I Tenripada menarik nafas. Terasa dadanya menjadi sesak. Namun ia menjawab, “Mohon
maaf bibi, sebenarnya saya baru menyadari kalau perasaanku mulai jatuh hati pada puang
Pasampoi.
Bibinya terdiam sejenak. Dalam hatinya berkata rupanya I Tenripada kini mulai melihat
dan memikirkan masa depannya.
Bibinya berkata kepada I Tenripada :” Apakah betul puang Pasampoi yang telah menarik
hatimu ?.
Dan tiba-tiba I Tenripada itu tersenyum sendiri. Meskipun demikian. Karena itu ia berkata
“Bibi..! bagaimanakah pendapatmu karena puang Pasampoi adalah seorang putera raja?.
Apakah sudah sepantasnya aku menerimanya?” Karena bagaimanapun juga “kusadari semua
apa yang akan terjadi, bahwa hambatan untuk berdekatan dan memadu kasih dengannya,
muncul dari ketakutan dalam diriku” Karena bagaimanapun juga aku ini hanya seorang
budak wanita
Sekali lagi Bibinya berkata “Tentu Tenri . Seharusnya kau penuhi permintaan itu. Kalau
memang puang Pasampoi itu ber-sungguh sungguh. Tapi jangan lupa “pandanglah puang itu
dengan jujur, Jangan sampai puang itu hanya ingin menjadikan kamu selirnya. Jika
demikian halnya, lebih baik kamu tidak terima karena kasihan nanti keturunanmu tetap
akan menjadi budak.
I Tenripada mengangguk-angguk. Senyumnya kembali membayang di wajahnya. Katanya,
“Terima kasih bibi . Aku tidak menyangka bahwa aku akan jatuh hati.
Bibinya pun tersenyum pula. Tetapi kemudian ia mengatupkan giginya. Dan berkata : ,
Memang awalnya kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai
saatnya ia datang padamu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi
dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya. Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan
dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia
dapat menilai kesuciannya. Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri
manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci.
Karena itu perlu juga kau ketahui nak bahwa, bukan laut namanya jika airnya tidak
berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya
jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu. Dan alangkah indahnya kehidupan ini maka
terpujilah cinta yang mampu mengisi kesepian manusia, dan mengakrabkan hatinya dengan
hati manusia lain.
Camkanlah kata kataku ini nak !!!. Kemudian bibinyapun tidak berkata apa-apa lagi, selain
ia berkata kalau ia sudah mau pulang.
I Tenripada hanya berdiri. Dipandangnya bibinya yang berjalan tergesa-gesa itu. Semakin
lama semakin jauh.
51
Sekali lagi Tenripada menarik nafas. Perlahan-lahan pandangan matanya berkisar di seputar
kurungannya. Bulan sesaat lagi akan melambung di langit yang biru desahnya.
52
EPISODE VI
LA PATURUSI MENJEMPUT I TENRIPADA..
Sudah empat bulan tanpa terasa I Tenripada sudah menjalani hukumannya. Hari itu tiba
tiba datang La Paturusi. Kedatangannya kali ini ia akan mengambil I Tenripada untuk
dibawa ke pusat kerajaan di Tosora, guna menjalani hukuman selanjutnya. Hal ini dilakukan
La Paturusi sebagai akal akalan saja, agar ia bisa setiap hari menemui I Tenripada Rupanya
La Paturusi sejak ia meninggalkan tempat I Tenripada dikurung dan mengantar tawanan La
Kondi ke ibukota kerajaan, hati La Paturusi benar benar telah jatuh hati pada I Tenripada, dan
ia ingin kembali untuk mengajak I Tenripada ke ibukota kerajaan, kalau perlu dengan secara
paksa. namun pada saat itu La Paturusi merasa belum mampu melakukannya, mengingat
kemampuan beladirinya, masih ia rasakan belum cukup unuk melakukan hal itu, apalagi
disana masih ada pemuda yang pernah mengalahkannya. Sehingga ia merasa perlu berguru
kepada La Kondi, yang telah ia lihat mata kepala sendiri kesaktiannya. Setelah berguru
hampir 2 bulan pada La Kondi, maka hari itu ia mendatangi tempat I Tenripada dikurung.
Setelah La Paturusi menyampaikan maksud kedatangannya, iapun berkata :
Sebelum saya bawa kamu ke Tosora, saya harus menyampaikan dulu hal ini kepada puang
Paddanreng. Kemudian iapun membalikkan kudaya menuju istana.
Setelah La Paturusi tiba diistana Paddanreng Bettempola, sempat ia berpapasan dengan La
Pasompoi, dan mereka hanya saling memandang sejenak, kemudian La Paturusi naik ke
Istana .
Setelah La Paturusi naik diistana , kemudian ia menyampaikan maksud kedatangannya pada
petugas istana untuk disampaikan kepada Paddanreng, agar beliau berkenan menerimanya.
Tidak lama kemudian La Paturusi dipanggil masuk. Setelah La Paturusi berhadapan dengan
Paddanreng Bettempola, ia pun terlebih dahulu membungku sebagai penghormata. Kemudian
Paddanreng mempersilahkan duduk sambil berkata : Kiranya apa maksud kedatangannya ?.
La Paturusi menjawab : Mohon maaf puangku, hamba ini ditugaskan untuk memindahkan
tahanan dua orang lagi yang dititipkan oleh kerajaan pusat yang ada disini, namun La
Paturusi belum menyampaikan maksudnya untuk meng-ikut sertakan juga I Tenripada,
karena tiba tiba dipotong pembicaraanya oleh Paddanreng.
Paddanreng : Silahkan, dan tiba tiba Paddanreng berpikir sejenak, dalam hatinya berkata “
Kesempatan yang baik untuk memindahkan juga I Tenripada ke ibu kota kerajaan Wajo di
Tosora, agar La Pasampoi tidak lagi dekat dengan I Tenripada.
Adapun La Paturusi yang melihat Paddanreng sedang berpikir ia tidak berani berkata.
Kemudian Paddanreng berkata ; Kebetulan juga ada tahanan wanita disini, kalau bisa
sekaligus saya titip juga tahanan wanita tersebut. Untuk dibawa ke Tosora.
53
La Patursi yang mendengar permintaan itu sangat gembira, sebelum mengutarakan maksud
sebenarnya, Paddanreng terlebih dahulu mendahuluinya, pucuk dicinta ulam tiba.
Adapun La Pasampoi ketika tadinya berpapasan dengan La Paturusi, secara diam diam
kembali ke istana dan secara hati hati ia mendekati dinding pemisah dimana ayahnya dan La
Paturusi sedang bicara. Setelah La Pasampoi mendengar permintaan ayahnya, timbul amarah
dalam hatinya, sebab ia tahu kalau ayahnya yang meminta kepada La Paturusi untuk
membawa juga I Tenripada ke Tosora , adalah sebuah usaha untuk memisahkan dirinya
dengan I Tenripada. Setelah mendengar rencana ayahnya, kemudian La Pasampoi
mendatangi Indo Wellang dan menyampaikan rencana ayahnya untuk memindahkan I
Tenripada ke Tosora. Indo Wellang yang mendengar penyampaian La Pasampoi langsung
terkejut dan berkata : Apa boleh buat kalau itu kehendak puang Paddanreng, kita mau apa?
La Pasompoi berkata : Jangan khawatir, yang penting dulu kita halangi komandan laskar itu
untuk membawa I Tenripada, sebelum saya datang.
Indo Wellang berkata : Bagaimana kalau Paddanreng marah.
La Paturusi : Pura pura saja tidak tahu kehendak Paddanreng kan waktunya tidak lama
kemudian saya akan datang.
La Pasampoi kemudian pergi mengambil kudanya, dan memacunya menuju tempat
Pabbicara. Setelah La pasampoi tiba di tempat Pabbicara, iapun langsung menghadap. Setelah
La Pasampoi berhadapan dengan Pabbicra, kemudian Pabbicara mempersilahkan duduk,
sambil berkata : Ada apa rupanya ananda datang begitu tergesa gesa nampaknya.
La Pasampoi : Mohon maaf puang, Ayah saya Paddanreng, mau memindahkan tahanan I
Tenripada ke Tosora, bukankah urusan penahanan I Tenripada itu adalah putusan puang
selaku Pabbicara kerajaan Majauleng, yang tidak boleh ada campur tangan pusat kerajaan.
Mendengar itu, Pabbicara kemudian termenung sejenak, mengenang kalau gadis itu yang
menikam anaknya, apalagi yang meminta untuk dipindahkan adalah Paddanreng (Raja),
belum lagi kalau aku masih menaruh harapan semoga La Pasampoi ini mau memperisterikan
putriku, sebagaimana ibunya pernah menyinggung sedikit masalah itu. sehingga ia semakin
bingung untuk mengambil keputusan. Sambil memikirkan keputusan apa yang akan diambil,
kemudian Pabbicara bertanya : Mengapa ananda begitu sangat memperhatikan gadis itu ?
La Pasampoi : Terus terang puang, semenjak pertama kali melihat gadis budak itu, aku
langsung jatuh hati.
Pabbicara : Apakah ananda ini mau mengambil dia nantinya sebagai selir ?
La Pasampoi : Tidak puang, dia akan saya jadikan isteri satu satunya.
54
Mendengar itu Petta Pabbicara berkata dalam hatinya, rupanya sudah sulit untuk
menjodohkan putrinya dengan Pasampoi. Namun masih ada kesempatan sedikit kalau ia bisa
memisahkan gadis itu dengan memindahkannya ke Tosora atas permintaan Paddanreng.
Kemudian Pabbicara berkata : Sebenarnya masalah ini bukan lagi wewenang saya, karena
wewenang saya hanya memutus perkara, setelah perkara putus selanjutnya adalah urusan
kerajaan dalam hal ini Paddanreng.
La Pasampoi mendengar hal, langsung tertunduk sedih, dan tidak lama kemudian iapun
mohon diri.
Sementara itu setelah La Paturusi menghadap Paddanreng, dengan hati penuh kegembiraan ia
pun memacu kudanya menuju I Tenripada dikurung. Sesampai ditempat I tenripada dikurung,
iapun mengatakan pada penjaga, bahwa Paddanreng telah memerintahkan untuk membawa
juga I Tenripada ke Tosora.
Penjaga yang mendengar perkataan La Paturusui hanya mengiyakan saja. Tapi lain halnya
dengan Indo Wellang sudah lebih dahulu datang ditempat itu.
Indo Wellang berkata : Tunggu dulu, kita tunggu juga apa keputusan Pabbicara, walaupun
Paddanreng telah memerintahkan, tapi inikan menyangkut aturan hukum.
Belum La Paturusi berkata, sudah tiba pula La Pasampoi, yang masih sempat mendengar
pembicaraan antara Indo Wellang dengan La Paturusi. Kemudian La Pasampoi berkata :
Turuti saja kemauan komandan perajurit itu.
Indo Wellang mendengar ucapan La Pasampoi, menjadi heran, namun tiba tiba La Pasampoi
mendekati dirinya dan berbisik : Biarkan ia membawanya, nanti kita susul dan kalau sudah
agak jauh meninggalkan daerah, kita serang mereka, namun sebelumnya kita harus pakai
cadar agar mereka tidak mengenal kita. Dan tunggu disini saya ambil kuda satu lagi.
Setelah dua tawanan dikeluarkan, ikut juga I Tenripada dikeluarkan, setelah I Tenripada
keluar, La Paturusi meng-inginkan agar I Tenripada satu kuda dengannya. Tapi oleh I
Tenripada menolaknya sehingga terjadi adu mulut diantara keduanya. Tapi La Paturusi tidak
mau adu lagi, langsung langsung saja ia mau menangkap tangan I Tenripada untuk dipaksa
naik kekuda. I Tenripada yang melihat tangan La Paturusi mau menangkap tangannya,
langsung ia tepis, menyebabka La Paturusi semakin beringas untuk memaksa I Tenripada
mengadakan perlawanan sehingga terjadilah perkelahian diantara keduanya, namun belum
berselang lama, sudah nampak kalau La Paturusi belum mampu mengimbangi gerakan I
Tenripada, sehingga ia terpaksa memerintahkan anak buahnya untuk membantu menangkap I
Tenripada.
Adapun Indo Wellang yang melihat putrinya dikeroyok masih berdiam diri, dan belum mau
turun tangan, karena ia juga melihat sampai dimana kemajuan ilmu bela diri I Tenripada. Dan
dalam pandangannya I Tenripada belum tertandingi, sehingga merasa bangga.
55
Walaupun I Tenripada sudah dikeroyok, tapi tetap mereka tidak bisa mengimbangi
ketangguhan I Tenripada, sehingga secara terpaksa La Paturusi berhenti menyerang I
Tenripada, dan anak buahnya pun ikut berhenti menyerang. Setelah La Paturusi berdiam
iapun masih sempat berpikir untuk membawa gadis itu ke Tosora, sebab bisa bisa ditengah
jalan ia bisa kabur setelah melumpuhkan kami semua. Dan tiba tiba La Paturusi berkata
kepada I Tenripada : Kembali saja dulu dikurunganmu, nanti lain hari aku datang lagi
menjemputmu.
Adapun I Tenripada mendengar kata kata La Paturusi, langsung berjalan dengan tertunduk
masuk kedalam kurungannya. Sementara Indo Wellang yang melihat peristiwa itu hanya bisa
meneteskan air matanya melihat perlakuan terhadap kemenakannya, apalagi ia kebingungan
kalau nantinya masalah ini sempat terdengar oleh Paddanreng, sementara La Pasampoi belum
juga datang, yang katanya pergi mengambil kuda.
Tidak lama setelah rombongan La Paturusi meninggalkan tempat I Ternripada dikurung,
datanglah La Pasampoi membawa seeokor kuda, namun setelah sampai ditempat I Tenripada
dikurung, ia heran melihat I Tenripada masih ada di kurungan, sehingga ia bertanya kepada
Indo Wellang.
La Pasampoi : Apa yang terjadi Indo ?, sampai I Tenri masih ada ditempatnya.
Indo Wellang meneriterakan apa yang terjadi sepeninggal La Pasampoi, yang pergi
mengambil kuda. Lanjut Indo Wellang bertanya kembali : Bagaimana puang kalau nantinya
Puang Paddanreng mendengar masalah ini ?, sebab Puang Paddanreng akan mengetahui
persoalan ini.
La Pasampoi berkata : Biar nanti saya yang beri pengertian.
Tidak lama kemudian Indo Wellang pulang kerumahnya, dimana sebelumnya sempat ia
sempat memeluk I Tenripada.
Sementara La Pasampoi masih tinggal, termangu, ia tidak bisa membayangkan seandainya I
Tenripada dibawa oleh La Paturusi berdua dengan I Tenripada diatas kuda, tentunya pelukan
La Paturusi dari belakang sulit dihindari. Untung I Tenripada seorang jago bela diri yang
mampu mengalahkan La Patursi dengan anak buahnya. Tapi sayangnya saya tidak sempat
melihat kehebatan I Tenripada.
Setelah La Pasampoi selesai termangu, kemudian ia mendekati I Tenripada dari balik jeruji
dan berkata : Aku bangga dan terharu mendengar sepak terjangmu tadi, sehingga semakin
menambah penghormatanku padamu.
Adapun Tenripada yang duduk dipembaringannya, hanya bisa memandang La Pasampoi
dengan sorotan mata yang tajam, karena ia masih trauma .dengan peristiwa yang baru
dialaminya.
56
La Pasampoi melihat reaksi I Tenripada yang diam dan hanya memandangnya dengan
sorotan matanya, iapun mengerti perasaan I Tenripada, dan tidak lama kemudian La
Pasampoi meningglkan I Tenripada.
Dua hari kemudian La Pasampoi dipanggil ayahnya Paddanreng, setelah Paddanreng
memanggil penjaga kurungan dan mendapat penjelasan dari penjaga kurungan.
Setelah La Pasampoi sudah didepan ayahnya, kemudian ayahnya Petta Paddanreng berkata :
Saya sudah mendengar penjelasan dari penjaga kurungan tentang apa yang sesungguhnya
terjadi disana. Karena itu saya mau tanya kamu, apa pertimbangan komandan pasukan dari
Tosora sehingga ia membatalkan membawa tahanan gadis budak itu ?.
La Pasampoi berkata : Menurut saya, kira kira ia takut nanti ditengah perjalanan mereka
mereka bisa saja dihajar.
Petta Pandanreng : Bagaimana kalau ia sekarang mau melarikan diri, karena nampaknya ia
mampu melakukan itu bila kita tidak melibatkan pasukan istana.
La Pasampoi berkata ; Kalau memang gadis itu mau melarikan diri, mengapa harus sekarang
puang, bukankah dari awal ia sudah bisa ia lakukan kalau ia mau. Namun kalau saya lihat
wanita itu, sepertinya mematuhi hukum sama halnya ia mempertahankan harga dirinya.
Paddanreng berkata : Benar juga apa yang kau katakan, tapi sebenarnya yang perlu kamu
pikirkan adalah usahakan agar kamu jangan terlalu jauh berhubungan dengan wanita budak
itu, sebab kedua orang tuamu tidak merestui.
La Pasampoi hanya diam tertunduk, memikirkan nasib wanita idamanya dan dirinya.
Kemudian La Pasampoi berkata : Kalau tidak ada lagi yang ayahanda ingin sampaikan
biarlah saya mohon diri.
Paddanreng berkata : Tidak ada lagi, tapi ingat pesanku tadi.
Adapun La Pasampoi, kembali mengunjungi I Tenripada, dua hari setelah kejadian ketika I
Tenripada mengamuk, karena tidak mau naik kuda berdua dengan La Paturusi.
