The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Digital Darul Ilmi MTs Negeri 1 Wonosobo, 2022-06-30 21:05:30

ragam eksperesi islam nusantara

ragam eksperesi islam nusantara

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Perdamaian (PADMA) Indonesia. Diantara programnya, tegaskan, PADMA Indonesia tidak bermaksud mengkristenkan
membantu korban bencana alam yang telah dilakoni sejak 2002. orang. Ini kemanusiaan,” terangnya.
Saat tsunami Aceh, misalnya, PADMA bekerja sama dengan
Forum Kepedulian untuk Aceh (Forka) turut membangun Pandangan ini juga dimiliki Romo Sandyawan Sumardi.
mushalla dan asrama pesantren. “Ada dua pesantren putera dan Agamawan Katolik ini tanpa memandang sekat-sekat agama
puteri yang kita bangun di Aceh,” ujar aktivis PADMA Indonesia selalu hadir membantu para korban bencana yang tidak
Theo Tulasi. berdaya.

Isu kristenisasi tak luput menerpa. Di Aceh, ujar Theo, “Di Aceh, saya mencarikan ratusan al-Qur’an,” kata Romo
pihaknya diusir dari posko oleh kelompok radikal. Operasi pun Sandy (baca: Kemanusiaan, Refleksi Iman yang Sesungguhnya).
terhenti sepekan. Diakuinya, PADMA Indonesia memang Katolik,
tapi setiap tugasnya tidak mengatasnamakan agama. “Saya Bencana yang terjadi beruntun di negeri ini, menggugah
kelompok-kelompok agama untuk lebih berkonsentrasi pada
urusan kemanusiaan.

Nurun Nisa’, Subhi Azhari, Nurul H. Maarif

Romo Sandyawan Sumardi

Rohaniwan Katolik

yKaenmgaSneussuianagng,uRhenfyleaksi Iman

TANPA memandang sekat-sekat agama Romo Sandyawan Sumardi, rohaniwan Katolik dok.WI/ Witjak
yang lebih senang disebut sebagai pekerja sosial, selalu hadir dalam tiap bencana,
membantu para korban yang tidak berdaya. Berikut petikan pernyataan Romo Sandy
kepada Nurun Nisa’ dan Widhi Cahya dari the WAHID Institute.

Kenapa bencana alam banyak memakan Bagaimana resep Anda menangani dapat dikembalikan dengan bersepeda,
korban ? korban bencana? walaupun jaraknya jauh.
Aktivitas kemanusiaan Anda pernah
Antara bencana alam dan bencana Saya tidak memakai agama. Saya tidak diterpa isu kristenisasi?
karena kesalahan atau ulah manusia sudah dikenal sebagai romo. Itu tidak penting
susah dibedakan. Global warming misalnya sama sekali. Tapi saya dikenal sebagai Isu-isu dari kelompok tertentu
kalau dirunut merupakan sebab akibat dari orang yang ngurusin korban banjir. Jujur, memang ada. Saya sudah seminggu di
keserakahan manusia. Ada karbon, lubang saya lebih senang dikenal sebagai pekerja Yogyakarta, ada isu Romo Sandyawan
ozon, penebangan hutan, banyaknya sosial. Saya muak dengan simbol status melakukan Kristenisasi. Tapi masyarakat
korban tsunami juga. yang feodal. Jogja sudah familiar. Itu sudah biasalah.
Bagaimana Anda memandang bencana ini? Di Aceh malah nggak ada loh. Saya kaget.
Di Aceh, saya mencarikan ratusan Kita ini yang penting mbantu. Gak pakai
Tragedi atau bencana sekarang al-Qur’an. Karena pada awal bencana, bendera apapun.
adalah momentum melaksanakan kerja- bantuan itu terkumpul di tempat militer Sumber dana dan akuntabilitasnya?
kerja kemanusiaan. Kita menjamah lalu disebar ke komunitas-komunitas.
orang-orang yang berada pada batas- Kebanyakan ke pesantren, menjadi tempat Sejak 2002, yang delapan tahun
batas daya hidupnya. Kita dapat kumpulnya para pengungsi. Kalau nggak bukan dari lembaga donor. Pembiayaan
bersama bekerja membersihkan puing, gitu ya susah. Kita membuka tenda juga berasal dari masyarakat dan kenalan.
mengumpulkan mayat, membagikan di pesantren. Dan mereka juga tahu kalau Yang program lima tahun donornya dari
logistik, menghidupkan jalur saya Kristen. Jerman, Heart of Children. Dulu laporannya
informasi, membangun infrastruktur, disiarkan KBR 68H. Ada tiga bendahara
mengidentifikasi yang tersisa. Kita Kalau di Yogya, kita tidak pakai dan auditor eksternal. Itu betul-betul saya
menghidupkan komunitas yang terlebur, strategi seperti itu. Dari awal, teman-teman perhatikan. Namun sekarang lebih pada
bukan lewat perhitungan ekonomi. Kita yang pernah bekerja di Aceh merasakan laporan kepada penyumbangnya.
menangkap arti hidup, kemanusiaan. perbedaan bumi langit. Di Yogya tidak
Inilah refleksi iman yang sesungguhnya. perlu lagi dengan bahasa-bahasa formal
keagamaan. Begitu korban terima logistik,
mereka bilang terima kasih. Kalau sudah

126 Suplemen the WAHID Institute Edisi XIV / Majalah Tempo / 26 November 2007

Tunas Ketulusan dari Lahan Bencana

Humanity First Indonesia (HFI)

Wadah Khidmat untuk Kemanusiaan

NAMA Humanity First (HF) mungkin masih Dalam perkembangannya, HF membantu siapapun tanpa melihat latar
asing di telinga kebanyakan masyarakat menjelma menjadi lembaga internasional, belakang agama, ras, etnis, afiliasi politik,
Indonesia. Namun tidak bagi Jemaat yang saat ini telah memiliki cabang di dan sebagainya. “Kita tidak memilih-milih
Ahmadiyah. Karena HF menjadi bagian dari 20 negara, termasuk Indonesia. Kantor relawan. Kita menerima siapa saja, tidak
pengabdian mereka pada kemanusiaan. pusatnya tetap di London. hanya dari kalangan jemaat. Dan selama
ini kita gunakan jaringan kita, seperti
“Selama ini Jemaat Ahmadiyah Di Indonesia, lanjut Basyiruddin, perguruan tinggi, komunitas pecinta alam,
memilih HF untuk menyalurkan bantuan. HF berdiri pada 2004 atas prakarsa Amir LSM, dan sebagainya,” katanya.
Meskipun secara de jure kami tidak ada Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Abdul
hubungan, secara ruhiyyah kami satu Basith. Berdirinya juga tak lepas dari Demikian juga dalam menggalang
visi,” jelas Ketua HF Indonesia Basyiruddin anjuran pimpinan Ahmadiyah di London bantuan, HF Indonesia terbuka bagi
Pontoh. agar setiap negara mendirikan kantor siapapun yang ingin membantu.
cabang HF. “Bantuan datang dari siapa saja. Kita tidak
Meski ada hubungan erat, lanjut membatasi. Ada yang sifatnya rutin dan
Basyiruddin, namun jemaat tidak Program ideal HF, kata Basyiruddin, ada yang sifatnya insidentil,” katanya.
diperkenankan memakai atribut adalah memberantas kemiskinan,
Ahmadiyah saat terlibat pada program- pendidikan gratis, dan kesehatan gratis. Basyiruddin menjamin,
program HF. Itu kebijakan Ahmadiyah “Termasuk memberi bantuan bagi para seluruh bantuan yang masuk akan
pusat dan tidak ada toleransi bagi korban bencana alam melalui pengobatan, dipertanggungjawabkan secara
pelanggarnya. “Kalau ada yang dapur umum, membangun sarana transparan, karena lembaganya
menggunakan fasilitas HF untuk prasarana, dan bantuan pasca bencana,” mengikuti Undang-Undang Yayasan yang
kepentingan jemaat, pasti akan kita tindak paparnya. mewajibkan setiap dana yang dikelola
tegas,” jelasnya. untuk diaudit secara publik.
Dikatakannya, HF Indonesia telah
Humanity First adalah lembaga amal membantu korban bencana tsunami “Kami juga diaudit HF Internasional
yang didirikan sejumlah tokoh Islam di Aceh, gempa Yogyakarta, gunung Merapi untuk mengikuti standar internasional,
London, seperti Mr. Moulana Choudri Magelang, tsunami Pangandaran dan karena lembaga ini telah diakui PBB, di
dan Imam Masjid London pada 1994. banjir Jakarta. “Saat ini kemampuan kita mana pengelolaan dana harus transparan
Lembaga ini mendapat pengakuan baru bisa membantu korban bencana, dan dapat dipertanggungjawabkan,”
dunia internasional ketika ikut terjun belum ke wilayah pendidikan dan tandasnya.
membantu para korban perang di Kosovo kesehatan,” jelasnya.
pertengahan 2004. Subhi Azhari
Dalam misinya, lembaga ini

Aksi kemanusiaan HFI di NAD

Suplemen the WAHID Institute Edisi XIV / Majalah Tempo / 26 November 2007 127

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Geliat Santri

di Film Indie

Tak cuma mengaji, kini para santri juga pandai membuat film indie. Ada dokumenter, juga fiksi.
Keterbatasan peralatan dan dana bukan halangan.

R ahmat adalah santri di Pesantren Moderen Ikatan Masjid Selain Pagar, Aditya dan Rahmat juga membuat Assala’
Mushalla Indonesia Muttahidah (IMMIM) Makassar. Kau Senang Jiee Cezz (2007), bahasa gaul Makassar yang boleh
Tapi santri juga manusia. Dia pun sangat hobi main diartikan ”asal kau senang kawan”. Film ini juga menceritakan
sepakbola. Sebagai putra Makassar, jelas dia kehidupan santri Pesantren IMIMM yang berasal dari berbagai
menggilai suku, namun saling menyayangi.

“Ini bisa jadi bukti kalau santri tidak cuma bisa ngaji
atau ilmu agama, tapi juga

kesebelasan bisa buat film
Persatuan Sepakbola Makassar (PSM). Rahmat tidak dan karya besar lain,” kata Aditya, kameramen
sendiri, bersama teman-teman senasibnya di pesantren, mereka sekaligus sutradara dua film itu.
membentuk gank PSM Mania.
Aditya mengaku tidak sulit untuk mendapatkan ide cerita.
Tapi, pesantren punya segudang peraturan. Setiap santri “Banyak hal yang unik dan menarik dari keseharian pesantren
tidak boleh keluar tanpa ijin khusus. Dalam sebulan boleh ijin yang dapat diangkat menjadi sebuah karya yang baik,” kata
keluar hanya sekali. Itupun pada hari libur, hari Jumat. Suatu hari putra kelahiran Makassar 29 Mei 1989 ini.
terdengar kabar pasukan Ayam Jantan dari Timur akan berlaga.
Pernyataan Aditya dibenarkan Irfan Amalee yang membuat
Mereka tak ingin menyiakan kesempatan itu. PSM Mania film berlatar serupa, yaitu Biru Darahku (2006).
pun minta ijin, tapi tidak diberi. Karena hasrat sudah tak
terbendung terpaksa ambil jalan pintas, loncat pagar. Tapi Ide cerita film itu, ditemukan Irfan saat menjadi
Satpam pesantren lebih sigap. Mereka pun ditangkap. ustadz untuk pelajaran sosiologi di Pesantren Darul Arqam
Muhammadiyah, Garut. Di akhir semester dia meminta para
Cerita tadi ada dalam Pagar (2006), film indie (independen) santrinya membuat diary tentang diri mereka. Irfan menemukan
berjenre dokumenter yang dibesut oleh tokoh utama film itu, diary Fahri yang isinya melulu bercerita tentang Persib. Persib
Rahmat Setiawan, 17 tahun bersama Aditya Ahmad, 18 tahun. menjadi agenda terpenting dalam hidup Fahri (lihat: Semua
Mereka santri Pesantren Modern IMIMM Makassar. Dari film ini Orang Bisa Menjadi Filmmaker).
Rahmat dan Adit meraih juara tiga nasional kategori Filmmaker,
dalam kompetisi Creativity Week 2006 yang digelar British “Saya berpikir ini sangat layak untuk diangkat jadi film,” kata
Council Indonesia.

