Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
KATA PENGANTAR
Motivasi penulisan buku “Mudah Saja Mengadministrasi Sistem Jaringan”
dilandasi oleh minimnya bahan ajar di SMK kompetensi keahlian TKJ (Teknik Komputer
dan Jaringan) yang membahas secara operasional kongkrit tentang praktikum sistem
operasi Linux varian Debian. Bahan ajar yang tersedia seperti buku referensi, modul, dan
buku paket yang membahas tentang Linux Debian memang sudah ada sebelum buku ini
ditulis, namun berbagai macam judul bacaan tersebut yang pernah penulis baca kurang
mengena untuk dipraktikkan secara kongkrit, bahkan sulit dimengerti karena mayoritas
menyajikan secara text CLI (Command Line Interface) murni yang kurang “humanis”,
ditambah lagi versi debian masih berversi 5 dan 6 saja. Buku ini hadir bukan sekedar
peramai kajian Linux Debian, buku ini hadir agak berbeda dengan buku-buku yang sudah
ada, isinya memberikan penjelasan praktik yang lengkap secara kongkrit dengan bahasa
yang singkat serta mudah dimengerti. Pembaca yang awam tidak perlu khawatir
menghadapi pekerjaan administrasi server dalam jaringan karena buku ini menuntun
Anda secara berurutan mulai dari persiapan, instalasi, konfigurasi, dan uji coba hasil.
Diharapkan pembaca dapat mengikuti step by step praktik cara membuat server berbasis
Linux Debian 7.
Penggunaan judul administrasi dimaksudkan sebagai pekerjaan rutin dari seorang
admin komputer dalam menjaga servernya agar tetap stabil dalam 24 jam. Adapun
pekerjaan tersebut berupa persiapan, instalasi, konfigurasi, uji coba hasil, perawatan
serta perbaikan sistem jaringan, pekerjaan tersebut perlu dicoba berulang-ulang, dilatih
skillnya, agar memiliki jam terbang yang tinggi, mengingat server berbasis Linux sudah
diterapkan di sistem jaringan perusahaan besar maupun kecil, hal ini berarti kemampuan
mengadministrasi server dalam jaringan sangat dibutuhkan oleh kalangan dunia industri
dan dunia usaha.
Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada SMK TI Muhammadiyah
Cikampek & SMK Tri Asyifa Cikampek yang telah memberi kesempatan menjadikan modul
ajar ini sebagai literasi siswa untuk kegiatan proses belajar mapel. Admin. Sistem Jaringan
dan tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Anda yang telah memiliki, membaca
buku ini dan dengan senang hati membuka lebar kepada para pembaca yang ingin
memberikan sumbang saran dan kritik konstruktif tentang content buku ini ke alamat e-
mail: [email protected], facebook: Ruddy A. Setiawan, dan whatsapp/telegram:
085692400150. Semoga buku ini bermanfaat.
Page | i
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi ... ii
Network Operating System (Pertemuan 1-3)
1.1. Memilih Sistem Operasi Jaringan ... 2
1.2. Lisensi Sistem Operasi Jaringan ... 3
1.3. Spesifikasi Hardware Server yang Sesungguhnya ... 3
1.3.1 Motherboard ... 5
1.3.2 Processor ... 6
1.3.3 Server Case ... 6
1.3.4 Memory ... 8
1.3.5 Disk Strorage ... 8
1.3.6 RAID ... 9
1.4. Instalasi Sistem Operasi Server Linux Debian ... 10
1.4.1 Persiapan Instalasi Linux Debian ... 11
1.4.2 Langkah-langkah Instalasi Linux Debian ... 11
1.5. Uji Coba Pasca Instalasi ... 27
1.5.1 Uji Coba Login User & User ... 27
1.5.2 Uji Coba User dengan Terminal ... 29
1.5.3 Uji Coba Kesiapan Ethernet Card ... 30
1.5.4 Merestart & Mematikan Komputer melalui Terminal ... 30
Tugas 1 ... 32
Tugas 2 ... 32
Tugas 3 ... 32
Tugas 4 ... 33
IP Address, Host, Dan Hostname (Pertemuan 4)
2.1. Hubungan IP Address dengan Hosts dan Hostname ... 36
2.2. Persiapan Membangun IP Address, Hosts, dan Hostname ... 38
2.3.1 Konfigurasi IP Address ... 38
2.3.2 Konfigurasi Hosts ... 39
2.3.3 Konfigurasi Hostname ... 40
2.4.1 Ujicoba IP Address ... 40
2.4.2 Ujicoba Hosts & Hostname ... 41
Tugas ... 42
DHCP Server (Pertemuan 5-7)
3.1. Konsep & Cara Kerja DHCP Server ... 45
3.2. Persiapan Membangun DHCP Serever ... 46
3.3. Instalasi DHCP Server ... 46
3.4. Konfigurasi DHCP Server ... 47
3.5. Uji Coba Hasil DHCP server ... 49
Tugas ... 52
Page | ii
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Remote Server (Pertemuan 8-9)
4.1. Konsep & Cara Kerja Remote Server ... 55
4.2. Persiapan Membangun Remote Serever ... 56
4.3. Instalasi Remote Server ... 56
4.4. Konfigurasi Remote Server ... 57
4.5. Uji Coba Hasil Remote server ... 57
Tugas ... 61
Web Server (Pertemuan 10-12)
5.1. Konsep & Cara Kerja Web Server ... 64
5.2. Persiapan Membangun Web Serever ... 65
5.3. Instalasi Web Server ... 65
5.4. Konfigurasi Web Server ... 65
5.5. Uji Coba Hasil Web server ... 67
Tugas ... 69
Database Server (Pertemuan 13-15)
6.1. Konsep & Cara Kerja Database Server ... 72
6.2. Persiapan Membangun Database Serever ... 73
6.3. Instalasi Database Server ... 73
6.4. Uji Coba Hasil Database server ... 77
Tugas ... 79
DNS Server (Pertemuan 16-20)
7.1. Konsep & Cara Kerja DNS Server ... 82
7.2. Persiapan Membangun DNS Serever ... 83
7.3. Instalasi DNS Server ... 83
7.4. Konfigurasi DNS Server ... 84
7.5. Uji Coba Hasil DNS server ... 88
Tugas ... 95
Mail Server (Pertemuan 21-27)
8.1. Konsep & Cara Kerja Mail Server ... 98
8.2. Persiapan Membangun Mail Serever ... 99
8.3. Instalasi Mail Server ... 99
8.4. Konfigurasi Mail Server ... 105
8.5. Uji Coba Hasil Mail server ... 112
Tugas ... 118
Daftar Rujukan ... 121
Page | iii
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
NETWORK OPERATING SYSTEM (NOS)
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti kegiatan belajar 1-3, siswa diharapkan;
1. Dapat menerapkan sistem operasi jaringan, khususnya OS Debian 7,
2. Dapat menginstall sistem operasi jaringan, khususnya OS Debian 7.
Linux Debian sebagai sistem operasi jaringan (network operating system) atau disebut
sistem operasi server tidak berbeda layaknya sistem operasi desktop. Debian bisa dipasang
berbagai macam aplikasi, seperti untuk manipulasi teks mengolah angka, bermain game, dll,
hanya saja sistem operasi jaringan seperti Debian memiliki kemampuan lebih, yaitu dikhususkan
untuk menangani sistem jaringan dengan kinerja yang lebih cepat dengan mengorbankan
beberapa fitur yang ada di sistem operasi desktop.
Mengapa harus menggunakan sistem operasi jaringan ? Karena sistem operasi
jaringan telah dikhususkan untuk keperluan jaringan yang diintalasi di komputer (PC) server.
Komputer server adalah komputer induk yang memiliki spesifikasi hardware yang besar untuk
melayani, membatasi, mengatur, dan mengontrol akses terhadap semua komputer client yang
terhubung ke sistem jaringan. Kemampuan sistem operasi jaringan sudah dioptimalkan untuk
mengelola dan mengatasi hubungan jaringan yang berjumlah client ratusan bahkan ribuan,
seperti multi-user, kemanaan, stabilitas, dan kolaborasi.
Ada berbagai macam sistem operasi jaringan yang menguasai pasar populer
menengah yaitu Windows Server dan Linux, keduanya berbeda. Windows Server dilengkapi
dengan software-software komersil dari Microsoft. IIS sebagai web server, WCF sebagai web
service, sharepoint untuk kolaborasi, dan Team Foundation Server untuk repository dan kerja tim.
Linux dan Windows Server bisa ditambahkan software lainya yang mendukung kerja
mereka. Hampir semua software bisa dipasang di Linux, bedanya software untuk Windows
Server tidak bisa dipasang di Linux, kecuali jika Linux dipasang aplikasi wine di dalamnya.
Arsitektur server terdiri dari 2 komponen utama, software dan hardware. Software terdiri
dari sistem operasi dan bisa menampung aplikasi-aplikasi server seperti; web server, DNS server,
DHCP server, dll. Hardware menampung perangkat-perangkat keras di mesin server.
Gambar 1.1 Software dan Hardware PC Server
Page | 1
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Apa saja tugas atau aplikasi yang bisa di pasang di sistem operasi jaringan ? Fitur-fitur
yang biasa didukung oleh sistem operasi server berupa aplikasi untuk berbagi file dan
printer, layanan database, web, perpesanan (e-mail), terminal, control panel manajemen,
monitoring, FTP, DNS, DHCP, bahkan hingga proxy dan pembuatan router. Semua jenis layanan
aplikasi server ini akan dibahas, dibuat dan diuji di dalam modul pembelajaran ini.
