main aja menjadi suatu problem untuk kami dalam mengajar hari pertama, tetapi kami selalu membujuk untuk mengembalikan semangat mereka sembari diberikan ice breaking agar tidak bosan dan juga game setelah belajar. Gaby, Rotul,Ayu adalah murid kelas 2 mereka memiliki karakter yang berbeda, dengan Ayu yang pendiam, Rotul yang Pintar dan Aktif, dan Gaby yang Ceria. Dengan Karakter yang berbeda, pasti juga memiliki kemapuan yang berbeda diantaranya Gaby yang ternyata masih belum lancar menulis , aku dan partner ku membagi tugas untuk mengajar ayu dan Rotul dan aku mendampingi Gaby untuk mengajarnya menulis . Dan hal itu juga sebelumnya diajarkan oleh LO kami, karena awalnya Rotul merasa cemburu sosial karena yang hanya di dampingi hanya Gaby saja, tetapi kami memberikan pemahaman ke Rotul sehingga Rotul pun memahami dan kami membagi tugas agar semua murid kelas 2 dapat di dampingi dalam mengajar agar tidak terjadi lagi hal serupa. dengan mood mereka yang selalu mengatakan “Kak, ayo main bosen kak”( sahut Ayu,Rotul,Gaby) “Wah kita belajar dulu yaa, setelah belajar nanti kita ada game nih, siapa yang tidak sabar bermain game, tetapi belajar dulu ya kalau semangat belajar nanti kita main game” (ujar aku dan partnerku) “Iya kak” ( Sahut mereka bertiga) dan hal ini selalu berulang hingga Pengabdian Mengajar hari ke-4, tetapi Alhamdulillah nya kami berdua bisa mengatasi masalah ini sehingga bisa menaikkan selalu mood belajar mereka. Akhirnya kami tahu, bahwa pengembali mood mereka untuk belajar yaitu game, kami memberikan game di sela pembelajaran. Mereka sangat antusias, dan aura bahagia terpancar dari raut muka dan tingkah laku mereka. Kita memainkan beberapa game, dan itupun juga game nya dari adik-adiknya yang minta juga, baiklah kami pun menuruti dan bermain bersama. Game yang kami mainkan diantaranya ‘Kotak Pos’ , ‘Tebak² nama hewan dan buah (ABCDEFG)’ , ‘Lingkaran Kecil , Lingkaran Besar’ dan beberapa game lainnya. Setelah melakukan game, kembali lagi belajar mereka lebih sangat bersemangat, dan hal ini menjadi solusi untuk kami berdua dalam mengajar mereka. Disaat istirahat tiba, adikadik beristirahat dan kamipun laskar Dewantara berkumpul untuk berbagai cerita bagaimana hari pertama mengajar, raut-raut tertawa sekaligus syok melihat tingkah laku adik-adik semua. Dan disela itu kami pun laskar Dewantara juga beristirahat sembari mendekati adik-adik yang sedang berkumpul bermain di halaman belakang, kami sempat mengajak mereka bermain juga trowongan tangkap, mereka bahagia sekali kami pun lebih bahagia melihat mereka bahagia. Dan mengajar hari pertama berjalan lancar , selanjutnya seperti Minggu lalu survey kami Dewantara dan Laskar Dewantara sebelum balik kerumah masing- masing mencari tempat rumah makan untuk makan siang dan juga evaluasi. Hendak pulang dari evaluasi,ternyata langit mulai petang dan turun lah hujan, hujan dihari itu sangatlah deras , tapi kami semua tetap melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mantel. aku berboncengan dengan temanku yaitu Shabrina, keberangkatan dan juga perjalanan pulang aku selalu bersama dia , tetapi aku yang membonceng karena Shabrina belum terlalu bisa. Singkat cerita kami pun sampai dirumah masing-masing, dan setelah itu badan jadi demam. Hari pertama mengajar pun telah selesai, dan menunggu selanjutnya Minggu ke-2. Seperti sebelumnya nya aku dan partner ku menyusun RPP maupun media untuk disiapkan dalam mengajar, pada Minggu ke-2 karena segala aktivitas dikuliah dan kegiatan badan ku jadi drop dan demam disaat H-1 Pengabdian, sempat ingin tidak hadir tetapi aku usahakan untuk hadir dan pada pengabdian pertama aku merelakan Diklat untuk UKM Badminton demi Pengabdian sehingga aku akan mengulang nya kembali di tahun berikutnya, bagiku tidak papa, karena memang niatku untuk mengabdi. Pada Pengabdian Minggu ke-2 bersamaan aku dihadapkan dengan masalah yang menimpa ibuku, ibuku ternyata memiliki riwayat jantung, aku tidak tau tentang penyakitnya karena selama ini ibu ku tidak pernah memperlihatkan dihadapanku, ibuku drop dengan badan
yang lemas tak berdaya, tangisku pecah disana segeralah aku membawanya ke rumah sakit, saat diperiksa barulah tau penyakitnya, dokter pun berbicara kepadaku bahwa harus selalu menjaga ibuku dan tidak boleh kelelahan dan diperhatikan selalu kondisinya. Semenjak ibu ku sakit aku sempat kehilangan arah , semangat hidupku hilang, kuliahku mulai berantakan dan untuk pengabdian pun aku tidak bisa fokus karena penyakit ibuku. tetapi aku selalu memberikan yang terbaik untuk pengabdian ku, dan aku berterima kasih untuk partnerku karena telah membantu memaksimalkan disaat fokus ku telah terbagi antara pengabdian dan ibuku. pengabdian Minggu ke-2 pun selesai dan lancar. pada Minggu ke-3 pengabdian ternyata Allah datangkan musibah lagi atas meninggalnya om aku di Yogyakarta, aku hancur karena beliau orang yang aku sayang karena berpengaruh dihidupku, nasihat dan saran beliau yang selama ini mengarahkan ku, padahal kami sekeluarga mau berencana liburan ke Bali pada Desember ini, tetapi takdir berkata lain Allah lebih sayang beliau dan kamipun sekeluarga berangkat hari Jum'at Pagi Ke Yogyakarta untuk pemakaman beliau sekaligus aku izin pengabdian Minggu ke-3, hari demi hari aku masih merasa terpukul dan kehilangan disisi lain aku sedih dengan sakit ibuku, dititik ini aku merasa menjadi manusia yang paling lemah, aku sering nangis bahkan tidak mau makan, tetapi senyuman ibuku memberiku semangat untuk arti perjuangan hidup, entah setegar apa hati ibuku beliau masih memberikan senyuman hangat dan semangat nya untuk anaknya , padahal dirinya sendiri pun sedang tidak baik. Hingga Pengabdian Minggu Ke-4 aku berusaha memaksimalkan semua, kami membuat media pembelajaran dan mempersiapkan semuanya di kost Jamila hingga larut malam , hingga Pengabdian Minggu ke-4 terlaksana dan berakhir lancar aku sangat bersyukur karena Pengabdian Ini bisa berjalan lancar dan aku mampu menyelesaikan nya. Melihat senyuman adik-adik penuh kebahagiaan merupakan suatu balasan terbaik atas usaha kami memberikan terbaik dalam pengabdian, tangis pun pecah melihat perpisahan kami bersama adik-adik. Kami berharap perpisahan ini bukan akhir dari semuanya, akan ada masanya lagi pengabdian kami untuk mereka. Dari Pengabdian Akbar I ini banyak sekali pengalaman dan hikmah yang dapat diambil, bagaimana memberikan yang terbaik untuk mengabdi dan bagaimana untuk menjadi tegar dalam situasi dan kondisi apapun. Walaupun aku merasa Pengabdian ini belum maksimal, Aku sudah berusaha memberikan terbaik untuk usahaku dan waktu ku untuk mengabdi mengajar sekaligus memberikan ilmu yang nantinya bermanfaat untuk adik-adik. Aku juga belajar banyak hal dalam mengajar, aku yang mengira mengajar hanya sekedar mengajar tetapi dibalik itu semua harus dipersiapkan sebaik mungkin dan memahami bagaimana karakter murid yang berbeda dan nantinya bisa disatukan. mungkin bulan ini ada bulan terberat ku, dan aku berharap dari semua air mata Allah akan menggantikannya dengan kebahagiaan dan memberiku sabar tanpa batas. bukan aku yang menginginkan takdir ini, tetapi aku dihidup atas garis takdir yang telah Allah tetapkan untukku. dan aku mampu untuk hidup lebih tegar dan kuat dan tidak kalah dengan kelemahan ku.
Sedih, Bahagia, Gembira, Cape dan Terharu di SDN 03 Dadapan Adilah Sinta Dewi Haii aku aira zahrana, sebut saja aku sebagai aira, mahasiswa Universitas Negeri Malang,aku fakultas Ilmu Sosial jurusan PPKn, aku angkatan 2022, dimana saat SMA merupakan masa sekolah corona, aku berasal dari Malang tepatnya di daerah Gadang. Suatu kebahagian sendiri bagi aku untuk lolos dalam gemapedia. Inilah kisahku dalam pengabdian akbar 1. Suatu hari yang cerah tepatnya pada hari sabtu diadakan kumpul anggota gemapedia, segala rangkaian acara telah dilakukan oleh aku dan teman-teman gemapedia, namun betapa terkejutnya aku dalam kegaiatan penutup telah di umumkan bahwa akan diadakannya Pengabdian Akbar 1, wahh betapa senang, bahagia, kaget menjadi campur terutama ketika telah melihat pembagian anggota kelompok Pengabdian Akbar. Aku mendapatkan kelompok yang berada di sekolah SDN 03 Dadapan, ada 12 teman-teman yang bersama di dalam kelompok tersebut. Awalnya kita memang tidak saling mengenal hanya beberapa orang saja. Setelah pembagian kelompok SD adalah waktunya pembagian kelompok kelas, awalnya aku sangat takut dan ragu mendapatkan partner yang tidak asik ataupun kurang kerja sama, namun tak disangka aku mendapatkan partner yang sangat asik, bisa bekerja sama dengan baik, idenya sangat luas. Sebut saja namanya Ana , Ana merupakan mahasiswa Universitas Negeri Malang , jurusan PGSD, bedanya dengan aku yaitu Anggya merupakan angkatan 2023 yang merupakan satu tahun lebih muda dariku. Namun hal tersebut tidak berpengaruh dalam kekompakan kami dalam menjalankan pengabdian akbar 1 ini. Setelah pembagian usai aku dan Ana mendapatkan kelas 1 untuk diajari mengenai mata pelajaran matematika, walaupun benenarnya aku tidak begitu menyukai matematika jika untuk mengajar kelas 1 ya masih okelah hehe. Hari yang kami tunggu yaitu hari observasi, dimana aku dan 12 teman gemapedia serta di dampingi oleh kakak-kakak LO yang sangat baik. Semuanya berkumpul di Unversitas Negeri Malang pukul 08.00, semuanya sangat antusias untuk melihat kondisi sekolah yang akan kami gunakan dalam pengabdian ini. Setelah semua berkumpul kami siap untuk berangkat ke SDN 03 Dadapan. Di dalam perjalanan aku sangat menikmati pemandangan, bagaimana tidak ketika sudah memasuki wilayah kabupaten Malang, banyak sekali pepohonan, sawahsawah dan pemandangan di desa yang begitu sejuk saat pagi. Perjalanan ditempuh sekitar 90 menit lamanya, tak terasa sampai juga aku beserta teman-teman gemapedia di tujuan kami yaitu SDN 03 Dadapan. Kami segera memakirkan sepeda di halaman lalu kami bergegas ke ruang guru untuk bersalaman serta mengajukan tujuan kami yaitu untuk observasi lingkunhan dan siswa pada sekolah ini. Kami sangat disambut dengan penuh gembira, rasanya guru di sana memberikan harapan pada kami untuk membantu memajukan pendidikan yang ada di sekolah tersebut. Sesi penyampaian tujuan telah dilaksanakan akhirnya kami keluar dan memasuki ruang kelas masing-masing sesuai pembagian kelas. Aku dan Ana berjalan menuju kelas 1, sambil melihat-lihat kondisi sekolah. Waktu itu kami tiba pukul 10.00 melihat kondisi sekolah yang sangat gersang, tanaman banyak yang kering dan kebersihan disana masih kurang, namun hal itu tidak membuat aku dan Ana tidak bersemangat dalam mengajari adek-adek kelas satu. Kami telah sampai di kelas satu, kami melihat kelas satu dan kelas dua digabung. HAH????? Digabung???? Sangat terkejut karena kita tidak pernah melihat hal ini terjadi di sekolah daerah
kota-kota. Lebih sangat terkejut lagi di dalam kelas satu hanya terdapat 6 orang siswa dan kelas dua terdapat 3 orang siswa. Dalam hatiku berkata “pantas saja digabung, jumlah siswanya saja hanya sedikti, apapun itu jika digabung mereka memiliki tungkat kerja otak yang berbeda, bukankah sebaiknya untuk dipisah saja?”, entahlah banyak sekali pertanyaan yang timbul dalam pikiranku. Langsung saja pada sesi perkenalan diri aku dan Ana serta 2 rekan teman gemapedia di kelas 1 dan 2 saling memperkenalkan dirinya satu-persatu. Begitu senang sekali rasanya ketika melihat anak-anak disana menyambut kami serta berkenalan dengan sangat antusias. Kelas satu memanglah sangat lucu sekali aku sudah berkenalan dengan beberapa anak yaitu ada Andi, Alfan, Keisya, Tantri, Fattah, dan Gibran. Hari pertama saja aku sudah mengetahui bahwa Andi adalah orang yang sangat pemalu dan pendiam. Setelah kami berkenalan Aku dan Ana mengajak berbincang-bincang sedikit kepada anak-anak, namun tak lama kemudian kami di panggil oleh kakak-kakak LO untuk berkumpul dan segeraizin pamit pulang kepada pihak sekolah dikarenakan hari juga mulai siang. Akhirnya kami pun segera pamit dan mengambil sepeda masing-masing untuk bergegas pulang, sebelum pulang, kakak-kakak LO mengajak kami untuk makan bersama dan berbincang bagaimana hasil observasi disana, lalu juga menanyakan bagaimana perjalanannya, serta juga kami bersama kakak LO berdiskusi untuk menentukan pemilihan ketua, sekeltaris, dan bagian-bagian lainnya. Setelah semua selesai kamipun kembali ke UM untuk berkumpul sebelum kepulangan, dan akhirnya kami pulang kerumah masing-masing. Sesampainya dirumah aku segera ber istirahat dan menanyakan kepada rekanku Ana mengenai hal harus kita persiapkan di Sabtu depan, karena dalam mengabdi kami perlu menyiapkan modul ajar, media pembelajaran, serta lagu belajar yang nantinya kami sampaikan di kelas satu. Kami berdiskusi mengenai media apa yang akan kami gunakan dan cocok untuk anak kelas satu disana, akhirnya kita menemukan media balok, semangka untuk mengykur tingkat kecerdasan menghitung peserta didik. Kami juga telah menyediakan lagu belajar yang mudah dipahami oleh anak-anak disana.Berbagai persiapan tersebut akan di presentasikan pada hari Kamis memalui Google meet. Aku dan Ana sudah mempersiapkan untuk hal yang akan kami presentasikan, kamipun mendapatkan feedback yang baik serta beberapa komentar dari kakak-kakak LO untuk perbaikan selanjutnya. Tibalah hari yang sangat aku tunggu-tunggu yaitu hari pengabdian akbar pertama, hari itu berjanjian berkumpul pukul 05.10. Aku sudah bangun sangat pagi namun ketika hendak berangkat sepedaku mengalami troubel, sisitu aku sangat panik dan cemas karena akan terlambat jika sepedaku tetap tidak bisa nyala, tak mau menunggu lama aku segera meminta pertolongan kepada sepupuku untuk memperbaiki sepedaku, dan akhirnya sepedaku dapat menyala, aku segera berangkat dan berjalan sedikit mengebut. Akhirnya telah sampailah aku di Um tempat berkumpul kami sebelum pengabdian. Sebelum berangkat kami semua berfoto bersama dan melantunkan yel-yel gemapedia. Kami pun berangkat, di pagi hari suasana sangat sejuk, melihat pemandangan matahari terbit serta sawah sawah yang hijau dan para petani yang akan berangkat ke sawah menambah ke asrian suasana waktu itu, perjalanan yang lama tidak terasa jika di hidangkan dengan pemandangan yang sangat indah dan menawan. Benar benar pengalaman yang sangat menenangkan hati. Perjalanan telah kami tempuh hingga sampai sudah kita di sekolah SDN 03 Dadapan. Hari pertama kita awali dengan upacara bendera, semua anak-anak berjalan menuju lapangan. Upacara pemnukaan kami lakukan dengan sangat khitmat. Setelah upacara selesai kami semua masuk kelas masing-masing. Hari pertama dimana aku dan Ana pertama kali menyampaikan meteri matematika kepada anak-anak, cukup melelahkan karena anak-anak kelas satu disana memili karakter yang sangat berbeda dengan anak kota, disana anak-anaknya lebih banyak aktif, masih sangat susah untuk diberitahu. Ada beberapa kendala yang mungkin aku dan Ana rasakan, yaitu menghandel anak-anak agar dapat
kondusif, di tambah lagi di daerah Wajak merupakan daerah yang sangat panas jika di siang hari. Rasa haus menyelimuti kamu, suara pun hampir habis karena digunakan secara terus menerus untuk mengkondusifkan anak-anak. Bel berbunyi suara riang gembira dari ana-anak dan aku pun keluar, rasa yang lega ketika jam pelajaran hari itu usai. Semua bergegas untuk pulang dan ditutuplah pembelajaran hari ini dengan berdoa. Anak-anak pun pulang dan kami semua berkumpul untuk bersalaman pamit kepada pihak sekolah. Tak terasa hari mulai siang dan sangat terasa menyengat. Kami pun melakukan evaluasi di daerah dekat di daerah Wajak. Aku dan Ana menyampaikan evaluasi hambatan hari ini. Selesai evaluasi kami pun pulang ke masing-masing rumah. Keesokan harinya dimana hari Minggu aku mengalami sakit, mungkin karena kecapean membawa sepeda pulang pergi dari Gadang ke UM , Wajak dan kembali kerumah, badanku demam dan pusing, belum lagi aku dan Ana harus menyusun modul ajar dan media pembelajaran untuk hari Sabtu selanjutnya, walaupun keadaan lagi tidak baik aku tetap memaksakan diri untuk berdiskusi bersama Ana agar rancangan pembelajaran kami di hari Sabtu dapat berjalan lagi seperti Sabtu kemarin. Pada Minggu kedua dan ketiga kami melakukan pengabdian sesuai dengan sebelumnya, Aku dan Ana merancang pembelajaran dan mengambil evaluasi sebagai solusi kami kedepannya agar kondisi kelas lebih baik. Dalam minggu kedua dan ketiga aku Tono mendapatkan tugas sebagai pemimpin senam, begitu senang sekali dapat melihat anak-anak mengikuti senam di pagi hari, begitu juga dengan aku yang sangat antusias dalam mempimpin adek-adek. Dalam minggu kedua dan ketiga ini aku dan Ana memiliki kemajuan dalam mengkondusifkan anak-anak. Dimana pada minggu ke kedua dan ketiga anak-anak mulai dekat dengan kami, mereka mau menyimak dengan baik serta dapat memahami materi yang kami sampaikan dengan baik. Walaupun pada saat minggu kedua dan ketiga aku selalu terlambat hingga aku dijadikan beban kelompok yang selalu menungguku hadir di setiap paginya. Aku selalu merasa bersalah ketika aku terlambat, namun apadaya karena aku pun sudah berusaha bagun pagi hehe. Minggu kedua dan ketiga kami lalui dengan riang gembira, evaluasipun mulai mengalami peningkatan, walaupun saat setiap pulang dari evaluasi kami mengalami badai hujan yang membuat aku jatuh sakit lagi disetiap sabtunya, belum lagi tugas kuliah yang sangat menumpuk. Lalu sampailah akhir pengalaman pengabdian ini pada minggu ke empat, aku diberi tugas untuk membelikan sebuah hadiah yang akan diberikan kepada anak-anak, uangnya pun berasal dari iuran kami ber 12. Aku membelikan sebuah satu shet alat tulis yang sangat lucu. Aku melakukan pengabdian terakhirku dengan sangat gembira, namun dalam hati kecilku mengalami kesedihan sendiri karena Sabtu ini merupakan Sabtu terakhir aku bertemu dengan adek-adek yang sangat lucu ini. Seperti biasa aku memasuki kelas bersama Ana dan memberikan pembelajaran seperti biasa, pada minggu ke 4 ini kami melakukan kegiatan yang berbeda yaitu membuat sebuah kerajinan dsri bunga yang nantinya akan dibuat sendiri oleh anak-anak dan dibantu dengan aku dan Ana. Bunga hasil kreatifitas anak-anak sangat lucu dan kamipun melakukan sesi foto bersama sebelum pengabdian hari ini usai. Bell pulang pun mulai akan terdengar, aku bserta teman-teman gemapedia melakukan upacara bendera penutupan sekaligus pemberian cendera mata dan hadiah kepada pihak sekolah dan anak-anak, disana hatiku sangat senang karena anak-anak tersenyum gembira melihat hadiah tersebut. Namun sekali lagi hati kecilku memiliki perasaan sedih karena tidak dapat berjumpa dengan anak-anak lagi. Kegiatan pengabdian minggu ke empat telah usai, aku beserta teman-teman dan kakak LO gemapedia melakukan rapat evaluasi seperti biasanya, namun pada sesi ini kami melakukan evaluasi sesama rekan kelompok, kami saling memebrikan solusi dan komentar, disana aku mendapatkan banyak hal masukan serta komentar demi kebaikanku kedepannya. Aku sangat
bangga sekali kepada kakak-kakak LO yang sangat sabar membimbing dan mengajari kami hingga usai sudah pengabdian ini, aku juga sangat berterima kasih banyak sekali kepada rekan ku Ana yang selalu bersedia bekerjasama dalam memberikan materi kepada adik-adik, serta teman-temanku gemapedia yang selalu kompak dalan menjalankan pengabdian akbar di sdn dapapan ini, intinya semuanya sangat aku cintai, ini merupakan pengalaman keren bagiku bisa melakukan pengabdian bersama rekan-rekanku yang super duper hebat, aku tidak akan pernah melupakan pengalaman ini, see you temen-temen, semoga kita bisa berjumpa di pengabdia selanjutkan.
