam kemudian Pasampoi datang lagi berkunjung ke tempat I Tenripada dikurung,
seperti biasanya ia langsung duduk pada sebuah bangku terbuat dari Bambu, tanpa menoleh
kearah I Tenripada. Setelah ia duduk ia merasakan ada kesejukan malam itu, dengan angan-
angan yang penuh harapan, kemudian La Pasampoi mengambil seruling bambunya.
Dengan tenangnya anak muda itu duduk bersandar dinding dan kedua tangannya melekat
pada lubang-lubang serulingnya. Dengan hati yang lapang, La Pasampoi melekatkan
seruling itu di bibirnya. Maka mengalunlah lagu yang sejuk merdu. Lagu yang
menggambarkan gairah cinta manusia. Cinta yang luhur dan suci, ”. Demikianlah nada kasih
itu membakar jiwa La Pasampoi dan malam itu pun dihangatkannya dengan kesyahduan
lagunya.
I Tenripada yang mendengar suara suling itu langsung berkata : Maaf puang, kalau saya mau
bertanya :
La Pasampoi yang mendengar perkataan I Tenripada, kemudian melepaskan suling dari
mulutnya dan berkata : Apa yang mau ditanyakan?. sambil menatap I Tenripada. rupanya La
Pasampoi ingin tahu apa reaksi I Tenripada kalau ia diam saja dan belum mau menerima
pertanyaan I Tenripada.
Namun I Tenripada yang melihat reaksi La Pasampoi itu, ia kembali berkata : Maaf puang
kalau hamba mengganggu, bisakah hamba bertanya?
La Pasampoi menjawab ; Apa yang akan ditanyakan.?
I Tenripada berkata : Gerangan apa yang membuat puang datang malam malam begini untuk
melantunkan suling yang syahdu itu.? seakan-akan aku mendengar bunyi Bulu perindu di
atas langit yang dibunyikan oleh dewa-dewa.
La Pasampoi menjawab : Sengaja aku lakukan semua ini, kemudian La Pasampoi berhenti
bicara, karena dilihatnya kalau Tenripada sepertinya tidak mau ditatap wajahnya. Kemudian
ia lanjut berkata : Aku hanya meniup saja seruling ini dengan harapan, semoga alunan
seruling ini dapat menggugah hatimu, agar engkau dapat memecah sunyinya hati ini, yang
sedang menunggu bisikan sanubarimu, yang hanya bisa kau ungkap dengan hati, untuk bisa
mulai mengerti perasaanku.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, dengan terbata bata I Tenripada tidak segera
meneruskan kata-katanya. Matanya yang suram hanya bisa tunduk. Namun gelora yang
melanda dada “I Tenripada ”, menjadi semakin dahsyat. Akhirnya meledak juga kata-
katanya, “Puang , hamba tidak bisa berkata apa, karena semuanya aku telah serahkan pada
bibi hamba.
24
La Pasampoi yang tadinya duduk di bangku Bambu, tiba tiba ia berdiri dan berjalan kearah I
Tenripada kemudian berkata : Aku memahami itu semua, namun kala hati ini berbicara, aku
selalu lupa kalau engkau masih dibawah bayang bayang bibimu.
I Tenripada kemudian berkata : Mohon maaf puang, mungkin saja bibiku, yang menjadi
penghalang bagi puang, namun sebenarnya ada tirai pembatas yang lebih kuat antara puang
sebagai putera raja dan hamba sebagai sebagai budak.
La Pasampoi dengan rasa haru berkata : Karena itulah aku akan berusaha terus untuk turun
ke lembah dimana kau berada dan menarikmu keatas, agar kita bisa berjalan berdampingan
tanpa ada sekat diantara kita.
I Tenripada yang mendengar itu, hanya bisa tertunduk sambil menitikkan air mata, karena ia
merasa tidak lagi dikurungan.
La Pasampoi yang melihat I Tenripada tertunduk meneteskan airmata, terpaksa dengan diam
diam ia meninggalkan tempat itu.
I Tenripada yang ditinggal pergi La Pasampaoi, kembali sadar kalau malam pun bertambah
malam. Dengan perlahan lahan I Tenripada berjalan menuju peembaringannya, namun ia
masih merasakan suara seruling itu dalam kalbunya, seolah olah masih membentangkan
syairnya, sampai terjuntai bagai sutera yang meliputi wajahnya.
Seperti biasanya I Tenripada tidak langsung tidur, tapi terlebih dahulu bermeditasi sambil
melantunkan dalam hati akan puji pujinya pada Dewata seuwae, guna memohon kekuatan
abadi yang barangkali masih tersembunyi di balik awan, agar turun kedalam dirinya, yang
membuatnya dapat tersenyum, ketika ia mulai merasa menyenangi orang lain. Maka
perasaannya semakin jauh malam semakin syahdu yang sebenarnya sedang berbunga bunga
telah mulai merasuki hatinya. Dan dalam hayalnya ia berkata , apabila aku terpaksa
menerima keinginan puang Pasampoi, biarlah aku mulai belajar, dengan mendengarkan
melodinya , yang menggoda diriku yang lemah ini. Biarkanlah aku menahan rasa lapar,
dan haus menderaku. Tiba tiba Tenripada sadar dari lamunannya dengan mengingat kembali
harga dirinya, maka ia menepis kembali perasaan itu.
Perasaan yang dirasakan I Tenripada malam itu sepertinya sama dengan apa yang dirasakan
La Pasampoi selama ini.
Semalam setelah kedatangan La Pasampoi pada malam harinya ditempat I Tenripada,
keesokan harinya datang pula Indo Wellang mengantarkan makanan dan kue ke I Tenripada.
Setelah Indo Wellang sudah duduk dengan tenang, kemudian I Tenripada berkata : Kemarin
malam puang itu datang lagi kemari, dan sempat ia melihat saya menangis bi‟
Indo Wellang : Memangnya kenapa kamu menangis.?
25
I Tenripada : Karena tiga hari yang lalu, telah datang pemuda yang pernah saya tikam
bersama kawannya. Ia datang untuk menghina dan mencemohkan saya bi‟ sehingga saya
tidak tahan, dan saya menangis.
Indo Wellang : Sabar nak, memang demikianlah nasib kita sebagai orang budak, tapi apakah,
nakda ceriterakan masalah itu pada puang itu ?
I Tenripada : Iya bi‟, dan tadinya ia mau mencari pemuda yang saya tikam untuk diberi
pelajaran. Tapi saya melarangnya bi‟, karena saya tidak mau ada masalah baru lagi, yang bisa
membuat semakin jelek namaku.
Indo Wellang : Bagus nak, terus apalagi yang dilakukan disini ?
I Tenripada : Ia bicara tentang perkenalan dan persahabatan antara seorang gadis dan
pemuda. Karena itu tolong bi‟ jelaskan arti semua itu.
Indo Wellang : Begini nak, apa yang disampaikan puang itu, bibi tidak bisa jelaskan, sebab
masalah itu adalah masalah perasaan seseorang. Karena perkenalan yang berujung pada
persahabatan, tidak lain karena adanya persamaan perasaan yang bisa berkembang, yang
nantinya akan berujung pada saling mengasihi.
I Tenripada : Maaf bi, saya bingung jadinya.
Indo Wellang : Jalani saja perkenalan dan persahabatan itu, nanti juga anakda akan tahu,apa
itu persahabatan karena hal itu bukan untuk dipikirkan tapi untuk dirasakan. Namun demikian
saya hanya selalu minta padamu, agar selalu menjaga kehormatan dan harga dirimu. Dan
persahabatan itu adalah sesuatu yang baik namun harus dalam batas batas adat susila
26
EPISODE IV
PERKELAHIAN DI TEMPAT KURUNGAN I TENRIPADA
Tidak seberapa lama, setelah Indo Wellang meninggalkan tempat itu, tiba tiba datang 5 orang
laskar yang dipimpin oleh seorang anak muda bernama La Paturusi. Untuk mengambil
tawanan yang pernah dititip sementara ditempat dimana I Tenripada dikurung, yang akan
dibawa ke Tosora pusat kerajaan Wajo. Karena kurungan di Tosora sudah longgar.
Namun ketika anak muda komandan pasukan itu sudah mengeluarkan tahanan tersebut, ia
sempat melihat I Tenripada dalam kurungan, sehingga ia meninggalkan dulu tahanan itu ,
dan beralih ketempat I Tenripada dimana ia dikurung.
Komandan pasukan La Paturusi bertanya kepada I Tenripada : Heii..! kenapa kamu dikurung
disini ?.
I Tenripada hanya tunduk dan diam.
La Paturusi kembali bertanya dengan nada suara agak tinggi : Heii..! kenapa kamu dikurung
disini ?.
I Tenripada hanya tetap tunduk dan diam.
La Paturusi kembali bertanya dengan nada suara membentak : Heii..! kenapa kamu dikurung
disini ?. Apa kamu tuli atau kamu gagu.
I Tenripada kembali hanya tetap tunduk dan diam.
Belum lagi La Paturusi kembali bertanya dengan nada suara membentak, tiba tiba terdengar
suara berkata : Hei..! komandan laskar, gadis itu dikurung karena menikam putra Pabbicara,
dan suara itu adalah suara La Pasampoi putra Paddanreng Majauleng.
La Paturusi menengok dan berkata : Saya tidak tanya saudara...!
La Pasampoi menjawab : Bukankah saudara ingin tahu saja, kenapa ia dikurung disini ?.
La Paturusi kembali berkata dengan nada suara membentak : Saudara jangan ikut campur
disini, dan pergi dari sini, sebelum saya hajar.
Berkata La Pasampoi : Nampaknya saudara masuk ditempat kami ini kurang sopan,
barangkali karena saudara mentang mentang dari pusat kerajaan.