Gambar 1.2 Berbagai Layanan Aplikasi Server
1.1. Memilih Sistem Operasi Jaringan
Memilih sistem operasi jaringan yang tepat menentukan kinerja sebuah server. Salah
satu server yang mudah dipelajari dan mudah didapat, didukung komunitas yang besar, dan
gratis, bisa diterapkan untuk study dan kerja profesional adalah Linux Debian. Sejatinya sistem
operasi linux memiliki varian (jenis) yang sangat banyak dan semakin berkembang, awal mulanya
Linux hanya memiliki 3 varian; Redhat, Debian, dan SuSe, dari ketiga varian ini dikenal dengan
“mbahnya linux” kemudian “beranak-pinak” karena dikembangkan menjadi nama-nama yang
beragam hingga saat ini berjumlah ratusan jenis.
Sebelum memilih server, kita harus memberikan kriteria apa saja yang kita butuhkan.
Biasanya, yang dicari saat menentukan sistem operasi adalah seperti penjelasan ilustrasi pada
gambar 1.3.
Gambar 1.3 Kriteria Pemilihan Sistem Operasi
Apabila kita hendak membuat aplikasi perusahaan besar, maka dibutuhkan sistem
operasi yang memang ditujukan untuk keperluan perusahaan besar, seperti Linux, Solaris, IRIX,
AIX, HP-UX, dll. Untuk keperluan study (belajar dan berlatih) atau kerja profesional, sistem
operasi open-source seperti Linux sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Page | 2
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
1.2. Lisensi Sistem Operasi Jaringan
Ada berbagai macam jenis lisensi yang diberikan saat memilih server. Network
Operating System yang open-source (gratis) seperti Linux, tidak perlu kerumitan untuk
menentukan lisensinya. Tapi, sistem operasi server berbayar (close-source) seperti Windows
Server atau Solaris membutuhkan lisensi yang tentunya lisensi harus dibayar jika ingin
menggunakannya.
Beberapa dari vendor sistem operasi jaringan menerapkan jumlah pengguna yang
terbatas dalam mengakses server, jika menginginkan pengguna yang lebih banyak dalam jaringan,
maka kita perlu membeli versi windows server yang lebih banyak dengan harga yang lebih mahal.
Ada juga vendor lainya menentukan lisensi berdasarkan jumlah CPU yang terpasang di server.
Windows Server juga menggunakan lisensi alternatif ini, begitu juga dengan Solaris.
Memilih lisensi untuk server yang tepat menentukan faktor skalabilitas dari server
yang dibuat. Lisensi dengan menghitung jumlah CPU, menuliskan di perjanjian lisensinya bahwa
jumlah pengguna yang menggunakan server tidak terbatas. Jenis lisensi ini sangat fleksibel
karena biasanya jumlah pengguna berubah lebih cepat daripada jumlah CPU atau spesifikasi
hardware.
1.3. Spesifikasi Hardware Server yang Sesungguhnya
Pada dasarnya, setiap jenis komputer baik itu komputer desktop (PC), komputer server,
atau workstation, sudah tentu memiliki komponen hardware seperti: prosesor, motherboard,
memori, dan media simpan. Namun tentu saja komponen antara komputer desktop dengan
komputer server memiliki perbedaan-perbedaan satu sama lain.
Mengapa Server berbeda dengan komputer desktop atau komputer biasa seperti pada
umumnya ? Server memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dengan komputer/PC
biasa. Tapi sebelumnya kita dapat mengenali pembagian komputer berdasarkan fungsi &
segmentasinya, menjadi lima bagian, yaitu; PC Desktop, Notebook, Server, Workstation &
Consumer Electronics. Lihat tabel di bawah !
Tabel 1.1 Pembagian komputer berdasarkan fungsi & segmentasinya
Definisi Ciri Khas Pengguna
Merupakan komputer "induk" dari Performa tinggi. Beroperasi 24-jam x 7-hari Institusi, Bisnis,
Server suatu sistem jaringan komputer non-stop. Device & periferal khusus. Harga Kantor, dan
PC Desktop
Notebook (network). "relatif" lebih mahal sebagainya
Workstation Merupakan komputer umum yang Umumnya diletakkan di atas meja
Consumer kita gunakan sehari-hari (Desktop). Beroperasi rata-rata maks. 18- Individu, dirumah
Electronics maupun dikantor
dirumah/kantor, dimana umumnya jam/hari. Device & periferal standar dan
diletakkan diatas meja. umum.
Merupakan komputer "mobile" Gampang dibawa, ringan. Performa mirip Mobile user.
yang ditujukan untuk user yang dengan PC Desktop.
mobile.
Merupakan komputer khusus yang Performa tinggi untuk aplikasi tertentu. PC Profesional :
digunakan kalangan profesional, Desktop High-End yang dimodifikasi. arsitek, sound
umumnya untuk mengolah aplikasi Processor, RAM, Graphics & HDD "kelas engineer,
tertentu. berat". Harga lebih mahal dari PC Desktop video/film editor,
graphics designer.
Merupakan komputer yang Dibawa kemana-mana, sangat ringan. MP3 Player,
digunakan pada perangkat Berfungsi pada aplikasi tertentu, misalnya Handphone, PDA,
berukuran kecil, mobile dan telepon. Hanya bergungsi tunggal, sehingga Video Player
berfungsi pada aplikasi tertentu. performa rendah. Menggunakan baterai.
Page | 3
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Perbedaan server dengan PC desktop biasa terletak di software dan hardwarenya. Secara umum
perbedaan tesebut dapat dilihat melalui table 1.2 dan 1.3 berikut ini;
Tabel 1.2 Perbandingan kemampuan sebuah PC Desktop dan Server
Aspek Kemampuan PC Desktop Server
Performa Baik Sangat Baik
Kebutuhan Daya (Power) Relatif sedang Relatif besar
Daya Tahan (reliabilitas) Cukup Sangat Baik
Upgradable Sangat Baik Baik (terbatas)
Lifecycle (umur pemakaian) 3 tahun 5 tahun
Kompatibilitas Software Sangat Baik Baik (terbatas)
Kompatibilitas Hardware Sangat Baik Baik
Harga Standar Relatif Lebih Mahal
Tabel 1.3 Perbandingan device hardware antara PC Desktop dan Server
Hardware PC Desktop Server
Processor Intel Celeron D, Pentium 4, Pentium D, Dual Core, Xeon, Itanium2
Chipset Board Core 2 Duo, Core 2 Quad, Core i3, 15, 17.
RAM Intel 945G/P, 965G/P, G31, Q35, X38 Intel 5000P/V/X, 3000, 3210
Unbuffered (DDR, DDR2, DDR3) ECC atau ECC Registered (DDR, DDR2, DDR3)
HDD Fully Buffered DIMM (FBDIMM)
ATA (Parallel ATA) Small Computer System Interface (SCSI)
Video Graphics SATA (Serial ATA) SAS (Serial Attached SCSI)
Sound Integrated min. with 64 MB memory On board only with 8/16MB memory
Ethernet PCI Express x16
Power Supply On board Tanpa sound on board
Chassis 1 Ethernet on board 2 Ethernet on board
250 – 500 watt (24 pin + 4 pin) 500 – 1.000 watt (24 pin + 8 pin)
Desktop, Mini Tower, dan Tower. Pedestal, Rackmount, dan Blade.
Apakah sebuah komputer untuk server harus memiliki hardware dengan spesifikasi yang
lebih tinggi atau performanya harus lebih cepat dari komputer desktop? Tentu saja tidak! Hal itu
bukanlah suatu keharusan. Perbedaan paling utama dari rancangan hardware yang digunakan
untuk komputer desktop dan komputer server adalah soal durability (ketahanan atau daya tahan).
Sebuah hardware pada komputer server harus dirancang khusus guna meningkatkan daya tahan,
yang juga berhubungan dengan lifestime (jangka hidup) dari hardware tersebut. Mengapa
demikian? Sebuah server harus berkarakter availibility (siap sedia secara terus-menerus), dapat
bekerja melayani client secara terus-menerus selama 24 jam penuh sepanjang waktu dengan
gangguan yang sedikit, oleh karena itu, biasanya hardware pada komputer server harganya jauh
lebih mahal daripada komputer desktop walaupun performanya sama.
Kebanyakan komputer server umumnya adalah branded dirakit dan dipasarkan secara
built-up oleh pabrikan, namun terkadang belum tentu sesuai dengan yang diinginkan, sehingga
banyak praktisi IT yang ingin membangun sebuah server dengan merakit sendiri komputernya
agar server berkarakter scalability (tumbuh dan berkembang di waktu mendatang). Scalability
Page | 4
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
menjadi perhatian yang serius, ada dua faktor tujuannya; (1) agar server dapat diup-grade
hardware/periferalnya berperforma baik dan cepat, (2) agar server dapat ditambah fungsinya
menjadi banyak fungsi atau server dapat dikembangkan menjadi fungsi yang berbeda. Oleh
karena itu, para praktisi IT perlu mengetahui secara mendalam tentang komponen hardware yang
tepat peruntukkannya untuk sebuah komputer server yang real sesungguhnya. Berikut ini, penulis
akan menganalisa komponen demi komponen yang tepat untuk digunakan sebagai komputer
server baik di perusahaan, UKM, sekolah, kampus, dan warnet.