Sepenggal Perjalanan yang Menyenangkan Shabrina Putri Dhimona Aku adalah remaja yang baru saja sampai di depan pintu bangku perkuliahan. Aku tidak memiliki apapun dan aku tidak membawa apapun. Hanya berbekal rasa yakin dan semangat untuk melangkah membuatku semakin lama merasa tidak percaya diri. Langkah demi langkah membuat aku berjalan ragu. Aku terus mencari apa yang salah dan berusaha kembali melihat langkahku dari awal. Sampai aku memahami bahwa ternyata aku terlalu bersih dan putih. Langkahku terlalu bersih tanpa kerikil ataupun bebatuan yang kulewati, pengalamanku terlalu putih tanpa tantangan, dan ternyata itu membuatku merasa perjalananku selama ini tidak menyenangkan. Disinilah aku saat ini, memulai perjalanan dan memilih tantangan baru bersama teman dan keluarga baru untuk melangkah bersama. Langkah awal yang aku ambil adalah bergabung bersama Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan. Kami melakukan pengabdian dengan mengajar dan terjun langsung ke tempat pedesaan yang fasilitas pendidikannya masih kurang. Perasaan senang ini muncul saat membayangkan bagaimana aku bisa membantu anak-anak. Bagaimana nantinya aku akan berinteraksi dengan mereka, tentunya itu membuatku senang serta tidak sabar untuk segera memulai pengabdian ini. Dan inilah perjalananku dimulai. Ternyata memang tidak mudah. Aku yang selama ini terbiasa menghabiskan banyak waktuku untuk bermain dan melakukan banyak hal untuk bersenang-senang, sekarang bukan hanya waktu untuk bermain dan bersenang-senang yang aku habiskan. Aku harus bisa membagi waktuku antara tugas perkuliahanku, waktu bermainku, dan tanggung jawab baruku dalam mengajar anak-anak. Meskipun mengajar yang aku lakukan tidak setiap hari, tapi persiapannya untuk mengajar juga menyita banyak waktu. Perjalanan yang aku dan temanteman lalui untuk sampai ke sekolah dimana kita akan mengajar juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Perjalanan yang ditempuh hampir 1 jam dengan jarak kurang lebih 32 km menggunakan motor juga tidak selalu berjalan mulus. Hampir tersesat di perjalanan menuju lokasi, ban bocor, lelahnya membawa media pembelajaran dalam perjalanan jarak jauh, rasa kantuk yang kita rasakan karena memang kita berangkat pagi sekali, rasa lapar yang kita tahan karena sering kali lupa sarapan, hujan deras yang harus kita lewati saat perjalanan pulang karena saat itu musim hujan, dan masih banyak lagi pengorbanan yang kita lakukan. Kesusahan itu bukan hanya kita rasakan dari persiapan dan saat keberangkatan saja, tapi saat kita terjun mengajar langsung juga dihiasi penuh tantangan. Hal ini menjadi tantangan besar untukku yang belum punya pengalaman mengajar sama sekali. Menurutku mengajar itu akan mudah karena kita hanya menyampaikan dan berinteraksi saja, tapi ternyata tidak seperti itu. Perbedaan lingkungan yang aku temui di perkotaan dan pedesaan membuat aku harus beradaptasi juga menyesuaikan perbedaan itu. Karakter siswa yang jauh lebih kompleks membuatku harus bisa mencari cara yang tepat untuk menghadapi setiap karakternya. Kesulitan adik-adik memahami materi dengan cepat juga membuatku harus terus mengulang materi untuk disampaikan supaya mereka bisa memahami pelajaran. Sulitnya untuk menertibkan adik-adik yang enggan untuk belajar juga menguji kesabaranku. Harus tersenyum setiap kali mengajar meskipun dalam keadaan yang tidak baik-baik saja juga tidak mudah, kadang juga ingin marah.
Namun, dibalik kesusahan itu, aku menemukan banyak hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Rasanya memang sulit untuk beradaptasi dengan perbedaan lingkungan yang ku temui, namun ternyata senang rassanya melihat aku berhasil menyampaikan ilmu untuk adik-adik. Senang rasanya saat mereka bertanya dan mengandalkan aku ketika mereka kesusahan dalam menjawab soal. Ucapan terima kasih yang terdengar tulus kala aku membantu mereka mengerjakan. Senang rasanya menatap mata antusias yang mereka pancarkan untuk belajar dan menyelesaikan soal demi soal. Bangga rasanya menjadi bagian orang berjasa yang bisa membantu mereka. Senang ketika mereka memanggil namaku untuk sekedar bertanya apakah jawabannya sudah benar. Aku cukup lelah, namun ternyata lelah yang aku rasakan adalah lelah yang bahagia. Ternyata rasanya puas ketika aku bisa menyampaikan materi didepan, diperhatikan, dan menjadi teladan bagi mereka. Aku tidak pernah tau bahwa ternyata mengajar bisa menjadi sebahagia ini. Dari dulu aku tidak pernah ingin menjadi guru. Rasanya pasti sangat capek dan merepotkan. Meskipun semua pemikiranku benar bahwa menjadi guru itu lelah dan merepotkan, tapi ada sebuah perasaan bahagia yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Pengalaman mengajar ini memberikan aku banyak hal baru dan perasaan yang baru. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menjelaskan perasaan ini, yang jelas aku bahagia. Mengajar ternyata bukan hanya sekedar menjelaskan, tapi bagaimana energi positif yang kita sampaikan dapat mereka terima dengan baik. Mengajar bukan hanya sekedar menerangkan materi, tapi bagaimana kita juga bisa memahami perasaan mereka. Perasaan adalah sinyal yang harus kita tangkap dengan baik. ketika mereka rasanya terlalu enggan belajar, sinyal itu harus cepat kita tangkap. Bagaimana selanjutnya kita bisa mencari solusi untuk membangkitkan semangat mereka lagi. Aku belajar banyak dari pengalaman ini bahwa memahami seseorang menjadi hal yang paling penting dalam berinteraksi. Ada satu orang muridku yang membuatku bingung saat itu. Namanya Aldi. Dia sering kali kutemui dalam keadaan murung dan sedih. Aku berusaha mendekatinya dan bertanya alasan dia menangis, namun tidak ada respon dan justru tangis itu semakin lama reda. Untuk kedua kalinya aku membiarkan dia menangis, namun ia tetap menangis sehingga melewatkan berbagai materi yang sudah disampaikan. Ternyata, meskipun aku bukan seorang guru sungguhan, aku punya perasaan dan dedikasi itu. Ternyata aku tidak bisa diam saja melihat kegagalanku dalam membantu muridku yang sedang kesusahan. Hal terakhir yang aku lakukan ketika melihat Aldi menangis adalah mendatanginya. Aku tidak menyuruhnya untuk berhenti menangis, tapi aku mengizinkan dia melanjutkan tangisnya hingga ia merasa lega. Sambil terus aku memberi perkataan yang positif untuknya, aku rangkul pundaknya dan mengatakan “kamu hebat”. Aku tidak pernah menyadari bahwa sebenarnya kata “hebat” adalah untukku sendiri. Karena ternyata aku bisa menjalani peran baru ini dengan baik. Ternyata aku bisa menjalani tugasku dengan tuntas. Ternyata aku bisa melawan rasa lelah yang terus aku keluhkan. Akhirnya, aku mulai menyadari bahwa perjalananku saat ini terasa cukup menyenangkan. Namaku Shabrina Putri Dhimona. Teman-teman seing memanggilku Shabrina. Aku adalah mahasiswa angkatan 23 yang baru saja menginjakkan kaki di bangku perkuliahan. Seseorang yang belum memiliki pengalaman apapun ini sedang berusaha mencari banyak pengalaman baru. Universitas Negeri Malang menjadi tempatnya memulai langkah dan perjalanan baru ini. Menulis menjadi salah satu kegiatan favoritnya untuk sekadar meluangkan waktu dan musik menjadi pengiring dalam hariharinya. Sehingga menulis dan musik menjadi bagian yang begitu membahagiakan untuknya.
Mengukir Pendidikan Melalui Pengabdian di Daerah Pedalaman Siti Romadhotul K Di ujung jalan yang berliku dan menanjak, di pedalaman sebuah desa terpencil, berdiri sebuah sekolah kecil. Sekolah itu adalah satu-satunya tempat untuk belajar bagi anak-anak di sekitar sana. Meski terpencil, semangat untuk menginspirasi melalui pendidikan tetap menyala di hati guru dan siswa di sekolah ini. Suasana di pagi hari di desa itu selalu sejuk dan tenang. Matahari baru mulai muncul di ufuk timur ketika sekelompok sukarelawan datang dari kota besar untuk menjalankan program pengabdian pendidikan. Di antara mereka, ada Maya, seorang guru matematika yang memiliki tekad untuk membawa cahaya pendidikan ke tempat-tempat terpencil. Selain itu, ada juga Rizal, seorang mahasiswa ilmu pendidikan yang ingin berbagi pengalaman dan pengetahuannya dengan anak-anak di desa itu. Ketika mereka tiba, seluruh sekolah bersiap-siap menyambut kedatangan sukarelawan. Sebuah perasaan haru dan antusiasme terpancar di wajah-wajah anak-anak yang datang berbaris rapi di depan pintu gerbang sekolah. Walaupun terpencil, semangat untuk belajar tetap terasa kuat di hati mereka. Maya dan Rizal segera bergabung dengan para guru sekolah tersebut. Mereka diajak berkeliling dan diperkenalkan dengan fasilitas yang terbatas namun tetap berfungsi. Ruang kelas yang sederhana dengan meja dan kursi kayu, perpustakaan yang terdiri dari beberapa rak buku, dan lapangan bermain sederhana yang menjadi tempat anakanak melepaskan kelelahan mereka. Hari pertama dimulai dengan Maya memberikan pelajaran matematika untuk siswa kelas empat. Meski kurangnya sarana dan prasarana, Maya tetap semangat memberikan pengajaran dengan metode yang kreatif. Papan tulis menjadi kanvas untuk menjelaskan konsep matematika dengan ilustrasi yang jelas dan gambar yang menarik. Anak-anak menatap penuh antusiasme, mencoba menyerap ilmu sebanyak mungkin dari setiap kata yang keluar dari mulut Maya. Di samping itu, Rizal mengadakan sesi kreativitas untuk siswa kelas empat. Mereka diberikan tugas untuk menulis cerita pendek tentang kehidupan mereka di desa. Rizal ingin menggali potensi kreativitas anak-anak tersebut dan memberikan mereka kesempatan untuk berbicara melalui tulisan. Hasilnya, kisah-kisah indah tentang kehidupan di desa terpencil mulai muncul dari pena anak-anak tersebut.Selama istirahat, Maya dan Rizal tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga teman bermain. Mereka ikut bermain sepak bola di lapangan tanah dan melibatkan diri dalam permainan tradisional bersama anak-anak. Hal ini menciptakan ikatan yang erat antara sukarelawan dan siswa, meleburkan batasan antara "mereka" dan "kami". Hari-hari berikutnya diisi dengan berbagai kegiatan edukatif. Rizal melibatkan anak-anak dalam eksperimen sederhana di bidang sains, menciptakan minat baru dan melibatkan mereka dalam pembelajaran yang menyenangkan. Maya melanjutkan pengajaran matematika, tetapi kali ini dengan metode pembelajaran kelompok, Malam yang tenang menyelimuti desa terpencil itu. Bulan purnama bersinar terang, menandakan akhir dari kegiatan pengabdian pendidikan yang telah memberikan warna baru bagi sekolah kecil tersebut. Meski hari-hari telah penuh dengan pembelajaran dan keceriaan, ada satu momen yang akan menjadi kenangan tak terlupakan bagi Maya, Rizal, dan seluruh warga desa.
Bersama Rindu PA I Jamila Fitrianingsih Perkenalkan nama saya Jamila Fitrianingsih, lahir di Lumajang pada tanggal 27 November 2003. Saya berasal dari Kabupaten Lumajang-Jawa Timur, alamat rumah saya di Perum Surya Asri BD.10, Kel/Desa Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang. Saya merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Gemapedia merupakan gerakan mahasiswa peduli pendidikan. Pada gemapedia kita dapat menemukan arti kesabaran, ketulusan serta cinta yang datangnya tidak disangka-sangka. Bukan hanya sebagai tempat belajar-mengajar, tetapi juga wadah kebersamaan dan kekeluargaan. Gemapedia mengajarkan bahwa bukan hanya banyaknya pengalaman yang dicari, namun juga ketulusan ketika bersama mereka. Pengabdian akbar I, pengabdian yang tidak akan terlupakan. Sebelum terlaksananya pengabdian akbar I ini dilakukan survey sebagai pengenalan terhadap sekolah yang akan menjadi tempat belajarmengajar pertama yang berharga bagi saya selama 1 bulan. Hari pertama pengabdian merupakan hari yang bahagia dan mendebarkan untuk saya, mungkin teman-teman lain juga merasakan hal yang sama. Saat akan berangkat menuju SDN 3 Dadapan tempat saya belajar dan mengajar, saya meminta do’a kepada ibu saya dan dijawab oleh ibu saya “Bismillah, jangan lupa sholawat, sukses (dengan emoticon sip)”. Selama perjalanan saya terdiam, saya merasa tidak menyangka bisa ada di gemapedia dan di pengabdian akbar I ini. Saya mengingat moment dimana saat pelaksanaan FGD sebelum diterima di gemapedia, ketika penayangan vidio pengabdian akbar I sampai akhir, dalam hati saya berkata “Bismillah, Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali sayyidina muhammad, semoga keterima”. Sampai pada akhirnya saya menunggu pengumuman lolos seleksi tersebut. Saya mengetahui saya lolos seleksi dari teman saya dan itu saya masih tidak menyangka. Ketika menginjakkan kaki di SDN 3 Dadapan saya berharap bisa berjalan dengan lancar. Ketika sampai di sana adik-adik melihat kita dengan wajah yang bahagia. Pada saat memasuki kelas adik-adik sudah duduk rapi di dalam kelas dan berdo’a. Dalam satu kelas tersebut diisi oleh adik-adik kelas 1 dan 2. Terdapat sekat yang membatasi antara kelas 1 dan 2, namun pada hari pertama karena masih dalam tahap pengenalan bagi saya dan juga adikadik, sehingga satu ruangan dengan kelas 1 tanpa adanya sekat tersebut. Adik-adik terlihat antusias dalam belajar dengan menggunakan media pembelajaran yang telah disiapkan. Pada hari pertama ini merupakan hari yang paling mengesankan bagi saya karena meskipun dalam kelas tersebut hanya terdapat 3 orang anak, tetapi seperti lebih dari tiga anak. Dengan tingkah adik-adik yang menggemaskan dan memerlukan kesabaran yang tinggi, saya dan rekan saya mampu melaksanakan minggu pertama pengabdian akbar I dengan baik dan lancar meskipun saya merasa masih banyak kurangnya. Saran dari LO yang mengapresiasi dan membangun membuat saya lebih semangat dalam melakukan pengabdian di minggu selanjutnya. Dari hari pertama ini saya mulai mengenal adik-adik lebih dalam. Mulai dari anak yang paling pintar di kelas, anak yang belum lancar dalam membaca, dan anak yang pemalu. Berbagai karakteristik anak tersebut ada di dalam satu kelas, itu bukan sebuah penghalang namun sebuah penyemangat dan tantangan untuk saya dalam belajar dan mengajar di kelas tersebut.
