The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Yurin Tri Fandiah, 2024-03-21 22:48:05

ANTOLOGI CERPEN PA 1 LD BATCH IX

ANTOLOGI CERPEN PA 1 LD BATCH IX

Harmoni Hutan Dhaffa Ariiq Dzaki Dalam sebuah pegunungan yang indah dan menawan, hiduplah kehidupan yang begitu kaya dan penuh warna. Kehidupan yang saling melengkapi satu sama lain dalam satu dekapan hutan kecil di dalamnya. Keindahan bunga dan tumbuhan lainnya mampu memanjakan mata yang melihat. Warna merona dari mereka mampu memikat hati yang berlalu. Tak hanya itu, berbagai spesies hewan turut meramaikan hutan ini. Ocehan indah dari berbagai hewan mampu menggoda yang mendengar. Hutan ini adalah rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang hidup dalam harmoni alam. Tak ada perselisihan, tak ada perlawanan, mereka saling melindungi satu sama lain. Di hutan ini, semua elemennya merupakan bukti dari sebuah kehidupan. Blu, seekor burung yang memiliki bulu biru cerah dan suara merdu yang mampu menyatukan seluruh makhluk hutan. Dengan kicauannya yang merdu, mampu memikat makhluk yang mendengarnya. Blu adalah penjaga hutan. Setiap pagi, ia terbang ke sekeliling hutan untuk menyapa dan memastikan semuanya dalam keseimbangan. “Halooo rusa, bagaimana pagimu?”, sapa Blu. “Pagi yang cerah, aku sangat senang hari ini”, jawab Rusa sambil memakan rumput hijau. “Baiklah, semoga harimu selalu menyenangkan”, ucap Blu. “Yup, semoga harimu juga menyenangkan”, balas Rusa. Setelah berkeliling dan menyapa penduduk hutan, Blu melanjutkan untuk mencari biji-bijian dan buah-buahan langsung dari pohonnya. “Ah, segar sekali buah ceri ini”, ucap Blu. “Hei Blu, terima kasih sudah menikmati buahku”, kata pohon ceri yang tumbuh lebat. Suatu hari, datanglah seorang manusia bernama Asa. Ia adalah seorang peneliti ekologi yang ingin memahami kehidupan hutan ini. Asa sangat terpesona oleh keindahan hutan dan keharmoniannya. Selama perjalanan di hutan, seluruh makhluk seperti menyambutnya. Kicauan burung berbunyi, suara-suara gemuruh dari hewan lain pun ikut meramaikan, burungburung bernyanyi bagai tim paduan suara yang sedang tampil, dan tarian-tarian memikat dari para tumbuhan yang sangat memanjakan siapapun yang melihat, terutama Asa. Perjalanan ini ia lakukan selama hampir satu hari. Ya, meskipun terlihat sangat melelahkan melakukan perjalanan selama satu hari, ia tetap senang dengan mengingat bagaimana ia disambut di hutan ini. Hari semakin malam, Asa kemudian memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu dengan mendirikan tenda dibawah pohon rindang. Ia pun menjatuhkan tubuhnya ke dalam selimut dan menikmati malam yang sunyi. Paginya, ia mulai mengamati semua aspek kehidupan di dalam hutan ini. Seperti biasa, Blu selalu melakukan patroli di pagi hari untuk menyapa sekaligus memastikan keamanan hutan. Ya, seperti itulah kehidupan penjaga wilayah, selalu sibuk menjaga keamanannya.


“Hei, siapakah manusia yang berada dibawah pohon itu?”, tanya Blu pada katak yang sedang bersantai di pinggir danau. “Krok, tak tahu, dari pertama kali ia datang, tak ada yang mencurigakan darinya”, jawab Katak. “Hei kau, sedang apa kau disini?, ini bukan tempatmu”, ucap Blu kepada Asa. “Eh, hai. Aku Asa, ilmuwan yang diutus untuk meneliti seperti apa keadaan dan ekosistem di hutan yang tersembunyi ini”, jawab Asa. “Penelitian? Untuk apa kau melakukan hal tersebut? Kau mau merusak habitat kami?”, tanya Blu. “Eh, tidak. Aku disini justru ingin mencari tahu apakah keadaan hutan ini masih baik-baik saja atau sudah diganggu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Jika ada, nanti aku akan membantu dengan timku”, jelas Asa. “Hmmmmm, begitu rupanya. Tenang saja, selama ada aku, Blu, keadaan hutan akan selalu aman”, jawab Blu. “Yasudah, ayo ikuti aku supaya kau tau lebih banyak tentang hutan ini”, ajak Blu. Blu kemudian mengajak Asa untuk berkeliling di hutan tersebut, melihat keindahan setiap elemen yang ada di dalamnya. Hewan-hewan saling membantu dan hidup dengan damai. Tumbuhan pun juga saling berinteraksi satu sama lain. Bahkan, terjadi hubungan kerjasama antara hewan dan tumbuhan. “Itu, lihatlah. Kupu-kupu yang ada di atas bunga kembang sepatu itu, ia sedang membantu penyerbukan bunga tersebut, apakah kau tahu sebelumnya?”, tanya Blu. “Ya, aku pernah dengar sebelumnya, tapi baru kali ini aku melihat secara langsung peristiwa ini”, jawab Asa. “Lihat-lihat lagi ke arah sana! Lebah sedang membantu penyerbukan juga pada cempaka”, jelas Blu. “Wah, sangat indah rasanya jika aku bisa mengabadikan momen ini”, ucap Asa. Sembari berkeliling untuk melihat keadaan hutan, Asa terus disuguhkan dengan keadaan ekosistem yang sangat indah. Nampak bagaimana hubungan kerja sama antara Jalak dan Kerbau, yang mana Jalak sedang memakan kutu yang ada di Kerbau yang biasa dikenal dengan sebutan simbiosis mutualisme. Si jalak mendapatkan makanan dengan memakan kutu kerbau, dan kerbau yang diuntungan karena kutu yang ada di tubuhnya berkurang. Nampak pula rusa dan kijang yang sedang asyik memakan rerumputan yang sudah semakin panjang. Hal ini juga menjaga ekosistem hutan agar rumput tidak menguasai kawasan hutan dan rusa serta kijang tidak merasa kelaparan. Asa terus belajar tentang interaksi antara tanaman dan hewan. Misalnya lagi pada Katak yang tampak membantu menyebar benih tumbuhan dengan membawa spora di kaki mereka, sementara Rusa menjaga populasi tanaman agar tidak terlalu berlebihan. Semua makhluk hutan disini saling bekerja sama untuk memastikan keberlanjutan hutan sebagai habitat mereka. Setelah beberapa minggu tinggal di hutan ini, Asa merasa sangat bersyukur dapat menyaksikan keajaiban ekosistem yang terjadi secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian, ia memutuskan untuk mengabdikan hidupnya dengan membentuk sebuah komunitas “Aksi Kecil untuk Dampak yang Besar” dengan beberapa orang yang memiliki visi


dan misi yang sejalan. Dengan izin Blu dan keseriusan Asa dalam menjaga hutan selama ini akhirnya komunitas yang dibentuk Asa ini bisa menjalani kehidupan di hutan dengan tenang. Disini mereka tidak hanya menikmati keindahan alamnya, namun sesuai dengan visi misinya untuk melindungi hutan-hutan kecil yang masih asri keadaannya. Dengan kerja keras dan kepedulian dari komunitas peduli lingkungan dan para makhluk yang tinggal di hutan, hutan kecil ini tetap menjadi tempat yang indah dan penuh kehidupan. Mereka membuktikan bahwa manusia dan alam dapat hidup berdampingan dalam harmoni, asalkan saling menghormati dan menjaga ekosistem yang telah ada sejak lama. Hubunganhubungan ini sangatlah diperlukan untuk keberlangsungan hidup sebuah ekosistem yang ada. jika ada salah satu hubungan yang tidak terjadi, maka keberlangsungan suatu ekosistem akan terganggu, misalnya pada populasi ular yang semakin sedikit di sawah juga akan merugikan petani karena populasi tikus sebagai hama akan terus berkembang pesat dan menghancurkan padi hasil usaha para petani. Biodata Penulis Hai, aku Dhaffa. Seorang anak yang sedang menghadapi kegundahan hati sebagai salah satu dampak perpindahan ke masa dewasa awal. Berkuliah di kampus pendidikan yang ada di kota Malang yang dulunya dikenal sebagai IKIP. Diri ini sangat senang bermain ke luar rumah, meskipun hanya melihat jalan saja.


