The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Yurin Tri Fandiah, 2024-03-21 22:48:05

ANTOLOGI CERPEN PA 1 LD BATCH IX

ANTOLOGI CERPEN PA 1 LD BATCH IX

kata pengantar Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmatNya buku antologi cerpen Laskar Dewantara Batch XI ini dapat kami persembahkan. Pertama, Kami sampaikan rasa hormat kepada Bapak Dr.I Nyoman Ruja, S.U.selaku Pembina dan Adyatma Nugrahsanto Wicaksono selaku Ketua Umum GEMAPEDIA atas bimbingan dan dukungannya,sehingga kami dapat mempersembahkan antologi cerpen pada pengabdian akbar I. Kemudian tak lupa kami sampaikan terima kasih kepada seluruh Laskar Dewantara Batch IX yang telah berpartisipasi dalam penulisan antologi ini. Antologi Cerpen ini merupakan kumpulan cerpen Laskar Dewantara Batch XI yang bertujuan untuk mengarsipkan pengalaman Laskar Dewantara selama melaksanakan Pengabdian Akbar I dalam bentuk karya sastra yang berupa cerpen. Akhir kata, semoga antologi ini bermanfaat bagi berbagai khalayak dan mendapatkan sambutan baik di masyarakat. Malang, 18 Desember 2023 Penyusun


DAFTAR ISI


Perjalanan Singkat Bangun untuk Mengabdi Amandha Dita Alfia Matahari masih beberapa derajat tingginya dari cakrawala timur, menyinari atap-atap kamarku yang tampak melalui jendela. Hangat lembutnya, dan seruan bolu kucingku membuatku terbangun. Burung perkutut dan ketilang liar asik berkukuk dan bercuit di rantingranting beringin memanjang bagai jemari yang mencakar awan. Aku bersiap berangkat ke pencapai cita, kampus melewati lampu merah yang melihat tupai-tupai berlompatan dan berjalan pada tiang listrik tiada rasa takut terbelit. Para mahasiswa asyik bencekrama, ada yang sambil mengerjakan tugas, mengobrol santai, menunggu antrinya lift atau sekadar berjalan menuju kelas masing-masing. Aku telah sampai pada kelasku. Terlihat dari atas banyaknya bermekar ria bunga tabebuya yang cantik, musim semi di bumi tropis dimulai di kampusku. Hari ini setelah seluruh rangkaian kelas yang kompleks dan melelahkan ada janji yang harus kutemui setelahnya. "Tadi malam apa kamu melihat tugas yang banyak pol Al?" temanku bertanya kepadaku. "Yaa aku hanya melihat, masih lama deadline ntar aja wes aku kerjain. Kenapa emang?" jawabku yang tidak terlalu suka membahas tugas di kelas, entah kenapa. "HAHAHA bener banget, yauda ayok keluar habis kelas, ke tempat kerja Awan biasa nongkrong." balasnya "Waduh aku gak bisa, udah janji..." belumku usai bicara "Pasti organisasi kan yaa, hadeh Al, aku kalau jadi kamu capek banget" potongnya sambil mengerutu. Hal yang cukup sering kudengar sehingga kedua telingaku sudah kebal. Aku memang sangat menyukai hal baru, walau menjalani banyak agenda dengan bertarung oleh jadwal. Aku dikenal dengan nama Al, mahasiswi semester 3 sedang megemban pendidikan di kampus yang memiliki 3 kampus terpisah di Jawa Timur. Jam di pojok layar kanan handphone ku sudah menunjukan pukul 17.00 waktunya bergegas menemui Dhani, partner ku dalam organisasi pengabdian. Aku datang lebih awal daripada Dhani, tidak enak awal pertemuan aku awali dengan terlambat. Dhani datang dengan muka polos menenteng tas laptop asus. "Hallo kak Al, lama nunggu kah, sorry tadi dari kos" ucap dani sambil kami bersalaman "Tidak-tidak kok.. santai ajah..." balasku walau sudah setengah jam ku menunggu kedatangannya. Dibawah senja teduh pelita, di gazebo dekat fakultas kami menyusun persiapan. Kami dan teman-teman akan melakukan pengabdian mengajar di desa Kalipare. Sebuah pengalaman berkesan bagi kami, petualangan baru. Kesusahan kami hadapi dalam menyusun RPP dan media belajar dirasakan. "Dhani paham engga, aku buntu banget" ucapku sambil mengerutu kecil "Sama kak, bingung banget eh aku nanya LO kita Kak Esiv." solusi menarik diberikan dari Dhani . Huru-hara dilalui sore itu, lelah melanda setelah mengerjakan RPP dan media. Aku dan Dhani pulang setelah rampung persiapan mengabdi.


Hari berganti secara cepat, sabtu datang petualangan seru siap kami hadapi. Aku datang 2 menit dari waktu yang telah ditentukan, lega hati ini. Semua sudah siap meluncur ke tempat pengabdian masing-masing, aku bersama Ratna di perjalanan kalipare. Topik selalu kami lontarkan di setiap perjalan. Sehingga tidak terasa kami sudah sampai pada SDN 5 Kalipare. Rindang pohon di tepian ruang kelas, riuh anak-anak yang menunggu kehadiran, bangunan yang berjejer rapi, suasana desa sejuk dan ramah dari warga sekitar. Upacara pembukaan pengabdian dilaksanakan, setelahnya kami bergegas menuju kelas masing masing. "Dhani gimana ini mulainya, canggung.." kekhawatiran muncul Kami berada pada 4 siswa yang mungil nan lucu. bertegur sapa dan berkenalan dimulai. Izzul, Musleh, Fia, Nisa. Nama mereka, ke empat siswa tersebut akan kami bersamai selama 4 pertemuan kedeepannya. Jam istirahat berisyarat dari salah satu LO kepada kami. Semua beristirahat bersaama, kantin yang mungil berisikan banyak jajanan kami beli dan nikmati. Hal seperti ini tidak akan kami temukan di kota, langkah-langkah kaki yang berjalan berlari di lapangan. "Dejavu sama masa SD ya, main di jam istirahat bareng baren." celetuk temanku sambil melihat anak-anak. "betul, masa SD itu masa penuh bermain" seru temanku mengiyakan Tak terasa waktu istirahat habis dan kami bergegas ke kelas melanjutkan pembelajaran. Selesai sudah pengabdian di hari pertama, lelah datang setelahnya. Kami kembali ke kota dengan disambut hujan deras melanda, kami terjang dalam perjalanan pulang. Siklus yang sama dalam 3 mingu kedepan pertemuan bersama Dhani sebelum mengabdi, minggu kedua ini sedikit berbeda Dhani belum bisa membersamaiku bertemu 4 anak kelas 5 kami. Pembelajaran hari ini sedikit berbeda, naik satu level dari minggu pertama. "Kak ini bagaimana caranya??" Nisa bertanya kebingungan padaku. "Ada rumusnya engga liat ta?" jawab musleh jahil. "Apasih aku kan nanya kaknya!" jawab Nisa kesal. Aku dan kak Esiv menghentikan suasana jahil ini, kami bermain ice breaking bersama, canda tawa terasa. Setelah pembelajaran kami bersama kelas 4 bermain bareng, kucing dan tikus. Riuh gembira mengerumu di kelas kami, memang benar kelas kami paling terlambat pulang, namun bermaik berasama ini sangat asik untuk diselesaikan. "Sudah cukup ya main nya yaa sudah waktunya pulang" Vika berseru kepada kami. Hari ini ditutup dengan sedikit terlambat pulang, disambut hujan menderas di kota. Minggu ke tiga, akan kami lalui kembali. Semangat membara sudah berkobar, hari ini Dhani belum bisa membersamai kami. Pembelajaran berjalan seperti biasanya, hari ini keriuh an kelas muncul. Izzul dan Musleh yang memulai kembali kejahilan mereka ke Fia dan Nissa, candaan yang dilontarkan juga sudah naik ke level yang lebih tinggi. "Tidak boleh gitu Izzul Musleh Fia Nisa tidak boleh bercanda memangil nama orangtua!" ucap kak Esiv tegas ke mereka. Ke empat anak itu menurut dan duduk manis pada bangku mereka, bosab berlalu bermain ice breaking kami mulai "Bumi itu Bulat" . Hari ini kami tutup dengan kembali ke kota dalam keadaan kering tidak berjas hujan, betul tidak hujan di hari itu. Minggu terakhir kami lalui di hari sabtu, Dhani membersamai kami di pertemuan ke empat. Datanglah kami di kelas 5, sambutan ramah terlontar kepada Dhani setelah 2 pertemuan tidak bersua. Kami belajar bersama, kondusif kelas berjalan, di akhir kami membuat kerajinan bunga dari kresek bekas. Usai sudah kegiatan kami, berpamitan kami ke seluruh penjuru


sekolah. Sedih terasa, harus berpamitan kepada anak-anak. Pertemuan singkat yang mejadikanku mengenal lebih dekat apa itu mengabdi, belajar bersama, cara menghargai perbedaan, beradaptasi di tempat baru, bertemu rekan-rekan hebat yang membersamai. Sorak sorai bergemuruh disepanjang jalan pulang kami, ada hal yang kami tinggalkan untuk mereka, jangan berhenti belajar untuk mengapai cita yang kamu lambungkan di awan. Biodata Penulis Cerpen ini yang tercipta setalah pengabdian dilakukan di SDN 5 Kalipare ditulis oleh Amandha (Man). Mahasiswi semester 3 Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, yang sedang menjalani masa studinya di Universitas Negeri Malang. Perjalanan seru dimulai setelah menjadi bagian dari keluarga Gemapedia, yang dilalui dalam 4 pertemuan.


RODA KEHIDUPAN Awangku Muhammad Di Sebuah kota yang padat akan penduduk, hiduplah seseorang yang bernama Arjuna Sawung Aji, laki-laki ini memiliki nama panggilan yaitu Aji. Aji berasal dari ibu kota Indonesia yaitu kota Jakarta. Aji memiliki masa lalu yang suram hampir seperti tidak memiliki masa depan yang jelas, kenakalan-kenakalan dan juga dunia malam sangatlah akrab dengan Aji seperti balapan liar, judi slot online, tawuran, “main dengan perempuan”, minum minuman beralkohol dan masih banyak sekali kenakalan yang dilakukan aji. Di sekolah pun Aji sering sekali bolos dan hanya datang ketika ada ulangan, ada acara di sekolah atau dia mau masuk sekolah atau tidak. Hal ini dikarenakan orang tua Aji hanya bekerja dan memenjakan Aji, Bahkan Aji sendiri lebih dekat dengan Mbok Iyem pembantu Aji dari kecil. Kenakalan Aji terus berlanjut sampai dititik dia jenuh dengan kehidupan nya, berhari hari Aji memikirkan arti kehidupan yang sebenar benar nya. Terasa janggal di hati Aji semua aktivitas yang ia lakukan selama ini hanya bersenang senang semata hanya mencari validasi diantara para manusia. Pikiran Aji terpenuhi tentang pertanyan pertanyaan arti kehidupan yang sebenarnya. Pagi hari Senin 11 Januari 2022 dikabarkan melalui berita televisi nasional pesawat udara Adam Air penerbangan 574 dengan nomer ekor PK-KKW dinyatakan mengalami kecelakan. Penerbangan domestik dari Manado-Surabaya-Jakarta ini dinyatakan hilang dalam penerbangan di atas perairan Masalembo. Pesawat ini hendak transit ke Surabaya sebelum akhirnya menghilang. Pada tragedi ini, sebanyak 112 orang dinyatakan tewas. Aji yang sedang memakan sereal nya merasa biasa saja setelah melihat berita tersebut, namun ekspresi Aji berubah sampai ketika ia melihat nama kedua orang tua nya yang ada di dalam jajaran korban kecelekaan pesawat tersebut. Aji lupa kalau orang tua nya pernah mengabari kalau januari orang tua nya ingin pulang dari pekerjaan nya tetapi Aji lupa persis tanggal nya. Seketika itu lemas, pusing, perasaan emosi campur aduk menjadi satu di tubuh Aji. Hari Senin yang awal nya ingin berangkat sekolah kini Aji memutuskan untuk menguruung diri dikamar. Mbok Iyem yang hanya bisa melihat dan mengucapkan sabar kepada Aji tidak bisa berbuat banyak. Selang beberapa hari ucapan belasungkawa datang silih berganti. Aji yang kini hanya bisa meratapi foto kedua orang tua nya tanpa bisa bertemu lagi, bahkan kuburan untuk kedua orang tua nya pun tidak ada dikarenakan jasad kedua orang tua nya tidak ditemukan. Setelah kejadian tersebut Aji benar benar merasa terpukul dan memutuskan untuk tidak berangkat sekolah terlebih dahulu selama beberapa hari. Ketika masa berkabung tersebut pertanyaan pertanyaan tentang arti kehidupan yang selama ini Aji cari mulai ia dapatkan. Jawaban tersebut ialah memperbaiki diri dari semua kenakalan dan berusaha belajar untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi dari masa lalu nya. Aji mulai sadar ketika kedua orang tua nya meninggal dunia dan kini Aji benar benar bertekad untuk berubah menjadi lebih baik lagi meninggal kan semua kenakalan yang pernah ia lakukan agar bisa memperbaiki jalan kehidupan yang ia lalui


7 Bulan setelah Aji ditinggalkan meninggal oleh orang tua nya, Aji kini sudah berubah menjadi manusia yang lebih baik, bahkan Aji sudah tidak pernah bermalas malasan lagi untuk ke sekolah dan juga meninggalkan semua kenakalan yang pernah ia lakukan. Teman teman sekolah pun terkejut melihat perubahan yang signifikan pada diri Aji, guru guru memberi apresiasi kepada Aji yang sudah tidak bolos bolos an lagi dan mau menjadi siswa yang terus belajar Waktu terus berjalan Aji kini menjadi siswa kls 12. Seperti yang kita tau bahwa siswa SMA kelas 12 akan menghadapi seleksi ujian untuk memasuki perguruan tinggi negeri. Tentunya Aji juga sudah mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi ujian masuk perguruan tinggi negeri. Sampailah hari dimana seleksi ujian memasuki perguruan tinggi negeri diadakan, Aji mulai mengerjakan dengan serius karena Aji bertekad ingin memasuki perguruan tinggi negeri dan berubah menjadi lebih baik. Setelah ujian selesai hati Aji sangatlah lega, Aji hanya bisa pasrah kepada Tuhan karena Aji tau sendiri kalau pintar nya dia pas pas an dan banyak jawaban yang ia tembak secara langsung. Disela sela hari hari yang kosong Aji memilih membantu paman nya berjualan bakso di malam hari sembari menunggu pengumuman hasil test seleksi ujian perguruan tinggi negeri. Setelah warung bakso paman nya tutup Aji memutuskan untuk beristirahat di warung kopi sejenak dengan memesan secangkir kopi, tak lama kemudian teman teman Aji yang dulu sering mengajak Aji pada kenakalan bertemu secara tidak sengaja di warung kopi “lah lu kan Aji kemana aja lu dichat kagak pernah bales diajakin maen kumpul sama bocah bocah kagak pernah mau sombong banget lu sekarang.” kata Satria sambil menertawai Aji. “iya gua sibuk sekarang jarang ada waktu senggang buat maen, kalo adapun gua pakek buat istirahat.” saut Aji sambil tersenyum, “Yaelah lu sibuk sibuk kayak orang bener aje, udahlah sekarang lu mending ikut gua aje ketempat biasanye. Udah pada rame bocah bocah minum minum, banyak cewe nye juga ini gua lagi beli rokok, lu kagak ikut ape?”, “kagak sat sorry ini gua lagi mau balik pulang” ujar Aji sambil berdiri mau pergi dari warung kopi. “Yaelah ji ji sekarang masih setengah satu udah mau balik rumah aja, pemuda Jakarta gini amat” ujar Satria dengan bernada meremehkan. Aji yang mendengar ucapan Satria tidak ambil pusing ia langsung meninggalkan warung kopi. Selasa, 20 Juni 2023, pukul 15:00 WIB hari yang ditunggu tunggu semua siswa kls 12 akhirnya tiba. Ketika selesai sholat Ashar Aji memberanikan diri untuk membuka hasil pengumuman di web resmi pemerintah alhasil Aji diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di daerah Malang, Betapa gembira nya Aji. Setelah keterima nya Aji di perguruan tinggi negeri Aji mulai menyiapkan semua nya mulai dari mencari kost, membeli barang barang kost,bahkan Aji juga sudah mulai mencari informasi tentang kegiatan kegiatan yang ada di kampus nya nanti. Setelah semua persiapan untuk merantau dan memasuki perkuliahan sudah selesai Aji berpamitan dengan Budhe nya yang selama ini mengganti kan peran orang tua Aji, mulai dari mengurus biaya sekolah Aji, mengurus harta yang ditinggalkan, merawat ketika sakit dan masih banyak lagi peran Budhe dihidup aji yang juga di bantu Mbok Iyem 13 Agustus 2023 berangkatlah Aji merantau ke kota Malang untuk menjadi mahasiswa, sampai nya disana Aji mulai mencari informasi tentang kegiatan kegiatan yang ada dikampus melalui media sosial, Aji tertarik dengan salah satu kegiatan dikampus nya yaitu yang bernama GEMAPEDIA. GEMAPEDIA ini memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia. Aji pun mulai memantau ativitas media sosial GEMAPEDIA


