The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KTI Faktor resiko penderita stroke di stroke center_DIAH FERONIKA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2022-12-06 00:03:39

KTI Faktor resiko penderita stroke di stroke center_DIAH FERONIKA

KTI Faktor resiko penderita stroke di stroke center_DIAH FERONIKA

84

Hiperkolesterol, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3
dapatkan bahwa pasien stroke ischemic dengan hiperkolesterol terdapat 5 orang
dari total pasien ischemic 8. Menurut Rockman & Maldonado (2014) uji coba
khusus untuk stroke ischemic telah menunjukkan bahwa mungkin ada risiko 25%
lebih tinggi stroke ischemic dengan masing-masing peningkatan 38,7-mg / dL
kadar kolesterol total. Kadar HDL yang rendah memacu munculnya proses
atherogenik (pembentukan plak di dinding pembuluh darah arteri) (Pinzon, 2010).
Menurut peneliti antara teori dan fakta sesuai, partisipan yang memiliki kadar
kolesterol tinggi kebanyakan memiliki HDL yang rendah yaitu <50.

Diabetes Melitus, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3
dapatkan bahwa pasien stroke ischemic dengan diabetes melitus sebanyak 3 orang
dari total pasien 8 orang. Menurut Canavan dkk (2012) diabetes mellitus beresiko
1,60 kali terjadi stroke ischemic. Menurut Siswanto (2005) diabetes mellitus
merupakan penyakit yang sering dijumpai bersama-sama penyakit
serebrovaskuler, yang merupakan faktor resiko kedua bagi terjadinya stroke.
Seseorang dikatakan menderita diabetes meillitus apabila hasil pemeriksaan kadar
gula darah sewaktu >200mg/dL atau pemeriksaan gula darah puasa >140mg/dL,
atau pemeriksaan gula darah 2 jam postprandial >200mg/dL. Dibuktikan bahwa
hiperglikemia juga dapat meningkatkan viskositas darah yang kemudian akan
menyebabkan naiknya tekanan darah atau hipertensi dan berakibat terjadinya
stroke ischemic (Gilroy, 2000).

Gangguan jantung, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3
dapatkan bahwa pasien stroke ischemic dengan gangguan jantung ada 5 orang
dari total 8 orang pasien stroke ischemic. Menurut Ghani dkk (2016) Penyakit
jantung koroner (PJK) didefinisikan jika pernah didiagnosis menderita PJK


85

(angina pektoris dan/atau infark miokard) oleh dokter atau belum pernah
didiagnosis menderita PJK tetapi pernah mengalami gejala/riwayatnyeri di dalam
dada/ rasa tertekan berat/tidak nyaman di dada, nyeri/tidak nyaman di dada
dirasakan di dada bagian tengah/dada kiri depan/menjalar ke lengan kiri,
nyeri/tidak nyaman di dada dirasakan ketika mendaki/naik tangga/berjalan
tergesa-gesa dan nyeri/tidak nyaman di dada hilang ketika menghentikan
aktifitas/ istirahat. Didukung oleh Robert (1993) karena kebanyakan orang yang
mengalami stroke tidak pernah merasakan nyeri dada. Pasien yang dari hasil
EKG menunjukkan adanya gangguan jantung banyak yang baru mengetahuinya
dan tidak pernah merasa sakit pada jantung sebelumnya. Kelainan jantung
merupakan sumber emboli yang dapat mengakibatkan terjadinya stroke ischemic.

Obesitas, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan
bahwa pasien stroke ischemic dengan faktor resiko obesitas 1 orang. Menurut
teori orang gemuk memiliki tingkat tekanan darah, glukosa darah, dan lipid serum
aterogenik yang lebih tinggi; karena itu saja, mereka memiliki risiko stroke.
Obesitas (berat relatif ≥30% di atas median) adalah kontributor independen yang
signifikan terhadap kejadian pada semua kelompok umur dan semua jenis
kelamin. Obesitas memberikan pengaruh buruk pada status kesehatan melalui
tekanan darah tinggi, gangguan toleransi glukosa, resistensi insulin, dan
mekanisme lainnya (Wolf & Kannel, 2011). Dibuktikan oleh Yulianti (2006)
obesitas dapat meningkatkan tekanan darah karena terjadi peningkatan masa
tubuh. Semakin besar masa tubuh, semakin banyak volume darah yang
dibutuhkan untuk memasok oksigen dan zat makanan ke jaringan tubuh. Darah
yang beredar melalui pembuluh darah bertambah, ini menyebabkan peningkatan
tekanan arteri sehingga tekanan darah meningkat.


