The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KTI Faktor resiko penderita stroke di stroke center_DIAH FERONIKA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2022-12-06 00:03:39

KTI Faktor resiko penderita stroke di stroke center_DIAH FERONIKA

KTI Faktor resiko penderita stroke di stroke center_DIAH FERONIKA

FAKTOR RESIKO PENDERITA STROKE
DI STROKE CENTER RSUD NGUDI WALUYO WLINGI

KARYA TULIS ILMIAH
STUDI KASUS

DIAH EVINA FERONIKA
NIM. 1601300024

POLITEKNIK KESESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
2019

FAKTOR RESIKO PENDERITA STROKE
DI STROKE CENTER RSUD NGUDI WALUYO WLINGI
Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus ini disusun sebagai salah satu syarat
menyelesaikan Program Studi Diploma 3 Keperawatan Blitar Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang

DIAH EVINA FERONIKA
NIM. 1601300024

POLITEKNIK KESESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
2019
i

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Diah Evina Feronika

NIM : 1601300024

Program Studi : D3 Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa studi kasus yang saya tulis ini
benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan
pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil
tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan studi kasus ini
hasil pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Blitar, Mei 2019
Yang membuat pernyataan

Diah Evina Feronika
NIM.1601300024

Mengetahui,
Pembimbing Utama,

Ns. Dewi Rachmawati, M.Kep.
NIK. 84.04.2.218

ii

LEMBAR PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus dengan judul “Faktor Resiko Penderita
Stroke di Stroke Center Rsud Ngudi Waluyo Wlingi” oleh Diah Evina Feronika,
NIM 1601300024 telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan.

Blitar, 23 Mei 2019
Pembimbing Utama

Ns. Dewi Rachmawati, M.Kep.
NIK. 84.04.2.218

iii

LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus dengan judul “Faktor Resiko Penderita
Stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi” oleh Diah Evina Feronika,
NIM 1601300024 telah diujikan di depan dewan penguji pada tanggal 24 Mei
2019

Dewan Penguji Anggota Penguji
Ketua Penguji

Sunarti, S.Kep. Ns. MM Ns. Dewi Rachmawati, M.Kep.
NIP. 19560313 198102 2 001 NIK. 84.04.2.218

Mengetahui,
Ketua Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

Imam Subekti, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom
NIP. 19651205198912 1 001

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya
berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
penyusunan Karya Tulis Ilmiah studi kasus dengan judul “Faktor Resiko
Penderita Stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi” ini sebagai salah
satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi D 3 Keperawatan
Blitar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang.

Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus ini, penulis tidak lepas
dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan
ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Budi Susatia S.Kp, M.Kes., selaku Direktur Politeknik Kesehatan
Kementerian Kesehatan Malang.

2. Bapak Imam Subekti S.Kp., M.Kep., Sp.Kom., selaku Ketua Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang.

3. Ibu Dr. Ns. Sri Mugianti, S.Kep., M.Kep., selaku Ketua Program Studi
D3 Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang.

4. Ibu Sunarti, S.Kep. Ns. MM selaku Ketua Dewan Penguji.
5. Ibu Ns. Dewi Rachmawati, M.Kep selaku Anggota I Dewan Penguji dan

dan pembimbing utama.
6. Ayah, ibu, dan teman-teman yang selalu mendukung dalam hal materil

maupun spiritual
7. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama

penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

v

Penulis menyadari didalam penyusunan dan penulisan Karya Tulis Ilmiah
Studi Kasus ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun. Harapan penulis, semoga Karya Tulis
Ilmiah Studi Kasus ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Blitar, Mei 2019
Penulis

Diah Evina Feronika
NIM. 1601300024

vi

ABSTRAK

Feronika, Diah Evina. (2019). Faktor Resiko Penderita Stroke di Stroke Center
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Karya Tulis Ilmiah, Program Studi D3
Keperawatan Blitar, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan
Kemenkes Malang, Pembimbing: Ns. Dewi Rachmawati. M.Kep

Penderita stroke dari tahun ke tahun semakin meningkat. Bahkan stroke
menjadi penyebab pertama kematian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui faktor resiko penderita stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo
Wlingi. Rancangan studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Jumlah partisipan sebanyak 15 yaitu
pasien stroke dan keluarganya dengan kriteria inklusi: anggota keluarga yang tinggal
dalam satu rumah, anggota keluarga yang membawa ke rumah sakit, dan anggota
keluarga yang menunggu di rumah sakit. Metode pengumpulan data menggunakan
wawancara terbuka, observasi langsung dan studi dokumentasi. Berdasarkan
penelitian didapatkan hasil faktor resiko stroke iskemik antara lain hipertensi 7
(87,5%) orang, usia 7 (87,5%) orang, gangguan jantung 5 (62,5%) orang,
hiperkolesterol 5 (62,5%) orang, jenis kelamin 4 (50%) orang, merokok 4 (50%)
orang, inaktifitas fisik 4 (50%) orang, diabetes melitus 3 (37,5%) orang, riwayat
keluarga 2 (25%) orang, obesitas 1 (12,5%) orang, dan penggunaan kontrasepsi
hormonal 1 (12,5%) orang. Faktor resiko stroke haemorage antara lain hipertensi 7
(100%) orang, usia 6 (85,7%) orang, jenis kelamin 4 (57,1%) orang, inaktifitas 4
(57,1%) orang, gangguan jantung 3 (42,8%) orang, resiko obesitas 3 (42,8%) orang,
merokok 3 (42,8%) orang, penggunaan kontrasepsi hormonal 3 (42,8%) orang,
riwayat keluarga 1 (14,3%) orang, hiperkolesterol 1 (14,3%) orang, dan diabetes
melitus 1 (14,3%) orang. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor resiko terbanyak pada
stroke iskemik adalah hipertensi dan usia, sedangkan pada stroke haemorage adalah
hipertensi. Untuk itu diharapkan individu dapat menerapkan gaya hidup sehat atau
perilaku cerdik untuk mencegah terjadinya stroke.

Kata kunci : Faktor Resiko, Penderita, Stroke

vii

ABSTRACT
Feronika, Diah Evina. (2019). Risk Factors of Stroke Patients at stroke Center RSUD

Ngudi Waluyo Wlingi. Scientific Writing, Blitar Nursing D3 Study
Program, Nursing Departement, Malang Health Ministry Polytechnic.
Advisor Ns. Dewi Rachmawati. M.Kep
Stroke sufferers from year to year are increasing. Even stroke is the first cause
of death in Indonesia. This study aims to determine the risk factors for stroke patients
at the Ngudi Waluyo Wlingi Hospital Stroke Center. The design of the case study
used in this study is a case study method with a descriptive approach. The number of
participants is 15, namely stroke patients and their families with inclusion criteria:
family members who live in one house, family members who bring to the hospital,
and family members who wait at the hospital. Methods of data collection using open
interviews, direct observation and documentation studies. Based on the research the
results of the risk factors for ischemic stroke include hypertension 7 (87.5%) people,
age 7 (87.5%) people, heart problems 5 (62.5%) people, hypercholesterolemia 5
(62.5%) people , sex 4 (50%) people, smoking 4 (50%) people, physical inactivity 4
(50%) people, diabetes mellitus 3 (37.5%) people, family history 2 (25%) people,
obesity 1 ( 12.5%) people, and use of hormonal contraception 1 (12.5%) people. Risk
factors for stroke haemorrhage include hypertension 7 (100%) people, age 6 (85.7%)
people, gender 4 (57.1%) people, inactivity 4 (57.1%) people, heart problems 3 (42 ,
8%) people, the risk of obesity 3 (42.8%) people, smoking 3 (42.8%) people, use of
hormonal contraception 3 (42.8%) people, family history of 1 (14.3%) people,
hypercholesterolemia 1 (14.3%) people, and diabetes mellitus 1 (14.3%) people. So it
can be concluded that the most risk factors in ischemic stroke are hypertension and
age, whereas in stroke haemorage is hypertension. For this reason, it is expected that
individuals can adopt a healthy lifestyle or smart behavior to prevent stroke

Key Words : Risk Factors, Patients, Stroke

viii

DAFTAR ISI

LEMBAR HALAMAN JUDUL ................................................................... i
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN..................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN.......................................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN........................................................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................. v
ABSTRAK ................................................................................................... vii
DAFTAR ISI ............................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xii
DAFTAR DIAGRAM .................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xiv

BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang....................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................. 4
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................... 5
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................. 5
5
1.4.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit ........................................................... 5
1.4.2 Manfaat Bagi Penderita ................................................................
1.4.3 Manfaat Bagi Masyarakat .............................................................