Pagi terus berlanjut dan Aji sudah mengikuti serangkaian acara di kampus mulai dari ospek ditingkat universitas, osepek ditingkat fakultas, dan juga ospek ditingkat jurusan. Perkuliahan pun sudah dimulai Aji. Aji mengambil jurusan S1 Manajemen Aji harus membuat RPP, lagu belajar, dolanan bareng dan media kreativitas Hari demi hari terus berlanjut Ketika GEMAPEDIA membuka pendaftaran open recruitment Aji langsung menyiapkan berkas berkas untuk mendaftar. Serangakaian acara telah diikuti Aji mulai dari forum group discussion, micro teaching, dan wawancara. Tak disangka ternyata Aji lolos dan menjadi salah satu bagian dari GEMAPEDIA. Dengan resmi nya Aji menjadi bagian dari GEMAPEDIA tentunya Aji diundang di first gathering antar anggota yang diadakan di kampus. Di sana Aji mengikuti banyak kegiatan yang dilakukan seperti bermain game, berdiskusi, bahkan Aji mendapatkan teman teman baru lintas jurusan dan lintas angkatan yang berbeda beda. Ketika semua sibuk berbicara satu sama lain mata Aji tertuju pada seorang Sampai pada akhir nya acara pembagian pengabdian di umumkan. Aji kebagian mengabdi di SDN 5 Kalipare, sebelum pergi pengabdian hari yang ditunggu tunggu akhirnya tiba, yaitu melaksanakan pengabdian, semua persiapan dan semua anggota sudah selesai dipersiapkan berangkatlah Aji dan teman teman yang lain menuju SDN 5 Kalipare. Kurang lebih 1 jam setengah perjalanan pada akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Ketika sampai Aji dan teman teman nya melaksanakan apel pagi terlebih dahulu, setelah apel dilaksanakan murid murid langsung kembali ke kelas dan barulah Aji mengajar di kelas Bersama rekan nya. Di kelas Aji mengajarkan tentang kecepatan dan debit, Aji menjelaskan tentang pengertian jarak, waktu dan kecepatan, tak lupa juga Aji mengajari cara menghitung satuan jarak. Pembelajaran pun terus berlanjut hingga jam istirahat. Setelah istirahat murid murid membuat kerajinan tangan dari kresek yang dibentuk bunga yang nantinya diberikan kepada guru guru di SDN 5 Kalipare sebagai bentuk perpisahan. Ketika bel pulang berbunyi dan siswa siswa diminta untuk mengikuti Apel penutupan. Apel telah dilaksanakan mulai dari awal pemberian hadiah hingga akhir penutupan, para anggota dan juga laison officer GEMAPEDIA berpamitan kepada siswa siswa dan guru guru SDN 5 Kalipare. Resmi kini pengabdian telah selesai Aji dan teman teman nya kembali pulang ke kota. Di Tengah perjalanan pulang Aji tertarik kepada salah satu teman nya, Cahya Tiara Kamila dikenal dengan panggilan Mila memiliki paras yang cantik dan juga lucu tentunya juga memiliki sifat pemalu dan pendiam, sebenarnya Aji ingin mendekatinya sedari first gathering tetapi Aji sadar diri dengan ekonomi yang pas pas an dan juga masa lalu Aji yang suram takut membuat Mila kecewa dengan dirinya menyebabkan Aji memendam rasa tersebut dan memilih untuk berteman dengan Mila. BIOGRAFI PENULIS Awangku Muhammad Zuhri Ramadhani lahir di Surabaya 10 Desember 2004. Awang menempuh program S1 Bimbingan dan konseling di Universitas Negeri Malang. Awang sangat menyukai kegiatan di alam seperti ke air terjun, pergi ke pantai, renang di sungai dan juga awang suka mancing.


Menemukan Suara dalam Matematika Izha Tun Nisa Suparno Izha Tun Nisa Suparno, seorang penulis muda dengan latar belakang dalam bidang geografi, memiliki semangat yang menggelora dalam merajut asa guna menggapai cita. Kehidupannya dipenuhi dengan kegemaran dalam eksplorasi diri serta kecintaan pada pertumbuhan pribadi. Dalam kesehariannya, ia menikmati proses belajar dan pertumbuhan, senang mengeksplorasi berbagai hal, serta merasakan kegembiraan dalam setiap langkah pertumbuhannya Izzah dan Vika, dua mahasiswi yang penuh semangat, melangkah dengan penuh harap menuju SDN 5 Kalipare. Mereka terpanggil untuk menjadi pengajar di sana sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat. Setiba di sekolah tersebut, mereka langsung bertemu dengan kelima muridnya: Majid, Iip, Fuat, Maya, dan Andre. Pertemuan pertama dengan murid-murid tersebut tidak mudah. Izzah dan Vika sadar bahwa setiap anak memiliki cerita dan kemampuan yang berbeda. Majid, dengan perlahan, mulai menunjukkan ketertarikan belajar meskipun masih sulit membaca. Iip, dengan senyumnya yang polos, membutuhkan bantuan ekstra dalam memahami konsep matematika. Fuat, anak yang cerdas tetapi kurang percaya diri, sedikit demi sedikit mulai menemukan keberanian untuk bertanya. Sementara Maya dan Andre, dua sahabat yang selalu bersama, menunjukkan semangat yang luar biasa dalam setiap kegiatan. Minggu demi minggu berlalu. Izzah dan Vika tidak hanya mengajar, tetapi mereka juga belajar banyak dari para murid. Mereka menciptakan cara-cara kreatif untuk memudahkan pemahaman, seperti memanfaatkan permainan edukatif dan media pembelajaran yang menarik. Terkadang, tantangan itu membuat mereka merasa putus asa, tetapi semangat untuk membantu setiap murid membuat mereka tidak menyerah. Pada suatu hari, Izzah menemukan Majid yang duduk sendiri di sudut kelas. Dengan lembut, dia mendekat dan memulai percakapan. "Majid, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Izzah dengan penuh kebaikan. Majid menatap Izzah dengan mata yang penuh kebingungan, "Saya rasa sulit, Kak. Saya tidak tahu apakah saya bisa seperti teman-teman saya yang lain." Izzah tersenyum lembut. "Majid, kamu hebat dengan caramu sendiri. Setiap orang memiliki keunikan dan kemampuan yang berbeda. Yang penting, kita terus berusaha untuk menjadi lebih baik setiap hari. Percayalah pada dirimu sendiri.. Pesan yang disampaikan Izzah membawa perubahan yang luar biasa pada Majid. Dia mulai percaya pada dirinya sendiri dan semakin rajin belajar. Di hari terakhir pengabdian, setelah proses pembelajaran yang intensif, para murid


diajak untuk berkreasi. Mereka membuat kerajinan bunga indah dari limbah plastik yang tak terpakai. Izzah dan Vika tersenyum bangga melihat hasil karya para murid. Namun, yang lebih penting adalah transformasi yang terjadi dalam hati para murid. Majid, yang dulunya ragu, sekarang bersemangat mengungkapkan bahwa dia merasa lebih percaya diri dan bahagia. Dalam perjalanan pulang, Izzah dan Vika merenungkan petualangan yang mereka alami. Mereka menyadari bahwa pembelajaran tidak hanya tentang pelajaran di buku, tetapi juga tentang memahami setiap individu, memberikan semangat, dan membangun kepercayaan diri. Pesan moral dari cerita ini adalah bahwa setiap individu memiliki potensi yang unik. Memberikan dukungan, kepercayaan diri, dan kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang positif dalam kehidupan mereka. Dalam setiap langkah kecil yang diambil, ada kemungkinan besar untuk memberikan dampak yang besar. Izzah, Vika, dan para murid telah menunjukkan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan keyakinan pada diri sendiri, segala hal yang sulit pun bisa diatasi.


YUKI’S NEW EXPERIENCE Mutiara Nur Syahawany Dewi Halo, perkenalkan nama saya Mutiara Nur Syahawany Dewi biasa dipanggil Muti. Saya adalah mahasiswa dari Universitas Negeri Malang dari Departemen Pendidikan Luar Biasa Angkatan 2022. Saya berasal dari Kota Pasuruan. Yuki merupakan salah satu volunteer dari sebuah organisasi di kampusnya yang bergerak di bidang pendidikan. Organisasi ini Bernama Gemapedia, salah satu program kerja organisasi ini adalah pengabdian. Yuki merasa bahwa menginjak semester 3 ini dirinya harus mulai aktif dan harapannya dapat memiliki pengalaman baru, akhirnya Yuki menemukan organisasi ini dan mulai bergabung. Pengabdian pertama dilaksanakan di Sekolah Dasar (SD). Seperti yang tertera pada misinya organisasi ini berfokus untuk mengabdi pada sekolah-sekolah yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah dan jauh dari jangkauan kota (terpencil). Pada akhir bulan Oktober mulai dibagikan penempatannya, ada 4 SD yang dijadikan sasaran untuk dilakukan pengabdian. Yuki saat itu bertepatan di sebuah SD yang berjarak kurang lebih 45 Km dari Kota Malang. Pengabdian ini dilakukan 4 kali setiap hari sabtu dalam satu bulan. Yuki berkesempatan untuk mengajar anak kelas 3 SD dan pada saat itu Yuki berpasangan dengan Ana yang akan menjadi partner untuk mengajar anak kelas 3. ‘’ Halo Ana, aku Yuki salam kenal ya. Kamu dari fakultas apa?’’ tanya Yuki membuka percakapan. ‘’Halo salam kenal juga Yuki, aku dari fakultas mipa. Semoga pengabdian kita lancar ya dan nggak ada hambatan dalam mengajar adik-adiknya.’’ Jawab Ana. ‘’ oohh kamu dari mipa, iya Ana aku juga berharap pengabdian kita bakal lancar’’ timpal Yuki. H-3 pengabdian mereka mulai menyusun segala hal yang diperlukan seperti menyusun RPP dan membuat media pembelajaran. Setelah RPP dan media pembelajaran sudah selesai dibuat ini saatnya untuk mempresentasikan hasil yang mereka susun kepada teman-teman satu sekolah dan LO. Presentasi dilaksanakan setiap hari kamis, presentasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu direvisi atau tidak. Tibalah hari sabtu yaitu hari pengabdian pertama kami, perjalanan cukup jauh sehingga kami harus berada di kampus sekitar pukul 05.15 pagi agar pada saat sampai di sekolah tidak terlalu terlambat. Sabtu pertama, dibuka dengan apel pembukaan pengabdian. Hari pertama pengabdian Yuki dan Ana mulai memasuki ruang kelas, saat itu hanya ada 3 siswa yang masuk. Hari pertama berjalan dengan lancar, namun mereka baru mengetahui bahwa ada satu siswa di kelas tersebut yang masih belum bisa membaca. Bertepatan pada hari pertama pengabdian ini dilakukan kegiatan literasi, maka salah satu dari kami membimbing atau mengejakan cerpen literasinya kepada siswa yang belum bisa membaca ini. Proses belajar mengajar pun sudah selesai, saatnya dilakukan evaluasi.


Saat evaluasi mereka menyampaikan kendalanya, yaitu masih adanya siswa yang belum bisa membaca. Ternyata tak hanya ada di kelas mereka, kelas lain juga ada siswa yang belum bisa membaca. Akhirnya LO memberikan saran bahwa teks literasi yang diberikan jangan terlalu panjang dan salah satu dari partner harus mendampingi adiknya untuk membaca dan mengeja. Hal ini mereka jadikan pelajaran dan bahan evaluasi untuk pengabdian minggu kedua besok. Minggu sudah tiba saatnya menyusun RPP dan media untuk minggu kedua. Setiap hari Senin RPP dikumpulkan kepada sekretaris, mereka membuat RPP secara online melalui google document tetapi untuk media pembelajarannya mereka sepakat untuk membuat bersama. ‘’Na, kapan kita bikin medianya?’’. Tanya Yuki melalui pesan whatsapp. ‘’ ohh iyaa kamis kita sudah presentasi ya? Gimana kalo hari Rabu? Kamu bisa kah?’’ tanya Ana. ‘’Aku bisa tapi sekitar jam 3 an gimana? Soalnya aku baru selesai kelas jam segitu.’’ Lanjut Yuki di room chat whatsapp mereka. ‘’Baiklah nggak apa-apa, oh iya itu udah aku kirim list untuk pembagian bawa medianya, apakah kamu keberatan?’’ jawab Ana ‘’ nggak kok sama sekali nggak keberatan aku, oke see you hari rabu ya di kampus.’’ Pada pengabdian minggu kedua berjalan dengan lancar karena pada saat itu siswa yang masuk hanya 2 orang. Hanya saja saat itu mereka harus memikirkan ide untuk mengisi waktu kosong. Seperti biasanya setelah kegiatan belajar mengajar selesai mereka tim satu sekolah beserta LO makan siang dan evaluasi. Seperti biasanya hari minggu mereka gunakan untuk menyusun RPP dilanjutkan hari Rabu membuat media pembelajaran. Tibalah hari sabtu, hari ini adalah minggu ketiga mereka melakukan pengabdian. Sesampainya tiba di sekolah mereka memasuki kelas dan ternyata hari ini siswa kelas 3 masuk semua, jadi totalnya ada 4 siswa pada minggu ini. Pada minggu inilah mereka juga mengetahui bahwa siswa yang tidak bisa membaca tersebut juga tidak bisa menulis, siswa ini masih mencontoh huruf dalam menulis dan masih belum bisa membedakan huruf-huruf. Hal ini mereka sampaikan pada saat evaluasi, mereka mempunyai solusi bahwa untuk siswa ini perlu diberikan belajar menulis melalui garis putus-putus. Menuju pengabdian ke empat ternyata partner Yuki yaitu Ana tidak dapat mengikuti pengabdian di minggu terakhir ini. Ana merasa sedih karena tidak bisa melakukan perpisahan secara langsung dengan adik-adik di sekolah. Yuki pada saat itu bisa mengatasi kondisi kelas, pada saat itu bertepatan dengan Hari Guru jadi saat selesai istirahat siswa membuat bunga yang nantinya akan diberikan kepada wali kelas mereka. Pada saat penutupan apel pengabdian adikadik berpamitan dengan teman-teman, mereka merasa sedih karena sabtu besok sudah tidak bisa bertemu dengan kakak-kakak. Tim pengabdian beserta LO juga merasa sedih harus berpisah dengan adik-adiknya, semoga bisa bertemu di lain waktu ya. Pengabdian ini memberikan banyak pengalaman dan kesan pesan yang sangat baik bagi Yuki. Dirinya mendapatkan banyak sekali pelajaran yang bermanfaat dari pengabdian ini.


Satu Tujuan dalam Perjalanan Pengabdian Nabilla Mahda Susila Sebuah perjalanan tentu memiliki tujuan, bahkan perjalanan yang tidak direncakanpun juga pasti memiliki tujuan. Pengabdian adalah berbagi pengalaman, menilik hal yang belum ditemukan dan menciptakan pelajaran atas nikmat dari Tuhan. Gagahnya sinar yang terbit di Timur menemani semangat sekelompok pemuda untuk menuntaskan aksinya. Sekelompok pemuda itu mengendarai motor beriringan menyusuri jalan perkotaan hingga pedesaan. Di sebuah desa yang terletak satu jam perjalanan dari hiruk-pikuk kota, terdapat sebuah sekolah dasar yang menjadi saksi bisu perjalanan pengabdian sekelompok pemuda itu. Helaan napas dan perasaan lega muncul dari raut wajah mereka setelah sampai di tempat tujuan. “Akhirnya sampai juga,” kata Rara sembari melepas jaket yang ia kenakan. “Aman kan ya semuanya?” tanya Nafisa kepada teman-temannya. “Aman Naf. Ayo langsung aja, itu ada ibu guru di depan kelas,” ajak Indah. “Siap, jangan lupa senyum teman-teman!” Ditemani oleh gairah penuh semangat, mereka membawa bekal pengalaman, ilmu, dan kegembiraan untuk dibagikan kepada murid-murid di Sekolah Dasar 5 Pergerakan. Jabat tangan diulurkan bersama senyuman indah yang merekah oleh ibu guru yang menunggu di depan kelas. “Selamat datang di SDN 5 Pergerakan mas-mas dan mbak-mbak semua. Monggo masuk dulu ke kantor,” ucap beliau dengan santun. “Setiap Sabtu pagi anak-anak dibiasakan untuk berolahraga, mbak, mas. Sampeyan semua ikut nggih nanti.” Sekelompok pemuda itu berkenalan satu persatu. Suasana menjadi hangat ketika celotehan beradu dengan tawa manis orang-orang di dalam ruangan. Rara melihat sekeliling, dilihatnya anak-anak yang berlarian menggunakan kaus olahraga hitam dengan sedikit aksen warna merah dan biru. Ia teringat ketika ia masih seumuran dengan mereka. “Ayo baris yang rapi sesuai kelas masing-masing. Hari ini kita senam anti narkoba,” teriak pak Ari, guru mata pelajaran olahraga di SDN 5 Pergerakan. Para siswa telah berbaris di halaman sekolah yang cukup luas. Rara dan teman-teman juga sudah berjejer rapi di samping dan belakang para siswa. Senam dimulai. Semua orang bersemangat mengikuti alunan musik dari speaker. Usai senam, Rara ingin buang air kecil. Ia bertanya dengan Rasya, siswa kelas 4 SDN 5 Pergerakan. “Halo, nama kakak Rara. Kakak mau tanya, kamar mandi di sebelah mana ya, dik?” “Di samping kantin mbah Jum,” jawab Rasya malu. Rara mencari letak kamar mandi, namun nihil, ia tidak melihat kamar mandi disana. “Boleh minta tolong diantarkan, dik?” “Ayo, mbak.” “Disini mbak kamar mandinya,” kata Rasya sambil menunjuk kamar mandi yang ia maksud. “Okai, Rasya. Terima kasih ya.”


