GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG VITAMIN A KARYA TULIS ILMIAH Disusun Oleh : NOVAYANTI ARZAKY PUTRI 1401300048 KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR 2017
i GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG VITAMIN A Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu persyaratan menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan di Program Studi Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehetan Kementerian Kesehatan Malang NOVAYANTI ARZAKY PUTRI NIM. 1401300048 KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR 2017
ii LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Novayanti Arzaky Putri NIM : 1401300048 Program Studi : D3 Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya tulis ilmiah yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan karya tulis ilmiah ini hasil pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut. Blitar, Juli 2017 Yang membuat pernyataan Novayanti Arzaky Putri NIM. 1401300048 Mengetahui, Pembimbing Utama, Sunarti,S.Kep.Ns.M.M. NIP. 19560313 198102 2 001 Pembimbing Pendamping, Dr. Suprajitno, S.Kp, M.Kes NIP. 19670506 198903 1 003
iii LEMBAR PERSETUJUAN Karya Tulis Ilmiah dengan judul ”Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Vitamin A” oleh Novayanti Arzaky Putri, NIM. 1401300048 telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan. Blitar, Juli 2017 Pembimbing Utama, Sunarti,S.Kep.Ns.M.M. NIP. 19560313 198102 2 001 Pembimbing Pendamping, Dr. Suprajitno, S.Kp, M.Kes NIP. 19670506 198903 1 003
iv LEMBAR PENGESAHAN Karya Tulis Ilmiah dengan ”Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Vitamin A” oleh Novayanti Arzaky Putri, NIM. 1401300048 telah di ujikan di depan dewan penguji pada tanggal 19 Juli 2017. Dewan penguji, Ketua Dr. Suprajitno, S.Kp, M.Kes NIP. 19670506 198903 1 003 Anggota I Sunarti,S.Kep.Ns.M.M. NIP. 19560313 198102 2 001 Anggota II Mujito, A.Per.Pen.M.Kes NIP. 19640707 198603 2 001 Mengetahui, Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Imam Subekti, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom NIP. 19651205 198912 1 001
v ABSTRAK Putri Novayanti Arzaky 2017. Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Vitamin A. Di UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Karya Tulis Ilmiah, Program Studi DIII Keperawatan Blitar, jurusan Keperawatan Politeknik Kementrian Kesehatan Malang. Pembimbing (utama) Sunarti, S.Kep. Ns.,MM, (pendamping) Dr. Suprajitno, S.Kp, M. Kes. Masa nifas (puerperium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Pada masa nifas perlu diberikan vitamin A untuk menaikkan jumlah kandungan vitamin A dalam ASI.Selain bagi ibu vitamin A juga bermanfaat pada bayi, karena pada masa nifas ibu menyusui bayinya sehingga secara tidak langsung bayi pun juga memperolehnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang vitamin A. Dalam penelitian ini menggunakan desain Deskriptif dengan populasi ibu nifas yang berkunjung di poli KIA. Pengumpulan data menggunankan kuesioner selama 2 minngu dengan sampel diambil dari poli KIA UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan menggunakan teknik Accidental sampling. Hasil penelitian diperoleh pengetahuan ibu nifas tentang vitamin A sebagian besar cukup yaitu34%(11 responden) berpengetahuan baik, 63% (20 responden) berpengetahuan cukup, 3% (1 responden) berpengetahuan kurang. Saran kepada UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan khususnya poli KIA diharapkan meningkatkan pelayanan pendidikan kesehatan kepada para ibu nifas khususnya pada topik vitamin A. Kata Kunci: Pengetahuan, Ibu Nifas, Vitamin A
vi ABSTRACT Putri Novayanti Arzaky 2017. Description of Knowledge of Postpartum Mother about Vitamin A.In UPTD Health District SananwetanBlitar City.Scientific papers,Nursing Program DIII Nursing Blitar, Department of Polytechnic Nursing Ministry of Health of Malang.Supervisor (main) Sunarti, S.Kep. Ns., MM, (companion) Dr. Suprajitno, S.Kp, M. Kes. The puerperium (puerperium) is started after the placenta is born and ends when the uterine devices return as before pregnancy.In the puerperium need to be given vitamin A to raise the amount of vitamin A content in breast milk. In addition to the mother of vitamin A is also beneficial in infants, because during childbirth the mother breastfeed her baby so indirectly the baby also get it.The purpose of this study is to know the description of postpartum knowledge about vitamin A. In this study using Descriptive design with maternal postpartum population who visited in poly KIA. The data were collected using questionnaires for 2 weeks with samples taken from KIA UPTD Health Sananwetan District Police using Accidental sampling technique. The result of the research is that the knowledge of postpartum mother about vitamin A is good enough, 34% (11 respondents) are knowledgeable, 63% (20 respondents) are knowledgeable, 3% (1 respondent) is knowledgeable. Suggestion to UPTD of Health Sananwetan Sub-district, especially KIA, is expected to improve health education service to postpartum especially on topic of vitamin A. Keywords: Knowledge, Postpartum, Vitamin A
vii KATA PENGANTAR Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya berkat limpahan kasih-Nya dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul ”Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Vitamin A”. Dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan pengarahan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Yth Bapak / Ibu : 1. Budi Susatia, S.Kp, M. Kes, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang. 2. Imam Subekti, S.Kep, M.Kep, Sp.Kom, selaku Ketua jurusan keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang. 3. Sri Winarni, S. Pd, M.Kes, selaku Ketua Program Studi Diploma III Keperawatan Blitar Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang. 4. Dr. Suprajitno, S.Kp, M.Kes, selaku Ketua Dewan Penguji. 5. Sunarti,S.Kep.Ns.M.M. selaku Anggota I Dewan Penguji. 6. Mujito, A.Per.Pen.M.Kes selaku Anggota II Dewan Penguji. 7. Dan Ayah, Ibu, Kakak dan teman-teman yang telah memberikan dukungan baik materil maupun spiritual. 8. Serta semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. Penulis menyadari didalam penyusunan dan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Harapan penulis semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Blitar, Juli 2017 Peneliti
viii DAFTAR ISI Halaman LEMBAR HALAMAN JUDUL ........................................................................ i LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN.......................................... ii LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................... iii LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ iv ABSTRAK ......................................................................................................... v ABSTRACT ......................................................................................................... vi KATA PENGANTAR ........................................................................................ vii DAFTAR ISI ...................................................................................................... viii DAFTAR TABEL .............................................................................................. x DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xiii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1 1.2 Rumusan masalah ...................................................................................... 4 1.3 Tujuan penelitian ....................................................................................... 4 1.4 Manfaat penelitian ..................................................................................... 5 1.4.1 Secara teoritis.................................................................................... 5 1.4.2 Secara Praktis.................................................................................... 5 a. Bagi tempat penelitian .................................................................. 5 b. Bagi peneliti lain .......................................................................... 