Ajaibnya Lukisan Maya Ainun Nafizah Di sebuah desa kecil yang indah, hiduplah seorang anak bernama Maya. Maya adalah seorang siswa SD yang ceria dan penuh semangat. Namun, ada sesuatu yang membuatnya berbeda dari teman-temannya. Maya memiliki kesulitan dalam pelajaran matematika. Meskipun ia berusaha keras, angka-angka selalu membuatnya bingung. Suatu hari, di kelas matematika, Maya duduk di meja belakang sambil menatap kertas soal yang penuh dengan angka. Matanya terlihat bingung, dan raut wajahnya mencerminkan rasa frustasinya. Guru matematika, Ibu Sinta, melihatnya dan mendekat dengan senyum ramah. "Iya, Ibu Sinta?" tanya Maya, mencoba menyembunyikan ketidaknyamanannya. Ibu Sinta tersenyum lembut. "Maya, jangan merasa khawatir. Setiap anak istimewa dengan caranya sendiri, termasuk dalam belajar matematika. Ayo, kita coba temukan cara terbaikmu." Walaupun berbicara dengan Ibu Sinta memberikan sedikit kenyamanan, Maya masih merasa tertekan dengan pelajaran matematika. Namun, setelah pelajaran matematika selesai, ada satu hal yang selalu membuat Maya berseri-seri: seni lukis. Maya adalah anak yang berbakat. Setiap kali pensil dan kuas menyentuh kertas, keajaiban terjadi. Lukisan-lukisannya penuh warna dan penuh kehidupan, seolah-olah mencerminkan dunia imajinasinya yang penuh keindahan. Pada suatu pagi, saat Maya sedang duduk di bangku taman sekolah sambil menatap ke langit, temannya, Rama, mendekatinya. Rama adalah anak yang sangat pandai dalam matematika, dan ia selalu bersedia membantu teman-temannya. "Maya, aku dengar kamu punya masalah dengan matematika," kata Rama, tersenyum ramah. Maya mengangguk. "Iya, Rama. Aku merasa sulit sekali memahaminya." Rama tersenyum lembut. "Tidak masalah, kita bisa belajar bersama-sama. Aku yakin kamu bisa melakukannya." Maya tersenyum padanya. Meskipun Rama mencoba membantunya, Maya tetap merasa kesulitan. Namun, ketika pelajaran seni dimulai, dunia Maya berubah. Guru seni, Pak Budi, memberikan tugas kepada murid-muridnya untuk membuat lukisan tentang keindahan alam di sekitar desa. Maya bersinar melihat tugas tersebut. Ini adalah kesempatan baginya untuk mengekspresikan dirinya melalui seni. Saat pulang ke rumah, Maya segera berlari ke ruang seninya. Ia memilih kanvas yang besar dan mulai mencampur warna-warna indah di paletnya. Tangan kecilnya dengan lincah menggerakkan kuas, menciptakan lukisan yang indah.


Lukisan Maya menjadi perbincangan di sekolah. Teman-temannya terpesona oleh keindahan dan imajinasi yang terpancar dari setiap goresan catnya. Bahkan, guru seni, Pak Budi, terkejut melihat bakat luar biasa yang dimiliki Maya. "Hmm, Maya, kamu memiliki keajaiban sendiri di bidang seni. Lukisan ini luar biasa!" puji Pak Budi dengan senyum bangga. Maya merasa bahagia dan percaya diri. Meskipun matematika tidak menjadi keahliannya, seni memberikan kebahagiaan dan kepuasan yang tak tergantikan baginya. Setiap goresan catnya adalah cara uniknya untuk berbicara dan menyampaikan perasaannya. Senyuman bangga terpancar di wajah Maya, menunjukkan bahwa setiap anak memang istimewa dengan caranya sendiri, dan kelebihan yang dimiliki oleh Maya adalah keajaiban yang membuatnya istimewa di mata teman-temannya. Hari-hari berlalu, dan keajaiban dalam goresan seni Maya semakin dikenal oleh temantemannya di sekolah. Lukisan-lukisannya menjadi inspirasi bagi banyak orang, bahkan beberapa karyanya dijuluki sebagai "seni yang hidup" oleh teman-temannya. Meskipun begitu, tantangan matematika tetap ada di depan Maya. Ia masih merasa kesulitan dan terkadang merasa tertekan. Namun, ketika dunia matematika memberikannya rintangan, dunia seni selalu membukakan pintu ke kebahagiaan dan kreativitas. Suatu hari, Ibu Sinta, guru matematika Maya, mengadakan pertemuan dengan orangtua murid. Ibu Maya, Nyonya Anita, mendengarkan dengan seksama tentang kesulitan matematika yang dihadapi oleh putrinya. Setelah pertemuan selesai, Nyonya Anita dengan penuh kepedulian mendekati Maya. "Sayangku, setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Jangan biarkan kesulitan dalam satu hal menghentikanmu untuk menemukan keajaiban dalam hal lainnya. Ingatlah, kamu istimewa dengan caramu sendiri," kata Nyonya Anita sambil mencium kening Maya. Pesan dari ibunya memberikan semangat baru bagi Maya. Ia merasa didukung dan merasa bahwa keberhasilan tidak selalu tergantung pada satu aspek kehidupan. Dengan semangat baru itu, Maya memutuskan untuk mencoba memahami matematika dengan pendekatan yang berbeda. Rama, temannya yang ahli dalam matematika, bersedia membantunya lagi. Mereka belajar bersama, dan Rama dengan sabar menjelaskan setiap konsep matematika yang sulit bagi Maya. Meskipun tetap sulit, Maya mulai merasa lebih percaya diri karena dukungan dari temannya. Sementara itu, di ruang seni, Maya mendapat tantangan baru. Pak Budi mengumumkan bahwa ada lomba lukis tingkat sekolah, dan pemenangnya akan mendapat penghargaan istimewa. Maya yang penuh semangat memutuskan untuk ikut serta dalam lomba tersebut. Ia memilih subjek lukisannya dengan cermat: alam sekitar desa mereka yang indah. Setiap hari, Maya pergi ke lokasi yang berbeda untuk mengamati dan meresapi keindahan alam. Dalam proses ini, ia menemukan keindahan dalam detail-detail kecil yang sering diabaikan oleh orang lain. Ketika hari lomba tiba, ruang seni dipenuhi dengan lukisan-lukisan indah dari para peserta. Namun, ketika mata juri mengumumkan pemenangnya, semua mata tertuju pada lukisan


Maya. Lukisannya, yang memperlihatkan keindahan alam desa dalam setiap nuansa warna, memukau semua orang. Maya memenangkan lomba lukis tersebut, dan kemenangannya memberikan kebahagiaan yang luar biasa. Ini bukan hanya sebuah penghargaan untuknya, tetapi juga untuk orangtua dan teman-temannya yang selalu mendukungnya. Di hari yang sama, Maya juga berhasil mengatasi salah satu soal matematika yang sulit. Meskipun tidak sempurna, kemampuannya untuk memahami konsep matematika meningkat. Ibu Sinta memberinya pujian yang tulus. "Maya, aku melihat kemajuan yang luar biasa dalam usahamu memahami matematika. Ingatlah, setiap anak istimewa dengan caranya sendiri, dan kamu telah menunjukkan keajaiban dalam seni dan keberanian dalam menghadapi tantangan," kata Ibu Sinta sambil tersenyum. Maya menyadari bahwa keajaiban bukan hanya terletak dalam goresan catnya, tetapi juga dalam setiap usaha dan ketekunan yang ia tunjukkan dalam menghadapi kesulitan. Setiap anak memang istimewa dengan caranya sendiri, dan Maya menemukan keunikan dan kekuatannya dalam seni dan semangatnya untuk belajar. Biodata Penulis Ainun Nafizah atau sering disapa Ainun atau Aizah lahir di Belitung Timur tanggal 27 Mei 2003. Berasal dari keluarga yang berkultur Melayu. Selepas mengenyam Pendidikan di bangku SMA, Ainun melanjutkan pendidikannya di Univeritas Negeri Malang dengan mengambil prodi Pendidikan Tata Busana.