Rara merasa sedih setelah melihat keadaan kamar mandi itu, karena berbeda dengan di daerah asalnya. Kamar mandi tersebut kurang layak. Ketimpangan ini membuat ia semakin yakin dengan tujuan yang ia miliki—memajukan pendidikan. Fasilitas yang memadai tentu penting dalam keberlangsungan kegiatan belajar mengajar, apalagi siswa sekolah dasar yang merupakan pondasi menuju jenjang berikutnya. Sekelompok pemuda itu akhirnya berpencar menuju kelas masing-masing. Rara bersama Sinta bertugas untuk mengajar di kelas 1. Dengan langkah pasti, Rara dan Sinta menggendong ransel berisi media pembelajaran yang telah mereka siapkan dari rumah. “Assalamu’alaikum, halo adik-adik semua,” salam dari Rara dan Sinta kepada siswa di kelas. “Wa’alaikumsalam, halo kakak-kakak,” jawab para siswa dengan malu. Ternyata di dalam ruangan tersebut terdapat dua kelas yang digabungkan, kelas 1 dan kelas 2. Hal tersebut menjadi tantangan untuk Rara dan Sinta ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Usai melakukan perkenalan, siswa bernama Adam terlihat lesu. Ia menyembunyikan kepala di bawah kedua tangannya. Melihat hal tersebut, Sinta menghampiri Adam. “Adam sakit, kah? Ayo diperhatikan materinya,” tanya Sinta. Adam hanya menggelengkan kepalanya. Melihat kejadian tersebut, Sinta meminta tolong Rara untuk menanyakan keadaan Adam. “Adam tadi pagi sudah sarapan?” tanya Rara. Jawaban Adam tetap sama. Menggelengkan kepala. Ternyata Adam belum sarapan pagi tadi, hal tersebut membuat ia lesu. Rara dan Sinta menawarkan roti kepada Adam, Adam menolak tawaran tersebut lalu kembali memperhatikan materi yang disampaikan. “Apakah adik-adik disini sudah sarapan?” tanya Rara. “Belum kak,” jawab mereka serentak. Mendengar pernyataan tersebut, Rara dan Sinta berusaha memberikan penjelasan kepada siswa tentang pentingnya sarapan. “Adik-adik, sarapan itu penting ya, agar kalian dapat memahami pembelajaran dengan maksimal, okay? Bisa juga adik-adik bawa bekal untuk dimakan di sekolah,” terang Sinta. Adik-adik mengangguk paham. Para siswa mengikuti pembelajaran dengan baik, sampai akhirnya waktu istirahat tiba. Rara, Sinta, dan teman-teman yang lain bertemu kembali di kantin mbah Jum, mayoritas dari mereka membeli mie gelas dan es kucir. “Mbok, niki pinten nggih totalipun?” tanya Rara. “Mie dua ribu, es lima ratus mbak,” jawab mbah Jum. Makanan dan minuman yang dijual di kantin mbok Jum memang relatif murah, mengingat uang saku siswa sekolah dasar yang sedikit. Usai istirahat, para siswa kembali ke kelas dan melanjutkan kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran ditutup dengan kegiatan literasi dan numerasi untuk meningkatkan kemampuan siswa. Setiap orang memiliki cerita masing-masing dari sebuah pengabdian. Dengan satu tujuan yang sama yaitu memajukan pendidikan, sekelompok pemuda itu berhasil mendapatkan kesan yang menjadi kenangan di hari-hari yang akan datang. Biografi Penulis Perempuan yang kerap dipanggil Nabilla ini memiliki minat tinggi di bidang pendidikan. Ia sedang menempuh pendidikan program studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah di Universitas Negeri Malang. Jauh dari kabupaten asalnya–Sragen–ia siap mengukir sejarah baru di dalam hidupnya.


BELAJAR DAN MENGAJAR Nahrurroini Asniatur R. Halo semua, perkenalkan aku Rohmah. Seorang mahasiswi yang akan berbagi pengalaman yang tak terlupakan dan memberikan begitu banyak pelajaran hidup selama masa kuliahnya. Cerita ini dimulai pada 22 Oktober 2023, hari dimana aku mendengar kabar bahwa dimana aku akan melakukan pengabdian selama satu bulan dengan empat kali pertemuan. Pengabdian Akbar 1 bersama rekan organisasi ku yaitu GEMAPEDIA. Pengabdian Akbar 1 merupakan salah satu program kerja GEMAPEDIA (Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan) yang mulai tanggal 4-25 November 2023. Pengabdian Akbar 1 dilakukan di beberapa sekolah formal yaitu SDN 3 Dadapan, SDN 3 Bambang, SDN 5 Kalipare, dan SDN 1 Sumberpetung. SDN 5 Kalipare, sebuah sekolah dasar yang terletak di Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang, sekitar kurang lebih 42 km dari kampus ku yaitu Universitas Negeri Malang. Sekolah tersebut merupakan SD terjauh dari tiga SD yang lain dan di situ lah aku akan melakukan pengabdian. Saat mendengar sekolah itu aku bertanya-tanya apa yang membuat SD tersebut dijadikan sebagai tempat untuk tempat kami mengabdi. Setelah dilakukan survey sekolah pada tanggal 28 Oktober, aku pun mengetahui apa alasannya. Pada Pengabdian Akbar 1 (PA 1) ini aku sebagai volunteer yang akan mengajar di kelas 6 bersama dengan partnerku, Tama. Di kelas 6 kami akan mengajarkan matematika yang mana bukan bidang yang sedang kami tekuni di bangku perkuliahan. Sebagai partner mengajar kami bekerja sama dan banyak belajar untuk menjadi seorang tenaga pendidik yang baik. Banyak hal yang harus dipersiapkan seperti membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), media pembelajaran, permainan, ice breaking dan lagu belajar yang itu semua harus dipersiapkan di setiap minggunya. Sungguh pengalaman yang sangat berharga karena dapat mengetahui jika menjadi seorang guru tidak hanya mengajar, akan tetapi banyak hal yang harus dipersiapkan. Minggu pertama, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 90 menit tibalah aku bersama rekan-rekan ku di SDN 5 Kalipare. Perasaan senang, takut, gugup pun menjadi satu yang perlahan mereda melihat senyum sumringah dari adik-adik yang seperti sudah menunggu kedatangan kami. Suasana pembelajaran di kelas 6 pun masih sedikit canggung karena mungkin masih awal, tetapi aku dan Tama berusaha mencairkan suasana agar adik-adik nyaman mengikuti pelajaran. Mereka sangat antusias dengan materi yang kami sampaikan ditambah dengan media pembelajaran yang kami bawa. Dilanjutkan dengan kegiatan pengembangan literasi, yaitu kami menyiapkan cerpen untuk dibaca oleh adik-adik yang tentunya berkaitan dengan materi yang disampaikan. Di minggu pertama ini aku merasa lega karena berjalan lancar meskipun ada sedikit catatan dari LO (Liaison Officier) ku yaitu Kak Evi.


Minggu kedua dan ketiga, kegiatan pembelajaran berjalan seperti Minggu pertama. Akan tetapi pada Minggu kedua, kegiatan pengembangan literasi digantikan dengan dolanan bareng. Disini kami bermain bersama permainan "opposite instruction" yang menurutku sangat melatih konsentrasi bagi adik-adik. Mereka sangat antusias dan tertarik dengan permainan tersebut hingga meminta beberapa kali untuk diulangi. Sedangkan di minggu ketiga, kegiatan pengembangan literasi diadakan kembali dengan cerpen yang tidak kalah menarik dari minggu pertama. Di minggu ke empat yaitu pertemuan terakhir bersama adik-adik. Di minggu ini aku merasa sudah sangat dekat dengan mereka. Kami bisa bercanda gurau bersama, bertukar cerita hingga membuat keterampilan bersama yaitu bunga dari gelas plastik yang nantinya akan diberikan kepada dewan guru dalam rangka memperingati hari guru pada tanggal 25 November. Di hari itu aku merasa sedih dan terharu karena akan berpisah dengan adik-adik di SDN 5 Kalipare. Karena dengan mereka aku tidak hanya mengajar tetapi juga belajar bagaimana menjadi seorang pendidik yang baik, bagaimana cara menghandle kelas ketika tidak kondusif, bagaimana cara menghadapi peserta didik dengan berbagai macam tingkah lakunya. Yang mana itu semua sangat menguras tenaga namun sebanding dengan pengalaman yang aku dapatkan. Tentu saja hal itu akan sulit aku dapatkan di bangku kuliah, namun melalui GEMAPEDIA lah aku dapat belajar berbagai hal tersebut. Selama empat kali aku melakukan pengabdian salah satu momen yang sangat aku tunggu yakni jajan hehe. Jajan di kantin sekolah dan di warung samping sekolah. Berbagai jenis makanan dari makanan ringan hingga berat disediakan dengan harga mulai dari 500 hingga 3000 rupiah. Yang mana harga tersebut termasuk sangat murah dengan porsi yang sudah mengenyangkan perut. Terima kasih saya ucapkan kepada kakak-kakak Dewantara yang sudah bersusah payah menyiapkan kegiatan PA 1 ini sehingga sangat berkesan bagi kami Laskar Dewantara Batch XI. Untuk teman-teman LD kalian semua hebat bisa bertahan dari awal hingga akhir PA 1. Untuk kelompok Sahwahita, terima kasih sudah menerima aku dengan baik dan berjuang bersama-sama selama empat kali pertemuan di SDN 5 Kalipare. Terima kasih GEMAPEDIA. Biodata Penulis Penulis bernama Nahrurroini Asniatur Rohmah. Seorang gadis kelahiran Jember, 08 Juli 2002. Yang sedang menempuh kuliah di Universitas Negeri Malang prodi S1 Pendidikan Kimia semester 3. Saat ini ia sedang mengikuti salah satu organisasi di UM yaitu GEMAPEDIA (Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan).


SEPERCIK ASA DI DESA CAHAYA Ratna Ani Lestari Teriknya sinar mentari pagi mengenai wajahku. Namun tak menghalangi semangatku untuk menempuh perjalanan sejauh 42 km. Tumbuhan sekitar jalan yang belum pernah aku lewati tersebut seolah-olah menari menyambut kedatanganku dan teman-temanku. Aku sangat menikmati perjalanan itu. Sembari menyetir motor merah kesayanganku dengan membonceng temanku yang bernama Amandha, aku mengamati sepanjang jalan yang dilewati dan disertai rasa tak sabar ingin sampai ke tempat tujuan. Aku dan temanku pun berbincang-bincang saat di perjalanan. Menceritakan apa saja yang telah kami persiapkan, dan memastikan bahwa tidak ada satupun yang tertinggal. Sebenarnya perasaanku campur aduk. Antara senang, takut, dan penuh dengan kekhawatiran karena ini merupakan pengalaman pertama kami untuk mengabdi. Belum lagi ketika nanti aku harus menggunakan seluruh tenagaku agar selalu ceria dan tidak murung, karena itu akan mempengaruhi performaku. Setelah menempuh waktu sekitar 1,5 jam, rombonganku tiba di tempat tujuan yakni SDN 5 Kalipare yang berada di Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Pada waktu itu adalah hari pertama kami untuk mengajar di SDN 5 Kalipare. Ini merupakan salah satu program kerja dari Divisi Pengabdian Gemapedia Universitas Negeri Malang, kampusku tercinta. Pengabdian dilaksanakan sebanyak 3 kali. Kali ini merupakan Pengabdian Akbar 1 yang dilaksanakan di lembaga formal, yakni sekolah-sekolah di desa terpencil yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah akan permasalahan pendidikan yang dihadapi. Di Desa Kalipare inilah kami melaksanakan pengabdian selama 1 bulan, di setiap hari Sabtu saja. Sebenarnya setiap kelas diajar oleh dua anak. Namun, dikarenakan temanku berhalangan hadir maka aku mengajar kelas 2 sendiri. Pastinya ada sedikit perasaan takut di awal. Karena aku harus berusaha untuk mendekati anak-anak yang kuajar agar mereka senang belajar denganku. Kedatangan kami disambut oleh wajah-wajah kecil yang sangat lucu di lapangan. “Haloo” ujar kami menyapa wajah-wajah mungil itu. Lalu mereka membalasnya sambil melambaikan tangan. Tak hanya itu, dari kejauhan pun terlihat bahwa para guru juga telah menunggu kedatangan kami. Senyuman indah layaknya cahaya yang terlihat, membuat kami semakin semangat untuk mulai mengajar. Setelah aku memarkirkan motor, aku mengamati lingkungan sekolah itu. Hati ini seperti ingin menangis, karena melihat sekolah yang dapat dikatakan berbeda dengan sekolah-sekolah yang ada di kota. Aku benar-benar mengamati seluruh sekolah. Mulai dari kelas-kelasnya, perpustakaan, hingga kamar mandinya. Sekolah ini sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah karena perlu adanya renovasi akan bangunannya. Lalu kami masuk ke ruang guru dan mengobrol sebentar dengan gurunya. Hal yang mengejutkanku lagi adalah jumlah pendidik yang ada di sekolah ini sebanyak empat orang dengan 1 kepala sekolah yang tidak hanya memimpin sekolah itu saja. Lalu kami membuka hari pertama mengabdi kami dengan upacara pembukaan, dan melanjutkannya di dalam kelas. Dan ternyata kelas 1 dan 2 digabung ke dalam satu ruangan, begitu juga dengan kelas 4 dan 5. Setelah membuka pembelajaran dengan salam, do’a dan menyanyikan lagu nasional, lalu aku


berkenalan dengan anak-anak kelas 2. Kelas 2 seharusnya ada 5 orang, tetapi yang masuk hanya 3 orang, yakni Fina, Safiya, dan Vida. Lalu masuklah ke materi pembelajaran. Kali ini materinya adalah bangun ruang. “Ada yang tau kita mau belajar apa hari ini? Kita akan belajar matematika, siapa yang suka matematika?” tanyaku. “SAYAA” jawab mereka dengan sangat antusias.“Hari ini kita akan belajar tentang bangun ruang. Sebelumnya apakah ada yang tahu apa itu bangun datar?” tanyaku namun tak ada yang menjawab. Lalu aku mengeluarkan bentuk-bentuk bangun datar. “Ada yang tahu ini bangun datar apa?” tanyaku sambil mengangkat bangun datar persegi. “Kotakk” jawab Safiya. Lalu aku meluruskan “iyaa, tetapi namanya yang benar adalah persegi atau segiempat. Apa namanya?”. “Persegii” jawab mereka. “Atau apa? Segi?” tanyaku. “Empatt” Jawab mereka dengan semangat. Lalu pembelajaran dilanjutkan. Setelah pukul 9, saatnya anak-anak istirahat. Lalu aku dan temanku memutuskan untuk pergi ke bangunan kecil yang terdapat dekat dengan ruang kelas 6 namun terpisah. Di dalamnya terdapat ibu-ibu yang memang setiap harinya berjualan disitu. Sambil membeli jajanan, tak lupa kami juga mengobrol dengan beliau. Ternyata beliau sudah berjualan lama di SD ini. Harga-harganya pun sangat murah. Mulai dari 500 rupiah saja. Setelah istirahat, anak-anak masuk kembali ke dalam kelas dan melanjutkan kegiatan kedua yakni literasi dan numerasi. Aku pun membagikan soal literasi dan numerasi yang telah aku print. Aku meminta mereka membaca secara bergantian. Sampailah giliran Fina. Lalu aku bertanya, “Mau kakak bantu?”. Ia mengangguk. Lalu aku bertanya, “Ini bacanya apa?”. Ia tetap tidak menjawab. “B A dibaca?” tanyaku lagi. Fina menjawab, “B A dibaca”. Ternyata ia mengulang apa yang aku katakan. Dari situlah aku menyadari bahwa Fina belum bisa mengeja dan membaca. Hatiku terenyuh karena ia belum bisa membaca sedangkan teman-temannya sudah bisa. Hingga pada akhirnya aku mendampingi Fina dan minta tolong kepada Kak Silvi sebagai kakak LOku untuk membantuku mendampingi Safiya dan Vida. Hari pertamapun selesai. Lalu aku dan teman-temanku pulang kembali ke malang kota. Minggu kedua pun tiba. Aku kembali melakukan perjalanan ke Kalipare dengan membawa segala yang diperlukan untuk mengajar. Angin pagi yang sejuk kembali mengiriku di perjalanan. Terik matahari tak begitu panas di jam 6 pagi. Hingga tak terasa sampailah aku kembali di SDN 5 Kalipare. Aku senang sekali bisa bertemu anak-anak mungil itu lagi. Kemudian pembelajaran dibuka dengan senam di lapangan. Lalu dilanjutkan ke dalam kelas. Masuklah aku ke dalam kelas, dan melihat terdapat 2 cowok di kelas 2, dan ternyata nama mereka Farhan dan Ridwan. Lalu kami melanjutkan belajar dan bermain. Begitu seterusnya hingga minggu ke 4. Di hari terakhir, kegiatannya adalah materi, mengerjakan soal evaluasi dan membuat kerajinan bunga untuk guru karena hari ini memperingati hari guru. Kegiatan pun berakhir. Saat aaku mengucapkan kata perpisahan kepada mereka, sontak air mataku mengalir. Dan aku melihat beberapa dari mereka juga meneteskan air mata. Aku tidak siap harus meninggalkan mereka. Kegiatan dilanjutkan dengan upacara penutupan. Saat siswa menyerahkan bunga kepada guru-guru, aku menangis terharu. Karena aku merasa salut dan bangga kepada bapak dan ibu guru yang telah sabar dan ikhlas mengajari anak-anak Kalipare ini dengan segala sarana dan prasarana yang ada. Bahkan bapak dan ibu guru membuka lebar untuk kami mengajar disana lagi. Aku berdo’a semoga mereka selalu diberikan kesehatan dan kesuksesan. Semoga segala harapan anak-anak dan bapak ibu guru dikabulkan oleh Allah, dan semoga kita bisa dipertemukan lagi suatu saat nanti.


BIOGRAFI PENULIS Penulis bernama Ratna Ani Lestari. Lahir di Banyuwangi, 21 Juni 2005. Alamat asal adalah Lingkungan Karangsem RT 003/RW 002, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Saat ini penulis sedang menempuh kuliah program studi S1 Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Malang.


