The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

22-06-44-EBOOK-ASUHAN_KEPERAWATAN_GANGGUAN_KESEIMBANGAN_CAIRAN_TUBUH_DEWIRACHMAWATI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2022-11-16 03:14:07

22-06-44-EBOOK-ASUHAN_KEPERAWATAN_GANGGUAN_KESEIMBANGAN_CAIRAN_TUBUH_DEWIRACHMAWATI

22-06-44-EBOOK-ASUHAN_KEPERAWATAN_GANGGUAN_KESEIMBANGAN_CAIRAN_TUBUH_DEWIRACHMAWATI

Petunjuk Jawaban Latihan
Untuk menjawab soal-soal latihan di atas, Anda dapat

mempelajari kembali materi yang membahas tentang: konsep
keseimbangan cairan tubuh

Ringkasan
Keseimbangan cairan merupakan bagian dari kontrol

tubuh untuk mempertahankan homeostasis. Mempertahankan
volume cairan tubuh agar relatif konstan dan komposisinya
stabil penting untuk homeostasis. Homeostasis cairan dapat
dipertahankan oleh tubuh dengan cara mengatur cairan
ekstraselular, yang selanjutnya akan mempengaruhi cairan
intraselular. Cairan tubuh tidak statis. Cairan tubuh dan
elektrolit berpindah dari satu kompartemen ke kompartemen
lain untuk memfasilitasi proses-proses yang terjadi didalam
tubuh. Perpindahan cairan tersebut bergantung pada
permiabilitas membran sel atau kemampuan membran untuk
ditembus cairan dan elektrolit. Secara umum, proses
perpindahan (transportasi) cairan dari satu kompartemen ke
kompartemen lainnya dilakukan dalam enam cara yaitu difusi,
osmosis, filtrasi dan transport aktif.

Mempertahankan volume cairan tubuh agar relatif
konstan dan komposisinya tetap stabil, penting untuk
homestasis. Homeostasis adalah keseimbangan yang dinamis
dari air, elektrolit dan keseimbangan asam basa dalam tubuh.
Homeostasis dipertahankan oleh mekanisme fisiologis yang
mengontrol fungsi tubuh dan memantau organ tubuh. Untuk
sebagian besar mekanisme ini dikontrol oleh sistem saraf dan
endokrin dan tidak mencakup perilaku sadar. Organ yang
terlibat dalam pengaturan cairan tubuh adalah ginjal, kulit,
paru-paru, jantung dan pembuluh darah serta hormon.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan
cairan antara lain usia, jenis kelamin, ukuran tubuh, suhu
lingkungan, gaya hidup dan olah raga. Untuk pengaturan
cairan dalam tubuh dipengaruhi asupan cairan dan
pengeluaran cairan.

41

Tes 2
1. Proses dimana partikel berpindah dari daerah
berkonsentrasi tinggi ke daerah berkonsentrasi rendah,
sehingga distribusi partikel dalam cairan merata atau
melewati membran sel yang permiabel terhadap substansi,
merupakan proses perpindahan cairan yang disebut
a. Difusi
b. Osmosis
c. Transport aktif
d. Filtrasi
e. Kecepatan osmosis

2. Larutan yang mempunyai konsentrasi sama dengan plasma
darah adalah
a. Larutan hipotonik
b. Larutan isotonik
c. Larutan hipertonik
d. Larutan isosmotik
e. Larutan hipermotik

3. Regulator keseimbangan cairan yang berfungsi mengatur
volume cairan dan osmolalitas cairan ekstrasel melalui
retensi dan ekskresi cairan adalah
a. Kulit
b. Ginjal
c. Paru-paru
d. Jantung dan pembuluh darah
e. Hormon

4. Faktor-faktor dibawah ini yang mempengaruhi
keseimbangan cairan antara lain
a. Usia
b. Jenis kelamin dan ukuran tubuh
c. Suhu lingkungan
d. Gaya hidup

42

e. Benar semua

5. Asupan cairan berdasarkan hasil metabolisme oksidasi
makanan sejumlah
a. 1200-1500 ml
b. 1000 ml
c. 200 ml
d. 350-400 ml
e. 100-200 ml

6. Rata-rata produksi urine perhari pada orang dewasa adalah
a. 1400-1500 ml
b. 200 ml
c. 350-400 ml
d. 100 ml
e. 2300-2600 ml

7. Jumlah kehilangan air terus-menerus dan tidak dapat
dirasakan oleh individu melalui evaporasi traktus
respiratorius adalah
a. 1400-1500 ml
b. 200 ml
c. 350-400 ml
d. 100 ml
e. 2300-2600 ml

8. Jumlah kehilangan air melalui keringat adalah
a. 1400-1500 ml
b. 200 ml
c. 350-400 ml
d. 100 ml
e. 2300-2600 ml

9. Jumlah rata-rata output cairan pada orang dewasa adalah
a. 1400-1500 ml
b. 200 ml

43

c. 350-400 ml
d. 100 ml
e. 2300-2600 ml
10. Jumlah rata-rata input cairan pada orang dewasa adalah
a. 1200-1500 ml
b. 1000 ml
c. 2400-2700 ml
d. 350-400 ml
e. 100-200 ml

44

TOPIK 1 KUNCI JAWABAN
1. A
2. B TOPIK 2
3. E 1. A
4. A 2. B
5. E 3. B
4. E
5. C
6. A
7. C
8. D
9. E
10. C

45

GLOSARIUM

1. Cairan ekstraseluler (CES): keseluruhan cairan diluar sel
2. Cairan intraseluler: cairan dalam membran sel, membentuk

40% berat tubuh
3. Cairan transeluler: merupakan cairan yang disekresikan dalam

tubuh terpisah dari plasma oleh lapisan epithelial
4. Difusi: proses dimana molekul (gas/partikel lain) bergerak dari

daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan
rendah
5. Hematokrit: fraksi darah yang terdiri atas sel darah merah,
yang ditentukan melalui sentrifugasi darah dalam tabung
hematokrit sampai sel-sel ini menjadi benar-benar mampat
dibagian bawah tabung.
6. Hipotonik: konsentrasi larutan yang lebih rendah dari plasma
darah
7. Hipertonik: konsentrasi larutan yang lebih besar dari plasma
darah
8. Homeostasis: keseimbangan lingkungan interna tubuh antara
cairan tubuh, elektrolit, asam dan basa dalam tubuh
yang membutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh
9. Filtrasi: merembesnya suatu cairan melalui selaput permiabel
10.Isotonik: suatu larutan yang osmolalitasnya sama dengan
plasma darah
11.Osmolalitas: tekanan larutan osmotik
12.Perfusi gas: jumlah oksigen yang disampaikan ke sel
13.Plasma: bagian darah yang tidak mengandung sel
14.Tekanan hidrostatik: gaya dari tekanan zat cair untuk melawan
tahanan dinding pembuluh darah.
15.Tekanan onkotik: tekanan yang cenderung menjaga cairan tetap
berada di dalam kompartemen intravaskuler
16.Tekanan osmotik: besar tekanan yang dibutuhkan untuk
mencegah osmosis.
17.Transportasi gas: oksigen ditransportasikan dari membran
kapiler alveoli paru ke darah kemudian ke jaringan dan CO2
ditransportasikan dari jaringan ke paru-paru kembali

46

DAFTAR PUSTAKA
1. Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan

Aplikasi Kebutuhan Dasar. Jakarta: Salemba Medika
2. Hall, J.E., Guyton, A.C. 2012. Guyton & Hall Buku Ajar Fisiologi

Kedokteran. Jakarta: EGC
3. Horne, Mima. 2000. Keseimbangan Cairan, Elektrolit dan

Asam-basa. Alih Bahasa: Indah Nurmala Dewi, Monika Ester.
Jakarta: EGC
4. Potter & Perry. 2010. Fundamental Keperawatan Konsep, proses,
dan praktik. Alih bahasa: Renata Komalasari, Jakarta: EGC
5. Snyder & Berman. 2012. Kozier & Erb’s Fundamental of Nursing:
Conceps, Process and Practice. New Jersey: Pearson Education
6. Lynn, Pamela. 2011. Taylor’s Clinical Skills: a Nursing Process
Approach. Lippincott: Williams & Wilkins
7. Tamsuri, Anas. 2008. Klien Gangguan Keseimbangan Cairan &
Elektrolit. Jakarta: EGC

47

BAB KONSEP GANGGUAN
KESEIMBANGAN
2 CAIRAN TUBUH

PENDAHULUAN
Pernahkah Anda mendengar tentang gangguan keseimbangan

cairan tubuh? Apa saja yang termasuk gangguan keseimbangan cairan
tubuh? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka marilah kita
belajar tentang konsep gangguan keseimbangan cairan tubuh.
Orang dewasa yang sehat, aktif bergerak, dan memiliki orientasi
yang baik biasanya dapat mempertahankan keseimbangan cairan
yang normal karena mekanisme adaptif tubuhnya. Namun bayi,
orang dewasa yang menderita penyakit berat, klien dengan
gangguan orientasi atau klien yang tidak mampu bergerak serta
lansia sering kali tidak mampu berespons secara mandiri dan
seiring dengan waktu, kapasitas adaptif tubuh mereka tidak lagi
dapat mempertahankan keseimbangan cairan tanpa adanya
bantuan.

Peran dan kompetensi perawat dalam pemenuhan
kebutuhan cairan pada klien sangat mutlak untuk diperlukan.
Dengan mengetahui konsep gangguan pemenuhan kebutuhan
cairan maka asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan cairan
dapat dilakukan secara benar maka risiko atau dampak akibat
kekurangan atau ketidakakuratan pemenuhan dapat dicegah atau
diatasi secara cepat dan tepat. Untuk itu mari kita pelajari bersama
tentang pentingnya mencegah terjadinya gangguan keseimbangan
cairan.