PENGALAMAN PERTAMAKU Zahirotus S.P “Kring...kring...kring...” bunyi alarm membangunkanku pagi itu. Sering kali orangorang membunyikan alarm ketika adzan subuh sudah berkumandang, tapi kali ini Aku membunyikan alarm bahkan sebelum adzan subuh terdengar yaitu pada pukul 03.00 WIB lebih tepatnya. Yaa... Aku bangun lebih pagi bukan tanpa alasan, Aku bangun untuk menyambut tugas pertamaku sebagai Laskar Dewantara Muda. Hai! Kenalin Aku Zahira, salah satu Laskar Dewantara Muda Gemapedia Batch XI. Tepat pada hari Sabtu, 4 November 2023 merupakan hari pertamaku melaksanakan tugas sebagai Laskar Dewantara Muda. Aku akan melaksanakan Pengabdian Akbar 1 di salah satu sekolah dasar yang ada di Malang Raya, lebih tepatnya di SDN 1 Sumberpetung. Aku akan mengabdi dengan mengajar dan menginspirasi anak bangsa yang ada di sana selama 4 kali pertemuan. Ini kisahku, ini pengalamanku, dan ini bahagiaku. Hari Pertama Pada tanggal 4 November 2023, Aku berangkat dari asrama pukul 04.45 WIB menuju kos Inur untuk berangkat bersama ke titik kumpul pemberangkatan yaitu di Sasana Budaya. Oh iya kenalin, Inur adalah partner Aku di Pengabdian Akbar 1 ini. Dia baik dan ceria orangnya, Aku bersyukur bisa mendapatkan partner sebaik dia. Singkat cerita, Aku dan Inur sudah sampai di Sasana Budaya tepat waktu dan kami mengambil foto sebagai dokumentasi kehadiran. Tapi sebelum itu, Aku dan Inur mengganti pakaian menjadi memakai PDH Gemapedia. Senang rasanya bisa memakai baju PDH Gemapedia setelah melewati seleksi yang begitu menguras tenaga. Lanjut, setelah mengganti pakaian dan mengambil foto, Aku bersama teman Laskar Dewantara yang lain melakukan briefing dan berdoa sebelum pemberangkatan. Tidak lupa juga dengan jargon Gemapedia yaitu “Bangga Mendidik, Mengabdi, dan Menginspirasi Anak Bangsa”. Setelah briefing dan doa sudah selesai, kami berangkat bersama menuju lokasi pengabdian yaitu SDN 1 Sumberpetung. Sampai disana, kami disambut ramah oleh dewan guru beserta adik-adik SDN 1 Sumberpetung. Kami di ajak untuk melakukan senam pagi bersama mereka sebelum memasuki kelas. Kebiasaan di pagi hari yang terlihat tidak hanya senam pagi saja, melainkan juga membacakan Sila Pancasila, menyanyikan lagu wajib nasional, berdoa, dan bersholawat. Tidak hanya itu, guru di SDN 1 Sumberpetung juga mengarahkan siswa-siswa nya untuk bersalaman dan mengucapkan salam kepada kami Gemapedia. Sungguh! Aku takjub melihat nilai moral dan karakter positif yang sudah dibangun dan dibentuk di SDN 1 Sumberpetung ini. Sebelum memasuki kelas, kami melaksanakan apel pembukaan terlebih dahulu. Kemudian dilanjut dengan kegiatan pembelajaran yang Aku lakukan bersama Inur di kelas 3. Kami membuka kelas dengan salam sapa siswa-siswa yang ada disana. Dilanjutkan dengan perkenalan dan proses pembelajaran. Oiya! Waktu perkenalan, siswa kelas 3 sulit memanggilku dengan nama Zahira, dan Aku memberikan solusi untuk mereka bisa memanggilku dengan sebutin Zee. Kapan lagi nyiptain nama baru buat diri sendiri hahaha...Waktu demi waktu sudah berlalu begitu cepat dan proses pembelajaran di hari pertama sudah berakhir.


Hari Kedua Seperti biasa alarm pagi sudah terdengar. Waktunya bersiap untuk melaksanakan tugas lanjutan sebagai Laskar Dewantara Muda. Hari kedua pada tanggal 11 November 2023, Aku berangkat ke kos Inur seperti biasanya dan bersama berangkat menuju titik kumpul di Sasana Budaya. Sesampainya di Sasana Budaya, Aku, Inur, dan LO ku yaitu Kak Ardi foto bersama sebagai bukti kehadiran. Setelah itu, kita semua bersiap untuk berangkat menuju SDN 1 Sumberpetung. Selama perjalanan, kita disuguhkan pemandangan alam yang begitu memukau di pagi hari. Tampak gunung, bukit, dan pohon yang memanjakan mata ku kala itu. Ditambah lagi dengan dinginnya Kota Malang yang juga menenangkan. Singkat cerita, sesampainya di SDN 1 Sumberpetung kami melakukan senam bersama yang dilanjutkan dengan kebiasaan siswa seperti membacakan Sila Pancasila, menyanyikan lagu wajib nasional, berdoa, dan bersholawat yang ditutup dengan bersalaman serta mengucapkan salam kepada kami Gemapedia dan dewan guru yang ada. Selanjutnya kegiatan pembelajaran dimulai, Aku dan Inur memberikan pengantar tentang materi pelajaran yang akan kita bahas saat itu, sebelum mengajak siswa kelas 3 untuk berinteraksi dengan media pembelajaran yang sudah kita buat. Setelah kegiatan pembelajaran sudah selesai, Aku dan Inur bergegas untuk pulang karena kami mempunyai satu dua hal yang harus segera diselesaikan. Hari Ketiga Melanjutkan dari hari pertama dan kedua, rutinitas setiap hari Sabtu di bulan November ini akan berlanjut hingga akhir November nanti. Akan tetapi Aku berhalangan hadir pada hari keempat atau hari dimana Pengabdian Akbar 1 ini ditutup. Sedih sih, karena di hari ketiga ini Aku tidak tahu kalau hari itu adalah hari terakhir Aku bertemu dengan siswa kelas 3 yang menjadi first experience Aku dalam mengajar sekolah dasar di Malang. Apalagi ditambah kesan dari hari ketiga cukup menyayangkan karena Aku merasa bahwa hari itu kita kurang maksimal mengajarnya. Tapi pengalaman dari hari pertama sampai hari ketiga itu cukup membuatku banyak belajar tentang arti kesabaran dan pentingnya menjaga suasana hati kita saat mengajar. Aku juga belajar dari mereka, bahwa anak atau siswa itu tidak ada yang nakal tetapi mereka hanya butuh perhatian yang lebih baik dari guru, orang tua, dan orang yang ada di sekitarnya. Selain itu, setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan mereka masingmasing. BIODATA PENULIS Penulis bernama Zahirotus Syarifah Putri yang lahir pada tanggal 2 April 2004 di Pasuruan, Jawa Timur. Zahirotus memiliki minat dan bakat di bidang kepenulisan (tahap dasar) serta bidang keolahragaan seperti bulu tangkis dan berenang. Aktivitas sehari-hari Zahirotus dihabiskan untuk perkuliahan, organisasi, volunteer, dan mengasah hard skill serta soft skill.


CERITA KU Dina Alfina Saat pertama kalinya menginjakkan kaki ku di tempat baru ini, aku melihat banyak anak-anak yang kebingungan dengan kedatangan kami kesana. Kami disambut oleh guru-guru disana karena mereka sudah tahu bahwa kami adalah tim yang ingin mengajar untuk sementara di pekan kedepannya. Aku tersenyum melihat mereka dan membayangkan betapa serunya bisa mengajar disana, walaupun hanya sebentar dan tidak setiap hari. Bukan hanya aku saja yang tersenyum saat melihat anak-anak disana, teman yang lain pun sangat senang saat datang kemari. Banyak anak yang berbisik dengan temannya, “siapa sih kakak-kakak itu?” seperti itu yang bisa ku tangkap dari mimik wajah mereka yang kebingungan. Untuk pertama kalinya pun aku mengajar secara langsung di sebuah sekolah yang berada di daerah jauh dari perkotaan. Sebelumnya aku dan teman yang lain menghampiri guru disana dan meminta izin untuk berkenalan dengan setiap murid disekolah ini. Oh iya, aku dan teman yang lainnya sudah dibagikan setiap kelas diajar oleh dua orang, dan aku mendapatkan kelas enam, tetapi untuk hari ini aku hanya hadir sendiri, teman ku sedang ada kesibukan. Aku memasuki kelas yang berada diujung koridor. Awalnya aku sangat gugup, tapi aku yakin aku bisa, meyakinkan diriku sendiri sebelum akhirnya aku memasuki kelas, mengucapkan salam, menyapa anak-anak di dalam kelas. Agak sedikit freak sih tapi gapapa, aku tahu cara untuk tidak menjadi canggung dikelas, dengan permainan. Permainan kecil-kecilan saja sudah cukup untuk pertama kali berkenalan. Aku menanyakan banyak hal ke mereka, tentang namanya siapa, rumahnya dimana, hobinya apa, seperti biasanya orang kalau berkenalan saja. Aku sempat terheran dengan keadaan kelas yang hanya berisikan anak yang sejumlah tidak lebih dari sepuluh, bahkan ada satu kelas yang berisikan tiga siswa saja. Setelah kami berkenalan dengan anak-anak dikelas, aku dan yang lain menghampiri kepala sekolah serta guru-guru yang mengajar disini, kami bercengkerama dan sedikit bercerita mengenai sekolah ini. Ibu kepala sekolah berkata “jangan kaget ya kalau disini muridnya hanya sedikit”, aku sudah tahu sebelum diucapkan dan sedikit kaget, karena dahulu saat aku duduk disekolah dasar murid satu kelas lebih dari lima puluh siswa. Aku melihat jam tanganku sudah jam sebelas siang dengan kedatangan kami dari pagi sekitar jam delapan. Sudah lama kami bercengkerama, akhirnya kami pamit. Itulah menjadi waktu terakhir kami dihari ini, dengan maksud untuk survei ke sekolah ini yang nantinya kami akan mengajar dengan anak-anak yang sangat menggemaskan. Oh iya, aku biasa dipanggil dengan sebutan Dina, aku berusia dua puluh tahun asal ku dari Bekasi, banyak orang mengenal Bekasi karena cuaca yang sangat panas ada di Bekasi, padahal di daerah lain juga panasnya sama dan jangan kaget kalau Bekasi ini disebut dengan planet Bekasi, entahlah aku juga tidak tahu kenapa disebut seperti itu. Anak-anak disini terutama di kelas kami ajar memanggil ku dengan sebutan “Kak Dina” tetapi ada beberapa anak yang keceplosan memanggil ku dengan sebutan “Mba Dina”, tak mengapa sih, karena aku senang dipanggil apa saja yang penting tidak dirubah namaku. Aku belum hafal nama-nama mereka, tetapi aku melihat semuanya sangat malu-malu. Aku sangat ingat dengan siswa laki-laki disana karena siswa laki-laki hanya ada tiga anak dan sisanya siswa Perempuan. Sebut saja Alif, dia merupakan ketua kelas, dan dua lainnya beranama Hakim dan Lutfi. Siswa Perempuan aku


