36
Berikut ini adalah langkah langka pengumpulan data:
1. Setelah proposal karya tulis ilmiah dengan metode studi kasus disetujui oleh
pembimbing dan penguji karya, maka penelita mengajukan surat permohonan
rekomendasi penelitian ke Poltekkes Kemenkes Malang Prodi DIII
Keperawatan Blitar.
2. Setelah peneliti mendapatkan persetujuan dari Prodi DIII Keperawatan Blitar,
peneliti mengajukan surat tersebut kepada Kepala Badan Kesatuan Bangsa
Politik dan Perlindungan Masyarakat Daerah Kabupaten Blitar.
3. Peneliti mendapatkan surat tembusan ijin penelitian dari Badan Kesatuan
Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Daerah Kabupaten Blitar yang
ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar dan Kepala
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
4. Peneliti mendapat surat ijin dari RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dan
menentukan tempat/ruangan yang akan dilakukan penelitian yaitu di ruangan
Stroke Center.
5. Setelah mendapatkan partisipan yang sesuai, peneliti melakukan perkenalan
kepada pihak ruangan Stroke Center untuk membina hubungan saling percaya
dengan partisipan, agar partisipan menyetujui untuk dilakukan wawancara
dan mau berbicara secara nyaman dan terbuka.penelitian dilakukan dengan
menjelaskan maksud, tujuan, teknik pelaksanaan, kerahasiaan data harus
terjaga, serta manfaat dari penelitian yang dilakukan.
6. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara observasi dan studi
dokumentasi
7. Peneliti melakukan kontrak waktu dengan partisipan untuk dilakukan
wawancara.
37
8. Wawancara dilakukan saat partisipan istirahat atau tidak melakukan aktivitas.
Observasi dilakukan saat pasien istirahat dan studi dokumentasi dilakukan
saat buku catatan status kesehatan pasien tidak digunakan oleh perawat.
9. Setelah melakukan wawancara observasi dan studi dokumentasi, peneliti
melakukan pengolahan data dengan membuat ringkasan dalam bentuk tabel
dan narasi.
3.6 Analisa Studi Kasus
Menurut Suprajitno & Mugianti (2018) Analisis studi kasus mirip dengan
analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan
dengan cara mengorganisasikan, memilah, mengelola, menyintesis, mencari dan
menemukan pola data yang dipelajari dan memutuskan agar dapat
diinformasikan kepada orang lain (Moleong, 2009). Analisa data kualitatif
menggunakan silogisme induktif yaitu suatu kegiatan analisis yang didasarkan
pada fakta yang diperoleh yang akhirnya ditarik suatu simpulan.
Analisa studi kasus digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
dari peneliti dalam mencari informasi dan data dalam bentuk deskriptif.
Penulisan data pada studi kasus ini berbentuk narasi bersumber pada fokus studi
dan sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan.
3.6.1 Pengumpulan Data
Data dikumpulkan berdasarkan hasil dari wawancara kepada partisipan,
observasi dan studi data. Sebelum dilakukan pengumpulan data perlu dilakukan
hal-hal berikut ini:
3.6.1.1 Persiapan
Persiapan yang dilakukan untuk pengumpulan data adalah pengecekan
instrumen yakni wawancara meliputi data umum dan data khusus, observasi
38
meliputi tanda dan gejala, serta studi dokumentasi berupa hasil pemeriksaan
penunjang atau rekam medis. Data umum meliputi nama (inisial), jenis kelamin,
usia, dan alamat. Sedangkan data khusus meliputi riwayat keluarga, riwayat
penyakit dan kebiasaan partisipan (meliputi merokok, minum alkohol, kurang
aktifitas fisik).
3.6.1.2 Editing
Hal ini dilakukan setelah semua data yang kita kumpulkan melalui
kuisioner atau angket atau instrumen lainnya. Langkah pertama yang perlu
dilakukan adalah memeriksa kembali lembar kuisioner tersebut satu persatu. Hal
ini dilakukan dengan maksud untuk mengecek apa setiap kuisioner telah diisi
sesuai dengan petunjuk sebelumnya, jika terdapat beberapa kuisioner yang
masih belum diisi, atau pengisian yang tidak sesuai dengan petunjuk dan tidak
relevannya jawaban dengan pertanyaan. Semua kekurangan dan kerusakan
waktu kita meng-edit ini, sebaiknya perbaiki dengan jalan menyuruh isi kembali
kuisioner yang masih kosong pada partisipan semula, kalau itu tidak mungkin
dilakukan, maka kita berusaha mencari partisipan lain sebagai penganti asal
sesuai dengan polanya (Mardalis, 2010)
3.6.2 Mereduksi Data
Hasil wawancara yang telah terkumpul disesuaikan/dikelompokkan sesuai
dengan tujuan penelitian dalam bentuk catatan. Pada penelitian ini data
dimasukkan dalam tabel sesuai dengan jawaban yang telah di ucapkan partisipan
saat wawancara, serta dari hasil observasi dan studi dokumentasi
3.6.3 Penyajian Data
Dalam penelitian ini hasil dari penelitian dianalisa dan kemudian disajikan
dalam bentuk narasi dan tabel. Hasil yang diperoleh menguraikan faktor resiko
39
penderita stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Peneliti tidak
menampilkan nama asli dari partisipan, melainkan menggunakan inisial untuk
menjaga kerahasiaan data.
3.6.4 Kesimpulan
Dari data yang telah diperoleh maka akan ditarik kesimpulan faktor resiko
penderita stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
3.7 Etik Studi Kasus
Etik menyusun studi kasus bertujuan untukmenghargai hak dan martabat
manusia sebagai subjek, memberikan yang terbaik, dan bersikap adil (Suprajitno
& Mugianti, 2018). Berikut ini adalah etik melakukan riset menurut Suprajitno
& Mugianti (2018):
3.7.1 Adil
Adil berarti setiap subjek yang berperan dalam studi mendapat perilaku yang
sama sesuai yang telah disusun dalam bentuk proposal, termasuk hak subjek dan
mempertimbangkan nilai moral
3.7.2 Baik
Baik berarti segala yang dilakukan periset tidak menimbulkan kerugian subjek,
mengutamakan manfaat hasil riset, dan meminimalkan resiko.
3.7.3 Hormat
Hormat berarti menghormati hak subjek untuk menentukan keterlibatan dalam
studi kasus dan melindungi subjek yang memiliki ketergantungan (dependent)
dan rentan (vulnerable).
40
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan disajikan mengenai hasil penelitian dan pembahasan hasil
studi kasus. Hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti akan disajikan
sebagai berikut yang meliputi subjek penelitian, fokus studi kasus, hasil
penelitian dan hasil pembahasan akan di sajikan dalam bentuk narasi dari hasil
wawancara dan studi dokumentasi, serta tabel dari hasil observasi tentang faktot
resiko penderita stroke di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Dalam
memilih subjek penelitian, peneliti memilih subjek penelitian secara langsung di
Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi berdasarkan kriteria yang ditentukan
peneliti. Kemudian peneliti memilih responden sejumlah 17 responden.
4.1 Hasil Studi
4.1.1 Gambaran lokasi penelitian
Penelitian dilakukan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi sebagai lokasi
penelitian pada tanggal 8 Mei – 11 Mei 2019. RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
terletak di Jalan Dr. Soecipto No. 5, Wlingi, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa
Timur. RSUD Ngudi Waluyo Wlingi menetapkan visi “Menjadi Rumah Sakit
pilihan masyarakat di Blitar Raya dan sekitarnya tahun 2021”. Visi tersebut
memerlukan usaha seluruh jajaran untuk dapat memuaskan semua masyarakat
yang menerima pelayanan Rumah Sakit. RSUD Ngudi Waluyo Wlingi ini juga
sudah memiliki akreditasi paripurna pada November 2016.
Ruangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Stroke Center. Stroke
Center ini merupakan ruang rawat inap bagi pasien stroke yang berdiri sejak
bulan April 2017. Ruangan tersebut terbagi menjadi 2 ruangan rawat inap, yaitu
41
rawat inap intensif yang memiliki kapasitas 4 tempat tidur. Sedangkan ruang
rawat inap pasien stroke biasa memiliki kapasitas 16 tempat tidur. Untuk ruang
perawat berada di tengah antara dua ruang tersebut.
4.1.2 Karakteristik subjek penelitian
Partisipan penelitian pada Studi Kasus ini adalah pasien yang dirawat di
Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, anggota keluarga (inti/cucu/saudara)
yang tinggal dalam satu rumah pasien, anggota keluarga (inti/cucu/saudara) yang
membawa pasien ke rumah sakit, anggota keluarga (inti/cucu/saudara) yang
menunggu pasien selama di rumah sakit. Dalam data studi kasus ini peneliti
memilih 15 partisipan yaiyu Ny. Ss (partisipan 1), Ny. M (partisipan 2), Tn. Sp
(partisipan 3), Tn. Sub (partisipan 4), Tn. Ks (partisipan 5), Tn. Km (partisipan
6), Tn. Skd (partisipan 7), Ny. Jar (partisipan 8), Ny. T (partisipan 9), Tn. K
(partisipan 10), Ny. P (partisipan 11), Ny. Su (partisipan 12), Ny. Pa (partisipan
13), Tn. J (partisipan 14), Tn. Sl (partisipan 15). Dalam studi kasus ini partisipan
juga bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed concent.
