Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018100meski tak sedikit yang tetap bersepeda seperti biasa sesuai genrennya, sepertiadventure, all mountain atau ngaboseh jarak jauh.Berbagai cara atau metode para pesepeda saat puasa dengan menjaga pola makanan,memperhatikan asupan gizi, menjaga kondisi tubuh tetap fit, sehingga puasaberjalan lancar bersepeda pun tetap nyaman.Saat sahur dan berbuka perlu diperhatikan asupan-asupannya, agar tidak bermasalahdalam tubuh kita saat bersepeda di pagi hingga sore hari. Saat sahur, batasi asupanteh dan kopi karena akan mempercepat metabolisme yang hasilnya mempercepatrasa haus walau tidak terdehidrasi. Disarankan untuk konsumsi makanan yanglambat dicerna dan memiliki serat tinggi, seperti kacang-kacangan, biji-bijian,gandum, padi-padian.Saat berbuka, dianjurkan mengonsumsi kurma atau pisang karena kaya akan kalium,karbohidrat dan magnesium. Batasi makanan yang digoreng dan lebih banyakkonsumsi buah atau air antara waktu berbuka dan sebelum tidur, setidaknya 4 - 6gelas. Hindari terlalu banyak es karena mempercepat rasa kenyang.Perlu digaris bawahi, tidak serta merta bersepeda dilakukan secara berlebihan.Jangan mentang-mentang merasa kuat atau memaksakan diri bersepeda, tetap harusdisesuaikan dengan situasi dan kondisi,Cukup bersepeda yang ringan-ringan saja. Keliling kota sore hari yang teduh untukmengunjungi taman atau tempat asyik sambil ngabuburit atau melakukan ragamaktivitas seperti yang dilaksanakan berbagai komunitas/kelompok pesepeda dalamrangka mengisi Ramadan, seperti berbagi takjil, berbagi rejeki kepada yatim piatu,silaturahmi dan buka puasa bersama, serta kampanye bersepeda.Bike to Work Bandung menggelar kegiatan buka puasa bersama para anggotanyadan undangan yang diisi rangkaian kegiatan boseh silaturahmi, buka bersama, sholatberjama’ah, dan taushiyah. Sementara Bike To Campus Bandung, melaksanakankegiatan amal bertajuk Bike & Charity berupa pengumpulan donasi untuk dibelikanberbagai keperluan untuk disumbangkan kepada panti asuhan.Boseh yang rutin dilaksanakan setiap hari Jum’at oleh gerakan Bandung EcoTransport , selama Ramadan dialihkan waktunya menjadi sore hari sambilngabuburit hingga menjelang buka puasa, dengan tetap pada misi dan visinyamembangkitkan gairah masyarakat untuk menjadikan sepeda sebagai alattransportasi.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018101Masih banyak kegiatan lain yang digelar oleh berbagai komunitas pesepeda danlebih memilih untuk menurunkan intensitas bersepedanya dengan bersepeda sekedarkeliling kota atau tempat-tempat yang tidak terlalu berat, agar ibadah puasa yangdijalankannya tetap hidmat.Terlebih, bersepeda di kota saat puasa tantangannya lebih berat, terutama haruslebih banyak berjibaku dengan deru kendaraan bermotor. Ternyata di bulanRamadan tingkat kemacetannya tambah luar biasa terutama di titik-titik rawankemacetan.Kita harus lebih bersabar menghadapinya apalagi banyak pengendara motor yangmasih merasa menjadi raja jalanan, tidak peduli dengan pengguna jalan lainnya.Belum lagi banyak trotoar yang diserobot oleh para pedakang kaki limamenyebabkan para pejalan kaki melebar kejalan menambah penuh sesaknya jalan.Nikmati saja suasana tersebut dengan hati yang tenang dan senang, karena kitabersepeda.Boseh MudikPerjalanan bersepeda jarak jauh saat Ramadan atau banyak pesepeda menyebutnyadengan sebutan boseh mudik, belakangan menjadi paling diminati oleh parapesepeda dari seluruh nusantara, karena aktivitas gowes mudik ini semakin banyakmenarik perhatian masyarakat dan media.Jarak tempuhnya mulai dari puluhan kilometer hingga ratusan kilometer. Ada yangseharian, ada pula yang hingga berhari-hari. Sensasinya memang luar biasa,terutama bagi mereka yang tetap melaksanakan puasa, padahal perjalanan bersepedayang mereka hadapi cukup berat dan panjang, meskipun tak sedikit pula yangmemilih tidak puasa saat itu.Saking mengasyikan, beberapa pemudik bersepeda melakukannya rutin hampirsetiap tahun. Hal itu semakin memberi motivasi atau semangat bagi yang lain untukmencoba melakukan bersepeda jarak jauh dalam suasana Ramadan dan Lebaran.atau boseh mudik tersebut.Kiat bagi pemudik bersepeda untuk tetap menjalankan puasa meski melakukanperjalanan jarak jauh, salah satunya adalah dengan mengurangi kecepatan lajubersepeda, cenderung perlahan tapi pasti atau kecepatan sedang antara 15 sampai 20kilometer perjam tetapi stabil untuk menghemat tenaga.Aturan penggunaan gigi belakang besar dan gigi depan kecil saat menemui tanjakantetap harus dilakukan. Pada saat menurun, cukup mengikuti putaran roda saja hingga
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018102dirasa harus mulai mengayuh lagi. Banyak berhenti untuk istirahat atau tidur sejenakdi posko mudik atau selasar masjid.Sekali lagi, tetap jaga kondisi bersepeda disaat puasa, tidak perlu membuang energyuntuk hal-hal yang tidak seharusnya. Pilih waktu yang tepat untuk bersepeda untukmenghindari dehidrasi yaitu pagi, sore atau malam. Jangan lupa juga untuk selalumengoptimalkan ETD (estimate time departure) atau perkiraan waktu, jarak dan rutetempuh yang dilalui. Semua itu merupakan upaya dalam rangka bersepeda tetapdijalankan, puasa pun ditunaikan. Salam boseh n go green. Bandung Eco Transport.(b2b, PRM 18/6/2017)42. Boseh Mudik Penuh RintanganSelama dua tahunkebelakang, setiap Lebaranbiasanya saya bersamabeberapa teman darikomunitas-komunitaspesepeda di Bandungmengoordinasi teman-temanpesepeda dari berbagaidaerah se-Nusantara yangakan melakukan mudikdengan bersepeda. Tandapagarnya nya #gowesmudik.Akan tetapi, karena sesuatuhal, tahun ini saya tidak melaksanakan kegiatan tersebut dan pengoordinasinyadiambil alih oleh Bike To Work Indonesia.Lebaran tahun ini saya nekat bersepeda mudik sendirian Bandung – MalangbongGarut. Nekat karena awalnya sedikit ragu, lantaran kondisi fisikku yang sudah mulailemah saat melakukan bersepeda jarak jauh. Akan tetapi, niat hati semakin bulatingin Lebaran di Malangbong bersama keluarga almarhum kakakku yang tertua.Perjalanan ke sana lebih tepatnya menikmati ber-Lebaran rumah kakakku yang kinihanya diisi oleh kakak ipar. Setiap lebaran barulah keempat anak besertakeluarganya berkumpul di sana. Apalagi, sudah belasan tahun saya tak pernah kesana, Kampung Bojong, Desa Cisitu, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut.Sudah dua kali saya boseh mudik. Rutenya tidak terlalu jauh, Bandung –Purwakarta. Baru tahun ini saya menjajal rute Bandung – Malangbong yang relatif
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018103sama beratnya dengan jalur Bandung – Purwakarta, meskipun jaraknya hanyaberkisar 50 - 65 kilometer.Jarak tempuhnya memang bisa dibilang tidak terlalu jauh, tapi medan jalannya yangmembuat para pesepeda sedikit mengernyitkan dahi. Terbayang dalam benaksebagian besar pesepeda saat mengahadapi jalan Raya Rancaekek yang panjang ,lurus nan menjemukan. Tanjakan Parakan Muncang yang seolah tiada berujung,turunan Nagreg yang tajam dan menikung serta jalan berkelok kelok nanjak turunmulai dari Limbangan hingga Malangbong.Bagi pesepeda yang mudik ke Ciawi , Tasikmalaya dan seterusnya, ada beberaparintangan lagi yang harus dilalui yaitu tanjakan Cipeundeuy dan Turunan Gentong.Terlebih di musim mudik, kita dihadapkan dengan suasana lalu lintas yang macet,dan padat, dengan berseliwerannya aneka jenis kendaraan.Saya berangkat di H-3, Jum’at (23/6/2017), pukul 5.00 dari Jalan Cihampelas. Lalulintas mulai ramai, terutama oleh para pemudik bermotor yang sama-sama menujuarah timur. Di Pasar Suci, perjalanan mulai tersendat karena pasar tumpah.Setelah itu, kondisi jalan ramai lancar hingga Cicaheum. Di terminal ini, kondisijalan kembali tersendat, karena banyaknya angkutan umum yang ngetem mencaricalon penumpang.Dari sana kondisi jalan relatif normal. Namun, saat tiba di Pasar Ujung Berungjalanan macet lumayan parah, karena tersendat oleh hiruk pikuk orang belanjaberebutan dengan pengendara dari berbagai arah ingin lebih dulu kedepan, ditambahada angkot yang dengan cuek menurunkan dan menaikan peumpang di tengah jalan.Rangkaian bunyi klakson pun bersautan memekakkan telinga.Harapan sampai di bunderan Cibiru pukul 6.00 musnah. Pukul 6.30, saya baru tiba,padahal seorang teman pesepeda yang akan menemani hingga Nagreg dan akanmengabadikan perjalanan bersepeda saya sudah menunggu dengan tabah.Sampai di bunderan Cibiru, saya istirahat sejenak dan mengobrol dengan teman. Taklupa dia pun memotret saya dan sepeda saya yang dilengkapi dua tas pannierbelakang berisi pakaian dan keperluan perjalanan, di atasnya ada dua ikat cangkangkupat yang sengaja saya beli untuk diberikan ke kakak ipar saya.Ketiban sial