128 Suplemen the WAHID Institute Edisi XV / Majalah Tempo / 31 Desember 2007

Geliat Santri di Film Indie

mantan Ketua Bidang Hikmah dan Advokasi Pimpinan Pusat membuat film dokumenter dalam Workshop Creative Writing
Ikatan Remaja Muhammadiyah (PPIRM) ini. Sejumlah prestasi and Documentary yang digelar Lembaga Kajian islam dan Sosial
diraih Biru Darahku. Film ini lolos seleksi untuk diputar di Festival (LKiS) Jogjakarta.
KONFIDEN, festival tahunan film independen yang menjadi
barometer perkembangan film indepen-den Indonesia. Hasilnya, lahir film dokumenter berjudul Dunia Tahfidz
(2007). Film ini menguak kehidupan santri-santri perempuan
”Setidaknya film ini menjadi satu diantara sedikit film yang yang belajar menghapal al-Qur’an di Pesantren Krapyak
layak diputar di festival itu. Film ini juga diputar di Slingshort Jogjakarta. Norma-norma pesantren itu ternyata tidak
Film Festival yang skalanya Asia Tenggara,” jelas Irfan yang juga membelenggu mereka untuk memahami ’dunia luar’ dan
pernah menimati kehidupan pesantren yang sama seperti Fahri, berkarya.
dari 1990 sampai 1996.
Komunitas ini juga melahirkan Bocah Candi (2007), film
Film dengan latar belakang pesantren juga dibuat siswa- dokumenter yang mengisahkan anak-anak di seputar Candi
siswa Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah (QT), Salatiga. Prambanan yang juga digagas dari workshop itu.
Sabda Kelabu Seorang Santri (2006), demikian judul film fiksi
itu. Sutradaranya Maia Rosyida, siswi kelas 3 sekolah itu, Selain Coret, dari workshop itu lahir komunitas-komunitas
mengangkat kisah ini dari sebuah cerpen dengan judul yang serupa di tiga daerah lain. Masing-masing komunitas itu
sama karya Azizah Hefni. membuat film dokumenter. Komunitas Jeda di Magelang
membuat film Pilang (2007) dan Jalan Tika (2007). Komunitas
Ada seorang santriwati Nafsa yang kepincut seniornya Dafa. Oekir di Jepara meluncurkan Sudah Bukan Cina (2007). Dan
Namun peraturan pesantren menghalangi cinta mereka. Tapi Komunitas Toelis di Solo menelurkan Raja Ketoprak Tukang Becak
cinta mereka tak bisa dibendung dan ditentang. (2007).

Karena ini produksi pertama, pembuat film ini pun meng­­ Bersama-sama mereka menggali tema mengenai
akui hasilnya jauh dari sempurna. Tapi mereka kenyataan sosial di daerahnya. Tujuannya agar terjadi interaksi
antar anggota komunitas dan objek film. ”Pembuatan film

bisa sebagai media pembelajaran

patut berbangga agar tumbuh kepedulian
Sabda Kelabu pernah ditonton sineas Garin Nugroho. terhadap sekitar,” jelas Direktur LKiS Farid Wajdi.

“Garin sangat penasaran. Bagaimana Kepala Sekolah QT, Dari kegiatan itu, para anggota komunitas itu berhasil
Bahruddin bisa membuat anak-anak berkarya tanpa harus membuang stigma tentang banyak hal, yang lama bercokol di
digurui,” ungkap Muntaha al-Hasan, salah satu pendamping di pikiran mereka. Salah satunya adalah stigma tentang waria. Ini
Sekolah QT. didapat saat mereka membuat film Jalan Tika.

Tak hanya itu, film ini memacu murid-murid sekolah Film ini mengisahkan tentang Hartoyo yang lahir laki-laki,
tersebut memproduksi karya sinematografi lainnya. Lewat namun merasa sebagai perempuan. Ia pun memilih dipanggil
komunitas-komunitas film yang mereka dirikan di sekolah itu Kartika alias Tika. Agar tidak menjadi waria, Hartoyo dinikahkan
lahir film-film indie. keluarganya pada usia 17 tahun. Pernikahan itu dijalani setahun
dengan cinta segitiga, dia, istrinya dan ”partner”nya. Bahkan
Komunitas film MR Cinemages, selain membuat Sabda hingga dikarunia dua orang anak.
Kelabu Seorang Santri, juga memproduksi film fiksi seperti Life
is Rock N Roll, Rock… Ohh…, Gadis di Balik Awan dan Papi Gue Saat film itu diluncurkan di Magelang, seorang ibu yang
Puber Lagi. Bahkan komunitas ini bekerja sama dengan LSM diundang dalam acara itu menangis. Ia mengakui, selama
Aceh Pinto sedang memproduksi film dokumenter berjudul ini dirinya salah menilai kehidupan para waria. Si Ibu itu pun
Cerita Pendidikan Anak-Anak Korban Tsunami di Pulot. memeluk Tika.

Sedang Big Fam Production membesut film drama Do’a ”Ini tanda bahwa film juga bisa jadi media mepengaruhi
untuk Kakakku dan MTV yang berisi parodi video klip penyanyi orang,” kata K. Ardi, sineas film independen dari Jogjakarta yang
yang sedang ngetop. menjadi mentor workshop bagi komunitas-komunitas itu.

Adik-adik kelas mereka pun tak mau kalah. Untuk proyek Menyampaikan sesuatu lewat film memang lebih mudah
kelas, murid-murid kelas 1 SMP QT angkatan 2006 membuat film diserap. ”Ketimbang hanya sekedar ngomong,” imbuh K. Ardi
berjenre komedi horor berjudul Funky Ghost (2006). “Padahal di yang telah melahirkan beberapa film dokumenter.
sekolah kami tidak ada bidang studi film. Mereka mempelajari
apapun sesuai kesukaan dan selera mereka. Dan biasanya de- Gamal Ferdhi
ngan langsung mempraktekkan,” jelas Muntaha.

Pengalaman serupa juga dialami pelajar SMA dan pesantren
di Jogjakarta yang tergabung dalam Komunitas Coret. Karena
sekolah mereka tidak mengajarkan, mereka belajar menulis dan

Suplemen the WAHID Institute Edisi XV / Majalah Tempo / 31 Desember 2007 129

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Membuat Film itu Murah dan Mudah

KETERBATASAN peralatan dan dana independen yang bermarkas di Gedung Irfan Amalee, sutradara sekaligus
bukanlah halangan untuk melahirkan film Kesenian Makassar. “Karena belum tahu kameramen film dokumenter Biru Darahku
bermutu. Itu dirasakan Aditya Ahmad dan banyak soal editing,” kata sulung pasangan (2006), juga melakukan sendiri beberapa
Rahmat Setiawan. Ketika masih nyantri di H. Mahmuddin Nasri, SKM dan Hj. Nur tahap pembuatan film. Mulai dari menulis
Ponpes Modern Ikatan Masjid Mushalla Syamsi, SE ini. skenario, mengambil gambar hingga
Indonesia Muttahidah (IMMIM) Putra mengedit.
Makassar, mereka berdua membuat film Permasalahan yang sama juga
dokumeter Assala’ Kau Senang Jie Cezz dihadapi Sekolah Alternatif Qaryah Namun dia beruntung, kamera yang
(2007). Thayyibah (QT), Salatiga. Murid-murid digunakannya ketika membuat film itu
sekolah ini tidak memiliki peralatan sendiri dari kelas high end. “Waktu itu, kamera
Dalam film itu ada adegan para santri saat membuat film pertamanya, Sabda ini temasuk yang mahal dan masih
berebut roti. “Karena uang untuk membeli Kelabu Seorang Santri (2006). ”Saat itu jarang dipakai. Tapi ini milik organisasi.
roti telah habis, batu aku bungkus seperti alat-alat yang kita pakai kebanyakan masih Saya diberi izin menggunakannya. Juga
roti,” Adit panggilan akrab Aditya Ahmad, pinjam dari orang lain seperti handycam handycam pribadi untuk back up,” katanya.
mengisahkan. dan lighting,” kata Muntaha Al-Hasan, salah
satu pendamping di Sekolah QT. Untuk menyunting, Irfan
Selain Assala’ Kau Senang Jie Cezz, Adit menggunakan komputer pribadinya.
dan Rahmat menelorkan film dokumenter Bahkan ketika itu, pedamping (guru) ”Rekaman suara dilakukan di studio
Pagar (2006). Kedua film itu mengisahkan dan siswa belum ada yang bisa mengedit sewaan,” jelasnya.
lika-liku kehidupan pesantren. film. Untungnya mereka punya kenalan di
luar kota yang menguasai multimedia dan Bahkan tokoh utama film Biru
“Banyak hal yang unik dan menarik perfilman. Dikirimlah seorang pendamping Darahku, Fahri bersama Zink, grup band-
dari keseharian pesantren yang dapat bersama dua siswa ke tempat tersebut nya yang beraliran british punk membuat
diangkat menjadi sebuah karya yang baik,” untuk belajar. soundtrack khusus untuk film itu.
ujar Adit kepada Subhi Azhari dari the “Pokoknya digarap seperti film beneran,”
WAHID Institute. ”Setelah kembali, mereka membagi kata Irfan kepada Nurul H. Maarif dari the
ilmu yang didapat kepada teman- WAHID Institute.
Para pemainnya juga diambil dari temannya. Keahlian itu diwariskan hingga
sesama santri. “Tanpa casting, naskah ke adik-adik kelasnya,” jelas Muntaha Membuat film memang bisa
skenario dan honor. Tapi hasilnya justru kepada Gamal Ferdhi dari the WAHID dilakukan oleh siapa saja dan kapan
lebih alami,” kata pria kelahiran Makassar Institute. saja, tanpa takut dibatasi pakem-pakem
29 Mei 1989 yang kini duduk di Semester II film industri. Tapi dalam membuat film
jurusan Broadcasting Sekolah Tinggi Ilmu Bahkan karena kemauan membuat dokumenter, filmmaker harus memiliki
Komunikasi Fajar Makassar. film yang kuat, para siswa rela iuran Rp kedekatan dengan objeknya. ”Diperlukan
5.000 tiap anak. Uang itu dipakai untuk pengamatan dan riset terlebih dulu,” kata
Untuk mengambil gambar dari membeli Mini DV, peralatan kosmetik dan sineas dari Jogjakarta K Ardi.
berbagai sisi, Adit tidak kehilangan konsumsi. Kostum pun dimodifikasi dari
akal. Adegan diambil hingga beberapa mukena, sorban, dan pakaian yang cocok ”Tapi yang lebih penting, film itu bisa
kali. Aktornya diminta diam sejenak, buat penampilan sosok hantu. menyampaikan apa yang jadi pemikiran
guna memberi waktu pada kameramen dan keinginan kreatornya,” imbuh pria
mengambil gambar pada sisi yang Ini terjadi ketika membuat Funky yang film-film dokumenternya berhasil
dikehendaki. “Kesannya sih nyiksa teman- Ghost. Film berjenre komedi horor ini masuk nominasi di beberapa festival ini.
teman. Tapi apa boleh buat, kameranya menceritakan kisah Roni, seorang siswa
cuma ada satu,” jelas Adit yang merangkap culun dengan kepandaian yang pas-pasan. Ardi juga mengatakan peralatan yang
kameramen sekaligus sutradara dua Ia selalu diganggu teman-temannya digunakan pun tidak usah yang muluk-
filmnya. di sekolah. Gurunya juga menghadapi muluk. ”Kalau ada yang punya kamera
problem kehidupan dengan gaji kecil. handphone atau handycam, gunakan itu
Ketika pengambilan gambar pada Mereka berdua sepakat bunuh diri. saja dulu,” kata mentor Workshop Creative
malam hari, misalnya, sang sutradara tetap Writing and Documentary LKiS Yogyakarta
berupaya menyuguhkan kesan gelap, Film ini juga membutuhkan ini.
tanpa mengabaikan kejelasan gambar. pencahayaan yang membangkitkan efek
Digunakanlah lampu sepeda motor menyeramkan. Tapi karena keterbatasan Karena membuat film itu mudah
yang dipinjam dari petugas keamanan alat, para siswa sekolah itu membuat dan murah, “Jika sudah punya keinginan
pesantren. sendiri pencahayaannya. “Lampu neon membuat film, segera buat,” tandas Ardi.
kita tempel di kayu lalu diberi kabel yang
Adit mengerjakan semua tahap panjang,” ungkap Muntaha. Gamal Ferdhi
pembuatan film itu sendiri. Hanya untuk
proses editing, dia meminta bantuan
Meditatif, sebuah komunitas film

