Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
dok.WI/Riyansyah KH. Sholeh Bahruddin dan KH. Mahfudz Ridwan
Guru Tasamuh
Pengayom Semesta
KH. Sholeh Bahruddin KH. Mahfudz Ridwan
LEKAT dalam ingatan KH. Sholeh Sholeh, melalui dialog dengan pemuka- diciptakan orang Jepang, kalau bisa
Bahruddin ketika gurunya, KH. Munawwir pemuka agama non-muslim. Namun dipakai untuk jamaah manakiban, ya tetep
dari Tegalarum, Kertosono, Nganjuk, itikad baiknya tak luput dari kritik, bahkan mendapatkan manfaat, kan?” seloroh Kiai
menasehatinya. Dia meminta Sholeh muda kecaman yang dilancarkan kelompok Islam Sholeh.
mengalah pada adik-adiknya dengan garis keras.
mendirikan pesantren sendiri. “Ngalah Seperti juga Kiai Sholeh, berkawan
iku barokah (mengalah itu dapat barokah, Menanggapi hal itu, pria kelahiran dengan non-muslim bagi KH. Mahfudz
red.)!” pesan Kiai Munawwir. Pasuruan 09 Mei 1953 ini, mengiaskan, Ridwan adalah tuntunan Rasulullah SAW.
“Kiai kok kumpul kiai. Ya sama dengan mur “Itu ada dalam sirah nabawiyyah (sejarah
Istilah ngalah oleh Kiai Sholeh ketemu mur. Yang baik itu kan mur ketemu hidup Nabi Muhammad Saw). Beliau
dijadikan nama pesantren yang baut. Buat apa? Ya, buat mengikat NKRI, hidup di tengah orang Yahudi, Nasrani dan
didirikannya pada 1985 M. Pondok Ngalah, biar tidak coplok (bercerai berai, red.).” sebagainya. Beliau mengemban amanat
pesantren salaf yang terletak di Dusun sebagai pelindung,” kata pengasuh Wisma
Pandean, Desa Sengonagung, Purwosari, Murid KH. Muslih, mursyid Tarekat Santri Edi Mancoro Gedangan, Salatiga,
Pasuruan, kini telah berkembang menjadi Naqsabandiyyah dari Pesantren Mranggen, Jawa Tengah itu kepada Subhi Azhari dari
Yayasan Daarut Taqwa PP Ngalah yang Jawa Tengah ini punya pandangan the WAHID Institute.
memiliki berbagai lembaga pendidikan. menarik tentang hukum berkawan dengan
kaum muslim dan non-muslim, termasuk Sebab itu, Kiai Mahfudz mendirikan
Pendidikan non-formal mulai shifr doa bersama. Forum Lintas Iman Gedangan. Forum
(setingkat TK, red.) hingga mu’allimin yang didirikan bersama pihak gereja dan
(setingkat sekolah guru, red.). Sedang Padahal yang membolehkan Universitas Satya Wacana Salatiga ini,
pendidikan formal, mulai Ibtidaiyah juga banyak, kata Kiai Sholeh seraya adalah crisis center bagi korban tragedi
sampai Perguruan Tinggi, yaitu Universitas membacakan QS. al-Mumtahanah ayat kekerasan Mei ’98 di Jawa Tengah.
Yudharta yang berdiri pada 2002. Santrinya 8: “La yanhakum Allah ‘an alladzina lam
lebih dari 10.000 orang. yuqaatilukum fi al-din wa lam yukhrijukum Kini, untuk mengatasi problem di
min diyarikum ‘an tabarruhum wa tuqsithu tengah masyarakat yang terkait hubungan
“Banyak non-muslim belajar di ilaihim. Inna Allah yuhibb al-muqsithin.” antar agama, forum itu kerap menggelar
Universitas Yudharta, meski kampus ini di (Allah tiada melarang kamu untuk berlaku dialog lintas iman di pesantrennya. “Ini
bawah naungan pesantren. Bahkan, ada adil terhadap orang-orang yang tiada seperti tugas yang dijalankan Rasulullah
dosen non-muslim masuk dalam naungan memerangimu karena agama dan tidak SAW. Terhadap agama apapun kita harus di
Yayasan Daarut Taqwa,” kata Kiai Sholeh pula mengusir kamu dari negerimu. tengah-tengahnya,” sambungnya.
kepada Riyansyah, kontributor the WAHID Sesungguhnya Allah menyukai orang-
Institute di Jawa Timur. orang yang berlaku adil). Dikatakan Kiai Mahfudz, sikap
toleran itu juga terlihat pada ulama-ulama
Mustasyar Nahdlatul Ulama Kiai Sholeh juga memaparkan tradisional di Indonesia. “Salah satu yang
Kabupaten Pasuruan ini berangan-angan, beberapa referensi kitab kuning. Syaikh mendorong sikap ini, karena mereka
kampusnya menjadi pusat pengembangan Zakaria al Anshori (926H/ 1520M) sering membaca kitab kuning. Kitab
komunitas dari latar belakang muslim dan dalam Hasyiyah al-Jamal disebutkan, semisal Fath al-Mu’in, Fath al-Qarib dan
non-muslim. “Ini sesuai dengan ajaran jawaz al-ta’min bal nadabahu idzaa da’a yang lain, semua itu kebanyakan ajarannya
Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” katanya. linafsihi bi al-hidayah walana bi al-nashr kan tasamuh (toleran, red.),” tegas mantan
matsalan (diperbolehkan mengamini doa, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (NU)
Kebesaran Kiai Sholeh dan bahkan dianjurkan berdoa semisal untuk Surakarta Jawa Tengah ini.
pesantrennya tak lepas dari teladan ayah memohon hidayah dan pertolongan). Ia
yang juga gurunya, KH. Mohammad juga merujuk kepada al-Tafsir al-Munir Atas dasar itu, ia menolak jika
Bahruddin Kalam, pengasuh PP Darut karya Muhammad Nawawi al-Bantani pesantren dikaitkan dengan terorisme.
Taqwa Carat, Gempol, Pasuruan. Satu kisah (1314H/ 1879M); berhubungan baik di “Tidak ada satupun pesantren NU yang
keteladanan yang diajarkan kepadanya, dunia sebatas urusan yang nyata, maka hal menjadi sarang teroris. Kalau, di luar NU
adalah bagaimana Kiai Bahruddin itu tidak dilarang. saya tidak tahu,” terangnya.
melindungi kelompok minoritas.
“Istilahnya, walaupun mobil itu Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
Sikap ayahnya itu diteruskan Kiai
76 Suplemen the WAHID Institute Edisi II / Majalah Tempo / 27 November 2006
Tasawuf Tenda Besar Kedamaian
Tasawuf
Tenda Besar Kedamaian
Konflik dan kekerasan akibat mengutamakan simbol agama makin kerap terjadi.
Ajaran tasawuf diyakini dapat menjadi solusi.
S yahdan, menjelang pemakaman Jalaluddin Rumi, tampak Oktober 2003.
seorang Kristen menangis tersedu. Dia mencurahkan Kedamaian dan kasih sayang yang diajarkan para pengikut
perihal kesedihannya, “Kami menghormati Rumi seperti tasawuf adalah buah dari ketundukan mereka kepada Allah.
Musa, Daud, dan Yesus zaman ini. Kami semua adalah para “Apa yang setiap manusia sandang sudah dituliskan Allah.
pengikut dan muridnya.” Karenanya kita tidak boleh menyakiti orang lain,” jelas Syeikh
Hisyam, seperti ditulis lembaga besutan mantan Presiden AS
Semasa hidup, Rumi begitu mengasihi banyak orang Richard Nixon itu dalam laporan berjudul Understanding Sufism
dari berbagai latar belakang, sehingga siapapun berduka atas and its Potential Role in US Policy.
kematiannya pada 1273 M. Tasawuf laksana tenda besar yang bisa memayungi
para musafir yang datang dari berbagai penjuru dunia dan
Kehidupan tokoh besar tasawuf ini, kini diteladani banyak berbagai latar belakang. Karenanya, pengamal tasawuf bisa
pemimpin tarekat. Salah satunya adalah Syeikh Hisyam Kabbani. berdampingan mesra dengan siapapun.
Wakil mursyid Tarekat Naqsyabandi Haqqani ini, sebagaimana “Di sini ada dari Kristen, Katolik, Konghucu, dan sebagainya.
Rumi, mengutamakan kedamaian bagi umat manusia. Dengan tasawuf, Tuhan selalu hadir bersama kita,” kata Ketua
PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, saat memberi
“Tasawuf menganjurkan agar antar umat manusia saling sambutan dalam peluncuran bukunya,
bekerja sama. Kami menjembatani semua kebudayaan. Dan Tasawuf sebagai Kritik Sosial;
kami tidak pernah berjuang untuk kekuasaan,” tegas Syeikh
Hisyam di depan peserta Konferensi Program Keamanan
Internasional yang dihelat the Nixon Center di Washington akhir
Syeikh Hisyam Kabbani Membaiat Calon Jamaah Tarekat Naqsyabandi Haqqani Indonesia
dok. Yayasan Haqqani Indonesia
Suplemen the WAHID Institute Edisi III / Majalah Tempo / 25 Desember 2006 77
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi, di Jakarta, berteduh dan butuh kenyamanan,” ujar penghafal al-Qur’an ini.
awal Desember 2006 lalu. Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah yang bermarkas di
Melalui tasawuf ini, ajaran Islam sebagai rahmatan lil bilangan Jakarta Timur, KH. Ali Abdurrahman Nabawi, juga
‘alamin tampak nyata. “Islam itu mengajarkan keterbukaan,” kata terbuka menerima murid non-muslim.
Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah-Khalidiyyah dari Pesantren
Giri Kusumo Semarang KH. Munif Muhammad Zuhri, saat “Yang saya tahu, ada murid Kristen dan Konghucu. Itu no
dihubungi the WAHID Institute. problem. Mereka yang datang sendiri kok,” kata AS Damanhuri,
salah seorang murid tarekat ini.
Pada perkembangannya, ajaran tasawuf ini terlembagakan
dalam bentuk tarekat. Makanya tidak aneh jika banyak tarekat Di lain waktu, tambahnya, sang mursyid diminta berdoa di
bisa menerima keanggotaan dari non-muslim. Sebut saja, rumah seorang non-muslim. “Setelah minta petunjuk Allah SWT,
misalnya, Tarekat al-Ahadiyyah, yang mengajarkan pemikiran- beliau pun bersedia memenuhi permintaan itu,” imbuhnya.
pemikiran Syeikh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Araby.
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Abdul Munir
“Kita mengajak mereka pada tauhid, pengesaan Tuhan. Mulkhan menjelaskan keterbukaan itu karena tarekat yang
Dan dari awal, tarekat ini tidak bermaksud menjadikan orang merupakan alat menyampaikan ajaran tasawuf, banyak
lain pindah agama, tapi bagaimana mereka mengenal Tuhan bersumber pada pandangan yang haqiqiyyah (substantif, red.).
dan mempersilahkan mereka menjalankan agamanya masing-
masing,” jelas Mursyid Tarekat al-Ahadiyyah, KH. Shohibul Faroji “Tarekat yang dikembangkan melalui perspektif substantif
(lihat: Tauhid untuk Perdamaian Dunia). itu toleran. Jadi isi seluruh ajaran tasawuf itu toleran,” ujar
penulis buku-buku tasawuf yang sedang mengampanyekan
KH. Faroji berharap, tarekat yang dipimpinnya bisa menjadi slogan ‘bersufi tanpa tarekat’ ini.
solusi konflik antar agama dan aliran. “Saya ingin al-Ahadiyyah
menjadi salah satu rumah ruhani, tempat semua umat beragama Sederet nama pengamal tarekat diungkap Munir. “Gus Dur
dan AR Fakhruddin, walaupun saya tidak tahu tarekatnya apa,
mereka itu sufi dan toleran. Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad
Tarekat al-Ahadiyyah
Tauhid untuk perdamaian dunia
SALAH satu tarekat yang berkembang di Timur, hingga merambah ke Jawa Barat “Saat ini kita mengalami krisis tauhid
Indonesia adalah Tarekat al-Ahadiyyah. dan Jawa Tengah. Selain di Indonesia, dan akhlak. Maka, peran al-Ahadiyyah
Tarekat yang sanadnya bersambung tarekat ini berkembang di Libya, Mesir, adalah memperbaiki umat ini agar
sampai Rasulullah SAW melalui jalur Turki, Spanyol dan Australia. memiliki tauhid yang benar dan akhlak
Syeikh al-Akbar Muhyiddin Ibn Araby ini, yang mulia,” ujar KH. Faroji.
terbuka bagi murid non-muslim. Semua aspek tasawuf, yaitu
keilmuan, ritual, dan akhlak dipadukan Tarekat ini memiliki kurikulum
“Kita mengajak mereka pada tauhid, sang mursyid. Tarekat yang namanya sangat rapi. Bahkan ada target yang
pengesaan Tuhan. Dan dari awal, tarekat diambil oleh Shadr al-Din al-Qunawi dari harus dicapai. Misalnya, untuk 2007-2010,
ini tidak bermaksud menjadikan orang muqaddimah kitab Fushush al-Hikam, ini tarekat ini mengusung visi Menebarkan
lain pindah agama, tapi bagaimana juga mengkaji semua kitab suci. “Kami Pencerahan Ruhani Menuju Tauhid dan
mereka mengenal Tuhan dan melihatnya dalam perspektif tauhid, Ridha Allah, Menebarkan Kasih Sayang
mempersilahkan mereka menjalankan bukan untuk mencari kelemahannya,” dan Perdamaian Dunia.
agamanya masing-masing,” jelas Mursyid kata pria yang mendapat ijazah
Tarekat al-Ahadiyyah, KH. Shohibul Faroji kemursyidan dari kakeknya, Syeikh “Tauhid itu universal. Dengan visi
saat ditemui Nurul H. Maarif dari the Bahruddin al-Robbani ini. tauhid ini, kita ingin mencari benang
WAHID Institute di rumah sederhananya. merah berbagai macam agama dan
Para muridnya dibebaskan untuk aliran. Karenanya, kita tidak dibenarkan
Dikatakannya, Allah SWT menyuruh belajar di manapun dan beraktifitas membicarakan masalah khilafiyyah
kita untuk toleran pada agama lain. sesuai profesi masing-masing. “Masalah (perbedaan, red.), kecuali sebatas sebagai
“Kafir dalam paradigma Ibn ‘Araby, itu duniawi, kita boleh memilikinya, tapi wacana,” katanya beralasan.
ketika hati seseorang menutup diri dari jangan sampai ada kemelekatan,”
kebenaran Tuhan,” terang mahasiswa pesannya. Ia berharap, tarekat yang
program master di ICAS Paramadina ini. dipimpinnya bisa menjadi solusi konflik
Yang juga menarik, pengangkatan antar agama dan aliran. “Saya ingin
Di dalam tarekat ini, ujar KH. Faroji, mursyid tarekat ini melalui perpaduan al-Ahadiyyah menjadi salah satu rumah
para murid memang diajari pemikiran metode imamah (penunjukan, red.) dan ruhani, tempat semua umat beragama
Ibn Araby, melalui karya-karyanya; al- khilafah (musyawarah, red.), dengan berteduh dan butuh kenyamanan.
Futuhat al-Makkiyyah, Fushush al-Hikam, prinsip utama calon mursyid harus Dan untuk jangka panjang, kita ingin
juga Tarjuman al-Asywaq. shiddiq (jujur dan membenarkan Allah), mempersiapkan para pemimpin yang
amanah (dapat dipercaya), tabligh (bisa bertakwa, punya wawasan luas, dan
Kegiatan tarekat ini berpusat menyampaikan kebenaran) dan fathonah menghargai perbedaan,” ujar penghafal
di bilangan Kebayoran Jakarta dan (cerdas ruhani). al-Qur’an ini.
Pesantren Mabdaul Ma’arif Jember Jawa
Nurul H. Maarif
78
Suplemen the WAHID Institute Edisi III / Majalah Tempo / 25 Desember 2006
Tasawuf Tenda Besar Kedamaian
Dahlan, itu sufi. Itu tolerannya luar biasa. Beliau bekerja di hanya dimiliki oleh agama atau ras tertentu, melainkan oleh
lingkungan pusat kejawen dan bergaul dengan orang Kristen,” semua agama dan ras. “Siapapun yang memperoleh kearifan
imbuh cendekiawan Muhammadiyah ini. adalah seorang sufi, karena tasawuf itu berarti kearifan,” ujarnya.
Penilaian sama dinyatakan Guru Besar UIN Syarif Karenanya benar apa yang dikatakan sufi dari Sri Lanka MR
Hidayatullah Jakarta, Kautsar Azhari Noer, bahwa umumnya Bawa Muhayyaddin. Menurutnya, semua orang yang beriman
tarekat itu toleran pada agama lain. “Tapi kita tidak bisa pada Tuhan harus bersatu. Dan, mereka yang mempunyai
menggeneralisir, karena aliran tarekat itu bermacam-macam. kesadaran, keadilan, kebijakan dan kasih sayang di dalam hati,
Itupun sangat tergantung gurunya. Ada guru yang sangat harus membawa perdamaian dan persamaan untuk masyarakat
toleran dan ada yang kurang,” katanya. (lihat: Isi Lebih Toleran dunia.
Ketimbang Kulit).
“Jika kita benar-benar orang yang beriman, maka kita tidak
Tarekat yang toleran, biasanya karena menganut doktrin akan memandang perbedaan orang lain dari diri kita sendiri.
wahdat al-wujud Ibn ‘Araby, yang sangat menekankan aspek Kita akan memandangnya sebagai satu kesatuan. Kita akan
esoterik. “Naqsyabandiyyah, Syatariyyah, atau yang lain memandang Allah, satu ras manusia, dan satu keadilan untuk
penganut paham ini, mereka toleran, sehingga non-muslim pun semua orang,” kata Muhayyaddin dalam buku Islam & World
bisa masuk ke sana,” kata penulis buku Ibn ‘Araby; Wahdat al- Peace; Explanation of A Sufi.
Wujud dalam Perdebatan ini.
Atas dasar ini, Abdul Munir Mulkhan yakin, paradigma
“Tarekat Maulawiyyah anggotanya juga banyak dari non- sufistik bisa menjadi solusi konflik, minimal di negeri ini. “Orang
muslim. Malah saya punya kawan dari Jerman. Dia mengaku ikut Islam bisa lebih cair atau lebih toleran, ketika mereka menaruh
Tarekat Naqsyabandiyyah di Eropa. Menariknya, dia agamanya perhatian terhadap pandangan sufistik,” yakinnya.
Katolik dan dia tidak masuk Islam,” imbuh Kautsar.
Sisi batiniah ini menjadi titik temu agama-agama, yang
Kearifan seperti ini, ujar sufi India Hazrat Inayat Khan, tidak berujung pada solusi bagi terciptanya perdamaian dunia.
Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
dok. Majalah Al-Kisah Habib Muhammad Luthfi bin Ali
Habib Muhammad Luthfi bin Ali dan alat musiknya Mursyid Musisi
PEngawal Tarekat
TEPAT pukul 02.30 dini hari, sebuah mobil ada 41 tarekat mu’tabarah (diakui, red.). instrumentalia.
memasuki pelataran rumah dua tingkat “Tapi cabangnya banyak,” jelas Habib Luthfi Mursyid Tarekat Syadziliyyah asal
itu. Seorang pria dengan surban, peci dan dalam bukunya Nasihat Spiritual, Mengenal
kaos oblong serba putih turun dari mobil. Tarekat Ala Habib Luthfi. Pekalongan Jawa Tengah ini, memang
Melihat kehadirannya, ratusan jamaah dari mencintai musik sejak belia. Dari musik
berbagai daerah yang telah menunggu Penegasan mu’tabarah atau tidaknya klasik hingga kontemporer. Orkestra
berjam-jam, sontak berkerubut mencium sebuah tarekat, jelasnya, pertama, dilihat gambus Umi Kulsum, sang diva Mesir
tangannya. dari ajarannya. “Semua yang ada di hingga karya instrumentalis kontemporer
dalamnya itu, tidak melanggar isi al-Qur’an asal Yunani, Yanni, akrab di telinganya.
Tak lama berselang, santri-santrinya dan Hadits,” kata Habib Luthfi. “Musik adalah musik. Keindahan adalah
terlihat sibuk menurunkan barang bawaan keindahan,” ujarnya suatu ketika.
dari bagasi mobil itu. Empat keyboard Kedua, dari ketentuan wiridnya.
dan sebuah gitar pun berpindah ke dalam “Tergolong ma’tsur (dari Rasulullah, red.) Karenanya, ia fasih berbicara musik,
rumah. Itulah gambaran kecil kehidupan atau tidak,” jelasnya. Ketiga, memiliki jalur bahkan hingga filosofinya. “Bagi saya, apa
Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin sanad yang jelas. “Mulai dari ulama, para pun di dunia ini yang menimbulkan bunyi,
Hisyam bin Yahya, yang karib disapa Habib wali, sahabat, Nabi SAW, hingga bermuara misalnya desau angin yang menerpa
Luthfi. pada Allah SWT,” jelas Habib Luthfi. pepohonan atau gemerisik daun-daun
yang rontok dari rantingnya, adalah suatu
Ketua Umum Jam’iyyah Ahli ath- Walau sebagai pemimpin tarekat, ia keindahan,” katanya.
Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah tak segan mendengarkan dan memainkan
- organisasi tarekat-tarekat yang diakui musik. Ke manapun pergi, ayah lima putera Mungkin dengan musik, ia ingin
NU ini, menerangkan saat ini di Indonesia ini selalu menyertakan alat-alat musik. mengajak umatnya kian dekat pada Allah
Bahkan ia telah menciptakan puluhan lagu SWT.
Nurul H. Maarif
Suplemen the WAHID Institute Edisi III / Majalah Tempo / 25 Desember 2006 79
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Isi Lebih Toleran
Ketimbang Kulit
dok.WI/Witjak
AJARAN yang menekankan isi akan lebih toleran, ketimbang sendiri. Ibn ‘Araby sendri punya guru sampai
yang mengedepankan kulit atau formalitas. Berikut 70 orang lebih. Bahkan gurunya ada yang
pernyataan Guru Besar UIN Jakarta Prof. Dr. Kautsar Azhari perempuan. Orang yang bisa menjalaninya
Noer kepada Nurul H. Maarif dan Widhi Cahya dari the tanpa guru itu punya bakat yang luar biasa.
WAHID Institute. Anda pernah menulis, lembaga spiritual
modern cenderung seperti lembaga bisnis.
Bagaimana pandangan tarekat di Indonesia tapi toh esensinya sama. Orang bertauhid, itu
terhadap perbedaan agama? tunduk pada Tuhan dan selalu merasakan ke- Memang bisnis itu nggak haram. Itu ter-
hadiran-Nya. Ini esensi yang perlu ditekankan. hormat. Sufi itu banyak yang pedagang. Tapi
Umumnya toleran. Tapi kita tidak bisa saya mengritik itu karena ada kecenderungan
menggeneralisir, karena aliran tarekat itu Dengan tasawuf Anda yakin konflik antar pembisnisan tasawuf. Tapi saya tidak pernah
bermacam-macam. Itupun sangat tergantung agama bisa diredam? menuding lembaga atau orang yang membis-
gurunya. Ada guru yang sangat toleran dan niskan tasawuf. Itu kritik untuk hati-hati saja.
ada yang kurang. Bisa! Bisa! Cuma tidak semua orang
bisa belajar tasawuf. Dan umumnya, orang Anda pernah belajar tasawuf di Beshara,
Mengapa tarekat bisa toleran? berantem itu karena simbol. Abdul Karim Skotlandia. Bagaimana lembaga ini?
Umumnya yang toleran itu menganut Soroush menyatakan, Islam itu ada dua. Islam
kebenaran dan Islam identitas. Islam kebe- Beshara ini tidak ada silsilahnya. Ini
doktrin wahdat al-wujud Ibn ‘Araby. Doktrin ini naran itu yang didakwahkan para nabi. Itu pendidikan esoteric saja. Di situ bentuk tidak
sangat menekankan aspek esoteric dan tidak membawa kebenaran, bukan identitas. Kalau diutamakan. Pendidikan spiritual yang tidak
peduli bentuk. Bukan berarti bentuk itu tidak kita membawa Islam sebagai identitas, itu ada bai’at dan tidak ada mursyid. Ini universal
ada. Bentuk itu otomatis. Naqsyabandiyyah, akan lebih mudah menyulut konflik antara untuk siapa saja. Yahudi, Islam, Kristen, sekuler,
Syatariyyah atau yang lain, yang menganut sesama muslim atau dengan non-muslim. atau apa saja yang penting intinya. Jadi
paham ini, mereka toleran. Masing-masing akan menonjolkan identitas. arahnya man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah.
Di sana, saya punya kawan dari Jerman. Dia
Mereka tidak pernah mempersoalkan agama Siapa tokoh tarekat di Indonesia yang mengaku ikut Tarekat Naqsyabandiyyah di
formal? toleran? Eropa. Menariknya, dia agamanya Katolik dan
dia tidak masuk Islam.
Saya tidak berani mengatakan seperti itu. Kalau zaman dulu, itu banyak. Ada Abdus
Yang jelas, mereka toleran pada non-muslim. Shamad al-Palimbangi, Syamsuddin al-Sumat- Amalannya sama dengan yang muslim?
Sehingga non-muslim pun bisa masuk kesana. rani, dan banyak lagi. Pokoknya kalau yang Sama saja!
Ini banyak terjadi di Barat, kendati tidak diutamakan isi, itu lebih toleran ketimbang
semua. Di sana, ada beberapa tarekat yang yang kulit. Hanya saja, biasanya orang lebih se- Kitab apa yang diajarkan di sana?
mempersilahkan non-muslim ikut berzikir tia pada kulit ketimbang isi. Akibatnya, mudah Fushush al Hikam karya Syeikh al-Akbar
atau berdoa bersama, tanpa menanyakan membunuh orang atas nama agama.
agamanya. Misalnya tarekat Maulawiyyah. Muhyiddin Ibn ‘Araby. Disamping itu juga
Tarekat ini anggotanya banyak dari non- Bagaimana dengan banyak munculnya lem- dipelajari karya Jalaluddin Rumi, Tao dan
muslim. baga spiritual modern? Bhagavad-Gita. Orang kalau memahami Ibn
‘Araby akan mudah memahami Upanishad dan
Alasannya kenapa? Tasawuf itu tidak harus punya lembaga. Tao. Itu ketemu!
Saya kira karena kelompok itu lebih Intinya kan mendekatkan diri sedekatnya pada
Allah. Tapi memang, orang akan lebih mudah Harapan Anda?
menekankan esensi atau esoteric. Bentuk apa melalui guru atau organisasi ketimbang belajar Yang terpenting menghormati
saja, Yahudi, Islam, Kristen, dan sebagainya,
perbedaan. Kadang kita lupa, bahwa kita harus
menghormati perbedaan.
80 Suplemen the WAHID Institute Edisi III / Majalah Tempo / 25 Desember 2006
Hijrah dari Jalur Kekerasan
dok.WI/ Gamal Ferdhi
Hotel J.W Mariot dibom teroris 05 Agustus 2003
Hijrah Dari Jalur Kekerasan
Kekerasan atas nama agama tak kunjung reda. Namun banyak fakta, pelaku kekerasan itu kini hijrah
menjadi penyeru perdamaian dan Islam toleran. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia Arab.
S epuluh menit lagi hari memasuki 02 Oktober 1990. Tapi “Saya sudah siap menghadapi kematian,” sambung Asep.
Fauzi, penghuni sel nomor 11 LP Cipinang, masih tak ”Kenapa Anda begitu tegar, Pak?” tanya Fauzi . ”Saya membawa
dapat mengatupkan mata. Gara-gara Maghrib tadi ada ini,” jawab Asep sambil menunjukan buku Surat Yasin kecil di
pengumuman, salah seorang narapidana politik (napol) eks kantongnya.
PKI akan dieksekusi. Fauzi bukan napol PKI. Ia terbelit kasus
Jamaah Warsidi Lampung yang hendak mendirikan Darul Islam Fauzi terhenyak. Ia mengaku salah menilai orang-orang ini
Indonesia (DII) atau Negara Islam Indonesia (NII). Tapi ia merasa sebelumnya. Bagi aktivis DII/ NII, napol eks PKI tidak hanya kafir,
malaikat maut sedang mengintai di bloknya. bahkan mulhid (atheis). Tapi di penjara itu, Tuhan membukakan
mata Fauzi. Mereka tidak seperti yang digambarkan oleh
Tepat di tengah malam buta Fauzi terkejut. Sesosok dari kelompoknya selama ini. Ternyata napol-napol eks PKI itu rajin
kegelapan datang menghampiri selnya. Dia, Asep Suryaman shalat. Sejak peristiwa itu, Fauzi mulai menguliti doktrin-doktrin
penghuni sel nomor 4 anggota Biro Chusus (BC) PKI yang akan DII/NII, terutama ideologi pengafiran dan cara kekerasan.
menghadapi regu tembak. Padahal dia sudah mendekam 27
tahun di penjara. Fauzi mengungkapkan salah satu ayat suci al-Qur’an yang
sering didengungkan dalam doktrin jihad kelompok NII atau al-
Sejurus kemudian Asep berpamitan. Diulurkan tangannya Jamaah al-Islamiyah (JI) adalah Surat al-Taubah ayat 23-24.
melalui sela-sela jeruji besi. “Bung, kalau saya ada kesalahan
dalam pergaulan, saya minta maaf,” kata Asep dengan suara “Mereka juga mengambil pembenaran dari kisah pengkhia-
tercekat. Fauzi menyambut dengan perasan tak menentu. natan putera Nabi Nuh, dan istri Nabi Luth,” kata Fauzi kepada
M. Guntur Romli, kontributor the WAHID Institute.
Suplemen the WAHID Institute Edisi IV / Majalah Tempo / 29 Januari 2007 81
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Dalil-dalil itu, kata Fauzi, dijadikan dasar agar aktivis jamaah memiliki kebebasan untuk menyalurkan aspirasinya.
NII dan JI lebih mengutamakan jamaah dan Amir atau Imamnya Dia menilai kekerasan akan menghilangkan simpati orang.
ketimbang orang tua, istri, anak dan kerabatnya.