Setelah La Pasampoi tiba ditempat I Tenripada dikurung, ia melihat I Tenripada sedang
tidur, sehingga ia langsung saja duduk dibangku Bambu yang biasanya ditempati duduk,
sambil menunggu I Tenripada bangun.
Tidak lama kemudian, Nampak I Ternripada mulai bergerak untuk bangun, sehingga La
Pasampoi merasa senang, namun tidak menjadikan I Tenripada salah tingkah atas
kedatangannya ini, maka iapun mengalihkan pandangannya, sambil pura pura tidak tahu
kalau I Tenripada sudah bangun.
57
Setelah I Tenripada bangun, ia membenahi rambutnya, kemudian berdiri, tanpa menoleh ia
pergi mencuci mukanya. Sesudah cuci muka, I Tenripada sedikit terkejut melihat La
Pasampoi sudah datang dan berada di ditempat yang ia biasa duduk. Melihat La Pasampoi
sudah datang, kemudian I Tenripada duduk sejenak memperbaiki perasaannya. Setelah agak
baik perasaannya, iapun kemudian menghampiri La Pasampoi dibalik jeruji, sambil menegur
Sudah dari tadi datangnya ya puang ?
La Pasampoi mendengar teguran itu, ia langsung memandang I Tenripada dan berkata :
Belum lama juga. Kemudian La Pasampoi berdiri dan menghampiri I Tenripada. Sesaat
setelah keduanya berhadapan, kemudian La Pasampoi berkata : Rasanya menunggu
kebebasanmu sungguh masih sangat lama. Hari hariku yang hanya selalu memikirkanmu
membuat aku malas untuk melakukan berbagai kegiatan yang selama ini aku lakukan.
I Tenripada mendengar itu berkata : Penantian itu memang sangat lama puang rasakan
karena hanya memikirkan kepetingan diri, untuk sesuatu yang puang inginkan. Tapi lain
halnya dengan saya, yang tidak bisa membedakan antara kebebasan diluar sana dengan apa
yang kualami saat ini. Sebab status saya sebagai budak sepertinya telah membelenggu saya
untuk tidak bisa menikmati kebebasan hidup seperti orang yang bukan budak.
La Pasampoi berkata : Maaf sepertinya katamu tadi membuat aku semakin bingung.
Bukankah setelah kebebasanmu nantinya, aku selalu ada disampingmu untuk menikmati
kebebasan sebagaimana orang lain nantinya. Dan sepertinya Tenri belum bisa mendalami
dan mendengar suara hatiku meskipun aku tidak mengatakannya”
I Tenripada menahan nafasnya. Kata-kata itu telah mendebarkan jantungnya. Namun dalam
pada itu, ketika La Pasampoi menyatakan pengakuannya, meskipun nampak samar-samar
wajah La Pasampoi menjadi sedih. I Tenripada pun menyadari dirinya sebagai seorang gadis
ia telah mendengar betapa La Pasampoi sudah terlanjur membuat pengakuan untuk menjalin
dengannya sebagai hubungan antara manusia.
Karena itu, maka wajah I Tenripada langsung berubah dan tunduk. Keringat dinginnya
sedikit mengalir membasahi tubuhnya.
La Pasampoi sempat melihat kegelisahan I Tenripada. Meskipun ia sendiri merasa canggung,
namun ia tidak dapat membiarkan perasaan gelisah itu mencengkam perasaan I Tenripada
semakin mendalam.
“Tenri” berkata La Pasampoi, Janganlah membuat aku tersiksa tanpa kepastian dan jangan
pula engkau membohongi dirimu. “ Karena aku dengar suara hatimu. Namun suara itu telah
luluh dengan suara hatiku sendiri”
“Ah” I Tenripada berdesah. Tidak ada yang dapat dikatakannya lagi. Bahkan kemudian ia
pun bergegas menuju pembaringannya, kemudian melemparkan dirinya dalam keadaan
tertelungkup.
58
La Pasampoi yang ditinggal dengan tiba tiba, merasa kebingungan, sehingga iapun
memutuskan dirinya untuk kembali ke tempatnya.
59
EPISODE.VI
PILIHAN CALON ISTERI PASAMPOI
Semenara itu , diistana Nampak betul ibu permaisuri sangat gelisah mendengar La Pasampoi
putranya yang selalu mendatangi I Tenripada ditempat kurungannya. Sehingga diputuskannya
untuk meminta kepada suaminya Paddanreng, agar segera memanggil La Pasampoi untuk
segera ditentukan agar hubungannya dengan budak wanita bisa segera diakhiri.
Setelah permaisuri menyampaikan maksudnya, pada suaminya Paddanreng, maka malam
harinya Paddanreng memanggil La Pasampoi.
Tidak lama kemudian datanglah La Pasampoi dan langsung duduk didepan ayahnya
Paddanreng Majauleng.
Sejenak kemudian Paddanreng berkata : “Pasampoi “ !..tentunya kamu sudah kira kira,
maksud saya memanggilmu?.
La Pasampoi menjawab : “Belum “”Puang” Sewaktu “Puang” minta aku datang sampai
pada saat ini, tak ada yang dapat aku kira-kirakan.
Paddanreng tersenyum. Dipandanginya anaknya “Benarkah begitu anakku ?.
La Pasampoi mengangguk.
La Tenritau menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menyesal bahwa
peristiwa kemarin harus terjadi. Dengan demikian keluarga kita akan menjadi buah
percakapan.”
La Pasampoi pun menjadi semakin tunduk. Perkataan ayahnya itu mengingatkannya kepada
berbagai perasaannya yang bercampur baur. Malu, sedih, takut dan segala macam,
Ketika Paddanreng melihat anaknya sepertinya bersedih, cepat-cepat ia meneruskan, “Tetapi
itu bukan salahmu, Anakku. Banyak saksi-saksi yang berkata demikian. Dan aku pun tak
menyalahkanmu.”
Ketika itu La Pasampoi hanya diam saja.
“Pasampoi,” suara Paddanreng , namun dalam malam yang sepi itu terdengar jelas kata demi
kata, “kalau kau sekali-sekali becermin di kolam di samping istana kita ini, kau akan sempat
memperhatikan dirimu. Telah hampir Tujuh belas tahun kau menikmati Bulan purnama,
Karena itu, sadari anakku, kau telah menginjak masa dewasa.”
60
Wajah “Pasampoi,” yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Sebagai seorang pemuda
sudah merasakan, betapa sesuatu selalu bergolak di dalam dadanya. Banyaklah keinginan-
keinginan yang tak dimengertinya sendiri.
“Karena itu, Anakku,” terdengar ayahnya berkata pula, “banyaklah persoalan-persoalan yang
akan timbul karenanya, karena kedewasaanmu itu.”
Kembali La Tenritau berhenti. Ditatapnya wajah anaknya yang tunduk. Orang tua itu ingin
mengetahui. apakah yang terasa di hati putranya itu.
La Pasampoi diam seperti patung. Hanya sekali-kali terdengar desahnya.
“Tetapi kau jangan cemas anakku,” sambung ayahnya, “persoalan-persoalan yang timbul
karena kedewasaanmu adalah persoalan-persoalan yang wajar, yang pasti akan timbul pula
pada pemuda pemuda lainnya. Sebab setiap orang pada dasarnya akan mengalami persoalan
yang sama. Setelah ia menjadi dewasa maka akan dilampauinya suatu masa yang penting
dalam hidup ini.”
La Pasampoi pun masih duduk terpekur. Namun terasa seakan-akan jantungnya berdentang-
dentang. Orang tua itu berbicara terlalu lambat baginya. Ia ingin ayahnya berkata langsung
sampai ke ujungnya, untuk mengurangi ketegangan di hatinya. Tetapi agaknya La Tenritau
ingin berhati-hati sehingga kata-katanya tidak akan menyinggung perasaan anaknya.
“Pasampoi,” berkata La Tenritau seterusnya, “aku adalah ayahmu. Karena itu atas nama
ibumu aku berhak untuk menolak atau menerima calon isterimu.”
Pasampoi menjadi bertambah gelisah. sehingga tak disengajanya ia menggeser duduknya.
Tetapi ayahnya meneruskan, “Anakku. Adalah suatu kesulitan bagiku untuk menolak lagi
pilihan seorang gadis yang disebutkan ibumu.
Kembali orang tua itu berhenti. Dan kembali ruangan itu dicengkam kesepian. Hanya detak
jantung Pasampoi yang serasa terdengar olehnya.
Karena itu ketika La Tenritau meneruskan kata-katanya maka perhatian Pasampoi itu
tercurah seluruhnya kepada setiap kata yang ia dengar, “Walau demikian, Anakku. Masa
depanmu ada di tanganmu. Meskipun demikian ayahmu tentunya tetap bertanggung jawab
atas masa depanmu itu. Karena itu anakku, aku akan mengajakmu untuk menetapkan
gadis pilihan ibumu yang pantas mendampingimu kelak”
Pasampoi mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kenapa ayahnya tiba tiba menetapkan
calon isteriku atas pilihan ibuku?
“Adapun penetapan calon isterimu itu, Anakku,” La Tenritau berkata seterusnya, “adalah
sudah merupakan pilihan yang sudah ditetapkan oleh aku sebagai ayahmu dan ibumu..”
61
“Penetapan isteri?” Pasampoi bergumam.
Malam yang sepi itu menjadi semakin sepi. Yang terdengar kini adalah angin malam yang
lembut membelai daun-daun pepohonan yang sedang tertidur nyenyak. Gemeresik seperti
suara orang berbisik-bisik.
Pasampoi menarik nafas panjang-panjang. “Tidak adil,” serunya di dalam hati.
Himpitan ketegangan di hati Pasampoi pun tiba-tiba serasa berguguran. Sejak semula ia
mendengarkan kata-kata ayahnya dengan penuh kecemasan. Mula-mula ia menyangka bahwa
ayahnya akan menyebut untuknya sebuah nama dari nama-nama mereka yang pernah dipilih
ibunya. Sebab itu ia tidak bisa lagi memilih. Ia tak tahu, apakah yang terjadi dengan
dirinya. Dan tiba-tiba disadarinya juga bahwa ia pasti akan keberatan seandainya ayahnya
akan memaksanya siapa pun dari mereka.
Pasampoi menjadi malu sendiri. Seakan-akan ayahnya dapat membaca setiap perasaan yang
bergolak di dalam dadanya. Apalagi ketika ayahnya meneruskan, Apabila diperkenankan
oleh Yang Maha Agung, maka menilik tata lahir yang kasatmata, engkau masih akan
menempuh suatu masa yang panjang. Karena itu masa-masa itu harus kau lewati dengan
gairah dan ketenteraman. Maka adalah menjadi kewajibanku untuk ikut menentukannya
masa depan itu.
La Tenritau berhenti sejenak. Dan Pasampoi pun menjadi gelisah kembali. Yang terdengar
kemudian adalah kata-kata ayahnya pula, “Anakku, supaya tak terulang peristiwa yang tidak
aku ingini dan tentu saja kamu juga, maka sudah sampai saatnya kini, kau menuruti pilihan
kami.”
Wajah Pasampoi yang kemerah-merahan menjadi panas. Terasa seluruh bulu-bulu tubuhnya
meremang. Kata-kata itu sudah diduganya. Namun ketika diucapkan juga oleh ayahnya,
perasaannya tersentuh pula. Untuk sesaat Pasampoi menjadi bingung. Tak tahu apa yang akan
dilakukan. Hanya tiba-tiba saja, tanpa sesadarnya ia mengerling kepada ibunya yang baru
datang. Namun dilihatnya ibunya itu tunduk kaku. Tetapi wajah itu kemudian menengadah
ketika terdengar ayahnya berkata, “Nah Pasampoi, kini ibumu sudah datang dan sekarang
akan dimulai, penetapan calon isterimu
Pasampoi tidak menjawab. Namun desir di jantungnya serasa semakin tajam menggores. Dan
ia menjadi semakin gelisah. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi tak sepatah
kata pun dapat diucapkan.
Karena Pasampoi tidak menjawab, maka berkatalah La Tenritau, “ Dan biarlah aku
menyebut nama itu. Dan nama itu adalah We Tenrisui, putri petta Pabbicara.
Pasampoi tidak terkejut mendengarnya, karena ia sudah duga kalau nama itu yang memang
menjadi pilihan kedua orang tuanya. Karena itu sekali lagi tanpa disadarinya, Pasampoi
menatap wajah ibunya. Namun ibunya itu telah menundukkan wajahnya kembali.
62
Pasampoi masih terpaku pada anyaman tikar pandan tempat duduknya. Dan ia sama sekali
tidak menggerakkan kepalanya. Meskipun We Tenrisui itu cantik, namun sama sekali tak
terlintas di kepala Pasampoi, bahwa pada suatu saat ia akan hidup bersamanya.
Sedang La Tenritau masih duduk sambil melipat tangannya. Orang tua itu pun memandangi
putranya dengan baik.
Paddanreng menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengarlah ia berkata, “Anakku, penetapan
kini sudah selesai. Dan tinggal kami mempersiapkan acara untuk melamar.
Pasampoi menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tahu benar, betapa ibu dan ayahnya
akan sangat bersedih , apabila masalahnya ini akan berkepanjangan. Tetapi, di dalam hatinya
Pasampoi merasa, betapa besar kesempatan yang telah diberikan oleh ayahnya itu
kepadanya, sehingga ia diberi kesempatan untuk mengemukakan pendiriannya. Tidak seperti
beberapa orang ayah yang lain, yang dengan serta-merta menentukan jodoh anaknya tanpa
setahu anak itu sendiri. Karena itu, betapa besar rasa terima kasih itu menggores di hatinya,
sehingga tiba-tiba terasa bahwa memang sudah seharusnya ia mentaati keputusan ayahnya
segera. Tetapi rasa cintanya pada I Tenripada sepertinya tidak mampu mluluhkan hatinya
untuk mentaati permintaan ayahnya.
Walaupun demikian akhirnya Pasampoi sadar betul kalau ibu dan ayahnya menginginkanya
kawin cepat agar aku tidak terlalu jauh mencintai Tenripada budak wanita itu. Tapi apa mau
dikata hati ini sudah tertambat pada budak wanita itu.
Pasampoi pun kemudian menekurkan kepalanya, Namun terasa kini dadanya telah menjadi
lapang kembali. Kini ia tidak akan dapat mengingkari dirinya sendiri. Selama ini ia telah
dicengkam oleh ketakutan. Sebagai seorang laki-laki, Pasampoi tidak pernah merasa ngeri
menghadapi setiap persoalan. Namun tiba-tiba ia merasa ngeri mendengar yang nama
disebut oleh ayahnya.
Akhirnya Pasampoi sampai pada suatu kesimpulan, bahwa. Tenripada baginya, adalah
sebuah harga mati, apapun yang akan terjadi.
Tetapi apakah yang dapat dilakukan? Bila Tenripada tidak mau?.
“Nah, Pasampoi . Keperluanku hari ini telah selesai. Namun persoalannya yang belum
selesai. . Sekarang , beristirahatlah.”
Pasampoi mengangguk. Izin itulah yang ditunggu-tunggunya setelah sekian lama ia harus
menahan hati. Perlahan-lahan ia bangkit, dan kemudian ditinggalkannya ruangan yang serasa
menyesakkan nafasnya itu.
Pasampoi pun kemudian mohon diri. Ingin ia duduk di halaman belakang untuk
melapangkan dadanya.
63
Keeesokan harinya seperti biasanya ia kembali menemui I Tenripada di kurungannya.
Sesampainya terlebih menuju bangku Bambu untuk duduk sambil memperhatikan keadaan I
Tenripada apakah ia sudah bisa diajak bicara atau tidak. Namun rupanya I Tenripada yang
memulai menegur dengan berkata : Mohon maaf puang sepertinya puang diliputi kegelisahan.
La Pasampoi menjawab : Benar Tenri, terus terang saya ingin katakan bahwa, kemarin puang
Paddanreng telah memutuskan pada saya untuk menerima putri Pabbicara sebagai
pendamping hidup saya. Saya perlu sampaikan hal ini padamu, sebab cepat atau lambat kamu
pasti mengetahuinya. Karena itu saya sekarang sedang gelisah memikirkan bagaimana aku
bisa menghindarinya.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puangku, seharusnya puang taati ketetapan puang
Paddanreng, sebagai bakti seorang putra terhadap orang tuanya. Dan bagi hamba puang
janganlah dipikirkan sebab bagaimanapun juga hamba ini adalah seorang budak, Dan
bilamana puang akan tetap memaksakan kehendak, bagi puang tidak ada masalah, tapi bagi
saya akan mendapat hujatan dari seluruh warga kerajaan ini.
La Pasampoi berkata : Benar apa yang kau katakana karena itu, saya memahami dan
memaklumi posisi kita berdua, sebenarnya sudah timbul dalam pikiranku untuk, mengajak
kamu bersama bibimu pergi jauh dimana mereka tidak bisa menemukan kita. Tapi kembali
saya pertimbangkan bagaimana tercemarnya keluargaku dibelakang.
Tenripada berkata : Saya demikian puang, kalau saya sampai menuruti kehendak puang
maka, semua orang berkata bahwa saya memang pantas disebut budak karena telah ikut
mencemarkan keluarga Paddanreng bahkan juga kerajaan sekalian.
La Pasampoi berkata : Maka dari itu rupanya kita memiliki kesamaan pandangan. Dan
dalam hal ini semakin aku jatuh hati padamu, bukan saja karena kamu cantik juga karena
kamu memiliki pemikiran yang cemerlang.
Setelah keduanya terdiam dan hanya saling memandang, kemudian La Pasampoi minta diri
untuk pulang.