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Stroke ................................................................................... 6
2.2 Jenis Stroke .......................................................................................... 7
7
2.1.1 Stroke Ischemic .......................................................................... 7
2.1.2 Stroke Haemorrhage................................................................... 8
2.3 Faktor Resiko Stroke.............................................................................. 8
2.3.1 Usia ............................................................................................ 9
2.3.2 Jenis Kelamin ............................................................................. 10
2.3.3 Riwayat Keluarga ....................................................................... 11
2.3.4 Hipertensi ................................................................................... 14
2.3.5 Merokok ..................................................................................... 14
2.3.6 Hiperkolesterol ........................................................................... 16
2.3.7 Obesitas...................................................................................... 17
2.3.8 Gangguan Jantung ...................................................................... 19
2.3.9 Diabetes Melitus ......................................................................... 20
2.3.10 Minum-Minuman Beralkohol...................................................... 21
2.3.11 Inaktifitas Fisik ........................................................................... 22
2.3.12 Kontrasepsi Hormonal ................................................................ 23
2.4 Patofisiologi........................................................................................... 23
2.4.1 Stroke Ischemic .......................................................................... 24
2.4.2 Stroke Haemorrhage...................................................................

ix

2.5 Tanda dan Gejala ................................................................................... 26
2.6 Pemeriksaan Penunjang.......................................................................... 29
29
2.6.1 Pemeriksaan Laboratorium ......................................................... 29
2.6.2 ECG ........................................................................................... 30
2.6.3 CT-Scan Kepala..........................................................................

BAB 3 SETTING STUDI KASUS 31
3.1 Rancangan Studi Kasus ......................................................................... 31
3.2 Subyek Studi Kasus ............................................................................... 32
3.3 Lokasi dan Waktu Studi Kasus .............................................................. 32
32
3.3.1 Lokasi Studi Kasus ....................................................................... 32
3.3.2 Waktu Studi Kasus........................................................................ 32
3.4 Fokus Studi Kasus ................................................................................. 32
3.4.1 Fokus Studi Kasus ......................................................................... 34
3.4.2 Definisi Operasional ...................................................................... 34
3.5 Metode Pengumpulan Data .................................................................... 35
3.5.1 Instrumen Pengumpulan Data ........................................................ 37
3.5.2 Cara Pengumpulan Data ................................................................ 37
3.7 Analisa Studi Kasus............................................................................... 38
3.7.1 Pengumpulan Data ........................................................................ 38
3.7.2 Mereduksi Data ............................................................................. 39
3.7.3 Penyajian Data .............................................................................. 39
3.7.4 Kesimpulan ..................................................................................
3.9 Etika Studi Kasus ..................................................................................

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 40
4.1 Hasil Studi ............................................................................................ 40
41
4.1.1 Gambaran Lokasi Penelitian ......................................................... 44
4.3.2 Karakteristik Subjek Penelitian ....................................................
4.3.3 Data Fokus Studi........................................................................... 44

4.1.3.1 Hasil Faktor Resiko Stroke Masing-Masing Subjek 46
Penelitian............................................................................
47
4.1.3.2 Hasil Masing-Masing Subjek Penelitian Faktor Resiko
Stroke Di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi..... 48

4.1.3.3 Hasil Penelitian Faktor Resiko Penderita Stroke Di 49
Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi ....................
50
4.1.3.4 Faktor Resiko Stroke Ischemic Penderita Stroke
DI Stoke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi ................

4.1.3.5 Faktor Resiko Stroke Haemorrhage Penderita Stroke
DI Stoke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi ................

4.1.3.6 Hasil Observasi Tanda dan Gejala Stroke yang Muncul
di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi ..............

x

4.2 Pembahasan........................................................................................... 52
4.2.1 Faktor Resiko Penderita Stroke Di Stroke Center RSUD 52
Ngudi Waluyo Wlingi ................................................................... 81
4.2.2 Faktor Resiko Stroke Ischemic di Stroke Center RSUD 88
Ngudi Waluyo Wling ....................................................................
4.2.3 Faktor Resiko Stroke Haemorrhage di Stroke Center RSUD
Ngudi Waluyo Wling ....................................................................

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 95
5.1 Kesimpulan ........................................................................................... 96
5.2 Saran .....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 97

xi

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Tahunan Atherothrombotic Brain Infarction (Abi) Dan

Completed Strokes Pada Pria Dan Wanita Usia 35-94 Tahun............. 9
Tabel 1.2 Frekuensi Stroke Pria Dan Wanita Usia 35-94 Tahun.......................... 10
Tabel 1.3 Klasifikasi Hipertensi menurut Pinzon & Asanti (2010)...................... 13
Tabel 1.4 Kadar Kolesterol Darah menurut Pnzon & Asanti (2010).................... 15
Tabel 1.5 Diagnosis DM pada Pemeriksaan Laboratorium Menurut

Pinzon & Asanti (2010)........................................................................ 20
Tabel 4.1 Identitas Subjek Penelitian Faktor Resiko Stroke Di Stroke Center

RSUD Ngudi Waluyo Wlingi............................................................... 42
Tabel 4.2 Karakteristik Subjek Penelitian Faktor Resiko Stroke di Stroke

Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi................................................... 43
Tabel 4.3 Hasil Faktor Resiko Masing-Masing Subjek Penelitian Stroke

Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi ................................................. 44
Tabel 4.4 Hasil Penelitian Faktor Resiko Penderita Stroke Di Stroke

Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi ................................................. 47
Tabel 4.5 Hasil Observasi Tanda Dan Gejala Stroke Yang Muncul Di Stroke

Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi ................................................. 50
Tabel 4.6 Hasil Tanda Dan Gejala Stroke Yang Terlihat Di Stroke

Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi ................................................. 51

xii

DAFTAR DIAGRAM
Diagram 4.1 Hasil Masing-Masing Subjek Penelitian Faktor Resiko Stroke

di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi................................ 46
Diagram 4.2 Faktor Resiko Stroke Ischemic Penderita Stroke di

Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.................................... 48
Diagram 4.3 Faktor Resiko Stroke Haemorrhage Penderita Stroke di

Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.................................... 49

xiii

DAFTAR LAMPIRAN 100
101
Lampiran 1 Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan ........................................ 104
Lampiran 2 Lembar Wawancara ...................................................................... 105
Lampiran 3 Lembar Observasi ......................................................................... 106
Lampiran 4 Lembar Studi Dokumentasi .......................................................... 107
Lampiran 5 Jadwal Kegiatan Penelitian ........................................................... 109
Lampiran 6 Lembar Persetujuan Studi Pendahuluan........................................ 111
Lampiran 7 Lembar Persetujuan penelitian ...................................................... 112
Lampiran 8 Lembar Selesai penelitian ............................................................. 116
Lampiran 9 Lembar Konsultasi ....................................................................... 117
Lampiran 10 Hasil Studi Dokumentasi ...........................................................
Lampiran 11 Curriculum Vitae.........................................................................

xiv

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stroke merupakan suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan
otak dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat
menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler
(WHO, 2014). Sedangkan Pinzon & Asanti (2010) stroke didefinisikan sebagai
defisit (gangguan) fungsi sistem saraf yang terjadi mendadak dan disebabkan oleh
gangguan peredaran darah otak. Stroke terjadi akibat gangguan pembuluh darah di
otak. Menurut Pinzon & Asanti (2010) gangguan peredaran darah otak bisa terjadi
akibat tersumbatnya pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah otak pada
pembuluh darah otak. Otak yang seharusnya mendapat pasokan oksigen dan zat
makanan menjadi terganggu. Terganggunya pasokan oksigen dan makanan ke otak
akan menimbulkan kematian sel saraf. Gangguan inilah yang akan memicu
terjadinya gejala stroke.

Menurut WHO (2014) mengestimasi peningkatan jumlah pasien stroke di
beberapa negara Eropa sebesar 1,1 juta pertahun pada tahun 2000 menjadi 1,5 juta
pertahun pada tahun 2025. Kemenkes RI (2018) mengatakan bahwa stroke pada
tahun 2015 merupakan penyakit penyebab kematian no 1. Menurut Riskesdas (2014)
setiap tahunnya lebih dari 36 juta orang meninggal karena Penyakit Tidak Menular
(PTM) (63% dari seluruh kematian). Lebih dari 9 juta kematian yang disebabkan

1

2

oleh penyakit tidak menular terjadi sebelum usia 60 tahun, dan 90% dari kematian
terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Riskesdas (2014)
mengatakan bahwa 51% kematian terjadi akibat penyakit stroke. Untuk jumlah
penderita stroke di Indonesia tahun 2013 menurut diagnosis Tenaga Kesehatan
(Nakes) diperkirakan sebanyak 1.236.825 orang (7,0‰), sedangkan berdasarkan
diagnosis Nakes/gejala di-perkirakan sebanyak 2.137.941 orang (12,1‰). Dari data
estimasi penderita penyakit stroke oleh Riskesdas (2014) di Jawa Timur sendiri
penderita stroke diagnosa dari Tenaga Kesehatan (Nakes) diperkirakkan sebanyak
190.449 orang (6,6%), sedangkan berdasarkan diagnosa Nakes/gejala diperkirakan
sebanyak 302.987 orang (10,5%)”.

Menurut Pinzon & Asanti (2010) stroke dibagi menjadi dua, yaitu stroke
ischemic dan stroke haemorrhege. Stroke ischemic terjadi karena pembuluh darah ke
otak mengalami sumbatan. Sedangkan stroke haemorrhage terjadi akibat pecahnya
pembuluh darah yang menuju ke otak. Baik stroke ischemic maupun haemorrhage
akan menyebabkan berkurangnya pasokan darah ke bagian ujung setelah
sumbatan/perdarahan, ini lah yang menyebabkan otak kekurangan oksigen dan zat
makanan yang dapat menyebabkan jaringan saraf mati.