130 montase Witjak

Suplemen the WAHID Institute Edisi XV / Majalah Tempo / 31 Desember 2007

Geliat Santri di Film Indie

Irfan Amalee

Sineas Film Independen

”Semua Orang Bisa Menjadi Filmmaker”

DULU santri bikin film dinilai aneh. Padahal film bisa dipakai sebagai media dakwah. dok.pribadi
Bahkan menurut filmmaker indie (independen) dari Bandung Irfan Amalee, kini seorang
dai harus bisa bikin film. Karena kalau ngomong terus nanti mustami’ (pendengar)-nya Banyak santri kini membuat film indie,
ngantuk. ”Kalau diajak nonton film kan seger,” ujar Ketua Bidang Hikmah dan Advokasi tanggapan Anda?
Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah (PPIRM) pada 2000-2002.
Waktu pertama terlibat dalam dunia film,
General Manager Pelangi Mizan ini menyatakan, pesantren kaya nilai yang bisa banyak juga yang menganggap saya aneh. Tapi
disampaikan melalui film. Oleh sebab itu, alumni jurusan Tafsir Hadits IAIN Sunan setelah melihat hasilnya, mereka tahu bahwa
Gunung Djati Bandung ini pun membuat Biru Darahku (2006). film itu nggak melulu seperti film di bioskop
atau sinetron. Film bisa juga jadi media dakwah.
Film ini bercerita tentang Fahri, santri Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Bahkan menurut saya, sekarang seorang dai
Garut yang juga bobotoh Persib Bandung. Fahri kesulitan menonton kesebelasan harus bisa bikin film. Kalau ngomong terus nanti
kesayangannya itu bertanding di Bandung karena nyantri di Garut. Fahri pun berniat mustami’ (pendengar, red.)-nya ngantuk. Kalau
keluar dari pesantren dan sekolah di Bandung. Ayahnya membujuk agar ia tetap nyantri diajak nonton film kan seger. Orang pesantren
dengan garansi, setiap Maung Bandung bertanding, ayahnya mengirim sopir untuk punya nilai dan konten yang bisa disampaikan
menjemput dan mengantarnya ke stadion. Selama bertahun-tahun, ayah dan anak ini melalui film. Kalau kita nggak setuju dengan
bersekongkol menjalankan misi rahasia ini tanpa diketahui pihak pesantren. film-film yang nggak punya nilai, ya kita sebagai
santri harus bikin dong yang bernilai. Jangan
Untuk mengetahui lebih jauh tentang film itu dan gagasan Irfan, Nurul H. Maarif cuma kritik. Action dong!
dari the WAHID Institute mendapat kesempatan mewawancarai pria kelahiran Bandung,
28 Februari 1977 ini. Berikut petikannya: Saat ini membuat film bukan monopoli
profesional. Semua orang bisa menjadi
Apa pesan yang ingin disampaikan lewat film pribadi untuk back up. filmmaker. Dan bikin film bukan masalah
ini? Kita beruntung hidup di masa ketika kita profit atau popularitas, tapi masalah
mendokumentasikan hidup yang sangat
Saya mau memperlihatkan potret mudah menggunakan teknologi. Kita bisa berharga. Jadi kita harus mendukung mereka.
masyarakat muslim, diwakili komunitas membuat apapun asal kita mau belajar. Modal
pesantren, yang banyak disalahfahami. Mereka saya cuma suka nonton film, terus belajar adobe Film apa lagi yang akan Anda buat?
dianggap sebagai komunitas lokal yang tidak premiere untuk editing film, dan beli handycam. Two Days without Wall, film dokumenter
nyambung pada isu global, yaitu bola. Jadi Dengan begitu saya sudah bisa menjadi
di film ini, kita akan melihat pertemuan arus filmmaker. Hidup ini terlalu sayang untuk tidak tentang anak-anak bule dari sekolah
budaya global dengan tradisi lokal. Film ini didokumentasikan. internasional di Bandung, yang berkunjung ke
melihat sisi lain pesantren. Film ini pernah dilombakan? pesantren di Garut untuk bertanding basket.
Anak-anak bule itu punya stereotype tentang
Dari mana idenya? Ya, diikutsertakan dalam Festival pesantren: teroris, kumuh, dan terbelakang.
Saat mengajar Sosiologi di Ponpes Darul KONFIDEN, festival tahunan film independen Sampai-sampai orang tua dan beberapa
di Indonesia. Festival ini jadi barometer guru mereka tidak mengijinkan mereka ke
Arqam Muhammadiyah Garut, pada akhir perkembangan film independen Indonesia. pesantren. Alasannya, terlalu berbahaya.
semester saya meminta para santri membuat Saya sangat puas film ini terseleksi. Meski tidak Demikian juga anak-anak pesantren, punya
diary tentang diri mereka. Saya menemukan juara, setidaknya film ini menjadi satu diantara stereotype tentang orang Barat: sombong, suka
diary Fahri yang serba Persib. Dia bercita-cita sedikit film yang layak diputar di festival itu. menjajah, bebas, dan sebagainya. Nah, film
jadi dokter, tapi dokter Persib. Atau jadi jurnalis, Film ini juga diputar di Slingshort Film Festival ini memperlihatkan bagaimana ketika mereka
agar bisa meliput Persib. Persib menjadi agenda yang skalanya Asia Tenggara. bertemu. Sedikit demi sedikit prejudice mereka
terpenting dalam hidupnya. Ini unik. Saya Apalagi film karya Anda? luntur. Tema yang saya angkat tetap konsisten
berpikir ini sangat layak diangkat jadi film. membuat film tentang pendidikan, multikultur,
Dari sana saya menulis skenario, mengambil Lebih lima film. Ada film animasi Anak dan perdamaian.
gambar dan edit hingga jadi. Fahri kebetulan Siaga Bencana dan Jambu Batu Merah. Juga
punya grup band, Zink, beraliran british punk. Cepat Pulang Kucingku Sayang, yang diangkat Harapan Anda untuk pembuat film indie?
Mereka membuat soundtrack khusus untuk film dari kisah nyata putri saya yang kucingnya Semoga semakin banyak filmmaker yang
ini. Bersama Fahri dan teman-teman, kami juga dibuang ayahnya, yaitu saya. Film ini pernah
memproduksi CD, pin, dan t-shirt Biru Darahku. diputar di tivi lokal, STV Bandung, dan banyak mengangkat isu lokal dan multikultur. Kita kaya
Semua laris manis. Pokoknya digarap seperti respon positif. Tapi yang paling digemari adalah akan hal itu. Biarkan sinetron dan film bioskop
film beneran. Danau Bandung, film dokumenter tentang ngangkat tema komersil. Itu lahan mereka.
danau purba yang sekarang jadi Kota Bandung. Kita harus menggarap tema yang nggak
Bagaimana peralatan membuat film ini? Film ini juara ke-3 Festival Film Dokumenter mungkin tampil di bioskop, tapi penting untuk
Saya menggunakan kamera yang lumayan Bandung 2005. Dari film ini saya mulai banyak disampaikan pada masyarakat.
‘difitnah’ sebagai filmmaker. Saya lebih senang
high end, pakai HDV. Waktu itu, kamera ini menyebut diri media maker; nulis buku, bikin
termasuk yang mahal dan masih jarang dipakai. desain, bikin film, ngomong di training atau
Kamera ini milik organisasi. Saya diberi izin seminar. Film cuma salah satu media yang saya
menggunakannya. Untuk editing menggunakan pilih.
komputer pribadi. Rekaman suara dilakukan
di studio sewaan. Saya juga pakai handycam

Suplemen the WAHID Institute Edisi XV / Majalah Tempo / 31 Desember 2007 131

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Prakarsa Si Lemah ukuran yang unik. Jika yang meminjam makin sedikit, berarti
Bertahan Hidup taraf ekonomi mereka kian baik. “Ukurannya itu saja, nggak
susah-susah,” tegas Bu Joko.
Krisis menumbuhkan solidaritas rakyat. Mereka
mengorganisir diri menerapkan simpan-pinjam. Namun diakuinya, peningkatan ekonomi ini bukan berkat
Dananya dari kocek pribadi sampai patungan. Ada pinjaman itu. Itu murni usaha mereka sendiri. “Pinjaman ini tidak
yang dikelola secara kekerabatan hingga profesional. untuk meningkatkan ekonomi. Tapi untuk memudahkan saja,”
Keuntungan bukan tujuan. terangnya.

S iti Mukaromah kaget bukan kepalang. Saat hendak Pengajian ini juga mengumpulkan iuran per minggu Rp
berbelanja, dompetnya tertinggal di lemari rumahnya. 500, khusus untuk membantu warga yang sakit di luar kelompok
Sedihnya lagi, kunci lemari terbawa sang suami ke kantor. pengajian, juga pengurusan jenazah.
Mau tidak mau, ia harus pinjam tetangga. Namun tak satupun
yang memberi. Menurut Bu Joko, peduli pada yang sakit, yang meninggal,
dan yang kesusahan, itu diajarkan Islam. Karena itu, apa yang
“Mau minjem saja susah banget. Bukan karena mereka dilakukan bersama kelompok pengajiannya, tak lain untuk
nggak punya uang lho,” kata Siti Mukaromah, ibu rumah tangga itba’ (mengikuti, red.) Rasulullah SAW. “Walaupun tidak ada
di jalan Semanggi II Ciputat Tangerang mengenang peristiwa 17 seberapanya,” akunya.
tahun silam.
Simpan-pinjam juga dijalankan Majelis Taklim al-
Dari peristiwa itu, Bu Joko, panggilan akrab Siti Mukaromah, Ma’shumiy, Prajegan, Bondowoso pimpinan Ny. Hj. Siti Ruqayyah
menyadari betapa sulit dan sedihnya tidak punya uang. Dia pun Ma’shum. Anggotanya, lebih dari 200 kaum ibu, umumnya
menerapkan simpan-pinjam kecil-kecilan di kelompok pengajian tulang pung-gung keluarga. Profesi mereka, antara lain,
al-Qur’an tiap Sabtu yang dipimpinnya. pedagang kecil dan buruh tani.

Awalnya, 12 anggota pengajian itu dalam seminggu Awalnya pada 2004, banyak anggota majelis itu yang
menabung Rp 500. Seiring waktu, kini tabungan mereka membutuhkan dana untuk modal usaha. Mereka lantas pinjam
berkembang hingga Rp 100 ribu sampai Rp 125 ribu. Simpanan ke pihak tertentu dengan bunga besar. Belum lagi, pinjaman
itu kemudian disepakati sebagai modal pokok anggota yang baru bisa turun jika ada agunan. Padahal mereka tidak punya
tidak boleh diambil. Di luar itu, ada anjuran menabung per apapun untuk dijaminkan. Kalau pinjam ke koperasi atau
minggu minimal Rp 5 ribu. lembaga keuangan, mereka harus menjadi anggota terlebih
dahulu dan dikenai biaya administrasi.
Uang yang terkumpul terus bertambah, yang puncaknya
dijadikan modal simpan-pinjam, terutama bagi anggota Keluhan demi keluhan, akhirnya sampai ke telinga
pengajian. Dari gethok tular antar tetangga, anggota bertambah
jadi 30 orang. Di luar anggota, simpan-pinjam tidak berlaku. dok.WI/ Gamal Ferdhi

Kini dana yang terkumpul mencapai Rp 30 juta. Jumlah
yang besar bagi kelompok pengajian sekecil itu. Pengajian itu
juga tidak membatasi jumlah pinjaman. “Ada yang pinjem Rp 3
juta dengan mudah,” imbuh alumni Universitas Muhammadiyah
Klaten ini.

Prosedur peminjaman pun tak berbelit. Tidak perlu
perjanjian dan prasyarat formal lainnya. Lantaran tujuannya
untuk meringankan beban anggota kelompok yang sedang
membutuhkan dana. Misalnya, untuk bayar semesteran
atau menyekolahkan anak, modal usaha, atau pengobatan
mendadak. Saling percaya adalah modal dan jaminannya.