La Paturusi balik berkata : Saudara yang kurang adat, mencampuri urusan orang lain.
27
Saya tidak mencampuri urusan saudara, tapi ada urusan apa saudara dengan wanita itu. Kata
La Pasampoi.
La Paturusi sudah naik pitam dan berkata : Persetan apa pedulimu...! sambil berjalan
mendekati La Pasampoi untuk memukulnya. Namun pukulan La Paturusi dapat ditangkis
oleh La Pasampoi, sehingga terjadilah pertarungan dua anak muda yang nampaknya sama
sama tangguh. Adapun anak buak La Paturusi tanpa dikomando juga langsung akan
mengeroyok La Pasampoi, namun oleh penjaga kurungan langsung menghadang, sehingga
anak buah La Paturusi mengurungkan niatnya, karena tidak mau berseteru dengan penjaga
kurungan, sebab akibatnya mereka bisa dapat hukuman dari Batara Wajo (Raja kerajaan
Wajo).
Adapun La Pasampoi yang telah bersiaga sepenuhnya. Karena itu, dengan cepat ia
mengelakkan diri. Sekali ia melingkar dan dengan sapuan yang cepat, ia berhasil menyentuh
lambung lawannya dengan tumitnya. Sentuhan itu tidak terlalu keras dan La Paturusi pun
tidak merasakan sesuatu karena sentuhan itu. Namun sentuhan itu telah benar-benar
mengejutkannya.
Ia sama sekali tidak menduga bahwa anak muda ini mampu bergerak sedemikian cepatnya.
Karena itu, sentuhan itu telah memperingatkannya bahwa anak muda itu mampu mengelak
dan sekaligus menyerang dengan cepatnya sehingga ia tidak seharusnya melayani anak muda
ini seperti melayani orang biasa. Tetapi karena La Paturusi terlalu percaya kepada dirinya.
Karena ia mengenal anak-anak muda di Majauleng ini. Di antara mereka, tak seorang pun
yang pernah menerima gemblengan seperti yang dialaminya di Istana pusat kerajaan di
Tosora. Karena itu, La Paturusi kembali membusungkan dadanya. Dengan penuh
keyakinan kepada diri sendiri, La Paturusi meloncat dan menyerang kembali dengan
garangnya. Namun La Pasampoi menyambut serangan itu dengan tangkas. Disadarinya
bahwa lawannya kali ini telah memiliki bekal yang cukup bagi kesombongannya. Karena itu
La Pasampoi sadar bahwa ia harus berhati-hati.
La Paturusi menyerang La Pasampoi seperti badai yang melanda-landa. Cepat, keras, dan
kuat. Tangan dan kakinya bergerak terayun-ayun membingungkan. Berputar, melingkar tetapi
kadang-kadang menempuh dadanya seperti angin ribut menghantam gunung.
Namun La Pasampoi benar-benar seperti batu karang yang tegar tak tergoyahkan. Angin
ribut dan badai yang betapapun kuatnya, seakan-akan hanya sempat mengusap tubuhnya,
seperti angin yang silir membelai kulitnya. Serangan-serangan La Paturusi , betapapun cepat
dan kerasnya, tak banyak dapat menyentuh kulit La Pasampoi Sehingga dengan demikian La
Paturusi menjadi semakin marah. Sama sekali tak diduganya bahwa La Pasampoi memiliki
ilmu tata beladiri sedemikian baiknya. .
Demikianlah maka perkelahian antara La Paturusi dan La Pasampoi itu pun semakin lama
menjadi semakin sengit. La Paturusi telah kehilangan pengamatan diri. Anak muda itu telah
lupa segala-galanya selain secepat-cepatnya mengalahkan lawannya.
28
La Paturusi yang dibakar oleh kemarahan dan kesombongannya bertempur dengan seluruh
tenaganya. Matanya yang menyala memancarkan dendam yang tersimpan di hatinya. Sekali-
sekali ia melontarkan pandangannya kepada I Tenripada . Ia masih sempat melihat gadis itu
berdiri di kurungan. La Paturusi mengharap gadis itu dapat dibawa pergi ke Tosora.
Tetapi La Pasampoi tidak segera dapat dikalahkan. Bahkan anak itu semakin lama seakan-
akan menjadi semakin kuat dan cekatan. Memang, ketika tubuh La Pasampoi telah dibasahi
oleh peluhnya maka tenaganya menjadi seakan-akan bertambah.
Akhirnya La Paturusi benar-benar menjadi mata gelap. Ia sudah tidak dapat membuat
pertimbangan-pertimbangan lagi dengan otaknya.
La Pasampoi menggeram. Terdengar gemeretak giginya oleh kemarahannya yang meluap-
luap.
Kini La Pasampoi tak dapat berbuat lain kecuali berkelahi mati-matian. Ia sama sekali tak
bersenjata. Namun ia pun tak dapat disilaukan hatinya oleh La Paturusi yang kini bersenjata.
Perlahan-lahan La Pasampoi menggosokkan kedua telapak tangannya. Tetapi tiba-tiba ia
menggeleng lemah. Diamatinya kedua telapak tangannya itu. Terdengar ia bergumam
perlahan sekali sehingga hanya dapat didengarnya sendiri, “Tidak. Belum waktunya aku
mempergunakan ilmu pusakanya . Aku akan mencoba menyelesaikan perkelahian ini dengan
wajar.”
Namun tiba tiba terdengar suara La Pasampoi, berkata hei...! komandan laskar, aku masih
memberimu waktu. Bawa itu tahanan dan Tinggalkan tempat ini!”
La Paturusi tidak menunggu mulut La Pasampoi mengatub. Seperti burung ia menyerang
dada La Pasampoi .
Untunglah bahwa La Pasampoi tetap bersiaga sehingga ia berhasil berkelit. Dengan tangkas
ia menghindari serangan. Berbareng dengan kemarahannya yang merayap ke ubun-ubunnya.
La Paturusi telah benar-benar seperti berkelahi antara hidup dan mati.
La Pasampoi pun kemudian tidak mau diombang-ambingkan oleh ketidak tentuan dari ujung
dan pangkal perkelahian itu. Meskipun anak muda itu, belum mempergunakan batiniahnya
namun ia telah melepaskan segenap ilmu lahiriahnya. Telah diperasnya tenaganya, sehingga
tubuhnya telah basah-kuyup oleh keringatnya yang mengalir semakin lama semakin deras.
Namun La Pasampoi adalah murid Cambang Koro yang tekun. Tak ada kesempatan yang
dilepaskannya. Karena itu La Pasampoi memiliki beberapa kelebihan dari La Paturusi .
Meskipun La Paturusi itu masih mampu mengimbangi La Pasampoi namun akhirnya terasa
bahwa ia tak dapat mengimbangi ujung kepalan La Pasampoi. Ujung kepalan La Pasampoi
dengan lincahnya menyentuh-nyentuh La Paturusi hampir di setiap bagian tubuhnya yang
dikehendaki. Dan kepalan La Pasampoi benar-benar seperti batang-batang besi. Sehingga
29
kedua tangan La Pasampoi itu mirip benar seperti dua batang tombak yang masing-masing
bermata lima. Tetapi tangan La Paturusi pun masih mampu menangkisnya, tetapi lambat-
laun namun pasti La Pasampoi tampak selalu menguasai lawannya.
Adapun Tenripada yang menyaksikan perkelahian dibalik kurungan sudah dapat menilai
perkelahian itu bahwa La Pasampoi mampu menekan lawannya.
“Aku tidak mengira,” desis La Paturusi, “Aku belum pernah melihat anak muda yang
mampu mengimbangiku.
La Pasampoi kini benar-benar berkelahi seperti seekor Banteng yang garang. Sekali-sekali
ia menyambar dengan tangkasnya dan sekali-sekali ia mematuk dengan cepatnya. Jari-jari La
Pasampoi benar-benar berbahaya. Mula-mula La Paturusi tidak mau melihat kenyataan itu.
Matanya benar-benar dibutakan oleh kesombongannya.
Namun lambat-laun hatinya digetarkan oleh kenyataan bahwa, La Pasampoi melawannya
dengan gigih. Karena itu hatinya menjadi semakin gelap dan anak muda itu bertempur
membabi-buta.
Akhirnya La Pasampoi menjadi tidak sabar lagi. Perkelahian itu sudah berlangsung agak
lama. Sehingga La Pasampoi berusaha sedapat ia lakukan untuk memperpendek
perkelahian itu. Ia ingin menyelesaikannya dan agaknya usaha La Pasampoi itu berhasil.
Dengan sebuah serangan lambung yang mendatar, La Pasampoi berhasil memutar tubuh La
Paturusi yang berusaha untuk menghindar. Namun tiba-tiba La Pasampoi meloncat ke sisi.
Dengan tangannya ia menghantam tengkuk lawannya. Sekali lagi La Paturusi berusaha
menghindari. Dengan merendahkan diri ia berputar menghadap lawannya. Tangan kanannya
tiba-tiba terjulur lurus mengarah ke dada La Pasampoi . Namun La Pasampoi cukup
tangkas. Setengah langkah ia miring. Ketika tangan itu lewat secengkang di hadapan
dadanya, cepat-cepat ia memukul pergelangan tangan La Paturusi. Pukulan itu demikian
kerasnya sehingga terdengarlah seakan-akan tulang pergelangan tangan itu retak. La Paturusi
terkejut bukan kepalang. Gerak yang sedemikian cepatnya itu sama sekali tak pernah
diduganya. perasaan sakit yang menyengat pergelangan tangannya, seakan-akan merambat
sampai ke ubun-ubunnya. Terdengar La Paturusi mengaduh tertahan. Kemudian wajahnya
menjadi semakin membara. Ia hanya dapat menunggu apa yang akan dilakukan La Pasampoi.
