The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

"Bunga Rampai Tulisanku di Halaman B2B Pikiran Rakyat Minggu" merupakan kumpulan tulisanku tentang dunia sepeda yang dimuat di halaman khusus bertajuk Back to Boseh Pikiran Rakyat Minggu sepanjang tahun 2012 sd. 2018.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Cuham Menulis, 2026-01-02 06:02:17

Bunga Rampai Tulisanku di Halaman B2B Pikiran Rakyat Minggu

"Bunga Rampai Tulisanku di Halaman B2B Pikiran Rakyat Minggu" merupakan kumpulan tulisanku tentang dunia sepeda yang dimuat di halaman khusus bertajuk Back to Boseh Pikiran Rakyat Minggu sepanjang tahun 2012 sd. 2018.

Keywords: Back to boseh,Pikiran Rakyat Minggu,tulisan

BungaRampaiTulisankudiHalamanBack toBosehHarian UmumPikiran RakyatMinggu Bandung,Tahun 2012 -2018Cuham - Bersepedaitu Baik, 2020


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 20181Bunga Rampai Tulisankudi Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu BandungTahun 2012 – 2018CuhamBersepeda Itu Baik2020


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 20182PRAKATASelain mendokumentasikan foto-fotokegiatan bersepeda dan lingkungan dalambentuk buku album foto untuk koleksipribadi, Saya juga mencurahkannyamelalui tulisan baik berupa opini maupuncerita pengalaman atau liputan kegiatan.Salah satu harian umum terbesar di KotaBandung memberikan peluang kepada parapenulis baik yang amatir maupun yangsudah professional mengekspresikantulisannya dalam wadah/halaman yangdibuat khusus para pesepeda, yaitu BackTo Boseh (B2B), Pikiran Rakyat Minggu(PRM), terbit setiap hari Minggu yangperdana digulirkan pada 8 Januari 2012Buku yang saya susun sejak tahun 2015 ini merupakan kumpulan tulisanku yangpernah dimuat di halaman Back to Boseh, Pikiran Rakyat Minggu, dari tahun 2012sampai dengan tahun 2018. Salam boseh dan go greenBandung, September 2020Cuham – Bersepeda Itu Baik


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 20183SEKAPUR SIRIHKota Menjadi Lautan SepedaSejak tahun 2005, gairahmasyarakat bersepeda dibeberapa kota besar diIndonesia sepertiBandung, Jakarta,Makasar dan Jogjakartamulai menghangatkembali. Geliatmenggembirakan tersebutdapat dilihat daribanyaknya eventbersepeda yangdiselenggarakan. Gelaranseperti sepeda santai(funbike) menjadi salahsatu indikasinya kala itu.Saat satu gelaran sepeda santai tersebut dilaksanakan, setidaknya dua ribu orang ikutserta didalamnya. Menariknya, sepeda santai hampir setiap bulan digelar di kotakota besar atas prakasa perusahaan, lembaga pemerintah, korporasi, organisasi,instansi, hingga lembaga komersial.Semakin banyak gelaran sepeda santai, sebenaranya semakin bagus dampaknya bagimasyarakat secara keseluruhan. Kalau saja masyarakat menyadarinya, misalkansetengah penduduk kota ramai mengikuti kegiatan bersepeda, bisa dibayangkanpenurunan polusi udara karena menurunnya kadar emisi gas buang kendaraanbermotor serta polusi suara pada waktu tersebut.Fenomena menggeliat aktivitas bersepeda ini juga terjadi secara individu tanpa eventtertentu. Sebut saja para pesepeda yang meramaikan trek-trek favorit, kalau diBandung sebelah utara ada Warung Bandrek yang sekarang kian ramai sejak adawahana wisata Tebing Keraton, dan di selatan ada Tenda Biru.Beberapa spot bersepeda lainnya juga selalu dipenuhi pesepeda indenpendenataupun komunitas seperti Kota baru Parahiyangan di Bandung Barat atau KiaraPayung mewakili Bandung Timur. Begitu pula di kota-kota/daerah-daerah lain


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 20184setiap akhir pekan para pesepeda hilir mudik keberbagai trek/spot sesuai tujuanmeraka masing-masing.Maraknya aktifitas bersepeda ini juga berpengaruh secara langsung pada tumbuhnyasejumlah komunitas di hampir daerah di Nusantara, terbentuk berdasarkan kesamaanhobi, jenis sepeda, merek sepeda, usia dan gemder.Contohnya di Bandung saja dari hasil gelaran yang melibatkan banyak komunitas,tercatat ada sekitar 170 komunitas pesepeda yang tersebar di Bandung dansekitarnya mencakup Kota dan Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan KabupatenBandung Barat. Itu baru yang terdata, karena banyak yang berpendapat bahwasebenarnya jumlah komunitas pesepeda di Bandung Raya jauh lebih banyak dariangka tadi.Demikian pula dengan jenis atau merk sepeda makin bervariasi dan kekinian. Taksedikit pula sepeda-sepeda lama, jadul, klasik, vintage dan langka tetap banyakdiburu pesepeda hingga saat ini.Ada banyak komunitas pesepeda terlihat lebih menonjol karena sering menggelarberbagai event yang ditujukan untuk masyarakat umum. Kegiatan mereka juga kerapdipadukan dengan kampanye perbaikan lingkungan hidup dan penggunaan alattransfortasi ramah lingkungan. Saking banyaknya peminat event bersepeda, kegiatanitu banyak dilirik para sponsor hingga calon kepal daerah agar mendapatkeuntungan.Marak dan menggeliatnya aktivitas bersepeda di kota-kota/daerah-daerah tersebutseharusnya ditangkap oleh para pemegang kebijakan untuk dapat lebih berpihakpada kepentingan masyarakat. Selain memberikan sejumlah fasilitas kemudahanuntuk para pesepeda yang menggunakan jalan umum, juga sebenarnya dapatmenjadi ajang pariwisata unggulan untuk menarik para wisatawan domestic maupunasing. (selisik PR, 27/08/2012)Jalur Asyik di Atas SadelDinamika bersepeda di Bandung saat ini semakin tinggi. Hal ini dibuktikan denganbanyaknya masyarakat penggemar bersepeda di Bandung, bahkanmenumbuhkembangkan puluhan hingga ratusan komunitas pesepeda di kota ini baikberdasarkan jenis sepeda, persamaan hobi, usia, usia, gender, dan sebagainya.Kondisi ini telah membuat jalur atau trek sepeda di Bandung semakin menjamur.Dulu, mungkin hanya belasa pesepeda mengarunginya. Namun, kini bisa ratusanbahkan mungkin ribuan pesepeda melintasi jalur-jalur favorit untuk bersepeda. Pada


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 20185setiap akhir pekan, kini kita bisa melihat pemandangan hiruk pikuk para pesepeda,baik yang berkelompok maupun individu, menuju jalur-jalur yang akan dilaluinya.Tak berlebihan jika sekarang Bandung disebut-sebut sebagai surganya para pesepedadi Indonesia. Beberapa menyebutnya sebagai kota wisata bersepeda.Disebut sebagaikota wisata bersepeda karena perjalanan bersepeda di Bandung dapat digabungkandengan aktivitas lain seperti wisata belanja dan kuliner.Khusus para peminat sepeda dan aksesorisnya, di kota ini juga penjual yangmenyediakan aksesoris sepeda paling lengkap dan banyak diburu pesepeda dari luarBandung.Di dalam kota kita bisa memanfaatkan jalur sepeda (bike line). Gelaran car free dayyang berada di tiga tempat setiap Minggu pagi akan menambah keasyikan bersepedasembari menikamti kota ini. Bersepeda, bersosialisai, dan menikmati udara segarakan didapat disepanjang jalur car free day ini.Banyak jalur-jalur favorit bersepeda di Bandung yang kini kembali hangat dan ramaidipenuhi para pesepeda. Perkembangan ini sangat menakjubkan dan banyakmasyarakat yang diuntungkan dengan hidupnya kembali jalur-jalur bersepeda itukarena meningkatkan aktivitas ekonomi di sana. Sebuta saja Warung Bandrek(Warban) di wilayah Dago atas yang merupakan jalur paling favorit bagi parapesepeda.Atau jalur menantang lainnya, ada jalur Palintang, Caringin Tilu (Cartil),atau Tamiya.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 20186Jalur Palintang adalah jalur menuju Maribaya Lembang. Awalnya merupakan jalursemi xcross country karena masih berbatu,meski kini jalur tersebut sudah menjadijalur beraspal mulus. Jalur Caringin Tilu atau Cartil juga merupakan jalur yangpaling dipavoritkan. Biasanya, jalur ini oleh pesepeda dilalui dari Jalan Padasukalalu ke Cartil di daerah Cimenyan menuju Warban, Taman Hutan Raya (Tahura)Juanda, dan keluar dari Simpang Dago.Sementara itu, jalur yang mirip jalur xc atau downhill yang lebih memompaadrenalin adrenalin pesepeda adalah jalur Tamiya yang dapat dilalui dari Padasukaatau Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Jalur ini disebut jalurTamiya karena memiliki tanjakan, turunan, dan kelokan yang mirip trek untukTamiya (salah satu merk mobil-mobilan). Keadaan topografinya berbukit-bukitdengan jalan masih berupa tanah dan bebatuan. Di kanan kiri jalur, pesepedadisuguhi pemandangan lahan kosong, ilalang, dan kebun-kebun palawija.Jalur Tanjakan dan TurunanJalur asyik dan menantang lainnya adalah jalur menuju Lembang dari DagoBengkok 1 dan 2 atau Cijengkol. Jalur ini terkenal dengan jalur tanjakan yang samadengan jalur yang disebut sebagai “tanjakan putus asa” Warban. Dari Dago Bengkot1 di dekat Terminal Dago merupakan jalur yang tembus ke Punclut Ciumbuleuit lalumenuju Lembang.Jalur Punclut juga merupakan jalur favorit pesepeda, kebanyakan dilalui dari arahGandok Cihampelas masuk ke Ciumbuleuit lalu Punclut dan terus menuju Lembang.Jalur Cikadut juga kini merupakan jalur yang banyak dilalui, selain karenatanjakannya juga karena kita bisa bersepeda sambil menikmati pemandanganmenakjubkan kuburan Cina,. Jalur ini seakan membawa kita ke negeri Hongkongkarena keartistiktikannya.Jalur lainnya yang sering dilalui para goweser adalah Kiara Payung, Jatinangor,Kabupaten Sumedang dan Tenda Biru, Bojong Soang, seputar sungai Citarum diBandung Selatan. Hanya saja, jalur-jalur ini agak sedikit gersang dan panas. Bagiorang Bandung untuk menuju ke sana pun harus menmpuh jalur kota yang padat danpanas. Tatapi, banyak pesepeda yang sangat menikmati perjalanan ke sana dan tetapmengasyikan.Untuk jalur khusus XC, para pesepeda pegiat downhill yang paling difavoritkanadalah Cikole, Lembang, Bandung Utara, dan Gambung, Ciwidey, Bandung Selatan.Kedua jalur ini paling disukai karena alur downhill-nya sangat asyik dan menantang,bervariasi, dan menembus hutan atau perkebunan teh.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 20187Ada banyak komunitas pesepeda yang mengkhususkan diri bersepeda dengan jalurmenantang, seperti Jejak (Jelajah Jalur Setapak), Terjal (Telusuri Jalur Liar), CimahiCycling Community (Threeple-C), Koskas, Komunitas Go-West Bandung (KGB)dan sebgainya. Para komunitas ini cukup intens melakukan kegiatan bersepedaregulernya dijalur jalur menantang. Bahkan mereka sangat suka mencari jalur-jalurmenantang lainnya yang belum dijamah oleh orang lain.Jalur-jalur baru yang mulai banyak diminati para goweser adalah Watung Daweunghutan pinus di daerah Cimeunyan, gunung dan hutan Kareumbi, serta banyak jalurlagi. Untuk daerah Bandung Barat, yang paling sering dijajal adalah jalur menujuWisata Kuda Paku Haji, Cihanjuang, Cihideung, Parongpong, dan sebagainya.Berpetualang memang mengasyikan dan menantang, Apalagi saat petualangandilakukan di atas sadel. (Laporan Khusus PR, 15/5/2012)


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 20188DAFTAR TULISAN- Tahun 20121. Apapun Aktifitasnya, Bersepedahlah!- Tahun 20132. Rebut Kembali CFD Merdeka3. Aksi Bersepeda Earth Hour4. Berdansa Dengan Sepeda Reol5. Semangat Gowes Jarak Jauh6. Ke Limbangan dengan Penuh Perjuangan- Tahun 20147. Mengakhiri Tahun Dengan Bersepeda8. Bersenang-senang di Ciwidey9. Gowes Melawan Perdagangan Manusia10. Saatnya Berbagi dan Peduli11. Perjalanan Penuh Makna12. Pesepeda Juga Peduli GPS- Tahun 201513. Pergeseran Minat Sepanjang Tahun14. Ketika Sepeda Jadi Karya Seni15. Tiga Belia tangguh dari Bandung16. Semarak Bersepeda Sambil Beramal17. Agar Boseh Mudik Lebih Asyik18. Memaknai Kemerdekaan Dengan Ngaboseh19. Upacara Bendera Ala Pesepeda20. Boseh Berbatik itu Keren21. Aksi Aksi Sosial para Pesepeda22. Pesepeda sebagai Pahlawan Lingkungan- Tahun 201623. Khazanah Ngaboseh 2015 dan 201624. Aksi Pesepeda di Hari Peduli Sampah Nasional25. Pesepeda dan Earth Hour dari Masa ke Masa26. Bangkitnya Perempuan Pesepeda27. “Ngaboseh” Menuju Ketinggian 1200 mdpl28. Pastikan Keluarga Bahagia29. Enam Tahun Bersama Bike To Campus Bandung30. Satu Sepeda Sejuta Sahabat31. Pesepeda pun Mengibarkan Bendera Merah Putih32. Boseh To Wisuda33. Pesepeda yang Menuai Prestasi- Tahun 2017