Kelompok ini memberlakukan kelebihan bagi peminjam
sebesar lima persen dari pinjaman. Tapi proses pengembalian-
nya tidak mengikat, dengan mencicil antara tiga sampai lima
kali, dalam jangka waktu 3-5 bulan.

“Tapi ini juga nggak kaku. Kadang ada yang gampang
pinjem, tapi susah ngembaliin, karena memang belum punya,”
ujar perempuan asal Klaten ini.

Karena faktor kepercayaan dan keanggotaan yang jelas,
hingga kini belum ada kasus peminjam yang kabur. “Lagian
pinjamnya juga nggak banyak,” kata ibu dua putra ini.

Terkait peningkatan ekonomi anggotanya, Bu Joko punya

132 Suplemen the WAHID Institute Edisi XVI / Majalah Tempo / 28 Januari 2008

Prakarsa Si Lemah Bertahan Hidup

Ruqayyah. “Bermula dari niat kami membantu anggota Majelis pinjam ke rentenir, usahanya pasti akan merosot,” ujarnya.
Taklim al-Ma’shumiy, walaupun tidak banyak,” ujar Ruqayyah Selain meminjami, Ruqayyah juga menganjurkan
kepada Subhi Azhari dari the WAHID Institute.
anggotanya menabung. Di setiap pertemuan, mereka
Dengan uang pribadi sebesar Rp 10 juta, Ruqayyah me- menyimpan seadanya, mulai dari Rp 500 hingga Rp 10 ribu.
minjami anggotanya sejak empat tahun lalu. Jumlah pinjaman
tidak besar, mengingat modal yang terbatas dan skala usaha Djudju Zubaidah, koordinator LSM Nahdina di Cipasung,
anggota majelisnya yang juga kecil. Awalnya, paling banyak Tasikmalaya juga menerapkan tabungan bagi 40 anggota
Rp 500 ribu. Jika mengembalikan pinjaman tepat waktu, pengajiannya sejak empat tahun silam. “Kami masih merintis.
selambatnya 10 bulan, dia boleh meminjam lagi Rp 1 juta. Belum sampai pinjam-meminjam, karena baru untuk menabung
saja Rp 1.000 per hari,” katanya.
Pengembalian dibayar mencicil pada pertemuan pengajian
seminggu dua kali. Besar cicilan terserah peminjam. Tidak ada Simpanan itu untuk kebutuhan lebaran, kurban, atau modal
ketentuan khusus. Ada yang Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, bahkan Rp usaha. Sisanya, akan dipinjamkan untuk modal usaha kecil
5 ribu. Bahkan peminjam yang kebanyakan pedagang bahan masyarakat sekitar.
makanan pokok, ini tidak dikenai kelebihan sepeserpun.
Usaha simpan-pinjam dalam skala yang lebih besar dan
“Pinjam Rp 1 juta, ya kembalinya Rp 1 juta. Niatnya memang profesional dijalankan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) al-Amin di
betul-betul untuk meringankan mereka,” ujar Ruqayyah. Pasar Wangon, Banyumas, Jawa Tengah. Lembaga keuangan
mikro ini, selain memberikan kredit lunak kepada pedagang dan
Kepercayaan dan ikatan emosional dengan jemaah pengusaha kecil, juga menerapkan tabungan bagi anggotanya.
pengajian, adalah jaminannya. Prosedurnya juga tidak formal.
“Saya yakin mereka tidak akan lari,” katanya yakin. Kholis, seorang pedagang sandal dan sepatu di Pasar
Wangon, merasa terbantu dengan kredit murah yang diberikan
Namun kendala tetap ada. Misalnya, ada yang lebih 10 BMT al-Amin. Sebelumnya, Kholis menjadi anggota BMT lain
bulan belum mengembalikan pinjaman. “Itu beberapa orang di Kecamatan Wangon. Tapi, ia kecewa lantaran pengajuan
saja, karena memang tidak punya,” imbuh ibu seorang putra ini. pinjamannya sebesar Rp 1 juta ditolak. Padahal, telah setahun ia
menjadi anggota.
Sebelum uang pinjaman dikucurkan, dilakukan survei
kecil agar tepat sasaran. “Mereka itu kan tidak punya sumber Pinjaman itu sangat berarti buat bapak tiga anak ini. Kios
penghasilan lain,” kata Ruqayyah. sandal dan sepatunya memerlukan suntikan modal untuk
menghadapi lebaran yang kian dekat. Karena kecewa, Kholis
Kini Ruqayyah gembira melihat peningkatan usaha ang- mencabut keanggotaannya dari BMT itu.
gota majelisnya. Indikatornya, jumlah peminjam kian menurun.
“Atau setidaknya usaha mereka masih bertahan. Karena kalau Untuk mencukupi kebutuhan modal yang kian mendesak,
Kholis mengajukan pinjaman ke BMT al-Amin. Pengurus pun
mengabulkannya.

Itulah kisah awal Kholis menjadi anggota BMT al-Amin pada
2004. “Sekarang kalau aku butuh modal, tinggal bilang. Prosedur
peminjamannya mudah,” ungkapnya.

Kholis merasakan manfaat besar menjadi anggota BMT
al-Amin. Usahanya kian berkembang. Kios di Pasar Wangon yang
dulu berstatus kontrak, kini menjadi miliknya. Selain memin-
jam, ia pun menabung. Bahkan Kholis dan kelompoknya juga
menitipkan tabungan qurban.

“Selain dekat dari tempat usaha, BMT al-Amin memang
yang paling kami percaya,” katanya kepada Gamal Ferdhi dari
the WAHID Institute.

Kepercayaan jugalah yang membuat Jumanto menitipkan
hasil jerih payahnya ke BMT al-Amin. Ayah tiga anak yang sehari-
hari menarik becak dan memulung barang bekas ini, menjadi
anggota sejak BMT ini berdiri.

Ia mengaku beruntung menjadi anggota BMT ini. Di
akhir tahun, selain mendapat sisa hasil usaha (SHU), Jumanto
mendapat bantuan sembako. Anak laki-lakinya, juga ikut
khitanan masal yang digelar BMT ini.

BMT al-Amin didirikan sastrawan cum pendakwah Ahmad
Tohari bersama karibnya H. Iwan pada 2001. “Lembaga ini
memang kami niatkan untuk beramal lewat kredit bagi para
pengusaha kecil,” katanya (lihat: Kang Tohari, Sastrawan cum
Bankir Orang Kecil).

Karena niat itulah, para anggota BMT dapat memperoleh
kredit lunak tanpa prosedur yang njelimet. “Para anggota yang
sudah lama dapat meminjam tanpa agunan. Ngomong sekarang,
dikabulkan sekarang bisa. Karena kita sudah percaya pada
mereka,” kata Manajer BMT al-Amin, Widia A. Tohari.

Solidaritas ini terus tumbuh tanpa campur tangan
pemerintah.

Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi

Suplemen the WAHID Institute Edisi XVI / Majalah Tempo / 28 Januari 2008 133

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/ Gamal Ferdhi miliar.
Karena dinilai sehat, maka pada 2006
Ahmad Tohari di BMT al-Amin
BMT al-Amin dinaikkan statusnya oleh
SastrawaAnHMAcD uTohmari Bank Indonesia (BI) menjadi BPRS. Agar
Bankir Orang Kecil tetap dapat melayani para pedagang kecil,
BMT itu tetap beroperasi, sedang BPRS
DALAM karya sastranya, Ahmad Tohari lunak bagi para pengusaha kecil,” kata dijalankan lewat manajemen berbeda.
selalu mengangkat nasib orang-orang Kang Tohari. ”Kalau BMT kan prosedur peminjamannya
kecil. Ini tercermin dalam novel trilogi mudah, sedang BPRS harus sesuai
Ronggeng Dukuh Paruk, dengan Srinthil Kisah perbankan Kang Tohari, dimulai standar BI,” jelas pria kelahiran Jatilawang,
dan Rasus sebagai tokohnya yang telah pada 2000. Saat itu, di daerahnya ada Banyumas, 13 Juni 1948 ini.
diterjemahkan dalam enam bahasa dunia. BMT Tijarah Ummah yang bangkrut.
Pengurusnya terancam dipolisikan, Kendati mengalami kemajuan
Namun baginya, pembelaan lantaran uang nasabah tak kunjung cair. pesat dan manajemennya profesional,
terhadap orang kecil tidak cukup melalui Bersama karibnya H. Iwan, ia membeli BMT namun dua lembaga keuangan itu tidak
karya sastra. Kang Tohari, sapaan akrabnya, itu seharga Rp 25 juta. ”Saya urunan Rp 13 meninggalkan ide dasar pendiriannya,
juga mewujudkan pembelaannya lewat juta dan H. Iwan Rp 12 juta,” kenangnya. yaitu membangun ekonomi rakyat. Salah
penguatan ekonomi. Dia memelopori satunya dengan mengampu koperasi
berdirinya Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) al- Itu baru harga lembaganya. Untuk pesantren (kopontren).
Amin dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah menalangi uang nasabah yang belum cair,
(BPRS) Artha Leksana. Keduanya untuk sebesar Rp 74 juta, mereka meminjam dari Sebagai alumni pesantren sekaligus
memudahkan orang kecil mendapatkan Bank Muamalat Indonesia senilai Rp 100 kiai di desanya, Kang Tohari juga sangat
kredit murah. juta. Sertifikat rumah Kang Tohari dan H. perhatian terhadap santri. Pengurus
Iwan dijadikan agunan. koperasi sebuah pesantren di Kroya,
Selain memberi kredit lunak bagi misalnya, dipersilahkan magang di BMT.
pedagang dan pengusaha kecil, BMT ”Kalau ini gagal, rumah saya dan Mereka diajarkan mulai dari manajemen
al-Amin yang berlokasi di Ruko Pasar H. Iwan melayang,” katanya pada Gamal sampai teknologi informasi. ”Jika sudah
Wangon, Banyumas yang didirikan pada Ferdhi dari the WAHID Institute. bisa, dia harus balik membangun
2001, juga menerapkan simpanan bagi kopontrennya,” katanya.
anggotanya. Tahun demi tahun, masyarakat
semakin mempercayai kinerja BMT itu. Kang Tohari juga memiliki apresiasi
”Saya memang berniat membangun Direkrutlah tenaga profesional, hingga kini yang tinggi terhadap pengusaha kecil,
perekonomian rakyat. Jadi lembaga ini mencapai 24 orang yang sebagian besar karena mereka lebih jujur. ”Mereka itu
kami niatkan untuk beramal lewat kredit lulusan sarjana. Atas kerja keras mereka, kecil, tapi indah dan bermakna. Kalau
aset BMT pada 2005 mencapai Rp 3,7 pedagang kecil merasa terbantu, itu sudah
bikin seneng,” ujarnya.

Sebab itu, BMT al-Amin tidak berbelit-
belit dalam memberi pinjaman. Jika calon
peminjam telah diketahui latar belakang
dan usahanya, dengan mudah akan
dikabulkan, bahkan tanpa agunan. Dan
pinjaman itu harus untuk modal usaha.
”Kalau untuk konsumsi sehari-hari harus
pinjam, itu berarti miskin,” imbuhnya.

Kaum miskin, menurutnya, bukan
diberi pinjaman, tapi sedekah. Untuk
keperluan itu, BMT al-Amin menyisihkan
10 persen dari keuntungannya. Bentuknya,
antara lain, melalui pemberian beasiswa,
pembagian sembako gratis, khitanan
masal dan pendirian pendidikan anak usia
dini (PAUD).

Kang Tohari bersama H. Iwan
menyadari, mereka adalah orang-orang
yang diberi Tuhan kemudahan rejeki. ”Kita
kan sudah kenyang,” aku Kang Tohari.

Dari kesadaran itu, mereka berdua
tidak pernah mengambil sisa hasil usaha
(SHU) BMT. ”Kita gunakan dulu untuk
menolong. Biar tetap di BMT, agar bisa
diputar sebagai modal bagi anggota. Dari
honor menulis saja saya sudah cukup,”
pungkasnya.

Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif

134 Suplemen the WAHID Institute Edisi XVI / Majalah Tempo / 28 Januari 2008

Prakarsa Si Lemah Bertahan Hidup

dok.WI/ Witjak Kekuatan di Balik
Kesederhanaan

Oleh: Rumadi

Peneliti the WAHID Institute

PERUBAHAN adalah fitrah. Ia selalu dan heterogen. Pola perubahan seperti pembangunan ekonomi. Pembangunan
inheren dalam setiap detak sejarah. Tidak ini, menjadikan beberapa orang melihat ekonomi memerlukan perubahan-
ada kehidupan tanpa perubahan. Baik me- sinis kalau sebuah komunitas tetap perubahan dalam masyarakat yang dapat
nyangkut nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah mempertahankan homogenitas dan kultur menetralisir faktor-faktor masyarakat yang
sosial, pola perilaku, organisasi, lembaga paguyuban. Komunitas seperti ini biasa menghalangi dan mendukung proses
kemasyarakatan, lapisan sosial, kekuasaan dituduh sebagai komunitas yang tertutup pembangunan ekonomi.
dan wewenang, maupun interaksi sosial. dan ketinggalan zaman.
Namun kita kadang sulit mengenali Pada titik ini kita menemukan
perubahan-perubahan itu. Apalagi dalam Namun, dalam pembahasan ini kita betapa usaha-usaha masyarakat untuk
masyarakat desa, perubahan-perubahan justru menemukan relevansi masyarakat membentengi kekuatan ekonominya
tampak begitu halus dan pelan. Sehingga berkarakter mekanis-paguyuban dalam dengan upaya-upaya kecil seperti melalui
ada yang mengatakan, masyarakat pengembangan basis-basis ekonomi mikro. majlis taklim, koperasi pasar, koperasi
pedesaan berwatak statis dan jumud. Saling kenal dan percaya, ternyata bisa simpan-pinjam dan sebagainya benar-
menjadi modal sosial untuk menggalang benar menjadi obat yang bisa menetralisir
Emile Durkheim menyebut basis ekonomi. Meski tidak besar bila ancaman yang mengombang-ambingkan
masyarakat seperti ini masih dalam tahap dibandingkan dengan hiruk-pikuk bisnis perekonomian masyarakat. Memang,
solidaritas mekanis (mechanical solidarity), para konglomerat, namun munculnya usaha ini sulit menjadi besar, tapi kalau
sebagai lawan solidaritas organis yang inisiator-inisiator lokal yang secara genuine benteng-benteng sosial seperti ini tumbuh
terdapat dalam masyarakat heterogen, melakukan penguatan ekonomi menandai di mana-mana, bukan tidak mungkin akan
di mana terdapat pembagian kerja yang perubahan penting dalam masyarakat. menjadi kekuatan dahsyat. Kedahsyatan
kompleks. Solidaritas mekanis terdapat itu bukan saja terletak pada perputaran
dalam masyarakat yang masih sederhana Karakter penting yang perlu dicatat modal yang ada di dalamnya, tapi yang
dan relatif homogen. Ikatan warganya di sini adalah kemandirian. Jika sebagian jauh lebih penting adalah keberanian
didasarkan pada hubungan-hubungan kita senang bergantung dengan bantuan- masyarakat untuk mengambil inisiatif
pribadi serta tujuan yang sama. Sedang bantuan pemerintah, namun kelompok- secara independen.
solidaritas organis terdapat dalam kelompok kecil yang dilaporkan di sini
masyarakat yang heterogen di mana melakukan inisiatif sendiri. Di tengah Sampai di sini kita menemukan
terdapat pembagian kerja yang kompleks. banyaknya bantuan karitatif, independensi kekuatan komunitas keagamaan. Agama
Ikatan dalam masyarakat tergantung demikian kian menjadi barang mahal. sebenarnya bisa menjadi modal sosial
pada hubungan fungsional unsur-unsur Inisiatif-inisiatif komunal seperti ini yang kuat untuk urusan seperti ini. Jamaah
yang dihasilkan oleh pembagian kerja. sebenarnya yang memungkinkan menjadi majlis taklim misalnya, ia bukan semata-
Singkatnya, solidaritas mekanis ada dalam daya tahan masyarakat dari berbagai mata tempat orang mencari pencerahan
masyarakat pedesaan yang berkarakter tempaan krisis. spiritual keagamaan, tapi bisa menjadi
paguyuban, sedang solidaritas organis modal kekuatan untuk melakukan
ada pada masyarakat perkotaan yang Dulu orang menduga, suatu perlawanan terhadap penindasan
berkarakter patembayan. masyarakat akan dapat membangun ekonomi. Jika agama diyakini mempunyai
ekonominya bila telah dipenuhi syarat- spirit liberasi, justru di tangan ibu-ibu
Perubahan-perubahan yang terjadi syarat yang diperlukan dalam bidang majlis taklim inilah kita menemukan
dalam masyarakat biasanya berjalan ekonomi, seperti modal, bahan-bahan semangat itu. Di balik kesederhanaan
dari mekanis ke organis, dari paguyuban mentah, alat-alat produksi, tenaga terlatih, cara berpikir, justru di situ kita temukan
ke patembayan. Artinya, masyarakat fasilitas, kecakapan mengatur, serta kekuatan.
yang sederhana dan homogen akan mengurus seluk-beluk ekonomi. Namun
berkembang ke arah yang lebih kompleks pengalaman membuktikan, syarat-syarat
ekonomis saja tak cukup untuk melancarkan

Suplemen the WAHID Institute Edisi XVI / Majalah Tempo / 28 Januari 2008 135

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Ramai dok.WI/ Witjak
Santri
Tekuni
Eksakta

Terpana menatap monitor komputer

Dulu santri identik dengan kitab klasik. Dinilai dengan memblock situs-situs mesum supaya tidak bebas akses.
gagap teknologi. Kini, mereka ramai menekuni Diakuinya, situs-situs itu sulit ditembus. “Tapi insya Allah saya
bidang eksakta. Memajukan pesantren alasan tidak patah semangat. Ini jihad saya di dunia maya,” katanya
utamanya. optimis.

S ebagai santri kampung, Taufiq begitu kagum pada Menurutnya, santri tidak hanya harus piawai kitab kuning,
komputer. Piranti itu mampu menjawab apa saja, bahkan tapi juga teknologi. Dakwah santri pun tidak bisa terpaku pada
menampilkan gambar. Rasa penasaran terus menggelayut media ceramah, tapi juga internet. “Dunia maya itu lebih global,”
di benaknya. Kursus komputer pun ditekuninya sembari nyantri. jelasnya.
Tapi malang, saat ujian kursus, Taufiq gagal. Nilainya di bawah
standar. Taufiq tidak seperti kebanyakan santri yang lebih memilih
program agama ketika melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun
“Dari situlah saya ’dendam’. Saya betul-betul ingin dia tidak sendirian. Ada juga Saidatul Husna yang kuliah di Prodi
mempelajari komputer lebih jauh dan mendalam,” ungkap Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB).
pria bernama lengkap Taufiq Masyriqan mengisahkan awal
perkenalannya dengan komputer saat menjadi santri Ponpes Motivasi mahasiswi semester II ini memilih jurusan itu,
Darul Iman Kadupandak, Pandeglang Banten. karena penilaian negatif masyarakat terhadap gizi para santri.
Makanan santri dinilai miskin gizi, tidak sehat, dan kotor
Setelah enam tahun nyantri dan lulus dari MTs dan MA karena diolah sembarangan. “Saya akan berusaha menata
Darul Iman, putera kelahiran Pasir Waru Lebak, Banten, ini lantas ulang makanan di pesantren,” kata alumni Ponpes Darul Ulum,
mengambil Program Studi (Prodi) Teknik Informatika UIN Jakarta. Jombang ini.
Kuliah pun dijalaninya sambil nyantri di Pesantren Luhur Darus-
Sunnah Jakarta. Menurut dara asal Bangil, Pasuruan ini, kesan negatif itu
akan luntur jika santri mumpuni di bidang pangan. Kendati
Menekuni dua bidang ilmu berbeda, tak mudah bagi berasal dari pesantren, Saida tidak kerepotan mengikuti
mahasiswa semester VII ini. “Jurusan saya di MA, itu Bahasa Arab. kuliahnya. Bahkan dari ratusan mahasiswa penerima Beasiswa
Minim ilmu eksakta,” kata Taufiq. Untuk mengejar ketertinggalan, Santri Berprestasi Depag RI, hanya ia yang memperoleh IPK 3,72.
ia dibantu kawan-kawan sekelasnya di kampus. “Saya kaget, kok dapat IPK tertinggi. Ini tertinggi seangkatan
mahasiswa Depag saja,” kata Saida.
Taufiq tetap semangat. Ini karena cita-citanya ingin
mengembangkan dakwah berbasis dunia maya. Misalnya, Motivasi serupa diungkapkan Zayini Nahdhoh, mahasiswi
semester IV Prodi Teknik Pangan dan Hasil Pertanian Universitas
Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Ia ingin meningkatkan kadar
gizi di pesantrennya. “Setidaknya saya bisa memperbaiki
kekurangan itu,” harap alumni MTs dan MA Sunan Pandanaran
Kaliurang Yogyakarta ini.

136 Suplemen the WAHID Institute Edisi XVII / Majalah Tempo / 25 Februari 2008

Ramai Santri Tekuni Eksakta

Dara asal Cisurupan, Garut, yang kini masih nyantri di Saidatul Husna mengaku tidak mempersiapkan diri secara
Pesantren Sunan Pandanaran, ini juga ingin meningkatkan hasil khusus menghadapi SPMB. ”Persiapan biasa-biasa saja, tidak
pertanian di desanya. Caranya dengan memperbaiki teknologi ngoyo,” katanya. ”Les juga sih, tapi tidak intensif, karena waktu itu
pengolahan hasil pertanian. sambil nyantri,” imbuhnya.

Zayini punya penilaian sendiri terhadap rekan-rekan santri Kini banyak santri menggeluti bidang eksakta. Apalagi
yang mengambil prodi eksakta. “Mereka umumnya kendel setelah Depag RI membikin program Beasiswa Santri Berprestasi.
(berani), tidak minder dan mentalnya lebih kuat,” ungkapnya. Mereka tergabung dalam Community of Santri Scholar (CSS),
Kendati sempat kerepotan di awal kuliah, kini nilai akademisnya yang dibentuk di Grand Hotel Lembang Jawa Barat, 10-13
bisa bersaing dengan kawan-kawannya yang berasal dari non- Desember 2007. Namun program yang telah berjalan tiga tahun
pesantren. Semester II dan III pun dijalaninya dengan ringan. ini perlu dievaluasi.

Gito Waluyo, mahasiswa semester IV Prodi Ilmu dan Industri Zayini berharap penyebaran informasi yang merata,
Peternakan UGM, punya motivasi tak beda. Peternakan, kata termasuk pada pesantren kecil di kampung-kampung. “Di
alumni Pesantren Darul Ulum, Kulonprogo, Yogyakarta ini, sana kan ada santri berbakat, yang punya hak sama,” katanya.
adalah bidang berprospek besar untuk meningkatkan taraf “Pesantren juga banyak di belahan Indonesia Timur,” imbuh Rifki.
ekonomi pesantren, juga masyarakat. Dia melihat, penerimanya kebanyakan dari Jawa, Sumatera, dan
Kalimantan.
Peternakan, imbuh putera asli Girimulyo Kulonprogo ini,
akrab dengan kehidupan santri. Jadi, memajukan perekonomian Para santri ini seolah menyusuri jejak Ibn Sina (w. 1037
santri bisa dilakukan melalui bidang ini. “Saya bercita-cita M) yang bergelar Bapak Dokter Dunia. al-Khawarizmi (w. 850
menjadi pengusaha dan pendidik, untuk memajukan dunia M) dikenal sebagai ahli matematika, astronomi, astrologi, dan
pesantren,” harapnya. geografi. Al-Jabar, adalah buku pertamanya yang membahas
solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Ia juga dijuluki
Memang, agar tidak dilibas jaman, pesantren harus akrab Bapak Aljabar. Al-Battani (w. 929 M), menemukan pengganti
dengan teknologi. Karena itulah Helvea Rezano mengambil busur dengan sinus, tangen, dan kotangen. Abu al-Wafa (w. 997
Prodi Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember M) menemukan metode membuat tabel sinus memperkenalkan
(ITS) Surabaya. sekan dan kosekan.