“Kalau kerabatnya itu bukan NII, maka mereka dianggap “Bahkan merugikan Islam itu sendiri. Juga, korban dari tindakan
sebagai laisa minna bukan golongan kami. Ringkasnya, orang kekerasan itu orang-orang kecil yang tak berdosa. Lihat itu,
tua, isteri, anak dan kerabat juga berpotensi sebagai ‘musuh’ korban bom Kuningan justru satpam, tukang ojek, sopir taksi,”
sampai mereka bergabung ke dalam jamaah,” ungkapnya. Habib yang selalu lantang menentang kemunkaran ini memberi
Jamaah Warsidi adalah faksi DII/NII yang paling keras dan contoh.
mampu bertahan. Sementara faksi-faksi lain berguguran akibat
represi rejim Orde Baru. Fauzi bertugas menghimpun pengikut Bom yang diledakkan di kafe, kata Habib, juga tidak bisa
dan menyiapkan kamp militer. Tanah milik Warsidi di Lampung dikategorikan tepat sasaran. “Bagaimana dengan orang-orang
dijadikan Islamic village, cikal-bakal NII. yang datang untuk duduk-duduk, makan-makan, dengar lagu,
“Saat memutuskan untuk ‘berjihad’ pada atau berunding soal bisnis, tiba-tiba diledakin.”
awal tahun 1989, saya membentuk camp
militer di Talang Sari Lampung untuk melatih Habib berkesimpulan akar kekerasan kelompok itu
para mujahid yang disiapkan untuk melawan ada hubungannya dengan ideologi Salafi
Pemerintahan Darul Kuffar (negara orang- Wahabi yang berkembang di Arab Saudi.
orang kafir) Republik Indonesia,” kenang Fauzi. “Mereka mudah mengafirkan kelompok lain
Akhirnya perjalanan kelompok ini dan mengklaim punya kavling di sorga,”
diberangus militer. Menurut penuturan Fauzi, katanya seraya mengutip pendapat Imam Ali,
lebih dari 200 orang pengikut jamaah Warsidi “pengafiran adalah kekafiran itu sendiri.”
tewas, sisanya ditangkap, dan disiksa di Ideologi yang disebarkan oleh Osama
tahanan. Fauzi diganjar 20 tahun penjara yang bin Laden itu, diakui Nasir Abas, memang
dijalaninya 10 tahun. Dia menyadari, istri, anak mempengaruhi sebagian besar aktivis muslim di
dan orang tuanya lah yang paling menderita Asia dan anggota Jamaah Islamiyah (JI). “Karena
akibat jalan kekerasan yang dipilihnya. ajakan Osama mereka melakukan kekerasan dan
“Padahal mereka yang paling setia dan pembunuhan atas warga sipil. Yang lebih jelas
istiqomah mengunjungi dan menunggui saya lagi adalah kasus mutilasi 3 orang siswi di Poso,”
yang menjalani hukuman. Sedang teman kata mantan ketua Mantiqi III JI ini kepada
satu jamaah entah kemana, meninggalkan Gamal Ferdhi dari the WAHID Institute.
saya sendirian dalam lembabnya sel penjara,” Para bekas koleganya itu, ungkap Nasir,
ungkap Fauzi. membunuh orang yang tidak bersenjata dan
Namun dia mengambil hikmah dari Fauzi Isman bukan di tempat perang. “Saya mempelajari
Sirah Rasulillah, tidak pernah sekalipun
hukuman itu. “Penjara seperti padang Rasulullah menyerang warga sipil dalam
pengembaraan pemikiran saya. Di sana saya banyak bertemu peperangan. Jadi mereka telah melanggar
dengan para napol kasus lain. Sejak disatukan dengan napol syariat,” tegas alumnus Akademi Militer
yang berbeda agama, ideologi dan aliran, saya tak lagi berpikir
hitam-putih.” Mujahidin Afghanistan 1987 ini (lihat: Mereka Bukan Mengikuti
Tumbangnya Rejim Soeharto yang represif dan militeristik, Islam).
juga menjadi penyebab. Reformasi membuat masyarakat berani
mengekspresikan ideologi dan aspirasi politiknya tanpa takut Ulama, penceramah, pendakwah atau pun media massa,
intimidasi, apalagi penjara. kata Nasir, harus berperan menjelaskan bahwa pernyataan
“Memang perubahan tersebut masih jauh dari yang Osama bin Laden itu menyalahi syariat Islam dan tidak benar.
diharapkan. Tapi menurut saya, saat ini tidak ada lagi alasan “Ini yang penting!” tegas perintis Kamp Militer Hudaibiyah bagi
pembenar untuk melakukan teror dan kekerasan dalam pejuang Bangsa Moro Filipina ini.
memperjuangkan ideologi politik Islam,” tegas Fauzi.
Fauzi telah mengubur masa lalunya. Sejak menghirup udara Peran yang diusulkan Nasir itu kini mulai digencarkan
bebas, dia bekerja sebagai terapis akupuntur dan aktif di Garda di Mesir dan negara-negara Arab. Melalui buku, ceramah,
Kemerdekaan, organisasi yang membela kebebasan, hak-hak kurikulum sekolah maupun keterangan pers, para pelaku
sipil, dan demokrasi. terorisme yang insaf, para ulama dan pemerintah menyebarkan
Demikian pula Habib Husein al-Habsyi yang dikenal dalam ajaran Islam yang damai. (lihat: Tobat Berjamaah Merambah
kasus bom Borobudur tahun 1985. Ia mendekam di penjara Jazirah).
selama 9 tahun 4 bulan. Jalan kekerasan yang ditempuhnya
waktu itu, adalah untuk melawan rejim Orde Baru yang dzalim. “Akibat aksi-aksi teror tersebut citra Islam rusak, dan
Tapi saat ini, Habib Husein menampik aksi-aksi kekerasan. menyulitkan dakwah Islam itu sendiri,” kata tokoh JI Mesir Karam
Layaknya Fauzi, Habib menilai keadaan sosial dan politik Zuhdi dalam Nahr al-Dzikriyât (Sungai Memori).
Indonesia sudah berubah sejak era Reformasi. Semuanya
Kesadaran dan kampanye anti terorisme para tokoh JI Mesir
itu menginspirasi sejumlah ulama Wahabi negara-negara Arab
tentang kekerasan. Mereka beramai-ramai mencabut fatwa yang
dapat membakar orang melakukan kekerasan.
Bagaimana dengan Indonesia? Tampaknya, pemerintah
perlu melibatkan para agawaman lebih intensif.
Gamal Ferdhi, M. Guntur Romli, Ahmad Suaedy
82 Suplemen the WAHID Institute Edisi IV / Majalah Tempo / 29 Januari 2007
Hijrah dari Jalur Kekerasan
Tobat Berjamaah Merambah Jazirah
“IBARAT melempar batu ke air tenang,” kata Najih Ibrahim Muntasar adalah mantan JI Mesir yang insaf lebih dulu.
mengibaratkan peristiwa Mubâdarah Waqf al-’Unf (Inisiatif Kungkungan penjara selama 3 tahun, membuatnya tercerahkan.
Penghentian Kekerasan) tokoh dan pengikut Jamaah Islamiyah Sejak dibebaskan, selama 10 bulan ia aktif mendekati
(JI) Mesir pada 05 Juli 1997. tokoh-tokoh JI baik di dalam maupun di luar penjara untuk
“Tak diduga, peristiwa tersebut menciptakan gelombang meninggalkan kekerasan.
perubahan yang dahsyat bagi kelompok-kelompok Islam yang Pekerjaan itu tidak mudah. “Baik JI ataupun pemerintah
lain,” tulis Najih dalam pengantar buku yang ditulisnya bersama mencurigai saya ,” ungkap Muntasar dalam buku al-Jamâ’âh
tokoh-tokoh JI yang lain berjudul Nahr al-Dzikriyât (Sungai al-Islamiyah, Ru’yah Min al-Dâkhil (Jamaah Islamiyah, Pandangan
Memori). dari Dalam).
Inisiatif tersebut diumumkan tokoh-tokoh JI Mesir dari Hasilnya pada 2001, para tokoh JI mengeluarkan buku-
dalam penjara setelah 16 tahun pembunuhan Presiden Mesir buku tentang perubahan pandangan dan strategi kelompok
Anwar Sadat pada 06 Oktober 1981. Bersama Tandzim Jihad ini. Salah satunya adalah Mubâdarah Waqf al-‘Unf Ru’yah
pimpinan Abd Salam Farag, JI Syar’iyah wa Nadlrah Wâqi’iyah
Mesir punya andil dalam tragedi (Inisiatif Penghentian Kekerasan,
itu. Dua kelompok ini berniat Pandangan Syariah dan Realitas).
menggulingkan pemeritahan Buku ini berisi argumentasi-
Mesir. Tandzim Jihad sebagai argumentasi syariah bahwa
pencabut nyawa Sadat, sedang JI kekerasan tidak memiliki akarnya
Mesir menyiapkan dana dengan dalam Islam. Selain itu, ada
merampok toko-toko emas milik pertimbangan konteks bahwa
penduduk Kristen Koptik Mesir di kekerasan justru membunuh
Provinsi Qina dan kawasan Subra, saudara mereka sendiri dan
Cairo. Menurut mereka penganut memecah belah umat Islam.
Koptik adalah kafir yang hartanya Pemerintah Mesir merespon
bisa diambil sebagai fai’ (harta perubahan itu. Pada 2003, Karam
rampasan perang). Zuhdi dibebaskan. Dua tahun
Walau berhasil membunuh kemudian giliran Najih Ibrahim.
Sadat, mereka gagal Selepas dari penjara mereka
menggulingkan pemerintah. aktif menulis dan berdakwah
Justru jaringan kelompok ini dok.rontburg.com/islamonline.net menentang kekerasan. Mereka
digulung pemerintah Mesir. Penembakan Presiden Mesir Anwar Sadat. (Insert) Karam Zuhdi menerbitkan buku-buku yang
Tokoh-tokoh Tandzim Jihad menentang pandangan dan
dihukum mati. Sedangkan tokoh- strategi al-Qaedah besutan Bin
tokoh JI Mesir seperti Karam Zuhdi, Najih Ibrahim, Ashim Abd Laden dan Ayman al-Dawahiri. Bahkan mereka kerap melakukan
Majid, Isham Darbalah, bersama ribuan pengikutnya disiksa dan kampanye anti terorisme dalam situs www.egyptianislamicgroup.
dijebloskan ke penjara. Rata-rata mereka divonis seumur hidup. com.
Tapi sisa-sisa pengikut JI Mesir di luar penjara tetap melan- Perubahan serupa juga terjadi di Saudi Arabia. Sebelum
carkan aksi-aksi terorisme menuntut pemimpin-pemimpin peristiwa Bom Riyadh tahun 2003, pemerintah Saudi merestui
mereka dibebaskan. Sejak tahun 1992-1996 Mesir tak sepi dari doktrin Salafi Wahabi yang dianut kelompok-kelompok teroris.
serangan teroris. Target mereka umumnya wisatawan asing dan Namun sejak negara itu diserang 22 aksi teror antara 2003
pemeluk Kristen Koptik Mesir. sampai 2004, pemerintah Saudi tampak mulai berubah.
Berbeda dengan yang di luar, tokoh-tokoh JI yang di “Ada tiga ulama Saudi yang bertobat dari fatwa-fatwa
dalam penjara justru tergugah. “Aksi-aksi terorisme itu menjadi kekerasan dan pengafiran. Mereka itu Syekh Ali bin Khidlir al-
legitimasi bagi rejim pemerintah Mesir untuk terus melakukan Khidlir, Syekh Nasir bin Muhammad al-Fahd, dan Syekh Ahmad
represi,” kata Karam Zuhdi, pimpinan Majelis Syura JI Mesir. bin Fahd al-Khalidi,” tulis www.murajaat.com.
“Lebih dari itu, aksi-aksi teror tersebut merusak citra Islam, dan Mereka mencabut fatwa-fatwa itu dalam dialog di seluruh
menyulitkan dakwah Islam itu sendiri,” tambah Zuhdi. saluran televisi Saudi, yang dipandu oleh ulama Saudi terkenal
Awalnya inisiatif ini disikapi dingin pemerintah Mesir. Ka- Syekh Aidl al-Qarni. Menurut pengakuan tiga ulama itu,
rena pada tahun itu juga, terjadi aksi terorisme terbesar. Teroris pertobatan tersebut terinspirasi oleh buku-buku yang dikarang
menyerang lokasi Piramid, menewaskan 58 wisatawan pada 17 oleh mantan tokoh-tokoh JI Mesir.
November 1997. Kini sejumlah ulama dan pemerintah di Jazirah Arab ber-
Inisiatif itu seakan hilang tertimpa tragedi itu. Namun se- giat meluruskan pandangan ideologi Salafi Wahabi yang acap
orang pengacara bernama Muntasar al-Zayyat berjuang agar dijadikan latar oleh aktor-aktor teror, baik melalui fatwa, khutbah
keinginan baik mereka diliput pers dan didengar oleh dunia ataupun buku-buku.
internasional.
M. Guntur Romli, Gamal Ferdhi
Suplemen the WAHID Institute Edisi IV / Majalah Tempo / 29 Januari 2007 83
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Nasir Abas dok.WI/Witjak Nasir Abas
Lahir : Singapura, 06 Mei 1969
Mantan Ketua Mantiqi III JI 1987-1990 Kadet Akademi Militer Mujahidin
Afghanistan.
“Mereka Bukan 1990-1993 Instruktur Akademi Militer Muja-
Mengikuti Islam” hidin Afghanistan.
1994-1996 Perintis dan Instruktur Kamp Hu-
daybiyah Filipina untuk Bangsa Moro dan JI.
1997 Staff Wakalah Johor JI. Ketua Wakalah
Sabah di bawah Mantiqi III JI.
2001 Ketua Mantiqi III JI.
2003 Keluar dari JI.
(sumber: Membongkar Jamaah Islamiyah, 2006)
KEKERASAN dan pembunuhan atas warga sipil oleh beberapa Ba’asyir. Ustadz Abu hingga kini menarik
kelompok Islam bukan berdasarkan syariat, tapi karena termakan pernyataan saya itu. Saya mengakui RI dan
ajakan Osama bin Laden. Demikian mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Malaysia sebagai NI walaupun belum mampu
Islamiyah (JI) Nasir Abas kepada Gamal Ferdhi dari the WAHID melaksanakan SI secara sempurna.
Institute. Berikut petikannya. Apakah pandangan itu telah disadari
sebagian besar eks anggota JI, sehingga
Bagaimana awal Anda ikut Jamaah Islamiyah Apa penyebabnya? tahun 2006 serangan teroris ke Indonesia
(JI)? Saya menyadari sejak tahun 2000, para menurun?
Selain saya, ada kerabat yang juga ikut JI. aktivis muslim termasuk JI, banyak yang Selama ada orang yang masih meyakini
Pada awalnya, saya dan JI tidak pernah berniat terpengaruh statement Osama bin Laden statement Osama bin Laden itu benar, selama
untuk melakukan kerusakan di muka bumi. Saya yang mengatakan: “AS dan sekutunya telah itu pula ada kemungkinan serangan bom
berfikir bahwa apa yang saya miliki sebagai membunuh warga sipil Islam, maka sekarang terjadi lagi. Oleh karena itu, tidak boleh merasa
umat Islam (UI) khususnya anggota JI, bisa waktunya bagi umat Islam untuk membalas aman dan meninggalkan kewaspadaan dengan
bermanfaat untuk membela dan membantu dendam dengan membunuh warga sipil AS dan tidak adanya serangan bom yang besar pada
UI yang ditindas dan diserang di tanah airnya sekutunya di mana saja!” Karena ajakan Osama, tahun 2006 ini.
sendiri. Untuk itulah kami berperang ke mereka melakukan kekerasan dan membunuh Himbauan Anda?
Afghanistan dan Filipina, beberapa anggota warga sipil. Yang lebih jelas lagi adalah kasus
JI juga ada yang ke Ambon dan Poso untuk mutilasi 3 orang siswi di Poso. Padahal anak- Ulama, penceramah, pendakwah ataupun
membantu UI di sana. Tapi kemudian terjadi anak perempuan itu tidak ikut berperang. Ini media massa harus tetap terus menjelaskan
hal yang tidak sepatutnya. Beberapa anggota JI jelas dosa besar! bahwa statement Osama bin Laden itu
dengan niat yang jelas membunuh warga sipil. Kasarnya, mereka bukan mengikuti Islam tapi menyalahi syariat Islam dan tidak benar. Ini
mengikuti Arab! yang penting!
Mengapa mereka melakukan itu?
Menurut mereka itu Jihad. Padahal jihad Saya sempat menyampaikan ini kepada Saya sendiri heran dengan Abu Bakar
Hasanuddin (pelaku mutilasi 3 siswi di Ba’asyir. Kalau ia tidak setuju dengan aksi
harus dilandaskan dua hal, yaitu niat yang Poso, red.). Dan Alhamdulillah, Hasanuddin pemboman di Indonesia, mengapa ia tidak
ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah. menyadari kekhilafannya. Sekarang dia menolak statement Osama. Padahal itu adalah
Mereka membunuh orang yang tidak menyesal dan meminta maaf serta menyadari akar permasalahannya. Kelompok muslim yang
bersenjata dan bukan di tempat perang. Saya bahwa aksinya bertentangan dengan syariat. melakukan kekerasan, pemboman dan mutilasi
mempelajari Sirah Rasulillah, tidak pernah Bagaimana dengan pendirian Negara Islam? itu tergerak karena statement Osama.
sekalipun Rasulullah menyerang warga sipil
dalam peperangan. Jadi sebenarnya mereka Ada dalam QS. al-Maidah: 44. Dari ayat Saya telah bertemu beberapa pelaku
telah melanggar syariat. tersebut, dulu saya memahami bahwa umat terorisme. Kalau ingin bicara kepada mereka,
Islam harus menegakkan SI dengan men- saya bisa membantu minta izin agar bisa
Terhadap non-muslim pun demikian. dirikan negara Islam (NI). Selain itu, pemerintah bertemu. Ini terbuka untuk siapa saja, termasuk
Haram hukumnya menyerang non-muslim. bukan NI adalah pemerintahan kafir, begitu pendakwah, ustadz yang ingin mengetahui apa
Selama mereka tidak menyerang kaum juga dengan orang-orang yang terlibat di yang mendorong dan memotivasi para pelaku
muslimin, maka kita harus bermuamalah dalamnya, termasuk presiden, menteri dan terorisme. Mereka bukan korban. Mereka
dengan baik. Itu ditunjukkan Rasulullah. Akhlak aparat-aparatnya. melakukan itu dengan keyakinan.
Rasulullah ini dipuji oleh banyak non-muslim.
Banyak buku yang menyatakan beliau adalah Ini juga diyakini Kartosuwiryo dengan Ini agar ulama, aktivis muslim dan para
pemimpin yang baik. Jadi walaupun berniat DI/TII nya, dilanjutkan oleh JI yang dipimpin ustadz tahu, bahwa ini bukan rekayasa atau
untuk menentang kemunkaran tapi tidak Abdullah Sungkar, kemudian Abu Bakar konspirasi. Jadi saya menghimbau kepada para
mencontoh Rasul, itu adalah dosa besar! pendakwah, penceramah dan ulama supaya
kita meluruskan dan mengembalikan mereka
bertindak sesuai dengan tuntunan Rasulullah
SAW.
84 Suplemen the WAHID Institute Edisi IV / Majalah Tempo / 29 Januari 2007
Hijrah dari Jalur Kekerasan
Suplemen the WAHID Institute Edisi IV / Majalah Tempo / 29 Januari 2007 Penggrebekan markas FPI
dok.AP
85
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Teenlit dari Bilik Pesantren
Novel-novel pop marak diproduksi para santri. Tabir pesantren diungkap dengan gaul.
C inta kemuliaan, membuat Dahlia rela banting tulang yang berkecukupan ini, kerap menampilkan tokohnya yang
menjadi penari untuk menghidupi keluarganya yang mempunyai mobil pribadi, kerap berlibur ke seantero dunia,
miskin. Cinta kebaikan membuatnya selalu ingin belajar nongkrong di kafe, memuja bintang pop, dan berbelanja di
untuk lebih baik. Dahlia memang perempuan yang dipenuhi pertokoan terkenal.
cinta. Tak heran jika putra dua pengasuh pesantren, Aiman dan
Bilal jatuh hati padanya. Dengan mengadaptasi gaya dan teknik penceritaan seperti
itu, sejumlah pengarang muda di Indonesia menulis teenlit ala
Jalinan cerita juga memunculkan konflik. Mbah Jalaluddin Indonesia. Jumlahnya sangat fenomenal. Bahkan, beberapa
Rumi, ayah Aiman, membela Dahlia ketika Kiai Umar dan ormas diantaranya telah diangkat ke layar perak dan layar gelas.
Islam lainnya menyudutkan Dahlia dengan tariannya yang
dianggap haram. Kini hadir pula novel pop gubahan para santri belia yang
telah memberi warna tersendiri dalam dunia buku sastra remaja.
Ada kisah lain lagi. Seuntai mawar dan surat berisi puisi
tanpa nama pengirim tiba-tiba muncul di asrama pesantren Teenlit pesantren berbicara tentang remaja dan ditulis oleh
putri tiap akhir pekan. Mawar dan puisi itu ditujukan kepada remaja. Fina Af’idatussofa, penulis Gus Yahya Bukan Cinta Biasa,
Zahra. Pesantren puteri itu pun jadi geger. misalnya tahun 2007 ini baru menjelang 17 tahun. Sementara
Maia Rosyida, penulis Tarian Cinta, belum lagi 20 tahun.
Zahra tak tahu siapa pengirimnya. Karena itu ia bungkam
ketika ditanya oleh petugas keamanan pondok. Gosip pun “Gaya bahasa yang digunakannya pun sama, yakni bahasa
beredar. Ada lesbi di asrama itu yang diam-diam mencintai gaul remaja yang sedang tren: penuh dengan istilah Inggris,
Zahra. Sahna, santriwati senior yang selama ini dikenal dekat banyak akronim dan style Jakarta,” jelas Redaktur Majalah Seni
dengan Zahra, jadi tertuduh. Gong Hairus Salim.
Isu ini khas pesantren, karena memang tak boleh seorang Tapi jika ditelesik, kata Manajer Divisi Matapena Nur Ismah,
lelaki pun memiliki akses ke pesantren puteri, kecuali keluarga tetap ada sesuatu yang berbeda dalam teenlit pesantren.
kiai. “Ada semacam pandangan khas pesantren, yang membuat ia
tidak sekadar jadi cerita cinta remaja saja,” jelas Ismah (baca:
Dua cerita di atas adalah cuplikan novel Tarian Cinta dan Menelusuri Lokalitas Pesantren).
Gus Yahya Bukan Cinta Biasa, dua dari banyak novel bergaya
teenlit (teen literature) yang lahir dari pesantren, sekolah yang Ia lalu mencontohkan karyanya, Jerawat Santri. Ada tokoh
selama ini dianggap tidak gaul. Mahsa yang memberikan semacam kuliah mengenai reproduksi
berdasarkan kaca mata fiqh dan psikologi sosial kepada
Kehadiran teenlit pesantren adalah buah dari maraknya yuniornya, Una. Dalam Coz Loving U Gus karya Pijer Sri Laswiji
novel teenlit impor yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. (2006), ada tokoh Rara yang menolak poligami. Untuk itu, Rara
Teenlit terjemahan itu menampilkan tokoh dan gaya hidup yang berjilbab modis mesti membantah dan berdebat dengan
remaja kota yang relatif liberal. Remaja belasan tahun sudah para seniornya di kampus.
terbiasa berciuman dengan lawan jenis dan pergi ke pesta-pesta.
Sedang dalam Tarian Cinta karya Maia Rosyida dikisahkan
Novel remaja karya anak muda yang hidup dalam dunia kearifan dari Kiai Rumi. Sang kiai tak serampangan memberi
fatwa haram tarian Dahlia yang meniru gaya Toxic-nya Britney
86 Suplemen the WAHID Institute Edisi V / Majalah Tempo / 26 Februari 2007
Teenlit dari Bilik Pesantren
Pangeran Bersarung yang ditulis Mahbub Jamaluddin, sudah
dibeli sebuah rumah produksi untuk diangkat ke layar sinetron.
Sedangkan Forum Lingkar Pena (FLP) yang juga giat
mengembangkan kemampuan menulis di kalangan remaja
Islam mengakui tidak mempunyai lini khusus yang menangani
sastra pesantren. “Walaupun begitu, ada juga novel dari
komunitas kami yang mengambil latar cerita kehidupan
pesantren,” kata Ketua FLP Yogyakarta I. R. Wulandari.
Menurut Salim, pertumbuhan generasi baru penulis novel
dari pesantren saat ini bagai cendawan di musim hujan. Unik,
memang. Mengingat umumnya pesantren masih melarang
santrinya membaca buku-buku ‘putih’, yaitu buku karya penulis
anyar apalagi yang dianggap pop. “Mereka hanya diwajibkan
untuk membaca dan mempelajari kitab kuning, yakni buku-
buku keagamaan yang ditulis dalam bahasa Arab,” ungkap Salim.
montase Witjak Pandangan ‘kaku’ seperti itulah yang menyulitkan Ismah
masuk ke pesantren. Tetapi setelah melakukan pendekatan
kepada kalangan pimpinan pondok bahwa gerakan ini untuk
Spears. “Nah, itu kan bukan sekadar cerita cinta remaja toh?” kepentingan santri, barulah kehadiran mereka disambut baik.
tegas Nur Ismah. “Kini bukan lagi kami yang menawarkan, sejumlah
Ciri khas teenlit pesantren juga dipaparkan Hairus Salim. pesantren juga telah meminta para penulis Matapena untuk
“Ada istilah-istilah fiqh, referensi kitab dan buku pesantren, memberikan workshop penulisan di pesantren-pesantren
humor ala pesantren, bahasa prokem pesantren, dan lain-lain,” mereka,” jelas Ismah.
kata Salim yang sering meneliti sastra pesantren. Jika diperkirakan ada sekitar 3 juta santri di seluruh
Tengok polah Hadziq, santri Mbah Jalal dalam Tarian Cinta, Indonesia, maka hadirnya karya-karya remaja pesantren jelas
yang bersemangat membahas kitab Qurratul ‘Uyun. “Sengaja cukup rasional dari segi pasar. Tapi bukan soal pasar yang paling
milih kitab yang agak menghibur. Maksudnya yang agak ‘porno’ penting. Komunitas Matapena, dengan caranya sendiri telah
biar nggak terlalu pusing dengan rumus nahwunya,” tulis Maia mengembangkan kegiatan menulis. Mendorong minat baca, kini
Rosyida dalam Tarian Cinta. mereka jadikan sebagai suatu gerakan. Sebuah tindakan terpuji
Ana FM dalam Cinta Lora menggunakan istilah ilmu yang patut didukung, bukan dipasung.
hadis, serta panggilan khas untuk putera kiai di Madura
yaitu Lora disingkat dengan Ra juga Gamal Ferdhi
ditampilkan. “Menurut cerita yang dapat
dipertanggungjawabkan alias mutawatir, Ra
Faris dikenal sebagai aktivis yang superaktif
dan tidak pernah ada kata cewek dalam kamus
hidupnya.”
Karya Fina, Maia, Ismah, Ana dan banyak
penulis muda lainnya itu dipublikasikan
oleh penerbit Matapena yang berbasis di
Yogyakarta. Lembaga ini memang paling
giat membidani kelahiran teenlit pesantren.
Kehadiran novel-novel itu dimaksudkan
untuk mengisi kekosongan dari novel
remaja yang sudah terbit. “Matapena ingin
memperkenalkan sosok remaja pesantren yang
selama ini luput dari perhatian, bahkan sering
dianggap tidak gaul,” kata Nur Ismah.
Untuk kepentingan ini, dibentuklah
Komunitas Matapena. Ini adalah komunitas
penulis muda pesantren. Mereka berkeliling ke
sejumlah pesantren, menggelar diskusi buku
dan membuat workshop penulisan. Kini sudah
ada 45 rayon yang berbasis di pesantren-
pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan
Jawa Barat. Untuk Jakarta dan Banten sedang
dirintis. “Jumlah penulis yang telah direkrut
sekitar 300-an,” ujar Ismah.
Sejak berdiri pada akhir 2005, Matapena
berhasil meluncurkan 20 buku. Beberapa di
antaranya telah dicetak ulang, bahkan Santri
Semelekete karya Ma’rifatun Baroroh dan
Wabah teenlit pesantren
Suplemen the WAHID Institute Edisi V / Majalah Tempo / 26 Februari 2007 87
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Nur Ismah
Menelusuri
Lokalitas Pesantren
KIPRAH perempuan mungil itu memang Contoh lain bisa disimak dalam Coz teenlit pada umumnya. Bahkan dituding
tidak bisa dipisahkan dari teenlit (teen Loving U Gus karya Pijer Sri Laswiji (2006). tak punya ciri khas. “Penilaian ini kalau
literature) pesantren atau yang kadang Di sana, ada episode ketika tokoh Rara semata melihat kemasannya,” kata mantan
disebut novel pop pesantren. Nur Ismah, menyatakan tak setuju pada poligami. reporter Majalah perempuan dan anak
nama perempuan kelahiran Pekalongan, Untuk itu, Rara yang berjilbab modis, mesti MITRA YKF-LKPSM Yogyakarta ini.
Jawa Tengah, 23 Desember 1978 ini, membantah dan mendebat para seniornya
adalah manajer Matapena, sebuah divisi di di kampus yang disebutnya sebagai Tapi jika ditelesik, kata Ismah, ada
penerbit Lembaga Kajian islam dan Sosial kalangan ”jilbaber gedombor-dombor”. ciri khas dalam teenlit pesantren. “Ada
(LKiS), Yogyakarta. “Nah, itu kan bukan sekadar cerita cinta semacam pandangan khas pesantren,
remaja toh?” kilah Nur Ismah. yang membuat ia tidak sekadar jadi cerita
Matapena khusus menerbitkan cinta remaja saja,” jelasnya.
karya-karya sastra remaja dari kalangan Ismah menambahkan, ada kisah
pesantren dan bercerita tentang remaja tentang kearifan Kiai Rumi, dalam Tarian Banyak tradisi pesantren yang belum
pesantren. Namun Ismah bukan sekadar Cinta karya Maia Rosyida. Pesan pokoknya: diolah jadi cerita. Sebab itu, Ismah yakin
manajer. Penulis dengan nama pena Isma tak serta-merta memfatwa haram tarian bahwa tema-tema pesantren tidak akan
Kazee ini, telah membesut dua teenlit Dahlia yang mirip Toxic-nya penyanyi tenar pernah habis digali. “Pesantren seperti juga
pesantren yaitu Jerawat Santri (2006) dan Britney Spears. “Kalau di novel lain, hal itu etnik, memiliki lokalitasnya sendiri. Nah,
Ja’a Jutek (2007). pasti sudah jelas haram,” kata Ismah. lokalitas-lokalitas itulah yang akan terus
kita telusuri.”