Keesokan harinya bibinya Indo Wellang datang lagi menjenguknya sambil membawakan
makanan dan kue. Dilihatnya wajah kemenakannya itu agak kusut, maka Indo Wellang
bertanya kepada kemenakannya : “Kenapa kau bersedih, “Tenri” terdengar suara perempuan
tua itu sambil duduk bersimpuh di didepan kurungan..
Tapi Tenripada menjadi semakin berusaha tersenyum, lalu ia berkata “Tidak apa-apa, Bibi.”
“Jangan berbohong,” sahut bibinya itu, yang seakan-akan turut serta menghayati kerisauan
hati gadis itu, “aku mengenalmu sejak kau kanak-kanak. Aku mengenal tabiatmu seperti aku
64
melihat matahari. Karena itu, jangan bersembunyi di balik daun sehelai. Anakku, aku dapat
menduga sebagian besar dari perilakumu.”
Terasa sesuatu bergelora di dalam dada Tenripada. Kini ia tidak dapat berbohong lagi. juga
kepada dirinya sendiri. Sebab hari hari terakhir ini terasa sesuatu di dalam sudut hatinya.
Tetapi ia tidak berani melihatnya. Ia merasa bahwa tak sepantasnya ia berangan-angan
tentang seorang pemuda yang menenggelamkan hidupnya dalam pengabdiannya terhadap
sumber hidupnya. Ia merasa, bahwa dirinya akan terlalu rendah untuk itu. Tenripada merasa,
bahwa ia tidak lebih dari seorang budak wanita yang lebih mengenal dirinya sendiri. Karena
itu ia telah bertekad untuk menekan segenap perasaan yang timbul di dalam dadanya. Apalagi
dengan adanya pengakuan puang Pasampoi bahwa ia sudah sudah ditetapkan calon
pendamping dirinya. Namun yang ia sangat sayangkan adalah ketika hatinya mulai kuncup,
tiba tiba layu sebelum mekar.
Tenripada menjadi malu sendiri. Bibinya pun melihat kerisauan hati Tenripada dan
bertanya kepadanya tentang kerisauan hatinya . Namun ia tidak dapat menjawabnya.
Tenripada kemudian menundukkan wajahnya. Di dalam dadanya bergolak berbagai
perasaan.
“Adakah engkau mau berkata sebenarnya?” bertanya bibinya
Tenripada menarik nafas. Terasa dadanya menjadi sesak. Namun ia menjawab, “Mohon
maaf bibi, sebenarnya saya baru menyadari kalau perasaanku mulai jatuh hati pada puang
Pasampoi, namun kemarin puang Pasampoi datang untuk menyampaikan kalau ia sekarang
sudah ditetapkan calon pendampingnya yaitu putrid petta Pabbicara. Tapi oleh puang
Pasampoi masih berusaha untuk menghindarinya, dengan cara mengajak kita untuk lari dan
mencari tempat dimana kita susah ditemukan.
Indo Wellang berkata : Jadi bagaimana sikapmu kemarin.
I Tenripada : Saya berkata pada puang bahwa Mohon maaf puangku, seharusnya puang taati
ketetapan puang Paddanreng, sebagai bakti seorang putra terhadap orang tuanya. Dan bagi
hamba puang janganlah dipikirkan sebab bagaimanapun juga hamba ini adalah seorang
budak, Dan bilamana puang akan tetap memaksakan kehendak, bagi puang tidak ada
masalah, tapi bagi saya akan mendapat hujatan dari seluruh warga kerajaan ini. Kemudian
puang Pasampoi membenarkan dan memahami apa yang saya katakana itu. Dan selanjutnya
saya katakana bahwa, kalau saya sampai menuruti kehendak puang maka, semua orang
berkata bahwa saya memang pantas disebut budak karena telah ikut mencemarkan keluarga
Paddanreng bahkan juga kerajaan sekalian.
Mendengar itu Indo Wellang langsung menitikkan air matanya karena rasa haru mendengar
keterangan kemenanakannya, kemudia Indo Wellang terdiam sejenak. Dalam hatinya berkata
rupanya Tenripada kini benar benar sudah dewasa pikirannya. Setelah Indo Wellang sudah
65
kembali tenang kemudian ia tidak berkata apa-apa lagi, hanya ia berkata kalau ia sudah mau
pulang.
Tenripada hanya berdiri. Dipandangnya bibimya yang berjalan tergesa-gesa itu. Semakin
lama semakin jauh.
Sekali lagi Tenripada menarik nafas. Perlahan-lahan pandangan matanya berkisar di seputar
kurungannya. Bulan sesaat lagi akan melambung di langit yang biru desahnya.
66
EPISODE VIII
LA PATURUSI DATANG LAGI INGIN MENGAMBIL I TENRIPADA.
Lima bulan kemudian datang lagi La Paturusi bersama pasukannya dan juga 2 jago bela diri
untuk menjemput I Tenripada. Setelah hampir sampai ditempat I Tenripada dikurung, ia
melihat lagi wanita tua itu bersama pemuda yang pernah mengalahkannya, sedang bicara
dengan I Tenripada dibalik jeruji, entah apa yang dibicarakan.
La Paturusi yang melihat mereka, iapun mempercepat kudanya, dan setelah dekat, iapun
melintangkan kudanya, sehingga Indo Wellang dan La Pasampoi terkejut dan melompat
sambil mengambil posisi.
La Pasampoi dan Indo Wellang yang melihat La Paturusi tiba tiba datang, sudah mengerti
maksud kedatangannya.
La Pasampoii dan Indo Wellang yang melihat La paturusi duduk diatas punggung kuda itu
dengan pakaian yang rapi dan teratur. Kain merah , celana hitam mengkilat, Di
pinggangnya terselip sebuah pusaka, Badik berwarna perak. Membuat La Pasampoi menjadi
tegang, ia berdesis dalam hatiya, “ Anak muda itu datang lagi!”
Sementara itu I Tenripada dan bibinya Indo Wellang melihat penunggang kuda itu ikut
juga tegang, karena hampir dapat dipastikan akan terjadi lagi adu kekuatan. Karena itu Indo
Wellang maupun La Pasampoi menanti reaksi komandan pasukan itu apa yang akan
dilakukan
Sesaat kemudian La Paturusi turun dari kudanya begitu pula pasukannya dan dua jago
beladiri dan langsung meminta kepada penjaga agar membuka pintu kurungan. Adapun
penjaga itu melihat Paturusi sebagai komandang pasukan dari pusat kerajaan dengan
terpaksa iapun membuka pintu dan segera La Paturusi masuk dalam kurungan I Tenripada.
Dan La Paturusi berkata ; “ Wahai gadis, aku datang untuk menjemputmu, tanpa
memperdulikan dua orang yang ada diluar.
“I Tenripada ” sama sekali tidak menjawab sapa itu. Bahkan ia menatap pemuda itu dengan
mata yang nanar. Detak jantung di dadanya seakan-akan berdentang seperti guntur. Ketika
sekali lagi ia mendengar anak muda itu berkata maka iapun bersiap siaga..
Sementara Bibinya Indo Wellang dan La Pasampoi masih bingung melihat kedatangan
mereka pun saling berpandangan. Keduanyapun baru sadar dan tidak senang melihat tingkah
laku La Paturusi.
“Aku telah datang dari jauh jauh dari Tosora hanya untuk menjemputmu.,
Nafas “I Tenripada” menjadi sesak. Apalagi ketika didengarnya La Paturusi berkata
“Bukankah aku sudah menyatakan maksudku di sini?” apalagi yang kita tunggu ?
67
Mulut “I Tenripada ” telah benar-benar seperti membeku. Karena itu tak sepatah kata pun
dapat diutarakan meskipun hatinya meronta-ronta. Adalah suatu aib yang mencoreng di
wajahnya apabila kemudian anak muda itu tak dapat menahan hatinya dan langsung menarik
tangannya. Meskipun ia dapat menolak dan menghajar pemuda itu, tetapi sikap pemuda
yang demikian itu adalah sikap yang tercela. Hanya gadis-gadis yang tak berhargalah yang
akan pernah mengalami perlakuan demikian. Maka semakin membaralah hati “I Tenripada”
di dalam hatinya, berkata “Apakah karena aku ini gadis budak, sehingga anak muda
memperlakukan aku begini?” Hampir saja “I Tenripada” menerjang untuk menghajar
pemuda itu. Seandainya ia tidak berusaha sekuat-kuatnya untuk menahan kemarahannya..
Dalam kebingungan itu, tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang lain dari suara “La Paturusi
”. Tidak terlalu keras namun kata demi kata dapat didengarnya dengan baik. Katanya,
“Saudara....!
La Paturusi terkejut. Ketika ia menoleh, dilihatnya anak muda itu berjalan perlahan-lahan
mendekatinya. Karena itu wajah Paturusi segera menjadi merah. Dengan cepatnya ia
memutar tubuhnya menghadap La Pasampoi. Dan dengan suara lantang ia berkata, “mau apa
kamu lagi disini ?”
“Mau memberi pelajaran lagi kepada kamu ” jawab La Pasampoi singkat.
La Paturusi menggeram. Ia benar-benar menjadi marah. Katanya, “Kau mau mencoba lagi
mencampuri urusanku?”
La Pasampoi mengerutkan keningnya, “Apa kau tidak dengar yang aku katakan ?. Kau ini
orang yang aneh. Seorang prajurit dari pusat kerajaan, untuk apa kamu datang kemari.
“Tutup mulutmu!” kata La Paturusi, sambil siap siap untuk menerjang La Pasampoi..
Indo Wellang dan I Tenripada yang melihat peristiwa itu menjadi bingung pula. Tubuh
mereka bergetaran dan dada mereka menjadi sesak. Apalagi “I Tenripada” sendiri. Di
samping perasaan marahnya yang membelit hatinya maka ia pun merasa bahwa dirinyalah
sebab dari pertengkaran itu. Karena itu maka ia menjadi semakin marah.
Namun agaknya La Paturusi memandang kehadiran La Pasampoi ,sebagai tantangan. La
Paturusi tidak menjadi malu atau segan, bahkan ia bersikap sebagai lawan.
La Pasampoi berkata dalam hatinya. Anak muda yang sombong itu benar-benar telah berbuat
suatu kesalahan. , “Saudara”. Jangan terlalu kasar. Bukankah dahulu kau aku pecundangi.
“Tapi itu dulu anak desa yang sombong. Selama hidupmu kau dikungkung oleh kepicikan
akal dan kesempitan pengetahuan,” jawab “La Paturusi “Aku telah mencoba berlaku sopan
kepada “gadis itu” Aku hanya ingin persoalanku cepat selesai.”
“Saudara !” bentak “Pasampoi, “sekali lagi aku peringatkan, tinggalkan tempat ini!”
68
“Jangan bersikap demikian sombong, “saudara” jawab “Paturusi”.,
La Pasampoi Aku hanya ingin memperingatkan kepadamu. Pulanglah. Pergilah
“La Paturusi ” yang sombong itu tidak mau lagi mendengar kata-kata La Pasampoi. Karena
itu selangkah ia meloncat maju. Tangan kanannya terayun menampar mulut “Pasampoi ”.
Gerak La Paturusi” yang tiba tiba cepat seperti kilat sehingga La Pasampoi tak sempat
mengelak. Terdengarlah seperti sebuah bunyi cambuk di pipi Pasampoi. Ia terdorong
beberapa langkah ke samping. Terasa betapa nyeri pukulan itu. Tetapi untunglah bahwa ia
tidak terbanting ke tanah.
Sekali lagi ” tidak dapat mengendalikan dirinya. Tangannya terayun kembali ke wajah
Pasampoi . Namun, kali ini Pasampoi tidak mau dikenai untuk kedua kalinya. Karena itu
cepat-cepat ia membungkukkan badannya. Tangan Paturusi hanya sejari terbang di atas
kepalanya. Tetapi Paturusi adalah prjurit dalam istana yang telah meningkatkan berapa kali
ilmunya pada guru La Kondi, sehingga dengan cepat ia dapat membetulkan kesalahannya.
Ketika dirasa tangannya tak menyentuh tubuh Pasampoi segera ia mengulangi serangannya.
Geraknya benar-benar tak diduga oleh Pasampoi. Karena itu, selagi ia masih membungkuk,
terasa sebuah tamparan menyengat pipinya yang lain. Sekali lagi Pasampoi terdorong ke
samping dan sekali lagi ia berdesis menahan sakit.
Ketika Pasampoi telah tegak kembali, terdengarlah giginya gemeretak dan matanya
memancarkan sinar kemarahan. Telah dua kali pipinya di kedua sisi merasakan betapa berat
tangan Paturusi, Bagaimanapun juga Pasampoi adalah laki-laki juga seperti Paturusi.
“Paturusi ” tertawa dengan sombongnya. Katanya, “Bagus. Seseorang dibenarkan untuk
melakukan pencegahan. Tetapi tatacara itu pun menuntut pengorbanan bagi gadis yang
diidamkan. Nyawaku menjadi taruhan.”
“Paturusi ” tidak sabar lagi. Dengan berteriak nyaring, kemudian ia memerintahkan
pengawalnya agar segera bertindak, sementara ia meloncat menyerang “Pasampoi”. Tetapi
kali ini Pasampoi telah bersiaga. Karena itu, ia pun berhasil mengelakkan serangan Paturusi.
Tetapi “Paturusi” tidak puas dengan serangannya yang gagal. Segera ia pun memperbaiki
kedudukannya dan dengan garangnya ia mengulangi serangannya.
Segera terjadilah perkelahian antara keduanya. Pasampoi yang bertubuh tinggi tegap itu
cukup mempunyai kekuatan namun Paturusi yang tidak sebesar Pasampoi, mempunyai
kelincahan yang mengagumkan. .
I Tenripada yang melihat perkelahian antara “Pasampoi” yang bertubuh tinggi tegap
dengan “Paturusi”” yang tidak sebesar “Pasampoi” mempunyai kelincahan yang
mengagumkan. Serangannya benar-benar mematikan.
69
Karena itu, sesaat kemudian, terasa bahwa “Pasampoi” yang tinggi tegap itu tak akan dapat
mengimbangi kelincahan dan ketangkasan lawannya. Berkali-kali ia terdorong surut dan
berkali-kali ia terhuyung karena pukulan-pukulan lawannya.
Oleh keadaannya itu, hampir “Pasampoi” menjadi putus asa. Tiba tiba ia merasa bahwa ada
tenaga yang mendorongnya, ia tak akan dapat berbuat banyak. Tiba tiba terlihatlah I
Tenripada mulai menyerang Paturusi.
La Paturusi yang mendapat serangan dari I Tenripada Tak ada sepatah kata pun lagi yang
meluncur dari mulut “Paturusi”. Yang dilakukannya adalah langsung menyerang balik
lawannya.
Sementara itu Indo Wellang sangat kewalahan menghadapi, pengawal La Paturusi, namun
tiba tiba ia melihat La Pasampoi keluar dari kurungan dan langsung membantunya, namun
keduanya masih rasakan kalau ia kewalahan. Melihat hal itu kemudian La Pasampoi
berteriak kepada penjaga agar segera membantunya. Dan tidak lama kemudian lima orang
penjaga itupun turun tangan menghadapi pasukan La Paturusi, sehingga pertarungan itu mulai
seimbang, dimana Indo Wellang menghadapi dua orang jago beladiri, sementara La
Pasampoi dan penjaga kurungan itu menghadapi pasukan La Paturusi. Dan ternyata penjaga
kurungan itu rupanya memiliki ilmu beladiri yang cukupp mumpuni, sehingga bersama La
Pasampoi berhasil melukai lima anak buah La Paturusi, sehingga nampaklah kemudian
berbalik menguasai pertempuran itu. Apalagi Indo Wellangpun mampu mendesak kedua jago
beladiri itu.
Adapun “Paturusi”., sudah menduga kalau I Tenripada itu mampu bergerak sedemikian
cepatnya. Dan sentuhan itu telah memperingatkannya bahwa “I Tenripada ”, mampu
mengelak dan sekaligus menyerang dengan cepatnya sehingga “Paturusi”., meloncat dan
menyerang kembali dengan garangnya. Namun “I Tenripada ” menyambut serangan itu
dengan tangkas. “I Tenripada sadar bahwa lawannya kali ini telah memiliki bekal yang
cukup bagi kesombongannya. Karena itu ia harus berhati-hati.
“Paturusi” yang menyerang “I Tenripada ” seperti badai yang melanda-landa. Cepat, keras,
dan kuat. Tangan dan kakinya bergerak terayun-ayun membingungkan. Berputar, melingkar
tetapi kadang-kadang hampir menyambar dadanya. .
Namun “I Tenripada benar-benar seperti karang yang tegak tak tergoyahkan oleh ganasnya
ombak. . Serangan-serangan “Paturusi”, betapapun cepat dan kerasnya, tak banyak dapat
menyentuh tubuh “I Tenripada ” Sehingga dengan demikian “Paturusi” menjadi semakin
tegang . Sama sekali tak diduganya kalau pengawal dan dua jagoan yang dibawanya itu
mampu ditahan diluar, sehingga dua jagoannya itu yang diharapkan dapat membantunya ,
namun rupanya keduanya juga tidak mampu melawan ketangguhan Indo Wellang yang
memiliki ilmu tata beladiri sedemikian baiknya.
70
Demikianlah maka perkelahian antara “Paturusi” dan “I Tenripada ” itu pun semakin lama
menjadi semakin sengit. “Paturusi” telah kehilangan pengamatan diri. ia telah lupa segala-
galanya selain secepat-cepatnya ingin mengalahkan lawannya.
Tetapi “I Tenripada ” tidak segera dapat dikalahkan. Bahkan semakin lama seakan-akan
menjadi semakin kuat dan cekatan.