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018104Saat sedang mencari konter pulsa, tiba-tiba saya disiram air dingin oleh nenek darihalaman rumahnya, tadinya saya fikir orang gila, tahunya nenek itu marah-marahkarena didepan rumahnya sering dipake tempat ngetem. Saya ketiban sial saja.Tak lama, perjalanan dilanjutkan, karena waktu kian melesat seiring semakinbanyaknya para pemudik dari berbagai arah yang mulai memadatkan jalansepanjang bunderan Cibiru hingga Cinunuk. Perjalanan makin tersendat dan macethingga Cileunyi.Temanku sudah berlalu lebih dulu, sementara saya terjebak dalam kemacetan parahhampir 1,5 jam. Setelah melalui kemacetan tersebut, dari Cileunyi dan sepanjangJalan Raya Rancaekek yang terkenal panjang dan menjemukan tersebut, perjalananrelatif ramai lancar.Memasuki tanjakan bypass Parakan Muncang, kondisi jalan kembali tersendathingga Nagreg. Teman yang sudah tiba di Nagreg, melalui telefon genggamnyamenganjurkan agar saya berjalan melawan arus, karena memang arus jalan dari arahtimur cenderung lengang. Dengan terpaksa saya menuruti anjuran tersebut, tetapitetap pada posisi sisi kanan jalan, daripada saya tersendat berjam-jam di jalursebelahnya.Setelah melalui tanjakan dengan terengah-engah, hingga Tugu Selamat Jalan diNagreg, saya kembali ke arah yang semestinya dan lagi-lagi berjibaku dengankepadatan. Teman saya sudah menunggu di pinggiran jalan sebelum turunanNagreg.Waktu menunjukan pukul 10.30, saya pun istirahat. Teman pun pamit dan berbalikarah ke Bandung. Saya melanjutkan perjalanan, meluncur hingga melintasi turunancagak. Saya berhenti dan memasuki perkampungan mencari masjid untukmelaksanakan salat Jum’at.Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan. Untuk menghemat tenaga apalagi tengahberpuasa, saya banyak berhenti sepanjang perjalanan. Untungnya, sejak dariBandung cuaca teduh sehingga tak membuat semakin parah kondisi fisik yang mulailemas karena melalu banyak tanjakan, turunan dan jalur berkelok-kelok.Puncaknya, saat di daerah Kersamanah kondisi tubuh dilanda kelelahan yang hebatditambah ngantuk luar biasa. Akhirnya, saya beristirahat dan tidur lama di masjid dipinggir jalan. Selama dua jam lebih saya istirahat memulihkan tenaga.Setelah kondisi fisik sedikit pulih, saya melanjutkan perjalanan meski agak bersusahpayah dan lebih banyak berhenti untuk menjaga puasa agar tidak batal. Beberapa
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018105menit kemudian saya diberhentikan oleh suara teguran sesorang yang ternyataanggota kelompok pesepeda yang lumayan besar sewilayah Priangan dengansebutan “Dulur Beda Lembur “ (saudara beda daerah). Kami pun berbincang. Seusaifoto-foto, saya berpamitan. Jalan semakin ramai dan padat, bahkan sesekali tersendatatau stuck.Sampai Lewo, waktu menjelang buka puasa kurang lebih setengah jam lagi. Sayaberistirahat di musala. Beberapa pemudik bermotor pun melakukan hal serupa ditempat itu.Seusai buka dan salat Magrib, saya meneruskan perjalanan. Hari sudah gelap, jalanpun makin ramai.Perjalanan terhambat karena beberapa kali mengalami keram pahakaki, kejadian ini berlangsung hingga Citeras dan Malangbong. Untuk memulihkankeram, saya istirahat sambil jajan bakso karena perut juga lapar, apalagi lokasi yangdituju masih sekitar 4-5 km lagi.Akhirnya saya tiba di rumah kakak ipar pukul 20.30 dengan tubuh yang sangat lelahdan pegal di paha, disambut haru biru keponanakan keponakan beserta anakanaknya. Meski lelah, tapi hati senang dan bangga karena bisa bersepeda jarak jauhlagi, apalagi dalam kondisi sedang berpuasa, berhasil melalui berbagai rintangan.Kampanye lingkunganHari Sabtu, saya sempatkan bertemu dengan teman dari Gowes Baraya Bandungyang tengah istirahat di Masjid Agung Malangbong. Dia boseh mudik Bandung –Ciawi. Kami mengobrol dan foto sejenak sebelum dia melanjutkan bersepeda keCiawi.Minggu, (25/6/2017), Hari Kemenangan tiba. Sebagai pegiat lingkungan, sayaberupaya tetap konsisten dengan kampanye bersepeda kemana saja, termasuk ketempat salat Id. Saya bersepeda, membawa tumbler, tas reusable, dan tidak memakaialas dari koran. Seusai bersalaman dan makan ketupat bersama saudara-saudarayang ada, saya berpamitan pulang ke Bandung.Saya bersepeda hingga Citeras. Akan tetapi, karena fisik lelah saya memutusknuntuk di-loading saja, kebetulan ada angkot menuju Bandung usai mengangkutpenumpang rombongan ke Tasikmalaya. Diloading hingga Cileunyi, lalu bersepedalagi menuju Cihampelas Bandung, ditengah cuaca lumayan panas menyengat danjalan yang ramai sejak dari Cileunyi hingga bunderan Cibiru. Namun, di tengah kotabeberapa ruas jalan begitu lengang dan sepi, sehingga saya pun tiba tanpa hambatanyang berarti. Salam boseh dan go green. Bandung Eco Transport. (b2b, PRM2/7/2017)
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201810643. Ce’es Beurat Ulin ke Ciletuh (I) : Gembira di Pantai,Mangprang di JalanSebagai pesepeda yangsehari-harinya beraktivitassebagai pedagang di pasar,para pendiri Ce’es Beuratmemang jarang sekalimelakukan perjalananbersepeda jarak jauh,lantaran waktu dankesempatannya benar-benartersita oleh aktivitas usahadalam rangka kebutuhanekonomi.Mereka yang kebetulan sama-sama punya aktivitas usaha di pasar saat libur panjangusai Lebaran dijadikan kesempatan untuk melakukan boseh jarak jauh berhari-hari.Musim liburan Lebaran tahun lalu, mereka bersepeda berhari-hari dari Bandung kePangandaran melalui rute per etape selama enam hari, Bandung – Ciwidey –Naringgul – Jayanti – Ranca Buaya – Santolo – Sayang Heulang – Cipatujah –Pangandaran.Di musim libur lebaran tahun ini, Ce’es Beurat kembali melakukan perjalananbersepeda jarak jauh Bandung – Cileutuh dalam rangka halal “bike” halal. Kegiatanini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, baik sepeda yang akandigunakan, perbekalan, jadwal acara dan sebagainya. Kegiatan kali ini diberi nama“Cees Beurat Ulin Ka Cileutuh” dengan konsep ciri khas Ce’es Beurat yaitu bikecamp cook ( bersepeda, berkemah dan memasak).Berbeda dengan tahun lalu, kali ini perjalanan menempuh jarak sekitar 275kilometer, dengan estimasi perjalanan gowes sekitar 135 kilometer, selebihnyaperjalanan “diloading”. Tiga belas orang yang mengikuti kegiatan ini sudahtermasuk saya dan yang membawa mobil truk loadingan, beliaupun tetap bawasepeda untuk kemungkiknan ada kesempatan bersepeda. Uniknya, kami merupakanwujud tiga generasi, karena terdiri dari orangtua, dewasa dan remaja.Kami berangkat menggunakan truk loading-an. Mobilnya sudah di susunsedemikian rupa, sepeda disimpan di atas, sementara logistik dan peserta beradadibawahnya. Berangkat Senin (26/06) pukul 23.00 WIB dari daerah Astana Anyarmenuju Ciwidey, Naringgul dan tiba Selasa (27/06) pagi di daerah Cidaun
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018107Kabupaten Cianjur. Kami menempati pinggir pantai Cipandak yang belum begituterjamah untuk dijadikan destinasi wisata. Awalnya akan berkemah di Jayanti, tapiurung dilakukan karena merasa kurang nyaman.Seharian kami di Cipandak, hanya berkemah, memasak, bermain riang gembira dipantai dan muara sungai menikmati suasananya yang menakjubkan, airnya yanglumayan jernih. Tidak terlalu banyak orang bahkan cenderung sepi, sehinggapantainya terlihat cukup bersih karena tidak banyak sampah. Kami menyebut pantaitersebut pantai “marimar” karena si teteh cantik istrinya Aa yang menyambut kamiramah dan tidak keberatan area di sana dijadikan tempat untuk bermalam kami,wajahnya disandingkan dengan Marimar , karakter artis telenovela.Rabu (28/6/2017), usai sarapan pagi dengan menu mie goreng khas Malaysia.Kebetulan kami mempunyai koki andalan yang setiap kegiatan bike camp cook,menjadi tukang masaknya. Kami bersiap-siap melakukan perjalanan bersepeda daripantai Cipandak. Kami menggunakan seragam jersey karya salah satu anggotaCe’es Beurat yang mempunyai usaha kecil menengah sablon kaos atau pembuatanjersey, terlihat genjreng dengan warna yang mencolok.Setelah siap segala sesuatunya terutama sepeda dengan akseoris tas gegembol danbendera, kami pun pamitan sama si Aa dan teteh “Marimar” lalu berdo’a danmeluncur menuju Panenjoan, Cileutuh, Sukabumi.Ceria dan KompakKami bersepeda menyusuri tepi pantai, pedesaan dan hutan, sepanjang daerahCidaun, daerah Sukanegara, Kabupaten Cianjur hingga daerah Sindang Barang,daerah Agrabinta, dan daerah Tegal Buleud, Kabupaten Sukabumi. Kami berjalanberiringan berbanjar satu-satu, dan tidak boleh melampaui leader yang paling depan,harus tetap bersama-sama dan saling menjaga.Cuana panas menyengat tak menyurutkan semangat kami ngaboseh dengan penuhkeceriaan dan kekompakan, terlebih terobati oleh pemandangan alam tepi pantai,perkebunan dan hutan yang cukup menyejukan mengiringi perjalanan kami diikutioleh mobil truk. Jalan relatif lancar, kondisinya juga relatif mulus dan rolling nanjakmudun ringan, meski beberapa ruas jalan rusak karena sedang perbaikan dan taksedikit ada juga medan jalan yang berat dan menanjak.Baru beberapa kilometer, seorang teman mengalami masalah pada bagian sadelnyamembuat dia tidak nyaman mengayuh sepeda karena banyak berhenti untukmemperbaiki posisi sadelnya yang selalu bergeser. Akhirnya diakalin sementara