Menginspirasi Melalui Kasih Sayang Rindianti Pramono Suasana kelas 3 SD di Sekolah Harapan Cerah sangat ceria. Hari itu, Bu Wati, seorang guru muda yang penuh semangat, berdiri di depan kelas dengan senyum ramah di wajahnya. Di antara murid-murid yang riang gembira, ada seorang anak bernama Dika, seorang bocah berwajah ceria namun agak pemalu. Bu Wati terkenal sebagai guru yang penuh kasih sayang. Setiap hari, dia berusaha menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan memotivasi anak-anaknya. Tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga memberikan perhatian khusus pada setiap muridnya. Salah satu kebiasaan Bu Wati adalah membacakan cerita inspiratif setiap hari sebelum memulai pelajaran. Hari itu, Bu Wati membawa buku cerita tentang seorang anak kecil yang memiliki impian besar. Semua mata anak-anak terpaku pada buku itu, termasuk mata Dika yang berbinar-binar. Setelah selesai membaca, Bu Wati berkata, "Anak-anak, setiap dari kalian memiliki potensi besar dan impian yang tak terbatas. Ingatlah, kalian bisa mencapai apa pun yang kalian inginkan asal kalian bekerja keras dan tidak pernah menyerah." Dika, yang selalu merasa kurang percaya diri, merasa terinspirasi oleh kata-kata guru tersebut. Suatu hari, setelah pulang sekolah, Dika memutuskan untuk berbicara dengan Bu Wati. "Bu, apakah saya bisa menjadi seperti tokoh dalam cerita tadi? Saya ingin memiliki impian besar dan menjadi orang yang sukses," ujar Dika dengan penuh semangat. Bu Wati tersenyum dan berkata, "Tentu saja, Dika! Kamu memiliki potensi besar. Aku akan selalu mendukungmu. Mulailah dengan memiliki impian dan terus berusaha untuk mencapainya. Sejak hari itu, Dika mulai mengubah pola pikirnya. Dia rajin belajar dan aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah. Bu Wati selalu memberikan dorongan dan dukungan padanya. Setiap kali Dika merasa lelah atau kehilangan semangat, Bu Wati selalu ada di sana untuk mengingatkannya akan potensi dan impian besar yang dimilikinya. Tidak lama kemudian, prestasi Dika mulai mencuat. Dia menjadi juara dalam berbagai perlombaan, baik di bidang akademis maupun non-akademis. Kesuksesannya tidak hanya membahagiakan dirinya sendiri, tetapi juga membuat Bu Wati bangga sebagai seorang guru. Dari kisah ini, anak-anak di Sekolah Harapan Cerah belajar bahwa kasih sayang seorang guru dapat menjadi kunci untuk membuka potensi tersembunyi anak-anak. Bu Wati tidak hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga memberikan motivasi dan dukungan yang membantu mereka tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sukses.


Pengabdian Pertama Aini Siti Aisyah Di suatu pagi dimana mataharipun masih belum memancarkan sinarnya, Aini terbangun. Kala itu, Aini sangat antusias untuk memulai hari pertama pengabdian. Aini sudah bersiap dan bersemangat untuk mengukir pengalaman baru dalam hidupnya. Perjalanan jauh dan memakan waktu yang lama, tidak jadi masalah bagi Aini. Ia pun tiba di sekolah yang menjadi tempat pengabdiannya selama 4 minggu ke depan. Kelompok pengabdian kami disambut dengan senyum dan sapa yang hangat dari adik-adik di sekolah tersebut. Teruntuk Aini yang sedikit sulit beradaptasi dengan orang baru apalagi dengan anakanak, membuatnya harus berani keluar dari zona nyaman. “Ayo adik-adik baris yang rapi, kita senam dulu” ucap Aini dengan nada kecil dan raguragu. Walaupun rasa canggung itu masih melekat dalam diri Aini, namun Ia berusaha untuk berani berbicara dan mengajak adik-adik untuk berbaris dengan rapi. Rasanya sulit, namun Aini yakin jika dibiasakan juga akan bisa. Senampun pun dimulai, Aini mulai mengikuti instruksi senam yang dipimpin oleh adikadik di SD tersebut. Gerakan demi gerakan Ia mulai menikmatinya. Setelah kami selesai senam, kamipun mengajak adik-adik untuk segera kembali ke kelas untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya. Momen yang paling membuatnya deg-degan pun dimulai. Aini mulai memasuki kelas dan mempersiapkan segala keperluan untuk mengajarkan materi yang akan Ia bawakan untuk adik-adik. Awal kegiatan masih aman, karena kebetulan partner mengajarnya yaitu Meza sedang melakukan tugasnya untuk membuka kegiatan pembelajaran. Kini saatnya masuk ke penjelasan materi, dimana Aini yang bertugas untuk menjelaskan materi kepada adik-adik. “Perkalian merupakan penjumlahan yang berulang, yang ber apa adik-adik?” tanya Aini setelah menjelaskan konsep perkalian. “Yang berulang” jawab adik-adik dengan penuh semangat. “Sip, pintar semuanya” ucap Aini. Setelah menjelaskan konsep perkalian, kamipun memberikan beberapa latihan soal untuk melatih kemampuan siswa dalam memahami konsep perkalian yang sudah kami ajarkan. Kamipun berkeliling meja ke meja adik-adik dan mendapati siswa yang belum cakap membaca. Dia bernama Uci. Kamipun sempat melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya. “Uci sudah bisa membaca?” tanya Aini. Dia menggeleng Kamipun menanggapi responnya, “Kalau huruf apa sudah hafal?” “Sudah” jawabnya pelan sambil mengangguk. Setelah mendengarkan jawabannya, Aini mencoba membantunya dalam mengeja, namun yang Ia dapati yaitu dia hanya tahu beberapa huruf saja. Akhirnya dengan penuh kesabaran, Aini-pun membantu mengejanya walau harus diberi contoh terlebih dahulu.


Sekalipun sudah membantunya mengeja, dia tetap masih kesulitan dalam mengulangi kata yang sudah dibantu ejakan tadi. Walaupun dia merasa belum bisa membaca, namun semangatnya dalam mencoba membaca cukup tinggi, sehingga membuat Aini semakin bersemangat dalam membantunya belajar membaca. “Uci, di rumah nanti belajar lagi ya, belajar menghafal huruf-huruf terlebih dahulu” pesan Aini kepada Uci setelah membantunya dalam mengeja. Dia pun menggangguk pelan menandakan bahwa ia mengerti. Setelah mengetahui seberapa jauh kemampuannya dalam menulis dan membaca, kamipun dengan bergantian memberikan perhatian khusus kepada Uci. Waktu istirahat tiba Aini dan Meza beristirahat di dalam kelas. Kamipun dihampiri oleh salah satu adik kami, dia bernama Fina. Kalau diperhatikan, Fina ini terbilang pintar karena dia sudah bisa membaca, menulis, berhitung, bahkan ia juga mampu mengikuti materi yang kami bawakan. Ia pun juga terlihat sangat antusias dan bersemangat dengan kedatangan kami. Kamipun berbicara santai kepadanya. “Fina sudah jajan?” tanya Meza. “Sudah kak” jawabnya sambil tersenyum. “Jajan apa tadi?” tanya Aini. “Jajan mie kak” “Wah mienya enak ya?, tapi jangan sering-sering jajan mie ya dik, kurang bagus buat kesehatan” nasehat Aini. “Iya kak” jawabnya. “Oh iya, Uci itu memang belum bisa membaca ya?” tanya Meza. “Belum kak” “Kalau gitu, Fina kan teman yang baik ya buat Uci, minta tolong ya Fina dan temanteman yang lainnya supaya Uci dibantu belajar membaca, ya?” Ucap Aini. “Sudah kak, dia memang gak mau belajar” jawabnya dengan polos. Kamipun kaget mendengar jawaban itu. Ternyata memang dari diri sendirinya pun tidak ada motivasi maupun semangat dalam belajar. Tidak berselang lama, waktu istirahatpun sudah berkahir dan kini adik-adik mulai bersiap kembali untuk mengikuti kegiatan pembelajaran selanjutnya. Adik-adik diberi cerita yang berisikan soal matematika terkait dengan materi yang kami bawakan pada hari tersebut. Kamipun bergantian mendampingi Uci ketika teman-teman yang lainnya sedang membaca. Setelah selesai membaca, mereka harus mengerjakan soal yang ada pada cerita tersebut. Merekapun secara bergantian menjawab satu per satu soal tersebut. Kini giliran Uci yang mencobanya. “Sekarang giliran Uci ya untuk mencoba menjawab soal yang ada di cerita itu” ucap Aini. Ia pun berjalan mendekat ke papan tulis, kami sengaja memberikan kesempatan kepada Uci terlebih dahulu untuk mencoba menyelesaikan soal secara mandiri. Namun, hal yang tidak diduga adalah ketika teman-temannya saling membantu Uci untuk menyelesaikan soal tersebut. “Ditulis 3 dulu karena ada 3 keranjang, baru dikali 2 karena isi jeruk di tiap keranjangnya 2” ujar Fina yang membantu Uci dari tempat duduknya.


Setelah Uci menyelesaikan soal tersebut, kamipun bersama-sama memberikan tepuk tangan kepada Uci. “Bagus Uci, beri tepuk tangan buat Uci” ujar Aini kemudian diikuti suara riuh tepuk tangan dari teman-temannya. Akhir pembelajaranpun tiba, tak lupa kami memberikan motivasi dan semangat kepada adik-adik agar senantiasa bersemangat dalam belajar. Kamipun mulai melangkahkan kaki meninggalkan kelas dengan kondisi tenaga yang sudah sangat terkuras, tetapi kami sangat senang bisa membantu adik-adik dalam belajar. Di sisi lain kamipun juga bisa belajar lebih sabar berkat adik-adik. Biodata Penulis Namanya adalah Siti Aisyah, biasanya dipanggil Ais. Lahir di Malang, pada 14 Maret 2004. Ia merupakan anak sulung dan kakak bagi adik laki-lakinya. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi di Universitas Negeri Malang. Program studi yang Ia tekuni yaitu Pendidikan Matematika.


Satu, Dua, Seribu Syandi Putra Pratama Sangat luas namun hangus dan rata. Tersisa satu pria yang wajahnya tidak lagi bebas akan kerutan di suatu daerah dengan langitnya yang masih sedikit merah dan gelap. Tidak terpikirkan olehnya apapun melainkan raut muka penyesalan dan ketakutan. Ia memutuskan berjalan dan berharap menemukan sesamanya. Kemudian, keheningan yang sebelumnya sangat keras dipecahkan oleh rintihan suara tangisan anak laki-laki yang menangisi wanita dewasa disampingnya yang sangat mirip dengan sang anak dari helai rambut hingga kukunya. Pria itu lalu menunjukkan keahliannya dalam sulap. Gemerlap permainan sihir yang ia tunjukkan ke anak tersebut memercikkan kekaguman dan dari detik itu, mereka akan berjuang bersama. Berdua mereka belajar. Sang anak ingin tahu akan kekuatan sihir dan sang pria berhajat akan mewariskan apa yang dia kuasai. Sudah tak terhitung berapa kali laron-laron menyapa di akhir tahun dan mereka masih saling menggali ilmu di bawah atap rumah yang sederhana. Kini, sudah banyak lekukan di wajah sang pria yang menjadikannya seorang kakek dan sang anak lihai menggunakan ilmu-ilmu sihirnya dengan cita-citanya menjadi penyihir tersakti sejagat. “Mungkin aku bisa saja mendapat akhir yang lebih baik. Namun, bersyukurlah aku dengan yang saat ini,” pikirnya sang kakek, mengira akan kembali kepada sang pencipta dengan damainya. Namun, adegan mengenai masa lalu paling terpuruk sang kakek tiba-tiba mendekap di pikirannya selama beberapa kedip mata. Tidak hanya sebagai cuplikan dikala lamunan, hal itu seakan akan menjadi pertanda. Tiupan terompet dan gertakan kaki makhluk-makhluk besar terasa bahkan jika seseorang sedang dalam sekaratnya. Setiap sendinya bergetar seakan ingin melepaskan diri dari raga. Tak sempat muridnya, sang penyihir muda, menggambarkan betapa inginnya dia untuk beradu ilmu dalam medan pertarungan, sang kakek memegang pundaknya dan menggunakan ilmu sihirnya untuk berpindah tempat sejauh mungkin. Muram, masam, dan kecewa terwadahi dalam wajah sang penyihir muda. Tepat saat setelah ia mengeluarkan beberapa sajak penuh nada amarah, gurunya yang terlihat tidak begitu berdaya itu pun tak sadarkan diri. Sang penyihir muda dengan cekatan menggunakan ilmu penyembuhannya hingga ia ditepuk oleh seorang anak kecil. “Kakek itu terlihat kelelahan. Sepertinya ibuku bisa membuatkan bulatan-bulatan pahit untuknya,” anak kecil itu berkata. Sang penyihir muda itu pun membopong gurunya dan mengikuti anak kecil tersebut dengan muka yang sedikit kebingungan. Beberapa jam berlalu, sang kakek mengakhiri perjalanannya di alam bawah sadarnya dan bertanya selayaknya orang awam yang sedang tersesat. “Dimana aku?” kakek itu bertanya. Sang penyihir muda mengaduk teh yang masih berasap lalu menjelaskan beberapa hal secara


perlahan. “Sihirmu dan takdir yang ditulis dewa-dewa membawa kita ke rumah ini. Kita telah disambut dengan ramah oleh penduduk negara Akasia,” ujar sang penyihir muda. Sang kakek yang belum tersadar sepenuhnya tiba-tiba diserang oleh satu pesawat kertas di kepalanya. Kemudian, satu anak kecil mencari pesawat mainannya dan menyapa sang kakek. Tak berdaya untuk marah, sang kakek berusaha menjawab sapaan dari anak itu. Sang penyihir muda tersenyum menahan rasa ingin tertawa. Ibu dari anak kecil itulalu datang dan menyambut sang kakek yang baru saja bangun. Tidak dengan tangan kosong, sang ibu membawakan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya. Tanpa memiliki inisiatif untuk mengajak muridnya makan juga, sang kakek menerima sepiring kebahagian itu dengan mulut yang mulai berair. Seakan tak perlu mencucinya, piring yang penuh dengan pemuas lidah dan perut itu sangat bersih dan tidak lagi penuh. Setelah itu, sang penyihir muda mengajak gurunya untuk menghirup udara sekitar sembari jalan - jalan. Anak anak sebagian hanya berlarian, bermain, atau beberapa dari mereka yang lebih besar membantu orang tuanya mencari kayu untuk membuat makan malam. Ibu-ibu di belahan bumi ini tidak ada bedanya dengan yang mereka tahu. Berkumpul di teras rumah dan memulai perbincangan dengan “Eh, kalian tahu, kah?” adalah yang ibu-ibu di tempat ini lakukan. Pohon - pohon dan langit yang masih biru menenangkan jiwa dan raga mereka berdua. Sang kakek masih menatap ke atas, melihat langit. Perlahan namun tidak sembunyi-sembunyi, sang langit berubah perlahan menjadi merah dan gelap. Bola mata sang kakek lalu tidak berhenti berpindah-pindah seakan akan orang yang sedang mencari bantuan. Detaknya yang mendahului detaknya jam tiga kali lipat. Tenggorokannya yang sedang menahan teriakan dan pikirannya yang hampir menggelap lagi. Kemudian, sang penyihir muda berteriak sambil menggertakkan pundak sang kakek. Sepuluh detik lamunan yang menyiksa, sang kakek sadar dan menatap muridnya. “Janganlah kau terlalu egois sepertiku. Buatlah banyak salinan dari dirimu,” ucap sang kakek yang kemudian kehilangan kesadarannya lagi. Sang penyihir muda tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan gurunya. Sampailah ia pada suatu gagasan bahwa ia harus menguasai teknik sihir untuk menggandakan diri. Tanpa dampingan dari gurunya, ia memutuskan untuk menempuhnya sendiri dengan bertapa di bukit yang tak jauh dari pemukiman. Tidak ada niatan untuk mewariskan. “Aku akan menjadi yang nomor satu dan menyelamatkan semuanya,” dalam batin sang penyihir muda Sang kakek yang telah kehilangan kesadaran selama beberapa jam akhirnya bangun dan beranjak dari tempat tidurnya di rumah ibu tadi. Satu hal yang langsung terlintas di pikirannya adalah tentang keadaan muridnya. Ia mencari dimanakah murid kebanggaannya itu membangun perguruan atau semacamnya. Melihat sang kakek yang tiba - tiba di luar rumah, sang ibu terlihat sedikit terjekut lalu bertanya kepada sang kakek. “Kakek sebaiknya tetap di kamar saja. Apa yang kakek cari dengan tergesa-gesa?” sang ibu bertanya. Sang kakek pun menjawab bahwa ia mencari muridnya. Menunjuk ke arah bukit, sang ibu memberi tahu bahwa muridnya sedang bertapa disana. Sang kakek terlihat tidak puas dengan jawaban itu. Kerasnya suara tetesan air dipecahkan oleh suara telapak kaki sang kakek. Sang penyihir muda yang menyadarinya sontak bertanya akan keadaan sang kakek. Menghiraukan pertanyaan itu, sang kakek bertanya balik tentang apa yang dilakukan sang penyihir muda. Dengan bangganya, penyihir muda mengatakan bahwa ia hampir menguasai teknik penggandaan diri. “Mengajar dan mewariskan. Itulah yang aku maksud,” sela sang kakek. “Mengapa aku harus


mengajarkannya ketika aku bisa menguasai semuanya sendiri,” tanya sang penyihir muda dengan nada yang sedikit congkak. “Aku rasa ini saatnya kau tahu. Aku juga tidak bisa membiarkan ini terjadi lagi,” ucap sang kakek yang kemudian memberikan sebuah penglihatan masa lalu kepada sang penyihir muda. Tangis haru dan raut muka ketakutan tergambar jelas di muka sang penyihir muda selepas mengetahui bahwa musuh yang akan ia hadapi adalah bangsa yang menghilangkan kehangatan pelukan orang tuanya. Penyesalan sang kakek akan keegoisannya, kesombongan nya yang mengira ia bisa menanganinya sendiri, juga dirasakan oleh sang penyihir muda. Satu hal terakhir yaitu ia memahami betapa bersyukurnya sang kakek menemukan dirinya. “Kau adalah harapanku dan semua orang yang ada di negara ini juga akan menjadi harapan-harapanmu,” ucap sang kakek. Tercerahkan oleh nasihat gurunya, sang penyihir muda menegaskan langkahnya untuk membuat sebuah perguruan. Semua penduduk negara Akasia dari yang masih belia hingga yang hampir melewati masa jayanya melatih setiap sel tubuhnya untuk menguasai ilmu-ilmu sihir. Negara Akasia semakin kuat dan tangguh. Berbulan-bulan mereka berlatih hingga pada suatu hari terdengar suara dengungan terompet dan gertakan kaki makhluk - makhluk besar. Sang kakek memang tidak sekuat dan sesakti seperti saat masa jayanya. Akan tetapi, di peperangan kali ini, ia tidak sendiri. Biodata Penulis Nama saya Syandi Putra Pratama. Saya lahir dan tumbuh di Malang untuk sejauh ini. Saya adalah mahasiswa pendidikan bahasa Inggris di Universitas Negeri Malang dan sedang mengikuti organisasi Gemapedia. Di Gemapedia, saya mendapatkan pengalaman baru dari pengabdian pertama yaitu mengajar dan belajar bersama adik-adik dan teman-teman mahasiswa lainnya. Hal tersebut menjadi pondasi saya menulis cerita pendek tersebut. Saya sangat berterima kasih akan semuanya dan semoga bisa melukis pengalaman-pengalaman lainnya bersama.