1.3.1. Motherboard
Sebuah motherboard server biasanya dapat menampung lebih dari satu prosesor (disebut
dual socket, apabila bisa menampung hingga 2 prosesor, dan quad socket jika bisa menampung
hingga 4 prosesor). Ketersediaan ethernet card dengan kecepatan tinggi (gigabit speed) dengan 2
port menjadi karakter dari board server, dimana pengunaan ethernet pertama (mastery ethernet)
untuk koneksi jaringan ke ISP dan ethernet kedua (secondary ethernet) untuk memberikan
koneksi ke jaringan lokal melalui switch yang akan diteruskan ke komputer-komputer client.
Gambar 1.4 Motherboard Server
Untuk form-factor biasanya pun berbeda dengan kebanyak motherboard pc, dimana
form-factor yang umum dijumpai adalah:
CEB (Compact Electronics Bay) dengan ukuran panjang x lebar sebesar 305 × 267 mm
EEB (Enterprise Electronics Bay) dengan ukuran panjang x lebar sebesar 305 × 330 mm
MEB (Midrange Electronics Bay) dengan ukuran panjang x lebar sebesar 411 × 330 mm
Motherboard dengan standar form-factor SSI CEB memiliki area konektor I/O dan
mounting hole yang sama seperti motherboard ATX yang umumnya menjadi standar PC desktop.
Namun ukuran dimensi motherboard server lebih besar dan mounting hole untuk prosesornya
pun berbeda. Untuk dudukan panel bagian belakang sama persis seperti motherboard PC desktop,
namun untuk panel audio tidak tersedia karena motherboard server tidak diperuntukkan untuk
multimedia, jadi jangan heran jika soundcard tidak akan terdeteksi karena chipnya memang tidak
dicangkokkan di dalamnya.
1.3.2. Processor
Processor, microprocessor atau cpu merupakan jantung utama dari sebuah sistem
hardware komputer. Terdapat 2 manufaktur processor yang umum digunakan baik pada
komputer server maupun komputer personal, yaitu Intel dan AMD. Saat ini, sepertinya Intel
Page | 5
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
mendominasi market share, terutama untuk jenis x86 dan x64 dengan brand Xeon untuk
processor server atau workstation, dan varian Intel Core (Core i3, Core i5, dan Core i7) untuk
processor desktop.
Walaupun Xeon dan Core i dibuat berdasarkan basis teknologi arsitektur microprocessor
yang sama, namun keduanya memiliki perbedaan-perbedaan yang disesuaikan dengan
penggunaannya. Diantaranya adalah kemampuan dukungan multi-socket dan penggunaan
memori ECC. Dukungan multi-socket cpu salah satunya adalah dapat memberikan kemampuan
untuk menangani penggunaan memori dengan kapasitas yang lebih besar.
Gambar 1.5 Processor Xeon (kiri) dan Core i5 (kanan)
Misalnya saja apabila kita membandingkan antara Xeon E3-1240 v3 dan Core i7-4770K
yang sama-sama berbasis arsitektur Haswell dengan litography 22 nm. Kedua processor tersebut
sama-sama menggunakan soket LGA 1150, memiliki 4 core cpu dengan 8 thread dan dukungan
memori hingga 32 GB. Xeon mendukung multi-socket, sehingga dengan menggunakan konfigurasi
dual cpu, maka Xeon dapat mendukung kapasitas memori RAM hingga 64 GB. Selain itu ada
beberapa teknologi atau set instruksi yang hanya dijumpai pada processor Xeon, namun tidak
dijumpai pada varian Core i, misalnya saja: VT-d, EPT, TSX-NI, dan TET.
Beberapa set instruksi tersebut dirancang untuk penggunaan teknologi virtualisasi dan
cloud computing yang memberikan banyak keunggulan. TSX-NI merupakan sebuah set instruksi
yang menambahkan dukungan memori transaksional, dimana set instruksi ini berfokus pada
performa scaling dalam aplikasi multi-threaded. Teknologi ini membantu operasi ekseskusi
perangkat lunak secara paralel yang lebih efisien. Instruksi VT-d, yaitu Intel Virtualization
Technology for Directed I/O, mampu memberikan dukungan secara hardware untuk mengisolasi
dan membatasi akses dalam pengelolaan perangkat. Kemampuan yang diberikan oleh set
instruksi VT-d diantaranya adalah: I/O device assignment, DMA remapping, dan Interrupt
remapping.
1.3.3. Server Case / Server Chassis
Casing komputer server umumnya dapat berbentuk tower (pedestal) maupun rackmount.
Namun, kebanyakan komputer server menggunakan chassis rackmount. Mengapa demikian?
Sebab banyak perangkat jaringan profesional, misalnya saja: router, switch, firewall dan lainnya
dirancang berdasarkan struktur rak (kabinet) dengan desain standar internasional. Keuntungan
menggunakan chassis jenis rackmount adalah membuat peralatan memakan ruang minimal.
Karena ukuran menggunakan standar internasional, maka perangkat yang tersusun di dalam
kabinet akan terlihat rapi, selain juga memudahkan manajemen pengkabelan. Biasanya apabila
Page | 6
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
kita menitipkan server di datacenter, umumnya lebih murah jika kita menggunakan chassis
bertipe rackmount.
Gambar 1.6 Bentuk Chassis Rackmount
Gambar 1.7 Bentuk Chassis Pedestal
Sebuah rak kabinet memiliki ukuran lebar 19 inci dengan ukuran tinggi mulai dari 6U, 8U,
12U, 15U, 18U, 22U, dan 42U. Dimana istilah U adalah unit (1U setara dengan 1,75 inci atau 44,45
mm). Dengan menggunakan chassis bertipe rackmount, maka pengaturan server yang berjumlah
lebih dari 2 unit akan tertata lebih rapi. Salah satu merek chassis yang cukup terkenal adalah
Supermicro.
Sebuah chassis berukuran 1U pada umumnya bisa menampung sebuah motherboard
dengan cpu dual socket, HDD 3.5″ hingga 4 buah dan sebuah expansion card. Namun sedikit
banyaknya komponen yang dapat ditampung bergantung pada desain dari manufaktur chassis
tersebut.
1.3.4. Memory
RAM (Random Access Memory) atau memori akses acak adalah sebuah tipe penyimpanan
komputer secara sementara, dimana isinya dapat diakses dalam waktu yang tetap dan tidak
memperdulikan letak data tersebut dalam memori. Bentuk fisik dari sebuah RAM pada komputer
Page | 7
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
server maupun komputer personal adalah sama. Namun pada sebuah komputer server, RAM
berjenis ECC (error corection code) lebih umum digunakan.
Perbedaan fisik yang dapat dilihat antara RAM ECC dengan RAM biasa adalah pada jumlah
chip memori, dimana RAM ECC biasanya memiliki chip lebih banyak, yang jumlahnya habis dibagi
3 atau 5, karena ada chip tambahan yang difungsikan sebagai parity. Teknologi error-correcting
code pada memori ECC dikhususkan untuk server yang membutuhkan stabilitas tinggi, yang dapat
memberikan perlindungan lebih baik terhadap kesalahan pemrosesan data dengan mendeteksi
secara otomatis dan memperbaiki error pada memori. Dalam penggunaan memori jenis ECC harus
didukung oleh motherboard dan processor yang sesuai, dimana umumnya hanya dijumpai pada
motherboard dan processor untuk server atau workstation.
Gambar 1.8 Memori Server dengan Teknologi ECC
1.3.5. Disk Storage
Hardisk dan solid-state disk (SSD) adalah dua jenis media simpan yang umum digunakan
baik pada komputer server dan komputer desktop. Antarmuka data yang digunakan umumnya
adalah SATA ataupun SAS, namun SAS lebih umum digunakan pada komputer server. Perbedaan
antara hardisk (HDD) dengan SSD adalah pada mekanisme penyimpanan datanya. Hardisk atau
HDD menyimpan data dalam sebuah platter atau cakram magnetik yang berputar pada kecepatan
tertentu. Tentu saja, dalam sebuah HDD terdapat komponen-komponen mekanik yang bergerak.
Sedangkan SSD menyimpan data dalam sebuah chip flash memory sehingga sebuah SSD sama
sekali tidak memiliki komponen mekanik sehingga tidak menghasilkan suara bising serta bobotnya
lebih ringan.
Lalu apakah ada perbedaan antara hardisk atau SSD untuk komputer server dan komputer
desktop? Secara fisik, tidak ada
perbedaan antara keduanya,
namun sebuah media simpan
pada komputer server dituntut
untuk memiliki daya tahan yang
lebih tinggi serta kemampuan
yang lebih baik.
Page | 8
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.9 Harddisk SATA
1.3.6. RAID
RAID merupakan singkatan dari Redundant Array of Inexpensive Disks, merujuk kepada
sebuah teknologi di dalam penyimpanan data komputer yang digunakan untuk
mengimplementasikan fitur toleransi kesalahan pada media penyimpanan komputer. Teknologi
ini juga dirancang untuk membagi atau mereplikasi data ke dalam beberapa hard disk terpisah.
Sehingga RAID didesain untuk meningkatkan keandalan data maupun meningkatkan kinerja I/O
dari hard disk.
RAID dapat diimplementasikan menggunakan perangkat lunak (software), maupun menggunakan
perangkat keras hardware secara terpisah. Tentu saja ada beberapa perbedaan mendasar dari
impelementasi RAID menggunakan software ataupun hardware.