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018108agar sedikit nyaman, meski kami harus berhenti dan menunggu lama. Setelah itu,kami pun meneruskan perjalanan.Seorang teman lain mengalami masalah di bagian rem depan. Akan tetapi karenaakan memakan waktu lama jika diperbaiki, dia tetap asyik bersepeda dengan kondisirem depan tidak berfungsi.Beberapa kali berhenti sejenak untuk regrouping, istirahat atau salat. Saat makansiang kami berhenti di tengah perkebunan pohon jati dan memasak menu nasigoreng rendang. Setelah cukup lama, perjalananan kami pun dilanjutkan kembali.Beberapa peserta termaksuk saya di kejar anjing saat mengayuh meski tak terjadaihal-hal yang tidak diinginkan, malah terkesan jadi lucu. Saya yang phobia terhadapanjing suka mendadak ngabret kayuhan sepedanya saking ketakutan dan mendadakbisa melibas tanjakan, walau napas terengah-engah antara takut dan kelelahan.Jalan yang dilalui semakin berat. Salah seorang peserta sedikit melanggara aturanyang sudah disepakati dengan meninggalkan jauh rombongan. Hal itu membuatkami khawatir, terlebih komunikasi kurang lancar karena persoalankoneksi atausinyal.Seorang teman juga kesehatannya sedikit terganggu karena masuk angin, membuatdia tidak nyaman bersepeda. Saya dan dua teman lainnya sudah mulai kelelahanfisik, sehingga kami memilih untuk diloading di kilometer 90-an, sementara yanglainnya melanjutkan perjalanan bersepeda.Hari menjelang senja, kami yang diloading tiba di tempat peristirahatan di halamanmini market di daerah sekitar Tegalbuleud. Sudah menunggu seorang teman yangtadi meninggalkan rombongan. Pas waktu Magrib, tibalah rombongan teman yangtetap mengayuh sepeda. Kami istirahat, salat dan makan bakso.MenegangkanTerlepas dari berbagai kendala dan insiden sepanjang perjalanan, kami benar-benarmenikmati setiap kayuhan sepia. Rasa lelah dan cuaca panas, tergerus oleh semangatbersepeda dan suasana alam yang menyenangkan.Karena sesuai kesepakatan bahwa tidak diperkenankan melakukan perjalananbersepeda malam hari, kami memutuskan untuk diloading sampai Panenjoan pintugerbang wisata Geopark Cileutuh. Awalnya akan bermalam di Curug Cikaso danbesoknya akan melanjutkan bersepeda menuju Panenjoan, tetapi lantaran kondisijalannya cukup beurat dan banyak yang rusak, terutama di daerah Jampang, Surade
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018109dan Ciracap, serta lokasi yang dituju masih cukup jauh, diputuskan untuk diloadinglangsung sampai Panenjoan,Perjalanan cukup menegangkan karena berkali-kali mobil truk mengalamigoncangan-goncangan hebat karena jalan berlubang, nanjak dan menurun. Tapi sangsopir tetap tenang mengendalikannya karena memang dia sudah terbiasamenghadapi hal seperti itu, namun bagi yang lainnya membuat sedikit panik dantegang. Kami tiba di Panenjoan larut malam.Seusai makan malam di salah satu warung nasi, kami beristirahat. Ada yang tidur dimobil truk, ada yang di musala dan ada pula yang hammock-an. Cuaca lumayandingin dengan desiran angin yang cukup besar. Banyak pengunjung yang masihberada dilokasi tersebut untuk sekedar makan dan berswafoto di depan tugu GeoPark Cileutuh. Ada juga beberapa kelompok yang memasang tenda di sana. Salambersepeda. (bersambung). (b2b, PRM, 9/7/20`7)44. Ce’es Beurat Ulin ka Ciletuh (II-Tamat) : PulangMembawa Kesan dan Sejuta RasaKamis (29/06) pagi yangbegitu cerah di Panenjoan.Suasana berangsur-angsurramai oleh pedagang danpengunjung yang inginmenikmati suasanapemandangan alam indahmirp tebing keraton kalau diBandung. Bedanya, TebingKeraton dihiasi hutan danpegunungan, Panenjoan diGeopark Cileutuh dihiasi hutan dan lautan di kejauhan.Kabarnya, kawasan itu merupakan bekas dataran yang ambles pada zaman purbamembentuk tapal kuda. Sayangnya, entah karena pengelolaan kebersihan kurangatau memang para pengunjung dan pedagangnya tidak sadar lingkungan, keindahanTebing Panenjoan tersebut dikotori oleh sampah yang berserakan tepat dibibirtebing. Alhasil, tempat itu lebih mirip tebing tempat pembuangan sampah.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018110Sedih dan miris melihat hal itu, saya pun mendokumentasikan sebagia bahan tulisanuntuk disampaikan ke pihak-pihak terkait. Saat foto-foto di sana, kami berupayamemposisikan agar sampah tidak terlihat karena akan mengganggu hasilnya.Kami bertemu teman, seorang pesepeda juga dari Bandung, yang tengah bertugas dikawasan Cileutuh. Kami pun mengeluhkan kondisi sampah yang mengotori kawasanwisata tersebut.Setelah memasak dan sarapan pagi menu nasi putih, dadar telur dan gorengan balabala di salah satu pojok dekat tebing kawasan Panenjoan, kami berbaur denganpedagang dan pengunjung yang makin ramai berseliweran. Kami bersiap untukperjalanan bersepeda menyusuri Curug Awang dan Pantai Palangpang.Kali ini ketigabelas peserta termasuk yang membawa mobil truk ikut bersepeda.Mobil disimpan di halaman parkir rumah makan depan kawasan Panenjoan. Agaksiang kami meluncur ke destinasi wisata.Seusai briefing terkait medan jalan yang cukup ektrim berupa turunan dan tikungantajam, kami berdoa lalu mulai jalan sekitar setengah kilo meter menuju kawasanCurug Awang. Kami menghadapi jalan makadam berupa bebatuan dan tanah.Untungnya belum hujan, jadi tidak becek dan licin. Kondisi seperti itu berlangsungsepanjang kurang lebih 3-4 km hingga pintu gerbang kawasan curug Awang.Jalannya semakin menurun. Jalan menurun menuju pintu gerbang cukupmenegangkan membuat kami memilih untuk menuntun sepeda, bahkan sepeda sayadiparkirkan, tidak dibawa menuju curug.Dari pintu gerbang ke curug kami melewati jalan setapak yang sudah ditembok rapi,kurang lebih berjarak 500 meter.Sisi kiri berupa tebing dan sisi kanannya berupajurang menuju sungai. Sepeda disimpan di gazebo yang kondisinya bernasib samadengan di Panenjoan yaitu berserakan sampah, bahkan semua sudut gazebo dipenuhivandalisme.Teman-teman memilih berada diatas curug atau air terjunnya, tdak kebawah. Sayadan seorang teman menunggu di gazebo. Curug Awang lumayan besar, sungainyaluas, serta pemandangannya yang memukau. Seusai foto-foto di kawasan itu, kamikembali bersepeda ke Pantai Palangpang.Sebelum meluncur, kami beristirahat karena kelelahan melalui jalan bebatuanlumayan panjang. Seorang teman harus memperbaiki sepedanya yang sejak dari
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018111cidaun tanpa rem depan. Apalagi medan jalan yang akan dihadapi berupa turunandan tikungan tajam sepanjang kurang lebih 15 kilometer.Turunan EkstrimSekali lagi kami diingatkan oleh leader kami bahwa jalan yang akan dilalui cukupekstrim. Dihimbau bagi yang tidak merasa percaya diri melalui turunan tajam lebihbaik menuntun sepedanya. Kenyataannya, hampir semua meluncur dengan santai.Seorang rekan meluncur cepat lantaran kondisi dan jenis sepedanya yang memangnyaman digunakan untuk kebut-kebutan.Kecuali saya, yang gaya bersepedanya teramat santai, sejak diturunan dan tikunganpertama menuntun sepedanya. Saya masih trauma karena pernah mengalamikejadian lima tahun silam yaitu rem blong diturunan Bumi Herbal Dago sehinggaterjatuh hingga dada dan wajahnya terluka dan bibirnya sobek.Di turunan berikutnya saya memberanikan diri mengayuh sepeda malah hampirmengalami musibah yang sama. Remnya kendor sehingga nyaris kehilangan kendali.Sedikit panic saya mengarahkan sepeda ketengah karena jika ke sisi kanan akanmembentur tebing, sedangkan ke sisi kiri dipastikan akan kejurang. Dia menahandengan kaki kirinya, yang terdengar hanya suara kernyitan ban dan sepatu.Untungnya, tidak ada kendaraan yang meluncur.Kejadian tersebut saya ceritakan kepada lima teman yang tengah bersitirahatdisebuah warung yang berdiri diatas tebing yang curam. Sementara ketujuh temanlainnya sudah jauh meninggalkan kami . Kami memang merasa lelah dan sedikitrepot dengan medan jalan yang berat tersebut. Bahkan saya berniat tidak akanmelanjutkan perjalanan, akan balik arah menuju Panenjoan dan akan menunggusendirian di sana.Cukup lama kami beristirahat dan makan bakso di warung itu sambil membicarakankeputusan apa yang akan diambil oleh kami, meneruskan perjalanan, kembali kePanenjoan atau diloading menuju pantai Palangpang. Sebenarnya, kebanyakanmemang sudah agak malas meneruskan bersepeda.Pucuk dicinta ulam tiba, sang pembawa mobil datang diboncengmotor seorang warga. Dia tidak melanjutkan bersepeda karena kondisi jalanyang berat. Sehingga dia berhenti ditengah jalan lalu memohon seorang wargamengantarkannya mengambil mobil. Sepedanya ia titipkan di warung warga,meninggalkan enam orang yang sudah semakin jauh mendekati kawasan pantai.