86

Merokok, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan
bahwa pasien stroke ischemic dengan faktor resiko merokok sebanyak 4 orang
dari total 8 pasien. Dari hasil wawancara banyak dari mereka yang merokok 1
pack perhari. Merokok memacu peningkatan kekentalan darah, dan penimbunan
plak di dinding pembuluh darah. Merokok meningkatkan resiko stroke sampai
dua kali lipat. Ada hubungan yang linier antara jumlah batang rokok yang dihisap
per hari dengan peningkatan resiko stroke. Resiko stroke akan bertambah 1,5 kali
setiap penambahan 10 batang rokok per hari (Oslen, 2003) didukung oleh Kaplan
(1994) berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa merokok, baik yang
dilakukan sesekali maupun kronis serta papara rokok pasif dapat menyebabkan
arteri menjadi kaku, sehingga menghalangi arteri mengembang ketika otot dan
jantung membutuhkan oksigen lebih banyak. Arteri yang kaku meningkatkan
tekanan darah pada jantung sehingga mengakibatkan hipertensi.

Minum minuman beralkohol, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel
4.3 dapatkan bahwa tidak ada pasien stroke ischemic yang minum-minuman
beralkohol. Menurut Rockman & Maldonado (2014) ada peningkatan risiko
ischemic yang dilaporkan stroke dengan minum "tidak teratur", termasuk yang
berat dan pesta minum. Namun, minum moderat mungkin terkait dengan
penurunan risiko stroke ischemic. Dalam Canavan dkk (2012) konsumsi alkohol
1-30 gelas perhari resiko 0,79 kali terjadi stroke ischemic, jika konsumsi alkohol
melebihi 30 gelas perhari maka memiliki resiko 1.41 kali. Menurut peneliti
karena tidak ada partisipan yang minum-minuman alkohol jadi tidak dapat di
buktikan. Tetapi Elvivin dkk (2016) mengatakan peningkatan konsumsi alkohol
dalam jangka waktu yang lama akan mempengaruhi pada peningkatan kadar
kortisol dalam darah sehingga aktivitas rennin angiotensin aldosteron system


87

(RAAS) akan meningkat yaitu sistem hormon yang mengatur keseimbangan
tekanan darah dan cairan dalam tubuh. Selain itu jika seseorang yang
mengkonsumsi alkohol maka volume darah merah di dalam tubuhnya akan
meningkat. Hal ini akan meningkatkan viskositas darah yang dapat meningkatkan
tekanan darah.

Kontrasepsi hormonal, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3
dapatkan bahwa pasien stroke ischemic dengan faktor resiko yang menggunakan
kontrasepsi hormonal sejumlah 1 orang. Menurut Sugiharto (2007) kontrasepsi
hormonal dapat menyebabkan hipertensi. Menggunakan pil KB lebih dari 12
tahun berturut-turut terbukti merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi.
Dibuktikan dari hasil pengukuran tekanan darah pasien yang tinggi. Berarti
kontrasepsi berpengaruh dengan peningkatan tekanan darah. Olatujin & Soladove
(2008) mengatakan bahwa penggunaan kontrasepsi pil yang mengandung hormon
estrogen dan progesteron dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan
darah. Hal ini dapat disebabkan karena terjadnya hipertropi jantung dan
peningkatan respon presor angiotensi dengan melibatkan jalur Renin Angiotensin
System.

Inaktivitas fisik, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3
dapatkan bahwa pasien stroke ischemic dengan faktor resiko inaktivitas fisik
terdapat 3 orang. Canavan dkk (2012) mengatakan bahwa aktivitas fisik memiliki
resiko 0,68 kali terjadinya stroke ischemic. Didukung oleh Triyanto (2014) pada
orang yang tidak aktif melakukan kegiatan cenderung mempunyai frekunsi
denyut jantung yang lebih tinggi. Hal tersebut mengakibatkan otot jantung
bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras otot jantung dalam
memompa darah, makin besar pula tekanan darah yang membebankan pada


88

dinding arteri sehingga tahanan perifer yang menyebabkan kenaikan tekanan
darah.
4.2.3 Faktor Resiko Stroke Haemorrhage Di Stroke Center RSUD Ngudi