Dalam bab 2 ini, Anda akan mempelajari tentang konsep
gangguan keseimbangan cairan tubuh yang meliputi gangguan
keseimbangan isotonik dan gangguan keseimbangan osmolar

48

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu
menjelaskan konsep gangguan keseimbangan cairan tubuh yang,
meliputi
1. Mampu menjelaskan pengertian gangguan keseimbangan

cairan tubuh
2. Mampu menjelaskan macam-macam gangguan keseimbangan

cairan tubuh
3. Mampu menjelaskan pengertian gangguan keseimbangan

isotonis
4. Mampu menjelaskan macam-macam gangguan keseimbangan

isotonis dan penatalaksanaannya
5. Mampu menjelaskan pengertian gangguan keseimbangan

osmolar
6. Mampu menjelaskan macam-macam gangguan keseimbangan

osmolar dan penatalaksanaannya

Agar Anda dapat memahami bab ini dengan mudah, maka
bab ini dibagi menjadi dua (2) topik, yaitu:
1. Topik 1

Membahas konsep dasar gangguan keseimbangan isotonis
yang meliputi: pengertian, macam-macam gangguan
keseimbangan isotonis, penyebab, tanda dan gejala dan
penatalaksanaan.
2. Topik 2
Membahas konsep dasar gangguan keseimbangan osmolar
yang meliputi pengertian, macam-macam gangguan
keseimbangan osmolar, penyebab, tanda dan gejala dan
penatalaksanaan.

Untuk memahami materi tersebut, pelajarilah bab ini mulai
dari Topik 1 sampai 2. Pada setiap topik, Anda diharuskan
mengerjakan latihan dan tes formatif. Untuk menilai kemajuan
belajar Anda, sebaiknya Anda tidak melihat kunci jawaban
terlebih dahulu sebelum selesai mengerjakan latihan dan tes
formatif.

49

Waktu untuk menyelesaikan bab ini adalah satu kali
pertemuan. Gunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Anda
dinyatakan berhasil apabila memperoleh nilai ≥ 80 atau 80 % dapat
menyelesaikan pertanyaan atau tugas yang diberikan.
Saya yakin Anda dapat memahami bab ini dengan baik!
Selamat belajar …………… Semoga berhasil!

50

TOPIK 1
KETIDAKSEIMBANGAN CAIRAN ISOTONIS

Sebelum mempelajari tentang ketidakseimbangan isotonis
maka kita harus tahu terlebih dahulu tentang ketidakseimbangan
cairan. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit jarang terjadi
secara tunggal dan dapat mengganggu proses normal tubuh.
Pasien yang mengalami kehilangan cairan tubuh akibat luka
bakar, penyakit atau trauma berisiko mengalami
ketidakseimbangan elektrolit. Gangguan keseimbangan cairan
atau ketidakseimbangan cairan pada prinsipnya ada dua
kelompok dasar yaitu ketidakseimbangan isotonis dan
ketidakseimbangan osmolar. Tentang pengertian masing-masing
ketidakseimbangan cairan lebih jelasnya Anda harus pelajari
uraian materi dibawah ini.

A. Pengertian Ketidakseimbangan Isotonik
Ketidakseimbangan isotonik adalah kekurangan dan

kelebihan isotonik dapat terjadi jika air dan elektronik
diperoleh atau hilang dalam proporsi yang sama. Kadar
elektrolit dalam serum tetap tidak berubah, kecuali terjadi
ketidakseimbangan lain. Klien yang berisiko mengalami
ketidakseimbangan isotonik adalah klien yang mengalami
kehilangan cairan melalui saluran gastrointestinal, misal akibat
muntah, penghisap lambung, diare atau fistula. Bayi dan lansia
(usia lanjut) paling cepat terkena pengaruh akibat kehilangan
cairan dan elektrolit ini. Penyebab lain dapat meliputi
perdarahan, pemberian obat-obat diuretik, keringat yang
banyak, demam dan penurunan asupan per oral.

B. Macam-macam Ketidakseimbangan Isotonik

1. Kekurangan volume cairan (Fluid Volume Deficit)
a. Pengertian
Terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit
ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional atau sama.
Kadar elektrolit dalam serum tetap tidak berubah,
kecuali jika terjadi ketidakseimbangan lain. Kondisi

51

seperti ini disebut juga hipovolemia. Umumnya
gangguan ini diawali dengan kehilangan cairan
intravaskuler lalu diikuti dengan perpindahan cairan
intraseluler menuju intravaskuler sehingga
menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Penipisan
cairan ekstraseluler berat dapat menimbulkan syok
hipovolemia. Mekanisme kompensasi pada hipovolemia
termasuk peningkatan rangsang sistem saraf simpatis
(peningkatan frekuensi jantung, inotropik/konstraksi
jantung dan tahanan vaskuler), rasa haus, pelepasan
hormon antidiuretik dan pelepasan aldosteron.
Hipovolemia lama dapat menimbulkan berkembangnya
gagal ginjal akut.
b. Penyebab

• Kehilangan cairan dari sistem gastrointestinal seperti
diare, muntah atau drainage dari fistula atau selang

• Kehilangan plasma atau darah utuh seperti yang
terjadi pada luka bakar atau perdarahan, keringat
berlebihan dan demam, penurunan asupan cairan per
oral, penggunaan obat-obatan diuretik, perpindahan
cairan ke ruang ketiga, poliuri, bedah mayor yang
melibatkan trauma jaringan luas

c. Patofisiologi
Umumnya, gangguan ini diawali dengan kehilangan
cairan intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan
cairan interseluler menuju intravaskuler sehingga
menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Untuk
untuk mengkompensasi kondisi ini, tubuh melakukan
pemindahan cairan intraseluler. Secara umum,
kekurangan volume cairan disebabkan oleh beberapa
hal, yaitu kehilangan cairan abnormal melalui kulit,
penurunan asupan cairan, perdarahan dan pergerakan
cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah
dan tidak mudah untuk mengembalikanya ke lokasi
semula dalam kondisi cairan ekstraseluler istirahat).
Cairan dapat berpindah dari lokasi intravaskuler menuju
lokasi potensial seperti pleura, peritonium, perikardium,
atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu, seperti

52

terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan,
dapat terjadi akibat obstruksi saluran pencernaan.

d. Tanda dan gejala klinis
• Merasa lemah dan haus terus
• Kehilangan berat badan: hipovolemia ringan 2% BB,
hipovolemia sedang 5% BB, hipovolemia berat 8% BB
• Intake cairan kurang dari output, suhu tubuh
abnormal, hipotensi ortostatik, volume urine <30
ml/kgBB/jam, berat jenis urine meningkat,
hematokrit meningkat, blood urea nitrogen meningkat
• Pemeriksaan fisik: nadi cepat tetapi lemah, kolap
vena, hipotensi, frekuensi nafas cepat, letargi,
oliguria, kulit dan membran mukosa kering, turgor
kulit menurun, CRT>2 detik
• Hasil pengkajian laboratorium: berat jenis urine
>1.025, peningkatan semu hematokrit 50%,
peningkatan semu nitrogen urea darah (BUN) >25
mg/100 ml.

e. Penatalaksanaan
1) Pemberian cairan intravena
Yaitu memasukkan cairan atau obat langsung ke
dalam pembuluh darah vena dalam jumlah dan
waktu tertentu dengan menggunakan infus set.
2) Mengukur intake dan output cairan
Suatu tindakan yang dilakukan untuk mengukur
jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh (intake)
dan jumlah cairan yang keluar dari tubuh (output)
3) Tindakan terhadap penyebab dasar
4) Pemberian transfusi darah
Pemberian darah atau komponen darah melalui vena
sesuai dengan program pengobatan

2. Sindrom Ruang Ketiga
a. Pengertian
Sindrom ruang-ketiga atau rongga potensial adalah
dengan menyebutkan beberapa contoh rongga pleura,

53

rongga perikardium, rongga peritoneal, rongga sinovial
(rongga sendi dan bursa sendi). Sindrom ruang ketiga
terjadi jika cairan terperangkap di dalam suatu ruangan
dan cairan di ruangan tersebut tidak mudah ditukar
dengan cairan ekstrasel. Cairan dalam kapiler yang
berdekatan dengan rongga potensial akan berdifusi tidak
hanya ke dalam cairan interstisial tetapi juga ke dalam
rongga potensial. Klien yang menderita sindrom ruang-
ketiga akan mengalami efek kekurangan volume cairan
ekstrasel. Sindrom ini terjadi ketika cairan ekstrasel
berpindah kedalam suatu ruangan tubuh sehingga cairan
tersebut terperangkap di dalamnya. Akibat murni yang
terjadi adalah kekurangan volume cairan di dalam
ekstrasel. Obstruksi usus yang kecil atau luka bakar
dapat menyebabkan perpindahan cairan sebanyak 5
sampai 10 liter keluar dari ruang ekstrasel. Pada kasus-
kasus berat bisa terjadi pengumpulan cairan pada rongga
abdomen yang disebut asites sebayak 20 liter atau lebih.
b. Penyebab

• Hipertensi portal, obstruksi usus halus, peritonitis,
luka bakar

c. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya sindrom ruang ketiga ada

dua fase yaitu kehilangan dan reabsorpsi kembali. Pasien
yang mengalami sindrom ruang ketiga selama fase
kehilangan cairan akan terjadi kekurangan volume cairan
isotonik. Sedangkan pada fase reabsorpsi maka cairan
akan kembali ke kompartemen intravaskuler. Pada
kondisi ini harus hati-hati karena adanya perpindahan
cairan dari kompartemen intravaskuler ke insterstitial
akan terjadi kehilangan cairan dan beberapa saat
kemudian cairan dapat kembali ke intravaskuler dengan
tiba-tiba sehingga dalam melakukan pengkajian
identifikasi yang terpenting adalah tanda kekurangan
dan kelebihan volume cairan.
d. Tanda dan gejala klinis

• Pemeriksaan fisik: hipotensi, peningkatan lingkar perut
(yang disertai obstruksi usus halus dan asites).