5 c. Bagi institusi pendidikan................................................................ 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan................................................................................................. 6 2.1.1 Pengertian pengetahuan..................................................................... 6 2.1.2 Tingkatan pengetahuan...................................................................... 6 2.1.3 Faktor yang mempengaruhi pengetahuan.......................................... 8 2.1.4 Proses penerimaan pengetahuan........................................................ 11 2.1.5 Pengukuran pengetahuan................................................................... 11 2.2 Nifas .......................................................................................................... 12 2.2.1 Pengertian masa nifas........................................................................ 12 2.2.2 Tahapan masa nifas........................................................................... 13 2.2.3 Kebutuhan masa nifas....................................................................... 14 2.2.4 Proses dalam masa nifas .................................................................. 18 2.2.5 Macam-macam lochea pada masa nifas............................................ 19 2.3 Vitamin A .................................................................................................. 20 2.2.1 Pengertian vitamin A........................................................................ 20 2.2.2 Manfaat vitamin A............................................................................ 21 2.2.3 Dampak kekurangan vitamin A........................................................ 22 2.2.4 Penyebab kurang vitamin A ............................................................ 23 2.2.5 Tanda kekurangan vitamin A........................................................... 24 2.2.6 Waktu pemberian dan dosis vitamin A untuk ibu nifas.................... 24 2.2.7 Faktor-fakor yang menyebabkan kekurangan vitamin A................. 24
ix 2.2.8 Cara menanggulangi kekurangan vitamin A pada ibu nifas ............. 24 2.2.9 Sumber vitamin A ............................................................................ 25 2.4 Kerangka konseptual................................................................................... 26 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain penelitian ...................................................................................... 27 3.2 Kerangka kerja .......................................................................................... 28 3.3 Populasi, sampel dan sampling ................................................................. 28 3.3.1 Populasi ........................................................................................... 28 3.3.2 Sampel ............................................................................................. 29 3.3.3 Sampling .......................................................................................... 29 3.4 Variabel penelitian...................................................................................... 29 3.5 Tempat dan waktu pengumpulan data ...................................................... 30 3.6 Definisi operasional .................................................................................. 30 3.7 Pengumpulan Data ..................................................................................... 33 3.7.1 Instrumen pengumpulan data ........................................................... 33 3.7.2 Cara pengumpulan data .................................................................... 33 3.8 Teknik Pengolahan data, analisa data dan penyajian data ........................ 34 3.8.1 Pengolahan data ............................................................................... 34 3.8.2 Analisa data ..................................................................................... 35 3.8.3 Penyajian data ................................................................................. 36 3.9 Etika penelitian ......................................................................................... 36 3.9.1 Informed consent ............................................................................. 36 3.9.2 Anonimity ........................................................................................ 37 3.9.3 Confidentiality ................................................................................. 38 BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian............................................................................................ 39 4.1.1 Gambaran tempat penelitian ............................................................ 39 4.1.2 Data Umum....................................................................................... 40 4.1.3 Data Khusus .................................................................................... 46 4.2 Pembahasan................................................................................................. 47 4.3 Keterbatasan Peneliti ................................................................................. 52 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ................................................................................................ 53 5.2 Saran .......................................................................................................... 53 5.2.1 Bagi tempat penelitian ..................................................................... 53 5.2.2 Bagi institusi .................................................................................... 54 5.2.3 Bagi peneliti selanjutnya ................................................................. 54 DAFTAR RUJUKAN....................................................................................... 55 LAMPIRAN...................................................................................................... 57
x DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Definisi operasional ........................................................................... 31 Tabel 4.1 Distribusi frekuensi Pengetahuan ibu nifas tentang vitamin A di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32). ................................................................ 46 Tabel 4.2 Distribusi frekuensi pengetahuan ibu nifas tentang vitamin A berdasarkan parameter (C1-C4) di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32). ........................................................................................... 46
xi DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Kerangka konseptual ..................................................................... 26 Gambar 3.1 Kerangka kerja .............................................................................. 28 Gambar 4.1 Diagram lingkaran umur ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32. 40 Gambar 4.2 Diagram lingkaran pendidikan ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32). ........................................................................................... 41 Gambar 4.3 Diagram lingkaran pekerjaan ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32). ........................................................................................... 41 Gambar 4.4 Diagram lingkaran masa nifas ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32). ........................................................................................... 42 Gambar 4.5 Diagram lingkaran kelahiran anak ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32)................................................................................. 42 Gambar 4.6 Diagram lingkaran jumlah kelahiran ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32)................................................................................. 43 Gambar 4.7 Diagram lingkaran informasi pemberian vitamin A ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32)............................................................... 43 Gambar 4.8 Diagram lingkaran sumber informasi tentang pemberian vitamin A ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32)............... 44 Gambar 4.9 Diagram lingkaran orang terdekat dengan ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32) .......................................................................... 44 Gambar 4.10 Diagram lingkaran kontrol setelah melahirkan ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32)............................................................... 45
