We Tenrisui berkata : Sebagaimana kau ketahui kedatangan saya yang lalu, namun
sekembalinya aku, baru aku sadari kalau aku sangat mencintai puang Patiroi, sebenarnya
begitupula sebaliknya. Setelah saya berpikir keras bahwasanya aku sangat ragu kalau aku
dpata mencitai puang sepenuh hatiku, begitupula puang Pasampoi, saya kira juga tidak bisa
mencintaiku sepenuhnya, sehingga sekarang aku berpikir untuk melarikan diri. Karena itu
saya benar benar ingin mengajakmu bersama bibi‟mu untuk melarikan diri dan pergi jauh
ketempat dimana tidak ada orang yang mengetahui kita.
I Tenripada mendengar itu langsung terpana, setelah itu iapun bertanya ; mengapa puang
hamba ingin mengajak kami?.
We Tenrisui berkata : Terus terang mengapa kami meminta untuk bersama sama melarikan
diri, sebab kita tidak tahu, kalau nantinya pasukan kerajaan yang mencari kami dan
menemukan kami, maka sudah dapat dipastika kekasihku la Patiroi pasti dihukum mati.
I Tenripada mendengar itu langsung tertunduk dan merenung apa yang harus ia jawab, kapala
yang tadinya tertunduk kemudian ia tengadahkan dan memandang wajah We Tenrsui dan
berkata : Mohn maaf puang kalau hamba katakan segala sesuatunya yang menyangkut diri
hamba, semuanya hamba sudah serahkan pada bibi hamba.
We Tenrisui berkata : Tolonglah selamatkan cinta kami, karena itu tolong sampaikan kepada
bibi‟mu aga ia mau menolong kami.
I Tenripada berkata ; Nanti hamba sampaikan puang.
We Tenrisui berkata ; Tapi tolong hal ini dirahasiakn betul betul.
I Tenripada : Iyye puang.
Setelah itu kemudian We Tenrisui pamit pulang kerumahnya.
Tidak lama kemudian datanglah Indo Wellang, setelah Indo Wellang duduk kemudian I
Tenripada berkata : Ada berita bi.?
Indo Wellang menjawab : Cuma nampaknya selama ini puan Pasampoi selalu mengurung
diri.
I Tenripada berkata : Ada yang saya ingin sampaikan Bi‟
Apa itu nak kata Indo Wellang.
Tadi telah datang puang We Tenrisui putrid petta Pabbicara.
101
Apa maksud kedatangannya .?
I Tenripada berkata, ia datang minta tolong, agar kita dapat melarikan diri bersamanya. Demi
menyelamatkan cinta mereka.
Indo Wellang berkata : Kenapa ia minta tolong untuk bersama melarikan diri. Sebab perlu
kamu ketahui nak, kalau kita meninggalkan kerajaan ini, itu tidak berarti kita melarikan diri,
kecuali kalau sekarang kita pergi itu berarti kita melarikan karena kamu masih dalam status
tahanan. Krena itu cuma mereka yang melarikan diri.
I Tenripada berkata : Katanya takut nantinya kalau mereka diketemukan, maka sudah dapat
dipastikan puang Patiroi yang merupakan kekasih puang We Tenrisui akan dihuku mati.
Karena itu dia sebenarnya minta dilindungi, ketika kita sudah berada didaerah yang bukan
kekuasaan kerajaan Majauleng.
Indo Wellang berkata : Kasihan juga mereka jadi korban kehendak puan Paddanreng. Kalau
kamu sih bukan korban, sebab sejak dari awal kita sudah menyadari kalau hubunganmu
dengan puang Pasampoi adalah sesuatu yang tidak mungkin.
I Tenripada berkata : Maaf Bi‟ bagaimana tanggapan bibi atas permintaan mereka, sebab
sebenarnya juga saya kalau sudah bebas, saya ingin juga meninggalkan kerajaan ini, dan
pergi dimana tidak ada yang mengenal kita dan disana kita mulai hidup baru.
Indo Wellang berkata : Kalau itu maumu nak‟ setelah kamu bebas, bibimu ini menuerut saja,
sebab hidupku ini hanya ingin melihat kamu bahagia.
I Tenripada berkata : Cuma bagaimana Bi‟ tentang permintaan puang We Tenrisui.