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018934. “Ngaboseh” pada Pergantian Tahun35. Boseh Berbagi Buku36. Bike Table Stand, Tempat Nongkrong Asyik37. Ngaboseh Ceria ke Cisarua38. Trotoar Bisa Buat Bersepeda39. Motivasi Pelajar agar Gemar Bersepeda40. Bersepeda Menyambut Ramadhan41. Bersepea Saat Berpuasa42. Boseh Mudik Penuh Rintangan43. Ce’es Beurat Ulin Ke Ciletuh (I) Gembira di pantai, Mamprang diJalan44. Ce’es Beurat Ulin Ke Ciletuh (II) Pulang Membawa Kesan SejutaRasa45. Aksi Bersepeda untuk Mewujudkan Gerakan Indonesia Bersepeda46. Boseh Jelajah Kota Solo- Tahun 201847. Bersepeda Bahagia di Akhir Tahun48. Ngaboseh untuk Menjaga Bumi49. Motivasi agar Sepeda menjadi Moda Transportasi50. BikEdukasi : Sesar Lembang


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201810Tahun 20121. Apapun Aktivitasnya, Bersepedalah !Seiring kemacetan dan polusiudara yang kian meningkatkhususnya yang terjadi di kotakota besar, seperti Bandung.,kesadaran masyarakat dalamberaktivitas dalam menggunakansepeda kini mulai meningkat.Walau dari segi kuantitasmasyarakat yang menggunakansepeda belum menggembirakan,setidaknya masyarakat mulaisadar akan pentingnya kondisilingkungan yang lebih baik.Sebenarnya penggunaan sepeda dalam aktivitas sehari-hari sudah dimulai sejakdulu, terutama dalam bidang usaha perniagaan, jasa pengantaran, pedagang sayuran,jamu, hingga oleh loper Koran. Namun perkembangan zaman menggerus kebiasaanitu dan kendaraan bermotor telah menggantikannya. Bahkan berangsur-angsurpenggunaan sepeda untuk aktivitas itu nyaris musnah.Namun belakangan, satu hal yang cukup menggembirakan yakni sepeda mulaidilirik kembali. Sebut saja beberapa perusahaan yang mewajibkan tenagapemasarannya menggunakan sepeda dalam menjalankan tugasnya. Diharapakan,upaya ini diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya.Masyarakat mulai mencermati dan menyadaribahwa bersepeda itu menyenangkanselain menyehatkan. Bersepeda juga dapat berpadu dengan wisata wawasan atauwisata pendidikan, wisata belanja, hingga wisata kuliner. Sosok pesepeda kiniterlihat menjadi sangat dinamis, aktif dan ceria.Kini, banyak muncul kegiatan bersepeda wisata wawasan dengan tema menelusuritempat-tempat atau gedung-gedung bersejarah, sekolah-sekolah zaman dulu, tamantaman, dan tempat-tempat penting lainnya. Wisata belanja pun kini sudah banyakdilakukan oleh berbagai komunitas dan individu pesepeda. Bahkan salah satuperusahaan ritel pernah menggelar event bersepeda sambil bersepeda untukmenyuguhkan nuansa yang berbeda.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201811Demikian juga dengan wisata kuliner yang memang sudah lama dilakukan olehsejumlah komunitas pesepeda. Kuliner dan bersepeda memang tak akan dapatdipisahkan, apalagi beberapa kota atau daerah merupakan yang terkenal sebagaipusatnya aneka kuliner di Indonesia, sebut saja Bandung misalnya.Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena dilakukan denganbersepeda. Walaupun tidak rutin tiap hari, kondisi itu setidaknya telah memberikangambaran bahwa di hampir seluruh kota di Nusanatara ini sedang berkembangperubahan prilaku gaya hidup. Sebagian masyarakat kini melakukan aktivitasapapun dengan bersepeda.Jika keadaan ini terus berlangsung dan jumlah pesepeda untuk berbagai aktivitassemakin meningkat, diharapkan kondisi kota yang nyaman akan tercipta. Kota yangbebas dari belenggu kemacetan dan polusi udara. Apalagi, jika para pesepeda dalammelakukan aktivitasnya tetap mematuhi aturan dijalanan, mengutamakankeselematan diri dan orang-orang disekitarnya, kenyamana kota akan semakinterwujud.Jadi, marilah kita budayakan bersepeda untuk aktivitas apapun. Banyak manfaatyang akan diraih dengan bersepeda. Selain kesehatan, juga akan mempereratkebersamaan dan persahabatan, lingkungan yang bersih, pengalaman serta wawasanyang luas. Jadikan bersepeda merupakan gaya hidup dalam menciptakan perubahaniklim menuju arah yang lebih baik. Tentu saja agar hidup kita senantiasa ceria, amandan nyaman. Salam boseh dan go green, Komunitas Pesepeda Suka Suka (b2b PRM,15/07/2012)


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201812Tahun 20132. Rebut Kembali CFD Aceh & MerdekaSejak Minggu (13/1/13), areaCar Free Day (CFD) kotaBandung di jalur jalan Aceh(dari jalan Waktukencana hinggajalan Sumatera ) dan JalanMerdeka ( dari jalan Acehhingga jalan Jawa), tak lagidifungsikan sebagai area CFDoleh aparat kepolisian. Entahalasan apa area CFD itu tak lagidifungsikan, yang jelas parapemanfaat area CFD, terutamapesepeda dibuat sedikitbertanya-tanya dan kebingungankarena mendadak kendaraan bermotor berseliweran.Banyak komentar dan nada keprihatinan dari pengguna area CFD dalam jejaringsocial setelah mengetahui kebijakan tak jelas itu. Berbagai kritikan tajam memicupara pesepeda melakukan gerakan untuk mengembalikan area tersebut menjadi areaCFD lagi. Secara spontan munculah sebuah ide gerakan bertajuk “Mari Bung RebutKembali CFD Jalan Aceh dan jalan Merdeka”.Minggu (20/1/13), Komunitas pesepeda Mtb Federal Indonesia menggelar miladnyayang ke-4. Acara itu sengaja mengambil tema “Mari Rebut Kembali dan RamaikanCFD jalan Merdeka” di area CFD Jalan Merdeka, tepat didepan Balai KotaBandung. Pada saat hampir bersamaan, puluhan pesepeda dari berbagai komunitasmenggelar acara bertema yang sama di area CFD Jalan Aceh, tepatnya di depanRabo Bank dengan gerakan memblokade setengah Jalan Aceh area CFD itu agarkendaraan bermotor tak meamasuki area itu.Upaya gerakan “merebut kembali” area CFD Jalan Aceh dan Jalan Merdeka yangdilakukan oleh para pesepeda itu sedikitnya membawa hasil. Polisi akhirnya kembalimemblokade titik-titik pintu masuk di kedau area CFD itu seperti biasanya. Danmasyarakat pun kembalai dengan bebas melakukan interaksi di sana, sepertiberolahraga, bermain sepatu roda, bersepeda dan lainnya.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201813Namun upaya itu ternyata tak sepenuhnya berhasil mulus, terutama soal konsistensiwaktu CFD. Seyogyanya CFD itu digelar hingga pukul 10.00 WIB, tetapi saat itupada pukul 09.00 WIB sudah dibuka setelah baru ditutup untuk kendaraan bermotorpada pukul 07.00 WIB. Apakah Pemerintah Kota dan Kepolisian saat itu sudahsetengah hati mencanangkan program CFD di Kota Bandung?. Salam boseh dan gogreen, Komunitas Pesepeda Suka Suka, (b2b PRM, 20/01/2013)3. Aksi Bersepeda Earth HourAksi kepedulian lingkunganbertajuk Earth Hour tidaklepas dari kegiatan bersepeda.Sepeda sebagai salah satusymbol aktivitasprolingkungan menjadi ikondalam kampanye internationalyang dilakukan denganmematikan listrik selam satujam satu kali dalam setahun.Earth Hour merupakan gayahidup hemat energy listrikuntuk penyelamatan bumi. Dibebrapa kota di Indonesia yang melakukan aksi inidipusatkan di icon-icon kota atau daerahnya masing-masing. Khusus untuk ruanglingkup kota Bandung, kegiatan ini dipusatkan di halaman Gedung Sate, JalanDiponogoro, Kota Bandung. Dilaksanakan hari Sabtu terakhir di bulan Maret, saatitu tepatnya tanggal 23 Maret 2013. Jika tahun lalu kegiatan bersepedanyadilakukan pada siang menuju sore hari, maka pada tahun ini dilaksanakan padamalam hari, dengan mengusung tema “Gowes Nite Ride Bandung Bijak Energy,Earth Hour 100% Indonesia Banget”.Aksi ini diikuti oleh sekitar 200 pesepeda dari berbagai komunitas pesepeda diwilayah Bandung dan sekitarnya. Hebatnya, aksi bersepeda Earth Hour ini jugadilakukan oleh komunitas sepeda Onthel yang dalam waktu bersamaan tengahmenggelar event akbar bertaraf International bertajuk “ Bandoeng Lautan OnthelIII”. Kebetukan, acara pesta akbar pesepeda onthel ini mengambil tempat di ruasJalan Diponogoro dan Lapangan Gasibu, kota Bandung.Para onthelis berpartisipasi dengan memasukan acaran konvoi sepeda malamrenungan peringatan Bandung Lautan Api, sekaligus sebagai aksi mendukungkampanye hemat energy Earth Hour. Aksi dukungan ini ditunjukan dengan cara


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201814memadamkan beberapa lampu selama satu jam. Pada malam itu, Bandung benarbenar menjadi lautan pesepeda.Aksi bersepeda Earth Hour dimulai dari halaman Cks Clothing, Jalan PelajarPejuang ‘45 Kota Bandung, lalu bersepeda mengitari beberapa rute cukup panjang.Sepanjang perjalanan, pesepeda meniarkan yel yel “Ini Aksiku, Mana Aksimu”sebagai slogan ajakan kepada masyarakat untuk beraksi menyelematkan bumi.Perjalanan berakhir di Gedung Sate.Gaya Hidup HematPara pesepeda tiba di Gedung Sate pada malam hari menjelang acara pokok EarthHour yaitu pemadaman lampu secara serentak dilakukan diseluruh dunia selama satu jam, dimulai pukul 20.30 WIB sampai dengan pukul21.30 WIB. Pemadaman lampu ini merupakan symbol kontribusi masyarakat untukperubahan lingkungan yang lebih baik.Kampanye Earth Hour ini mengajak masyarakat untuk melakukan perubahan gayahidup sederhana, murah dan mudah yaitu hemat dalam penggunaan energy listrik.Dalam bergaya hidup hemat energy tak cukup hanya dengan berpartisipasi padamomentum kampanye ini, melainkan harus terus dibuktikan selalu setiap hari, dandiikuti dengan mengubah gaya hidup ramah lingkungan lainnya.Bersepeda adalah salah satu bentuk dukungan kita terhadap penyelematanlingkungan. Bersepeda merupakan gaya hidup ramah lingkungan yang sangat mudahdilakukan sekaligus dapat menjaga kesehatan pesepeda.Seyogyanya, masyarakat harus mulai sadar dan menjadikan gaya hidup gemarbersepeda sebagai aksi sehari-hari, apalagi jika bersepeda dijadikan sebagai saranatransfortasi untuk aktivitas apapun. Tak hanya sehat yang diraih tapi jugaberdampak baik bagi lingkungan dan perubahan iklim kondusif bagi Bumi membuathidup kita nyaman dan sedikitnya terbebas dari bahaya kerusakan Bumi yang kitadiami ini. Salam boseh n go green, Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi,(b2b PRM, 24/03/2013)4. Berdansa dengan Sepeda ReolMaraknya dunia persepedahan akhir-akhir ini telah memunculkan beragam jenissepeda dari yang biasa hingga yang aneh,unik dan menarik, jika sepeda gunung,sepeda lipat, ataupun sepeda BMX telah menjadi terlalu biasa, sepeda reol menjadisalah satu alternatif sepeda unik yang memerlukan keahlian khusus untukmengendarainya.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201815Disebut sepeda reol karenajenis sepeda ini jika digunakanakan berjalan “rual reol”(zigzag kekanan kekiri) seolahtengah berdansa dengansepeda, beberapa pesepdamenyebut sepeda reol dengannama sepeda dance (BikeDance).Sepeda reol atau sepeda dancemerupakan jenis sepeda yangmengandalkan keahlian tehnikmengolah kaki memainkandan mengatur gerakan pedal karena antara bagian depan dan bagian belakang sepedasangatlah “liar”t, ada bagian sambungan yang membuat seolah sepeda itu terbelahmenjadi dua bagian sehingga jika digunakan sepeda itu akan berjalan meliuk-liuksecara zigzag. Disitulah letak kesulitannya, bagi yang sudah ahli, akan terlihat darigerakan kaki mengatur laju roda seperti tengah berdansa diatas sadel. Sungguhsebuah atraksi bersepeda yang memang cukup unik dan menarik.Sepeda reol ini sering kali hadir dalam berbagai acara bersepeda di kota-kota sepertiBandung, terutama funbike dan Car Free Day (CFD). Meskipun para pegiat sepedareol ini masih relative sedikit.Mereka telah bergabung dalam satu komunitas. Salah satunya adalah merekamenamakan komunitas ini adalah Bandung Bike Dance Community, salah seorangpentolannya, Bambang Giyo sering terlihat diberbagai event bersepeda dan dengantetap setia menggunakan sepeda reol. Sepeda reol yang dimilikinya dipoles cantikdengan corak batik tradisional sehinggga tak jarang akan menarik banyak perhatiansaat ia melintas.Keberadaan sepeda reol sampai kini memang sepertinya kurang begitu menonjoldibanding dengan jenis-jenis sepeda baru lainnya yang muncul. Namun, keberadaanmereka semakin menambah corak khazanah pesepeda di Tanah Air. Salam bosehdan go green, aktivis lingkungan dan bersepeda, (b2b PRM, 21/07/2013)5. Semangat Gowes Jarak Jauh saat PuasaRamadhan tak menyurutkan semangatnya para sepeda untuk tetap melakukanasyiknya melaju di atas sadel. Bagi yang sudah biasa dengan kondisi tersebut,