xii Gambar 4.11 Diagram lingkaran pemberian vitamin A ibu nifas di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Juli 2017 (n=32). ......................................................................... 45
xiii DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Penjelasan untuk mengikuti penelitian............................................ 57 Lampiran 2 Lembar informed consent............................................................... 58 Lampiran 3 Lembar persetujuan sebagai responden........................................... 59 Lampiran 4 Kisi–kisi kuesioner.......................................................................... 60 Lampiran 5 Lembar kuesioner............................................................................ 61 Lampiran 6 Tabulasi Data Umum.................................................................... 64 Lampiran 7 Tabulasi Data Khusus................................................................... 65 Lampiran 8 Hasil Pengolahan Data Penelitian Dengan SPSS......................... 67 Lampiran 9 Surat Keterangan Penelitian.......................................................... 87 Lampiran 10 Lembar Konsultasi....................................................................... 89 Lampiran 11 Jadwal Penelitian.......................................................................... 94
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derajat kesehatan suatu negara ditentukan oleh berapa indikator, salah satu indikator tersebut adalah Angka Kematian Ibu (AKI). Angka Kematian Ibu menurut survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan SDKI tahun 1991, yaitu sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun meskipun tidak terlalu signifikan. Target global MDGs (Millenium Development Goals) ke 5 adalah menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Infeksi pada masa nifas merupakan penyebab terjadinya Angka Kematian Ibu (AKI) (Dinkes, 2005). Menurut data SDKI 2012 angka kematian ibu mengalami penurunan dari 390 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup. Namun pada SDKI 2012 angka kematian ibu kembali naik menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup. Meskipun AKI hasil SDKI tahun 1990 dan 2012 tidak jauh berbeda, namun untuk mencapai target 102 pada tahun 2015 di perkirakan sulit tercapai. Angka tersebut juga semakin jauh dari target MDGs sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup. Kota blitar memiliki angka tertinggi yakni 339.31 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes Jawa Timur, 2012). Penyebab kematian ibu tahun 2010-2012, terjadi peningkatan pada factor Pre-Eklamsia/Eklamsia (PE/E) dan factor lain, sedangkan
2 factor pendarahan dan infeksi mengalami penurunan tiap tahun (Dinkes Jawa Timur, 2012). Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah keluarnya placenta sampai alatalat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan batasan waktu nifas yang paling singkat tidak ada batasan waktunya, bahkan bisa jadi dalam waktu yang relative pendek darah sudahkeluar, sedangkan batasan maksimumnya adalah 40 hari (Ambarwati&Wulandari, 2010). Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai hingga alat-alat kandungan kembali seperti prahamil (Bahiyatun, 2009). Menurut WHO (2000) anjuran pemberian vitamin A pada ibu masa nifas sebesar 400.000 IU(2 x 200.000 IU pada hari yang berbeda) sedangkan ibu setelah masa nifas (ada juga kemungkinan sebagian hamil) sebesar 10.000 IU/hari atau 25.000 IU/minggu. Pada masa nifas perlu diberikan vitamin A untuk menaikkan jumlah kandungan vitamin A dalam ASI, selain bagi ibu vitamin A juga bermanfaat pada bayi, Karena pada masa nifas ibu menyusui bayinya sehingga secara tidak langsung bayi pun juga memperolehnya. Manfaat vitamin A selain untuk meningkatkan kelangsungan hidup anak serta membantu pemulihan kesehatan ibu nifas yang erat kaitannya dengan anemia dan mengurangi resiko buta senja pada ibu menyusui( Saleha, 2009). Ibu nifas yang cukup mendapat Vitamin A akan meningkatkan kandungan Vitamin A dalam air susu ibu (ASI), sehingga bayi yang disusui lebih kebal terhadap penyakit. Disamping itu, kesehatan ibu lebih cepat pulih (Merryana, dkk 2012). Vitamin A terdapat dalam pangan hewani,seperti hati, kuning telur susu (di dalam lemaknya), dan mentega, sedangkan karoten terutama di dalam pangan nabati seperti daun singkong, daun
3 kacang, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis, wortel, tomat, jagung kuning, papaya, mangga, nangka masak, dan jeruk ( Ambarwati& Wulandari,2010). Vitamin A adalah suatu Kristal alkohol yang berwarna kuning, larut dalam lemak, dan merupakan vitamin yang pertama kali ditemukan. Vitamin A merupakan nama generic, yang menyatakan bahwa semua retinoid dan prekursor Provitamin A atau karotenoid mempunyai aktivitas biologic sebagai retinol ( Almatsier, S., 2004., Ross A.c., 1999 dalam McLaren, 2001). Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan disimpan dalam hati, berfungsi untuk penglihatan, pertumbuhan, dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Saat ini di Indonesia masih terjadi kecenderungan meningkatnya kurang vitamin A (KVA) pada ibu dan balita di daerah miskin perkotaan (Depkes RI, 2005 ). Menurut data Departemen Kesehatan (1992) menunjukkan hampir 10 juta balita menderita KVA subklinis (serum retinol <20µg/dl), 60 diantaranya di sertai dengan gejala bercak bitot yang terancam buta. Pada anak balita KVA (Kurang Vitamin A) akan meningkatkan kesakitan dan kematian, mudah terkena penyakit infeksi seperti diare, radang paru, pneumonia, dan akhirnya kematian (Almatsier, S 2001).Vitamin A bermanfaat untuk menurunkan angka kematian dan angka kesakitan, Karena vitamin A dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi seperti campak, diare, dan ISPA (Merryana, dkk 2012). Vitamin A dalam tubuh merupakan proses yang berlangsung lama, dimulai dengan habisnya persediaan Vitamin A dalam hati, kemudian menurunnya kadar Vitamin A plasma, dan baru kemudian timbul disfungsi retina, disusul dengan perubahan jaringan epitel (Supariasa, I.D.N., dkk., 2002).Kekurangan vitamin A pada ibu nifas dapat
4 menyebabkan anemia serta menurunkan kelangsungan hidup ibu hingga dua tahun setelah melahirkan (Keller, 2004). Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah eritrosit (sel darah merah) atau kadar Hb dalam darah kurang dari normal (Merryana,2012). ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya member sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal (Meryana,2012). Di kota Blitar sampai bulan November 2016 terdapat sebanyak 2.301 orang ibu nifas. Dan diperoleh data kecamatan sananwetan sebanyak 849 orang, kecamatan kepanjen kidul sebanyak 668 orang, sedangkan di kecamatan sukorejo sebanyak 784 orang (Dinkes Kota Blitar,2016). Berdasarkan hasil wawancara pada bulan Desember di UPTD kesehatan kecamatan Sukorejo pada 7 ibu nifas mendapatkan pertanyaan tentang manfaat vitamin A untuk ibu nifas, di dapatkan 2 ibu nifas mempunyai pengetahuan baik, 2 ibu nifas mempunyai pengetahuan cukup dan 3 ibu nifas mempunyai pengetahuan kurang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di atas maka penulis mengambil penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Vitamin A di UPTDPuskesmas Sananwetan”. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut: “Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Vitamin A di Poli KIA Puskesmas Sananwetan?”. 1.3 Tujuan Penelitian Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang vitamin A di Poli KIA Puskesmas Sananwetan.