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018112Akhirnya diputuskan kami akan dievakuasi saja menuju pantai Palangpang. Rencanaawalnya setelah menikmati pantai akan kembali ke Panenjoan. Akan tetapi, kamimemilih berkemah dipantai Palangpang hingga esok hari.Hari menjelang sore, kami akhirnya dievakuasi. Ditengah perjalanan, kami berhentimenemui teman – teman pesepeda yang tengah beristirahat di masjid dan warungdesa. Tak lama, perjalanan dilanjutkan. Yang bersepeda tetap mengayuh sepedanyadan yang dievakuasi melanjutkan dengan truk.Tercemar SampahKami yang tiba lebih dulu di pantai lalu mencari spot yang nyaman. Setelah itu,kami bersantai dan foto-foto dipantai. Masih sempat kebagian suasana sunset.Setelah azan Magrib, teman-teman yang bersepeda tiba dan bergabung dengan kamibermain-main dipantai. Sempat juga kami main bola dipantai saat gelap.Ternyata, laut dan pantainya tak seindah yang kami bayangkan. Ombaknya cukupbesar dan bergelombang dengan airnya berwarna hitam dan kecoklatan tak sejernihyang di Cidaun. Yang lebih miris, kondisi pantainya bernasib sama dengan tebingPanenjoan yaitu tercemar sampah, terutama sampah kemasan makanan danminuman, padahal banyak tempat sampah sudah tersedia meskipun terlihat begitulayak. Ditambah kesulitan kamar mandi dan air bersih serta musala yang dibiarkanterbengkalai begitu saja dengan kamar-kamar kecilnya yang rusak, kotor danbau.Dengan terpaksa kami tetap mendirikan tenda, jauh dari lokasi kamar mandiyang ada. Beberapa teman memilih untuk tidak mandi.Jum’at (30/6/2017) pagi, kami bersiap-siap berangkat setelah makan pagi denganmenu nasi dan cumi lada hitam. Kami akan diloading hingga pulang ke Bandungmelalui jalan yang sama.Ditengah perjalanan, kami bertemu pesepeda kota Sukabumi yang tengah bersepedatouring ke kawasan Geopark Cileutuh. Sambil istirahat, kami bersilaturahmi danfoto bersama.Kami ikut numpang mandi di kamar mandi sebuah Masjid daerah Ciracap, sekaligusistirahat dan salat Jum’at di sana. Kami benar-benar memanfaakan waktu untukbersih-bersih tubuh terutama bagi teman-teman yang sejak Rabu tidak mandi.Setelah salat Jum’at, perjalanan kami lanjutkan. Karena kemalaman, kami bermalamlagi di pantai Cipandak Cidaun atau pantai yang kami sebut dengan sebutan pantai“Marimar”. Ada yang berceloteh bahwa bermalam di tempat itu lagi lebihdisebabkan modus ingin bertemu si Teteh yang disandingkan dengan wajahMarimar.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018113Hampir larut malam kami tiba. Untugnya si Aa masih terjaga dan mengizinkan kamiuntuk bermalam di sana lagi. Karena kelelahan, usai makan malam dengan miekuah, nasi dan telor kornet, kami beranjak tidur , ada yang sudah tidur lebih awalada yang dini hari baru bisa tertidur.Sabtu ,(1/7/2017), kami siap pulang menuju Bandung. Sebelum berkemas, kamimenyempatkan bermain-main di pantai dan muara sungai, baik berenang maupunbermain bola. Lalu kami makan dengan menu nasi putih, kepiting rebus, dan satekeong sawah (tutut) yang kami dapatkan diarea empang. Setelah itu, kami pamitanpulang.Saat tengah di masjid untuk salat Zuhur, kami bertemu dengan dua pesepeda dariTangerang yang terdiri dari ayah dan anak. Keduanya bersepeda dari Pangandaranmenyusuri pantai selatan dan akan berakhir di Cileutuh. Selain touring, mereka jugapunyai misi membagikan mukena dan sarung untuk masjid-masjid yang disinggahi.Perjalanan kami lanjutkan menuju Curug Cikaso. Hampir menjelang sore kami tibadi lokasi wisata tersebut. Sejenak kami menikmati suasananya yang saat itu ramaioleh pengunjung. Curugnya lumayan indah dan airnya bersih. Sayangnya, persoalansampah juga tak bisa dielakan, meski tak separah di Panenjoan.Setelah merasakan ketegangan karena melalui jalan yang ekstrim dari Naringgul,Kabupaten Cianjur hingga perbatasan dengan Rancabali, Ciwidey, KabupatenBandung , kami beristirahat dan ngopi di warung diiring turunnya kabut tebal.Saat Magrib, kami tiba di Ciwidey kota, kemudian melalui jalak Harupat sertaTaman Kopo Indah Soreang dan akhirnya tiba di pusat Kota Bandung pada pukul20.30. Setelah beres-beres hingga larut malam, kami pun menuju rumah masingmasing dengan membawa sejuta rasa, baik rasa lelah,seru, senang, bercampur rasakecewa, sedih atau marah. Salam Bersepeda. (tamat). (b2b, PRM, 16/7/2017)45. Gerakan untuk Mewujudkan Indonesia BersepedaSudah sejak lama banyak komunitas pesepeda di berbagai daerah di negara ini inginmewujudkan mimpi besarnya, yaitu Gerakan Indonesia Bersepeda melalui gerakangerakan atau kampanye bersepeda yang mereka lakukan.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018114Harapannya, selain ingin adaHari Sepeda Nasional,mereka juga menginginkanIndonesia menjadi salah satunegara sepeda di dunia, yangsebagian besarmasyarakatnya menjadikansepeda sebagai gaya hidupdan budaya.Setidaknya, kota-kota besardi Indonesia menjadikansepeda sebagai saranatransportasi untuk kegiatan apapun seperti ke sekolah, ke kampus, dan ke tempatkerja, guna memberi dampak perubahan lingkungan yang lebih baik. Aksi itu dapatturut berkontribusise mengatasi persoalan kemacetan dan polusi.Di Bandung, sejak setahun yang lalu, salah satu kelompok yang saat ini tengahgencar-gencarnya melakukan aksi atau gerakan bersepeda adalah Bandung EcoTransport yang beranggotakan para pelaku perubahan dari kalangan aktivislingkungan, pemerintah, korporasi dan komunitas.Misinya adalah membangun kota Bandung yang lebih baik dengan gerakankampanye bersepeda, penggunaan transportasi publik, disiplin berlalulintas dan jalankaki yang dilakukan secara fun, menarik, edukatif, persuasif dan minim dana.Gerakan perdana Bandung Bersepeda yang dilaksanakan adalah gerakan menujuBandung Kota Sepeda. Bersepeda dari Cikapundung river spot menuju balai kota,menghadirkan berbagai pesepeda dari berbagai kalangan masyarakat dan komunitasyang menggunakan pakaian atribut masing-masing. Pesertanya antara lainkaryawan, aparatur sipil negara, wiraswasta, polisi, pelajar, dan mahasiswa.Kegiatan itu juga akan dijadikan video documenter yang nantinya menjadi bahanpresentasi pemerintah Kota Bandung ke berbagai korporasi di Indonesia bahkanmungkin ke tingkat international, sekaligus juga sebagai iklan layanan masyarakat.Kegiatan yang sama juga dilakukan saat momentum hari Perhubungan Nasional danBandung Transportasi Festival. Bersepeda dari Pendopo kota Bandung menujuhalaman kantor Dinas Perhubungan Kota Bandung di terminal Leuwi Panjang. Aksiini dinamakan gerakan #1000pesepeda menuju transportasi Bandung yang humanis.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018115Berikutnya adalah aksi Bandung Eco Transport bersepeda jarak jauh menebarkebaikan dari Bandung untuk Indonesia. Dilakukan dua kali, yang pertama tahun2016 menempuh jarak 400 kilometer perjalanan bersepeda Bandung – Lampung .Yang kedua tahun ini, menempuh perjalanan Bandung – Solo sepanjang 500kilometer. Selain membawa misi kampanye bersepeda dan gerakan disiplinberlalulintas juga kampanye gerakan lingkungan lain, yaitu gerakan 1000 tumbler,dan gerakan pungut sampah, disetiap daerah yang dilalui sepanjang rute tersebut.Saat perjalanan Bandung – Lampung masih terkesan biasa saja. Namun, pada saatperjalanan Bandung – Solo, sambutannya luar biasa dari berbagai daerah yangdilalui, seperti Cirebon dan Pemalang.Selanjutnya kegiatan kampanye Sekolah Nyapedah atau bike to school. Dilakukansaat momen kegiatan pendistribusian sumbangan sepeda dari perusahaan BUMNbidang perminyakan untuk sekola-sekolah di kota Bandung.Gerakan Bandung Bersepeda yang hingga saat ini masih rutin dilaksanakan adalahkampanye bersepeda ke tempat kerja setiap Jum’at pagi dan Bandung Bersepedamalam setiap Rabu. Kedua gerakan ini cukup menarik minat masyarakat untukmengikutinya terutama di kegiatan bersepeda malam, meskipun hanya sebagianyang paham tentang misi dan visi besar di kedua kegiatan tersebut. Sebagian lainnyamasih beranggapan bahwa itu semua hanya kegiatan bersepeda seperti biasa.Setiap aksi yang Bandung Eco Transportasi lakukan selalu diselipkan aksi lain yaitukampanye disiplin berlalulintas, berkendara aman (safety ridding), membawatumbler dan gerakan pungut sampah. Sebagai daya tarik lain adanya dress code yangberganti nuansa setiap minggunya, juga kerja sama dengan berbagai korporasi ataupemangku kepentingan (stake holder0 sebagai tempat finish.Kekuatan mediaDari segi kwantitas, memang masih sedikit pesepeda yang terlibat dalam gerakanbersepeda di Bandung. Mungkin hanya sekitar100-an ( di luar event bersepeda ).Bandung masih kalah dibanding Kota Solo atau Jogjakarta yang sudah menjadikanbersepeda sebagai budaya sehingga ribuan pemboseh ikut serta dalam setiap acara.Akan tetapi, Bandung lebih beruntung dari segi kualitas dan pemberitaan. Setiapgerakan, baik sebelum atau sesudah dilakukan, gencar disosialisasikan melaluiberbagai media sosial, sehingga banyak menarik perhatian masyarakat, lembaga danmedia massa seluruh Indonesia untuk meliputnya.