Menurur Irfan (2010) hampir 85% stroke disebabkan oleh stroke ischemic,
dengan penyempitan arteri yang mengarah ke otak, atau embolus (kotoran) yang
terlepas dari jantung atau arteri ekstrakraniala (arteri yang berada diluar tengkorak)
yang menyebabkan sumbatan di satu atau beberapa arteri intrakranial (arteri yang
berada di dalam tengkorak). Sedangkan stroke haemorrhege menurut Irfan (2010)

3

disebabkan oleh perdarahan di dalam jaringan otak (disebut hemoragia
intraserebrum atau hematom intraserebrum) atau kedalam ruang subaraknoid yaitu
ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak. Ini
adalah jenis stroke yang paling mematikan, tetapi relatif hanya menyusun sebagian
kecil dari stroke total: 10-15% untuk perdarahan di dalam otak dan 5% untuk
perdarahan pada lapisan jaringan menutupi otak.

Menurut Feigin (2009) terdapat dua faktor resiko yang menyebabkan
terjadinya serangan stroke, yaitu faktor resiko yang dapat diubah dan faktor resiko
yang tidak dapat diubah. Faktor resiko yang tidak dapat diubah menurut Feigin
(2009) mencakup usia, jenis kelamin, ras, dan riwayat keluarga. Untuk faktor resiko
yang dapat diubah menurut Feigin (2009) mencakup: hipertensi, kolesterol didalam
darah, gangguan jantung termasuk fibrilasi atrium (misalnya, denyut jantung tidak
teratur), diabetes, merokok, kontrasepsi hormonal, minum alkohol, obesitas,
kontrasepsi hormonal dan aktifitas.

Menurut Patricia dkk (2015) ada banyak faktor yang menyebabkan stroke
ischemic, namun ada faktor yang paling sering menyebabkan stroke ischemic salah
satunya adalah hipertensi, diabetes meilitus dan kolesterol. Dalam Canavan dkk
(2010) hipertensi memiliki 2,37 kali beresiko terjadi stroke ischemic, merokok
memiliki 2,32 kali resiko stroke ischemic, diabetes mellitus beresiko 1,60 kali,
obesitas beresiko 1,69 kali, aktivitas fisik yang teratur memiliki resiko 0,68 kali,
konsumsi alkohol 1-30 gelas perhari resiko 0,79 kali terjadi stroke ischemic, jika
konsumsi alkohol melebihi 30 gelas perhari maka memiliki resiko 1.41 kali. Faktor

4

tersering menyebabkan stroke haemorrhage adalah hipertensi. Banyak kasus stroke
haemorrhage membutuhkan perawatan jangka panjang, hanya 20% penderita yang
dapat hidup secara independen, sedangkan 40% kasus meninggal dalam 30 hari dan
sekitar separuhnya akan meninggal dalam 48 jam. Sebanyak 80% dari 100% kasus
stroke hemorrhage diakibatkan karena kerusakan pecahnya pembuluh darah arteri
akibat hipertensi kronis (Haynes, 2012 dalam Rincon & Mayer, 2013).

Dari hasil studi pendahuluan stroke menduduki urutan ke 2 dari 10 kasus
penyakit tersering di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi di Stroke Center RSUD Ngudi
Waluyo Wlingi rata-rata pasien perbulan adalah 64 pasien. Dari 64 pasien perbulan
yang berobat di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, 60 pasiennya
berdomisili kabupaten Blitar. Rata-rata pasien dengan stroke skemik perbulannya
sekitar 45 pasien. Sedangkan stroke haemorrhage rata-rata pasien perbulan sekitar
23 pasien.

Dari fenomena diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang
faktor resiko penderita stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah faktor resiko penderita stroke di Stroke Center RSUD Ngudi

Waluyo Wlingi?
1.3 Tujuan

Mengetahui faktor resiko penderita stroke di Stroke Center RSUD Ngudi
Waluyo Wlingi.

5

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi rumah sakit

Dengan adanya penelitian ini diharapkan hasil penelitian dapat menjadi dasar
bagi rumah sakit untuk melakukan pendidikan kesehatan untuk mencegah penderita
stroke yang sembuh agar tidak terjadi stroke berulang.
1.4.2 Manfaat bagi penderita

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan penderita stroke dapat melakukan
pengendalian terhadap faktor resiko stroke untuk mencegah terjadinya stroke
berulang.
1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diharapkan masyarakat dapat
menerapkan gaya hidup sehat, dan bagi masyarakat yang memiliki resiko stroke
dapat mencegah terjadinya stroke.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Stroke
Stroke merupakan penyakit tidak menular (PTM) yang dapat

mengakibatkan kematian dan penyebab utama kecacatan dan merupakan suatu
kegawat daruratan yang membutuhkan pengenalan lebih cepat dan ketepatan
rencana dan kecepatan pelaksanaannya untuk memungkinkan hasil yang paling
baik. Stroke dikenal sebagai penyebab kematian ketiga dan penyebab utama
kecacatan di United States (Carlson, 2009)

Stroke dapat diartikan sebagai gangguan fungsi sistem saraf yang terjadi
mendadak dan disebabkan gangguan yang terjadi dalam pembuluh darah diotak.
Gangguan peredaran darah itu terjadi karena tersumbatnya pembuluh darah di
otak, atau pecahnya pembuluh darah pada otak. Stroke terjadi karena kelainan
fungsi otak yang timbul secara mendadak dengan terjadinya gangguan saraf otak
yang bisa terjangkit di setiap orang pada setiap waktu. Penyakit stroke telah
banyak mengakibatkan kecacatan seperti gangguan gerak, kelumpuhan dalam
berbicara, kemampuan dalam mengingat, proses berfikir dan juga kecacatan yang
lain sebagai akibat timbulnya gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa stroke adalah penyakit tidak
menular karena adanya gangguan syaraf yang terjadi secara mendadak, gangguan
syaraf terjadi akibat adanya gangguan pada pembuluh darah bisa karena sumbatan
atau pecahnya pembuluh darah.

6

7

2.2 Jenis-Jenis Stroke
Menurut Irfan (2010) stroke dikategorikan dalam beberapa jenis, antara lain:

2.2.1 Stroke Ischemic
Irfan (2010) mengatakan bahwa hampir 85% stroke disebabkan oleh:

sumbatan oleh bekuan darah, penyempitan sebuah arteri atau beberapa arteri yang
mengarah ke otak, atau embolus (kotoran) yang terlepas dari jantung atau arteri
ekstra kranial (arteri yang berada di luar tengkorak) yang menyebabkan sumbatan
di satu atau beberapa arteri intrakranial (arteri yang berada di dalam) tengkorak),
ini disebut strok ischemic. Pada orang berusia lanjut lebih dari 65 tahun,
penyumbatan atau penyempitan dapat disebabkan oleh aterosklerosis
(mengerasnya arteri).

Stroke ischemic (non hemorrhage) yaitu tersumbatnya pembuluh darah
yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti
(Nurarif & Kusuma, 2015). Sebagian stroke ischemic terjadi di hemisfer otak,
meskipun sebagia terjadi di serebelum (otak kecil) atau batang otak (Irfan, 2010)
2.2.2 Stroke Hemorrhage

Stroke hemorrhage disebabkan oleh perdarahan ke dalam jaringan otak
(disebut hemorrhage intraserebrum atau hematom intraserebrum) atau ke dalam
ruang subaraknoid yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan
yang menutupi otak (disebut hemoragia subaraknoid). Ini adalah jenis stroke yang
paling mematikan, tetapi relatif hanya menyusun sebagian kecil dari stroke total:
10-15% untuk perdarahan intraserebrum dan 5% untuk perdarahan subaraknoid
(Irfan, 2010).

8

Stroke hemorage umumnya disebabkan oleh adanya perdarahan intracranial
dengan gejala peningkatan tekanan darah systole >200 mmHg dan, bradikardi,
wajah keunguan, sianosis, dan pernapasan mengorok (Fransisca, 2011).
2.3 Faktor Resiko Stroke
2.3.1 Umur

Menurut Rockman & Maldonado (2014) untuk setiap usia yang lebih dari
55 tahun, memiliki resiko stroke kurang lebih dua kali lipat. Sedangkan menurut
Siswanto (2005) bertambahnya umur merupakan faktor resiko yang terpenting
untuk terjadinya serangan stroke, di mana umur merupakan faktor resiko yang
paling penting bagi semua jenis stroke.

Menurut Siswanto (2005) stroke pada umumnya lebih sering terjadi pada
usia lanjut dari pada anak atau/dan dewasa, terdapat pertambahan insiden stroke
sesudah usia 55 tahun. Aterosklerosis merupakan penyebab utama pada usia
lanjut, sedangkan kemungkinan perdarahan lebih sering dijumpai pada anak atau
dewasa muda. Pinzon & Asanti, (2010) mengatakan bahwa Aterosklerosis
merupakan pengerasan dinding pembuluh darah arteri yang akan menyebabkan
sumbatan pembuluh darah. Proses aterosklerosis akan menimbulkan komplikasi
pada organ target (jantung, otak, dan ginjal). Proses tersebut pada otak akan
meningkatkan resiko terkena stroke ischemic.