Tabel 4.1 Identitas Subjek Penelitian Faktor Resiko Stroke di S
N
o 12 3 456
1. Nama Ny.S Ny.M Tn.Sp Tn.S Tn.K Tn.K
s ub s m
2. Umur 59 92 58 56 58 92
3. Jenis P P L LLL
kelamin
4. Pendidikan SD Tidak SMP SMK SMP SD
sekolah
5. Pekerjaan Tani Tani Petern Perh Beng Tani
ak utana kel
n
Sumber data primer 2019
42
Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
Partisipan
7 8 9 10 11 12 13 14 15
K Tn.S Ny.J Ny. Tn. Ny.P Ny.S Ny.Pa Tn.J Tn.Sl
kd ar T K u
63 75 52 61 75 50 68 68 75
L P PL P P P L L
D SD SD SD SD Tidak SMP SD SD SD
sekol
ah
ni Tani IRT IRT Tani IRT IRT Buruh Tani Tani
Tani
43
Tabel 4.2 Karakteristik Subjek Penelitian Faktor Resiko Penderita Stoke di Stroke
Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
No Karakteristik Jumlah %
1. Usia 45-54 2 13,3
55-64 6 40
65-74 2 13,3
75-84 3 20
85-95 2 13,3
2. Jenis Kelamin Laki-laki 8 53,3
Perempuan 7 46,7
3. Pendidikan Tidak Sekolah 2 13,3
SD 9 60
SMP 3 20
SMA/SMK 1 6,7
4. Pekerjaan Petani 7 46,7
Peternak 1 6,7
Wiraswasta 3 20
IRT 4 26,6
Sumber data primer 2019, total = 15 (100%)
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat interpretasikan bahwa usia terbanyak yang
mengalami stroke adalah pada usia 55-64 tahun sejumlah 6 (40%) orang, sedangkan
yang paling sedikit adalah usia 45-54, 65-74 dan 85-95 tahun dengan total masing-
masing sejumlah 2 (13,3%) orang. Sedangkan jenis kelamin jumlah laki-laki lebih
banyak mengalami stroke dibandingkan dengan perempuan. Untuk laki-laki
sebanyak 8 (53,3%) partisipan, sedangkan perempuan sejumlah 7 (46,7%) partisipan.
Untuk tingkat pendidikan partisipan yang paling banyak mengalami stroke adalah
SD sejumlah 9 (60%) orang dan yang terendah adalah SMA/SMK sejumlah 1 (6,7%)
orang. Sedangkan jenis pekerjaan yang paling banyak mengalami stroke adalah
petani dengan jumlah 7 (46,7%) orang dan yang terendah adalah peternak dengan
jumlah 1 (6,7%) orang.
44
4.1.3 Data Fokus Studi
4.1.3.1 Hasil Faktor Resiko Stroke Masing-Masing Subjek Penelitian
Tabel 4.3 Hasil Faktor Resiko Masing-Masing Subjek Penelitian Di Stroke
Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
N Faktor resiko P1 P P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P P P P P P
o stroke 2 10 11 12 13 14 15
1 Usia √ √√√√√√√ - √ √ - √ √ √
2 Jenis Kelamin - - √ √ √ √ √ - - √ - - - √ √
3 Riwayat - -- - - -√- - - √ - √ - -
Keluarga
dengan Stroke
4 Hipertensi √√- √√√√√√√ √ √ √ √ √
5 Hiperkolesterol - √ √ - √ - √ √ - - - - √ - -
6 Diabetes - -√- - - -√- - √ - - - √
Melitus - √- √√√√√ - √ - √ - - -
7 Gangguan
Jantung √--√- - - -√- - √ - - -
8 Obesitas - -√ - √√√ - - - - - √ √ √
9 Merokok
1 Minum - --------- - - - - -
0 Alkohol
1 Kontrasepsi √-- - - - - -√- - √ √ - -
1 √ -√√ - √ - √ - - - - √ √ -
1 Inaktifitas
2 Fisik
Jumlah 5 466667634 4 4 7 5 5
Sumber data primer 2019, keterangan: Haemorrhage
Ischemic
Berdasarkan Tabel 4.3 dapat di interpretasikan bahwa partisipan 1 memiliki
faktor resiko usia, hipertensi, resiko obesitas, menggunakan kontrasepsi dan
inaktifitas fisik. Partisipan 2 memiliki faktor resiko usia, hipertensi,
hiperkolesterol dan gangguan jantung. Partisipan 3 memiliki resiko usia, jenis
kelamin, hiperkolesterol, diabetes melitus, merokok dan
45
inaktifitas fisik. Partisipan 4 memiliki faktor resiko usiar, jenis kelamin,
hipertensi, gangguan jantung, resiko obesitas, dan inaktifitas fisik. Partisipan 5
memiliki faktor resiko usia, jenis kelamin, hipertensi, hiperkolesterol, gangguan
jantung dan merokok. Partisipan 6 memiliki faktor resiko usia, jenis kelamin,
hipertensi, gangguan jantung, merokok dan inaktifitas fisik. Partisipan 7
memiliki faktor resiko usia, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan stroke,
hipertensi, hiperkolesterol, gangguan jantung, dan merokok. Partisipan 8
memiliki faktor resiko usia, hipertensi, hiperkolesterol, diabetes, gangguan
jantung dan inaktifitas fisik. Partisipan 9 memiliki faktor resiko hipertensi,
obesitas dan hipertensi. Partisipan 10 memiliki faktor resiko usia, jenis kelamin,
hipertensi, gangguan jantung. Partisipan 11 memiliki faktor resiko usia, riwayat
keluarga dengan stroke, hipertensi dan diabetes melitus. Partisipan 12 memiliki
faktor resiko hipertensi, gangguan jantung, resiko obesitas dan kontrasepsi
hormonal. Partisipan 13 memiliki faktor resiko usia, riwayat keluarga dengan
stroke, hipertensi, hiperkolesterol, merokok dan inaktifitas fisik. Partisipan 14
memiliki faktor resiko usia, jenis kelamin, hipertensi, merokok dan inaktifitas
fisik. Partisipan 15 memiliki faktor resiko usia, jenis kelamin, hipertensi,
diabetes melitus dan merokok.
JUMLAH FAKTOR RESIKO 46
4.1.3.2 Hasil Masing-Masing Subjek Penelitian Faktor Resiko Stroke Di Stroke
Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
Diagram 4.1. Hasil Masing-Masing Subjek Penelitian Faktor Resiko Stroke Di Stroke
Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
8
7
6
5
4
3
2
1
0
P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15
PARTISIPAN
Sumber data primer 2019
Berdasarkan Diagram 4.1 dapat di interpretasikan bahwa partisipan 7 dan
partisipan 13 memiliki faktor resiko terbanyak yaitu sebanyak 7 faktor resiko,
sedangkan partisipan 9 memiliki faktor resiko lebih sedikit dengan 3 faktor resiko yang
dimiliki.
47
4.1.3.3 Hasil Penelitian Faktor Resiko Penderita Stroke Di Stroke Center
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
Tabel 4.4 Hasil Penelitian Faktor Resiko Penderita Stroke Di Stroke Center RSUD
Ngudi Waluyo Wlingi
No Faktor resiko stroke Jumlah %
1. Usia 13 16,7
2. Jenis Kelamin 8 10,3
3. Riwayat Keluarga dengan Stroke 3 3,8
4. Hipertensi 14 17,9
5. Hiperkolesterol 6 7,7
6. Diabetes Melitus 4 5,1
7. Gangguan Jantung 8 10,3
8. Obesitas 4 5,1
9. Merokok 7 9
10. Minum Alkohol 0 0
11. Kontrasepsi 4 5,1
12. Inaktifitas Fisik 7 9
Sumber data primer 2019, total = 78 (100%)
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat di interpretasikan bahwa faktor resiko penderita
stroke di Stroke Center SUD Ngudi Waluyo Wlingi yang tidak dapat diubah terbanyak
adalah usia dengan jumlah 13 (16,7%) orang dan yang paling sedikit adalah riwayat
keluarga dengan stroke sejumlah 3 (3,8%) orang. Sedangkan faktor resiko yang dapat
diubah terbanyak adalah hipertensi dengan jumlah 14 (17,9%) orang dan yang paling
sedikit adalah minum alkohol dengan total 0 (0%).
JUMLAH PARTISIPAN 48
4.1.3.4 Faktor Resiko Stroke Ischemic Penderita Stroke DI Stoke Center RSUD
Ngudi Waluyo Wlingi
Diagram 4.2 Faktor Resiko Stroke Ischemic Penderita Stroke DI Stoke Center RSUD
Ngudi Waluyo Wlingi
8
7
6
5
4
3
2
1
0
FAKTOR RESIKO
Sumber data primer 2019
Berdasarkan Diagram 4.2 faktor resiko partisipan dengan stroke ischemic
terbanyak adalah hipertensi dan usia sebanyak 7 orang. Sedangkan faktor resiko
paling sedikit adalah menggunakan kontrasepsi 1 orang.
JUMLAH PARTISIPAN 49
4.1.3.5 Faktor Resiko Stroke Haemorrhage Penderita Stroke DI Stoke Center
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
Diagram 4.3 Faktor Resiko Stroke Haemorrhage Penderita Stroke di Stoke Center
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
8
7
6
5
4
3
2
1
0
FAKTOR RESIKO
Sumber data primer 2019
Berdasarkan Diagram 4.2 faktor resiko stroke haemorrhage yang muncul
terbanyak adalah hipertensi dengan partisipan 7 orang. Sedangkan faktor resiko
yang muncul paling sedikit adalah riwayat keluarga, hiperkolesterol dan diabetes
melitus dengan total partisipan masing-masing sejumlah 1 orang
4.1.3.6 Hasil Observasi Tanda dan Gejala Stroke yang Muncul
Tabel 4.5 Hasil Observasi Tanda dan Gejala Stroke yang Munc
No Observasi P1 P2 P3 P4 P5 P6
1. Tidak dapat - - √√√√
bicara/pelo
2. Mulut tidak simetris - √ √ √ - √
3. Tidak dapat berjalan √ √ √ √ - √
4. Tidak dapat -√-√-√
menggerakkan
ekstremitas atas
5. Tidak dapat -√-√-√
menggerakkan
ekstremitas bawah
6. Kelemahan pada - √√√ - √
salah satu sisi tubuh
7. Kesemutan di salah - √ - √ √ √
satu sisi tubuh
8. Nyeri hebat pada √√√√√√
kepala
9. Muntah √-√- - -
10. Terjadi gangguan ------
penglihatan
11. Terjadi penurunan - - - √ - √
kesadaran
12. Hilang rasa peka -√-√-√
pada tubuh yang
stroke
Jumlah 3 8 6 10 3 10
Sumber data primer 2019
Dari tabel 4.5 diatas dapat disimpulkan tanda dan gejala yang
tanda gejala yang muncul, sedangkan paling sedikit muncul ta
total 3 tanda gejala yang muncul.