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018116Kekuatan media menjadi modal bagi gerakan Bandung lebih menggema danterdengar suaranya serta memicu gerakan di daerah-daerah lain yang berkeinginanseperti Bandung bisa membahana meski dilakukan dengan cara sederhana. Banyakpara pelaku perubahan di daerah lain pun yang berkeinginan ada gerakan bersamamenuju Indonesia Bersepeda.Gerakan bersama diawali dengan kegiatan bersepeda malam serentak di hari danwaktu yang sama, dilakukan oleh Bandung dan Surabaya. Di saat yang hampirbersamaan juga dilakukan oleh Lampung, Yogya dan Solo.Di kegiatan Bersepeda Bandung West Java 2017 oleh NuGareulis Ngagowes(NGN), Bandung mengajak berbagai daerah untuk hadir. Awalnya banyak daerahyang siap hadir, tetapi karena terkendala teknis hanya Surabaya yang bisa hadir.Dengan kekuatan empat orang, mereka datang ke Bandung dengan menggunakankereta api, mereka disambut di sekretariatan Bandung Clean Action dan beristirahatdi sebuah guest house. Mereka adalah para pelaku perubahan terkait kampanyebersepeda di Surabaya dengan menamakan kelompoknya Subcyclist.Keesokan harinya, dengan menggunakan sepeda bike sharing “boseh” , merekadiajak bersepeda mengikuti rute event bersepeda Bandung West Java, berfoto-foto diGedung Sate, bersepeda menuju Tugu Kilometer 0 Kota Bandung, kawasan JalanAsia Afrika, monumen atau Situs Penjara Banceuy dan Terminal Leuwi Panjang,sambil melakukan aksi disiplin berlalulintas dan berkendara aman.Usai beristirahat dilakukan sharing session di aula Kantor Dinas Perhubungan KotaBandung untuk berbagi pengalaman, kesan dan pesan terkait gerakan bersepeda diKota Bandung dan Surabaya. Harapannya untuk lebih sering mengadakan gerakanbersepeda bersama di mana saja dengan daerah lain dalam rangka mewujudkanGerakan Indonesia Bersepeda. Salam boseh n go green, Eco Transport. (b2b, PRM10/9/2017).46. Boseh Jelajah Kota SoloDalam rangka menuju #IndonesiaBersepeda, para pesepeda dari berbagai komunitasatau gerakan lingkungan daerah senusantara, berupaya mewujudkannya denganmelakukan kegiatan kampanye bersepeda yang mengundang pegiat sepeda daridaerah lain. Pertengahan bulan Juli 2017, Kota Bandung melalui gagasan BandungEco Transport melaksanakan kegiatan menuju Indonesia bersepeda yang di hadirioleh pesepeda dari Surabaya. Lalu pada 19 – 20 Agustus 2017, giliran Kota Solomengundang pesepeda dari Kota Bandung, Surabaya dan Semarang.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018117Kegiatannya bertemagowes Jelajah Kota Solo(Gojeks) yang digagasoleh sebuah gerakanbernama Kota Kita dansalah satu komunitaspesepeda Kota Solo yatuSolo Ngepit. Acara diisiberbagai rangkaiankegiatan, yaitu bersepedawisata dan edukasi, servicesepeda, gerakan pungutsampah dan sharing session.Saya mewakili Bandung Eco Transport ikut serta menghadiri kegiatan di kota Solotersebut bersama empat teman lainnya. Mereka adalah satu orang dari kalanganwirausahawan, dua orang dari Bike to Campus Unpas, dan satu orang dari JajaranDinas Perhubungan Kayuh Sepeda (Jadikasep).Kami berlima menggunakan kendaraan dan membawa lima sepeda boseh DinasPerhubungan Kota Bandung untuk digunakan kami di sana. Meluncur Jum’at malammelalui jalur utara. Beberapa daerah disinggahi sebagai tempat istirahat.Tiba di Kota Solo pagi hari, kami mengalami sedikit kesulitan mencari lokasi yangdituju yaitu sebuah penginapan tempat temen-teman dari Surabaya Cyclist Institute(Subcyclist) berda. Akhirnya, kami memilih istirahat dan bersepakat menujusekretariatan Kota Kita, karena teman-teman dari Surabaya akan menuju kesanauntuk mengambil sepeda pinjaman dari teman-teman Solo.Kami lebih dulu tiba di Kota Kita yang disambut ketua gerakan Kota Kita, yangkami panggil Akang Fuad karena dia aslinya orang Garut yang sudah sekian lamamalang melintang di Kota Solo. Sambil menunggu teman-teman dari Surabaya,kami beristirahat sambil berbagi pengalaman dengan Kang Fuad.Berangsur-angsur teman-teman dari Surabaya berdatangan. Beberapa menitkemudian kami bersepeda bersama menuju tempat penginapan untuk bersitirahatdan persiapan ikut dalam kegiatan bersepeda malam jelajah Kota Solo.Selepas Isya, kami menuju Stadion Manahan yang merupakan stadion bersejarahsebagai tempat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama tahun 1948.Kami berkumpul di selasar depan pintu gerbang stadion. Sudah menunggu puluhan
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018118pesepeda dari beberapa komunitas pesepeda Kota Solo dan dua perwakilan dari Biketo Work Semarang.TertibSetelah kumpul semua, breefing dan berdo’a, perjalanan bersepeda malam pundimulai. Bertindak sebagai marshall adalah teman-teman komunitas pesepeda SoloNgepit dan sebagai pemandu wisata berasal dari Kota Kita. Kami bersepedaberingan menyemarakkan beberapa ruas jalan Kota Solo di waktu malam, dengantetap berjalan tertib dan mematuhi peraturan lalulintas.Ikon Kota Solo yang pertama dikunjungi adalah Keraton Kesunanan Surakarta,merupakan salah satu objek wisata utama kota ini yang sebagian kompleknyadijadikan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesunanan. Bangunankeraton ini merupakan arsitek istana Jawa tradisoanal terbaik.Lalu, perjalanan bersepeda berlanjut menuju Benteng Vastenburg, bentengpeninggalan Belanda, yang dulunya sebagai tempat pengawasan Belanda terhadappenguasa Surakarta.Kami beristirahat cukup lama sambil menikmati angkringan. Seusai menikmatimalam, perjalanan bersepeda keliling Kota Solo dilakukan hingga menuju tempatfinis di penginapan tempat kami dimana dari Bandung dan Surabaya bermalam.Rangkaian kegiatan Gowes Jelajah Kota Solo dilanjut kesokan harinya, Minggu(20/8/2017). Diawali bersepeda menuju car free day (CFD) Jalan Selamet RiyadiSolo, di sana sudah ada stand service ringan sepeda komunitas Solo Ngepit. Bayaransetiap kali yang mau service berupa sampah unorganik seperti kertas dan plastik.Sebelumnya kami bersama-sama melakukan kegiatan gerakan pungut sampahsekitar area CFD dan mampir juga di depan rumah dinas Walikota Solo atau di sanamenyebutnya Loji Gandrung untuk sekedar foto-foto.Setelah di CFD, kami kembali bersepeda mengelilingi Kota Solo denganmengunjungi beberapa ikon Kota Solo lain, yaitu Taman Sriwedari, Gedung BankIndonesia, Balai Kota, Taman Monumen Banjarsari dan berakhir di Taman BurungBalekambang. Selanjutnya kami menuju Sekretariatan Kota Kita sebagai tempatistirahat dan sharing session masalah transportasi dan gerakan menuju Indonesiabersepeda, sekaligus sebagai penutup rangkaian kegiatan Gowes Jelajah Kota Solo.Saya sempat bertemu teman aktivis lingkungan Earth Hour Solo angkatan 2012 danseorang pesepeda dari komunitas pesepeda Robek Bekasi, Jawa Barat asal kota Soloyang kemudian bergabung mengikuti kegiatan bersepeda Jelajah Kota Solo.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018119Di Kota Kita kami kembali ke tempat penginapan untuk bersiap-siap pulang. Setelahcukup lama beristirahat dan beres-beres, menjelang senja kamu pun pamitan danmeluncur pulang menuju kota Bandung melalui jalur selatan.Memanfaatkan kesempatan melakukan perjalanan, kami singgah di KotaYogyakarta. Kami bersepeda menyusuri Monumen Jogja, Stasion Tugu, JalanMalioboro hingga Keraton Jogja. Tak lupa kami berfoto-foto dan menikmati suasanamalam ditempat angkringan dekat stasion kereta api Tugu.Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan pulang larut malam hingga tiba di wilayahJawa Barat, pagi hari. Kami singgah di Jembatan Kereta Api Cirahong KabupatenCiamis dan area wisata Kampung Naga Tasikmalaya.Akhirnya, kami tiba di kota Bandung menjelang magrib. Meskipun terasa lelah tapikami sangat menikmati perjalanan sejak pergi hingga pulang dan senang bisamengikuti kegiatan kreatif dan positif di kota Solo yang telah membawa kesantersendiri terutama bagi dua orang pesepeda dari Bike to Campus Unpas yang baruaktif bersepeda sudah diajak kegiatan di tempat jauh. Salam boseh dan go green.Bandung Eco Transport. (b2b, PRM 19/11/2017).