Helvea yang kini duduk di semester II, ingin mengem­ Perkembangan sains di masa Islam klasik adalah buah
bangkan program kitab kuning berbasis teknologi. “Ini untuk persinggungan para ilmuwan Islam masa lalu dengan berbagai
memajukan pesantren,” terang alumni Pesantren al-Rahmah, peradaban. Mereka tak alergi bersinggungan dengan yang lain.
Dahu, Malang ini.
Nurul H. Maarif
Demikian juga Doli Rizky Panggabean. Mahasiswa Prodi
Teknik Geologi UGM asal Tanjung Balai, Sumut ini menyatakan, dok.WI/ Gamal Ferdhi
santri tidak boleh hanya menguasai bidang agama. Dengan
menekuni bidang ini, alumni Pesantren Darunnajah Jakarta ini
mendapat banyak bukti tentang kekuasaan Tuhan.

Lulusan MA Darunnajah ini berharap, ilmunya bisa
diterapkan di negeri ini yang rawan bencana. “Saya juga ingin
memperkaya ilmu pesantren dengan ke-geologi-an,” katanya.

Ada juga santri yang menekuni kedokteran. Rifki Zakariyya,
mahasiswa Prodi Kedokteran UGM misalnya. Dengan menjadi
dokter, alumni SMA Darul Ulum, Jombang ini berharap bisa
menginjeksikan nilai-nilai agama pada masyarakat. “Bekal agama
dokter yang dari umum kan tidak sebesar santri,” terang pria asal
Blitar, Jatim ini.

Sedang Edo Abdullah Fakih, alumni Pesantren
Candangpinggan, Indramayu mengambil Prodi Matematika
UIN Jakarta. Dengan menekuni bidang ini, Edo ingin mengubah
persepsi masyarakat bahwa hitung-menghitung bikin puyeng
santri. “Santri juga mampu kok. Saya sendiri nggak terlalu
kerepotan,” aku pria asal Arjawinangun Cirebon. Edo kini tengah
memikirkan metode mudah menekuni Matematika.

Keluarganya yang berlatar santri tidak mempermasalahkan.
“Mereka terserah saja. Yang penting sesuai otak dan
kemampuan,” ungkap putera almarhum KH. Syathori Salim
– pendiri Pesantren mas Maliman, Arjawinangun, Cirebon ini.

Kisah di balik kesuksesan mereka menembus prodi eksakta
beragam. Para penerima beasiswa Depag, misalnya harus
menjalani ujian Depag dan universitas yang diinginkan. ”Kami
ujiannya normal dan bahkan dobel. Karenanya, penyaringan
menjadi lebih ketat,” ujar Rifki.

Sedang Taufiq melalui PMDK. Ketika ujian, ia nyaris tidak
ditanyai pernik-pernik rencana prodinya. ”Ini barangkali yang
membuat saya lulus,” selorohnya. Di PMDK, ia menempati
ranking ke-8 dari ratusan pendaftar lainnya.

Suplemen the WAHID Institute Edisi XVII / Majalah Tempo / 25 Februari 2008 137

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Ahmad Shalahuddin

Merancang Islam Digital

Di sela padatnya jadual kuliah, tekadnya kurang memperhatikan ilmu eksakta. “Dulu Solah adalah penerima beasiswa
menghafal al-Qur’an tak pernah luntur. di pesantren, saya belajar komputernya Depag angkatan pertama bagi UGM. Ia
Targetpun ditetapkan. Dalam sehari, konyol,” ujarnya berseloroh. berhasil menyisihkan ratusan santri lainnya
setidaknya sekaca halaman al-Qur’an dari berbagai pesantren. Di Prodi Ilmu
dihafal. Itu pun dijalaninya di sela waktu Kendati serba pas-pasan, bukan Komputer, ia mempelajari berbagai bahasa
istirahat kuliah, yang tak lebih 2 jam sehari. berarti ia tak mampu mengikuti mata pemrograman. Tak heran jika bersama
pelajaran yang disajikan di bangku kuliah. empat kawannya, ia berhasil membuat
Hafalan itu lantas disetorkan pada Menurutnya, tidak ada pelajaran yang sulit. game untuk HP. Slider Puzzle, demikian
gurunya di Ponpes Sunan Pandanaran, Hanya Matematika ia sedikit keteteran, nama game ini. “Ini kerja kelompok dan
Kaliurang Yogyakarta, tempatnya nyantri terutama di semester pertama dan kedua. sebagai program kampus. Dengan bahasa
sejak kelas 1 Madrasah Aliyah (MA), setiap pemrograman Java,” ujarnya.
hari usai Maghrib dan Shubuh, kecuali Bergelut di dua bidang berbeda tidak
Jumat. “Alhamdulillah, mudah buat Solah. Ini ibarat menerobos Usai studi kelak,
sekarang saya sudah tembok kokoh tradisi. Apalagi ia dari selain mengajarkan
hafal enam juz al- keluarga santri totok. Kedua orang tuanya Ilmu Komputer, ia
Qur’an,” ujar Ahmad alumni Ponpes Tebuireng, Jombang. berangan-angan
Shalahuddin, yang Ayahnya alumni Fakultas Syariah IAIN membikin program
juga pernah ngaji di Sunan Ampel Surabaya. Sedang ibunya komputer yang
Ponpes Dar al-Tauhid, alumni Fakultas Tarbiyah STAIN Sunan bisa dipakai untuk
Arjawinangun Cirebon. Gunung Djati Cirebon. mendeteksi benda-
benda yang hilang.
Di luar setoran Namun, menguasai keduanya secara Lingkupnya, ujarnya,
al-Qur’an, bersama bersamaan, bukanlah hal mustahil. untuk sementara
santri lainnya ia “Insya Allah saya bisa menggapai itu dan hanya di sekitar rumah
mengaji berbagai mengejarnya dengan semangat,” janji saja. “Ini masih angan-
kitab kuning khas mahasiswa yang memperoleh Beasiswa angan,” ujarnya tanpa
pesantren. Misalnya, Santri Berprestasi Departemen Agama mau memerinci lebih
al-Adab an-Nabawi, (Depag) RI 2006/2007 ini. jauh.
Mukhtar al-Ahadits
an-Nabawiyyah, Irsyad Angan lainnya
al-‘Ibad, Jami’ al-‘Ulum adalah membikin
wa al-Hikam, Mabahits virus yang bisa
fi ‘Ulum al-Qur’an, dan mempengaruhi
sebagainya. psikologi para netter.
“Lebih tepatnya
Begitulah mempengaruhi tingkat
kesibukan Solah spiritualitasnya,”
– sapaan akrab jelasnya. Sistem
Ahmad Shalahuddin dan cara kerjanya
– yang sehari-hari sudah terekam di benaknya, tinggal
menjadi santri sekaligus mahasiswa direalisasikan.
semester empat Program Studi (Prodi) Ilmu Ia juga punya cita-cita lain, yaitu
Komputer Universitas Gadjah Mada (UGM) mengubah kekolotan kaum santri di
Yogyakarta. bidang teknologi. Caranya, dengan
mendirikan pesantren tahfidh (hafalan al-
Ketertarikannya pada Ilmu Komputer Qur’an, red.) yang didukung kemampuan
bukan disengaja. Awalnya Solah ingin teknologi informasi. “Sepertinya ini
mengambil Program Studi Matematika. keinginan yang agak bodoh. Tapi saya
“Tapi ibu saya nyeplos, kok nggak Ilmu ingin pesantren bisa menyongsong masa
Komputer saja?” kata pria kelahiran depan Islam yang digital,” harap Sholah.
Arjawinangun, Cirebon, 08 April 1988 ini.
Nurul H. Maarif
Karena waktu pendaftaran tersisa dua
hari lagi, Solah lantas menuruti ceplosan
ibunya, kendati dengan basis keilmuan
pas-pasan. Maklum, kebanyakan pesantren

138 Suplemen the WAHID Institute Edisi XVII / Majalah Tempo / 25 Februari 2008

Ramai Santri Tekuni Eksakta

Mobilitas Sosial
Kaum Santri

Oleh: Mastuki HS.

Pengurus Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Pusat

LEMBAGA pendidikan menjadi sarana Situasi ini mengakibatkan proses menengah kota ini membesar, puak kelas
yang kongkrit bagi kalangan santri untuk intelektualisasi massif di kalangan kaum menengah santri juga mulai tumbuh.
melakukan gerak mobilitas sosial, bahkan santri dan dengan segera menjadi Proses dialektika yang dinamis, respons,
sebagai perangkat sosial (social elevator) katalisator bagi terjadinya intellectual persinggungan dan pergulatan antar
yang mengantarkan seorang santri menuju booming di kalangan santri. Ledakan stratum kelas-kelas menengah kota ini
kedudukan (kelas) yang lebih tinggi. Jika itu pada akhirnya mendorong mobilitas mendorong terciptanya pasar-pasar baru
menilik ke belakang, proses terjadinya sosial kaum santri, baik vertikal maupun yang muncul secara tak berpreseden bagi
mobilitas sosial dan perkembangan kelas horizontal, dalam jumlah besar. Pada awal produk-produk intelektual keagamaan.
menengah santri sejatinya sudah dimulai 1990-an, gugus besar dari kelas menengah Situasi ini memberi tempat bagi lahirnya
sejak dasawarsa 1980-an. Kehadiran Indonesia diperkirakan berjumlah lima kaum “profesional” keagamaan Islam.
santri baru (neosantri) pada dasawarsa ini belas juta orang. Jumlah yang luar biasa
berkaitan dengan ledakan jumlah santri besar dalam sejarah Indonesia modern. Kemunculan puak ini di dalam
yang masuk ke perguruan tinggi, setelah Jika sepertiga dari jumlah tersebut adalah struktur perkotaan menjadi indikasi
menamatkan pendidikan menengahnya kelas menengah santri, potensi puak ini menguatnya kelas menengah santri
dari madrasah, pesantren, dan sekolah tentu patut diperhitungkan. kota, yang karena kepentingan-
Islam. kepentingan kelasnya dan disebabkan
Capaian dalam bidang pendidikan transformasinya dari kelas agraris
Bersamaan dengan proses integrasi menambah bobot kredibilitas intelektual sebelumnya, memerlukan saluran dan
dengan mainstream pendidikan nasional Muslim kalangan santri. Sebagian mereka artikulasi yang tepat. Survivalitas kelas
yang dirintis sejak 1970-an, peluang mulai tampil ke permukaan sosial dan menengah dihadapkan pada perebutan
dan akses anak-anak santri (dari desa, mengisi ruang-ruang mobilitas yang peluang struktur budaya yang tersedia
periferal, atau kota) yang sedang studi di tersedia secara beragam seperti LSM, sangat beragam di perkotaan. Lagi-lagi
pesantren, madrasah, dan sekolah lebih pers, media massa dan penerbitan, pendidikan akademis di perguruan
terbuka memasuki perguruan tinggi. perguruan tinggi, ormas, lembaga- tinggi menemukan signifikansi-relatif-
Kaum santri baik yang berlatar belakang lembaga keislaman, partai politik, nya dalam bentuk perangkat kecerdasan
sosial-budaya dan keagamaan tradisional aktivitas dakwah, spiritualitas dan seni, yang memungkinkan para para santri
maupun modern sama-sama memperoleh lembaga profesi, lembaga keuangan lebih mampu menjajakan pengetahuan
kesempatan memasuki jenjang pendidikan syariah, kewirausahaan, birokrasi, keislaman yang relevan dengan kebutuhan
modern. Pergumulan dan pengalaman teknokrasi, administrator, bahkan TNI dan kelas menengah kota.
akademik di pendidikan tinggi itulah Polri. Sebagian yang lain terlibat dalam
yang menyebabkan para santri masuk diskursus intelektual dan sosial-politik di Pertemuan kepentingan kelas
ke dalam komunitas kelas menengah ruang publik Indonesia. kembali membuka pintu begitu lebar
terpelajar (a well educated middle class) dan pada peningkatan mobilitas horisontal
bersentuhan dengan gagasan-gagasan Terbukanya ruang artikulasi dan dan vertikal kaum santri. Banyak di
modernitas. saluran mobilitas sosial yang semakin antara kelas menengah santri kota
beragam bagi kalangan santri menambah menikmati situasi yang menguntungkan
Pada masa berikutnya, kalangan performance dan confidence mereka itu untuk mengokohkan identitas kelas
santri juga mendapat kemudahan meraih berhadapan dengan kelas menengah mereka. Karena jumlah kalangan santri
jenjang pendidikan lebih tinggi di dalam kota lainnya yang lebih dahulu mapan. yang mengalami mobilitas sosial terus
maupun di luar negeri, menikmati Kelas yang disebut terakhir ini karena bertambah, pada gilirannya mereka
bacaan dan lektur keagamaan yang kebutuhan primer dan sekundernya telah menambah deret hitung dan deret ukur
semakin luas serta tersedianya sarana terpenuhi, mengalihkan seleranya pada kelas menengah santri di Indonesia.
mengartikulasikan kegiatan keilmuan. produk barang dan jasa. Pada saat kelas