Pesantren memang bukan dunia Namun dalam cara berbicara, hobi,
asing bagi Ismah. Pahit manisnya pakaian, selera musik dan film, jelas Ismah,
masih membekas hingga sekarang. teenlit pesantren tetap mengikuti pakem
Maklum, ia menghabiskan tujuh tahun zamannya. “Remaja di mana pun, kini
masa remajanya di Pesantren Putri al- memiliki kultur gaul yang pada dasarnya
Fathimiyyah, Bahrul Ulum, Tambak Beras, adalah kultur global atau kultur MTV.
Jombang, Jawa Timur. Televisi jelas menjadi ‘imam’ dari kultur ini,”
kata Ismah.
Selepas dari pesantren, Ismah
hengkang ke Yogyakarta dan mengambil Karena itu, ujar Ismah, banyak orang
kuliah di Jurusan Sastra Arab, Universitas menilai teenlit pesantren tak beda dengan
Islam Negeri (UIN), Sunan Kalijaga.
Kegiatan menulis yang ia pupuk sejak dok.pribadi
nyantri dan keterlibatannya dalam dunia
pers mahasiswa, mengantar Ismah ke
dunianya kini.
Ismah punya alasan kenapa harus
membesarkan teenlit pesantren. “Selain
ingin menandingi gaya hidup remaja
perkotaan yang ditawarkan teenlit pada
umumnya, juga ingin menunjukkan Islam
pesantren yang membumi.”
Hal itu Ia tunjukkan dalam karyanya.
Tengok saja Jerawat Santri. Di situ ada
tokoh Mahsa yang memberikan semacam
kuliah mengenai reproduksi berdasarkan
kaca mata fiqh dan psikologi sosial kepada
yuniornya, Una.
88 Suplemen the WAHID Institute Edisi V / Majalah Tempo / 26 Februari 2007
Teenlit dari Bilik Pesantren
dok.WI/Witjak Sastra Pop
Kaum Sarungan
Oleh: Ahmad Suaedy
Direktur Eksekutif the WAHID Institute Jakarta
TEENLIT (teen literature) pesantren atau teenlit umumnya. Bedanya, novel- Di sekolah yang baru empat tahun
sastra pop remaja pesantren boleh novel itu banyak mengambil setting berdiri itu, lahir tiga penulis berbakat,
jadi merupakan kelanjutan perubahan pesantren. Tak sedikit yang memakai yaitu Maia Rosyida, Fina Af’idatussofa
dunia pesantren yang telanjur terbuka term-term kitab kuning, menyinggung dan Upik. Sekolah ini dikelola dengan
atas informasi dan tak bisa lagi kehidupan agama, terkadang berupa pendekatan semacam komunitas riset
menolak perubahan. Namun, dunia kritik dengan sangat tajam. untuk anak-anak seusia pelajar. Mereka
dan bakat alam mereka seperti luput diberi fasilitas internet 24 jam sehari
dari pengamatan banyak pihak. Para Para santriwati muda nan kreatif dan perpustakaan, serta dipersilakan
santri remaja itu begitu tekun dengan ini tentu harus terus didorong. Mereka untuk memilih topik kajian secara
dunia mereka sendiri, tak peduli hiruk- sedang mencari dunia mereka sendiri orang per orang dan kelompok. Tetapi
pikuk para ‘orang tua’ mereka. dengan menggunakan referensi yang setiap dzuhur dan ashar mereka wajib
mereka pelajari di pesantren. Hal ini berjamaah bersama dan di malam hari
Meskipun kini pesantren sedang lalu mereka kaitkan dengan realitas harus mengikuti sekolah diniyah di
digempur dari berbagai arah dan yang mereka serap dari dunia nyata. pesantren desa itu. Dan guru hanya
ditarik kanan kiri, para santriwan dan berfungsi sebagai pembimbing.
santriwati belia itu rela berjam-jam Dalam konteks pergeseran
nongkrong di depan komputer. peran pesantren, fenomena teenlit Komunitas Azan di desa
sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat
Mereka menulis, merefleksi dan Ia merupakan buah dari proses lain lagi. Kelompok yang dipimpin
menggugat lingkungan dan pemikiran perubahan dan terbangunnya sistem Acep Zamzam Noor, yang bergerak di
dunia mereka sendiri yang selama baru dari dunia yang pernah dianggap wilayah kajian sastra, telah melahirkan
ini dianggap menyesakkan. Hasilnya paling kolot itu. Sejak digagas oleh puluhan seniman dan penulis.
adalah novel, cerpen, kumpulan puisi Gus Dur dan kawan-kawan atas dunia Bersama seniman di Tasikmalaya
dan karangan lainnya. pesantren dan Nahdlatul Ulama, lainnya, mereka berhasil meyakinkan
gerakan pembaharuan itu bergulir pemerintah daerah untuk mendirikan
Dahsyatnya arus informasi melalui terus hingga kini, melampaui apa yang Gedung Kesenian, sejak 6 tahun lalu.
berbagai saluran, tidak mungkin dipikirkan ketika itu. Konon, ini adalah Gedung Kesenian
dicegah dengan cara apapun. Internet pertama di kabupaten di Indonesia.
dengan seluruh situsnya dan TV Di pelbagai daerah, dari
dengan semua kanal yang ada dengan tingkat kecamatan hingga desa, di Lambat laun terbangun pula
mudah bisa diakses oleh segala kawasan basis pesantren, para santri sistem penerbitan, percetakan dan
umur. Hanya kesadaran pribadi dan umumnya punya komunitas tersendiri. pemasaran. Penghargaan untuk
lingkungan yang bisa membimbing Terbentuklah berbagai kelompok, para penulis, pemantauan bakat dan
mereka. Para penulis remaja itu, seperti kelompok remaja, pelajar dan mobilisasi karya-karya mereka makin
adalah di antara mereka yang mampu mahasiswa yang berlatar belakang digalakkan. Saya jadi ingat kata-kata
memanfaatkan arus informasi tersebut pesantren. Ada kelompok diskusi, Gus Dur suatu saat pada tahun 70-an
dengan maksimal untuk memproduksi kajian kitab kuning, bahtsul masail di Institut Teknologi Bandung (ITB),
gagasan. sampai kelompok advokasi serta tulis- bahwa kebangkitan Islam hanya
menulis hingga pendidikan alternatif. akan terjadi jika telah ada kebebasan
Dilihat dari bahasa, jalan cerita, berkreasi dan kebebasan berekspresi di
istilah yang digunakan, tak ada Tengok saja di ‘sekolah alternatif’ dunia Islam.
bedanya karya para penulis pesantren SMP dan SMU Qaryah Thayyibah, di
ini dengan sastra pop remaja atau Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah.
Suplemen the WAHID Institute Edisi V / Majalah Tempo / 26 Februari 2007 89
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Nyai Pesantren
Melawan Kekerasan
Makin banyak aktivis perempuan yang lahir dari pesantren. Mereka mengadvokasi, mendampingi,
melakukan konseling sampai membangun rumah singgah untuk menampung korban kekerasan.
S ebuah klinik kandungan di Bondowoso tiba-tiba gaduh. Pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon. Ia memimpin
Seorang anak perempuan berusia 11 tahun, sebut saja Mawar Balqis Crisis Center yang bekerja mendampingi
Wardah, yang hamil satu bulan akibat ulah bejat kakeknya perempuan di seputar wilayah Cirebon. Sejak berdiri pada 2001,
berteriak histeris saat akan dikuret. Balqis sudah menangani 315 kasus KDRT, perkosaan 88 kasus,
Awalnya tak ada yang tahu. Saat muntah-muntah, Wardah pelecehan seksual 46 kasus, kekerasan terhadap perempuan 20
dikira sakit. Ternyata bidan puskesmas mendiagnosa Wardah kasus, kekerasan dalam pacaran 7 kasus. “Sekarang kita sedang
hamil. Sang nenek pun menceritakan nasib tragis cucunya menangani kasus kekerasan terhadap anak, dan trafficking, “
itu kepada guru mengajinya, Nyai Hj. Siti Ruqayyah Ma’shum. jelas alumni pesantren Darul Muta’allimin Ciwaringin ini.
Pimpinan Pondok Pesantren Putri al-Maksumiyyah, Prajekan, Balqis pun tak segan menempuh jalur hukum dalam
Bondowoso itu segera turun tangan. membela korban. “Kami
Nyai Ruqayyah mendampingi mendampingi litigasi hukum
korban dan keluarganya, termasuk pidana dan perdata,” tambah
turut memutuskan aborsi. Tapi sang Nyai Lilik Nihayah. Lembaga ini,
bidan tak berani. Dia pun menjelaskan misalnya, pernah mendampingi
tujuan tindakan itu kepada sang bidan, korban KDRT yang bersuamikan
ditambah dengan berbagai sandaran warga Brunei Darussalam.
teologis. “Saya memilih aborsi karena si Istrinya berhasil dipulangkan ke
anak adalah muhrim pelaku. Jadi tidak Indonesia. Namun karena si anak
bisa dinikahi,” ujar alumni Pesantren masih disandera sang bapak,
Zainul Ishlah, Probolinggo ini. kasusnya terus diurus Balqis
Alasan lainnya, usia janin hingga kini.
Wardah baru satu bulan. “Mazhab Baiq Elly Mahmudah Nyai Hj. Siti Ruqayyah Ma’shum Di Tasikmalaya, terdapat
Hanbali membolehkan aborsi jika Pusat Perlindungan Wanita
usia kandungan kurang dari empat (Puspita) di Pesantren Cipasung.
bulan. Juga, jika kehamilannya tidak Puspita itu dikelola oleh Nyai
diinginkan seperti akibat perkosaan,” Enung Nur Saidah Rahayu. “Kami
Nyai Ruqayyah menjelaskan. Selain itu sudah menangani 66 kasus sejak
Ruqayyah menilai masa depan Wardah didirikan 13 September 2004,”
masih panjang, karena ia belum lulus putri mantan Rais ‘Am Syuriyah
SD. Pendampingannya tak berhenti di PBNU Ajengan KH. Ilyas Ruhiat itu
situ. Perkembangan psikis Wardah terus menerangkan.
dipantau olehnya, hingga kini gadis cilik Pendirian Puspita semula
itu menginjak remaja. ditentang banyak orang, apalagi ia
Usaha Nyai Ruqayyah di Bondowoso Nyai Enung Nur Saidah Nyai Lilik Nihayah Fuady merupakan bagian dari pesantren.
itu merupakan salah satu potret “Tapi apih (KH. Ilyas Ruhiat,
advokasinya terhadap korban kekerasan red.) orang yang terbuka. Beliau
dalam rumah tangga (KDRT) dan ketidakadilan yang menimpa menanyakan dulu maksud pendirian lembaga itu,” tambah
perempuan. Ia melakukan pendampingan melalui konseling Nyai Enung. Karena bertujuan menolong perempuan yang
secara sukarela di rumahnya. Majelis Ta’lim al-Ma’shumiy yang membutuhkan bantuan, maka KH. Ilyas memersilahkannya.
dipimpinnya, bukan sekedar menjadi tempat belajar agama, tapi Puspita Cipasung melakukan berbagai layanan, antara
sekaligus menjadi sarana pendampingan bagi korban kekerasan. lain advokasi korban, konsultasi, pendampingan medis, dan
Karena selain dikenal sebagai pemimpin pesantren perempuan, penyediaan shelter atau rumah singgah. “Juga konseling, dengan
pendidik ataupun istri pemilik pesantren, seorang nyai juga tambahan dari sisi spiritual,” tambah perempuan yang lahir dan
harus peduli terhadap setiap permasalahan umatnya. besar di Pesantren Cipasung ini.
Demikian halnya dengan Nyai Lilik Nihayah Fuady dari Bahkan shelter-nya terintegrasi dengan pesantren. “Korban
90 Suplemen the WAHID Institute Edisi VI / Majalah Tempo / 26 Maret 2007
Nyai Pesantren Melawan Kekerasan
dok.WI/ Gamal Ferdhi banyak majelis ta’lim yang anggotanya mayoritas perempuan.
“Ini sangat strategis,” kata Baiq Elly.
Kantor Puspita Cipasung
Dua Puspita tadi memang menginduk kepada Pesantren
dilibatkan dengan kehidupan para santri,” ungkap Nyai Enung. Untuk Pemberdayaan Perempuan (PUAN) Amal Hayati di Jakarta,
Puluhan kasus yang dihadapi Puspita Cipasung pun beragam. pimpinan Sinta Nuriyah Abdurrahman. PUAN mendirikan
Berkat kerja keras para aktivisnya, seorang pelaku yang Puspita di lingkungan kediaman istri mantan Presiden Gus Dur
memerkosa anaknya sendiri sudah diganjar 15 tahun penjara. di komplek Pesantren al-Munawwarah, Ciganjur, Jakarta Selatan.
Penghentian KDRT juga giat dilakukan para perempuan di Untuk pendirian Puspita itu pula, PUAN giat menjalin kerja
Nangroe Aceh Darussalam. Hj. Erma Suryani Faisal, istri ketua sama dengan pesantren lain. Alasan Sinta, karena pengaruh
Rabithah Thaliban Aceh, organisasi santri di Serambi Mekkah itu. kiai sangat besar. “Jadi kalau ngomong pasti dianut,” kata Sinta
Atas pendampingan dari Rifka Anissa Yogyakarta, ia mendirikan Nuriyah kepada Nurun Nisa dari the WAHID Institute.
Women Crisis Center (WCC). Inisiatif Erma ini muncul karena
temannya yang menjadi aktivis perempuan ormas Islam Pesantren juga tidak perlu lagi membuat penampungan.
mengalami percobaan perkosaan. Korban yang meninggalkan rumah karena kekerasan dapat di-
tampung di bilik-bilik santri.
Lain lagi cerita Yayasan Putroe Kandee di Banda Aceh,
pimpinan Rosmawardani. Ia menggelar pelatihan sensitivitas Selain itu, di pesantren para korban akan banyak men-
jender bagi 68 hakim Mahkamah Syariah NAD. Salah seorang dengar orang dzikir dan membaca al-Qur’an. “Itu bisa meredam
peserta pelatihan itu, Drs. Zakian seorang hakim dari Takengon kegelisahan dirinya,” tambah peraih master bidang Kajian Wanita
mengatakan asumsi ketidakadilan jender yaitu lelaki lebih kuat UI ini.
dari perempuan, menyebabkan tingginya angka perceraian
di daerahnya. “Dari 167 perkara yang masuk, 65 di antaranya Bagi korban yang punya anak, kata Sinta, anaknya tidak
merupakan gugat cerai yang disebabkan KDRT,” kata Zakian. perlu putus sekolah karena pesantren menyelenggarakan pen-
didikan usia sekolah. “Kemudian, SDM pesantren amat banyak.
Demikian pula dengan Baiq Elly Mahmudah di Mataram, Santri-santri senior bisa direkrut untuk menjadi relawan-relawan
NTB. Ia bersama aktifis alumni pesantren di Pulau Lombok di Puspita tersebut,” papar Sinta.
membentuk Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan
(LKP2). Wilayah kerjanya di Mataram, Bima, Sumbawa, dan Bahkan, Sinta menilai pengaruh pesantren yang cukup be-
Dompu. Lembaga yang berdiri sejak tahun 2002 ini hanya sar di masyarakat membuat instansi-instansi seperti rumah sakit,
melakukan pendampingan psikologi bagi perempuan korban poliklinik, pengadilan agama, dan pengadilan negeri mudah
KDRT. Sedangkan urusan hukumnya diserahkan kepada LBH diajak kerja sama.
APIK Mataram. “Dua puluh dua kasus sudah ditangani. Kami
juga menggelar pelatihan kesetaraan jender bagi para guru Dulu persoalan KDRT dianggap wilayah pribadi yang
madrasah dan tuan guru serta melibatkan mereka dalam tabu diutak-atik. Kini, banyak kiai sepuh mempersilahkan pe-
advokasi,” kata Baiq Elly. santrennya dijadikan Puspita. “Kalau kiai-kiai sepuh umumnya
mereka tidak akan menentang selama kita bisa memberikan
Berbekal pengalaman tersebut, Baiq Elly dan para tuan guru argumentasi ayat-ayat dan hadits,” ungkap Sinta.
akan membuat rumah singgah untuk para korban kekerasan.
Namanya serupa dengan lembaga kepunyaan Nyai Enung di Oleh sebab itu, enam pesantren tertarik menjadi mitra kerja
Cipasung, yaitu Puspita. “Tempatnya di Pesantren Darun Nadwah PUAN. “Mereka adalah Pesantren Nurul Islam (Jember), Pesantren
asuhan Tuan Guru Muzhar,” imbuh alumnus Pesantren Salafiyah Aqidah Usymuni (Sumenep, Madura), Pesantren al-Islahiyah
Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini. (Malang), Pesantren Cipasung (Tasikmalaya), Pesantren Syaikh
Abdul Qadir Jailani (Probolinggo), dan Pesantren As-Sakienah
Puspita Mataram juga menangani korban trafficking. Para (Indramayu),” jelas Sinta.
Tuan Guru dilibatkan dalam kerja ini, karena mereka membina
Tak hanya di situ. Sinta dan timnya yaitu Forum Kajian Kitab
Kuning (FK3) menafsir ulang kitab ‘Uqud al-Lujjayn karya Syeikh
Nawawi al-Bantani (1230-1316 H/1813-1898 M). Karena kitab
ini dinilai banyak mengandung unsur ketidakadilan, utamanya
terkait kedudukan perempuan di hadapan laki-laki. Buku hasil
telaahan FK3, yang berjudul Wajah Baru Relasi Suami Isteri;
Telaah Kitab ‘Uqud al-Lujjayn, itu menjadi acuan banyak aktivis
perempuan dari pesantren (baca: Polemik ‘Uqud al-Lujjayn: Kritik
Dijawab Kritik) .
Penerimaan kalangan pesantren atas isu kesetaraan jender
ini juga dapat dilihat hasil penelitian Pusat Perdamaian LP3ES
dan Forum Sebangsa tahun 2004. Lembaga ini meneliti sepuluh
pesantren dari lima wilayah yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa
Timur, NTB, dan Sulawesi Selatan.
“Hasilnya isu jender tidak ditolak dan sudah menjadi wa-
cana publik. Dan sering tanpa disadari, para pengasuh pesantren
sebenarnya bahkan telah pula melakukan pemberdayaan pe-
rempuan jauh sebelum gagasan tentang jender populer seperti
sekarang ini,” tulis Taftazani mengenai hasil penelitian itu dalam
Budaya Damai Komunitas Pesantren (2007).
Tak mudah mengubah tradisi yang turun temurun, tetapi
tidak ada yang tidak mungkin, bukan?
Nurun Nisa’ , Lies Marcoes-Natsir
Suplemen the WAHID Institute Edisi VI / Majalah Tempo / 26 Maret 2007 91
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Djudju Zubaidah dok.WI/Nurul H. Maarif
Ketua Nahdina, Tasikmalaya
PMemisbieRbaassaunlItuullah
KESETARAAN perempuan di pesantren tidak terbatas pada perdebatan wacana
dalam buku dan pidato, melainkan advokasi dan konseling secara berkesinambungan.
Salah satunya dilakukan Forum Kajian dan Sosialisasi Hak-hak Perempuan Nahdina
yang didirikan 21 April 2002 di Cipasung, Tasikmalaya. Ketua Nahdina Cipasung Djudju
Zubaidah menyampaikan kiprah lembaganya kepada Nurul Huda Maarif dari the
WAHID Institute.
Apa ragam kegiatan Nahdina? korban, kita bikin crisis center di pesantren, Namun kita akan terus mensosialisasikan
Kita mengadakan pelatihan untuk bekerja sama dengan Puan Amal Hayati bahwa perempuan itu bukan ladang
cabang Cipasung. diskriminasi. Kita, melalui Nahdina yang
guru-guru yang ada di lingkungan berdiri pada 21 April 2002, juga akan
Pesantren Cipasung, Tasikmalaya Bagaimana respon DPRD? mensosialisasikan buku-buku baru
yang diasuh Ajengan KH. Ilyas Ruhiat, Ketika dialog, umumnya yang mengkritisi isi kitab kuning yang
mantan Rais ‘Am Syuriyah PBNU. Kita mendeskriditkan perempuan, seperti
juga menyertakan guru-guru di sekitar mereka paham. Tapi untuk ‘Uqud al-Lujjayn.
pesantren. Ini ajang untuk berkomunikasi, mengimplementasikannya dalam bentuk
advokasi, dan sosialisasi gagasan kita peraturan daerah yang adil, mereka mikir- Apa rencana Nahdina lainnya?
tentang isu Islam dan hak-hak perempuan. mikir. Ada juga yang selama ini merasa Nampaknya Nahdina harus bekerja
Kita juga memberikan pengertian telah diuntungkan, sehingga enggan
bagaimana membangun paradigma baru untuk berubah. keras. Karena faktor yang mendukung
tentang relasi lelaki dan perempuan, timbulnya kekerasan semakin kuat.
kesehatan reproduksi dan sebagainya. Apa penyebab lainnya? Sedang kerja kita masih sangat minim.
Pada tahap selanjutnya, karena ada Paradigma lama masih tetap dipakai. Keadaan ekonomi yang terpuruk, misalnya,
masalah dan ada korban akibat relasi tidak menjadikan perempuan sebagai korban.
seimbang yang selama ini berjalan, maka Apa yang kita sampaikan, tampaknya Kadang harus nanggung biaya hidup
kita mengambil bentuk advokasi. hanya untuk konsumsi pemikiran. Karena sendiri, ada yang ditinggalkan suami
Advokasinya seperti apa? di belakang mereka tetap sama saja. Jadi, sementara anak sudah ada, dan banyak
banyak tokoh masyarakat yang terbuka lagi. Jadi, karena masalah ekonomi nasib
Ada dua pola. Pertama, menyoroti pikirannya, tapi tindakan tetap saja. perempuan semakin terpuruk.
kebijakan pemerintah daerah. Kedua,
penanganan langsung korban. Jika ada Bagaimana dengan keluarga pemimpin Apa dasar Anda dan Nahdina sehingga
peraturan daerah yang tidak berpihak Pesantren Cipasung? begitu gigih berjuang?
pada perempuan atau diskriminatif, maka
kita mengadakan dialog dan dengar Mereka justru lebih terbuka. Tapi Islam yang dibawa Rasulullah SAW,
pendapat dengan DPRD Tasikmalaya. kalau di tingkat ustadz kampung, itu masih itu agama pembebasan. Karena itu, saya
Tujuannya supaya mereka melihat banyak yang memakai paradigma lama. harus melakukan pembebasan semampu
kembali bahwa sebenarnya aturan itu Walau mereka muda, tapi pemikiran tetap saya, apapun resiko yang saya hadapi.
tidak boleh dilaksanakan begitu saja, tapi lama. Mengapa? Karena misi Rasulullah SAW
harus menampung aspirasi masyarakat diutus ke dunia itu untuk menegakkan
yang akan diatur. Sedang untuk advokasi Respon Nahdina terhadap sikap mereka? keadilan.
Memang untuk konsisten pada
perjuangan itu banyak tantangannya.
92 Suplemen the WAHID Institute Edisi VI / Majalah Tempo / 26 Maret 2007
Nyai Pesantren Melawan Kekerasan
Polemik ‘Uqud al-Lujjayn:
Kritik Dijawab Kritik
dok.WI/WitjakBERAWAL dari realitas kehidupan pada 2001 dengan judul Wajah Baru Relasi memukul istrinya yang nusyuz -(membang
dok.WI/Witjakyang terus berubah, kitab Syarh ‘UqudSuami Isteri; Telaah Kitab ‘Uqud al-Lujjayn.kang). Menurut FK3, Nabi SAW tidak
al-Lujjayn fi Huquq al-Zaujayn, yang Buku itu, kini menjadi acuan banyak aktivis pernah memukul istrinya dan bahkan
masih menjadi ‘buku wajib’ pesantren perempuan dari pesantren, salah satunya melarang melakukannya.
bagi istri dalam membina hubungan Djuju Zubaedah dari Pesantren Cipasung
dengan suami, itu menyisakan banyak (lihat: Pembebasan Itu Misi Rasulullah). “Bagaimanapun juga, pemukulan itu
pertanyaan. Kitab karya Muhammad bin akan menimbulkan dampak psikologis
‘Umar Nawawi al-Bantani (1813-1898 M) Terbitnya buku itu menuai kritik dari yang kurang baik. Lebih-lebih bila sampai
banyak mengandung unsur ketidakadilan, sejumlah ‘kiai muda’ dari Pasuruan Jawa diketahui anak-anak, maka dampaknya
utamanya terkait kedudukan perempuan Timur yang tergabung dalam Forum akan kian tidak baik lagi. Karena itu,
di hadapan laki-laki. Penilaian seperti ini, Kajian Islam Tradisional (FKIT). Mereka pemukulan harus dihindarkan,” tulis FK3
antara lain, dinyatakan Forum Kajian Kitab membuat buku bantahan yang terbit pada (hal. 52).
Kuning (FK3). 2004. Judulnya, Menguak Kebatilan dan
Kebohongan Sekte FK3 dalam Buku Wajah Mengomentari kesimpulan di atas,
Forum itu diketuai Ny. Sinta Nuriyah Baru Relasi Suami Isteri, Telaah Kitab ‘Uqud FKIT menyatakan, QS. al-Nisa’ ayat 34
Abdurrahman Wahid, dan beranggotakan al-Lujjayn. dengan jelas menolerir pemukulan untuk
cendekiawan dan feminis muslim. Seperti tujuan mendidik. “Yang jelas, dalam al-
KH. Husein Muhammad, Lies Marcoes- Forum ini dibentuk oleh Rabithah Qur’an perintah memukul sebatas pada
Natsir, Badriyah Fayumi, Syafiq Hasyim, Ma’ahid Islamiyyah (RMI) Kabupaten hukum mubah, bukan wajib. Bahkan
Farcha Cicik, Faqihuddin Abdul Kodir, dan Pasuruan. Dalam kata pengantarnya, Ketua yang terbaik menurut para ulama, tidak
Djudju Zubaidah. RMI Kabupaten Pasuruan, KH. Abdul Halim melakukannya,” balas FKIT (hal. 51).
Mutamakkin menyatakan, FKIT merasa
Kitab yang menurut KH. Bisri Mustofa, terpanggil untuk meluruskan hasil telaah Inilah ciri khas tradisi pesantren. Kritik
ayah KH. Mustofa Bisri Rembang, membuat FK3. selalu dijawab dengan pembelaan atau
laki-laki besar kepala, itu ditelaah ulang kritik balik, namun tetap dalam koridor
FK3 secara kritis dan akademis. Telaah Di bukunya masing-masing, dua saling menghormati satu sama lain, tanpa
ini berupa takhrij (penelusuran terhadap kelompok ini selalu berseberangan. mengumbar kekerasan.
riwayat-riwayat hadis yang menjadi Misalnya perihal kebolehan suami
sandaran buku ini) dan ta’liq (pemberian Nurul H. Maarif
komentar atas beberapa pandangan
penulisnya).
“Kitab-kitab kuning kerap menjadi
pegangan hidup kami para santri.
Jadi kitab yang masih bias jender kita
reinterpretasi termasuk ‘Uqud al-Lujjayn,”
kata Sinta Nuriyah kepada Nurun Nisa’ dari
the WAHID Institute.
Setelah bekerja selama tiga tahun,
Sinta dan timnya berhasil membuat buku
telaahan atas kitab klasik ini. Buku itu terbit
‘Uqud al-Lujjayn fi Huquq al-Zaujayn dan berbagai versi tafsirnya 93
Suplemen the WAHID Institute Edisi VI / Majalah Tempo / 26 Maret 2007
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
dok.WI/QT
Suasana kelas SMP Qaryah Thayyibah
Pendidikan Alternatif
yang Membebaskan
Jaringan SMP Qaryah Thayyibah menyediakan pendidikan murah, membebaskan dan kaya prestasi.
Hakekat pendidikan pesantren ada di sini.
S ujono Samba (46) tersenyum ketika seorang murid biasa. “Kalau keberatan istilahnya dipakai anak SMP, mestinya
menyodorinya selembar surat dari Dinas Pendidikan perguruan tinggi cari istilah lain,” gurau Mudjab, pendamping
Nasional (Diknas) Kota Salatiga, Jawa Tengah. “Dilarang kelas lainnya.
menggunakan istilah-istilah yang ada di perguruan tinggi,” bunyi
salah satu butir surat itu. Pengajar Sekolah Menengah Pertama Menurut Mudjab, istilah-istilah tersebut adalah bentuk
Qaryah Thayyibah (SMP QT) ini langsung teringat beberapa ekspresi dari misi pembebasan dan kemandirian sekolah yang
istilah yang kerap digunakan murid-muridnya seperti riset, berdiri sejak Juli 2003 itu. Pembebasan berarti keluar dari be-
disertasi, report, dan lainnya. Perkara itu rupanya dianggap para lenggu aturan formal yang membuat murid tidak kritis dan tidak
pejabat dinas pendidikan setempat menyalahi aturan dan harus kreatif. Sedang kemandirian berarti belajar tanpa bergantung
diberi peringatan. apapun dan siapapun.
Tapi Sujono beserta para pendamping kelas dan seluruh “Selama ini lembaga pendidikan formal membelenggu
siswa di SMP yang terletak di Desa Kalibening Kecamatan anak dengan sederet aturan yang tidak jelas kepentingannya
Tingkir, sebelah timur Kota Salatiga, ini tak terusik dengan buat si anak. Seperti baju dan sepatu seragam, dan masuk harus
surat teguran tersebut. Aktivitas belajar tetap berjalan seperti jam tujuh pagi,” tambah Mudjab yang juga salah satu penggagas
berdirinya sekolah ini.