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018120Tahun 201847. Bersepeda Bahagia di Akhir Tahun 2017Bersepeda merupakankegiatan menyenangkanyang tepat untuk mengisiakhir tahun. Hal itudisebabkan di perkotaan,saat detik-detik menjelangpergantian tahun, seringdilanda kemacetan karenabanyaknya konvoikendaraan dan hirukpikuk ribuan orang yangtumpah ruah ke jalan.Di Bandung, ada beberapakelompok atau komunitasyang melaksanakan kegiatan bersepeda dalam rangka menjelang pergantian tahun,seperti kegiatan kampanye bersepeda yang dilakukan oleh gerakan Eco Transport,yaitu boseh Jum’at. Kegiatan tersebut merupakan bersepeda di hari Jum’at terkakhir2017.Ada juga sekelompok anak muda pesepeda yang menggawangi kegiatan “LastSunday Ride “ atau bersepeda bersama di hari Minggu terkahir 2017. Kegiatan itudiikuti ratusan pesepeda dari berbagai komunitas. Sebelumnya, sejak Sabtu,komunitas pesepeda Bike to Campus mengadakan bike camping ke daerah Cililinkabupaten Bandung Barat.Kegiatan bersepeda menuju tempat-tempat yang sunyi atau agak ajuh darikebisingan malam tahun baru, sepertu ke gunung atau perbukitan, menjadi pilihanterbaik saat itu. Bahkan akan terasa lebih mengasyikan karena bisa menyaksikangemerlapnya kota saat malam tahun baru dari ketinggian.Salahs satu kelompok pesepeda yang menamakan dirinya Ce’es Beurat FBImelaksanakan kegiatan bersepeda , berkemah dan memasak ( bike camp cook) didestinasi wisata alam di Pasir Impun, Bandung. Saya terlibat di dalamnya sebagaitim pelaksana kegiatan, tepatnya di bagian kepersertaan sekaligus koordinatorpengadaan dan pembagian doorprize.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018121Lokasinya memang strategis karena area berkemahnya benar –benar mengahadap kekota Bandung. Keindahan Kota Bandung yang dilingkung gunung – gunung, cukupmemukau dilihat dari tempat itu, meskipun areanya belum dikelola dengan baik.Kelompok ini baru kali pertama berkemah di area yang, kebetulan masih dalamtahap pembuatan.Konsepnya mengangkat tema nuansa ala suku Indian. Kami pun sengajamengahdirkan properti satu tenda Indian berikut beberapa aksesoris penunjangseperti pakaian ala Indian dan tiang atau tugu kayu relief burung elang sebagaipajangan di tengah area berkemah sekaligus untuk latar belakang sesi foto. Acara itudiikuti sekitar 60 orang dari berbagai komunitas dan sejumlah daerah.Kami melakukan persiapkan sejak Sabtu sore di lokasi kegiatan. Sebagian sampaimenginap di sana. Hari Minggu pagi hari, saya dan beberapa panitiamempersiapkan sebagian besar peserta yang akan bersepeda dari tempat titikkumpul di selasar Gasibu, sebrang Gedung Sate.Kegiatan bersepeda dimulai pukul 13.30 WIB untuk rombongan pertama yangdipimpin oleh seorang teman. Perjalanan menelusuri Jalan Diponogoro – Supratman– Katamso – Pahlawan – Suci – AH Nasution – Pasir Impun. Saya memimpinrombongan kedua melalui rute yang sama kecual dari arah Jalan Katamso lurusmenyusuri gang hingga menembus Jalan Cikutra kemudian ke Jalan Suci danseterusnya.Di tengah-tengah Jalan Pasir Impun, saya beserta rombongan bertemu dengansebagian rombongan pertama dari Soreang yang tengah istirahat dan makan di kedailotek. Kami pun ikut bergabung untuk istirahat dan makan.Tak lama, hujan turun deras disertai angin kencang. Suasananya cukup mencekam,membuat kami sedikit khawatir nasib teman-teman yang berada di lokasi acara.Cukup lama kami berteduh hingga cuaca kembali cerah.Kami tiba di lokasi menjelang senja. Kondisi di lokasi memang tidak keruan, sedikitbecek dan berlumpur. Beberapa tenda diterjang badai. Ada yang banjir di bagiandalamnya, ada pula yang roboh. Akan tetapi, alhamdulillah, semua dapat kami atasi.Karena lokasinya belum dikelola secara serius, belum tersedia kamar kecil atautoilet. Kami harus berjuang menuruni jalan terjal yang masih terbuat dari tanah danbebatuan untuk menuju kamar kecil.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018122Semua peserta dan panitia disuguhi makanan menu cuanki. Sebagian lainnyamemasang tenda. Ada pula yang foto-foto memanfaatkan suasana senja sambilmenikmati pemandangan Kota Bandung dan sekitarnya.Malam hari, seusai makan dengan menu ayam rica –rica, rendang telur dangorengan, kami membuat api unggun dan obor untuk menghangatkan malam sambilmenunggu detik-detik pergantian tahun. Sebagian besar peserta berada dipinggirbukit yang pemandangannya menghadap Kota Bandung.Saat pergantian tahun tiba, kami menyaksikan gemerlapnya Kota Bandung denganberbagai ragam kembang api yang bersahut-sahutan. Banyak yang mengabadikanmoment tersebut. Saya hanya konsentrasi pada kegiatan yang akan dilaksanakansusai pergantian tahun baru.Setelah hampir setengah jam menikmati semaraknya malam tahun baru, sayamengajak peserta dan panitia berkumpul mengeliling api unggun sebelah tendaIndian. Kami merenung sambil bergandengan tangan satu sama lainnya, kemudianberdo’a bersama untuk keberkahan hidup di 2018. Acara dilanjutkan pembagiandoorprize dari para sponsor. Setelah itu, peserta pun beristirahat tidur.Keesokan harinya, setelah sarapan nasi dengan sayur sop dan gorengan serta minumkopi racikan khas barista Fbi, dilakukan pembagian doorprize sesi kedua.Selanjutnya, kami beres-beres tenda sambil melakukan gerakan pungut sampah diarean perkemahan. Menjelang siang, semuanya bubar dan kembali ke rumahnyamasing-masing, Banyak yang tetap menggowes, sebagian lagi pulang dengankendaraan bermotor.Kami, panitia, dan peserta pulang dengan membawa sejuta kebahagiaan dan kesanyang cukup mendalam, terlebih mereka yang beruntung mendapatkan hadiahmenarik produk keren dari para sponsor lokal ternama. Salam boseh dan go green ,selamat tahun baru 2018, semoga kegiatan bersepeda makin semarak. Eco Transport.(b2b, PRM 4/2/2018)48. Ngaboseh Jaga BumiConduct environmental action with other environmental actions merupakan istilahyang artinya melakukan aksi lingkungan dengan aksi lingkungan lainnya,. Salahsatunya adalah kegiatan bersepeda sambil gerakan pungut sampah, menanam pohon,pilah sampah dan sebagainya.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018123Hal ini pula lah yang sayalakukan bersama delapanteman yang tergabung dalamtim sukarelawan dan edukatorkegiatan lingkungan yangdilaksanakan oleh YayasanKebun Raya Indonesia dengannama programnya adalah JagaBhumi (bahasa sansekerta darikata jaga bumi), mencakupenam kegiatan subprogram.Salah satunya adalah jagabumi ke sekolah-sekolah ( visitto school atau Jaga Wiyata )Kami mewakili provinsi Jawa Barat selaku tim edukator atau sukarelawansubprogram jaga bumi ke sekolah . Tiga provinsi lain yang melaksanakan halserupa, yaitu DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.Inti kegiatan adalah melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah ( SD, SMP dan SMA)sambil melakukan sosialisai atau edukasi lingkungan, khususnya terkait manfaatkebun raya dan habitatnya, materi aksi jaga bumi, disertai kegiatan lain yaitu praktikpemilahan sampah, permainan dan pengamatan flora fauna, serta menanam bibitatau biji tanaman pohon, buah-buahan dan sayuran.Saya dan empat teman lain merupakan aktivis bersepeda, tepatnya dari Bike toCampus (B2C) Bandung. Empat orang lainnya merupakan civitas akademicaUniversitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan biologi.Dalam beberapa kesempatan saya dan seorang teman ke sekolah-sekolah denganmenggunakan sepeda, sambil membawa logistik untuk kegiatan Jaga Wiyata atauJaga Bhumi ke sekolah, seperti tempat sampah, bibit tanaman dan sebagainya.Hal ini dilakukan guna konsistensi kami selaku pesepeda dalam gerakan kampanyebersepeda untuk aktivitas apapun. Setidaknya, apa yang kami lakukan memotivasiyang lain agar apapun aktivitasnya gunakanlah sepeda. Manfaatnya sekaligusberdampak luas, yaitu tak ada polusi, mengurai sedikit kemacetan, ditambahmemberikan ilmu yang bermanfaat khususnya terkait lingkungan bagi sekolahsekolah terpilih yang berkesempatan dikunjungi tim Jaga Bhumi.Boseh Jelajah Bumi