54

• Hasil pemeriksaan laboratorium: natrium serum
menurun <135mEq/L dan albumin menurun <3,5
g/100 ml (hilang dalam cairan yang terperangkap).

3. Kelebihan volume cairan (Fluid Volume Excess)
a. Pengertian
Terjadi saat tubuh mempertahankan air dan natrium
dalam proporsi normal ekstraseluler atau isotonik
sehingga menyebabkan hipervolemia tanpa disertai
perubahan kadar elektrolit serum. Disebut juga
hipervolemia atau peningkatan volume cairan. Kelebihan
volume cairan mengacu pada perluasan isotonik dari
cairan ekstraseluler yang disebabkan oleh retensi air dan
natrium yang abnormal dalam proporsi yang kurang
lebih sama dimana secara normal berada dalam cairan
ekstraseluler. Hal ini selalu terjadi sesudah ada
peningkatan kandungan natrium tubuh total, yang pada
akhirnya menyebabkan peningkatan air tubuh total.
b. Penyebab

• Pemberian infus yang mengandung natrium dengan
cepat dan berlebih

• Banyak makan makanan yang mengandung natrium
atau asupan natrium yang berlebihan

• Gangguan mekanisme seperti kegagalan jantung,
ginjal, sirosis dan syndrome cushing

• Peningkatan kadar aldosteron dan steroid di dalam
serum

c. Patofisiologi
Hipervolemia adalah penambahan/kelebihan

volume CES, dapat terjadi pada saat stimulasi kronis
ginjal untuk menahan natrium dan air, fungsi ginjal
abnormal dengan penurunan ekskresi natrium dan air,
kelebihan pemberian cairan, dan perpindahan cairan dari
interstisial ke plasma. Dapat terjadi juga saat air dan
natrium dipertahankan dalam proporsi isotonik sehingga
menyebabkan hipervolemia tanpa disertai perubahan
kadar elektrolit serum. Peningkatan volume cairan
menyebabkan rangkaian kejadian berikut:

55

• Kelebihan muatan sirkulasi
• Peningkatan kontraktilitas jantung dan tekanan arteri

rata-rata
• Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler
• Perpindahan cairan ke dalam ruang interstisial
• Edema

Kenaikan tekanan arteri rata-rata akan
menghambat sekresi hormon antidiuretik dan aldosteron
sehingga terjadi peningkatan eliminasi natrium dan air
melalui urine dengan mekanisme kompensasi ini
biasanya mengembalikan volume intravaskuler yang
normal. Apabila keadaan hipervolemia berat atau
berlangsung lama atau apabila pasien memiliki riwayat
disfungsi kardiovaskular, mekanisme kompensasi
tersebut mungkin tidak dapat bekerja dengan baik
sehingga akan terjadi gagal jantung dan edema
paru.
d. Tanda dan Gejala Klinis
• Berat badan meningkat: hipervolemia ringan BB

meningkat 2%, hipervolemia sedang BB meningkat
5%, hipervolemia berat BB meningkat 8%
• Intake cairan lebih banyak daripada output
• Mental konfusi
• Pemeriksaan fisik: denyut nadi meningkat,
pernafasan cepat, hipertensi distensi vena jugularis,
CVP >11 cmH2O, peningkatan tekanan vena, suara
krekels di paru-paru (sesak nafas), edema perifer.
• Pemeriksaan laboratorium: penurunan semu BUN
<10 mg/100 ml
e. Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah mengatasi masalah pencetus dan
mengembalikan cairan ekstraseluler pada normal.
Tindakan dapat berupa hal berikut adalah pembatasan
natrium dan air, diuretik, dialisis atau hemofiltrasi
arteriovena kontinu pada gagal ginjal atau kelebihan
beban cairan yang mengancam hidup.

56

1) Diet pembatasan cairan. Pengobatan kelebihan
volume cairan biasanya mencakup pembatasan
natrium pada diet. Diet harian rata-rata yang tidak
dibatasi natrium mengandung 6-15 gram garam,
sedangkan diet rendah natrium rentangnya dapat
dimulai dari pembatasan ringan sampai serendah 250
mg natrium per hari, bergantung kebutuhan pasien.
Diet pembatasan natrium ringan memperbolehkan
sedikit penggaraman makanan (sekitar setengah
jumlah biasa) dalam memasak dan di meja makan,
dan tidak ada penambahan garam pada makan yang
dipersiapkan secara komersial yang sebelumnya

2) Diuretik. Diuretik di resepkan jika pembatasan diet
natrium saja tidak cukup untuk mengurangi edema
dengan mencegah reabsorpsi natrium dan air oleh
ginjal. Pilihan diuretik didasarkan pada keparahan
keadaan hipervolemik, tingkat kerusakan fungsi
renal, dan kepatenan diuretik. Umumnya, diuretik
golongan tiasid diresepkan untuk hipervolemia
ringan sampai sedang, hipervolemia berat.

4. Edema
a. Definisi
Edema adalah penimbunan cairan berlebihan di
antara sel-sel tubuh atau di dalam berbagai rongga
tubuh. Edema juga didefinisikan sebagai kelebihan
volume cairan di interstitial atau terdapatnya cairan
dalam jumlah banyak yang abnormal didalam ruang
jaringan ekstraseluler tubuh. Biasanya untuk
menggambarkan akumulasi cairan yang berlebihan di
dalam ruang interstitial disebut juga sebagai efusi, asites.
Pada sebagian besar keadaan, edema terutama terjadi
pada kompartemen cairan ekstrasel tetapi dapat juga
melibatkan kompartemen cairan intrasel. Penamaan
penimbunan cairan ini bergantung pada lokasi di mana
edema itu terjadi. Edema dapat terjadi lokal maupun

57

umum, edema lokal disebut pitting edema sedangkan
edema sistemik disebut edema anasarka.
b. Etiologi

Penyakit menyebabkan edema setempat atau
umum diantaranya diklasifikasikan berdasarkan
mekanisme patologisnya yaitu

1) Edema intrasel

Dua kondisi yang memudahkan terjadinya

pembengkakan intrasel yaitu depresi sistem

metabolisme jaringan, tidak adanya nutrisi sel yang

adekuat. Contohnya bila aliran darah ke jaringan

menurun, pengiriman oksigen dan nutrisi berkurang

sehingga ion natrium yang biasanya masuk ke dalam

sel tidak dapat lagi dipompa keluar sel dan

menimbulkan osmosis air ke dalam sel.

2) Edema ekstrasel

Edema ekstrasel terjadi bila ada akumulasi

cairan yang berlebihan dalam ruang ekstrasel. Ada

dua penyebab utama edema ekstrasel yang dijumpai

yaitu kebocoran abnormal cairan dari plasma ke

ruang interstisial dengan melintasi kapiler, kegagalan

sistem limfatik untuk mengembalikan cairan dari

interstisium ke dalam darah. Dibawah ini adalah

berbagai kondisi yang dapat menyebabkan edema

ekstrasel:

• Peningkatan permiabilitas kapiler

Retensi garam dan air yang berlebihan di ginjal

(gagal ginjal akut/kronik, kelebihan

mineralokortikoid), tekanan vena yang tinggi pada

kondisi gagal jantung, penurunan resistensi

arteriol (panas tubuh yang berlebihan, insufisiensi

sistem saraf simpatis dan obat-obatan vasodilator).

• Penurunan tekanan onkotik (hipoproteinemia)

Kehilangan protein dalam urine (nefrotik

sindrom), kehilangan protein dari kulit yang

58

terkelupas (luka bakar dan luka), kegagalan
menghasilkan protein (penyakit hati seperti
serosis, hepatitis, fibrosis kongenital)
• Peningkatan tekanan hidrostatik
Hipertensi vena (CHF, thrombosis vena, efusi
pericard), peningkatan cairan vaskuler (cairan
intravena berlebihan, steroid yang menahan
garam)
• Gangguan drainase limfatik
Gangguan herediter, gangguan kongenital, infeksi
protozoa, trauma, tumor, kehamilan, filariasis.
c. Klasifikasi
Klasifikasi edema ada dua yaitu
• Edema lokal
Penyebab tersering edema lokal pada anak-anak
adalah reaksi alegi, selain itu juga edema
angioneurotik herediter (edema subkutan lokal pada
seluruh bagian tubuh dengan serangan kram
abdomen berat serta muntah karena edema pada
dinding usus) dan limfedema (edema pitting yang
difus dan menetap akibat obstruksi drainase limfe di
suatu daerah biasanya ekstremitas).

Sumber: Synder & Berman (2012)
Gambar 1. Evaluasi edema. A. Palpasi edema pada
daerah tibia, medial malleolus dan dorsum kaki. B.