Waluyo Wlingi
Berdasarkan dari teori BAB II didapatkan stroke haemorrhage memiliki

beberapa faktor resiko yaitu faktor yang dapat diubah dan yang tidak dapat
diubah. faktor yang tidak dapat diubah antara lain usia, jenis kelamin dan
riwayat keluarga dengan stroke sebelumnya. Sedangkan faktor resiko yang
dapat diubah yaitu hipertensi. Tetapi ditemukan fakta bahwa terdapat pasien
yang dari hasil penelitian juga mengalami faktor antara lain hiperkolesterol,
diabetes melitus, gangguan jantung, obesitas, merokok, menggunakan
kontrasepsi hormonal dan inaktifitas fisik

Untuk faktor resiko yang tidak dapat diubah dari hasil penelitian
berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan bahwa pasien stroke
haemorrhage dengan faktor resiko usia terdapat 6 orang dari total 7 orang.
Siswanto (2005) bertambahnya umur merupakan faktor resiko yang terpenting
untuk terjadinya serangan stroke, di mana umur merupakan faktor resiko yang
paling penting bagi semua jenis stroke. Menurut peneliti antara teori dengan
fakta sudah sesuai, terbukti dari partisipan yang mengalami stroke haemorrhage
memiliki umur >55 tahun. Sesuai dengan Kristiawati dkk (2009) pada lansia
terjadi peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia
berhubungan dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami
kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak. Pembuluh darah menjadi
tidak elastis terutama bagian endotel yang mengalami penebalan pada bagian


89

intima, sehingga mengakibatkan lumen pembuluh darah semakin sempit dan
berdampak pada penurunan aliran darah otak.

Jenis kelamin berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan
bahwa pasien stroke haemorrhage yang memiliki faktor resiko jenis kelamin ada
4 orang dari total 7 orang. Namun wanita memiliki presentase kematian akibat
stroke yang lebih tinggi, kemungkinan karena banyak dari wanita memiliki umur
lebih panjang (Rockman & Maldonado, 2014). Menurut peneliti antara fakta dan
teori kurang sesuai dan menurut teori dari BAB II jenis kelamin tidak masuk
dalam faktor stroke haemorrhage. Seperti yang dikatakan Bethesda Stroke Center
(2012) tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian stroke, dapat
disebabkan oleh karena multifaktorial, bukan hanya karena jenis kelamin
diantaranya karena diabetes melitus, hiperkolesterolemia, merokok, alkohol dan
penyakit jantung. Seseorang yang memiliki satu atau lebih faktor resiko, memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkan serangan stroke dari pada
orang normal pada suatu saat selama perjalanan hidup bila faktor resiko tersebut
tidak dikendalikan.

Riwayat keluarga, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3
dapatkan bahwa pasien stroke haemorrhage dengan faktor resiko riwayat
keluarga terdapat 1 orang dari total 7 orang. Menurut Siswanto (2005) Berbagai
faktor penyebab termasuk predisposisi genetik aterosklerosis dapat menerangkan
hal ini. Sedangkan aneurisa intraklanial sakular, malformasi pembuluh darah, dan
angiopati amiloid sering familial dan ini merupakan penyebab stroke
haemorrhage . Menurut peneliti antara teori dengan fakta sudah sesuai.

Sedangkan faktor resiko yang dapar diubah antara lain hipertensi,
berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan bahwa pasien stroke


90

haemorrhage dengan faktor resiko hipertensii terdapat 7 orang dari total 7 orang.
Menurut teori sebanyak 80% kasus stroke haemorrhage spontan dimana
kerusakan diakibatkan pecahnya pembuluh darah arteri akibat hipertensi kronis
atau angiopati amiloid (Haynes et al., 2012; Rincon & Mayer, 2013). Hampir
mirip dengan hipertensi pada stroke ischemic, yang dikatakan Hariyono (2002)
tekanan darah sistemik yang meningkat akan membuat pembuluh darah serebral
berkontriksi. Derajat kontriksi tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila
tekanan darah meningkat cukup tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-
tahun akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan otot pembuluh darah serebral
yang mengakibatkan diameter lumen pembuluh darah tersebut akan menjadi
tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh serebral tidak dapat berdilatasi atau
berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi dari tekanan darah
sistemik. Bila terjadi kenaikan darah sistemik maka tekanan perfusi pada dinding
kapiler menjadi tinggi yang mengakibatkan terjadi hiperemia, edema, dan
kemungkinan perdarahan pada otak.