La Paturusi telah mengakui di dalam hatinya bahwa ia tak akan mampu membela diri
seandainya La Pasampoi akan membunuhnya.
Sebelum La Pasampoi bertindak lebih lanjut, tiba tiba terdengar suara berderit, ternyata
tahanan itu telah memutuskan tali ditangannya dengan hanya sekali berkejang. Dan
langsung melerai perkelahian itu, dan membentak “ Berhenti.....”
Semua orang yang ada disitu pada bingung melihat peristiwa itu, bahkan La Pasampoi dan
La Paturusi tidak menyadari kalau di hadapannya telah berdiri tahanan yang bernama La
Kondi.
30
La Pasampoi pun kemudian menjadi bingung, apa yang sebaiknya dilakukan. La Paturusi
adalah salah satu komandan laskar Kerajaan Wajo. Kalau terjadi sesuatu masalah di
kerajaannya Majauleng, apakah Raja Wajo akan berdiam diri.
Selagi La Pasampoi menimbang-nimbang,
Dengan penuh wibawa La Kondi memandang berkeliling. Kepala La Pasampoi yang masih
tegak berdiri, La Paturusi yang terduduk dengan kaki renggang dan berwajah tegang.
Kemudian La Kondi berkata “Pergulatan yang tidak berguna katanya.
Tetapi La Kondi itu sama sekali tidak tersenyum. Bahkan tampak ia menyesal. Desisnya,
“Kalian telah menjadikan tempat ini menjadi kacau.”
La Paturusi pun melihat Tahanan orang tua itu. Timbullah beribu-ribu pertanyaan di dalam
dadanya. Orang tua itu sama sekali tidak tampak sebagai seorang sakti.
Adapun La Pasampoi yang sudah melihat La Paturusi sudah tidak berdaya, tanpa
memandang Tenripada, ia langsung meninggalkan tempat itu, walaupun tadinya ia ingin
mencoba bicara dengan Tenripada.
Tenripada yang melihat La Pasampoi pergi begitu saja, namun ia hanya sempat berpikir
dalam hatinya bahwa kenapa puang itu pergi begitu saja, tanpa menegurku, sebagaimana
biasanya.
Sementara itu La Paturusi yang telah kembali berdiri “Kondi,” berkata La Paturusi yang
masih terengah-engah, melihat kesaktianmu kamu kan dengan gampang bisa melarikan
diri, kenapa kamu tidak kamu lakukan ?.
La Kondi menjawab, : Maaf nak, walaupun saya ini dianggap seorang penjahat, tapi aku
masih punya harga diri dan kehormatan. Sebab apabila saya melarikan diri berarti saya
dianggap pengecut. Dan tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatan saya serta tidak
berani menghadapi sangsi hukum yang saya hadapi. Sebab bagaimana pun juga saya
bertanggung hawab atas perbuatan yang saya lakukan.
La Paturusi sepertinya tak berani memandang sorot mata La Kondi yang begitu tajam. La
Paturusi Ingin ia bertanya lagi tetapi mulutnya seperti terkunci. Ia khawatir kalau dengan
demikian orang tua itu akan tersinggung padahal dalam hatinya sudah timbul untuk berguru
kepada orang tua itu.
Tiba tiba La Paturusi kembali bertanya : Siapa disini tahu anak muda itu tadi yang
berkelahi denganku ?.
Tidak ada satupun yang menjawabnya.
31
Adapun La Kondi melhat keadaan itu, yang tadinya merupakan sumber perkelahian tadi,
kemudian berkata La Kondi : “ Nak” Lebih baik kita berangkat sekarang.
“La Paturusi ,” mendengar La Kondi berkata, langsung La Paturusi mengangguk dan
segera ia meninggalkan tempat itu bersana tawanan La Kondi dan anak buahnya.
La Paturusi dalam perjalanan pulang ke Tosora, kembali ia mengenang wajah dan tubuh
tawanan Wanita, sehingga timbul dalam hatinya untuk berusaha menggaitnya. Namun ia
berpikir kalau pemuda itu juga ada hati terhadap wanita itu, sehingga ia agak ragu.
Dalam keraguannya itu ia mencoba mencari tahu pada La Kondi dan bertanya : Pak Tua,
barangkali tahu gadis yang dikurung itu, dan kenapa ia dihukum ?.
La Kondi menjawab : “Mengapa anak menanyakan dia, adakah sesuatu yang menarik bagimu
terhadap dia ?.
La Paturusi berkata : “Terus terang pak tua, begitu aku melihat gadis itu, kenapa tiba tiba
hatiku tertarik, apalagi gadis itu nampaknya sangat cantik sekali
La Kondi berkata “ Kalau saya tidak salah dengar, gadis itu adalah seorang budak, dan ia di
hukum karena telah melukai putra Pabbicara dengan sebuah badik.
La Paturusi terjenak sedikit dan dalam hatinya berkata “budak” ?. ah walaupun ia seoarng
budak, bagiku tidak ada masalah, karena selama ini aku belum pernah melihat gadis secantik
dia.
Kembali La Paturusi berkata “ kenapa ia sampai bisa melukai putra Pabbicara ?.
La Kondi : Rupanya gadis itu memiliki ilmu bela diri yang hebat, sebab saya juga dengar
kalau putra Pabbicara seorang pemuda yang juga memiliki ilmu bela diri yang cukup
mumpuni.
La Paturusi kembali bertanya, “ Kenapa sampai timbul perseteruan itu ?. Padahal bukankah
gadis itu hanya seorang budak sementara Putra Pabbicara seorang bangsawan.
La Kondi menjawab “ Bahwasanya saya dengar kalau putra Pabbicara, mencoba mengganggu
gadis itu, tapi putra Pabbicara tidak pernah sangka kalau gadis itu memiliki ilmu bela diri
yang hebat.
La Paturusi berkata : Maksud saya, bukankah gadis itu seorang budak, kenapa sampai ia bisa
melawan yang boleh dikatakan tuannya. Bukankah kalau ia mau diambil sebagai selir, maka
derajatnya bisa naik ?.
32
La Kondi berkata : Begitulah cara pandang manusia, kadang ia menganggap seorang budak
tidak memiliki harga diri dan kehormatan, padahal gadis budak itu, sepertinya walaupun ia
budak tapi ia memiliki harga diri dan kehormatan yang cukup tinggi.
La Paturusi hanya meng-angguk anggukkan kepalanya sambil dalam hatinya berkata rupanya
semakin susah mendekati gadis budak itu.
Kembali La Paturusi bertanya : “ Apakah dengan kejadian kejadian yang dialami termasuk
kejadian tadi, membuat gadis itu ada rasa dendam ?.
“Oh,” sahut La Kondi “ Anak tidak perlu risaukan masalah dendam, sebab setiap orang
berhak untuk mendendam.
La Paturusi mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun wajahnya masih merah biru
namun anak muda itu nampaknya masih bisa tersenyum saja. Hanya kadang-kadang tampak
ia menyeringai, kalau nyeri-nyeri di punggungnya terasa seperti menyengat-nyengat sampai
ke ubun-ubun, akibat perkelahian tadi.
Sesaat kemudian nampaklah Indo Wellang mendatangi kembali tempat Tenripada dikurung,
dan sempat mendengar kalau ada keributan di tempat itu.
Adapun I Tenripada yang melihat bibinya Indo Wellang datang, timbullah rasa ketakutan
dalam dirinya, karena ia sudah pastikan kalau bibinya itu datang karena telah mendengar
keributan disini.
Begitu Indo Wellang mendekat, langsung ia bertanya : “Apakah kamu baik baik saja ?.
I Tenripada meenjawab : “Iya bi..!
Indo Wellang berkata : “ Saya dengar tadi ada ribut ribut disini masalahnya apa ?
I Tenripada menjawab : “ Tadi itu datang komandan laskar dari pusat kerajaan untuk
mengambil tahanan yang dititip disini, tiba tiba ia melihat saya, dan langsung menanyakan
nama saya, kenapa saya dikurung disini, tapi karena saya hanya diam saja. Tiba tiba datang
pemuda puang itu dan menjawab pertanyaannya, tapi komandan laskar itu marah, karena
merasa dicampuri. Akhirnya terjadilah cekcok mulut dan berlanjut keduanya berkelahi. Tapi
rupanya puang itu adalah seorang yang memiliki ilmu bela diri yang cukup bagus, akhirnya
puang mengalahkan komandan laskar itu, dan ketika komandan pasukan itu, terbanting dan
duduk, pemuda itu masih mau memukulnya, tetapi tiba tiba tahanan yang mau dibawa ke
Tosora itu, hanya sekali berkejang, tali pengikatnya langsung putus, dan ia langsung
melerai keduanya.“
Tiba tiba Indo Wellang bertanya : “ Bagaimana ciri ciri tahanan itu ? karena ia tertarik ingin
mengetahui tahanan itu yang memiliki ilmu kesaktian yang cukup hebat.
33
I Tenripada kemudian menerangkan ciri ciri orang itu.
Mendengar itu tiba tiba merenung dan dalam hatinya berkata : “ Jangan jangan bekas
suamiku, tapi kenapa ia ditahan ?. Ah ... akhirnya Indo Wellang mengabaikan pikirannya.
I Tenripada bertanya : “ Memangnya kenapa bi..!, saya lihat bibi tadi sempat berpikir sejenak.
Indo Wellang berkata : “ Tidak apa apa nak.
Sesaat kemudian setelah mengurus sesuatunya dengan I Tenripada, kemudian Indo Wellang
pun pulang ketempatnya. .
Adapun La Pasampoi di istana, sekembalinya dari tempat Tenripada dikurung ia merasa
hari itu kalau biliknya itu menjadi sepi. La Pasampoi berjalan hilir-mudik dengan gelisah.