Skala derajat edema

59

• Edema sistemik
Biasanya sekunder akibat dari gagal jantung,
peningkatan kehilangan protein, atau penurunan
produksi protein.

d. Patofisiologi
Edema diakibatkan oleh peningkatan tenaga yang
memindahkan cairan dari intravaskuler ke interstitial.
Perpindahan cairan secara normal, menurut hukum
Starling, diatur oleh tekanan hidrostatik dan tekanan
osmotik di dalam dan di luar vaskuler. Besarnya tekanan
hidrostatik pada ujung arteriol sekitar 35 mmHg,
sedangkan pada ujung venula sekitar 12-15 mmHg.
Tekanan osmotik koloid plasma sebesar 20-25 mmHg.
Keseimbangan gaya Starling di antara plasma dan
interstisial secara normal membantu filtrasi cairan dari
lumen kapiler ke dalam ruang interstisial. Cairan ini
kemudian dikembalikan ke dalam sirkulasi melalui
duktus toraksikus. Edema terjadi karena laju filtrasi
cairan dari kapiler meningkat melebihi kapasitas limfatik
untuk mengangkutnya atau ketika terjadi gangguan
fungsi limfatik. Peningkatan gradien tekanan hidrostatik
atau penurunan gradien tekanan onkotik disepanjang
dinding kapiler membantu pembentukan edema. Jadi
secara jelas patogenesanya adalah: tekanan hidrostatik
darah meningkat, tekanan osmotik darah menurun,
tekanan osmotik cairan interstitial meningkat dan
penurunan permiabilitas kapiler

e. Manifestasi Klinis
Manifestasi edema awalnya tidak terlihat, secara khas
akan terlihat: edema pada kelopak mata (periorbital),
edema pada skrotum atau libia, edema sakral,
penambahan berat badan, edema pretibia atau
pergelangan kaki

f. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk edema adalah
• Tindakan terhadap masalah utama
• Mobilisasi edema (dengan tirah baring)
• Pembatasan diet natrium dan cairan

60

• Terapi diuretik
• Parasentesis abdomen (untuk asites berat).

C. Pemeriksaan untuk Mengevaluasi Status Cairan
1. Osmolalitas serum
Untuk mengukur konsentrasi zat terlarut dari darah.
Dipengaruhi oleh kehilangan air bebas, diabetes insipidus,
kelebihan beban natrium, hiperglikemia, diuretik, gagal
ginjal dan kehilangan cairan isotonik. Normal osmolalitas
serum adalah 280-300 mOsm/kg

2. Hematokrit
Mengukur volume (persentase) dari darah lengkap yang
terdiri atas sel darah merah (SDM). Karena hematokrit
mengukur persentase sel-sel dalam hubungannya dengan
plasma maka hematokrit akan dipengaruhi oleh perubahan
pada volume plasma. Jadi hematokrit meningkat pada
dehidrasi dan menurun pada kelebihan hidrasi. Nilai
normalnya 40-45% (pria) dan 37-47% (wanita).

3. Nitrogen urea
Dihasilkan oleh tubuh sebagai produk metabolisme protein
hepatik. Cara utama pembuangannya dari tubuh adalah
ekskresi oleh ginjal. Faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi nitrogen urea adalah penurunan fungsi ginjal,
masukan protein yang berlebihan, perdarahan
gastrointestinal, peningkatan katabolisme jaringan,
dehidrasi, diet rendah protein, penyakit hati berat dan
kelebihan volume cairan. Nilai normal nitrogen urea adalah
6-20 mg/dl.

4. Osmolalitas urine
Untuk mengukur konsentrasi zat terlarut dari urine. Faktor-
faktor yang mempengaruhi osmolalitas urine adalah defisit
volume cairan, SIADH, kelebihan volume cairan, diabetes

61

insipidus. Rentang fisiologi kira-kira 50-1400 mOsm/kg,
spesimen 24 jam khususnya kira-kira 300-900 mOsm/kg.

5. Berat jenis urine
Mengukur berat larutan dalam hubungannya dengan air
(air=1000). Berat jenis urine mengevaluasi kemampuan
ginjal untuk menyimpan atau mengekskresikan air. Rentang
fisiologi: 1.001-1.040; spesimen acak dengan masukan
normal kira-kira 1.010-1.020.

Tabel 4. Hubungan Osmolalitas terhadap Berat Jenis

Osmoalitas Berat Jenis

350 mOsm/kg 1.010

700 mOsm/kg 1.020

1050 mOsm/kg 1.030

1400 mOsm/kg 1.040 (maksimum fisiologi

untuk konsentrasi urine)

6. Natrium urine
Kadar natrium urine bervariasi dengan masukan natrium
(peningkatan masukan mengakibatkan peningkatan
ekskresi) dan status volume. Kadar dapat diukur dari
spesimen 24 jam atau spesimen acak. Nilai normal berkisar
dari 50-130 mEq/L.

Latihan
1. Apakah pengertian ketidakseimbangan isotonik?
2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam ketidakseimbangan
isotonik?
3. Sebutkan penyebab terjadinya seseorang mengalami
kekurangan volume cairan?
4. Sebutkan tanda dan gejala seseorang mengalami kelebihan
volume cairan?

62

5. Sebutkan pemeriksaan penunjang untuk mengevaluasi
status cairan?

6. Sebutkan nilai normal osmolalitas serum?
7. Jelaskan patofisiologi terjadinya edema!
8. Apakah manfaat mengetahui nilai hematokrit pada

seseorang yang mengalami gangguan kebutuhan cairan dan
berapakah nilai normalnya?

Petunjuk Jawaban Latihan
Untuk menjawab soal-soal latihan di atas, Anda dapat
mempelajari kembali materi yang membahas tentang: konsep
gangguan keseimbangan cairan.

Ringkasan
Ketidakseimbangan hipovolemia adalah kekurangan dan

kelebihan yang dapat terjadi jika air dan elektrolit diperoleh atau
hilang dalam proporsi yang sama. Kadar elektrolit dalam serum
tetap tidak berubah, kecuali terjadi ketidakseimbangan lain. Ada
empat macam ketidakseimbangan isotonik yaitu kekurangan
volume cairan, sindrom ruang ketiga, kelebihan volume cairan dan
edema.

Sedangkan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui
status cairan antara lain osmolalitas serum (untuk mengukur
konsentrasi zat terlarut dari darah), hematokrit (mengukur volume
(persentase) dari darah lengkap yang terdiri atas sel darah merah),
nitrogen urea (dihasilkan oleh tubuh sebagai produk metabolisme
protein hati), osmolalitas urine (untuk mengukur konsentrasi zat
terlarut dari urine), berat jenis urine (mengukur berat larutan
dalam hubungannya dengan air), natrium urine (kadar natrium
urine bervariasi dengan masukan natrium dimana peningkatan
masukan mengakibatkan peningkatan ekskresi dan status volume.

Tes 1
1. Ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit ekstraseluler

dalam jumlah yang proporsional atau sama disebut
a. Kekurangan volume cairan

63

b. Edema
c. Kelebihan volume cairan
d. Sindrom ruang ketiga
e. Overhidrasi
2. Tanda dan gejala dibawah ini yang termasuk dalam tanda dan
gejala kekurangan volume cairan adalah
a. Tubuh terasa lemah dan haus
b. Suhu tubuh abnormal
c. Hipotensi ortostatik
d. Hematokrit meningkat
e. Benar semua
3. Seseorang yang mengalami kekurangan volume cairan pada
pemeriksaan fisik akan ditemukan tanda
a. Nadi cepat tetapi lemah
b. CRT lebih dari 2 detik
c. Hipotensi
d. Frekuensi pernafasan cepat
e. Benar semua
4. Penemuan laboratorium pada pasien yang mengalami sindrom
ruang ketiga akan ditemukan
a. Blood urea nitrogen <10 mg/100ml
b. Osmolalitas serum 280-300 mOsm/kg
c. Hematokrit 40-45%
d. Natrium urine 50-130 mEq/L
e. Albumin <3,5 g/100 ml
5. Penyebab seseorang mengalami kelebihan volume cairan
adalah
a. Pemberian infus yang mengandung natrium dengan cepat
b. Pemberian infus yang berlebih
c. Asupan natrium yang berlebihan
d. Gangguan mekanisme seperti gagal jantung
e. Benar semua
6. Seseorang dikatakan mengalami kelebihan volume cairan
apabila ditemukan tanda dan gejala klinis dibawah ini yang
benar adalah
a. Berat badan meningkat 5%

64

b. Denyut nadi meningkat
c. Frekuensi pernafasan meningkat
d. Distensi vena jugularis
e. Benar semua
7. Penimbunan cairan berlebihan di antara sel-sel tubuh atau di
dalam berbagai rongga tubuh disebut
a. Kekurangan volume cairan
b. Edema
c. Kelebihan volume cairan
d. Sindrom ruang ketiga
e. Diare
8. Proses terjadinya edema ekstrasel yang benar dibawah ini
adalah
a. Peningkatan permiabilitas kapiler
b. Penurunan tekanan onkotik
c. Peningkatan tekanan hidrostatik
d. Gangguan drainase limfatik
e. Benar semua
9. Nilai normal osmolalitas serum tubuh manusia adalah
a. 280-300 mOsm/kg
b. 230 mOsm/kg
c. 250-270 mOsm/kg
d. 300-350 mOsm/kg
e. 300-900 mOsm/kg
10. Nilai normal hematokrit untuk pasien laki-laki adalah
a. 40-45%
b. 37-47%
c. 35-40 %
d. 47-55%
e. 48-57%

65

TOPIK 2
KETIDAKSEIMBANGAN OSMOLAR

Sekarang Anda memasuki Topik 2, pelajarilah baik-baik
bahasan tentang konsep ketidakseimbangan osmolar berikut ini!