Software-based RAID
Software RAID atau soft-RAID merupakan implementasi teknologi RAID menggunakan
software yang umumnya menjadi bagian dalam komponen sistem operasi. Umumnya tipe soft-
RAID yang didukung oleh kebanyakan sistem operasi adalah RAID 0, RAID 1, dan RAID 5. Soft-
RAID tidak memerlukan hardware tambahan dalam implementasinya, sehingga soft-RAID
adalah solusi yang paling murah dalam implementasinya. Namun performa yang didapatkan
pada implementasi soft-RAID sangat bergantung sekali dari beban penggunaan CPU. Selain
juga implementasi soft RAID tidak selalu kompatibel dengan proses boot dari sistem operasi
yang berbeda.
Firmware-based RAID
merupakan implementasi teknologi RAID menggunakan software yang dibantu oleh
penggunaan hardware tambahan. Firmware-based RAID umumnya mendukung tipe RAID 0,
RAID 1, RAID 5, dan RAID 10. Karena implementasinya membutuhkan hardware tambahan,
maka sering diistilahkan sebagai hardware-assisted software RAID atau fake RAID. Hardware
tambahan pada impelementasi RAID ini menggunakan sebuah chip controller sederhana yang
biasanya tertanam dalam chipset (on-chip controller) dari sebuah motherboard. oleh karena
itu performa dari fake RAID juga masih bergantung pada beban penggunan CPU.
Implementasi fake RAID bertujuan untuk mengisi ruang antara solusi soft-RAID dengan solusi
hardware RAID controller yang berharga mahal dan bersifat proprietary. Dimana fake-RAID
menjadi solusi yang paling murah namun dapat memiliki kompabilitas penuh terhadap banyak
sistem operasi, seperti halnya pada hardware RAID.
Page | 9
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Contoh implementasi firmware-based RAID atau fake-RAID adalah Intel Matix Storage.
Controller jenis ini biasanya ditemukan pada motherboard dengan chipset southbridge dari
Intel seperti ICH9R, ICH10R, dan chipset PCH seperti PCH55, dan PCH3450.
Hardware RAID
merupakan implementasi teknologi RAID yang sepenuhnya dikontrol oleh sebuah RAID
controller, dimana chip controller RAID dapat berupa sebuah card add-on ataupun onboard
(controller yang terpasang di motherboard). Sebuah hardware RAID yang sebenarnya, sudah
tentu memiliki processor tersendiri yang khusus digunakan untuk mengontrol semua operasi
RAID sehingga performanya tidak bergantung pada beban CPU. Sebuah hardware RAID
biasanya juga memiliki memori tersendiri yang berfungsi untuk meningkatkan performa I/O
pada proses operasi RAID. disamping itu, implementasinya memperbolehkan proses booting
dari sistem operasi untuk mengakses volume RAID.
RAID card berupa add-on juga biasanya memiliki fitur BBU (Battery Backup) yang berfungsi
memproteksi proses I/O operasi RAID ketika komputer kehilangan daya listrik secara tiba-tiba,
sehingga mengurangi resiko data corrupt pada media penyimpanan akibat operasi I/O yang
belum selesai disimpan ke disk drive. Cache akan tersimpan dalam waktu tertentu, dan ketika
komputer kembali menyala, proses operasi I/O yang belum selesai disimpan pada disk drive
akan dilanjutkan kembali. Contoh implementasi hardware-based RAID diantaranya adalah
Adaptec dan LSI baik berupa controller onboard maupun berupa add-on card.
Gambar 1.9 RAID Card
1.4. Instalasi Sitem Operasi Server Linux Debian
Untuk keperluan study dan kerja profesional, sistem operasi jaringan Debian baik untuk
digunakan. Ada beberapa varian dari sistem operasi Linux yang sering digunakan sebagai
server, seperti; Ubuntu, CentOS, Fedora, Debian, Redhat, Suse, dll. Debian merupakan salah
satu sistem operasi yang sudah cukup lengkap, dilengkapi dengan berbagai aplikasi server
dan bisa digunakan dengan mudah dan gratis.
Prosedur melakukan instalasi sistem operasi server Debian hampir sama dengan
instalasi sistem operasi biasa, yaitu;
Menentukan lokasi/tempat penginstalan;
Alokasi besarnya partisi;
Page | 10
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Menentukan nama akun utama (root);
Menentukan kata sandi root.
1.4.1. Persiapan Instalasi Linux Debian
Sebelum melakukan instalasi, ada beberapa perlengkapan yang harus dimiliki. Satu PC
yang akan dijadikan server, juga master Debian. Master Debian bisa didapatkan dengan cara
membeli di toko komputer atau jasa persewaan software. Bagi yang ingin mengunduh sendiri
master Debian bisa dari www.repo.ugm.ac.id, www.kambing.ui.ac.id, www.ftp.itb.ac.id,
https://kartolo.sby.datautama.net.id/, dll. Setelah mengunduh file .iso baik berupa i386 dan atau
AMD64 dari web tersebut, pastikan Anda mempunyai minimal 1 DVD kosong sebagai tempat
penyimpanan file iso, lalu bakar (burn) hasil unduhan Debian tersebut ke tiap DVD. Setelah
semua perlengkapan siap, kita bisa melanjutkan ke proses instalasi Debian. Kita bisa pula
tanpa menggunakan DVD untuk instalasi, cukup memanfaatkan file .iso tersebut kemudian
diinstall secara virtual, nantinya sebagai OS guest yang menumpang di OS real.
Persiapan lain yang dilakukan jika menggunakan cara virtualisasi, kita memerlukan
aplikasi virtual seperti; Vmware, virtualbox, XEN, dll (di modul pembelajaran ini, kita mengunakan
virtualbox), aplikasi tersebut salah-satunya harus diinstall di komputer yang mumpuni. Cara
melakukan instalasi Debian secara virtual identik dengan menggunakan DVD atau file .iso yang
disetting sebagai first boot tanpa harus melalui setting BIOS.
1.4.2. Langkah-langkah Instalasi Linux Debian
Jika kita menggunakan cara instalasi real via BIOS (bukan virtual), pastikan DVD Debian
sudah siap pakai (DVD yang telah diburning berisi file iso Debian) dan siapkan pula PC yang akan
dijadikan server. Kita akan memulai instalasi secara step by step, ikuti secara teliti langkah berikut
ini.
Langkah 1a. Masukkan DVD Debian ke DVD-ROM PC server.
Gambar 1.20 Memasukkan DVD Installer Debian
Langkah 2a. Masuk BIOS (biasanya tekan DEL atau F2), pastikan Anda benar-benar bisa melakukan
pengaturan BIOS, pindahkan urutan boot pertama ke DVD-ROM atau CD-ROM Drive terlebih
dahulu, seperti di gambar 1.21, kemudian simpan hasil pengaturan BIOS (biasanya tekan F10).
Page | 11
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.21 CD/DVD Rom sebagai First Boot saat Setting BIOS
Jika kita menggunakan cara instalasi virtual, pastikan DVD Debian sudah siap pakai (DVD
yang telah diburning berisi file iso Debian) atau tanpa DVD, cukup menggunakan file .iso Debian,
kemudian siapkan pula PC yang akan dijadikan server yang sudah terintall virtual box. Kita akan
memulai instalasi virtual secara step by step, ikuti secara teliti langkah berikut ini. Untuk lebih
jelas, tata cara instalasi dengan virtualbox, terlampir di belakang modul pembelajaran ini.
Langkah 1b. Buka aplikasi virtualbox, buat nama baru kemudian atur memori size=1gb, file
type=VHD, harddisk=10gb.
Gambar 1.22 Aplikasi Virtualbox
Langkah 2b. Instal dengan virtualbox tidak perlu membuka BIOS, sebagai pengantinya masukkan
file.iso DVD-1 sebagai file booting di menu setting, carilah dimana disimpan file iso tersebut,
perhatikan gambar 1.23.
Page | 12
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.23 Menu Setting di Virtualbox
Langkah 3. Dengan cara install real maupun cara virtual, akan muncul tampilan seperti gambar
1.24, karena kita menginstal untuk server dan supaya proses instalasi lebih cepat, maka kita
tidak menggunakan instalasi grafik (graphical install), melainkan dengan instalasi command line.
Pilih Install kemudian tekan enter.
Gambar 1.24
Langkah 4. Pilih bahasa yang akan digunakan saat proses instalasi, bahasa yang dipilih juga
akan menjadi bahasa yang digunakan sistem. Bahasa yang digunakan sebaiknya yang mudah
untuk dipahami. Pilih English, sebagai bahasa instalasi. Perhatikan gambar 1.25.
Page | 13
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.25 Pemilihan bahasa yang digunakan untuk proses instalasi
Langkah 5. Tentukan lokasi negara, Indonesia berada di bagian Asia, sebelumnya pilih other, lalu
Asia. Pilih Indonesia sebagai negara, kemudian akan muncul pemilihan locale atau jenis
huruf yang didukung. Indonesia menggunakan alphabet latin, gunakan locale United States
en_US.UTF-8. Langkah ke-5 berturut-turut ditampilkan di gambar 1.26 sampai gambar 1.29.
Gambar 1.26
Page | 14
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.27
Gambar 1.28
Gambar 1.29
Pilih juga keymap, keymap adalah tatanan keyboard yang digunakan, gunakan American English.