94 Suplemen the WAHID Institute Edisi VII / Majalah Tempo / 30 April 2007
Pendidikan Alternatif yang Membebaskan
Pendapat Mudjab ini diamini Ketua Komnas Perlindungan kedua dari seluruh peserta UAN di sekolah itu. Disertasi itu pun
Anak Seto Mulyadi. Kak Seto, panggilan akrab pria berkacamata dijadikan buku dan menerima Indonesian Creative Award 2006
ini, mengakui sistem pendidikan di Indonesia belum membebas- dari Yayasan Cerdas Kreatif Indonesia pimpinan Seto Mulyadi.
kan. “Sekarang anak-anak lebih banyak diperlakukan seperti
robot; harus nurut, anak untuk kurikulum, sarat kekerasan, dan Tak sampai di situ, sejumlah novel pop dan kumpulan puisi
kadang sekedar mengejar nilai bukan proses, “ kata Kak Seto yang diproduksi murid sekolah ini sudah diterbitkan Penerbit
(baca: Karena Sekolah Kita Laksana Penjara). Matapena, Yogyakarta. Menyusul kemudian kumpulan puisi,
katalog lukisan, serta presentasi tertulis dan vcd berbagai mata
Maka para pengelola SMP QT membebaskan peserta didik- pelajaran. Kini murid-murid sekolah itu, sedang mempersiapkan
nya belajar menurut keinginan. “Sumber pembelajaran telah sebuah album musik dan film hasil ciptaan mereka.
tersedia tanpa batas. Bahkan pada persoalan hidup yang muncul
setiap hari,” kata Kepala Sekolah SMP QT Bahruddin. Atas berbagai prestasi itu, Universitas Sanata Dharma (USD)
Yogyakarta mengganjar SMP QT dengan Sanata Dharma Award
Perlengkapan sekolah mahal, SPP sekolah mahal dan 2005. Ini adalah kali pertama USD memberikannya kepada pihak
gedung sekolah mentereng, tidak berlaku bagi murid sekolah luar. “Sekolah ini mencoba menawarkan pendidikan bermutu
yang semula hanya menempati teras dan garasi sang kepala dan murah. Bermutu bukan sekedar peringkat tinggi, tapi yang
sekolah. Bahkan untuk menyiasati kekurangan ruang belajar, lebih penting mereka memberdayakan peserta didik dalam
bilik-bilik milik rumah di sekitar kediaman Bahruddin disulap menghadapi realitas kehidupan sekitar,” kata Dr. Budiawan,
menjadi kelas yang dipakai bergiliran. Sekolah ini bagai koordinator tim award USD.
terinspirasi sistem pesantren klasik yang tidak bergantung pada
tempat dan aturan formal. “Mestinya seperti beginilah sistem Budiawan melihat metode pembelajaran SMP QT terfokus
pesantren kita,” ujar Bahruddin. kepada anak didik, bukan guru. Dalam pendekatan seperti ini,
anak-anak diberi kebebasan untuk belajar dari mana saja, belajar
Kebersahajaan itu dirancang sebagai perlawanan terhadap apa saja, tidak harus di kelas, semuanya diserahkan kepada anak.
komersialisasi lembaga pendidikan formal. “Kalau orang berduit
yang dicari adalah kualitas, persoalan biaya tidak masalah. Tapi Seperti saat berkunjung ke SMP QT, the WAHID Institute
kalau murah dan berkualitas kan alternatif bagi semua,” jelas mendapati sebagian besar tempat belajar kosong pada jam
Bahruddin. pelajaran. Ternyata murid-muridnya sedang asyik belajar di
sawah, ladang atau sungai.
Pada tahun pertama berdiri sekolah ini diikuti 12 anak.
Kini memasuki tahun keempat, SMP QT telah memiliki delapan Di dalam kelas maupun di luar, guru yang biasa dipanggil
pendamping (guru) dan 99 siswa dari kelas I sampai kelas IV. pendamping atau fasilitator dilarang mengarahkan proses pem-
Sebagian besar muridnya adalah anak buruh tani dan pedagang belajaran. Pendamping hanya boleh mendengar dan menjaga
pasar dengan penghasilan 15 sampai 20 ribu rupiah sehari. agar kegiatan kelas tetap kondusif.
“Bisa dibayangkan jika mereka harus membayar uang “Kita sebagai pendamping hanya berfungsi sebagai teman
pangkal hingga 700 ribu, untuk SPP perbulan 35 sampai 40 ribu belajar yang juga harus belajar. Di sini tidak ada istilah guru-
rupiah, belum lagi uang buku, uang saku dan macam-macam, murid, yang ada adalah sekumpulan orang-orang yang ingin
tentu bagi mereka sekolah adalah barang yang sangat mahal,” belajar,” kata Mudjab.
urai Mudjab.
Justru karena fungsi guru yang setara, anak-anak SMP
Kini peminat sekolah ini membeludak, tidak hanya dari QT terlatih membuat perencanaan kelas, menentukan materi,
Salatiga tetapi juga daerah lain, hingga Jakarta. Namun, kata menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan hingga evaluasi belajar.
Bahruddin, tidak ada pembedaan terhadap murid. “Kaya miskin “Semuanya dilakukan sendiri. Kelas I peran pendamping 50
akan diperlakukan sama di sini,” ujarnya. persen, kelas II 25 persen, kelas III dan IV sudah nggak ada
campur tangan pendamping , mandiri total,” jelas Ahmad
Jadi semua murid sekolah yang dilengkapi fasilitas internet pendamping kelas IV.
24 jam ini, tidak dikutip uang pangkal, uang seragam, uang buku
dan sebagainya. Biaya operasional sekolah diambilkan dari APBD Jadi jangan heran, kalau anak-anak kelas IV yang menamai
yang kecil untuk pendidikan SMP terbuka dan kocek wali murid. kelasnya dengan Creative Kids merancang sendiri metode pem-
“Setiap anak yang mau masuk, wali murid dan pengelola ketemu belajaran kelasnya setiap hari. Waktu sekolah dari jam 06.00 sam-
untuk menentukan besar kontribusi yang disanggupi. Tidak pai jam 13.30, mereka bagi menjadi lima fase pembelajaran. Fase
harus sama satu anak dengan yang lainnya,” jelas Mudjab. 1 (6.00 – 07.00) : mendampingi kelas I dalam English Morning.
Fase 2 (07.00 – 09.30): Knowledge yang berisi penggalian
Sekolah yang terdaftar di Diknas Kota Salatiga sebagai pengetahuan umum yang diambil dari standar kompetensi
Pendidikan Luar Sekolah (PLS), ini juga membebaskan muridnya kurikulum nasional. Fase 3 (10.00-2.00): Forum, waktu berkumpul
untuk mengikuti atau tidak Ujian Akhir Nasional (UAN). Tapi anak-anak yang memiliki minat sama. Fase 4 jam 12.00-3.30:
prestasi kerap diraih sekolah yang lahir dari Serikat Paguyuban Private, di waktu ini biasanya para murid membuat kesepakatan.
Petani (SPP) Qaryah Thayyibah (QT) itu. Murid kelas 3 SMP QT, “Setiap dzuhur shalat berjamaah bersama, dan terkadang
telah melahirkan karya ilmiah yang mereka sebut disertasi. ashar-nya juga. Mereka juga mencari guru agama sendiri untuk
“Disertasi itu sebagai tugas akhir karena dulu kita sepakat belajar agama. Kalau malam sebagian mereka belajar agama di
tidak ikut UAN,” kenang Mariatul Ulfah (15), murid kelas IV SMP pesantren,” ujar Ahmad. Dan terakhir fase ke-5 dari jam 13.30-
QT atau mereka kerap menyebut kelas 1 SMU singkatan dari 15.00: Refleksi Bersama yang berisi evaluasi yang informal.
Sekolah Menengah Universal.
Memang belajar dan riset dijalankan menurut rencana
Tengoklah disertasi Amri (15) dan Zulfi (15) yang mencoba masing-masing murid atau kelompok. Keuangan juga diatur
membuat briket dari sampah dan bambu kering. Hilmy (15) mereka sendiri. “Singkatnya dari A sampai Z diatur anak-anak
meneliti bio-urine sebagai pengganti pupuk urea. Fina (15), Izza sendiri,” papar Bahruddin.
(14) dan Kana (15) melahirkan disertasi berjudul “Lebih Asyik
Tanpa UAN”. Untuk membuat karya itu, Fina rela mengikuti Selain mengundang kekaguman, gaya belajar ala
UAN kelas 3 di SMP 1 Salatiga. Hasilnya, dia meraih peringkat Kalibening ini bagai virus yang menulari daerah sekitarnya.
Dalam kurun waktu empat tahun telah berdiri 10 sekolah sejenis.
Suplemen the WAHID Institute Edisi VII / Majalah Tempo / 30 April 2007 95
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
dok.QT di daerahnya. Sehingga ia harus bolak-balik Cilacap-Salatiga.
Kesamaan nilai yang diyakini juga menjadi pencetus
dok.QT Aktivitas siswa
berdirinya sekolah-sekolah itu. “Nilai-nilai universal yang menjadi
Membuat film landasan bersama, misalnya, kemanusiaan, keadilan, pelestarian
lingkungan dan kesetaraan gender,” kata Mudjab yang juga
“Tidak menutup kemungkinan akan bertambah terus,” kata merangkap Kepala Sekolah di SMP QT Harapan Makmur, Dusun
Bahruddin. Plantungan yang berdiri sejak 2005.
Di Kabupaten Boyolali didirikan SMP Terbuka Otek Makmur Menurut Mudjab sekolah yang dipimpinnya itu, didirikan
di Dusun Glinggang, Desa Kendel, Kecamatan Kemusu dan SMP karena alasan yang sama seperti di Kalibening. “Kemiskinan
Alternatif Setyo Tunggal di Dusun Tompak, Desa Tarubatang, penyebab banyak anak putus sekolah. Kita ingin anak-anak
Kecamatan Selo. Di Magelang ada SMP Terbuka Mandiri di petani bisa mendapat pendidikan bermutu tapi terjangkau.
Dusun Belgi, Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan. Sedang Selain itu, bagaimana menerapkan sistem pendidikan yang
di Kota Salatiga yaitu SMP Terbuka Bumi Madania di Dusun memberdayakan, tidak malah menindas,” jelas alumnus Pasca
Tingkir, Desa Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir. Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta ini.
Di Kabupaten Semarang berdiri tiga sekolah, yaitu Kejar Sekolahnya, kata Mujab, yang menempati ruangan bekas
Paket B SMP Alternatif al-Barokah di Dusun Ketapang, Desa TPA itu memiliki delapan siswa. Di kelas satu, tiga orang dan
Ketapang, Kecamatan Susukan; SMP Candi Laras Merbabu sisanya di kelas II, dengan jumlah pengajar delapan orang. “Jadi
di Dusun Nglelo, Desa Batur, Kecamatan Getasan dan SMP masing-masing anak didampingi satu orang teman atau guru,”
QT Dusun Plantungan Desa Krandon Lor Kecamatan Suruh ujar Lina, salah seorang pengajar.
Kabupaten Semarang.
Murid SMP Alternatif al-Barokah Ketapang lebih banyak.
Sekolah-sekolah alternatif di atas didirikan oleh cabang Berdiri sejak 24 Mei 2005, sekolah ini sekarang menampung 36
Serikat Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT). “Tapi pengelolaan siswa yang terbagi dalam dua kelas. Metode pembelajaran dise-
sekolah diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat setempat,” rahkan kepada anak-anak, dengan ditunjang fasilitas internet
jelas Bahruddin yang bersama KH. Mahfudz Ridwan merintis dan laboratorium alam.
berdirinya SPPQT. Kini organisasi petani itu telah memiliki 80
cabang di Kabupaten Grobogan, Sragen, Magelang, Semarang, “Karena sistem yang dipakai adalah kejar paket B, anak-anak
Salatiga, Surakarta, Boyolali (baca: Pionir Dari Kalibening). lebih menekankan diri pada life skill di bidang pertanian dan
perikanan,” papar Sumarno pengajar SMP Al Barokah.
Selain aktivis SPPQT, murid SMP QT pun tergugah untuk
membangun sekolah sejenis di daerah asalnya. Na’im, murid Lagi-lagi mahalnya biaya pendidikan menjadi alasan ber-
kelas IV, anak seorang penilik sekolah tingkat Propinsi Jateng dirinya sekolah ini. “Alasan lainnya, membangkitkan kembali
yang asal Cilacap, misalnya, sudah mulai merintis sekolah sejenis budaya lokal yang makin dipinggirkan modernitas,” kata
Sumarno.
Dengan berbekal kemauan dan kerja keras, Sumarno ber-
sama delapan guru dan lima pengelola mampu membuktikan,
bahwa model pendidikan ini justru diterima masyarakat dengan
antusias. “Salah satu murid di sini pindahan dari SMP negeri.
Bahkan dia anak kepala sekolah itu,” tutur Sumarno bangga.
Kebanggaan juga tampak di wajah pengajar di SMP Candi
Laras Merbabu Ely Nurhayati. Sekolah yang dirintis oleh SPP QT
sejak 2004 itu telah berhasil memenuhi kebutuhan pendidikan
masyarakat.
“Bukan hanya karena sekolah kami mampu menerapkan
metode belajar yang disukai murid, juga komitmen para pe-
ngajar yang tidak kenal lelah,” kata Ely.
Setiap kali mengajar, Ely dan beberapa pengajar harus
menempuh perjalanan 8 kilometer. “Kami sering menginap di
sekolah karena satu-satunya transport yaitu ojek sudah habis,”
tambah mahasiswa tingkat akhir STAIN Magelang ini.
Dua puluh satu anak tercatat sebagai siswa SMP yang
berada di lereng Gunung Merbabu ini. Dengan menempati salah
satu rumah penduduk, sekolah yang terbagi dalam tiga kelas ini
dilengkapi akses internet, bantuan seorang pengusaha internet
dari Salatiga.
Menurut Ely saat ini anak-anak sedang membuat film
dokumenter tentang sekolah mereka. “Memang belum
seberapa,” kata Ely, “tapi sebagai anak yang hidup di gunung,
pencapaian seperti ini luar biasa.”
Meski dengan fasilitas seadanya orang-orang miskin juga
mampu mengukir prestasi. Tapi sepatutnya pemerintah tak
hanya berpangku tangan.
Gamal Ferdhi, Subhi Azhari, Ahmad Suaedy
96 Suplemen the WAHID Institute Edisi VII / Majalah Tempo / 30 April 2007
dok.pribadi Pendidikan Alternatif yang Membebaskan
Bahruddin
Pionir dari Kalibening
SEBUAH sepeda dengan sarat beban dok.WI/Witjakmelanjutkan belajar. “Sekolah boleh Aktivitas semacam ini membentuk bakat
terparkir di depan sebuah warung saja berhenti tetapi belajar harus terus kepemimpinan Bahruddin.
kelontong di Salatiga, Jawa Tengah. berjalan,” kata Pak Din kala itu.
Si empunya sedang menemui pemilik Namun kesibukannya di atas
warung guna menitipkan barang Setamat dari Pendidikan Guru Agama tidak membuat lupa bapak, dari Rasikh
dagangan, sekaligus mengambil uang Negeri Salatiga pada 1984 dan nyantri Mustagits Hilmy, Teovany Zahra dan Yuda-
penjualan dari barang yang dititipkan hari selama dua tahun di Pesantren Hidayatul tama, ini akan nasib petani di desanya.
sebelumnya. Meski letih, pemuda 17 tahun Mubtadi’ien di Tulung Agung, Jawa Timur, Bahruddin berempati dengan nasib para
itu tetap semangat menjalankan rutinitas ia melanjutkan pendidikan di Institut petani yang setiap hari dihadapkan pada
sehari-harinya itu. Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo persoalan biaya produksi yang semakin
cabang Salatiga dan tamat tahun 1993. mahal, sementara hasil pertanian semakin
Bahruddin, nama pemuda itu, murah.
adalah salah satu tulang punggung di Latar keluarga yang sangat ketat
keluarganya. Di tengah beratnya beban menerapkan tradisi agama membuat “Kita semua tahu bagaimana nasib
ekonomi ia harus menyisihkan waktu anak keempat dari lima bersaudara ini petani yang kerja dari pagi sampai
sepulang sekolah untuk menjajakan ikut merasakan pendidikan ala pesantren sore tetapi selalu tak dapat memenuhi
makanan dan minuman ke warung- yang diasuh kebutuhan hidup. Juga perlindungan
warung. ayahnya. negara terhadap petani yang nyaris tidak
Meskipun ada sama sekali,” keluh Bahruddin.
“Saya hidup bersama ibu dan adik hal itu
saya, Jadi saya harus belajar bagaimana tidak lama Dia pun menemukan akar masalahnya
menjawab persoalan kehidupan ini,” kata dirasakannya, karena sejak kelas 1 SMP yaitu terpecahnya kekuatan kaum petani.
Bahruddin, mengenang masa mudanya ayahandanya, KH. Abdul Halim pendiri dan Karenanya pada tahun 1989 bersama
dulu. Kini pria yang lahir pada 09 Februari pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul
1965 itu dipercaya sebagai Kepala Sekolah Mubtadi’ien di Kalibening wafat. kelompok-kelompok petani di desanya
SMP Qaryah Thayyibah Kalibening, dan atas dukungan pengasuh
Salatiga. Suami Miskiyah, ini selalu melihat Pesantren Edy Mancoro KH. Mahfudz
kehidupan yang dilaluinya sebagai proses Ridwan, Bahruddin mendirikan
Pak Din, begitu ia akrab disapa belajar yang terus-menerus. Semasa muda, Serikat Paguyuban Petani Qaryah
muridnya, merasa bahagia jika mengenang Bahruddin aktif dalam kegiatan organisasi
perjuangan hidup di masa remajanya itu. naungan Nahdlatul Ulama seperti Gerakan Thayyibah (SPPQT) sebagai alat
Diakuinya, masa sekolah membentuk Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Pergerakan untuk membangun kekuatan
karakter dan kepeduliannya terhadap Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). bersama. “Dengan persoalan-
masyarakat miskin di desanya. Pria persoalan yang dihadapi petani,
berambut sepunggung ini kerap terenyuh
melihat anak-anak tetangganya yang kita perlu berorganisasi,” ujarnya.
umumnya petani, harus putus sekolah Meskipun pada awalnya
karena biaya yang semakin melangit.
“Sementara negara semakin tidak SPPQT hanya diniatkan sebagai
peduli,” tegas pengagum Ivan Illich, penulis wadah para petani di Kalibening,
Masyarakat Tanpa Sekolah. kenyataannya ratusan kelompok
petani di luar desa itu secara
Pak Din tak bisa tinggal diam. sukarela menjadi bagian dari
Terinspirasi Paulo Freire, dalam SPPQT di daerahnya.
karyanya Pendidikan Kaum Tertindas, Dalam kurun 17 tahun terakhir,
pada 2003 ia memelopori berdirinya SPPQT telah menjadi salah satu jaringan
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di petani terbesar di Jawa Tengah. Delapan
Kalibening, Kecamatan Tingkir, Salatiga, puluh cabang SPPQT telah berdiri di 11
tempat ia dilahirkan dan menetap. kabupaten yakni Semarang, Magelang,
Pak Din meyakinkan para tetangganya Salatiga, Purwodadi, Sragen, Boyolali,
bahwa keterbatasan ekonomi bukan Jepara, Temanggung, Kendal, Batang dan
alasan menghambat anak-anak mereka Wonosobo. Dari sana jugalah SMP Qaryah
Thayyibah digagas.
Subhi Azhari
Suplemen the WAHID Institute Edisi VII / Majalah Tempo / 30 April 2007 97
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
dok.WI/Witjak Dr. Seto Mulyadi
Ketua Komnas Perlindungan Anak
“Karena Sekolah Kita
Laksana Penjara”
SISTEM pendidikan di Indonesia belum membebaskan. Peserta didik menjalani
proses belajar laksana dalam penjara. Sekolah alternatif bisa menjadi solusi. Demikian
disampaikan Ketua Komnas Perlindungan Anak Dr. Seto Mulyadi kepada Subhi Azhari
dari the WAHID Institute.
Apa yang dimaksud dengan pendidikan pertanyaan standar kompetensi yang Misalnya ke kantor polisi, pemadam
yang membebaskan? diharuskan. Bahkan kami sedang kebakaran atau apa saja.
mendesak mereka tidak saja bisa ikut Bagaimana pendekatan belajarnya?
Membebaskan anak untuk berkreasi, ujian kesetaraan, tapi juga ujian nasional
mengekspresikan perasaannya, dan sama seperti sekolah formal. Di sini akan Tetap mengedepankan kepentingan
sebagainya. Intinya tidak membebani anak dilihat anak-anak yang sekolah lewat jalur terbaik bagi anak. Bukan anak untuk
dan tidak menjadikan sekolah itu seperti formal dan informal itu kualitasnya sama kurikulum, tetapi kurikulum untuk anak.
penjara. Ketika anak mendengar “Hari ini apa tidak. Penelitian di AS menunjukkan, Jadi, kurikulum didesain untuk anak dalam
boleh pulang, kerena ibu guru mau rapat,” mereka yang home schooling, secara kondisi yang berbeda. Misalnya, untuk
mereka bilang “Horeee, bebas!”. Ini karena akademik maupun psiko sosial-nya banyak anak-anak di Pasar Induk Kramat Jati, kalau
sekolah kita laksana penjara. Seharusnya yang lebih tinggi dari anak-anak yang ditanya kenapa tidak sekolah? Mereka
sekolah itu membebaskan ide-ide kreatif sekolah biasa. jawab, “Sekolahnya terlalu ketat, kami tidak
mereka. Peran guru dalam model sekolah ini? bisa kerja”. Maka pilihannya pendidikan
Sistem pendidikan kita sudah alternatif. Kita jemput bola. Modelnya
membebaskan? Sebagai fasilitator proses belajar. Guru kelas berjalan; kita datengin dan kita
juga bisa belajar bersama-sama dengan sediakan fasilitas. Setelah belajar di hari
Belum. Kesadaran bahwa pendidikan murid. Sabtu, mereka bisa kembali menjual koran,
itu untuk anak, belajar itu hak bukan Lokasi belajarnya di mana? menyemir sepatu, mengupas kerang atau
kewajiban, itu masih minim. Sekarang apapun. Jadinya, mereka belajar sangat
anak-anak lebih banyak diperlakukan Bisa di mana saja. Di tenda, rumah, semangat dan gembira.
seperti robot; harus nurut, anak untuk atau pasar. Sesekali mereka diajak keluar.
kurikulum, sarat kekerasan, dan kadang
sekedar mengejar nilai bukan proses. Ini
sangat merugikan bagi pengembangan
kreativitas dan kemandirian anak.
Seperti apa sekolah yang membebaskan?
Seperti home schooling, sekolah
alternatif, juga sekolah alam yang
memungkinkan anak belajar dengan cara
masing-masing. Kalau ada delapan standar
pendidikan nasional yang disusun oleh
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP),
maka yang harus diikuti hanya tiga; yaitu
standar isi kurikulum, standar kompetensi
lulusan dan standar evaluasi. Sedangkan
standar proses, standar guru, standar
biaya, standar sarana prasarana, itu bebas.
Bagaimana cara mengevaluasinya?
Sama saja, pakai pertanyaan-
dok.istimewa
98 Suplemen the WAHID Institute Edisi VII / Majalah Tempo / 30 April 2007
Seni Islam dok.WI/Witjak
Nuansa Lokal
Kaligrafi “Selalu Baik” karya Jauhari AR
Karya seni Islam yang bernuansa lokal kian
terdesak. Kiai-kiai lokal kini mengkreasinya warisan Wali Songo itu hilang.
untuk syiar Islam dan reinvensi budaya. Ada “Saya takut dengan syiar Islam yang hampir hilang.
yang dibuat dengan ritual khusus.
Makanya, ini yang saya lakukan,” ujarnya.
L ukisan itu menampilkan wayang Batara Krishna. Ia berdiri Di perkotaan, bedug banyak hilang, kata KH. Sobri,
gagah diantara dua gunungan dengan latar empat baris
tulisan. Sekilas, tulisan itu seperti aksara Jawa, hanacaraka. karena ada kelompok yang menganggapnya sebagai bid’ah
Namun jika ditelisik, aksara dalam lukisan berjudul Selalu (menyimpang, red.). “Kalau hal ini dibiarkan, tradisi NU atau Wali
Baik itu ternyata QS. al-Qashash: 77, yang berisi perintah Allah Songo akan hilang,” imbuhnya (baca: Mengawal Tradisi dengan
untuk menemukan keseimbangan dunia dan akhirat. Bedug).
Demikian pula kaligrafi Allah, Muhammad. Penikmat lukisan Pelestarian tradisi lokal ke dalam khazanah Islam, juga
yang melihat selintas, akan menyangka itu huruf kanji, aksara ditempuh para pembuat al-Qur’an raksasa dari Ponpes Al-
dari Jepang. Padahal itu kaligrafi Arab dari QS. al-Ikhlas: 1-4 dan Asy’ariyyah, Kalibeber, Wonosobo.
QS. al-Ahzab: 40.
Abdul Malik, salah satu anggota tim pembuat al-Qur’an
Nuansa lukisan China yang kerap menampilkan alam berukuran 1,5 x 2 m itu, menyatakan terjadi perdebatan saat
sebagai obyek, juga tampak dalam lukisan berjudul Asma’ul menentukan motif ornamen. “Ada yang ingin sama dengan
Husna. Lukisan yang terdiri dari tiga frame ini menampilkan QS. al-Qur’an pada umumnya. Akhirnya, ornamen khas Indonesia
al-A’raf: 180. dengan motif tumbuh-tumbuhan bertuliskan al-Asy’ariyyah
yang disetujui. Ini agar nama pesantren kami terukir di sana,”
Itulah keunikan kaligrafi multikultural karya Jauhari Abd. ungkap Malik yang kebagian menggambar ornamen mushaf
Rosyad. Alumni Ponpes Lirboyo Jawa Timur itu menampilkan besar itu.
lukisan dipadu kaligrafi dengan mengadopsi berbagai aksara.
Khath atau tulisan Arab dalam mushaf ini ditulis
“Jenis tulisannya dari beragam kultur. Ada kaligrafi Arab, Hayatuddin. Ia menggunakan perlatan tradisonal. Karena
Mandarin atau Cina, Jawa, Jepang, bahkan Hirogliph,” ujar ayah kertasnya besar, huruf dan ornamennya juga harus lebih lebar.
dua putera ini. “Jadi bambu wuluh kami raut menjadi mata pena yang besarnya
sesuai kebutuhan,” jelas Malik.
Melalui karyanya, Jauhari mendekonstruksi kaligrafi yang
selalu diidentikkan dengan aksara Arab. ”Kultur non-Arab juga Penggagas al-Qur’an raksasa itu adalah Pengasuh Ponpes
bisa dijadikan alat memahami al-Qur’an,” jelasnya (baca: Wajah al-Asy’ariyyah (alm) KH. Muntaha al-Hafidz yang akrab disapa
Islam Damai di Dinding Kanvas). Mbah Mun. Mbah Mun ingin al-Qur’an langgeng di seluruh
Indonesia.
Budaya Islam nusantara memang berbeda dari budaya
Arab. Dari pemahaman itu, Pengasuh Ponpes al-Falah
Tinggarjaya Mangunsari Jatilawang Banyumas, KH. Ahmad
Sobri membuat bedug-bedug raksasa. Ia khawatir, tradisi luhur
Suplemen the WAHID Institute Edisi VIII / Majalah Tempo / 28 Mei 2007 99
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
dok.WI/GamalFerdhi tahun 1990, Mbah Mun menemukan al-Qur’an tulisan KH.
Abdurrohim yang terbakar di sebuah lemari tua. “Dari situ
KH. Ahmad Faqih & Abdul Malik di depan mushaf raksasa dok.WI/GamalFerdhi timbul ide menulis al-Qur’an dalam bentuk yang besar,”
ungkap Malik kepada Gamal Ferdhi dari the WAHID Institute.
Al-Qur’an terberat di dunia karya Ponpes al-’Ashriyyah Nurul Iman, Parung
Awalnya al-Qur’an raksasa itu ditulis di atas kertas beru-
“Biar kita terpacu untuk menghafalnya. Lebih baik lagi kalau kuran 1 x 1,2 m. Kebetulan saat mereka telah merampungkan
mengamalkannya,” kata Mbah Mun ditirukan putra tertuanya KH. dua juz, Harmoko, Menteri Penerangan kala itu, berkunjung
Ahmad Faqih Muntaha. ke Ponpes al-Asy’ariyyah.
Ada alasan lainnya. Mbah Mun bermaksud menjaga warisan Mbah Mun pun mengungkap proyek besarnya kepada
kakeknya, KH. Abdurrohim, seorang ahli menulis mushaf al- orang dekat Presiden Soeharto itu. “Lalu dikirimlah 1000
Qur’an. Karya KH. Abdurrohim itu hilang saat al-Asy’ariyyah lembar kertas berukuran 1,5 x 2 m,” kenang Malik yang nyantri
diserbu tentara Belanda pada agresi militer II tahun 1948. kepada Mbah Mun sejak 1988.
Keberadaan mushaf itu terus ditelusuri. Hingga di Dikatakan Malik, mushaf raksasa yang dikerjakan mulai
Oktober 1991-Desember 1992, itu ditulis dalam kondisi suci.
“Sebelum menulis harus berwudhu. Jika batal, wudhu lagi.
Juga puasa dan tahajud,” kata lelaki asli Sleman, Jogjakarta itu.
Pembuatannya pun dalam ruangan khusus yang
tertutup. Orang yang datang ke ruang kerja mereka tak
diperkenankan menyentuh mushaf. Hasilnya, tercipta al-
Qur’an terbesar pertama buatan Ponpes al-Asy’ariyyah. Karya
adiluhung, berukuran 2 m x 1,5 m, itu lalu diserahkan kepada
Presiden Soeharto dan ditempatkan di Bina Graha.
Sisa kertas besar dari proyek pertama itu, mendorong
Mbah Mun mengajak para santrinya berkarya lagi. Lahirlah
mushaf raksasa kedua dan ketiga yang kini disimpan di Masjid
at-Tin TMII dan Islamic Center Jakarta.