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018124Masih dalam rangkaian kegiatan Jaga Bhumi, juga diselenggarakan kegiatanbertajuk “Gowes Jelajah Bhumi”. Itu adalah aksi nyata dalam rangka menggalangpartisipasi public serta menyebarkan semangat gerakan Jaga Bhumi. Misinya adalahmensosialisasikan Kebun Raya Indonesia, keanekaragaman hayati, dan kearifanlokal,Aksi ini dilakukan oleh sekitar delapan pesepeda dari berbagai daerah bersama timofficial, menempuh perjalanan sekitar 1000 kilometer dari DKI Jakarta ke KotaSurabaya. Dimulai pada Kamis (12/4/ 2018) dan berakhir Sabtu (28/4/2018).Mereka membawa pesan lingkungan, yaitu lestarikan pangan dan budaya lokal,selamatkan keanekaragaman hayati sekitar kita, dan kembalikan kejayaan alamIndonesia.Selama perjalanan, mereka transit di beberapa daerah yang memiliki kebun rayanasional yaitu Kebun Raya Bogor, Cibodas Cianjur, Kuningan yang berada di JawaBarat. Lalu, Kebun Raya Baturaden Banyumas yang berada di Jawa Tengah danPurwodadi Pasuraun di Jawa Timur. Daerah lain seperti Kota Bandung, Tegal,Wonosobo, Boyolali, Ngawi dan Jombang terpilih sebagai kota atau daerah yangdikunjungi diluar daerah yang ada kebun rayanya.Di tempat-tempat tersebut, mereka melakukan kegiatan silahturahmi antar pesepedadan tim Jelajah Bhumi, diskusi dan sharing perjalanan tim Jelajah Bhumi, diskusidan berbagi pengalaman selama perjalanan, sosialisasi program Yayasan KebunRaya Indonesia, dan pengumpulan dukungan pembangunan Kebun Raya Mangroovepertama di dunia, yaitu di Surabaya, Jawa Timur.Kota Bandung dikunjungi oleh tim Jelajah Bhumi, Senin (16/4/2018). Sekitar 50pesepeda dari berbagai komunitas pesepeda se Bandung Raya menyambut danmengikuti rangkaian acara kunjungan tim Jelajah Bhumi tersebut.Keesokan harinya, ke delapan pesepeda melanjutkan perjalanan bersepeda menujuKabupaten Kuningan sebagai tempat persinggahan dan kunjungan ke empat.Sebelumnya, mereka berkunjung ke salah satu sekolah dasar negeri diKota Bandunguntuk menanam pohon. Sekolah tersebut pernah dikunjungi oleh tim edukator JawaBarat program Jaga Wiyata.Bersepeda memang aktivitas yang menyenangkan, menyehatkan sekaligus memberikontribusi terhadap perubahan lingkungan yang lebih baik. Apalagi jika sepedadijadikan moda transportasi dalam beraktivitas apapun. Tterlebih jika bersepedasambil melakukan aksi-aksi lingkungan lain seperti yang dilakukan tim gerakan JagaBhumi tersebut. Salam boseh dan go green. Eco Transport. (b2b, PRM 13/5/2018)
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 201812549. Motivasi agar sepeda menjadi moda transportasiBike to work Indonesia hadir sebagai salahsatu komunitas pesepeda terbesar yangberkiprah dalam gerakan kampanyebersepeda kepada masyarakat. HUT B2Wdiperingati setiap 27 Agustus dengan jargongerakan B2W Day. let’s beyond act.Diusianya yang ke 13 tahun, B2Wmengadakan tantangan bagi para pegiatsepeda khususnya yang memang konsistenbersepeda atau yang menjadikan sepedasebagai moda transportasi ke tempat kerja, kesekolah atau ke kampus.Kegiatannya diberi tema B2W Day Challenge2018 dengan menggunakan salah satu aplikasiperjalanan. Dibagi menjadi dua katagori,konsisten dan jarak.Katagori konsisten dilihat frekwensi atau seberapa sering bersepeda dalam periodetantangan ini, berapa hari bersepeda. Katagori jarak dihitung akumulasi jarak yangditempuh selama periode ini. Periode tantangan tersebut selama 21 hari, mulai 9september hingga berkahir pada 29 September 2018.Tantangan ini hanya berlaku di wilayah Indonesia dengan mengikuti berbagaipersyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh penyelenggara. Aktivitasbersepeda yang terkait tantangan tersebut, yaitu bersepeda dari rumah ke tempatkerja, ke sekolah, dan ke kampus. Pemenang diberikan hadiah menarik dari B2WIndonesia.Sejak diumumkan, ratusan pesepeda mengikutinya, terutama mereka yang memangsudah menjadikan sepedanya untuk transportasi ke berbagai aktivitasnya. Merekadari berbagai daerah di Indonesia. Meski kegiatan tantangan B2W ini untuk lebihmemotivasi para pekerja, pelajar dan mahasiswa pesepeda, tapi tantangan itu jugamenarik perhatian bagi mereka yang sehari-harinya memang bersepeda, tetapi bukanpekerja, pelajar atau mahasiswa. Salah satunya adalah saya.Motivasi saya dalam mengikuti kegiatan tantangan B2W tersebut lebih kepada inginmeramaikan saja. Aktivitas saya tidak terhitung dalam penilaian karena saya bukan
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018126pekerja. Selain itu, saya berharap bisa memotivasi yang lain agar banyak masyarakatyang menjadikan sepeda sebagai moda transportasi kemana saja.Seusai mengunduh aplikasi yang dimaksud saya pun mulai melakukan kegiatanbersepeda dalam periode tantangan. Melihat aktivitas bersepeda saya termasukkatagori konsisten, tapi kalau menang ataupun tidak , bukan tujuan utama.Saya bersepeda ke berbagai aktivitas apapun , dimulai aktivitas pertemuan, ke pasar,ke masjid, ke bengkel sepeda ,perjalanan trek, kumpul komunitas, kulineran,aktivitas sosial dan lingkungan juga ikut kegiatan bersepeda yang rutin dilaksanakanseperti #boseh Jum’at , Bandung Nigth Ride, dan Minggu Tanpa Polusi GerakanEco Transport.Kalau dari segi jarak, saat menempuh perjalanan dari rumah di Katapang KabuptenBandung menuju tempat basecamp aktivitas di Sukagalih Sukajadi kota Bandung,kurang lebih sekitar 25 kilometer, melalui rute Katapang – Rancamanyar – BojongSayang – Sayuran – Cangkuang – terusan Cibaduyut Kabupaten Bandung, lalumemasuki kota Bandung dari Cibaduyut – Nyengseret – Panjunan – Astana Anyar –Gardujati – Pasirkaliki – Sukajadi dan berakhir di Sukagalih.Juga saat menempuh perjalanan ngaprak sebagian kecil wilayah kabupaten Bandungdimulai dari Katapang –Rancamanyar – Andir hingga Banjaran kemudian balik lagike Andir – Rancamanyar ke Dayeuh Kolot dan Bojong Soang ke Telkom Universitymenghadiri wisuda salah satu anggota Bike to Campus Bandung. Dari Bojongsoang pulang melalui Babakan Radio – Palasari – Cisirung – Cangkuang, - BojongSayang – Rancamanyar – Sangkanhurip dan Katapang, estimasi sekitar 30kilometer.Berjibaku dengan kemacetanSelama bersepeda saat periode tantangan hambatannya sama saja seperti biasa, yaituharus berjibaku dengan kemacetan, mengalah dari arogansi kendaraan, debu, dansengatan matahari, apalagi saat itu masih musim kemarau dan cuaca ekstrim.Akan tetapi, karena sudah terbiasa dengan hal tersebut, perjalanan tetap dinikmatidengan suasana menyenangkan. Di kala jeda istirahat, sesekali update kegiatandiberbagai media sosial dengan caption menebar kebaikan ajakan bersepeda, tertibberlalulintas, santun di jalan, bersepeda aman, membawa tumbler dan tidakmenyampah. Karena bersepeda bukan sekedar mengayuh.Mari kita budayakan bersepeda ke tempat kerja, ke sekolah , ke kampus atau kemanapun selagi masih terjangkau dengan sepeda. Jadikan sepeda sebagai alat transportasi
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018127terdekatmu. Jangan biasakan menggunakan kendaraan bermotor ke mini marketyang jaraknya hanya 100 meter.Itu adalah solusi terbaik mengurai kemacetan dan mengurangi polusi daripada hanyabisa mengeluh dan mencaci maki. Jadi ingat kata bijak dari Ketua Bike To WorkIndonesia, Om Poetoet , “jika kamu tak ada waktu untuk menyelematkan bumi,perbanyaklah bersepeda”. Salam boseh dan go green.Eco Transport (b2b PRM,20/9/2018)50. BikEduaksi : Sesar LembangBeberapa bulan lalu, terjadi bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat yangmenyebabkan kerusakan cukup berat dan menelan banyak korban, serta gempadengan skala kecil dan ringan di berbagai daerah lain di pulau Jawa serta Bali. Taklama, masyarakat kembali dikejutkan dengan bencana gempa dengan skala besarbahkan disertai bencana tsunami di daerah Palu dan Donggala, Provinsi SulawesiTengah, yang menyebabkan kerusakan hebat dan menelan lebih dari 1.000 korbanjiwa.Tak hanya tsunami, gempabumi di daerah tersebutmenyebabkan kejadianlikuefaksi atau pencairantanah akibat suatu getarangempa bumi atau perubahanketegangan lain secaramendadak yangmeluluhlantakan satu kawasanpermukiman di daerah Sigi.Gempa bumi tersebut diakibatkan oleh pergeseran lempeng. Sebagian besar wilayahIndonesia pun berada di atas sesar lempengan termasuk Jawa Barat khususnyawilayah Bandung Raya. WilayahBandung Raya berada di atas sesar Lembang yangmembentang sepanjang 29 kilometer hingga daerah Cimahi.Seiring dengan renteten peristiwa gempa yang terjadi, tersiar kabar bahwa sewaktuwaktu bisa terjadi pergeseran sesar Lembang menimbulkan getaran gempa bumiyang cukup dahsyat serta akan memporak-porandakan wilayah Bandung dansekitarnya.