Hiperkolesterol, herdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3
dapatkan bahwa pasien stroke haemorrhage dengan hiperkolesterol terdapat 1
orang dari total pasien 7 orang. Menurut Rockman & Maldonado (2014) uji coba
khusus untuk stroke ischemic telah menunjukkan bahwa mungkin ada risiko 25%
lebih tinggi stroke ischemic dengan masing-masing peningkatan 38,7-mg / dL
kadar kolesterol total. Kadar HDL yang rendah memacu munculnya proses
atherogenik (pembentukan plak di dinding pembuluh darah arteri) (Pinzon, 2010).
Menurut peneliti antara teori dan fakta sesuai tetapi berdasarkan teori
hiperkolesterol menyebabkan stroke ischemic, namun terdapat 1 orang partisipan
stroke haemorrhage yang memiliki kadar kolesterol tinggi juga yaitu 257 mg/dL.


91

Diabetes melitus, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3
dapatkan bahwa pasien stroke haemorrhage dengan diabetes melitus sebanyak 1
orang dari total pasien 7 orang. Menurut Canavan dkk (2012) diabetes mellitus
beresiko 1,60 kali terjadi stroke ischemic. Menurut peneliti antara teori dan fakta
sesuai, hiperglikemia juga dapat meningkatkan viskositas darah yang kemudian
akan menyebabkan naiknya tekanan darah atau hipertensi dan berakibat
terjadinya stroke ischemic (Gilroy, 2000), tetapi diabetes melitus berpengaruh
kecil bagi stroke haemorrhage, terbukti dari hasi penelitian didipatkan hanya 1
orang saja. Honolulu Heart Program menemukan bahwa peningkatan kadar
intoleransi glukosa memberikan peningkatan risiko stroke ischemic yang terlepas
dari faktor risiko lain tetapi tidak menemukan hubungan dengan stroke
haemorrhage (Wolf & Kannel, 2011).

Gangguan jantung, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3
dapatkan bahwa pasien stroke haemorrhage dengan gangguan jantung ada 3
orang dari total 7 orang pasien stroke haemorrhage. Rockman & Maldonado
(2014) mengatakan bahwa pasien dengan fibrilasi atrium memilik tiga hingga
lima kali lipat peningkatan resiko kardioemboli stroke ischemic.. Menurut peneliti
gangguan jantung hanya pada pasien dengan stroke ischemic saja, meskipun dari
hasil penelitian yang menyatakan bahwa ada 3 orang yang mengalami stroke
haemorrhage dengan gangguan jantung. Namun kelainan jantung merupakan
sumber emboli yang dapat mengakibatkan terjadinya stroke ischemic (Robert,
1993).

Obesitas, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan
bahwa pasien stroke haemorrhage dengan faktor resiko obesitas 2 orang dan
obesitas 1 orang dengan IMT 32. Menurut teori orang gemuk memiliki tingkat


92

tekanan darah, glukosa darah, dan lipid serum aterogenik yang lebih tinggi;
karena itu saja, mereka memiliki risiko stroke (Wolf & Kannel, 2011). Sedangkan
menurut peneliti antara teori dengan fakta sudah sesuai. Terbukti dari ketiga
partisipan tersebut mengalami tekanan darah tinggi, tetapi mereka tidak memiliki
kadar kolesterol yang tinggi. Obesitas tidak hanya menyebabkan stroke ischemic
saja tetapi juga menyebabkan stroke haemorrhage.

Merokok, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan
bahwa pasien stroke haemorrhage dengan faktor resiko merokok sebanyak 3
orang dari total 7 pasien. Merokok memacu peningkatan kekentalan darah, dan
penimbunan plak di dinding pembuluh darah. Merokok meningkatkan resiko
stroke sampai dua kali lipat. Ada hubungan yang linier antara jumlah batang
rokok yang dihisap per hari dengan peningkatan resiko stroke. Resiko stroke akan
bertambah 1,5 kali setiap penambahan 10 batang rokok per hari (Oslen, 2003).
Menurut peneliti antara teori dengan fakta sudah sesuai, karena Berbagai
penelitian telah menunjukkan bahwa merokok, baik yang dilakukan sesekali
maupun kronis serta papara rokok pasif dapat menyebabkan arteri menjadi kaku,
sehingga menghalangi arteri mengembang ketika otot dan jantung membutuhkan
oksigen lebih banyak.arteri yang kaku meningkatkan tekanan darah pada jantung
sehingga mengakibatkan hipertensi (Kaplan, 1994).