Minggu kedua masih terasa mendebarkan bagi saya. Ketika memasuki kelas terdapat satu anak yang tidak masuk kelas dikarenakan sakit, dan mungkin itu yang membuat mereka menjadi kurang semangat dan ceria. Sebagai seorang pendidik harus selalu menguatkan dan memberikan kata-kata semangat, sehingga mereka dapat melalui hari dengan bahagia dan ceria. Pada hari kedua ini meskipun pada awalnya seperti kurang bersemangat, namun pada saat disuguhkan dengan media pembelajaran yang berupa “Papan pengelompokan cuaca” mereka menjadi bersemangat dalam belajar. Diselingi dengan ice breaking membuat mereka tidak bosan dan mengembalikan mood belajar mereka. Ketika mereka meminta game terus-menerus, kami membuat kesepakatan apabila mereka belajar dengan baik di akhir akan ada game ular tangga. Dengan itu mereka menjadi antusias dalam belajar. Game ular tangga tersebut saya buat sebagai tempat mereka belajar dan bermain. Game ular tangga mengajarkan kita dalam mengenal diri, mengenal emosi, empati, berbagi, kerjasama, dan disiplin. Senang dan bahagia itulah suasana hati kami setelah bermain game ular tangga tersebut. Hari ketiga pengabdian merupakan hari yang menegangkan bagi saya karena rekan saya berhalangan hadir, sehingga saya mengajar dengan bantuan kakak LO saya yang baik, tegas dan penyabar. Meskipun terasa sepi, namun harus tetap semangat dan bahagia. Pada hari ketiga ini saya menemukan hal yang baru dimana Rotul yang saya kenal tidak begitu aktif dikelas dan merupakan anak paling pintar dikelas tersebut, menjadi sangat aktif dan banyak tingkah pada hari itu, Ayu yang pendiam selalu mengikuti Rotul, sedangkan Gaby yang di hari pertama aktif menjadi pendiam dan tidak banyak tingkah. Karakteristik anak yang berubah-ubah ini membuat saya belajar banyak hal tentang cara menyikapinya, di mana guru harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, serta memiliki ketulusan dan keikhlasan dalam mengajar. Waktu berlalu begitu cepatnya, minggu keempat ini merupakan minggu yang sangat berat karena pada akhirnya harus berpisah dengan adik-adik semua terutama siswa kelas 2. Pada minggu keempat ini kami menggunakan media yang bisa diaplikasikan secara langsung dan tanpa menempel, karena pada minggu ketiga adik-adik mengeluh bosan karena selalu menempel. Pada kegiatan belajar ini sangat seru dan menyenangkan, mulai dari belajar dengan media pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya, dan membuat bunga. Bertepatan dengan hari guru nasional, adik-adik diminta untuk membuat keterampilan bunga, mereka sangat antusias dan senang sekali hingga pada saat bel istirahat berbunyi pun mereka ingin menyelesaikan terlebih dahulu bunganya, setelah itu istirahat. Tidak hanya rasa bahagia yang saya bawa pulang, tetapi juga rindu akan tawa, wajah gembira, dan tingkah laku mereka yang MasyaAllah. Pengabdian akbar I ini mengajarkan saya banyak hal, mulai dari kebersamaan, kekeluargaan, mengenal karakteristik anak, serta cara menyikapinya. Seperti di awal ketika saya masuk dalam gemapedia, saya siap mengabdikan diri saya untuk gemapedia. Saya memiliki tekad untuk dapat belajar, mengajar, dan mengabdikan diri kepada masyarakat. Saya berterimakasih banyak kepada kakak LO saya yaitu kak Khoiruni Ni’maturrizqiah yang telah sabar, tegas, dan baik sekali dalam membimbing kami dari minggu pertama sampai terakhir, dan terimakasih juga kepada kakak-kakak LO lainnya yang sudah mendampingi kami dengan sabar. Sukses selalu Gemapedia. Pada malam terakhir, di bawah langit penuh bintang, warga desa menyelenggarakan pertunjukan seni dan budaya. Anak-anak yang sebelumnya hanya dikenal sebagai siswa, kini tampil di panggung sebagai penari dan penyanyi. Mereka membawakan tarian tradisional dan lagu-lagu daerah yang menggugah hati. Maya dan Rizal duduk di barisan depan,
menyaksikan dengan bangga transformasi yang terjadi pada setiap anak. Selama pertunjukan, beberapa siswa membacakan cerita pendek yang telah mereka tulis selama kegiatan pengabdian. Rasa haru dan kebahagiaan terpancar di wajah mereka, seolah-olah mereka telah menemukan suara mereka yang selama ini terpendam. Rizal memberikan komentar dan pujian atas kreativitas serta usaha yang mereka tunjukkan. Setelah pertunjukan, acara perpisahan diadakan di halaman sekolah. Di tengah cahaya lampu sorot sederhana, Maya dan Rizal menerima ucapan terima kasih dari kepala desa dan warga. Selembar piagam penghargaan diserahkan kepada mereka sebagai tanda terima kasih atas kontribusi positif yang telah mereka berikan. Maya berdiri di depan anak-anak dan warga desa, "Saya tidak hanya melihat sekolah kecil ini sebagai tempat pembelajaran, tetapi sebagai tempat di mana semangat belajar dan kerjasama saling tumbuh. Anak-anak, tetaplah bersemangat dan terus gali potensi kalian. Rizal menambahkan, "Pendidikan bukan hanya tentang buku dan pulpen, tetapi juga tentang menjalani setiap momen dengan semangat belajar. Saya yakin, masa depan desa ini akan menjadi lebih cerah dengan anak-anak yang penuh potensi seperti kalian. Suasana haru terasa di udara. Anak-anak, meski sempat ragu dan canggung di awal, sekarang melihat kedua sukarelawan itu sebagai teladan. Warga desa merangkul mereka sebagai bagian dari keluarga besar yang peduli akan pendidikan anak-anak mereka. Seiring berjalannya waktu, Maya dan Rizal mengucapkan selamat tinggal kepada desa tersebut. Sementara mereka melangkah keluar dari gerbang sekolah, mereka tahu bahwa jejak mereka akan selalu ada dalam cerita kehidupan anak-anak dan warga desa. Meski terpencil, sekolah kecil di desa 3T itu kini memancarkan semangat baru, dan cahaya pendidikan itu menjadi api yang tetap menyala. Maya dan Rizal meninggalkan desa dengan hati penuh kebahagiaan dan kepuasan. Meski terpencil, mereka tahu bahwa cahaya pendidikan telah menyinari desa itu. Anak-anak di sana tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga memperoleh inspirasi dan harapan untuk meraih mimpi mereka. Keberhasilan kegiatan pengabdian ini menjadi bukti bahwa pendidikan dapat mengubah nasib dan membuka pintu menuju masa depan yang lebih baik di desa terpencil itu. Biodata Penulis Dengan hati penuh semangat, Siti Romadhotul Kholifah adalah seorang penulis yang berdedikasi menciptakan kisah inspiratif dan penuh makna. Penulis adalah mahasiswa departemen Administrasi Pendidikan di Universitas Negeri Malang yang mengikuti organisasi Gerakan mahasiswa peduli Pendidikan (GEMAPEDIA). Dengan latar belakang pendidikan dan kecintaan pada bahasa, ia berusaha menghadirkan cerita-cerita yang memotivasi dan menyentuh hati pembaca.
Belajar Sambil Berdampak di SDN 3 Dadapan Bersama Gemapedia Syekha Vivi Alaiya Gemapedia, organisasi yang aku impikan sejak menjadi mahasaiswa baru di tahun 2021. Akan tetapi, dulu aku belum cukup berani untuk keluar dari zona nyamanku, hingga akhirnya di tahun ke-3 kuliahku, aku mencoba keluar dan zona nyaman dan mengikuti Gemapedia. Semua berawal dari keinginanku untuk bisa belajar dan berdampak, dan aku yakin aku bisa mewujudkan keinginanku lewat Gemapedia. Sabtu, 4 November 2023. Pengabdian Akbar 1 dimulai, aku sangat senang karena bisa mengabdi untuk mereka yang membutuhkan. Bisa diterima dengan baik di keluarga Gemapedia, mengabdi bersama dengan teman-teman Laskar Dewantara Batch XI dan kakakkakak Dewantara adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Saat hari pertama, aku cukup kaget dan miris karena ternyata di Kabupaten Malang yang aku kira sudah sangat maju dalam bidang pendidikan, ternyata masih banyak siswanya yang belum lancar membaca. Di kelas 3 SDN 3 Dadapan ini ada dua anak yang kurang lancar membaca, sebut saja si K dan si A. Tetapi, mereka berdua memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Tapi, juga ada dua siswa lainnya, sebut saja si F. Pertama kali aku mengenal si F aku sempat kaget, karena ternyata ada siswa yang benar-benar tidak mau mengikuti kegiatan pembelajaran dan terus sibuk dengan dunianya sendiri. Si F juga memiliki pengaruh kuat di kelasnya, dia berhasil mengancam teman-temannya untuk patuh dengan dirinya, sebut saja temannya itu si N. Di hari pertama, aku sempat bingung harus memberikan treatment seperti apa kepada si F agar mau belajar. Akhirnya aku putuskan untuk memberikan perhatian khusus kepadanya. Akan tetapi, usahaku sia-sia, setelah diberikan perhatian khusus dia malah terus berulah. Sampai akhirnya aku abaikan si F dan fokus dengan siswa lainnya, terutama si K dan si A yang kurang lancar membaca. Tidak terasa hari pertama Pengabdian Akbar I usai. Aku sangat suka dengan konsep kegiatannya. Karena setelah pelaksanaan pembelajaran langsung dilaksanakan evaluasi sehingga aku dapat memperbaiki kualitas pembelajaran selama di kelas. Tentunya, aku sangat senang bisa mendapatkan insight baru dari kegiatan evaluasi bersama. Setelah selesai evaluasi, aku dan tim SDN 3 Dadapan melakukan perjalanan pulang ke kampus UM tercinta. Namun, ditengah perjalanan tiba-tiba turun hujan. Aku sempat takut karena harus mengendarai motor dalam kondisi hujan dengan jarak tempuh cukup jauh. Sepanjang perjalanan aku sangat takut dan was-was, tapi alhamdulillah Allah selalu menjaga kami semua sehingga kami dapat selamat sampai tujuan. Hari demi hari berlalu begitu cepat, sabtu adalah hari yang selalu aku tunggu setelah melakukan serangkaian aktivitas perkuliahanku. 11 November 2023, pelaksanaan PA I hari ke2. Dengan ditemani tubuh yang sangat letih karena banyaknya tugas kuliah di semester 5 aku pun bergegas ke kampus pada pukul 05.00 pagi. Di perjalanan, aku sempat tidak fokus dengan kegiatan PA karena sedang memikirkan tugas-tugas kuliahku yang aku tinggalkan sementara demi melakukan PA ini. Namun, setelah sampai di SDN 3 Dadapan, kecemasanku hilang. Saat melihat senyuman siswa-siswaku dan suara kecil mereka yang memanggil namaku dengan sangat lucu, membuat aku bersemangat dalam melakukan pengabdian ini. Aku sangat senang bisa membagikan ilmu yang aku peroleh selama di kampus untuk adik-adik kelas III di SDN 3 Dadapan. Aku dan rekan-ku mengajarkan materi perkalian dengan media ajar yang menarik,
antusiasme dari siswa juga lumayan tinggi sehingga menambah semangatku untuk berbagi ilmu kepada mereka. Hari ketiga pelaksanaan PA yaitu Sabtu, 18 November 2023 aku dan Kelompok Adhimukti kembali ke SDN 3 Dadapan untuk mengabdi. Hari itu, aku dan rekanku mengajarkan materi pecahan. Aku sangat senang ketika adik-adik kelas 3 dapat menerima materi yang aku sampaikan dan menyelesaikan soal yang aku berikan dengan baik. Dari sini aku benar-benar bersyukur karena diberi kesempatan untuk bisa berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Melalui PA ini, aku semakin memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang pendidik setelah aku menyelesaikan studiku di UM ini. Tidak terasa, akhirnya tiba waktunya untuk PA hari terakhir di SDN 3 Dadapan yaitu pada hari Sabtu, 25 November 2023. Hari itu bertepatan dengan hari guru, sehingga kami melakukan kegiatan kreativitas bersama dengan membuat bunga sebagai bentuk ungkapan terima kasih pada hari guru. Rasanya sedih bercampur senang. Sedih, karena harus meninggalkan SDN 3 Dadapan beserta adik-adiknya yang lucu. Namun, senang karena telah berhasil menyelesaikan PA I dengan baik dan mendapatkan banyak pelajaran berharga selama pelaksanaan PA I. Melalui kegiatan PA I ini aku tidak hanya mengajar, tapi aku juga belajar. Aku belajar bagaimana cara mengelola kelas dengan baik apabila karakteristik siswanya berbeda, cara menumbuhkan motivasi belajar siswa, dan mempelajari bagaimana cara mengatur emosi ketika menghadapi siswa yang memiliki sifat kurang baik, serta banyak hal lain yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu. Intinya, aku sangat senang bisa mengikuti PA I ini, karena keinginanku untuk bisa belajar sambil berdampak dapat tercapai melalui kegiatan ini. Terima kasih SDN 3 Dadapan, terima kasih Gemapedia. Sampai jumpa di Pengabdian Akbar II. BIODATA PENULIS Penulis bernama Syekha Vivi Alaiya. Penulis lahir di Tulungagung, 19 April 2003. Penulis merupakan Laskar Dewantara Batch XI Gemapedia yang telah tuntas dalam melakukan Pengabdian Akbar I di SDN 3 Dadapan selama bulan November 2023 dan merupakan mahasiswa semester 5 Program Studi S1 Pendidikan Matematika di FMIPA Universitas Negeri Malang.
PENGABDIAN AKBAR 1 Daffa Pradana Warianti Perkenalkan namaku Daffa Pradana Warianti dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra Angkatan 2023. Aku ambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris karena prospek kerja yang luas. SD,SMP,SMA dan di perkuliahan membutuhkan Bahasa inggris dan kurikulumnya sehingga peluang karir sebagai tenaga pendidik Bahasa Inggris lumayan besar. Aku adalah Laskar Dewantara Batch XI yang sangat bersyukur bisa melaksanakan pengabdian akbar 1. Pengabdian Akbar 1 di SDN 3 BAMBANG, pada proses pengabdian aku menemukan banyak pengalaman yang luar biasa, sebelumnya belum aku dapatkan. Pada saat mengabdi aku mendapat patner yang sangat baik, bertanggung jawab dan mudah di ajak berkomunikasi dan mendapatkan LO yang mensuport, memotivasi dan baik hati. Saat mulai mengabdi setiap hari senin mengumpulkan RPP, hari kamis presentasi dan tak lupa hari rabu aku dengan partnerku membuat media pembelajaran. Tiba di hari sabtu semua Dewantara dan Laskar Dewantara berkumpul di masing-masing SD, semua persiapan dan breafing untuk bersiap-siap menuju SD yang akan di tuju. Aku sangat tegang dan gugup karena, sudah beberapa lama aku fakum berbicara di depan umum. Tiba, di SDN 3 BAMBANG, aku Bahagia dan senang di sambut oleh Bapak/Ibu guru yang ceria, ramah siswanya juga lucu-lucu. Upacara dimulai aku sebagai pembaca do’a. disitulah aku menghelakan nafas menguatkan diri untuk bisa percaya diri dan akhirnya upacara selesai. Semua Laskar Dewantara dan Dewantara berkenalan di depan siswasiswi SDN 3 BAMBANG. Aku maju perlahan-lahan tiba waktunya Laskar Dewantara yang bertugas mengajar di kelas 3 maju kedepan untuk berkenalan, aku menghelakan nafas menguatkan diri, harus percaya diri dan berusaha tetap ceria. Pukul 08.00 siswa-siswi masuk kedalam kelas masing-masing aku, partner dan Lo masuk kedalam kelas. Aku dan partner mengucapkan salam dan sapaan ke siswa kelas 3. “Assalamualaikum Wr.Wb. Selamat Pagi semuanya, Bagaimana kabarnya hari ini?” “Wa’alaikum Salam Wr.Wb pagiiiiiii, Alhamdulillah luar biasa Kelas 3 hebat’ Memulai masuk kedalam materi, di kelas 3 ini materinya Pecahan, alhamdulillahnya kelas 3 ini kondusif, jadi enak di atur dan mengelola kelasnya juga mudah. Materi mulai diajarkan semua kelas 3 fokus mendengarkan dan menyimak, tetapi ada 2 anak yang sulit memahami pecahan sehingga membutuhkan bimbingan tersendiri. Masuk minggu ke dua agenda pengabdian seperti biasannya tetapi, sayangnya aku tidak bisa ikut mengabdi dikarenakan ada TDI . aku hanya membuat media pembelajaran.aku mendapat kabar dari partnerku bahwa media pembelajaran yang aku buat kelas 3 menyukainya, aku mendapat kabar itu sangat senang, saat TDI aku senyum sendiri. “Daf, anak kelas 3 suka pada media pembelajarannya” partnerku berkata Mendapat chat whatsap seperti itu aku senyum Bahagia.