A. Pengertian Ketidakseimbangan Osmolar

Merupakan kehilangan atau kelebihan air saja

sehingga konsentrasi (osmolilitas) serum dipengaruhi.

Ketidakseimbangan osmolar terjadi ketika kehilangan cairan

tidak diimbangi dengan perubahan kadar elektrolit dalam

proporsi yang seimbang sehingga menyebabkan perubahan

pada konsentrasi dan osmolalitas serum. Ketidakseimbangan

ini ada dua macam yaitu dehidrasi (hyperosmolar akibat

kehilangan air berlebihan) dan overhidrasi (kelebihan air)

B. Macam-macam Ketidakseimbangan Osmolar

1. Dehidrasi

a. Definisi

Dehidrasi adalah kehilangan cairan dari jaringan

tubuh yang berlebihan. Dehidrasi juga didefinisikan

suatu keadaan penurunan total air di dalam tubuh

karena hilangnya cairan secara patologis, asupan air

tidak adekuat, atau kombinasi keduanya. Dehidrasi

terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada

jumlah yang masuk, dan kehilangan cairan ini juga

disertai dengan hilangnya elektrolit. Dehidrasi juga

merupakan ketidakseimbangan hipovolemia

(hyperosmolar imbalance), terjadi akibat kehilangan cairan

yang tidak diimbangi dengan kehilangan elektrolit

dalam jumlah proporsional, terutama natrium.

Kehilangan cairan (air) menyebabkan peningkatan kadar

natrium, peningkatan osmolalitas, serta dehidrasi

intraseluler.

Pada dehidrasi terjadi keseimbangan negatif cairan

tubuh akibat penurunan asupan cairan dan

meningkatnya jumlah air yang keluar (lewat ginjal,

66

saluran cerna atau insensible water loss/IWL), atau karena
adanya perpindahan cairan dalam tubuh. Berkurangnya
volume total cairan tubuh menyebabkan penurunan
volume cairan intrasel dan ekstrasel. Manifestasi klinis
dehidrasi erat kaitannya dengan deplesi volume cairan
intravaskuler. Proses dehidrasi yang berkelanjutan dapat
menimbulkan syok hipovolemia yang akan
menyebabkan gagal organ dan kematian.
b. Etiologi

Mencari penyebab dehidrasi merupakan hal penting.
Asupan cairan yang buruk, airan keluar berlebihan,
peningkatan insensible water loss (IWL), atau kombinasi hal
tersebut dapat menjadi penyebab deplesi volume
intravaskuler. Beberapa etiologi dari dehidrasi antara lain:
1) Dehidrasi dapat disebabkan oleh kehilangan air yang

tidak disadari pada kulit dan saluran pernafasan,
peningkatan ekskresi cairan pada ginjal dan
gastrointestinal (GI), atau penurunan asupan cairan.
2) Kemungkinan penyebab dehidrasi antara lain :
• Muntah dan diare yang berlebihan (penyebab paling

sering)
• Stomatitis dan faringitis (dapat membatasi asupan

makanan lewat mulut)
• Ketoasidosis diabetik (menyebabkan terjadinya

diuresis osmotik, berat badan turun akibat kehilangan
cairan dan katabolisme jaringan)
3) Luka bakar berat
4) Demam tinggi berkepanjangan (dapat meningkatkan
IWL dan menurunkan nafsu makan)
5) Heat stroke, obstruksi saluran cerna, diabetes insipidus
c. Derajat Dehidrasi
Derajat dehidrasi berdasarkan kehilangan BB digolongkan
menjadi:
1) Dehidrasi ringan

67

Dicirikan dengan kehilangan 5 % dari berat badan
sebelum sakit dengan perhitungan rata-rata 2,5 %,
diberikan cairan 25% ml/kg BB.
2) Dehidrasi sedang

Dicirikan dengan kehilangan 5% sampai 10% dari berat
badan sebelum sakit dengan perhitungan rata-rata 7,5%,
berarti dibutuhkan cairan pengganti 75ml/kg BB.
3) Dehidrasi berat

Dicirikan dengan kehilangan lebih dari 10% berat badan
sebelum sakit dengan perhitungan rata-rata 12,5% dan
harus diberi cairan pengganti 1255ml/kg BB.

Tabel 5. Derajat dehidrasi berdasarkan persentase

kehilangan air dari berat badan

Derajat Dehidrasi Dewasa Bayi dan

Anak

Dehidrasi ringan 4% dari BB 5% dari BB

Dehidrasi sedang 6% dari BB 10% dari BB

Dehidrasi berat 8% dari BB 15% dari BB

Tabel 6. Derajat dehidrasi berdasarkan skor WHO

Komponen Skor

yang dinilai A B C

Keadaan Sehat Gelisah, Mengigau,

Umum cengeng, apatis koma atau

ngantuk syok.

Mata Biasa Cekung Sangat cekung

Turgor Baik Kurang Jelek

Mulut Biasa Kering Sangat kering

Kriteria:

<2 tanda di kolom B dan C: tanpa dehidrasi

>2 tanda di kolom B : dehidrasi ringan-sedang

≥2 tanda di kolom C : dehidrasi berat

68

Tabel 7. Tanda klinis dehidrasi

Ringan Sedang Berat
>10%
Defisit cairan 3-5% 6-8% Takikardia
Nadi tidak
Hemodinamik Takikardia Takikardia teraba, akral
dingin,
Nadi lemah Nadi sangat sianosis

lemah Atonia
Turgor
Volume kolaps buruk

Hipotensi oliguria
Koma
ortostatik

Jaringan Lidah Lidah keriput

kering Turgor kurang

Turgor

turun

Urin Pekat Jumlah turun

SPP Mengantuk Apatis

Menentukan derajat dehidrasi berdasarkan Berat Jenis
Plasma (BJ Normal 1.025)

• Dehidrasi berat, BJ Plama 1.032-1.040
• Dehidrasi sedang, BJ Plasma 1.028-1.032
• Dehidrasi ringan, BJ Plasma 1.025-1.028
d. Patofisiologi
Terdapat tiga tipe dehidrasi yaitu:
1) Dehidrasi isotonis

• Tipe ini paling sering (80%) dihubungkan dengan
diare pada bayi

• Dicirikan dengan defisit air dan elektrolit (natrium)
yang terjadi dalam proporsi seimbang biasanya tidak
mengakibatkan cairan ekstrasel berpindah ke dalam
ruang intraseluler (natrium serum 135-145 mmol/L
dan osmolaritas 275-295 mOsm/L)

2) Dehidrasi hipertonik (hipernatremia)
• Dicirikan dengan kehilangan cairan melebihi
kehilangan elektrolit.
• Natrium serum >145 mmol/L dan peningkatan
osmolalitas efektif serum >295 mOsm/L.

69

• Karena kadar natrium serum tinggi, terjadi
pergeseran air dari ruang ekstravaskuler ke ruang
intravaskuler.

• Secara klinis kulit kering, anak rewel dengan tangis
nada tinggi dan lidah kering

• Terjadi pada sekitar 20% kasus dehidrasi akibat diare
berat pada bayi

3) Dehidrasi hipotonik (hiponatremia)

• Dicirikan dengan kehilangan sejumlah elektrolit
(natrium) lebih banyak daripada air (natrium
serum<135mmol/L dan osmolalitas efektif serum
<270 mOsml/L )

• Natrium rendah sehingga cairan intravaskuler
berpindah ke ruang ekstravaskuler, sehingga terjadi
deplesi cairan intravaskuler.

• Peningkatan cairan intraseluler akan menyebabkan
peningkatan volume dalam otak dan kadang-kadang
terjadi kejang.

• Terjadi pada 10% kasus pada bayi adalah dehidrasi
berat

e. Manifestasi klinis
Tanda-tanda yang muncul pada penderita dehidrasi antara
lain: haus, keletihan, penurunan berat badan, membran
mukosa kering, penurunan atau hilangnya produksi air
mata, turgor kulit tidak elastik dan waktu pengisian kembali
(capillary refill) kapiler meningkat, mata cekung, depresi
fontanel, penurunan haluaran urine, takikardia,
takipnea, penurunan tekanan darah dan koma.
Hasil pemeriksaan laboratorium: natrium serum meningkat
>145 mEq/L dan osmolalitas serum meningkat 295
mOsm/kg

f. Pemeriksaan Diagnostik
1) Urinalisis
Menunjukkan konsentrasi urine yang terkonsentrasi
dengan berat jenis tinggi (>1.030) dan osmolaritas tinggi

2) Hitung darah lengkap

70

Akan menunjukkan peningkatan hematokrit
3) Kimia darah

Peningkatan kadar BUN dan kreatinin
4) Pemeriksaan elektrolit

Menunjukkan penurunan konsentrasi natrium urine dan
perubahan nilai elektrolit serum (missal: Na+, K+, Cl-)
5) Gas darah arteri
Menunjukkan nilai pH serum yang rendah (jika anak
dalam keadaan asidosis)
g. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dehidrasi adalah:
1) Dapatkan data berat badan yang akurat sebelum sakit
dan pantau perubahan berat badan, yang
mengidentifikasikan peningkatan dan penurunan cairan
2) Pantau dan catat asupan serta haluaran cairan dengan
akurat.
3) Berikan cairan intravena (IV). Penggantian dengan cairan
IV dibutuhkan ketika anak tidak mampu memenuhi
kebutuhan cairan yang hilang setiap harinya. Mengganti
kekurangan cairan atau mengganti kehilangan cairan
yang sedang terjadi.
• Penggantian awal terdiri dari bolus larutan elektrolit

isotonik yang diberikan rata-rata 20 samapi 30
mL/kg. fase ini dikontraindikasikan pada dehidrasi
hipertonik yang menyebabkan resiko intoksikasi
cairan.
• Terapi lanjutan bertujuan untuk menggantikan
kehilangan cairan dan elektrolit. Larutan yang dipilih
biasanya adalah larutan NS dengan dekstrose 5%.
Pemilihan cairan didasarkan pada dugaan jenis dan
penyebab dehidrasi

• Natrium bikarbonat dapat ditambahkan ke dalam
larutan IV untuk mengoreksi asidosis. Kalium tidak
ditambahkan ke dalam jalur IV sampai fungsi ginjal
membaik (anak berkemih)

71

• Pantau terapi rehidrasi IV dan periksa area IV dengan
sering

• Ajarkan orang tua cara untuk mengatur posisi,
memindahkan dan merawat anak yang diberikan
terapi IV.