5 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Secara teroritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai kepustakaan dan memberikan sumbangan pemikiran perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan untuk peneliti selanjutnya 1.4.2 Secara praktis a) Bagi tempat peneliti Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat. b)Bagi peneliti lain Sebagai dasar peneliti lain dalam melaksanakan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan penelitian ini. c) Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan agar dapat bermanfaat bagi institusi sebagai dokumentasi, bahan pustakan, dan sebagai bahan referensi di perpustakaan.
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pengetahuan 2.1.1 Pengertian pengetahuan Pengetahuan adalah hasil “tahu”, dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoadmodjo, 2007). 2.1.2 Tingkatan pengetahuan Menurut Notoadmodjo (2007), pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan: a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang sudah dipelajari sebelumnya. Dengan kata lain pengetahuan juga disebut recall (mengingat kembali) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menytakan dan sebagainya. b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang akan diteliti atau diketahui dan menginterpretasikan materi
7 tersebut secara benar, orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk mengggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (riil). Aplikasi dalam pengertian ini adalah aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain misalnya dapat menggunakan rumus statistic dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsipprinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle). d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam domain komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuajn analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja : dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya. e. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk atau menghubungkan bagian bagiamn dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, missal dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. f. Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu metode objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu criteria yang
8 ditentukan sendiri, atau menggunakan criteria-kriteria yang telah ada, misalnya: dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kurang gizi. 2.1.3 Faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang a. Faktor Internal 1. Umur Gunarsa,S (1990) mengemukakan bahwa makin tua umur seseorang maka proses pengembangan mentalnya akan bertambah baik, tetapi pada umur tertentu bertambahnya proses perkembangan mentalnya tidak secepat seperti saat usia belasan tahun. Bhakan pada saat usia yang sangat lanjut, proses perkembangannya praktis tidak ada lagi. Maka dapat disimpulkan bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada penambahan pengetahuan yang diperolehnya akan tetapi pada umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan mengingat suatu pengetahuan akan berkurang. 2. Jenis Kelamin Menurut Abu Ahmadi (1991), mengemukakan bahwa sampai saat ini belum ada petunjuk yang menguatkan tentang adanya perbedaan skill, sikap, minat temperamen, bakat dan pola tingkah laku antara laki-laki dan perempuan merupakan hasil dari perbedaan tradisi kehidupan dan bukan semata-mata perbedaan jenis kelamin, selain itu fakta menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara pria dan wanita dalam hal intelegasi. Dari uraian ini dapat kita ketahui bahwa ada perbedaan antara pengetahuan yang diperoleh laki-laki maupun perempuan.
9 3. Intelegasi Semakin tinggi IQ seseorang semakin cerdas pula secara potensial seseorang IQnya tinggi memiliki prestasi yang tinggi pula. Sebaliknya orang yang memiliki IQ yang kurang akan banyak mengalami kesulitan belajar (Abu Ahmadi,1991). Dengan demikian seseorang yang memiliki IQ rendah akan terhambat proses belajarnya sehingga pengetahuan yang diperolehnya juga terlambut. 4. Pendidikan Tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh (Wied Hary Apriadji, 1986) 5. Pengalaman Pengalaman merupakan guru yang terbaik, pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu meruapakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulangi kembali pengalaman yang di peroleh dalam memecahkan permasalahan yang di hadapi pada masa yang lama. b. Faktor Eksternal 1. Lingkungan a. Lingkungan Fisik, meliputi : Keadaan Geografis yang berbeda akan berpengaruh terhadap perkembangan pola piker atau kejiwaan seseorang.
10 b. Lingkungan Sosial, meliputi : Keadaan social budaya dan ekonomi dalam masyarakat akan memberi pengaruh tertentu terhadap perkembanagn individu. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa lingkungan fisik maupun social akan berpengaruh pada pola fikir seseorang sehingga akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. 2. Informasi Menurut Apriadji (1986), informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang meskipun seseorang mempunyai pendidikan yang rendah tetapi ia mendapatkan informasi yang banyak dari berbagai medis masa seperti majalah, surat kabar, televisi, radio ataupun lainnya, maka hal itu dapat meningkatkan pengetahuan seseorang. 3. Sosial Budaya Social budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya dengan orang lain. Karena hubungan ini, seseorang mengalamiu proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan. 4. Pekerjaan Menurut Friedman (1998) pekerjaan akan menyita waktu yang akan digunakan seseorang untuk memperoleh pengetahuan. 5. Orang yang dianggap penting Notoatmodjo (2004) mengemukakan factor eksternal yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan yaitu lingkungan disekitar individu itu sendiri, kebutuhan individu akan informasi, media massa dan orang yang dianggap
11 penting. Sehingga orang yang dianggap penting ini dpat menjadi sumber pengetahuan seseorang seperti teman, sahabat atau orang-orang yang dituakan di lingkungannya. 2.1.4 Proses penerimaan pengetahuan Dalam proses penerimaan pengetahuan manusia. Peneliti Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru dalam diri manusia tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan. Di dalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan yakni: a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus. b. Interest (merasa tertarik), terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap subjek telah mulai timbul. c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. d. Trial dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang di kehendaki oleh stimulus. e. Adaption dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. 2.1.5 Pengukuran pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara melalui kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukurkan subjek penelitian atau responden.Kedalamanan pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas (Notoatmodjo, 2003).