Akhirnya “Paturusi” benar-benar menjadi mata gelap. Ia sudah tidak dapat membuat
pertimbangan-pertimbangan lagi dengan otaknya. Tiba-tiba terdengar “Paturusi” berteriak
kesakitan, tidak lama kemudian tubuhnya terjerembab ketanah akibat hantaman yang
mengenai dadanya, dan sesaat kemudian darah muncrat dari mulutnya, iapun tidak sadarkan
diri. Baru “I tenripada ” mau menghabisinya, tapi ia sadar kalau hal ini akan menambah
hukumannya.
Adapun diluar nampak Indo Wellang tidak lama lagi akan mengakhiri pertempurannya
melawan dua jago beladiri yang dibawa oleh La Paturusi, dan benar tidak lama kemudian
secara hampir bersamaan kedua jago beladiri itu terlempar dan langsung terjerembab
kemudian mengerang kesakitan.
“Paturusi” yang dari tadi pingsang, ia kemudian ditarik keluar oleh I Tenripada, dan pasukan
yang melihat komandannya sudah jatuh pingsang, merekapun tanpa dikomando langsung
angkat tangan dan membuang senjatanya.
Tidak lama kemudian La Paturusi secara pelan pelan menggerakkan tubuhnya, dan mulai
membuka matanya, dilihatnya beberapa orang sedang mengelilinginya, dalam keadaan tidak
berdaya pikirannya mulai ketakutan.
“Paturusi terkejut ketika terdengar “Indo Wellang” berkata perlahan-lahan, “Hei anak
muda, bangun.”
“Paturusi” memandang wajah “Indo Wellang” dengan mata yang memancarkan ketakutan
dalam hatinya. Kemudian “Indo Wellang” yang sempat merampas Badik “Paturusi” ketika
masih pingsang berkata : eh... anak muda ini Badikmu.
“Paturusi” seperti bermimpi, kemudian “Paturusi”secara perlahan bangun dan berhasil
berdiri, kemudian ia membungkuk didepan “Indo Wellang” dan mengambil Badik
pusakanya. Namun ia tidak tahu, apa yang harus dilakukan kemudian.
Adapun Tenripada yang melihat peristiwa itu sama sekali tidak bergeming. Bahkan tampak
ia marah. Desisnya, kepada “Paturusi” “kamu telah menjadikan tempat ini menjadi gempar.”
Kemudian terdengar Indo Wellang berkata pula, Apakah kau masih ingin menunjukkan
bahwa kau adalah laki-laki muda yang pandai berkelahi ?”.
71
“Paturusi” pun mendengar setiap kata yang diucapkan oleh wanita itu, serasa sebuah
pukulan yang menampar dadanya. Diamat-amatnya setiap wajah dari orang-orang yang
berdiri disitu. Terbayanglah pada wajah-wajah itu, perasaan sesal dan marah. “Paturusi tahu
pasti bahwa orang-orang itu pasti akan menghukumnya. Lalu apakah yang akan mereka
lakukan? Nafas anak muda itu pun menjadi semakin cepat mengalir, dan karena itu maka
digenggamnya hulu Badik semakin erat.
Tetapi kemudian Paturusi itu pun sadar bahwa di hadapannya berdiri “Wanita tua dan anak
muda itu. Namun ia sadar kalau guru La Kondi yang ia harapkan dapat menolongnya, juga
ternyata tidak datang membantunya.
Sehingga “Paturusi”. dalam hatinya berkata, rupanya apa yang dikatakan oleh guru Kondi,
agar aku tidak lagi memikirkan wanita itu , sebab untuk ketiga kalinya aku tidak bisa
membawa gadis itu, karena aku tidak mampu menghadapi wanita itu apalagi ibunya, yang
saya tidak bisa ukur kepandaiannya mengolah ilmu beladiri.
Adapun La Pasampoi yang tadinya masih ingin member pelajaran kepada La Paturusi saat
itu, tapi ia sempat ingat kalau komandan pasukan itu, adalah prajurit kepercayaan Arung
Matoa, maka sebagai penghormatan La Pasampoi terhadap Arung Matowa, maka
disuruhnya La Paturusi itu segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke Tosora.
Dengan berjalan tertatih tatih, kemudian La Paturusi menuju kudanya, dan dengan dibantu
anak buahnya, iapaun berhasil menaiki kudanya, dan tidak lama kemudian ia terlihat
meninggalkan tempat I Tenripada dikurung.
La Paturusi dalam perjalanan pulang, hatinya terus berkecamuk, akibat kegagalan yang ketiga
kalinya ini, namun ditengah jalan tiba muncul La Kondi, dan langsung mendekati La
Paturusi, tapi kali ini La Paturusi sepertinya acuh tak acuh dengan kemunculan La Kondi,
sehingga La Kondi merasa tidak enak, tapi La Kondi tetap menyapa La Paturusi, dan La
Paturusi pun berkata : Maaf guru bukankah guru berjanji akan membantu aku, tapi
kenyataanya guru baru muncul, bukankah ketika kita menuju tempat wanita itu dikurung,
jarak kita tidak begitu jauh?
La Kondi berkata : Betul aku janii dan jarak kita tidak terlalu jauh, tapi setelah saya mendekat
ketempat kurungan itu, aku lihat wanita tua itu dan ternyata ia adalah bekas isteri saya,
sehingga saya harus minta maaf padamu, karena saya tidak bisa membantumu.
La Paturusi : Kenapa guru, apakah guru takut sama wanita tua itu ?
La Kondi menjawab : Benar saya takut ketemu dengannya, sebab pasti ia akan menghajarku
habis habisan.
La Paturusi kembali bertanya : Apakah memang guru tidak sanggup menghadapinya
sehingga guru bisa dihajar habishabisan ?
72
La Kondi : Betul nak, sebab sejak saya malang melintang di dunia bela diri, hanya dia yang
saya tidak bisa lawan, karena memang sejak kami menjadi suami isteri, ia sangat giat berlatih
tidak seperti aku.
La Paturusi mendengar hal itu semakin membuat dirinya tidak bisa mendapatkan Wanita itu,
padahal tadinya ia harapkan gurunya mampu membantunya, ternyata juga gurunya tidak
mampu melawan ibu wanita itu.
Sepeninggal La Paturusi, kemudian La Pasampoi dan Indo Wellangpun pun bersiap siap juga
meninggalkan tempat itu, namun tiba tiba kelihatan I Tenripada sepertinya sakit dan tidak
berdaya untuk kembali ketempat pembaringannya, sehingga terpaksa Indo Wellang
membantunya dengan membopongnya ketempat pembaringannya. Setelah I Tenripada sudah
terbaring, Indo Wellang bertanya apa yang sesungguhnya terjadi pada dirinya.
I Tenripada menjawab, kalau dirinya terlalu tertekan perasaannya melihat semua apa yang
terjadi pada dirinya, sehingga dirinya tak kuasa menahan gejolak hatinya, yang menyebabkan
dirinya terasa lemas.
Sementara itu La Pasampoi melihat keadaan I Tenripada, merasa bingung, yang tiba tiba
terjadi perubahan atas diri I Tenripada, sehingga La Pasampoi cepat cepat mengambil air
untuk diminum I Tenripada.
I Tenripada yang melihat La Pasampoi membawa air minum, terpaksa ia duduk sambil
menunggu air minum dari La Pasampoi. Setelah La Pasampoi menyodorkan air minum itu,
kemudian I Tenripada menyambutnya dan meminumnya. La Pasampoi yang melihat
sambutan air minum yang disodorkan pada I Tenripada, sangat merasa senang, dan tanpa
sadar, ia berdiri mematung melihat I Tenripada sedang minum.
Adapun “La Pasampoi ” setelah melihat bibi tua itu sudah tidak lagi memegang I
Tenripada, kemudian La Pasampoi mengingat kalau wanita tua itu hanya sebagai pelayan
diistananya itu tidak lebih dari seorang pelayan. Tapi tak disangkanya kalau bibi pelayannya
itu seorang pendekar beladiri yang hebat.
Setelah I Tenripada selesai minum, La Pasampoi pun minta diri untuk pulang, karena ia tidak
mau mengganggu I Tenripada yang sedang memulihkan tenaganya.
Adapun La Pasampoi dalam perjalanan pulang, ia kembali membayangkan sosok Indo
Wellang, ia tidak pernah menyangka Di kerajaannya Majauleng yang tenteram damai,
ternyata ada seorang yang bernama “Indo Wellang ” yang tua dan alim itu, setelah aku
menyaksikan sepak terjangnya tadi sepertinya bisa dibayangkan kalau, Indo Wellang itu
mampu menggenggam segala macam senjata di kedua sisi tangannya. Mampu menghantam
hancur lawan yang betapa pun tangguhnya hanya dengan tangannya. Tetapi masa-masa yang
demikian itu rupanya telah lampau bagi wanita tua itu. Sebab kalau tidak mengapa ia rela
menjadi pelayan diistana, yang tentunya hidupnya hanya ingin melihat putrinya tumbuh
dewasa dan berkembang sebagaimana orang biasa mengalaminya. Namun demikian, La
73
Pasampoi juga tidak bisa menutup mata atas suatu kenyataan bahwa kadang-kadang
kebenaran harus dibela dengan kemampuan yang demikian. Kadang-kadang diperlukan
kekuatan jasmaniah dan rohani untuk menegakkan keadilan dan terutama untuk melawan
segala bentuk kejahatan dan pengingkaran atas kebenaran dan keadilan itu. Kebenaran dan
keadilan yang sebenar-benarnya. Kebenaran dan keadilan yang dibenarkan oleh Dewata
Seuwae (Tuhan yang esa). Karena itulah maka aku harus meminta kepada dia agar ia juga
dapat menempa diriku dengan harapan semoga saya dapat mengamalkan ilmunya.
Mengamalkan, dan bukan sebaliknya.
Keesokan harinya ketika La Pasampoi ketemu Indo Wellang didapur, tanpa sengaja La
Pasampaoi berkata kepada Indo Wellang : Indo, kemarin aku sempat melihat wajah
“Komandan prajurit ” seperti ada sesuatu membayang di wajahnya
“Apakah itu puang ?” bertanya “Indo Wellang”
“Kekecewaan,” jawab “Pasampoi” .
“Oh,” sahut “Indo Wellang”, “Biarkan saja puang, bukankah dia sendiri yang mencari
masalah. ”
“Pasampoi mengangguk-anggukkan kepalanya .
Sesaat kemudian “Indo Wellang” itu baru teringat kepada anaknya yang tentunya sudah lapar
sedang menunggunya dikurungannya.
Dengan lembut wanita tua itu berkata kepada La Pasampoi : Maaf puang aku harus buru
buru mengantarkan makanan pada I Tenripada yang sedang menungguku, sambil tangannya
menggaet tempat makanan yang akan dibawa.
La Pasampoi berkata : Bagaimana Indo kalau saya saja yang bawa ?
Indo Wellang : Maaf, jangan puang, nanti Puang Paddanreng tahu, saya bisa dihukum puang.
La Pasampoi berkata sambil bergurau : Siapa yang mampu menghukum calon guruku yang
begitu sakti termasuk ayahku Paddanreng.
Indo Wellang berkata : Maaf puang, jangan berkata demikian, sebab seorang abdi seperti
saya ini bila menghadapi puang Paddanreng ibarat saya seekor burung, kalau puang
Paddanreng berkata patahkan sayapmu, maka saya harus patahkan, walaupun sayap itu
adalah alat saya untuk terbang dan hidup.
La Pasampoi sangat terharu mendengar pernyataan seorang abdi atas kesetiaan dan
kepatuhan pada rajanya.
74
Sehabis itu Indo Wellang mohon diri pada La Pasampoi, kemudian ia buru buru
melangkahkan kakinya menuju tempat I Tenripada dikurung. Setelah ia sampai dilihatnya I
Tenripada sudah menunggunya. I Tenripada yang melihat bibinya datang begitu tergesa gesa,
ia tahu kalau ketergesa gesaannya itu disebabkan kalau dirinya dikhawatirkan sudah lapar.
I Tenripada kemudian menatap wajah bibinya. Wajah seorang yang paling dikasihi dari
semua orang yang dikenalnya.
“Adakah kau sudah baikan ?” bertanya bibinya.
Iya bi...! jawab “Tenripada”
“Kalau demikian, mari kita makan bersama. ,” ajak “Indo Wellang”
Perlahan-lahan “Tenripada” membuka makanan yang dibawa bibinya, dan seterusnya
makan bersama bibinya. Sambil makan I Tenripada berkata pada bibinya : Bi‟ sungguh
nikmat kita makan bersama hari ini bi‟ mudah mudahan hari hari berikutnya selalu demikian
adanya.
Indo Wellang yang melihat kegembiraan I Tenripada, hanya bisa tersenyum dan terharu
sambil menjawab “ Mudah mudahan nak.
Belum mereka selesai makan sudah datang La Pasampoi, I Tenripada yang melihat La
Pasampoi datang, yang kemudian duduk ditempat biasa. I Tenripada yang sudah melihat La
Pasampoi duduk, iapun berkata : Maaf puang, kalau kami ini sedang makan, barangkali
puang berkenan juga ikut makan.
La Pasampoi menjawab : Silahkan saya hanya minta maaf kalau saya datang lagi
mengganggu.
I Tenripada dengan satu kerlingan saja, La Pasampoi sudah dapat mengerti kalau I Tenripada
tidak keberatan, bahkan nampak diwajahnya ada keceriaan.
Kemudian La Pasampoi mendesah dan berkata dalam hati, ketahuilah Tenri kedatanganku
kemari karena “aku mencintaimu kekasihku, sebelum kita berdekatan, sejak pertama kulihat
engkau. Walaupun ini mungkin bukanlah takdir. Tetapi aku mengharap kita akan selalu
bersama dan tidak akan ada yang memisahkan kita”
“Kalaupun nantinya aku menderita karena sudah terlanjur mencintaimu itu adalah pilihanku
sendiri. Obat pahit kehidupan tetap akan kutelan dengan harapan agar aku dapat sembuh
dari luka hati dan penyakit jiwa. Sebab saya percaya pada pencipta kehidupan.
Setelah Indo Wellang selesai makan dengan I Tenripada, tidak lama kemudian Indo welllang
berkemas kemas untuk pulang. Sementara La Pasampoi melihat situasi saat itu kurang baik
untuk terus tinggal lama lama, sehingga ia pun pulang.
75
Sesaat kemudian mereka itu pun pulang bersama-sama. “Indo Wellang ” berjalan dan
Nampak didepan berjalan “La Pasampoi”
Sementara itu setelah “La Pasampoi” sampai di istana ia langsung pergi membersihkan
diri,
Adapun “Tenripada‟ yang baru saja ditinggal oleh bibinya serta La Pasampoi, iapun
langsung mandi, setelah selesai iapun pergi baring baring, sambil dalam hatinya, mengingat
peristiwa selama ini bersama La Pasampoi.
Ditempat lain “Pasampoi” setelah tiba diistananya kemudian ia berjalan jalan di halaman
istana”, sambil juga mengenang peristiwa kejadian yang terjadi.antara dirinya dengan Indo
Wellang.
Tidak lama setelah itu “La Pasampoi” tiba tiba dipanggil naik untuk makan. Selang
beberapa saat, “La Pasampoi disuguhkan makanan oleh “Indo Wellang” selanjutnya ia
mempersilahkan “Pasampoi” untuk makan. “Pasampoi” pun duduk bersila di atas tikar
permadani, sedang “Indo Wellang”, duduk tidak jauh darinya Dilayaninya “La Pasampoi”
dengan cermatnya. Tidak bedanya ia melayani ayahnya Petta Paddanreng.
Bagi “La Pasampoi” , hal yang demikian itu sudah sering dialami. “Indo Wellang”, yang
bersikap sebagai seorang pelayan istana itu, tahu benar apa yang harus dilakukan untuk putra
raja. Namun, kali ini terasa sikap itu agak berbeda. “Indo Wellang”, ia tidak berbicara
seperti biasanya. Bahkan ia hanya tunduk diam .
Dan tiba-tiba terdengar seorang pelayan lainnya berkata : Puang, bila sudah makan, puang
Paddanreng memanggil puang.
Jantung “La Pasampoi” pun berdesir. Indo Wellang itu pun dipanggil pula oleh ayahnya.
“Dalam hati,” La Pasampoi” , berkata “Masalahnya pasti masalah perseteruan. akibat
perbuatan “anak muda kemarin yang lalu
Kemudian “Pasampoi”,berkata : “ Baiklah „Indo” aku jalan duluan.
“Iya puang jawab Indo Wellang.
Di ruang tengah, nampak “Paddanreng ” sedang duduk di sudut ruangan, di atas tikar
permadani. Dilipatnya kedua tangannya di dadanya, sambil duduk bersandar dinding, dengan
wajah tertunduk. ia menunggu putranya dan “Indo Wellang” , datang kepadanya seperti
permintaannya. Hal ini hampir tak pernah dilakukan. Ia berbicara dengan putranya itu di
mana saja mereka bertemu. Di rumah, di pertamanan, atau di perjalanan. Namun agaknya
kali ini ada sesuatu yang dianggapnya sedemikian pentingnya sehingga ia harus berbicara
bersungguh-sungguh.
76
Ketika kemudian putranya muncul dari balik pintu, “Petta Paddanreng” mengangguk-
anggukkan kepalanya. Katanya, “Duduklah nak, di mana “pelayan Indo Wellang” ,?
“Tadi baru saja saya lihat membereskan bekas makan di dapur Ayah,” sebentar lagi ia
datang jawab “Pasampoi”,,
“Petta Paddanreng” mengangguk-angguk. : “Biarlah kita tunggu,” katanya.