Kontrasepsi hormonal, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3
dapatkan bahwa pasien stroke haemorrhage dengan faktor resiko yang
menggunakan kontrasepsi hormonal sejumlah 3 orang. Menurut Sugiharto (2007)
kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan hipertensi. Menurut peneliti antara
fakta dan teori sudah tepat dan dapat dikatakan bisa menjadi faktor stroke
haemorrhage karena mengalami peningkatan tekanan darah atau menyebabkan


93

hipertensi. Sedangkan menurut Hariyono (2002) bila terjadi kenaikan darah
sistemik maka tekanan perfusi pada dinding kapiler menjadi tinggi yang
mengakibatkan terjadi hiperemia, edema, dan kemungkinan perdarahan pada
otak.

Inaktifitas fisik, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan
bahwa pasien stroke haemorrhage dengan faktor resiko inaktivitas fisik terdapat
4 orang. Triyanto (2014) pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan
cenderung mempunyai frekunsi denyut jantung yang lebih tinggi. Hal tersebut
mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin
keras otot jantung dalam memompa darah, makin besar pula tekanan darah yang
membebankan pada dinding arteri sehingga tahanan perifer yang menyebabkan
kenaikan tekanan darah. Menurut peneliti antara fakta dan teori sudah benar, jika
inaktifitas fisik menyebabkan peningkatan tekanan darah dan tekanan darah
tinggi mengakibatkan pecahnya pembuluh darah otak.
4.2.4 Tanda dan Gejala yang Muncul

Tanda dan gejala yang muncul paling banyak adalah pada Partisipan 11 dan
Partisipan 15 dengan jumlah total 11 tanda gejala yang muncul. Persamaan faktor
yang mereka miliki adalah usia >55 tahun, memiliki hipertensi dan diabetes
melitus. Tetapi mereka memiliki faktor resiko yang berbeda yaitu Partisipan 11
memiliki riwayat keluarga dengan stroke, sedangkan partisipan 15 merupakan
perokok aktif. menurut Siswanto (2005) bila mana kedua orang tua mengalami
stroke maka kemungkinan keturunannya terkena stroke makin besar. Oslen
(2003) mengatakan bahwa merokok memacu peningkatan kekentalan darah, dan
penimbunan plak di dinding pembuluh darah. Merokok meningkatkan resiko


94

stroke sampai dua kali lipat. Jadi stroke yang dialami pada Partisipan 11 dan
Partisipan 15 bisa terdeteksi karena faktor riwayat keluarga dan merokok.


95

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan diuraikan tentang kesimpulan dari studi kasus “Faktor
Resiko Penderita Stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi”.

5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan penelitian di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo

Wlingi selama 4 hari didapatkan hasil bahwa orang dengan stroke ischemic
memiliki faktor faktor resiko stroke ischemic antara lain hipertensi 7 (87,5%)
orang, usia 7 (87,5%) orang, gangguan jantung 5 (62,5%) orang, hiperkolesterol
5 (62,5%) orang, jenis kelamin 4 (50%) orang, merokok 4 (50%) orang,
inaktifitas fisik 4 (50%) orang, diabetes melitus 3 (37,5%) orang, riwayat
keluarga 2 (25%) orang, obesitas 1 (12,5%) orang, dan penggunaan kontrasepsi
hormonal 1 (12,5%) orang. Faktor resiko stroke haemorrhage antara lain
hipertensi 7 (100%) orang, usia 6 (85,7%) orang, jenis kelamin 4 (57,1%) orang,
inaktifitas 4 (57,1%) orang, gangguan jantung 3 (42,8%) orang, resiko obesitas 3
(42,8%) orang, merokok 3 (42,8%) orang, penggunaan kontrasepsi hormonal 3
(42,8%) orang, riwayat keluarga 1 (14,3%) orang, hiperkolesterol 1 (14,3%)
orang, dan diabetes melitus 1 (14,3%) orang. Jadi dapat disimpulkan bahwa
faktor resiko terbanyak pada stroke ischemic adalah hipertensi dan usia,
sedangkan pada stroke haemorrhage adalah hipertensi


96

5.2 Saran
5.2.1 Rumah Sakit
Untuk pihak rumasakit dapat melakukan edukasi untuk mencegah penderita
stroke yang sembuh agar tidak terjadi stroke berulang
5.2.2 Penderita
Penderita stroke dapat melakukan pengendalian terhadap faktor resiko stroke
untuk mencegah terjadinya stroke berulang dengan perilaku hidup sehat, seperti
melakukan olahraga rutin, makan sayur buah, menghinari alkohol dan makanan
berlemak, banyak minum air putih.
5.2.3 Masyarakat
Untuk masyarakatdapat menerapkan gaya hidup sehat, dan bagi masyarakat
yang memiliki resiko stroke dapat mencegah terjadinya stroke, seperti
melakukan olahraga rutin, makan sayur buah, menghinari alkohol dan makanan
berlemak, banyak minum air putih.