50
l di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
cul di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15 Jumlah
√- -√√√ - - √ 9
√- -√√√√√√ 11
√- √√ √ √ √ √ √ 13
11
√- √√ √ √ √ √ √
√-√√√ - - √√ 9
√- √√ √ √ √ √ √ 12
√√√√ √ √ √ - √ 12
- √√√ √ - - √ √ 12
-√- - √ - - - √ 5
---- - - - - - 0
---√√ -√ -√ 6
√-√√√ - √ - √ 9
8 3 7 10 11 6 7 6 11
paling banyak muncul pada partisipan 11 dan 15 dengan total 11
anda gejalanya adalah pada partisipan 1, 5 dan 8 dengan jumlah
51
Tabel 4.6 Hasil Tanda dan Gejala Stroke yang Terlihat
No Observasi Jumlah %
9 8,256
1. Tidak dapat bicara/pelo 11 10,1
2. Mulut tidak simetris 13 11,9
3. Tidak dapat berjalan 11 10,1
4. Tidak dapat menggerakkan
9 8,256
ekstremitas atas
5. Tidak dapat menggerakkan 12 11
ekstremitas bawah 12 11
6. Kelemahan pada salah satu sisi
12 11
tubuh 5 4,58
7. Kesemutan di salah satu sisi 0
6 0
tubuh 9 5.5
8. Nyeri hebat pada kepala 8,256
9. Muntah
10. Terjadi gangguan penglihatan
11. Terjadi penurunan kesadaran
12. Hilang rasa peka pada tubuh
yang stroke
Sumber data primer 2019, total = 109 (100%)
Berdasarkan tabel diatas dapat di interpretasikan bahwa tanda gejala yang
terjadi paling banyak adalah tidak dapat berjalan dengan yang terlihat pada tabel
13 (11,9%) orang, dan tidak ada yang mengalami gangguan penglihatan.
52
4.2 Pembahasan
4.2.1 Faktor Penderita Stroke di Stroke Center Rsud Ngudi Waluyo Wlingi
4.2.1.1 Partisipan 1
Partisipan 1 yaitu Ny.Ss dengan stroke haemorrhage. Berdasarkan hasil
dari studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 Ny Ss memiliki faktor resiko stroke
antara lain; (1) usia yang >54 yaitu 59 tahun. Menurut teori Rockman &
Maldonado (2014) untuk setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko
stroke kurang lebih dua kali lipat. Didukung oleh Kristiawati dkk (2009)
mengatakan pada lansia terjadi peningkatan frekuensi stroke seiring dengan
peningkatan usia berhubungan dengan preses penuaan, dimana semua organ
tubuh mengalami kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak.
(2) hipertensi dengan hasil pengukuran tekanan darah 160/100mmHg.
Menurut teori Canavan dkk (2012) hipertensi memiliki 2,37 kali beresiko terjadi
stroke ischemic. Hipertensi merupakan faktor resiko tertinggi dalam
menyebabkan kejadian stroke, baik stroke untuk onset yang pertama kali maupun
dalam kejadian stroke berulang, menurut peneliti memiliki teori dan fakta sudah
sesuai, terbukti dari hasil pemeriksaan tekanan darah pasien yang tergolong
tinggi, didukung oleh Haryono (2002) yang mengatakan bahwa bila terjadi
kenaikan darah sistemik maka tekanan perfusi pada dinding kapiler menjadi
tinggi yang mengakibatkan terjadi hiperemia, edema, dan kemungkinan
perdarahan pada otak.
(3) resiko obesitas dengan IMT 23,3. Menurut penelitian Oki dkk (2006)
menyimpulkan bawa seseorang dengan indeks masa tubuh ≥30 memiliki resiko
stroke 2,46 kali dibanding yang memiliki indeks masa tubuh <30, didukung oleh
Yulianti (2006) yang mengatakan bahwa obesitas dapat meningkatkan tekanan
53
darah karena terjadi peningkatan masa tubuh. (4) kontrasepsi hormonal, dari hasil
wawancara partisipan 1 menggunakan kontrasepsi hormonal berupa KB obat oral.
Menurut Sugiharto (2007) kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan hipertensi,
didukung oleh Olatujin & Soladove (2008) yang mengatakan bahwa KB
mengandung hormon estrogen dan progesteron dapat menyebabkan terjadinya
peningkatan tekanan darah. (5) inaktivitas fisik. Canavan dkk (2012) mengatakan
bahwa aktivitas fisik memiliki resiko 0,68 kali terjadinya stroke ischemic.
Didukung oleh Triyanto (2014) kurangnya aktivitas fisik juga dapat
meningkatkan resiko kelebihan berat badan yang akan menyebabkan resiko
hipertensi meningkat.
4.2.1.2 Partisipan 2
Partisipan 2 yaitu Ny.M dengan stroke ischemic. Berdasarkan hasil dari
studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 Ny.M memiliki faktor resiko antara lain; (1)
memiliki usia 92 tahun, Menurut teori Rockman & Maldonado (2014) untuk
setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko stroke kurang lebih dua kali
lipat. Didukung oleh Kristiawati dkk (2009) mengatakan pada lansia terjadi
peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia berhubungan
dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami kemunduran
fungsi termasuk pembuluh darah otak.
(2) hipertensi dengan hasil pengukuran tekanan darah 170/80mmHg,
menurut teori Canavan dkk (2012) hipertensi memiliki 2,37 kali beresiko terjadi
stroke ischemic. Didukung oleh Hariyono (2002) tekanan darah sistemik yang
meningkat akan membuat pembuluh darah serebral berkontriksi. Derajat kontriksi
tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat cukup
tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun akan menyebabkan hialinisasi
54
pada lapisan otot pembuluh darah serebral yang mengakibatkan diameter lumen
pembuluh darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh
serebral tidak dapat berdilatasi atau berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi
fluktuasi dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan tekana darah
sistemik maka tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat, sehingga akan
mengakibatkan ischemic serebral.(3) memiliki kadar kolesterol tinggi sedikit
yaitu dengan hasil laboratorium 201mg/dL. Menurut Rockman & Maldonado
(2014) uji coba khusus untuk stroke ischemic telah menunjukkan bahwa mungkin
ada risiko 25% lebih tinggi stroke ischemic dengan masing-masing peningkatan
38,7-mg / dL kadar kolesterol total. Didukung oleh Pinzon & Asanti (2010)
mengatakan pengerasan lemak akan menimbulkan komplikasi pada organ target
(jantung, otak, dan ginjal). Proses tersebut pada otak akan meningkatkan resiko
terkena stroke.
(4) mengalami gangguan jantung yang dibuktikan dari EKG dengan hasil
ST elevasi, menurut teori Rockman & Maldonado (2014) mengatakan bahwa
pasien dengan fibrilasi atrium memilik tiga hingga lima kali lipat peningkatan
resiko kardioemboli stroke ischemic. Didukung oleh Siswanto (2005) mengatakan
bahwa sirkulasi selebral sebagai subsistem dari sistem kardiovaskuler mempunyai
arti bahwa fungsinya tergantung pada efektifitas jantung sebagai pompa,
integritas pembuluh darah sistemik dan komponen darah dalam memenuhi
kebutuhan darah dan oksigen. Otak membutuhkan 25% dari konsumsi oksigen
seluruh tubuh dan menggunakan 20% cutah jantung semenit. Kejadian stroke
hampir selalu berhubungan dengan penyakit lain, dan karena dekatnya hubungan
silkulasi serebral dan sistem kardiovaskuler, sering kelainan-kelainan sistemik
kardiovaskuler sebagai penyebab timbulnya stroke.
55
4.2.1.3 Partisipan 3
Partisipan 3 yaitu Tn.Sp dengan stroke ischemic. Berdasarkan tabel 4.3
Tn.Sp memiliki faktor resiko antara lain; (1) umur yang lebih dari 55 tahun
merupakan salah satu faktor resiko stroke, Menurut teori Rockman & Maldonado
(2014) untuk setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko stroke kurang
lebih dua kali lipat, didukung oleh Kristiawati dkk (2009) mengatakan pada
lansia terjadi peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia
berhubungan dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami
kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak.
(2) jenis kelamin partisipan adalah laki- laki. Stroke ischemic secara umum
lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita. Namun wanita memiliki
presentase kematian akibat stroke yang lebih tinggi, kemungkinan karena banyak
dari wanita memiliki umur lebih panjang (Rockman & Maldonado, 2014).
Didukung oleh Bethesda Stroke Center (2012) tidak ada hubungan antara jenis
kelamin dengan kejadian stroke, dapat disebabkan oleh karena multifaktorial,
bukan hanya karena jenis kelamin diantaranya karena diabetes melitus,
hiperkolesterolemia, merokok, alkohol dan penyakit jantung. Seseorang yang
memiliki satu atau lebih faktor resiko, memiliki kemungkinan yang lebih besar
untuk mendapatkan serangan stroke dari pada orang normal pada suatu saat
selama perjalanan hidup bila faktor resiko tersebut tidak sikendalika.
(3) memiliki kadar kolesterol tinggi yaitu 218mg/dL. Menurut Rockman &
Maldonado (2014) uji coba khusus untuk stroke ischemic telah menunjukkan
bahwa mungkin ada risiko 25% lebih tinggi stroke ischemic dengan masing-
masing peningkatan 38,7-mg / dL kadar kolesterol total. Didukung oleh Pinzon
(2010) mengatakan bahwa kadar HDL yang rendah memacu munculnya proses
56
atherogenik (pembentukan plak di dinding pembuluh darah arteri). (4) memiliki
riwayat diabetes melitus dengan hasil GDA 339mg/dL dan 2 jam PP 364mg/dL.
Pinzon & Asanti (2010) mengatakan bahwa pengerasan lemak akan menimbulkan
komplikasi pada organ target (jantung, otak, dan ginjal). Proses tersebut pada
otak akan meningkatkan resiko terkena stroke. Didukung oleh Gilroy (2000)
hiperglikemia juga dapat meningkatkan viskositas darah yang kemudian akan
menyebabkan naiknya tekanan darah atau hipertensi dan berakibat terjadinya
stroke ischemic.
(5) klien juga merupakan perokok aktif yang sehari bisa merokok sebanyak
1 pack, Canavan dkk (2012) mengatakan merokok memacu peningkatan
kekentalan darah, dan penimbunan plak di dinding pembuluh darah, menurut
peneliti antara fakta dan teori sudah sesuai. Didukung oleh Kaplan (1994)
berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa merokok, baik yang dilakukan
sesekali maupun kronis serta papara rokok pasif dapat menyebabkan arteri
menjadi kaku, sehingga menghalangi arteri mengembang ketika otot dan jantung
membutuhkan oksigen lebih banyak.arteri yang kaku meningkatkan tekanan
darah pada jantung sehingga mengakibatkan hipertensi. (6) inaktifitas fisik,
berdasarkan Canavan dkk (2012) mengatakan bahwa aktivitas fisik memiliki
resiko 0,68 kali terjadinya stroke ischemic. Didukung oleh Triyanto (2014)
kurangnya aktivitas fisik juga dapat meningkatkan resiko kelebihan berat badan
yang akan menyebabkan resiko hipertensi meningkat.