4) Berikan terapi rehidrasi oral (oral rehydration therapy) dan
cairan lain, sesuai indikasi untuk mengoreksi
keseimbangan cairan. Tawarkan pemberian cairan oral
dalam jumlah sedikit (30-60 CC setiap jam).

5) Tunda sementara pemberian diet penuh sampai status
hidrasi anak membaik dan masalah penyebab sudah
dapat diatasi.

6) Secara bertahap, perkenalkan kembali anak dengan diet
biasa sesuai indikasi, dan pantau respon anak.

Tabel 8. Komposisi Cairan Pengganti Intravena

Larutan IV Energi Na+ K+ Cl-

(kkal/L) (mmol/L) (mmol/L) (mmol/L)

NaCl 0,9% - 150 - 150

dengan 200 150 - 150

Dextrose 5%
NaCl 0,45% - 75 - 75

dengan 200 75 - 75

Dextrose 5%

NaCl 0,18%

dengan 160 30 - 30

Dextrose 4%

NaCl 0,9% - 150 20 170
dan KCl
0,15%

NaCl 0,18%

dan KCl 160 30 20 50

0,15% dan

Dextrose 4%

Dextrose 10% 400 - - -

Keterangan:

• Satu ml injeksi NaCl 30% (3 g/10ml) mengandung 5 mmol
Na+ dan 5 mmol Cl-

72

• Satu ml injeksi KCl BP kuat (1,5 g/10ml) mengandung 2
mmol Na+ dan 2 mmol Cl-

• Satu ml injeksi Na Bicarbonat 8,4% mengandung 1 mmol
Na+ dan 1 mmol Cl-

• Satu ml injeksi Ca Glukonat 10% BP mengandung 0,225
mmol Ca2+

2. Overhidrasi (Kelebihan air)
a. Definisi
Terjadi ketika asupan cairan berlebihan (polidipsi
psikogenik) atau sekresi anti diuretik hormon
berlebihan. Kelebihan air dalam tubuh menyebabkan
konsentrasi natrium dalam aliran darah menjadi sangat
kecil. Minum air dalam jumlah sangat banyak biasanya
tidak menyebabkan overhidrasi jika kelenjar hipofisis,
ginjal dan jantung berfungsi secara normal. Efek
keseluruhannya adalah dilusi (pengenceran) volume
cairan ekstrasel disertai osmosis air ke dalam sel. Sel-sel
otak sangat sensitif dan proses ini dapat menyebabkan
edema serebral atau pembengkakan otak, yang dapat
menyebabkan penurunan level kesadaran, koma dan
bahkan kematian. Minum banyak air memang sangat
dianjurkan untuk kesehatan. Tetapi jika berlebihan bisa
sangat berbahaya dan menimbulkan efek buruk bagi
tubuh bahkan bisa menyebabkan kematian.

b. Etiologi
1) SIADH
Terjadi ketika sekresi antidiuretik hormon
meningkat sehingga reabsorbsi air ditubulus ginjal
meningkat sehingga total body water meningkat
mengakibatkan osmolaritas serum menurun dan
hiponatremia. Penyebab terjadinya SIADH antara lain
cedera kepala, infeksi otak (meningitis, abses otak,
HIV, pneumonia), stroke, aneurisma otak, keganasan,
insufisiensi kelenjar adrenal, nyeri, stress dan
penggunaan obat-obatan. Tanda dan gejala klinis
yang terlihat antara lain nyeri abdomen, mual,

73

muntah, diare, anoreksia, perubahan tingkat
kesadaran, disorientasi/konfusi, penurunan reflek
tendon, letargi, headache, kejang dan koma
2) Asupan air berlebihan
Terlalu banyak air yang masuk menyebabkan
konsentrasi elektrolit dalam tubuh terlalu encer.
Elektrolit yang utama adalah natrium, jika
konsentrasi natrium dalam darah menjadi terlalu
encer, maka akan berakibat fatal atau sangat serius
bagi kesehatan.
c. Tanda dan gejala klinis
• Overhidrasi ringan gejala yang terlihat mual dan
muntah
• Overhidrasi sedang gejala yang terlihat sakit kepala,
perut terasa penuh atau begah, kaki dan tangan serta
jari-jari bengkak
• Overhidrasi berat gejala yang terlihat kejang,
disorientasi, hilang kesadaran, koma bahkan jika
tidak ditangani dapat terjadi kematian
• Pemeriksaan fisik: level kesadaran menurun,
konvulsi, koma
• Hasil pemeriksaan laboratorium: kadar natrium
serum menurun <136 mEq/L dan osmolalitas serum
menurun <280 mOsm/kg
d. Penatalaksanaan
• Perut terasa mual, penuh dan kembung. Kondisi ini
disebabkan karena terlalu banyak jumlah air yang ada
didalam tubuh
• Kepala pusing dan bengkak pada kaki. Bila kondisi
ini tidak cepat ditangani akan menyebabkan
seseorang tak sadarkan diri. Bahkan, bisa
menyebabkan koma dan meninggal dunia
• Untuk mengatasi overhidrasi ringan, sebaiknya batasi
asupan minum dan cobalah mengonsumsi makanan
ringan yang asin

74

Latihan
1. Apakah ketidakseimbangan osmolar?
2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam ketidakseimbangan
osmolar?
3. Sebutkan penyebab seseorang mengalami dehidrasi?
4. Sebutkan dan jelaskan derajat dehidrasi berdasarkan
kehilangan berat badan?
5. Sebutkan dan jelaskan derajat dehidrasi berdasarkan tanda
dan gejala klinis?
6. Sebutkan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi
seseorang mengalami dehidrasi?
7. Sebutkan urutan penatalaksanaan dehidrasi
8. Apakah yang dimaksud dengan overhidrasi?
9. Sebutkan penyebab seseorang mengalami overhidrasi?
10. Sebutkan tanda dan gelaja klinis seseorang mengalami
overhidrasi

Petunjuk Jawaban Latihan
Untuk menjawab soal-soal latihan di atas, Anda dapat

mempelajari kembali materi yang membahas tentang: konsep
gangguan keseimbangan cairan.

Ringkasan
Ketidakseimbangan osmolar terjadi ketika kehilangan

cairan tidak diimbangi dengan perubahan kadar elektrolit
dalam proporsi yang seimbang sehingga menyebabkan
perubahan pada konsentrasi dan osmolalitas serum.
Ketidakseimbangan ini ada dua macam yaitu dehidrasi
(hyperosmolar akibat kehilangan air berlebihan) dan overhidrasi
(kelebihan air).

Dehidrasi adalah kehilangan cairan dari jaringan dari
jaringan tubuh yang berlebihan. Penyebab seseorang
mengalami dehidrasi antara lain kehilangan air yang tidak
disadari pada kulit dan saluran pernafasan, penurunan asupan
cairan, muntah dan diare yang berlebihan, stomatitis dan
faringitis, ketoasidosis diabetik, luka bakar berat. Derajat

75

dehidrasi berdasarkan kehilangan BB digolongkan menjadi
dehidrasi ringan, sedang dan berat.

Tanda-tanda yang muncul pada penderita dehidrasi
antara lain: haus, keletihan, penurunan berat badan, membran
mukosa kering, penurunan atau hilangnya produksi air mata,
turgor kulit tidak elastik dan waktu pengisian kembali (capillary
refill) kapiler meningkat, mata cekung, depresi fontanel,
penurunan haluaran urine, takikardia, takipnea, penurunan
tekanan darah dan koma.

Pemeriksaan diagnostik untuk mendeteksi dehidrasi
antara lain urinalisis, hitung darah lengkap, kimia darah
dan pemeriksaan elektrolit. Overhidrasi terjadi ketika asupan
cairan berlebihan (polidipsi psikogenik) atau sekresi anti
diuretik hormon berlebihan disebabkan SIADH, asupan air
yang berlebihan dengan gejala level kesadaran menurun,
konvulsi, koma.