Indo Wellang : Terserah kamu nak‟ bibi hanya menurut saja. Kemudian I Tenripada hanya
diam saja. Dan tidak lama kemudian Indo Wellang meninggalkan tempat I Tenripada.
Tiga hari kemudian datang lagi We Tenrisui menemui I Tenripada, dan tidak lama kemudian
ia langsung bertanya pada I Tenripada dengan berkata : Bagaimana Tenri?, apa sudah bicara
dengan bibi‟mu?
I Tenripada menjawab : Sudah puang.
We Tenrisui berkata : Apa tanggapannya?
I Tenripada menjawab bahwa, bibi hamba, mengembalikan masalah permintaan padaku, dia
hanya menurut saja.
We Tenrisui berkata : Lalu bagaimana tanggapanmu?
102
I Tenripada berkata ; Sementara hamba pikirkan bagaimana baiknya, dan tentunya bila
hamba memenuhi permintaan puang, nanti setelah hamba bebas.
We Tenrisui berkata : Tolonglah Tenri, nanti segala biaya hidup selama kita diperantauan
saya semua tanggung, sampai puang Patiroi mendapatkan pekerjaan.
Maaf puang bukan itu yang hamba maksud, yang hamba pikirkan bagaimana akibatnya
dibelakang bila kita melarikan diri, sebab ini terkait dengan puang Pasampoi dan masalah
kerajaan.
We Tenrisui berkata : Tidak usah pikirkan bukankah kalau kita sudah pergi, kita tidak lagi
tahu apa kejadian dibelakang. Karena itu tolonglah.
I Tenripada berkata : Begini puang nanti tiga hari sebelum bebas baru kita susun rencana itu
puang.
We Tenrisui berkata, baiklah kalau begitu. Karena itu biarlah saya permisi pulang.
Adapun La Pasampoi yang mendengar kalau We Tenrisui mendatangi lagi I Tenripada,
cemburunya kembali memuncak, sehingga ia memutuskan untuk mendatangi I Tenripada
malam harinya.
Selesai Makan malam, La Pasampoi pun bergegas pergi untuk menemui I Tenripada di
tempatanya. Sesampainya disana dilihatnya I Tenripada sedang duduk di ruangannya,
sehingga ia langsung saja mendatangi I Tenripada dan langsung mengurnya : Tenri…!
Bisakah kita bicara sekarang ?
I Tenripada mendengar suara La Pasampoi, kemudian ia berdiri dan menghampiri La
Pasampoi dengan berkata : Ada apa puang ?.
La Pasampoi berkata : Saya dengar kalau We Tenrisui selalu kemari, dan saya dengar pula
kalau kekasihnya La Patiroi pernah kemari, untuk itu aku mau Tanya apa keperluan mereka.?
I Tenripada menjawab : Mohon maaf puang, kalau hamba katakan bahwa, setiap orang bebas
datang kemari, tergantung keperluannya apa puang.
La Pasampoi berkata : Karena itu saya Tanya dan ingin tahu apa keperluan We Tenrisui dan
La Patiroi datang kemari.?
I Tenripada berkata ; Haruskah hamba menjawabnya puang.?
La Pasampoi berkata : Kalau bisa sebab itu yang saya harapkan.
103
I Tenripada berkata : Sesungguhnya kedatangan puang We Tenrisui kemari, ia ingin
menjodohkan hamba dengan kekasih puang Patiroi, maaf paung kalau hamba masih
mengatakan kekasihnya sebab puang We Tenrisui belum terikat sebagai isteri puang.
La Pasmpoi mendengar itu langsung mukanya merah karena menahan marah, dan
cemburunya. Dan kemudian berkata : Adakah kamu menerimanya.?
I Tenripada : Mohon maaf puang, semurah itukah pandangan puang terhadap diriku.?
La Pasampoi berkata : Maaf, bukan begitu maksudku, sebab hal ini telah menimbulkan rasa
cemburu yang sangat. Sebab kalau bukan karena rasa cemburuku, untuk apa aku datang
hanya untuk menanyakan hal itu. Ketahuiliah Tenri, walaupun aku telah memutuskan cintaku
padamu, sebagai sebuah kepastian untukmu, namun cintaku padamu sampai saat belum
berubah.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, janganlah karena rasa cemburu itu membuat hati
puang terbakar. Apalagi sangatlah berbahaya bila laki laki memiliki rasa cemburu yang
berlebihan, karena adalah siksaan bagi wanita, lain halnya kalau wanita yang cemburu itu
memang pada tempatnya namun demiki juga tidak baik bila berlebihan membuat juga laki
laki tersiksa. Bila puang telah meluapkan rasa cemburunya dalam hal ini juga tidak mendasar,
sebab puang hanya mendengar. Sementara itu tidak lagi selayaknya puang cemburu, sebab
hamba ini bukan lagi apa apa bagi puang.