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201816bersepeda saat puasa tetap sangat dirasakan menyenangkan. Rasa lapar dan dahagaserta cuaca yang panas biasanya tertepis oleh asyiknya melaju di atas sepeda.Banyak pesepeda menjadikanBulan Ramadhan sebagaimomentum bersepeda denganberbagai macam tema. GowesNgabuburit, Gowes Berbagi,Gowes Sahur hingga GowesMalam (Nite Ride) mengelilingikota adalah salah satunya.Beberapa bahkan memilih untukbersepeda jarak jauh selamaberpuasa, terutama saat musimmudik tiba.Beberapa hari lalu, sayamelakukan perjalanan gowes sendirian dari Bandung ke Purwakarta, dengan jaraktempuh sekitar 70 kilometer. Sungguh suatu perjalanan bersepeda cukup jauh danpenuh liku.Kondisi jalanannya bervariasi dengan tananjak dan turunan yang silih berganti,meskipun permukaan jalan aspal relative mulus. Tantangan yang paling beratadalah tempaan kegarangan kendaraan-kendaraan bermotor terutama kendaraanbesar seperti truck, elf dan bus. Tantangan ini semakin komplit karena perjalanabersepeda dilakukan dalam keadaan perut kosong karena tengah berpuasa.Awalnya, ada sedikit keraguan untuk melakukannya. Namun, saat diperjalanansemangat untuk melanjutkan perjalanan semakin tinggi. Kondisi badan yang fitmeski berpuasa, sepedaku yang juga fit, serta kondisi cuaca yang sangat bersahabat,membuat perjalanan dapat dilalui tanpa hambatan yang berarti.Perjalanan dari Kota Bandung menuju Padalarang yang berjarak sekitar 10 kilometerdihadapkan oleh jalanan yang ramai dan padat. Memasuki daerah Cipatat hinggaCikalong Wetan dihadapkan oleh kondisi medan yang berat, selain didominasi olehjalan nanjak juga jalannya yang berkelok-kelok. Beruntung, saat itu jalanan takbegitu ramai oleh lalu lalang kendaraan bermotor. Meskipun demikian, beberapakali saya harus mengalah dan berhenti sejenak ke tepi jalan menghindari arogansilaju cepat kendaraan kendaraan yang lewat.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201817Kondisi yang sama, saya hadapi adalah saat memasuki daerah Darangdan, Sawit danPlered. Namun, karena di tempat-tempat itu menyuguhkan beberapa sudutpemandangan yang memukau seperti perbukitan yang menghijau serta jajaran ragampepohon diperkebunan, membuat lelah saat perjalanan berat itu sedikit terlupakan.Terus terang, saya begitu menikmatinya bersepeda sambil merasakan semilir anginyang menyegarkan.Sisa PerjalananSaat tiba di kota Purwakarta, tak serta merta perjalanan berakhir karena saya harusmenuju daerah tujuan yang masih sekitar 5 kilometer lagi dengan kondisi jalanmenanjak dan sedikit ramai. Keringat dan rasa lelah sudah terasa, sehingga saatsudah tiba di pusat kota Purwakarta saya beristirahat cukup lama. Istirahat ini jugasekaligus membantu terurainya kemacetan akibat saking banyaknya mobil angkutandesa yang rebutan penumpang ditambah banyaknya orang yang berbelanja sambilngabuburit.Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, saya pun melanjutkan perjalanan bersepedamenuju daerah yang saya tuju yaitu kecamatan Pasawahan Kabupaten Purwakarta.Di tempat tujuan rasa lelah hebat pun melanda sementara waktu buka puasa masihsekitar setengah jaman lagi. Sampai akhirnya saat waktu buka puasa tiba, sayasangat bersyukur karena telah berhasil melakukan perjalanan ini tanpa membatalkanpuasa.Keesokan harinya, saya melakukan bersepeda ngabuburit sendirian di Pasawahanmenuju pelosok-pelosok desa di sana. Walau daerahnya sudah begitu padat olehpemukiman penduduk, tetapi masih banyak menyisakan jalur-jalur asyik buatberseped. Banyak jalur-jalur yang sebenarnya cocok buat para pegiat jalur crosscountry (XC) atau Offroad dengan latar belakang pemandangan pedesaan,pesawahan, perbukitan, hutan dan perkebunan yang memikat. Sayangnya saat itusaya tak menemukan seorang pesepeda pun untuk di jadikan teman bersepeda. Yangada hanyalah lalu-lalang sepeda motor yang ambisius. Salam boseh dan go green,Aktivis Lingkungan dan Bersepeda, (b2b PRM, 04/08/2013)6. Ke Limbangan dengan Penuh PerjuanganSetelah sekian lama tak melakukan bersepeda jarak jauh, saya bersama tiga temanmelakukan gowes touring menjajal Bandung menuju Limbangan Kabupaten Garut,dengan jarak tempuh kurang lebih dari 40 km. Bagi pesepeda yang sudahberpengalaman jarak jauh, mungkin jalur ini agak enteng karena sering dilalui, tapibagi saya ini adalah pengalamn pertama saya gowes ke arah Garut. Apalagi sepeda


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201818yang saya gunakan adalah sepeda Federal yang notabene belum saya kuasaisepenuhnya. Tentu saja gowes kali ini sedikitnya cukup merepotkan.Perjalanan diawali dari rumah di Cihampelas menuju Cibiru sebagai titik kumpuluntuk kemudian ke Limbangan dengan melalui jalur Nagreg. Ternyata saat itubanyak pula kawan-kawan pesepeda lain melakukan perjalanan gowes menujuGarut.Karena melalui jalan rayautama, jalan raya itumerupakan jalur cukup ramai,padat dan panjang, berbagaihambatan sudah tentu akanselalu dihadapi sepertikemacetan, sinar matahariyang menyengat, pasar kaget,deru kendaraan besar, sertavariasi jalan yang naik turun.Kondisi jalan relatif mulus,walau dibeberapa lokasitengah ada perbaikan jalanyaitu dijalur yang terkenalpanjang dan melelahkan, dari Cileunyi menuju Cicalengka yang kurang bervariasi.Rasa jenuh itu belum sirna karena memasuki Cicalengka. Jalanan yang terusmenanjak hingga Nagreg, membuat beberapa kali berhenti untuk menarik napas.Hambatan fisik sudah mulai menimpa saya. Tiba-tiba, kaki saya kram karenakurang pemanasan. Kondisi tubuh yang belum menguasai Federal juga menjadisalah satu penyebanya. Perjalanan selanjutnya, gerakan bersepeda menjadi sedikitmelambat dan tersendat-sendat karena kram kaki kerap menyerang, meski akhirnyaberhasil menuju puncak tanjakan di Nagreg.Dari Nagreg jalan berkelok-kelok naik turun. Jalur ini sedikit menyeramkan hinggamemerlukan kehati-hatian. Pesepeda juga harus berbagi jalur dengan kendaraanbermotor seperti elf, bus dan truk. Demi keamanan, beberapa kali sepeda kamituntun.Memasuki arah tujuan yaitu Limbangan Garut, perjalanan relative aman dan nyaristanpa hambatan, jalanan tak begitu ramai, gowes pun melesat cukupmenyenangkan.Hingga akhirnya kami tiba di desa tempat dimana nenek moyangberasal/ Walau desanya sudah tak seasri tempo dulu bahkan cenderung jadi sebuahdesa yang padat akan rumah-rumah, suasana perkampungan masih kental terasa.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201819Balik BandungMenjelang siang, kami pun beranjak pulang. Kali ini, acara gowes ditemani rintikhujan yang turn tiba-tiba. Berbagai peralatan anti hujan kemudian dikenakan danperjalanan pulang terus berlangsung. Ditengah-tengah asyiknya gowes, tiba-tibasaya kembali diserang kram kaki. Kali ini cukup hebat hingga saya meringiskesakitan. Gowes kembali menghambat dan tersendat-sendat karena saya seringberhenti. Sementara itu dua rekan lainnya sudah melesat jauh di depan.Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, saya melanjutkan perjalanan dengan melintasijalur Lingkar Nagreg. Baru beberapa meter memasuki Lingkar Nagreg, sayamengalami cedera otot lutut yang terasa sakit cukup hebat, untuk sesaat sayamenghentikan perjalanan, karena setiap mengayuh rasa sakit itu terasa, makinlambatlah gerakan kayuhanku.Kondisi ini membuat saya nyaris putus asa dan berniat ingin di “loading” saja. Akantetapi, dengan tetap semangat saya pun bertekad melanjutkan perjalanan bersepedawalau dengan irama lambat dan sering berhenti sambil menahan rasa sakit. Lucunya,dalam keadaan seperti itu, saya masih menyempatkan diri untuk bernarsis ria saattida diterowongan yang memang menyajikan nuansa indah di sana. Momen yangsangat saying jika dilewatkan.Akhirnya dengan kondisi agak tersiksa, saya pun tiba sampai rumah malam harikarena irama bersepeda yang sangat lambat dan banyak beristirahat.Pelajaran yang saya peroleh dari perjalana gowes kali ini adalah bersepeda jarakjauh harus dilakukan dengan persiapan fisik yang prima. Jangan sepelekanpemanasan agar otot-otot tidak kaku dan tak begitu “kaget”. Adaptasi dengansepeda yang akan digunakan juga perlu dilakukan agar perjalanan lebih nyaman danmenyenangkan. Semua pelajaran ini tentu saja akan menjadi panduan saat saya akanmelakukan perjalanan jauh berikutnya. Salam boseh dan go green, Greener CycleMonster Bandung, (b2b PRM, 22/12/2013)


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201820Tahun 20147. Mengakhiri Tahun dengan BersepedaMinggu terakhir penghujungtahun 2013 sangat sayingjika dilewatkan tanpabersepeda. Sayamemanfaatkan momen inidengan bersepeda sepanjanghari menyusuri sudut-sudutkota dari sisi selatan ke utaradan mengikuti sejumlahperhelatan yang berkaitandengan aktivitas bersepeda.Jum’at malam (27/12/13),saya mengikuti perhelatanrutin setiap akhir bulan yangdigawangi anak-anak muda yang bergenre sepeda fixie bertajuk “Indonesia CriticalMass” sebagai kegiatan terakhir di tahun 2013. Diikuti oleh sekitar 20 pesepeda darilintas jenis sepeda, selain fixie gear (fixie), ada yang menggunakan sepeda MTBseperti saya dan juga Onthel. ICM kali ini selain mengambil rute seperti biasa yaitudari Cikapayang memutar ke Gedung Merdeka hingga kembali ke Cikapayang.Keesokann harinya (sabtu, 28/12/13), cuaca sangat bersahabat dan mendorong sayauntuk mengikuti kegiatan funbike. Meski acaranya kurang begitu greget, saya hanyaingin menunjukan pada masyarakat bahwa bersepeda itu adalah aktifitas penuhmanfaat dan menyenangkan.Minggu (29/12/13), saya menghadiri kegiatan pertemuan komunitas aktivislingkungan di Rancabalong, Gedebage, Bandung bagian timur. Karena saya sudahberkomitmen untuk bersepeda ke mana pun saat beraktivitas, maka dari tempattinggal di Cihampelas saya menuju Bandung Timur dengan bersepeda.Dalam perjalanan, sempat pula menyusuri beberapa jalur lain jalan kecilpermukiman. Bukan sekedar menghindari kemacetan, tapi ingin ngaprak saja taktentu arah. Sungguh menyenangkan karena dapat mengetahui sisi lain kota inihingga jalan kecil dan gang-gang. Memang, beberapa kali mentok di gang buntu.Pernah pula sampai dikejar anjing.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201821Tapi, semua itu kulalui dengan tetap menikmati kayuhan di atas sadel. Tak peduli,rasa lelah, panasnya matahari, keringat yang mengguyur badan, maupun rasa kagetdikejar anjing, saya selalu menikmati momen saat berada di atas epeda.Memasuki hari terakhir di penghujung tahun 2103. Saya melakukan bersepeda jauhbersama beberapa teman ke Purwakarta via Warnayasa. Kami memulai perjalanandari UPI Jalan Setiabudi kota Bandung. Cuaca pagi itu memang tengah hujangerimis, namun demikian, kami tetap memulai untuk berangkat menuju Lembangyang jalannya menanjak dan berkelok-kelok.Di Lembang kami beristirahat lama sambil menunggu hujan reda. Karena gerimistak jua kunjung berhenti, kami sepakat melanjutkan perjalanan menuju Jalan Cagak,Subang. Dari Lembang ke Tangkuban Parahu, kami masih dihadapkan jalananmenanjak. Di sini, kami rehat sejenak untuk mengambil napas panjang, karena dariTangkuban Parahu, perjalanan berspeda akan meluncur turun hingga Jalan Cagak.Di Jalan Cagak, kami beristirahat makan siang, sambil memulihkan tenaga danmemperbaiki sepeda yang sedikit terkena masalah. Dari sini, kami bergegasmelanjutkan menuju Wanayasa yang berjarak puluhan kilo meter dengan variasijalan naik turun. Kami banyak berhenti untuk sekedar rehat minum, mengingatperjalanan memang dirasakan cukup berat.Tiba di Wanayasa, perjalanan berhenti di objek wisata Situ Wanayasa untuk istirahatdan foto-foto di sana. Tak begitu lama kami berada di sini, lalu melanjutkanperjalanan bersepeda menuju Kecamatan Pasawahan Purwakarta yang jalannyamenurun terus. Kami pun melesat hingga akhirnya tiba ke tempat tujuan. Di tempattujuan ini kami lebih banyak beristirahat dan mengobrol, bahkan menjelangpergantian tahun kami tak merasakannya, karena kami lebih memilih untuk tidur,memulihkan kondisi tubuh.Masuk 2014Keesokan paginya, tepat 1 januari 2014, saya mengawali aktivitas bersepeda kamidengan melakukan bersepeda balik dari Purwakarta menuju Bandung melalui jalurCirata sepanjang 95 kilometer menuju Bandung.Di Cirata kami beristirahat lama, memanfaatkan momen untuk berfoto-foto denganlatar belakang pemandangan yang cukup memesona. Dari Cirata menuju CikalongWetan, perjalanan bersepeda cukup panjang nan melelahkan karena jalannya yangcenderung menanjak. Ditengah-tengah perjalanan, kami sempat istirahat lamakarena selain kelelahan juga perut kosong. Awalnya kami akan makan siang di