Suplemen the WAHID Institute Edisi XVII / Majalah Tempo / 25 Februari 2008 139

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Mimpi
Regulasi
Tanpa
Diskriminasi

Maraknya kekerasan berbasis agama semakin Pagar hidup perempuan Ahmadiyah
memprihatinkan. Pemerintah dinilai abai
melindungi warganya. Banyak lahir peraturan menjurus suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Kegiatan
diskriminatif. itu dilakukan guna memelihara ketertiban dan ketentraman
umum,” kata Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Wisnu
M iris melihat aksi kekerasan dengan mencatut Islam, Subroto Wisnu saat seminar Jaminan Perlindungan Hukum dan
puluhan ulama dan nyai pesantren dari seluruh HAM untuk Kebebasan Beragama dan Beribadah Menurut Agama
pelosok Indonesia menggelar forum bahtsul masail dan Kepercayaan yang diselenggarakan Dewan Pertimbangan
(pembahasan masalah dari sudut keagamaan, red.) bertema Presiden (Wantimpres) dari 13-15 Pebruari lalu di Jakarta.
Peran Pesantren dan Pemimpin Agama dalam Mencegah
Kekerasan Berbasis Agama. Namun bagi Ketua PBNU KH. Salahuddin Wahid (Gus
Solah), cara-cara pemerintah yang mencampuri urusan agama
Dari hasil forum yang digelar di Jakarta dari 23 – 25 Maret masyarakat adalah bentuk pembatasan hak kebebasan ber-
lalu itu, mereka menelurkan rekomendasi bagi pemimpin agama agama yang telah dijamin konstitusi. Dia mengatakan bahwa
dan masyarakat. Tapi sorotan paling tajam justru tertuju kepada negara tidak dapat menentukan mana agama yang benar dan
pemerintah (lihat: Dari Bahtsul Masail Nasional Kiai Pesantren). mana agama yang salah. “Konsekuensinya, negara tidak dapat
melarang cara beribadah tertentu walaupun oleh mayoritas
Penilaian miring itu muncul karena selama ini pemerintah masyarakat hal itu dipandang menyimpang,” jelas Gus Solah.
dinilai abai melindungi hak-hak warganya dalam kasus ke-
kerasan tersebut. Alih-alih melindungi, kata seorang peserta, Pendapat Gus Solah didukung Ketua Indonesian
tidak jarang aparat negara justru menjadi aktor penindasan dan Conference on Religion and Peace (ICRP). Dr. Djohan Effendi
diskriminasi melalui kebijakan dan perundang-undangan yang menganggap peraturan yang hanya menjadikan satu atau
dikeluarkannya. beberapa agama sebagai acuan, menunjukkan eksklusifitas
sistem perundang-undangan Indonesia. “Undang-undang
Undang-Undang No. 1 PNPS Tahun 1965, misalnya, memuat itu kan untuk semua, seharusnya tidak bersifat sektarian,” ujar
soal penodaan agama. Undang Undang inilah yang secara tidak Djohan kepada Subhi Azhari dari the WAHID Institute.
langsung hanya mengakui enam agama resmi di Indonesia,
yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, Ia menyesalkan aturan yang masih menggunakan istilah
dan Konghucu. Aturan yang menjadi landasan KUHP Pasal 156a, agama yang ‘diakui’ dan ‘tidak diakui’. ”Bagaimana mungkin
ini kerap dipakai oleh kelompok tertentu menuduh kelompok suatu agama harus mendapat pengakuan negara, sementara
lain menodai agama. agama tersebut sudah ada sebelum negara ini lahir,” tegas
mantan Menteri Sekretaris Negara di era Presiden Abdurrahman
Bahkan, jeratan regulasi ini diperkuat dengan dibentuk Wahid ini.
Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakor Pakem)
yang salah satu fungsinya mengawasi aliran kepercayaan Istilah ‘agamanya belum diakui’ masih digunakan UU
dan keagamaan di masyarakat. Badan yang dikoordinasikan No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (UU
Kejaksaan Agung ini bisa membuat vonis sesat tidaknya sebuah
aliran keagamaan.

”Di masyarakat kita sangat rentan terjadi masalah yang

140 Suplemen the WAHID Institute Edisi XVIII / Majalah Tempo / 31 Maret 2008

Mimpi Regulasi Tanpa Diskriminasi

dok.WI/ Mubarik Meskipun pada awalnya tidak ada masalah, namun setelah
Menteri Agama pada tahun 1978 menyurati para gubernur yang
Adminduk). Kriteria itu dipakai untuk membedakan cara menegaskan bahwa perkawinan hanya sah jika berdasarkan
pelayanan administrasi kependudukan setiap pemeluk agama, hukum agama, perkawinan penghayat kepercayaan setelah itu
baik di kelurahan, kecamatan atau Dinas Kependudukan (lihat: tidak lagi dibenarkan.
Inilah Pasal-pasal Diskriminatif Itu).
Selain status perkawinan penghayat kepercayaan, undang
Rumusan seperti ini menurut Rudi Soraya dari Majelis undang produk Orde Baru ini juga melarang perkawinan beda
Nasional Baha’i Indonesia sangat merugikan agama-agama agama, padahal sebelumnya praktek ini lazim di masyarakat.
yang masuk kategori belum diakui. Selain karena adanya Pemerintah sama sekali tidak mengizinkan perkawinan jenis
definisi agama yang sempit, penggolongan agama seperti ini karena undang-undang ini didasarkan pada hukum perdata
ini mengakibatkan terjadinya perlakuan yang tidak adil bagi Islam (fiqh) dari satu pendapat (mazhab) yang tidak memboleh-
agama yang belum diakui tadi, baik dari pemerintah maupun kan perkawinan beda agama.
masyarakat.
Seharusnya negara, menurut Djohan, bukan mendefi-
“Berbagai perlakuan buruk seperti penghancuran tempat nisikan sah tidaknya perkawinan. Apabila ada penduduk yang
ibadah, pengusiran dari tempat tinggal, tidak boleh kawin, anak- melakukan perkawinan, apakah berdasar agama, kepercayaan
anak dikeluarkan dari sekolah hingga dipaksa pindah agama atau bahkan yang tidak beragama, mestinya tugas negara
banyak kami alami,” jelas Soraya. mencatatnya. “Nah, di situlah negara berperan.”

Diskriminasi juga masih dirasakan para penghayat Hal senada disampaikan Frans Magnis Suseno, SJ. Bagi
kepercayaan. Meski dalam UU Adminduk mereka sudah boleh dosen STF Driyarkara ini, perkawinan adalah hak sipil setiap
mencatatkan perkawinan di Kantor Catatan Sipil (KCS) dengan warga negara yang harus dijamin. Karena apabila hak per-
mengosongkan identitas dalam kolom agama di KTP atau Kartu kawinan ini tidak mendapat pengesahan oleh negara, hal itu
Keluarga, namun kebijakan ini tetap mengundang masalah. akan menimbulkan masalah menyangkut sahnya anak, warisan
dan sebagainya.
Seperti diakui Engkus Ruswana, Presidium Badan Kerja
sama Organisasi Kepercayaan (BKOK), para penghayat Namun regulasi bagaikan macan di atas kertas. Intervensi
kepercayaan sering dituduh komunis atau atheis yang rentan negara ke ruang-ruang privat warganya ternyata tidak
diperlakukan diskriminatif. Tuduhan ini menimbulkan ketakutan berpengaruh apapun, tetap saja banyak orang yang menikah
mendalam untuk menyatakan identitas sehingga mereka kerap beda agama. “Orang lebih mengikuti patokan moral ketimbang
beribadah secara sembunyi-sembunyi. regulasi yang ada,” jelas Koordinator KONTRAS, Usman Hamid.

Pelanggaran hak para penghayat kepercayaan juga timbul Peraturan lain yang juga menimbulkan masalah dalam
dari penerapan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. hubungan antar agama adalah Undang-undang No. 20 Tahun
Ditegaskan pada pasal 2, perkawinan sah apabila dilakukan 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).
menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan. Aturan yang lahir dari pertentangan yang tajam antara berbagai
kepentingan ideologi di masyarakat ini mewajibkan pelajaran
agama di semua sekolah.

Dalam pemberian pelajaran agama, regulasi itu
memerintahkan setiap sekolah harus menyediakan guru yang
seagama bagi masing-masing anak didik. Bagi penyelenggara
pendidikan yang berafiliasi pada agama tertentu, ketentuan ini
terasa memberatkan. Akibatnya, ketika tidak bisa memenuhi-
nya, mereka kerap dicurigai memurtadkan peserta didiknya dari
agama lain. “Masyarakat melihat ini sebagai paksaan. Ini yang
membuat mereka tidak terima,” ungkap Djohan.

Seirama dengan UU Sisdiknas, Undang-undang No. 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA) juga menambah
daftar peraturan yang mengancam kerukunan antar umat
beragama. Pasal-pasal mengenai pengasuhan, misalnya, sangat
problematis karena pengasuhan hanya boleh bagi pengasuh
dan anak asuh yang seagama.

Hal ini menurut Frans Magnis Suseno bisa menimbulkan
diskriminasi terhadap anak-anak terlantar yang belum bisa
menentukan agama yang dianut. Menurutnya, anak bisa diasuh
oleh siapapun meski berbeda agama.

”Yang penting anak itu harus diasuh dengan baik. Tetapi
saya bisa mengerti bahwa di situ ada masalah dari orang-
orang yang sangat agamis. Tidak saja dari sudut Islam, tetapi
mungkin juga ada orang Kristiani keberatan jika anak Kristiani
yang terlantar dibesarkan oleh orang Islam atau orang Hindu,”
jelasnya.

Dengan melihat banyaknya aturan yang lebih berpihak
kepada agama-agama ‘resmi’, timbul pertanyaan, bagaimana
seharusnya negara memposisikan dirinya terhadap agama-
agama ‘tidak resmi’ dalam bingkai kerukunan antar umat

Suplemen the WAHID Institute Edisi XVIII / Majalah Tempo / 31 Maret 2008 141

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

beragama. Apakah mereka akan terus didiskriminasi? sebagainya, tingkat keretakan sosial justru semakin lebar.
Bagi Romo Magnis, persoalannya menjadi tidak sederhana Sehingga muncul kesimpulan dari beberapa tokoh agama,
semakin kental agama maka semakin kendor ikatan sosial di
itu karena negara telah dipenjara oleh kepentingan agama- masyarakat.
agama mayoritas dan tidak berani keluar darinya. “Bisa saja
karena tidak ingin memutus sesuatu yang ditolak oleh agama- Karena itu, bagi Usman, seharusnya setiap regulasi tidak
agama yang besar. Mungkin pemerintah tidak memiliki cukup mencampuri urusan yang sifatnya relasi antar manusia, yang
keberanian dan tanggung jawab,” jelasnya.
mungkin bisa memunculkan
Sedangkan Djohan prasangka sosial, kebencian
menilai bangsa kita dan tudingan-tudingan yang
tengah berada dalam justru menghilangkan esensi
situasi yang tidak sehat, dasar dari agama itu sendiri.
saling curiga, sehingga Regulasi model begini,
masalah agama menjadi merupakan interpretasi
sangat sensitif. Baginya, sosial yang keliru terhadap
negara seharusnya tidak kehidupan politik
terlalu jauh mencampuri
urusan agama karena itu masyarakat. “Ini sudah tidak
sepenuhnya tanggung relevan dengan kondisi
jawab individu dan hari ini. Jadi harusnya
masyarakat. diperbaharui,” tegasnya.