4.2.1.4 Partisipan 4
Partisipan 4 yaitu Tn.Sub dengan stroke haemorrhage. Berdasarkan hasil
dari studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 Tn.Sub memiliki faktor resiko antara
lain; (1) usia yang >54 tahun merupakan salah satu faktor resiko stroke sedangka
57
usia Tn.Sub 56 tahun. Menurut Rockman & Maldonado (2014) untuk setiap usia
yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko stroke kurang lebih dua kali lipat
menurut peneliti teori dan fakta sama, semakin berumur maka resiko terjadinya
stroke lebih tinggi. Didukung oleh Kristiawati dkk (2009) pada lansia terjadi
peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia berhubungan
dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami kemunduran
fungsi termasuk pembuluh darah otak. Pembuluh darah menjadi tidak elastis
terutama bagian endotel yang mengalami penebalan pada bagian intima, sehingga
mengakibatkan lumen pembuluh darah semakin sempit dan berdampak pada
penurunan aliran darah otak.
(2) jenis kelamin laki-laki lebih beresiko terkena stroke. Rockman &
Maldonado (2014) mengatakan bahwa stroke ischemic secara umum lebih banyak
terjadi pada pria dibandingkan wanita. Tetapi dari Bethesda Stroke Center (2012)
tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian stroke, dapat
disebabkan oleh karena multifaktorial, bukan hanya karena jenis kelamin
diantaranya karena diabetes melitus, hiperkolesterolemia, merokok, alkohol dan
penyakit jantung. Seseorang yang memiliki satu atau lebih faktor resiko, memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkan serangan stroke dari pada
orang normal pada suatu saat selama perjalanan hidup bila faktor resiko tersebut
tidak dikendalikan.
(3) hipertensi dengan tekanan darah 250/150mmHg. Sebanyak 80% kasus
stroke haemorrhage spontan dimana kerusakan diakibatkan pecahnya pembuluh
darah arteri akibat hipertensi kronis atau angiopati amiloid (Haynes et al., 2012;
Rincon & Mayer, 2013). Didukung oleh hampir mirip dengan hipertensi pada
stroke ischemic, yang dikatakan Hariyono (2002) tekanan darah sistemik yang
58
meningkat akan membuat pembuluh darah serebral berkontriksi. Derajat kontriksi
tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat cukup
tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun akan menyebabkan hialinisasi
pada lapisan otot pembuluh darah serebral yang mengakibatkan diameter lumen
pembuluh darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh
serebral tidak dapat berdilatasi atau berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi
fluktuasi dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi kenaikan darah sistemik maka
tekanan perfusi pada dinding kapiler menjadi tinggi yang mengakibatkan terjadi
hiperemia, edema, dan kemungkinan perdarahan pada otak.
(4) mengalami gangguan jantung yang didapat dari hasil EKG yaitu left
fentricular hypertrophy dan ST elevasi. Rockman & Maldonado (2014)
mengatakan bahwa pasien dengan fibrilasi atrium memilik tiga hingga lima kali
lipat peningkatan resiko kardioemboli stroke ischemic, dan menurut peneliti tidak
hanya stroke ischemic saja ternyata dari hasil penelitian menunjukkan adanya
gangguan jantung pada pasien stroke haemorrhage. Dibuktikan dari Siswanto
(2005) mengatakan bahwa sirkulasi selebral sebagai subsistem dari sistem
kardiovaskuler mempunyai arti bahwa fungsinya tergantung pada efektifitas
jantung sebagai pompa, integritas pembuluh darah sistemik dan komponen darah
dalam memenuhi kebutuhan darah dan oksigen. Otak membutuhkan 25% dari
konsumsi oksigen seluruh tubuh dan menggunakan 20% cutah jantung semenit.
Kejadian stroke hampir selalu berhubungan dengan penyakit lain, dan karena
dekatnya hubungan silkulasi serebral dan sistem kardiovaskuler, sering kelainan-
kelainan sistemik kardiovaskuler sebagai penyebab timbulnya stroke.
(5) memiliki resiko obesitas dengan IMT 25, Menurut penelitian Oki dkk
(2006) menyimpulkan bawa seseorang dengan indeks masa tubuh ≥30 memiliki
59
resiko stroke 2,46 kali dibanding yang memiliki indeks masa tubuh <30,
didukung oleh Yulianti (2006) yang mengatakan bahwa obesitas dapat
meningkatkan tekanan darah karena terjadi peningkatan masa tubuh. (6) dari hasil
wawancara ditemukan bahwa pasien tidak pernah melakukan aktifitas fisik.
Canavan dkk (2012) mengatakan bahwa aktivitas fisik memiliki resiko 0,68 kali
terjadinya stroke ischemic. Didukung oleh Triyanto (2014) kurangnya aktivitas
fisik juga dapat meningkatkan resiko kelebihan berat badan yang akan
menyebabkan resiko hipertensi meningkat. Jadi karena inaktifitas fisik
menyebabkan resiko hipertensi dan sedangkan hipertensi juga menyebabkan
stroke haemorrhage, berarti inaktifitas fisik tidak hanya mempengaruhi stroke
ischemic saja.
4.2.1.5 Partisipan 5
Partisipan 5 yaitu Tn.Ks dengan stroke ischemic. Berdasarkan hasil dari
studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 Tn.Ks memiliki faktor resiko antara lain; (1)
usia >54 tahun yaitu 58 tahun. Menurut teori Rockman & Maldonado (2014)
untuk setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko stroke kurang lebih
dua kali lipat. Didukung oleh Kristiawati dkk (2009) mengatakan pada lansia
terjadi peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia
berhubungan dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami
kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak. (2) berjenis kelamin laki-laki,
Tetapi dari Bethesda Stroke Center (2012) tidak ada hubungan antara jenis
kelamin dengan kejadian stroke, dapat disebabkan oleh karena multifaktorial,
bukan hanya karena jenis kelamin diantaranya karena diabetes melitus,
hiperkolesterolemia, merokok, alkohol dan penyakit jantung. Seseorang yang
memiliki satu atau lebih faktor resiko, memiliki kemungkinan yang lebih besar
60
untuk mendapatkan serangan stroke dari pada orang normal pada suatu saat
selama perjalanan hidup bila faktor resiko tersebut tidak sikendalikan.
(3) hipertensi dengan tekanan darah 160/100mmHg, menurut Canavan dkk
(2012) hipertensi memiliki 2,37 kali beresiko terjadi stroke ischemic. Didukung
oleh Hariyono (2002) tekanan darah sistemik yang meningkat akan membuat
pembuluh darah serebral berkontriksi. Derajat kontriksi tergantung pada
peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat cukup tinggi selama
berbulan-bulan atau bertahun-tahun akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan
otot pembuluh darah serebral yang mengakibatkan diameter lumen pembuluh
darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh serebral
tidak dapat berdilatasi atau berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi
dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan tekana darah sistemik maka
tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat, sehingga akan mengakibatkan
ischemic serebral.
(4) memiliki kadar kolesterol tinggi yaitu 298mg/dL, Menurut Rockman &
Maldonado (2014) uji coba khusus untuk stroke ischemic telah menunjukkan
bahwa mungkin ada risiko 25% lebih tinggi stroke ischemic dengan masing-
masing peningkatan 38,7-mg / dL kadar kolesterol total. Didukung oleh Pinzon
(2010) mengatakan bahwa kadar HDL yang rendah memacu munculnya proses
atherogenik (pembentukan plak di dinding pembuluh darah arteri). (5) memiliki
gangguan jantung berdasarkan dari hasil EKG, menurut Rockman & Maldonado
(2014) mengatakan bahwa pasien dengan fibrilasi atrium memilik tiga hingga
lima kali lipat peningkatan resiko kardioemboli stroke ischemic. Didukung oleh
Siswanto (2005) mengatakan bahwa sirkulasi selebral sebagai subsistem dari
sistem kardiovaskuler mempunyai arti bahwa fungsinya tergantung pada
61
efektifitas jantung sebagai pompa, integritas pembuluh darah sistemik dan
komponen darah dalam memenuhi kebutuhan darah dan oksigen. Otak
membutuhkan 25% dari konsumsi oksigen seluruh tubuh dan menggunakan 20%
cutah jantung semenit. Kejadian stroke hampir selalu berhubungan dengan
penyakit lain, dan karena dekatnya hubungan silkulasi serebral dan sistem
kardiovaskuler, sering kelainan-kelainan sistemik kardiovaskuler sebagai
penyebab timbulnya stroke.
(6) dari hasil wawancara partisipan mengatakan bahwa pasien merupakan
perokok aktif dan dalam sehari bisa menghabiskan rokok hampir 1 pack. Menurut
Canavan dkk (2012) merokok memacu peningkatan kekentalan darah, dan
penimbunan plak di dinding pembuluh darah, menurut peneliti antara fakta dan
teori sudah sesuai. Didukung oleh Kaplan (1994) berbagai penelitian telah
menunjukkan bahwa merokok, baik yang dilakukan sesekali maupun kronis serta
papara rokok pasif dapat menyebabkan arteri menjadi kaku, sehingga
menghalangi arteri mengembang ketika otot dan jantung membutuhkan oksigen
lebih banyak.arteri yang kaku meningkatkan tekanan darah pada jantung sehingga
mengakibatkan hipertensi.
4.2.1.6 Partisipan 6
Partisipan 6 yaitu Tn.K dengan stroke haemorrhage. Berdasarkan hasil dari
studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 Tn.K ditemukan faktor resiko antara lain; (1)
usia yang >54 tahun yaitu pasien memiliki usia 92 tahun, Rockman & Maldonado
(2014) untuk setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko stroke kurang
lebih dua kali lipat menurut peneliti teori dan fakta sama, semakin berumur maka
resiko terjadinya stroke lebih tinggi. Didukung oleh Kristiawati dkk (2009) pada
lansia terjadi peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia
62
berhubungan dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami
kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak. Pembuluh darah menjadi
tidak elastis terutama bagian endotel yang mengalami penebalan pada bagian
intima, sehingga mengakibatkan lumen pembuluh darah semakin sempit dan
berdampak pada penurunan aliran darah otak.