La Pasampoi mendengar merasa janntungnya ditusuk oleh I Tenripada, namun ia belum mau
mengerti, karena itu ia berkata : Saya hanya minta kejujuranmu untuk menjawab
pertanyaanku, sebab aku tidak dapat melihat dan belum mau menerima jika ada laki laki yang
akan bersanding denganmu.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang janganlah puang membelenggu aku dengan cinta
puang, walaupun aku ini seorang wanita budak. Bukankah puang yang memulainya dan
puang juga yang meng-akhirinya. Karena itu kembali hamba bertanya haruskah hamba
jawab pertanyaan puang, kalau hamba harus jawab, mohon puang jawab kalau hamba terima
cintanya La Patiroi, apa akibatnya, dan bila tidak apapula akubatnya puang?
La Pasampoi mendengar itu, langsung duduk tersungkur, dan berkata : Sekarang saya tidak
mau lagi kau jawab, karena apapun jawabanmu, aku sudah tidak peduli lagi, karena saya
sudah nekad untuk membawamu pergi bila kamu sudah bebas nantinya, makanya bersiap
siaplah untuk kita pergi jauh, sebab rasanya aku tidak bisa hidup tanpamu.
I Tenripada yang melihat La Pasampoi jatuh duduk tersungkur, matanya mulai mengeluarkan
air mata, kemudian berkata : Nantilah menjelang kebebasanku puang kita bicarakan kembali,
karena saat ini juga hamba tidak tahan melihatmu begitu menggebu gebu.
Tidak lama kemudian La Pasampoi berdiri kembali dan langsung berkata : Baiklah kalau
begitu saya pulang dulu.
104
Sepeninggal La Pasampoi kemudian I Tenripada berkata dalam hatinya, nampaknya bila cinta
sudah mendalam hanya karena mendengar dapat membuat seseorang rasa cemburunya bisa
membumbung dan rasa cemburu begitulah yang saya lihat pada diri puang Pasampoi.
La Pasampoi yang berjalan pulang, dalam hatinya sudah bertekad untuk membawa lari I
Tenripada, bila ia sudah bebas nantinya. Walau cintaku yang telah kuputus dengannya, akan
kupintal kembali benang yang putus itu, karena aku telah merasakan betapa berat rasanya
perpisahan itu denganmu.
Tiga hari kemudian datang kembali We Tenrisui ketempat I Tenripada. Dan I Tenripada yang
melihat kedatangan We Tenrisui, dalam hatinya berkata rupanya puang We Tenrisui sudah
bulat hatinya untuk melarikan diri. Sebab saya yakin kedatangannya ini akan kembali
menanyakan rencana pelarian itu. Setelah We Tenrisui masuk dan duduk di pembaringan I
Tenripada, kemudian ia langsung berkata : Tenri, bagaimana rencana kita itu.?
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, hamba mau Tanya apakah puang sudah bertekad
untuk melarikan diri?.
We Tenrisui menjawab : Kalau saya masih ragu ragu untuk apa aku datang kemari.
I Tenripada berkata : Baik puang, setelah kupertimbangkan baik baik, maka hamba akan
menuruti permintaan puang.
We Tenrisui yang mendengar itu langsung memeluk I Tenripada seraya menangis. Dan
setelah We Tenrisui puas memeluk I Tenripada, kemudian ia melepaskan pelukannya dan
berkata : Kalau begitu tinggal saya mempersiapkan segala sesuatunya. Karena itu kapan
rencana kita melarikan diri, kalau bisa jangan beberpa hari saja setelah kamu bebas.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, rencana hamba tengah malam menjelang hari
kebebasanku. Karena kalau hamba sudah bebas, susah merencanakan lari bersama, sebab
pasti puang Pasampoi akan selalu mengawasiku.