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201822Cikalongwetan, tapi karena sudah tak tahan lapar akhirnya kami makan disalah ssatukedai Ciepeundeuy sebelum stasiun kereta api Rendeh.Bahkan, kami sempat tiduran sejenak di sini, namun terentak saat di depan kami adainsiden jatuhnya seorang ibu muda dengan anaknya dari sepeda motor. Kami punsegera menolongnya dan memberikan obat luka yang kebetulan salah satu dari kamimembawanya. Lukanya tak begitu parah, si anak selamat tanpa luka sedikitpunhanya terlihat shock dan menangis. Dari situ, kami pun melanjutkan bersepeda,bergegas ingin segera tiba di Bandung, karena jarak tempuh masih puluhan kilometer.Tiba di Padalarang, perjalanan di suguhi gemericik hujan. Tapi, kami tetapmeneruskan perjalanan hingga memasuki Cimahi menjelang Magrib. DI Cimahi,kami berhenti untuk istirahat dan makan, kami bubar menuju rumah masing-masingdengan perasaan senang berbaur dengan kelelahan hebat tapi memberikan sejutakeseruan yang tak bisa digambarkan.Sungguh, saya merasakan sesuatu yang luar biasa saat dapat mengisi tahun 2013dengan banyak sekali kegiatan bersepeda. Tak hanya untuk kebugaran tubuh, tapisaya bertekad untuk dapat memberikan sesuatu kepada lingkungan. Minimal tidakmemberikan kontribusi polusi udara kepada banyak orang. Salam boseh dan gogreen, komunitas Greener Cycle Monster Bandung, ( b2b PRM, 5/01/2014).8. Bersenang-senang di CiwideySepanjang bulan lalu,kegiatan bersepeda massalsangat sepi. Mungkin terkaitpenyelenggaraan PemiluLegislatif yang memperketatpemberian izin dari pihakyang berwenang. Namundemikian, bukan berartikegiatan menggowes jugaikut berhenti.Beruntung, sejumlahpesepeda dari komunitaspesepeda Roda AnginSmansa Bandung mengajakserta untuk ikut ngaboseh di Ciwidey dengan tema “Patengang Tea Bike”. Kegiatan


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201823yang diikuti oleh 25 pesepeda itu berlangsung selama tiga hari yang digelar akhirMaret 2014 lalu.Komunitas pesepeda Roda Angin beranggotakan Kepala Sekolah beserta staf, guruguru, komite sekolah, dan karyawan SMAN 1 (Smansa) Bandung. Perkumpulanpesepeda ini belum lama dibentuk dan kebanyakan merupakan pesepeda pemula.Hari pertama, rombongan pesepeda menuju lokasi penginapan Ciwidey darihalaman SMA Negeri 1 Bandung di Jalan Ir H Juanda (Dago). Jarak tempuhperjalanan kurang lebih 53 kilometer dengan jalanan yang terus menanjak. Walauada sedikit keluh kesah di tengah terik matahari yang menyengat, kebanyakan sangatmenikmati perjalanan yang diselingi canda dan tawa.Di pusat kota Ciwidey, perjalanan dihentikan untuk beristirahat, shalat, dan makansiang. Di sini gerimis turun cukup lama, dan perjalanan dilanjutkan saat gerimisreda. Hujan lebat justru tiba-tiba sesaat setelah sampai kami di lokasi penginapan.Hari kedua, kegiatan pagi diawali dengan bersepeda menyusuri trek jalan setapakperkebunan Rancabali hingga Situ Patengang sejauh kurang lebih 22 kilometer.Jalanan didominasi tanah, bebatuan, dan ilalang. Turunan-turunan tajam jugamewarnai sepanjang perjalanan.Suguhan pemandangan indah nan hijau di perkebunan teh membuat para pesertaterpukau. Sesekali ada pesepeda yang terjatuh dan terjerambab. Namun, tak ada rasgentar untuk kembali melanjutkan perjalanan.Perjalanan terhenti untuk makan siang dihamparan rumput dekat pabrik teh didiringisuasana tawa saat masing-masing menceritakanpengalamannya bersepeda offroad.Seusai istirahat di sana, perjalanan dilanjutkan menuju pemandian air panasCimanggu dan berendam di sana sebelum kembali ke penginapan.Perjalanan PulangHari terakhir, saatnya kembali pulang ke Bandung. Awalnya sang Pembinamengusulkan untuk menempuh jalur Gambung hingga menembus Pangalengan.Namun, melihat kondisi fisik sebagian besar peserta yang nampak kelelahanakhirnya diputuskan untuk menempuh jalur yang sama ketika pergi.Perjalanan yang relative menurun membuat waktu tempuh cukup pendek, tapi tetapdengan irama santai. Tetap berjalan kompak bersama beriringan berjajar satu baris,tidak boleh ada yang saling ngbret lebih dulu. Seorang leader memandu ritmeperjalanan kami.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201824Untuk soal kegiatan mungkin mereka bisa tetap bercanda, apalagi mereka rata-ratamemiliki rasa humor yang tinggi. Namun, soal kedsiplinan berlalu lintas merekasangat disiplin. Mungkin karena sebagian besar adalah tenaga pendidik yangmenajdi panutan para siswa siswinya.Perjalanan pulang terhenti untuk mampir disebuah padepokan seni Sunda diSoreang. Di tempat ini, sambil istirahat dan makan siang,kami diiring alunan musicdan tembang kecapi kawih Cianjuran. Tak lama kemudian, kami pun berlalumelanjutkan perjalanan pulang ke Bandung.Sungguh, ini sebuah pengalaman bersepeda saya yang cukup berharga bagi saya.Meski baru mengenal para anggota komunitas ini, namun kebersamaan dankehangatan sangat terasa. Nuansa kekeluargaan menelimuti kebersamaan bersepedahingga aktivitas menyehatkan ini semakin menyenangkan saja. Salam boseh dan gogreen, Forum Komunikasi Komunitas Pesepeda Bandung dsk. (b2b PRM, 13/04/2014)9. Gowes Melawan Perdagangan Manusia“Saya CintaKeluarga”, adalahsalah satu pesanmoral yang dibawapara pesepeda yangdatang dari berbagaikomunitas diBandung danBekasi. Slogan itumenjadi salah satutema dalam kegiatan “Bersepeda 125 km Kampanye Melawan PerdaganganManusia” yang digagas Pusat Pelayanan Terpadu Pemeberdayaan Perempuan danAnak (P2TP2A) Jawa Barat.Turut bersepeda ketua P2TP2A Netty Prasetiyani Heryawan, didampingi sejumlahpejabat terkait dalam perjalanan boseh Bandung-Sumedang-Majalengka-Cirebon itu.Perjalanan dilakukan Sabtu (26/05/2014) dan Minggu (27/05/2014).Kampanye social sambil bersepeda ini, merupakan kali kedua yang dilaksanakanP2TP2A Jawa Barat. Kegiatan pertama, dilakukan tahun 2011 lalu, bertema“Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak”. Tahun ini digelarselama dua hari dengan serangkaian acara di beberapa tempat pelaksanaankampanye tersebut.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201825Kegiatan bersepeda hari pertama dibagi dalam 5 etape. Etape pertama dititik startyaitu di halaman Gedung Pakuan yang dibuka Netty Prasetiyani sambil memaparkanmisi dan visi dari kegiatan tersebut. Kami bersepeda dari Pakuan menuju Cinunuksejauh 19,8 km. Sejenak beristirahat di Kantor Kecamatan Cinunuk yangmenyambut rombongan dengan menyediakan aneka hidangan. Dari Cinunukrombongan di-loading hingga Sumedang karena disesuaikan dengan aturanprotokoler.Bersepeda etape kedua, dilakukan dari Sumedang menuju Buah Dua Berjarak 34,2.Jalanan didominasi turunan dan kelokan, tikungan tajam serta sedikit makadam.Kondisi lalulintas relatif sepi karena merupakan jalan raya pedesaan. Areaperkebunan, hutan, persawahan, dan wilayah perumahan penduduk dilintasi. Cuacapanas tertolong oleh rimbunan aneka pepohonan yang juga tumbuh susbur disepanjang jalan. Tak hanya itu, perjalanan dikawal belasan pesepeda dari salah satukomunitas di Sumedang.Tiba di Buah Dua Sumedang, sambil beristirahat, acara kamapanye digelardihadapan penduduk yang hadir di sana. Terutama kaum ibu dan anak-anak. Wargadiberikan pengarahan oleh Netty tentang maksud kegiatan, terkait bahaya kekerasanterhadap ibu dan anak, dan menjaga kelurga, serta bahaya ancaman perdaganganmanusia.Sayangnya, pada etape ketiga Buah Dua – Ujungjaya Cikawu (20,8 km) dan etapekeempat Ujungjaya – Kertajati (30,6 km) perjalanan bersepeda urung dilakukankarena cuaca sangat buruk sehingga tak memungkinkan untuk dilakukan bersepeda.Juga pertimbangan kondisi jalan yang rusak berat, apalagi banyak pesepeda yangmenggunakan sepeda dengan ban kecil yang kurang cocok melalui jalan rayalayaknya offroad. Sepanjang daerah itu pun hujan tak kunjung berhenti hinggadiputuskan untuk di-loading saja hingga Cirebon.Di Cirebon, tepatnya di masjid Bobos, sepeda diturunkan dan memepersiapkanperjalanan etape kelima. Saat itu, hari sudah malam, tapi cuaca sudah benar-benarcerah. Kegiatan bersepeda malam dari Masjid Bobos hingga Gedung Negaradilakukan menyusuri jalanan Kota Cirebon sepanjang 15 km. Di Gedung Negara,kami disambut para pejabat setempat, silaturahmi, makan, hiburan, dan beristirahat.Keesokan paginya, rombongan menuju Car Free Day Kota Cirebon. Sebagianbersepeda dan sebagian lagi berjalan kaki, karena lokasinya tak begitu jauh dariGedung Negara. Di Car Free Day, usai mengikuti senam pagi massal bersamamasyarakat Cirebon, juga mengikuti serangkaian acara kampanye kepada warga


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201826setempat. Setalah ramah tamah di balaikota dan hiburan, rombongan pesepedapulang menuju Bandung dan Bekasi menggunakan kendaraan.Kegiatan ini terbilang seru dan cukup sukses. Setidaknya, kampanye menolakperdagangan manusia dapat dilakukan dengan cara yang berbeda dan disampaikankepada masyarakat dengan lebih efektif. Hanya saja, secara kepuasan bersepeda,memang agak mengecewakan. Karena tak sesuai target yang ditempuh yaitusepanjang 125 km, mungkin hanya setengahnya. Walaupun demikian, kami takberkecil hati karena factor cuacalah yang mengharuskan kami bersepeda tak sesuaitarget. Salam boseh dan go green, Komunitas Sepeda Suka-Suka Bandung. ( b2bPRM, 04/05/2014).10. Saatnya Berbagi dan PeduliKomunitas Pesepeda Bike ToCampus Bandung, tahun inimemasuki babak baru dalamdinamika dunia bersepeda.Keberadaannya kembalimenggeliat setelah cukup lamavakum. Memasuki tahun ke-4,komunitas yang berslogan“Kejar Skripsi Tanpa Polusi” inimulai bangkit. Mereka memulaikebngkitannya dengan berbagidan lebih peduli kepada sesama.Berbeda dengan periodesebelumnya, Bike To Campus Bandung kini mewakili anggota dari sejumlahuniversitas di Bandung. Para pegiat komunitas berasal dari ITB,UNPAD,UPI,TELKOM, UNIKOM,POLMAN Bandung,UNIBI, UNJANI,UTAMA, ITENAS, UIN,UNISBA,UNPAS, LPKIA, STSI,TRIDARMA,FIKSIGANESHA, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya. Mereka aktif denganmenggunakan jenis sepeda seperti Federal, Mtb,roadbike, fixie, bahkan onthel.Tanggal 15 Juli merupakan hari jadi Bike To Campus Bandung, dan kali bertepatandengan di bulan suci Ramadhan. Untuk itu, dalam merayakannya pun disesuaikandengan nuansa bulan puasa, digelarlah kegiatan bertajuk “4th Bike To CampusUniversity, Berbagi dan Peduli”