Page | 15
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Perhatikan gambar 1.30
Gambar 1.30
Tunggulah beberapa detik, akan ada proses scanning isi dari CD/DVD. Biarkan prosesnya sampai
selesai, seperti gambar 1.31.
Gambar 1.31
Langkah 6. Langkah berikutnya kita diminta untuk mengkonfigurasi jaringan, yaitu memilih
ethernet, membuat IP address, subnet, dan gateway. Setelah kartu jaringan (LAN card) terdeteksi
oleh Debian seperti di gambar 1.32 (terlihat ada 2 buah LAN card yang terdeteksi), eth0
merupakan singkatan dari ethernet 0, ini menjadi inisial untuk LAN card pertama, sedangkan eth1
inisial untuk LAN card kedua.
Kita harus memilih satu interface kartu jaringan yang akan digunakan sebagai primary/utama
(dalam tugas ini, kita akan menggunakan 2 interface ethernet card) sekaligus membuat IP addres
dan subnetnya. Bisa saja pada PC lain hanya berjumlah satu LAN card. Sebuah server yang
memiliki kartu jaringan berjumlah lebih dari 1 berarti server tersebut dapat pula difungsikan
sebagai router gateway. Awali dengan memilih eth0 sebagai LAN Card utama, seperti di gambar
1.32.
Page | 16
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.32
Tampilan di gambar 1.33 merupakan respon “failed” atau gagalnya membuat IP address secara
DHCP (dinamis), respon ini tidak menjadi masalah, karena kita akan mengkonfigurasi IP address
secara manual (statis). Sebenarnya untuk konfigurasi IP address dapat dilakukan di lain waktu,
bisa dilakukan setelah instalasi Debian selesai. Namun untuk efisiensi waktu kita buat saat
instalasi. Pilih Continue meski konfigurasi failed, dan dilanjutkan dengan memilih configure
network manually, seperti gambar 1.34.
Gambar 1.33
Gambar 1.34
Tuliskan secara berturut-turut, Perhatikan gambar 1.35 sampai gambar 1.38.
IP address : 192.168.20.17, ------> gambar 1.35
netmask : 255.255.255.0, ------> gambar 1.36
gateway : 192.168.20.1, ------> gambar 1.37
name server addreses : dikosongkan (tidak diisi). ------> gambar 1.38
Page | 17
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.35
Gambar 1.36
Gambar 1.37
Gambar 1.38
Langkah 7. Masukkan hostname sesuai permintaan costumer (pengguna) yang akan
Page | 18
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
menggunakan komputer tersebut. Kita bisa juga membuat hostname sesuai perintah, maka ikuti
petunjuk soal yang telah diterima atau ikuti perintah atasan kerja. Contohnya, kita akan
menuliskan;
Hostname : server-ruddy
domain name : smktrispek.sch.id
Perhatikan gambar 1.39 dan 1.40.
Gambar 1.39
Gambar 1.40
Langkah 8. Masukkan kata sandi untuk akun utama, bisa diisi sesuai keinginan, namun harus
mudah diingat, karena akan dipakai ketika setiap kali login ke Debian. Kata sandi yang baik adalah
kata yang terdiri dari huruf, angka, dan dapat ditambah simbol-simbol tertentu, serta dirubah
secara berkala. Dalam mengerjakan tugas ini, kata sandi untuk akun root adalah Abc123, lalu pilih
Continue. Kemudian ketikkan Abc123 lagi saat diminta verivikasi kata sandi, lalu Continue.
Page | 19
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.41
Gambar 1.42
Akun utama atau root, memiliki hak akses paling tinggi. Akun jenis ini bisa melakukan apa
saja terhadap sistem dan tidak ada yang membatasinya. Pastikan ketika anda membuat PC
server, kata sandi akun root anda dibuat sangat kuat dan jangan sampai lupa dengan
passwordnya.
Langkah 9. Setelah itu, akan diminta untuk memasukkan full name (nama lengkap pengguna).
Masukan nama anda. Dalam mengerjakan tugas ini, ketikkan ruddy sebagai contoh nama
pengguna. Pilih Continue. Perhatikan gambar 1.43.
Gambar 1.43
Page | 20
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Langkah 10. Masukkan nama username (nama pengguna) untuk akun pribadi anda sendiri dan
biasanya sama dengan full name pada isian sebelumnya (tidak perlu dirubah). Kemudian
masukkan juga kata sandi, contoh: Abc123 (kata sandi dibuat sama dengan password root, agar
mudah mengingatnya). Lalu konfirmasi lagi kata sandinya sebagai verifikasi. Perhatikan gambar
1.44 sampai gambar 1.46.
Gambar 1.44
Gambar 1.45
Gambar 1.46
Langkah 11. Mengkonfigurasi time zone waktu dan kota tempat anda tinggal, karena kita tinggal
di Indonesia, pilih Pacific dan Jakarta, lalu enter !. Tunggu sampai proses pengecekkan hardware
selesai. Perhatikan gambar 1.47 dan 1.48.
Page | 21
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.47
Gambar 1.48
Langkah 12. Pembuatan partisi (ruang penyimpanan dalam harddisk). Buatlah proses partisi
secara terbimbing (guided) seperti gambar 1.49, di bagian ini kita mengalokasikan besarnya ruang
penyimpanan, dengan cara terbimbing (guided) kita dapat membuat partisi dengan praktis dan
cepat. Pilih Guided – use entire disk, lalu enter !
Gambar 1.49
Page | 22
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Kemudian pilih harddisk yang terdeteksi, biasanya yang berinisial SCSI, lalu enter !
Gambar 1.50
Ciptakan partisi dasar ditambah dengan partisi home, hasilnya akan ada tiga partisi yang
terbentuk, yaitu; root (/), swap (memori virtual), dan home. Perhatikan gambar 1.51.
Gambar 1.51
Hasil akhir dari pembuatan partisi teralokasi seperti gambar 1.52.
Diketahui kapasitas harddisk = 21.5 Gb (angka 21.5 ini telah ditentukan sejak di aplikasi virtualbox)
root = 5.6 Gb
swap = 712.0 Mb (besarnya swap biasanya 2 x RAM. Jika RAM sebesar 1Gb, maka swap=2Gb)
home = 15.1 Gb (dibuat dari sisa partisi yang ada, tanpa melakukan perubahan angka)
Pilih Finish partitioning and.... untuk mengakhiri pembuatan partisi ! Namun jika masih ada
kekurangan atau kesalahan, Anda dapat memilih Undo changes .....
Page | 23
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.52
Pilih Yes di gambar 1.53 untuk memformat & menuliskan file system ke partisi yang telah
dialokasikan !
Gambar 1.53
Gambar 1.54 merupakan proses memulai extract file system dimasukkan ke partisi root, tunggu
beberapa menit !
Gambar 1.54
Apabila ditengah-tengah proses instalasi ada pertanyaan seperti gambar 1.55, menanyakan
apakah ada media instalasi lainya? DVD atau CD? Apabila ada, masukkan DVD dan pilih Yes,
apabila tidak, pilih No. Dalam pengerjaan tugas ini, kita tidak men-scan CD atau DVD, maka pilih
No.
Gambar 1.55
Akan ada pertanyaan lagi, apakah perlu menggunakan network mirror? syaratnya anda harus
mempunyai koneksi internet. Network mirror adalah master debian yang ada di internet,
berfungsi untuk mengambil data-data atau aplikasi yang mungkin tidak ada di alam DVD atau CD
Debian yang sedang diinstal. Silahkan pilih No, karena data atau aplikasi tambahan dapat
dilakukan waktu yang lain.
Page | 24
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 1.56
Apabila ada pertanyaan seputar berkontribusi untuk survey seperti gambar 1.57, pilih No.
Gambar 1.57
Langkah 13. Instalasi layanan-layanan aplikasi server yang akan diinstal. Bagian ini sangat penting,
karena ada pilihan tampilan Debian grafis (GUI) dan tampilan Debian text (CLI). Silahkan Anda
memilih sesuai keperluannya. Untuk memilih aplikasi yang cocok, tanda * merupakan tanda
terpilih, gunakan tombol spasi pada keyboard untuk menyetujui pilihan dan tombol panah atas
dan bawah untuk menggerakan ke mana arah memilih.
Untuk mengerjakan tugas ini, kita pilih cukup dua bagian saja. Perhatikan gambar 1.58.
[ * ] Graphical desktop environment
[ * ] Standard system utilities
Lalu tekan tombol tab dan pilih Continue untuk melanjutkan instalasi agar berjalan kembali.
Gambar 1.58
Page | 25
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Langkah 14. Proses instalasi sedang berjalan. Pada bagian ini membutuhkan waktu yang cukup
lama, sesuai dengan banyaknya pilihan yang diberi tanda *. Silahkan untuk menunggu hingga ada
respon perubahan dialog berikutnya.
Gambar 1.59
Langkah 15. Menginstal GRUB boot Loader. GRUB akan membuat sistem operasi yang
sebelumnya tidak bisa digunakan, kecuali diatur ulang menjadi berberapa pilihan sistem operasi
saat start-up komputer. Dalam mengerjakan tugas ini, sistem operasi sebelum Debian di
komputer ini belum ada, jadi saat start-up hanya memiliki satu sistem operasi saja, yaitu Debian.