Sesekali dipegangnya badiknya untuk mencoba kembali berlatih belum lagi ia sempat
berlatih selesai, La Pasampoi namun datang lagi sebuah perasaan gelisah yang menghimpit
hatinya dan dicobanya melupakan kegelisahan itu dengan menyirami bunga bunganya di
belakang. Namun pekerjaan ini pun tak menyenangkannya. Burung-burung peliharaannya
yang bernyanyi riuh itu pun tak menarik perhatiannya. Akhirnya La Pasampoi pun
menyekap diri di bilik belakang, namun ia tidak mampu menepis kegelisahan itu. Tanpa ia
sadari iapun bangkit lagi dengan sebuah loncatan diraihnya sebuah pedang dan La
Pasampoi pun mulai dengan latihannya. Latihan yang dilakukan tidak lebih hanya ingin
melepaskan kesepian dan kegelisahan yang mencengkamnya. Demikianlah La Pasampoi
melepaskan kejemuan dengan berbagai latihan. Sehingga akhirnya La Pasampoi menjadi
lelah. Demikian lelahnya maka akhirnya La Pasampoi pun tertidur dengan nyenyaknya.
Dalam tidurnya, La Pasampoi banyak bermimpi. Berbagai mimpi yang aneh-aneh telah
mengganggunya. Dilihatnya di dalam mimpi itu, Berbagai peristiwa silih datang berganti
sehingga ia rasakan napasnya tersengal sengal, menyebabkan La Pasampoi tiba tiba
terbangun dan menyadarkan diri.
Setelah menyadari dirinya La Pasampoi langsung terkejut. Perlahan-lahan ia bangun dan
duduk. Dilihatnya bilik itu menjadi gelap. Seorang tua dengan lampu di tangan berdiri di
sampingnya. “Nak.. ” berkata orang itu, “Apakah anak sedang bermimpi?”
Perlahan-lahan La Pasampoi bangkit. Dilihatnya keadaan di sekelilingnya. Ternyata ia
masih berada di dalam biliknya.
Sekali ia menggeliat, kemudian jawabnya, “Ya Guru, sebuah mimpi biasa
“Aku sudah menduga. Di dalam tidur kau menggeram,” sahut gurunya., sambil tersenyum.
La Pasampoi pun tersenyum pula.
34
“Nak” berkata Cambang Koro kemudian, “bersihkanlah dirimu. Kami sudah makan malam.
Makanlah dahulu. Ada yang akan aku bicarakan.”
La Pasampoi pun kemudian berdiri dan perlahan-lahan berjalan keluar.
“Mimpi seseorang yang terlalu banyak menghayal,” gumamnya, “Mudah-mudahan, tidak
menjadi kenyataan ” Namun meskipun demikian La Pasampoi tak dapat melupakannya.
Setelah membersihkan diri, La Pasampoi segera pergi ke dapur. Dilihatnya pelayannya Indo
Wellang duduk di atas bale-bale bambu. Ketika dilihatnya ia datang, segera Indo Wellang
itu menyapanya, “Puang mau makan ”
La Pasampoi mengangguk. Ditatapnya wajah pelayan itu. Pucat, dan tampak bekas air mata
di kedua pelupuk matanya. Agaknya pelayan itu tadi menitikkan airmatanya. Memang Indo
Wellang baru menitikkan air mengingat kejadian tadi sore, kala ia diserang oleh beberapa
anak muda. Serangan anak muda itu tidak dihiraukan tapi nasibnya dan nasib Tenripada
yang dia tangisi. Sementara Pasampoi makan, Indo Wellang kembali membayangkan
peristiwa tadi sore.
La Pasampoi yang melihat ada kesedihan diwajah Indo Wellang, kemudian ia bertanya :
Kenapa Indo, saya lihat wajah Indo ada kesedihan
Indo Wellang berkata : Tadi sore puang, beberapa tukang pukul putra Pabbicara Sadapotto
datang menyerangku. Rupanya hal itu terjadi karena rupanya putera Pabbicara itu, masih
belum puas menghina dan mencemoh I Tenripada ditempat kurungannya. Dan rupanya hal
itu pula yang membuatnya masih penasaran, sehingga terpaksa mereka melampiaskan
kemarahannya padaku.
La Pasampoi berkata : Lalu kenapa ibu menangis.
Indo Wellang ; Hamba hanya menangisi keadaanku, kenapa hamba harus mengalami
perlakuan demikian.
Adapun La Pasampoi mendengar ceitera Indo Wellang , tiba-tiba saja sikapnya menjadi
canggung. Karena ia tahu kalau Indo Wellang pelayannya itu memiliki Ilmu bela diri yang
tinggi yang masih kalah jauh dengan ilmu bela gurunya. Tidak lama kemudian setelah La
Pasampoi selesai makan, tiba tiba Indo Wellang melihat La Pasampoi sepertinya sedang
merenung.
Dengan perasaan yang kurang enak, kemudian Indo Wellang menegur La Pasampoi
“Apakah “Puang ” sudah selesai makan.?
La Pasampoi : eee.. sudah, kemudian La Pasampoi berdiri dan berjalan menuju biliknya.
Sesampainya ia dibilik, nampak gurunya Cambang Koro masih menunggunya.
35
Cambang Koro : Sudah makan ya nak ?.
La Pasampoi ; Sudah guru.
Cambang Koro : Begini nak, satu dua hari ini, saya mau berangkat ikut saudara pergi
berlayar, untuk waktu yang tidak tentu. Karena itu saya datang kemari untuk
memberitahumu. Dan keberangkatan saya ini pergi berlayar, apakah saya akan kembali lagi
kemari atau seterusnya saya berada di perantauan, itu hanya Dewata seuwae yang tahu. Oleh
sebab itu kiranya anak, mencari guru yang lebih baik dari saya, guna menambah terus ilmu
bela diri yang telah anak miliki. Da saya kira masih ada orang yang bisa anak temukan orang
jauh lebih tinggi ilmunya dari saya.
La Pasampoi mendengar itu langsung hatinya terharu, sambil berkata : Iya guru, pesan guru
ini saya tidak akan lupa.
Tidak lama kemudian Cambang Koro, minta pamit dan sebelumnya keduanya berpelukan
dengan rasa haru.
Tidak lama kemudian setelah kepergian Cambang Koro datang Indo Wellang membawa teh
panas dan kue kue, sambil bertanya kemana tadi Cambang Koro puang ? ini saya bawakan
juga minuman teh.
La Pasampoi : Sudah pergi dan Indo Wellang hanya diam saja mendengar jawaban La
Pasampoi.
Selanjutnya Indo Wellang duduk sambil mempersilahkan La Pasampoi menikmati hidangan
teh yang masih panas beserta kue.
Dan tidak lama kemudian La Pasampoi pun minum teh sambil makan kue. Sedang Indo
Wellang yang juga sedang duduk, sambil terus melihat La Pasampoi menikmati hidangan
yang disuguhkannya
Bagi La Pasampoi , hal yang demikian itu sudah sering benar dialami. Indo Wellang yang
bersikap sebagai seorang pelayan itu, tahu benar apa yang harus dilakukan untuk ayah dan
keluarganya. Namun, kali ini terasa sikapnya pada Indo Wellang itu agak berbeda.
Tiba tiba seorang pelayan datang dan menyampaikan : “ puang” dipanggil oleh “Puang
Paddanreng”
Jantung La Pasampoi pun berdesir. “Kalau demikian,” pikir La Pasampoi, “masalahnya
pasti masalah tadi siang. Mungkin akibat sikapnya terhadap gadis budak itu. Meskipun
terdorong oleh peristiwa siang tadi, tapi mungkin ada juga persoalan-persoalan lain.”
La Pasampoi menarik nafas panjang.
36
“Kenapa “Puang” berdesah?” bertanya Indo Wellang.
La Pasampoi terkejut. Dicobanya tersenyum. Jawabnya, “Aku lupa bahwa aku sudah terlalu
kenyang.”
Sebenarnya La Pasampoi ingin melakukan pendekatan kepada Indo Weelang, namun niatnya
itu diurungkan karena melihat situasi tidak memungkinkan, apalagi ia telah dipanggil
ayahnya.
Setelah itu La Pasampoi yang dipanggil ayahnya Paddanreng Majauleng, datang
menghadap ayahnya.
Sesaat kemudian La Pasampoi langsung ia duduk di atas tikar pandan itu. dada anak muda
itu pun berdebar-debar pula.
Setelah ia duduk beberapa saat, berkatalah Paddanreng La Tenritau, “ Pasampoi . Aku kira
kamu sudah menduga-duga di dalam hati, persoalan apa yang akan bicarakan.
La Pasampoi menggeleng. Jawabnya, “Belum “”Puang” Sewaktu “Puang” minta aku
datang sampai pada saat ini, tak ada yang dapat aku duga.
Paddanreng La Tenritau tersenyum. Dipandanginya anaknya “Benarkah begitu anakku ?.
La Pasampoi mengangguk.
Paddanreng La Tenritau menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menyesal
bahwa peristiwa kemarin siang tadi harus terjadi. Dengan demikian keluarga kita akan
menjadi buah percakapan.”
La Pasampoi pun menjadi semakin tunduk. Perkataan ayahnya itu mengingatkannya kepada
berbagai perasaannya yang bercampur baur. Malu, sedih, takut dan segala macam,
Ketika La Tenritau melihat anaknya bersedih, cepat-cepat ia meneruskan, “Tetapi itu bukan
salahmu, Anakku. Banyak saksi-saksi yang berkata demikian. Dan aku pun tak
menyalahkanmu.”
Ketika itu La Pasampoi hanya diam saja.
“Pasampoi,” suara La Tenritau , namun dalam malam yang sepi itu terdengar jelas kata demi
kata, “kalau kau sekali-sekali becermin di kolam di samping istana kita ini, kau akan sempat
memperhatikan dirimu. Telah hampir Tujuh belas tahun kau menikmati sinar matahari,
Karena itu, sadari anakku, kau telah menginjak masa dewasa.”