We Tenrisui berkata : Kenapa ia harus selalu mengawasimu, bukankah ia telah memutuskan
cintanya padamu.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, sebenarnya tiga hari yang lalu puang Pasampoi
mendatangiku, dan mengajak hamba lari, namun hamba tidak mengiyakan dan juga tidak
menolaknya. Tapi dalam hatiku berkata “mohon maaf puang, aku terpaksa akan lari tanpa
puang. Walaupun hatiku sangat sedih melihat cintanya yang begitu mendalam.
We Tenrisui berkata : Baiklah kalau begitu, tengah malam menjelang kebebasanmu aku
tunggu kamu dibalik bukit Cepo. Dan nanti saya siapkan dua kuda ekor, satu untuk kamu dan
satu untuk bibi‟mu.
105
I Tenripada berkata : Iya puang.
Tidak lama sesudah itu kemudian We Tenrisui pulang kerumahnya.
106
EPISODE XI
I TENRIPADA DAN WE TENRISUI MELARIKAN DIRI.
Setelah tinggal beberapa hari lagi kebebasan I Tenripada, nampak We Tenrisui, sudah mulai
melakukan persiapan pelariannya, secara hati hati sekali, agar tidak ada satupun anggota
rumah Pabbicara yang mencurigainya. Bahkan kepada pelayannya sekalipun. Namun kali ini
terpaksa We Tenrisui untuk terakhir kalinya ia menyuruh pelayannya, agar nanti sore harinya,
menunggunya ditempat biasa bertemu. Adapun pelayan yang disuruhnya juga tidak merasa
curiga, sebab ia menganggap hal itu wajar sebagai pelampiasan hati mereka dalam menanti
saat saat perpisahan.
Sore harinya seperti yang lalu lalu, nampaklah We Tenrisui berjalan menuju tempat ia sering
bertemu dengan La Patiroi di pinggir sungai. Sementara La Patiroi pun sudah lebih dahulu
menantinya.
Setelah keduanya bertemu, kemudian We Tenrisui berkata : Sebagaimana kesepakatan kita
untuk melarikan diri, maka mulai besok sore kita harus selalu ketemu untuk mengambil baju
bajuku dan sedikit barang barang yang diperlukan dalam perjalanan.
La Patiroi berkata : Nantinya barang barang itu saya bawa kemana?
We Tenrisui berkata : Disitu dibalik bukit ditempat nantinya kita ketemu dengan I Tenripada.
Kemudian lanjut We Tenrisui berkata : Adapun masalah Kuda, agar disiapkan 4 ekor, dua
untuk kita dan dua untuk I Tenripada dengan bibi‟nya.
Dalam pada itu diistana nampak petta Paddanreng, sedang berpikir, namun tiba tiba ia
tersentak dan memanggil pelayan, dan setelah pelayan datang maka disuruhnya melihat
apakah La Pasampoi ada di dalam istana.
Pelayan setelah itu, iapun pergi mencari La Pasampoi dan ternyata La Pasampoi tidak ada
dalam istana, kemudian pelayan itu kembali melapor kepada Paddanreng : Puang hamba
sudah cari tapi, puang Pasampoi tidak ada dalam istana.
Paddanreng : Kalau begitu panggilkan Indo Wellang.
Sepeninggal pelayan ibu permaisuri datang mendekat dan berkata : Pasti La Pasampoi lagi ke
tempat gadis itu dikurung.
Petta Paddanreng berkata : Biarlah, yang penting nanti malam agar pengawal mengawasi
gerak gerik La Pasampoi, jangan sampai nekat lari bersama wanita budak itu. Setelah wanita
budak itu bebas.
107
Tidak lama kemudian datanglah Indo Wellang, dan langsung sujud sembah, didepan
Paddanreng dan permaisuri
Paddanreng : Apakah kamu sudah menduga, mengapa saya panggil.
Indo Wellang : Mohon maaf puang, kalau hamba tidak salah barangkali menyangkut masalah
anak hamba.
Paddanreng : Betul, sebagaimana engkau ketahui, bahwa, tinggal dua hari atau lusa anakmu
akan bebas. Karena itu, sehari sebelum hari kebebasannya, saya minta kamu sudah harus
meninggalkan kerajaan ini. Terserah engkau mau pergi kemana, yang penting bagaimana
caranya La Pasampoi tidak mengetahuinya dan tidak dapat menemukanmu lagi.
Indo Wellang mendengar keputusan itu hanya bisa menitikkan air mata sambil berkata,:
Segala yang diperintahkan oleh puang, hamba berdua akan laksanakan.