9

Tabel 1.1 Insiden Tahunan Atherothrombotic Brain Infarction (Abi) Dan
Completed Strokes Pada Pria dan Wanita Usia 35-94 Tahun

Men Women Men/Women
Combined
Age Rate/1000 Rate/1000
Rate/1000
ABI 0.1
0.67 0.11
35-44 0.12 1.4 0.81
45-54 0.97 1.64
55-64 1.94 3 3.87
65-74 5.14 7.52 8.07
75-84 9.06 13.79 12.44
85-94 8.64 *2.90 3.21
Total *3.60
Completed stroke 0.3 0.33
1.04 1.29
35-44 0.37 2.41 2.73
45-54 1.61 5.08 6.33
55-64 3.15 12.83 13.41
65-74 8.16 23.18 21.35
75-84 14.45 *4.91 5.35
85-94 16.21
Total *5.89

2.3.2 Jenis kelamin
Stroke ischemic secara umum lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan

wanita. Namun wanita memiliki presentase kematian akibat stroke yang lebih
tinggi, kemungkinan karena banyak dari wanita memiliki umur lebih panjang
(Rockman & Maldonado, 2014)

Siswanto (2005) Mengatakan bahwa terdapat perbedaan insiden stroke pada
pria dan wanita, insiden stroke pada pria lebih tinggi akan tetapi angka kematian
akibat stroke lebih banyak dijumpai pada wanita setiap tahunnya. Sedangkan pada
penelitian Framingham, stroke ischemic akan meningkat dengan bertambahnya
usia dan hampir 30% lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita.

10

Insiden stroke lebih tinggi pada laki-laki. Meskipun demikian, tingkat
kematian akibat penyakit stroke lebih banyak dijumpai pada wanita. Hal ini
disebabkan umumnya wanita terserang stroke pada usia yang lebih tua dibanding
laki laki ( Wahyu, 2009)
Tabel 1.2 Frekuensi Stroke Pria Dan Wanita Usia 35-94 Tahun

Completed Laki-Laki Perempuan Total dari semua
Stroke kejadian stroke
% %
Atherothrom- 61.5 59 %
botic brain
infarction 60
Cerebral
embolus 23.5 26.2 25.1
Subarachnoid 5.4 5.4 5.4
hemorrhage 8.6 8 8.3
Intracerebral 1.1 1.3 1.2
hemorrhage 100 100 100
Other

Total

2.3.3 Riwayat Keluarga
Rockman & Maldonado (2014) mengatakan bahwa riwayat stroke pada

orang tua, serangan ischemic sementara atau infark miokard dikaitkan dengan
peningkatan resiko stroke 1,4 hingga 3,3 kali lipat. Sedangkan menurut Siswanto
(2005) bila mana kedua orang tua mengalami stroke maka kemungkinan
keturunannya terkena stroke makin besar. Riwayat keluarga adanya serangan
stroke atau penyakit pembuluh darah ischemic, sering pula didapat terjadi pada
penderita stroke yang muda. Berbagai faktor penyebab termasuk predisposisi
genetik aterosklerosis dapat menerangkan hal ini. Sedangkan aneurisa intraklanial

11

sakular, malformasi pembuluh darah, dan angiopati amiloid sering familial dan ini
merupakan penyebab stroke haemorrhage.

Dalam sebuah studi tentang keluarga memiliki kecenderungan untuk
kejadian stroke di Framingham. Namun, stroke fatal yang diderita orang tua
ditentukan oleh pemeriksaan dan sistematis review kasus selama beberapa dekade
terkait dengan yang diamati terjadinya stroke pada anak-anak mereka (anggota
Kelompok Studi Framingham Offspring). Dalam analisis ini, baik stroke ibu dan
ayah pada usia 65 tahun terkait dengan sekitar 3,0 kali lipat peningkatan risiko
stroke pada usia 65 tahun pada anak-anak mereka. Hubungan ini berlaku untuk
ibu dan ayah stroke, stroke total, dan stroke iscemic. Keturunan ini sangat
menunjukkan kecenderungan genetik untuk stroke di samping adanya faktor
lingkungan (Wolf & Kannel, 2011)

Menurut Siswanto (2005) hasil penelitian, didapatkan bahwa seseorang
yang mempunyai riwayat keluarga stroke positif akan mempunyai resiko lebih
tinggi untuk mendapat stroke dibandingkan orang yang mempunyai riwayat
keluarga stroke negatif, setelah disesuaikan dengan umur, suku/ras dan jenis
kelamin, riwayat keluarga positif dari pihak ayah, dan didapat, riwayat keluarga
positif dari pihak ibu (Liao dkk, 1997).
2.3.4 Hipertensi

Dalam Canavan dkk (2012) hipertensi memiliki 2,37 kali beresiko terjadi
stroke ischemic. Hipertensi merupakan faktor resiko tertinggi dalam menyebabkan
kejadian stroke, baik stroke untuk onset yang pertama kali maupun dalam
kejadian stroke berulang. Hipertensi menyebabkan terjadinya gangguan pada
autoregulasi otak. Sehingga, dalam tekanan darah yang sama dengan normotensi,

12

jumlah aliran darah yang diterima otak pada pasien hipertensi lebih sedikit
(Irdelia, dkk, 2014)

Menurut Irfan (2010) apabila ditinjau secara sederhana maka tekanan darah
oleh 2 faktor penting yaitu:
a. Curah jantung dan faktor yang mempengaruhi tingginya tekanan darah ini.
b. Tahanan perifer. Walaupun kita ketahui banyak sekali faktor yang

mempengaruhi tingginya tekanan darah ini.

Dari penyelidikan diketahui bahwa pada hipertensi esensial akan didahului
oleh curah jantung yang meningkat, di mana mula-mula akan terjadi suatu
keadaan hiperkinetik, di mana volume darah masih relatif tetap. Kemudian akan
diikuti dengan darah masih relatif tetap. Kemudian akan diikuti dengan darah
yang tahanan perifer yang meningkat dan kecenderungan volume darah yang
bertambah. Lalu pada fase berikutnya akan timbul curah jantung yang menurun,
tahanan perifer yang terus meninggi serta diikuti oleh proses aterosklerosis dan
volume darah yang cenderung berkurang pula (Irfan, 2010).

Irfan (2010) mengatakan bahwa dalam keadaan sehari-hari terdapat fluktuasi
tekanan darah, tetapi aliran darah otak relatif dapat dipertahankan konstan oleh
mekanisme autoregulasi otak. Autoregulasi ini memelihara penyediaan oksigen
dan glukose untuk kebutuhan sel-sel otak yang aktif bermetabolisme. Fungsi
autoregulasi ini akan baik bila tekanan perfusi perbedaan antara tekanan darah
arteri rata-rata dikurangi dengan tekanan darah vena intrabrakhial (yang hampir
sama dengan tekanan intrakranial). Oleh karena pada keadaan normal tekanan
darah vena otak hanya beberapa mm Hg, maka praktis tekanan darah arterial yang

13

menentukan fungsi autoregulasi ini, autoregulasi ini mempunyai limit batas bawah
dan limit batas atas, diluar batas ini maka fungsinya akan terganggu. Pada orang
normal batas berkisar 60 mm Hg, sedangkan batas atas berkisar 140 mm Hg,
diatas itu akan timbul peningkatan aliran darah otak. Batas atas dan batas bawah
ini tidak mutlak, karena pada penderita hipertensi terjadi pergeseran kurve
autoregulasi ke kanan.

Tabel 1.3 Klasifikasi Hipertensi menurut Pinzon & Asanti (2010):

Klasifikasi Tekanan Darah Tekanan Darah
Sistolik Diastolik

Normal <120 <80

Pra Hipertensi 120-139 80-89

Hipertensi tingkat 1 140-159 90-99

Hipertensi tingkat 2 ≥160 ≥100

Banyak kasus stroke haemorrhage membutuhkan perawatan jangka panjang,
hanya 20% penderita yang dapat hidup secara independen, sedangkan 40% kasus
meninggal dalam 30 hari dan sekitar separuhnya akan meninggal dalam 48 jam.
Sebanyak 80% kasus stroke haemorrhage spontan dimana kerusakan diakibatkan
pecahnya pembuluh darah arteri akibat hipertensi kronis atau angiopati amiloid
(Haynes et al., 2012; Rincon & Mayer, 2013).