37
Wajah “Pasampoi,” yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Sebagai seorang pemuda
sudah merasakan, betapa sesuatu selalu bergolak di dalam dadanya. Banyaklah keinginan-
keinginan yang tak dimengertinya sendiri.
“Karena itu, Anakku,” terdengar ayahnya berkata pula, “banyaklah persoalan-persoalan yang
akan timbul, karena kedewasaanmu itu.”
Kembali La Tenritau berhenti. Ditatapnya wajah anaknya yang tunduk. Orang tua itu ingin
mengetahui. apakah yang terasa di hati putranya itu.
La Pasampoi diam seperti patung. Hanya sekali-kali terdengar desahnya.
“Tetapi kau jangan cemas anakku,” sambung ayahnya, “persoalan-persoalan yang timbul
karena kedewasaanmu adalah persoalan-persoalan yang wajar, yang pasti akan timbul pula
pada pemuda pemuda lainnya. Sebab setiap orang pada dasarnya akan mengalami persoalan
yang sama. Setelah ia menjadi dewasa maka akan dilampauinya suatu masa yang penting
dalam hidupnya .”
La Pasampoi pun masih duduk terpekur. Namun terasa seakan-akan jantungnya berdentang-
dentang. Orang tua itu berbicara terlalu lambat baginya. Ia ingin ayahnya berkata langsung
sampai ke ujungnya, untuk mengurangi ketegangan di hatinya. Tetapi agaknya La Tenritau
ingin berhati-hati sehingga kata-katanya tidak akan menyinggung perasaan anaknya.
“Pasampoi” berkata orang tua itu, “setelah kau menyadari keadaanmu, maka apa yang terjadi
kemarin siang tadi adalah persoalan yang wajar. Hanya bentuknyalah yang berbeda-beda bagi
setiap pemuda. Ada yang langsung mengalami masa baik, namun ada pula yang pernah
melewati kesulitan-kesulitan yang panjang.
La Pasampoi berdesir mendengar kata-kata ayahnya itu.
“Pasampoi,” berkata La Tenritau seterusnya, “aku adalah ayahmu. Karena itu atas nama
ibumu aku berhak untuk menolak atau menerima calon isterimu.”
Pasampoi menjadi bertambah gelisah. sehingga tak disengajanya ia menggeser duduknya.
Tetapi ayahnya meneruskan, “Anakku. Adalah suatu kesulitan bagiku untuk menentukan
pilihan dari sekian banyak gadis gadis yang disebutkan ibumu.
Kembali orang tua itu berhenti. Dan kembali ruangan itu dicengkam kesepian. Hanya detak
jantung Pasampoi yang serasa terdengar olehnya.
Karena itu ketika La Tenritau meneruskan kata-katanya maka perhatian Pasampoi itu
tercurah seluruhnya kepada setiap kata yang ia dengar, “Meskipun demikian, Anakku. Masa
depanmu ada di tanganmu. Meskipun aku belum mengenal mereka lebih jauh . Karena itu
38
anakku, akan aku ajukan pilihan ini kepadamu, mudah mudahan diantara mereka ada kamu
kenal secara dekat, dan juga menarik hatimu.”
Pasampoi mengerutkan keningnya, sambil membayangkan beberapa wanita yang dikenalnya,
dan mungkin masuk dalam pilihan ayahnya.
“Adapun calon isteri yang saya sebutkan nantinya itu, Anakku,” adalah calon isteri yang
layak menjadi permaisurimu kelak.
“Pemilihan calon isteri?” Pasampoi bergumam.
Malam yang sepi itu menjadi semakin sepi. Yang terdengar kini adalah angin malam yang
lembut membelai daun-daun pepohonan yang sedang tertidur nyenyak. Gemeresik seperti
suara orang berbisik-bisik.
Pasampoi menarik nafas panjang-panjang. “Tidak adil,” serunya di dalam hati.
Himpitan ketegangan di hati Pasampoi pun tiba-tiba serasa berguguran. Sejak semula ia
mendengarkan kata-kata ayahnya dengan penuh kecemasan. Mula-mula ia menyangka bahwa
ayahnya akan menyebut untuknya sebuah nama dari nama-nama mereka yang telah dipilih
ibunya. Sebab kalau hanya 1 nama saja berarti ia tidak bisa memilih. Ia tak tahu, apakah yang
terjadi dengan dirinya. Dan tiba-tiba disadarinya juga bahwa ia pasti akan keberatan
seandainya ayahnya akan memaksanya siapa pun dari mereka.
Pasampoi menjadi malu sendiri. Seakan-akan ayahnya dapat membaca setiap perasaan yang
bergolak di dalam dadanya. Apalagi ketika ayahnya meneruskan, Apabila diperkenankan
oleh Yang Maha Agung, maka menilik tata lahir yang kasatmata, engkau masih akan
menempuh suatu masa yang panjang. Karena itu masa-masa itu harus kau lewati dengan
gairah dan ketenteraman. Maka adalah menjadi kewajibanmu untuk ikut serta
menentukannya sendiri masa depan itu, dan aku tak akan melepaskan tanganku.”
La Tenritau berhenti sejenak. Dan Pasampoi pun menjadi gelisah kembali. Yang terdengar
kemudian adalah kata-kata ayahnya pula, “Anakku, supaya tak terulang peristiwa terjadi
kemarin siang yang tidak aku ingini dan tentu saja kamu juga, maka sudah sampai saatnya
kini, kau menentukan pilihan.”
Wajah Pasampoi yang kemerah-merahan menjadi panas. Terasa seluruh bulu-bulu tubuhnya
meremang. Kata-kata itu sudah diduganya. Namun ketika diucapkan juga oleh ayahnya,
perasaannya tersentuh pula. Untuk sesaat Pasampoi menjadi bingung. Tak tahu apa yang akan
dilakukan. Hanya tiba-tiba saja, tanpa sesadarnya ia mengerling kepada ibunya yang baru
datang. Namun dilihatnya ibunya itu tunduk kaku. Tetapi wajah itu kemudian menengadah
ketika terdengar ayahnya berkata, “Nah Pasampoi, kini ibumu telah menyiapkan beberapa
nama wanita yang bisa kamu pilih sebagai pendamping hidupmu. Karena itu aku akan
meyebut nama nama mereka.
39
Pasampoi tidak menjawab. Namun desir di jantungnya serasa semakin tajam menggores. Dan
ia menjadi semakin gelisah. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi tak sepatah
kata pun dapat diucapkan.
Karena Pasampoi tidak menjawab, maka berkatalah La Tenritau, “ Dan biarlah aku
menyebut nama-nama itu. Kalau nama itu berkenan di hatimu, Anakku, maka aku harap kau
menganggukkan kepalamu. supaya ibumu nantinya segera dapat menyampaikan kepada
orang tuanya.”
Pasampoi menjadi bertambah bingung karenanya. Sekali lagi tanpa disadarinya, Pasampoi
menatap sekeliling ruangan itu namun ia tidak melihat wajah ibunya.
“Dengarlah nama itu baik-baik, nak,” berkata ayahnya, “kalau pada suatu saat kau
menganggukkan kepalamu, maka biarlah ibumu yang mendengar ini menjadi saksi.”
Tetapi mulut Pasampoi terbungkam. Dan ayahnya pun tidak memaksanya untuk menjawab
pasampoi itu hanya dimintanya menganggukkan kepalanya, apabila telah jatuh pilihannya.
“Yang pertama,” berkata ayahnya.
“Sepupumu putri La Tenripekka, namanya We Tenridio, putri La Matareng, Namanya
Batari ola. Bukankah kedua putri itu pernah kau kenal?”
Pasampoi masih terpaku pada anyaman tikar pandan tempat duduknya. Dan ia sama sekali
tidak menggerakkan kepalanya. Meskipun kedua putri itu cantik, namun sama sekali tak
terlintas di kepala Pasampoi, bahwa pada suatu saat ia akan hidup bersamanya.
La Tenritau menarik nafas. Tampaklah kerut keningnya, “Baiklah. Kau tak
menghendakinya,” gumamnya, “Sekarang, dengarlah. Wanita ketiga. We Sompa wage,
kemenakan Batara Wajo La Tenribali, Sejenak kemudian Paddanreng ingin melihat reaksi
La Pasampoi namun tidak ada reaksi.
Ibu Pasampoi yang mendengar percakapan itu hanya bisa, geleng geleng kepala. Setiap
nama yang disebut suaminya, mustinya Pasampoi sudah mengangguk . , jangankan
mengangguk, bahkan Pasampoi menjadi jemu dan penat oleh ketegangan yang menekannya.
La Tenritau tak dapat melepaskan tangkapan perasaan Pasampoi, namun ia masih akan
menyebut satu nama lagi, katanya, “Pasampoi, nama ini, adalah nama yang terakhir. Terserah
kepada keputusanmu. Bukankah sudah aku katakan, bahwa kini sedang berlangsung sebuah
pemilihan ? Nah, dengarlah nama ini. Putri Pabbicara . Bukankah anak itu pernah kau
kenali, apalagi kakaknya?”
“We Tenrisui ?” nama itu diulang ulang oleh Pasampoi di dalam hatinya. Nama yang baik
dan putri itu pun baik pula kepadanya.
40
Sesaat ruangan itu menjadi kaku dan tegang. ibunya yang mendengar itu semakin tegang,
ingin ia rasanya menjulurkan kedua tangannya untuk menarik kepala La Pasampoi supaya
bergerak. Sedang La Pasampoi masih duduk sambil melipat tangannya. Orang tua itu pun
memandangi putranya dengan baik.