Paddanreng : Bagus, untuk itu terimalah emas ini untuk bekal hidupmu di tempat yang baru.
Kemudian Indo Wellang menerima pemberian itu, karena ia takut nanti Paddanreng akan
marah sekali bila ia menolaknya.
Lanjut Paddanreng : Nanti saya sampaikan pada penjaga agar tengah malam kamu sudah
meninggalkan tempat itu.
Setelah itu Indo Wellangpun memohon diri untuk kembali di tempatnya.
Keesokan harinya Indo Wellang mendatangi tempat I Tenripada. Setelah ia masuk kemudian
ia berkata : Nak..! kemarin puang Paddanreng memanggilku, dan menyuruh kita pergi
meninggalkan kerajaan ini pada tengah malam menjelang kebebasanmu
I Tenripada berkata : Syukurlah Bi‟ seperti yang saya rencanakan bersama puang We
Tenrisui.
Indo Wellang berkata : Berarti kamu sudah menyetujui permintaan mereka untuk lari
bersama.?
I Tenripada menjawab : Mohon maaf Bi‟ bukankah bibi telah menyerahkan semuanya
padaku, maka saya teleh memutuskan demikian.
Indo Wellang berkata : kalau sudah demikian keputusanmu, bibi hanya menurutimu.
Adapun sore harinya, nampaklah We Tanrisui berjalan menuju tempat I Tenripada. Setelah
sudah masuk dalam ruangan I Tenripada kemudian dengan berbisik ia berkata : Bagaimana
Tenri ?. Karena segala sesuatunya saya sudah persiapkan segala sesuatunya untuk melarikan
nanti tengah malam.
108
I Teripada menjawab : Hamba pun sudah siap, dan kebetulan tadi bibi hamba dating dan
mengatakan agar kami pergi meninggalkan kerajaan nanti malam, berarti dalam hal ini
Dewata seuwae (Tuhan yang esa) telah turut merestui rencana kita puang.
We Tenrisui langsung terharu dan terisak memeluk I Tenripada, sambil berkata : Tenri…!
Ketahuilah mulai saat ini aku nyatakan untuk mengangkatmu sebagai saudara. Karena itu
janganlah lagi kamu berkata hamba pada diriku maupun terhadap puang Patiroi.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, apakah hal ini lahir dari perasaan yang tulus
puang?
We Tenrisui berkata : Apakah engkau meragukannya wahai Tenri?
I Tenripada menjawab : Tidak lagi puang.
Dan tidak lama kemudian We Tenrisui permisi pulang kerumahnya.
Pada tengah malam harinya sebelum I Tenripada dibebaskan, datanglah Indo Wellang untuk
menjemput I Tenripada keluar dari kurungan. Kemudian penjaga yang sudah tahu maksud
kedatangan Indo Wellang langsung membuka pintu kurungan. Setelah masuk dilihatnya I
Tenripada sudah siap.
I Tenripada : Bagaimana bi‟ apakah sudah mau pergi ?
Indo Wellang : Iya nak sesuai perintah puang Paddanreng agar kita segera meninggalkan
tempat ini, dan kita akan pergi jauh.
I Ternripada : Kalau demikian aku sudah siap‟
IndoWellang : Jangan banyak tanya lagi, mari kita segera berangkat
I Tenripada mendengar itu, langsung ia berkemas kemas untuk meninggalkan tempat itu.
Sementara diluar sudah ada kuda yang akan dipakai meninggalkan tempat itu, yang sudah
dibeli Indo Wellang dari sebagian emas pemberian Paddanreng.
Adapun I Tenripada yang akan meninggalkan tempat itu, tidak terasa ia menitikkan air mata,
kebahagiaan atas kebebasannya, namun disisi lain iapun mengenang kembali berbagai
peristiwa yang dialami selama ini, utamanya saat saat bersama La Pasampoi.
Indo Wellang yang melihat itu, juga ikut terharu, mengingat hubungan anaknya dengan La
Pasampoi, namun inilah keputusan yang terbaik bagi II Tenripada yang diberikan puang
Paddanreng
109
Tidak lama kemudian nampaklah Indo Wellang bersama I Tenripada meninggalkan tempat
kurunngan itu, dan menuju ke balik bukit tempat dimana yang We Tenrisui dan La Patiroi
menunggunya.