Tes 2
1. Suatu keadaan penurunan total air di dalam tubuh karena
hilangnya cairan secara patologis, asupan air tidak adekuat,
atau kombinasi keduanya disebut
a. Kekurangan volume cairan
b. Edema
c. Kelebihan volume cairan
d. Dehidrasi
e. Overhidrasi
2. Dibawah ini yang merupakan penyebab terjadinya dehidrasi
adalah
a. Penurunan asupan cairan
b. Muntah dan diare yang terus-menerus
c. Ketoasidosis diabetik
d. Luka bakar berat
e. Benar semua
3. Seseorang yang mengalami kehilangan berat badan 5%
sampai 10% dari berat badan sebelum sakit dengan
perhitungan rata-rata 7,5% disebut mengalami
a. Dehidrasi ringan

76

b. Dehidrasi sedang
c. Dehidrasi berat
d. Overhidrasi ringan
e. Overhidrasi sedang
4. Seseorang datang ke instalasi gawat darurat dengan gejala
keadaan umum gelisah, mata cekung, berdasarkan derajat
dehidrasi menurut skor WHO termasuk dalam kriteria
a. Tanpa dehidrasi
b. Dehidrasi ringan
c. Dehidrasi ringan-sedang
d. Dehidrasi sedang
e. Dehidrasi berat
5. Tanda dan gejala klinis yang terlihat pada pasien yang
mengalami dehidrasi sedang adalah
a. Takikardia
b. Nadi sangat lemah
c. Hipotensi ortostatik
d. Kesadaran apatis
e. Benar semua
6. Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk
mengidentifikasi seseorang mengalami dehidrasi adalah
a. Urinalisis
b. Hitung darah lengkap
c. Kimia darah
d. Pemeriksaan elektrolit
e. Benar semua
7. Kelebihan air dalam tubuh menyebabkan konsentrasi
natrium dalam aliran darah menjadi sangat kecil disebut
a. Kekurangan volume cairan
b. Edema
c. Kelebihan volume cairan
d. Overhidrasi
e. Dehidrasi
8. Tanda dan gejala klinis yang terlihat jika seseorang
mengalami overhidrasi adalah
a. Mual dan muntah
b. Sakit kepala

77

c. Kejang-kejang
d. Disorientasi
e. Benar semua
9. Hasil pemeriksaan fisik yang ditemukan jika seseorang
mengalami dehidrasi adalah
a. Mata cekung
b. Turgor menurun
c. Mulut kering
d. Nadi sangat lemah
e. Kesadaran menurun
10. Hasil pemeriksaan laboratorium yang ditemukan jika
seseorang mengalami dehidrasi adalah
a. Kadar natrium serum <136 mEq/L
b. Konsentrasi urine >1.030
c. Hematokrit meningkat
d. Kreatinin meningkat
e. Blood urea nitrogen meningkat

78

KUNCI JAWABAN

1. A 1. D
2. E 2. E
3. E 3. B
4. E 4. C
5. E 5. E
6. E 6. E
7. B 7. D
8. E 8. E
9. A 9. E
10. A 10. A

79

GLOSARIUM

1. Dehidrasi: kehilangan cairan dari jaringan tubuh yang
berlebihan

2. Kekurangan volume cairan: penurunan cairan intravaskuler
yang menyebabkan penurunan ekstraseluler

3. Kelebihan volume cairan: peningkatan volume cairan
ekstraseluler

4. Hypervolemia: kelebihan volume cairan
5. Hypovolemia: kekurangan volume cairan
6. Dehidrasi hipertonik: kehilangan cairan melebihi kehilangan

elektrolit
7. Dehidrasi hipotonik: kehilangan sejumlah elektrolit lebih

banyak daripada air
8. Dehidrasi isotonik: kekurangan air dan elektrolit yang

seimbang
9. Edema: penimbunan cairan berlebihan di antara sel-sel tubuh

atau di dalam berbagai rongga tubuh
10. Overhidrasi: asupan cairan berlebihan (polidipsi psikogenik)

atau sekresi anti diuretik hormon berlebihan
11. Pitting edema: edema yang jika dilakukan penekanan akan

menimbulkan bekas daerah tekanan
12. Third space syndrome: cairan terperangkap di dalam suatu

ruangan dan cairan di ruangan tersebut tidak mudah ditukar
dengan cairan ekstrasel

80

DAFTAR PUSTAKA
1. Horne, Mima. 2000. Keseimbangan Cairan, Elektrolit dan

Asam-basa. Alih Bahasa: Indah Nurmala Dewi, Monika Ester.
Jakarta: EGC
2. Insley, Jack. 2003. Vade-mecum Pediatri. Terjemahan. Jakarta:
EGC
3. Mary, E.2005. Panduan Belajar Keperawatan Pediatric.Alih
bahasa: Alfrina Hany, Jakarta: EGC
4. Potter & Perry. 2010. Fundamental Keperawatan Konsep, proses,
dan praktik. Alih bahasa: Renata Komalasari, Jakarta: EGC
5. Snyder & Berman. 2012. Kozier & Erb’s Fundamental of Nursing:
Conceps, Process and Practice. New Jersey: Pearson Education
6. Tamsuri, Anas. 2008. Klien Gangguan Keseimbangan Cairan
& Elektrolit. Jakarta: EGC
7. Widjaja.2009. Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita.
Jakarta: EGC

81

BAB ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN
3
GANGGUAN
KESEIMBANGAN CAIRAN

PENDAHULUAN
Berjumpa kembali setelah sebelumnya Anda belajar di bab 2

tentang gangguan keseimbangan cairan tubuh. Maka selanjutnya
Anda akan mempelajari bab 3 tentang” Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Gangguan Keseimbangan Cairan”

Peran dan kompetensi perawat dalam pemenuhan
kebutuhan cairan dan elektrolit pada klien mutlak diperlukan.
Perawat melakukan pengkajian untuk mengidentifikasi pasien
yang berisiko tinggi atau memperlihatkan adanya tanda dan gejala
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit yang aktual. Kondisi-
kondisi tertentu seperti luka bakar, membutuhkan pengkajian
yang sering dan mendalam. Kasus lain yang membutuhkan
pemantauan rutin, misalnya pada klien yang berada dalam masa
pemulihan setelah operasi dan klien yang berada dalam masa
pemulihan dari gastroenteritis. Pengkajian cairan membantu
perawat dalam mengantisipasi kebutuhan klien akan suatu asuhan
keperawatan. Untuk itu mari kita pelajari bersama tentang
pentingnya memberikan asuhan keperawatan pasien dengan
gangguan keseimbangan cairan tubuh.

Dalam bab 3 ini, Anda akan mempelajari tentang asuhan
keperawatan pada pasien dengan gangguan keseimbangan cairan
tubuh yang meliputi melakukan pengkajian, menentukan
diagnosa keperawatan, menentukan intervensi dan evaluasi pada
pasien dengan kekurangan volume cairan; melakukan pengkajian,
menentukan diagnosa keperawatan, intervensi, dan evaluasi pada
pasien kelebihan volume cairan.

82

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu
menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
keseimbangan cairan yang meliputi
1. Menjelaskan pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi

dan evaluasi keperawatan pada pasien dengan kekurangan
volume cairan
2. Menjelaskan pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi
dan evaluasi keperawatan pada pasien dengan kelebihan
volume cairan

Agar Anda dapat memahami bab ini dengan mudah, maka
bab ini dibagi menjadi dua (2) topik, yaitu:
1. Topik 1

Membahas konsep asuhan keperawatan pasien dengan
kekurangan volume cairan yang meliputi: pengkajian,
diagnosa keperawatan, intervensi dan evaluasi keperawatan.
2. Topik 2
Membahas konsep asuhan keperawatan pasien dengan
kelebihan volume cairan yang meliputi pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi dan evaluasi keperawatan.

Untuk memahami materi tersebut, pelajarilah bab ini mulai
dari Topik 1 sampai 2. Pada setiap topik, Anda diharuskan
mengerjakan latihan dan tes formatif. Untuk menilai kemajuan
belajar Anda, sebaiknya Anda tidak melihat kunci jawaban
terlebih dahulu sebelum selesai mengerjakan latihan dan tes
formatif.

Waktu untuk menyelesaikan bab ini adalah satu kali
pertemuan. Gunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Anda
dinyatakan berhasil apabila memperoleh nilai ≥ 80 atau 80 % dapat
menyelesaikan pertanyaan atau tugas yang diberikan.
Saya yakin Anda dapat memahami bab ini dengan baik!
Selamat belajar …………… Semoga berhasil!

83

TOPIK 1
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
KEKURANGAN VOLUME CAIRAN (HIPOVOLEMIA)

Baiklah, sekarang silahkan Anda pelajari materi asuhan
keperawatan pada pasien dengan kekurangan volume cairan
(hipovolemia) secara cermat dan penuh motivasi, agar Anda lebih
memahaminya!

Asuhan keperawatan pada pasien dengan kekurangan
volume cairan (hipovolemia) meliputi pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi dan evaluasi keperawatan.
A. Pengkajian

Salah satu fungsi pengkajian keperawatan yang paling
penting adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko
terjadinya ketidakseimbangan cairan. Pengkajian dapat
membantu perawat mengantisipasi kebutuhan pasien akan
asuhan keperawatan. Misalnya, seorang klien menderita diare
yang harus mendapatkan terapi cairan harus memiliki rencana
keperawatan untuk mengantisipasi kebutuhan eliminasi,
seperti peningkatan penggunaan kamar mandi, bedpan, urinal
ataupun peningkatan asupan minuman. Perawat
pengumpulkan riwayat keperawatan yang berisi informasi
mengenai masalah kesehatan klien dimasa lalu atau yang baru
saja terjadi yang dapat meningkatkan risiko kekurangan
volume cairan. Ketepatan pengkajian yang dilakukan perawat
sangat berpengaruh terhadap kualitas asuhan keperawatan
yang dilakukannya. Terkait dengan asuhan keperawatan
kekurangan cairan (hipovolemia), maka ada beberapa aspek
yang perlu dikaji oleh perawat antara lain:

1. Riwayat keperawatan
Hal yang perlu dikaji antara lain riwayat penyakit atau
kelainan yang dapat menyebabkan gangguan dalam
keseimbangan cairan antara lain
a. Prosedur pembedahan menyebabkan perubahan
keseimbangan cairan pada hari kedua sampai hari