Sesaat kemudian “Indo Wellang” , pun datang pula. Langsung ia duduk di atas tikar itu.
Seperti “Pasampoi”,, dada Indo Wellang itu pun berdebar-debar pula.
“Petta Paddanreng”. menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menyesal bahwa
peristiwa kemarin harus terjadi. Dengan demikian keluarga kita akan menjadi buah
pembicaraan.”
“Pasampoi” pun menjadi semakin tunduk. Perkataan ayahnya itu mengingatkannya kepada
berbagai perasaannya yang bercampur baur. Malu, sedih, takut dan segala macam, .
Ketika “Paddanreng”. melihat anaknya bersedih, cepat-cepat ia meneruskan, “Tetapi itu
bukan salahmu, Anakku. Banyak saksi-saksi yang berkata demikian. Dan aku pun tak
menyalahkanmu.”
“Jangan bersedih anakku” sambung ayahnya, “aku belum selesai. Bahkan aku belum sampai
kepada persoalannya.”.
“Pasampoi” suara “Petta Paddanreng”. : “Kalau kau mendengar tawaran ayahmu tempo hari
tentunya kamu tidak terlibat dalam masalah ini. Setelah ayah memperhatikan dirimu, maka
dari itu sebaiknya turutkan kembali permintaan ayah dan ibumu. Karena itu, sadarlah
anakku, akan dirimu sebagai seorang putera mahkota.
Wajah “Pasampoi ” yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Sebagai seorang putra remaja
“Pasampoi” sudah merasakan, betapa sesuatu selalu bergolak di dalam dadanya. Karena
hanya satu keinginan, yaitu mempersunting I Tenripada. Walaupun masalah itu belum
dimengerti oleh ayah bundanya.
“Karena itu, Anakku,” terdengar ayahnya berkata pula, “Urungkanlah niatmu itu untuk
menyukai I Tenripada.”
Kembali “ Paddanreng”. berhenti. Ditatapnya wajah anaknya yang tunduk. Orang tua itu
ingin mengetahui. apakah yang terasa di hati putranya itu. Kemudian ia menoleh kepada Indo
Wellang dan berkata : Bagaimana pendapat Indo ? Tentunya karena ini masalah kerajaan,
Indo dapat mengerti kedudukan anakku dan putrimu.
Indo Wellang : Mohon maaf puangku, bila melihat dari kedudukan puang Pasampoi dan
putriku adalah antara bumi dan langit, dan itu bila dilihat kedudukan masing masing. Namun
77
ketika berbicara masalah hati maka batas kedudukan keduanya tidak bisa lagi diukur.
Walaupun demikian hamba akan lihat diri dan tahu diri dan akan taat apapun keputusan
puang sekarang.
Dan setelah itu petta Paddanreng berdiri dan meninggalkan tempat itu.
La Pasampoi yang melihat itu, iapun berdiri meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa apa
pada Indo Welleng yang masih duduk tertunduk. Dan Indo Wellang melihat La Pasampoi
berdiri meninggalkan tempat itu, ia kemudian ikut meninggalkan tempat itu, pulang langsung
ketempat I Tenripada dikurung.
Dalam perjalanan Indo Wellang diliputi berbagai macam masalah, yang dia sendiri bingung
memikirkannya.
Setelah Indo Wellang telah sampai ditempat I Tenripada iapun minta pada penjaga agar ia
diisinkan masuk dalam kurungan I Tenripada. Ketika Indo Wellang sudah masuk dalam
kurungan I Tenripada ia langsung istirahat dan tidak berkata apa apa pada “I Tenripada”
Sementara I Tenripada juga hanya diam, ia takut bertanya tanya , dibiarkannya bibinya
istirahat.
Setelah Indo Wellang cukup istirahat, iapun bangun dan dilihatnya I Tenripada masih
bersemedi. Tidak lama kemudian Indo Wellang berkata : Tenri...!orang tua itu memanggil.
I Tenripada menyahut : Iya bi..!
Indo Wellang : Kemari nak..
I Tenripada pun berhenti bersemedi, dan langsung mendatangi bibinya sambil berkata : Ada
apa bi...?
Berkata Indo Wellang : Tadi saya dipanggil oleh puang Paddanreng, beserta putranya La
Pasampoi. Puang Paddanreng berkata pada putranya agar ia berhenti menyukaimu, tapi La
Pasampoi tidak mau bahkan ia berkata ia bersedia menangggalkan kebangsawanannya demi
mendapatkanmu, itupun kalau kamu memang menaruh hati padanya. Bagaimana menurut
pendapatmu nak, karena menurut puang Paddanreng ini menyangkut martabat kerajaan.
I Tenripada hanya tunduk diam, pikirannya melayang layang, tidak tahu mau bilang apa.
Indo Wellang kembali bertanya : Bagaimana anakku ?
I Tenripada berkata : Semuanya baik buruknya saya serahkan pada bibi. Karena saya juga
tahu siapa diriku.
Indo Wellang berkata : “setelah kau menyadari dirimu , maka apa yang terjadi kemarin
adalah persoalan yang wajar. Karena itu anakku. Selagi bencana yang tak dikehendaki itu
78
datang, aku ingin memberi tahukan kepadamu, bahwa sebenarnyalah hal ini pernah terjadi,
pada diri bibimu. namun bila nantinya putra puang Paddanreng tetap bersikukuh untuk
mendapatkanmu, dan engkaupun senang padanya maka aku tidak mau campur tangan lagi.
Sebab sebagaimana telah saya sampaikan kepada puang Paddanreng bahwa “ Bila melihat
kedudukanmu sebagai budak dan putra puang Paddanreng selaku bangsawan, maka
perbedaan kedudukanmu itu ibarat bumi dan langit. Tapi kalau hati sudah berbicara, maka
tidak ada lagi tirai perbedaan yang membatasinya. Karena itu bibi kembalikan masalah ini
kepadamu, walaupun puang Paddanreng meminta pada bibi agar kamu berhenti mengingat
La Pasampoi.
“I Tenripada” berdesir mendengar kata-kata bibinya itu. Dalam hatinya berkata : Aku sama
sekali tidak pernah menyangka hal itu, bisa berkembang begitu cepat, sebab La Pasampoi
bagiku masih dalam penjajakan, namun kalau pandangan puang Paddanreng begitu hina
memandang saya, karena status saya adalah budak, maka aku terpaksa memperlihatkan juga
harga diriku untuk menolak cinta puang Pasampoi
Tiba tiba bibinya berkata : Apa yang sedang kau pikirkan nak ?.
I Tenripada : Maaf bibi, hatiku sedang menjerit, mendengar perkataan puang Paddanreng.
Bila memang pandangan puang Paddanreng begitu hina memandang saya yang sudah hina
ini, karena status saya adalah budak, maka aku terpaksa memperlihatkan juga harga diriku
dengan menolak cinta puang Pasampoi.
Indo Wellang yang mendengar pernyataan I Tenripada, tanpa diduga ia langsung menjerit
dan merintih dengan tangan menutup mukanya. I Tenripada yang melihat bibinya tiba tiba
menjerit dan merintih, iapun kebingunan dan langsung memeluk bibinya sambil berkata :
Kenapa bi‟, kenapa bi‟, tapi bibinya tetap menangis dan terisak.
I Tenripada yang masih memeluk bibinya terus berkata : Tolong bi‟ mengapa bibi menangis ?
Bukankah selama ini saya tidak pernah melihat bibi menangis karena saya tahu kalau bibi ini
orang tegar.
Indo Wellangpun menurunkan tangannya yang menutup mukanya, kemudian ia berkata :
Maafkan bibi nak, karena bibi‟lah yang membuatmu menjadi budak.
I Tenripada berkata : Kenapa bibi berkata demikian.
Indo Wellang berkata : Mohon maaf anakku, aku baru sadar kalau aku telah berbuat jahat
padamu, karena selama ini, bibi‟mu tidak pernah mengungkap siapa sebenarnya dirimu
anakku. Aku hanya mementingkan diriku guna menghilangkan jejaku agar tidak ada yang
mengenalku, akibat rasa malu karena bibi harus menceraikan suamiku, karena ia telah berani
memadu aku dengan wanita lain.
I Tenripada : Janganlah bibi berkata demikian, sebab aku sudah ikhlas menjalani hidupku
sebagai seorang budak
79
Indo Wellang : Maaf , bukan begitu anakku, sebab ketahuilah anakku bahwa sesungguhnya
anakku, sebenarnya ayahmu adalah seorang bangsawan di kerajaan Sabbangparu, sementara
disini di kerajaan Majauleng, terpaksa kita harus jadi budak, demi untuk mempertahankan
hidup. Dan aku berusaha mempertahankan hidup hanya demi dikau anakku, sebab kamu
adalah amanah yang dititipkan ibumu padaku, tapi sayangnya aku salah jalan, karena tidak
seharusnya kita menjadi budak anakku.
I Tenripada sambil meneteskan air mata berkata : Biarlah ibu, karena sudah terlanjur semua
orang disini mengenal kita sebagai budak, mungkin ini sudah suratan takdir. Tapi Bibi‟
walaupun semua orang menganggap kita budak, tapi jiwaku bukan budak, bukankah begitu
bibiku?
Indo Wellang yang masih menitikkan air mata, langsung memeluk I Tenripada, sambil
berkata : Itulah tandanya nak, kalau kau ini sebenarnya bukan budak.
Selang setelah Indo Wellang memeluk I Tenripada, kemudian ia pun berkemas kemas untuk
pulang.
80
EPISODE IX
PASAMPOI DIPAKSA MENIKAH
Adapun di istana Paddanreng, terlihat Paddanreng beserta permaisuri merasa gelisah, karena
nampaknya La Pasampoi sudah semakin jauh mendekati I Tenripada, maka keduanya
berpikir untuk mengambil sikap tegas. Untuk itu Paddanreng menyuruh pelayan memanggil
La Pasampoi.
Pelayan : Puang, dipanggil puang Paddanreng.
La Pasampoi : Sampaikan pada puang, sebentar saya datang. Setelah pelayan pergi, kemudian
La Pasampoi sudah berpikir, kalau panggilan ayahnya itu, adalah menyangkut hubungannya
dengan I Tenripada. Dan untuk itu La Pasampoi sudah bersiap menghadapi resiko yang akan
dihadapi. Setelah La Pasampoi berjalan menuju ruang dimana Ayahanda dan ibunya
menunggu. Dan nampaklah olehnya kalau kedua orang tuanya itu gelisah. Setelah La
Pasampoi sudah didepan ayah ibunya kemudian ia bersujud, kemudian ia duduk
Sebelum ayahnya membuka suara, Nampak ia termenung sejenak kemudian berkata :
Pasampoi, tentunya kamu sudah menduga mengapa saya memanggilmu ?
La Pasampoi : Iyye puang.
Paddanreng : Setelah saya agak menunda pelamaran kepada putri Pabbicara, rupanya hal itu
sudah tidak bisa lagi dibiarkan. Karena saya memperhatikan betul selama ini, saya lihat kamu
semakin dekat dengan wanita itu, karenanya saya harus tegaskan kembali bahwa saya berdua
dengan ibumu, akan segera melamar putrid Paddanreng. Agar kamu bisa menghentikan
pikiranmu untuk mempersunting wanita budak itu.
La Pasampoi : Mohon maaf puang, gadis itu bukan budak, anakda sudah dengar kisahnya
sampai ia kemari.
Paddanreng : Mungkin saja ia bukan budak. Tapi secara kenyataan dapat dilihat bahwa bibi
dan gadis itu tidak memiliki keluarga disini.
La Pasampoi : Mohon maaf puang, bukankah ada baiknya kalau Indo Wellang disuruh
kembali ke Kerajaan Talotenreng untuk mencari keluarganya, utamanya keluarga dari orang
tua laki laki I Tenripada.
We Batari Sengngeng isteri Paddanreng berkata : Masalahnya bukan begitu, karena sebagian
masyarakat kerajaan sudah tahu kalau Indo Wellang dan anaknya itu adalah budak, lalu mau
dikemanakan muka ini.
La Pasampoi : Kalau demikian adanya, anakda ini pasrah saja dan tidak bisa berbuat apa apa.
81
Paddanreng : Baiklah, kamu sudah harus mengambil keputusan bahwa rela melepaskan
wanita budak itu.
La Pasampoi : Iyye puang,
Paddanreng : Kalau begitu kembali ketempatmu
La Pasampoi kemudian berdiri dan meninggalkan tempat itu, sambil ia berjalan ia terus
memikirkan bagaimana cara terbaik untuk melarikan diri bersama I Tenripada.
Keesokan harinya “Pasampoi” berjalan jalan di halaman istana”, sambil mengenang
peristiwa kejadian yang baru terjadi.
Setelah itu “La Pasampoi” tiba tiba dipanggil naik untuk makan. Selang beberapa saat, “La
Pasampoi disuguhkan makanan oleh “Indo Wellang” selanjutnya ia mempersilahkan
“Pasampoi” untuk makan. “Pasampoi” pun duduk bersila di atas tikar permadani, sedang
“Indo Wellang”, duduk tidak jauh darinya Dilayaninya “La Pasampoi” dengan cermatnya.
Tidak bedanya ia melayani ayahnya Petta Paddanreng.
Bagi “La Pasampoi” , hal yang demikian itu sudah sering dialami. “Indo Wellang”, yang
bersikap sebagai seorang pelayan istana itu, tahu benar apa yang harus dilakukan untuk putra
raja. Namun, kali ini terasa sikap itu agak berbeda. “Indo Wellang”, ia tidak berbicara
seperti biasanya. Bahkan ia hanya tunduk diam. Setelah selesai melayani La Pasampoi
kemudian Indo Wellang berkemas kemas untuk kembali kerumahnya. Dalam perjalanan
pulang Indo Wellang diliputi berbagai macam masalah, yang dia sendiri bingung
memikirkannya. Sebelum Indo Wellang pergi menemui I Tenripada ia terlebih dahulu
singgah dirumahnya
Setelah Indo Wellang telah sampai dirumahnya iapun langsung istirahat. Setelah perasaannya
agak baik kemudian ia pergi menemui I Tenripada ditempat ia dikurung. Sesampainya Indo
Wellang ditempat I Tenripada, ia langsung menjatuhkan diri di tempat tidur I Tenripada
tanpa berkata apa apa pada “I Tenripada” Sementara I Tenripada juga hanya diam, ia takut
bertanya tanya , dibiarkannya bibinya istirahat.
Setelah Indo Wellang cukup istirahat, iapun bangun dan dilihatnya I Tenripada masih
bersemedi. Tidak lama kemudian Indo Wellang berkata : Tenri...! orang tua itu memanggil.
I Tenripada menyahut : Iya bi..!
Indo Wellang : Kemari nak..
I Tenripada pun berhenti bersemedi, dan langsung mendatangi bibinya sambil berkata : Ada
apa bi...?
82
Berkata Indo Wellang : Tadi saya dipanggil oleh puang Paddanreng, beserta putranya La
Pasampoi. Puang Paddanreng berkata pada putranya agar ia berhenti menyukaimu, tapi La
Pasampoi berusaha meyakinkan ayahnya kalau kamu itu sebenarnya bukan budak . Tapi
puang Paddanreng tetap bersikukuh agar puang Pasampoi berhenti untuk menyukaimu.
Karena itu bibi juga minta kamu melupakannya walaupun kamu sudah terlanjur menaruh
hati padanya. Karena menurut puang Paddanreng ini menyangkut kehormatan dan martabat
kerajaan.
I Tenripada hanya tunduk diam, pikirannya melayang layang, tidak tahu mau bilang apa.
Indo Wellang kembali bertanya : Bagaimana anakku ?
I Tenripada berkata : Semuanya baik buruknya saya serahkan pada bibi. Karena saya juga
tahu siapa diriku.
Indo Wellang berkata : “setelah kau menyadari dirimu , maka apa yang terjadi kemarin
adalah persoalan yang wajar. . Karena itu anakku. Selagi bencana yang tak dikehendaki itu
datang, aku ingin memberi tahukan kepadamu, bahwa sebenarnyalah hal ini pernah terjadi,
pada diri bibimu. namun bila nantinya putra puang Paddanreng tetap selalu datang
menemuimu sebelum resmi menikah dengan putri Pabbicara, maka jangan sekali kali kamu
perlihatkan wajah yang tidak senang. “I Tenripada” berdesir mendengar kata-kata bibinya
itu. Ia sama sekali tidak pernah menyangka hal itu bisa berkembang begitu cepat., sebab La
Pasampoi bagi dirinya masih dalam penjajakan, namun kalau pandangan puang Paddanreng
begitu hina memandang saya, karena status saya adalah budak, maka aku hanya bisa pasrah
saja.
Tiba tiba bibinya berkata : Apa yang sedang kau pikirkan nak ?.
Mendengar itu maka I Tenripada terasa jantungnya semakin berdebar-debar. wajahnya tiba-
tiba menjadi merah dan “I Tenripada” menahan hatinya dengan menggigit bibirnya.
“Bibi,” berkata “ Tenripada” pula, namun suaranya menjadi serak dan seakan-akan
sedemikian pepat dadanya, sehingga kata-katanya itu menjadi terpotong-potong, “aku ingin
berkata kepadanya , supaya La Pasampoi segera memenuhi saja permintaan ayahnya, agar
aku juga dapat tenang, walaupun hati ini sudah terlanjur jatuh cinta”
“Tenripada ” berhenti sesaat untuk menelan ludahnya.
Namun tidak lama kemudian La Pasampoi datang, Indo Wellang dan I Tenripada, agak
terkejut melihatnya. Setelah La Pasampoi mendekat, kemudia ia berkata “Tenri” tentu engkau
sudah mendengar masalah kita berdua dari bibimu.