Menurut KH. Ahmad Faqih, pesantren yang kini
dipimpinnya tidak lagi membuat mushaf raksasa. Karena
mulai mushaf keempat, pembuatannya ditangani Universitas
Sains al-Qur’an (Unsiq) Kalibeber, Wonosobo. Ini perguruan
tinggi yang berada dalam satu yayasan dengan Ponpes al-
Asy’ariyyah.
“Penulisan mulai keempat hingga keenam, ornamennya
sudah cetak dengan komputer walau khath-nya dengan
tangan,” ungkap KH. Ahmad.
Kini, Unsiq sukses membuat mushaf raksasa yang
ditempatkan di Masjid Agung Jawa Tengah. Mereka sudah
memenuhi pesanan Sultan Brunei Darussalam yang
ditempatkan di Istana Nurul Iman Brunei. Bahkan pesanan
dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pekalongan hampir
rampung.
Kreasi unik lainnya adalah mushaf terberat di dunia.
Karya ini digagas oleh Pimpinan Ponpes al-’Ashriyyah Nurul
Iman Parung Bogor Habib Saggaf bin Mahdi bersama
sembilan ulama lainnya. Ketika menulis, mereka harus suci
dan berpuasa.
Mushaf seberat 1,3 ton yang terbuat dari lempengan
alumunium, itu dibuat selama 5 tahun sejak 1985. “Mushaf ini
dibuat sebelum adanya Ponpes al-’Ashriyyah Nurul Iman,” ujar
Habib kepada Nurul Huda Maarif dari the WAHID Institute.
Mushaf berukuran 120 cm x 100 cm itu, setiap juznya
membutuhkan 10 lempengan. Total 300 lempengan untuk
30 juz. “Kita membuat al-Qur’an ini, intinya ingin mencontoh
Rasullah dengan mengumpulkan naskah al-Qur’an yang
berserakan,” kata Habib .
Walau menggunakan medium berbeda, kreasi-kreasi
unik itu dibuat dengan alasan hampir sama. Para pembuatnya
ingin menyebarkan Islam secara kultural, damai dan tanpa
kekerasan.
Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
100 Suplemen the WAHID Institute Edisi VIII / Majalah Tempo / 28 Mei 2007
Seni Islam Nuansa Lokal
Jauhari Abdul Rasyad dok.WI/Witjak
Wajah Islam
Damai di Dinding
Kanvas
MENAMPILKAN wajah Islam yang damai tak mesti lewat orasi isu pluralisme agama, keadilan sosial, juga multikulturalisme,
atau karya ilmiah. Kanvaspun bisa dijadikan media. Itulah yang sebagai tema karyanya.
dilakukan kaligrafer Jauhari Abdul Rasyad.
”Saya prihatin! Sekarang banyak muncul kelompok Islam
”Saya hanya bisa menulis kaligrafi. Ngajar atau pidato nggak radikal yang mengusung isu syariatisasi dan menafikan toleransi
bisa. Yang penting saya memberikan sesuatu untuk perdamaian atau pluralisme,” ujar ayah dua putera ini beralasan.
dunia ini,” ujar alumni 1996 Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri,
Jawa Timur kelahiran Jakarta 1973 ini. Melukis kaligrafi dengan tema-tema tersebut, diakui
Jauhari memakan banyak tenaga dan pikiran. ”Karena menabrak
Peraih juara pertama lomba kaligrafi se-Jawa Timur teks lama, kadang ini membuat pergulatan pikiran dan batin,”
pada 1992 ini adalah pelukis otodidak. Ia sengaja memilih katanya.
Kaligrafi “Hati yang Selamat” karya Jauhari Abdul Rasyad Karena itulah, sebagian orang Islam setelah melihat lukis-
annya malah meragukan keislaman Jauhari. ”Pernah dibilang
murtad, bahkan teman baik jadi menjauh. Ini resiko dari kebe-
basan pikiran saya,” imbuhnya.
Melalui lukisan-lukisannya, lulusan Madrasah Aliyah (MA)
Lirboyo ini ingin mengingatkan pentingnya menghargai sesama
manusia, apalagi sesama muslim. ”Kita harus saling menghargai.
Wong kita masih sama-sama sembahyang madep ngulon
(menghadap ke barat, red.) kok,” katanya.
Jauhari mengaku pandangannya banyak dipengaruhi Gus
Dur. ”Saya baca karya-karya Gus Dur dan ngaji bulan puasa pada
beliau di Pesantren Ciganjur,” aku pria yang pernah melukis kali-
grafi di beberapa masjid besar di Jawa ini.
Untuk menyampaikan gagasan multikulturalisme dan tole-
ransinya, Jauhari menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional
Indonesia, Jakarta, pada 26 Mei hingga 03 Juni 2007.
”Untuk mencapai tujuan itu, penikmat lukisan saya harus
melihatnya secara runtun. Makanya, itu saya susun sedemikian
rupa; kita tahu Allah dulu, di mana posisi kita, baru masuk
wilayah itu,” jelasnya.
Pada pameran perdananya yang bertema Kaligrafi
Multikultural ini, ia menampilkan kaligrafi dengan latar tulisan
dari beragam kultur. Ada kaligrafi Arab, Mandarin atau China,
Jawa, Jepang, bahkan Hirogliph. Pameran itu menampilkan 41
buah karyanya, yang dilukis tiga tahun terakhir.
Bukankah kaligrafi Islam itu identik dengan tulisan Arab?
”Itulah masalahnya. Islam diidentikkan dengan Arab. Padahal
Islam ya Islam! Arab ya Arab! Keduanya beda. Karena itu,
kultur non-Arab saya jadikan media memahami al-Qur’an,”
pungkasnya.
Nurul H. Maarif
Suplemen the WAHID Institute Edisi VIII / Majalah Tempo / 28 Mei 2007 101
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
dok.WI/Nurul H Maarif KH. Ahmad Sobri
Pengasuh Ponpes al-Falah, Banyumas
Mengawal
Tradisi
dengan
Bedug
BEDUG di masjid-masjid kota besar banyak disingkirkan, lantaran dinilai bid’ah Beduk terbesar buatan saya diameter
(menyimpang, red.). Sebagai perlawanan, KH. Ahmad Sobri membuat beberapa bedug mukanya 315 cm. Ada juga Bedug Wulung
berukuran besar. Berikut petikan wawancara Pengasuh Ponpes al-Falah Tinggarjaya Mangunsari yang diameter muka dan
Mangunsari Jatilawang Banyumas itu dengan Nurul H. Maarif dari the WAHID Institute: belakangnya 203 cm. Namanya khas
Banyumas. Nama yang agak angker. Kalau
Apa latar belakang pembuatan bedug- Ada ritual khusus dalam proses Mangunsari itu dari bahasa Arab ma’unatu
bedug raksasa ini? pembuatannya? al-sari, yang artinya pemberian Allah SWT
kepada orang yang suka berjalan malam.
Saya melihat, sepertinya bedug di Setiap membuat kita mulai di Bukan jalan kaki, melainkan banyak
masjid-masjid kota besar sudah pada hari Rabu (menurut tradisi Islam, Rabu memohon di waktu malam. Karena orang
punah atau hilang. Saya takut sekali adalah hari yang paling baik, red.). Kita Jawa kangelan (kesulitan, red) nyebut
dengan syiar Islam Indonesia yang hampir mengerjakannya malam hari dengan Arabnya, jadinya Mangunsari.
hilang. Makanya, inilah yang saya lakukan. didahului tahajjud. Yang kerja nggak boleh Berapa bedug yang akan Anda buat?
Hilang karena faktor apa? batal wudhu’ sebelum pasang welulang
(kulit). Kalau kentut wudhu lagi. Saya merencanakan bikin sembilan
Karena ada yang menganggap bedug Kenapa? buah. Itu yang besar-besar. Yang kecil-kecil
itu bid’ah. Kalau hal ini dibiarkan, tradisi NU kita bikin banyak.
dan Wali Songo akan hilang. Karena ini bukan untuk pameran, Bedug ini dipakai untuk acara apa saja?
Bagaimana dampak dibuatnya bedug ini melainkan untuk memanggil umat
bagi masyarakat? menghadap Allah SWT. Jadi bukan sekedar Hari raya, Jum’at, muktamar, juga MTQ
bikin. Kita juga berdoa agar bedug ini (Musabaqah Tilawatil Qur’an). Dan sudah
Saya melihat, masyarakat menjadi bermanfaat dan menggugah semangat dibawa ke banyak tempat, ke Langitan,
semangat ke masjid, karena ada suara umat untuk beribadah, karena ini salah Kediri, dan sebagainya.
bedug sebelum Jum’at misalnya. Orang satu alat memanggil atau syiar untuk Ada pesan untuk generasi NU?
yang sedang bekerja tahu, oh bedugnya mereka.
sudah berbunyi. Dan kalau nggak ada Berapa besar bedug yang pernah Anda NU itu juga punya jutaan orang
rumah-rumah, bunyinya bisa terdengar buat? ortodok. Juga ada banyak thariqah
sampai 5 km. Itu tanpa pengeras suara. (lembaga spiritual Islam, red.). Ini kekayaan
NU yang belum tersentuh. Saya berharap,
kita tidak meninggalkan tradisi yang sudah
digarap sejak zaman Rasulullah SAW.
102 Suplemen the WAHID Institute Edisi VIII / Majalah Tempo / 28 Mei 2007
Seni Islam Nuansa Lokal
Kaligrafi “Ulama” karya Jauhari Abdul Rasyad
Suplemen the WAHID Institute Edisi VIII / Majalah Tempo / 28 Mei 2007 103
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Aksi tolak PLTN masyarakat Jepara dok.WI/Nurul H. Maarif
Pewaris Nabi
Pelestari Lingkungan
Kerusakan lingkungan yang kian parah membangkitkan kepedulian para pemimpin agama. Mereka
bersatu dengan aktivis dan rakyat melawan dan memperbaiki kerusakan.
S emangat ribuan orang yang hadir di Lapangan Ngabul ini minta syafaat Rasulullah SAW. Semoga kita dijauhkan dari
Tahunan, Jepara tak luluh disengat terik matahari. Mereka, bencana PLTN,” ujar Gus Nung, sapaan akrab Nuruddin.
adalah tokoh agama, aktivis parpol, aktivis LSM, petani,
buruh, nelayan, masyarakat, bahkan santri pondok pesantren. Syair shalawat itu digubah Zakariyya el-Anshori pada 1997.
“Shalawat ini saya buat dalam tulisan latin maupun Arab pegon
Berbagai poster diacungkan tinggi-tinggi; Nuklir Bikin Kere, (aksara Arab berbahasa Jawa, red.). Asumsi saya, 80 persen rakyat
PLTN Ora Sudi, Ngurus Lapindo Wae Ora Becus Arep Ngurus PLTN. Jepara ‘beragama’ NU. Jadi ini cukup efektif untuk menggerakkan
Satu tekad mereka; menolak pembangunan Pembangkit Listrik massa,” kata Iyank, sapaan akrab Zakariyya (baca: Melawan Nuklir
Tenaga Nuklir (PLTN)! dengan Shalawat).
Itulah suasana Aksi Akbar dan Doa Bareng Tolak PLTN Muria Menurut Iyank, tujuan shalawat itu untuk mengingatkan rak-
yang dihelat Forum Masyarakat Muria (FMM). Aksi ini berlangsung yat akan bahaya PLTN. Bahaya proyek itu juga disampaikan Gus
bertepatan peringatan Hari Lingkungan Hidup, 05 Juni silam. Nung. Menurutnya, manfaat PLTN sebatas pengetahuan tentang
teknologi nuklir. Tapi dampak negatifnya lebih besar.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Jepara KH.
Nuruddin Amin saat didaulat menyampaikan sambutan mengajak “PLTN rentan radiasi. Ini akan menghancurkan kondisi sosial
hadirin membaca Shalawat Anti PLTN. “Kita semua baca shalawat ekonomi masyarakat Kudus dan Jepara,” jelas Gus Nung.
104 Suplemen the WAHID Institute Edisi IX / Majalah Tempo / 25 Juni 2007
Pewaris Nabi Pelestari Lingkungan
Gus Nung menilai, PLTN lebih banyak mudharat ketimbang ucapan dan tindakan kebaikanlah yang kita lakukan,” kata
manfaatnya. “Apapun yang diharamkan, itu karena mudharatnya Pengasuh Pesan Trend Ilmu Giri Bantul, Yogyakarta ini saat
lebih besar dari manfaatnya,” jelasnya kepada Nurul H. Maarif peringatan Hari Bumi di pesantrennya akhir April silam.
dari the WAHID Institute.
Pesan Trend bervisi membebaskan masyarakat setempat
Ketua Jamaah Hubburrasul Habib Abdullah al-Hinduwan dari keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan, juga
punya pandangan unik. Sembari mengutip QS. al-Baqarah ayat melestarikan lingkungan dan memelihara alam. Oleh sebab
219, ia mengiaskan PLTN dengan maysir (judi, red). itu, KH. Nasruddin yang pernah menjadi aktivis LP3ES ini,
mencanangkan penanaman ribuan pohon jati dan cendana
“Kita semua yang jadi korban. Yang dapat untung siapa? Ini di lahan seluas 200 hektar. Hasilnya dimanfaatkan 400 kepala
namanya maysir (judi, red). Kita harus tolak!,” tegasnya disambut keluarga (KK) yang tinggal di kawasan itu.
persetujuan hadirin.
Bahkan Ilmu Giri menawarkan konsep baru pelestarian ling-
Penolakan masyarakat itu dituangkan dalam Petisi 13 kungan. Ketika seorang remaja hendak menikah, saksinya bukan
untuk Penolakan PLTN. Petisi itu ditandatangani 13 organisasi hanya manusia, juga pohon. Pada saat akad nikah, pihak lelaki
terdiri dari aktivis lingkungan, politisi, perkumpulan agama dan dan perempuan masing-masing menyediakan 20 pohon sebagai
masyarakat. Dan segera dilayangkan ke DPR. saksi.
Dua pekan sebelum aksi itu, sekitar 150 tokoh masyarakat “Setelah akad nikah selesai, ada prosesi kecil menanam
kawasan Muria menggelar dialog publik. “PLTN itu makhluk. 40 pohon itu,” ujar Kiai Nasruddin kepada Subhi Azhari dari the
Makhluk pasti rusak. Jika PLTN rusak, yang jadi korban rakyat. WAHID Institute.
PLTN itu malapetaka yang tertunda,” tegas mantan Ketua PCNU
Jepara H. Muhammady Kosim saat Dialog Penjaringan Aspirasi Kiai Nasruddin punya penilaian sinis kepada para perusak
Warga Jepara terhadap Rencana Pembangunan PLTN di Kawasan lingkungan. “Betapa culas dan tidak bermoralnya manusia jika
Muria, di Jepara. menjadikan bumi hanya sebatas objek eksploitasi, pemuasan
diri, keserakahan dan ketamakan yang tak habis-habis,” katanya.
Usulan membangun PLTN di Semenanjung Muria muncul
sejak 1978, ketika Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Para pemegang kekuasaan dan pemodal harus hati-
melakukan kajian awal bersama Pemerintah Italia. Pembangun- hati mengeksplorasi alam. Karena ketika ketamakan yang
annya direncanakan pada 1997. Tapi batal karena krisis moneter. diutamakan, maka rakyat akan bangkit melawan.
Rencana diubah. Pelaksanaan tender dan penetapan Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi, Rumadi
pembangunan PLTN ditargetkan mulai 2007-2008 dan
konstruksinya selesai pada 2010. Rencana inipun tak terwujud. Shalawat Anti Nuklir versi Arab Pegon
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK)
mencanangkan pembangunan pada 2010 dan beroperasi pada
2016.
Rencana ini pun tak mudah diwujudkan. Gelombang pe-
nolakan masyarakat kian terbuka. Apalagi banyak tokoh yang
peduli lingkungan turut bersuara. Bahkan mantan Presiden Gus
Dur juga melontarkan penolakan atas rencana ini.
”Keinginan SBY-JK membangun pembangkit nuklir di
wilayah Gunung Muria, Jepara, itu tidak disertai pertimbangan
matang,” kritiknya saat memberi sambutan pada Konferensi
Internasional Antaragama di Bali dua pekan silam.
Penolakan Gus Dur ini bukan baru sekarang. Pada
1995, Gus Dur niat berpuasa di tempat bakal PLTN sebagai
protes. Alasannya sangat NU. Karena di sana ada makam wali.
Pembangunan PLTN akan merusak lingkungan dan makhluk
Tuhan.
Para ulama yang dalam hadis disebut pewaris para nabi ini,
lalu terpanggil. Mereka tak tinggal diam menghadapi problem
umatnya. Gerakan para kiai ini tak hanya terlihat pada penolakan
rencana pembangunan PLTN Muria, tapi juga membantu me-
nangani korban lumpur Lapindo. Gerakan ini digagas Pengasuh
Pesantren al-Islamiyah, Tanggulangin, Sidoarjo KH. Hasyim
Ahmad dan 18 kiai lainnya.
Mereka mendirikan Posko Independen untuk Korban
Lumpur Lapindo Sidoarjo. “Kini banyak rakyat di sini sengsara
akibat lumpur Lapindo,” tegas Kiai Hasyim. (baca: Posko Kiai
untuk Korban Lapindo).
Tragedi ini, kata Kiai Hasyim, karena alam dieksploitasi dan
dirusak. “Mbok, orang yang mau menggali potensi alam yang
sudah diizinkan Allah SWT ini juga menghormati alam, termasuk
manusia,” kata alumni santri Sayyid Alawi al-Maliki di Mekah ini.
“Pandangan senada datang dari KH. Nasruddin Anshori.
Bagi yang masih tinggal di atas bumi, sudah menjadi kewajiban
kita untuk eling (ingat) dan mawas diri, sehingga hanya pikiran,
Suplemen the WAHID Institute Edisi IX / Majalah Tempo / 25 Juni 2007 105
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
dok.WI/Witjak
Melawan NuklirZakariyya El-Anshori
dengan Shalawat
MELAWAN rencana pembangunan PLTN keagamaan yang Belum lagi, kata Iyank, PLTN
di Muria, Jepara, Jawa Tengah tidak mesti dilantunkan di masjid memerlukan biaya besar. “Ini pasti dari
dengan fisik. Shalawat pun bisa menjadi atau mushalla menjelang uang rakyat. Karena mengorbankan rakyat,
kekuatan yang tak kalah ampuh. Cara shalat, red.). Juga di forum diskusi saya yakin 100 persen ini hanya untuk
ini ditempuh aktivis muda dari Jepara, anti PLTN, acara keagamaan dan pentas kepentingan ekonomi,” tegasnya.
Zakariyya el-Anshori. Dia menggubah budaya, termasuk pada peringatan Hari
Shalawat Anti-PLTN pada 1997. Lingkungan Hidup 05 Juni 2007 lalu. Diapun berkesimpulan, PLTN
Selain itu, Iyank juga aktif lebih banyak mudharat ketimbang
“Shalawat ini saya buat dalam menyosialisasikan dampak negatif PLTN manfaatnya, baik bagi masyarakat maupun
tulisan latin maupun Arab pegon (aksara di lembaga-lembaga pelajar NU. “Setelah lingkungan. “Islam kan selalu dar’ al-
Arab berbahasa Jawa, red.). Asumsi ini kan pesantren dipegang kiai-kiai muda. mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih
saya, 80 persen rakyat Jepara ‘beragama’ Makanya ‘ma’syaral gawagis’ (para anak (mendahulukan menolak kerusakan
NU (Nahdhatul Ulama). Jadi ini cukup kiai, red.) ini perlu diberi informasi soal ketimbang mengambil kemanfaatan, red.).
efektif untuk menggerakkan massa,” kata dampak PLTN. Kita juga mengorganisir Dampak PLTN ini sangat mengerikan.
Zakariyya kepada Nurul H. Maarif dari the mereka,” kata pria kelahiran Jepara 1970 Makanya kita lawan,” ujarnya.
WAHID Institute. ini.
Iyank tidak pernah lelah menolak Iyank mengakui, penolakannya
Alhasil, pembangunan PLTN yang PLTN. Dua pekan sekali aktivis Lakpesdam diinspirasi oleh Gus Dur. Mantan Presiden
direncanakan sejak masa Orde Baru pada NU Jepara, yang kini menetap di Jakarta, RI itu, sekitar 1995 menolak rencana ini.
1978 itu belum juga terlaksana. Penolakan ini menyempatkan pulang ke kampungnya Bahkan hendak berpuasa di tapak PLTN
dari berbagai lapisan masyarakat datang guna memantau perkembangan isu PLTN. Muria.
bergelombang. Dari hasil pengkajiannya, banyak
sarana pembangkit listrik ramah “Alasannya sangat NU. Di sana
Menurut Iyank, sapaan akrab lingkungan di wilayah Jepara yang ada makam wali. Setelah saya cek,
Zakariyya, shalawat yang tujuannya bisa dimanfaatkan. “Kenapa bukan ternyata memang ada. Sikap Gus Dur
mengingatkan rakyat akan bahaya PLTN mengembangkan pembangkit listrik ini menginspirasi saya menolak PLTN,”
itu, awalnya untuk ibu-ibu majelis taklim. tenaga bayu, surya, air atau ombak?,” tanya ungkapnya.
“Mereka kan sulit memahami istilah-istilah Iyank.
PLTN. Makanya harus disampaikan dengan Kekuatirannya kian bertambah. Iyank bertekad menolak PLTN hingga
istilah lokal yang sederhana,” kata ayah Ternyata di negeri ini belum tersedia akhir hayat. “Walaupun seluruh masyarakat
seorang putera ini. ahli nuklir khusus untuk PLTN. “Sekedar Jepara menerima PLTN, bahkan Gus Dur
ahli atau teoritisi nuklir dalam kapasitas yang saya panuti sekalipun menerimanya,
Kini, shalawat itu dibaca berulang- laborat, itu banyak. Tapi bukan dalam skala saya tetap akan menolaknya. Saya tidak
ulang sebagai puji-pujian (syair PLTN,” ungkapnya. ingin anak cucu saya diberi warisan utang
dan kerusakan lingkungan. Inilah ideologi
saya,” tandasnya.
Nurul H. Maarif
106 Suplemen the WAHID Institute Edisi IX / Majalah Tempo / 25 Juni 2007
Pewaris Nabi Pelestari Lingkungan
dok.pribadi KH. Hasyim Ahmad Bagaimana kerja Timnas?
Masyarakat agak tenang karena sudah
Pengasuh Ponpes al-Islamiyah Sidoarjo
memiliki payung hukum secara formal.
uPnotuskkKoorKbiaaniLapindo Sejak itu posko-posko membubarkan diri.
Ndak tahunya, payungnya kok kayak gitu
PENGASUH Ponpes al-Islamiyah Kludan, Tanggulangin, Jawa Timur KH. Hasyim kerjanya. Maka kita membentuk Forum
Ahmad, termasuk sosok yang peduli pada lingkungan dan nasib korban Lumpur Peduli, dengan melibatkan komunitas
Lapindo. Bersama 18 kiai di Sidoarjo, pria kelahiran 11 Januari 1951 yang pernah lintas agama. Kita akhirnya menghadap
nyantri pada Sayyid Alawi al-Maliki di Mekah ini mendirikan Posko Independen yang pemerintah lagi agar mengambil alih
lebih dikenal sebagai Posko Kiai. Berikut petikan wawancaranya dengan kontributor langsung. Waktu itu yang menemui Bu
the WAHID Institute di Jawa Timur, L. Riansyah. Yenny Wahid. Dia bertanya, ”Apa Timnas
gagal?” Dulu sebelum ada Timnas, areal
Bagaimana kiai bisa terlibat Bagaimana penanganan bencana lumpur 360-380 hektar. Setelah ditangani dok.WI/Nurul H Maarif
mendampingi korban Lapindo? lumpur selama ini? Timnas jadi 850 hektar. Kami hanya meng-
informasikan, agar ibu mengambil sikap
Saya baru merintis pembangunan Penanganannya tidak menentu bijaksana.
Pesantren Islamiyah III di Kedung Bendo. dan sangat lambat. Sejak awal mestinya Apa himbauan Kiai?
Datang bencana. Kini banyak rakyat di dibuang ke sungai. Tapi itu baru dilakukan
sini sengsara akibat lumpur Lapindo. setelah Desa Siring tenggelam. Gubernur Kita harus berbuat yang bermanfaat.
Semua rusak. Tanah ndak mungkin bisa mengijinkan lumpur dibuang ke laut. Mengambil manfaat dari alam, secara
dipakai, ditanami atau dihuni. Sekarang Pemerintah pusat tidak menyetujui. Ini agama itu sah-sah saja. Himbauan saya,
wassalam. Saya lalu diminta KH. Manaf dan bukti tidak ada koordinasi. Apa harus mbok orang yang mau menggali potensi
KH. Ghofar untuk membantu menangani nunggu orang Sidoarjo mati semua? alam yang sudah diizinkan Allah SWT
dampak lumpur. Akhirnya kita fokus Akhirnya, dengan koordinasi KH. Abdi ini juga menghormati alam, termasuk
terlibat memberikan bantuan pada korban, Manaf, kita mengadu ke pemerintah pusat, manusia. Allah SWT berfirman, wala tufsidu
dengan mendirikan Posko Independen. karena gubernur dan bupati tidak berani. fi al-ardhi (janganlah kalian melakukan
Posko ini didirikan 18 kiai di Sidoarjo. Apa yang Kiai sampaikan kepada kerusakan di bumi, red.).
Kenapa namanya Posko Independen? pemerintah?
Juga sosialisasi dululah, terutama
Sesuai namanya, posko ini tidak Masalah sudah seperti ini. Pemerintah pada ahlinya. Perlu juga ke kiai. Dan prinsip
ikut siapa-siapa. Hanya berpihak pada tidak mungkin lepas tangan. Di luar negeri, kiai itu cuma satu; selama bermanfaat
masyarakat korban. Tapi masyarakat lebih kalau swasta tidak mampu menangani, kenapa tidak? Yang penting jangan sampai
senang menyebutnya “posko kiai”. maka harus diambil alih pemerintah. membawa mudarat. Mudarat kepada
Apa aktifitas posko ini? Kita desakkan ini pada mereka. Sehingga lingkungan atau manusia, itu dilarang.
dibentuklah Timnas (Tim Nasional, red.). Hadis Nabi SAW la dharara wala dhirara
Fokus kita melakukan tiga hal. (tidak boleh membahayakan diri dan pihak
Pertama, mencarikan bantuan makan. Unjuk rasa korban lumpur LAPINDO lain, red.).
Alhamdulillah, banyak sekali yang care
memberi bantuan. Termasuk dari Yaman Suplemen the WAHID Institute Edisi IX / Majalah Tempo / 25 Juni 2007 Harus ada pengawasan dari
dan Abu Dhabi. Kedua, membantu di pemerintah dan masyarakat. Saya juga
bidang kesehatan. Kita bekerja sama menghimbau para birokrat supaya mereka
dengan RS Siti Hajar, IDI (Ikatan Dokter berfungsi sebagai pelindung masyarakat.
Indonesia, red.), dan sebagainya. Kita Jadi pemerintah harus bertindak adil dan
melibatkan dokter untuk membuka bijaksana.
pelayanan kesehatan hingga jam 19.00.
Ketiga, memberikan keamanan ruhani. 107
Karena keamanan fisik telah banyak yang
menangani. Kita sering kumpul dengan
para korban untuk sharing masalah dan
doa bersama atau istighatsah. Ini rutin
setiap Kamis. Saya yakin, dalam kondisi
’sepanas’ ini, gejolak bisa diredam dengan
istighatsah. Jika ukurannya matematika,
mungkin sudah bacok-bacokan.
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
dok.WI/Witjak
Ajaran Universal Mustofa Bisri (Gus Mus) menyatakan, al-Ibriz tidak hanya dibaca
Penafsiran Lokal masyarakat Indonesia. Tapi juga Malaysia, Singapura, bahkan
Suriname.
Tafsir lokal dibuat agar makna al-Qur’an lebih
dipahami umat. Namun ada yang menganggap “Suatu hari saya kedatangan tamu dari Johor Malaysia. Dia
sesat. penceramah yang biasa ngaji di masjid-masjid. Setiap ngaji, dia
selalu membawa tafsir al-Ibriz. Dia minta tafsir ini di-Indonesia-
S ekitar 15 ribu nahdliyin datang menyemut dari seluruh kan atau di-Melayu-kan bahasanya,” terang Gus Mus.
penjuru Jawa. Mereka rela duduk berdesakan sejak pukul
05.00 pagi hingga tengah hari. Tiga kiai besar dihadirkan. Bahkan tafsir ini sudah tersedia di Perpustakaan Widener
KH. Ahmad Mustofa Bisri dari Ponpes Raudhatul Thalibin Rem- Universitas Harvard, berkat promosi menantu Gus Mus, Ulil
bang, KH. Abdullah Kafabihi dari Ponpes Lirboyo Kediri dan KH. Abshar Abdalla yang berguru di sana.
Maimun Zubair dari Ponpes al-Anwar Sarang Lasem.
“Saya merasa sedikit berjasa pada perpustakaan ini, sebab
Begitulah suasana khataman pembacaan kitab al-Ibriz karya usulan saya agar pihak perpustakaan membeli sebuah tafsir
KH. Bisri Mustofa, Rembang (1915-1977), di Ponpes al-Itqon, berbahasa Jawa berjudul al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa, ayah-
Tlogosari Wetan, Semarang pertengahan 2006 lalu. anda Gus Mus, dikabulkan,” kata Ulil dalam surat elektroniknya
kepada the WAHID Institute.
Menurut pengasuh Ponpes al-Itqon, KH. Ahmad Kharis
Shodaqoh, Tafsir al-Ibriz bisa dikhatamkan 12 tahun, 10 tahun, 5 Itulah al-Ibriz. Tafsir al-Qur’an 30 juz berhuruf pegon (aksara
tahun, bahkan setahun. “Kami sengaja membacanya ayat demi Arab berbahasa Jawa, red.) ini, sangat dikenal, terutama di
ayat selama 12 tahun, supaya jamaah memahami,” katanya. pesantren Jawa.