sangat ingat dengan wajah dan nama yaitu Sinta dan Lulu, sisanya aku agak lupa, maklum baru pertama ketemu. Mereka sangat pendiam dan penurut. Hujan mengguyur disepanjang jalan, kami berhenti di tepi jalan untuk memakai jas hujan yang sudah kami siapkan dikala hujan datang, seperti saat ini. Setelah memakai jas hujan aku dan teman yang lain melanjutkan perjalanan pulang setelah kami mengajar. Aku memakai jas hujan hanya sebatas paha saja, alhasil bawah ku terkena hujan. Aku senang saat hujan tiba mengingat Kembali masa kecil yang mandi air hujan dan berakhir dimarahi Ibu. Moment langka yang Kembali terulang, di perjalanan ada beberapa tempat yang sedikit banjir. Teman ku yang mengendarai motor sangat cepat dan air banjir pun menyiprat kesisi samping, Aku yang dibonceng teman ku tertawa senang, hei, itu sangat seru!. Setelah mengajar dengan anak-anak, kami pulang dan diperjalanan turun hujan yang cukup deras. Itu merupakan moment yang sangat tidak pernah dilupakan. Apalagi saat bertemu dengan anak-anak yang lucu dan pemalu. Tidak, tidak, tidak, sebenarnya mereka hanya malu malu saat kami bertemu diawal saja, di pertemuan ketiga dan keempat mereka mulai menjadi anak-anak yang pada umumnya yang usil dan ramai, tapi jujur mereka adalah anak kelas yang paling pendiam disbanding dengan kelas lainnya, itu menurut ku tapi teman ku juga merasakannya kok. Anak-anak kelas enam yang kuajarkan sangat suka bermain, ketika kami aku dan partner mengajar memberikan sebuah ice breaking mereka sangat antusias. Disaat pertemuan kedua kami belajar dan juga bermain permainan tradisional. Ular naga Panjang, itulah permainan yang kami lakukan, semuanya sangat senang, kami pun bermain dengan adil dan kompak. Lalu dipertemuan keempat, kami membuat bunga dari plastik, anak-anak ketagihan untuk membuatnya. Oh iya, aku di pertemuan keempat tidak hadir dikarenakan ada lain hal yang harus ku urus. Moment indah bersama anak-anak yang ga akan ku lupakan, mulai dari kami datang sampai kita pulang turun hujan dan mengakibatkan kami harus mandi hujan diatas motor.


Dia dan Cita-citanya Inur Farida Namaku adalah Inur Farida, Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Aku mengikuti organisasi Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan (GEMAPEDIA). Di sini aku diberi kesempatan untuk mengajar di salah satu Sekolah Dasar yang berada di Malang Selatan bernama SDN 1 Sumberptung. Sekolah yang terletak dipelosok Kabupaten ini memberikan cerita baru dalam hidupku. Saat mengajar di kelas aku menemui seorang anak yang menurutku cukup unik. Awalnya aku mengira dia adlah ana yang pendiam. Namun, ketika sudah ketiga kalinya aku mengajar dia mulai berbeda. Tingkahnya memang aktif, tapi kali ini lebih aktif dari biasanya sehingga membuat aku menahan untuk tidak terbawa emosi. “Kamu kenapa rame saja, apakah sudah selesai mengerjakan tugasnya?” tanyaku. Dia menjawab “Sudah kak, aku merasa bosan pengen istirahat”. “Tidak boleh ya, nunggu yang lain” jawabku dengan sabar. Setelah itu, dia diam sekitar 5 menit. Aku tahu dia bukan lha anak yang bisa diam lama ada saja tingkahnya yang membuat kesal, namun aku sabar menahnnya. “Kamu kenapa tidak bisa diam di tempat dan terus mengganggu temannya, nanti setelah temannya selesai kamu bisa istirahat” kataku. Lalu dia duduk kembali dan berkata “ Baik kak, tapi kok lama ya”. Aku menjawab “ Baik, sambil menunggu temannya kamu kakak kasih soal mau tidak”. “Aku mau kak, tapi pembagian ya bosen perkalian”jawabnya. Aku beranjak memberinya soal agar dia bisa duduk diam. Aku mengakui dia memang pintar hanya saja tingkah lakunya yang membuat aku sedikit emosi. Waktu istiratat tiba, namun dia tidak kunjung istirahat padahal dari tadi dia yang semangat untuk keluar kelas terlebih dahulu. Aku hanya diam memperhatikannya yang sedang main sendiri di dalam kelas tanpa ada temannya. “Kenapa kamu tidak istirahat tadikan kamu tidak sabar untuk keluar kelas?” tanyaku. Dia menjawab “Uangku habis kan buat iuran belu kue buat hari guru”. “Sekarang uang e habis semua a?”tanyaku lagi. “Tidak kak, uang ku masih ada kok” jawabnya. Aku mengira dia tidak punya uang untuk membeli jajan, niat hati ingin memberi namun dia berkata masih punya. Setelah itu, dia beranjak dari kelas untuk membeli jajan di luar.


Waktu istirahat telah usai, para peserta didik kembali ke kelas. Saat itu, para peserta didik diminta untuk membuat kerajianan tanya berupa bunga. Kebetulan di kelas aku mengajar membuat bunga tulip. Aku memberi arahan kepada mereka, namun ada saja anak yang kurang paham dan bunganya tidak jadi. Namun, aku melihat dia yang berusaha untuk membuat kerajinan walaupun terlihat dari mukanya yang kesal arena kesulitan, “Bisa ta kamu, apakah perlu bantuan?” tanyaku Dia menjawab “Susah kak, tapi aku akan mencobanya terlebi dahulu”. Akhirnya aku memberikan dia waktu untuk mengerjkan dan membantu beberapa peserta didik lainnya untuk mengerjakan. Setelah selesai membuat kerjinan, aku memberikan pertanyaan kepada para peserta didik. Mereka mempunyai cita-cita yang beragam, ada yang ingin menjadi polwa, dokter, guru dan sebaginya. “Apa cita-cita kamu?” tanyaku padanya. “Aku ingin jadi tentara kak” jawabnya. “Kalo mau jadi tentara kamu harus jadi anak yang baik dan tidak boleh nakal, soalnya kamu harus hormat kepada yang lebih tua juga” timpalku. “Emang kalo jadi tentara harus pintar dan hormat ya kak” jawabnya sambil hormat. “Iya, kalo kamu mau jadi terntara mulai sekarang harus patuh sama yang lebih ibu guru dan harus rajin belajar, tidak boleh menganggu temannya di dalam kelas, tidak boleh bermain saat jam pelajaran” nasehatku. “Tapi jadi gak seru kak, bikin bosen aja” sanggahnya. “Ya, sudah kalo kamu masih tetap seperti ini bakal sulit nantinya jadi tentara” jawabku. “Baik kak, kalo memang begitu berati aku tidak boleh nakal lagi”jawabnya sedikit lesuh. Percakapan telah usai, aku kembali melihat dia yang tampaknya sedang memikirkan nasehatku tadi. Setelah mengerjakan kerajianan, aku melihat dia tampak lebih bisa tenang saat ice breaking. Dari sini aku menjadi tahu senakal apapun dia, dia mempunyai mimpi yang tinggi. Di balik sikap nakalnya ada satu kelebihan yang Tuhan berikan untuknya. Sebagai seorang pengajar aku diajarkan untuk lebih sabar menghadapi perilaku seorang anak yang berbeda-beda. Aku tidak tahu bagaimana kasih sayang yang diberikan orang tua setiap anak. Aku hanya bisa melihat pancaran mata seorang anak kecil yang ingin diperhatikan oleh sekitarnya. Di mana pun kita berasal, kita harus berfikir untuk meraih kesuksesan di masa depan. Sejauh apapun ilmu kita harus bisa menggapainya. Desa maupun kota memiliki kesempatan yang sama untuk setiap orang meraih cita-cita setinggi-tingginya. Berasal dari pelosok bukan berarti kita tidak mampu untuk meraih masa depan yang indah.