I Tenripada berkata : Sudah puang, selanjutnya I Tenripada berkata, “Untunglah puang
Paddanreng telah memberikan sebuah kepastian sehingga mulai saat ini “aku harus
menyadari sepenuhnya perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidupku. Tentang
83
anggapan manusia di sekelilingku terhadap diriku, yang harus aku rubah. Karena itulah bila
nantinya aku bebas dari kurungan ini, aku akan berusaha untuk membebaskan diriku dari
pandangan sebagai wanita budak
La Pasampoi bertanya ; Bolehkah aku tahu usaha apa yang ingin kau lakukan itu?
I Tenripada : Mohon maaf puang belum saatnya aku bisa menyampaikan kepadamu puang,
suatu saat puang akan tahu.
La Pasampoi berkata : Kalau kau bisa sampaikan sekarang, tentunya saya akan melibatkan
diri untuk mendukung rencanamu itu.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, rasanya belum bisa saya ungkap sekarang, karena
masih beberapa hal yang perlu saya perbaiki.
La Pasampoi berkata : Baiklah kalau begitu Tenri.
Tidak lama kemudian La Pasampoi minta permisi dan pulang ke istananya. Dalam perjalanan
pulang, Matahari nampaknya semakin tinggi di langit, terasa panasnya semakin tajam
menyengat kulit. Namun sinarnya yang bertebaran di segenap jalan yang dilaluinya itu sama
sekali tak terasa. La Pasampoi sedang bergelut dengan angan-angannya, “Apakah yang
harus aku lakukan kini?”
Namun di sepanjang perjalanan itu tak ditemuinya jawaban yang memuaskan hatinya.
Kadang-kadang timbul keinginannya untuk pergi saja untuk membawa lari I Tenripada,
namun demi menjungjung tinggi adat istiadat dan harkat kehormatannya bersama I
Tenripada terpaksa pikiran itu dibuyarkan.
La Pasampoi” menggeleng-geleng lemah, ternyata belum tahu apa yang semestinya harus
dilakukan, dan “I Tenri pada ” yang baru ditinggalkannya, bukannya untuk menegaskan
kembali cintanya kepadaku, tetapi malah gadis itu sepertinya akan berbuat sesuatu yang
tidak ia inginkan. Inilah yang menjadi teka teki baginya.
84
EPISODE
PERMAISURI MELAMAR PUTRI PABBICARA
Dihalaman istana nampak permaisuri Paddanreng, dengan ditemani oleh beberapa dayang
dayangnya sedang berjalan keluar dari istana menuju istana Pabbicara. Sesampainya di istana
Pabbicara, iapun disambut oleh isteri Pabbicara. Sementara Pabbicara bertanya dalam
hatinya, apa maksud kedatangan permaisuri dating keistananya
Setelah permaisuri bicara basa basi dengan isteri Pabbicara kemudian ia berkata : sebenarnya
kedatangan saya kemari, ingin menyampaikan bahwa saya dengan puang Paddanreng ingin
tahu, apakah putrimu belum ada yang lebih dahulu melamarnya.
Isteri Pabbicara berkata : maaf puang, belum ada.
Permaisuri kembali berkata : Kalau begitu puang Paddanreng bermaksud menjodohkan
putrimu We Tenrisui dengan putera saya La Pasampoi. Dan mungkin dalam waktu yang tidak
lama saya akan datang untuk melamar putrimu, bagaimana menurut pendapatmu?
Isteri Pabbicara : Maaf puang kalau saya sangat setuju namun demikian tentunya saya harus
terlebih dahulu menyampaikan maksud puang ini pada petta Pabbicara.
Permaisuri : Baiklah kalau begitu, saya tunggu beritanya.
Isteri Pabbicara : Iyye puang. Dan tidak lama kemudian permaisuri minta permisi pulang ke
istananya.
Sesampainya permiasuri di istana, ia langsung menemui peta Paddanreng untuk melaporkan
hasil kunjungannya di istana Petta Pabbicara.
Adapun iseri petta Pabbicara sepeninggal permaisuri, juga langsung menemui petta Pabbicara
untuk menyampaikan maksud kedatangan permaisuri tadi.
Pada malam harinya petta Pabbicara dan isterinya kemudian memanggil We Tenrisui, Tidak
lama kemudian We Tenrisui datang dan langsung duduk didepan kedua orang tuanya.
Kemudian petta Pabbicara berkata pada We Tenrisui bahwa ; Tadi siang permaisuri
Paddanreng datang dengan maksud menjodohkanmu dengan puteranya La Pasampoi,
walaupun demikian ayahmu bisa saja memutuskannya, namun saya juga ingin tahu
bagaimana menurut tanggapanmu ?.
We Tenrisui : Mohon maaf puang, apapun keputusan ayahanda, anakmu ini tentuya hanya
dapat menerimanya saja. Namun demikian cuma perlu anakda sampaikan bahwa sebenarnya
anakda ini sudah menjalin kasih dengan putra petta Pilla. Apalagi sudah menjadi
pembicaraan umum kalau putera Paddanreng itu telah jatuh hati wanita budak itu.
85
Petta Pabbicara berkata : Ingat .. bahwa permaisuri yang lebih dahulu melamar, sehingga
tertutuplah kesempatan putera petta Pilla untuk melamarmu. Dan untuk wanita budak itu
jangan hiraukan hal itu, sebab suatu hal yang tidak mungkin bila petta Paddanreng mau
menerima wanita budak itu sebagai menantunya
We Tenrisui mendengar itu hanya bisa tunduk terpaku ditempat duduknya. Dan tidak lama
kemudian petta Pabbicara berkata : Saya kira cukup dulu sampai disini, tinggal kita
menunggu lamarannya. Dan kamu boleh kembali ditempatmu.
We Tenrisui kemudian berdiri dan meninggalkan kedua orang tuanya kembali menuju
biliknya. Sesampai dibiliknya We Tenrisui langsung menangis dengan membayangkan
betapa baiknya hubungannya dengan putera petta Pilla yang bernama La Patiroi itu.
Sementara dirinya sekarang akan dilamar oleh putera Paddanreng yang ia tidak pernah
bayangkan sebelumnya. We Tenrisui yang masih menitikkan air matanya itu, tanpa sengaja
ia berkata dalam hatinya, kalau nantinya ia sudah dilamar oleh petta Pandanreng, maka ada
dua orang yang akan patah hati yaitu La Patiroi dan wanita budak itu. Karena itu dalam
hatinya berpikir jalan satu satunya adalah berusaha membantu wanita budak itu agar putera
Paddanreng itu tetap bersikukuh untuk memperisterikan wanita budak itu.
Keesokan harinya secara diam diam We Tenrisui mendatangi I Tenripada di tempatnya.
Setelah We Tenrisui masuk kedalam ruangan I Tenripada, dilihatnya I Tenripada sedang
bersemedi, namun tidak lama kemudian I Tenripada membuka matanya, dan langsung
terkejut melihat ada wanita memasuki ruangannya. Sebelum I Tenripada buka suara maka
We Tenrisui mendahuluinya dengan berkata : Mugkin kamu kaget dengan kedatanganku ini.
Yang perlu kamu tahu dulu, bahwasanya saya ini puteri petta Pabbicara dan nama saya ialah
We Tenrisui.
Tiba tiba I Tenripada langsung menyela dengan berkata : Apakah puang datang kemari untuk
menghina aku lagi. Kalau demikian adanya silahkan muntahkan semuanya dan aku siap
mendengarnya.
We Tenrisui berkata : Jangan salah paham, saya kemari hanya ingin mengatakan sesuatu.
I Tenripada mendengar hanya diam dalam kebingunannya, kemudian We Tenrisui berkata :
Sudah menjadi pembicaraan umum bahwa putera Paddanreng telah jatuh hati sama kamu,
karena itu aku datang kemari untuk memberikan dukungan kepada kamu agar bagaimana
cara kamu untuk tetap bersama putera Paddanreng.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, hamba belum mengerti maksud puang.
We Tenrisui berkata : Sebenarnya begini, kemarin permaisuri datang ke istana orang tua saya
dengan maksud ingin melamar saya untuk puteranya puang Pasampoi. Namun terus terang,
sebenarnya juga saya sudah punya kekasih, karena itu satu satunya jalan untuk membatalkan
niat mereka adalah bagaimana cara agar puang Pasampoi itu bersikukuh untuk
memperisterikanmu.
86
I Tenripada mendengar itu langsung kaget dan bingung sejenak, kemudian berkata : Mohon
maaf puang, sebenarnya dengan melihat ketulusan hati puang Pasampoi, telah membuat
hamba untuk pertama kalinya jatuh hati, namun dalam perkembangan selanjutnya, hamba
pun sadar kalau hal itu tidak dapat berlanjut sebagai sepasang suami isteri, mengingat
kedudukan hamba seorang wanita budak.
We Tenrisui mendengar itu, langsung hatinya terharu, dan kemudian berkata, kalau demikian
jadinya, kira kira menurut kamu cara apa yang saya musti jalani agar petta Paddanreng
dapat membatalkan niatnya.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, hamba tidak dapat memberi cara ataupun jalan,
sebab apalah arti hamba ini sebagai wanita budak.
We Tenrisui berkata : Kalau begitu, hanya puang Pasampoi rupanya yang mampu menjawab
semuanya ini.
I Tenripada berkata : Hamba kira demikian puang, dan mohon kiranya hamba tidak lagi
dibawa ke masalah ini, sebab hamba sudah bertekad untuk menjauhi puang Pasampoi.
We Tenrisui berkata, kalau begitu terpaksa saya harus ketemu puang Pasampoi, namun
bagaimana caranya saya bisa ketemu puang Pasampoi.?
I Tenripada berkata : Kalau puang berkenan menunggunya, Walau demikian hamba tida bisa
pastikan . Mudah mudahan hari ini ia datang.
We Tenrisui berkata : Berarti puang Pasampoi masih terus mencintaimu, karena buktinya, ia
masih selalu menyempatkan diri kemari.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, sepertinya demikian, walaupun hamba sudah
memberikan keputusan bahwa hamba ini tidak mungkin bisa menyatu dengannya.
Kembali We Tenrisui terpana mendengar pengakuan I Tenripada, membuatnya merenung
kemudian dalam hatinya ia berkata, jika cinta tidak dapat mempersatukan kami dalam
kehidupan ini, maka mudah mudahan dipertemukan dalam kehidupan berikutnya. Walaupun
sebenarnya cinta kami ini sederhana tapi rupanya ada isyarat yang dikirimkan dari puang
Paddanreng membuat kami harus melepasnya, menjadikan awan tiba tiba mendung yang
diiringi halilintar.
Tidak lama kemudian datanglah La Pasampoi. Dan begitu ia melihat We Tenrisui langsung
terkejut dan berkata dalam hatinya untuk apa ia datang menemui I Tenripada.
Setelah La Pasampoi mendekat kemudian ia berkata : Tenrisui angin apa yang mengantarmu
datang kemari.?
87
We Tenrisui menjawab : Maaf puang, sengaja memang aku menunggumu, tadinya ada
sesuatu yang sudah saya bicarakan dengan wanita budak ini, dan rupanya masalah itu
sekarang tergantung padamu puang.
La Pasampoi berkata : Masalah apa itu.?
We Tenrisui berkata : Mungkin puang sudah tahu atau mungkin juga puang belum tahu kalau
kemarin permaisuri ibunda puang, datang ke tempat kami, untuk menyampaikan bahwa ia
akan datang melamar saya untuk puang. Sementara saya juga sebenarnya sudah memiliki
kekasih yaitu La Patiroi putera petta Pilla yang saya kira puang sangat mengenalnya. Karena
itu saya datang kemari puang, ingin memastikan sampai dimana hubungan puang dengan
wanita budak ini. Sebab sudah bukan rahasia lagi kalau puang mencintai wanita budak ini
puang.
La Pasampoi berkata : Sekali ini saya peringatkan agar tidak menyebut dia sebagai budak
wanita, dia juga manusia seperti kamu yang punya nama yaitu I Tenripada. Perlu juga kamu
ketahui bahwa saya belum tahu kalau ibu saya datang ketempatmu untuk melamarmu. Dan
ketahuilah bahwa I Tenripada ini adalah satu satunya wanita yang aku cintai. Karena itu
sebaiknya barangkali kamu menolak lamaran itu.
We Tenrisau berkata : Justeru itulah puang mengapa saya datang kemari sebab tentunya
puang tahu kalau saya tidak bisa menolak kehendak orang tuaku. Karena itu puanglah yang
sebaiknya keberatan atas kehendak puang Paddanreng untuk melamar saya.
La Pasampoi : Sepertinya kita punya nasib yang sama, sebab sayapun tidak mampu menolak
keinginan orang tuaku, karena hal ini menyangkut harkat dan martabat kerajaan katanya.
We Tenrisui : Karena itu puang, mohon kiranya kita sama sama cari jalan keluarnya, sebab
sebagaimana puang mencintai I Tenripada ini, begitupula cintaku pada La Patiroi.
La Pasampoi berkata , sebenarnya memang aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali
berjuang setiap hari sampai kutemukan cara yang dapat, membantu saya dan I Tenripada
dalam mengarungi perjalanan hidup kami.
We Tenrisui berkata : Tentunya demikian pula halnya dengan cinta saya pada La Patiroi
puang,
La Pasampoi mendengar itu, kemudian tertunduk dan merenung dalam hatinya yang berkata :
Semua yang kulakukan selama ini tidak lain karena aku mencintai dan ingin memberi
kebahagiaan pada I Tenripada. Hubungan antara aku dan I Tenripada merupakan hal paling
indah yang aku pernah rasakan dalam hidupku. Sesuatu yang paling mengesankan yang
pernah kuketahui dalam hidup. Dan akan selalu aku kenang. Cinta telah membawa kami
kedalam jiwa yang paling dalam. Dimana tadinya kami harapkan akan melampaui senja;
dan membangunkan fajar dari dunia yang lain. Namun saat ini aku tak sanggup lagi
memikul derita seperti saat ini– Dan tak sanggup lagi aku menahan goncangan dari kedua
88
orang tuaku. kukira hubungan ini akan begitu indah. Namun sayang harus putus ditengah
jalan.
We Tenrisui yang melihat La Pasampoi tunduk termenung kemudian berkata : Puang.!
Kenapa tiba tiba termenung ?
Mendengar itu La Pasampoi langsung terhentak dan berkata : Sebenarnya hari ini aku
datang untuk mengucapkan selamat tinggal pada kekasihku I Tenripada , dan harapanku
semoga perpisahan kami ini akan seagung dan seindah cinta kami sebelumnya. Dan tanpa
aku tahu bahwa wanita yang dicalonkan untuk menjadi isteriku bisa bertemu disini. Seolah
olah kodrat itu berkata “Selamat tinggal I Tenripada dan selamat datang We Tenrisui.
We Tenrisui yang mendengar itu kemudian berkata : Maaf puang Pasampoi, di bawah
naungan langit langit kurungan ini, aku mencium sejuknya aroma cinta yang tersenyum
dalam kegetiran, kulihat seorang wanita muda yang sedang menatap tajam ke arah puang
Pasampoi. Dari matanya terpancar seribu makna dan dari wajahnya sekilas terpancar
cahaya. Walaupun ia nampak membisu tapi sepertinya ia sedang melantunkan sebuah syair
yang maksudnya akan membebaskan dirinya dari belenggu cinta yang sifatnya hanya
fatamorgana .
Tiba tiba I Tenripada berkata : Mendengar pernyataan puang Pasampoi, sepertinya aku
akan hanyut terbawa arus bersama aliran darahku. Yang akan menggandeng tanganku, dan
mengajakku menyusuri aliran sungai Kemudian duduk di tepian Menunggu terbitnya sang
surya, yang akan menentukan takdirku.
We Tenrisui menyela dan berkata : Mohon maaf puang Pasampoi, walau hari ini aku baru
mengenal I Tenripada, namun saya sudah merasakan betapa lembutnya budi pekertinya
yang dibalut dengan wajahnya yang cantik. Sukar barangkali dicari padanannya. Karena itu
sungguh sangat disayangkan kalau ia harus lepas ditangan puang.
Berkata La Pasampoi ; Aku mecintai I Tenripada bukan hanya karena kecantikannya
semata tetapi karena budi pekertinya. Semisal, bunga dipuji bukan karena bentuknya yang
cantik tapi karena baunya yang harum.
Berkata We Tenrisui : Tapi pada kenyataannya lelaki akan tertarik lebih dulu pada
kecantikan seorang wanita daripada keagungan budi pekertinya. Mereka menginginkan
wanita sebagai bunga yang dipuja, bukan sebagai bau yang mengharumkan dirinya. Lelaki
akan bangga karena mempunyai isteri cantik, akan bahagia apabila mendengar orang memuji
isterinya cantik, daripada mempunyai isteri yang luhur budi pekertinya. Bukankah demikian,
puang ?. Dan saya kira puang sebagai seorang pria, tentulah tak terkecuali dalam hal ini.
La Pasampoi berkata : Saya kira tidak demikian, memang pada awalnya laki laki akan tertarik
pada kecantikan seorang wanita. Seperti halnya kecantikan yang dimiliki bunga, hanyalah
sekedar untuk menarik perhatian kumbang, sebab sebuah kecantikan awalnya diperuntukkan
89
sebagai alat untuk menarik perhatian. Kecantikan itu sifatnya tidaklah langgeng karena akan
layu ditelan masa. Karena itu kecantikan I Tenripada pada awalnya memang baru sebatas
ketertarikan,. Aku belum memutuskan untuk mencintainya, nanti hari hari berikutnya setelah
melihat budi pekertinya barulah aku putuskan untuk mencitainya.