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201827Aksinya diisi dengan rangkaian kegiatan, selain cukup menarik, juga sekaligusdalam rangka truut memuliakan bulan suci dengan kegiatan amal. Banyak kawankawan yang mendukung kegiatan ini diwujudkan dengan turut berdonasi untukkegiatan tersebut. Tak hanya swadaya dari anggota, kegiatan ini medndapatdukungan dari berbagai korporasi, termasuk salah satunya adalah Back To BosehPikiran Rakyat.Bertempat di Taman Cikapayang Jalan Ir H Juanda (Dago), Kota Bandung, kegiatandiikuti puluhan pesepeda yang mengawali dengan bersepeda bareng “ngabuburide”.Kami mengeliling kota dengan rute yang agak pendek dari Taman Cikapayangmenyusuri Jalan Dago hingga ke Simpang Dago, lalu ke Dipati Ukur, Surapati,Gasibu, hingga Gedung Sate. Setelah, beristirahat sejenak,, perjalanan dilanjutkankembali ke Taman Cikapayang untuk membagi-bagikab tajil kepada masyarakatyang melintas dan berbuka puasa bersama serta beribadah shalat magrib berjam’ah.Acara syukuran bersama dilakukan dengan makan bersama (botram)denganmakanan yang dibawa oleh masing-masing anggota. Setelah syukuran selesaidiakhir dengan pembagian doorprize dari sejumlah sponsor kegiatan, kemudiandilakukan acara ramah tamah untuk saling mengeratkan hubungan kebersamaan.Berbagi Hidangan SahurMalam harinya, para anggota Bike To Campus melakukan pengambilan gambaruntuk pembuatan video Bike To Campus. Isi video tersebut sebagai upayamenyuarakan dukungan terhadap aksi lingkungan. Selain itu. juga menyuarakanaksi-aski kampanye hijau dan kampanye bersepeda di Kota Bandung. Tak hanya itu,juga diungkapankan tentang keprihatinan mereka terhadap bencana kemanusianyang terjadi di wilayah Gaza, Palestina.Selanjutnya, pegiat Bike To Campus melakukan gowes malam menuju kampusUnjani di Jalan Jendral Gatot Subroto dan berdiskusi sambil mempersiapkan nasidus untuk dibagikan saat sahur kepada orang di jalanan yang membutuhkan.Tempat ini kemudian dijadikan titik start dalam melaksanakan kegiatan gowesberbagi nasi untuk sahur pada pukul 01.30 kepda para petugas malam, tukang becakdan masyarakat lainnya. Kami menyusuri Jalan Gatot Subroto, Asia Afrika, JendralSudirman, Otto Iskandar Dinata, dan berakahir di Jalan Pungkur. Seusaimelaksanakan santap sahur bersama, kami kemudian membubarkan diri menujukediaman masing-masing. Salam boseh dan go green. Pembina Bike to CampusBandung. ( b2b PRM, 20/07/2014)


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 20182811. Perjalanan Penuh MaknaLebaran tahun ini, sebenarnyagowes mudik merupakanpengalaman pertama bagi saya.Tempat tujuannya pun terbilangdekat, yaitu BandungPurwakarta, berjarak sekitar 65km dari Bandung via Cikalong.Sebelumnya, saya sudah duakali ke sana dengan momenyang berbeda. Karena sekarangmomennya adalah Lebaran,saya pun memanfaatkannyadengan gowes mudik ke sana,ke tempat dimana hampir sebagian besar saudara-saudaraku terdekat berada,tepatnya di kecamatan Pasawahan Kabupaten Purwakarta. Esesnsi mudiknya punbegitu terasa, mulai dari persiapan, saat perjalanan, hingga tiba di tempat tujuan.Dari segi persiapan, saya hanya mengecek sepeda yang saya gunakan berupa sepedaFederal. Sebelumnya Federal ini telah menjajal Bandung-Limbangan , Bandung –Jatiluhur dan Bandung – Jakarta. Beberapa peralatan penting dan aksesorisseperlunya tak lupa dibawa serta. Tak banyak perbekalan yang diboyong. Hanyabeberapa helai pakaian dan makanan ringan untuk keponakan. Serta cangkangketupat. Tas panier pun tak begitu terlihat padat dan berat.Rute yang saya tempuh memang rute yang sudah cukup akrab yaitu Cimahi,Padalarang, Cikalong, Darangdan, Cianting, Sukatani, Kota Purwakarta, Pasar ReboSimpang dan Pasawahan. Akan tetapi, karena masih dalam suasana puasa, iramakayuhan pun terbilang santai dan banyak berhenti, biar tidak memforsir tenaga danpuasa saya tidak batal di tengah jalan. Saya mulai berangkat pukul 08,00 pagi dariBandung, diantar dua teman pesepeda hingga Padalarang.Kondisi jalan terlihat cukup ramai walau tak begitu padat, terutama yang datang dariarah barat menuju timur. Waktu lebaran yang semakin dekat saat itu meramaikanarus lalulintas tujuan Purwakarta, Cikampek, Karawang dan Bekasi. Kendalaterjebak macet justru dihadapi pada awal-awal perjalanan dari Bandung, Cimahi danPadalarang. Namun mungkin karena masih pagi, kemacetannya pun tak begituberarti. Perjalanan relatif lancar dan nyaman, karena tak seperti biasanya truk danbus besar jarang melintas.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201829Walaupun demikian, saya tetap ekstra hati-hati. Setiap beristirahat di rest area pombensin, saya kerap menjadi pusat perhatian para pemudik bersepeda motor, karenasaat itu hanya sayalah satu-satunya pemudik yang bersepeda.Perjalanan sedikit terhambat hujan deras mengguyur di sekitar Cikalongwetan danDarangdan. Dari pusat kota Purwakarta, saya harus mencapai lokasi tujuan sejauh 5km dengan kondisi jalan menanjak dan ramai dengan kendaraan bermotor. Dengankondisi raga yang sangat lelah, akhirnya saya pun tiba di tempat tujuan denganselamat.Tak lama saya berada di sana. Saat hari Lebaran, seusai melaksanakan salat Idulfitridan bermaaf-maafan, saya bergegas untuk segera kembali ke Kota Bandung. Selainkarena ada urusan yang harus dikerjakan, saya mendapat kabar duka, seorang rekankerja meninggal dunia sehari sebelum Lebaran.Perjalanan ke Kota Bandung, kembali saya lakukan dengan menggowes. Perjalananpulang lebih didominasi oleh tanjakan, terutama di daerah Cibentar-Darangdan,Cikalongwetan, dan Tagogapu. Beberapa kali saya harus berhenti dan mengambilnafas panjang karena kelelahan. Sepanjang perjalanan lalulintas sangat ramai olehorang-orang yang bersilaturahmi, berziarah, ataupun berkunjung ke tempat-tempatwisata.Saya tiba di Bandung agak malam. Selain banyak bersitirahat dan berjalan pelan, diCimahi saya pun menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka almarhum.Perjalanan ini penuh dengan makna. Saya menyebutnya dengan perjalanan gowesuntuk mensucikan diri, kembali ke fitrah. Selamat Idulfitri.Salam boseh dan go green. Pegiat berbagai komunitas pesepeda di Bandung ( b2bPRM, 3/08/2014)12. Pesepeda juga Peduli GPSMinggu,(30/11/2014) pagi, langit Bandung diliputi awan mendung. Akan tetapi,kondisi speerti itu tak diindahkan sebagaian besar masyarakat Bandung yang hendakmenikmati pagi. Beragam cara dilakukan mulai berjalan kaki, berolahraga, senam,beraktivitas, maupun bersepeda di Car Free Day, lapangang olahraga atau tamantaman kota. Begitu pula bagi beberapa pesepeda dan pelari yang saat itu akanmelakukan Gerakan Pungut Sampah (GPS), semangat mereka untuk melakukan haltersebut tak surut oleh cuaca mendung yang menggelayut.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201830Hujan pun memang takturun, menjadikan GerakanPungut Sampah sambilbersepeda dilakukan.Kegiatan ini merupakanrangkaian kegiatan dariperhelatan bertajukSpectaday yang digelar olehkomunitas pegiatlingkungan dan BPLH KotaBandung. Kegiatan ituberisikan salah satu kegiatanutamanya adalah sosialisasidenda sampah yangdiberlakukan di KotaBandung mulai 1 Desember2014.Gerakan Pungut Sampah oleh para pesepeda diawali dari titik kumpul di area CarFree Day Dago, tepatnya di depan Taman Cikapayang. Sebanyak 20 pesepeda darisejumlah komunitas pesepeda di Bandung turut hadir. Selain pesepeda, 5 pegiatolahraga lari juga bergambung dalam gerakan ini, kami bergerak perlahan dari mulaiTaman Cikapayang sambil memungut sampah di rute-rute jalan yang kami lalui,yaitu Jalan Dago, Diponogoro, Trunojoyo, Teuku Umar, Aria Jipang, Tamansari,Wastukencana, RE Martadinata, Merdeka dan berakhir di Balai Kota. Di titik akhirini pula tempat digelarnya kegiatan Spectaday dan Gerakan Pungut Sampah yangsama oleh ratusan pelajar dari berbagai sekolah dasar dan menengah di KotaBandung.Pergelaran Spectaday diciptakan dengan konsep good festival, maksudnyadiupayakan suasana di area kegiatan minim sampah, dari aturan dilarang kerasmembawa barang berbahan Styrofoam, dianjurkan berkunjung ke area menggunakansepeda, angkutan umum atau berlari, hingga dianjurkan membawa tempat minumdan makan masing-masing. Sepanjang acara para aktivis GPS tidak berhentibergerak di sekitar balai kota sambil bersosialisasi tentang pemilahan sampah agarmasyarakat semakin memahami pentingnya pemilahan sampah tersebut.Kegiatan GPS bersepeda secara khusus mungkin ini kali pertama dilakukan diBandung walaupun dibeberapa event sepeda santai pernah dilakukan aksi-aksiserupa. Akan tetapi, GPS oleh pesepeda ini diharapkan menjadi awal motivasi bagipara pesepeda dari mana saja dan bersepeda ke mana saja untuk melakukan GPS


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201831setiap kali melakukan aktivitas bersepedanya disepnajang perjalanan yang dilalui.Aksi itu sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi persoalan sampahyang telah menjadi persoalan besar yang memerlukan aksi nyata dan tindakan kitatanpa harus berkeluh kesah.Jadi, kepada kawan-kawan pesepeda, bari bersama-sama memulai membiasakanbersepeda melakukan GPS. Tak usah harus jauh-jauh dulu, cukup di sekitar tempattinggal kita, sebelum berangkat bersepeda jauh luangkan sejenak untuk memungutsampah yang berserakan di sekitar kita, dikumpulkan, lalu dibuang di tempat yangsemestinya dengan tetap memahami pada konsep pemilahan sampah. Tidak sulitbukan? Salam boseh dan go green. Pesepeda pegiat lingkungan. ( b2b PRM,7/12/2014)


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201832Tahun 201513. Pergeseran Minat Sepanjang Tahun LaluSepanjang tahun 2014lalu, kiblat aktivitasbersepeda di Jawa Barat,khususnya di Bandung,sedikit bergeser. Banyakpesepeda yang tak lagimenikmati perjalananpendek dan singkat.Aktivitas bersepeda jarakjauh (touring), sebagiandiselingi denganbermalam ditenda(camping), terusberkembang. Aktivitas ini terus berkembang ditengah kegiatan boseh lain yangsudah dianggap biasa seperti fun bike, downhill ataupun cross country (xc).Variasi kegiatan bersepeda itu telah menggerus kegiatan fun bike. Dulu, pergelaranfun bike ini merajai Kota Bandung. Hampir setiap minggu ada agenda fun bike yangdigelar korporasi ataupun sekedar promosi dari product tertentu. Bahkan, dalam satuakhir pekan dapat digelar dua hingga tiga fun bike. Kondisi ini berubah pada tahun2014, fun bike semakin jarang digelar. Mungkin saja karena sebagian sudah merasajenuh melakukannya.Bentuk variasi yang terjadi tahun 2014, salah satunya adalah Boseh2Graphy, bikekuliner, ataupun bike park. Dan tentu saja kegiatan bersepeda jarak jauh alias biketouring dan bike camping. Indikasinya juga terlihat dengan makin ramainya kegiatanbike touring dan bike camping, dan dari makin banyaknya pesepeda yang menambahaksesoris sepedanya dengan rak depan dan belakang, lengkap dengan tas panniernya, handlebag, dan lainnya.Komunitas pesepeda jarak jauh pun semakin subur, Sebut saja Federal BandungIndonesia, Bike Packer Indonesia, Sepeda Gegembol, dan lainnya. Bisa jadi, kondisiini terinspirasi oleh seorang pesepeda jarak jauh legendaries, Bambang Hertadi Masalias Paimo. Tak sedikit yang terpicu dengan torehan sejarah Paimo menaklukanberbagai daerah di dunia dengan bersepeda. Ini dapat terlihat dari banyakbermunculan pesepeda jarak jauh yang melakukan penjelajahan berbagai daerah diNusantara, Beberapa bahkan melakukannya sendirian (solo).