DAFTAR PUSTAKA

Candrasari A. Ramadany A V, & Pujarini LA. 2013. Hubungan Diabetes Melitus
Dengan Kejadian Stroke Iskemik Di Rsud Dr. Moewardi Surakarta Tahun
2010. Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Elvivin, Lestari, H., & Ibrahim, K. 2016. Analisis faktor resiko kebiasaan
mengkonsumsi garam, alkohol, kebiasaan merokok dan minum kopi
terhadap kejadian hipertensi pada nelayan suku bajo di Pulau Tasipi
kabupaten Muna Barat tahun 2015. Ilmiah Mahasiswa Kesehatan
Masyarakat.

Feigin, Valery. 2006. Stroke. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.

Fransisca, 2011, dalam Pajri R N, Safri, Dewi Y I. Gambaran Faktor-Faktor
Penyebab Terjadinya Stroke. Program Studi Ilmu Keperawatan,
Universitas Riau

Ghani L, Laurentia K, Mihardja & Delima. 2016. Faktor Risiko Dominan Penderita
Stroke Di Indonesia. Jakarta: Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan

Hoffman, Ronald. Benz, Edward J Jr. MD, Siberstin, Leslie E. M. 2012.
Hematology: Basic Principles and Practice (Hematology Basic Principles
and Practice

Infodatin. 2014. Situasi kesehtan jantung. Jakarta: Kemenkes RI

Irdelia, dkk, 2014, dalam Harini A T C. 2018. Asuhan Keperawatan pada Ny. L dan
Ny M Stroke Iskemik Dengan Masalah Keperawatan Hambatan Mobilitas
Fisik Di Ruang Melati RSUD Dr. Haryoto Lumajang Tahun 2017, 2018
Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Keperawatan UNEJ

Irfan M. 2010. Fisioterapi Bagi Insan Stroke. Yogyakarta: Graha ilmu

Kaplan NM.1994.dalam Nancy S.H, Malonda1, Lucia K.D, Retno P. 2012. Pola
Makan Dan Konsumsi Alkohol Sebagai Faktor Risiko Hipertensi Pada
Lansi. Jurnal Gizi Klinik Indonesia Yogyakarta

Kementrian Kesehatan RI. 2018. Kebijakan Kementrian Kesehatan Dalam
Penangulanagan Gawat Darurat Terpadu. Jakarta: Kemenkes RI

Mardiana A DL, Prameswari G N. 2013 Obesitas Sentral Dan Kadar Kolesterol
Darah Total. Universitas Negeri Semarang

Muttaqin.A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

97


Nurarif. A.H. & Kusuma. H., 2015., Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan
diagnosa medis dan Nanda NIC-NOC Edisi Revisi jilid 3

Patricia H, Mieke A. H. N. 2015. Kembuan & Melke J. Tumboimbela Karakteristik
Penderita Stroke Iskemik Yang Di Rawat Inap Di Rsup Prof. Dr. R. D.
Kandou Manado Tahun 2012-2013 . Fakultas Kedokteran Universitas Sam
Ratulangi Manado

Pinzon. R. & Asanti. L. 2010. Awas Stroke: Pengertian, Gejala, dan Pencegahan.
Yogyakarta: ANDI

Rincon, F., Mayer, S. 2013. Intracerebral Hemorrhage: Clinical Overviw
Patophysiology Concept. Translational Stroke Research, 22(1): 510-524.

Robert J. Witjk Harly Recognation and Treatment of Acute Ischemic Stroke in Heart
Disease and Stroke, Sept/Occ 1993 397.406. dalam Anwar T.B. Kelainan
Jantung Sebagai Faktor Resiko Stroke. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara

Rockman C & Maldonado T. 2014. Cerebrovaskular Disease: General
Considerations. In J. Cronenwett & W. Johnston (Eds). Rutherfors’s
Vascular Surgery (pp. 1456-1477). Philadelpia Elsevier Sunders.