Jadi perlu diingat, GRUB = Yes. Perhatikan gambar 1.60
Gambar 1.60
Instalasi Debian telah selesai, dengan adanya pesan seperti pada gambar 1.61, maka proses
instalasi Debian server sudah selesai. Pilih Continue, lalu enter !
Gambar 1.61
Page | 26
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 162 menunjukkan peroses menuju start up sistem operasi Debian.
Gambar 1.62
1.5. Uji Coba Pasca Instalasi.
Setelah intalasi Debian dinyatakan finish, selanjutnya... Debian melakukan restart
otomatis, seperti gambar 1.56, sangat perlu seorang Administrator menguji hasil pekerjaannya
sendiri, tujuannya agar sistem operasi Debian benar-benar bisa digunakan. Ada beberapa
pengujian penting yang perlu dilakukan, berikut ini bagian-bagian yang perlu diuji dan diobservasi
kinerjanya.
1.5.1. Uji Coba Login User & Password
Masukkan password root agar dapat membuka Debian, seperti gambar 1.57 dan gambar
1.58. Passwordnya sama dengan saat instalasi tadi, masih ingat kah ? yaitu; Abc123 (password
yang dimasukkan bisa berbeda, tergantung saat instalasi). Perlu diketahui;
Login : ruddy
Password : Abc123
Jika tampilan login Debian dengan mode text (CLI), maka wajahnya khas berwarna hitam dengan
tulisan putih, seperti gambar 1.63. Masukkan login dan password !
Debian GNU/Linux 7 server-ruddy tty1
server-ruddy login: _
Gambar 1.63
Page | 27
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Jika tampilan login Debian dengan mode graphic (GUI), seperti gambar 1.64. Masukkan
passwordnya saja ! Password pernah dibuat saat instalasi.
Gambar 1.64
Jika password tersebut berhasil dimasukkan, maka Debian akan menampilkan wajah GUI yang
berarti Debian siap untuk digunakan, seperti gambar 1.65. Gunakan sub menu terminal di bagian
menu Accessories untuk melakukan berbagai instalasi dan konfigurasi. Menu terminal sangat
bermanfaat untuk melakukan perubahan/penambahan yang besar terhadap kondisi server.
Gambar 1.65
Page | 28
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
1.5.2. Uji Coba Super User dengan Terminal (console)
Terminal merupakan bentuk antar muka (shell interface) untuk berkomunikasi antara
pengguna dengan sistem operasi Debian. Melalui terminal, kita lebih dominan menggunakan
keyboard karena komununikasinya berbentuk text atau CLI (command Line Interface). Klik
Accessories → Terminal.
Gambar 1.66
Untuk menuju terminal console, dapat juga dilakukan dengan cara lain, tekan tombol ctrl + alt +
f1 pada keyboard !
Untuk kembali lagi ke tampilan semula (grafis), tekan tombol ctrl + alt + f7 pada keyboard !
Selanjutnya... kita coba berposisi sebagai super user/root (semula kita berposisi di user biasa),
masuklah menggunakan terminal, gunakan root dan password untuk login. Ketik su lalu enter !
Jika password benar, maka tandanya berubah dari $ menjadi #. Perhatikan gambar 1.67
Gambar 1.67
Tampilan di atas adalah saat kita sudah masuk sebagai root (user utama/super user).
Tandanya apabila kita sedang berada di otoritas root adalah adanya # (pagar). Tanda #
sangat penting untuk digunakan saat instalasi dan konfigurasi aplikasi server.
Page | 29
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
1.5.3. Uji Coba Kesiapan Ethernet Card (kartu jaringan)
Gunakan terminal, masuk sebagai user root, untuk melihat adanya perangkat ethernet
(kartu jaringan) yang nantinya akan digunakan untuk komunikasi jaringan, ketik lspci kemudian
enter ! Ethernet terdeteksi ada 2 buah (eth0 dan eth1), ini tandanya kartu jaringan telah siap
pakai, seperti terlihat pada gambar di bawah.
Gambar 1.68
1.5.4. Merestart & Mematikan Komputer melalui Terminal (console)
Gunakan terminal, masuk sebagai user root. Untuk merestart (menghidupkan kembali)
komputer ketikkan reboot atau init 6 kemudian enter !, seperti di gambar 1.69. Jika ingin
mematikan (off) komputer secara cepat, ketikkan init 0 kemudian enter !, seperti di gambar 1.70.
Gambar 1.69
Gambar 1.70
Page | 30
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
KESIMPULAN PERTERMUAN 1 - 3
Sistem operasi jaringan merupakan sistem operasi yang digunakan untuk server, setiap
kegiatan yang server lakukan ditujukan untuk operasi pada jaringan. Server adalah sistem
komputer yang berfungsi untuk mengatur atau menjadi koordinator pada sistem jaringan
komputer. Intinya, server merupakan induk dari semua komputer yang terhubung, bertugas
melayani, membatasi, dan mengontrol akses terhadap client-client dan sumber daya pada suatu
jaringan komputer. Server didukung dengan spesifikasi hardware yang besar (berbeda dengan
komputer biasa), dan dilengkapi dengan sistem operasi khusus yaitu sistem operasi jaringan yang
di dalamnya ada berbagai macam layanan (aplikasi server) yang menggunakan arsitektur
client/server.
Sistem operasi server dioptimalkan untuk bekerja secara stabil, dan cepat dalam
mengatasi pekerjaan-pekerjaan jaringan yang kompleks dan berat.
Sistem operasi server bekerja dengan berat & cepat, harus terus menyediakan layanan
pada pengguna (client) running selama 24 jam (non stop) dalam sehari. Pemilihan sistem
operasi jaringan yang tepat menentukan kekuatan server untuk melayani client.
Sistem operasi jaringan merupakan pondasi awal dari sistem server. Di atas sistem
operasi jaringan bisa dipasang berbagai aplikasi yang mendukung kebutuhan sistem, seperti
web server, ftp, dns, dsb.
Server yang terpasang sistem operasi jaringan memiliki karakter yang khas yaitu
availability & skalability. Scalability berarti, sebuah server harus dapat ditingkatkan
kemampuannya, yaitu dari sisi performa, fungsi & penambahan jumlah klien. Availibility
berarti, sebuah server harus mampu selalu tersedia “melayani” user/client secara terus menerus
selama 24-jam x 7 hari seminggu.
Sistem operasi dipilih berdasarkan kemampuan administrasi, keamanan, stabilitas, fitur,
skalabilitas, dan dukungan aplikasi pihak ketiga. Dengan aplikasi ini, sistem operasi bisa
memberikan kemampuan seperti berbagi file dan printer, melayani penyimpanan data, layanan
web, perpesanan, terminal, monitoring, DHCP, routing, dsb.
Vendor (perusahaaan pembuat) server menetapkan lisensi masing-masing, pemilihan
lisensi yang tepat mempengaruhi faktor skalabilitas server kita. Lisensi tiap vendor berbeda-
beda, ada yang menetapkan berdasarkan jumlah pengguna dan ada pula yang menetapkan
berdasarkan jumlah CPU.
TUGAS 1
Jawab pertanyaaan berikut ini di Lembar Jawaban yang telah tersedia !
1. Apa yang kamu ketahui tentang sistem operasi server?
2. Mengapa harus menggunakan sistem operasi server?
3. Apa saja tugas sistem operasi server?
4. Apa saja yang bisa dipasang di sistem operasi server?
5. Apa saja yang harus diperhatikan dalam memilih sistem operasi? Sebutkan dan jelaskan!
6. Apa perbedaan mencolok dari sistem operasi server Linux dan Windows? Jelaskan!
Page | 31
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
7. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah instalasi sistem operasi Debian!
8. Apa sebutan nama bagi user utama di sistem operasi Debian?
9. Berapakah jumlah partisi utama yang perlu dibuat pada sistem operasi Debian? Sebutkan!
10. Sebutkan kelebihan dan kekurangan dari sistem operasi Debian!
TUGAS 2
A. Buatlah spesifikasi hardware yang tepat sesuai peruntukkan sebuah PC client. Tulis
spesifikasinya secara detail, mulai dari jenis processor, motherboard, RAM, dan harddisk.
B. Buatlah spesifikasi hardware yang tepat sesuai peruntukkan sebuah PC server. Tulis
spesifikasinya secara detail, mulai dari jenis processor, motherboard, RAM, dan harddisk.
TUGAS 3
1. Siswa membuat kelompok yang terdiri dari 4 – 6 orang dan menyiapkan DVD Debian 7.11.
2. Siswa ditugaskan melakukan praktikum instalasi Linux Debian sesuai dengan soal pada no. 3.
3. Siswa ditugaskan membuat 3 buah partisi dari 40 Gb harddisk, sesuai alokasi berikut;
PARTISI FORMAT SIZE
Swap Swap Besar RAM dikali 2, RAM=1Gb
Root Ext4 / Primary 20 GB
/home Ext4 / Logical Sebesar ruang yang tersisa
40 GB
JUMLAH TOTAL
4. Siswa berkelompok menginstal sistem operasi debian 7 di virtualbox hingga tuntas dan
menunjukkan hasil instalasinya ke guru pembimbing, untuk memperoleh nilai produk.
5. Siswa ditugaskan mengkomunikasikan kembali dalam bentuk laporan praktikum dan
mempresentasikan di depan teman-teman dengan kompak, jelas, padat, dan singkat.