SONYA'S JOURNEY TEACHING AND LEARNING Vika Cahya Kurnia Vika Cahya Kurnia, perempuan kelahiran kota Malang tahun 2002 yang berkuliah di Universitas Negeri Malang dan mengambil program studi PGSD. Setiap manusia akan mengalami sebuah titik terendah dalam hidupnya. Titik itu datang diwaktu yang tidak pernah bisa diperkirakan. Titik itu menyebabkan banyak perubahan dalam hidup seorang manusia. Kepribadian, keinginan, cita-cita, dan semangat hidup. Beberapa orang berhasil melewati titik itu dan bangkit. Namun, beberapa orang gagal dan memilih lari dari kenyataan hidup yang mereka hadapi. Semua peristiwa ini semakin terkuak semenjak terjadinya pandemi yang menyerang dunia ini sejak awal tahun 2020. Tak berbeda dengan Sonya, seorang gadis berusia 18 tahun yang duduk di bangku kelas 12 SMA yang mengalami titik terendahnya pada pertengahan tahun 2021. Pada tahun itu, rasa sakit dan muak saat melihat pertengkaran di antara orang tuanya yang selalu berhasil dia redam dengan banyaknya kegiatan mulai menumpuk dan menjadi racun dalam setiap nafasnya. Gagalnya dia dalam ujian masuk perguruan tinggi juga menambah perasaan sesak yang dia alami. Belum lagi tambahan bumbu-bumbu pelengkap di mana setiap orang bertanya tentang kegagalannya semakin memeras jantugnya. Sonya, yang merupakan lulusan dari SMA terbaik di kotanya menjadi semakin terbebani oleh almamater yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, pertengahan tahun 2021 menjadi tahun terberat bagi Sonya. Karena tidak sedikit peristiwa yang dialami olehnya pada tahun itu. Hingga pada tahun 2023 dia berhasil masuk kesalah satu perguruan tinggi negeri di Malang yaitu Universitas setelah merasakan kegagalan sebanyak tiga kali dalam ujian masuk perguruan tinggi. Ia pun memutuskan untuk melepas apa yang menjadi usaha dan doa nya selama tiga tahun ini dan mengikuti jalan yang diinginkan oleh ibunya. Saat itu ia merasa bahwa hasil telah menghianati usaha yang dia lakukan. Meski pada awalnya terasa sulit, Sonya terus berusaha untuk ikhlas dan mulai fokus pada hal-hal yang bisa ia lakukan daripada terus tenggelam dalam keterpurukan yang ia alami. Ketika pertama kali memasuki kelas ia mulai berkenalan dan berteman dengan beberapa teman perempuan sekelasnya. Salah satu dari para perempuan itu adalah Aina. Suatu hari, Aina mengajaknya bergabung dengan UKM Gemapedia yang jujur saja baru ia dengar hari itu. “Sonya, ada kepikiran ikut UKM ga?” Aina membuka percakapan ketika mereka sedang duduk di kantin. Sonya yang sedang fokus memikirkan menu yang akan dia pesan menoleh dan merasa tertarik dengan obrolan ini. “UKM ya… hmm, entahlah. Mungkin semester 3? Kenapa?”


“Gapapa sih, aku cuma mau ngajakin kamu ikut Gemapedia,” balas Aina. “Emang Gemapedia itu apa?” Sonya mulai penasaran tentang apa gemapedia itu dan Aina pun menjelaskan tentang gemapedia yang merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan. Terpesona, Sonya menerima ajakan tersebut dan menemukan hal yang ia nantikan. Pengabdian akbar, salah satu proker dari Gemapedia. Setelah melewati seleksi yang cukup panjang, Sonya berhasil lolos dan mulai bersiap untuk pengabdian yang akan berlangsung setiap hari Sabtu di bulan November. Ini adalah pengalaman pertama yang mendebarkan bagi Sonya. Maka, bersama dengan partner yang akan menemaninya selama satu bulan, Raisa. Mereka pun mulai mempersiapkan pengajaran yang akan mereka ajarkan di Sekolah Dasar yang akan menjadi tempat mereka mengabdi. Dengan penuh semangat ia mempersiapkan dirinya dengan matang untuk memastikan pengabdian berjalan lancar.Pertemuan yang dia lakukan dengan Raisa menjadi momen yang penuh antusias. Mereka secara bersama-sama mulai membahas rencana pembelajaran dan membuat media pembelajaran. Dengan pengabdian ini Sonya menemukan banyak pengalaman. Salah satunya adalah tentang bagaimana dia bisa menyesuaikan diri dan moodnya dalam menghadapi anak-anak. Hal ini menjadi pengalaman berharga bagi dirinya yang kini menjalani kuliah dengan program studi PGSD. Walaupun banyak kesulitan yang ia alami, ia tidak merasa berkecil hati. Dia justru semakin bersemangat meskipun terkadang ia tetap merasakan lelah. Tapi rasa lelah itu seolah menguap ketika anak-anak yang diajari memahami materi yang diajarkan. Ia merasa bahagia dan antusias di waktu yang bersamaan. Pengalaman ini benar-benar menumbuhkan semangat dalam diri nya untuk terus bangkit dan berjuang dalam menciptakan jalan baru yang akan ditempuh nya. Suatu hari, ketika dia sedang mengajarkan huruf pada salah satu siswa yang masih belum bisa membaca. Siswa itu ngambek karena merasa lelah. Pada saat itu tentu saja, Sonya yang masih dalam pengalaman pertamanya sedikit bingung dan sedih. Akan tetapi hal itu semakin meningkatkan semangatnya untuk mulai memahami karakter anak-anak dan mencari cara mengatasinya. Sonya pun menyadari bahwa setiap anak memiliki keunikan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Pengalaman mengajar selama empat minggu di Sekolah Dasar yang menjadi tempat pengabdiannya. memberikan pelajaran berharga bagi Sonya. Semakin ia mengajar, semakin ia menyadari bahwa menjadi seorang guru bukan hanya soal memberikan pengetahuan, tetapi juga tentang memahami dan menghargai perbedaan setiap anak. Saat hari terakhir pengabdian tiba, Sonya merasa sedih karena harus berpisah. Meskipun singkat, pengabdian ini memberikan banyak pelajaran berharga dan membantu Sonya menemukan tujuan baru dalam hidupnya. Yaitu, menjadi seorang guru yang baik dan mampu mendidik dengan penuh dedikasi. Dan dengan senyum melintas di wajahnya, Sonya menatap masa depannya dengan keyakinan. Pengabdian ini bukan hanya sebuah tugas, tetapi sebuah perjalanan penuh makna yang membawa perubahan positif dalam hidupnya.


Merajut Asa Untuk Anak Bangsa Yara Annatsa Suara desiran air bendungan kembali mengingatkan akan sebuah kenangan yang sangat berarti untukku. Ingatan itu membuka kotak memori yang berisi banyak kenangan indah selama pengabdian akbar di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Kalipare. Untuk membuka kembali kenangan yang telah usai, perkenalkan aku Yara Annatsa salah satu mahasiswa semester 5 jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Negeri Malang. Aku memutuskan untuk bergabung dalam sebuah organisasi yang sangat bermanfaat yang bernama Gemapedia. Mungkin untuk sebagian mahasiswa tidak tahu apa itu organisasi Gemapedia termasuk aku yang merupakan mahasiswa dari kampus 2. Memang untuk mahasiswa kupu-kupu sepertiku yang mungkin hanya tahu kegiatan di kampus 2 saja, aku merasa sangat kecewa. Kekecewaan yang kurasakan karena mengapa aku baru mengetahui organisasi ini pada saat memasuki semester 5. Kenapa aku tidak mengetahuinya sejak lama, mungkin sejak semester 1. Tapi semua itu tak mengapa, apalah arti kata terlambat untuk belajar dan membagi ilmu. Semua ini memang sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta, agar aku bisa berkontribusi langsung dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kondisi generasi bangsa tak hanya yang berada di pusat kota tetapi mereka yang bertempat tinggal di pelosok desa. Untuk itu tulisan ini aku peruntukkan untuk dapat membuka kenangan indah tersebut, dan inilah kisahku. Pagi itu suara ayam berkokok dan adzan berkumandang, ya itu suara adzan subuh. Aku bergegas bangun dan bersiap-siap untuk berangkat menuju kampus untuk berkumpul bersama laskar dewantara dan dewantara lainnya di depan Sasana Budaya. Pagi itu dengan perasaan riang gembira ku persiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan dan segera berangkat menggunakan sepeda motor kesayanganku. Setelah semua berkumpul waktu menunjukkan pukul 05.45 dan kami semua berangkat menuju sekolah dasar yang menjadi tujuan kegiatan pengabdian akbar ini. Kelompok kami memang mendapat sekolah yang paling jauh, yang mana untuk perjalanannya mencapai 42 km. Memang bukan perjalanan yang singkat, tetapi kami berangkat dengan perasaan yang menggebu-gebu untuk segera sampai di lokasi tujuan. Waktu demi waktu sudah terlewati, jalan lubang dan berkelok-kelok telah kita lewati. Bahkan kita melewati jalanan kecil pinggiran bendungan yang sudah mengering karena cuaca kemarau. Desa demi desa sudah banyak kita lewati dan akhirnya kita memasuki Kecamatan Kalipare. Saat memasuki kecamatan itu hatiku langsung dag.. dig.. dug dalam hatiku berkata “wahh ternyata kita sudah dekat dengan tujuan.” Kita sudah dekat dengan SDN 5 Kalipare yang menjadi lokasi pengabdian. Baru saja sepeda motor kami memasuki gerbang sudah disambut antusias dengan siswa disana. Yang membuat kami terharu juga karena sambutan dari guru yang sangat hangat menyambut kedatangan kita. Sesampainya disana kami langsung mengatur posisi untuk melakukan apel pembukaan kegiatan. Sound system dan mic sudah dipersiapkan dengan baik oleh pihak sekolah. Setelah apel dilaksanakan kita langsung mengajak siswa untuk memasuki kelas masing-masing. Dan disinilah awal perkenalan manis dengan murid kelas 1 yang sangat imut dan menggemaskan. Luthfi, Firman, dan Aisyah itulah ketiga siswa yang saat pertemuan


pertama masuk di kelas. Tetapi sayangnya pada pertemuan pertama ini salah satu siswa tidak hadir yaitu siswa bernama Kodir. Jam menunjukkan pukul 11.00 yang menandakan jam pembelajaran telah usai. Perpisahan pun tak terelakkan, kami segera menutup pembelajaran dan melihat mereka berjalan menjauh untuk pulang kerumah masing-masing. Pertemuan kedua pun akhirnya tiba. Selama seminggu ini aku ingin segera bertemu dengan senyum manis dan tawa dari siswa kelas 1. Betapa bahagianya aku ketika memasuki kelas melihat kelas sudah lengkap siswanya. Hari ini Kodir sudah bisa bergabung dan bermain bersama di kelas. Tetapi pada pertemuan kedua ini kelas sudah semakin ramai dan mulai tidak kondusif seperti sebelumnya. Ditambah lagi partner ku yaitu Nabilla tak dapat bergabung bersama karena suatu hal yang tak bisa ditinggalkan. Tapi semua itu masih dalam batas wajar dan masih dapat ditangani dengan baik. Setelah istirahat telah usai kami memasuki kelas dan memberi tahu kepada semua siswa apabila kita akan bermain bersama. Kelas 1 dan kelas 2 akan digabung dan memainkan permainan yang seru dan menyenangkan. Permainan diawali dengan permainan jadul yang mungkin dari berbagai daerah mempunyai nama tersendiri. Nama permainannya yaitu “kerupukan”,“ular naga”, atau untuk anak-anak disana menyebutnya ”terowongan”. Aku bersama dengan Ratna yang merupakan LD kelas 2 bersama menjadi terowongannya, mereka berbaris dan memegang pundak teman depannya. Kami menyanyikan lagu bersama dan ketika lagu selesai mereka akan terperangkap di dalam terowongan. Mereka diminta untuk memilih antara buah anggur atau buah jeruk yang mana itu menentukan mereka akan berada di belakang siapa. Setelah semua sudah masuk terowongan dan kita masing-masing sudah mendapat anak yang berada di belakang. Kemudian kita bersiap untuk melindungi anak dan berusaha untuk merebut anak dari lawan depan. Permainan ini sangat menguras tenaga yang banyak, tetapi mereka sangat senang memainkannya. Walaupun tubuh ini sudah merasa kewalahan untuk mengimbangi pergerakan dari anak-anak yang sangat lincah dan energik itu. Permainan lainnya pun ikut serta dimainkan yaitu permainan kotak pos, tekongan (sembunyi-sembunyian), dan polisi maling. Hari ini adalah hari yang melelahkan tapi juga sangat mengasikkan. Pertemuan ketiga kembali dilakukan dengan riang gembira. Aku beserta rekan menyiapkan sebuah papan permainan ular tangga untuk mereka belajar dan bermain dalam satu kegiatan yang sama. Antusias yang mereka suguhkan sangat luar biasa. Mereka sangat senang sambil berteriak “Horee…. Kita main ular tangga”. Kegembiraan itulah yang membuat kita semakin bersemangat dalam mengajar. Dalam permainan ini mereka tidak hanya bermain saja ada hal yang berbeda dari biasanya. Yaitu setiap kali mereka berhenti pada angka yang terdapat gambar bintang maka mereka diminta untuk membuka kartu soal yang telah dipersiapkan. Mereka diminta untuk membaca perintah atau soal dalam kartu tersebut dan melaksanakan perintahnya. Hari sabtu menunjukkan tanggal 25 November 2023 yang berarti minggu ke empat pengabdian ini telah dilaksanakan yang berarti pula pengabdian akbar 1 ini telah usai. Perpisahan pun tak dapat terelakkan lagi. Pagi ketika awal pembelajaran sudah nampak semangat yang mulai menurun, wajah tampak muram, tak ada senyum yang nampak pada wajah anak-anak begitu juga apa yang ku rasakan. Tetapi semua itu berusaha untuk dihilangkan dengan melakukan banyak sekali ice breaking dan bernyanyi bersama. Pelajaran terus dilanjutkan sampai memasuki jam istirahat. Setelah istirahat kami bersama-sama membuat kerajinan bunga yang berasal dari kertas lipat yang dilipat dan di lem supaya membentuk bunga yang indah. Bunga ini yang nantinya akan diberikan kepada guru sebagai tanda terima kasih siswa kepada guru karena bertepatan dengan hari guru. Mereka sangat antusias dalam


membuatnya, bahkan merekan membuat banyak sekali bunga dan mereka berkata “Kak ini yang satu boleh aku bawa pulang ya buat hiasan di rumah”. Setelah aku menyetujuinya mereka bersemangat untuk membuat bunga lebih banyak lagi dan menyimpannya untuk dibawa pulang dan sisanya dimasukkan ke dalam pot yang sudah dihias. Di akhir kegiatan ini kami berfoto bersama dan mengungkapkan curahan hati masing-masing. Hingga salah satu siswa bernama Firman mengatakan “Kak disini aja, enak sama kakak daripada sama Bu Guru galak”. Dari perkataan itu muncul perasaan sedih bercampur senang dan rasanya air mata ini sangat sulit untuk ditahan. Tetapi aku berusaha meyakinkannya untuk tetap menyayangi dan patuh kepada Ibu Guru yang selama ini mengajar mereka. Perasaan senang, sedih, haru bercampur aduk dari perpisahan ini. Rasa ingin berlama-lama melihat senyum yang merekah setiap pagi dihiasi dengan tawa-tawa bercanda mereka. Tetapi semua itu terhalang oleh perpisahan ini. Memang benar hanya ini adalah waktu yang singkat tapi benar-benar sangat bermakna untuk ku. Dan aku berharap mereka akan menghargai apa yang telah kuberikan dan memahami apa yang telah kuajarkan. Semoga mereka tetap mengingatku sampai kelak mereka menjadi orang sukses yang berguna untuk negeri. Kepada langit kutitipkan rinduku kepada mereka disana. Salam hangatku selalu menyertai mereka.