Masuk minggu ke tiga aku sangat bersemangat dan materi tetap sama bahwa materi yang diajarkan adalah pecahan, kelas 3 mulai menampakkan sifat aslinya sehingga aku dan partnerku cukup kesusahan dalam mengatur kelas. Bahagiannya kelas 3 mudah memahami pecahan. “ kak, aku suka dengan pecahan. Ayo kak kasih aku soal lagi” bagas anak kelas 3 Aku dan partnerku Bahagia dan senyum ternyata apa yang kami ajarkan selama ini bisa bermanfaat dan siswa-siswi kelas 3 memahami tentang pecahan. Masuk minggu ke empat, dimana minggu ini adalah terakhir mengabdi di SDN 3 BAMBANG, aku sangat sedih karena, tidak bisa mengabdi dikarenakan ada TDI. “ TDI terus, padahal aku ingin sekali mengikuti Pengabdian Akbar 1 terakhir ini” kata hati kecilku. Aku hanya melihat keseruan-keseruan di group whatsap betapa menyenangkan aku mengikuti Pengabdian Akbar 1 ini. Tetapi, menurutku sudah sangat berterimakasih karena, bisa mengabdi di SDN 3 BAMBANG yang siswa-siswinya dan gurunya sangat hebat sekali. Aku bisa membagikan ilmuku walupun sedikit semoga bisa bermanfaat. Dan teruntuk partner dan LO ku, aku sangat berterimakasih karena sudah mengajariku kesabaran dan mengajar anak SDN mengharuskan menjaga mood dan berusaha tetap ceria. Apabila kita tidak ceria maka apa yang kita ajarkan akan terjadi tidak masuk dan siswa-siswi kita tidak paham apa yang kita ajarkan. Berterimakasih juga kepada GEMAPEDIA karena, disinilah aku bisa berkembang dan disinilah aku bisa mengetahui pembuatan RPP yang baik dan benar. Aku mengikuti UKM ini sangat bermanfaat dan mendapatkan banyak pengalaman. Pengalaman bersosialisasi dan pengalaman dalam mengajar. Menurut aku seorang pendidik harus memiliki tekad kuat karena, profesi inilah tidak dinilai dari gaji yang didapatkan, namun kualitas pembelajaran yang diberikan. Keikhlasan dari kita untuk berbagi ilmu pengetahuan, mendidik anak-anak yang bahkan tidak kalian kenal sebelumnya, hingga membentu mereka mencapai apa yang mereka cita-citakan. Kita harus menyukai dahulu maka, akan lebih santai menjalani profesi ini. Dengan menyukai apa yang kamu kerjakan, kamu tidak akan merasa seperti sedang bekerja. GEMAPEDIA ! Bangga Mendidik, Mengabdi, dan Menginspirasi Anak Bangsa!
Di Luar Ekspektasiku Miftakhul Revidayawati Aku Miftakhul Revidayawati, mahasiswa jurusan pendidikan guru sekolah dasar atau biasa dikenal PGSD Universitas Negeri Malang angkatan 2023. Kalian bisa memanggilku Revi. Ini kisahku tentang mengabdi bersama organisasi yang coba kuikuti untuk menambah pengalaman, relasi, dan juga sebagai simulasi mengajar di masa depan nanti. Organisasi ini bernama GEMAPEDIA (Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan) yang dimana organisasi ini melakukan pengabdian mengajar di tempat tempat yang memang membutuhkan. Sebenarnya aku tidak banyak berharap bisa masuk di sini karena pada saat seleksi tahap wawancara kupikir jawabanku tidak memenuhi kriteria dari apa yang dipertanyakan. Namun entah ini anugerah dari Tuhan atau bagaimana, aku tidak mengerti, yang jelas takdir Tuhan mengatakan bahwa aku harus berada di sini. Baiklah, kisahku dimulai dari sini. Setelah rangkaian acara seleksi dan pengukuhan selesai, itu artinya program kerja pengabdian akan dimulai. Pengabdian Akbar 1 akan dilaksanakan selama 1 bulan setiap hari Sabtu di sekolah dasar yang terbilang membutuhkan dan cukup terpencil. Aku tergabung dalam Kelompok Mahatma yakni SDN 3 Bambang yang terletak di kaki Gunung Semeru. Aku ditunjuk sebagai laskar dewantara yang menghandle kelas 1 bersama Rimala Maulina, mahasiswa ilmu kesehatan angkatan 2022, artinya dia satu tingkat di atasku. Aku memanggilnya Kak Rima. Dan juga seorang LO bernama Kak Nida. Sebelum hari H pengabdian, kami melakukan survey terlebih dahulu untuk memperkenalkan diri kepada adik adik dan beradaptasi dengan lingkungan yang ada di sana. Survey dilakukan seminggu sebelum pengabdian. Sabtu pagi aku bersama kelompok berangkat dari kampus. Kira kira 1 jam perjalanan kami tempuh untuk sampai di sana. Sedikit terkejut saat sampai di tempat, karena ternyata tidak sesuai dengan ekspektasiku. SDN 3 Bambang ini terletak di tengah himpunan pohon jati dan jauh dari pemukiman warga, di belakangnya terdapat sebuah kandang hewan yang pada waktu tertentu menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga cukup menganggu konsetrasi saat belajar, kamar mandi yang kotor, tidak ada perpustakaan, lantai kelas yang belum keramik, dan juga papan tulis yang masih menggunakan kapur sehingga menyebabkan lantai kotor. Menurutku sarana prasarana di sana masih kurang memadai, ya meskipun masih bisa digunakan untuk belajar. Tapi itu tidak cukup dan tidak akan membuat siswa termotivasi untuk semangat belajar. Aku dan kelompok masuk ke kantor untuk berkenalan dan meminta izin kepada bapak/ibu guru. Setelah itu kita menuju kelas untuk menyapa dan berkenalan dengan adik adik. Mereka terlihat semangat dan antusias sekali. Melihat mereka di SD membuatku ingat masa SD ku dulu. Haha, rasanya seperti nostalgia. Kami memainkan beberapa game dan ice breaking untuk mengakrabkan diri dengan adik adik. Setelah dirasa cukup, kami memutuskan untuk pulang dan kembali ke kampus. Saat pulang aku bertekad akan dengan ikhlas mengabdi memberikan ilmu yang aku punya. Akan ku salurkan semangat menuntut ilmu kepada mereka. Aku benar benar bersemangat saat mengerjakan Modul Ajar dan juga media pembelajaran. Minggu pertama
pengabdian, senyumku sangat merekah, aku sudah sangat sangat siap bertemu dengan adik adik kecil yang lucu dan menggemaskan. Pertama dibuka dengan salam,berdoa dan juga menyanyikan lagu wajib nasional. Saat itu aku dan Kak Rima memilih lagu Satu Nusa, lucunya kita lupa kalau kelas 1 masih belum tau beberapa lagu wajib nasional, alhasil langsung diganti dengan lagu Hari Merdeka. Setelah itu masuk ke materi dan media pembelajaran, tapi ada yang aneh dengan kelas 1 ini. “Kenapa mereka lama sekali menulisnya?” pikirku. Setelah itu aku mengecek mereka satu per satu, kulihat bagaimana cara mereka menulis, dan tak kusangka ternyata sebagian dari mereka belum bisa membaca dan bahkan ada yang belum mengenal huruf. “Bagaimana bisa mereka belum mengenal huruf? Bagaimana cara mereka belajar di rumah?” pikirku. Cepat-cepat ku hilangkan pikiran itu dan melanjutkan pembelajaran. Saat istirahat tiba, beberapa siswa kelas 1 tertarik dengan media pembelajaran yang kami bawa. Mereka mencoba mengaplikasikan media tersebut sambil berbincang-bincang dengan kami. “Caca, kamu kalau belajar gimana? Biasanya kalau belajar sama siapa?” Tanya Kak Rima. “Sama kakak” jawab Caca. “Kakaknya kelas berapa?” Tanya Kak Rima lagi. “Kelas 6, kak” jawabnya. Aku yakin jika Kak Rima memiliki pikiran yang sama denganku. “Kakak? Dia belajar bersama kakak? Lalu di mana orang tuanya? Apakah mereka tidak menemani anak-anaknya belajar?” pikirku. Segera kuhapus fikiran fikiran itu karena waktu istirahat telah selesai dan harus melanjutkan pembelajaran. Minggu kedua berjalan normal dan seru. Memasuki minggu ketiga entah kenapa aku merasa lelah dan bosan dengan kegiatan ini. Bersamaan dengan pembuatan media pembelajaran, tugas kuliahku juga sama banyaknya. Rasanya ingin menyerah saat media pembelajaran yang kubuat tak kunjung selesai. Kali ini Kak Rima tidak bisa membantuku karena dia juga sedang ada seminar untuk mata kuliahnya. Aku menangis, memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan pekerjaan ini besok. Minggu ketiga pengabdian dimulai, aku merasa benar benar kewalahan saat itu, karena aku mengajar sendiri dan aku merasa siswa kelas 1 lebih aktif dari biasanya, mereka juga mulai ada penolakan ketika diminta untuk melakukan sesuatu, ada yang tidur saat dijelaskan materi, ada juga yang makan, naik di atas meja, asik sendiri, dan masih banyak lagi. “Kak, bosen nih” “Kak capek” “Kak aku pingin istirahat” Begitulah kira kira keluhan mereka. Padahal baru saja aku melakukan game dengan mereka. Aku ingin menyerah, Tuhan. Tapi aku selalu ingat bahwa ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan, bahkan ini hanya simulasi saja, sedangkan di masa depan aku harus menjadi seorang guru yang setiap harinya akan menghadapi siswa siswa yang berbeda karakter dan aku harus bisa menyesuaikannya. Belum lagi kita juga harus beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya. Ku tarik napas dalam dalam lalu ku hembuskan, mencoba
mengatur kembali mood-ku yang sudah berantakan ini. Aku melanjutkan pembelajaran sampai selesai. Pada minggu keempat aku bersyukur karena Kak Rima bisa kembali menemaniku dan siswa kelas 1 bisa dikendalikan, tidak seperti minggu sebelumnya. Dari pengabdian ini aku belajar bahwa menjadi seorang guru ternyata tidak semudah yang dibayangkan, tugas guru bukan hanya untuk mengajar dan mendidik, melainkan juga memberikan semangat dan motivasi belajar yang membangun, memberikan energi positif, dan senyum setulus mungkin selelah apapun raganya dan sehancur apa hatinya. Tidak peduli betapa terbatasnya sarana dan prasarana di lapangan, guru tidak akan pantang menyerah dan tidak akan patah semangat. Ia akan tetap menjalankan tugasnya sebagai seseorang yang mencerdaskan generasi bangsa.
Si Bungsu dan Bambang Murwanti Hai aku Murwanti si bungsu, anak perantauan yang sedang berkuliah di UM, prodi pendidikan matematika angkatan 2023. Aku bergabung di Gemapedia di awal pekuliahanku, disini aku harus mengabdikan diriku dengan memajukan pendidikan yang ada disekitarku. Dan inilah awal kisahku. Bambang, nama desa yang bahkan tidak penah aku dengar sebelumnya. Aku bukan orang sini, bahkan area kampus akupun tak tahu seluruhnya. Sabtu, 28 Oktober 2023. Ini jam lima pagi, aku bersama rombongan anggota Gemapedia menuju ke desa Bambang untuk survei. Pejalanan menuju desa Bambang cukup jauh, aku yang beasal dari pedesaan dan kini kembali ke pedesaan rasanya seperti aku pulang ke kampung halaman. Aku sangat rindu dengan kampungku, aku mulai lelah dengan hiruk pikuk kota Malang. Sepanjang jalan aku sangat menikmati pemandangan suasana desa, pohon-pohon yang banyak, orang-orang melakukan aktivitas mereka. “ini terasa sepeti jalan rumahku.” gumamku sambil berkendara. Tibalah aku dan rombongan didesa Bambang, kami akan mengajar siswa di SDN 3 Bambang. Aku melihat anak-anak yang sibuk dengan dunia mereka, aku senang melihat mereka becanda. “Ayo kita ke ruang guru” ajak Alif, dia ketua rombongan. Sampai saatnya aku dan rombongan meminta izin kepada salah satu guru disana tekait tujuan kami untuk melakukan pengabdian. Hari ini survei lokasi sudah selesai, kita pulang kembali kekampus dan bersiap untuk pengabdian petama. Aku sangat gelisah entah kenapa, mungkin karena ini kali petamaku mengajar dan yang paling membuatku takut salah adalah karena saat mengajar nanti aku diawasi oleh kak Alam, dia pengurus Gemapedia tahun lalu. Aku tidak sendirian saat menjar, aku bersama nissa dan kami mendapat tugas mengajar kelas empat, dan yang paling serunya adalah ketika aku tahu kalau kita akan mengajar mata pelajaran matematika sangat menyenangkan bukan. Karena aku juga mengambil program studi matematika. Aku merasa tertantang disini, bagaimana tidak, aku harus membuat siswa-sisa untuk memahami dna menyukai matematika yang bahkan banyak yang tidak menyukai matematika. Aku dan nisa dibantu kak Alam menyiapkan materi, modul pembelajaran dan juga media pembelajaran. Ku akui tidaklah mudah untuk menyelesaikan semua itu, tapi aku sangat beruntung memiliki rekan dan juga pengawas yang sangat membantuku. Sabtu 4 November 2023 tiba dan hari ini aku harus besiap menghadapi tantangan untuk mengajar anak-anak. Kami berangkat jam lima pagi agar sampai di SD sebelum jam tujuh. Hari
ini kita melakukan upacara pembukaan pengabdian. Upacara sudah selesai, pembelajaranpun dimulai “aku sedikit gugup nis” bisikku “aku juga, semoga hari ini lancar, semangat” seru Nissa Pembelajaran berjalan lancar, hingga jam istirahat sudah selesai. Anak-anak tidak masuk kelas setelah istirahat, mereka sedang masak-masak dengan guru. Aku dan Nissa beusaha menegur mereka agar segea masuk, jujur aku kesal disini karena sampai dua kali kita panggil tetapi diabaikan. “pemisi bu, apakah masak-masaknya sudah selesai? Karna jam istirahat sudah berakhir, saatnya melanjutkan pembelanjaran” ucapku dengan tegas kepada guru dan siswa-siswa diruang guru. Siswa-siswa kembali kekelas dan pembelajaran kembali dilanjutkan dan berjalan lancar sampai selesai. Hari petamaku cukup buruk karena aku masih sedikit kesal dengan guru disana, aku harap besok tidak tejadi lagi. Dan diperjalanan pulang, hujan deras menerpaku. Akhirnya aku sampai di kos dan segera minum vitamin agar tidak sakit. Pengabdian hari kedua dimulai, sabtu 11 november 2023 aku masih ingat pesan yang dikirim Rafel, salah stu siswa dikeals 4, dia bilang hari ini kelas mereka akan memasak seblak diruang guru. Dan si bungsu tetaplah si bungsu, aku selalu menjujung profesionalitas dan aku tetap menegaskan bahwa apa yang akan mereka lakukan dipebolehkan asal pembelajaran sepenuhnya sudah selesai. Jujur aku kesal dengan sikap guru guru disana yang tidak memberikan pengertian kepada siswa bahwa jam pembelajaran tetaplah jam pembelajran. “kalian boleh masak seblak dengan bu guru, setelah pembelajaran selesai” tegasku pada anak-anak “iya kak!!” seru mereka. Tapi aku lega, karena siswa kelas empat mula imematuhi apa yang aku beritahu, dan hari ini juga waktunya kegiatan bemani besama, kami melakukan pemainan lompat tali, seru sekali bahkan aku tidak bisa menggambarkan raut wajah ceria mereka, kita bemain dan tetawa bersama, bahkan kita juga mencoba permainan ular-ularan, sangat seru dan mmelelahkan tentunya, tenaga kita seperti tekuras saat bermani besama. “Teng! Teng! Teg!” bunyi bel tanda pembelajaran bisa diselesaikan “sampai jumpa besok” ucapku melihat mereka keluar dari kelas. Aku, Nissa dan mas Alam bersiap untuk pulang bersama rombongan. Sabtu, 18 November 2023. Ini hari ketigaku mengajar, dan aku harus sendirian, ketakutanku semakin besar, bagaimana aku bisa menyampakan materi, bagaimaan aku bisa mengontrol kelas bagaimana aku bisa memenuhi smeua alur pembelajarana, bagaimana dan bagaimana, banyak sekali ketakukan yang aku rasakan. Pembelajaran dimulai dan aku berusaha tetap tenang dan pembelajaran berjalan lancar hingga seorang siswa menangis, aku berusaha menenagkan dan menanyakan apa ynga
membuatnya menangis. Akhirnya usahaku menenangkan dia berhasil dan pembelajaran beakhir juga. Hari ini aku mulai memikirkan betapa bejuangnya seorang guru yang beusaha untuk menajar peserta didik agar tidak bosen, paham materi dan bagaimaan pendidik menjaga mood dia, aku semakin kagun saja dengan profesi ini. “makasih mas, sudah bantu tenangin anak-anak waktu pembelajaran” ucapku. “sama-sama, maaf tadi aku ketiduran” balasnya. Tadi dia memang sempat tertidur saat mengawasi pembelajaran, dia telihat sangat lelah, sebenarnya aku juga hanya tidur tiga jam kemariin karna mengejakan tugas kuliah. Ini memang hari yang lumayan melelahkan. Aku pulang dan seperti biasa, aku kehujanan lagi, aku segera minum vitamin agar tidak sakit. Sabtu,25 november 2023. Ini adalah hari teakhir pengabdiaan, dan aku sedikit sedih karena tidak bisa mengajar anak-anak yang bermuka polos, ngeselin, tapi nyenengankan besama mereka. Kali ini Nissa bisa menemaniku mengajar, pembelajaran berjalan lancar, sampai akhirnya kita harus pulang tapi sebelum itu kita membuat video perpisahan. Aku pulang dengan Alif dan kita menerjang hujan bahkan banjir di jalan, untuk pertama kalinya aku melihat malang banjir selama aku menjadi mahasiswa. Kali ini kehujanan membuat aku sakit tapi aku tak pernah membenci hujan. Hari ini benar benar merasa lega karena tugas pengabdian pertama sudah selesai, tapi aku mulai merindukan anak-anak itu, aku harap bisa bertemu dikesempatan lain. Terima kasih bambang sudah mengajarkan si bungsu apa arti kesabaran, arti bejuang tampa pamrih, dan arti hudup itu sendiri.