TUGAS 4
Kerjakan secara kelompok yang berisi 5 orang siswa. Buatlah tabel analisa perbandingan kinerja
berdasarkan 2 aspek, yaitu availability & skalability. Hardware yang dianalisa adalah penggunaan
processor intel Xeon vs intel Core i7. Siswa dapat mengerjakan dengan mencari dan merujuk di
internet, buku-buku komputer, atau merujuk ke referensi lain secara bebas.
Page | 32
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Laporkan hasil pekerjaan dengan cara:
1. Tulislah kesimpulan dari analisa tersebut.
2. Komunikasikan hasil kerja dengan mempresentasikan di depan kelas.
3. Diskusikan analisa perbandingan tersebut dengan teman-teman.
4. Setelah melakukan presentasi, perbaiki (revisi) jika ada hasil analisa yang kurang lengkap.
5. Tulislah daftar referensi atau daftar rujukan yang digunakan sesuai aturan penulisan EYD.
Page | 33
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Lembar Tugas (Isi dalam Kotak Ini)
Catatan: Diperiksa Oleh: Tanggal: Ketuntasan Belajar:
Kembali Lanjutkan
Page | 34
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Lembar Tugas (Isi dalam Kotak Ini)
Catatan: Diperiksa Oleh: Tanggal: Ketuntasan Belajar:
Kembali Lanjutkan
Page | 35
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
IP ADDRESS, HOSTS, DAN HOSTNAME
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti kegiatan belajar 4, siswa diharapkan;
1. Dapat menerapkan pengalamatan (address) IP, hosts, dan hostname pada jaringan komputer,
2. Dapat mengkonfigurasi pengalamatan (address) IP, hosts, dan hostname di OS Debian 7,
3. Dapat menguji koneksi IP address di jaringan komputer.
2.1. HUBUNGAN IP ADDRESS DENGAN HOSTS DAN HOSTNAME
IP address berperan sangat penting dalam proses komunikasi data. IP address
(pengalamatan IP) adalah sebuah angka desimal yang digunakan untuk mengidentifikasi kartu
jaringan (ethernet/LANcard) pada sebuah komputer agar dapat berkomunikasi dalam jaringan
lokal atau internet. Saat ini IP address memiliki 2 versi IP yaitu versi 4 dan versi 6. IPv4 yang paling
banyak digunakan, nomor ini di-encode dalam 32 bit, dan tersusun menjadi 4 blok nomor yang
dipisahkan oleh titik (contoh: 192.168.0.1). Versi berikutnya hadir untuk mengatasi kehabisan
IPv4, yaitu IPv6, mampu memperluas ruang pengalamatan menjadi 128 bit, dan alamat umumnya
ditulisn sebagai serangkaian angka heksadesimal dipisahkan oleh titik dua (contoh:
2001:0db8:13bb:0002:0000:0000:0000:0020, atau 2001:db8:13bb:2::20 pendeknya). Untuk
pengerjaan tugas praktik dalam buku ini, hanya menggunakan nomor IP address versi 4 saja.
Ada bagian penting dari pemberian alamat IP, yaitu subnet mask (netmask) ini yang
menentukan kode biner dari alamat IP dalam jaringan. Konfigurasi alamat IPv4 statis yang
dicontohkan di atas (192.168.20.17), memiliki subnet mask, 255.255.255.0 (total
seharusnya berjumlah 32bit, namun yang terisi hanya 3 segmen yaitu 255.255.255, masing-
masing segmen memiliki 8bit, jadi subnet mask tersebut memiliki 24 bit), karena IP tersebut
berkelas C, maka 24 bit yang pertama dari alamat IP dinamakan alamat jaringan, dan 8bit terakhir
dinamakan alamat host. Jadi dapat diketahui alamat jaringan=192.168.20, sedangkan alamat
host=17.
Untuk pembuatan nomor IP address bisa dilakukan dengan 2 cara; manual (statis) dan
auto (dinamis) atau dikenal dengan DHCP ini memerlukan DHCP server. Tentunya kedua cara
tersebut sama-sama perlu melakukan konfigurasi yang bertujuan memberi identitas agar
komputer bisa terhubung dengan sistem jaringan, namun hanya cara pembuatannya yang
berbeda. Nomor IP address yang telah dibuat akan tertera di kartu jaringan yang ada di dalam
komputer, jika kartu jaringan ada 2 atau lebih di sebuah PC server, maka nomor IP address akan
memiliki 2 atau lebih pula. Adanya alamat IP di masing-masing PC membentuk komunikasi data,
dimana data/pesan dapat saling bertukar dengan adanya transfer (tx) dan receive (rx) antara
komputer yang satu dengan komputer yang lain melalui medium transmisi, seperti kabel maupun
nirkabel.
Page | 36
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 71 Server dengan dual LANCard
Setelah memiliki nomor IP address di sebuah komputer server, diperlukan konfigurasi
lanjutan untuk melayani kebutuhan/permintaan dari komputer client seperti web server,
database, DNS server, file sharing, FTP, dll. Konfigurasi hosts dan hostname mutlak dilakukan oleh
seorang admininstrator terhadap servernya karena memiliki hubungan lanjutan dengan IP address,
DNS, web server, dan ftp.
Di linux Debian, hosts dan hostname berbeda, terutama pada letak filenya. File
konfigurasi hosts di “/etc/hosts” sedangkan hostname diletakkan di “etc/hostname”. Kesamaan
antara hosts dan hostname adalah menuliskan nama domain yang harus seragam/sama dalam
sebuah server.
Hosts digunakan untuk menyebut komputer yang terhubung dengan jaringan beserta
alamat IPnya, jadi setiap hosts mempunyai nomor alamat IP yang unik, nomor IP tersebut
mewakili hosts dan hosts terwakili oleh nomor IP address. Tujuan penetapan hosts ke nomor IP
adalah untuk membuatnya lebih mudah diingat oleh orang sekaligus dapat dikenali di sistem
jaringan.
Nama hosts ditulis persis seperti domain name lalu diikuti dengan dengan nomor alamat
IP, nama hosts beserta nomor IP ditulis sebaris, setiap baris menunjukkan alamat IP spesifik diikuti
daftar nama host, sehingga nomor IP yang ditulis sesuai dengan hostnya, contoh penulisan;
192.168.20.17 smktrispek.sch.id smktrispek
Hostname merupakan identitas nama bagi host atau nama komputer. Nama tersebut
akan dikenali oleh host lain yang berada di dalam suatu jaringan dimana host tersebut
tersambung baik secara internet maupun intranet.
Pemberian nama ini spesifik, untuk satu komputer dalam suatu jaringan. Karena sifatnya
yang unik, maka dalam satu jaringan tidak boleh ada 2 atau lebih hostname yang sama.Jika terjadi
penamaan yang sama, maka sistem akan memberitahukan bahwa telah terjadi duplikasi nama,
tetapi jika komputer tidak saling terkoneksi ke jaringan memberikan nama komputer yang sama
tidak masalah. Untuk menuliskan namanya persis seperti domain name yang ditulis satu baris,
contoh penulisan; smktrispek.sch.id
Diketahui:
IP address eth0 = sebagai DHCP Client (menerima nomor IP DHCP, dari ISP/Modem Internet)
IP address eth1 = 192.168.20.17 (sumber penghasil DHCP server dikeluarkan dari ethernet 1)
Netmask = 255.255.255.0
Hosts = ruddy.smktrispek.sch.id
Hostname = ruddy.smktrispek.sch.id
Diasumsikan, Anda sebagai Administrator jaringan di PC server telah terpasang LANcard/ethernet
card beserta drivernya, sehingga PC server telah berhasil mendeteksi interface jaringan.
Page | 37
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Ditanyakan:
Bagaimana cara membuat IP address, hosts, dan hostname yang ke-tiganya saling berhubungan
dan cara mengujinya agar benar-benar berfungsi ?
Jawab:
2.2. PERSIAPAN MEMBANGUN IP ADDRESS, HOSTS, dan HOSTNAME
1. Terinstal sistem operasi Debian 7 dengan benar
2. Terinstall kartu jaringan beserta software drivernya
3. Terdeteksi nama “eth” yang mewakili kartu jaringan
2.3.1. KONFIGURASI IP ADDRESS
Berposisilah sebagai super user, bertanda seperti ini root@ruddy:/home/trispek#
Lihat informasi berapa IP address saat ini ?? dengan perintah “ifconfig” (bukan ipconfig,
karena perintah ipconfig untuk windows). Perhatikan jumlah “eth” jika ada eth0 dan eth1, maka
buatlah alamat IP di masing-masing interface eth, tapi jika hanya ada 1 LANCard di komputer,
maka buat 1 alamat IP saja, yaitu di eth0. Perhatikan gambar 72.
root@ruddy:/home/ruddy# ifconfig (tekan enter !)
Gambar 72 Melihat nomor IP address
Page | 38
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Kemudian buatlah nomor IP yang sesuai, dengan perintah berikut; (tekan enter !)
root@ruddy:/home/ruddy# nano /etc/network/interfaces
INI RENCANANYA UNTUK KONEKSI INTERNET/MODEM/ISP
INI RENCANANYA UNTUK DHCP SERVER/MENUJU SWITCH
Gambar 73 Membuat/memberi nomor IP address
Ketikkan tulisan seperti di dalam kotak hijau di gambar 73. Tepat di bawah tulisan “iface
lo inet loopback”, IP address pertama DHCP dan IP address kedua dibat statis. Namun jika
sudah terisi IP address dengan sendirinya, kita tinggal mengedit tulisannya seperti di kotak hijau
gambar 73 di atas ! Save dengan menekan CTRL X, kemudian tekan Y, dan tekan enter !