12 Cara pengukuran menggunakan skala ordinal yaitu pengukuran dimana angka yang digunakan dalam skala ordinal menetapkan posisi relative dari beberapa sub kelas, sedangkan pengelompokan pengetahuan dikategorikan baik bila skor yang benar 76-100%cukup bila skor yang benar 56-75%, dan kurang bila skor yang benar ≤55%. Untuk pengukuran pengetahuan di setiap jawaban yang benar di beri skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0, kemudian jawaban masing-masing responden dari semua pertanyaan dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan diperoleh prosentase. Rumus yang digunakan adalah: x100% n f P dimana: p : prosentase f : frekuensi jawaban n : skor total soal 2.2 Nifas 2.2.1 Pengertian masa nifas Masa nifas (puerperium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu (Prawirohardjo, 2002 : N-23). Periode post natal adalah waktu penyerahan dari selaput dan plasenta (menandai akhir dari perriode intrapartum) menjadi kembali ke saluran reproduktif wanita pada masa sebelum hamil. Periode ini juga disebut puerperium (Varney, 1997, hal: 549).
13 Pada masa nifas perlu diberikan vitamin A untuk menaikkan jumlah kandungan vitamin A dalam ASI.Selain bagi ibu vitamin A juga bermanfaat pada bayi, karena pada masa nifas ibu menyusui bayinya sehingga secara tidak langsung bayi pun juga memperolehnya. Manfaat vitamin A selain untuk meningkatkan daya tahan tubuh dapat juga meningkatkan kelangsungan hidup anak serta membantu pemulihan kesehatan ibu nifas yang erat kaitannya dengan anemia dan mengurangi resiko buta senja pada ibu menyusui ( Saleha, 2009). Vitamin A terdapat dalam pangan hewani,seperti hati, kuning telur susu (di dalam lemaknya), dan mentega, sedangkan karoten terutama di dalam pangan nabati seperti daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis, wortel, tomat, jagung kuning, papaya, mangga, nangka masak, dan jeruk ( Ambarwati& Wulandari,2010). 2.2.2 Tahapan masa nifas Menurut Meida (2012), masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu : 1. Puerperium dini Suatu masa pemulihan dimana ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. 2. Puerperium intermedial Suatu masa kepulihan menyeluruh dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam sampai delapan minggu. 3. Remote puerperium Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam keadaan sempurna terutama ibu apabila ibu selama hamil atau waktu persalinana mengalami komplikasi.
14 2.2.3 Kebutuhan Masa Nifas Menurut Meida (2012), ada 8 kebutuhan dasar masa nifas: 1. Nutrisi dan cairan, pada seorang ibu menyusui Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui). Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin. Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASInya. 2. Ambulasi pada masa nifas Ibu yang baru melahirkan mungkin enggan banyak bergerak karena merasa letih dan sakit. Namun ibu harus dibantu turun dari tempat tidur dalam 24 jam pertama setelah kelahiran pervaginam. Ambulasi dini sangat penting dalam mencegah thrombosis vena.Tujuan dari ambulasi dini adalah untuk membantu menguatkan otot-otot perut dan dengan demikian menghasilkan bentuk tubuh yang baik, mengencangkan otot dasr panggul sehingga mencegah atau memperbaiki sirkulasi darah ke seluruh tubuh. 3. Eliminasi: BAK/BAB Dieresis yang nyata akan terjadi pada satu atau dua hari pertama setelah melahirkan, dan kadang-kadang ibu mengalami kesulitan untuk mengosongkan kandungh kemihnya karena rasa sakit, memar atau gangguan pada tonus otot. Ibu dapat dibantu untuk duduk di atas kursi berlubang tempat buang air kecil (commode) jika masih belum diperbolehkjan berjalan sendiri dan mengalami kesulitan untuk buang air kecil dengan pispot di atas tempat tidur.Meskipun
15 sedapat mungkin dihindari, kateterisasi lebih baik dilakukan daripada terjadi in feksi saluran kemih akibat urine yang tertahan. Penatalaksanaan Defekasi diperlukan sehubungan kerja usus cenderungt melambat dan ibu yang baru melahirkan mudah mengalami konstipasi, pemberian obat-obat untuk pengaturan kerja usus kerap bermanfaat. Factor-faktor diet memegang peranan yang penting dalam memulihkan faal usus.Ibu mungkin memerlukan bantuan untuk memilih jenis-jenis makanan yang tepat dari menunya.Ibu mungkin pula harus diingatkan mengenai manfaat ambulasi dini dan meminum cairan tambahan untuk menghindari konstipasi. 4. Kebersihan diri/perineum Pada ibu masa nifas sebaiknya anjurkan kebersihan seluruh tubuh.Mengajarkan pada ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil dan besar. Sarankan ibu untuk mengganti pembalutr atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari.Kain dapat dipergunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan di bawah sinar matahari atai disetrika. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya. Jika ibu mempunyai liuka episiotomy atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh luka daerah luka. 5. Istirahat Istirahat pada ibu selama masa nifas beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.Sarankan ibu untuk untuk kembali ke kegiatan-kegiatan
16 rumah tangga biasa perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur. Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal: mengurangi jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri. Istirahat yang memuaskan bagi ibu yang baru merupakan masalah yang sangat penting sekalipun kadang-kadang tidak mudah dicapai.Keharusan ibu istirahat sesudah melahirkan memang tidak diragukan lagi, kehamilan dengan bebab kandungan yang berat dan banyak keadaan menganggu lainnya, plus pekerjaan bersalin, bukan persiapan yang baik dalam menghadapi kesibukan yang terjadi. Padahal hari-hari postnatal akan dipenuhi oleh banyak hal, begitu banyak yang harus dipelajari, ASI yang diproduksi dalam payudara, kegembiraan menyambut tamu, dan juga kekhawatiran serta keprihatinana yang tidak ada kaitannya dengan situasi ini. Jadi, dengan tubuh yang letih dan mungkin pikiran yang sangat aktif, ibu sering perlu diingatkan agar mendapatkan istirahat yang cukup. Ibu harus dibantu untuk mengatur sendiri bagaimana memanfaatkan waktu istirahatnya ini: pergi ke toilet sebelum istirahat, beebaring telungkup (mungkin dengan bantal di bawah panggulnya) untuk membantu drainase uterus jika posisi ini nyaman baginya. Periode istirahat ini umumnya memberikan manfaat fisik maupun psikologis yang sangat besar. 6. Seksual Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa
17 nyeri. Begitu darah merah berhenti dab ibu tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap. Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan.Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan. 7. Keluarga berencana Idealnya pasangan harus menunggu bsekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali.Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama memeteki. Oleh karena itu, metode amenorea laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko cara ini nialah 2% kehamilan. Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, menggunakan kontrasepsei tetap lebih aman, terutama apabila ibu sudah haid lagi.Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektivitasnya, kekurangannya, efek samping, bagaimana menggunakan metode ini dapat mulai digunakan untuk wanita persalinana yang menyusui. Jika seorang ibu/pasangan telah memilih metode KB tertentu, ada baiknya untuk bertemu dengannya lagi dalam dua minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu/pasangan itu dan untuk melihat apakah metode tersebut bekerja dengan baik (Saifuddin,2006).