Berbagi Ilmu di Desa Bambang Alif Umam Albariu Namaku Alif Umam Albariu dan biasa dipanggil Alif. Aku berasal dari prodi S1 Kimia Fakultas MIPA. Setelah Lelah berminggu-minggu bergulat di laboratorium kimia, kali ini sungguh berbeda, yaitu menjadi guru dan mengajar di sekolah dasar. Ini adalah pengalamanku selama 1 bulan belajar bersama siswa kelas V SDN 3 Bambang. Jarum jam menunjukkan pukul 3.30 pagi. Terdengar nada dering dari alarm di telepon genggam yang semakin keras. Dengan mata yang masih sayup-sayup, aku berusaha bangun dari tempat tidurku, terasa seperti “magnet” yang mengajak untuk terus rebahan. Sambil menatap jendela yang terlihat bulan sabit disana, aku sambal mengingat, “kapan ya terakhir kali aku bangun jam segini?”. Saat ayah, ibu, dan adik perempuanku masih terlelap, aku sudah segar dan siap memulai hari. Jarang sekali bagiku saat jam dinding menunjukkan pukul 4.30 namun aku sudah sarapan dan mandi. Seragam biru kebanggan aku pakai, penunjuk bensin menunjukkan tanda full, dan aku berpamitan kedua orang tuaku untuk menjalani pengabdian minggu pertama. Hawa dingin dan kabut pagi yang jarang aku rasakan seakan menyuruhku untuk tidak ngebut dan menikmati perjalanan dari Sawojajar ke Sasana Budaya. Terlihat banyak sekali orang-orang yang sudah sampai. Memakai baju biru kebanggaan, sama sepertiku. Sebagai ketua Laskar Dewantara, aku selalu mengingatkan rekan-rekanku untuk mengecek Kembali barang bawaan. Seperti modul ajar, media pembelajaran, lembar evaluasi, hingga mantel. Tak lupa juga mengecek kondisi motor seperti bensin ataupun ban. “GEMAPEDIA, Bangga Mendidik, Mengabdi, dan Menginspirasi Anak Bangsa!”. Kata-kata yang membangkitkan semangatku untuk menjalani Pengabdian Akbar 1 minggu pertama. Perjalanan ke tempat pengabdian dimulai. Vario merahku siap mengarungi jalanan kota hingga jalan desa di kabupaten. Membonceng partner mengajarku, aku menikmati view jalanan desa yang tersaji selama perjalanan. Benar kata orang, hiruk pikuk selama perkuliahan terasa sirna jika kita menikmati keindahan alam. Perjalanan ditempuh selama 1 jam 15 menit. Pantas saja karena jaraknya memang jauh, yaitu 40 km. Sesampainya disana, aku melihat wajah-wajah gembira dari siswa SDN 3 Bambang. Seakan-akan Bahagia menyambut orang baru di sekolah mereka. Kegiatan minggu pertama diawali dengan upacara pembukaan. Saat masuk kelas, siswa kelas 5 menyambut aku, partnerku dan LO-ku dengan hangat. Jumlah siswa yang akan kudampingi belajar selama 1 bulan kedepan ada 15 orang. Bahkan ada yang unik, salah satu siswaku memiliki nama yang sama denganku, yaitu Alif. Selama kegiatan Pengabdian Akbar 1, mata pelajaran yang diajarkan adalah matematika. Minggu pertama aku mengajar mereka materi kelipatan. Bersama partnerku, Halleth, sangat antusias belajar matematika bersama siswa kelas 5. Kami menampilkan media pembelajaran yang colorful agar mereka merasa tertarik untuk terus belajar. Walaupun terkadang sekali dua kali siswa kelas 5 tidak bisa diatur, tidak akan membuatku goyah untuk menjaga mood tetap ceria dan harus tetap bersabar menghadapi mereka. Saat istirahat, aku sedikit heran dengan apa yang aku temui di SDN 3 Bambang. Jajanan yang ada di kantin sangat murah. Kebab mini dengan potongan telur dan saus hanya seribu rupiah. Mie gelas yang sudah disajikan hanya dua ribu rupiah. Lebih terkejut lagi, siswa disana sangat suka minuman Power
F. Minuman isotonik yang seharusnya tidak diminum untuk usia mereka. Setelah istirahat, kegiatan belajar adalah literasi. Siswa benar-benar antusias membaca soal yang aku berikan. Setelah pulang, kami menyempatkan foto bersama LD dan LO. Setelah itu kami melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Banyak evaluasi dari LO yang diberikan pada aku dan partnerku. Tidak heran, ini pengalaman pertamaku mengajar. Evaluasi yang diberikan menjadi pelajaran bagiku untuk memperbaiki pembelajaran di minggu-minggu berikutnya. Minggu kedua, partnerku tidak ikut karena ada kegiatan TDI. LO juga tidak datang. Sedikit berat rasanya karena aku mengajar sendiri. Kegiatan di minggu kedua diawali dengan senam bersama. Di minggu kedua siswa kelas 5 lebih semangat daripada minggu pertama. Siswaku yang bernama Alif, di minggu pertama dia sedikit nakal karena sering menyalakan korek api saat pelajaran, minggu kedua ini dia sudah lebih baik dan tidak nakal. Setelah istirahat aku bersama siswaku melakukan kegiatan dolanan bareng. Kami memainkan permainan “Ularularan” dan permainan “Dar der dor”. Senang sekali melihat kebahagiaan mereka bermain, walau panas terik matahari tak membuat mereka lelah untuk bermain bersama. Di minggu ketiga, partner dan LO ku kembali hadir. Namun kali ini saat memulai hari sebelum pelajaran, aku bersama partnerku mengajar melakukan senam bersama. Kami memimpin senam. Terkadang gemas melihat ekspresi dan tingkah laku siswa SDN 3 Bambang yang kerap kali tidak mengikuti gerakan yang aku lakukan. Seperti biasa, aku dan partnerku mengajar matematika. Namun materi minggu ini sedikit berbeda yaitu materi pecahan. Aku sangat bersyukur siswa kelas 5 masih bisa memahami materinya walau sedikit sulit. Kegiatan setelah istirahat di minggu ketiga seperti yang dilakukan pada minggu pertama, yaitu kegiatan literasi dan numerasi. Minggu terakhir adalah penutupan setelah satu bulan mengabdi di SDN 3 Bambang. Sayang sekali, partnerku mengajar tidak bisa hadir. Padahal kita belum sempat berfoto bersama LO kelas 5 juga. Pada minggu terakhir, aku membawakan bungkusan jajan sebanyak 80 bungkus untuk dibagi ke semua siswa. Minggu terakhir adalah kegiatan keterampilan. Bertepatan dengan Peringatan Hari Guru, semua siswa membuat kerajinan tangan yang bertemakan bunga. Aku membuat kolase bunga bersama siswa kelas 5. Senang sekali rasanya, mereka sangat antusias menempel potongan demi potongan kertas lipat hingga membentuk bunga. Di akhir kegiatan aku bersama LD, LO, dan siswa berfoto bersama. Cepat sekali rasanya walaupun Pengabdian Akbar 1 sudah berjalan 1 bulan. Aku tidak bertemu lagi dengan siswasiswaku yang setiap Sabtu pagi melihat wajah ceria mereka untuk belajar. Aku harap, ilmu yang aku berikan selama kegiatan pengabdian bisa bermanfaat bagi mereka. Sebuah pengalaman berharga bagiku, yang biasanya setiap hari berkutat di dalam laboratorium. Kini terjun kepada masyarakat untuk mengabdi dan mengajar di sekolah. Terima kasih, SDN 3 Bambang.
PELAJARAN BERHARGA DARI MEREKA YANG SEDERHANA Arlintang Sekar P. “Kak namanya siapa?” tanya seorang gadis kecil dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah. Manis sekali, ingin rasanya ku cubit pipinya. Namaku adalah Arlintang Sekar Phambayun, orang-orang biasa memanggilku Arlintang. Aku adalah mahsiswi semester 1 jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang dan Laskar Dewantara dari GEMAPEDIA. Ini adalah kisahku dimana aku bertemu anak-anak yang memberikan pelajaran hidup yang berharga. “Siapa hayo?” aku bertanya kembali padanya dengan nada menggoda. Tawa kecil keluar dari mulutku saat melihat responnya yang tersipu malu, setelah itu aku pun memperkenalkan diri dengan nama depanku. Hari itu adalah pertama kalinya aku pergi ke sebuah sekolah dasar pada salah satu daerah di kabupaten Malang untuk mengajar. Berpegangan pada kalimat “belum berpengalaman” membuatku nervous saat akan memasuki ruang kelas. Namun saat aku sudah masuk ke dalam ruang kelas, sambutan hangat dan wajah yang ceria dari murid-muridku seketika menggantikan rasa nervous menjadi bahagia. Rasa lelah yang aku rasakan saat perjalanan pun hilang seketika. Aku tanyai siapa nama mereka satu persatu. Saipul, Visel, Devi, Zahra, Refando, dan Viko. Itu adalah nama anak-anak manis yang akan menemaniku untuk belajar beberapa minggu ke depan. Hanya 6? Ya, hanya 6. Walaupun sedikit, aku salut bahwa mereka memiliki semangat belajar dan bersaing secara sehat satu sama lain. Beberapa minggu pun berlalu, aku menjadi lebih dekat dengan mereka dan rasa canggung yang dirasakan saat minggu pertama telah hilang. Minggu ke dua belajar bersama, aku bingung mengapa Viko tidak datang dan tidak ada satupun yang tau alasannya. Hingga tiba waktu untuk berpisah pada minggu ke empat, Viko masih tidak datang. Lalu aku bertanya pada yang lain, mereka berkata bahwa kakak Viko melarangnya untuk bersekolah dengan alasan nakal. Aku terkejut, bagiku Viko adalah anak yang baik dan penurut. Rasa tidak percaya menyelimuti benakku, lalu aku bertanya tentang apa yang dilakukan Viko sekarang. Mereka menjawab bahwa Viko bekerja mencari rumput. Bagaimana bisa anak berumur 8/9 tahun sudah bekerja membantu keluarga? sangat disayangkan, namun terlepas dari apa yang terjadi aku tidak bisa melakukan apapun karena keluarganya adalah yang paling berhak untuk memutuskan. Muridku, Visel. Ia tinggal jauh dari orang tuanya dan hanya hidup dengan neneknya yang dari penampilannya aku mengira bahwa dia tidak dirawat dengan baik. Ia sering menjadi
bahan bully oleh teman-temannya namun ia selalu menanggapi hal itu dengan senyuman. Senyuman yang diiringi dengan mata berkaca-kaca dan hati yang teriris. Masing-masing dari mereka memiliki kisahnya sendiri dan itu membuatku sadar akan nikmat yang Tuhan berikan padaku. Nikmatnya mengenyam pendidikan dan menjalani hidup seperti teman-temanku, bahagianya bertemu setiap hari dengan orang tua dan berbagi cerita tentang keseharianku, serta kerendahan hati dan senyuman yang harus selalu ditampakkan walaupun orang lain mengatakan hal-hal atau melakukan sesuatu yang buruk terhadap diri kita. Terimakasih atas pelajaran hidup yang kalian berikan, aku harap kalian tetap semangat untuk hingga menjadi orang yang sukses dan menjadi pilar kebanggaan keluarga. Sampai jumpa di lain waktu.
Aku dan Rasa Takutku Qoirunnisa Di sebuah kota yang indah dan sejuk, aku memberanikan diri untuk mengejar mimpi. Menjalani kehidupan nyata yang pada realitanya membuat aku takut untuk menempuhnya. Sebelum mulai mendengar ceritaku, aku ingin memperkenalkan diri. Namaku Qoirunnisa, panggil saja Nisa. Aku berusia 20 tahun dan sekarang sedang menempuh perjalanan baru di kota dengan julukan Kota Pendidikan. Aku senang memasak, menggambar, menonton film, dan membaca buku. Sebenarnya banyak kegiatan yang aku suka. Tetapi ada hal yang paling tidak aku sukai, seperti berinteraksi dengan orang lain terutama anak kecil. Hal yang menurutku menakutkan, menjengkelkan,dan menegangkan. Namun, aku punya keinginan kuat untuk menghapus hal yang paling ku takuti. Maka dari itu, disinilah kisahku dimulai. Setelah berdiskusi panjang dengan orang tua, akhirnya aku mengambil jurusan kuliah yang sebenarnya aku hindari. Jurusan yang membuatku harus berinteraksi dengan orang banyak dan harus berhubungan dengan anak kecil. Dua hal yang begitu aku hindari. Namun, seperti yang sudah aku ucapkan, aku ingin menantang diriku sendiri. Agar hal yang aku lakukan tercapai dengan baik, aku memutuskan untuk mengikuti organisasi yang berhubungan dengan pekerjaanku di masa depan. Organisasi itu bernama GEMAPEDIA, Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan. Sebenarnya aku tidak begitu yakin, tetapi itu adalah satu-satunya organisasi yang paling memberikan banyak manfaat untukku. Kegiatan di organisasi ini adalah volunteer mengajar. Setelah melalui banyak seleksi, ternyata aku berhasil masuk. Kegiatan pertama yang kami lakukan bernama Pengabdian Akbar 1 dan kegiatannya dilaksanakan di suatu sekolah dasar di Kabupaten Malang. Aku sangat antusias dan tidak sabar. Akhirnya hari pengabdian tiba. Kami berangkat pagi dan perjalanannya sangat jauh. Setelah sampai di sekolah tersebut, aku mengeluarkan semua energi positif ku untuk mengajari adik-adik di sana. Itu adalah hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Setelah sampai di rumah, aku benar-benar tidur seharian dan mulai berpikir untuk mencari cita-cita yang baru. Mengajar di sekolah cukup seru, tetapi membuatku tidak ingin melakukannya lagi. Aku berpikir mungkin saja karena ini masih hari pertama pengabdian, aku masih belum beradaptasi sehingga semua terasa berat. Belum selesai mengembalikan energi, aku tiba-tiba teringat jika harus mengerjakan modul ajar dan media pembelajaran. Untuk orang yang tidak begitu kreatif seperti ku, membuat media pembelajaran merupakan salah satu tantangan yang menguras otak. Apalagi ditengah banyaknya tugas kuliah, semakin menguras sisa-sisa tenaga yang aku miliki. Namun, aku dan teman satu tim tetap mengerjakannya dengan bahagia, semangat, dan sungguh-sungguh. Sampailah pada hari kedua kegiatan pengabdian. Awalnya berjalan lancar dan aku sudah bisa beradaptasi, sehingga kegiatan yang aku lakukan terasa menyenangkan. Namun, terdapat sedikit kendala yang membuatku tak bisa berkata-kata. Setelah jam istirahat, adik-adik yang aku ajar tidak ada yang kembali ke kelas. Akhirnya aku dan teman satu tim memutuskan untuk mencari mereka, yang ternyata sedang memasak di dapur guru. Setelah melalui drama yang panjang, akhirnya kegiatan kembali berjalan dengan lancar sampai selesai. Anak-anak memasak di dapur sekolah merupakan kegiatan yang unik dan pertama kalinya aku melihat hal seperti itu. Mungkin karena aku yang pada dasarnya tidak menyukai anak kecil, aku sedikit jengkel dengan mereka. Tetapi mereka sangat lucu dan menyenangkan. Saat perjalanan pulang dari tempat pengabdian, cuaca tiba-tiba tak bersahabat. Hujan turun dengan sangat deras dan
aku kehujanan. Lebih parahnya lagi, aku terjebak hujan dan jalanan sangat macet. Seperti dugaanku, aku mengalami demam dan flu. Lagi-lagi hari yang sangat melelahkan, tetapi terasa lebih menyenangkan. Setelah melewati hari seperti biasa, aku melaksanakan pengabdian hari ke tiga. Kegiatan berjalan seperti biasanya. Namun, kali ini aku merasa semakin menyenangkan saat bertemu dengan adik-adik di tempat pengabdian. Rasa lelah dan jengkel ku tiba-tiba hilang saat berinteraksi dengan mereka. Mengajari anak kecil tidak begitu menjengkelkan dan melelahkan. Justru terasa menyenangkan dan membahagiakan. Apalagi saat ada anak yang kemampuannya sedikit tertinggal dari teman yang lain, dan dia menjadi bisa karena telah kita ajari. Hal itu membuat hatiku senang dan merasa terharu. Hari-hari terus berlanjut dan kini sampailah pada hari pengabdian yang terakhir. Pembelajaran berlangsung seperti biasa, hanya saja adik-adik di sana banyak yang murung. Saat aku tanya alasannya, mereka hanya menggelengkan kepala. Akhirnya aku berusaha menghibur dengan sepenuh hati sampai mereka tersenyum kembali. Hari itu kami melakukan banyak hal yang menyenangkan. Bahkan saat sudah pulang ke rumah, aku masih memikirkan mereka. Sampai hari ini pun aku masih ingin bertemu kembali dengan mereka. Berkat mereka, sekarang aku jadi menyukai anak kecil dan suka berinteraksi dengan orang lain. Ternyata kita bisa menaklukkan kelemahan kita, tidak ada yang tidak mungkin saat kita mau berusaha. Aku juga sadar sebenarnya berinteraksi dengan orang lain adalah hal yang menyenangkan.