njdsf


Aku, Dia, dan Mereka Ainur Rahman Pagi itu...... "Ukh..ukhhh" desak batuk seseorang terkena pasukan debu. "Lu aman gak?" Ucap tanya seseorang. "Aman-aman, sejatinya debu ini hanyalah butiran dosa manusia yang kelak kita akan ditimpanya"balas dia. "Emang boleh sedosa itu..wkwkwkwk" balas candaan dia. "Nggak-nggak, canda wkwkwkw" pesan itu menutup perbincangan kali ini sebelum kami diajak untuk briefing terlebih dahulu. "Jangan lupa moodnya dijaga, semoga pengabdian pertamanya lancar" Upacara..... Kegiatan pertama kami di SDN Dadapan 3 ini. "Ayo adek-adek kumpul di lapangan dulu yuk, ada upacara habis ini" kami para Laskar Dewantara beserta kakak Dewantara mengusir mereka dari kediamannya untuk mengikuti upacara sejenak. "Ayok upacara dulu ya"ujarku pada beberapa siswa. Sambutan hangat mereka sangat membuatku terbangongkan dengan bombastis side eye-nya. "Emang boleh sebombastis itu, itu anak siapa sih?" Ucap salah satu temanku. "Wkwkkwkw, moga aja bukan anakku" masing-masing dari kami berharap. Ketika upacara berlangsung, emang notabenenya anak-anak aktif pada jenjang sekolah dasar. Tak heran jika kami tidak mengharap lebih apa yang mereka lakukan. Dibawah matahari dengan sudut 45° cukup membuat basah wajah dan tubuh kami dengan keringat. Setelah itu, upacara selesai dan kami pun pergi ke kelas masing-masing. "Buk buk buk...." Dentuman suara kaki penuh semangat terdengar di sepanjang telinga kami. Entah itu semangat belajar atau bermain yang mereka gairahkan hingga turun ke telapak kakinya. Ketika kami masuk kelas, sambutan dingin atau panas kembali menghampiri, sorot mata tak nyaman dipandangan juga tingkah mirip animalia yang memuakkan T_T. "Dijaga mood-nya ya temen-temen" teringan wajah kakak-kakak Dewantara. "Ok lah ya, mereka juga masih anak-anak kok", batinku dalam hati. "Selamat pagi teman-teman" ucap kami. Atmosfer mulai terasa berbeda ketika ucapan salam tersampaikan melalui udara. "Berdoa...memberi salam" ucap mereka. Terlintas dalam kepalaku ternyata budaya ini masih ada. Baik sejauh ini masih baik-baik saja, kamu memberikan id card kepada mereka untuk ditulisi nama mereka sendiri. Satu persatu kami tanya nama mereka, hingga kami sampai dibangki terakhir. Genap sudah perkenalan kami, sebelum itu juga kami memperkenalkan diri kami masingmasing. "Ok hari ini kita akan belajar, siapa disini yang suka belajar" teriakan partnerku "Gasukaaa......"ucap beberapa anak disana "Kalau kakak sendiri sih gasuka belajar, tapi lebih suka bermain, gimana kalau kita bermain saja?" Ini caraku untuk mengambil alih perhatian mereka sejenak. "Baiklah, kalian tau perkalian tidak?" Ujar dia "Tau....." Sorak mereka "Kalau ini berapa perkaliannya (2x2x2)" Hening....tiada jawaban yang diucapkan dari lisan individu² yang suci akan dosa. Dengan penuh semangat kamu melanjutkannya. Sorak dalam hati kamu berbentur "mungkin ini terlalu besar bagi mereka". "Oke temen-temen, sekarang kita akan bermain menggunakan media".


Disitu kami menjelaskan cara bermainnya, mereka melakukannya dengan baik, sesuai SOP yang kami berikan. Setelah itu dalam hati berkata" ternyata mereka bisa". "Kring......." Tanda penghukuman bagi mereka telah usai sejenak, kini saatnya mereka menikmati cerita tersebut dan menceritakannya pada individu lainnya. Tetap saja, dalam hati merasakan hal yang begitu luar biasa takjubnya karena pertama kali membina dan mendidik anak SD secara langsung. Senyum teraut diwajahnya yang tak bisa diungkapkan pada dunia, seberapa besar perasaannya mengikuti pengabdian ini. Waktu demi waktu berlalu hingga akhirnya.... "Kringg......" Jam penghakiman untuk mereka kembali terdengar, kami para Laskar Dewantara mulai memasuki ruangan kamu masing-masing. Waktu kami tidak banyak karena mengulur waktu mereka untuk tetap berada di kelas menunggu jam pulang. Materi yang kamu persiapkan pun sudah kamu sampaikan di jam pertama. Sekarang kami mencoba menenangkan mereka dengan secercah cerita dan beberapa permainan tradisional. Herannya masa muda kami benar-benar teruji, kami merasa semua ini nostalgia, raut wajah mereka yang membentuk guratan di antara pipi mereka, menandakan kesenangan yang tak dapat disampaikan. Lama kami melakukan itu hingga....pada akhirnya bel kesejahteraan itu pun berbunyi..... "Berdoa....memberi salam....." Ucap mereka. Dalam hati, aku tidak bisa berkata-kata, sungguh perasaan bercampur aduk. Ini memang tidak bisa diduga, tapi ini benar benar fakta, bagaimana kisah ini dipukul rata oleh secuak kata-kata yang sifatnya fatamorgana. Hingga akhirnya kami meninggalkan itu semua untuk sementara dan pulang untuk mengakhiri kisah penuh hikmah.....


Cerita Indah Pengabdian Naura Anggya Zuyyina R. Malam itu pukul 20.00 mempersiapkan suatu hal yang sangat aku nanti - nanti dari dulu. Pengabdian akbar 1, kegiatan volunteer yang dari sebelum Naura masuk kuliah sangat Naura dambakan. Tidak terasa kini ia sudah menjadi bagian dari kegiatan ini. Malam itu membuat Naura jadi susah tidur, karena tidak sabar untuk menjalani hari esok. Mulai dari persiapan barang - barang yang akan dibawa dari barang yang kecil hingga terbesar. Persiapan mental juga disiapkan dengan penuh persiapan yang matang. Naura mengusahakan hari pertama ini akan ia jalankan dengan penuh persiapan yang matang. Tapi tak terasa karena terlalu fokus menyiapkan segala hal dengan penuh rasa semangat jam handphone menunjukkan pukul 22.30. Seketika ia kaget karena ia belum mengerjakan tugas kuliah dan belum juga sholat isya. Naura mempercepat persiapan hingga semua telah tertata rapi. Memang ini kesalahannya karena baru menyiapkan barang - barang yang perlu dibawa pada pukul 21.00. Naura sempat merasa terburu - buru untuk tidur malam itu. Tapi apa daya sebagai seorang mahasiswa, yang jika dalam satu hari belum mengerjakan tugas maka ia merasa ada yang kurang. Tapi kantuk waktu itu seperti tidak tertahan. Hanya satu tugas kuliah yang mampu ia selesaikan dan bergegas sholat isya, kemudian tidur. Di atas tempat tidur Naura tidak bisa langsung tertidur. Yang ia pikirkan waktu itu hanya satu, yaitu semoga besok pagi ia tidak bangun kesiangan. Naura dihimbau agar pada pukul 05.00 pagi sudah harus berada di titik kumpul sebelum pergi ke sekolah. Ia mengatur alarm di handphone agar tidak kesiangan. Alarm di handphone bahkan sampai ia atur untuk berdering setiap lima belas menit sekali mulai jam 3 pagi. Tepat pukul jam 00.00 dini hari Naura memaksa mata nya untuk terpejam dan tidur. Kringggggggg, alarm berbunyi. Kebodohan Naura saat itu adalah dari sekian banyaknya alarm yang berbunyi tapi ia tetap tidak bisa terbangun dari tidurnya. Benar - benar ceroboh sekali pagi itu . Tepat pada pukul 04.45 temannya menelponku. Tersentak kaget Naura karena jam di hp menunjukkan pukul 04.45. Ia pun mengangkat telepon dari temannya itu. Dalam nyawa yang belum terkumpul sempurna ia mendengarkan temannya berkata “Nauu, ini benarkan titik kumpulnya di gedung sasana budaya?”. Terbesit dalam pikirannya untuk langsung pergi kesana tanpa harus mandi, tapi ia memutuskan untuk tetap mandi karena ia ingin pengabdian di hari pertama ini berjalan dengan suasana hati yang gembira. Naura pun menjawab telepon dengan berkata “iya benar di gedung sasana budaya”. Setelah itu ia langsung mematikan telepon dari temannya dan bergegas pergi mandi dan sholat subuh. Tepat pukul 05.15 ia keluar dari kamar bergegas menuju ke gedung sasana budaya. Dalam perjalanan kesana ia berkata pada dirinya sendiri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Setibanya di gedung sasana budaya Naura sangat excited untuk kegiatan ini. Teman - teman Naura menunjukkan wajah yang sangat berseri - seri. Yang mereka rasakan sama seperti yang Naura rasakan. Benar - benar menikmati kegiatan pagi hari ini. Mereka berkumpul dengan rekan - rekan yang sesuai dengan SD yang akan


mereka ajar. Jelang beberapa saat mereka pergi ke SD yang mereka tuju, yaitu SDN 03 Dadapan. SD ini terletak di kecamatan wajak kabupaten malang. Terbilang cukup jauh dari kampus, berjarak 31 km akan mereka tempuh setiap hari sabtu dalam bulan november ini. Mereka menaiki motor untuk pergi kesana, berboncengan dengan temannya yaitu Shela. Dengan petunjuk arah Kak Doni berada di baris terdepan, karena ia yang paling hafal jalan menuju kesana. Siapa sangka ditengah perjalanan berangkat ke SD dan teman - temannya tersesat. Yaps, mereka salah jalan lebih tepatnya. Mereka tersesat di jalan yang sepi orang, jalan itu menunjukkan tiga arah jalan. Sebagian rombongan pun tidak terlihat bersama. Hanya 4 motor yang tersesat waktu itu. Kak doni kebingungan hingga bertanya pada seseorang yang ada di pinggir jalan. Setelah mendekati nya ternyata mereka salah bertanya, karena ternyata orang itu adalah orang gila. Sontak mengalihkan motornya menjauh dari orang itu. Untung saja dengan sigap memutar balik motornya, karena ternyata motor temannya sempat dipegang - pegang oleh orang gila tersebut. “Huft sungguh perjalanan yang mengesankan shelaa, untung saja kita tidak di pegang - pegang oleh orang gila tadi”, keluh kepada Shela waktu itu. “, apakah tidak ada jalan yang lebih bagus dari ini, pinggangku terasa sakit sekali “ balas shela dengan nada sedikit merengek. Yaa, jalan yang mereka lalui adalah jalan yang masih jelek, belum di aspal, dan masih sangat asri. Sebagai penunjuk jalan Kak Doni akhirnya memutuskan untuk memilih jalan yang arah nya lurus ke barat. Keluar dari jalan yang sepi dan terjal itu akhirnya dan rombongan yang tersesat itu menemukan jalan raya. Sesaat setelah itu kami tiba di SDN 03 Dadapan. Hari pertama pengabdian di SDN 03 adalah hal yang nanti - nanti dari dulu. dan teman - teman mengajar yang lain melakukan kegiatan upacara pembukaan bersama seluruh warga sekolah terlebih dahulu. Setelah itu mereka memasuki kelas. Suasana hati tiba - tiba berubah. melihat kondisi kelas yang berbeda jauh dengan kondisi sekolah di kota. Muridmurid dalam satu kelas hanya berjumlah tidak sampai 10 murid. Kondisi belajar yang kurang bersemangat, dalam benak hatinya berkata bahwa ia sangat bersyukur diberi kesempatan mengajar di SD kecil di Kabupaten Malang. Bersama partner mengajar nya bernama Reva, mengajar kelas 1. Murid-murid kelas 1 memiliki karakter yang berbeda beda. Tentunya tantangan bagi dan Reva untuk tetap bisa mengajarkan ilmu yang mereka punya. Murid-murid kelas 1 sangat aktif, mereka berlari - lari di dalam kelas hingga diluar kelas. Sempat kewalahan menangani kelakuan anak kelas 1, dan Reva memaksimalkan tenaga nya untuk mengkonfirmasi kelas 1. Mereka sangat senang belajar jika dan reva mengeluarkan media pembelajaran yang kreatif dan tidak pernah mereka mainkan. Hari pertama pengabdian itu memberikan banyak pelajaran bagi . Dengan segala keterbatasan yang murid-murid SDN 03 Dadapan punya, mereka tetap mempunyai tekad untuk bersekolah. Tak terasa hari pertama pengabdian di SDN 03 Dadapan telah selesai. Lagi - lagi dalam benak hati mengatakan masih banyak yang membutuhkan ilmu - ilmu yang miliki. sangat senang bisa membantu murid-murid SDN 03 Dadapan untuk lebih giat belajar. Hari hari pengabdian di SDN 03 Dadapan berjalan sangat cepat. Di hari terakhir pengabdian berlangsung yaitu tepat pada tanggal 25 November 2023 salah satu murid berkata “Kak, kenapa sudah tidak mengajar disini? Tidak seru jika tidak ada kakak disini”. Mendengar perkataan tersebut dan partner mengajarnya sontak terkejut. Mereka berdua sungguh tersentuh dengan perkataan murid tersebut. Kebahagiaan seperti ini terasa seperti healing tersendiri bagi . mendapati banyak pelajaran berharga selama pengabdian berlangsung. juga mendapatkan pengalaman yang belum


pernah ia dapatkan sebelumnya. Kegiatan pengabdian ke sekolah dasar yang jauh dari kota ini bagi tidak akan bisa dilupakan. Terlalu berkesan sampai sangat bersyukur dapat merasakan pengalamannya ini. Bagi tidak sembarang orang yang dapat merasakan pengalaman tak terlupakan ini. benar benar belajar banyak tentang hal yang belum pernah lakukan. Mulai dari membuat rancangan pembelajaran yang tersistematis hingga membuat media pembelajaran agar meningkatkan semangat belajar murid - murid adalah langkah awal menjadi guru yang bisa membagi apa yang ia punya walaupun tak bernilai mewah. Salah satu pelajaran yang sangat berharga menurut adalah teruslah berbagi tanpa berhenti meski yang kamu bagikan hanya sekedar apa yang kamu ketahui. Meskipun harus setiap hari sabtu pada pagi jam 05.00 dan teman - temannya menempuh perjalanan jauh ke Kecamatan Wajak, tapi pengalaman berharga kali ini dapat membayar semua rasa capek ini. Hujan deras tetap mereka tempuh demi berlangsungnya kegiatan pengabdian ini. sekaligus sangat berterima kasih pada GEMAPEDIA yaitu Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan ini yang menjadi keluarga baru bagi dan sudah meloloskan hingga bisa menjalankan pengabdian ini. Dengan penuh rasa senang serta terharu akan berakhirnya kegiatan pengabdian ini mengucapkan selamat tinggal pada desa yang memberikannya banyak pengalaman - pengalaman berharga. BIODATA PENULIS Penulis bernama Anggya Zuyyina Rahma yang lahir pada 02 September 2004. Penulis merupakan warga asal Kabupaten Kediri yang sekarang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang dengan program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Penulis merupakan Laskar Dewantara Batch XI dari organisasi GEMAPEDIA UM. Penulis menuliskan cerita yang ia buat sendiri berdasarkan pengalaman yang telah ia dapat ketika melaksanakan Pengabdian Akbar 1 yang telah selesai penulis jalankan. Penulis berharap setelah menuliskan cerita ini pembaca dapat merasakan hikmah yang terdapat pada cerita ini.