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201833Mengahkhiri tahun 2014, kegiatan bersepeda semakin bervariasi. Sebagai contoh,pada Desember 2014 saja, tercatat hanya dua kali gelaran fun bike di Kota Bandung.Padahal, biasanya fun bike menjamur pada akhir tahun.Beberapa komunitas pesepeda di Bandung sudah jauh-jauh hari mengagendakankegiatan bersepeda sebagai penutup tahun 2014. Ada yang melakukan bike campingke Gunung Kareumbi, ada yang melakukan perjalanan ke Pangandaran. Beberapamemilih untuk berpetualang ke jalur yang sudah biasa, sementara yang lainnya adapula yang bersepeda sambil melakukan gerakan lingkungan, seperti meramaikankegiatan Jum’at Bersepeda atau Sabtu #yukgowes dan bersepeda malam di Jum’atterakhir tiap bulannya.Kegiatan bersepeda downhill atau ngaprak di hutan agak berkurang seiring denganmasuknya musim hujan. Namun bagi yang senang bobolokot, mereka tetap setiamelakukannya di tempat-tempat yang sudah biasa di Bandung bagian utara dantimur. Bagi para pesepeda yang suka kecepatan, mereka tetap melakukan latihanrutin tiap Sabtu dan Minggu ke Lembang via Jalan Setiabudi. Sementara itu, variasibersepeda laiinya juga di gelar Back To Boseh Pikiran Rakyat melalui aktivitasBoseh2Graphy yang menggeliat lagi setelah tiga bulan vakum karena musibahkebakaran Redaksi Pikiran Rakyat.Lalu, bagaimana dengan aktivitas pada tahun 2015 ini? Saya yakin akan lebihbanyak variasinya dibanding dengan tahun lalu. Jadi, mari bersepeda dan berinovasi.Salam boseh dan go green. Aktivis bersepeda di Bandung. ( b2b PRM, 4/01/2015)14. Ketika Sepeda Jadi Karya SeniBanyak hal sisi lain kreasipara aktivis pesepeda yangbisa dilakukan dalam duniabersepeda terutama terkaitdengan lingkungan, karenabersepeda merupakan bagiandari perubahan prilaku yangramah lingkungan. Salahsatunya membuat suatu karyaseni estetika yang tetap adaunsur sepedanya danmemadukan dengan gerakanlingkungan.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201834Hal seperti itu dilakukan oleh sekelompok anak-anak muda pegiat bersepeda yangtergabung dalam komunitas Bike To Campus Bandung, mereka membuat sebuahkarya seni berupa ornamen gajah terbuat dari beberapa elemen barang bekas sepertibotol plastik kemasan dan kertas karung semen, selebihnya dari besi dan ram kawatsebagai kerangka gajah. Karya gajah tersebut disimpan di atas sepeda biar terlihatunik dan menarik serta menjadi pusat perhatian hingga membuat penasaran maknaapa dari karya seni gajah menaiki sepeda.Kegiatan pembuatan karya seni tersebut berawal dari lolosnya Komunitas Bike ToCampus Bandung sebagai salah satu pemenang dari 10 karya seni lainnya dalammengikuti kompetisi pembuatan instalansi gajah yang digelar olah kerjasama antarasalah satu nongovermental organization lingkungan terbesar, WWF Indonesiadengan komunitas pegiat lingkungan kota Bandung.Kompetisi itu dilakukan sebagai salah satu upaya para pegiat lingkungan tersebutberkampanye #nasibgajah Indonesia yang keberadaannya mengkhawatirkan.Habitat-habitat gajah tergerus oleh peralihan fungsi lahan, menyebabkan gajah-gajahtersebut terusir bahkan bnyak yang dibunuh karena sering merusak lahan yang sudahberubah fungsi. Padahal, lahan-lahan itu asalnya merupakan lahan habitat asligajah-gajah tersebut. Belum lagi, penderitaan gajah-gajah bertambah dengan adanyapemburuan gading gajah secara membabi buta.Melalui kompetisi kampanye #nasibgajah tersebut diharapkan masyarakat bisapeduli dan memahami kondisi gajah-gajah dewasa ini, khususnya yang ada diIndonesia. Untuk itulah para kompetitor membuat karya seni dan digital sekreatifmungkin tentang kampanye nasib gajah serta diharapkan maksud dan tujuannya bisaberdampak efektif bagi masyarakat yang melihat karya-karya yang merekatampilkan.Untuk itulah Bike To Campus Bandung memilih pembuatan ornamen gajah denganprinsip “membuat aksi lingkungan dengan aksi lingkungan lainnya”. Oleh karenaitu, dipadukanlah antara pemanfaatan barang bekas dan sepeda karena bersepedamerupakan bagian gaya hidup mereka. Bersepeda bukan sekedar hobi karena sepedadijadikan sebagai sarana transfortasi ramah lingkungan ke kampus-kampus mereka.Oleh karena itu, karya seni Gajah Menaiki Sepeda tersebut merupakan sinergitasdari tiga unsur kampanye lingkungan, yaitu Kampanye Nasib Gajah, KampanyeBersepeda dan Kampanye pemanfaatan barang bekas.Karya tersebut dikerjakan selama 2 minggu di basecamp b2c Bandung di daerahPasteur oleh sekitar 20 anggota b2c yang di kordinasi oleh tiga orang teamteknisnya. Minggu pertama merupakan kegiatan pematangan konsep, pengumpulan


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201835bahan, pengecatan sepeda, pengerjaan kerangkan tubuh dari besi dan ram kawatserta pembuatan lapisan pertama dari kertas bekas kantong semen. Di Minggu kedua, kegiatannya berupa pembuatan lapisan kedua dari bahan botol plastik kemasan,finishing pelapisan ketiga dari bahan plastik bening dan pengiriman karya kesekretariat panita penyelenggara.Di hari Minggu (15/02), pemenang ke-10 karya instalansi dan 1 karya digitalkampanye nasib gajah itu di pamerkan pertama kalinya di Taman Film kepadamasyarakat, sekaligus sebagai rangkaian dari kegiatan besarnya Kampanye#nasibgajah. Sejak pagi hari, acara diisi dengan konvoi atau parade kampanye nasibgajah oleh para pegiat lingkungan Bandung dan beberapa perwakilan dari 26propinsi di Indonesia, pesepeda Bike To campus Bandung, marching band,cheerleader dan parkour.Di Taman Film tersebut, karya-karya yang ditampilkan di presentasikan oleh parakreatornya, berupa penjelasan ide dan konsepnya serta maksud tujuan besarnya,yaitu kampanye lingkungan tentang nasib gajah kepada masyarakat. Beberapa karyabanyak diminati anak-anak karena menarik dan sesuai dengan pemahaman usiamereka.Bagi Bike To Campus Bdg sendiri, inti kegiatan tersebut sebagai ajang ekspresi sisilain dari kegiatan bersepedanya, dan mengajak kepada para pesepeda untuk bisaberkreasi dan berprestasi melalui hobinya bersepeda. Prestasi tidak hanya melaluibalap sepeda atau menjadi legenda petualang bersepeda, tetapi berkarya seni punbisa. Salam Gowes n Go Green. ( b2b PRM, 22/02/2015)15. Tiga Belia Tangguh dari Kota BandungPara pesepeda muda belia dalammengawali terjun ke aktifitasbersepeda biasanya cenderungmenggunakan sepeda jenis Mtbatau paling tidak ke jenisroadbike untuk mengasah diridalam mengikuti balap sepeda.Mungkin karena ke dua jenissepeda tersebut lebih cocokdengan adrenalin usia mudanya,atau karena bisa mengukirprestasi yang cukupmembanggakan, oleh karena itu,


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201836dalam setiap kejuaran balap sepeda misalnya selalu saja ada kelas junior.Jarang ada yang langsung terjun ke sepeda touring atau sepeda tamasya, entahkarena genre sepeda touring baru booming sekarang. Mungkin pula terlihat ribetdalam penggunaannya karena terlalu banyak aksesoris sepeda yang diembannya.Dengan begitu, remaja-remaja tersebut tidak begitu berminat dengan kegiatanbersepeda touring atau bersepeda tamasya alias bike camping.Akan tetapi, tidak demikian bagi beberapa belia di Bandung. Ada yang langsungterjun ke dunia bersepeda touring dan camping. Contohnya tiga anak belia pentolandari komunitas Abg Asyiknya Bersepeda (ABASAH) atau Bike To Campus Junior(B2CJr) Bandung. Mereka adalah M Ervandy Rachmat (SMP), Chairil Imam (SMP)dan Priscilla Cinta Mustika (SMA). Ketiganya memilih bersepeda touring dancamping karena memang terbawa arus para seniornya banyak dari kalanganpenggemar bersepeda Touring.Ketiganya pun sering mengikuti kegiatan-kegiatan bersepeda Touring dan Campingyang digelar oleh berbagai komunitas pesepeda Bandung di setiap akhir pekan atauliburan. Diantaranya Bandung – Gunung Puntang, Bandung – Pangandaran,Bandung – Gunung Kareumbi, Bandung – Ciwidey, Bandung – Pangalengan dansebagainya.Rata rata kekuatan ketiga ABG tersebut cukup tinggi. Terkadang irama kayuhannyapun lumayan ngabret melebihi seniornya. Mereka pun sadar kalau diaktivitasbersepeda touring, tak ada raihan prestasi kejuaraan. Akan tetapi, ada prestise yangbisa mereka dapatkan selain pengalaman juga unjuk kabisa kekuatan merekamenempuh perjalanan ratusan kilometer dengan berbagai medan jalan dan kondisicuaca yang tentu saja bervariasi.Tak hanya itu nilai-nilai kebersamaan, kekompakan dan keceriaan selalu merekadapatkan dalam setiap perjalanannya. Itu karena para seniornya pun mendukungterhadap meraka. Selain itu kesan “gegembolnya” itu yang menurut mereka unik danasyik. Terlebih selama perjalanan bersepeda itu selalu banyak suguhanpemandangan menakjubkan di setiap daerah yang di laluinya. Hal itu membuatmereka menjadi makin ketagihan bersepeda touring, tamasya atau “gegembol”.Pada awal hingga pertengahan bulan April 2015, Federalist Bandung Indonesia(FBI) menggelar kegiatan Bersepeda Touring dan Camping bertajuk “FBI de’Tour200 Tahun Tambora Menyapa Dunia”, ketiga belia tersebut pun berkesempatanmengikutinya sekaligus sebagai tiga peserta termuda dari 50 peserta yang ikut.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201837Kegiatan itu digagas dalam rangka peringatan dua abad meletusnya GunungTambora propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan pencanangan sebagai TamanNasional serta Taman International oleh Pemerintah republik Indonesia.Perjalanan bersepeda berjarak kurang lebih 400 kilometer dilakukan selama limahari atau lima etape perjalanan yaitu Pantai Siyut – Pelabuhan Padang Bai Bali,Pelabuhan Pototano – Pantai Batu Gong Sumbawa, Batu Gong – Kota Plampang,Polsek Plampang – Manggalewa Dompu, dan Manggalewa – Dorocanga ( KakiGunung Tambora). Di setiap etapenya diakhiri dengan kegiatan camping di tempattempat tujuan akhir perjalanan.Ketiga belia tersebut tak kenal lelah. Mereka berhasil melahap setiap etape. Padahal,treknya cukup bervariasi dari flat, menanjak dan menurun, dibawah bayang-bayanglangit cuaca yang sangat panas. Irama bersepeda cenderung “ngabret” dari awalhingga akhir menuju Tambora, tempat tujuan.Mereka akhirnya tiba dengan perasaan senang, terharu dan bangga bercampur rasalelah dan penuh emosional. Itu karena awalnya mereka bermimpi pun tidak pernahbisa sampai di tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat mereka tinggal diKota Bandung.Menurut mereka, itulah aktivitas bersepeda touring dan camping yang palingberkesan selama ini. Bukan hanya karena jarak tempuh dan medan jalannya sajayang membuat mereka bertahan, tapi karena daerah-daerahnya yang mereka lintasi,semula hanya bisa dilihat dalam buku sejarah dan atlas di sekolah. Dengan perasaanbahagia, meraka akhirnya bisa menginjakan kakinya di tanah daerah lain di belahanTimur Indonesia, dan berakhir di kaki Gunung Tambora.Salam boseh dan go green. Pembina komunitas pesepeda ABASAH dan B2C, jugapeserta “FBI tour 200 Tahun Tambora Menyapa Dunia”. ( b2b PRM, 19/04/2015)16. Semarak Bersepeda Sambil BeramalBulan Ramadhan telah tiba. Setiap memasuki bulan suci itu, banyak pesepeda tidaklantas menghentikan kegiatan bersepedanya. Bahkan, kegiatan bersepeda makinsemarak dengan tema tentu saja disesuaikan dengan suasana bulan Ramadhan.Meskipun demikian, intensitasnya tidak sebesar di bulan-bulan lain yang biasanyaada event besar semacam fun bike.Beberapa pesepeda mungkin sebatas bersepeda bersama sore-sore atau