MELODI KEBERANIAN Halleth Queen Alusiah Pada suatu pagi yang cerah di desa bambang, burung berkicau dengan merdu, semua penduduk di desa siap untuk melakukan aktifitas masing masing, begitu pula SDN 3 desa bambang yang juga bersiap untuk menyambut siswa untuk bersekolah. Semua terlihat normal dan indah, tapi tidak bagi Hamdan siswa kelas 5, setiap pagi dia tidak merasa senang apalagi bersemangat, dia merasa sedih dan malas untuk pergi ke sekolah. Pada saat pagi masuk ke sekolah dia sudah ditahan oleh teman temannya, Hamdan ditertawakan karena memakai sepatu rusak dan berlubang. Hamdan sebelumnya adalah anak yang baik, santun,ceria dan memiliki banyak teman, tetapi itu berubah ketika ia ditinggalkan oleh orang tuanya entah kemana. Semenjak saat itu, Hamdan memiliki kesulitan ekonomi, dan entah mengapa teman temannya mulai menjauhinya dan mencemoohnya.Hamdan menjadi sangat pendiam dan bagi Hamdan hari berlalu sangat berat dan lama.Setelah Hamdan dan semua murid memasuki kelas, Bu Dina yaitu guru di kelas 5 SDN 3 bambang, Bu dina menginformasikan kepada seluruh murid bahwa mereka akan kedatangan Relawan mengajar Gemapedia dari Universitas Negeri Malang, semua murid sangat bersemangat ketika mendengarnya, Hamdan juga tertarik mendengar cerita tersebut.Tibalah pada saat hari kakak relawan siap mendatangi SDN 3 bambang tepatnya pada hari senin. Terdengar ramai suara motor berdatangan dan siswa berlarian menghampiri kakak kakak relawan, mereka semua terlihat antusias menyambut kakak tersebut. Dimulailah acara pembukaan,penyambutan, hingga penutupan, Dimulailah kegiatan belajar mengajar seperti biasa, tetapi ada yang berbeda, yaitu pengajar, murid murid biasanya diajar oleh guru mereka yaitu bu Dina, pada hari ini mereka kedatangan 2 kakak relawan yang akan menggantikan Bu Dina, Kakak tersebut bernama Kak Queen Dan kak Alif, pada siswa kelas 5 terlihat sangat antusias dan bersemangat, itu adalah hari pertama mereka bertemu, kegiatan belajar mengajar berlangsung sangat lancar. Pada saat selesai pembelajaran, Kak Queen mengajak Kak Alif untuk berbincang “Eh kamu nyadar ga tadi? aku lihat dibelakang ada anak murung banget, padahal yang lain bersemangat” ucap Kak Queen “Iya aku lihat dibelakang, aku ingat dia namanya Hamdan, aku rasa dia memiliki sedikit masalah” jawab Kak Alif “Aku juga ngerasa gitu, aku rasa kita gabisa diam aja, besok kita amati, dan kita ajak ngobrol empat mata” Ucap Kak Queen Keesokan harinya, seperti biasa pagi dimulai dengan menyenangkan, siswa mulai berdatangan dan kakak relawan gemapedia juga mulai datang dan bersiap untuk mengajar. Pembelajaran segera dimulai dan pada saat istirahat, Hamdan terlihat tidak keluar kelas seperti teman temannya, kak Alif memutuskan untuk menghampiri Hamdan dan bertanya kepada Hamdan “Halo Hamdan selamat pagi” ucap kak Alif “Hai kak, pagi” Jawab Hamdan dengan datar “Kakak ingin bertanya sesuatu boleh?” Tanya kak Alif
“Tanya apa kak?” Jawab Hamdan “Kalo boleh tau kenapa Hamdan sering diam, tidak ikut beli jajan, bermain dengan teman teman?” Ucap kak Alif Hamdan terdiam dan kemudian menjawab “Saya dibully kak” jawab Hamdan “Apakah ada alasan tertentu kenapa kamu bisa dibully?” “Tidak kak, saya gatau kenapa bisa dibully, padahal dulu mereka semua baik ke saya” “Baiklah, sementara ini coba untuk tidak mendengarkan perkataan mereka yang buruk, kak Alif akan mencoba bantu kamu, kakak juga akan mencoba berdiskusi dengan kak Queen dan guru lain, kamu anak hebat Hamdan, jangan menyerah okey?” Kak alif melakukan tos dengan Hamdan dan Hamdan tersenyum Disaat waktu luang, Kak Alif dan kak Queen berdiskusi untuk mencarikan solusi bagi permasalahan Hamdan dan teman temannya, kak Alif dan kak Queen memutuskan untuk membantu Hamdan dengan mengajak guru bekeria sama mencari solusi permasalahan tersebut. Kak Alid dan kak Queen selalu melibatkan Hamdan dalam pembelajaran, seperti berdiskusi kelompok dan mencoba media pembelajaran, dan sering mengajak Hamdan untuk bermain bersama dengan teman teman. Guru dan kakak relawan dikelas 5 sepakat untuk selalu memberi pemahaman tentang bullying dikelas. Kak Alif dan Kak Queen memberi pemahaman terhadap murid dikelas bahwa setiap orang harus selalu menghargai perbedaan, pada murid juga harus mengerti arti pentingnya persahabatan dan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain Hamdan juga selalu mendapat dukungan dari kak alif dan kak queen dengan cara mengajak Hamdan bercerita kesehariannya, dengan cara itu Hamdan menjadi terbuka kepada kak Alif dan kak Queen, Hamdan juga mulai merasa tenang dan konsisten dalam menjalani pembelajaran. kak Alif dan kak Queen mulai menyadari bahwa Hamdan sangat berbakat di bidang matematika. Hingga pada suatu hari kak Queen mendapat informasi ada lomba matematika SD tingkat kota, kak Queen dan kak Alif menyarankan Hamdan untuk ikut lomba matematika, pada awalnya Hamdan merasa takut dan tidak percaya diri, tetapi kak Queen dan Alif memberi semangat dan dukungan agar Hamdan mau mengikuti lomba, dan Hamdan akhirnya memutuskan untuk mengikuti lomba. Hamdan banyak berlatih soal soal bersama kak Alif. Sampailah pada hari yang ditunggu tunggu, Hamdan merasa gugup, ditambah dia ditertawakan oleh teman temannya, mereka selalu mengolok olok Hamdan dan menganggap Hamdan tidak akan berhasil. Hamdan bersiap untuk pergi ke kota untuk melakukan lomba. Kak Alif dan kak Queen bertugas untuk mendampingi Hamdan hingga sampai ditempat lomba, sekali lagi kak Alif dan kak Queen memotivasi Hamdan “Hamdan hanya perlu fokus dan melakukan yang terbaik ya” ucap kak Alif “Tapi aku sedikit gugup kak” jawab Hamdan “Kamu gaperlu takut, coba lakukan dulu, berdoa, kamu sudah bekerja keras latihan bersama kak Alif, dan kakak yakin kamu pasti bisa, semangat ya Hamdan” ujar kak Queen “Baik kak terimakasih”
Dimulailah Lomba tersebut selama 2 jam, sebenarnya kak Queen dan kak Alif ikut merasa gugup tapi mereka yakin Hamdan pasti bisa. Setelah menunggu 2 jam, akhirnya Hamdan selesai, dan mereka bertiga menunggu 1 jam untuk pengumuman hasil. 1 Jam kemudian… “Baiklah saya akan mengumumkan pemenang juara pada hari iji, selamat kepada juara 3 atas nama Sinta” Ucap panitia. Hamdan merasa gugup dan khawatir. “Selanjutnya adalah juara 2, Selamat kepada Tasya” Hamdan merasa putus asa karena namanya bahkan tidak ada di juara 3 maupun 2 Hamdan menyerah dan tidak ingin mendengarkan pengumuman pemenang tersebut, Tetapi kak Alif dan kak Queen menasehati Hamdan agar mau menunggu hingga pengumuman juara 1. “ Baiklah ini saat yang kita nanti nanti yaitu pemenang juara satu selamat kepada atas nama Hamdan yang berhasil meraih juara 1 bidang matematika tingkat kota” Betapa terkejutnya Hamdan mendengar namanya disebut di juara 1 lomba matematika tingkat kota. Kak Alif dan kak queen memeluk Hamdan dan segera mengajak Hamdan untuk kembali ke Desa dan mengumumkan ke sekolah. Pada saat sampai sekolah Seluruh siswa dan guru merasa terkejut karena Hamdan ternyata memiliki bakat yang sangat luar biasa. Teman teman Hamdan yang sebelumnya menertawakan Hamdan merasa bersalah dan minta maaf kepada Hamdan. Teman teman Hamdan menyadari bahwa Hamdan memiliki kelebihan dan tidak pantas menertawakan kekurangan Hamdan mereka sadar kesalahan mereka karena kak Alif dan kak Queen selalu memberi pengertian tentang perbedaan di per temanan. Teman teman Hamdan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Guru guru dan siswa sangat berterimakasih dengan kedatangan ke Alif dan kak Queen karena berkat mereka Hamdan menjadi kebanggaan sekolah dan tidak lagi ditertawakan oleh teman temannya. Berkat kak Alif dan kak Quin siswa di SDN tiga Bambang mengerti adanya perbedaan dan tidak pantas untuk menindas satu sama lain
Aku Mengajar dan Belajar Rimala Maulina Manusia memang diciptakan untuk saling belajar, entah itu belajar akademik atau belajar tentang kehidupan yang fana ini. Setiap Sabtu pagi di bulan November aku menempuh jarak ± 30 km, melewati kota, pasar, pedesaan, hutan sampai jembatan berwarna-warni. Aku pergi ke kaki gunung semeru Sabtu itu. Kali pertamaku kesana dan melewati jembatan itu demi berjumpa dengan si pemilik senyum kecil. Si pemilik senyum kecil yang belum pernah aku lihat sebelumnya. “Akankah mereka bisa menerimaku? Akankah aku bisa merangkul mereka? Atau malah mereka tidak menyukaiku?” tanyaku dalam hati di sepanjang perjalanan. Perjalanan yang begitu panjang, membuatku semakin deg deg-an untuk bertemu si pemilik senyum kecil itu. Aku menempuh perjalanan jauh tidak sendirian, melainkan dengan beberapa teman dan kakak tingkatku. Kami berangkat ke tempat si pemilik senyum kecil itu menggunakan motor. Kurang lebih sudah 1 jam kami di perjalanan, akhirnya kami sampai. Ya, tempat itu adalah SDN 3 Bambang. SD ini tidak seperti SD biasanya, SD tersebut hanya memiliki beberapa murid bahkan, ada yang satu kelasnya hanya terdiri dari 5 orang. Mungkin akan banyak pertanyaan. Ingin melakukan apa kami di sini? Kami akan mengajar semua kelas di SD tersebut, atau bisa disebut pengabdian. Kebetulan aku mendapatkan kelas 1 SD. Wah apakah aku senang mendengar itu sebelumnya, tentu tidak. Banyak hal yang aku khawatirkan ketika aku mengajar kelas 1. Apakah aku bisa sabar? Apakah mereka bisa paham apa yang aku katakan? Susah ga ya, mengajar mereka? Itu yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri setelah mendapatkan kabar itu. Di Sabtu pertama bulan November, kami melakukan upacara pembukaan terlebih dahulu sebelum melakukan pelajaran. Kami mengenalkan diri masing-masing satu persatu. Saat itu mendengar jawaban mereka yang menyapa kami balik membuatku senang, aku merasa mereka sangat menerima kami untuk ke sekolah mereka. Perkenalan sudah usai, lalu dilanjutkan dengan masuk ke kelas masing-masing untuk melakukan kegiatan belajar mengajar, aku langsung ke kelas 1 dengan satu temanku yang akan membersamaiku. “Halo kak Revi!” ucap salah satu anak kelas 1 menyapa temanku. Mereka sangat polos dan manis, ini kali pertama ku bertemu mereka. Sedangkan Revi, dia sudah kedua kalinya bertemu mereka jadi, wajar jika mereka sudah mengenalnya. Pembelajaran dimulai, aku tidak menyangka kalau anak kelas 1 bisa kalem. Dipikiranku sebelumnya mereka akan rewel, nangis, ramai, dan ga mau diam. Itu memang pasti, tapi ketika kami tegur mereka sudah diam. Mereka sangat manis.
Hari itu aku bertemu dengan anak yang bernama Ela. Dia berbeda dengan anak lainnya. Dia belum bisa membaca dengan lancar dan lambat dalam berhitung. Aku dekati dia dan aku tanya. “Ela, Ela di rumah belajar sama siapa?” tanyaku. “Sama kakak,” jawabnya. “Kakaknya kelas berapa?”tanyaku lagi. “Kelas 6,” jawabnya. Langsung terbesit di pikiranku, apakah dia tidak diperhatikan oleh orang tuanya? Setiap pelajaran berlangsung aku fokus dengan anak itu. Setelah aku dekati memang dia sulit fokus menerima pembelajaran. Aku merasa ingin marah pada waktu itu, karena aku sudah lelah, suaraku terasa berat dan serak. Aku berusaha sabar sampai bel istirahat berbunyi. Ketika istirahat berlangsung ada satu anak yang menghampiri aku, namanya Rafael. Dia menghampiriku dan menyodorkan secarik kertas berisi nama dan nomor hp. Aku kaget, karena kita tidak kenal dan dia tiba-tiba menyodorkan kertas itu dengan senyum kecil terpancar di wajahnya. “Hai, ini apa?” tanyaku “No. Hp.” jawabnya “Siapa namamu?” tanyaku “Rafael kelas 4.” jawabnya “Kamu minta nomor hp ku?” tanyaku “Iyaa.” jawabnya sambil senyum kecila “Buat apa?” tanyaku “Biar inget aja, kan nanti perpisahan.” jawabnya Mendengar kata itu muncul hatiku langsung terenyuh, anak sekecil ini bisa berpikir seperti itu. Langsung aku tulis nama dan nomor hpku di kertas itu. Terlihat senyum kesenangan di wajahnya. Kami menyebut anak itu seleb bambang, ya karena dia meminta nomor semua orang, sangat lucu. **** Pengabdian di minggu ke-2 ke-3 berjalan seperti biasanya. Namun, rasanya sudah tidak ada semangat lagi. Rasa capek membuat media pembelajaran dan mengajar sangat terasa. Peserta didik juga mulai jenuh dan bosan membuat semangatku menurun. Mereka mulai tidak menghiraukan dan ramai sendiri. Untung saja di hari itu ada dolanan bareng, kami bermain ular naga bersama. Satu persatu peserta didik mulai senang dan bersemangat. Kami bersenangsenang, terawa dn berteriak bersama-sama Setelah bermain itu, dan bel pulang sudah dibunyikan kami mengakhiri pengabdian tersebut. **** Pengabdian hari terakhir pun tiba, di perjalanan rasanya campur aduk. Aku senang karena tugasku sudah selesai namun, aku juga sedih akan berpisah dengan anak-anak manis kelas 1. Pengabdian kali ini ada ujian evaluasi dan keterampilan. Peserta didik melakukan ujian dulu baru melakukan keterampilan. Sebelum ujian berlangsung, aku bersama temanku mereview kembali pembelajaran yang sudah kami ajarkan. Saat itu mereka paham dan mengerti.
Selama ujian berlangsung ada beberapa anak yang cepat dalam menjawab soal-soal tersebut namun, ada juga yang lambat karena kurang lancar membaca. Ela salah satu anak tersebut. Walaupun begitu aku salut dengan Ela karena berani bertanya dan tidak malu. Ela menjadikanku berpikir apakah aku kalau mengajar sulit dipahami ya? Apa ya salahku kok dia belum bisa? Aku merasa sangat bersalah. Pelan-pelan akuu mengajari dia dan pelan-pelan juga dia mulai paham. Setelah istirahat, aku dan temanku membagikan origami yang sudah berbentuk kelopak bunga. Kami menyuruh mereka untuk menempelnya ke tangkai yang sudah kami berikan. Mereka sangat senang. Tak lupa juga, kami menyuruh mereka untuk menuliskan nama, cita-cita, dan selamat hari guru karena pada waktu itu memang bertepatan dengan hari guru. Hal yang tidak aku sangka adalah, mereka menuliskan namaku di bunga itu dan hiasan kepala yang mereka buat. Mereka menuliskan I love Ri. Ri yang berarti namaku. How cute they are! Mereka membuatku bahagia dan sedih bersamaan. Aku bahagia karena mereka memperlakukanku seperti itu dan sedih juga karena hari ini mungkin hari terakhir bertemu mereka. Namun, harapanku aku bisa bertemu mereka di lain waktu. Saat mereka pulang aku baru merasakan bahwa menjadi seorang pendidik terutama anak sekolah dasar tidak sekadar bernyanyi tapi lebih dari itu. Orang-orang disana yang mengatakan mengajar anak SD gampang itu salah. Mengajar anak SD perlu sabar yang luas dan kuat menghadapi kondisi-kondisi anak SD yang diluar dugaan. Yah, dari sini aku belajar, orang akan tau rasanya jika sudah merasakan. Sekarang aku bertanya-tanya “Apakah mereka masih mengingatku?” Biografi penulis. Penulis bernama Rimala Maulina lahir di Kediri, 22 Maret 2004. Saat ini penulis merupakan mahasiswa semester 3 di Universitas Negeri Malang, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Ini bukan cerpen pertamanya, karena sebelumnya ia sudah pernah membuat antologi cerpen berjudul “This Is Life”.