PERIHAL CINTA DAN IKHLAS Vionatullah Hafiza Hai, cerita ini ditulis oleh seorang perempuan anthophile yang tengah duduk di teras rumah kostnya. Malam itu suara hujan mengiringi suasana sepinya. Ia hanya duduk bersama laptop lamanya dan segelas matcha hangat di meja terasnya. Cerita ini bermula dari perempuan berumur 18 tahun yang memiliki nama Aghata. Ia adalah sosok yang ramah dan ceria. Aghata sangat suka anak kecil. Di rumah, ia memiliki 4 adik. Senang sekali rasanya, ia tak pernah merasa kesepian saat di rumah. Namun suatu ketika Aghata lulus dari sekolah, ia memilih untuk melanjutkannya di universitas luar kota dan mengharuskan Aghata jauh dari keluarganya. Aghata tak ingin terkurung dalam kesepian saat di luar kota. Ia memutuskan untuk bergabung sebuah organisasi yang berkaitan erat dengan anak-anak. Organisasi tersebut mengajak para anggotanya untuk melakukan pengabdian pendidikan pada sekolah-sekolah dasar yang terpencil. Aghata mengikuti serangkaian tes agar ia bisa masuk organisasi tersebut dan akhirnya pun diterima. Pengabdian pertama dimulai. Aghata dipilih untuk melakukan pengabdian di sekolah yang cukup jauh dari rumah kostnya. Suatu SD yang tak banyak orang tahu dan tak banyak murid didalamnya. Saat kaki Aghata terpijakkan di sekolah ini untuk pertama kalinya, ia sangat kaget dan kagum. Kaget karena ternyata masih ada sekolah yang sangat perlu diperhatikan lagi oleh pemerintah terkait sarana, prasarana, akses, dsb. Aghata juga kagum pada siswa-siswa yang menyambutnya datang dengan wajah yang gembira dan senyum yang merekah. Suaranya nyaris tidak tertinggal untuk masuk ke telinga. Mereka sangat senang para kakak-kakak datang. Aghata menyambutnya kembali dengan mata yang berbinar dan penuh harap agar bisa diterima dengan baik di tempat pengabdian ini. Aghata bersama teman-teman pengabdian mengajak para siswa untuk senam pagi agar mereka sehat dan bersemangat untuk belajar hari itu. “Kak, kak. Kakak ngajar kelas berapa?”, tanya laki-laki kecil disampingnya. Ia tampak begitu lucu nan mungil. Ingin rasanya Aghata menggendongnya bak ia dirumah dengan adik-adiknya. “Hmm kelas berapa ya?”, ia memberikan tebakan kecil untuk siswa tersebut. Siswa itu mendesak Aghata untuk segera memberi tahunya. Namun Aghata tak memberikan jawaban begitu saja. Ia bertanya kembali kelas berapa siswa itu. “Aku kelas 1 kak. Kakak ngajar di kelasku aja ya? Aku pingin sama kakak”, pintanya dengan menyuguhkan senyum gigi ompongnya itu. Namun ternyata Aghata ditugaskan pada kelas 5, bukan kelas 1. Aghata menjelaskannya dan ia memberi tahu pada siswa itu bahwa ia masih bisa bertemu dan bermain bersama dengan Aghata pada jam istirahat. Awalnya anak itu sedih namun saat mendengar bahwa ia masih bisa bermain dengan Aghata saat istirahat, ia pun kembali bersemangat dan akan datang pada Aghata di jam istirahat nanti. Aghata pun setuju dan mereka melanjutkan senam paginya. Senam pun selesai, kini saatnya mereka masuk ke kelas masing-masing termasuk Aghata. Ia mulai membuka pelajaran hari ini dengan perkenalan. Aghata bersama dengan teman pengabdiannya yaitu Ameera melakukanya dengan baik hingga jam istirahat pun tiba.


Ditengah Aghata dan Ameera beberes, datanglah seorang laki-laki kecil masuk mencari Aghata. Ternyata itu adalah siswa yang Aghata temui saat senam pagi tadi. “Loh jadi kesini? Kakak kira lupa”, Aghata kaget dengan kedatangan siswa itu. “Jadi lah kak, kan aku pingin main sama kakak”, jawabnya dengan meringis. Aghata pun mengajaknya keluar kelas. Siswa tersebut duduk di teras kelas bersama dengan Aghata. Mereka berkenalan dan berbincangbincang. Denial namanya. Nama yang lucu seperti anak itu. “Kakak suka nggak disini?”, tanya Denial. Aghata menjawab dengan nada tenang diselingi dengan senyuman, “Seneng banget malahan. Ada apa Denial?”. “Aku juga seneng ketemu kakak. Kakak baik dan suka senyum. Senyum kakak sama seperti senyum kakakku yang lama tidak aku temui”, jawab Denial sambil menundukkan kepalanya. Aghata kaget mendengar jawaban Denial barusan,”Ohya? kalau boleh kakak tahu, dimana kakakmu sekarang Denial?”. “Hehehe sudah 2 tahun lalu kakak meninggalkan kami semua. Kami sangat sedih waktu itu kak. Denial sangat tidak tega melihat ibu.”, jawab Denial. Aghata pun tambah kaget dengan keterangan Denial, namun ia berusaha tenang didepan anak itu. “Denial, kamu tidak apa? Kakak paham, ditinggalkan oleh seseorang yang kita cintai itu memang berat, Denial. Tapi kakak yakin, Denial adalah sosok anak laki-laki yang kuat dan bisa menguatkan ibu ya. Tidak apa-apa ya Denial? Ikhlaskan kakakmu pergi ya?”, tutur Aghata. Ia mengusap punggung anak itu, berharap Denial tegar dan kuat. “Terimakasih kak, Denial kadang masih marah sama Allah. Kenapa Allah membuat keluargaku menangis. Katanya Allah sayang sama Denial.”, suara Denial menahan tangisnya. Aghata memeluk Denial dan menenangkannya. Ia yakin saat ini Denial sangat butuh penguat. “Denial, Allah berkehendak seperti itu bukan karena Allah gak sayang sama Denial. Justru Allah sayang banget sama Denial, makanya Allah ingin Denial jadi anak yang kuat. Ini namanya ujian, sama seperti saat ujian di sekolah. Kalau Denial berhasil mengerjakan ujian dengan baik, nanti pasti dapat nilai yang bagus. Maka kalau Denial bisa ikhlasin kakak, Denial pasti jadi anak yang kuat dan hebat. Dan pastinya Denial dapet pahala yang banyaaak banget dari Allah. Okay? Denial ikhlas ya? Bisa ya?” Aghata memberi penguatan pada Denial. Denial pun memahami dan mengucapkan terimakasih. Ia yakin bahwa ia bisa menjadi anak yang kuat seperti yang diucapkan oleh Aghata. “Iya. Kakak juga terima kasih banget ke Denial. Denial udah mau cerita dan Denial udah yakin kalau Denial bisa. Kakak seneng banget dengernya”, timpal Aghata. Denial pun membalas senyum Aghata. “Kriing…”, bel masuk pun berbunyi. Semua murid berbondong-bondong memasuki ruang kelasnya. “Yahh kak, istirahatnya sudah habis. Kapan kita bermain lagi?”, tanya Denial. Aghata menjawab “Minggu depan kita ketemu lagi ya? Kakak ingin ketemu Denial yang kuat di Sabtu depan, okay?”. Denial memberi isyarat bahwa ia menyetujuinya dan dikhiri dengan lambaian tangannya sebagai salam perpisahannya hari ini. Aghata sangat tidak menyangka dengan kejadian barusan. Ia merasa begitu dekat dengan Denial. Ia juga tidak bisa membayangkan betapa sedihnya menjadi Denial yang ditinggalkan kakaknya. Kejadian ini menjadi sebuah pelajaran untuk Aghata bahwa sebesar apapun rasa cinta kita pada seseorang bukan berarti kita harus selalu disampingnya. Bisa jadi mencintai yang paling baik adalah yang mengikhlaskan dan menyerahkan semua pada Sang Pemilik Hati.