(2) jenis kelamin pasien laki-laki, Rockman & Maldonado (2014)
mengatakan bahwa stroke ischemic secara umum lebih banyak terjadi pada pria
dibandingkan wanita. Tetapi dari Bethesda Stroke Center (2012) tidak ada
hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian stroke, dapat disebabkan oleh
karena multifaktorial, bukan hanya karena jenis kelamin diantaranya karena
diabetes melitus, hiperkolesterolemia, merokok, alkohol dan penyakit jantung.
Seseorang yang memiliki satu atau lebih faktor resiko, memiliki kemungkinan
yang lebih besar untuk mendapatkan serangan stroke dari pada orang normal pada
suatu saat selama perjalanan hidup bila faktor resiko tersebut tidak dikendalikan.
(3) Hipertensi yaitu dengan hasil pemeriksaan tekanan darah 152/70mmHg,
Sebanyak 80% kasus stroke haemorrhage spontan dimana kerusakan diakibatkan
pecahnya pembuluh darah arteri akibat hipertensi kronis atau angiopati amiloid
(Haynes et al., 2012; Rincon & Mayer, 2013). Didukung oleh hampir mirip
dengan hipertensi pada stroke ischemic, yang dikatakan Hariyono (2002) tekanan
darah sistemik yang meningkat akan membuat pembuluh darah serebral
berkontriksi. Derajat kontriksi tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila
tekanan darah meningkat cukup tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-
tahun akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan otot pembuluh darah serebral
yang mengakibatkan diameter lumen pembuluh darah tersebut akan menjadi
tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh serebral tidak dapat berdilatasi atau
63
berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi dari tekanan darah
sistemik. Bila terjadi kenaikan darah sistemik maka tekanan perfusi pada dinding
kapiler menjadi tinggi yang mengakibatkan terjadi hiperemia, edema, dan
kemungkinan perdarahan pada otak.
(4) memiliki gangguan jantung yang berdasarkan hasil pemeriksaan EKG
yang menunjukkan adanya atrial premature complek dan ST elevasi, Rockman &
Maldonado (2014) mengatakan bahwa pasien dengan fibrilasi atrium memilik
tiga hingga lima kali lipat peningkatan resiko kardioemboli stroke ischemic, dan
menurut peneliti tidak hanya stroke ischemic saja ternyata dari hasil penelitian
menunjukkan adanya gangguan jantung pada pasien stroke haemorrhage.
Dibuktikan dari Siswanto (2005) mengatakan bahwa sirkulasi selebral sebagai
subsistem dari sistem kardiovaskuler mempunyai arti bahwa fungsinya
tergantung pada efektifitas jantung sebagai pompa, integritas pembuluh darah
sistemik dan komponen darah dalam memenuhi kebutuhan darah dan oksigen.
Otak membutuhkan 25% dari konsumsi oksigen seluruh tubuh dan menggunakan
20% cutah jantung semenit. Kejadian stroke hampir selalu berhubungan dengan
penyakit lain, dan karena dekatnya hubungan silkulasi serebral dan sistem
kardiovaskuler, sering kelainan-kelainan sistemik kardiovaskuler sebagai
penyebab timbulnya stroke.
(5) klien juga termasuk perokok aktif dengan perhari bisa merokok hampir
1 pack. Menurut Canavan dkk (2012) merokok memacu peningkatan kekentalan
darah, dan penimbunan plak di dinding pembuluh darah, menurut peneliti antara
fakta dan teori sudah sesuai. Didukung oleh Kaplan (1994) berbagai penelitian
telah menunjukkan bahwa merokok, baik yang dilakukan sesekali maupun kronis
serta papara rokok pasif dapat menyebabkan arteri menjadi kaku, sehingga
64
menghalangi arteri mengembang ketika otot dan jantung membutuhkan oksigen
lebih banyak.arteri yang kaku meningkatkan tekanan darah pada jantung sehingga
mengakibatkan hipertensi. (6) dari hasil wawancara didapatkan bahwa pasien
inaktivitas fisik, Canavan dkk (2012) mengatakan bahwa aktivitas fisik memiliki
resiko 0,68 kali terjadinya stroke ischemic. Didukung oleh Triyanto (2014)
kurangnya aktivitas fisik juga dapat meningkatkan resiko kelebihan berat badan
yang akan menyebabkan resiko hipertensi meningkat.
4.2.1.7 Partisipan 7
Partisipan 7 yaitu Tn.Skd dengan stroke ischemic. Berdasarkan hasil dari studi
kasus dan pemaparan tabel 4.3 Tn.Skd ditemukan faktor resiko antara lain; (1)
usia yang >54 tahun yaitu 63 tahun, Menurut Rockman & Maldonado (2014)
untuk setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko stroke kurang lebih
dua kali lipat. Didukung oleh Kristiawati dkk (2009) mengatakan pada lansia
terjadi peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia
berhubungan dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami
kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak. (2) berjenis kelamin laki-laki,
Tetapi dari Bethesda Stroke Center (2012) tidak ada hubungan antara jenis
kelamin dengan kejadian stroke, dapat disebabkan oleh karena multifaktorial,
bukan hanya karena jenis kelamin diantaranya karena diabetes melitus,
hiperkolesterolemia, merokok, alkohol dan penyakit jantung. Seseorang yang
memiliki satu atau lebih faktor resiko, memiliki kemungkinan yang lebih besar
untuk mendapatkan serangan stroke dari pada orang normal pada suatu saat
selama perjalanan hidup bila faktor resiko tersebut tidak sikendalikan.
(3) memiliki riwayat keluarga dengan stroke, Rockman & Maldonado
(2014) mengatakan bahwa riwayat stroke pada orang tua, serangan ischemic
65
sementara atau infark miokard dikaitkan dengan peningkatan resiko stroke 1,4
hingga 3,3 kali lipat. Didukung oleh Siswanto (2005) bila mana kedua orang tua
mengalami stroke maka kemungkinan keturunannya terkena stroke makin besar.
Riwayat keluarga adanya serangan stroke atau penyakit pembuluh darah
ischemic, sering pula didapat terjadi pada penderita stroke yang muda. (4)
hipertensi dengan hasil pemeriksaan tekanan darah 210/100mmHg, menurut
Canavan dkk (2012) hipertensi memiliki 2,37 kali beresiko terjadi stroke
ischemic. Didukung oleh Hariyono (2002) tekanan darah sistemik yang
meningkat akan membuat pembuluh darah serebral berkontriksi. Derajat kontriksi
tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat cukup
tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun akan menyebabkan hialinisasi
pada lapisan otot pembuluh darah serebral yang mengakibatkan diameter lumen
pembuluh darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh
serebral tidak dapat berdilatasi atau berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi
fluktuasi dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan tekana darah
sistemik maka tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat, sehingga akan
mengakibatkan ischemic serebral.
(5) memiliki kadar kolesterol sedikit tinggi yaitu 209mg/dL. Menurut
Rockman & Maldonado (2014) uji coba khusus untuk stroke ischemic telah
menunjukkan bahwa mungkin ada risiko 25% lebih tinggi stroke ischemic dengan
masing-masing peningkatan 38,7-mg / dL kadar kolesterol total. Didukung oleh
Pinzon (2010) mengatakan bahwa kadar HDL yang rendah memacu munculnya
proses atherogenik (pembentukan plak di dinding pembuluh darah arteri). (6)
mengalami gangguan jantung yaitu dengan hasil pemeriksaan EKG sinus
tachicardia. Menurut Rockman & Maldonado (2014) mengatakan bahwa pasien
66
dengan fibrilasi atrium memilik tiga hingga lima kali lipat peningkatan resiko
kardioemboli stroke ischemic. Didukung oleh Siswanto (2005) mengatakan
bahwa sirkulasi selebral sebagai subsistem dari sistem kardiovaskuler mempunyai
arti bahwa fungsinya tergantung pada efektifitas jantung sebagai pompa,
integritas pembuluh darah sistemik dan komponen darah dalam memenuhi
kebutuhan darah dan oksigen. Otak membutuhkan 25% dari konsumsi oksigen
seluruh tubuh dan menggunakan 20% cutah jantung semenit. Kejadian stroke
hampir selalu berhubungan dengan penyakit lain, dan karena dekatnya hubungan
silkulasi serebral dan sistem kardiovaskuler, sering kelainan-kelainan sistemik
kardiovaskuler sebagai penyebab timbulnya stroke.
(7) klien juga termasuk perokok aktif dengan merokok dalam sehari hampir
1 pack. Menurut Canavan dkk (2012) merokok memacu peningkatan kekentalan
darah, dan penimbunan plak di dinding pembuluh darah, menurut peneliti antara
fakta dan teori sudah sesuai. Didukung oleh Kaplan (1994) berbagai penelitian
telah menunjukkan bahwa merokok, baik yang dilakukan sesekali maupun kronis
serta papara rokok pasif dapat menyebabkan arteri menjadi kaku, sehingga
menghalangi arteri mengembang ketika otot dan jantung membutuhkan oksigen
lebih banyak.arteri yang kaku meningkatkan tekanan darah pada jantung sehingga
mengakibatkan hipertensi
4.2.1.8 Partisipan 8
Partisipan 8 yaitu Ny.Jar dengan stroke ischemic. Berdasarkan hasil dari
studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 ditemukan faktor resiko antara lain; (1) usia
yang >54 tahun yaitu 75 tahun. Menurut Rockman & Maldonado (2014) untuk
setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko stroke kurang lebih dua kali
lipat. Didukung oleh Kristiawati dkk (2009) mengatakan pada lansia terjadi
67
peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia berhubungan
dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami kemunduran
fungsi termasuk pembuluh darah otak. (2) hipertensi yaitu dengan hasil
pengukuran tekanan darah 180/90mmHg, menurut Canavan dkk (2012) hipertensi
memiliki 2,37 kali beresiko terjadi stroke ischemic. Didukung oleh Hariyono
(2002) tekanan darah sistemik yang meningkat akan membuat pembuluh darah
serebral berkontriksi. Derajat kontriksi tergantung pada peningkatan tekanan
darah. Bila tekanan darah meningkat cukup tinggi selama berbulan-bulan atau
bertahun-tahun akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan otot pembuluh darah
serebral yang mengakibatkan diameter lumen pembuluh darah tersebut akan
menjadi tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh serebral tidak dapat
berdilatasi atau berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi dari
tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan tekana darah sistemik maka
tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat, sehingga akan mengakibatkan
ischemic serebral.