Kiai Kharis punya alasan memilih kitab ini. “Jamaahnya Diakui penulisnya, KH. Bisri, terjemah al-Qur’an telah banyak
orang kampung. Mereka butuh tafsir dengan bahasa apa beredar dalam ragam bahasa. Bahasa Belanda, Inggris, Jerman,
adanya, bukan bahasa yang tidak bisa mereka pahami,” tuturnya. pun Indonesia. “Yang menggunakan bahasa daerah, seperti
Jawa, Sunda, dan yang lain, juga banyak,” tulisnya.
Dalam ceramahnya, putera penulis tafsir ini, KH. Ahmad
Dengan cara ini, ujarnya, umat Islam dari seluruh bangsa
dan suku akan memahami makna al-Qur’an. “Untuk membantu
mereka, saya suguhkan tafsir al-Qur’an yang ringan dan mudah
dipahami,” sambungnya.
Karena menggunakan bahasa lokal, tafsir ini penuh sopan-
santun atau unggah-ungguh ala adat Jawa. Iblis, misalnya, yang
menjadi simbol kejahatan, dalam tafsir ini diposisikan santun
di hadapan Allah. Inilah nuansa lokal yang tidak dimiliki tafsir
lainnya.
108 Suplemen the WAHID Institute Edisi X / Majalah Tempo / 30 Juli 2007
Ajaran Universal Penafsiran Lokal
Berdasarkan aksaranya, tafsir bahasa Jawa pakem penafsiran umumnya.
sebetulnya terdiri dua jenis; Arab pegon dan latin. Mantan Pemimpin Jamaah Islam Qur’ani,
Jenis yang kedua misalnya al-Huda, Tafsir Qur’an
Bahasa Jawi, karya Brigadir Jenderal Purnawirawan yang gemar menggunakan teori ilmiah dalam
Drs. H. Bakri Syahid (baca: Tafsir Lokal Beraroma terjemahnya, ini dinilai memiliki pandangan yang
Orba). menyempal dari keyakinan umat Islam kebanyakan.
Selain berbahasa Jawa-Latin, tafsir bergaya Tahun 1980-an pun menjadi hari kelabu bagi
militer karya Rektor IAIN Sunan Kalijaga Nazwar. Ia dianggap menolak Sunnah.
Yogyakarta (1972-1976), ini berani ‘melampaui’
pakem penafsiran pada umumnya. Di dalamnya, Mantan anggota polisi bagian reserse di Polsek
penulisnya banyak memasukkan unsur-unsur Talawi, Sawah Lunto, Sijunjung, ini menuturkan,
negara: MPR, UUD 45, Demokrasi Pancasila, BAKIN karyanya dirancang hanya untuk membantu
(Badan Koordinasi Intelijen Negara, red.), dan pembaca mengetahui informasi sains dan prinsip-
sebagainya. prinsipnya dalam al-Qur’an.
“Diharapkan, dengan tafsir ini, pembaca bisa HB Jassin
Sebelumnya hal yang sama menimpa Mahmud
lebih mengerti, memahami dan juga prihatin atas Yunus (1899-1982). Upayanya menerjemahkan
nasib bangsa,” tulis Bakri. al-Qur’an dengan bahasa Arab-Melayu pada 1922,
Ada juga tafsir al-Qur’an berbahasa Bugis, karya ulama dinyatakan haram oleh para ulama waktu itu. Ia
kharismatik dari Sidrap Sulawesi Selatan Gurutta H. Abdul Muin dituding menyalahi pakem. Padahal ia hanya ingin
Yusuf (1920-2004). Beliau pendiri Ponpes al-Urwatul Wutsqaa membantu umat Islam di negeri ini memahami kandungan al-
dan Ketua MUI Sulsel 1985-1995. Qur’an.
“Karya tafsir utuh dalam Bahasa Bugis tergolong langka. Ini Dengan alasan melanjutkan studi di al-Azhar Kairo, Mah-
yang menjadi obsesi Gurutta Muin. Pada 1985, beliau didesak mud menghentikan penerjemahan yang telah berjalan 3 juz,
masyarakat yang membutuhkan referensi tafsir dalam Bahasa pada 1924. Pria kelahiran Batusangkar Sumbar ini, pada 1935
Bugis. Tahun berikutnya, penulisan tafsir dimulai,” tutur cucu melanjutkan kembali upayanya, hingga selesai 30 juz pada 1938.
Gurutta Muin, H. Imran Muin Yusuf kepada the WAHID Institute. Pada 1953, karya berjudul Tafsir Quran Karim ini dicetak Penerbit
Dikatakan kandidat doktor UIN Alauddin Makasssar ini, al-Maarif Bandung. Ia dikenal sebagai “pelopor” karya tafsir di
ciri khas tafsir ini menggunakan bahasa dan aksara Lontara Indonesia yang diterpa badai kontroversi.
Bugis. “Ini bahasa utama masyarakat Bugis yang ada di Sulawesi Apa yang diupayakan KH. Bisri Mustofa, Drs. H. Bakri Syahid,
Selatan. Tafsir ini mendapat dukungan para ulama sepuh di Gurutta H. Abdul Muin Yusuf, HB Jassin, Nazwar Syamsu, atau
Sulawesi Selatan,” jelas Imran. Mahmud Yunus, hanyalah cara mereka membuat al-Qur’an lebih
Lain lagi terjemah al-Qur’an karya Hans Bague (HB) Jassin dipahami umat.
(1917-2000). Dengan titel al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia, pria “Tafsir itu kan dalam konteks untuk kepentingan masya-
kelahiran Gorontalo ini ingin menghadirkan terjemahan al- rakat. Terlalu jauh kalau mau mempermasalahkan tafsir ini,”
Qur’an bergaya puisi. kata penulis buku Khazanah Tafsir Indonesia; dari Hermeunetika
Selama dua tahun, 1972-1974, terjemahan ini digarap hingga Ideologi, Islah Gusmian (lihat: Umat Diuntungkan Tafsir
Jassin, di sela kesibukannya menjalin kerja sama kebudayaan Lokal).
Indonesia-Belanda. Jadi, siapapun tidak berhak untuk menuding para penafsir
Belum apa-apa, reaksi bermunculan dari penjuru negeri. itu menyalahi pakem. Kreatifitas lokal perlu digalakkan agar
Dukungan dan cercaan hadir silih berganti. Kapabilitas Jassin pesan universal Islam bisa lebih dipahami umat.
disoal. Ia dianggap tidak layak menerjemah al-Qur’an.
Jassin dinilai mempuisikan al-Qur’an. Beberapa orang Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi, Ahmad Suaedy
mengharamkan membacanya. Tapi Jassin berkilah,
hanya baris kalimatnya yang seperti puisi namun al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia karya HB. Yasin
tidak dengan inti terjemahannya. “Tidak baris demi
baris yang pan-jangnya memenuhi lebar halaman.
Akan tetapi baris demi baris yang panjangnya hanya
memenuhi sebagian lebar halaman saja,” katanya waktu
itu.
Empat tahun dalam kontroversi, pada 1978 karya
pengagum Schopenhauer dan Nietzche ini diterbitkan
dengan perbaikan di sana sini.
“Karya Jassin harus diberi penghargaan yang layak.
Kesalahan di dalamnya adalah bagian yang wajar dari
proses ijtihad,” tulis penulis Tafsir al-Azhar H. Abdul Malik dok.WI/Witjak
Karim Amrullah (Hamka) dalam pengantar terjemahan itu.
Mengapa berwajah puisi? “Firman Tuhan menjadi nafas
saya, menjadi darah yang beredar dalam tubuh saya, dan
menjadi daging saya,” terang Paus Sastra Indonesia ini.
Tak hanya Jassin, Nazwar Syamsu (1921-1983) pun
dipersoalkan. Melalui al-Qur’an Dasar Tanya Jawab Ilmiah,
pria kelahiran Bukittinggi, Sumbar, ini juga dinilai menyalahi
Suplemen the WAHID Institute Edisi X / Majalah Tempo / 30 Juli 2007 109
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
dok.WI/Witjak TAFSIR utuh 30 juz ini diperiksa ulang oleh penghulu Keraton
Yogyakarta KRTH Wardanipaningrat dan Ustadz Rahmat Qasim
Tafsir al-Huda: Tafsir al-Qur’an bahasa Jawa sebelum naik cetak di Bagus Arafah, Yogyakarta 1979.
Tafsir Lokal Bakri Syahid banyak memasukkan penafsiran bernada
Beraroma Orba mendukung pemerintah Orde Baru Soeharto dan segala
program-programnya.
BAGAIMANA jika seorang jenderal menulis tafsir al-Qur’an?
Tentu semangat patriotisme begitu kental di dalamnya. Itulah Umpamanya, ketika menafsirkan QS. al-Nisa’ ayat 83 perihal
tafsir karya Brigadir Jenderal (Pur.) Drs. H. Bakri Syahid dengan Ulu al-Amri. Menurut Bakri, “untuk kontek sekarang, Ulu al-Amri
titel al-Huda: Tafsir Qur’an Bahasa Jawi, berbahasa Jawa itu pemerintah yang menjalankan sistem demokrasi, seperti
berhuruf latin. pemerintah Indonesia yang menerapkan sistem Demokrasi
Pancasila.”
Terkait QS. Yunus ayat 7, dia menilai, “paham sekularisasi
itu berlawanan dengan ajaran Agama Islam dan juga tidak
bisa diterapkan di negeri Pancasila Indonesia. Sebab, falsafah
dan ideologi Pancasila itu menetapkan di Undang-Undang
Dasar (UUD) 1945, Bab IX Pasal 29, bahwa ‘Negara berdasar atas
Ketuhanan Yang Maha Esa.’”
Artinya, tulis Bakri Syahid, masyarakat atau negara yang
dicita-citakan pemerintah Indonesia adalah sosialis-relijius. Yaitu
masyarakat adil makmur yang mencakup materiil dan spirituil,
lahiriah dan batiniah, dan dunia dan akhirat. Inilah masyarakat
yang diridlai Allah SWT.
“Negara Republik Indonesia itu Negara Kesatuan, Negara
Hukum, serta Negara ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan
negara ateis, negara sekuler, atau negara Islam,” kata Bakri di
dalam karya setebal 1411 halaman ini.
“Bangsa Indonesia tidak memiliki cita-cita membangun
masyarakat sekuler (masyarakat tanpo agami), melainkan
masyarakat Pancasila,” tulis rektor pertama Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta ini ketika menafsiri QS. al-Nur ayat
28.
Bakri Syahid juga mengulas Sumpah Pemuda ketika me-
nafsirkan QS. al-Ra’d ayat 21. Menurutnya, Sumpah Pemuda
berawal dari perjumpaan atau silaturahim anak-anak muda
waktu itu, yang peduli nasib bangsa.
“Lalu menjadi ikrar: Satu Nusa, Satu Bahasa, dan Satu
Bangsa. Jujur saja, ini syarat mutlak kekuatan Ketahanan
Nasional,” jelas pria kelahiran Yogyakarta, 16 Desember 1918 ini.
Yang menarik, dia menghubungkan QS. al-Hujurat ayat
6 dan 7 dengan peran intelijen negara. “Di jaman modern ini
disebut Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) dalam Tata
Bina Pemerintahan Republik Indonesia.”
Masih dalam ayat yang sama, Bakri mengatakan dalam
negara Indonesia intelejen negara dan stabilitas keamanan itu
kewajiban pemerintah yang dibantu masyarakat.
“Ini inti kekuatan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(kini Tentara Nasional Indonesia, red.). Sebab UUD 1945 Pasal 30
menyebutkan, setiap warga negara wajib dan berhak membela
negara,” tulis Bakri yang pernah menjabat Kepala Staf Batalion
STM-Yogyakarta, Kepala Pendidikan Pusat Rawatan Ruhani Islam
Angkatan Darat, Wakil Kepala PUSROH Islam AD, dan Asisten
Sekretaris Negara RI ini.
Inilah kontektualisasi tafsir karya Bakri Syahid. Melalui gaya
dan caranya, Bakri Syahid ingin masyarakat lebih memikirkan
nasib bangsa ke depan.
“Diharapkan, dengan tafsir ini, pembaca bisa lebih
mengerti, memahami dan juga prihatin atas nasib bangsa,”
demikian harapan Rektor IAIN Sunan Kalijaga masa bakti 1972-
1976 ini dalam pengantar tafsir itu.
Nurul H. Maarif
110 Suplemen the WAHID Institute Edisi X / Majalah Tempo / 30 Juli 2007
Ajaran Universal Penafsiran Lokal
Islah Gusmian, MA
Peneliti Tafsir Lokal
“Umat Diuntungkan Tafsir Lokal”
DIBANDING tafsir berbahasa dan bertulisan Arab, tafsir lokal bahasa Jawa, misalnya, punya dok.pribadi
keunggulan. Pembaca bisa tahu makna perkata dan tahu posisi kalimat. Sayang, tafsir ini kini tak
banyak diproduksi lagi. Berikut wawancara M. Subhi Azhari dari the WAHID Institute dengan dosen dan
peneliti tafsir lokal dari STAIN Surakarta Islah Gusmian.
Dari penelitian Anda, kapan tafsir lokal karya KH. Bisri Mustofa. Ada juga tafsir Adakah resistensi dari kelompok Islam
mulai dibuat? berbahasa Jawa dengan huruf latin. tertentu terhadap tafsir lokal ini?
Misalnya al-Huda karya Bakri Syahid tahun
Di mulai pada abad ke-17. Yaitu 1972. Belum ada. Sejauh saya melihat, tafsir
Tarjuman al-Mustafid karya Abdurrauf Apa keistimewaan tafsir lokal? itu kan dalam konteks untuk kepentingan
al-Sinkili. Tafsir utuh 30 juz ini berbahasa masyarakat. Terlalu jauh kalau mau
Melayu-Arab atau pegon. Para sejarawan Kalau kita bandingkan dengan tafsir mempermasalahkan tafsir ini. Kini yang
menyebut karya ini sebagai tafsir lokal yang menggunakan bahasa dan tulisan terjadi adalah orang memandang bahasa
pertama di Nusantara. Pada abad yang Arab, tafsir lokal bahasa Jawa misalnya, Arab itu penting, sehingga membaca
sama ada juga Tafsir Surah al-Kahfi. Tapi punya keunggulan. Misalnya, pembaca tulisan latin menjadi agak phobi. Padahal
karya ini tidak diketahui penulisnya. bisa tahu makna per kata dan tahu posisi aksara latin tidak perlu dipermasalahkan,
Bagaimana perkembangannya? atau kedudukan kalimat. Ini kelihatan karena tidak semua buku yang ditulis
sekali pada al-Ibriz. Dengan demikian, dengan aksara latin itu jelek.
Pada abad ke-18, setelah Imam umat diuntungkan dengan adanya Bagaimana perkembangan tafsir lokal?
Nawawi al-Bantani menulis Tafsir al-Nur tafsir lokal. Berbeda dengan tafsir yang
di Makkah, di Jawa dan Sunda mulai ditulis bukan dengan bahasa dan cara Sekarang ada tafsir berbahasa dan
muncul tafsir-tafsir berbahasa daerah. seperti tafsir bahasa Jawa. Taruhlah tafsir beraksara Bugis (karya Gurutta Abdul Muin
Ada Tafsir wal Ngasri yang tersimpan di berbahasa latin. Itu nggak bisa. Karena Yusuf, red.). Ada lagi Tafsir Pase (karya H.
Museum Sono Budoyo Jogjakarta. Ini tafsir biasanya, model penafsirannya langsung Teuku Hasan Thalhas dkk., red.), tahun
berbahasa Jawa. satu paragraf. 2000, menggunakan bahasa Aceh dengan
Apa maksud pembuatan tafsir aksara latin. Tapi sayang hal ini tidak terjadi
berbahasa lokal? di Jawa. Bukan hanya dalam konteks kajian
Agar bisa diakses keislaman, di dalam tradisi Jawa
dengan mudah oleh sendiri tulisan Jawa telah
para pembaca. Misalnya kehilangan ruh. Terjadi
di Jawa, kenapa yang kematian bahasa, yaitu
dipilih bahasa Jawa? bahasa lokal menjadi
Itu karena kepentingan tidak penting digunakan.
pembaca. Kalau di Karena apa?
Jawa pedalaman, Bahasa Indonesia
Jogja atau kraton, itu menjadi bahasa yang
menggunakan bahasa umum digunakan,
dan tulisan Jawa. Tapi sehingga bahasa Jawa
kalau di pesantren, itu atau bahasa lokal lainnya
menggunakan tulisan jarang digunakan. Bahkan
Arab berbahasa Jawa majalah yang dulu
atau pegon. Itu karena menggunakan bahasa
segmennya. Kalau di Jawa, kini sudah tidak
pesantren, kan tidak mempunyai penggemar.
ada masalah membaca Bahasa akhirnya mati.
tulisan Arab. Makanya Aksara juga mati.
kita mengenal al-Ibriz
dok.WI/Witjak
Tafsir al-Quran berbahasa Bugis karya Gurutta H. Abdul Muin Yusuf
Suplemen the WAHID Institute Edisi X / Majalah Tempo / 30 Juli 2007 111
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Sedikit orang yang mumpuni mebaca pustaka
beraksara Arab. Tak cukup hanya prihatin,
beberapa ulama Indonesia merancang metode
cepat memahami jendela keilmuan Islam itu.
J uara pertama Lomba Baca al-Qur’an tingkat Taman Belajar membaca al-Qur’an
Pendidikan al-Qur’an se-Kabupaten Batang, akhirnya
digondol Muslihin Rozi. Padahal pada saat mengikuti lomba, Metode Cepat
yang digelar dalam rangka Hari Amal Bhakti Departemen Agama
ke-45 pada 15 Desember 1990, itu umur Muslihin belum genap Qira’ati. Tapi semua orang boleh diajarkan Qira’ati.
10 tahun. Dia masih duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah. “Dalam 100 siswa/santri hanya satu orang yang kurang
Namun kemampuan siswa Taman Pendidikan al-Qur’an pandai. Jika ada lebih dari satu orang yang kurang pandai,
(TPA) Darus-Salam Kemiri Subah, Batang, dalam membaca al- maka yang perlu dipertanyakan gurunya,” pesan pendiri TPA
Qur’an tidak diragukan. Di bawah gemblengan Ustadz Mudha’af Roudhatul Mujawwidin Semarang ini.
Adam, Muslihin kecil kala itu, begitu lancar dan fasih melafalkan
ayat-ayat al-Qur’an. Untuk mengajarkan buku jilid 1-2 metode ini, guru
diharuskan telaten mengajari murid seorang demi seorang.
“Itu berkat metode Qira’ati yang kita ajarkan,” kenang Ini supaya guru mengerti kemampuan anak-anak didiknya.
pengurus Ponpes Darussalam Syamsul Maarif Syahid, yang kala Untuk jilid 3-6 dilakukan secara klasikal, yaitu beberapa murid
itu turut mendampingi Muslihin kecil. membaca dan menyimak bersama dalam satu ruangan.
Metode baca al-Qur’an Qira’ati ditemukan KH. Dachlan Dalam perkembangannya, sasaran metode Qira’ati kian
Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari Semarang, Jawa Tengah. Metode diper-luas. Kini ada Qira’ati untuk anak usia 4-6 tahun, untuk 6-12
yang disebarkan sejak awal 1970-an, ini memungkinkan anak- tahun, dan untuk mahasiswa.
anak mempelajari al-Qur’an secara cepat dan mudah.
Setelah metode Qira’ati, lahir metode-metode lainnya.
Hal ini diakui pengajar metode Qira’ati, yang juga asisten Sebut saja metode Iqra’ temuan KH. As’ad Humam dari
Ketua Dewan Masjid Indonesia, Abdullah Syafii Damanhuri. Yogyakarta, yang terdiri enam jilid. Dengan hanya belajar 6
Menurutnya, ini lantaran Qira’ati menawarkan pengajaran yang bulan, siswa sudah mampu membaca al-Qur’an dengan lancar.
sistematis dan mendetail.
Iqra’ menjadi populer, lantaran diwajibkan dalam TK
“Misalnya, metode ini mengajarkan bacaan gharib (bacaan al-Qur’an yang dicanangkan menjadi program nasional pada
langka, red.) dalam al-Qur’an, yang tidak diajarkan metode lain,” Musyawarah Nasional V Badan Komunikasi Pemuda Remaja
ujar peraih syahadah (sertifikat) Qira’ati dari Ustadz Abu Bakar
Zarkasyi, putera KH. Dachlan Salim Zarkasyi.
Kiai Dachlan yang mulai mengajar al-Qur’an pada 1963,
merasa metode baca al-Qur’an yang ada belum memadai.
Misalnya metode Qa’idah Baghdadiyah dari Baghdad Irak, yang
dianggap metode tertua, terlalu mengandalkan hafalan dan
tidak mengenalkan cara baca tartil (jelas dan tepat, red.).
Saat itu juga, terbetik di benak Kiai Dachlan keinginan
menyusun metode yang mudah dan digemari anak-anak,
dengan orientasi bacaan tartil. Bertahun-tahun dengan penuh
ketekunan dan kesabaran, Kiai Dachlan mengamati dan meneliti
majlis pengajaran al-Qur’an di banyak mushalla, masjid, dan
majelis tadarus al-Qur’an.
Ia pun kecewa. Karena dari hasil pengamatannya, murid-
murid pengajian tidak mengindahkan mad (bacaan panjang
pendek, red.). Itu membuatnya lebih serius untuk menemukan
metode yang mujawwad murattal (mengajarkan tajwid dan cara
baca tartil, red.).
Kiai Dachlan kemudian menerbitkan enam jilid buku
Pelajaran Membaca al-Qur’an untuk TK al-Qur’an bagi anak usia
4-6 tahun, pada 01 Juli 1986.
Usai merampungkan penyusunannya, KH. Dachlan
berwasiat, supaya tidak sembarang orang mengajarkan metode
112 Suplemen the WAHID Institute Edisi XI / Majalah Tempo / 27 Agustus 2007
Metode Cepat Membaca Kitab
dok.WI/Witjak mencukupi, murid yang mahir bisa turut membantu mengajar
murid-murid lainnya.
Membaca Kitab
Keprihatinan akan banyaknya masyarakat yang buta huruf
Masjid Indonesia (BKPRMI), pada 27-30 Juni 1989 di Surabaya. Arab, menggugah Otong Surasman menemukan metode al-
Tiga model pengajaran metode ini, adalah; pertama, Cara Bayan. Al-Bayan, yang hanya satu jilid dengan 71 halaman, ini
disusun sejak 1994.
Belajar Santri Aktif (CBSA). Guru tak lebih sebagai penyimak,
bukan penuntun bacaan. Kedua, privat, yaitu guru menyimak Sarjana Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) akarta ini
seorang demi seorang. Ketiga, asistensi. Jika tenaga guru tidak mulai menuangkan penelitiannya dalam tulisan tangan pada
1995. Awalnya, penemuan itu dinamai metode Insani. Setelah
dievaluasi, metodenya dipadatkan, dan namanya diubah
menjadi al-Bayan. Dengan belajar enam bulan, murid mampu
melafalkan ayat al-Qur’an secara baik.
Hattaiyyah adalah metode baca al-Qur’an yang paling
fantastis. Dengan metode penemuan Muhammad Hatta Usman,
ini anak didik mampu membaca al-Qur’an dalam waktu 4,5
jam. Metode ini akan lebih mudah diterapkan bagi anak didik
yang telah mampu baca tulis huruf latin, karena metode ini
menggunakan pendekatan Bahasa Indonesia.
Caranya, 28 huruf Arab dicari padanannya dalam aksara
Indonesia. Tanda baca pun diperkenalkan dalam rumus-
rumus bahasa Indonesia. Sehingga, hanya dengan enam kali
pertemuan, masing-masing 45 menit, anak didik bisa membaca
al-Qur’an.
Walau kurang dikenal, metode al-Barqy adalah metode
cepat membaca al-Qur’an yang diperkenalkan paling awal.
Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel
Surabaya, Muhadjir Sulthon pada 1965. Awalnya, al-Barqy
diperuntukkan bagi siswa SD Islam at-Tarbiyah, Surabaya. Siswa
yang belajar metode ini lebih cepat mampu membaca al-Qur’an.
Muhadjir lantas membukukan metodenya pada 1978, dengan
judul Cara Cepat Mempelajari Bacaan al-Qur’an al-Barqy.
Uniknya, metode ini memadukan ha na ca ra ka (aksara
Jawa) dan huruf Arab. Hanya saja, untuk alasan efektifitas, aksara
Jawa yang tersusun dari lima suku kata dipadatkan menjadi
empat suku kata.
Terinspirasi Qira’ati, Pengasuh Ponpes Darul Falah Jepara
Jawa Tengah, KH. Taufiqul Hakim membuat Amtsilati pada 2001.
Bedanya, Qira’ati untuk memudahkan membaca al-Qur’an,
Amtsilati untuk memudahkan membaca kitab gundul (kitab
tanpa harakat, red.) atau kitab kuning.
“Terdorong dari metode Qira’ati yang mengupas cara
membaca yang ada harakatnya, saya ingin menulis yang bisa
digunakan untuk membaca yang tidak ada harakatnya,” kata Kiai
Taufiq (baca: Kitab Gundul Bukan Lagi Hantu).
Jauh sebelum Amtsilati, Pengasuh Ponpes Salafiyyah,
Seblak, Jombang almarhum KH. Muhammad Ma’shum bin Ali,
menggubah metode canggih memahami sharf (bentuk dan
dok.WI/Witjak
Qira’ati karya KH. Dachlan Salim Zarkasyi
Suplemen the WAHID Institute Edisi XI / Majalah Tempo / 27 Agustus 2007 113
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
perubahan kata dalam Bahasa Arab, red.). Islam Tahun 1991/1992. Hasilnya, berdasarkan Keputusan
Metodenya disusun dalam karya berjudul al-Amtsilah al- Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam No. 58/
E/1992, tanggal 05 September 1992, karya ini dinilai memenuhi
Tashrifiyyah, cetakan CV Pustaka al-Alawiyah Semarang. Di sana syarat sebagai bahan bacaan pelajaran keislaman.
diuraikan bentuk-bentuk dan perubahan kata; kata kerja lampau,
sekarang, akan datang, kata benda, subjek, dan seterusnya, Ada juga karya lain berjudul Murad al-Awamil Mandaya
hingga sangat mendetail. karya Syeikh Nawawi bin Muhammad Ali bin Ahmad, dari
Mandaya, Carenang, Serang, Banten. Karya ini mengulas
Saking pentingnya, metode gubahan menantu Hadhratusy masalah nahwu dengan latar Bahasa Arab yang ringan. Di
Syaikh KH. Muhamad Hasyim Asy’ari ini digunakan di pesantren wilayah Banten, karya ini menjadi menu wajib bagi
hampir seluruh pesantren di negeri ini. Santri-santri wajib santri pemula.
menghafalnya, jika ingin mumpuni menguasai kitab kuning.
Metode-metode itu tak lapuk dimakan zaman. Bahkan
“Di pesantren Sunda kitab ini juga digunakan,” ujar hingga kini masih diterapkan di mana-mana.
Pengasuh Ponpes al-Ikhwan Cigadung, Bandung, yang juga
Ketua Tanfidziah PCNU Kota Bandung KH. Maftuh Kholil. Nurul H. Maarif
Karya ini juga telah diuji Tim Penilai Buku Ditjen Binbaga
Metode Amtsilati
Kitab Gundul Bukan Lagi Hantu
dok.RumdiKITAB berhuruf gundul atau tanpa harakat, menciptakan metode pembelajaran dijadikan skripsi oleh Abdul Rosyid,
adalah referensi utama bagi keilmuan kitab kuning secara cepat, tepat, dan dengan judul Metode Amtsilati dalam
pesantren khususnya dan dunia Islam menyenangkan. Metodenya yang diberi Proses Penerjemahan: Studi Analisis Buku
umumya. Menguasai kitab, yang sering nama Amtsilati, ini terinspirasi metode ‘Program Pemula Membaca Kitab Kuning
disebut kitab kuning, ini berarti menguasai belajar cepat membaca al-Qur’an Qira’ati Karya H. Taufiqul Hakim, di Jurusan
keilmuan Islam. karya KH. Dachlan Salim Zarkasyi. Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hida-
Namun, tidak banyak yang mampu “Terdorong dari metode Qira’ati yatullah Jakarta.
membacanya dengan baik, lantaran yang mengupas cara membaca yang ada
dibutuhkan persyaratan njelimet. Para harakatnya, saya membuat tuntunan yang Kelebihan metode Amtsilati, yang
santri harus paham nahwu (tata bahasa bisa digunakan untuk membaca kitab merupakan ‘rangkuman’ Alfiyyah Ibn
Arab, red.), sharf (bentuk-bentuk dan yang tidak ada harakatnya,” ujarnya saat Malik, ini yaitu meletakkan rumus-rumus
perubahan kata dalam bahasa Arab, red.), ditemui Rumadi dari the WAHID Institute di dan gramatikal Arab secara sistematis.
harus mengeram lama di pesantren, hafal kediamannya. Rumus-rumus itu lantas diikat melalui
ribuan bait Alfiyyah Ibn Malik dan sebagai- hafalan yang terangkum dalam dua buku
nya. Kitab gundul pun seolah menjadi Diceritakannya, sejak 27 Rajab 1421 khusus, yaitu Rumus Qaidati dan Khulashah
‘hantu’ mengerikan, tidak hanya bagi H, dirinya terus merenung mencari solusi Alfiyyah.
kaum muslim awam, bahkan para santri problem ini.“Setiap hari saya melakukan
pesantren sekalipun. mujahadah (usaha-usaha spiritual, red.) Menurut kesimpulan Kiai Taufiq,
terus-terusan sampai 17 Ramadlan,” kata sebetulnya tidak semua bait kitab Alfiyyah
Kenyataan itu menggelisahkan ayah M. Rizqi al-Mubarok ini. karya Ibn Malik, kitab induk yang berisi
Pengasuh Ponpes Darul Falah, KH. Taufiqul cara membaca kitab gundul, digunakan
Hakim. Untuk Bertepatan waktu Nuzulul Qur’an itu, untuk membaca kitab kuning. “Hanya 100
menyiasatinya, seakan-akan ada dorongan kuat dalam sampai 200 bait yang sangat penting dan
pria kelahiran dirinya untuk menulis. “Siang malam saya prioritas. Selainnya hanya penyempurna,”
Sidorejo, ikuti dorongan itu dan akhirnya pada 27 ujarnya mengomentari ribuan bait dalam
Bangsri, Ramadlan selesailah penulisan Amtsilati Alfiyyah.