ARFA ANAK HEBAT Rasyadhia Maharani Sabtu pagi di bulan November, aku dan semua temanku berangkat ke sebuah desa. Desa dimana aku akan mengajar disana. Tempat yang sungguh tak pernah ku kira ternyata sejauh itu. Diawali perjalanan perkotaan yang macet dan berjejer lampu merah. Hingga memasuki jalan berlubang, naik turun, kanan kiri jurang, hingga melewati waduk dengan warteg di pojok menghiasi. Hingga tibalah aku di sebuah desa dan sebuah sekolah bercat biru yang sepertinya belum dicat ulang lagi. Pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah itu aku langsung disuguhi pemandangan bocah-bocah sekolah berseragam pramuka yang berjejer rapi dan menoleh sedikit kebingungan melihat kami semua. Entah ekspresi kebingungan ataupun senang tetapi aku sangat bahagia ketika melihatnya. Setelah semua anak sudah berjejer rapi, datang satu guru yang akan memandu senam pagi itu. Lagu lawas menggema dari sebuah sound system di pojok lapangan. Rupanya lagu lawas dengan penyanyi bapak tua itulah yang setiap harinya menemani senam pagi mereka. Senam pagi dan kegiatan lainnya sudah selesai. Tibalah waktunya aku memasuki ruangan kedua dari ujung yang bertulis “kelas 2” di bagian pintunya. Kehadiranku disambut empat orang anak yang sudah rapi duduk di bangkunya masing-masing. Di sisi kanan paling depan aku melihat anak hebat itu. Desa Sumberpetung, tempat anak hebat tersebut lahir dan bertumbuh. Berpawakan kecil karena memang dia masih duduk di kelas dua. Sedikit gigi gigis menghiasi senyum manisnya. Senyumnya disempurnakan oleh matanya yang selalu berbinar seakan selalu melihat bintang di depannya.


Mengawali sekolahnya di SDN 1 Sumperpetung, tanpa menginjakkan bangku PAUD ataupun TK. Aku tak tau bagaimana dia melewati kelas satu yang mungkin sebuah rintangan awal yang cukup sulit ia lewati. Tetapi disinilah dia sekarang, di bangku kelas dua bersama tiga orang temannya. Aku mengajarnya di kelas dua sebagai tugasku melaksanakan pengabdian akbar satu GEMAPEDIA. Anak hebat itu duduk paling depan. Pertama kali memasuki ruang kelas senyumnya langsung menyambutku. Matanya yang berbinar seakan tidak sabar memulai pembelajaran. Setiap pembelajaran pasti diawali dengan salam dan doa. Suara salam dan doanya tak terlalu terdengar olehku karena sepertinya dia masih malu-malu. Pembelajaran inti dimulai. Bola mata yang tadinya berbinar berubah kebingungan saat aku menjelaskan materi pembelajaran. Coba aku dekati dan aku tanya apakah dia paham. “Arfa sudah paham?” tanyaku padanya. Jawabannya hanya senyuman malu dan anggukan kecil. Aku mencoba menanyakan materi yang ia tulis di bukunya. Ia membacanya dengan terbata-bata dan penyebutan huruf yang terkadang masih salah. Baru kusadari ternyata dia masih kesulitan dan butuh didampingi. Sejak saat itu bangkunya adalah tempat wajib yang setiap saat harus ku hampiri. Meskipun Arfa masih kesulitan dalam membaca tetapi ia tetap aktif menjawab berbagai pertanyaan dan soal yang aku lontarkan. Semangat teman-temannya yang lain sepertinya tersalur kepadanya. Ketika temannya mengangkat tangan untuk menjawab, dia juga tidak mau kalah ingin menjawab. Tangannya diangkat setinggi mungkin dengan mata berbinar yang tak bisa kulupakan. Di sela-sela pembelajaran aku menyisipkan permainan agar anak-anak tidak bosan. Arfa, sang anak hebat ini, memang sangat gigih. Ekspektasiku di awal ketika melihat dia kesulitan dan mungkin akan tertinggal jauh ternyata sangat salah. Nyatanya dia selalu gigih dan semangat mengejar ketertinggalannya juga semangat menjadi yang terbaik. Dalam beberapa permainan ia


kerap sekali menang. Setiap kali menang senyum dan matanya sungguh menghangatkan hati. Rasanya suntuk saat mengajar seketika hilang saat melihat senyum bahagianya. Pembelajaran berlanjut hingga bel istirahat berbunyi. Di hari pertama aku mengajarnya, soal yang aku berikan untuk dikerjakan secara mandiri masih bisa ia kerjakan sampai selesai sebelum istirahat. Selama istirahat senyum diwajahnya enggan untuk lepas. Senyum yang awalnya hanya dihiasi gigi gigis, kini dihiasi pula dengan kunyahan gemas dan pipinya yang menggembung terisi tahu krispi. Bel tanda istirahat berakhir sudah berbunyi. Empat orang anak kembali duduk di bangkunya. Arfa sang anak hebat itu pun sudah siap untuk pembelajaran berikutnya. Setelah istirahat adalah waktu untuk literasi dan numerasi. Setiap anak diminta untuk membacakan soal yang diberikan. Kemudian maju kedepan untuk menjawab soal tersebut. Arfa sangat kesulitan disini. Tetapi kegigihannya benar-benar membuatku kagum. Diejanya tiap kata di setiap soal itu dengan terbata-bata tetapi yakin dan semangat. Tatapan bosan teman-teman lainnya tidak membuatnya gentar untuk berhenti mengeja. Diselesaikan satu soal yang sudah ia eja. Anak hebat ini kemudian berjalan kedepan dengan keyakinan menjawab soal itu. Ditulisnya satu persatu angka diatas papan tulis hitam dengan kapur kecil digenggamannya. Tak kusangka jawaban benar telah ditulisnya. Seisi kelas bersorak dan bertepuk tangan dengan bangga kepadanya. Mata yang selalu berbinar kini lebih berbinar bagai melihat seribu bintang. Senyum memamerkan gigi gigisnya pun terpampang indah. Kedua tanganku bertemu dengan kedua tangan mungilnya yang hebat itu. Sampai kembali ke bangkunya senyum itu tetap terukir sangat indah. Benar-benar senyum dari anak hebat yang tak mengenal apa itu ketinggalan. Karena semua bisa dikejar dengan kegigihan. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas yang artinya waktunya pulang. Ku akhiri pembelajaran dengan doa dan salam. Semua anak bersalaman denganku sebelum meninggalkan kelas. Kulihat anak hebat itu berlari ke depan gerbang. Menuju seorang laki-laki


yang telah menunggu anak hebat ini. Rupanya laki-laki itulah yang telah mendidik dan membesarkan anak hebat bernama Arfa. Setelah kegiatan yang panjang mulai dari berangkat pagi buta hingga siang hari. Tibalah saatnya aku pulang dari desa bernama Sumberpetung ini. Pulang dengan perasaan bahagia dan tak sabar untuk minggu selanjutnya kembali ke tempat ini. Perjalanan pulang hari pertama pengabdian disambut hujan deras. Banjir dimana-mana mengebaki Kota Malang. Beruntung motor beat dengan logo Indihome milikku tidak mogok. Jam menunjukkan pukul lima sore ketika aku sampai di kamar kosku yang bocor karena hujan deras. Bajuku yang sudah tak tau lagi bagaimana bentuknya karena hujan dan kamarku yang dipenuhi air membuatku sedikit frustasi. Tetapi tiba-tiba bayangan senyum dari seorang anak hebat menaikkan moodku. Membuatku sadar bahwa semua rintangan pasti bisa dilewati dengan kegigihan. Asal kita sabar dan bahagia dalam menjalaninya. BIODATA PENULIS: Halo! Aku Rasyadhia Maharani Shafira. Lahir di kota kecil bernama Blitar di hari Minggu 5 Desember 2004. Saat ini aku berkuliah di Universitas Negeri Malang Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris. Di tahun pertama kuliah aku mengikuti organisasi GEMAPEDIA untuk menambah pengalamanku dalam mengajar dan berorganisasi.