(3) memiliki kadar kolesterol sedikit tinggi yaitu 207mg/dL. Menurut
Rockman & Maldonado (2014) uji coba khusus untuk stroke ischemic telah
menunjukkan bahwa mungkin ada risiko 25% lebih tinggi stroke ischemic dengan
masing-masing peningkatan 38,7-mg / dL kadar kolesterol total. Didukung oleh
Pinzon (2010) mengatakan bahwa kadar HDL yang rendah memacu munculnya
proses atherogenik (pembentukan plak di dinding pembuluh darah arteri). (4)
memiliki diabetes melitus dengan hasil GDA 275mg/dL, Pinzon & Asanti (2010)
mengatakan bahwa pengerasan lemak akan menimbulkan komplikasi pada organ
target (jantung, otak, dan ginjal). Proses tersebut pada otak akan meningkatkan
resiko terkena stroke. Didukung oleh Gilroy (2000) hiperglikemia juga dapat
68
meningkatkan viskositas darah yang kemudian akan menyebabkan naiknya
tekanan darah atau hipertensi dan berakibat terjadinya stroke ischemic.
(5) memiliki gangguan jantung berdasarkan pemeriksaan EKG. Menurut
Rockman & Maldonado (2014) mengatakan bahwa pasien dengan fibrilasi atrium
memilik tiga hingga lima kali lipat peningkatan resiko kardioemboli stroke
ischemic. Didukung oleh Siswanto (2005) mengatakan bahwa sirkulasi selebral
sebagai subsistem dari sistem kardiovaskuler mempunyai arti bahwa fungsinya
tergantung pada efektifitas jantung sebagai pompa, integritas pembuluh darah
sistemik dan komponen darah dalam memenuhi kebutuhan darah dan oksigen.
Otak membutuhkan 25% dari konsumsi oksigen seluruh tubuh dan menggunakan
20% cutah jantung semenit. Kejadian stroke hampir selalu berhubungan dengan
penyakit lain, dan karena dekatnya hubungan silkulasi serebral dan sistem
kardiovaskuler, sering kelainan-kelainan sistemik kardiovaskuler sebagai
penyebab timbulnya stroke. (6) dari hasil wawancara ditemukan bahwa pasien
tidak pernah melakukan aktifitas fisik. Canavan dkk (2012) mengatakan bahwa
aktivitas fisik memiliki resiko 0,68 kali terjadinya stroke ischemic. Didukung
oleh Triyanto (2014) kurangnya aktivitas fisik juga dapat meningkatkan resiko
kelebihan berat badan yang akan menyebabkan resiko hipertensi meningkat. Jadi
karena inaktifitas fisik menyebabkan resiko hipertensi dan sedangkan hipertensi
juga menyebabkan stroke haemorrhage, berarti inaktifitas fisik tidak hanya
mempengaruhi stroke ischemic saja.
4.2.1.9 Partisipan 9
Partisipan 9 yaitu Ny.T dengan stroke haemorrhage. Berdasarkan hasil dari
studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 didapatkan faktor resiko antara lain; (1)
69
hipertensi yaitu dengan hasil pengukuran tekanan darah 170/100mmHg,
Sebanyak 80% kasus stroke haemorrhage spontan dimana kerusakan diakibatkan
pecahnya pembuluh darah arteri akibat hipertensi kronis atau angiopati amiloid
(Haynes et al., 2012; Rincon & Mayer, 2013). Didukung oleh hampir mirip
dengan hipertensi pada stroke ischemic, yang dikatakan Hariyono (2002) tekanan
darah sistemik yang meningkat akan membuat pembuluh darah serebral
berkontriksi. Derajat kontriksi tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila
tekanan darah meningkat cukup tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-
tahun akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan otot pembuluh darah serebral
yang mengakibatkan diameter lumen pembuluh darah tersebut akan menjadi
tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh serebral tidak dapat berdilatasi atau
berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi dari tekanan darah
sistemik. Bila terjadi kenaikan darah sistemik maka tekanan perfusi pada dinding
kapiler menjadi tinggi yang mengakibatkan terjadi hiperemia, edema, dan
kemungkinan perdarahan pada otak.
(2) klien dikategorikan obesuitas yaitu dengan IMT 32 Menurut penelitian
Oki dkk (2006) menyimpulkan bawa seseorang dengan indeks masa tubuh ≥30
memiliki resiko stroke 2,46 kali dibanding yang memiliki indeks masa tubuh <30,
didukung oleh Yulianti (2006) yang mengatakan bahwa obesitas dapat
meningkatkan tekanan darah karena terjadi peningkatan masa tubuh. (3)
menggunakan kontrasepsi hormonal. Menurut Sugiharto (2007) kontrasepsi
hormonal dapat menyebabkan hipertensi, didukung oleh Olatujin & Soladove
(2008) yang mengatakan bahwa KB mengandung hormon estrogen dan
progesteron dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah.
70
4.2.1.10 Partisipan 10
Partisipan 10 yaitu Tn.Km dengan stroke haemorrhage. Berdasarkan hasil
dari studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 Tn.K ditemukan faktor resiko antara
lain; (1) usia yang >54 tahun yaitu pasien memiliki usia 61 tahun, Rockman &
Maldonado (2014) untuk setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko
stroke kurang lebih dua kali lipat menurut peneliti teori dan fakta sama, semakin
berumur maka resiko terjadinya stroke lebih tinggi. Didukung oleh Kristiawati
dkk (2009) pada lansia terjadi peningkatan frekuensi stroke seiring dengan
peningkatan usia berhubungan dengan preses penuaan, dimana semua organ
tubuh mengalami kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak. Pembuluh
darah menjadi tidak elastis terutama bagian endotel yang mengalami penebalan
pada bagian intima, sehingga mengakibatkan lumen pembuluh darah semakin
sempit dan berdampak pada penurunan aliran darah otak.
(2) jenis kelamin laki-laki lebih beresiko terkena stroke, Rockman &
Maldonado (2014) mengatakan bahwa stroke ischemic secara umum lebih banyak
terjadi pada pria dibandingkan wanita. Tetapi dari Bethesda Stroke Center (2012)
tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian stroke, dapat
disebabkan oleh karena multifaktorial, bukan hanya karena jenis kelamin
diantaranya karena diabetes melitus, hiperkolesterolemia, merokok, alkohol dan
penyakit jantung. Seseorang yang memiliki satu atau lebih faktor resiko, memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkan serangan stroke dari pada
orang normal pada suatu saat selama perjalanan hidup bila faktor resiko tersebut
tidak dikendalikan. (3) hipertensi yaitu dengan hasil pemeriksaan tekanan darah
160/80mmHg. Sebanyak 80% kasus stroke haemorrhage spontan dimana
kerusakan diakibatkan pecahnya pembuluh darah arteri akibat hipertensi kronis
71
atau angiopati amiloid (Haynes et al., 2012; Rincon & Mayer, 2013). Didukung
oleh hampir mirip dengan hipertensi pada stroke ischemic, yang dikatakan
Hariyono (2002) tekanan darah sistemik yang meningkat akan membuat
pembuluh darah serebral berkontriksi. Derajat kontriksi tergantung pada
peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat cukup tinggi selama
berbulan-bulan atau bertahun-tahun akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan
otot pembuluh darah serebral yang mengakibatkan diameter lumen pembuluh
darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh serebral
tidak dapat berdilatasi atau berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi
dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi kenaikan darah sistemik maka tekanan
perfusi pada dinding kapiler menjadi tinggi yang mengakibatkan terjadi
hiperemia, edema, dan kemungkinan perdarahan pada otak.
(4) gangguan jantung yang didapat dari hasil EKG left ventricular
hypertrophy. Rockman & Maldonado (2014) mengatakan bahwa pasien dengan
fibrilasi atrium memilik tiga hingga lima kali lipat peningkatan resiko
kardioemboli stroke ischemic, dan menurut peneliti tidak hanya stroke ischemic
saja ternyata dari hasil penelitian menunjukkan adanya gangguan jantung pada
pasien stroke haemorrhage. Dibuktikan dari Siswanto (2005) mengatakan bahwa
sirkulasi selebral sebagai subsistem dari sistem kardiovaskuler mempunyai arti
bahwa fungsinya tergantung pada efektifitas jantung sebagai pompa, integritas
pembuluh darah sistemik dan komponen darah dalam memenuhi kebutuhan darah
dan oksigen. Otak membutuhkan 25% dari konsumsi oksigen seluruh tubuh dan
menggunakan 20% cutah jantung semenit. Kejadian stroke hampir selalu
berhubungan dengan penyakit lain, dan karena dekatnya hubungan silkulasi
72
serebral dan sistem kardiovaskuler, sering kelainan-kelainan sistemik
kardiovaskuler sebagai penyebab timbulnya stroke.
4.2.1.11 Partisipan 11
Partisipan 11 yaitu Ny.P dengan stroke ischemic. Berdasarkan hasil dari
studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 ditemukan faktor resiko antara lain; (1) usia
yang >54 tahun yaitu 75 tahun. Menurut Rockman & Maldonado (2014) untuk
setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko stroke kurang lebih dua kali
lipat. Didukung oleh Kristiawati dkk (2009) mengatakan pada lansia terjadi
peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia berhubungan
dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami kemunduran
fungsi termasuk pembuluh darah otak. (2) memiliki riwayat keluarga dengan
stroke, Rockman & Maldonado (2014) mengatakan bahwa riwayat stroke pada
orang tua, serangan ischemic sementara atau infark miokard dikaitkan dengan
peningkatan resiko stroke 1,4 hingga 3,3 kali lipat. Didukung oleh Siswanto
(2005) bila mana kedua orang tua mengalami stroke maka kemungkinan
keturunannya terkena stroke makin besar. Riwayat keluarga adanya serangan
stroke atau penyakit pembuluh darah ischemic, sering pula didapat terjadi pada
penderita stroke yang muda.