Bodacious Nabila Kurnia Putri Deg!!! Jantung ku ingin meloncat saat melihat anak-anak usia dini di hadapan ku. Lihatlah bola mata mereka yang membesar, sangat lucu sekali. Ya, aku berada di kelas yang berisi teman-teman Gemapedia dan adek-adek yang akan menjadi murid kami selama satu bulan ke depan. Ini adalah pengalaman pertama ku mengajar langsung di SDN 03 Bambang dan diberi kesempatan mengajar di kelas 6. “Hallo, kenalin nama kakak, kak lova. Disini kakak bakal ngajar kelas 6. Mana nih suaranya kelas 6? Angkat tangan dong-!” ujar ku dengan melambaikan tangan kepada mereka. Tidak ku sangka, respon mereka sangat hangat jauh dari ekspetasi ku yang mengira mereka akan acuh tak acuh. Aku juga melihat ada beberapa anak yang mengangkat tangan dengan senyum malumalu, aku menyapa mereka sebagai perkenalan awal. Sekarang, aku berada di ruang kelas 6 setelah berkumpul bersama dengan semua kelas. Oh tidak, rasanya lebih canggung. Aku mengedarkan pandangan ke samping, melihat kakak pembina ku. Tatapan ku memelas butuh pertolongan, syukurnya kakak pembina ku mengerti dan mulai mencairkan suasana terlebih dahulu lalu aku mulai ikut berinteraksi dengan mereka. Aku mulai menyuruh mereka untuk memperkenalkan diri. Selama perkenalan berjalan baik sambil aku menghafal keras nama mereka sampai akhirnya bagian anak cowok perkenalan. Ku bisa menebak semua cowok kelas 6 memiliki sifat malu dilihat dari tatapan mereka yang menunduk, suara kecil dan paling parah sembunyi di bawah meja. Mataku membulat melihat mereka terutama anak yang sembunyi di bawah meja, aku menuntun nya pelan pelan dan menyanyakan nama nya. dia menjawab dengan suara sangat kecil sekali sehingga mendekatkan telingaku ke arah nya “rafel”. Okay, namanya sudah menancap di otak ku. Itu adalah pengalaman ku saat survey Pengalaman mengajar pertama, aku ditemani dengan rekan dan kakak pembinaku. Di minggu pertama hanya ada 6 siswa yang masuk karena sebagiannya ikut lomba karate. Rasanya senang sekali mendengar mereka sedang mengharumkan nama sekolah. Selama mengajar, mereka aktif sekali terutama kami membuat sistem point bintang dan love di kartu nama mereka sebagai tanda apresiasi kami. Apalagi rafel mengalami peningkatan, dia semangat menjawab bahkan maju ke depan. Meskipun kami berhasil membuat mereka aktif tapi kami mengalami kendala. Ada 2 anak yang butuh waktu lebih untuk memahami materi yang diurus patnerku dengan telaten sedangkan aku mengalihkan 4 anak dengan bermain perkalian melalui media pembelajaran. Aku mengetes apakah mereka sudah bisa perkalian atau belum karena perkalian sangat penting dalam materi bangun ruang yang mereka pelajari, syukurlah mereka bisa. Tidak hanya itu saja terjadi pertingkaian antara cewek dan cowok demi mendapatkan bintang sehingga kami memutuskan untuk menjawab bersama. Dan yang terakhir, waktu selesai istirahat mereka susah sekali masuk kelas selalu keluar bahkan ada satu anak perempuanku melihat orang special di kelas sebelah. Huh... aku hanya bisa menghela nafas, energi ku terkuras habis. Banyak evaluasi dari minggu pertama sehingga menjadi pr untuk minggu kedua dimana aku mengajar sendiri sampai minggu ketiga. Minggu kedua, aku merubah semua konsep
pembelajaran dari individu menjadi kelompok dan membuat peraturan dengan konsekuensi akan menghapus tanda bintang atau love di kartu nama mereka agar mereka bisa disiplin. Aku takut gagal mengajar di minggu kedua ini karena semua siswa hadir dan aku mengajar sendiri tapi aku bersyukur ada kakak pembina ku yang membantu selama mengajar. Selama pembelajaran, semua berjalan baik. Mereka memiliki kerja sama yang baik, terutama yang sempat berantem minggu pertama saat satu kelompok. Mereka mulai kompak meskipun sedikit gaduh. Saat istirahat, anak cowok main bersama di kelas karena sadar waktu istirahat nya hanya 20 menit sehingga tidak main bola diluar. Aku terbuat salut sama mereka, mereka kreatif banget bikin permainan dari bahan yang ada di kelas bahkan mendaur ulang botol. Ku dibuat kagum lagi sama semua siswa adalah saat selesai jam istirahat, mereka langsung masuk kelas. Saat dolanan bareng ada kendala yaitu ada satu kelompok yang belum kompak. Sebenarnya mereka sudah kompak waktu awal tapi pas mereka kalah, kekompakan mereka mulai menurun bahkan waktu permainan kedua, mereka mulai mencar sendiri-sendiri. Ku coba membuat mereka rukun dan memilih salah satu untuk menjadi perwakilan permainan kedua. Akhirnya ku bisa bernafas lega, mereka mulai kembali kompak dan semangat. Lagi-lagi ku dibuat salut sama mereka saat babak final hanya sisa 2 orang, mereka saling menjaga agar hasilnya seri. Pertemanan yang manis sekali Untuk minggu ketiga tidak jauh beda dengan minggu kedua, hanya saja ada sudah ada kendala. Aku ketiduran dan media pembelajaran nya belum ku buat, aku kebangun jam 02.00 sedangkan jam 05.15 harus sudah berangkat. Kaget setengah mati, otak masih beku sudah dipaksa menguap. Untung saja media pembelajaran nya sudah jadi dengan sistem kebut semalam. Selama pembelajaran, aku takut mereka bosan karena sistemnya sama dan media pembelajaran nya hampir sama hanya diubah sedikit tapi mereka masih aktif bahkan lebih aktif daripada sebelumnya sampai ku sedikit kewalahan tapi ku senang. Emang kalau jadi guru obatnya itu siswa. Ada satu kendala selama pembelajaran bahkan ku merasa fatal karena ada satu anak yang baca nya belum lancar, ku merasa kecewa karena baru tau saat minggu ketiga sehingga minggu ke-4 ku menambah sistem pembelajaran untuk melihat potensi nya. Minggu ke-4 adalah minggu terakhir ku mengajar mereka ditemani dengan patnerku. Kami mengajar mereka secara maksimal. Aku yang mulai tau kunci mereka agar bisa senang dan selalu menerapkan awal pembelajaran dengan ceria seperti pertemuan sebelumnya. Kami menerapkan sistem dikte agar mereka mencatat semua terutama untuk melihat potensi satu anak yang kami kasih perhatian lebih selebihnya masih sama semua. Saat pulang, aku meminta beberapa anak untuk menyampaikan pesan dan kesan selama kami ajar. Ku tersentuh mendengar pesan dan kesan mereka bahkan ku gak nyangka sampai ada beberapa anak yang mengeluarkan air mata, tentu air mata ku ikut keluar juga. Terimakasih sudah membuat kenangan yang bermakna selama satu bulan ini. ku belajar banyak dari pengabdian akbar 1 ini dari teman-teman gemapedia dan anak-anak yang aku ajar. Ku belajar menjadi guru enggak hanya sekedar menjelaskan materi lalu pulang tapu guru juga menyiapkan materi secara matang dari sistem pembelajaran, media pembelajaran, membawa suasana yang ceria dan mendidik karakter siswa menjadi baik. Bionarasi : Hallo! Perkenalkan namaku Nabila Kurnia Putri bisa dipanggil Bella atau Billa. Seorang Mahasiswi Universitas Negeri Malang jurusan Pendidikan Fisika angkatan 23 kelahiran 2005 di Malang, Jawa Timur.
MEMBENTUK MASA DEPAN Fauzan Ahmad Ghaly Di sebuah kota yang indah dan sejuk, terdapat seorang mahasiswa bernama Tejo yang sedang mengikuti kegiatan pengabdian akbar di sebuah sekolah dasar, di pinggiran kota. Sekolah ini merupakan sekolah paling ujung yang tedapat di wilayah tersebut, yang di mana anak anak yang mengenyam Pendidikan di sini bermukim sangat jauh hingga harus mengendarai sepeda motor sendiri. Sekolah ini hanya memiliki 1 rombongan belajar di setiap jenjangnya. Tejo merupakan seorang mahasiswa semester satu dari jurusan sastra mesin yang energik dan penuh semangat, ia telah memilih untuk menghabiskan waktunya untuk memberikan pendidikan tambahan kepada anak-anak di sekolah tersebut. Sebelumnya Tejo sudah melakukan survei ke sekolah tesebut dengan beberapa rekan pengabdiaanya, dan berkenalan dengan bapak ibu guru serta murid murid di sana. Tejo tiba di SD tersebut dengan semangat tinggi. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak di sini, yang mungkin belum pernah menyaksikan banyak hal di luar desa mereka. Semangatnya langsung menyebar ke seluruh guru dan siswa di SD tersebut. Mereka merasa beruntung memiliki seorang mahasiswa seantusias dan sesemangat Tejo. Tejo mulai mengajar di kelas 6, di mana dia bertemu dengan sekelompok siswa yang penuh semangat dan rasa ingin tahu. Meskipun keterbatasan fasilitas dan buku pelajaran, Tejo berusaha keras untuk membuat pembelajaran menjBudi pengalaman yang menyenangkan. Pada hari pertama, Tejo menyadari bahwa isi ruang kelas tidak seramai saat ia melakukan survei. Hal ini terbukti ketia Tejo melakukan absensi ke anak anak, ternyata setengah dari kelas yang hanya berjumlah 13 anak sedang mengikuti lomba . Namun Tejo tetap merasa antusias. Dia membawa semangat dan inovasi baru ke dalam kelas. Dia tidak hanya mengajarkan mata pelajaran, tetapi juga memberikan games games yang sangat seru di hari hari pengabdiannya. Namun, di hari petamanya tidak berjalan mulus. Tejo harus berhadapam dengan tantangan, bagaikan tom dan jerry, siswa putra dan putri tidak rukun dan saling bersaing bahkan enggan untuk belajar bersama. Selain itu Tejo juga dihadapkan dengan adanya siswa yang lama menyerap materi dan belum lancar membaca sehingga ia harus memberikan perhatian lebih. Tejo menyadari bahwa ada seorang anak bernama Budi yang selalu merenung dan tidak ceria serta selalu terpisah dari teman-temannya. Budi terlihat pemalu dan jarang berbicara. Tertarik dengan situasi ini, Tejo mendekati Budi dan mencoba memahami lebih banyak tentang dirinya. Setelah beberapa percakapan, Tejo mengetahui bahwa Budi memiliki kesulitan belajar dan sering merasa malu dengan teman-temannya. Tanpa ragu, Tejo menawarkan
bantuannya untuk memberikan tambahan pelajaran kepada Budi setiap hari setelah jam sekolah. Budi merasa senang karena akhirnya ada seseorang yang mau membantunya. Setelah mendapatkan bantuan tambahan pelajaran dari tejo, Budi mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pelajarannya. Keberhasilan Budi menjbudi inspirasi bagi seluruh kelas. Anak-anak lain juga mulai membantu satu sama lain, menciptakan susasana pembelajaran yang hangat. Pendidik dan siswa bekerja bersama-sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung. Selama beberapa hari, hubungan Tejo dan murid murid semakin erat. Tejo tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan tetapi juga nilai-nilai kehidupan. Ia mengajarkan pentingnya keberanian, kerja keras, dan tekad untuk meraih impian. Siswa siswi pun semakin percaya pada dirinya sendiri dan yakin bahwa tak ada impian yang terlalu besar untuk dikejar. Suatu hari, ketika pengabdian hampir berakhir, Tejo meberikan sepatah kata kata di hadapan murid murid kelas 6. Dengan hati penuh haru, Dia menekankan betapa pentingnya solidaritas dan saling membantu di dalam dan di luar kelas. "Pendidikan bukan hanya tentang buku dan nilai, tetapi juga tentang membentuk karakter dan sikap peduli satu sama lain," ucap Tejo dengan tulus. "Ketika kita saling mendukung, kita dapat mencapai hal-hal besar bersama-sama." Waktu berlalu dengan cepat, Tejo merasa bangga melihat perkembangan anak-anak di SD tersebut. Mereka lebih percaya diri, memiliki semangat untuk belajar, dan memiliki impian besar untuk masa depan mereka. akhirnya tiba saatnya bagi Tejo untuk meninggalkan sekolah tersebut. Saat berpamitan, anak-anak berkumpul untuk mengucapkan terima kasih atas segala bantuan dan pengajaran yang Tejo berikan. Sebuah perpisahan yang penuh haru melanda, tetapi Tejo tahu bahwa jejaknya akan tetap terukir dalam ingatan mereka. Tejo kembali ke kampus dengan hati penuh kebahagiaan. Pengalaman di SD tersebut memberikan pelajaran berharga baginya. Ia menyadari bahwa memberi itu sebenarnya merupakan salah satu cara untuk menerima lebih banyak lagi. Ia juga belajar bahwa kebahagiaan sejati terletak dalam memberikan dampak positif bagi orang lain. Pesannya sederhana: pendidikan bukan hanya tanggung jawab pendidik dan sekolah, tetapi juga peran serta aktif dari masyarakat. Setiap orang memiliki potensi untuk berkontribusi pada perubahan positif, bahkan tindakan kecil sekalipun dapat membawa dampak dan perubahan besar. Melalui pengabdian dan semangat, Tejo tidak hanya memberikan pengetahuan kepada anak-anak sekolah itu tetapi juga memberikan inspirasi bagi mereka untuk terus berusaha dan bermimpi besar. TENTANG PENULIS Fauzan Ahmad Ghaly atau akrab disapa Mas F, Seorang mahasiswa aktif semester satu S1 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang, lahir di Banyuwangi 17 Agustus 2004. Dikenal sebagai Aktivis Organisasi terutama Pramuka semejak mengenyam pendidikan Di SMP Negeri 1 Giri Banyuwangi, hingga kini ia menjadi mahasiswa UM
Pengabdian Akbar 1 dan Masa Mudaku Shabrina Quraisy Namaku Shabrina Quraisy, orang akrab memanggilku dengan sebutan Shab, Rin, Brin, atau apapun itu. Aku adalah seorang mahasiswi Pendidikan Fisika yang sedang duduk di semester 5. Lahir di Kota Industri atau Kota Santri Gresik, dan kemudian berpindah tempat ke daerah tempat wisata Bondowoso, Jawa Timur. Ini kisah dan pengalamanku pada pengabdian Akbar 1 Sabtu, 4 November 2023, hari itu aku beranjak pergi dari kasurku untuk memulai hari lebih pagi dari biasanya, dengan tubuh yang setengah sadar aku mulai bergegas untuk membersihkan diri, dan bersiap untuk segera pergi ke kampus bertemu dengan para laskar dewantara dan Dewantara yang lain. Saat perjalanan pertama kali menuju SDN 3 Bambang terasa sangat jauh dan cukup melelahkan, aku yang banyak tidak mengerti mengenai daerah kabupaten Malang menjadi banyak pertanyaan dalam diri pada saat perjalanan, “Kalau lewat sini jadi ingat daerah rumah ya?” “Ternyata di Malang ada daerah yang seperti ini ya?” “Kok aku baru tahu ya daerah Malang ini ya” Pertanyaan-pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang pada saat perjalanan menuju lokasi pengabdian, hingga tidak terasa lebih dari 45 menit di perjalanan kami sampai menuju SDN 3 Bambang, tempat pengabdian Akbar 1 berlangsung. Hari itu adalah hari pertama kali bertemu dengan para adik-adik SDN 3 Bambang. Rasa senang, gugup, bahagia bercampur menjadi satu tak sabar menemui adik-adik kelas 3 yang nantinya akan kami ajar. Pengabdian satu ini aku tidak sendiri, aku mengajar bersama partnerku Daffa Pradana W. Di hari pertama aku mengajar, aku mengajarkan materi perkalian, tepatnya di kelas 3 yang terdiri dari 11 siswa, dengan 6 siswa laki-laki dan 5 siswi perempuan. Pada awalnya aku merasa sangat struggle dan sangat berat dalam menjalankan tugas tersebut, karena masih belum berpengalaman, serta merasa belum pantas untuk memberikan ilmu kepada mereka. Namun karena antusiasme dari adik-adik serta support dari partner mengajar, akhirnya membangkitkan semangatku untuk terus memberikan ilmu kepada mereka/ Pengabdian pertamaku hari itu sangat berkisah, banyak sekali rintangan serta hal-hal baru yang tidak aku sangka dan aku temui, seperti masih banyaknya siswa yang kurang bisa membaca, masih banyaknya siswa yang lambat dalam menulis, serta beberapa siswa yang kondisinya sedang tidak fit dan kurang kondusifnya kelas. Pada hari itu waktu berjalan cukup cepat dari pertama kali aku menginjakkan kakiku di kelas 3 untuk perkenalan dan mengajar hingga akhirnya aku harus menutup pelajaran hari ini karena waktunya telah habis Saat perjalanan pulang banyak hal-hal kecil yang aku pikirkan banyak persepsi serta pengalaman baru yang aku terima, “jadi gitu ya ngajar”
“jadi gitu ya menghadapi anak-anak kecil, kok beda ya anak-anak yang ada di kota sama anakanak yang ada di desa?” Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul pada saat aku berada di perjalanan kembali menuju kampus Setelah selesai melaksanakan pengabdian di hari pertama waktu terasa begitu cepat mulai lagi rutinitas seperti biasanya membuat RPP membuat media pembelajaran dan mempresentasikannya. Hingga waktunya pun tiba minggu kedua pengabdian tepatnya hari Sabtu di hari itu aku mengajar sendirian tidak seperti biasanya bersama partnerku ia sedang berhalangan hadir sehingga aku harus menghandle kelas 3 sendiri dan dibantu dengan LO Kak Hudan. Hari itu sangat menyenangkan sekali, dari awal siswa mulai berdoa, mulai menyanyikan lagu belajar, menyanyikan lagu nasional, mereka sangat menunjukkan antusiasme serta semangat yang sangat tinggi untuk belajar kedua kalinya tentang materi perkalian bersamaku, di hari itu menurutku lebih spesial daripada pengabdian sebelumnya. Karena terdapat kegiatan dolanan bareng yang menurutku membuat mereka lebih bersemangat dalam pelaksanaan pembelajaran, selain itu media pembelajaran yang kami gunakan juga sangat mendukung pembelajaran hari itu. Ketika diingat ingin rasanya mengulangi di minggu kedua pengabdian melihat adik-adik kelas 3 semangat dalam belajar semangat dalam mengajukan diri untuk mengerjakan soal semangat dalam bermain dolanan engklek membuatku sangat bahagia dan sangat puas pada hari itu, meskipun beberapa kali terdapat kendala di mana kelas kurang kondusif. Selasa hari itu aku sadar siswa akan semangat belajar ketika kita memberikan sesuatu ataupun media yang sesuai dengan karakter usia mereka dan tentunya diselingi pembelajaran dengan bermain. Kemudian waktu terus berjalan, dimana minggu 3 berjalan seperti semestinya dan hingga tiba di pengabdian terakhirku. Hari itu cukup melelahkan dan menyedihkan karena aku menutup pengabdianku di SDN 3 Bambang di kebersamaan dengan partnerku karena ia berhalangan hadir, di hari itu beberapa kali siswa membuatku kesal siswa yang kurang kondusif siswa yang kurang memperhatikan siswa yang banyak jenuh siswa yang terlalu gaduh Namun aku ternyata bisa menghadapi itu semua hingga akhir pembelajaran selesai di hari itu sebelum mengakhiri pembelajaran dari itu aku bersama adik-adik yang lain belajar membuat keterampilan bunga dari kertas lipat. Di akhir pembelajaran itu membuatku bersemangat karena mereka sangat antusias, mereka sangat menikmati kegiatan pembelajaran itu. Sampai kami terlambat dari jadwal perpulangan mereka. Apabila diingat kembali masih tidak terpikirkan bahwa aku telah selesai melaksanakan pengabdian Akbar 1 di SDN 3 Bambang, masih banyak hal-hal yang aku pikirkan aku pertanyakan serta aku renungkan setelah pengabdian ini. Aku sangat bersyukur karena dipertemukan dengan manusia-manusia yang membuatku memiliki perspektif serta pemikiran yang lebih terbuka banyak hal-hal yang aku lebih syukuri pada saat pengabdian maupun setelah pengabdian Dan satu hal yang aku tekankan dalam diriku setelah pengertian Akbar 1 ini: kalau bukan kamu yang peduli pendidikan lalu siapa lagi? Kalau bukan kamu yang muda yang bergerak lalu bagaimana Indonesia akan maju? Dan satu hal yang aku ingat, bahwasanya jumlah siswa bukan hanyalah angka tapi bagaimana momen tersebut akan memaknainya. -The End-
Melukis Harapan di Pelosok Desa Dinda Mayla Kharisma Cerita ini berkisah tentang sebuah pengabdian akbar. Pengabdian sejati akan sebuah keyakinan pada masa depan yang lebih cerah. Cerita ini tidak terjadi di kota besar yang dekat dengan kemajuan, melainkan di sebuah sekolah sederhana di desa kecil yang tetanggaan dengan desa tempat aku tinggal. SD Negeri 3 Bambang sungguh SD yang diluar ekspektasi saya, SD dimana untuk pertama kalinya saya ditempatkan untuk mengabdi. Hai, namaku Faiza berasal dari desa yang tidak jauh juga dengan SD Negeri 3 Bambang, SD terpencil yang dikelilingi oleh hamparan sawah dan hutan. Sebuah SD yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, asri, nyaman dan sejuk. Saya tinggal satu kecamatan dengan SD Negeri 3 Bambang namun, agak sedikit kaget mengenai perbedaan fasilitas dengan SD sekolah saya yang notabenya juga berada di desa. Sungguh pengalaman yang indah, melukis harapan di sana bersama adik-adik yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Pengalaman yang tak akan terlupakan bisa belajar bersama meraih cita-cita yang mulia. SD Negeri 3 Bambang memiliki 6 ruang kelas dengan bangunan yang masih kokoh, kebetulan saya diamanahi untuk bisa belajar bersama dengan kelas 2. Kelas 2 berada di sebelah kantin, bahkan di dalam ruangannya bisa melihat kantin dengan jelas dan bisa beli lewat jendela kelas. Di kelas 2hanya terdapat 6 murid, yaitu Faza, Dian, Vina, Sifa, Viko, dan Rafa. Kelas dimana memiliki murid yang paling sedikit diantara kelas yang lain, namun karena satu hal keluarga kelas 2 hanya menjadi 5 karena viko yang memilih tidak melanjutkan sekolah. Sungguh miris hati saya ketika permasalahan lebih memilih diselesaikan dengan putus sekolah. Viko memilih untuk putus sekolah hanya karena ia ketahuan bermain HP di sekolah, permasalahan tersebut tidaklah berat yang bisa membuat seseorang putus sekolah. Namun, setelah diusut dukungan dari keluarga yang sangat minim bahkan tidak mendukung Viko untuk belajar kembali. 5 orang anak yang memeiliki kepribadian yang berbeda-beda, hanya satu anak yang menjadi sorotan mata saya mulai dari minggu pertama hingga minggu ke empat yaitu Vina. Vina sosok yang murah senyum pada siapapun, namun setelah dipahami lebih ia hanya menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman. Ia tinggal hanya dengan neneknya saja, orang tuanya pergi bekerja ke Papua ia hidup tanpa perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Tanpa perhatian dan kasih sayang orang tualah yang membuat tampilan Vina lusuh dan kotor, ia memiliki sakit gatal-gatal yang keluar air pada seluruh tangan dan kakinya. Karena itulah Vina di jauhi oleh teman-teman di kelasnnya, hanya Vina dalam kelas tersebut yang tidak punya teman. Vina merupakan sosok yang Tangguh, ia menyikapi cemoohan dan ejekan dari temannya hanya dengan tersenyum. Minggu pertama dan minggu kedua saya masih tidak berhasil untuk bisa menggabungkan mereka agar bisa berteman dengan Vina, apalagi saat melakukan ice breaking tidak ada yang mau satu kelompok dengan Vina dan lagi-lagi Vina menyikapinya dengan tersenyum lebar meski hatinya teriris. Namun setelah dolanan bareng pada minggu ke dua mungkin mereka bisa menyatu, namun tetap salah Vina tetap tidak mempunyai teman. Segala cara dilakukan untuk bisa menyatukan mereka namun tetap tidak berhasil, Vina tetap menjadi cemoohan bahkan ketika is tak salah sedikitpun. Semua teman
sekelasnya selalu cemburu jika kami sebgai guru mengajari Vina, padahal semua diajari secara adil tanpa terkecuali. Namun, yang membuatku terkesan yaitu Vina menanggapinya hanya dengan senyuman tanpa marah sedikitpun. Minggu ke dua berlalu, tibalah minggu keempat dimana kami satu kelas mencoba mengukur volume air di halaman kelas. Kami minta mereka mencoba mengukur volume secara bergantian, namun dengan adanya hal dan suatu hal ternyata Vina berantem dengan Sifa, yang membuat Vina marah dan menangis. Dari sanalah kami tau bahwa Vina adalah seorang anak yang gampang marah dan nagis hanya karena hal sepele. Hal itulah yang membuat temanteman sekelasnya lebih memilih untuk menjauhinya, karena ia sangat sering marah terhadap teman-temannya. Teman-teman sekelasnya mengeluh karena sikapnya tersebut membuat tidak nyaman untuk berteman dengannya. Ternyata memang bukan fisik yang mereka liat untuk bisa berteman namun, hati dan rasa nyaman yang mereka rasakan. Minggu terakhir telah tiba, minggu dimana minggu perpisakan aku bersama dengan murid-muridku yang tercinta. Waktu itu mereka sangat aktif dan bersemangat namun, hal yang aku sesali yaitu tidak dapat membuat mereka Bersatu dan Vina tetap dikucilkan. Mereka tetap tidak mau berteman dengan Vina, bahkan sekedar meminjami Vina alat tulis mereka tetap tidak rela. Banyak pengajaran yang dapat aku diambil dari diri seorang Vina, tentang sakit hati yang ia pendam ketika teman-temannya memusuhinya, tentang senyuman yang ia kembangkan ketika teman-temannya mengejeknya. Dan aku belajar tentang bagaimana kitab isa memilih teman yang bisa membuat kita nyaman, tidak hanya itu ketika berteman kita juga harus bisa membuat hati teman menjadi nyaman. Saya Dinda Mayla Kharisma Santoso anak pertama yang lahir di Malang pada 22 Mei 2004. Saya biasa dipanggil Dinda, tidak sedikit juga yang memanggil May karena banyak orang yang memiliki nama Dinda seperti saya. Saya di besarkan di Desa Sukoanyar Kecamatan Wajak Malang.