Tetapi kali ini pun nama itu tidak dapat menggerakkan hati Pasampoi. Karena itulah maka
kepalanya pun tidak bergerak pula. Meskipun ayah dan ibunya menunggunya beberapa saat.
Namun Pasampoi itu sama sekali tidak mengangguk.
La Tenritau menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengarlah ia berkata, “Anakku, pemilihan
kini sudah selesai. Namun tak seorang pun yang dapat kau pilih.. Karena itu, anakku, masalah
ini, masalahmu, masih belum dapat dipecahkan. Walaupun aku tahu, nama yang tersimpan
di dalam dadamu. Namun demikian, jangan pernah harap kalau nama itu bukan harapanku,
Nah, kalau demikian, biarlah aku menunggu beberapa lama lagi, tetapi tidak terlalu lama.
Mudah-mudahan sepanjang waktu itu,aku akan mendengar, bahwa salah seorang putri
lainnya akan dapat menggerakkan hatimu.”
Pasampoi menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tahu benar, betapa ayahnya
mencemaskan nasibnya. Apabila masalahnya itu akan berkepanjangan, maka orang tuanya
pasti akan bersedih. Tetapi, di dalam hatinya Pasampoi berkata : Wahai ayahku aku minta
padamu, atas nama cinta yang mengikat jiwaku, janganlah cintaku yang sedang aku tenun
dan rajut ini, engkau gulung, hanya karena perbedaan. Apalagi cintaku sekarang sudah
mulai kugubah menjadi Puisi agar bersenandung dikala siang dan bernyanyi di malam hari
Maafkan aku ayahku, demi cinta yang telah merasuki jiwaku dan telah membuatnya terang.
Sudah cukup I Tenripada bagiku untuk jalan berdampingan, Dan saling berkata, “Kaulah
kekasihku , kaulah belahan jiwaku.” Impian dan cinta kami akan saling memberi satu dengan
yang lain, serupa dengan apa yang dilakukan matahari ketika mendekati malam dan yang
dilakukan bulan ketika mendekati pagi
Demikianlah di dalam dada Pasampoi telah terukir sebuah nama. Nama yang baru
dikenalnya baik-baik, yang telah disebutnya beratus kali, Padahal ia tahu betapa dua
peristiwa yang telah melibatkan dirinya, bahkan salah satu peristiwa itu baru saja terjadi
tadi siang. Akhirnya Pasampoi sadar betul kalau ayahnya tetap menginginkannya untuk
kawin dengan putri bangsawan lainnya. Dan ayahnya menginginkanya kawin cepat agar aku
tidak terlalu jauh mencintai Tenripada budak wanita itu. Tapi apa mau dikata hati ini sudah
tertambat pada budak wanita itu.
”Sampai kapan?” desahnya di dalam hati. Pasampoi pun kemudian menjadi cemas. Kalau
nanti ibunya terus mendesak ayahnya, maka jangan-jangan ayahnya akan kehabisan
kesabaran. Dan dipaksanya ia memilih satu di antara mereka. Dan di antara mereka itu sudah
dapat dipastikan kalau nama yang diharapkannya, tidak akan pernah muncul.
Pasampoi pun kemudian menekurkan kepalanya, Namun terasa kini dadanya telah menjadi
lapang kembali. Kini ia tidak akan dapat mengingkari dirinya sendiri. Selama ini ia telah
41
dicengkam oleh ketakutan. Sebagai seorang laki-laki, Pasampoi tidak pernah merasa ngeri
menghadapi setiap persoalan. Namun tiba-tiba ia merasa risih mendengar beberapa nama
yang disebut oleh ayahnya.
Akhirnya Pasampoi sampai pada suatu kesimpulan, bahwa. I Tenripada baginya, adalah
sebuah harga mati, apapun yang akan terjadi.
Tetapi apakah yang dapat dilakukan? Bila I Tenripada tidak mau?.
“Nah, Pasampoi berkata ayahnya : Keperluanku hari ini telah selesai. Namun persoalannya
yang belum selesai. Ingatlah bahwa banyak persoalan yang dapat terjadi, susul menyusul.
Karena itu jangan menunggu sehingga persoalan-persoalan itu menjadi bertambah banyak
dan rumit. Sekarang, pikirkanlah dan beristirahatlah.”
Pasampoi mengangguk. Izin itulah yang ditunggu-tunggunya setelah sekian lama ia harus
menahan hati. Perlahan-lahan ia bangkit, dan kemudian ditinggalkannya ruangan yang serasa
menyesakkan nafasnya itu.
Pasampoi pun kemudian mohon diri. Ingin ia duduk di halaman di belakang untuk
melapangkan dadanya.
Sejak hari itu, para pelayan dan petugas istana melihat beberapa perubahan dalam diri
Pasampoi di dalam istana. Meskipun Paddanreng sendiri tidak pernah mengubah sikapnya
kepada siapa pun juga. Namun Pasampoi tidak demikian.
Tak seorang pun dari para pelayan dan petugas istana yang mengetahui, apakah sebabnya.
Namun yang mereka lihat, Pasampoi tiba-tiba saja telah berganti sikap. Meskipun sifat
keramahannya belum dapat ditinggalkannya, Bahkan Pasampoi itu menjadi lebih banyak
tinggal di dalam biliknya dan mengurung diri. Yang aneh bagi para pelayannya, putra
Paddanreng itu kadang-kadang menjadi bersedih tanpa sebab. Malahan pemuda itu kadang-
kadang tengah malam baru tidur.
Paddanreng La Tenritau pun melihat perubahan itu. Sebab orang tua itu tahu pasti, mengapa
anaknya menjadi demikian.Karena ia tahu kalau anaknya sebenarnya telah jatuh hati pada
gadis budak wanita itu,
Sedang Pasampoi.pun kemudian menjadi perenung. Anak muda yang rajin itu, kini, apabila
pekerjaannya telah selesai, lebih senang duduk seorang diri di halaman belakang, atau di tepi
kolam. Setelah La Pasampoi selesai merenung, kemudian iapun masuk ke biliknya, dan
melemparkan dirinya ke pembaringannya, tanpa ia rasa langsung tertidur. Dan pada saat ia
bangun ia melihat kalau petang sudah hampir merambah malam. Setelah La Pasampoi
sudah tenang hatinya, ia pun kembali lagi mengenang I Tenripada. Walaupun La
Pasampoi, berusaha untuk tidak larut dalam perasaannya terhadap I Tenripada , tapi pada
akhirnya Pasampoi sadar, bahwa perasaan yang bergelut di dalam dirinya, dengan keadaan
yang dialaminya itu, tak akan dapat selesai dengan sendirinya. Bila tidak segera
42
menyampaikan halnya kepada I Tenripada. Karena kegelisahan dan keadaan yang tak
menentu dalam dirinya itu datang terus menghimpitnya, yang ia harus segera akhiri. Namun
bagaimana meng-akhirinya
Itulah sebabnya Pasampoi.semakin bertambah murung. Terasa jarak antara dirinya dan I
Tenripada ia rasakan sepertinya menjadi bertambah jauh. Gadis itu kini belum juga dapat
diajaknya bicara layaknya sebagai seorang kekasih. Hanya kadang-kadang ia melihat dari
mata gadis itu sebuah ucapan yang tak dimengertinya.
Sepuluh hari kemudian , Pasampoi sudah tidak tahan lagi untuk segera mendatangi I
Tenripada di tempat kurungannya.
Setibanya La Pasampoi ditempat kurungan I Tenripada, ia langsung berdiri didepan jeruji,
dan dilihatnya I Tenripada sedang duduk termenung, La Pasampoi menegurnya, dan nampak
I Tenripada terkejut kemudian berkata : Maaf puang, saya tidak sangka kalau puang datang.
La Pasampoi : Tidak apa apa, bagaimana keadaanmu ?
I Tenripada ; Biasa biasa saja puang.
La Pasampoi : Sebenarnya ada yang saya ingin sampaikan, tapi jangan marah ya. ?
I Tenripada : Maaf puang, saya tidak boleh marah sama puang, karena hamba sudah tahu
kalau puang ini putera Paddanreng.
La Pasampoi langsung terkejut dan berkata : Darimana kamu tahu ?
I Tenripada : Dari bibi hamba puang.
La Pasampoi : Apakah setelah kamu tahu saya ini putera Paddanreng, masih mau bersahabat
dengan saya ?
I Tenripada : Hamba takut puang.
La Pasampoi : Kenapa harus takut ?
I Tenripada : Maaf puang ! hamba ini seorang budak yang tidak mungkin bisa bersahabat
dengan puangnya.
La Pasampoi : Tapi bagaimana ?, bukankah selama ini kalau saya menganggapmu seorang
sahabat. Bukan sebagai budak
I Tenripada mendengar itu hanya mampu tertunduk.
La Pasampoi : Bagaimana dengan perkataanku tadi ?
43
I Tenripada : Mohon maaf puang, hamba tidak mampu menjawabnya, karena saya ini hanya
seorang budak, yang tentunya semuanya bagaimana kehendak puang. Tapi yang penting
kasihanilah hamba ini, mohon kiranya jangan sampai memaksakan kehendak puang sehingga
dapat menyentuh harga diriku.
La Pasampoi : Saya tidak akan memaksakan kehendakku apalagi sampai menyentuh harga
dirimu, karena sejak dari awal aku mengenalmu, aku sudah tahu kalau kamu sangat
menjunjung tinggi harga dirimu, walaupun kau tahu dirimu seorang budak. Makanya aku
sampai ingin berkenalan dan bersahabat denganmu
I Tenripada menengadahkan kepalanya nampak diwajahnya rasa haru kemudian ia berkata :
Hamba bersyukur bila puang memang benar benar, tetap mau menghargai hamba.
La Pasampoi berkata : Kalau begitu maukah kamu menjabat tanganku sebagai tanda
persahabatan kita ?