KEPEDULIANKU HARAPAN MEREKA Ni’matul Lailul Maghfiroh “drrtt...drrtt...drrtt...” waktu menunjukkan pukul 03.50 WIB, dering alarm membangunkan seseorang yang tengah tidur terlelap kala itu. Dengan kondisi mata yang sangat berat hingga kelopak mata yang sulit untuk dibuka, ia harus beranjak dari tempat tidurnya. Kegiatan yang dengan suka duka harus dilaluinya setiap akhir pekan. Ia adalah Dena Kailova atau orang-orang memanggilnya Dena, seorang mahasiswi semester akhir di salah satu Universitas ternama di Indonesia. Dena lahir dari keluarga yang bisa dibilang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akan tetapi, untuk ukuran biaya di perguruan tinggi cukup membuat Dena dan keluarganya banyak berkorban. Pernah kala itu saat Dena masih di semester awal, ia sempat mengira bahwa dirinya tidak akan bisa menikmati bangku perkuliahan lagi. Ia ingin menjerit sekeras-kerasnya untuk meluapkan apa yang dirasakannya. Bagaimana tidak, teman-temannya yang kondisi ekonomi keluarganya berada di posisi menengah ke atas seringkali tidak menyadari statusnya dan tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Hal itu membuat Dena ingin menyalahkan kondisi yang dialaminya saat itu. Dena dibesarkan oleh orang tua yang tidak memiliki gelar di akhir namanya. Kendati demikian, orang tua Dena selalu mengusahakan yang terbaik untuk pendidikan anak-anaknya. *** Hari Senin tiba, Dena harus membangkitkan semangat kembali setelah liburan akhir pekan. Ia berangkat menuju kampus dengan disertai hujan rintik-rintik yang menambah sejuknya pagi itu. Dena bersama temannya, Ranti, sembari berjalan menuju kampus, mereka saling berbagi cerita akan kegiatan perkuliahan mereka. Mereka asyik mengobrol hingga pandangan mereka terpaku pada seorang gadis kecil berambut hitam yang dikuncir satu sedang merenung di samping pintu masuk kampus mereka. Dena dan Ranti menghampiri gadis kecil tersebut. “Selamat pagi Dek,” sapa Dena ke gadis tersebut. “Kalau boleh tau, nama Adek siapa?” lanjut Dena. Gadis tersebut menjawab, “Bintang Kak.” “Halo Bintang, kenalin nama kakak, Dena dan ini teman kakak, Ranti.” (sambil mengulurkan tangan). Ranti pun bertanya, “kenapa Bintang masih pagi kok sudah disini? Bintang tidak pergi ke sekolah?”. Seketika itu, air mata membasahi pipi mungil Bintang. Dena dan Ranti yang melihatnya pun kebingungan. “Kenapa Bintang? ayo cerita ke kakak,” kata Dena. “Sekolahku hancur kak...” tangis Bintang semakin tak bisa dibendung lagi. Tiga kalimat yang diucapkan gadis kecil tersebut sontak membungkam mulut Dena dan Ranti. Esoknya, Dena dan Ranti mendatangi sebuah desa dimana tempat sekolah Bintang berada. Desa Panglipur, yang dulunya terkenal karena lingkungannya yang asri. Memasuki kawasan desa, disambut para warga yang tersenyum rekah ke Dena dan Ranti di tempat pengungsian. Entah terbuat dari apa hati mereka hingga bisa setegar itu setelah mengalami musibah. Kondisi rumah mereka yang hancur, sekolah hancur, lahan pertanian hancur, dan banyak bangunan-bangunan yang hancur. Seharusnya senyum mereka juga hancur karena seluruh harta benda mereka telah direnggut oleh si jago merah. “Alhamdulillah keluargaku selamat... keluargaku selamat...” terdengar seseorang berteriak dan lari menuju ke tempat pengungsian dengan wajah bahagia. Dena dan Ranti akhirnya tau mengapa para warga bisa tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Senyuman itu menandakan bahwa keluarga adalah


harta yang paling berharga dan bermakna. Para warga tidak mempedulikan apabila kekayaannya hilang, rumahnya hilang, lahannya hilang, yang terpenting mereka bisa berkumpul lagi bersama keluarga mereka. Setelah mengetahui kondisi di desa tersebut dan juga melihat potensi semangat belajar yang tinggi dalam diri Bintang, Dena dan Ranti tergugah hatinya untuk membangun kembali desa mereka. Dena dan Ranti membentuk sebuah komunitas relawan untuk mengabdi di Desa Panglipur. Mereka menggalang dana dari warga sekitar. Ada yang menyumbang pakaian, baju, makanan maupun dalam bentuk uang. Tidak disangka ternyata antusias para warga sangat tinggi. Hasil penggalangan dana tersebut setelah satu minggu dirasa cukup. Dena bersama teman-teman satu komunitasnya menuju Desa Panglipur. Disana, para relawan juga membentuk sekolah kecil untuk para anak-anak yang terdampak. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai kebersamaan. Mereka sangat senang ketika belajar bersama. Desa Panglipur menjadi tempat dimana setiap sudutnya dipenuhi oleh semangat belajar. “Kak sering-sering kesini ya, kami tidak bisa membayangkan jikalau kakakkakak tidak membantu kami belajar, mungkin kami tidak memiliki harapan untuk menjadi orang sukses,” ucap Afi, salah satu remaja yang ikut belajar bersama. “apapun kondisinya, kalian harus tetap semangat belajar, disini Kak Dena dan teman-teman Kak Dena akan mengusahakan yang terbaik,” jawab Dena. Mendengar jawaban dari Dena, para anak-anak dan juga remaja saat itu juga mengampiri Dena dan memberikan pelukan yang hangat. Rasanya air mata Dena ingin jatuh saat itu juga. Ternyata mereka memiliki harapan yang besar pada Dena dan teman-temannya. Dena dan teman-temannya mengambil keputusan untuk meluangkan waktunya di akhir pekan untuk menemani belajar para generasi muda Desa Panglipur yang memiliki harapan tinggi di masa depan. Ketika akhirnya Desa Panglipur telah pulih, Dena, Ranti, dan teman-teman komunitasnya membuktikan bahwa kebaikan sederhana bisa mengubah takdir dan memberikan harapan bagi mereka yang kurang beruntung. Jejak kebaikan para relawan tertanam dalam hati setiap warga. Kisah tentang semangat relawan di Desa Panglipur itu menjadi inspirasi bagi banyak orang, membangkitkan kepedulian sosial di seluruh negeri. Mengingat orang tua Dena yang rela mengorbankan segalanya untuk pendidikan anaknya membuat Dena semakin yakin bahwa apapun yang dikorbankan untuk pendidikan nantinya akan berbuah manis. Sebelumnya bagi Dena, akhir pekan adalah suka duka. Akan tetapi setelah melihat senyum para generasi muda Desa Panglipur membuat suasana akhir pekan Dena dipenuhi rasa suka tanpa adanya duka. BIODATA PENULIS Assalamualaikum wr.wb. Haloo temen-temen semua! Perkenalkan aku Nur Rahmawati dari SDN 1 Sumberpetung yang mengajar di kelas 2 aku dari Angkatan 2022 dan dari Departemen Pendidikan Luar Biasa!! Disini aku akan menuliskan karya cerpen yang berjudul “Petualangan Matematika di hari Sabtu”


Petualangan Matematika di hari Sabtu Nur Rahmawati Taman Bunga adalah sekolah kecil yang penuh warna di pinggiran desa hijau dan asri. Di kelas 2 SD, Ibu Ama dan Ibu Asya adalah guru matematika yang ceria Pada pagi itu, di hari sabtu yang cerah, ketika bel masuk berbunyi, kegembiraan memenuhi ruang kelas ibu ama dan ibu asya sedang mengajar anak-anak tentang tabel dan grafik dan memperlihatkan tabel berisi berbagai jenis makanan ringan seperti kue, permen, coklat, dan biskuit yang ada di media yang diperlihatkan. Setiap siswa diberi kesempatan untuk menajawab soal dan maju kedepan untuk menyelesaikan soal yang diberikan ibu ama dan ibu asya. “Berapa jumlah makanan ringan dari gambar tersebut anak-anak?” tanya ibu asya sambil memperlihatkan gambar makanan ringan “permennya ada 7 bu!” jawab Fahmi “coklatnya ada 5 bu asya!” jawab alfan “ kuenya ada 4 bu!” jawab nanda “ kalau biskuatnya ada 8 bu!!!” jawab Rafi yang tak kalah kencang dari yang lain “ Betul sekali! anak-anak pinter! Lalu setelah kita hitung jumlah dari makanan ringan tadi, kita masukkan kedalam tabel yang sudah ibu gambar di papan tulis ya! Nanti kalian maju satu-satu memasukka kedalam tabel tersebut ya” jawab ibu ama "Lalu bagaimana cara kita membuat grafik dari tabel ini anak-anak?" tanya Ibu ama. Anak-anak terlihat bingung, tapi mereka tetap antusias. Mereka mendengarkan dan memperhatikan dari penjelasan bu ama dan bu asya cara untuk membuat grafik dari tabel yang sudah dibuat sebelumnya. “ Untuk memudahkan kita memahami dari grafik, kita beri tanda lingkaran pada gambar grafik ya.. Siapa yang mau maju untuk mencoba membuat tabel???” ujar bu asya “ Saya ibu!!” ujar anak-anak dengan semangat dan antusias “ oke, kalau begitu kalian bergantian ya majunya, dimulai dari Rafi, Nanda, Alfan, dan Fahmi ya.. Jangan berebut ya, harus tertib” kata bu ama pada peserta didik Mereka bersemangat untuk maju menggambar lingkaran untuk memenuhi grafik dari tabel yang sudah dibuat mengenai jenis-jenis makanan ringan. Setiap peserta didik menyampaikan jumlah dari makanan ringan yang telah dihitung. “ oke, karena anak-anak hari sudah pintar dan semangat ibu akan memberi hadiah berupa bintang pada setiap anak ya” kata bu asya sambil membagikan bintang pada peserta didik Kemudian peserta didik secara antusias menempel bintang yang sudah dibagikan dan tidak lupa untuk mengucapkan terimakasih pada bu ama dan bu asya.