18 8. Latihan/senam nifas Latihan/senam nifas mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung. Senam nifas adalah senam yang dilakukan oleh ibu setelah persalinana, setelah keadaan ibu normal( pulih kembali). Senam nifas sebaiknya dilakukan dalam 24 jam setelah persalinana secara teratur setiap hari tetapi tidak semua ibu setelah persalinana dapat melakukan senam nifas.Untuk ibu-ibu yang mengalami komplikasi selama persalinan seperti jantung, ginjal, dibetes tentu tidak boleh melakukan senam nifas. Senam nifas bermanfaat untuk mengembalikan keadaan ibu agar kondidi ibu seperti sediakala sebelum hamil. 2.2.4 Proses dalam masa nifas Menurut saleha (2010), ada tiga proses penting dalam masa nifas yaitu: 1. Pengecilan rahim atau involusi Rahim adalah organ tubuh yang spesifik dan unik karena dapat mengecil serta membesar dengan menambah atau mengurangi jumlah selnya.Pada wanita yang tidak hamil, berat rahim sekitar 30 gram dengan ukuran kurang lebih seperti telur ayam. Selama kehamilan, rahim makin lama akan membesar. Setelah bayi lahir, umumnya berat rahim menjadi 1000 gram dan dapat diraba kira-kira setinggi 2 jari dibawah umbilicus.Setelah 1 minggu kemudian beratnya berkurang menjadi 500 gram.Setelah 2 minggu beratnya sekitar 300 gram dan tidak dapat diraba lagi.Setelah 6 minggu beratnya sudah sekitar 40-60 gram.Pada saat ini dianggap bahwa nifas sudah selesai.
19 2. Kekentalan darah (Hemokosentrasi) kembali normal Selama hamil, darah ibu relatif lebih encer, karena cairan darah ibu banyak, sementara sel darahnya berkurang. Oleh karena itu, selama hamil ibu perlu diberi obat-obatan penambah darah, sehingga sel-sel darahnya bertambah dan konsentrasi darah atau hemoglobinnya normal atau tidak terlalu rendah. Setelah melahirkan, sistem sirkulasi darah ibu akan kembali seperti semula. Darah kembali mengental di mana kadar perbandingan sel darah dan cairan darah kembali normal. Umumnya hal ini terjadi pada hari ke 3 sampai 15 pasca persalinan. 3. Proses laktasi dan menyusui Proses ini timbul setelah plasenta atau ari-ari lepas. Plasenta mengandung hormone penghambat prolaktin (hormone plasenta) yang menghambat pembentukan ASI.Setelah plasenta lepas, hormone plasenta itu tidak dihasilkan lagi, sehingga terjadi produksi ASI. 2.2.5 Macam-macam lochea pada masa nifas Menurut Meida (2012), ada 6 macam-macam, yaitu : 1. Lochea rubra (Cruenta), muncul pada hari 1-2 pasca persalinan, berwarna merah mengandung darah dan sisa-sa selaput ketuban, jaringan dari deciduas, verniks caseosa, lanugo dan mekoneum. 2. Lochea sanguinolenta, muncul pada hari ke 3-7 pasca persalinan, berwarna merah kuning dan berisi darah lender. 3. Lochea serosa, muncul pada hari ke 7-14 pasca persalinan, berwarna kecoklatan mengandung lebih banyak serum, lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta.
20 4. Lochea alba, muncul sejak 2-6 minggu pasca persalinana, berwarna putih kekuningan mengandung leukosit, selaput lender serviks dan serabut jaringan yang mati. 5. Lochea purulenta, terjadi infeksi keluar cairan seperti nanah dan berbau busuk 6. Lochiostatis, lochea yang tidak lancer keluarnya. Umunya jumlah lochea lebih sedikit bila wanita postpartum dalam posisi berbaring daripada berdiri. Hal ini terjadi akibat pembuangan bersatu di vagina bagian atas saat wanita dalam posisi berbaring dan kemudian akan mengalir keluar saat berdiri. Total jumlah rata-rata pengeluaran lochea sekitar 240 hingga 270 ml. 2.3 Vitamin A 2.3.1 Pengertian vitamin A Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan di simpan dalam hati, berfungsi untuk penglihatan, pertumbuhan, dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Saat ini di Indonesia masih terjadi kecenderungan meningkatnya kurang vitamin A (KVA) pada ibu dan balita di daerah miskin perkotaan (Depkes RI, 2005). Menurut data Departemen Kesehatan (1992) menunjukkan hampir 10 juta balita menderita KVA subklinis (serum retinol <20µg/dl), 60 diantaranya di sertai dengan gejala bercakbitot yang terancam buta. Pada masa nifas perlu diberikan vitamin A untuk menaikkan jumlah kandungan vitamin A dalam ASI, selain bagi ibu vitamin A juga bermanfaat pada bayi, Karena pada masa nifas ibu menyusui bayi nya sehingga secara tidak langsung bayi pun juga memperolehnya. Manfaat vitamin A selain untuk
21 meningkatkan kelangsungan hidup anak serta membantu pemulihan kesehatan ibu nifas yang erat kaitannya dengan anemia dan mengurangi resiko buta senja pada ibu menyusui( Saleha, 2009). Ibu nifas yang cukup mendapat Vitamin A akan meningkatkan kandungan Vitamin A dalam air susu ibu (ASI), sehingga bayi yang disusui lebih kebal terhadap penyakit. Disampingitu, kesehatan ibu lebih cepat pulih (Merryana, dkk 2012). 2.3.2. Manfaat vitamin A Menurut Merryana, 2012) Vitamin A bermanfaat secara umum untuk : a. Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan infeksi seperti campak dan diare. b. Membantu proses penglihatan dalam adaptasi dari tempat yang terang ke tempat yang gelap. c. Mencegah terjadinya proses metaplase sel-sel epitel, sehingga kelenjar tidak memproduksi cairan yang dapat menyebabkan terjadinya kekeringan pada mata disebut xerosis konjungtiva. d. Mencegah terjadinya kerusakan mata berkelanjutan yang akan menjadi bercak bitot (bitot’s spot) bahkan kebutaan. e. Vitamin A esensial untuk membantu proses pertumbuhan. 1. Bagi Ibu Pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas sangat berpengaruh untuk meningkatkan kualitas vitamin A dan jumlah kandungan vitamin A dalam ASI. Vitamin A juga berperan penting untuk memelihara kesehatan ibu selama masa nifas, menaikkan konsentrasi serum retinol ibu, menurunkan penyakit rabun senja serta menurunkan mortalitas yang berhubungan dengan kehamilan hingga 40%