I Tenripada nampak agak terkejut dan dengan terbata bata ia pun menjulurkan tangannya
yang kemudian disambut oleh tangan la Pasampoi. Namun tiba tiba I Tenripada merasa ada
sesuatu getaran dalam jiwanya, yang belum pernah dialami selama ini, sehingga ia agak lupa
menarik tangannya. Dan ketika ia sadar buru buru ia menarik tangannya.
Adapun La Pasampoi yang mendapat sambutan jabatan tangan I Tenripada, juga mengalami
getaran yang sama, apalagi I Tenripada terlambat menarik tangannya. Kemudian La
Pasampoi berkata : Sebenarnya kedatanganku hari ini adalah untuk memastikan kalau aku
ingin menjadikan kamu permaisuriku, bersediakah kamu.
I Tenripada yang mendengar itu bagai disambar petir sehingga ia hampir kehilangan
keseimbangan. Setelah perasaan I Tenripada kembali normal, maka iapun berkata : Mohon
maaf puang, semua yang menyangkut masa depanku, telah hamba serahkan pada bibi‟ku.
Apa kata bibi‟ku itulah jawabanku puang.
La Pasampoi mendengar itu, kemudian ia berkata : Baiklah, nanti segala sesuatunya saya
akan bicarakan dengan bibi‟mu. Dan tidak lama kemudia La Pasampoi minta permisi pulang.
44
EPISODE V
I TENRIPADA MULAI LULUH HATINYA
Adapun I Tenripada, sepeninggal La Pasampoi terjadi perubahan pada dirinya, yang selama
ini tidak pernah dirasakan. Sepertinya getaran asmara telah merasuki dirinya membuatnya
selalu terbayang wajah La Pasampoi dimatanya. Apalagi di saat-saat yang sepi saat ini.
Ketika langit bersih, dan bulan mengapung di udara, I Tenripada, mencoba mencari
ketenangan dengan bersemedi. Seperti biasa gadis itu duduk di sudut ruangan kurungan.
Dalam malam yang sepi, di taburan warna cahaya bulan yang kekuning-kuningan,
dipandangnya malam yang suram dengan hati yang suram. Daun-daun dan batang-batang
perdu yang tumbuh diluar tempatnya. Namun semuanya tak menyegarkan hatinya. Yang
tampil di hatinya, adalah kegelisahan dan kecemasan.
Tetapi I Tenripada, itu tiba-tiba mengangkat wajahnya. Bulan yang kuning itu seakan-akan
menjadi cerah seperti hatinya. Perlahan-lahan bibirnya tergerak. Tenripada, tersenyum
sendiri. Ia puas pada pertemuannya dengan La Pasampoi. Di dalam hatinya yang sepi itu,
tiba-tiba saja teringat kembali pada bibinya. Bukankah bibinya itu selama ini pengganti
ayah bundanya?” Dan bagaimana nantinya kalau La Pasampoi sudah bicara dengan bibinya.
Gadis itu pun kemudian berangan-angan oleh kesyahduan malam. Sebagai seorang gadis,
maka I Tenripada , pun merindukan kasih dan kebahagiaan di masa depan. Diangan-
angankannya suatu masa yang mesra dalam perjalanan hidupnya.
Namun sebagai seorang wanita budak yang tahu akan kedudukan dirinya, maka gairah yang
membakar dadanya itu pun kemudian ia berdesis.
“Tidak. Tidak,” desisnya. Mungkin seorang wanita lain dapat berbuat demikian. Tetapi
tidak bagi seorang wanita budak.
Tak ada jawaban. Dicobanya sekali lagi, namun sepi
I Tenripada , berjalan selangkah demi selangkah, menyusuri ruangan sempit di kurungan itu.
Angin yang silir, mengalir lembut dan bermain-main dengan rambutnya yang terurai di
punggungnya.
Dua hari kemudian La Pasampoi kembali lagi mendatangi tempat I Tenripada dikurung,
seperti biasanya La Pasampoi hanya duduk dan sesekali memandang kearah dimana tempat
I Tenripada dikurung
I Tenripada itu pun kemudian melihat pemuda itu duduk lagi di bangku Bambu. Sesaat I
Tenripada, menjadi bimbang. Tetapi gadis itu mencoba melangkah. Bahkan ditegurnya La
Pasampoi.
45
I Tenripada : Datang lagi ya puang?
La Pasampoi yang mendengar teguran I Tenripada membuat hatinya berdebar-debar.
Perasaan yang dirasakannya belum pernah terjadi padanya.
Sesaat kemudian Pasampoi mendekat. Hanya nafas Pasampoi yang terdengar berkejaran.
Sehingga ia tak dapat lagi menyapa gadis itu.
I Tenripada yang mula-mula berkata. Namun suaranya benar-benar telah mencerminkan
kedewasaannya, “maaf “Puang” sepertinya setiap berapa hari puang datang kemari, apakah
akan terus mempererat persahabatan yang membuat “Puang” berbuat demikian ?. katanya.
La Pasampoi mendengar pertanyaan itu, hanya tersipu sipu sambil berkata, bukankah sudah
aku katakan kalau aku ini, ingin menjadikanmu sebagai permaisuri, tapi aku belum sempat
bicara dengan bibi‟mu. Sehingga setiap hari sebenarnya aku ingin bertemu denganmu untuk
melepaskan rinduku padamu. Dan tiba-tiba “Pasampoi ” itu tersenyum sendiri. Meskipun
demikian, “Pasampoi” masih ingin meyakinkan I Tenripada. Karena itu ia bertanya, kepada I
Tenripada ” bagaimanakah pendapatmu tentang keinginananku yang aku ajukan padamu itu
? . Apakah sudah dapat kau menerimanya?”
Sekali lagi sebuah kata kata telah sedikit menggores hati Tenripada” Dan iapun menjawab,
“Mohon maaf puang, tidak sepantasnya hamba dapat menerimanya”. Walaupun aku harus
penuhi permintaan itu.
La Pasampoi selanjutnya berkata : Pandanglah dirimu dengan hati yang jujur Tenri, saya
kira tak ada keharusan dalam perasaanmu untuk menerimanya. Karena itu jangan hiraukan
pandangan orang lain tentang dirimu. Sebab yang ada sekarang adalah seorang gadis dan
pemuda sedang jatuh cinta, yang sedang ingin mewujudkan sebuah mimpi tentang masa
depan. Bermimpi tentang datangnya kebahagiaan yang tergantung pada kita berdua. Tidak
kepada orang lain dan tidak pula tergantung kepadaku.”
“I Tenripada” hanya tertunduk, namun ada senyum membayang di wajahnya. Dan tanpa ia
sadari kemudian I Tenripada berkata, “Maaf puang rasanya hamba sangat malu. Hamba
tidak menyangka bahwa hamba akan tertimpa bulan. Sebenarnya selama ini hamba hanya
gelisah melihat sikap puang yang selalu datang. akhir-akhir ini. Tetapi kini hamba sudah
dapat mengerti kedatangan puang, namun sampai saat ini sebenarnya hamba belum pantas
rasanya untuk menerima permintaan yang puang tawarkan itu, karena hamba harus tetap
melihat diri, dan tahu diri puang.
“La Pasampoi” pun hanya bisa tersenyum mendengar itu. Tetapi kemudian ia mengatupkan
giginya. Desahnya di dalam hati, “Kasihan benar nasib ini, karena aku tidak pernah sangka
akan berjumpa dengan seorang wanita budak. Yang membuat hatiku tertambat. Namun
demikian La Pasampoi ” tak melihat lagi rasa kurang bersahabat di dalam diri I Tenripada”
. Yang dilihatnya adalah sudah ada rasa persahabatan. Karena itu La Pasampoi yang telah
merasa puas hari itu, maka tidak lama kemudian iapun permisi pulang.
46
“I Tenripada ” sepeninggal La Pasampoi tidak merasakan apapun selain keinginannya
untuk segera menyampaikan kabar pertemuannya hari itu dengan La Pasampoi kepada
bibinya.
Dua hari kemudian datang lagi, La Pasampoi, dan terus mendekati jeruji tempat I Tenripada
dikurung.
I Tenripada yang melihat La Pasampoi datang, dengan perlahan lahan ia maju mendekat dan
berkata : Hamba bersyukur kalau puang telah datang lagi, karena ada yang hamba ingin
sampaikan.
La Pasampoi : Apa itu ya ?.
“ Puang” berkata “ I Tenripada”. Suara I Tenripada sepertinya lain dari suara yang pernah
didengar La Pasampoi selama ini, “ Puang ! sebenarnya hamba ini memang sedang
menunggumu. Hamba ini telah sadar kalau bukannya tidak dapat menerima cinta puang,
namun hamba sudah pikir masak masak, dimana cepat atau lambat pasti hubungan cinta
itu akan berakhir, mengingat kedudukan puang dengan hamba sangat jauh berbeda.
La Pasampoi berkata ; Bukankah aku sudah katakan bahwa, bukan saja aku mencintaimu,
tapi aku ingin menjadikan kamu permaisuriku.
I Tenripada yang mendengar itu tidak menjawab, kemudian ia diam, tapi hatinya selalu
merasakan sesuatu bila ia bertemu dengan La Pasampoi, sehingga ia sulit harus berbuat
bagaimana. Dan untuk sesaat Pasampoi pun berdiam diri. Namun tiba-tiba di dalam dada
gadis itu pun tumbuh sebuah persoalan. Persoalan yang belum lama terpendam di dalam
hatinya. Karena kemarin, gadis itu pun sebenarnya telah mengambil keputusan untuk
menerima cinta dari puang Pasampoi. Namun ia menjadi ragu-ragu. Apakah hal itu tidak
akan mencemari namanya. Tetapi ia tidak akan dapat membiarkan persoalan itu semakin
berlarut-larut. Dan selalu terngiang kembali kata-kata bibinya, „Jaga selalu kehormatanmu‟.