(3) hipertensi yaitu dengan hasil pemeriksaan tekanan darah 180/90mmHg,
menurut Canavan dkk (2012) hipertensi memiliki 2,37 kali beresiko terjadi stroke
ischemic. Didukung oleh Hariyono (2002) tekanan darah sistemik yang
meningkat akan membuat pembuluh darah serebral berkontriksi. Derajat kontriksi
tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat cukup
tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun akan menyebabkan hialinisasi
pada lapisan otot pembuluh darah serebral yang mengakibatkan diameter lumen
73
pembuluh darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh
serebral tidak dapat berdilatasi atau berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi
fluktuasi dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan tekana darah
sistemik maka tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat, sehingga akan
mengakibatkan ischemic serebral. (4) diabetes melitus dengan hasil pemeriksaan
GDA 154mg/dL. Pinzon & Asanti (2010) mengatakan bahwa pengerasan lemak
akan menimbulkan komplikasi pada organ target (jantung, otak, dan ginjal).
Proses tersebut pada otak akan meningkatkan resiko terkena stroke. Didukung
oleh Gilroy (2000) hiperglikemia juga dapat meningkatkan viskositas darah yang
kemudian akan menyebabkan naiknya tekanan darah atau hipertensi dan
berakibat terjadinya stroke ischemic.
4.2.1.12 Partisipan 12
Partisipan 12 yaitu Ny.Su dengan stroke ischemic. Berdasarkan hasil dari
studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 didapatkan faktor resiko antara lain; (1)
hipertensi yaitu dengan tekanan darah 160/110mmHg, menurut Canavan dkk
(2012) hipertensi memiliki 2,37 kali beresiko terjadi stroke ischemic. Didukung
oleh Hariyono (2002) tekanan darah sistemik yang meningkat akan membuat
pembuluh darah serebral berkontriksi. Derajat kontriksi tergantung pada
peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat cukup tinggi selama
berbulan-bulan atau bertahun-tahun akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan
otot pembuluh darah serebral yang mengakibatkan diameter lumen pembuluh
darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh serebral
tidak dapat berdilatasi atau berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi
dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan tekana darah sistemik maka
74
tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat, sehingga akan mengakibatkan
ischemic serebral.
(2) memiliki gangguan jantung berdasarkan hasil pemeriksaan EKG yaitu
sinus tachicardia. Menurut Rockman & Maldonado (2014) mengatakan bahwa
pasien dengan fibrilasi atrium memilik tiga hingga lima kali lipat peningkatan
resiko kardioemboli stroke ischemic. Didukung oleh Siswanto (2005) mengatakan
bahwa sirkulasi selebral sebagai subsistem dari sistem kardiovaskuler mempunyai
arti bahwa fungsinya tergantung pada efektifitas jantung sebagai pompa,
integritas pembuluh darah sistemik dan komponen darah dalam memenuhi
kebutuhan darah dan oksigen. Otak membutuhkan 25% dari konsumsi oksigen
seluruh tubuh dan menggunakan 20% cutah jantung semenit. Kejadian stroke
hampir selalu berhubungan dengan penyakit lain, dan karena dekatnya hubungan
silkulasi serebral dan sistem kardiovaskuler, sering kelainan-kelainan sistemik
kardiovaskuler sebagai penyebab timbulnya stroke.
(3) memiliki berat resiko dengan obesitas yaitu dengan IMT 23,8. Menurut
penelitian Oki dkk (2006) menyimpulkan bawa seseorang dengan indeks masa
tubuh ≥30 memiliki resiko stroke 2,46 kali dibanding yang memiliki indeks masa
tubuh <30, didukung oleh Yulianti (2006) yang mengatakan bahwa obesitas dapat
meningkatkan tekanan darah karena terjadi peningkatan masa tubuh. (4) klien
juga menggunakan kontrasepsi hormonal, menurut Sugiharto (2007) kontrasepsi
hormonal dapat menyebabkan hipertensi. Menurut Sugiharto (2007) kontrasepsi
hormonal dapat menyebabkan hipertensi, didukung oleh Olatujin & Soladove
(2008) yang mengatakan bahwa KB mengandung hormon estrogen dan
progesteron dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah.
75
4.2.1.13 Partisipan 13
Partisipan 13 yaitu Ny.Pa dengan stroke haemorrhage. Berdasarkan hasil
dari studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 didapatkani faktor resiko stroke yang
muncul antara lain; (1) usia yang >54 yaitu 68 tahun, menurut Rockman &
Maldonado (2014) untuk setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko
stroke kurang lebih dua kali lipat menurut peneliti teori dan fakta sama, semakin
berumur maka resiko terjadinya stroke lebih tinggi. Didukung oleh Kristiawati
dkk (2009) pada lansia terjadi peningkatan frekuensi stroke seiring dengan
peningkatan usia berhubungan dengan preses penuaan, dimana semua organ
tubuh mengalami kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak. Pembuluh
darah menjadi tidak elastis terutama bagian endotel yang mengalami penebalan
pada bagian intima, sehingga mengakibatkan lumen pembuluh darah semakin
sempit dan berdampak pada penurunan aliran darah otak.
(2) memiliki keluarga dengan riwayat stroke, Rockman & Maldonado
(2014) mengatakan bahwa riwayat stroke pada orang tua, serangan ischemic
sementara atau infark miokard dikaitkan dengan peningkatan resiko stroke 1,4
hingga 3,3 kali lipat. Sedangkan menurut Siswanto (2005) bila mana kedua orang
tua mengalami stroke maka kemungkinan keturunannya terkena stroke makin
besar. Riwayat keluarga adanya serangan stroke atau penyakit pembuluh darah
ischemic, sering pula didapat terjadi pada penderita stroke yang muda. Berbagai
faktor penyebab termasuk predisposisi genetik aterosklerosis dapat menerangkan
hal ini. Sedangkan aneurisa intraklanial sakular, malformasi pembuluh darah, dan
angiopati amiloid sering familial dan ini merupakan penyebab stroke haemorage.
(3) hipertensi dengan hasil pemeriksaan tekanan darah 160/100mmH.
Sebanyak 80% kasus stroke haemorrhage spontan dimana kerusakan diakibatkan
76
pecahnya pembuluh darah arteri akibat hipertensi kronis atau angiopati amiloid
(Haynes et al., 2012; Rincon & Mayer, 2013). Didukung oleh hampir mirip
dengan hipertensi pada stroke ischemic, yang dikatakan Hariyono (2002) tekanan
darah sistemik yang meningkat akan membuat pembuluh darah serebral
berkontriksi. Derajat kontriksi tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila
tekanan darah meningkat cukup tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-
tahun akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan otot pembuluh darah serebral
yang mengakibatkan diameter lumen pembuluh darah tersebut akan menjadi
tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh serebral tidak dapat berdilatasi atau
berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi dari tekanan darah
sistemik. Bila terjadi kenaikan darah sistemik maka tekanan perfusi pada dinding
kapiler menjadi tinggi yang mengakibatkan terjadi hiperemia, edema, dan
kemungkinan perdarahan pada otak.
(4) kadar kolesterol sedikit tinggi yaitu 251mg/dL. Menurut Rockman &
Maldonado (2014) uji coba khusus untuk stroke ischemic telah menunjukkan
bahwa mungkin ada risiko 25% lebih tinggi stroke ischemic dengan masing-
masing peningkatan 38,7-mg / dL kadar kolesterol total. Kadar HDL yang rendah
memacu munculnya proses atherogenik (pembentukan plak di dinding pembuluh
darah arteri) (Pinzon, 2010). Menurut peneliti antara teori dan fakta sesuai tetapi
berdasarkan teori hiperkolesterol menyebabkan stroke ischemic, namun terdapat
pada Ny.Pa stroke haemorrhage yang memiliki kadar kolesterol tinggi juga yaitu
257 mg/dL.
(5) merokok kurang lebih 1 pack, menurut Canavan dkk (2012) merokok
memacu peningkatan kekentalan darah, dan penimbunan plak di dinding
pembuluh darah, menurut peneliti antara fakta dan teori sudah sesuai. Didukung
77
oleh Kaplan (1994) berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa merokok, baik
yang dilakukan sesekali maupun kronis serta papara rokok pasif dapat
menyebabkan arteri menjadi kaku, sehingga menghalangi arteri mengembang
ketika otot dan jantung membutuhkan oksigen lebih banyak.arteri yang kaku
meningkatkan tekanan darah pada jantung sehingga mengakibatkan hipertensi.
(6) menggunakan kontrasepsi hormonal. Menurut Sugiharto (2007) kontrasepsi
hormonal dapat menyebabkan hipertensi, didukung oleh Olatujin & Soladove
(2008) yang mengatakan bahwa KB mengandung hormon estrogen dan
progesteron dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah). (7) dari
hasil wawancara didapatkan bahwa pasien inaktivitas fisik, Canavan dkk (2012)
mengatakan bahwa aktivitas fisik memiliki resiko 0,68 kali terjadinya stroke
ischemic. Didukung oleh Triyanto (2014) kurangnya aktivitas fisik juga dapat
meningkatkan resiko kelebihan berat badan yang akan menyebabkan resiko
hipertensi meningkat.
4.2.1.14 Partisipan 14
Partisipan 14 yaitu Tn.J dengan stroke ischemic. Berdasarkan hasil dari
studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 didapatkan faktor resiko yang dimiliki antara
lain; (1) usia yang >54 tahun yakni 68 tahun. Menurut Rockman & Maldonado
(2014) untuk setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko stroke kurang
lebih dua kali lipat. Didukung oleh Kristiawati dkk (2009) mengatakan pada
lansia terjadi peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia
berhubungan dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami
kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak. (2) berjenis kelamin laki-laki.
Tetapi dari Bethesda Stroke Center (2012) tidak ada hubungan antara jenis
kelamin dengan kejadian stroke, dapat disebabkan oleh karena multifaktorial,
78
bukan hanya karena jenis kelamin diantaranya karena diabetes melitus,
hiperkolesterolemia, merokok, alkohol dan penyakit jantung. Seseorang yang
memiliki satu atau lebih faktor resiko, memiliki kemungkinan yang lebih besar
untuk mendapatkan serangan stroke dari pada orang normal pada suatu saat
selama perjalanan hidup bila faktor resiko tersebut tidak sikendalikan.
(3) hipertensi yaitu dengan hasil pengukuran tekanan darah 180/100mmHg,
menurut Canavan dkk (2012) hipertensi memiliki 2,37 kali beresiko terjadi stroke
ischemic. Didukung oleh Hariyono (2002) tekanan darah sistemik yang
meningkat akan membuat pembuluh darah serebral berkontriksi. Derajat kontriksi
tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat cukup
tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun akan menyebabkan hialinisasi
pada lapisan otot pembuluh darah serebral yang mengakibatkan diameter lumen
pembuluh darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh
serebral tidak dapat berdilatasi atau berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi
fluktuasi dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan tekana darah
sistemik maka tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat, sehingga akan
mengakibatkan ischemic serebral.