Simbolon,P, Simbolon,N, & Siringo,M. 2018. Faktor Merokok Dengan Kejadian
Stroke Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. STIKES Santa Elisabeth
Medan

Tumewah R, Glen Y. C. R & Mieke A. H. N. 2015. Gambaran Faktor Risiko Pada
Penderita Stroke Iskemik Yang Dirawat Inap Neurologi Rsup Prof. Dr. R.
D. Kandou Manado Periode Juli 2012 - Juni 2013. Manado: Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

Wahyu G G., 2009, Stroke: Hanya Menyerang Orang Tua?. Jakarta: Mizan

Wolf, Philips, & Tannel, William. (2011). Epidemyologi of Stroke. In Mohr, Philips,
Wolf, J. Grotta, M. Moskowitz & M. Maybereg (Eds), Stroke
Pathophysiology, Diagnosis, and Management (5 ed, pp, 198-218).
Philadelpia: Saunders, an imprint of Elsever.

World Health Organization, 2006. STEP Stroke Surveillance. Available from: http://
www.who.int/entity/chp/steps/Section1_Introduction.pdf

World Health Organization. Stroke, Cerebrovascular Accident [Internet]. 20
Desembar 2018. Available from:
http://www.who.int/topics/cerebrovascular_accident/en/

98


Yulianti S & Sitanggang M. 2006:18-23. Dalam Elvyrah F, Bambang D, Berty M .
2012. Faktor Risiko Hipertensi pada Wanita Pekerja dengan Peran Ganda
Kabupaten Bantul Tahun 2011. Politeknik Kesehatan Palu, Bagian Ilmu
Penyakit Dalam, RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta Dinas Kesehatan
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

99


Lampiran 1

PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN
(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa saya telah mendapat
penjelasan secara rinci dan telah mengerti tentang penelitian yang dilakukan oleh
Diah Evina Feronika dengan judul “Faktor Resiko Penderita Stroke di Stroke
Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi”. Saya memutuskan setuju untuk ikut
berpartisipasi pada penelitian ini secara sukarela tanpa paksaan. Bila selama
penelitian ini saya menginginkan mengundurkan diri, maka saya dapat
mengundurkan sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun.

Blitar,…………………. 2019 Blitar,…………………… 2019
Saksi Yang memberikan persetujuan

(………………….) (………………….)

Peneliti

Diah Evina Feronika
NIM. 1601300024

100


Lampiran 2
Lembar Wawancara
Faktor Resiko Penderita Stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi

A. Data umum

Nama :

Umur :

Jenis kelamin :

Alamat :

Pendidikan :

Pekerjaan :

B. Data khusus

Faktor Resiko

1. Apakah ada anggota keluarga anda yang memiliki riwayat penyakit stroke
sebelumnya?

Jawaban: ………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………...
2. Apakah keluarga yang anda tunggu pernah mengalami hipertensi? Jika iya
berapa lama dan minum obat atau tidak?

Jawaban: ………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………...

101


Lampiran 2

3. Apakah anggota keluarga yang anda tunggu memiliki riwayat diabetes melitus?
Jika iya berapa lama dan minum obat atau tidak?
Jawaban: ………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………...

4. Apakah keluarga yang anda tunggu memiliki riwayat serangan jantung? jika
iya kapan dan berapa lama, minum obat atau tidak?
Jawaban: ………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………...

5. Apakah keluarga yang anda tunggu memiliki riwayat kilesterol tinggi? Jika
iya berapa lama dan apakah minum obat?
Jawaban: ………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………...

6. Apakah keluarga yang anda tunggu perokok? Jika iya berapa tahun klien
merokok dan berapa batang perhari?
Jawaban: ………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………...

7. Apakah keluarga yang anda tunggu sering minum alkohol? Jika iya berapa
lama dan berapa gelas perhari?

102


Lampiran 2
Jawaban: ………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………...
8. Apakah anggota keluarga yang anda tunggu melakukan olahraga rutin
berolahraga? Jika iya berapa kali dalam seminggu? Jika tidak apa alasannya?
Jawaban: ………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………...
9. Apakah klien menggunakan kontrasepsi hormonal? Jika iya apa jenisnya?
Jawaban: ………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………...