Kalaupun ingin Mekanisme hukum
mencampuri urusan yang tersedia memberi
agama, negara tidak ruang bagi masyarakat
boleh keluar dari sipil untuk mendorong
pertimbangan HAM, yakni perubahan jika
untuk menjaga moral pemerintah tidak mau
publik, keamanan publik, memperbaharui. “Kalau
kesehatan publik dan peraturan di bawah
menghargai kebebasan undang-undang bisa
orang lain. “Orang yang
menyakiti orang lain yang masuk ke Mahkamah
dianggap sesat, seperti Agung (MA), kalau
Ahmadiyah di Manis Lor, setingkat undang
itu termasuk mengancam undang bisa masuk ke
keamanan publik. Itu yang Mahkamah Kons­titusi
harus dibatasi,” papar Usman (MK),” jelas Usman.
Hamid.
Selain faktor
Djohan menggaris ketatanegaraan di atas,
bawahi, bahwa proses masuk­ faktor penting lainnya
nya agama ke dalam aturan adalah kepentingan
negara tidak bisa dilepaskan politik. Dari situlah,
dari fenomena kebangkitan Magnis mencurigai
agama-agama pada tahun agama-agama besar
60-an. Hal ini ditandai dengan takut kehilangan
lahirnya gerakan-gerakan pengaruhnya, karena
pembaharuan agama, se­perti
aliran-aliran kharismatik itu meminjam
dalam kekristenan dan tangan negara
gerakan pemurnian agama untuk melindungi
dalam Islam. kepentingan mereka.

“Kalau dulu, ketika antara Karena itu, Adnan
abangan dengan santri tidak Buyung Nasution
terlalu jelas bedanya, yang jadi mengingatkan, jika
patokan adalah budi pekerti orang. Tetapi ketika terjadi proses negara tidak kembali
santrinisasi, ini lalu muncul pertentangan di masyarakat,” jelas menyadari perannya
Djohan. sebagai pelindung segenap warganya,
dan berpegang pada demokrasi dan supremasi hukum, maka itu
Lebih-lebih, ketika keluar berbagai fatwa dari MUI yang artinya telah terjadi dominasi satu kelompok terhadap kelompok
mengharamkan praktek-praktek yang terkait dengan hubungan lain. “Bisa juga terjadi diktator mayoritas terhadap minoritas,”
antar agama seperti larangan doa bersama, pluralisme, dan tandas anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)
itu.

Subhi Azhari

142 Suplemen the WAHID Institute Edisi XVIII / Majalah Tempo / 31 Maret 2008

Mimpi Regulasi Tanpa Diskriminasi

Inilah Pasal-pasal Diskriminatif Itu

Bunyi Pasal Substansi
Undang-undang No. 1 PNPS/1965
• Adanya aliran-aliran yang dianggap menyimpang
Pasal 1 atau sesat.
Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum
menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukung­ • Kebebasan menganut kepercayaan yang diyakini
an umum, untuk melakukan penafsiran tentang suatu terancam.
agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-
kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan
keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana
menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu

Undang-undang No. 23 / 2006 tentang Adminduk • Negara menilai ada agama-agama dan kepercayaan
Pasal 8 di masyarakat yang resmi dan tidak resmi.

(1) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk • Dampak penilaian itu, perlakuan diskriminatif dalam
persyaratan dan tata cara Pencatatan Peristiwa Penting pelayanan administrasi kependudukan.
bagi penduduk yang agamanya belum diakui sebagai
agama berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang- • Selain itu, mereka juga rentan dipaksa memeluk satu
undanganataubagipenghayatkepercayaanberpedoman agama yang diakui negara (resmi) untuk mendapat
pada Peraturan Perundang-undangan. Pasal 61 pelayanan publik.

(2) Keterangan mengenai kolom agama sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) bagi Penduduk yang agamanya
belum diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan atau bagi penghayat
kepercayaan tidak diisi, tetapi tetap dilayani dan dicatat
dalam database Kependudukan. Pasal 64

(3) Keterangan tentang agama sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) bagi penduduk yang agamanya belum
diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan atau bagi penghayat kepercayaan
tidak diisi, tetapi tetap dilayani dan dicatat dalam database
kependudukan

Undang-undang No. 1 / 1974 tentang Perkawinan • Tidak diperbolehkan perkawinan menurut agama dan
Pasal 2 kepercayaan yang belum diakui.

Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum • Tidak diperbolehkan perkawinan beda agama.
masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. • Melanggar hak asasi.

dari berbagai sumber diolah oleh Subhi Azhari

Suplemen the WAHID Institute Edisi XVIII / Majalah Tempo / 31 Maret 2008 143

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Dari Bahtsul Masail Nasional aman dan jaminan hukum.
Kiai Pesantren Sedangkan Presiden diharapkan,

dok.WI/Witjak ”Menetapkan panduan bagi semua aparat
negara, termasuk Pemerintah Daerah, dalam
Sidang Komisi Bahtsul Masa’il Nasional Kiai Pesantren menangani intimidasi dan kekerasan berbasis
agama berdasarkan konstitusi negara,” kata juru
PULUHAN kiai dari berbagai daerah di Tanah Air hukum. Semuanya dilaksanakan tanpa bicara bahtsul masail KH. A. Malik Madani, MA.
dengan tekun mendengarkan arahan dari KH. diskriminasi berdasarkan perbedaan suku,
A. Mustofa Bisri (Pendiri Mata Air Foundation) agama, aliran politik, sebaran geografis, dan Selain itu, mereka juga menghimbau
dan KH. Abdurrahman Wahid (Pendiri the sebagainya. pemimpin agama mendalami lagi tafsir
WAHID Institute), Senin (24/3/2008). Mereka teks-teks keagamaan, “Antara lain kata jihad
adalah peserta Bahtsul Masail Nasional Peran Namun peserta bahtsul masail prihatin dan dzimmi, yang cenderung dijadikan
Pesantren dalam Mencegah Kekerasan Berbasis berbagai ketegangan dan kekerasan antar dalih pembenar untuk melakukan tindakan
Agama. Di hari yang sama, selain dari Gus Dur kelompok berdasarkan agama di dalam kekerasan,” kata KH. A. Malik membacakan
dan Gus Mus, mereka juga mendapat paparan masyarakat, terus-menerus terjadi tanpa ada rekomendasi para kiai pesantren itu.
soal dampak sosial dari Anas Saidi (Peneliti penyelesaian yang komprehensif dan adil
Senior LIPI) dan ekonomi dari Hendri Saparini dari pemerintah untuk melindungi semua Pemimpin agama, diharapkan mendorong
(Direktur Pelaksana Econit) yang ditimbulkan warga negara. Justru banyak aparat negara dan memudahkan komunitasnya untuk
dari kekerasan atas nama agama. yang lalai menyelesaikan masalah secara adil proaktif memprakarsai forum-forum dialog
sehingga terjadi pembiaran intimidasi dan antar-umat beragama, memediasi konflik
Kekerasan berbasis agama menjadi kajian kekerasan oleh satu kelompok ke kelompok dengan melibatkan komunitas, dan melindungi
para kiai dan aktivis agama yang menggelar lain yang lebih lemah (dhu’afa’) dan kelompok kelompok-kelompok yang dizalimi oleh
forum itu di Jakarta dari 23-25 Maret 2008. Dua minoritas. Alih-alih memberikan perlindungan, kelompok lain. Sedang pengasuh pesantren
masalah mendapat sorotan seksama. Pertama, tidak jarang aparat negara mendiskriminasi dihimbau untuk menyegarkan kembali
bagaimana kewajiban pemerintah dalam warganya melalui kebijakan dan perundang- wawasan kebangsaan dengan mendorong
melindungi warganya? Kedua, bagaimanakah undangan yang dikeluarkannya. kajian-kajian sejarah perjuangan para kiai
hukum kekerasan dengan mengatasnamakan dalam mendirikan dan mempertahankan
agama? ”Berkumpulnya kita di sini juga sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
upaya menghalau stigma, bahwa semua ulama
Forum menyimpulkan, fungsi peme- dan kiai itu gemar memfatwa sesat kelompok “Serta memasukkan fiqh ad-dawlah
rintah adalah untuk mengatur kehidupan dunia lain,” kata salah satu peserta Gurutta Imran Muin (pendidikan kewarganegaraan) di dalam
(siyasah ad-dunya), sehingga masyarakat yang Yusuf pengasuh pesantren al-Urwatul Wutsqaa, kurikulum pesantren,” tegas Malik saat
ada di dalamnya dapat hidup dengan aman, Sidrap Sulawesi Selatan. membaca rekomendasi para kiai itu.
nyaman dan tenang. Kepala pemerintahan
bertugas memberikan perlindungan terhadap Dari alasan-alasan tersebut pada akhir Mereka juga berharap masyarakat
seluruh warga negara untuk memperoleh acara, KH. A. Malik Madani (Yogyakarta), KH. meningkatkan solidaritas antar-warga
rasa aman, keadilan (hukum, ekonomi, dan Imam Ghazali Said MA (Surabaya) dan KH. dalam menangani ketegangan-ketegangan
sosial). Sebuah hadits menyebutkan; al-sulthan Ubaidillah Sodaqoh (Semarang), membacakan setempat. ”Juga mencermati setiap ajakan yang
zhill Allah fi al-ardhi ya’wi ilaihi kullu mazhlum rekomendasi dari peserta bahtsul masa’il, yang bermuatan hasutan untuk melakukan tindakan
(seorang pemimpin adalah bayangan Allah difasilitasi the WAHID Institute dan Yayasan intimidasi berkekerasan, serta selalu melakukan
di bumi, sejauh ia berfungsi sebagai tempat Mata Air ini, bagi pemerintah, pemimpin agama tabayyun (klarifikasi) setiap kali menerima
berlindung orang-orang yang terzalimi). dan masyarakat. Mereka menilai pemerintah informasi yang mengundang penilaian buruk
Pemerintah wajib menegakkan supremasi wajib memberikan perlindungan terhadap atas pihak tertentu,” tandas rekomendasi itu.
seluruh warga negara untuk memperoleh rasa
Rekomendasi yang dibacakan di Jakarta
pada 25 Maret 2008 itu disepakati oleh KH.
Abdurrahman Wahid (Jakarta), KH. A Mustofa
Bisri (Rembang), H Anas Saidi MA, KH. Dr.
Zakky Mubarak, MA (Jakarta), Prof. KH. A. Malik
Madani, MA (Yogyakarta), KH. A. Thonthowi
J. Musaddad MA (Garut), KH. Maftuh Kholil
(Bandung), KH. Imam Ghazali Said, MA
(Surabaya), KH. Imam Nakho’i, MA (Situbondo),
KH. Wasil Sarbini (Jember), KH. Dr. Musta’in
Syafi’i (Jombang), Kiai Mujiburrahman, PhD
(Banjarmasin), TGH Subki Sasaki dan Baiq Ely
Mahmudah (Lombok NTB), Hj Hindun Anisa,
MA (Jepara), Hj. Yenny Zannuba Wahid MPA,
Dra Hj. Maria Ulfah Anshor, MA, Dr. Rumadi,
Dr. Abd Moqsith Ghazali, Ahmad Suaedy,
Musoffa Ichsan, Achmad Z. Huda, M. Faridu
Ashrih, M. Zuhdi (Jakarta), Hj. Siti Huzaenah
(Purwokerto), KH. Najib Hasan (Kudus), KH.
Abdul Chobir (Cipasung Tasikmalaya), KH.
Baharuddin (Makassar), KH. Imran Mu’in, Lc
(Sidrap Sulsel), KH. Ubaidillah Sodaqoh dan
KH. A. Buchori Masrurie (Semarang), KH. M.
Dian Nafi‘ (Solo), KH. Jazuli Kasmani (Klaten),
KH. Yusuf Chudlori (Magelang), KH. Maman
Imanulhaq (Cirebon), Kiai Muhammad Furqan
(Temanggung), Nanang Maulani (Garut), Dindin
Abdullah Ghozali (Bandung), dan Fauzi Shahab
(Banyumas).

Gamal Ferdhi

144 Suplemen the WAHID Institute Edisi XVIII / Majalah Tempo / 31 Maret 2008


Click to View FlipBook Version