Restart hasil konfigurasi IP address dengan; (tekan enter !)
(tekan enter !)
root@ruddy:/home/ruddy# /etc/init.d/networking restart
atau
root@ruddy:/home/ruddy# service networking restart
Penting :
Jika tidak ada perubahan atau IP yang telah dikonfigurasi belum berubah, lakukan perintah
reboot atau init 6 !
Hati-hati dalam penulisan tanda (titik, titik koma, huruf besar, dan gunakan tombol keyboard
“tab” agar tulisan rata dan jangan coba menggunakan tombol spasi), jika ceroboh maka
pemberian nomor IP akan gagal dibuat.
2.3.2. KONFIGURASI HOSTS
Konfigurasi hosts dan hostname dilakukan dengan perintah yang berbeda, karena file
konfigurasi berada di lokasi folder yang berbeda. Lihat tampilan hosts seperti di gambar 74,
tujuannya adalah memeriksa dulu IP address & domain yang ada (jika cocok, sesuaikan dengan
perintah naskah soal). Amatilah aliran koneksi IP address masing-masing untuk eth0 dan eth1 (ini
yang sering tidak dipahami dan jangan sampai terbalik nomor IPnya). Ketikkan perintah;
root@ruddy:/home/ruddy# nano /etc/hosts (tekan enter !)
Page | 39
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Gambar 74 Konfigurasi Hosts
Sesuaikan tampilan di hosts seperti gambar 74, kemudian save dengan menekan CTRL X,
kemudian tekan Y, dan tekan enter !
2.3.3. KONFIGURASI HOSTNAME
Lihat tampilan hostname seperti gambar 75, periksa dulu IP address & domainnya
(sesuaikan dengan perintah di naskah soal). Ketikan perintah;
root@ruddy:/home/ruddy# nano /etc/hostname (tekan enter !)
Gambar 75 Konfigurasi Hostname
Tulis sesuai perintah yang diberikan, sesuaikan dengan naskah soalnya. Jika telah sesuai namanya,
save dengan menekan CTRL X, kemudian tekan Y, dan tekan enter !
Lanjutkan dengan merestart hasil konfigurasi agar terasa hasilnya dengan perintah;
root@ruddy:/home/ruddy# service hostname.sh start (tekan enter !)
2.4.1. UJI COBA IP ADDRESS
Sebelum melakukan uji coba, restartlah hasil IP address dengan perintah berikut;
root@ruddy:/home/ruddy# /etc/init.d/networking restart (tekan enter !)
atau (pilih salah satu saja)
Page | 40
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
root@ruddy:/home/ruddy# service networking restart (tekan enter !)
Koneksikan kabel jaringan (bisa cross atau straight) dari PC server Debian bagian LANcard pertama
ke router atau modem yang terkoneksi internet (ini penting dilakukan agar PC server Debian
memperoleh nomor IP). LANcard kedua, kabel jaringan dikoneksikan ke PC client. Untuk menguji
coba di PC server Debian, gunakan perintah “ ifconfig “ kemudian enter perintah tersebut !
Lihatlah bagian IP address yang terisi pada eth0 dan eth1, eth0 akan terisi nomor IP secara
otomatis meskipun sebelumnya kita tidak membuat alamat IP sedangkan eth1 akan terisi nomor
IP sesuai yang kita inginkan saat konfigurasi sebelumnya di gambar 73. Jika telah tampil IP address
di kedua LANcard, maka PC server telah berhasil dibuatkan alamat IP.
Uji coba yang lain dapat dilakukan juga di PC client, dengan catatan PC client telah
memiliki IP address yang sekelas dengan PC server Debian, contoh IP di PC client; 192.168.20.100
dan tidak lupa memasangkan kabel jenis cross over dari PC client ke PC server. Pengujian di PC
client akan lebih akurat keberhasilannya. Respon di PC client akan menampilkan keberhasilan
koneksi jika menunjukkan tanda “reply from .... TTL”
Penting :
Jika tidak ada perubahan atau tidak menunjukkan “reply from .... TTL” Lakukan dengan perintah
“reboot” atau “init 6” di PC server !
2.4.2. UJI COBA HOSTS & HOSTNAME
Sebelum melakukan uji coba, pastikan PC server telah direstart dengan perintah
“service hostname.sh start” Kemudian untuk melihat hasil perubahan hostname, ketik
perintah;
root@ruddy:/home/ruddy# hostname -f (tekan enter !)
atau
root@ruddy:/home/ruddy# hostname (tekan enter !)
Gambar 76 Hasil Konfigurasi Hostname
Setelah melihat hostname dengan perintah “hostname -f (gambar 76), maka hasilnya
cocok dengan konfigurasi yang sebelumnya (gambar 75), ini menandakan bahwa PC server telah
berhasil memiliki hostname yang baru. Selesai mengkonfigurasi dan menguji nomor IP address,
host, dan hostname, marilah kita lanjutkan menuju pembuatan DHCP server.
Page | 41
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
TUGAS 1
A. Diketahui sebuah PC server Linux varian Debian memiliki dua buah interface jaringan.
LANcard pertama sebagai DHCP client, terhubung dengan modem ISP yang IPnya didapat
otomatis dari modem tersebut. LANcard kedua dikoneksikan ke switch atau langsung ke PC
client, kemudian melalui interface ini pula dibuat nomor IP beralamat : 202.18.17.1.
Hostname bernama : tekaje.org dan hosts bernama : tekaje.org. Praktikkan bagaimana cara
menerapkan IP address, hosts, dan hostname ke dalam PC server tersebut dengan tepat !
B. Lakukan uji coba koneksi kabel ke PC client yang dihubungkan ke eth1 PC server, test uji
koneksi tersambung. Jika pekerjaan Anda benar, maka akan muncul respon di layar monitor
“repply form ..... TTL=128....”
C. Setelah selesai dipraktikkan, tunjukkan hasil keberhasilan uji coba di PC server tersebut
dengan gambar print screen atau bukti foto ke guru pembimbing !
D. Buatlah laporan tertulis langkah-langkah konfigurasi IP address, hosts, dan hostname di
lembar yang telah disediakan !.
E. Buatlah laporan tertulis langkah-langkah ujicoba untuk melihat IP address, hosts, dan
hostname di lembar yang telah disediakan !.
Page | 42
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Lembar Tugas (Isi dalam Kotak Ini)
Catatan: Diperiksa Oleh: Tanggal: Ketuntasan Belajar:
Kembali Lanjutkan
Page | 43
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
Lembar Tugas (Isi dalam Kotak Ini)
Catatan: Diperiksa Oleh: Tanggal: Ketuntasan Belajar:
Kembali Lanjutkan
Page | 44
Ruddy Agus Setiawan - Mengadministrasi Sistem Jaringan dengan Server Debian
DHCP SERVER
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti kegiatan belajar 5-7, siswa diharapkan;
1. Dapat menjelaskan konsep DHCP server,
2. Dapat menginstall DHCP server,
3. Dapat mengkonfigurasi DHCP server,
4. Dapat menguji hasil DHCP server.
3.1. KONSEP & CARA KERJA DHCP SERVER
DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) adalah protokol yang mengatur penomoran
IP address, subnet mask (netmask), default router/gateway secara otomatis (auto) kepada
komputer client. Alat pemberi IP address dalam sebuah jaringan disebut DHCP server.
Manfaat DHCP server memudahkan dalam pemberian nomor IP di komputer-komputer
yang letaknya berjauhan, sehingga tidak perlu melakukan pemberian nomor IP secara manual
satu per satu di setiap komputer.
Bagaimana DHCP server bekerja ? Komputer server sebagai mesin pengatur, pemberi, dan
pendistribusi IP address setelah dikonfigurasi sedemikian rupa menjadi sebuah DHCP server akan
memberikan range (jangkauan) IP address kepada komputer client yang terhubung ke sistem
jaringan. Komputer client yang IP addressnya disetting secara otomatis ketika merequst IP
(meminta) ke komputer server, komputer server akan menerima permintaan client kemudian
mengirimkan pesan DHCPpack ke client, permintaan IP address diteruskan melalui interface
jaringan yang terpasang di masing-masing komputer client. IP yang didisebarkan ke komputer
client berupa IP yang satu kelas dalam jangkauan tertentu yang telah di atur oleh server (contoh:
192.168.20.1 - 192.168.20.254), masing-masing komputer client mendapat satu nomor IP address
yang nomor IPnya berada di jangkauan tersebut dan tidak akan tertukar antar PC client yang satu
dengan yang lainnya serta IP tersebut dibagikan untuk waktu tertentu (lease time) sehingga IP
akan berganti-ganti penomorannya (dinamis) tanpa terputus sesuai konfigurasi server yang
disetting sebelumnya.
Diketahui:
IP address eth0 = IP DHCP (diperoleh dinamis dari modem ISP)
IP gateway eth0 = IP DHCP (diperoleh dinamis dari modem ISP)
IP address eth1 = 192.168.20.17 (sumber penghasil DHCP server dikeluarkan melalui eth1)
Diasumsikan Anda sebagai Administrator jaringan di sebuah perusahaan, ditugaskan untuk
membangun PC server yang memiliki aplikasi DHCP server.
Ditanyakan:
Bagaimana cara membuat DHCP server dan cara menguji DHCP server ?
Page | 45