Padamu Negeriku, Aku Mengabdi Ekaristi Maharani “Lariiiii.... Cepat lari, Ris. Serigala itu di belakangmu!” Aku semakin panik hingga berlari dengan tertatih-tatih. Napasku tersenggal, dada ku naik turun, perut bagian kiri ku pun mulai menimbulkan rasa nyeri yang amat sangat. Serigala itu semakin dekat denganku, Aku mulai kelelahan hingga tubuhku terasa hamper ambruk. Satu Langkah, dua langkah, tiga langkah... Kriiiingggggg.... Kriiingggg...... Kriinggg... Aku berusaha membuka mata ku, meraba meja di samping kiri tempat tidurku, mencari keberadaan benda yang mengeluarkan suara dengan sangat lantang. Setelah bunyi itu hilang, Aku melihat jam weker itu dengan rasa kantuk yang masih melekat di mata ku. Angkanya menunjukkan pukul 04.00 pagi, dengan berat hati Aku beranjak dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, memulai aktivitasku hari ini. Setelah semua giat pagi ku selesai, Aku pun segera berangkat menuju Universitas Negeri Malang. “Kamu dari SD mana?” Tanya salah satu Kakak Dewantara “Sumberpetung, Kak” “Segera kumpul sama kelompoknya ya” Fyuuhh.. Aku hampir terlambat sampai di titik kumpul yang sudah ditentukan. Hari ini adalah hari pertamaku melaksanakan Pengabdian Akbar 1. Di kesempatan kali ini, Aku berkesempatan melaksanakan pengabdian di SDN 1 Sumberpeung yang terletak di Kabupaten Malang, Kecamatan Kepanjen. Aku dan tim SDN 1 Sumberpetung pun segera bergegas menuju lokasi. Kurang lebih satu jam 30 menit watu perjalanan yang harus kita tempuh dari Universitas Negeri malang menuju SDN 1 Sumberpetung. Ramainya lalu lintas hingga sulitnya akses jalan yang harus kami lewati tidak mematahkan semangat kami untuk segera bertemu dengan adik-adik SDN 1 Sumberpetung. Sesampainya kami di SDN 1 Sumberpetung, adik-adik dan Ibu Guru sudah memulai kegiatan senam pagi. Kami pun segera Bersiap dan bergabung dalam kegiatan senam pagi.
Setelahnya, kami melaksanakan apel pembukaan pengabdian dan dilanjutkan dengan kegiatan belajar mengajar di kelas masing-masing. “Kak, ayo kita main game ‘Sedang Apa’” “Belajar perkalian aja loh, Kak. Jangan yang ini, susah, Kak” “Suf, kemarin itu lho ada yang kecelakaan di depan sekolah sampai ngerobohin pager rumah. Mobilnya rusak yang depan” “Kak, ngga usah belajar, kita main aja” Seperti itu lah kericuhan yang terjadi saat Aku melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas empat. Demi Tuhan, ternyata mengajar anak-anak Sekolah Dasar tidak semudah itu. “YaAllah Gusti, sabar. Aku capek YaAllah” Kataku di dalam hati. Peserta didik di kelas empat ini memang istimewa. Walaupun dalam satu kelas hanya ada tujuh anak saja, namun tidak lah mudah untuk menjaga ketertiban di kelas. Tenggg... Teng.. Teenggg... Bel istirahat sudah berbunyi, seluruh siswa siswi SDN 1 Sumberpetung mulai berlarian keluar dari kelas. Ada yang langsung main bola, membeli snack di kantin, main bulutangkis, dan sebagainya. Namun, ada 1 anak di kelas yang tampak murung. “Haii, Dimas ya?” Tanyaku. “Iya, Kak” “Kamu ngga makan? Yang lain udah beli jajan semua ke kantin, kamu ngga ikut temantemanmu?” Tanyaku pada Dimas yang hanya berdiam diri di kelas. “Engga, Kak. Aku bawa bekal setiap hari. Aku ngga pernah dikasih uang saku sama ibuk” Katanya sambal mengeluarkan bekal makanannya yang dibungkus menggunakan kertas minyak. “Oh ya? Kenapa? Kamu bawa bekal apa, Dim?” “Ibuk ngga ada uang, Kak. Aku bekal mie goreng. Kakak mau?” Anak bernama Dimas ini memang cenderung pendiam jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya di kelas. Aku terdiam merenung sambil memikirkan cerita Dimas. Memang benar sih sekolah ini terletak di desa dan hanya memiliki fasilitas seadanya. Ibu Kepala Sekolah juga pernah bercerita kalau masyarakat di sekitar termasuk masyarakat menengah ke bawah. Aku bersimpati melihat kondisi Dimas.
Walaupun Dimas memiliki kondisi keluarga yang kurang mampu hingga membuatnya cenderung pendiam di kelas, Dimas adalah seorang anak laki-laki rajin dan pintar. Ia bisa menjawab soal-soal yang diberikan dengan tepat. Nilai tugas dan nilai ujiannya pun selalu bagus. Saat ditanya mengenai cita-citanya, Dimas menjawab, “Aku ingin jadi tantara!” Aku dibuat kagum dengan sosok Dimas. Dengan kondisinya yang seperti itu, ia tidak takut bermimpi. Dimas adalah seorang anak yang penuh semangat, tidak ada satu pun hal yang mengahalanginya untuk bermimpi. Akhirnya jam pulang sekolah telah tiba. Aku dan tim SDN 1 Sumberpetung menuju sebuah warung untuk makan siang sembari evaluasi dan berbagi cerita. Tanpa ku sadari, banyak cerita menarik dan pelajaran kehidupan yang bisa kita peroleh dari pengabdian di hari pertama ini. Salah satunya adalah cerita Dimas. Aku menyadari bahwa selama ini aku kurang bersyukur. Bisa dikatakan bahwa aku hidup berkecukupan. Namun, aku masih sering bermalasmalasan dan tidak bersemangat menekuni studiku. Tidak seperti Dimas, bahkan aku tidak mempunyai mimpi. Tetapi sekarang berbeda. Aku akan belajar dari Dimas. Aku akan lebih bersemangat dan banyak bersyukur dengan kehidupan ini. Apapun keadaan yang dimiliki, tidaklah menjadi hambatan bagi seseorang untuk mengejar mimpi. Halo!! Aku Ekaristi Maharani, teman-teman akrab menyapaku “Risti”. Aku mahasiswi Semester tiga, program pendidikan S1 Matematika di Universitas Negeri Malang. Aku lahir di Blitar, tanggal 26 April 2003. Coba tebak, berapa usiaku sekarang? Ya, benar! Saat ini aku berusia 20 tahun. Hari itu, hari pertama perkuliahan semester tiga dimulai. Aku mulai mencari informasi terkait dengan open recruitment organisasi maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Aku memanfaatkan kesempatan di semester tiga ini untuk memperoleh pengalaman berorganisasi. Tibalah aku di Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai GEMAPEDIA, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Negeri Malang. Kegiatan dalam UKM GEMAPEDIA ini sangatlah beragam. Namun, salah satu inti
kegiatan yang aku cari di organisasi ini adalah pengabdian. GEMAPEDIA mewadahi para mahasiswa peduli pendidikan untuk mengabdikan segala pengalaman dan ilmunya kepada masyarakat secara langsung. Pada kesempatan ini, aku akan membagikan cerita yang aku peroleh selama Pengabdian Akbar 1 berlangsung.
TENTANG MIMPI DAN KESABARAN Mella Eka Febriyanti Namaku Mella Eka Febriyanti, mahasiswa semester 1 Universitas Negeri Malang, jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Aku diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari organisasi Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan (GEMAPEDIA). Untuk program yang pertama aku ikuti setelah menjadi bagian dari Gemapedia adalah pengabdian 1. Kali ini aku diberi kepercayaan untuk mengabdi kelas 1 di SDN 1 Sumberpetung. Sekolah yang terletak di pelosok Kabupaten Malang memberikan secuil cerita baru bagi hidupku. Hari dimana minggu pertamaku mengabdi, jarak antara kampus ke SD cukup jauh sekitar 1,5 jam perjalanan. Berangkat dari kos pukul 05.00 agar tidak terlambat dan berangkat dari kampus ke SD sekitar pukul 06.00. Sekitar pukul 07.30 Aku sampai di SD tersebut. Dengan cuaca yang bersahabat, sepertinya matahari juga tersenyum melihat senyum anak anak yang antusias. Mereka mengawali hari dengan senam pagi, lalu dilanjutkan dengan apel pagi sebagai bentuk pembukaan untuk kami mulai mengabdi. Mungkin di pikiran orang awam mengajar kelas 1 itu sulit. Harus menghadapi nakalnya siswa, belum lagi jika ada siswa yang menangis, seorang guru harus siap menghadapi semua itu. Namun pemikiran tersebut hilang ketika saya menginjakkan kaki di SDN 1 Sumberpetung untuk mengabdi. Siswa kelas 1 di SD tersebut tidak separah yang dibayangkan. Bahkan ada suatu hari ketika siswa kelas 1 ada jadwal untuk suntik. Mereka tidak menangis bahkan tidak juga merasa kesakitan. “Rika cita-citanya mau jadi apa?” tanyaku kepada salah satu murid bernama Rika. “Aku mau jadi guru kak!” jawab Rika dengan antusias. “Kenapa Rika mau jadi guru?” tanyaku kepada Rika lagi. “Karena aku mau jadi seperti kakak, bisa bicara didepan dan mengajari anakanak menjadi pintar.” jawab Rika memberikan alasannya. “Kalau Rika mau jadi guru harus belajar terus ya, biar jadi pinter, okee?” ucapku pada Rika. “Okee!!” jawab Rika secara antusias. “Kalau Fani cita-citanya mau jadi apa?” Tanyaku kepada murid di sebelah Rika, namanya Fani. “Aku mau jadi dokter kak.” Jawab Fani. “Wih, keren banget, kenapa Fani mau jadi dokter?” ucapku. “Karena aku mau nyembuhin orang sakit kak” Jawab Fani. “Kalau begitu Fani juga harus rajin belajar ya!” ucapku memberikan motivasi kepada Fani. “Siap kak” ucap Fani sambil menunjukkan tanda jempol. “Oke, sekarang Niko cita-citanya mau jadi apa?” Aku beralih ke siswa laki laki disebelah Fani, Niko namanya. “Polisi” jawab Niko malu-malu. “Kenapa mau jadi polisi Niko” tanyaku kepada Niko. Niko diam sejenak saat aku beri pertanyaan tersebut, “Tidak tau kak, mau aja jadi polisi” Akhirnya dia menjawab. “Kalau gitu Niko harus rajin belajar ya biar nanti jadi polisi” ucapku. Niko hanya menjawab dengan mengangguk. Ya, Niko memang anak yang pemalu, namun dibalik itu semua dia sangat pintar, bahkan dia bisa menjawab soal dengan cepat dan tepat. Setiap kelebihan pasti ada kekurangan, walaupun mayoritas siswa kelas 1 di SD tersebut pintar tapi ada 1 anak yang butuh perhatian lebih. Bahkan 1 anak tersebut belum bisa
membaca dan menulis yang mana sedikit menghambat dalam proses pembelajaran. Sebut saja nama siswa itu Naren. “Ayo Naren dikerjakan soalnya!” pintaku kepada Naren. Namun naren hanya diam tidak menanggapi apa yang Aku katakan. “Ayo kakak bantu untuk membaca ya..” ucapku lagi. Naren hanya mengangguk. Setelah itu Aku membantu Naren membaca, menulis, dan mengerjakan soal. Secara usia Naren memang harus kelas 1, tetapi menurut guru yang mengajar Naren memang harus diajarkan dengan metode TK, karena dia belum bisa membaca dan menulis. Walaupun dia tidak bisa membaca dan menulis, tetapi dia lancar dalam menghitung. Bahkan saat Aku memberikan dia soal penjumlahan, dia bisa dengan mudah menjawabnya. “Naren cita-citanya mau jadi apa?” tanyaku pada Naren setelah dia mengerjakan soal. Naren diam saja tidak menjawab. “Hmm? Mau jadi apa Naren?” tanyaku lagi berharap pertanyaanku dijawab olehnya. “Tidak tau” akhirnya dia menjawab pertanyaanku. “Lohh kok tidak tau, Naren mau jadi apa nanti? Polisi? Tentara? Dokter? Atau guru?” tanyaku lagi kepada Naren. “Polisi” jawab Naren singkat. “Ohh Naren mau jadi polisi sama seperti cita-citanya Niko ya? Kalau mau jadi polisi naren harus rajin belajar jangan main game terus, Okee?” ucapku memberikan motivasi kepada Naren. Naren hanya membalas dengan anggukan. “Tos dulu sini” ajakku. Naren menerima ajakan tos ku. “Semangat terus ya Naren” ucapku memberikan afirmasi kepada Naren. Dari sini aku belajar bahwa setiap anak memiliki kekurangan dan kelebihan. Dibalik kekurangan yang ada pasti ada mimpi tinggi yang ingin dicapainya. Sebagai seorang pengajar harus siap dengan kesabaran dan ketelatenan karena setiap anak memiliki sifat yang berbedabeda. Setiap orang, setiap anak memiliki kesempatan yang sama dalam meraih mimpi. Memiliki kekurangan dan dari pelosok bukan berarti dia tidak punya mimpi. Dari desa maupun dari kota, dari keluarga yang berkecukupan maupun dari keluarga yang kekurangan, setiap orang berhak dalam mencapai mimpinya.