DERETAN KISAH PERTAMA Shinta Aishnabila November. Bulan dimana banyak suka dan duka yang telah kulalui. Banyak hal yang terjadi. Tepat di bulan ini pula, banyak "kisah pertama" dalam sejarah kehidupanku. Ditemani rintik hujan yang seringkali terasa sendu. Inilah kisahku yang akan membekas lekat dalam ingatanku yang sengaja kuabadikan dalam untaian kenangan kisah pendek. Aku termenung menatap jalan basah ditemani suara rintikan hujan yang tiada henti. Rasanya pengalaman ini baru terjadi kemarin. Tepat pada saat aku terdiam dengan pikiran berisik yang entah kemana arah pasti jalannya. Aku diterima menjadi Laskar Dewantara Gemapedia Batch XI. Sempat khawatir, mengingat aku tak punya sama sekali pengalaman mengajar. Dan apakah kekhawatiran itu berhenti setelah aku dinyatakan diterima? Ah, tentu saja tidak. Beberapa kali kudekapkan tanganku sembari menyemangati diri sendiri. Apakah aku sudah siap dan layak untuk mengajar? Hari pertama pengabdian. Aku mendapatkan bagian mengajar di kelas 5 SD Negeri Dadapan 03. Sepanjang perjalanan menuju tempat pengabdian, banyak hal yang menarik. Akhirnya aku jadi tahu Wajak itu dimana. Tak kusangka ternyata tempatnya lebih jauh rumahku ke Universitas Negeri Malang. Walau begitu, cukup terasa perbedaanya. Hal paling kutakutkan ketika perjalanan adalah ketika melalui jembatan kecil yang ketika melihat ke bawah sudah pasti jurang. Bulu kudukku sukses dibuat merinding olehnya. Sepanjang perjalanan, pikiranku kembali berkelana. Ingin rasanya aku berteriak, "Aku takut tidak disukai oleh muridku sendiri". Yeah, itulah ketakutan terbesarku. Mengingat aku juga tidak mempunyai kemampuan khusus dalam mencairkan suasana dengan anak-anak. Aku mengajar mata pelajaran Matematika. Kurang percaya diri rasanya, karena Matematika bukanlah pelajaran yang mudah kukuasai sebelumnya. Ditambah di hari pertama, aku sendiri. Pasangan mengajarku tak dapat mendampingiku. Hanya sholawat dan istighfar yang menemani tiap perjalananku. Ini kulakukan agar aku lebih tenang. Hal tak terduga adalah ketika sampai di tempat tujuan, muridku memelukku. Rasanya? Tentu saja meledak. Sungguh tak terduga! Mereka tersenyum dan memanggil namaku keras, "Kak Shinta!", begitulah kira-kira teriakan mereka bertemu denganku. Hari pertama, tak akan pernah kulupakan. Dimana aku pertama kali mengajar tapi ternyata kemampuanku sangat kurang. Suasana kelas yang terlihat membosankan dan caraku mengajar yang masih kaku. Namun aku terharu, walaupun begitu murid-murid tetap memerhatikan diriku. Aku akui, ternyata tak mudah membuat anak-anak bersemangat atau termotivasi dalam belajar. Hal lain yang sangat membekas dalam ingatku adalah minggu kedua pengabdian, ketika aku sedang dilanda masalah namun aku diwajibkan mengajar. Tentu tak mungkin aku lari dari tanggung jawab. Aku masih ingat perjuanganku masuk Gemapedia. Tak mungkin mudah kulepas begitu saja. Sebelum masuk kelas, berulang kali hatiku bergumam, "Ayo Shinta!


Mereka pengen lihat kamu! Mereka tulus buat belajar, masa iyaa kamu ketemu mereka tidak senyum?". Walaupun setelah mengajar, air mataku tak berhenti jatuh. Kemudian tepatlah di hari terakhir pengabdian, minggu ke 4 bulan November. Ibuku sepakat memberikan aku oleh-oleh khusus untuk kelas 5. Sedikit makanan ringan dan minuman yang tertata rapi dalam wadah bekel berwarna biru dan merah muda. Sebelum pamit, diwajibkan untuk murid kelas 5 menulis kesan dan pesan. Tiba-tiba, "Kak, buat satu orang aja yaa!" teriak salah satu murid yang berhasil membuatku tertegun sejenak. Ya, aku takut kekhawatiranku sebelumnya terjadi. Bagaimana jika mereka tidak menyukaiku? Bagaimana jika mereka ternyata malah membenciku? Perasaanku bergejolak tak tentu arah. Aku hanya bisa tersenyum sembari menenangkan diriku sendiri. Akhirnya, tepat waktu membaca kesan dan pesan mereka. Jantungku berdegup kencang. Mulailah aku membacanya. Mataku terbelalak. "Hah? Bagaimana mungkin?", celetukku dalam hati. Tak kusangka, mereka menyukai ku! Hal paling membekas adalah ketika salah satu dari mereka berkata, "Terima kasih kak Shinta karena kak Shinta aku jadi suka dan senang belajar Matematika!". Terharu rasanya. Air mataku ingin jatuh apalagi melihat salah satu diantara mereka mulai meneteskan air mata. Mereka pernah berkata hal yang paling disukai mereka adalah pelukan dari diriku. Memang, daripada mencium tangan, aku lebih nyaman memeluk mereka. Tak lupa setiap pulang dari pengabdian, hujan selalu datang tanpa diundang. Aku bersyukur bertemu dengan Gya. Sepanjang perjalanan pengabdianku ini, Gya selalu bersamaku. Dua kata yang ingin kuucapkan dari lubuk hati terdalamku adalah "Terima kasih". Aku akan mengingat kisah pertamaku dalam mengajar dan terjebak banjir. Ataupun hal sederhana seperti jas hujan yang robek dan berteduh di masjid yang gelap. Entah mengapa, aku bersyukur ini adalah pengalaman pertamaku mengajar. Bagiku mengajar langsung di sekolah 3T tentu tak mudah. Ada lebih banyak tantangan tersendiri yang harus kuhadapi. Alasanku bersyukur adalah karena ini pengalaman pertama sudah tak mudah, jika nanti seumpama harus mengajar di sekolah modern, aku yakin lebih mudah. Setelah pengabdian ini, aku menjadi sadar dan belajar bahwa apapun ketakutan yang mengusik dan bergaung kencang dalam pikiran kita, belum tentu itu semua akan terjadi. Jangan pernah takut atau ragu dalam melangkah karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana kelanjutan kisah kita jika kita tak pernah melanjutkan kisahnya pula. BIODATA PENULIS Lahir di kota dingin Malang, Jawa Timur pada 8 Oktober 2004 dan sekarang menyandang status sebagai mahasiswa Universitas Negeri Malang prodi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar tahun 2023. Memiliki minat besar seputar dunia Digital Marketing, Copywriting, dan Psikologi Anak sehingga mengharuskannya untuk berpikir kreatif dan kritis namun juga tetap terencana.


Semangat Belajar Wiji Irasari Mentari belum menunjukkan sinarnya, namun Yara telah berpakaian rapi dan bersiap untuk berangkat. Dia menenteng sebuah kantokplastik merah berukuran besar yang berisi sebuah papan. Sabtu pagi ini terasa menegangkan sekaligus menyenangkan bagi Yara, tentu saja karena hari ini adalah hari pertamanya mengajar. Sepanjang perjalanan ia terus menerkanerka tentang hal apa saja yang akan ia lalui hari ini. Tidak seperti yang ia bayangkan, ternyata jarak sekolah tempatnya melakukan praktik mengajar cukup jauh dari kota. Sepanjang perjalanan ia terus menanyakan, “Udah deket belum kak?” sepertinya ia sangat tidak sabar. Yara ingin tahu apa yang akan terjadi nanti, menyenangkan atau sebaliknya? Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, akhirnya Yara tiba di SDN 02 Sekarmaju. Sejenak ia merenggangkan badannya dan merapikan pakaiannya, ternyata melelahkan juga perjalanan pertamanya ini. Yara menarik nafas perlahan dan berjalan menuju kelas tempatnya melakukan praktik mengajar. Hanya ada 10 anak dalam kelas yang ia ajar, 6 laki-laki dan 4 perempuan. Yara memperkenalkan dirinya dan berkenalan dengan anak-anak tersebut, syukurlah pembukaan ini berjalan dengan lancar. Usai berkenalan Yara menyampaikan materi pembelajaran yang telah ia siapkan. Seluruh siswa dalam kelas tenang dan memperhatikannya dengan baik. Ia juga membagikan buku yang berisi materi dan latihan soal yang ia buat sendiri. Siswa-siswa terlihat sangat antusias mengerjakan soal-soal didalam buku tersebut. Ketika mereka kebingungan mereka akan memanggil Yara dan meminta bantuannya. Pembelajaran berjalan dengan lancar, hingga ketika siswa-siswa tersebut mengerjakan salah satu soal yang berisi pecahan puluhan. Ternyata mereka belum mengetahui bagaimana cara menghitung pecahan yang nilainya cukup banyak, akhirnya Yara menjelaskan bagaimana cara menghitung pecahan menggunakan teknik porogapit. Menurut Yara sekarang seluruh siswa telah paham penggunaan porogapit. Namun ternyata seorang anak mengangkat tangannya, “Kak, ini bagaimana?” ucap Nasya. Kemudian Yara menjelaskan kembali bagaimana cara mengerjakan soal yang Nasya tanyakan, ketika Yara menanyakan tentang perkealian sederhana pada Nasya, Yara sedikit terkejut ternyata Nasya belum belum menguasai perkalian. Pecahan akan sulit untuk dikerjakan jika perkalian saja belum dipahami. Yara akhirnya menjelaskan bagaiamana perkalian itu berjalan, “Jadi gini Sya, 4 kali 3 itu berarti 4nya ada 3. 4 ditambah 4 ditambah lagi sama 4. Coba berapa?” begitulah penjelasan Yara. Tak terasa jam sudah menunjukkan waktunya istirahat, siswa-siswa pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. Yara tetap berada di kelas, ia menyiapkan kegiatan yang akan dilakukan setelah istirahat. Ditengah kesibukannya Nasya datang menghampirinya, ia membawa buku materi dan soal yang Yara berikan, “Kenapa Sya?” Ucap Yara, “Kak aku gatau cara mengerjakan ini.” Rupanya Nasya ingin meminta bantuan Yara untukmengerjakan soal yang tidak dipahaminya, “Loh, kamu ga istirahat?” tanya Yara, “Ngerjain ini aja kak.” Yara pun mengajari Nasya, sebnarnya soal yang ditanyakan Nasya adalah soal yang sudah dibahas sebelumnya. Selama mengajari Nasya, Yara mengerti jika ternyata Nasya sedikit tertinggal diantara temannya. Teman sekelasnya telah memahami perkalian dan mereka lebih mudah


menerima pembelajaran dibandingkan Nasya. Dengan hal itu Yara bertekad untuk lebih memperhatikan Nasya, namun tetap adil pada siswa lainnya. Sembari mengajari Nasya, Yara bertanya beberapa hal kepadanya, “Nasya kalo pulang dijemput atau jalan?” Kemudian Nasya menjawab jika ia pulang sekolah dengan berjalan kaki sendirian dan katanya jarak antara rumahnya dan sekolah cukup jauh. Yara merasakan hatinya sedikit tergerak, dalam hati ia membandingkan dirinya dan Nasya. Yara merasa malu, karena dia sangat jarang berjalan kaki menuju kampus padahal jarak antara rumah dan kampusnya tidaklah jauh. Beberapa waktu kemudian siswa-siswa telah memasuki kelas kembali. Yara mulai menjelaskan kembali materi selanjutnya. Tak lupa Yara jugamemberikan beberapa latihan soal sederhana untuk mengetahui kepahaman mereka. Seluruh siswa telah bisa mengerjakan soal yang diberikan, kecuali Nasya. Nasya kembali meminta tolong pada Yara untuk menjelaskan yang belum ia pahami. Yara menjelaskan dengan penuh perhatian, dia tidak memaksa Nasya untuk memahami materi tersebut saat itu juga. Nasya terlihat semangat mengerjakan soal-soal tersebut sekalipun ia masih harus dibantu oleh Yara. Nasya tidak terlihat malu untuk bertanya dan meminta bantuan, dia selalu semangat untuk menambah pengetahuannya. Waktu berlalu begitu cepat, kini sudah waktunya untuk siswa-siswa kembali kerumahnya. Yara menutup pembelajaran dan meminta salah satu siswa untuk memimpin berdoa. Kemudia satu persatu siswa bersalaman padanya dan mereka beranjak keluar kelas. Yara menuju ruang kumpul, kemudian berpamitan pada guru-guru disana. Hari ini menjadi hari yang indah baginya, dimana ia dapat bertemu dengan anak-anak penuh semangat untuk menuntut ilmu. Yara sangat senang melihat anak-anak yang mau mengikuti pembelajar dengan baik dan tidak menghiraukannya. Sejujurmya Yara telah berfikir jika mengajar siswa SD akan sangat melelahkan, dia berfikir jika para siswa nanti akan menghiraukannya. Namun ternyata tidak, hari ini adalah hari yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan pulang Yara terus memikirkan Nasya, seorang anak yang sangat semangat dalam menuntut ilmu. Sejenak Yara mengingat kisah ibunya, dimana ibunya putus sekolah karena susah memahami pelajaran. Karena itulah Yara sangat bangga dengan Nasya, ia tetap semangat sekalipun susah baginya untuk menyerap pelajaran. Kisah semangat Nasya akan terus menjadi motivasinya, bahwa kita harus percaya bahwa kita pasti mampu. Dalam pertemuan selanjutnya Yara akan lebih semangat dalam mengajar, ia akan terus menyebarkan pengetahuannya untuk semua orang. Biodata Penulis Wiji Irasari, remaja yang lahir pada 27 September 2004 ini merupakan mahasiswa di Universitas Negeri Malang angkatan 2023, benar sekali dia adalah mahasiswa baru. Wiji Irasari akrab disapa dengan nama Ira, namun kadang orang-orang juga memanggilnya dengan nama Wiji. Ira berasal dari Malang dan selalu tinggal dan bersekolah di Malang.


MINGSRA Elvira Rosa Kringgg.... kringg... kringg... Alarm berdering kencang di telingaku dan membuyarkan bunga tidur yang hampir menemui pengharapannya. Mataku sayup terbuka mengarah ke jendela yang belum terkena sinar mentari rupanya. Dengan tergesa-gesa aku melakukan kegiatan rutin saat pertama membuka mata. Yaa membuka handphone untuk melihat aktivitas manusia tentunya. Namun hari itu angka telah menunjukkan pukul 04.00 WIB. “Pengabdian.....” begitulah kataku menghela napas dengan nyawa yang belum terkumpul semua. Kupaksakan kaki ini melangkah ke pertapaan kedua setelah kamar tidur, menuntaskan semuanya dan bersiap diri di Sabtu pagi pukul 05.00 WIB pergi ke kampus tercinta. “Selamat menunaikan libur produktif Elvira” begitulah batinku memberi semangat diri ini sambil melangkahkan kaki keluar gerbang kost hijau muda di pagi buta. Tidak menunggu berlama-lama, sampailah aku di titik kumpul pengabdian “Sasana Budaya.” Sasana Budaya Universitas Negeri Malang Tiara: “Media pembelajaran aman kan? RPP? Lembar evaluasi? Jaket?” Kira-kira begitulah pertanyaan yang menyambutku setiba di sasana budaya. Elvira: “Amaan-Amaan, udah siap gass ini.” Tiara: “Aaaa okeyyy, semangattt yaa!” ucap tiara sambil tersenyum dan hilang matanya. Elvira: “Kamu jugaa yaaa!” ucapku sambil tersenyum ramah juga. Setelah saling memberi semangat dengan Tiara, aku bertanya kepada salah satu teman pengabdian. “ Permisi,kakak Dewantara SDN 03 DADAPAN mana ya?” ucapku bertanya pada seorang laki-laki yang aku tahu ia satu kelompok denganku. “Belum ada kak, mau foto untuk presensi ya?” ucapnya sekaligus balik bertanya. “Iyaa nih, belum presensi soalnya.” “Oalaa aku juga belum kak, ditunggu aja, btw nama kakak siapa?” ucapnya ramah seperti adik maba bertemu katingnya. “Elvira, panggil ell aja.” “Ohh mbak ell, yang barengan sama aku dong ya?” “Loh, Rahman yaa? Kalo iya berarti benar aku yang bareng kamu” ucapku sedikit terdengar lebih akrab dari sebelumnya “Iyaaa betul mbak.”


Percakapan kami memanjang dengan berbagai bahasan, mulai dari angkatan, asal, sampai jurusan. Rupanya kami satu fakultas, sama-sama anak sastra. Bedanya dia inggris aku Indonesia. Setelah sekian lama menunggu serta diselingi pembagian PDH akhirnya waktu berangkat pun tiba.Aku lihat dari wajah-wajah mereka yang pagi tadi sangat excited sudah mulai sedikit datar ekspresinya. Entah karena menunggu lama, atau takut kepanasan di sepanjang jalan menuju tempat pengabdian. Tapi satu yang aku yakin, semangat mereka tidak pudar seperti ekspresinya. Setelah menempuh jalan yang cukup jauh dan sedikit tersasar ke jalam perkebunan yang rasanya kami seperti betulan liburan dengan bermain ATV dan off-road di sepanjang jalan karena medannya cukup terjal dan bebatuan. Bahkan salah satu dari rombongan kami bertemu ODGJ, sungguh perjalanan yang mengesankan. Kami tiba di sekolah kecil di sebuah desa bernama Dadapan. Sekolah bertembok biru dengan ruangan kelas yang tidak sesuai dengan jumlah tingkatannya. Parkiran motor yang hanya sepetak di sebelah kanan dan lapangan upacara yang gersang. Jika kalian pertama tiba di sana pasti kalian akan berpikir hal yang sama denganku “debunya tidak umum” begitulah pikirku saat itu. “Ayo-ayo kumpul dulu berdo’a.” Ucap salah satu kakak Dewantara membuyarkan lamunanku. “Ini PA 1 hari pertama, dijaga mood-nya, dijaga semangatnya. Untuk itu mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, mulai!” Begitulah ucap ketua LO kami memberikan arahan dan memimpin doa. Setelahnya kami bergegas menyiapkan pembukaan kegiatan pengabdian akbar 1 Gemapedia dengan serba seadanya. Jangan pikir hari pertama tidak ada drama, karena belum apa-apa adikadik di sana sudah sembunyi ke kelas tidak mau ikut upacara. Dengan perlahan para Laskar Dewantara dan Dewantara membujuk mereka yang tidak bersedia. Sampai akhirnya upacara dilaksanakan dan kami disambut hangat di sana. Setelah upacara selesai kami langsung masuk ke kelas masing-masing dengan gugup. Pikirku saat itu “anak-anak bakal tantrum tidak ya,” “mereka mengerti materiku dan senang dengan pembelajaran ini atau tidak ya.” Serta banyaknya pikiran takut yang berkecamuk dalam diriku. Ruangan Kelas 4 Aku membuka kelas pagi itu dengan salam yang berteman kegugupan dan sedikit gemetaran. Namun rasanya dewi yunani berpihak padaku. Mengajar di kelas dengan peserta didik paling sedikit yaitu 4 orang sekaligus dianugerahi anak-anak yang tidak pernah tantrum dan selalu senang belajar.”Alhamdulillah, alhamdulillah.” Kira-kira begitulah kata yang terucap setiap masuk ke kelas 4. Kami belajar pembagian dengan bilangan 2 angka. Saat kelas sebelah sudah terdengar heboh ice breaking di tengah pembelajaran kelas kami mulai sedikit kocar-kacir. “Mau main.” Ucap salah satu anak bernama Della “Main dulu atau belajar dulu?” ucapku menawarkan opsi. “Belajar dulu aja kak, mainnya nanti setelah belajar.” Sambut Ain dengan semangat. Anak ini memang sudah aku tandai sejak awal, karena betul-betul suka belajar. “Yasuda begini, bagaimana kalau kita main tapi mainnya tebak-tebakan.” Ucap temanku Tiara menengahi. “Mauu mauu mauu.” Ucap anak-anak di kelas dengan semangat.