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018128Mengacu pada hal tersebut, tanpa bermaksud memanfaatkan kejadian bencana yangmelanda wilayah Indonesia. Roda Ria bekerja sama dengan komunitas pesepedapegiat Federal Bandung Indonesia (FBI) menyelenggarakan kegiatan bersepedasambil menambah wawasan atau ilmu ( BikEdukasi ) bertajuk Sesar Lembang.Kegiatan tersebut dimaksudkan selain dalam rangka menggali dan mengetahui lebihdetail tentang sesar Lembang agar masyarakat memahami tentang lokasi mana yangnyaman dan aman untuk membuat sebuah bangunan seperti perumahan, villa,apartemen dan sebagianya.Selain itu, dari pemahaman yang didapat, masyarakat bisa membudayakan siap siagabencana dengan sering membaca pengetahuan terkait bagaimana menghadapibencana dan mempersiapkan benda-benda darurat simpanan jika seaktu-waktukejadian seperti gempa bumi melanda.Kegiatan BikEdukasi Sesar Lembang, dilaksanakan Minggu (21/10/2018), diisikegiatan bersepeda, fresh drink , pemaparan materi dan diskusi, hiburan akustik dandoorprise. Meski berbayar, peserta dibatasi hingga 40 orang terkait kapasitas tempatdiskusi yaitu kedai kopi di kawasan Dago atas sebagai mitra yang menyediakanfresh drink untuk peserta.Sebagian besar peserta adalah anggota komunitas pesepeda FBI, juga dari komunitaspesepeda BMX Velodrome Munaif Saleh Kota Cimahi, Eco Transport, Cepot LipetBandung, mahasiswa, santri pesepeda Robokop, dan pesepeda individu lain.Sejak pukul 6.00. peserta berangsur-angsur datang ke tempat titik kumpul dihalaman parkir salah satu Bank di jalan Merdeka kota Bandung yang merupakanposko tempat berkumpulnya komunitas FBI setiap Minggu pagi.Start bersepeda dimulai pukul 7.15. melalui rute sepanjang kurang lebih 15kilometer dari Jalan Merdeka – Jalan Wastukencana – Jalan Pajajaran – JalanCihampelas – Jalan Abdul Rivai – Jalan Cipaganti – Jalan Setiabudi – JalanCihampelas – Jalan Siliwangi – Jalan Dago dan finish di skedai kopi di Dago.Bom waktuSetelah tiba di tempat finish, peserta mendapatkan stiker dan minuman segar sambilistirahat sebelum acara pemaparan materi Sesar Lembang yang disampaikan olehpembicara dari Badan Geologi, Isya Nurachmat Dana.Pemamaran materi utama tentang Sesar Lembang disampaikan oleh Isya NurachmatDana cukup panjang dan detail, sehingga para peserta mengetahui daerah mana yangsebenarnya tidak aman untuk membuat bangunan sepanjang bentangan sesar
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018129Lembang. Faktanya sekarang sudah berdiri banyak bangunan terutama di daerahLembang yang tanpa disadari berada di atas “bom waktu” jika sewaktu-waktu terjadipergeseran yang menyebabkan terjadinya gempa bumi.Seusai pemamaran materi , acara diselingi hiburan akustik persembahan dari salahsatu duoband indie kota Bandung, dan pembagian doorprize. Acara berlanjut dengansesi diskusi antara pemateri dan peserta. Kegiatan diakhiri dengan penyerahankenangan dari komunitas pesepeda FBI dan Roda Ria kepada pemateri sertapenanya, juga sesi foto bersama.Kegiatan BikEdukasi merupakan kegiatan kedua yang dilaksanakan oleh Roda Ria.Roda Ria adalah tim kecil Event Organizer khusus kegiatan dunia sepeda yang baruberdiri Agustus 2018. Tim itu diinisiasi oleh sekelompk anak muda kreatif yangtergabung dalam wadah bernama Luang.Debut kegiatan perdananya adalah kegiatan funbike touring bertajuk “PelesirGambung” . Itu adalah kegiatan bersepeda bersama dan fun dari kota Bandungmenuju kawasan wisata Gambung, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Acaranya diisikegiatan hiburan, bazar, hiburan musik, doorprize serta berkemah.Rencananya, kegiatan bike edukasi akan dilaksanakan berkelanjutan atau rutin setiapbulan, tentunya dengan tema yang berbeda. Tema mencakup kesehatan, lingkungan,budaya disiplin, sosial dan sebagainya. Dengan begitu, kegiatan ini menjadi salahsatu aktivitas yang mewarnai khazanah kegiatan bersepeda di tanah air, khususnyadi Kota Bandung. Salam boseh dan go green. Roda Ria. (b2b PRM, 11/11/2018)
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018130PENUTUPAlhamdulillah, buku Bunga Rampai Tulisanku di Halaman Back to Boseh PikiranRakyat saya susun sejak tahun 2015 ini sudah saya rampungkan secara sederhanadan amatiran.Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangannya dalam penyusunan buku ini.Saran dan kritik membangun adalah yang saya perlukan agar kedepan bisa lebihbaik lagi.Meski jauh dari kesempurnaan dan kurang menarik, tetapi semoga saja bermanfaatbuat saya pribadi maupun buat masyarakat banyak, setidaknya sebagai dokumentasiataupun inspirasi.Harapanya, buku ini juga bisa bermanfaat khususnya bagi para kawan-kawanpesepeda atau khalayak umum lainnya. Setidaknya, memberikan gambaran tentangkehidupan dunia bersepeda yang memang baik dan menyenangkan, bisa menjadi“racun” yang bermanfaat buat masyarakat luas untuk gemar bersepeda..Hatur nuhun buat kang Deni Yudiawan dan bang Samuel Lantu redaksi Back toBoseh Pikiran Rakyat Minggu yang telah memberi kesempatan tulisan-tulisanamatir saya dimuat di halaman Back to Boseh. Sedikit kaget, tulisan saya yangdimuat ternyata mencapai 50 tulisan, selama 6 tahun, juga buat bang Aswi B2WBandung, kang Irwan PSBB dan kang Dudi Sugandi serta semuanya yang tidak bisasaya sebutkan satu persatu, yang telah mendorong saya untuk tetap semangatmenulis.Hatur nuhun juga buat para nara sumber tulisan dan foto yang mohon maaf tidakbisa saya sebutkan satu persatu disini.Salam Gowes dan Go Green.Cuham – Bersepeda Itu Baik
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018131PROFILCuham. Begitu banyak orang memanggil, akronimdari Cucu Hambali nama asli saya. Kelahiran KotaBandung tahun 1971. Bersepeda sejak tahun 2008,diawali dengan hobi, kesehatan, rekreasi dansekarang untuk moda transportasi kemana saja,#biketokamanawae.Meski amatiran,menulis adalah aktivitaskegemaranku selain bersepeda. Berbagai opini,liputan, dan pengalaman bersepedaku dicurahkanmelalu tulisan kemudian dikirim ke berbagai mediacetak, salah satunya adalah HU Pikiran Rakyat (PR)Bandung di halaman khusus dunia sepeda bertajukBike to Boseh (B2B) PR Minggu.Namun halaman yang hadir pertama kali pada Januari 2012 tersebut, terhenti ditahun 2019 atau hanya bertahan selama 6 tahun yaitu 2012 sampai dengan 2018.Beberapa tulisan dimuat dihalaman/kolom PR lainnya, berikut riwayat penulisannya:1. Bersepeda dan Gerakan Lingkungan dimuat di halaman Wacana kolomKomunitas Pesepeda, Sabtu, 14/4/2012.2. Jalur Asyik di Atas Sadel, dimuar di halaman Laporan Khusus kolom WisataSepeda, Selasa, 15/5/2012/3. Bandung Jadi Lautan Sepeda, Halaman Selisik, Senin, 27/8/20124. Menjaga Kelestarian Taman Kota, Halaman Features, Senin, 18/10/2012.5. Komunitas Greeners Cycle Monsters Kampanyekan Cinta Sepeda, HalamanCampus kolom Komunitas, tahun 2014.Sejak 2019 tulisan pesepeda dicurahkan ke media berbasis website/digital yaituPortal Sepeda Indonesia dan Metrum pada kanal bertajuk Beib (Bersepeda itu Baik)kolom Reportase, terlebih pada masa Pandemi Covid-19 menulis dan menyusunbuku menjadi aktivitas paling sering dilakukan untuk melawan kejenuhan danmenepis jadi “kaum rebahan”.CUHAM – Bersepeda itu Baik
Bunga Rampai Tulisanku di Halaman BACK TO BOSEHHarian Umum Pikiran Rakyat Minggu Bandung , Tahun 2012 – 2018132Bersepeda itu Baik