“Karena kalian sudah mendapatkan bintang, kalian mencatat apa yang ada di papan tulis pada buku tulis ya, dan jangan lupa digambar ya menggunakan penggaris supaya tidak lupa tentang materi tabel dan grafik dan juga agar lebih rapi ya” kata bu ama, mengingatkan peserta didik untuk mencatat materi yang telah diberikan “Baik ibu!!!” jawab peserta didik dengan antusias sembari mengeluarkan penggaris dari tas Tetapi saat pembelajaran matematika sedang berlangsung, salah satu murid yakni, Alfan adalah yang paling mengalami kesulitan. Ia kesulitan memahami bagaimana memasukkan data dari table ke grafik. Hal ini membuatnya menjadi frustrasi dan merasa tertinggal dari temantemannya yang tampaknya lebih cepat memahami. Di sisi lain, Fahmi, seorang siswi yang pandai dalam matematika, selalu sengaja menggoda Alfan saat ia salah menjawab pertanyaan Bu Sarah. Farhan merasa malu dan marah. "Kamu tidak akan pernah bisa belajar matematika dengan baik!" ucap Fahmi dengan nada meremehkan. Pertengkaran kecil antara Alfan dan Fahmi menjadi semakin memanas setiap harinya. Temanteman sekelas mereka merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Beberapa mencoba membantu Farhan memahami materi, sementara yang lain mencoba menengahi pertengkaran itu. Suatu hari, Bu Ama dan Bu Asya menyadari ketegangan di antara murid-muridnya. Lalu mengatur permainan kelompok di dalam kelas berupa crab crowl dan estafet karet Bersama ibu ama dan ibu asya yang dilakukan pada jam istirahat, yang dibagi menjadi 2 kelompok. Alfan dan Fahmi secara kebetulan masuk ke dalam satu tim. Awalnya, keduanya saling menatap dengan sinis, tetapi mereka mulai bekerja sama untuk menyelesaikan permain kelompok yang diberikan Bu Ama dan Bu Asya. Fahmi dengan sabar menjelaskan konsepkonsep permain lebih jelas kepada Alfan. Saat mereka berhasil menyelesaikan permainan tersebut, suasana hati mereka berubah. Mereka menyadari bahwa belajar tidak hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang saling membantu dan bekerja sama. Dari hari itu, Fahmi dan Alfan menjadi lebih dekat. Mereka membantu satu sama lain tidak hanya dalam kegiatan bermain tetapi juga dalam memahami konsep-konsep matematika yang sulit. Pertengkaran mereka menjadi kenangan lucu, dan mereka kembali bersama-sama menikmati belajar matematika. Pelajaran dari pertengkaran mereka menjadi cerminan bahwa dengan kerjasama dan saling membantu, kita bisa melewati kesulitan dalam belajar. Dan kadang-kadang, teman yang tidak kita duga bisa menjadi sumber bantuan dan inspirasi terbesar. Hari demi hari, mereka terus mempelajari tabel dan grafik dengan menggunakan topik yang berbeda-beda. Mereka belajar cara mengumpulkan data, menuliskannya dalam tabel, dan kemudian mengonversinya menjadi grafik yang mudah dimengerti. Pembelajaran tentang tabel dan grafik terus berlanjut seiring dengan pengetahuan mereka. Anak-anak menyadari betapa pentingnya cara mengorganisir data dan menyajikannya dalam bentuk yang mudah dimengerti. Dengan gembira, mereka menanti pelajaran matematika selanjutnya yang penuh petualangan baru. Dari hari itu, anak-anak di kelas 2 SD Taman Bunga menjadi ahli dalam membuat tabel dan grafik. Mereka menemukan bahwa matematika bisa sangat menyenangkan dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.


Negeri Jiwa-jiwa Tulus Asna Isyarotul Biasanya, kaki ini melangkah dan bertapak pada mulusnya jalan yang enggan menunjukkan kerikil. Lantas hari ini, atas dasar dorongan naluri yang kuat pada diri, kaki ini melangkah pada sebuah jalan yang seolah telah disirami lem sehingga tanpa ragu menempel pada alas kaki. Netra dipaksa fokus pada jalan yang ada mengingat banyaknya akar yang kerapkali membuatku tersandung. Namaku Nameera, aku adalah seorang gadis yang saat ini berusia 19 tahun dan kini tengah duduk di bangku kuliah, semester 3 . Aku memilih menjadi seorang volunteer karena aku ingin memiliki banyak pengalaman meskipun itu hanya sebentar dan dengan waktu yang terbatas. Aku memilih memasuki sebuah organisasi yang bernama GEMAPEDIA (Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan), sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan untuk memberikan dedikasi berupa ilmu kepada mereka yang jauh di pelosok negeri. Konon, Indonesia adalah negeri yang sangat adil namun tampaknya begitu banyak mata yang buta akan realita sebuah pendidikan di tanah Sang Pertiwi. Awalnya, aku juga menjadi salah satunya hingga diriku terhempas jauh ke negeri ini dalam pengabdian akbar pertama, aku menjumpai realita yang menyanyat hati dengan netraku yang menjadi saksi pada mirisnya kehidupan yang mereka cicipi. Di rumah, kita masih mampu menikmati berbagai macam fasilitas pendidikan yang begitu banyak dan sangat gampang diakses tapi apa kabar dengan anak-anak yang aku jumpai saat ini? Bahkan, pensil mereka tak sepanjang jempol-jempol mungilnya itu, pun bajunya tak lagi berwarna putih, aku sudah kebingungan menyebut warnanya karena telah usang di makan. Ini merupakan hari ketujuh aku berada di sini dimana jalan yang becek penuh akar sudah menjadi makananku sehari-sehari selama mengabdi. Namun, sekalipun aku tak ingin mengeluh sebab aku harus mengucap syukur tiada henti karena lahirnya sosok-sosok tangguh yang tak peduli dengan medan yang ada dan masih haus akan pendidikan. Di sekolah ini, aku diamanahi untuk memegang kelas 5 dengan jumlah siswanya yang hanya terdiri dari sembilan murid. Miris? Masih ingin mendengar kejutan lebih? Bahkan, di sekolah ini jumlah siswa secara keseluruhan hanya 40 murid. Jumlah mereka secara keseluruhan bahkan hampir sama dengan jumlah teman sekelasku. Aku dipercayai untuk mengajarkan mereka matematika dan setelah memikirkan metode pembelajaran semalaman yang aku percayain akan linear dengan mereka, aku dengan percaya diri hendak menjelaskan. “Adik-adik, untuk memahami matematika, begitu banyak contohnya yang bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari loh. Semua yang bersinggungan dengan angka dan yang masuk dalam perhitungan itu implementasi matematika. Contohnya jam, pasti adik-adik tahu kan yang namanya jam, setiap hari adik-adik sekalian melihat jam,” ucapku. Mereka diam beberapa saat lantas salah satu di antara mereka angkat tangan. “Kak, jam itu yang bundar itu, ya?”


Aku termenung dengan daguku yang seolah hendak jatuh karena kaget mendengar pertanyaan mereka. Aku melepas senyum canggung lantas mengangguk. “Benar, yang bulat itu untuk mengetahui waktu.” Kini, aku menyebarkan pandangan, mencari keberadaan jam. Namun, bahkan ketika netraku telah melihat sekelilingan dinding keropos tersebut, aku belum juga menemukannya. Harusnya sejak awal, aku sadar akan hal itu tapi bagaimana bisa aku baru menyadarinya sekarang? Sungguh miris, bahkan benda sesederhana jam masih menjadi sebuah hal langka bagi mereka. Aku terhempas pada realita akan besarnya perbedaan aku dengan mereka. Bagaimana bisa kita berada di negeri yang sama namun nasibnya sangat beda? Sebenarnya, Indonesia bagian mana yang tengah aku pijaki ini? Tapi, aku kembali menyadari kesalahanku, kesalahan karena menaruh rasa kasihan pada mereka. Semakin hari, aku semakin sadar bahwa mereka masih sangat beruntung sebab netranya mampu melihat keindahan alam yang bagi warga perkotaan adalah sebuah hal yang langka. Paru-paru mereka juga tak pernah dijumpai polusi yang sudah menjadi kawan di kotakota yang ada di Indonesia. Sungguh mereka beruntung sebab mampu menghabiskan banyak masa dengan orang tua mereka sebab waktunya yang tak dirampas oleh teknologi. Lantas, senyum mereka juga sama sekali tak palsu, begitu tulus dan membuat dadaku selalu menghangat akan tarikan bibirnya. Lalu waktu bergulir cepat dengan aku yang tiba di penghujung masa pengabdian. Sudah waktunya kami mengucap pisah pada jiwa-jiwa tulus yang gemar menatapku dengan tatapan hangat. Di hari terakhir ini, aku tak melihat tatapan tulus itu, yang aku lihat ada mata-mata sendu, mata yang mengucurkan air tanpa henti dengan tangan melambai. “Selamat tinggal jiwa-jiwa tulus, terima kasih atas semua kenangannya. Lelah mungkin tercipta, kucuran keringat kerapkali melanda, tapi tulus aku ucapkan bahwa aku beruntung pernah bertapak di sini. Aku berdoa semoga suatu hari nanti, kalian mampu merasakan bagian dari Indonesia yang kami rasakan, Indonesia yang sudah maju itu. Sampai jumpa kalian,” ucapku dalam benak.


Click to View FlipBook Version