Akhirnya kami bermain tebak-tebakan dengan diiringi gelak tawa. Aku masuk ke dalam dunia mereka. Tiba waktu istirahat kami akan berkumpul bermain bersama, bercerita dan duduk melingkar di kelas. Sesekali berbalas pantun dan sesekali hanya diam mengamati anak-anak SD ini dengan dunianya. Kegiatan pembelajaran hari pertama berjalan dengan baik sampai selesai. Kami pun pulang dan sebelumnya singgah ke masjid dan tempat makan. Setelah menyantap hidangan yang datang cukup lama, kami mengadakan evaluasi dengan kegiatan pembelajaran bersama LO masing-masing. Salah satu bagian yang aku sukai, karena selalu memberikan aku ruang untuk berkeluh kesah, bertanya dan mendapat banyak pelajaran. Hari-hari selanjutnya masih sama. Kami pergi pagi buta, belajar bersama, tertawa, berkeluh kesah dan sesekali mengamati hal-hal yang hanya bisa kami kritisi tanpa bisa kami bantu memperbaiki. Namun ada satu hal yang terus aku ulang, aku pelajari dan aku cermati di pengabdian akbar 1 ini. Melihat semua yang berproses di dalamnya aku teringat pada satu novel yang tengah aku baca. Sebuah mahakarya dari penulis ternama Andrea Hirata. Judulnya Cinta di Dalam Gelas dan ada satu kutipan yang sangat terkenal “Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar.” Energi itu aku dapatkan di pengabdian ini. Dari adik-adik yang terus berusaha memahami materi yang aku beri. Teman-teman Laskar Dewantara yang selalu kembali dengan gebrakan baru setelah evaluasi, dan Kakak Dewantara yang selalu siap memberi masukan atas permasalahan kami. Sejatinya kami memang tidak hanya mengajar namun kami juga terus belajar. Tentang Penulis Penulis hanya gadis penikmat syair-syair pujangga yang belum mahir untuk menulis sajaksajak tentang sastra. Kalau di buku teori sastra, penulis termasuk golongan Sastrawan kesurupan karena menulis hanya ketika ingin. Selain itu karena tuntutan tugas berkuliah di jurusan sastra Indonesia. Namanya sama dengan perenang kebanggaan Indonesia Elvira Rosa.


Pengalamanku Mengajar di Pengabdian Ghania Ramandha Aku adalah salah satu mahasiswa di salah satu Kampus Indonesia yang berada di Jawa Timur, saat menginjak semester 3 aku memiliki keinginan untuk mewujudkan salah satu goals dalam hidupku yaitu mengajar anak anak kecil. Dan pada kesempatan semester 3 ini aku di terima di organisasi yang bergerak untuk mewujudkan peduli Pendidikan. Dan barulah cerita ini dimulai dari pengabdianku di sekolah yang berada di desa dan jarak nya jauh dari perkotaan. Bermula di setiap hari sabtu pada pagi hari yang cerah dan indah nya kota malang udara yang masih terbilang cukup sejuk di pagi hari membuat ku dan teman-temanku sangat bersemangat untuk mengajari adik adik yang berada di desa nan jauh disana. Jarak tempuh dari kota menuju ke desa kurang lebih 1 jam perjalanan menaiki sepeda motor. Ketika aku dan teman-temanku sampai di sekolah, adik-adik di sana sangat menyambut kami dengan suka cita. Aku bersama rekanku kami berdua memasuki kelas 5, di SD ini kelas 5 merupakan kelas yang paling banyak siswa nya yaitu ada 11 orang siswa, dengan jumlah 9 perempuan dan 2 laki-laki. Pada pertemuan ini aku bersama rekanku akan mengajarkan matematika dengan tema rumus jarak,kecepatan, dan waktu. Pada awal pembelajaran aku dengan rekanku mengajak siswa-siswa untuk berdoa lalu melakukan kegiatan gerakan bersih kelas dengan Upaya untuk menciptakan kelas yang bersih agar nyaman untuk belajar. Aku menjelaskan materi matematika rumus jarak,kecepatan,dan waktu, lalu mengajak siswa untuk bernyanyi bersama terkait lagu materi yang di bahas. Siswa-siwa sangat antusias sekali untuk mengikuti lagu belajar yang aku berikan. Setelah menjelaskan materi aku memberikan contoh soal di papan tulis untuk dikerjakan salah satu siswa untuk maju kedepan. Beberapa siswa ada yang antusias dan ada juga yang sudah menyerah duluan. Akan tetapi ada salah satu anak yang berani bernama Lusi maju kedepan untuk mengerjakan soal di papan tulis, walaupun belum terlalu bisa Lusi mau belajar dan mengikuti arahan yang aku berikan. Ditenggah pembelajaran berlangsung, siswa-siswa kelas 5 sudah mulai sedikit bosan dengan pembelajaran nya, maka dari itu aku dengan rekanku mengajak mereka untuk ice breaking sebentar untuk merefreshkan semangat mereka Kembali, dengan cari melakukan gerakan tepuk tangan sesuai instruksi yang diberikan ada gerakan tepuk 1, tepuk 2, dan tepuk 3. Dan semua siswa ada yang bisa mengikuti ada beberapa juga ada yang tidak konsentrasi dan akhirnya salah mengikuti instruksi yang diberikan. Ada 2 siswa yang salah dan disuruh maju kedepan untuk diberikan hukuman yaitu disuruh untuk bernyanyi lagu belajar seperti di awal pembelajaran lagu belajar jarak,kecepatan, dan waktu. Setelah melakukan ice breaking untuk mengembalikan semangat, aku bersama rekanku mengajak siswa unuk bermain game sambil belajar, game yang kami berikan merupakan permainan berburu soal ubur-ubur. Semua siswa sangat antusias sekali dalam permainan ini,


jadi dalam permainan ini akan disediakan media gambar 3 ubur-ubur dengan berbeda warna yang akan di letakan di papan tulis, dan siswa diminta untuk berbaris 3 banjar. Masing-masing banjar akan mendapat giliran untuk melakukan lari menuju papan tulis untuk mengambil rantai-rantai soal pada ubur-ubur. Siswa Bersiap untuk melakukan lari dalam hitungan ketiga setelah itu mengambil rantai soalnya lalu duduk Kembali ketempat duduk nya masing-masing untuk mengerjakan soal yang sudah mereka dapatkan dari berburu media soal ubur-ubur tersebut. Saat megerjakan soal,masih ada banyak siswa yang harus di dampingi untuk mengerjakan soalnya, dan aku bersama rekanku akan mengitari siswa untuk membantu mereka menjawab soal tersebut. Setelah semua siswa selesai mengerjakan soal yang diberikan aku menawarkan kepada siswa siapa yang berani maju kedepan untuk menulis jawabannya di papan tulis dan akan diberikan reward berupa Bintang. Siswa Bernama Nina berani maju kedepan untuk menuliskan jawabannya, karena jawabannya benar dan dia sudah berani maju kedepan maka Nina mendapatkan reawarde berupa Bintang tersebut. Setelah selesai melakukan pembelajaran, di lanjut dengan istirahat, pada saat jam istirahat semua siswa keluar kelas dan melakukan berbagai macam kegiatan yang mereka sukai. Saat jam istirahat selesai siswa Kembali masuk ke kelas untuk mengikuti kegiatan dolanan bareng. Saat dolanan bareng semua siswa sangat antusias sekali, karena dolanan bareng ini merupakan kegiatan permainan tradisional yang di mainkan oleh anak anak untuk terus di lestarikan. Di kelas 5 ini melakukan dolanan bareng yaitu bermain kotak pos, aku bersama dengan rekanku ikut bermain mengikuti keseruan anak-anak, walaupun ada beberapa siswa yang meresa bosan tetapi kami bersama melakukan kegiatan ini dengan berbagai variasi permainan, kami juga bermain ular tangga dll. Kegiatan ini sangat menyenangkan untuk kami semuanya. Di akhir pembelajaran yang aku berikan, aku sedikit mengulas materi yang diajar seperti mengingatkan Kembali rumus-rumus yang diajarkan,dan menyanyikan Kembali lagu belajar yang sudah diajarkan. Dan memberikan semangat serta motivasi belajar agar siswa-siswa lebih giat lagi untuk sekolah dan belajar nya, dan menanamkan rasa cinta belajar pada diri semua siswa. Penulis : Ghania Ramandha


Aku dan Pengabdianku Zafarina Aurelya W. Perkenalkan aku zafarina , dengan sapaan zafa orang disekelilingku memanggilku. Aku lahir di Malang, 15 September 2004 dan menjadi anak pertama sekaligus satu-satunya. Mereka telah mendidikku menjadi seseorang yang mempunyai jiwa kepedulian tinggi terhadap orang lain,karena aku hidup tidak untuk diriku sendiri, tetapi untuk orang lain juga. Sejak kecil, aku hidup di lingkungan yang memang besar kepeduliannya terhadap orang lain maupun sekitar. dan dari hal itu akupun suka dengan hal tersebut, bahkan aku selalu mengikut sertakan diriku dalam hal kemanusiaan pada saat aku duduk di bangku SMA, tepatnya di SMA ISLAM AL-MAARIF SINGOSARI. dalam hal kemanusiaan berbagi, donasi bencana, dll. Masa SMA telah usai, dan sekarang aku menduduki di bangku perkuliahan Universitas Negeri di malang. Tepatnya di Universitas Negeri Malang, aku adalah mahasiswa Angkatan 2022 dengan Prodi S1 Matematika , dari kecil aku suka dengan hal menghitung, aku kembangkan kembali dan mencari ilmu baru lagi di perkuliahan. Selain perkuliahan mencari ilmu, aku juga mencari aktivitas lain untuk menambah pengalaman dan manfaat yang banyak salah satunya yaitu Gemapedia. Aku mengenal Gemapedia tanpa kesengajaan yang pada akhirnya aku sangat bangga menjadi bagian dari Gemapedia. apalagi Gemapedia suatu Pengabdian yang berfokus pada Pendidikan. Aku tertarik mengikutinya karena aku juga suka sekali dalam hal kemanusiaan dan pengabdian ini juga bagiannya. awalnya aku tidak tau apa ya Gemapedia itu sampai aku menelusuri dan mencari tau , pada pembukaan Gemapedia di hari perpanjangan pendaftaran aku baru mendaftar di H-12 jam hari penutupan di pkl.23.59. banyak sekali dokumen yang harus diselesaikan, pada suatu titik aku tidak yakin apakah aku bisa menyelesaikannya, tetapi dengan kesadaran penuh dalam pengabdian aku yakin aku bisa menyelesaikan persyaratan. sebelum jam penutupan, akhirnya aku telah menyelesaikan semua persyaratan, sebenarnya aku tidak yakin apakah aku diterima pada tahap pertama administrasi, dan saatnya waktu pengumuman tiba, ternyata Alhamdulillah aku lolos di tahap administrasi dan selanjutnya ditahap Microtheching, aku telah mempersiapkan yang terbaik untuk hal ini, aku mengambil tema “Bangun Datar” saat itu karena sesuai jurusanku yaitu Matematika. saat memperagakan mengajar dihadapan kakak-kakak Gemapedia dan peserta lain lancar tetapi sayangnya namaku dipanggil pada absen peserta terakhir sehingga aku kekurangan waktu dan memiliki waktu yang terbatas juga, tetapi segala upaya aku maksimalkan. bagiku, ini suatu pengalaman yang baru untukku, karena aku dari Jurusan Matematika Murni yang sama sekali belum punya pengalaman dan skill yang mendukung seperti anak pendidikan. Tetapi aku selalu mau dan mampu mencoba, setelah Microtheching selesai aku merasa kurang maksimal menerangkan, karena waktu yang kurang. tahap microtheching pun selesai, masuk tahap selanjutnya yaitu wawancara, aku menunggu hasil dari Microtheching dan Alhamdulillah aku Lolos untuk ke tahap selanjutnya, perasaan kaget , senang dan tidak percaya yang aku rasakan, karena aku bisa lanjut di tahap ini hingga ditahap akhir, dari hal keraguan sebelumnya karena aku yakin tidak mungkin lolos dan ternyata Alhamdulillah lolos juga. Tiba lah pada tahap terakhir yaitu wawancara, pada saat masuk diruangan aku menjawab dan memberikan semua jawaban sebenar-benarnya , dan proses wawancara pun selesai. tinggal menunggu hasil pengumuman lolos menjadi bagian Gemapedia. Dan tibalah pengumuman Lolos Gemapedia dan aku masih tidak


menyangka bahwa namaku ada didaftar peserta yang lolos. Ternyata dari banyak nya peserta , Gemapedia telah mempercayai aku untuk gabung menjadi bagian dari Gemapedia perasaan senang dan terharu bercampur aduk. Dan tiba pada saatnya Pengabdian I dimulai. Aku diamanahkan mengajar di SDN 3 Dadapan pada kelas 2 bersama partnerku bernama Jamila. Perasaan deg-deg an yang aku rasain karena baru pertama dalam mengajar tanpa punya pengalaman, hingga kami berdua pun mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan dalam mengajar. Sebelum mengajar dimulai, kami semua Laskar Dewantara Meng-Survey Lokasi sebelum Pengabdian I mengajar hari pertama dimulai. dan selama perjalanan Meng-Survey aku jadi tau untuk jalan menuju SD nya bagaimana, lokasinya dimana. Dan tibalah di SDN 3 DADAPAN kami datang dan disambut hangat oleh Para Guru dan kami mohon izin untuk mengajar selama 1 bulan kedepan. Dan sambutan hangat pun diberikan oleh para guru. serta melihat adik-adik yang sedang menyaksikan keberadaan kami semua,menjadi suatu hal kebahagiaan untuk aku karena mereka menyambut dan tentunya pasti tidak sabar untuk mengajar juga. Setelah survey lokasi maka kami semua istirahat untuk makan , kami semua Laskar Dewantara dan Dewantara singgah pada warung makan ayam nelongso, di sela pembicaraan terkait survey lokasi. Ketua dari Dewantara yaitu Kak Gaby menunjuk kepengurusan dengan ketua dan sekretaris. Awalnya siapapun sukarelawan menyalonkan, tetapi tidak ada yang mau dan berani, akhirnya dipilih secara acak. Dan betapa terkejutnya aku saat disebutkan ketua namaku yang terpilih, aku sempat menolaknya tetapi tidak diperizinkan menolak, bagiku menjadi gelar ketua sangatlah mempunyai konsekuensi dan amanah yang besar, sempat tidak percaya dengan amanah ketua yang diberikan tetapi kembali lagi bahwa aku bisa menjaga amanah dan gelar itu sebagai ketua dari laskar Dewantara di pengabdian SDN 3 DADAPAN. Hingga tibalah Pengabdian I tiba, Kami semua Laskar Dewantara berangkat dengan titik kumpul di Sasana Budaya pada pukul 05.15 angin dingin dan rasa ngantuk masih menyelimuti aku berangkat ke kampus untuk Pengabdian I, perasaan senang dan juga deg-deg an karena baru pertama mengajar. Berharap semoga di hari pertama mengajar dapat berjalan lancar dan dapat mengajar adik-adik dengan baik. Perjalanan yang ditempuh untuk ke SDN 3 DADAPAN berkisar 40 Menit. Dengan cuaca pagi yang dingin sembari menelusuri jalan dengan pepohonan rindang yang sejuk membuat Pengabdian I hari pertama sangat menyenangkan. tibalah di SDN 3 DADAPAN, waktu sampai di halaman sekolah sangat senang sekali melihat keberadaan adik-adik dan juga mereka telah menyambut bersama para guru untuk melaksanakan upacara pagi, aku sebagai ketua laskar Dewantara memberikan sambutan , hal pertama juga buat aku karena berbicara sebagai ketua diacara sambutan. Dan sambutan para guru juga mempersilahkan kami untuk mengajar. proses upacara lancar, dan kami laskar Dewantara masuk pada ruangan kelas masing-masing yang telah ditentukan. Pada saat akan memasuki kelas 2 perasaan campur aduk untuk pertama kali mengajar, akhirnya aku dan Jamila pun sampai pada ruangan kelas 2, betapa bahagianya melihat adik-adik duduk rapih di kursi. Mereka sangat lucu sekali tetapi mereka juga sangat hiperaktif dan bisa dikatakan bandel, jadi harus penuh ekstra kesabaran dalam mengajar. Kebetulan ruangan kelas 1 dan kelas 2 digabung menjadi satu ruangan. Pada Mengajar di hari pertama kami ber-4 sangat kaget sekali karena melihat tingkah laku kelas 1 dan 2, Terutama kelas 1 yang susah sekali diatur, sampai kami semua kewalahan dalam mengatur hingga dibantu kakak LO , mereka awalnya sempat tidak mau belajar dan berlarian kesana kemari sampai kami menarik mereka khususnya yang cowok, dan pada akhirnya mereka bisa di tenangkan lalu mengajar pun masing-masing kelas dimulai, dalam mengajar aku dan Jamilah sudah dihadapkan dengan mood adik-adik yang katanya bosan , gamau belajar ingin


Click to View FlipBook Version