Hipertensi memegang peran penting pada patogenesis atherosklerosis
pembuluh darah besar yang selanjutnya akan menyebabkan stroke ischemic oleh

14

oklusi trombolitik arteri, emboli arteri ke arteri atau kombinasi keduanya (Petricia
dkk, 2015)
2.3.5 Merokok

Menurut Canavan dkk (2012) merokok memiliki 2,32 kali resiko stroke
ischemic. Berbagai penelitian menghubungkan kebiasaan merokok dengan
peningkatan resiko penyakit pembuluh darah (termasuk stroke). Merokok memacu
peningkatan kekentalan darah, dan penimbunan plak di dinding pembuluh darah.
Merokok meningkatkan resiko stroke sampai dua kali lipat. Ada hubungan yang
linier antara jumlah batang rokok yang dihisap per hari dengan peningkatan resiko
stroke. Resiko stroke akan bertambah 1,5 kali setiap penambahan 10 batang rokok
per hari (Oslen, 2003)

Rockman & Maldonado (2014) mengatakan bahwa saat ini perokok
memiliki resiko dua hingga empat kali lebih tinggi di bandingkan dengan orang
yang buakan perokok dan perokok yang belum sampai 10 tahun. Menurut Lingga
(2013) merokok termasuk gangguan tidur terkait dengan terganggunya jalan
saluran napas pada saat tidur. Hal tersebut disebabkan penyempitan saluran napas
karena kelainan pada hidung sampai tenggorokan sehingga aliran oksigen menuju
paru-paru terganggu. Selanjutnya darah mengalami defisit oksigen sehingga
pasokan oksigen yang dibutuhkan jantung dan otak pun akhirnya tidak terpenuhi
dan berpeluang memicu serangan stroke. Penurunan kadar oksigen dalam darah
tersebut dinamakan hipoksemia.
2.3.6 Hiperkolesterol

Menurut Rockman & Maldonado (2014) uji coba khusus untuk stroke
ischemic telah menunjukkan bahwa mungkin ada risiko 25% lebih tinggi stroke

15

ischemic dengan masing-masing peningkatan 38,7-mg / dL kadar kolesterol total.

Namun, tidak semua uji coba secara konsisten menunjukkan korelasi antara

hiperkolesterolemia dan stroke ischemic.

Profil lemak seseorang ditentukan oleh kadar kolesterol darah, kolesterol

LDL, kolesterol HDL, trigliserida, dan Lp(a). Kolesterol ditentukan didalam

tubuh, yang terdiri dari dua bagian utama yaitu kolesterol LDL dan kolesterol
HDL. Kolesterol LDL disebut sebagai “kolesterol jahat”, yang membawa

kolesterol dari hati kedalam sel. Jumlah kolesterol LDL yang tinggi akan

menyebabkan penimbunan kolesterol di dalam sel. Hal ini akan memacu

munculnya proses aterosklerosis (pengerasan dinding pembuluh darah arteri).

Proses aterosklerosis akan menimbulkan komplikasi pada organ target (jantung,

otak, dan ginjal). Proses tersebut pada otak akan meningkatkan resiko terkena

stroke (Pinzon & Asanti, 2010).
Kolesterol HDL sering pula disebut sebagai “kolesterol baik”, yang

membawa kolesterol dari sel ke hati. Kadar HDL yang rendah secara konsisten

dihubungkan dengan peningkatan resiko penyakit jantung koroner dan stroke.

Kadar HDL yang rendah memacu munculnya proses atherogenik (pembentukan

plak di dinding pembuluh darah arteri) (Pinzon, 2010).

Tabel 1.4 Kadar kolesterol darah menurut Pnzon & Asanti (2010)

Kadar Kolesterol Resiko Rekomendasi
Total

<200 mg/dL Rendah - Cek berkala

- Cek faktor resiko lain

200-239 mg/dL Sedang - Perubahan pola hidup

16

>240 mg/dL Tinggi - Cek berkala minimal
1 tahun

- Perubahan pola hidup
- Hubungi dokter

2.3.7 Obesitas
Menurut Pinzon dan Asanti (2010) seseorang dengan berat badan berlebih

memiliki resiko yang tinggi untuk menderita stroke. Penelitian Oki dkk (2006)
menyimpulkan bawa seseorang dengan indeks masa tubuh ≥30 memiliki resiko
stroke 2,46 kali dibanding yang memiliki indeks masa tubuh <30. Menurut
Rockman & Maldonado (2014) obesitas adalah faktor risiko spesifik untuk stroke
ischemic pada pria dan wanita. Ada tambahan hubungan antara obesitas perut dan
ischemic stroke pada pria. Dalam Canavan dkk (2012) obesitas memiliko resiko
1,69 kali terjadi stroke ischemic.

Orang gemuk memiliki tingkat tekanan darah, glukosa darah, dan lipid
serum aterogenik yang lebih tinggi; karena itu saja, mereka memiliki risiko stroke.
Obesitas (berat relatif ≥30% di atas median) adalah kontributor independen yang
signifikan terhadap kejadian pada semua kelompok umur dan semua jenis
kelamin. Obesitas memberikan pengaruh buruk pada status kesehatan melalui
tekanan darah tinggi, gangguan toleransi glukosa, resistensi insulin, dan
mekanisme lainnya (Wolf & Kannel, 2011).

Menurut Listiana dkk (2013) obesitas yang menetap selama periode
waktutertentu, kilokalori yang masuk melalui makanan lebih banyak dapat
menyebabkan terjadinya gangguan sistem metabolik berupa hiperkolesterolmia.

17

Pengaturan metabolisme kolesterol akan berjalan normal apabila jumlah
kolesterol dalam darah mencukupi kebutuhan dan tidak melebihi jumlah normal
yang dibutuhkan. Namun pada obesitas dikatakan dapat terjadinya gangguan pada
regulasi asam lemak yang akan meningkatkan kadar trigliserida dan ester
kolesteril (Brunner, 2007; Sniderman,2007).

Orang yang mempunyai berat badan lebih sering kali mempunyai kadar
kolesterol darah yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan orang yang berat
badannya normal. Peningkatan kolesterol darah juga dapat disebabkan oleh
kenaikan kolesterol yang terdapat pada verylow- density lipoprotein dan low–
density lipoprotein sekunder karena peningkatan trigliserida yang besar dalam
sirkilasi apabila terjadi penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh (Santos, 2005;
Th ais,2011).

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bawa obesitas dapat menyebabkan
terjadinya serangan stroke karena obesitas menyebabkan hiperkolesterol. Menurut
Pinzon dan Asanti (2010) Hal ini akan memacu munculnya proses aterosklerosis
(pengerasan dinding pembuluh darah arteri). Proses aterosklerosis akan
menimbulkan komplikasi pada organ target (jantung, otak, dan ginjal). Proses
tersebut pada otak akan meningkatkan resiko terkena stroke.
2.3.8 Jantung

Rockman & Maldonado (2014) mengatakan bahwa pasien dengan fibrilasi
atrium memilik tiga hingga lima kali lipat peningkatan resiko kardioemboli stroke
ischemic. Menurut Ghani dkk (2016) Penyakit jantung koroner (PJK)
didefinisikan jika pernah didiagnosis menderita PJK (angina pektoris dan/atau
infark miokard) oleh dokter atau belum pernah didiagnosis menderita PJK tetapi

18

pernah mengalami gejala/riwayatnyeri di dalam dada/ rasa tertekan berat/tidak
nyaman di dada, nyeri/tidak nyaman di dada dirasakan di dada bagian tengah/dada
kiri depan/menjalar ke lengan kiri, nyeri/tidak nyaman di dada dirasakan ketika
mendaki/naik tangga/berjalan tergesa-gesa dan nyeri/tidak nyaman di dada hilang
ketika menghentikan aktifitas/ istirahat. Gagal jantung jika pernah didiagnosis
menderita penyakit gagal jantung (decompensation cordis) oleh dokter atau belum
pernah didiagnosis menderita penyakit gagal jantungtetapi mengalami
gejala/riwayatsesak napas pada saat aktivitas dan sesak napas saat tidur terlentang
tanpa bantal, kapasitas aktivitas fisik menurun atau mudah lelah dan tungkai
bawah bengkak.

Siswanto (2005) mengatakan bahwa sirkulasi selebral sebagai subsistem
dari sistem kardiovaskuler mempunyai arti bahwa fungsinya tergantung pada
efektifitas jantung sebagai pompa, integritas pembuluh darah sistemik dan
komponen darah dalam memenuhi kebutuhan darah dan oksigen. Otak
membutuhkan 25% dari konsumsi oksigen seluruh tubuh dan menggunakan 20%
cutah jantung semenit. Kejadian stroke hampir selalu berhubungan dengan
penyakit lain, dan karena dekatnya hubungan silkulasi serebral dan sistem
kardiovaskuler, sering kelainan-kelainan sistemik kardiovaskuler sebagai
penyebab timbulnya stroke.

Menurut Rockman & Maldonado (2014) peningkatan waktu luang adalah
aktivitas fisik protektif terhadap stroke di semua ras, jenis kelamin dan usia
kategori, efek perlindungan yang terkait dengan tingkat intensitas dan durasi
aktivitas.

19

2.3.9 Diabetes Melitus (DM)

Dalam Canavan dkk (2012) diabetes mellitus beresiko 1,60 kali terjadi
stroke ischemic. Menurut Siswanto (2005) diabetes mellitus merupakan penyakit
yang sering dijumpai bersama-sama penyakit serebrovaskuler, yang merupakan
faktor resiko kedua bagi terjadinya stroke. Seseorang dikatakan menderita
diabetes meillitus apabila hasil pemeriksaan kadar gula darah sewaktu >200mg/dL
atau pemeriksaan gula darah puasa >140mg/dL, atau pemeriksaan gula darah 2
jam postprandial >200mg/dL .