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201838malam (nite ride). Beberapa lainnya bersepeda sambil melakukan kegiatan yangbermanfaat seperti membagi-bagikan tajilan gratis dan sebagainya. Beberapa pegiatsepeda balap pun tetap melakukan rutinitas latihannya ke trek-trek yang sudah biasamereka lalui.Ditengah cuaca panas, perut kosong dan rasadahaga karena berpuasa, bukan merupakansuatu halangan untuk tetap bersepeda.Pesepeda tetap bisa merasakan nikmat danasiknya bersepeda ke tempat kerja, usaha,bersepeda keliling kota atau bersepeda kejalur-jalur berat sekalipun. Dengan demikian,bersepeda di bulan Ramadhan merupakansebuah pengalaman yang berbeda dari harihari biasa.Beberapa hari sebelum Ramadhan.masyarakat Sunda biasa melakukan tradisiyang dikenal dengan sebutanMunggahan.Takmau kalah, para pesepeda pun melakukannyayang tentu saja dilakukan dengan hobi ataukesenangan mereka, yaitu bersepeda. Merekabersepeda sesuai genre bersepedanya masingmasing, yang senang xc tetap bersepeda xcatau adventure. Yang senang touring dan camping tetap bersepeda touring dancamping, yang biasanya selain ajang silaturahmi, kegiatan diakhiri dengan makanbersama (botram) dengan menu special yaitu nasi liwet. Misalnya komunitas FederalBandung Indonesia (FBI) yang bersepeda touring munggahan ke daerah Cimenyanatau komunitas pesepeda KOBRA yang bikecamping di Gunung Puntang.Memasuki Ramadhan, kegiatan bersepeda yang juga sering dilaksanakan olehpesepeda adalah bersepeda ngabuburit, yang dilaksanakan pada sorehari hingga menjelang buka puasa. Ada yang melalui jalur kota saja, ada pula yangtetap setia di jalur-jalur berat atau ekstrim.Beberapa kegiatan bersepeda ngabuburit ada yang diisi dengan kegiatan sepertimembagi-bagikan makanan ringan untuk berbuka kepada masyarakat, anak jalanan,tunawisma, penarik beca, atau membagikan sembako kepada penduduk di daerahterpencil di area trek-trek xc atau downhill. Seusai kegiatan, selalu dikahiri denganmakan bersama.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201839Salah satu komunitas pesepeda yang melakukan kegiatan bersepeda Ngabuburitsambil membagikan makanan untuk berbuka di awal-awal puasa adalah Kompi 7S.Mereka berangkat dari tempat kumpulnya di Cigadung melalui rute Sadang Serang- Tubagus Ismail - Simpang Dago - Dago Juanda - Merdeka - Lembong - Tamblongdan finish di pelataran kantor Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika 77 Kota Bandung.Kegiatan ngabuburit lain yang diisi pula dengan talkshow bersepeda, seperti yangdilaksanakan oleh komunitas Bike To Campus Bandung di salah satu Outdoor storeterkemuka di Bandung. Pembicaranya Gustarmono dari ISSI Bandung selakuPembina Atlit Pesepeda dan Kang Dudi Sugandi selaku penggagas kegiatan BosehTo Graphy, Back To Boseh Pikiran Rakyat. Adanya doorprise dan buka bersama dikegiatan ini menjadi daya tarik lain sehingga menambah antusias pesepeda untukmengikutinya.Selain itu ada komunitas RideBike (RB) yang menggelar Bersepeda Ngabuburit dijaur Cikole Wates Bike Adventure Park. Jalur tersebut jalur yang digunakan untukkegiatan yang sudah rutin diselenggarakan oleh komunitas ini yaitu C2AMChallenge.Bersepeda malam atau Nite Ride biasanya dilakukan usai salat Taraweh. Merekaberkumpul di tempat tertentu lalu bersepeda malam bersama. Ada pula yangmelakukannya usai buka bersama. Sebagian lagi melakukannya tengah malamhingga menjelang makan sahur. Umumnya, mereka bersepeda sambil membagikannasi bungkus ke panti-panti asuhan atau para petugas malam dan para tunawisma.Kebanyakan rute bersepedanya ringan-ringan saja sekedar mengelilingi kota. Akantetapi, tak sedikit pula yang bersepeda ke rute-rute agak jauh atau trek-trek favouritpesepeda di Bandung, seperti bersepeda malam yang digelar oleh Motekar Mtbclub ke daerah Lembang melalui Dago Bengkok 2 dan Cijengkol (pudunan langit)serta finish kembali ke Bandung.Amal dan EdukasiSelain itu, ada pula kegiatan-kegiatan yang bersifat bukan merupakan aktivitasbersepeda tetapi secara tidak langsung terkait dengan dunia persepedaan. Contohnyakegiatan BERSALING (Berbuka dan beramal sambil ingat lingkungan), kegiatanamal atau berbagi dengan diiisi kegiatan buka bersama dan edukasi tentanglingkungan kepada ratusan anak yatim piatu. Kegiatan ini melibatkan partisipasicukup besar dari berbagai komunitas peduli lingkungan termasuk beberapakomunitas di Bandung. Kota Bandung selaku pionir, sudah 9 kali melasanakankegiatan ini sejak tahun 2005 hingga 2013. Namun, sejak tahun 2014 hingga tahun2015 ini, kegiatan Bersaling dilakukan di DKI Jakarta saja.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201840Maraknya dunia persepedaan saat Ramadhan belakanganan ini semakinmemperjelas bahwa masyarakat Kota Bandung khususnya tengah bereuforiakegemarannya bersepeda. Semoga saja kondisi seperti ini tidak lantas mengurangikekhusuan dalam menjalankan ibadah puasanya.Salam boseh dan go green. Forum Komunikasi Komunitas Pesepeda se-BandungRaya. (b2b PRM, 22/06/2015)17. Agar Boseh Mudik Lebih AsyikGowes mudik atau boseh mudik kinisudah menjadi trend tersendiridikalangan pegiat sepeda. Banyakpesepeda melakukan. baik jarak dekatmaupun jarak jauh. Baik lintas kota,propinsi, maupun lintas pulau. Adayang bergaya bikepacker ada yangbergaya bike touring. Mungkin ada pulayang bergaya pembalap, yang berangkatala kadarnya tanpa membawaperbekalan atau gegembol dengan alasanjarak tempuhnya yang relatif pendekatau mungkin tidak mau terlalu ribetdalam mengayuh sepedanya.Banyak pesepeda yang kemudianmenggelar bersepeda mudik baikdilakukan bersama-sama atauperseorangan. Ada pula yangmengkordinir dan memberikandukungan para pesepeda yang hendak bersepeda mudik. Misalnya, yangdilaksanakan oleh salah satu komunitas sepeda kreatif di Bandung yang bernuansasepeda dengan label Bike To Kampoeng.Sejak empat tahun yang lalu, komunitas itu sangat peduli terhadap kegiatan bosehmudik. Hal itu dianggap salah satu kampanye sepeda sebagai alat transportasialternatif dengan mendukung beberapa pesepeda untuk mudik bersama dengantempat tujuan yang berbeda-beda, Bandung – Purwakarta, Bandung – Tasikmalayadan Bandung – Cilacap. Strategi ini cukup berhasil dijalankan dan menarik minatpesepeda lain untuk boseh mudik bersama yang didukung dan dikoordinasi Bike ToKampoeng agar bisa kembali digelar pada kesempatan Ramadhan tahun berikutnya.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201841Karena tingginya antusias beberapa pesepeda ingin bersepeda mudik bersamatersebut , tahun ini pun Bike To Kampoeng kembali melakukan dukungn bagi parapesepeda yang akan melakukan boseh mudik yang tentu saja dengan konsep yanglebih baik, lebih terkelola, lebih menggema dan lebih asik lagi. Tema besarnyaadalah #Gowesmudik2015.Diawali dengan mengkoordinasi komunitas-komunitas pesepeda se-Nusantara,khususnya daerah-daerah yang terlalui para pesepeda mudik untuk secara sukarelamembentuk posko-posko mudik. Tujuannya, selain sebagai ajang silaturahmi antarpesepeda juga untuk membantu para pesepeda mudik mendapat informasiperjalanan, rute, tempat transit atau istirahat, dan sebagainya.Harapannya, posko tersebut menyediakan hal-hal yang dibutuhkan pesepeda, selainmakanan atau minuman, juga bengkel sepeda. Bagi komunitas-komunitas pesepedayang bersedia membentuk Posko Pesepeda Mudik mendapat atribut seperti benderaatau sepanduk sebagai tanda khusus posko mudik pesepeda. Banyak komunitaspesepeda ataupun perorangan yang menawarkan sekretariatnya maupun rumahnyamenjadi posko tempat transit pesepeda mudik. Beberapa diantaranya berlokasi diKarawang, Bandung, Jogjakarta, Bojonegoro , Pemalang dan Surabaya.Selanjutnya pendataan para pesepeda se-Nusantara yang akan melakukan bersepedamudik mencakup data diri, nama komunitas pesepeda/perorangan, rute tujuan dansebagainya. Tujuan dari pendataan itu untuk saling memberi informasi ke sesamarekan pesepeda mudik dan posko sukarela di perlintasan jalur mudik.Rencananya, puluhan pesepeda dari berbagai komunitas pesepeda maupunperorangan akan melakukan #Gowesmudik2015 dengan rute perjalanan dan waktumulai pemberangkatan yang beragam. Banyak tempat tujuan yang akan dicapaipara pesepeda mudik tersebut, diantaranya Jakarta – Jogjakarta, Jakarta –Tasikmalaya, Jakarta – Surabaya, Bandung – Magelang, Bandung- Jogjakarta,Purwakarta - Bogor dan Cianjur – Pangandaran melalui jalur selatan, utara, baratatau timur. Ada yang mulai berangkat seminggu sebelum Lebaran atau mendekatiLebaran, ada pula yang melakukan usai salat ied atau sesudah Lebaran.#Gowesmudik2015 ini akan dibuka secara seremonial di Jakarta, tepatnya disekretariat Bike To Work Indonesia, Driving Range Senayan pada Jum’at(10/7/2015) pagi dengan melepas beberapa pesepeda mudik dari perwakilankomunitas pesepeda. Rencananya, perwakilan komunitas-komunitas pesepeda seNusantara bersedia hadir dalam acara seremonial pelepasan tersebut. Rencananya,kegiatan itu diramaikan oleh kegiatan lomba foto dengan moment tema#Gowesmudik2015 yang terbuka untuk umum.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201842Tips Bersepeda MudikBersepeda untuk perjalanan mudik yang dilakukan saat puasa tentunya berbedadengan di hari biasa, meski sama sama ngaboseh atau jaraknya sama sama jauh, saatbersepeda mudik ada banyak hal yang perlu diperhatikan, selain kondisi jalan yangpadat. Berikut ini tips yang ingin mudik dengan sepeda, mudah mudahn bermanfaat:1. Aturan standard yaitu kondisi sepeda beserta perangkat lainnya sudah dalamkeadaan fit dan tersedia. Ini penting, cek semua kondisi.2. Pastikan anggota keluarga sudah dikondisikan dengan nyaman termasuk barangbawaan dan oleh oleh meski kita tidak bersama dalam satu kendaraan. Jangansampai keluarga report karena kita ngotot ingin boseh ke kampung halaman.3. Berangkatnya mungkin semangat, tapi saat arus balik cenderung malas untukboseh, untuk itu jangan lupa bawa tas sepeda, supaya saat arus balik nanti lebihaman dan nyaman.4. Banyaknya barang yang ingin dibawa ke kampung, mungkin tidak semuanya bisadiangkut sepeda, paketkan via jasa kurir atau pos bisa menjadi solusi supayabebannya berkurang.5. Sering seringlah mengabarkan kepada orang dekat, sudah sampai mana kitaberada? karena kebanyak orang Lebaran menjadi hal penting hadirnya semuaanggota keluarga. Jangan sampai keinginan kita boseh ke kampung menjadi bebanfikiran anggota kleuarga lainnya.6. Hitung durasi akan berapa lama diperjalanan, dan berapa ongkosnya, kalau bosehke kampung justru malah menguras dompet daripada pakai kendaraan bermotor,lebih baik difikirkan lagi.7. Siapa bilang pakai sepeda bebas macet, kondisi jalan luar kota yang cendrungnanjak mudun dan bahu jalan sempit juga kurang baik, mungkin saat hari biasa kitamasih aman berada di atas aspal, tp saat mudik jangankan jalan aspal, pinggir jalanpun penuh sesak, disinilah tantangannya dan diuji kesabaran puasanya, untuk titiktitik tertentu kita akan lebih banyak TTB (tun tun bike).8. saat SAHUR: batasi asupan teh&kopi krn akan mempercepat metabolism yghasilnya mempercpt rasa haus walau tak terdehidrasi9. saat SAHUR, disarankan konsumsi makanan yg lambat dicerna & miliki serattinggi, seperti kacang2an, biji2an, gandum, padi2an10. saat BERBUKA, dianjurkan konsumsi kurma atau pisang krn kaya akan kalium,karbohidrat & magnesium, batasi makanan yg digoreng11. konsumsi buah atau air antara BERBUKA dan sebelum tidur, setidaknya 4 - 6gelas, hindari terlalu banyak es krn mempercepat rasa kenyang. Selamat ngabosehmudik. Salam boseh dan go green. Forum Komunikasi Komunitas Pesepeda seBandung Raya. ( b2b PRM, 12/07/2015 )18. Memaknai Kemerdekaan dengan “Ngaboseh”


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201843Terlepas dari berbagaipersoalan dan masalah yangmenyelimuti Negara KesatuanRepublik Indonesia (NKRI),memasuki usianya yang ke-70tahun merdeka daripenjajahan, semakin banyakcara masyarakat dalammengekspresikan rasa banggadan hormat untukmemperingatinya.Salah satunya, masyarakatpegiat bersepeda yangmenjadikan hari kemerdekaansebagai momentum yang tepat untuk bersepeda sekaligus sebagai bentuk atau carasederhana dalam menghargai dan merayakannya.Ada yang menggelar upacarabendera yang dilanjutkan perayaan 17 Agustus oleh komunitas-komunitas pesepeda.Kegiatan ini biasanya diawali dengan konvoy ngaboseh mengelilingi kota denganberbagai atribut bendera merah putih dan pakaian ala masa-masa perjuangankemerdekaan bangsa.Salah satu komunitas pesepeda yang rutin hampir tiap tahun menyelenggrakanupacara bendera para pesepeda ini adalah Paguyuban Sepeda Baheula Bandung(PSBB) dengan lokasi upacaranya dipelataran Gedung Merdeka. Komunitas PSBBini merupakan pegiat sepeda jaman baheula yang lestari hingga saat ini yaituONTHEL, yang notebane merupakan sepeda yang memiliki nilai sejarah yang cukuptinggi. Sepeda itu merupakan salah satu saksi sejarah sepanjang perjuangan bangsamenuju kemerdekaan.Ada beberapa kegiatan bersepeda lainnya di bulan Agustus yang dilakukankomunitas pesepeda mengaitkan dengan kegiatan halal bi(ke) halal pesepeda. Itukarena momentnya masih berdekatan dengan suasana hari Raya Idulfitri. Ada yangmelakukan kegiatan bersepeda dengan tema “Boseh Nyawalan” karena awal bulanAgustus masih berbarengan dengan bulan Syawal.Ada pula yang menggelar boseh napak tilas perjuangan para pahlawan, seperti yangdilakukan oleh puluhan pesepeda yang tur dari Jakarta pada momen Agustus tahunlalu dengan bersepeda ke Rangas Dengklok karawang. Daerah tersebut memilikicatatan sejarah perjalanan Bung Karno dan Bung Hatta dalam upaya mewujudkankemerdekaan Indonesia. Ada yang menyelenggarakan bersepeda regulernya dengan