We Tenrisui berkata : Mohon maaf puang, jika sekira ucapanku tadi tadi tidak
berkenan dihati puang”.
La Pasampoi berkata : “Ah, janganlah engkau minta maaf, bicaralah apa yang ada dalam
hatimu.” Mumpung ada kesempatan seperti ini.
We Tenrisui berkata : Memang betapa sedihnya ketika aku harus memotong sayap cintaku
itu, demi mentaati adat istiadat, dan itu adalah siksaan jiwa pada kami seperti anak burung
kehilangan induknya. Dan telah membiarkan cinta kami berlalu di hadapan tanpa mampu
aku berbuat untuk menyelamatkannya.
I Tenripada kemudian menyela dan berkata : Mohon maaf kepada kedua puangku, janganlah
lagi merisaukan hamba, sebab hamba telah pasrah dengan keadaan hamba. Sebab memang
dari awal sebenarnya telah hamba sadari kalau cinta yang baru kami rajut bersama puang
Pasampoi akan putus ditengah jalan, karena adanya perbedaan yang sangat sulit untuk
disatukan. Karena itu biarkanlah hamba menjalani hidup ini sesuai kodrat.
Mendengar itu kemudian We Tenrisui berkata : Begitupula dengan saya puang Pasampoi,
tinggal sekarang kami ini berdua dengan Tenripada menunggu hasil usaha puang. Bilamana
pada akhirnya puang gagal, maka saya pun sudah pasrah menerima takdir. Dan kepada
Tenripada, saya hanya bisa minta maaf atas semua ini, karena kamupun tahu kalau semua ini
bukan kehendak kita semua disini.
Tidak lama kemudian We Tenrisui minta pamit untuk pulang, dan kemudian disusul La
Pasampoi.
Keesokan harinya datanglah Indo Wellang bibi I Tenripada untuk menjenguk kemenakannya
I Tenripada, setelah Indo Wellang duduk dipembaringan I Tenripada, sejenak kemudian
berkata : bagaimana keadaanmu nak?
I Tenripada menjawab : Biasa bi‟, kemarin datang putri Petta Pabbicara, namanya puan We
Tenrisui.
Indo Wellang mendengar itu langsung terkejut dan matanya terbelalak, kemudian berkata :
Apa ia datang dengan membawa masalah ?
I Tenripada menjawab : Tidak bi‟ justeru ia membawa berita, kalau dirinya telah dilamar oleh
permaisuri untuk puang Pasampoi.
Indo Wellang langsung menyela : Berarti dia kemari hanya untuk menghinamu, kalau ia
sudah dilamar puang Pasampoi.
90
I Tenripada berkata : Maaf bi‟, bukan begitu maksudnya, justeru ia datang kepadaku, agar
bagaimana aku dapat menghalangi keinginan petta Paddanreng untuk menjadikan ia menantu.
Karena ia juga sudah punya kekasih.
Indo Wellang berkata, lalu apa jawabmu ?
I Tenripada menjawab : Aku katakan bahwa, aku ini adalah seorang wanita budak yang
tentunya sama sekali tidak punya kuasa untuk menghalanginya.
Indo Wellang berkata : Bagus anakku, memang kita ini tidak punya kuasa untuk
menghalanginya. Walaupun pantas diakui nak bahwa saling mencinta di dunia fana ini
adalah yang terbaik dalam menjalin kasih sayang. Sebab itu disinilah letaknya ketika
cintamu diuji untuk menterjemahkan puisi kehidupan yang digubah oleh awan, dan
dinyanyikan oleh hujan. Maka saya kira sudah saatnya engkau mulai belajar dengan
memaknai bahwa kadang cinta itu hanya membuat kita bangga dan menyenangkan. Namun
apabila takdir berkata lain, maka akan berubah seperti yang nakda rasakan sekarang ini.
I Tenripada berkata : Iya bi‟, karena itu percayalah bahwa anakmu ini akan selalu ingat apa
petuah bibi.
Setelah keduanya puas dalam menumpahkan perasaan masing, maka tidak lama kemudian
Indo Wellang pulang ketempatnya.
Adapun We Tenrisui keesokan harinya, secara diam diam menyuruh pelayannya untuk
menemui La Patiroi agar ia menemuinya dipinggir sungai pada sore harinya seperti biasanya
. Setelah La Patiroi menerima pesan itu, iapun kemudian berpikir keras, gerangan apa yang
menyebabkan tiba tiba ia disuruh menemui We Tenrisui di pinggir sungai.
Sore harinya nampaklah We Tenrisui mendatangi pinggir sungai, dimana La Patiroi sudah
menunggunya. Setelah keduanya bertemu kemudian La Patiroi berkata : Ada apa yang begitu
penting sehingga saya disuruh menemuimu disini?
We Tenrisui berkata : Maaf saya langsung saja saya katakana bahwa dua hari yang lalu
dating permaisuri Paddanreng kerumah melamar saya untuk puang Pasampoi ?.
La Patiroi langsung menyela, bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa puan Patiroi
sudah jatuh hati pada wanita budak itu ?.
Karena itulah kemarin saya datang ketempat wanita budak itu dikurung, untuk mengetahui
sejauh mana hubungannya dengan puang Pasampoi, namnu ia berkata padaku untuk lebih
jelasnya ada baiknya menunggu puang Pasampoi. Dan tidak berapa lama datanglah puang
Pasampoi. Kemudian ia berkata kalau kedatangannya hari itu untuk mengucapkan selamat
tinggal, karena sudah tidak mampu lagi menahan kehendak puang Paddanreng.
La Patiroi berkata selanjutnya bagaimana ?
91
We Tenrisui berkata, dengan berat hati juga aku harus mengucapkan selamat tinggal padamu,
sebab pasti orang tuaku juga tidak mampu menolak keinginan puang Paddanreng.
La Patiroi berkata : Kalau demikian memang adanya, saya bisa apa yah saya hanya bisa
pasrah saja menerima kenyataan ini.
We Tenrisui yang melihat wajah La Patiroi yang penuh kepasrahan itu, ia hanya bisa tunduk
dengan menitikkan air matanya, dan dalam hatinya berkata ; Sekumpulan duka tiba tiba
datang merangkum jiwa kami. Patahnya cinta ini telah menyanyikan, lagu kesedihan yang
membisikkan derita tangisan. Dan kulihat wajahku dimata La Patiroi juga memancarkan
kesedihan yang membisu tanpa suara; sedang matanya nampak berkedip bagai bintang-
bintang. Karena himpitan derita cinta membuat jiwa kami tertawan oleh kekuasaan.
La Patiroi yang melihat We Tenrisui menitikkan mata sambil tertunduk kemudian ia berkata :
We Tenrisui…! Biarkanlah masalah ini berlalu, sebab rupanya cinta kita seperti burung
patah sayap yang tidak akan bisa terbang di balik awan untuk melihat dunia. Di mana
jiwaku dan jiwamu kekasihku tidak lagi diberi kesempatan untuk hidup bersama dalam
pelukan kebahagiaan. Karena itu hapuslah air matamu.
We Tenrisui, yang mendengar seruan La Patiroi, kemudian ia mengangkat kepalanya dan
memandang wajah La Patiroi tanpa berkedip dan berkata : Maaf Patiroi kalau aku menitikkan
air mata, bukan karena apa, sebab kebaikan yang kau tunjukkan dalam cintamu kepadaku
dan jika kebaikanmu menyangkut semua hal maka kaulah salah satu dari orang-orang yang
memiliki kebaikan sempurna. Sebab menurutku cinta itu, selalu menuntut hadirnya
kebaikan dalam jiwa setiap orang .
Adapun I Tenripada di tempat kurungannya sepertinya ia tak mampu menepis kenangannya
bersama La Pasampoi, karena ia mulai merasakan kesepian yang selama ini ia tidak begitu
rasakan. Dalam hatinya berkata : Seandainya engkau puang tidak pernah datang padaku,
tentunya tidak akan aku rasakan seperti yang aku rasakan saat ini. Oh puang Pasampoi,
walau aku tahu engkau mencintaiku setulus hatimu, namun cinta yang puang bawakan
padaku, berbalik menjadi racun pada diriku, yang telah membuyarkan semua impianku.
karena ketika aku mulai belajar untuk mencintaimu, tiba tiba puang Paddanreng datang
merenggutnya. Selanjutnya dalam renungan I Tenripada berkata : Hampir setiap hari engkau
datang dan duduk dibangku bambu itu dan memandangku dengan tatapan mata yang cukup
memukau membuat aku sulit melupakanmu. Biasanya saat saat begini aku sudah
menunggumu, namun kali ini tidak lagi, sebab tinggallah aku sekarang hanya menanti hari
kebebasanku, dengan memintal minggu, minggu merajut bulan, dikala fajar menyingsing
aku kembali menanti malam . Tengah malam dibalik tidur ku mengenangmu, Tetap saja
semua hening. Sejak kau putuskan hubungan kita, ku tak lagi bisa menantimu. I
Tenripada tanpa ia rasa wajahnya dibasahkan oleh air mata. Namun ia masih sempat
menyaksikan matahari di ufuk barat perlahan tenggelam menuju pembaringan. Di kurungan
ini kami dipertautkan oleh cinta, namun dikurungan ini pulahlah kami harus berpisah.
Walaupun rasanya berat hati harus berpisah, dan saat dia membisikkan selamat tinggal,
aku hanya bisa tunduk terharu menitikkan air mata.
92
Seiring waktu berjalan aku terus menanti, bilakah datangnya hari kebebasanku, karena saat
ini aku tidak merindukanmu lagi, yang kutunggu tinggal hari kebebasanku, dimana nantinya
aku akan pergi jauh untuk mencari daerah yang bebas dari perbudakan.
Adapun La Pasampoi, sejak terakhir kalinya mengungjungi I Tenripada, dan mengucapkan
selamat tinggal, kini mulai didera kerinduan yang mendalam , sehingga ia ingin sekali lagi
mengungjungi I Tenripada di kurungannya.
Keesokan harinya, diberanikannya dirinya mengungjungi I Tenripada, dan seperti biasanya
terlebih dahulu ia duduk di bangku Bambu itu.
Adapun I Tenripada yang melihat kedatangan La Pasampoi, diteguhkannya hatinya untuk
tidak memperlihatkan rasa kecewanya, dan ia akan berusaha mengurangi bicaranya.
Tidak lama kemudian nampaklah La Pasampoi segera bergerak diam diam turun dari
bangku, dan mulai melangkahkan kakinya mendekati kurungan I Tenripada. Dan langsung
berkata : Tenri saya tahu betapa aku telah mengecewakanmu, karena itu maafkanlah aku, dan
kalau bisa biarkanlah aku selalu datang menemuimu, untuk melepaskan rasa cintaku padamu,
sebelum perpisahan kita benar benar terjadi.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, bagaimana mungkin aku dapat menerima
kedatangan puang sementara api cinta dalam diriku sudah mulai redup.
La Pasampoi berkata : Tapi cinta dalam dadaku masih membara terus, dan aku tidak tahu
akankah redup nantinya.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, walau hamba ini seorang budak, tapi tidak berarti
aku harus diperbudak oleh cintamu puang, dengan memberimu kesempatan untuk
melampiaskan rasa cintamu itu puang. Mohon maaf puang apabila kata kataku ini
menyinggung perasaanmu. Karena itu puang, aku tidak akan menangis lagi, karena rajut
kerinduanku telah pupus sudah
La Pasampoi berkata : Sekali saya minta maaf Tenri. Atas kecepatanku memberikan
keputusan perpisahan, sebab saya tidak mau melihat dirimu terlalu jauh mencintaiku,
sementara aku melihat ada batas yang kuat yang akan memisahkan kita.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, janganlah kiranya puang minta maaf padaku, sebab
tidaklah pantas seorang seperti puang meminta maaf pada seorang budak seperti hamba ini.
Apalagi mulai saat puang menyatakan putus cinta, saat itupulalah hamba telah memantaskan
diri untuk tidak tunduk dan terbawa arus nasib, dan jatuh terduduk dalam kepasrahan dan
hanya bersandar ditakdirku, dengan menunggu sesuatu yang tidak berkesudahan. Karena
kesetiaan hanya nampak ketika sisi lain muncul penghianatan.
La Pasampoi mendengar itu hanya bisa tertunduk, dan sepertinya ia menitikkan air mata.
Tidak lama kemudian ia mengengkat kepalanya dan langsung memandang I Tenripada dan
93
berkata : Sepertinya aku tidak bisa lagi menatapmu, sebab semakin aku menatapmu semakin
bathin ini tersiksa. Karena itu biarkanlah aku permisi dulu.
I Tenripada yang ditinggal berkata dalam hatinya : Mohon maaf puangku, karena memang
sepertinya, bintang di persada angkasa tak lagi cukup menghangatkan kedinginan dalam
kesendirianku, menikmati renungan pelita hati, dengan membayangkanmu dalam mimpi.
Sementara aku dipembaringan ini hanya berselimutkan kecewa.
Sekembalinya La Pasampoi dan dalam perjalanan, hatinya kembali berontak, ingin rasanya
ia segera melarikan I Tenripada, sebab I Tenripada sepertinya bukan insan budak biasa,
sepertinya ia adalah wanita pilihan yang dikaruniakan padaku. Kala itu aku masih ingat
ketika hari itu masih cemerlang, secemerlang bisikan cintaku padanya, hingga menggulung
jarak ombak asmara diantara kami, menuju sebuah pulau harapan. Namun harapan itu
sepertinya tinggal harapan, karena harapan itu kini mulai tersapu oleh awan yang ber-arak,
Dan kini hangatnya bintang lazuardi tak mampu lagi menghangatkanku.
Semetara itu We Tenrisui setelah pertemuan terakhirnya dengan La Patiroi, mulai merasakan
sakit pada sekujur tubuhnya, karena ia baru merasakan betapa beratnya sebuah perpisahan
yang telah menyurutkan langkahnya, dan ia hanya mampu memejamkan matanya sambil
berdesis ; Bila tiba waktunya berpisah, akankah aku meninggalkan Patiroi seorang diri, tanpa
ada bayang bayangku menemaninya. Sementara aku masih berjalan dengan puang Pasampoi,
ooh alangkah pedihnya bahwa setiap kegagalan yang membawa kekecewaan, dan setiap
kenyataan yang menghadirkan penyesalan masih bisa kudengar dan kurasakan, suara-suara
yang menghibur untuk menghapus setiap kecewa dan sesal. Namun tidak demikian bagi
Patiroi, sungguh perih rasanya hidup ini.
Namun begitupula halnya dengan La Patiroi, ketika ia mendatangi pinggir sungai dimana
biasanya bertemu dengan We Tenrisui. Sambil memandang arus sungai, iapun bergumam
dalam hatinya dengan berkata : Karena We Tenrisui telah memutuskan cinta kami, maka kini
aku tidak lagi bisa bersamanya Dan sekarang aku harus bangkit kembali berdiri dengan
tegar menyambut fajar yang akan menyingsing, dengan harapan mudah mudahan
cahayanya akan merekah membawa aroma baru dalam hidupku . Sebab tadinya hari hariku
bersama We Tenrisui terlihat begitu indah, dan sejuk menanti bahagia dengan kesabaran.
Namun, Yah..., sekarang engkau ibarat matahariku yang dulu indah, dan kini tenggelam di
ufuk barat bersama awan hitam. Aku dan kamu, dalam perpisahan tanpa tetesan air mata,
karena aku sadar hidup ini akan terus bersinar. Karena itu aku tak akan meratapi takdir.
Selanjutnya La Patiroi berguman : Wahai Tenrisui, bagaimanapun juga engkau telah menyia
nyiakan harapanku, engkau tahu dan paham betul orang yang ditinggalkan karena merasa
cintanya diputus akan menangis, merintih, dalam keperihan, tapi aku tidak. Perpisahan ini
hanya sebuah babak baru yang akan berlalu, akan berubah dengan kisah hidup selanjutnya.
Harapan untuk hidup ini masih panjang, harapan adalah bayangan nafas kehidupan. We
Tenrisui silahkan berangkat, dan selamat jalan. Karena cinta kita tak bisa di paksakan,
biarlah cinta ini akan terlupakan tanpa kenangan. Dengan pengalaman ini membuat aku
bertahan dan akan ku langkahkan kaki ini menuju masa depan yang lebih cemerlang, dan
94
pada saat yang sama dapat aku buktikan bahwa aku bukan manusia dalam cengkeraman
cintamu yang dapat bertahan hidup tanpamu.
Lima hari setelah La Pasampoi datang menemui I Tenripada, tampaklah sebuah iring iringan
dari istana Paddanreng menuju istana Pabbicara, dan iring iringan itu telah menunjukkan
akan maksud dan tujuan bahwa mereka akan melakukan lamaran kepada We Tenrisui secara
resmi. Rakyat yang melihat iringan tersebut, mereka pada bergembira. Sedang La Pasampoi
yang melihat itu dari biliknya semakin tersiksa, sebab dalam hatinya berkata : Dengan
dilaksanakannya lamaran tersebut berarti secara resmi pula aku memutuskan hubunganku
dengan Tenripada. Dan tanpa ia rasa air matanya terus menitik.
Adapun La Patiroi yang juga melihat acara lamaran itu, berkata dalam hatinya, kalau
hubungannya dengan We Tenrisui secara resmi benar benar telah putus, namun tiba tiba
pikirannya teringat pada bekas kekasih La Pasampoi yaitu I Tenripada. Walaupun selama ini
ia belum pernah melihat I Tenripada, namun dari berita yang beredar dimasyarakat, kalau I
Tenripada itu sangat cantik, cuma sayangnya ia wanita budak. La Patiroi kemudian berpikir,
walaupun I Tenripada itu budak wanita, tapi bukankah ia manusia juga seperti halnya
manusia lainnya.