84

kelima setelah pembedahan karena respons stress tubuh
terhadap trauma pembedahan. Peningkatan sekresi
aldosteron dan glukokortikoid selama 24 jam sampai 48
jam menyebabkan retensi cairan.
b. Luka bakar: klien yang menderita luka bakar parah
derajat dua atau tiga, akan kehilangan cairan tubuh
c. Gangguan kardiovaskuler: kegagalan jantung membuat
penurunan curah jantung. Akibatnya perfusi ginjal
menurun dan haluaran urine berkurang. Klien yang
mengalami peningkatan air menyebabkan beban kerja
sirkulasi berlebih sehingga menyebabkan edema paru
d. Gangguan pernafasan
Perubahan fungsi pernafasan yang menjadi faktor
predisposisi bagi klien untuk mengalami asidosis
respiratorik
e. Gangguan ginjal
Gagal ginjal mengubah keseimbangan cairan, terdapat
retensi yang abnormal dari air didalam cairan ekstrasel.
Keparahan ketidakseimbangan cairan seimbang dengan
derajat kegagalan ginjal.
f. Gangguan saluran cerna
Penghisapan gastroenteritis dan nasogastrik
menyebabkan kehilangan cairan.
g. Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan (oral
dan parenteral)
h. Tanda-tanda umum kekurangan volume cairan
i. Proses penyakit yang menyebabkan gangguan
homeostatis dan elektrolit
j. Pengobatan tertentu yang sedang dijalani dapat
mengganggu status cairan
k. Status perkembangan seperti usia atau situasi sosial

2. Aspek biologis
a. Usia.Usia mempengaruhi distribusi cairan dalam tubuh.
Oleh karena itu pada saat mengkaji klien, perawat perlu
menghitung adanya perubahan cairan yang

85

berhubungan dengan proses penuaan dan
perkembangan
b. Jenis kelamin. Persentase cairan tubuh pada laki-laki
berbeda dengan wanita di mana wanita lebih sedikit
persentase cairan tubuhnya dibandingkan laki-laki
c. Berat badan. Perlu dikaji berat badan sebelum sakit
dengan berat badan saat sakit. Pengkajian ini diperlukan
untuk mengukur persentase penurunan BB dalam
menentukan derajat kekurangan volume cairan:
hipovolemia ringan kehilangan 2% BB, hipovolemia
sedang kehilangan 5% BB, hipovolemia berat kehilangan
10% BB.
d. Pengukuran pemasukan cairan
Pemasukan cairan yang perlu dihitung adalah cairan
yang diberikan melalui NGT dan oral, cairan parenteral
termasuk obat-obatan IV, makanan yang cenderung
mengandung air yang dikonsumsi oleh pasien dan cairan
yang digunakan untuk NGT.
e. Pengukuran pengeluaran cairan
Pengeluaran yang perlu diukur meliputi volume dan
kejernihan/kepekatan urine, jumlah dan konsistensi
feses, muntah, keringat, IWL.
f. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum

Keadaan umum pasien menunjukkan kesadaran
compos mentis atau apatis, letargi, konfusi dan
disorientasi
2) Tanda-tanda vital meliputi suhu, pernafasan, nadi
dan tekanan darah. Peningkatan suhu dapat
menimbulkan kehilangan cairan karena peningkatan
insensible water loss (IWL). Sebaliknya penurunan suhu
tubuh akan mengakibatkan penurunan IWL.
Pengkajian pernafasan meliputi frekuensi, kedalaman,
pola nafas dan suara napas. Frekuensi napas yang
cepat dapat meningkatkan insensible water loss. Nadi
mengindikasikan volume cairan tubuh, peningkatan

86

frekuansi nadi dan nadi lemah dapat menandakan
kekurangan volume cairan karena penurunan volume
intravaskuler. Penurunan tekanan darah dapat
menandakan kekurangan volume cairan karena
penurunan isi sekuncup (stroke volume). Hipotensi
ortostatik juga mengindikasikan perubahan tekanan
darah dari posisi berdiri menjadi duduk atau
sebaliknya.
3) Kepala dan leher
• Ubun-ubun

Inspeksi dan palpasi ubun-ubun kepala apakah
cekung atau tidak
• Mata
Pada pemeriksaan mata perlu diperhatikan mata
cekung, konjungtiva kering, air mata berkurang
atau tidak ada
• Tenggorokan dan mulut
Melakukan inspeksi membran mukosa kering,
lengket, bibir pecah-pecah dan kering, salivasi
menurun, lidah dibagian longitudinal mengerut
4) Sistem kardiovaskuler
Inspeksi: vena leher datar, lambatnya pengisian vena
Palpasi: peningkatan frekuensi nadi, denyut nadi
lemah, pengurangan denyut nadi, pengisian kapiler
menurun.
Auskultasi: tekanan darah rendah atau tanpa
perubahan tekanan darah pada posisi ortostatik.
5) Sistem pernafasan
Inspeksi: peningkatan pada kedalaman dan frekuensi
pernafasan, dispnea
6) Sistem gastrointestinal
Riwayat penyakit: anoreksia, mual, muntah dan haus
terus
Inspeksi: abdomen cekung, muntah, diare
Palpasi: distensi abdomen

87

Auskultasi: hiperperistaltik disertai diare atau
hipoperistaltik
7) Sistem persyarafan
Keadaan umum: gelisah dan kekacauan mental
Inspeksi: reflek-reflek abnormal, gangguan motorik
dan sensorik misalnya berupa kesemutan,
paresthesia, fatique dan lain-lain
8) Sistem perkemihan
Inspeksi: oliguria atau anuria, berat jenis urine
meningkat
9) Sistem integumen
Suhu kulit: menurun
Inspeksi: kulit kering, kemerahan, peningkatan galur-
galur lidah, penurunan kelembapan diantara pipi dan
gusi pada rongga mulut
Palpasi: turgor kulit tidak elastis, kulit dingin dan
lembab.

3. Aspek psikologis
Pada aspek psikologis ini, perlu dikaji adanya masalah-
masalah perilaku atau emosional yang dapat meningkatkan
risiko gangguan cairan

4. Aspek sosiokultural
Pada aspek ini, perlu dikaji adanya faktor sosial budaya,
finansial atau pendidikan yang mempengaruhi terhadap
terjadinya gangguan pemenuhan kebutuhan cairan

5. Aspek spiritual
Perlu dikaji apakah klien mempunyai keyakinan, nilai-nilai
yang dapat memenuhi kebutuhan cairan, misalnya apakah
pasien mempunyai pantangan untuk tidak menerima
transfusi darah manusia

6. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memperoleh
data objektif lebih lanjut tentang keseimbangan cairan,
pemeriksaan ini meliputi hitung darah lengkap, kadar BUN,
kadar kreatinin darah, berat jenis urine. Perawat harus

88

mengetahui nilai-nilai normal dari pemeriksan laboratorium
tersebut. Hitung darah lengkap adalah penetapan jumlah
dan tipe sel darah putih dan sel darah merah per millimeter
kubik darah. Perubahan hitung darah lengkap, khususnya
hematokrit terjadi terhadap respon kekurangan volume
cairan (hipovolemia). Kadar kreatinin darah bermanfaat
untuk mengukur fungsi ginjal dan kadar berat jenis urine
mengukur derajat konsentrasi urine.

B. Diagnosa Keperawatan
Tiga bagian pernyataan diagnosa keperawatan sangat

penting untuk memberikan arahan pada pengembangan
rencana asuhan dan evaluasi keperawatan untuk setiap pasien.
Identifikasi penyebab masalah yang sudah diperkirakan atau
faktor-faktor yang berkaitan dengan masalah tersebut
mengarah ke suatu rencana keperawatan yang spesifik dan
evaluasi yang khusus untuk pasien tersebut. Hal ini berarti
bahwa perawat dapat merawat dua klien yang masing-masing
memiliki masalah kekurangan volume cairan tetapi
implementasi untuk masing-masing pasien berbeda. Berikut
adalah diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada
pasien dengan kekurangan volume cairan:

1. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan
aktif/kekurangan intake cairan/kegagalan mekanisme
regulasi/peningkatan permiabilitas kapiler
a. Definisi
Penurunan volume cairan intravaskuler, interstitial
dan atau intraseluler. Ini mengacu pada dehidrasi,
kehilangan cairan saja tanpa perubahan kadar natrium
b. Gejala dan tanda mayor
Objektif
• Frekuensi nadi meningkat
• Nadi teraba lemah
• Tekanan darah menurun
• Tekanan nadi menyempit

89

• Turgor kulit menurun
• Membran mukosa kering
• Volume urine menurun
• Hematokrit meningkat
c. Gejala dan tanda minor
Subjektif
• Merasa lemah.
• Mengeluh haus
Objektif
• Pengisian vena menurun
• Status mental berubah
• Suhu tubuh meningkat
• Konsentrasi urine meningkat
• Berat badan turun tiba-tiba

2. Diare berhubungan dengan iritasi atau inflamasi
gastrointestinal/faktor psikologis/faktor situasional
a. Definisi
Pengeluaran feses yang sering, lunak dan tidak
berbentuk
b. Gejala dan tanda mayor
Objektif
• Defekasi feses cair lebih dari 3 kali dalam 24 jam
• Feses lembek atau cair
c. Gejala dan tanda minor
Subjektif
• Urgensi
• Nyeri/kram abdomen
Objektif
• Frekuensi peristaltik meningkat
• Bising usus hiperaktif

3. Kesiapan peningkatan keseimbangan cairan
a. Definisi

90


Click to View FlipBook Version