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201844mengusung tema-tema memperingati kemerdekaan atau nuansa 17 Agustus, atauyang bersifat kompetisi, misalnya rally bersepeda dan lainnya.Ada pula yang dikaitkan dengan kegiatan social, seperti memberikan penghargaankhusus kepada para veteran perang yang masih hidup, yang kebanyakan merekahidup dalam kondisi pas-pasan. Sebagian veteran diajak untuk berbagi cerita danpengalaman mereka berjuang mempertahankan kedaulatan Negari. Sebagian lagiyang masih gagah dan kuat diajak bersepeda bersama dalam konvoy lengkap denganciri khas atribut bintang jasa kebanggaan mereka.Selain itu, terdapat kegiatan bersepeda yang disinergiskan dengan gerakanlingkungan dalam moment kemerdekaan yaitu Jurnalist On Bike. Kegiatan turbersepeda itu turing jauh ribuan kilo meter dari propinsi ke propinsi lainnya diwilayah Indonesia sambil melakukan peliputan tentang lingkungan danmerekomendasi para pahlawan lingkungan dengan aksi-aksinya di beberapa daerahyang dilalui. Harapannya, di moment kemerdekaan ini menjadi awal kebangkitkanbagi terciptanya kondisi lingkungan yang baik di Indonesia.Yang cukup fenomenal adalah yang dilakukan oleh seorang pesepeda usia lanjut dariRiau pada tahun lalu. Kakek Sitor, panggilan akrabnya, bersama ketiga rekannyayang sama-sama berusia lanjut melakukan bersepeda turing keliling tujuh negara diAsia, sambil membawa misi perdamaian dan misi lingkungan bertajuk#savetheforest Riau Indonesia. Sepeda yang mereka gunakan dilengkap atributbendera Merah Putih yang selalu berkibar mengiring kayuhan mereka dari satunegara ke negera lainnya.Itulah kegiatan beberapa pesepeda yang biasa dilakukan atau akan dilakukan dalamrangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka memaknaikemerdekaan dengan bersepeda itu bukan untuk sensasi atau berharap mendapatpenghargaan dari pemerintah. Akan tetapi ingin menunjukan bentuk sederhana lewatcara tersendiri dalam mengenang jasa-jasa pahlawan melalui kegiatan bersepedasebagai warga Negara yang baik dan mencintai Bangsa ini dengan setulus hati.Semoga saja di moment Bulan Agustus tahun 2015 ini banyak kegiatan bersepedayang sesuai dengan semangat Kemerdekaan NKRI. Salam boseh dan go green.Pesepeda. ( b2b PRM, 16/08/2015 )19. Upacara Bendera ala Pesepeda


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201845Pelaksanaan UpacaraBendera memperingatiHari ProklamasiKemerdekaan setiaptanggal 17 Agustusoleh Pemerintah,Instansi, Institusiataupun lembagamungkin sudah terlalubiasa dilakukan. Akantetapi, bagaimana jikayangmelaksanakannya adalah para pegiat sepeda ? Tentu saja sedikit unik dan menarik.Melalui hobi yang sederhana mereka tetap menunjukan rasa nasionalismenya yangtinggi dan tetap punya cara tersendiri dalam menghormati Kemerdekaan NegaraKesatuan Republik Indonesia.Beberapa hari menejelang 17 Agustus, di media jejaring soial seperti facebook,khususnya, dikalangan pesepeda, ramai akan imbauan dari dan kepada para pegiatsepeda untuk melakukan aksi nasionalis, kegiatan, atau upacara bendera terkait HariKemerdekaan Republik Indonesia dengan cara sederhana yang bisa mereka lakukan.Imbauan itu kemudian direspon banyak komunitas pesepeda.Dari sekian banyak komunitas pesepeda di Jawa Barat, yang melakukan upacarabendera pada 17 Agustus 2015 dengan gaya mereka sendiri adalah komunitasPesepeda Purwakarta Mountain Bike Adventure (PUMA) Purwakarta. Merekamelangsungkan upacaranya di kawasan Cigangsa, tempat mereka rutin berkumpul,bersilaturahmi, dan berbagi setiap hari Sabtu. Uapacara itu diikuti sekitar 50pesepeda anggota PUMA Purwakarta ditambah beberapa pesepeda baik darikomunitas pesepeda lainnya yang ada di Purwakarta maupun pesepeda individu.Menariknya, kegiatan upacara bendera yang di dukung oleh ISSI kabupatenPurwakarta ini diikuti beberapa pelajar SMK Campaka. Bagi Puma, kegiatanupacara bendera ala pesepeda ini merupakan kali ketiganya mereka lakukan.Atributnya yang digunakan pun adalah atribut ciri khas pesepeda, seperti Jersey,helm, sarung tangan, kacamata dan lain-lain.Upacara bendera ala pesepeda yang digagas PUMA Purwakarta ini dilaksanakanmulai pukul 08.00 WIB. Untuk menjaga kebersamaan antar pesepeda se-Purwakarta,dalam gladi resik sebelumnya, dilakukan pembagian tugas lintas komunitaspesepeda.


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201846Pembawa acara dilakukan oleh anggota komunitas sepeda Federal Purwakarta(Fedarta), Pemimpin Upacara oleh anggota komunitas PBC. Untuk PembinaUpacara, pembaca teks pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Pembacaan Do’adari komunitas PUMA Purwakarta. Pengibar bendera selain dari PUMA juga dariWAPRESS (Wanoja Purwakarta Resep Sasapedahan ). Petugas pembaca teksPancasila oleh salah satu anggota komunitas pesepeda PGM.Selain itu, bertindak sebagai pengiring lagu Indonesia Raya dan Lagu WajibNasional dari WAPRESS. Pesepeda lain dari Santosa Bike, Bucis dan Bike ToWork Purwakarta bertindak sebagai peserta upacara bersama para pesepeda lainnya.Sederhana dan khasKetua PUMA selaku Pembina Upacara, Sigit Hadmono, menyampaikan rasabangganya bisa bersama-sama pesepeda se-Purwakarta melakukan upacaramemperingati proklamasi kemerdekaan yang ke-70 Republik Indonesia sebagaibentuk penghormatan mereka atas jasa-jasa para pahlawan dalam berjuang hinggamencapai kemerdekaan dari para penjajahan. Ia berharap, para pesepeda diPurwakarta untuk meneruskan cita-cita perjuangan para pahlawan dengan carasederhana dan khas yang bisa dilakukan pesepeda. “Dengan makin banyaknyamasyarakat Purwakarta bersepeda semakin menunjukan bahwa masyarakatPurwakarta juga tersadar akan manfaat bersepeda bagi kesehatan danlingkungan,”katanya.Harapan senada disampaikan oleh Ketua ISSI Kabupaten Purwakarta Sena NelsonRusli. Ia mengajak pesepeda bersama-sama untuk mensukseskan kegiatan-kegiatanterkait bersepeda di Purwakarta terutama kegiatan Jambore Bersepeda Se-NusanatarI yang akan berlangsung akhir Agustu. Acara itu bagian dari rangkaian kegiatandalam rangka HUT Kabupaten Purwakarta serta semarak Kemerdekaan RI,“Purwakarta tak kalah dari daerah lain dengan banyaknya trek-trek bersepeda yangsangat menarik, indah dan menantang,” ucapnya.Terlepas dari kekurangan dan kesalahan saat pelaksanaan upacara bendera alapesepeda karena memang kurang dalam persiapan, tetapi kegiatan berjalan khidmatdan sukses. Banyak pesepeda yang merasa terharu karena sudah bertahun-tahun takpernah lagi melangsungkan upacara bendera. Nelson berharap agar tahun depan,upacara bendera bisa terlaksana lagi dengan lebih baik dan dipersiapkan denganlebih serius lagi.Seusai melaksanakan upacara, para pesepeda meluapkan rasa syukur dengan makannasi liwet bersama –sama. Selanjutnya, sebagian pesepeda melakukan boseh barengke Jatiluhur , sebagian lagi boseh touring ke perbatasan Purwakarta dengan


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201847Cikampek, sisanya pulang ke rumah masing-masing. Salam boseh dan go green.Pesepeda ( b2b PRM, 23/08/2015)20. Boseh Batik itu Keren !Setiap tanggal 2 Oktober,diperingati sebagai HariBatik Nasional. Resminyadicanangkan sejak tahun2009 oleh Pemerintah kita.Sejarahnya diawali ketikapada tahun tersebut sedangramai diperbincangkankarena klaim Batik oleh salahsatu Negara tetangga.Oleh karena itu, pemerintahmengambil langkah konkretdengan mengikutsertakanBatik Indonesia dalam proses nominasi kepada badan dunia PBB bidang budayayaitu United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)pada tanggal September 2009.Pada tangal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan secara resmi bahwa Batiksebagai Warisan Kemanusian untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi(Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) Indonesia.Sejak saat itulah, masyarakat Indonesia mulai gencar dalam kampanye penggunaanbatik. Industri fashion pun tumbuh dan berkembang dengan menggunakan bahanbatik . Banyak orang yang kemudian bangga menggunakannya. Batik tidak lagihanya konsumsi para orang tua, tetapi anak-anak muda pun menggunakannyadisesuaikan selera dan mode terkini.Kalangan pegiat pesepeda pun tak mau ketinggalan dengan fenomena menggeliatnyabudaya masyarakat berbatik di Tanah Air. Munculah kegiatan bertajuk “BersepedaBerbatik” dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional. Selain kampanye BatikIndonesia, gerakan itu juga mengkampanye kan bersepeda.Di Bandung Raya, beberapa komunitas pesepeda seperti Bike To Work, Jelajah JalurSetapak, Sapeda Suka-Suka, Paguyuban Sapeda Baheula dan lain-lain, bersamasama pemerintah provinsi Jawa Barat melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201848(DEKRANASDA), melaksanakan kegiatan Kampanye Boseh Berbatik setiaptanggal 2 Oktober. Acara tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun sejak tahun 2010.Tidak Merasa RisihKampanye Boseh Berbatik tersebut dilakukan pegawai negeri sipil, sekolah,campus dan kalangan masyarakat luas lainnya. Harapannya tentu saja agarmasyarakat tetap membudayakan dan bangga menggunakan batik Indonesia,sekaligus membudayakan bersepeda.Alhasil, semakin banyak pesepeda yang bangga menggunakan pakaian batik sambilbersepeda, baik ketempat kerja, kesekolah maupun ke kampus, atau hanya sekedarkeliling-keliling kota mengunjungi mall atau kegiatan lainnya.Khususnya setiap hari Jum’at, pesepeda sudah tidak merasa risih boseh lengkapdengan busana batik , bahkan terlihat keren. Apalagi sekarang banyak ragam modebatik yang kekinian. Bisa jadi, tiap hari Jum’at merupakan moment “Jum’atBersepeda dan Berbatik” yang menyenangkan.Komunitas pesepeda yang besar seperti Bike To Work, sudah memiliki Baju Batikciri khasnya tersendiri . Beberapa pesepeda juga ada yang kemudian membuatJersey dengan motif batik, termasuk ada pula yang sepedanya dicat dengan motifbatik.Boseh Berbatik itu selain terlihat keren, juga menunjukan akan kecintaannyaterhadap warisan budaya bangsa dengan menjaga, melestarikan dan merasa banggamenggunakannya, serta tentu saja bersirnegi dengan gaya hidup ramah lingkungan.Mari bersama-sama membiasakan Boseh Berbatik. Salam boseh dan go green.Pesepeda. (b2b PRM, 11/10/2018).21. Aksi-aksi Sosial PesepedaDewasa ini banyaksekali aktivitas yangdilakukan denganbersepeda. Bersepedabukan hanya untukkegiatan penyaluranhobi, olahraga danprestasi saja. Lebih dariitu, bersepeda dilakukanuntuk alat transfortasi,gerakan atau kampanye


Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201849lingkungan, untuk kegiatan aksi sosial sosial dan sebagainya.Saat di sebagian besar wilayah Indonesia di landa kemarau cukup panjang beberapabulan kebelakang, banyak desa atau kampung mengalami krisis air bersih,kondisinya begitu memprihatinkan.Kondisi seperti itu, memunculkan inisiatif bagi pesepeda kabupaten Karawang JawaBarat untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat, yaitu dengan memberikan sumbanganair bersih di salah satu desa di Karawang yang mengalami kekeringan.Puluhan pesepeda baik anggota maupun simpatisannya yang tergabung dalam wadahGoweser Karawang, bersepeda dari tempat kumpul di area Bendungan Walaharmenuju daerah Udug-udug, Desa Kutamekar Kabupaten Karawang. Sebanyak 1000liter atau empat tanki air bersih sumbangan hasil kerjasama dengan pihak PDAMsetempat diberikan kepada masyarakat di sana.“Selain kegiatan sumbangan air bersih, pada bulan Oktober ini, kami jugamelakukan kegiatan bersepeda mengunjungi makam bupati Karawang terdahulu,sekaligus memberikan santunan terhadap anak yatim piatu” tutur Tantowi, salah satuanggota Goweser Karawang.Lain lagi aksi sosial bersepeda yang dilakukan oleh para pesepeda dari berbagaiKomunitas di Bandung dan Bekasi. Dua kali mereka melakukan kampanye sosialterkait perempuan dan anak yang digagas Pusat Pelayanan Terpadu PemberdayaanPerempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat yang diketuai Netty PrasetiyaniHeriawan yang juga turut bersepeda bersama dengan jajarannya.Lima puluh orang bersepeda sambil berkampanye sosial. Yang pertama “KampanyeAnti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak”. Rute bersepeda melintasi KotaBandung, Purwakarta, Karawang dan Bekasi. Yang kedua, “Kampanye MelawanPerdagangan Manusia” . Para pesepeda menempuh perjalanan dari Kota Bandung,Sumedang, Majalengka dan Cirebon. Selain sebagai tempat transit dan istirahat usaimelakukan perjalanan bersepeda, daerah-daerah tersebut merupakan tempatmenyuarakan kampanye kepada pemerintah dan masyarakat setempat.Ada juga yang melakukan kegiatan Bersepeda Bandung – Jakarta dalam rangkaKampanye “Peduli Penyakit Leukemia”, Kegiatan itu dilakukan oleh lima pesepedaBandung bersama delapan pelari dari Bandung, Bogor dan Jakarta.Selain bersepeda dan berlari dengan rute Bandung – Cianjur – Puncak – Bogor –Depok dan Jakarta, kegiatan tersebut juga menggalang dana untuk Yayasan yangpeduli terhadap para penderita Leukemia.


Click to View FlipBook Version