103


Lampiran 3

Lembar Observasi

Faktor Resiko Penderita Stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi

Nama :

Umur :

Jenis kelamin :

Alamat :

Pendidikan :

Pekerjaan :

No Observasi Ya Tidak

1 Tidak dapat berbicara/bicara pelo

2 Mulut mencong/tidak simetris

3 Tidak dapat berjalan

4 Tidak dapat menggerakkan ekstremitas atas

5 Tidak dapat menggerakkan ekstremitas bawah

6 Keelemahan pada salah satu sisi tubuh

7 Kesemutan pada salah satu sisi tubuh

8 Nyeri hebat pada kepala

9 Muntah

10 Terjadi gangguan penglihatan

11 Terjadi penurunan kesadaran

12 Hilangnya rasa peka pada bagian tubuh yang

stroke

104


Lampiran 4

Lembar Studi Dokumentasi

Faktor Resiko Penderita Stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi

Nama :

Umur :

Jenis kelamin :

Alamat :

Pendidikan :

Pekerjaan :

No Jenis Pemeriksaan Hasil
1 EKG

2 CT scan

3 TTV

4 Berat Badan dan Tinggi
Badan

5 Pemeriksaan
Laboratorium Kadar
GDA, GDS, 2 Jam PP,
Kolesterol, trigliserin,
HDL, LDL, DL

105


Lampiran 5

JADWAL KEGIAT

NO KEGIATAN Sep-18 Okt-18 Nov-18

1 2341 2 3 4 1 2 34

1 PERSIAPAN PENELITIAN

a. Pengajuan topik penelitian

b. Penelusuran bahan pustaka

c. Studi pendahuluan

d. Penyusunan proposal
penelitian

e. Seminar proposal
penelitian

f. Revisi proposal penelitian

2 PENELITIAN

a. Pengumpulan data

b. Tabulasi dan analisa data

c. Penyusunan laporan
penelitian

3 UJIAN SIDANG

4 REVISI LAPORAN
PENELITIAN


TAN PENELITIAN

TAHUN/BULAN/MINGGU KE-
8 Des-18 Jan-19 Feb-19 Mar-19 Apr-19 Mei-19
4 1 2 3 4 1 2 3 4 12 3 4 1234 1 2 3 4 1234


Lampiran 6

Lembar Persetujuan Studi Pendahuluan

107


Lampiran 6
108


Lampiran 7

Lembar Persetujuan Penelitian

109


Lampiran 7
110


Lampiran 8

LEMBAR SELESAI PENELITIAN

111


Lampiran 9

Lembar Konsultasi

112


Lampiran 9
113


Lampiran 9
114


Lampiran 9
115


Lampiran 10

Hasil Studi D

Jenis P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8

pemeriksa

an

Tekanan 160/ 170/ 110/ 250/ 160/ 152/ 210/ 180

Darah 100 80 50 150 100 70 100 90

IMT 23,3 20 20,6 25 22,6 22,2 22,8 18,

GDA 112 107 339 129 104 80 136 275

2 Jam PP - - 364 - - 135 - 172

Kolesterol - 201 218 170 298 170 209 207

Trigliserin - 292 650 101 247 130 136 104

HDL - 47 43 43 59 45 49 50

LDL - 96 95 106 189 99 133 136


Dokumentasi

P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15

0/ 170/ 160/ 180/ 160/ 160/ 180/ 160/

100 80 90 110 100 100 95

,1 32 20,9 16.2 23,8 18,1 20,6 22,2

5 119 148 154 107 103 127 237

2 - - - - - - 201

7 172 158 - 152 257 199 175

4 83 56 - 67 67 176 81

39 53 - 50 70 37 44

6 116 94 - 89 174 127 115


Lampiran 11

CURRICULUM VITAE

Nama : Diah Evina Feronika

Tempat, tanggal lahir : Blitar, 7 Januari 1998

Agama : Islam

Alamat : Dsn. Rejosari Ds. Ngoran RT
001/RW 002, Kec. Nglegok Kab.
Blitar

No. Telpon/Hp : 085707298058

RIWAYAT PENDIDIKAN :
Pendidikan yang telah diselesaikan yaitu Taman Kanak-kanan AL-

Hidayah Ngoran Lulus pada tahun 2004, melanjutkan pendidikan di SD Negeri
Ngoran 2 Lulus pada tahun 2010 kemudian melanjutkan Sekolah Menengah
Pertama di SMP Negeri 1 Nglegok Lulus pada tahun 2013, melanjutkan di
Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Ponggok dengan jurusan IPA dan
Lulus pada tahun 2016 kemudian melanjutkan pendidikan di Politeknik Kesehatan
Kementerian Kesehatan Malang dengan mengambil jurusan Diploma 3
Keperawatan dan meraih gelar Amd.Kep pada tahun 2019.

117


Click to View FlipBook Version