Maka keesokan harinya, La Patiroi pun mencoba mendatangi tempat dimana I Tenripada
dikurung, setelah La Patiroi sampai ditempat I Tenripada, tidak jauh dari jeruji dilihatnya I
Tenripada sedang mengurai rambutnya yang panjang itu, rupanya ia baru mandi. Dalam hati
La Patiroi berkata : Pantas kalau puang Pasampoi jatuh hati, karena rupanya wanita budak itu
betul betul cantik. Setelah La Patiroi sudah puas melihat I Tenripada tidak jauh darinya, iapun
segera meninggalkan tempat itu, karena khawatir I Tenripada mengetahuinya. Adapun La
Patiroi dalam perjalanan pulang kerumahnya, telah berpikir bagaimana mendekati wanita
budak itu, sebab ia sempat mendengar kalau wanita budak itu memiliki harga diri dan
kehormatan yang tinggi, walaupun ia hanya seorang wanita budak. Selanjutnya dalam hatinya
berkata, bila aku berhasil mendapatkan cintanya, maka aku tidak perduli lagi dengan
pandangan orang lain, termasuk orang tuaku. Sebab aku akan menjadikannya rembulan yang
indah yang akan bersinar diantara kegelapan, yang akan menjadi bintang gemerlap diantara
bintang bintang yang lainnya.
Keesokan harinya La Patiroi kembali memberanikan dirinya untuk mendatangi tempat I
Tenripada dan kali ini ia akan mencoba menegur I Tenripada. Setelah La Patiroi tiba ditempat
I Tenripada, iapun berjalan melewati kurungan I Tenripada dan seolah olah ia sedang
mencari temannya. Tatkala La Patiroi sudah didepan jeruji kurungan I Tenripada, kebetulan I
Tenripada sedang berdiri berpegang pada jeruji. Sehingga La Patiroi bisa langsung berkata :
Maaf, saya sedang mencari teman saya, dan kebetulan lewat didepan anda, dan mungkin bisa
bantu menunjukkan tempatnya.
I Tenripada mendengar itu, langsung memandang La Patiroi dengan sorotan mata, kemudian
ia berkata dengan halus “ Bukankah ada petugas disini puang, Tanya saja langsung kesana.
95
Namun La Patiroi lanjut berkata pada I Tenripada : Maaf, kenapa ada wanita secantik kamu
bisa beerada ditempat ini.?
I Tenripada kemudian menjawab : Maaf , Ini bukan urusan puang, kemudian ia membalikkan
tubuhnya dan berjalan meninggalkan La Patiroi.
La Patiroi yang melihat I Tenripada telah membalikkan dirinya, maka iapaun meninggalkan
tempat itu. Namun dalam perjalanan ia mulai memikirkan I Tenripada,dan dalam hatinya
berkata, sepertinya wanita budak itu, mulai meluluhkan cintaku pada We Tenrisui, namun
mampukah aku mendapatkan cintanya, sementara ia baru saja menuai kekecewaan dari puang
pasampoi.
Dua hari kemudian, La Patiroi mencoba menghubungi We Tenrisui lewat pelayannya, bahwa
ia ingin ketemu ditempat biasanya. Keesokan harinya La Patiroi mendapat jawaban bahwa
seperti biasanya ia akan menemuinya pada sore harinya.
Sore harinya Nampak We Tenrisui berjalan menuju pinggir sunga daman La Patiroi telah
menantinya.
Setelah keduanya bertemu kemudian We Tenrisui berkata ; Aku telah dating, apa yang ingin
disampaikan padaku.?
La Patiroi berkata : Saya minta maaf kalau angsung saja pada persoalannya, yaitu, bahwa
mengingat adik telah resmi dipinang oleh keluarga kerajaan, maka tentunya adik bisa rasakan
betapa pedihnya perpisahan itu, yang dapat membuyarkan masa depanku. Tapi aku tidak mau
tenggelam dalam lautan kesedihan, karena itu aku harus bangkit. Perlu saya sampaikan
bahwa tiga hari yang lalau aku sempat mendatangani wanita budak itu, dan aku sempat
bicara sedikit, dan ketika saya bertanya tentang dirinya, tiba tia ia membalikkan badannya
dan berjalan meninggalkan aku, sehingga akau harus pulang. Namun dalam perjalananku aku
membayangkannya dan rupanya hatiku mulai tumbuh rasa ketertarikan. Karena itu aku
mengundang adik barangkali bisa membatuku untuk berkenalan lebih jauh dengan wanita
budak itu.
We Tenrisui, yang mendengar pernyataan La Patiroi itu kini ia hanya bisa tertunduk sedih,
dengan linangan air mata iapun berkata : Sebaga seorang yang pernah kukasihi, tentunya aku
akan berusaha membantunu yang bisa mendatangkan kebahagiaan bagiu. Walaupun aku
sendiri belum bisa membayangkan apakah aku akan bahagia juga nantinya. Hanya perlu saya
sampaikan bahwa janganlah menyebut wanita itu dengan wanita budak, sebagaimana apa
yang dikatakan puang Pasampoi bahwa wanita itu juga adalah manusia yang memiliki nama
yaitu I Tenripada.
La Patiroi berkata ; Wah, sungguh nama yang indah, namanya saja sudah indah apalagi
orangnya sungguh cantik, pantas kalau laki laki tertarik padanya.
96
We Tenrisui nampaknya masih cemburu dengan pernyataan La Patiroi sehingga ia berkata ;
Maaf kanda, mohon jangan memuji ia dihadapanku, bukankah itu masih membuat aku
cemburu.
La Patiroi berkata : Maaf adikku We Tenrisui, bila hal itu dapat menyinggung perasaanmu,
hanya saja bagaimana adik bisa membantuku kalau rasa cemburu masih ada dihatimu ?.
We Tenrisui menyambut perkataan La Patiroi dengan berkata : Bersyukurlah engkaku
kandaku bila aku masih cemburu, sebab itu masih membuktikan kala aku masih
mencintaimu. Karena luka yang telah menggores hatiku terasa perih rasanya. Tolonglah
kanda bagaimana aku bisa melupakanmu, sebab bagaimanapun juga kita sedang
mempertunjukkan sebuah drama tentang cinta kita. Coba katakan sekali lagi padaku
sayang, bagaimana aku bisa untuk melupakan kenangan dipinggir sungai ini sayangku. Dan
maaf aku juga ingin bertanya padamu, masihkah ada cinta dalam hatimu. Sebab
bagaimanapun juga kita telah mengukir sebuah kisah yang kita toreh yang harus berakhir
dengan derai kesedihan. Cobalah lihat sungai itu sayangku, yang telah ikut menerima
tumpahan kesedihan kita.
La Patiroi menjawab : Maafkan aku saying, cintaku saat ini masih menyala Cuma saya tidak
tahu ketika engkau telah bersanding dengan puang Pasampoi, dan aku berhasil meraih cinta I
Tenripada.
Setelah keduanya puas mencurahkan hati masing masing, maka keduanya pun pulang.
Keesokan harinya, nampak I Tenripada sedang berjalan menuju tempat I Tenripada,
sementara itu La Pasampoi kebetulan melihatnya dari sebuah rumah dimana ia bertamu.
Sehingga menimbulkan tanda tanya baginya, untuk apa lagi We Tenrisui mendatangi I
Tenripada. Belum lagi kecurigaannya surut, tiba tiba ia melihat La Patiroi berjalan dari
belakang agak jauh dari We Tenrisui. Hal ini menyebabkan rasa cemburu La Pasampoi
muncul walaupun ia sadar kalau hubungannya dengan I Tenripada. Ketika La Patiroi sudah
lewat, La Pasampoi pun minta permisi pada tuan rumah, setelah itu ia mengungtit dari
belakang.
La Pasampoi yang menguntit dari belakang semakin curiga kalau We Tenrisui akan
mengenalkan I Tenripada dengan La Patiroi sehingga rasa cemburunya meluap luap
walaupun ia berusaha menahannya. Dengan melihat We Tenrisui dan La Patiroi masuk ke
tempat I Tenripada, iapun kembali ke istananya, namun dalam hatinya timbul rasa
cemburunya yang membara. Dalam hatinya berkata aku tidak mampu melihat I Tenripada
nantinya akan bersanding dengan siapapun orangnya termasuk La Patiroi.
Adapun We Tenrisui sesampainya ditempat I Tenripada, kemudian ia masuk dalam kurungan
I Tenripada atas isin petugas. I Tenripada melihat We Tenrisui dating, ia merasa curiga, ada
apa maksud kedatangannya.
97
We Tenrisui berkata : Wahai Tenripada, janganlah memandangku sperti itu, sebab
kedatanganku kemari bermaksud baik.
I Tenripada berkata : Maksud apa itu puang.?
We Tenrisui berkata : Sebagaimana kita ketahui bahwa, kita ini adalah korban cinta, yang
tentunya meninggalkan luka yang dalam. Namun demikian kedatangan saya ini ingin
membalut luka dihatimu dengan memperkenalkan bekas kekasih saya yang namanya La
Patiroi. Mudah mudahan engkau dapat menerimanya.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, sebenarnya hatiku tidak terluka, kalau tergores
sedikit ia, karena dari awal hamba sudah sadar kalau cinta puang Pasampoi tidak akan
panjang, sebab hamba sadar kalau hamba ini tidak lebih dari seorang wanita budak, yang
sebenarnya tidak pantas menerima cinta dari seorang calon raja. Namun demikian sebagai
hamba sebagai manusia yang juga memiliki perasaan, secara terpaksa hamba menerima cinta
puan Pasampoi, demi menyenangkan perasaannya. Karena itu putusnya cinta kami berdua,
tidaklah berarti akan membuat diriku, untuk menerima cinta seseorang, sebab itu mohon
pengertian puang.
We Tenrisui berkata : Maaf, jika memang engkau mau menerima cinta dari seorang laki laki
yang saya tawarkan, maka aku akan berusaha mengangkat derajatmu.
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, cinta itu bukan mainan dan tidak bisa dipaksakan
hanya karena sebuah iming iming. Sebab biarlah kedudukan hamba sebagai budak wanita
menemukan jalannya sendiri.
We Tenrisui berkata : Ingat masa depanmu, sebab ketika ada peluang untuk meraih masa
depan yang lebih baik, maka janganlah engkau sia siakan.
I Tenripada : Mohon maaf puang, biarlah masa depanku mengalir seperti air, yang akan
menemukan bentuknya sendiri. Namun demikian karena hamba harus menghargai puang
dan agar aku tidak dikatakan orang sombong, maka biarlah laki laki yang dimaksud puang
aku jadikan teman biasa saja tidak lebih.
We Tenrisui berkata : Baiklah saya panggil laki laki itu, dan selanjutnya We Tenrisui keluar
memanggil La Patiroi. Kemudian La Patiroi dating dan hanya boleh berdiri dimuka jeruji.
I Tenripada melihat La Patiroi lalu berkata pada We Tenrisui, maaf puang laki laki sudah
pernah datang kemari, beberapa hari yang lalu. La patiroi yang mendengar itu berkata : Benar
aku yang pernah datang beberapa hari yang lalu, karena hanya ingin untuk membuktikan
pembicaraan orang yang mengatakan ada wanita cantik yang dikurung disini, dan ternyata
memang itu benar.
We Tenrisui berkata kepada I Tenripada, bagaimana pandanganmu ?
98
I Tenripada berkata : Mohon maaf puang, bagaimana aku bisa berteman dengan puang itu,
kalau beulum apa apa sudah memujiku, sementara hamba tidak suka yang namanya pujian.
La Patiroi berkata, saya minta maaf, dan aku tidak akan lagi memujimu, namun demikian
jangan karena hal itu menyurutkan langkahmu untuk berteman.
I Tenripada berkata : Karena hamba menghargai puang We Tenrisui, maka hamba tetap akan
menganggap puang sebagai teman.
We tenrsui berkata, kalau begitu silahkan lanjutkan perkenalan ini, mudah mudahan waktu
yang akan dating ada manfaatnya. Setelah itu We Tenrisui keluar dan mengajak La Patiroi
untuk meninggalkan tempat itu.
Sementara I Tenripada yang ditinggal dalam hatinya berkata : Oh hati yang sunyi, apakah
memang teman harus seorang laki laki, sebab cukuplah bagiku sebuah pelajaran tentang
tadinya hanya berteman dengan puang Pasampoi, namun ketika benih cinta mulai tumbuh,
tiba tiba direnggut begitu saja. Rasanya sudah jenuh dalam hubungan hanya sekedar teman.
Apalagi dengan seorang laki laki, yang sebenarnya ia mengharapkan dariku lebih dari
sekedar teman. harap kau mengerti aku yang baru tersakiti ku harap balutan cinta yang ingin
kau tawarkan terpaksa aku harus tolak.
Adapun La Pasampoi yang telah kembali ketempatnya terus membayangkan pertemuan I
Tenripada dengan La Patiroi, membuat rasa cemburunya melua luap, tanpa mampu
membendungnya. Kini jiwaku mulai lemas..ingin rasanya merintih dan melolong untuk
meluapkan keperihan jiwa ini walau kini suara nuraniku tak mampu senandungkan lagu
penyesalan…..Ingin rasanya aku meronta dan hendak melarikan diri bersamamu. Karena kini
aku baru sadar, sepertinya aku tidak bisa hidup tanpamu. Dulu ketika aku mengenalmu jalan
menuju padamu aku tahu, namun saat ini aku tidak tahu jalan untuk kembali padamu.
Adapun We Tenrisui, sepulangnya dari tempat I Tenripada, langsung ia menghempaskan
dirinya di pembaringannya, lemas sekujur tubuhnya memikirkan nasib La Patiroi kekasihnya,
yang rupanya sangat sulit mendapatkan cinta dari I Tenripada. We Tenrisui kemudian
mendesah “Sejak kuterima engkau sebagai kekasihku dan menerima cintamu apa adanya.
Ketika engkau melantunkan lagu syahdu tentang cinta, saat itupula aku memberimu lukisan
cinta sebagai tanda sebuah ikatan cinta. Namun kini haruskah aku melepasmu?. Tidak, tidak,
cinta yang telah kita rajut bersama selama ini harus kupertahankan sampai ajal menjemputku,
karena itu aku harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan cinta kami. Setelah We
Tenrisui sadar dari lamunannya, kemudian ia bangun dari pembaringannya, dan memanggil
pelayannya. Tidak lama kemudian pelayannya dating.
We Tenrisui berkata : Kamu pergi sampaikan puang Patiroi bahwa saya minta datang
ditempat biasa nanti sore.
Pelayan, Iyye puang.
99
Sore harinya seperti biasa, We Tenrisui berjalan menuju pinggir sungai dan disana sudah ada
La Patiroi menunggu. Setelah keduanya mengambil tempat yang baik, kemudian La Patiroi
bertanya : Ada apa gerangan saya dipanggil, adakah sesuatu yang penting .?
We Tenrisui berkata : Setelah kita pulang dari tempat I Tenripada, aku melihatnya sangat
susah engaku dekati apalagi memperoleh cintanya. Sementara saya juga tidak dapat
melupakanmu, sebab walaupun saya dan puang Pasampoi dipaksa kawin, namun belum tentu
kami bisa saling mencinta. Sebab tentunya puang La Pasampoi juga tidak dapat melupakan I
Tenripada. Maka jalan satu satunya untuk cinta kita menyatu, jalan satu satunya yang bisa
ditempuh adalah kita melarikan diri ketempat yang aman, dimana mereka sulit menemui kita.
Bagaimana pendapatmu.?
La Patiroi berkata : Bagimana nanti kalau meraka berhasil menemukan kita, tentunya
hukuman mati menungguku.
We Tenrisui mendengar itu, langsung ia tertegun, namun tidak lama kemudian, ia berkata :
Saya ada cara, bagaimana kalau kita mengajak I Tenripada dengan bibinya bersama sama
melarikan diri, karena kita kan tahu kalau I Tenripada dan bibinya jago beladiri yang bisa
melindungi kita nantinya bila ada pasukan menemukan kita, bagaimana pendapatmu.?
La Patiroi berkata, sangat setuju, namun dalam perencanaan ini kita harus betul betul
merahasiakannya.
We Tenrisui berkata : Karena tunggulah aku hubungi dulu I Tenripada, mudah mudahan ia
mau menerima rencana kita ini. Setelah itu tidak lama kemudian keduanya berpisah dan
masing masing pulang kerumahnya.
Keesokan harinya, nampak We Tenrisui berjalan menuju tempat I Tenripada, namun tiba tiba
dari belakang nampak juga La Pasampoi berjalan menuju tempat I Tenripada, tetapi karena
La Pasampoi yang melihat We Tenrisui telah mendahuluinya ke tempat I Tenripada, terpaksa
ia urungkan maksudnya, sehingga ia membalik kembali ke istananya.
Setelah We Tenrisui sampai ditempat I Tenripada, iapun masuk dikurungan setelah minta isin
untuk masuk di kurungan I Tenripada. I Tenripada yang melihat kedatangan We Tenrisui
langsung terkejut, dan bertanya dalam hatinya, ada apalagi urusan puang itu kepadanya.
Setelah We Tenrisui duduk dipembaringan I Tenripada, kemudian ia berkata : Maaf Tenri
kalau saya dating mengganggumu.
I Tenripada berkata : Tidak apa apa puang.
Kemudian We Tenrisui berkata, kedatanganku kali ini, ingin minta tolong padamu.
I Tenripada : Perologan apa itu puang.?
100