Pasien diabetes diketahui memiliki peningkatan kerentanan untuk
aterosklerosis pada arteri koroner, femoral, dan serebral. Hingga 80% dari pasien
diabetes tipe 2 akan kematian. Hipertensi sering terjadi pada pasien diabetes
yanng akan mempengaruhi pada kejadian stroke sekitar 60%. Survei pasien stroke
dan investigasi prospektif telah mengkonfirmasi peningkatan risiko stroke pada
pasien diabetes. Honolulu Heart Program menemukan bahwa peningkatan kadar
intoleransi glukosa memberikan peningkatan risiko stroke ischemic yang terlepas
dari faktor risiko lain tetapi tidak menemukan hubungan dengan stroke hemoragik
(Wolf & Kannel, 2011).

Menurut Gilroy (2000) penyebab diabetes melitus stroke ischemic salah
satunya adalah adanya suatu proses aterosklerosis. Kira-kira 30% pasien dengan
aterosklerosis otak terbukti adalah penderita diabetes. Terjadiya hiperglikemia
menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah besar maupun pembuluh darah
perifer, disamping itu juga akanmeningkatkan agregrat platelet dimana kedua
proses tersebut dapat menyebabkan aterosklerosis. Hiperglikemia juga dapat

20

meningkatkan viskositas darah yang kemudian akan menyebabkan naiknya

tekanan darah atau hipertensi dan berakibat terjadinya stroke ischemic. Proses

makroangiopati dianggap sangat relevan dengan stroke dan juga terdapat bukti

adanya keterlibatan proses makroangiopati yang ditandai terjadinya stroke lakunar

pada penderita diabetes mellitus (Gilroy, 2000).

Tabel 1.5 Diagnosis DM pada Pemeriksaan Laboratorium Menurut Pinzon &

Asanti (2010)

Pemeriksaan Gula GTT DM
Normal 110-125 ≥126

Darah

Gula darah puasa <110

2 jam setelah 140-200 ≥200
<140

beban glukosa

Diabetes mellitus mampu menebalkan dinding pembuluh darah otak yang
berukuran besar. Menebalnya dinding pembuluh darah ota k akan menyempitkan
diameter pembuluh darah tadi dan penyempitantersebut kemudian akan
menganggu kelancaran aliran darah ke otak, yang pada akhirnya akan
menyebabkan infark sel-sel otak (Petricia dkk, 2015)
2.3.10 Alkohol

Menurut Rockman & Maldonado (2014) ada peningkatan risiko ischemic
yang dilaporkan stroke dengan minum "tidak teratur", termasuk yang berat dan
pesta minum. Namun, minum moderat mungkin terkait dengan penurunan risiko
stroke ischemic. Dalam Canavan dkk (2012) konsumsi alkohol 1-30 gelas perhari

21

resiko 0,79 kali terjadi stroke ischemic, jika konsumsi alkohol melebihi 30 gelas
perhari maka memiliki resiko 1.41 kali.

Peningkatan konsumsi alkohol jangka lama berpengaruh pada peningkatan
kadar kortisol dalam darah sehingga aktivitas renin-angiotensin dan aldosteron
(RSSA) akan meningkat, jika RAAS meningkat maka kenaikan tekanan darah
terjadi (Gray et al., 2005). Selain itu pada orang dengan riwayat konsumsi alkohol
volume sel darah merah akan meningkat hal ini akan meningkatkan viskositas
darah yang meningkatkan tekanan darah juga. Tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara kebiasaan minum alkohol dengan angka terjadinya peningkatan
tekanan darah dimungkinkan terdapat variabel lain yang lebih kuat sebagai faktor
resiko terjadinya peningkatan tekanan darah (Mukhibbin, 2012)
2.3.11 Aktifitas Fisik

Dalam Canavan dkk (2012) aktivitas fisik memiliki resiko 0,68 kali
terjadinya stroke ischemic. Menurut Siswanto (2005) aktifitas fisik khususnya
exercise sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Tipe
exercise yang dilakukan tiap orang dapat berbeda , tergantung dari kondisi orang
tersebut. Dengan melakukan exercise sesuai dengan kebutuhan, akan bermanfaat
untuk meningkatkan kemampuan tubuh dalam mengoptimalkan oksigen dalam
tubuh, menurunkan asam lemak, dan efisiensi glukosa, menurunkan tekanan
darah, menurunkan kejadian gangguan irama jantung, menurunkan LDL serum
kolesterol dan meningkatkan HDL. Dengan demikian aktivitas fisik diarapkan
dapat mencegah dan melindungi seseorang dari beberapa penyakit yang berkaitan
dengan masalah lemak, glukosa dan oksigen seperti penyakit kardiovaskuler dan
stroke.

22

Secara teori aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah.
Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan cenderung mempunyai frekunsi
denyut jantung yang lebih tinggi. Hal tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja
lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras otot jantung dalam memompa
darah, makin besar pula tekanan darah yang membebankan pada dinding arteri
sehingga tahanan perifer yang menyebabkan kenaikan tekanan darah. Kurangnya
aktivitas fisik juga dapat meningkatkan resiko kelebihan berat badan yang akan
menyebabkan resiko hipertensi meningkat (Triyanto, 2014).
2.3.12 Kontrasepsi hormonal

Menurut Sugiharto (2007) kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan
hipertensi. Menggunakan pil KB lebih dari 12 tahun berturut-turut terbukti
merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi. Dari penelitian ... terbukti bahwa
orang yang sebelumnya tidak menderita tekanan darah tinggi dan setelah
menggunakan KB oral bertahun-tahun orang tersebut menderita tekanan darah
tinggi.

Hipertensi lebih sering terjadi 2-3 kali pada wanita yang menggunakan
kontrasepsi oral. Resiko hipertensi meningkat sesuai dengan usia, durasi
penggunaan kontrasepsi oral, dan peningkatan berat badan. Kontrasepsi oral
biasanya mengandung etinil estradiol dosis rendah (20-35 mikrogram). Data yang
tersedia menyatakan adanya kolerasi antara dosis estrogen dengan progestin
terhadap tekanan darah (Sanif, 2012).

Penggunaan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen dan
progesteron dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Hal ini
dapat disebabkan karena terjadnya hipertropi jantung dan peningkatan respon

23

presor angiotensi Iidengan melibatkan jalur Renin Angiotensin System (Olatujin &
Soladove, 2008).

Kontrasepsi oral yang mengandung 20-50μg etinilestradiol dan
levonorgestre dapat menimbulkan efek tromboli. Tromboemboli terjadi akibat
perubahan faktor pembekuan, meningkatkan koagulasi dan memodifikasi fungsi
trombosit (Edmory, 2013). Penggunaan kontrasepsi oral menyebabkan perubahan
pada sistem darah. Estrogen secara fisiologis menyebabkan peningkatan faktor
aktivitas VIIA plasma dan fragmen protombin 1 dan 2, peningkatan kadar
prokoagulan (faktor I,II,V,VII,VIII,X) dan menurunnya faktor antikoagulan
protein S dan antitrombin III serta meningkatakan agregasi platelet (Vidal,2012).
Jika etinilestradiol masuk kedalam tubuh, maka pemecahan di dalam hepar akan
diperlambat dan waktu paruh dalam darah menjadi lama, sehingga faktor
pembekuan yang normalnya menurun akan semakin menurun, dan yang
meningkatkan semakin meningkatkan, sehingga akan terjadi tromboemboli
(Baziad, 2008). Tromboemboli yang terjadi bersifat persisten dan resiko
peningkatan tertinggi adalah tahun pertamapenggunaan (Colman, 2006). Apabila
tromboemboli tersebut terlepas dan menyumbat di pembuluh darah otak, maka
aliran darah ke otak akan berkurang atau terhenti sehingga pasokan oksigen dan
nutrisi ke otak akan menurun, maka terjadilah infark serebral (Misbach, 2011).
2.4 Patofisiologi
2.4.1 Stroke Ischemic

Irfan (2010) mengatakan bahwa hampir 85% stroke disebabkan oleh:
sumbatan oleh bekuan darah, penyempitan sebuah arteri atau beberapa arteri yang
mengarah ke otak, atau embolus (kotoran) yang terlepas dari jantung atau arteri

24

ekstra kranial (arteri yang berada di luar tengkorak) yang menyebabkan sumbatan
di satu atau beberapa arteri intrakranial (arteri yang berada di dalam) tengkorak).
Ini disebut infark otak atau strok ischemic. Pada orang berusia lanjut lebih dari 65
tahun, penyumbatan atau penyempitan dapat disebabkan oleh aterosklerosis
(mengerasnya arteri).