22 (Keller,2004). Vitamin A juga dapat mempercepat penyembuhan luka ibu setelah melahirkan (Almatsir,2009). 2. Bagi Bayi Vitamin A telah diketahui dapat mencegah timbulnya komplikasi berat pada penyakit yang biasa terjadi pada anak-anak seperti campak dan diare serta berfungsi melindungi mata dari xeropthalmia dan buta senja.beberapa studi menunjukkan bahwa suplementasi vitamin A pada ibu nifas dapat meningkatkan status vitamin A pada bayi selama 2 sampai 6 bulan. Suplemntasi vitamin A merupakan salah satu intervensi program yang sudah di kenal dapat meningkatkan kesehatan serta kelangsungan hidup anak usia pra sekolah (Keller, 2004). Vitamin A juga bermanfaat untuk kesehatan mata dan membantu proses pertumbuhan (Merryana,2012). 2.3.3. Dampak Kekurangan vitamin A 1. Bagi ibu nifas Pada ibu nifas kekurangan vitamin A dapat menyebabkna buta senja, anemia, kekurangan berat badan, kurang gizi, meningkatnya resiko infeksi dan penyakit reproduksi serta menurunkan kelangsungan hidup ibu hingga dua tahun setelah melahirkan (Keller,2004). Selain itu kekurangan vitamin A menyebabkan kulit menjadi kering dan kasar serta luka sukar sembuh (Almatsier, 2009). 2. Bagi bayi Pada bayi apabila terjadi kekurangan vitamin A dapat menyebabkan bayi buta senja, perubahan pada kulit menjadi kering dan kasar, bayi buta senja, perubahan pada kulit mata menjadi xerosis konjungtiva, bercak bitot dan keratomalasia, gangguan pertumbuhan, infeksi (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat,
23 2011). Di samping itu kekurangan vitamin A dapat meningkatkan resiko anak terhadap penyakit infeksi seperti penyakit saluran pernafasan dan diare, meningkatkan angka kematian karena campak serta menyebabkan keterlambatan pertumbuhan (Almatsier,2009). 2.3.4. Penyebab kurang Vitamin A Menurut (Merryana,2012) kurang vitamin A bisa disebabkan oleh dua factor, yaitu: a. Penyebab langsung Penyebab langsung adalah konsumsi vitamin A dalam makan sehari-hari tidak mencukupi kebutuhan tubuh dalam jangka waktu lama.Kurangnya konsumsi vitamin A dalam makanan yang diperlukan tubuh untuk mempertahanakan keadaan gizi yang normal. Kekurangan vitamin A ini umumnya terjadi sejak balita karena kurangnya sumber vitamin A. kondisi ini sering sekali buruk bila disertai oleh kekurangan gizi lain dalam makanan. Misalnya tidak cukup konsumsi lemak, dimana lemak berperasn penting dalam inefisiensi penyerapan at gizi mikro termasuk vitamin A. b. Penyebab tidak langsung 1. Penyakit infeksi dapat menyebabkan nafsu makan berkurang, percepatan dalam peningkatan penggunaan vitamin A dalam tubuh dan konsekuensi persediaan zat gizi tidak mencukupinya. Kondisi lain dihubungkan dengan kemiskinana, kondisi social ekonomi yang belum berkembang, sanitasi serta pemeli\haraan hygiene perorangan yang diabsorpsikan dengan malnutrisi termasuk vitamin A. 2. Proses penyerapan makanan dalam tubuh terganggu karena infeksi cacing, diare
24 3. Adanya penyakit ISPA, campak, dan diare. 2.3.5. Tanda kekurangan vitamin A Salah satu tanda khas apabila ibu kekurangan vitamin A adalah keratinisasi konjungtiva mata atau selaput yang melapisi kelopak mata dan bola mata (Almatsier,2009). 2.3.6.Waktu pemberian dan dosis vitamin A untuk ibu nifas Menurut Keller 2004, ibu nifas diberikan kapsul Vitamin A yaitu Jumlah kapsul vitamin A 400.000 UI sebagai dua dosis @200.000 UI, pemberian sedikitnya dengan selang waktu satu hari jadwal pemberian segera setelah melahirkan dan tidak lebih dari enam minggu setelah melahirkan dan/atau 10.000 UI setiap hari atau 25.000 UI setiap minggunya jadwal pemberian selama 6 bulan pertama setelah melahirkan. Jadwal pemberian kapsul vitamin A pada bayi dan anak balita setiap bulan Februari dan Agustus pada bayi usia 6-11 bulan mendapat 1 kapsul vitamin A berwana biru dan seluruh anak balita usia 12-59 bulan mendapat kapsul vitamin A warna merah (Dinkes, 2010). 2.3.7. Factor-faktor yang menyebabkan kekurangan vitamin A Kekurangan vitamin A pada ibu nifas dapat menyebabkan anemia serta menurunkan kelangsungan hidup ibu hingga dua tahun setelah melahirkan.Selain itu banyak ibu maupun petugas kesehatan yang tidak tahu mengenai program pemerintah tentang pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas, dan pengetahuan mengapa kapsul vitamin A harus diberikan, masih kurang (Keller,2004) 2.3.8.Cara menanggulangi kekurangan vitamin A pada ibu nifas Kekurangan vitamin A (KVA) dapat ditanggulangi dengan berbagai cara, seperti fortifikasi berbagai produk makanan seperti susu, keju dan yogurt,