Jepara 14 dalam bentuk tulisan tangan. Amtsilati
Juni 1975 ini, ditulis hanya 10 hari,” terangnya. Diharapkannya, untuk menguasai
kitab gundul secara mumpuni, siapapun
KH. Taufiqul Hakim Kini, kata Kiai Taufiq, karyanya yang tidak perlu bersusahpayah mempelajarinya
tujuh jilid tipis itu, telah tersebar ke selama bertahun-tahun, tapi cukup 3
114 berbagai penjuru negeri. Tidak hanya sampai 6 bulan saja.
di Jawa, tapi juga di Kalimantan, Batam
dan bahkan di luar Untuk menunjang metodenya, Kiai
Taufiq juga menulis karya sejenis. Misalnya,
negeri seperti Qaidati: Rumus dan Qaidah, Sharfiyah:
Malaysia. “Sampai Metode Praktis Memahami Sharaf dan
saat ini Amtsilati I’lâl, Tatimmah: Praktek Penerapan Rumus
telah diterbitkan tidak 1-2, Khulashah Alfiyah Ibnu Malik, dan
kurang dari 5 juta eksemplar,” sebagainya.
ungkap alumni Ponpes al-Manshur,
Popongan, Klaten ini. Nurul H. Maarif
Bahkan metodenya telah
Suplemen the WAHID Institute Edisi XI / Majalah Tempo / 27 Agustus 2007
dok.WI/Witjak Metode Cepat Membaca Kitab
Kreasi Ulama `Ajam
Oleh: Abdul Moqsith Ghazali
Peneliti the WAHID Institute
ULAMA dan keulamaan dalam Islam metode Amtsilati yang dicipta KH. Taufiqul karena mutu dan kualitas ulama Indonesia
kuat beraroma Arab-Timur Tengah. Para Hakim, dari Jepara Jawa Tengah. Dengan ternyata setara bahkan dalam beberapa
ilmuwan dari sana menjadi kiblat dan metode ini, para pelajar Islam tak perlu hal melebihi ulama-ulama Arab. Saya kira,
kitab-kitabnya menjadi rujukan umat menghabiskan banyak waktu hanya untuk ulama Indonesia setingkat KH. MA Sahal
Islam. Sampai sekarang, ketika terjadi sekedar membaca kitab berbahasa Arab Mahfudz, KH. Abdurrahman Wahid, Ustadz
soal atau kasus di suatu kawasan, maka yang tanpa titik-koma, syakl atau harakat. M. Quraish Shihab, KH. Hussein Muham
para tokoh agama di daerah biasanya Melalui metode ini, kun fayakun, setiap mad, KH. Masdar F. Mas’udi tak kalah alim
meminta jawaban pada ulama Timur orang bisa dengan mudah membaca kitab dibanding ulama kontemporer Arab.
Tengah seperti Yusuf al-Qardlawi, Wahbah kuning.
al-Zuhaili, Abdullah bin Baz, dan lain-lain. Kedua, ini menjadi pelajaran bagi
Mereka mentaklid pendapat-pendapat Dengan fakta ini, dua hal bisa intelektual muda Islam Indonesia untuk
yang datang dari sana. Walhasil, Arab dikatakan. Pertama, karya ulama Indonesia tak canggung membuat karya-karya besar
merupakan sumber otoritas keulamaan tak seharusnya dipandang sebelah mata. Islam. Bukankah, para ulama Jawa itu
dan parameter kesahihan tafsir dalam Walau hidup di “pulau terasing”, para cukup percaya diri dalam berkarya? Sebab,
Islam. Pengembangan keilmuan Islam pun ulama Jawa telah menghasilkan karya terus terang, inferioritas atau perasaan
hanya mungkin efektif kalau dilakukan monumental bahkan dengan kualitas rendah diri di hadapan ulama Arab adalah
oleh para ulama Arab-Timur Tengah. ekspresi dan elokuensi yang tak kalah salah satu faktor yang menghambat
dengan ulama Timur Tengah. produktifitas intelektual ulama Indonesia
Sementara para ulama non- selama ini. Para ulama `ajam, seperti telah
Arab dianggap pinggiran dan karya- Dengan kualitas yang mumpuni diteladankan para kiai senior, harus terus
karyanya dipandang sebelah mata. Ini, itu, kebiasaan untuk selalu bertanya membuktikan bahwa karya-karya kreatif
salah satunya, karena ulama non-Arab soal-soal dalam negeri ke ulama Arab Islam bisa dikelola dengan baik di luar
diposisikan atau memposisikan diri tak perlu dilakukan. Bukan hanya karena tanah dan kawasan Arab.
sebagai orang`ajam (asing) yang tak yang tahu hakekat persoalan itu adalah
cukup memadai untuk memahami detail dok.WI/Witjak ulama Indonesia sendiri, melainkan juga
dan seluk-beluk ajaran Islam, agama yang
memang pertama kali lahir di Arab. Jika Sistem belajar di pesantren
orangnya dianggap ajam, maka kitab-
kitabnya pun dianggap ghair mu`tabarah
(kurang absah), sehingga tak pantas
menjadi referensi umat Islam. Tak pelak
lagi, kitab-kitab yang dikreasikan para
ulama Indonesia agak sulit memasuki
gelanggang percaturan intelektual Timur
Tengah. Karya ulama pribumi tak memiliki
wibawa auratik di hadapan ulama Arab.
Padahal, banyak karya ulama `ajam
yang brilian. Misalnya, karya gemilang
KH. Ma`shum Ali dalam bidang ilmu sharf,
al-Amtsilah al-Tashrifiyah. KH. Hasyim
Asy`ari menulis Adab al-`Alim wa al-
Muta`allim. KH. Bisri Mustofa, menulis
kitab tafsir al-Ibriz. KH. MA Sahal Mahfudz
menulis kitab Thariqah al-Hushul `ala
Ghayah al-Ushul. Sadar akan posisinya
sebagai orang `ajam, sejumlah kiai Jawa
membuat metode baca al-Qur’an secara
kilat, metode Qira’ati, Iqra’, al-Bayan, dan
Hattaiyah. Bahkan, kini ditemukan metode
cepat membaca kitab kuning. Yaitu,
Suplemen the WAHID Institute Edisi XI / Majalah Tempo / 27 Agustus 2007 115
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
dok.pesantren online
Referensi kitab klasik di Bahtsul Masa’il
Fatwa untuk
Kemaslahatan Publik
Fatwa organisasi keagamaan berfungsi memandu jamaahnya.
Dari urusan pribadi hingga publik. Beberapa dibuat untuk merespon zamannya.
D ingin malam yang menusuk tulang, tak mampu mema- Amin, yang akrab dipanggil Gus Nung.
damkan semangat seratusan kiai NU dari beberapa “Maraji’ yang paling kuat dijadikan landasan untuk meng-
wilayah Jawa Tengah yang tengah serius membolak-
balik lembaran kitab kuning. ambil keputusan bersama,” imbuhnya.
Bahtsul masa’il adalah forum resmi yang berwenang
Mereka berkumpul dalam bahtsul masail yang digelar
PCNU Jepara bersama Pengurus Wilayah Lajnah Bahtsul memfatwa dan menjawab permasalahan yang dihadapi warga
Masail Nahdlatul Ulama (PW LBM NU) Jawa Tengah, di Gedung nahdliyin. Termasuk rencana pembangunan PLTN Muria yang
Nahdlatul Ulama Cabang Jepara, Jawa Tengah, September 2007 meresahkan ribuan warga nahdliyin di kawasan itu (baca: Sama
silam. Takutnya, Beda Sikapnya).
Satu hal yang mereka cari: hukum fiqh mengenai Pem- Fatwa ulama NU memang selalu bersinggungan dengan
bangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Muria. Perdebatan sengit kepentingan warganya. Seperti fatwa hukuman bagi koruptor.
kerap muncul dalam forum itu. Mubahatsah (pembahasan) “Hukuman yang layak bagi koruptor adalah potong tangan
hukum PLTN Muria, yang dijadwalkan selesai pukul 22.30 WIB, sampai hukuman mati,” tegas keputusan yang diambil dalam
akhirnya molor hingga dini hari. Munas Alim Ulama NU di Jakarta pada 2002 itu.
Berkat kegigihan dan kesabaran para kiai itu, keputusan Menurut para ulama NU, dalam pandangan syariat,
final dicapai: PLTN Muria hukumnya haram. Dalam sejarah NU, ini korupsi adalah pengkhianatan berat (ghulul) terhadap amanat
fatwa pertama tentang PLTN. rakyat. “Dilihat dari cara kerja dan dampaknya, korupsi dapat
dikategorikan pencurian (sariqah) dan perampokan (nahb).”
“Awalnya semua peserta disodori beberapa persoalan. Lalu
mereka menggali maraji’ atau referensi dari berbagai ayat, hadis Selain korupsi, NU yang sebagian besar warganya berdiam
dan kitab-kitab klasik,” ungkap Ketua PCNU Jepara KH. Nuruddin di pelosok-pelosok daerah merasa perlu menjaga lingkungan.
Untuk itulah muncul fatwa haram mencemarkan lingkungan
116 Suplemen the WAHID Institute Edisi XII / Majalah Tempo / 24 September 2007
Fatwa untuk Kemaslahatan Publik
pada Muktamar NU ke-29 di Tasikmalaya. dok.WI/Nurul H. Maarif Uniknya, untuk menguatkan keputusannya, forum tidak
“Mencemarkan lingkungan, baik udara, air maupun tanah, hanya merujuk kitab fiqh klasik, tapi juga referensi dari agama
non-muslim. Selain al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, juga dikutip
apabila menimbulkan dharar (kebahayaan), maka hukumnya referensi Katholik dalam Gaudium et Spes part. 27.
haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat),” tegas fatwa
itu. Banyak fatwa NU lainnya yang bertujuan membebaskan
warganya berekspresi. Umpamanya, fatwa Muktamar NU ke-
Bahkan waktu itu muncul usulan, perusak hutan dihukum 10 di Surakarta Jawa Tengah. Di sana, antara lain, diputuskan
seberat-beratnya. “Sampai hukuman mati,” kata KH. Imam perempuan boleh berpidato keagamaan di depan laki-laki,
Ghazali Said mengisahkan muktamar itu (baca: Majalah Sudah karena suaranya bukanlah aurat.
Menggantikan Kitab).
Ada juga fatwa wanita menjadi anggota DPR/ DPRD. Konfe-
Selain lingkungan, kasus tanah kerap menjadi masalah rensi Besar Syuriah NU di Surabaya Jawa Timur, 19 Maret 1957
bagi warga NU. Maka wajar jika forum bahtsul masail Muktamar memutuskan, menurut hukum Islam wanita diperbolehkan
NU ke-30 di Kediri, Jawa Timur, menelurkan fatwa pembebasan menjadi anggota DPR/ DPRD, jika telah memenuhi syarat yang
tanah rakyat. ditentukan.
“Pembebasan tanah rakyat dengan harga tidak memadai Ada juga fatwa hasil Munas Alim Ulama NU, di Asrama Haji
dan tanpa kesepakatan kedua belah pihak, tergolong perbuatan Sukolilo Surabaya, pada Juli 2006, yang memutuskan keharaman
zalim dan hukumnya haram serta tidak sah.” trafficking dan kewajiban mencegah terjadinya trafficking.
Di luar fatwa yang dibuat dalam forum resmi, kiai-kiai NU Forum serupa bahtsul masail juga dimiliki Muhammadiyah.
juga banyak membuat fatwa ‘swasta’. Maksudnya, fatwa tidak Lembaga yang berwenang membuat putusan hukum atau fatwa
dibuat oleh NU secara organisatoris, tapi oleh kiai-kiai NU yang bagi warga organisasi ini bernama Majlis Tarjih.
peduli terhadap suatu masalah. Fatwa ‘swasta’ biasanya akan di-
turuti para santri dan alumni pesantren kiai-kiai tersebut. Majlis Tarjih pernah memfatwakan wanita boleh memberi
pengajaran agama di hadapan laki-laki. Dalam Himpunan
Misalnya, KH. Thantowi Jauhari Musaddad beserta kiai- Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah disebutkan, wanita
kiai di Garut Jawa Barat, pernah mengadakan bahtsul masail mengajar pria dibolehkan, karena tidak ada larangan yang
untuk menghasilkan fatwa lingkungan. Mereka memutuskan, mencegahnya. Tentu saja, lanjutnya, disyaratkan adanya
memelihara dan melestarikan lingkungan hukumnya wajib. Se- keamanan, seperti memejamkan mata hati dan tidak ber-
baliknya, perusakan alam dan lingkungan hukumnya haram. khalwat (menyendiri atau berdua-duaan, red.).
Penanaman pohon untuk penghijauan, pelestarian ling- Muktamar Tarjih Muhammadiyah ke XX di Garut Jawa Barat,
kungan dan pencegahan banjir, adalah sedekah jariyah yang 18-23 April 1976, membuat putusan tentang Tuntunan Adabul
akan mendapat limpahan pahala dari Allah SWT. Mar’ah fi al-Islam. Diantara pointnya, itu perihal Wanita Islam
dalam Bidang Politik. “Peranan yang langsung berupa praktik
Bahtsul masail swasta lainnya adalah Forum Pesantren- politik dalam badan-badan legislative atau DPR dari pusat sam-
Petani di Ponpes Sunan Pandanaran, Yogyakarta pada 2005. pai ke daerah-daerah, dalam hal ini kaum wanita harus ikut serta
Forum yang membahas Perpres 36/2005 tentang Pengadaan dan berjuang untuk mencapai jumlah perwakilan memadai,”
Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan tegas putusan itu.
Umum ini diikuti 150 perwakilan pesantren dan kelompok tani
di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Kalimantan Ada juga putusan yang membolehkan wanita menjadi
Selatan, Lampung, Ampenan NTB, dan Sulawesi Selatan. hakim, direktur sekolah, direktur perusahaan, camat, lurah,
menteri, walikota, dan sebagainya. “Agama tidak memberi alasan
“Para kiai sepakat meminta presiden untuk membatalkan bagi yang menolak dan menghalang-halanginya,” hasil putusan
Perpres tersebut karena tidak sah dan haram hukumnya,” kata
Ketua Panitia bahtsul masail, KH. Abdullah Hasan. Aksi santri menolak PLTN
Menurut Kiai Hasan, putusan tidak sah dan haram itu karena
Perpres tidak mengakomodasi kepentingan pemilik tanah dan
kepentingan rakyat secara keseluruhan. “Sedang ganti rugi
oleh pemerintah yang dititipkan lewat pengadilan, itu disertai
pemaksaan,” tuturnya.
“Di samping itu, Perpres tidak mengatur penyelesaian yang
adil antara pihak-pihak yang bersengketa,” imbuhnya.
Forum juga memutuskan, pembelian tanah secara paksa,
hukumnya haram. Bahkan saat itu, banyak kiai yang menilai hal
ini sebagai ghashab (memanfaatkan barang milik orang lain
tanpa izin).
Adanya legitimasi spiritual yang kuat, membuat bahtsul
masail banyak dijalankan agamawan dan cendekiawan non-NU.
Misalnya, bahtsul masail lintas iman yang membahas Lumpur
Lapindo. Forum yang diikuti agamawan Muslim, Kristen, dan
Katolik, ini dihelat di Pasar Baru Porong Sidoarjo Jawa Timur,
akhir Agustus lalu.
Dalam fatwanya, forum tidak membenarkan pemberian
uang oleh Lapindo terhadap masyarakat korban sebagai akad
jual beli. “Tidak benar! Dalam kasus ini, Lapindo wajib akad ganti
rugi, bukan jual beli. Lapindo wajib mengganti untung seluruh
kerusakan akibat dampak luapan lumpur berdasarkan kesepa-
katan dengan korban,” tulis keputusan itu.
Suplemen the WAHID Institute Edisi XII / Majalah Tempo / 24 September 2007 117
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
itu menegaskan. pria maupun wanita, untuk memilih jenis pekerjaan/profesi yang
Bahkan pada Munas XXIII di Banda Aceh 1995, Majlis Tarjih disukainya”.
Muhammadiyah membuat keputusan tentang Hubungan Para ulama di Indonesia tentu berfikir, bahwa fatwa apapun
Kerja dan Ketenagakerjaan dalam Perspektif Islam. Dalam Bab harus memihak pada kemaslahatan umat. Bukan untuk kepen-
Kesimpulan/Rekomendasi dan Keputusan point 5, diputuskan tingan golongan atau pribadi. Apalagi untuk mendiskreditkan
bahwa “Islam memberikan kebebasan kepada setiap orang, baik kelompok tertentu.
Nurun Nisa’, Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi
Sama Takutnya, Beda Sikapnya
PENGURUS Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Jepara KH. Nuruddin Amin. Dia Menurutnya, keputusan PCNU Jepara
(PCNU) Jepara bekerjasama dengan mengatakan, kemunculan fatwa itu telah sesuai metodologi berfatwa, karena
Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pengurus melalui berbagai informasi yang diserap melandaskan dalilnya pada al-Qur’an.
Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng para kiai. Ulama, katanya, mengedepankan “Yang dipakai para ulama di Jepara untuk
memfatwa haram pembangunan PLTN di kaidah fiqh dar’ al-mafasid muqaddam menyatakan bahwa reaktor nuklir itu
Semenanjung Muria, Jawa Tengah. Fatwa ‘ala jalb al-mashalih (menolak kerusakan membahayakan, itu al-Qur’an al-Karim,”
yang digodok kiai-kiai NU melalui forum didahulukan dari pada menarik katanya.
Bahtsul Masail, dari 01-02 September 2007, kemaslahatan).
itu sontak mendulang pro kontra. Kalangan muda NU Jepara justru
“Para kiai tak hanya melakukan refleksi mengkhawatirkan perdebatan di internal
Reaksi keras datang dari Pengurus kaidah-kaidah fiqh, tapi juga sejarah kaum nahdliyin ini. “Jangan-jangan nanti
Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). “Bagi kami, panjang PLTN di dunia dan wacana di Fatwa Haram PLTN Muria oleh PCNU Jepara
itu berlebihan. Kami belum membahas. Indonesia, hingga sikap-sikap pemerintah dibatalkan PBNU,” kata Koordinator Garda
Tapi, keputusan PCNU Jepara kami nilai yang kurang responsif terhadap persoalan Muria Zakariyya el-Anshori.
sebagai masukan atau rekomendasi,” ujar ini, utamanya pada masyarakat lapisan
Ketua PBNU Ahmad Bagja. bawah,” ujar pria yang akrab dipanggil Gus Kekhawatiran Zakariyya mungkin
Nung ini. tak akan terjadi. Sejatinya Hasyim Muzadi
Hal senada dinyatakan Ketua Umum pun takut terhadap pembangunan PLTN.
PBNU KH. Hasyim Muzadi. Ada pihak lain, Gus Nung mengakui, dalam “Wong gardu listrik saja njeblug (meledak,
katanya, yang menunggangi PCNU Jepara. sebuah perkara seringkali ada mafsadah red.), lalu bagaimana nantinya kalau ada
“Itu mungkin disokong oleh kepentingan (keburukan) dan maslahah (manfaat). al- kebocoran nuklir? Ini yang dikhawatirkan
bisnis yang merasa dirinya dirugikan. Qur’an mencontohkan khamr (minuman oleh masyarakat Jepara,” tuturnya di PBNU,
Melihat kenyataan seperti itu, banyak yang keras) dan maysir (judi), yang diakui ada Senin (03/09/07).
tertarik untuk cari simpati baik politik, LSM, manfaatnya, tapi dampak negatifnya
maupun Pilkada Jateng. Situasi seperti lebih hebat atau dalam bahasa al-Qur’an Benar saja. Seminggu kemudian,
itu tambah meriah dengan adanya tokoh disebut sebagai itsmuhuma akbaru min laboratorium milik Badan Teknologi
nasional dan internasional,” ujar Hasyim naf’ihima (dosanya lebih besar daripada Nuklir Nasional (Batan) di Serpong pun
dalam penggalan SMS-nya yang beredar manfaatnya), sehingga hukumnya haram. njeblug. Walau para pejabat garda depan
luas. pembangunan PLTN itu mengatakan tidak
“Ketentuan al-Qur’an ini menjadi ru ada reaktor yang bocor, namun semangat
“Biaya demo dan pertemuan jukan utama kami dan dirumuskan dalam penolakan seperti kembali menemukan
itu sangat besar yang tidak mungkin berbagai kaidah fiqh,” kata Gus Nung. momentumnya. Dan roman-romannya
ditanggung PCNU Jepara,” tegas Hasyim PBNU akan segera menyusul PCNU Jepara.
dalam sambutan pembukaan Rapat Selama merumuskan fatwa itu,
Kerja Nasional Lembaga Bahtsul Masail kata Sekretaris Tim Perumus KH. Ahmad Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
Nahdlatul Ulama (Rakernas LBMNU), di Roziqin, pihaknya memegang prinsip
Gedung Dewantoro, Taman Wiladatika, ahlussunnah wal jamaah; tawassuth, i’tidal, dok.WI/Nurul H. Maarif
Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (05/09/07). tasamuh, dan tawazun. “Hukum haram
“Problem nuklir di Jepara sudah masuk ini melalui kajian panjang dari masing- KH. Nuruddin Amin
angin,” imbuhnya. masing kiai. Jadi mereka telah memiliki
bekal informasi seputar PLTN, termasuk
Tak berhenti di situ. Rakernas pandangan dari sisi fiqh,” katanya.
LBMNU menjadikan fatwa PCNU Jepara
sebagai agenda pembahasan. Hanya saja, PCNU Jepara menilai, secara
keputusan final belum dihasilkan. Isu ini nyata rencana pembangunan PLTN
pun akan dibahas pada kesempatan lain. telah menimbulkan tarwi’ al-muslimin
“Hal terpenting, bahtsul masail harus (keresahan umat). “Jadi, pembangunan
berbasis riset yang mendalam,” kata Ketua PLTN Muria lebih banyak mudarat
Panitia Rakernas LBM HM Kholil Nafis ketimbang manfaatnya. Karena itu, kami
seolah ‘menuding’ fatwa haram PLTN NU memutuskan haram!” imbuh Kiai Roziqin.
Jepara tak berbasis riset mendalam.
Mantan Ketua Umum PBNU
Bantahan datang dari Ketua KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
mendukung pengharaman PLTN Muria.
118 Suplemen the WAHID Institute Edisi XII / Majalah Tempo / 24 September 2007
Fatwa untuk Kemaslahatan Publik
dok.pribadi Dr. KH. Imam Ghazali Said tidak berbicara tentang PLTN, mereka merujuk
kepada masalah orang berobat ke dokter.
Pengasuh Ponpes An Nur Wonocolo Surabaya Pengobatan itu ada efek negatifnya. Kalau efek
negatifnya tidak bisa diatasi, ya jadinya haram.
Majalah Demikian juga PLTN.
SKuditahaMbenggantikan
Seharusnya?
LEMBAGA Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) adalah lembaga Ya, lebih baik tidak mengutip dari situ. Tapi
yang berwenang mengkaji keputusan hukum atas berbagai persoalan
kemasyarakatan. Tema dominan yang diangkat adalah sosial, politik mengutip metodologinya. Di NU kan ada dua
dan lingkungan. KH. Imam Ghazali Said mengusulkan, LBM NU harus cara pengambilan hukum; manhaji (mengambil
mempertimbangkan metode istiqra’i (penelitian lapangan) supaya metode) dan qauli (mengambil pendapat).
kontekstual dengan zaman. Berikut pernyataan editor buku Ahkam Hanya merujuk ke qauli itu tidak sesuai.
al-Fuqaha’ fi Muqarrarat Mu’tamar Nahdlatil Ulama’ (1926-1999 M), ini Harusnya lebih diutamakan manhaj-nya. Jadi
kepada Nurul H. Maarif dari the WAHID Institute: keduanya tetap perlu dikemukakan.
Tema apa yang banyak di-Bahtsul Masail Karena, karya ilmiah, bisa saja satu sisi tidak Ada Bahtsul Masail tentang Lumpur
(BM)-kan? cocok dengan NU, tapi sisi yang lain cocok. Lapindo yang melibatkan banyak tokoh
Padahal isi kitab tafsir ini bermazhab Syafii. agama. Pandangan Kiai?
Tema sosial dan politik. Misalnya soal Hanya tawasul yang tidak cocok. Karena itu, Kiai
peran perempuan, baik sebagai kepala desa, Sahal menyatakan, kitab itu diterima saja, tapi Itu yang mengadakan bukan NU. Karena
anggota parlemen, presiden, pengisi pengajian, soal tawasul nggak usah diambil. Ketika terjadi Bahtsul Masail kiai-kiai NU, itu mendapat
dan sebagainya. Tentang perempuan mengisi voting, Kiai Sahal kalah. Tafsir al-Maraghi tetap legitimasi di masyarakat. Dan NU sudah punya
pengajian, itu sudah dibahas tahun 1928. ditolak. pakemnya. Tapi, karena namanya lintas agama,
Dalam kitab acuan NU, memang ada dua saya kira Bahtsul Masail seperti itu tidak apa-
pendapat; suara perempuan aurat dan bukan Merujuk kitab baru itu mencederai kekhasan apa. Saran saya, jangan pakai istilah Bahtsul
aurat. Tapi keputusan saat itu memilih, suara NU? Masail. Pakai saja istilah lain.
perempuan bukan aurat.
Nggak juga. Karena kalau mencari ke Apa kelebihan dan kelemahan Bahtsul
Adakah perubahan dalam tradisi Bahtsul kitab-kitab lama, kita kesulitan. Saya kira itu Masail?
Masail? positif saja.
Pertama, pengetahuan kiai-kiai di
Pada Muktamar NU 1926 sudah Bagaimana fatwa tentang lingkungan? daerah dan di pusat sebetulnya berimbang,
dirumuskan bagaimana mengambil keputusan Isunya tentang hutan muncul pada jadi tidak bisa menganggap orang yang di
dalam Bahtsul Masail. Misalnya, mazhab dan PBNU, itu lebih hebat. Makanya tidak boleh
pendapat siapa yang diunggulkan. Hanya Muktamar NU Cipasung, 1994. Keputusannya, saling membatalkan antara tingkat cabang,
dalam perjalanannya ‘menyimpang’ dari perusak hutan harus dihukum seberat- wilayah atau pusat. Bahtsul Masail itu tidak
metodologi yang ditetapkan sebelumnya. beratnya. Bahkan ada usulan hukuman mati. berfungsi seperti pengadilan. Itu hanya
Misalnya asuransi. Pada zaman kitab klasik Ini fenomena baru dalam Bahtsul Masail. Pada kekuatan moral. Kedua, para kiai mampu
ditulis, kan nggak ada asuransi. Karena tidak masa awal nggak sampai ke sana, karena isunya mengeksplorasi teks-teks kitab klasik untuk
menemukan kitabnya, para kiai menukil belum mengemuka. dikontekstualisasikan sesuai zaman sekarang.
Majalah Hidayah Islamiyyah, al-Manar, dan Ketiga, ada pergeseran perujukan. Karena teks
fatwa beberapa mufti Timur Tengah. Yang Bagaimana soal Fatwa Haram PLTN Muria? kitab klasik tidak seluruhnya bisa dipakai untuk
dirujuk bukan kitab lagi, tapi majalah. Saya sudah ketemu kiai-kiai Jepara dan mengatasi problem sosial, maka yang diambil
metodologinya bukan teksnya.
Artinya Bahtsul Masail sekarang lebih terbuka diberi makalah hasil keputusannya. Saya
pada kitab di luar NU? melihat ada ketidakpercayaan karena beberapa Sedang kelemahannya, pada masa
kasus tidak bisa diatasi pemerintah, seperti Bahtsul Masail awal, kita tidak diperkenankan
Ya. Tapi banyak menuai kritik. Misalnya lumpur Lapindo Sidoarjo. Lapindo memang merujuk al-Qur’an dan Hadits secara langsung,
ketika Muktamar ke-27 di Situbondo muncul ada mashalih (kemanfaatan)-nya. Tapi ketika melainkan harus lewat al-kutub al-mu’tabarah
wacana memasukkan Tafsir al-Maraghi. Juga terjadi mafasid (kerusakan), pemerintah tidak NU. Itu serupa kutipan dalam kutipan. Dan
pada 1960-an ketika NU menjadi partai politik, bisa mengatasi. Lha kalau ini terjadi pada PLTN sekarang, kelemahan itu diatasi dengan
PKI mengampanyekan pembagian tanah. bagaimana? mengambil metodologinya sesuai keputusan
Waktu itu NU merujuk buku-buku modern Munas Alim Ulama NU Bandar Lampung, 1992.
karya Abdul Qadir Audah dan Yusuf Musa dari Yang menarik adalah cara mereka Hanya saja, yang Lampung tidak dilaksanakan,
al-Ikhwan al-Muslimun. mengambil kitab lama sebagai acuan sampai keputusan Muktamar Boyolali. Di sana,
membahas PLTN. Mereka menggunakan ilhaq hasil keputusannya, setiap jawaban, dalilnya
Soal Tafsir al-Maraghi, waktu itu KH. MA. al-masail (membuat hukum baru dengan harus al-Qur’an, Hadits, fatwa shahabat dan
Sahal Mahfudh mengatakan tidak apa-apa membandingkannya pada persoalan lama yang fatwa ulama.
walaupun penulisnya tidak mengakui tawasul. sudah ada hukumnya, red.). Karena kitab lama
Harapan untuk Bahtsul Masail ke depan?
Cobalah padukan antara tekstual dan
kontekstual. Selama ini kan ada hegemoni
tekstual kitab klasik. Itu yang disebut dalam
ushul fiqh sebagai sistem istidlali. Mestinya
sekarang pakai sistem istiqra’i, penelitian
lapangan. Dari penelitian lapangan lalu
ditentukan hukumnya. Keduanya dipakai,
tapi tidak dominan istidlali-nya. Tetap
mendominankan istiqra’i-nya.
Suplemen the WAHID Institute Edisi XII / Majalah Tempo / 24 September 2007 119
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Menabur Damai Lewat Udara
Berbagai media digunakan untuk menyiarkan Islam yang damai. Beberapa pesantren, santri dan
masyarakat mendirikan radio untuk itu. Tidak hanya yang bersifat komersial, tapi juga radio komunitas
yang berbasis masyarakat.