Hal inilah yang terjadi pada hampir dua pertiga insan stroke ischemic.
Emboli cenderung terjadi pada orang yang mengidap penyakit jantung (misalnya
denyut jantung cepat tidak teratur, penyakit katup jantung dan sebagainya) secara
rata-rata seperempat dari stroke ischemic disebabkan oleh emboli, biasanya dari
jantung (stroke kardioemboli) bekuan darah dari jantung umumnya terbentuk
akibat denyut jantung yang tidak teratur (misalnya fibrilasi atrium), kelainan katup
jantung (termasuk katup buatan dan kerusakan katup akibat penyakit rematik
jantung), infeksi didalam jantung (dikenal sebagai endokarditis) dan pembedahan
jantung (Irfan, 2010)

Sebagian stroke ischemic terjadi di hemisfer otak, meskipun sebagia terjadi
di serebelum (otak kecil) atau batang otak. Beberapa stroke ischemic di emisfer
tampaknya bersifat ringan (sekitar 20% dari semua stroke ischemic); stroke ini
asimtomatik (tak bergejala; hal ini terjadi pada sekitar sepertiga pasien usia lanjut)
atau hanya menimbulkan kecanggungan, kelemahan ringan atau masalah daya
ingat. Namun stroke ringan ganda dan berulang dapat menimbulkan cacat berat,
penurunan kognitif dan demensia (Irfan, 2010)
2.4.2 Stroke Haemorrhage

Menurut Irfan (2010) stroke haemorrhage disebabkan oleh perdarahan ke
dalam jaringan otak (disebut hemoragia intraserebrum atau hematom

25

intraserebrum) atau ke dalam ruang subaraknoid yaitu ruang sempit antara
permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak (disebut hemoragia
subaraknoid). Ini adalah jenis stroke yang paling mematikan, tetapi relatif hanya
menyusun sebagian kecil dari stroke total: 10-15% untuk perdarahan
intraserebrum dan 5% untuk perdarahan subaraknoid (Irfan, 2010).

Perdarahan dari sebuah arteri intrakranium biasanya disebabkan oleh
aneurisma (arteri yang melebar) yang pecah atau karena suatu penyakit. Penyakit
yang menyebabkan dinding arteri menipis dan rapuh adalah penyebab tersering
perdarahan intraserebrum. Penyakit semacam ini adalah hipertensi atau angiopati
amiloid (diamana terjadi pengendapat protein di dinding arteri-arteri kecil di
otak). Jika seseorang mengalami perdarahan intraserebrum, darah di paksa masuk
ke dalam jaringan otak, merusak neuron sehingga bagian otak yang terkena tidak
dapat berfungsi dengan baik (Irfan, 2010).

Pecahnya sebuah aneurisma merupakan penyebab tersering perdarahan
subaraknoid. Pada perdarahan subaraknoid, darah didorong keruang subaraknoid
yang mengelilingi otak. Jaringan otak pada awalnya tidak terpengaruh, tetapi pada
tahap selanjutnya dapat terganggu (Irfan, 2010).

Kadang satu-satunya gejala perdarahan subaraknoid adalah nyeri kepala,
tetapi jika diabaikan gejala ini dapat berakibat fatal. Nyeri kepala khas pada
perdarahan subaraknoid timbul mendadak, parah dan tanpa sebab yang jelas.
Nyeri kepala ini sering disertai muntah, kaku leher, atau kehilangan kesadaran
sementara (Irfan, 2010).

26

2.5 Tanda dan Gejala
Untuk tanda dan gejala menurut Nurarif & Kusuma (2015) sebagai berikut:
1. Tiba-tiba mengalami kelemahan atau kelumpuhan separo badan
2. Tiba-tiba hilang rasa peka
3. Bicara cedel atau pelo
4. Gangguan bicara dan bahasa
5. Gangguan penglihatan
6. Mulut mencong tidak simetris ketika menyeringai
7. Gangguan daya ingat
8. Nyeri kepala hebat
9. Vertigo
10. Kesadaran menurun
11. Proses kencing terganggu
12. Gangguan fungsi otak

Sedangkan menurut Pinzon & Asanti (2010) gejala-gejala stroke antara lain:

1. Kelumpuhan anggota gerak
Kelemahan anggota gerak merupakan gejala yang umum dijumpai pada stroke.
Bila seseorang tiba-tiba merasa kehilangan kekuatan pada salah satu lengan dan
tungkai atau lengan dan tungkai pada satu sisi, pikirkanlah ini sebagai gejala
stroke. Kelemahan pada mumnya sesisi, kanan atau kiri. Gangguan peredaran
darah otak disebelah kanan akan menyebabkan kelemahan anggota gerak sebelah
kiri. Sebaliknya gangguan pada otak sebelah kanan menimbulkan kelemahan
anggota gerak sebelah kiri. Kelemahan yang ringan pada umumnya kurang

27

disadari. Pasien mengeluh kurang mampu mengancingkan baju atau tidak dapat
memakai sandal dengan baik
2. Wajah perot
Wajah perot juga merupakan gejala yang sering muncul pada penderita stroke.
Bila tiba-tiba seseorang menu jukkan gejala wajah perot, pikirkanlah ini sebagai
gejala stroke. Ada banyak penyebab wajah perot, sehingga untuk konfirmasi
gejala tanyakanlah kepada petugas kesehatan dengan pengetahuan tentang strike
yang memadai. Wajah perot pada stroke muncul akibat terganggunya saraf otak
nomer 7 di sentral. Wajah perot pada stroke dapat berdiri sendiri atau bersama
dengan gejala yang lain, misalnya bicara pelo atau kelemahan anggota gerak. Cara
yang paling mudah untuk menilai wajah perot adalah dengan meminta pasien
untuk tersenyum atau menunjukkan giginya. Bila sudut bibir tidak simetris atau
tertarik hanya kesalah satu sisi saja, ini adalah gejala wajah perot. Curigalah
wajah perot mendadak sebagai stroke sampai dengan terbukti gejala stroke.
3. Gangguan bicara
Pasien stroke dapat pula menunjukkan gejala bicara tidak jelas (pelo) atau tidak
dapat bicara (afasia). Hal ini pada umumnya disebabkan oleh karena kelumpuhan
saraf otak nomor 12 atau lobus fronto-temporal di otak. Tanyakan nama dan
alamat pasien. Lihat apakah ia mengerti maksud pertanyaan anda. Dengarkan
baik-baik apakah bicaranya pelo. Mintalah ia menjulurkan lidah. Pada keadaan
normal lidah akan terjulur lurus. Pada keadaan stroke lidah akan miring ke sisi
yang lumpuh. Semua pasien dengan gangguan bicara mendadak harus di curigai
sebagai stroke.

28

4. Pusing berputar
Pusing berputar/vertigo adalah salah satu gejala stroke. Pusing berputar dapat
disertai dengan gejala mual/muntah atau tidak. Gangguan pada sistem
keseimbangan di otak kecil/cerebellum akan menimbulkan gejala pusing berputar.
Gejala pusing berputar dapat pula disertai oleh gejala lain, misalnya bicara pelo
dan gangguan koordinasi. Ada banyak penyebab pusing berputar. Tidak semua
pusing berputar adalah gejala stroke. Bila anda mengalami gejala pusing berputar,
segeralah minta bantuan medis untuk konfirmasi gejala.
5. Nyeri kepala
Nyeri kepala merupakan keluhan yang umum dijumpai. Hampir semua orang
pernah mengalami nyeri kepala. Pada lebih dari 95% kasus, nyeri kepala bersifat
primer dan dihubungkan dengan ketegangan otot atau migren. Pada 5% kasus,
nyeri kepala disebabkan oleh sakit sekunder termasuk diantaranya adalah stroke.
Nyeri kepala pada stroke bersifat mendadak, dengan intensitas yang berat, dan
disertai gejala/tanda ganguan saraf yang lain.
6. Penurunan kesadaran
Kesadaran manusia dipertahankan oleh sebuah sistem diotak yang disebut ARAS
(Assending Reticular Activating System). Sistem ini membuat seseorang terjaga.
Pada kasus stroke yang langsung mengenai pusat sistem kesadaran atau mendesak
pusat sistem kesadaran dapat dijumpai penurunan kesadaran. Penurunan
kesadaran yang terjadi mendadak haruslah dicurigai sebagai sebuah stroke,
sampai terbukti bukan gejala stroke. Ada banyak penyebab penurunan kesadaran.
Termasuk gangguan elektrolit, gangguan pada kadar gula darah, dan juga stroke.
Kasus stroke yang disetrai penurunan kesadaran pada umumnya dijumpai pada

29

stroke haemorrhage. Penurunan kesadaran dapat berupa mengantuk/somnolen
(terbangun dengan suara), soporo (terbangun dengan rangsangan nyeri), sampai
dengan koma (tidak ada respon dengan rangsang sakit). Segeralah minta bantuan
medis bila menjumpai penurunan kesadaran yang bersifat mendadak
7. Gejala lain
Gejala stroke sangat di tentukan oleh bagian otak yang terkena. Salah satu kata
kunci yang ada pada stroke adalah sifatnya yang mendadak. Seseorang yang
awalnya baik-baik saja dan menunjukkan gangguan sistem saraf yang bersifat
mendadak harus dicurigai sebagai stroke. Perubahan tingkah laku, penurunan
tajam penglihatan, gangguan lapang pandang dan gangguan menelan yang bersifat
mendadak harus dicurigai sebagai stroke sampai terbukti bukan gejala sroke
2.6 Pemeriksaan Penunjang

Pinzon & Asanti (2010) mengatakan bahwa pada umumnya seorang pasien
stroke akan mengalami pemeriksaan sebagai berikut
2.6.1 Pemeriksaan laboratorium
Yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan mengambil darahnya untuk
pemeriksaan darah lengkap, kadar gula darah, kolesterol darah, fungsi ginjal,
elektrolit dan sebagainya (Pinzon & Asanti, 2010).
2.6.2 ECG
Penyakit jantung merupakan salah satu faktor resiko stroke yang utama, maka
diperlukan ECG (Electrocardiogram) rongen dada. Pemeriksaan ECG yang
menunjukkan adanya penyakit jantuk koroner dengan adanya ST depresi/elevasi
(Pinzon & Asanti, 2010).