25 peningkatan ketersediaan dan konsumsi makanan yang mengandung vitamin A melalui pemanfaatan perkarangan, pemberikan vitamin A serta menggalangkan promosi sumber makanan-makanan yang mengandung vitamin A ( Keller,2004). 2.3.9. Sumber vitamin A Vitamin A terdapat dalam pangan hewani, sedangkan karoten terutama di dalam pangan nabati. Sumber vitamin A adalah hati, kuning telur, susu (di dalam lemaknya), dan mentega. Margarine biasanya diperkaya dengan vitamin A. karena vitamin A tidak berwarna, warna kuning dalam kuning telur adalah karoten yang berubah menjadi vitamin A. Minyak hati ikan digunakan sebagai sumber vitamin A yang diberikan untuk keperluan penyembuhan. Sumber karoten adalah sayuran berwarna hijau tua serta sayuran dan buahbuahan yang berwarna jingga, seperti daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis, wortel, timan, jagung kuning, papaya, mangga, nangka masak dan jeruk. Minyak kelapa sawit yang berwarna merah kaya akan karoten
2.4. Kerangka Konsep Keterangan : : Berhubungan : Berpengaruh : Diteliti : Tidak diteliti Gambar 2.1 Bagan kerangka konsep pe Ibu Pengetahuan ibu manfaat vitamin 1. Pengertian v 2. Manfaat vita 3. Dampak kek 4. Cara menang kekurangan nifas 5. Sumber vita Faktor yang mempengaruhi pengetahuan: 1. Usia 2. Jenis kelamin 3. Intelegasi 4. Pendidikan 5. Pengalaman 6. Lingkungan 7. Informasi 8. Sosial budaya 9. Pekerjaan 10. Orang yang dianggap penting
26 engetahuan ibu nifas tentang vitamin A. u Nifas u nifas tentang A : vitamin A amin A kurangan vitamin A ggulangi vitamin A pada ibu amin A Kategori: 1. Baik 2. Cukup baik 3. Kurang baik 26
27 BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian keperawatan merupakan urutan langkah dalam melakukan penelitian keperawatan. Hal-hal yang termasuk dalam metode penelitian adalah desain penelitian yang digunakan, kerangka kerja penelitian, populasi sampel yang diteliti, jumlah sampel yang diperlakukan, teknik sampling yang digunakan, cara mengidentifikasi variabel dengan definisi operasionalnya, cara pengumpulan data, metode analisis data yang digunakan, keterbatasan penelitian, dan nilai etika penelitian (Hidayat, 2008:25). 3.1. Desain Penelitian Desain penelitian merupakan perencanaan dan pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan (Nursalam, 2002:8). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yaitu penelitian yang diarahkan untuk mendiskriptifkan atau menguraikan suatu keadaan di dalam komunitas atau masyarakat (Notoadmodjo,2002). Dimana penelitian ini ditujukan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang vitamin A.
28 3.2 Kerangka Kerja Gambar 3.1 Kerangka Kerja Penelitian Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Vitamin A diPoli KIA Puskesmas Sananwetan Kota Blitar. 3.3. Populasi, sampel, sampling 3.3.1 Populasi Populasiadalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang akan diteliti (Notoadmodjo,2005:79). Pada penelitian ini populasinya sejumlah 849 orang ibu nifas di Kecamatan Sanawetanpadatahun 2016. Dengan jumlah kunjunganbarudan Menetapkan populasi: Ibu yang mengalami masa nifas di Poli KIA PuskesmasSananwetan Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner Menetapkan sampel: Ibu yang mengalami masa nifas di Poli KIA Puskesmas Sananwetan Kota Blitar pada tahun 2017 Hasil Pengolahan data: Editing, Coding, Skoring, Tabulating, Entri data Analisa data AccidentalSampling
29 lama di Poli KIA Puskesmas Sananwetan dalam satu bulan kira-kira 70 orang ibu nifas. 3.3.2.Sampel Sampeladalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoadmodjo,2005:79). Sampel dalam penelitian ini adalah Ibu Nifas yang berkunjung di Poli KIA Puskesmas Sananwetan Kota Blitar sebanyak 32 responden. Sampel diambil periode minggu ke-1 bulan Juli 2017. 3.3.3. Sampling Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi. Teknik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2011:93).Pada penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik accidental sampling. Pengambilan sampel secara aksidental (accidental) ini dilakukan dengan mengambil kasus atau respon den yang kebetulan ada atau tersedia disuatu tempat sesuai dengan konteks penelitian (Notoatmodjo,2010). Peneliti menemui responden saat berkunjung di poli KIA Puskesmas Kecamatan Sananwetan Kota Blitar.
30 3.4 Variabel penelitian Variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian atau penelitian (Arikunto,2006:118). Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu nifas tentang vitamin A. 3.5 Tempat dan Waktu Pengumpulan Data Penelitian ini dilaksanakan di Poli KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) Puskesmas Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli 2017. Jadwal penelitian selengkapnya terlampir. 3.6 Definisi Operasional Definisi operasional dalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Aziz Alimul,2008:35).
Tabel 3.1 DefinisiOperasional Variabel Definisi Parameter Pengetahuan ibu nifas tentang vitamin A Segala sesuatu yang diketahui ibu nifaspadasaatdiberikuesioner tentang vitamin A Pengetahuan ibu n menjawab pertanya benar tentang : 1. pengertian vitam 2. Manfaat vitamin 3. Dampak kekura A 4. Cara menanggul kekurangan vitami 5. Sumber vitamin 3
32 Skala Alat ukur Skoring nifas dalam aan dengan min A n A ngan vitamin langi n A ibu nifas A Ordinal Kuesioner Ada 15 pertanyaan dengan jawaban Benar :skore 1 Salah :skore0 Kategoripengetahuanjika : Baik : 76%-100% Cukup baik : 56%- 75%dan Kurang baik : ≤ 56% 1