Dalam perjalanan itu, masih nampak rembulan yang menyinari jalan mereka. Sementara itu I
Tenripada terus diliputi kenangan bersama La Pasampoi.
Akhirnya I Tenripada mendesis : Oh puang Pasampoi, aku baru tahu sekarang, dan terasa
kalau sebenarnya aku sangat mencitaimu, namun sepertinya sudah terlambat. Sejak pertama
aku mulai merasa ada cinta, aku kira inilah takdirku. Aku selalu bermimpi kita akan selalu
bersama dan tidak akan ada yang dapat memisahkan kita”. Namun rupanya takdir berkata
lain.
Selang beberapa saat, tibalah I Tenripada bersama bibinya ditempat dimana sudah Nampak
We Tenrisui dan La Patiroi menunggunya.
Dan tidak lama kemudian nampaklah mereka meninggalkan tanah kerajaan majauleng.
Pada keesokan paginya, gegerlah istana petta Pabbicara, kalau We Tenrisui tidak ada
dibiliknya, dan setelah ibunya memerikasa bilik We Tenrisui, didapatinya kalau pakaian We
Tenrisui juga sudah tidak ada, sehingga karena sedihnya bercampur malu, akhirnya ibu We
Tenrisui jatuh pingsang.
Setelah ibu We Tenrisui mulai siuman, maka oleh petta Pabbicara memanggil pelayan yang
biasa melayani We Tenrisui dan bertanya : Apakah kamu tidak tahu kira kira siapa laki laki
idaman puangmu We Tenrisui selama ini.
Pelayan : Kalau tidak salah puang laki laki idaman puang We Tenrisui adalah puangku La
Patiroi, putra petta Pilla.
Petta Pabbicara yang mendengar itu, Kemudian petta Pabbicara menyuruh orangnya untuk
pergi menanyakan La Patiroi dirumahnya.
Sesampainya suruhan itu di rumah petta Pilla, kemudian ia bertanya kepada petta Pilla
dengan berkata : Mohon maaf puang, hamba ini diutus oleh petta Pabbicara untuk
menanyakan puangku Patiroi apa ada ditempat atau tidak.
Petta Pilla berkata : Kenapa petta Pabbicara menanyakan puteraku La Patiroi ?
Suruhan menjawab : Mohon maaf puang, kebetulan puangku We Tenrisui menghilang, dan
diperkirakan lari bersama dengan puangku La Patiroi.
Petta Pilla berkata : Adakah memang La Patiroi dengan We Tenrisui sedang memadu kasih ?
110
Suruhan menjawab : Mohon maaf paungku, menurut keterangan pelayan yang ditanya oleh
puangku petta Pabbicara, bahwa puangku Patiroi benar memadu kasih dengan puangku We
Tenrisui.
Kemudian petta Pilla menyuruh pelayannya untuk melihat La Patiroi ada tidak dibiliknya.
Dan tidak lama kemudian pelayan itu melapor kalau La Patiroi tidak ada dibilik.
Kemudian patta Pilla kemudian berkata kepada suruhan : Pulanglah katakana bahwa La
Patiroi tidak ada dirumah, dan sampaikan juga bahwa segera akan saya perintahkan orang
orangku untuk mencari La Patiroi.
Kemudian suruhan itu pun pulang dan melaporkan kepada petta Pabbicara kalau La Patiroi
tidak ada dirumahnya.
Petta Pabbicara mendengar itu seperti telinganya disambar petir, maka diperintahkanlah
seluruh orang orangnya pergi mencari La Patiroi
Ibu La Patiroi setelah agak siuman kembali menanyakan keberadaan We Tenrisui dan
langsung meraung meraung dengan berkata ; Mau ditaruh dimana muka ini dari pandangan
petta Paddanreng sebagao orang tua yang tidak bertanggung jawab dalam mengawasi We
Tenrisui.
Tidak lama kemudian suruhan itu dating dan mengatakan kalau La Patiroi tidak dirumahnya.
Dan melaporkannya kalau petta Pilla sekarang telah mengerahkan orang orangnya untuk
mencari La Patiroi
Adapun petta Pabbicara hanya duduk termenung, sambil sesekali menggeram, mengingat
peristiwa yang memalukan ini. Dan dalam hatinya berkata : Begitu pintarnya We Tenrisui
melakukan ini, sehingga mampu mengelabui kita semua.