Gadis itu pun kemudian menjadi gelisah. Terdorong oleh keinginannya untuk
mengungkapkan perasaan yang menghimpit dadanya. Namun kemudian yang terloncat dari
bibirnya, “Puang”, siapa namamu.”
“Pasampoi ” “Kenapa?” Pasampoi. Bertanya.
I Tenripada menggeleng. “Tak tahu,” desisnya.
Kembali keduanya membisu.
I Tenripada ,” terdengar kemudian suara Pasampoi. lirih tertahan, berkata aku cinta padamu
Tenri.
“I Tenripada. tidak menjawab, tetapi hatinya berdesir.
47
Pasampoi tidak segera meneruskan kata-katanya.
Gelora yang melanda dada Pasampoi menjadi semakin dahsyat. Akhirnya meledak juga kata-
katanya, “ Tenri apakah kau telah mendengar sendiri, apa yang kukatakan tadi.
I Tenripada mengangguk. Dan terasa tangannya bergetar.
“Bagaimanakah menurut perasaanmu, Tenri ?” bertanya Pasampoi.
I Tenripada tidak segera dapat menjawab. Bahkan terasa keringat dinginnya mengalir dari
segenap lubang-lubang kulitnya. Sehingga gadis itu diam saja, Pasampoi. mendesaknya, “
Bagaimana perasaanmu ?”
I Tenripada menjadi gugup. Namun dicobanya juga untuk menenangkan detak jantungnya.
Bahkan kemudian Tenripada dapat juga menjawab dengan suara bergetar, ia berkata : Iya
puang.
La Pasampoi : Ingat Tenri ! Cinta itu adalah anugerah Dewata seuwae pada kita sebagai
dua jenis manusia untuk saling kasih mengasihi dalam satu ikatan batin . “Di kesunyian
seperti ini, cinta akan selalu datang mengusik kesepian dan mengutarakan isi kerinduan
kita, sampai kerinduan itu membawa hati kita selalu lebih dekat. Sehingga jangan kamu
heran kalau aku selalu datang untuk menemuimu.
I Tenripada : “Sebagian terbesar adalah tergantung padamu “Puang”bagaimana nantinya
“Puang” memperlakukan aku.
La Pasampoi : Yah aku tahu itu, tapi yakinlah aku bersumpah akan selalu memperlakukanmu
sebagai isteri, bukan sebagai selir apalagi sebagai budak.
I Tenripada yang berbinar binar mendengarkan penjelasan La Pasampoi, kemudian berkata :
Kalau memang begitu maksud . puang , hamba hanya bisa memohon maaf, karena bagaimana
hamba ini bisa membalas cintamu puang, sementara kita berada pada status yang jauh
berbeda. Karena itu sebagai wanita budak, hanya bisa sebatas pada mendengarkan saja
tanpa mampu memberikan kepasrahan dalam cintamu itu puang.
“Ya,” desisnya, “ Sampai saat ini saya masih bisa mengerti persaanmu dan kedudukanmu.
Tetapi gadis itu bergumam pula, “Tetapi tidak adakah gadis lain tempat “Puang”
tumpahkan perasaan ?”
Pasampoi. mendengar kata-kata itu. Ingin ia menjawab. Bahkan ingin ia berteriak, namun
tidak jadi, sambil menepuk dada, ia berkata “Hanya engkaulah satu satunya yang ada dalam
hatiku. “Jika cinta ini tidak dapat kita wujudkan dalam suatu ikatan pernikahan dalam
kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang lain. Karena
dunia ini rupanya tidak cukup besar untuk menampung cinta kita”
48
Sekali lagi I Tenripada memandang wajah Pasampoi. Dan tiba-tiba matanya yang redup
menjadi sedikit menyala.
Kemudian Tenripada berkata “Benarkah yang “Puang”katakan itu ?
Pasampoi mengangguk, tetapi dadanya bergetar.
I Tenripada menarik nafas dalam sekali, Katanya dalam hati perlahan-lahan sekali, “Aku
tidak tahu, apakah puang dapat merasakan perbedaan perasaan antara seorang bangsawan
dan seorang wanita budak. Karena yang aku rasakan adalah alangkah rumitnya perjalanan
hidup ini nantinya.”
Pasampoi menjadi semakin bingung. Ketika I Tenripada kemudian terisak, Dengan rasa
gelisahnya Pasampoi berdiri dan berjalan hilir mudik. Ingin ia menghibur gadis itu, namun ia
tidak tahu bagaimana melakukannya. Sebab gadis itu masih terasa lugu baginya.
Karena itu kembali Pasampoi mematung. Tetapi dengan penuh harapan ia menanti. Namun
tak sepatah kata pun yang didengarnya. Bahkan Pasampoi menjadi sangat terkejut ketika tiba-
tiba saja I Tenripada mundur , dan dengan tergesa-gesa ia berjalan ketempat
pembaringannya..
“Pasampoi” masih berdiri tegak di tempatnya Hanya satu kali terdengar ia mendesah,
“Tenri.” “Biarlah aku tetap melihatmu dalam ruang dibalik jeruji dengan membiarkan
angin surga tetap menari di antara kita. Sayangku berilah kesempatan bagiku untuk merajut
ikatan kasih. Agar aku dapat menjadi laut yang bergerak diantara pantai jiwamu”
Ketika I Tenripada hanya diam dan menutup mukanya. Karena itu dengan gelisah dan
cemas La Pasampoi hanya dapat memandang gadis itu .
Sesaat kemudian, setelah gelora di dadanya mereda, Pasampoi pun kembali keistananya.
Sepeninggal “Pasampoi“ I Tenripada berkata dalam hatinya : “ Kenapa aku tiba tiba
mencintaimu puang. Dan akankah puang harus menunggu? Sampai aku bebas” pikirnya. I
Tenripada menggeleng. “Mulutnya pun terkunci.” desahnya.
I Tenripada kemudian menjadi gelisah sendiri. Ia menjadi iri hati, kepada gadis gadis yang
terbuka hatinya. Dalam kesempitan yang demikian pasti tidak perlu lagi berteka-teki. Tetapi I
Tenripada bukanlah gadis yang demikian. Sejak kedua orang tuanya meninggal, maka ia
lebih banyak menyimpan perasaan daripada menyatakannya. Kepada siapa pun juga.
Demikian pula dalam persoalan ini.
Dibalik jeruji itu I Tenripada melihat bulan di langit mengapung dengan tenangnya. I
Tenripada mengerutkan keningnya ketika dilihatnya sebuah lingkaran putih di sekeliling
bulan itu.
49
“Bulan berkalang,” gumamnya. Dan dilihatnya sebuah bintang yang menyala dengan
terangnya pada lingkaran itu. Tidak di dalam, tetapi tidak pula di luar. Namun hati I
Tenripada sama sekali tidak tertarik pada bulan, tapi ia lebih tertarik pada lingkaran dan
bintang yang menyala pada lingkaran itu. Karena itu ia berjalan terus sambil menunduk,
dalam ruangan kurungan itu
Di dalam biliknya, I Tenripada menjatuhkan dirinya di pembaringannya. Ditelungkupkannya
wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun
tangisnya meloncat juga. Ketika ia menahannya, maka terdengar isaknya mulai mereda.
Keesokan harinya bibinya Indo Wellang datang lagi menjenguknya sambil membawakan
makanan dan kue. Dilihatnya wajah kemenakannya itu agak kusut, maka Indo Wellang
bertanya kepada kemenakannya : “Kenapa kau bersedih, “Tenripada ” terdengar suara
perempuan tua itu sambil duduk bersimpuh di didalam kurungan..
Tapi I Tenripada menjadi semakin berusaha tersenyum, lalu ia berkata “Tidak apa-apa,
Bibi.”
“Jangan berbohong,” sahut bibinya itu, yang seakan-akan turut serta menghayati kerisauan
hati gadis itu, “aku mengenalmu sejak kau kanak-kanak. Aku mengenal tabiatmu seperti aku
melihat matahari. Karena itu, jangan bersembunyi di balik daun sehelai. Anakku, aku dapat
menduga sebagian besar dari perilakumu.”
Terasa sesuatu bergelora di dalam dada I Tenripada. Kini ia tidak dapat berbohong lagi. juga
kepada dirinya sendiri. Sejak lama terasa sesuatu di dalam sudut hatinya. Tetapi ia tidak
berani melihatnya. Ia merasa bahwa tak sepantasnya ia berangan-angan tentang seorang
pemuda bangsawan yang menenggelamkan hidupnya dalam pengabdiannya terhadap
sumber hidupnya. Ia merasa, bahwa dirinya terlalu rendah untuk itu. I Tenripada merasa,
bahwa ia tidak lebih dari seorang budak wanita yang lebih mengenal dirinya sendiri. Karena
itu ia telah bertekad untuk menekan segenap perasaan yang timbul di dalam dadanya. Namun
demikian, setiap kali selalu timbul keinginannya agar pemuda itu datang ke tempat
kurungannya ini . Karena itu, tiba-tiba timbul pula pertanyaan di hatinya, “Apakah ia akan
datang setiap hari mengunjungiku seperti hari hari yang lalu. I Tenripada itu benar-benar
sadar kalau hatinya mulai cair pada pemuda itu, dan ingin segera bertemu dengan pemuda
itu.
I Tenripada menjadi malu sendiri. Bibinya pun melihat kerisauan hati I Tenripada dan
bertanya kepadanya tentang kerisauan hatinya . Namun ia tidak dapat menjawabnya.
I Tenripada kemudian menundukkan wajahnya. Di dalam dadanya bergolak berbagai
perasaan.
“Adakah engkau mau berkata sebenarnya?” bertanya bibinya
50