S ekilas bangunan berlantai dua di Jl. Masjid Raya No. 100 Selain sebagai alat pembinaan 400 cabang As’adiyah yang
Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan itu seperti tersebar di berbagai provinsi, RSA juga berjasa menyebarkan
kurang terawat. Cat temboknya terkelupas di sana sini. dakwah Islam yang damai. Sebab itu, salah satu program radio
Beberapa dindingnya bahkan diselimuti lumut. Di ruang tamu yang siarannya menjangkau Sulawesi Tenggara, beberapa
teronggok satu set sofa tua dan beberapa meja kerja. Beranjak kabupaten di Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi
lebih ke dalam, berbaris empat ruangan yang dipakai sebagai Barat dan Sulawesi Selatan, ini adalah Dialog Interaktif Islam dan
gudang dan ruang mesin, ditambah dua ruangan berfungsi Pluralisme.
sebagai ruang siar.
“Di sini kita menghadirkan mereka yang selama ini
Gedung ini adalah kantor Radio Suara As’adiyah (RSA), terpinggirkan seperti Komunitas Tarekat Khalwatiyah, Komunitas
radio swasta tertua di Sulawesi Selatan, bahkan di Sulawesi. Maccena Tapareng, Komunitas Bissu dan lain-lain. Mereka bicara
Ternyata di balik kebersahajaan penampilannya, radio milik dan masyarakat bebas menanggapinya,” papar Koordinator
Pondok Pesantren As’adiyah ini telah mengudara 40 tahun lebih. Program Dialog Interaktif Islam dan Pluralisme Subair Umam.
Ini adalah prestasi mengagumkan bagi sebuah radio swasta,
bahkan milik pesantren, yang hanya bisa ditandingi oleh radio Menurut Nurdin, yang sudah 20 tahun menjadi penyiar
milik pemerintah seperti Radio Republik Indonesia (RRI). di RSA, radio ini adalah trend setter masyarakat Wajo. “Untuk
menentukan waktu shalat, masjid-masjid raya yang berada
Dengan tujuan menyebarkan gagasan keIslaman yang dalam jangkauan RSA seolah tidak lagi percaya pada jam.
menghargai dinamika masyarakat Sulawesi Selatan yang sangat Kalau RSA adzan baru mereka adzan. Begitu pula dalam
plural, RSA yang berada pada frekuensi 86.4 AM ini didirikan penentuan zakat fitrah. Meskipun sudah ada pengumuman dari
pada 1967 oleh ulama kharismatik, Gurutta Haji Muhammad pemerintah, mereka tetap menunggu pengumuman dari RSA,”
Yunus Martan (1906 – 1986 M). ungkap Nurdin.
Sejak berdiri, RSA mampu menyampaikan pandangan Bahkan, apabila radio mengalami gangguan siaran atau
keagamaan Pondok Pesantren As’adiyah, sebagai salah satu terlambat mengudara, maka redaksi akan menerima ratusan
pesantren terbesar di Indonesia bagian timur. Didirikan oleh telpon dari pendengar menanyakan hal tersebut. “RSA bagi
KH. Muhammad As’ad pada 1928, Pesantren As’adiyah adalah masyarakat Wajo dan sekitarnya seperti garam dalam sayur.
pelopor gerakan Islam tradisionalis moderat di Sulawesi Selatan. Mereka sudah tak bisa ke lain hati,” tutur Nurdin bangga.
“KH. Muhammad As’ad ini sahabat Pendiri NU KH. Hasyim Kecintaan masyarakat pada radio dakwah yang senantiasa
Asy’ari ketika belajar di Makkah. Karena itu cara pandangnya didengarnya juga dirasakan pengelola Radio Persada di
mirip NU yakni ahlussunnah wal jamaah,” jelas Direktur RSA Drs. Kompleks Pondok Pesantren Sunan Drajat, Desa Banjarwali,
Ahmad Muktamar, MA kepada Subhi Azhari dari the WAHID Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur.
Institute.
Stasiun Persada FM pernah ‘diserbu’ pendengar fanatiknya
Sedang Gurutta Yunus Martan, imbuh Muktamar, adalah gara-gara program-program seperti pengajian dan dakwah yang
tokoh yang paling sukses memimpin Pesantren As’adiyah. selama ini mereka dengarkan dari Radio Persada lenyap berganti
Selain berkembangnya cabang-cabang Pesantren As’adiyah, hiburan pop. ”Mosok acara pengajian tiba-tiba berubah musik,”
pendirian radio adalah ide cemerlang yang belum terpikirkan sergah salah seorang pendengar setia Radio Persada seperti
oleh siapapun. Karena itu dulu orang menyebut Gurutta Yunus dikisahkan Direktur Radio Persada Anwar Mubarok.
Martan sebagai kiai yang lahir sebelum zamannya.
Anwar yang ikut menemui para tamunya itu menjelaskan,
“Artinya, ketika orang lain belum memikirkan radio sebagai bahwa radio yang dipimpinnya tetap mengudara. Tapi karena
media dakwah, beliau sudah mendirikan radio ini bersama daya pancar salah satu radio di Kota Surabaya yang memiliki
Dr. Rafi Yunus, H. Badruddin Abduh dan H.M. Yahya,” tambah frekuensi yang sama dengan Radio Persada lebih kuat, maka
Muktamar yang memimpin RSA sejak 2003 ini. radio itulah yang ditangkap pemirsa. Anwar berjanji, akan
mencarikan solusi agar masalah ini segera selesai.
Dikisahkan Muktamar, pada pertengahan 1970 terjadi
kebakaran besar yang menghanguskan hampir seluruh Sejak mengudara pada awal 2004, radio yang didirikan oleh
bangunan Pesantren As’adiyah, tak ada satupun yang bisa pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat KH. Abdul Ghofur,
diselamatkan kecuali RSA. Hal itu karena Gurutta Yunus Martan ini seolah menjadi oase di tengah kebutuhan masyarakat
memerintahkan agar lebih dulu menyelamatkan barang-barang terhadap radio dakwah Islam. Dengan program-program yang
milik RSA. “Begitu pentingnya media radio ini bagi Gurutta Yunus khas pesantren, radio yang berada pada gelombang 97.2 FM ini
Martan,” lanjut pria kelahiran Sengkang 12 Juni 1969 ini. langsung menjadi idola masyarakat Lamongan dan sekitarnya.
120 Suplemen the WAHID Institute Edisi XIII / Majalah Tempo / 29 Oktober 2007
Menabur Damai Lewat Udara
RSA, radio swasta tertua di Sulawesi dok.Subri Azhari
Latar pendirian radio ini memang tidak lepas dari keinginan Kedu plus beberapa kabupaten di Yogyakarta. Radio dengan
masyarakat di sekitar pesantren untuk mendalami agama. misi mengembangkan kebudayaan lokal berbasis religi, mem-
“Urusan agama, orang biasanya tidak bisa langsung diceramahi. promosikan Islam toleran dan menggalang solidaritas sesama
Kita berikan apa yang mereka butuhkan berupa hiburan lokal, masyarakat pedesaan, ini memiliki program-program konsultasi
baru dari sana pesan dakwah kita sisipkan secara perlahan,” tutur fiqh sebagai acara unggulan (lihat: Radio untuk Memfasilitasi
Anwar yang turut membidani berdirinya radio ini. Semangat Nyantri Masyarakat).
Dakwah lewat radio ternyata lebih efektif, karena selain Program-program ini diasuh langsung oleh pemilik Radio
bisa menjangkau ke pelosok, media ini juga mampu merang- Fast FM, sekaligus pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam
kul masyarakat dengan latar belakang yang beragam. (API) Tegalrejo Magelang KH. Yusuf Chudlori. Menurut Gus Yusuf,
“Keistimewaan radio ini, berada pada posisi netral. Kita inginkan panggilan akrab KH. Yusuf Chudlori, program konsultasi fiqh ini
Islam itu yang damai, mengajak kita semua bahagia dunia dikemas secara live melalui telpon.
akhirat,” jelas Anwar.
“Ini berguna memfasilitasi ghirah atau semangat masya-
Maraknya gerakan Islam garis keras yang menggunakan rakat mendalami Islam yang sangat tinggi,” jelas putra kesebelas
berbagai media, membuat para pendiri Persada FM mengarah- pendiri Pesantren API KH. Chudlori dengan Ny. Hj. Nurhalimah
kan radio, yang daya jangkaunya mencakup Gresik, Mojokerto, ini.
Lamongan, Tuban, sebagian Jombang hingga Rembang, ini
menyampaikan pesan Islam damai. Tidak hanya dilakukan lewat radio komersil, kini pesantren,
kelompok-kelompok santri dan masyarakat juga menyuarakan
Karena itu dirancang sebuah acara dakwah interaktif yang dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin lewat radio komunitas
diasuh langsung KH. Abdul Ghofur dan disiarkan setiap sore (lihat: Dari Rakom untuk Islam Damai).
hari. “Pengajian ini untuk menyikapi perkembangan mutakhir
dalam berbagai bidang. Masyarakat tidak hanya diisi akhiratnya Swasta atau komunitas, yang paling penting dakwah Islam
saja. Mereka juga dianjurkan bagaimana bekerja yang halal. Dan yang damai lewat radio harus konsisten, seperti motto RRI:
selalu pesannya bagaimana damai dunia akhirat,” papar Anwar. “Sekali di udara tetap di udara.”
Program yang sama juga dibuat Radio Fast 96.4 FM Subhi Azhari, Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi
Magelang dengan coverage area meliputi eks Karesidenan
Suplemen the WAHID Institute Edisi XIII / Majalah Tempo / 29 Oktober 2007 121
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Dari Rakom untuk dok.WI/ Gamal Ferdhi Advokasi Fahmina Institute Ade Duryawan.
Islam Damai Untuk tujuan itu, sebelum
Studio Rakom Bonbar FM Cirebon pembentukan jaringan Rakom itu, Fahmina
Institute mengadakan pelatihan untuk
PENYEBARAN Islam yang toleran tidak dengan keindonesiaan kita,” ujar Dadang. Kader Pendidik Agama (KPA) dan Kader
hanya dilakukan lewat radio komersil. Misi yang sama juga diemban Penggerak Warga (KPW) yang dipilih dari
Kelompok-kelompok santri dan warga sekitar Rakom tersebut. Kompetensi
masyarakat kini juga membentuk radio enam Rakom di Wilayah III Cirebon, yang harus dipunyai KPW diantaranya
komunitas (Rakom). Jawa Barat. Radio-radio tersebut adalah memiliki kepekaan terhadap problem
Caraka FM di Ciborelang Majalengka, masyarakat dan mampu mengelola
Rakom adalah media yang dikelola Banyu FM di Astanajapura Cirebon, AJ program-program radio komunitas.
oleh suatu masyarakat (komunitas) dengan FM di Arjawinangun Cirebon, Sella FM di Sedang KPA adalah, seorang pendidik
tujuan untuk pendidikan dan peningkatan Bongas Indramayu, Baina FM di Jalaksana agama yang humanis dan adil jender
kapasitas masyarakat. Rakom, yang Kuningan dan Bonbar FM di Kecamatan dan mampu melakukan pendampingan
dilarang pemerintah menayangkan iklan Kejaksan Kota Cirebon. masyarakat.
komersial, isi siarannya dirancang dan
diawasi sendiri oleh komunitas tersebut. Banyu 107.9 FM, misalnya, banyak “Mereka nantinya yang
Menurut Kepmenhub No. 15/2003, daya menyiarkan informasi seputar pesantren- menggerakkan masyarakat untuk
pancar rakom dibatasi hingga 50 watt, pesantren yang ada di Kecamatan membentuk dan terlibat dalam DPK dan
dengan wilayah layanan maksimum Astanajapura kepada masyarakat. “Melalui BPPK secara demokratis,” jelas Ade.
2,5 km. Bahkan PP No. 51/2005 tentang radio ini kita ingin mendekatkan pesantren
Lembaga Penyiaran Komunitas, rakom dan kiai dengan masyarakat,” kata Ketua Dewan Penyiaran Komunitas
hanya boleh mengudara di frekuensi 107.7, DPK Rakom Banyu FM Tabrani. (DPK) merupakan perwakilan warga
107.8 dan 107.9 Mhz. komunitas dan merupakan forum
Tabrani juga merancang program pertanggungjawaban para pengelola
Tapi pembatasan itu tidak diskusi bertajuk Dialog Islam Damai program Rakom. Sedang Badan
mengurangi semangat pengelola Radio yang diisi para kiai sekitar Astanajapura. Penyelenggara Penyiaran Komunitas
Medina yang berbasis di lingkungan “Acaranya 3 kali seminggu. Tujuannya (BPPK) merupakan tim kerja radio
Pondok Pesantren Cipasung, Singaparna, selain penyejukan hati juga untuk komunitas atau organ/tim yang
Tasikmalaya menyuarakan visi dan membuka dialog kiai menyelenggarakan siaran Rakom.
misinya. “Kita menyuarakan Islam yang dengan masyarakat,”
universal, memberi manfaat bagi orang jelas Tabrani. Dua lembaga ini yang nantinya
banyak. Karena kami mengemban amanat mengurus badan hukum Rakom di notaris.
pesantren,” papar H. Dadang Darmawan, Pembentukan “Selanjutnya mengurus perizinan melalui
salah satu pengurus Radio Medina. Banyu FM dan lima Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID)
Rakom lainnya itu agar sampai ke Menteri Komunikasi dan
Radio yang mengudara pada dibidani langsung Informasi,” kata Ade (lihat: Proses Perizinan
gelombang 107.9 FM dan menjangkau oleh warga dan Radio Komunitas).
sebelas kecamatan di sekitar Singaparna, difasilitasi oleh Fahmina
ini berupaya menanamkan kesadaran Institute. “Tujuannya Untuk mewujudkan semua proses
tentang kewarganegaraan. Mulai dari agar Rakom menjadi itu diperlukan partisipasi aktif warga
bagaimana bertetangga dan berniaga alat pemberdayaan komunitas. “Karena ini semua milik
dengan orang lain yang berbeda agama, komunitas yang berbasis komunitas. Kita hanya memberi stimulan
pendidikan demokrasi hingga kesetaraan nilai-nilai keluhuran berupa perangkat keras dan lunaknya
jender. “Intinya kita harus merasa bangga Islam,” kata Koordinator saja. Kalau warga tidak bersemangat
Pendidikan dan membesarkan, maka dengan sendirinya
Rakom mereka akan tutup buku,” pungkas
Ade.
Subhi Azhari, Gamal Ferdhi
122 Suplemen the WAHID Institute Edisi XIII / Majalah Tempo / 29 Oktober 2007
Menabur Damai Lewat Udara
KH. Yusuf Chudlori Mengapa program konsultasi fiqh begitu
diminati?
Pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang
Dari respon pendengar akan acara
Radio untuk Memfasilitasi ruhani yang diudarakan setiap pagi,
Semangat Nyantri Masyarakat kami melihat bahwa saat ini ghirah atau
semangat masyarakat untuk mendalami
DENGAN maksud menyediakan sarana alternatif berdakwah mewujudkan Islam yang Islam sangatlah tinggi. Bahkan sebagian
rahmatan lil`alamin, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mendirikan Radio Fast 96.4 FM di besar masyarakat sebenarnya punya
lingkungan Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang. Bahkan atas keinginan kuat untuk nyantri. Namun
permintaan pendengarnya, terbit buku-buku dakwah Islam damai yang disiarkan radio karena keterbatasan waktu dan lain
yang mulai mengudara pada 02 Februari 2003 itu. Berikut petikan wawancara Gus Yusuf sebagainya, keinginan tersebut tidak
dengan Arif Hidayat, kontributor the WAHID Institute di Magelang. terwujud.
Apa latar belakang pendirian radio ini? tidak menggurui. Tapi kami juga memutar Fenomena ini sangat
Bermula dari kegelisahan lagu-lagu pop maupun barat juga musik menggembirakan hati, sekaligus
lokal dan relijius yang disukai masyarakat. tantangan. Acara konsultasi fiqh yang
masyarakat, khususnya warga pedesaan, Bahkan musisi pop papan atas seperti dikemas secara live melalui telpon,
akan radio-radio yang sudah ada Dewa 19, Gigi, Sheila on 7 dan lainnya berguna memfasilitasi semangat tersebut
yang hanya menampilkan hiburan- pernah kami undang. Tujuannya agar dengan sebaik-baiknya dan agar jangan
hiburan yang semata duniawi. Maka pesan dakwah bisa sampai ke masyarakat sampai keinginan luhur memahami agama
ketika masyarakat merasa kurang, saya tanpa merasa digurui. Dakwah juga tersaji tadi tidak tersalurkan pada wadah yang
mendirikan Fast FM dengan sentuhan melalui penyiaran pemecahan masalah- tepat, sehingga masyarakat mencari
duniawi-ukhrawi. Di sinilah Fast FM, yang masalah kemasyarakatan dan penyiaran jawaban sendiri yang kadang jauh
merupakan kependekan dari Fastabiqu kebudayaan lokal. dari kebenaran. Bahkan menimbulkan
al-Khairat (berlomba dalam kebajikan) pertentangan antar agama dengan
memposisikan diri sebagai media kehidupan manusia itu sendiri.
alternatif bagi masyarakat di wilayah eks-
Karesidenan Kedu yaitu Kota Magelang, Acara ini juga menjadi jendela
Kab. Magelang, Parakan, Temanggung, masyarakat untuk mengakses sebagian
Sukorejo, Ngadirejo, Purworejo, Kebumen, keilmuan dan tradisi pesantren yang
Wonosobo, Muntilan. Bahkan sampai dapat menjadi bagian dari solusi problem
beberapa kabupaten di Yogyakarta (Bantul, keumatan dalam kehidupan sehari-hari.
Kulonprogo, Gunung Kidul). Tapi, ada juga pesantren yang
mengharamkan santrinya mendengarkan
Apa visi dan misinya? KH. Yusuf Chudlori (kanan) radio?
Secara umum Fast FM bertujuan
Sambutan masyarakat? Kita harus menghargai perbedaan
ambil bagian dalam mencerdaskan Alhamdulillah, sampai saat ini pendapat itu. Tapi pada dasarnya radio
bangsa. Secara khusus kita menyajikan adalah gelas kosong, tinggal mau kita isi
informasi yang relijius, obyektif, moderat, masyarakat memberikan respon positif madu atau arak. Sebagai media dakwah
dan demokratis dengan mengembangkan terhadap keberadaan radio ini. Beberapa tentu kita harus menghidangkan madu
wacana Islam yang menghargai pluralitas, program khusus yang banyak diminati sesuai porsinya agar dapat dinikmati
tanpa membedakan kelompok agama, pendengar diantaranya Menapak Hidup secara sehat dan bermanfaat. Dan sebagai
sosial, politik, maupun kebudayaan. Juga Baru yang berisi tadarus, siraman ruhani alat informasi, kami berkomitmen bahwa
untuk mengembangkan kebudayaan agama Islam dan lagu ruhani agama Islam, Islam adalah agama kedamaian dan
lokal berbasis reliji, mempromosikan kemudian Baiti Jannati atau Rumahku rahmatan lil ‘alamin.
Islam toleran dan menggalang solidaritas Surgaku berupa konsultasi keagamaan via
sesama masyarakat pedesaan. Lebih telpon yang membahas persoalan pribadi Bagi masyarakat yang tidak
penting lagi adalah komitmen selalu maupun rumah tangga. Juga Fiqh Interaktif dapat mendengarkan Radio Fast FM,
menjaga keseimbangan antar kepentingan yang saya asuh, berupa konsultasi fiqh kami bekerjasama dengan pihak lain
masyarakat, agar tidak terkotak-kotak atau (hukum Islam) yang berkaitan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan off
tersekat oleh agama, suku, maupun afiliasi masalah umum seperti politik, sosial, air yang sesuai dengan misi Fast FM.
politik. Kami selalu menyematkan arah ekonomi dan budaya. Bahkan atas Baik dalam tema dialog kebudayaan,
perjuangan pada komitmen bahwa Islam permintaan pendengar, program-program mujahadah, pengajian maupun acara
adalah agama kedamaian yang rahmatan konsultasi fiqh itu telah dibukukan. lainnya. Dalam acara-acara tersebut saya
lil `alamin. selalu hadir.
Bagaimana kiat dakwah radio ini? Apa rencana pengembangan Fast FM
selanjutnya?
Kami menampilkan dakwah Islam
yang mengedepankan kebersamaan dan Kami akan menjalin kerjasama
pengembangan dan memperluas jaringan
radio di beberapa kota di Jawa Tengah,
kalau mungkin televisi, insya Allah.
Suplemen the WAHID Institute Edisi XIII / Majalah Tempo / 29 Oktober 2007 123
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara
Tunas Ketulusan
dari Lahan Bencana
Bencana menerjang tak pandang bulu. Semua daerah, penanaman pohon, dan membuat tanggul secara
komponen bangsa dari berbagai latar bahu- berkelanjutan,” ujar Avianto.
membahu. Dengan tulus mereka membantu.
Meski kadang dituduh ada udang di balik batu. Latar belakang dibentuknya CBDRM, kata Avianto, karena
NU itu organisasi besar tapi belum sistematis mengurusi
M elewati jalan berlubang, retak-retak dan naik turun, bencana. “Ini terlihat dari respon NU yang lamban ketika ada
Avianto Muhtadi bersama rombongannya tiba juga di bencana,” Avianto mengakui.
Kabupaten Mukomuko, Propinsi Bengkulu tepat pukul
setengah sepuluh malam. Meski seminggu berlalu, belum ba- Dia pun diminta PBNU mengonsep CDBRM untuk diajukan
nyak bantuan untuk penduduk daerah terparah yang diguncang ke ajang muktamar yang akan datang supaya menjadi lembaga
gempa berkekuatan 7,9 SR pada Rabu (12/09/07) itu. khusus.
Avianto memimpin Community Based Disaster Risk Mana- Muhammadiyah juga memiliki tim khusus yang
gement (CBDRM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). menangani korban bencana, yaitu Muhammadiyah Disaster
Bersamanya, turut serta sejumlah relawan NU, GP Ansor, IPNU, Management Center (MDMC). Menurut Wakil Sekretaris MDMC,
IPPNU, Banser, dan tim dokter. Mereka datang untuk menyalur- Husnan Nurjuman, embrio MDMC digagas dalam Muktamar
kan bantuan bagi para korban gempa berupa terpal, beras, mie Muhammadiyah tahun 2000.
instant, air mineral, susu bayi, pembalut wanita, pengobatan
gratis, dan banyak lagi. Waktu itu, ujarnya, bernama Badan Penanggulangan
Bencana dan Masalah Kemanusiaan. Badan ini lantas di-
Komitmen kemanusiaan NU pada korban bencana alam sub-kan di bawah pengurus Majelis Kesehatan dan Layanan
diwujudkan dengan merancang program CBDRM pada 2006. Kesejahteraan Muhammadiyah. “Baru pada 2007, MDMC resmi
“Lembaga ini bermula dari inisiatif Lembaga Penanganan Kese- berdiri mandiri membawahi urusan bencana dan kemanusiaan,”
hatan NU (LPKNU) yang ingin mengurangi resiko bencana,” ujar terangnya.
Program Manager CBDRM PBNU Avianto Muhtadi kepada Nurun
Nisa dari the WAHID Institute. Melalui ribuan relawan, MDMC membantu korban di Aceh,
Yogyakarya, Bengkulu, dan Jakarta. Dananya digalang dari
Awalnya, tutur Avianto, diadakan seminar perihal CBDRM masyarakat, termasuk LAZIS Muhammadiyah. Pun dari hasil kerja
pada 2005. Kiai dari 18 pengurus NU propinsi, 18 satkorlak, dan sama dengan Direct Relief International Santa Barbara, AusAID,
18 ponpes se-Indonesia, diundang sebagai peserta. Saat itu dan UNICEF.
muncul keinginan membentuk gerakan dalam payung NU yang
menangani bencana. “Usulan ini kemudian menjadi program Ketika terjadi gempa Bengkulu misalnya, MDMC menangani
satu tahun, 2006-2007, yang didanai AusAid. Para pengusaha NU 1.000 keluarga pengungsi. Dengan dukungan 7 dapur umum,
sendiri belum pernah (mendanai CBDRM, red.),” terangnya. setidaknya dua ton beras dimasak setiap hari. Mereka juga di-
sertai tim medis dari RSI Cempaka Putih Jakarta.
Lembaga ini juga bekerja sama dengan United Nations
Coordinator of Humanitarian Assistance (UNCoHA) badan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) pun memiliki program
PBB yang mengurus masalah kemanusiaan dan perusahaan- serupa. Namanya Humanity First Indonesia (HFI). Didirikan pada
perusahaan yang peduli kemanusiaan. 2004, HFI menginduk pada HF di London Inggris yang berdiri
pada 1994. “HF sifatnya antar benua dan telah ada di 20 negara,”
Program yang ditanganinya, memberi pelatihan mana- kata Ketua HFI Basyiruddin Pontoh, kepada M. Subhi Azhari dari
jemen penanggulangan bencana. Tiga pilot project dipilih, the WAHID Institute (lihat: Wadah Khidmat untuk Kemanusiaan).
yaitu Ponpes Nurul Islam Jember, Ponpes Ash-Shiddiqiyyah
Jakbar, dan Ponpes Darus-Salam Watucongol Magelang. “Alasan Misi HFI memberantas kemiskinan, kebodohan, membantu
dipilihnya mereka itu karena di Jember dan Jakarta rawan banjir. di bidang kesehatan, dan membantu korban bencana alam.
Di Magelang rawan letusan gunung Merapi. Mereka juga basis “Kalau ada bencana, HFI memberi pengobatan, dapur umum,
NU,” ujarnya. membangun sarana prasarana, dan bantuan pasca bencana,”
ujarnya.
Melalui program ini, CBDRM telah merekrut 1.500
Santri dan Masyarakat Siaga Bencana (SMSB). Untuk 2008, Menggunakan jasa relawan, HFI turut membantu korban
katanya, direncanakan ada lima pilot project lagi. Dan tsunami Aceh, Merapi, gempa Yogyakarta dan Jateng, tsunami
pada 2009 akan merambah luar Jawa. “Kita akan melatih Pangandaran, banjir Jakarta, dan sebagainya. “Bantuan datang
mitigasi atau penanggulangan bencana berupa pemetaan dari siapa saja. Kita tidak membatasi. Ada yang sifatnya rutin dan
ada yang sifatnya insidentil,” katanya.
Selain ormas, lembaga swadaya masyarakat (LSM) mem-
bentuk lembaga cepat tanggap untuk menangani bencana.
Misalnya, Posko Gus Dur untuk Kemanusiaan, yang dibentuk
sejumlah LSM untuk membantu korban gempa Yogyakarta dan
Jawa Tengah. “Posko ini didirikan sebagai bentuk tanggung
124 Suplemen the WAHID Institute Edisi XIV / Majalah Tempo / 26 November 2007
Tunas Ketulusan dari Lahan Bencana
jawab dan kepedulian terhadap para korban gempa,” kata keamanan ruhani. ”Kita sering kumpul untuk sharing masalah
Ahmad Suaedy yang terlibat mendirikan posko ini. dan istighatsah,” terangnya.
Posko ini telah menyalurkan dana, tenda, tikar, genset, Siapapun bakal tergerak jika saudara sebangsanya terlibas
kasur, baju, masker, selimut, sarung, susu, sembako, mie instan, bencana. Oleh sebab itu Crisis Center Gereja Kristen Indonesia
biskuit, air mineral, obat-obatan, perlengkapan shalat, kompor, (CC-GKI) juga giat membantu korban bencana. Saat gempa
pembalut wanita, peralatan mandi, dan sebagainya. Yogyakarta dan Jateng misalnya, pihaknya bekerja sama dengan
Ponpes al-Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten, pimpinan KH.
Posko yang juga beroperasi di Aceh dan Porong Sidoarjo, ini Muslim Imampuro. “Semua itu karena empati yang mendalam
bahkan membangun 270 unit rumah transisi seluas 4x6 meter pada para korban,” jelas Ketua CC GKI Pendeta Albertus Patty.
bagi para korban gempa Yogyakarta, yang diserahkan langsung
oleh Gus Dur. “Sebanyak 100 unit di Kecamatan Piyungan, 90 Bantuan makanan, minuman, susu bayi, pakaian, selimut,
unit di Kecamatan Wonokromo, dan 80 unit di Kecamatan obat-obatan, pelayanan kesehatan, pendirian rumah sederhana,
Bambanglipuro,” kata Direktur the WAHID Institute Yenny Wahid. peralatan sekolah, masker, perahu karet dan sebagainya,
digalang secara swadaya dari umat Gereja Kristen Indonesia
Posko ini juga menyumbangkan crusher (mesin penghancur (GKI).
puing). “Tidak hanya mesinnya, tapi juga dibarengi pelatihan
Puing-puing itu akan dicetak menjadi batako,” jelas Yenny. Kendati berlatar Kristen, katanya, tuduhan kristenisasi relatif
jarang dialaminya. Ini karena lembaganya melibatkan dokter dan
Di Porong Sidoarjo, 18 kiai mendirikan Posko Independen- suster muslim, bahkan kiai dan ustadz sebagai pelayan spiritual
populer disebut Posko Kiai. “Banyak rakyat sengsara akibat para korban.
Lumpur Lapindo. Semua rusak. Akhirnya kita fokus memberikan
bantuan pada korban,” ujar koordinator lapangan Posko, KH. Namun diakui Albertus, di lapangan ada saja masalah
Hasyim Ahmad. kecil. Saat membantu korban gempa di Sragen, bendera Tim
GKI diturunkan kelompok Islam radikal. “Setelah mereka pergi,
Menurut pengasuh Ponpes al-Islamiyah Kludan Sidoarjo masyarakat korban sendiri yang memasang bendera itu.
ini, pendirian Posko memiliki tiga tujuan. Pertama, mencarikan Ternyata para korban tidak mempermasalahkan,” terangnya.
bantuan makan. Kedua, membantu di bidang kesehatan,
bekerja sama dengan RS Siti Hajar dan IDI. Ketiga, memberikan Di Katolik ada Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan
Aksi kemanusiaan CBDRM - NU dok. CBDRM - NU
Suplemen the WAHID Institute Edisi XIV / Majalah Tempo / 26 November 2007 125