Adapun La Pasampoi yang datang pagi itu untuk menjemput I Tenripada keluar dari
kurungan, betapa kecewanya, ketika ia melihat I Tenripada sudah tidak ada di tempatnya.
Kemudian ia menemui penjaga dan berkata ; Dimana wanita itu ?.
Penjaga : Tengah malam tadi, telah pergi meninggalkan tempat ini bersama bibinya naik
kuda. Hal ini atas perintah puang Paddanreng.
La Pasampoi mendengar itu tiba tiba tubuh La Pasampoi hampir kehilangan keseimbangan,
namun ditahannya dengan jalan tertatih tatih ia kembali ke istananya.
Karena masyarakat mulai geger, sehingga berita menghilangnya We Tenrisui sampai juga
ditelinga petta Paddanreng. Kemudian iapun memerikasa La Pasampoi dibiliknya dan
ternyata La Pasampoi juga tidak ada dibiliknya. Sehingga petta Paddanreng menyuruh
pengawal untuk mencari juga keberadaan La Pasampoi.
111
Namun tidak lama kemudian datanglah La Pasampoi, dengan berjalan tertatih tatih menuju
biliknya.
Patta Pandanreng yang melihat itu, diurungkannya niatnya untuk memanggil La Pasampoi,
karena ia sadar kalau La Pasampoi saat ini mengalami pukulan bathin akibat ditinggal oleh
wanita budak itu.
Sesampainya “La Pasampoi” dibiliknya ia langsung membantingkan badannya ditempat
tidur, karena ia merasa seakan-akan tidak ada lagi tempat untuk menumpahkan
perasaannya.
La Pasampoi kemudian tanpa ia rasa mulai bersenandung dalam hatinya : Selamat jalan
Tenripada kekasihku,
Pikiranku hanya dapat selalu mengembara untuk mencarimu dan senantiasa mencari jalan
yang lebih terang, walaupun aku tak pernah lagi menjengukmu tiap hari di tempatmu itu
dulu. sama seperti kemarin ketika engkau masih menghuni disana. Bahkan selama bumi
masih berputar, berkelana jualah hati ini untuk mencarimu.
Tiada lama lagi juga aku tidak disini kekasihku. Pabila beritamu tiada lagi terdengar oleh
telinga. Ketika itupula ingatanku akan dikau tenggelam dan lenyap dalam lubuk kenangan.
Dan pada saatnya itulah aku akan pergi jauh, Ya, aku akan pergi nanti, bersama gelombang
pasang samudera, yang akan disertai oleh angin,. Kepergianku ini untuk mencarimu dan
mudah mudahan aku dapat menemukanmu, sehingga aku tidak kesasar ke alam kosong. Dan
pabila hari ini belum merupakan pemenuhan wujud cintaku, untuk membawamu ke mahligai
rumah tangga, sebagai perwujudan kasihku yang sempurna, biarlah hari ini menjadi saksi
antara kau dan aku, dimana sampai suatu hari lain kita bersua. Di kesunyian malam nanti
aku akan mulai berjalan, menyusuri lorong-lorong untuk mencarimu, sedangkan rohku akan
memasuki rumah-rumah hingga aku menemukan rumahmu. Manakala detak-detak
jantungmu masih berdegup, kurasakan pula getarnya di hatiku, ang serasa nafasmu
menghembus di permukaan wajahku.
Yah, kupahami betul dalam-dalam betapa kasihmu padaku wahai Tenri. Dan mudah
mudahan juga kau pahami betapa kesusahan dalam tidurku, karena selalu mengenangmu
sehingga mimpiku pun ikut tergores..
Karena itu La Pasampoi menggeram dan berkata dalam hati bahwa “Besok malam aku
akan tinggalkan tempat ini untuk pergi mencari I Tenripada.
Dan ternyata besok malamnya telah memenuhi janji dihatinya, karena nampak La Pasampoi
telah pergi secara diam diam meninggalkan istana dan kedua orang tuanya.
Sepeninggalku yang perlu mereka tahu semuanya yang ada di kerajaan Majauleng ini,
bahwa cerita tentang budak wanita yang bernama I Tenripada telah tamat. Selebihnya aku
112
akan mohon diri kepadamu bahwa aku akan segera mencari I Tenripada dan mengajaknya
pergi ke tempat dimana tidak ada perbedaan kedudukan seseorang.
113
114