30

2.6.3 CT scan kepala
Pemeriksaan penunjang yang sangat penting dalam tata laksana stroke adalah
pemeriksaan CT scan kepala. Pemeriksaan ini diperlukan untuk menyingkirkan
penyebab selain stroke, menentukan jenis patologi stroke, menentukan lokasi,
ukuran, dan ada/ tidaknya efek pendesakan akibat stroke. Pada banyak faktor
stroke, seringkali CT scan menunjukkan hasil yang normal. CT scan dapat saja
normal pada awal stroke sumbatan. Kerusakan yang masih dini akibat gangguan
peredaran darah otak sering kali belum tampak pada CT scan kepala. Pemeriksaan
CT scan ulang 48-72 jam sesuai CT scan yang pertama dapat dikerjakan untuk
mengkonfirmasi diagnosis. Pada fasilitas kesehatan yang memadai, kerusakan
atau gangguan peredaran darah otak yang sangat awal dapat dideteksi dengan
MRI (difussion MRI). Pada kasus yang masih tampak normal pada CT scan
kepala, sudah bisa tampak adanya kelainan pada difussion MRI. Pemeriksaan
MRI pada waktu segera setelah pemeriksaan CT scan kepala menunjukkan adanya
gangguan peredaran darah otak sebelah kanan (Pinzon & Asanti, 2010)

BAB 3

SETTING STUDI KASUS

3.1 Rancangan Studi Kasus

Rancangan studi kasus dalam kata lain disebut sebagai desain riset, tetapi

antara studi kasus dan riset memiliki perbedaan. Studi kasus dalam keperawatan

merupakan riset kualitatif yang bertujuan untuk mengungkap suatu fenomena

nyata yang dialami klien (sasaran individu, keluarga, kelompok, dan

masyarakat) (Suprajitno & Mugianti, 2018). Jenis penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini adalah metode deskriptif studi kasus. Metode deskriptif

merupakan suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk

membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Dalam

penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan tujuan untuk

mendiskripsikan apa sajakah yang menjadi faktor resiko penderita stroke di

Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi

3.2 Subjek Studi Kasus

Subjek studi kasus dapat disebut juga sebagai partisipan dalam riset

kualitatif atau sampel dalam riset kuantitatif. Subjek studi kasus keperawatan

adalah individu, keluarga, komunitas (kelompok), masyarakat. Kriteria subjek

studi kasus yang rinci akan membatasi jumlah subjek studi kasus sehingga

mudah memilih subjek yang diharapkan, tetapi tidak diperbolehkan

menghilangkan fokus studi kasus (Suprajitno & Mugianti, 2018). Dalam

penelitian ini, subjek studi kasus yang digunakan adalah pasien beserta anggota

keluarga pasien stroke di Stroke Center di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dengan

partisipan sebanyak 15 orang, dengan kriteria inklusi anggota keluarga pasien

sebagai berikut:

31

32

1. Anggota keluarga (inti/cucu/saudara) yang tinggal dalam satu rumah pasien.
2. Anggota keluarga (inti/cucu/saudara) yang membawa pasien ke rumah sakit.
3. Anggota keluarga (inti/cucu/saudara) yang menunggu pasien selama di rumah

sakit.
3.3 Lokasi dan Waktu Studi Kasus
3.3.1 Lokasi Studi Kasus
Lokasi yang di gunakan untuk penelitian studi kasus ini dilakukan di Stroke
Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar.
3.3.2 Waktu Studi Kasus
Waktu pelaksanaan studi kasus pada 1 Maret-1 April 2019.
3.4 Fokus Studi Kasus dan Definisi Operasional Fokus Studi
3.4.1 Fokus Studi Kasus
Fokus studi kasus disebut juga variabel dalam kegiatan riset (Suprajitno &
Mugianti, 2018). Fokus penelitian pada studi kasus ini adalah faktor resiko
penderita stroke di Stroke Center di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
3.4.2 Definisi Operasional Fokus Studi
Menutut Sibagariang dkk (2010) yang dimaksud dengan definisi operasional
adalah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang dapat diobservasi
dari apa yang sedang didefenisikan atau mengubah konsep-konsep yang berupa
kontruksi dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang
dapat diamati dan yang dapat diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain.

33

Definisi operasional dalam penelitian ini yaitu:
1. Faktor resiko stroke

Faktor resiko stroke merupakan faktor pencetus yang dapat diubah dan
tidak dapat diubah yang menyebabkan serangan stroke. Faktor yang dapat di
ubah antara lain:

1) hipertensi merupakan orang yang memiliki tekanan darah tinggi yang lebih
dari 140/90mmHg dari hasil pemeriksaan tekanan darah di rumah dan di
rumah sakit tetap tinggi.

2) Kolesterol, orang yang memiliki lemak dalam darah lebih darah 200mg/dL
dari pemeriksaan laboratorium saat pasien di rawat dirumah sakit.

3) Diabetes meilitus orang yang memiliki kencing manis dengan kadar gula
darah sewaktu lebih dari 200mg/dL dan mempunyai riwayat diabetes
meelitus.

4) Gangguan jantung adalah orang dengan masalah pada jantungnya dapat
dilihat dari riwayat penyakit pasien dan pemeriksaan EKG.

5) Merokok, orang yang memiliki perilaku merokok sejak sebelum sakit
sampai pasien terkena stroke.

6) Minum alkohol, orang dengan perilaku minum alkohol sebelum sakit
sampai pasien tekena stroke.

7) Obesitas adalah orang dengan berat badan berlebih dengan indeks masa
tubuh lebih dari 25.

Sedangkan faktor yang tidak dapat diubah meliputi:

1) Keturunan yaitu orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit
stroke maupun penyebab stroke.

2) Jenis kelamin dilihat dari KTP pasien.

34

3) Usia dari lahir sampai pasien terkena stroke.
2. Penderita stroke

1) Orang yang tidak dapat berbicara, mengalami kelumpuhan separo atau
seluruh badan, tidak dapat berjalan dan bisa juga mengalami penurunan
kesadaran.

2) Orang yang mengalami gangguan saraf yang terjadi akibat sumbatan,
bekuan darah maupun pecahnya pembuluh darah.

3.5 Metode pengumpulan data
3.5.1 Instrumen Pengumpulan Data

Menurut Mardalis (2010) instrumen yang dimaksud dalam penelitian
adalah alat ukur, yaitu dengan instrumen penelitian ini dapat dikumpulkan data
sebagai alat ukur, menyatakan besaran atau presentase serta lebih kurangnya
dalam bentuk kualitatif atau kuantitatif. Sehingga dengan menggunakan
instrumen yang dipakai tersebut berguna sebagai alat, baik untuk mengumpulkan
dan maupun bagi pengukuran. Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan
dengan menggunakan:
1. Wawancara, yaitu dengan menggunakan pertanyaan yang telah disusun

dengan hasil wawancara sebagai data. Untuk data umum meliputi nama
(inisial), umur, jenis kelamin, dan alamat. Sedangkan data khususnya
meliputi riwayat keluarga, riwayat penyakit dan kebiasaan partisipan
(meliputi merokok, minum alkohol, kurang aktifitas fisik).
2. Observasi meliputi tanda gejala yang dialami partisipan yakni seperti
lumpuh separo atau seluruh tubuh, bicara pelo, tidak dapat berjalan,
penurunan kesadaran, mulut mencong atau tidak simetris, hilang rasa peka

35

pada anggota tubuh yang terkena stroke, muntah, nyeri kepala hebat,
gangguan penglihatan.
3. Studi dokumentasi meliputi hasil pemeriksaan penunjang seperti hasil
laboratorium, pemeriksaan tanda-tanda vital, berat badan, CT scan dan
EKG.
a. Hasil laboratorium digunakan untuk melihat adanya kadar gula darah

tinggi yang mengakibatkan terjadinya diabetes mellitus.
b. Pemeriksaan tanda-tanda vital untuk melihat hasil pemeriksaan tekanan

darah, orang dengan hipertensi hasil pemeriksaan tekanan darah lebih
dari 140/90mmHg.
c. Hasil pengukuran berat badan untuk melihat apakah pasien mengalami
obesitas atau tidak.
d. Hasil CT scan menunjukkan adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh
dalah di otak sehingga menyebabkan terjadinya stroke.
e. Pemeriksaan EKG, apakah hasil EKG menunjukkan adanya penyakit
jantuk koroner dengan adanya ST depresi/elevasi dan atrial fibrilasi
3.5.2 Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan studi dokumentasi.
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk
mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui cakap-cakap dan berhadapan
muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada peneliti (Mardalis,
2010). Jadi dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara
wawancara dan melihat hasil pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan
pasien.


Click to View FlipBook Version