(4) klien juga termasuk perokok aktif yang sehari bisa menghabiskan
kurang lebih 1 pack rokok. Menurut Canavan dkk (2012) merokok memacu
peningkatan kekentalan darah, dan penimbunan plak di dinding pembuluh darah,
menurut peneliti antara fakta dan teori sudah sesuai. Didukung oleh Kaplan
(1994) berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa merokok, baik yang
dilakukan sesekali maupun kronis serta papara rokok pasif dapat menyebabkan
arteri menjadi kaku, sehingga menghalangi arteri mengembang ketika otot dan
jantung membutuhkan oksigen lebih banyak.arteri yang kaku meningkatkan
79
tekanan darah pada jantung sehingga mengakibatkan hipertensi. (5) dari hasil
wawancara ditemukan bahwa pasien tidak pernah melakukan aktifitas fisik.
Canavan dkk (2012) mengatakan bahwa aktivitas fisik memiliki resiko 0,68 kali
terjadinya stroke ischemic. Didukung oleh Triyanto (2014) kurangnya aktivitas
fisik juga dapat meningkatkan resiko kelebihan berat badan yang akan
menyebabkan resiko hipertensi meningkat. Jadi karena inaktifitas fisik
menyebabkan resiko hipertensi dan sedangkan hipertensi juga menyebabkan
stroke haemorrhage, berarti inaktifitas fisik tidak hanya mempengaruhi stroke
ischemic saja.
4.2.1.15 Partisipan 15
Partisipan 15 yaitu Tn.Sl dengan stroke haemorrhage. Berdasarkan hasil
dari studi kasus dan pemaparan tabel 4.3 didapatkan faktor resiko umur yang
dimiliki antara lain; (1) usia >54 tahun yakni 75 tahun, Rockman & Maldonado
(2014) untuk setiap usia yang lebih dari 55 tahun, memiliki resiko stroke kurang
lebih dua kali lipat menurut peneliti teori dan fakta sama, semakin berumur maka
resiko terjadinya stroke lebih tinggi. Didukung oleh Kristiawati dkk (2009) pada
lansia terjadi peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan usia
berhubungan dengan preses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami
kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak. Pembuluh darah menjadi
tidak elastis terutama bagian endotel yang mengalami penebalan pada bagian
intima, sehingga mengakibatkan lumen pembuluh darah semakin sempit dan
berdampak pada penurunan aliran darah otak.
(2) jenis kelamin laki-laki lebih beresiko terkena stroke, Rockman &
Maldonado (2014) mengatakan bahwa stroke ischemic secara umum lebih banyak
terjadi pada pria dibandingkan wanita. Tetapi dari Bethesda Stroke Center (2012)
80
tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian stroke, dapat
disebabkan oleh karena multifaktorial, bukan hanya karena jenis kelamin
diantaranya karena diabetes melitus, hiperkolesterolemia, merokok, alkohol dan
penyakit jantung. Seseorang yang memiliki satu atau lebih faktor resiko, memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkan serangan stroke dari pada
orang normal pada suatu saat selama perjalanan hidup bila faktor resiko tersebut
tidak dikendalikan.
(3) hipertensi yaitu dengan hasil pemeriksaan tekanan darah 160/95mmHg.
Sebanyak 80% kasus stroke haemorrhage spontan dimana kerusakan diakibatkan
pecahnya pembuluh darah arteri akibat hipertensi kronis atau angiopati amiloid
(Haynes et al., 2012; Rincon & Mayer, 2013). Didukung oleh hampir mirip
dengan hipertensi pada stroke ischemic, yang dikatakan Hariyono (2002) tekanan
darah sistemik yang meningkat akan membuat pembuluh darah serebral
berkontriksi. Derajat kontriksi tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila
tekanan darah meningkat cukup tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-
tahun akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan otot pembuluh darah serebral
yang mengakibatkan diameter lumen pembuluh darah tersebut akan menjadi
tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh serebral tidak dapat berdilatasi atau
berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi dari tekanan darah
sistemik. Bila terjadi kenaikan darah sistemik maka tekanan perfusi pada dinding
kapiler menjadi tinggi yang mengakibatkan terjadi hiperemia, edema, dan
kemungkinan perdarahan pada otak.
(4) tergolong dalam diabetes melitus karena dari hasil pemeriksaan
memiliki kadar gula tinggi yaitu GDA 237mg/dL dan 2 jam PP 201mg/dL,
Pinzon & Asanti (2010) mengatakan bahwa pengerasan lemak akan menimbulkan
81
komplikasi pada organ target (jantung, otak, dan ginjal). Proses tersebut pada
otak akan meningkatkan resiko terkena stroke. Didukung oleh Gilroy (2000)
hiperglikemia juga dapat meningkatkan viskositas darah yang kemudian akan
menyebabkan naiknya tekanan darah atau hipertensi dan berakibat terjadinya
stroke ischemic. (5) klien juga termasuk perokok aktif bisa menghabiskan kurang
lebih 1 pack dalam sehari, menurut Canavan dkk (2012) merokok memacu
peningkatan kekentalan darah, dan penimbunan plak di dinding pembuluh darah,
menurut peneliti antara fakta dan teori sudah sesuai. Didukung oleh Kaplan
(1994) berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa merokok, baik yang
dilakukan sesekali maupun kronis serta papara rokok pasif dapat menyebabkan
arteri menjadi kaku, sehingga menghalangi arteri mengembang ketika otot dan
jantung membutuhkan oksigen lebih banyak.arteri yang kaku meningkatkan
tekanan darah pada jantung sehingga mengakibatkan hipertensi.
4.2.2 Faktor Resiko Stroke Ischemic Di Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo
Wlingi
Faktor resiko stroke ischemic dibagi menjadi dua, yaitu faktor resiko yang
tidak dapat di ubah dan dapat di ubah. Faktor resiko yang tidak dapat diubah
antara lain usia, jenis kelamin dan riwayat keluarga dengan stroke sebelumnya.
Sedangkan faktor resiko yang dapat diubah antara lain hipertensi, hiperkolesterol,
diabetes melitus, gangguan jantung, obesitas, merokok, minum-minuman
beralkohol, menggunakan kontrasepsi hormonal dan inaktifitas fisik.
Untuk faktor resiko yang dapat diubah dari hasil penelitian berdasarkan
pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan bahwa pasien stroke ischemic
yang memiliki usia >55 ada 7 orang dengan total pasien 8 orang. Menurut teori
Rockman & Maldonado (2014) untuk setiap usia yang lebih dari 55 tahun,
82
memiliki resiko stroke kurang lebih dua kali lipat. Menurut Siswanto (2005)
stroke pada umumnya lebih sering terjadi pada usia lanjut dari pada anak atau/dan
dewasa, terdapat pertambahan insiden stroke sesudah usia 55 tahun. Didukung
oleh Kristiawati dkk (2009) pada lansia terjadi peningkatan frekuensi stroke
seiring dengan peningkatan usia berhubungan dengan preses penuaan, dimana
semua organ tubuh mengalami kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah
otak. Pembuluh darah menjadi tidak elastis terutama bagian endotel yang
mengalami penebalan pada bagian intima, sehingga mengakibatkan lumen
pembuluh darah semakin sempit dan berdampak pada penurunan aliran darah
otak.
Jenis kelamin, berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan
bahwa pasien stroke ischemic yang memiliki faktor resiko jenis kelamin ada 4
orang dari total 8 orang. Stroke ischemic secara umum lebih banyak terjadi pada
pria dibandingkan wanita. Namun wanita memiliki presentase kematian akibat
stroke yang lebih tinggi, kemungkinan karena banyak dari wanita memiliki umur
lebih panjang (Rockman & Maldonado, 2014). Didukung oleh Bethesda Stroke
Center (2012) tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian stroke,
dapat disebabkan oleh karena multifaktorial, bukan hanya karena jenis kelamin
diantaranya karena diabetes melitus, hiperkolesterolemia, merokok, alkohol dan
penyakit jantung. Seseorang yang memiliki satu atau lebih faktor resiko, memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkan serangan stroke dari pada
orang normal pada suatu saat selama perjalanan hidup bila faktor resiko tersebut
tidak sikendalikan.
Riwayat keluarga dengan stroke sebelumnya, berdasarkan pemaparan hasil
studi kasus tabel 4.3 dapatkan bahwa pasien stroke ischemic dengan riwayat
83
keluarga stroke ada 2 orang. Rockman & Maldonado (2014) mengatakan bahwa
riwayat stroke pada orang tua, serangan ischemic sementara atau infark miokard
dikaitkan dengan peningkatan resiko stroke 1,4 hingga 3,3 kali lipat. Didukung
oleh Siswanto (2005) bila mana kedua orang tua mengalami stroke maka
kemungkinan keturunannya terkena stroke makin besar. Riwayat keluarga adanya
serangan stroke atau penyakit pembuluh darah ischemic, sering pula didapat
terjadi pada penderita stroke yang muda.
Sedangkan faktor resiko yang dapar diubah antara lain, hipertensi,
berdasarkan pemaparan hasil studi kasus tabel 4.3 dapatkan bahwa pasien stroke
ischemic dengan hipertensi sejumlah 7 orang dari total pasien stroke ischemic 8
orang. Dari teori Canavan dkk (2012) hipertensi memiliki 2,37 kali beresiko
terjadi stroke ischemic. Hipertensi merupakan faktor resiko tertinggi dalam
menyebabkan kejadian stroke, baik stroke untuk onset yang pertama kali maupun
dalam kejadian stroke berulang. Menurut penulis antara teori dengan fakta sama,
seperti yang dikatakan Hariyono (2002) tekanan darah sistemik yang meningkat
akan membuat pembuluh darah serebral berkontriksi. Derajat kontriksi tergantung
pada peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat cukup tinggi
selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun akan menyebabkan hialinisasi pada
lapisan otot pembuluh darah serebral yang mengakibatkan diameter lumen
pembuluh darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya, karena pembuluh
serebral tidak dapat berdilatasi atau berkontriksi dengan leluasa untuk mengatasi
fluktuasi dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan tekana darah
sistemik maka tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat, sehingga akan
mengakibatkan ischemic serebral.